...

HARRY POTTER AND THE ORDER OF THE PHOENIX J.K. Rowling

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

HARRY POTTER AND THE ORDER OF THE PHOENIX J.K. Rowling
HARRY POTTER
AND
THE ORDER OF THE PHOENIX
J.K. Rowling
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB SATU -Dudley Diserang Dementor
Hari terpanas sejauh ini pada musim panas telah mulai berakhir dan keheningan yang
membuat mengantuk melanda rumah-rumah besar berbentuk bujursangkar di Privet
Drive. Mobil-mobil yang biasanya mengkilat diliputi debu di jalan-jalan masuk dan
halaman-halaman yang dulunya hijau jamrud terbentang kering dan menguning -karena penggunaan pipa air telah dilarang akibat kekeringan. Dirampas dari kebiasaan
mencuci mobil dan memotong rumput halaman mereka, para penghuni Privet Drive
telah mengundurkan diri ke dalam lindungan rumah-rumah mereka yang teduh,
dengan jendela-jendela dibuka lebar-lebar untuk memancing masuknya angin sepoisepoi yang memang tidak ada. Satu-satunya orang yang berada di luar rumah adalah
seorang remaja lelaki yang sedang berbaring telentang pada bedeng bunga di luar
nomor empat.
Dia adalah seorang anak laki-laki kurus, berambut hitam, dan berkacamata yang
memiliki tampilan wajah kurus, agak kurang sehat seperti seseorang yang telah
tumbuh begitu banyak dalam waktu singkat. Celana jinsnya robek dan kotor, baju
kaosnya kedodoran dan sudah pudar, dan sol sepatu olahraganya terkelupas dari
bagian atas sepatu. Penampilan Harry Potter tidak membuatnya disenangi para
tetangga, yang merupakan jenis orang-orang yang menganggap ketidakrapian
seharusnya dapat dihukum dengan undang-undang, tetapi karena dia telah
menyembunyikan dirinya di belakang sebuah semak hydrangea besar malam ini, dia
cukup kasat mata bagi orang-orang yang lewat. Kenyataannya, satu-satunya cara dia
dapat terlihat adalah bila Paman Vernon atau Bibi Petunianya menjulurkan kepalakepala mereka keluar dari jendela ruang tamu dan melihat langsung ke bedeng bunga
di bawahnya.
Secara keseluruhan, Harry berpikir dia seharusnya diberi selamat atas idenya
bersembunyi di sini. Mungkin dia tidak begitu nyaman berbaring di atas tanah yang
panas dan keras tetapi, di sisi lain, tidak ada orang yang melotot kepadanya,
menggertakkan gigi-gigi mereka demikian kerasnya sehingga dia tidak dapat
mendengarkan warta berita, atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak
menyenangkan kepadanya, seperti yang telah terjadi setiap kali dia mencoba duduk di
ruang tamu untuk menonotn televisi dengan paman dan bibinya.
Hampir seperti pikiran ini melayang melalui jendela yang terbuka, Vernon Dursley,
paman Harry, tiba-tiba berkata.
'Senang melihat bocah itu sudah berhenti mengganggu. Ngomong-ngomong, di
mana dia?'
'Tidak tahu,' kata Bibi Petunia, tidak khawatir. 'Tidak di dalam rumah.'
Paman Vernon menggerutu.
'Menonton warta berita ...' dia berkata dengan pedas. 'Aku ingin tahu apa maksud
dia yang sebenarnya. Seperti anak normal peduli saja apa yang ada di warta berita -Dudley sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi; aku ragu dia tahu siap yang
menjadi Perdana Menteri! Lagipula, bukannya akan ada apapun mengenai
kelompokknya di berita kita --'
'Vernon, shh!' kata Bibi Petunia. 'Jendelanya terbuka!'
'Oh -- ya -- maaf, sayang.'
Keluarga Dursley terdiam. Harry mendengarkan jingel mengenai sereal sarapan
pagi Fruit 'n' Bran sementara dia memperhatikan Mrs Figg, seorang wanita tua pecinta
kucing yang agak sinting dari Wisteria Walk yang letaknya tidak jauh, lewat pelanpelan. Dia sedang merengut dan bergumam pada dirinya sendiri. Harry sangat
senanga dirinya tersembunyi di belakang semak, karena belakangan ini Mrs Figg
sering mengajaknya minum teh kapanpun mereka berjumpa di jalan. Dia telah
membelok di sudut dan menghilang dari pandangan sebelum suara Paman Vernon
melayang keluar jendela lagi.
'Dudders keluar minum teh?'
'Di rumah Polkiss,' kata Bibi Petunia dengan penuh sayang. 'Dia punya begitu
banyak teman kecil, dia begitu populer ...'
Harry menahan dengusan dengan susah payah. Keluarga Dursley benar-benar bodoh
jika menyangkut anak mereka, Dudley. Mereka menelan semua kebohongannya
tentang minum teh bersama anggota gengnya yang berlainan setiap malam pada
liburan musim panas. Harry tahu sekali bahwa Dudley tidak minum teh di manapun;
dia dan gengnya menghabiskan setiap malam merusak taman bermain, merokok di
sudut-sudut jalan dan melempar batu-batu pada mobil-mobil dan anak-anak yang
lewat. Harry telah melihat mereka melakukannya selama jalan-jalan malamnya di
sekitar Little Whinging; dia telah melewati sebagian besar liburan dengan berkeliaran
di jalan-jalan, memunguti surat kabar dari tong-tong sampah yang dijumpainya.
Not-not pembukaan dari musik yang mengawali warta berita pukul tujuh malam
mencapai telinga Harry dan perutnya serasa terbalik. Mungkin malam ini -- setelah
penantian sebulan -- akan menjadi malam yang dinanti.
'Orang-orang yang sedang berlibur yang mengalami penundaan memenuhi
lapangan-lapangan terbang dalam jumlah yang memcahkan rekor, sementara
pemogokan para pengurus bagasi Spanyol mencapai minggu kedua --'
'Berikan mereka tidur siang seumur hidup, itu yang akan kulakukan,' geram Paman
Vernon di akhir kalimat si pembaca berita, tetapi tidak mengapa: di luar di bedeng
bunga, perut Harry sepertinya melunak. Jika ada yang terjadi, pastilah menjadi hal
pertama dalam warta berita; kematian dan kehancuran lebih penting daripada orang
berlibur yang tertunda.
Dia mengeluarkan napas panjang dan pelan dan menatap langit biru cemerlang.
Setiap hari dalam musim panas ini sama saja: ketegangannya, pengharapannya,
kelegaan sesaat, dan kemudian ketegangan yang memuncak lagi ... dan selalu, tumbuh
semakin kuat sepanjang waktu, pertanyaan kenapa belum ada yang terjadi.
Dia terus mendengarkan, kalau-kalau ada petunjuk kecil, yang tidak disadari para
Muggle -- orang yang menghilang tanpa penjelasan, mungkin, atau beberapa
kecelakan aneh ... tetapi pemogokan para pengurus bagasi diikuti oleh berita
mengenai kekeringan di Tenggara ('Kuharap dia sedang mendengarkan di rumah
sebelah!' teriak Paman Vernon, 'Orang itu dengan penyembur airnya yang nyala pada
pukul tiga pagi!'), lalu sebuah helikopter y ang hampir jatuh ke sebuah ladang di
Surrey, kemudian perceraian seorang aktris tenar dari suaminya yang terkenal
('Seperti kita peduli saja dengan urusan-urusan mereka yang kotor,' dengus Bibi
Petunia, yang telah mengikuti kasus tersebut dengan obsesif di semua majalah yang
dapat diraihnya dengan tangan kurusnya).
Harry menutup matanya dari langit malam yang sekarang telah berkobar ketika
pembaca berita berkata, '-- dan akhirnya, Bungy si berang-berang telah menemukan
cara baru untuk tetap sejuk di musim panas ini. Bungy, yang tinggal di Five Feathers
di Barnsley, telah belajar ski air! Mary Dorkins pergi untuk mencari tahu lebih
banyak.'
Harry membuka matanya. Jika mereka telah mencapai berang-berang yang berskiair, tidak akan ada lagi yang patut didengar. Dia berguling dengan hati-hati dan
bangkit bertumpu pada lutut dan sikunya, bersiap-siap untuk merangkak keluar dari
bawah jendela.
Dia telah berpindah sekitar dua inci ketika beberapa hal terjadi dalam urutan yang
sangat cepat.
Sebuah bunyi letusan keras yang menggema memecahkan keheningan seperti bunyi
tembakan; seekor kucing melintas keluar dari bawah sebuah mobil yang diparkir dan
hilang dari pandangan; sebuah pekikan, teriakan sumpah serapah dan suara porselen
yang pecah datang dari ruang tamu keluarga Dursley, dan ini seakan-akan merupakan
tanda yang telah ditunggu Harry karena dia melompat ke atas kedua kakinya, pada
saat yang sama menarik keluar dari ban pinggang celana jinsnya sebuah tongkat kayu
kurus seperti mengeluarkan pedang dari sarungnya -- tetapi sebelum dia dapat berdiri
tegak, bagian atas kepalanya terantuk jendela keluarga Dursley yang terbuka.
Benturan yang diakibatkannya membuat Bibi Petunia menjerit lebih keras lagi.
Harry merasa seakan-akan kepalanya telah terpecah menjadi dua. Dengan mata
berair, dia terhuyung-huyung, mencoba untuk berfokus pada jalan ke titik sumber
suara tersebut, tetapi belum lagi dia berdiri tegak ketika dua tangan ungu yang besar
menjulur dari jendela terbuka dan menutup dengan ketat di sekitar tenggorokannya.
'Simpan -- benda -- itu!' Paman Vernon menggeram ke dalam telinga Harry.
'Sekarang! Sebelum -- dilihat -- orang lain!'
'Lepaskan -- aku!' Harry terengah-engah. Selama beberapa detik mereka bergumul,
Harry menarik jari-jari pamannya yang mirip sosis dengan tangan kirinya, tangan
kanannya mempertahankan genggaman erat pada tongkatnya yang terangkat;
kemudian, ketika rasa sakit di bagian atas kepala Harry berdenyut-denyut dengan
sangat menyakitkan, Paman Vernon mendengking dan melepaskan Harry seakan-akan
dia telah menerima kejutan listrik. Kekuatan yang tidak tampak sepertinya telah
menyentak melalui keponakannya, membuatnya tidak mungkin dipegang.
Sambil terengah-engah, Harry jatuh ke depan ke atas semak hydrangea,
menegakkan diri dan menatap sekeliling. Tidak ada tanda apa yang telah
menyebabkan bunyi letusan keras itu, tetapi ada beberapa wajah yang menatap
melalui berbagai jendela yang berdekatan. Harry buru-buru memasukkan tongkatnya
kembali ke dalam celana jinsnya dan mencoba terlihat tidak bersalah.
'Malam yang indah!' teriak Paman Vernon, sambil melambai pada Nyonya Nomor
Tujuh di seberang, yang sedang membelalakkan matanya dari balik gorden jalanya.
'Apakah Anda mendengar mobil yang mengeluarkan letusan tadi? Membuat Petunia
dan aku terkejut sekali!'
Dia terus menyengir dengan cara yang mengerikan dan seperti orang gila sampai
para tetangga yang ingin tahu menghilang dari jendela-jendela mereka, kemudian
sengiran itu menjadi ringisan marah sewaktu dia memberi isyarat kepada Harry untuk
menghadapnya.
Harry mendekat beberapa langkah, sambil berjaga-jaga agar berhenti sebelum titik
di mana tangan-tangan terentang Paman Vernon dapat melanjutkan cekikannya.
'Apa maksudmu dengan melakukan hal itu, nak?' tanya Paman Vernon dengan suara
parau yang gemetar oleh amarah.
'Apa maksudku dengan apa?' kata Harry dingin. Dia terus melihat ke kiri dan ke
kanan jalan, masih berharap untuk melihat orang yang telah membuat suara letusan
tersebut.
'Membuat keributan seperti suara pistol meletus tepat di luar --'
'Aku tidak membuat suara tadi,' kata Harry dengan tegas.
Wajah Bibi Petunia yang kurus dan mirip kuda sekarang muncul di sebelah wajah
Paman Vernon yang lebar dan ungu. Dia tampak marah sekali.
'Mengapa kamu mengintai di bawah jendela kami?'
'Ya -- ya, poin yang bagus, Petunia! Apa yang sedang kamu lakukan di bawah
jendela kami, nak?'
'Mendengarkan warta berita,' kata Harry dengan suara pasrah.
Bibi dan pamannya saling memandang dengan pandangan marah.
'Mendengarkan warta berita! Lagi?'
'Well, kalian 'kan tahu, beritanya ganti setiap hari,' kata Harry.
'Jangan sok pintar di depanku, nak! Aku ingin tahu apa yang sebenarnya sedang
kamu lakukan -- dan jangan beri aku omong kosong mendengarkan warta berita itu
lagi! Kamu tahu benar bahwa kelompokmu --'
'Hati-hati, Vernon!' sahut Bibi Petunia, dan Paman Vernon menurunkan suaranya
sehingga Harry hampir tidak dapat mendengarnya, '-- bahwa kelompokmu tidak
masuk ke dalam warta berita kami!'
'Itu menurutmu,' kata Harry.
Keluarga Dursley menatapnya selama beberapa detik, kemudian Bibi Petunia
berkata, 'Kamu pembohong kecil. Apa yang dilakukan semua --' dia juga menurunkan
suaranya sehingga Harry harus membaca gerak bibirnya untuk kata berikutnya, '-burung hantu itu lakukan jika mereka tidak membawakan kamu berita?'
'Aha!' kata Paman Vernon dengan bisikan kemenangan. 'Ayo berkelit dari yang satu
itu, nak! Seakan-akan kami tidak tahu kamu memperoleh semua beritamu dari
burung-burung pengganggu itu!'
Harry bimbang sejenak. Berkata jujur kali ini akan merugikannya, bahkan walaupun
bibi dan pamannya tidak mungkin tahu bagaimana buruk perasaannya untuk
mengakui hal itu.
'Burung hantu ... tidak membawakanku berita apa-apa,' dia berkata tanpa nada.
'Aku tidak percaya,' kata Bibi Petunia segera.
'Aku juga tidak,' kata Paman Vernon dengan kuat.
'Kami tahu kamu sedang merencanakan sesuatu yang aneh,' kata Bibi Petunia.
'Kami 'kan tidak bodoh,' kata Paman Vernon.
'Itu berita baru bagiku,' kata Harry, amarahnya meningkat, dan sebelum keluarga
Dursley bisa memanggilnya kembali, dia sudah berbalik, menyeberangi halaman
depan, melewati tembok kebun yang rendah, dan melangkah menyusuri jalan.
Dia sedang berada dalam masalah sekarang dan dia tahu itu. Dia harus menghadapi
bibi dan pamannya nanti dan membayar kekasarannya tadi, tetapi dia tidak begitu
peduli saat ini; dia punya masalah yang lebih menuntut pikiran.
Harry yakin bunyi letusan tadi dibuat oleh seseorang yang ber-Appate atau berDisapparate. Bunyinya persis seperti suara yang dibuat Dobby si peri-rumah ketika
dia menghilang ke udara. Mungkinkah Dobby ada di Privet Drive? Apakah Dobby
sedang mengikutinya saat ini? Ketika pikiran ini timbul dia berbalik dan menatap
Privet Drive, tetapi jalan itu tampak lengang dan Harry yakin Dobby tidak tahu
bagaimana caranya menjadi kasat mata.
Dia terus berjalan, hampir tidak menyadari rute yang diambilnya, karena dia telah
melewati jalan-jalan ini begitu seringnya akhir-akhir ini sehingga kakinya secara
otomatis membawanya ke tempat-tempat tongkrongan favoritnya. Setiap beberapa
langkah sekali dia menoleh ke balik bahunya. Seseorang dari dunia sihir telah berada
di dekatnya ketika dia berbaring di antara bunga-bunga begonia Bibi Petunia yang
mulai layu, dia yakin akan hal itu. Mengapa mereka tidak berbicara kepadanya,
mengapa mereka tidak melakukan kontak, mengapa mereka bersembunyi sekarang?
Dan kemudian, ketika rasa frustrasinya memuncak, perasaan pastinya mulai luntur.
Mungkin itu sama sekali bukan bunyi sesuatu yang berbau sihir. Mungkin dia begitu
mengharapkan tanda sekecil apapun akan kontak dari dunia tempatnya berada
sehingga dia bereaksi berlebihan terhadapa bunyi yang benar-benar umum. Dapatkah
dia merasa yakin bahwa itu bukan bunyi barang pecah di rumah tetangga?
Harry merasakan suatu sensasi menjemukan dan berat di perutnya dan sebelum dia
sadar perasaan tidak ada harapan yang telah mengganggunya sepanjang musim panas
timbul sekali lagi.
Besok pagi dia akan dibangunkan oleh jam weker pada pukul lima pagi sehingga dia
bisa membayar burung hantu yang membawakannya Daily Prophet -- tetapi apalah
artinya terus berlangganan? Belakangan ini Harry hanya memandang halaman depan
sekilas sebelum melemparnya ke samping; ketika para idiot yang menjalankan surat
kabar tersebut akhirnya sadar bahwa Voldermort telah kembali itu akan menjadi
berita halaman depan, dan itu adalah satu-satunya berita yang dipedulikan Harry.
Jika dia beruntung, akan ada juga butung-burung hantu yang membawa surat-surat
dari sahabat-sahabat dekatnya Ron dan Hermione, walaupun harapan-harapan yang
dimilikinya bahwa surat-surat mereka akan membawa berita kepadanya telah lama
hilang.
Kami tidak dapat berkata banyak mengenai kamu-tahu-apa, tentu saja ... Kami telah
diberitahu untuk tidak mengatakan hal-hal penting kalau-kalau surat kami tersesat ...
Kami cukup sibuk tetapi aku tidak bisa memberi detil di sini ... Ada banyak hal yang
sedang berlangsung, kami akan memberitahumu semuanya ketika kita berjumpa ...
Tetapi kapan mereka akan berjumpa dengannya? Tidak seorangpun tampak cukup
repot untuk mengatakan tanggal pastinya. Hermione telah menulis tergesa-gesa
Kuharap kita akan berjumpa segera di dalam kartu ulang tahunnya, tetapi seberapa
cepatkah segera itu? Sejauh yang dapat diketahui Harry dari petunjuk-petunjuk samar
dalam surat-surat mereka, Hermione dan Ron berada di tempat yang sama, mungkin
di rumah orang tua Ron. Dia hampir tidak tahan berpikir bahwa keduanya bersenangsenang di The Burrow ketika dirinya terperangkap di Privet Drive. Kenyataannya, dia
sangat marah kepada mereka sehingga dia membuang, tanpa dibuka terlebih dahulu,
dua kotak cokelat Honeydukes yang telah mereka kirimkan kepadanya pada ulang
tahunnya. Dia menyesali hal itu kemudian, setelah memakan salad layu yang
disediakan Bibi Petunia untuk makan malam pada malam tersebut.
Dan apa yang disibukkan Ron dan Hermione? Mengapa dia, Harry, tidak sibuk?
Tidakkah dia telah membuktikan diri mampu menghadapi jauh lebih banyak daripada
mereka? Apakah mereka semua telah melupakan apa yang telah dia lakukan?
Bukankan dia yang telah memasuki pemakaman itu, dan menyaksikan Cedric
dibunuh, dan telah diikat pada batu nisan itu dan hampir terbunuh?
Jangan memikirkan hal itu, kata Harry dengan tegas kepada dirinya sendiri. Sudah
cukup buruk bahwa dia terus mengunjungi kembali pemakaman itu dalam mimpimimpi buruknya, tanpa harus menghadapi hal itu juga pada saat-saat dia terbangun.
Dia membelok di sudut ke Magnolia Crescent; di tengah jalan dia melewati gang
sempit di sebelah sebuah garasi di mana dia pertama kali berjumpa dengan ayah
angkatnya. Sirius, setidaknya, tampaknya mengerti bagaimana perasaan Harry.
Memang, surat-suratnya sama kosongnya akan berita yang pantas dengan surat-surat
Ron dan Hermione, tetapi setidaknya mereka mengandung kata-kata peringatan dan
penghiburan bukannya petunjuk-petunjuk yang menggoda: Aku tahu ini pasti
membuatmu frustrasi ... Jaga sikapmu dan semuanya akan baik-baik saja ... Berhatihatilah dan jangan melakukan apapun dengan gegabah ...
Well, pikir Harry, sementara dia menyeberangi Magnolia Crescent, membelok ke
Magnolia Road dan menuju taman bermain yang semakin gelap, dia telah (kurang
lebih) melakukan apa yang dinasehati Sirius. Setidaknya dia telah melawan godaan
untuk mengikat kopernya ke sapunya dan terbang ke The Burrow sendiri. Bahkan,
Harry menganggap perilakunya sangat baik mengingat betapa frustrasi dan marah
perasaannya terperangkap di Privet Drive begitu lama, harus bersembunyi di bedeng
bunga dengan harapan mendengar apa yang sedang dilakukan Lord Voldermort.
Walaupun begitu, rasanya agak menyakitkan disuruh jangan gegabah oleh orang yang
telah menjalani dua belas tahun di penjara sihir, Azkaban, meloloskan diri, mencoba
melaksanakan pembunuhan yang dituduhkan kepadanya sejak awal, lalu melarikan
diri dengan Hipprogriff curian.
Harry melompati gerbang taman yang terkunci dan menyeberangi rumput kering.
Taman itu kosong seperti jalan-jalan di sekelilingnya. Ketika dia sampai di ayunan dia
menjatuhkan diri ke satu-satunya yang belum dirusak Dudley dan teman-temannya,
melingkarkan satu lengan pada rantainya, dan menatap tanah dengan murung. Dia
tidak akan bisa lagi bersembunyi di bedeng bunga. Besok dia harus mencari cara baru
mendengarkan warta berita. Sementara itu, dia tidak memiliki hal lain untuk
dinantikan, kecuali malam yang penuh kegelisahan, bahkan ketika dia lolos dari
mimpi-mimpi buruk mengenai Cedric, dia mengalami mimpi-mimpi yang berubahubah, yang dipenuhi dengan koridor-koridor panjang yang gelap, semuanya berakhir
dengan jalan-jalan buntu dan pintu-pintu terkunci, yang dianggapnya berhubungan
dengan perasaan terperangkap yang dirasakannya ketika terbangun.
Seringkali bekas luka lamanya menusuk-nusuk menimbulkan rasa tidak nyaman,
tetapi dia tidak membodohi diri sendiri bahwa Ron atau Hermione atau Sirius masih
menganggap hal itu menarik. Di masa lalu, bekas lukanya yang sakit telah memberi
peringatan bahwa Voldermort bertambah kuat lagi, tetapi sekarang karena Voldermort
telah kembali mereka mungkin akan mengingatkan dirinya bahwa gangguan teratur
hanyalah sesuatu yang telah diharapkan ... tidak ada yang perlu dikhawatirkan ...
berita lama ...
Ketidakadilan semuanya itu menumpuk dalam dirinya sehingga dia ingin berteriak
karena marah. Jika bukan karena dirinya, bahkan tidak akan ada yang tahu bahwa
Voldermort sudah kembali! Dan ganjaran baginya adalah terperangkap di Little
Whinging selama empat minggu penuh, sama sekali terputus dari dunia sihir, harus
berjongkok di antara bunga-bunga begonia yang mulai layu sehingga dia dapat
mendengar mengenai berang-berang yang berski-air! Bagaimana Dumbledore dapat
melupakan dirinya dengan begitu mudahnya? Mengapa Ron dan Hermione
berkumpul tanpa mengundangnya juga? Berapa lama lagi dia harus menerima Sirius
menyuruhnya untuk duduk dengan baik dan menjadi anak yang baik; atau menahan
godaan untuk menulis kepada Daily Prophet bodoh itu dan menunjukkan bahwa
Voldermort telah kembali? Pikiran-pikiran penuh amarah ini berpusar dalam pikiran
Harry, dan bagian dalam tubuhnya menggeliat dengan rasa marah sementara malam
yang panas dan pengap dan selembut beludru menyelimuti dirinya, udara penuh
dengan bau rumput yang hangat dan kering, dan satu-satunya suara yang ada hanyalah
suara rendah dari lalu lintas di jalan di luar jeruji taman.
Dia tidak tahu berapa lama dia telah duduk di ayunan itu sebelum suara percakapan
menghentikan renungannya dan dia melihat ke atas. Lampu-lampu jalan dari jalanjalan di sekitar menyorotkan cahaya menyerupai kabut yang cukup kuat untuk
menampakkan siluet sekelompok orang yang sedang menyeberangi taman. Salah
satunya sedang menyanyikan sebuah lagu sederhana dengan bising. Yang lainnya
sedang tertawa. Suara detik lemah datang dari beberapa sepeda balap mahal yang
sedang mereka setir.
Harry tahu siapa orang-orang itu. Figur di depan tak salah lagi adalah sepupunya,
Dudley Dursley, sedang berjalan pulang, ditemani oleh gengnya yang setia.
Dudley masih segemuk dulu, tetapi satu tahun berdiet keras dan penemuan bakat
baru telah membuat cukup banyak perubahan pada fisiknya. Seperti yang diceritakan
Paman Vernon kepada siapapun yang akan mendengarkan, Dudley baru-baru ini telah
menjadi Juara Tinju Kelas Berat Antar-Sekolah Junior dari daerah Tenggara. 'Olah
raga mulia' seperti yang disebut Paman Vernon, telah menjadikan Dudley bahkan
lebih berbahaya daripada yang dirasakan Harry di masa-masa sekolah dasar mereka
ketika dia menjadi karung tinju Dudley yang pertama. Harry sama sekali tidak takut
kepada sepupunya lagi tetapi dia masih berpikir bahwa Dudley belajar peninju lebih
keras dan lebih akurat bukanlah merupakan sesuatu yang harus dirayakan. Anak-anak
di lingkungan sekitar semuanya takut kepadanya -- bahkan lebih takut daripada
kepada 'bocah Potter itu' yang, mereka telah diperingatkan, merupakan anak nakal
yang tidak pernah kapok dan bersekolah di Pusat Rehabilitasi bagi Anak-Anak
Kriminal Tidak Tertolong St Brutus.
Harry menyaksikan figur-figur gelap itu menyeberangi rumput dan bertanya-tanya
siapa yang telah mereka pukuli malam ini. Lihat sekeliling, Harry menemukan dirinya
berpikir selagi dia memperhatikan mereka. Ayolah ... lihat sekeliling ... aku sedang
duduk di sini sendirian ... datang dan hadapilah ...
Jika teman-teman Dudley melihatnya duduk di sini, mereka pasti akan berjalan
lurus ke arahnya, dan apa yang akan dilakukan Dudley nanti? Dia tidak akan mau
kehilangan muka di depan gengnya, tetapi dia pasti takut mengganggu Harry ...
pastilah menyenangkan menyaksikan dilema Dudley, mengejeknya,
memperhatikannya, dengan dirinya tidak berdaya menanggapi ... dan jika yang lain
ada yang berani memukul Harry, dia sudah siap -- dia punya tongkatnya. Biar mereka
coba ... dia akan senang menyalurkan sedikit rasa frustrasinya kepada anak-anak yang
dulu pernah membuat hidupnya seperti neraka.
Tetapi mereka tidak menoleh, mereka tidak melihatnya, mereka sudah hampir
sampai di jeruji. Harry menguasai desakan untuk memanggil mereka ... mencari
perkelahian bukanlah langkah pintar ... dia tidak boleh menggunakan sihir ... dia akan
terancam dikeluarkan lagi.
Suara-suara geng Dudley mulai menghilang; mereka sudah hilang dari pandangan,
berjalan di sepanjang Magnolia Road.
Begitulah, Sirius, pikir Harry dengan jemu. Tidak ada yang gegabah. Jaga tingkah
lakuku. Benar-benar berlawanan dengan yang telah kamu lakukan.
Dia berdiri dan merenggangkan tubuhnya. Bibi Petunia dan Paman Vernon
sepertinya merasa bahwa kapanpun Dudley muncul adalah waktu yang tepat untuk
tiba di rumah, dan kapanpun setelahnya sudah sangat terlambat. Paman Vernon telah
mengancam untuk mengunci Harry di gudang jika dia pernah pulang ke rumah setelah
Dudley lagi, jadi, sambil menahan kuap, dan masih cemberut, Harry berjalan menuju
gerbang taman.
Magnolia Road, seperti Privet Drive, dipenuhi rumah-rumah besar berbentuk
bujursangkar dengan halaman-halaman yang terawat rapi, semuanya dimiliki oleh
orang-orang bertubuh besar dan ketinggalan zaman yang mengendarai mobil-mobil
bersih seperti milik Paman Vernon. Harry lebih menyukai Little Whinging pada
malam hari, ketika jendela-jendela bergorden membentuk potongan-potongan warna
seterang permata dalam kegelapan dan dia tidak takut mendengar gumamangumaman mencela mengenai penampilannya yang 'menyalah' ketika dia berpapasan
dengan para penghuni. Dia berjalan dengan cepat, sehingga setengah jalan di
sepanjang Magnolia Road geng Dudley tampak lagi; mereka sedang berpamitan di
jalan masuk ke Magnolia Crescent. Harry melangkah ke dalam bayang-bayang sebuah
pohon lilac besar dan menunggu.
'... mendengking seperti seekor babi, benar kan?' Malcolm sedang berbicara,
ditimpali tawa terbahak-bahak dari yang lainnya.
'Pukulan hook kanan yang bagus, Big D,' kata Piers.
'Waktu yang sama besok?' kata Dudley.
'Di tempatku, orang tuaku akan keluar,' kata Gordon.
'Sampai jumpa,' kata Dudley.
'Bye, Dud!'
'Jumpa lagi, Big D!'
Harry menanti anggota geng yang lainnya berjalan terus sebelum mulai melangkah
lagi. Ketika suara-suara mereka sekali lagi telah berangsur hilang dia menuju belokan
di sudut ke Magnolia Crescent dan dengan berjalan sangat cepat dia segera sampai ke
jarak teriakan dengan Dudley, yang sedang berjalan santai sekena hatinya sambil
bersenandung tanpa nada.
'Hei, Big D!'
Dudley menoleh.
'Oh,' dia menggerutu. 'Ternyata kamu.'
'Sudah berapa lama kau jadi "Big D"?' kata Harry.
'Diamlah,' gertak Dudley, menoleh ke arah lain.
'Nama yang keren,' kata Harry, menyeringai dan tertinggal di belakang sepupunya.
'Tapi bagiku kau akan selalu jadi "Ickle Diddykins".'
'Kataku, DIAM!' kata Dudley, tangan-tangannya yang seperti ham telah mengepal.
'Apa anak-anak itu tidak tahu itu begitulah ibumu memanggilmu?'
'Tutup mulutmu.'
'Kau tidak menyuruh ibumu untuk menutup mulutnya. Bagaimana dengan "Popkin"
dan "Dinky Diddydums", bolehkah aku menggunakannya?'
Dudley tidak mengatakan apa-apa. Usaha untuk mencegah dirinya memukul Harry
tampaknya menuntut semua pengendalian dirinya.
'Jadi, siapa yang telah kalian pukuli malam ini?' Harry bertanya, seringainya
memudar. 'Anak umur sepuluh tahun lagi? Aku tahu kalian memukuli Mark Evans
dua malam lalu --'
'Dia yang minta,' gertak Dudley.
'O ya?'
'Dia mengejekku.'
'Yeah? Apakah dia bilang kau tampak seperti babi yang diajari berjalan dengan kaki
belakangnya? Kar'na itu bukan ejekan, Dud, itu benar.'
Sebuahl otot berdenyut di rahang Dudley. Mengetahui seberapa marah dia telah
membuat Dudey memberi Harry kepuasan yang sangat besar; dia merasa seakan dia
sedang mengalirkan rasa frustrasinya sendiri kepada sepupunya, satu-satunya
pengeluaran yang dimilikinya.
Mereka berbelok ke kanan ke gang sempit di mana Harry pertama kali berjumpa
dengan Sirius dan yang membentuk jalan pintas antara Magnolia Crescent dan
Wisteria Walk. Gang itu sepi dan jauh lebih gelap daripada jalan-jalan yang
dihubungkannya karena tidak ada lampu jalan. Langkah-langkah kaki mereka teredam
antara dinding-dinding garasi di satu sisi dan sebuah pagar tinggi di sisi lainnya.
'Pikirmu kau orang kuat membawa benda itu, 'kan?' Dudley berkata setelah
beberapa detik.
'Benda apa?'
'Itu -- benda itu yang kau sembunyikan.'
Harry nyengir lagi.
'Tidak sebodoh tampangmu, ya, Dud? Tapi kurasa, jika memang begitu, kau tak
bakal bisa jalan dan ngomong pada saat yang sama.'
Harry menarik tongkatnya. Dia melihat Dudley mengerlingnya.
'Kau tidak diizinkan,' Dudley berkata dengan segera. 'Aku tahu kau tidak boleh. Kau
akan dikeluarkan dari sekolah anehmu itu.'
'Bagaimana kau tahu mereka belum mengubah peraturannya, Big D?'
'Belum,' kata Dudley, walaupun dia tidak terdengar sepenuhnya yakin.
Harry tertawa pelan.
'Kau tak punya nyali untuk menghadapiku tanpa benda itu, ya 'kan?' Dudley
menggertak.
'Sementara kau hanya butuh empat teman di belakangmu sebelum bisa memukuli
seorang anak umur sepuluh tahun. Kau tahu gelar tinju yang terus kau banggakan?
Berapa umur lawanmu? Tujuh? Delapan?'
'Dia berumur enam belas, supaya kamu tahu,' gertak Dudley, 'dan dia pingsan
selama dua puluh menit setelah aku selesai dengannya dan dia dua kali beratmu. Kau
tunggu saja sampai kuberitahu Ayah kau membawa benda itu keluar --'
'Berlari kepada Ayah sekarang? Apakah juara tinju jempolan takut pada tongkat
Harry yang mengerikan?'
'Tidak seberani ini pada malam hari, 'kan?' cemooh Dudley.
'Ini memang malam, Diddykins. Itulah sebutan kami ketika semuanya jadi gelap
seperti ini.'
'Maksudku ketika kau sedang tidur!' gertak Dudley.
Dia telah berhenti berjalan. Harry berhenti juga, menatap sepupunya. Dari sedikit
wajah Dudley yang dapat dilihatnya, dia sedang menunjukkan wajah kemenangan
yang aneh.
'Apa maksudmu, aku tidak berani ketika sedang tidur?' kata Harry, sama sekali
tercengang. 'Apa yang harus kutakutkan, bantal atau apa?'
'Aku dengar kau kemarin malam,' kata Dudley terengah-engah. 'Berbicara dalam
tidur. Mengerang.'
'Apa maksudmu?' Harry berkata lagi, tetapi ada sensasi dingin yang timbul di
perutnya. Dia telah mengunjungi pemakaman itu lagi kemarin malam dalam
mimpinya.
Dudley mengeluarkan salak tawa yang parau, lalu menirukan suara rengekan
melengking.
'"Jangan bunuh Cedric! Jangan bunuh Cedric!" Siapa Cedric -- temanmu?'
'Aku -- kau bohong,' kata Harry secara otomatis. Tetapi mulutnya telah menjadi
kering. Dia tahu Dudley tidak sedang berbohong -- bagaimana lagi dia bisa tahu
mengenai Cedric?
'"Dad! Bantu aku, Dad! Dia akan membunuhku, Dad! Boo hoo!"'
'Diam,' kata Harry pelan. 'Diam, Dudley, kuperingatkan kau!'
'"Datanglah dan tolong aku, Dad! Mum, datang dan tolong aku! Dia sudah
membunuh Cedric! Dad, tolong aku! Dia akan --" Jangan tunjuk aku dengan benda
itu!'
Dudley mundur ke tembok gang. Harry sedang menunjuk tongkatnya lurus ke
jantung Dudley. Harry dapat merasakan empat belas tahun kebencian terhadap
Dudley menggelegak dalam nadinya -- apa yang takkan diberikannya untuk mengutuk
Dudley sedemikian rupa sehingga dia harus merangkak pulang seperti seekor
serangga, menjadi bisu, tumbuh antena ...
'Jangan pernah berbicara mengenai hal itu lagi,' gertak Harry. 'Kau mengerti?'
'Tunjuk itu ke arah lain!'
'Kataku, kau mengerti?'
'Tunjuk itu ke arah lain!'
'KAU MENGERTI?'
'JAUHKAN BENDA ITU DARI --'
Dudley mengeluarkan suara napas tajam penuh rasa ngeri, seakan-akan dia telah
dicemplungkan ke dalam air es. Sesuatu telah terjadi pada langit malam itu. Langit
biru gelap yang penuh bintang mendadak gelap gulita dan tanpa cahaya -- bintangbintang, bulan, lampu-lampu jalan berkabut pada kedua sisi gang telah menghilang.
Suara mobil di kejauhan dan bisikan pohon-pohon telah hilang. Malam yang lembab
itu mendadak dingin menusuk. Mereka dikelilingi kegelapan total yang tidak
tertembus dan hening, seakan-akan tangan raksasa telah menurunkan mantel tebal
yang dingin menutupi keseluruhan gang itu, membutakan mereka.
Selama sepersekian detik Harry berpikir bahwa dia telah melakukan sihir tanpa
disengajanya, walaupun dia telah menahan sekuat mungkin -- lalu nalarnya
menyangkut di akal sehatnya -- dia tidak mempunyai kekuatan untuk memadamkan
bintang-bintang. Dia menolehkan kepalanya ke segala arah, mencoba melihat sesuatu,
tetapi kegelapan mendesak matanya seperti tudung yang tidak berbobot.
Suara Dudley yang ketakutan sampai ke telinga Harry.
'A-apa yang sedang kau la-lakukan? Hen-hentikan!'
'Aku tidak melakukan apapun! Diamlah dan jangan bergerak!'
'Aku tak d-dapat melihat! Aku sudah j-jadi buta! Aku --'
'Kubilang diam!'
Harry masih berdiri diam, menolehkan matanya yang tidak dapat melihat ke kiri dan
ke kanan. Rasa dingin itu begitu hebat sehingga dia gemetaran; bulu romanya berdiri - dia membuka matanya lebar-lebar, menatap kosong ke sekitar, tanpa melihat apaapa.
Tidak mungkin ... mereka tidak mungkin berada di sini ... tidak di Little Whinging
... dia menajamkan telinganya ... dia akan mendengar mereka sebelum melihat mereka
...
'Akan ku-kuadukan pada Dad!' Dudley merengek. 'D-di mana kau? Apa yang kau
la-laku--?'
'Bisakah kamu diam?' Harry mendesis, 'Aku sedang mencoba mende--'
Tetapi dia terdiam. Dia telah mendengar hal yang telah ditakutkannya.
Ada sesuatu di gang itu selain mereka, sesuatu yang menarik napas panjang, serak,
dan berderak. Harry merasakan sentakan rasa takut yang mengerikan sementara dia
berdiri gemetaran di udara yang membeku.
'Hen-hentikan itu! Berhenti melakukannya! Kan ku-kupukul kau, aku sumpah!'
'Dudley, tutup --'
WHAM.
Sebuah kepalan mengadakan kontak dengan sisi kepala Harry, mengangkatnya dari
kakinya. Cahaya-cahaya putih kecil bermunculan di depan matanya. Untuk kedua
kalinya dalam satu jam Harry merasa seakan-akan kepalanya telah terbelah menjadi
dua; saat berikutnya, dia telah mendarat dengan keras di tanah dan tongkatnya
melayang dari tangannya.
'Dasar bodoh, Dudley!' teriak Harry, matanya berair karena sakit sementara dia
berjuang dengan tangan dan lututnya, meraba-raba sekeliling dengan kalut ke dalam
kegelapan. Dia mendengar Dudley menjauh, menabrak pagar gang, tersandung.
'DUDLEY, KEMBALI! KAU LARI KE ARAHNYA!'
Ada teriakan mendengking yang mengerikan dan langkah-langkah Dudley berhenti.
Pada saat yang sama, Harry merasakan hawa dingin yang merayap di belakangnya
yang hanya berarti satu hal. Ada lebih dari satu.
'DUDLEY, TUTUP MULUTMU RAPAT-RAPAT! APAPUN YANG KAU
LAKUKAN, TUTUP MULUTMU RAPAT-RAPAT! Tongkat!' Harry bergumam
dengan kalut, tangannya melayang di atas tanah seperti laba-laba. 'Di mana -- tongkat
-- ayolah -- lumos!'
Dia menyebutkan mantera itu secara otomatis, putus asa akan cahaya untuk
membantunya dalam pencarian -- dan demi ketidakpercayaannya yang melegakan,
timbul cahaya beberapa inci dari tangan kanannya -- ujung tongkat itu telah menyala.
Harry menyambarnya, berdiri pada kedua kakinya dan berbalik.
Perutnya terasa terbalik.
Sebuah figur tinggi bertudung sedang meluncur dengan mulus ke arahnya,
melayang di atas tanah, tanpa kaki atau wajah yang tampak di bawah jubahnya,
menghisap malam ketika dia datang.
Tersandung ke belakang, Harry menaikkan tongkatnya.
'Expecto patronum!'
Sebuah gumpalan uap berwarna perak meluncur dari ujung tongkatnya dan
Dementor itu melambat, tetapi mantera itu tidak bekerja dengan tepat; sambil terjegal
kakinya sendiri, Harry mundur lebih jauh sementara Dementor itu menuju ke arahnya,
panik menyelimuti otaknya -- konsentrasi -Sepasang tangan kelabu yang berlumpur dan berkeropeng menyelip dari dalam
jubah Dementor itu, menggapai dirinya. Suara deru memenuhi telinga Harry.
'Expecto patronum!'
Suaranya terdengar suram dan jauh. Gumpalan asap perak lain, lebih lemah
daripada yang lalu, melayang dari tongkat -- dia tidak dapat melakukannya lagi, dia
tidak dapat menghasilkan mantera itu.
Ada tawa di dalam kepalanya sendiri, tara yang nyaring dan melengking ... dia dapat
mencium bau napas Dementor yang busuk dan sedingin kematian mengisi paruparunya sendiri, menenggelamkannya -- pikirkan ... sesuatu yang membahagiakan ...
Tetapi tidak ada kebahagiaan dalam dirinya ... jari-jari Dementor yang dingin
mendekati tenggorokannya -- tawa melengking itu semakin keras dan semakin keras,
dan sebuah suara berkata dalam kepalanya: 'Membungkuklah pada kematian, Harry ...
mungkin saja tidak sakit ... aku tidak akan tahu ... aku belum pernah mati ...'
Dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan Ron dan Hermione -Dan wajah-wajah mereka timbul dengan jelas dalam pikirannya sementara dia
berjuang untuk bernapas.
'EXPECTO PATRONUM!'
Seekor kijang jantan perak yang besar muncul dari ujung tongkat Harry; tannduknya
mengenai Dementor di tempat di mana jantung seharusnya berada; dia terlempar ke
belakang, tak berbobot seperti kegelapan, dan sementara kijang itu menyerang,
Dementor menukik pergi, seperti kelelawar dan kalah.
'KE SINI!' Harry berteriak kepada kijang itu. Sambil berputar, dia berlari menyusuri
gang, memegang tongkat yang menyala tinggi-tinggi. 'DUDLEY? DUDLEY!'
Dia belum lagi berlari selusin langkah ketika dia mencapai mereka: Dudley
bergelung di atas tanah, lengannya menutupi wajahnya. Dementor kedua sedang
membungkuk rendah ke arahnya, mencengkeram pergelangan tangannya ke dalam
tangan-tangannya yang berlumpur, pelan-pelan mengungkitnya, hampir penuh kasih
memisahkannya, menurunkan kepalanya yang bertudung ke wajah Dudley seperti
akan menciumnya.
'HAJAR DIA!' Harry berteriak, dan dengan sebuah deru yang menggelegar, kijang
perak yang telah disihirnya datang berderap melewatinya. Wajah Dementor yang
tidak bermata hampir satu inci dari wajah Dudley ketika tanduk perak itu
mengenainya; benda itu terlembar ke udara dan, seperti kawannya, meluncur tinggi
dan diserap ke dalam kegelapan; si kijang berlari ke tengah gang dan meluruh
menjadi kabut perak.
Bulan, bintang-bintang dan lampu-lampu jalan muncul kembali. Angin sepoi-sepoi
yang hangat menyapu gang itu. Pohon-pohon berdesir di kebun-kebun sekitar dan
suara mobil-mobil yang biasa di Magnolia Crescent memenuhi udara lagi. Harry
berdiri diam, semua inderanya masih bergetar, merasakan kembalinya normalitas
yang mendadak. Setelah beberapa saat, dia menjadi sadar bahwa baju kaosnya
melekat ke tubuhnya; dia basah kuyup oleh keringat.
Dia tidak dapat mempercayai apa yang baru saja terjadi. Dementor di sini, di Little
Whinging.
Dudley berbaring menggulung di atas tanah, gemetar dan merengek-rengek. Harry
membungkuk untuk melihat apakah dia mampu berdiri, tetapi kemudian dia
mendengar langkah-langkah kaki keras yang sedang berlari di belakangnya. Menuruti
nalurinya sambil menaikkan tongkatnya lagi, dia berbalik untuk menghadapi si
pendatang baru.
Mrs Figg, tetangga mereka yang agak sinting, datang terengah-engah. Rambutnya
yang kelabu beruban berlepasan dari jala rambut, sebuah tas belanjaan yang
berkelontang berayun-ayun dari pergelangan tangannya dan kaki-kakinya hampir
setengah keluar dari selop karpet tartannya. Harry mencoba menyimpan tongkatnya
dengan terburu-buru ke luar pandangan, tetapi -'Jangan simpan itu, anak idiot!' lengkingnya. 'Bagaimana jika masih ada lagi di
sekitar sini? Oh, akan kubunuh si Mundungus Fletcher!'
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DUA -Pasukan Burung Hantu
'Apa?' kata Harry dengan bingung.
'Dia pergi!' kata Mrs Figg, meremas-remas tangannya. 'Pergi untuk menemui
seseorang mengenai sejumlah kuali yang jatuh dari belakang sapu! Kuberitahu dia
akan kukuliti dia hidup-hidup jika dia pergi, dan sekarang lihat! Dementor! Untung
saja kusuruh Mr Tibbles berjaga-jaga! Tapi kita tidak punya waktu untuk berdiri saja!
Cepat, sekarang, kita harus memulangkan kalian! Oh, masalah yang akan ditimbulkan
hal ini! Aku akan membunuhnya!'
'Tapi --' Pengungkapan bahwa tetangganya yang agak sinting dan terobsesi dengan
kucing mengetahui apa itu Dementor hampir sebesar rasa shock Harry ketika bertemu
dengan dua di antaranya di gang itu. 'Anda -- Anda penyihir?'
'Aku Squib, seperti yang diketahui Mundungus dengan baik, jadi bagaimana
mungkin aku dapat menolongmu menghadapi Dementor? Dia meninggalkanmu sama
sekali tanpa perlindungan padahal sudah kuperingatkan dia --'
'Mundungus ini sudah mengikutiku? Tunggu dulu -- dia orangnya! Dia berDisapparate dari depan rumah!'
'Ya, ya, ya, tapi untunglah aku menempatkan Mr Tibbles di bawah sebuah mobil
untuk jaga-jaga, dan Mr Tibbles datang dan memperingatkan aku, tapi pada saat aku
sampai ke rumahmu kau telah pergi -- dan sekarang -- oh, apa yang akan dikatakan
Dumbledore? Kau!' dia berteriak pada Dudley, yang masih telentang di lantai gang.
'Pindahkan pantatmu yang besar dari tanah, cepat!'
'Anda kenal Dumbledore?' kata Harry, menatapnya.
'Tentu saja aku kenal Dumbledore, siapa yang tidak mengenal Dumbledore? Tapi
ayolah -- aku tidak akan bisa membantu kalau mereka kembali, aku bahkan belum
pernah men-Transfigurasi kantong teh.'
Dia membungkuk, meraih salah satu lengan Dudley yang besar ke dalam tangannya
yang keriput dan menyentak.
'Bangun, kau onggokan tak berguna, bangun!'
Tetapi Dudley tidak bisa atau tidak mau bergerak. Dia diam di atas tanah, gemetar
dan wajahnya kelabu, mulutnya tertutup sangat rapat.
'Akan kulakukan.' Harry memegang lengan Dudley dan mengangkatnya. Dengan
usaha kera dia mampu mengangkatnya berdiri. Dudley kelihatannya hampir pingsan.
Matanya yang kecil berputar-putar di rongga matanya dan keringat mengucur di
wajahnya; saat Harry melepaskannya dia berayun-ayun berbahaya.
'Cepatlah!' kata Mrs Figg dengan histeris.
Harry menarik salah satu lengan Dudley yang besar melingkari bahunya dan
menyeret dia menuju jalan, sedikit terbungkuk akibat beratnya. Mrs Figg berjalan
terhuyung-huyung di depan mereka, sambil mengintai dengan cemas di sudut.
'Tetap keluarkan tongkatmu,' dia menyuruh Harry, ketika mereka memasuki
Wisteria Walk. 'Tidak usah pedulikan Undang-Undang Kerahasiaan sekarang,
lagipula resikonya sangat besar, sekalian saja kita digantung karena naga daripada
karena telur. Bicara mengenai Pembatasan Masuk Akal Penggunaan Sihir Di Bawah
Umur ... ini persis yang ditakutkan Dumbledore -- Apa itu di ujung jalan? Oh, itu
cuma Mr Prentice ... jangan simpan tongkatmu, nak, bukankah aku terus
memberitahumu aku tidak berguna?'
Tidaklah mudah memegang tongkat dengan mantap di satu tangan dan menarik
Dudley pada saat yang sama. Harry memberi sepupunya sebuah sikutan tidak sabar
pada tulang iga, tetapi Dudley tampaknya telah kehilangan semua hasrat untuk
pergerakan independen. Dia merosot ke bahu Harry, kaki-kakinya yang besar terseret
sepanjang jalan.
'Mengapa Anda tidak memberitahuku bahwa Anda seorang Squib, Mrs Figg? tanya
Harry, terengah-engah karena usaha untuk terus berjalan. 'Setiap kali saya berkunjung
ke rumah Anda -- mengapa Anda tidak mengatakan apa-apa?'
'Perintah Dumbledore. Aku harus mengawasimu tetapi tidak mengatakan apa-apa,
kamu terlalu muda. Maaf karena aku telah memberimu waktu yang tidak
menyenangkan, Harry, tetapi keluarga Dursley tidak akan pernah membiarkanmu
datang bila mereka mengira kamu menikmatinya. Tidak mudah, kau tahu ... tapi oh
kataku,' dia berkata dengan tragis, sambil meremas-remas tangannya sekali lagi,
'ketika Dumbledore mendengar hal ini -- bagaimana bisa Mundungus pergi, dia
seharusnya berjaga sampai tengah malam -- di mana dia? Bagaimana aku akan
memberitahu Dumbledore apa yang terjadi? Aku tidak bisa ber-Apparate.'
'Aku punya burung hantu, Anda bisa meminjamnya.' Harry mengerang, bertanyatanya apakah tulang belakangnya akan patah akibat berat Dudley.
'Harry, kamu tidak mengerti! Dumbledore perlu bertindak secepat mungkin,
Kementerian punya cara-cara mereka sendiri untuk mendeteksi sihir di bawah umur,
mereka pasti sudah tahu, camkan kata-kataku.'
'Tapi aku tadi mengenyahkan Dementor, aku harus menggunakan sihir -- mereka
pasti lebih khawatir tentang apa yang dilakukan Dementor melayang-layang di sekitar
Wisteria Walk?'
'Oh, sayang, kuharap begitu, tapi aku takut -- MUNDUNGUS FLETCHER, AKAN
KUBUNUH KAMU!'
Ada letusan keras dan bau menyengat minuman yang bercampur dengan tembakau
apak memenuhi udara ketika seorang lelaki gemuk pendek dan tidak bercukur dalam
mantel luar yang compang-camping muncul tepat di depan mereka. Dia memiliki kaki
yang pendek dan bengkok, rambut merah kekuningan yang panjang terurai dan mata
merah berkantung yang memberinya tampang muram seperti seekor anjing pemburu.
Dia juga sedang mencengkeram sebuah buntalan keperakan yang langsung dikenali
Harry sebagai Jubah Gaib.
''Da pa, Figgy?' katanya, menatap dari Mrs Figg ke Harry dan Dudley. 'Kenapa
tidak tetap menyamar?'
'Kuberi kau samaran!' teriak Mrs Figg. 'Dementor, kau pencuri pengecut tukang
bolos tidak berguna!'
'Dementor?' ulang Mundungus, terperanjat. 'Dementor? Di sini?'
'Ya, di sini, kau kotoran kelelawar tidak berharga, di sini!' pekik Mrs Figg.
'Dementor menyerang bocah itu pada waktu jagamu!'
'Ya ampun,' kata Mundungus dengan lemah, melihat dari Mrs Figg ke Harry, dan
balik lagi. 'Ya ampun, aku --'
'Dan kau pergi membeli kuali curian! Tidakkah kusuruh kamu jangan pergi?
Tidakkah?'
'Aku -- well, aku --' Mundungus tampak sangat tidak nyaman. 'Itu -- itu adalah
peluang bisnis yang sangat baik, kau tahu --'
Mrs Figg mengangkat lengan di mana tergantung tasnya dan menghantam
Mundungus di sekitar wajah dan leher dengannya; yang bila dinilai dari suara
kelontang yang ditimbulkannya penuh dengan makanan kucing.
'Aduh -- jauhkan -- jauhkan, kau kelelawar tua gila! Seseorang harus memberitahu
Dumbledore!'
'Ya -- memang!' teriak Mrs Figg, mengayunkan tas makanan kucing itu pada setiap
potong Mundungus yang dapat dicapainya. 'Dan -- sebaiknya -- kamu -- saja -- dan -kamu -- bisa -- beritahu -- dia -- kenapa -- kau -- tak -- ada -- di sini -- untuk -- bantu!'
'Tetap pakai jala rambutmu!' kata Mundungus, lengannya di atas kepalanya,
gemetaran. 'Aku pergi. Aku pergi!'
Dan dengan letusan keras lainnya, dia menghilang.
'Kuharap Dumbledore membunuhnya!' kata Mrs Figg dengan marah. 'Sekarang
ayo, Harry, apa yang kautunggu?'
Harry memutuskan untuk tidak membuang sisa-sisa napasnya menunjukkan bahwa
dia hampir tidak bisa berjalan di bawah beban Dudley. Dia memberi Dudley yang
setengah sadar sebuah helaan dan maju terhuyung-huyung.
'Kuantar kau sampai ke pintu,' kata Mrs Figg, ketika mereka membelok ke Privet
Drive. 'Hanya untuk berjaga-jaga seandainya ada lagi di sekitar ... oh kataku, benarbenar bencana ... dan kamu harus menghadapi mereka sendiri ... dan Dumbledore
berkata kami harus menjagamu dari penggunaan sihir dengan segala cara ... well, tak
ada gunanya menangisi ramuan yang telah tumpah, kurasa ... tapi si kucing sudah
berada di tengah para pixy sekarang.'
'Jadi,' Harry terengah-engah, 'Dumbledore ... menyuruh orang ... mengikutiku?'
'Tentu saja,' kata Mrs Figg tidak sabaran. 'Apakah kau berharap dia akan
membiarkanmu berkeliaran sendirian setelah apa yang terjadi di bulan Juni? Demi
Tuhan, nak, mereka bilang padaku kau pintar ... benar ... masuk ke dalam dan tetap di
sana,' dia berkata, ketika mereka mencapai nomor empat. 'Kuharap seseorang akan
segera berhubungan denganmu.'
'Apa yang akan Anda lakukan?' tanya Harry dengan cepat.
'Aku akan langsung pulang ke rumah,' kata Mrs Figg, menatap sekeliling jalan yang
gelap dan tampak jijik. 'Aku perlu menunggu instruksi lebih lanjut. Tetap saja di
dalam rumah. Selamat malam.'
'Tunggu, jangan pergi dulu! Aku ingin tahu --'
Tetapi Mrs Figg telah pergi sambil berderap, selop-selop karpetnya berayun-ayun,
tasnya berkelontang.
'Tunggu!' Harry berteriak kepadanya. Dia mempunyai jutaan pertanyaan untuk
ditanya kepada siapapun yang memiliki kontak dengan Dumbledore; tapi dalam
sekian detik Mrs Figg telah ditelan oleh kegelapan. Sambil merengut, Harry mengatur
Dudley pada bahunya dan mengikuti jalan setapak di kebun nomor empat dengan
pelan dan menyakitkan.
Lampu aula menyala. Harry memasukkan tongkatnya kembali ke dalam ban
pinggang celana jinsnya, membunyikan bel dan menyaksikan garis bentuk Bibi
Petunia bertambah besar dan besar, terdistorsi dengan aneh oleh kaca beriak di pintu
depan.
'Diddy! Sudah waktunya juga, aku sudah -- sudah -- Diddy, ada apa?'
Harry melihat ke samping kepada Diddy dan menghindar dari bawah lengannya
tepat waktu. Dudley berayun di tempat sejenak, wajahnya pucat kehijauan ... lalu dia
membuka mulut dan muntah di atas keset pintu.
'DIDDY! Diddy, apa yang terjadi denganmu? Vernon? VERNON!'
Paman Harry datang tergopoh-gopoh keluar dari ruang tamu, kumis tebalnya
melambai ke sana ke mari seperti yang selalu terjadi setiap kali dia gelisah. Dia
bergegas ke depan untuk membantu Bibi Petunia mengatasi Dudley yang lemah-lutut
melewati ambang pintu selagi menghindar agar tidak menginjak genangan muntahan.
'Dia sakit, Vernon!'
'Ada apa, nak? Apa yang terjadi? Apakah Mrs Polkiss memberimu sesuatu yang
asing sewaktu minum teh?
'Mengapa kamu penuh debu, sayang? Apakah kamu tadi berbaring di atas tanah?'
'Tunggu dulu -- kamu tidak dirampok, 'kan, nak?'
Bibi Petunia berteriak.
'Telepon polisi, Vernon! Telepon polisi! Diddy, sayang, bicaralah pada Mummy!
Apa yang mereka lakukan padamu?'
Dalam semua keributan itu tak seorangpun tampaknya memperhatikan Harry, yang
memang diinginkannya. Dia berhasil menyelinap ke dalam tepat sebelum Paman
Vernon membanting pintu dan, selagi keluarga Dursley maju dengan ribut menyusuri
aula menuju dapur, Harry bergerak dengan hati-hati dan diam-diam menuju tangga.
'Siapa yang melakukannya, 'nak? Berikan nama-namanya pada kami. Kami akan
balas, jangan takut.'
'Shh! Dia sedang berusaha mengatakan sesuatu, Vernon! Apa itu, Diddy? Beritahu
Mummy!'
Kaki Harry berada di anak tangga paling bawah ketika Dudleyl menemukan
suaranya kembali.
'Dia.'
Harry membeku, dengan kaki di tangga, wajah ditegangkan, menguatkan diri untuk
menghadapi ledakannya.
'NAK! KE MARI!'
Dengan perasaan takut dan marah yang bercampur, Harry memindahkan kakinya
pelan-pelan dari tangga dan berbalik untuk mengikuti keluarga Dursley.
Dapur yang sangat bersih itu terlihat berkilau tidak nyata dan aneh setelah
kegelapan di luar. Bibi Petunia sedang menghantar Dudley ke sebuah kursi; dia masih
sangat hijau dan penuh keringat. Paman Vernon sedang berdiri di depan papan
pengering, membelalak pada Harry melalui mata yang kecil dan disipitkan.
'Apa yang telah kau lakukan pada anakku?' dia berkata dengan geraman
mengancam.
'Tidak ada,' kata Harry, tahu persis bahwa Paman Vernon tidak akan
mempercayainya.
'Apa yang dia lakukan padamu, Diddy?' Bibi Petunia berkata dengan suara
bergemetar, sekarang memakai spon untuk menggosok muntahan dari bagian depan
jaket kulit Dudley. 'Apakah -- apakah kau-tahu-apa, sayang? Apakah dia
menggunakan -- itunya?'
Pelan-pelan, sambil gemetaran, Dudley mengangguk.
'Aku tidak melakukannya!' Harry berkata dengan tajam, sementara Bibi Petunia
mengeluarkan ratapan dan Paman Vernon mengangkat kepalannya. 'Aku tidak
melakukan apapun padanya, bukan aku, tapi --'
Tetapi tepat pada saat itu seekor burung hantu menukik masuk melalui jendela
dapur. Hampir menabrak puncak kepala Paman Vernon, dia meluncur menyeberangi
dapur, menjatuhkan amplop perkamen besar yang sedang dibawanya di paruhnya
pada kaki Harry, berbalik dengan anggun, ujung-ujung sayapnya menyentuh bagian
atas lemari es, lalu meluncur ke luar lagi dan menyeberangi kebun.
'BURUNG HANTU!' teriak Paman Vernon, nadi yang sering terlihat di pelipisnya
berdenyut dengan marah ketika dia membanting jendela dapur hingga tertutup.
'BURUNG HANTU LAGI! AKU TIDAK AKAN MENERIMA BURUNG HANTU
LAGI DI RUMAHKU!'
Tetapi Harry telah merobek amplop itu dan menarik keluar surat di dalamnya,
jantungnya berdebar keras di suatu tempat di sekitar jakunnya.
Yth Mr Potter,
Kami telah menerima kabar bahwa Anda menyihir Mantera Patronus pada pukul
sembilan lewat dua puluh tiga
menit malam ini di daerah tempat tinggal Muggle dan dengan kehadiran seorang
Muggle.
Pelanggaran keras dari Dekrit Pembatasan Masuk Akal untuk Penggunaan Sihir
di Bawah Umur telah
mengakibatkan pengeluaran Anda dari Sekolah Sihir Hogwarts. Perwakilan
Kementerian akan berkunjung ke
tempat kediaman Anda dalam waktu dekat untuk memusnahkan tongkat Anda.
Karena Anda telah menerima peringatan resmi untuk pelanggaran sebelumnya di
bawah Seksi 13
Undang-Undang Kerahasiaan Konfederasi Penyihir Internasional, kami menyesal
harus memberitahu Anda bahwa
kehadiran Anda diperlukan pada sebuah sidang pemeriksaan kedisiplinan di
Kementerian Sihir pada pukul 9 pagi
tanggal dua belas Agustus.
Kami harap Anda sehat,
Salam,
Mafalda Hopkirk
Kantor Penggunaan Sihir Tidak Pada Tempatnya
Kementerian Sihir
Harry membaca surat itu dua kali. Dia hanya menyadari samar-samar Paman Vernon
dan Bibi Petunia berbicara. Di dalam kepalanya, semua terasa sedingin es dan mati
rasa. Satu fakta telah memasuki kesadarannya seperti anak panah yang melumpuhkan.
Dia dikeluarkan dari Hogwarts. Semuanya sudah berakhir. Dia tidak akan kembali
lagi.
Dia melihat ke atas kepada keluarga Dursley. Paman Vernon yang berwajah ungu
sedang berteriak, kepalan tangannya masih terangkat; Bibi Petunia melingkarkan
tangannya pada Dudley, yang muntah lagi.
Otak Harry yang terbius sementara seperti terbangun. Perwakilan Kementerian
akan berkunjung ke tempat kediaman Anda dalam waktu dekat untuk memusnahkan
tongkat Anda. Hanya ada satu jalan. Dia harus kabur -- sekarang. Ke mana dia akan
pergi, Harry tidak tahu, tetapi dia yakin akan saru hal: di Hogwarts atau di luarnya,
dia perlu tongkatnya. Dalam keadaan seperti bermimpi, dia menarik tongkatnya
keluar dan berbalik untuk meninggalkan dapur.
'Kau pikir ke mana kau akan pergi?' teriak Paman Vernon. Ketika Harry tidak
menjawab, dia berlari menyeberangi dapur untuk menghalangi pintu ke aula. 'Aku
belum selesai denganmu, nak!'
'Minggir,' kata Harry dengan pelan.
'Kamu akan tetap di sini dan menjelaskan bagaimana anakku --'
'Kalau Paman tidak minggir aku akan mengutukmu,' kata Harry sambil mengangkat
tongkat.
'Kamu tidak bisa membodohiku dengan itu!' geram Paman Vernon. 'Aku tahu kamu
tidak diizinkan menggunakannya di luar rumah gila yang kamu sebut sekolah!'
'Rumah gila itu sudah mendepakku,' kata Harry. 'Jadi aku bisa berbuat sesuka hati.
Kamu punya tiga detik. Satu -- dua --'
Suara CRACK yang menggema memenuhi dapur. Bibi Petunia menjerit, Paman
Vernon memekik dan menunduk, tetapi untuk ketiga kalinya malam itu Harry
mencari-cari sumber gangguan yang tidak dibuatnya. Dia langsung melihatnya:
seekor burung hantu yang tampak acak-acakan dan kebingungan sedang duduk di luar
di ambang dapur, baru saja bertabrakan dengan jendela yang tertutup.
Sambil mengabaikan teriakan menderita Paman Vernon 'BURUNG HANTU!'
Harry menyeberangi ruangan dengan sekali lari dan mengungkit jendela hingga
terbuka. Burung hantu itu menjulurkan kakinya, di mana terikat sebuah perkamen,
mengguncangkan bulunya, dan terbang pergi begitu Harry telah mengambil suratnya.
Dengan tangan bergetar, Harry membuka gulungan pesan kedua, yang ditulis dengan
sangat terburu-buru dan penuh tetesan tinta hitam.
Harry -Dumbleldore baru saja tiba di Kementerian dan dia sedang berusaha mengatasi
semuanya. JANGAN
MENINGGALKAN RUMAH BIBI DAN PAMANMU. JANGAN MELAKUKAN
SIHIR LAGI.
JANGAN MENYERAHKAN TONGKATMU.
Arthur Weasley
Dumbledore sedang berusaha mengatasi semuanya ... apa artinya itu? Seberapa besar
kekuatan yang dimiliki Dumbledore untuk melawan Kementerian Sihir? Kalau begitu
spakah ada peluang dia akan diperbolehkan kembali ke Hogwarts? Secercah harapan
berkembang di dada Harry, hampir segera tertahan oleh rasa panik -- bagaimana dia
bisa menolak menyerahkan tongkatnya tanpa melakukan sihir? Dia harus berduel
dengan perwakilan Kementerian, dan jika dia melakukan hal itu, dia harus beruntung
untuk bisa lepas dari Azkaban, belum lagi pengeluaran dari sekolah.
Pikirannya berlomba ... dia bisa kabur dan beresiko tertangkap oleh Kementerian,
atau diam di tempat dan menunggu mereka menemukannya di sini. Dia jauh lebih
tergoda oleh pilihan pertama, tetapi dia tahu Mr Weasley memikirkan yang terbaik
baginya ... dan lagipula, Dumbledore telah mengatasi hal-hal yang jauh lebih buruk
dari ini sebelumnya.
'Benar,' Harry berkata, 'Aku berubah pikiran. Aku akan tinggal.'
Dia melempar dirinya ke meja dapur dan menghadap Dudley dan Bibi Petunia.
Keluarga Dursley kelihatan terkejut akan perubahan pikirannya yang mendadak. Bibi
Petunia melirik Paman Vernon dengan putus asa. Nadi di pelipisnya yang ungu
sedang berdenyut lebih parah dari yang pernah terjadi.
'Dari siapa burung-burung hantu sialan itu berasal?' dia menggeram.
'Yang pertama dari Kementerian Sihir, mengeluarkan aku dari sekolah,' kata Harry
dengan tenang. Dia sedang menajamkan telinganya untuk menangkap bunyi-bunyi di
luar, kalau-kalau perwakilan Kementerian sedang mendekat, dan lebih mudah dan
lebih tenang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Paman Vernon daripada
membuatnya mulai marah-marah dan berteriak lagi. 'Yang kedua dari ayah temanku
Ron, yang bekerja di Kementerian.'
'Kementerian Sihir?' teriak Paman Vernon. 'Orang-orang sepertimu di
pemerintahan? Oh, ini menjelaskan semuanya, semuanya, tidak heran negeri ini jatuh
ke tangan anjing-anjing.'
Ketika Harry tidak menanggapi, Paman Vernon membelalak kepadanya, lalu
bertanya, 'Dan kenapa kamu dikeluarkan?'
'Karena aku melakukan sihir.'
'AHA!' raung Paman Vernon, sambil menghantamkan kepalannya ke puncak lemari
es, yang terbuka; beberapa makanan ringan rendah lemak Dudley berjatuhan ke lantai.
'Jadi kau mengakuinya! Apa yang kamu lakukan pada Dudley?'
'Tidak ada,' kata Harry, sedikit kehilangan ketenangannya. 'Itu bukan aku --'
'Benar kau,' gumam Dudley tanpa diduga, dan Paman Vernon dan Bibi Petunia
segera membuat gerakan menggelepak pada Harry supaya dia diam sementara
keduanya membungkuk rendah kepada Dudley.
'Teruskan, nak,' kata Paman Vernon, 'apa yang dia lakukan?'
'Beritahu kami, sayang,' bisik Bibi Petunia.
'Menunjukkan tongkatnya ke arahku,' Dudley mengomel.
'Yeah, memang, tapi aku tidak menggunakan --' Harry mulai dengan marah, tetapi -
'DIAM!' raung Paman Vernon dan Bibi Petunia serentak.
'Teruskan, nak,' ulang Paman Vernon, dengan kumis melambai-lambai dengan
marah.
'Semua jadi gelap,' Dudley berkata dengan serak, sambil gemetar. 'Semuanya gelap.
Dan kemudian aku men-mendengar ... hal-hal. Di dalam kepalaku.'
Paman Vernon dan Bibi Petunia saling berpandangan dengan tatapan kengerian
yang teramat sangat. Jika hal yang paling tidak mereka sukai di dunia adalah sihir -segera diikuti dengan para tetangga yang lebih banyak menipu larangan pipa air
daripada mereka -- orang-orang yang mendengar suara-suara di kepala mereka
pastilah berada di nomor sepuluh. Mereka jelas berpikir Dudley telah kehilangan akal.
'Hal-hal seperti apa yang kamu dengar, Popkin?' sebut Bibi Petunia, dengan wajah
sangat putih dan air mata di matanya.
Tetapi Dudley kelihatannya tidak mampu berkata-kata. Dia gemetaran lagi dan
menggelengkan kepala pirangnya yang besar, dan walaupun ada rasa takut dan mati
rasa yang telah timbul pada diri Harry sejak kemunculan burung hantu pertama, dia
merasakan keingintahuan tertentu. Apa yang terpaksa didengar oleh Dudley yang
manja dan suka menggertak?
'Bagaiamana kamu sampai jatuh, nak?' kata Paman Vernon, dengan suara yang
tidak biasanya tenang, jenis suara yang mungkin dipakainya di sisi ranjang orang
yang sakit parah.
'Ter-tersandung,' kata Dudley gemetaran. 'Dan lalu --'
Dia menunjuk dadanya yang besar. Harry mengerti. Dudley sedang mengingat rasa
dingin lembab yang mengisi paru-paru ketika harapan dan kebahagiaan dihisap keluar
dari dirimu.
'Mengerikan,' Dudley berkata dengan parau. 'Dingin. Sangat dingin.'
'OK,' kata Paman Vernon, dengan suara tenang yang dipaksakan, sedangkan Bibi
Petunia meletakkan tangan cemas ke dahi Dudley untuk merasakan suhunya. 'Apa
yang terjadi kemudian, Dudders?'
'Rasanya ... rasanya ... seperti ... seperti ...'
'Seperti kamu tidak akan pernah bahagia lagi,' Harry melanjutkan tanpa semangat.
'Ya,' Dudley berbisik, masih gemetar.
'Jadi!' kata Paman Vernon, suaranya kembali ke volume penuh sekali ketika dia
bangkit. 'Kamu memberi mantera aneh pada anakku sehingga dia mendengar suarasuara dan yakin bahwa dia -- dikutuk untuk menderita, atau apapun, 'kan?
'Berapa kali harus kuberitahu kalian?' kata Harry, amarah dan suaranya meningkat.
'Bukan aku! Tapi sepasang Dementor!'
'Sepasang -- omong kosong apa ini?'
'De -- men -- tor,' kata Harry dengan pelan dan jelas. 'Dua.'
'Dan apa itu Dementor?'
'Mereka menjaga penjara sihir, Azkaban,' kata Bibi Petunia.
Dua detik keheningan mencekam menyusuli kata-kata ini sebelum Bibi Petunia
mengatupkan tangannya ke mulut seakan-akan dia telah salah bicara kata-kata kotor
yang menjijikkan. Paman Vernon sedang terpana menatapnya. Otak Harry berputar.
Mrs Figg adalah satu hal -- tapi Bibi Petunia?
'Bagaimana kau tahu itu?' dia bertanya kepadanya dengan terkejut.
Bibi Petunia tampak sedikit terkejut pada dirinya sendiri. Dia melirik Paman
Vernon sekilas dengan pandangan menyesal takut-takut, lalu menurunkan tangannya
sedikit untuk memperlihatkan gigi-giginya yang mirip gigi kuda.
'Aku dengar -- anak sialan itu -- memberitahu adikku mengenai mereka -- bertahuntahun yang lalu,' dia berkata sambil merengut.
'Jika maksud Bibi ibu dan ayahku, mengapa Bibi tidak menggunakan nama-nama
mereka?' kata Harry keras-keras, tetapi Bibi Petunia tidak mengacuhkan dia. Dia
tampak sangat bingung.
Harry terpana. Kecuali satu ledakan bertahun-tahun lalu, ketika Bibi Petunia
meneriakkan bahwa ibu Harry adalah orang aneh, dia belum pernah mendengarnya
menyebut-nyebut adiknya. Dia heran bahwa bibinya ingat secarik informasi mengenai
dunia sihir untuk waktu yang begitu lama, sementara dia biasanya menghabiskan
semua energinya berpura-pura dunia itu tidak ada.
Paman Vernon membuka mulutnya, menutupnya lagi, membukanya sekali lagi,
menutupnya, lalu, kelihatannya berjuang untuk mengingat cara berbicara,
membukanya untuk ketiga kali dan berkata dengan parau, 'Jadi -- jadi -- mereka -- er - mereka -- er -- benar-benar ada, mereka -- er -- Dementy-apa-itu?
Bibi Petunia mengangguk.
Paman Vernon memandang dari Bibi Petunia ke Dudley ke Harry seakan-akan
berharap seseorang akan berteriak, 'April Fool!' Ketika tidak ada yang melakukannya,
dia membuka mulutnya sekali lagi, tetapi diselamatkan dari perjuangan menemukan
lebih banyak kata oleh kedatangan burung hantu ketiga pada malam itu. Burung itu
meluncur melalui jendela yang masih terbuka seperti sebuah bola meriam yang
berbulu dan mendarat dengan berisik di meja dapur, menyebabkan ketiga anggota
keluarga Dursley melompat karena takut. Harry menarik amplop kedua yang terlihat
resmi dari paruh si burung hantu dan merobeknya hingga terbuka selagi si burung
hantu menukik kembali ke langit malam.
'Sudah cukup -- burung hantu -- menyebalkan,' gumam Paman Vernon dengan
pikiran kacau, sambil mengentakkan kaki menuju jendela dan membantingnya hingga
tertutup lagi.
Yth Mr Potter,
Melanjutkan surat kami kira-kira dua puluh dua menit yang lalu, Kementerian Sihir
telah meninjau kembali
keputusannya untuk memusnahkan tongkat Anda seketika. Anda boleh menyimpan
tongkat Anda hingga sidang
dengar pendapat kedisiplinan Anda pada tanggal dua belas Agustus, saat keputusan
resmi akan diambil.
Menyusul diskusi dengan Kepala Sekolah Sekolah Sihir Hogwarts, Kementerian
telah menyetujui bahwa masalah
pengeluaran Anda dari sekolah juga akan diputuskan pada saat itu. Oleh karena itu
Anda harus menganggap diri
Anda diskors dari sekolah sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut.
Dengan harapan terbaik,
Salam,
Mafalda Hopkirk
Kantor Penggunaan Sihir Tidak Pada Tempatnya
Kementerian Sihir
Harry membaca surat ini tiga kali berturut-turut dengan cepat. Simpul yang
menyakitkan di dadanya sedikit mengendur karena lega mengetahui bahwa dia belum
pasti dikeluarkan, walaupun rasa takutnya masih belum hilang. Segalanya tampak
tergantung pada dengar pendapat pada tanggal dua belas Agustus ini.
'Well?' kata Paman Vernon, mengembalikan Harry ke sekitarnya. 'Sekarang apa?
Apakah mereka telah menghukummu? Apakah kelompokmu punya hukuman mati?'
dia menambahkan sebagai harapan yang timbul belakangan.
'Aku harus pergi ke dengar pendapat,' kata Harry.
'Dan mereka akan menvonismu di sana?'
'Kurasa begitu.'
'Aku tidak akan putus harapan, kalau begitu,' kata Paman Vernon dengan kejam.
'Well, kalau itu saja,' kata Harry, bangkit berdiri. Dia sangat ingin sendirian, untuk
berpikir, mungkin untuk mengirim sepucuk surat kepada Ron, Hermione atau Sirius.
'TIDAK, TIDAK HANYA ITU!' teriak Paman Vernon. 'DUDUK KEMBALI!'
'Apa lagi sekarang?' kata Harry tidak sabaran.
'DUDLEY!' raung Paman Vernon. 'Aku ingin tahu persis apa yang terjadi pada
anakku!'
'BAIK!' teriak Harry, dan dalam kemarahannya, percikan merah dan emas muncrat
keluar dari ujung tongkatnya, yang masih digenggamnya. Ketiga anggota keluarga
Dursley semuanya berjengit, kelihatan takut.
'Dudley dan aku berada di gang antara Magnolia Crescent dan Wisteria Walk,' kata
Harry, berbicara cepat-cepat, berjuang mengendalikan amarahnya. 'Dudley mengira
dia akan sok pintar denganku, aku mengeluarkan tongkatku tetapi tidak
menggunakannya. Lalu dua Dementor muncul --'
'Tapi apa ITU Dementoid?' tanya Paman Vernon dengan geram. 'Apa yang mereka
LAKUKAN?'
'Aku sudah bilang -- mereka mengisap kebahagiaan keluar dari dirimu,' kata Harry,
'dan jika mereka punya kesempatan, mereka menciummu --'
'Menciummu?' kata Paman Vernon, matanya sedikit melotot. 'Menciummu?'
'Begitulah sebutannya waktu mereka mengisap jiwamu keluar dari mulut.'
Bibi Petunia mengeluarkan sebuah jeritan pelan.
'Jiwanya? Mereka tidak mengambil -- dia masih punya --'
Dia mencengkeram bahu Dudley dan mengguncang-guncangnya, seakan-akan
menguji apakah dia bisa mendengar jiwanya berderak-derak di dalam tubuhnya.
'Tentu saja mereka tidak mengambil jiwanya, kalau iya kalian pasti sudah tahu,'
kata Harry dengan putus asa.
'Berkelahi dengan mereka, ya 'kan, nak? kata Paman Vernon keras-keras, dengan
penampilan seorang lelaki yang berjuang mengalihkan percakapan kembali ke bidang
yang dimengertinya. 'Beri mereka satu-dua pukulan,ya 'kan?'
'Paman tidak bisa memberi Dementor satu-dua pukulan,' kata Harry melalui gigi
yang dirapatkan.
'Kalau begitu, kenapa dia tidak apa-apa?' gertak Paman Vernon. 'Mengapa dia tidak
jadi kosong?'
'Karena aku menggunakan Patronus --'
WHOOSH. Dengan suara berisik, deru sayap dan rontoknya sedikit debu, burung
hantu keempat meluncur keluar dari perapian dapur.
'DEMI TUHAN!' raung Paman Vernon, sambil menarik segumpal besar rambut
dari kumisnya, sesuatau yang sudah lama tidak dia lakukan. 'AKU TIDAK TERIMA
ADA BURUNG HANTU DI SINI, AKU TIDAK AKAN MENTOLERANSINYA,
KUBERITAHU KAU!'
Tapi Harry sudah menarik sebuah gulungan perkamen dari kaki burung hantu itu.
Dia sangat yakin bahwa surat ini pasti dari Dumbledore, menjelaskan semuanya -Dementor, Mrs Figg, apa yang sedang diperbuat Kementerian, bagaimana dia,
Dumbledore, bermaksud mengatasi semuanya -- sehingga untuk pertama kalinya
dalam hidupnya dia merasa kecewa melihat tulisan tangan Sirius. Sambil
mengabaikan omelan Paman Vernon yang berkepanjangan mengenai burung hantu,
dan menyipitkan matanya terhadap awan debu kedua ketika burung hantu terakhir itu
lepas landas balik ke cerobong asap, Harry membaca pesan Sirius.
Arthur baru saja memberitahu kami apa yang telah terjadi. Jangan meninggalkan
rumah lagi, apapun yang kau lakukan.
Harry merasa ini merupakan tanggapan yang sangat tidak memadai terhadap segala
yang telah terjadi malam ini sehingga dia membalikkan potongan perkamen itu,
mencari sisa suratnya, tetapi tidak ada lagi yang lain.
Dan sekarang amarahnya menaik lagi. Tidakkah ada seorangpun yang akan
mengatakan 'bagus' karena menghalau dua Dementor seorang diri? Baik Mr Weasley
maupun Sirius bertingkah seolah-olah dia berlaku tidak pantas, dan menyimpan
petuah-petuah mereka sampai mereka bisa meyakini seberapa banyak kerusakan yang
telah diperbuatnya.
'... patukan, maksudku, pasukan burung hantu meluncur keluar masuk rumahku.
Aku tidak terima, nak, aku tidak akan --'
'Aku tidak bisa menghentikan burung-burung itu datang,' Harry membalas,
melumat surat Sirius dalam kepalannya.
'Aku ingin yang sebenarnya mengenai apa yang terjadi malam ini!' hardik Paman
Vernon. 'Jika Demender yang melukai Dudley, kenapa kau sampai dikeluarkan? Kau
melakukan kau-tahu-apa, akui saja!'
Harry mengambil napas panjang menenangkan. Kepalanya mulai sakit lagi. Dia
ingin keluar dari dapur lebih dari apapun juga, dan jauh dari keluarga Dursley.
'Aku menyihir Mantera Patronus untuk menghalau Dementor,' dia berkata sambil
memaksa dirinya tetap tenang. 'Itu satu-satunya cara yang manjur mengatasi mereka.'
'Tapi apa yang dilakukan Dementoid di Little Whinging?' kata Paman Vernon
dengan nada sangat marah.
'Tidak bisa bilang,' kata Harry dengan letih. 'Tak punya gambaran.'
Kepalanya sekarang berdenyut-denyut dalam cahaya lampu yang menyilaukan.
Amarahnya telah surut. Dia merasa terkuras, kelelahan. Keluarga Dursley semuanya
menatap dia.
'Kamu penyebabnya,' kata Paman Vernon penuh semangat. 'Pasti ada hubungannya
dengan kamu, nak, aku tahu itu. Kenapa lagi mereka muncul di sini? Kenapa lagi
mereka ada di gang itu? Kamu pastilah satu-satunya -- satu-satunya --' Tampak jelas
dia tidak mampu menguasai diri untuk menyebutkan kata 'penyihir'. 'Satu-satunya
kau-tahu-apa sejauh bermil-mil.'
'Aku tidak tahu kenapa mereka di sini.'
Tetapi mendengar kata-kata Paman Vernon, otak Harry yang kelelahan beraksi lagi.
Kenapa Dementor datang ke Little Whinging? Bagaimana bisa kebetulan mereka tiba
di gang tempat Harry berada? Apakah mereka dikirim? Apakah Kementerian Sihir
sudah kehilangan kendali atas Dementor? Apakah mereka telah meninggalkan
Azkaban dan bergabung dengan Voldermort, seperti yang telah diramalkan
Dumbledore?
'Demember ini menjaga penjara aneh?' tanya Paman Vernon, susah payah menyela
rentetan pikiran Harry.
'Ya,' kata Harry.
Kalau saja kepalanya bisa berhenti berdenyut, kalau saja dia bisa meninggalkan
dapur dan masuk ke kamar tidurnya yang gelap dan berpikir ...
'Oho! Mereka datang untuk menangkapmu!' kata Paman Vernon, dengan hawa
kemenangan seseorang yang mencapai kesimpulan tak terbantah. 'Begitu 'kan, nak?
Kau buron dari hukum!'
'Tentu saja tidak,' kata Harry, menggelengkan kepalanya seolah-olah untuk
menakuti lalat, pikirannya sekarang berpacu.
'Lalu kenapa --'
'Dia pasti yang mengirim mereka,' kata Harry pelan, lebih kepada dirinya sendiri
daripada kepada Paman Vernon.
'Apa itu? Siapa yang pasti mengirim mereka?'
'Lord Voldermort,' kata Harry.
Dia mencatat dengan suram betapa anehnya bahwa keluarga Dursley, yang
berjengit, berkedip dan berkuak kalau mereka mendengar kata-kata seperti 'penyihir',
'sihir' atau 'tongkat sihir', bisa mendengar nama penyihir terjahat sepanjang masa
tanpa rasa takut sedikitpun.
'Lord -- tunggu dulu,' kata Paman Vernon, wajahnya tegang, timbul pandangan
pengertian ke dalam mata babinya. 'Aku sudah pernah mendengar nama itu ... dia
yang ...'
'Membunuh orang tuaku, ya,' kata Harry tanpa minat.
'Tapi dia sudah hilang,' kata Paman Vernon tidak sabar, tanpa tanda terkecilpun
bahwa pembunuhan orang tua Harry bisa jadi topik yang menyakitkan. 'Si raksasan
itu yang bilang. Dia hilang.'
'Dia sudah kembali,' kata Harry dengan berat.
Terasa sangat aneh berdiri di sini di dalam dapur Bibi Petunia yang sebersih ruang
operasi, di samping kulkas paling berkelas dan televisi layar lebar, berbicara dengan
tenang mengenai Lord Voldermort kepada Paman Vernon. Kedatangan Dementor ke
Little Whinging tampaknya telah melanggar dinding besar yang tidak tampak yang
membagi dunia non-sihir Privet Drive dan dunia di luarnya. Kedua hidup Harry entah
bagaimana telah menyatu dan segalanya telah dibuat terbalik; keluarga Dursley
sedang meminta detil mengenai dunia sihir, dan Mrs Figg kenal Albus Dumbledore;
Dementor melayang di sekitar Little Whinging, dan dia mungkin tidak akan pernah
kembali ke Hogwarts. Kepala Harry berdenyut dengan lebih menyakitkan.
'Kembali?' bisik Bibi Petunia.
Dia sedang memandang Harry seolah-olah dia belum pernah berjumpa dengannya
sebelumnya. Dan tiba-tiba, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Harry benar-benar
menyadari bahwa Bibi Petunia adalah kakak ibunya. Dia tidak dapat menjelaskan
mengapa ini menghantamnya dengan begitu kuat pada saat ini. Yang dia tahu
hanyalah bahwa dia bukan satu-satunya orang di ruangan itu yang punya firasat apa
artinya dengan kembalinya Lord Voldermort. Bibi Petunia seumur hidup belum
pernah memandangnya seperti itu sebelumnya. Matanya yang pucat dan besar (begitu
lain dengan mata adiknya) tidak menyipit oleh ketidaksukaan atau amarah, mereka
terbuka lebar dan tampak takut. Kepura-puraan hebat yang telah dipertahankan Bibi
Petunia seumur hidup Harry -- bahwa sihir itu tidak ada dan tidak ada dunia lain
selain dunia yang ditinggalinya bersama Paman Vernon -- kelihatannya telah hilang.
'Ya,' Harry berkata, berbicara langsung kepada Bibi Petunia sekarang. 'Dia kembali
sebulan lalu. Aku melihatnya.'
Tangannya menemukan bahu Dudley yang besar yang berbalut kulit dan
mencengkeramnya.
'Tunggu dulu,' kata Paman Vernon, melihat dari istrinya ke Harry dan balik lagi,
tampak linglung dan dibingungkan oleh pengertian yang tak disangka yang
kelihatannya telah timbul di antara mereka. 'Tunggu dulu. Lord Voldything ini sudah
kembali, katamu.'
'Ya.'
'Yang membunuh orang tuamu itu.'
'Ya.'
'Dan sekarang dia mengirimkan Demember untuk mengejarmu?'
'Kelihatannya begitu,' kata Harry.
'Aku mengerti,' kata Paman Vernon, memandang dari istrinya yang berwajah pucat
pasi ke Harry dan menarik celananya. Dia terlihat menggelembung, wajahnya yang
ungu dan besar terentang di depan mata Harry. 'Well, beres sudah,' dis berkata, bagian
depan kemejanya merenggang ketika dia menggembungkan tubuhnya, 'kau bisa pergi
dari rumah ini, nak!'
'Apa?' kata Harry.
'Kau dengar aku -- KELUAR!' Paman Vernon berteriak, dan bahkan Bibi Petunia
dan Dudley terlompat. 'KELUAR! KELUAR! Aku seharusnya sudah melakukan ini
bertahun-tahun yang lalu! Burung-burung hantu memperlakukan tempat ini ssperti
rumah singgah, puding-puding meledak, setengah ruang duduk hancur, ekor Dudley,
Marge menggelembung di sekitar langit-langit dan Ford Anglia terbang itu -KELUAR! KELUAR! Sudah cukup! Kau tinggal sejarah! Kau tidak akan tinggal di
sini jika ada orang sinting yang mengejar-ngejarmu, kau tidak akan membahayakan
istri dan anakku, kau tidak akan membawa masalah pada kami. Kalau kau akan
mengambil jalan yang sama dengan orang tuamu yang tidak berguna, aku sudah
muak! KELUAR!'
Harry berdiri terpancang di tempat. Surat-surat dari Kementerian, Mr Weasley dan
SIrius semuanya terlumat di tangan kirinya. Jangan tinggalkan rumah lagi, apapun
yang kamu lakukan. JANGAN TINGGALKAN RUMAH BIBI DAN PAMANMU.
'Kau dengar aku!' kata Paman Vernon, membungkuk ke depan sekarang, wajah
ungunya yang besar begitu dekat dengan wajah Harry sehingga dia bahkan merasakan
semburan ludah mengenai wajahnya. 'Ayo pergi! Kau sangat ingin pergi setengah jam
yang lalu! Aku mendukungmu! Keluar dan jangan pernah lagi menginjak ambang
pintu rumah kami! Kenapa kami merawatmu sejak awal, aku tidak tahu, Marge benar,
seharusnya panti asuhan saja. Kami terlalu berhati lembut demi kebaikan kami
sendiri, berpikir kami bisa menekannya keluar dari dirimu, berpikir kami bisa
membuatmu normal, tapi kami sudah busuk dari awal dan aku sudah muak -- burung
hantu!'
Burung hantu kelima meluncur turun dari cerobong asap demikian cepatnya ia
sampai menghantam lantai sebelum meluncur ke udara lagi dengan pekik keras. Harry
mengangkat tangannya untuk meraih surat, yang berada dalam amplop merah, tetapi
burung itu menukik langsung melewati kepalanya, terbang lurus ke arah Bibi Petunia,
yang mengeluarkan jeritan dan menunduk, lengannya menutupi wajah. Burung hantu
itu menjatuhkan amplop merah itu ke kepalanya, berbalik, dan terbang lurus naik ke
cerobong.
Harry berlari cepat ke depan untuk memungut surat itu, tetapi Bibi Petunia
mengalahkannya.
'Bibi bisa membukanya kalau Bibi mau,' kata Harry, 'tapi bagaimanapun aku akan
mendengar apa isinya. Itu sebuah Howler.'
'Lepaskan benda itu, Petunia!' raung Paman Vernon. 'Jangan menyentuhnya,
mungkin berbahaya!'
'Dialamatkan kepadaku,' kata Bibi Petunia dengan suara bergetar. 'Dialamatkan
kepadaku, Vernon, lihat! Mrs Petunia Dursley, Dapur, Nomor Empat, Privet Drive --'
Dia bernapas cepat, ketakutan. Amplop merah itu sudah mulai berasap.
'Bukalah!' Harry mendorongnya. 'Hadapi saja! Lagipula pasti terjadi.'
'Jangan.'
Tangan Bibi Petunia gemetaran. Dia melihat dengan sembarangan ke sekitar dapur
seakan-akan sedang mencari jalan keluar, tapi terlambat -- amplop itu menyala. Bibi
Petunia menjerit dan menjatuhkannya.
Sebuah suara yang mengerikan memenuhi dapur, menggema di ruang tertutup itu,
berasal dari surat yang sedang terbakar di atas meja.
'Ingat yang terakhir dariku, Petunia.'
Bibi Petunia terlihat seolah-olah dia akan pingsan. Dia terhenyak ke kursi di
sebelah Dudley , wajahnya ditutupi tangan. Sisa-sisa amplop terbakar jadi abu dalam
keheningan.
'Apa ini?' kata Paman Vernon dengan parau. 'Apa -- aku tidak -- Petunia?
Bibi Petunia tidak berkata apa-apa. Dudley sedang menatap ibunya dengan tolol,
mulutnya terbuka. Keheningan berpilin dengan mengerikan. Harry sedang mengamati
bibinya, benar-benar bingung, kepalanya berdenyut-denyut seperti akan meledak.
'Petunia, sayang?' kata Paman Vernon takut-takut. 'P-Petunia?'
Bibinya mengangkat kepalanya. Dia masih gemetar. Dia menelan ludah.
'Anak itu -- anak itu harus tinggal, Vernon,' dia berkata dengan lemah.
'A-apa?'
'Dia tinggal,' katanya. Dia tidak memandang Harry. Dia berdiri lagi.
'Dia ... tapi Petunia ...'
'Kalau kita mengusirnya, para tetangga akan menggosipkan,' katanya. Dia telah
mendapatkan kembali gayanya yang biasa dingin dan tajam dengan cepat, walaupun
dia masih sangat pucat. 'Mereka akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang
janggal, mereka pasti ingin tahu ke mana dia pergi. Kita harus menahannya.'
Paman Vernon sedang mengempiskan badan seperti sebuah ban lama.
'Tapi Petunia, sayang --'
Bibi Petunia tidak mengacuhkannya. Dia berpaling kepada Harry.
'Kamu harus tinggal di kamarmu,' katanya. 'Kamu tidak boleh meninggalkan
rumah. Sekarang pergi tidur.'
Harry tidak bergerak.
'Dari siapa Howler tadi berasal?'
'Jangan tanya-tanya,' Bibi Petunia berkata tajam.
'Apakah Bibi berhubungan dengan para penyihir?'
'Kubilang pergi tidur!'
'Apa artinya itu? Ingat apa yang terakhir?'
'Pergi tidur!'
'Kenapa --'
'KAU DENGAR BIBIMU, SEKARANG NAIK KE TEMPAT TIDUR!'
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB TIGA -Pengawal Perpindahan
Aku baru saja diserang Dementor dan aku mungkin dikeluarkan dari Hogwarts. Aku
ingin tahu apa yang sedang terjadi dan kapan aku akan pergi dari sini.
Harry menyalin kata-kata ini ke atas tiga potong perkamen sesampainya dia pada
meja tulisnya di kamar tidurnya yang gelap. Dia mengalamatkan yang pertama kepada
Sirius, yang kedua kepada Ron dan yang ketiga kepada Hermione. Burung hantunya,
Hedwig, sedang pergi berburu; sangkarnya tergeletak kosong di atas meja tulis. Harry
berjalan bolak-balik di dalam ruangan itu, otaknya terlalu sibuk untuk tidur walaupun
matanya menyengat dan gatal karena lelah. Punggungnya sakit akibat menyeret
Dudley pulang, dan kedua benjolan di kepalanya yang terhantam jendela dan Dudley
berdenyut-denyut dengan menyakitkan.
Dia berjalan bolak-balik, termakan oleh rasa marah dan frustrasi, sambil
menggertakan gigi-giginya dan mengepalkan tinjunya, mengalihkan pandanganpandangan marah ke langit bertabur bintang yang kosong setiap kali dia melewati
jendela. Dementor dikirim untuk menyerangnya, Mrs Figg dan Mundungus Fletcher
mengikutinya secara rahasia, lalu penskorsan dari Hogwarts dan sebuah sidang dengar
pendapat di Kementerian Sihir -- dan masih belum ada orang yang memberitahunya
apa yang sedang terjadi
Dan apa, apa, arti Howler tadi? Suara siapa yang telah menggema dengan begitu
mengerikan, mengancam, ke seluruh dapur?
Mengapa dia masih terperangkap di sini tanpa informasi? Mengapa semua orang
memperlakukannya seperti anak nakal saja? Jangan menyihir lagi, tetaplah di dalam
rumah ...
Dia menendang koper sekolahnya ketika melewatinya, tetapi jauh dari meredakan
amarahnya dia merasa lebih buruk, karena sekarang dia punya rasa sakit menusuk
pada jari kakinya untuk diatasi sebagai tambahan kepada rasa sakit di sekujur
tubuhnya yang tersisa.
Persis ketika dia terpincang-pincang melewati jendela, Hedwig membumbung
melaluinya dengan kepakan sayap lembut seperti hantu kecil.
'Sudah waktunya!' Harry membentak, ketika dia mendarat dengan ringan ke puncak
sangkarnya. 'Kamu bisa meletakkan itu, aku punya tugas bagimu!'
Mata Hedwig yang besar, bundar, kekuningan menatapnya dengan mencela
melewati kodok mati yang terjepit di paruhnya.
'Kemarilah,' kata Harry, sambil memungut ketiga gulungan kecil perkamen dan
sebuah tali kulit dan mengikatkan gulungan-gulungan itu ke kakinya yang bersisik.
'Bawa ini langsung ke Sirius, Ron dan Hermione dan jangan pulang ke sini tanpa
jawaban yang panjang dan bagus. Terus patuk mereka sampai mereka sudah
menuliskan jawaban-jawaban yang panjangnya layak kalau harus. Mengerti?'
Hedwig mengeluarkan suara uhu teredam, paruhnya masih penuh kodok.
'Kalau begitu, berangkatlah,' kata Harry.
Dia langsung lepas landas.Saat dia pergi, Harry melemparkan dirinya ke tempat
tidur tanpa berganti pakaian dan menatap langit-langit yang gelap. Sebagai tambahan
kepada semua perasaan tidak keruan lainnya, dia sekarang merasa bersalah dia telah
marah-marah kepada Hedwig; dia satu-satunya teman yang dimilikinya di nomor
empat, Privet Drive. Tetapi dia akan berbaikan dengannya pada saat dia kembali
dengan jawaban-jawaban dari Sirius, Ron dan Hermione.
Mereka pasti menulis balik dengan cepat; mereka tidak akan mungkin mengabaikan
serangan Dementor. Dia mungkin akan terbangun besok menemukan tiga surat tebal
yang penuh dengan simpati dan rencana-rencana pemindahannya dengan segera ke
The Burrow. Dan dengan ide menentramkan itu, tidur meliputinya, melumpuhkan
pikiran lebih lanjut.
*
Tapi Hedwig tidak kembali keesokan harinya. Harry menghabiskan sepanjang hari di
kamar tidurnya, hanya meninggalkannya untuk pergi ke kamar mandi. Tiga kali pada
hari itu Bibi Petunia mendorong makanan ke dalam kamarnya melalui pintu kucing
yang telah dipasang Paman Vernon tiga musim panas lalu. Setiap kali Harry
mendengarnya mendekat dia mencoba menanyainya mengenai Howler itu, tetapi
sekalian saja dia menginterogasi kenop pintu untuk mendapatkan semua jawaban
yang diperolehnya. Di lain itu, keluarga Dursley menghindari kamar tidurnya. Harry
tidak melihat keuntungan memaksakan kehadirannya ke tengah-tengah mereka;
keributan lain tidak akan mencapai apapun kecuali mungkin membuatnya begitu
marah sehingga dia akan melakukan lebih banyak sihir ilegal.
Begitulah yang terjadi selama tiga hari penuh. Harry bergantian dipenuhi dengan
energi tak kenal lelah yang membuatnya tidak dapat diam, selama waktu itu dia
berjalan bolak-balik di kamarnya, merasa sangat marah kepada mereka semua karena
meninggalkan dirinya untuk bersusah hati dalam kekacauan ini; dan dengan kelesuan
yang sangat sempurna sehingga dia bisa berbaring di atas tempat tidurnya selama satu
jam setiap kali, sambil menatap ruang kosong dengan bingung, sakit akibat rasa takut
saat memikirkan tentang dengar pendapat Kementerian.
Bagaimana kalau mereka membuat keputusan melawannya? Bagaimana kalau dia
memang dikeluarkan dan tongkatnya dipatahkan menjadi dua? Apa yang akan dia
lakukan, di mana dia akan pergi? Dia tidak bisa kembali tinggal penuh-waktu dengan
keluarga Dursley, tidak sekarang setelah dia mengenal dunia yang lain. Mungkin dia
bisa pindah ke rumah Sirius, seperti yang telah disarankan Sirius setahun yang lalu,
sebelum dia terpaksa kabur dari Kementerian? Apakah Harry akan diizinkan tinggal
di sana sendiri, mengingat dia masih di bawah umur? Atau apakah masalah ke mana
dia akan pergi seterusnya ditentukan baginya? Apakah pelanggaran Undang-Undang
Kerahasiaan Internasional olehnya cukup parah untuk mendaratkannya ke sebuah sel
di Azkaban? Kapanpun pikiran ini muncul, Harry tanpa kecuali meluncur turun dari
tempat tidurnya dan mulai berjalan bolah-balik lagi.
Pada malam keempat setelah kepergian Hedwig Harry sedang berbaring dalam
salah satu fase tidak acuhnya, sambil menatap langit-langit, pikirannya yang kelelahan
agak kosong, ketika pamannya memasuki kamar tidurnya. Harry melihat pelan-pelan
ke arahnya. Paman Vernon sedang mengenakan setelan terbaiknya dan sebuah
ekspresi sangat puas diri.
'Kami akan keluar,' katanya.
'Maaf?'
'Kami -- maksudnya, bibimu, Dudley dan aku -- akan keluar.'
'Baik,' kata Harry tanpa minat, sambil menatap balik ke langit-langit.
'Kau tidak boleh meninggalkan kamar tidurmu selagi kami pergi.'
'OK.'
'Kau tidak boleh menyentuh televisi, stereo, atau milik kami yang mana saja.'
'Benar.'
'Kau tidak boleh mencuri makanan dari kulkas.'
'OK.'
'Aku akan mengunci pintumu.'
'Lakukanlah.'
Paman Vernon melotot kepada Harry, jelas curiga akan kurangnya argumen ini,
lalu mengentakkan kaki keluar ruangan dan menutup pintu di belakangnya. Harry
mendengar kunci diputar dan langkah-langkah kaki Paman Vernon berjalan dengan
berat menuruni tangga. Beberapa menit kemudian dia mendengar pintu-pintu mobil
dibanting, deru mesin, dan tak salah lagi suara mobil bergerak keluar jalan mobil.
Harry tidak punya perasaan khusus mengenai kepergian keluarga Dursley. Tidak
membuat perbedaan baginya apakah mereka ada di rumah atau tidak. Dia bahkan
tidak bisa mengumpulkan tenaga untuk bangkit dan menyalakan lampu kamar
tidurnya. Ruangan itu semakin gelap di sekitarnya sementara dia berbaring sambil
mendengarkan suara-suara malam melalui jendela yang dibiarkannya terbuka
sepanjang waktu, menunggu saat menyenangkan ketika Hedwig kembali.
Rumah kosong itu berdenyit di sekitarnya. Pipa-pipa menggelegak. Harry berbaring
di ssana dalam keadaan seperti pingsan, tidak memikirkan apapun, terbenam dalam
kesengsaraan.
Lalu, dengan cukup jelas, dia mendengar sebuah tabrakan di dapur di bawah.
Dia terduduk tegak, mendengarkan lekat-lekat. Keluarga Dursley tidak mungkin
sudah kembali, terlalu cepat, dan kalaupun begitu dia tidak mendengar mobil mereka.
Ada keheningan selama beberapa detik, lalu suara-suara.
Perampok, pikirnya, sambil meluncur turun dari tempat tidur ke atas kakinya -tetapi sepersekian detik berikutnya terpikir olehnya bahwa perampok akan
merendahkan suaranya, dan siapapun yang sedang bergerak di sekitar dapur jelas
tidak repot-repot melakukan hal itu.
Dia menyambar tongkatnya dari meja di samping tempat tidur dan berdiri
menghadap pintu kamar tidurnya, sambil mendengarkan sekuat yang dia mampu. Saat
berikutnya, dia terlompat ketika kunci mengeluarkan bunyi klik keras dan pintunya
mengayun terbuka.
Harry berdiri tidak bergerak, menatap melalui ambang pintu yang terbuka ke
kegelapan di bordes atas, sambil menegangkan telinganya untuk mencari bunyi-bunyi
lain, tetapi tidak ada yang datang. Dia bimbang sejenak, lalu bergerak dengan cepat
dan diam-diam keluar dari kamarnya menuju kepala tangga.
Jantungnya melonjak ke atas ke tenggorokannya. Ada orang-orang yang sedang
berdiri di aula seperti bayangan di bawah, membentuk siluet terhadap lampu jalan
yang terpancar melalui pintu kaca; delapan atau sembilan orang, semuanya, sejauh
yang dapat dilihatnya, sedang melihat kepadanya.
'Turunkan tongkatmu, nak, sebelum kamu menyodok mata seseorang,' kata sebuah
suara rendah menggeram.
Jantung Harry berdebar tanpa terkendali. Dia mengenal suara itu, tetapi dia tidak
menurunkan tongkatnya.
'Profesor Moody?' dia berkata dengan tidak yakin.
'Aku tidak tahu banyak tentang "Profesor"' geram suara itu, 'belum pernah
mengajar banyak, ya 'kan? Turun ke sini, kami ingin melihatmu dengan jelas.'
Harry menurunkan tongkatnya sedikit tetapi tidak mengendurkan pegangannya,
juga dia tidak bergerak. Dia punya alasan yang sangat bagus untuk merasa curiga. Dia
baru-baru ini menghabiskan sembilan bulan bersama Moody hanya untuk mendapati
bahwa itu sama sekali bukan Moody, tetapi seorang peniru; terlebih lagi, seorang
peniru yang telah mencoba membunuh Harry sebelum kedoknya terbuka. Tetapi
sebelum dia bisa memutuskan apa yang akan dilakukannya, sebuah suara kedua yang
agak serak melayang naik.
'Tidak apa-apa, Harry. Kami telah datang untuk membawamu pergi.'
Jantung Harry melonjak. Dia juga mengenal suara itu, walaupun dia sudah tidak
mendengarnya selama lebih dari setahun.
'P-Profesor Lupin?' dia berkata dengan tidak percaya. 'Andakah itu?'
'Mengapa kita semua berdiri dalam kegelapan?' kata suara ketiga, yang satu ini
benar-benar tidak dikenal, suara seorang wanita. 'Lumos.'
Ujung sebuah tongkat menyala, menerangi aula itu dengan cahaya sihir. Harry
berkedip. Orang-orang di bawah berkerumun di sekitar kaki tangga, menatap
kepadanya lekat-lekat, beberapa menjulurkan kepala-kepala mereka untuk
mendapatkan pandangan yang lebih baik.
Remus Lupin berdiri paling dekat dengannya. Walaupun masih lumayan muda,
Lupin terlihat lelah dan agak sakit; dia punya lebih banyak rambut kelabu daripada
ketika Harry mengucapkan selamat berpisah kepadanya terakhir kali dan jubahnya
lebih banyak tambalan dan lebih kusam daripada dulu. Walaupun begitu, dia
tersenyum lebar kepada Harry, yang mencoba tersenyum balik walau sedang dalam
keadaan terguncang.
'Oooh, dia terlihat persis seperti yang kuduga,' kata penyihir wanita yang sedang
memegang tongkatnya yang menyala tinggi-tinggi. Dia terlihat yang paling muda di
sana; dia memiliki wajah pucat berbentuk hati, mata gelap bersinar, dan rambut jigrak
pendek yang berwarna violet berat. 'Pakabar, Harry!'
'Yeah, aku tahu maksudmu, Remus,' kata seorang penyihir hitam botak yang berdiri
paling belakang -- dia memiliki suara dalam yang pelan dan mengenakan sebuah
anting emas tunggal di telinganya -- 'dia tampak persis seperti James.'
'Kecuali matanya,' kata seorang penyihir pria berambut perak dengan suara
mencicit di belakang. 'Mata Lily.'
Mad-Eye Moody, yang mempunyai rambut kelabu beruban yang panjang dan
sepotong daging yang hilang dari hidungnya, sedang mengedipkan mata dengan
curiga kepada Harry melalui matanya yang tidak sepadan. Salah satu matanya kecil,
gelap dan seperti manik-manik, mata yang lain besar, bundar dan berwarna biru
elektrik -- mata ajaib yang bisa menembus dinding, pintu dan bagian belakang kepala
Moody sendiri.
'Apakah kamu cukup yakin itu dia, Lupin?' dia menggeram. 'Pasti jadi pengintai
yang bagus kalau kita membawa pulang Pelahap Maut yang menyamar sebagai dia.
Kita harus menanyainya sesuatu yang hanya akan diketahui Potter asli. Kecuali ada
yang bawa Veritaserum?'
'Harry, bentuk apa yang diambil Patronusmu?' Lupin bertanya.
'Seekor kijang jantan,' kata Harry dengan gugup.
'Itu dia, Mad-Eye,' kata Lupin.
Sangat sadar bahwa semua orang masih menatapnya, Harry menuruni tangga
sambil menyimpan tongkatnya di kantong belakang celana jinsnya ketika dia tiba.
'Jangan taruh tongkatmu di sana, nak!' raung Moody. 'Bagaimana kalau menyala?
Penyihir yang lebih baik darimu sudah kehilangan pantat, kau tahu!'
'Siapa yang kamu kenal yang sudah kehilangan pantat?' wanita berambut violet itu
bertanya kepada Moody dengan tertarik.
'Tidak usah tahu, kau cukup jauhkan tongkatmu dari kantong belakangmu!' geram
Mad-Eye. 'Keamanan tongkat tingkat dasar, tidak ada lagi yang mau repot
mematuhinya.' Dia tertatih menuju dapur. 'Dan aku melihat itu,' dia menambahkan
dengan agak marah, ketika wanita itu menggulirkan matanya ke langit-langit.
Lupin mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Harry.
'Bagaimana kabarmu?' dia bertanya sambil melihat Harry dengan seksama.
'B-baik ...'
Harry hampir tidak dapat mempercayai bahwa ini nyata. Empat minggu tanpa
apapun, tidak secuilpun petunjuk mengenai rencana memindahkan dia dari Privet
Drive, dan tiba-tiba sekelompok besar penyihir berdiri bukan khayalan di rumah itu
seoleh-olah ini adalah pengaturan yang telah lama disepakati. Dia melirik sekilas
kepada orang-orang yang mengelilingi Lupin; mereka masih menatapnya dengan
tertarik. Dia merasa sangat sadar akan fakta bahwa dia belum menyisir rambut selama
empat hari.
'Aku -- kalian sangat beruntung keluarga Dursley sedang keluar ...' dia bergumam.
'Beruntung, ha!' kata wanita berambut violet. 'Aku yang memikat mereka agar tidak
jadi penghalang. Mengirim sepucuk surat dengan pos Muggle memberitahu mereka
telah diikutkan dalam Kompetisi Halaman Suburban Yang Terawat Paling Rapi
Seluruh Inggris. Mereka sedang menuju ke acara pemberian hadiah sekarang ... atau
itu yang mereka pikir.'
Harry mendapat bayangan sekilas dari wajah Paman Vernon ketika dia menyadari
tidak ada Kompetisi Halaman Suburban Yang Terawat Paling Rapi Seluruh Inggris.
'Kita akan berangkat, bukan?' dia bertanya. 'Segera?'
'Hampir seketika,' kata Lupin, 'kita hanya menunggu tanda aman.'
'Ke mana kita akan pergi? The Burrow?' Harry bertanya dengan penuh harapan.
'Bukan The Burrow, bukan,' kata Lupin, sambil memberi isyarat kepada Harry
menuju dapur; kelompok kecil penyihir itu mengikuti, semuanya masih memandang
Harry dengan rasa ingin tahu. 'Terlalu beresiko. Kami sudah mendirikan Markas
Besar di suatu tempat yang tidak terdeteksi. Sudah beberapa lama ...'
Mad-Eye Moody sekarang sedang duduk di meja dapur sambil minum dari
botolnya, mata sihirnya berputar ke segala arah, mengamati banyak peralatan
penghemat tenaga keluarga Dursley.
'Ini Alastor Moody, Harry,' Lupin melanjutkan, sambil menunjuk kepada Moody.
'Yeah, aku tahu,' kata Harry tidak nyaman. Rasanya aneh diperkenalkan kepada
seseorang yang dikiranya sudah dikenalnya selama setahun.
'Dan ini Nymphadora --'
'Jangan panggil aku Nymphadora, Remus,' kata penyihir wanita muda itu dengan
rasa jijik, 'namaku Tonks.'
'Nymphadora Tonks, yang lebih suka dikenal dengan nama keluarganya saja,'
Lupin menyudahi.
'Kau juga akan begitu kalau ibumu yang bodoh memberimu nama Nymphadora,'
gumam Tonks.
'Dan ini Kingsley Shacklebolt,' Dia menunjuk kepada penyihir pria tinggi hitam,
yang membungkuk. 'Elphias Doge.' Penyihir pria bersuara mencicit mengangguk.
'Dedalus Diggle --'
'Kita sudah pernah berjumpa,' ciut Diggle yang bersemangat, sambil menjatuhkan
topinya yang berwarna violet.
'Emmeline Vance.' Seorang peyihir wanita yang tampak agung dengan syal hijau
jamrud mencondongkan kepalanya. 'Sturgis Podmore.' Seorang penyihir pria
berahang persegi dengan rambut tebal berwarna jerami mengedipkan matanya. 'Dan
Hestia Jones.' Seorang penyihir wanita berpipi merah dan berambut hitam melambai
dari sebelah pemanggang roti.
Harry mencondongkan kepalanya dengan canggung kepada setiap orang ketika
mereka sedang diperkenalkan. Dia berharap mereka bisa melihat ke benda lain selain
dirinya; rasanya seolah dia mendadak dibawa ke atas panggung. Dia juga bertanyatanya mengapa mereka begitu banyak yang berada di sini.
'Sejumlah orang dalam jumlah mengejutkan mengajukan diri untuk datang dan
menjemputmu,' kata Lupin, seoleh-oleh dia telah membaca pikiran Harry; sudut
mulutnya berkedut sedikit.
'Yeah, well, semakin banyak semakin baik,' kata Moody dengan suram. 'Kami
adalah pengawalmu, Potter.'
'Kita hanya menunggu pertanda untuk memberitahu kita sudah aman untuk
berangkat,' kata Lupin sambil melirik ke luar jendela dapur. 'Kita punya waktu sekitar
lima belas menit.'
'Sangat bersih, para Muggle ini, bukan begitu?' kata penyihir wanita yang dipanggil
Tonks, yang sedang melihat-lihat sekeliling dapur dengan minat besar. 'Ayahku
seorang yang terlahir dari Muggle dan dia sangat pemalas. Kukira mereka bermacammacam juga seperti penyihir?'
'Er -- yeah,' kata Harry. 'Lihat --' dia berpaling kembali kepada Lupin, 'apa yang
sedang terjadi, aku belum mendengar apapun dari siapapun, apa yang Vol--?'
Beberapa penyihir membuat bunyi mendesis aneh; Dedalus Diggle menjatuhkan
topinya lagi dan Moody menggeram, 'Diam!'
'Apa?' kata Harry.
'Kita tidak akan membahas apapun di sini, terlalu beresiko,' kata Moody, sambil
memalingkan mata normalnya kepada Harry. Mata sihirnya tetap berfokus ke langitlangit. 'Sialan,' dia menambahkan dengan marah, sambil meletakkan sebuah tangan ke
tangan mata sihirnya, 'terus macet -- sejak dipakai bajingan itu.'
Dan dengan suara mengisap mengerikan seperti alat penyedot yang ditarik dari bak
cuci, dia menarik keluar matanya.
'Mad-Eye, kamu tahu itu menjijikan, 'kan?' kata Tonks memulai percakapan.
'Ambilkan aku segelas air, maukah kau, Harry,' pinta Moody.
Harry menyeberang ke alat pencuci piring, mengeluarkan sebuah gelas bersih dan
mengisinya dengan air di bak cuci, masih dipandangi dengan penuh minat oleh
kelompok penyihir itu. Pandangan mereka yang tidak berhenti mulai membuatnya
jengkel.
'Sulang,' kata Moody, ketika Harry mengulurkan kepadanya gelas itu. Dia
menjatuhkan bola mata sihir itu ke dalam air dan mendorongnya naik turun; mata ini
berputar-putar, menatap mereka bergantian. 'Aku mau daya pandang tiga ratus enam
puluh derajat pada perjalanan pulang.'
'Bagaimana kita akan pergi -- kemanapun kita akan pergi?' Harry bertanya.
'Dengan sapu,' kata Lupin. 'Satu-satunya cara. Kau terlalu muda untuk berApparate, mereka akan mengawasi Jaringan Floo dan lebih dari nilai hidup kita untuk
merangkai Portkey tidak sah.'
'Remus bilang kau penerbang yang andal,' kata Kingsley Shaklebolt dengan suara
dalamnya.
'Dia sangat pandai,' kata Lupin, yang sedang memeriksa jam tangannya. 'Walau
begitu, kamu sebaiknya pergi dan berkemas, Harry, kita ingin siap pergi ketika
tandanya sampai.'
'Aku akan ikut dan membantumu,' kata Tonks dengan riang.
Dia mengikuti Harry kembali ke aula dan naik tangga, melihat sekeliling dengan
rasa ingin tahu dan minat yang besar.
'Tempat aneh,' katanya. 'Agak terlalu bersih, kau tahu maksudku? Agak kurang
alami. Oh, ini lebih baik,' dia menambahkan, ketika mereka memasuki kamar tidur
Harry dan dia menyalakan lampunya.
Kamarnya jelas jauh lebih berantakan daripada bagian rumah yang lain. Terkurung
di dalamnya selama empat hari dengan perasaan murung, Harry tidak repot merapikan
tempat itu. Kebanyakan buku yang dimilikinya terserak di lantai di tempat dia
mencoba mengalihkan perhatian dengan cara membacanya bergantian dan
melemparnya ke samping; sangkar Hedwig perlu dibersihkan dan mulai berbau; dan
kopernya tergeletak terbuka, menyingkapkan gabungan baju Muggle dan jubah
penyihir yang campur aduk yang telah berjatuhan ke lantai di sekitarnya.
Harry mulai memunguti buku-buku dan melemparkannya dengan terburu-buru ke
dalam kopernya. Tonks berhenti sejenak di depan lemari pakaiannya yang terbuka
untuk melihat pantulannya pada kaca di bagian dalam pintu secara kritis.
'Kau tahu, aku tidak merasa violet warna yang cocok denganku,' dia berkata sambil
termenung, sambil menarik-narik seikat rambut jigraknya. 'Apa menurutmu ini
membuatku terlihat agak bertanduk?'
'Er --' kata Harry, sambil menatapnya dari balik Tim-Tim Quidditch Britania dan
Irlandia.
'Yeah, benar,' kata Tonks memutuskan. Dia menegangkan matanya dengan ekspresi
dipaksakan seakan-akan dia sedang berjuang mengingat sesuatu. Sedetik kemudian,
rambutnya berubah menjadi merah muda permen karet.
'Bagaimana caramu melakukan itu?' kata Harry, sambil menganga kepadanya
ketika dia membuka mata lagi.
'Aku seorang Metamorphmagus,' katanya sambil melihat balik ke bayangannya dan
memalingkan kepalanya sehingga dia bisa melihat rambutnya dari segala arah.
Maksudnya aku bisa mengubah penampilanku sekehendak hati,' dia menambahkan,
ketika melihat ekspresi kebingungan Harry pada cermin di belakangnya. 'Aku terlahir
begitu. Aku mendapat nilai tertinggi dalam Persembunyian dan Penyamaran selama
pelatihan Auror tanpa belajar sama sekali, hebat sekali.'
'Kau seorang Auror?' kata Harry, terkesan. Menjadi penangkap Penyihir Gelap
adalah satu-satunya karir yang pernah dipertimbangkannya setelah Hogwarts.
'Yeah,' kata Tonks, terlihat bangga. 'Kingsley juga, walau dia sedikit lebih tinggi
dariku. Aku baru memenuhi syarat setahun yang lalu. Hampir gagal di Masuk DiamDiam dan Mencari Jejak. Aku sangat kagok, apakah kau mendengarku memecahkan
piring itu ketika kami tiba di bawah?'
'Dapatkah kau belajar jadi seorang Metamorphmagus?' Harry bertanya kepadanya,
sambil meluruskan diri, sepenuhnya lupa berkemas.
Tonks tertawa kecil.
'Aku bertaruh kamu pasti tidak keberatan menyembunyikan bekas luka itu kadangkadang, eh?'
Matanya menemukan bekas luka berbentuk kilat di dahi Harry.
'Tidak, aku takkan keberatan,' Harry bergumam, sambil memalingkan muka. Dia
tidak suka orang-orang menatap bekas lukanya.
'Well, kutakut kamu harus belajar cara yang susah,' kata Tonks. 'Para
Metamorphmagus sangat langka, mereka terlahir begitu, bukan dibuat. Kebanyakan
penyihir menggunakan tongkat, atau ramuan, untuk mengubah penampilan mereka.
Tetapi kita harus bergegas, Harry, kita seharusnya berkemas,' dia menambahkan
dengan rasa bersalah, sambil melihat berkeliling pada semua kekacauan di lantai.
'Oh -- yeah,' kata Harry sambil mengambil beberapa buku lagi.
'Jangan bodoh, jauh lebih cepat kalau aku yang -- berkemas!' teriak Tonks, sambil
melambaikan tongkatnya dengan gerakan menyapu yang panjang ke lantai.
Buku-buku, pakaian, teleskop dan timbangan semuanya membumbung ke udara
dan terbang kacau balau ke dalam koper.
'Tidak terlalu rapi,' kata Tonks sambil berjalan ke koper dan melihat ke tumpukan
di dalamnya. 'Ibuku punya ketangkasan untuk membuat benda-benda masuk dengan
rapi -- dia bahkan membuat kaus kaki terlipat sendiri -- tapi aku belum menguasai
bagaimana dia melakukannya -- mirip jentikan seperti ini --' Dia menjentikkan
tongkatnya dengan penuh harapan.
Salah satu kaus kaki Harry bergeliut dengan lemah dan tergeletak kembali ke
puncak tumpukan kacau di dalam koper.
'Ah, well,' kata Tonks, sambil membanting tutup koper hingga tertutup, 'setidaknya
semua sudah masuk. Itu juga perlu sedikit pembersihan.' Dia menunjukkan
tongkatnya ke sangkar Hedwig. 'Scurgify.' Beberapa bulu dan kotoran menghilang.
'Well, itu agak lebih baik -- aku tidak pernah benar-benar bisa semua mantera jenis
pekerjaan rumah ini. Benar -- sudah semuanya? Kuali? Sapu? Wow! -- Sebuah
Firebolt?'
Matanya melebar ketika memandang sapu terbang di tangan kanan Harry. Itu
adalah kebanggaan dan kesayangannya, sebuah kado dari Sirius, sebuah sapu terbang
berstandar internasional.
'Dan aku masih naik Komet Dua Enam Puluh,' kata Tonks dengan iri. 'Ah well ...
tongkatmu masih di celana jinsmu? Kedua pantat masih ada? OK, ayo pergi.
Locomotor koper.'
Koper Harry naik beberapa inci ke udara. Sambil memegang tongkatnya seperti
tongkat dirigen, Tonks membuat koper itu melayang menyeberangi ruangan dan
keluar dari pintu di hadapan mereka, dengan sangkar Hedwig di tangan kirinya. Harry
mengikutinya menuruni tangga sambil membawa sapu terbangnya.
Kembali ke dapur Moody telah memakai kembali matanya, yang sedang berputar
dengan amat cepat setelah pembersihannya sehingga membuat Harry merasa mual
melihatnya. Kingsley Shacklebolt dan Sturgis Podmore sedang memeriksa microwave
dan Hestia Jones sedang menertawakan pengiris kulit kentang yang dijumpainya
ketika menggeledah laci-laci. Lupin sedang menyegel amplop yang dialamatkan
kepada keluarga Dursley.
'Bagus sekali,' kata Lupin, sambil melihat ke atas ketika Tonks dan Harry masuk.
'Kita punya sekitar satu menit, kukira. Kita mungkin harus keluar ke kebun sehingga
kita akan siap. Harry, aku telah meninggalkan sepucuk surat yang memberitahu bibi
dan pamanmu agar tidak khawatir --'
'Mereka tidak akan,' kata Harry.
'-- bahwa kamu aman --'
'Itu hanya akan membuat mereka tertekan.'
'-- dan kamu akan bertemu mereka lagi musim panas mendatang.'
'Apakah aku harus?'
Lupin tersenyum tetapi tidak menjawab.
'Kemarilah, nak,' kata Moody dengan keras sambil memberi isyarat kepada Harry
dengan tongkatnya. 'Aku perlu memberimu Penghilang-Ilusi.'
'Anda perlu apa?' kata Harry dengan gugup.
'Mantera Penghilang Ilusi,' kata Moody sambil mengangkat tongkatnya. 'Lupin
bilang kamu punya Jubah Gaib, tapi itu tidak akan bertahan sewaktu kita terbang; ini
akan menyamarkanmu lebih baik. Ini dia --'
Dia mengetuk-ngetuknya dengan keras di bagian puncak kepala dan Harry
merasakan sebuah sensasi aneh seakan-akan Moody baru saja membanting sebuah
telur di sana; tetesan-tetesan dingin terasa mengalir menuruni tubuhnya dari titik yang
tersentuh tongkat.
'Bagus, Mad-Eye,' kata Tonks penuh penghargaan, sambil menatap pada bagian
tengah tubuh Harry.
Harry melihat ke bawah ke tubuhnya, atau lebih tepatnya, apa yang dulu tubuhnya,
karena sama sekali tidak terlihat mirip tubuhnya lagi. Tubuh itu tidak kasat mata;
hanya mengambil warna dan tekstur yang persis dengan unit dapur di belakangnya.
Dia tampaknya sudah menjadi bunglon manusia.
'Ayolah,' kata Moody sambil membuka kunci pintu belakang dengan tongkatnya.
Mereka semua melangkah keluar ke halaman Paman Vernon yang terawat indah.
'Malam yang cerah,' gerutu Moody, mata sihirnya memindai langit. 'Lebih baik
kalau ada sedikit awan. Benar, kau,' dia menghardik pada Harry, 'kita akan terbang
dengan formasi berdekatan. Tonks akan berada tepat di depanmu, terus ikuti dari
dekat. Lupin akan melindungimu dari bawah. Aku akan berada di belakangmu. Yang
lain akan mengelilingi kita. Kita tidak berpisah dari barisan demi apapun, mengerti?
Kalau salah satu dari kami terbunuh --'
'Apakah itu mungkin?' kata Harry khawatir, tetapi Moody mengabaikan dia.
'-- yang lain akan tetap terbang, jangan berhenti, jangan berpisah dari barisan.
Kalau mereka menghabisi kami semua dan kau selamat, Harry, pengawal garis
belakang telah bersiap sedia untuk mengambil alih; terus terbang ke timur dan mereka
akan bergabung denganmu.'
'Berhenti bersikap begitu ceria, Mad-Eye, dia akan mengira kita tidak menganggap
ini serius,' kata Tonks selagi dia mengikatkan koper Harry dan sangkar Hedwig ke
pelana yang bergantung dari sapunya.
'Aku hanya memberitahu anak itu rencananya,' geram Moody. 'Tugas kita adalah
mengantarkan dia dengan selamat ke Markas Besar dan kalau kita mati dalam usaha -'
'Tidak ada yang akan mati,' kata Kingsley Shacklebolt dengan suaranya yang dalam
dan menenangkan.
'Naiki sapumu, itu tanda pertama!' kata Lupin dengan tajam, sambil menunjuk ke
langit.
Jauh, jauh di atas mereka, hujan bunga api merah terang telah menyala di antara
bintang-bintang. Harry mengenalinya seketika sebagai bunga api tongkat. Dia
mengayunkan kaki kanannya melewati Fireboltnya, menggenggam pegangannya eraterat dan merasakannya bergetar sedikit, seakan-akan sama inginnya dengan dirinya
untuk naik ke udara sekali lagi.
'Tanda kedua, ayo pergi!' kata Lupin dengan keras ketika lebih banyak lagi bunga
api, kali ini hijau, meledak jauh di atas mereka.
Harry menjejak keras ke tanah. Udara malam yang sejuk menderu melalui
rambutnya ketika petak-petak kebun rapi di Privet Drive tertinggal jauh, mengerut
dengan cepat menjadi potongan-potongan hijau tua dan hitam, dan semua pikiran
tentang dengar pendapat Kementerian tersapu daari pikirannya seolah-olah deru udara
itu telah meniupnya keluar dari kepalanya. Dia merasa seakan-akan jantungnya akan
meledak karena senang; dia terbang lagi, terbang menjauh dari Privet Drive seperti
yang telah diimpikannya sepanjang musim panas, dia akan pulang ... selama beberapa
saat yang menyenangkan, semua masalahnya sepertinya menyusut menjadi hilang,
tidak penting lagi di dalam langit luas yang berbintang.
'Kiri jauh, kiri jauh, ada Muggle yang melihat ke atas!' teriak Moody dari
belakangnya. Tonks membelok dan Harry mengikutinya dambil memperhatikan
kopernya berayun dengan liar di bawah sapunya. 'Kita perlu ketinggian lebih ... beri
lagi seperempat mil!'
Mata Harry berair karena kedinginan ketika mereka membumbung ke atas; dia
tidak bisa melihat apapun di bawah sekarang kecuali titik-titik kecil cahaya yang
mungkin berasal dari mobil Paman Vernon ... keluarga Dursley pastsi sedang menuju
kembali ke rumah mereka yang kosong sekarang, penuh amarah mengenai Kompetisi
Halaman yang tak pernah ada ... dan Harry tertawa keras-keras ketika
memikirkannya, walaupun suaranya ditenggelamkan oleh kibasan jubah-jubah yang
lainnya, keriut pelana yang menggantung kopernya dan sangkar itu, dan suara deru
angin di telinga mereka selagi mereka menambah kecepatan di udara. Dia belum
merasa sehidup ini dalam sebulan, atau sesenang ini.
'Belok ke selatan!' teriak Mad-Eye. 'Ada kota di depan!'
Mereka membumbung ke kanan untuk menghindari lewat langsung di atas jaring
cahaya yang berkilauan di bawah.
'Belok ke tenggara dan terus mendaki, ada awan rendah di depan yang bisa
menutupi kita!' seru Moody.
'Kita tidak akan lewat di dalam awan!' teriak Tonks dengan marah, 'kita akan basah
kuyup, Mad-Eye!'
Harry lega mendengarnya berkata demikian; tangannya sudah mulai mati rasa pada
pegangan Firebolt. Dia berharap dia telah berpikir untuk memakai mantel; dia sudah
mulai gemetar.
Mereka mengganti arah mereka beberapa waktu sekali menuruti perintah-perintah
Mad-Eye. Mata Harry tegang melawan serbuan angin yang sedingin es yang mulai
membuat telinganya sakit. Dia hanya bisa mengingat sekali saja kedinginan seperti ini
di atas sapu, selama pertandingan Quidditch melawan Hufflepuff pada tahun
ketiganya, yang terjadi pada saat badai. Para pengawal di sekitarnya sedang
berkeliling terus-menerus seperti burung-burung pemangsa raksasa. Harry lupa waktu.
Dia ingin tahu sudah berapa lama mereka terbang, terasa setidaknya sudah satu jam.
'Membelok ke barat daya!' teriak Moody 'Kita mau menghindari jalur kereta
bermotor!"
Harry sekarang sangat kedinginan sehingga dia memikirkan dengan penuh
pengharapan bagian dalam yang nyaman dan kering dari mobil-mobil yang mengalir
di bawah, lalu, bahkan lebih mengharapkan, bepergian dengan bubuk Floo; mungkin
rasanya tidak nyaman berputar-putar di dalam perapian tetapi setidaknya di dalam
nyala api terasa hangat ... Kingsley Shacklebolt melewatinya, kepalanya yang botak
dan antingnya berkilau sedikit dalam cahaya bulan ... sekarang Emmeline Vance
berada di sisi kanannya, dengan tongkat di luar, kepalanya menoleh ke kiri dan kanan
... lalu dia juga melewatinya, untuk digantikan oleh Sturgis Podmore ...
'Kita harus berbalik sedikit, hanya untuk memastikan kita tidak diikuti!' Moody
berteriak.
'APAKAH KAMU SINTING, MAD-EYE?' Tonks berteriak dari depan. 'Kita
semua membeku pada sapu kita! Kalau kita terus melenceng dari jalur kita tidak akan
tiba di sana sampai minggu depan! Selain itu, kita sudah hampir sampai!'
'Waktunya mulai menurun!' datang suara Lupin. 'Ikuti Tonks, Harry!'
Harry mengikuti Tonks menukik. Mereka sedang menuju kumpulan lampu terbesar
yang pernah dilihatnya, kumpulan yang besar dan malang melintang, berkilauan
membentuk garis dan kisi, saling berselang-seling dengan potongan-potongan hitam
paling kelam. Mereka terbang semakin rendah, sampai Harry dapat melihat satu-satu
lampu besar dan lampu jalan, cerobong asap dan antena televisi. Dia sangat ingin
mencapai tanah, walaupun dia merasa yakin seseorang akan harus melelehkannya dari
sapunya.
'Ayo kita mulai!' seru Tonks, dan beberapa detik kemudian dia telah mendarat.
Harry mendarat tepat di belakangnya dan turun ke sepotong rumput tak terawat di
tengah sebuah alun-alun kecil. Tonks sudah melepaskan koper Harry. Sambil
gemetar, Harry melihat berkeliling. Bagian depan yang suram dari rumah-rumah yang
ada di sekitar tidak menunjukkan penyambutan; beberapa di antaranya memiliki
jendela yang pecah, berkilau suram dalam cahaya lampu jalan, cat mulai mengelupas
dari banyak pintu dan tumpukan sampah tergeletak di luar beberapa tangga depan.
'Di mana kita?' Harry bertanya, tetapi Lupin berkata dengan pelan, 'Sebentar.'
Moody sedang menggeledah mantelnya, tangannya yang berbonggol-bonggol
kagok karena kedinginan.
'Dapat,' gumamnya, sambil mengangkat apa yang tampak seperti sebuah pemantik
rokok perak ke udara dan menjentikkannya.
Lampu jalan terdekat padam dengan bunyi pop. Dia menjentikkan pemadam itu
lagi; lampu berikutnya padam; dia terus menjentik sampai semua lampu di alun-alun
itu padam dan cahaya yang tersisa hanya berasal dari jendela-jendela bergorden dan
bulan sabit di atas.
'Pinjam dari Dumbledore,' geram Moody sambil mengantongi Pemadam-Lampu.
'Itu akan mengatasi Muggle-Muggle manapun yang melongok keluar dari jendela,
ngerti kan? Sekarang ayo, cepat.'
Dia memegang lengan Harry dan menuntunnya dari potongan rumput tadi,
menyeberangi jalan dan naik ke trotoar; Lupin dan Tonks mengikuti sambil membawa
koper Harry bersama-sama, para pengawal yang lain mengapit mereka, semuanya
dengan tongkat di luar.
Suara hentakan teredam dari sebuah stereo datang dari sebuah jendela atas rumah
terdekat. Bau tajam dari sampah yang membusuk datang dari tumpukan kantong
sampah yang menggembung persis di dalam pagar yang terbuka.
'Di sini,' Moody menggumam, sambil menyodorkan sepotong perkamen ke tangan
Harry yang terkena Penghilang-Ilusi dan memegang tongkatnya yang menyala dekat
ke perkamen itu, untuk menerangi tulisannya. 'Bacalah cepat-cepat dan hafalkan.'
Harry melihat ke potongan kertas itu. Tulisan tangan rapat-rapat itu samar-samar
tampak dikenalnya. Isinya:
Markas Besar Order of the Phoenix bisa dijumpai di nomor dua belas, Grimmauld
Place, London.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB EMPAT -Grimmauld Place, Nomor Dua Belas
'Apa itu Order --?' Harry mulai.
'Tidak di sini, nak!' gertak Moody. 'Tunggu sampai kita di dalam!'
Dia menarik potongan perkamen itu dari tangan Harry dan membakarnya dengan
ujung tongkatnya. Ketika pesan itu menggulung dalam nyala api dan melayang ke
tanah, Harry melihat ke sekitar ke rumah-rumah itu lagi. Mereka sedang berdiri di
luar nomor sebelas; dia memandang ke sebelah kiri dan melihat nomor sepuluh; akan
tetapi, ke sebelah kanan adalah nomor tiga belas.
'Tapi di mana --?'
'Pikirkan apa yang baru saja kau hapalkan,' kata Lupin pelan.
Harry berpikir, dan begitu dia mencapai bagian mengenai nomor dua belas,
Grimmauld Place, sebuah pintu penuh luka muncul entah dari mana di antara nomor
sebelas dan tiga belas, diikuti dengan cepat oleh dinding-dinding kotor dan jendelajendela suram. Seakan-akan sebuah rumah tambahan telah menggembung, mendorong
rumah-rumah di kedua sisinya menjauh. Harry terpana melihatnya. Stereo di nomor
sebelas terus bergedebuk. Tampaknya para Muggle di dalamnya tidak merasakan
apapun.
'Ayo, bergegaslah,' geram Moody, sambil menusuk Harry di punggung.
Harry berjalan menaiki tangga-tangga batu yang sudah lama, sambil menatap pintu
yang baru muncul. Cat hitamnya kusam dan penuh goresan. Pengetuk pintu perak
berbentuk ular yang membelit. Tidak ada lubang kunci maupun kotak surat.
Lupin menarik keluar tongkatnya dan mengetuk pintu sekali. Harry mendengar
banyak suara klik logam yang keras dan apa yang terdengar seperti gemerincing
rantai. Pintu berkeriut terbuka.
'Cepat masuk, Harry,' Lupin berbisik, 'tetapi jangan masuk jauh-jauh ke dalam dan
jangan menyentuh apapun.'
Harry melangkahi ambang pintu ke dalam aula yang hampir gelap total. Dia bisa
mencium kelembaban, debu dan bau pembusukan yang agak manis; tempat itu punya
rasa seperti sebuah bangunan yang ditinggalkan. Dia memandang melalui bahunya
dan melihat yang lain masuk setelahnya, Lupin dan Tonks sambil membawa kopernya
dan sangkar Hedwig. Moody sedang berdiri di anak tangga puncak sambil
melepaskan bola-bola cahaya yang telah dicuri Pemadam-Lampu dari lampu-lampu
jalan; mereka terbang kembali ke bola lampu mereka dan alun-alun itu berkilau
sejenak dengan cahaya jingga sebelum Moody melompat ke dalam dan menutup pintu
depan, sehingga kegelapan di aula itu menjadi lengkap.
'Di sini --'
Dia mengetuk Harry dengan keras di kepala dengan tongkatnya. Harry merasa
seakan-akan sesuatu yang panas menetes menuruni punggungnya kali ini dan tahu
bahwa Mantera Penghilang-Ilusi itu pastilah telah terangkat.
'Sekarang jangan bergerak, semuanya, sementara aku memberi kita sedikit cahaya
di sini,' Moody berbisik.
Suara-suara teredam yang lainnya memberi Harry perasaan aneh seperti pertanda;
seakan-akan mereka baru saja memasuki rumah seseorang yang sedang sekarat. Dia
mendengar bunyi desis pelan dan lalu lampu minyak model kuno berbunyi dan hidup
di sepanjang dinding, sambil memberi nyala redup yang berkelap-kelip pada kertas
dinding yang mulai mengelupas dan karpet yang mulai menipis di gang panjang yang
suram, di mana sebuah kandil penuh sarang laba-laba berkilauan di atas kepala dan
potret-potret yagn menghitam karena usia tergantung miring di dinding. Harry
mendengar sesuatu berlari tergesa-gesa di belakang papan pelapis dinding. Baik
kandil maupun tempat lilin di atas meja reyot di dekatnya berbentuk seperti ular.
Ada langkah-langkah kaki bergegas dan ibu Ron, Mrs Weasley, muncul dari
sebuah pintu di sisi jauh aula itu. Dia tersenyum menyambut ketika bergegas menuju
mereka, walaupun Harry memperhatikan bahwa dia agak kurusan dan lebih pucat
daripada terakhir kali mereka berjumpa.
'Oh, Harry, senang berjumpa denganmu!' dia berbisik, sambil menariknya ke dalam
pelukan erat sebelum memegangnya sejauh satu lengan dan memeriksanya dengan
kritis. 'Kau tampak pucat; kau perlu diberi makan banyak-banyak, tapi kutakut kau
harus menunggu sebentar untuk makan malam.'
Dia berpaling kepada kelompok penyihir di belakangnya dan berbisik mendesak,
'Dia baru saja tiba, rapat sudah mulai.'
Para penyihir di belakang Harry semua membuat suara tertarik dan bersemangat
dan mulai melewatinya menuju pintu tempat Mrs Weasley datang tadi. Harry akan
mengikuti Lupin, tetapi Mrs Weasley menahannya.
'Tidak, Harry, rapatnya hanya untuk anggota Order. Ron dan Hermione ada di atas,
kau bisa menunggu bersama mereka sampai rapat usai, lalu kita akan makan malam.
Dan rendahkan suaramu di aula,' dia menambahkan dalam bisikan mendesak.
'Kenapa?'
'Aku tidak ingin ada yang terbangun.'
'Apa yang Anda --?'
'Akan kujelaskan nanti, aku harus bergegas, aku seharusnya ada di rapat -- akan
kuperlihatkan di mana kau akan tidur.'
Sambil menekankan jarinya ke bibir, dia menuntunnya berjingkat melewati
sepasang gorden yang panjang dan termakan ngengat, di belakangnya Harry yakin
pastilah ada pintu lain, dan setelah melewati sebuah tempat payung yang tampak
seolah-olah terbuat dari kaki troll yang dipotong mereka menaiki tangga gelap,
melewati sebaris kepala mengerut yang dipajang pada piagam di dinding.
Pemeriksaan lebih dekat menunjukkan kepada Harry bahwa kepala-kepala itu milik
peri-peri rumah. Semuanya memiliki hidung yang agak mirip moncong.
Kebingungan Harry semakin dalam dengan setiap langkah yang diambilnya. Apa
yang sedang mereka lakukan di dalam sebuah rumah yang terlihat seakan-akan
dimiliki oleh penyihir Tergelap?
'Mrs Weasley, mengapa --?'
'Ron dan Hermione akan menjelaskan semuanya, sayang, aku benar-benar harus
pergi,' Mrs Weasley berbisik dengan kacau. 'Di sana --' mereka telah mencapai lantai
kedua, '-- kau ke pintu di sebelah kanan. Akan kupanggil kalian ketika sudah usai.'
Dan dia bergegas turun ke bawah lagi.
Harry menyeberangi lantai yang kumal itu, memutar kenop pintu kamar tidur, yang
berbentuk kepala ular, dan membuka pintu.
Dia menangkap sekilas langit-langit tinggi yang suram, kamar bertempat tidur
ganda; lalu ada bunyi cicit keras, yang diikuti dengan jeritan yang bahkan lebih keras,
dan pandangannya terhalang oleh sejumlah besar rambut yang sangat tebal. Hermione
telah melemparkan diri kepadanya ke dalam pelukan yang hampir menjatuhkannya,
sementara burung hantu mungil Ron, Pigwidgeon, meluncur dengan bersemangat
mengitari kepala mereka.
'HARRY! Ron, dia di sini, Harry ada di sini! Kami tidak mendengarmu tiba! Oh,
bagaimana kabarmu? Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau marah kepada kami?
