...

Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing

by user

on
Category: Documents
5

views

Report

Comments

Transcript

Perawatan Luka Kronis dengan Modern Dressing
TEKNIK
Perawatan Luka Kronis
dengan Modern Dressing
Ronald W. Kartika
Bagian Bedah Jantung Paru dan Pembuluh Darah
Wound Care/Diabetic Center, RS Gading Pluit, Jakarta
ABSTRAK
Teknik pembalutan luka (wound dressing) saat ini berkembang pesat dan dapat membantu dokter dan pasien untuk menyembuhkan luka
kronis. Prinsip lama yang menyebutkan penanganan luka harus dalam keadaan kering, ternyata dapat menghambat penyembuhan luka,
karena menghambat proliferasi sel dan kolagen, tetapi luka yang terlalu basah juga akan menyebabkan maserasi kulit sekitar luka. Memahami
konsep penyembuhan luka lembap, pemilihan bahan balutan, dan prinsip-prinsip intervensi luka yang optimal merupakan konsep kunci
untuk mendukung proses penyembuhan luka. Perawatan luka menggunakan prinsip kelembapan seimbang (moisture balance) dikenal
sebagai metode modern dressing dan memakai alat ganti balut yang lebih modern. Saat ini, lebih dari 500 jenis modern wound dressing
dilaporkan tersedia untuk menangani pasien dengan luka kronis antara lain berupa hidrogel, film dressing, hydrocolloid, calcium alginate,
foam/absorbant dressing, dressing antimikrobial, hydrophobic antimikrobial. Keberhasilan proses penyembuhan luka tergantung pada upaya
mempertahankan lingkungan lembap yang seimbang, karena akan memfasilitasi pertumbuhan sel dan proliferasi kolagen.
Kata kunci: Luka kronis, penyembuhan luka, balutan luka modern
ABSTRACT
Wound dressing technique is currently rapidly expanding and can help physicians and patients in chronic wound healing. Old principle
that wound should be dry can retard wound healing by inhibiting cell proliferation and collagen, but too wet condition will cause
skin maceration. Understanding the concept of moist wound healing, selection of dressing materials, optimal intervention are the key
concepts to support wound healing. Modern method of wound care uses the principles of a balanced humidity (moisture balance).
Currently, more than 500 kinds of modern wound dressing are available, made from hydrogels, films dressings, hydrocolloid, calcium
alginate, foam/absorbent dressings, antimicrobial dressings, hydrophobic antimicrobial. The success of wound healing process depends
on the maintainance of moist environment that will facilitate cell growth and collagen proliferation. Ronald W.Kartika. Chronic Wound
Management with Modern Dressing.
Keywords: Chronic wound, wound healing, modern wound dressings
LATAR BELAKANG
Perawatan luka telah mengalami perkembangan sangat pesat terutama dalam dua
dekade terakhir, ditunjang dengan kemajuan
teknologi kesehatan. Di samping itu, isu terkini
manajemen perawatan luka berkaitan dengan
perubahan profil pasien yang makin sering disertai dengan kondisi penyakit degeneratif
dan kelainan metabolik. Kondisi tersebut
biasanya memerlukan perawatan yang tepat
agar proses penyembuhan bisa optimal.1
Manajemen perawatan luka modern sangat
mengedepankan isu tersebut. Hal ini ditunjang
dengan makin banyaknya inovasi terbaru
Alamat korespondensi
546
produk-produk perawatan luka. Pada dasarnya,
pemilihan produk yang tepat harus berdasarkan pertimbangan biaya (cost), kenyamanan
(comfort), dan keamanan (safety).1,2
MENGENAI LUKA
A. PENGERTIAN LUKA
Definisi luka adalah terputusnya kontinuitas
jaringan karena cedera atau pembedahan.
Luka bisa diklasifikasikan berdasarkan struktur
anatomis, sifat, proses penyembuhan, dan
lama penyembuhan.
Berdasarkan sifat, yaitu: abrasi, kontusio,
insisi, laserasi, terbuka, penetrasi, puncture,
sepsis, dan lain-lain. Klasifikasi berdasarkan
struktur lapisan kulit, meliputi: superfisial,
yang melibatkan lapisan epidermis; partial
thickness, yang melibatkan lapisan epidermis
dan dermis; dan full thickness yang melibatkan
epidermis, dermis, lapisan lemak, fascia, dan
bahkan sampai ke tulang.
