...

Logika Cinta - Relift Media

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Logika Cinta - Relift Media
LOGIKA CINTA
Anthony Hope
2016
Logika Cinta
Diterjemahkan dari Love’s Logic
karangan Anthony Hope
terbit tahun 1907
(Hak cipta dalam Domain Publik)
Penerjemah
Penyunting
Penyelaras akhir
Penata sampul
: Ilunga d’Uzak
: Kalima Insani
: Bared Lukaku
: Bait El Fatih
Diterbitkan dalam bentuk e-Book oleh:
RELIFT MEDIA
Jl. Amil Sukron No. 47
Kec. Cibadak Kab. Sukabumi
Jawa Barat 43351
SMS
: 0852 8834 8383
Surel
: [email protected]
Situs
: reliftmedia.com
Pertama kali dipublikasikan pada: Maret 2016
Revisi terakhir: Copyright © 2016 CV. RELIFT
Hak kekayaan intelektual atas terjemahan dalam buku ini adalah milik
penerbit. Dilarang mengutip dan/atau memperbanyak seluruh atau
sebagian isi buku ini dalam bentuk dan cara apapun tanpa izin tertulis dari
penerbit.
Buku ini adalah karya fiksi. Semua nama, karakter, bisnis,
organisasi, tempat, peristiwa, dan kejadian hanyalah imajinasi
penulis. Segala kemiripan dengan seseorang, hidup atau mati,
peristiwa, atau lokasi kejadian hanyalah kebetulan belaka.
Adegan berlangsung di lorong atau koridor, yang terletak di
antara dua konservatori, satu di sebelah kanan, satu lagi di
sebelah kiri. Selain tanaman dan ornamen lain, koridor ini
dilengkapi dipan dan meja bundar kecil dengan satu kursi lengan
di sampingnya. Waktunya antara jam sebelas sampai dua belas
malam.
Punggung Tn. Marchesson kelihatan di lawang pintu konservatori
kanan.
Tn. Marchesson (berbicara kepada seseorang yang tak kelihatan
di dalam konservatori) :
Mohon maaf, tapi aku ada janji bertemu seseorang di klub. (Jeda.)
Maafkan aku? Oh, seseorang bernama Smith—kau tak kenal
dengannya. (Jeda.) Ya, kuharap kita segera berjumpa lagi, tapi
takutnya aku harus keluar kota. (Jeda.) Selamat malam. (Mundur
sedikit lebih jauh ke koridor.) Piuuh!
Punggung Nn. Grainger kelihatan di lawang pintu konservatori
kiri.
Nn. Grainger (berbicara kepada seseorang yang tak kelihatan di
dalam konservatori.) :
Ya, tentu saja kita akan berteman. Apa? (Jeda.) Oh ya, teman
hebat. Apa? (Jeda.) Entahlah—mungkin aku akan keluar kota.
Selamat malam. (Dia mundur ke koridor, mengarahkan matanya
5
ke atas, dan menarik nafas panjang.)
Sementara itu Tn. Marchesson sudah mengeluarkan sebatang
cerutu, dan hendak menyalakannya tatkala mereka berbalik dan
saling melihat. Keduanya kaget, tersenyum, kemudian bertingkah
serius dan agak formal.
Tn. Marchesson (Menempatkan kedua tangannya di belakang,
dengan cerutu dan korek) :
Oh, aku minta maaf! Kupikir tak ada orang— (Dia berbalik,
seolah hendak menarik diri ke dalam konservatori.)
Nn. Grainger :
Tolong jangan pergi—dan tolong merokoklah. Di sini enak dan
sejuk, bukan? (Dia duduk di dipan dan berkipas dengan lemahlembut.)
Tn. Marchesson :
Bolehkah? (Dia maju sedikit, mengangkat cerutu.) Kau yakin tak
keberatan?
Nn. Grainger mengangguk. Tn. Marchesson menyulut cerutu.
Nn. Grainger :
Di dalam sana begitu hangat. (Menunjuk konservatori kiri.)
6
Tn. Marchesson (Dengan perasaan.) :
Di sana juga. (Menunjuk konservatori kanan. Dia menyeka alis,
Nn. Grainger tekun mengipasi diri.) Piuuh!
Nn. Grainger :
Kau memang terlihat agak—gugup.
Tn. Marchesson :
Well, sebetulnya kau juga.