Kuyakin benar, aku tahu surat-surat kami tidak berguna -- tapi kami tidak bisa
memberitahumu apa-apa, Dumbledore menyuruh kami bersumpah kami tidak akan,
oh, kami punya begitu banyak hal untuk diceritakan kepadamu, dan kau punya hal-hal
untuk diceritakan kepada kami -- para Dementor! Sewaktu kami dengar -- dan dengar
pendapat Kementerian itu -- benar-benar keterlaluan, aku sudah memeriksanya,
mereka tidak bisa mengeluarkanmu, mereka tidak bisa saja, ada ketentuan dalam
Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur untuk
penggunaan sihir dalam situasi yang mengancam nyawa --'
'Biarkan dia bernapas, Hermione,' kata Ron sambil menyeringai ketika dia menutup
pintu di belakang Harry. Dia tampak telah tumbuh beberapa inci lagi selama satu
bulan mereka berpisah, membuatnya lebih tinggi dan tampak lebih menakutkan dari
dulu, walaupun hidung panjang, rambut merah terang dan bintik-bintiknya masih
sama.
Masih tersenyum, Hermione melepaskan Harry, tetapi sebelum dia bisa berkata lagi
ada suara kibasan lembut dan sesuatu yang putih membumbung dari puncak lemari
gelap dan mendarat dengan lemah lembut di bahu Harry.
'Hedwig!'
Burung hantu seputih salju itu mengatupkan paruhnya dan menggigit telinganya
dengan penuh sayang ketika Harry membelai bulunya.
'Dia dalam keadaan aneh,' kata Ron. 'Mematuk kami hingga setengah mati ketika
dia membawakan suratmu yang terakhir, lihat ini --'
Dia memperlihatkan kepada Harry jari telunjuk tangan kanannya, yang memiliki
luka potong hampir sembuh tetapi jelas dalam.
'Oh, yeah,' Harry berkata. 'Maaf tentang itu, tapi aku mau jawaban, kalian tahu --'
'Kami ingin memberimu jawaban, sobat,' kata Ron. 'Hermione mulai melunak, dia
terus berkata kamu akan melakukansesuatu yang bodoh kalau kamu terperangkap
sendirian tanpa berita, tapi Dumbledore menyuruh kami --'
'-- bersumpah tidak akan memberitahu aku,' kata Harry. 'Yeah, Hermione sudah
bilang.'
Pijar hangat yang telah menyala di dalam dirinya ketika melihat dua orang sahabat
terbaiknya padam ketika sesuatu sedingin es membanjiri dasar perutnya. Mendadak -setelah sangat ingin bertemu mereka selama satu bulan penuh -- dia merasa dia lebih
suka Ron dan Hermione meninggalkannya sendirian.
Ada keheningan tegang selama Harry membelai Hedwig secara otomatis, tanpa
melihat kepada yang lain.
'Dia tampaknya berpikir itu yang terbaik,' kata Hermione agak terengah-engah.
'Dumbledore, maksudku.'
'Benar,' kata Harry. Dia memperhatikan bahwa tangannya juga memiliki tanda dari
paruh Hedwig dan merasa bahwa dia sama sekali tidak menyesal.
'Kukira dia berpikir kau paling aman bersama para Muggle --' Ron memulai.
'Yeah?' kata Harry sambil menaikkan alisnya. 'Apakah salah satu dari kalian telah
diserang Dementor musim panas ini?'
'Well -- tidak -- tapi itulah mengapa dia menyuruh orang-orang dari Order of
Phoenix untuk mengikutimu sepanjang waktu --'
Harry merasakan hentakan dalam isi perutnya seakan-akan dia telah kelupaan satu
anak tangga sewaktu menuruni tangga. Jadi semua orang tahu dia sedang diikuti,
kecuali dirinya.
'Tak berjalan sebaik itu, bukan?' kata Harry, berusaha sekeras mungkin untuk
menjaga suaranya tetap tenang. 'Harus menjaga diriku sendiri, bukan?'
'Dia sangat marah,' kata Hermione, dalam suara yang hampir terpesona,
'Dumbledore. Kami melihatnya. Ketika dia mengetahui Mundungus pergi sebelum
waktu jaganya berakhir. Dia menakutkan.'
'Well, aku senang dia pergi,' Harry berkata dengan dingin. 'Kalau tidak, aku tidak
akan menyihir dan Dumbledore mungkin meninggalkanku di Privet Drive sepanjang
musim panas.'
'Tidakkah kau ... tidakkah kau cemas akan dengar pendapat Kementerian?' kata
Hermione dengan pelan.
'Tidak,' Harry berbohong dengan menantang. Dia berjalan menjauh dari mereka,
sambil melihat sekeliling, dengan Hedwig yang puas di bahunya, tapi kamar ini tidak
tampak menaikkan semangatnya. Kamar itu lembab dan gelap. Bidang kanvas yang
kosong adalah satu-satunya yang menghilangkan kekosongan dinding yang mulai
mengelupas, dan ketika Harry melewatinya dia mengira dia mendengar seseorang,
yang sedang bersembunyi di luar pandangan, terkikik.
'Jadi, mengapa Dumbledore sangat ingin membiarkanku dalam kegelapan?' Harry
bertanya, masih mencoba keras untuk menjaga suaranya tetap biasa. 'Apakah kalian -er -- repot-repot bertanya kepadanya?'
Dia melirik sekilas tepat waktu untuk melihat mereka saling memandang dengan
tatapan yang memberitahu dia bahwa dia bertingkah laku persis seperti yang mereka
takutkan. Itu tidak memiliki andil apapun dalam perbaikan perasaan marahnya.
'Kami memberitahu Dumbledore bahwa kami ingin memberitahumu apa yang
sedang terjadi,' kata Ron. 'Benar, sobat. Tapi dia sangat sibuk sekarang, kami baru
berjumpa dengannya dua kali sejak kami datang ke sini dan dia tidak punya banyak
waktu, dia hanya menyuruh kami bersumpah tidak akan memberitahumu hal-hal yang
penting ketika kami menulis surat, katanya burung hantu bisa dicegat.'
'Dia masih bisa memberiku informasi kalau dia mau,' Harry berkata pendek. 'Kalian
tidak akan memberitahuku bahwa dia tidak tahu cara-cara berkirim pesan tanpa
burung hantu.'
Hermione melirik kepada Ron dan lalu berkata, 'Kupikirkan itu juga. Tapi dia tidak
ingin kau tahu apapun.'
'Mungkin dia mengira aku tidak bisa dipercaya,' kata Harry sambil mengamati
ekspresi mereka.
'Jangan tolol,' kata Ron, terlihat sangat terganggu.
'Atau bahwa aku tidak bisa menjaga diri.'
'Tentu saja dia tidak berpikir begitu!' kata Hermione dengan cemas.
'Jadi bagaimana bisa aku harus tinggal bersama keluarga Dursley sementara kalian
berdua bisa bergabung dengan semua yang sedang terjadi di sini?' kata Harry, katakatanya berjatuhan dengan cepat, suaranya semakin keras dengan setiap kata.
'Bagaimana bisa kalian berdua boleh tahu semua yang sedang terjadi?'
'Kami tidak begitu!' Ron menyela. 'Mum tidak membiarkan kami dekat-dekat rapat,
dia bilang kami terlalu muda --'
Tapi sebelum dia menyadarinya, Harry telah berteriak.
'JADI KALIAN TIDAK IKUT RAPAT, MASALAH BESAR! KALIAN MASIH
ADA DI SINI, BUKAN? AKU, AKU TERKURUNG BERSAMA KELUARGA
DURSLEY SELAMA SEBULAN! DAN AKU TELAH MENGATASI LEBIH
BANYAK HAL DARI YANG PERNAH KALIAN BERDUA HADAPI DAN
DUMBLEDORE TAHU ITU -- SIAPA YANG MENYELAMATKAN BATU
BERTUAH? SIAPA YANG MENGENYAHKAN RIDDLE? SIAPA YANG
MENYELAMATKAN HIDUP KALIAN BERDUA DARI DEMENTOR?'
Setiap pikiran getir dan marah yang Harry miliki pada bulan lalu mengalir keluar
dari dirinya: rasa frustrasinya karena kurangnya berita, rasa sakit bahwa mereka
semua telah berkumpul tanpa dirinya, kemarahannya karena diikuti dan tidak
diberitahu mengenai hal itu -- semua perasaan yang setengah malu dimilikinya
akhirnya meledak lewat batasan. Hedwig takut akan keributan itu dan membumbung
ke puncak lemari baju lagi; Pigwidgeon mencicit ketakutan dan meluncur lebih cepat
dari sebelumnya di sekitar kepala mereka.
'SIAPA YANG HARUS MELEWATI NAGA-NAGA DAN SPHINX DAN
SEMUA BENDA MENGERIKAN LAIN TAHUN LALU? SIAPA YANG
MENYAKSIKANNYA KEMBALI? SIAPA YANG TELAH LOLOS DARINYA?
AKU!'
Ron sedang berdiri di sana dengan mulut setengah terbuka, jelas terpana dan
kehilangan kata-kata, sementara Hermione kelihatan akan menangis.
'TAPI KENAPA AKU HARUS TAHU APA YANG SEDANG TERJADI?
KENAPA HARUS ADA SESEORANG YANG REPOT-REPOT
MEMBERITAHUKU APA YANG SEDANG BERLANGSUNG?'
'Harry, kami ingin memberitahumu, benar --' Hermione mulai.
'TIDAK MUNGKIN SANGAT INGIN, BUKAN BEGITU, ATAU KALIAN
AKAN MENGIRIMKU BURUNG HANTU, TAPI DUMBLEDORE MENYURUH
KALIAN BERSUMPAH --'
'Well, dia memang --'
'EMPAT MINGGU AKU TERKURUNG DI PRIVET DRIVE, MEMUNGUTI
KORAN DARI TONG SAMPAH UNTUK MENCOBA MENCARI TAHU APA
YANG SEDANG TERJADI --'
'Kami ingin --'
'KURASA KALIAN TELAH TERTAWA PUAS, BUKAN BEGITU,
SEMUANYA BERKUMPUL DI SINI BERSAMA --'
'Tidak, jujur saja --'
'Harry, kami sangat menyesal!' kata Hermione dengan putus asa, matanya sekarang
berkilat-kilat dengan air mata. 'Kau sepenuhnya benar, Harry -- kalau aku pasti akan
marah besar!'
Harry melotot kepadanya, masih bernapas dalam-dalam, lalu berpaling dari mereka
dari, berjalan bolak-balik. Hedwig berteriak dengan murung dari puncak lemari baju.
Ada jeda panjang, yang hanya disela oleh keriut muram papan lantai di bawah kaki
Harry.
'Omong-omong, tempat apa ini?' dia bertanya pada Ron dan Hermione.
'Markas Besar Order of Phoenix,' kata Ron seketika.
'Apakah ada yang mau repot memberitahuku apa Order of Phoenix --?'
'Itu adalah perkumpulan rahasia,' kata Hermione cepat. 'Dumbledore yang
bertanggung jawab, dia mendirikannya. Isinya orang-orang yang berperang melawan
Kau-Tahu-Siapa terakhir kali.'
'Siapa yang ada di dalam?' kata Harry, berhenti dengan tangan di sakunya.
'Cukup banyak orang --'
'Kami telah berjumpa dengan sekitar dua puluh dari mereka,' kata Ron, 'tapi kami
kira masih ada lebih banyak lagi.'
Harry melotot kepada mereka.
'Well?' dia menuntut, sambil memandang dari satu ke yang lain.
'Er,' kata Ron. 'Apa?'
'Voldemort!' kata Harry dengan marah, dan baik Ron maupun Hermione berjengit.
'Apa yang sedang terjadi? Apa yang sedang dilakukannya? Di mana dia? Apa yang
sedang kita lakukan untuk menghentikan dia?'
'Kami sudah memberitahumu, Order tidak membolehkan kami dalam rapat-rapat
mereka,' kata Hermione dengan gugup. 'Jadi kami tidak tahu detilnya -- tapi kami
punya gambaran umumnya,' dia menambahkan dengan terburu-buru ketika melihat
tampang Harry.
'Fred dan George telah menciptakan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan,' kata Ron.
'Mereka benar-benar berguna.'
'Telinga --?'
'Yang-Dapat-Dipanjangkan, yeah. Hanya saja kami harus berhenti
menggunakannya akhir-akhir ini karena Mum tehu dan jadi mengamuk. Tapi kami
telah menggunakan mereka dengan baik sebelum Mum menyadari apa yang sedang
terjadi. Kami tahu beberapa anggota Order sedang mengikuti para Pelahap Maut yang
telah dikenali, mencari tahu kegiatan mereka, kau tahu --'
'Beberapa dari mereka sedang bekerja merekrut lebih banyak orang ke dalam Order
--' kata Hermione.
'Dan beberapa dari mereka sedang menjaga sesuatu,' kata Ron. 'Mereka selalu
berbicara tentang tugas menjaga.'
'Tidak mungkin aku, 'kan?' kata Harry dengan sarkastis.
'Oh, yeah,' kata Ron dengan tampang mulai memahami.
Harry mendengus. Dia berjalan mengelilingi kamar lagi, melihat ke semua arah
kecuali pada Ron dan Hermione. 'Jadi, apa yang telah kalian berdua lakukan, kalau
kalian tidak diizinkan dalam rapat-rapat?' dia menuntut. 'Kalian bilang kalian sibuk.'
'Memang,' kata Hermione dengan cepat. 'Kami sedang menyuci-hamakan rumah
ini, yang telah kosong selama bertahun-tahun dan berbagai hal telah berkembang biak
di sini. Kami berhasil membersihkan dapur, kebanyakan kamar tidur dan kukira kami
akan mengerjakan ruang duduk be-- AARGH!'
Dengan dua letusan keras, Fred dan George, kakak-kakak kembar Ron, muncul dari
udara kosong di tengah ruangan. Pigwidgeon bercicit lebih liar dari sebelumnya dan
meluncur untuk bergabung dengan Hedwig di atas lemari baju.
'Berhenti melakukan itu!' Hermione berkata dengan lemah kepada si kembar, yang
berambut merah terang seperti Ron, walaupun lebih berisi dan sedikit lebih pendek.
'Halo, Harry,' kata George, sambil tersenyum kepadanya. 'Kami kira kami
mendengar nada suaramu yang indah.'
'Kau tidak mau membotolkan kemarahanmu seperti itu, Harry, lepaskan semuanya,'
kata Fred, juga sambil tersenyum. 'Mungkin ada beberapa orang sejauh lima puluh
mil yang belum mendengarmu.'
'Jadi, kalian berdua lulus ujian Apparasi kalian?' tanya Harry dengan galak.
'Dengan nilai cemerlang,' kata Fred, yang sedang memegang sesuatu yang terlihat
seperti sepotong benang berwarna daging yang amat panjang.
'Kalian cuma butuh sekitar tiga puluh detik lebih lama untuk berjalan menuruni
tangga,' kata Ron.
'Waktu adalah Galleon, adik kecil,' kata Fred. 'Lagipula, Harry, kau menghalangi
penerimaan. Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan,' dia menambahkan sebagai
tanggapan bagi alis Harry yang dinaikkan, dan mengangkat benang yang sekarang
Harry lihat sedang menjulur ke puncak tangga. 'Kami sedang mencoba mendengar apa
yang sedang terjadi di bawah.'
'Kalian harus berhati-hati,' kata Ron, sambil menatap Telinga itu, 'kalau Mum
melihat salah satu lagi ...'
'Cukup berharga, rapat yang sedang mereka adakan itu rapat penting,' kata Fred.
Pintu terbuka dan tampaklah rambut merah panjang.
'Oh, halo, Harry!' kata adik perempuan terkecil Ron, Ginny, dengan cerah. 'Kukira
aku mendengar suaramu.
Sambil berpaling kepada Fred dan George, dia berkata, 'Tidak bisa menggunakan
Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan, dia menempatkan Mantera Tidak Tertembus pada
pintu dapur.'
'Bagaimana kamu bisa tahu?' kata George, terlihat kecewa.
'Tonks memberitahuku cara mengetahuinya,' kata Ginny. 'Lempar saja benda ke
pintu dan kalau tidak bisa membuat kontak berarti pintu telah Tak-Tertembus. Aku
telah melempari Bom Kotoran ke pintu itu dari atas tangga dan mereka cuma
membumbung menjauhinya, jadi tidak mungkin Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan
bisa masuk lewat celah pintu.'
Fred mengeluarkan helaan napas panjang.
'Sayang. Aku benar-benar ingin tahu apa yang sedang dikerjakan si Snape tua.'
'Snape!' kata Harry dengan cepat. 'Dia ada di sini?'
'Yeah,' kata George, sambil menutup pintu dengan hati-hati dan duduk di atas salah
satu ranjang; Fred dan Ginny mengikuti. 'Memberi laporan. Rahasia top.'
'Berengsek,' kata Fred dengan malas.
'Dia ada di sisi kita sekarang,' kata Hermione memarahi.
Ron mendengus. 'Tidak menghentikannya jadi orang berengsek. Caranya
memandang kita ketika dia bertemu dengan kita.'
'Bill juga tidak menyukainya,' kata Ginny, seakan-akan itu menyelesaikan
masalahnya.
Harry tidak yakin apakah amarahnya sudah mereda; tapi rasa hausnya akan
informasi sekarang menguasai desakan untuk tetap berteriak. Dia terbenam ke atas
ranjang di seberang yang lainnya.
'Apakah Bill ada di sini?' dia bertanya. 'Kupikir dia sedang bekerja di Mesir?'
'Dia melamar pekerjaan di belakang meja sehingga dia bisa pulang ke rumah dan
bekerja bagi Order,' kata Fred. 'Dia bilang dia sangat merindukan makam-makam,
tapi,' dia tersenyum menyeringai, 'ada kompesasi.'
'Apa maksudmu?'
'Ingat Fleur Delacour?' kata George. 'Dia dapat pekerjaan di Gringotts untuk
perbaiki ba'asa Inggrisnya --'
'Dan Bill telah memberinya banyak pelajaran privat,' Fred terkikik.
'Charlie ada dalam Order juga,' kata George, 'tapi dia masih di Rumania.
Dumbledore mau sebanyak mungkin penyihir asing dibawa masuk, jadi Charlie
berusaha membuat kontak pada hari liburnya.'
'Tidak bisakah Percy melakukan itu?' Harry bertanya. Terakhir kali didengarnya,
anak ketiga keluarga Weasley itu sedang bekerja di Departemen Kerja Sama Sihir
Internasional di Kementerian Sihir.
Saat mendengar kata-kata Harry, semua anggota keluarga Weasley dan Hermione
saling bertukar pandangan pengertian yang kelam.
'Apapun yang kau lakukan, jangan sebut-sebut Percy di depan Mum dan Dad,' Ron
memberitahu Harry dengan suara tegang.
'Mengapa tidak?'
'Karena setuap kali nama Percy disebut, Dad memecahkan apapun yang sedang
dipegangnya dan Mum mulai menangis,' kata Fred.
'Sangat mengerikan,' kata Ginny dengan sedih.
'Kukira kita lebih baik tanpa dia,' kata George, dengan tampang jelek yang tidak
seperti biasanya.
'Apa yang terjadi?' Harry berkata.
'Percy dan Dad bertengkar,' kata Fred. 'Aku belum pernah melihat Dad bertengkar
dengan siapapun seperti itu. Biasanya Mum yang berteriak.'
'Terjadinya saat minggu pertama setelah sekolah berakhir,' kata Ron. 'Kami akan
datang dan bergabung dengan Order. Percy pulang ke rumah dan memberitahu kami
dia telah dipromosikan.'
'Kau bercanda?' kata Harry.
Walaupun dia tahu benar bahwa Percy sangat ambisius, kesan Harry adalah bahwa
Percy belum berhasil dengan baik pada pekerjaan pertamanya di Kementerian Sihir.
Percy telah melakukan kelalaian yang cukup besar karena gagal memperhatikan
bahwa atasannya sedang dikendalikan oleh Lord Voldemort (bukannya Kementerian
mempercayai hal itu -- mereka semua mengira Mr Crouch telah jadi gila).
'Yeah, kami semua terkejut,' kata George, 'karena Percy dapat banyak masalah
mengenai Crouch, ada penyelidikan dan semuanya. Mereka bilang Percy seharusnya
menyadari bahwa Crouch sudah tidak waras dan memberitahu orang-orang di atas.
Tapi kamu kenal Percy, Crouch membiarkannya bertanggung jawab penuh, dia tidak
akan mengeluh.'
'Jadi bagaimana bisa mereka mempromosikan dia?'
'Itulah persis yang membuat kami bertanya-tanya,' kata Ron, yang terlihat sangat
ingin menjaga berlangsungnya percakapan normal karena sekarang Harry telah
berhenti berteriak. 'Dia pulang ke rumah sangat senang pada dirinya sendiri -- bahkan
lebih senang dari biasanya -- dan memberitahu Dad bahwa dia telah ditawari posisi di
kantor Fudge sendiri. Posisi yang sangat bagus bagi seseorang yang baru setahun
keluar dari Hogwarts: Asisten Junior bagi Menteri. Kukira dia berharap Dad akan
terkesan.'
'Hanya saja Dad tidak terkesan,' kata Fred dengan muram.
'Kenapa tidak?' kata Harry.
'Well, tampaknya Fudge telah marah-marah di sekitar Kementerian sambil
memeriksa bahwa tak seorangpun melakukan kontak dengan Dumbledore,' kata
George.
'Kau lihat, nama Dumbledore seperti lumpur bagi Kementerian saat-saat ini,' kata
Fred. 'Mereka semua berpikir dia hanya membuat masalah dengan mengatakan KauTahu-Siapa kembali.'
'Dad bilang Fudge telah membuat jelas bahwa siapapun yang bersekutu dengan
Dumbledore bisa mengosongkan mejanya,' kata George.
'Masalahnya, Fudge mencurigai Dad, dia tahu Dad berteman dengan Dumbledore,
dan dia selalu berpikir Dad sedikit aneh karena obsesi Mugglenya,'
'Tapi apa hubungannya itu dengan Percy?' tanya Harry, bingung.
'Aku baru akan ke sana. Dad menganggap Fudge hanya menginginkan Percy di
kantornya karena dia ingin menggunakannya untuk memata-matai keluarga -- dan
Dumbledore.'
Harry mengeluarkan siulan rendah.
'Pasti Percy suka itu.'
Ron tertawa kosong.
'Dia benar-benar mengamuk. Dia bilang -- well, dia bilang banyak hal yang
mengerikan. Dia bilang dia telah bertarung melawan reputasi jelek Dad semenjak dia
bergabung dengan Kementerian dan bahwa Dad tidak punya ambisi dan itulah
sebabnya kami selalu -- kau tahu -- tidak punya banyak uang, maksudku --'
'Apa?' kata Harry tidak percaya, ketika Ginny membuat suara seperti seekor kucing
marah.
'Aku tahu,' kata Ron dengan suara rendah. 'Dan semakin buruk. Dia bilang Dad
idiot karena mengikuti Dumbledore, bahwa Dumbledore menuju masalah besar dan
Dad akan jatuh bersamanya, dan bahwa dia -- Percy -- tahu di mana kesetiaannya
berada yaitu bersama Kementerian. Dan kalau Mum dan Dad akan menjadi
pengkhianat bagi Kementerian dia akan memastikan bahwa semua orang tahu dia
tidak bersama keluarga kami lagi. Dan dia mengemas tas-tasnya malam itu juga dan
pergi. Dia sekarang tinggal di sini di London.'
Harry menyumpah tanpa suara. Dia selalu kurang menyukai Percy dibanding
saudara-saudara Percy yang lain, tapi dia belum pernah membayangkan dia akan
mengatakan hal-hal seperti itu kepada Mr Weasley.
'Mum terus saja dalam keadaan itu,' kata Ron tanpa minat. 'Kau tahu -- menangis
dan sebagainya. Dia datang ke London untuk mencoba berbicara kepada Percy tetapi
dia membanting pintu di depannya. Aku tak tahu apa yang dilakukannya kalau jumpa
Dad di tempat kerja -- mengabaikannya, kurasa.'
'Tapi Percy pasti tahu Voldemort kembali,' kata Harry dengan pelan. 'Dia tidak
bodoh, dia pasti tahu ibu dan ayahmu tidak akan meresikokan semuanya tanpa bukti.'
'Yeah, well, namamu terseret ke dalam pertengkaran itu,' kata Ron, memberi Harry
tatapan sembunyi-sembunyi. 'Percy bilang satu-satunya bukti adalah kata-katamu dan
... aku tak tahu ... dia tidak mengira hal itu cukup baik.'
'Percy membaca Daily Prophet dengan serius,' kata Hermione dengan masam, dan
yang lainnya semua mengangguk.
'Apa yang sedang kalian bicarakan?' Harry bertanya, sambil melihat sekeliling
kepada mereka semua. Mereka semua sedang memandangnya dengan waspada.
'Apakah -- apakah kamu tidak berlangganan Daily Prophet?' Hermione bertanya
dengan gugup.
'Yeah, aku langganan!' kata Harry.
'Sudahkah kau -- er-- membacanya dengan seksama?' Hermione berkata, lebih
cemas lagi.
'Tidak semuanya,' kata Harry membela diri. 'Kalau mereka akan melaporkan
apapun mengenai Voldemort pastilah akan jadi berita utama, benar 'kan?'
Yang lain berjengit mendengar nama itu. Hermione bergegas, 'Well, kau perlu
membaca semuanya untuk mengetahuinya, tapi mereka -- um -- mereka menyebutmu
beberapa kali dalam seminggu.'
'Tapi aku belum pernah mellihat --'
'Tidak kalau kau hanya membaca halaman depan, kau pasti tidak akan,' kata
Hermione sambil menggelengkan kepalanya. 'Aku tidak membicarakan artikel besar.
Mereka cuma menyisipkanmu, seolah-olah kau adalah lelocon.'
'Apa yang kau --?'
'Cukup kejam, sebenarnya,' kata Hermione dengan suara tenang yang dipaksakan.
'Mereka cuma menambah-nambah pada benda-benda Rita.'
'Tapi dia 'kan tidak menulis untuk mereka lagi?'
'Oh, tidak, dia menepati janjinya -- bukannya dia punya pilihan lain,' Hermione
menambahkan dengan rasa puas. 'Tapi dia membangun fondasi untuk apa yang
sedang mereka lakukan sekarang.'
'Apa itu?' kata Harry dengan tidak sabar.
'OK, kau tahu dia menulis bahwa kau pingsan di semua tempat dan berkata bahwa
bekas lukamu sakit dan semua itu?'
'Yeah,' kata Harry, yang tidak cepat melupakan cerita-cerita Rita Skeeter mengenai
dirinya.
'Well, mereka menulis mengenaimu seakan-akan kau itu penipu yang mencari
perhatian yang mengira dirinya seorang pahlawan tragis atau apapun,' kata Hermione,
sangat cepat, seolah-olah akan kurang tidak menyenangkan bagi Harry untuk
mendengar fakta-fakta ini dengan cepat. 'Mereka teus menyelipkan komentarkomentar menyindir mengenaimu. Kalau muncul cerita yang dibuat-buat, mereka
berkata sesuatu seperti, "Sebuah kisah yang pantas bagi Harry Potter", dan kalau ada
yang mendapat kecelakaan aneh atau apapun maka, "Mari berharap dia tidak punya
bekas luka di dahinya atau kita akan diminta memuja dia berikutnya" --'
'Aku tidak mau siapapun memuja --' Harry mulai dengan marah.
'Aku tahu kau tidak mau,' kata Hermione dengan cepat, terlihat takut. 'Aku tahu,
Harry. Tapi kau lihat apa yang sedang mereka lakukan? Mereka ingin mengubahmu
menjadi seseorang yang tidak akan dipercayai siapapun. Fudge ada di belakangnya,
aku akan bertaruh apapun. Mereka mau para penyihir di jalan-jalan mengira kau
hanya anak bodoh yang agak mirip lelucon, yang menceritakan cerita-cerita bohong
yang menggelikan karena dia senang jadi terkenal dan ingin terus begitu.'
'Aku tidak minta -- aku tidak mau -- Voldemort membunuh orang tuaku!' Harry
merepet. 'Aku jadi terkenal karena dia membunuh keluargaku tapi tidak bisa
membunuhku! Siapa yang mau jadi terkenal karena itu? Tidakkah mereka berpikir
aku lebih suka itu tidak pernah --'
'Kami tahu, Harry,' kata Ginny dengan bersungguh-sungguh.
'Dan tentu saja, mereka tidak melaporkan sepatah katapun mengenai Dementor
yang menyerangmu,' kata Hermione. 'Seseorang menyuruh mereka mendiamkannya.
Itu pastilah jadi cerita yang sangat besar, Dementor di luar kendali. Mereka bahkan
belum melaporkan bahwa kau melanggar Undang-Undang Kerahasiaan Internasional.
Kami mengira mereka akan melakukannya, akan sangat cocok dengan citramu
sebagai tukang pamer bodoh. Kami kira mereka mengulur waktu sampai kau
dikeluarkan, lalu mereka akan bertindak tanpa hambatan -- maksudku, kalau kau
dikeluarkan, tentu saja,' dia meneruskan dengan terburu-buru. 'Kau seharusnya tidak
dikeluarkan, tidak kalau mereka mematuhi hukum mereka sendiri, tidak ada kasus
melawanmu.'
Mereka kembali ke dengar pendapat itu dan Harry tidak ingin memikirkan itu. Dia
memandang sekitarnya untuk perubahan topik yang lain, tapi diselamatkan dari
perlunya menemukan topik baru oleh suara langkah-langkah kaki yang menaiki
tangga.
'Uh oh.'
Fred menarik kuat-kuat Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan; ada letusan keras lain
dan dia dan George menghilang. Beberapa detik kemudian, Mrs Weasley muncul di
ambang kamar tidur.
'Rapat sudah usai, kalian bisa turun dan makan malam sekarang. Semua orang
sangat ingin bertemu denganmu, Harry. Dan siapa yang meninggalkan semua Bom
Kotoran itu di luar pintu dapur?'
'Crookshanks,' kata Ginny tanpa merona. 'Dia sangat suka bermain dengan mereka.'
'Oh,' kata Mrs Weasley, 'kukira mungkin Kreacher, dia terus melakukan hal-hal
aneh seperti itu. Sekarang jangan lupa menjaga suara kalian tetap rendah di aula.
Ginny, tanganmu kotor, apa yang telah kau lakukan? Tolong pergi dan cuci mereka
sebelum makan malam.'
Ginny meringis kepada yang lain dan mengikuti ibunya keluar dari kamar itu,
meninggalkan Harry sendiri dengan Ron dan Hermione. Keduanya sedang
mengawasinya dengan gelisah, seakan-akan mereka takut dia akan mulai berteriak
lagi karena sekarang semua orang sudah pergi. Melihat mereka tampak begitu gugup
membuatnya merasa sedikit malu.
'Dengar ...' dia bergumam, tapi Ron menggelengkan kepalanya, dan Hermione
berkata dengan pelan, 'Kami tahu kamu akan marah, Harry, kami benar-benar tidak
menyalahkanmu, tapi kau harus mengerti, kami memang mencoba membujuk
Dumbledore --'
'Yeah, aku tahu,' kata Harry pendek.
Dia memandang berkeliling mencari topik yang tidak melibatkan kepala
sekolahnya, karena memikirkan Dumbledore saja membuat tubuh bagian dalam Harry
terbakar oleh amarah lagi.
'Siapa Kreacher?' dia bertanya.
'Peri-rumah yang tinggal di sini,' kata Ron. 'Sinting. Belum pernah jumpa yang
seperti dia.'
Hermione merengut kepada Ron.
'Dia tidak sinting, Ron.'
'Ambisi hidupnya adalah supaya kepalanya dipotong dan dipajang di sebuah
piagam seperti ibunya,' kata Ron dengan jengkel. 'Apakah itu normal, Hermione?'
'Well -- well, kalau dia sedikit aneh, itu bukan salahnya.'
Ron menggulirkan matanya kepada Harry.
'Hermione masih belum menyerah tentang SPEW.'
'Itu bukan SPEW!' kata Hermione panas. 'Itu Perkumpulan untuk Mempromosikan
Kesejahteraan Peri-Rumah. Dan bukan cuma aku, Dumbledore juga bilang kita harus
baik kepada Kreacher.'
'Yeah, yeah,' kata Ron. 'Ayo, aku lapar berat.'
Dia memimpin jalan keluar pintu dan ke puncak tangga, tetapi sebelum mereka bisa
menuruni tangga -'Tunggu dulu!' Ron bernapas, sambil merentangkan sebuah lengan untuk
menghentikan Harry dan Hermione berjalan lebih jauh. 'Mereka masih di aula, kita
mungkin bisa mendengar sesuatu.'
Ketiganya melihat dengan waspada melewati pegangan tangga. Gang suram di
bawah dipenuhi para penyihir wanita dan pria, termasuk semua pengawal Harry.
Mereka sedang berbisik-bisik dengan bersemangat satu sama lain. Di bagian paling
tengah dari kelompok itu Harry melihat kepala berambut hitam berminyak dan hidung
menonjol milik guru yang paling tidak disukainya di Hogwarts, Profesor Snape. Harry
mencondongkan badan lebih ke jauh melewati pegangan tangga. Dia sangat tertarik
akan apa yang sedang Snape lakukan bagi Order of Phoenix.
Sepotong benang tipis berwarna daging turun di depan mata Harry. Ketika
memandang ke atas, dia melihat Fred dan Geoge di puncak tangga di atasnya, dengan
waspada menurunkan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan menuju kumpulan gelap
orang-orang di bawah. Akan tetapi, sejenak kemudian mereka semua mulai bergerak
menuju pintu depan dan menghilang dari pandangan.
'Sialan,' Harry mendengar Fred berbisik, selagi dia menaikkan Telinga YangDapat-Dipanjangkan ke atas lagi.
Mereka mendengar pintu depan terbuka, lalu menutup.
'Snape tidak pernah makan di sini,' Ron memberitahu Harry dengan pelan.
'Syukurlah. Ayo.'
'Dan jangan lupa jaga suaramu tetap rendah di aula, Harry,' Hermione berbisik.
Ketika mereka melewati barisan kepala peri-rumah di dinding, mereka melihat
Lupin, Mrs Weasley dan Tonks di pintu depan, sedang mengunci banyak kunci dan
gemboknya dengan sihir di belakang orang-orang yang baru saja pergi.
'Kita makan di dapur,' Mrs Weasley berbisik, sambil menyambut mereka di bawah
tangga. 'Harry sayang, kalau kau bisa berjingkat menyeberangi aula melalui pintu di
sini --'
CRASH.
'Tonks!' teriak Mrs Weasley dengan putus asa, sambil berbalik untuk melihat ke
belakangnya.
'Maafkan aku!' ratap Tonks, yang sedang berbaring rata di lantai. 'Gara-gara tempat
payung bodoh itu, kedua kalinya aku tersandung --'
Tapi kata-katanya yang lain ditenggelamkan oleh sebuah pekikan mengerikan yang
memekakan telinga dan membekukan darah.
Tirai-tirai beludru yang termakan ngengat yang telah dilewati Harry telah terbuka,
tapi tidak ada pintu di belakang mereka. Selama sepersekian detik, Harry mengira dia
sedang melihat ke sebuah jendela, jendela yang dibelakangnya ada seorang wanita tua
bertopi hitam sedang menjerit dan menjerit seakan-akan dia sedang disiksa -- lalu dia
menyadari bahwa dia hanya potret seukuran badan, tapi yang paling realistis, dan
paling tidak menyenangkan, yang pernah dilihatnya seumur hidup.
Wanita tua itu berliur, matanya bergulir, kulit wajahnya yang mulai menguning
teregang ketika dia menjerit; dan sepanjang aula di mereka, potret-potret lain
terbangun dan mulai berteriak-teriak juga, sehingga Harry benar-benar menegangkan
matanya akibat keributan itu dan menutup telinganya dengan tangan.
Lupin dan Mrs Weasley berlari maju dan mencoba menarik tirai menutupi wanita
tua itu, tapi tirai-tirai itu tidak mau menutup dan dia memekik lebih keras lagi, sambil
mengacungkan tangan-tangan yang mencakar-cakar seakan-akan mencoba merobek
muka mereka.
'Kotoran! Sampah! Hasil sampingan debu dan kejelekan! Keturunan campuran,
mutan, orang aneh, pergi dari tempat ini! Berani-beraninya kalian mengotori rumah
leluhurku --'
Tonks meminta maaf terus menerus, sambil menyeret kaki troll yang besar dan
berat itu kembali ke lantai; Mrs Weasley menyerah atas usaha menutup tirai dan
bergegas ke sana ke mari di aula, Membius semua potret lain dengan tongkatnya; dan
seorang lelaki dengan rambut hitam panjang datang menyerbu dari sebuah pintu yang
menghadap Harry.
'Diamlah, kau wanita tua jelek yang mengerikan, DIAM!' dia meraung, sambil
meraih tirai yang telah ditinggalkan Mrs Weasley.
Wajah wanita tua itu memucat.
'Kaaaau!' dia melolong, matanya melolot ketika melihat lelaki itu. 'Pengkhianat
keluarga, yang paling dibenci, darah dagingku yang membuat malu!'
'Kubilang -- DIAM!' raung lelaki itu, dan dengan usaha menakjubkan dia dan Lupin
berhasil memaksa tirai itu tertutup lagi.
Pekikan wanita tua itu menghilang dan timbul keheningan yang menggema.
Sambil sedikit terengah-engah dan mengusapkan rambut gelap panjangnya keluar
dari mata, ayah angkat Harry Sirius berpaling menatapnya.
'Halo, Harry,' dia berkata dengan muram, 'kulihat kau sudah bertemu ibuku.'
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB LIMA -Order of the Phoenix
'Kau --?'
'Ibuku tua tersayang, yeah,' kata Sirius. 'Kami telah mencoba menurunkannya
selama sebulan tapi kami mengira dia menempatkan Mantera Lekat Permanen di
bagian belakang kanvas. Ayo turun kek bawah, cepatlah, sebelum mereka semua
terbangun lagi.'
'Tapi apa yang dilakukan potret ibumu di sini?' Harry bertanya, bingung, ketika
mereka melalui pintu ke aula dan memimpin jalan menuruni tangga batu sempit, yang
lain persis di belakang mereka.
'Belum adakah yang memberitahumu? Ini rumah orang tuaku,' kata Sirius. 'Tapi aku
Black terakhir yang tersisa, jadi milikku sekarang. Aku menawarkannya kepada
Dumbledore untuk dijadikan Markas Besar -- kira-kira satu-satunya hal berguna yang
telah dapat kulakukan.'
Harry, yang telah mengharapkan penyambutan yang lebih baik, mencatat betapa
getir kedengarannya suara Sirius. Dia mengikuti ayah angkatnya ke dasar tangga dan
melalui sebuah pintu yang menuju ke dapur bawah tanah.
Dapur itu hampir sama suramnya dengan aula di atas, sebuah ruangan besar dengan
dinding-dinding batu yang kasar. Sebagian besar cahaya datang dari api besar di sisi
jauh ruangan itu. Seberkas asap pipa menggantung di udara seperti asap-asap
pertempuran, melalui asap itu tampak bentuk-bentuk menakutkan pot dan panci besi
berat yang bergantungan dari langit-langit yang gelap. Banyak kursi telah dijejalkan
ke dalam ruangan untuk rapat dan sebuah meja kayu berdiri di tengah-tengah mereka,
diseraki dengan gulungan-gulungan perkamen, piala-piala, botol-botol anggur kosong,
dan sebuah tumpukan yang tampak seperti kain rombengan. Mr Weasley dan putra
tertuanya Bill sedang berbicara dengan pelan dengan kepala mereka berdekatan di
ujung meja.
Mrs Weasley berdehem.Suaminya, seorang lelaki kurus berambut merah yang
mulai botak yang mengenakan kacamata bertanduk, melihat sekeliling dan melompat
berdiri.
'Harry!' Mr Weasley berkata, sambil bergegas maju menyalaminya, dan menjabat
tangannya dengan bersemangat. 'Senang berjumpa denganmu!'
Melalui bahunya Harry melihat Bill, yang masih berambut gondrong diikat, buruburu menggulung perkamen panjang yang tertinggal di meja.
'Perjalananmu menyenangkan, Harry?' Bill berseru, sambil mencoba
mengumpulkan dua belas perkamen seketika. 'Kalau begitu Mad-Eye tidak
membuatmu datang melalui Greenland?'
'Dia mencoba,' kata Tonks sambil berjalan ke arahnya untuk membantu Bill dan
segera menjatuhkan sebuah lilin ke potongan perkamen terakhir. 'Oh tidak -- sori --'
'Ini, sayang,' kata Mrs Weasley, terdengar putus asa, dan dia memperbaiki
perkamen itu dengan sebuah lambaian tongkat. Dalam kilatan cahaya yang
disebabkan oleh mantera Mrs Weasley Harry menangkap sekilas apa yang tampak
seperti denah bangunan.
Mrs Weasley telah melihatnya memperhatikan. Dia merenggut denah itu dari meja
dan menjejalkannyay ke lengan Bill yang telah penuh beban.
'Benda-benda seperti ini seharusnya langsung dibersihkan pada akhir rapat,' dia
berkata dengan pedas, sebelum berjalan menuju sebuah lemari kuno tempat dia
mengeluarkan piring-piring makan malam.
Bill mengeluarkan tongkatnya, bergumam, 'Evanesco!' dan gulungan-gulungan itu
menghilang.
'Duduklah, Harry,' kata Sirius. 'Kau sudah pernah bertemu Mundungus, 'kan?'
Benda yang dikira Harry tumpukan kain rombeng mengeluarkan dengkuran
panjang lalu tersentak bangun.
'Ses'orang panggil namaku?' Mundungus bergumam dengan mengantuk. 'Aku s'tuju
dengan Sirius ...' Dia mengangkat sebuah tangan yang sangat berbonggol ke udara
seolah-olah sedang memberi suara, matanya yang terkulai dan merah tidak terfokus.
Ginny cekikian.
'Rapatnya sudah selesai, Dung,' kata Sirius, ketika mereka duduk di sekitarnya di
meja. 'Harry sudah sampai.'
'Eh?' kata Mundungus sambil memandani Harry dengan menakutkan melalui
rambut merah kekuningannya yang kusut. 'Ya ampun, 'emang benar. Yeah ... kau
baik-baik saja, 'Arry?'
'Yeah,' kata Harry.
Mundungus meraba-raba dengan gelisah ke dalam kantongnya, masih menatap
Harry, dan menarik keluar sebuah pipa hitam kusam. Dia memasukkannya ke dalam
mulutnya, menyalakan ujungnya dengan tongkatnya dan mengisapnya dalam-dalam.
Awan besar dari asap kehijauan yang mengepul mengaburkannya dalam beberapa
detik.
'Utang pe'mohonan maaf padamu,' gerutu sebuah suara dari tengah awan bau itu.
'Untuk terakhir kalinya, Mundungus,' seru Mrs Weasley, 'bisakah kamu tolong
jangan merokok benda itu di dapur, terutama tidak ketika kami sedang bersiap-siap
untuk makan!'
'Ah,' kata Mundungus. 'Benar. Maaf, Molly.'
Awan asap itu menghilang ketika Mundungus memasukkan pipanya kembali ke
dalam kantongnya, tetapi bau tajam kaus kaki terbakar tetap ada.
'Dan kalau kalian mau makan malam sebelum tengah malam aku akan butuh
bantuan,' Mrs Weasley berkata kepada orang-orang dalam ruangan. 'Tidak, kau bisa
tinggal di tempatmu, Harry, kau telah melewati perjalanan panjang.'
'Apa yang bisa kulakukan, Molly?' kata Tonks dengan antusias, sambil melompat
maju.
'Er -- tidak, tidak usah, Tonks, kamu juga beristirahatlah, kamu sudah cukup
membantu hari ini.'
'Tidak, tidak, aku mau membantu!' kata Tonks dengan cerah, sambil menjatuhkan
sebuah kursi ketika dia bergegas menuju lemari, dari mana Ginny sedang
mengumpulkan alat-alat makan.
Segera, serangkaian pisau berat memotong-motong daging dan sayuran dengan
sendirinya, diawasi oleh Mr Weasley, sementara Mrs Weasley mengaduk sebuah
kuali yang bergantung di atas api dan yang lain mengeluarkan piring-piring, lebih
banyak piala lagi dan makanan dari ruang penyimpanan. Harry ditinggal di meja
dengan Sirius dan Mundungus, yang masih berkedip kepadanya dengan muram.
'Sudah bertemu Figg tua sejak itu?' tanyanya.
'Tidak,' kata Harry. 'Aku belum bertemu siapapun.'
'Lihat, aku sebenarnya tak mau pergi,' kata Mundungus, sambil mencondongkan
badan ke depan, dengan nada memohon dalam suaranya, 'tapi aku punya peluang
bisnis --'
Harry merasakan sesuatu menyentuh lututnya dan terkejut, tetapi itu hanya
Crookshanks, kucing Hermione yang berkaki bengkok, yang melingkarkan
dirinya seketika di sekitar kaki Harry, lalu melompat ke pangkuan Sirius dan
bergulung. Sirius menggaruknya dengan melamun di belakang telinga selagi dia
berpaling, masih bermuka suram, kepada Harry.
'Musim panasmu menyenangkan sejauh ini?'
'Tidak, malah menyebalkan,' kata Harry.
Untuk pertama kalinya, sesuatu mirip seringai berkelebat di wajah Sirius.
'Tidak tahu apa yang kau keluhkan, aku ini.'
'Apa?' kata Harry dengan tidak percaya.
'Secara pribadi, aku akan menyambut serangan Dementor. Pergumulan maut demi
jiwaku pastilah akan menghilangkan suasana monoton dengan baik. Kau kira kau
kesusahan, setidaknya kau masih bisa keluar dan ke sekitar, merenggangkan kakimu,
berkelahi sedikit ... aku telah tersangkut di dalam selama sebulan.'
'Bagaimana bisa?' tanya Harry sambil merengut.
'Karena Kementerian Sihir masih mengejarku, dan Voldermort sekarang pasti
sudah tahu semua tentang aku jadi Animagus, Wormtail pasti sudah memberitahunya,
jadi samaran besarku tidak berguna. Tak banyak yang bisa kulakukan untuk Order of
Phoenix ... atau begitulah yang dirasakan Dumbledore.'
Ada sesuatu mengenai nada yang sedikit datar dalam suara Sirius ketika
mengutarakan nama Dumbledore yang memberitahu dirinya bahwa Sirius juga tidak
terlalu senang kepada Kepala Sekolah itu. Harry merasakan aliran kasih sayang
mendadak untuk ayah angkatnya.
'Setidaknya kau tahu apa yang sedang terjadi,' dia berkata dengan tertahan.
'Oh yeah,' kata Sirius dengan sarkastis. 'Mendengarkan laporan-laporan Snape,
harus menerima semua petunjuk sindirannya bahwa dia di luar sana mempertaruhkan
hidupnya sementara aku duduk bersandar di sini melewati waktu yang menyenangkan
... bertanya kepadaku bagaimana kelanjutan pembersihan --'
'Pembersihan apa?' tanya Harry.
'Mencoba menjadikan tempat ini cocok untuk tempat tinggal manusia,' kata Sirius,
sambil melambaikan sebuah tangan ke sekeliling dapur yang muram itu. 'Tak ada
yang tinggal di sini selama sepuluh tahun, tidak sejak ibuku meninggal, kecuali kau
menghitung peri-rumahnya yang tua, dan dia sudah jadi sinting -- belum pernah
membersihkan apapun untuk waktu yang sangat lama.'
'Sirius,' kata Mundungus, yang tampaknya tidak memperhatikan percakapan itu
sedikitpun, tetapi telah memeriksa dengan seksama sebuah piala kosong. 'Ini perak
padat, sobat?'
'Ya,' kata Sirius, sambil mengamatinya dengan tidak suka. 'Perak ukiran goblin
abad kelima belas yang terbaik, diberi cap dengan lambang keluarga Black.'
'Itu 'dah mengemupas,' gumam Mundungus, sambil menggosoknya dengan lengan
bajunya.
'Fred -- George -- JANGAN, BAWA SAJA!' Mrs Weasley menjerit.
Harry, Sirius dan Mundungus memandang berkeliling dan, dalam sepersekian
detik, mereka telah menukik menjauh dari meja. Fred dan George telah menyihir
sekuali besar masakan sup rebusan, sebuah teko besi Butterbeer dan sebuah papan
pemotong roti kayu yang berat, lengkap dengan pisau, meluncur di udara menuju
mereka. Sup rebusan itu tergelincir sepanjang meja dan berhenti persis sebelum ujung
meja, meninggalkan bekas bakar hitam yang panjang di permukaan kayu; teko
Butterbeer jatuh dengan suara keras, menumpahkan isinya ke mana-mana; pisau roti
jatuh dari papan dan mendarat, dengan ujung yang tajam di bawah dan bergetar tidak
menyenangkan, persis di tempat tangan kanan Sirius berada beberapa detik
sebelumnya.
'DEMI TUHAN!' teriak Mrs Weasley. 'TIDAK PERLU ITU -- AKU SUDAH
MUAK -- HANYA KARENA KALIAN DIIZINKAN MENGGUNAKAN SIHIR
SEKARANG, KALIAN TIDAK HARUS MENGELUARKAN TONGKAT
KALIAN UNTUK SETIAP HAL KECIL!'
'Kami hanya mencoba menghemat waktu!' kata Fred sambil bergegas maju untuk
mengungkit pisau roti itu dari meja. 'Sori, Sirius, sobat -- tidak bermaksud --'
Harry dan Sirius keduanya tertawa; Mundungus, yang telah terhenyak ke belakang
kursinya, sedang meyumpah-nyumpah ketika dia berdiri; Crookshanks mengeluarkan
desisan marah dan lari ke bawah lemari, dari mana mata kuningnya yang besar
bersinar di kegelapan.
'Anak-anak,' Mr Weasley berkata, sambil mengangkat sup rebusan itu kembali ke
tengah meja, 'ibu kalian benar, kalian seharusnya memperlihatkan rasa tanggung
jawab setelah kalian cukup umur sekarang ini --'
'Tidak satupun dari kakak-kakak kalian yang menyebabkan masalah seperti ini!'
Mrs Weasley marah-marah kepada si kembar selagi dia membanting teko baru
Butterbeer ke atas meja. 'Bill tidak merasa perlu ber-Apparate tiap beberapa kaki!
Charlie tidak menyihir semua benda yang dia jumpai! Percy --'
Dia terdiam, sambil terengah-engah dengan tatapan takut kepada suaminya, yang
ekspresinya mendadak kaku.
'Mari makan,' kata Bill dengan cepat.
'Tampaknya lezat, Molly,' kata Lupin, sambil menyendokkan sup rebusan ke
sebuah piring untuknya dan menyerahkannya ke seberang meja.
Selama beberapa menit ada keheningan kecuali dentingan piring-piring dan alatalat makan dan suara pergeseran kursi selagi semua orang duduk menghadap
makanan mereka. Lalu Mrs Weasley berpaling kepada Sirius.
'Aku telah ingin memberitahumu, Sirius, ada sesuatu yang terperangkap di dalam
meja tulis di ruang duduk, terus saja berderak dan bergetar. Tentu saja, mungkin cuma
sebuah Boggart, tetapi kupikir kita harus meminta Alastor untuk mengeceknya
sebelum kita mengeluarkan benda itu.'
'Apapun yang kau mau,' kata Sirius tanpa minat.
'Gorden-gorden juga penuh dengan Doxy,' Mrs Weasley meneruskan. 'Kukira kita
bisa mencoba dan menangkap mereka besok.'
'Aku sangat menantikannya,' kata Sirius. Harry mendengar sindiran tajam dalam
suaranya, tetapi dia tidak yakin yang lain juga mendengarnya.
Di seberang Harry, Tonks sedang menghibur Hermione dan Ginny dengan
mengubah-ubah hidungnya di antara suapan makanan. Sambil menegangkan matanya
setiap kali dengan ekspresi sakit yang sama dengan yang telah dilakukannya di kamar
tidur Harry dulu, hidungnya membengkak menjadi tonjolan seperti paruh yang
menyerupai hidung Snape, mengerut ke ukuran sebuah jamur kancing dan lalu
tumbuh banyak rambut dari masing-masing lubang hidung. Tampaknya ini adalah
hiburan waktu makan yang biasa, karena Hermione dan Ginny segera meminta
hidung-hidung favorit mereka.
'Lakukan yang satu itu yang seperti moncong babi, Tonks.'
Tonks menurut, dan Harry, sewaktu melihat ke atas, mendapat kesan sekilas bahwa
seorang Dudley wanita sedang menyeringai kepadanya dari seberang meja.
Mr Weasley, Bill dan Lupin sedang mebahas goblin dengan bersemangat.
'Mereka belum akan menyerahkan apa-apa,' kata Bill. 'Aku masih belum bisa tahu
apakah mereka percaya dia sudah kembali atau tidak. Tentu saja, mereka mungkin
lebih suka tidak memihak sama sekali. Menjauh dari semuanya.'
'Aku yakin mereka tidak akan pernah menyeberang ke Kau-Tahu-Siapa,' kata Mr
Weasley sambil menggelengkan kepalanya. 'Mereka juga telah kehilangan banyak;
ingat keluarga goblin yang dibunuhnya terakhir kali, di suatu tempat dekat
Nottingham?'
'Kukira tergantung apa yang ditawarkan kepada mereka,' kata Lupin. 'Dan aku tidak
berbicara tentang emas. Kalau mereka ditawarkan kebebasan yang telah kita
sangkalkan untuk mereka selama berabad-abad mereka akan tergoda. Apakah kamu
masih belum beruntung dengan Ragnok, Bill?'
'Saat ini dia merasa anti-penyihir,' kata Bill, 'dia masih belum berhenti marahmarah mengenai urusan Bagman, dia menganggap Kementerian menutup-nutupi,
goblin-goblin itu tidak pernah menerima emas mereka darinya, kau tahu.'
Tawa terbahak-bahak dari tengah meja menenggelamkan kata-kata Bill yang
lainnya. Fred, George, Ron dan Mundungus sedang berguling-guling di tempat duduk
mereka.
'... dan kemudian,' Mundungus terbatuk-batuk, air mata mengalir menuruni
wajahnya, 'dan kemudian, kalau kalian percaya, dia berkata kepadaku, katanya, "Ini,
Dung, dari mana kaudapat semua katak itu? Kar'na sejumlah anak Bludger datang dan
mencuri semua milikku!" Dan aku berkata, "Curi semua katakmu, Will, berikutnya
apa? Jadi kalau begitu kau mau beberapa lagi?" Dan kalau kalian percaya padaku,
nak, gargoyle tolol itu beli semua kataknya sendiri dariku lebih mahal dari yang
dibayarnya pertama kali --'
'Kukira kami tidak perlu mendengar urusan bisnismu lagi, terima kasih banyak,
Mundungus,' kata Mrs Weasley dengan tajam, ketika Ron merosot maju ke meja,
sambil tertawa melolong.
'Maaf, Molly,' kata Mundungus seketika, sambil menyeka matanya dan berkedip
kepada Harry. 'Tapi, kau tahu, awalnya Will mencurinya dari Warty Harris jadi aku
sebenarnya tidak melakukan apa-apa yang salah.'
'Aku tidak tahu di mana kamu belajar mengenai benar dan salah, Mundungus, tapi
kelihatannya kau tidak mengikuti beberapa pelajaran penting,' kata Mrs Weasley
dengan dingin.
Fred dan George menyembunyikan wajah mereka dalam piala Butterbeer mereka;
George sambil berdeguk. Untuk alasan tertentu, Mrs Weasley melayangkan
pandangan kejam kepada Sirius sebelum berdiri dan pergi mengambil onggokan besar
puding. Harry memandang berkeliling kepada ayah angkatnya.
'Molly tidak suka pada Mundungus,' kata Sirius dengan suara rendah.
'Kenapa dia ada dalam Order?' Harry berkata dengan sangat pelan.
'Dia berguna,' Sirius bergumam. 'Kenal semua bajingan -- well, pastilah, dia 'kan
bajingan juga. Tapi dia juga sangat setia kepada Dumbledore, yang telah sekali
membantunya keluar dari kesulitan. Berguna juga punya orang seperti Dung di sekitar
kita, dia mendengar hal-hal yang tidak kita dengar. Tapi Molly berpikir
mengundangnya makan malam sudah terlalu jauh. Dia belum memaafkan dia karena
berkelit dari tugas ketika dia seharusnya mengekorimu.'
Tiga kali tambah puding setelah itu, ban pinggang pada celana jins Harry sudah
terasa ketat dan tidak nyaman lagi (yang menyatakan sesuatu karena celana jins itu
dulunya milik Dudley). Ketika dia meletakkan sendoknya ada ketenangan percakapan
umum: Mr Weasley sedang bersandar di kursinya, terlihat kenyang dan santai; Tonks
sedang menguap lebar-lebar, hidungnya sekarang sudah kembali ke normal; dan
Ginny, yang telah memikat Crookshanks keluar dari bawah lemari, sedang duduk
bersila di atas lantai, sambil menggulirkan gabus-gabus Butterbeer untuk dikejarnya.
'Hampir waktunya tidur, kukira,' kata Mrs Weasley sambil menguap.
'Belum lagi, Molly,' kata Sirius sambil mendorong piring kosongnya dan berpaling
kepada Harry. 'Kau tahu, aku terkejut padamu. Kukira hal pertama yang akan kau
lakukan ketika kau sampai di sini adalah mulai menanyakan pertanyaan-pertanyaan
tentang Voldemort.'
Suasana dalam ruangan itu berubah dengan kecepatan yang dipersamakan Harry
dengan kedatangan Dementor. Beberapa detik sebelumnya, suasananya santai
mengantuk, sekarang waspada, bahkan tegang. Ketegangan emosional mengelilingi
meja dengan penyebutan nama Voldemort. Lupin, yang baru saja akan menyesap
anggur, menurunkan pialanya dengan pelan dan terlihat waspada.
'Aku melakukannya!' kata Harry marah. 'Aku bertanya kepada Ron dan Hermione
tetapi mereka berkata bahwa kami tidak diperbolehkan berada dalam Order jadi --'
'Dan mereka benar juga,' kata Mrs Weasley. 'Kalian terlalu muda.'
Dia sedang duduk tegak dalam kursinya, kepalan tangannya tercengkeram pada
lengan kursinya, semua jejak mengantuk telah hilang.
'Sejak kapan seseorang harus berada dalam Order of Phoenix untuk bertanya?'
tanya Sirius. 'Harry telah terkurung dalam rumah Muggle itu selama sebulan. Dia
punya hak untuk tahu apa yang telah terjadi --'
'Tunggu dulu!' kata George dengan keras.
'Kenapa Harry mendapat jawaban atas pertanyaannya?' kata Fred dengan marah.
'Kami telah mencoba mengorek hal-hal darimu selama sebulan dan kami belum
memberitahu kami satu hal menyebalkan sekalipun!' kata George.
'"Kalian terlalu muda, kalian tidak ada dalam Order,"' kata Fred, dengan suara
melengking yang terdengar luar biasa mirip suara ibunya. 'Harry bahkan belum cukup
umur!'
'Bukan salahku kalian belum diberitahu apa yang sedang dikerjakan Order!' kata
Sirius dengan tenang, 'itu adalah keputusan orang tua kalian. Harry, di sisi lain --'
'Bukan kamu yang harus memutuskan apa yang baik untuk Harry!' kata Mrs
Weasley dengan tajam. 'Kukira kamu belum lupa apa yang dikatakan Dumbledore?'
'Bagian yang mana?' Sirius bertanya dengan sopan, tapi dengan suasana seorang
pria yang bersiap-siap untuk berkelahi.
'Bagian mengenai tidak memberitahu Harry lebih dari yang perlu diketahui dia,'
kata Mrs Weasley sambil menempatkan tekanan berat pada tiga kata terakhir.
Kepala Ron, Hermione, Fred dan George berayun-ayun dari Sirius ke Mrs Weasley
seolah-olah mereka sedang mengikuti pukulan tenis bertubi-tubi. Ginny sedang
berlutut di antara tumpukan gabus Butterbeer yang terabaikan, sambil menyaksikan
percakapan itu dengan mulutnya sedikit terbuka. Mata Lupin terpaku pada Sirius.
'Aku tidak bermaksud memberitahu dia lebih dari yang perlu diketahuinya, Molly,'
kata Sirius. 'Tapi karena dialah yang menyaksikan kembalinya Voldemort' (lagi-lagi,
apa perasaan ngeri berkelompok mengelilingi meja dengan penyebutan nama itu) 'dia
punya hak lebih dari kebanyakan --'
'Dia bukan anggota Order of Phoenix!' kata Mrs Weasley. 'Dia baru berumur lima
belas tahun dan --'
'Dan dia telah mengatasi sebanyak yang dihadapi sebagian besar anggota Order,'
kata Sirius, 'dan lebih banyak dari beberapa anggota.'
'Tak ada yang menyangkal apa yang telah dia lakukan!' kata Mrs Weasley,
suaranya naik, kepalan tangannya bergetar pada lengan kursinya. 'Tapi dia masih --'
'Dia bukan anak kecil!' kata Sirius dengan tidak sabar.
'Dia juga bukan orang dewasa!' kata Mrs Weasley dengan pipi merona. 'Dia bukan
James, Sirius!'
'Aku tahu dengan jelas siapa dia, terima kasih, Molly,' kata Sirius dengan dingin.
'Aku tidak yakin kau tahu!' kata Mrs Weasley. 'Terkadang, caramu berbicara
dengannya, seakan-akan kau berpikir kau mendapatkan kembali teman baikmu!'
'Apa salahnya dengan itu?' kata Harry.
'Apa yang salah, Harry, adalah bahwa kamu bukan ayahmu, bagaimanapun
miripnya kamu dengannya!' kata Mrs Weasley, matanya masih menatap mata Sirius
dalam-dalam. 'Kamu masih sekolah dan orang-orang dewasa yang bertanggung jawab
atas dirimu seharusnya tidak melupakan hal itu!'
'Artinya aku ayah angkat yang tidak bertanggung jawab?' tuntut Sirius, suaranya
naik.
'Artinya kamu telah dikenal bertindak dengan gegabah, Sirius, yang menyebabkan
Dumbledore terus mengingatkanmu untuk tetap di rumah dan --'
'Kita akan membiarkan instruksiku dari Dumbledore keluar dari ini, kalau kau
berkenan!' kata Sirius dengan keras.
'Arthur!' kata Mrs Weasley sambil berputar kepada suaminya. 'Arthur, dukung aku!'
Mr Weasley tidak segera berbicara. Dia melepaskan kacamatanya dan
membersihkan mereka pelan-pelan pada jubahnya, tanpa memandang istrinya. Ketika
dia memakaikan kembali dengan hati-hati ke hidungnya barulah dia menjawab.
'Dumbledore tahu kedudukannya telah berubah, Molly. Dia menerima bahwa Harry
pasti harus diberitahu, sampai batas tertentu, sekarang dia telah tinggal di Markas
Besar.'
'Ya, tapi ada perbedaan antara itu dan mengundangnya bertanya apapun yang
disukainya!'
'Secara pribadi,' kata Lupin dengan tenang, sambil akhirnya membuang muka dari
Sirius, selagi Mrs Weasley berpaling kepadanya dengan cepat, berharap akhirnya dia
akan mendapat sekutu, 'kukira lebih baik Harry mendapatkan fakta-faktanya -- tidak
semua fakta, Molly, tapi gambaran umumnya -- dari kita, daripada versi terputar-balik
dari ... yang lain'
Ekspresinya tenang, tetapi Harry merasa yakin bahwa Lupin, setidaknya, tahu
bahwa beberapa Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan selamat dari penyitaan Mrs
Weasley.
'Well,' kata Mrs Weasley, sambil bernapas dalam-dalam dan melihat sekeliling
meja untuk mendapat dukungan yang ternyata tidak datang, 'well ... dapat kulihat
pendapatku ditolak. Aku hanya akan mengatakan ini: Dumbledore pasti punya alasanalasannya tidak menginginkan Harry tahu terlalu banyak, dan berbicara sebagai
seseorang yang memikirkan kepentingan terbaik Harry --'
'Dia bukan anakmu,' kata Sirius dengan pelan.
'Dia sudah kuanggap anakku,' kata Mrs Weasley dengan ganas. 'Siapa lagi yang
dimilikinya?'
'Dia punya aku!'
'Ya,' kata Mrs Weasley, bibirnya melengkung, 'masalahnya, pastilah sulit bagimu
menjaganya selama kau terkurung di Azkaban, bukan begitu?'
Sirius mulai bangkit dari kursinya.
'Molly, kamu bukan satu-satunya orang di meja ini yang peduli pada Harry,' kata
Lupin dengan tajam. 'Sirius, duduklah.'
Bibir bawah Mrs Weasley bergetar. Sirius terbenam kembali pelan-pelan ke dalam
kursinya, wajahnya putih.
'Kukira Harry harus dimintai pendapat mengenai hal ini,' Lupin melanjutkan, 'dia
sudah cukup tua untuk memutuskan bagi dirinya sendiri.'
'Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi,' Harry berkata seketika.
Dia tidak memandang Mrs Weasley. Dia telah tersentuh dengan apa yang
dikatakannya tentang dirinya dianggap anak, tapi dia juga tidak sabar dengan
sikapnya yang terlalu memanjakan. Sirius benar, dia bukan anak kecil.
'Baiklah,' kata Mrs Weasley, suaranya meletus. 'Ginny -- Ron -- Hermione -- Fred - George -- aku mau kalian keluar dari dapur ini, sekarang.'
Ada kegaduhan seketika.
'Kami sudah cukup umur!' Fred dan George berteriak bersama.
'Kalau Harry diizinkan, kenapa aku tidak?' teriak Ron.
'Mum, aku mau dengar!' raung Ginny.
'TIDAK!' teriak Mrs Weasley sambil berdiri, matanya berkilat-kilat. 'Aku
sepenuhnya melarang --'
'Molly, kau tidak bisa menghentikan Fred dan George,' kata Mr Weasley dengan
letih. 'Mereka memang sudah cukup umur.'
'Mereka masih bersekolah.'
'Tapi mereka sekarang secara hukum orang dewasa,' kata Mr Weasley, dengan
suara letih yang sama.
Mrs Weasley sekarang wajahnya merah tua.
'Aku -- oh, kalau begitu baiklah, Fred dan George bisa tinggal, tapi Ron --'
'Lagipula Harry akan memberitahu aku dan Hermione semua yang kalian katakan!'
kata Ron dengan panas. 'Tidak -- tidakkah begitu?' dia menambahkan dengan tidak
yakin, sambil menatap mata Harry.
Selama sepersekian detik, Harry berpikir untuk memberitahu Ron bahwa dia tidak
akan memberitahunya satu patah katapun, bahwa dia bisa mencoba merasakan
dikucilkan dan melihat bagaimana dia menyukainya. Tapi dorongan kejam itu
menghilang ketika mereka saling berpandangan.
'Tentu saja aku akan,' kata Harry.
Ron dan Hermione tersenyum.
'Baik!' teriak Mrs Weasley. 'Baik! Ginny -- TIDUR!'
Ginny tidak pergi dengan tenang. Mereka bisa mendengarnya marah-marah dan
mengamuk kepada ibunya sepanjang perjalanan naik, dan ketika dia mencapai aula
teriakan memekakkan telinga Mrs Black ditambahkan pada hiruk-pikuk itu. Lupin
bergegas ke potret itu untuk mengembalikan ketenangan. Baru setelah dia kembali,
sambil menutup pintu dapur di belakangnya dan mengambil tempat duduknya di meja
lagi, Sirius berbicara.
'OK, Harry .. apa yang ingin kau ketahui?'
Harry mengambil napas dalam-dalam dan menanyakan pertanyaan yang telah
membuatnya terobsesi selama satu bulan terakhir ini.
'Di mana Voldemort?' dia berkata, sambil mengabaikan kengerian dan kerenyitan
saat penyebutan nama itu. 'Apa yang sedang dia lakukan? Aku telah berusaha
menonton berita Muggle, dan belum ada apapun yang tampak seperti dia, tak ada
kematian yang aneh atau apapun.'
'Itu karena memang belum ada kematian yang aneh,' kata Sirius, 'tidak sejauh yang
kami tahu, bagaimanapun ... dan kami tahu cukup banyak.'
'Labih dari yang dia kira kami tahu,' kata Lupin.
'Mengapa dia berhenti membunuhi orang-orang?' Harry bertanya. Dia tahu
Voldemort telah membunuh lebih dari sekali pada tahun lalu saja.
'Karena dia tidak ingin menarik perhatian pada dirinya,' kata Sirius. 'Akan
berbahaya baginya. Kembalinya dia tidak berjalan seperti yang diinginkannya, kau
tahu. Dia mengacaukannya.'
'Atau lebih tepatnya, kau mengacaukan baginya,' kata Lupin dengan senyum puas.
'Bagaimana?' Harry bertanya, bingung.
'Kau tidak seharusnya selamat!' kata Sirius. 'Seharusnya tak seorangpun kecuali
para Pelahap Mautnya tahu bahwa dia telah kembali. Tapi kau selamat untuk menjadi
saksi.'
'Dan orang terakhir yang ingin dibuatnya siap siaga atas kembalinya pada saat dia
kembali adalah Dumbledore,' kata Lupin. 'Dan kau meyakinkan bahwa Dumbledore
tahu seketika.'
'Bagaimana hal itu bisa membantu?' Harry bertanya.
'Apakah kau bercanda?' kata Bill dengan tidak percaya. 'Dumbledore adalah satusatunya orang yang pernah ditakuti Kau-Tahu-Siapa!'
'Berkat dirimu, Dumbledore bisa memanggil kembali Order of Phoenix sekitar satu
jam setelah Voldemort kembali,' kata Sirius.
'Jadi, apa yang sedang dikerjakan Order?' kata Harry, sambil melihat sekeliling
kepada mereka semua.
'Bekerja sekeras yang kami bisa untuk meyakinkan bahwa Voldemort tidak bisa
menjalankan rencana-rencananya,' kata Sirius.
'Bagaimana kalian tahu apa rencana-rencananya?' Harry bertanya dengan cepat.
'Dumbledore punya ide cerdas,' kata Lupin, 'dan ide-ide cerdas Dumbledore
biasanya terbukti akurat.'
'Jadi apa yang dikira Dumbledore sedang dia rencanakan?'
'Well, pertama-tama, dia ingin membangun laskarnya lagi,' kata Sirius. 'Dulu dia
punya sejumlah besar yang menuruti perintahnya: para penyihir wanita dan pria yang
telah diancamnya atau disihirnya untuk mengikuti dia, para Pelahap Mautnya yang
setia, beraneka ragam makhluk Hitam. Kau mendengar dia merencanakan untuk
merekrut para raksasa; well, mereka hanya salah satu kelompok yang dia kejar. Dia
jelas tidak akan mencoba menghabisi Menteri Sihir hanya dengan selusin Pelahap
Maut.'
'Jadi kalian mencoba menghentikannya mendapat lebih banyak pengikut?'
'Kami mencoba sebaik mungkin,' kata Lupin.
'Bagaimana caranya?'
'Well, yang terutama adalah mencoba meyakinkan sebanyak orang mungkin bahwa
Kau-Tahu-Siapa benar-benar telah kembali, untuk membuat mereka berjaga-jaga,'
kata Bill. 'Walau terbukti sangat sulit.'
'Mengapa?'
'Karena sikap Kementerian,' kata Tonks. 'Kau bertemu Cornelius Fudge setelah
Kau-Tahu-Siapa kembali, Harry. Well, dia belum mengubah posisinya sama sekali.
Dia benar-benar menolak untuk percaya hal itu terjadi.'
'Tapi mengapa?' kata Harry dengan putus asa. 'Mengapa dia begitu bodoh? Kalau
Dumbledore --'
'Ah, well, kau telah menunjuk ke masalahnya,' kata Mr Weasley dengan senyum
masam. 'Dumbledore.'
'Fudge takut pada dirinya, kau tahu,' kata Tonks dengan sedih.
'Takut kepada Dumbledore?' kata Harry tidak percaya.
'Takut apa yang sedang dilakukannya,' kata Mr Weasley. 'Fudge mengira
Dumbledore sedang membuat rencana untuk menjatuhkannya. Dia mengira
Dumbledore ingin menjadi Menteri Sihir.'
'Tapi Dumbledore tidak ingin --'
'Tentu saja tidak,' kata Mr Weasley. 'Dia tidak pernah mau pekerjaan Menteri itu,
walaupun banyak orang menginginkan dia mengambilnya ketika Millicent Bagnold
pensiun. Alih-alih, Fudge yang mendapat kekuasaan, tapi dia tidak pernah benarbenar lupa betapa banyak dukungan publik yang dimiliki Dumbledore, walaupun
Dumbledore tidak pernah melamar pekerjaan itu.'
'Jauh di lubuk hatinya, Fudge tahu Dumbledore jauh lebih pandai darinya, penyihir
yang jauh lebih kuat, dan pada masa-masa awalnya di Kementerian dia selalu
bertanya kepada Dumbledore untuk mendapat bantuan dan nasehat,' kata Lupin. 'Tapi
kelihatannya dia telah mabuk kekuasaan, dan jauh lebih percaya diri. Dia suka
menjadi Menteri Sihir dan dia mampu meyakinkan dirinya sendiri bahwa dialah yang
pandai dan Dumbledore hanya membuat masalah.'
'Bagaimana dia bisa berpikir begitu?' kata Harry dengan marah. 'Bagaimana dia
bisa mengira Dumbledore hanya mengada-ada -- bahwa aku mengada-ada?'
'Karena menerima bahwa Voldemort telah kembali akan berarti masalah yang
belum pernah dihadapi Kementerian selama hampir empat belas tahun,' kata Sirius
dengan getir. 'Fudge hanya tidak bisa membuat dirinya menghadapi hal itu. Jauh lebih
nyaman meyakinkan diri sendiri bahwa Dumbledore sedang berbohong untuk
membuatnya goyah.'
'Kau lihat masalahnya,' kata Lupin. 'Selagi Kementerian bersikeras bahwa tidak ada
yang perlu ditakutkan dari Voldemort sulit meyakinkan orang-orang bahwa dia telah
kembali, terutama karena mereka sejak awal tidak ingin mempercayainya. Terlebih
lagi, Kementerian sangat mengandalkan Daily Prophet untuk melaporkan apa yang
mereka sebut jual-rumor oleh Dumbledore, jadi kebanyakan komunitas penyihir
sepenuhnya tidak menyadari apapun yang sedang terjadi, dan itu membuat mereka
jadi target mudah bagi para Pelahap Maut kalau mereka menggunakan Kutukan
Imperius.'
'Tapi kalian sedang memberitahu orang-orang, bukan?' kata Harry sambil melihat
berkeliling kepada Mr Weasley, Sirius, Bill, Mundungus, Lupin dan Tonks. 'Kalian
membiarkan orang-orang tahu dia sudah kembali?'
Mereka semua tersenyum tanpa merasa lucu.
'Well, karena semua orang mengira aku pembunuh masal gila dan Kementerian
memberi harga sepuluh ribu Galleon untuk kepalaku, aku hampir tidak bisa berjalan
menyusuri jalan dan mulai membagi-bagikan selebaran, benar 'kan?'
'Dan aku bukan tamu makan malam yang sangat populer dengan kebanyakan
komunitas penyihir,' kata Lupin. 'Sudah resiko pekerjaan menjadi seorang manusia
serigala.'
'Tonks dan Arthur akan kehilangan pekerjaan mereka di Kementerian kalau mereka
mulai berbicara yang bukan-bukan,' kata Sirius, 'dan penting sekali bagi kami untuk
punya mata-mata di Kementerian, karena kau bisa bertaruh Voldemort pasti punya.'
'Walau begitu, kami berhasil meyakinkan beberapa orang,' kata Mr Weasley. 'Tonks
di sini ini -- contohnya -- dia terlalu muda untuk berada dalam Order of Phoenix yang
dulu, dan memiliki Auror di sisi kita adalah keuntungan besar -- Kingsley Shacklebolt
juga telah menjadi aset nyata; dia bertanggung jawab atas perburuan Sirius, jadi dia
telah memberikan Kementerian informasi bahwa Sirius ada di Tibet.'
'Tapi kalau tidak satupun dari kalian menyebarkan berita bahwa Voldemort sudah
kembali --' Harry mulai.
'Siapa bilang tidak satupun dari kami menyebarkan berita?' kata Sirius. 'Kaukira
mengapa Dumbledore terlibat masalah?'
'Apa maksudmu?' Harry bertanya.
'Mereka mencoba mendiskreditkan dia,' kata Lupin. 'Tidakkah kau baca Daily
Prophet minggu lalu? Mereka melaporkan bahwa dia telah dikeluarkan dari Ketua
Konfederaasi Penyihir Internasional karena dia mulai tua dan kehilangan kendali, tapi
itu tidak benar; dia dikeluarkan oleh para penyihir Kementerian setelah dia berpidato
mengumumkan kembalinya Voldemort. Mereka menurunkannya dari Kepala Penyihir
di Wizengamot -- itu Mahkamah Tinggi Penyihir -- dan mereka mengatakan juga
akan mengambil Order of Merlin, Kelas Pertamanya.'
'Tapi Dumbledore berkata dia tidak peduli apa yang mereka lakukan selama mereka
tidak mengenyahkannya dari Kartu-Kartu Cokelat Kodok,' kata Bill sambil
menyeringai.
'Itu bukan hal untuk ditertawakan,' kata Mr Weasley dengan tajam. 'Kalau dia terus
melawan Kementerian seperti ini dia bisa berakhir di Azkaban, dan hal terakhir yang
kita mau adalah Dumbleldore terkurung. Selagi Kau-Tahu-Siapa tahu Dumbledore
ada di luar sana dan tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya dia akan terus hati-hati.
Kalau Dumbledore tak lagi jadi penghalang -- well, Kau-Tahu-Siapa akan punya jalan
yang bebas rintangan.'
'Tapi kalau Voldemort sedang berusaha merekrut lebih banyak Pelahap Maut pasti
akan bocor kalau dia sudah kembali, bukankah begitu?' tanya Harry dengan putus asa.
'Voldemort tidak berbaris ke rumah-rumah orang dan menggedor-gedor pintu depan
mereka, Harry,' kata Sirius. 'Dia menggunakan tipuan, kutukan dan pemerasan pada
mereka. Dia sangat terlatih untuk beroperasi secara rahasia. Lagipula, mengumpulkan
pengikut hanya salah satu hal yang diminatinya. Dia juga punya rencana-rencana lain,
rencana-rencana yang dapat dijalankannya dengan sangat diam-diam, dan dia sedang
berkonsentrasi pada hal itu pada saat ini.'
'Apa yang sedang dia kejar selain para pengikut?' Harry bertanya dengan cepat. Dia
mengira melihat Sirius dan Lupin saling berpandangan sekilas sebelum Sirius
menjawab.
'Benda yang hanya bisa dia peroleh secara sembunyi-sembunyi.'
Ketika Harry masih tampak bingung, Sirius berkata, 'Seperti sebuah senjata. Sesuatu
yang tidak dimilikinya dulu.'
'Sewaktu dia berkuasa dulu?'
'Ya.'
'Seperti sejenis senjata?' kata Harry. 'Sesuatu yang lebih buruk dari Avada Kedavra -?'
'Sudah cukup!'
Mrs Weasley berbicara melalui bayangan di samping pintu. Harry tidak
memperhatikan kembalinya dia dari membawa Ginny naik. Lengannya bersilang dan
dia tampak marah besar.
'Aku mau kalian ke tempat tidur sekarang. Kalian semua,' dia menambahkan sambil
melihat berkeliling kepada Fred, George, Ron dan Hermione.
'Ibu tidak bisa menyuruh-nyuruh kami --' Fred mulai.
'Lihat saja,' gertak Mrs Weasley. Dia sedikit gemetaran ketika dia memandang
Sirius. 'Kau telah memberi Harry banyak informasi. Lebih banyak lagi dan kau
sekalian saja langsung memasukkannya ke dalam Order.'
'Kenapa tidak?' kata Harry dengan cepat. 'Aku akan bergabung, aku ingin
bergabung, aku mau bertarung.'
'Tidak.'
Bukan Mrs Weasley yang berkata kali ini, tetapi Lupin.
'Order hanya terdiri atas penyihir-penyihir yang sudah cukup umur,' katanya.
'Penyihir-penyihir yang telah meninggalkan sekolah,' dia menambahkan, ketika Fred
dan George membuka mulut mereka. 'Ada bahaya-bahaya yang dilibatkan yang tidak
akan pernah kalian pikirkan, satupun dari kalian ... kukira Molly benar, Sirius. Kita
telah berkata cukup.'
Sirius setengah mengangkat bahu tetapi tidak berdebat. Mrs Weasley memberi
isyarat dengan memerintah kepada anak-anaknya dan Hermione. Satu per satu dari
mereka berdir dan Harry, mengenali kekalahannya, mengikuti mereka.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB ENAM -Rumah Black yang Mulia dan Paling Kuno
Mrs Weasley mengikuti mereka ke atas sambil terlihat muram.
'Aku mau kalian semua langung tidur, tak ada bincang-bincang,' dia berkata ketika
mereka mencapai puncak tangga yang pertama,'kita punya hari yang sibuk besok.
Kurasa Ginny sedang tertidur,' dia menambahkan kepada Hermione, 'jadi cobalah
tidak membangunkannya.'
'Tertidur, yeah, benar,' kata Fred dengan nada rendah, setelah Hermione memberi
mereka selamat malam dan mereka sedang naik ke lantai berikutnya. 'Kalau Ginny
tidak sedang terbaring bangun sambil menunggu Hermione menceritakan kepadanya
semuau yang mereka katakan di bawah maka aku seekor Flobberworm ...'
'Baiklah, Ron, Harry,' kata Mrs Weasley di puncak tangga kedua, sambil
menunjukkan mereka ke kamar tidur mereka. 'Tidurlah kalian berdua.'
'Malam,' Harry dan Ron berkata kepada si kembar.
'Tidur yang nyenyak,' kata Fred sambil mengedip.
Mrs Weasley menutup pintu di belakang Harry dengan bunyi keras. Kamar itu
terlihat, kalaupun bisa, bahkan lebih lembab dan lebih suram daripada pandangan
pertama tadi. Lukisan kosong di dinding sekarang sedang bernapas pelan-pelan dan
dalam-dalam, seakan-akan penghuninya yang tidak tampak sedang tertidur. Harry
memakai piyamanya, melepaskan kacamatanya dan memanjat ke atas tempat tidurnya
yang dingin sementara Ron melemparkan Owl Treat ke puncak lemari pakaian untuk
menenangkan Hedwig dan Pigwidgeon, yang sedang bergerak ke sana ke mari dengan
berisik dan mengibas-ngibaskan sayap mereka dengan gelisah.
'Kita tidak bisa membiarkan mereka keluar berburu setiap malam,' Ron
menjelaskan selagi dia memakai piyama merah marunnya. 'Dumbledore tidak ingin
terlalu banyak burung hantu berkeliaran di sekitar alun-alun ini, dipikirnya itu akan
terlihat mencurigakan. Oh yeah ... aku lupa ...'
Dia menyeberangi ruangan dan menguncinya.
'Kenapa kau lakukan itu?'
'Kreacher,' kata Ron sambil memadamkan lampu. 'Malam pertama aku di sini dia
datang keluyuran ke sini pukul tiga pagi. Percayalah, kau takkan mau terbangun dan
menemukannya berkeliaran di dalam kamarmu. Lagipula ...' dia naik ke tempat
tidurnya, masuk ke bawah selimutnya dan berpaling kepada Harry dalam kegelapan;
Harry bisa melihat garis tubuhnya dalam cahaya bulan yang merembes masuk dari
jendela yang kusam, 'bagaimana menurutmu?'
Harry tidak perlu bertanya apa yang dimaksud Ron.
'Well, mereka tidak memberitahu kita banyak yang belum kita tebak, bukan
begitu?' dia berkata sambil memikirkan semua yang telah diperbincangkan di bawah.
'Maksudku, semua yang mereka katakan hanyalah bahwa Order sedang mencoba
menghentikan orang-orang bergabung dengan Vol--'
Ada suara napas tajam dari Ron.
'--demort,' kata Harry dengan tegas. 'Kapan kau akan mulai menggunakan
namanya? Sirius dan Lupin begitu.'
Ron mengabaikan komentar terakhir itu.
'Yeah, kau benar,' katanya, 'kita sudah tahu hampir semua yang mereka beritahukan
kepada kita, dari penggunaan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan. Satu-satunya yang
baru adalah --'
Crack.
'ADUH!'
'Rendahkan suaramu, Ron, atau Mum akan kembali ke sini.'
'Kalian berdua baru saja ber-Apparate ke atas lututku!'
'Yeah, well, lebih sulit melakukannya dalam gelap.'
Harry melihat garis samar Fred dan George melompat turun dari tempat tidur Ron.
Ada deritan per tempat tidur dan kasur Harry turun beberapa inci ketika George
duduk dekat kakinya.
'Jadi, sudah sampai di sana?' kata George dengan bersemangat.
'Senjata yang disebut Sirius?' kata Harry.
'Lebih tepatnya, tercetus,' kata Fred dengan seenak hatinya, sekarang dia duduk di
sebelah Ron. 'Kami tidak mendengar mengenai itu pada Telinga, benar 'kan?'
'Menurut kalian apa itu?' kata Harry.
'Bisa apapun,' kata Fred.
'Tapi tidak ada yang lebih buruk daripada Kutukan Avada Kedavra, benar 'kan?'
kata Ron. 'Apa yang lebih buruk dari kematian?'
'Mungkin sesuatu yang dapat membunuh banyak orang seketika,' usul George.
'Mungkin suatu cara membunuh orang yang benar-benar menyakitkan,' kata Ron
dengan takut.
'Dia punya Kutukan Cruciatus untuk menimbulkan rasa sakit,' kata Harry, 'dia tidak
butuh apapun yang lebih efisien daripada itu.'
Ada keheningan sejenak dan Harry tahu bahwa yang lainnya, seperti dirinya,
sedang mengira-ngira kengerian apa yang dapat disebabkan oleh senjata ini.
'Jadi, menurutmu siapa yang memilikinya sekarang?' tanya George.
'Kuharap dari sisi kita,' kata Ron, terdengar sedikit gugup.
'Kalau benar, Dumbledore mungkin sedang menyimpannya,' kata Fred.
'Di mana?' kata Ron dengan cepat. 'Hogwarts?'
'Pasti di sana!' kata George. 'Di sanalah dia menyembunyikan Batu Bertuah.'
'Akan tetapi, sebuah senjata akan jauh lebih besar daripada Batu itu!' kata Ron.
'Belum tentu!' kata Fred.
'Yeah, ukuran bukan jaminan kekuatan,' kata George. 'Lihat saja Ginny.'
'Apa maksudmu?' kata Harry.
'Kau belum pernah menerima salah satu Guna-Guna Hantu Kelelawarnya, 'kan?'
'Shhh!' kataFred, setengah bangkit dari tempat tidur. 'Dengar!'
Mereka terdiam. Langkah-langkah kaki datang menaiki tangga.
'Mum,' kata George dan tanpa penundaan lagi ada suara crack keras dan Harry
merasakan berat menghilang dari ujung tempat tidurnya. Beberapa detik kemudian,
mereka mendengar papan lantai menderit di luar pintu mereka; Mrs Weasley jelas
sedang mendengarkan untuk memeriksa apakah mereka sedang berbicara.
Hedwig dan Pigwidgeon beruhu dengan muram. Papan lantai berderit lagi dan
mereka mendengarnya menuju lantai atas untuk mengecek Fred dan George.
'Dia tidak mempercayai kami semua, kau tahu,' kata Ron dengan menyesal.
Harry yakin dia tidak akan bisa tertidur; malam itu begitu penuh hal-hal untuk
dipikirkan sehingga dia sepenuhnya berharap akan terbaring bangun selama beberapa
jam sambil memikirkan semuanya. Dia ingin terus berbincang dengan Ron, tapi Mrs
Weasley sekarang sedang berderit ke bawah lagi, dan segera setelah dia pergi Harry
mendengar dengan jelas yang lainnya sedang menuju ke atas ... bahkan, makhluk
berkaki banyak sedang berlari dengan lembut ke atas dan ke bawah di luar pintu
kamar tidur, dan Hagrid si guru Pemeliharaan Satwa Gaib sedang berkata, 'Mereka
indah, bukankah begitu, eh, Harry? Kita akan mempelajari senjata-senjata pada
semester ini ...' dan Harry melihat bahwa makhluk-makhluk itu berkepala meriam dan
sedang berputar untuk menghadapnya ... dia menunduk ...
Hal berikutnya yang dia tahu, dia tergulung menjadi bola hangat di bawah pakaian
tidurnya dan suara keras George mengisi kamar itu.
'Mum bilang bangun, sarapan kalian ada di dapur dan kemudian dia perlu kalian di
ruang duduk, ada lebih banyak Doxy daripada yang dikiranya dan dia menemukan
sarang Puffskein mati di bawah sofa.'
Setengah jam kemudian Harry dan Ron, yang telah berpakaian dan makan pagi
dengan cepat, memasuki ruang duduk, sebuah ruangan panjang berlangit-langit tinggi
di lantai pertama dengan dinding-dinding hijau zaitun yang ditutupi permadanipermadani dinding yang kotor. Karpet mengeluarkan awan debu kecil setiap kali
seseorang menaruh kaki di atasnya dan tirai-tirai beludru panjang berwarna hijau
lumut berdengung seakan-akan dipenuhi lebah-lebah yang tidak tampak. Di sekitar
tirai-tirai inilah Mrs Weasley, Hermione, Ginny, Fred dan George berkumpul,
semuanya tampak aneh karena memakai sepotong kain yang diikatkan menutupi
hidung dan mulut mereka. Masing-masing sedang memegang sebuah botol besar
dengan mulut pipa di ujungnya yang berisi cairan hitam.
'Tutupi wajah kalian dan ambil penyemprot,' Mrs Weasley berkata kepada Harry
dan Ron saat dia melihat mereka, sambil menunjuk kepada dua lagi botol cairan hitam
yang terletak di sebuah meja berkaki kurus panjang. 'Itu Doxycide. Aku belum pernah
melihat hama separah ini -- apa yang telah dilakukan peri-rumah itu selama sepuluh
tahun belakangan ini --'
Wajah Hermione setengah tertutupi oleh sebuah tudung teh tetapi Harry dengan
jelas melihatnya memberi Mrs Weasley pandangan mencela.
'Kreacher sangat tua, dia mungkin tidak bisa --'
'Kau akan terkejut apa yang bisa dilakukan Kreacher kalau dia mau, Hermione,'
kata Sirius, yang baru saja memasuki ruangan itu sambil membawa sebuah kantong
bernoda darah yang tampaknya berisi tikus-tikus mati. 'Aku baru saja memberi makan
Buckbeak,' dia menambahkan, sebagai jawaban atas pandangan bertanya Harry. 'Aku
memeliharanya di atas di kamar tidur ibuku. Bagaimanapun ... meja tulis ini ...'
Dia menjatuhkan kantong berisi tikus itu ke sebuah kursi berlengan, lalu
membungkuk untuk memeriksa lemari terkunsi yang, Harry sekarang memperhatikan
untuk pertama kalinya, sedang bergetar sedikit.
'Well, Molly, aku cukup yakin ini Boggart,' kata Sirius, sambil mengintip lewat
lubang kunci, 'tapi mungkin kita harus membiarkan Mad-Eye memeriksanya sejenak
sebelum kita mengeluarkannya -- kalau kenal ibuku, bisa saja sesuatu yang jauh lebih
buruk.'
'Benar katamu, Sirius,' kata Mrs Weasley.
Mereka berdua berbicara dengan suara sopan dan ringan yang memberitahu Harry
dengan jelas bahwa keduanya belum melupakan perseteruan malam sebelumnya.
Sebuah suara deringan yang keras datang dari bawah, diikuti segera oleh hiruk
pikuk jeritan dan raungan yang dipicu malam sebelumnya oleh Tonks yang
menjatuhkan tempat payung.
'Aku terus memberitahu mereka jangan membunyikan bel pintu!' kata Sirius
dengan putus asa, sambil bergegas keluar ruangan. Mereka mendengarnya berderap
menuruni tangga selagi pekikan Mrs Black menggema ke seluruh rumah sekali lagi:
'Noda-noda aib, keturunan campuran yang kotor, pengkhianat darah, anak-anak
sampah ...'
'Tolong tutup pintunya, Harry,' kata Mrs Weasley.
Harry mengambil waktu selama yang dia bisa untuk menutup pintu ruang duduk
itu; dia ingin mendengar apa yang sedang berlangsung di bawah. Sirius jelas telah
berhasil menutup tirai menutupi potret ibunya karena dia telah berhenti menjerit. Dia
mendengar Sirius berjalan sepanjang aula, lalu gemerincing rantai di pintu depan, dan
kemudian sebuah suara dalam yang dia kenali sebagai Kingsley Shacklebolt yang
sedang berkata, 'Hestia baru saja menggantikanku, jadi dia pegang Jubah Moody
sekarang, kukira aku akan meninggalkan laporan untuk Dumbledore ...'
Merasakan mata Mrs Weasley di belakang kepalanya, Harry menutup pintu ruang
duduk dengan perasaan menyesal dan bergabung kembali ke pesta Doxy.
Mrs Weasley sedang membungkuk untuk memeriksa halaman mengenai Doxy
dalam Penuntun Hama Rumah Tangga Gilderoy Lockhart, yang tergeletak terbuka di
sofa.
'Benar, kalian semua, kalian harus berhati-hati, karena Doxy menggigit dan gigigigi mereka beracun. Aku punya sebotol penawar di sini, tapi aku lebih suka kalau
tidak ada yang membutuhkannya.'
Dia bangkit, menempatkan dirinya di depan gorden dan memberi isyarat kepada
mereka untuk maju.
'Sewaktu kusuruh, segera mulai menyemprot,' katanya. 'Mereka akan terbang
mendatangi kita, kukira, tapi di penyemprot ini dikatakan satu percikan yang jitu akan
melumpuhkan mereka. Ketika mereka lumpuh, lemparkan saja ke dalam ember ini.'
Dia melangkah dengan hati-hati keluar dari garis penembakan mereka, dan
mengangkat alat penyemprotnya sendiri.
'Baiklah -- semprot!'
Harry baru saja menyemprot selama beberapa detik ketika seekor Doxy dewasa
datang membumbung keluar dari lipatan bahan, sayapnya yang berkilat seperti
kumbang berdesing, gigi-gigi kecil yang setajam jarum tampak jelas, tubuhnya yang
seperti peri ditutupi oleh rambut hitam tebal dan keempat tinjunya yang kecil
mengepal karena marah. Harry mengenainya di bagian muka dengan Doxycide. Dia
membeku di udara dan terjatuh, dengan suara thunk yang keras, ke karpet usang di
bawah. Harry memungutnya dan melemparkannya ke dalam ember.
'Fred, apa yang kau lakukan?' kata Mrs Weasley dengan tajam. 'Semprot seketika
dan buang itu!'
Harry memandang ke sekitar. Fred sedang memegang seekor Doxy yang melawan
di antara jari telunjuk dan jempolnya.
'Baiklah,' Fred berkata dengan cerah, sambil menyemprot Doxy itu dengan cepat di
bagian muka sehingga dia pingsan, tetapi begitu punggung Mrs Weasley dibalikkan
dia mengantonginya dengan sebuah kedipan.
'Kami ingin bereksperimen dengan bisa Doxy untuk Kotak Makanan Pembolos
kami,' George memberitahu Harry dengan suara rendah.
Sambil menyemprot dua Doxy dengan sekali semprot ketika mereka membumbung
langsung ke hidungnya, Harry bergerak lebih dekat ke George dan bergumam dari
sudut mulutnya, 'Apa itu Kotak Makanan Pembolos?'
'Pilihan permen untuk membuatmu sakit,' George berbisik, sambil memandang
punggung Mrs Weasley dengan waspada. 'Bukan benar-benar sakit, tahu, hanya
cukup sakit untuk keluar dari kelas kalau kau mau. Fred dan aku telah
mengembangkannya sepanjang musim panas ini. Permen-permen itu berujung ganda,
diberi kode warna dan bisa dikunyah. Kalau kau makan bagian yang jingga dari
Pastilles Muntah, kau akan muntah. Saat kau telah didorong keluar dari pelajaran ke
sayap rumah sakit, kau telan bagian yang ungu --'
'"-- yang memulihkan kesehatanmu, memungkinkanmu mengejar kegiatan luang
pilihanmu sendiri selama satu jam yang seharusnya terbuang untuk kebosanan yang
tidak menguntungkan." Itu yang kami taruh di iklannya.' bisik Fred, yang telah
menepi dari pandangan Mrs Weasley dan sekarang sedang menyapu beberapa Doxy
dari lantai dan menambahkan mereka ke dalam kantongnya. 'Tapi mereka masih perlu
sedikit kerja. Saat ini para penguji kami masih mengalami kesulitan menghentikan
diri mereka muntah cukup lama untuk menelan ujung ungu.'
'Para penguji?'
'Kami sendiri,' kata Fred. 'Kami memakainya bergantian. George makan Manisan
Pingsan -- kami berdua mencoba Gula-Gula Mimisan --'
'Mum mengira kami habis berduel,' kata George.
'Kalau begitu, toko leluconnya masih jalan?' Harry bergumam, sambil berpura-pura
menyesuaikan ujung penyemprot pada semprotannya.
'Well, kami masih belum berkesempatan untuk mendapatkan tempat usaha,' kata
Fred, sambil menurunkan suaranya lebih rendah lagi ketika Mrs Weasley menyeka
alis dengan scarfnya sebelum melanjutkan penyerangan, 'jadi saat ini kami
menjalankannya sebagai usaha pesanan lewat pos. Kami menaruh iklan di Daily
Prophet minggu lalu.'
'Semuanya berkat kau, sobat,' kata George. 'Tapi jangan kuatir ... Mum tidak tahu
sedikitpun. Dia tidak membaca Daily Prophet lagi, kar'na menceritakan berita-berita
bohong mengenaimu dan Dumbledore.'
Harry nyengir. Dia telah memaksa si kembar Weasley mengambil hadiah uang
seribu Galleon yang telah dimenangkannya dalam Turnamen Triwizard untuk
membantu mereka mewujudkan ambisi mereka untuk membuka sebuah toko lelucon,
tetapi dia masih senang mengetahui bahwa bagiannya dalam memajukan rencana
mereka belum diketahui oleh Mrs Weasley. Dia tidak berpikir menjalankan sebuah
toko lelucon merupakan karir yang pantas bagi dua anaknya.
Penghilangan Doxy dari tirai-tirai berlangsung sepanjang pagi itu. Sudah lewat
tengah hari ketika Mrs Weasley akhirnya melepaskan scarf pelindungnya, terhenyak
ke kursi berlengan dan melompat bangkit lagi dengan jeritan jijik, karena telah
menduduki sekantong tikus mati. Tirai-tirai tidak lagi berdesing; mereka bergantung
lemas dan lembab dari penyemprotan habis-habisan. Di kaki mereka terletak Doxy-
Doxy tidak sadar yang terjejal di dalam ember di samping semangkok telur hitam
mereka, yang sedang diendusi Crookshanks dan Fred dan George sedang saling
memandang dengan pandangan tamak.
'Kukira kita akan mengerjakan yang itu sehabis makan siang,' Mrs Weasley
menunjuk kepada lemari-lemari berpintu kaca yang berdebu yang terletak di kedua
sisi rak perapian. Lemari-lemari itu penuh dengan aneka benda aneh; pilihan belati
berkarat, cakar, kulit ular yang bergulung, sejumlah kotak perak pudar yang diberi
tulisan dalam bahasa yang tidak dapat dimengerti Harry dan, yang paling tidak
menyenangkan dari semuanya, sebuah botol kristal berhias dengan sebuah batu opal
besar yang ditempatkan pada penutupnya, penuh dengan apa yang Harry yakini
sebagai darah.
Bel pintu yang berkelontang berbunyi lagi. Semua orang memandang kepada Mrs
Weasley.
'Tetap di sini,' dia berkata dengan tegas, sambil menyambar kantong tikus itu selagi
pekikan Mrs Black mulai lagi di bawah. 'Aku akan membawakan beberapa roti isi.'
Dia meninggalkan ruangan, menutup pintu dengan hati-hati di belakangnya.
Seketika, semua orang menyerbu ke jendela untuk melihat ke bawah ke ambang pintu.
Mereka bisa melihat puncak dari sebuah kepala merah kekuningan yang tidak terurus
dan setumpuk kuali yang keseimbangannya sangat genting.
'Mundungus!' kata Hermione. 'Untuk apa dia membawa kuali-kuali itu?'
'Mungkin mencari tempat yang aman untuk menyimpannya,' kata Harry. 'Bukankah
itu yang dia lakukan pada malam dia seharusnya mengekoriku? Mengambil kualikuali itu?'
'Yeah, kau benar!' kata Fred, ketika pintu depan terbuka; Mundungus menyeret
kuali-kualinya melalui pintu dan menghilang dari pandangan. 'Ya ampun, Mum tidak
akan menyukainya ...'
Dia dan George menyeberang ke pintu dan berdiri di sampingnya, sambil
mendengarkan dengan seksama. Jeritan Mrs Black telah berhenti.
'Mundungus sedang berbicara dengan Sirius dan Kingsley,' Fred bergumam, sambil
merengut penuh konsntrasi. 'Tidak bisa dengar dengan jelas ... menurutmu kita bisa
mengambil resiko dengan Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan?'
'Mungkin berharga,' kata George. 'Aku bisa menyelinap ke atas dan mengambil
sepasang --'
Tetapi pada saat itu juga ada suara ledakan dari bawah yang membuat Telinga
Yang-Dapat-Dipanjangkan tidak diperlukan lagi. Mereka semua dapat mendengar
dengan jelas apa yang sedang diteriakkan Mrs Weasley pada puncak suaranya.
'KITA TIDAK MENJALANKAN RUMAH PERSEMBUNYIAN UNTUK
BARANG-BARANG CURIAN!'
'Aku suka mendengar Mum berteriak kepada orang lain,' kata Fred, dengan senyum
kepuasan di wajahnya ketika dia membuka pintu sekitar satu inci untuk membiarkan
suara Mrs Weasley memasuki ruangan itu dengan lebih baik, 'benar-benar perubahan
yang sangat baik.'
'-- BENAR-BENAR TIDAK BERTANGGUNG JAWAB, SEAKAN-AKAN KITA
BELUM PUNYA CUKUP MASALAH UNTUK DIKHAWATIRKAN TANPA
KAMU MENYERET KUALI-KUALI CURIAN KE DALAM RUMAH --'
'Para idiot itu membiarkannya berlarut-larut,' kata George, sambil menggelengkan
kepalanya. 'Kau harus mengalihkannya dari awal kalau tidak dia akan menambah
kekuatan dan berteriak terus selama berjam-jam. Dan dia sudah sangat ingin
memarahi Mundungus sejak dia menyelinap pergi sewaktu seharusnya mengikutimu,
Harry -- dan ibunya Sirius mulai lagi --'
Suara Mrs Weasley tertelan oleh jeritan dan pekikan baru yang datang dari potretpotret di aula.
George bergerak menutup pintu untuk menenggelamkan keributan itu, tetapi
sebelum dia bisa melakukannya, seorang peri-rumah memasuki ruangan itu.
Kecuali kain rombengan kotor yang diikat seperti cawat di sekitar bagian
tengahnya, dia benar-benar telanjang. Kelihatannya sangat tua. Kulitnya terlihat
beberapa kali lebih besar bagi dirinya dan, walaupun dia botak seperti semua perirumah, ada sejumlah rambut putih yang tumbuh mencuat dari telinga besarnya yang
seperti telinga kelelawar. Matanya yang berwarna kelabu berair dan pembuluh
darahnya tampak dan hidungnya yang penuh daging besaar dan mirip moncong.
Peri itu sama sekali tidak memperhatikan Harry dan yang lain. Bertindak seakanakan dia tidak bisa melihat mereka, dia bergerak dengan bungkuk, pelan-pelan dan
pasti, menuju ujung jauh dari ruangan itu, sambil bergumam pelan dalam suara serak
dan dalam seperti katak.
'... baunya seperti selokan dan seorang kriminal untuk ditendang, tapi yang wanita
juga tidak lebih baik, si pengkhianat darah yang menjijikan dengan anak-anak
nakalnya mengotori rumah nyonyaku, oh, nyonyaku yang malang, kalau saja dia tahu,
kalau dia tahu sampah yang telah mereka masukkan ke dalam rumahnya, apa yang
akan dikatakannya kepada Kreacher tua ini, oh, betapa malunya, Darah-lumpur dan
manusia serigala dan pengkhianat dan pencuri, Kreacher tua yang malang, apa yang
bisa dilakukannya ...'
'Halo, Kreacher,' kata Fred dengan sangat keras, sambil menutup pintu dengan
sekali banting.
Peri-rumah itu membeku di tempat, berhenti bergumam, dan mengeluarkan suara
terkejut yang sangat dibuat-buat dan sangat tidak meyakinkan.
'Kreacher tidak melihat tuan muda,' katanya, sambil berpaling dan membungkuk
kepada Fred. Masih menghadap karpet, dia menambahkan, jelas terdengar, 'Anak
nakal menjijikan dari seorang pengkhianat darah.'
'Maaf?' kata George. 'Tidak dengar yang terakhir itu.'
'Kreacher tidak berkata apa-apa,' kata si peri-rumah, dengan membungkuk kedua
kali kepada George, sambil menambahkan dengan suara rendah yang jelas, 'dan itu
kembarannya, bangsat-bangsat kecil tidak alami mereka itu.'
Harry tidak tahu apakah harus tertawa atau tidak. Peri-rumah itu meluruskan
dirinya sambil mengintai mereka semua dengan bengis, dan tampaknya yakin bahwa
mereka tidak bisa mendengarnya ketika dia terus bergumam.
'... dan itu si Darah-lumpur, berdiri di sana sehebat kuningan, oh, kalau nyonyaku
tahu, oh, bagaimana dia akan menangis, dan ada anak baru, Kreacher tidak tahu
namanya. Apa yang sedang dia lakukan di sini? Kreacher tidak tahu ...'
'Ini Harry, Kreacher,' kata Hermione. 'Harry Potter.'
Mata pucat Kreacher melebar dan dia bergumam lebih cepat dan lebih marah dari
sebelumnya.
'Si Darah-lumpur berbicara kepada Kreacher seolah-olah dia temanku, kalau
nyonya Kreacher melihatnya bersama orang seperti itu, oh, apa yang akan
dikatakannya --'
'Jangan sebut dia Darah-lumpur!' kata Ron dan Ginny bersama-sama, dengan
sangat marah.
'Tidak masalah,' Hermione berbisik, 'dia tidak dalam pikiran sehatnya, dia tidak
tahu apa yang dia --'
'Jangan bodohi dirimu, Hermione, dia tahu persis apa yang dia katakan,' kata Fred,
sambil memandang Kreacher dengan rasa tidak suka.
Kreacher masih bergumam, matanya memandang Harry.
'Benarkah itu? Benar Harry Potter? Kreacher bisa melihat bekas lukanya, pastilah
benar, itu anak yang menghentikan Pangeran Kegelapan, Kreacher bertanya-tanya
bagaiamana dia melakukannya --'
'Bukankah kita semua begitu, Kreacher,' kata Fred.
'Apa yang kau inginkan?' George bertanya.
Mata besar Kreacher beralih kepada George.
'Kreacher sedang bersih-bersih,' dia berkata mengelak.
'Cerita yang mungkin sekali,' kata sebuah suara di belakang Harry.
Sirius telah kembali; dia sedang menatap tajam kepada peri itu dari ambang pintu.
Keributan di aula telah reda; mungkin Mrs Weasley dan Mundungus telah
memindahkan perseteruan mereka ke bawah ke dapur. Ketika melihat Sirius,
Kreacher membungkukkan dirinya rendah sekali sehingga hidungnya yang mirip
moncong rata ke lantai.
'Berdiri tegak,' kata Sirius dengan tidak sabar. 'Sekarang, apa yang sedang kau
rencanakan?'
'Kreacher sedang bersih-bersih,' peri-rumah itu mengulangi. 'Kreacher hidup untuk
melayani Rumah Black yang Mulia --'
'Dan semakin kelam saja setiap harinya, sehingga jadi sangat kotor,' kata Sirius.
'Tuan selalu suka lelocon kecilnya,' kata Kreacher sambil membungkuk lagi, dan
meneruskan dengan suara rendah, 'Tuan adalah babi tidak tahu berterima kasih yang
menjijikan yang meremukkan hati ibunya --'
'Ibuku tidak punya hati, Kreacher,' sambar Sirius. 'Dia bertahan hidup semata-mata
dengan rasa dengki.'
Kreacher membungkuk lagi ketika dia berkata.
'Apapun yang Tuan katakan,' dia bergumam dengan marah. 'Tuan tidak pantas
menyeka lendir dari sepatu bot ibunya, oh, nyonyaku yang malang, apa yang akan
dikatakannya kalau dia melihat Kreacher melayaninya, bagaimana dia membencinya,
betapa mengecewakannya dirinya --'
'Kutanya kau apa yang sedang kau rencanakan,' kata Sirius dengan dingin. 'Tiap
kali kau muncul sambil berpura-pura bersih-bersih, kau menyelinapkan sesuatu ke
kamarmu sehingga kami tidak bisa membuangnya.'
'Kreacher tidak akan memindahkan apapun dari tempat yang seharusnya dalam
rumah Tuan,' kata peri-rumah itu, lalu bergumam dengan amat cepat, 'Nyonya tidak
akan pernah memaafkan Kreacher kalau permadani dinding itu dibuang, sudah berada
dalam keluarga selama tujuh abad, Kreacher harus menyelamatkannya, Kreacher
tidak akan membiarkan Tuan dan para pengkhianat darah dan anak-anak nakal itu
menghancurkannya --'
'Kukira juga mungkin itu,' kata Sirius, sambil memberi pandangan menghina pada
dinding di seberang. 'Dia pasti telah menempatkan Mantera Lekat Permanen lagi ke
bagian belakangnya, aku tidak ragu, tetapi kalau bisa kuhilangkan pasti akan
kulakukan. Sekarang pergilah, Kreacher.'
Tampaknya Kreacher tidak berani tidak mematuhi perintah langsung, walaupun
begitu, pandangan yang diberikannya kepada Sirius ketika dia bergerak melewatinya
penuh dengan kebencian yang amat sangat dan dia bergumam sepanjang jalan keluar
dari ruangan itu.
'-- pulang dari Azkaban sambil menyuruh-nyuruh Kreacher, oh, nyonyaku yang
malang, apa yang akan dikatakannya kalau dia melihat rumah ini sekarang, sampah
tinggal di dalamnya, barang-barang berharganya dibuang, nyonya bersumpah dia
bukan anaknya dan dia sudah kembali, mereka juga bilang dia pembunuh --'
'Terus menggerutu dan aku akan jadi pembunuh!' kata Sirius dengan jengkel selagi
dia membanting pintu menutup.
'Sirius, dia tidak menyadari perbuatannya,' Hermione memohon, 'kukira dia tidak
sadar bahwa kita mendengarnya.'
'Dia sudah sendirian terlalu lama,' kata Sirius, 'menuruti perintah gila dari potret
ibuku dan berbicara kepada dirinya sendiri, tapi dia dari dulu memang seorang
bajingan kecil --'
'Kalau saja kau membebaskannya,' kata Hermione penuh harap, 'mungkin --'
'Kita tidak bisa membebaskannya, dia tahu terlalu banyak tentang Order,' kata
Sirius dengan masam. 'Dan lagipula, rasa terguncang akan membunuhnya. Kau
sarankan dia meninggalkan rumah ini, lihat bagaimana tanggapannya.'
Sirius berjalan menyeberangi ruangan ke tempat permadani dinding yang Kreacher
coba lindungi yang bergantung sepanjang dinding. Harry dan yang lain mengikuti.
Permadani dinding itu tampak sangat tua; warnanya sudah pudar dan terlihat
seakan-akan sudah digerogoti Doxy di banyak tempat. Walau begitu, benang
keemasan yang membordirnya masih berkilau cukup cemerlang untuk
memperlihatkan kepada mereka pohon keluarga yang membentang yang bertanggal
(sejauh yang dapat dilihat Harry) dari Abad Pertengahan. Huruf-huruf besar di bagian
paling atas permadani dinding itu bertuliskan:
Rumah Black yang Mulia dan Paling Kuno
'Toujours pur' (Selalu Murni)
'Kau tidak ada di sini!' kata Harry, setelah mengamati bagian bawah pohon itu
dengan seksama.
'Aku dulu ada di sana,' kata Sirius sambil menunjuk ke sebuah lubang kecil bulat
bekas terbakar di permadani, yang mirip sundutan rokok. 'Ibuku tersayang
meledakkanku setelah aku lari dari rumah -- Kreacher sangat suka menggumamkan
cerita itu.'
'Kau lari dari rumah?'
'Sewaktu aku berusia sekitar enam belas tahun,' kata Sirius. 'Aku sudah muak.'
'Ke mana kau pergi?' tanya Harry sambil menatapnya.
'Tempat ayahmu,' kata Sirius. 'Kakek-nenekmu sangat baik; mereka seperti
mengangkatku sebagai anak kedua. Yeah, aku berkemah di luar rumah ayahmu saat
liburan sekolah, dan ketika aku berumur tujuh belas aku mempunyai tempat sendiri.
Pamanku Alphard meninggalkanku sejumlah emas -- dia juga telah dihapus dari sini,
mungkin itu sebabnya -- lagipula, setelah itu aku menjaga diriku sendiri. Namun, aku
selalu diterima di rumah keluarga Potter untuk makan siang Minggu.'
'Tapi ... kenapa kau ...?'
'Pergi?' Sirius tersenyum getir dan menyisir rambut panjangnya yang tak terawat
dengan jari-jarinya. 'Karena aku benci mereka semua; orang tuaku, dengan mania
darah-murni mereka, yakin bahwa menjadi seorang Black membuatmu berdarah biru
... adikku yang idiot, cukup lembek untuk mempercayai mereka ... itu dia.'
Sirius menusukkan sebuah jari ke bagian paling bawah dari pohon itu, pada nama
'Regulus Black'. Sebuah tanggal kematian (sekitar lima belas tahun sebelumnya)
mengikuti tanggal kelahiran.
'Dia lebih muda dariku,' kata Sirius, 'dan merupakan anak yang lebih baik, seperti
yang selalu diingatkan kepadaku.'
'Tapi dia meninggal,' kata Harry.,
'Yeah,' kata Sirius. 'Idiot bodoh ... dia bergabung dengan para Pelahap Maut.'
'Kau bercanda!'
'Ayolah, Harry, bukankah kau sudah lihat cukup banyak dari rumah ini untuk
mengetahui penyihir macam apa keluargaku itu?' kata Sirius dengan tidak sabar.
'Apakah -- apakah orang tuamu juga Pelahap Maut?'
'Tidak, tidak, tapi percayalah kepadaku, mereka berpikir Voldemort memiliki
gagasan yang benar, mereka mendukung pemurnian ras penyihir, mengenyahkan para
kelahiran Muggle dan memberi kekuasaan kepada darah-murni. Mereka juga tidak
sendirian, ada sejumlah orang, sebelum Voldemort menunjukkan wajah aslinya, yang
berpikir bahwa dia punya gagasan yang benar mengenai banyak hal ... namun, mereka
jadi pengecut ketika mereka melihat dia bersiap-siap mengambil kekuasaan. Tapi aku
yakin orang tuaku mengira Regulus adalah pahlawan kecil karena bergabung sejak
awal.'
'Apakah dia dibunuh oleh Auror?' Harry bertanya.
'Oh, tidak,' kata Sirius. 'Tidak, dia dibunuh oleh Voldemort. Atau atas perintah
Voldemort, lebih tepatnya; aku ragu Regulus pernah cukup penting untuk dibunuh
sendiri oleh Voldemort. Dari apa yang kuketahui setelah dia mati, dia masuk cukup
jauh, lalu panik mengenai apa yang harus dikerjakannya dan mencoba mundur. Well,
kau tidak bisa menyerahkan surat pengunduran diri begitu saja kepada Voldemort.
Pilihannya pelayanan seumur hidup atau kematian.'
'Makan siang,' kata suara Mrs Weasley.
Dia sedang mengangkat tongkat tinggi-tinggi di depannya, sambil
menyeimbangkan sebuah nampan besar yang penuh berisi roti isi dan kue dengan
ujung tongkat. Wajahnya sangat merah dan terlihat masih marah. Yang lain berpindah
mendekatinya, ingin mendapatkan makanan, tapi Harry tetap bersama Sirius, yang
telah membungkuk lebih dekat ke permadani.
'Aku belum melihat ini selama bertahun-tahun. Itu Phinneas Nigellus ... kakek
buyutku, lihat? ... Kepala Sekolah paling tidak populer yang pernah dimiliki Hogwarts
... dan Araminta Meliflua ... sepupu ibuku ... mencoba memaksakan Undang-Undang
Kementerian untuk melegalkan perburuan Muggle ... dan Bibi Elladora sayang ... dia
memulai tradisi keluarga memenggal kepala peri-rumah ketika mereka terlalu tua
untuk membawa nampan teh ... tentu saja, tiap kali keluarga menghasilkan seseorang
yang kurang pantas mereka tidak diakui. Kulihat Tonks tidak ada di sini. Mungkin itu
sebabnya Kreacher tidak mau menerima perintah darinya -- dia seharusnya melakukan
apapun yang diminat siapa saja dalam keluarga --'
'Kau dan Tonks berkerabat?' Harry bertanya, terkejut.
'Oh, yeah, ibunya Andromeda adalah sepupu yang paling kusukai,' kata Sirius,
sambil memeriksa permadani dinding itu dengan seksama. 'Tidak, Andromeda juga
tidak di sini, lihat --'
Dia menunjuk ke tanda hangus bulat kecil di antara dua nama, Bellatrix dan
Narcissa.
'Saudara-saudara perempuan Andromeda masih di sini karena mereka menikah
secara terhormat dengan darah-murni, tapi Andromeda menikahi seorang kelahiran
Muggle, Ted Tonks, jadi --'
Sirius memperagakan meledakkan permadani itu dengan sebuah tongkat dan
tertawa masam. Akan tetapi, Harry tidak tertawa; dia terlalu sibuk menatap ke namanama di sebelah kanan tanda hangus Andromeda. Sebuah garis ganda bordir emas
menghubungkan Narcissa Black dengan Lucius Malfoy dan sebuah garis tunggal
vertikal dari nama-nama mereka menuntun ke nama Draco.
'Kau berkerabat dengan keluarga Malfoy!'
'Keluarga-keluarga berdarah-murni semuanya saling berhubungan,' kata Sirius.
'Kalau kau hanya akan membolehkan anak lelaki dan perempuanmu menikahi darahmurni pilihanmu sangat terbatas; hampir tidak ada lagi dari kami yang tersisa. Molly
dan aku bersepupu karena pernikahan dan Arthur semacam sepupu dari sepupuku.
Tapi tidak ada gunanya mencari mereka di sini -- kalau ada keluarga yang merupakan
sekumpulan pengkhianat darah itulah keluarga Weasley.'
Tapi Harry sekarang sedang melihat ke nama-nama di sebelah kiri tanda hangus
Andromeda: Bellatrix Black, yang dihubungkan dengan garis ganda ke Rodolphus
Lestrange.
'Lestrange ...' Harry berkata dengan keras. Nama itu telah menggerakkan sesuatu
dalam ingatannya; dia tahu nama itu dari suatu tempat, tapi selama beberapa saat dia
tidak bisa berpikir di mana, walaupun memberinya sensasi aneh yang menjalar di
dasar perutnya.
'Mereka ada di Azkaban,' kata Sirius singkat.
Harry menatapnya dengan rasa ingin tahu.
'Bellatrix dan suaminya Rodolphus masuk bersama Barty Crouch junior,' kata
Sirius, dengan nada kasar yang sama. 'Saudara lelaki Rodolphus, Rabastan ada
bersama mereka juga.'
Lalu Harry teringat. Dia telah melihat Bellatrix Lestrange di dalam Pensieve
Dumbledore, alat aneh yang dapat menyimpan pikiran dan ingatan: seorang wanita
jangkung berkulit gelap dengan mata berkelopak tebal, yang telah berdiri di
persidangannya dan menyatakan kesetiaanya yang terus-menerus kepada Lord
Voldemort, rasa bangganya karena dia terus berusaha menemukannya setelah
kejatuhannya dan keyakinannya bahwa suatu hari dia akan diberi ganjaran atas
kesetiaannya.
'Kau tidak pernah bilang dia --'
'Apakah ada pengaruhnya kalau dia sepupuku?' sambar Sirius. 'Sejauh menyangkut
diriku, mereka bukan keluargaku. Dia jelas bukan keluargaku. Aku belum melihatnya
sejak aku seumurmu, kecuali kau hitung sekilas waktu dia masuk Azkaban. Apa
menurutmu aku bangga punya kerabat seperti dia?'
'Maaf,' kata Harry dengan cepat, 'aku tidak bermaksud -- aku hanya terkejut, itu
saja --'
'Tidak mengapa, jangan minta maaf,' Sirius bergumam. Dia berpaling dari
permadani dinding itu, tangannya dijejalkan ke dalam kantongnya. 'Aku tidak suka
kembali ke sini,' katanya sambil menatap ke seberang ruang duduk. 'Aku tidak pernah
mengira akan terperangkap di dalam rumah ini lagi.'
Harry mengerti sepenuhnya. Dia tahu bagaimana dia akan merasa, ketika dia sudah
dewasa dan berpikir dirinya bebas dari tempat itu untuk selamanya, harus kembali dan
tinggal di Privet Drive nomor empat.
'Tentu saja ideal untuk Markas Besar,' Sirius berkata. 'Ayahku menempatkan semua
alat pengamanan yang dikenal oleh kelompok penyihir sewaktu dia tinggal di sini.
Tidak tampak di peta, jadi para Muggle tidak akan pernah datang dan berkunjung -seakan-akan mereka mau -- dan sekarang Dumbledore sudah menambahkan
perlindungannya, kau akan sulit mencari rumah yang lebih aman di tempat lain.
Dumbledore adalah Penjaga Rahasia Order, kau tahu -- tak seorangpun bisa
menemukan Markas Besar kecuali dia memberitahu mereka secara pribadi di mana
letaknya -- catatan yang diperlihatkan Moody kepadamu tadi malam, itu dari
Dumbledore ...' Sirius tertawa pendek mirip gonggongan. 'Kalau saja orang tuaku bisa
melihat kegunaan rumah mereka sekarang ... well, potret ibuku pasti sudah
memberimu sejumlah ide ...'
Dia merengut sebentar, lalu menghela napas.
'Aku tidak akan keberatan kalau aku bisa keluar kadang-kadang dan melakukan
sesuatu yang berguna. Aku sudah bertanya kepada Dumbledore apakah aku bisa
mengawalmu ke dengar pendapatmu -- sebagai Snuffles, tentu saja -- sehingga aku
bisa memberimu sedikit dukungan moral, bagaimana menurutmu?'
Harry merasa seakan-akan perutnya telah tenggelam ke karpet berdebu. Dia belum
memikirkan dengar pendapat itu sekalipun sejak makan malam kemarin; dalam
semangatnya kembali bersama orang-orang yang paling disenanginya, dan mendengar
semua yang sedang berlangsung, dengar pendapat itu telah benar-benar keluar dari
kepalanya. Namun, mendengar kata-kata Sirius, rasa takut yang mencekam kembali
timbul dalam dirinya. Dia menatap ke Hermione dan keluarga Weasley, semuanya
sedang makan roti isi, dan berpikir bagaimana perasaannya kalau mereka kembali ke
Hogwarts tanpa dirinya.
'Jangan khawatir,' Sirius berkata. Harry melihat ke atas dan menyadari bahwa Sirius
telah mengamati dirinya. 'Aku yakin mereka akan melepaskanmu, pasti ada sesuatu
dalam Undang-Undang Kerahasiaan Internasional mengenai izin menggunakan sihir
untuk menyelamatkan hidupmu.'
'Tapi kalau mereka mengeluarkanku,' Harry berkata dengan pelan, 'bolehkah aku
kembali ke sini dan tinggal bersamamu?'
Sirius tersenyum sedih.
'Kita lihat nanti.'
'Aku akan merasa jauh lebih baik mengenai dengar pendapat itu kalau aku tahu aku
tidak perlu kembali ke keluarga Dursley,' Harry menekannya.
'Mereka pastilah tidak menyenangkan kalau kau memilih tempat ini,' kata Sirius
dengan suram.
'Cepatlah, kalian berdua, atau tidak akan ada makanan yang tersisa,' Mrs Weasley
memanggil.
Sirius menghela napas sekali lagi, menatap permadani dinding itu dengan
pandangan tidak suka, lalu dia dan Harry pergi bergabung dengan yang lain.
Harry mencoba sebaik mungkin tidak memikirkan dengar pendapat ketika mereka
mengosongkan lemari-lemari berpintu kaca sore itu. Untung saja, itu merupakan
pekerjaan yang membutuhkan banyak konsentrasi, banyak dari benda-benda yang ada
di dalam sana yang terlihat enggan meninggalkan rak-rak berdebu mereka. Sirius
mengalami luka gigitan parah dari sebuah kotak tembakau perak; dalam beberapa
detik tangannya yang tergigit telah tumbuh kulit tebal yang tidak menyenangkan
seperti memakai sarung tangan keras warna coklat.
'Tidak apa-apa,' katanya sambil memeriksa tangannya dengan penuh minat sebelum
mengetuknya dengan ringan dengan tongkatnya dan mengembalikan kulitnya ke
keadaan normal, 'pastilah di dalam itu bubuk Wartcap.'
Dia melemparkan kotak itu ke samping ke dalam kantong tempat mengumpulkan
puing-puing dari lemari-lemari itu; Harry melihat George membelit tangannya dengan
kain secara hati-hati beberapa saat kemudian dan menyelinapkan kotak itu ke dalam
kantongnya yang telah dipenuhi dengan Doxy.
Mereka menemukan sebuah instrumen perak yang tampak tidak menyenangkan,
sesuatu yang mitip pasangan penjepit berkaki banyak, yang berlari menaiki lengan
Harry seperti laba-laba ketika dia memungutnya, dan mencoba menusuk kulitnya.
Sirius menyambarnya dan menghancurkannya dengan sebuah buku tebal yang
berjudul Kemuliaan Alam: Sebuah Silsilah Penyihir. Ada sebuah kotak musik yang
mengeluarkan nada berdenting agak seram ketika diputar, dan mereka semua merasa
menjadi lemah dan mengantuk, sampai Ginny sadar dan membanting tutupnya;
sebuah liontin berat yang tidak bisa mereka buka; sejumlah cap kuno; dan dalam
kotak berdebu, sebuah Order of Merlin, Kelas Pertama, yang telah diserahkan kepada
kakek Sirius untuk 'jasa-jasa bagi Kementerian'.
'Maksudnya dia memberi mereka banyak emas,' kata Sirius dengan menghina
sambil melemparkan medali itu ke dalam kantong sampah.
Beberapa kali Kreacher memasuki ruangan dan mencoba menyeludupkan barangbarang di bawah cawatnya, sambil menggumamkan kutukan-kutukan mengerikan
setiap kali mereka menangkap basahnya. Ketika Sirius merebut sebuah cincin
keemasan besar yang memiliki lambang keluarga Black dari pegangannya, Kreacher
bahkan menangis marah dan meninggalkan ruangan terseduu-sedu dan memanggil
Sirius dengan nama-nama yang belum pernah didengar Harry.
'Itu milik ayahku,' kata Sirius sambil melempar cincin itu ke dalam kantong.
'Kreacher tidak begitu setia kepadanya seperti kepada ibuku, tapi aku masih saja
menangkapnya sedang mencuri sepotong celana tua ayahku minggu lalu.'
*
Mrs Weasley menyibukkan mereka semua selama beberapa hari berikutnya. Ruang
duduk perlu tiga hari untuk disucihamakan. Akhirnya, satu-satunya benda tidak
diinginkan yang tertinggal di dalamnya adalah permadani dinding, yang bertahan
daari semua usaha mereka untuk melepaskannya dari dinding, dan meja tulis yang
berderak itu. Moody belum mampir ke Markas Besar, jadi mereka tidak bisa yakin
apa yang ada di dalam.
Mereka pindah dari ruang duduk ke sebuah ruang makan di lantai dasar di mana
mereka menemukan laba-laba sebesar tatakan cangkir yang bersembunyi di dalam
lemari (Ron meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa untuk membuat secangkir teh
dan tidak kembali selama satu setengah jam). Barang-barang pecah belahnya, yang
memiliki lambang keluarga dan motto Black, semuanya dibuang ke dalam kantong
oleh Sirius, dan nasib yang sama menimpa serangkaian foto-foto tua dalam bingkaibingkai perak ternoda, yang semua penghuninya mendengking dengan nyaring ketika
kaca-kaca yang menutupi mereka pecah.
Snape mungkin menyebut pekerjaan mereka 'membersihkan', tapi menurut
pendapat Harry mereka sebenarnya sedang berperang melawan rumah itu, yang
memberikan perlawanan yang cukup hebat, dibantu dan disekutui oleh Kreacher. Perirumah itu terus di manapun mereka berkelompok, gerutuannya menjadi semakin
menghina selagi dia berusaha memindahkan apapun yang bisa dilakukannya dari
tempat sampah. Sirius bahkan sampai mengancamnya dengan pakaian, tapi Kreacher
memberinya tatapan berair dan berkata, 'Tuan harus melakukan yang Tuan inginkan,'
sebelum berpaling dan menggerutu dengan sangat keras, 'tapi Tuan tidak akan
mengenyahkan Kreacher, tidak, karena Kreacher tahu apa yang sedang mereka
rencanakan, oh ya, dia sedang membuat rencana melawan Pangeran Kegelapan, ya,
dengan para Darah-lumpur ini dan pengkhianat dan sampah ...'
Mendengar itu Sirius, sambil mengabaikan protes Hermione, menyambar Kreacher
di bagian belakang cawatnya dan melemparkannya keluar dari ruangan itu.
Bel pintu berbunyi beberapa kali dalam sehari, yang merupakan petunjuk bagi ibu
Sirius untuk mulai memekik lagi, dan bagi Harry dan yang lain untuk mencoba
mencuri dengar para pengunjung, walaupun mereka mengumpulkan sangat sedikit
keterangan dari kilasan dan potongan singkat percakapan yang bisa mereka kuping
sebelum Mrs Weasley menyuruh mereka kembali ke tugas mereka. Snape keluarmasuk rumah itu beberapa kali lagi, walaupun yang membuat Harry lega mereka
belum pernah bertatap muka; Harry juga melihat guru Transfigurasinya Professor
McGonagall, terlihat sangat aneh dalam baju dan mantel Muggle, dan dia juga terlihat
terlalu sibuk untuk berlama-lama. Akan tetapi, kadang-kadang para pengunjung
tinggal untuk membantu. Tonks bergabung dengan mereka dalam sebuah sore yang
penuh kenangan di mana mereka menemukan hantu tua pembunuh yang bersembunyi
di toilet atas, dan Lupin, yang tinggal di rumah itu bersama Sirius tapi
meninggalkannya untuk waktu yang lama untuk melakukan pekerjaan misterius bagi
Order, membantu mereka memperbaiki sebuah jam berdiri yang memiliki kebiasaan
tidka menyenangkan yaitu menembakkan baut-baut berat ke orang-orang yang
melewatinya. Mundungus menebus dirinya sedikit dalam mata Mrs Weasley dengan
menyelamatkan Ron dari satu stel jubah ungu kuno yang mencoba mencekiknya
ketika dia memindahkannya dari lemari.
Walaupun dia masih susah tidur, masih bermimpi mengenai koridor-koridor dan
pintu-pintu terkunci yang membuat bekas lukanya perih, Harry berhasil bersenangsenang untuk pertama kalinya sepanjang musim panas itu. Selama dia sibuk dia
gembira; namun ketika aksinya mereda, kapanpun dia kurang waspada, atau berbaring
kelelahan di tempat tidur sambil mengamati bayangan-bayangan kabur yang bergerak
di langit-langit, pikiran mengenai dengar pendapat Kementerian yang membayang
kembali kepada dirinya. Rasa takut menerkam bagian dalam tubuhnya seperti jarum
ketika dia bertanya-tanya apa yang akan terjadi kepada dirinya kalau dia dikeluarkan.
Gagasan itu begitu mengerikan sehingga dia tidak berani mengucapkannya keraskeras, bahkan tidak kepada Ron dan Hermione, yang, walaupun dia sering melihat
mereka berbisik satu sama lain dan memandang ke arahnya dengan cemas, mengikuti
petunjukkan dengan tidak menyebut hal itu. Kadang-kadang, dia tidak bisa
menghalangi imajinasinya memperlihatkan kepada dirinya seorang pejabat
Kementerian yang tidak berwajah yang sedang mematahkan tongkatnya menjadi dua
dan memerintahkannya kembali ke keluarga Dursley ... tapi dia tidak mau pergi. Dia
sudah menetapkan hati dalam hal itu. Dia akan kembali ke sini ke Grimmauld Place
dan tinggal bersama Sirius.
Dia merasa seolah-olah sebuah batu bata telah jatuh ke dalam perutnya ketika Mrs
Weasley berpaling kepadanya sewaktu makan malam pada Rabu malam dan berkata
dengan pelan, 'Aku telah menyetrika baju terbaikmu untuk besok pagi, Harry, dan aku
juga mau kau mencuci rambut malam ini. Kesan pertama yang baik bisa membuat
keajaiban.'
Ron, Hermione, Fred, George dan Ginny semuanya berhenti berbicara dan melihat
kepadanya. Harry mengangguk dan mencoba tetap makan, tapi mulutnya telah
menjadi begitu kering sehingga dia tidak bisa mengunyah.
'Bagaimana aku akan pergi ke sana?' dia bertanya kepada Mrs Weasley, sambil
mencoba terdengar tidak khawatir.
'Arthur akan membawamu ke tempat kerja bersamanya,' kata Mrs Weasley dengan
lembut.
Mr Weasley tersenyum menguatkan kepada Harry dari seberang meja.
'Kau bisa menunggu di kantorku sampai waktunya untuk dengar pendapat,'
katanya.
Harry memandang Sirius, tetapi sebelum dia bisa bertanya, Mrs Weasley telah
menjawabnya.
'Professor Dumbledore mengira bukan ide yang bagus bagi Sirius untuk pergi
bersamamu, dan harus kubilang aku --'
'-- mengira dia benar,' kata Sirius melalui gigi-gigi yang dikatupkan.
Mrs Weasley mengerutkan bibirnya.
'Kapan Dumbledore memberitahumu hal itu?' Harry berkata, sambil menatap
Sirius.
'Dia datang tadi malam, ketika kau masih tidur,' kata Mrs Weasley.
Sirius menusuk kentangnya dengan murung. Harry menurunkan pandangannya ke
piringnya sendiri. Pikiran bahwa Dumbledore telah berada dalam rumah ini pada
malam sebelum dengar pendapatnya dan tidak meminta untuk bertemu dengannya
membuat dia merasa, kalau mungkin, bahkan lebih buruk lagi.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB TUJUH -Kementerian Sihir
Harry terbangun pukul setengah enam pagi berikutnya dengan kasar seakan-akan
seseorang telah berteriak di telinganya. Selama beberapa saat dia berbaring tidak
bergerak selagi prospek dengar pendapat itu memenuhi setiap partikel kecil dari
otaknya, lalu, tidak mampu lagi menahannya, dia melompat dari tempat tidur dan
memakai kacamatanya. Mrs Weasley telah meletakkan celana jins dan baju kausnya
yang baru dicuci di kaki tempat tidurnya. Harry memakainya. Lukisan kosong di
dinding mencibir.
Ron terbaring telentang dengan mulut terbuka, tertidur nyenyak. Dia tidak bergerak
ketika Harry menyeberangi ruangan, melangkah ke puncak tangga dan menutup pintu
pelan-pelan. Mencoba tidak memikirkan kali berikutnya dia akan berjumpa dengan
Ron, ketika mereka mungkin bukan teman sekolah di Hogwarts lagi, Harry berjalan
dengan pelan menuruni tangga, melewati kepala-kepala nenek moyang Kreacher, dan
turun ke dapur.
Dia telah mengharapkan dapur itu kosong, tapi ketika dia mencapai pintu dia
mendengar suara-suara pelan di sisi lain. Dia mendorong pintu itu hingga terbuka dan
melihat Mr dan Mrs Weasley, Sirius, Lupin dan Tonks duduk di sana hampir seolaholah mereka sedang menunggunya. Semuanya berpakaian lengkap kecuali Mrs
Weasley yang mengenakan sebuah gaun longgar berwarna ungu. Dia melompat
bangkit saat Harry masuk.
'Makan pagi,' katanya selagi dia menarik keluar tongkatnya dan bergegas ke api.
'P -- p -- pagi, Harry,' Tonks menguap. Rambutnya pirang dan keriting pagi ini.
'Tidur nyenyak?'
'Yeah,' kata Harry.
'Aku t -- t -- telah terjaga semalaman,' katanyan dengan kuapan menggetarkan lagi.
'Kemari dan duduklah ...'
Dia menarik keluar sebuah kursi, menjatuhkan satu lagi di sampingnya sewaktu
melakukannya.
'Apa yang kau mau, Harry?' Mrs Weasley memanggil. 'Bubur? Muffin? Ikan asap?
Daging dan telur? Roti panggang?'
'Cukup -- cukup roti panggang saja,' kata Harry.
Lupin memandang Harry sekilas, lalu berkata kepada Tonks, 'Apa yang kau
katakan mengenai Scrimgeour?'
'Oh ... yeah ... well, kita perlu lebih berhati-hati, dia telah menanyakan pertanyaanpertanyaan aneh kepada Kingsley dan aku ...'
Harry merasa agak berterima kasih karena dia tidak perlu bergabung dalam
percakapan. Bagian dalam tubuhnya menggeliat. Mrs Weasley menempatkan
sejumlah roti panggang dan selai jeruk di depannya; dia mencoba makan, tapi rasanya
seperti mengunyah karpet. Mrs Weasley duduk di sisinya yang lain dan mulai
mengurusi kaosnya, memasukkan labelnya dan merapikan lipatan-lipatan di bahunya.
Dia berharap hal itu tidak dilakukannya.
'... dan aku akan harus memberitahu Dumbledore bahwa tidak bisa melakukan
tugas malam besok, aku hanya terlalu letih,' Tonks menyelesaikan sambil menguap
lebar-lebar lagi.
'Aku akan menggantikanmu,' kata Mr Weasley. 'Aku baik-baik saja, lagipula aku
punya laporan yang harus diselesaikan ...'
Mr Weasley tidak memakai jubah penyihir melainkan sepasang celana panjang
bergaris-garis dan sebuah jaket penerbang tua. Dia berpaling dari Tonks kepada
Harry.
'Bagaimana perasaanmu?'
Harry mengangkat bahu.
'Segalanya akan segera berakhir,' Mr Weasley berkata untuk menguatkan.
'Dalam beberapa jam kau akan dilepaskan.'
Harry tidak berkata apa-apa.
'Dengar pendapatnya ada di lantaiku, dalam kantor Amelia Bones. Dia Kepala
Departemen Penegakan Hukum Sihir, dan merupakan orang yang akan menanyaimu.'
Harry menganguk, masih tidak mampu memikirkan apapun untuk dikatakan.
'Jangan kehilangan kendali,' kata Sirius dengan mendadak. 'Bersikap sopan dan
tetap pada fakta.'
Harry mengangguk lagi.
'Hukum ada di pihakmu,' kata Lupin dengan pelan. 'Bahkan penyihir di bawah
umur dibolehkan menggunakan sihir dalam situasi yang mengancam nyawa.'
Sesuatu yang sangat dingin mengucur di balik leher Harry, sejenak dia mengira
seseorang menempatkan Mantera Penghilang-Ilusi kepada dirinya, lalu dia menyadari
bahwa Mrs Weasley sedang menyerang rambutnya dengan sebuah sisir basah. Dia
menekan keras ke puncak kepalanya.
'Tidak pernahkah rambutmu jadi rata?' dia berkata dengan putus asa.
Harry menggelengkan kepalanya.
Mr Weasley memeriksa jam tangannya dan memandang kepada Harry.
'Kukira kita harus pergi sekarang,' katanya. 'Kita agak kepagian, tapi kukira kau
lebih baik di Kementerian daripada berkeliaran di sini.'
'OK,' kata Harry dengan otomatis, sambil meletakkan roti panggangnya dan
bangkit.
'Kau akan baik-baik saja, Harry,' kata Tonks, sambil menepuk lengannya.
'Semoga berhasil,' kata Lupin. 'Aku yakin semuanya akan baik-baik saja.'
'Dan kalau tidak,' kata Sirius dengan suram, 'akan kutemui Amelia Bones untukmu
...'
Harry tersenyum lemah. Mrs Weasley memeluknya.
'Kami semua menyilangkan jari kami,' katanya.
'Benar,' kata Harry. 'Well ... kalau begitu sampai jumpa nanti.'
Dia mengikuti Mr Weasley ke atas dan menyusuri aula. Dia bisa mendengar
dengkuran ibu Sirius dalam tidurnya di belakang tirainya. Mr Weasley membuka
pintu dan mereka melangkah ke fajar yang dingin dan kelabu.
'Anda tidak biasanya berjalan ke tempat kerja, 'kan?' Harry menanyainya ketika
mereka berjalan dengan cepat mengelilingi alun-alun.
'Tidak, aku biasanya ber-Apparate,' kata Mr Weasley, 'tapi tentu saja kamu tidak
bisa, dan kukira yang terbaik adalah kita tiba dengan cara yang benar-benar nonmagis ... memberi kesan yang lebih baik, mengingat untuk apa kau didisiplinkan ...'
Mr Weasley menyimpan tangannya di dalam jaketnya selagi mereka berjalan.
Harry tahu tangan itu menggenggam erat tongkatnya. Jalan-jalan yang sering dilalui
itu hampir lengang, tapi ketika mereka tiba di stasiun bawah tanah yang menyedihkan
mereka menemukannya sudah penuh akan orang-orang yang akan berangkat kerja di
pagi hari. Seperti biasanya ketika dia berada dalam jarak dekat dengan para Muggle
yang melaksanakan urusan sehari-hari mereka, Mr Weasley sulit mengekang rasa
antusiasnya.
'Benar-benar hebat,' dia berbisik, sambil menunjuk mesin-mesin tiket otomatis.
'Luar biasa cemerlang.'
'Mesin-mesin itu rusak,' kata Harry sambil menunjuk ke tandanya.
'Ya, tapi walaupun begitu ...' kata Mr Weasley, sambil tersenyum kepada mereka
dengan senang.
Mereka membeli tiket dari seorang penjaga yang tampak mengantuk (Harry
menangani transaksi itu, karena Mr Weasley tidak begitu pandai dalam hal uang
Muggle) dan lima menit kemudian mereka telah menaiki sebuah kereta bawah tanah
yang berderak membawa mereka menuju pusat kota London. Mr Weasley terus
memeriksa dan memeriksa ulang Peta Bawah Tanah di atas jendela dengan cemas.
'Empat pemberhentian lagi, Harry ... Tiga pemberhentian lagi sekarang ... Tinggal
dua pemberhentian, Harry ...'
Mereka turun di sebuah stasiun di jantung kota London, dan tersapu dari kereta api
itu dalam luapan pria dan wanita bersetelan jas yang membawa tas kantor. Mereka
menaiki eskalator, melalui penghalang tiket (Mr Weasley senang melihat cara alat itu
menelan tiketnya), dan muncul ke sebuah jalan lebar yang dibarisi gedung-gedung
yang tampak sesak dan sudah penuh dengan lalu lintas.
'Di mana kita?' kata Mr Weasley dengan hampa, dan selama beberapa saat yang
mendebarkan Harry mengira mereka turun di stasiun yang salah walaupun Mr
Weasley terus memperhatikan peta; tapi sedetik kemudian dia berkata, 'Ah ya ... lewat
sini, Harry,' dan menuntunnya menyusuri satu sisi jalan.
'Maaf,' katanya, 'tapi aku belum pernah datang lewat kereta api dan kelihatannya
agak berbeda dari sudut pandang Mugglel. Bahkan kenyataannya, aku belum pernah
menggunakan pintu masuk tamu sebelumnya.'