Berdasarkan proses penyembuhan, dapat
dikategorikan menjadi tiga, yaitu:2
a) Penyembuhan primer (healing by primary
intention)
Tepi luka bisa menyatu kembali, permukaan
bersih, tidak ada jaringan yang hilang. Biasanya
terjadi setelah suatu insisi. Penyembuhan luka
email: [email protected]
CDK-230/ vol. 42 no. 7, th. 2015
TEKNIK
berlangsung dari internal ke eksternal.
b) Penyembuhan sekunder (healing by
secondary intention)
Sebagian jaringan hilang, proses penyembuhan berlangsung mulai dari pembentukan jaringan granulasi di dasar luka
dan sekitarnya.
c) Delayed primary healing (tertiary healing)
Penyembuhan luka berlangsung lambat,
sering disertai infeksi, diperlukan penutupan
luka secara manual.
•
Gambar 1. Fase inflamasi penyembuhan luka dimulai
segera setelah terjadi kerusakan jaringan dan fase awal
Berdasarkan lama penyembuhan bisa
dibedakan menjadi akut dan kronis. Luka
dikatakan akut jika penyembuhan terjadi
dalam 2-3 minggu. Sedangkan luka
kronis adalah segala jenis luka yang
tidak ada tanda-tanda sembuh dalam
jangka lebih dari 4-6 minggu. Luka insisi
bisa dikategorikan luka akut jika proses
penyembuhan
berlangsung
sesuai
dengan proses penyembuhan normal,
tetapi bisa juga dikatakan luka kronis jika
penyembuhan terlambat (delayed healing)
atau jika menunjukkan tanda-tanda infeksi.2,3
hemostasis (Sumber: Gurtner GC, Thorme CH. Wound
B. PROSES PENYEMBUHAN LUKA
Luka akan sembuh sesuai tahapan spesifik
yang dapat terjadi tumpang tindih.
Gambar 2. Fase proliferasi penyembuhan luka pada hari
healing: Normal and abnormal. 6th ed. Chapter 2, Grabb and
Smith’s plastic surgery; 2007).
ke-4 sampai 21 setelah terjadi kerusakan jaringan/luka.
Selama fase ini, jaringan granulasi menutup permukaan
luka dan keratosit bermigrasi untuk membantu penutupan
Fase penyembuhan luka dibagi menjadi tiga
fase, yaitu:3
luka dengan jaringan epitel baru (Sumber: Gurtner GC,
Thorme CH. Wound healing: Normal and abnormal. 6th ed.
Chapter 2, Grabb and Smith’s plastic surgery; 2007).
a) Fase inflamasi:
• Hari ke-0 sampai 5.
• Respons
segera
setelah
terjadi
injuri berupa pembekuan darah untuk
mencegah kehilangan darah.
• Karakteristik: tumor, rubor, dolor, color,
functio laesa.
• Fase awal terjadi hemostasis.
• Fase akhir terjadi fagositosis.
• Lama fase ini bisa singkat jika tidak terjadi
infeksi.
b) Fase proliferasi atau epitelisasi
• Hari ke-3 sampai 14.
• Disebut juga fase granulasi karena adanya
pembentukan jaringan granulasi; luka
tampak merah segar, mengkilat.
• Jaringan granulasi terdiri dari kombinasi:
fibroblas, sel inflamasi, pembuluh darah
baru, fibronektin, dan asam hialuronat.
• Epitelisasi terjadi pada 24 jam pertama
ditandai dengan penebalan lapisan
epidermis pada tepian luka.
CDK-230/ vol. 42 no. 7, th. 2015
Gambar 3. Fase remodeling penyembuhan luka pada hari
ke-21 sampai 1 tahun setelah terjadi kerusakan jaringan/
luka. Fase ini merupakan fase terlama penyembuhan luka,
di mana fibrolas dan jaringan kolagen akan memperkuat
penyembuhan luka (Sumber: Gurtner GC, Thorme CH.