Mereka saling memandang, mencoba tetap serius, tapi keduanya
segera tertawa malu dan singkat. Tn. Marchesson mendekat satu
langkah, menaruh tangannya pada sandaran kursi.
Tn. Marchesson :
Aku mengerti! Aku hafal tanda-tandanya! (Nn. Grainger menatapnya penuh selidik dan geli. Tn. Marchesson mengangguk ke arah
konservatori kiri.) Kau baru menolak seseorang di dalam sana.
Nn. Grainger :
Masa? (Menunjuk konservatori kanan.) Terus apa yang baru kau
lakukan di sana?”
Tn. Marchesson (Setelah melirik lewat bahu.) :
Karena kau tak melihat wanita itu, aku tak keberatan mengakui
perbuatan yang sama.
7
Nn. Grainger (Mengangkat alis.) :
Menolak?
Tn. Marchesson :
Menolak—untuk meminang.
Nn. Grainger :
Oh!
Tn. Marchesson (Dia merokok penuh semangat, lalu melempar
cerutunya ke dalam sebuah wadah.) :
Tapi keadaanmu jauh lebih ringan daripada kami. Aku pasti
terdengar seperti idiot congkak, aku tahu, tapi—well, kau paham,
sebetulnya—
Nn. Grainger :
Sebetulnya kau Tuan Marchesson—?
Tn. Marchesson (Senang.) :
Kau tahu namaku?
Nn. Grainger :
Oh ya. Namaku Grainger.
Tn. Marchesson :
Ya. Aku—aku tahu namamu, Nona Grainger.
8
Nn. Grainger :
Kau berlian? (Sambil bicara dia meraba berlian yang dikenakannya. Tn. Marchesson mengangguk muram.) Aku sabun. (Tn.
Marchesson melirik tangannya sendiri sekejap.) Jadi, tentu saja—!
(Dia mengangkat bahu dan menutup kipas. Jeda sebentar.)
Tn. Marchesson :
Memuakkan, bukan?
Nn. Grainger :
Well, membosankan.
Tn. Marchesson :
Lebih buruk lagi. Itu merendahkan, mematahkan hati, merusak
karakter. Itu melemahkan keyakinanku pada umat manusia,
mengungkung tindakanku, membatasi kasih-sayangku, memutusku
dari persahabatan, dari pertemanan seru dan polos yang didamba
jiwaku. Hanya aku yang mungkin tidak memandang seorang gadis
cantik dengan kekaguman tulus, hanya aku yang mungkin tidak—
Nn. Grainger :
Duduk di dalam konservatori?
Tn. Marchesson (Merinding.) :
Terutama sekali—bukan itu! Kukatakan padamu, ini telah
menjadikanku lajang selama bertahun-tahun! Dan kau selama—
9
Nn. Grainger :
Bertahun-tahun?
Tn. Marchesson (Tersenyum.) :
Berbulan-bulan! Sepanjang musim lalu dan sebagian besar musim
ini! Contohnya perkaramu sekarang—
Nn. Grainger (Mencondong antusias.) :
Oh ya, silakan!
Tn. Marchesson :
Sudah sewajarnya kau akan senang dikerumuni pria, kau akan suka
ditemani mereka, diiringi mereka, dikagumi mereka. Kau akan
senang dengan rayuan polos tapi pedas.
Nn. Grainger :
Haruskah?
Tn. Marchesson (Menatapnya.) :
Well, ya, kurasa akan. Jangan coba-coba dengan itu!
Nn. Grainger :
Secara umum itu fatal, kuakui.
Tn. Marchesson :
Bahkan tak tertahankan. Aku akan pasang plakat pada rompiku
10
—“Tidak Untuk Dijual”.
Nn. Grainger :
Dan sebaiknya aku jadi suster rumah sakit!
Tn. Marchesson :
Obat yang agak ganjil, Nona Grainger. Tapi, dalam beberapa
bentuk, selibat—terbuka dan terus-terang—adalah satu-satunya
peluang kita. (Dia menjatuhkan diri ke kursi.)
Nn. Grainger (Pelan.) :
Kecuali kalau ada seseorang yang—
Tn. Marchesson :
Kau tak sadar siapa dirimu? Itu tak bisa dilakukan di zaman
sekarang ini, dengan adanya pers bergambar! Dan—maaf kalau
aku menyinggung ini—tapi ayahmu yang penyayang telah menempatkanmu pada pembungkus sabun. Dan berkat penjualan besar
barang tersebut—
Nn. Grainger :
Ya, aku tahu. Tapi maksudku—kalau ada seseorang yang tidak—
tidak peduli dengan uang?
