...

Pengaruh Corporate Governance Index, Kepemilikan Keluarga, dan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Pengaruh Corporate Governance Index, Kepemilikan Keluarga, dan
Pengaruh Corporate Governance Index, Kepemilikan Keluarga, dan
Kepemilikan Institusional terhadap Biaya Ekuitas dan Biaya Utang:
Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI
Yulisa Rebecca
Universitas Indonesia
Sylvia Veronica Siregar
Universitas Indonesia
Abstrak
This study aims to examine the effect of corporate governance on cost of equity and cost of
debt. We use 3 variables to measure corporate governance: corporate governance index,
family ownership, and institutional ownership. The samples of this study are 71
manufacturing firms listed on Indonesia Stock Exchange for period 2008-2010. The results of
this study show that corporate governance as measured by corporate governance index have a
significant negative impact on cost of equity and cost of debt. Family ownership has a
significant positive effect on cost of equity, but no significant effect on cost of debt.
Institutional ownership has no significant effect on cost of equity, but has a significant
negative effect on cost of debt.
Keywords: corporate governance, family ownership, institutional ownership, cost of equity,
cost of debt
1.
Pendahuluan
Isu corporate governance muncul karena adanya pemisahan antara kepemilikan dan
pengelolaan perusahaan (Gunarsih, 2003). Pemisahan antara fungsi kepemilikan dan
pengelolaan perusahaan menimbulkan kemungkinan terjadinya agency problem yang dapat
menyebabkan agency conflict, yaitu konflik yang timbul sebagai akibat keinginan manajemen
(agent) untuk melakukan tindakan yang sesuai dengan kepentingannya yang dapat
mengorbankan kepentingan pemegang saham (principal).
Ashbaugh et al. (2004) menyatakan bahwa agency costs muncul sebagai akibat
terjadinya asimetri informasi di pasar yang disebabkan karena pemegang saham tidak dapat
secara langsung mengamati perilaku dan tindakan manajer, yang berpotensi menciptakan
masalah moral hazard, atau tidak dapat mengetahui nilai ekonomis perusahaan yang
1
sesungguhnya, yang berpotensi menciptakan masalah adverse selection. Tanpa pengendalian
yang memadai, pemantauan yang efektif, dan transparansi informasi keuangan, investor yang
rasional akan melindungi dirinya dengan meningkatkan biaya ekuitas perusahaan (Ashbaugh
et al., 2004). Corporate governance merupakan mekanisme yang digunakan untuk
mengurangi agency problem dengan meningkatkan pemantauan terhadap tindakan
manajemen, membatasi perilaku oportunistik manajer, dan mengurangi risiko informasi yang
ditanggung oleh pemegang saham. Beberapa penelitian sebelumnya membuktikan bahwa
perusahaan dengan corporate governance yang lebih baik memiliki biaya ekuitas yang lebih
rendah (Derwall dan Verwijmeren, 2007; Byun et al., 2008).
Selain mekanisme corporate governance, struktur kepemilikan diduga juga
berpengaruh terhadap biaya ekuitas. Yao dan Sun (2008) menunjukkan bahwa perusahaan
dengan kepemilikan keluarga sebagai pemegang saham mayoritas memiliki biaya ekuitas
yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lainnya. Hal ini disebabkan karena kontrol yang
dimiliki oleh pemegang saham mayoritas dan peluang untuk memperoleh keuntungan pribadi
lebih besar sehingga investor menginginkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi untuk
mengkompensasi risiko tersebut (Dyck dan Zingales, 2004). Attig et al. (2008) juga
menyatakan ketika perusahaan dimiliki secara mayoritas oleh keluarga tertentu, risiko
informasi menjadi lebih besar dan menyebabkan biaya ekuitas menjadi lebih tinggi.
Jensen (1993) serta Shleifer dan Vishny (1997) berpendapat bahwa investor
institusional, yang juga berperan sebagai fidusiari, memiliki insentif yang lebih besar untuk
memantau manajemen dan kebijakan perusahaan. Pemantauan yang efektif dari investor
institusional dapat mengurangi perilaku oportunistik manajemen yang mengarah pada
berkurangnya agency costs dan biaya ekuitas yang lebih rendah. Pernyataan ini didukung
oleh Collins dan Huang (2010) yang menemukan bahwa kepemilikan institusional berdampak
negatif terhadap biaya ekuitas perusahaan.
2
Selain konflik antara pemegang saham dengan manajer, konflik antara kreditur
dengan pemegang saham merupakan salah satu konflik yang biasa terjadi dalam perusahaan
(Jensen dan Meckling, 1976; Myers, 1977). Sebagai contoh, pemegang saham memiliki
insentif untuk berinvestasi dalam proyek-proyek yang berisiko lebih tinggi dari yang
ditentukan oleh kreditur atau disebut juga dengan risk-shifting problem. Penelitian yang
dilakukan oleh Bhojraj dan Sengupta (2003) serta Chen dan Jian (2006) menekankan bahwa
mekanisme corporate governance memiliki pengaruh negatif terhadap biaya utang
perusahaan. Struktur corporate governance yang sehat merupakan salah satu indikator
penting yang sangat dipertimbangkan oleh kreditur ketika menentukan risk premium
perusahaan.
Penelitian-penelitian sebelumnya menyatakan bahwa struktur kepemilikan suatu
perusahaan juga turut mempengaruhi biaya utang. Berdasarkan penelitian terdahulu,
ditemukan bahwa proporsi kepemilikan keluarga yang besar pada suatu perusahaan dapat
meningkatkan biaya utang. Kepemilikan saham dalam jumlah besar berarti bahwa tingkat
pengendalian yang dimiliki terhadap perusahaan pun semakin besar (Lease et al., 1984).
Pengendalian ini meningkatkan insentif pemegang saham untuk meningkatkan keuntungan
pribadi dan sebagai akibatnya, kreditur mengantisipasi risiko tersebut dengan biaya utang
yang lebih tinggi. Boubakri dan Ghouma (2010) memberikan bukti bahwa kepemilikan
keluarga memiliki pengaruh signifikan positif terhadap biaya utang.
Berbeda dengan kepemilikan keluarga, penelitian yang dilakukan oleh Bhojraj dan
Sengupta (2003) serta Roberts dan Yuan (2009) menemukan bahwa kepemilikan institusional
dapat mengurangi biaya utang perusahaan. Hal ini dikarenakan adanya monitoring yang
efektif oleh pihak institusional dapat mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja
perusahaan. Meningkatnya kinerja perusahaaan membuat risiko perusahaan menjadi lebih
kecil sehingga return yang diinginkan oleh kreditur pun menjadi lebih rendah.
3
Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Shuto dan Kitagawa
(2010) yang menganalisis hubungan antara kepemilikan manajerial dengan biaya utang pada
perusahaan-perusahaan publik di Jepang. Namun, dikarenakan kepemilikan manajerial di
Indonesia relatif sangat kecil, maka digunakan struktur kepemilikan lain dalam penelitian ini,
yaitu kepemilikan keluarga dan kepemilikan institusional. Selain itu, berbeda dengan
penelitian-penelitian sebelumnya yang umumnya menganalisis pengaruh corporate
governance terhadap biaya ekuitas (Byun et al., 2008; Chen et al., 2009) dan biaya utang
(Juniarti dan Sentosa, 2009; Shuto dan Kitagawa; 2010) secara terpisah, dalam penelitian ini
akan dilakukan pengujian untuk menganalisis pengaruh corporate governance terhadap biaya
ekuitas dan biaya utang pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2.
Pengembangan Hipotesis
Secara teoritis, penerapan good corporate governance yang baik dapat meningkatkan
nilai perusahaan karena mengurangi risiko perusahaan dari keputusan-keputusan pihak
manajemen yang cenderung mengutamakan kepentingan pribadi. Penerapan good corporate
governance juga dapat meningkatkan kepercayaan para investor (Newell dan Wilson, 2002).