Semakin jauh mereka berjalan, semakin kecil dan kurang sesak gedung-gedungnya,
sampai akhirnya mereka mencapai sebuah jalan yang mengandung beberapa kantor
yang tampak agak kusam, sebuah pub dan sebuah tong sampah yang kepenuhan.
Harry telah mengharapkan lokasi yang lebih mengesankan untuk Kementerian Sihir.
'Di sinilah kita,' kata Mr Weasley dengan ceria, sambil menunjuk ke sebuah kotak
telepon tua berwarna merah yang kehilangan beberapa panel kaca dan berdiri di
sebelah sebuah dinding yang penuh coretan. 'Setelah kau, Harry.'
Dia membuka pintu kotak telepon itu.
Harry melangkah ke dalam, sambil bertanya-tanya apa maksudnya ini. Mr Weasley
melipat dirinya ke samping Harry dan menutup pintu. Tempatnya sangat pas; Harry
terdesak ke alat penelepon, yang bergantung miring dari dinding seakan-akan seorang
perusak telah mencoba menariknya lepas. Mr Weasley menjangkau alat penerima
melewati Harry.
'Mr Weasley, kukira yang ini mungkin rusak juga,' Harry berkata.
'Tidak, tidak, aku yakin baik-baik saja,' kata Mr Weasley sambil memegang alat
penerima di atas kepalanya dan menatap pemutarnya. 'Mari lihat ... enam ...' dia
memutar angka itu, 'dua ... empat ... dan empat lagi ... dan dua lagi ...'
Ketika pemutar ini berdesing balik ke tempatnya, sebuah suara wanita yang tenang
terdengar di dalam kotak telepon itu, bukan dari alat penerima di tangan Mr Weasley,
tetapi keras dan jelas seakan-akan seorang wanita yang tidak tampak sedang berdiri
tepat di samping mereka.
'Selamat datang di Kementerian Sihir. Tolong sebutkan nama dan urusan Anda.'
'Er ...' kata Mr Weasley, jelas tidak yakin apakah harus berbicara ke dalam alat
penerima. Dia memutuskan dengan memegang corong ke telinganya, 'Arthur
Weasley, Kantor Penyalahgunaan Benda-Benda Muggle, ke sini untuk mengawal
Harry Potter, yang telah diminta untuk menghadiri sidang dengar pendapat
kedisiplinan ...'
'Terima kasih,' kata suara wanita yang tenang itu. 'Pengunjung, harap mengambil
lencana dan menyematkannya ke bagian depan jubah Anda.'
Ada suara klik dan derak, dan Harry melihat sesuatu meluncur keluar dari luncuran
logam tempat koin-koin kembalian biasanya muncul. Dia memungutnya: itu adalah
sebuah lencana perak persegi dengan tulisan Harry Potter, Dengar Pendapat
Kedisiplinan di atasnya. Dia menyematkannya ke bagian depan kaosnya ketika suara
wanita itu berbicara lagi.
'Pengunjung Kementerian, Anda diharuskan melalui pemeriksaan dan menyerahkan
tongkat Anda untuk diregistrasi di meja keamanan, yang terletak di ujung jauh dari
Atrium.'
Lantai kotak telepon bergetar. Mereka tenggelam pelan-pelan ke bawah tanah.
Harry mengamati dengan gelisah selagi trotoar tampak naik melewati jendela-jendela
kaca dari kotak telepon hingga kegelapan menutupi kepala mereka. Lalu dia tidak bisa
melihat apa-apa sama sekali; dia hanya bisa mendengar suara menggilas yang
membosankan ketika kotak telepon itu semakin turun ke dalam bumi. Setelah sekitar
satu menit, walaupun terasa jauh lebih lama bagi Harry, seberkas cahaya keemasan
menerangi kakinya dan, semakin melebar, menaiki tubuhnya, sampai menghantamnya
di wajah dan dia harus berkedip untuk menghentikan matanya berair.
'Kementerian Sihir mengharapkan Anda melalui hari yang menyenangkan,' kata
suara wanita itu.
Pintu kotak telepon mendadak terbuka dan Mr Weasley melangkah keluar, diikuti
oleh Harry, yang mulutnya telah terbuka.
Mereka sedang berdiri di salah satu ujung dari sebuah aula yang sangat panjang dan
bagus dengan lantai kayu gelap yang digosok mengkilap. Langit-langit biru merak
bertatahkan simbol-simbol keemasan yang berkilauan yang terus bergerak dan
berubah-ubah seperti papan penujuk yang sangat besar. Dinding-dindig di kedua sisi
diberi panel kayu gelap mengkilat dan memiliki banyak perapian berbingkai yang
ditempatkan padanya. Tiap beberapa detik seorang penyihir wanita atau pria akan
muncul dari salah satu perapian di sisi kiri dengan bunyi whoosh lembut. Di sisi
kanan, antrian-antrian pendek terbentuk di depan masing-masing perapian, menunggu
untuk berangkat.
Di tengah aula ada sebuah air mancur. Sekelompok patung keemasan, berukuran
lebih besar dari aslinya, berdiri di tengah sebuah kolam melingkar. Yang tertinggi dari
mereka semua adalah seorang penyihir pria yang tampak mulai dengan tongkatnya
yang menunjuk tegak ke udara. Berkelompok di sekitarnya ada seorang penyihir
wanita cantik, centaur, goblin dan peri-rumah. Tiga yang terakhir sedang memandang
ke atas dengan penuh pemujaan kepada si penyihir wanita dan pria. Semburan air
yang berkilauan terbang dari ujung-ujung tongkat mereka, ujung anak panah si
centaur, puncak topi si goblin dan dari tiap-tiap telinga si peri-rumah, sehingga suara
air jatuh yang berdenting ditambahkan ke suara pop dan crack orang-orang yang berApparate dan suara bising langkah-langkah kaki ketika ratusan penyihir wanita dan
pria, kebanyakan memiliki tampang pagi yang murung, berjalan menuju serangkaian
gerbang keemasan di ujung jauh dari aula itu.
'Lewat sini,' kata Mr Weasley.
Mereka bergabung dengan gerombolan, mengambil jalan di antara para pekerja
Kementerian, beberapa di antaranya membawa tumpukan-tumpukan perkamen, yang
lain membawa tas-tas kerja yang penyok; yang lainnya lagi sedang membaca Daily
Prophet selagi berjalan. Ketika mereka melewati air mancur itu Harry melihat SickleSickle perak dan Knut-Knut tembaga berkilauan ke arahnya dari dasar kolam. Tanda
corengan kecil di sampingnya bertuliskan:
SEMUA PEMASUKAN DARI AIR MANCUR PERSAUDARAAN SIHIR
AKAN DIBERIKAN
KEPADA RUMAH SAKIT ST MUNGO UNTUK PENYAKIT DAN LUKA
SIHIR
Kalau aku tidak dikeluarkan dari Hogwarts, aku akan memasukkan sepuluh Galleon,
Harry menemukan dirinya berpikir dengan putus asa.
'Sebelah sini, Harry,' kata Mr Weasley, dan mereka melangkah keluar dari aliran
pegawai Kementerian yang menuju gerbang-gerbang keemasan itu. Duduk di meja di
sebelah kiri, di bawah tanda yang bertuliskan Keamanan, seorang penyihir yang
cukurannya jelek dalam jubah biru merak melihat ke atas ketika mereka mendekat dan
meletakkan Daily Prophetnya.
'Aku mengawal seorang tamu,' kata Mr Weasley sambil memberi isyarat kepada
Harry.
'Melangkahlah ke sini,' kata penyihir itu dengan suara bosan.
Harry berjalan lebih dekat kepadanya dan penyihir itu memegang sebuah tongkat
keemasan panjang yang tipis dan luwes seperti antena mobil, dan melewatkannya ke
atas dan ke bawah bagian depan dan belakang tubuh Harry.
'Tongkat,' gerutu penyihir keamanan kepada Harry sambil meletakkan instrumen
keemasan itu dan mengulurkan tangannya.
Harry mengeluarkan tongkatnya. Penyihir itu menjatuhkannya ke sebuah instrumen
kuningan aneh, yang tampak seperti satu set timbangan dengan hanya satu piring.
Instrumen itu mulai bergetar. Secarik perkamen panjang keluar dengan cepat dari
lubang di dasarnya. Penyihir itu mengoyaknya dan membaca tulisan di atasnya.
'Sebelas inci, inti bulu phoenix, telah digunakan selama empat tahun. Itu benar?'
'Ya,' kata Harry dengan gugup.
'Akan kusimpan ini,' kata penyihir itu, sambil menusukkan perkamen itu ke sebuah
paku besar kuningan. 'Kau mendapatkan ini kembali,' tambahnya sambil
mendesakkan tongkat itu kepada Harry.
'Terima kasih.'
'Tunggu dulu ...' kata si penyihir pelan-pelan.
Matanya telah beralih dari lencana pengunjung perak di dada Harry ke dahinya.
'Terima kasih, Eric,' kata Mr Weasley dengan tegas, dan sambil mencengkeram
bahu Harry dia menuntunnya menjauh dari meja itu dan kembali ke aliran penyihir
pria dan wanita yang sedang berjalan melalui gerbang-gerbang keemasan.
Agak terdesak oleh kerumunan, Harry mengikuti Mr Weasley melalui gerbanggerbang itu ke dalam aula yang lebih kecil di belakangnya, di mana setidaknya dua
puluh lift berdiri di belakang jeruji-jeruji keemasan yang ditempa. Di dekatnya,
berdiri seorang penyihir besar berjanggut yang memegang sebuah kotak karton besar
yang mengeluarkan suara-suara parau.
'Baik-baik saja, Arthur?' kata si penyihir, sambil mengangguk kepada Mr Weasley.
'Apa yang kau punya di sana, Bob?' tanya Mr Weasley, sambil melihat ke kotak itu.
'Kami tidak yakin,' kata penyihir itu dengan serius. 'Kami kira ayam kampung
standar sampai dia mulai mengeluarkan napas api. Bagiku kelihatannya seperti
penyimpangan serius dari Larangan Pembiakan Eksperimental.'
Dengan suara gemerincing dan berisik sebuah lift turun ke depan mereka; jeruji
keemasannya bergeser membuka dan Harry dan Mr Weasley melangkah masuk ke
dalam lift dengan sisa kerumunan dan Harry menemukan dirinya terdesak di dinding
belakang. Beberapa penyihir wanita dan pria sedang memandanginya dengan rasa
ingin tahu; dia menatap kakinya untuk menghindari pandangan siapapun, sambil
meratakan poninya. Jeruji-jeruji bergeser tertutup dengan suara benturan dan lift itu
naik pelan-pelan, rantai-rantai berderak, sementara suara wanita tenang yang sama
seperti yang didengar Harry dalam kotak telepon terdengar lagi.
'Tingkat Tujuh, Departemen Permainan dan Olahraga Sihir, tergabung dengan
Markas Besar Liga Quidditch Inggris dan Irlandia, Klub Gobstones Resmi dan Kantor
Paten Menggelikan.'
Pintu-pintu lift membuka. Harry melihat sekilas sebuah koridor yang tampak tidak
rapi, dengan berbagai poster tim-tim Quidditch yang dipakukan miring di dinding.
Salah satu penyihir di lift, yang sedang membawa satu lengan penuh sapu, keluar
dengan susah payah dan menghilang ke koridor. Pintu menutup, lift berguncang naik
lagi dan suara wanita tersebut mengumumkan.
'Tingkat enam, Departemen Transportasi Sihir, tergabung dengan Kekuasaan
Jaringan Floo, Pengendalian Peraturan Sapu, Kantor Portkey dan Pusat Pengujian
Aparrasi.'
Sekali lagi pintu-pintu lift terbuka dan empat atau lima orang penyihir wanita dan
pria keluar; pada saat yang sama, beberapa pesawat terbang kertas meluncur masuk ke
dalam lift. Harry memandangi mereka ketika mereka mengepak-ngepak pelan di atas
kepalanya; berwarna violet pucat dan dia bisa melihat Kementerian Sihir dicapkan di
tepi sayap-sayap mereka.
'Cuma memo antar-departemen,' Mr Weasley bergumam kepadanya. 'Kami dulu
menggunakan burung hantu, tapi kotornya tidak tanggung ... kotoran binatang di
semua meja ...'
Ketika mereka berdentang naik lagi memo-memo itu berkepak di sekitas lampu
yang berayun dari langit-langit lift.
'Tingkat lima, Departemen Kerja-Sama Sihir Internasional, tergabung dengan
Badan Standar Perdagangan Sihir Internasional, Kantor Hukum Sihir Internasional
dan Konfederasi Penyihir Internasional, Kedudukan Inggris.'
Ketika pintu terbuka, dua di antara memo-memo tersebut meluncur keluar bersama
beberapa penyihir wanita dan pria, tapi beberapa memo meluncur masuk, sehingga
cahaya lampu berkelap-kelip di atas kepala ketika memo-memo itu terbang di
sekitarnya.
'Tingkat Empat, Departemen Peraturan dan Pengendalian Makhluk Sihir, tergabung
dengan Divisi Makhluk Buas, Jejadian dan Roh, Kantor Hubungan Goblin dan Biro
Penasihat Hama.'
'P'misi,' kata penyihir pria yang membawa ayam yang mengeluarkan napas api dan
dia meninggalkan lift sambil dikejar oleh sekelompok kecil memo. Pintu-pintu
berdentang menutup lagi.
'Tingkat Tiga, Departemen Kecelakaan dan Bencana Sihir, termasuk Regu
Pembalik Kecelakaan Sihir, Markas Besar Pengubah Memori dan Komite Pembuat
Alasan Muggle.'
Semua orang meninggalkan lift pada lantai ini kecuali Mr Weasley, Harry dan
seorang penyihir wnaita yang sedang membaca sepotong perkamen yang luar biasa
panjangnya sehingga sampai menjulur ke lantai. Memo-memo yang tersisa terus
membumbung di sekitar lampu selagi lift berguncang naik lagi, lalu pintu-pintu
membuka dan suara itu mengeluarkan pengumuman.
'Tingkat dua, Departemen Penegakan Hukum Sihir, termasuk Kantor Penggunaan
Sihir yang Tidak Pantas, Markas Besar Auror dan Jasa Administrasi Wizengamot.'
'Di sinilah kita, Harry,' kata Mr Weasley, dan mereka mengikuti penyihir wanita itu
keluar lift ke sebuah koridor yang dibarisi dengan pintu-pintu. 'Kantorku ada di sisi
lain dari lantai ini.'
'Mr Weasley,' kata Harry ketika mereka melewati sebuah jendela yang dipancari
oleh sinar matahari, 'bukankah kita masih berada di bawah tanah?'
'Ya, memang,' kata Mr Weasley. 'Itu adalah jendela-jendela yang disihir. Bagian
Pemeliharaan Sihir memutuskan cuaca apa yang akan kami dapatkan setiap hari.
Kami dapat dua bulan badai topan terakhir kali sewaktu mereka sedang menuntut
kenaikan gaji ... Putar di sini, Harry.'
Mereka memutar di sudut, berjalan melalui sepasang pintu kayu ek yang berat dan
muncul di sebuah daerah terbuka yang kacay yang dibagi ke dalam ruang-ruang kecil,
yang berdengung dengan suara percakapan dan tawa. Memo-memo meluncur keluarmasuk ruang-ruang kecil itu seperti roket-roket kecil. Sebuah tanda miring di ruang
kecil terdekat bertuliskan: Markas Besar Auror.
Harry mencuri-curi pandang melalui ambang pintu ketika mereka lewat. Para Auror
telah menutupi dinding-dinding ruang kecil mereka dengan semua benda dari gambargambar para penyihir yang buron dan foto-foto keluarga mereka, hingga poster-poster
tim Quidditch favorit mereka dan artikel-artikel dari Daily Prophet. Seorang lelaki
berjubah merah tua dengan ekor rambut yang lebih panjang dari milik Bill sedang
duduk dengan sepatu botnya di atas mejanya, sambil mendiktekan sebuah laporan
kepada pena bulunya. Sedikit jauh lagi, seorang penyihir wanita dengan penutup di
salah satu matanya sedang berbincang-bincang melalui bagian atas ruang kecilnya
kepada Kingsley Shacklebolt.
'Pagi, Weasley,' kata Kingsley dengan serampangan, ketika mereka mendekat. 'Aku
telah ingin berbicara kepadamu, apakah kau punya waktu sedetik?'
'Ya, kalau benar hanya sedetik,' kata Mr Weasley, 'Aku agak terburu-buru.'
Mereka berbicara seakan-akan hampir tidak mengenal satu sama lain dan ketika
Harry membuka mulut untuk mengatakan halo kepada Kingsley, Mr Weasley
menginjak kakinya. Mereka mengikuti Kingsley sepankang barisan itu dan ke dalam
ruang kecil yang terakhir.
Harry agak terkejut; dari segala arah tampak wajah Sirius berkedip-kedip
kepadanya. Potongan-potongan surat kabar dan foto-foto tua -- bahwa foto di mana
Sirius menjadi pendamping pengantin di pernikahan keluarga Potter -- melapisi
dinding-dinding. Satu-satunya ruang yang bebas-Sirius hanyalah sebuah peta dunia
dengan jarum-jarum merah kecil yang berkilau seperti permata.
'Ini,' kata Kingsley dengan kasar kepada Mr Weasley, sambil menyodorkan secarik
perkamen ke dalam tangannya. 'Aku perlu informasi sebanyak mungkin tentang
kendaraan-kendaraan Muggle terbang yang terlihat dalam dua belas bulan belakangan
ini. Kami telah menerima informasi bahwa Black mungkin masih menggunakan
sepeda motor tuanya.'
Kingsley memberi Harry kedipan besar dan menambahkan, dengan berbisik,
'Berikan kepadanya majalah itu, dia mungkin menganggapnya menarik.' Lalu dengan
nada normal, 'Dan jangan terlalu lama, Weasley, penundaan pada laporan kaki api itu
menahan penyelidikan kami hingga sebulan.'
'Kalau kau telah membaca laporanku, kau akan tahu bahwa istilahnya adalah
senjata api,' kata Mr Weasley dengan dingin. 'Dan kutakut kau harus menunggu demi
informasi sepeda motor itu; saat ini kami sangat sibuk.' Dia menurunkan suaranya dan
berkata, 'Kalau kau bisa pergi sebelum jam tujuh, Molly membuat bakso.'
Dia memberi isyarat kepada Harry dan menuntunnya keluar dari ruang kecil
Kingsley, melalui pintu kayu ek yang kedua, ke gang lain, belok kiri, berderap
sepanjang koridor lain, dan akhirnya mencapai jalan buntu, di mana terdapat sebuah
pintu yang terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah lemari sapu, dan sebuah pintu di
sebelah kanan yang memiliki plakat kuningan pudar yang bertuliskan:
Penyalahgunaan Benda-Benda Muggle.
Kantor Mr Weasley yang suram kelihatannya sedikit lebih kecil daripada lemari
sapu itu. Dua meja tulis telah dijejalkan ke dalamnya dan hampir tidak ada ruang
untuk bergerak di sekitar meja-meja itu karena adanya semua lemari-lemari arsip
kepenuhan yang berbaris di dinding, di puncak lemari-lemari itu berceceran
tumpukan-tumpukan arsip. Ruang kecil yang tersedia di dinding menjadi saksi obsesi
Mr Weasley: beberapa poster mobil, termasuk satu poster mesin yang dibongkar; dua
ilustrasi kotak pos yang kelihatannya dipotong dari buku cerita anak-anak Muggle;
dan sebuah diagram yang memperlihatkan bagaimana memasang kabel pada steker.
Di atas nampan pesan masuk Mr Weasley yang kepenuhan terdapat sebuah alat
pemanggang roti yang sedang berdeguk dengan sedih dan sepasang sarung tangan
kosong yang sedang memutar-mutarkan jempolnya. Sebuah foto keluarga Weasley
berada di sebelah nampan pesan masuk itu. Harry memperhatikan bahwa Percy
tampak telah keluar dari foto itu.
'Kami tidak punya jendela,' kata Mr Weasley meminta maaf, sambil melepaskan
jaket penerbangnya dan menempatkannya di belakang kursinya. 'Kami sudah minta,
tapi mereka tampaknya mengira kami tidak perlu satu. Duduklah, Harry, kelihatannya
Perkins belum tiba.'
Harry menyelipkan dirinya ke dalam kursi di belakang meja tulis Perkins sementara
Mr Weasley mencari-cari dengan seksama pada carikan perkamen yang telah
diberikan Kingsley kepadanya.
'Ah,' katanya sambil nyengir, ketika dia mengeluarkan sebuah salinan majalah yang
berjudul The Quibbler dari tengahnya, 'ya ...' Dia membalik-baliknya, 'Ya, dia benar,
aku yakin Sirius akan menganggapnya sangat lucu -- oh, apa ini sekarang?'
Sebuah memo baru saja meluncur masuk melalui pintu yang terbuka dan berkibar
sampai terdiam di atas alat pemanggang roti yang berdeguk itu. Mr Weasley
membuka lipatannya dan membacanya kuat-kuat.
'"Toilet umum muntah yang ketiga dilaporkan di Bethnal Green, harap segera
diselidiki." Ini mulai edan ...'
'Toilet muntah?'
'Olok-olok anti-Muggle,' kata Mr Weasley sambil merengut. 'Kami dapat dua
minggu lalu, satu di Wimbledon, satu di Elephant and Castle. Para Muggle menarik
tuas penyiramnya dan bukannya semua menghilang -- well, kau bisa membayangkan.
Orang-orang malang itu terus memanggil para -- tukang deleng, kukira itu sebutan
mereka -- kau tahu, yang memperbaiki pipa dan segalanya.'
'Tukang ledeng?'
'Tepat, ya, tapi tentu saja mereka kewalahan. Aku hanya berharap kami dapat
menangkap siapapun yang melakukannya.'
'Apakah para Auror yang akan menangkap mereka?'
'Oh bukan, itu terlalu sepele bagi para Auror, haruslah Patroli Penegakan Hukum
Sihir -- ah Harry, ini Perkins.'
Seorang penyihir tua yang bungkuk dan tampak malu-malu dengan rambut putih
halus baru saja memasuki ruangan sambil terengah-engah.
'Oh, Arthur!' dia berkata dengan putus asa, tanpa melihat kepada Harry. 'Syukurlah,
aku tidak tahu apa yang terbaik untuk dilakukan, apakah harus menunggu kamu di
sini atau tidak. Aku baru saja mengirim burung hantu ke rumahmu tapi jelas saja kau
tidak menerimanya -- sebuah pesan penting masuk sepuluh menit yang lalu --'
'Aku tahu mengenai toilet muntah itu,' kata Mr Weasley.
'Bukan, bukan, bukan toilet itu, tapi dengar pendapat bocah Potter itu -- mereka
telah mengubah waktu dan tempatnya -- mulainya jam delapan sekarang dan
bertempat di bawah di Ruang Sidang Sepuluh yang lama --'
'Di bawah di -- tapi mereka bilang padaku -- jenggot Merlin!'
Mr Weasley memandang jam tangannya, mengeluarkan pekik terkejut dan
melompat dari kursinya.
'Cepat, Harry, kita seharusnya berada di sana lima menit yang lalu!'
Perkins meratakan dirinya pada lemari arsip ketika Mr Weasley meninggalkan
kantor itu dengan berlari, Harry mengikutinya dari dekat.
'Mengapa mereka mengubah waktunya?' Harry berkata dengan terengah-engah,
selagi mereka berlari melewati ruang-ruang kecil Auror; orang-orang menjulurkan
kepala dan menatapi mereka selagi mereka melaju lewat. Harry merasa seolah-olah
dia telah meninggalkan semua isi tubuhnya di meja tulis Perkins.
'Aku tak punya gambaran, tapi untunglah kita tiba demikian pagi, kalau kau
ketinggalan dengar pendapat itu, pastilah jadi bencana!'
Mr Weasley berhenti di samping lift dan menekan-nekan tombol 'turun' dengan
tidak sabar.
'Ayolah!'
Lift berdentang masuk ke penglihatan dan mereka bergegas masuk. Setiap kali lift
itu berhenti Mr Weasley menyumpah dengan marah dan meninju tombol sembilan --'
'Ruang-ruang sidang itu belum pernah digunakan selama bertahun-tahun,' kata Mr
Weasley dengan marah. 'Aku tidak bisa berpikir kenapa mereka mengadakannya di
bawah sana -- kecuali -- tapi tidak --'
Seorang penyihir wanita agak gemuk yang membawa sebuah piala berasap
memasuki lift pada saat itu, dan Mr Weasley tidak melanjutkan.
'Atrium,' kata suara wanita tenang itu dan jeruji-jeruji keemasan bergeser
membuka, memperlihatkan kepada Harry kilasan dari jauh patung-patung keemasan
di air mancur. Penyihir wanita agak gemuk itu keluar dan seorang penyihir pria
berkulit pucat dengan wajah amat murung masuk.
'Pagi, Arthur,' dia berkata dengan suara muram ketika lift mulai menurun. 'Tidak
sering melihatmu di bawah sini.'
'Urusan penting, Bode,' kata Mr Weasley, yang sedang menghentak-hentakkan
kakinya dan melemparkan pandangan cemas kepada Harry.
'Ah, ya,' kata Bode, sambil mengamati Harry tanpa berkedip. 'Tentu saja.'
Harry hampir tidak punya perasaan yang tersisa bagi Bode, tapi tatapannya yang
terus-menerus tidak membuatnya lebih nyaman.
'Departemen Misteri,' kata suara wanita tenang itu, dan berhenti di situ.
'Cepat, Harry,' kata Mr Weasley ketika pintu lift berderak terbuka, dan mereka
melaju sepanjang sebuah koridor yang sangat berbeda dari yang di atas. Dindingdindingnya tidak berhias; tidak ada jendela dan tidak ada pintu selain sebuah pintu
hitam polos di bagian paling ujung koridor itu. Harry mengira mereka akan melalui
pintu itu, tapi Mr Weasley menyambar lengannya dan menariknya ke sebelah kiri, di
mana terdapat pembukaan ke serangkaian anak tangga.
'Di bawah sini, di bawah sini,' Mr Weasley terengah-engah sambil menuruni dua
anak tangga sekaligus. 'Lift bahkan tidak turun sejauh ini ... kenapa mereka
mengadakannya di bawah sana aku ...'
Mereka mencapai dasar tangga dan berlari sepanjang sebuah koridor lagi, yang
sangat mirip dengan koridor yang mengarah ke ruang bawah tanah Snape di
Hogwarts, dengan dinding-dinding batu kasar dan obor-obor dalam penyangganya.
Pintu-pintu yang mereka lewati terbuat dari kayu berat dengan gembok-gembok dan
lubang-lubang kunci dari besi.
'Ruang Sidang ... Sepuluh ... kukira .... kita hampir ... ya.'
Mr Weasley berhenti di luar sebuah pintu gelap suram dengan gembok besi yang
sangat besar dan merosot ke dinding sambil memegang jahitan di dadanya.
'Teruslah,' dia terengah-engah, sambil menunjukkan jempolnya ke pintu. 'Masuk ke
dalam.'
'Tidakkah -- tidakkah Anda ikut dengan --?'
'Tidak, tidak, aku tidak boleh. Semoga berhasil!'
Jantung Harry serasa berdetak hebat di bagian jakunnya. Dia menelan ludah,
memutarkan pegangan pintu dari besi yang berat dan melangkah ke dalam ruang
sidang.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DELAPAN -Dengar Pendapat
Harry terkesiap, dia tidak bisa menahan diri. Ruang bawah tanah besar yang
dimasukinya tampak sudah dikenalnya. Dia bukan hanya pernah melihatnya, dia
sudah perbah berada di sini sebelumnya. Ini adalah tempat di mana dia telah
menyaksikan keluarga Lestrange divonis hukuman seumur hidup di Azkaban.
Dinding-dindingnya terbuat dari batu gelap yang diterangi oleh obor-obor. Bangkubangku kosong berada di kedua sisinya, tetapi di depan, di bangku-bangku tertinggi,
ada banyak figur-figur berbayang. Mereka berbicara dengan suara rendah, tetapi
ketika pintu berat itu mengayun tertutup di belakang Harry timbul keheningan yang
tidak menyenangkan.
Sebuah suara pria yang dingin berdering menyeberangi ruang sidang.
'Kamu terlambat.'
'Sori,' kata Harry dengan gugup. 'Aku -- aku tidak tahu waktunya sudah diganti.'
'Itu bukan kesalahan Wizwngamot,' kata suara itu. 'Seekor burung hantu telah
dikirim ke tempatmu pagi ini. Duduklah.'
Harry melayangkan pandangan ke kursi di tengah ruangan, yang lengan-lengannya
ditutupi rantai-rantai. Dia sudah pernah melihat mereka menjadi hidup dan mengikat
siapapun yang duduk di antara mereka. Langkah-langkah kakinya menggema keras
selagi dia berjalan menyeberangi lantai batu. Ketika dia duduk dengan hati-hati di
ujung kursi itu rantai-rantainya berdenting mengancam tetapi tidak mengikatnya.
Merasa agak sakit, dia melihat ke atas ke orang-orang yang duduk di bangku-bangku
di atas.
Adasekitar lima puluh dari mereka, semuanya, sejauh yang bisa dilihatnya,
mengenakan jubah-jubah berwarna plum dengan huruf perak 'W' yang penuh hiasan
di sisi kirii dada dan semuanya menatap ke bawah hidung mereka kepadanya, bebrapa
dengan ekspresi yang amat keras, yang lainnya tampang-tampang keingintahuan yang
jelas.
Di bagian paling tengah dari baris depan duduk Cornelius Fudge, Menteri Sihir.
Fudge adalah seorang pria yang gemuk yang sering memakai sebuah topi bowler
hijau-limau, walaupun hari ini dia tidak memakainya; dia juga tidak memakai senyum
ramah yang pernah digunakannya ketika berbicara kepada Harry. Seorang penyihir
wanita dengan rahang lebar dan persegi yang berambut kelabu sangat pendek duduk
di sebelah kiri Fudge; dia mengenakan kacamata berlensa satu dan terlihat
menakutkan. Di sisi kanan Fudge ada seorang penyihir wanita lagi, tetapi dia duduk
demikian jauh ke belakang sehingga wajahnya berada dalam bayang-bayang.
'Baiklah,' kata Fudge. 'Tertuduh telah hadir -- akhirnya -- mari kita mulai. Apakah
kamu sudah siap?' dia memanggil ke ujung barisan.
'Ya, sir,' kata sebuah suara bersemangat yang dikenal Harry. Kakak Ron Percy
sedang duduk di bagian terujung bangku depan. Harry melihat kepada Percy,
mengharapkan beberapa tanda pengenalan darinya, tetapi tidak ada yang datang. Mata
Percy, di balik kacamata tanduknya, terpaku pada perkamennya, dengan sebuah pena
bulu berada di tangannya.
'Sidang dengar pendapat kedisiplinan pada tanggal dua belas Agustus,' kata Fudge
dengan suara berdering, dan Percy mulai mencatat seketika, 'pada pelanggaran yang
dilakukan terhadap Dekrit Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah
Umur dan Undang-Undang KErahasiaan Internasional oleh Harry James Potter,
penduduk di nomor empat, Privet Drive, Little Whinging, Surrey.
'Para penginterogasi: Cornelius Oswald Fudge, Menteri Sihir; Amelia Susan Bones,
Kepala Departemen Penegakan Hukum Sihir; Dolores Jane Umbridge, Menteri Muda
Senior terhadap Menteri. Notulen sidang, Percy Ignatius Weasley --'
'Saksi untuk pembelaan, Albus Percival Wulfric Brian Dumbledore,' kata sebuah
suara tenang dari belakang Harry, yang memalingkan kepalanya begitu cepat
sehingga lehernya jadi kaku.
Dumbledore sedang melangkah dengan tenang menyeberangi ruangan mengenakan
jubah biru-tengah malam yang panjang dan ekspresi benar-benar tenang. Janggut dan
rambut peraknya yang panjang berkilau dalam cahaya obor ketika dia berada sejajar
dengan Harry dan melihat kepada Fudge melalui kacamata setengah-bulan yang
terjepit di tengah hidungnya yang sangat bengkok.
Para anggota Wizengamot saling bergumam. Semua mata sekarang tertuju pada
Dumbledore. Beberapa terlihat jengkel, yang lain sedikit ketakutan; namun dua
penyihir wanita tua di baris belakang mengangkat tangan mereka dan melambai
menyambut.
Sebuah emosi yang kuat telah timbul di dada Harry saat melihat Dumbledore,
sebuah perasaan terlindung dan penuh harapan yang mirip dengan yang diberikan
nyanyian phoenix kepadanya. Dia ingin melihat ke mata Dumbledore, tetapi
Dumbledore tidak melihat ke arahnya; dia terus melihat ke atas pada Fudge yang jelas
terganggu.
'Ah,' kata Fudge, yang terlihat sangat bingung. 'Dumbledore. Ya. Kalau begitu,
Anda -- mendapat -- er -- pesan kami bahwa waktu dan -- er -- tempat sidang telah
diubah?'
'Aku pasti ketinggalan pesan itu,' kata Dumbledore dengan ceria. 'Namun karena
kesalahan yang menguntungkan aku tiba di Kementerian tiga jam lebih cepat, jadi
tidak ada yang rugi.'
'Ya -- well -- kurasa kita akan butuh satu kursi lagi -- aku -- Weasley, bisakah kamu
--?
'Tidak usah khawatir, tidak usah khawatir,' kata Dumbledore dengan
menyenangkan; dia mengeluarkan tongkatnya, melambaikannya sedikit, dan sebuah
kursi berlengan empuk dari kain muncul entah darimana di samping Harry.
Dumbledore duduk, menggabungkan ujung-ujung jarinya yang panjang dan
mengamati Fudge melewati jarin-jarinya dengan ekspresi tertarik yang sopan.
Wizengamot masih bergumam dan bertingkah gelisah; hanya ketika Fudge berbicara
lagi barulah mereka tenang.
'Ya,' kata Fudge lagi, sambil mengocok catatan-catatannya. 'Well, kalau begitu.
Jadi. Tuntutannya. Ya.'
Dia mengeluarkan sepotong perkamen dari tumpukan di hadapannya, mengambil
napad dalam-dalam, membacakan, 'Tuntutan melawan tertuduh adalah sebagai
berikut:
'Bahwa dia dengan sengaja dan sadar dan sepenuhnya menyadari tindakannya
bertentangan dengan hukum, setelah menerima peringatan tertulis sebelumnya dari
Kementerian Sihir atas tuduhan serupa, menghasilkan Mantera Patronus di daerah
tempat tinggal Muggle, dengan kehadiran seorang Muggle, pada tanggal dua Agustus
pukul sembilan lewat dua puluh tiga, yang melanggar Paragraf C dari Dekrit
Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur, 1875, dan juga
Seksi 13 dari Undang-Undang Kerahasiaan Konfederasi Penyihir Internasional.
'Kamu adalah Harry James Potter, dari nomor empat, Privet Drive, Little Whinging,
Surrey?' Fudge berkata sambil melotot pada Harry dari puncak perkamennya.
'Ya,' kata Harry.
'Kamu menerima sebuah peringatan resmi dari Kementerian karena menggunakan
sihir ilegal tiga tahun yang lalu, bukankah begitu?'
'Ya, tapi --'
'Dan kamu masih menghasilkan sebuah Patronus pada malam dua Agustus?' kata
Fudge.
'Ya,' kata Harry, 'tapi --'
'Tahu bahwa kamu tidak dibolehkan menggunakan sihir di luar sekolah selagi kamu
di bawah umur tujuh belas?'
'Ya, tapi --'
'Tahu bahwa kamu berada di daerah penuh Muggle?'
'Ya, tapi --'
'Sadar sepenuhnya bahwa kamu berada sangat dekat dengan seorang Muggle pada
saat itu?'
'Ya,' kata Harry dengan marah, 'tapi aku hanya menggunakannya karena kami --'
Panyihir wanita berkacamata lensa satu menyelanya dengan suara menggelegar.
'Kamu menghasilkan Patronus terlatih?'
'Ya,' kata Harry, 'karena --'
'Sebuah Patronus korporeal?'
'Sebuah -- apa?' kata Harry.
'Patronusmu punya bentuk yang tampak jelas? Maksudku, lebih dari sekedar uap
atau asap?'
'Ya,' kata Harry, merasa tidak sabar sekaligus sedikit putus asa, 'bentuknya kijang
jantan, selalu kijang jantan.'
'Selalu?' gelegar Madam Bones. 'Kamu sudah pernah menghasilkan Patronus
sebelum sekarang?'
'Ya,' kata Harry, 'aku sudah melakukannya selama lebih dari setahun.'
'Dan kamu berumur lima belas tahun?'
'Ya, dan --'
'Kamu mempelajari hal ini di sekolah?'
'Ya, Profesor Lupin mengajari saya di tahun ketiga saya, karena --'
'Mengesankan,' kata Madam Bones, sambil menatapnya, 'Patronus sejati pada
usianya ... sangat mengesankan.'
Beberapa penyihir di sekitarnya bergumam lagi; sedikit mengangguk, tetapi yang
lain merengut dan menggelengkan kepala-kepala mereka.
'Bukan soal seberapa mengesankannya sihir itu,' kata Fudge dengan suara tidak
sabar. 'Bahkan menurutku semakin mengesankan semakin buruk jadinya, mengingat
bocah itu melakukannya dalam pandangan jelas seorang Muggle.'
'Aku melakukannya karena Dementor!' dia berkata dengan keras, sebelum orang
lain bisa menyelanya lagi.
Dia telah mengharapkan gumaman lagi, tetapi keheningan yang timbul kelihatan
jauh lebih pekat dari sebelumnya.
'Dementor?' kata Madam Bones setelah beberapa saat, alisnya yang tebal menaik
hingga kacamata berlensa satunya terlihat akan jatuh. 'Apa maksudmu, nak?'
'Maksudku ada dua Dementor di gang dan mereka menyerang aku dan sepupuku!'
'Aha!' kata Fudge lagi, sambil menyeringai tidak menyenangkan ketika dia
memandang berkeliling pada Wizengamot, seakan-akan mengajak mereka berbagi
lelucon. 'Ya. Ya. Sudah kukira kita akan mendengar sesuatu seperti ini.'
'Dementor di Little Whinging?' Madam Bones berkata, dengan nada terkejut sekali.
'Aku tidak mengerti --'
'Tidakkah kau, Amelia?' kata Fudge, masih menyeringai. 'Mari kujelaskan. Dia
telah memikirkannya terus dan memutuskan Dumbledore akan membuat cerita
pengantar yang sangat bagus, memang sangat bagus. Para Muggle tidak bisa melihat
Dementor, benar kan, nak? Sangat sesuai, sangat sesuai ... jadi itu cuma perkataanmu
dan tidak ada saksi ...'
'Aku tidak bohong!' kata Harry dengan keras, melawan pecahnya gumaman lagi
dari sidang. 'Ada dua, datangnya dari ujung-ujung gang yang berlawanan, semua jadi
gelap dan dingin dan sepupuku merasakan mereka dan lari --'
'Cukup, cukup!' kata Fudge dengan tampang sangat congkak di wajahnya. 'Aku
menyesal harus menyela apa yang kuyakin pasti sebuah cerita yang terlatih dengan
baik --'
Dumbledore mengencerkan tenggorokannya. Wizengamot terdiam lagi.
'Kenyataannya, kami memang punya seorang saksi akan kehadiran Dementor di
gang itu,' dia berkata, 'selain Dudley Dursley, maksudku.'
Wajah gemuk Fludge terlihat mengendur, seakan-akan seseorang telah
mengeluarkan udara darinya. Dia memandang ke Dumbledore sejenak atau dua,
dengan penampilan seorang lelaki yang menguatkan dirinya kembali, berkata,
'Kutakutkan kita tidak punya waktu untuk mendengarkan kebohongan lagi,
Dumbledore, aku mau ini diatasi dengan cepat --'
'Aku mungkin salah,' kata Dumbledore dengan menyenangkan, 'tapi aku yakin
bahwa di bawah Piagam Hak-Hak Wizengamot, tertuduh mempunyai hak untuk
menghadirkan saksi-saksi bagi kasusnya? Bukankah itu kebijakan Departemen
Penegakan Hukum Sihir, Madam Bones?' dia meneruskan sambil berbicara kepada
penyihir wanita yang memakai kacamata berlensa satu.
'Benar,' kata Madam Bones. 'Sangat benar.'
'Oh, baiklah, baiklah,' kata Fudge dengan tajam. 'Di mana orang ini?'
'Aku membawanya bersamaku,' kata Dumbledore. 'Dia tepat di luar pintu.
Haruskah aku --'
'Tidak -- Weasley, kamu pergi,' Fudge menghardik Percy, yang bangkit seketika,
berlari menuruni tangga-tangga batu dari balkon hakim dan bergegas melewati
Dumbledore dan Harry tanpa melirik sekilaspun pada mereka.
Sejenak kemudian, Percy kembali, diikuti oleh Mrs Figg. Dia tampak takut dan
lebih sinting dari sebelumnya. Harry berharap dia berpikir untuk mengganti selop
karpetnya.
Dumbledore berdiri dan memberikan kursinya kepada Mrs Figg, menyihir kursi
kedua untuk dirinya sendiri.
'Nama lengkap?' kata Fudge dengan keras, ketika Mrs Figg telah duduk dengan
gugup di ujung kursi.
'Arabella Doreen Figg,' kata Mrs Figg dengan suara bergetar.
'Dan siapa sebenarnya Anda?' kata Fudge dengan suara bosan dan angkuh.
'Aku penduduk Little Whinging, dekat dengan tempat Harry tinggal,' kata Mrs
Figg.
'Kami tidak punya catatan adanya penyihir wanita ataupun pria yang tinggal di
Little Whinging, selain Harry Potter,' kata Madam Bones seketika. 'Daerah itu selalu
diawasi dengan ketat, mengingat ... mengingat kejadian-kejadian di masa lalu.'
'Aku seorang Squib,' kata Mrs Figg. 'Jadi kalian tidak akan mencatat aku, 'kan?'
'Seorang Squib, eh?' kata Fudge sambil mengamati dia lekat-lekat. 'Kami akan
mengecek hal itu. Anda harus meninggalkan detil-detil keturunan Anda dengan
asisten saya Weasley. Sehubungan dengan itu, bisakah Squib melihat Dementor?' dia
menambahkan sambil melihat ke kiri dan ke kanan sepanjang bangku itu.
'Ya, kami bisa!' kata Mrs Figg marah.
Fudge melihat kembali kepadanya dengan alis terangkat. 'Baiklah,' dia berkata
dengan dingin. 'Apa ceritamu?'
'Aku pergi keluar untuk membeli makanan kucing dari toko di sudut jalan di ujung
Wisteria Walk, sekitar pukul sembilan, pada malam dua Agustus,' Mrs Figg berkata
cepat-cepat dengan kurang jelas dan seketika, seakan-akan dia telah mempelajari
dalam hati apa yang akan dikatakannya, 'ketika aku mendengar keributan di gang
antara Magnolia Crescent dan Wisteria Walk. Sewaktu menghampiri mulut gang aku
melihat Dementor berlari --'
'Berlari?' kata Madam Bones dengan tajam. 'Dementor tidak berlari, mereka
melayang.'
'Itu yang kumaksudkan,' kata Mrs Figg dengan cepat, semburat merah muda timbul
di pipinya yang keriput. 'Melayang menyusuri gang menuju apa yang tampak seperti
dua anak lelaki.'
'Bagaimana tampang mereka?' kata Madam Bones, menyipitkan matanya sehingga
tepi kacamatanya menghilang ke dagingnya.
'Well, yang satu sangat besar dan yang lain agak kurus --'
'Bukan, bukan,' kata Madam Bones tidak sabar. 'Para Dementor ... gambarkan
mereka.'
'Oh,' kata Mrs Figg, rona merah mudanya telah menjalar ke lehernya sekarang.
'Mereka besar. Besar dan memakai jubah,'
Harry merasakan depresi yang mengerikan di dasar perutnya. Apapun yang
mungkin dikatakan Mrs Figg, baginya terdengar seolah-olah hal terjauh yang pernah
dilakukannya dilihatnya adalah gambar Dementor, dan sebuah gambar tidak akan
mengungkapkan kebenaran mengenai seperti apa makhluk-makhluk ini: cara mereka
bergerak yang menakutkan, melayang-layang beberapa inci di atas tanah; atau bau
busuk mereka; atau suara berderak mengerikan yang dibuat ketika mereka mengisap
udara sekitar ...
Di baris kedua, seorang penyihir gemuk pendek dengan kumis hitam besar
bersandar mendekat untuk berbisik ke telinga tetangganya, seorang penyihir wanita
berambut ikal. Dia menyeringai dan mengangguk.
'Besar dan mengenakan jubah,' ulang Madam Bones dengan dingin, sementara
Fudge mendengus mengejek. 'Aku mengerti. Ada lagi yang lain?'
'Ya,' kata Mrs Figg. 'Aku merasakan mereka. Semua jadi dingin, dan ini adalah
malam musim panas yang sangat hangat, camkan itu. Dan aku merasa ... seakan-akan
semua kebahagiaan telah hilang dari dunia ini ... dan aku ingat ... hal-hal yang
mengerikan ...'
Suaranya bergetar dan diam.
Mata Madam Bones melebar sedikit. Harry bisa melihat tanda-tanda merah di
bawah alisnya di mana kacamatanya tertancap tadi.
'Apa yang dilakukan Dementor itu?' dia bertanya, dan Harry merasakan serbuan
harapan.
'Mereka mengejar anak-anak itu,' kata Mrs Figg, suaranya lebih kuat dan lebih
percaya diri sekarang, rona merah muda mulai menghilang dari wajahnya. 'Salah
satunya terjatuh. Yang lain sedang mundur, mencoba untuk menghalau Dementor. Itu
Harry. Dia mencoba dua kali dan hanya menghasilkan uap perak. Pada percobaan
ketiga, dia menghasilkan Patronus, yang menyerang Dementor pertama dan
kemudian, dengan dorongannya, mengejar Dementor kedua menjauh dari sepupunya.
Dan itulah ... itulah yang terjadi,' Mrs Figg menyelesaikan dengan agak tertegun.
Madam Bones memandang Mrs Figg dalam keheningan. Fudge sedang tidak
melihat kepadanya sama sekali, tetapi sedang mengutak-atik kertas-kertasnya.
Akhirnya, dia menaikkan matanya dan berkata, dengan agak agresif, 'Itu yang Anda
lihat, bukan?'
'Itu yang terjadi,' Mrs Figg mengulangi.
'Baiklah,' kata Fudge. 'Anda boleh pergi.'
Mrs Figg memberi pandangan takut dari Fudge ke Dumbledore, lalu bangkit dan
berjalan dengan kaki terseret menuju pintu. Harry mendengarnya berdebuk menutup
di belakangnya.
'Bukan saksi yang amat meyakinkan,' kata Fudge dengan angkuh.
'Oh, aku tidak tahu,' kata Madam Bones dengan suaranya yang menggelegar. 'Dia
benar-benar menggambarkan efek serangan Dementor dengan sangat akurat. Aku
tidak dapat membayangkan mengapa dia akan berkata mereka ada di sana kalau
memang tidak.'
'Tetapi Dementor berkeliaran ke kediaman Muggle dan hanya kebetulan bertemu
dengan seorang penyihir?' dengus Fudge. 'Kemungkinannya pastilah sangat, sangat
kecil. Bahkan Bagman sekalipun tidak akan bertaruh --'
'Oh, aku tidak mengira satupun dari kita percaya bahwa Dementor itu ada di sana
karena kebetulan,' kata Dumbledore dengan ringan.
Penyihir wanita yang duduk di sebelah kanan Fudge, dengan wajah dalam bayangbayang, bergerak sedikit tetapi semua orang lainnya tetap diam dan tidak bersuara.
'Apa apa maksudmu itu?' Fudge bertanya dengan dingin.
'Maksudnya kukira mereka diperintahkan ke sana,' kata Dumbledore.
'Aku kira kita pasti akan punya catatan kalau seseorang menyuruh sepasang
Dementor pergi berjalan-jalan ke Little Whinging!' hardik Fudge.
'Tidak kalau Dementor-Dementor itu menuruti perintah dari seseorang di luar
Kementerian Sihir akhir-akhir ini,' kata Dumbledore dengan tenang. 'Aku sudah
memberimu pandanganku mengenai hal ini, Cornelius.'
'Ya, memang,' kata Fudge penuh tenaga, 'dan aku tidak punya alasan untuk percaya
bahwa pandangan-pandanganmu bukan omong kosong, Dumbledore. Para Dementor
tetap berada di Azkaban dan sedang melakukan segala hal yang kita minta kepada
mereka.'
'Kalau begitu,' kata Dumbledore dengan pelan tetapi jelas, 'kita harus bertanya
kepada diri kita sendiri mengapa seseorang di dalam Kementerian menyuruh sepasang
Dementor ke gang itu pada tanggal dua Agustus.'
Dalam keheningan total yang menyambut kata-kata ini, penyihir wanita di sisi
kanan Fudge bersandar ke depan sehingga Harry melihatnya untuk pertama kalinya.
Dia berpikir wanita itu tampak seperti seekor katak besar yang pucat. Dia agak
gemuk-pendek dengan wajah lebar dan kendur, lehernya sama sedikitnya dengan
Paman Vernon dan mulut yang sangat lebar dan kendur. Matanya besar, bundar dan
agak menonjol. Bahkan pita beludru hitam kecil yang bertengger di bagian atas
rambutnya yang keriting pendek mengingatkan pada seekor lalat besar yang baru akan
ditangkapnya dengan lidah panjang yang lengket.
'Ketua mengenali Dolores Jane Umbridge, Menteri Muda Senior terhadap Menteri,'
kata Fudge.
Penyihir wanita itu berbicara dengan suara gugup bernada tinggi seperti anak
perempuan yang membuat Harry terkesima; dia telah mengharapkan bunyi kuak.
'Aku yakin aku telah salah mengerti Anda, Profesor Dumbledore,' katanya, dengan
sebuah senyum simpul tapi matanya yang besar dan bundar masih sedingin
sebelumnya. 'Bodohnya aku. Tapi sejenak kedengarannya seolah-olah Anda menuduh
Kementerian Sihir telah memerintahkan penyerangan terhadap anak ini!'
Dia mengeluarkan tawa merdu yang membuat bulu roma Harry bangkit. Beberapa
anggota Wizengamot lainnya ikut tertawa. Tidak bisa lebih jelas lagi bahwa tak
seorangpun dari mereka benar-benar merasa lucu.
'Kalau benar bahwa Dementor hanya menuruti perintah dari Kementerian Sihir, dan
juga benar bahwa dua Dementor menyerang Harry dan sepupunya seminggu yang
lalu, maka secara logis seseorang di dalam Kementerian telah memerintahkan
penyerangan itu,' kata Dumbledore dengan sopan. 'Tentu saja, Dementor yang
dimaksud bisa saja berada di luar kendali Kementerian --'
'Tidak ada Dementir di luar kendali Kementerian!' sambar Fudge, yang telah
menjadi semerah bata.
Dumbledore mencondongkan kepalanya sedikit tertunduk.
'Maka tidak diragukan lagi Kementerian akan melakukan penyelidikan menyeluruh
mengapa dua Dementor berada sangat jauh dari Azkaban dan mengapa mereka
menyerang tanpa disuruh.'
'Bukan kamu yang harus menentukan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan
Kementerian, Dumbledore!' sambar Fudge, sekarang berwarna magenta yang pasti
membuat Paman Vernon bangga.
'Tentu saja bukan,' kata Dumbledore dengan enteng. 'Aku hanya menyatakan
keyakinanku bahwa masalah ini tidak akan berlanjut tanpa diselidiki.'
Dia melirik Madam Bones, yang menyesuaikan letak kacamatanya dan menatap
balik kepadanya sambil sedikit merengut.
'Aku akan mengingatkan semua orang bahwa perilaku para Dementor ini, kalau
bukan potongan imajinasi anak ini, bukanlah subyek sidang dengar pendapat ini!' kata
Fudge. 'Kita berada di sini untuk memeriksa pelanggaran Harry Potter terhadap Dekrit
Pembatasan Masuk Akal bagi Penggunaan Sihir di Bawah Umur!'
'Tentu saja,' kata Dumbledore, 'tetapi kehadiran Dementor di gang itu sangat
relevan. Pasal Tujuh dari Dekrit menyatakan bahwa sihir boleh digunakan di hadapan
Muggle pada keadaan-keadaan luar biasa, dan karena keadaaan-keadaan luar biasa itu
termasuk situasi yang mengancam nyama penyihir pria atau wanita itu sendiri, atau
penyihir atau Muggle manapun juga yang ada pada saat --'
'Kami tahu betul isi Pasal Tujuh, terima kasih banyak!' geram Fudge.
'Tentu saja,' kata Dumbledore penuh sopan santun. 'Kalau begitu kita sepakat
bahwa penggunaan Mantera Patronus oleh Harry dalam keadaan-keadaan ini jatuh
persis ke dalam kategori keadaan-keadaan luar biasa yang digambarkan pasal
tersebut?'
'Jika memang ada Dementor, yang kusangsikan.'
'Anda telah mendengarnya dari seorang saksi mata,' Dumbledore menyela. 'Kalau
Anda masih meragukan kejujurannya, panggil dia kembali, tanyai dia lagi, aku yakin
dia tidak akan keberatan.'
'Aku -- itu -- tidak --' gertak Fudge, sambil memainkan kertas-kertas di
hadapannya. 'Itu -- aku ingin ini semua selesai hari ini, Dumbledore!'
'Tapi tentunya, Anda tidak akan peduli berapa kali Anda mendengar dari saksi
mata, kalau alternatifnya adalah kegagalan menjalankan hukum yang serius,' kata
Dumbledore.
'Kegagalan serius, topiku!' kata Fudge pada puncak suaranya. 'Pernahkah kamu
bersusah-payah menjumlahkan semua cerita omong kosong yang telah dikeluarkan
anak ini, Dumbledore, selagi mencoba menutup-nutupi penyalahgunaan sihir di luar
sekolah yang menyolok olehnya? Kukira kau telah lupa Mantera Melayang yang
digunakannya tiga tahun yang lalu --'
'Itu bukan aku, pelakunya peri-rumah!' kata Harry.
'KAU LIHAT?' raung Fudge, sambil memberi isyarat dengan semarak ke arah
Harry. 'Peri-rumah! Dalam rumah Muggle! Kutanya kau.'
'Peri-rumah yang dimaksud sekarang dipekerjakan di Sekolah Hogwarts,' kata
Dumbledore. 'Aku bisa memanggilnya ke sini dalam sekejap untuk memberi
kesaksian kalau Anda mau.'
'Aku -- bukan -- aku tidak punya waktu untuk mendengarkan para peri-rumah!
Lagipula, itu bukan satu-satunya -- dia menggelembungkan bibinya, demi Tuhan!'
Fudge berteriak, sambil menghantamkan kepalannya ke bangku hakin dan
membalikkan sebotol tinta.
'Dan Anda telah dengan sangat baik hati tidak mengajukan tuntutan pada saat itu,
kuanggap, sambil menerima bahwa bahkan penyihir-penyihir terbaik sekalipun tidak
dapat selalu mengendalikan emosi mereka.' kata Dumbledore dengan tenang,
sementara Fudge berusaha mengosok tinta dari catatannya.
'Dan aku belum mulai lagi dengan apa yang dilakukannya di sekolah.'
'Tetapi, karena Kementerian tidak memiliki kuasa untuk menghukum murid-murid
Hogwarts atas tingkah laku yang salah di sekolah, perilaku Harry di sana tidaklah
relevan dengan dengar pendapat ini,' kata Dumbledore, masih sesopan tadi, tetapi
sekarang ada rasa dingin di balik kata-katanya.
'Oho!' kata Fudge. 'Bukan urusan kami apa yang dia perbuat di sekolah, eh?
Menurutmu begitu?'
'Kementerian tidak punya kekuasaan untuk mengeluarkan siswa-siswa Hogwarts,
Cornelius, seperti yang kuingatkan kepadamu pada malam dua Agustus,' kata
Dumbledore. 'Juga tidak mempunyai hak untuk menyita tongkat sihir hingga tuntutan
telah dibuktikan dengan suksees; sekali lagi, seperti yang kuingatkan kepadamu pada
malam dua Agustus. Dalam ketergesaanmu yang pantas dikagumi untuk memastikan
hukum dijunjung tinggi, tampaknya kamu, kuyakin akibat kurang hati-hati, telah
melupakan beberapa hukum itu sendiri.'
'Hukum bisa diganti,' kata Fudge dengan buas.
'Tentu bisa,' kata Dumbledore sambil mencondongkan kepalanya.'Dan jelas kamu
telah banyak membuat perubahan, Cornelius. Mengapa, dalam beberapa minggu
singkat sejak aku diminta meninggalkan Wizengamot saja, sudah menjadi prakteknya
untuk mengadakan sidang kriminal penuh untuk mengatasi masalah simpel seperti
sihir di bawah umur!'
Beberapa penyihir di atas mereka bergerak dengan tidak nyaman di tempat duduk
mereka. Fudge sedikit berubah ke warna ungu kecoklatan yang lebih dalam. Namun
penyihir wanita mirip katak di sebelah kanannya hanya menatap Dumbledore,
wajahnya tidak berekspresi.
'Sejauh yang kutahu,' Dumbledore melanjutkan, 'belum ada hukum yang
mengatakan menjadi pekerjaan sidang ini untuk menghukum Harry demi setiap sihir
yang pernah dilakukannya. Dia telah dituntut untuk pelanggaran tertentu dan dia telah
memberikan pembelaannya. Semua yang bisa dilakukannya dan aku hanyalah
menanti keputusan kalian.'
Dumbledore menyatukan ujung-ujung jarinya lagi dan tidak berkata apa-apa lagi.
Flure melotot kepadanya, jelas sangat marah. Harry melirik ke samping kepada
Dumbledore, mencari penentraman; dia sama sekali tidak yakin bahwa Dumbledore
bertindak benar dalam memberitahu Wizengamot bahwa sudah waktunya mereka
mengambil keputusan. Namun, sekali lagi Dumbledore tampak tidak menyadari usaha
Harry melihat ke matanya. Dia terus melihat ke bangku-bangku di mana keseluruhan
Wizengamot telah mengadakan percakapan penting sambil berbisik-bisik.
Harry melihat ke kakinya. Jantungnya, yang tampaknya telah membengkak ke
ukuran tidak alami, sedang berdebar dengan keras di balik tulang iganya. Dia telah
mengharapkan dengar pendapat berlangsung lebih lama dari ini. Dia sama sekali tidak
yakin dirinya telah memberi kesan yang baik. Dia sebenarnya belum banyak
berbicara. Dia seharusnya menjelaskan lebih lengkap mengenai para Dementor,
mengenai bagaimana dia jatuh, mengenai bagaimana dia dan Dudley hampir dicium
...
Dua kali dia melihat kepada Fudge dan membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi
jantungnya yang membengkak sekarang menekan jalan masuk udaranya dan dua kali
itu dia hanya mengambil napas dalam-dalam dan menatap kembali pada sepatunya.
Lalu bisik-bisik itu terhenti. Harry ingin melihat kepada para hakim, tetapi
menemukan bahwa jauh lebih mudah tetap memeriksa sepatunya.
'Yang setuju membebaskan tertuduh dari semua tuntutan?' kata suara menggelegar
Madam Bones.
Kepala Harry tersentak naik. Ada banyak tangan di udara, banyak ... lebih dari
setengah! Sambil bernapas dengan sangat cepat, dia mencoba menghitung, tetapi
sebelum dia selesai, Madam Bones telah berkata, 'Dan yang ingin menghukum?'
Fudge mengangkat tangannya; demikian pula setengah lusin yang lainnya,
termasuk penyihir wanita di samping kanannya dan penyihir pria berkumis lebat dan
penyihir wanita berambut ikal di baris kedua.
Fudge memandang mereka sekilas, terlihat seolah-olah ada sesuatu yang besar
tersangkut di kerongkongannya, lalu menurunkan tangannya sendiri. Dia mengambil
dua napas panjang dan berkata, 'Baiklah, baiklah ... dibebaskan dari semua tuntutan.'
'Bagus sekali,' kata Dumbledore dengan cepat, sambil melompat berdiri, menarik
keluar tongkatnya dan menyebabkan kedua kursi berlengan dari kain itu menghilang.
'Well, aku harus pergi. Selamat siang kepada kalian semua.'
Dan tanpa melihat satu kalipun kepada Harry, dia berjalan ke luar dari ruang bawah
tanah itu.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB SEMBILAN -Penderitaan Mrs Weasley
Kepergian Dumbledore yang mendadak benar-benar mengejutkan Harry. Dia terus
duduk di kursi berantai itu, sambil bergumul dengan perasaan terguncang dan lega.
Wizengamot semuanya sedang bangkit, sambil berbincang-bincang, mengumpulkan
kertas-kertas mereka dan mengemasinya. Harry berdiri. Tak ada yang tampaknya
memperhatikan dia sedikitpun, kecuali penyihir wanita mirip katak di sebelah kanan
Fudge, yang sekarang sedang memandanginya bukannya memandangi Dumbledore.
Sambil mengabaikan dia, Harry mencoba memandang mata Fudge, atau Madam
Bones, ingin bertanya apakah dia boleh pergi, tapi Fudge tampaknya sangat
berketetapan untuk tidak memperhatikan Harry, dan Madam Bones sibuk dengan
kopernya, jadi dia mengambil beberapa langkah coba-coba menuju pintu keluar dan,
ketika tak seorangpun memanggilnya kembali, berjalan dengan cepat.
Dia berlari pada beberapa langkah terakhirnya, merenggut pintu hingga terbuka dan
hampir menubruk Mr Weasley, yang sedang berdiri tepat di luar, terlihat pucar dan
gelisah.
'Dumbledore tidak bilang --'
'Dibebaskan,' Harry berkata sambil menarik pintu menutup di belakangnya, 'dari
semua tuntutan.'
Sambil tersenyum, Mr Weasley memegang bahu Harry.
'Harry, itu bagus sekali! Well, tentu saja, mereka tidak akan bisa menetapkanmu
bersalah, tidak dengan bukti, tapi walau begitu, aku tidak bisa berpura-pura aku tidak
--'
Tapi Mr Weasley berhenti, karena pintu ruang sidang baru saja terbuka lagi. Para
Wizengamot sedang keluar.
'Jenggot Merlin!' seru Mr Weasley dengan terkejut, sambil menarik Harry ke
samping untuk membiarkan mereka semua lewat. 'Kau disidang oleh pengadilan
lengkap?'
'Kukira begitu,' kata Harry dengan pelan.
Satu atau dua penyihir mengangguk kepada Harry ketika mereka lewat dan
beberapa, termasuk Madam Bones, berkata, 'Pagi, Arthur,' kepada Mr Weasley, tetapi
kebanyakan menghindari pandangannya. Cornelius Fudge dan penyihir wanita mirip
katak itu hampir yang terakhir meninggalkan ruang bawah tanah itu. Fudge
bertingkah seolah-olah Mr Weasley dan Harry merupakan bagian dari dinding, tetapi
lagi-lagi, penyihir wanita itu melihat Harry hampir seperti sedang menilainya ketika
dia lewat. Yang terakhir lewat adalah Percy. Seperti Fudge, dia sepenuhnya
mengabaikan ayahnya dan Harry; dia berderap lewat sambil mengepit sebuah
gulungan perkamen besar dan segenggam pena bulu cadangan, punggungnya kaku
dan hidungnya diangkat tinggi-tinggi. Garis-garis di sekitar mulut Mr Weasley
menegang sedikit, tetapi selain ini dia tidak memberi tanda apapun bahwa dia baru
melihat anak ketiganya.
'Aku akan membawamu langsung pulang sehingga kau bisa memberitahu yang lain
kabar baik ini,' katanya sambil memberi isyarat kepada Harry untuk maju ketika tumit
Percy menghilang ke anak tangga menuju Tingkat Sembilan. 'Akan kuantar kau
dalam perjalanan ke toilet di Bethnal Green. Ayolah ...'
'Jadi, apa yang harus Anda lakukan dengan toilet itu?' Harry bertanya sambil
nyengir. Segalanya mendadak tampak lima kali lebih lucu daripada biasanya. Hal-hal
mulai masuk: dia dibebaskan, dia akan kembali ke Hogwarts.
'Oh, cuma anti-kutukan yang sederhana,' kata Mr Weasley selagi mereka menaiki
tangga, 'tapi bukan tentang memperbaiki kerusakan, melainkan lebih kepada sikap di
belakang pengrusakan, Harry. Pengumpanan-Muggle mungkin dianggap lucu oleh
beberapa penyihir, tetapi itu adalah ekspresi dari sesuatu yang jauh lebih dalam dan
mengerikan, dan aku sendiri --'
Mr Weasley tidak melanjutkan kalimatnya. Mereka baru saja mencapai koridor
tingkat sembilan dan Cornelius Fudge sedang berdiri beberapa kaki dari mereka,
berbicara dengan pelan kepada seorang pria jangkung yang berambut pirang licin dan
memiliki wajah tajam yang pucat.
Pria itu berpaling ketika mendengar suara langkah kaki mereka. Dia juga tidak
melanjutkan perkataannya, mata kelabunya yang dingin menyipit dan menatap wajah
Harry lekat-lekat.
'Well, well, well ... Patronus Potter,' kata Lucius Malfoy dengan dingin.
Harry merasa kehabisan napas, seakan-akan dia baru saja berjalan ke dalam sesuatu
yang padat. Terakhir kali dia melihat mata kelabu yang dingin itu adalah melalui
celah di kerudung Pelahap Maut, dan terakhir kali dia mendengar suara lelaki itu
adalah ketika sedang mengejek di sebuah pekuburan gelap sementara Lord Voldemort
menyiksanya. Harry tidak bisa percaya bahwa Lucius Malfoy berani menatapnya di
wajah; dia tidak bisa percaya bahwa dia ada di sini, dalam Kementerian Sihir, atau
bahwa Cornelius Fudge sedang berbicara kepadanya, padahal Harry telah
memberitahu Fudge hanya beberapa minggu yang lalu bahwa Malfoy adalah seorang
Pelahap Maut.
'Menteri baru saja memberitahuku mengenai kelolosanmu yang mujur, Potter,' Mr
Malfoy berkata dengan suara dipanjang-panjangkan. 'Sangat mengejutkan, caramu
terus berkelit keluar dari lubang-lubang yang amat sempit ... bahkan, mirip ular.'
Mr Weasley mencengkeram bahu Harry untuk memperingatkannya.
'Yeah,' kata Harry, 'yeah, aku pandai meloloskan diri.'
Lucius Malfoy menaikkan matanya ke wajah Mr Weasley.
'Dan Arthur Weasley juga! Apa yang sedang Anda lakukan di sini, Arthur?'
'Aku bekerja di sini,' kata Mr Weasley dengan masam.
'Bukan di sini, tentunya?' kata Mr Malfoy sambil menaikkan alisnya dan melihat
sekilas ke pintu melalui bahu Mr Weasley. 'Kukira Anda ada di lantai kedua ...
bukankah Anda melakukan sesuatu yang melibatkan penyeludupan benda-benda
Muggle ke rumah dan menyihirnya?'
'Tidak,' sambar Mr Weasley, jari-jarinya sekarang mencengkeram kuat ke bahu
Harry.
'Ngomong-ngomong, Apa yang Anda lakukan di sini?' Harry bertanya kepada
Lucius Malfoy.
'Kukira urusan pribadi antara diriku sendiri dengan Menteri bukan urusanmu,
Potter,' kata Malfoy sambil melicinkan bagian depan jubahnya. Harry mendengar
dengan jelas dentingan lembut dari apa yang terdengar seperti sekantong penuh emas.
'Benar saja, hanya karena kau anak kesayangan Dumbledore, kau tidak boleh
mengharapkan perlakuan yang sama dari kami semua ... kalau begitu, kita naik ke
kantor Anda, Menteri?'
'Tentu saja,' kata Fudge sambil memalingkan badan dari Harry dan Mr Weasley.
'Lewat sini, Lucius.'
Mereka melangkah bersama sambil berbicara dengan suara rendah. Mr Weasley
tidak melepaskan bahu Harry sampai mereka telah menghilang ke dalam lift.
'Mengapa dia tidak menunggu di luar kantor Fudge kalau mereka punya urusan
untuk diselesaikan bersama?' Harry meledak marah. 'Apa yang dia lakukan di bawah
sini?'
'Mencoba menyelinap ke dalam ruang sidang, kalau kau tanya aku,' kata Mr
Weasley sambil terlihat sangat gelisah dan melihat melalui bahunya seolah-olah
sedang memastikan mereka tidak dapat didengar. 'Mencoba mengetahui apakah kau
telah dikeluarkan atau tidak. Akan kutinggalkan catatan untuk Dumbledore ketika aku
mengantarmu, dia harus tahu Malfoy sudah berbicara kepada Fudge lagi.
'Lagipula, urusan pribadi apa yang mereka miliki?'
'Emas, kukira,' kata Mr Weasley dengan marah. 'Malfoy telah memberikan emas
dengan murah hati untuk segala jenis hal selama bertahun-tahun ... membuatnya dekat
dengan orang-orang yang tepat ... lalu dia bisa minta bantuan ... menunda hukumhukum yang dia tidak ingin dilewatkan ... oh, dia punya koneksi yang luas, Lucius
Malfoy.'
Lift tiba; kosong kecuali sekelompok memo yang berkepak di sekitar kepala Mr
Weasley ketika dia menekan tombol Atrium dan pintu berdentang tertutup. Dengan
kesal dia melambaikan memo-memo itu untuk pergi.
'Mr Weasley,' kata Harry pelan-pelan, 'kalau Fudge bertemu dengan para Pelahap
Maut seperti Malfoy, kalau dia menemui mereka sendirian, bagaimana kita tahu
bahwa mereka belum menempatkan Kutukan Imperius kepada dirinya?'
'Jangan kira itu belum terpikir oleh kami, Harry,' kata Mr Weasley dengan pelan.
'Tapi Dumbledore pikir Fudge bertindak atas keputusannya sendiri saat ini -- yang,
menurut Dumbledore, bukanlah penghiburan. Hal terbaik adalah tidak
membicarakannya lebih banyak lagi sekarang ini, Harry.'
Pintu-pintu bergeser terbuka dan mereka melangkah ke luar ke Atrium yang
sekarang hampir kosong. Eric si penyihir penjaga tersembunyi di balik Daily
Prophetnya lagi. Mereka telah berjalan tepat melewati air mancur keemasan itu
sebelum Harry teringat.
'Tunggu ...' dia memberitahu Mr Weasley, dan, sambil menarik kantong uangnya
dari kantongnya, dia berpaling ke air mancur.
Dia memandang ke atas ke wajah penyihir pria tampan itu, tetapi dari dekat Harry
berpikir dia tampak agak lemah dan bodoh. Si penyihir wanita sedang tersenyum
lebar seperti kontestan kecantikan, dan dari yang Harry tahu tentang goblin-goblin
dan centaur, mereka paling tidak mungkin terlihat sedang menatap penuh pemujaann
kepada manusia dalam bentuk apapun. Hanya perilaku peri-rumah yang seperti budak
terlihat meyakinkan. Dengan sengiran karena memikirkan apa yang akan dikatakan
Hermionen kalau dia bisa melihat patung peri itu, Harry membalikkan kantong
uangnya dan mengosongkan bukan hanya sepuluh Galleon, tetapi keseluruhan isinya
ke dalam kolam.
*
'Aku tahu itu!' teriak Ron, sambil meninju ke udara. 'Kau selalu lolos dari semua hal!'
'Mereka harus membebaskanmu,' kata Hremione, yang terlihat akan pingsan karena
cemas ketika Harry memasuki dapur dan sekarang meletakkan tangan yang bergetar
menutupi matanya, 'tidak ada kasus melawanmu, tak ada sama sekali.'
'Walaupun begitu, semua orang terlihat sangat lega, mengingat kalian semua tahu
aku akan lolos,' kata Harry sambil tersenyum.
Mrs Weasley sedang menyeka wajahnya dengan celemeknya, dan Fred, George dan
Ginny melakukan semacam tarian perang sambil bernyanyi: 'Dia lolos, dia lolos, dia
lolos ...'
'Sudah cukup! Tenanglah!' teriak Mr Weasley, walaupun dia juga tersenyum.
'Dengar, Sirius, Lucius Malfoy tadi ada di Kementerian --'
'Apa?' kata Sirius dengan tajam.
'Dia lolos, dia lolos, dia lolos ...'
'Diamlah, kalian bertiga! Ya, kami melihatnya berbicara dengan Fudge di Tingkat
Sembilan, lalu mereka naik ke kantor Fudge bersama-sama. Dumbledore harus tahu.'
'Tentu saja,' kata Sirius. 'Kita akan memberitahu dia, jangan khawatir.'
'Well, sebaiknya aku pergi, ada toilet muntah yang menungguku di Bethnal Green.
Molly, aku pulang terlambat, aku akan menggantikan Tonks, tapi Kingsley mungkin
mampir untuk makan malam --'
'Dia lolos, dia lolos, dia lolos ...'
'Sudah cukup -- Fred -- George -- Ginny!' kata Mrs Weasley, ketika Mr Weasley
meninggalkan dapur. 'Harry, sayang, kemari dan duduklah, makan siang, kau hampir
tidak makan malam.'
Ron dan Hermione duduk di seberangnya, terlihat lebih gembira daripada
sebelumnya sejak dia pertama tiba di Grimmauld Place, dan perasaan lega Harry,
yang telah agak terusik oleh pertemuannya dengan Lucius Malfoy, membengkak lagi.
Rumah yang suram itu kelihatan lebih hangat dan lebih menyambut secara mendadak;
bahkan Kreacher tampak tidak begitu jelek ketika dia menampakkan hidungnya yang
mirip moncong ke dapur untuk menyelidiki sumber semua keributan itu.
'Tentu saja, sekali Dumbledore muncul untuk membelamu, mereka tidak punya
cara untuk menghukummu,' kata Ron dengan gembira, yang sekarang sedang
menghidangkan tumpukan kentang tumbuk ke piring-piring semua orang.
'Yeah, dia mengatasinya untukku,' kata Harry. Dia merasa akan terdengar sangat
tidak berterima kasih, belum lagi kekanak-kanakan, untuk berkata, 'Walaupun
kuharap dia berbicara kepadaku. Atau bahkan melihat kepadaku.'
Dan selagi dia memikirkan hal ini, bekas luka di dahinya membara sangat parah
sehingga dia menepukkan tangannya ke bekas luka itu.
'Ada apa?' kata Hermione, terlihat cemas.
'Bekas luka,' Harry bergumam. 'Tapi bukan apa-apa ... terjadi sepanjang waktu
sekarang ...'
Tak seorangpun dari mereka memperhatikan apa-apa; semuanya sekarang sedang
makan sementara menyukuri kelolosan Harry; Fred, George dan Ginny masih sedang
bernyanyi. Hermione terlihat agak cemas, tapi sebelum dia bisa berkata apapun, Ron
telah berkata dengan senang, 'Aku bertaruh Dumbledore muncul malam ini, untuk
merayakan dengan kita, kau tahu.'
'Kukira dia tidak akan bisa, Ron,' kata Mrs Weasley sambil menempatkan sepiring
besar ayam panggang ke depan Harry. 'Dia benar-benar sangat sibuk saat ini.'
'DIA LOLOS, DIA LOLOS, DIA LOLOS ...'
'DIAM!' raung Mrs Weasley.
*
Selama beberapa hari berikutnya Harry tidak bisa tidak memperhatikan bahwa ada
seseorang dalam Grimmauld Place nomor dua belas yang terlihat tidak sepenuhnya
kegirangan bahwa dia akan kembali ke Hogwarts. Sirius telah menampilkan
kebahagiaan saat pertama kali mendengarnya, meremas-remas tangan Harry dan
tersenyum seperti yang lain. Akan tetapi, segera saja dia semakin murung dan
merengut daripada sebelumnya, lebih sedikit berbicara kepada siapapun, bahkan
Harry, dan menghabiskan lebih banyak waktu terkurung dalam kamar ibunya bersama
Buckbeak.
'Kau jangan merasa bersalah!' kata Hermione dengan tegas, setelah Harry
menceritakan sebagian perasaannya kepada dia dan Ron selagi mereka menggosok
sebuah lemari berjamur di lantai ketiga beberapa hari kemudian. 'Hogwarts adalah
tempatmu berada dan Sirius tahu itu. Secara pribadi, kukira dia hanya bersikap egois.'
'Itu agak keras, Hermione,' kata Ron sambil merengut selagi dia mencoba
melepaskan sedikit jamur yang telah melekat dengan kuat ke jarinya, 'kau tidak akan
mau terperangkap di dalam rumah ini tanpa teman apapun.'
'Dia akan punya teman!' kata Hermione. 'Ini adalah Markas Besar Order of
Phoenix, bukan begitu? Dia hanya mengharap terlalu tinggi bahwa Harry akan datang
tinggal di sini bersamanya.'
'Kukira itu benar,' kata Harry sambil meremas pakaiannya. 'Dia tidak mau
memberiku jawaban langsung ketika aku bertanya kepadanya apakah aku bisa.'
'Dia hanya tidak ingin berharap terlalu tinggi,' kata Hermione dengan bijaksana.
'Dan dia sendiri mungkin merasa sedikit bersalah, karena kukira sebagian dari dirinya
sebenarnya berharap kau akan dikeluarkan. Dengan begitu kalian berdua akan jadi
orang buangan bersama-sama.'
'Hentikan itu!' kata Harry dan Ron bersamaan, tetapi Hermione hanya
mengangkat bahu.
'Terserah kalian. Tapi terkadang kupikir ibu Ron benar dan Sirius jadi bingung
apakah kau itu kau atau ayahmu, Harry.'
'Jadi menurutmu dia agak kurang waras?' tanya Harry dengan panas.
'Tidak, aku hanya mengira dia telah sangat kesepian untuk waktu yang lama,' kata
Hermione.
Pada saat ini, Mrs Weasley memasuki kamar tidur.
'Masih belum selesai?' katanya sambil menjulurkan kepala ke dalam lemari.
'Kukira Ibu datang ke sini untuk menyuruh kami beristirahat!' kata Ron dengan
getir. 'Tahukah Ibu berapa banyak jamur yang telah kami enyahkan sejak kami tiba di
sini?'
'Kau sangat ingin membantu Order,' kata Mrs Weasley, 'kau bisa melakukan
bagianmu dengan membuat Markas Besar pantas ditinggali.'
'Aku merasa seperti peri-rumah,' gerutu Ron.
'Well, sekarang kau mengerti betapa mengerikannya hidup mereka, mungkin kau
akan lebih aktif dalam SPEW!' kata Hermione penuh harapan, ketika Mrs Weasley
meninggalkan mereka. 'Kau tahu, mungkin bukan ide buruk memperlihatkan kepada
orang-orang betapa mengerikannya bersih-bersih sepanjang waktu -- kita bisa
melakukan penggosokan tersponsor di ruang duduk Gryffindor setiap waktu, semua
keuntungan untuk SPEW, akan meningkatkan kesadaran beserta dana.'
'Akan kusponsor kau untuk tutup mulut mengenai SPEW,' Ron bergumam dengan
kesal, tapi hanya supaya Harry bisa mendengarnya.
*
Harry menemukan dirinya semakin sering melamun mengenai Hogwarts selagi akhir
liburan mendekat; dia tidak sabar untuk bertemu Hagrid lagi, untuk bermain
Quidditch, bahkan untuk berjalan di petak-petak sayuran di rumah-rumah kaca
Herbologi; pasti sangat menyenangkan bisa meninggalkan rumah berjamur dan
berdebu ini, yang setengah dari lemari-lemarinya masih terkunci rapat dan Kreacher
mengeluarkan hinaan-hinaan dari balik bayangan ketika kau lewat, walaupun Harry
berhati-hati tidak mengatakan semua ini dalam jarak pendengaran Sirius.
Kenyataannya adalah tinggal dalam Markas Besar pergerakan anti-Voldemort tidak
semenarik atau memberi semangat seperti yang diharapkan Harry sebelum dia
merasakannya. Walaupun para anggota Order of Phoenix datang pergi secara teratur,
kadang-kadang tinggal untuk makan, terkadang hanya selama beberapa menit untuk
bercakap-cakap secara berbisik, Mrs Weasley memastikan bahwa Harry dan yang lain
berada di luar jangkauan pendengaran (baik telinga normal maupun Yang-DapatDipanjangkakn) dan tak seorangpun, bahkan tidak juga Sirius, tampak merasa bahwa
Harry perlu tahu apa-apa lebih dari yang telah didengarnya pada malam
kedatangannya.
Pada hari terakhir dari liburan, Harry sedang menyapu kotoran Hedwig dari puncak
lemari pakaian ketika Ron memasuki kamar tidur mereka sambil membawa dua buah
amplop.
'Daftar buku sudah tiba,' katanya sambil melemparkan salah satu amplop kepada
Harry, yang sedang berdiri di atas sebuah kursi. 'Sudah waktunya, kukira mereka
sudah lupa, biasanya datang lebih cepat dari ini ...'
Harry menyapukan kotoran terakhir ke dalam kantong sampah dan melemparkan
kantong itu melewati kepala Ron ke dalam keranjang sampah di sudut, yang
menelannya dan bersendawa dengan keras. Dia lalu membuka suratnya. Isinya dua
lembar perkamen: satu pengingat yang biasa bahwa semester dimulai pada satu
September; yang lain memberitahunya buku-buku yang akan dibutuhkannya tahun ini.
'Hanya dua yang baru,' katanya sambil membaca daftar itu, 'Buku Mantera Standar,
Tingkat 5, oleh Miranda Goshawk, dan Teori Sihir untuk Pertahanan, oleh Wilbert
Slinkhard.'
Crack.
Fred dan George ber-Apparate tepat di samping Harry. Dia sudah begitu terbiasa
dengan perbuatan mereka ini sekarang sehingga dia bahkan tidak jatuh dari kursinya.
'Kami hanya bertanya-tanya siapa yang menggunakan buku Slinkhard,' kata Fred
memulai percakapan.
'Karena artinya Dumbledore sudah menemukan seorang guru Pertahanan Terhadap
Ilmu Hitam yang baru,' kata George.
'Dan sudah waktunya juga,' kata Fred.
'Apa maksudmu?' Harry bertanya sambil melompat turun ke sisi mereka.
'Well, kami mencuri dengar Mum dan Dad berbicara dengan Telinga Yang-DapatDipanjangkan beberapa minggu yang lalu,' Fred memberitahu Harry, 'dan dari apa
yang mereka katakan, Dumbledore mengalami kesulitan besar untuk menemukan
siapapun untuk pekerjaan itu tahun ini.'
'Tidak mengejutkan, bukan, kalau kau lihat apa yang terjadi pada empat guru yang
terakhir?' kata George.
'Satu dipecat, satu mati, satu ingatannya hilang dan satu terkunci dalam sebuah
koper selama sembilan bulan,' kata Harry sambil menghitung mereka dengan jarijarinya. 'Yeah, aku tahu maksudmu.'
'Ada apa denganmu, Ron?' tanya Fred.
Ron tidak menjawab. Harry melihat berkeliling. Ron sedang berdiri tidak bergerak
dengan mulut agak terbuka, menganga memandangi suratnya dari Hogwarts.
'Ada apa sih?' kata Fred dengan tidak sabar, sambil bergerak mengitari Ron untuk
melihat perkamen itu melalui bahunya.
Mulut Fred juga jadi terbuka.
'Prefek?' katanya sambil menatap surat itu dengan tidak percaya. 'Prefek?'
George melompat maju, menyambar amplop dari tangan Ron yang lain dan
membalikkannya. Harry melihat sesuatu yang berwarna merah tua dan emas jatuh ke
telapak tangan George.
'Tidak mungkin,' kata George dengan suara kecil.
'Ada kesalahan,' kata Fred sambil menyambar surat itu dari genggaman Ron dan
memegangnya ke lampu seolah-olah mencari tanda air. 'Tak seorangpun yang waras
akan menjadikan Ron prefek.'
Kepala si kembar berpaling serempak dan keduanya menatap Harry.
'Kami pikir sudah pasti kau!' kata Fred, dengan nada yang menuduh Harry telah
menipu mereka dengan suatu cara.
'Kami pikir Dumbledore pasti memilihmu!' kata George tidak percaya.
'Memenangkan Triwizard dan segalanya!' kata Fred.
'Kukita semua hal gila itu dihitung melawannya,' kata George kepada Fred.
'Yeah,' kata Fred pelan-pelan. 'Yeah, kau telah menyebabkan terlalu banyak
masalah, sobat. Well, setidaknya salah satu dari kalian punya prioritas yang benar.'
Dia berjalan ke arah Harry dan menepuk punggungnya sementara memberi Ron
pandangan tajam.
'Prefek ... ickle Ronnie si Prefek.'
'Ohh, Mum akan jadi memuakkan,' erang George, sambil mendorong lencana
prefek balik kepada Ron seolah-olah benda itu bisa mencemarkannya.
Ron, yang masih belum berkata sepatah katapun, mengambil lencana itu,
menatapnya sejenak, lalu mengulurkannya kepada Harry seakan-akan bertanya tanpa
suara untuk meminta konfirmasi atas keasliannya. Harry mengambilnya. Sebuah
huruf 'P' besar dilapiskan ke atas singa Gryffindor. Dia telah melihat lencana yang
persis seperti ini di dada Percy pada hari pertamanya di Hogwarts.
Pintu terbanting membuka. Hermione masuk ke dalam kamar dengan cepat, pipinya
merona dan rambutnya beterbangan. Ada amplop di tangannya.
'Apakah kau -- apakah kau mendapat --?'
Dia melihat lencana di tangan Harry dan mengeluarkan pekikan.
'Aku tahu itu!' katanya dengan bersemangat, sambil mengacungkan suratnya. 'Aku
juga, Harry, aku juga!'
'Bukan,' kata Harry dengan cepat, sambil mendorong lencana itu kembali ke tangan
Ron. 'Ron, bukan aku.'
'Apa?'
'Ron yang jadi prefek, bukan aku,' Harry berkata.
'Ron?' kata Hermione, rahangnya membuka. 'Tapi ... apakah kau yakin? Maksudku
...'
Dia berubah menjadi merah sementara Ron melihat ke arahnya dengan ekspresi
menantang di wajahnya.
'Namaku ada dalam surat,' katanya.
'Aku ...' kata Hermione sambil terlihat benar-benar bingung. 'Aku ... well ... wow!'
Bagus, Ron! Itu benar-benar --'
'Tidak terduga,' kata George sambil mengangguk.
'Bukan,' kata Hermione, lebih merona daripada sebelumnya, 'bukan begitu ... Ron
telah melakukan banyak ... dia benar-benar ...'
Pintu di belakangnya terbuka sedikit lebih lebar dan Mrs Weasley masuk ke dalam
kamar sambil membawa setumpukan jubah yang baru dicuci.
'Ginny bilang daftar buku sudah tiba akhirnya,' katanya, sambil melihat sekilas ke
amplop-amplop itu ketika dia berjalan ke tempat tidur dan mulai menyortir jubahjubah ke dalam dua tumpukan. 'Kalau kalian memberikan daftar-daftar itu kepadaku
aku akan membawanya ke Diagon Alley sore ini dan mengambilkan buku-buku
kalian selagi kalian berkemas. Ron, aku harusu membelikanmu piyama-piyama baru,
yang ini setidaknya enam inci terlalu pendek, aku tidak percaya betapa cepatnya kau
tumbuh ... warna apa yang kau suka?'
'Berikan dia yang berwarna merah dan emas agar serasi dengan lencananya,' kata
George sambil tersenyum menyeringai.
'Serasi dengan apanya?' kata Mrs Weasley dengan linglung sambil menggulung
sepasang kaus kaki merah marun dan menempatkannya ke tumpukan Ron.
'Lencananya,' kata Fred, dengan suasana ingin melewatkan hal terburuk secapatnya.
'Lencana prefek barunya yang bagus dan berkilat.'
Kata-kata Fred butuh waktu sejenak untuk dipahami Mrs Weasley yang sedang
disibukkan oleh piyama.
'Tapi ... Ron, kau tidak ...?'
Ron mengacungkan lencananya.
Mrs Weasley mengeluarkan pekik seperti Hermione.
'Aku tidak percaya! Aku tidak percaya! Oh, Ron, betapa bagusnya! Seorang prefek!
Jadinya semua orang dalam keluarga!'
'Apa Fred dan aku ini, tetangga sebelah rumah?' kata George dengan tidak senang,
ketika ibunya mendorongnya ke samping dan menghempaskan lengannya melingkari
putra bungsunya.
'Tunggu sampai ayah kalian dengar! Ron, aku sangat bangga padamu, betapa
bagusnya berita ini, kau bisa berakhir jadi Ketua Murid seperti Bill dan Percy, ini
langkah pertama! Oh, hal bagus yang terjadi di tengah semua kekuatiran ini, aku
hanya senang sekali, oh, Ronnie --'
Fred dan George keduanya membuat suara muntah keras di balik punggung ibu
mereka tetapi Mrs Weasley tidak memperhatikan; lengannya melingkari leher Ron
dengan ketat, dia sedang menciumnya di seluruh wajah, yang telah berubah menjadi
merah tua lebih terang daripada lencananya.
'Mum ... jangan ... Mum, kendalikan diri ...' gumamnya sambil mencoba
mendorongnya menjauh.
Dia melepaskannya dan berkata dengan terengah-engah, 'Well, apa jadinya? Kami
memberi Percy seekor burung hantu, tapi kau sudah punya satu, tentu saja.'
'A-apa maksud Ibu?' kata Ron, terlihat seolah-olah dia tidak berani mempercayai
telinganya.
'Kau harus dapat hadiah untuk ini!' kata Mrs Weasley dengan sayang. 'Bagaimana
kalau satu set jubah pesta baru?'
'Kami sudah membelikannya beberapa buah,' kata Fred dengan masam, yang
terlihat seolah-olah dia menyesali kebaikan hati ini.
'Atau sebuah kuali baru, kuali tua Charlie sudah mulai berkarat, atau seekor tikus
baru, kau selalu suka Scabbers --'
'Mum,' kata Ron penuh harap, 'bisakah aku punya sapu baru?'
Wajah Mrs Weasley agak berubah; sapu terbang harganya mahal.
'Bukan yang benar-benar bagus!' Ron cepat-cepat menambahkan. 'Hanya -- hanya
yang baru untuk peralihan ...'
Mrs Weasley bimbang, lalu tersenyum.
'Tentu kau bisa ... well, aku sebaiknya cepat pergi kalau aku juga harus beli sapu.
Akan kutemui kalian semua nanti ... Ronnie kecil, seorang prefek! Dan jangan lupa
kemasi koper-koper kalian ... seorang prefek ... oh, aku sangat sibuk!'
Dia memberi Rin ciuman di pipi lagi, mengambil napas dengan keras, dan buruburu keluar dari kamar.
Fred dan George saling berpandangan.
'Kau tidak keberatan kalau kami tidak menciummu, 'kan, Ron?' kata Fred dengan
suara cemas yang palsu.
'Kami bisa memberi hormat, kalau kau mau,' kata George.
'Oh, diam,' kata Ron, sambil cemberut kepada mereka.
'Atau apa?' kata Fred, seringai jahat membentang di wajahnya. 'Akan memberi
kami detensi?'
'Aku ingin melihatnya mencoba,' cibir George.
'Dia bisa kalau kalian tidak hati-hati!' kata Hermione dengan marah.
Fred dan George meledak tertawa, dan Ron bergumam, 'Sudahlah, Hermione.'
'Kita harus mejaga langkah kita, George,' kata Fred, berpura-pura gemetar, 'dengan
dua orang ini mengawasi kita ...'
'Yeah, tampaknya hari-hari melawan hukum kita sudah berakhir,' kata George
sambil menggelengkan kepalanya.
Dan dengan suara crack lagi, si kembar ber-Disapparate.
'Yang dua itu!' kata Hermione dengan marah, sambil menatap langit-langit, dari
mana mereka bisa mendengar Fred dan George tertawa bergemuruh di kamar atas.
'Jangan perhatikan mereka, Ron, mereka cuma iri!'
'Aku kira mereka tidak begitu,' kata Ron dengan ragu, juga menatap langit-langit.
'Mereka selalu bilang hanya orang brengsek yang jadi prefek ... tetap saja,' dia
menambahkan dengan nada lebih senang, 'mereka belum pernah punya sapu baru!
Kuharap aku bisa pergi dengan Mum dan memilih ... dia tidak akan pernah bisa
membeli Nimbus, tapi ada Sapu Bersih baru yang keluar, itu akan bagus sekali ...
yeah, kukira aku akan pergi memberitahunya aku suka Sapu Bersih, hanya agar dia
tahu ...'
Dia berlari keluar kamar, meninggalkan Harry dan Hermione sendiri.
Untuk alasan-alasan tertentu, Harry menemukan dirinya tidak mau memandang
Hermione. Dia berpaling ke tempat tidurnya, memungut tumpukan jubah bersih yang
telah diletakkan Mrs Weasley ke atasnya dan menyeberangi kamar menuju kopernya.
'Harry?' kata Hermione untuk melihat reaksinya.
'Bagus, Hermione,' kata Harry, dengan setengah hati sehingga sama sekali tidak
terdengar seperti suaranya, dan, masih tidak memandangnya, 'brilian. Prefek. Bagus.'
'Trims,' kata Hermione. 'Erm -- Harry -- bolehkah aku pinjam Hedwig agar aku bisa
memberitahu Mum dan Dad? Mereka akan sangat senang -- maksudku prefek adalah
sesuatu yang bisa mereka mengerti.'
'Yeah, tak masalah,' kata Harry, masih dalam suara setengah hati yang mengerikan
itu yang bukan suaranya. 'Ambil dia!'
Dia membungkuk ke kopernya, meletakkan jubah-jubah itu ke dasarnya dan
berpura-pura menggeledah sesuatu sementara Hermione menyeberang ke lemari
pakaian dan memanggil Hedwig turun. Beberapa saat lewat; Harry mendengar pintu
menutup tetapi tetap membungkuk, sambil mendengarkan; satu-satunya suara yang
dapat didengarnya adalah lukisan kosong di dinding yang mencibir lagi dan keranjang
sampah di sudut yang memuncratkan kotoran burung hantu.
Dia meluruskan badan dan melihat ke belakangnya. Hermione dan Hedwig telah
pergi. Harry bergegas menyeberangi kamar, menutup pintu, lalu kembali pelan-pelan
ke ranjangnya dan merosot ke atasnya, sambil menatap kosong kaki lemari pakaian.
Dia telah sepenuhnya lupa tentang pemilihan para prefek di tahun kelima. Dia
terlalu cemas akan kemungkinan dikeluarkan sehingga tidak menyisakan pikiran
tentang fakta bahwa lencana-lencana itu pasti sedang dalam perjalanan menuju orangorang tertentu. Tapi kalau dia ingat ... kalau dia memikirkan tentang hal itu ... apa
yang akan diharapkannya?
Bukan ini, kata sebuah suara kecil yang jujur di dalam kepalanya.
Harry mengernyitkan wajahnya dan menutupnya dengan tangan. Dia tidak bisa
membohongi dirinya sendiri; kalau dia tahu lencana prefek sedang dalam perjalanan,
dia akan mengahrapkannya datang kepada dirinya, bukan Ron. Apakah ini
membuatnya searogan Draco Malfoy? Apakah dia mengira dirinya lebih hebat
daripada orang lain? Apakah dia benar-benar percaya bahwa dia lebih baik daripada
Ron?
Tidak, kata suara kecil itu dengan menantang.
Benarkah itu? Harry bertanya-tanya sambil menyelidiki perasaannya dengan
cemas.
Aku lebih pandai dalam Quidditch, kata suara itu. Tapi aku tidak lebih baik dalam
hal lain.
Itu sangat benar, Harry berpikir; dia tidak lebih baik daripada Ron dalam hal
pelajaran. Tapi bagaimana dengan di luar pelajaran? Bagaimana dengan petualanganpetualangan yang dia, Ron dan Hermione alami bersama sejak masuk Hogwarts,
seringkali mempertaruhkan hal yang jauh lebih buruk daripada pengeluaran dari
sekolah?
Well, Ron dan Hermione ada bersamaku kebanyakan waktu, kata suara di kepala
Harry.
Namun tidak sepanjang waktu, Harry membantah dirinya sendiri. Mereka tidak
bertarung dengan Quirrel bersamaku. Mereka tidak melawan Riddle dan Basilisk.
Mereka tidak mengenyahkan para Dementor itu di malam Sirius kabur. Mereka tidak
ada di pekuburan itu bersamaku, di malam Voldemort kembali ...
Dan perasaan disalahgunakan yang dulu telah meliputi dirinya di malam dia tiba
bangkit lagi. Aku jelas telah melakukan lebih banyak, pikir Harry marah. Aku telah
melakukan lebih banyak daripada mereka!
Tapi mungkin, kata suara kecil itu dengan adil, mungkin Dumbledore tidak
memilih prefek karena mereka melibatkan diri ke banyak situasi berbahaya ...
mungkin dia memilih prefek karena alasan-alasan lain ... Ron pasti punya sesuatu
yang tidak kau punya ...
Harry membuka matanya dan menatap melalui jari-jarinya ke kaki bercakar lemari
pakaian, sambil mengingat apa yang telah dikatakan Fred: 'Tak seorangpun yang
waras akan menjadikan Ron seorang prefek ...'
Harry mengeluarkan dengusan tawa. Sedetik kemudian dia merasa muak dengan
dirinya sendiri.
Ron tidak meminta Dumbledore memberinya lencana prefek. Ini bukan salah Ron.
Apakah dia, Harry, sahabat terbaik Ron di seluruh dunia, akan merajuk karena dia
tidak memiliki lencana, tertawa bersama si kembar di belakang Ron, mengacaukan ini
bagi Ron ketika, untuk pertama kalinya, dia telah mengalahkan Harry dalam sesuatu?
Sampai sini Harry mendengar langkah-langkah kaki Ron di tangga lagi. Dia berdiri,
meluruskan kacamatanya, dan menyeringai ketika Ron masuk lewat pintu.
'Baru saja mengejarnya!' dia berkata dengan gembira. 'Dia bilang dia akan
membelikan Sapu Bersih kalau dia bisa.'
'Keren,' Harry berkata, dan dia lega mendengar suaranya telah tidak terdengar
setengah hati lagi. 'Dengar -- Ron -- selamat, sobat.'
Senyum memudar dari wajah Ron.
'Aku tak pernah mengira aku yang akan terpilih!' katanya sambil menggelengkan
kepalanya. 'Kukira kau!'
'Tidak, aku sudah menyebabkan terlalu banyak masalah,' kata Harry meniru Fred.
'Yeah,' kata Ron, 'yeah, kurasa ... well, kita sebaiknya mengepak koper-koper kita,
bukan begitu?'
Tampaknya ganjil bagaimana barang-barang milik mereka seolah berceceran
sendiri sejak mereka tiba. Mereka butuh hampir sesorean untuk mengambil kembali
buku-buku dan barang-barang dari segala tempat di rumah dan memuatkannya
kembali ke dalam koper sekolah mereka. Harry memperhatikan bahwa Ron terus
memindahkan lencana prefeknya ke sekitar, pertama menempatkannya di meja
samping tempat tidur, lalu meletakkannya ke dalam kantong celana jinsnya, lalu
mengeluarkannya dan meletakkannya di atas jubahnya yang terlipat, seolah-olah ingin
melihat pengaruh warna merah pada warna hitam. Hanya setelah Fred dan George
mampir dan menawarkan untuk melekatkannya ke dahinya dengan Mantera Lekat
Permanen barulah dia membungkusnya dengan hati-hati dalam kaus kaki merah
marunnya dan menguncinya di dalam kopernya.
Mrs Weasley kembali dari Diagon Alley sekitar jam enam, diberati oleh buku-buku
dan membawa sebuah paket panjang yang dibungkus dengan kertas coklat tebal yang
diambil Ron dengan erangan rasa ingin.
'Tidak usah membuka bungkusnya sekarang, orang-orang akan tiba untuk makan
malam, aku mau kalian semua turun,' katanya, tapi saat dia menghilang dari
pandangan Ron merobek kertas itu dengan gila-gilaan dan memeriksa setiap inci sapu
barunya dengan ekspresi kegirangan di wajahnya.
Di ruang bawah tanah Mrs Weasley telah menggantungkan sebuah spanduk merah
tua di atas meja yang penuh, yang bertuliskan:
SELAMAT
RON DAN HERMIONE
PREFEK - PREFEK BARU
Dia terlihat dalam keadaan jiwa yang lebih baik daripada yang pernah dilihat Harry
selama liburan.
'Kukira kita akan mengadakan pesta kecil, bukan makan malam di meja,' dia
memberitahu Harry, Ron, Hermione, Fred, George dan Ginny ketika mereka
memasuki ruangan. 'Ayahmu dan Bill sedang dalam perjalanan, Ron. Aku sudah
mengirim burung hantu kepada mereka berdua dan mereka sangat senang,' dia
menambahkan sambil tersenyum.
Fred menggulirkan matanya.
Sirius, Lupin, Tonks dan Kingsley Shacklebolt telah berada di sana dan Mad-Eye
Moody melangkah masuk segera setelah Harry memperoleh Butterbeer untuk dirinya
sendiri.
'Oh, Alastor, aku senang kamu ada di sini,' kata Mrs Weasley dengan ceria, selagi
Mad-Eye melepaskan mantel bepergiannya. 'Kami sudah lama ingin menanyaimu -bisakah kamu melihat ke meja tulis di ruang duduk dan memberitahu kami apa yang
ada di dalamnya? Kami belum mau membukanya kalau-kalau isinya sesuatu yang
mengerikan.'
'Tidak masalah, Molly ...'
Mata biru elektrik Moody berputar ke atas dan menatap melalui langit-langit dapur.
'Ruang duduk ...' gerutunya, selagi pupil matanya mengerut. 'Meja tulis di sudut?
Yeah, aku melihatnya ... yeah, sebuah Boggart ... ingin aku naik dan melenyapkannya,
Molly?'
'Tidak, tidak, akan kulakukan sendiri nanti,' kata Mrs Weasley sambil tersenyum,
'kamu minumlah. Sebenarnya kami sedang mengadakan perayaan kecil-kecilan ...' Dia
memberi tanda ke spanduk merah tua itu. 'Prefek keempat dalam keluarga!'
'Prefek, eh?' gerutu Moody, mata normalnya menatap Ron dan mata sihirnya
berputar berkeliling dan memandang ke sisi kepalanya. Harry punya perasaan tak
nyaman bahwa mata itu sedang melihatnya dan pindah mendekat kepada Sirius dan
Lupin.
'Well, selamat,' kata Moody, masih melotot kepada Ron dengan mata normalnya,
'figur-figur dalam kekuasaan selalu menarik masalah, tapi kurasa Dumbledore
mengira kamu bisa menahan kebanyakan kutukan utama atau dia tidak akan
menunjukmu ...'
Ron terlihat agak terkejut atas sudut pandang ini tetapi diselamatkan dari keharusan
untuk menjawab oleh kedatangan ayah dan kakak tertuanya. Mrs Weasley merasa
sangat senang sehingga dia bahkan tidak mengeluh bahwa mereka membawa
Mundungus bersama mereka; dia memakai jas luar panjang yang terlihat
menggembung di tempat-tempat aneh dan menolak tawaran untuk melepaskannya dan
meletakkannya bersama mantel bepergian Moody.
'Well, kukira kita harus bersulang,' kata Mr Weasley, ketika semua orang sudah
minum. Dia mengangkat pialanya. 'Kepada Ron dan Hermione, para prefek baru
Gryffindor!'
Ron dan Hermione tersenyum ketika semua orang minum untuk mereka, dan lalu
bertepuk tangan.
'Aku sendiri tak pernah jadi prefek,' kata Tonks dengan ceria dari balik Harry
ketika semua orang bergerak menuju meja untuk makan. Rambutnya merah tomat dan
sepanjang pinggang hari ini; dia tampak seperti kakak perempuan Ginny. 'Kepala
Asramaku mengatakan aku kurang sifat-sifat tertentu yang diperlukan.'
'Seperti apa?' kata Ginny, yang sedang memilih kentang panggang.
'Seperti kemampuan untuk menjaga tingkah lakuku,' kata Tonks.
Ginny tertawa; Hermione terlihat seakan-akan tidak tahu apakah harus tersenyum
atau tidak dan memutuskan untuk minum Butterbeer banyak-banyak dan tersedak
olehnya.
'Bagaimana denganmu, Sirius?' Ginny bertanya, sambil memukul-mukuk punggung
Hermione.
Sirius, yang tepat di samping Harry, mengeluarkan tawa mirip gonggongan yang
biasa.
'Tak seorangpun yang akan menjadikanku prefek, aku menghabiskan terlalu banyak
waktu dalam detensi bersama James. Lupin anak yang baik, dia dapat lencana.'
'Kukira Dumbledore mungkin berharap aku akan bisa melakukan sedikit
pengendalian terhadap sahabat-sahabat baikku,' kata Lupin. 'Aku hampir itidak perlu
bilang bahwa aku gagal.'
Perasaaan Harry mendadak membaik. Ayahnya juga tidak jadi prefek. Seketika
pesta itu tampak lebih menyenangkan; dia memenuhi piringnya, merasa dua kali lebih
suka kepada semua orang dalam ruangan itu.
Ron sedang bercerita dengan gembira mengenai sapu barunya kepada siapapun
yang mau mendengarkan.
'... nol ke tujuh puluh dalam sepuluh detik, tidak jelek, 'kan? Kalau kau
pertimbangkan Komet Dua Sembilan Puluh hanya nol ke enam puluh dan itupun
dengan angin buritan yang bagus menurut Sapu yang Mana?'
Hermione sedang berbincang-bincang dengan bersemangat kepada Lupin mengenai
pandangannya terhadap hak-hak peri.
'Maksudku, itu omong kosong yang sejenis dengan pemisahan manusia serigala,
bukan begitu? Semuanya berakar dari hal mengerikan yang dimiliki oleh para
penyihir yaitu pemikiran bahwa mereka lebih baik daripada makhluk-makhluk lain ...'
Mrs Weasley dan Bill sedang berdebat seperti biasa mengenai rambut Bill.
'... sudah tak bisa diurus, dan kau begitu tampan, akan tampak lebih baik kalau
lebih pendek, bukankah begitu, Harry?'
'Oh -- aku tak tahu --' kata Harry, agak terkejut dimintai pendapat, dia menyelinap
menjauh dari mereka ke arah Fred dan George yang sedang berkerumun di sudut
dengan Mundungus.
Mundungus berhenti berbicara ketika dia melihat Harry, tetapi Fred berkedip dan
memberi isyarat kepada Harry untuk mendekat.
'Tidak apa-apa,' dia memberitahu Mundungus, 'kita bisa mempercayai Harry, dia
pendukung finansial kami.'
'Lihat apa yang dibawa Dung untuk kami,' kata George, sambil mengulurkan
tangannya kepada Harry. Tangan itu penuh dengan apa yang terlihat seperti kacang
polong hitam yang mengkerut. Sebuah suara derak samar datang dari kacang-kacang
itu, walaupun mereka benar-benar tidak bergerak.
'Biji-biji Tentakel Berbisa,' kata George. 'Kami butuh mereka untuk Kotak
Makanan Pembolos tapi mereka adalahl Benda Tidak Diperdagangkan Kelas C jadi
kami agak kesulitan mengdapatkannya.'
'Kalau begitu, sepuluh Galleon untuk semuanya, Dung?' kata Fred.
'D'gan semua masalah yang kulalui untuk mendapatkannya?' kata Mundungus,
matanya yang merah darah dan kendor menregang lebih lebar lagi. 'Maaf, nak, tapi
aku tak akan mengambil satu Knutpun di bawah dua puluh.'
'Dung suka lelucon kecilnya,' Fred berkata kepada Harry.
'Yeah, yang terbaik sejauh ini adalah enam Sickle untuk sekantong pena bulu
Knarl,' kata George.
'Hari-hati,' Harry memperingatkan mereka dengan pelan.
'Apa?' kata Fred. 'Mum sibuk memuji Prefek Ron, kita tidak apa-apa.'
'Tapi Moody bisa memandang kalian dengan matanya,' Harry menunjukkan.
Mundungus memandang dengan gugup lewat bahunya.
'Poin yang bagus itu,' gerutunya. 'Baiklah, nak, sepuluh jadinya, kalau kalian
mengambilnya dengan cepat.'
'Cheers, Harry!' kata Fred dengan senang, sewaktu Mundungus telah
mengosongkan kantongnya ke tangan-tangan si kembar yang dijulurkan dan berjalan
tergesa-gesa menuju makanan. 'Kita sebaiknya membawa ini ke atas ...'
Harry memperhatikan mereka pergi, sambil merasa agak kurang enak. Baru saja
terpikir olehnya bahwa Mr dan Mrs Weasley akan mau tahu bagaimana Fred dan
George membiayai bisnis toko lelucon mereka ketika, seperti yang tidak terhindarkan,
mereka akhirnya mengetahui hal itu. Memberikan hasil kemenangan Triwizardnya
kepada si kembar tampak hal yang sederhana untuk dilakukan pada saat itu, tetapi
bagaimana kalau itu menuntun kepada pertengkaran keluarga lain dan kerenggangan
seperti Percy? Apakah Mrs Weasley masih akan merasa bahwa Harry seperti anaknya
sendiri kalau dia mengetahui bahwa dia yang memungkinkan Fred dan George
memulai karir yang dianggapnya tidak sesuai?
Sambil berdiri di tempat si kembar meninggalkannya, hanya ditemani oleh
perasaan bersalah yang memberati dasar perutnya, Harry mendengar namanya sendiri
diucapkan. Suara dalam Kingsley Shacklebolt terdengar bahkan melewati obrolan di
sekeliling.
'... kenapa Dumbledore tidak menjadikan Potter prefek?' kata Kingsley.
'Dia punya alasannya tersendiri,' jawab Lupin.
'Tapi akan memperlihatkan keyakinan pada dirinya. Itu yang akan kulakukan,'
Kingsley bersikeras, 'terutama dengan Daily Prophet yang mengoloknya tiap beberapa
hari sekali ...'
Harry tidak berpaling; dia tidak mau Lupin atau Kingsley mengetahui dia telah
mendengarnya. Walaupun sama sekali tidak lapar, dia mengikuti Mundungus kembali
menuju meja. Kesenangannya atas pesta itu telah menguap secepat datangnya; dia
berharap dia ada di atas di tempat tidurnya.
Mad-Eye Moody sedang membaui sebuah paha ayam dengan apa yang tersisa dari
hidungnya; jelas dia tidak bisa mendeteksi sisa-sisa racun apapun, karena dia lalu
mengoyaknya dengan gigi.
'... pegangannya terbuat dari kayu ek Spanyol dengan pernis anti kutukan dan
kendali getar terpasang --' Ron sedang berkata kepada Tonks.
Mrs Weasley menguap lebar-lebar.
'Well, kukira aku akan mengatasi Boggart itu sebelum tidur ... Arthur, aku tidak
mau mereka terjaga terlalu malam, oke? Malam, Harry, sayang.'
'Kau baik-baik saja, Potter?' gerutu Moody.
'Yeah, baik,' dusta Harry.
Moody meneguk dari botol labunya, mata biru elektriknya menatap ke samping
kepada Harry.
'Kemarilah, aku punya sesuatu yang mungkin menarik bagimu,' katanya.
Dari salah satu kantong dalam di jubahnya Moody menarik sebuah foto sihir tua
yang sangat compang-camping.
'Order of the Phoenix yang asli,' geram Moody. 'Akhirnya kutemukan tadi malam
sewaktu aku sedang mencari Jubah Gaib cadanganku, karena Podmore tidak punya
sopan santun untuk mengembalikan jubah terbaikku ... kukira orang-orang mungkin
ingin melihatnya.'
Harry mengambil foto itu. Kerumunan kecil orang, beberapa melambai kepadanya,
yang lain mengangkat kaca mata mereka, memandang balik kepadanya.
'Itu aku,' kata Moody sambil menunjuk kepada dirinya sendiri. Moody di gambar
itu tidak bisa salah dikenali, walaupun rambutnya tidak begitu kelabu dan hidungnya
utuh. 'Dan itu Dumbledore di sampingku, Dedalus Diggle di sisi lain ... itu Marlene
McKinnon, dia terbunuh dua minggu setelah ini diambil, mereka membunuh semua
keluarganya. Itu Frank dan Alice Longbottom --'
Perut Harry, yang telah tidak enak, mengejang ketika dia melihat kepada Alice
Longbottom; dia mengenali wajah bulatnya yang bersahabat dengan baik, walaupun
mereka belum pernah berjumpa, karena dia sangat mirip dengan anaknya, Neville.
'-- orang-orang malang,' geram Moody. 'Lebih baik mati daripada apa yang terjadi
dengan mereka ... dan itu Emmeline Vance, kau sudah bertemu dengannya, dan di
sana Lupin, tentu saja ... Benjy Fenwick, dia kena juga, kami hanya pernah
menemukan potongan-potongan tubuhnya ... geser ke samping yang di sana,'
tambahnya sambil menyodok gambar itu, dan orang-orang kecil di foto menepi ke
samping, sehingga yang tertutup sebagian bisa pindah ke depan.
'Itu Edgar Bones ... kakak Amelia Bones, mereka bunuh dia dan keluarganya juga,
dia adalah penyihir hebat ... Sturgis Podmore, astaga, dia tampak muda ... Caradoc
Dearborn, menghilang enam bulan setelah ini, kami tidak pernah menemukan
mayatnya ... Hagrid, tentu saja, terlihat persis sama ... Elphias Doge, kau sudah
bertemu dengannya, aku lupa dia dulu suka memakai topi bodoh itu ... Gideon
Prewett, butuh lima Pelahap Maut untuk membunuhnya dan saudaranya Fabian,
mereka bertarung seperti pahlawan ... geser, geser ...'
Orang-orang kecil di foto itu saling mendesak satu sama lain dan yang tersembunyi
tepat di belakang muncul di bagian depan gambar.
'Itu saudara lelaki Dumbledore, Aberfotrh, satu-satunya pertemuanku dengannya,
lelaki aneh ... itu Dorcas Meadows, Voldemort membunuhnya sendiri ... Sirius, waktu
dia masih berambut pendek ... dan ... itu dia, kukira itu akan membuatmu tertarik!'
Jantung Harry berbalik. Ibu dan ayahnya sedang tersenyum kepadanya, duduk di
kedua sisi seorang lelaki kecil yang matanya berair yang dikenali Harry dengan
seketika sebagai Wormtail, orang yang telah mengkhianati keberadaan orang tuanya
kepada Voldemort dan dengan begitu membantu mendatangkan kematian mereka.
'Eh?' kata Moody.
Harry memandang wajah Moody yang penuh luka dan lubang. Jelas Moody
mendapat kesan bahwa dia baru saja memberi Harry sesuatu yang menyenangkan.
'Yeah,' kata Harry, mencoba menyeringai sekali lagi. 'Er ... dengar, aku baru saja
ingat, aku belum mengepak ...'
Dia bebas dari keharusan menciptakan benda yang belum dikemasnya. Sirius baru
saja berkata, 'Apa yang kau punya di sana, Mad-Eye?' dan Moody berpaling
kepadanya. Harry menyeberangi dapur, menyelinap melalui pintu dan naik tangga
sebelum siapapun bisa memanggilnya kembali.
Dia tidak tahu mengapa jadi terguncang begitu; dia sudah pernah melihat gambargambar orang tuanya ... tapi mendapatkan mereka diberikan kepadanya seperti itu,
ketika dia sama sekali tidak menduga ... tak ada yang suka itu, pikirnya dengan marah
...
Dan lalu, melihat mereka dikelilingi oleh semua wajah gembira lain ... Benjy
Fenwick, yang telah ditemukan dalam bentuk potongan-potongan tubuh, dan Gideon
Prewett, yang telah mati seperti pahlawan, dan keluarga Longbottom, yang telah
disiksa hingga gila ... semua melambai dengan gembira dari foto itu untuk selamanya,
tanpa tahu bahwa mereka sudah dikutuk ... well, Moody mungkin menganggap itu
menarik ... dia, Harry, menganggapnya mengganggu ...
Harry berjingkat menaiki tangga di aula melewati kepala peri yang disumpal,
senang berada sendirian lagi, tetapi ketika dia mendekati puncak tangga pertama dia
mendengar suara-suara. Seseorang sedang tersedu-sedan di ruang duduk.
'Halo?' Harry berkata.
Tidak ada jawaban tetapi sedu sedan itu berlanjut terus. Dia menaiki sisa anak
tangga dua-dua, berjalan menyeberangi puncak tangga dan membuka pintu ruang
duduk.
Seseorang sedang gemetar ketakutan pada dinding yang gelap, dengan tongkat di
tangannya, seluruh tubuhnya bergetar akibat tangisannya. Tergeletak di karpet tua
berdebu dalam seberkas cahaya bulan, jelas-jelas sudah mati, adalah Ron.
Semua udara seakan menghilang dari paru-paru Harry; dia merasa seolah-olah dia
sedang jatuh melalui lantai; otaknya menjadi sedingin es -- Ron mati, tidak, tidak
mungkin -Tapi tunggu sebentar, itu tidak mungkin -- Ron ada di bawah -'Mrs Weasley?' Harry berkata dengan parau.
'R -- r -- riddikulus!' Mrs Weasley tersedu-sedu, sambil menunjukkan tongkatnya ke
tubuh Ron.
Crack.
Tubuh Ron berubah menjadi tubuh Bill, telentang dengan tangan dan kaki terentang
lebar, matanya terbuka lebar dan kosong. Mrs Weasley tersedu lebih keras dari
sebelumnya.
'R -- riddikulus!' dia terisak lagi.
Crack.
Tubuh Mr Weasley menggantikan tubuh Bill, kacamatanya miring, aliran darah
kecil mengalir menuruni wajahnya.
'Tidak!' Mrs Weasley mengerang. 'Tidak ... riddikulus! Riddikulus! RIDDIKULUS!'
Crack. Si kembar yang sudah mati. Crack. Percy yang sudah mati. Crack.. Harry
yang sudah mati ...
'Mrs Weasley, keluarlah dari sini!' teriak Harry sambil menatap ke mayatnya sendiri
di lantai. 'Biarkan orang lain --'
'Apa yang sedang terjadi?'
Lupin telah datang sambil berlari ke dalam ruangan itu, diikuti segera oleh Sirius,
dengan Moody terseok-seok di belakang mereka. Lupin melihat dari Mrs Weasley ke
mayat Harry di lantai dan terlihat mengerti dalam sekejap. Sambil menarik keluar
tongkatnya sendiri, dia berkata dengan sangat tegas dan jelas:
'Riddikulus!'
Tubuh Harry menghilang. Sebuah bola keperakan tergantung di udara di atas titik di
mana tubuh itu tadi terbaring. Lupin mengayunkan tongkatnya sekali lagi dan bola itu
menghilang menjadi segumpal asap.
'Oh -- oh -- oh!' Mrs Weasley bernapas tertahan-tahan dan tangisannya pecah,
dengan wajah tertutup tangannya.
'Molly,' kata Lupin dengan suram, sambil berjalan ke arahnya. 'Molly, jangan ...'
Detik berikutnya, dia menangis sepuas hati di bahu Lupin.
'Molly, itu hanya Boggart,' katanya menenangkan, sambil menepuk-nepuk
kepalanya. 'Hanya Boggart bodoh ...'
'Aku melihat mereka m -- m -- mati setiap kali!' Mrs Weasley mengerang ke
bahunya. 'Setiap k -- k -- kali! Aku b -- b -- bermimpi tentang hal itu ...'
Sirius sedang menatap potongan karpet tempat Boggart, yang berpura-pura sebagai
mayat Harry, berada tadi. Moody sedang memandang Harry, yang menghindari
tatapannya. Dia punya perasaan aneh bahwa mata sihir Moody telah mengikutinya
sepanjang jalan dari dapur itu.
'J -- j -- jangan beritahu Arthur,' Mrs Weasley bernapas tertahan sekarang, sambil
menyeka matanya dengan kalut dengan ujung lengan bajunya. 'Aku t -- t -- tak mau
dia tahu ... bersikap tolol ...'
Lupin memberikan kepadanya sebuah sapu tangan dan dia meniup hidungnya.
'Harry, aku sangat menyesal. Apa yang pasti kaupikirkan tentang diriku?' dia
berkata gemetaran. 'Bahkan tidak bisa mengenyahkan Boggart ...'
'Jangan bodoh,' kata Harry, sambil mencoba tersenyum.
'Aku hanya b -- b -- begitu khawatir,' katanya, air mata bercucuran dari matanya
lagi. 'Setengah dari keluarga ada dalam Order, p -- p -- pastilah keajaiban kalau kami
semua selamat melewati ini ... dan P -- P -- Percy tidak mau bicara dengan kami ...
bagaimana kalau sesuatu yang m -- m -- mengerikan terjadi dan kami tidak akan
pernah b -- b -- berbaikan dengannya? Dan apa yang akan terjadi kalau Arthur dan
aku terbunuh, siapa yang akan menjaga Ron dan Ginny?'
'Molly, sudah cukup,' kata Lupin dengan tegas. 'Ini tidak seperti terakhir kali. Order
sudah lebih siap, kita mulai duluan, kita tahu apa yang sedang direncanakan
Voldemort --'
Mrs Weasley mengeluarkan cicit ketakutan kecil ketika mendengar nama itu.
'Oh, Molly, ayolah, sudah waktunya kamu terbiasa mendengar namanya -- lihat, aku
tidak bisa menjanjikan bahwa tak seorangpun akan terluka, tidak ada yang bisa
menjanjikan itu, tapi kita jauh lebih baik daripada terakhir kali. Kamu tidak ada dalam
Order saat itu, kamu tidak mengerti. Terakhir kali kami kalah jumlah dua puluh lawan
satu oleh para Pelahap Maut dan mereka mengerjai kami satu demi satu ...'
Harry memikirkan foto itu lagi, wajah-wajah orang tuanya yang tersenyum. Dia
tahu Moody masih mengamatinya.
'Jangan khawatir tentang Percy,' kata Sirius dengan kasar. 'Dia akan sadar. Hanya
masalah waktu sebelum Voldemort bergerak terang-terangan; sekali dia melakukan
itu, seluruh Kementerian akan memohon kita untuk memaafkan mereka. Dan aku
tidak yakin aku akan menerima permintaan maaf mereka,' dia menambahkan dengan
getir.
'Dan mengenai siapa yang akan menjaga Ron dan Ginnya kalau kamu dan Arthur
mati,' kata Lupin sambil tersenyum sedikit, 'apa yang kaukira akan kami lakukan,
membiarkan mereka kelaparan?'
Mrs Weasley tersenyum dengan gemetar.
'Bersikap tolol,' dia bergumam lagi, sambil menyeka matanya.
Tetapi Harry, ketika menutup pintu kamar tidurnya sekitar sepuluh menit kemudian,
tidak bisa berpikir bahwa Mrs Weasley tolol. Dia masih bisa melihat orang tuanya
tersenyum kepadanya dari foto tua yang compang-camping itu, tidak menyadari
bahwa hidup mereka, seperti begitu banyak orang yang mengelilingi mereka, sedang
menuju akhirnya. Citra Boggart yang berlagak seperti mayat dari tiap-tiap anggota
keluarga Weasley secara bergantian terus berkelebat di depan matanya.
Tanpa peringatan, bekas luka di dahinya membakar dengan menyakitkan lagi dan
perutnya terkocok dengan mengerikan.
'Hentikan,' katanya dengan tegas, sambil menggosok bekas luka itu ketika rasa sakit
mereda.
'Tanda kegilaan pertama, berbicara dengan kepalamu sendiri,' kata sebuah suara
licik dari lukisan kosong di dinding.
Harry mengabaikannya. Dia merasa lebih tua daripada yang pernah dirasakannya
seumur hidup dan tampaknya luar biasa bagi dirinya bahwa belum satu jam yang lalu
dia mengkhawatirkan tentang sebuah toko lelucon dan siapa yang mendapatkan
lencana prefek.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB SEPULUH -Luna Lovegood
Harry mengalami tidur yang tidak lelap. Orang tuanya keluar masuk dari mimpinya,
tidak pernah berbicara; Mrs Weasley menangisi jasad Kreacher, dipandangi Ron dan
Hermione yang sedang memakai mahkota, dan sekali lagi Harry menemukan dirinya
berjalan menyusuri sebuah koridor yang berakhir pada sebuah pintu terkunci. Dia
terbangun tiba-tiba dengan bekas lukanya menusuk-nusuk dan menemukan Ron telah
selesai berpakaian dan sedang berbicara kepadanya.
'... lebih baik bergegas, Mom akan marah-marah, dia bilang kita akan ketinggalan
kereta api ...'
Ada banyak keributan di dalam rumah. Dari apa yang didengarnya sewaktu dia
berpakaian secepat kilat, Harry mengetahui bahwa Fred dan George telah menyihir
koper-koper mereka untuk terbang menuruni tangga untuk menghindari kerepotan
membawanya, dengan hasil mereka meluncur lansung ke arah Ginny dan
menjatuhkannya dua tingkat anak tangga ke aula; Mrs Black dan Mrs Weasley samasama berteriak sekuat-kuatnya.
'-- BISA SAJA MENYEBABKANNYA LUKA PARAH, KALIAN IDIOT --'
'-- TURUNAN-CAMPURAN KOTOR, MENODAI RUMAH NENEK
MOYANGKU --'
Hermione bergegas masuk ke dalam ruangan tampak bingung, persis ketika Harry
sedang memakai celana olahraganya. Hedwig sedang berayun di bahunya, dan dia
menggendong Crookshanks yang menggeliat di lengannya.
'Mum dan Dad baru saja mengirim Hedwig balik.' Burung hantu itu berkedip patuh
dan bertengger di puncak sangkarnya, 'Sudah siap?'
'Hampir. Apakah Ginny baik-baik saja?' Harry bertanya, sambil mendorong
kacamatanya.
'Mrs Weasley sudah mengobatinya,' kata Hermione. 'Tapi sekarang Mad-Eye
mengeluh bahwa kita tidak bisa berangkat kecuali Sturgis Podmore ada di sini, kalau
tidak pengawalnya akan kurang satu.'
'Pengawal?' kata Harry. 'Kita harus pergi ke King's Cross dengan seorang
pengawal?'
'Kamu yang harus pergi ke King's Cross dengan seorang pengawal,' Hermione
mengkoreksinya.
'Kenapa?' kata Harry tidak senang. 'Kupikir Voldermort seharusnya bersembunyi,
atau apa kamu akan memberitahuku bahwa dia akan melompat keluar dari belakang
sebuah tong sampah untuk mencoba membunuhku?'
'Aku tidak tahu, itu cuma yang dibilang Mad-Eye,' kata Hermione kacau, sambil
melihat ke jam tangannya, 'tetapi kalau kita tidak segera berangkat kita pasti akan
ketinggalan kereta api ...'
'BISAKAH KALIAN SEMUA TURUN KE SINI SEKARANG JUGA!' Mrs
Weasley berteriak dan Hermione terlonjak seakan-akan terbakar dan bergegas ke luar
ruangan. Harry menyambar Hedwig, menjejalkannya tanpa basa-basi ke dalam
kandangnya, dan turun ke bawah mengejar Hermione, sambil menyeret kopernya.
Potret Mrs Black sedang melolong marah tetapi tak seorangpun repot-repot
menutup tirainya; semua keributan di aula pastilah akan membangunkannya lagi.
'Harry, kamu ikut denganku dan Tonks,' teriak Mrs Weasley -- melawan pekikan
yang diulang-ulang 'DARAH LUMPUR! SAMPAH! MAKHLUK-MAKHLUK
KOTOR!' -- 'Tinggalkan kopermu dan burung hantumu, Alastor akan mengurus
barang bawaan ... oh, demi Tuhan, Sirius, Dumbledore bilang jangan!'
Seekor anjing hitam yang mirip beruang telah muncul di sisi Harry ketika dia
sedang merangkak melewati berbagai koper yang berceceran di aula untuk mencapai
Mrs Weasley.
'Oh jujur saja ...' kata Mrs Weasley dengan putus asa. 'Well, resikonya kepalamu
sendiri!'
Dia merenggut pintu depan hingga terbuka dan melangkah keluar ke sinar matahari
lemah bulan September. Harry dan anjing itu mengikutinya. Pintu terbanting di
belakang mereka dan pekikan Mrs Black terhenti dengan segera.
'Di mana Tonks?' Harry berkata, melihat sekeliling sewaktu mereka menuruni anakanak tangga batu dari nomor dua belas, yang menghilang saat mereka mencapai
trotoar.
'Dia sedang menunggu kita di atas sana,' kata Mrs Weasley dengan kaku,
mengalihkan matanya dari anjing besar yang melompat-lompat di sisi Harry.
Seorang wanita tua memberi salam kepada mereka di sudut. Dia memiliki rambut
kelabu yang sangat keriting dan mengenakan sebuah topi ungu yang berbentuk seperti
pai babi.
'Pakabar, Harry,' dia berkata, sambil mengedip. 'Lebih baik bergegas, bukan begitu,
Molly?' tambahnya, sambil mengecek jam tangannya.
'Aku tahu, aku tahu,' erang Mrs Weasley, memperpanjang langkah kakinya, 'tetapi
Mad-Eye mau kami menunggu Sturgis ... kalau saja Arthur bisa meminjamkan kita
mobil dari Kementerian lagi ... tetapi akhir-akhir ini Fudge bahkan tidak akan
memperbolehkan dia meminjam sebuah botol tinta kosong ... bagaimana Muggle bisa
tahan bepergian tanpa sihir ...'
Tetapi anjing hitam besar itu mengonggong gembira dan melompat-lompat riang di
sekitar mereka, menggertak burung-burung merpati dan mengejar ekornya sendiri.
Harry tidak bisa menahan tawa. Sirius telah terperangkap di dalam untuk waktu yang
sangat lama. Mrs Weasley menutup mulutnya dengan cara yang hampir seperti Bibi
Petunia.
Mereka butuh dua puluh menit untuk mencapai King's Cross dengan berjalan kaki
dan tidak ada peristiwa menarik yang terjadi selain Sirius menakut-nakuti sepasang
kucing untuk menyenangkan Harry. Begitu berada di dalam stasiun mereka berdiri
sepintas lalu di samping penghalang antara peron sembilan dan sepuluh sampai
keadaan aman, lalu masing-masing bersandar padanya dan jatuh dengan mudah ke
peron tiga perempat, di mana Hogwarts Express berdiri menyemburkan uap penuh
jelaga ke peron yang dipenuhi murid-murid yang akan berangkat dan keluargakeluarga mereka. Harry menghirup bau yang akrab itu dan merasakan semangatnya
bangkit ... dia benar-benar akan kembali ...
'Kuharap yang lain tepat waktu,' kata Mrs Weasley dengan cemas, sambil menatap
ke belakangnya ke arah lengkungan besi cor yang membatasi peron itu, darimana para
pendatang baru akan muncul.
'Anjing yang bagus, Harry!' seru seorang bocah lelaki tinggi yang rambutnya
dikepang kecil-kecil.
'Trims, Lee,' kata Harry, nyengir, sementara Sirius mengibaskan ekornya cepatcepat.
'Oh bagus,' kata Mrs Weasley, terdengar lega, 'ini Alastor dengan barang bawaan,
lihatlah ...'
Mengenakan sebuah topi portir ditarik rendah menutupi matanya yang tidak
sepadan, Moody datang terpincang-pincang melalui lengkungan sambil mendorong
sebuah troli yang dibebani dengan koper-koper mereka.
'Semua OK,' dia bergumam kepada Mrs Weasley dan Tonks, 'kurasa kita tidak
diikuti ...'
Beberapa detik kemudian, Mr Weasley muncul di peron dengan Ron dan Hermione.
Mereka telah hampir selesai mengosongkan troli Moody ketika Fred, George dan
Ginny muncul dengan Lupin.
'Tak ada masalah?' geram Moody.
'Tidak ada apa-apa,' kata Lupin.
'Aku masih akan melaporkan Sturgis pada Dumbledore,' kata Moody, 'ini kedua
kalinya dia tidak muncul dalam seminggu. Mulai tidak dapat diandalkan seperti
Mundungus.'
'Well, jaga diri kalian,' kata Lupin, sambil menyalami semuanya. Dia menggapai
Harry yang terakhir dan memberinya tepukan di bahu. 'Kau juga, Harry. Hati-hati.'
'Yeah, tundukkan kepalamu dan buka matamu lebar-lebar,' kata Moody, sambil
menyalami tangan Harry juga. 'Dan jangan lupa, kalian semua -- hati-hati akan apa
yang kalian tulis. Jika ragu, jangan tulis di dalam surat sama sekali.'
'Senang berjumpa dengan kalian semua,' kata Tonks, sambil memeluk Hermione
dan Ginny. 'Kuharap kita akan segera bertemu lagi.'
Sebuah peluit peringatan dibunyikan; murid-murid yang masih berada di peron
mulai bergegas ke atas kereta api.
'Cepat, cepat,' kata Mrs Weasley dengan kacau, sambil memeluk mereka secara
acak dan menangkap Harry dua kali. 'Tulis surat ... jangan nakal ... jika kalian lupa
sesuatu kami akan mengirimkannya ... ke atas kereta api, sekarang, cepat ...'
Sejenak, anjing hitam besar itu berdiri di atas kaki belakangnya dan menempatkan
cakar-cakar depannya ke bahu Harry, tetapi Mrs Weasley mendorong Harry ke pintu
kereta, sambil mendesis, 'Demi Tuhan, berlakulah lebih mirip seekor anjing, Sirius!'
'Sampai jumpa!' Harry berseru ke luar jendela ketika kereta api mulai bergerak,
sementara Ron, Hermione dan Ginny melambai di sampingnya. Figur-figur Tonks,
Lupin, Moody serta Mr dan Mrs Weasley mengerut dengan cepat tetapi anjing hitam
itu melompat sambil berlari di samping jendela, sambil mengibaskan ekornya; orangorang yang semakin kabur di peron tertawa melihatnya mengejar kereta api, kemudian
mereka membelok di tikungan, dan Sirius telah pergi.
'Dia seharusnya tidak ikut bersama kita,' kata Hermione dengan suara khawatir.
'Oh, santailah,' kata Ron, 'dia belum melihat siang hari selama berbulan-bulan, pria
malang.'
'Well,' kata Fred, sambil menepuk tanggannya, 'tak bisa berdiri sambil ngobrol
seharian, kami punya bisnis untuk dibahas dengan Lee. Sampai jumpa nanti,' dan dia
beserta George menghilang ke koridor di sebelah kanan.
Kereta api itu menambah kecepatan, sehingga rumah-rumah di luar jendela
berkelebat lewat, dan mereka berayun di tempat mereka berdiri.
'Kalau begitu kita pergi mencari kompartemen?' Harry bertanya.
Ron dan Hermione saling berpandangan.
'Er,' kata Ron.
'Kami -- well -- Ron dan aku harus pergi ke gerbong prefek,' Hermione berkata
dengan canggung.
Ron tidak melihat kepada Harry; dia kelihatannya telah menjadi sangat tertarik pada
kuku-kuku tangan kirinya.
'Oh,' kata Harry. 'Benar. Baiklah.'
'Kukira kami tidak harus tinggal di sana sepanjang perjalanan,' kata Hermione
cepat-cepat. 'Surat-surat kami mengatakan kami hanya harus menerima instruksi dari
Kepala Murid Lelaki dan Perempuan dan kemudian berpatroli di koridor dari waktu
ke waktu.'
'Baik,' kata Harry lagi. 'Well, aku -- kalau begitu ketemu lagi nanti.'
'Yeah, pasti,' kata Ron, memberi Harry pandangan cemas yang berpindah-pindah,
'Harus pergi ke bawah sana itu menyebalkan,aku lebih suka -- tetapi kami harus -maksudku, aku tidak menikmatinya, aku bukan Percy,' dia mengakhiri dengan
menantang.
'Aku tahu kamu bukan,' kata Harry dan dia menyengir. Tetapi selagi Hermione dan
Ron menyeret koper-koper mereka, Crookshanks dan Pigwidgeon dalam sangkar
menuju ujung mesin dari kereta api, Harry merasakan rasa kehilangan yang ganjil.
Dia belum pernah bepergian di atas Hogwarts Express tanpa Ron.
'Ayo,' Ginny menyuruhnya, 'jika kita bergerak terus kita akan dapat menyisakan
tempat untuk mereka.'
'Benar,' kata Harry, sambil mengangkat sangkar Hedwig di satu tangan dan
pegangan kopernya di tangan yang lain. Mereka berjuang menyusuri koridor,
mengintai ke dalam pintu-pintu berpanel kaca ke dalam kompartemen-kompartemen
yang mereka lalui, yang sudah penuh. Harry tidak dapat tidak memperhatikan bahwa
banyak orang menatap balik kepadanya dengan minat yang besar dan bahwa beberapa
dari mereka menyikut tetangga mereka dan menunjuk dia. Setelah dia menemui
perilaku ini di lima gerbong berturut-turut dia teringat bahwa DailyProphet telah
memberitahu para pembacanya sepanjang musim panas bahwa dia seorang tukang
pamer pembohong. Dia bertanya-tanya dengan bosan apakah orang-orang yang
sekarang menatapinya dan berbisik-bisik mempercayai cerita-cerita itu.
Di gerbong paling akhir mereka berjumpa dengan Neville Longbottom, teman kelas
lima Harry di Gryffindor, wajahnya yang bundar berkilat karena usaha menarik
kopernya dan mempertahankan pegangan satu tangan pada kataknya yang merontaronta, Trevor.
'Hai, Harry,' dia terengah-engah. 'Hai, Ginny ... semua tempat penuh ... aku tidak
bisa menemukan tempat duduk ...'
'Apa yang kau bicarakan?' kata Ginny, yang telah menyelip melewati Neville untuk
mengintai ke dalam kompartemen di belakangnya. 'Ada tempat di yang satu ini, hanya
ada Loony Lovegood di sini --'
Neville menggumamkan sesuatu mengenai tidak ingin mengganggu siapapun.
'Jangan bodoh,' kata Ginny sambil tertawa, 'dia baik kok.'
Dia menggeser pintu hingga terbuka dan menarik kopernya ke dalam. Harry dan
Neville mengikuti.
'Hai, Luna,' kata Ginny, 'bolehkah kami ambil tempat duduk ini?'
Anak perempuan di samping jendela melihat ke atas. Dia mempunyai rambut pirang
kotor sepanjang pinggang yang terurai, alis mata yang sangat pucat dan mata
menonjol yang memberinya penampilan terkejut yagn permanen. Harry langsung tahu
mengapa Neville memilih melewatkan kompartemen ini. Anak perempuan itu
mengeluarkan aura kebodohan yang tampak jelas. Mungkin fakta bahwa dia telah
menusukkan tongkatnya di belakang telinga kirinya supaya tidak hilang, atau bahwa
dia telah memilih untuk memakai kalung yang terbuat dari gabus-gabus Butterbeer,
atau bahwa dia sedang membaca sebuah majalah terbalik. Matanya bergeser dari
Neville dan berhenti pada Harry. Dia mengangguk.
'Trims,' kata Ginny, tersenyum kepadanya.
Harry dan Neville menyimpan ketiga koper dan sangkar Hedwig di rak bagasi dan
duduk. Luna memperhatikan mereka melewati majalahnya yang terbalik, yang
dinamakan The Quibbler. Dia tampaknya tidak perlu berkedip sebanyak manusia
normal. Dia menatap dan menatap terus pada Harry, yang telah mengambil tempat
duduk di seberangnya dan sekarang berharap tidak melakukan hal itu.
'Musim panasmu menyenangkan, Luna? Ginny bertanya.
'Ya,' kata Luna sambil melamun, tanpa melepaskan pandangan dari Harry. 'Ya,
cukup menyenangkan, kau tahu. Kau Harry Potter,' dia menambahkan.
'Aku tahu itu,' kata Harry.
Neville tertawa kecil. Luna memalingkan matanya yang pucat ke arahnya.
'Dan aku tidak tahu siapa kamu.'
'Aku bukan siapa-siapa,' kata Neville cepat-cepat.
'Bukan,' kata Ginny tajam. 'Neville Longbottom -- Luna Lovegood. Luna setingkat
denganku, tetapi di Ravenclaw.'
'Kecerdasan melebihi ukuran adalah harta terbesar manusia,' kata Luna dengan
suara menyanyi.
Dia mengangkat majalahnya yang terbalik cukup tinggi untuk menyembunyikan
wajahnya dan terdiam. Harry dan Neville saling memandang dengan alis terangkat.
Ginny berusaha menahan tawa terkikik.
Kereta api terus berderak maju, semakin cepat membawa mereka ke alam perdesaan
bebas. Hari itu adalah hari yang aneh dan tidak menentu; satu saat gerbong dipenuhi
sinar matahari dan saat berikutnya mereka melewati awan-awan yang gelap yang
tidak menyenangkan.
'Tebak apa yang kudapat pada hari ulang tahunku?' kata Neville.
'Remembrall lagi?' kata Harry, teringat pada alat mirip kelereng yang telah
dikirimkan nenek Neville kepadanya dengan maksud memperbaiki ingatannya yang
parah.
'Bukan,' kata Neville. 'Walaupun aku memang butuh satu, aku menghilangkan yang
lama sudah lama sekali ... bukan, lihat ini ...'
Dia menyisipkan tangan yang tidak sedang mempertahankan genggaman erat pada
kataknya, Trevor ke dalam tas sekolahnya dan setelah sedikit merogoh-rogoh menarik
keluar apa yang tampak seperti sebuah kaktus kelabu kecil dalam pot, kecuali ia
ditutupi benda yang lebih mirip bisul daripada duri.
'Mimbulus mimbletonia,' katanya dengan bangga.
Harry menatap benda itu. Benda itu sedang bergetar sedikit, memberinya
penampilan yang seram seperti beberapa organ dalam.
'Benar-benar langka,' kata Neville sambil tersenyum. 'Aku tidak tahu apakah ada
satu saja di salah satu rumah kaca di Hogwarts. Aku tak sabar untuk
memperlihatkannya kepada Profesor Sprout. Kakek Algieku membelinya untukku di
Assyria. Aku akan mencoba membiakannya,'
Harry tahu bahwa mata pelajaran favorit Neville adalah Herbologi tetapi demi
hidupnya dia tidak bisa melihat apa yang diinginkannya dengan tanaman kecil yang
aneh itu.
'Apakah dia -- er -- melakukan sesuatu?' tanyanya.
'Banyak hal!' kata Neville dengan bangga. 'Dia punya mekanisme pertahanan yang
mengagumkan. SIni, pegang Trevor ...'
Dia membuang katak itu ke pangkuan Harry dan mengambil sebuah pena bulu dari
tas sekolahnya. Mata Luna Lovegood yang membelalak tampak lagi dari bagian atas
majalahnya yang terbalik, untuk menyaksikan apa yang sedang dilakukan Neville.
Neville memegang Mimbulus mimbletonia itu sejajar dengan matanya, lidahnya
berada di antara gigi-giginya, memilih satu titik, dan memberi tanaman itu sebuah
tusukan tajam dengan ujung pena bulunya.
Cairan bermuncratan dari setiap bisul pada tanaman itu; pancaran yang deras, bau,
berwarna hijau gelap. Cairan itu menghantam langit-langit, jendela-jendela, dan
memerciki majalah Luna Lovegood; Ginny, yang telah mengatupkan lengannya ke
depan wajahnya tepat waktu, hanya tampak seperti mengenakan topi hijau berlumut,
tetapi Harry, yang tangannya sibuk mencegah Trevor kabur, menerima satu muka
penuh cairan. Baunya seperti pupuk kandang yang anyir.
Neville, yang muka dan badannya juga basah kuyup, menggelengkan kepalanya
untuk mengenyahkan yang terburuk dari matanya.
'S-sori,' dia megap-megap. 'Aku belum pernah mencobanya ... tidak sadar akan jadi
begini ... jangan khawatir, Stinksap (Getah-Bau) tidak beracun,' dia menambahkan
dengan gugup, selagi Harry meludahkan satu mulut penuh ke lantai.