Tn. Marchesson (Setengah berbisik.) :
Bilangnya saja tidak!
11
Nn. Grainger :
Memangnya siapa—siapa yang betul-betul hanya mengurus—
dirinya sendiri? Oh, aku pasti terdengar romantis dan absurd; tapi
kau—kau tahu apa maksudku, Tuan Marchesson? Orang-orang
semacam itu ada, bukan?
Tn. Marchesson :
Well, meski diakui ada—dan ini pengakuan bagus, yang kubatasi
pada jenis kelamin pria saja—pertama kau takkan mempercayainya setengah kali, dan kedua dia takkan mempercayai dirinya
setengah kali, dan ketiga teman-temanmu takkan mempercayainya
berapa kalipun.
Nn. Grainger :
Itu ngeri—khususnya teman-teman, maksudku.
Tn. Marchesson :
Teman-teman wanita!
Nn. Grainger :
Tentu saja.
Tn. Marchesson :
Aspek menyebalkan lain dari urusan ini! Apa kau—apa aku—
pernah mendapat pujian pantas atas daya tarik pribadi kita? Tidak!
Tidak pernah!
12
Nn. Grainger (Dengan keyakinan.) :
Betul sekali.
Tn. Marchesson :
Jadi panutanmu sekalipun, kalau kau menemukannya, takkan
memenuhi perkara ini. Adapun panutanku, tak ada selain Diogenes
yang akan mengemban tugas menemukannya.
Nn. Grainger (Merenung.) :
Apa tak ada yang masa bodoh dengan uang?
Tn. Marchesson :
Hanya jika mereka sudah dapat lebih dari yang diinginkan. (Dia
meliriknya, tanpa disadari olehnya, bangkit, mengantongi kedua
tangan, dan menatapnya.) Hanya orang kaya tak bahagia.
Nn. Grainger (Bangun dari kelinglungan.) :
Maaf, apa barusan?
Tn. Marchesson :
Bayangkan seseorang yang dikenyangkan, dijenuhkan, dilemaskan
olehnya; seseorang yang harus mengupah enam orang lain untuk
mengurusnya; seseorang yang tak bisa hidup gara-gara pajak
penghasilan, dan tak berani mati gara-gara pajak kematian;
seseorang yang diliputi rumah-rumah tanpa bisa ditempati, pesiarpesiar tanpa bisa dilayarkan, kuda-kuda tanpa bisa ditunggangi;
13
seseorang yang di dalam dirinya susu kebaikan manusia diasamkan
oleh para penyemu, dan yang baginya “perkara patut” sekalipun
telah kehilangan pesona; seseorang yang telah mengelilingi d—
dunia—maaf, mohon maaf—yang telah mengelilingi dunia
sengsara dua kali, dan menembak setiap binatang buas di atasnya
paling tidak satu kali; yang muak bermain, dan tak berani bekerja
karena takut mendapat laba—
Nn. Grainger :
Kedengarannya kau seperti melukiskan dirimu sendiri.
Tn. Marchesson :
Oh, tidak, tidak! Tidak! Sekurangnya—ehm—jika sama sekali,
kebetulan saja. Akan kulukiskan dirimu sekarang, kalau kau suka.
Nn. Grainger :
Aku sama sekali tak tergetar oleh pengkhotbah baru!
Tn. Marchesson :
Nah—singkatnya, ya ampun! Nona Grainger, kita sudah temukan
orang yang kita mau, orang yang masa bodoh dengan uang, dan
akan—atau dapat—menikahi kita karena cinta semata.
Nn. Grainger (Tertawa.) :
Maksudmu—satu sama lain? Itu akhir yang agak menggelikan
untuk obrolan filsafat kita, bukan? (Dia bangkit, masih tertawa,
14
dan mengulurkan tangan.) Selamat malam.
Tn. Marchesson (Dengan marah.) :
Selamat malam—! Ah, obrolan kita baru sampai pada poin paling
menarik!
Nn. Grainger :
Well, asal tahu saja—kau sudah melakukan hampir semuanya
sendirian.