Wound healing: Normal and abnormal. 6th ed. Chapter 2,
Grabb and Smith’s plastic surgery; 2007).
Epitelisasi terjadi pada 48 jam pertama
pada luka insisi.
c) Fase maturasi atau remodelling
• Berlangsung dari beberapa minggu
sampai 2 tahun.
• Terbentuk kolagen baru yang mengubah
bentuk luka serta peningkatan kekuatan
jaringan (tensile strength).
• Terbentuk jaringan parut (scar tissue) 5080% sama kuatnya dengan jaringan
sebelumnya.
• Pengurangan bertahap aktivitas seluler
and vaskulerisasi jaringan yang mengalami
perbaikan.
C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PROSES PENYEMBUHAN LUKA4
a. Status imunologi atau kekebalan tubuh:
Penyembuhan luka adalah proses biologis
yang kompleks, terdiri dari serangkaian
peristiwa berurutan bertujuan untuk
memperbaiki jaringan yang terluka. Peran
sistem kekebalan tubuh dalam proses ini
tidak hanya untuk mengenali dan memerangi
antigen baru dari luka, tetapi juga untuk
proses regenerasi sel.
b. Kadar gula darah: Peningkatan gula
darah akibat hambatan sekresi insulin,
seperti pada penderita diebetes melitus,
juga menyebabkan nutrisi tidak dapat masuk
ke dalam sel, akibatnya terjadi penurunan
protein dan kalori tubuh.
c. Rehidrasi dan pencucian luka: Dengan
dilakukan rehidarasi dan pencucian luka,
jumlah bakteri di dalam luka akan berkurang,
sehingga jumlah eksudat yang dihasilkan
bakteri akan berkurang.
d. Nutrisi: Nutrisi memainkan peran tertentu dalam penyembuhan luka. Misalnya,
vitamin C sangat penting untuk sintesis
kolagen, vitamin A meningkatkan epitelisasi,
dan seng (zinc) diperlukan untuk mitosis sel
dan proliferasi sel. Semua nutrisi, termasuk
protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan
mineral, baik melalui dukungan parenteral
maupun enteral, sangat dibutuhkan.
Malnutrisi menyebabkan berbagai perubahan metabolik yang mempengaruhi
penyembuhan luka.
e. Kadar albumin darah: Albumin sangat
berperan untuk mencegah edema, albumin
berperan besar dalam penentuan tekanan
onkotik plasma darah. Target albumin dalam
penyembuhan luka adalah 3,5-5,5 g/dl.
f. Suplai oksigen dan vaskulerisasi:
547
TEKNIK
Oksigen merupakan prasyarat untuk proses
reparatif, seperti proliferasi sel, pertahanan
bakteri, angiogenesis, dan sintesis kolagen.
Penyembuhan luka akan terhambat bila
terjadi hipoksia jaringan.
g. Nyeri: Rasa nyeri merupakan salah satu
pencetus peningkatan hormon glukokortikoid
yang menghambat proses penyembuhan
luka.
h. Kortikosteroid:
Steroid
memiliki
efek antagonis terhadap faktor-faktor
pertumbuhan dan deposisi kolagen dalam
penyembuhan luka. Steroid juga menekan
sistem kekebalan tubuh/sistem imun yang
sangat dibutuhkan dalam penyembuhan
luka.
CARA PERAWATAN LUKA DENGAN
MODERN DRESSING
Metode perawatan luka yang berkembang
saat ini adalah menggunakan prinsip
moisture balance, yang disebutkan lebih
efektif dibandingkan metode konvensional.5,6
Perawatan luka menggunakan prinsip
moisture balance ini dikenal sebagai metode
modern dressing.