Meningkatnya kepercayaan investor tersebut disebabkan karena penerapan GCG dianggap
mampu memberikan perlindungan yang efektif terhadap investor dalam memperoleh kembali
investasinya dengan wajar (Tjager et al., 2003).
Penelitian yang dilakukan oleh Derwall dan Verwijmeren (2007) menunjukkan bahwa
perusahaan dengan kualitas corporate governance yang baik memiliki biaya ekuitas yang
lebih rendah. Hal ini juga didukung oleh Byun et al. (2008) dan Chen et al. (2009).
Pengukuran corporate governance dalam penelitian ini menggunakan corporate
governance index. Corporate governance index yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan
telah menerapkan prinsip-prinsip good corporate governance dengan baik. Semakin tinggi
4
corporate governance index, maka semakin besar potensi perusahaan untuk memperoleh
biaya ekuitas yang lebih rendah. Berdasarkan uraian di atas, maka diajukan hipotesis sebagai
berikut:
H1a: Corporate governance index berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas
Kualitas corporate governance juga diduga mempengaruhi besarnya biaya utang
perusahaan. Chen dan Jian (2006) menguji pengaruh dari praktek corporate governance,
dengan menggunakan Information Disclosure and Transparency Rankings System (IDTRs),
terhadap biaya utang dan menemukan bahwa perusahaan dengan tingkat pengungkapan dan
transparansi yang tinggi memperoleh biaya utang yang lebih rendah. Selain itu, penelitian
oleh Piot dan Missonier-Piera (2007) juga membuktikan bahwa kualitas corporate
governance memiliki pengaruh yang signifikan dalam mengurangi biaya utang yang
ditanggung perusahaan. Hal ini disebabkan karena Good Corporate Governance (GCG)
adalah alat penjamin bagi kreditur bahwa dana yang diberikan kepada perusahaan telah
dikelola dengan baik, transparan, dan bertanggung jawab, yang bertujuan untuk melindungi
kepentingan kreditur. Berdasarkan uraian di atas, maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1b: Corporate governance index berpengaruh negatif terhadap biaya utang
Dalam perusahaan dengan kepemilikan keluarga, muncul agency problem antara
pemegang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas (Villalonga dan Amit, 2005).
Hal ini terjadi karena keluarga sebagai pemegang saham mayoritas memiliki kontrol yang
sangat besar terhadap perusahaan dan cenderung menggunakan kontrol yang mereka miliki
untuk meningkatkan keuntungan pribadi pada beban yang ditanggung oleh pemegang saham
minoritas sehingga investor akan menginginkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi untuk
mengkompensasi risiko tersebut (Dyck dan Zingales, 2004).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Yao dan Sun (2008) menunjukkan bahwa
perusahaan dengan kepemilikan keluarga sebagai pemegang saham mayoritas memiliki biaya
5
ekuitas yang lebih tinggi dibandingkan perusahaan lainnya. Excess control yang biasa
ditemukan pada perusahaan yang dimiliki oleh keluarga menyebabkan turunnya nilai
perusahaan sehingga biaya ekuitas perusahaan pun akan meningkat. Penelitian Guedhami dan
Mishra (2006) membuktikan bahwa excess control ini berpengaruh negatif terhadap nilai
perusahaan dan sebagai akibatnya, biaya ekuitas perusahaan menjadi lebih tinggi.
Kepemilikan keluarga diduga berpengaruh positif terhadap biaya ekuitas perusahaan
karena munculnya agency problem antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang
saham minoritas memberikan peluang besar terjadinya ekspropriasi terhadap pemegang
saham minoritas. Hal ini disebabkan oleh excess control yang dimiliki pemegang saham
mayoritas cenderung digunakan untuk memperoleh keuntungan pribadi pada beban yang
ditanggung oleh pemegang saham minoritas. Selain itu, dalam perusahaan dengan
kepemilikan keluarga, risiko informasi juga cenderung lebih tinggi karena adanya
kemungkinan bahwa seluruh informasi tentang perusahaan hanya dikuasai oleh pihak-pihak
tertentu saja. Risiko-risiko tersebut dapat berdampak negatif terhadap nilai perusahaan dan
mengakibatkan biaya ekuitas menjadi lebih tinggi. Berdasarkan uraian di atas, maka diajukan
hipotesis sebagai berikut:
H2a: Kepemilikan keluarga berpengaruh positif terhadap biaya ekuitas
Kepemilikan keluarga juga dapat meningkatkan biaya utang perusahaan. Boubakri
dan Ghouma (2010) memberikan bukti bahwa kepemilikan keluarga memiliki pengaruh
signifikan positif terhadap biaya utang yang diukur dengan bond yield-spreads. Pada
umumnya, perusahaan dengan kepemilikan saham yang terkonsentrasi dapat ditemukan pada
perusahaan milik keluarga, yaitu perusahaan yang dimiliki secara mayoritas oleh keluarga
tertentu atau kepemilikan sahamnya terkonsentrasi pada keluarga tertentu. Boubakri dan
Ghouma (2010) menyatakan bahwa ketika kepemilikan keluarga adalah pemegang saham
mayoritas perusahaan, mereka cenderung menggunakan kontrol yang dimiliki untuk
6
merugikan pihak kreditur (debtholders). Perusahaan dengan kepemilikan keluarga juga
cenderung untuk menggunakan utang dalam membiayai perusahaan daripada menerbitkan
saham baru karena mereka ingin melindungi kontrol yang dimiliki terhadap perusahaan. Hal
ini akan mengakibatkan tingkat utang perusahaan menjadi lebih tinggi dan risiko yang
ditanggung oleh perusahaan pun menjadi lebih besar sehingga pihak kreditur mengantisipasi
risiko tersebut dengan biaya utang yang lebih tinggi.
Oleh sebab itu, perusahaan dengan kepemilikan keluarga sebagai pemegang saham
mayoritas dapat memanfaatkan pengendalian yang dimilikinya untuk meningkatkan
keuntungan pribadi yang sebenarnya merugikan kreditur. Sebagai contoh, pemegang saham
mayoritas memiliki insentif untuk melakukan transfer kekayaan melalui aktivitas pendanaan,
seperti pembayaran dividen yang melebihi batas tertentu yang telah ditetapkan oleh pihak
kreditur (excessive dividend payment). Dengan demikian, kepemilikan keluarga diduga
berpengaruh positif terhadap biaya utang perusahaan karena adanya insentif-insentif tersebut
akan meningkatkan risiko yang ditanggung oleh kreditur sehingga biaya utang perusahaan
pun menjadi lebih tinggi.
Berdasarkan uraian di atas, maka diajukan hipotesis sebagai
berikut:
H2b: Kepemilikan keluarga berpengaruh positif terhadap biaya utang
Juniarti dan Sentosa (2009) menegaskan bahwa investor institusional memiliki
kemampuan yang lebih baik untuk memonitor tindakan manajemen dibandingkan dengan
investor individual dimana investor institusional tidak mudah diperdaya dengan tindakan
manipulasi yang dilakukan oleh manajemen. Selain itu, investor institusional, yang umumnya
juga berperan sebagai fidusiari, memiliki insentif yang lebih besar untuk memantau tindakan
manajemen dan kebijakan perusahaan. Kondisi ini dapat menyebabkan berkurangnya
perilaku oportunistik manajemen yang mengarah pada biaya ekuitas yang lebih rendah.
7
Penelitian yang dilakukan oleh Collins dan Huang (2010) membuktikan bahwa kepemilikan
institusional memiliki dampak negatif terhadap biaya ekuitas perusahaan.