Pada saat yang sama pintu kompartemen mereka bergeser terbuka.
'Oh ... halo, Harry,' kata sebuah suara gugup. 'Um ... waktu yang tidak tepat?'
Harry menyeka lensa kacamatanya dengan tangannya yang bebas dari Trevor.
Seorang gadis yang sangat cantik dengan rambut hitam berkilau sedang berdiri di
ambang pintu sambil tersenyum kepadanya: Cho Chang, Seeker tim Quidditch
Ravenclaw.
'Oh ... hai,' kata Harry dengan hampa.
'Um ...' kata Cho. 'Well ... hanya ingin mengatakan halo ... kalau begitu sampai
jumpa.'
Dengan wajah agak merona merah, dia menutup pintu dan pergi. Harry merosot ke
tempat duduknya dan mengerang. Dia ingin Cho menemukannya sedang duduk
dengan sekelompok orang-orang keren yang sedang tertawa terbahak-bahak
mendengar lelucon yang baru dibuatnya; dia tidak akan memilih duduk dengan
Neville dan Loony Lovegood, sambil menggengam seekor katak dan basah kuyub
oleh Stinksap.
'Tidak mengapa,' kata Ginny dengan menguatkan diri. 'Lihat, kita bisa
menghilangkan ini semua dengan mudah.' Dia menarik keluar tongkatnya. 'Scourgify.'
Stinksap itu menghilang.
'Sori,' kata Neville lagi, dengan suara kecil.
Ron dan Hermione tidak muncul selama hampir satu jam, pada saat itu troli
makanan telah lewat. Harry, Ginny dan Neville telah menghabiskan pai labu mereka
dan sedang sibuk bertukar Kartu Cokelat Kodok ketika pintu kompartemen bergeser
terbuka dan mereka masuk, ditemani oleh Crookshanks dan Pigwidgeon yang beruhu
dengan nyaring dalam sangkarnya.
'Aku lapar berat,' kata Ron, menyimpan Pigwidgeon di samping Hedwig, sambil
meraih sebuah Cokelat Kodok dari Harry dan melemparkan dirinya ke tempat duduk
di sebelahnya. Dia merobek pembungkusnya, menggigit kepala kodok itu hingga
putus dan bersandar dengan mata tertutup seakan-akan dia telah melewati pagi yang
sangat melelahkan.
'Well, ada dua orang prefek kelas lima dari masing-masing rumah,' kata Hermione,
terlihat sangat tidak senang ketika dia mengambil tempat duduk. 'Seorang anak lelaki
dan seorang anak perempuan.'
'Dan tebak siapa yang jadi prefek Slytherin?' kata Ron, masih dengan mata tertutup.
'Malfoy,' jawab Harry seketika, yakin bahwa yang paling ditakutkannya akan
dibenarkan.
'Tentu saja,' kata Ron dengan getir, sambil menjejalkan sisa Kodok ke dalam
mulutnya dan mengambil yang lain.
'Dan si sapi Pansy Parkinson,' kata Hermione dengan ganas. 'Bagaimana dia bisa
jadi prefek padahal dia lebih tolol daripada troll yang geger otak ...'
'Siapa dari Hufflepuff?' Harry bertanya.
'Ernie Macmillan dan Hannah Abbot,' kata Ron dengan cepat.
'Dan Anthony Goldstein dan Padma Patill dari Ravenclaw,' kata Hermione.
'Kau pergi ke Pesta Dansa dengan Padma Patil,' kata sebuah suara samar.
Semua orang menoleh untuk memandang Luna Lovegood, yang sedang menatap
Ron tanpa berkedip dari balik The Quibbler. Dia menelan Kodok di mulutnya.
'Yeah, aku tahu itu,' dia berkata, terlihat agak terkejut.
'Dia tidak begitu menikmatinya,' Luna memberitahunya. 'Dia berpikir kamu tidak
memperlakukannya cukup baik, karena kamu tidak mau berdansa dengannya. Kupikir
aku tidak akan mempersoalkan hal itu,' dia menambahkan dengan penuh pemikiran,
'aku tidak begitu suka berdansa.'
Dia menarik diri lagi ke balik The Quibbler. Ron menatap sampulnya dengan mulut
terbuka selama beberapa detik, kemudian berpaling pada Ginny untuk mendapatkan
penjelasan, tetapi Ginny telah menjejalkan buku-buku jarinya ke dalam mulut untuk
menghentikan dirinya tertawa terkikik-kikik. Ron menggelengkan kepalanya, kaget,
lalu mengecek jam tangannya.
'Kami harus berpatroli di koridor beberapa waktu sekali,' dia memberitahu Harry
dan Neville, 'dan kami bisa memberi hukuman jika orang-orang bertingkah tidak
pantas. Aku tidak sabar ingin menghukum Crabbe dan Goyle karena sesuatu ...'
'Kamu tidak seharusnya menyalahgunakan kedudukanmu, Ron!' kata Hermione
dengan tajam.
'Yeah, benar, karena Malfoy sama sekali tidak akan menyalahgunakannya,' kata
Ron dengan kasar.
'Jadi kamu akan turun ke tingkatannya?'
'Tidak, aku hanya ingin memastikan aku menangkap sobat-sobatnya sebelum dia
menangkap sobat-sobatku.'
'Demi Tuhan, Ron --'
'Akan kubuat Goyle menulis, itu akan membunuhnya, dia benci menulis,' kata Ron
dengan gembira. Dia merendahkan suaranya menjadi dengkuran rendah Goyle dan,
sambil menegangkan wajahnya dengan tampang konsentrasi yang menyakitkan,
menirukan menulis di udara. 'Aku ... tidak ... boleh ... terlihat ... seperti ... bokong ...
babon. '
Semua orang tertawa, tetapi tidak ada yang tertawa lebih keras daripada Luna
Lovegood. Dia mengeluarkan jeritan kegembiraan yang mengakibatkan Hedwig
terbangun dan mengepak-ngepakkan sayapnya tidak senang dan Crookshanks
melompat ke rak bagasi sambil mendesis. Luna tertawa sangat keras sehingga
majalahnya tergelincir dari pegangannya, meluncur ke bawah kakinya dan ke atas
lantai.
'Itu lucu!'
Matanya yang menonjol penuh air mata ketika dia menarik napas dengan terengahengah, sambil menatap Ron. Sama sekali tidak menyangka, Ron melihat sekeliling
pada yang lain, yang sekarang sedang menertawakan ekspresi di wajahnya dan tawa
berkepanjangan Luna Lovegood yang menggelikan, yang sedang bergoyang majumundur, sambil mencengkeram sisi tubuhnya.
'Apa kau mengolokku?' kata Ron sambil merengut kepadanya.
'Bokong ... babon!' dia tercekik sambil memegang tulang iganya.
Yang lain semuanya sedang memperhatikan Luna tertawa, tetapi Harry, sambil
memandang sekilas majalah di lantai, memperhatikan sesuatu yang membuatnya
mengambilnya. Ketika terbalik sulit mengatakan gambar apa yang ada di depan, tetapi
Harry sekarang menyadari bahwa itu adalah kartun yang lumayan buruk dari
Cornelius Fudge; Harry hanya mengenalinya karena topi bowler hijau limaunya.
Salah satu tangan Fudge mememgang sekantong emas; tangan yang lain sedang
mencekik goblin. Kartun itu diberi judul: Seberapa Jauh Fudge akan Bertindak untuk
Mendapatkan Gringotts?
Di bawah ini ada daftar judul-judul artikel lain di dalam majalah.
Korupsi di Liga Quidditch
Bagaimana Tornados Mengambil Kendali
Rahasia Rune Kuno Terungkap
Sirius Black: Penjahat atau Korban?
'Boleh aku melihat ini?' Harry bertanya pada Luna dengan tidak sabar.
Dia mengangguk, masih menatap Ron, terengah-engah akibat tertawa.
Harry membuka majalah itu dan membaca sepintas indeksnya. Hingga saat ini dia
telah benar-benar melupakan majalah yang telah diserahkan Kingsley kepada Mr
Weasley untuk diberikan kepada Sirius, tapi itu pastilah edisi The Quibbler yang ini.
Dia menemukan halaman itu, dan membalik-balik dengan bergairah ke artikel itu.
Ini juga diilustrasikan dengan sebuah kartun yang lumayan jelek; bahkan, Harry
tidak akan tahu itu seharusnya gambar Sirius kalau tidak diberi judul. Sirius sedang
berdiri di atas setumpuk tulang manusia dengan tongkat di luar. Judul berita pada
artikel itu menyatakan:
SIRIUS -- SEHITAM YANG DIGAMBARKAN?
Pembunuh masal yang terkenal jahatnya atau sensasi nyanyi yang tidak bersalah?
Harry harus membaca kalimat pertama ini beberapa kali sebelum dia yakin bahwa dia
tidak salah mengerti. Sejak kapan Sirius jadi sensasi nyanyi?
Selama empat belas tahun Sirius Black telah diyakini bersalah atas pembunuhan
masal dua belas Muggle tidak
bersalah dan seorang penyihir. Pelolosan Black yang berani dari Azkaban dua tahun
yang lalu telah mengarah
kepada perburuan manusia terluas yang pernah dilakukan oleh Kementerian Sihir.
Tidak satupun dari kita pernah
mempertanyakan apakah dia pantas ditangkap kembali dan diserahkan kepada para
Dementor.
TAPI APAKAH DIA PANTAS?
Bukti baru yang mengejutkan baru-baru ini telah dikemukakan bahwa Sirius
Black mungkin tidak
melaksanakan kejahatan yang menyebabkan dia dikirim kek Azkaban.
Kenyataannya, kata Doris Purkiss, dari
18 Acanthia Way, Little Norton, Black mungkin tidak berada di tempat
pembunuhan.
'Apa yang tidak disadari orang-orang adalah bahwa Sirius Black adalah nama
palsu,' kata Mrs Purkiss.
'Lelaki yang diyakini orang-orang sebagai Sirius Black sebenarnya adalah Stubby
Boardman, penyanyi utama dari
kelompok nyanyi populer The Hobgoblins, yang pensiun dari muka umum setelah
terhantam di bagian telinga dengan
sebuah lobak pada sebuah konser di Aula Gereja Little Norton hampir lima belas
tahun yang lalu. Aku langsung
mengenali dia ketika menyaksikan gambarnya di koran. Adapun Stubby tidak
mungkin telah melakukan kejahatan
itu, karena pada hari yang dipertanyakan dia kebetulan sedang menikmati makan
malam romantis dengan cahaya
lilin bersamaku. Aku telah menulis kepada Menteri Sihir dan sedang menantikan dia
untuk memberi Stubby, alias
Sirius, pengampunan penuh kapan saja saat ini.
Harry selesai membaca dan menatap halaman itu dengan tidak percaya. Mungkin itu
lelucon, pikirnya, mungkin majalah itu sering mencetak berita lelucon. Dia membalikbalik beberapa halaman dan menemukan berita tentang Fudge.
Cornelius Fudge, Menteri Sihir, menyangkal bahwa dia merencanakan untuk
mengambil alih pengelolaan Bank
Penyihir, Gringgots, ketika dia terpilih menjadi Menteri Sihir lima tahun yang lalu.
Fudge selalu bersikeras bahwa
dia tidak menginginkan lebih dari 'kerja sama damai' dengan para penjaga emas
kita.
TAPI APAKAH MEMANG BEGITU?
Sumber-sumber yang dekat dengan Menteri baru-baru ini telah mengungkapkan
bahwaa ambisi Fudge yang paling
berhahrga adalah merampas kendali atas pasokan emas goblin dan bahwa dia tidak
akan ragu-ragu untuk
menggunakan kekuatan jika terpaksa.
'Juga takkan jadi yang pertama kalinya,' kata orang dalam Kementerian.
'Cornelius "Pelumat-Goblin" Fudge,
itulah panggilan teman-temannya. Jika Anda bisa mendengarnya ketika dia mengira
tidak ada yang sedang
menguping, oh, dia selalu berbicara tentang goblin-goblin yang sudah dihabisinya;
dia menenggelamkan mereka, dia
menjatuhkan mereka dari gedung-gedung, dia meracuni mereka, dia memasak
mereka dalam pai ...'
Harry tidak membaca lebih lanjut. Fudge mungkin memiliki banyak kesalahan tapi
Harry merasa sangat sukar membayangkannya memerintah para goblin untuk dimasak
dalam pai. Dia membalik-balik sisa majalah itu. Berhenti sejenak di tiap halaman, dia
membaca: sebuah tuduhan bahwa Tutshill Tornados menang Liga Quidditch dengan
gabungan pemerasan, utak-atik sapu yang ilegal dan penyiksaan; sebuah wawancara
dengan seorang penyihir yang mengklaim telah terbang ke bulan dengan sebuah Sapu
Bersih Enam dan membawa kembali sekantong kodok bulan untuk membuktikannya;
dan sebuah artikel tentang rune kuno yang setidaknya menjelaskan mengapa Luna
membca The Quibbler terbalik. Menurut majalah itu, kalau kamu membalikkan runerune itu mereka menyingkapkan sebuah mantera untuk membuat telinga musuhmu
berubah menjadi jeruk. Bahkan, dibandingkan dengan artikel-artikel lain dalam The
Quibbler, saran bahwa Sirius mungkin sebenarnya penyanyi utama dari The
Hobgoblins agak masuk akal.
'Ada yang bagus di sana?' tanya Ron selagi Harry menutup majalah itu.
'Tentu saja tidak,' kata Hermione dengan pedas, sebelum Harry bisa menjawab.
'The Quibbler itu sampah, semua orang tahu itu.'
'Maaf,' kata Luna; suaranya mendadak kehilangan sifat bermimpinya. 'Ayahku
editornya.'
'Aku -- oh,' kata Hermione, terlihat malu. 'Well ... itu punya beberapa hal menarik
... maksudku, itu agak ...'
'Akan kuambil kembali, terima kasih,' kata Luna dengan dingin, dan dengan
mencondongkan badan ke depan dia merenggutnya dari tangan Harry. Setelah
membalik-baliknya ke halaman lima puluh tujuh, dia membalikkannya lagi dengan
tegas dan menghilang ke baliknya, persis ketika pintu kompartemen terbukan untuk
ketiga kalinya.
Harry menoleh; dia telah mengharapkan hal ini, tetapi itu tidak membuat
penampakan Draco Malfoy menyeringai kepadanya diapit kroni-kroninya Crabbe dan
Goyle lebih menyenangkan.
'Apa?' dia berkata dengan agresif, sebelum Malfoy bisa membuka mulutnya.
'Yang sopan, Potter, atau akan kuberi kau detensi,' Malfoy berkata dengan nada
panjang, rambutnya yang pirang rapi dan dagunya yang runcing persis ayahnya. 'Kau
lihat bahwa aku, tak seperti kamu, telah dijadikan prefek, yang berarti bahwa aku, tak
seperti kamu, punya kuasa untuk memberikan hukuman.'
'Yeah,' kata Harry, 'tapi kau, tak seperti aku, adalah orang brengsek, jadi enyahlah
dan tinggalkan kami sendiri.'
Ron, Hermione, Ginny dan Neville tertawa. Bibir Malfoy mencibir.
'Beritahu aku, bagaimana rasanya menjadi yang terbaik-kedua terhadap Weasley,
Potter?' dia bertanya.
'Diam, Malfoy,' kata Hermione dengan tajam.
'Tampaknya aku telah menyentuh daerah peka,' kata Malfoy sambil menyeringai.
'Well, jaga dirimu saja, Potter, karena aku akan mengikuti langkah kakimu seperti
anjing kalau-kalau kamu keluar dari garis.'
'Keluar!' kata Hermione sambil berdiri.
Sambil terkikik-kikik, Malfoy memberi Harry pandangan dengki terakhir dan pergi,
dengan Crabbe dan Goyle berjalan dengan lamban mengikutinya. Hermione
membanting pintu kompartemen di belakang mereka dan berbalik untuk memandang
Harry, yang tahu seketika bahwa dia, seperti dirinya, telah mengerti apa yang
dikatakan Malfoy dan dibuat sama tidak tenangnya oleh perkataan Malfoy.
'Beri kami Kodok lagi,' kata Ron, yang jelas tidak memperhatikan apa-apa.
Harry tidak bisa berbicara dengan bebas di depan Neville dan Luna. Dia saling
bertukar pandangan gelisah dengan Hermione sekali lagi, lalu menatap keluar jendela.
Dia telah berpikir kedatangan Sirius bersamanya ke stasiun adalah sesuatu untuk
ditertawakan, tapi mendadak hal itu tampak sembrono, kalau bukan benar-benar
berbahaya ... Hermione benar ... Sirius seharusnya tidak ikut. Bagaimana kalau Mr
Malfoy telah memperhatikan anjing hitam itu dan memberitahu Draco? Bagaimana
kalau dia telah menarik kesimpulan bahwa keluarga Weasley, Lupin, Tonks dan
Moody tahu di mana Sirius bersembunyi? Atau apakah Malfoy menggunakan kata
'mengikuti seperti anjing' karena kebetulan?
Cuaca tetap tidak menentu ketika mereka berjalan semakin jauh dan semakin ke
utara. Hujan memerciki jendela-jendela dengan setengah hati, lalu matahari memberi
kemunculan lemah sebelum awan menutupinya sekali lagi. Ketika kegelapan tiba dan
lampu-lampu masuk ke dalam gerbong, Luna menggulung The Quibbler,
memasukkannya dengan hati-hati ke dalam tasnya dan sebagai gantinya menatapi
setiap orang dalam kompartemen.
Harry sedang duduk dengan dahinya ditekan terhadap jendela kereta, mencoba
mendapatkan pandangan sekilas pertama dari Hogwarts, tetapi langit tidak berbulan
dan jendela yang dikenai hujan tampak sangat kotor.
'Kita sebaiknya ganti pakaian,' kata Hermione akhirnya, dan mereka semua
membuka koper-koper mereka dengan susah payah dan memakai jubah sekolah
mereka. Dia dan Ron memasang lencana-lencana prefek mereka dengan hati-hati di
dada mereka. Harry melihat Ron memeriksa bayangannya di jendela yang hitam.
Akhirnya, kereta api mulai melambat dan mereka mendengar kegaduhan yang biasa
di mana-mana ketika semua orang berebut mengumpulkan barang-barang bawaan dan
binatang-binatang peliharaan mereka, bersiap untuk turun. Karena Ron dan Hermione
harus mengawasi semua ini, mereka menghilang dari gerbong lagi, meninggalkan
Harry dan yang lainnya untuk menjaga Crookshanks dan Pigwidgeon.
'Aku akan membawa burung hantu itu, kalau kau mau,' kata Luna kepada Harry
sambil mengulurkan tangan pada Pigwidgeon selagi Neville menyimpan Trevor
dengan hati-hati ke kantong dalam.
'Oh -- er -- trims,' kata Harry sambil menyerahkan sangkar kepadanya dan
mengangkat Hedwig lebih kokoh ke lengannya.
Mereka keluar dari kompartemen sambil merasakan sengatan pertama udara malam
di wajah-wajah mereka ketika mereka bergabung dengan kerumunan di koridor.
Pelan-pelan, mereka bergerak menuju pintu-pintu. Harry dapat mencium pohonpohon cemara yang berbaris di jalan turun ke danau. Dia turun ke peron dan melihat
sekeliling, untuk mendengarkan panggilan akrab 'kelas satu ke sini ... kelas satu ...'
Tetapi panggilan itu tidak datang. Alih-alih, sebuah suara yang sangat berbeda,
suara seorang wanita yang tegas, sedang memanggil, 'Kelas satu berbaris di sini!
Semua anak kelas satu datang kepadaku!'
Sebuah lentera datang berayun-ayun menuju Harry dan dari cahayanya dia melihat
dagu menonjol dan potongan rambut sangat pendek Profesor Grubbly-Plank, penyihir
wanita yang telah mengambil alih pelajaran Pemeliharaan Satwa Gaib Hagrid selama
beberapa waktu tahun lalu.
'Di mana Hagrid?' dia berkata kuat-kuat.
'Aku tidak tahu,' kata Ginny, 'tapi kita sebaiknya minggir, kita menghalangi pintu.'
'Oh, yeah ...'
Harry dan Ginny menjadi terpisah ketika mereka bergerak sepanjang peron dan
keluar dari stasiun. Terdesak oleh kerumunan, Harry mengedip melalui kegelapan
untuk mencari kilasan Hagrid; dia pasti ada di sini, Harry telah mengandalkan hal itu - melihat Hagrid lagi adalah salah satu hal yang paling dinantikannya. Tapi tidak ada
tanda-tandanya.
Dia tidak mungkin pergi, Harry memberitahu dirinya sendiri selagi dia bergerak
dengan pelan ke jalan di luar bersama sisa kerumunan. Dia hanya masuk angin atau
apapun ...
Dia melihat sekitar untuk mencari Ron atau Hermione, ingin tahu apa pikiran
mereka tentang pemunculan kembali Profesor Grubby-Plank, tetapi keduanya tidak
ada di dekatnya, jadi dia membiarkan dirinya sendiri didorong maju ke jalan gelap
yang dibasahi hujan di luar Stasiun Hogsmeade.
Di sini berdiri sekitar seratus kereta tanpa kuda yang selalu membawa murid-murid
di atas kelas satu ke kastil. Harry melihat sekilas pada kereta-kereta itu, berpaling
untuk mencari-cari Ron dan Hermione, kemudian berpaling untuk melihat sekali lagi.
Kereta-kereta itu tidak lagi tak berkuda. Ada makhluk-makhlun yang berdiri di
antara pasak kereta. Kalau dia harus memberi mereka nama, dia merasa dia akan
harus memanggil mereka kuda, walaupun juga ada sesuatu yang seperti reptil pada
mereka. Mereka sepenuhnya tidak berdaging, mantel hitam mereka bergantung pada
kerangka mereka, yang setiap tulangnya tampak. Kepala mereka seperti naga, dan
mata mereka yang tidak memiliki pupil berwarna putih dan membelalak. Berdiri diam
dan tenang dalam kumpulan yang suram, makhluk-makhluk itu tampak mengerikan
dan mengancam. Harry tidak mengerti mengapa kereta-kereta itu ditarik oleh kudakuda mengerikan ini kalau cukup mampu bergerak sendiri.
'Di mana Pig?' kata suara Ron, di belakang Harry.
'Cewek Luna itu membawanya,' kata Harry, berpaling dengan cepat, sangat ingin
menanyakan pendapat Ron mengenai Hagrid. 'Di mana menurutmu --'
'-- Hagrid berada? Aku tak tahu,' kata Ron, terdengar khawatir. 'Dia sebaiknya tidak
apa-apa ...'
Tidak jauh dari mereka, Draco Malfoy, diikuti oleh kelompok kecil kroni-kroninya
termasuk Crabbe, Goyle dan Pansy Parkinson, sedang mendorong beberapa anak
kelas dua yang terlihat takut-takut dari jalannya sehingga dia dan teman-temannya
bisa mendapatkan kereta untuk diri mereka. Beberapa detik kemudian, Hermione
muncul terengah-engah dari kerumunan.
'Malfoy bersikap sangat jahat kepada seorang anak kelas satu di belakang sana.
Aku sumpah aku akan melaporkan dia, dia baru memiliki lencananya tiga menit dan
dia sudah menggunakannya untuk mengganggu orang-orang lebih buruk dari yang
pernah terjadi ... di mana Crookshanks?'
'Ginny membawanya,' kata Harry. 'Itu dia ...'
Ginny baru saja muncul dari kerumunan, sambil mencengkeram Crookshanks yang
menggeliat.
'Trims,' kata Hermine, sambil membebaskan Ginny dari kucing itu. 'Ayo, mari
mengambil sebuah kereta bersama sebelum semuanya terisi penuh ...'
'Aku belum dapat Pig!' Ron berkata, tetapi Hermione telah menuju kereta terdekat
yang belum terisi. Harry tetap di belakang dengan Ron.
'Menurutmu, benda-benda apa itu?' dia bertanya kepada Ron, sambil mengangguk
kepada kuda-kuda mengerikan itu selagi murid-murid lain bergerak melewati mereka.
'Benda apa?'
'Kuda itu --'
Luna muncul sambil memegang sangkar Pigwidgeon di lengannya; burung hantu
mungil itu sedang mencicit-cicit dengan bergairah seperti biasa.
'Ini dia,' katanya. 'Dia burung hantu yang manis, benar 'kan?'
'Er ... yeah ... dia lumayan,' kata Ron dengan keras. 'Well, kalau begitu ayo, mari
masuk ... apa yang tadi kau katakan, Harry?'
'Aku tadi bilang, makhluk kuda itu apa?' Harry berkata ketika dia, Ron dan Luna
memasuki kereta di mana Hermione dan Ginny telah duduk.
'Makhluk kuda apa?'
'Makhluk kuda yang sedang menarik kereta-kereta!' kata Harry dengan tidak sabar.
Bagaimanapun, mereka berada sekitar tiga kaki dari yang terdekat; makhluk itu
sedang mengawasi mereka dengan mata putih yang kosong. Namun Ron memberi
Harry pandangan bingung.
'Apa yang sedang kau bicarakan?'
'Aku sedang membicarakan tentang -- lihat!'
Harry menyambar lengan Ron dan menariknya sehingga dia tepat berhadapan
dengan kuda bersayap itu. Ron menatap langsung ke arahnya selama sedetik, lalu
melihat balik kepada Harry.
'Apa yang seharusnya sedang kulihat?'
'Di -- sana, antara pasak-pasak! Terkekang ke kereta! Ada persis di sana di depan --'
Tetapi Ron terus tampak melongo, sebuah pikiran aneh timbul pada diri Harry.
'Tidakkah ... tidakkah kamu bisa melihat mereka?'
'Melihat apa?'
'Tidakkah kamu melihat apa yang sedang menarik kereta-kereta?'
Ron terlihat benar-benar khawatir sekarang.
'Apakah kamu merasa baik-baik saja, Harry?'
'Aku ... yeah ...'
Harry merasa sangat bingung. Kuda itu ada di depannya, berseri-seri dengan kuat
dalam cahaya suram yang berasal dari jendela-jendela stasiun di belakang mereka,
uap membumbung dari lubang hidungnya dalam usara malam yang dingin. Walau
begitu, kecuali Ron berpura-pura -- dan jika benar itu adalah lelucon yang garing -Ron sama sekali tidak bisa melihatnya.
'Kalau begitu, apakah kita akan naik?' kata Ron tidak pasti, sambil melihat kepada
Harry seakan-akan mengkhawatirkan dirinya.
'Yeah,' kata Harry. 'Yeah, teruskan ...'
'Tidak apa-apa,' kata sebuah suara melamum dari samping Harry ketika Ron
menghilang ke dalam interior kereta yang gelap. 'Kamu tidak gila atau apapun. Aku
juga bisa melihat mereka.'
'Bisakah kamu?' kata Harry dengan putus asa, berpaling kepada Luna. Dia bisa
melihat kuda-kuda bersayap kelelawar itu terpantul pada matanya yang lebar
keperakan.
'Oh, ya,' kata Luna, 'aku sudah bisa melihat mereka sejak hari pertamaku di sini.
Mereka selalu menarik kereta. Jangan khawatir. Kamu sama warasnya denganku.'
Sambil tersenyum samar, dia memanjat ke dalam interior kereta yang pengap
setelah Ron. Tidak tenang sepenuhnya, Harry mengikuti dia.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB SEBELAS -Lagu Baru Topi Seleksi
Harry tidak mau memberitahu yang lain bahwa dia dan Luna mendapatkan halusinasi
yang sama, kalau memang begitu, jadi dia tidak mengatakan apa-apa lagi mengenai
kuda-kida itu ketika dia duduk di dalam kereta dan membanting pintu di belakangnya.
Walaupun begitu, dia tidak bisa tidak memperhatikan siluet kuda-kuda itu bergerak di
balik jendela.
'Apakah semua orang melihat wanita Grubbly-Plank itu?' tanya Ginny. 'Apa yang
dilakukannya di belakang sini? Hagrid tidak mungkin pergi, benar 'kan?'
'Aku akan senang kalau dia pergi,' kata Luna, 'dia bukan guru yang sangat baik,
bukankah begitu?'
'Dia guru yang baik!' kata Harry, Ron dan Ginny dengan marah.
Harry melolot kepada Hermione. Dia berdehem dan cepat-cepat berkata, 'Erm ... ya
... dia sangat bagus.'
'Well, kami di Ravenclaw menganggap dia seperti lelucon,' kata Luna tak
bergeming.
'Kalau begitu kalian punya selera humor sampah,' sambar Ron, ketika roda-roda di
bawah mereka berkeriut mulai bergerak.
Luna tidak tampak terganggu oleh kekasaran Ron; sebaliknya, dia hanya
mengamati Ron selama beberapa saat seakan-akan dia adalah program televisi agak
menarik.
Sambil berderak dan berayun, kereta-kereta itu bergerak dalam bentuk barisan ke
jalan. Ketika mereka melewati pilar-pilar batu tinggi yang puncaknya babi hutan
bersayap di kedua sisi gerbang menuju halaman sekolah, Harry mencondongkan
badan ke depan untuk mencoba melihat apakah ada cahaya di kabin Hagrid di
samping Hutan Terlarang, tetapi tempat itu dalam kegelapan total. Namun, Kastil
Hogwarts semakin mendekat: kumpulan menara-menara kecil yang menjulang tinggi,
hitam pekat terhadap langit yang gelap, di sana-sini jendela berkobar-kobar seterang
nyala api di atas mereka.
Kereta-kereta itu bergemeringing terhenti di dekat undakan batu yang menuju ke
pintu depan kayu ek dan Harry keluar kereta terlebih dahulu. Dia berpaling lagi untuk
mencari jendela yang terang di dekat Hutan, tapi jelas tidak ada tanda kehidupan dari
kabin Hagrid. Di luar kehendaknya, karena dia setengah berharap mereka sudah
menghilang, dia memalingkan matanya ke makhluk-makhluk aneh seperti kerangka
yang sedang berdiri dengan tenang dalam udara malam yang dingin, mata putih
kosong mereka bersinar-sinar.
Harry sudah pernah sekali mendapat pengalaman melihat sesuatu yang tidak bisa
dilihat Ron, tetapi itu adalah bayangan di cermin, sesuatu yang jauh kurang berarti
daripada seratus makhluk buas yang tampak sangat padat yang cukup kuat untuk
menarik armada kereta. Kalau Luna bisa dipercaya, makhluk-makhluk itu sudah sejak
dulu ada di sana tetapi tidak tampak. Kalau begitu, kenapa Harry tiba-tiba bisa
melihat mereka, dan kenapa Ron tidak?
'Kau ikut atau tidak?' kata Ron di sampingnya.
'Oh ... yeah,' kata Harry cepat-cepat dan mereka bergabung dengan kerumunan
yang bergegas menaiki undakan batu ke dalam kastil.
Aula Depan diterangi oleh obor-obor dan bergema dengan langkah-langkah kaki
ketika para murid menyeberangi lantai batu menuju pintu ganda di sebelah kanan,
yang menuju ke Aula Besar dan pesta awal semester.
Keempat meja panjang asrama di Aula Besar mulai terisi di bawah langit-langit
hitam tak berbintang, yang persis seperti langit yang bisa mereka lihat sekilas melalui
jendela-jendela tinggi. Lilin-lilin mengapung di udara di atas meja-meja itu,
menerangi hantu-hantu keperakan yang bertebaran di Aula dan wajah-wajah para
murid yang sedang berbicara dengan penuh semangat, saling bertukar kabar musim
panas, meneriakkan salam kepada teman-teman dari asrama lain, saling mengamati
potongan rambut dan jubah baru satu sama lain. Sekali lagi, Harry memperhatikan
orang-orang mendekatkan kepala untuk berbisik ketika dia lewat; dia menggertakkan
gigi dan mencoba bertingkah seolah-olah dia tidak tahu atau peduli.
Luna berpisah dari mereka di meja Ravenclaw. Saat mereka mencapai meja
Gryffindor, Ginny dipanggil oleh beberapa teman kelas empatnya dan pergi untuk
duduk bersama mereka; Harry, Ron, Hermione dan Neville menemukan tempat duduk
bersama agak di tengah meja di antara Nick si Kepala-Nyaris-Putus, hantu asrama
Gryffindor, dan Parvati Patil dan Lavender Brown, keduanya memberi Harry salam
yang dibuat-buat dan terlalu ramah yang membuat dia sangat yakin bahwa mereka
baru saja berhenti membicarakan dia sedetik lalu. Akan tetapi, dia punya hal-hal yang
lebih penting untuk dibicarakan: dia sedang melihat melewati kepala murid-murid ke
meja guru yang berada dekat dinding Aula.
'Dia tak ada di sana.'
Ron dan Hermione juga mengamati meja guru, walaupun sebenarnya tidak perlu;
ukuran Hagrid membuatnya langsung tampak jelas dalam barisan manapun.
'Dia tidak mungkin pergi,' kata Ron, terdengar agak cemas.
'Tentu saja tidak,' kata Harry dengan tegas.
'Kau tidak berpikir dia ... terluka, atau apapun, benar bukan?' kata Hermione
dengan tidak tenang.
'Tidak,' kata Harry seketika.
'Tapi kalau begitu, di mana dia?'
Ada keheningan sejenak, lalu Harry berkata dengan pelan, sehingga Neville,
Parvati dan Lavender tidak bisa mendengar, 'Mungkin dia belum kembali. Kalian tahu
-- dari misinya -- hal yang sedang dia kerjakan selama musim panas untuk
Dumbledore.'
'Yeah ... yeah, pasti itu,' kata Ron, terdengar tenang, tetapi Hermione menggigit
bibirnya, melihat ke sana kemari ke meja guru seolah-olah mengharapkan penjelasan
akhir atas ketidakhadiran Hagrid.
'Siapa itu?' katanya dengan tajam, sambil menunjuk ke tengah meja guru.
Mata Harry mengikuti matanya. Pertama-tama ke Profesor Dumbledore, yang
sedang duduk di kursi keemasannya yang bersandaran tinggi di tengah meja guru
panjang itu, mengenakan jubah ungu tua yang ditaburi bintang-bintang keperakan dan
sebuah topi yang serasi. Kepala Dumbledore condong ke seorang wanita yang duduk
di sebelahnya, yang sedang berbicara ke telinganya. Dia tampak, Harry berpikir,
seperti bibi seseorang: pendek gemuk, dengan rambut pendek keriting berwarna
coklat tikus yang diberinya pita Alice merah muda yang serasi dengan kardigan merah
muda berbulu yang dikenakannya di atas jubahnya. Lalu dia memalingkan wajahnya
sedikit untuk meneguk dari pialanya dan Harry melihat, dengan kejut pengenalan,
sebuah wajah pucat seperti katak dan sepasang mata yang menonjol dan berkantong.
'Wanita Umbridge itu!'
'Siapa?' kata Hermione.
'Dia ada di dengar pendapatku, dia bekerja untuk Fudge!'
'Kardigan yang bagus,' kata Ron sambil terkekeh.
'Dia bekerja untuk Fudge!' Hermione mengulangi sambil merengut. 'Kalau begitu,
sedang apa dia di sini?'
'Tak tahu ...'
Hermione mengamati meja guru, matanya menyipit.
'Tidak,' gumamnya, 'tidak, pasti bukan ...'
Harry tidak mengerti apa yang sedang dikatakannya tapi tidak bertanya;
perhatiannya teralihkan oleh Profesor Grubbly-Plank yang baru saja muncul di
belakang meja guru; dia berjalan ke paling ujung dan menduduki tempat yang
seharusnya milik Hagrid. Itu berarti kelas satu pastilah telah menyeberangi danau dan
mencapai kastil, dan benar juga, beberapa detik kemudian, pintu-pintu dari Aula
Depan membuka. Sebuah barisan panjang anak-anak kelas satu yang tampak
ketakutan masuk, dipimpin oleh Profesor McGonagall, yang sedang membawa sebuah
bangku yang di atasnya terdapat sebuah topi penyihir tua, penuh tambahan dan dihiasi
dengan sebuah sobekan luas dekat pinggir topi yang berjumbai.
Dengung pembicaraan di Aula Besar menghilang. Kelas satu berbaris di depan
meja guru menghadap ke murid-murid yang lain, dan Profesor McGonagall
menempatkan bangku itu dengan hati-hati di depan mereka, lalu berdiri di belakang.
Wajah-wajah para murid kelas satu berkilau pucat dalam cahaya lilin. Seorang anak
lelaki kecil di tengah barisan tampak seperti gemetaran. Harry teringat, sekilas lalu,
betapa takutnya dia ketika dia berdiri di sana, menunggu ujian yang tak diketahui
yang akan menentukan di asrama mana dia tinggal.
Seluruh sekolah menunggu dengan napas tertahan. Lalu sobekan dekat pinggir topi
membuka lebar seperti mulut dan Topi Seleksi menyanyi:
•
Di masa dulu waktu aku masih baru
•
Dan Hogwarts baru didirikan
•
Para pendiri sekolah mulia kita
•
Berpikir takkan pernah dipisahkan:
•
Disatukan oleh tujuan yang serupa,
•
Mereka punya hasrat yang sama,
•
'Tuk membuat sekolah sihir terbaik di dunia
•
Dan menurunkan ajaran mereka
•
'Bersama kita akan membangun dan mengajar!'
•
Keempat teman baik itu memutuskan
•
Dan tak pernah mereka mimpi kalau mereka
•
Suatu hari akan dapat dipisahkan
•
Karena adakah teman seperti
•
Slytherin dan Griffindor di mana pun?
•
Kecuali pasangan yang kedua
•
Dari Hufflepuff dan Ravenclaw?
•
Jadi bagaimana bisa begitu salah?
•
Bagaimana bisa persahabatan seperti ini retak?
•
Aku ada di sana jadi bisa menceritakan
•
Keseluruhan kisah sedih itu.
•
Kata Slytherin, 'Kita hanya 'kan ajarkan mereka
•
Yang keturunannya paling murni.'
•
Kata Ravenclaw, 'Kita hanya 'kan ajarkan mereka
•
Yang kecerdasannya paling pasti.'
•
Kata Gryffindor, 'Kita hanya 'kan ajarkan mereka
•
Yang namanya terpatri dengan tindakan berani.'
•
Kata Hufflepuff, 'Aku akan ajarkan semua,
•
Dan perlakukan mereka dengan sama.'
•
Perbedaan ini mengakibatkan perselisihan kecil
•
Ketika pertama kali muncul,
•
Karena empat pendiri masing-masing punya
•
Sebuah asrama tempat mereka bisa
•
Mengambil hanya yang mereka mau, jadi,
•
Sebagai contoh, Slytherin
•
Mengambil hanya penyihir berdarah murni
•
Dengan kecerdikan, seperti dia
•
Dan hanya mereka yang berotak tajam,
•
Diajari oleh Ravenclaw
•
Sedang yang paling gagah berani
•
Pergi ke Gryffindor pemberani.
•
Hufflepuff yang baik, dia ambil sisanya,
•
Dan mengajarkan mereka semua yang ditahunya.
•
Maka asrama dan para pendirinya
•
Pertahankan persahabatan erat dan sejati.
•
Maka Hogwarts berjalan dengan rukun
•
Selama beberapa tahun gembira,
•
Tapi kekacauan menyelinap antara kita
•
Timbul dari kesalahan dan ketakutan kita.
•
Asrama yang seperti empat pilar,
•
Yang pernah menyokong sekolah kita,
•
Sekarang saling bertentangan dan,
•
Terbagi, mencari kekuasaan.
•
Dan sejenak tampaknya sekolah ini
•
Pasti sampai ke akhir sebelum waktunya,
•
Dengan segala duel dan perkelahian
•
Dan bentrokan teman dengan teman
•
Dan akhirnya datang suatu pagi
•
Ketika Slytherin tua pergi
•
Dan walau perkelahian menghilang
•
Dia membuat kita patah hati.
•
Dan sejak keempat pendiri
•
Berkurang menjadi tiga
•
Tak pernah lagi asrama bersatu
•
Seperti dulu mereka dimaksudkan.
•
Dan sekarang Topi Seleksi ada di sini
•
Dan kalian semua tahu caranya:
•
Kuseleksi kalian ke asrama
•
Karena itulah kegunaanku,
•
Tapi tahun ini aku kan melanjutkan,
•
Dengar laguku dengan seksama:
•
Walau ku harus memisahkan kalian
•
Masih kutakut itu salah,
•
Walau aku harus jalankan tugasku
•
Dan harus membagi empat tiap tahun
•
Masih kubertanya apakah Seleksi
•
Takkan membawa akhir yang kutakut.
•
Oh, ketahui bahaya, baca tandanya,
•
Karena Hogwarts kita dalam bahaya
•
Dari luar, musuh mematikan
•
Dan kita harus bersatu di dalamnya
•
Atau kita 'kan ambruk dari dalam
•
T'lah kuberitahu kalian, t'lah kuperingatkan kalian ...
•
Mari mulai Seleksi sekarang.
Topi itu menjadi tak bergerak sekali lagi; timbul tepuk tangan meriah, walaupun
diselingi, untuk pertama kalinya dalam ingatan Harry, dengan gumaman dan bisikan.
Di seluruh Aula Besar murid-murid bertukar pendapat dengan tetangga mereka, dan
Harry, ikut bertepuk tangan dengan semua orang, tahu persis apa yang sedang mereka
bicarakan.
'Agak menyimpang tahun ini, bukan?' kata Ron, alisnya terangkat.
'Benar sekali,' kata Harry.
Topi Seleksi biasanya membatasi diri untuk menggambarkan sifat-sifat berbeda
yang dicari oleh masing-masing dari keempat pendiri asrama-asrama Hogwarts dan
perannya sendiri dalam menyeleksi mereka. Harry tidak ingat dia pernah mencoba
memberikan nasehat kepada sekolah sebelumnya.
'Aku ingin tahu apakah dia pernah memberikan peringatan sebelumnya?' kata
Hermione, terdengar agak cemas.
'Ya, memang,' kata Nick Kepala-Nyaris-Putus dengan tahu, sambil mencondongkan
badan melewati Neville kepadanya (Neville mengerenyit, rasanya sangat tidak
nyaman kalau hantu melewati dirimu). 'Topi itu merasa terikat kehormatan untuk
memberi peringatan kepada sekolah kapanpun dirasakannya --'
Tetapi Profesor McGonagall, yang sedang menunggu untuk membacakan daftar
nama-nama kelas satu, memberikan murid-murid yang sedang berbisik-bisik
pandangan tajam. Nick Kepala-Nyaris-Putus menempatkan jari tembus pandang ke
bibirnya dan duduk tegak lagi sementara gumaman-gumaman mendadak terhenti.
Dengan pandangan merengut terakhir kali yang menyapu keempat meja asrama,
Profesor McGonagall menurunkan matanya ke potongan perkamen panjang dan
memanggil nama pertama.
'Abercrombie, Euan.'
Anak lelaki yang tampak ketakutan yang telah diperhatikan Harry di awal tadi
tersandung ke depan dan meletakkan Topi ke kepalanya; topi tidak jatuh terus ke
barunya hanya karena dihalangi oleh telinganya yang menonjol. Topi itu
mempertimbangkan selama beberapa saat, lalu sobekan dekat pinggir membuka lagi
dan berteriak:
'Gryffindor!'
Harry bertepuk tangan dengan keras bersama para penghuni asrama Gryffindor
yang lainnya ketika Euan Abercrombie terhuyung-huyung ke meja mereka dan duduk,
tampak seakan-akan dia sangat ingin tenggelam melalui lantai dan tidak pernah
dilihatin lagi.
Pelan-pelan, barisan panjang kelas satu itu memendek. Dalam jeda antara nama-
nama dan keputusan Topi Seleksi, Harry bisa mendengar perut Ron berbunyi keras.
Akhirnya, 'Zeller, Rose' diseleksi ke dalam Hufflepuff, dan Profesor McGonagall
memungut Topi dan bangku dan membawanya pergi sementara Profesor Dumbledore
bangkit berdiri.
Apapun perasaan getir yang telah dirasakannya akhir-akhir ini terhadap Kepala
Sekolahnya, Harry entah bagaimana merasa tenteram melihat Dumbledore berdiri di
hadapan mereka semua. Antara ketidakhadiran Hagrid dan kemunculan kuda-kuda
mirip naga itu, dia telah merasa bahwa kedatangannya kembali ke Hogwarts, yang
telah dinantikan demikian lama, penuh dengan kejutan-kejutan tak terduga, seperti
not-not bergemuruh di akhir lagu yang akrab. Tapi ini, setidaknya, adalah hal yang
seharusnya terjadi: Kepala Sekolah mereka bangkit untuk menyambut mereka semua
sebelum pesta awal semester.
'Kepada para pendatang baru kita,' kata Dumbledore dengan suara menggelegar,
lengannya terentang lebar dan senyum ada di bibirnya, 'selamat datang! Kepada
orang-orang lama -- selamat datang kembali! Ada waktu untuk berpidato, tapi ini
bukan saatnya. Mari makan!'
Ada tawa penghargaan dan pecahnya tepuk tangan ketika Dumbledore duduk dan
melemparkan jenggot panjangnya melalui bahunya untuk menjauhkannya dari
piringnya -- karena makanan telah muncul entah dari mana, sehingga kelima meja
panjang berkeriut menahan daging dan pai dan hidangan sayuran, roti dan saus dan
teko-teko jus labu.
'Bagus sekali,' kata Ron, dengan semacam erangan ingin, dan dia menyambar
piring daging cincang terdekat dan mulai menumpukkan daging ke piringnya, diamati
dengan sedih dan pengharapan oleh Nick si Kepala-Nyaris-Putus.
'Apa yang sedang Anda katakan sebelum Seleksi?' Hermione menanyai hantu itu.
'Tentang Topi memberi peringatan?'
'Oh, ya,' kata Nick, yang tampak senang punya alasan untuk berpaling dari Ron,
yang sekarang sedang makan kentang bakar dengan antusiasme yang hampir kurang
pantas. 'Ya, aku pernah mendengar Topi itu memberi beberapa peringatan
sebelumnya, selalu pada waktu-waktu dia merasakan periode bahaya besar bagi
sekolah. Dan selalu, tentu saja, nasihatnya sama: bersatu, menjadi kuat dari dalam.'
'Gmana sah tau skol dam bhaye klo sebah top?' kata Ron.
Mulutnya begitu penuh sehingga Harry menganggap sudah pencapaian yang sangat
baik bahwa dia bisa mengeluarkan bunyi sama sekali.
'Maaf?' kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus dengan sopan, sementara Hermione
tampak jijik. Ron menelan dan berkata, 'Bagaimana dia bisa tahu sekolah dalam
bahaya kalau dia sebuah topi?'
'Aku tidak tahu,' kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus. 'Tentu saja, dia tinggal di
kantor Dumbledore, jadi aku bisa bilang dia dengar sesuatu di sana.'
'Dan dia mau semua asrama berteman?' kata Harry sambil melihat ke meja
Slytherin, di maan Draco Malfoy mengadakan penyambutan. 'Tak ada kemungkinan.'
'Well, kau tidak boleh bersikap seperti itu,' kata Nick dengan nada tidak setuju.
'Kerja sama secara damai, itulah kuncinya. Kami para hantu, walaupun kami berada
dalam asrama yang berbeda, mempertahankan ikatan persahabatan. Walau ada
persaingan antara Gryffindor dan Slytherin, aku tidak akan pernah bermimpi untuk
bersiteru dengan Baron Berdarah.'
'Hanya karena kau takut kepadanya,' kata Ron.
Nick si Kepala-Nyaris-Putus tampak sangat tersinggung.
'Takut? Kuharap aku, Sir Nicholas de Mimsy-Porpington, belum pernah bersalah
atas kepengecutan seumur hidupku! Darah mulia yang mengalir di nadiku --'
'Darah apa?' tanya Ron. 'Tentunya kau tidak lagi punya --?'
'Itu hanya ungkapan!' kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus, sekarang sangat jengkel
sehingga kepalanya bergetar tidak menyenangkan pada lehernya yang setengah
terputus. 'Kuanggap aku masih boleh memakai kata apapun yang kusuka, walaupun
jika kenikmatan makan dan minum tak bisa lagi kudapatkan! Tetapi aku sudah sangat
terbiasa dengan murid-murid yang menjadikan kematianku sebagai lelucon,
kuyakinkan kau!'
'Nick, dia sebenarnya tidak menertawakan kamu!' kata Hermione, sambil menatap
Ron dengan marah.
Sayangnya, mulut Ron sudah penuh hingga hampir meledak lagi dan yang bisa
dikatakannya hanya 'Tak maddu jiggug nada,' yang sepertinya tidak dianggap Nick
merupakan permintaan maaf yang memadai. Sambil bangkit ke udara, dia
menegakkan topi bulunya dan menjauhi mereka ke ujung lain dari meja itu, diam di
antara kakak beradik Creevey, Colin dan Dennis.
'Bagus sekali, Ron,' sambar Hermione.
'Apa?' kata Ron dengan tidak senang, setelah berhasil, akhirnya, untuk menelan
makanannya. 'Aku tidak boleh menanyakan pertanyaan sederhana?'
'Oh, lupakan saja,' kata Hermione dengan kesal, dan keduanya menghabiskan sisa
makanan dalam keheningan penuh amarah.
Harry sudah sangat terbiasa dengan pertengkaran-pertengkaran kecil mereka
sehingga dia tidak repot-repot berusaha mendamaikan mereka; dia merasa waktunya
lebih berguna bila digunakan untuk makan dengan mantap daging stik dan pai
ginjalnya, lalu sepiring besar kue tar sirup kental kesukaannya.
Ketika semua murid telah selesai makan dan tingkat kebisingan di Aula mulai
meningkat lagi, Dumbledore bangkit berdiri sekali lagi. Pembicaraan segera berhenti
ketika semuanya berpaling untuk menghadapi si Kepala Sekolah. Harry merasakan
kantuk yang menyenangkan sekarang. Tempat tidurnya yang bertiang empat sedang
menanti di suatu tempat di atas, sangat hangat dan empuk ...
'Well, sekarang karena kita semua sedang mencerna makanan hebat lainnya, aku
mohon perhatian kalian beberapa saat untuk pemberitahuan-pemberitahuan awal
semester yang biasa,' kata Dumbledore. 'Murid-murid kelas satu harus tahu bahwa
Hutan di halaman sekolah tidak boleh dimasuki oleh murid -- dan beberapa murid kita
yang lebih tua seharusnya juga sudah tahu sekarang.' (Harry, Ron dan Hermione
saling bertukar seringai.)
'Mr Filch, penjaga sekolah, telah memintaku, untuk yang dikatakannya keempat
ratus enam puluh dua kalinya, untuk mengingatkan kalian semua bahwa sihir tidak
diizinkan di koridor-koridor selama pergantian kelas, juga sejumlah hal lain, yang
semuanya bisa diperiksa di daftar luas yang sekarang dipasangkan ke pintu kantor Mr
Filch.
'Kita punya dua perubahan guru tahun ini. Kita sangat senang menyambut kembali
Profesor Grubbly-Plank, yang akan mengajarkan Pemeliharaan Satwa Gaib; kita juga
senang memperkenalkan Profesor Umbridge, guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam
kita yang baru.'
Ada serentetan tepuk tangan sopan tetapi kurang antusias, dalam waktu itu Harry,
Ron dan Hermione saling memberi pandangan panik; Dumbledore belum mengatakan
berapa lama Grubbly-Plank akan mengajar.
Dumbledore melanjutkan, 'Ujicoba bagi tim-tim asrama Quidditch akan
berlangsung pada --'
Dia berhenti, sambil melihat dengan pandangan bertanya kepada Profesor
Umbridge. Karena wanita itu tidak lebih tinggi sewaktu berdiri dibandingkan dengan
sewaktu duduk, sejenak tak seorangpun mengerti mengapa Dumbledore berhenti
berbicara, tetapi kemudian Profesor Umbridge berdehem, 'Hem, hem,' dan menjadi
jelas bahwa dia telah bangkit dan bermaksud untuk berpidato.
Dumbledore hanya terlihat terkejut sejenak, lalu dia duduk dengan bijak dan
melihat dengan waspada kepada Profesor Umbridge seolah-olah dia tidak ingin hal
lain lebih dari mendengar perkataanya. Para anggota staf guru yang lain tidak semahir
itu dalam menyembunyikan rasa terkejut mereka. Alis Profesor Sprout menghilang ke
rambutnya yang acak-acakan dan mulut Profesor McGonagall setipis yang pernah
dilihat Harry. Tidak ada guru baru yang pernah menyela Dumbledore sebelumnya.
Banyak murid yang sedang menyeringai; wanita ini jelas tidak tahu bagaimana
sesuatu dilakukan di Hogwarts.
'Terima kasih, Kepala Sekolah,' Profesor Umbridge tersenyum simpul, 'untuk katakata penyambutan yang baik.'
Suaranya melengking tinggi, terengah-engah dan mirip anak perempuan dan, lagilagi, Harry merasakan desakan kuat rasa tidak suka yang tak dapat dijelaskannya
kepada dirinya sendiri; yang dia tahu hanyalah bahwa dia membenci segala hal
mengenai wanita itu, dari suara bodohnya hingga kardigan merah muda berbulunya.
Dia berdehem sekali lagi ('hem, hem') dan melanjutkan.
'Well, senang kembali ke Hogwarts, harus kukatakan!' Dia tersenyum,
menyingkapkan gigi-gigi yang amat runcing. 'Dan melihat wajah-wajah kecil bahagia
seperti ini memandangku!'
Harry melihat sekeliling. Tak satupun dari wajah-wajah yang bisa dilihatnya
tampak bahagia. Sebaliknya, mereka semua tampak agak terkejut disebut seakan-akan
mereka berumur lima tahun.
'Saya sangat menantikan untuk mengenal kalian semua dan saya yakin kita semua
akan menjadi teman yang sangat baik!'
Para murid saling berpandangan mendengar ini; beberapa di antara mereka hampir
tidak menyembunyikan seringai mereka.
'Aku akan jadi temannya selama aku tidak harus meminjam kardigan itu,' Parvati
berbisik kepada Lavender, dan keduanya terkikik diam-diam.
Profesor Umbridge berdehem lagi ('hem, hem'), tetapi ketika dia melanjutkan,
beberapa nada terengah-engah telah menghilang dari suaranya. Dia terdengar jauh
lebih cekatan dan sekarang kata-katanya terdengar menjemukan seperti dihapalkan.
'Kementerian Sihir selalu menganggap pendidikan para penyihir muda sebagai hal
yang sangat penting. Karunia langka yang kalian dapatkan sewaktu lahir mungkin
tidak berguna kalau tidak diasuh dan diasah dengan pengajaran teliti. Keahlian kuno
yang unik bagi komunitas sihir harus diturunkan ke generasi selanjutnya supaya kita
akan kehilangan mereka untuk selamanya. Harta karun berupa pengetahuan sihir yang
dihimpun oleh para leluhur kita harus dijaga, dilengkapi dan diperbaiki oleh mereka
yang telah terpanggil ke dalam profesi mulia untuk mengajar.'
Profesor Umbridge berhenti sejenak dan membungkuk sedikit kepada para anggota
staf guru, tak satupun dari mereka membungkuk balik kepadanya. Alis gelap Profesor
McGonagall telah mengerut sehingga dia tampak mirip elang, dan Harry jelas-jelas
melihatnya saling pandang penuh arti dengan Profesor Sprout ketika Umbridge
mengeluarkan bunyi kecil 'hem, hem' lagi dan meneruskan pidatonya.
'Setiap kepala sekolah pria dan wanita Hogwarts telah membawa sesuatu yang baru
kepada tugas berat memerintah sekolah bersejarah ini, dan begitulah seharusnya,
karena tanpa kemajuan akan ada stagnasi dan pembusukan. Namun, kemajuan hanya
demi adanya kemajuan haruslah dihindari, karena tradisi kita yang telah teruji dan
terbukti seringkali tidak butuh diutak-atik. Dengan demikian, sebuah keseimbangan,
antara yang lama dengan yang baru, antara hal yang tetap dengan hal yang baru,
antara tradisi dan inovasi ...'
Harry merasa perhatiannya menyurut, seolah-olah otaknya keluar-masuk daya
tangkapnya. Keheningan yang selalu mengisi Aula ketika Dumbledore berbicara
terputus karena para murid mendekatkan kepala mereka, berbisik-bisik dan terkikikkikik. Di meja Ravenclaw Cho Chang sedang berbincang-bincang dengan
bersemangat kepada teman-temannya. Beberapa tempat duduk dari Cho, Luna
Lovegood telah mengeluaran The Quibbler lagi. Sementara itu, di meja Hufflepuff
Ernie Macmillan adalah salah satu dari beberapa orang yang masih menatap Profesor
Umbridg, tetapi matanya berkaca-kaca dan Harry yakin dia hanya berpura-pura
mendengarkan dalam usaha untuk melakukan hal yang diharapkan dari lencana prefek
barunyayang berkilat di dadanya.
Profesor Umbridge tampaknya tidak memperhatikan keresahan para pendengarnya.
Harry mendapat kesan bahwa kerusuhan hebat akan dapat terjadi di bawah hidungnya
dan dia hanya akan bersusah payah melanjutkan pidatonya. Akan tetapi, para guru
masih mendengarkan dengan penuh perhatian, dan Hermione tampaknya memakan
semua kata yang diucapkan Umbridge, walaupun, dinilai dari ekspresi wajahnya,
kata-kata itu tidak sesuai dengan seleranya.
'... karena beberapa perubahan akan membawa hal yang lebihbaik, sementara yang
lainnya, ketika waktunya tiba, akan dikenali sebagai kesalahan penilaian. Sementara
itu, beberapa kebiasaan lama akan dipertahankan, dan ini merupakan hal yang tepat,
sedangkan yang lainnya, ketinggalan zaman dan tidak sesuai lagi, harus ditinggalkan.
Dengan demikian, marilah kita maju ke depan, ke dalam era baru keterbukaan,
efektivitas dan akuntabilitas, dengan niat sungguh-sungguh untuk mempertahankan
apa yang perlu dipertahankan, menyempurnakan apa yang perlu disempurnakan, dan
memangkas di manapun kita menemukan praktek-praktek yang perlu dilarang.'
Dia duduk. Dumbledore bertepuk tangan. Para staf mengikuti petunjuknya,
walaupun Harry memperhatikan bahwa beberapa di antara mereka menyatukan
tangan mereka hanya sekali atau dua kali sebelum berhenti. Beberapa murid
bergabung, tetapi kebanyakan tidak menyadari akhir pidaro, karena tidak mendengar
lebih dari beberapa kata, dan sebelum mereka bisa mulai bertepuk tangan dengan
pantas, Dumbldore telah berdiri lagi.
'Terima kasih banyak, Profesor Umbridge, itu sangat menerangkan,' katanya sambil
membungkuk kepadanya. 'Sekarang, seperti yang kukatakan, ujicoba Quidditch akan
diadakan ...'
'Ya, tentu sangat menerangkan,' kata Hermione dengan suara rendah.
'Kau tidak sedang memberitahuku kalau kau menikmatinya?' Ron berkata dengan
pelan, sambil memalingkan wajah kaku kepada Hermione. 'Itu pidato paling
membosankan yang pernah kudengar, dan aku tumbuh bersama Percy.'
'Kubilang menerangkan, bukan menyenangkan,' kata Hermione. 'Itu menjelaskan
banyak hal.'
'Benarkah?' kata Harry terkejut. 'Terdengar seperti banyak omong kosong bagiku.'
'Ada beberapa hal penting yang tersimpan dalam omong kosong itu,' kata Hermione
dengan suram.
'Adakah?' kata Ron dengan hampa.
'Bagaimana dengan: "kemajuan hanya demi adanya kemajuan harus dihindari"?
Bagaimana dengan: "memangkas di manapun kita menemukan praktek-praktek yang
harus dilarang"?'
'Well, apa artinya itu?' kata Ron dengan tidak sabar.
'Kuberitahu kamu apa artinya,' kata Hermione melalui gigi-gigi yang dikertakkan.
'Artinya Kementerian ikut campur ke Hogwarts.'
Ada suara berisik dan bantingan di sekitar mereka; Dumbledore jelas baru
membubarkan sekolah, karena semua orang sedang berdiri siap untuk meninggalkan
Aula. Hermione melompat bangkit, terlihat bingung.
'Ron, kita harys menunjukkan kepada anak-anak kelas satu ke mana harus pergi!'
'Oh, yeah,' kata Ron, yang jelas telah lupa. 'Hei -- hei, kalian semua! Kerdil!'
'Ron!'
'Well, mereka memang begitu, mereka cebol ...'
'Aku tahu, tapi kau tidak boleh memanggil mereka kerdil! -- Murid-murid kelas
satu!' Hermione memanggil dengan nada memerintah menyusuri meja. 'Lewat sini!'
Sekelompok murid baru berjalan malu-malu ke celah antara meja Gryffindor
dengan Hufflepuff, semuanya mencoba keras untuk tidak memimpin kelompok itu.
Mereka memang terlihat sangat kecil; Harry yakin dia tidak tampak semuda itu ketika
dia tiba di sini. Dia menyeringai kepada mereka. Seorang anak lelaki pirang di
samping Euan Abercrombie terlihat ngeri; dia menyikut Euan dan membisikkan
sesuatu ke telinganya. Euan Abercrombie tampak sama takutnya dan mencuri
pandang ngeri kepada Harry, yang merasa seringainya menghilang dari wajahnya
seperti Getah-Bau.
'Sampai jumpa nanti,' katanya tanpa minat kepada Ron dan Hermione dan dia
berjalan keluar dari Aula Besar sendirian, melakukan sebisanya untuk mengabaikan
lebih banyak bisik-bisik, pandangan dan tunjuk-tunjuk ketika dia lewat. Dia
menetapkan matanya ke atas selagi berjalan melalui kerumunan di Aula Depan, lalu
dia bergegas menaiki tangga pualam, mengambil sejumlah jalan pintas tersembunyi
dan segera telah meninggalkan sebagian besar kerumunan di belakang.
Dia cukup bodoh untuk tidak mengharapkan hal ini, pikirnya dengan marah selagi
berjalan melalui koridor lantai atas yang jauh lebih lengang. Tentu saja semua orang
memandangi dia; dia telah keluar dari labirin Triwizard dua bulan sebelumnya sambil
mencengkeram mayat seorang murid temannya dan mengaku telah melihat Lord
Voldemort kembali berkuasa. Belum ada waktu di semester lalu untuk menjelaskan
maksudnya sebelum mereka semua harus pulang ke rumah -- bahkan kalau dia merasa
ingin memberi seluruh sekolah cerita lengkap dari kejadian mengerikan di pekuburan
itu.
Harry telah mencapai akhir koridor ke ruang duduk Gryffindor dan berhenti di
depan potret Nyonya Gemuk sebelum dia sadar kalau dia tidak tahu kata kunci yang
baru.
'Er ...' katanya dengan murung, sambil menatap Nyonya Gemuk, yang merapikan
lipatan baju satin merah mudanya dan memandang balik dengan tajam kepadanya.
'Tanpa kata kunci, tidak boleh masuk,' katanya dengan angkuh.
'Harry, aku tahu!' Seseorang terengah-engah di belakangnya dan dia berpaling
untuk melihat Neville berlari kecil ke arahnya. 'Tebak apa? Aku benar-benar akan
bisa mengingatnya sekali ini --' Dia melambaikan kaktus kecil kerdil yang telah
diperlihatkannya kepada mereka di kereta api. 'Mimbulus mimbletonia!'
'Tepat,' kata Nyonya Gemuk, dan potretnya terayun membuka kepada mereka
seperti sebuah pintu, memperlihatkan lubang melingkar pada tembok di belakangnya,
yang sekarang dipanjat oleh Harry dan Neville.
Ruang duduk Gryffindor tampak menyambut seperti dulu, sebuah menara
melingkar yang nyaman penuh dengan kursi-kursi berlengan empuk yang rombeng
dan meja-meja tua yang berderit. Api berderaj dengan riang dalam perapian dan
beberapa orang sedang menghangatkan tangan mereka dekat api sebelum naik ke
kamar mereka; di sisi lain ruangan itu Fred dan George Weasley sedang
menyematkan sesuatu ke papan pengumuman. Harry melambaikan selamat malam
kepada mereka dan langsung menuju pintu ke kamar anak laki-kali; dia tidak sedang
ingin berbincang-bincang saat ini. Neville mengikuti dia.
Dean Thomas dan Seamus Finnigan telah mencapai kamar terlebih dahulu dan
sedang dalam proses menutupi dinding-dinding di sebelah tempat tidur mereka
dengan poster-poster dan foto-foto. Mereka sedang berbicara ketika Harry mendorong
pintu terbuka tetapi berhenti mendadak saat mereka melihatnya. Harry bertanya-tanya
apakah mereka sedang membicarakan dia, lalu apakah dia menjadi paranoid.
'Hai,' katanya sambil bergerak menyeberang ke kopernya sendiri dan membukanya.
'Hei, Harry,' kata Dean, yang sedang mengenakan piyama dalam warna-warna West
Ham. 'Liburmu menyenangkan?'
'Tidak buruk,' gumam Harry, karena cerita sebenarnya dari liburannya akan makan
waktu hampir semalaman dan dia tidak dapat menghadapinya. 'Kau?'
'Yeah, cukup OK,' Dean tertawa kecil. 'Lagipula, lebih baik daripada Seamus, dia
baru saja memberitahuku.'
'Kenapa, apa yang terjadi, Seamus?' Neville bertanya selagi dia menempatkan
Mimbulus mimbletonia-nya dengan lembut ke atas lemari sisi tempat tidurnya.
Seamus tidak segera menjawab; dia makan waktu lama untuk memastikan bahwa
poster tim Quidditchnya Kenmare Kestrels cukup tegak. Lalu dia berkata, dengan
punggung masih berpaling dari Harry, 'Ibuku tak mau aku balik.'
'Apa?' kata Harry sambil menghentikan sejenak tindakan melepaskan jubahnya.
'Dia tidak mau aku balik ke Hogwarts.'
Seamus berpaling dari posternya dan menarik piyamanya sendiri keluar dari
koopernya, masih tidak memandang Harry.
'Tapi -- kenapa?' kata Harry, heran. Dia tahu ibu Seamus seorang penyihir dan
karena itu, tidak bisa mengerti mengapa dia menjadi begitu mirip keluarga Dursley.
Seamus tidak menjawab sampai dia selesai mengancingkan piyamanya.
'Well,' katanya dengan suara yang diatur, 'kukira ... karena kau.'
'Apa maksudmu?' kata Harry dengan cepat.
Jantungnya berdetak agak cepat. Samar-samar dia merasa seakan-akan sesuatu
menyelubunginya.
'Well,' kata Seamus lagi, masih menghindari mata Harry, 'dia ... er ... well, bukan
cuma kamu, Dumbledore juga ...'
'Dia percaya pada Daily Prophet?' kata Harry. 'Dia mengira aku seorang
pembohonga dan Dumbledore seorang tua yang bodoh?'
Seamus memandang kepadanya.
'Yeah, kira-kira seperti itu.'
Harry tidak berkata apa-apa. Dia melemparkan tongkatnya ke meja sisi tempat
tidurnya, melepaskan jubahnya, memasukkannya dengan marah ke dalam kopernya
dan menarik keluar piyamanya. Dia muak akan hal itu; muak dijadikan orang yang
dipandangi dan dibicarakan sepanjang waktu. Kalau di antara mereka ada yang tahu,
kalau di antara mereka ada yang punya gambaran sedikit saja bagaimana rasanya
menjadi orang yang tertimpa semua kejadian ini ... Mrs Finnigan tidak punya
gambaran, wanita bodoh itu, pikirnya dengan buas.
Dia naik ke tempat tidur dan bergerak untuk menarik kelambunya menutupi
sekitarnya, tetapi sebelum dia bisa melakukannya, Seamus berkata, 'Lihat ... apa yang
terjadi malam itu ketika ... kau tahu, ketika ... dengan Cedric Diggory dan semuanya?'
Seamus terdengar gugup dan bersemangat pada saat yang sama. Dean, yang telah
membungkuk di atas kopernya sambil mencoba mengambil sebuah sandal, anehnya
menjadi tidak bergerak dan Harry tahu dia mendengarkan lekat-lekat.
'Kenapa kau tanya aku?' Harry menjawab dengan pedas. 'Baca saja Daily Prophet
seperti ibumu, mengapa tak kaulakukan? Itu akan memberitahumu semua yang perlu
kau ketahui.'
'Jangan bawa-bawa ibuku,' sambar Seamus.
'Aku akan bawa siapapun yang menyebutku pembohong,' kata Harry.
'Jangan berbicara kepadaku seperti itu!'
'Aku akan bicara kepadamu seperti yang kumau,' kata Harry, amarahnya naik
begitu cepat sehingga dia menyambar tongkatnya kembali dari meja sisi tempat
tidurnya. 'Kalau kau punya masalah berbagi kamar denganku, pergi dan minta
McGonagall kalau kau bisa dipindahkah ... menghentikan kekhawatiran ibumu --'
'Tinggalkan ibuku dari hal ini, Potter!'
'Apa yang sedang terjadi?'
Ron telah muncul di ambang pintu. Matanya yang lebar bergerak dari Harry, yang
sedang berlutut di atas ranjangnya dengan tongkat menunjuk kepada Seamus, kepada
Seamus, yang sedang berdiri di sana dengan tinju terangkat.
'Dia membawa-bawa ibuku!' teriak Seamus.
'Apa?' kata Ron. 'Harry tidak akan melakukan itu -- kami pernah bertemu ibumu,
kami menyukainya ...'
'Itu sebelum dia mulai mempercayai semua kata yang ditulis Daily Prophet sialan
itu mengenai aku!' kata Harry pada puncak suaranya.
'Oh,' kata Ron, pengertian timbul ke wajahnya yang berbintik-bintik. 'Oh ... benar.'
'Kau tahu apa?' kata Seamus panas, sambil memberi Harry pandangan berbisa. 'Dia
benar, aku tidak mau berbagi kamar dengannya lagi, dia gila.'
'Itu di luar batas, Seamus,' kata Ron, yang telinganya mulai berkilau merah -- selalu
merupakan tanda bahaya.
'Di luar batas, aku?' teriak Seamus, yang sebaliknya dari Ron menjadi pucat. 'Kau
percaya semua sampah yang dikarangnya mengenai Kau-Tahu-Siapa, benar bukan,
kau pikir dia menceritakan hal yang sebenarnya?'
'Yeah, memang!' kata Ron dengan marah.
'Kalau begitu kau juga gila,' kata Seamus jijik.
'Yeah? Well, sayang bagimu, teman, aku juga seorang prefek!' kata Ron sambil
menusuk dirinya sendiri di dada dengan sebuahjari. 'Jadi kecuali kau mau dapat
detensi, jaga ucapanmu!'
Selama beberapa detik Seamus terlihat seakan-akan menganggap detensi adalah
harga yang pantas untuk dibayarkan untuk mengatakan apa yang sedang berada dalam
pikirannya; tetapi dengan suara jijik dia memutar tumitnya dan menarik kelambunya
tertutup dengan kasar sekali sehingga kelambu itu terkoyak dari ranjangnya dan jatuh
menjadi tumpukan berdebu ke lantai. Ron melotot kepada Seamus, lalu melihat
kepada Dean dan Neville.
'Ada lagi yang orang tuanya bermasalah dengan Harry?' katanya dengan agresif.
'Orang tuaku Muggle, sobat,' kata Dean sambil mengangkat bahu. 'Mereka tidak
tahu apapun tentang kematian di Hogwarts, karena aku tidak cukup bodoh untuk
memberitahu mereka.'
'Kau tidak tahu ibuku, dia akan bersusah payah mengeluarkan apapun dari
siapapun!' Seamus berkata tajam kepadanya. 'Lagipula, orang tuamu tidak baca Daily
Prophet. Mereka tidak tahu Kepala Sekolah kita telah dipecat dari Wizengamot dan
Konfederasi Penyihir Internasional karena dia mulai kehilangan akal sehatnya --'
'Nenekku bilang itu sampah,' timpal Neville. 'Katanya Daily Prophet yang semakin
tidak beres, bukan Dumbledore. Dia sudah membatalkan langganan kami. Kami
percaya pada Harry,' kata Neville singkat. Dia memanjat ke ranjangnya dan menarik
selimutnya hingga ke dagu, sambil melihat dengan serius kepada Seamus. 'Nenekku
selalu bilang Kau-Tahu-Siapa akan kembali suatu hari. Katanya kalau Dumbledore
bilang dia sudah kembali, berarti dia sudah kembali.'
Harry merasakan desakan rasa terima kasih terhadap Neville. Yang lain tak
seorangpun berkata apa-apa. Seamus mengeluarkan tongkatnya, memperbaiki
kelambu tempat tidurnya dan menghilang di baliknya. Dean naik ke tempat tidur,
berguling dan terdiam. Neville, yang tampaknya juga tidak punya hal lain untuk
dikatakan lagi, memandang dengan sayang kepada kaktusnya yang terkena cahaya
bulan.
Harry berbaring kembali pada bantalnya sementara Ron sibuk di ranjang
berikutnya, menyimpan barang-barangnya. Dia merasa terguncang oleh argumen
dengan Seamus, yang selalu disukainya. Berapa banyak orang lagi yang akan
mengatakan kalau dia berbohong, atau kurang waras?
Apakah Dumbledore juga menderita seperti ini sepanjang musim panas, karena
pertama Wizengamot, lalu Konfederasi Penyihir Internasional melemparkan dia dari
jabatan mereka? Apakah rasa marah kepada Harry, mungkin, yang menghentikan
Dumbledore berhubungan dengannya selama berbulan-bulan? Terlebih lagi, mereka
berdua berada dalam hal ini bersama-sama; Dumbledore telah mempercayai Harry,
mengumumkan versinya terhadap kejadian-kejadian itu kepada seluruh sekolah dan
lalu kepada komunitas sihir yang lebih luad. Siapapun yang mengira Harry
pembohong haruslah berpikir bahwa Dumbledore juga, atau bahwa Dumbledore telah
terpedaya.
Mereka akan tahu kami benar pada akhirnya, pikir Harry dengan menderita, ketika
Ron naik ke tempat tidur dan mematikan lilin terakhir dalam kamar itu. Tapi dia
bertanya-tanya berapa banyak serangan lagi seperti Seamus yang akan harus
ditahannya sebelum masa itu tiba.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DUA BELAS -Profesor Umbridge
Seamus berpakaian dengan kecepatan tinggi pagi berikutnya dan meninggalkan
kamar asrama sebelum Harry bahkan memakai kaos kakinya.
'Apa dipikirnya dia akan jadi gila kalau dia tinggal seruangan denganku terlalu
lama?' tanya Harry dengan keras, ketika pinggir jubah Seamus melambai keluar dari
pandangan.
'Jangan khawatir tentang itu, Harry,' Dean bergumam, sambil mengangkat tas
sekolahnya ke bahunya, 'dia hanya ...'
Tapi tampaknya dia tidak mampu mengatakan dengan tepat bagaimana Seamus,
dan setelah jeda yang agak canggung mengikutinya keluar kamar.
Neville dan Ron keduanya memberi Harry pandangan itu-maslahnya-bukanmasalahmu, tapi Harry tidak banyak terhibur. Berapa banyak lagi hal seperti ini yang
akan terjadi?
'Ada apa?' tanya Hermione lima menit kemudian, sambil mencegat Harry dan Ron
di tengah jalan menyeberangi ruang duduk ketika mereka menuju ke makan pagi.
'Kau tampak benar-benar -- Oh demi Tuhan.'
Dia sedang memandangi papan pengumunan ruang duduk, di mana terpasang tanda
baru.
BERGALON-GALON GALLEON!
Uang saku gagal mengikuti pengeluaranmu?
Ingin mendapatkan sedikit emas tambahan?
Hubungi Fred dan George Weasley, ruang duduk Gryffindor,
untuk pekerjaan paroh-waktu sederhana, yang hampir tidak menyakitkan.
Kami menyesal bahwa semua pekerjaan dilakukan atas resiko para pelamar sendiri.)
'Itu batasnya,' kata Hermione dengan suram, sambil menurunkan tanda itu, yang telah
dipasang Fred dan George di atas poster yang memberitahu tanggal akhir pekan
Hogsmeade yang pertama, yang akan berlangsung di bulan Oktober. 'Kita harus
berbicara dengan mereka, Ron.'
Ron jelas-jelas tampak gelisah.
'Mengapa?'
'Karena kita prefek!' kata Hermione, selagi mereka memanjat ke luar lubang potret.
'Tergantung kepada kita untuk menghentikan hal-hal semacam ini!'
Ron tidak berkata apa-apa; Harry bisa tahu dari ekspresi muramnya bahwa prospek
untuk menghentikan Fred dan George melakukan apa yang mereka suka tidaklah
dianggapnya menarik.
'Ngomong-ngomong, ada apa, Harry?' Hermione melanjutkan, ketika mereka
berjalan menuruni serangkaian anak tangga yang dibarisi potret-potret para penyihir
wanita dan pria tua, yang semuanya mengabaikan mereka, terlalu asyik dengan
percakapan mereka sendiri. 'Kau tampak benar-benar marah mengenai sesuatu.'
'Seamus mengira Harry berbohong tentang Kau-Tahu-Siapa,' kata Ron dengan
ringkas, ketika Harry tidak menanggapi.
Hermione, yang Harry duga akan bereaksi dengan marah demi dirinya, menghela
napas.
'Ya, Lavender juga mengira begitu,' katanya dengan suram.
'Sudah berbincang-bincang dengannya mengenai apakah aku seorang anak bandel
pembohong tukang cari perhatian, bukan begitu?' Harry berkata dengan keras.
'Tidak,' kata Hermione dengan tenang. 'Sebenarnya kusuruh dia menutup mulut
besarnya tentang kau. Dan akan sangat baik kalau kau berhenti menyerang kami,
Harry, karena kalau kamu belum memperhatikan, Ron dan aku ada di sisimu.'
Ada jeda pendek.
'Sori,' kata Harry dengan suara rendah.
'Tidak apa-apa,' kata Hermione dengan gengsi. Lalu dia menggelengkan kepalanya.
'Tidakkah kau ingat apa yang dikatakan Dumbledore di pesta akhir semester lalu?'
Harry dan Ron memandangnya dengan hampa dan Hermione menghela napas lagi.
'Tentang Kau-Tahu-Siapa. Dia bilang "bakatnya menyebarkan kekacauan dan
permusuhan sangat besar. Kita hanya bisa melawannya dengan memperlihatkan
ikatan persahabatan dan kepercayaan yang sama kuatnya --"'
'Bagaimana kamu ingat hal-hal seperti itu?' tanya Ron, sambil memandangnya
dengan kekaguman.
'Aku mendengarkan, Ron,' kata Hermione dengan agak kasar.
'Aku juga, tapi aku masih belum bisa memberitahumu apa tepatnya --'
'Intinya,' Hermione menekankan dengan keras, 'adalah bahwa hal-hal seperti ini
tepat seperti yang dibicarakan Dumbledore. Kau-Tahu-Siapa baru kembali dua bulan
dan kita sudah mulai berkelahi sesama kita. Dan peringatan Topi Seleksi sama:
bersatu-padu --'
'Dan Harry benar kemarin malam,' jawab Ron. 'Kalau itu berarti kita harus
berteman dengan anak-anak Slytherin -- Tidak mungkin.'
'Well, kukira sayang kita tidak mencoba kesatuan dalam-asrama,' kata Hermione
dengan ketus.
Mereka telah mencapai kaki anak tangga pualam. Sebarisan anak Ravenclaw kelas
empat sedang menyeberang ke Aula Depan; mereka melihat Harry dan bergegas
membentuk kelompok yang lebih erat, seolah-oleh takut dia mungkin menyerang
orang-orang yang lamban.
'Yeah, kita benar-benar harus mencoba berteman dengan orang-orang seperti itu,'
kata Harry dengan sarkastis.
Mereka mengikuti anak-anak Ravenclaw itu ke dalam Aula Besar, semuanya
melihat menuruti kata hari ke meja guru ketika mereka masuk. Profesor GrubblyPlank sedang berbincang-bincang dengan Profesor Sinistra, guru Astronomi, dan
Hagrid sekali lagi menarik perhatian karena ketidakhadirannya. Langit-langit tersihir
di atas mereka menggaungkan perasaan hati Harry; warnanya kelabu penuh awan
hujan tidak menyenangkan.
'Dumbledore bahkan tidak menyebutkan berapa lama wanita Grubbly-Plank itu
akan tinggal,' katanya, ketika mereka berjalan menyeberang ke meja Gryffindor.
'Mungkin ...' kata Hermione berpikir keras.
'Apa?' kata Harry dan Ron bersama-sama.
'Well ... mungkin dia tidak mau menarik perhatian bahwa Harry tidak ada di sini.'
'Apa maksudmu, menarik perhatian?' kata Ron setengah tertawa. 'Bagaimana
mungkin kita tidak memperhatikan?'
Sebelum Hermione bisa menjawab, seorang gadis hitam jangkung dengan rambut
panjang dikepang telah berjalan menuju Harry.
'Hai, Angelina.'
'Hai,' katanya dengan cepat. 'musim panasmu menyenangkan?' Dan tanpa
menunggu jawaban, 'Dengar, aku telah dijadikan Kapten Quidditch Gryffindor.'
'Bagus sekali,' kata Harry sambil menyeringai kepadanya; dia merasa pembicaraan
pembangkit semangat Angelina tidak akan sepanjang Oliver Wood, yang hanya bisa
berarti perbaikan.
'Yeah, well, kita perlu seorang Keeper baru karena sekarang Oliver sudah pergi.
Ujicoba akan diadakan Jumat jam lima dan aku mau seluruh tim ada di sana, oke?
Dengan begitu kita bisa melihat bagaimana kecocokan orang baru itu.'
'OK,' kata Harry.
Angelina tersenyum kepadanya dan pergi.
'Aku lupa kalau Wood sudah pergi,' kata Hermione samar-samar ketika dia duduk
di samping Ron dan menarik sepiring roti panggang ke hadapannya. 'Kukira itu akan
membuat perbedaan bagi tim?'
'Kukira begitu,' kata Harry sambil duduk di bangku di seberang. 'Dia Keeper yang
bagus ...'
'Walau begitu, tidak ada salahnya dapat darah baru, bukan begitu?' kata Ron.
Dengan suara kibasan dan bising, ratusan burung hantu datang membumbung
melalui jendela-jendela atas. Mereka turun ke seluruh Aula, membawa surat-surat dan
paket-paket kepada para pemiliknya dan menghujani orang-orang yang sedang
sarapan dengan tetesan-tetesan air; jelas di luar sedang hujan deras. Hedwig tak
terlihat di manapun, tetapi Harry hampir tidak terkejut; satu-satunya korespondennya
hanyalah Sirius, dan dia ragu Sirius akan punya sesuatu yang baru untuk
diberitahukan kepadanya setelah hanya dua puluh empat jam berpisah. Namun,
Hermione harus memindahkan jus jeruknya ke samping dengan cepat untuk memberi
tempat bagi seekor burung hantu lembab yang sedang membawa Daily Prophet basah
kuyup di paruhnya.
'Untuk apa kamu masih berlangganan itu?' kata Harry dengan kesal, sambil
memikirkan tentang Seamus selagi Hermione menempatkan sebuah Knut ke kantong
kulit di kaki burung hantu itu dan dia berangkat lagi. 'Aku tidak akan repot-repot ...
banyak sampah.'
'Hal terbaik adalah mengetahui apa yang dikatakan musuh,' kata Hermione dengan
kelam, dan dia membuka gulungan suratkabar itu dan menghilang ke baliknya, tidak
muncul sampai Harry dan Ron telah selesai makan.
'Tak ada apa-apa,' katanya singkat, sambil menggulung surat kabar itu dan
meletakkannya di samping piringnya. 'Tak ada apa-apa tentang kamu atau
Dumbledore atau apapun.'
Profesor McGonagall sekarang sedang berpindah dari meja ke meja sambil
menyerahkan jadwal pelajaran.
'Lihat hari ini!' erang Ron. 'Sejarah Sihir, Ramuan ganda, Ramalan dan Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam ganda ... Binns, Snape, Trelawney dan wanita Umbridge itu
semua dalam sehari! Aku harap Fred dan George bergegas dan menyelesaikan Kotak
Makanan Pembolos itu ...'
'Apakah telingaku menipu diriku?' kata Fred, yang datang bersama George dan
menyelipkan diri ke bangku di samping Harry. 'Para prefek Hogwarts tentunya tidak
ingin bolos pelajaran?'
'Lihat apa yang kami dapat hari ini,' kata Ron menggerutu, sambil menyorongkan
jadwalnya ke bawah hidung Fred. 'Itu adalah Senin terburuk yang pernah kulihat.'
'Poin bagus, dik,' kata Fred, sambil memeriksa kolom tersebut. 'Kau bisa dapatkan
sedikit Gula-Gula Mimisan dengan murah kalau kau mau.'
'Kenapa murah?' kata Ron dengan curiga.
'Karena kau akan terus berdarah sampai kau mengerut, kami belum dapat
penawarnya,' kata George sambil makan.
'Bagus,' kata Ron dengan murung, sambil mengantongkan jadwalnya, 'tapi kukira
aku akan masuk pelajarannya saja.'
'Dan ngomong-ngomong tentang Kotak Makanan Pembolos kalian,' kata Hermione
sambil mengerling kepada Fred dan George, 'kalian tidak bisa memasang iklan
mencari para penguji di papan pengumuman Gryffindor.'
'Kata siapa?' kata George, terlihat heran.
'Kataku,' kata Hermione. 'Dan Ron.'
'Jangan bawa-bawa aku,' kata Ron dengan terburu-buru.
Hermione melotot kepadanya. Fred dan George mencibir.
'Kau akan menyanyikan nada yang lain segera, Hermione,' kata Fred, sambil
memberi mentega banyak-banyak ke kue. 'Kau sedang memulai tahun kelimamu, kau
akan memohon kepada kami demi sebuah Kotak Makanan sebelum waktu yang lama.'
'Dan kenapa memulai tahun kelima berarti aku akan mau Kotak Makanan
Pembolos?' tanya Hermione.
'Tahun kelima adalah tahun OWL,' kata George.
'Jadi?'
'Jadi kau harus menghadapi ujian-ujianmu, 'kan? Mereka akan membuatmu bekerja
begitu keras sehingga kelelahan,' kata Fred dengan kepuasan.
'Setengah dari kelas kami mengalami depresi ringan sewaktu menghadapi OWL,'
kata George dengan senang. 'Air mata dan ledakan-ledakan kemarahan ... Patricia
Stimpson terus menerus pingsan ...'
'Kenneth Towler menderita bisul-bisul, kau ingat?' kata Fred sambil mengenang.
'Itu karena kau meletakkan bubuk Bulbadox di piyamanya,' kata George.
'Oh yeah,' kata Fred sambil menyeringai. 'Aku sudah lupa ... terkadang sulit
mengingat semuanya, ya 'kan?'
'Benar-benar tahun yang seperti mimpi buruk, tahun kelima itu,' kata George. 'Itu
kalau kau peduli terhadap hasil ujian. Fred dan aku berhasil menjaga nilai-nilai kami
entah bagaimana.'
'Yeah ... kalian dapat, berapa, tiga OWL masing-masing?' kata Ron.
'Yep,' kata Fred tidak peduli. 'Tapi kami merasa masa depan kami terletak di luar
dunia pencapaian akademis.'
'Kami berdebat serius mengenai apakah kami akan repot-repot kembali untuk tahun
ketujuh kami,' kata George dengan cerah, 'karena sekarang kami sudah punya --'
Dia tidak melanjutkan karena melihat pandangan memperingatkan dari Harry, yang
tahu George hampir menyebutkan kemenangan Triwizard yang telah dia berikan
kepada mereka.
'-- sekarang kami sudah mendapatkan OWL kami,' George berkata dengan tergesagesa. 'Maksudku, apakah kami benar-benar perlu NEWT? Tapi kami mengira Mum
tidak akan bisa menerima kami meninggalkan sekolah lebih awal, tidak setelah Percy
berubah menjadi orang paling brengsek sedunia.'
'Walau begitu, kami tidak akan menyia-nyiakan tahun terakhir kami di sini,' kata
Fred, sambil memandang dengan penuh kasih sayang ke sekeliling Aula Besar. 'Kami
akan menggunakannya untuk melakukan sedikit riset pasar, mengetahui tepatnya apa
yang dibutuhkan rata-rata murid Hogwarts dari sebuah toko lelucon, berhati-hati
mengevaluasi hasil riset kami, lalu menghasilkan produk yang sesuai dengan
permintaan.'
'Tapi di mana kalian akan mendapatkan emas untuk memulai toko lelucon?'
Hermione bertanya dengan skeptis. 'Kalian akan perlu semua bahan dan materialnya - dan lokasi usaha juga, kurasa ...'
Harry tidak memandang si kembar. Wajahnya terasa panas; dia sengaja
menjatuhkan garpunya dan menukik ke bawah untuk mengambilnya. Dia mendengar
Fred berkata di atas kepalanya, 'Jangan tanya kami dan kami tidak akan berbohong
kepadamu, Hermione. Ayo, George, kalau kita sampai di sana lebih awal kita
mungkin bisa menjual beberapa Telinga yang Dapat-Dipanjangkan sebelum
Herbologi.'
Harry muncul dari bawah meja dan melihat Fred dan George berjalan menjauh,
masing-masing membawa setumpuk roti panggang.
'Apa artinya itu?' kata Hermione, sambil memandang dari Harry ke Ron. '"Jangan
tanya kami ..." Apakah itu berarti mereka telah mendapatkan emas untuk memulai
toko lelucon?'
'Kau tahu, aku telah bertanya-tanya mengenai hal itu,' kata Ron, alisnya berkerut.
'Mereka membelikanku satu stel jubah pesta baru musim panas ini dan aku tidak bisa
mengerti dari mana mereka dapat Galleon ...'
Harry memutuskan sudah waktunya mengalihkan pembicaraan keluar dari daerah
berbahaya.
'Apakah kalian pikir benar tahun ini akan sangat sulit? Karena ujian-ujian itu?'
'Oh, yeah,' kata Ron. 'Harus begitu, bukan? OWL sangat penting, mempengaruhi
pekerjaan-pekerjaan yang bisa kau lamar dan segalanya. Kita juga dapat bimbingan
karir, akhir tahun ini, Bill bilang kepadaku. Jadi kau bisa memilih NEWT apa yang
mau kau lakukan tahun depan.'
'Apakah kalian tahu apa yang mau kalian kerjakan setelah Hogwarts?' Harry
bertanya kepada keduanya, ketika mereka meninggalkan Aula Besar sejenak
kemudian dan menuju ruang kelas Sejarah Sihir mereka.
'Tidak juga,' kata Ron lambat-lambat. 'Kecuali ... well ...'
Dia terlihat sedikit malu-malu.
'Apa?' Harry mendesaknya.
'Well, pasti keren kalau jadi Auror,' kata Ron tanpa pikir panjang.
'Yeah, benar,' kata Harry sungguh-sungguh.
'Tapi mereka seperti, orang-orang elit,' kata Ron. 'Kau harus benar-benar hebat.
Bagaimana denganmu, Hermione?'
'Aku tidak tahu,' katanya. 'Kukira aku akan melakukan sesuatu yang berharga.'
'Auror berharga!' kata Harry.
'Ya, memang, tapi itu bukan satu-satunya yang berharga,' kata Hermione sambil
berpikir, 'maksudku, kalau aku bisa membawa SPEW lebih lanjut ...'
Harry dan Ron dengan hati-hati menghindari pandangan satu sama lain.
Sejarah Sihir dengan persetujuan umum merupakan pelajaran paling membosankan
yang pernah diciptakan oleh kaum penyihir. Profesor Binns, guru hantu mereka,
memiliki suara menciut-ciut yang berdengung yang hampir merupakan jaminan untuk
menyebabkan rasa ngantuk hebat dalam sepuluh menit, lima di udara hangat. Dia
tidak pernah merubah bentuk pelakaran mereka, tetapi menguliahi mereka tanpa jeda
sementara mereka mencatat, atau lebih tepatnya, memandang dengan mata mengantuk
ke ruang kosong. Harry dan Ron sejauh ini berhasil lulus dari pelajaran ini hanya
dengan menyalin catatan Hermione sebelum ujian; dia sendiri yang tampaknya bisa
menahan daya penidur dari suara Binns.
Hari ini, mereka menderita satu setengah jam ngantuk dengan subyek perang
raksasa. Harry mendengar cukup banyak selama sepuluh menit pertama untum
menyadari samar-samar bahwa di tangan guru lain subyek ini mungkin agak menarik,
tapi kemudian otaknya tidak terhubung lagi, dan dia menghabiskan satu jam dua
puluh menit sisanya bermain tebak kata di tepi perkamennya dengan Ron, sementara
Hermione memberi mereka pandangan kejam dari sudut matanya.
'Bagaimana jadinya,' dia menanyai mereka dengan dingin, ketika mereka
meninggalkan ruang kelas itu untuk istirahat (Binns melayang pergi melewati papan
tulis), 'kalau aku menolak meminjamkan kalian catatanku tahun ini?'
'Kami akan gagal di ujian OWL kami,' kata Ron. 'Kalau kau mau memikul itu di
hati nuranimu, Hermione ...'
'Well, kalian pantas mendapatkannya,' dia berkata dengan pedas. 'Kalian bahkan
tidak mencoba mendengarkannya, bukan?'
'Kami mencoba,' kata Ron. 'Kami hanya tidak punya otakmu atau ingatanmu atau
konsentrasimu -- kai hanya lebih pintar daripada kami -- baguskah kutambahkan itu?'
'Oh, jangan beri aku sampah itu,' kata Hermione, tapi dia tampak agak mereda
ketika dia memimpin jalan ke halaman yang lembab.
Gerimis berkabut halus sedang turun, sehingga orang-orang yang sedang berdiri
berkelompok di sekitar tepi halaman terlihat buram di sisi-sisinya. Harry, Ron dan
Hermione memilih sebuah sudut terpecil di bawah balkon yang terkena banyak
tetesan air, membalikkan kerah jubah mereka melawan udara September yang dingin
dan berbicara mengenai apa yang mungkin disiapkan Snape untuk mereka pada
pelajaran pertama di tahun itu. Mereka telah sampai sejauh persetujuan bahwa
mungkin sekali sesuatu yang sangat sukar, hanya supaya bisa mengenai mereka ketika
belum siap setelah liburan dua bulan; ketiak seseorang berjalan mengitari sudut
menuju mereka.
'Halo, Harry!'
Ternyata Cho Chang dan, lebih-lebih, dia sendirian lagi. Ini sangat tidak biasa: Cho
hampir selalu dikelilingi oleh sekelompok gadis yang cekikikan; Harry ingat
penderitaan ketika mencoba menemuinya sendirian untuk memintanya ke Pesta
Dansa.
'Hai,' kata Harry, merasa wajahnya menjadi panas. Setidaknya kamu tidak tertutup
Getah-Bau kali ini, dia memberitahu dirinya sendiri. Cho tampaknya memikirkan hal
yang sama.
'Kalau begitu, kamu sudah membersihkan benda itu?'
'Yeah,' kata Harry, sambil mencoba menyeringai seolah-olah ingatan pada
pertemuan terakhir mereka lucu bukannya mengerikan. 'Jadi, apakah kamu ... er ...
mengalami musim panas yang menyenangkan?'
Begitu dia telah mengatakan ini dia berharap tidak dilakukannya -- Cedric dulu
pacar Cho dan ingatan pada kematiannya pasti telah mempengaruhi liburannya
hampir separah memperngaruhi liburan Harry. Sesuatu sepertinya menegang di
wajahnya, tetapi dia berkata, 'Oh, liburanku baik-baik saja, kau tahu ...'
'Apakah itu lencana Tornado?' Ron menuntut dengan tiba-tiba, sambil menunjuk ke
depan jubah Cho, di mana tersemat sebuah lencana biru langit yang dihiasi dengan
huruf 'T' ganda. 'Kau tidak mendukung mereka, 'kan?'
'Ya, memang,' kata Cho.
'Apakah kau dari dulu mendukung mereka, atau hanya semenjak mereka mulai
memenangkan liga?' kata Ron, dengan nada suara menuduh yang dianggap Harry
tidak perlu.
'Aku sudah mendukung mereka sejak aku berumur enam tahun,' kata Cho dengan
dingin. 'Ngomong-ngomong ... sampai jumpa, Harry.'
Dia berjalan menjauh. Hermione menunggu sampai Cho setengah menyeberangi
lapangan sebelum memberondong Ron.
'Kau benar-benar tidak bijaksana!'
'Apa? Aku hanya bertanya kepadanya apakah --'
'Tidak bisakah kau lihat dia ingin berbicara kepada Harry sendiri?'
'Jadi? Dia bisa berbuat begitu, aku tidak menghentikan --'
'Kenapa kau menyerangnya mengenai tim Quidditchnya?'
'Menyerang? Aku tidak menyerangnya, aku hanya --'
'Siapa yang peduli kalau dia mendukung the Tornadoes?'
'Oh, ayolah, setengah dari orang-orang yang memakai lencana itu baru membelinya
musim lalu --'
'Tapi apa masalahnya?'
'Artinya mereka bukan fans sebenarnya, mereka cuma mengikuti arus --'
'Itu bunyi bel,' kata Harry dengan jemu, karena Ron dan Hermione sedang
bercekcok terlalu keras untuk mendengarnya. Mereka tidak berhenti bersiteru
sepanjang jalan ke ruang bawah tanah Snape, yang memberi Harry banyak waktu
untuk merefleksikan bahwa antara Neville dan Ron dia akan sangat beruntung jika
bisa mendapatkan percakapan dua menit dengan Cho yang bisa dia kenang tanpa
ingin meninggalkan negara itu.
Dan lagi, pikirnya ketika mereka bergabung dengan antrian yang terbentuk di
depan ruang kelas Snape, Cho telah memilih untuk datang dan berbicara kepadanya,
bukankah begitu? Dia dulu pacar Cedric; dia bisa dengan mudah membenci Harry
karena keluar dari labirin Triwizard hidup-hidup sementara Cedric mati, tapi dia
berbicara kepadanya dengan cara yang benar-benar bersahabat, bukan seakan-akan
dia menganggapnya gila, atau pembohong, atau bertanggung jawab dalam suatu cara
terhadap kematian Cedric ... ya, dia benar-benar telah memilih untuk datang dan
berbicara dengannya, dan itu yang kedua kalinya dalam dua hari ... dan ketika
memikirkan ini, semangat Harry bangkit. Bahkan suara tak menyenangkan dari pintu
ruang bawah tanah Snape yang berderit terbuka tidak menusuk gelembung harapan
kecil yang sepertinya telah menggembung di dadanya. Dia memasuki ruang kelas di
belakang Ron dan Hermione dan mengikuti mereka ke meja yang biasa di bagian
belakang, di mana dia duduk di antara Ron dan Hermione dan mengabaikan suarasuara marah yang menyebalkan yang sekarang keluar dari mereka berdua.
'Tenang,' kata Snape dengan dingin, sambil menutup pintu di belakangnya.
Sebenarnya tidak perlu meminta ketertiban; begitu kelas mendengar pintu menutup,
keheningan tiba dan semua keributan berhenti. Kehadiran Snape saja biasanya sudah
cukup untuk menjamin ketenangan kelas.
'Sebelum kita mulai pelajaran hari ini,' kata Snape, sambil berjalan ke mejanya dan
menatap berkeliling kepada mereka semua, 'Kukira sudah sepantasnya kuingatkan
kalian bahwa bulan Juni mendatang kalian akan mengikuti ujian yang sangat penting,
di mana kalian akan membuktikan seberapa banyak yang telah kalian pelajari tentang
komposisi dan kegunaan ramuan-ramuan sihir. Walaupun beberapa orang di kelas ini
tidak diragukan lagi bebal, kuharap kalian mendapatkan nilai "Acceptable" pada
OWL kalian, atau menerima ... ketidaksenanganku.'
Pandangannya kali ini melekat kepada Neville, yang menelan ludah.
'Setelah tahun ini, tentu saja, banyak dari kalian yang akan berhenti berguru
kepadaku,' Snape melanjutkan. 'Aku hanya mengambil yang terbaik ke dalam kelas
Ramuan NEWTku, yang berarti bahwa beberapa dari kita pasti akan mengucapkan
selamat tinggal.'
Matanya beralih kepada Harry dan bibirnya melengkung. Harry melotot balik,
sambil merasa kesenangan suram atas gagasan bahwa dia akan bisa melepaskan
Ramuan setelah tahun kelima.
'Tapi kita punya satu tahun lagi untuk dilalui sebelum masa perpisahan yang
membahagiakan,' kata Snape dengan pelan, 'jadi, apakah kalian bermaksud mencoba
NEWT ataupun tidak, aku sarankan kalian semua untuk mengkonsentrasikan usaha
kalian untuk mempertahankan tingkat kelulusan tinggi yang telah kuharapkan dari
murid-murid OWLku.
'Hari ini kita akan mencampur ramuan yang sering muncul di Ordinary Wizarding
Level; Ramuan Ketenangan, sebuah ramuan untuk meredakan kecemasan dan
menenangkan kegelisahan. Peringatan bagi kalian: kalau kalian terlalu berlebihan
dengan bahan-bahannya kalian akan menempatkan peminumnya ke dalam tidur yang
panjang dan terkadang tidak bisa dibangunkan lagi, jadi kalian harus memperhatikan
dengan seksama apa yang sedang kalian lakukan.' Di sebelah kiri Harry, Hermione
duduk sedikit lebih tegak, ekspresinya penuh perhatian. 'Bahan-bahan dan metodenya
-' Snape melambaikan tongkatnya '- ada di papan tulis -' (tulisannya muncul di sana) 'kalian akan menemukan semua yang kalian butuhkan -' dia melambaikan tongkatnya
lagi '- di lemari penyimpanan -' (pintu lemari yang dimaksud terbuka) '- kalian punya
satu setengah jam ... mulai.'
Seperti yang telah diramalkan Harry, Ron dan Hermione, Snape hampir tidak bisa
menyuruh mereka membuat ramuan yang lebih sulit dan rumit. Bahan-bahannya
harus ditambahkan ke dalam kuali dengan urutan dan jumlah yang tepat;
campurannya harus diaduk beberapa kali dalam jumlah yang tepat, pertama searah
jarum jam, lalu melawan arah jarum jam; panas apinya harus diturunkan ke tingkat
yang persis tepat selama sejumlah menit sebelum bahan akhir ditambahkan.
'Seberkas uap tipis perak seharusnya sekarang telah menguar dari ramuan kalian,'
seru Snape, ketika waktu tinggal sepuluh menit lagi.
Harry, yang sedang berkeringat hebat, melihat dengan putus asa ke sekeliling ruang
bawah tanah. Kualinya sendiri sedang mengeluarkan sejumlah besar uap kelabu
gelap; kuali Ron memuncratkan bunga api hijau. Seamus sedang tergesa-gesa
menjolok api di dasar kualinya dengan ujung tongkatnya, karena tampaknya akan
padam. Namun, permukaan ramuan Hermione merupakan kabut berkilauan yang
terbuat dari uap perak, dan ketika Snape lewat dia melihat melewati hidung
bengkoknya ke kuali itu tanpa komentar, yang berarti dia tidak bisa menemukan apaapa untuk dikritik. Namun di kuali Harry, Snape berhenti, dan melihat ke kualinya
dengan senyum menyeringai yang mengerikan di wajahnya.
'Potter, seharusnya ini apa?'
Anak-anak Slytherin di bagian depan kelas semuanya memandang dengan penuh
hasrat; mereka sangat suka mendengar Snape mengejek Harry.
'Ramuan Ketenangan,' kata Harry dengan tegang.
'Beritahu aku, Potter,' kata Snape dengan pelan, 'bisakah kamu membaca?'
Draco Malfoy tertawa.
'Ya, saya bisa,' kata Harry, jari-jarinya mencengkeram tongkatnya erat-erat.
'Baca baris ketiga dari instruksi itu untukku, Potter.'
Harry memicingkan mata ke papan tulis; tidaklah mudah melihat instruksi itu
melalui uap berbagai warna yang mengaburkan yang sekarang mengisi ruang bawah
tanah itu.
'"Tambahkan bubuk batu bulan, aduk tiga kali searah jarum jam, biarkan membara
selama tujuh menit lalu tambahkan dua tetes sirup hellebore."'
Hatinya merosot. Dia tidak menambahkan sirup hellebore, tetapi langsung
meneruskan kebaris keempat instruksi itu setelah membiarkan ramuannya membara
selama tujuh menit.
'Apakah kamu melakukan semua hal di baris ketiga, Potter?'
'Tidak,' kata Harry dengan sangat pelan.
'Maaf?'
'Tidak,' kata Harry, lebih keras. 'Saya lupa hellebore.'
'Aku tahu kau lupa, Potter, yang artinya kekacauan ini sama sekali tidak berharga.
Evanesco.'
Isi ramuan Harry menghilang; dia berdiri dengan bodoh di samping sebuah kuali
kosong.
'Kalian yang sudah berhasil membaca instruksi, isi satu tabung dengan sampel
ramuan kalian, beri label yang jelas dengan nama kalian dan bawa ke mejaku untuk
diuji,' kata Snape. 'Tugas rumah: dua belas inci perkamen tentang sifat-sifat batu
bulan dan kegunaannya dalam pembuatan ramuan, diserahkan pada hari Kamis.'
Sementara semua orang di sekitarnya mengisi tabung-tabung mereka, Harry
membereskan barang-barangnya, hatinya menggelegak. Ramuannya tidak lebih buruk
daripada ramuan Ron, yang sekarang mengeluarkan bau busuk telur yang sudah
membusuk; atau ramuan Neville, yang telah mencapai kekentalan semen yang baru
dicampur dan yang sekarang harus dikerok Neville dari kualinya; tapi masih saja dia,
Harry, yang akan menerima nilai nol untuk pekerjaan hari itu. Dia menjejalkan
tongkatnya kembali ke dalam tasnya dan merosot ke tempat duduknya, sambil
mengamati semua orang lain yang berbaris ke meja Snape dengan tabung-tabung
terisi dan tertutup gabus. Ketika akhirnya bel berdering, Harry yang pertama keluar
dari ruang bawah tanah dan sudah mulai makan siang ketika Ron dan Hermione
bergabung dengannya di Aula Besar. Langit-langit telah berubah menjadi warna
kelabu yang bahkan lebih suram selama pagi itu. Hujan memecut jendela-jendela
yang tinggi.
'Itiu benar-benar tidak adil,' kata Hermione menghibur, sambil duduk di sebelah
Harry dan makan pai. 'Ramuanmu tidak seburuk ramuan Goyle, sewaktu dia
memasukkannya ke dalam tabung benda itu hancur dan membakar jubahnya.'
'Yeah, well,' kata Harry sambil menatap tajam ke piringnya, 'sejak kapan Snape
pernah adil terhadapku?'
Tidak satupun dari mereka menjawab; mereka bertiga semuanya tahu bahwa
permusuhan Snape dan Harry telah mutlak dari saat Harry menjejakkan kaki ke
Hogwarts.
'Aku kira dia mungkin sedikit lebih baik tahun ini,' kata Hermione dengan suara
kecewa. 'Maksudku ... kau tahu ...' dia melihat sekeliling dengan waspada; ada
setengah lusin tempat duduk kosong di kedua sisi mereka dan tak seorangpun sedang
melewati meja itu '... sekarang dia ada dalam Order dan segalanya itu.'
'Katak beracun tidak mengubah bintiknya,' kata Ron dengan bijaksana. 'Lagipula,
aku selalu mengira Dumbledore sinting mempercayai Snape. Di mana buktinya dia
pernah benar-benar berhenti bekerja bagi Kau-Tahu-Siapa?'
'Kukira Dumbledore mungkin punya banyak bukti, bahkan kalau dia tidak
membaginya denganmu, Ron,' sambar Hermione.
'Oh, diamlah, kalian berdua,' kata Harry dengan kasar, ketika Ron membuka mulut
untuk beradu pendapat lagi. Hermione dan Ron sama-sama membeku, terlihat marah
dan tersinggung. 'Tidak bisakah kalian tenang?' kata Harry. 'Kalian selalu bertengkar,
membuatku gila.' Dan mengabaikan painya, dia mengayunkan tas sekolahnya ke
bahunya dan meninggalkan mereka duduk di sana.
Dia berjalan menaiki tangga pualam dua-dua anak tangga, melewati banyak murid
yang sedang bergegas menuju makan siang. Kemarahan yang baru saja menyala tanpa
terduga masih berkobar dalam dirinya, dan bayangan wajah Ron dan Hermione yang
terguncang memberinya rasa puas mendalam. Rasakan mereka, pikirnya, kenapa
mereka tidak bisa tenang ... bertengkar sepanjang waktu ... cukup untuk membuat
siapapun jadi gila ...
Dia melewati lukisan besar si ksatria Sir Cadogan di puncak tangga; Sir Cadogan
menarik pedangnya dan memamerkannya dengan garang kepada Harry, yang
mengabaikannya.
'Kembalilah, kau anjing kudisan! Berdiri di tempat dan bertarung!' teriak Sir
Cadogan dengan suara teredam dari balik ketopongnya, tetapi Harry terus berjalan
dan ketika Sir Cadogan mencoba mengikutinya dengan cara berlari ke dalam lukisan
di sebelah, dia ditolak oleh penghuninya, seekor serigala yang besar dan tampak
marah.
Harry menghabiskan sisa jam makan siang duduk sendirian di bawah pintu jebakan
di puncak Menara Utara. Akibatnya, dia yang pertama menaiki tangga perak yang
menuju ruang kelas Sybill Trelawney ketika bel berdering.
Setelah Ramuan, Ramalan adalah kelas yang paling tidak disukai Harry, yang
sebagian besar disebabkan oleh kebiasaan Profesor Trelawney meramalkan kematian
dininya setiap beberapa kali pelajaran. Seorang wanita kurus, yang mengenakan
banyak syal dan untaian-untaian manik-manik yang berkilauan, dia selalu
mengingatkan Harry kepada beberapa jenis serangga, dengan kacamata besarnya yang
memperbesar matanya. Dia sedang sibuk menempatkan salinan-salinan buku
bersampul kulit yang compang-camping ke setiap meja bundar kecil yang berada
dalam ruangannya ketika Harry memasuki ruangan, tetapi cahaya dari lampu yang
ditutupi scarf dan api yang menyala rendah dan mengeluarkan wangi menyengat
begitu temaram sehingga dia tampak tidak memperhatikan Harry ketika dia
mengambil tempat duduk dalam bayangan. Sisa kelas itu tiba selama lima menit
berikutnya. Ron muncul dari pintu jebakan, memandang sekeliling dengan hati-hati,
melihat Harry dan menuju lurus ke arahnya, atau selurus yang dia bisa sellagi harus
mencari jalan di antara meja-meja, kursi-kursi dan sofa-sofa yang terlalu empuk.
'Hermione dan aku sudah berhenti berdebat,' katanya sambil duduk di sebelah
Harry.
'Bagus,' gerutu Harry.
'Tapi Hermione bilang dia mengira akan baik kalau kau berhenti mengeluarkan
kemarahanmu kepada kami,' kata Ron.
'Aku tidak -'
'Aku hanya menyampaikan pesan,' kata Ron sambil menyelanya. 'Tapi kukira dia
benar. Bukan salah kami bagaimana Seamus dan Snape memperlakukan kamu.'
'Aku tak pernah bilang itu -'
'Selamat siang,' kata Profesor Trelawney dengan suara sedih dan melamun yang
biasa, dan Harry berhenti, lagi-lagi merasa kesal dan agak malu pada dirinya sendiri.
'Dan selamat datang kembali ke Ramalan. Aku telah, tentu saja, mengikuti
peruntungan kalian dengan sangat hati-hati selama liburan ini, dan senang melihat
bahwa kalian semua telah kembali ke Hogwarts dengan selamat -- seperti, tentu saja,
yang kutahu akan terjadi.
'Kalian akan menemukan di meja di hadapan kalian salinan-salinan Ramalan
Mimpi, oleh Inigo Imago. Interpretasi mimpi adalah cara yang paling penting untuk
meramalkan masa depan dan yang paling mungkin diuji pada OWL kalian. Tentu
saja, bukannya aku pikir kelulusan atau kegagalan ujian adalah hal yang penting
sedikitpun kalau menyangkut ilmu suci meramal. Kalau kalian memiliki Mata
Melihat, sertifikat dan nilai hanya bernilai sedikit. Akan tetapi, Kepala Sekolah ingin
kalian mengikuti ujian, jadi ...'
Suaranya berangsur hilang dengan lembut, membuat mereka tidak ragu sedikitpun
bahwa Profesor Trelawney menganggap pelajarannya di atas hal-hal mengerikan
seperti ujian.
'Tolong balikkan ke pengantar dan baca apa yang dikatakan Imago tentang masalah
interpretasi mimpi. Lalu, bentuklah pasangan-pasangan. Gunakan Ramalan Mimpi
untuk menginterpretasikan mimpi-mimpi kalian masing-masing yang paling
belakangan. Lanjutkan.'
Satu-satunya hal bagus yang dapat dikatakan tentang pelajaran ini adalah bahwa ia
bukan kelas ganda. Pada waktu mereka semua telah selesai membaca pengantar buku
itu, mereka hanya punya sepuluh menit lagi untuk interpretasi mimpi. Di meja di
sebelah Harry dan Ron, Dean telah berpasangan dengan Neville, yang segera memulai
penjelasan panjang lebar mengenai mimpi buruk yang melibatkan sepasang gunting
raksasa yang memakai topi terbaik neneknya; Harry dan Ron hanya memandang satu
sama lain dengan muram.
'Aku tidak pernah ingat mimpiku,' kata Ron, 'kau katakan satu.'
'Kau pasti ingat salah satu,' kata Harry dengan tidak sabar.
Dia tidak akan membagi mimpinya dengan siapapun. Dia tahu persis apa arti
mimpi buruknya yang biasa tentang pekuburan itu, dia tidak perlu Ron atau Profesor
Trelawney atau Ramalan Mimpi bodoh itu untuk memberitahunya.
'Well, aku bermimpi aku sedang bermain Quidditch beberapa malam lalu,' kata Ron
sambil mengernyitkan wajah dalam usahanya untuk mengingat. 'Menurutmu apa
artinya itu?'
'Mungkin kamu akan dimakan oleh marshmallow raksasa atau apalah,' kata Harry
sambil membalik-balik halaman Ramalan Mimpi tanpa minat. Mencari-cari
keterangan-keterangan kecil mengenai mimpi dalam Ramalan itu sangat
membosankan dan Harry tidak terhibur ketika Profesor Trelawney memberi mereka
tugas mencatat diari mimpi selama sebulan sebagai pekerjaan rumah. Ketika bel
berdering, dia dan Ron memimpin jalan kembali menuruni tangga, dengan Ron
menggerutu keras-keras.
'Apakah kau sadar berapa banyak pekerjaan rumah yang sudah kita dapatkan?
Binns menyuruh kita membuat esai sepanjang satu setengah kaki mengenai perang
para raksasa, Snape ingin satu kaki mengenai kegunaan batu bulan, dan sekarang kita
punya diari mimpi sebulan dari Trelawney! Fred dan George tidak salah mengenai
tahun OWL, iya 'kan?' Wanita Umbridge itu sebaiknya tidak memberi kita ...'
Ketika mereka memasuki ruang kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam mereka
menemukan Profesor Umbridge telah duduk di meja guru, memakai kardigan merah
muda berbulu dari malam sebelumnya dan pita beludru hitam di puncak kepalanya.
Harry lagi-lagi teringat akan seekor lalat besar yang bertengger di atas seekor katak
yang bahkan lebih besar.
Kelas terdiam sangat memasuki ruangan; Profesor Umbridge masih merupakan hal
yang belum diketahui dan tak seorangpun tahu seberapa tegas pendapatnya mengenai
disiplin.
'Well, selamat sore!' katanya, ketika akhirnya seluruh kelas telah duduk.
Beberapa orang menggumamkan 'selamat sore' sebagai jawaban.
'Ck, ck,' kata Profesor Umbridge. 'Itu tidak bisa diterima, benar bukan? Aku ingin
kalian, tolong, menjawab "Selamat sore, Profesor Umbridge". Tolong satu kali lagi.
Selamat sore, kelas!'
'Selamat sre, Profesor Umbridge,' mereka menyanyi balik kepadanya.
'Begitu,' kata Profesor Umbridge dengan manis. 'Tidak terlalu sulit, bukan? Tolong
simpan tongkat dan keluarkan pena bulu.'
Banyak murid yang saling bepandangan dengan murung; perintah 'simpan tongkat'
belum pernah diikuti dengan pelajaran yang mereka anggap menarik. Harry
menyodokkan tongkatnya kembali ke dalam tasnya dan menarik keluar pena bulu,
tinta dan perkamen. Profeser Umbridge membuka tas tangannya, mengeluarkan
tongkatnya sendiri, yang tidak biasanya sangat pendek, dan mengetuk papan tulis
keras-keras dengannya; kata-kata bermunculan di papan seketika:
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam
Kembali ke Prinsip-Prinsip Dasar
'Well, yang kalian pelajari dalam mata pelajaran ini agak kacau dan sepenggalsepenggal, bukan?' kata Profesor Umbridge, sambil berpaling menghadap kelas
dengan tangan terdekap rapi di depannya. 'Pergantian guru yang terus-menerus,
banyak di antaranya tampaknya tidak mengikuti kurikulum yang disetujui
Kementerian, sayangnya mengakibatkan kalian berada jauh di bawah standar yang
kami harapkan di tahun OWL kalian.
'Akan tetapi, kalian akan senang mengetahui bahwa masalah-masalah ini sekarang
akan diperbaiki. Kita sekarang akan mengikuti pelajaran sihir pertahanan yang
terstruktur dengan hati-hati, berpusatkan pada teori dan disetujui Kementerian tahun
ini. Tolong salin yang berikut ini.'
Dia mengetuk papan tulis lagi; pesan pertama menghilang dan digantikan dengan
'Sasaran Pelajaran'.
1. Mengerti prinsip-prinsip yang mendasari sihir pertahanan.
2. Belajar mengenali situasi-situasi di mana sihir pertahanan dapat digunakan secara
legal.
3. Menempatkan penggunaan sihir pertahanan dalam konteks untuk kegunaan
praktis.
Selama beberapa menit ruangan penuh dengan suara gesekan pena bulu pada
perkamen. Ketika semua orang telah selesai menyalin ketiga sasaran pelajaran
Profesor Umbridge dia bertanya, 'Sudahkah semua orang memiliki salinan Teori Sihir
Pertahanan oleh Wilbert Slinkhard?'
Ada gumaman bosan mengiyakan dari seluruh kelas.
'Kukira kita akan mencoba lagi,' kata Profesor Umbridge. 'Ketika aku bertanya
kepada kalian, aku ingin kalian menjawab, "Ya, Profesor Umbridge", atau "Tidak,
Profesor Umbridge". Jadi: sudahkah semua orang memiliki salinan Teori Sihir
Pertahanan oelh Wilbert Slinkhard?'
'Ya, Profesor Umbridge,' berdering di seluruh ruangan itu.
'Bagus,' kata Profesor Umbridge. 'Aku ingin kalian membalik ke halaman lima dan
membaca "Bab Satu, Dasar-Dasar untuk Pemula". Tidak perlu berbicara.'
Profesor Umbridge meninggalkan papan tulis dan duduk di kursi di belakang meja
guru, sambil mengamati mereka semua dengan seksama dengan mata kataknya yang
menggembung. Harry membalik ke halaman lima salinan Teori Sihir nya dan mulai
membaca.
Buku itu benar-benar membosankan, hampir seburuk mendengarkan Profesor
Binns. Dia merasa konsentrasinya menggelinding pergi; dia segera saja telah
membaca baris yang sama setengah lusin kali tanpa memahami lebih dari beberapa
kata pertama. Beberapa menit lewat dalam keheningan. Di sebelahnya, Ron sedang
menatap ke titik yang sama di halaman itu. Harry melihat ke kanan dan menerima
kejutan yang mengeluarkannya dari keadaan jemunya. Hermione bahkan belum
membuka salinan Teori Sihir Pertahanannya. Dia sedang menatap lekat-lekat kepada
Profesor Umbridge dengan tangan terangkat.
Harry tidak bisa mengingat Hermione pernah tidak membaca ketika diperintahkan,
atau bahkan menahan godaan untuk membuka buku apapun yang ada di bawah
hidungnya. Dia melihat kepadanya dengan pandangan bertanya, tetapi dia hanya
menggelengkan kepala sedikit untuk mengisyaratkan bahwa dia tidak akan menjawab
pertanyaan, dan terus menatap Profesor Umbridge, yang melihat dengan ketetapan
yang sama ke arah lain.
Namun, setelah beberapa menit lagi berlalu, Harry bukan satu-satunya yang
mengamati Hermione. Bab yang harus mereka baca begitu membosankan sehingga
lebih banyak lagi orang yang memilih mengamati usaha diam Hermione untuk
menarik perhatian Umbridge daripada berjuang terus dengan 'Dasar-Dasar untuk
Pemula'.
Ketika lebih dari setengah anggota kelas menatap Hermione daripada ke buku
mereka, Profesor Umbridge tampaknya memutuskan bahwa dia tidak bisa
mengabaikan keadaan itu lebih lama lagi.
'Apakah kamu ingin menanyakan sesuatu tentang bab itu, sayang?' dia bertanya
kepada Hermione, seolah-olah dia baru saja memperhatikannya.
'Bukan tentang bab itu, tidak,' kata Hermione.
'Well, kita baru saja sedang membacanya,' kata Profesor Umbridge sambil
memperlihatkan gigi-giginya yang kecil dan runcing. 'Kalau kamu punya pertanyaan
lain kita bisa membahasnya di akhir kelas.'
'Saya punya pertanyaan tentang sasaran pelajaran Anda,' kata Hermione.
Profesor Umbridge menaikkan alisnya.
'Dan namamu adalah?'
'Hermione Granger,' kata Hermione.
'Well, Miss Granger, kukira sasaran pelajaranku benar-benar jelas kalau kamu
membacanya dengan hati-hati,' kata Profesor Umbridge dengan suara manis yang
dibuat-buat.
'Well, saya kira tidak begitu,' kata Hermione dengan terus terang. 'Tidak ada tertulis
di sana mengenai menggunakan mantera-mantera pertahanan.'
Ada keheningan singkat di mana banyak anggota kelas itu memalingkan kepala
mereka untuk merengut pada tiga sasaran pelajaran yang masih tertulis di papan tulis.
'Menggunakan mantera-mantera pertahanan?' Profesor Umbridge mengulangi
dengan tawa kecil. 'Mengapa, aku tidak bisa membayangkan situasi apapun yang akan
timbul di ruang kelasku sehingga kalian perlu menggunakan mantera pertahanan,
Miss Granger. Kamu tentunya tidak berharap diserang selama kelas?'
'Kita tidak akan menggunakan sihir?' Ron berseru keras-keras.
'Murid-murid mengangkat tangan mereka ketika mereka ingin berbicara di kelas
saya, Mr -?'
'Weasley,' kata Ron sambil mendorong tangannya ke udara.
Profesor Umbridge, tersenyum lebih lebar lagi, memalingkan punggung kepadanya.
Harry dan Hermione segera mengangkat tangan mereka juga. Mata berkantong
Profesor Umbridge melekat pada Harry sejenak sebelum dia berbicara kepada
Hermione.
'Ya, Miss Granger? Kamu ingin menanyakan hal lain?'
'Ya,' kata Hermione. 'Tentunya maksud keseluruhan Pertahanan Terhadap Ilmu
Hitam adalah untuk mempraktekkan mantera-mantera pertahanan?'
'Apakaj kamu seorang ahli pendidikan terlatih dari Kementerian, Miss Granger?'
tanya Profesor Umbridge, dengan suara manis palsunya itu.
'Bukan, tetapi -'
'Well, kalau begitu, kutakut kamu tidak memenuhi syarat untuk memutuskan apa
"maksud keseluruhan" dari kelas manapun. Para penyihir yang jauh lebih tua dan
lebih pintar dari kamu telah menyusun program belajar baru kita. Kamu akan
mempelajari mantera-mantera pertahanan dengan cara yang lebih aman dan bebas
resiko -'
'Apa gunanya itu?' kata Harry keras-keras. 'Kalau kita akan diserang, tidak akan -'
'Tangan, Mr Potter!' seru Profesor Umbridge.
Harry mendorong kepalan tangannya ke udara. Lagi-lagi, Profesor Umbridge
langsung berpaling darinya, tetapi sekarang beberapa orang lain telah mengangkat
tangannya juga.
'Dan namamu adalah?' Profesor Umbridge berkata kepada Dean.
'Dean Thomas.'
'Well, Mr Thomas?'
'Well, seperti kata Harry, bukankah begitu?' kata Dean. 'Kalau kita akan diserang,
tidak akan bebas resiko.'
'Kuulangi,' kata Profesor Umbridge sambil tersenyum dengan cara yang sangat
mengesalkan kepada Dean, 'apakah kamu berharap diserang selama kelasku?'
'Tidak, tapi -'
Profesor Umbridge menyelanya. 'Aku tidak ingin mengkritik cara sesuatu
dijalankan di sekolah ini,' katanya, sebuah senyuman tidak meyakinkan merentangkan
mulut lebarnya, 'tetapi kalian telah dihadapkan kepada beberapa penyihir yang sangat
tidak bertanggung jawab di dalam kelas ini, benar-benar sangat tidak bertanggung
jawb -- tanpa menyebut,' dia mengeluarkan tawa kecil mengerikan, 'keturunan
campuran yang sangat berbahaya.'
'Kalau yang Anda maksud Profesor Lupin,' seru Dean dengan marah, 'dia yang
terbaik yang pernah kami -'
'Tangan, Mr Thomas! Seperti yang kukatakan -- kalian telah diperkenalkan pada
mantera-mantera yang rumit, tidak sesuai untuk kelompok umur kalian dan potensial
menimbulkan kematian. Kalian telah ditakut-takuti agar percaya bahwa kalian
mungkin menjumpai serangan Ilmu Hitam dua hari sekali -'
'Tidak begitu,' Hermione berkata, 'kami hanya -'
'Tanganmu tidak naik, Miss Granger!'
Hermione mengangkat tangannya. Profesor Umbridge berpaling darinya.
'Menurut pemahamanku para pendahuluku bukan hanya menggunakan kutukankutukan ilegal di depan kalian, dia bahkan menggunakannya kepada kalian.'
'Well, dia ternyata seorang maniak, bukan?' kata Dean dengan marah. 'Asal Anda
tahu, kami masih belajar banyak.'
'Tanganmu tidak naik, Mr Thomas!' getar Profesor Umbridge. 'Sekarang, menurut
pandangan Kementerian bahwa pengetahuan teoritis akan lebih dari mencukupi untuk
meluluskan kalian pada ujian, yang memang inti dari keberadaan sekolah. Dan
namamu adalah?' tambahnya sambil menatap Parvati, yang tangannya baru saja naik.
'Parvati Patil, dan tak adakah sedikit praktek dalam OWL Pertahanan Terhadap
Ilmu Hitam kami? Bukankah kami seharusnya memperlihatkan kami sebenarnya bisa
melakukan kontra-kutukan dan segalanya itu?'
'Selama kalian telah belajar teori cukup keras, tak ada alasan mengapa kalian tidak
bisa menggunakan mantera-mantera pada kondisi ujian yang terkendali dengan hatihati,' kata Profesor Umbridge.
'Tanpa pernah mempraktekkannya sebelumnya?' kata Parvati dengan tidak percaya.
'Apakah Anda memberitahu kami bahwa pertama kalinya kami boleh melakukan
mantera-mantera itu adalah ketika ujia?'
'Kuulangi, selama kalian telah belajar teori cukup keras -'
'Dan apa gunanya teori di dunia nyata?' kata Harry dengan keras, kepalannya di
udara lagi.
Profesor Umbridge melihat ke atas.
'Ini sekolah, Mr Potter, bukan dunia nyata,' katanya dengan lembut.
'Jadi kami tidak boleh bersiap-siap untuk apa yang sedang menunggu kami di luar
sana?'
'Tidak ada yang sedang menunggu di luar sana, Mr Potter.'
'Oh yeah?' kata Harry. Amarahnya, yang tampaknya telah menggelembung di
bawah permukaan sepanjang hari ni, sedang mencapai titik didih.
'Siapa yang kamu bayangkan akan ingin menyerang anak-anak seperti dirimu?'
tanya Profesor Umbridge dengan suara semanis madu yang mengerikan.
'Hmm, ayo pikir ...' kata Harry dengan suara berpikir yang mengejek. 'Mungkin ...
Lord Voldemort?'
Ron terkesiap; Lavender Brown mengeluarkan jeritan kecil; Neville tergelincir ke
samping bangkunya. Namun, Profesor Umbridge tidak berkedip. Dia sedang menatap
Harry dengan ekspresi kepuasan suram di wajahnya.
'Sepuluh poin dari Gryffindor, Mr Potter.'
Ruang kelas itu hening dan tenang. Semua orang sedang menatap pada Umbridge
atau Harry.
'Sekarang, akan kubuat beberapa hal jelas.'
Profesor Umbridge berdiri dan mencondongkan badan kepada mereka, tangantangannya yang berjari pendek direnggangkan ke meja tulisnya.
'Kalian telah diberitahu bahwa seorang penyihir Hitam tertentu telah kembali dari
kematian -'
'Dia tidak mati,' kata Harry dengan marah, 'tapi yeah, dia sudah kembali!'
'Mr-Potter-kamu-sudah-menghilangkan-sepuluh-poin-dari-asramamu-janganmembuat-masalah-bagi-dirimu-sendiri,' kata Profesro Umbridge dengan satu helaan
napas tanpa memandangnya. 'Seperti yang kukatakan, kalian telah diberitahu bahwa
seorang penyihir Hitam tertentu sedang berkeliaran lagi. Ini bohong.'
'Itu BUKAN bohong!' kata Harry. 'Aku melihatnya, aku bertarung dengannya!'
'Detensi, Mr Potter!' kata Profesor Umbridge penuh kemenangan. 'Besok sore. Jam
lima. Kantorku. Kuulangi, ini bohong. Kementerian Sihir menjamin bahwa kalian
tidak berada dalam bahaya dari penyihir Hitam manapun. Kalau kalian masih
khawatir, dengan cara apapun datang dan temui aku di luar jam pelajaran. Kalau
seseorang menakut-nakuti kalian dengan dusta mengenai kelahiran kembali para
penyihir Hitam, aku ingin mendengarnya. Aku di sini untuk membantu. Dan
sekarang, kalian teruskan membaca. Halaman lima, "Dasar-Dasar untuk Pemula".'
Profesor Umbridge duduk di belakang mejanya. Akan tetapi, Harry berdiri. Semua
orang menatapnya; Seamus tampak setengah ketakutan, setengah kagum.
'Harry, jangan!' Hermione berbisik dengan suara memperingatkan, sambil menarik
lengan bajunya, tetapi Harry menyentakkan lengannya keluar jangkauannya.
'Jadi, menurut Anda, Cedric Diggory mati sendiri, bukan begitu?' Harry bertanya,
suaranya bergetar.
Ada tarikan napas serentak dari kelas, karena tak seorangpun dari mereka, kecuali
Ron dan Hermione, pernah mendengar Harry berbicara mengenai apa yang terjadi di
malam Cedric meninggal. Mereka menatap penuh minat dari Harry ke Profesor
Umbridge, yang telah mengangkat matanya dan sedang menatapnya tanpa bekas
senyum palsu di wajahnya.
'Kematian Cedric Diggory adalah kecelakaan tragis,' katanya dingin.
'Itu pembunuhan,' kata Harry. Dia bisa merasakan dirinya gemetaran. Dia hampir
tidak pernah berbicara kepada siapapun tentang ini, terlebih lagi kepada semua tiga
puluh teman sekelas yang sedang mendengarkan dengan penuh minat. 'Voldemort
membunuhnya dan Anda tahu itu.'
Wajah Profesor Umbridge hampa. Selama sejenak, Harry mengira dia akan
berteriak kepadanya. Lalu dia berkata, dengan suara anak perempuan yang paling
lembut dan paling manis, 'Kemarilah, Mr Potter, sayang.'
Harry menendang kursinya ke samping, berjalan mengitari Ron dan Hermione dan
ke meja guru. Dia bisa merasakan anggota kelas yang lain menahan napas. Dia
merasa sangat marah sehingga dia tidak peduli apa yang terjadi berikutnya.
Profesor Umbridge menarik sebuah gulungan kecil perkamen merah muda keluar
dari tas tangannya, merentangkannya di meja tulis, memasukkan pena bulunya ke
dalam botol tinta dan mulai mencoret, membungkuk sehingga Harry tidak bisa
melihat apa yang sedang ditulisnya. Tak seorangpun berbicara. Setelah semenit atau
lebih dia menggulung perkamen itu dan mengetuknya dengan tongkatnya; perkamen
itu tersegel sendiri tanpa keliman sehingga dia tidak bisa membukanya.
'Bawa ini ke Profesor McGonagall, sayang,' kata Profesor Umbridge, sambil
mengulurkan catatan itu kepadanya.
Dia mengambilnya tanpa mengatakan sepatah katapun, membalikkan tumitnya dan
meninggalkan ruangan, bahkan tanpa melihat kepada Ron dan Hermione, sambil
membanting pintu ruang kelas hingga tertutup di belakangnya. Dia berjalan sangat
cepat menyusuri koridor, catatan untuk McGonagall tergenggam erat di tangannya,
dan ketika membelok di sebuah sudut melewati Peeves si hantu jail. seorang pria kecil
bermulut lebih yang sedang mengapung telentang di udara, sambil melemparkan
beberapa botol tinta.
'Kenapa, ini Potty Wee Potter!' kotek Peeves, sambil membiarkan dua botol tinta
jatuh ke tanah sehingga terbanting dan mengotori dinding dengan tinta; Harry
melompat mundur sambil membentak.
'Hentikan, Peeves.'
'Oooh, Crackpot sedang ngambek,' kata Peeves, sambil mengejar Harry sepanjang
koridor, mengejek ketika dia berada di atasnya. 'Ada apa kali ini, temanku yang baik
Potty? Mendengar suara-suara? Mendapat penglihatan? Berbicara dalam -' Peeves
membuat bunyi keras dengan lidahnya '-bahasa aneh?'
'Kubilang, tinggalkan aku SENDIRI!' Harry berteriak, sambil berlari menuruni
tangga terdekat, tetapi Peeves hanya meluncur turun dengan punggungnya di
pegangan tangga di sampingnya.
'Oh, kebanyakan mengira dia menggertak, lelaki yang gila itu,
Tetapi beberapa lebih baik hati dan mengira dia hanya sedih,
Tetapi Peevesy lebih tahu dan berkata dia memang gila -'
'DIAM!'
Sebuah pintu di sebelah kirinya terbuka dan Profesor McGonagall muncul dari
kantornya terlihat muram dan sedikit terganggu.
'Apa yang sedang kau teriakkan, Potter?' sambarnya, ketika Peeves berkotek
dengan gembira dan melayang pergi dari penglihatan. 'Mengapa kamu tidak di kelas?'
'Aku telah dikirim untuk menemui Anda,' kata Harry dengan kaku.
'Dikirim? Apa maksudmu, dikirim?'
Dia mengulurkan catatan dari Profesor Umbridge. Profesor McGonagall
mengambilnya darinya, sambil merengut, membukanya dengan ketukan tongkatnya,
merentangkannya dan mulai membaca. Matanya meluncur dari sisi ke sisi di balik
kacamata perseginya selagi dia membaca apa yang ditulis Umbridge, dan dengan tiap
baris mata itu semakin menyipit.
'Masuk ke sini, Potter.'
Dia mengikutinya ke dalam ruang kerjanya. Pintu menutup secara otomatis di
belakangnya.
'Well?' kata Profesor McGonagall, sambil memberondongnya. 'Benarkah itu?'
'Apanya yang benar?' Harry bertanya agak lebih agresif daripada yang
dimaksudkannya. 'Profesor?' tambahnya, dalam usaha untuk terdengar lebih sopan.
'Benarkah bahwa kamu berteriak kepada Profesor Umbridge?'
'Ya,' kata Harry.
'Kamu menyebutnya pembohong?'
'Ya.'
'Kamu memberitahunya Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut sudah kembali?'
'Ya.'
Profesor McGonagall duduk di belakang meja tulisnya sambil mengamati Harry
dengan seksama. Lalu dia berkata, 'Makanlah sepotong biskuit, Potter.'
'Makan -- apa?'
'Makan biskuit,' ulangnya dengan tidak sabar, sambil memberi isyarat pada sebuah
kaleng kotak-kotak yang terletak di puncak tumpukan kertas di meja tulisnya. 'Dan
duduklah.'
Telah ada kesempatan sebelumnya ketika Harry, yang menduga akan dihukum oleh
Profesor McGonagall, malah ditunjuk olehnya untuk tim Quidditch Gryffindor. Dia
terbenam ke dalam kursi di seberangnya dan makan sepotong Kadal Jahe, merasa
sama bingungnya dan kehilangan arah seperti yang dirasakannya pada kesempatan
itu.
Profesor McGonagall meletakkan catatan Profesor Umbridge dan memandang
Harry dengan sangat serius.
'Potter, kamu harus berhati-hati.'
Harry menelan Kadal Jahenya dan menatapnya. Nada suaranya sama sekali
bukanlah yang biasa didengarnya; tidak cepat, pendek dan tegas; tetapi rendah dan
cemas dan entah bagaimana lebih manusiawi daripada biasanya.
'Perilaku salah di kelas Dolores Umbridge bisa mengakibatkan lebih banyak
daripada kehilangan poin asrama dan detensi.'
'Apa yang Anda -?'
'Potter, gunakan akal sehatmu,' sambar Profesor McGonagall, mendadak kembali
ke gaya berbicaranya yang biasa. 'Kamu tahu dari mana dia datang, kamu pasti tahu
kepada siapa dia melapor.'
Bel akhir pelajaran berdering. Dari atas dan sekitar datang suara gemuruh ratusan
murid yang sedang bergerak.
'Di sini dikatakan dia memberimu detensi setiap malam dalam minggu ini, mulai
besok,' Profesor McGonagall berkata sambil melihat catatan Umbridge lagi.
'Setiap malam dalam minggu ini!' Harry mengulangi dengan terkejut. 'Tapi,
Profesor, tidak bisakah Anda -?'
'Tidak, aku tidak bisa,' kata Profesor McGonagall dengan datar.
'Tapi -'
'Dia gurumu dan punya semua hak untuk memberimu detensi. Kamu akan pergi ke
ruangannya pukul lima besok untuk yang pertama. Cuma ingat: melangkahlah hatihati di sekitar Dolores Umbridge.'
'Tapi aku mengatakan yang sebenarnya!' kata Harry, marah besar. 'Voldemort
kembali, Anda tahu itu; Profesor Dumbledore tahu itu -'
'Demi Tuhan, Potter!' kata Profesor McGonagall, sambil meluruskan kacamatanya
dengan marah (dia berjengit mengerikan ketika mendengar nama Voldemort).
'Apakah kamu benar-benar mengira ini mengenai benar dan dusta? Ini tentang
menjaga perilaku dan amarahmu di bawah kendali!'
Dia berdiri, lubang hidungnya melebar dan mulutnya sangat tipis, dan Harry juga
berdiri.
'Makan biskuit lagi,' katanya dengan kesal, sambil menyodorkan kaleng kepadanya.
'Tidak, terima kasih,' kata Harry dingin.
'Jangan bersikap menggelikan,' sambarnya.
Dia mengambil satu.
'Terima kasih,' katanya dengan enggan.
'Tidakkah kamu mendengar pidato Dolores Umbridge di pesta awal semester,
Potter?'
'Yeah,' kata Harry. 'Yeah ... katanya ... kemajuan akan dilarang atau ... well, artinya
bahwa ... bahwa Kementerian Sihir berusaha ikut campur di Hogwarts.'
Profesor McGonagall menatapnya lekat-lekat sejenak, lalu mendengus, berjalan
mengitari meja tulisnya dan membuka pintu baginya.
'Well, aku senang kau mendengarkan Hermione Granger,' katanya sambil
menunjukkan untuk keluar dari kantornya.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB TIGA BELAS -Detensi dengan Dolores
Makan malam di Aula Besar malam itu bukanlah pengalaman menyenangkan bagi
Harry. Kabar mengenai adu teriaknya dengan Umbridge telah berkeliling bahkan
lebih cepat daripada standar Hogwarts. Dia mendengar bisik-bisik di sekelilingnya
ketika dia duduk makan di antara Ron dan Hermione. Hal yang aneh adalah tak
seorangpun dari yang berbisik-bisik itu tampak keberatan dia mendengar apa yang
sedang mereka katakan mengenai dirinya. Sebaliknya, seakan-akan mereka berharap
dia akan marah dan mulai berteriak lagi, sehingga mereka bisa mendengar ceritanya
dari tangan pertama.
'Dia bilang dia melihat Cedric Diggory dibunuh ...'
'Menurutnya dia berduel dengan Kau-Tahu-Siapa ...'
'Hentikan ...'
'Dipikirnya dia sedang bercanda?'
'Tolong deh ...'
'Apa yang tak kumengerti,' kata Harry melalui gigi-gigi yang dikertakkan, sambil
meletakkan pisau dan garpunya (tangannya terlalu bergetar untuk memegang dengan
mantap), 'adalah mengapa mereka semua mempercayai cerita itu dua bulan yang lalu
ketika Dumbledore memberitahu mereka ...'
'Masalahnya adalah, Harry, aku tidak yakin mereka percaya,' kata Hermione
dengan muram. 'Oh, ayo pergi dari sini.'
Dia membanting pisau dan garpunya sendiri; Ron melihat penuh keinginan pada
pai apelnya yang setengah habis tetapi ikut juga. Orang-orang memandangi mereka
sepanjang jalan keluar dari Aula.
'Apa maksudmu, kau tidak yakin mereka mempercayai Dumbledore?' Harry
bertanya kepada Hermione ketika mereka mencapai puncak tangga pertama.
'Lihat, kau tidak mengerti seperti apa setelah kejadian itu,' kata Hermione dengan
pelan. 'Kau tiba kembali di tengah halaman sambil menggenggam mayat Cedric ... tak
seorangpun dari kamu melihat apa yang terjadi di dalam labirin ... kami hanya
mendengar perkataan Dumbledore bahwa Kau-Tahu-Siapa sudah kembali dan
membunuh Cedric dan bertarung denganmu.'
'Yang memang benar!' kata Harry keras-keras.
'Aku tahu itu, Harry, jadi bisakah kau tolong berhenti memarahiku?' kata Hermione
dengan letih. 'Hanya saja sebelum kebenaran bisa tertanam, semua orang pulang ke
rumah selama musim panas, di mana mereka menghabiskan dua bulan membaca
bagaimana kau seorang sinting dan Dumbledore mulai pikun!'
Ron menghantam kisi-kisi jendela selagi mereka berjalan menyusuri koridorkoridor kosong kembali ke Menara Gryffindor. Harry merasa seakan-akan hari
pertamanya telah berlangsung seminggu, tetapi dia masih mempunyai segunung
pekerjaan rumah untuk dilakukan sebelum tidur. Rasa sakit menghantam timbul di
mata kanannya. Dia melihat sekilas melalui jendela yang terguyur hujan ke halaman
gelap ketika mereka berbelok ke koridor Nyonya Gemuk. Masih belum ada cahaya
dari kabin Hagrid.
'Mimbulus mimbletonia,' kata Hermione, sebelum Nyonya Gemuk bisa bertanya.
Potret itu berayun terbuka memperlihatkan lubang di belakangnya dan mereka bertiga
memanjat melaluinya.
Ruang duduk hampir kosong; hampir semua orang masih di bawah untuk makan
malam. Crookshanks bangkit dari gelungannya di sebuah kursi berlengan dan
berderap menemui mereka, sambil mendengkur keras, dan ketika Harry, Ron dan
Hermione duduk di tiga kursi kesukaan mereka di sisi perapian dia melompat dengan
ringan ke pangkuan Hermione dan bergelung di sana seperti bantal merah kekuningan
berbulu. Harry menatap ke dalam api, merasa terkuras dan letih sekali.