Selama ini, ada anggapan bahwa suatu luka
akan cepat sembuh jika luka tersebut telah
mengering. Namun faktanya, lingkungan
luka yang kelembapannya seimbang
memfasilitasi pertumbuhan sel dan
proliferasi kolagen dalam matriks nonseluler
yang sehat. Pada luka akut, moisture balance
memfasilitasi aksi faktor pertumbuhan,
cytokines, dan chemokines yang mempromosi
pertumbuhan
sel
dan
menstabilkan
matriks jaringan luka. Jadi, luka harus dijaga
kelembapannya. Lingkungan yang terlalu
lembap dapat menyebabkan maserasi tepi
luka, sedangkan kondisi kurang lembap
menyebabkan kematian sel, tidak terjadi
perpindahan epitel dan jaringan matriks.5,6
miliki prinsip menjaga kelembapan luka
dengan menggunakan bahan seperti
hydrogel. Hydrogel berfungsi menciptakan
lingkungan luka tetap lembap, melunakkan
serta menghancurkan jaringan nekrotik tanpa
merusak jaringan sehat, yang kemudian
terserap ke dalam struktur gel dan terbuang
bersama pembalut (debridemen autolitik
alami). Balutan dapat diaplikasikan selama
tiga sampai lima hari, sehingga tidak sering
menimbulkan trauma dan nyeri pada saat
penggantian balutan.6
Jenis modern dressing lain, yakni Ca Alginat,
kandungan Ca-nya dapat membantu
menghentikan perdarahan. Kemudian ada
hidroselulosa yang mampu menyerap cairan
dua kali lebih banyak dibandingkan Ca
Alginat. Selanjutnya adalah hidrokoloid yang
mampu melindungi dari kontaminasi air dan
bakteri, dapat digunakan untuk balutan
primer dan sekunder. Penggunaan jenis
modern dressing disesuaikan dengan jenis
luka.6,7 Untuk luka yang banyak eksudatnya
dipilih bahan balutan yang menyerap cairan
seperti foam, sedangkan pada luka yang
sudah mulai tumbuh granulasi, diberi gel
untuk membuat suasana lembap yang akan
membantu mempercepat penyembuhan
luka.
PENGKAJIAN LUKA
1. Status nutrisi pasien: BMI (body mass
index), kadar albumin
2. Status vaskuler: Hb, TcO2
3. Status imunitas: terapi kortikosteroid
atau obat-obatan imunosupresan yang
lain
4. Penyakit yang mendasari: diabetes atau
kelainan vaskulerisasi lainnya7
5. Kondisi luka:
a) Warna dasar luka
Dasar pengkajian berdasarkan warna:
slough (yellow), necrotic tissue (black),
infected tissue (green), granulating tissue
(red), epithelialising (pink).
b) Lokasi, ukuran, dan kedalaman luka
c) Eksudat dan bau
Gambar 1. Luka dengan warna dasar merah tua atau terang
dan selalu tampak lembap merupakan luka bersih dengan
Gambar 3. Luka dengan warna dasar hitam adalah jaringan
banyak vaskulerisasi, karenanya luka mudah berdarah.
nekrosis, merupakan jaringan avaskuler.
Perawatan luka modern harus tetap
memperhatikan tiga tahap, yakni mencuci
luka, membuang jaringan mati, dan memilih
balutan. Mencuci luka bertujuan menurunkan jumlah bakteri dan membersihkan sisa
balutan lama, debridement jaringan nekrotik
atau membuang jaringan dan sel mati dari
permukaan luka.
Perawatan luka konvensional harus sering
mengganti kain kasa pembalut luka,
sedangkan perawatan luka modern me-
548
Gambar 2. Luka dengan warna dasar kuning/kuning kecoklatan/kuning kehijauan/kuning pucat adalah jaringan nekrosis
merupakan kondisi luka yang terkontaminasi atau terinfeksi dan avaskuler.
CDK-230/ vol. 42 no. 7, th. 2015
TEKNIK
d) Tanda-tanda infeksi
e) Keadaan kulit sekitar luka: warna dan
kelembapan
f ) Hasil pemeriksaan laboratorium yang
mendukung
Berdasarkan kondisi warna luka, metode
yang sering dikenal adalah RYB/Red Yellow
Black (Merah – Kuning – Hitam).
a. Luka dasar merah (Gambar 1):
Tujuan perawatan luka dengan warna dasar
merah adalah mempertahankan lingkungan
luka dalam keadaan lembap, mencegah
trauma/perdarahan
serta
mencegah
eksudat.
b. Luka dasar kuning (Gambar 2):
Tujuan perawatan adalah meningkatkan
sistem autolisis debridement agar luka
berwarna
merah,
kontrol
eksudat,
menghilangkan bau tidak sedap dan
mengurangi/menghindari kejadian infeksi.