Fidyati (2004) menjelaskan bahwa investor institusional menghabiskan lebih banyak
waktu untuk melakukan analisis investasi dan mereka memiliki akses atas informasi yang
terlalu mahal perolehannya bagi investor lain. Investor institusional berperan secara aktif
dalam corporate governance dengan mengurangi tingkat risiko dari perusahaan tempat
mereka menginvestasikan portofolionya melalui pengawasan manajemen yang efektif. Oleh
karena itu, kepemilikan oleh investor institusional diduga dapat menurunkan biaya ekuitas
perusahaan. Berdasarkan uraian di atas, maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H3a: Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap biaya ekuitas
Bhojraj dan Sengupta (2003) menemukan adanya hubungan negatif antara
kepemilikan institusional dengan biaya utang perusahaan. Hubungan negatif ini juga
ditemukan oleh Piot dan Missonier-Piera (2007) serta Roberts dan Yuan (2009). Hasil
penelitian Roberts dan Yuan (2009) mengindikasikan bahwa kepemilikan institusional dapat
mengurangi biaya pinjaman bank karena dengan kepemilikan institusional yang besar
memberikan insentif untuk melakukan pengawasan atau monitoring yang lebih ketat terhadap
pihak manajemen sehingga mendorong manajemen untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
Meningkatnya kinerja membuat risiko perusahaan menjadi lebih kecil sehingga pihak
kreditur akan mengharapkan return yang lebih rendah. Dengan demikian, kepemilikan
institusional dapat mengurangi biaya utang yang diterima oleh perusahaan.
Elyasiani et al. (2010) menyatakan bahwa kepemilikan institusional memiliki peran
penting terhadap biaya utang. Hal ini dikarenakan investor institusional berada pada posisi
yang lebih baik untuk mempelajari kondisi perusahaan dan mendapat manfaat yang lebih
besar. Perhatian yang diberikan oleh investor institusional dapat menciptakan reputasi
perusahaan yang lebih baik di pasar modal sehingga memungkinkan perusahaan untuk
8
memperoleh biaya utang yang lebih rendah. Elyasiani et al. (2010) juga menyatakan bahwa
stabilitas investor institusional berperan dalam penentuan biaya utang perusahaan dan
dampaknya menjadi lebih kuat pada perusahaan yang memiliki tingkat asimetri informasi
yang tinggi. Hasil penelitiannya memberikan bukti bahwa kepemilikan institusional
berdampak negatif terhadap biaya utang. Berdasarkan uraian di atas, maka diajukan hipotesis
sebagai berikut:
H3b: Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap biaya utang
3.
Metode Penelitian
Pemilihan model penelitian pertama didasari penelitian Yao dan Sun (2008) dan Chen
et al. (2009) dengan beberapa modifikasi. Model penelitian pertama yang digunakan adalah
sebagai berikut:
COEi,t = β0 + β1CGIi,t + β2FAMi,t + β3INSTi,t + β4LEVi,t + β5MTBi,t + β6PERFORMi,t +
β7SIZEi,t + εi,t
COE
CGI
FAM
INST
LEV
MTB
PERFORM
SIZE
ε
= cost of equity (biaya ekuitas) yang dihitung dengan menggunakan Capital
Asset Pricing Model (CAPM)
= skor GCG perusahaan pada tahun t
= persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh keluarga pada tahun t
= persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi pada tahun t
= tingkat leverage perusahaan yang diukur dari debt to equity ratio pada
tahun t
= market to book ratio yang diukur dari market value saham biasa dibagi
dengan book value pada akhir tahun t
= kinerja perusahaan yang diukur dari Return on Assets (ROA) pada tahun t
= ukuran perusahaan yang diukur dari logaritma natural total aset perusahaan
pada tahun t
= error term
Model penelitian kedua menggunakan biaya utang sebagai variabel dependen.
Namun, periode yang digunakan untuk variabel independen dalam model penelitian ini
adalah t-1. Hal ini disebabkan karena tingkat suku bunga pinjaman atau utang yang diberikan
kepada perusahaan ditetapkan di awal, sebelum pinjaman tersebut berlaku sehingga kreditur
9
cenderung mempertimbangkan kondisi atau kinerja perusahaan pada periode sebelumnya.
Pemilihan model penelitian ini didasari oleh penelitian Anderson, Mansi, dan Reeb (2003)
serta Shuto dan Kitagawa (2010). Model penelitian kedua yang digunakan adalah sebagai
berikut:
CODi,t = β0 + β1CGIi,t-1 + β2FAMi,t-1 + β3INSTi,t-1 + β4LEVi,t-1 + β5MTBi,t-1 + β6PERFORMi,t1
+ β7INCRi,t-1 + β8SIZEi,t-1 + εi,t-1
COD
CGI
FAM
INST
LEV
MTB
PERFORM
INCR
SIZE
ε
3.1
= cost of debt (biaya utang) yang dihitung dari rata-rata suku bunga tahunan
pinjaman baru (newly issued debt) yang diperoleh perusahaan pada tahun t
= skor CG perusahaan pada tahun t-1
= persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh keluarga pada tahun t-1
= persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi pada tahun t-1
= tingkat leverage perusahaan yang diukur dari debt to equity ratio pada
tahun t-1
= market to book ratio yang diukur dari nilai pasar saham biasa dibagi dengan
nilai buku ekuitas pada akhir tahun t-1
= kinerja perusahaan yang diukur dari Return on Assets (ROA) pada tahun t-1
= interest coverage ratio yang diukur dari laba sebelum pajak (income before
income tax) ditambah dengan beban bunga, dibagi dengan beban bunga,
pada tahun t-1
= ukuran perusahaan yang diukur dari logaritma natural total aset perusahaan
pada tahun t-1
= error term
Operasionalisasi Variabel Penelitian
3.1.1 Variabel Dependen
a.
Biaya Ekuitas
Variabel dependen dalam model penelitian pertama adalah besarnya biaya ekuitas
perusahaan. Perhitungan biaya ekuitas diukur menggunakan Capital Asset Pricing Model
(CAPM), seperti yang digunakan oleh Murni (2004) dan Riduan (2009). Penggunaan CAPM
ini tidak terlepas dari ketersediaan data-data yang ada. Perhitungan biaya ekuitas dengan
menggunakan CAPM sebagai berikut:
COE = Rf + β Rp
COE =
Rf
=
estimasi cost of equity (biaya ekuitas)
risk free rate yang diproksi dengan rata-rata tingkat suku bunga SBI selama satu
tahun
10
β
=
Rp
=
b.
Biaya Utang
market beta yang diperoleh dari hasil regresi antara return saham perusahaan
dengan market return yang diproksi dengan IHSG dan menggunakan data
mingguan (hanya hari Rabu) selama satu tahun terakhir sehingga diperoleh return
selama 52 minggu
market risk premium atau (Rm – Rf) yang diartikan sebagai return tambahan
(additional return) yang diinginkan oleh investor karena berinvestasi pada
sekuritas yang berisiko. Market risk premium dalam penelitian ini diproksi
dengan menggunakan perhitungan risk premium oleh Damodaran
(www.damodaran.com diakses 3 Oktober 2011)
Variabel dependen dalam model penelitian kedua adalah besarnya biaya utang
perusahaan. Biaya utang dapat didefinisikan sebagai tingkat pengembalian (yield rate) yang
diharapkan oleh kreditur saat melakukan pendanaan dalam suatu perusahaan (Fabozzi, 2007)
atau tingkat bunga yang harus dibayar oleh perusahaan ketika melakukan pinjaman. Biaya
utang dihitung dari besarnya beban bunga yang dibayarkan oleh perusahaan dalam periode
satu tahun dibagi dengan rata-rata jumlah pinjaman yang menghasilkan bunga tersebut
(interest bearing debt) atau disebut juga dengan metode weighted average. Metode ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Francis et al. (2005), Piot dan Missonier-Piera (2007),
serta Juniarti dan Sentosa (2009), yang menggunakan interest rate dari utang perusahaan
untuk menghitung besarnya biaya utang yang diterima oleh perusahaan. Selain itu, penelitian
ini berfokus pada pinjaman baru (newly issued debt) yang diperoleh perusahaan pada periode
berjalan.
3.1.2 Variabel Independen
a.