'Bagaimana bisa Dumbledore membiarkan ini terjadi?' Hermione menjerit tiba-tiba,
membuat Harry dan Ron terlompat; Crookshanks melompat dari pangkuannya,
terlihat terhina. Dia menghantam lengan-lengan kursinya dengan marah, sehingga
potongan-potongan isian keluar dari lubang-lubangnya. 'Bagaimana dia bisa
membiarkan wanita mengerikan itu mengajari kita? Dan di tahun OWL kita lagi!'
'Well, kita belum pernah dapat guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang hebat,
bukan?' kata Harry. 'Kau tahu seperti apa, Hagrid memberitahu kita, tak seorangpun
mau pekerjaan itu; mereka bilang membawa sial.'
'Ya, tapi mempekerjakan seseorang yang sebenarnya menolak membiarkan kita
melakukan sihir! Apa yang sedang dipermainkan Dumbledore?'
'Dan dia sedang mencoba membuat orang-orang menjadi mata-mata untuknya,' kata
Ron dengan muram. 'Ingat ketika dia bilang dia mau kita datang dan memberitahunya
kalau kita mendengar siapapun berkata Kau-Tahu-Siapa sudah kembali?'
'Tentu saja dia di sini untuk memata-matai kita semua, itu jelas, kenapa lagi Fudge
ingin dia datang?' sambar Hermione.
'Jangan mulai berdebat lagi,' kata Harry dengan letih, ketika Ron membuka mulut
untuk membalas. 'Tak bisakah kita ... ayo buat peer saja, hilangkan beban ...'
Mereka mengumpulkan tas-tas sekolah mereka dari sebuah sudut dan kembali ke
kursi-kursi di sisi perapian. Orang-orang telah berdatangan dari makan malam
sekarang. Harry memalingkan wajahnya dari lubang potret, tetapi masih bisa
merasakan tatapan ke arahnya.
'Apakah kita akan mengerjakan tugas Snape dulu?' kata Ron, sambil mencelupkan
pena bulunya ke dalam tintanya. '"Sifat-sifat ... batu bulan ... dan kegunaannya ...
dalam pembuatan ramuan ..."' dia bergumam, sambil menuliskan kata-kata itu di
puncak perkamennya sewaktu mengucapkannya. 'Begitu.' Dia menggarisbawahi judul
itu, lalu memandang penuh harap kepada Hermione.
'Jadi, apa sifata batu bulan dan kegunaannya dalam pembuatan ramuan?'
Tetapi Hermione tidak mendengarkan; dia sedang memicingkan mata ke sudut jauh
dari ruangan itu, di mana Fred, George dan Lee Jordan sekarang sedang duduk di
tengah sekumpulan anak kelas satu yang tampak lugu, yang semuanya sedang
mengunyah sesuatu yang tampaknya telah keluar dari kantong kertas besar yang
sedang dipegang Fred.
'Tidak, maafkan aku, mereka sudah terlalu jauh,' katanya sambil berdiri dan terlihat
benar-benar marah. 'Ayo, Ron.'
'Aku -- apa?' kata Ron, jelas sedang mengulur waktu. 'Tidak -- ayolah, Hermione -kita tidak bisa melarang mereka membagikan permen.'
'Kau tahu persis itu adalah Gula-Gula Mimisan atau -- atau Pastiles Muntah atau --'
'Manisan Pingsan?' Harry menyarankan dengan pelan.
Satu persatu, seakan-akan dipukul kepalanya dengan palu yang tak tampak, anakanak kelas satu itu merosot tidak sadarkan diri di tempat duduk mereka; beberapa
tergelincir langsung ke lantai, yang lain hanya tergantung pada lengan kursi mereka,
lidah merka terjulur. Kebanyakan orang yang sedang menonton tertawa; namun
Hermione menaikkan bahunya dan berbaris langsung ke tempat Fred dan George
sekarang berdiri sambil memegang papan penjepit kertas, mengamati dengan seksama
para murid kelas satu yang tidak sadar. Ron bangkit setengah berdiri dari kursinya,
menunggu tidak yakin selama satu-dua saat, lalu bergumam kepada Harry. 'Dia sudah
bisa mengendalikannya,' sebelum membenamkan diri ke kursinya serendah yang
diizinkan tubuh jangkungnya.
'Itu cukup!' Hermione berkata penuh tenaga kepada Fred dan George, keduanya
melihat ke atas dengan terkejut.
'Yeah, kau benar,' kata George sambil mengangguk, 'dosis ini tampaknya cukup
kuat, bukan?'
'Kuberitahu kalin pagi ini, kalian tidak bisa menguji sampah kalian pada murid!'
'Kami membayar mereka!' kata Fred dengan marah.
'Aku tidak peduli, bisa saja berbahaya!'
'Sampah,' kata Fred.
'Tenanglah, Hermione, mereka baik-baik saja!' kata Lee menenangkan ketika dia
berjalan dari satu anak kelas satu ke anak lainnya, sambil memasukkan permen ungu
ke dalam mulut terbuka mereka.
'Yeah, lihat, mereka sudah sadar sekarang,' kata George.
Beberapa anak kelas satu memang bergerak. Beberapa terlihat begitu terguncang
menemukan diri mereka terbaring di lantai, atau bergantung di kursi mereka, sehingga
Harry yakin Fred dan George belum memperingatkan mereka apa yang dilakukan
permen-permen itu.
'Merasa baik-baik saja?' tanya George dengan baik hati kepada seorang anak
perempuan kecil berambut gelap yang berbaring di kakinya.
'Aku -- kukira begitu,' katanya gemetaran.
'Sempurna,' kata Fred dengan gembira, tetapi detik berikutnya Hermione telah
merebut papan penjepit kertasnya serta kantong kertas Manisan Pingsan dari
tangannya.
'TIDAK sempurna!'
'Tentu saja, mereka masih hidup 'kan?' kata Fred dengan marah.
'Kalian tidak bisa melakukan ini, bagaimana kalau kalian membuat salah satu dari
mereka benar-benar sakit?'
'Kami tidak akan membuat mereka sakit, kami sudah menguji semuanya sendiri, ini
hanya untuk melihat apakah semua orang akan bereaksi sama -'
'Kalau kalian tidak berhenti melakukannya, aku akan -'
'Memberi kami detensi?' kata Fred, dengan suara aku-ingin-lihat-kau-coba.
'Menyuruh kami menulis?' kata George sambil tersenyum menyeringai.
Para penonton di seluruh ruangan tertawa. Hermione meluruskan diri setingginya;
matanya disipitkan dan rambutnya yang lebat tampak baru kena listrik.
'Tidak,' katanya, suaranya bergetar karena marah, 'tetapi aku akan menulis kepada
ibu kalian.'
'Kau tidak akan berbuat itu,' kata George, terkejut, sambil mundur selangkah
darinya.
'Oh, ya, akan kulakukan,' kata Hermione dengan suram. 'Aku tak bisa
menghentikan kalian makan benda-benda bodoh itu sendiri, tapi kau tidak akan
memberikannya kepada para murid kelas satu.'
Fred dan George terlihat seperti disambar petir. Jelaslah sejauh menyangkut
mereka, ancaman Hermione melewati batas keberanian mereka. Dengan pandangan
mengancam terakhir kepada mereka, dia menyodorkan papan penjepit kertas Fred dan
kantong Manisan kembali ke lengannya, dan berjalan kembali ke kursinya di sisi
perapian.
Ron sekarang begitu rendah dalam kursinya sehingga hidungnya hampir sama
rendahnya dengan lututnya.
'Terima kasih atas dukunganmu, Ron,' Hermione berkata dengan masam.
'Kau menanganinya dengan baik sendiri,' Ron bergumam.
Hermione menatap ke potongan perkamennya yang kosong selama beberapa detik,
lalu berkata dengan tidak tenang, 'Oh, tidak bisa, aku tidak bisa berkonsentrasi
sekarang. Aku akan pergi tidur.'
Dia merenggut buka tasnya; Harry mengira dia akan menyimpan buku-bukunya,
tetapi dia malah menarik keluar dua benda dari wol yang bentuknya tidak beraturan,
menempatkan mereka dengan hati-hati di atas sebuah meja di sisi perapian,
menutupinya dengan beberapa potongan perkamen yang digumpalkan dan sebuah
pena bulu rusak dan berdiri untuk mengagumi akibatnya.
'Demi nama Merlin apa yang sedang kau lakukan?' kata Ron sambil mengamatinya
seolah-olah mengkhawatirkan kewarasannya.
'Itu adalah topi untuk para peri-rumah,' katanya cepat, sekarang dia sedang
menjejalkan buku-bukunya kembali ke dalam tasnya. 'Aku mengerjakannya musim
panas lalu. Aku benar-benar perajut yang lamban tanpa sihir tetapi sekarang setelah
aku kembali ke sekolah seharusnya aku bisa membuat lebih banyak lagi.'
'Kau meninggalkan topi untuk para peri-rumah?' kat Ron lambat-lambat. 'Dan kau
menutupinya dengan sampah dulu?'
'Ya,' kata Hermione menantang, sambil mengayunkan tasnya ke punggungnya.
'Itu tidak adil,' kata Ron dengan marah. 'Kau mencoba memperdaya mereka untuk
memungut topi-topi itu. Kau membebaskan mereka padahal mereka mungkin tidak
ingin bebas.'
'Tentu saja mereka ingin bebas!' kata Hermione seketika, walaupun wajahnya
berubah warna menjadi merah muda. 'Jangan berani-berani menyentuh topi-topi itu,
Ron!'
Dia berbalik dan pergi. Ron menunggu sampai dia menghilang melalui pintu ke
kamar asrama anak perempuan, lalu membersihkan sampah dari topi-topi wol itu.
'Setidaknya mereka seharusnya melihat apa yang mereka pungut,' katanya dengan
tegas. 'Lagipula ...' dia menggulung perkamen yang telah ditulisnya dengan judul esai
Snape, 'tak ada gunanya mencoba menyelesaikan ini sekarang, aku tidak bisa
melakukannya tanpa Hermione, aku tak punya petunjuk sedikitpun apa yang harus
kau lakukan dengan batu bulan, bagaimana denganmu?'
Harry menggelengkan kepalanya, sambil memperhatikan bahwa ketika dia berbuat
begitu rasa sakit di pelipis kanannya semakin buruk. Dia memikirkan esai panjang
mengenai perang para raksasa dan rasa sakit itu menusuknya dengan tajam. Tahu
benar bahwa ketika pagi tibam, dia akan menyesal tidak menyelesaikan pekerjaan
rumahnya malam itu, dia menumpukkan buku-bukunya kembali ke dalam tasnya.
'Aku juga akan tidur.'
Dia melewati Seamus dalam perjalanan ke pintu yang menuju ke kamar asrama,
tetapi dia tidak memandangnya. Harry mendapatkan kesan singkat bahwa Seamus
telah membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi dia bergegas dan mencapai
ketenangan yang menyejukkan dari tangga spiral tanpa harus mengalami provokasi
lagi.
*
Hari berikutnya diawali sama kelam dan berhujan seperti yang sebelumnya. Hagrid
masih absen dari meja guru pada saat makan pagi.
'Tapi di sisi baiknya, tidak ada Snape hari ini,' kata Ron menguatkan.
Hermione menguap lebar-lebar dan menuangkan untuk dirinya sendiri sedikit kopi.
Dia terlihat agak senang mengenai sesuatu, dan ketika Ron bertanya kepadanya apa
yang membuatnya sangat gembira, dia hanya berkata, 'Topi-topi itu sudah hilang.
Kelihatannya para peri-rumah memang ingin kebebasan.'
'Aku tidak akan terlalu yakin,' Ron memberitahunya dengan tajam. 'Benda-benda
itu mungkin tidak dianggap pakaian. Mereka tidak terlihat seperti topi bagiku, lebih
mirip kandung kemih dari wol.'
Hermione tidak berbicara kepadanya sepannjang pagi.
Kelas ganda Jimat dan Guna-Guna diikuti dengan kelas ganda Transfigurasi.
Profesor Flitwick dan Profesor McGonagall keduanya menghabiskan lima belas menit
pertama dari pelajaran mereka menguliahi kelas akan pentingnya OWL.
'Apa yang harus kalian ingat,' kata Profesor Flitwick kecil sambil mencicit,
bertengger seperti biasa di atas setumpuk buku sehingga dia bisa melihat melewati
bagian atas mejanya, 'adalah bahwa ujian-ujian ini mungkin mempengaruhi masa
depan kalian bertahun-tahun yang akan datang! Kalau kalian belum memikirkan
secara serius mengenai karir kalian, sekarang saatnya. Dan sementara itu, aku takut,
kita akan bekerja lebih keras daripada sebelumnya untuk menjamin kalian semua
mendapat hasil sesuai kemampuan kalian!'
Mereka lalu menghabiskan lebih dari satu jam mengulang Mantera Pemanggil,
yang menurut Profesor Flitwick pasti keluar di OWL mereka, dan dia mengakhiri
pelajaran dengan memberi mereka pekerjaan rumah Jimat dan Guna-Guna yang
paling banyak dibandingkan sebelumnya.
Keadaannya sama, kalau bukan lebih buruk, di Transfigurasi.
'Kalian tidak bisa lulus OWL,' kata Profesor McGonagall dengan murung, 'tanpa
penerapan, latihan, dan belajar yang serius. Aku melihat tidak ada alasan mengapa
semua orang di kelas ini tidak bisa mencapai OWL dalam Transfigurasi selama
mereka bekerja keras.' Neville membuat suara sedih kecil tanda tidak percaya. 'Ya,
kamu juga, Longbottom,' kata Profesor McGonagall. 'Tidak ada yang salah dengan
pekerjaanmu selain kurangnya rasa percaya diri. Jadi ... hari ini kita akan mulai
dengan Mantera Penghilang. Ini lebih mudah daripada Mantera Pencipta, yang
biasanya tidak akan kalian coba sampai tingkat NEWT, tapi mantera ini masih
termasuk di antara sihir paling sulit yang akan diujikan kepada kalian pada OWL
kalian.'
Dia sangat benar; Harry mendapatkan Mantera Penghilang benar-benar sulit. Pada
akhir periode ganda itu dia maupun Ron belum berhasil menghilangkan siput-siput
yang mereka gunakan untuk berlatih, walaupun Ron berkata penuh harap bahwa dia
mengira siputnya terlihat sedikit lebih pucat. Hermione, di sisi lain, berhasil
menghilangkan siputnya pada percobaan ketiga, membuatnya mendapatkan bonus
sepuluh poin untuk Gryffindor dari Profesor McGonagall. Dia adalah satu-satunya
orang yang tidak diberi pekerjaan rumah; semua orang lainnya disuruh melatih
mantera itu di malam hari, siap untuk mencoba lagi pada siput mereka sore
berikutnya.
Sekarang setelah merasa agak panik mengenai jumlah pekerjaan rumah yang harus
mereka lakukan, Harry dan Ron menghabiskan jam makan siang mereka di
perpustakaan mencari kegunaan batu bulan dalam pembuatan ramuan. Masih marah
tentang penghinaan Ron pada topi-topi wolnya, Hermione tidak bergabung dengan
mereka. Pada saat mereka mencapai Pemeliharaan Satwa Gaib di sore hari, kepala
Harry sakit lagi.
Hari menjadi dingin dan berangin, dan ketika mereka berjalan menyusuri lapangan
yang melandai menuju kabin Hagrid di tepi Hutan Terlarang, mereka merasakan titiktitik hujan yang terkadang menetes ke wajah mereka. Profesor Grubbly-Plank berdiri
menanti kelas itu sekitar sepuluh yard dari pintu depan Hagrid, dengan sebuah meja
panjang berpalang di depannya yang sarat dengan ranting. Ketika Harry dan Ron
mendekatinya, suara tawa keras terdengar di belakang mereka; sambil berbalik,
mereka melihat Draco Malfoy berjalan menuju mereka, dikelilingi oleh kelompok
kroni Slytherinnya yang biasa. Jelas dia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat
lucu, karena Crabbe, Goyle, Pansy Parkinson dan sisanya terus terkikik-kikik sepenuh
hati ketika mereka berkumpul di sekitar meja berpalang itu dan, menilai dari cara
mereka semua terus memandang Harry, dia bisa menebak subyek gurauan itu tanpa
banyak kesulitan.
'Semua orang di sini?' salak Profesor Grubbly-Plank, segera setelah semua anak
Slytherin dan Gryffindor tiba. 'Kalau begitu mari mulai. Siapa yang bisa
memberitahuku apa sebutan benda-benda ini?'
Dia menunjuk setumpuk ranting di depannya. Tangan Hermione teracung di udara.
Di balik punggungnya, Malfoy melakukan imitasi Hermione yang bergigi kelinci
melompat naik-turun dengan penuh semangat untuk menjawab pertanyaan. Pansy
Parkinson mengeluarkan pekik tertawa yang berubah hampir seketika menjadi jeritan,
ketika ranting-ranting di atas meja melompat ke udara dan memperlihatkan diri
mereka sendiri yang mirip makhluk pixie kecil yang terbuat dari kayu, masing-masing
dengan lengan cokelat menonjol, dua jari mirip ranting di setiap tangan dan sebuah
wajah datar mirip kulit kayu dengan sepasang mata kumbang berwarna cokelat yang
berkilau.
'Oooooh!' kata Parvati dan Lavender, sangat mengesalkan Harry. Siapapun akan
berpikir Hagrid belum pernah memperlihatkan kepada mereka makhluk-makhluk
mengesankan; memang, cacing Flobber sedikit membosankan, tetapi Salamander san
Hippogriff cukup menarik, dan Skrewt Ujung-Meletus mungkin terlalu menarik.
'Tolong jaga suara kalian, anak-anak!' kata Profesor Grubbly-Plank dengan tajam,
sambil menyebarkan apa yang terlihat seperti beras cokelat di antara makhluk tongkat
itu, yang segera berebut makanan. 'Jadi -- ada yang tahu nama makhluk-makhluk ini?
Miss Granger?'
'Bowtruckle,' kata Hermione. 'Mereka penjaga pohon, biasanya hidup di pohon
pembuat tongkat.'
'Lima poin untuk Gryffindor,' kata Profesor Grubbly-Plank. 'Ya, ini adalah
Bowtruckle, dan seperti yang dikatakan Miss Granger dengan benar, mereka
umumnya tinggal di pohon-pohon yang kayunya berkualitas tongkat. Ada yang tahu
apa yang mereka makan?'
'Kutu kayu,' kata Hermione cepat, yang menjelaskan kenapa apa yang dianggap
Harry butir-butir beras cokelat bergerak-gerak. 'Tapi telur peri kalau mereka bisa
mendapatkannya.'
'Anak baik, ambil lima poin lagi. Jadi, kapanpun kalian perlu daun atau kayu dari
sebuah pohon tempat tinggal Bowtruckle, sebaiknya siapkan hadiah kutu kayu untuk
mengalihkan atau menentramkannya. Mereka mungkin tidak terlihat berbahaya, tetapi
kalau dibuat marah mereka akan mencoba mencongkel mata manusia dengan jari-jari
mereka, yang, seperti yang bisa kalian lihat, sangat tajam dan sama sekali tidak
diinginkan berada dekat bola mata. Jadi kalau kalian inign berkumpul lebih dekat,
ambil sedikit kutu kayu dan seekor Bowtruckle -- aku punya cukup di sini untuk satu
diamati bertiga -- kalian bisa mempelajari mereka lebih dekat. Aku mau sketsa dari
setiap orang dengan semua anggota badan yang diberi label pada akhir pelajaran.'
Kelas mendesak maju ke sekitar meja berpalang itu. Harry sengaja memutar ke
belakang sehingga dia berada tepat di sebelah Profesor Grubbly-Plank.
'Di mana Hagrid?' tanyanya, sementara semua orang sedang memilih Bowtruckle.
'Tidak usah peduli,' kata Profesor Grubbly-Plank menekankan, yang juga telah
menjadi sikapnya terakhir kali ketika Hagrid tidak muncul ke kelas. Sambil
menyeringai lebar, Draco Malfoy mencondongkan badan kepada Harry dan meraih
Bowtruckle terbesar.
'Mungkin,' kata Malfoy dengan suara rendah, sehingga hanya Harry yang bisa
mendengarnya, 'orang besar bodoh itu membuat dirinya terluka parah.'
'Mungkin kau akan begitu kalau kau tidak tutup mulut,' kata Harry dari sisi
mulutnya.
'Mungkin dia turut campur dengan hal-hal yang terlalu besar baginya, kalau kau
ngerti maksudku.'
Malfoy berjalan pergi, sambil menyeringai dari balik bahunya kepada Harry, yang
mendadak merasa mual. Apakah Malfoy tahu sesuatu? Lagipula ayahnya seorang
Pelahap Maut; bagaimana kalau dia punya informasi mengenai nasib Hagrid yang
belum mencapai telinga Order? Dia bergegas mengitari meja kepada Ron dan
Hermione yang sedang jongkok di rumput agak jauh dan mencoba membujuk seekor
Bowtruckle untuk diam cukup lama agar mereka bisa menggambarnya. Harry
menarik keluar perkamen dan pena bulu, jongkok di samping yang lain dan
membisikkan apa yang baru saja dikatakan Malfoy.
'Dumbledore akan tahu kalau sesuatu terjadi kepada Hagrid,' kata Hermione
seketika. 'Kalau terlihat khawatir hanya jatuh ke permainan Malfoy; itu
memberitahunya kita tidak tahu persis apa yang sedang terjadi. Kita harus
mengabaikan dia, Harry. Ini, pegang Bowtrucklenya sejenak, sehingga aku bisa
menggambar wajahnya ...'
'Ya,' datang suara Malfoy yang dipanjang-panjangkan dari kelompok yang terdekat
dengan mereka, 'Ayah baru saja berbicara dengan Menteri beberapa hari yang lalu,
kalian tahu, dan kedengarannya seolah-olah Kementerian benar-benar berniat untuk
melenyapkan pengajaran di bawah standar di tempat ini. Jadi kalaupun si bodoh yang
tumbuh berlebihan muncul lagi, dia mungkin langsung disuruh berkemas.'
'ADUH!'
Harry telah mencengkeram Bowtruckle begitu keras sehingga makhluk itu hampir
putus, dan dia baru saja melayangkan pukulan balasan hebat ke tangannya dengan
jari-jarinya yang tajam, meninggalkan dua luka sayat dalam yang panjang di sana.
Harry menjatuhkannya. Crabbe dan Goyle, yang sudah terbahak-bahak karena
gagasan tentang Hagrid dipecat, tertawa lebih keras lagi ketika Bowtruckle itu pergi
secepatnya menuju Hutan Terlarang, tampak seperti manusia kayu kecil yang
bergerak yang segera tertelan di antara akar-akar pohon. Ketika bel bergema dari
kejauhan ke halaman sekolah, Harry menggulung gambar Bowtrucklenya yang
bernoda darah dan berbaris ke Herbologi dengan tangan diperban dengan sapu tangan
Hermione, dan suara tawa mengejek Malfoy masih terngiang di telinganya.
'Kalau dia menyebut Hagrid bodoh sekali lagi ...' kata Harry melalui gigi-gigi yang
dikertakkan.
'Harry, jangan membuat keributan dengan Malfoy, jangan lupa, dia seorang prefek
sekarang, dia bisa membuat hidupmu sukar ...'
'Wow, aku ingin tahu bagaimana rasanya punya hidup yang sukar?' kata Harry
dengan sarkastis. Ron tertawa, tetapi Hermione merengut. Bersama-sama, mereka
berjalan menyusuri petak-petak sayuran. Langit masih tampak tidak mampu
memutuskan apakah akan hujan atau tidak.
'Aku hanya berharap Hagrid bergegas kembali, itu saja,' kata Harry dengan suara
rendah, ketika mereka mencapai rumah kaca. 'Dan jangan bilang bahwa wanita
Grubbly-Plank itu guru yang lebih bagus!' dia menambahkan dengan mengancam.
'Aku tidak akan melakukan itu,' kata Hermione dengan tenang.
'Karena dia tidak akan pernah sebagus Hagrid,' kata Harry dengan tegas,
sepenuhnya sadar bahwa dia baru saja mengalami pelajaran teladan Pemeliharaan
Satwa Gaib dan sangat jengkel karena itu.
Pintu rumah kaca terdekat terbuka dan beberapa murid kelas empat keluar dari
sana, termasuk Ginny.
'Hai,' katanya dengan ceria ketika dia lewat. Beberapa detik kemudian, Luna
Lovegood muncul, berada di belakang sisa kelas itu, dengan secuil tanah di
hidungnya, dan rambutnya diikat di puncak kepalanya. Ketika dia melihat Harry,
matanya yang menonjol tampak membesar penuh semangat dan dia berjalan lurus ke
arahnya. Banyak teman sekelas Harry yang berpaling untuk mengamati dengan rasa
ingin tahu. Luna mengambil napas panjang dan lalu berkata, tanpa kata sapaan
pendahuluan, 'Aku percaya Dia-Yang-Namanya-Tidak-Boleh-Disebut sudah kembali
dan aku percaya kamu bertarung dengannya dan lolos darinya.'
'Er -- benar,' kata Harry dengan canggung. Luna mengenakan apa yang tampak
seperti sepasang anting dari lobak jingga, kenyataan yang sepertinya diperhatikan
oleh Parvati dan Lavender, karena mereka berdua terkikik-kikik dan menunjuk ke
cuping telinganya.
'Kalian boleh tertawa,' Luna berkata, suaranya meninggi, tampaknya mendapat
kesan bahwa Parvati dan Lavender sedang menertawakan apa yang dia katakan
bukannya apa yang dia pakai, 'tapi orang-orang dulu percaya tidak ada yang namanya
Blibbering Humdinger atau Snorkack Tanduk-Kisut!'
'Well, mereka benar, bukan?' kata Hermione tidak sabaran. 'Memang tidak ada
yang namanya Blibbering Humdinger atau Snorkack Tanduk-Kisut.'
Luna memberinya pandangan menghina dan pergi dengan marah, lobak-lobaknya
berayun dengan liar. Parvati dan Lavender bukan satu-satunya yang tertawa mengejek
sekarang.
'Apakah kau keberatan untuk tidak menyinggung satu-satunya orang yang percaya
padaku?' Harry bertanya kepada Hermione ketika mereka berjalan ke dalam kelas.
'Oh, demi Tuhan, Harry, kau bisa mendapatkan yang lebih baik daripada dia,' kata
Hermione. 'Ginny memberitahuku semua hal tentang dia; tampaknya, dia hanya akan
percaya hal-hal yang belum ada buktinya sama sekali. Well, aku tidak akan
mengharap lain dari seseorang yang ayahnya menjalankan The Quibbler.'
Harry memikirkan kuda-kuda bersayap yang mengerikan yang telah dia lihat di
malam kedatangannya dan bagaimana Luna bilang dia juga bisa melihat mereka.
Semangatnya agak merosot. Apakah dia berbohong? Tapi sebelum dia bisa
meluangkan lebih banyak pikiran untuk masalah itu, Ernie Macmillan telah
melangkah ke arahnya.
'Aku mau kau tahu, Potter,' katanya dengan suara keras, 'bahwa bukan hanya orang
aneh yang mendukungmu. Aku pribadi mempercayaimu seratus persen. Keluargaku
selalu berdiri teguh di belakang Dumbledore, dan aku juga begitu.'
'Er -- terima kasih banyak, Ernie,' kata Harry, terkejut tetapi senang. Ernie mungkin
angkuh pada kesempatan seperti ini, tetapi Harry sedang dalam suasana hati yang
menghargai sepenuhnya pernyataan kepercayaan dari seseorang yang tidak punya
lobak bergantung di telinganya. Kata-kata Ernie jelas telah menghapus senyum dari
wajah Lavender Brown dan ketika dia berpaling untuk berbicara kepada Ron dan
Hermione, Harry melihat ekspresi Seamus, yang terlihat bingung sekaligus
menantang.
Yang tidak membuat siapapun terkejut, Profesor Sprout memulai pelajaran mereka
dengan menguliahi mereka tentang pentingnya OWL. Harry berharap semua guru
berhenti melakukan ini; dia mulai merasakan perasaan cemas, terpelintir dalam
perutnya setiap kali dia ingat betapa banyak pekerjaan rumah yang harus
dikerjakannya, perasaan yang memburuk secara dramatis ketika Profesor Sprout
memberi mereka esai lagi di akhir pelajaran. Capek dan bau kotoran naga, pupuk
kesukaan Profesor Sprout, anak-anak Gryffindor beramai-ramai kembali ke kastil satu
setengah jam kemudian, tak seorangpun berbicara banyak; hari itu sangat panjang
bagi mereka.
Karena Harry lapar sekali, dan dia harus menjalani detensi pertama dengan
Umbridge pada jam lima, dia langsung pergi makan malam tanpa menyimpan tasnya
di Menara Gryffindor supaya dia bisa makan sesuatu sebelum menghadapi apapun
yang disimpan Umbridge baginya. Namun, dia baru saja mencapai pintu masuk Aula
Besar, ketika sebuah suara keras berteriak marah, 'Oi, Potter!'
'Sekarang apa?' gumamnya dengan letih, sambil berpaling menghadapi Angelina
Johnson, yang terlihat seolah-olah sedang marah besar.
'Kuberitahu kamu sekarang apa,' katanya, sambil berbaris lurus ke arahnya dan
menyodoknya dengan keras di dada dengan jarinya. 'Kenapa kau membuat dirimu
terkena detensi hari Jumat jam lima?'
'Apa?' kata Harry. 'Mengapa ... oh yeah, ujicoba Keeper!'
'Sekarang dia ingat!' kata Angelina tajam. 'Bukankah aku sudah bilang aku mau
melakukan ujicoba dengan seluruh tim, dan menemukan seseorang yang cocok
dengan setiap orang? Bukankah aku sudah bilang aku memesan khusus lapangan
Quidditch? Dan sekarang kau memutuskan kau tidak akan ada di sana!'
'Aku tidak memutuskan untuk tidak berada di sana!' kata Harry, terluka karena
ketidakadilan kata-kata ini. 'Aku mendapatkan detensi dari wanita Umbridge itu,
hanya karena aku bilang yang sebenarnya tentang Kau-Tahu-Siapa.'
'Well, kau bisa pergi langsung kepadanya dan memintanya mengizinkanmu bebas
pada hari Jumat,' kata Angelina dengan garang, 'dan aku tidak peduli bagaimana kau
melakukannya. Beritahu dia Kau-Tahu-Siapa hanya secuil khayalanmu kalau kau
mau, cuma pastikan kau ada di sana!'
Dia berbalik dan pergi.
'Kalian tahu apa?' Harry berkata kepada Ron dan Hermione ketika mereka
memasuki Aula Besar. 'Kukira kita sebaiknya mengecek dengan Puddlemere United
apakah Oliver Wood telah terbunuh ketika masa latihan, karena Angelina tampaknya
kemasukan rohnya.'
'Menurutmu berapa kemungkinannya Umbridge akan mengizinkanmu bebas pada
hari Jumat?' kata Ron dengan skeptis, ketika mereka duduk di meja Gryffindor.
'Kurang dari nol,' kata Harry dengan murung, sambil menyendokkan potongan
daging domba ke piringnya dan mulai makan. 'Walau begitu, lebih baik mencoba,
bukan? Aku akan menawarkan untuk melakukan dua detensi lagi atau apapun, aku tak
tahu ...' Dia menelan semulut penuh kentang dan menambahkan, 'Kuharap dia tidak
menahankan terlalu lama malam ini. Kau sadar kita harus menulis tiga esai, berlatih
Mantera Penghilang untuk McGonagall, mengerjakan kontra-guna-guna untuk
Flitwick, menyelesaikan gambar Bowtruckle dan mulai diari mimpi bodoh itu untuk
Trelawney?'
Ron mengerang dan karena alasan tertentu memandang langit-langit.
'Dan kelihatannya akan hujan.'
'Apa hubungannya itu dengan pekerjaan rumah kita?' kata Hermione, alisnya
terangkat.
'Tidak ada,' kata Ron seketika, telinganya memerah.
Pada pukul lima Harry mengucapkan selamat tinggal kepada mereka berdua dan
menuju kantor Umbridge di lantai tiga. Ketika dia mengetuk pintu Umbridge berseru,
'Masuk,' dengan suara manis. Dia masuk dengan waspada, sambil melihat sekeliling.
Dia telah mengenal kantor ini ketika ditempati tiga orang penghuni sebelumnya. Di
hari-hari ketika Gilderoy Lockhart tinggal di sini kantor ini ditutupi dengan potretpotret dirinya yang tersenyum. Ketika Lupin menempatinya, mungkin sekali kau akan
menemukan beberapa makhluk Gelap dalam sangkar atau tangki kalau kau datang
berkunjung. Di hari-hari si penipu Moody kantor ini penuh dengan berbagai
instrumen dan benda-benda untuk mendeteksi perbuatan salah dan pemalsuan.
Namun, sekarang, kantor itu tampak benar-benar tidak dapat dikenali.
Permukaannya semua telah ditutupi dengan kain renda. Ada beberapa vas penuh
bunga kering, masing-masing terletak di atas alas sendiri, dan di salah satu dinding
ada sekumpulan plakat hiasan, masing-masing dihiasi dengan seekor anak kucing
besar berwarna cerah yang memakai pita dengan warna berlainan di sekeliling
lehernya. Anak-anak kucing ini begitu jelek sehingga Harry memandangi mereka,
terpaku, sampai Profesor Umbridge berbicara lagi.
'Selamat malam, Mr Potter.'
Harry terkejut dan melihat sekeliling. Dia tidak memperhatikan Umbridge pertamatama karena dia mengenakan setelan jubah berbunga-bunga mengerikan yang sangat
terpadu dengan alas meja di meja tulis di belakangnya.
'Malam, Profesor Umbridge,' Harry berkata dengan kaku.
'Well, duduklah,' katanya sambil menunjuk ke sebuah meja kecil yang ditutupi
renda yang di sampingnya telah diletakkannya sebuah kursi berpunggung tegak.
Sepotong perkamen kosong tergeletak di atas meja, tampaknya sedang menunggu
dirinya.
'Er,' kata Harry tanpa bergerak. 'Profesor Umbridge. Er -- sebelum kita mulai, aku - aku ingin meminta Anda ... sebuah permohonan.'
Matanya yang menonjol menyipit.
'Oh, ya?'
'Well, aku ... aku ada dalam tim Quidditch Gryffindor. Dan aku seharusnya berada
di ujicoba Keeper baru pada hari Jumat pukul lima dan aku -- ingin tahu apakah aku
bisa melewatkan detensi malam itu dan melakukannya -- melakukannya malam lain ...
sebagai gantinya ...'
Dia tahu jauh sebelum dia mencapai akhir kalimatnya bahwa tidak ada gunanya.
'Oh, tidak,' kata Umbridge, sambil tersenyum begitu lebar sehingga dia terlihat
seakan-akan dia baru saja menelan seekor lalat yang sangat banyak airnya. 'Oh, tidak,
tidak, tidak. Ini hukumanmu karena menyebarkan cerita-cerita jahat, mengerikan, cari
perhatian, Mr Potter, dan hukuman jelas tidak boleh disesuaikan dengan kenyamanan
pihak yang bersalah. Tidak, kamu akan datang ke sini pukul lima besok, dan hari
berikutnya, dan pada hari Jumat juga, dan kamu akan melakukan detensimu seperti
yang direncanakan. Kukira bagus juga kamu tidak bisa melakukan sesuatu yang
sebenarnya ingin kamu lakukan. Seharusnya bisa menguatkan pelajaran yang sedang
kucoba ajarkan kepadamu.'
Harry merasa darah menggelora ke kepalanya dan mendengar suara gedebuk di
telinganya. Jadi dia menceritakan 'cerita-cerita jahat, mengerikan, cari perhatian',
begitu ya?
Umbridge sedang mengamatinya dengan kepala agak ke satu sisi, masih tersenyum
lebar, seakan-akan dia tahu benar apa yang sedang dipikirkannya dan sedang
menunggu untuk melihat apakah dia akan mulai berteriak lagi. Dengan usaha besarbesaran, Harry berpaling darinya, menjatuhkan tas sekolahnya di samping kursi
berpunggung tegak itu dan duduk.
'Begitu,' kata Umbridge manis, 'kita sudah semakin baik dalam pengendalian
amarah kita, bukan? Sekarang, kau harus menulis untukku, Mr Potter. Tidak, bukan
dengan pena bulumu,' tambahnya, ketika Harry membungkuk untuk membuka tasnya.
'Kau akan menggunakan pena bulu khusus milikku. Ini dia.'
Dia menyerahkan sebuah pena bulu hitam yang panjang kurus dengan ujung yang
tajamnya tidak biasa.
'Aku mau kau menulis, Saya tidak boleh berbohong,' katanya dengan lembut.
'Berapa kali?' Harry bertanya, dengan tiruan sopan-santun yang patut dipuji.
'Oh, selama yang diperlukan pesan itu untuk meresap,' kata Umbridge dengan
manis. 'Mulailah.'
Dia pindah ke mejanya, duduk dan membungkuk di atas setumpuk perkamen yang
tampak seperti esai untuk dinilai. Harry mengangkat pena bulu hitam tajam itu, lalu
sadar apa yang kurang.
'Anda belum memberi saya tinta,' katanya.
'Oh, kau takkan butuh tinta,' kata Profesor Umbridge, dengan nada tawa terkecil
dalam suaranya.
Harry menempatkan ujung pena bulu itu di atas kertas dan menulis, Saya tidak
boleh berbohong.
Dia mengeluarkan pekik kesakitan kecil. Kata-kata itu timbul di perkamen dengan
tinta merah mengkilat. Pada waktu yang sama, kata-kata itu timbul di punggung
tangan kanan Harry, tergores ke kulitnya seolah-olah dibuat dengan pisau bedah -tapi bahkan ketika dia memandangi luka sayat yang berkilau itu, kulitnya sembuh
lagi, meninggalkan tempat bekas luka itu sedikit lebih merah dari sebelumnya tapi
cukup mulus.
Harry memandang ke sekitarnya kepada Umbridge. Dia sedang mengamatinya,
mulutnya yang lebar dan mirip katak terentang membentuk senyuman.
'Ya?'
'Tidak ada apa-apa,' kata Harry dengan pelan.
Dia melihat balik ke perkamen, menempatkan pena bulu di atasnya sekali lagi,
menulis Saya tidak boleh berbohong, dan merasakan sakit menusuk di punggung
tangannya untuk kedua kali; sekali lagi, kata-kata itu telah tergores ke kulitnya; sekali
lagi, kulit itu sembuh beberapa detik kemudian.
Dan seterusnya itu berlangsung. Lagi-lagi Harry menuliskan kata-kata ke perkamen
dengan apa yang segera disadarinya bukan tinta, melainkan darahnya sendiri. Dan
lagi-lagi, kata-kata itu tergores ke punggung tangannya, sembuh, dan timbul kembali
kali berikutnya dia menempatkan pena bulu di perkamen.
Kegelapan timbul di luar jendela Umbridge. Harry tidak bertanya kapan dia
diizinkan berhenti. Dia bahkan tidak memeriksa jam tangannya. Dia tahu Umbridge
sedang mengawasinya untuk mencari tanda-tanda kelemahan dan dia tidak akan
memperlihatkan apapun, tidak juga walaupun dia harus duduk di sana sepanjang
malam, menyayat terbuka tangannya sendiri dengan pena bulu ini ...
'Kemarilah,' katanya, setelah rasanya berjam-jam.
Dia berdiri. Tangannya perih sekali. Ketika dia melihat kepada tangannya dia
melihat bahwa luka sayat itu sudah sembuh, tetapi kulit di sana merah mentah.
'Tangan,' katanya.
Dia menjulurkannya. Umbridge memegangnya. Harry menahan rasa tidak sukanya
ketika dia menyentuhnya dengan jari-jarinya yang tebal dan gempal yang penuh
cincin-cincin tua jelek.
'Ck, ck, tampaknya aku belum meninggalkan banyak kesan,' katanya sambil
tersenyum. 'Well, kita hanya perlu mencoba lagi besok malam, bukan? Kau boleh
pergi.'
Harry meninggalkan kantornya tanpa sepatah katapun. Sekolah sudah sepi; pasti
sudah lewat tengah malam. Dia berjalan pelan-pelan menyusuri koridor, lalu, ketika
dia membelok di sudut dan yakin Umbridge tidak akan mendengarnya, mengubahnya
jadi berlari.
*
Dia belum punya waktu untuk berlatih Mantera Penghilang, belum menuliskan satu
mimpipun ke dalam diari mimpinya dan belum menyelesaikan gambar Bowtruckle,
juga belum menulis esainya. Dia melewatkan sarapan pagi berikutnya untuk
mencoretkan sejumlah mimpi buatan untuk Ramalan, pelajaran pertama mereka, dan
terkejut menemukan Ron yang kusut menemaninya.
'Kenapa kau tidak membuatnya kemarin malam?' Harry bertanya, ketika Ron
menatap liar ke sekitar ruang duduk mencari inspirasi. Ron, yang sudah tertidur pulas
ketika Harry kembali ke asrama, menggumamkan sesuatu mengenai 'melakukan hal
lain', membungkuk rendah di atas perkamennya dan menuliskan beberapa kata dengan
tulisan cakar ayam.
'Itu sudah bisa,' katanya sambil membanting diari hingga tertutup. 'Aku bilang aku
mimpi sedang membeli sepasang sepatu baru, dia tidak bisa membuat apapun yang
aneh dari itu, ya 'kan?'
Mereka bergegas ke Menara Utara bersama.
'Ngomong-ngomong, bagaimana detensi dengan Umbridge? Apa yang disuruhnya
untuk kau lakukan?'
Harry bimbang sepersekian detik, lalu berkata, 'Menulis.'
'Kalau begitu tidak terlalu buruk, eh?' kata Ron.
'Tidak,' kata Harry.
'Hei -- aku lupa -- apakah dia mengizinkanmu bebas hari Jumat?'
'Tidak,' kata Harry.
Ron mengerang penuh simpati.
Hari itu juga hari buruk bagi Harry; dia salah satu yang terburuk dalam
Transfigurasi, belum berlatih Mantera Penghilang sama sekali. Dia harus melewatkan
jam makan siangnya untuk menyelesaikan gambar Bowtruckle dan, sementara itu,
Profesor McGonagall, Grubbly-Plank dan Sinistra memberi mereka lebih banyak
pekerjaan rumah lagi, yang tidak akan bisa diselesaikannya malam itu karena detensi
keduanya dengan Umbdrige. Untuk melengkapi semua itu, Angelina Johnson
menemuinya saat makan malam lagi dan, ketika mengetahui dia tidak akan bisa
menghadiri ujicoba Keeper Jumat, memberitahunya dia sama sekali tidak terkesan
dengan sikapnya dan bahwa dia mengharapkan para pemain yang ingin tetap dalam
tim menempatkan latihan di atas komitmen mereka yang lain.
'Aku dalam detensi!' Harry berteriak kepadanya setelah dia pergi. 'Kau kira aku
lebih suka terperangkap dalam ruangan bersama katak tua itu atau bermain
Quidditch?'
'Setidaknya cuma menulis,' kata Hermione menenangkan, ketika Harry merosot ke
bangkunya dan memandang ke bistik dan pai ginjalnya, yang tak lagi diinginkannya.
'Bukannya hukuman yang mengerikan, benar ...'
Harry membuka mulutnya, menutupnya lagi dan mengangguk. Dia tidak yakin
kenapa dia tidak memberitahu Ron dan Hermione persisnya apa yang terjadi di
ruangan Umbridge: dia hanya tahu bahwa dia tidak mau melihat pandangan ketakutan
mereka; yang akan membuat semuanya itu terlihat lebih sukar dan karena itu lebih
sulit dihadapi. Dia juga merasa bahwa ini antara dirinya dan Umbridge, sebuah perang
keteguhan hati pribadi, dan dia tidak akan memberinya kepuasan mendengar bahwa
dia mengeluh tentang hal itu.
'Aku tidak percaya betapa banyaknya peer yang kita dapatkan,' kata Ron menderita.
'Well, kenapa kau tidak mengerjakan satupun kemarin malam?' Hermione bertanya
kepadanya. 'Ngomong-ngomong, di mana kau?'
'Aku ... aku ingin berjalan-jalan,' kata Ron mencurigakan.
Harry mendapat kesan nyata bahwa dia tidak sendirian dalam menyembunyikan
sesuatu pada saat itu.
*
Detensi kedua seburuk yang pertama. Kulit di punggung tangan Harry menjadi lebih
cepat teriritasi dan segera menjadi merah dan meradang. Harry mengira luka itu tidak
akan terus sembuh seefektif sekarang. Segera luka itu akan tetap tergores ke
tangannya dan Umbridge, mungkin, akan puas. Namun, dia tidak membiarkan pekik
kesakitan keluar darinya, dan dari saat memasuki ruangan hingga saat dia dibebaskan,
lagi-lagi lewat tengah malam, dia tidak berkata apa-apa kecuali 'selamat malam' dan
'selamat tidur'.
Akan tetapi, situasi pekerjaan rumahnya, sekarang sangat menyedihkan, dan ketika
dia kembali ke ruang duduk Gryffindor, walaupun capek sekali, dia tidak pergi tidur,
tetapi membuka buku-bukunya dan memulai esai batu bulan Snape. Sudah setengah
tiga ketiak dia menyelesaikannya. Dia tahu pekerjaannya buruk, tetapi tidak bisa
ditolong lagi; kecuali dia punya sesuatu untuk diserahkan dia akan kena detensi
dengan Snape berikutnya. Dia lalu bergegas menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
telah diberikan Profesor McGonagall kepada mereka, mengumpulkan sesuatu
mengenai penanganan Bowtruckle yang tepat untuk Profesor Grubbly-Plank, dan
terhuyung-huyung ke tempat tidur, di mana dia terjatuh dengan pakaian lengkap ke
atas seprainya dan langsung tertidur.
*
Hari Kamis lewat dengan melelahkan. Ron juga tampak sangat mengantuk, walaupun
Harry tidak mengerti kenapa dia harus begitu. Detensi ketiga Harry lewat dengan cara
yang sama dengan dua yang sebelumnya, kecuali bahwa setelah dua jam kata-kata
'Saya tidak boleh berbohong' tidak memudar dari punggung tangan Harry, tetapi tetap
tergores di sana, mengeluarkan tetesan-tetesan darah. Jeda gesekan pena bulu tajam
itu membuat Profesor Umbridge melihat ke atas.
'Ah,' katanya dengan lembut, sambil bergeser mengitari meja tulisnya untuk
memeriksa tangannya sendiri. 'Bagus. Itu seharusnya menjadi pengingat bagimu,
bukan? Kau boleh pergi untuk malam ini.'
'Apakah saya masih harus kembali besok?' kata Harry, sambil memungut tas
sekolahnya dengan tangan kirinya bukannya tangan kanan yang masih sakit.
'Oh, ya,' kata Profesor Umbridge, sambil tersenyum lebar seperti sebelumnya. 'Ya,
kukira kita bisa menorehkan pesan sedikit lebih dalam dengan kerja satu malam lagi.'
Harry belum pernah mempertimbangkan kemungkinan bahwa mungkin ada guru
lain di dunia yang dibencinya lebih daripada Snape, tetapi ketika dia berjalan kembali
ke Menara Gryffindor dia harus mengakui dia telah menemukan calon kuat. Wanita
itu jahat, pikirnya, ketka dia menaiki tangga ke lantai tujuh, dia jahat, sinting, si tua
yang gila -'Ron?'
Dia telah mencapai puncak tangga, membelok ke kanan dan hampir membentur
Ron, yang sedang mengendap-ngendap di belakang patung Lachlan di Kurus, sambil
menggenggam sapunya. Ron melompat terkejut ketika dia melihat Harry dan
mencoba menyembunyikan Sapu Bersih Sebelasnya yang baru di belakang
punggungnya.
'Apa yang sedang kau lakukan?'
'Er -- tidak ada. Apa yang kau lakukan?'
Harry merengut kepadanya.
'Ayolah, kau bisa bilang padaku! Mengapa kau sembunyi di sini?'
'Aku -- aku sedang bersembunyi dari Fred dan George, kalau kau mau tahu,' kata
Ron. 'Mereka baru saja lewat dengan sekelompok anak kelas satu, aku bertaruh
mereka pasti sedang menguji benda-benda itu pada anak-anak itu lagi. Maksudku,
mereka tidak bisa melakukannya di ruang duduk sekarang, benar 'kan, tidak dengan
Hermione di sana.'
Dia berbicara sangat cepat dan tergesa-gesa.
'Tapi kenapa kau bawa sapumu, kau tidak habis terbang, 'kan?' Harry bertanya.
'Aku -- well -- well, OK, aku akan memberitahumu, tapi jangan tertawa, oke?' Ron
berkata dengan defensif, menjadi semakin merah setiap detiknya. 'Aku -- kukira aku
akan ikut ujicoba Keeper Gryffindor sekarang setelah aku punya sapu yang pantas.
Begitu. Ayo. Tertawalah.'
'Aku tidak akan tertawa,' kata Harry. Ron berkedip. 'Itu ide yang brilian! Akan
sangat bagus kalau kau bergabung dengan tim! Aku belum pernah melihatmu bermain
sebagai Keeper, apakah kau bagus?'
'Aku tidak buruk,' kata Ron, yang terlihat sangat lega melihat reaksi Harry. 'Charlie,
Fred dan George selalu menjadikanku Keeper bagi mereka ketika mereka berlatih
selama liburan.'
'Jadi kau habis latihan malam ini?'
'Setiap malam sejak Selasa ... walaupun cuma diriku sendiri. Aku sudah mencoba
menyihir Quaffle terbang ke arahku, tapi tidak mudah dan aku tidak tahu seberapa
bergunanya itu.' Ron terlihat gugup dan cemas. 'Fred dan George akan tertawa habishabisan sewaktu aku muncul untuk ujicoba itu. Mereka belum berhenti mengejekku
sejak aku dijadikan prefek.'
'Kuharap aku bisa ada di sana,' kata Harry dengan getir, ketika mereka pergi
bersama menuju ruang duduk.
'Yeah, aku juga -- Harry, apa itu di punggung tanganmu?'
Harry, yang baru saja menggaruk hidungnya dengan tangan kanannya yang bebas,
mencoba menyembunyikannya, tetapi keberhasilannya serupa dengan Ron dan Sapu
Bersihnya.
'Cuma goresan -- tidak ada apa-apa -- hanya --'
Tetapi Ron sudah mencengkeram lengan bawah Harry dan menarik punggung
tangan Harry setingkat dengan matanya. Ada jeda, sementara dia menatap kata-kata
yang terukir di kulit itu, lalu, terlihat muak, dia melepaskan Harry.
'Kukira kau bilang dia hanya menyuruhmu menulis?'
Harry bimbang, tapi lagipula, Ron sudah jujur kepadanya, jadi dia memberitahu
Ron yang sebenarnya mengenai jam-jam yang dihabiskannya di dalam kantor
Umbridge.
'Nenek sihir tua itu!' Ron berkata dengan bisikan jijik ketika mereka berhenti di
depan Nyonya Gemuk, yang sedang tertidur dengan tenang dengan kepalanya
disangga bingkainya. 'Dia sakit! Pergi ke McGonagall, bilang sesuatu!'
'Tidak,' kata Harry seketika. 'Aku tidak akan memberinya kepuasan mengetahui dia
menaklukkanku.'
'Menaklukkan kamu? Kau tidak bisa membiarkannya lepas dengan ini!'
'Aku tidak tahu seberapa besar kekuasaan yang dimiliki McGonagall terhadapnya,'
kata Harry.
'Kalau begitu, Dumbledore, beritahu Dumbledore!'
'Tidak,' kata Harry datar.
'Kenapa tidak?'
'Dia sudah punya cukup yang dipikirkan,' kata Harry, tapi itu bukan alasan
sebenarnya. Dia tidak akan mencari bantuan kepada Dumbledore saat Dumbledore
belum berbicara kepadanya sekalipun sejak Juni.
'Well, menurutku kau harus --' Ron mulai, tetapi dia disela oleh Nyonya Gemuk,
yang telah mengamati mereka sambil mengantuk dan sekarang meledak, 'Apakah
kalian akan memberiku kata kunci atau aku harus terjaga sepanjang malam menunggu
kalian menyelesaikan percakapan kalian?'
*
Hari Jumat datang dengan suram dan basah seperti hari-hari lain dalam minggu itu.
Walaupun Harry secara otomatis memandang sekilas ke meja guru ketika dia
memasuki Aula Besar, dia tidak memiliki harapan nyata akan melihat Hagrid, dan dia
segera mengalihkan pikirannya ke masalah-masalahnya yang lebih mendesak, seperti
tumpukan menggunung pekerjaan rumah yang harus dikerjakannya dan prospek
detensi lain lagi dengan Umbridge.
Dua hal mendukung Harry melewati hari itu. Salah satunya adalah pikiran bahwa
sudah hampir akhir minggu; yang lain adalah bahwa, walaupun detensi terakhirnya
dengan Umbridge pasti mengerikan, dia mendapat pandangan dari kejauhan ke
lapangan Quidditch dari jendelanya dan mungkin, dengan sedikit keberuntungan, bisa
melihat sesuatu pada ujicoba Ron. Memang benar ini adalah berkas cahaya yang agak
lemah, tetapi Harry bersyukur atas apapun yang mungkin mencerahkan kegelapan
yang dihadapinya sekarang; dia belum pernah mengalami minggu semester pertama
yang lebih buruk di Hogwarts.
Pada pukul lima sore itu dia mengetuk pintu kantor Profesor Umbridge untuk yang
diharapkannya dengan tulus terakhir kalinya, dan disuruh masuk. Perkamen kosong
sudah tergeletak siap untuknya di atas meja bertutup renda, pena bulu hitam tajam di
sebelahnya.
'Kamu tahu apa yang harus dilakukan, Mr Potter,' kata Umbridge, sambil
tersenyum manis kepadanya.
Harry memungut pena bulu itu dan memandang melalui jendela. Kalau dia
menggeser kursinya sekitar satu inci ke kanan ... berpura-pura menggeserkan dirinya
lebih dekat ke meja, dia berhasil. Sekarang dia memiliki pandangan jauh tim
Quidditch Gryffindor membumbung naik-turun di lapangan, sementara setengah lusin
figur hitam menunggu giliran mereka untuk menjaga gawang. Tidak mungkin
mengatakan yang mana Ron dari jarak ini.
Saya tidak boleh berbohong, Harry menulis. Luka sayat di punggung tangan
kanannya terbuka dan mulai berdarah lagi.
Saya tidak boleh berbohong. Luka sayat itu semakin dalam, menyengat dan perih.
Saya tidak boleh berbohong. Darah mengucur ke pergelangan tangannya.
Dia memandang sekilas lagi ke luar jendela. Siapapun yang sedang menjaga
gawang sekarang benar-benar melakukan pekerjaan yang buruk. Katie Bell mencetak
gol dua kali dalam beberapa detik yang berani ditonton Harry. Berharap sekali bahwa
Keeper itu bukan Ron, dia menjatuhkan matanya kembali ke perkamen yang berkilau
dengan darah.
Saya tidak boleh berbohong.
Saya tidak boleh berbohong.
Dia melihat ke atas kapanpun dipikirnya bisa mengambil resiko; ketika dia
mendengar gesekan pena bulu Umbridge atau dibukanya laci meja tulis. Orang ketiga
yang ikut uji coba cukup bagus, yang keempat mengerikan, yang kelima sangat
pandai menghindari Bludger tetapi lalu gagal melakukan penyelamatan mudah. Langit
semakin gelap, dan Harry ragu dia akan bisa melihat orang keenam dan ketujuh sama
sekali.
Saya tidak boleh berbohong.
Saya tidak boleh berbohong.
Perkamen itu sekarang ditetesi darah dari punggung tangannya, yang sekarang sakit
sekali. Ketika dia melihat ke atas sekali lagi, langit sudah tiba dan lapangan Quidditch
tak lagi tampak.
'Mari lihat apakah kau sudah menerima pesannya?' kata suara lembut Umbridge
setengah jam kemudian.
Dia bergerak menujunya, menjulurkan jari-jari pendeknya yang penuh cincin ke
lengannya. Dan kemudian, ketika dia memegangnya untuk memeriksa kata-kata yang
sekarang tersayat ke dalam kulitnya, rasa sakit menjalar, bukan di punggung
tangannya, tetapi di bekas luka di keningnya. Pada saat yang sama, dia merasakan
sensasi aneh di suatu tempat di rongga badannya.
Dia menyentakkan lengannya dari pegangan Umbridge dan melompat bangkit,
sambil menatapnya. Umbridge memandang balik kepadanya, sebuah senyuman
merentangkan mulutnya yang lebar dan kendur.
'Ya, sakit, bukan?' katanya dengan lembut.
Dia tidak menjawab. Jantungnya berdetak sangat keras dan cepat. Apakah dia
berbicara mengenai tangannya atau apakah dia tahu yang baru dirasakannya di
keningnya?
'Well, kurasa aku sudah menegaskan maksudku, Mr Potter. Kamu boleh pergi.'
Dia mengambil tas sekolahnya dan meninggalkan ruangan itu secepat mungkin.
Tetap tenang, katanya pada diri sendiri, selagi dia berlari cepat menaiki tangga.
Tetap tenang, artinya tidak harus seperti apa yang kaukira ...
'Mimbulus mimbletonia!' dia berkata terengah-engah kepada Nyonya Gemuk, yang
berayun ke depan seketika.
Suara ribut menderu menyambutnya. Ron datang sambil berlari ke arahnya, dengan
wajah tersenyum dan menumpahkan Butterbeer ke bagian depan tubuhnya dari piala
yang sedang digenggamnya.
'Harry, aku berhasil, aku masuk, aku Keeper!'
'Apa? Oh -- brilian!' kata Harry sambil mencoba tersenyum alami, sementara
jantungnya terus berpacu dan tangannya berdenyut-denyut dan berdarah.
'Minum Butterbeer.' Ron mendesakkan sebuah botol kepadanya. 'Aku tidak bisa
mempercayainta -- ke mana Hermione pergi?'
'Dia di sana,' kata Fred, yang juga sedang meneguk Butterbeer, dan menunjuk ke
sebuah kursi berlengan di sisi perapian. Hermione sedang tertidur di dalamnya,
minumannya miring dengan berbahaya di tangannya.
'Well, dia bilang dia senang sewaktu kuberitahu dia,' kata Ron, terlihat sedikit lesu.
'Biarkan dia tidur,' kata George dengan segera. Baru beberapa saat kemudian Harry
memperhatikan bahwa beberapa anak kelas satu yang berkumpul di sekitar mereka
memiliki tanda-tanda baru mimisan yang tidak salah lagi.
'Kemarilah, Ron, dan lihat apakah jubah Oliver cocok untukmu,' seru Katie Bell,
'kita bisa melepaskan namanya dan menempatkan namamu sebagai gantinya ...'
Ketika Ron beranjak pergi, Angelina melangkah mendatangi Harry.
'Maaf aku sedikit kasar kepadamu tadi, Potter,' katanya singkat. 'Pengelolaan ini
membuat stres, kau tahu, aku mulai berpikir kadang aku sedikit keras kepada Wood.'
Dia sedang mengamati Ron melalui tepi pialanya dengan wajah sedikit cemberut.
'Lihat, aku tahu dia sobat terbaikmu, tapi dia tidak hebat,' katanya dengan terusterang. 'Walau kukira dengan sedikit latihan dia akan baik-baik saja. Dia datang dari
keluarga pemain Quidditch bagus. Sejujurnya, aku berharap padanya untuk memiliki
bakat yang lebih sedikit dari yang diperlihatkannya hari ini. Vicky Frobisher dan
Geoffrey Hooper terbang lebih bagus malam ini, tapi Hooper tukang mengeluh, dia
selalu mengerang tentang satu hal atau yang lain, dan Vicky terlibat dengan segala
bentuk perkumpulan. Dia mengakui sendiri kalau latihan bentrok dengan Klub Jimat
dan Guna-Gunanya dia akan mendahulukan Jimat. Ngomong-ngomong, kita akan
melakukan sesi latihan pertama jam dua besok, jadi pastikan kau ada di sana kali ini.
Dan tolong aku, bantu Ron sejauh yang kau bisa, OK?'
Dia mengangguk, dan Angelina berjalan kembali ke Alicia Spinnet. Harry pindah
untuk duduk di sebelah Hermione, yang tersentak bangun ketika dia meletakkan
tasnya.
'Oh, Harry, ternyata kamu ... tentang Ron itu bagus, bukan?' katanya dengan mata
berkaca-kaca. 'Aku hanya begitu -- begitu -- begitu letih,' dia menguap. 'Aku
terbangun sampai jam satu membuat lebih banyak topi lagi. Topi-topi itu menghilang
cepat sekali!'
Dan benar juga, sekarang setelah diperhatikannya, Harry melihat bahwa tidak ada
topi wol yang tersembunyi di sekitar ruangan itu yang bisa dipungut peri-peri yang
tidak waspada.
'Bagus,' kata Harry dengan pikiran kacau; kalau dia tidak memberitahu seseorang
segera, dia akan meledak. 'Dengar, Hermione, aku baru saja di kantor Umbridge dan
dia menyentuh lenganku ...'
Hermione mendengarkan dengan seksama. Ketika Harry selesai, dia berkata
lambat-lambat, 'Kau khawatie Kau-Tahu-Siapa sedang mengendalikan dia seperti dia
mengendalikan Quirrel?'
'Well,' kata Harry sambil merendahkan suaranya, 'itu suatu kemungkinan, bukan?'
'Kukira begitu,' kata Hermione, walaupun dia terdengar tidak yakin. 'Tapi aku kira
dia tidak akan bisa merasukinya seperti cara dia merasuki Quirrel, maksudku, dia
sudah hidup kembali sekarang, bukan, dia punya tubuh sendiri, dia tidak akan perlu
berbagi tubuh orang lain. Dia bisa mengendalikannya di bawah Kutukan Imperius,
kukira ...'
Harry mengamati Fred, George dan Lee Jordan melempar-lempar botol-botol
Butterbeer kosong sejenak. Lalu Hermione berkata, 'Tapi tahun lalu bekas lukamu
sakit ketika tak seorangpun menyentuhmu, dan bukankah Dumbledore bilang ada
hubungannya dengan apa yang sedang dirasakan Kau-Tahu-Siapa saat itu? Maksudku,
mungkin ini tidak berkaitan dengan Umbridge sama sekali, mungkin cuma kebetulan
terjadi ketika kau bersama dengannya?'
'Dia jahat,' kata Harry datar. 'Sinting.'
'Dia mengerikan, ya, tapi ... Harry, kukira kau harus memberitahu Dumbledore
bekas lukamu sakit.'
Itu kedua kalinya dalam dua hari dia dinasehati untuk menjumpai Dumbledore dan
jawabannya kepada Hermione sama persis dengan jawabannya kepada Ron.
'Aku tidak akan mengganggunya dengan ini. Seperti yang baru kau katakan, bukan
masalah besar. Sudah sakit silih berganti sepanjang musim panas -- hanya agak lebih
buruk malam ini, itu saja --'
'Harry, aku yakin Dumbledore akan mau diganggu oleh ini --'
'Yeah,' kata Harry, sebelum dia bisa menghentikan dirinya sendiri, 'itu satu-satunya
bagian dariku yang dipedulikan Dumbledore, bukan, bekas lukaku?'
'Jangan bilang begitu, itu tidak benar!'
'Kukira aku akan menulis surat dan memberitahu Sirius mengenainya, lihat apa
yang dipikirkannya --'
'Harry, kau tidak bisa memasukkan hal seperti itu dalam surat!' kata Hermione,
tampak gelisah. 'Tidakkah kau ingat, Moody menyuruh kita berhati-hati akan apa
yang kita tulis! Kita cuma tidak bisa menjamin burung hantu tidak dicegat lagi!'
'Baiklah, baiklah, kalau begitu, aku tidak akan memberitahu dia!' kata Harry kesal.
Dia bangkit. 'Aku akan pergi tidur. Beritahu Ron, bisa 'kan?'
'Oh tidak,' kata Hermione, terlihat lega, 'kalau kau akan pergi itu berarti aku boleh
pergi juga, tanpa terlihat kasar. Aku benar-benar capek dan aku mau membuat
beberapa topi lagi besok. Dengar, kau bisa membantuku kalau kau mau, cukup
menyenangkan, aku semakin mahir, aku bisa membuat pola dan bola dan semua jenis
itu sekarang.'
Harry memandang wajahnya, yang bersinar gembira, dan mencoba terlihat seolaholah dia agak tergoda dengan tawaran ini.
'Er ... tidak, kukira aku tidak bisa, trims,' katanya. 'Er -- tidak besok. Aku punya
banyak peer untuk dikerjakan.'
Dan dia berjalan ke tangga anak laki-laki, meninggalkannya tampak sedikit
kecewa.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB EMPAT BELAS -Percy dan Padfoot
Harry yang pertama terbangun di kamar asramanya keesokan harinya. Dia berbaring
sejenak sambil mengamati debu beterbangan dalam cahaya matahari yang masuk
melalui celah di kelambu tempat tidur bertiang empatnya, dan menikmati pikiran
bahwa hari itu Sabtu. Minggu pertama semester itu tampaknya telah berlangsung
selamanya, seperti suatu pelajaran Sejarah Sihir besar-besaran.
Dinilai dari keheningan tidur nyenyak dan tampang segar sinar matahari itu, fajar
baru saja tiba. Dia menarik tirai di sekitar tempat tidurnya hingga terbuka, bangkit dan
mulai berpakaian. Satu-satunya suara selain kicauan burung di kejauhan adalah napas
pelan dan dalam teman-teman Gryffindornya. Dia membuka tas sekolahnya dengan
hati-hati, menarik keluar perkamen dan pena bulu dan keluar dari kamar menuju
ruang duduk.
Berjalan lurus ke kursi berlengan tua yang empuk kesukaannya di samping api
yang sekarang sudah padam, Harry duduk dengan nyaman dan membuka gulungan
perkamennya sementara memandang berkeliling ruangan itu. Sisa-sisa potongan
perkamen yang kusut, Gobstone-Gobstone tua, toples-toples bahan yang kosong dan
pembungkus-pembungkus permen yang biasanya meliputi ruang duduk di akhir hari
setiap harinya telah hilang, begitu juga topi-topi peri Hermione. Sambil bertanyatanya dengan samar berapa banyak peri yang sekarang telah dibebaskan apakah
mereka ingin ataupun tidak, Harry membuka penutup botol tintanya, mencelupkan
pena bulunya ke dalamnya, lalu memegangnya satu inci di atas permukaan
kekuningan perkamennya, sambil berpikir keras ... tetapi setelak sekitar satu menit dia
menemukan dirinya menatap ke kisi perapian yang kosong, benar-benar tidak tahu
apa yang ingin dikatakan.
Dia sekarang bisa menghargai betapa sulitnya bagi Ron dan Hermione untuk
menulis surat kepadanya sepanjang musim panas. Bagaimana dia bisa memberitahu
Sirius semua yang telah terjadi selama minggu belakangan ini dan memasukkan
semua pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan tanpa memberi para pencuri surat
potensial banyak informasi yang dia tidak ingin mereka dapatkan?
Dia duduk tak bergerak sejenak, sambil menatap ke perapian; lalu, akhirnya
mengambil keputusan, dia mencelupkan pena bulunya ke dalam botol tinta sekali lagi
dan menempatkannya dengan penuh ketetapan hati ke atas perkamen.
Dear Snuffles,
Kuharap kau OK, minggu pertama kembali ke sini mengerikan, aku benar-benar
senang sudah akhir pekan.
Kami dapat guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru, Profesor
Umbridge. Dia hampir sama
menyenangkannya dengan ibumu. Aku menulis karena hal yang kuceritakan
kepadamu musim panas lalu terjadi
lagi tadi malam ketika aku sedang dalam detensi dengan Umbridge.
Kami semua merindukan teman terbesar kami, kami harap dia akan segera
kembali.
Tolong tulis surat balasan secepatnya.
Salam,
Harry
Harry membaca ulang surat itu beberapa kali, mencoba melihat dari sudut pandang
orang luar. Dia tidak bisa melihat bagaimana mereka akan bisa tahu apa yang sedang
dia bicarakan -- atau dengan siapa dia berbicara -- hanya dari membaca surat ini. Dia
memang berharap Sirius akan mengetahui petunjuk mengenai Hagrid dan
memberitahu mereka kapan dia mungkin kembali. Harry tidak ingin bertanya
langsung kalau-kalau hal itu menarik terlalu banyak perhatian atas apa yang mungkin
sedang direncanakan Hagrid selagi dia tidak ada di Hogwarts.
Mengingat itu adalah surat yang sangat singkat, surat itu makan waktu lama untuk
ditulis; sinar matahari telah memasuki setengah dari ruangan itu selagi dia
mengerjakan surat itu dan dia sekarang bisa mendengar suara-suara pergerakan di
kejauhan dari kamar-kamar asrama di atas. Sambil menyegel perkamennya dengan
hati-hati, dia memanjat melalui lubang potret dan menuju Kandang Burung Hantu.
'Aku tidak akan pergi ke arah sana kalau aku jadi kamu,' kata Nick si KepalaNyaris-Putus, sambil melayang bingung melalui dinding tepat di depan Harry ketika
dia berjalan menyusuri gang. 'Peeves sedang merencanakan lelucon lucu pada orang
berikutnya yang melewati patung dada Paracelsus di tengah koridor.'
'Apakah melibatkan Paracelsus yang jatuh ke puncak kepala orang itu?' tanya
Harry.
'Lucunya, memang,' kata Nick si Kepala-Nyaris-Putus dengan suara bosan.
'Kerumitan memang tidak pernah menjadi kekuatan Peeves. Aku akan pergi untuk
mencoba mencari Baron Berdarah ... dia mungkin bisa menghentikannya ... sampai
jumpa, Harry.'
'Yeah, bye,' kata Harry dan bukannya belok kanan, dia membelok ke kiri,
mengambil rute yang lebih panjang tetapi lebih aman ke Kandang Burung Hantu.
Semangatnya naik ketika dia berjalan melewati jendela demi jendela yang
memperlihatkan langit biru cerah, dia akan mengikuti latihan nanti, akhirnya dia akan
kembali ke lapangan Quidditch.
Sesuatu menyenggol mata kakinya. Dia memandang ke bawah dan melihat kucing
kelabu kurus milik penjaga sekolah, Mrs Norris, sedang menyelinap melewatinya. Dia
memalingkan mata kuningnya yang seperti lampu padanya sejenak sebelum
menghilang ke balik patung Wilfred si Penuh-Harap.
'Aku tidak melakukan sesuatu yang salah,' Harry berseru kepadanya. Dia punya
hawa yang tak salah lagi milik kucing yang pergi melapor ke majikannya, walau
Harry tidak mengerti mengapa; dia sepenuhnya punya hak untuk berjalan ke Kandang
Burung Hantu pada hari Sabtu pagi.
Matahari sudah tinggi di langit sekarang dan ketika Harry memasuki Kandang
Burung Hantu jendela-jendela kaca menyilaukan matanya; sinar-sinar keperakan yang
berkabut bersilangan di ruang melingkar tempat ratusan burung hantu membaringkan
diri dalam kasau-kasau, agak tidak tenang dalam sinar pagi hari, beberapa jelas baru
kembali dari berburu. Lantai yang tertutup jerami berderak sedikit ketika dia
melangkah melewati tulang-tulang binatang kecil, sambil menjulurkan lehernya
mencari-cari Hedwig.
'Di sana kamu,' katanya sambil melihat dia di suatu tempat dekat bagian paling
puncak dari langit-langit yang berkubah. 'Turun ke sini, aku punya surat untukmu.'
Dengan uhu rendah dia membentangkan sayap-sayap putih besarnya dan
membumbung turun ke bahunya.
'Benar, aku tahu di sini tertulis Snuffles di luarnya,' katanya, sambil memberikan
surat itu untuk dikatupkan di paruhnya dan, tanpa tahu persisnya mengapa, berbisik,
'tapi itu untuk Sirius, OK?'
Dia mengedipkan matanya yang kuning sekali dan Harry menganggap itu berarti
dia mengerti.
'Kalau begitu, semoga terbang dengan selamat,' kata Harry dan dia membawanya
ke salah satu jendela; dengan tekanan sejenak di lengannya, Hedwig lepas landas ke
langit cerah yang membutakan. Dia mengamati sambil menjadi titik hitam kecil dan
menghilang, lalu mengalihkan pandangannya ke pondok Hagrid, yang tampak jelas
dari jendela ini, dan sama jelasnya tidak terhuni, cerobongnya tidak berasap, tirainya
tertutup.
Puncak pepohonan di Hutan Terlarang berayun-ayun dalam angin sepoi-sepoi.
Harry mengamati mereka, sambil menikmati udara segar di wajahnya, memikirkan
tentang Quidditch nanti ... lalu dia melihatnya. Seekor kuda bersayap besar mirip
reptil, persis seperti yang menarik kereta-kereta Hogwarts, dengan sayap-sayap hitam
kasar terbentang lebar seperti sayap pterodactyl (burung purba), naik dari pepohonan
seperti burung raksasa yang aneh. Kuda itu membumbung dalam lingkaran besar, lalu
menukik kembali ke pepohonan. Seluruhnya terjadi sangat cepat, sehingga Harry
hampir tidak bisa mempercayai apa yang telah dilihatnya, kecuali bahwa jantungnya
berdebar gila-gilaan.
Pintu Kandang Burung Hantu membuka di belakangnya. Dia melompat terkejut
dan, ketika berpaling dengan cepat, melihat Cho Chang yang sedang memegang
sepucuk surat dan sebuah bingkisan di tangannya.
'Hai,' kata Harry dengan otomatis.
'Oh ... hai,' katanya terengah-engah. 'Aku tidak mengira ada orang yang sudah
berada di atas sini sepagi ini ... aku baru ingat lima menit yang lalu, ini hari ulang
tahun ibuku.'
Dia mengangkat bingkisannya.
'Benar,' kata Harry. Otaknya seperti macet. Dia ingin mengatakan sesuatu yang
lucu dan menarik, tetapi ingatan tentang kuda bersayap yang mengerikan itu masih
segar dalam pikirannya.
'Hari yang indah,' katanya sambil memberi isyarat ke jendela. Isi tubuhnya
sepertinya telah mengerut akibat rasa malu. Cuaca. Dia berbicara mengenai cuaca ...
'Yeah,' kata Cho, sambil memandang berkeliling mencari burung hantu yang sesuai.
'Kondisi Quidditch yang bagus. Aku belum keluar selama seminggu, kalau kamu?'
'Belum,' kata Harry.
Cho telah memilih salah satu burung hantu sekolah. Dia membujuknya turun ke
lengannya di mana burung itu menjulurkan kaki dengan patuh sehingga dia bisa
mengikatkan bingkisannya.
'Hei, apakah Gryffindor sudah punya Keeper baru?' tanyanya.
'Yeah,' kata Harry. 'Temanku Ron Weasley, kau kenal dia?'
'Si Pembenci-Tornado?' kata Cho agak dingin. 'Apakah mainnya bagus?'
'Yeah,' kata Harry. 'Kukira begitu. Walau aku tidak melihat ujicobanya, aku sedang
dalam detensi.'
Cho memandang ke atas, bingkisan itu baru setengah terikat ke kaki burung hantu.
'Wanita Umbridge itu jahat,' katanya dengan suara rendah. 'Memberimu detensi
hanya karena kamu mengatakan yang sebenarnya tentang bagaimana -- bagaimana -bagaimana dia mati. Semua orang mendengar hal itu, sudah menyebar ke seluruh
sekolah. Kamu benar-benar berani menghadapi dia seperti itu.'
Isi tubuh Harry mengembang kembali begitu cepat sehingga dia merasa seolah-olah
dia bisa melayang beberapa inci dari lantai yang bertebaran kotoran itu. Siapa yang
peduli tentang kuda terbang bodoh, Cho mengira dia benar-benar berani. Sejenak, dia
mempertimbangkan untuk memperlihatkan kepadanya secara tidak sengaja (yang
disengaja) tangannya yang terluka selagi dia membantunya mengikat bingkisannya ke
burung hantu ... tetapi tepat saat pikiran menggetarkan itu muncul pintu Kandang
Burung Hantu terbuka lagi.
Filch si penjaga sekolah masuk sambil mendesah ke dalam ruangan itu. Ada rona
ungu di pipinya yang cekung dan penuh urat halus, daging di bawah dagunya bergetar
dan rambut kelabunya yang tipis acak-acakan; dia jelas berlari ke sini. Mrs Norris
berderap di belakangnya, sambil menatap ke atas kepada burung-burung hantu di atas
kepala dan mengeong lapar. Ada gerakan-gerakan sayap yang tidak tenang dari atas
dan seekor burung hantu cokelat besar mengatupkan paruhnya dengan gaya
mengancam.
'Aha!' kata Filch, sambil mengambil langkah menuju Harry, pipinya yang
berkantung bergetar karena marah. 'Aku dapat kisikan bahwa kamu bermaksud
memesan Bom Kotoran dalam jumlah besar.'
Harry melipat lengannya dan menatap penjaga sekolah itu.
'Siapa yang memberitahumu aku sedang memesan Bom Kotoran?'
Cho memandang dari Harry kepada Filch, juga merengut, burung hantu di
lengannya, capek berdiri dengan satu kaki, memberi uhu menegur, tetapi dia
mengabaikannya.
'Aku punya sumber-sumberku,' kata Filch dalam desis puas diri. 'Sekarang serahkan
apapun yang sedang kau kirim.'
Sambil merasa sangat bersyukur dia tidak berlama-lama mengeposkan suara itu,
Harry berkata, 'Aku tidak bisa, sudah pergi.'
'Pergi?' kata Filch, air mukanya berubah karena marah.
'Pergi,' kata Harry dengan tenang.
Filch membuka mulutnya dengan marah, menggerak-gerakkan mulut tanpa suara
selama beberapa detik, lalu menyisiri jubah Harry dengan matanya.
'Bagaimana aku tahu kau tidak menyimpannya di kantongmu?'
'Karena --'
'Aku melihatnya mengirimkan surat itu,' kata Cho dengan marah.
Filch memberondong dia.
'Kau melihatnya --?'
'Itu benar, aku melihatnya,' katanya dengan garang.
Ada jeda sejenak di mana Filch melotot kepada Cho dan Cho melotot balik, lalu si
penjaga sekolah membalikkan badannya dan berjalan dengan kaki terseret menuju
pintu. Dia berhenti dengan tangan di pegangan pintu dan memandang balik kepada
Harry.
'Kalau kutemukan seendus saja Bom Kotoran --'
Dia terseok-seok menuruni tangga. Mrs Norris memandang penuh keinginan pada
burung-burung hantu dan mengikuti dia.
Harry dan Cho saling berpandangan.
'Trims,' Harry berkata.
'Tidak masalah,' kata Cho, akhirnya mengikatkan bingkisan ke kaki burung hantu
itu yang sebuah lagi, wajahnya sedikit merona merah muda. 'Kau tidak sedang
memesan Bom Kotoran, bukan?'
'Tidak,' kata Harry.
'Aku ingin tahu mengapa dia mengira begitu?' katanya selagi dia membawa burung
hantu itu ke jendela.
Harry mengangkat bahu. Dia sama bingungnya dengan Cho, walaupun anehnya hal
itu tidak terlalu mengganggunya saat ini.
Mereka meninggalkan Kandang Burung Hantu bersama-sama. Di pintu masuk
koridor yang menuju sayap barat kastil itu, Cho berkata, 'Aku akan ke arah sini. Well,
aku ... jumpa lagi, Harry.'
'Yeah ... sampai jumpa.'
Dia tersenyum kepadanya dan pergi. Harry berjalan terus, diam-diam merasa sangat
gembira. Dia telah berhasil mengadakan percakapan penuh dengannya dan tidak
mempermalukan dirinya sendiri sekalipun ... kamu benar-benar berani menghadapi
dia seperti itu ... Cho telah menyebutnya berani ... dia tidak membencinya karena
selamat.
Tentu saja, dia dulu lebih memilih Cedric, Harry tahu itu ... walaupun kalau dia
mengajaknya ke Pesta sebelum Cedric, keadaan mungkin akan lain ... dia tampak
tulus menyesali bahwa dia harus menolak ketika Harry mengajaknya ...
'Pagi,' Harry berkata dengan ceria kepada Ron dan Hermione ketika dia bergabung
dengan mereka di meja Gryffindor di Aula Besar.
'Kenapa kau terlihat sangat senang?' kata Ron sambil melirik Harry dengan
terkejut.
'Erm ... Quidditch nanti,' kata Harry dengan gembira, sambil menarik sepiring besar
daging asin dan telur ke arahnya.
'Oh ... yeah ...' kata Ron. Dia meletakkan potongan roti panggang yang sedang
dimakannya dan meneguk jus labu banyak-banyak. Lalu dia berkata, 'Dengar ... kau
tidak mau pergi lebih pagi denganku? Cuma untuk -- er -- memberiku sedikit praktek
sebelum latihan? Supaya aku bisa, kau tahu, lebih siap.'
'Yeah, OK,' kata Harry.
'Lihat, kukira kalian tidak perlu begitu,' kata Hermione dengan serius. 'Kalian
berdua benar-benar sudah ketinggalan peer seperti --'
Tetapi dia berhenti di tengah kalimat; pos pagi telah tiba dan, seperti biasa, Daily
Prophet membumbung ke arahnya dalam paruh seekor burung hantu pekik, yang
mendarat dekat dengan mangkuk gula dan mengulurkan kakinya. Hermione
memasukkan satu Knut ke dalam kantong kulitnya, mengambil surat kabar itu, dan
membaca cepat halaman depan dengan kritis selagi burung hantu itu lepas landas.
'Ada yang menarik?' kata Ron. Harry nyengir, tahu Ron ingin menjauhkannya dari
subyek peer.
'Tidak,' dia menghela napas, 'cuma beberapa bantahan tentang pemain bas di Weird
Sisters akan menikah.'
Hermione membuka surat kabar itu dan menghilang ke baliknya. Harry
mencurahkan dirinya untuk makan telur dan daging asin lagi. Ron sedang menatap ke
atas ke jendela-jendela yang tinggi, terlihat sedikit khusyuk.
'Tunggu sebentar,' kata Hermione tiba-tiba. 'Oh tidak ... Sirius!'
'Apa yang terjadi?' kata Harry, sambil merampas surat kabar itu dengan sangat
kasar sehingga robek di bagian tengah, dia dan Hermione masing-masing memegang
satu bagian.
'"Kementerian Sihir telah menerima kisikan dari sumber yang dapat dipercaya
bahwa Sirius Black, pembunuh masal terkenal ... blah blah blah .. sekarang sedang
bersembunyi di London!"' Hermione membaca dari bagiannya dengan bisikan sedih.
'Lucius Malfoy aku akan bertaruh apapun,' kata Harry dengan suara rendah penuh
kemarahan. 'Dia memang mengenali Sirius di peron ...'
'Apa?' kata Ron, terlihat khawatir. 'Kau tidak bilang --'
'Shh!' kata dua yang lain.
'... "Kementerian memperingatkan komunitas penyihir bahwa Black sangat
berbahaya ... membunuh tiga belas orang ... melarikan diri dari Azkaban ..." sampah
yang biasa,' Hermione menyimpulkan, sambil meletakkan bagian korannya dan
memandang Harry dan Ron dengan takut. 'Well, dia hanya tidak bisa meninggalkan
rumah lagi, itu saja,' bisiknya. 'Dumbledore memang memperingatkannya tidak
berbuat begitu.'
Harry memandang dengan murung potongan Prophet yang telah dirobeknya.
Sebagian besar dari halaman itu dicurahkan untuk iklan Jubah Madam Malkins untuk
Segala Kesempatan, yang tampaknya sedang mengadakan obral.
'Hei!' katanya, sambil meratakannya sehingga Ron dan Hermione bisa melihatnya.
'Lihat ini!'
'Aku sudah punya semua jubah yang kuinginkan,' kata Ron.
'Bukan,' kata Harry. 'Lihat ... berita kecil di sini ...'
Ron dan Hermione membungkuk lebih dekat untuk membacanya; benda itu hampir
tidak sepanjang satu inci dan terletak tepat di dasar sebuah kolom. Diberi judul:
MASUK TANPA IZIN DI KEMENTERIAN
Sturgis Podmore, 38, dari Laburnum Gardens nomor dua, Clapham, telah muncul
di depan Wizengamot atas tuduhan masuk tanpa izin dan percobaan perampokan di
Kementerian Sihir pada tanggal 31 Agusutus. Podmore ditangkap oleh penyihir
penjaga Kementerian Sihir Eric Munch, yang menemukannya mencoba memaksa
masuk ke pintu dengan penjagaan ketat pada pukul satu pagi. Podmore, yang menolak
berbicara untuk pembelaan dirinya, dinyatakan bersalah atas kedua tuntutan tersebut
dan dihukum enam bulan di Azkaban.
'Sturgis Podmore?' kata Ron lambat-lambat. 'Dia pria yang terlihat seperti
kepalanya telah lalang, bukan? Dia salah satu dari Ord--'
'Ron, shh!' kata Hermione, sambil memandang ke sekitar mereka dengan ketakutan.
'Enam bulan di Azkaban!' bisik Harry, terguncang. 'Hanya karena mencoba
melewati sebuah pintu!'
'Jangan bodoh, bukan cuma karena mencoba melewati sebuah pintu. Apa yang
sedang dilakukannya di Kementerian Sihir pada pukul satu pagi?' Hermione berkata
cepat.
'Menurutmu dia sedang melakukan sesuatu untuk Order?' Ron bergumam.
'Tunggu sebentar ...' kata Harry lambat-lambat. 'Sturgis seharusnya datang dan
mengantar kita, ingat?'
Dua yang lain memandangnya.
'Yeah, dia seharusnya menjadi bagian dalam pengawalan kita pergi ke King's
Cross, ingat? Dan Moody sangat jengkel karena dia tidak muncul; jadi dia tidak
mungkin sedang mengerjakan tugas untuk mereka, bukan?'
'Well, mungkin mereka tidak berharap dia tertangkap,' kata Hermione.
'Mungkin jebakan!' Ron berseru dengan bersemangat. 'Tidak -- dengarkan!' dia
melanjutkan, sambil merendahkan suaranya dengan dramatis melihat tampang
mengancam Hermione. 'Kementerian mencurigai dia salah satu dari kelompok
Dumbledore jadi -- aku tak tahu -- mereka memikatnya ke Kementerian, dan dia tidak
sedang mencoba melewati pintu sama sekali! Mungkin mereka cuma mengarang
sesuatu untuk mendapatkan dia!'
Ada jeda selagi Harry dan Hermione mempertimbangkan ini. Harry mengira ini
tampak terlalu berlebihan. Hermione, di sisi lain, terlihat agak terkesan.
'Tahukah kau, aku tidak akan terkejut sama sekali kalau itu benar.'
Dia melipat bagian surat kabarnya sambil berpikir. Ketika Harry meletakkan pisau
dan garpunya, dia tampak keluar dari lamunan.
'Benar, well, kukira pertama kita harus mengerjakan esai untuk Sprout mengenai
semak pupuk-sendiri dan kalau kita beruntung kita akan bisa memulai Mantera
Inanimatus Conjurus McGonagall sebelum makan siang ...'
Harry merasakan sedikit rasa bersalah ketika memikirkan tumpukan pekerjaan
rumah yang sedang menantinya di atas, tapi langit biru cerah, dan dia belum naik
Fireboltnya selama seminggu ...
'Maksudku, kita bisa mengerjakannya malam ini,' kata Ron, selagi dia dan Harry
berjalan menyusuri halaman yang landari menuju lapangan Quidditch, sapu mereka di
atas bahu, dan dengan peringatan menakutkan Hermione bahwa mereka akan gagal di
OWL mereka yang masih terngiang di telinga mereka. 'Dan kita punya besok. Dia
terlalu tegang tentang pekerjaan, itu masalahnya ...' Ada jeda dan dia menambahkan,
dengan nada sedikit lebih cemas, 'Apa kaukira dia sungguh-sungguh ketika dia bilang
kita tidak boleh menyalin darinya?'
'Yeah,' kata Harry. 'Tetap saja, ini juga penting, kita harus berlatih kalau kita mau
tetap berada dalam tim Quidditch ...'
'Yeah, itu benar,' kata Ron, dengan nada berbesar hati. 'Dan kita punya banyak
waktu untuk melakukan itu semua ...'
Selagi mereka mendekati lapangan Quidditch, Harry memandang sekilas ke sebelah
kanannya di mana pohon-pohon Hutan Terlarang berayun dengan suram. Tak ada
yang terbang keluar dari pepohonan itu; langit kosong kecuali beberapa burung hantu
di kejauhan yang sedang mengitari menara Kandang Burung Hantu. Dia sudah punya
cukup yang dikhawatirkan; kuda terbang itu tidak akan membahayakannya; dia
mendorongnya keluar dari pikirannya.
Mereka mengumpulkan bola-bola dari lemari di kamar ganti dan mulai bekerja,
Ron menjaga ketiga gawang tinggi, Harry bermain sebagai Chaser dan mencoba
membawa Quaffle melewati Ron. Harry berpikir Ron cukup bagus; dia menahan tiga
perempat gol yang diusahakan Harry untuk melewatinya. dan bermain semakin bagus
semakin lama mereka berlatih. Setelah beberapa jam mereka kembali ke kastil untuk
makan siang -- di mana Hermione memperjelas bahwa menurutnya mereka tidak
bertanggung jawab -- lalu kembali ke lapangan Quidditch untuk sesi latihan
sebenarnya. Semua anggota tim mereka kecuali Angelina sudah berada di kamar ganti
ketika mereka masuk.
'Baik-baik saja, Ron?' kata George sambil berkedip kepadanya.
'Yeah,' kata Ron, yang lebih pendiam dan semakin pendiam sepanjang jalan ke
lapangan.
'Siap pamer kepada kami semua, Prefek Ickle?' kata Fred, muncul dengan rambut
kusut dari bagian leher jubah Quidditchnya, dengan seringai agak licik di wajahnya.
'Diamlah,' kata Ron, dengan wajah kaku, sambil menarik jubah timnya sendiri
untuk pertama kalinya. Jubah itu pas sekali untuknya mengingat dulu milik Oliver,
yang bahunya agak lebar.
'OK, semuanya,' kata Angelina, masuk dari kantor Kapten, sudah berganti pakaian.
'Ayo ke sana; Alicia dan Fred, kalau kalian bisa membawa peti bola untuk kami. Oh,
dan ada sejumlah orang di luar sana yang mengamati tapi aku mau kalian
mengabaikan mereka, oke?'
Sesuatu dalam suaranya yang seharusnya biasa membuat Harry mengira dia
mungkin tahu siapa penonton tidak diundang itu, dan jelas saja, ketika mereka
meninggalkan ruang ganti ke lapangan yang penuh sinar matahari cerah lapangan itu
diliputi ejekan dan cemoohan dari tim Quidditch Slytherin dan beragam pengikut,
yang berkelompok di tengah-tengah tribun yang kosong dan yang suaranya
menggema dengan keras ke sekeliling stadium.
'Apa yang sedang dinaiki Weasley?' Malfoy berseru dengan suara mengejeknya
yang dipanjang-panjangkan. 'Kenapa ada orang yang mau menaruh mantera terbang
ke kayu tua berjamur seperti itu?'
Crabbe, Goyle dan Pansy Parkinson tertawa terbahak-bahak dan menjerit dengan
tawa. Ron menaiki sapunya dan naik dari tanah dan Harry mengikutinya sambil
mengamati telinganya berubah menjadi merah dari belakang.
'Abaikan mereka,' katanya, sambil menambah kecepatan untuk mengejar Ron, 'kita
akan lihat siapa yang tertawa setelah kita bertanding dengan mereka ...'
'Persis sikap yang kumau, Harry,' kata Angelina menyetujui, sambil membumbung
di sekitar mereka dengan Quaffle di bawah lengannya dan melambat untuk melayang
di tempat di depan tim udaranya. 'OK, semuanya, kita akan mulai dengan beberapa
pas hanya untuk pemanasan, seluruh tim tolong --'
'Hei, Johnson, ada apa dengan gaya rambut itu?' teriak Pansy Parkinson dari bawah.
'Kenapa ada orang yang mau terlihat seperti mereka punya cacing keluar dari kepala
mereka?'
Angelina menyapukan rambut panjangnya yang dikepang kecil-kecil dari wajahnya
dan meneruskan dengan tenang, 'Kalau begitu berpencar, dan mari lihat apa yang bisa
kita lakukan ...'
Harry mundur menjauh dari yang lain ke sisi jauh dari lapangan itu. Ron mundur
menuju gawang di seberang. Angelina mengangkat Quaffle dengan satu tangan dan
melemparkannya keras-keras kepada Fred, yang memberikan kepada George, yang
memberikan kepada Harry, yang memberikan kepada Ron, yang menjatuhkannya.
Anak-anak Slytherin, dipimpin oleh Malfoy, meraung dan memekik dengan tawa.
Ron, yang telah meluncur ke tanah untuk menangkap Quaffle itu sebelu mendarat,
menghentikan tukikannya dengan tidak teratur, sehingga dia selip ke samping di
sapunya, dan kembali ke tinggi permainan sambil merona. Harry melihat Fred dan
George saling berpandangan, tetapi tidak biasanya tak satupun dari mereka
mengatakan apa-apa, sehingga dia bersyukur.
'Berikan, Ron,' seru Angelina, seakan-akan tidak ada yang terjadi.
Ron melemparkan Quaffle itu kepada Alicia, yang memberikan kembali kepada
Harry, yang memberikan kepada George ...
'Hei, Potter, bagaimana rasanya bekas lukamu?' seru Malfoy. 'Yakin kau tidak perlu
berbaring? Pastilah, apa, sudah seminggu penuh sejah kau berada di sayap rumah
sakit, itu rekor bagimu, bukan?'
George memberikan bola kepada Angelina; dia memberikan balik kepada Harry,
yang tidak menduga, tetapi menangkapnya dengan ujung-ujung jarinya dan
memberikan dengan cepat kepada Ron, yang menyerbunya tetapi gagal karena
beberapa inci.
'Ayolah, Ron,' kata Angelina dengan jengkel, ketika dia menukik ke tanah lagi,
mengejar Quaffle itu. 'Pusatkan perhatian.'
Sulit mengatakan apakah wajah Ron atau Quaffle itu lebih merah ketika dia
kembali lagi ke tinggi permainan. Malfoy dan tim Slytherin lainnya sedang melolong
tertawa.
Pada usaha ketiganya, Ron menangkap Quaffle itu; mungkin karena lega dia
memberikannya dengan sangat antuasias sehingga bola itu membumbung lurus
melalui tangan-tangan terentang Katie dan menghantamnya dengan keras di wajah.
'Sori!' Ron mengerang, sambil meluncur ke depan untuk melihat apakah dia telah
mengakibatkan luka.
'Kembali ke posisi, dia baik-baik saja!' gertak Angelina. 'Tapi karena kau
memberikan kepada kawan satu tim, jangan mencoba menjatuhkannya dari sapunya,
bisa 'kan? Kita punya Bludger untuk itu!'
Hidung Katie berdarah. Di bawah, anak-anak Slytherin mengentakkan kaki mereka
dan mengejek. Fred dan George mendatangi Katie.
'Ini, makan ini,' Fred menyuruhnya, sambil menyerahkan sesuatu yang kecil dan
ungu dari kantongnya, 'ini akan membersihkannya dalam waktu singkat.'
'Baiklah,' seru Angelina, 'Fred, George, pergi dan ambil pemukul kalian dan sebuah
Bludger. Ron, pergi ke gawang. Harry, lepaskan Snitch ketika kubilang. Kita akan
membidik gawang Ron, tentu saja.'
Harry meluncur mengikuti si kembar untuk mengambil Snitch.
'Ron membuat dirinya tampak seperti orang tolol, bukan?' gumam George, ketika
mereka bertiga mendarat di peti yang berisi bola-bola itu dan membukanya untuk
mengeluarkan salah satu Bludger dan Snitch.
'Dia cuma gugup,' kata Harry, 'dia baik-baik saja ketika aku berlatih dengannya
pagi ini.'
'Yeah, well, kuharap dia tidak mencapai puncak terlalu cepat,' kata Fred dengan
murung.
Mereka kembali ke udara. Ketika Angelina meniup peluitnya, Harry melepaskan
Snitch dan Fred dan George membiarkan Bludger terbang. Semenjak itu, Harry
hampir tidak sadar apa yang sedang dilakukan yang lainnya. Tugasnya adalah
menangkap kembali bola keemasan kecil yang terbang ke sana kemari yang berharga
seratus lima puluh poin bagi tim Seeker tersebut dan melakukan hal ini membutuhkan
kecepatan dan keahlian yang tinggi. Dia menambah kecepatan, bergelung dan
mengelak dari para Chaser, udara musim gugur yang hangat memecut wajahnya, dan
teriakan-teriakan anak-anak Slytherin di kejauhan meraung sama sekali tidak berarti
di telinganya ... tapi terlalu cepat, peluit membuatnya berhenti lagi.
'Stop -- stop -- STOP!' teriak Angelina. 'Ron -- kamu tidak melindungi pos
tengahmu!'
Harry memandang kepada Ron, yang sedang melayang di depan gawang kiri,
meninggalkan dua yang lain sepenuhnya tidak terjaga.
'Oh ... sori ...'
'Kau terus bergerak ke sekitar sementara kamu memperhatikan para Chaser!' kata
Angelina. 'Tetaplah di tengah posisi sampai kau harus pindah untuk menjaga gawang,
atau kitari gawang, tapi jangan terlalu condong ke satu sisi, begitulah caranya kau
membiarkan tiga gol terakhir masuk!'
'Sori ...' Ron mengulangi, wajahnya yang merah berkilat seperti menara api di
langit biru cerah itu.
'Dan Katie, tidak bisakah kau lakukan sesuatu tentang mimisan itu?'
'Terus saja memburuk!' kata Katie dengan parau, sambil mencoba memutuskan
alirannya dengan lengan bajunya.
Harry memandang kepada Fred, yang terlihat cemas dan memeriksa kantongnya.
Dia melihat Fred menarik keluar sesuatu yang ungu, memeriksanya sejenak dan lalu
memandang kepada Katie, jelas terperanjat.
'Well, mari coba lagi,' kata Angelina. Dia mengabaikan anak-anak Slytherion, yang
sekarang telah menyanyikan 'Gryffindor adalah pecundang, Gryffindor adalah
pecundang,' tetapi walau begitu ada kekakuan tertentu dalam cara duduknya di sapu.
Kali ini mereka belum lagi terbang selama tiga menit ketika peluit Angelina
berbunyi. Harry, yang baru saja melihat Snitch mengitari tiang gawang seberang,
menarik diri sambil merasa sedih.
'Apa sekarang?' katanya dengan tidak sabar kepada Alicia, yang paling dekat.
'Katie,' katanya singkat.
Harry berpaling dan melihat Angelina, Fred dan George semuanya terbang secepat
mereka bisa menuju Katie. Harry dan Alicia bergegas ke arahnya juga. Jelas Angelina
telah menghentikan latihan tepat waktu, Katie sekarang seputih kapur dan penuh
darah.
'Dia perlu sayap rumah sakit,' kata Angelina.
'Kami akan membawanya,' kata Fred. 'Dia -- er -- mungkin telah salah menelan
Kacang Darah --'
'Well, tak ada gunanya melanjutkan tanpa Beater dan seorang Chaser,' kata
Angelina dengan murung ketika Fred dan George meluncur menuju kastil sambil
menyokong Katie di antara mereka. 'Ayolah, mari pergi dan berganti pakaian.'
Anak-anak Slytherin terus bernyanyi ketika mereka kembali ke ruang ganti.
'Bagaimana latihannya?' tanya Hermione agak dingin setengah jam kemudian,
ketika Harry dan Ron memanjat melalui lubang potret ke dalam ruang duduk
Gryffindor.
'Latihannya --' Harry mulai.
'Benar-benar buruk,' kata Ron dengan suara hampa, sambil membenamkan diri ke
sebuah kursi di samping Hermione. Dia memandang kepada Ron dan kebekuannya
tampak mencair.
'Well, itu baru latihan pertamamu,' katanya menenangkan, 'perlu waktu untuk --'
'Siapa bilang aku yang membuatnya buruk?' sambar Ron.
'Tak seorangpun,' kata Hermione, terlihat terkejut, 'kukira --'
'Kaukira aku pasti sampah?'
'Tidak, tentu saja tidak! Lihat, kau bilang buruk jadi aku hanya --'
'Aku akan mulai mengerjakan beberapa peer,' kata Ron dengan marah dan
mengentakkan kaki ke tangga menuju kamar anak laki-laki dan menghilang dari
pandangan. Hermione berpaling kepada Harry.
'Apakah mainnya buruk?'
'Tidak,' kata Harry dengan setia.
Hermione mengangkat alisnya.
'Well, kukira dia bisa bermain lebih bagus,' Harry bergumam, 'tapi baru sesi latihan
pertama, seperti yang kau bilang ...'
Baik Harry maupun Ron tampaknya tidak membuat banyak kemajuan dengan
pekerjaan rumah mereka malam itu. Harry tahu Ron terlalu disibukkan oleh betapa
buruknya penampilannya dalam latihan Quidditch itu dan dia sendiri mendapat
kesulitan mengeluarkan nyanyian 'Gryffindor adalah pecundang' dari kepalanya.
Mereka menghabiskan seluruh hari Minggu di ruang duduk, terbenam dalam bukubuku mereka sementara ruangan di sekitar mereka terisi, lalu kosong. Itu adalah hari
lain yang cerah dan indah dan kebanyakan teman Gryffindor mereka menghabiskan
hari itu di halaman, menikmati apa yang mungkin menjadi salah satu di antara sinar
matahari terakhir tahun itu. Malamnya, Harry merasa seolah-olah seseorang telah
memukuli otaknya ke bagian dalam tengkoraknya.
'Kau tahu, kita mungkin seharusnya mencoba menyelesaikan lebih banyak peer
sepanjang minggu,' Harry bergumam kepada Ron, ketika mereka akhirnya menaruh
ke samping esai panjang Profesor McGonagall mengenai Mantera Inanimatus
Conjurus dan berpaling dengan menderita ke esai Profesor Sinistra yang sama
panjang dan sulitnya mengenai bulan-bulan Jupiter yang banyak.
'Yeah,' kata Ron, sambil menggosok matanya yang agak merah dan melemparkan
potongan perkamen rusaknya yang kelima ke dalam api di samping mereka. 'Dengar
... apakah kita bertanya saja kepada Hermione kalau kita boleh melihat apa yang telah
dikerjakannya?'
Harry memandang sekilas ke arahnya, dia sedang duduk dengan Crookshanks di
pangkuannya dan berbincang-bincang dengan riang kepada Ginny selagi sepasang
jarum rajut berkelip di tengah udara di depannya, sekarang sedang merajut sepasang
kaus kaki peri yang tidak berbentuk.
'Tidak,' katanya dengan berat, 'kau tahu dia tidak akan memperbolehkan kita.'
Dan begitulah mereka bekerja terus sementara langit di luar jendela menjadi
semakin gelap. Lambat laun, kerumunan orang di ruang duduk mulai menipis lagi.
Pada pukul sebelas setengah, Hermione berjalan ke arah mereka, sambil menguap.
'Hampir selesai?'
'Tidak,' kata Ron dengan singkat.
'Bulan terbesar Jupiter adalah Ganymede, bukan Callisto,' katanya menunjuk
melewati bahu Ron ke sebuah baris di esai Astronominya, 'dan Io yang punya
gunung-gunung berapi.'
'Trims,' geram Ron, sambil menggores kalimat-kalimat yang salah.
'Sori, aku hanya --'
'Yeah, well, kalau kau datang ke sini hanya untuk mengkritik --'
'Ron --'
'Aku tidak punya waktu untuk mendengar ceramah, oke, Hermione, aku sudah
tenggelam sampai leherku di sini --'
'Tidak -- lihat!'
Hermione sedang menunjuk ke jendela terdekat. Harry dan Ron keduanya
memandang ke sana. Seekor burung hantu pekik yang indah sedang berdiri di ambang
jendela, menatap ke dalam ruangan kepada Ron.
'Bukankah itu Hermes?' kata Hermione, terdengar heran.
'Astaga, memang!' kata Ron pelan, sambil melemparkan pena bulunya dan bangkit.
'Untuk apa Percy menulis surat kepadaku?'
Dia menyeberang ke jendela dan membukanya; Hermes terbang masuk, mendarat
ke esai Ron dan menjulurkan kakinya yang berikatkan surat. Ron mengambil surat itu
dan burung hantu itu berangkat seketika, meninggalkan bekas kaki bertinta di gambar
bulan Io milik Ron.
'Ini jelas tulisan tangan Percy,' kata Ron, sambil terbenam kembali ke dalam
kursinya dan menatap kata-kata di bagian luar perkamen itu: Ronald Weasley,
Asrama Gryfindor, Hogwarts. Dia memandang kedua orang yang lain. 'Bagaimana
menurut kalian?'
'Bukalah!' kata Hermione penuh semangat, dan Harry mengangguk.
Ron membuka gulungan itu dan mulai membaca. Semakin matanya bergerak ke
bawah dari perkamen itu, semakin terlihat cemberutnya. Ketika dia telah selesai
membaca, dia terlihat jijik. Dia menyorongkan surat itu kepada Harry dan Hermione,
yang mencondongkan badan kepada satu sama lain untuk membacanya bersama.
Dear Ron,
Aku baru saja dengar (tidak kurang dari Menteri Sihir sendiri, yang
mendengarnya dari guru barumu, Profesor
Umbridge) bahwa kamu telah menjadi seorang prefek Hogwarts.
Aku mendapat kejutan yang sangat menyenangkan ketika aku mendengar kabar
ini dan harus menawarkan
ucapan selamat dariku. Aku harus mengakui bahwa aku selalu takut kau akan
mengambil apa yang kami sebut
jalan 'Fred dan George', bukannya mengikuti langkahku, sehingga kau bisa
membayangkan perasaanku ketika
mendengar kau telah berhenti melawan pihak berkuasa dan telah memutuskan
untuk menanggung beberapa tanggung
jawab nyata.
Tapi aku ingin memberimu lebih dari ucapan selamat, Ron, aku ingin
memberimu sedikit nasehat, itulah
sebabnya aku mengirimkan ini malam hari bukannya dengan pos pagi yang biasa.
Harapanku, kau akan bisa
membaca ini jauh-jauh dari mata yang mengintip dan menghindari pertanyaanpertanyaan tidak mengenakkan.
Dari sesuatu yang terceplos oleh Menteri ketika memberitahuku kau sekarang
seorang prefek, kudapati bahwa
kau masih sering berjumpa dengan Harry Potter. Aku harus memberitahumu, Ron,
bahwa tak ada apapun yang bisa
menempatkanmu dalam bahaya kehilangan lencanamu lebih daripada persahabatan
yang diteruskan dengan anak
itu. Ya, aku yakin kau terkejut mendengar ini -- tidak diragukan lagi kau akan
bilang bahwa Potter selalu menjadi
anak kesayangan Dumbledore -- tapi aku merasa harus memberitahumu bahwa
Dumbledore mungkin tidak akan
memimpin Hogwarts lebih lama lagi dan orang-orang yang penting memiliki
pandangan lain -- dan mungkin lebih
akurat -- mengenai perilaku Potter. Aku tidak akan mengatakan lebih banyak lagi di
sini, tapi kalau kau baca di
Daily Prophet besok kau akan dapat gagasan bagus mengenai arah tiupan angin -dan lihat apakah kau bisa
menemukan arah anginmu!
Serius, Ron, kau tidak mau dikelompokkan bersama dengan Potter, bisa sangat
merusak prospek masa depanmu,
dan aku membicarakan tentang kehidupan sehabis sekolah juga. Seperti yang pasti
kau sadari, mengingat ayah kita
mengantarnya ke sidang, Potter mengikuti dengar pendapat kedisiplinan musim
panas ini di depan seluruh
Wizengamot dan dia tidak lolos dengan tampang terlalu bagus. Dia lolos hanya
karena soal teknis, kalau kau tanya
aku, dan banyak orang yang telah berbicara denganku tetap yakin akan
kesalahannya.
Mungkin kau takut putus hubungan dengan Potter -- aku tahu dia bisa jadi tidak
seimbang dan, sejauh yang
kutahu, bengis -- tapi kalau kau punya kekhawatiran apapun mengenai ini, atau
telah menemukan hal lain dalam
perilaku Potter yang menyusahkanmu, kudorong kamu untuk berbicara kepada
Dolores Umbridge, seorang wanita
yang sangat menyenangkan yang kutahu hanya akan senang sekali untuk
memberimu nasehat.
Ini membawaku pada nasehatku yang lain. Seperti yang telah kuisyaratkan di
atas, rezim Dumbledore di
Hogwarts mungkin akan segera berakhir. Kesetiaanmu, Ron, seharusnya tidak
kepada dia, tetapi kepada sekolah
dan Kementerian. Aku sangat menyesal mendengar bahwa, sejauh ini, Profesor
Umbridge menghadapi kerja sama
yang sangat sedikit dari para staf sementara dia berjuang untuk membuat
perubahan-perubahan yang dibutuhkan itu
di dalam Hogwarts yang sangat diinginkan Menteri (walaupun dia seharusnya akan
mendapati hal ini lebih mudah
semenjak minggu depan -- sekali lagi, baca Daily Prophet besok!). Aku hanya akan
mengatakan ini -- seorang murid
yang memperlihatkan dirinya bersedia membantu Profesor Umbridge sekarang
mungkin akan mendapat tempat
sepantasnya menjadi Ketua Murid dalam beberapa tahun!
Aku menyesal aku tidak dapat bertemu denganmu lebih sering di musim panas.
Menyakitkan bagiku untuk
mengkritik orang tua kita, tapi aku takut aku tidak bisa lagi tinggal di bawah atap
mereka sementara mereka terus
berkumpul dengan kerumunan berbahaya di sekitar Dumbledore. (Kalau kau
menulis surat kepada Ibu kapanpun,
kau bisa memberitahunya bahwa seorang Sturgis Podmore tertentu, yang
merupakan teman akrab Dumbledore,
baru-baru ini telah dikirim ke Azkaban karena masuk tanpa izin ke Kementerian.
Mungkin itu akan membuka
mata mereka akan jenis kriminal rendahan yang dekat dengan mereka sekarang ini.)
Aku menganggap diriku sendiri
beruntung karena lolos dari noda pergaulan dengan orang-orang seperti ini -Menteri tidak bisa lebih ramah lagi
kepadaku -- dan aku berharap, Ron, bahwa kau juga tidak akan membiarkan ikatan
keluarga membutakanmu
pada keyakinan dan tindakan orang tua kita yang salah arah. Aku setulusnya
berharap bahwa, bila waktunya tiba,
mereka akan menyadari betapa salahnya mereka dan aku akan, tentu saja, siap
menerima permintaan maaf penuh
ketika hari itu tiba.
Tolong pikirkan apa yang baru saja kukatakan dengan sangat hati-hati,
khususnya yang mengenai Harry Potter,
dan selamat lagi atas pengangkatanmu menjadi prefek.
Kakakmu,
Percy
Harry memandang Ron.
'Well,' katanya, mencoba terdengar seolah-olah dia menganggap semua itu lelucon,
'kalau kau mau -- er -- apa itu?' -- dia memeriksa surat Percy -- 'Oh yeah -- "putus
hubungan" denganku, aku bersumpah aku tidak akan menjadi bengis.'
'Kembalikan itu,' kata Ron sambil mengulurkan tangannya. 'Dia --' Ron berkata
dengan tersentak, sambil merobek surat Percy menjadi setengah bagian 'orang --' dia
merobeknya menjadi seperempat 'terbrengsek --' dia merobeknya menjadi
seperdelapan 'di dunia.' Dia melemparkan potongan-potongan itu ke dalam api.
'Ayolah, kita harus menyelesaikan ini sebelum fajar,' katanya dengan cepat kepada
Harry, sambil menarik esai Profesor Sinistra kembali ke hadapannya.
Hermione sedang memandangi Ron dengan ekspresi aneh di wajahnya.
'Oh, berikan kemari,' katanya mendadak.
'Apa?' kata Ron.
'Berikan kepadaku, aku akan memeriksanya dan mengoreksinya,' katanya.
'Apakah kau serius? Ah -- Hermione, kau penyelamat hidupku,' kata Ron, 'apa yang
bisa aku --'
'Yang bisa kaukatakan adalah, "Kami berjanji kami tidak akan membiarkan peer
kami sampai selambat ini lagi,"' katanya sambil mengulurkan kedua tangan untuk
mengambil esai mereka, tapi dia terlihat agak terhibur juga.
'Sejuta terima kasih, Hermione,' kata Harry dengan lemah, sambil menyerahkan
esainya dan terbenam kembali ke dalam kursi berlengannya sambil menggosok
matanya.
Sekarang sudah lewat tengah malam dan ruang duduk sudah ditinggalkan semua
orang kecuali mereka bertiga dan Crookshanks. Satu-satunya suara yang ada hanyalah
pena bulu Hermione yang mencoretkan kalimat di sana-sini di esai mereka dan
kelepak halaman-halaman buku ketika dia memeriksa fakta-fakta di dalam buku-buku
referensi yang bertebaran di meja. Harry sangat letih. Dia juga merasakan perasaan
aneh, memuakkan, hampa dalam perutnya yang tidak berhubungan dengan
keletihannya dan berhubungan sekali dengan surat yang sekarang bergelung hitam di
tengah api.
Dia tahu bahwa setengah dari orang-orang di dalam Hogwarts mengiranya aneh,
bahkan gila; dia tahu bahwa Daily Prophet telah membuat sindiran menghina
kepadanya selama berbulan-bulan, tetapi ada sesuatu mengenai melihatnya tertulis
seperti itu dalam tulisan Percy, mengenai mengetahui bahwa Percy menasehati Ron
untuk tidak berhubungan dengannya dan bahkan menceritakan kisah-kisah mengenai
dia kepada Umbridge, itu membuat situasinya nyata baginya yang tidak bisa
dilakukan hal lain. Dia sudah mengenal Percy selama empat tahun, telah tinggal di
rumahnya sepanjang liburan musim panas, berbagi tenda dengannya selama Piala
Dunia Quidditch, bahkan telah dihadiahkan nilai penuh darinya di tugas kedua dari
Turnamen Triwizard tahun lalu, tetapi sekarang, Percy menganggapnya tidak
seimbang dan mungkin bengis.
Dan sekarang dengan serbuan simpati kepada ayah angkatnya, Harry berpikir Sirius
mungkin satu-satunya orang yang dikenalnya yang bisa benar-benar mengerti
bagaimana perasaannya saat itu, karena Sirius berada dalam situasi yang sama.
Hampir semua orang dalam dunia sihir mengira Sirius seorang pembunuh berbahaya
dan pendukung besar Voldemort dan dia harus hidup dengan pengetahuan itu selama
empat belas tahun ...
Harry berkedip. Dia baru saja melihat sesuatu di dalam api yang tidak mungkin
berada di sana. Benda itu telah tampak dan menghilang dengan segera. Tidak ... tidak
mungkin ... dia telah membayangkannya karena dia baru saja memikirkan Sirius ...
'OK, tulis itu,' Hermione berkata kepada Ron, sambil mendorong esainya dan
sehelai perkamen yang penuh tulisannya sendiri kepada Ron, 'lalu tambahkan
kesimpulan yang telah kutuliskan untukmu.'
'Hermione, sejujurnya kau orang paling menakjubkan yang pernah kutemui,' kata
Ron dengan lemah, 'dan kalau aku pernah kasar kepadamu lagi --'
'-- aku akan tahu kau sudah kembali normal,' kata Hermione. 'Harry, esaimu OK
kecuali yang sedikit ini di akhir, kukira kau pasti salah mendengar ucapan Profesor
Sinistra, Europa tertutup es, bukan tikus -- Harry?'
Harry telah meluncur turun dari kursinya bertumpu pada lututnya dan sekarang
sedang berjongkok di permadani yang gosong dan tipis, menatap ke dalam api.
'Er -- Harry?' kata Ron dengan tidak yakin. 'Kenapa kau di bawah sana?'
'Karena aku baru saja melihat kepala Sirius di dalam api,' kata Harry.
Dia berbicara dengan tenang; lagipula, dia telah melihat kepala Sirius di api yang
sama ini tahun sebelumnya dan berbicaranya dengannya juga; walau begitu, dia tidak
bisa yakin bahwa dia benar-benar melihatnya kali ini ... kepala itu telah menghilang
begitu cepat ...
'Kepala Sirius?' Hermione mengulangi. 'Maksudmu seperti ketika dia mau
berbicara kepadamu selama Turnamen Triwizard? Tapi dia tidak akan melakukan itu
sekarang, itu akan terlalu -- Sirius!'
Dia menarik napas cepat, sambil menatap ke api; Ron menjatuhkan pena bulunya.
Di sana di tengah nyala api yang menari-nari ada kepala Sirius, rambut panjang gelap
berjatuhan di sekitar wajahnya yang menyengir.
'Aku mulai mengira kalian akan pergi tidur sebelum semua orang lainnya
menghilang,' katanya. 'Aku telah memeriksa setiap jam.
'Kau telah muncul ke dalam api setiap jam?' Harry berkata, setengah tertawa.
'Hanya selama beberapa detik untuk memeriksa apakah keadaan aman.'
'Tapi bagaimana kalau kau terlihat?' kata Hermione dengan cemas.
'Well, kukira seorang anak perempuan -- kelas satu, dari tampangnya -- mungkin
melihatku sekilas, tapi jangan khawatir' Sirius berkata dengan buru-buru, ketika
Hermione mengatupkan tangan ke mulutnya, 'Aku sudah pergi saat dia memandang
balik kepadaku dan aku bertaruh dia cuma mengira aku batang kayu yang berbentuk
aneh atau apapun.'
'Tapi, Sirius, ini mengambil resiko besar --'' Hermione mulai.
'Kau terdengar seperti Molly,' kata Sirius. 'Ini satu-satunya cara yang bisa kudapat
untuk menjawab surat Harry tanpa menggunakan kode -- dan kode bisa dipecahkan.'
Ketika menyebut surat Harry, Hermione dan Ron berpaling kepadanya.
'Kau tidak bilang kau menulis surat kepada Sirius!' kata Hermione menuduh.
'Aku lupa,' kata Harry, yang memang benar; pertemuannya dengan Cho di Kandang
Burung Hantu telah mengenyahkan semua hal sebelumnya keluar dari pikirannya.
'Jangan melihat kepadaku seperti itu, Hermione, tidak mungkin seseorang
mendapatkan informasi rahasian darinya, benar bukan, Sirius?'
'Tidak, sangat bagus,' kata Sirius, sambil tersenyum. 'Ngomong-ngomong, kita
sebaiknya bergegas, kalau-kalau kita diganggu -- bekas lukamu.'
'Bagaimana dengan --?' Ron mulai, tetapi Hermione menyelanya. 'Kami akan
memberitahumu nanti. Teruskan, Sirius.'
'Well, aku tahu tidak menyenangkan ketika sakit, tapi kami tidak mengira ada yang
patut dikhawatirkan. Bekas lukamu terus sakit sepanjang tahun lalu, bukan?'
'Yeah, dan Dumbledore bilang terjadi kapanpun Voldemort merasakan emosi yang
kuat,' kata Harry, sambil mengabaikan, seperti biasa, kerenyit di wajah Ron dan
Hermione. 'Jadi mungkin dia hanya, aku tak tahu, benar-benar marah atau apapun
malam aku melewati detensi itu.'
'Well, sekarang setelah dia kembali pasti akan lebih sering sakit,' kata Sirius.
'Jadi menurutmu tidak berhubungan dengan Umbridge menyentuhku ketika aku
dalam detensi bersamanya?' Harry bertanya.
'Aku meragukan itu,' kata Sirius. 'Aku kenal reputasinya dan aku yakin dia bukan
Pelahap Maut --'
'Dia cukup jahat untuk jadi satu,' kata Harry dengan muram, dan Ron dan Hermione
mengangguk kuat-kuat menyetujui.
'Ya, tapi dunia ini tidak terbagi ke dalam orang baik dan para Pelahap Maut,' kata
Sirius dengan senyum masam. 'Walalupun aku tahu dia tidak menyenangkan -- kau
seharusnya mendengar Remus berbicara mengenai dia.'
'Apakah Lupin kenal dia?' kata Harry cepat-cepat, teringat komentar Umbridge
mengenai keturunan campuran yang berbahaya dalam pelajaran pertamanya.
'Tidak,' kata Sirius, 'tetapi dia mengusulkan undang-undang anti manusia serigala
dua tahun yang lalu yang membuatnya hampir tidak mungkin mendapatkan
pekerjaan.'
Harry teringat betapa lebih kusamnya Lupin terlihat akhir-akhir ini dan
ketidaksukaannya pada Umbridge lebih mendalam lagi.
'Ada apa antara dia dan manusia serigala?' kata Hermione dengan marah.
'Kukira takut pada mereka,' kata Sirius, sambil tersenyum melihat kemarahannya.
'Tampaknya dia membenci setengah manusia; dia juga berkampanye agar para
manusia duyung dikumpulkan dan diberi tanda pengenal tahun lalu. Bayangkan
memboroskan waktu dan energimu menyiksa para manusia duyung ketika ada kain
rombeng seperti Kreacher yang berkeliaran.'
Ron tertawa tetapi Hermione tampak tidak senang.
'Sirius!' katanya dengan mencela. 'Jujur saja, kalau kau membuat usaha dengan
Kreacher, aku yakin dia akan menanggapi. Lagipula, kau satu-satunay anggota
keluarga yang dimilikinya, dan Profesor Dumbledore berkata --'
'Jadi, seperti apa pelajaran Umbridge?' Sirius menyela. 'Apakah dia melatih kalian
semua unutk membunuh keturunan campuran?'
'Tidak,' kata Harry, sambil mengabaikan pandangan tersinggung Hermione karena
pembelaannya untuk Kreacher dipotong. 'Dia tidak membolehkan kami menggunakan
sihir sama sekali!'
'Yang kami lakukan hanyalah membaca buku pegangan bodoh itu,' kata Ron.
'Ah, well, itu jelas,' kata Sirius. 'Informasi kami dari dalam Kementerian adalah
bahwa Fudge tidak mau kalian terlatih untuk pertarungan.'
'Terlatih untuk pertarungan!' ulang Harry dengan tidak percaya. 'Dikiranya apa
yang kami lakukan di sini, membentuk semacam tentara sihir?'
'Itulah persisnya apa yang dikiranya sedang kalian lakukan,' kata Sirius, 'atau, lebih
tepatnya, itulah persisnya yang ditakutkannya sedang dilakukan Dumbledore -membentuk tentara pribadinya sendiri, sehingga dia akan bisa mengalahkan
Kementerian Sihir.'
Ada jeda akibat hal ini, lalu Ron berkata, 'Itu hal terbodoh yang pernah kudengar,
termasuk semua hal yang dikeluarkan Luna Lovegood.'
'Jadi kami dilarang belajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam karena Fudge takut
kami akan menggunakan mantera-mantera itu melawan Kementerian?' kata
Hermione, terlihat marah.
'Yep,' kata Sirius. 'Fudge mengira Dumbledore tidak akan berhenti demi apapun
untuk merebut kekuasaan. Dia menjadi semakin paranoid tentang Dumbledore
semakin hari. Cuma masalah waktu sebelum dia menyuruh Dumbledore ditangkap
atas tuduhan yang dibuat-buat.'
Ini mengingatkan Harry pada surat Percy.
'Tahukah kau kalau akan ada sesuatu mengenai Dumbledore di Daily Prophet
besok? Kakak Ron Percy berpendapat akan ada --'
'Aku tidak tahu,' kata Sirius, 'Aku belum bertemu siapapun dari Order sepanjang
akhir pekan, mereka semua sibuk. Cuma Kreacher dan aku di sini.'
Ada nada getir yang nyata dalam suara Sirius.
'Jadi kamu juga belum mendapat kabar apapun tentang Hagrid?'
'Ah ...' kata Sirius, 'well, dia seharusnya sudah kembali sekarang, tak ada yang
yakin apa yang telah menimpanya.' Lalu, melihat wajah terpukul mereka, dia
menambahkan cepat-cepat, 'Tapi Dumbledore tidak khawatir, jadi kalian bertiga
jangan khawatir; aku yakin Hagrid baik-baik saja.'
'Tapi kalau dia seharusnya sudah kembali sekarang ...' kata Hermione dengan suara
kecil dan cemas.
'Madame Maxime bersamanya, kami sudah berhubungan dengan dia dan katanya
mereka berpisah dalam perjalanan pulang -- tapi tidak ada apapun yang menandakan
dia terluka atau -- well, tak ada apapun yang menandakan dia tidak baik-baik saja.'
Tidak yakin, Harry, Ron dan Hermione saling pandang dengan cemas.
'Dengar, jangan terlalu banyak bertanya mengenai Hagrid,' kata Sirius dengan
cepat, 'cuma akan menarik lebih banyak perhatian pada kenyataan bahwa dia belum
kembali dan aku tahu Dumbledore tidak mau itu. Hagrid kuat, dia akan baik-baik
saja.' Dan ketika mereka tidak tampak terhibur, Sirius menambahkan, 'Ngomongngomong, kapan akhir pekan Hogsmeade kalian? Aku berpikir, kita lolos dengan
samaran anjing di stasiun, bukan? Kukira aku bisa --'
'TIDAK!' kata Harry dan Hermione bersama-sama, dengan sangat keras.
'Sirius, apakah kau membaca Daily Prophet?' kata Hermione dengan cemas.
'Oh, itu,' kata Sirius sambil nyengir, 'mereka selalu menebak-nebak di mana aku
berada, mereka tidak punya satu pun petunjuk --'
'Yeah, tapi kami kira kali ini mereka punya,' kata Harry. 'Sesuatu yang dikatakan
Malfoy di kereta api membuat kami mengira dia tahu itu kau, dan ayahnya ada di
peron, Sirius -- kau tahu, Lucius Malfoy -- jadi jangan datang ke sini, apapun yang
kau lakukan. Kalau Malfoy mengenali kamu lagi --'
'Baiklah, baiklah, aku dapat intinya,' kata Sirius. Dia terlihat sangat tidak senang.
'Cuma sebuah ide, kukira kau mungkin mau berkumpul.'
'Aku mau, aku hanya tidak mau kau tertangkap kembali ke Azkaban!' kata Harry.
Ada jeda sementara Sirius memandang dari api kepada Harry dengan garis di antara
matanya yang cekung.
'Kau lebih tidak mirip ayahmu dari yang kukira,' akhirnya dia berkata, dengan nada
dingin nyata dalam suaranya. 'Resiko yang akan membuatnya menyenangkan bagi
James.'
'Lihat --'
'Well, sebaiknya aku pergi, aku bisa mendengar Kreacher menuruni tangga,' kata
Sirius, tetapi Harry yakin dia sedang berbohong. 'Kalau begitu, aku akan menulis
surat kepadamu memberitahumu kapan aku bisa kembali ke api? Kalau kau bisa
mengambil resiko?'
Ada bunyi pop kecil, dan di tempat yang tadinya terdapat kepala Sirius nyala api
berkelap-kelip sekali lagi.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB LIMA BELAS -Penyelidik Tinggi Hogwarts
Mereka telah berharap untuk memeriksa Daily Prophet Hermione dengan teliti pagi
berikutnya untuk mencari artikel yang disebut Percy dalam suratnya. Akan tetapi,
burung hantu pengantar yang berangkat pergi baru saja menyenggol puncak kendi
susu ketika Hermione mengeluarkan napas tertahan dan meratakan surat kabar itu
untuk memperlihatkan sebuah foto besar Dolores Umbridge, yang sedang tersenyum
lebar dan berkedip pelan kepada mereka dari balik judul berita.
KEMENTERIAN MENGINGINKAN REFORMASI PENDIDIKAN
DOLORES UMBRIDGE DIANGKAT
PENYELIDIK TINGGI PERTAMA KALINYA
'Umbridge -- "Penyelidik Tinggi"?' kata Harry murung, potongan roti panggangnya
yang termakan setengah meluncur dari jari-jarinya. 'Apa artinya itu:?'
Hermione membaca keras-keras:
'Dengan langkah mengejutkan kemarin malam, Kementerian Sihir mengesahkan
undang-undang baru yang
memberinya tingkat pengendalian yang belum pernah dimilikinya sebelumnya di
Sekolah Sihir Hogwarts.
'"Kementerian telah menjadi tidak tenang karena hal-hal yang berlangsung di
Hogwarts beberapa waktu ini," kata
Asisten junior untuk Menteri, Percy Weasley. "Beliau sekarang menanggapi
kekhawatiran yang disuarakan oleh para
orang tua murid yang cemas, yang merasa sekolah itu mungkin sedang bergeser ke
arah yang tidak mereka setujui."
'Ini bukan pertama kalinya dalam minggu-minggu belakangan ini Menteri,
Cornelius Fudge, menggunakan hukum
untuk mengadakan perbaikan di sekolah sihir tersebut. Tertanggal 30 Agustus lalu,
Dekrit Pendidikan Nomor
Dua Puluh Dua disahkan, untuk menjamin bahwa, dalam kejadian di mana Kepala
Sekolah sekarang tidak
mampu menyediakan kandidat untuk pos pengajaran, Kementerian harus memilih
orang yang tepat. '"Begitulah
caranya Dolores Umbridge ditunjuk sebagai staf pengajar di Hogwarts," kata
Weasley tadi malam. "Dumbledore
tidak bisa menemukan siapapun jadi Menteri memasukkan Umbridge, dan tentu
saja, dia telah menjadi sebuah
keberhasilan serta merta --"'
'Dia telah menjadi APA?' kata Harry keras-keras. 'Tunggu, ada lagi,' kata Hermione
dengan murung.
'"-- sebuah keberhasilan serta merta, benar-benar merevolusi pengajaran Pertahanan
Terhadap Ilmu Hitam dan
menyediakan umpan balik dari lapangan kepada Kementerian mengenai apa yang
sebenarnya sedang terjadi di
Hogwarts."
'Adalah fungsi terakhir yang sekarang telah diformalisasi Kementerian dengan
disahkannya Dekrit Pendidikan
Nomor Dua Puluh Tiga, yang menciptakan kedudukan baru yakni Penyelidik
Tinggi Hogwarts.
'"Ini adalah fase baru yang menggembirakan dalam rencana Kementerian untuk
mengendalikan apa yang disebut
beberapa orang sebagai standar yang jatuh di Hogwarts," kata Weasley. "Penyelidik
akan memiliki kekuasaan
untuk menginspeksi para pendidik sejawatnya dan meyakinkan bahwa mereka
cukup kompeten. Profesor Umbridge
telah ditawari kedudukan ini sebagai tambahan pada pos pengajarannya sendiri dan
kami senang mengatakan
bahwa beliau telah menerimanya."
'Langkah baru Kementerian telah menerima dukungan antusias dari para orang
tua murid di Hogwarts. "Aku
merasa jauh lebih tenang sekarang setelah aku tahu Dumbledore akan menjalani
evaluasi yang adil dan obyektif,"
kata Mr Lucius Malfoy, 41, yang berbicara dari rumah besarnya di Wiltshire tadi
malam. "Banyak dari kami yang
menginginkan yang terbaik untuk anak-anak kami khawatir mengenai beberapa
keputusan Dumbledore yang
eksentrik dalam beberapa tahun terakhir ini dan merasa senang mengetahui bahwa
Kementerian sedang mengawasi
situasi tersebut."
'Di antara keputusan-keputusan eksentrik tersebut tanpa diragukan lagi adalah
penunjukan staf kontroversial
yang telah digambarkan dalam surat kabar ini sebelumnya, yang melibatkan
pemekerjaan manusia serigala Remus
Lupin, setengah raksasa Rubeus Hagrid dan mantan Auror yang suka berkhayal,
"Mad-Eye" Moody.
'Rumor berkembang, tentu saja, bahwa Albus Dumbledore, yang pernah menjadi
Supreme Mugwump dari
Konfederasi Penyihir Internasional dan Ketua Penyihir di Wizengamot, tidak lagi
mampu menerima tugas mengelola
sekolah Hogwarts yang bergengsi.
'"Kukira penunjukkan Penyelidik merupakan langkah pertama untuk menjamin
Hogwarts memiliki seorang
kepala sekolah yang bisa kita berikan kepercayaan penuh kita," kata orang dalam
Kementerian kemarin malam.
'Tetua Wizengamot Griselda Marchbanks dan Tiberius Ogden telah
mengundurkan diri sebagai protes atas
pengenalan pos Penyelidik ke Hogwarts.
'"Hogwarts adalah sebuah sekolah, bukan pos terdepan dari kantor Cornelius
Fudge," kata Madam
Marchbanks. "Ini adalah usaha lebih lanjut yang menjijikkan untuk mendiskreditkan
Albus Dumbledore."
'(Untuk cerita lengkap tentang hubungan yang diduga keras terdapat antara
Madam Marchbanks dengan
kelompok-kelompok goblin subversif, balik ke halaman tujuh belas.)'
Hermione selesai membaca dan memandang ke seberang meja kepada mereka
berdua.
'Jadi sekarang kita tahu bagaimana kita mendapatkan Umbridge! Fudge
mengesahkan "Dekrit Pendidikan" ini dan memaksakannya kepada kita! Dan sekarang
dia telah memberinya kekuasaan untuk menginspeksi guru-guru yang lain!' Hermione
sedang bernapas cepat dan matanya berkilat terang. 'Aku tidak bisa mempercayai ini.
Keterlaluan!'
'Aku tahu,' kata Harry. Dia memandangi tangan kanannya, yang tercengkeram ke
puncak meja, dan melihat garis luar putih samar dari kata-kata yang telah dipaksa
Umbridge untuk disayatkannya ke kulitnya.
Tetapi sebuah seringai terbentang di wajah Ron.
'Apa?' kata Harry dan Hermione bersama-sama, sambil menatapnya.
'Oh, aku tak sabar menunggu untuk melihat McGonagall diinspeksi,' kata Ron
dengan gembira. 'Umbridge tidak akan tahu apa yang menimpanya.'
'Well, ayolah,' kata Hermione sambil melompat bangkit, 'kita sebaiknya bergegas,
kalau dia akan menginspeksi kelas Binns kita tidak mau terlambat ...'
Tetapi Profesor Umbridge tidak menginspeksi pelajaran Sejarah Sihir mereka, yang
sama membosankannya seperti Senin lalu, dia juga tidak berada di ruang bawah tanah
Snape ketika mereka tiba untuk Ramuan ganda, di mana esai batu bulan Harry
diserahkan kembali kepadanya dengan huruf 'D' hitam runcing besar tercoret di sudut
atasnya.
'Aku telah memberikan kepada kalian nilai-nilai yang akan kalian terima kalau
kalian menyerahkan pekerjaan ini di OWL kalian,' kata Snape dengan senyum
menyeringai, ketika dia berjalan di antara mereka, membagikan kembali pekerjaan
rumah mereka. 'Ini seharusnya memberi kalian gagasan realistis atas apa yang bisa
diharapkan dalam ujian.'
Snape mencapai bagian depan kelas dan berbalik menghadap mereka.
'Standar umum dari pekerjaan rumah ini tidak kepalang. Sebagian besar dari kalian
akan gagal kalau ini ujian kalian. Aku berharap melihat lebih banyak usaha untuk esai
minggu ini mengenai berbagai varietas penawar racun, atau aku akan mulai
memberikan detensi kepada orang-orang bodoh yang mendapatkan "D"'
Dia tersenyum menyeringai sementara Malfoy terkikik-kikik dan berkata dengan
bisikan yang terdengar, 'Beberapa orang dapat "D"? Ha!'
Harry sadar bahwa Hermione sedang memandang ke samping untuk melihat nilai
apa yang diterimanya; dia menyelipkan esai batu bulannya kembali ke dalam tasnya
secepat mungkin, merasa bahwa dia lebih suka menjaga informasi itu tetap pribadi.
Bertekad tidak akan memberikan Snape alasan untuk menggagalkannya pada
pelajaran ini, Harry membaca dan membaca ulang setiap baris instruksi di papan tulis
setidaknya tiga kali sebelum melaksanakannya. Larutan Penguatnya tidak persis
berwarna biru kehijauan cerah seperti milik Hermione tetapi setidaknya berwarna biru
bukannya merah muda, seperti milik Neville, dan dia mengantarkan setabung larutan
itu ke meja tulis Snape di akhir pelajaran dengan perasaan campur aduk antara
menantang dan lega.
'Well, tidak seburuk minggu lalu, bukan?' kata Hermione, ketika mereka menaiki
tangga keluar dari ruang bawah tanah itu dan menyeberangi Aula Depan menuju
makan siang. 'Dan pekerjaan rumah itu tidak terlalu buruk juga, bukan?'
Ketika Ron maupun Harry tidak menjawab, dia menekan terus, 'Maksudku,
baiklah, aku tidak mengharapkan nilai tertinggi, tidak kalau dia menilainya dengan
standar OWL, tetapi lulus saja cukup membesarkan hati pada tahap ini, bukankah
menurut kalian begitu?'
Harry mengeluarkan suara tidak jelas dari tenggorokannya.
'Tentu saja, banyak yang bisa terjadi antara sekarang dengan ujian, kita punya
banyak waktu untuk memperbaiki, tetapi nilai-nilai yang kita peroleh sekarang
semacam garis dasar, bukan begitu? Sesuatu yang bisa kita bangun ...'
Mereka duduk bersama di meja Gryffindor.
'Terang saja, aku akan sangat senang kalau aku dapat "O" --'
'Hermione,' kata Ron dengan tajam, 'kalau kau ingin tahu nilai apa yang kami
dapatkan, tanya.'
'Aku tidak -- aku tidak bermaksud -- well, kalau kalian mau memberitahuku --'
'Aku dapat "P",' kata Ron, sambil menyendokkan sup ke mangkoknya. 'Senang?'
'Well, tak perlu merasa malu atas apapun,' kata Fred, yang baru saja tiba di meja
dengan George dan Lee Jordan dan duduk di sebelah kanan Harry. 'Tak ada yang
salah dengan nilai "P" sehat.'
'Tapi,' kata Hermione, 'bukankah "P" singkatan dari ...'
'"Poor" (buruk), yeah,' kata Lee Jordan. 'Tapi masih lebih baik daripada "D", 'kan?
"Dreadful" (mengerikan)?'
Harry merasa wajahnya menjadi hangat dan pura-pura batuk kecil akibat roti
gulungnya. Ketika dia keluar dari batuk-batuk ini dia menyesal mengetahui bahwa
Hermione masih terus membicarakan nilai-nilai OWL.
'Jadi nilai tertinggi "O" untuk "Outstanding" (luar biasa),' dia sedang berkata, 'dan
lalu ada "A" --'
'Bukan, "E",' George mengoreksi dia, '"E" untuk "Exceeds Expectations" (melebihi
harapan). Dan aku selalu berpikir Fred dan aku seharusnya mendapat "E" dalam
semua hal, karena kami melebihi harapan hanya dengan muncul di saat ujian.'
Mereka semua tertawa kecuali Hermione, yang meneruskan, 'Jadi, setelah "E" ada
"A" untuk "Acceptable" (dapat diterima), dan itu nilai lulus terakhir, bukan?'
'Yep,' kata Fred sambil mencelupkan sebuah roti ke supnya, memindahkannya ke
mulutnya dan menelannya utuh.
'Lalu kau mendapat "P" untuk "Poor" --' Ron mengangkat kedua lengannya dengan
tiruan perayaan '-- dan "D" untuk "Dreadful" (mengerikan).'
'Dan kemudian "T",' George mengingatkan dia.
'"T"?' tanya Hermione, terlihat terkejut. 'Bahkan lebih rendah daripada "D"? Apa
kepanjangan dari "T" --?'
'"Troll",' kata George cepat.
Harry tertawa lagi, walaupun dia tidak yakin apakah George sedang bercanda atau
tidak. Dia membayangkan mencoba menyembunyikan dari Hermione bahwa dia telah
mendapat 'T' di semua OWLnya dan segera bertekad untuk bekerja lebih keras mulai
sekarang.
'Kalian sudah ada pelajaran yang diinspeksi?' Fred bertanya kepada mereka.
'Tidak,' kata Hermione seketika. 'Kalian?'
'Baru saja, sebelum makan siang,' kata George. 'Jimat dan Guna-Guna.'
'Seperti apa?' Harry dan Hermione bertanya serempak.
Fred mengangkat bahu.
'Tidak seburuk itu. Umbridge cuma bersembunyi di sudut sambil mencatat di papan
jepit. Kalian tahu seperti apa Flitwick, dia memperlakukannya seperti seorang tamu,
tidak tampak terganggu sama sekali. Umbridge tidak mengatakan banyak. Menanyai
Alicia beberapa pertanyaan mengenai seperti apa biasanya kelas itu, Alicia
memberitahunya benar-benar bagus, itu saja.'
'Aku tidak bisa melihat Flitwick tua mendapat nilai jelek,' kata George, 'dia
biasanya membimbing semua orang melewati ujian mereka dengan baik.'
'Siapa yang kalian dapat sore ini?' Fred bertanya kepada Harry.
'Trelawney --'
'Nilai "T" kalau pernah kulihat satu.'
'-- dan Umbridge sendiri.'
'Well, jadi anak baik dan jaga amarahmu dengan Umbridge hari ini,' kata George.
'Angelina akan jadi gila kalau kau ketinggalan latihan Quidditch lagi.'
Tetapi Harry tidak harus menunggu Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam untuk
berjumpa dengan Profesor Umbridge. Dia sedang menarik keluar diari mimpinya
dalam tempat duduk di bagian paling belakang ruangan Ramalan yang diliputi
bayang-bayang ketika Ron menyikunya di tulang iga dan, ketika memandang
sekeliling, dia melihat Profesor Umbridge muncul dari pintu jebakan di lantai. Kelas
itu, yang tadinya sedang berbicara dengan riang terdiam seketika. Turunnya tingkat
kebisingan yang mendadak membuat Profesor Trelawney, yang telah menunggu
untuk membagikan salinan Ramalan Mimpi, memandang sekeliling.
'Selamat sore, Profesor Trelawney,' kata Profesor Umbridge dengan senyum
lebarnya. 'Saya yakin Anda telah menerima catatan saya? Memberi waktu dan tanggal
inspeksi Anda?'
Profesor Trelawney mengangguk dengan kaku dan, terlihat sangat tidak puas,
memalingkan punggungnya kepada Profesor Umbridge dan melanjutkan membagikan
buku-buku. Masih tersenyum, Profesor Umbridge meraih punggung kursi berlengan
terdekat dan menariknya ke depan kelas sehingga berada beberapa inci di belakang
tempat duduk Profesor Trelawney. Dia lalu duduk, mengambil papan jepitnya dari tas
bunga-bunganya dan mellihat ke atas dengan harapan, menunggu kelas dimulai.
Profesor Trelawney menarik syalnya ketat melingkupi dirinya dengan tangantangan yang sedikit gemetar dan meneliti kelas itu melalui kacamata besarnya yang
memiliki lensa-lensa pembesar.
'Kita akan meneruskan pelajaran kita mengenai mimpi-mimpi yang bersifat
ramalan hari ini,' katanya dengan usaha berani dengan nada mistiknya yang biasa,
walaupun suaranya bergetar sedikit. 'Tolong berpencar menjadi pasangan-pasangan,
dan interpretasikan penglihatan waktu malam terakhir satu sama lain dengan bantuan
buku Ramalan.'
Dia bertindak seolah-olah akan berjalan balik ke tempat duduknya, melihaqt
Profesor Umbridge duduk tepat di sampingnya, dan segera membelok tajam ke kiri
menuju Parvati dan Lavender, yang telah memulai diskusi mendalam mengenai
mimpi terbaru Parvati.
Harry membuka salinan Ramalan Mimpinya, sambil mengamati Umbridge dengan
sembunyi-sembunyi. Dia telah mencatat di papan jepitnya. Setelah beberapa menit dia
bangkit dan mulai berjalan bolak balik di dalam ruangan itu mengikuti Trelawney,
sambil mendengarkan percakapannya dengan para murid dan mengajukan pertanyaan
di sana-sini. Harry membungkukkan kepalanya cepat-cepat ke bukunya.
'Pikirkan sebuah mimpi, cepat,' dia menyuruh Ron, 'kalau-kalau katak tua itu
datang ke tempat kita.'