Pada keadaan lembap, invasi neutrofil yang
diikuti oleh makrofag, monosit, dan limfosit
ke daerah luka berlangsung lebih dini.
Pemilihan Balutan Luka
Saat ini, lebih dari 500 jenis modern
wound dressing dilaporkan tersedia untuk
menangani luka kronis. Bahan modern
wound dressing dapat berupa hidrogel, film
dressing, hydrocolloid, calcium alginate, foam/
absorbant dressing, antimicrobial dressing,
antimicrobial hydrophobic.9
Hidrogel
Dapat membantu proses peluruhan jaringan
nekrotik oleh tubuh sendiri. Berbahan
dasar gliserin/air yang dapat memberikan
kelembapan; digunakan sebagai dressing
primer dan memerlukan balutan sekunder
(pad/kasa dan transparent film).
Topikal ini tepat digunakan untuk luka
nekrotik/berwarna hitam/kuning dengan
eksudat minimal atau tidak ada.
c. Luka dasar hitam (Gambar 3):
Tujuan perawatan sama dengan luka dasar
warna kuning, yaitu pembersihan jaringan
mati dengan debridement, baik dengan
autolysis debridement maupun dengan
pembedahan.
CDK-230/ vol. 42 no. 7, th. 2015
Kontraindikasi:
banyak.
luka
terinfeksi,
eksudat
Hydrocolloid
Balutan ini berfungsi mempertahankan luka
dalam suasana lembap, melindungi luka
dari trauma dan menghindarkan luka dari
risiko infeksi, mampu menyerap eksudat
tetapi minimal; sebagai dressing primer
atau sekunder, support autolysis untuk
mengangkat jaringan nekrotik atau slough.
Terbuat dari pektin, gelatin,
methylcellulose, dan elastomers.
PENYEMBUHAN LUKA DENGAN
MODERN WOUND DRESSING
Prinsip dan Kaidah
Balutan luka (wound dressings) telah
mengalami perkembangan sangat pesat
selama hampir dua dekade ini.
Teori yang mendasari perawatan luka
dengan suasana lembap antara lain:7,8
a. Mempercepat fibrinolisis. Fibrin yang
terbentuk pada luka kronis dapat dihilangkan
lebih cepat oleh neutrofil dan sel endotel
dalam suasana lembap.
b. Mempercepat angiogenesis. Keadaan
hipoksia pada perawatan luka tertutup akan
merangsang pembentukan pembuluh darah
lebih cepat.
c. Menurunkan risiko infeksi; kejadian
infeksi ternyata relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan perawatan kering.
d. Mempercepat pembentukan growth
factor. Growth factor berperan pada proses
penyembuhan luka untuk membentuk
stratum korneum dan angiogenesis.
e. Mempercepat pembentukan sel aktif.
Indikasi: luka dengan epitelisasi, low exudate,
luka insisi.
carboxy-
Indikasi: luka berwarna kemerahan dengan
epitelisasi, eksudat minimal.
Kontraindikasi: luka terinfeksi atau luka grade
III-IV.
Film Dressing
Jenis balutan ini lebih sering digunakan
sebagai secondary dressing dan untuk lukaluka superfisial dan non-eksudatif atau untuk
luka post-operasi.
Terbuat dari polyurethane film yang disertai
perekat adhesif; tidak menyerap eksudat.
Calcium Alginate
Digunakan untuk dressing primer dan masih
memerlukan balutan sekunder. Membentuk
gel di atas permukaan luka; berfungsi
menyerap cairan luka yang berlebihan dan
menstimulasi proses pembekuan darah.
Terbuat dari rumput laut yang berubah
menjadi gel jika bercampur dengan cairan
luka.
Indikasi: luka dengan eksudat sedang sampai
berat.
Kontraindikasi: luka dengan jaringan nekrotik
dan kering.
Tersedia dalam bentuk lembaran dan pita,
mudah diangkat dan dibersihkan.
549
TEKNIK
Foam/absorbant dressing
Balutan ini berfungsi untuk menyerap
cairan luka yang jumlahnya sangat banyak
(absorbant dressing), sebagai dressing primer
atau sekunder.