Tn. Marchesson :
Oh, tapi jangan pergi! Aku—akan kulakukan dengan lebih baik—
dan barangkali lebih cepat—kalau kau mau tinggal sebentar.
Nn. Grainger (Duduk lagi, sambil tertawa.) :
Kuberi kau waktu lima menit saja untuk menyudahi argumen ini.
Tn. Marchesson :
Kesimpulannya jelas ada dalam logika. Aku harus melamarmu, dan
kau harus menerima.
Nn. Grainger (Tertawa.) :
Logika adalah logika, tentu saja, Tuan Marchesson—tapi kita
belum pernah diperkenalkan! Kukira kau tidak harus merasa
terpaksa menempuh upacara yang kau usulkan itu. Kita akan jadi
tak logis, dan katakan selamat malam.
15
Tn. Marchesson :
Kau mengakui logika? Kau lihat kekuatannya?
Nn. Grainger :
Tapi wanita tidak bertindak menurut logika.
Tn. Marchesson :
Itu selalu jadi dalih yang bagus.
Nn. Grainger :
Kalau kau mau dalih, ya. (Dia hendak bangkit lagi.)
Tn. Marchesson :
Aku mau dalih. (Nn. Grainger menggeleng, tertawa.). Aku serius.
Nn. Grainger :
Kau sungguh tak ingin aku memikirkannya? Pertama kali kita
berjumpa? Wanita di dalam sana (menunjuk konservatori kanan)
pasti telah membuatmu ketakutan!
Tn. Marchesson :
Sebelum logika ini terbetik di kepalaku—yang terjadi baru malam
ini—aku berpikir tak ada baiknya berusaha mengenalmu.
Nn. Grainger :
Kukira kau tak pernah memikirkannya sama sekali.
16
Tn. Marchesson :
Tak ada yang bisa kuberikan padamu—dan tak ada yang bisa kau
berikan padaku! Begitulah kelihatannya di masa ketidaklogisan.
Sekarang lain sama sekali. Jadi aku bersikukuh—dengan upacara
itu.
Nn. Grainger (Tertawa, tapi sedikit gelisah.) :
Kalau begitu, teruskan. Tapi logikamu tidak mengikatku, kau tahu.
(Tn. Marchesson menghampiri dan duduk di sampingnya di atas
dipan.) Ya, benar—tapi jangan terlalu banyak menaruh perasaan ke
dalamnya. Itu—itu cuma logika! Tidak, rasanya aku—aku tidak
ingin kau meneruskan. Aku—aku rasa itu bukan lelucon bagus.
Tn. Marchesson :
Ini bukan lelucon. Aku belum pernah diperkenalkan padamu, kau
bilang. Aku tak pernah bicara denganmu sebelum malam ini, aku
tahu. Tapi kau bukan orang asing bagiku. Ada beberapa hari dalam
tiga bulan terakhir di mana aku tak berhasil menemuimu—
Nn. Grainger (Pelan.) :
Berhasil menemuiku—berhasil?
Tn. Marchesson :
Ya—tapi harus kukatakan kau pergi ke beberapa tempat yang
sangat membosankan kecuali karena kehadiranmu. Aku tak tahan
dengan mereka, Nona Grainger. Aku mengesampingkan setiap
17
orang! Kau pernah memperhatikanku?
Nn. Grainger :
Tentu saja tidak. (Tn. Marchesson menatapnya.) Tentu saja aku
pernah melihatmu, tapi tak pernah memperhatikanmu. (Tn.
Marchesson terus menatapnya.) Tidak secara khusus, pokoknya.
Tn. Marchesson :
Kukira aku sudah ke sana seratusan kali. Berapa sering kau
memperhatikanku.
Nn. Grainger :
Aneh sekali! Aku yakin tidak ingat. Sangat jarang.
Tn. Marchesson :
Kau tidak ingat waktu pertama pun?
Nn. Grainger :
Oh ya, waktu itu di— Tidak, sama sekali tidak.
Tn. Marchesson :
Ya, waktu itu di tempat Phillips! (Nn. Grainger tersenyum di luar
kemauan. Tn. Marchesson ikut tersenyum.) Aku senang kau ingat.
Nn. Grainger :
Kau membelalak sebegitu—mungkin kau ingat.
18
Tn. Marchesson :
Apa aku membelalak setiap waktu?
Nn. Grainger :
Sering sekali.
Tn. Marchesson :
Kau perhatikan itu?