Corporate Governance Index
Corporate Governance Index diperoleh dari IICD (Indonesian Institute for Corporate
Directorship). Evaluasi penerapan good corporate governance mengacu pada International
Standard Code on GCG yang ditetapkan oleh Organization for Economic Cooperation and
Development (OECD) dengan tetap memperhatikan persyaratan dari Bapepam dan LK serta
Bursa Efek Indonesia. Dalam penelitian ini, skor GCG yang digunakan adalah skor pada
11
tahun 2007 dan 2008 dengan mengasumsikan skor yang diperoleh untuk tahun berikutnya,
yaitu tahun 2009 dan 2010 adalah sama dengan skor pada tahun terakhir (skor tahun 2008).
Hal ini disebabkan oleh keterbatasan data yang tersedia di IICD.
b.
Kepemilikan Keluarga
Menurut La Porta et al. (1998) dalam Arifin (2003), kepemilikan keluarga
didefinisikan sebagai kepemilikan dari individu dan kepemilikan dari perusahaan tertutup (di
atas 5%), yang bukan perusahaan publik, negara, ataupun institusi keuangan. Penelitian ini
menggunakan persentase kepemilikan keluarga dalam struktur saham perusahaan, seperti
yang digunakan oleh Anderson, Mansi, dan Reeb (2002) dan Ayub (2008).
Untuk analisis sensitivitas, kepemilikan keluarga akan diukur dengan variabel dummy,
yaitu 1 untuk perusahaan dengan kepemilikan keluarga 20% atau lebih dan 0 untuk
perusahaan dengan kepemilikan keluarga kurang dari 20%. Ukuran ini mengacu pada PSAK
15 (revisi 2009) yang menyatakan jika investor memiliki, secara langsung maupun tidak
langsung, 20% atau lebih hak suara investee, maka investor dianggap mempunyai pengaruh
signifikan. Analisis ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada atau tidaknya pengaruh
signifikan (bukan hanya besaran persentase kepemilikan) oleh kepemilikan keluarga yang
mempengaruhi besarnya biaya ekuitas dan biaya utang perusahaan.
c.
Kepemilikan Institusional
Kepemilikan institusional adalah kepemilikan saham perusahaan yang dimiliki oleh
investor institusional, seperti perusahaan investasi, bank, perusahaan asuransi, institusi luar
negeri, dana perwalian serta institusi lainnya (Juniarti dan Sentosa, 2009). Istilah investor
institusional mengacu kepada investor yang dilengkapi dengan manajemen profesional yang
melakukan investasi atas nama pihak lain, baik sekelompok individu maupun sekelompok
organisasi (Brancato, 1997). Sesuai dengan definisi di atas, penelitian ini menggunakan
persentase kepemilikan institusional sebagaimana penelitian-penelitian terdahulu (Bhojraj
12
dan Sengupta, 2003; Piot dan Missonier-Piera, 2007; Roberts dan Yuan, 2009; Collins dan
Huang, 2010; Shuto dan Kitagawa, 2010). Untuk analisis sensitivitas kepemilikan
institusional, sama halnya dengan kepemilikan keluarga, akan digunakan variabel dummy,
yaitu 1 untuk perusahaan dengan kepemilikan institusional 20% atau lebih dan 0 untuk
perusahaan dengan kepemilikan institusional kurang dari 20%.
3.1.3 Variabel Kontrol
Leverage dalam penelitian ini diukur menggunakan rasio total utang terhadap total
ekuitas perusahaan pada akhir tahun (debt to equity ratio). Semakin besar nilai leverage,
maka risiko yang dihadapi perusahaan akan meningkat, khususnya risiko yang terkait dengan
ketidakmampuan perusahaan untuk melunasi kewajibannya (kemungkinan perusahaan untuk
mengalami default akan semakin besar). Hal ini menyebabkan pemegang saham dan kreditur
akan meminta tambahan return yang merupakan kenaikan biaya ekuitas dan biaya utang bagi
perusahaan (Byun et al., 2008; Collins dan Huang, 2010; Shuto dan Kitagawa, 2010).
Perusahaan yang memiliki market to book value yang tinggi mencerminkan peluang
pertumbuhan perusahaan semakin besar. Hal ini memberikan prospek yang positif terhadap
perusahaan. Dengan demikian, market to book value diperkirakan berpengaruh negatif
terhadap biaya ekuitas dan biaya utang karena perusahaan dianggap mampu memberikan
kepastian tingkat pengembalian (return) yang lebih terjamin sehingga investor dan kreditur
mengharapkan required rate of return yang lebih rendah (Chen dan Jian, 2006; Chen et al.,
2009; Roberts dan Yuan, 2009).
Kinerja perusahaan diukur menggunaka Return on Assets (ROA) yang dihitung
dengan rumus laba bersih ditambah beban bunga setelah pajak dan dibagi dengan total
aset.Semakin tinggi nilai ROA perusahaan mengindikasikan profitabilitas perusahaan
semakin besar, sehingga risiko yang dihadapi oleh perusahaan menjadi lebih rendah. Hal ini
13
menyebabkan perusahaan dengan ROA yang lebih tinggi diperkirakan memiliki biaya ekuitas
dan biaya utang yang lebih kecil dibandingkan perusahaan dengan ROA yang lebih rendah
(Bhojraj dan Sengupta, 2003; Francis et al., 2005; Chen dan Jian, 2006; Byun et al., 2008).
Interest coverage ratio digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam
memenuhi kewajiban kepada kreditur, baik dalam bentuk pembayaran bunga maupun pokok
utang. Rasio ini merupakan salah satu indikator tingkat solvabilitas perusahaan. Dalam
penelitian ini, interest coverage ratio hanya digunakan sebagai variabel kontrol untuk model
penelitian kedua. Interest coverage ratio yang tinggi merepresentasikan peningkatan
kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya. Dengan kata lain, default risk
perusahaan pun menurun. Solvabilitas perusahaan yang meningkat menyebabkan biaya utang
menjadi lebih rendah (Chen dan Jian, 2006; Piot dan Missonier-Piera, 2007; Shuto dan
Kitagawa, 2010).
Ukuran perusahaan diukur dengan menggunakan logaritma natural dari total aset
perusahaan. Perusahaan dengan total aset yang lebih besar diperkirakan semakin memiliki
kemampuan untuk memenuhi seluruh kewajibannya di periode mendatang. Selain itu,
semakin besar total aset perusahaan, diharapkan perusahaan dapat memberikan tingkat
pengambalian (return) yang lebih pasti kepada investor. Dengan demikian, perusahaan yang
memiliki total aset lebih besar diperkirakan memiliki biaya ekuitas dan biaya utang yang
lebih rendah (Bhojraj dan Sengupta, 2003; Francis et al., 2005; Shuto dan Kitagawa, 2010).
3.2
Seleksi Sampel
Berdasarkan data yang diperoleh dari IDX Fact Book 2008, jumlah populasi
perusahaan yang digolongkan sebagai perusahaan manufaktur sesuai dengan kategori BEI
pada tahun 2007 adalah 138 perusahaan. Dari total tersebut, sampel yang dapat digunakan
14
dan memenuhi kriteria penelitian berjumlah 71 perusahaan. Berikut ini merupakan rincian
pemilihan sampel yang dilakukan dalam penelitian.
Tabel 3.1
Seleksi Sampel
No.
Keterangan
Jumlah
1. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI pada tahun 2007
138
2. Perusahaan mengalami delisting dari BEI selama tahun 2007-2010
(19)
3. Perusahaan tidak menerbitkan laporan keuangan secara lengkap
(4)
Laporan keuangan perusahaan disajikan dalam mata uang asing,
4.
selain Rupiah
(10)
Perusahaan tidak memiliki Corporate Governance Index dengan
5.
lengkap
(4)
6. Perusahaan yang memiliki nilai ekuitas negatif
(11)
7. Perusahaan yang memiliki saham tidak aktif
(7)
Perusahaan tidak memiliki interest bearing debt, baik jangka
8.
pendek maupun jangka panjang
(12)
Jumlah akhir sampel penelitian per tahun
71
Jumlah total sampel penelitian selama tahun 2007-2010
213
4.