'Aku sudah melakukannya terakhir kali,' Ron protes, 'sekarang giliranmu, kau
beritahu aku sekali.'
'Oh, aku tak tahu ...' kata Harry dengan putus asa, yang tidak bisa mengingat telah
memimpikan apapun sama sekali beberapa hari terakhir ini. 'Katakanlah aku mimpi
aku ... menenggelamkan Snape dalam kualiku. Yeah, itu bisa ...'
Ron terkekeh-kekeh selagi dia membuka Ramalan Mimpinya.
'OK, kita harus menambahkan umurmu dengan tanggal kau dapat mimpi itu,
jumlah huruf-huruf dalam subyek itu ... apakah "tenggelam" atau "kuali" atau
"Snape"?'
'Tidak masalah, pilih apa saja,' kata Harry, sambil mencuri pandang ke
belakangnya. Profesor Umbridge sekarang sedang berdiri dekat bahu Profesor
Trelawney sambil mencatat sementara guru Ramalan itu menanyai Neville mengenai
diari mimpinya.
'Malam apa kamu memimpikan ini lagi?' Ron berkata, terbenam dalam
perhitungan.
'Aku tidak tahu, kemarin malam, kapanpun kau suka,' Harry memberitahunya,
sambil memcoba mendengarkan apa yang sedang dikatakan Umbridge kepada
Profesor Trelawney. Mereka hanya satu meja jauhnya dari dia dan Ron sekarang.
Profesor Umbridge sedang mencatat lagi ke papan jepitnya dan Profesor Trelawney
terlihat sangat gelisah.
'Sekarang,' kata Umbridge, sambil memandang Trelawney, 'Anda telah berada
dalam pos ini berapa lama, tepatnya?'
Profesor Trelawney cemberut kepadanya, dengan lengan disilang dan bahu
dibungkukkan seakan-akan ingin melindungi dirinya sebaik mungkin dari penghinaan
berupa inspeksi ini. Setelah jeda sebentar di mana dia tampaknya memutuskan bahwa
pertanyaan itu tidak menghina sehingga dia bisa mempunyai alasan untuk
mengabaikannya, dia berkata dengan nada yang penuh kebencian, 'Hampir enam belas
tahun.'
'Cukup lama,' kata Profesor Umbridge, sambil mencatat ke papan jepitnya. 'Jadi,
Profesor Dumbledore yang menunjuk Anda?'
'Itu benar,' kata Profesor Trelawney singkat.
Profesor Umbridge mencatat lagi.
'Dan Anda adalah cucu buyut dari Peramal terkenal Cassandra Trelawney?'
'Ya,' kata Profesor Trelawney, sambil mengangkat kepalanya sedikit.
Mencatat lagi ke papan jepit.
'Tapi kukira -- betulkan kalau saya salah -- bahwa Anda adalah orang pertama
dalam keluarga Anda semenjak Cassandra yang memiliki Penglihatan Kedua?'
'Hal-hal ini sering melompati -- er -- tiga generasi,' kata Profesor Trelawney.
Senyum Profesor Trelawney yang mirip katak melebar.
'Tentu saja,' katanya dengan manis, sambil mencatat lagi. 'Well, kalau begitu Anda
bisa meramalkan sesuatu untukku?' Dan dia memberikan pandangan bertanya, masih
sambil tersenyum.
Profesor Trelawney menjadi kaku seolah-olah tidak bisa mempercayai telinganya.
'Saya tidak mengerti,' katanya, sambil mencengkeram syal di sekitar lehernya yang
kurus.
'Saya ingin Anda membuat ramalan untuk saya,' kata Profesor Umbridge dengan
sangat jelas.
Harry dan Ron bukan satu-satunya orang yang sekarang mengamati dan
mendengarkan diam-diam dari balik buku mereka. Sebagian besar dari kelas itu
sedang menatap terpaku kepada Profesor Trelawney ketika dia bangkit berdiri, manikmanik dan gelangnya berbunyi.
'Mata Dalam tidak Melihat menuruti perintah!' katanya dengan nada tersinggung.
'Saya mengerti,' kata Profesor Trelawney dengan lembut, sambl mencatat lagi ke
papan jepitnya.
'Aku -- tapi -- tapi ... tunggu!' kata Profesor Trelawney tiba-tiba, dalam usahanya
dengan suara halusnya yang biasa, walaupun efek mistis dirusak oleh caranya bergetar
karena marah. 'Ku .. kukira aku memang melihat sesuatu ... sesuatu yang menyangkut
Anda ... kenapa, aku merasakan sesuatu ... sesuatu yang kelam ... suatu bahaya maut
...'
Profesor Trelawney menunjuk dengan jari bergetar kepada Profesor Umbridge
yang terus tersenyum lembut kepadanya, dengan alis terangkat.
'Aku takut ... aku takut kalau Anda berada dalam bahaya maut!' Profesor Trelawney
menyelesaikan dengan dramatis.
Ada jeda. Profesor Umbridge memandangi Profesor Trelawney.
'Benar,' katanya dengan lembut, sambil mencoret-coret ke papan jepitnya sekali
lagi. 'Well, kalau itu benar-benar yang terbaik yang bisa Anda lakukan ...'
Dia berpaling, meninggalkan Profesor Trelawney terpaku di tempat, dadanya turunnaik. Harry saling pandang dengan Ron dan tahu bahwa Ron sedang memikirkan hal
yang persis sama dengannya: mereka berdua tahu Profesor Trelawney adalah penipu
tua, tetapi di sisi lain, mereka sangat membenci Umbridge sehingga mereka sangat
bersimpati di sisi Trelawney -- itu sampai dia berjalan menuju mereka beberapa detik
kemudian.
'Well?' katanya sambil menjentikkan jari-jari panjangnya di bawah hidung Harry
dengan kecepatan tidak biasa. 'Mari kulihat awal yang telah kau buat di diari
mimpimu.'
Dan pada waktu dia telah menginterpretasikan mimpi-mimpi Harry dengan suara
terkerasnya (yang semuanya, bahkan yang melibatkan makan bubur, tampaknya
meramalkan kematian yang dini dan mengerikan), dia merasa jauh kurang simpatik
kepadanya Sementara itu, Profesor Umbridge berdiri beberapa kaki jauhnya, sambil
mencatat di papan jepit, dan ketika bel berbunyi dia yang pertama menuruni tangga
perak dan sedang menunggu mereka semua ketika mereka mencapai pelajaran
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam mereka sepuluh menit kemudian.
Dia sedang bersenandung dan tersenyum pada dirinya sendiri ketika mereka
memasuki ruangan. Harry dan Ron memberitahu Hermione, yang telah berada di
Arithmancy, persisnya apa yang terjadi di Ramalan selagi mereka semua
mengeluarkan salinan Teori Sihir Pertahanan mereka, tetapi sebelum Hermione bisa
bertanya Profesor Umbridge telah menyuruh mereka semua untuk tenang dan
keheningan timbul.
'Tongkat disimpan,' dia memerintah mereka semua dengan senyum, dan orangorang yang telah cukup berharap untuk mengeluarkan tongkat, menyimpannya
kembali ke dalam tas mereka dengan sedih. 'Karena kita telah menyelesaikan Bab
Satu pada pelajaran lalu, saya ingin kalian semua membalik ke halaman sembilan
belas hari ini dan memulai "Bab Dua, Teori-Teori Pertahanan Umum dan
Turunannya". Tidak perlu berbicara.'
Masih tersenyum lebar puas diri, dia duduk di mejanya. Kelas menghela napas
keras ketika membalik, serentak, ke halaman sembilan belas. Harry bertanya-tanya
dengan bosan apakah ada cukup banyak bab dalam buku itu untuk membuat mereka
terus membaca sepanjang pelajaran tahun ini dan baru akan memeriksa halaman
daftar isi ketika dia memperhatikan bahwa Hermione telah mengangkat tangannya
lagi.
Profesor Umbridge juga telah memperhatikan, dan terlebih lagi, dia kelihatannya
telah memikirkan strategi untuk kejadian seperti ini. Bukannya mencoba berpura-pura
tidak memperhatikan Hermione dia bangkit dan berjalan mengitari meja-meja di
barisan depan sampai mereka saling berhadapan, lalu dia membungkuk dan berbisik,
sehingga sisa kelas itu tidak bisa mendengar, 'Ada apa kali ini, Miss Granger?'
'Saya sudah membaca Bab Dua,' kata Hermione.
'Well, kalau begitu, lanjut ke Bab Tiga.'
'Saya juga telah membaca itu. Saya sudah membaca keseluruhan buku itu.'
Profesor Umbridge berkedip tetapi mendapatkan kembali sikap tenangnya hampir
seketika.
'Well, kalau begitu, kamu seharusnya bisa memberitahuku apa yang dikatakan
Slinkhard tentang kontra-kutukan dalam Bab Lima Belas.'
'Dia bilang bahwa kontra-kutukan tidak dinamai dengan tepat,' kata Hermione
cepat. 'Dia bilang "kontra-kutukan" hanya nama yang diberikan orang-orang pada
kutukan mereka ketika mereka ingin membuatnya terdengar lebih bisa diterima.'
Profesor Umbridge menaikkan alisnya dan Harry tahu dia terkesan, di luar
kehendaknya.
'Tetapi saya tidak setuju,' Hermione melanjutkan.
Alis Profesor Umbridge naik sedikit lebih tinggi lagi dan pandangannya menjadi
semakin dingin.
'Kamu tidak setuju?' ulangnya.
'Ya,' kata Hermione, yang, tidak seperti Umbridge, tidak sedang berbisik,
melainkan berbicara dengan suara keras yang terdengar jelas yang sekarang telah
menarik perhatian sisa kelas itu. 'Mr Slinkhard tidak suka kutukan, bukan? Tapi,
kukira kutukan bisa sangat berguna kalau digunakan untuk pertahanan.'
'Oh, kaukira begitu, bukan?' kata Profesor Umbridge, lupa berbisik dan sambil
meluruskan diri. 'Well, kutakut opini Mr Slinkhard, dan bukan opinimu, yang penting
dalam ruang kelas ini, Miss Granger.'
'Tapi --' Hermione mulai.
'Sudah cukup,' kata Profesor Umbridge. Dia berjalan kembali ke depan kelas dan
berdiri menghadap mereka, semua rasa puas diri yang diperlihatkannya di awal
pelajaran telah hilang. 'Miss Granger, aku akan mengambil lima poin dari asrama
Gryffindor.'
Ada gumaman riuh mendengar ini.
'Untuk apa?' kata Harry dengan marah.
'Jangan melibatkan dirimu!' Hermione berbisik mendesak kepadanya.
'Karena mengacaukan kelasku dengan interupsi tanpa ujung,' kata Profesor
Umbridge dengan lancar. 'Saya berada di sini untuk mengajar kalian dengan metode
yang disetujui Kementerian yang tidak melibatkan mengajak murid-murid untuk
memberikan opini mereka mengenai masalah-masalah yang hanya sedikit dimengerti
mereka. Guru-guru kalian sebelumnya di mata pelajaran ini mungkin telah
memberikan kalian lebih banyak kebebasan, tetapi karena tak satupun dari mereka -mungkin terkecuali Profesor Quirrel yang setidaknya tampak telah membatasi dirinya
dengan mata pelajaran yang sesuai dengan tingkat umur kalian -- akan lulus inspeksi
Kementerian --'
'Yeah, Quirrel guru yang hebat,' kata Harry keras-keras, 'hanya ada kekurangan
kecil bahwa dia punya Lord Voldemort yang muncul dari balik kepalanya.'
Pernyataan ini diikuti dengan salah satu keheningan terkuat yang pernah didengar
Harry. Lalu -'Kukira detensi seminggu lagi akan bermanfaat untukmu, Mr Potter,' kata
Umbridge dengan halus.
*
Luka sayat di punggung tangan Harry belum lagi sembuh dan, pagi berikutnya, sudah
berdarah lagi. Dia tidak mengeluh selama detensi malam itu; dia bertekad tidak akan
memberi Umbridge kepuasan; lagi dan lagi dia menulis Saya tidak boleh berbohong
dan tak satu suarapun keluar dari mulutnya, walaupun luka sayat itu semakin dalam
dengan setiap hurufnya.
Bagian terburuk dari detensi minggu kedua adalah, seperti yang telah diramalkan
George, reaksi Angelina. Dia menyudutkan Harry begitu dia tiba di meja Gryffindor
untuk makan pagi pada hari Selasa dan berteriak demikian keras sehingga Profesor
McGonagall datang kepada mereka berdua dari meja guru.
'Miss Johnson, beraninya kamu membuat keributan seperti ini di Aula Besar! Lima
poin dari Gryffindor!'
'Tapi Profesor -- dia membuat dirinya terkena detensi lagi --'
'Ada apa ini, Potter?' kata Profesor McGonagall dengan tajam sambil
memberondong Harry. 'Detensi? Dari siapa?'
'Dari Profesor Umbridge,' gumam Harry, tanpa memandagn mata Profesor
McGonagall yang berbingkai persegi.
'Apakah kamu memberitahuku,' katanya sambil merendahkan suaranya sehingga
kelompok anak-anak Ravenclaw yang ingin tahu di belakang mereka tidak bisa
mendengar,' bahwa setelah peringatan yang kuberikan kepadamu Senin lalu kau
kehilangan kendali di kelas Profesor Umbridge lagi?'
'Ya,' gumam Harry sambil berbicara kepada lantai.
'Potter, kau harus mengendalikan dirimu sendiri! Kau menuju masalah besar! Lima
poin lagi dari Gryffindor!'
'Tapi -- apa -? Profesor, jangan!' Harry berkata, marah karena ketidakadilan ini,
'saya telah dihukum olehnya, mengapa Anda juga harus mengambil poin?'
'Karena detensi tampaknya tidak berpengaruh apapun terhadapmu!' kata Profesor
McGonagall dengan masam. 'Tidak, tak sepatah kata keluhan pun, Potter! Dan
untukmu, Miss Johnson, kamu akan membatasi adu teriakmu di lapangan Quidditch
di kemudian hari atau mempertaruhkan kehilangan kedudukan kapten regu!'
Profesor McGonagall berjalan kembali ke meja guru. Angelina memberi Harry
pandangan jijik dan pergi, lalu Harry duduk di bangku di samping Ron sambil marahmarah.
'Dia mengambil poin dari Gryffindor karena aku membuat tanganku diiris terbuka
setiap malam! Bagaimana itu bisa adil, bagaimana?'
'Aku tahu, sobat,' kata Ron penuh simpati, sambil menjatuhkan daging asin ke
piring Harry, 'dia melewati batas.'
Namun Hermione hanya menggersikkan halaman-halaman Daily Prophet-nya dan
tidak berkata apapun.
'Kau kira McGonagall benar, bukan?' kata Harry dengan marah kepada gambar
Cornelius Fudge yang menghalangi wajah Hermione.
'Kuharap dia tidak mengambil poin darimu, tapi kukira dia benar memperingatkan
kamu agar tidak kehilangan kendali dengan Umbridge,' kata suara Hermione,
sementara Fudge menggerak-gerakkan tangannya kuat-kuat dari halaman depan, jelas
sedang memberikan pidato tertentu.
Harry tidak berbicara kepada Hermione sepanjang Jimat dan Guna-Guna, tetapi
ketika mereka memasuki Transfigurasi dia lupa sedang jengkel kepadanya. Profesor
Umbridge dan papan jepitnya sedang duduk di sudut dan melihatnya saja
mengenyahkan ingatan tentang makan pagi dari kepalanya.
'Bagus sekali,' bisik Ron, ketika mereka duduk di tempat duduk mereka yang biasa.
'Mari kita lihat Umbridge dapatkan apa yang pantas diterimanya.'
Profesor McGonagall berbaris ke dalam ruangan itu tanpa memberi tanda
sedikitpun bahwa dia tahu Profesor Umbridge ada di sana.
'Sudah cukup,' katanya dan keheningan segera timbul. 'Mr Finnigan, berbaik hatilah
datang ke sini dan menyerahkan kembali pekerjaan rumah -- Miss Brown, tolong
ambil kotak tikus ini -- jangan bodoh, nak, mereka tidak akan melukaimu -- dan
serahkan satu untuk setiap murid --'
'Hem, hem,' kata Profesor Umbridge, menggunakan batuk kecil tolol yang telah
dipakainya untuk menyela Dumbledore di malam pertama semester itu. Profesor
McGonagall mengabaikan dia. Seamus menyerahkan kembali esai Harry; Harry
mengambilnya tanpa memandang dia dan melihat, yang membuatnya lega, bahwa dia
berhasil mendapatkan 'A'.
'Kalau begitu, semuanya, dengar baik-baik -- Dean Thomas, kalau kamu melakukan
itu kepada tikus itu lagi aku akan memberimu detensi -- sebagian besar dari kalian
sekarang telah berhasil Menghilangkan siput-siput kalian dan bahwa mereka yang
tertinggal dengan sejumlah cangkang telah mendapatkan inti dari mantera itu. Hari
ini, kita akan --'
'Hem, hem,' kata Profesor Umbridge.
'Ya?' kata Profesor McGonagall, sambil berbalik, alisnya begitu rapat sehingga
terlihat membentuk satu garis bengis panjang.
'Saya hanya bertanya-tanya, Profesor, apakah Anda telah menerima catatanku yang
memberitahu Anda tanggal dan waktu inspek--'
'Tentu saja saya menerimanya, atau saya akan bertanya kepada Anda apa yang
sedang Anda lakukan di ruang kelas saya,' kata Profesor McGonagall, sambil
memalingkan punggungnya dengan tegas kepada Profesor Umbridge. Banyak murid
saling bertukar pandangan senang. 'Seperti yang kukatakan: hari ini, kita akan berlatih
Penghilangan tikus yang jauh lebih sukar. Sekarang, Mantera Penghilang --'
'Hem, hem,'
'Saya ingin tahu,' kata Profesor McGonagall dengan kemarahan diam-diam, sambil
berpaling kepada Profesor Umbridge, 'bagaimana Anda berharap mendapatkan ide
mengenai metode pengajaranku yang biasanya kalau Anda terus menyela saya? Anda
mengerti, saya biasanya tidak mengizinkan orang berbicara ketika saya sedang
berbicara.'
Profesor Umbridge terlihat seolah-olah baru saja ditampar di muka. Dia tidak
berbicara, tetapi meluruskan perkamen di papan jepitnya dan mulai mencoret-coret
dengan marah.
Terlihat sama sekali tidak risau, Profesor McGonagall berbicara kepada kelas sekali
lagi.
'Seperti yang kukatakan: Mantera Penghilang menjadi semakin sukar dengan
kerumitan binatang yang akan di-Hilangkan. Siput, sebagai makhluk tanpa tulang
belakang, tidak memberikan banyak tantangan; tikus, sebagai mamalia, memberi
tantangan yang lebih besar. Oleh karena itu, ini bukan sihir yang bisa kalian capai
dengan pikiran pada makan malam kalian. Jadi -- kalian tahu manteranya, mari
kulihat apa yang bisa kalian lakukan ...'
'Bagaimana dia bisa menguliahi aku tentang tidak kehilangan kendali dengan
Umbridge!' Harry bergumam kepada Ron dengan suara rendah, tetapi dia sedang
nyengir -- amarahnya kepada Profesor McGonagall telah menguap.
Profesor Umbridge tidak mengikuti Profesor McGonagall mengitari kelas seperti
dia mengikuti Profesor Trelawney; mungkin dia sadar Profesor McGonagall tidak
akan mengizinkannya. Namun, dia banyak mencatat selagi duduk di sudut, dan ketika
Profesor McGonagall akhirnya menyuruh mereka semua menyimpan barang-barang,
dia bangkit dengan ekspresi suram di wajahnya.
'Well, itu permulaan,' kata Ron sambil memegang sebuah ekor tikus yang sedang
menggeliat dan menjatuhkannya kembali ke dalam kotak yang sedang dioperkan
Lavender.
Selagi mereka keluar dari ruang kelas itu, Harry melihat Profesor Umbridge
menghampiri meja guru; dia menyikut Ron, yang ganti menyikut Hermione, dan
mereka bertiga sengaja berlama-lama untuk mencuri dengar.
'Berapa lama Anda telah mengajar di Hogwarts?' Profesor Umbridge bertanya.
'Tiga puluh sembilan tahun Desember ini,' kata Profesor McGonagall dengan kasar,
sambil mengancingkan tasnya.
Profesor Umbridge mencatat.
'Baiklah,' katanya, 'Anda akan menerima hasil inspeksi Anda dalam waktu sepuluh
hari.'
'Saya tidak sabar menunggu,' kata Profeosr McGonagall, dengan suara dingin tidak
peduli, dan dia berjalan ke pintu. 'Cepatlah, kalian bertiga,' tambahnya sambil
melewati Harry, Ron dan Hermione.
Harry tidak bisa menahan memberinya senyum samar dan bisa bersumpah bahwa
dia menerima senyum balik.
Dia telah mengira kali berikutnya dia akan melihat Umbridge adalah pada
detensinya malam itu, tetapi dia salah. Ketika mereka berjalan di halaman menuju
Hutan untuk Pemeliharaan Satwa Gaib, mereka menemukannya dan papan jepitnya
sedang menunggu mereka di samping Profesor Grubbly-Plank.
'Anda tidak biasanya mengajar kelas ini, benarkah itu?' Harry mendengarnya
bertanya ketika mereka tiba di meja palang di mana kelompok Bowtruckle yang
tertangkap sedang mencari-cari kutu kayu seperti ranting-ranting hidup yang begitu
banyak.
'Benar sekali,' kata Profesor Grubbly-Plank, dengan tangan di belakang
punggungnya dan sambil melompat-lompat pada bola kakinya . 'Saya guru pengganti
yang sedang menggantikan Profesor Hagrid.'
Harry saling bertukar pandangan gelisah dengan Ron dan Hermione. Malfoy
sedang berbisik kepada Crabbe dan Goyle, dia pasti akan sangat suka kesempatan
untuk menceritakan kisah-kisah tentang Hagrid kepada seorang anggota Kementerian.
'Hmm,' kata Profesor Umbridge, sambil merendahkan suaranya, walaupun Harry
masih bisa mendengarnya dengan jelas. 'Aku ingin tahu -- Kepala Sekolah tampaknya
enggan memberiku informasi apapun mengenai masalah ini -- bisakah Anda
memberitahuku apa yang menyebabkan cuti sangat panjang Profesor Hagrid?'
Harry melihat Malfoy melihat ke atas penuh semangat dan mengamati Umbridge
dan Grubbly-Plank dengan seksama.
'Kutakut aku tidak bisa,' kata Profesor Grubbly-Plank dengan cepat. 'Tak tahu
apapun tentang itu lebih dari yang Anda tahu. Dapat burung hantu dari Dumbledore,
apakah aku mau kerja mengajar beberapa minggu. Aku terima. Itu sejauh yang
kutahu. Well ... kalau begitu bolehkah aku mulai?'
'Ya, silakan,' kata Profesor Umbridge, sambil mencoret-coret di papan jepitnya.
Umbridge mengambil pendekatan berbeda di kelas ini dan berkeliaran di antara
murid-murid, sambil menanyai mereka mengenai satwa gaib. Kebanyakan orang bisa
menjawab dengan baik dan semangat Harry naik; setidaknya kelas itu tidak
mengecewakan Hagrid.
'Secara keseluruhan,' kata Profesor Umbridge, kembali ke sisi Profesor GrubblyPlank setelah interogasi panjang dengan Dean Thomas, 'bagaimana Anda, sebagai
anggota staf sementara -- orang luar yang objektif, kukira Anda bisa berkata begitu -bagaimana pendapat Anda tentang Hogwarts? Apakah Anda merasa menerima cukup
dukungan dari pihak pengelola sekolah?'
'Oh, ya, Dumbledore sangat hebat,' kata Profesor Grubbly-Plank sepenuh hati. 'Ya,
saya sangat senang dengan cara-cara pengelolaan, sangat senang.'
Terlihat tidak percaya, Umbridge membuat catatan kecil di papan jepitnya dan
meneruskan, 'Dan apa yang Anda rencanakan untuk dibahas dengan kelas ini tahun ini
-- tentu saja, dengan asumsi bahwa Profesor Hagrid tidak kembali?'
'Oh, aku akan membawa mereka melalui makhluk-makhluk yang paling sering
keluar di OWL,' kata Profesor Grubbly-Plank. 'Tak banyak yang tertinggal -- mereka
sudah mempelajari unicorn dan Niffler, kukira kami akan membahas Porlock dan
Kneazle, memastikan mereka bisa mengenali Crup dan Knarl, Anda tahu ...'
'Well, bagaimanapun, Anda kelihatannya tahu apa yang Anda lakukan,' kata
Profesor Umbridge sambil membuat tanda centang jelas di papan jepitnya. Harry
tidak suka penekanan yang ditaruhnya pada kata 'Anda' dan lebih tidak suka lagi
ketika dia memberi pertanyaan berikutnya kepada Goyle. 'Sekarang, kudengar pernah
ada cedera dalam kelas ini?'
Goyle menyengir tolol. Malfoy bergegas menjawab pertanyaan itu.
'Itu aku,' katanya. 'Aku dicakar Hippogriff.'
'Hippogriff?' kata Profesor Umbridge, yang sekarang sedang mencoret dengan
kacau.
'Hanya karena dia terlalu bodoh untuk mendengarkan apa yang disuruh Hagrid,'
kata Harry dengan marah. Ron dan Hermione mengerang. Profesor Umbridge
memalingkan kepalanya lambat-lambat ke arah Harry.
'Detensi satu malam lagi, kukira,' katanya dengan lembut. 'Well, terima kasih
banyak, Profesor Grubbly-Plank, kukira itu semua yang kuperlukan. Anda akan
menerima hasil inspeksi Anda dalam sepuluh hari.'
'Bagus sekali,' kata Profesor Grubbly-Plank, dan Profesor Umbridge berangkat
kembali menyeberangi halaman menuju kastil.
*
Hampir tengah malam ketika Harry meninggalkan kantor Umbridge malam itu,
tangannya sekarang berdarah sangat parah sehingga menodai scarf yang
dibungkusnya di sekitarnya. Dia mengharapkan ruang duduk kosong ketika dia
kembali, tetapi Ron dan Hermione terjaga menunggunya. Dia senang melihat mereka,
terutama kerena Hermione bersikap simpatik bukannya kritis.
'Ini,' katanya dengan cemas, sambil mendorong semangkuk kecil cairan kuning
kepadanya, 'rendam tanganmu dalam itu, itu larutan tentakel Murtlap yang disaring
dan diasamkan, seharusnya bisa menolong.'
Harry menempatkan tangannya yang berdarah dan sakit ke dalam mangkuk itu dan
merasakan perasaan lega yang menyenangkan. Crookshanks bergelung di sekeliling
kakinya, sambil mendengkur dengan keras, lalu melompat ke pangkuannya dan diam.
'Trims,' katanya penuh rasa terima kasih, sambil menggaruk bagian belakang
telinga Crookshanks dengan tangan kirinya.
'Aku masih berpendapat kamu seharusnya mengadu tentang ini,' kata Ron dengan
suara rendah.
'Tidak,' kata Harry datar.
'McGonagall akan jadi gila kalau dia tahu --'
'Yeah, dia mungkin,' kata Harry tanpa minat. 'Dan berapa lama menurutmu yang
dibutuhkan Umbridge untuk mengesahkan dekrit lain yang menyatakan siapapun
yang mengeluh tentang Penyelidik Tinggi dipecat segera?'
Ron membuka mulutnya untuk menjawab tetapi tak ada yang keluar dan, setelah
beberapa saat, dia menutupnya lagi, kalah.
'Dia wanita mengerikan,' kata Hermione dengan suara kecil. 'Mengerikan. Kau
tahu, aku baru saja berkata kepada Ron ketika kau masuk ... kita harus melakukan
sesuatu mengenai dia.'
'Kusarankan racun,' kata Ron dengan murung.
'Bukan ... maksudku, sesuatu mengenai bagaimana buruknya dia sebagai guru, dan
bagaimana kita tidak akan mempelajari Pertahanan apapun darinya sama sekali,' kata
Hermione.
'Well, apa yang bisa kita lakukan mengenai itu?' kata Ron sambil menguap. ''Dah
terlambat, bukan? Dia dapat pekerjaan itu, dia akan tetap di sini. Fudge akan
memastikan itu.'
'Well,' kata Hermione coba-coba. 'Kalian tahu, aku berpikir hari ini ...' dia memberi
pandangan agak gugup kepada Harry dan lalu meneruskan, 'aku berpikir kalau -mungkin waktunya telah tiba saat kita harus -- melakukannya sendiri.'
'Melakukan apa sendiri?' kata Harry dengan curiga, masih mengapungkan
tangannya dalam intisari tentakel Murtlap.
'Well -- belajar Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam sendiri,' kata Hermione.
'Sudahlah,' erang Ron. 'Kau mau kita melakukan kerja ekstra? Sadarkah peer kau
Harry dan aku sudah menumpuk lagi dan ini baru minggu kedua?'
'Tapi ini jauh lebih penting daripada peer!' kata Hermione.
Harry dan Ron menatapnya lekat-lekat.
'Aku tidak mengira ada hal di jagad ini yang lebih penting daripada peer!' kata Ron.
'Jangan tolol, tentu saja ada,' kata Hermione, dan Harry melihat, dengan perasaan
tidak menyenangkan, bahwa wajahnya mendadak bersinar dengan semangat yang
biasanya diilhami oleh SPEW pada dirinya. 'Tentang mempersiapkan diri kita sendiri,
seperti yang Harry katakan dalam pelajaran pertama Umbridge, untuk apa yang
menunggu kita di luar sana. Tentang memastikan kita benar-benar dapat
mempertahankan diri kita sendiri. Kalau kita tidak belajar apapun satu tahun penuh --'
'Kita tidak bisa melakukan banyak sendirian,' kata Ron dengan suara kalah.
'Maksudku, baiklah, kita bisa pergi melihat kutukan-kutukan di perpustakaan dan
mencoba melatihnya, kurasa --'
'Tidak, aku setuju, kita sudah melewati tahap di mana kita bisa belajar dari buku,'
kata Hermione. 'Kita perlu seorang guru, yang pantas, yang bisa memperlihatkan
kepada kita bagaimana menggunakan mantera-mantera dan mengoreksi kita kalau kita
salah.'
'Kalau kau berbicara mengenai Lupin ...' Harry mulai.
'Tidak, tidak, aku tidak sedang membicarakan Lupin,' kata Hermione. 'Dia terlalu
sibuk dengan Order dan, lagipula, kita paling cuma bisa bertemu dengannya selama
akhir pekan Hogsmeade dan itu tidak cukup sering.'
'Kalau begitu, siapa?' kata Harry sambil merengut kepadanya.
Hermione menarik napas dalam-dalam.
'Bukankah sudah jelas?' katanya. 'Aku sedang berbicara tentang kamu, Harry.'
Ada keheningan sejenak. Angin malam sepoi-sepoi menderakkan kaca jendela di
belakang Ron, dan api bergoyang-goyang.
'Tentang aku apa?' kata Harry.
'Aku sedang berbicara tentang kamu mengajarkan kami Pertahanan Terhadap Ilmu
Hitam.'
Harry menatapnya. Lalu dia berpaling kepada Ron, siap bertukar pandangan putus
asa yang kadang dilakukan mereka ketika Hermione berbicara panjang lebar tentang
rencana-rencana yang sulit dicapai seperti SPEW. Namun, yang membuat Harry
kuatir, Ron tidak tampak putus asa.
Dia sedang merengut sedikit, tampaknya sedang berpikir. Lalu dia berkata, 'Itu ide
bagus.'
'Ide apa?' kata Harry.
'Kau,' kata Ron. 'Mengajari kami melakukannya.'
'Tapi ...'
Harry sekarang nyengir, yakin mereka berdua sedang mempermainkan dia.
'Tapi aku bukan guru, aku tidak bisa --'
'Harry, kau yang terbaik di kelas kita dalam Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam,' kata
Hermione.
'Aku?' kata Harry, yang sekarang nyengir lebih lebar dari sebelumnya. 'Bukan, aku
bukan, kau sudah mengalahkan aku dalam semua ujian --'
'Sebenarnya, aku belum,' kata Hermione dengan tenang. 'Kau mengalahkan aku di
tahun ketiga kita -- satu-satunya tahun di mana kita berdua ikut ujian dan punya guru
yang benar-benar tahu pelajaran itu. Tapi aku tidak berbicara tentang hasil tes, Harry.
Pikirkan apa yang telah kau lakukan.'
'Bagaimana maksudmu?'
'Kau tahu apa, aku tidak yakin aku mau seseorang sebodoh ini mengajari aku,' Ron
berkata kepada Hermione sambil tersenyum sedikit. Dia berpaling kepada Harry.
'Mari kita pikir,' katanya sambil membuat wajah seperti Goyle yang sedang
berkonsentrasi. 'Uh ... tahun pertama -- kau menyelamatkan Batu Bertuah dari KauTahu-Siapa.'
'Tapi itu keberuntungan,' kata Harry, 'itu bukan keahlian --'
'Tahun kedua,' Ron menyela, 'kau membunuh Basilisk dan menghancurkan Riddle.'
'Ya, tapi kalau Fawkes tidak muncul, aku --'
'Tahun ketiga,' Ron berkata masih lebih keras lagi, 'kau bertarung dengan sekitar
seratus Dementor seketika --'
'Kau tahu itu kebetulan, kalau Pembalik-Waktu tidak --'
'Tahun lalu,' Ron berkata, hampir berteriak sekarang, 'kau bertarung dengan KauTahu-Siapa lagi --'
'Dengarkan aku!' kata Harry, hampir marah, karena Ron dan Hermione keduanya
tersenyum sekarang. 'Dengar saja, oke? Kedengarannya bagus ketika kau
mengatakannya seperti itu, tapi semua hal itu hanyak keberuntungan -- aku tidak tahu
apa yang sedang kulakukan setengah waktu itu, aku tidak merencanakan apapun, aku
hanya melakukan apapun yang bisa kupikirkan, dan aku hampir selalu mendapat
bantuan --'
Ron dan Hermione masih tersenyum dan Harry merasa amarahnya naik; dia bahkan
tidak yakin mengapa dia merasa begitu marah.
'Jangan duduk di sana nyengir seperti kalian lebih tahu daripada aku, aku ada di
sana, bukan?' katanya dengan panas. 'Aku tahu apa yang terjadi, oke? Dan aku tidak
melewati apapun karena aku pandai dalam Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, aku
melewati itu semua karena -- karena bantuan datang pada saat yang tepat, atau karena
aku menebak dengan benar -- tapi aku hanya melewati itu semua dengan tolol, aku
tidak punya petunjuk apa yang sedang kulakukan -- BERHENTI TERTAWA!'
Mangkuk intisari Murtlap jatuh ke lantai dan terbanting. Dia menjadi sadar bahwa
dia sedang berdiri, walaupun dia tidak bisa mengingat telah bangkit. Crookshanks
melintas pergi di bawah sofa. Senyum Ron dan Hermione telah hilang.
'Kalian tidak tahu seperti apa rasanya! Kalian -- tak satupun dari kalian -- kalian
belum pernah menghadapinya, bukan? Kalian kira cuma menghapal sejumlah mantera
dan melemparkannya kepada dia, seperti saat kalian dalam kelas atau apapun?
Sepanjang waktu kalian yakin kalian tahu tak ada yang menghalangi antara diri kalian
dengan kematian kecuali -- otak atau nyali kalian sendiri atau apapun -- seperti kalian
bisa berpikir jernih kalau kalian tahu kalian sekitar satu nanodetik dari dibunuh, atau
disiksa, atau menyaksikan teman kalian mati -- mereka tidak pernah mengajarkan itu
di kelas, seperti apa menghadapi hal-hal seperti itu -- dan kalian berdua duduk di sana
bertingkah seperti aku anak kecil yang pintar karena berdiri di sana, hidup, seperti
Diggory bodoh, seperti dia mengacaukan -- kalian tidak mengerti, itu bisa saja sama
mudahnya terjadi padaku, pasti terjadi kalau Voldemort tidak membutuhkan aku --'
'Kami tidak mengatakan yang seperti itu, sobat,' kata Ron, terlihat terperanjat.
'Kami tidak mengejek Diggory, kami tidak -- kau menangkap ujung yang salah dari --'
Dia melihat tanpa daya kepada Hermione, yang wajahnya tercengang.
'Harry,' katanya takut-takut, 'tidakkah kau lihat? Ini ... ini persisnya mengapa kami
perlu kamu ... kami perlu tahu seperti apa ... menghadapi dia ... menghadapi VVoldemort.'
Itu pertama kalinya dia pernah menyebutkan nama Voldemort dan inilah, lebih
daripada yang lain, yang menenangkan Harry. Masih bernapas keras, dia terbenam
kembali ke kursinya, menjadi sadar ketika dia berbuat demikian bahwa tangannya
berdenyut mengerikan lagi. Dia berharap dia tidak membanting mangkuk intisari
Murtlap itu.
'Well ... pikirkan tentang itu,' kata Hermione pelan. 'Kumohon?'
'Harry tidak bisa memikirkan apapun untuk dikatakan. Dia sudah merasa malu
karena ledakan kemarahannya. Dia mengangguk, hampir tidak menyadari apa yang
sedang disetujuinya.
Hermione berdiri.
'Well, aku akan pergi tidur,' katanya dengan suara yang jelas sealami yang bisa
dibuatnya. 'Erm ... malam.'
Ron juga sudah bangkit.
'Ikut?' katanya dengan canggung kepada Harry.
'Yeah,' kata Harry. 'Sebentar. Aku hanya akan membersihkan ini.'
Dia menunjuk ke mangkuk pecah di lantai. Ron mengangguk dan pergi.
'Reparo,' Harry bergumam sambil menunjukkan tongkatnya ke pecahan itu. Mereka
terbang bersatu kembali, seperti baru, tapi tidak ada yang bisa mengembalikan intisari
Murtlap ke mangkuk.
Dia mendadak sangat letih sehingga dia tergoda untuk merosot kembali ke kursi
berlengannya dan tidur di sana, tetapi dia malah memaksa dirinya bangkit dan
mengikuti Ron ke atas. Malamnya yang tidak tenang semakin diperjelas sekali lagi
dengan mimpi mengenai koridor-koridor panjang dan pintu-pintu terkunci dan dia
terbangun keesokan harinya dengan bekas luka yang menusuk-nusuk lagi.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB ENAM BELAS -Di Dalam Hog's Head
Hermione tidak menyebut-nyebut tentang Harry memberi pelajaran Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam lagi selama dua minggu penuh setelah usul awalnya. Detensi
Harry dengan Umbridge akhirnya selesai (dia ragu apakah kata-kata yang sekarang
tergores ke punggung tangannya akan bisa hilang seluruhnya); Ron sudah melakukan
empat kali latihan Quidditch lagi dan tidak diteriaki selama dua latihan terakhir; dan
mereka bertiga telah berhasil meng-Hilangkan tikus mereka dalam Transfigurasi
(Hermione bahkan sudah maju ke meng-Hilangkan anak-anak kucing), sebelum
subyek itu dibahas lagi, pada suatu malam liar yang berangin kencang di akhir bulan
September, ketika mereka bertiga sedang duduk di perpustakaan, sambil mencari
bahan ramuan untuk Snape.
'Aku ingin tahu,' Hermione berkata tiba-tiba, 'apakah kau sudah memikirkan
tentang Pertahanan terhadap Ilmu Hitam lagi, Harry.'
'Tentu saja,' kata Harry menggerutu, 'tidak bisa melupakannya, bukan, dengan
nenek sihir itu yang mengajar kita --'
'Maksudku ide yang dimiliki Ron dan aku --' Ron memberinya semacam pandangan
khawatir yang mengancam. Dia merengut kepadanya, '-- Oh, baiklah, ide yang
kumiliki, kalau begitu -- tentang kau mengajari kami.'
Harry tidak menjawab seketika. Dia berpura-pura membalik halaman Anti-Bisa
Asia, karena dia tidak mau mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
Dia telah banyak berpikir mengenai masalah itu selama dua pekan belakangan ini.
Kadang kelihatannya seperti ide gila, seperti pada malam ketika Hermione
mengusulkannya, tetapi terkadang, dia menemukan dirinya memikirkan tentang
mantera-mantera yang telah paling berguna baginya dalam berbagai perjumpaannya
dengan makhluk-mahkluk Hitam dan para Pelahap Maut -- bahkan, menemukan
dirinya merencanakan pelajaran-pelajarannya di alam bawah sadarnya ...
'Well,' katanya pelam-pelan, ketika dia tidak bisa berpura-pura tertarik kepada
Anti-Bisa Asia lagi, 'yeah, aku -- aku sudah memikirkannya sedikit.'
'Dan?' kata Hermione dengan bersemangat.
'Aku tak tahu,' kata Harry, sambil mengulur waktu. Dia memandang Ron.
'Kukira itu ide bagus dari awal,' kata Ron, yang tampak lebih berminat bergabung
ke dalam percakapan ini sekarang setelah dia yakin Harry tidak akan mulai berteriak
lagi.
Harry bergeser dengan tidak nyaman di kursinya.
'Kau mendengar apa yang kukatakan tentang banyak yang berhubungan dengan
keberuntungan, bukankah begitu?'
'Ya, Harry,' kata Hermione dengan lembut, 'tapi tetap saja, tidak ada gunanya
berpura-pura kau tidak pandai dalam Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, karena kau
memang pandai. Kau adalah satu-satunya orang tahun lalu yang bisa melawan
Kutukan Imperius sepenuhnya, kau bisa menghasilkan Patronus, kau bisa melakukan
semua hal yang tidak bisa dilakukan penyihir-penyihir dewasa, Viktor selalu bilang --'
Ron memandang ke arahnya begitu cepat sehingga dia kelihatannya telah membuat
lehernya keseleo. Sambil menggosoknya, dia berkata, 'Yeah? Apa yang dikatakan
Vicky?'
'Ho ho,' kata Hermione dengan suara bosan. 'Dia bilang Harry tahu cara melakukan
hal-hal yang bahkan tidak bisa dilakukannya, dan dia sudah berada di tahun
terakhirnya di Durmstrang.'
Ron sedang menatap Hermione dengan curiga.
'Kau tidak masih berhubungan dengannya, bukan?'
'Jadi kenapa kalau iya?' kata Hermione dengan dingin, walaupun wajahnya sedikit
merah muda. 'Aku boleh punya sahabat pena kalau aku --'
'Dia tidak mau hanya jadi sahabat penamu,' kata Ron menuduh.
Hermione menggelengkan kepalanya dengan putus asa dan, sambil mengabaikan
Ron, yang masih terus mengamati dia, berkata kepada Harry, 'Well, bagaimana
menurutmu? Maukah kau mengajari kami?'
'Hanya kamu dan Ron, yeah?'
'Well,' kata Hermione, tampak agak cemas lagi. 'Well ... sekarang, jangan marahmarah lagi, Harry, tolong ... tapi aku benar-benar berpikir kamu harus mengajari
siapapun yang ingin belajar. Maksudku, kita sedang berbicara tentang
mempertahankan diri kita dari Voldemort. Oh, jangan bersikap menyedihkan, Ron.
Tampaknya tidak adil kalau kita tidak menawarkan kesempatan itu kepada orang lain.'
Harry mempertimbangkan ini sejenak, lalu berkata, 'Yeah, tapi aku ragu siapapun
selain kalian berdua akan mau diajari olehku. Aku sinting, ingat?'
'Well, kukira kau mungkin terkejut berapa banyak orang yang akan tertarik untuk
mendengar apa yang mau kaukatakan,' kata Hermione dengan serius. 'Lihat,' dia
mencondongkan badan ke arahnya -- Ron, yang masih mengamatinya dengan muka
merengut, mencondongkan badan juga untuk mendengarkan -- 'kau tahu akhir pekan
pertama di bulan Oktober adalah akhir pekan Hogsmeade? Bagaimana kalau kita
memberitahu siapapun yang tertarik untuk menemui kita di desa dan kita bisa
membicarakan hal ini?'
'Kenapa kita harus melakukannya di luar sekolah?' kata Ron.
'Karena,' kata Hermione sambil mengembalikan diagram Kubis Kunyah Cina yang
sedang disalinnya, 'kukira Umbridge tidak akan terlalu senang kalau dia tahu apa yang
sedang kita rencanakan.'
*
Harry telah menantikan perjalanan akhir pekan ke Hogsmeade, tetapi ada satu hal
yang dikhawatirkan olehnya. Sirius telah mempertahankan kebisuan membatu sejak
dia muncul dalam api di permulaan September; Harry tahu mereka telah membuatnya
marah dengan mengatakan mereka tidak ingin dia datang -- tapi dia masih kuatir dari
waktu ke waktu kalau Sirius mungkin tidak memperdulikan kewaspadaan dan muncul
juga. Apa yang akan mereka lakukan kalau anjing hitam besar itu datang meloncatloncat di jalan mendekati mereka di Hogsmeade, mungkin di bawah hidung Draco
Malfoy?
'Well, kau tidak bisa menyalahkan dia karena mau keluar dan berkeliaran,' kata
Ron, ketika Harry membahas ketakutannya dengan dia dan Hermione. 'Maksudku, dia
telah buron selama dua tahun, bukankah begitu, dan aku tahu itu bukan hal yang
menyenangkan, tapi setidaknya dia bebas, benar 'kan? Dan sekarang dia hanya
terkurung sepanjang waktu dengan peri mengerikan itu.'
Hermione cemberut kepada Ron, tetapi selain itu mengabaikan hal kecil tentang
Kreacher itu.
'Masalahnya adalah,' katanya kepada Harry, 'sampai V-Voldemort -- oh, demi
Tuhan, Ron -- keluar terang-terangan, Sirius akan harus tetap bersembunyi, benar
bukan? Maksudku, Kementerian bodoh itu tidak akan menyadari kalau Sirius tidak
bersalah sampai mereka menerima bahwa Dumbledore telah mengatakan hal yang
sebenarnya sejak awal. Dan begitu orang-orang bodoh itu mulai menangkapi para
Pelahap Maut yang asli lagi, akan jadi jelas kalau Sirius bukan seorang ... maksudku,
dia tidak punya Tanda, salah satunya.'
'Kukira dia tidak akan cukup bodoh untuk muncul,' kata Ron memperkuat.
'Dumbledore akan marah besar kalau dia melakukannya dan Sirius mendengarkan
Dumbledore walaupun kalau dia tidak suka apa yang didengarnya.'
Ketika Harry masih terus tampak khawatir, Hermione berkata, 'Dengar, Ron dan
aku telah berbicara dengan orang-orang yang kami kira akan mau belajar Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam yang pantas, dan ada sejumlah orang yang tampak tertarik. Kami
telah menyuruh mereka untuk menemui kita di Hogsmeade.'
'Benar,' kata Harry dengan samar, pikirannya masih tentang Sirius.
'Jangan cemas, Harry,' Hermione berkata pelan. 'Kau sudah punya cukup banyak
yang dipikirkan tanpa Sirius juga.'
Dia sangat benar, tentu saja, Harry hampir tidak bisa menyelesaikan pekerjaan
rumahnya, walaupun dia jauh lebih baik sekarang sewaktu dia tidak lagi
menghabiskan sepanjang malam dalam detensi bersama Umbridge. Ron bahkan lebih
ketinggalan pekerjaannya daripada Harry, karena sementara mereka berdua latihan
Quidditch dua kali dalam seminggu, Ron juga punya tugas-tugas prefek. Namun,
Hermione, yang mengambil lebih banyak mata pelajaran daripada mereka berdua,
tidak hanya telah menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya tetapi juga mempunyai
waktu untuk merajut lebih banyak pakaian peri. Harry harus mengakui kalau dia
semakin pandai; sekarang hampir selalu mungkin membedakan antara topi dengan
kaus kaki.
Pagi kunjungan Hogsmeade timbul dengan cerah tetapi berangin. Setelah makan
pagi, mereka aantri di depan Filch, yang mencocokkan nama-nama mereka dengan
daftar panjang murid-murid yang telah memiliki izin dari orang tua atau wali mereka
untuk mengunjungi desa itu. Dengan rasa pedih yang tiba-tiba, Harry teringat bahwa
kalau bukan karena Sirius, dia tidak akan bisa pergi sama sekali.
Ketika Harry mencapai Filch, penjaga sekolah itu mengendusnya seakan-akan
mencoba mendeteksi bau sesuatu dari Harry. Lalu dia memberi anggukan kasar yang
membuat rahangnya bergetar lagi dan Harry berjalan terus, keluar ke undakan batu
dan hari dingin yang disinari matahari.
'Er -- kenapa Filch mengendusi kamu?' tanya Ron, ketika dia, Harry dan Hermione
berjalan dengan langkah cepat di jalan kereta lebar menuju gerbang.
'Kurasa dia sedang mencari bau Bom Kotoran,' kata Harry dengan tawa kecil. 'Aku
lupa memberitahu kalian ...'
Dan dia mengulangi cerita pengiriman suratnya ke Sirius dan Filch yang
menerobos masuk beberapa detik kemudian, menuntut untuk melihat surat itu. Yang
membuatnya sedikit terkejut, Hermione menganggap cerita ini sangat menarik,
terlebih lagi, daripada dia sendiri.
'Dia bilang dia diberi kisikan bahwa kau sedang memesan Bom Kotoran? Tapi
siapa yang mengisikinya?'
'Aku tak tahu,' kata Harry sambil mengangkat bahu. 'Mungkin Malfoy, dia kira itu
lelucon.'
Mereka berjalan di antara pilar-pilar batu tinggi yang puncaknya babi hutan
bersayap dan belok kiri ke jalan menuju desa, angin memecut rambut mereka ke
dalam mata.
'Malfoy?' kata Hermione dengan skeptis. 'Well ... ya ... mungkin ...'
Dan dia tetap berpikir dalam-dalam sepanjang jalan menuju daerah pinggiran
Hogsmeade.
'Ngomong-ngomong, ke mana kita akan pergi?' Harry bertanya. 'The Three
Broomsticks?'
'Oh -- bukan,' kata Hermione, keluar dari renungannya, 'bukan, tempat itu selalu
penuh dan sangat ribut. Aku telah memberitahu yang lain untuk menemui kita di
Hog's Head, pub yang satunya lagi, kau tahu yang satu itu, bukan di jalan utama.
Kukira itu agak ... kau tahu ... beresiko ... tapi para murid biasanya tidak masuk ke
sana, jadi kukira kita tidak akan terdengar oleh orang lain.'
Mereka berjalan menyusrui jalan utama melewati Toko Lelucon Sihir Zonko,
mereka tidak terkejut melihat Fred, George dan Lee Jordan berada di dalamnya,
melewati kantor pos, dari mana burung-burung hantu bermunculan pada interval
teratur, dan berbelok ke jalan kecil yang di ujungnya ada sebuah penginapan kecil.
Sebuah papan tanda dari kayu bobrok tergantung dari siku-siku karatan di atas pintu,
bergambarkan sebuah kepala terpenggal babi hutan liar, bercucuran darah ke kain
putih di sekelilingnya. Papan tanda itu berderit karena angin ketika mereka mendekat.
Mereka bertiga semuanya bimbang di luar pintu.
'Well, ayolah,' kata Hermione, sedikit gugup. Harry memimpin jalan memasukinya.
Tidak seperti Three Broomstick sama sekali, yang bar besarnya memberi kesan
kehangatan berkilat-kilat dan kebersihan. Bar Hog's Head tersusun atas sebuah ruang
kecil, suram dan amat kotor yang berbau sangat kuat akan sesuatu yang sangat
mungkin berupa kambing. Jendela-jendela yang menjulur ke luar berlapiskan debu
yang melekat sehingga hanya sedikit cahaya siang yang bisa memasuki ruangan itu,
yang gantinya diterangi dengan puntung-puntung lillin yang terletak pada meja-meja
kayu kasar. Lantainya pada pandangan pertama tampak terbuat dari tanah padat,
walaupun ketika Harry melangkah ke atasnya dia menyadari kalau ada batu di bawah
apa yang tampak seperti kumpulan sampah berabad-abad.
Harry teringat Hagrid menyebut pub ini di tahun pertamanya. 'Kau jumpa banyak
orang aneh di Hog's Head,' dia pernah berkata, ketika menjelaskan bagaimana dia
memenangkan sebutir telur naga dari seorang asing bertudung di sana. Pada saat itu
Harry bertanya-tanya mengapa Hagrid tidak menganggap aneh orang asing itu
menyembunyikan wajahnya sepanjang pertemuan mereka; sekarang dia melihat
bahwa menutupi wajahmu adalah suatu kebiasaan di Hog's Head. Ada seorang pria di
bar yang seluruh kepalanya dibalut dengan perban kelabu kotor, walaupun dia masih
bisa meneguk bergelas-gelas zat berapi yang mengeluarkan asap melalui celah di atas
mulutnya; dua figur berselubung tudung duduk di sebuah meja dekat salah satu
jendela; Harry mungkin mengira mereka Dementor kalau mereka tidak berbicara
dengan aksen Yorkshire yang kental, dan di sebuah sudut ternaungi bayang-bayang di
samping perapian duduk seorang penyihir wanita dengan kerudung hitam tebal yang
jatuh hingga ke jari kakinya. Mereka hanya bisa melihat ujung hidungnya karena
menyebabkan kerudung itu menonjol sedikit.
'Aku tidak tahu tentang ini, Hermione,' Harry bergumam, ketika mereka melintas
ke bar. Dia melihat khususnya kepada penyihir wanita bertudung berat itu.
'Pernahkah terpikir olehmu Umbridge mungkin berada di balik itu?'
Hermione memandang sambil menilai ke figur berkerudung itu.
'Umbridge lebih pendek daripada wanita itu,' katanya pelan. 'Dan lagipula,
kalaupun Umbridge datang ke sini tidak ada yang dapat dilakukannya untuk
menghentikan kita, Harry, karena aku telah memeriksa peraturan sekolah dua-tiga
kali. Kita tidak berada di luar batas; aku secara spesifik bertanya kepada Profesor
Flitwick apakah para murid diizinkan datang ke Hog's Head, dan dia bilang iya, tapi
dia menasihati aku dengan keras untuk membawa gelas sendiri. Dan aku telah
memeriksa semua yang terpikirkan olehku tentang kelompok belajar dan kelompok
pekerjaan rumah dan kelompok-kelompok itu jelas diizinkan. Aku hanya tidak
berpikir itu ide bagus kalau kita memparadekan apa yang sedang kita lakukan.'
'Tidak,' kata Harry dengan kering, 'terutama karena tepatnya bukan kelompok
pekerjaan rumah yang sedang kau rencanakan, bukankah begitu?'
Penjaga bar itu berjalan menyamping kepada mereka dari sebuah ruangan di
belakang. Dia seorang lelaki tua yang tampak pemarah dengan rambut dan jenggot
kelabu panjang yang lebat. Dia jangkung dan kurus dan tampak agak akrab bagi
Harry.
'Apa?' gerutunya.
'Tolong tiga Butterbeer,' kata Hermione.
Lelaki itu meraih ke bawah meja pajang dan menarik ke atas tiga botol yang sangat
berdebu dan sangat kotor, yang dibantingnya ke bar.
'Enam Sickle,' katanya.
'Akan kuambil,' kata Harry cepat, sambil mengambil perak-perak itu. Mata si
penjaga bar menatap Harry; bertahan sepersekian detik di bekas lukanya. Lalu dia
berpaling dan menyimpan uang Harry ke laci uang kayu kuno yang lacinya bergeser
membuka secara otomatis untuk menerima uang itu. Harry, Ron dan Hermione
mundur ke meja paling jauh dari bar dan duduk, sambil memandang sekeliling. Lelaki
yang memakai perban kelabu kotor itu mengetuk maja pajang dengan buku jarinya
dan menerima minuman berasap lagi dari penjaga bar.
'Kau tahu apa?' Ron berbisik, sambil melihat ke bar dengan antusias. 'Kita bisa
memesan apapun yang kita suka di sini. Aku bertaruh lelaki itu akan menjual apapun
kepada kita, dia tidak akan peduli. Aku selalu ingin minum Whisky Api --'
'Kau -- seorang -- prefek,' kata Hermione tajam.
'Oh,' kata Ron, senyum memudar dari wajahnya. 'Yeah ...'
'Jadi, siapa yang katamu sehahrusnya menemui kita?' Harry bertanya, sambil
merenggut buka tutup berkarat botol Butterbeernya dan meneguk sekali.
'Cuma beberapa orang,' Hermione mengulangi, sambil memeriksa jam tangannya
dan memandang dengan cemas ke pintu. 'Kusuruh mereka ke sini sekitar sekarang dan
aku yakin mereka semua tahu di mana letaknya -- oh, lihat, ini mungkin mereka.'
Pintu pub telah terbuka. Seberkas cahaya tebal sinar matahari penuh debu membagi
ruangan menjadi dua sejenak dan lalu menghilang, terhalang oleh serbuan kerumunan
orang-orang yang sedang masuk.
Pertama masuklah Neville dengan Dean dan Lavender, yang diikuti oleh Parvati
dan Padma Patil bersama (perut Harry bersalto ke belakang) Cho dan salah seorang
teman wanitanya yang suka terkikik, lalu (sendirian dan tampak sangat melamun dia
mungkin saja masuk secara tidak sengaja) Luna Lovegood; lalu Katie Bell, Allicia
Spinnet dan Angelina Johnson, Colin dan Dennis Creeevy, Ernie Macmillan, Justin
Finch-Fletchey, Hannah Abbot, seorang gadis Hufflepuff dengan rambut panjang
dijalin yang namanya tidak diketahui Harry; tiga anak lelaki Ravenclaw yang dia
cukup yakin dipanggil Anthony Goldstein, Michael Corner dan Terry Boot, Ginny,
diikuti oleh seorang anak lelaki kurus tinggi berambut pirang yang hidungnya
mencuat yang samar-samar dikenali Harry sebagai salah satu anggota tim Quidditch
Hufflepuff dan, paling belakang, Fred dan George Weasley bersama teman mereka
Lee Jordan, mereka bertiga semuanya membawa kantong-kantong kertas besar yang
dijejali barang-barang jualan Zonko.
'Beberapa orang?' kata Harry dengan serak kepada Hermione. 'Beberapa orang?'
'Ya, well, ide itu tampaknya sangat populer,' kata Hermione dengan gembira. 'Ron,
maukah kau menarik beberapa kursi lagi?'
Penjaga bar telah membeku ketika sedang menyeka sebuah gelas dengan kain
rombengan yang sangat kotor sehingga terlihat seolah tidak pernah dicuci. Mungkin
dia belum pernah melihat pubnya begini penuh.
'Hai,' kata Fred, yang mencapai bar terlebih dahulu dan sambil menghitung temantemannya dengan cepat, 'bisakah kami dapat ... dua puluh lima Butterbeer?'
Penjaga bar melotot kepadanya sejenak, lalu, sambil melemparkan kain
rombengnya dengan kesal sekan-akan dia telah disela ketika melakukan sesuatu yang
penting, dia mulai memberikan Butterbeer berdebu dari bawah bar.
'Sulang,' kata Fred sambil membagi-bagikan.'Serahkan uang, semuanya, aku tidak
punya cukup emas untuk semua ini ...'
Harry memandang dengan kaku selagi kelompok besar yang sedang mengoceh itu
mengambil bir-bir mereka dari Fred dan menggeledah kantong untuk mencari koin.
Dia tidak bisa membayangkan untuk apa orang-orang ini muncul sampai timbul
pikiran mengerikan dalam dirinya bahwa mereka mungkin mengharapkan semacam
pidato, sehingga dia memberondong Hermione.
'Apa yang telah kau katakan kepada mereka?' katanya dengan suara rendah. 'Apa
yang mereka harapkan?'
'Sudah kuberitahu kamu, mereka cuma ingin mendengar apa yang mau kau
katakan,' kata Hermione menenangkan; tapi Harry terus menatapnya dengan sangat
marah sehingga dia menambahkan cepat-cepat, 'kau tidak harus melakukan apapun
dulu, aku akan berbicara kepada mereka terlebih dahulu.'
'Hai, Harry,' kata Neville sambil tersenyum dan mengambil tempat duduk di
seberangnya.
Harry mencoba tersenyum balik, tetapi tidak berbicara; mulutnya luar biasa kering.
Cho baru saja tersenyum kepadanya dan duduk di sebelah kanan Ron. Temannya,
yang berambut keriting pirang kemerahan, tidak tersenyum, tetapi memberi Harry
pandangan tidak percaya yang jelas memberitahu dia bahwa, kalau bisa memutuskan,
dia tidak akan berada di sini sama sekali.
Dalam kelompok dua-dua dan tiga-tiga para pendatang baru duduk di sekitar Harry,
Ron dan Hermione, beberapa terlihat agak bersemangat, yang lainnya ingin tahu,
Luna Lovegood menatap ruang kosong sambil melamun. Ketika semua orang telah
menarik kursi, ocehan menghilang. Semua mata menatap Harry.
'Er,' kata Hermione, suaranya sedikit lebih tinggi daripada biasa karena gugup.
'Well -- er -- hai.'
Kelompok itu memfokuskan perhatian kepadanya, walaupun beberapa mata terus
melirik Harry secara teratur.
'Well ... erm ... well, kalian tahu kenapa kalian di sini. Erm ... well, Harry di sini
punya ide -- maksudku' (Harry telah memberi pandangan tajam kepadanya) 'aku
punya ide -- bahwa mungkin baik kalau orang-orang yang ingin belajar Pertahanan
terhadap Ilmu Hitam -- dan maksudku, benar-benar mempelajarinya, kalian tahu,
bukan sampah yang diberikan Umbridge kepada kita --' (suara Hermione mendadak
menjadi lebih kuat dan lebih percaya diri) '-- karena tak seorangpun bisa menyebut itu
Pertahanan terhadap Ilmu Hitam --' ('Dengar, dengar,' kata Anthony Goldstein, dan
Hermione tampak berbesar hati) '-- Well, kupikir baik kalau kita, well, mengambil
alih masalah ini ke tangan kita sendiri.'
Dia berhenti sejenak, memandang ke samping kepada Harry, dan melanjutkan, 'Dan
dengan itu maksudku belajar bagaimana mempertahankan diri kita dengan tepat, tidak
hanya secara teori tetapi melakukan mantera-mantera sebenarnya --'
'Walau kau mau lulus OWL Pertahanan terhadap Ilmu Hitammu juga, kuyakin
begitu?' kata Michael Corner yang sedang memperhatikannya dengan seksama.
'Tentu saja,' kata Hermione seketika. 'Tapi lebih dari itu, aku mau terlatih dengan
tepat dalam pertahanan karena ... karena ...' dia mengambil napas panjang dan
menyelesaikan, 'karena Lord Voldemort sudah kembali.'
Reaksinya segera dan dapat diramalkan. Teman Cho menjerit dan menumpahkan
Butterbeer ke dirinya sendiri; Terry Boot berkedut tanpa diinginkan; Padma Patil
gemetar, dan Neville mengeluarkan pekikan aneh yang berhasil diubahnya menjadi
batuk. Namun, mereka semua memandang lekat-lekat, bahkan dengan tidak sabar,
kepada Harry.
'Well ... itu rencananya,' kata Hermione. 'Kalau kalian mau bergabung dengan
kami, kita perlu memutuskan bagaimana kita akan --'
'Di mana buktinya Kau-Tahu-Siapa sudah kembali?' kata pemain Hufflepuff pirang
itu dengan suara yang agak agresif.
'Well, Dumbledore mempercayai itu --' Hermione mulai.
'Maksudmu, Dumbledore mempercayai dia,' kata anak laki-laki pirang itu sambil
mengangguk kepada Harry.
'Siapa kamu?' kata Ron agak kasar.
'Zacharias Smith,' kata anak itu, 'dan kukira kita punya hak untuk tahu apa tepatnya
yang membuat dia berkata Kau-Tahu-Siapa sudah kembali.'
'Lihat,' kata Hermione turut campur dengan cepat, 'pertemuan ini seharusnya bukan
mengenai hal itu --'
'Tidak apa-apa, Hermione,' kata Harry.
Baru saja dia mengerti kenapa ada begitu banyak orang di sana. Dia mengira
Hermione seharusnya sudah memperkirakan ini. Beberapa dari orang-orang ini -bahkan mungkin sebagian besar dari mereka -- muncul karena berharap bisa
mendengar cerita Harry dari tangan pertama.
'Apa yang membuatku mengatakan Kau-Tahu-Siapa sudah kembali?' ulangnya
sambil memandang langsung Zacharias di mukanya. 'Aku melihat dia. Tapi
Dumbledore memberitahu seluruh sekolah apa yang terjadi tahun lalu, dan kalau kau
tidak percaya kepadanya, kau tidak akan percaya kepadaku, dan aku tidak akan
menghabiskan sore hariku mencoba meyakinkan siapapun.'
Seluruh kelompok itu tampak telah menahan napas sementara Harry berbicara.
Harry mendapat kesan bahwa bahkan si penjaga bar sedang mendengarkan. Dia
sedang menyeka gelas yang sama dengan kain rombeng kotor itu, membuatnya
semakin kotor.
Zacharias berkata dengan ngotot, 'Yang diberitahu Dumbledore kepada kami tahun
lalu hanyalah bahwa Cedric Diggory terbunuh oleh Kau-Tahu-Siapa dan bahwa kau
membawa pulang jenazah Diggory ke Hogwarts. Dia tidak memberi kami detilnya,
dia tidak memberitahu kami tepatnya bagaimana Diggory terbunuh, kukira kami
semua ingin tahu --'
'Kalau kau datang untuk mendengar dengan terperinci bagaimana kelihatannya
ketika Voldemort membunuh seseorang aku tidak bisa membantumu,' Harry berkata.
Amarahnya, selalu begitu dekat ke permukaan akhir-akhir ini, menaik lagi. Dia tidak
melepaskan matanya dari wajah Zacharias Smith yang agresif, dan menetapkan hati
untuk tidak memandang Cho. 'Aku tidak mau berbicara mengenai Cedric Diggory,
mengerti? Jadi kalau itu sebabnya kau di sini, sekalian saja kau pergi.'
Dia memberi pandangan marah ke arah Hermione. Ini semua, menurutnya, adalah
kesalahannya; dia telah memutuskan untuk memajangnya seperti semacam orang
aneh dan tentu saja mereka semua muncul untuk melihat seberapa liar ceritanya. Tapi
tak satupun dari mereka yang meninggalkan tempat duduk mereka, bahkan tidak
Zacharias Smith, walaupun dia terus memandang Harry lekat-lekat.
'Jadi,' kata Hermione, suaranya melengking tinggi lagi. 'Jadi ... seperti yang
kubilang ... kalau kalian mau belajar beberapa pertahanan, maka kita perlu
memutuskan bagaimana kita akan melakukannya, seberapa sering kita akan bertemu
dan di mana kita akan --'
'Benarkah,' sela anak perempuan dengan rambut panjang dijalin, sambil
memandang Harry, 'bahwa kau bisa menghasilkan Patronus?'
Ada bisikan tertarik di sekitar kelompok itu ketika mendengar hal ini.
'Yeah,' kata Harry agak defensif.
'Patronus korporeal?'
Frase itu menggerakkan sesuatu dalam ingatan Harry.
'Er -- kau tidak kenal Madam Bones, bukan?' tanyanya.
Gadis itu tersenyum.
'Dia bibiku,' katanya. 'Aku Susan Bones. Dia memberitahuku tentang dengar
pendapatmu. Jadi -- apakah itu memang benar? Kau membuat Patronus kijang
jantan?'
'Ya,' kata Harry.
'Astaga, Harry!' kata Lee sambil terlihat sangat terkesan. 'Aku belum pernah tahu
itu!'
'Mum menyuruh Ron jangan menyebarkannya,' kata Fred sambil menyeringai
kepada Harry. 'Dia bilang kau sudah dapat cukup perhatian.'
'Dia tidak salah,' omel Harry, dan beberapa orang tertawa.
Penyihir wanita berkerudung yang sedang duduk sendirian bergeser sedikit di
tempat duduknya.
'Dan apakah kamu membunuh seekor Basilisk dengan pedang di kantor
Dumbledore?' tuntut Terry Boot. 'Itu yang diberitahukan salah satu potret di dinding
kepadaku ketika aku berada di sana tahun lalu ...'
'Er -- yeah, memang, yeah,' kata Harry.
Justin Finch-Fletchey bersiul; kakak-beradik Creevey saling memandang penuh
kekaguman dan Lavender Brown berkata 'Wow!' dengan lemah. Harry merasa sedikit
panas di sekitar kerahnya sekarang; dia memutuskan untuk melihat ke manapun selain
kepada Cho.
'Dan di tahun pertama kami,' kata Neville kepada kelompok itu, 'dia
menyelamatkan Batu Filologi --'
'Bertuah,' desis Hermione.
'Ya, itu -- dari Kau-Tahu-Siapa,' Neville menyudahi.
Mata Hannah Abbot membulat seperti Galleon.
'Dan itu tanpa menyebut,' kata Cho (mata Harry beralih ke seberang ke arahnya; dia
sedang memandangnya, sambil tersenyum; perutnya bersalto sekali lagi) 'semua tugas
yang harus dilewatinya dalam Turnamen Triwizard tahun lalu -- melewati naga-naga
dan manusia duyung dan Acromantula dan benda-benda ...'
Ada gumaman setuju dan terkesan di sekitar meja. Isi tubuh Harry menggeliat. Dia
mencoba mengatur wajahnya sehingga dia tidak tampak terlalu puas diri. Fakta bahwa
Cho baru saja memujinya membuat jauh, jauh lebih sulit baginya untuk mengatakan
hal-hal yang telah dia sumpahkan kepada dirinya sendiri untuk diberitahukan kepada
mereka.
'Lihat,' katanya, dan semua orang terdiam sekali lagi. 'Aku ... aku tidak mau
terdengar bahwa aku mencoba rendah hati atau apapun, tapi ... aku dapat banyak
bantuan melawan semua hal tadi ...'
'Tidak dengan naga itu, kau tidak,' kata Michael Corner seketika. 'Itu benar-benar
gaya terbang yang sangat keren ...'
'Yeah, well --' kata Harry, rasanya kasar kalau tidak setuju.
'Dan tak seorangpun membantumu mengenyahkan semua Dementor itu pada
musim panas ini,' kata Susan Bones.
'Tidak,' kata Harry, 'tidak, OK, aku tahu aku melakukan beberapa hal tanpa
bantuan, tapi yang sedang aku coba katakan adalah bahwa --'
'Apakah kau sedang mencoba berkelit supaya tidak perlu memperlihatkan kepada
kami apapun?' kata Zacharias Smith.
'Aku punya ide,' kata Ron dengan keras, sebelum Harry bisa berbicara, 'kenapa kau
tidak menutup mulutmu?'
Mungkin kata 'berkelit' telah berpengaruh kuat kepada Ron. Bagaimanapun,
sekarang dia sedang memandangi Zacharias seakan-akan dia sangat ingin
menggebuknya. Zacharias merona.
'Well, kami semua muncul untuk belajar dari dia dan sekarang dia memberitahu
kami dia sebenarnya tidak bisa melakukan semua itu,' katanya.
'Itu bukan apa yang dia katakan,' sambar Fred.
'Apakah kau mau kami membersihkan telingamu?' tanya George, sambil menarik
sebuah alat logam panjang yang tampak berbahaya dari salah satu kantong Zonkonya.
'Atau bagian tubuhmu yang lain, sebenarnya, kami tidak pilih-pilih ke mana kami
menusukkan benda ini,' kata Fred.
'Ya, well,' kata Hermione buru-buru, 'lanjut ... intinya adalah, apakah kita setuju
bahwa kita ingin belajar dari Harry?'
Ada gumaman persetujuan secara umum. Zacharias melipat tangannya dan tidak
berkata apa-apa, walaupun mungkin ini dikarenakan dia terlalu sibuk memperhatikan
alat di tangan Fred.
'Benar,' kata Hermione, terlihat lega bahwa akhirnya sesuatu telah diputuskan,
'Well, kalau begitu, pertanyaan berikutnya adalah seberapa sering kita melakukannya.
Aku benar-benar mengira tak ada gunanya bertemu kurang dari seminggu sekali --'
'Tunggu dulu,' kata Angelina, 'kami perlu memastikan ini tidak bentrok dengan
latihan Quidditch kami.'
'Tidak,' kata Cho, 'atau dengan latihan kami.'
'Ataupun latihan kami,' tambah Zacharias Smith.
'Aku yakin kita bisa menemukan satu malam yang sesuai untuk semua orang,' kata
Hermione, agak tidak sabar, 'tapi kalian tahu, ini agak penting, kita sedang
membicarakan tentang belajar mempertahankan diri kita sendiri melawan para
Pelahap Maut Voldemort --'
'Benar sekali!' hardik Ernie Macmillan, yang telah Harry harapkan untuk berbicara
jauh sebelum ini. 'Secara pribadi, kukira ini benar-benar penting, mungkin lebih
penting daripada hal-hal lain yang akan kita lakukan tahun ini, bahkan dengan OWL
kita yang akan datang!'
Dia melihat sekeliling dengan mengesankan, seakan-akan menunggu orang-orang
untuk berteriak, 'Tentu saja tidak!' Ketika tak seorangpun berbicara, dia melanjutkan,
'Aku, secara pribadi, tidak mengerti mengapa Kementerian menyisipkan guru yang
begitu tidak berguna kepada kita pada periode kritis ini. Terang saja, mereka sedang
dalam penyangkalan atas kembalinya Kau-Tahu-Siapa, tapi memberi kita seorang
guru yang mencoba secara aktif untuk mencegah kita menggunakan mantera-mantera
pertahanan --'
'Kami kita arasa Umbridge tidak mau kita terlatih dalam Pertahanan terhadap Ilmu
Hitam,' kata Hermione, 'adalah bahwa dia punya ... ide gila bahwa Dumbledore bisa
menggunakan murid-murid di sekolah seperti semacam tentara pribadi. Dikiranya dia
akan menggerakkan kita melawan Kementerian.'
Hampir semua orang tampak tercengang mendengar kabar ini; semua orang kecuali
Luna Lovegood, yang berseru, 'Well, itu masuk akal. Lagipula, Cornelius Fudge
punya tentara pibadinya sendiri.'
'Apa?' kata Harry, benar-benar terkejut karena potongan informasi tak terduga ini.
'Ya, dia punya bala tentara Heliopath,' kata Luna dengan tenang.
'Tidak, dia tidak punya,' sambar Hermione.
'Ya, dia punya,' kata Luna.
'Apa itu Heliopath?' tanya Neville, tampak tak mengerti.
'Mereka adalah roh api,' kata Luna, matanya yang menonjol melebar sehingga dia
tampak lebih sinting daripada sebelumnyam, 'makhluk-makhluk besar dengan nyala
api besar yang berderap menyeberangi tanah sambil membakar semua yang ada di
hadapan --'
'Mereka tidak benar-benar ada, Neville,' kata Hermione dengan masam.
'Oh, ya, mereka ada!' kata Luna dengan marah.
'Maafkan aku, tapi di mana buktinya?' sambar Hermione.
'Ada banyak keterangan saksi mata. Hanya karena kau begitu berpikiran sempit kau
perlu melihat segala hal disodorkan ke bawah hidungmu sebelum kau --'
'Hem, hem,' kata Ginny, dengan tiruan Profesor Umbridge yang sangat bagus
sehingga beberapa orang melihat sekeliling dengan waspada dan lalu tertawa.
'Bukankah kita sedang berusaha memutuskan seberapa sering kita akan bertemu dan
belajar pertahanan?'
'Ya,' kata Hermione seketika, 'ya, memang, kau benar, Ginny.'
'Well, sekali seminggu kedengarannya bagus,' kata Lee Jordan.
'Selama --' mulai Angelina.
'Ya, ya, kami tahu tentang Quidditch,' kata Hermione dengan suara tegang. 'Well,
hal lain yang perlu diputuskan adalah di mana kita akan bertemu ...'
Ini agak lebih sulit; seluruh kelompok itu terdiam.
'Perpustakaan?' saran Katie Bell setelah beberapa saat.
'Aku tidak yakin Madam Pince akan sangat senang melihat kita melakukan kutukan
di perpustakaan,' kata Harry.
'Mungkin sebuah ruang kelas yang tidak terpakai?' kata Dean.,
'Yeah,' kata Ron, 'McGonagall mungkin mengizinkan kita menggunakan kelasnya,
dia begitu sewaktu Harry sedang berlatih untuk Triwizard.'
Tetapi Harry cukup yakin bahwa McGonagall tidak akan begitu bersedia kali ini.
Untuk semua yang telah dikatakan Hermione tentang kelompok belajar dan pekerjaan
rumah diperbolehkan, dia punya perasaan kuat bahwa yang satu ini mungkin dianggap
jauh lebih memberontak.
'Benar, well, kita akan mencoba menemukan suatu tempat,' kata Hermione. 'Kami
akan mengirimkan pesan berkeliling kepada semua orang ketika kami mendapatkan
waktu dan tempat untuk pertemuan pertama.'
Dia menggeledah tasnya dan mengeluarkan perkamen dan sebuah pena bulu, lalu
bimbang, seakan-akan dia sedang menguatkan dirinya sendiri untuk mengatakan
sesuatu.
'Aku -- aku kira semua orang harus menuliskan nama mereka, hanya supaya kita
tahu siapa yang ada di sini. Tapi aku juga mengira,' dia mengambil napas dalamdalam, 'bahwa kita harus setuju tidak meneriakkan apa yang sedang kita lakukan. Jadi
kalau kalian tanda tangan, kalian setuju tidak memberitahu Umbridge atau orang lain
apa yang sedang kita rencanakan.'
Fred meraih perkamen itu dan menuliskan tanda tangannya dengan riang, tetapi
Harry memperhatikan seketika bahwa beberapa orang terlihat kurang senang akan
prospek menempatkan nama mereka ke daftar itu.
'Er ...' kata Zacharias lambat-lambat, tanpa mengambil perkamen yang sedang
George coba operkan kepadanya, 'well ... aku yakin Ernie akan memberitahuku kapan
pertemuannya.'
Tapi Ernie juga terlihat agak bimbang untuk tanda tangan. Hermione mengangkat
alis kepadanya.
'Aku -- well, kami prefek,' Ernie menjelaskan. 'Dan kalau daftar ini ditemukan ...
well, aku ingin mengatakan ... kau sendiri bilang, kalau Umbridge tahu --'
'Kamu baru saja bilang kalau grup ini hal terpenting yang akan kau lakukan tahun
ini,' Harry mengingatkan dia.
'Aku -- ya,' kata Ernie, 'ya, aku memang percaya itu, hanya saja --'
'Ernie, apakah kau benar-benar mengira aku akan membiarkan daftar itu di
sembarang tempat?' kata Hermione dengan kesal.
'Tidak. Tidak, tentu saja tidak,' kata Ernie, terlihat sedikit kurang cemas. 'Aku -- ya,
tentu saja aku akan tanda tangan.'
Tidak seorangpun keberatan setelah Ernie, walaupun Harry melihat teman Cho
memberinya pandangan agak mencela sebelum menambahkan namanya sendiri.
Ketika orang terakhir -- Zacharias -- telah tanda tangan, Hermione mengambil
perkamen itu kembali dan menyelipkannya dengan hati-hati ke dalam tasnya. Ada
perasaan aneh dalam kelompok itu sekarang. Seakan-akan mereka baru saja
menandatangani semacam kontrak.
'Well, waktu terus berjalan,' kata Fred dengan cepat, sambil bangkit. 'George, Lee
dan aku punya hal-hal yang sifatnya sensitif utnuk dibeli, kami akan berjumpa kalian
nanti.'
Sisa kelompok itu pergi juga, dua-dua dan tiga-tiga. Cho berlama-lama
mengikatkan kaitan tasnya sebelum pergi, rambutnya yang seperti tirai gelap panjang
berayun ke depan menutupi wajahnya, tetapi temannya berdiri di sampingnya, dengan
lengan terlipat, sambil membunyikan lidahnya, sehingga Cho tidak punya pilihan lain
selain pergi bersamanya. Selagi temannya mendorongnya melalui pintu, Cho
berpaling ke belakang dan melambai kepada Harry.
'Well, kukira cukup lancar,' kata Hermione dengan gembira, ketika sejenak
kemudian dia, Harry dan Ron berjalan keluar dari Hog's Head ke sinar matahari cerah.
Harry dan Ron sedang menggenggam botol Butterbeer mereka.
'Cowok Zacharias itu brengsek,' kata Ron, yang sedang menatap marah figur Smith,
yang terlihat dari kejauhan.
'Aku juga tidak begitu suka dengannya,' aku Hermione, 'tetapi dia mendengar
sewaktu aku berbicara kepada Ernie dan Hannah di meja Hufflepuff dan dia tampak
sangat tertarik untuk datang, jadi apa yang bisa kubilang? Tapi sebenarnya semakin
banyak orang semakin baik -- maksudku, Michael Corner dan teman-temannya tidak
akan datang kalau dia tidak sedang mengencani Ginny --'
Ron, yang sedang meneguk habis beberapa tetes terakhir dari botol Butterbeernya,
tersedak dan menyemprotkan Butterbeer ke bagian depan tubuhnya.
'Dia APA?' repet Ron, marah besar, telinganya sekarang menyerupai potongan
daging sapi mentah. 'Dia kencan dengan -- adikku kencan -- apa maksudmu, Michael
Corner?'
'Well, itulah sebabnya dia dan teman-temannya datang, kukira -- well, mereka jelas
tertarik untuk belajar pertahanan, tetapi kalau Ginny tidak memberitahu Michael apa
yang sedang terjadi --'
'Kapan ini -- kapan dia --?'
'Mereka bertemu di Pesta Dansa dan mulai berkencan akhir tahun lalu,' kata
Hermione dengan tenang. Mereka telah berbelok ke High Street dan dia berhenti
sejenak di luar Toko Pena Bulu Scrivenshaft, di mana ada pajangan menarik penapena bulu ayam pegar di jendela. 'Hmm ... aku perlu pena bulu baru.'
Dia berbelok ke dalam toko. Harry dan Ron mengikutinya.
'Yang mana Michael Corner?' Ron menuntut dengan marah.
'Yang berkulit gelap,' kata Hermione.
'Aku tidak suka dia,' kata Ron seketika.
'Kejutan besar,' kata Hermione berbisik.
'Tapi,' kata Ron, sambil mengikuti Hermione sepanjang barisan pena-pena bulu
dalam pot-pot tembaga, 'Kukira Ginny suka Harry!'
Hermione melihat kepadanya agak mengasihani dan menggelengkan kepalanya.
'Ginny dulu suka Harry, tapi dia menyerah berbulan-bulan yang lalu. Bukannya
sekarang dia tidak menyukaimu, tentu saja,' tambahnya dengan manus kepada Harry
sementara dia memeriksa sebuah pena bulu panjang berwarna hitam dan emas.
Harry, yang kepalanya masih dipenuhi lambaian perpisahan Cho, tidak
menganggap subyek ini semenarik Ron, yang nyata-nyata gemetar karena marah, tapi
hal itu mengingatkannya kepada sesuatu yang hingga sekarang belum pernah
diamatinya.
'Jadi itu sebabnya dia berbicara kepadaku sekarang?' dia bertanya kepada
Hermione. 'Dulu dia tidak pernah berbicara di depanku.'
'Tepat sekali,' kata Hermione. 'Ya, kukira aku akan beli yang satu ini ...'
Dia pergi ke meja kasir dan menyerahkan lima belas Sickle dan dua Knut,
sementara Ron masih mengikutinya.
'Ron,' katanya dengan tegas ketika dia berpaling dan menginjak kakinya, 'inilah
tepatnya mengapa Ginny belum memberitahumu bahwa dia berkencan dengan
Michael, dia tahu kau akan menerimanya dengan buruk. Jadi jangan merepet tentang
itu, demi Tuhan.'
'Apa maksudmu? Siapa yang menerima dengan buruk? Aku tidak akan merepet
tentang apapun ...' Ron terus menggerutu dengan suara kecil sepanjang jalan itu.
Hermione menggulirkan matanya kepada Harry dan lalu berkata dengan nada
rendah, sementara Ron masih menggumamkan kutukan mengenai Michael Corner,
'Dan berbicara tentang Michael dan Ginny ... bagaimana dengan Cho dan kamu?'
'Apa maksudmu?' kata Harry cepat.
Seakan-akan air mendidih sedang naik dengan cepat di dalam dirinya; sebuah
sensasi terbakar yang menyebabkan wajahnya membara di udara dingin -- apakah dia
sejelas itu?
'Well,' kata Hermione sambil tersenyum sedikit, 'dia tidak bisa mengalihkan
matanya darimu, bukankah begitu?'
Harry belum pernah menghargai sebelumnya betapa indahnya desa Hogsmeade itu.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB TUJUH BELAS -Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Empat
Harry merasa lebih gembira selama sisa akhir pekan itu daripada yang telah
dirasakannya sepanjang semester itu. Dia dan Ron menghabiskan banyak waktu di
hari Minggu untuk mengejar semua pekerjaan rumah mereka lagi, dan walaupun ini
hampir tidak bisa dikatakan menyenangkan, sinar matahari terakhir di musim gugur
tetap bertahan, sehingga bukannya duduk membungkuk pada meja di ruang duduk
mereka membawa pekerjaan mereka ke luar dan bernaung di bayangan pohon beech
besar di tepi danau. Hermione, yang tentu saja sudah menyelesaikan semua
pekerjaannya, membawa lebih banyak wol ke luar bersamanya dan menyihir jarumjarum rajutnya sehingga mereka berkilauan dan berbunyi di tengah udara di
sampingnya, menghasilkan lebih banyak topi dan scarf.
Mengetahui bahwa mereka sedang melakukan sesuatu untuk melawan Umbridge
dan Kementerian, dan bahwa dia adalah bagian penting dari pemberontakan itu,
memberi Harry perasaan puas yang mendalam. Dia terus mengingat pertemuan hari
Sabtu itu dalam pikirannya: semua orang itu, datang kepadanya untuk belajar
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam ... dan tampang-tampang mereka ketika mereka
mendengar beberapa hal yang telah dia lakukan ... dan Cho memuji penampilannya di
Turnamen Triwizard -- mengetahui semua orang itu tidak menganggapnya orang aneh
pembohong, melainkan seseorang yang patut dikagumi, melambungkannya
sedemikian rupa sehingga dia masih ceria pada hari Senin pagi, walaupun masih harus
menghadapi semua kelas yang paling tidak disukainya.
Dia dan Ron turun dari kamar asrama mereka, sambil membahas gagasan Angelina
supaya mereka berlatih gerakan baru yang disebut Sloth Grip Roll pada latihan
Quidditch malam itu, dan sampai mereka setengah menyeberangi ruang duduk yang
penuh cahaya matahari mereka tidak memperhatikan tambahan ke ruangan itu yang
telah menarik perhatian sekelompok kecil orang.
Sebuah pengumuman besar telah dilekatkan ke papan pengumuman Gryffindor;
begitu besarnya sehingga menutupi semua hal lain di sana -- daftar buku-buku
mantera bekas untuk dijual, peringatan tetap tentang peraturan sekolah dari Argus
Filch, jadwal latihan tim Quidditch, tawaran untuk barter Kartu Cokelat Kodok yang
satu bagi kartu lainnya, iklan terbaru Weasley untuk mencari penguji, tanggal-tanggal
akhir pekan Hogsmeade serta pengumuman barang hilang dan ditemukan.
Pengumuman baru tersebut dicetak dengan huruf-huruf hitam besar dan ada cap yang
tampak sangat resmi di bagian bawah di samping sebuah tanda tangan yang rapi dan
berhuruf keriting.
DENGAN PERINTAH PENYELIDIK TINGGI HOGWARTS
Semua organisasi, perkumpulan, kelompok, dan klub siswa dibubarkan sejak saat
ini.
Organisasi, perkumpulan, tim, kelompok atau klub didefinisikan sebagai pertemuan
tetap tiga atau lebih siswa.
Izin untuk membentuk kembali dapat diminta dari Penyelidik Tinggi (Profesor
Umbridge).
Tak ada organisasi, perkumpulan, tim, kelompok atau klub siswa yang boleh
terbentuk tanpa pengetahuan dan
persetujuan Penyelidik Tinggi.
Siswa yang kedapatan telah membentuk, atau bergabung dengan, sebuah
organisasi, perkumpulan, tim, kelompok
atau klub yang belum disetujui oleh Penyelidik Tinggi akan dikeluarkan.
Hal-hal tersebut di atas sesuai dengan Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Empat.
Tertanda: Dolores Jane Umbridge, Penyelidik Tinggi
Harry dan Ron membaca pengumuman itu melewati kepala beberapa anak kelas dua
yang tampak cemas.
'Apakah ini berarti mereka akan menutup Klub Gobstones?' salah satu dari mereka
bertanya kepada temannya.
'Kukira kalian akan baik-baik saja dengan Gobstones,' kata Ron dengan muram,
membuat akan kelas dua itu terlompat. 'Walau kukira kita tidak akan seberuntung itu,
kalau kamu?' dia bertanya kepada Harry ketika anak-anak kelas dua itu bergegas
pergi.
Harry sedang membaca pengumuman itu lagi. Perasaan senang yang memenuhinya
sejak hari Sabtu telah hilang. Isi tubuhnya bergetar karena marah.
'Ini bukan kebetulan,' katanya, tangannya mengepal. 'Dia tahu.'
'Dia tidak mungkin tahu,' kata Ron seketika.
'Ada orang-orang yang mendengarkan di bar itu. Dan hadapi saja, kita tidak tahu
berapa banyak orang yang muncul yang bisa kita percayai ... siapapun dari mereka
bisa pergi memberitahu Umbridge ...'
Dan dia mengira mereka mempercayai dirinya, mengira mereka bahkan
mengagumi dirinya ...
'Zacharias Smith!' kata Ron seketika, sambil meninju tangannya. 'Atau -- kukira
Michael Corner itu juga punya tampang yang benar-benar licik --'
'Aku ingin tahu apakah Hermione sudah melihat ini?' Harry berkata, sambil
memandang sekeliling ke pintu menuju kamar anak perempuan.
'Ayo pergi dan beritahu dia,' kata Ron. Dia maju, menarik pintu hingga terbuka dan
menaiki tangga spiral.
Dia berada di anak tangga keenam ketika ada sebuah suara keras, melengking,
seperti klakson dan anak-anak tangga luluh membentuk luncuran batu yang panjang
dan licin seperti alat permainan luncuran. Ada saat sejenak di mana Ron berusaha
tetap berlari, lengannya bekerja dengan hebat seperti kincir angin, lalu dia tumbang ke
belakang dan meluncur turun di luncuran yang baru terbentuk itu, terdiam dengan
punggungnya di kaki Harry.
'Er -- kukira kita tidak diperbolehkan masuk ke kamar anak perempuan,' kata
Harry, sambil menarik Ron bangkit dan berusaha tidak tertawa.
Dua anak perempuan kelas empat meluncur turun dengan gembira di luncuran batu
itu.
'Oooh, siapa yang mencoba naik ke atas?' mereka terkikik gembira, sambil
melompat bangkit dan mengerling pada Harry dan Ron.
'Aku,' kata Ron, yang masih agak kusut. 'Aku tidak sadar itu akan terjadi. Tidak
adil!' tambahnya kepada Harry, ketika anak-anak perempuan itu menuju lubang
potret, masih terkikik hebat. 'Hermione boleh masuk ke kamar kita, kenapa kita tidak
boleh --?'
'Well, itu peraturan yang sudah ketinggalan zaman,' kata Hermione, yang baru saja
meluncur rapi ke sebuah permadani di depan mereka dan sekarang sedang bangkit,
'tapi dikatakan di Sejarah Hogwarts, bahwa para pendiri menganggap anak laki-laki
kurang dapat dipercaya dibandingkan anak perempuan. Ngomong-ngomong, kenapa
kau mencoba masuk ke sana?'
'Untuk menemuimu -- lihat ini!' kata Ron sambil menyeretnya ke papan
pengumuman.
Mata Hermione bergeser dengan cepat menuruni pengumuman itu. Ekspresinya
menjadi kaku.
'Seseorang pasti telah mengadu kepadanya!' kata Ron dengan marah.
'Mereka tidak mungkin melakukannya,' kata Hermione dengan suara rendah.
'Kau begitu naif,' kata Ron, 'kaukira hanya karena kau terhormat dan bisa dipercaya
--'
'Bukan, mereka tidak mungkin melakukannya, karena aku menempatkan kutukan di
potongan perkamen yang ditandatangani kita semua,' kata Hermione dengan murung.
'Percayalah padaku, kalau seseorang lari memberitahu Umbridge, kita akan tahu
persis siapa mereka dan mereka akan benar-benar menyesalinya.'
'Apa yang akan terjadi dengan mereka?' kata Ron dengan penuh semangat.
'Well, bilang saja begini,' kata Hermione, 'akan membuat jerawat Eloise Midgeon
terlihat seperti beberapa bintik hitam yang manis. Ayolah, mari turun untuk sarapan
dan lihat apa yang dipikiran yang lainnya ... aku ingin tahu apakah ini sudah dipasang
di semua asrama?'
Segera jelas ketika memasuki Aula Besar bahwa pengumuman Umbridge bukan
hanya telah muncul di Menara Gryffindor. Ada intensitas tertentu dalam obrolan dan
kadar pergerakan ekstra di Aula ketika orang-orang bergegas menyusuri meja-meja
mereka merundingkan apa yang telah mereka baca. Harry, Ron dan Hermione belum
lagi duduk ketika Neville, Dean, Fred, George dan Ginny menghampiri mereka.
'Apakah kalian melihatnya?'
'Menurutmu dia tahu?'
'Apa yang akan kita lakukan?'
Mereka semua memandang Harry. Dia melihat sekilas ke sekitarnya untuk
memastikan tidak ada guru di dekat mereka.
'Tentu saja kita akan tetap melakukannya,' katanya pelan.
'Tahu kau akan bilang begitu,' kata George, sambil tersenyum dan memukul pelan
lengan Harry.
'Para prefek juga?' kata Fred, sambil memandang Ron dan Hermione dengan
pandangan bertanya.
'Tentu saja,' kata Hermione dengan dingin.
'Ini dia Ernie dan Hannah Abbot,' kata Ron, sambil memandang lewat bahunya.
'Dan cowok-cowok Ravenclaw itu dan Smith ... dan tak seorangpun tampak penuh
bintik.'
Hermione terlihat gusar.
'Tak usah pedulikan bintik, para idiot itu tidak bisa datang ke sini sekarang, akan
tampak mencurigakan -- duduk!' dia menggerakkan mulut tanpa bersuara kepada
Ernie dan Hannah, sambil memberi isyarat dengan kalut kepada mereka untuk
bergabung kembali ke meja Hufflepuff. 'Nanti! Kami akan -- berbicara -- kepada --kalian -- nanti!'
'Aku akan beritahu Michael,' kata Ginny dengan tidak sabar sambil bangkit dari
bangkunya, 'si bodoh itu, jujur saja ...'
Dia bergegas menuju meja Ravenclaw; Harry memperhatikannya pergi. Cho
sedang duduk tidak jauh, sambil berbicara dengan temannya yang berambut keriting
yang dibawanya ke Hog's Head. Apakah pengumunan Umbridge akan membuatnya
takut menghadiri pertemuan mereka lagi?
Tetapi akibat penuh dari pengumuman itu belum dirasakan sampai mereka
meninggalkan Aula Besar untuk Sejarah Sihir.
'Harry! Ron!'
Itu Angelina dan dia sedang bergegas menuju mereka terlihat sangat putus asa.
'Tidak apa-apa,' kata Harry pelan, ketika dia cukup dekat untuk mendengarnya.
'Kita masih akan --'
'Kau sadar dia mengikutkan Quidditch ke dalam ini?' Angelina memotongnya. 'Kita
harus pergi meminta izin untuk membentuk kembali tim Gryffindor!'
'Apa?' kata Harry.
'Tidak mungkin,' kata Ron, terperanjat.
'Kalian baca pengumumannya, menyebutkan tim juga! Jadi dengar, Harry ... aku
mengatakan ini untuk terakhir kalinya ... tolong, tolong jangan kehilangan kendali
dengan Umbridge lagi atau dia mungkin tidak akan membiarkan kita bermain lagi!'
'OK, OK,' kata Harry, karena Angelina terlihat seolah-olah hampir menangis.
'Jangan khawatir, aku akan menjaga tingkah lakuku ...'
'Aku bertaruh Umbridge ada dalam Sejarah Sihir,' kata Ron dengan murung, ketika
mereka berangkat ke pelajaran Binns. 'Dia belum menginspeksi Binns ... taruhan
apapun dia ada di sana ...'
Tapi dia salah, satu-satunya guru yang hadir ketika mereka masuk adalah Profesor
Binns, melayang sekitar satu inci dari kursinya seperti biasa dan bersiap-siap
melanjutkan dengungannya yang membosankan mengenai perang para raksasa. Harry
bahkan tidak berusaha mengikuti apa yang dikatakannya hari ini, dia menggambar
dengan malas di perkamennnya sambil mengabaikan pelototan dan sikutan Hermione
yang sering terjadi, sampai sebuah tusukan menyakitkan di tulang iganya
membuatnya melihat ke atas dengan marah.
'Apa?'
Dia menunjuk ke jendela. Harry melihat sekeliling. Hedwig sedang bertengger di
birai jendela yang sempit, memandang melalui kaca tebal kepadanya, sepucuk surat
terikat ke kakinya. Harry tidak bisa mengerti, mereka baru saja sarapan, kenapa dia
tidak mengantarkan surat saat itu, seperti biasa? Banyak teman sekelasnya juga
menunjuk Hedwig kepada satu sama lain.
'Oh, aku selalu suka burung hantu itu, dia sangat cantik,' Harry mendengar
Lavender menghela napas kepada Parvati.
Dia memandang kepada Profesor Binns yang terus membacakan catatannya,
dengan tenangnya tidak menyadari bahwa perhatian kelas bahkan lebih tidak terfokus
kepadanya daripada biasanya. Harry menyelinap diam-diam dari kursinya, berjongkok
dan bergegas menyusuri barisan itu ke jendela, di mana dia menggeser pengaitnya dan
membukanya dengan sangat pelan.
Dia telah mengharapkan Hedwig untuk menjulurkan kakinya sehingga dia bisa
melepaskan surat itu dan lalu terbang ke Kandang Burung Hantu tetapi saat jendela
terbuka cukup lebar diai melompat masuk, sambil beruhu dengan sedih. Dia menutup
jendela dengan pandangan cemas kepada Profesor Binns, berjongkok rendah lagi dan
bergegas kembali ke tempat duduknya dengan Hedwig di bahunya. Dia duduk
kembali, memindahkan Hedwig ke pangkuannya dan mulai melepaskan surat yang
terikat ke kakinya.
Saat itu barulah dia sadar bahwa bulu-bulu Hedwig kusut dengan cara yang aneh;
beberapa bengkok ke arah yang salah, dan dia sedang mengulurkan salah satu
sayapnya pada sudut yang aneh.
'Dia terluka!' Harry berbisik, sambil membungkukkan kepalanya rendah-rendah di
atas Hedwig. Hermione dan Ron mencondongkan badan lebih dekat; Hermione
bahkan meletakkan pena bulunya. 'Lihat -- ada yang salah dengan sayapnya --'
Hedwig sedang gemetaran; ketika Harry menyentuh sayap itu dia terlompat kecil,
semua bulunya berdiri seakan-akan dia sedang menggembungkan dirinya sendiri, dan
memandang Harry dengan mencela.
'Profesor Binns,' kata Harry keras-keras, dan semua orang di kelas itu berpaling
untuk melihatnya. 'Aku merasa tidak sehat.'
Profesor Binns mengangkat mata dari catatannya, terlihat heran, seperti biasanya,
mendapati ruangan di depannya penuh dengan orang.
'Merasa tidak sehat?' ulangnya dengan tidak jelas.
'Sama sekali tidak sehat,' kata Harry dengan tegas sambil bangkit dengan Hedwig
tersembunyi di balik punggungnya. 'Kukira aku perlu pergi ke sayap rumah sakit.'
'Ya,' kata Profesor Binns, jelas tidak tahu mau berbuat apa. 'Ya ... ya, sayap rumah
sakit ... well, pergilah, kalau begitu, Perkins ...'
Begitu berada di luar ruangan, Harry mengembalikan Hedwig ke bahunya dan
bergegas menyusuri koridor, hanya berhenti sejenak untuk berpikir ketika dia tidak
bisa lagi melihat pintu Binns. Pilihan pertamanya atas seseorang untuk
menyembuhkan Hedwig adalah Hagrid, tentu saja, tetapi karena dia tidak punya ide di
mana Hagrid pilihannya yang tersisa adalah menemukan Profesor Grubbly-Plank dan
berharap dia akan menolong.
Dia mengintip ke luar jendela ke halaman yang mendung dan berangin kencang.
Tidak ada tanda-tandanya di mana pun dekat kabin Hagrid; kalau dia tidak sedang
mengajar, dia mungkin berada di dalam ruang guru. Dia berangkat turun, Hedwig
beruhu lemah selagi terayun-ayun di bahunya.
Dua gargoyle batu mengapit pintu ruang guru. Ketika Harry mendekat, salah satu
dari mereka berkuak, 'Kau seharusnya berada di dalam kelas, Nak Jim.'
'Ini penting,' kata Harry kasar.
'Ooooh, penting, bukan?' kata gargoyle yang satunya lagi dengan suara melengking
tinggi. 'Well, itu menempatkan kami di tempat seharusnya, bukan?'
Harry mengetuk pintu. Dia mendengar langkah-langkah kaki, lalu pintu terbuka dan
dia mendapati dirinya berhadapan dengan Profesor McGonagall.
'Kau tidak diberi detensi lagi!' katanya seketika, kacamata perseginya berkilat
menakutkan.
'Tidak, Profesor!' kata Harry cepat-cepat.
'Well, kalau begitu mengapa kau berada di luar kelas?'
'Tampaknya penting,' kata gargoyle kedua menyindir.
'Saya mencari Profeosr Grubbly-Plank,' Harry menjelaskan. 'Burung hantu saya, dia
terluka.'
'Burung hantu terluka, katamu?'
Profesor Grubbly-Plank muncul di balik bahu Profesor McGonagall, sambil
mengisap pipa dan memegang sebuah salinan Daily Prophet.
'Ya,' kata Harry sambil mengangkat Hedwig dengan hati-hati dari bahunya, 'dia
muncul setelah burung hantu pos lainnya dan sayapnya aneh, lihat --'
Profesor Grubbly-Plank memasukkan pipanya dengan kokoh di antara gigi-giginya
dan mengambil Hedwig dari Harry sementara Profesor McGonagall mengamati.
'Hmm,' kata Profesor Grubbly-Plank, pipanya bergoyang sedikit ketika dia
berbicara. 'Kelihatannya sesuatu menyerangnya. Walau tak bisa memikirkan apa yang
mungkin melakukannya. Thestral terkadang menyerang burung, tentu saja, tapi
Hagrid telah membuat Thesrtral Hogwarts terlatih baik untuk tidak menyentuh burung
hantu.'
Harry tidak tahu juga tidak peduli apa itu Thestral; dia hanya ingin tahu bahwa
Hedwig akan baik-baik saja. Namun, Profesor McGonagall memandang tajam kepada
Harry dan berkata, 'Apakah kau tahu berapa jauh burung hantu ini bepergian, Potter?'
'Er,' kata Harry. 'Dari London, kukira.'
Mereka saling pandang sejenak dan dia tahu, dari cara alisnya bertaut, bahwa
Profesor McGonagall mengerti 'London' berarti 'Grimmauld Place nomor dua belas'.
Profesor Grubbly-Plank menarik sebuah kacamata berlensa satu keluar dari bagian
dalam jubahnya dan memasangnya ke matanya, untuk memeriksa sayap Hedwig lebih
seksama. 'Aku seharusnya bisa memperbaiki ini kalau kau meninggalkannya
denganku, Potter,' katanya, 'bagaimanapun, dia seharusnya tidak terbang jauh selama
beberapa hari.'
'Er -- benar -- trims,' kata Harry, persis ketika bel untuk istirahat berbunyi.
'Tak masalah,' kata Profesor Grubbly-Plank dengan keras, sambil berpaling kembali
ke dalam ruang guru.
'Sebentar saja, Wilhemina!' kata Profesor McGonagall. 'Surat Potter!'
'Oh yeah!' kata Harry, yang sejenak telah melupakan gulungan yang terikat ke kaki
Hedwig. Profesor Grubbly-Plank menyerahkannya dan menghilang ke dalam ruang
guru sambil membawa Hedwig, yang menatap Harry seolah-olah tidak percaya dia
akan menyerahkan dirinya seperti ini. Merasa sedikit bersalah, dia berpaling untuk
pergi, tetapi Profesor McGonagall memanggilnya kembali.
'Potter!'
'Ya, Profesor?'
Dia melihat ke ujung-ujung koridor, ada murid-murid yang berdatangan dari kedua
arah.
'Camkan di pikiranmu,' katanya dengan cepat dan pelan, matanya kepada gulungan
di tangannya, 'bahwa saluran-saluran komunikasi di dalam dan di luar Hogwarts
mungkin sedang diawasi, oke?'
'Aku --' kata Harry, tetapi arus siswa yang bergemuruh di sepanjang koridor hampir
mencapainya. Profesor McGonagall memberinya anggukan kecil dan mundur ke
dalam ruang guru, meninggalkan Harry tersapu ke halaman sekolah bersama
kerumunan. Dia melihat Ron dan Hermione sudah berdiri di sebuah sudut terlindung,
kerah mantel mereka dinaikkan melawan angin. Harry membuka gulungan itu selagi
dia bergegas menuju mereka dan menemukan kata-kata dalam tulisan tangan Sirius.
Hari ini, waktu yang sama, tempat yang sama.
'Apakah Hedwig baik-baik saja?' tanya Hermione dengan cemas, saat dia berada
dalam jarak pendengaran.
'Ke mana kau membawanya?' tanya Ron.
'Ke Grubbly-Plank,' kata Harry. 'Dan aku bertemu McGonagall ... dengar ...'
Dan dia memberitahu mereka apa yang telah dikatakan Profesor McGonagall. Yang
membuatnya terkejut, tak seorangpun dari mereka tampak terguncang. Sebaliknya,
mereka saling berpandangan penuh pengertian.
'Apa?' kata Harry, sambil melihat dari Ron kepada Hermione dan balik lagi.
'Well, aku baru saja berkata kepada Ron ... bagaimana kalau seseorang mencoba
mencegat Hedwig? Maksudku, dia belum pernah terluka dalam penerbangan
sebelumnya, bukan?'
'Ngomong-ngomong, dari siapa surat itu?' tanya Ron, sambil mengambil catatan itu
dari Harry.
'Snuffles,' kata Harry pelan.
'"Waktu yang sama, tempat yang sama?" Apakah maksudnya api di ruang duduk?'
'Jelas saja,' kata Hermione, juga membaca catatan itu. Dia tampak gelisah. 'Aku
hanya berharap tak ada orang lain yang sudah membaca ini ...'
'Tapi masih tersegel dan segalanya,' kata Harry, mencoba meyakinkan dirinya
sendiri serta Hermione. 'Dan tak seorangpun akan mengerti apa artinya kalau mereka
tidak tahu di mana kita sudah berbicara dengannya sebelumnya, benar 'kan?'
'Aku tidak tahu,' kata Hermione dengan cemas, sambil mengangkat tasnya ke
bahunya ketika bel berbunyi lagi, 'sebenarnya tidak sulit menyegel kembali gulungan
dengan sihir ... dan kalau seseorang sedang mengawasi Jaringan Floo ... tapi aku tidak
melihat bagaimana kita bisa memperingatkannya untuk tidak datang tanpa dicegat
juga!'
Mereka menuruni undakan batu ke ruang bawah tanah untuk Ramuan, mereka
ketiga semuanya terbenam dalam pikiran, tetapi ketika mereka mencapai dasar tangga
mereka disadarkan oleh suara Draco Malfoy yang sedang berdiri tepat di luar pintu
ruang kelas Snape, sambil melambaikan sebuah potongan perkamen yang tampak
resmi dan berbicara jauh lebih keras daripada yang diperlukan sehingga mereka bisa
mendengar setiap kata.
'Yeah, Umbridge langsung memberi tim Quidditch Slytherin izin untuk terus
bermain, aku pergi untuk memintanya pagi-pagi sekali. Well, cukup otomatis,
maksudku, dia kenal baik ayahku, dia selalu muncul di Kementerian ... akan menarik
melihat apakah Gryffindor dibolehkan terus bermain, bukan?'
'Jangan naik,' Hermione berbisik memohon kepada Harry dan Ron, yang keduanya
sedang mengamati Malfoy, dengan wajah tegang dan tinju terkepal. 'Itu yang dia
mau.'
'Maksudku,' kata Malfoy, sambil menaikkan suaranya sedikit lagi, matanya yang
kelabu berkilat dengki ke arah Harry dan Ron, 'kalau masalah pengaruh dengan
Kementerian, kukira mereka tidak punya banyak kesempatan ... dari apa yang
dikatakan ayahku, mereka telah mencari alasan untuk memecat Arthur Weasley
selama bertahun-tahun ... dan mengenai Potter ... ayahku bilang cuma masalah waktu
sebelum Kementerian mengirimnya ke St Mungo ... tampaknya mereka punya bangsal
khusus untuk orang-orang yang otaknya sudah kacau akibat sihir.'
Malfoy membuat wajah aneh, mulutnya ternganga dan matanya digulirkan. Crabbe
dan Goyle tertawa mendengkur seperti biasa, Pansy Parkinson menjerit senang.
Sesuatu menabrak bahu Harry, menjatuhkannya ke samping. Sepersekian detik
kemudian dia menyadari bahwa Neville baru saja menyerbu melewati dirinya,
langsung menuju Malfoy.
'Neville, jangan!'
Harry melompat maju dan meraih bagian belakang jubah Neville; Neville meronta
gila-gilaan, tinjunya memukul-mukul, mencoba dengan putus asa mengenai Malfoy
yang sejenak terlihat sangat terguncang.
'Tolong aku!' Harry berpaling kepada Ron, berhasil melingkarkan satu lengan di
sekeliling leher Neville dan menyeretnya mundur, menjauh dari anak-anak Slytherin.
Crabbe dan Goyle sedang menegangkan lengan mereka selagi mereka melangkah ke
depan Malfoy, siap berkelahi. Ron menyambar kedua lengan Neville, dan bersamasama dia dan Harry berhasil menyeret Neville ke belakang ke barisan Gryffindor.
Wajah Neville merah tua, tekanan yang ditempatkan Harry ke tenggorokannya
membuatnya sulit dimengerti, tetapi kata-kata aneh keluar dari mulutnya.
'Tak ... lucu ... jangan ... Mungo ... perlihatkan ... dia ...'
Pintu ruang bawah tanah terbuka. Snape muncul di sana. Matanya yang hitam
memandang ke barisan Gryffindor ke titik di mana Harry dan Ron sedang bergumul
dengan Neville.
'Berkelahi, Potter, Weasley, Longbottom?' Snape berkata dengan suaranya yang
dingin mengejek. 'Sepuluh poin dari Gryffindor. Lepaskan Longbottom, Potter, atau
akan jadi detensi. Ke dalam, kalian semua.'
Harry melepaskan Neville, yang berdiri terengah-engah dan melotot kepadanya.
'Aku harus menghentikanmu,' Harry terengah-engah, sambil memungut tasnya.
'Crabbe dan Goyle akan merobek-robekmu.'
Neville tidak berkata apa-apa; dia hanya menyambar tasnya sendiri dan berlari ke
dalam ruang bawah tanah.
'Dalam nama Merlin,' kata Ron lambat-lambat, selagi mereka mengikuti Neville,
'tentang apa itu tadi?'
Harry tidak menjawab. Dia tahu persis mengapa subyek mengenai orang-orang
yang berada di St Mungo karena kerusakan sihir pada otak mereka sangat membuat
Neville tertekan, tetapi dia telah bersumpah kepada Dumbledore bahwa dia tidak akan
memberitahu rahasia Neville kepada siapapun. Bahkan Neville tidak tahu kalau Harry
tahu.
Harry, Ron dan Hermione mengambil tempat duduk mereka yang biasa di bagian
belakang kelas, menarik keluar perkamen, pena bulu, dan salinan Seribu Tanaman dan
Jamur Sihir mereka. Kelas di sekitar mereka sedang berbisik-bisik mengenai apa yang
baru saja dilakukan Neville, tetapi ketika Snape menutup pintu ruang bawah tanah
dengan bunyi keras menggema, semua orang segera terdiam.
'Kalian akan memperhatikan,' kata Snape dengan suaranya yang rendah mengejek,
'bahwa kita punya seorang tamu bersama kita hari ini.'
Dia memberi isyarat kepada sudut suram ruang bawah tanah itu dan Harry melihat
Profesor Umbridge duduk di sana, papan jepit di lututnya. Dia memandang ke
samping kepada Ron dan Hermione, alisnya terangkat. Snape dan Umbridge, dua guru
yang paling dibencinya. Sulit memutuskan yang mana yang dia inginkan menang atas
yang lainnya.
'Kita akan melanjutkan dengan Larutan Penguat kita hari ini. Kalian akan
menemukan campuran kalian seperti yang kalian tinggalkan pada pelajaran lalu; kalau
dibuat dengan benar campuran-campuran itu seharusnya sudah matang selama akhir
pekan -- instruksi --' dia melambaikan tongkatnya lagi '-- di papan tulis. Teruskan.'
Profesor Umbridge menghabiskan setengah jam pertama dari pelajaran itu mencatat
di sudutnya. Harry sangat tertarik untuk mendengar dia menanyai Snape; begitu
tertariknya, sehingga dia menjadi kurang hati-hati dengan ramuannya lagi.
'Darah salamander, Harry!' Hermione mengerang, sambil meraih pergelangan
tangannya untuk mencegahnya menambahkan bahan yang salah ketiga kalinya, 'bukan
jus pomegranate!'
'Benar,' kata Harry dengan samar, sambil meletakkan botol itu dan terus mengamati
sudut. Umbridge baru saja bangkit. 'Ha,' katanya pelan, ketika dia berjalan di antara
dua baris meja tulis menuju Snape, yang sedang membungkuk di atas kuali Dean
Thomas.
'Well, kelas ini tampaknya cukup maju untuk tingkatan mereka,' katanya cepat
kepada punggung Snape. 'Walaupun aku akan bertanya apakah sebaiknya mengajari
mereka ramuan seperti Larutan Penguat. Kukira Kementerian akan lebih suka kalau
itu dihilangkan dari daftar pelajaran.
Snape meluruskan badannya lambat-lambat dan berpaling untuk memandangnya.
'Sekarang ... berapa lama Anda telah mengajar di Hogwarts?' tanyanya, dengan
pena bulunya diseimbangkan di atas papan jepitnya.
'Empat belas tahun,' Snape menjawab. Ekspresinya tidak dapat ditebak. Harry,
sambil mengamatinya dengan seksama, menambahkan beberapa tetes ke dalam
ramuannya; ramuan itu berdesis mengancam dan berubah dari biru kehijauan menjadi
jingga.
'Aku yakin, Anda pertama melamar untuk pos Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam?'
Profesor Umbridge bertanya kepada Snape.
'Ya,' kata Snape pelan.
'Tapi Anda tidak berhasil?'
Bibir Snape melengkung.
'Jelas saja.'
Profesor Umbridge mencoret ke papan jepitnya.
'Dan kuyakin, Anda telah melamar untuk pos Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam
secara teratur sejak Anda pertama kali bergabung dengan sekolah ini?'
'Ya,' kata Snape pelan, hampir tidak menggerakkan bibirnya. Dia terlihat sangat
marah.
'Apakah Anda punya ide mengapa Dumbledore terus menolak menunjuk Anda?'
tanya Umbridge.
'Kusarankan Anda bertanya kepadanya,' kata Snape tersentak.
'Oh, akan kulakukan,' kata Profesor Umbridge, dengan senyum manis.
'Kuanggap ini relevan?' Snape bertanya, matanya yang hitam menyipit.
'Oh ya,' kata Profesor Umbridge, 'ya, Kementerian ingin pemahaman menyeluruh
terhadap -- er -- latar belakang para guru.'
Dia berpaling, berjalan ke arah Pansy Parkinson dan mulai menanyainya tentang
pelajaran. Snape melihat kepada Harry dan mata mereka bertemu selama sedetik.
Harry buru-buru menjatuhkan pandangannya pada ramuannya, yang sekarang
mengental jelek sekali dan mengeluarkan bau kuat dari karet terbakar.
'Kalau begitu, tidak ada nilai lagi, Potter,' kata Snape dengan dengki, sambil
mengosongkan kuali Harry dengan satu lambaian tongkatnya. 'Kamu akan
menuliskan sebuah esai bagiku tentang komposisi yang benar dari ramuan ini,
menandakan bagaimana dan kenapa kau salah, untuk diserahkan pada pelajaran
berikutnya, apakah kamu mengerti?'
'Ya,' kata Harry dengan marah. Snape sudah memberikan mereka pekerjaan rumah
dan dia punya latihan Quidditch malam ini; ini berarti beberapa malam tanpa tidur
lagi. Tampaknya tidak mungkin dia telah terbangun pagi itu sambil merasa sangat
gembira. Semua yang dirasakannya sekarang hanyalah keinginan kuat agar hari ini
segera berakhir.
'Mungkin aku akan bolos Ramalan,' katanya dengan murung, ketika mereka berdiri
di lapangan setelah makan siang, angin memecut keliman jubah dan pinggir topi. 'Aku
akan pura-pura sakit dan mengerjakan esai Snape sebagai gantinya, lalu aku tidak
perlu terjaga sepanjang malam.'
'Kau tidak bisa bolos Ramalan,' kata Hermione dengan keras.
'Dengar siapa yang berbicara, kau keluar dari Ramalan, kau benci Trelawney!' kata
Ron dengan marah.
'Aku tidak benci dia,' kata Hermione angkuh. 'Aku hanya mengira dia seorang guru
yang benar-benar mengerikan dan seorang penipu tua sejati. Tapi Harry sudah
ketinggalan Sejarah Sihir dan kukira dia tidak boleh ketinggalan yang lain lagi hari
ini!'
Ada terlalu banyak kebenaran dalam hal ini untuk diabaikan, sehingga setengah
jam kemudian Harry mengambil tempat duduknya dalam suasana ruang kelas
Ramalan yang panas dan terlalu banyak parfum, sambil merasa marah kepada semua
orang. Profesor Trelawney sekali lagi menyerahkan salinan-salinan Ramalan Mimpi.
Harry mengira waktunya lebih baik dipakai untuk mengerjakan esai hukuman Snape
daripada duduk di sini sambil mencoba menemukan arti dalam mimpi-mimpi rekaan.
Namun, kelihatannya dia bukan satu-satunya orang dalam Ramalan yang sedang
marah. Profesor Trelawney membanting sebuah salinan Ramalan ke meja di antara
Harry dan Ron dan berjalan pergi, bibirnya dikerutkan; dia melemparkan salinan
Oracle berikutnya kepada Seamus dan Dean, hampir mengenai kepala Seamus, dan
menyorongkan yang terakhir ke dada Neville dengan tenaga yang begitu kuat
sehingga dia jatuh dari kursi empuknya.
'Well, lanjutkan!' kata Profesor Trelawney denagn kuat, suaranya melengking
tinggi dan agak histeris, 'kalian tahu apa yang harus dilakukan! Atau apakah aku
seorang guru yang begitu di bawah standar sehingga kalian belum pernah belajar
bagaimana membuka sebuah buku?'
Kelas itu menatapnya dengan bingung, lalu kepada satu sama lain. Namun, Harry
mengira dia tahu apa masalahnya. Selagi Profesor Trelawney menyentak kembali ke
kursi guru yang bersandaran tinggi, matanya yang diperbesar penuh air mata
kemarahan, dia mencondongkan kepalanya mendekat pada kepala Ron dan
bergumam, 'Kukira dia sudah dapat hasil inspeksinya.'
'Profesor?' kata Parvati Patil dengan suara berbisik (dia dan Lavender selalu agak
mengagumi Profesor Trelawney). 'Profesor, apakah ada yang -- er -- salah?'
'Salah!' teriak Profesor Trelawney dengan suara yang bergetar penuh emosi. 'Tentu
saja tidak! Aku telah dihina, tentu saja ... seseorang telah membuat sindiran kepadaku
... tuduhan-tuduhan tak berdasar dilontarkan ... tapi tidak, tidak ada yang salah, tentu
saja!'
Dia mengambil napas panjang dengan ngeri dan mengalihkan pandangan dari
Parvati, air mata kemarahan berjatuhan dari balik kacamatanya.
'Aku tidak mengatakan apa-apa,' dia tersedak, 'tentang enam belas tahun
pengabdian setia ... sudah berlalu, tampaknya, tanpa diperhatikan ... tapi aku tidak
akan dihina, tidak, aku tidak akan!'
'Tapi, Profesor, siapa yang menghina Anda?' tanya Parvati takut-takut.
'Orang yang berkuasa!' kata Profesor Trelawney, dengan suara dalam, dramatis,
yang bergetar. 'Ya, mereka yang matanya terlalu diliputi hal-hal membosankan
sehingga tidak bisa Melihat seperti yang ku-Lihat, Tahu seperti yang ku-Tahu ... tentu
saja, kami para Penglihat selalu ditakuti, selalu dianiaya ... itu nasib kami.'
Dia menelan ludah, mengeringkan pipinya yang basah dengan ujung syalnya, lalu
dia menarik sebuah sapu tangan bersulam kecil dari lengan bajunya, dan meniup
hidungnya sangat keras dengan suara mirip Peeves meleletkan lidah.
Ron mencibir. Lavender memberinya pandangan jijik.
'Profesor,' kata Parvati, 'apakah maksud Anda ... apakah sesuatu yang Profesor
Umbridge --?'
'Jangan berbicara kepadaku mengenai wanita itu!' teriak Profesor Trelawney,
sambil melompat bangkit, manik-maniknya berderak dan kacamatanya berkilat.
'Tolong lanjutkan pekerjaan kalian!'
Dan dia menghabiskan sisa pelajaran itu di antara mereka, dengan air mata masih
bercucuran dari balik kacamatanya, sambil menggumamkan apa yang terdengar
seperti ancaman dengan suara rendah.
'... mungkin lebih baik memilih pergi ... penghinaan itu ... dalam masa percobaan ...
kita akan lihat ... betapa beraninya dia ...'
'Kamu dan Umbridge punya kesamaan,' Harry memberitahu Hermione diam-diam
ketika mereka bertemu lagi di Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. 'Dia jelas juga
menganggap Trelawney penipu tua ... tampaknya dia menempatkannya dalam masa
percobaani.'
Umbridge memasuki ruangan selagi dia berbicara, sambil mengenakan pita beludru
hitamnya dan ekspresi sangat puas diri.
'Selamat sore, kelas.'
'Selamat sore, Profesor Umbridge,' mereka bernyanyi tanpa minat.
'Tolong simpan tongkatnya.'
Tapi tidak ada jawaban berupa gerakan ribut kali ini; tak seorangpun repot-repot
mengeluarkan tongkat mereka.
'Tolong balik ke halaman tiga puluh empat Teori Sihir Pertahanan dan baca bab
ketiga, yang berjudul "Kasus Tanggapan Tanpa Menyerang terhadap Serangan Sihir".
Tidak --'
'-- perlu berbicara,' Harry, Ron dan Hermione berkata bersama-sama, dengan suara
rendah.
*
'Tidak ada latihan Quidditch,' kata Angelina dengan nada hampa ketika Harry, Ron
dan Hermione memasuki ruang duduk setelah makan malam.
'Tapi aku menjaga amarahku!' kata Harry, terkejut. 'Aku tidak mengatakan apa-apa
kepadanya, Angelina, aku sumpah, aku --'
'Aku tahu, aku tahu,' kata Angelina menderita. 'Dia cuma bilang dia perlu sedikit
waktu untuk mempertimbangkan.'
'Mempertimbangkan apa?' kata Ron dengan marah. 'Dia memberi anak-anak
Slytherin izin, kenapa kita tidak?'
Tapi Harry bisa membayangkan seberapa Umbridge menikmati memberi ancaman
tidak ada tim Quidditch Gryffindor kepada mereka dan bisa dengan mudah mengerti
kenapa dia tidak mau melepaskan senjata itu kepada mereka demikian cepat.
'Well,' kata Hermione, 'lihat sisi baiknya -- setidaknya sekarang kalian akan punya
waktu untuk mengerjakan esai Snape!'
'Itu sisi baik, bukan?' sambar Harry, sementara Ron memandang Hermione dengan
tidak percaya. 'Tak ada latihan Quidditch, dan Ramuan ekstra?'
Harry merosot ke dalam sebuah kursi, menyeret esai Ramuannya dengan enggan
dari tasnya dan mulai bekerja. Sangat sulit untuk berkonsentrasi; walaupun dia tahu
Sirius belum akan muncul di dalam api sampai lama kemudian, dia tidak bisa tidak
melihat ke dalam nyala api setiap beberapa menit sekali untuk berjaga-jaga. Juga ada
suara yang luar biasa di dalam ruangan itu: Fred dan George kelihatannya telah
menyempurnakan satu jenis Kotak Makanan Pembolos, yang mereka peragakan
secara bergantian kepada kerumunan yang bersorak dan berteriak.
Pertama, Fred akan menggigit ujung jingga dari sebuah permen kunyah, yang
menyebabkannya muntah hebat ke dalam sebuah ember yang telah mereka tempatkan
di depan mereka. Lalu dia akan menelan paksa ujung ungu dari permen kunyah itu,
yang menyebabkan muntah-muntah segera berhenti. Lee Jordan, yang sedang
membantu peragaan, Menghilangkan muntahan dengan malas secara teratur dengan
Mantera Penghilang yang sama dengan yang digunakan terus Snape pada ramuanramuan Harry.
Dengan suara muntah teratur, sorakan dan suara Fred dan George menerima
pesanan pendahuluan dari kerumunan, Harry mendapati luar biasa sukar untuk fokus
pada metode yang tepat untuk Larutan Penguat. Hermione tidak membantu; sorakan
dan suara muntahan yang mengenai dasar ember Fred dan George diikuti dengan
dengusannya yang keras dan tidak menyetujui, yang Harry rasa, kalau bisa, lebih
mengalihkan perhatian.
'Kalau begitu pergi saja dan hentikan mereka!' katanya dengan jengkel, setelah
mencoret berat cakar griffin bubuk yang salah untuk keempat kalinya.
'Aku tidak bisa, secara teknis mereka tidak melakukan apapun yang salah,' kata
Hermione melalui gigi-gigi yang digertakkan. 'Mereka berhak makan benda-benda
aneh itu sendiri dan aku tidak bisa menemukan peraturan yang mengatakan orangorang idiot lainnya tidak boleh membelinya, tidak kecuali benda-benda itu terbukti
berbahaya dalam suatu cara dan kelihatannya tidak begitu.'
Dia, Harry dan Ron memperhatikan George melambungkan muntahan ke dalam
ember, menelan sisa permen kunyahnya dan bangkit sambil tersenyum dengan lengan
terentang lebar menghadapi tepuk tangan yang berkepanjangan.
'Kau tahu, aku tidak mengerti kenapa Fred dan George cuma mendapat tiga OWL
masing-masing,' kata Harry sambil mengamati ketika Fred, George dan Lee
mengumpulkan emas dari kerumunan yang berminat. 'Mereka benar-benar mengerti
bahan mereka.'
'Oh, mereka hanya tahu hal-hal pamer yang tidak berguna nyata bagi siapapun,'
kata Hermione meremehkan.
Lama juga sebelum kerumunan di sekitar si kembar Weasley menyurut, lalu Fred,
Lee dan George duduk sambil menghitung pendapatan mereka lebih lama lagi,
sehingga lewat tengah malam ketika Harry, Ron dan Hermione akhirnya sendirian di
ruang duduk. Akhirnya, Fred telah menutup pintu ke kamar anak laki-laki di
belakangnya, sambil menggoyangkan kotak Galleonnya dengan berlagak sehingga
Hermione cemberut. Harry, yang sedang membuat sedikit kemajuan dengan esai
Ramuannya, memutuskan menyerah untuk malam itu. Ketika dia menyimpan bukubukubya, Ron, yang sedang tidur ayam di kursi berlengannya, mengeluarkan dengkur
teredam, terbangun, dan memandang muram ke dalam api.
'Sirius!' katanya.
Harry berpaling. Kepala gelap Sirius yang tidak rapi duduk di dalam api lagi.
'Hai,' katanya sambil nyengir.
'Hai,' kata Harry, Ron dan Hermione bersamaan, ketiganya semua berlutut di
permadani. Crookshanks mendengkur keras dan mendekati api, mencoba, walaupun
panas, menempatkan wajahnya dekat wajah Sirius.
'Bagaimana keadaan kalian?' kata Sirius.
'Tidak sebaik itu,' kata Harry, ketika Hermione menarik Crookshanks balik untuk
mencegahnya menghanguskan kumisnya. 'Kementerian memaksakan dekrit lain, yang
beratri kami tidak diizinkan memiliki tim Quidditch --'
'Atau kelompok Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam rahasia?' kata Sirius.
Ada jeda pendek.
'Bagaimana kau tahu tentang itu?' Harry menuntut.
'Kalian perlu memilih tempat-tempat pertemuan kalian dengan lebih hati-hati,' kata
Sirius, sambil menyengir lebih lebar lagi. 'Hog's Head, kutanya kalian.'
'Well, lebih baik daripada Three Broomsticks!' kata Hermione membela diri.
'Tempat itu selalu penuh orang --'
'Yang berarti kalian akan lebih sukar didengar orang lain,' kata Sirius. 'Kau masih
perlu belajar banyak, Hermione.'
'Siapa yang mendengar kami?' Harry menuntut.
'Mundungus, tentu saja,' kata Sirius, dan ketika mereka semua tampak bingung dia
tertawa. 'Dia penyihir wanita di balik tudung itu.'
'Itu Mundungus?' Harry berkata, terperanjat. 'Apa yang sedang dilakukannya di
Hog's Head?'
'Menurutmu apa yang sedang dilakukannya?' kata Sirius tidak sabaran. 'Mengawasi
kamu, tentu saja.'
'Aku masih diikuti?' tanya Harry dengan marah.
'Yeah, memang,' kata Sirius, 'dan bagus juga, bukan, kalau hal pertama yang akan
kau lakukan pada akhir pekan bebasmu adalah mengorganisasi kelompok pertahanan
ilegal.'
Tapi dia tidak terlihat marah ataupun kuatir. Sebaliknya, dia melihat kepada Harry
dengan rasa bangga yang jelas.
'Kenapa Dung bersembunyi dari kami?' tanya Ron, terdengar kecewa. 'Kami akan
senang berjumpa dengannya.'
'Dia dilarang masuk Hog's Head dua puluh tahun yang lalu,' kata Sirius, 'dan
penjaga bar itu punya ingatan yang bagus. Kita kehilangan Jubah Gaib cadangan
Moody ketika Sturgis tertangkap, sehingga Dung sering berpakaian seperti penyihir
wanita akhir-akhir ini ... ngomong-ngomong ... yang pertama, Ron -- aku sudah
bersumpah untuk menyampaikan pesan dari ibumu.'
'Oh yeah?' kata Ron, terdengar gelisah.
'Dia bilang dengan alasan apapun kamu tidak boleh ikut serta dalam kelompok
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam rahasia yang ilegal. Dia bilang kamu pasti akan
dikeluarkan dan masa depanmu akan rusak. Dia bilang akan ada banyak waktu untuk
belajar bagaimana mempertahankan diri nanti dan bahwa kamu terlalu muda untuk
mengkhawatirkan hal itu sekarang. Dia juga' (mata Sirius berpaling kepada dua yang
lain) 'menasehati Harry dan Hermione tidak melanjutkan dengan kelompok itu,
walaupun dia menerima bahwa dia tidak punya kekuasaan atas mereka dan hanya
memohon mereka untuk ingat bahwa dia menginginkan yang terbaik bagi mereka. Dia
hendak menuliskan ini kepada kalian semua, tetapi kalau burung hantu dicegat kalian
semua akan berada dalam masalah besar, dan dia tidak bisa bilang sendiri karena dia
bertugas malam ini.'
'Bertugas melakukan apa?' kata Ron cepat.
'Tidak usah kau tahu, cuma sesuatu untuk Order,' kata Sirius. 'Jadi aku yang harus
menjadi pembawa pesan dan pastikan kalian memberitahu dia aku menyampaikan
semuanya, karena kukira dia tidak percaya aku melakukannya.'
Ada jeda lain di mana Crookshanks, sambil mengeong, mencoba mencakar kepala
Sirius, dan Ron bermain-main dengan sebuah lubang di permadani.
'Jadi, kau mau aku bilang aku tidak akan ikut serta dalam kelompok Pertahanan?'
akhirnya dia bergumam.
'Aku? Tentu saja tidak!' kata Sirius, tampak terkejut. 'Kukira itu ide yang sangat
bagus!'
'Benarkah?' kata Harry, hatinya laga.
'Tentu saja!' kata Sirius. 'Apa menurutmu ayahmu dan aku akan diam saja dan
menerima perintah dari nenk sihir tua seperti Umbridge?'
'Tapi -- semester lalu yang kau lakukan hanyalah menyuruhku berhati-hati dan
tidak mengambil resiko --'
'Tahun lalu, semua bukti menunjukkan seseorang di dalam Hogwarts berusaha
membunuhmu, Harry!' kata Sirius tidak sabaran. 'Tahun ini, kita tahu ada seseorang di
luar Hogwarts yang ingin membunuh kita semua, jadi kukira belajar mempertahankan
diri dengan baik adalah ide yang bagus sekali!'
'Dan kalau kami dikeluarkan?' Hermione bertanya, dengan tampang ingin tahu.
'Hermione, semua ini adalah idemu!' kata Harry sambil menatapnya.
'Aku tahu. Aku hanya ingin tahu apa yang dipikirkan Sirius,' katanya sambil
mengangkat bahu.
'Well, lebih baik dikeluarkan dan mampu mempertahankan diri daripada duduk
dengan aman di sekolah tanpa mengetahui apapun,' kata Sirius.
'Dengar, dengar,' kata Harry dan Ron dengan antusias.
'Jadi,' kata Sirius, 'bagaimana kalian mengelola kelompok ini? Di mana kalian
mengadakan pertemuan?'
'Well, itu sedikit menjadi masalah sekarang,' kata Harry. 'Tidak tahu ke mana kami
bisa pergi.'
'Bagaimana dengan Shrieking Shack?' saran Sirius.
'Hei, itu ide bagus!' kata Ron dengan bersemangat, tetapi Hermione membuat suara
skeptis dan mereka bertiga semuanya memandangnya, kepala Sirius berpaling dalam
nyala api.
'Well, Sirius, cuma saja hanya ada kalian berempat yang bertemu di Shrieking
Shack ketika kalian sekolah,' kata Hermione, 'dan kalian semua bisa bertransformasi
menjadi binatang dan kukira kalian semua bisa berdesakan di bawah sebuah Jubah
Gaib kalau kalian mau. Tapi kami berdua puluh delapan dan tak seorangpun dari kami
Animagus, jadi kami tidak butuh Jubah Gaib tapi Tenda Gaib --'
'Poin yang tepat,' kata Sirius, terlihat sedikit kecewa. 'Well, aku yakin kalian akan
dapat tempatnya. Dulu ada jalan rahasia yang cukup luas di belakang cermin di lantai
empat, kalian mungkin punya ruangan yang cukup untuk berlatih kutukan di sana.'
'Fred dan George memberitahuku sudah terhalang,' kata Harry, sambil
menggelengkan kepalanya.. 'Tertimbun atau apapun.'
'Oh ...' kata Sirius, sambil merengut. 'Well, aku harus berpikir dan kembali lagi --'
Dia berhenti. Wajahnya mendadak tegang, gelisah. Dia berpaling ke samping,
tampaknya sedang melihat ke dinding bata padat perapian itu.
'Sirius?' kata Harry dengan cemas.
Tapi dia telah menghilang. Harry memandang nyala api itu sejenak sambil
ternganga, lalu berpaling untuk memandang Ron dan Hermione.
'Kenapa dia --?'
Hermione mengeluarkan napas ketakutan dan melompat bangkit, masih menatap ke
api.
Sebuah tangan muncul di tengah nyala api, meraih-raih seolah-olah untuk
menangkap sesuatu; tangan gemuk pendek, dengan jari-jari pendek yang diliputi
cincin-cincin ketinggalan zaman yang jelek.
Mereka bertiga berlari cepat. Di pintu kamar anak laki-laki Harry memandang
balik. Tangan Umbridge masih membuat gerakan menangkap di antara nyala api,
seolah-olah dia tahu persis di mana rambut Sirius berada beberapa saat sebelumnya
dan bertekad untuk mencengkeramnya.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DELAPAN BELAS -Dumbledore's Army
'Umbridge sudah membaca suratmu, Harry. Tidak ada penjelasan lain.'
'Kaukira Umbridge menyerang Hedwig?' katanya, marah besar.
'Aku hampir yakin,' kata Hermione dengan murung. 'Perhatikan kodokmu, dia akan
melarikan diri.'
Harry menunjuk tongkatnya kepada kodok yang telah melompat-lompat penuh
harap menuju ujung meja yang satunya -- 'Accio!' dan kodok itu meluncur balik ke
tangannya dengan muram.
Jimat dan Guna-Guna selalu menjadi salah satu pelajaran terbaik untuk menikmati
bincang-bincang pribadi; biasanya ada begitu banyak pergerakan dan aktivitas
sehingga bahaya terdengar sangat sedikit. Hari ini, dengan ruangan yang penuh
dengan kodok-kodok berkoak dan burung-burung gagak menggaok, dan dengan hujan
deras yang berjatuhan dan memukul-mukul jendela ruang kelas, pembahasan bisikbisik Harry, Ron dan Hermione mengenai bagaimana Umbridge nyaris menangkap
Sirius berlangsung tanpa diperhatikan.
'Aku sudah mencurigai ini sejak Filch menuduhmu memesan Bom Kotoran, karena
itu tampaknya kebohongan yang begitu bodoh,' Hermione berbisik. 'Maksudku, sekali
suratmu terbaca akan sangat jelas kau tidak sedang memesannya, jadi kau tidak akan
berada dalam masalah sama sekali -- lelucon yang agak lemah, bukan? Tapi kemudian
kupikir, bagaimana kalau seseorang hanya ingin alasan untuk membaca suratmu?
Well kalau begitu, akan menjadi cara yang sempurna bagi Umbridge untuk
melakukannya -- mengisiki Filch, membiarkannya melakukan pekerjaan kotor dan
menyita surat itu, lalu mencari cara mencurinya dari dia atau menuntut untuk
melihatnya -- kukira Filch tidak akan keberatan, kapan dia pernah membela hak
murid? Harry, kau menggencet kodokmu.'
Harry melihat ke bawah; dia memang sedang menggencet kodoknya dengan begitu
kuat sehingga matanya menggembung; dia buru-buru meletakkannya kembali ke atas
meja.
'Tadi malam nyaris, nyaris saja ketahuan,' kata Hermione. 'Aku hanya ingin tahu
apakah Umbridge tahu betapa nyarisnya. Silencio.'
Kodok yang sedang dipakainya berlatih Mantera Pembisunya membisu di tengah
kuaknya dan melotot kepadanya dengan mencela.
'Kalau dia menangkap Snuffles --'
Harry menyelesaikan kalimat itu baginya.
'-- Dia mungkin kembali ke Azkaban pagi ini.' Dia melambaikan tongkatnya tanpa
benar-benar berkonsentrasi; kodoknya menggembung seperti balon hijau besar dan
mengeluarkan siulan bernada tinggi.
'Silencio!' kata Hermione buru-buru, sambil menunjuk tongkatnya ke kodok Harry,
yang mengempis diam-diam di depan mereka. 'Well, dia tidak boleh melakukannya
lagi, itu saja. Aku hanya tidak tahu bagaimana kita akan memberitahunya. Kita tidak
bisa mengirimnya burung hantu.'
'Kukira dia tidak akan mempertaruhkannya lagi,' kata Ron. 'Dia tidak bodoh, dia
tahu Umbridge hampir saja menangkapnya. Silencio.'
Gagak besar dan jelek di depannya mengeluarkan gaok mengejek.
'Silencio. SILENCIO!'
Gagak itu menggaok lebih kuat lagi.
'Caramu menggerakkan tongkatmu itu,' kata Hermione, sambil mengamati Ron
dengan kritis, 'kau tidak mau melambaikannya, lebih seperti tusukan tajam.'
'Burung gagak lebih sukar daripada kodok,' kata Ron melalui gigi-gigi yang
dikertakkan.
'Baik, ayo tukar,' kata Hermione, sambil menyambar burung gagak Ron dan
menggantikannya dengan kodok gemuknya sendiri. 'Silencio!' Gagak itu terus
membuka dan menutup paruhnya yang tajam, tapi tak ada suara yang keluar.
'Sangat bagus, Miss Granger!' kata suara kecil mencicit Profesor Flitwick, membuat
Harry, Ron dan Hermione semuanya terlompat. 'Sekarang, mari kulihat kamu
mencoba, Mr Weasley.'
'Ap --? Oh - oh, benar,' kata Ron, sangat bingung. 'Er -- silencio!'
Dia menusuk ke arah kodok itu begitu kerasnya sehingga dia mengenai matanya:
kodok itu mengeluarkan kuak memekakkan dan melompat dari meja.
Tidaklah mengejutkan bagi mereka bahwa Harry dan Ron diberi latihan tambahan
Mantera Pembisu untuk tugas rumah.
Mereka diperbolehkan tetap di dalam selama istirahat karena hujan deras di luar.
Mereka menemukan tempat-tempat duduk di sebuah ruang kelas yang bising dan
terlalu padat di lantai pertama tempat Peeves melayang-layang sambil melamun di
dekat kandil, sambil terkadang meniupkan butir-butir tinta ke puncak kepala
seseorang. Mereka belum lagi duduk ketika Angelina datang dengan susah payah
menuju mereka melalui kelompok-kelompok murid yang sedang bergosip.
'Aku dapat izin!' katanya. 'Untuk membentuk kembali tim Quidditch!'
'Bagus sekali!' kata Ron dan Harry bersama-sama.
'Yeah,' kata Angelina sambil tersenyum. 'Aku menemui McGonagall dan kukira dia
mungkin memohon kepada Dumbledore. Ngomong-ngomong, Umbridge harus
menyerah. Ha! Jadi aku mau kalian di lapangan pukul tujuh malam, oke, karena kita
harus mengejar waktu. Kalian sadar kita hanya tiga minggu dari pertandingan pertama
kita?'
Dia menyelipkan diri menjauh dari mereka, sambil mengelak sebuah butiran tinta
dari Peeves, yang gantinya mengenai seorang anak kelasl satu, dan menghilang dari
pandangan.
Senyum Ron sedikit menghilang ketika dia memandang keluar jendela, yang
sekarang buram karena hantaman hujan.
'Kuharap ini reda. Ada apa denganmu, Hermione?'
Dia juga sedang memandang keluar jendela, tapi seakan-akan tidak benar-benar
melihatnya. Matanya tidak fokus dan wajahnya cemberut.
'Cuma berpikir ...' katanya, masih merengut pada jendela yang tersiram hujan.
'Tentang Siri -- Snuffles?' kata Harry.
'Bukan ... tidak persis ...' kata Hermione lambat-lambat. 'Lebih ... bertanya-tanya ...
kukira yang sedang kita lakukan ini adalah hal yang benar ... kukira ... bukan?'
Harry dan Ron memandang satu sama lain.
'Well, itu membuatnya jelas,' kata Ron. 'Pasti akan sangat menjengkelkan kalau kau
tidak menjelaskan maksudmu dengan tepat.'
Hermione memandangnya seakan-akan dia baru saja menyadari kehadirannya.
'Aku hanya bertanya-tanya,' katanya, suaranya semakin kuat sekarang, 'apakah kita
sedang melakukan hal yang benar, memulai kelompok Pertahanan Terhadap Ilmu
Hitam ini.'
'Apa?' kata Harry dan Ron bersama-sama.
'Hermione, mulanya ini idemu!' kata Ron dengan marah.
'Aku tahu,' kata Hermione sambil memilin jarinya. 'Tapi setelah berbicara dengan
Snuffles ...'