Nn. Grainger :
Setiap kali memperhatikanmu, kuperhatikan itu.
Tn. Marchesson :
Dan kau perhatikan itu sering sekali! Karenanya kau memperhatikanku—
Nn. Grainger :
Tolong, jangan ada lagi logika!
Tn. Marchesson :
Tapi kau mencoba perlakukan aku sebagai orang asing!
Nn. Grainger :
Ini lebih urusan percobaan bagimu, bukan? Kau sangat tidak
rentan dengan perlakuan tersebut.
19
Tn. Marchesson :
Dan berpura-pura kaget oleh keinginanku untuk menikahimu!
Kalau logikanya masih menyisakan keraguan padamu—
Nn. Grainger :
Ragu! Aku tak pernah bilang ragu!
Tn. Marchesson :
Lihat sisi romantisnya! Alangkah romantis membuang waktumu
demi kekayaan! Tak pernahkah kau berpikir soal itu? Tidak saat
aku—membelalak?
Nn. Grainger :
Aku tidak serius menyebutmu betul-betul membelalak. Kau—kau
—kau— Oh, sebetulnya kau menolongku! Apa yang kau lakukan?
Tn. Marchesson :
Aku ingin dengar kau mengatakannya.
Nn. Grainger :
Well, sejak awal ada sesuatu pada rautmu—maksudku caramu
menatapku—tak bisa kulukiskan, tapi semakin lama semakin
terasa seperti itu.
Tn. Marchesson :
Ya, kurasa aku meniatkannya begitu.
20
Nn. Grainger :
Tak pernah lancang atau—atau kurang ajar. Menyenangkan, itu
saja, Tuan Marchesson.
Tn. Marchesson :
Kukatakan, seperti itukah lelaki baik yang kau tolak di dalam sana
(menunjuk konservatori kiri) seribu tahun lalu?
Nn. Grainger :
Sangat—begitu tampan! Aku betul-betul menyukainya. Dan gadis
yang kau tolak—
Tn. Marchesson :
Untuk kupinang—
Nn. Grainger :
Di dalam sana? (Menunjuk konservatori kanan.)
Tn. Marchesson :
Sungguh, kau tahu—sejujurnya—dia sangat mempesona. Kenapa
kita?
Nn. Grainger :
Apa?
21
Tn. Marchesson :
Kubilang, “Kenapa kita?”
Nn. Grainger :
Apa itu—seribu tahun lalu? Ya?
Tn. Marchesson :
Yang tentunya menjadikan absurd menyebut kita tidak saling
kenal.
Nn. Grainger :
Aku tak lagi memikirkan itu. Oh, kau masih—?
Tn. Marchesson :
Aku masih—serius dengan itu.
Nn. Grainger (Bangkit.) :
Kupikir—biar bagaimanapun—tidak buruk juga berada di—di—
Tn. Marchesson : Konservatori?
Mereka saling memandang dan tertawa.
Nn. Grainger :
Memikirkannya saja terasa sangat absurd.
22
Tn. Marchesson :
Ini sangat logis! Dan, ngomong-ngomong, sudah saatnya aku
bertanya.
Nn. Grainger :
Belumkah?
Tn. Marchesson :
Kalau begitu sudah saatnya kau menjawab.
Nn. Grainger (Memegang tangan Tn. Marchesson.) :
Belumkah?
Tn. Marchesson :
Akan
ada
banyak
desas-desus
tentang
ini
besok!
(Dia
menyodorkan lengan, lalu mereka berjalan ke arah konservatori
kiri.) Oh, konservatorimu? Tidak!
Nn. Grainger :
Punyamu sama jeleknya.
Tn. Marchesson :
Kalau begitu tetaplah di sini.
Nn. Grainger :
Bawa aku ke kereta kudaku. Dan—dan lihat saja apa aku tidak
23
logis besok. (Tn. Marchesson melepas lengan Nn. Grainger dan
mengecup tangannya. Nn. Grainger menambahkan dengan suara
pelan:) Dan—entah kenapa—ini memang absurd—malam ini
begitu bahagia! Mau ikut denganku?
Tn. Marchesson :
Maukah aku tetap di sini? Ayo! Cepat—lewat konservatorimu!
(Dia menggandeng pinggangnya.) Ayo!
Mereka menghilang ke dalam konservatori kiri.
24
Fly UP