Analisis Hasil Penelitian
4.1
Statistik Deskriptif
Berdasarkan tabel 4.1, rata-rata COE (cost of equity) perusahaan sampel adalah
15,83%. Lebih lanjut, dapat dilihat bahwa nilai simpangan baku COE perusahaan sampel
cukup bervariasi dengan nilai minimum 8,07% dan nilai maksimum yang mencapai 33,21%.
Hasil statistik deskriptif untuk variabel Corporate Governance Index menunjukkan nilai ratarata 67,20%. Sesuai dengan kriteria penilaian praktek GCG yang ditetapkan oleh IICD, ratarata perusahaan sampel berada dalam kategori fair, yang berarti bahwa perusahaan tersebut
hanya memenuhi persyaratan peraturan minimum yang terkait dengan penerapan GCG. Hal
ini memberikan gambaran bahwa rata-rata perusahaan manufaktur di Indonesia belum
menunjukkan komitmen tinggi terhadap praktek Good Corporate Governance. Nilai
simpangan baku untuk variabel Corporate Governance Index cukup bervariasi.
15
Variabel independen berikutnya adalah kepemilikan keluarga. Variabel ini memiliki
nilai rata-rata 49,72%. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan sampel ratarata masih dimiliki oleh keluarga dengan proporsi kepemilikan saham sebesar 49,72% dalam
perusahaan. Namun demikian, nilai simpangan baku variabel kepemilikan keluarga sangat
bervariasi antar perusahaan. Nilai tertinggi, yaitu 99,74% yang berarti bahwa pemegang
saham mayoritas dalam perusahaan tersebut adalah keluarga, dan nilai terendah, yaitu 0%
yang berarti tidak ada kepemilikan keluarga dalam perusahaan.
COE
CGI
FAM
INST
LEV
MTB
PERFORM
SIZE (dalam
jutaan rupiah)
Tabel 4.1
Statistik Deskriptif Model Biaya Ekuitas
Std.
Mean
Median
Deviation Minimum
0.1583
0.1431
0.0538
0.0807
0.6720
0.6682
0.0635
0.5718
0.4972
0.5120
0.2794
0
0.1637
0.0590
0.2320
0
1.2552
0.7141
2.2680
0.0011
1.5489
0.9235
1.5420
0.1648
0.0690
0.0626
0.0800
-0.1841
4,509,531
1,054,929
12,411
28,379
Maximum
0.3321
0.8604
0.9974
0.9201
20.1572
9.0176
0.3500
N
213
213
213
213
213
213
213
112,857,000
213
COE = cost of equity; CGI = Corporate Governance Index; FAM = persentase kepemilikan keluarga; INST =
persentase kepemilikan institusional; LEV = leverage (debt to equity ratio); MTB = market to book ratio;
PERFORM = kinerja perusahaan (Return on Assets); SIZE = ukuran perusahaan (logaritma natural total aset)
Rata-rata untuk variabel kepemilikan institusional adalah 0,1637 atau sekitar 16,37%.
Angka ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan kepemilikan keluarga. Dengan kata lain,
kepemilikan institusional secara rata-rata tidak memiliki pengaruh yang signifikan di dalam
perusahaan. Namun, sama halnya dengan kepemilikan keluarga, nilai simpangan baku untuk
variabel ini sangat bervariasi dengan nilai tertinggi, yaitu 92,01% dan nilai terendah 0%.
Tabel 4.2 di bawah ini menyajikan statistik deskriptif dari variabel-variabel yang
digunakan dalam model penelitian kedua, yaitu biaya utang. Pada dasarnya, hasil statistik
deskriptif untuk model biaya utang tidak jauh berbeda dengan statistik deskriptif pada model
biaya ekuitas karena sebagian besar variabel yang digunakan adalah sama.
16
COD
CGI
FAM
INST
LEV
MTB
PERFORM
INCR
SIZE
(dalam jutaan rupiah)
Tabel 4.2
Statistik Deskriptif Model Biaya Utang
Std.
Mean
Median Deviation Minimum
0.1133
0.1144
0.0159
0.0724
0.6650
0.6562
0.0627
0.5438
0.4966
0.5163
0.2805
0
0.1561
0.0501
0.2221
0
1.3288
0.7163
2.2680
0.0011
1.5389
0.8591
1.6206
0.1648
0.0630
0.0529
0.0733
-0.1841
10.2492
2.6380
23.0266 -13.0488
4,152,904
965,811
10,686
Maximum
0.1650
0.8604
0.9974
0.9201
20.1572
10.1263
0.3500
115.1148
N
213
213
213
213
213
213
213
213
32,495 88,398,000
213
COD = cost of debt; CGI = Corporate Governance Index; FAM = persentase kepemilikan keluarga; INST =
persentase kepemilikan institusional; LEV = leverage (debt to equity ratio); MTB = market to book ratio;
PERFORM = kinerja perusahaan (Return on Assets); INCR = interest coverage ratio; SIZE = ukuran
perusahaan (logaritma natural total aset)
Rata-rata COD (cost of debt) perusahaan dalam sampel penelitian adalah 11,33%. Hal
ini berarti bahwa rata-rata perusahaan sampel penelitian memiliki tingkat suku bunga
pinjaman sekitar 11,33%. Rata-rata COD ini juga lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata
COE, yaitu sebesar 15,83%. Hal ini wajar karena utang merupakan sekuritas yang memiliki
risiko lebih rendah dibandingkan saham. Nilai simpangan baku COD perusahaan sampel
cenderung tidak terlalu bervariasi.
Corporate Governance Index menunjukkan nilai rata-rata 0,6650 atau sekitar 66,50%.
Sesuai dengan kriteria penilaian praktek GCG yang ditetapkan oleh IICD, rata-rata
perusahaan sampel berada dalam kategori fair. Nilai simpangan baku untuk variabel
Corporate Governance Index cukup bervariasi. Variabel kepemilikan keluarga memiliki nilai
rata-rata 49,66%. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar perusahaan sampel rata-rata
masih dimiliki oleh keluarga dengan proporsi kepemilikan saham sebesar 49,66% dalam
perusahaan. Namun demikian, nilai simpangan baku variabel kepemilikan keluarga sangat
bervariasi antar perusahaan. Rata-rata untuk variabel kepemilikan institusional adalah 0,1561
17
atau sekitar 15,61%. Dengan kata lain, kepemilikan institusional secara rata-rata tidak
memiliki pengaruh yang signifikan di dalam perusahaan.
Hasil pengujian di tabel 4.31 menunjukkan bahwa corporate governance index
berpengaruh signifikan negatif terhadap biaya ekuitas pada tingkat signifikansi 1% (hipotesis
1a tidak dapat ditolak). Hasil penelitian ini sesuai dengan Derwall dan Verwijmeren (2007),
Byun et al. (2008), dan Chen et al. (2009). Penerapan good corporate governance dapat
mengurangi agency problem dan risiko asimetri informasi yang kerap terjadi antara
perusahaan dengan pemegang saham. Penelitian-penelitian sebelumnya juga menyatakan
bahwa penerapan good corporate governance dapat meningkatkan kepercayaan para investor
karena dianggap mampu memberikan perlindungan yang efektif terhadap investor dalam
memperoleh kembali investasinya dengan wajar. Dengan demikian, corporate governance
merupakan salah satu faktor penting yang dipertimbangkan oleh investor dalam keputusan
investasinya.
Kepemilikan keluarga terbukti memiliki pengaruh signifikan positif terhadap biaya
ekuitas, berarti H2b tidak dapat ditolak. Hasil penelitian ini mendukung penelitian Yao dan
Sun (2008). Hal ini disebabkan karena pada perusahaan dengan kepemilikan keluarga, terjadi
agency problem antara pemegang saham mayoritas dengan pemegang saham minoritas.