'Tapi dia setuju sekali,' kata Harry.
'Ya,' kata Hermione, sambil menatap ke jendela lagi. 'Ya, itulah yang membuatku
mengira mungkin sebenarnya bukan ide yang bagus ...'
Peeves melayang-layang pada perutnya di atas mereka, bersiap dengan penembak
kacang; secara otomatis mereka bertiga semuanya mengangkat tas-tas mereka untuk
melindungi kepala mereka sambil dia lewat.
'Mari kita perjelas,' kata Harry dengan marah, ketika mereka meletakkan tas-tas
mereka kembali ke atas lantai, 'Sirius setuju dengan kita, jadi kaukira kita tidak
seharusnya melakukan itu lagi?'
Hermione terlihat tegang dan agak sengsara. Sekarang sambil menatap tangannya
sendiri, dia berkata, 'Apakah kau sejujurnya mempercayai penilaiannya?'
'Ya, memang!' kata Harry seketika. 'Dia selalu memberi kita nasehat bagus!'
Sebuah butiran tinta berdesing melewati mereka, mengenai Katie Bell tepat di
telinga. Hermione mengamati Katie melompat bangkit dan mulai melemparkan
benda-benda kepada Peeves; setelah beberapa saat barulah Hermione berbicara lagi
dan kedengarannya seolah-olah dia memilih kata-katanya dengan sangat hati-hati.
'Kau tidak mengira dia sudah menjadi ... semacam ... sembrono ... sejak dia
terkurung di Grimmauld Place? Kau tidak mengira dia ... sepertinya ... menjalani
hidup melalui kita?'
'Apa maksudmu, "menjalani hidup melalui kita"?' Harry menjawab dengan pedas.
'Maksudku ... well, kukira dia akan senang membentuk perkumpulan Pertahanan
rahasian tepat di bawah hidup seseorang dari Kementerian ... kukira dia benar-benar
frustrasi terhadap betapa sedikitnya yang bisa dia lakukan di tempat dia berada ... jadi
kukira dia cenderung ... menghasut kita.'
Ron terlihat benar-benar bingung.
'Sirius benar,' katanya, 'kau memang terdengar persis seperti ibuku.'
Hermione menggigit bibirnya dan tidak menjawab. Bel berdering persis ketika
Peeves menukik ke arah Katie dan mengosongkan satu botol penuh tinta ke atas
kepalanya.
*
Cuaca tidak membaik ketika hari semakin malam, sehingga pada pukul tujuh malam
itu, ketika Harry dan Ron turun ke lapangan Quidditch untuk berlatih, mereka basah
kuyup dalam waktu beberapa menit, kaki mereka tergelincir dan meluncur di atas
rumput yang basah. Langit kelabu gelap dan bergemuruh dan lega rasanya
mendapatkan kehangatan dan cahaya ruang ganti, walaupun mereka tahu kelonggaran
itu hanya sementara. Mereka menemukan Fred dan George sedang berdebat apakah
akan menggunakan salah satu Kotak Makanan Pembolos mereka sendiri untuk
berkelit dari terbang.
'... tapi aku bertaruh dia akan tahu apa yang sudah kita lakukan,' Fred berkata dari
ujung mulutnya. 'Kalau saja aku tidak menawarkan kepadanya beberapa Pastilles
Muntah kemarin.'
'Kita bisa mencoba Gula-Gula Demam,' George bergumam, 'belum ada yang
pernah melihat itu --'
'Apakah bisa bekerja?' tanya Ron penuh harap, selagi hantaman hujan pada atap
menguat dan angin menderu di sekeliling bangunan itu.
'Well, yeah,' kata Fred, 'suhu badanmu akan langsung naik.'
'Tapi kau juga mendapatkan bisul-bisul besar berisi nanah ini,' kata George, 'dan
kami belum menemukan cara menghilangkannya.'
'Aku tidak bisa melihat bisul apapun,' kata Ron, sambil menatap si kembar.
'Tidak, well, kau tidak akan melihatnya,' kata Fred dengan muram, 'bisul-bisul itu
tidak berada di tempat yang biasanya kami perlihatkan ke orang banyak.'
'Tapi membuat duduk di atas sapu sakit di --'
'Baiklah, semuanya, dengarkan,' kata Angelina keras-keras, sambil muncul dari
kantor Kapten. 'Aku tahu ini bukan cuaca ideal, tapi ada kemungkinan kita akan
bermain melawan Slytherin dalam kondisi seperti ini jadi ide yang bagus untuk
melatih cara kita mengatasi cuaca ini. Harry, bukankah kau melakukan sesuatu
dengan kacamatamu untuk menghentikan hujan membuatnya berkabut ketika kita
bermain melawan Hufflepuff dalam badai itu?'
'Hermione yang melakukannya,' kata Harry. Dia menarik keluar tongkatnya,
mengetuk kacamatanya dan berkata, 'Impervius!'
'Kukira kita semua harus mencobanya,' kata Angelina. 'Kalau saja kita bisa
mengenyahkan hujan dari wajah kita akan sangat membantu daya pandang -semuanya bersama-sama, ayolah -- Impervius! OK. Ayo pergi.'
Mereka semua menyimpan tongkat mereka kembali ke saku bagian dalam jubah
mereka, memanggul sapu mereka dan mengikuti Angelina keluar dari ruang ganti.
Mereka berkecipak melalui lumpur yang semakin dalam ke tengah lapangan; daya
pandang masih sangat buruk bahkan dengan Mantera Impervius; cahaya memudar
cepat dan tirai hujan menyapu tanah.
'Baiklah, dengan aba-aba peluitku,' teriak Angelina.
Harry menyentak dari tanah, sambil mencipratkan lumpur ke segala arah, dan
meluncur naik, angin menariknya sehingga agak melenceng.
Dia tidak punya gambaran bagaimana dia akan melihat Snitch dalam cuaca ini, dia
sudah mengalami cukup kesulitan melihat satu-satunya Bludger yang mereka gunakan
untuk latihan, satu menit latihan Bludger itu hampir menjatuhkannya dan dia harus
menggunakan Sloth Grip Roll untuk menghindarinya. Sayangnya, Angelina tidak
melihat ini. Nyatanya, dia tidak tampak bisa melihat apapun; tak seorangpun dari
mereka punya petunjuk apa yang sedang dilakukan yang lain. Angin semakin
kencang; bahkan dari kejauhan Harry bisa mendengar deru, suara hantaman hujan
yang mengenai permukaan danau.
Angelina menahan mereka selama hampir satu jam sebelum menyerah kalah. Dia
memimpin timnya yang basah kuyup dan tidak puas kembali ke dalam ruang ganti,
bersikeras bahwa latihan itu bukan buang-buang waktu, walaupun tanpa keyakinan
nyata dalam suaranya. Fred dan George terlihat sangat jengkel; keduanya berkaki
bengkok dan mengerenyit dengan setiap gerakan. Harry bisa mendengar mereka
mengeluh dengan suara rendah ketika dia mengeringkan rambutnya dengan handuk.
'Kukira beberapa punyaku sudah pecah,' kata Fred dengan suara hampa.
'Punyaku belum,' kata George melalui gigi-gigi yang dikertakkan, 'mereka
berdenyut gila-gilaan ... terasa lebih besar kalau ada.'
'ADUH!' kata Harry.
Dia menekankan handuk ke wajahnya, matanya dipejamkan keras karena sakit.
Bekas luka di keningnya terbakar lagi, lebih sakit daripada berminggu-minggu ini.
'Ada apa?' kata beberapa suara.
Harry muncul dari balik handuknya; ruang ganti tampak buram karena dia sedang
tidak mengenakan kacamatanya, tapi dia bisa tahu bahwa wajah semua orang sedang
berpaling kepadanya.
'Tidak apa-apa,' gumamnya, 'aku -- menyodok mataku sendiri, itu saja.'
Tetapi dia memberi Ron pandangan penuh arti dan mereka berdua tinggal ketika
sisa tim yang lain berbaris keluar, terlindungi dalam mantel mereka, topi mereka
ditarik rendah menutupi telinga mereka.
'Apa yang terjadi?' kata Ron, saat Alicia telah menghilang melalui pintu. 'Apakah
bekas lukamu?'
Harry mengangguk.
'Tapi ...' terlihat takut, Ron berjalan menyeberang ke jendela dan menatap keluar
pada hujan, 'dia -- dia tidak mungkin berada di dekat kita sekarang, bisakah?'
'Tidak,' Harry bergumam, sambil merosot ke sebuah bangku dan menggosok
keningnya. 'Dia mungkin bermil-mil jauhnya. Sakit karena ... dia ... marah.'
Harry tidak bermaksud mengatakan itu sama sekali, dan mendengar kata-kata itu
seakan-akan diucapkan oleh orang asing -- walau begitu dia tahu seketika kata-kata
itu benar. Dia tidak tahu bagaimana dia mengetahuinya, tapi dia tahu; Voldemort, di
manapun dia berada, apapun yang sedang dilakukannya, sedang berada dalam amarah
yang memuncak.
'Apakah kamu melihatnya?' kata Ron, terlihat ngeri. 'Apakah kamu ... mendapatkan
penglihatan, atau sesuatu?'
Harry duduk diam, sambil menatap kakinya, membiarkan pikiran dan ingatannya
santai setelah rasa sakit itu.
Bentuk-bentuk kacau yang membingungkan; deru suara-suara yang melolong ...
'Dia mau sesuatu dilakukan, dan tidak terjadi cukup cepat,' katanya.
Lagi-lagi, dia merasa terkejut mendengar kata-kata keluar dari mulutnya, dan walau
begitu sangat yakin kata-kata itu benar.
'Tapi ... bagaimana kau tahu?' kata Ron.
Harry menggelengkan kepalanya dan menutupi matanya dengan tangan, sambil
menekannya dengan telapak tangannya. Bintang-bintang kecil meledak dalam
matanya. Dia merasakan Ron duduk di bangku itu di sampingnya dan tahu Ron
sedang menatapnya.
'Terakhir kali apakah mengenai ini?' kata Ron dengan suara berbisik. 'Ketika bekas
lukamu sakit di kantor Umbridge? Kau-Tahu-Siapa marah?'
Harry menggeleng.
'Kalau begitu, apa?'
Harry berpikir kembali. Dia sedang memandang wajah Umbridge ... bekas lukanya
sakit ... dan dia punya perasaan aneh dalam perutnya ... perasaan berjingkrak yang
aneh ... perasaan senang ... tapi tentu saja, dia belum mengenali apa itu, karena dia
sendiri sedang merasa begitu sengsara ...
'Terakhir kali, terjadi karena dia senang,' katanya. 'Sangat senang. Dia mengira ...
sesuatu yang bagus akan terjadi. Dan pada malam sebelum kita kembali ke Hogwarts
...' dia berpikir kembali ke saat ketika bekas lukanya sakit sekali di dalam kamar
tidurnya dan Ron di Grimmauld Place ... 'dia marah besar.'
Dia melihat kepada Ron, yang sedang memandangnya dengan mulut ternganga.
'Kamu bisa mengambil alih dari Trelawney, sobat,' katanya dengan suara kagum.
'Aku tidak sedang membuat ramalan,' kata Harry.
'Tidak, kamu tahu apa yang sedang kau lakukan?' Ron berkata, terdengar takut
sekaligus terkesan. 'Harry, kamu sedang membaca pikiran Kau-Tahu-Siapa!'
'Bukan,' kata Harry sambil menggeleng. 'Lebih seperti ... suasana hatinya, kurasa.
Aku cuma mendapat kilasan-kilasan dalam suasana hati apa dia. Dumbledore berkata
sesuatu seperti ini terjadi tahun lalu. Dia berkata bahwa ketika Voldemort berada di
dekatku, atau ketika dia merasakan kebencian, aku bisa tahu. Well, sekarang aku juga
merasakannya ketika dia senang ...'
Ada jeda. Angin dan hujan memecut bangunan itu.
'Kau harus memberitahu seseorang,' kata Ron.
'Aku memberitahu Sirius terakhir kali itu.'
'Well, beritahu dia mengenai kali ini!'
'Tidak bisa, bukan?' kata Harry dengan murung. 'Umbridge sedang mengawasi
burung hantu dan api, ingat?'
'Well kalau begitu, Dumbledore.'
'Aku baru saja memberitahumu, dia sudah tahu,' kata Harry singkat, sambil bangkit,
mengambil mantelnya dari pasak dan mengayunkannya mengitari dirinya. 'Tidak ada
gunanya memberitahu dia lagi.'
Ron mengancingkan mantelnya sendiri, mengamati Harry sambil berpikir.
'Dumbledore pasti ingin tahu,' katanya.
Harry mengangkat bahu.
'Ayo ... kita masih harus berlatih Mantera Pembisu.'
Mereka bergegas kembali melalui lapangan yang gelap, tergelincir dan tersandung
di halaman berlumpur, tanpa berbicara. Harry sedang berpikir keras. Apakah yang
Voldemort ingin dilakukan yang tidak terjadi cukup cepat?
'... dia punya rencana-rencana lain ... rencana-rencana yang bisa dioperasikannya
dengan sangat diam-diam ... hal-hal yang hanya bisa diperolehnya dengan sembunyisembunyi ... seperti sebuah senjata. Sesuatu yang tidak dimilikinya terakhir kali.'
Harry belum memikirkan kata-kata itu selama berminggu-minggu, dia terlalu asyik
dengan apa yang sedang berlangsung di Hogwarts, terlalu sibuk memikirkan perang
yang berkepanjangan dengan Umbridge, ketidakadilan semua campur tangan
Kementerian ... tapi sekarang kata-kata itu datang kembali kepadanya dan
membuatnya bertanya-tanya ... kemarahan Voldemort akan masuk akal kalau dia
tidak lebih dekat ke senjata itu, apapun itu. Apakah Order sudah merintangi dia,
menghentikannya dari mengambilnya? Di mana disimpannya? Siapa yang
memilikinya sekarang?
'Mimbulus mimbletonia,' kata suara Ron dan Harry sadar kembali tepat pada
waktunya untuk merangkak naik melalui lubang potret ke dalam ruang duduk.
Tampaknya Hermione sudah pergi tidur awal, meninggalkan Crookshanks
bergelung di kursi dekat situ dan beraneka ragam topi peri rajutan yang bergumpal
kecil tergeletak di atas sebuah meja di samping api. Harry agak bersyukur dia tidak
ada di sekitar sana, karena dia tidak begitu ingin membahas bekas lukanya sakit dan
mendengarnya juga mendesak dia untuk pergi menemui Dumbledore. Ron terus
memandangnya sebentar-sebentar dengan cemas, tetapi Harry menarik keluar bukubuku Jimat dan Guna-Guna dan mulai bekerja untuk menyelesaikan esainya,
walaupun dia hanya berpura-pura berkonsentrasi dan pada saat Ron berkata dia juga
akan pergi tidur, dia hampir belum menulis apapun.
Tengah malam tiba dan berlalu sementara Harry membaca dan membaca ulang
sebuah bagian mengenai kegunaan rumput-kudis, lovage dan kutil-bersin dan tidak
memahami satu katapun.
Tanaman-tanaman ini paling manjur untuk meradangkan otak, dan oleh karena itu
banyak digunakan dalam Minuman Pembuat Bingung, di mana penyihir ingin
mengakibatkan kepala panas dan sembrono ...
... Hermione berkata Sirius menjadi sembrono terkurung di Grimmauld Place ...
... paling manjur untuk meradangkan otak, dan oleh karena itu banyak digunakan ...
... Daily Prophet akan mengira otaknya mengalami radang kalau mereka tahu
bahwa dia mengetahui apa yang sedang dirasakan Voldemort ...
... oleh karena itu banyak digunakan dalam Minuman Pembuat Bingung ...
... membingungkan memang kata yang tepat; kenapa dia tahu apa yang sedang
dirasakan Voldemort? Apa ini koneksi aneh antara mereka, yang belum pernah bisa
diterangkan Dumbledore dengan memuaskan?
... di mana penyihir ingin ...
... betapa Harry ingin tidur ...
... mengakibatkan kepala panas ...
... rasanya hangat dan nyaman di dalam kursi berlengannya di dekat api, dengan
hujan yang masih turun deras ke kaca-kaca jendela, Crookshanks mendengkur, dan
suara derak nyala api ...
Buku itu tergelincir dari pegangan Harry yang kendur dan mendarat dengan
gedebuk tumpul ke permadani. Kepalanya tergulir ke samping ...
Dia sedang berjalan sekali lagi menyusuri sebuah koridor tanpa jendela, langkahlangkah kakinya menggema dalam keheningan. Ketika pintu di ujung gang itu tampak
semakin besar, jantungnya berdebar cepat bersemangat ... kalau saja dia bisa
membukanya ... memasukinya ...
Dia mengulurkan tangannya ... ujung-ujung jarinya hanya beberapa inci dari pintu
itu ...
'Harry Potter, sir!'
Dia terbangun dengan terkejut. Lilin-lilin semuanya sudah padam di ruang duduk,
tapi ada sesuatu yang bergerak di dekatnya.
'Sapa tuh?' kata Harry, sambil duduk tegak di kursinya. Api hampir padam, ruangan
itu sangat gelap.
'Dobby bawa burung hantumu, sir!' kata sebuah suara mencicit.
'Dobby?' kata Harry dengan parau, sambil menatap melalui kegelapan pada sumber
suara itu.
Dobby si peri-rumah sedang berdiri di samping meja tempat Hermione
meninggalkan setengah lusin topi rajutannya. Telinganya yang besar dan runcing
sekarang menjulur keluar dari apa yang tampak seperti semua topi yang pernah dirajut
Hermione, dia memakai yang satu di atas yang lainnya, sehingga kepalanya terlihat
telah memanjang dua sampai tiga kaki, dan di bagian paling puncak duduk Hedwig,
yang sedang beruhu dengan tenang dan jelas sudah sembuh.
'Dobby mengajukan diri untuk mengembalikan burung hantu Harry Potter,' kata
peri itu sambil mendecit, dengan tampang pemujaan sungguh-sungguh di wajahnya,
'Profesor Grubblu-Plank berkata dia sudah sembuh sekarang, sir.' Dia membungkuk
rendah sehingga hidungnya yang mirip pinsil mengenai permukaan permadani yang
tipis dan Hedwig beruhu marah dan berkelebat ke lengan kursi Harry.
'Trims, Dobby!' kata Harry, sambil membelai kepala Hedwig dan berkedip keras,
mencoba menghilangkan citra pintu dalam mimpinya ... bayangan itu tadi sangat
hidup. Sambil mengamati Dobby lebih seksama, dia memperhatikan bahwa peri itu
juga memakai beberapa scarf dan sejumlah kaus kaki, sehingga kakinya tampak jauh
terlalu besar bagi tubuhnya.
'Er ... apakah kau telah mengambil semua pakaian yang ditinggalkan Hermione?'
'Oh, tidak, sir,' kata Dobby dengan gembira. 'Dobby juga telah mengambil beberapa
untuk Winky, sir.'
'Yeah, bagaimana keadaan Winky?' tanya Harry.
Telinga Dobby terkulai sedikit.
'Winky masih banyak minum, sir,' katanya dengan sedih, matanya yang hijau,
bundar dan besar, sebesar bola tenis, memandang ke bawah. 'Dia masih tidak peduli
dengan pakaian, Harry Potter. Tidak juga para peri rumah lainnya. Tak satupun dari
mereka mau membersihkan Menara Gryffindor lagi, tidak dengan topi dan kaus kaki
tersembunyi di mana-mana, mereka menganggapnya menghina, sir. Dobby
mengerjakan semuanya sendiri, sir, tapi Dobby tidak keberatan, sir, karena dia selalu
berharap bertemu Harry Potter dan malam ini, sir, dia mendapatkan yang
diharapkannya!' Dobby membungkuk rendah lagi. 'Tapi Harry Potter tidak tampak
gembira,' Dobby melanjutkan, sambil meluruskan diri lagi dan memandang Harry
dengan malu-malu. 'Dobby mendengarnya bergumam dalam tidurnya. Apakah Harry
Potter mengalami mimpi buruk?'
'Tidak benar-benar buruk,' kata Harry, sambil menguap dan menggosok matanya.
'Aku pernah dapat yang lebih buruk.'
Peri itu mengamati Harry dengan matanya yang besar seperti bola. Lalu dia berkata
dengan sangat serius, telinganya terkulai, 'Dobby berharap dia bisa membantu Harry
Potter, karena Harry Potter membebaskan Dobby dan Dobby jauh, jauh lebih
berbahagia sekarang.'
Harry tersenyum.
'Kau tidak bisa membantuku, Dobby, tapi terima kasih atas tawarannya.'
Dia membungkuk dan memungut buku Ramuannya. Dia harus mencoba
menyelesaikan esainya besok. Dia menutup buku itu dan ketika berbuat begitu cahaya
api menerangi bekas luka putih tipis di punggung tangannya -- hasil detensinya
dengan Umbridge ...
'Tunggu sebentar -- ada sesuatu yang bisa kau lakukan untukku, Dobby,' kata Harry
lambat-lambat.
Peri itu berpaling sambil tersenyum.
'Sebutkanlah, Harry Potter, sir!'
'Aku perlu menemukan sebuah tempat di mana dua puluh delapan orang bisa
berlatih Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam tanpa diketahui oleh para guru. Terutama,'
Harry mencengkeramkan tangannya ke buku, sehingga bekas luka itu bersinar seputih
mutiara. 'Profesor Umbridge.'
Dia menduga senyum peri itu akan menghilang, telinganya terkulai, dia
menduganya akan berkata itu tidak mungkin, atau dia akan mencoba menemukan
suatu tempat, tetapi harapannya tidak tinggi. Apa yang tidak diduganya adalah Dobby
melompat kecil, telinganya bergoyang dengan ceria, dan bertepuk tangan.
'Dobby tahu tempat yang sempurna, sir!' katanya dengan senang. 'Dobby
mendengar cerita tentang tempat itu dari peri-rumah yang lain ketika dia datang ke
Hogwarts, sir. Dikenal oleh kami sebagai Ruang Datang dan Pergi, sir, atau sebagai
Ruang Kebutuhan!'
'Kenapa?' kata Harry dengan rasa ingin tahu.
'Karena ruangan itu hanya dapat dimasuki seseorang,' kata Dobby dengan serius,
'ketika mereka mempunyai kebutuhan nyata atas ruangan itu. Kadang ada di sana, dan
kadang tidak, tapi ketika ruangan itu muncul, selalu dilengkapi dengan kebutuhankebutuhan si pencari. Dobby pernah menggunakannya, sir,' kata peri itu sambil
merendahkan suaranya dan terlihat bersalah, 'ketika Winky sangat mabuk, dia
menyembunyikannya di dalam Ruang Kebutuhan dan dia menemukan penawar
Butterbeer di sana, dan sebuah tempat tidur bagus seukuran peri untuk ditempatinya
sementara dia tidur menghilangkan mabuk, sir ... dan Dobby tahu Mr Filch
menemukan bahan-bahan pembersih tambahan di sana ketika dia kekurangan, sir, dan
--'
'Dan kalau kau benar-benar butuh kamar mandi,' kata Harry, mendadak teringat
sesuatu yang dikatakan Dumbledore di pesta dansa pada Natal sebelumnya, 'apakah
ruangan itu penuh sendiri dengan pispot?'
'Dobby menduga demikian, sir,' kata Dobby sambil mengangguk bersemangat.
'Ruangan yang paling menakjubkan, sir.'
'Berapa banyak orang yang tahu?' kata Harry sambil duduk lebih tegak di kursinya.
'Sangat sedikit, sir. Kebanyakan orang menjumpainya ketika mereka
membutuhkannya, sir, tapi seringnya mereka tidak pernah menemukannya lagi,
karena mereka tidak tahu ruangan itu selalu ada di sana menunggu diperlukan untuk
melayani, sir.'
'Kedengarannya brilian,' kata Harry, jantungnya berpacu. 'Terdengar sempurna,
Dobby. Kapan kau bisa memperlihatkan kepadaku tempatnya?'
'Kapanpun, Harry Potter, sir,' kata Dobby, terlihat senang akan antusiasme Harry.
'Kita bisa pergi sekarang, kalau Anda mau!'
Sejenak Harry tergoda untuk pergi bersama Dobby. Dia setengah keluar dari tempat
duduknya, berniat bergegas naik mengambil Jubah Gaibnya ketika, bukan untuk
pertama kalinya, sebuah suara yang sangat mirip dengan suara Hermione berbisik di
telinganya: sembrono. Lagipula, saat itu sudah sangat malam, dia letih, dan harus
menyelesaikan esai Snape.
'Tidak malam ini, Dobby,' kata Harry dengan enggan sambil terbenam kembali ke
kursinya. 'Ini sangat penting ... aku tidak mau mengacaukannya, akan perlu
perencanaan yang tepat. Dengar, bisakah kau beritahu saja aku tepatnya di mana
Ruang Kebutuhan ini, dan bagaimana cara memasukinya?'
*
Jubah-jubah mereka menggembung dan mengitari mereka selagi mereka
menyeberangi petak-petak sayuran yang terbanjiri menuju Herbologi ganda, di mana
mereka hampir tidak bisa mendengar apa dikatakan Profesor Sprout melawan titiktitik hujan yang menghantam keras seperti hujan es ke atap rumah kaca. Pelajaran
Pemeliharaan Satwa Gaib sorenya dialihkan dari halaman sekolah yang tersapu badai
ke sebuah ruang kelas bebas di lantai dasar dan, yang membuat mereka sangat lega,
Angelina telah mencari timnya pada saat makan siang untuk memberitahu mereka
bahwa latihan Quidditch dibatalkan.
'Bagus,' kata Harry pelan, ketika dia memberitahunya, 'karena kami telah
menemukan suatu tempat untuk mengadakan pertemuan Pertahanan kita yang
pertama. Malam ini, jam delapan, lantai tujuh di seberang permadani dinding
Barnabas si Bodoh yang sedang dipentung oleh para troll itu. Bisakah kau beritahu
Katie dan Alicia?'
Dia terlihat agak terkejut tetapi berjanji untuk memberitahu yang lain. Harry
kembali ke sosis dan kentang tumbuknya dengan lapar. Ketika dia melihat ke atas
untuk minum jus labu, dia mendapati Hermione sedang mengamatinya.
'Apa?' katanya dengan parau.
'Well ...hanya saja rencana-rencana Dobby tidak selalu aman. Tidakkah kau ingat
ketika dia menghilangkan semua tulang di lenganmu?'
'Ruangan ini bukan cuma ide gila Dobby. Dumbledore juga tahu, dia menyebutnya
kepadaku pada Pesta Dansa.'
Ekspresi Hermione menjadi cerah.
'Dumbledore memberitahumu tentang ruang itu?'
'Cuma sambil lewat,' kata Harry sambil mengangkat bahu.
'Oh well, kalau begitu tidak apa-apa,' kata Hermione cepat dan tidak mengajukan
keberatan lagi.
Bersama dengan Ron mereka telahl menghabiskan sebagian besar waktu dalam hari
itu mencari orang-orang yang telah menandatangani nama-nama mereka ke daftar di
Hog's Head dan memberitahu mereka di mana bertemu malam itu. Yang membuat
Harry agak kecewa, Ginnylah yang berhasil menemukan Cho Chang dan temannya
dulu; namun, di akhir makan malam dia yakin berita itu telah disampaikan kepada
setiap orang dari dua puluh lima orang yang muncul di Hog's Head.
Pada pukul tujuh tiga puluh Harry, Ron dan Hermione meninggalkan ruang duduk
Gryffindor, Harry sambil memegang sepotong perkamen tua tertentu di tangannya.
Anak-anak kelas lima diperbolehkan berada di koridor sampai jam sembilan, tetapi
mereka bertiga semuanya terus melihat ke sekeliling dengan gugup ketika mereka
berjalan menyusuri lantai tujuh.
'Tunggu,' Harry memperingatkan, sambil membuka lipatan potongan perkamen itu
di puncak tangga terakhir, mengetuknya dengan tongkatnya dan bergumam, 'Aku
bersumpah dengan sungguh-sungguh bahwa aku tidak berguna.'
Sebuah peta Hogwarts muncul di permukaan perkamen yang kosong. Titik-titik
hitam kecil yang bergerak, yang diberi label dengan nama-nama, menunjukkan di
mana berbagai orang.
'Filch ada di lantai dua,' kata Harry, sambil memegang peta itu dekat ke matanya,
'dan Mrs Norris ada di lantai empat.'
'Dan Umbridge?' kata Hermione dengan cemas.
'Di kantornya,' kata Harry, sambil menunjuk. 'OK, ayo pergi.'
Mereka bergegas menyusuri koridor ke tempat yang telah digambarkan Dobby
kepada Harry, sebidang tembok kosong di seberang sebuah permadani dinding besar
yang melukiskan usaha tolol Barnabas si Bodoh untuk melatih para troll menari balet.
'OK,' kata Harry pelan, sementara satu troll yang termakan ngengat menghentikan
sejenak pemukulannya yang terus-menerus pada calon guru balet itu untuk mengamati
mereka. 'Dobby bilang berjalan melewati tembok ini tiga kali, sambil berkonsentrasi
keras pada apa yang kita perlukan.'
Mereka melakukannya, berbalik tajam di jendela tepat di sebelah bidang tembok
kosong itu, lalu di vas bunga seukuran orang di ujung yang lain. Ron sudah
memicingkan mata untuk berkonsentrasi; Hermione sedang membisikkan sesuatu
dengan suara rendah; tinju Harry terkepal sementara dia menatap ke depannya.
Kami perlu suatu tempat untuk belajar bertarung ... pikirnya. Beri saja kami tempat
untuk berlatih ... suatu tempat di mana mereka tidak bisa menemukan kami ...
'Harry!' kata Hermione dengan tajam, selagi mereka berbalik setelah berjalan lewat
ketiga kalinya.
Sebuah pintu yang terpelitur halus telah muncul di tembok itu. Ron sedang
menatapnya, terlihat agak waspada. Harry mengulurkan tangan, meraih pegangan
kuningannya, menarik pintu hingga terbuka dan memimpin jalan ke dalam sebuah
ruangan luas yang diterangi obor-obor yang berkelap-kelip seperti yang menerangi
ruang bawah tanah delapan lantai di bawah.
Di dinding berbaris rak-rak buku kayu dan menggantikan kursi ada bantal-bantal
sutera besar di lantai. Serangkaian rak di ujung jauh ruangan itu menyimpan
instrumen-instrumen seperti Teropong Curiga, Sensor Rahasia dan sebuah Cermin-
Musuh yang besar dan retak yang Harry yakin pernah tergantung, tahun sebelumnya,
di kantor Moody palsu.
'Ini akan bagus ketika kita berlatih Membekukan,' kata Ron dengan antusias, sambil
menyolok salah satu bantal dengan kakinya.
'Dan lihat saja buku-buku ini!' kata Hermione dengan bersemangat, sambil
menggerakan jari sepanjang punggung-punggung buku besar bersampul kulit. 'Suatu
Ikhtisar Kutukan-Kutukan Umum dan Kontra-Tindakannya ... Mengakali Ilmu Hitam
... Mantera Pertahanan Diri ... wow ...' Dia memandang Harry, wajahnya berseri-seri,
dan Harry melihat bahwa kehadiran ratusan buku akhirnya telah meyakinkan
Hermione bahwa apa yang sedang mereka lakukan itu benar. 'Harry, ini menakjubkan,
semua yang kita perlukan tersedia di sini!'
Dan tanpa kegaduhan lagi dia mengambil Kutukan untuk yang Dikutuk dari raknya,
merosot ke bantal terdekat dan mulai membaca.
Ada ketukan lembut di pintu. Harry memandang berkeliling. Ginny, Neville,
Lavender, Parvati dan Dean telah tiba.
'Whoa,' kata Dean, sambil menatap sekeliling, terkesan. 'Tempat apa ini?'
Harry mulai menjelaskan, tetapi sebelum dia selesai lebih banyak orang lagi tiba
dan dia harus mulai dari awal lagi. Ketika jam delapan tiba, semua bantal sudah
ditempati. Harry bergerak menyeberang ke pintu dan memutar kunci yang menonjol
dari gemboknya; kunci itu berbunyi klik keras yang memuaskan dan semua orang
terdiam, sambli memandangnya. Hermione memberi tanda dengan hati-hati pada
halaman Kutukan untuk yang Dikutuknya dan meletakkan buku itu di samping.
'Well,' kata Harry, agak gugup. 'Ini adalah tempat yang kami temukan untuk sesisesi latihan, dan kalian -- er -- jelas menganggapnya OK.'
'Tempat ini fantastis!' kata Cho, dan beberapa orang menggumamkan persetujuan
mereka.
'Aneh,' kata Fred sambil merengut ke sekeliling. 'Kami pernah sekali bersembunyi
dari Filch di dalam sini, ingat, George? Tapi dulu cuma sebuah lemari sapu.'
'Hei, Harry, benda apa ini?' tanya Dean dari bagian belakang ruangan itu, sambil
memberi tanda pada Teropong Curiga dan Cermin Musuh.
'Detektor Kegelapan,' kata Harry sambil melangkah di antara dua bantal untuk
meraihnya. 'Pada dasarnya mereka semua memperlihatkan ketika penyihir Gelap atau
musuh ada di sekitar, tapi kalian tidak mau terlalu bergantung pada benda-benda ini,
mereka bisa dikibuli ...'
Dia menatap sejenak ke dalam Cermin Musuh yang retak; figur-figur seperti
bayangan sedang bergerak-gerak di dalamnya, walaupun tidak ada yang bisa dikenali.
Dia memalingkan punggungnya.
'Well, aku telah memikirkan tentang jenis hal yang harus kita lakukan dulu dan -- er
--' Dia memperhatikan sebuah tangan terangkat. 'Apa, Hermione?'
'Kukira kita harus memilih seorang pemimpin,' kata Hermione.
'Harry pemimpinnya,' kata Cho seketika, sambil memandang Hermione seolah-olah
dia gila.
Perut Harry bersalto lagi.
'Ya, tapi kukira kita harus memberi suara dengan semestinya,' kata Hermione, tidak
gentar. 'Membuatnya formal dan memberinya kekuasaan. Jadi -- semua orang yang
menganggap Harry harus menjadi pemimpin kita?'
Semua orang mengangkat tangan mereka, bahkan Zacharias Smith, walaupun dia
melakukannya dengan setengah hati.
'Er -- benar, trims,' kata Harry, yang bisa merasa wajahnya terbakar. 'Dan -- apa,
Hermione?'
'Aku juga mengira kita harus mempunyai nama,' katanya dengan cerah, tangannya
masih di udara. 'Akan memajukan perasaan semangat tim dan kesatuan, bukankah
begitu menurut kalian?'
'Bisakah kita menjadi Liga Anti-Umbridge?' kata Angelina penuh harap.
'Atau Kelompok Menteri Sihir adalah Orang Pandir?' saran Fred.
'Aku sedang memikirkan,' kata Hermione sambil merengut kepada Fred, 'lebih
kepada sebuah nama yang tidak memberitahu semua orang apa yang sedang kita
rencanakan, sehingga kita bisa mengacu kepadanya dengan aman di luar pertemuan.'
'Defence Association -- Asosiasi Pertahanan?' kata Cho. 'DA singkatannya,
sehingga tak seorangpun tahu apa yang sedang kita bicarakan?'
'Yeah, DA bagus,' kata Ginny. 'Cuma buatlah jadi Dumbledore's Army -- Tentara
Dumbledore, karena itulah hal yang paling ditakuti Kementerian, bukan?'
Ada banyak gumaman menghargai dan tawa mendengar hal ini.
'Semua yang setuju dengan DA?' kata Hermione sok memerintah, sambil berlutut di
bantalnya untuk menghitung. 'Itu mayoritas -- mosi disetujui!'
Dia menyematkan potongan perkamen dengan semua tanda tangan mereka di
atasnya ke dinding dan menulis di bagian atas dalam huruf-huruf besar:
DUMBLEDORE'S ARMY
'Baik,' kata Harry, ketika dia sudah duduk lagi, 'kalau begitu apakah kita akan mulai
berlatih? Aku sedang berpikir, hal pertama yang harus kita lakukan adalah
Expelliarmus, kalian tahu, Mantera Pelucut Senjata. Aku tahu itu cukup dasar tapi
kudapati sangat berguna --'
'Oh, tolong,' kata Zacharias Smith, sambil menggulirkan matanya dan melipat
lengannya. 'Kukira Expelliarmus tidak akan benar-benar membantu kita melawan
Kau-Tahu-Siapa, bukan?'
'Aku pernah menggunakannya melawan dia,' kata Harry pelan. 'Itu menyelamatkan
hidupku di bulan Juni.'
Smith membuka mulutnya dengan tolol. Sisa ruangan itu sangat diam.
'Tapi kalau kau mengira itu di bawahmu, kau boleh pergi,' Harry berkata.
Smith tidak bergerak. Tidak juga yang lain.
'OK,' kata Harry, mulutnya sedikit lebih kering daripada biasa dengan semua mata
menatapnya, 'menurutku kita harus dibagi menjadi pasangan-pasangan dan berlatih.'
Terasa sangat aneh memberikan instruksi, tapi tidak seaneh melihatnya diikuti.
Semua orang bangkit seketika dan membentuk pasangan. Bisa diramalkan, Neville
tertinggal tanpa rekan.
'Kau bisa berlatih denganku,' Harry memberitahunya. 'Baik -- pada hitungan ketiga,
kalau begitu -- satu, dua tiga --'
Ruangan itu mendadak penuh teriakan Expelliarmus. Tongkat-tongkat beterbangan
ke segala arah; mantera-mantera yang meleset mengenai buku-buku di rak dan
membuatnya terbang ke udara. Harry terlalu cepat bagi Neville, yang tongkatnya
berputar keluar dari genggamannya, menabrak langit-langit dengan percikan bunga
api dan mendarat dengan berkelontang di atas sebuah rak buku, dari mana Harry
mengambilnya dengan Mantera Pemanggil. Sambil memandang sekilas ke sekitarnya,
dia mengira dia benar menyarankan mereka berlatih dasar-dasarnya terdahulu; ada
banyak mantera jelek yang terjadi; banyak orang tidak berhasil Melucuti Senjata
lawannya sama sekali, tetapi hanya menyebabkan mereka melompat mundur beberapa
langkah atau mengerenyit ketika mantera lemah melewati mereka.
'Expelliarmus!' kata Neville, dan Harry, tidak sadar, merasakan tongkatnya terbang
dari tangannya.
'AKU BERHASIL!' kata Neville dengan gembira. 'Aku belum pernah
melakukannya sebelumnya -- AKU BERHASIL!'
'Bagus!' kata Harry menguatkan, memutuskan tidak menunjukkan bahwa dalam
duel sebenarnya lawan Neville tidak mungkin menatap ke arah berlawanan dengan
tongkat dipegang kendur di sisi tubuhnya. 'Dengar, Neville, bisakah kau bergantian
berlatih dengan Ron dan Hermione selama beberapa menit sehingga aku bisa berjalan
berkeliling dan melihat bagaimana yang lain?'
Harry pindah ke tengah ruangan. Sesuatu yang sangat aneh sedang terjadi pada
Zacharias Smith. Setiap kali dia membuka mulutnya untuk melucuti Anthony
Goldstein, tongkatnya sendiri akan terbang dari tangannya, walau begitu Anthony
kelihatannya tidak membuat suara. Harry tidak perlu mencari jauh untuk
menyelesaikan misteri itu. Fred dan George berada beberapa kaki dari Smith dan
bergantian menunjuk tongkat mereka ke punggungnya.
'Sori, Harry,' kata George buru-buru, ketika Harry melihatnya. 'Tidak bisa menahan
diri.'
Harry berjalan mengitari pasangan-pasangan lain, mencoba mengoreksi mereka
yang salah menggunakan mantera. Ginny berpasangan dengan Michael Corner; dia
melakukannya dengan sangat baik, sementara Michael sangat buruk atau tidak mau
mengutuknya. Ernie Macmillan melambaikan tongkatnya dengan berlebihan,
memberikan rekannya waktu untuk waspada; kakak-beradik Creevey antusias tetapi
tidak menentu dan paling bertanggung jawab atas semua buku yang berlompatan
keluar dari rak di sekitar mereka; Luna Lovegood sama buruknya, terkadang
mengakibatkan tongkat Justin Finch-Fletchey berputar keluar dari genggamannya,
kali lain hanya menyebabkan rambutnya berdiri.
'OK, stop!' Harry berteriak. 'Stop! STOP!'
Aku perlu peluit, pikirnya, dan segera melihat satu yang tergeletak di atas barisan
buku terdekat. Dia mengambilnya dan meniup keras. Semua orang menurunkan
tongkat mereka.
'Itu tidak buruk,' kata Harry, 'tapi jelas ada ruang untuk perbaikan.' Zacharias Smith
melotot kepadanya. 'Ayo coba lagi.'
Dia bergerak mengitari ruangan itu lagi, sambil berhenti di sana-sini untuk
memberi saran. Pelan-pelan, penampilan secara umum membaik.
Dia menghindari berada dekat Cho dan temannya sebentar, tapi setelah berjalan
mengitari semua pasangan lain dalam ruangan itu dua kali merasa dia tidak bisa
mengabaikan mereka lebih lama lagi.
'Oh tidak,' kata Cho agak sembrono ketika dia mendekat. 'Expelliarmious!
Maksudku, Expellimellius! Aku -- oh, sori, Marietta!'
Ujung baju temannya yang berambut keriting terbakar; Marietta memadamkannya
dengan tongkatnya sendiri dan melotot kepada Harry seakan-akan itu salahnya.
'Kau membuatku gugup, aku lumayan bisa sebelumnya!' Cho memberitahu Harry
dengan sedih.
'Itu sangat bagus,' Harry berbohong, tetapi ketika Cho mengangkat alisnya dia
berkata, 'Well, tidak, itu jelek, tapi aku tahu kau bisa melakukannya dengan benar,
aku mengamati dari sana.'
Dia tertawa. Temannya Marietta memandangi mereka dengan agak masam dan
berpaling.
'Jangan pedulikan dia,' Cho bergumam. 'Sebenarnya dia tidak mau berada di sini
tetapi aku membuatnya datang bersamaku. Orang tuanya melarang dia melakukan
apapun yang mungkin membuat Umbridge marah. Kau lihat -- ibunya bekerja pada
Kementerian.'
'Bagaimana dengan orang tuamu?' tanya Harry.
'Well, mereka juga melarangku berada di sisi yang salah dengan Umbridge,' kata
Cho, sambil bersikap bangga. 'Tapi kalau mereka mengira aku tidak akan melawan
Kau-Tahu-Siapa setelah apa yang terjadi dengan Cedric --'
Dia berhenti, terlihat agak bingung, dan keheningan canggung timbul di antara
mereka; tongkat Terry Boot berdesing melewati telinga Harry dan mengenai Alicia
Spinnet dengan keras di hidung.
'Well, ayahku sangat mendukung tindakan anti-Kementerian apapun!' kata Luna
Lovegood dengan bangga persis di belakang Harry, jelas dia telah mencuri dengar
percakapannya sementara Justin Finch-Fletchley berusaha melepaskan dirinya dari
jubah yang telah terbang di atas kepalanya. 'Dia selalu bilang dia akan percaya apapun
tentang Fudge; maksudku, jumlah goblin yang sudah dibunuh Fudge! Dan tentu saja
dia menggunakan Departemen Misteri untuk mengembangkan racun-racun
mengerikan, yang diam-diam diberikannya kepada siapapun yang tidak setuju
dengannya. Dan lalu ada Umgubular Slashkilternya --'
'Jangan tanya,' Harry bergumam kepada Cho ketika dia membuka mulutnya,
terlihat bingung. Dia terkikik.
'Hei, Harry,' Hermione berseru dari ujung lain ruangan itu, 'sudahkah kau
mengecek waktunya?'
Dia memandang jam tangannya dan terkejut melihat sudah jam sembilan tiga
puluh, yang berarti mereka harus kembali ke ruang duduk mereka segera atau
beresiko tertangkap dan dihukum oleh Filch karena melanggar aturan. Dia meniup
peluitnya; semua orang berhenti meneriakkan 'Expelliarmus' dan beberapa tongkat
terakhir berdentang jatuh ke lantai.
'Well, itu cukup bagus,' kata Harry, 'tapi kita kelewatan, kita sebaiknya sampai di
sini dulu. Waktu yang sama, tempat yang sama minggu depan?'
'Lebih cepat!' kata Dean Thomas dengan bersemangat dan banyak orang
mengangguk setuju.
Namun, Angelina berkata dengan cepat, 'Musim Quidditch akan dimulai, kita perlu
latihan tim juga!'
'Kalau begitu, katakanlah Rabu depan,' kata Harry, 'kita bisa memutuskan
pertemuan tambahan nanti. Ayolah, kita sebaiknya bergegas.'
Dia menarik keluar Peta Perampok lagi dan memeriksanya dengan hati-hati untuk
mencari tanda-tanda guru di lantai tujuh. Dia membiarkan mereka semua pergi tigatiga dan empat-empat, sambil mengamati titik-titik kecil mereka dengan cemas untuk
melihat bahwa mereka kembali ke asrama mereka dengan selamat: anak-anak
Hufflepuff ke koridor bawah tanah yang juga mengarah ke dapur; anak-anak
Ravenclaw ke sebuah menara di sisi barat kastil, dan anak-anak Gryffindor menyusuri
koridor ke potret Nyonya Gemuk.
'Tadi benar-benar bagus, Harry,' kata Hermione, ketika akhirnya hanya dia, Harry
dan Ron yang tinggal.
'Yeah, memang!' kata Ron dengan antusias, selagi mereka menyelinap keluar dari
pintu dan menyaksikannya melebur kembali menjadi batu di belakang mereka.
'Apakah kau melihatku melucuti Hermione, Harry?'
'Cuma sekali,' kata Hermione, merasa terluka. 'Aku mengenaimu jauh lebih sering
daripada kau mengenaiku --'
'Aku tidak cuma mengenaimu sekali, aku mengenaimu setidaknya tiga kali --'
'Well, kalau kau menghitung sekali di mana kau tersandung kakimu sendiri dan
mengetuk tongkatku dari tanganku --'
Mereka berdebat sepanjang jalan kembali ke ruang duduk, tetapi Harry tidak
mendengarkan mereka. Dia memandangi Peta Perampok, tetapi dia juga sedang
memikirkan Cho yang berkata dirinya membuatnya gugup.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB SEMBILAN BELAS -Singa dan Ular
Harry merasa seolah-olah dia sedang membawa semacam jimat di dalam dadanya
selama dua minggu berikutnya, suatu rahasia membara yang mendukungnya melalui
kelas-kelas Umbridge dan bahkan memungkinkannya tersenyum lembut selagi dia
melihat ke dalam matanya yang menonjol mengerikan. Dia dan DA sedang
melawannya tepat di bawah hidungnya, melakukan hal yang paling dibencinya dan
Kementerian, dan kapanpun dia seharusnya membaca buku Wilbert Slinkhard selama
pelajaran Umbrige dia malah bertahan pada ingatan memuaskan tentang pertemuan
mereka yang baru berlangsung, mengingat bagaimana Neville telah berhasil melucuti
Hermione, bagaimana Colin Creevey telah menguasai Mantera Perintang setelah
usaha keras selama tiga kali pertemuan, bagaimana Parvati Patil telah menghasilkan
Kutukan Reduktor yang begitu bagus sehingga dia mengecilkan meja tempat semua
Teropong Curiga menjadi debu.
Dia mendapati hampir tidak mungkin menetapkan satu malam dalam seminggu
untuk pertemuan DA yang teratur, karena mereka harus menyesuaikan dengan latihan
tiga tim Quidditch berbeda, yang sering diatur ulang karena kondisi cuaca yang
buruk; tetapi Harry tidak menyesali ini; dia punya perasaan mungkin lebih baik
membuat waktu pertemuan mereka tidak terduga. Kalau seseorang sedang mengawasi
mereka, akan lebih sulit membuat polanya.
Hermione segera menciptakan sebuah metode pintar untuk mengkomunikasikan
waktu dan tanggal pertemuan berikutnya kepada semua anggota kalau-kalau mereka
perlu mengubahnya dalam waktu singkat, karena akan terlihat mencurigakan kalau
orang-orang dari Asrama yang berbeda-beda terlalu sering terlihat menyeberangi Aula
Besar untuk berbicara kepada satu sama lain. Dia memberikan kepada setiap anggota
DA sebuah Galleon palsu (Ron menjadi sangat bersemangat ketika dia pertama
melihat keranjang itu dan yakin dia benar-benar akan membagikan emas).
'Kalian lihat angka di sekitar tepi koin?' Hermione berkata, sambil mengangkat
sebuah untuk diperiksa pada akhir pertemuan keempat mereka. Koin itu berkilauan
besar dan kuning dalam cahaya obor. 'Pada Galleon-Galleon asli itu hanya nomor seri
yang mengacu kepada goblin yang mencetak koin. Namun, pada koin-koin palsu ini,
angka-angka akan berubah untuk memantulkan waktu dan tanggal pertemuan
berikutnya. Koin akan menjadi panas ketika tanggalnya berubah, jadi kalau kalian
sedang membawanya di kantong kalian akan bisa merasakannya. Kita masing-masing
ambil sebuah, dan sewaktu Harry menetapkan tanggal pertemuan berikutnya dia akan
mengganti angka-angka di koinnya, dan karena aku telah meletakkan Mantera Protean
pada koin-koin itu, mereka semua akan berubah meniru koinnya.'
Keheningan hampa menyambut kata-kata Hermione. Dia memandang berkeliling
kepada semua wajah yang menatapnya, agak bingung.
'Well -- kukira itu ide yang bagus,' katanya tidak yakin, 'maksudku, walaupun jika
Umbridge meminta kita mengosongkan kantong kita, tidak ada yang mencurigakan
dari membawa sebuah Galleon, bukan? Tapi ... well, kalau kalian tidak mau
menggunakannya --'
'Kau bisa melakukan Mantera Protean?' kata Terry Boot.
'Ya,' kata Hermione.
'Tapi itu ... itu standar NEWT, begitulah,' katanya dengan lemah.
'Oh,' kata Hermione, mencoba terlihat rendah hati. 'Oh ... well ... ya, kurasa begitu.'
'Kenapa kau tidak masuk Ravenclaw?' tuntutnya, sambil menatap Hermione dengan
sesuatu yang mendekati keheranan. 'Dengan otak seperti punyamu?'
'Well, Topi Seleksi memang mempertimbangkan dengan serius untuk
memasukkanku ke Ravenclaw selama Penyeleksianku,' kata Hermione dengan cerah,
'tapi akhirnya dia memutuskan Gryffindor. Jadi, apakah itu berarti kita akan
menggunakan Galleon-Galleon tersebut?'
Ada gumaman persetujuan dan semua orang maju untuk mengambil satu dari
keranjang. Harry memandang ke samping kepada Hermione.
'Kau tahu ini mengingatkanku pada apa?'
'Tidak, apa itu?'
'Bekas luka para Pelahap Maut. Voldemort menyentuh salah satu dari mereka, dan
semua bekas luka mereka terbakar, dan mereka tahu mereka harus bergabung
dengannya.'
'Well ... ya,' kata Hermione pelan, ' dari sanalah aku dapat ide, tapi kau akan
memperhatikan bahwa aku memutuskan untuk mengukirkan tanggal ke potongan
logam bukannya pada kulit anggota-anggota kita.'
'Yeah ... aku lebih suka caramu,' kata Harry sambil menyeringai selagi dia
menyelipkan Galleonnya ke dalam kantongnya. 'Kurasa satu-satunya bahaya dengan
ini adalah kita mungkin membelanjakannya secara tidak sengaja.'
'Peluangnya kecil,' kata Ron, yang sedang memeriksa Galleon palsunya sendiri
dengan suasana sedikit murung. 'Aku tidak punya Galleon asli yang bisa tertukar.'
Sementara pertandingan Quidditch pertama pada musim ini, Gryffindor lawan
Slytherin, semakin mendekat, pertemuan DA mereka ditunda karena Angelina
memaksakan latihan yang hampir setiap hari. Kenyataan bahwa Piala Quidditch
belum diadakan lagi begitu lama menambah minat dan gairah yang cukup besar di
sekitar pertandingan yang akan datang; anak-anak Ravenclaw dan Hufflepuff sangat
tertarik pada hasilnya, karena mereka, tentu saja, akan bermain melawan kedua tim
pada tahun mendatang; dan para Kepala Asrama tim-tim yang bersaing, walaupun
mereka berusaha menyamarkan dengan semangat olahraga pura-pura, bertekad untuk
melihat pihak mereka sendiri menang. Harry sadar seberapa Profesor McGonagall
peduli untuk mengalahkan Slytherin ketika dia tidak memberikan mereka pekerjaan
rumah pada minggu sebelum pertandingan.
'Kukira kalian sudah punya cukup untuk dikerjakan,' katanya dengan angkuh. Tak
seorangpun benar-benar mempercayai telinga mereka sampai dia memandang
langsung kepada Harry dan Ron dan berkata dengan muram, 'Aku sudah menjadi
terbiasa melihat Piala Quidditch di ruang kerjaku, anak-anak, dan aku tidak mau harus
menyerahkannya kepada Profesor Snape, jadi gunakan waktu tambahan ini untuk
berlatih, bisakah?'
Snape tidak kurang jelasnya ikut mendukung; dia telah memesan lapangan
Quidditch untuk Slytherin begitu seringnya sehingga anak-anak Gryffindor kesulitan
memasukinya untuk bermain. Dia juga menulikan telinganya pada banyak laporan
mengenai usaha-usaha anak-anak Slyhterin untuk mengguna-gunai para pemain
Gryffindor di koridor. Ketika Alicia Spinnet muncul di sayap rumah sakit dengan alis
yang tumbuh begitu tebal dan cepat sehingga menghalangi pandangannya dan
merintangi mulutnya, Snape bersikeras bahwa dia pasti mencoba Mantera PelebatRambut pada dirinya sendiri dan menolak mendengarkan empat belas saksi mata yang
bersikeras bahwa mereka telah melihat Keeper Slytherin, Miles Bletchley,
menghantamnya dari belakang dengan kutukan sewaktu dia bekerja di perpustakaan.
Harry merasa optimis mengenai peluang Gryffindor; mereka, lagipula, belum
pernah kalah dari tim Malfoy. Memang, Ron masih belum berpenampilan seperti
standar Wood, tapi dia bekerja demikian keras untuk memperbaikinya. Kelemahannya
yang terbesar adalah kecenderungan untuk kehilangan kepercayaan diri setelah dia
membuat satu kesalahan; kalau dia membiarkan satu gol masuk dia menjadi bingung
dan karena itu cenderung kemasukan lebih banyak lagi. Di sisi lain, Harry sudah
melihat Ron membuat penyelamatan yang benar-benar spektakuler ketika dia sedang
bagus; sewaktu suatu latihan yang patut diingat dia telah bergantung dengan satu
lengan dari sapunya dan menendang Quaffle begitu kerasnya menjauh dari cincin
gawang sehingga membumbung sepanjang lapangan dan melalui cincin tengah di
ujung lainnya; para anggota tim yang lain merasa penyelamatan ini sebanding dengan
salah satu yang baru-baru ini dibuat oleh Barry Ryan, Keeper Internasional Irlandia,
melawan Chaser terkenal Polandia, Ladislaw Zamojski. Bahkan Fred berkata bahwa
Ron masih mungkin membuatnya dan George bangga, dan bahwa mereka
mempertimbangkan dengan serius untuk mengakui dia sekeluarga dengan mereka,
sesuatu yang mereka yakinkan kepadanya telah mereka coba sangkal selama empat
tahun.
Satu-satunya hal yang benar-benar membuat Harry khawatir adalah seberapa
banyak Ron membiarkan taktik tim Slytherin untuk membuatnya gelisah sebelum
mereka bahkan sampai ke lapangan. Harry, tentu saja, telah menahan komentarkomentar sinis mereka selama lebih dari empat tahun, jadi bisikan-bisikan, 'Hei,
Potty, kudengar Warrington bersumpah akan menjatuhkanmu dari sapumu pada hari
Sabtu,' jauh dari membekukan darahnya, membuatnya tertawa. 'Bidikan Warrington
begitu menyedihkan aku akan lebih kuatir kalau dia sedang membidik orang di
sampingku,' jawabnya, yang membuat Ron dan Hermione tertawa dan menghapus
senyum menyeringai di wajah Pansy Parkinson.
Tetapi Ron belum pernah tahan kampanye hinaan, ejekan dan intimidasi terusmenerus. Ketika anak-anak Slytherin, beberapa di antaranya kelas tujuh dan lebih
besar darinya, bergumam selagi mereka berpapasan di koridor, 'Sudah pesan tempat
tidurmu di sayap rumah sakit, Weasley?' dia tidak tertawa, tetapi berubah menjadi
warna hijau pucat. Ketika Draco Malfoy meniru Ron menjatuhkan Quaffle (yang
dilakukannya setiap kali mereka berada dalam jarak pandang masing-masing), telinga
Ron berpijar merah dan tangannya bergetar hebat sehingga dia juga cenderung
menjatuhkan apapun yang sedang dipegangnya saat itu.
Oktober berakhir dalam deru angin yang melolong dan hujan yang melanda dan
November tiba, dingin seperti besi beku, dengan embun beku keras setiap pagi dan
angin dingin seperti es yang menggigit tangan dan wajah yang terbuka. Langit dan
langit-langit Aula Besar berubah kelabu pucat seperti mutiara, gunung-gunung di
sekitar Hogwarts berpuncak salju, dan suhu di dalam kastil turun demikian rendah
sehingga banyak murid mengenakan sarung tangan pelindung kulit naga tebal mereka
di koridor di antara pelajaran.
Pagi pertandingan tiba dengan cerah dan dingin. Ketika Harry terbangun dia
memandang berkeliling ke tempat tidur Ron dan melihatnya duduk tegak kaku,
lengannya melingkari lututnya, sambil menatap terus ke ruang kosong.
'Kau baik-baik saja?' kata Harry.
Ron mengangguk tetapi tidak berbicara.. Harry terpaksa teringat ke saat Ron secara
tidak sengaja menempatkan Mantera Pemuntah-Siput kepada dirinya sendiri; dia
tampak sama pucat dan berkeringatnya seperti saat itu, belum lagi enggan membuka
mulutnya.
'Kau hanya perlu sedikit sarapan,' Harry berkata menguatkan. 'Ayo.'
Aula Besar cepat terisi penuh ketika mereka tiba, perbincangan lebih keras dan
suasana lebih gembira daripada biasa. Ketika mereka melewati meja Slytherin ada
peningkatan kebisingan. Harry memandang sekeliling dan melihat bahwa, sebagai
tambahan pada scarf dan topi hijau yang biasa, setiap orang dari mereka memakai
sebuah lencana perak yang bentuknya tampak seperti mahkota. Karena alasan-alasan
tertentu banyak dari mereka yang melambai kepada Ron, sambil tertawa keras-keras.
Harry mencoba melihat apa yang tertulis pada lencana-lencana itu selagi dia lewat,
tetapi dia terlalu kuatir agar Ron lewat meja mereka cepat-cepat untuk bertahan cukup
lama untuk membacanya.
Mereka menerima sambutan meriah di meja Gryffindor, di mana semua orang
mengenakan warna merah dan emas, tetapi jauh dari menaikkan semangat Ron sorak
sorai itu sepertinya melemahkan semangat juangnya yang tersisa; dia merosot ke
bangku terdekat terlihat seolah-olah dia sedang menghadapi makanan terakhirnya.
'Aku pasti sinting mau melakukan ini,' katanya dengan bisikan parau. 'Sinting.'
'Jangan tolol,' kata Harry tegas, sambil memberikan kepadanya pilihan sereal, 'kau
akan baik-baik saja. Gugup itu normal.'
'Aku sampah,' kata Ron parau. 'Aku payah. Aku tidak bisa bermain untuk
menyelamatkan hidupku. Apa yang kupikirkan?'
'Sadarlah,' kata Harry dengan tegang. 'Lihat penyelamatan yang kau buat dengan
kakimu hari itu, bahkan Fred dan George bilang itu brilian.'
Ron memalingkan wajah tersiksa kepada Harry.
'Itu kecelakaan,' bisiknya dengan sengsara. 'Aku tidak bermaksud melakukannya -aku tergelincir dari sapuku sewaktu tak seorangpun dari kalian melihat dan ketika aku
sedang mencoba naik kembali aku tak sengaja menendang Quaffle itu.'
'Well,' kata Harry, pulih cepat dari kejutan tak menyenangkan ini, 'beberapa
kecelakaan seperti itu dan pertandingan sudah jadi milik kita, bukan?'
Hermione dan Ginny duduk di seberang mereka sambil mengenakan scarf, sarung
tangan dan bunga mawar kecil berwarna merah dan emas.
'Bagaimana perasaanmu?' Ginny bertanya kepada Ron, yang sekarang sedang
menatap ampas susu di dasar mangkuk serealnya seolah-olah mempertimbangkan
dengan serius untuk mencoba menenggelamkan dirinya ke dalam.
'Dia cuma gugup,' kata Harry.
'Well, itu tanda yang bagus, aku belum pernah merasa kau mengerjakan ujian
dengan baik kalau kau tidak sedikit gugup,' kata Hermione sepenuh hati.
'Halo,' kata sebuah suara samar dan seperti melamun dari belakang mereka. Harry
melihat ke atas: Luna Lovegood telah datang dari meja Ravenclaw. Banyak orang
yang sedang menatapinya dan beberapa tertawa dan menunjuk-nunjuk terangterangan; dia sudah berhasil mendapatkan sebuah topi yang berbentuk seperti kepala
singa berukuran sebenarnya, yang bertenggar genting di kepalanya.
'Aku mendukung Gryffindor,' kata Luna, sambil menunjuk tanpa perlu ke topinya.
'Lihat apa yang dilakukannya ...'
Dia meraih ke atas dan mengetuk topi itu dengan tongkatnya. Topi itu membuka
mulutnya lebar dan mengeluarkan raungan yang sangat realistis yang membuat semua
orang di sekitar sana melompat.
'Bagus, bukan?' kata Luna dengan senang. 'Aku mau dia mengunyah seekor ular
untuk mewakili Slytherin, kalian tahu, tapi tidak ada waktu. Ngomong-ngomong ...
semoga berhasil, Ronald!'
Dia berjalan pergi. Mereka belum sepenuhnya pulih dari guncangan topi Luna
sewaktu Angelina bergegas datang menuju mereka, ditemani oleh Katie dan Alicia,
yang alisnya syukurlah telah dikembalikan ke normal oleh Madam Pomfrey.
'Sewaktu kalian siap,' katanya, 'kita akan langsung turun ke lapangan, memeriksa
kondisi dan berganti pakaian.'
'Kami akan ke sana sebentar lagi,' Harry meyakinkan dia. 'Ron cuma harus sarapan
sedikit.'
Namun, setelah sepuluh menit menjadi jelas bahwa Ron tidak mampu makan
apapun lagi dan Harry merasa sebaiknya membawa dia turun ke ruang ganti. Ketika
mereka bangkit dari meja, Hermione juga bangkit, dan sambil memegang lengan
Harry dia menariknya ke samping.
'Jangan biarkan Ron melihat apa yang ada di lencana-lencana Slytherin itu,' dia
berbisik penting.
Harry memandangnya bertanya, tapi dia menggelengkan kepalanya
memperingatkan; Ron baru saja berjalan lunglai ke arah mereka, terlihat gelisah dan
putus asa.
'Semoga berhasil, Ron,' kata Hermione, berdiri berjingkat dan menciumnya di pipi.
'Dan kamu, Harry --'
Ron terlihat agak sadarkan diri selagi mereka berjalan kembali menyeberangi Aula
Besar. Dia menyentuh tempat di wajahnya yang dicium Hermione, tampak bingung,
seolah-olah dia tidak yakin apa yang baru saja terjadi. Dia tampak terlalu kacau untuk
terlalu memperhatikan sekitarnya, tetapi Harry memandang sekilas ke lencanalencana berbentuk mahkota itu ketika mereka melewati meja Slytherin, dan kali ini
dia bisa membaca kata-kata yang terukir di atasnya:
Weasley adalah Raja kami
Dengan perasaan tidak menyenangkan bahwa ini tidak mungkin sesuatu yang baik,
dia bergegas membawa Ron menyeberangi Aula Depan, menuruni undakan-undakan
batu dan keluar ke udara sedingin es.
Rumput beku berderak di bawah kaki mereka selagi mereka bergegas menuruni
lapangan yang landai menuju stadium. Tidak ada angin sama sekali dan langit seputih
mutiara, yang berarti jarak pandang akan bagus tanpa kerugian sinar matahari
langsung ke mata. Harry menunjukkan faktor-faktor mendukung ini kepada Ron
selagi mereka berjalan, tetapi dia tidak yakin Ron mendengarkan.
Angelina sudah berganti pakaian dan sedang berbicara dengan anggota tim yang
lainnya ketika mereka masuk. Harry dan Ron memakai jubah mereka (Ron berusaha
memakai kepunyaannya terbalik selama beberapa menit sebelum Alicia jatuh kasihan
kepadanya dan pergi membantu), lalu duduk untuk mendengarkan perbincangan
sebelum pertandingan sementara celotehan suara-suara di luar semakin keras ketika
kerumunan orang-orang berdatangan keluar dari kastil menuju lapangan.
'OK, aku baru saja tahu barisan akhir Slytherin,' kata Angelina, sambil memeriksa
sepotong perkamen. 'Para Beater tahun lalu, Derrick dan Bole, sudah pergi, tetapi
tampaknya Montague menggantikan mereka dan gorila-gorila biasa, bukannya siapa
saja yang bisa terbang cukup baik. Mereka adalah dua cowok yang bernama Crabbe
dan Goyle, aku tidak tahu banyak tentang mereka --'
'Kami tahu,' kata Harry dan Ron bersama-sama.
'Well, mereka tampaknya tidak cukup pintar untuk membedakan ujung sapu yang
satu dari yang lain,' kata Angeline, sambil mengantongi perkamennya, 'tapi walau
begitu aku selalu heran Derrick dan Bole berhasil menemukan jalan ke lapangan tanpa
papan penunjuk arah.'
'Crabbe dan Goyle sama saja,' Harry meyakinkan dia.
Mereka bisa mendengar ratusan langkah kaki menaiki bangku-bangku yang
ditumpuk di tribun penonton. Beberapa orang sedang bernyanyi, walaupun Harry
tidak bisa mendengar kata-katanya. Dia mulai merasa gugup, tetapi dia tahu
kegugupannya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Ron, yang sedang
mencengkeram perutnya dan menatap lurus ke depan lagi, rahangnya terkatup rapat
dan warna kulitnya kelabu pucat.
'Sudah waktunya,' kata Angelina dengan suara berbisik, sambil memandang jam
tangannya. 'Ayo semuanya ... semoga berhasil.'
Tim itu bangkit, memanggul sapu mereka dan berbaris dalam satu barisan keluar
dari ruang ganti ke sinar matahari yang menyilaukan. Raungan suara menyambut
mereka di mana Harry masih bisa mendengar nyanyian, walaupun teredam oleh
sorak-sorai dan tiupan peluit.
Tim Slytherin sedang berdiri menanti mereka. Mereka juga mengenakan lencanalencana berbentuk mahkota. Kapten yang baru, Montague, bentuk badannya serupa
dengan Dudley Dursley, dengan lengan besar seperti daging berbulu. Di belakangnya
mengintai Crabbe dan Goyle, hampir sama besarnya, berkedip-kedip dengan bodoh
dalam sinar matahari, sambil mengayunkan tongkat-tongkat pemukul Beater baru
mereka. Malfoy berdiri di satu sisi, sinar matahari berkilauan pada kepalanya yang
putih pirang. Dia memandang mata Harry dan tersenyum menyeringai, sambil
mengetuk lencana berbentuk mahkota di dadanya.
'Para Kapten, jabat tangan,' perintah wasit Madam Hooch, sementara Angelina dan
Montague saling meraih satu sama lain. Harry bisa tahu bahwa Montague sedang
berusaha melumatkan jari-jari Angelina, walaupun dia tidak berkerenyit.
'Naiki sapu kalian ...'
Madam Hooch menempatkan peluitnya ke mulut dan meniup.
Bola-bola dilepaskan dan keempat belas pemain meluncur ke atas. Dari sudut
matanya Harry melihat Ron melintas menuju tiang-tiang gawang. Harry meluncur
lebih tinggi, mengelakkan sebuah Bludger, dan mulai melakukan kitaran lebar di
lapangan itu, sambil memandang sekeliling mencari kilatan emas, Draco Malfoy
sedang melakukan hal yang persis sama.
'Dan itu Johnson -- Johnson dengan Quaffle, gadis itu benar-benar pemain yang
bagus, aku sudah bilang begitu selama bertahun-tahun tapi dia masih tidak mau
kencan denganku --'
'JORDAN!' teriak Profesor McGonagall.
'-- cuma fakta iseng, Profesor, menambahkan sedikit minat -- dan dia menghindari
Warrington, dia melewati Montague, dia -- aduh -- dihantam dari belakang oleh
sebuah Bludger dari Crabbe ... Montague menangkap Quaffle, Montague menuju ke
ujung lapangan dan -- Bludger yang bagus di sana dari George Weasley, itu sebuah
Bludger ke kepala bagi Montague, dia menjatuhkan Quaffle, ditangkap oleh Katie
Bell, Katie Bell untuk Gryffindor memberikan bola secara terbalik ke Alicia Spinnet
dan Spinnet pergi --'
Komentar Lee Jordan bergaung ke seluruh stadium dan Harry mendengarkan
sekeras mungkin melalui angin yang bersiul di telinganya dan hiruk-pikuk
kerumunan, semuanya berteriak dan mengejek dan bernyanyi.
'-- mengelakkan Warrington, menghindari sebuah Bludger -- hampir saja, Alicia -dan kerumunan suka ini, dengar saja mereka, apa yang sedang mereka nyanyikan?'
Dan selagi Lee berhenti untuk mendengarkan, lagu itu terdengar kuat dan jelas dari
lautan hijau dan perak di tribun bagian Slytherin:
'Weasley tak bisa menyelamatkan apapun, Dia tak bisa memblokir sebuah gawang,
Itulah sebabnya anak-anak Slytherin semua bernyanyi: Weasley adalah Raja kami.'
'Weasley lahir di tong sampah, Dia selalu membiarkan Quaffle masuk, Weasley
akan pastikan kami menang, Weasley adalah Raja kami.'
'-- dan Alicia memberikan bola kembali ke Angelina!' Lee berteriak, dan selagi
Harry berbelok, isi tubuhnya mendidih karena apa yang baru dia dengar, dia tahu Lee
sedang mencoba menenggelamkan kata-kata dari nyanyian itu. 'Ayolah sekarang,
Angelina -- tampaknya dia cuma harus mengalahkan si Keeper! -- DIA MENEMBAK
-- DIA -- aaah ...'
Bletchey, Keeper Slytherin, menyelamatkan gol itu; dia melemparkan Quaffle ke
Warrington yang bergegas membawanya, berzig-zag antara Alicia dan Katie;
nyanyian dari bawah semakin kuat dan semakin kuat sementara dia semakin
mendekati Ron.
'Weasley adalah Raja kami, Weasley adalah Raja kami, Dia selalu membiarkan
Quaffle masuk, Weasley adalah Raja kami.'
Harry tidak bisa menahan diri: meninggalkan pencariannya akan Snitch, dia
berputar untuk mengamati Ron, sebuah figur tunggal di sisi jauh lapangan, melayang
di depan ketiga tiang gawang sementara Warrington yang besar meluncur menujunya.
'-- dan Warrington dengan Quaffle, Warrington menuju gol, dia keluar dari
jangkauan Bludger dengan hanya Keeper di depan --'
Gelombang besar nyanyian timbul dari tribun Slytherin di bawah:
'Weasley tak bisa menyelamatkan apapun, Dia tak bisa memblokir sebuah gawang
...'
'-- jadi itulah ujian pertama bagi Keeper Gryffindor Weasley, adik dari para Beater
Fred dan George, dan bakat baru yang menjanjikan dalam tim -- ayo, Ron!'
Tetapi teriakan senang datang dari ujung Slytherin: Ron telah menukik dengan liar,
lengannya terentang lebar, dan Quaffle telah membumbung di antaranya langsung
melalui lubang gawang tengah Ron.
'Slytherin mencetak gol!' datang suara Lee di tengah-tengah sorakan dan ejekan
dari kerumunan di bawah, 'jadi sepuluh-nol untuk Slytherin -- kurang beruntung,
Ron.'
Anak-anak Slytherin bernyanyi semakin keras.
'WEASLEY LAHIR DI TONG SAMPAH
DIA SELALU MEMBIARKAN QUAFFLE MASUK ...'
'-- dan Gryffindor kembali menguasai bola dan Katie Bell sedang mengitari
lapangan --' teriak Lee dengan berani, walaupun nyanyian itu sekarang begitu
memekakkan sehingga dia hampir tidak bisa membuat dirinya terdengar
menimpalinya.
'WEASLEY AKAN PASTIKAN KAMI MENANG WEASLEY ADALAH RAJA
KAMI ...'
'Harry, APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN?' teriak Angelina, membumbung
melewatinya untuk mengejar Katie. 'BERGERAKLAH!'
Harry sadar dia sudah diam di tempat di tengah udara selama lebih dari semenit,
menyaksikan kelanjutan pertandingan tanpa menyisakan perhatian pada keberadaan
Snitch; terkejut, dia menukik dan mulai mengitari lapangan lagi, sambil menatap
sekeliling, mencoba mengabaikan nyanyian bersama yang sekarang menggelegar ke
seluruh stadium:
'WEASLEY ADALAH RAJA KAMI, WEASLEY ADALAH RAJA KAMI ...'
Tidak ada tanda-tanda Snitch di manapun dia memandang; Malfoy masih mengitari
stadium seperti dirinya. Mereka melewati satu sama lain di tengah jalan mengelilingi
lapangan, menuju ke arah yang berbeda, dan Harry mendengar Malfoy bernyanyi
keras-keras:
'WEASLEY LAHIR DI TONG SAMPAH ...'
'-- dan Warrington lagi,' teriak Lee, 'yang memberikan bola kepada Pucey, Pucey
melewati Spinnet, ayolah sekarang, Angelina, kau bisa mengalahkannya -- ternyata
kau tidak bisa -- tapi Bludger yang bagus dari Fred Weasley, maksudku, George
Weasley, oh, siapa peduli, bagaimanapun, salah satu dari mereka, dan Warrington
menjatuhkan Quaffle dan Katie Bell -- er - menjatuhkannya juga -- sehingga sekarang
Montague memegang Quaffle, Kapten Slytherin Montague membawa Quaffle dan dia
menaiki lapangan, ayolah sekarang, Gryffindor, hadang dia!'
Harry meluncur mengitari ujung stadium di belakang tiang-tiang gawang Slytherin,
memaksa dirinya sendiri tidak melihat apa yang sedang terjadi di ujung Ron. Selagi
dia ngebut melewati Keeper Slytherin, dia mendengar Bletchey bernyanyi bersama
kerumunan di bawah:
'WEASLEY TIDAK BISA MENYELAMATKAN APAPUN ...'
'-- dan Pucey mengelak dari Alicia lagi dan dia menuju langsung ke gawang,
hentikan, Ron!'
Harry tidak harus melihat untuk mengetahui apa yang terjadi: ada erangan
mengerikan dari ujung Gryffindor, dirangkai dengan jeritan dan tepuk tangan baru
dari anak-anak Slytherin. Sambil memandang ke bawah, Harry melihat si wajah
buldog Pansy Parkinson tepat di bagian depan tribun, punggungnya menghadap
lapangan selagi dia memimpin para suporter Slytherin yang sedang meraung:
'ITULAH SEBABNYA ANAKANAK SLYTHERIN SEMUA BERNYANYI WEASLEY ADALAH RAJA KAMI.'
Tetapi dua puluh-nol bukan apa-apa, masih ada waktu bagi Gryffindor untuk
mengejar atau menangkap Snitch. Beberapa gol dan mereka akan memimpin seperti
biasanya, Harry meyakinkan dirinya sendiri, sambil meliuk-liuk di antara pemainpemain lain untuk mengejar sesuatu yang berkilauan yang ternyata adalah tali jam
tangan Montague.
Tapi Ron membiarkan dua gol lagi masuk. Ada rasa panik dalam hasrat Harry
untuk menemukan Snitch sekarang. Kalau saja dia bisa mendapatkannya segera dan
menyelesaikan pertandingan itu secepatnya.
'-- dan Katie Bell dari Gryffindor mengelak dari Pucey, menghindari Montague,
belokan yang bagus, Katie, dan dia melemparkan ke Johnson, Angelina Johnson
mambawa Quaffle, dia melewati Warrington, dia menuju gawang, ayolah sekarang,
Angelina -- GRYFFINDOR MENCETAK GOL! Empat puluh- sepuluh, empat puluh
untuk Slytherin dan Pucey membawa Quaffle --'
Harry bisa mendengar topi singa menggelikan Luna meraung di tengah-tengah
sorakan Gryffindor dan merasa berbesar hati; hanya tiga puluh poin selisihnya, itu
bukan apa-apa, mereka bisa mengejar dengan mudah. Harry mengelakkan sebuah
Bludger yang telah dikirim Crabbe meluncur ke arahnya dan meneruskan
penjelajahan kalutnya di lapangan untuk mencari Snitch, sambil terus mengamati
Malfoy kalau-kalau dia menunjukkan tanda-tanda sudah melihatnya, tetapi Malfoy,
seperti dirinya, terus membumbung mengitari stadium, mencari tanpa hasil ...
'-- Pucey melempar ke Warrington, Warrington ke Montague, Montague kembali
kepada Pucey -- Johnson menghalangi, Johnson mengambil Quaffle, Johnson ke Bell,
ini tampak bagus -- maksudku buruk, Bell terkena Bludger dari Goyle dari Slytherin
dan Pucey yang memegang bola --'
'WEASLEY LAHIR DI TONG SAMPAH
DIA SELALU MEMBIARKAN QUAFFLE MASUK
WEASLEY AKAN PASTIKAN KAMI MENANG ...'
Tapi akhirnya Harry sudah melihatnya: Golden Snitch kecil yang berkibaran yang
sedang melayang-layang beberapa kaki dari tanah di ujung lapangan Slytherin.
Dia menukik ...
Dalam beberapa detik, Malfoy sudah melintas di langit di sebelah kiri Harry,
sesosok hijau dan perak yang kabur membungkuk rendah di sapunya ...
Snitch itu menyerempet kaki salah satu tiang gawang dan bergegas menuju sisi
tribun yang lain; pergantian arahnya sesuai dengan Malfoy, yang lebih dekat; Harry
menarik Fireboltnya berputar, dia dan Malfoy sekarang dekat sekali ...
Beberapa kaki dari tanah, Harry mengangkat tangan kanannya dari sapunya,
menjulurkannya pada Snitch itu ... di sebelah kanannya, lengan Malfoy juga terulur,
meraih, mencari-cari ...
Semuanya selesai dalam dua detik yang menyesakkan napas, nekat, dan tersapu
angin -- jari-jari Harry menutup di sekeliling bola kecil yang memberontak itu -kuku-kuku Malfoy mencakari punggung tangan Harry tanpa harapan -- Harry menarik
sapunya ke atas, sambil memegang bola yang memberontak di tangannya dan para
penonton Gryffindor meneriakkan persetujuan mereka ...
Mereka selamat, tidak peduli bahwa Ron sudah membiarkan gol-gol itu masuk, tak
seorangpun akan ingat selama Gryffindor sudah menang -WHAM.
Sebuah Bludger menghantam Harry tepat di punggungnya dan dia jatuh ke depan
dari sapunya. Untung saja dia hanya lima atau enam kaki di atas tanah, setelah
menukik demikian rendah untuk menangkap Snitch, tapi dia kehabisan napas juga
ketika dia mendarat telentang di atas lapangan yang membeku. Dia mendengar peluit
nyaring Madam Hooch, kegemparan di tribun yang terdiri dari teriakan-teriakan
jengkel, jeritan-jeritan dan cemoohan marah, sebuah bunyi debam, lalu suara
Angelina yang kalut.
'Kau baik-baik saja?'
'Tentu saja,' kata Harry dengan muram, sambil meraih tangannya dan
membiarkannya menarik dia bangkit. Madam Hooch sedang meluncur ke arah salah
satu pemain Slytherin di atasnya, walaupun dia tidak bisa melihat siapa dari sudut ini.
'Berandal Crabbe itu,' kata Angelina dengan marah, 'dia memukul Bludger
kepadamu saat dia melihat kau mendapatkan Snitch -- tapi kita menang, Harry, kita
menang!'
Harry mendengar dengusan dari belakangnya dan berpaling, masih memegang
Snitch kuat-kuat di tangannya: Draco Malfoy telah mendarat di dekatnya. Pucat
karena marah, dia masih bisa mengejek.
'Menyelamatkan batang leher Weasley, bukan?' dia berkata kepada Harry. 'Aku
belum pernah melihat Keeper yang lebih buruk ... tapi dia lahir di tong sampah ... kau
suka lirikku, Potter?'
Harry tidak menjawab. Dia berpaling untuk menemui sisa tim itu yang sekarang
sedang mendarat satu per satu, berteriak dan meninju ke udara dengan kemenangan;
semua kecuali Ron, yang telah turun dari sapunya di dekat tiang gawang dan
tampaknya sedang berjalan lambat-lambat ke ruang ganti sendirian.
'Kami mau menulis beberapa syair lagi!' Malfoy berseru, selagi Katie dan Alicia
memeluk Harry. 'Tapi kami tidak bisa menemukan kata-kata yang berima dengan
gemuk dan jelek -- kami mau bernyanyi tentang ibumu, tahu --'
'Bicara tentang anggur masam,' kata Angelina sambil memberi Malfoy pandangan
jijik.
'-- kami juga tidak bisa mencocokkan pecundang tak berguna -- untuk ayahnya,
kalian tahu --'
Fred dan George sudah menyadari apa yang sedang dibicarakan Malfoy. Sewaktu
masih berjabatan tangan dengan Harry, mereka menjadi kaku, memandang berkeliling
ke Malfoy.
'Biarkan!' kata Angelina seketika, sambil memegang lengan Fred. 'Biarkan, Fred,
biarkan dia berteriak, dia cuma jengkel karena dia kalah, si kecil yang sok --'
'-- tapi kau suka keluarga Weasley, bukan, Potter?' kata Malfoy sambil mengejek.
'Menghabiskan liburan di sana dan segalanya, bukan? Tidak ngerti bagaimana kau
bisa tahan bau busuknya, tapi kukira kalau kau dibesarkan oleh para Muggle, bahkan
gubuk Weasley berbau OK --'
Harry menarik George. Sementara itu, butuh usaha gabungan Angelina, Alicia dan
Katie untuk menghentikan Fred melompat pada Malfoy, yang sedang tertawa terangterangan. Harry memandang berkeliling mencari Madam Hooch, tetapi dia masih
memaki Crabbe karena serangan Sludger ilegalnya.
'Atau mungkin,' kata Malfoy, mengerling sementara dia mundur, 'kau bisa ingat
seperti apa rumah ibumu berbau busuk, Potter, dan kandang babi Weasley
mengingatkanmu padanya --'
Harry tidak sadar melepaskan George, yang dia tahu hanyalah bahwa sedetik
kemudian mereka berdua sedang berlari cepat menuju Malfoy. Dia sudah sepenuhnya
lupa bahwa semua guru sedang menonton: yang ingin dia lakukan hanyalah
menyebabkan sebanyak mungkin rasa sakit pada Malfoy; tak ada waktu untuk
menarik keluar tongkatnya, dia hanya mengeluarkan kepalan tangan yang sedang
menggenggam Sntich dan membenamkannya sekeras yang dia bisa ke perut Malfoy -'Harry! HARRY! GEORGE! JANGAN!'
Dia bisa mendengar suara-suara anak-anak perempuan berteriak, Malfoy menjerit,
George menyumpah, sebuah peluit ditiup dan pekik kerumunan di sekitarnya, tapi dia
tidak peduli. Tidak sampai seseorang di sekitar sana berteriak 'Impedimenta!' dan dia
terjatuh ke belakang akibat tenaga mantera itu, barulah dia menghentikan usaha
meninju setiap inci Malfoy yang bisa dijangkaunya.
'Kalian kira apa yang sedang kalian lakukan?' jerit Madam Hooch, selagi Harry
melompat bangkit. Kelihatannya dia yang telah mengenainya dengan Mantera
Perintang; dia sedang memegang peluitnya di satu tangan dan sebuah tongkat di
tangan lainnya; sapunya tergeletak begitu saja beberapa kaki jauhnya. Malfoy
bergelung di atas tanah, merengek dan merintih, hidungnya berdarah; George berbibir
bengkak; Fred masih ditahan paksa oleh ketiga Chaser, dan Crabbe sedang berkotek
di latar belakang. 'Aku belum pernah melihat kelakuan seperti itu -- kembali ke kastil,
kalian berdua, dan langsung ke kantor Kepala Asrama kalian! Pergi! Sekarang!'
Harry dan George berbalik dan berjalan keluar dari lapangan, keduanya terengahengah, tak satupun berkata sepatah kata pun kepada yang lain. Lolongan dan
cemoohan dari kerumunan semakin samar dan semakin samar sampai mereka
mencapai Aula Depan, di mana mereka tidak bisa mendengar apa-apa kecuali suara
langkah kaki mereka sendiri. Harry menjadi sadar bahwa sesuatu masih meronta-ronta
di tangan kanannya, buku-buku jari yang dibuatnya memar menghantam rahang
Malfoy. Ketika memandang ke bawah, dia melihat sayap-sayap perak Snitch
menonjol keluar dari antara jari-jarinya, meronta-ronta ingin bebas.
Mereka belum lagi mencapai pintu kantor Profesor McGonagall ketika dia datang
menyusuri koridor di belakang mereka. Dia mengenakan sebuah scarf Gryffindor,
tetapi melepaskannya dari lehernya dengan tangan-tangan bergetar selagi dia berjalan
menuju mereka, tampak pucat karena marah.
'Masuk!' katanya marah besar, sambil menunjuk ke pintu. Harry dan George
masuk. Dia berputar ke belakang meja tulisnya dan menghadap mereka, gemetaran
karena marah selagi dia melemparkan scarf Gryffindor itu ke samping ke atas lantai.
'Well?' katanya. 'Aku belum pernah melihat pertunjukan yang memalukan begini.
Dua lawan satu! Jelaskan!'
'Malfoy memancing kami,' kata Harry kaku.
'Memancing kalian?' teriak Profesor McGonagall sambil menghantamkan tinjunya
ke meja tulisnya
sehingga kaleng kotak-kotaknya tergelincir dari samping meja dan terbuka,
mengotori lantai dengan Kadal Jahe. 'Dia baru saja kalah, bukan? Tentu saja dia mau
memancing kalian! Tapi apa yang bisa dikatakannya yang membenarkan apa yang
kalian berdua --'
'Dia menghina orang tua saya,' geram George. 'Dan ibu Harry.'
'Tapi bukannya membiarkan Madam Hooch menyelesaikan, kalian berdua
memutuskan memberi pertunjukan duel Muggle, bukan?' teriak Profesor McGonagall.
'Apakah kalian punya gambaran apa yang telah kalian --?'
'Hem, hem.'
Harry dan George keduanya berputar. Dolores Umbridge sedang berdiri di ambang
pintu terbungkus dalam sebuah mantel wol hijau yang sangat meningkatkan
kemiripannya dengan seekor katak besar, dan sedang tersenyum dengan cara
mengerikan, memuakkan dan tidak menyenangkan yang telah Harry hubungkan
dengan kesengsaraan yang akan segera tiba.
'Bolehkah kubantu Anda, Profesor McGonagall?' tanya Profesor Umbridge dengan
suara manisnya yang paling beracun.
Darah menyerbu wajah Profesor McGonagall.
'Bantu?' ulangnya, dengan suara tertahan. 'Apa maksud Anda, bantu?'
Profesor Umbridge bergerak maju ke dalam kantor itu, masih memamerkan
senyumnya yang memuakkan.
'Kenapa, kukira Anda mungkin bersyukur atas sedikit kekuasaan tambahan.'
Harry tidak akan terkejut melihat bunga-bunga api beterbangan dari lubang hidung
Profesor McGonagall.
'Yang Anda kira salah,' katanya, sambil memalingkan punggungnya kepada
Umbridge.
'Sekarang, kalian berdua sebaiknya mendengarkan dengan seksama. Aku tidak
peduli provokasi apa yang dilakukan Malfoy kepada kalian, aku tidak peduli kalaupun
dia menghina setiap anggota keluarga yang kalian miliki, perilaku kalian menjijikkan
dan aku akan memberikan masing-masing dari kalian detensi seminggu! Jangan
memandangku seperti itu, Potter, kau pantas mendapatkannya! Dan kalau salah satu
dari kalian pernah --'
'Hem, hem.'
Profesor McGonagall menutup matanya seolah-olah berdoa untuk kesabaran selagi
dia memalingkan wajahnya menghadap Profesor Umbridge lagi.
'Ya?'
'Kukira mereka pantas mendapatkan lebih dari detensi,' kata Umbridge, sambil
tersenyum lebih lebar lagi.
Mata Profesor McGonagall terbuka lebar.
'Tetapi sayang,' katanya, dengan usaha tersenyum balik yang membuatnya terlihat
seolah-olah rahangnya terkunci, 'yang kupikirkan adalah yang berarti, karena mereka
ada dalam Asramaku, Dolores.'
'Well, sebenarnya, Minerva,' Profesor Umbridge tersenyum simpul, 'kukira Anda
akan mendapati bahwa yang kupikirkan memang berarti. Sekarang, di mana itu?
Cornelius baru saja mengirimnya ... maksudku,' dia memberikan tawa kecil selagi dia
menggeledah tas tangannya, 'Menteri baru saja mengirimnya ... ah ya ...'
Dia menarik keluar sepotong perkamen yang sekarang dibukanya, sambil berdehem
rewel sebelum mulai membaca apa isinya.
'Hem, hem ... "Dekrit Pendidikan Nomor Dua Puluh Lima".'
'Tidak satu lagi!' seru Profesor McGonagall dengan keras.
'Well, ya,' kata Umbridge, masih tersenyum. 'Nyatanya, Minerva, Andalah yang
membuatku melihat bahwa kita perlu amandemen lebih lanjut ... Anda ingat
bagaimana Anda melangkahiku, ketika aku tidak rela membiarkan tim Quidditch
Gryffindor dibentuk kembali? Bagaimana Anda membawa kasus itu kepada
Dumbledore, yang bersikeras bahwa tim itu diizinkan bermain? Well, sekarang, aku
tidak akan melakukan itu. Aku menghubungi Menteri seketika, dan beliau sangat
setuju denganku bahwa Penyelidik Tinggi punya kekuasaan untuk menghilangkan
hak-hak khusus para murid, atau dia -- maksudnya, aku -- akan punya lebih sedikit
kekuasaan daripada para guru biasa! Dan Anda lihat sekarang, bukan, Minerva,
betapa benarnya aku berusaha menghentikan tim Gryffindor dibentuk kembali?
Amarah yang mengerikan ... ngomong-ngomong, aku sedang membacakan
amandemen kita ... hem, hem ... "Penyelidik Tinggi mulai sekarang memiliki
kekuasaan tertinggi terhadap semua hukuman, sanksi dan penghilangan hak-hak
khusus yang berhubungan dengan murid-murid Hogwarts, dan kekuasaan untuk
mengubah hukuman-hukuman, sanksi dan penghilangan hak-hak khusus tersebut
yang mungkin telah diperintahkan oleh para anggota staf yang lain. Tertanda,
Cornelius Fudge, Menteri Sihir, Order of Merlin Kelas Pertama, etc., etc."'
Dia menggulung perkamen itu dan meletakkannya kembali ke dalam tas tangannya,
masih tersenyum.
'Jadi ... kukira aku akan harus melarang yang dua ini dari bermain Quidditch
selamanya,' katanya sambil melihat dari Harry ke George dan balik lagi.
Harry merasa Snitch berkibar-kibar dengan hebat dalam tangannya.
'Melarang kami?' katanya, dan suaranya anehnya terdengar jauh. 'Dari bermain ...
selamanya?'
'Ya, Mr Potter, kukira larangan bermain seumur hidup akan berhasil,' kata
Umbridge, senyumnya melebar lagi selagi dia menyaksikannya bersusah payah
mengerti apa yang telah dikatakannya. 'Kamu dan Mr Weasley. Dan kukira, agar
amannya, kembaran pria muda ini harus dihentikan juga -- kalau para anggota timnya
tidak menahan dia, aku merasa yakin dia pasti telah menyerang Mr Malfoy muda
juga. Aku mau sapu-sapu mereka disita, tentu saja; aku akan menyimpannya dengan
aman di dalam kantorku, untuk menjamin tidak ada pelanggaran dari laranganku. Tapi
aku tidak bersikap tak masuk akal, Profesor McGonagall,' lanjutnya, sambil berpaling
kembali kepada Profesor McGonagall yang sekarang sedang berdiri diam seolah-olah
terpahat dari es, sambil menatapnya. Sisa tim yang lain boleh terus bermain, aku tidak
melihat tanda-tanda kekerasan dari mereka. Well ... selamat sore kepada kalian.'
Dan dengan tampang kepuasan penuh, Umbridge meninggalkan ruangan,
menyisakan keheningan mengerikan di belakangnya.
*
'Dilarang bertanding,' kata Angelina dengan suara hampa, larut malam itu di dalam
ruang duduk. 'Dilarang bertanding. Tak ada Seeker dan tak ada Beater ... apa yang
akan kita lakukan?'
Rasanya sama sekali tidak seperti mereka telah memenangkan pertandingan itu. Ke
manapun Harry memandang ada wajah-wajah sedih dan marah; tim itu sendiri
merosot di sekitar api, semuanya kecuali Ron, yang belum terlihat sejak akhir
pertandingan.
'Begitu tidak adil,' kata Alicia dengan kaku. 'Maksudku, bagaimana dengan Crabbe
dan Bludger yang dipukulnya setelah peluit ditiup? Sudahkan dia melarangnya
bertanding?'
'Tidak,' kata Ginny dengan merana; dia dan Hermione duduk di kedua sisi Harry.
'Dia cuma dihukum menulis, kudengar Montague menertawakannya saat makan
malam.'
'Dan melarang Fred bertanding saat dia bahkan tidak melakukan apapun!' kata
Alicia marah besar, sambil meninju lututnya dengan kepalan tangannya.
'Bukan salahku aku tidak melakukan apa-apa,' kata Fred, dengan tampang sangat
jelek di wajahnya, 'aku sudah memukul kantong sampah kecil itu kalau kalian bertiga
tidak mencegahku.'
Harry memandang ke jendela yang gelap dengan sengsara. Salju sedang turun.
Snitch yang telah ditangkapnya tadi sekarang sedang meluncur mengitari ruang
duduk; orang-orang sedang mengawasi pergerakannya seolah-olah dihipnotis dan
Crookshanks sedang melompat dari kursi ke kursi, mencoba menangkapnya.
'Aku akan pergi tidur,' kata Angelina, sambil bangkit lambat-lambat. 'Mungkin ini
semua akan berubah menjadi mimpi buruk ... mungkin aku akan terbangun besok dan
mendapati kita belum bermain ...'
Dia segera diikuti oleh Alicia dan Katie. Fred dan George naik ke tempat tidur
beberapa waktu kemudian, sambil menatap tajam kepada semua orang yang mereka
lewati, dan Ginny pergi tak lama setelah itu. Hanya Harry dan Hermione yang
tertinggal di sisi api.
'Apakah kau sudah melihat Ron?' Hermione bertanya dengan suara rendah.
Harry menggelengkan kepalanya.
'Kukira dia sedang menghindari kita,' kata Hermione. 'Menurutmu di mana dia --?'
Tapi pada saat itu juga, ada suara keriut di belakang mereka sementara Nyonya
Gemuk berayun ke depan dan Ron memanjat masuk melalui lubang potret. Dia sangat
pucat dan ada salju di rambutnya. Ketika dia melihat Harry dan Hermione, dia
berhenti melangkah.
'Ke mana kau tadi?' kata Hermione dengan cemas, sambil melompat bangkit.
'Berjalan,' Ron bergumam. Dia masih mengenakan baju Quidditchnya.
'Kau tampak membeku,' kata Hermione. 'Kemari dan duduklah!'
Ron berjalan ke sisi perapian dan merosot ke kursi terjauh dari Harry, tanpa
memandangnya. Snitch curian itu meluncur di atas kepala mereka.
'Aku minta maaf,' Ron berkomat-kamit, sambil memandang kakinya.
'Untuk apa?' kata Harry.
'Karena berpikir aku bisa bermain Quidditch,' kata Ron. 'Aku akan mengundurkan
diri besok pagi-pagi sekali.'
'Kalau kau mengundurkan diri,' kata Harry dengan tidak sabar, 'hanya akan ada tiga
pemain yang tertinggal dalam tim.' Dan ketika Ron terlihat bingung, dia berkata, 'Aku
telah diberi larangan bermain seumur hidup. Begitu juga Fred dan George.'
'Apa?' Ron berteriak.
Hermione memberitahunya cerita lengkapnya; Harry tidak sanggup
menceritakannya lagi. Ketika dia selesai, Ron terlihat lebih menderita daripada
sebelumnya.
'Ini semua salahku --'
'Kau tidak menyuruhku memukul Malfoy,' kata Harry dengan marah.
'-- kalau aku tidak begitu buruk dalam Quidditch --'
'-- tak ada hubungannya dengan itu.'
'-- lagu itu yang memicuku --'
'-- pasti akan memicu siapapun.
Hermione bangkit dan berjalan ke jendela, menjauh dari perseteruan itu, sambil
mengamati salju yang beterbangan turun ke kaca.
'Lihat, hentikan, bisakah!' Harry meledak. 'Sudah cukup buruk, tanpa kau yang
menyalahkan dirimu untuk semuanya!'
Ron tidak berkata apa-apa melainkan duduk menatapi tepi jubahnya yang lembab
dengan sengsara. Setelah beberapa saat dia berkata dengan suara tak berminat, 'Ini
yang terburuk yang pernah kurasakan seumur hidupku.'
'Bergabunglah dengan klub,' kata Harry dengan getir.
'Well,' kata Hermione, suaranya sedikit bergetar. 'Aku bisa memikirkan satu hal
yang mungkin menghibur kalian berdua.'
'Oh yeah?' kata Harry dengan skeptis.
'Yeah,' kata Hermione sambil berpaling dari jendela yang hitam pekat dan penuh
bintik salju, sebuah senyum lebar terentang di wajahnya. 'Hagrid sudah kembali.'
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DUA PULUH -Kisah Hagrid
Harry berlari cepat naik ke kamar anak laki-laki untuk mengambil Jubah Gaib dan
Peta Perampok dari kopernya; dia begitu cepat sehingga dia dan Ron sudah siap
berangkat setidaknya lima menit sebelum Hermione bergegas turun kembali dari
kamar anak perempuan, memakai scarf, sarung tangan dan salah satu topi peri
menonjolnya sendiri.
'Well, di luar dingin!' katanya membela diri, sewaktu Ron mendecakkan lidah tidak
sabaran.
Mereka bergerak pelan-pelan melalui lubang potret dan menutupi diri mereka
dengan terburu-buru memakai Jubah itu -- Ron sudah tumbuh banyak sehingga dia
sekarang harus membungkuk agar kakinya tidak kelihatan -- lalu, sambil bergerak
lambat-lambat dan dengan waspada, mereka menuruni banyak tangga, berhenti
sejenak beberapa waktu sekali untuk memeriksa peta mencari tanda-tanda Mr Filch
atau Mrs Norris. Mereka beruntung; mereka tidak melihat siapapun kecuali Nick si
Kepala-Nyaris-Putus, yang melayang sambil melamun dan bersenandung sesuatu
yang terdengar amat mirip dengan 'Weasley adalah Raja kami.' Mereka berjalan
pelan-pelan menyeberangi Aula Depan dan keluar ke halaman sekolah yang hening
dan bersalju. Dengan hentakan besar di jantungnya, Harry melihat petak-petak cahaya
keemasan kecil di depan dan asap yang bergelung dari cerobong asap Hagrid. Dia
mulai berjalan cepat, dua yang lain saling mendorong dan bertabrakan di
belakangnya.Mereka berjalan dengan bersemangat melalui salju yang semakin
menebal sampai akhirnya mereka mencapai pintu depan kayu itu. Ketika Harry
mengangkat kepalan tangannya dan mengetuk tiga kali, seekor anjing mulai
menggonggong dengan hebat di dalam.
'Hagrid, ini kami!' Harry berseru melalui lubang kunci.
'Harusnya sudah tahu!' kata sebuah suara kasar.
Mereka tersenyum satu sama lain di bawah Jubah itu; mereka bisa tahu dari suara
Hagrid bahwa dia senang. 'Ada di rumah tiga detik ... menyingkir dari jalan, Fang ...
awas, kau anjing tukang tidur ...'
Gerendel dilepaskan, pintu berderit terbuka dan kepala Hagrid muncul di celah.
Hermione menjerit.
'Jenggot Merlin, pelankan suaramu!' kata Hagrid buru-buru, sambil menatap liar ke
atas kepala mereka. 'Di bawah Jubah itu, bukan? Well, masuk, masuk!'
'Maaf!' Hermione terengah-engah, selagi mereka bertiga menyelip melewati Hagrid
ke dalam rumah dan menarik Jubah hingga lepas sehingga dia bisa melihat mereka.
'Aku hanya -- oh, Hagrid!'
'Bukan apa-apa, bukan apa-apa!' kata Hagrid buru-buru sambil menutup pintu di
belakang mereka dan bergegas menutup semua tirai, tapi Hermione terus menatapnya
dengan ketakutan.
Rambut Hagrid pekat dengan darah beku dan mata kirinya telah berkurang menjadi
celah membengkak di antara banyak memar ungu dan hitam. Ada banyak luka potong
di wajah dan tangannya, beberapa di antaranya masih berdarah, dan dia bergerak
dengan hati-hati, yang membuat Harry curiga akan tulang iga yang patah. Jelas dia
baru saja pulang; sebuah mantel bepergian hitam yang tebal tersandar di punggung
sebuah kursi dan sebuah kantong barang yang cukup besar untuk membawa beberapa
anak kecil tergeletak di dinding dekat pintu. Hagrid sendiri, dua kali ukuran manusia
normal, sekarang sedang terpincang-pincang ke perapian dan menempatkan sebuah
ceret tembaga ke atasnya.
'Apa yang terjadi denganmu?' Harry menuntut, sementara Fang menari-nari
mengitari mereka semua, mencoba menjilat wajah-wajah mereka.
'Sudah kuberitahu kalian, bukan apa-apa,' kata Hagrid dengan tegas. 'Mau
secangkir?'
'Bilang saja,' kata Ron, 'kau babak belur!'
'Kuberitahu kalian, aku baik-baik saja,' kata Hagrid sambil bangkit dan berpaling
untuk tersenyum kepada mereka semua, tetapi mengerenyit. 'Astaga, senang melihat
kalian bertiga lagi -- musim panas menyenangkan?'
'Hagrid, kau diserang!' kata Ron.
'Tuk terakhir kali, bukan apa-apa!' kata Hagrid dengan tegas.
'Apakah kau akan berkata bukan apa-apa kalau salah satu dari kami muncul dengan
satu pon daging cincang menggantikan wajah?' Ron menuntut.
'Kau harus pergi menemui Madam Pomfrey, Hagrid,' kata Hermione dengan cemas,
'beberapa luka potong itu tampak mengerikan.'
'Aku sudah mengurusnya, oke?' kata Hagrid menekan.
Dia berjalan ke meja kayu besar yang terletak di tengah kabinnya dan melemparkan
ke samping serbet teh yang tadi tergeteletak di atasnya. Di bawahnya adalah sebuah
stik mentah, berdarah, sedikit hijau yang sedikit lebih besar daripada ban mobil biasa.
'Kau tidak akan makan itu, bukan, Hagrid?' kata Ron, sambil mencondongkan
badan untuk melihat lebih dekat. 'Tampaknya beracun.'
'Memang harus tampak seperti itu, itu daging naga,' Hagrid berkata. 'Dan aku tidak
ambil untuk dimakan.'
Dia mengambil stik itu dan membantingkannya ke sisi kiri wajahnya. Darah
kehijauan bercucuran ke janggutnya sementara dia mengeluarkan erangan pelan
kepuasan.
'Itu lebih baik. Membantu untuk rasa pedihnya, kalian tahu.'
'Jadi, apakah kau akan memberitahu kami apa yang sudah terjadi denganmu?' Harry
bertanya.
'Tak bisa, Harry. Rahasia besar. Lebih dari nilai pekerjaanku untuk beritahu kalian.'
'Apakah para raksasa memukulimu, Hagrid?' tanya Hermione pelan.
Jari-jari Hagrid tergelincir dari stik naga itu dan stik itu meluncur dengan bersuara
ke dadanya.
'Raksasa?' kata Hagrid, sambil menangkap stik itu sebelum mencapai ikat
pinggangnya dan membantingkannya kembali ke wajahnya, 'siapa yang bilang apaapa tentang raksasa? Siapa yang memberitahu kalian apa yang aku -- siapa yang
bilang aku -- eh?'
'Kami menerka,' kata Hermione dengan nada minta maaf.
'Oh, begitu, bukan?' kata Hagrid sambil mengamatinya dengan mata yang tidak
tersembunyi oleh stik.
'Itu agak ... jelas,' kata Ron. Harry mengangguk.
Harry melotot kepada mereka, lalu mendengus, melemparkan stik itu kembali ke
atas meja dan berjalan ke ceret, yang sekarang sedang berbunyi.
'Belum pernah kenal anak-anak seperti kalian bertiga yang tahu lebih banyak dari
yang seharusnya,' dia bergumam, sambil menceburkan air mendidih ke tiga
cangkirnya yang berbentuk ember. 'Dan aku juga tidak puji kalian. Turut campur, itu
yang disebut beberapa orang. Mengganggu.'
Tetapi jenggotnya berkedut.
'Jadi apakah kau pergi mencari para raksasa?'' kata Harry sambil menyeringai selagi
dia duduk di meja.
Hagrid meletakkan teh di depan mereka masing-masing, duduk, mengambil stiknya
lagi dan membantingnya kembali ke wajahnya.
'Yeah, baiklah,' gerutunya, 'memang.'
'Dan kau menemukan mereka?' kata Hermione dengan suara berbisik.
'Well, mereka tidak sesulit itu ditemukan, sejujurnya,' kata Hagrid. 'Agak besar,
tahu.'
'Di mana mereka?' kata Ron.
'Pegunungan,' kata Hagrid tanpa membantu.
'Kalau begitu kenapa para Muggle tidak --?'
'Mereka jumpa,' kata Hagrid dengan suram. 'Cuma kematian mereka selalu
dianggap kecelakaan panjat gunung, bukan?'
Dia menyesuaikan stik itu sedikit sehingga menutupi memar-memar terburuk.
'Ayolah, Hagrid, beritahu kami apa yang sudah kau lakukan!' kata Ron. 'Ceritakan
kepada kami tentang diserang para raksasa dan Harry bisa menceritakan kepadamu
tentang diserang para Dementor --'
Hagrid tersedak dan menjatuhkan stiknya pada saat yang bersamaan; sejumlah
besar air ludah, teh dan darah naga terpercik ke atas meja sementara Hagrid batukbatuk dan berbicara tidak jelas dan stik itu tergelincir, dengan bunyi pelan, ke atas
lantai.
'Apa maksudmu, diserang Dementor?' geram Hagrid.
'Tidakkah kau tahu?' Hermione bertanya kepadanya dengan mata membelalak.
'Aku tidak tahu apapun yang telah terjadi di sini sejak aku pergi. Aku sedang dalam
misi rahasia, bukan, tak mau burung-burung hantu mengikutiku ke seluruh tempat -Dementor-Dementor sialan! Kalian tidak serius?'
'Yeah, aku serius, mereka muncul di Little Whinging dan menyerang sepupuku dan
aku, dan lalu Kementerian Sihir mengeluarkan aku dari sekolah --'
'APA?'
'-- dan aku harus menghadiri dengar pendapat dan segalanya, tapi ceritakan dulu
kepada kami tentang para raksasa.'
'Kau dikeluarkan!'
'Ceritakan kepada kami tentang musim panasmu dan aku akan menceritakan
kepadamu tentang musim panasku.'
Hagrid melotot kepadanya dengan sebelah matanya yang terbuka. Harry
memandang balik, dengan ekspresi kebulatan tekad yang lugu di wajahnya.
'Oh, baiklah,' kata Hagrid dengan suara menyerah.
Dia membungkuk dan menyentak stik naga itu keluar dari mulut Fang.
'Oh, Hagrid, jangan, itu tidak higie--' Hermione mulai, tetapi Hagrid sudah
membanting daging itu kembali ke matanya yang bengkak.
Dia meneguk teh penguat lagi, lalu berkata, 'Well, kami berangkat persis setelah
tahun ajaran berakhir --'
'Kalau begitu, Madame Maxime pergi bersamamu?' Hermione menyela.
'Yeah, itu benar,' kata Hagrid, dan suatu ekspresi lembut muncul di beberapa inci
wajah yang tidak tertutup jenggot atau stik hijau itu. 'Yeah, cuma kami berdua. Dan
aku beritahu kalian ini, dia tidak takut susah, Olympe. Kalian tahu, dia seorang wanita
anggun berpakaian rapi, dan tahu ke mana kami akan pergi aku bertanya-tanya
bagaimana perasaannya tentang merangkak melewati batu-batu besar dan tidur di guagua dan sebagainya, tapi dia tidak pernah mengeluh sekalipun.'
'Kalian tahu ke mana kalian akan pergi?' Harry mengulangi. 'Kalian tahu di mana
para raksasa berada?'
'Well, Dumbledore tahu, dan dia memberitahu kami,' kata Hagrid.
'Apakah mereka tersembunyi?' tanya Ron. 'Apakah rahasia, tempat mereka berada?'
'Tidak juga,' kata Hagrid sambil menggelengkan kepalanya yang berewokan. 'Cuma
kebanyakan penyihir tak peduli di mana mereka berada, asal letaknya jauh sekali.
Tapi tempat mereka berada sangat sulit dicapai, 'tuk manusia, jadi kami butuh
instruksi Dumbledore. Kami butuh sekitar sebulan untuk sampai ke sana --'
'Satu bulan?' kata Ron, seakan-akan dia belum pernah mendengar perjalanan yang
lamanya menggelikan seperti itu. 'Tapi -- kenapa kalian tidak mengambil sebuah
Portkey saja atau apapun?'
Ada ekspresi aneh di mata Hagrid yang tidak tertutup sementara dia mengamati
Ron; hampir seperti mengasihani.
'Kami sedang diawasi, Ron,' katanya dengan kasar.
'Apa maksudmu?'
'Kalian tidak mengerti,' kata Hagrid. 'Kementerian sedang mengawasi Dumbledore
dan siapapun yang mereka anggap berada di pihaknya, dan --'
'Kami tahu tentang itu,' kata Harry dengan cepat, ingin mendengar lanjutan cerita
Hagrid,' kami tahu tentang Kementerian mengawasi Dumbledore --'
'Jadi kalian tidak bisa menggunakan sihir untuk ke sana?' tanya Ron, terlihat seperti
disambar petir, 'kalian harus bertindak seperti Muggle sepanjang jalan?'
'Well, tidak persis sepanjang jalan,' kata Hagrid dengan cerdik. 'Kami hanya harus
waspada, kar'na Olympe dan aku, kami agak menyolok --'
Ron membuat suara tertahan antara dengusan dan endusan dan buru-buru meneguk
teh.
'-- jadi kami tidak sulit diikuti. Kami pura-pura kami sedang berlibur bersama, jadi
kami masuk ke Prancis dan kami buat seolah-olah kami sedang menuju tempat
sekolah Olympe, kar'na kami tahu kami sedang diekori oleh seseorang dari
Kementerian. Kami harus pelan-pelan, kar'na aku seharusnya tidak boleh
menggunakan sihir dan kami tahu Kementerian akan cari-cari alasan untuk tangkap
kami. Tapi kami berhasil lolos dari orang yang mengekori kami di sekitar Dee-John -'
'Ooooh Dijon?' kata Hermione dengan bersemangat. 'Aku pernah liburan ke sana,
apakah kau melihat --?'
Dia terdiam melihat tampang Ron.
'Kami pertaruhkan sedikit sihir setelah itu dan bukan perjalanan yang buruk.
Bertemu sejumlah troll sinting di perbatasan Polandia dan aku selisih pendapat sedikit
dengan seorang vampir di sebuah pub di Minsk, tapi selain itu tak bisa lebih mulus
lagi.
'Dan lalu kami sampai di tempat itu, dan kami mulai berjalan melewati
pegunungan, mencari tanda-tanda mereka ...
'Kami harus hentikan sihir sementara begitu kami dekat mereka. Sebagian kar'na
mereka tidak suka penyihir dan kami tak mau membuat mereka melawan kami terlalu
cepat, dan sebagian kar'na Dumbledore sudah peringatkan kami Kau-Tahu-Siapa akan
mengejar raksasa dan sebagainya. Katanya kemungkinan besar dia sudah kirim
pesuruh kepada mereka. Beritahu kami sebaiknya waspada menarik perhatian pada
diri kami ketika kami mendekat kalau-kalau ada Pelahap Maut di sekitar.'
Hagrid berhenti sejenak untuk minum teh banyak-banyak.
'Teruskan!' kata Harry mendesak.
'Temukan mereka,' kata Hagrid terus terang. 'Naik ke punggung bukit suatu malam
dan di sanalah mereka, tersebar di bawah kami. Api-api kecil terbakar di bawah dan
bayangan-bayangan besar ... seperti memandangi gunung-gunung kecil bergerak.'
'Seberapa besar mereka?' tanya Ron dengan suara berbisik.
'Sekitar dua puluh kaki,' kata Hagrid sambil lalu. 'Beberapa yang lebih besar
mungkin dua puluh lima.'
'Dan berapa banyak mereka?' tanya Harry.
'Kukira sekitar tujuh puluh atau delapan puluh,' kata Hagrid.
'Itu saja?' kata Hermione.
'Yep,' kata Hagrid dengan sedih, 'delapan puluh yang tersisa, dan dulu ada banyak,
pastilah seratus suku berbeda dari seluruh dunia. Tapi mereka mati terus dalam waktu
yang lama. Para penyihir bunuh beberapa, tentu saja, tapi kebanyakan mereka saling
bunuh, dan sekarang mereka mati lebih cepat dari sebelumnya. Mereka tak cocok
hidup berkelompok bersama seperti itu. Dumbledore bilang itu salah kita, para
penyihirlah yang paksa mereka pergi dan buat mereka hidup jauh sekali dari kita dan
mereka tak punya pilihan kecuali bersatu 'tuk perlindungan mereka sendiri.'
'Jadi,' kata Harry, 'kau melihat mereka dan lalu apa?'
'Well, kami tunggu sampai pagi, tak mau menyelinap kepada mereka dalam gelap,
'tuk keselamatan kami sendiri,' kata Hagrid. 'Sekitar jam tiga pagi mereka tertidur
tepat di tempat mereka duduk. Kami tak berani tidur. 'Tuk satu hal, kami mau
pastikan tak satupun dari mereka bangun dan datang ke tempat kami, dan hal lain,
dengkurannya tak bisa dipercaya. Sebabkan salju longsor menjelang pagi.'
'Bagaimanapun, begitu terang kami turun jumpai mereka.'
'Begitu saja?' kata Ron, terlihat kagum. 'Kalian berjalan langsung ke dalam kamp
raksasa?'
'Well, Dumbledore beritahu kami bagaimana melakukannya,' kata Hagrid. 'Berikan
Gurg hadiah-hadiah, perlihatkan rasa hormat, kalian tahu.'
'Berikan apa hadiah-hadiah?' tanya Harry.
'Oh, Gurg --artinya ketua.'
'Bagaimana kau bisa tahu yang mana Gurg?' tanya Ron.
Hagrid mendengkur geli.
'Tak masalah,' katanya. 'Dia yang paling besar, paling jelek dan paling malas.
Duduk di sana menunggu dibawakan makanan oleh yang lainnya. Kambing mati dan
sebagainya. Namanya Karkus. Aku rasa dia dua puluh dua, dua puluh tiga kaki dan
beratnya beberapa gajah. Kulit seperti kulit badak dan sebagainya.'
'Dan kalian berjalan ke arahnya begitu saja?' kata Hermione terengah-engah.
'Well ... turun ke arahnya, tempat dia berbaring di lembah itu. Mereka ada di jalan
menurun antara empat gunung agak tinggi, tahu, di samping sebuah danau
pegunungan, dan Karkus berbaring di sisi danau meraung-raung pada yang lain untuk
memberinya makan dan istrinya. Olympe dan aku menuruni sisi pegunungan --'
'Tapi tidakkah mereka mencoba membunuh kalian sewaktu melihat kalian?' tanya
Ron tidak percaya.
'Jelas ada di pikiran beberapa dari mereka,' kata Hagrid sambil mengangkat bahu,
'tapi kami lakukan apa yang Dumbledore suruh, yakni angkat hadiah kami tinggitinggi dan tatap mata kami ke Gurg dan abaikan yang lainnya. Jadi itu yang kami
lakukan. Dan sisanya jadi diam dan amati kami lewat dan kami sampai tepat di kaki
Karkus dan kami membungkuk dan letakkan hadiah kami di depannya.'
'Apa yang kalian berikan kepada raksasa?' tanya Ron tidak sabaran. 'Makanan?'
'Tidak, dia bisa dapat makanan sendiri,' kata Hagrid. 'Kami membawakannya sihir.
Raksasa suka sihir, cuma tidak suka kita gunakan lawan mereka. Bagaimanapun, hari
pertama itu kami beri dia ranting api Gubraithian.'
Hermione berkata, 'Wow!' dengan pelan, tetapi Harry dan Ron merengut tidak
mengerti.
'Ranting --?'
'Api abadi,' kata Hermione kesal, 'kalian seharusnya sudah tahu sekarang. Profesor
Flitwick menyebutnya setidaknya dua kali dalam kelas!'
'Well, ngomong-ngomong,' kata Hagrid cepat-cepat, menyela sebelum Ron bisa
menjawab balik, 'Dumbledore menyihir ranting ini untuk terbakar selamanya, yang
bukan sesuatu yang bisa dilakukan setiap penyihir, dan aku letakkan di salju dekat
kaki Karkus dan berkata, "Hadiah untuk Gurg raksasa dari Albus Dumbledore, yang
mengirimkan salam hormatnya."'
'Dan apa yang dikatakan Karkus?' tanya Harry bersemangat.
'Tidak ada,' kata Hagrid. 'Tak bisa bahasa Inggris.'
'Kau bercanda!'
'Tak masalah,' kata Hagrid tidak terganggu, 'Dumbledore sudah peringatkan kami
itu mungkin terjadi. Karkus cukup tahu untuk berteriak memanggil beberapa raksasa
yang tahu bahasa kita dan mereka terjemahkan untuk kami.'
'Dan apa dia suka hadiahnya?' tanya Ron.
'Oh yeah, sangat riuh begitu mereka ngerti apa itu,' kata Hagrid, sambil
membalikkan stik naganya untuk menekankan sisi yang lebih dingin ke matanya yang
bengkak. 'Sangat senang. Jadi kemudian aku berkata, "Albus Dumbledore minta Gurg
bicara dengan pembawa pesannya sewaktu dia kembali besok dengan hadiah lai."'
'Kenapa kalian tidak bisa bicara dengan mereka hari itu?' tanya Hermione.
'Dumbledore mau kami pelan-pelan,' kata Hagrid. 'Biar mereka lihat kami tepati
janji-janji kami. Kami akan kembali besok dengan hadiah lain, dan lalu kami memang
kembali dengan hadiah lain -- beri kesan bagus -- tahu? Dan beri mereka waktu untuk
coba hadiah pertama dan temukan itu bagus, dan buat mereka ingin lagi.
Bagaimanapun, raksasa seperti Karkus -- beri mereka informasi terlalu banyak dan
mereka bunuh kau cuma untuk buat sederhana. Jadi kami membungkuk pergi dan
temukan gua kecil yang bagus untuk bermalam dan pagi berikutnya kami kembali dan
kali ini kami temukan Karkus duduk menunggu kami terlihat sangat bersemangat.'
'Dan kalian bicara dengannya?'
'Oh yeah. Pertama-tama kami hadiahkan kepadanya sebuah topi baja perang yang
bagus -- buatan goblin dan tidak bisa dihancurkan, kalian tahu -- dan lalu kami duduk
dan kami bicara.'
'Apa katanya?'
'Tak banyak,' kata Hagrid. 'Kebanyakan dengar. Tapi ada tanda-tanda bagus. Dia
pernah dengar Dumbledore, dengar dia berdebat melawan pembunuhan para raksasa
terakhir di Inggris. Karkus tampaknya sangat tertarik dengan apa yang harus
dikatakan Dumbledore. Dan beberapa yang lainnya, terutama yang bisa sedikit bahasa
Inggris, mereka berkumpul dan mendengarkan juga. Kami penuh harapan sewaktu
kami pergi hari itu. Janji untuk kembali pagi berikutnya dengan hadiah lain ...
'Tapi malam itu semuanya gagal.'
'Apa maksudmu?' kata Ron cepat-cepat.
'Well, seperti yang kubilang, mereka tidak cocok hidup bersama, para raksasa,' kata
Hagrid dengan sedih. 'Tidak dalam kelompok-kelompok besar seperti itu. Mereka
tidak bisa menahan diri, mereka saling bunuh satu sama lain tiap beberapa minggu.
Yang pria saling bertarung dan yang wanita saling bertarung; sisa-sisa suku tua saling
bertarung, dan itu bahkan tanpa perselisihan tentang makanan dan api terbaik dan
tempat untuk tidur. Kalian akan pikir, melihat bagaimana seluruh ras mereka hampir
habis, mereka akan saling membiarkan, tapi ...'
Hagrid menarik napas dalam-dalam.
'Malam itu ada perkelahian, kami melihatnya dari mulut gua kami, memandang ke
bawah ke lembah. Berlangsung berjam-jam, kalian takkan percaya bisingnya. Dan
waktu matahari terbit salju merah dan kepalanya tergeletak di dasar danau.'
'Kepala siapa?' kata Hermione terengah-engah.
'Karkus,' kata Hagrid dengan kasar. 'Ada Gurg baru, Golgomath.' Dia menarik
napas dalam-dalam. 'Well, kami tidak harapkan Gurg baru dua hari sesudah kami
ramah-tamah dengan yang pertama, dan kami punya perasaan aneh Golgomath takkan
terlalu ingin dengarkan kami, tapi kami harus coba.'
'Kalian pergi berbicara dengannya?' tanya Ron tidak percaya. 'Setelah kalian
menyaksikan dia merenggut kepala raksasa lain?'
'Tentu saja,' kata Hagrid, 'kami tidak pergi sejauh itu untuk menyerah setelah dua
hari! Kami turun dengan hadiah berikutnya yang ingin kami berikan untuk Karkus.
'Aku tahu tidak bisa sebelum aku buka mulutku. Dia duduk di sana memakai topi
baja Karkus, melirik kami waktu kami mendekat. Dia besar, salah satu yang terbesar
di sana. Rambut hitam dan gigi yang serasi dan kalung tulang. Mirip tulang manusia,
beberapa di antaranya -- Hal berikutnya yang kutahu, aku tergantung terbalik di udara,
dua kawannya sudah menangkapku.'
Hermione mengatupkan tangannya ke mulutnya.
'Bagaimana kau lolos dari itu?' tanya Harry.
'Takkan bisa kalau Olympe tak ada di sana,' kata Hagrid. 'Dia menarik keluar
tongkatnya dan melakukan beberapa mantera tercepat yang pernah kulihat. Benarbenar luar biasa. Kena dua yang sedang memegangku tepat di mata dengan Kutukan
Conjunctivitus dan mereka langsung jatuhkan aku -- tapi waktu itu kami dalam
masalah, kar'na kami gunakan sihir lawan mereka, dan itulah yang dibenci raksasa
tentang penyihir. Kami harus kabur dan kami tahu tak mungkin kami bisa jalan ke
dalam kamp itu lagi.'
'Astaga, Hagrid,' kata Ron pelan.
'Jadi, kenapa kau butuh waktu begitu lama untuk pulang kalau kau cuma di sana
tiga hari?' tanya Hermione.
'Kami tidak pergi setelah tiga hari!' kata Hagrid, tampak marah. 'Dumbledore
mengandalkan kami!'
'Tapi kau bilang tak mungkin kalian bisa kembali!'
'Tidak waktu siang, tidak. Kami cuma harus berpikir kembali sedikit. Habiskan
beberapa hari sembunyi di gua dan mengamati. Dan apa yang kami lihat tidak bagus.'
'Apakah dia merenggut kepala-kepala lagi?' tanya Hermione, terdengar mual.
'Tidak,' kata Hagrid, 'kuharap begitu.'
'Apa maksudmu?'
'Maksudku kami segera mendapati dia tidak keberatan dengan semua penyihir -cuma kami.'
'Para Pelahap Maut?' kata Harry dengan cepat.
'Yep,' kata Hagrid muram. 'Beberapa dari mereka kunjungi dia setiap hari, bawa
hadiah-hadiah untuk Gurg, dan dia tidak memegang mereka terbalik.'
'Bagaimana kau tahu mereka Pelahap Maut?' kata Ron.
'Karena aku kenali salah satu,' Hagrid menggeram. 'Macnair, ingat dia? Orang yang
mereka kirim untuk bunuh Buckbeak? Maniak, dia. Suka membunuh seperti
Golgomath; tak heran mereka sangat akrab.'
'Jadi Macnair sudah meyakinkan para raksasa untuk bergabung dengan Kau-TahuSiapa?' tanya Hermione putus asa.
'Tahan Hippogriffmu, ceritaku belum selesai!' kata Hagrid tidak senang, yang,
mengingat dia tidak mau memberitahu mereka apapun awalnya, sekarang tampak
agak bersenang-senang. 'Aku dan Olympe membicarakannya dan kami setuju cuma
karena Gurg tampaknya memilih Kau-Tahu-Siapa tak berarti semuanya begitu. Kami
harus coba yakinkan beberapa yang lain, yang tidak mau Golgomath jadi Gurg.'
'Bagaimana kalian bisa tahu yang mana?' tanya Ron.
'Well, mereka yang dipukuli sampai babak belur, bukan?' kata Hagrid dengan
sabar. 'Yang cukup berotak sedang menyingkir dari jalan Golgomath, sembunyi di
gua-gua sekitar lembah seperti kami. Jadi kami putuskan kami akan berkeliaran di
sekitar gua-gua waktu malam dan lihat apa kami bisa yakinkan beberapa dari mereka.'
'Kalian berkeliaran di sekitar gua-gua gelap mencari para raksasa?' kata Ron,
dengan nada hormat dan kagum dalam suaranya.
'Well, bukan raksasa yang paling kami kuatirkan,' kata Hagrid. 'Kami lebih prihatin
tentang para Pelahap Maut. Dumbledore sudah bilang sebelum kami pergi jangan
berurusan dengan mereka kalau kami bisa menghindari, dan masalahnya mereka tahu
kami di sekitar sana -- kurasa Golgomath beritahu mereka tentang kami. Waktu
malam, saat raksasa tidur dan kami mau merangkak ke dalam gua-gua, Macnair dan
satu lagi menyelinap sekitar pegunungan mencari kami. Aku kesulitan menghentikan
Olympe menyerang mereka,' kata Hagrid, sudut-sudut mulutnya mengangkat
jenggotnya yang lebat, 'dia ingin sekali serang mereka ... dia benar-benar hebat kalau
bersemangat, Olympe ... berapi-api, kalian tahu ... kurasa darah Prancisnya ...'
Hagrid menatap dengan mata melamun ke api. Harry memberinya tiga puluh detik
mengenang sebelum berdehem keras.
'Jadi, apa yang terjadi? Apakah kau pernah dekat raksasa lain?'
'Apa? Oh ... oh, yeah, memang. Yeah, malam ketiga setelah Karkus terbunuh kami
merangkak keluar gua tempat kami sembunyi dan kembali turun ke lembah, terus
waspada terhadap Pelahap Maut. Masuk ke beberapa gua, tidak bisa -- lalu, kira-kira
yang keenam, kami temukan tiga raksasa sedang sembunyi.'
'Gua pasti sangat sesak,' kata Ron.
'Tak ada ruang untuk ayunkan Kneazle,' kata Hagrid.
'Tidakkah mereka menyerang kalian ketika mereka melihat kalian?' tanya
Hermione.
'Mungkin akan begitu kalau mereka sedang sehat,' kata Hagrid, 'tapi mereka luka
parah, ketiga-tiganya semua; kelompok Golgomath sudah memukuli mereka sampai
pingsan; mereka bangun dan merangkak ke tempat berlindung terdekat yang bisa
mereka temukan. Bagaimanapun, salah satu dari mereka bisa sedikit bahasa Inggris
dan -- dia terjemahkan untuk yang lainnya, dan apa yang harus kami katakan
tampaknya tidak diterima dengan buruk. Jadi kami terus kembali, kunjungi yang luka
... kurasa kami punya sekitar enam atau tujuh dari mereka yang berhasil diyakinkan di
suatu saat.'
'Enam atau tujuh?' kata Ron dengan tidak sabar. 'Well itu tidak buruk -- apakah
mereka akan datang ke sini dan mulai melawan Kau-Tahu-Siapa bersama kita?'
Tetapi Hermione berkata, 'Apa maksudmu "di suatu saat", Hagrid?'
Hagrid memandangnya dengan sedih.
''Kelompok Golgomath serang gua-gua. Yang selamat tak mau berhubungan
dengan kami lagi setelah itu.'
'Jadi ... jadi tidak ada raksasa yang akan datang?' kata Ron, terlihat kecewa.
'Tidak,' kata Hagrid, menarik napas dalam-dalam selagi dia membalikkan stiknya
dan meletakkan bagian yang lebih dingin ke wajahnya, 'tapi kami lakukan yang kami
mau lakukan, kami beri mereka pesan Dumbledore dan beberapa dari mereka dengar
dan aku rasa beberapa dari mereka akan ingat. Mungkin saja, mereka yang tak mau
dekat Golgomath 'kan pindah keluar dari pegunungan, dan pasti ada peluang mereka
akan ingat Dumbledore bersahabat dengan mereka ... mungkin mereka akan datang.'
Salju sedang memenuhi jendela sekarang. Harry menjadi sadar bahwa bagian lutut
jubahnya basah kuyup: Fang sedang meneteskan air liur dengan kepalanya di
pangkuan Harry.
'Hagrid?' kata Hermione pelan setelah beberapa saat.
'Mmm?'
'Apakah kau ... apakah ada tanda-tanda ... apakah kau mendengar apapun tentang ...
ibumu saat kau di sana?'
Mata Hagrid yang tidak tertutup menatapnya dan Hermione tampak agak takut.
'Maafkan aku ... aku ... lupakan --'
'Mati,' dengkur Hagrid. 'Mati bertahun-tahun lalu. Mereka bilang padaku.'
'Oh ... aku ... aku benar-benar menyesal,' kata Hermione dengan suara sangat kecil.
Hagrid mengangkat bahunya yang besar.
'Tak perlu,' katanya singkat. 'Tak banyak ingat dia. Bukan ibu yang baik.'
Mereka diam lagi. Hermione memandang sekilas dengan gugup kepada Harry dan
Ron, jelas ingin mereka berbicara.
'Tapi kau masih belum menjelaskan bagaimana kau jadi begini, Hagrid,' Ron
berkata sambil memberi isyarat pada wajah Hagrid yang berlumuran darah.
'Atau kenapa kau kembali begitu terlambat,' kata Harry. 'Sirius bilang Madame
Maxime sudah pulang lama sekali --'
'Siapa yang menyerangmu?' kata Ron.
'Aku tidak diserang!' kata Hagrid penuh perasaan. 'Aku --'
Tapi sisa kata-katanya teredam dalam pecahnya ketukan-ketukan di pintu.
Hermione menarik napas cepat; cangkirnya tergelincir melalui jari-jarinya dan
terbanting ke lantai; Fang mendengking. Mereka berempat semuanya menatap ke
jendela di samping ambang pintu. Bayangan seseorang yang kecil dan pendek beriak
di tirai yang tipis.
'Itu dia!' Ron berbisik.
'Ke bawah sini!' Harry berkata cepat-cepat; sambil meraih Jubah Gaib, dia
memutarnya menutupi dirinya sendiri dan Hermione sementara Ron mengitari meja
dan menukik ke bawah Jubah itu juga. Berimpitan bersama, mereka mundur ke
sebuah sudut. Fang menggonggong hebat ke pintu. Hagrid tampak benar-benar
bingung.
'Hagrid, sembunyikan cangkir-cangkir kami!'
Hagrid meraih cangkir-cangkir Harry dan Ron dan mendorongnya ke bawah bantal
di keranjang Fang. Fang sekarang sedang melompat-lompat di pintu, Hagrid
mendorongnya menjauh dengan kakinya dan menariknya hingga terbuka.
Profesor Umbridge sedang berdiri di ambang pintu mengenakan mantel wolnya dan
topi yang serasi dengan penutup telinga. Dengan bibir dikerutkan, dia
mencondongkan badan ke belakang untuk melihat wajah Hagrid; dia hampir tidak
mencapai pusarnya.
'Jadi,' katanya lambat-lambat dan keras-keras, seolah-olah sedang berbicara kepada
seseorang yang tuli. 'Anda Hagrid, bukan?'
Tanpa menunggu jawaban dia berjalan ke dalam ruangan, matanya yang menonjol
berputar ke segala arah.
'Pergi,' bentaknya, sambil melambaikan tas tangannya kepada Fang, yang sudah
melompat ke arahnya dan mencoba menjilat wajahnya.
'Er -- aku tidak mau bersikap kasar,' kata Hagrid sambil menatapnya, 'tapi siapa
kamu?'
'Namaku Dolores Umbridge.'
Matanya menyapu kabin itu. Dua kali menatap langsung ke sudut di mana Harry
berdiri, terapit di antara Ron dan Hermione.
'Dolores Umbridge?' Hagrid berkata, terdengar sepenuhnya bingung. 'Kukira kau
salah satu dari Kementerian itu -- bukankah kau kerja dengan Fudge?'
'Saya dulu Sekretaris Senior untuk Menteri, ya,' kata Umbridge, sekarang berjalan
ke sana kemari di sekitar kabin itu, mengamati setiap detil di dalam, dari kantong
barang di dinidng hingga mantel bepergian yang terabaikan. 'Saya sekarang guru
Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam --'
'Anda berani,' kata Hagrid, 'tak banyak yang mau mengambil pekerjaan itu lagi.'
'-- dan Penyelidik Tinggi Hogwarts,' kata Umbridge, tidak memberi tanda bahwa
dia mendengarnya.
'Apa itu?' kata Hagrid sambil merengut.
'Persis yang akan kutanyakan,' kata Umbridge sambil menunjuk keping-keping
pecahan porselen di atas lantai yang dulunya cangkir Hermione.
'Oh,' kata Hagrid, dengan pandangan sekilas yang sangat tidak membantu ke sudut
di mana Harry, Ron dan Hermione berdiri tersembunyi, 'oh, itu ... Fang. Dia
memecahkan sebuah cangkir. Jadi aku harus menggunakan yang ini sebagai gantinya.'
Hagrid menunjuk ke cangkir tempat dia minum, satu tangan masih mengepit stik
naga yang tertekan ke matanya. Umbdrige berdiri menghadapnya sekarang,
mengamati setiap detil penampilannya bukannya kabin itu.
'Saya mendengar suara-suara,' katanya pelan.
'Aku sedang bicara dengan Fang,' kata Hagrid dengan keras.
'Dan dia berbicara kembali kepada Anda?'
'Well ... bisa dibilang begitu,' kata Hagrid, terlihat tidak nyaman. 'Aku kadang
bilang Fang hampir seperti manusia --'
'Ada tiga set jejak kaki di salju yang mengarah dari pintu-pintu kastil ke kabin
Anda,' kata Umbridge dangan manis.
Hermione menarik napas cepat; Harry mengatupkan sebuah tangan ke mulutnya.
Untungnya, Fang sedang mengendus-endus dengan keras di sekitar tepi jubah
Profesor Umbridge dan dia tampaknya tidak mendengar.
'Well, aku baru saja kembali,' kata Hagrid, sambil melambaikan sebuah tangan
yang besar kepada kantong barang. 'Mungkin seseorang datang berkunjung
sebelumnya dan aku tidak berjumpa dengan mereka.'
'Tidak ada jejak kaki menjauh dari pintu kabin Anda.'
'Well, aku ... aku tidak tahu kenapa itu ...' kata Hagrid, sambil menarik-narik
jenggotnya dengan gugup dan lagi-lagi memandang sekilas ke sudut di mana Harry,
Ron dan Hermione berdiri, seolah-olah meminta bantuan. 'Erm ...'
Umbridge berputar dan berjalan-jalan di kabin itu, sambil memandang sekeliling
dengan waspada. Dia membungkuk dan mengintai ke bawah tempat tidur. Dia
membuka lemari-lemari Hagrid; Harry bahkan mengempiskan perutnya selagi dia
lewat. Setelah melihat dengan waspada ke dalam kuali besar yang digunakan Hagrid
untuk memasak, dia berputar berkeliling lagi dan berkata, 'Apa yang terjadi dengan
Anda? Bagaimana Anda mendapatkan luka-luka itu?'
Hagrid buru-buru mengangkat stik naga dari wajahnya, yang menurut pendapat
Harry adalah kesalahaa, karena memar-memar hitam dan ungu di sekitar wajahnya
sekarang terlihat jelas, tanpa menyebut sejumlah besar darah segar dan beku di
wajahnya. 'Oh, aku ... terkena kecelakaan kecil,' katanya lemah.
'Kecelakaan seperti apa?'
'Aku -- aku tersandung.'
'Anda tersandung,' ulangnya dengan dingin.
'Yeah, itu benar. Tersandung ... sapu seorang teman. Aku sendiri tidak terbang.
Well, lihat ukuranku, kukira tak ada sapu yang bisa menahanku. Temanku
membiakkan kuda-kuda Abraxan, aku tak tahu apa kau pernah melihat mereka,
binatang besar, bersayap, kau tahu, aku naik salah satunya sebentar dan --'
'Ke mana Anda pergi?' tanya Umbridge, memotong ocehan Hagrid dengan dingin.
'Ke mana aku --?'
'Pergi, ya,' katanya. 'Tahun ajaran dimulai dua bulan yang lalu. Guru lain harus
menggantikan kelas-kelas Anda. Tak seorangpun dari kolega Anda yang bisa
memberiku informasi apapun tentang keberadaan Anda. Anda tidak meninggalkan
alamat. Ke mana Anda pergi?'
Ada jeda sementara Hagrid menatapnya dengan matanya yang baru tidak tertutup.
Harry hampir bisa mendengar otaknya bekerja mati-matian.
'Aku -- aku pergi untuk kesehatanku,' katanya.
'Untuk kesehatan Anda,' ulang Profesor Umbridge. Matanya menjelajah pada wajah
Hagrid yang berubah warna dan bengkak; darah naga menetes lembut dan pelan ke
jasnya. 'Saya mengerti.'
'Yeah,' kata Hagrid, 'sedikit -- udara segar, kau tahu --'
'Ya, sebagai penjaga hewan udara segar pasti susah didapatkan,' kata Umdrige
dengan manis. Bagian kecil di wajah Hagrid yang tidak hitam atau ungu, merona
merah.
'Well -- perubahan pemandangan, kau tahu --'
'Pemandangan pegunungan?' kata Umbridge dengan cepat.
'Dia tahu,' Harry berpikir dengan putus asa.
'Pegunungan?' Hagrid mengulangi, jelas sedang berpikir cepat. 'Bukan, Prancis
Selatan untukku. Sedikit matahari dan ... dan laur.'
'Benarkah?' kata Umbridge. 'Anda tidak punya kulit kecoklatan.'
'Yeah ... well ... kulit sensitif,' kata Hagrid, mencoba tersenyum manis. Harry
memperhatikan bahwa dua giginya telah lepas. Umbridge memandangnya dengan
dingin; senyumnya menghilang. Lalu dia mengangkat tas tangannya sedikit lebih
tinggi ke lekuk lengannya dan berkata, 'Tentu saja saya akan memberitahu Menteri
tentang kembalinya Anda yang terlambat.'
'Benar,' kata Hagrid sambil mengangguk.
'Anda juga harus tahu, bahwa sebagai Penyelidik Tinggi adalah tugasku yang patut
disayangkan tetapi perlu untuk menginspeksi guru-guru sejawatku. Jadi saya berani
bilang kita akan segera bertemu lagi.'
Dia berbalik dengan tajam dan bergerak kembali ke pintu.
'Kau menginspeksi kami?' Hagrid mengulangi dengan hampa, sambil
memandangnya.
'Oh, ya,' kata Umbridge dengan pelan, sambil memandang balik kepadanya dengan
tangan di pegangan pintu. 'Kementerian berketetapan untuk menyingkirkan guru-guru
yang tidak memuaskan, Hagrid. Selamat malam.'
Dia pergi, menutup pintu di belakangnya dengan bunyi keras. Harry bergerak akan
menarik lepas Jubah Gaib tetapi Hermione meraih pergelangan tangannya.
'Jangan dulu,' dia berbisik di telinganya. 'Dia mungkin belum pergi.'
Hagrid tampaknya memikirkan hal yang sama, dia berjalan menyeberangi ruangan
dan menarik tirai sekitar satu inci.
'Dia kembali ke kastil,' katanya dengan suara rendah. 'Astaga ... dia menginspeksi
orang-orang, bukan?'
'Yeah,' kata Harry sambil menarik lepas Jubah itu. 'Trelawney sudah dalam masa
percobaan ...'
'Um ... hal-hal seperti apa yang kau rencanakan untuk kami di dalam kelas,
Hagrid?' tanya Hermione.
'Oh, jangan kuatir tentang itu, aku punya banyak pelajaran yang sudah
direncanakan,' kata Hagrid dengan antusias, sambil memungut stik naganya dari meja
dan membantingnya ke atas matanya lagi. 'Aku sudah menyimpan sejumlah makhluk
untuk tahun OWL kalian; kalian tunggu, mereka sesuatu yang benar-benar spesial.'
'Erm ... spesial dalam hal apa?' tanya Hermione coba-coba.
'Aku tak mau bilang,' kata Hagrid dengan senang. 'Aku tak mau merusak
kejutannya.'
'Lihat, Hagrid,' kata Hermione mendesak, menghilangkan semua pura-pura,
'Profesor Umbridge tidak akan senang sama sekali kalau kau membawa apapun
kepada kelas yang terlalu berbahaya.'
'Berbahaya?' kata Hagrid, terlihat geli. 'Jangan bodoh, aku takkan memberi kalian
apapun yang berbahaya! Maksudku, baiklah, mereka bisa menjaga diri mereka sendiri
--'
'Hagrid, kau harus lulus inspeksi Umbridge, dan untuk itu akan lebih baik kalau dia
melihatmu mengajari kami bagaimana menjaga Porlock, bagaimana membedakan
Knarl dengan landak, hal-hal seperti itu!' kata Hermione dengan bersungguh-sungguh.
'Tapi itu tidak amat menarik, Hermione,' kata Hagrid. 'Hal yang kumiliki jauh lebih
mengesankan. Aku sudah membesarkan mereka bertahun-tahun, kukira aku punya
satu-satunya kawanan yang sudah dijinakkan di Inggris.'
'Hagrid ... tolong ...' kata Hermione, dengan nada putus asa nyata dalam suaranya.
'Umbridge sedang mencari alasan apapun untuk menyingkirkan guru-guru yang
dikiranya terlalu dekat dengan Dumbledore. Tolong, Hagrid, ajari kami sesuatu yang
membosankan yang pasti keluar dalam OWL kami.'
Tetapi Hagrid hanya menguap lebar dan memberi pandangan penuh ingin dengan
sebelah mata pada tempat tidur besar di sudut.