Dressing Antimikrobial
Balutan mengandung silver 1,2% dan
hydrofiber dengan spektrum luas termasuk
bakteri MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus).
Terbuat dari polyurethane; non-adherent
wound contact layer, highly absorptive.
Balutan ini digunakan untuk luka kronis dan
akut yang terinfeksi atau berisiko infeksi.
Indikasi: eksudat sedang sampai berat.
Balutan antimikrobial tidak disarankan digunakan dalam jangka waktu lama dan
tidak direkomendasikan bersama cairan
NaCl 0,9%.
Kontraindikasi: luka dengan eksudat minimal,
jaringan nekrotik hitam.
Antimikrobial Hydrophobic
Terbuat dari diakylcarbamoil chloride, nonabsorben, non-adhesif.
Digunakan untuk luka bereksudat sedang
– banyak, luka terinfeksi, dan memerlukan
balutan sekunder.
Medical Collagen Sponge
Terbuat dari bahan collagen dan sponge.
Digunakan untuk merangsang percepatan
pertumbuhan jaringan luka dengan eksudat
minimal dan memerlukan balutan sekunder.
SIMPULAN
Penggunaan ilmu dan teknologi serta inovasi
produk perawatan luka dapat memberikan nilai optimal jika digunakan secara
tepat. Prinsip utama dalam manajemen
perawatan luka adalah pengkajian luka
yang komprehensif agar dapat menentukan keputusan klinis yang sesuai dengan
kebutuhan pasien. Diperlukan peningkatan
pengetahuan dan keterampilan klinis untuk
menunjang perawatan luka yang berkualitas,
terutama dalam penggunaan modern
dressing.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Casey G. Modern wound dressings. Nurs Stand. 2000; 15(5): 47-51.
2.
Kane D. Chronic wound healing and chronic wound management. In: Krasner D, Rodeheaver, editors. Health Management Publications; 1990.
3.
Singer AJ, Clark RAF. Mechanisms of disease: Cutaneous wound healing. N Engl J Med. 1999; 341(10): 738-46.
4.
Wayne PA, Flanagan. Managing chronic wound pain in primary care. Practice Nursing; 2006; 31:12.
5.
Theoret CL. Clinical techniques in equine practice. 3rd ed. 2004. Chapter 2, Update on wound repair; p.110-22.
6.
Sibbald RG, Keast DH. Best practice recommendations for preparing the wound bed: Update 2006, clinical practice, wound care. Canada; 2006: 4(1).
7.
Fernandez R, Griffiths R, Ussia C. The effectiveness of solutions, techniques and pressure in wound cleansing. JBI Reports 2004; 2(7): 231-70.
8.
Ropper R. Principles of wound assessment and management. Practice Nurse 2006; 31: 4.
10. Bryant RA, Clark RA, Nix DP. Acute and chronic wounds. Current management concepts. 3rd ed. St Louis, Mo: Mosby Inc; 2007: 100-29.
11. Rippon M, White R, Davies P. Skin adhesives and their role in wound dressings. Wounds UK 2007; 3(4): 76-86.
12. World Union of Wound Healing Societies. Principles of best practice: Minimising pain at wound dressing-related procedures. A consensus document. Toronto: WoundPedia Inc; 2007.
13. Collier J. A moist, odour-free environment. A multicentred trial of a foamed gel and a hydrocolloid dressing. Prof Nurse 1992; 7(12): 804-8.
14
Bowszyc J, Bowszyc-Dmochowska M, Kazmierowski M, Ben-Amer HM, Garbowska T, Harding E. Comparison of two dressings in the treatment of venous leg vulcers. J Wound Care 1995; 4(3):
106-10.
15. Thomas S, Banks V, Bale S, Fear-Price M, Hagelstein S, Harding KG, et al. A comparison of two dressing in the management of chronic wounds. J Wound Care 1997; 6(8): 383-6.
16. Charles H, Callicot C, Mathurin D, Ballard K, Hart J. Randomised, comparative study of three primary dressings for the treatment of venous ulcers. Br J Community Nurs. 2002; 7(6): 48-54.
550
CDK-230/ vol. 42 no. 7, th. 2015
Fly UP