Kontrol yang dimiliki oleh pemegang saham mayoritas memberikan insentif yang besar
untuk meningkatkan keuntungan pribadi pada beban yang ditanggung oleh pemegang saham
minoritas. Sebagai akibatnya, investor menginginkan return yang lebih tinggi untuk
mengkompensasi risiko tersebut. Claessens et al. (2000) juga menyatakan bahwa excess
control hampir sebagian besar ditemukan pada perusahaan yang dimiliki oleh keluarga.
Excess control ini menciptakan peluang besar akan terjadinya ekspropriasi terhadap
pemegang saham minoritas oleh pemegang saham mayoritas. Guedhami dan Mishra (2006)
1
Berdasarkan uji yang dilakukan, semua analisis data menggunakan random effect
18
membuktikan bahwa excess control memiliki hubungan positif dengan biaya ekuitas karena
terdapat risiko ekspropriasi.
Tabel 4.3
Hasil Regresi Model Biaya Ekuitas
COEi,t = β0 + β1CGIi,t + β2FAMi,t + β3INSTi,t + β4LEVi,t + β5MTBi,t +
β6PERFORMi,t + β7SIZEi,t + εi,t
Predicted
Variable
Sign
Coefficient
t-Statistic
Prob.
CGI
-0.114433
-2.47 0.008**
+
FAM
0.016131
1.90 0.038*
INST
-0.006456
-0.36 0.344
+
LEV
0.009070
1.85 0.040*
MTB
-0.004016
-1.67 0.048*
PERFORM
-0.021236
-0.49 0.293
SIZE
-0.008413
-2.97 0.002**
C
0.058552
0.72 0.247
F-statistic
5.249136 R-squared
0.1873
Prob (F-statistic)
0.000016 Adjusted R2
0.1596
CGI = Corporate Governance Index; FAM = persentase kepemilikan keluarga; INST =
persentase kepemilikan institusional; LEV = leverage (debt to equity ratio); MTB = market to
book ratio; PERFORM = kinerja perusahaan (Return on Assets); SIZE = ukuran perusahaan
(logaritma natural total aset).
** Signifikan di tingkat 1% * Signifikan di tingkat 5%
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh
signifikan terhadap biaya ekuitas perusahaan (H2c ditolak). Hasil penelitian ini berbeda
dengan penelitian Collins dan Huang (2010) yang menunjukkan bahwa kepemilikan
institusional berdampak negatif terhadap biaya ekuitas perusahaan. Rata-rata kepemilikan
institusional yang masih relatif kecil bila dibandingkan dengan kepemilikan keluarga
mungkin menyebabkan kepemilikan institusional belum dapat memberikan pengaruh yang
signifikan terhadap biaya ekuitas perusahaan. Selain itu, terdapat kemungkinan bahwa pihak
institusional tidak melakukan tindakan pengawasan karena tindakan tersebut membutuhkan
biaya yang cukup besar (Ashbaugh et al., 2004).
Tabel 4.4 menyajikan hasil regresi model kedua. Corporate governance index terbukti
berpengaruh signifikan negatif terhadap cost of debt pada tingkat signifikansi 1%, berarti
19
hipotesis 1c tidak dapat ditolak. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan Bhojraj
dan Sengupta (2003), Chen dan Jian (2006), serta Piot dan Missonier-Piera (2007). Corporate
governance dipandang sebagai mekanisme yang dapat digunakan untuk mengurangi potensi
conflict of interest antara manajemen dan pihak kreditur dengan meningkatkan pemantauan
terhadap tindakan manajemen dan mengurangi risiko misallocation of funds yang ditanggung
oleh kreditur. Penelitian-penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa mekanisme
corporate governance yang efektif adalah salah satu indikator penting yang sangat
dipertimbangkan oleh kreditur ketika menentukan risk premium perusahaan. Praktek
corporate governance diyakini sebagai alat penjamin bagi kreditur bahwa dana yang
diberikan kepada perusahaan dikelola dengan baik dan bertanggung jawab untuk melindungi
kepentingan kreditur.
Tabel 4.4
Hasil Regresi Model Biaya Utang
CODi,t = β0 + β1CGIi,t-1 + β2FAMi,t-1 + β3INSTi,t-1 + β4LEVi,t-1 + β5MTBi,t-1 +
β6PERFORMi,t-1 + β7INCRi,t-1 + β8SIZEi,t-1 + εi,t-1
Predicted
Variable
Sign
Coefficient
t-Statistic
Prob.
CGI
-0.068507
-2.87 0.004**
+
FAM
-0.004678
-0.84 0.103
INST
-0.012273
-1.68 0.048*
+
LEV
0.000203
2.04 0.035*
MTB
0.000335
0.52 0.281
PERFORM
-0.011290
-0.61 0.207
INCR
-0.000049
-1.77 0.043*
SIZE
-0.002285
-2.29 0.011*
C
0.226005
8.72 0.000
F-statistic
2.474719 R-squared
0.1744
Prob (F-statistic)
0.000002 Adjusted R2
0.1438
CGI = Corporate Governance Index; FAM = persentase kepemilikan keluarga; INST =
persentase kepemilikan institusional; LEV = leverage (debt to equity ratio); MTB = market to
book ratio; PERFORM = kinerja perusahaan (Return on Assets); INCR = interest coverage
ratio; SIZE = ukuran perusahaan (logaritma natural total aset).
** Signifikan di tingkat 1% * Signifikan di tingkat 5%
Variabel kepemilikan keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya utang
perusahaan (H2b ditolak). Hasil penelitian ini berbeda dengan Boubakri dan Ghouma (2010)
20
yang menemukan bahwa kepemilikan keluarga memiliki pengaruh signifikan positif terhadap
biaya utang yang diukur dengan bond yield-spreads. Boubakri dan Ghouma (2010)
menyatakan bahwa ketika perusahaan dimiliki secara mayoritas oleh keluarga tertentu,
mereka cenderung menggunakan kontrol yang dimiliki untuk merugikan pihak kreditur
(debtholders) sehingga pihak kreditur mengantisipasi risiko tersebut dengan biaya utang yang
lebih tinggi. Namun, hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Ayub (2008). Hal ini
mengindikasikan bahwa pihak kreditur cenderung untuk tidak memperhatikan proporsi
kepemilikan keluarga dalam menentukan biaya utang yang akan ditanggung oleh perusahaan.
Hal ini juga dapat disebabkan karena Agency Problem tipe I, yaitu agency problem antara
manajer dengan pemegang saham dapat berkurang pada perusahaan dengan kepemilikan
keluarga, walaupun terdapat kemungkinan terjadi Agency Problem tipe II, yaitu antara
pemegang saham mayoritas dan pemegang saham minoritas. Sebagai hasilnya, kepemilikan
keluarga dalam perusahaan tidak terlalu mempengaruhi pengambilan keputusan kreditur
dalam menentukan besarnya biaya utang perusahaan.
Hasil pengujian ini juga berbeda dengan hasil pada model biaya ekuitas yang
menunjukkan bahwa kepemilikan keluarga berpengaruh signifikan positif terhadap biaya
ekuitas perusahaan. Kemungkinan penyebab dari pengaruh yang berbeda ini adalah agency
problem yang terjadi antara pemegang saham mayoritas dan pemegang saham minoritas
dalam perusahaan dengan kepemilikan keluarga memberikan risiko yang lebih besar kepada
investor dibandingkan kreditur. Hal ini berarti bahwa potensi kerugian yang akan ditanggung
oleh investor pun lebih besar daripada kreditur sehingga kepemilikan keluarga dalam
perusahaan memberikan pengaruh signifikan positif terhadap biaya ekuitas.
Kepemilikan institusional ditemukan berpengaruh signifikan negatif terhadap biaya
utang (hipotesis 3b tidak dapat ditolak). Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang
dilakukan oleh Bhojraj dan Sengupta (2003), Piot dan Missonier-Piera (2007), Roberts dan
21
Yuan (2009), Elyasiani et al. (2010), serta Shuto dan Kitagawa (2010). Hasil penelitian ini
juga sesuai dengan penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh Juniarti dan Sentosa (2009)
serta Koesnadi (2010). Hal ini dikarenakan pihak investor institusional diyakini memiliki
kemampuan yang lebih baik untuk memonitor tindakan manajemen dibandingkan dengan
investor individual. Selain itu, pihak institusional, yang umumnya berperan sebagai fidusiari,
memiliki insentif yang lebih besar untuk melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap
pihak manajemen dan kebijakan perusahaan. Adanya monitoring yang efektif oleh pihak
institusional dapat mengurangi perilaku oportunistik manajemen sehingga menyebabkan
risiko perusahaan menjadi lebih kecil dan return yang diinginkan oleh kreditur pun menjadi
lebih rendah.
Hasil tersebut berbeda dengan hasil pengujian pada model biaya ekuitas, yaitu
kepemilikan institusional menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan terhadap biaya
ekuitas yang diterima oleh perusahaan. Perbedaan pengaruh ini dapat disebabkan karena
mayoritas jenis perusahaan publik di Indonesia masih merupakan perusahaan milik keluarga
sehingga adanya monitoring oleh pihak institusional cenderung tidak memiliki pengaruh
terhadap keputusan investor dalam menentukan biaya ekuitas. Di sisi lain, investor
institusional merupakan lembaga keuangan sehingga memiliki persepsi yang sama dengan
kreditur yang memberikan pinjaman kepada perusahaan. Oleh karena itu, pihak kreditur
cenderung lebih mempertimbangkan monitoring yang dilakukan oleh investor institusional.
Selanjutnya dilakukan pengujian sensitivitas dengan mengubah operasionalisasi pada
variabel independen utama, yaitu kepemilikan keluarga dan kepemilikan institusional. Tujuan
analisis sensitivitas ini ialah untuk melihat apakah ada tidaknya pengaruh yang signifikan
dalam kepemilikan keluarga dan kepemilikan institusional turut mempengaruhi biaya ekuitas
dan biaya utang diterima oleh perusahaan.
22
Berdasarkan hasil uji sensitivitas (hasil tidak disajikan), kepemilikan keluarga
ditemukan berpengaruh signifikan positif terhadap biaya ekuitas. Dengan kata lain, hasil uji
sensitivitas ini mengindikasikan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dalam kepemilikan
keluarga menyebabkan biaya ekuitas yang diterima oleh perusahaan menjadi lebih tinggi.
Hasil ini mendukung analisis pada pengujian hipotesis. Hasil pengujian sensitivitas juga
menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap biaya ekuitas.
Dengan demikian, hasil ini memperkuat analisis sebelumnya pada pengujian hipotesis yang
memberikan kesimpulan yang sama.
Kepemilikan keluarga terbukti tidak berpengaruh signifikan terhadap biaya utang
yang ditanggung oleh perusahaan. Hasil ini sesuai dengan hasil pada pengujian utama.
Selanjutnya, hasil pengujian sensitivitas juga menunjukkan bahwa kepemilikan institusional
berpengaruh signifikan negatif terhadap biaya utang. Hal ini berarti bahwa adanya pengaruh
yang signifikan oleh pihak investor institusional mengakibatkan biaya utang yang ditanggung
oleh perusahaan menjadi lebih rendah. Oleh karena itu, hasil uji sensitivitas ini mendukung
analisis pada pengujian utama.
5.
Kesimpulan
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan bukti empiris pengaruh dari unsur
corporate governance, yaitu Corporate Governance Index, kepemilikan keluarga, dan
kepemilikan institusional terhadap biaya ekuitas dan biaya utang. Diperoleh beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1.
Corporate Governance Index terbukti memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap
biaya ekuitas dan biaya utang perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas dari
praktek corporate governance suatu perusahaan dapat mengurangi biaya ekuitas dan
biaya utang. Penerapan corporate governance berarti dianggap mampu meningkatkan
23
pengawasan terhadap manajemen untuk mendorong pengambilan keputusan yang
efektif, mencegah tindakan oportunistik yang tidak sesuai dengan kepentingan
perusahan, dan mengurangi asimetri informasi antara pihak manajemen, shareholder,
dan kreditur.
2.
Kepemilikan keluarga terbukti memiliki pengaruh signifikan positif terhadap biaya
ekuitas perusahaan. Hal ini dapat disebabkan karena dalam perusahaan dengan
kepemilikan keluarga muncul agency problem lain, yaitu antara pemegang saham
mayoritas dan pemegang saham minoritas. Risiko informasi menjadi lebih besar
ketika pemegang saham mayoritas memiliki kontrol di dalam perusahaan. Oleh karena
itu, return yang diinginkan oleh investor menjadi lebih tinggi dan meningkatkan biaya
ekuitas perusahaan. Namun, di sisi lain, kepemilikan keluarga tidak berpengaruh
signifikan terhadap biaya utang. Hal ini mungkin disebabkan karena agency problem
antara manajer dan pemegang saham dapat berkurang pada perusahaan dengan
kepemilikan keluarga, meskipun terjadi agency problem antara pemegang saham
mayoritas dan pemegang saham minoritas. Agency problem antara pemegang saham
mayoritas dan pemegang saham minoritas yang umumnya terjadi dalam perusahaan
dengan kepemilikan keluarga memberikan risiko yang lebih besar kepada investor
dibandingkan kreditur sehingga cenderung mempengaruhi keputusan pemegang
saham atau calon investor dan tidak terlalu mempengaruhi keputusan kreditur.
3. Kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap biaya ekuitas.
Hal ini dapat disebabkan karena mayoritas jenis perusahaan publik di Indonesia masih
merupakan perusahaan milik keluarga sehingga adanya monitoring oleh pihak
institusional cenderung tidak mempengaruhi keputusan investor dalam menentukan
biaya ekuitas perusahaan. Namun, kepemilikan institusional terbukti berpengaruh
signifikan negatif terhadap biaya utang. Dalam hal ini, pihak institusional, yang
24
umumnya juga berperan sebagai fidusiari, dianggap memiliki persepsi yang sama
dengan pihak kreditur dan memiliki insentif yang lebih besar untuk melakukan
monitoring terhadap tindakan manajemen sehingga dapat mengurangi risiko
perusahaan dan risiko yang akan ditanggung oleh kreditur.
Terdapat beberapa keterbatasan penelitian ini. Yang pertama sampel yang digunakan
dalam penelitian ini belum mencakup seluruh perusahaan dan industri yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) serta hanya meliputi 3 tahun periode penelitian. Oleh karena itu,
generalisasi kesimpulan dalam hasil penelitian ini perlu dilakukan dengan hati-hati.
Penelitian berikutnya dapat menambah sampel penelitian dengan memasukkan industriindustri lain yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) danmemperpanjang periode
penelitian.
Keterbatasan kedua adalah Corporate Governance Index yang digunakan dalam
penelitian ini hanya meliputi tahun 2007 dan 2008 karena adanya keterbatasan data dari
IICD.
Ketiga, metode yang digunakan untuk mengukur biaya ekuitas dalam penelitian ini
adalah CAPM (Capital Asset Pricing Model) dimana metode ini mempunyai banyak
kelemahan, terutama karena kondisi pasar modal Indonesia yang belum tentu efisien.
Penelitian berikutnya dapat menggunakan proksi lain yang lebih tepat untuk mengukur biaya
ekuitas perusahaan, misalnya dengan menggunakan dividen growth model atau residual
income model
Keempat, metode yang digunakan untuk mengukur biaya utang dalam penelitian ini
adalah weighted average yang disebabkan karena keterbatasan data lain yang dapat
digunakan, seperti tingkat suku bunga obligasi. Di Indonesia, jumlah perusahaan yang
menerbitkan obligasi masih sedikit sehingga data yang dapat digunakan pun sangat terbatas
jika ingin menggunakan yield to maturity (YTM).
25
Terakhir adalah unsur corporate governance dalam penelitian ini hanya dilihat dari
Corporate Governance Index yang diperoleh dari IICD, kepemilikan keluarga, dan
kepemilikan institusional sehingga mungkin belum mencerminkan keseluruhan praktek
corporate governance yang diterapkan oleh perusahaan. Penelitian selanjutnya dapat
menambah unsur-unsur corporate governance yang lain, seperti efektivitas dewan komisaris,
efektivitas komite audit, dan lain sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, R.C., S.A. Mansi, dan D.M. Reeb. 2002. Founding Family Ownership and the
Agency Cost of Debt. Journal of Financial Economics, 68 (May): 263-285.
Anderson, R.C., Mansi S.A., dan Reeb D.M. 2003. Board Characteristics, Accounting Report
Integrity, and the Cost of Debt. Journal of Accounting and Economics, 37(3), 315-342.
Arifin, Z. 2003. Masalah Agensi dan Mekanisme Kontrol pada Perusahaan dengan Struktur
Kepemilikan Terkonsentrasi yang Dikontrol Keluarga: Bukti dari Perusahaan Publik
di Indonesia. Disertasi Pascasarjana FEUI.
Asbaugh, H., D.W. Collins, and, R. LaFond. 2004. Corporate governance and the cost of
equity capital. Working paper, University of Wisconsin.
Attig, N., O. Guedhami, and D. Mishra. 2008. Multiple large shareholders, control contests,
and implied cost of equity. Journal of Corporate Finance 14, 721–737.
Ayub, M. 2008. Pengaruh Family Ownership terhadap Cost of Debt. Tesis FEUI.
Bhojraj, S., dan Sengupta, P. 2003. Effect of Corporate Governance on Bond Ratings and
Yiels: The Role of Institutional Investors and Outside Directors. Journal of Business, 76
(3), 455-475.
Boubakri, N. and H. Ghouma. 2010. Control/ownership structure, creditor rights protection,
and the cost of debt financing: International evidence. Journal of Banking and Finance
34, 2481-2499.
Brancato, C.K. 1997. Institutional Investors and Corporate Governance. USA: McGraw-Hill.
Byun, H., L. Hwang, and S. Kwak. 2008. The Implied Cost of Equity Capital and Corporate
Governance Practices. Asia-Pacific Journal of Financial Studies 37, 139–184.
Chen, Y.M. dan Jian J.Y. 2006. The Impact of Information Disclosure and Transparency
Rankings System (IDTRs) and Corporate Governance Structure on Interest Cost of
Debt. Working Paper, National Yunlin University of Science and Technology, Taiwan.
Chen, K.C.W., Z.H. Chen, and K.C.J. Wei. 2009. Legal protection of investors, corporate
governance, and the cost of equity capital. Hong Kong University of Science and
Technology.
Claessens, S., S. Djankov, and L.H.P Lang.P. 2000. The separation of ownership and control
in East Asian corporations. Journal of Financial Economics 58: 81–112.
Collins, D. and H. Huang. 2010. Management entrenchment and the cost pf equity capital.
Journal of Business Research 64, 356-362.
Demsetz, H. and K., Lehn. 1985. The Structure of Corporate Ownership: Causes and
Consequences. Journal of Political Economy 93, 1155-1177.
26
Derwall, J. and P. Verwijmeren. 2007. Corporate Governance and the Cost of Equity
Capital: Evidence from GMI’s Governance Rating. European Centre for Corporate
Governance Research Note, RSM Erasmus University, The Netherlands.
Dyck A., and L. Zingales. 2004. Control Premiums and the Effectiveness of Corporate
Governance Systems. Journal of Applied Corporate Finance 16, 51-72.
Elyasiani, E., J. Jia, and C.X. Mao. 2010. Institutional ownership stability and the cost of
debt. Journal of Financial Markets 13, 475-500.
Fabozzi, Frank J. 2007. Bond Market, Analysis and Strategies. Prentice-Hall, Inc. 4th edition.
Fidyati, N. 2004. Pengaruh mekanisme corporate governance terhadap earnings
management pada perusahaan seasoned equity offering (SEO). Jurnal Ekonomi,
Manajemen dan Akuntansi 2(1), 1-23.
Francis, J.R., K.I. Khurana, and R. Pereira. 2005. Disclosure incentives and effects on cost of
capital around the world. The Accounting Review, 80(4), 1125-1162.
Guedhami, O. dan D. Mishra. 2006. Excess control, corporate governance, and implied cost
of equity: An international evidence. Canada: University of Newfoundland.
Gunarsih, T. 2003. Riset Empiris dalam Corporate Governance. Seminar sehari: Issues
Application & Research In Corporate Governance dalam Rangka Launching Pusat
Studi Corporate Governance. FE UTY.
Jensen, M.C. and W. Meckling. 1976. Theory of the firm: Managerial behavior, agency
costs, and capital structure. Journal of Financial Economics, 3: 305-360.
Jensen, M. 1993. The Modern Industrial Revolution, Exit, and the Failure of Internal Control
Systems. Journal of Finance 48: 831-880.
Juniarti dan A. A. Sentosa. 2009. Pengaruh Good Corporate Governance, Voluntary
Disclosure terhadap Biaya Utang (Cost of Debt). Jurnal Akuntansi Keuangan, Vol. 11,
No. 2, November, 88-100.
Koesnadi, R. 2010. Pengaruh Tingkat Pengungkapan dan Kepemilikan Institusional terhadap
Biaya Pinjaman: Studi Empiris atas Emiten LQ45. Tesis FEUI.
La Porta, R., F. Lopez-de-Silanes, and A. Shleifer. 1998. Corporate ownership around the
world. Journal of Finance 54: 471–518.
Lease, R., J.McConnell, dan W. Mikkelson. 1984. The market value of control in publicly
traded corporations. Journal of Financial Economics 11 (April): 439-471.
Murni. 2003. Pengaruh Luas Ungkapan Sukarela dan Asimetri Informasi terhadap Cost of
Equity Capital pada Perusahaan Publik di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi
VI.
Myers, Stewart C., 1977. Determinants of corporate borrowing. Journal of Financial
Economics 5, 147–175.
Newell, R., dan G. Wilson. 2002. A premium for good governance. The MCKinsey Quartely
3, 20-23.
Piot, C., dan F.M. Piera. 2007. Corporate Governance, Audit Quality, and The Cost of Debt
Financing of French Listed Companies. Working Paper http;//ssrn.com.
Riduan, Z. 2010. Pengaruh Tingkat Pengungkapan Sukarela terhadap Cost of Equity Capital
dengan Likuiditas Saham Sebagai Variabel Mediasi. Skripsi FEUI.
Roberts, G.S., dan L. Yuan. 2009. Does Institutional Ownership Affect the Cost of Bank
Borrowing? Working Paper, York University.
Shleifer, A. and R.W. Vishny. 1997. A survey of corporate governance. Journal of Finance
52, 737–783.
Shuto, A., dan N. Kitagawa. 2010. The effect of managerial ownership on the cost of debt:
Evidence from Japan. RIEB Discussion Paper Series, Kobe University.
Singgih, M.L. 2008. Pengukuran kinerja perusahaan dengan metode economic value added.
Tesis Universitas ITS Surabaya.
27
Stein, J.C. 1989. Efficient Capital Markets, Inefficient Firms: A Model of Myopic Corporate
Behavior. Quarterly Journal of Economics 104(4): 655-69.
Tjager, I.N., Alijoyo, F.A., Djemat, H.R., dan Soembodo, B. 2003. Corporate governance:
Tantangan dan kesempatan bagi komunitas bisnis Indonesia. Jakarta: PT. Prenhallindo.
Ujiyantho, Muh. Arief dan Bambang Agus Pramuka. 2007. Mekanisme Corporate
Governance, Manajemen Laba, dan Kinerja Keuangan. Simposium Nasional
Akuntansi X.
Villalonga, B. and R. Amit. 2005. How do family ownership, control, and management affect
firm value? Journal of Financial Economics 80, 385-417.
Yao, J.A and S.Y.J Sun. 2008. Ownership Structure and Cost of Equity Capital in East Asian
Corporations. School of Accounting and Finance, The Hong Kong Polytechnic
University.
28
Fly UP