'Dengar, hari ini melelahkan dan sudah malam,' katnya, sambil menepuk pundak
Hermione dengan lembut, sehingga lututnya menyerah dan mengenai lantai dengan
gedebuk. 'Oh -- sori --' Dia menariknya kembali di leher jubahnya. 'Lihat, kalian
jangan terus kuatir tentangku, aku janji pada kalian aku punya hal-hal bagus yang
sudah kurencanakan untuk pelajaran kalian sekarang setelah aku kembali ... sekarang
kalian semua sebaiknya kembali ke kastil, dan jangann lupa menghapus jejak kaki di
belakang kalian!'
'Aku tak tahu apa kau meyakinkan dia,' kata Ron sebentar kemudian ketika, setelah
memeriksa bahwa keadaannya aman, mereka berjalan kembali ke kastil melalui salju
yang semakin lebat, tanpa meninggalkan jejak di belakang mereka karena Mantera
Pelenyap yang dilakukan Hermione selagi mereka berjalan.
'Kalau begitu aku akan kembali lagi besok,' kata Hermione penuh ketetapan. 'Akan
kurencanakan pelajaran-pelajarannya baginya kalau aku harus. Aku tidak peduli kalau
dia mengeluarkan Trelawney tapi dia tidak boleh menyingkirkan Hagrid!"
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DUA PULUH SATU -Mata si Ular
Hermione bersusah payah berjalan ke kabin Hagrid melalui salju setebal dua kaki
pada Minggu pagi. Harry dan Ron ingin pergi dengannya, tetapi pekerjaan rumah
mereka yang menggunung sudah mencapai ketinggian yang mengkhawatirkan lagi,
jadi mereka tinggal dengan enggan di ruang duduk, mencoba mengabaikan jeritanjeritan riang gembira yang berasal dari halaman sekolah di luar, di mana para murid
sedang bersenang-senang meluncur di danau yang membeku, naik kereta luncur dan,
yang terburuk, menyihir bola-bola salju agar meluncur ke Menara Gryffindor dan
mengetuk jendela-jendela keras-keras.
'Oi!' teriak Ron, akhirnya kehilangan kesabaran dan menjulurkan kepalanya keluar
jendela, 'aku seorang prefek dan kalau sartu bola salju lagi mengenai jendela ini -ADUH!'
Dia menarik kepalanya dengan cepat, wajahnya tertutup salju.
'Itu Fred dan George,' katanya dengan sengit, sambil membanting jendela di
belakangnya. 'Brengsek ...'
Hermione kembali dari tempat Hagrid tepat sebelum makan siang, gemetaran
sedikit, jubahnya lembab hingga ke lutut.
'Jadi?' kata Ron sambil melihat ke atas ketika dia masuk. 'Sudah rencanakan semua
pelajarannya bagi dia?'
'Well, aku coba,' katanya dengan hampa sambil merosot ke sebuah kursi di samping
Harry. Dia menarik keluar tongkatnya dan melambaikannya dengan gerakan rumit
sehingga udara panas mengalir dari ujungnya; dia lalu mengarahkan ini ke jubahnya,
yang mulai beruap sementara mengering. 'Dia bahkan tidak ada di sana sewaktu aku
sampai, aku mengetuk pintu setidaknya setengah jam. Dan lalu dia datang terpincangpincang keluar dari Hutan --'
Harry mengerang. Hutan Terlarang penuh dengan jenis makhluk yang paling
mungkin membuat Hagrid dipecat. 'Apa yang dia pelihara di sana? Apakah dia
bilang?' tanyanya.
'Tidak,' kata Hermione dengan sengsara. 'Dia bilang dia mau mereka jadi kejutan.
Kucoba menjelaskan tentang Umbridge, tapi dia tidak bisa mengerti. Dia terus bilang
tak seorangpun yang waras yang lebih memilih mempelajari Knarl daripada Chimera
-- oh, kukira dia tak punya Chimera,' dia menambahkan ketika melihat tampang
terkejut di wajah Harry dan Ron, 'tapi itu bukan karena kurang berusaha, dari yang
dikatakannya tentang betapa sulitnya mendapatkan telur-telur. Aku tak tahu berapa
kali kuberitahu dia dia lebih balik mengikuti rencana Grubbly-Plank, sejujurnya
kukira dia tidak mendengar setengah dari apa yang kukatakan. Dia sedang dalam
suasana hati yang sedikit aneh, kalian tahu. Dia masih tak mau bilang bagaimana dia
mendapatkan semua luka itu.'
Pemunculan kembali Hagrid di meja guru pada makan pagi keesokan harinya tidak
disambut dengan antusiasme dari semua murid. Beberapa, seperti Fred, George dan
Lee, meraung senang dan berlari cepat di gang antara meja-meja Gryffindor dan
Hufflepuff untuk menjabat tangan Hagrid yang besar; yang lain,, seperti Parvati dan
Lavender, saling berpandangan muram dan menggelengkan kepala mereka. Harry
tahu bahwa banyak dari mereka lebih memilih pelajaran-pelajaran Profesor GrubblyPlank, dan yang terburuk adalah bahwa suatu bagian yang sangat kecil dan tidak berat
sebelah dalam dirinya tahu bahwa mereka punya alasan yang bagus: gagasan
Grubbly-Plank tentang kelas yang menarik bukanlah yang memiliki resiko seseorang
mungkin terkoyak kepalanya.
Dengan rasa prihatin tertentu Harry, Ron dan Hermione menuju tempat Hagrid
pada hari Selasa, berpakaian tebal melawan dingin. Harry khawatir, bukan hanya
mengenai apa yang mungkin diputuskan Hagrid untuk diajarkan kepada mereka,
tetapi juga mengenai bagaimana isi kelas yang lainnya, terutama Malfoy dan kronikroninya, akan bertingkah laku kalau Umbridge sedang mengawasi mereka.
Akan tetapi, Penyelidik Tinggi tidak terlihat di manapun selagi mereka berjuang
melalui salju menuju Hagrid, yang berdiri menunggu mereka di tepi Hutan. Dia tidak
menghadirkan pandangan menyakinkan; memar-memar yang berwarna ungu di hari
Sabtu malam itu sekarang dibubuhi warna hijau dan kuning dan beberapa luka
potongnya masih terlihat berdarah. Harry tidak bisa mengerti ini: apakah Hagrid
mungkin telah diserang oleh beberapa makhluk yang bisanya menghalangi luka-luka
yang disebabkannya untuk sembuh? Seakan-akan melengkapi gambaran tak
menyenangkan itu, Hagrid sedang membawa apa yang tampak seperti setengah sapi
mati di atas bahunya.
'Kita bekerja di dalam sini hari ini!' Hagrid berseru dengan gembira kepada muridmurid yang sedang mendekat, sambil menyentakkan kepalanya ke belakang pada
pohon-pohon gelap di belakangnya. 'Sedikit lebih terlindung! Lagipula, mereka lebih
suka gelap.'
'Apa yang lebih suka gelap?' Harry mendengar Malfoy berkata tajam kepada
Crabbe dan Goyle, dengan jejak kepanikan dalam suaranya. 'Apa yang
dibilangnya lebih suka gelap -- apakah kalian dengar?'
Harry ingat satu-satunya kesempatan lain Malfoy pernah memasuki Hutan sebelum
sekarang; dia juga tidak terlalu berani waktu itu. Dia tersenyum kepada dirinya
sendiri, setelah pertandingan Quidditch itu apapun yang menyebabkan Malfoy tidak
nyaman bagus untuk dirinya.
'Siap?' kata Hagrid dengan ceria, sambil memandang berkeliling kepada kelas.
'Baik, well, aku sudah menyimpan perjalanan ke dalam Hutan untuk tahun kelima
kalian. Kupikir kita akan pergi melihat makhluk-makhluk ini dalam habitat alami
mereka. Sekarang, apa yang akan kita pelajari hari ini agak langka, kurasa aku
mungkin satu-satunya orang di Inggris yang berhasil melatih mereka.'
'Dan Anda yakin mereka sudah terlatih, bukan?' kata Malfoy, nada panik dalam
suaranya bahkan semakin nyata. 'Cuma bukan untuk pertama kalinya Anda membawa
benda-benda liar ke kelas, bukan?'
Anak-anak Slytherin bergumam setuju dan beberapa anak Gryffindor tampak
seolah-olah mereka juga menganggap Malfoy cukup adil.
'Tentu mereka terlatih,' kata Hagrid, sambil merengut dan mengangkat sapi mati itu
sedikit lebih tinggi di bahunya.
'Jadi kalau begitu apa yang terjadi dengan muka Anda?' tuntut Malfoy.
'Urusi masalahmu sendiri!' kata Hagrid dengan marah. 'Sekarang, kalau kalian
sudah selesai menanyakan pertanyaan-pertanyaan bodoh, ikuti aku!'
Dia berbalik dan berjalan lurus ke dalam Hutan. Tak seorangpun tampak sangat
inign mengikuti. Harry memandang sekilas kepada Ron dan Hermione, yang
menghela napas tetapi mengangguk, dan mereka bertiga pergi mengikuti Hagrid,
memimpin yang lain.
Mereka berjalan selama sekitar sepuluh menit sampai mereka mencapai suatu
tempat di mana pohon-pohon berdiri begitu dekatnya bersama sehingga tempat itu
segelap malam dan tidak ada salju sama sekali di tanah. Dengan bunyi dengkur,
Hagrid meletakkan setengah sapinya ke atas tanah, melangkah mundur dan
memalingkan wajahnya ke kelas, yang kebanyakan sedang berjalan pelan-pelan dari
pohon ke pohon menuju ke arahnya, sambil mengintip sekeliling dengan gugup
seolah-olah menduga akan diserang setiap saat.
'Berkumpullah, berkumpullah,' Hagrid mendorong. 'Sekarang, mereka akan
tertarikk oleh bau daging tapi bagaimanapun aku akan memanggil mereka, kar'na
mereka akan senang tahu itu aku.'
Dia berpaling, menggoyangkan kepalanya yang berewokan untuk menyingkirkan
rambut dari wajahnya dan mengeluarkan jeritan aneh melengking yang menggema
melalui pohon-pohon gelap seperti seruan burung mengerikan. Tak seorangpun
tertawa: sebagian besar dari mereka tampak terlalu takut untuk mengeluarkan suara.
Hagrid mengeluarkan jeritan melengking lagi. Satu menit berlalu sementara kelas
terus mengintip dengan gugup melewati bahu mereka dan ke sekeliling pohon-pohon
untuk mendapat pandangan pertama atas apapun yang akan datang. Dan kemudian,
sementara Hagrid menggoyangkan rambutnya ke belakang untuk ketiga kalinya dan
mengembangkan dadanya yang besar, Harry menyikut Ron dan menunjuk ke ruang
hitam di antara dua pohon cemara yang bengkok dan kasar.
Sepasang mata kosong, putih bersinar semakin besar melalui kegelapan itu dan
sejenak kemudian wajah seperti naga, leher dan lalu tubuh seperti kerangka dari
seekor kuda besar, hitam, bersayap muncul dari kegelapan. Dia mengamati kelas
selama beberapa detik, mengibaskan ekor hitamnya yang panjang, lalu menundukkan
kepalanya dan mulai mencabik daging dari sapi mati itu dengan taringnya yang
runcing.
Gelombang kelegaan besar melanda Harry. Di sini akhirnya ada bukti bahwa dia
tidak membayangkan makhluk-makhluk ini, bahwa mereka nyata: Hagrid juga tahu
tentang mereka. Dia memandang Ron dengan bersemangat, tetapi Ron masih menatap
berkeliling ke pohon-pohon dan setelah beberapa detik dia berbisik, 'Kenapa Hagrid
tidak memanggil lagi?'
Sisa kelas yang lain kebanyakan mengenakan ekspresi sebingung dan pengharapan
gugup seperti Ron dan masih menatap ke semua tempat kecuali pada kuda yang
sedang berdiri beberapa kaki dari mereka. Hanya ada dua orang lain yang tampaknya
bisa melihat mereka: seorang anak laki-laki Slytherin berambut jigrak yang berdiri
tepat di belakang Goyle sedang mengamati kuda itu makan dengan ekspresi sangat
tidak suka di wajahnya; dan Neville, yang matanya sedang mengikuti kemajuan
kibasan ekor hitam panjang itu.
'Oh, dan ini datang satu lagi!' kata Hagrid dengan bangga, ketika kuda hitam kedua
muncuk dari pohon-pohon gelap, melipat sayap-sayap kasarnya lebih dekat ke
tubuhnya dan membenamkan kepalanya untuk makan daging itu dengan rakus.
'Sekarang ... angkat tangan kalian, siapa yang bisa melihat mereka?'
Sangat senang merasa bahwa dia akhirnya akan mengerti misteri kuda-kuda ini,
Harry mengangkat tangannya. Hagrid mengangguk kepadanya.
'Yeah ... yeah, aku tahu kau akan bisa, Harry,' dia berkata dengan serius. 'Dan kau
juga, Neville, eh? Dan --'
'Permisi,' kata Malfoy dengan suara mengejek, 'tapi apa tepatnya yang seharusnya
sedang kami lihat?'
Sebagai jawaban, Hagrid menunjuk pada bangkai sapi di tanah. Seluruh kelas
menatapnya selama beberapa detik, lalu beberapa orang menarik napas cepat dan
Parvati memekik. Harry paham mengapa: potongan-potongan daging terkoyak dengan
sendirinya dari tulang dan menghilang ke udara pastilah tampak sangat aneh.
'Apa yang sedang melakukan itu?' Parvati menuntut dengan suara ketakutan, sambil
mundur ke belakang pohon terdekat. 'Apa yang sedang memakannya?'
'Thestral,' kata Hagrid dengan bangga dan Hermione mengeluarkan bunyi
pemahaman 'Oh!' kecil di bahu Harry. 'Hogwarts punya kawanan mereka di sini.
Sekarang, siapa yang tahu --?'
'Tapi mereka benar-benar, sangat mendatangkan kesialan!' sela Parvati, tampak
gelisah. 'Mereka katanya akan membawa semua jenis ketidak-beruntungan
mengerikan kepada orang-orang yang melihatnya. Profesor Trelawney
memberitahuku suatu ketika --'
'Tidak, tidak, tidak,' kata Hagrid sambil terkekeh, 'itu cuma takhyul, mereka tidak
membawa sial, mereka sangat pintar dan berguna! Tentu saja, kawanan ini tidak dapat
banyak kerja, terutama cuma menarik kereta-kereta sekolah kecuali Dumbledore akan
lakukan perjalanan jauh dan tak mau ber-Apparate -- dan ini pasangan lain, lihat --'
Dua kuda lagi datang diam-diam keluar dari pepohonan, salah satu dari mereka
lewat sangat dekat denagn Parvati, yang menggigil dan menekankan dirinya lebih
dekat ke pohon, sambil berkata, 'Kukira aku merasakan sesuatu, kukira dia ada di
dekatku!'
'Jangan kuatir, dia tidak akan melukaimu,' kata Hagrid dengan sabar. 'Baik,
sekarang, siapa yang bisa memberitahuku kenapa beberapa dari kalian bisa melihat
mereka dan beberapa tidak?'
Hermione mengangkat tangannya.
'Teruskan, kalau begitu,' kata Hagrid sambil tersenyum kepadanya.
'Satu-satunya orang yang bisa melihat Thestral,' dia berkata, 'adalah orang-orang
yang pernah melihat kematian.'
'Itu tepat sekali,' kata Hagrid dengan serius, 'sepuluh poin untuk Gryffindor.
Sekarang, Thestral --'
'Hem, hem.'
Profesor Umbridge telah tiba. Dia sedang berdiri beberapa kaki jauhnya dari Harry,
mengenakan topi dan mantel hijaunya lagi, papn jepitnya siap siaga. Hagrid, yang
belum pernah mendengar batuk palsu Umbridge sebelumnya, sedang menatap dengan
prihatin ke Thestral terdekat, jelas mendapat kesan bahwa dia yang membuat suara
itu.
'Hem, hem.'
'Oh, halo!' Hagrid berkata sambil tersenyum, setelah menemukan sumber suara itu.
'Anda menerima catatan yang kukirim ke kabin Anda pagi ini?' kata Umbridge,
dengan suara keras, lambat yang sama yang telah digunakannya dengan Hagrid
sebelumnya, seolah-olah dia sedang berbicara kepada seseorang yang berasal dari
negara lain sekaligus sangat lamban. 'Memberitahu Anda saya akan menginspeksi
pelajaran Anda?'
'Oh, yeah,' kata Hagrid dengan cerah. 'Senang kau temukan tempat ini! Well,
seperti yang bisa kaulihat -- atau, aku tak tahu -- bisakah kau? Kami sedang pelajari
Thestral hari ini --'
'Maaf?' kata Profesor Umbridge keras-keras, sambil menangkupkan tangannya ke
sekeliling telinganya dan merengut. 'Apa yang Anda katakan?'
Hagrid tampak sedikit bingung.
'Er -- Thestral!' dia berkata keras-keras. 'Kuda-kuda besar -- er -- bersayap, kau
tahu!'
Dia mengepak-ngepakkan lengan raksasanya penuh harap. Profesor Umbridge
menaikkan alisnya kepadanya dan bergumam sementara dia mencatat ke papan
jepitnya: 'Terpaksa ... harus ... menggunakan ... bahasa ... isyarat ... kasar.'
'Well ... ngomong-ngomong ...' kata Hagrid, sambil berpaling kembali kepada kelas
dan tampak sedikit bingung, 'erm ... apa yang tadi kubilang?'
'Tampaknya ... punya ... ingatan ... jangka ... pendek ... yang ... buruk,' gumam
Umbridge, cukup keras untuk membuat semua orang mendengarnya. Draco Malfoy
tampak seolah-olah Natal datang sebulan lebih awal; Hermione, di sisi lain, telah
berubah menjadi merah akibat kemarahan tertahan.
'Oh, yeah,' kata Hagrid sambil memandang sekilas papan jepit Umbridge, tapi
meneruskan dengan berani. 'Yeah, aku baru akan memberitahu kalian bagaimana kita
punya sekawanan. Yeah, jadi, kita mulai dengan seekor jantan dan lima betina. Yang
satu ini,' dia menepuk-nepuk kuda pertama yang muncul, 'namanya Tenebrus, dia
kesukaanku, yang pertama lahir di sini di Hutan --'
'Apakah Anda sadar,' Umbridge berkata keras-keras, menyelanya, 'bahwa
Kementerian Sihir telah menggolongkan Thestral sebagai "berbahaya"?'
Jantung Harry merosot seperti batu, tapi Hagrid hanya terkekeh.
'Thestral tidak berbahaya! Baiklah, mereka mungkin menggigitmu kalau kau benarbenar mengganggu mereka --'
'Menunjukkan ... tanda-tanda ... kesenangan ... pada ... gagasan ... tentang ...
kekerasan,' gumam Umbridge sambil mencoret-coret di papan jepitnya lagi.
'Tidak -- ayolah!' kata Hagrid, terlihat sedikit cemas sekarang. 'Maksudku, seekor
anjing akan menggigit kalau kau mengumpannya, bukan -- tapi Thestral cuma dapat
reputasi buruk karena masalah kematian itu -- orang-orang dulu berpikir mereka
pertanda buruk, bukan? Cuma tak paham, 'kan?'
Umbridge tidak menjawab, dia selesai menulis catatan terakhirnya, lalu melihat ke
atas kepada Hagrid dan berkata, lagi-lagi dengan sangat keras dan lambat, 'Tolong
lanjutkan mengajar seperti biasa. Saya akan berjalan,' dia menirukan berjalan (Malfoy
dan Pansy Parkinson sedang tertawa diam-diam) 'di antara murid-murid' (dia
menunjuk sekeliling kepada anggota-anggota kelas itu) 'dan menanyakan pertanyaanpertanyaan kepada mereka.' Dia menunjuk mulutnya untuk mengisyaratkan berbicara.
Hagrid menatapnya, jelas sepenuhnya tidak mengerti kenapa Umbridge bertingkah
seolah-olah dia tidak mengerti bahasa Inggris normal. Hermione mempunyai air mata
kemarahan di matanya sekarang.
'Kau nenek sihir, kau nenek sihir jahat!' dia berbisik, selagi Umbridge berjalan
menuju Pansy Parkinson. 'Aku tahu apa yang sedang kau lakukan, kau mengerikan,
sinting, jahat --'
'Erm ... ngomong-ngomong,' kata Hagrid, jelas sedang berjuang untuk
mendapatkan kembali arus pelajarannya, 'jadi -- Thestral. Yeah. Well, ada banyak hal
bagus tentang mereka ...'
'Apakah menurutmu,' kata Profesor Umbridge dengan suara berdering kepada
Pansy Parkinson, 'kau bisa mengerti Profesor Hagrid sewaktu dia berbicara?'
Seperti Hermione, Pansy memiliki air mata di matanya, tetapi ini air mata tawa;
memang, jawabannya hampir tidak bisa dimengerti karena dia sedang berusaha
menahan cekikikan.
'Tidak ... karena ... well ... kedengarannya ... seperti dengkuran hampir sepanjang
waktu.'
Umbridge mencoret-coret ke papan jepitnya lagi. Beberapa bagian kecil wajah
Hagrid yang tidak memar merona, tetapi dia mencoba bertingkah seolah-olah dia
tidak mendengar jawaban Pansy.
'Er ... yeah ... hal-hal bagus tentang Thestral. Well, sekali mereka dijinakkan,
seperti kelompok ini, kau
takkan pernah tersesat lagi. Sangat kenal arah, bilang saja pada mereka ke mana kau
mau pergi --'
'Dengan asumsi mereka bisa mengerti Anda, tentu saja,' kata Malfoy keras-keras,
dan Pansy Parkinson terkikik-kikik lagi. Profesor Umbridge tersenyum ramah kepada
mereka dan lalu berpaling kepada Neville.
'Kamu bisa melihat Thestral, Longbottom, bukan begitu?' dia berkata.
Neville mengangguk.
'Siapa yang kau saksikan meninggal?' dia bertanya, nada suaranya tidak peduli.
'Kakekku,' kata Neville.
'Dan apa pendapatmu tentang mereka?' dia berkata sambil melambaikan tangannya
yang gemuk pendek ke kuda-kuda itu, yang sekarang telah mengoyak banyak dari
bangkai itu hingga tinggal tulang.
'Erm,' kata Neville dengan gugup, dengan pandangan sekilas kepada Hagrid. 'Well,
mereka ... er ... OK ...'
'Murid-murid ... terlalu ... terintimidasi ... untuk ... mengakui ... bahwa ... mereka ...
takut,' gumam Umbridge, sambil mencatat lagi ke papan jepitnya.
'Tidak!' kata Neville, tampak kacau. 'Tidak, aku tidak takut pada mereka!'
'Tidak mengapa,' kata Umbridge sambil menepuk-nepuk bahu Neville dengan apa
yang jelas dimaksudkannya sebagai senyum pengertian, walaupun lebih seperti
senyum mengejek bagi Harry. 'Well, Hagrid,' dia berpaling untuk memandangnya
lagi, berbicara sekali lagi dengan suara keras lambat-lambat itu lagi, 'kukira aku sudah
dapat cukup banyak untuk diteruskan. Anda akan menerima' (dia menirukan
mengambil sesuatu dari udara di depannya) 'hasil dari inspeksi Anda' (dia menunjuk
ke papan jepit itu) 'dalam waktu sepuluh hari.' Dia mengangkat sepuluh jari gemuk
pendek, lalu, dengan senyum semakin lebar dan semakin mirip katak daripada
sebelumnya di bawah topi hijaunya, dia buru-buru pergi dari antara mereka,
meninggalan Malfoy dan Pansy Parkinson tertawa terbahak-bahak, Hermione bahkan
gemetar karena marah dan Neville tampak bingung dan kacau.
'Gargoyle jelek, pembohong, sinting itu!' amuk Hermione setengah jam kemudian,
selagi mereka berjalan kembali ke kastil melalui saluran-saluran yang telah mereka
buat sebelumnya di salju. 'Kalian lihat apa yang direncanakannya? Masalahnya
tentang keturunan-campuran itu lagi -- dia sedang berusaha menjadikan Hagrid
sejenis troll tolol, hanya karena ibunya raksasa -- dan oh, tidak adil, itu sama sekali
bukan pelajaran yang buruk -- maksudku, baiklah, kalau Skrewt Ujung-Meletus lagi,
tapi Thestral bagus -- bahkan, untuk Hagrid, benar-benar bagus!'
'Umbridge bilang mereka berbahaya,' kata Ron.
'Well, seperti yang dibilang Hagrid, mereka bisa menjaga diri mereka sendiri,' kata
Hermione tidak sabaran, 'dan kurasa seorang guru seperti Grubbly-Plank biasanya
tidak akan memperlihatkan kepada kita sebelum tingkat NEWT, tapi, well, mereka
memang menarik, bukan? Bagaimana beberapa orang bisa melihat mereka dan
beberapa tidak bisa! Kuharap aku bisa.'
'Benarkah?' Harry bertanya kepadanya pelan.
Dia tampak tiba-tiba ngeri.
'Oh, Harry -- maafkan aku -- tidak, tentu saja tidak -- itu benar-benar sesuatu yang
bodoh untuk dikatakan.'
'Tidak apa-apa,' dia berkata cepat-cepat, 'jangan kuatir.'
'Aku terkejur begitu banyak orang bisa melihat mereka,' kata Ron. 'Tiga dalam satu
kelas --'
'Yeah, Weasley, kami cuma bertanya-tanya,' kata sebuah suara dengki. Tanpa
terdengar oleh mereka dalam salju yang semakin tebal, Malfoy, Crabbe dan Goyle
sedang berjalan tepat di belakang mereka. 'Apa menurutmu kalau kau melihat
seseorang mati kau akan bisa melihat Quaffle dengan lebih baik?'
Dia, Crabbe dan Goyle tertawa bergemuruh selagi mereka lewat untuk kembali ke
kastil. lalu bernyanyi bersama 'Weasley adalah Raja kami'. Telinga Ron berubah
menjadi merah tua.
'Abaikan mereka, abaikan saja mereka,' kata Hermione, sambil menarik keluar
tongkatnya dan melakukan mantera untuk menghasilkan udara panas lagi, sehingga
dia bisa mencairkan jalan yang lebih mudah melalui salju yang belum tersentuh di
antara mereka dan rumah-rumah kaca.
*
Desember tiba, membawa lebih banyak salju dan tumpukan peer untuk murid-murid
kelas lima. Tugas-tugas prefek Ron dan Hermione juga semakin berat sementara
Natal mendekat. Mereka dipanggil untuk mengawasi pendekorasian kastil ('Kau coba
memasang kertas perak sementara Peeves memegang ujung yang lain dan mencoba
mencekikmu dengan itu,' kata Ron), untuk mengawasi anak-anak kelas satu dan kelas
dua yang menghabiskan masa istirahat mereka di dalam karena dingin yang menusuk
('Dan mereka gombal kecil bermuka tebal, kau tahu, kita jelas tidak sekasar itu
sewaktu kita kelas satu,' kata Ron) dan untuk berpatroli di koridor-koridor dalam
regu-regu bersama Argus Filch, yang curiga bahwa semangat liburan mungkin
memperlihatkan diri dalam berjangkitnya duel penyihir ('Otaknya dari kotoran hewan,
yang satu itu,' kata Ron dengan marah). Mereka begitu sibuk sehingga Hermione
bahkan sudah berhenti merajut topi-topi peri dan cerewet bahwa dia hanya punya tiga
lagi.
'Semua peri malang yang belum kubebaskan, harus tinggal di sini selama Natal
karena tidak cukup topi!'
Harry, yang belum tega memberitahunya bahwa Dobby mengambil semua benda
yang dibuatnya, membungkuk rendah di atas esai Sejarah Sihirnya. Bagaimanapun,
dia tidak mau memikirkan tentang Natal. Untuk pertama kalinya dalam karir
sekolahnya, dia sangat ingin menghabiskan liburan jauh dari Hogwarts. Antara
larangan Quidditchnya dan kekhawatiran apakah Hagrid akan ditempatkan dalam
masa percobaan atau tidak, dia merasa sangat membenci tempat itu pada saat itu.
Satu-satunya hal yang benar-benar ditunggunya adalah pertemuan DA, dan mereka
harus berhenti pada saat liburan, karena hampir semua orang dalam DA akan
menghabiskan waktu dengan keluarga mereka. Hermione akan pergi berski dengan
orang tuanya, sesuatu yang sangat lucu bagi Ron, yang belum pernah mendengar para
Muggle mengikatkan bilah sempit kayu ke kaki mereka untuk meluncur menuruni
pegunungan. Ron akan pulang ke The Burrow. Harry mengalami beberapa hari iri hati
sebelum Ron berkata, sebagai tanggapan atas pertanyaan Harry bagaimana dia akan
pulang ke rumah untuk Natal: 'Tapi kau ikut juga! Bukankah aku sudah bilang? Mum
menulis surat dan menyuruhku mengundangmu berminggu-minggu yang lalu!'
Hermione menggulirkan matanya, tetapi semangat Harry membumbung: pikiran
tentang Natal di The Burrow benar-benar mengagumkan, walaupun sedikit dirusak
oleh perasaan bersalah Harry bahwa dia tidak akan bisa menghabiskan liburan
bersama Sirius. Dia bertanya-tanya apakah dia mungkin bisa membujuk Mrs Weasley
untuk mengundang ayah angkatnya untuk perayaan itu. Walaupun dia ragu apakah
Dumbledore akan memperbolehkan Sirius meninggalkan Grimmauld Place, dia tidak
bisa menahan diri tidak berpikir Mrs Weasley mungkin tidak menginginkannya;
mereka begitu sering bersiteru. Sirius belum menghubungi Harry sama sekali sejak
pemunculannya yang terakhir di api, dan walaupun Harry tahu bahwa dengan
pengawasan Umbridge yang terus-menerus, tidak bijaksana untuk menghubunginya,
dia tidak suka memikirkan Sirius sendirian di rumah tua ibunya, mungkin menarik
petasan tunggal bersama Kreacher.
Harry tiba lebih awal di Ruang Kebutuhan untuk pertemuan DA terakhir sebelum
liburan dan sangat senang dia berbuat begitu, karena ketika obor-obor menyala dia
melihat bahwa Dobby sudah berinisiatif sendiri untuk menghias tempat itu untuk
Natal. Dia bisa tahu peri itu yang melakukannya, karena tak seorangpun yang lain
akan menggantung seratus bola keemasan dari langit-langit, masing-masing
memperlihatkan gambar wajah Harry dan bertuliskan:
'HAVE A VERY HARRY CHRISTMAS!' (Semoga Natalmu sangat Harry!)
Harry baru saja berhasil menurunkan yang terakhir sebelum pintu berderit terbuka
dan Luna Lovegood masuk, tampak melamun seperti biasa.
'Halo,' dia berkata samar, sambil memandang berkeliling pada sisa-sisa dekorasi.
'Ini bagus, apakah kau memasangnya?'
'Tidak,' kata Harry, 'Dobby si peri-rumah.'
'Mistletoe,' kata Luna sambil melamun, menunjuk ke rumpun besar beri putih yang
diletakkan hampir di atas kepala Harry. Dia melompat dari bawahnya. 'Pemikiran
bagus,' kata Luna dengan sangat serius. 'Sering ditinggali oleh Nargle.'
Harry terselamatkan dari keharusan bertanya apa itu Nargle oleh kedatangan
Angelina, Katie dan Alicia. Mereka bertiga semuanya terengah-engah dan terlihat
sangat kedinginan.
'Well,' kata Angelina tanpa minat, sambil menarik lepas mantelnya dan
melemparkannya ke sebuah sudut, 'kami akhirnya sudah menggantikanmu.'
'Menggantikan aku?' kata Harry dengan hampa.
'Kau dan Fred dan George,' dia berkata dengan tidak sabar. 'Kita punya Seeker
lain!'
'Siapa?' tanya Harry cepat.
'Ginny Weasley,' kata Katie.
Harry memandangnya dengan mulut terbuka.
'Yeah, aku tahu,' kata Angelina, sambil menarik keluar tongkatnya dan melenturkan
lengannya, 'tapi dia cukup bagus, sebenarnya. Tidak seperti kamu, tentu saja,' dia
berkata sambil memberinya pandangan tidak senang, 'tapi karena kami tidak bisa
mendapatkan kamu ...'
Harry menahan jawaban pedas yang ingin diutarakannya: apakah Angelina
membayangkan selama sedetik saja bahwa dia tidak menyesali pengeluarannya dari
tim seratus kali lebih banyak daripada dia?
'Dan bagaimana dengan para Beater?' dia bertanya, mencoba menjaga suaranya
datar.
'Andrew Kirke,' kata Alicia tanpa rasa antusias, 'dan Jack Sloper. Tak seorangpun
dari mereka hebat, tapi dibandingkan dengan idiot-idiot lain yang muncul ...'
Kedatangan Ron, Hermione dan Neville menghentikan diskusi menyedihkan ini,
dan dalam waktu lima menit ruangan itu cukup penuh untuk menghalangi Harry
melihat tampang mencela Angelina yang membara.
'OK,' dia berkata, menyuruh mereka semuanya tenang. 'Kukira malam ini kita
seharusnya mengulangi hal-hal yang sudah kita lakukan sejauh ini, karena ini
pertemuan terakhir sebelum liburan dan tak ada gunanya memulai sesuatu yang baru
tepat sebelum masa istirahat tiga minggu --'
'Kita tidak melakukan sesuatu yang baru?' kata Zacharias Smith, dengan bisikan
tidak puas yang cukup keras untuk memenuhi ruangan. 'Kalau aku tahu, aku tidak
akan datang.'
'Kalau begitu, kami semua sangat menyesal Harry tidak memberitahumu,' kata Fred
keras-keras.
Beberapa orang terkikik. Harry melihat Cho tertawa dan merasakan sensasi
menyambar yang sudah dikenalnya di perutnya, seolah-olah dia melewatkan satu anak
tangga ketika menuruni tangga.
'-- kita bisa berlatih berpasangan,' kata Harry. 'Kita akan mulai dengan Mantera
Perintang, selama sepuluh menit, lalu kita bisa mengeluarkan bantal-bantal duduk dan
mencoba Membekukan lagi.'
Mereka semua membagi diri dengan patuh, Harry berpasangan dengan Neville
seperti biasa. Ruangan itu segera penuh dengan teriakan sebentar-sebentar
'Impedimenta!' Orang-orang membeku selama sekitar satu menit, selama itu pasangan
mereka akan menatap tanpa tujuan ke sekeliling ruangan mengamati pasanganpasangan lain yang sedang berlatih, lalu orang-orang itu akan lepas dari mantera dan
ganti berlatih kutukan itu.
Neville sudah semakin baik tanpa bisa terduga. Setelah beberapa waktu, saat Harry
sudah dilepas dari mantera untuk ketiga kalinya berturut-turut, dia menyuruh Neville
bergabung dengan Ron dan Hermione lagi sehingga dia bisa berjalan berkeliling
ruangan dan mengamati yang lainnya. Ketika dia melewati Cho dia tersenyum
kepadanya; Harry menahan godaan untuk berjalan melewatinya beberapa kali lagi.
Setelah sepuluh menit Mantera Perintang, mereka meletakkan bantal-bantal duduk
di lantai dan mulai berlatih Membekukan lagi. Ruang benar-benar terlalu terbatas
untuk memungkinkan mereka semua melakukan mantera ini dalam satu waktu,
setengah bagian dari kelompok itu mengamati yang setengahnya lagi selama beberapa
waktu, lalu bergantian.
Harry merasa dirinya sungguh-sungguh menggelembung karena bangga sementara
dia mengamati mereka semua. Benar, Neville Membekukan Padma Patil bukannya
Dean, yang sedang diincarnya, tetapi itu meleset jauh lebih dekat dari biasanya, dan
semua orang yang lain mengalami kemajuan pesat.
Setelah satu jam, Harry berseru menghentikan.
'Kalian benar-benar semakin baik,' dia berkata sambil tersenyum berkeliling kepada
mereka. 'Saat kita kembali dari liburan kita bisa mulai melakukan beberapa hal besar - mungkin bahkan Patronus.'
Ada gumaman bersemangat. Ruangan itu mulai dikosongkan dalam kelompok duadua dan tiga-tiga yang biasa; kebanyakan orang mengucapkan 'Selamat Natal' kepada
Harry ketika mereka pergi. Merasa riang, dia mengumpulkan bantal-bantal duduk
bersama Ron dan Hermione dan menumpukkannya dengan rapi. Ron dan Hermione
pergi sebelum dia; dia berlama-lama sebentar, karena Cho masih di sana dan dia
berharap mendapatkan ucapan 'Selamat Natal' darinya.
'Tidak, kau pergi dulu,' dia mendengarnya berkata kepada temannya Marietta dan
jantungnya sepertinya melompat ke daerah jakunnya.
Dia berpura-pura sedang meluruskan tumpukan bantal duduk. Dia sangat yakin
mereka sendirian sekarang dan menunggu Cho berbicara. Alih-alih, dia mendengar
dengusan sungguh-sungguh.
Dia berpaling dan melihat Cho sedang berdiri di tengah ruangan, air mata
bercucuran di wajahnya.
'Ap--?'
Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Cho hanya berdiri di sana, menangis
diam-diam.
'Ada apa?' dia berkata dengan lemah.
Cho menggelengkan kepala dan menyeka matanya dengan ujung lengan bajunya.
'Aku -- sori,' katanya dengan serak. 'Kurasa ... hanya saja ... mempelajari hal-hal ini
... cuma membuatku ... bertanya-tanya apakah ... kalau dia tahu semua ini ... dia pasti
masih hidup.'
Jantung Harry merosot lewat tempatnya yang biasa dan diam di suatu tempat di
sekitar pusarnya. Dia seharusnya sudah tahu. Cho mau membicarakan Cedric.
'Dia tahu hal-hal ini,' Harry berkata dengan berat. 'Dia benar-benar hebat, atau dia
tidak akan pernah sampai ke bagian tengah labirin itu. Tapi kalau Voldemort benarbanar ingin membunuhmu, kau tidak akan punya peluang.'
Dia tersedu mendengar nama Voldemort, tetapi menatap Harry tanpa berkedip.
'Kau selamat saat kau masih bayi,' dia berkata pelan.
'Yeah, well,' kata Harry dengan letih, sambil bergerak menuju pintu, 'aku tak tahu
kenapa orang lain juga tidak, jadi itu bukan sesuatu yang patut dibanggakan.'
'Oh, jangan pergi!' kata Cho, terdengar akan menangis lagi. 'Aku benar-benar
menyesal menjadi kacau seperti ini ... aku tidak bermaksud ...'
Dia tersedu lagi. Dia sangat cantik walaupun saat matanya merah dan bengkak.
Harry merasa benar-benar sengsara. Dia akan sangat senang dengan sebuah ucapan
'Selamat Natal' saja.
'Aku tahu pasti mengerikan bagimu,' kata Cho sambil menyeka matanya dengan
ujung lengan bajunya lagi. 'Aku menyebut-nyebut Cedric, padahal kau
menyaksikannya mati ... kurasa kau ingin melupakannya saja?'
Harry tidak mengatakan apa-apa; ini sangat benar, tetapi dia merasa tak
berperasaan kalau mengatakannya.
'Kau seorang guru yang be--benar-benar baik, kau tahu,' kata Cho, dengan senyum
basah. 'Aku belum pernah bisa Membekukan apapun sebelumnya.'
'Trims,' katak Harry dengan canggung.
Mereka saling berpandangan untuk waktu yang lama. Harry merasakan desakan
membara untuk lari dari ruangan itu dan, pada saat yang sama, sama sekali tidak
mampu menggerakkan kakinya.
'Mistletoe,' kata Cho pelan, sambil menunjuk ke langit-langit di atas kepala Harry.
'Yeah,' kata Harry. Mulutnya sangat kering. 'Walaupun mungkin penuh dengan
Nargle.'
'Apa itu Nargle?'
'Tak punya ide,' kata Harry. Cho sudah bergerak mendekat. Otaknya terasa seperti
sudah di-Bekukan. 'Kau harus bertanya pada Loony. Luna, maksudku.'
Cho mengeluarkan suara aneh antara isak dan tawa. Dia bahkan semakin dekat lagi
sekarang. Harry bisa saja menghitung bintik hitam di hidungnya.
'Aku benar-benar suka kamu, Harry.'
Dia tidak bisa berpikir. Sebuah perasaan geli menjalar di tubuhnya, melumpuhkan
lengan, kaki dan otaknya.
Cho jauh terlalu dekat. Dia bisa melihat setiap air mata yang melekat ke bulu
matanya ...
Dia kembali ke ruang duduk setengah jam kemudian mendapati Hermione dan Ron
di tempat duduk terbaik dekat api; hampir semua orang yang lain sudah pergi tidur.
Hermione sedang menulis sepucuk surat yang sangat panjng; dia sudah mengisi
setengah gulungan perkamen, yang bergantung dari tepi meja. Ron sedang berbaring
di permadani, mencoba menyelesaikan pekerjaan rumah Transfigurasinya.
'Apa yang menahanmu?' dia bertanya, selagi Harry terbenam ke kursi berlengan di
samping Hermione.
Harry tidak menjawab. Dia sedang dalam keadaan terguncang. Setengah bagian
dari dirinya ingin memberitahu Ron dan Hermione apa yang baru saja terjadi, tetapi
setengah bagian yang lain ingin membawa rahasia itu dengannya hingga ke liang
kubur.
'Apakah kau baik-baik saja, Harry?' Hermione bertanya, sambil menatapnya dari
atas ujung pena bulunya.
Harry mengangkat bahu dengan setengah hati. Sejujurnya, dia tidak tahu apakah
dia baik-baik saja atau tidak. 'Ada apa?' kata Ron sambil bertumpu pada sikunya
untuk mendapatkan pandangan yang lebih jelas pada Harry. 'Apa yang terjadi?'
Harry tidak begitu tahu bagaimana mulai memberitahu mereka, dan masih belum
yakin apakah dia mau berbuat begitu. Persis ketika dia memutuskan untuk tidak
mengatakan apapun, Hermione mengambil alih masalah itu darinya.
'Apakah Cho?' dia bertanya dengan nada praktis. 'Apakah dia menyudutkanmu
setelah pertemuan?'
Kaku karena terkejut, Harry mengangguk. Ron terkikik-kikik, berhenti ketika
Hermione meliriknya.
'Jadi -- er -- apa yang diinginkannya?' dia bertanya dengan nada biasa yang
mengejek.
'Dia --' Harry mulai, agak serak, dia berdehem dan mencoba lagi. 'Dia -- er --'
'Apakah kalian berciuman?' tanya Hermione cepat.
Ron duduk begitu cepatnya sehingga dia mengakibatkan botol tintanya melayang di
atas permadani. Sama sekali tidak menghiraukan ini, dia menatap Harry lekat-lekat.
'Well?' tuntutnya.
Harry memandang dari ekspresi ingin tahu campur gembira Ron ke wajah
Hermione yang sedikit merengut, dan mengangguk.
'HA!'
Ron membuat gerakan kemenangan dengan kepalan tangannya dan tertawa
terbahak-bahak yang membuat beberapa anak kelas dua yang tampak takut-takut di
samping jendela terlompat. Seringai enggan membentang di wajah Harry sementara
dia mengamati Ron berguling-guling di atas permadani.
Hermione memberi Ron pandangan jijik dan kembali ke suratnya.
'Well?' Ron berkata akhirnya, sambil memandang Harry. 'Bagaimana rasanya?'
Harry mempertimbangkan sejenak.
'Basah,' dia berkata sejujurnya.
Ron mengeluarkan suara yang mungkin menandakan kegirangan atau jijik, sulit
mengetahuinya.
'Karena dia sedang menangis,' Harry meneruskan dengan berat.
'Oh,' kata Ron, senyumnya sedikit memudar. 'Apakah kau seburuk itu dalam
mencium?'
'Tak tahu,' kata Harry, yang belum mempertimbangkan ini, dan segera merasa agak
kuatir. 'Mungkin begitu.'
'Tentu saja tidak,' kata Hermione sambil melamun, masih menulis suratnya dengan
tergesa-gesa.
'Bagaimana kau tahu?' kata Ron dengan sangat tajam.
'Karena Cho menghabiskan setengah dari waktunya menangis akhir-akhir ini,' kata
Hermione tidak jelas. 'Dia melakukannya pada waktu makan, di kamar mandi, di
semua tempat.'
'Kau akan mengira sedikit ciuman akan menghiburnya,' kata Ron sambil
menyeringai.
'Ron,' kata Hermione dengan suara bermartabat, sambil mencelupkan ujung pena
bulunya ke botol tintanya, 'kau adalah kutil paling tidak sensitif yang pernah kutemui.'
'Apa maksudnya itu?' kata Ron dengan marah. 'Orang macam apa yang menangis
ketika seseorang menciumnya?'
'Yeah,' kata Harry, sedikit putus asa, 'siapa yang berbuat begitu?'
Hermione memandang mereka berdua dengan ekspresi hampir mengasihani di
wajahnya.
'Tidakkah kalian mengerti bagaimana perasaan Cho pada saat itu?' dia bertanya.
'Tidak,' kata Harry dan Ron bersamaan.
Hermione menghela napas dan meletakkan pena bulunya.
'Well, terang saja, dia merasa sangat sedih, karena meninggalnya Cedric. Lalu
kurasa dia merasa bingung karena dia dulu suka Cedric dan sekarang dia suka Harry,
dan dia tidak bisa menentukan siapa yang lebih disukainya. Lalu dia akan merasa
bersalah, merasa itu penghinaan bagi ingatan pada Cedric untuk mencium Harry sama
sekali, dan dia akan kuatir tentang apa yang mungkin dikatakan semua orang lainnya
mengenai dia kalau dia mulai keluar dengan Harry. Dan lagipula, dia mungkin tidak
bisa menentukan apa perasaanya kepada Harry, karena dialah yang bersama Cedric
sewaktu Cedric mati, jadi semua itu sangat campur aduk dan menyakitkan. Oh, dan
dia takut dia akan dikeluarkan dari tim Quidditch Ravenclaw karena dia terbang
dengan buruk.'
Keheningan singkat akibat rasa terkejut menyambut akhir pidato ini, lalu Ron
berkata, 'Satu orang tidak bisa merasakan semua itu dalam seketika, mereka akan
meledak.'
'Hanya karena kau punya kisaran emosi yang sebesar sendok teh tidak berarti kami
semua begitu,' kata Hermione dengan kejam sambil memungut pena buluny lagi.
'Dia yang mulai,' kata Harry. 'Aku tidak akan -- dia sepertinya datang begitu saja
kepadaku -- dan berikutnya dia menangis terus -- aku tidak tahu apa yang harus
dilakukan --'
'Tak salahkan kau, sobat,' kata Ron, terlihat gelisah memikirkan itu.
'Kau hanya perlu bersikap baik kepadanya,' kata Hermione, sambil melihat ke atas
dengan cemas. 'Memang begitu, bukan?'
'Well,' kata Harry, rasa panas yang tidak menyenangkan menjalar di wajahnya, 'aku
sepertinya -- menepuk pundaknya sedikit.'
Hermione terlihat seolah-olah dia sedang mengalami kesulitan besar menahan diri
untuk tidak menggulirkan bola matanya.
'Well, kurasa bisa lebih buruk,' katanya. 'Apakah kamu akan menemui dia lagi?'
'Aku harus, bukan?' kata Harry. 'Kita punya pertemuan DA, bukan begitu?'
'Kau tahu apa yang kumaksud,' Hermione berkata dengan tidak sabaran.
Harry tidak berkata apa-apa. Kata-kata Hermione membuka suatu pandangan baru
yang berisikan kemungkinan-kemungkinan menakutkan. Dia mencoba
membayangkan pergi ke suatu tempat bersama Cho -- Hogsmeade, mungkin -- dan
sendirian dengannya selama berjam-jam untuk suatu waktu. Tentu saja, Cho akan
berharap dia mengajaknya keluar setelah apa yang baru saja terjadi ... pikiran itu
membuat perutnya terbelit sakit.
'Oh well,' kata Hermione kaku, terbenam dalam suratnya sekali lagi, 'kau akan
punya banyak kesempatan untuk mengajaknya.'
'Bagaimana kalau dia tidak mau mengajaknya?' kata Ron, yang telah mengamati
Harry dengan ekspresi cerdik yang tidak biasa di wajahnya.
'Jangan bodoh,' kata Hermione tidak jelas, 'Harry sudah suka dia sejak lama sekali,
bukan begitu, Harry?'
Dia tidak menjawab. Ya, dia sudah suka Cho semenjak lama sekali, tetapi
kapanpun dia membayangkan adegan yang melibatkan mereka berdua selalu
menampilkan Cho yang sedang bersenang-senang, bukannya Cho yang sedang terisak
tidak terkendali ke bahunya.
'Ngomong-ngomong, kepada siapa kau menulis novel itu?' Ron bertanya kepada
Hermione, sambil mencoba membaca sebagian kecil perkamen yang sekarang sedang
menjuntai ke lantai. Hermione menyentaknya naik keluar dari pandangan.
'Viktor.'
'Krum?'
'Berapa banyak Viktor lain yang kita kenal?'
Ron tidak berkata apa-apa, tetapi tampak tidak puas. Mereka duduk dalam
keheningan selama dua puluh menit lagi, Ron sedang menyelesaikan esai
Transfigurasinya dengan banyak dengusan tidak sabar dan coretan-coretan, Hermione
sedang menulis terus-menerus hingga bagian paling ujung perkamennya,
menggulungnya dan menyegelnya, dan Harry sedang menatap ke api, berharap lebih
dari apapun bahwa kepala Sirius akan muncul di sana dan memberinya beberapa
nasehat tentang gadis-gadis. Tetapi api itu hanya berderak semakin rendah, sampai
bara api merah panas hancur menjadi abu dan, ketika memandang sekitarnya, Harry
melihat bahwa mereka, lagi-lagi, adalah yang terakhir di ruang duduk.
'Well, malam,' kata Hermione, sambil menguap lebar sementara dia pergi menaiki
tangga anak perempuan.
'Apa yang dilihatnya pada Krum?' Ron menuntut, selagi dia dan Harry menaiki
tangga anak laki-laki.
'Well,' kata Harry, sambil mempertimbangkan masalah itu. 'Kurasa dia lebih tua,
bukan ... dan dia seorang pemain Quidditch internasional ...'
'Yeah, tapi selain itu,' kata Ron, terdengar jengkel. 'Maksudku, dia seorang
penggerutu, bukan?'
'Sedikit penggerutu, yeah,' kata Harry, yang pikirannya masih mengenai Cho.
Mereka menarik lepas jubah mereka dan mengenakan piyama dalam keheningan;
Dean, Seamus dan Neville sudah tidur. Harry meletakkan kacamatanya ke meja sisi
tempat tidurnya dan naik ke tempat tidur tetapi tidak menarik kelambu menutup
mengelilingi tiang-tiang tempat tidurnya; alih-alih, dia menatap petak langit
berbintang yang tampak melalui jendela di samping tempat tidur Neville. Kalau dia
tahu, pada saat ini kemarin malam, bahwa dalam waktu dua puluh empat jam dia akan
mencium Cho Chang ...
'Malam,' dengkur Ron, dari suatu tempat di samping kanannya.
'Malam,' kata Harry.
Mungkin kali berikutnya ... kalau ada kali berikutnya .... Cho akan sedikit lebih
gembira. Dia seharusnya mengajaknya keluar; Cho mungkin telah mengharapkannya
dan sekarang benar-benar marah kepadanya ... atau apakah dia sedang berbaring di
ranjang, masih menangisi Cedric? Dia tidak tahu harus berpikir apa. Penjelasan
Hermione membuat semuanya tampak lebih rumit bukannya lebih mudah dimengerti.
Itulah yang seharusnya mereka ajarkan kepada kami di sini, pikirnya, sambil
berbalik ke samping, bagaimana cara kerja otak anak perempuan ... lagipula akan
lebih berguna daripada Ramalan ...
Neville mendengus dalam tidurnya. Seekor burung hantu beruhu di suatu tempat di
luar pandangan.
Harry bermimpi dia kembali berada di ruangan DA. Cho sedang menuduhnya
memikat dia ke sana dengan alasan-alasan palsu; katanya dia menjanjikannya seratus
lima puluh Kartu Cokelat Kodok kalau dia muncul. Harry protes ... Cho berteriak,
'Cedric memberiku banyak Kartu Cokelat Kodok, lihat!' Dan dia menarik keluar
segenggam penuh Kartu dari bagian dalam jubahnya dan melemparkannya ke udara.
Lalu dia berubah menjadi Hermione, yang berkata, 'Kamu memang berjanji
kepadanya, kau tahu, Harry ... kukira sebaiknya kamu memberinya sesuatu yang lain
sebagai pengganti ... bagaimana kalau Fireboltmu?' Dan Harry protes bahwa dia tidak
bisa memberi Cho Fireboltnya, karena Umbridge menahannya, dan lagipula semua
hal itu menggelikan, dia cuma datang ke ruangan DA untuk memasang beberapa bola
hiasan Natal yang berbentuk seperti kepala Dobby ...
Lalu mimpi itu berubah ...
Tubuhnya terasa licin, bertenaga dan luwes. Dia sedang meluncur di antara batangbatang logam mengkilat, menyeberangi batu yang dingin dan gelap ... dia rata dengan
lantai, meluncur pada perutnya ... tempat itu gelap, tetapi dia bisa melihat bendabenda di sekitarnya berkilauan dalam warna-warna aneh dan bergetar ... dia
memalingkan kepalanya ... pada pandangan pertama koridor itu kosong ... tetapi tidak
... seorang lelaki sedang duduk di lantai di depan, dagunya turun ke dadanya, garis
bentuk tubuhnya bersinar dalam gelap ...
Harry menjulurkan lidahnya ... dia merasakan bau lelaki itu di udara ... dia hidup
tetapi mengantuk ... duduk di depan sebuah pintu di ujung koridor itu ...
Harry ingin menggigit lelaki itu ... tapi dia harus menguasai dorongan itu ... dia
punya pekerjaan yang lebih penting untuk dilakukan ...
Tetapi lelaki itu bergerak ... sebuah Jubah perak jatuh dari kakinya ketika dia
melompat bangkit; dan Harry melihat garis bentuk tubuhnya yang bergerak-gerak dan
kabur menjulang tinggi di atasnya, melihat sebuah tongkat ditarik dari sebuah ikat
pinggang ... dia tidak punya pilihan ... dia menaikkan tubuh dari lantai dan menyerang
sekali, dua kali, tiga kali, menghujamkan taring-taringnya dalam-dalam ke daging
lelaki itu, merasakan tulang iganya remuk di bawah rahangnya, merasakan semburan
darah yang hangat ...
Lelaki itu sedang berteriak kesakitan ... lalu dia terdiam ... dia merosot ke belakang
pada dinding ... darah memercik ke lantai ...
Keningnya sakit sekali ... sakit seperti akan meledak ...
'Harry! HARRY!'
Dia membuka matanya. Setiap inci tubuhnya tertutup keringat sedingin es;
sepreinya terpelintir di sekelilingnya seperti jaket pengikat, dia merasa seolah-olah
besi pengorek api yang panas sekali sedang dilekatkan ke keningnya.
'Harry!'
Ron sedang berdiri di atasnya terlihat benar-benar ketakutan. Ada lebih banyak
figur di kaki ranjang Harry. Dia mencengkeram kepalanya dengan tangan; rasa sakit
itu membutakannya ... dia bergulung ke kanan dan muntah ke tepi kasur.
'Dia benar-benar sakit,' kata sebuah suara takut. 'Apakah kita harus memanggil
seseorang?'
'Harry! Harry!'
Dia harus memberitahu Ron, sangat penting bahwa dia memberitahunya ... sambil
menghirup udara banyak-banyak, Harry mendorong dirinya sendiri bangkit di tempat
tidur, memaksa dirinya tidak muntah lagi, rasa sakit itu setengah membutakannya.
'Ayahmu,' dia terengah-engah, dadanya turun-naik. 'Ayahmu ... diserang ...'
'Apa?' kata Ron tidak mengerti.
'Ayahmu! Dia digigit, serius, ada darah di mana-mana ...'
'Aku akan mencari bantuan,' kata suara takut yang sama, dan Harry mendengar
langkah-langkah kaki keluar dari kamar asrama.
'Harry, sobat,' kata Ron tidak yakin, 'kau ... kau cuma bermimpi ...'
'Tidak!' kata Harry dengan marah; penting bahwa Ron mengerti.
'Itu bukan mimpi ... bukan mimpi biasa ... aku ada di sana, aku melihatnya ... aku
melakukannya ...'
Dia bisa mendengar Seamus dan Dean bergumam tetapi tidak peduli. Rasa sakit di
keningnya agak berkurang, walaupun dia masih berkeringat dan gemetaran hebat. Dia
muntah lagi dan Ron melompat mundur menjauh.
'Harry, kau tidak sehat,' katanya bergetar. 'Neville sudah pergi mencari bantuan.'
'Aku baik-baik saja!' Harry tersedak, menyeka mulutnya pada piyamanya dan
gemetaran tak terkendali. 'Tak ada yang salah denganku, ayahmu yang harus kau
khawatirkan -- kita perlu mencari tahu di mana dia -- dia berdarah hebat -- aku -- itu
seekor ular besar.'
Dia mencoba keluar dari tempat tidur tetapi Ron mendorongnya kembali; Dean dan
Seamus masih berbisik-bisik di suatu tempat di dekat situ. Apakah satu menit berlalu
atau sepuluh menit, Harry tidak tahu; dia hanya duduk di sana gemetaran, merasakan
sakit yang pelan-pelan surut dari bekas lukanya ... lalu ada langkah-langkah kaki
bergegas menaiki tangga dan dia mendengar suara Neville lagi.
'Sebelah sini, Profesor.'
Profesor McGonagall datang dengan bergegas ke dalam kamar asrama itu
mengenakan jubah panjang kotak-kotaknya, kacamatanya bertengger miring di batang
hidung kurusnya.
'Ada apa, Potter? Di mana yang sakit?'
Dia belum pernah begitu senang berjumpa dengannya; yang dia butuhkan sekarang
adalah seorang anggota Order of Phoenix, bukan seseorang yang mencerewetinya dan
meresepkan ramuan-ramuan tak berguna.
'Ayah Ron,' katanya sambil duduk lagi. 'Dia diserang seekor ular dan masalahnya
serius, aku melihatnya terjadi.'
'Apa maksudmu, kau melihatnya terjadi?' kata Profesor McGonagall, alisnya yang
gelap bertaut.
'Aku tidak tahu ... aku sedang tidur dan kemudian aku ada di sana ...'
'Maksudmu kau memimpikan ini?'
'Tidak!' kata Harry dengan marah; tak adakah dari mereka yang akan mengerti?
'Awalnya aku sedang bermimpi tentang sesuatu yang benar-benar berbeda, sesuatu
yang bodoh ... dan lalu ini memotongnya. Itu nyata, aku tidak membayangkannya. Mr
Weasley sedang tertidur di atas lantai dan dia diserang oleh seekor ular raksasa, ada
banyak darah, dia jatuh, seseorang harus mencari tahu di mana dia ...'
Profesor McGonagall sedang menatapnya melalui kacamatanya yang miring
seolah-olah ngeri akan apa yang sedang dilihatnya.
'Aku tidak sedang berbohong dan aku tidak gila!' Harry memberitahunya, suaranya
meninggi menjadi teriakan. 'Kuberitahu Anda, aku melihatnya terjadi!'
'Aku percaya padamu, Potter,' kata Profesor McGonagall pendek. 'Kenakan jubah
panjangmu -- kita akan menemui Kepala Sekolah.'
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DUA PULUH DUA --
Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka Sihir
Harry sangat lega dia menanggapinya dengan serius sehingga dia tidak ragu-ragu,
tetapi langsung melompat dari tempat tidur, menarik jubah longgarnya dan
menekankan kacamatanya kembali ke hidungnya.
'Weasley, kamu harus ikut juga,' kata Profesor McGonagall.
Mereka mengikuti Profesor McGonagall melewati figur-figur diam dari Neville,
Dean dan Seamus, keluar asrama, menuruni tangga-tangga spiral ke dalam ruang
duduk, melalui lubang potret dan menyusuri koridor Nyonya Gemuk yang diterangi
bulan. Harry merasa seakan-akan kepanikan di dalam dirinya dapat meluap setiap
waktu; dia ingin berlari, berteriak kepada Dumbledore; Mr Weasley sedang
mengalami pendarahan sementara mereka berjalan dengan tenangnya, dan bagaimana
jika taring-taring itu (Harry mencoba keras untuk tidak berpikir 'taring-taringku')
beracun? Mereka melewati Mrs Norris, yang mengalihkan matanya yang seperti
lampu ke arah mereka dan mendesis pelan, tetapi Profesor McGonagall berkata,
'Shoo!' Mrs Norris menyelinap pergi ke dalam bayangan, dan dalam beberapa menit
mereka telah mencapai gargoyle batu yang menjaga pintu masuk ke kantor
Dumbledore.
'Kumbang Berdesing,' kata Profesor McGonagall.
Gargoyle itu menjadi hidup dan melompat ke samping; dinding di belakangnya
terbelah menjadi dua dan menyingkapkan tangga spiral yang terus berputar ke atas
seperti sebuah eskalator spiral. Ketiganya melangkah ke atas tangga bergerak; dinding
menutup di belakang mereka dengan suara gedebuk dan mereka bergerak ke atas
dalam lingkaran rapat sampai mereka mencapai dinding kayu ek yang terpelitur halus
dengan pengetuk kuningan yang berbentuk seekor griffin.
Walaupun sudah lewat tengah malam ada suara-suara yang datang dari dalam
ruangan, sejumlah banyak celotehan. Kedengarannya seakan-akan Dumbledore
sedang menjamu sedikitnya selusin orang.
Profesor McGonagall mengetuk tiga kali dengan pengetuk griffin itu dan suarasuara mendadak berhenti seakan-akan seseorang telah mematikan saklarnya. Pintu
terbuka sendiri dan Profesor McGonagall menuntun Harry dan Ron ke dalam.
Ruangan itu setengah gelap; instrumen-instrumen perak aneh yang terletak di atas
meja-meja diam dan tidak bergerak bukannya bergolak dan mengeluarkan embusan
asap seperti yang biasa mereka lakukan; potret-potret para kepala sekolah terdahulu
yang menutupi dinding-dinding sedang mendengkur dalam bingkai mereka. Di balik
pintu, seekor butung berwarna merah dan emas seukuran angsa tertidur pada tempat
bertenggernya dengan kepala di bawah sayap.
'Oh, ternyata Anda, Profesor McGonagall ... dan ... ah.'
Dumbledore sedang duduk di atas sebuah kursi bersandaran tinggi di belakang
meja tulisnya; dia mencondongkan badannya ke depan ke dalam cahaya lilin yang
menerangi kertas-kertas yang terbentang di hadapannya. Dia mengenakan jubah
longgar berwarna ungu dan emas yang penuh bordiran di atas baju tidur seputih salju,
tetapi kelihatan belum mengantuk, mata biru cerahnya yang tajam menatap Profesor
McGonagall.
'Profesor Dumbledore, Potter mengalami, ... well, mimpi buruk,' kata Profesor
McGonagall. 'Katanya ...'
'Itu bukan mimpi buruk,' kata Harry cepat.
Profesor McGonagall berpaling menatapnya, sedikit merengut.
'Baiklah, Potter, ceritakan kepada Kepala Sekolah mengenainya.'
'Aku ... well, aku sedang tidur ...' kata Harry dan, bahkan dalam ketakutan dan
keputus-asaannya untuk membuat Dumbledore mengerti, dia merasa sedikit dongkol
bahwa Kepala Sekolah tidak melihat kepadanya, tetapi memeriksa jari-jarinya yang
dikaitkan. 'Tapi itu bukan mimpi biasa ... itu benar-benar terjadi ... aku lihat
kejadiannya ...' Dia mengambil napas dalam-dalam, 'Ayah Ron -- Mr Weasley -- telah
diserang oleh ular raksasa.'
Kata-kata itu sepertinya bergaung di udara setelah dikatakan, kedengaran sedikit
konyol, bahkan lucu. Ada jeda di mana Dumbledore menyandar ke belakang dan
menatap langit-langit sambil merenung. Ron melihat dari Harry ke Dumbledore,
wajahnya putih dan kelihatan terguncang.
'Bagaimana kamu melihat hal ini?' Dumbledore bertanya dengan pelan, masih tidak
melihat ke arah Harry.
'Well ... Aku tidak tahu,' kata Harry, agak marah -- apa pentingnya itu? 'Di dalam
kepalaku, kurasa --'
'Kamu salah mengerti,' kata Dumbledore, masih dalam nada tenang yang sama.
'Maksudku ... dapatkah kau ingat -- er -- di maan posisimu selagi kamu menyaksikan
serangan ini terjadi? Apakah kamu mungkin berdiri di samping korban, atau melihat
ke bawah pada adegan itu dari atas?'
Ini adalah pertanyaan yang sangat aneh sehingga Harry terkesiap pada
Dumbledore; hampir seakan-akan dia tahu ...
'Akulah ularnya,' dia berkata. 'Aku melihat semuanya dari sudut pandang si ular.'
Tidak ada yang berbicara selama beberapa saat, lalu Dumbledore, sekarang melihat
kepada Ron yang masih berwajah pucat, bertanya dalam suara yang lebih tajam,
'Apakah Arthur terluka parah?'
'Ya,' kata Harry dengan sungguh-sungguh -- mengapa mereka semua sangat lambat
mengerti, apakah mereka tidak sadar berapa banyak darah yang mengucur jika taringtaring sepanjang itu menusuk tubuh mereka? Dan mengapa Dumbledore tidak
menunjukkan sopan-santun dengan melihat ke arahnya?
Tetapi Dumbledore berdiri, demikian cepatnya sampai Harry terlompat, dan
berbicara kepada salah satu potret tua yang tergantung sangat dekat ke langit-langit.
'Everard?' dia berkata dengan tajam. 'Dan kamu juga, Dilys!'
Seorang penyihir pria berwajah pucat dengan poni hitam pendek dan seorang
penyihir wanita tua dengan ikat-ikal panjang keperakan dalam bingkai di sampingnya,
keduanya tampak sedang tertidur lelap, membuka mata mereka dengan segera.
'Kalian mendengarkan?' kata Dumbledore.
Si penyihir pria mengangguk; yang wanita berkata, 'Tentu saja.'
'Lelaki itu berambut merah dan berkacamata,' kata Dumbledore. 'Everard, kamu
harus menyalakan tanda bahaya, pastikan dia ditemukan oleh orang-orang yang tepat -'
Keduanya mengangguk dan berpindah ke samping keluar dari bingkai mereka,
tetapi bukannya muncul di lukiasn-lukisan tetangganya (seperti yang biasa terjadi di
Hogwarts) tidak satupun muncul kembali. Salah satu bingkai sekarang tidak bingkai
apapun kecuali gorden gelap di latar belakang, bingkai yang satunya lagi sebuah kursi
berlengan yang indah. Harry memperhatikan bahwa banyak dari kepala sekolah
lainnya di dinding, walaupun mendengkur dan meneteskan liur dengan sangat
meyakinkan, terus mengintip ke arahnya dari bawah kelopak mata mereka, dan dia
tiba-tiba mengerti siapa yang sedang berbicara ketika mereka mengetuk pintu.
'Everard dan Dilys adalah dua di antara Kepala Hogwarts yang paling ternama,'
Dumbledore berkata, sekarang berjalan mengitari Harry, Ron dan Profesor
McGonagall untuk mendekati burung indah yang sedang tidur di tempat
bertenggernya di samping pintu. 'Kemashyuran mereka sedemikian rupa sehingga
keduanya memiliki potret yang bergantung di institusi-institusi sihir penting lainnya.
Karena mereka bebas berpindah antar potret mereka sendiri, mereka dapat
memberitahu kita apa yang mungkin terjadi di tempat lain ...'
'Tetapi Mr Weasley dapat berada di mana saja!' kata Harry.
'Silahkan duduk, kalian bertiga,' kata Dumbledore, seakan-akan Harry tidak
berbicara sama sekali, 'Everard dan Dilys mungkin tidak akan kembali dalam
beberapa menit. Profesor McGonagall, jika Anda bersedia mendatangkan kursi-kursi
tambahan.'
Profesor McGonagall menarik tongkatnya keluar dari jubah longgarnya dan
melambaikannya; tiga kursi muncul di udara, dengan sandaran tegak dan terbuat dari
kayu, sama sekali lain dengan kursi berlengan nyaman dengan kain cita yang disihir
Dumbledore di acara dengar pendapat Harry. Harry duduk, memandangi Dumbledore
dari balik bahunya. Dumbledore sekarang sedang mengelus kepala Fawkes yang
berbulu halus keemasan dengan satu jari. Burung phoenix itu terbangun dengan
segera. Dia merentangkan kepalanya yang indah tinggi-tinggi dan memandangi
Dumbledore melalui mata gelap yang cemerlang.
'Kami akan butuh,' Dumbledore berkata sangat pelan kepada burung itu, 'sebuah
peringatan.'
Ada kilasan api dan burung phoenix itu pergi.
Dumbledore sekarang berjalan ke salah satu instrumen perak yang mudh pecah
yang kegunaannya belum pernah diketahui Harry, membawanya ke meja tulisnya,
duduk menghadap mereka lagi dan mengetuknya dengan pelan menggunakan ujung
tongkatnya.
Instrumen itu seketika menjadi hidup dengan bunyi denting yang berirama.
Gumpalan kekil asap hijau muncul dari tabung perak yang amat kecil di puncaknya.
Dumbledore memperhatikan asap itu dengan seksama, alisnya mengerut. Setelah
beberapa detik, gumpalan-gumpalan kecil tersebut menjadi aliran asap yang kuat yang
menebal dan bergelung di udara ... kepala seekor ular tumbuh di ujungnya, membuka
mulut lebar-lebar. Harry mengira-ngira apakan instrumen tersebut membenarkan
ceritanya: dia melihat dengan tidak sabar kepada Dumbledore untuk mencari tandatanda bahwa dirinya benar, tetapi Dumbledore tidak melihat ke atas.
'Tentu saja, tentu saja,' gumam Dumbledore tampaknya kepada diri sendiri, masih
memandangi aliran asap tanpa tanda-tanda keterkejutan sama sekali. 'Tetapi
intisarinya terbagi?'
Harry sama sekali tidak mengerti arti pertanyaan itu. Akan tetapi, ular berasap itu
membelah diri seketika menjadi dua ekor ular, keduanya bergelung dan bergoyang
seperti ombak di udara yang gelap. Dengan pandangan puas yang suram, Dumbledore
mengetuk instrumen itu sekali lagi dengan tongkatnya: bunyi denting semakin pelan
dan menghilang dan ular berasap memudar, menjadi kabut yang tidak berbentuk dan
menghilang.
Dumbledore mengembalikan instrumen tersebut ke atas meja kecil berkaki
panjangnya. Harry melihat banyak dari kepala sekolah lama dalam potret-potret
mereka mengikuti dia dengan mata mereka, lalu, menyadari bahwa Harry sedang
mengamati mereka, cepat-cepat berpura-pura tidut lagi. Harry ingin bertanya apa
kegunaan instrumen perak aneh itu, tetapi sebelum dia dapat melakukannya, ada
teriakan dari bagian atas dinding di sebelah kanan mereka; penyihir yang disebut
Everard telah muncul kembali ke dalam potretnya, sedikit terengah-engah.
'Dumbledore!'
'Ada berita apa?' kata Dumbledore segera.
'Aku berteriak sampai seseorang datang sambil berlari,' kata si penyihir, yang
sedang mengelap alisnya pada tirai di belakangnya, 'berkata kudengar sesuatu
bergerak di lantai bawah -- mereka tidak yakin apakah harus percaya padaku tetapi
turun juga untuk mengecek -- kamu 'kan tahu tidak ada potret di bawah sana untuk
menyaksikannya. Namun demikian, mereka membawanya ke atas beberapa menit
kemudian. Dia tidak tampak baik, dia penuh darah, aku berlari ke potret Elfrida Cragg
untuk mendapatkan pandangan yang utuh sewaktu mereka pergi --'
'Bagus,' kata Dumbledore sementara Ron membuat gerakan menggelepar. 'Kurasa
Dilys pasti telah melihatnya tiba, lalu --'
Dan sejenak kemudian, penyihir wanita berikal keperakan itu juga telah muncul
kembali ke dalam lukisannya, dia terhenyak, batuk-batuk, ke dalam kursi
berlengannya dan berkata, 'Ya, mereka telah membawanya ke St Mungo, Dumbledore
... mereka membawanya melewati potretku ... dia tampak parah ...'
'Terima kasih,' kata Dumbledore. Dia memandang ke sekitar ke arah Profesor
McGonagall.
'Minerva, aku perlu kamu pergi dan membangunkan anak-anak Weasley yang lain.'
'Tentu saja ...'
Profesor McGonagall bangkit dan bergerak cepat menuju pintu. Harry
melayangkan pandangan ke samping kepada Ron, yang terlihat ketakutan.
'Dan Dumbledore -- bagaimana dengan Molly?' kata Profesor McGonagall,
berhenti sejenak di pintu.
'Itu adalah tugas Fawkes ketika dia selesai berjaga-jaga terhadap siapapun yang
mendekat,' kata Dumbledore. 'Tetapi dia mungkin sudah tahu ... jamnya yang ulung
itu ...'
Harry tahu Dumbledore sedang membicarakan jam yang memberitahu, bukan
waktu, tetapi keberadaan dan kondisi berbagai anggota keluarga Weasley, dan dengan
kepedihan tiba-tiba dia berpikir bahwa jarum Mr Weasley pastilah, bahkan sekarang,
menunjuk ke bahaya maut. Tetapi hari sudah sangat malam. Mrs Weasley mungkin
sudah tertidur, tidak memperhatikan jam itu. Harry merasa dingin sewaktu dia
mengingat Boggart Mrs Weasley yang berubah menjadi tubuh tidak bernyawa Mr
Weasley, kacamatanya miring, darah bercucuran di wajahnya ... tetapi Mr Weasley
tidak akan mati ... dia tidak mungkin ...
Dumbledore sekarang menggeledah sebuah lemari di belakang Harry dan Ron. Dia
keluar dari lemari itu sambil membawa sebuah ketel tua yang telah menghitam, yang
diletakkannya dengan hati-hati dia atas meja tulisnya. Dia menaikkan tongkatnya dan
bergumam, 'Portus!' Sejenak ketel itu bergetar, mengeluarkan cahaya biru yang aneh;
lalu bergetar diam, masih sehitam dulu.
Dumbledore berjalan ke potret lainnya, kali ini seorang peyihir pria berwajah
cerdas dengan janggut runcing, yang telah dilukis mengenakan warna-warna Slytherin
hijau dan perak dan tampaknya sedang tertidur begitu lelapnya sehingga dia tidak bisa
mendengar suara Dumbledore sewaktu mencoba membangunkannya.
'Phineas. Phineas.'
Subyek potret-potret yang berbaris di ruangan itu tidak lagi berpura-pura tidur;
mereka bergeser-geser dalam bingkai mereka, supaya melihat apa yang sedang terjadi
dengan baik. Ketika penyihir berwajah cerdas itu terus berpura-pura tertidur, beberapa
dari mereka meneriakkan namanya juga.
'Phineas! Phineas! PHINEAS!'
Dia tidak bisa berpura-pura lebih lama lagi; dia memberi sentakan yang dibuat-buat
dan membuka matanya lebar-lebar.
'Apakah ada yang memanggil?'
'Aku perlu kamu mengunjungi potretmu yang satu lagi, Phineas,' kata Dumbledore.
'Aku punya pesan lain.'
'Mengunjungi potretku yang lain?' kata Phineas dengan suara nyaring,
mengeluarkan kuap panjang yang palsu (matanya jelalatan ke seluruh ruangan dan
berfokus pada Harry). 'Oh, tidak, Dumbledore, aku terlalu lelah malam ini.'
Sesuatu mengenai suara Phineas terasa akrab bagi Harry, di mana pernah
didengarnya? Tetapi sebelum dia sempat berpikir, potret-potret pada dinding-dinding
yang mengelilingi mengeluarkan serangan protes.
'Ketidakpatuhan, sir!' raung seorang penyihir gemuk berhidung merah, sambil
memamerkan kepalan tangannya. 'Kelalaian melakukan tugas!'
'Kita terikat kehormatan untuk memberi jasa kepada Kepala Sekolah Hogwarts
yang sekarang!' teriak seorang penyihir tua yang tampak rapuh yang dikenali Harry
sebagai pendahulu Dumbledore, Armando Dippet. 'Seharusnya kamu malu, Phineas!'
'Haruskah aku membujuknya, Dumbledore?' panggil seorang penyihir wanita
bermata jelalatan, mengangkat sebuah tongkat yang ketebalannya tidak biasa yang
mirip cambuk dari kayu birch.
'Oh, baiklah,' kata penyihir yang dipanggil Phineas, menatap tongkat itu dengan
pengertian, 'walaupun dia mungkin telah menghancurkan lukisanku sekarang, dia
telah membuang sebagian besar anggota keluarga --'
'Sirius tahu betul untuk tidak menghancurkan potretmu,' kata Dumbledore, dan
Harry segera menyadari di mana dia telah mendengar suara Phineas sebelumnya:
muncul dari bingkai yang tampak kosong di dalam kamar tidurnya di Grimmauld
Place. 'Kamu harus memberi pesan bahwa Arthur Weasley telah terluka parah dan
bahwa istri, anak-anaknya dan Harry Potter akan segera tiba di rumahnya. Mengerti?'
'Arthur Weasley, terluka, istri dan anak-anak dan Harry Potter akan menginap,'
ulang Phineas dengan suara bosan. 'Ya, ya ... baiklah ...'
Dia menukik ke bingkai potret dan menghilang dari pandangan pada saat yang
sama dengan terbukanya kembali pintu ruang kerja tersebut. Fred, George dan Ginny
diantarkan ke dalam oleh Profesor McGonagall, ketiganya tampak acak-acakan dan
terguncang, masih dalam pakaian tidur mereka.
'Harry -- apa yang terjadi?' tanya Ginny, yang terlihat ketakutan. 'Profesor
McGonagall bilang kamu melilhat Dad terluka --'
'Ayah kalian telah terluka selama dia bekerja bagi Order of the Phoenix,' kata
Dumbledore, sebelum Harry dapat berbicara. 'Dia telah dibawa ke Rumah Sakit St
Mungo untuk Penyakit dan Luka Sihir. Aku akan mengirim kalian kembali ke rumah
Sirius, yang jauh lebih dekat ke rumah sakit daripada The Burrow. Kalian akan
bertemu ibu kalian di sana.'
'Bagaimana caranya kami pergi?' tanya Fred, terlihat gemetar. 'Bubuk Floo?'
'Bukan,' kata Dumbledore, 'Bubuk Floo tidak aman saat ini, Jaringannya sedang
diawasi. Kalian akan menggunakan Portkey.' Dia menunjuk ketel tua yang tergeletak
di atas meja tulisnya. 'Kita hanya sedang menunggu Phineas Nigellus melapor
kembali ... Aku ingin meyakinkan bahwa semuanya aman sebelum mengirim kalian -'
Ada kilatan api di tengah kantor, meninggalkan sehelai bulu keemasan yang
melayang dengan lembut ke lantai.
'Itu peringatan Fawkes,' kata Dumbledore, menangkap jatuhnya bulu itu. 'Profesor
Umbridge pasti telah tahu kalian tidak berada di tempat tidur kalian ... Minerva,
pergilah dan cegat dia -- buatlah cerita apa saja --'
Profesor McGonagall telah pergi bersama kibasan tartan.
'Katanya dia akan senang,' kata sebuah suara bosan di belakang Dumbledore;
penyihir yang dipanggil Phineas telah muncul kembali di depan panji Slytherinnya.
'Cicit piutku selalu punya selera yang aneh dalam memilih tamu rumah.'
'Kalau begitu, kemarilah,' Dumbledore berkata kepada Harry dan para Weasley.
'Dan cepatlah, sebelum yang lain bergabung dengan kita.'
Harry dan yang lainnya berkumpul di sekeliling meja tulis Dumbledore.
'Kalian semua sudah pernah menggunakan Portkey sebelumnya?' tanya
Dumbledore, dan mereka mengangguk, masing-masing menggapai untuk menyentuh
sebagian ketel menghitam itu. 'Bagus. Pada hitungan ketiga, ... satu ... dua ...'
Kejadiannya sepersekian detik: pada jeda yang sangat singkat sebelum Dumbledore
berkata 'tiga', Harry melihat ke atas kepadanya -- mereka sangat dekat -- dan
pandangan biru jernih Dumbledore berpindah dari Portkey ke wajah Harry.
Seketika, bekas luka Harry terbakar panas sekali, seakan-akan luka lama yang telah
terbuka lagi -- dan tanpa diperintah, tanpa diminta, tetapi dengan sangat kuat, di
dalam diri Harry timbul kebencian yang sangat kuat, sehingga untuk sejenak, dia
merasa dia tidak menginginkan apapun daripada menyerang -- menggigit -membenamkan taring-taringnya ke dalam lelaki di hadapannya -'... tiga. '
Harry merasakan sentakan kuat di balik pusarnya, tanah menghilang dari balik
kakinya, tangannya terpancang pada ketel itu; dia terbentur yang lainnya ketika
mereka semua mempercepat ke dalam pusaran warna dan deru angin, ketel itu
menarik mereka maju ... sampai kakinya menghantam tanah, dan di suatu tempat yang
dekat sebuah suara berkata:
'Balik lagi, anak bandel darah-pengkhianat. Benarkan ayah mereka sekarat?'
'KELUAR!' raung suara kedua.
Harry berjuang berdiri dan melihat sekeliling; mereka telah tiba di dapur bawah
tanah yang suram di nomor dua belas, Grimmauld Place. Satu-satunya sumber cahaya
adalah api dan sebuah lilin yang bergoyang-goyang, yang menerangi sisa-sisa dari
makan malam sendirian. Kreacher sedang menghilang lewat pintu ke aula, melihat
balik kepada mereka dengan dengki sementara dia menyentak naik kain cawatnya;
Sirius sedang menyuruh mereka bergegas, tampak cemas. Dia tidak bercukur dan
masih mengenakan baju sehari-hari; ada juga sedikit bau minuman apak seperti
Mundungus pada dirinya.
'Apa yang terjadi?' dia berkata, merentangkan satu tangan untuk membantu Ginny
naik. 'Phineas Nigellus bilang Arthur terluka parah --'
'Tanya Harry,' kata Fred.
'Yeah, aku sendiri ingin mendengarnya,' kata George.
Si kembar dan Ginny sedang menatapnya. Langkah-langkah kaki Kreacher telah
terhenti di tangga di luar.
'Begini --' Harry mulai; ini bahkan lebih buruk daripada memberitahu McGonagall
dan Dumbledore. 'Aku mendapatkan -- semacam -- penglihatan ..'
Dan dia memberitahu mereka semua yang telah dia lihat, walaupun dia mmengubah
cerita itu sehingga kedengarannya seakan-akan dia telah menyaksikan dari samping
ketika ular itu menyerang, bukannya dari belakang mata ular itu sendiri. Ron, yang
masih sangaat putih, memandangnya sekilas, tetapi tidak berbicara. Ketika Harry
telah selesai, Fred, George dan Ginny terus menatapnya sejenak. Harry tidak tahu
apakah dia hanya membayangkan atau tidak, tetapi dia merasa ada sesuatu yang
menuduh dalam pandangan mereka. Well, jika mereka akan menyalahkan dia hanya
karena melihat penyerangan itu, dia senang dia tidak memberitahu mereka bahwa dia
telah berada di dalam ular itu pada saat itu.
'Apakah Mum ada di sini?' kata Fred, menoleh kepada Sirius.
'Dia mungkin bahkan belum tahu apa yang terjadi,' kata Sirius. 'Yang penting
adalah mengeluarkan kalian sebelum Umbridge dapat turut campur. Kukira
Dumbledore sedang memberitahu Molly sekarang.'
'Kami harus pergi ke St Mungo,' kata Ginny mendesak. Dia melihat sekeliling
kepada kakak-kakaknya; mereka tentu saja masih mengenakan piama mereka. 'Sirius,
dapatkah kamu meminjamkan kami mantel atau apapun?'
'Tunggu dulu, kalian tidak bisa menyerbu St Mungo begitu saja!' kata Sirius.
'Tentu kami bisa pergi ke St Mungo kalau kami mau,' kata Fred, dengan ekspresi
keras kepala. 'Dia ayah kami!'
'Dan bagaimana kalian akan menjelaskan cara kalian tahu bahwa Arthur diserang
bahkan sebelum pihak rumah sakit memberitahu istrinya?'
'Apa pentingnya itu?' kata George penuh semangat.
'Itu penting karena kita tidak ingin menarik perhatian pada kenyataan bahwa Harry
mengalami penglihatan mengenai hal-hal yang terjadi ratusan mil jauhnya!' kata
Sirius dengan marah. 'Tahukah kalian apa yang bisa dibuat Kementerian Sihir dengan
informasi itu?'
Fred dan George kelihatan seakan-akan mereka sama sekali tidak peduli apa yang
bisa dibuat Kementerian dengan apapun juga. Ron masih berwajah kelabu dan tidak
bersuara.
Ginny berkata, 'Orang lain dapat saja memberitahu kami ... kami bisa saja
mendengarnya dari tempat lain selain Harry.'
'Seperti siapa?' kata Sirius tidak sabaran. 'Dengar, ayah kalian terluka ketika
bertugas demi Order. Keadaannya sudah cukup mencurigakan tanpa anak-anaknya
mengetahui kejadian itu beberapa detik setelah terjadinya. Kalian dapat sungguhsungguh membahayakan Order.'
'Kami tidak peduli mengenai Order bodoh itu!' teriak Fred.
'Yang sedang kita bicarakan adalah ayah kami yang sedang sekarat!' pekik George.
'Ayah kalian tahu apa yang dimasukinya dan dia tidak akan berterima kasih kepada
kalian karena mengacaukan hal-hal untuk Order!' kata Sirius, sama marahnya.
'Beginilah keadaanya -- ada hal-hal yang pantas diperjuangkan hingga mati!'
'Mudah bagimu bicara, diam di sini saja!' teriak Fred. 'Aku tidak melihatmu
meresikokan lehermu!'
Sedikit warna yang tertinggal di wajah Sirius terkuras darinya. Sejenak dia tampak
seolah-olah ingin memukul Fred, tetapi ketika dia berbicara, suaranya tenang.
'Aku tahu ini sulit, tetapi kita semua harus bertindak seolah-olah kita belum tahu
apa-apa. Kita harus diam di sini, setidaknya sampai kita mendengar kabar dari ibu
kalian, setuju?'
Fred dan George masih tampak memberontak. Namun Ginny mengambil beberapa
langkah ke kursi terdekat dan menghempaskan diri ke atasnya. Harry melihat kepada
Ron, yang membuat gerakan aneh antara mengangguk dan mengangkat bahu, dan
mereka juga duduk. Si kembar membelalak pada Sirius satu menit lagi, lalu
mengambil tempat duduk di kedua sisi Ginny.
'Begitulah yang benar,' kata Sirius membesarkan hati, 'ayolah, mari semua ... mari
semua minum dulu selagi kita menunggu. Accio Butterbeer!'
Dia mengangkat tongkatnya sewaktu berbicara dan setengah lusin botol terbang
menuju mereka dari ruang penyimpanan, meluncur di atas meja, menghamburkan
sisa-sisa makanan Sirius, dan berhenti dengan rapi di depan mereka berenam. Mereka
semua minum, dan selama beberapa waktu satu-satunya suara yang ada adalah derak
api dapur dan hantaman lembut botol-botol mereka ke meja.
Harry hanya minum agar punya sesuatu untuk dilakukan dengan tangan-tangannya.
Perutnya penuh dengan rasa bersalah yang panas menggelembung. Mereka tidak akan
berada di sini kalau bukan karena dia; mereka semua pasti sedang tertidur di tempat
tidur. Dan tidaklah baik memberitahu dirinya sendiri bahwa dengan mengumumkan
bahaya dia telah menjamin bahwa Mr Weasley ditemukan, karena ada juga urusan
yang tidak bisa dihindari bahwa dialah yang telah menyerang Mr Weasley dari awal.
Jangan bodoh, kamu tidak punya taring, dia memberitahu dirinya sendiri, mencoba
untuk tetap tenang, walaupun tangan pada botol Butterbeernya bergetar, kamu sedang
berbaring di tempat tidur, kamu tidak sedang menyerang siapapun.
Tapi kalau begitu, apa yang baru saja terjadi di kantor Dumbledore? Dia bertanya
pada dirinya sendiri. Aku merasa seolah aku ingin menyerang Dumbledore juga ...
Dia meletakkan botol sedikit lebih keras daripada yang dimaksudkannya, dan botol
itu tumpah ke atas meja. Tidak seorangpun memperhatikan. Lalu seberkas api di
udara menerangi piring-piring kotor di depan mereka dan, ketika mereka
mengeluarkan jeritan karena terguncang, segulung perkamen jatuh dengan bunyi
keras ke atas meja, diikuti dengan sehelai bulu ekor phoenix keemasan.
'Fawkes!' kata Sirius seketika, sambil menyambar perkamen itu. 'Itu bukan tulisan
Dumbledore -- pastilah pesan dari ibu kalian -- ini --'
Dia menyorongkan surat itu ke tangan George, yang merobeknya hingga terbuka
dan membaca keras-keras: 'Dad masih hidup. Aku sedang menuju St Mungo
sekarang. Tetap di tempat kalian berada. Aku akan mengirimkan kabar secepat aku
bisa. Mum'
George melihat ke sekeliling meja.
'Masih hidup ...' dia berkata pelan-pelan. 'Tapi itu membuatnya kedengaran ...'
Dia tidak perlu menyelesaikan kalimat itu. Bagi Harry, kedengarannya juga seakanakan Mr Weasley sedang melayang-layang di suatu tempat antara hidup dan mati.
Masih luar biasa pucat, Ron menatap ke balik surat ibunya seolah-olah surat itu bisa
mengutarakan kata-kata penghiburan kepadanya. Fred menarik perkamen itu dari
tangan George dan membacakannya pada dirinya sendiri, lalu memandang ke Harry,
yang merasa tangannya bergetar pada botol Butterbeernya lagi dan menggenggamnya
lebih erat untuk mencegah getaran itu.
Kalau Harry pernah duduk melewati malam yang lebih panjang dari yang ini, dia
tidak bisa mengingatnya. Sirius menyarankan sekali, tanpa keyakinan asli, bahwa
mereka semua pergi tidur, tetapi tampang jijik keluarga Weasley sudah cukup sebagai
jawaban. Mereka kebanyakan duduk diam di sekitar meja, sambil mengamati sumbu
lilin terbenam semakin rendah dan berubah menjadi cairan lilin, terkadang
mengangkat botol ke bibir mereka, berbicara hanya untuk mengecek waktu, untuk
bertanya-tanya dengan keras apa yang sedang terjadi, dan untuk meyakinkan satu
sama lain bahwa kalau ada kabar buruk, mereka akan langsung tahu, karena Mrs
Weasley pastilah sudah sejak lama sampai di St Mungo.
Fred tertidur, kepalanya terguling ke samping ke atas bahunya. Ginny menggerlung
seperti seekor kucing di atas kursinya, tetapi matanya terbuka; Harry bisa melihat
matanya memantulkan cahaya api. Ron sedang duduk dengan kepala di tangannya,
apakah terbangun atau tertidur tidak mungkin diketahui. Harry dan Sirius seringkali
saling berpandangan, sebagai pengacau dalam kesedihan keluarga, sambil menunggu
... menunggu ...
Pada pukul sepuluh lewat lima pagi menurut jam tangan Ron, pintu dapur terayun
membuka dan Mrs Weasley memasuki dapur. Dia sangat pucat, tetapi ketika mereka
semua berpaling melihatnya, Fred, Ron dan Harry setengah berdiri dari kursi mereka,
dia memberikan senyum lesu.
'Dia akan baik-baik saja,' katanya, suaranya lemah karena capek. 'Dia sedang tidur.
Kita semua bisa pergi dan menjenguknya nanti; dia akan izin dari kerja pagi ini.'
Fred jatuh kembali ke kursinya dengan tangan menutupi wajahnya. George dan
Ginny bangkit, berjalan cepat ke ibu mereka dan memeluknya. Ron mengeluarkan
tawa yang sangat bergetar dan menghabiskan sisa Butterbeernya dalam sekali teguk.
'Sarapan!' kata Sirius keras-keras dan dengan gembira, sambil melompat berdiri. 'Di
mana peri-rumah sialan itu? Kreacher! KREACHER!'
Tetapi Kreacher tidak menjawab panggilan itu.
'Oh, kalau begitu, lupakan dia,' omel Sirius, sambil menghitung orang-orang di
depannya. 'Jadi, sarapan pagi untuk -- kulihat dulu -- tujuh ... daging asin dan telur,
kukira, dan teh, dan roti panggang --'
Harry bergegas ke kompor untuk membantu. Dia tidak ingin mengganggu
kebahagiaan keluarga Weasley dan dia takut akan saat ketika Mrs Weasley
memintanya menceritakan kembali penglihatannya. Akan tetapi, dia baru mengambil
piring-piring dari lemari ketika Mrs Weasley mengangkatnya dari tangannya dan
menarik dia ke dalam pelukannya.
'Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau bukan karena kamu, Harry,' dia berkata
dengan suara teredam. 'Mereka mungkin tidak akan menemukan Arthur selama
beberapa jam, dan saat itu pasti sudah terlambat, tapi berkat dirimu dia masih hidup
dan Dumbledore bisa memikirkan cerita pengalih yang bagus tentang Arthur berada
di tempat itu, kau tidak tahu masalah apa yang dapat diperolehnya kalau tidak begitu,
lihat saja Sturgis yang malang ...'
Harry hampir tidak bisa menerima rasa terima kasihnya, tetapi untung saja dia
segera melepaskan dirinya untuk berpaling kepada Sirius dan berterima kasih
kepadanya karena menjaga anak-anaknya melewati malam itu. Sirius berkata dia
sangat senang bisa membantu, dan berharap mereka semua akan tinggal dengannya
selama Mr Weasley berada di rumah sakit.
'Oh, Sirius, aku sangat berterima kasih ... mereka mengira dia akan berada di sana
selama beberapa waktu dan pastilah menyenangkan berada lebih dekat ... tentu saja,
itu berarti kami akan berada di sini selama Natal.'
'Semakin banyak semakin riang!' kata Sirius dengan ketulusan yang tampak jelas
sehingga Mrs Weasley tersenyum kepadanya, mengenakan sebuah celemek dan mulai
membantu membuat sarapan.
'Sirius,' Harry bergumam, tidak dapat menahannya lebih lama lagi. 'Boleh aku
bicara sebentar? Er -- sekarang?'
Dia berjalan ke dalam ruang penyimpanan yang gelap dan Sirius mengikuti. Tanpa
pembukaan, Harry memberitahu ayah angkatnya setiap detil dari penglihatan yang
dialaminya, termasuk fakta bahwa dia sendiri yang telah menjadi ular yang
menyerang Mr Weasley.
Ketika dia berhenti sejenak untuk mengambil napas, Sirius berkata, 'Apakah kamu
memberitahukan Dumbledore hal ini?'
'Ya,' kata Harry tidak sabar, 'tapi dia tidak memberitahuku apa artinya itu. Well, dia
tidak memberitahuku apa-apa lagi.'
'Aku yakin dia pasti akan memberitahumu kalau itu sesuatu yang perlu
dikhawatirkan,' kata Sirius dengan mantap.
'Tapi bukan itu saja,' kata Harry, dengan suara yang hanya sedikit di atas bisikan.
'Sirius, aku ... kukira aku akan jadi gila. Tadi di kantor Dumbledore, persis sebelum
kami mengambil Portkey ... selama beberapa detik di sana aku berpikir aku seekor
ular, aku merasa seperti seekor -- bekas lukaku sangat sakit ketika aku melihat kepada
Dumbledore -- Sirius, aku ingin menyerangnya.'
Dia hanya bisa melihat sepotong wajah Sirius; sisanya berada dalam kegelapan.
'Itu pasti lanjutan dari penglihatan tadi, itu saja,' kata Sirius. 'Kamu masih
memikirkan mimpi atau apapun itu dan --'
'Bukan itu,' kata Harry sambil menggelengkan kepalanya, 'rasanya seperti sesuatu
bangkit dalam diriku, seperti ada seekor ular di dalam diriku.'
'Kamu butuh tidur,' kata Sirius dengan tegas. 'Kamu akan sarapan pagi, lalu naik ke
atas ke tempat tidur, dan setelah makan siang kamu bisa pergi dan menjenguk Arthur
dengan yang lain. Kamu sedang terguncang, Harry; kamu menyalahkan dirimu untuk
sesuatu yang hanya kausaksikan, dan beruntunglah kau menyaksikannya atau Arthur
mungkin sudah mati. Berhentilah khawatir.'
Dia menepuk pundak Harry dan meninggalkan ruang penyimpanan, meninggalkan
Harry berdiri sendiri dalam kegelapan.
*
Semua orang kecuali Harry menghabiskan sisa pagi itu dengan tidur. Dia naik ke
kamar tidur yang telah dipakai bersama olehnya dan Ron selama beberapa minggu
dalam musim panas, tetapi sementara Ron merangkak ke tempat tidur dan tertidur
dalam beberapa menit, Harry duduk berpakaian lengkap, membungkuk pada batang
logam kepala tempat tidur yang dingin, dengan sengaja menjaga dirinya dalam
keadaan tidak nyamam, bertekad untuk tidak tertidur, takut bahwa dia mungkin
berubah menjadi ular lagi dalam tidurnya dan terbangun menemukan bahwa dia telah
menyerang Ron, atau merayap di rumah itu mengejar salah satu dari yang lain ...
Ketika Ron terbangun, Harry berpura-pura telah menikmati tidur sejenak yang
menyegarkan juga. Koper-koper mereka tiba dari Hogwarts ketika mereka sedang
makan siang, sehingga mereka bisa berpakaian sebagai Muggle untuk perjalanan ke St
Mungo. Semua orang kecuali Harry senang tidak karuan dan cerewet ketika mereka
mengganti jubah mereka ke dalam celana jins dan baju kaus. Ketika Tonks dan MadEye muncul untuk mengawal mereka menyeberangi London, mereka menyambut
dengan riang gembira, sambil menertawakan topi bowler yang sedang dikenakan
Mad-Eye pada sudut yang menyembunyikan mata sihirnya dan meyakinkan dia,
dengan sebenarnya, bahwa Tonks, yang rambutnya pendek dan berwarna merah muda
menyala lagi, akan menarik lebih sedikit perhatian di Kereta Bawah Tanah.
Tonks sangat tertarik dengan penglihatan Harry mengenai penyerangan Mr
Weasley, sesuatu yang Harry sama sekali tidak berminat membahas.
'Tidak ada darah Penglihat dalam keluargamu, 'kan?' dia bertanya dengan penuh
rasa ingin tahu, ketika mereka duduk bersebelahan dalam kereta api yang sedang
berderak menuju jantung kota.
'Tidak,' kata Harry, memikirkan Profesor Trelawney dan merasa terhina.
'Tidak,' kata Tonks sambil merenung, 'tidak, kukira itu bukan ramalan yang
sebenarnya yang kau lakukan itu, benar 'kan? Maksudku, kau tidak melihat masa
depan, kau melihat masa sekarang ... aneh, bukan? Walau berguna ...'
Harry tidak menjawab; untung saja, mereka keluar di pemberhentian berikutnya,
sebuah stasiun di pusat kota London, dan dalam kesibukan meninggalkan kereta api
dia bisa membuat Fred dan George berada di antara dirinya dan Tonks, yang sedang
memimpin jalan. Mereka semua mengikutinya menaiki eskalator, Moody sambil
berdebam di belakang kelompok, topinya miring dengan sudut rendah dan satu tangan
berbonggol tersangkut di antara kancing-kancing mantelnya, memegang tongkatnya.
Harry mengira dia merasakan mata tersembunyi menatap lekat kepadanya. Berusaha
menghindari pertanyaan lagi mengenai mimpinya, dia bertanya kepada Mad-Eye di
mana St Mungo tersembunyi.
'Tidak jauh dari sini,' gerutu Moody ketika mereka melangkah keluar ke udara
musim dingin di jalan lebar yang diapit toko-toko dan dipenuhi orang-orang yang
belanja untuk Natal. Dia mendorong Harry sedikit ke depannya dan tertatih persis di
belakang; Harry tahu matanya sedang bergulir ke segala arah di bawah topi miring itu.
'Tidak mudah menemukan lokasi yang bagus untuk sebuah rumah sakit. Tidak ada
tempat di Diagon Alley yang cukup besar dan kami tidak bisa mendirikannya di
bawah tanah seperti Kementerian -- tidak sehat. Akhirnya mereka berhasil
mendapatkan sebuah bangunan di sini. Secara teori, penyihir yang sakit bisa datang
dan pergi dan cukup berbaur dengan kerumunan.'
Dia meraih bahu Harry untuk mencegah mereka dipisahkan oleh serombongan
pembelanja yang jelas hanya ingin masuk ke dalam sebuah toko di dekat situ yang
penuh dengan peralatan listrik.
'Ini dia,' kata Moody sejenak kemudian.
Mereka telah tiba di luar sebuah department store besar, kuno, merah bata yang
dinamakan Purge & Dowse Ltd. Tempat itu memiliki hawa kumuh dan menyedihkan;
pajangan di jendela terdiri atas bebrapa boneka retak dengan rambut palsu miring,
berdiri sembarangan dan memperagakan mode yang sedikitnya sepuluh tahun
ketinggalan zaman. Tanda-tanda besar pada pintu-pintu yang penuh debu bertuliskan:
'Ditutup untuk Pembaruan'. Harry jelas-jelas mendengar seorang wanita bertubuh
besar dengan tas-tas belanja plastik berkata kepada temannya ketika mereka lewat,
'Tidak pernah buka, tempat itu ...'
'Benar,' kata Tonks sambil memberi isyarat kepada mereka ke sebuah jendela yang
tidak memperlihatkan apa-apa kecuali sebuah boneka wanita yang sangat jelek. Bulu
mata palsu boneka itu sudah hampir jatuh dan dia sedang memperagakan sebuah baju
luar nilon berwarna hijau. 'Semua siap?'
Mereka mengangguk, berkumpul di dekatnya. Moody memmberi Harry dorongan
lagi di antara tulang bahunya untuk mendesaknya maju dan Tonks bersandar dekat ke
kaca, sambil melihat kepada boneka yang sangat jelek itu, napasnya menguap ke
kaca. 'Pakabar,' katanya, 'kami ke sini untuk menjenguk Arthur Weasley.'
Harry berpikir betapa tidak masuk akalnya Tonks mengharapkan boneka itu
mendengarnya berbicara begitu pelan melalui sehelai kaca, dengan bus-bus yang
menderu lewat di belakangnya dan semua keributan jalan yang penuh pembelanja.
Lalu dia mengingatkan dirinya bahwa lagipula boneka tidak bisa mendengar. Detik
berikutnya, mulutnya terbuka karena terguncang ketika boneka itu memberi anggukan
kecil dan memberi isyarat dengan jarinya, dan Tonks telah meraih Ginny dan Mrs
Weasley di siku, melangkah tepat melalui kaca dan menghilang.
Fred, George dan Ron melangkah mengikuti mereka. Harry melihat sekeliling ke
kerumunan yang berdesak-desakan; tak seorangpun dari mereka terlihat melirik ke
pajangan-pajangan jendela sejelek yang di Purge & Dowse Ltd; tidak juga mereka
tampak memperhatikan bahwa enam orang baru saja melebur ke udara di depan
mereka.
'Ayo,' geram Moody, sambil memberi Harry tusukan lain di punggung, dan
bersama mereka melangkah maju melalui apa yang terasa seperti sehelai air sejuk,
muncul agak hangat dan kering di sisi lain.
Tidak ada tanda boneka jelek itu atau ruang tempat dia berdiri. Mereka berada di
tempat yang mirip daerah penerimaan yang sesak di mana barisan penyihir wanita dan
pria duduk di atas kursi-kursi kayu yang reyot, beberapa terlihat benar-benar normal
dan sedang membaca dengan teliti salinan Witch Weekly yang sudah basi, yang
lainnya memperlihatkan keanehan yang mengerikan seperti belalai gajah atau tangan
tambahan yang melekat pada dada mereka. Ruangan itu hampir sama bisingnya
dengan jalan di luar, karena banyak pasien yang membuat bunyi-bunyi sangat aneh:
seorang penyihir wanita di tengah barisan depan, yang sedang mengipasi dirinya
sendiri dengan bersemangat dengan sebuah salinan Daily Prophet, terus mengeluarkan
siulan melengking tinggi selagi uap keluar dari mulutnya; seorang penyihir tua yang
tampak kotor di sudut bergemerincing seperti lonceng setiap kali dia berpindah dan,
dengan setiap gemerincing, kepalanya bergetar dengan mengerikan sehingga dia harus
memegang dirinya sendiri di telinga untuk membuatnya tenang.
Para penyihir wanita dan pria dalam jubah hijau limau sedang berjalan ke depan
dan belakang barisan, sambil menanyakan pertanyaan-pertanyaan dan membuat
catatan-catatan pada papan jepit seperti kepunyaan Umbridge. Harry memperhatikan
lambang yang dibordir pada dada mereka: sebuah tongkat dan tulang yang
disilangkan.
'Apakah mereka dokter?' dia bertanya kepada Ron dengan pelan.
'Dokter?' kata Ron, sambil terlihat terkejut. 'Muggle gila yang memotong-motong
orang? Bukan, mereka Penyembuh.'
'Sebelah sini!' seru Mrs Weasley, melampaui gemerincing baru penyihir di sudut,
dan mereka mengikutinya ke antrian di depan seorang penyihir wanita pirang agak
gemuk yang duduk di meja bertanda Keterangan. Dinding di belakangnya ditutupi
dengan maklumat dan poster yang berisikan hal-hal seperti: KUALI YANG BERSIH
MENCEGAH RAMUAN BERUBAH MENJADI RACUN dan PENAWAR RACUN
ADALAH RACUN KECUALI DISETUJUI OLEH PENYEMBUH BERSYARAT.
Ada juga potret seorang penyihir wanita dengan rambut ikal kecil keperakan yang
panjang yang diberi label:
Dilys Derwent
Penyembuh St Mungo 1722-1741
Kepala Sekolah Sihir Hogwarts 1741-1768
Dilys sedang mengamati rombongan Weasley lekat-lekat seakan-akan sedang
menghitung jumlah mereka; ketika Harry menatap matanya dia memberi kedipan
kecil, berjalan ke samping keluar dari potretnya dan menghilang.
Sementara itu, di depan antrian, seorang penyihir pria muda sedang
memperlihatkan tarian cepat di tempat dan mencoba, di antara pekikan kesakitan,
untuk menjelaskan kesulitannya kepada penyihir wanita di belakang meja.
'Masalahnya ini -- aduh -- sepatu-sepatu yang diberikan saudara saya -- ow -mereka memakan -- ADUH -- kaki saya -- lihat, pasti ada sejenis -- AARGH -kutukan pada mereka dan aku tak dapat -- AAAAARGH -- melepaskan mereka.' Dia
melompat dari satu kaki ke yang lain seolah-olah sedang menari di atas bara panas.
'Sepatu-sepatu itu tidak mencegahmu membaca, benar 'kan?' kata penyihir wanita
pirang itu dengan jengkel menunjuk ke sebuah papan tanda besar di sebelah kiri
mejanya. 'Anda mau Cedera Akibat Mantera, lantai empat. Seperti yang terpampang
di pedoman lantai. Berikutnya!'
Selagi penyihir pria itu terpincang-pincang dan berjingkrak ke samping, rombongan
Weasley maju ke depan beberapa langkah dan Harry membaca pedoman lantainya:
KECELAKAAN ARTIFAK
................................................................................. Lantai dasar
Ledakan kuali, tongkat menyerang balik, tabrakan sapu, dll.
CEDERA AKIBAT MAKHLUK
........................................................................ Lantai satu
Gigitan, sengatan, luka bakar, tusukan duri, dll.
KUMAN SIHIR
..................................................................................................... Lantai dua
Penyakit-penyakit menular, mis. cacar naga, sakit menghilang, scrofungulus, dll.
KERACUNAN RAMUAN DAN TANAMAN
................................................... Lantai tiga
Ruam-ruam, muntah, cekikikan tidak terkendali, dll.
CEDERA AKIBAT MANTERA
......................................................................... Lantai empat
Kutukan tidak terangkat, guna-guna, penggunaan mantera yang tidak tepat, dsb.
RUANG TEH PENGUNJUNG / TOKO RUMAH SAKIT
............................. Lantai lima
JIKA ANDA TIDAK YAKIN KE MANA ANDA HARUS PERGI, TIDAK MAMP
U
BERBICARA NORMAL ATAU TIDAK
MAMPU MENGINGAT MENGAPA ANDA
BERADA DI SINI, PENYIHIR PENYAMBUT KAMI AKAN MEMBANTU DEN
GAN
SENANG HATI.
Seorang penyihir pria yang sangat tua dan bungkuk dengan sebuah terompet
pendengar telah bergerak ke depan antrian sekarang. 'Aku ke sini untuk menjenguk
Broderick Bode!' dia berkata dengan bunyi mencicit.
'Bangsal empat puluh sembilan, tapi kutakut Anda membuang waktu Anda,' kata
penyihir wanita itu sambil menyuruh pergi. 'Dia benar-benar kebingungan, Anda tahu
-- masih mengira dirinya sebuah poci teh. Berikutnya!'
Seorang penyihir pria bertampang terganggu sedang memegang putri kecilnya
dengan erat di bagian mata kaki sementara putrinya mengepak-ngepak di sekitar
kepalanya menggunakan sayap berburu yang amat besar yang telah tumbuh dari balik
bajunya.
'Lantai empat,' kata penyihir wanita itu, dengan suara bosan, tanpa bertanya, dan
lelaki itu menghilang ke pintu ganda di samping meja, sambil memegang putrinya
seperti sebuah balon yang bentuknya aneh. 'Berikutnya!'
Mrs Weasley maju ke meja.
'Halo,' katanya, 'suamiku, Arthur Weasley, seharusnya dipindahkan ke bangsal
yang lain pagi ini, dapatkah Anda memberitahu kami --?'
'Arthur Weasley?' kata penyihir wanita itu, sambil menggerakkan jarinya menuruni
daftar panjang di hadapannya. 'Ya, lantai satu, pintu kedua dari kanan, Bangsal Dai
Llewellyn.'
'Terima kasih,' kata Mrs Weasley. 'Ayo, kalian semua.'
Mereka mengikutinya melalui pintu ganda dan menyusuri koridor sempit, yang
dibarisi dengan lebih banyak lagi potret Penyembuh terkenal dan diterangi dengan
gelembung-gelembung kristal yang penuh dengan lilin yang melayang di langit-langit,
terlihat seperti bola sabun raksasa. Lebih banyak lagi penyihir wanita dan pria
berjubah hijau limau berjalan keluar masuk pintu-pintu yang mereka lewati; gas
kuning berbau busuk berhembus ke gang ketika mereka melewati salah satu pintu,
dan beberapa waktu sekali mereka mendengar ratapan dari jauh. Mereka menaiki
sejumlah anak tangga dan memasuki koridor Cedera Akibat Makhluk, di mana pintu
kedua dari kanan bertuliskan: Bangsal Dai Llewellyn 'Berbahaya': Gigitan Serius. Di
bawahnya ada sebuah kartu dalam pegangan kuningan di mana tertulis dengan tulisan
tangan: Penyembuh yang Memimpin: Hippocrates Smethwyck. Penyembuh Magang:
Augustus Pye.
'Kami akan menunggu di luar, Molly,' Tonks berkata. 'Arthur tidak akan mau
terlalu banyak pengunjung seketika ... harusnya keluarga dulu.'
Mad-Eye menggeramkan persetujuannya atas ide ini dan menyandarkan
punggungnya terhadap dinding koridor, mata sihirnya berputar ke segala arah. Harry
juga mundur, tetapi Mrs Weasley menjulurkan sebuah tangan dan mendorongnya
melalui pintu, sambil berkata, 'Jangan tolol, Harry, Arthur ingin berterima kasih
kepadamu.'
Bangsal itu kecil dan agak suram, karena satu-satunya jendela yang ada sempit dan
terletak tinggi pada dinding yang menghadap pintu. Sebagian besar cahaya datang
dari lebih banyak gelembung kristal bersinar yang mengelompok di bagian tengah
langit-langit. Dinding-dindingnya diberi panel kayu ek dan ada sebuah potret seorang
penyihir pria yang bertampang agak kejam di dinding, diberi judul: Urquhart
Rackharrow, 1612-1697, Pencipta Kutukan Pengeluaran-Usus.
Hanya ada tiga pasien. Mr Weasley menempati tempat tidur di ujung bangsal di
samping jendela kecil itu. Harry senang dan lega melihat bahwa dia duduk bersandar
pada beberapa bantal dan sedang membaca Daily Prophet dengan sinar matahari
terpencil yang jatuh ke atas tempat tidurnya. Dia melihat ke atas ketika mereka
berjalan menujunya dan, melihat siapa yang datangm tersenyum.
'Halo!' dia memanggil, sambil melempar Prophet ke samping. 'Bill baru saja pergi,
Molly, harus kembali bekerja, tapi dia bilang dia akan mampir ke tempatmu nanti.'
'Bagaimana keadaanmu, Arthur?' tanya Mrs Weasley, sambil membungkuk untuk
mencium pipinya dan memandang cemas ke wajahnya. 'Kamu masih kelihatan sedikit
pucat.'
'Aku merasa sangat baik,' kata Mr Weasley dengan cerah, sambil mengulurkan
lengannya yang sehat untuk memberi Ginny pelukan. 'Kalau saja mereka bisa
melepaskan perban itu, aku akan sehat untuk pulang.'
'Mengapa mereka tidak bisa melepaskannya, Dad?' tanya Fred.
'Well, aku mulai berdarah gila-gilaan setiap kali mereka mencobanya,' kata Mr
Weasley dengan ceria, sambil meraih tongkatnya, yang terletak di lemari samping
tempat tidur, dan melambaikannya sehingga enam kursi tambahan muncul di sisi
tempat tidurnya untuk diduduki mereka semua. 'Kelihatannya ada sejenis racun yang
tidak biasa pada taring ular itu yang membuat luka tetap membuka. Namun mereka
yakin mereka akan menemukan penawarnya; mereka bilang mereka sudah pernah
merawat kasus yang lebih parah dariku, dan sementara itu aku hanya perlu terus
meminum Ramuan Penambah Darah setiap jam. Tapi orang di sana itu,' katanya,
sambil menurunkan suaranya dan mengangguk ke tempat tidur di seberang di mana
berbaring seorang lelaki yang tampak hijau dan sakit dan sedang menatap langitlangit. 'Digigit oleh manusia serigala, pria malang. Tidak ada obatnya sama sekali.'
'Manusia serigala?' bisik Mrs Weasley tampak khawatir. 'Apakah dia aman di
bangsal umum? Tidakkah seharusnya dia di kamar pribadi?'
'Masih dua minggu lagi baru bulan penuh,' Mr Weasley mengingatkannya dengan
pelan. 'Mereka telah berbincang-bincang dengannya pagi ini, para Penyembuh, kau
tahu, mencoba meyakinkannya bahwa dia akan bisa menjalani hidup yang hampir
normal. Kubilang padanya -- tanpa menyebut nama, tentu saja -- tapi aku bilang aku
kenal seorang manusia serigala secara pribadi, lelaki yang sangat baik, yang merasa
kondisinya muda diatasi.'
'Apa katanya?' tanya George.
'Bilang dia akan memberiku gigitan lain kalau aku tidak menutup mulut,' kata Mr
Weasley dengan sedih. 'Dan wanita di sana itu,' dia menunjuk ke satu-satunya tempat
tidur lain yang terisi, yang tepat di samping pintu, 'tak mau memberitahu para
Penyembuh apa yang menggigitnya, yang membuat kami semua mengira pastilah
sesuatu yang ditanganinya secara ilegal. Apapun itu, dia mengambil sepotong besar
daging dari kakinya, baunya sangat mengerikan waktu mereka membuka
pembalutnya.'
'Jadi, apakah Dad akan memberitahu kami apa yang terjadi?' tanya Fred sambil
menarik kursinya lebih dekat ke tempat tidur.
'Well, bukankah kamu sudah tahu?' kata Mr Weasley dengan senyum berarti
kepada Harry. 'Sangat simpel -- aku melalui hari yang amat melelahkan, tertidur, ada
yang menyelinap dan menggigitku.'
'Apakah ada di Prophet, mengenai penyeranganmu?' tanya Fred sambil menunjuk
surat kabar yang telah ditaruh Mr Weasley ke samping.
'Tidak, tentu saja tidak,' kata Mr Weasley dengan senyum agak getir, 'Kementerian
tidak akan mau semua orang mengetahui ular besar kotor menyerang --'
'Arthur!' Mrs Weasley memperingatkan dia.
'-- menyerang -- er -- aku,' Mr Weasley berkata terburu-buru, walaupun Harry
cukup yakin itu bukan yang ingin dikatakannya.
'Jadi di mana Dad sewaktu terjadinya?' tanya George.
'Itu urusanku,' kata Mr Weasley, walau dengan senyum kecil. Dia merenggut Daily
Prophet, menggoyangkannya membuka lagi dan berkata, 'Aku baru saja membaca
tentang penangkapan Willy Widdershins ketika kalian tiba. Kau tahu Willy berada di
balik semua toilet muntah pada musim panas lalu? Salah satu kutukannya menyerang
balik, toilet itu meledak dan mereka menemukannya berbaring tidak sadar dalam
reruntuhan tertutupi dari kepala hingga kaki dalam --'
'Ketika Dad berkata Dad sedang "bertugas",' Fred menyela dengan suara rendah,
'apa yang sedang Dad lakukan?'
'Kau dengar ayahmu,' bisik Mrs Weasley, 'kita tidak akan membahas ini di sini!
Teruskan tentang Willy Widdershins, Arthur.'
'Well, jangan tanya padaku bagaiman, tetapi dia benar-benar lolos dari tuntutan
toilet itu,' kata Mr Weasley dengan suram. 'Aku hanya bisa menganggap emas
berpindah tangan --'
'Dad sedang menjaganya, bukan?' kata George dengan pelan. 'Senjata itu? Benda
yang dikejar Kau-Tahu-Siapa?'
'George, diamlah!' sambar Mrs Weasley.
'Lagipula,' kata Mr Weasley dengan suara terangkat, 'kali ini Willy tertangkap
menjual kenop pintu menggigit kepada Muggle dan aku tidak mengira dia akan bisa
menggeliatkan diri keluar dari ini karena, menurut artikel ini, dua orang Muggle telah
kehilangan jari dan sekarang sedang di St Mungo untuk penumbuhan tulang kembali
dan modifikasi memori darurat. Pikirkan saja, Muggle di St Mungo! Aku ingin tahu di
bangsal mana mereka?'
Dan dia memandang dengan semangat ke sekitar seakan-akan berharap melihat
papan penunjuk.
'Tidakkah kau bilang Kau-Tahu-Siapa punya ular, Harry?' tanya Fred, sambil
melihat kepada ayahnya untuk mencari reaksi. 'Yang besar? Kau melihatnya pada
malam dia kembali, bukankah begitu?'
'Sudah cukup,' kata Mrs Weasley dengan marah. 'Mad-Eye dan Tonks ada di luar,
Arthur, mereka ingin datang dan menjengukmu. Dan kalian semua bisa menunggu di
luar,' dia menambahkan kepada anak-anaknya dan Harry. 'Kalian bisa datang dan
mengucapkan selamat tinggal setelah itu. Pergilah.'
Mereka beramai-ramai kembali ke koridor. Mad-Eye dan Tonks masuk dan
menutup pintu bangsal di belakang mereka. Fred mengangkat alisnya.
'Baik,' dia berkata dengan dingin, sambil menggeledah kantongnya, 'begitu saja.
Tidak usah memberitahu kami apa-apa.'
'Mencari ini?' kata George, sambil memegang apa yang tampak seperti benang
kusut berwarna daging.
'Kau membaca pikiranku,' kata Fred sambil menyeringai. 'Mari lihat apakah St
Mungo meletakkan Mantera Tidak Tertembus pada dinding bangsalnya, yuk?'
Dia dan George menguraikan benang itu dan memisahkan lima Telinga YangDapat-Diperpanjang dari satu sama lain. Fred dan George menyerahkannya ke
sekeliling. Harry ragu-ragu untuk mengambil satu.
'Ayolah, Harry, ambillah! Kau telah menyelamatkan nyawa Dad. Kalau ada yang
punya hak untuk mengupingnya, kaulah orangnya.'
Menyeringai walaupun sudah mencoba menahannya, Harry mengambil ujung
benang itu dan memasukkannya ke dalam telinganya seperti yang telah dilakukan si
kembar.
'OK, maju!' Fred berbisik.
Benang-benang berwarna daging itu menggeliat seperti cacing kurus panjang dan
merayap ke bawah pintu. Mulanya, Harry tidak bisa mendengar apa-apa, lalu dia
terlompat ketika dia mendengar Tonks berbisik sejelas jika dia berdiri tepat di
sampingnya.
'... mereka menggeledah seluruh daerah itu tetapi tidak bisa menemukan ular itu di
manapun. Kelihatannya telah menghilang setelah menyerangmu, Arthur .. tapi KauTahu-Siapa tidak mungkin berharap seekor ular bisa masuk, 'kan?'
'Kurasa dia mengirimnya sebagai pengintai,' geram Moody, 'karena tidak beruntung
sejauh ini, benar 'kan?' Tidak, kurasa dia sedang mencoba mendapat gambaran yang
lebih jelas akan apa yang sedang dihadapinya dan kalau Arthur tidak berada di sana
binatang itu mungkin punya lebih banyak waktu untuk melihat-lihat. Jadi, Potter
bilang dia menyaksikan semuanya terjadi?'
'Ya,' kata Mrs Weasley. Dia terdengar agak gelisah. 'Kau tahu, Dumbledore
sepertinya hampir sudah menunggu-nunggu Harry melihat sesuatu seperti ini.'
'Yeah, well,' kata Moody, 'ada sesuatu yang aneh mengenai bocah Potter ini, kita
semua tahu itu.'
'Dumbledore terlihat cemas mengenai Harry ketika aku berbicara dengannya pagi
ini,' bisik Mrs Weasley.
'Tentu saja dia cemas,' geram Moody. 'Anak itu melihat hal-hal dari dalam ular
Kau-Tahu-Siapa. Jelas Potter tidak menyadari apa artinya itu, tapi kalau Kau-TahuSiapa merasukinya --'
Harry menarik Telinga Yang-Dapat-Dipanjangkan keluar dari telinganya sendiri,
jantungnya memukul-mukul amat cepat dan panas menjalar naik ke wajahnya. Dia
melihat sekeliling kepada yang lain. Mereka semua sedang menatapnya, benangbenang itu masih menjulur dari telinga mereka, semua mendadak tampak ketakutan.
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DUA PULUH TIGA --
Natal di Bangsal Tertutup
Apakah ini sebabnya mengapa Dumbledore tidak mau lagi menatap mata Harry?
Apakah dia menduga akan melihat Voldemort menatap dari matanya, takut, mungkin,
bahwa warna hijau cemerlangnya mungkin berubah mendadak menjadi merah tua,
dengan anak mata bercelah seperti kucing? Harry ingat bagaimana wajah Voldemort
yang mirip ular pernah sekali keluar dari balik kepala Profesor Quirrel dan menarikan
jari-jarinya ke balik kepalanya sendiri, bertanya-tanya seperti apa rasanya kalau
Voldemort meledak keluar dari tengkoraknya.
Dia merasa kotor, terkontaminasi, seakan-akan dia sedang membawa kuman
mematikan, tak berharga untuk duduk di Kereta Bawah Tanah kembali dari rumah
sakit dengan orang-orang bersih, tak bersalah yang pikiran dan tubuhnya bebas dari
noda Voldemort ... dia bukan hanya telah melihat ular itu, dia telah menjadi ular itu,
dia tahu itu sekarang ...
Sebuah pikiran yang benar-benar mengerikan timbul pada dirinya pada saat itu,
sebuah ingatan yang muncul ke permukaan pikirannya, yang membuat bagian dalam
tubuhnya menggeliat seperti ular.
Apa yang sedang dia kejar, selain para pengikut?
Benda yang hanya bisa dia peroleh secara sembunyi-sembunyi ... seperti sebuah
senjata. Sesuatu yang tidak dimilikinya dulu.
Akulah senjatanya, Harry berpikir, dan rasanya seolah-olah racun sedang mengalir
melalui nadinya, membuatnya kedinginan, menyebabkannya berkeringat selagi dia
berayun bersama kereta api melalui terowongan gelap. Akulah yang sedang
Voldemort coba gunakan, itulah sebabnya mereka menempatkan pengawal di
sekitarku ke manapun aku pergi, bukan untuk perlindunganku, untuk perlindungan
orang-orang lain, hanya saja itu tidak bekerja, mereka tidak bisa membuat seseorang
mengawasiku sepanjang waktu di Hogwarts ... Aku memang menyerang Mr Weasley
tadi malam, itu aku. Voldemort membuatku melakukannya dan dia mungkin berada di
dalam tubuhku, sedang mendengarkan pikiran-pikiranku saat ini -'Apakah kamu baik-baik saja, Harry, sayang?' bisik Mrs Weasley sambil
mencondongkan badan melewati Ginny untuk berbicara kepadanya selagi kereta
berderak melalui terowongan yang gelap. 'Kamu tidak terlihat sehat. Apakah kamu
merasa sakit?'
Mereka semua sedang mengamatinya. Dia menggelengkan kepalanya dengan kasar
dan menatap ke sebuah iklan asuransi rumah.
'Harry, sayang, apakah kamu yakin kamu baik-baik saja?' kata Mrs Weasley dengan
suara kuatir, sementara mereka berjalan mengitari petak rumput tak terawat di tengahtengah Grimmauld Place. 'Kau tampak pucat sekali ... apakah kamu yakin kamu tidur
pagi ini? Kamu naik ke atas ke ranjang sekarang juga dan kamu bisa tidur beberapa
jam sebelum makan malam, oke?'
Dia mengangguk; di sini ada alasan siap-pakai untuk tidak berbicara dengan yang
lain, yang persis apa yang diinginkannya, sehingga ketika dia membuka pintu depan
dia langsung bergegas melewati tempat payung kaki troll, menaiki tangga dan masuk
ke dalam kamar tidurnya dan Ron.
Di sini, dia mulai berjalan bolak-balik, melewati kedua ranjang dan bingkai foto
kosog Phineas Nigellus, otaknya sesak dan menggelegak dengan pertanyaan dan
bahkan lebih penuh lagi akan gagasan-gagasan mengerikan.
Bagaimana dia menjadi seekor ular? Mungkin dia seoang Animagus ... tidak, dia
tidak mungkin, dia pasti tahu ... mungkin Voldemort seorang Animagus ... ya, pikir
Harry, itu akan cocok, dia akan berubah menjadi seekor ular tentu saja ... dan saat dia
merasuki diriku, saat itu kami berdua berubah ... itu masih belum menjelaskan
bagaimana aku sampai ke London dan kembali ke ranjangku dalam waktu sekitar lima
menit ... tapi Voldemort hampir merupakan penyihir terkuat di dunia, selain
Dumbledore, mungkin tidak masalah baginya sama sekali untuk memindahkan orangorang seperti itu.
Dan kemudian, dengan tikaman rasa panik yang mengerikan, dia berpikir, tapi ini
gila -- kalau Voldemort sedang merasukiku sekarang, aku sedang memberinya
pandangan berharga ke dalam Markas Besar Order of Phoenix saat ini juga! Dia akan
tahu siapa yang berada dalam Order dan di maan Sirius berada ... dan aku sudah
mendengar banyak hal yang seharusnya tak kudengar, semua yang telah diberitahukan
Sirius kepadaku pada malam pertama aku berada di sini ...
Hanya ada satu hal yang bisa dilakukan: dia akan harus langsung meninggalkan
Grimmauld Place. Dia bisa menghabiskan Natal di Hogwarts tanpa yang lainnya,
yang akan menjaga mereka tetap aman selama liburan setidaknya ... tapi tidak, itu
tidak akan berhasil, masih ada banyak orang di Hogwarts untuk dibidik dan dilukai.
Bagaimana kalau Seamus, Dean atau Neville kali berikutnya? Dia berhenti berjalan
dan berdiri menatap bingkai kosong Phineas Nigellus. Suatu sensasi kelam timbul di
dasar perutnya. Dia tidak punya alternatif: dia akan harus kembali ke Privet Drive,
memisahkan dirinya sendiri sepenuhnya dari para penyihir lain.
Well, kalau dia harus melakukannya, pikirnya, tak ada gunanya berlama-lama.
Mencoba sebisanya untuk tidak memikirkan bagaimana keluarga Dursley akan
bereaksi ketika mereka menemukannya di ambang pintu mereka enam bulan lebih
awal dari yang mereka harapkan, dia berjalan ke kopernya, membanting tutupnya dan
menguncinya, lalu memandang sekilas ke sekelilingnya dengan otomatis untuk
mencari Hedwig sebelum teringat bahwa dia masih di Hogwarts -- well, kandangnya
akan menjadi satu hal yang tak perlu dibawa -- dia meraih salah satu ujung kopernya
dan telah menyeretnya setengah jalan menuju pintu ketika sebuah suara menyindir
berkata, 'Melarikan diri, bukan begitu?'
Dia memandang berkeliling. Phineas Nigellus telah muncul di kanvas potretnya
dan sedang mencondongkan badan pada bingkainya, sambil mengamati Harry dengan
ekspresi geli di wajahnya.
'Bukan melarikan diri, bukan,' kata Harry singkat, sambil menyeret kopernya
beberapa kaki lagi menyeberangi ruangan.
'Kukira,' kata Phineas Nigellus sambil membelai janggut runcingnya, 'bahwa untuk
berada di Asrama Gryffindor kau seharusnya berani! Tampaknya bagiku seolah-olah
kau akan lebih baik di asramaku. Kami para Slytherin berani, ya, tapi tidak bodoh.
Misalnya, kalau diberi pilihan, kami akan selalu memilih menyelamatkan hidup kami
sendiri.'
'Bukan hidupku yang sedang kuselamatkan,' kata Harry ringkas, sambil menyentak
koper itu melalui sepotong karpet termakan ngengat yang tidak rata tepat di depan
pintu.
'Oh, aku mengerti,' kata Phineas Nigellus, masih membelai janggutnya, 'ini bukan
pelarian secara pengecut -- kau sedang bersikap mulia.'
Harry mengabaikannya. Tangannya berada di kenop pintu ketika Phineas Nigellus
berkata dengan malas, 'Aku punya pesan untukmu dari Albus Dumbledore.'
Harry berputar.
'Apa itu?'
'"Tetaplah di tempatmu."'
'Aku belum bergerak!' kata Harry, tangannya masih di kenop pintu. 'Jadi apa
pesannya?'
'Aku baru saja memberikannya kepadamu, tolol,' kata Phineas Nigellus dengan
lancar. 'Dumbledore bilang, "Tetaplah di tempatmu."'
'Kenapa?' kata Harry dengan tidak sabar sambil menjatuhkan ujung kopernya.
'Kenapa dia ingin aku tinggal? Apa lagi yang dikatakannya?'
'Tak ada apapun,' kata Phineas Nigellus, sambil mengangkat alis hitam tipis seolaholah dia mendapati Harry kurang ajar.
Amarah Harry naik ke permukaan seperti seekor ular yang membumbung dari
rumput panjang. Dia letih sekali, dia sangat bingung, dia telah mengalami teror,
kelegaan, lalu teror lagi dalam dua belas jam terakhir ini, dan masih saja Dumbledore
tidak mau berbicara kepadanya!
'Jadi begitu saja, bukan?' dia berkata keras-keras. '"Tetaplah di tempatmu"! Hanya
itu jugalah yang bisa dikatakan semua orang kepadaku setelah aku diserang oleh
Dementor-Dementor itu! Jangan ke mana-mana sementara para orang dewasa
menyelesaikannya, Harry! Walaupun kami takkan repot-repot memberitahumu apaapa, karena otakmu yang kecil mungkin takkan bisa mengatasinya!'
'Kau tahu,' kata Phineas Nigellus, bahkan lebih keras daripada Harry, 'inilah
persisnya kenapa aku benci menjadi seorang guru! Para orang muda begitu yakin
bahwa mereka sepenuhnya benar tentang segala hal. Tidakkah pernah terpikir olehmu,
anak manja sombong yang malang, bahwa mungkin ada alasan bagus kenapa Kepala
Sekolah Hogwarts tidak mempercayakan setiap detil kecil dari rencana-rencananya
kepadamu? Pernahkah kau berhenti sejenak, selagi merasa diperlakukan tidak adil,
untuk memperhatikan bahwa mengikuti perintah-perintah Dumbledore belum pernah
menuntunmu ke bahaya? Tidak. Tidak, seperti semua orang muda, kau sangat yakin
bahwa kau seorang yang merasa dan berpikir, kau seorang yang mengenali bahaya,
kau seorang satu-satunya yang cukup pintar untuk menyadari apa yang mungkin
sedang direncanakan Pangeran Kegelapan --'
'Kalau begitu, dia sedang merencanakan sesuatu yang berhubungan denganku?'
kata Harry dengan cepat.
'Apa aku bilang begitu?' kata Phineas Nigellus, sambil memeriksa sarung tangan
suteranya dengan malas-malasan. 'Sekarang, kalau kau bisa memaafkanku, aku punya
hal-hal yang lebih baik untuk dilakukan daripada mendengarkan remaja mengeluh ...
selamat siang untukmu.'
Dan dia berjalan ke tepi bingkainya dan keluar dari pandangan.
'Baik, pergilah kalau begitu!' Harry berteriak kepada bingkai kosong itu. 'Dan
beritahu Dumbledore terima kasih tanpa alasan!'
Kanvas kosong itu tetap diam. Sambil mengomel, Harry menyeret kopernya
kembali ke kaki ranjangnya, lalu melemparkan dirinya sendiri dengan muka duluan ke
seprei termakan ngengat, matanya tertutup, tubuhnya berat dan sakit.
Dia merasa seolah-olah dia telah melakukan perjalanan selama bermil-mil ...
tampaknya tidak mungkin bahwa kurang dari dua puluh empat jam yang lalu Cho
Chang telah mendekatinya di bawah mistletoe ... dia begitu capek ... dia takut untuk
tidur ... tapi dia tidak tahu berapa lama dia bisa melawannya ... Dumbledore telah
menyuruhnya untuk tinggal ... itu pasti berarti dia boleh tidur ... tapi dia takut ...
bagaimana kalau terjadi lagi?
Dia terbenam ke dalam bayang-bayang ...
Seakan-akan sebuah film dalam kepalanya telah menunggu dimulai. Dia sedang
berjalan di sebuah koridor sepi menuju sebuah pintu hitam sederhana, melalui
dinding-dinding batu yang kasar, obor-obor, dan sebuah ambang pintu terbuka
menuju serangkaian anak-anak tangga yang mengarah ke bawah di sebelah kiri ...
Dia mencapai pintu hitam itu tetapi tidak bisa membukanya ... dia berdiri
menatapnya, putus asa ingin masuk ... sesuatu yang diinginkannya dengan sepenuh
hati ada di baliknya ... sesuatu yang berharga melampaui mimpi-mimpinya ... kalau
saja bekas lukanya bisa berhenti menusuk-nusuk ... dengan begitu dia akan bisa
berpikir lebih jernih ...
'Harry,' kata suara Ron, dari tempat yang jauh, 'Mum bilang makan malam sudah
siap, tapi dia akan menyisakan sesuatu untukmu kalau kau mau tetap di tempat tidur.'
Harry membuka matanya, tetapi Ron telah meninggalkan ruangan itu.
Dia tidak mau sendirian bersamaku, Harry berpikir. Tidak setelah dia mendengar
apa yang telah dikatakan Moody.
Dia merasa tak seorangpun dari mereka akan mau dia di sana lagi, sekarang setelah
mereka tahu apa yang ada dalam dirinya.
Dia tidak akan turun untuk makan malam,. dia tidak akan memaksakan
kehadirannya pada mereka. Dia berpaling ke sisi yang lain dan, setelah beberapa saat,
kembali tidur. Dia bangun lama kemudian, pagi-pagi sekali, isi tubuhnya sakit karena
lapar dan Ron sedang mendengkur di ranjang sebelah. Sambil memicingkan mata ke
sekitar kamar, dia melihat garis-garis tubuh Phineas Nigellus berdiri lagi di potretnya
dan terpikir oleh Harry bahwa Dumbledore mungkin telah mengirim Phineas Nigellus
untuk mengawasinya, kalau-kalau dia menyerang orang lain.
Perasaan tidak bersih itu semakin kuat. Dia setengah berharap dia tidak mematuhi
Dumbledore ... kalau ini kehidupan yang akan dialaminya di Grimmauld Place dari
sekarang, mungkin dia lebih baik di Privet Drive.
*
Semua orang lain menghabiskan pagi berikutnya memasang hiasan Natal. Harry tidak
bisa mengingat Sirius pernah berada dalam suasana hati yang demikian bagus; dia
bahkan menyanyikan lagu-lagu Natal, tampaknya senang dia mendapat teman
melewati Natal. Harry bisa mendengar suaranya menggema naik melalui lantai di
ruang duduk yang dingin di mana dia sedang duduk sendirian, mengamati langit
semakin putih di luar jendela, salju yang mengancam, sepanjang waktu merasakan
kesenangan kejam bahwa dia sedang memberikan kesempatan kepada yang lainnya
untuk terus membicarakannya, yang pasti sedang mereka lakukan. Ketika dia
mendengar Mrs Weasley memanggil namanya dengan lembut di tangga sekitar waktu
makan siang, dia mundur ke atas lagi dan mengabaikannya.
Sekitar pukul enam malam bel pintu berbunyi dan Mrs Black mulai menjerit lagi.
Mengasumsikan bahwa Mundungus atau beberapa anggota Order yang lain telah
datang berkunjung, Harry hanya membuat dirinya lebih nyaman di dinding kamar
Buckbeak tempat dia sedang bersembunyi, berusaha mengabaikan bagaimana
laparnya dia selagi dia memberi makan Hippogriff itu dengan tikus-tikus mati.
Membuatnya sedikit terguncang ketika seseorang menggedor-gedor pintu dengan
keras beberapa menit kemudian.
'Aku tahu kau di dalam sana,' kata suara Hermione. 'Maukah kau keluar? Aku ingin
berbicara kepadamu.'
'Apa yang sedang kau lakukan di sini?' Harry bertanya kepadanya, sambil menarik
pintu hingga terbuka sementara Buckbeak melanjutkan cakarannya pada lantai yang
dilapis jerami untuk mencari potongan-potongan tikus yang mungkin telah
dijatuhkannya. 'Kukira kau sedang berski dengan ayah dan ibumu?'
'Well, sejujurnya, ski bukan keahlianku,' kata Hermione. 'Jadi, aku datang ke sini
untuk Natalan.' Ada salju di rambutnya dan wajahnya merah jambu karena
kedinginan. 'Tapi jangan beritahu Ron. Kubilang padanya ski sangat menyenangkan
karena dia terus tertawa. Mum dan Dad sedikit kecewa, tapi kuberitahu mereka bahwa
semua orang yang serius tentang ujian tinggal di Hogwarts untuk belajar. Mereka mau
aku dapat nilai bagus, mereka akan mengerti. Ngomong-ngomong,' dia berkata
dengan cepat, 'mari pergi ke kamar tidurmu, ibu Ron sudah menyalakan api di sana
dan dia sudah mengirimkan roti isi.'
Harry mengikutinya kembali ke lantai dua. Ketika dia memasuki kamar tidur itu,
dia agak terkejut melihat Ron dan Ginny sedang menunggu mereka, sambil duduk di
tempat tidur Ron.
'Aku datang naik Bus Ksatria,' kata Hermione dengan ringan, sambil melepaskan
jaketnya sebelum Harry bisa berbicara. 'Dumbledore memberitahuku apa yang terjadi
pagi-pagi sekali, tapi aku harus menunggu semester berakhir secara resmi sebelum
berangkat. Umbridge sudah marah besar karena kalian semua menghilang tepat di
bawah hidungnya, walaupun Dumbledore memberitahunya Mr Weasley ada di St
Mungo dan dia sudah memberi kalian semua izin untuk menjenguk. Jadi ...'
Dia duduk di samping Ginny, dan kedua gadis itu dan Ron semua memandang
Harry.
'Bagaimana perasaanmu?' tanya Hermione.
'Baik,' kata Harry kaku.
'Oh, jangan bohong, Harry,' dia berkata dengan tidak sabar. 'Ron dan Ginny bilang
kau sudah bersembunyi dari semua orang sejak kalian kembali dari St Mungo.'
'Mereka bilang begitu, bukan?' kata Harry sambil melotot kepada Ron dan Ginny.
Ron melihat ke bawah pada kakinya tetapi Ginny tampaknya tidak merasa malu.
'Well, kau memang begitu!' dia berkata. 'Dan kau tak mau memandang satupun dari
kami!'
'Kalian semua yang tak mau memandangku!' kata Harry dengan marah.
'Mungkin kalian bergantian memandang, dan terus tak melihat satu sama lain,'
saran Hermione, sudut mulutnya berkedut.
'Sangat lucu,' sambar Harry sambil berpaling.
'Oh, berhenti merasa salah dimengerti,' kata Hermione dengan tajam. 'Lihat, yang
lain sudah memberitahuku apa yang kalian dengar tadi malam pada Telinga YangDapat-Dipanjangkan --'
'Yeah?' geram Harry, tangannya berada dalam-dalam di kantongnya selagi dia
mengamati salju yang sekarang turun dengan lebat di luar. 'Semua sudah berbicara
tentang aku, bukan begitu? Well, aku sudah terbiasa.'
'Kami ingin berbicara denganmu, Harry,' kata Ginny, 'tapi karena kau sudah
bersembunyi sejak kita kembali --'
'Aku tak butuh siapapun berbicara kepadaku,' kata Harry, yang merasa semakin
terluka.
'Well, kau agak bodoh,' kata Ginny dengan marah, 'mengingat kau tak kenal
siapapun kecuali aku yang pernah dirasuki oleh Kau-Tahu-Siapa, dan aku bisa
memberitahumu bagaimana rasanya.'
Harry terdiam sementara pengaruh kata-kata ini menghantamnya. Lalu dia
berputar.
'Aku lupa,' dia berkata.
'Beruntungnya kau,' kata Ginny dengan dingin.
'Maafkan aku,' Harry berkata, dan dia bersungguh-sungguh. 'Jadi ... jadi, kalau
begitu, apakah menurutmu aku dirasuki?'
'Well, bisakah kau ingat semua hal yang pernah kau lakukan?' Ginny bertanya.
'Apakah ada periode-periode kosong di mana kau tidak tahu apa yang telah kau
perbuat?'
Harry memutar otaknya.
'Tidak,' dia berkata.
'Kalau begitu Kau-Tahu-Siapa tidak pernah merasukimu,' kata Ginny dengan
sederhana. 'Waktu dia melakukannya padaku, aku tak bisa ingat apa yang telah
kulakukan selama berjam-jam pada sekali waktu. Aku akan menemukan diriku sendiri
di suatu tempat dan tidak tahu bagaimana aku sampai di sana.'
Harry hampir tidak berani mempercayainya, namun walau begitu hatinya semakin
ringan.
'Akan tetapi, mimpi yang kudapatkan tentang ayahmu dan ular itu --'
'Harry, kau sudah pernah mendapatkan mimpi-mimpi ini sebelumnya,' Hermione
berkata. 'Kau mendapatkan kilasan-kilasan tentang apa yang sedang diperbuat
Voldemort tahun lalu.'
'Itu berbeda,' kata Harry sambil menggelengkan kepalanya. 'Aku ada di dalam ular
itu. Sepertinya akulah ular itu ... bagaimana kalau Voldemort dengan suatu cara
memindahkanku ke London --?'
'Suatu hari,' kata Hermione, terdengar benar-benar putus asa, 'kau akan membaca
Sejarah Hogwarts, dan mungkin itu akan mengingatkanmu bahwa kau tak bisa berApparate atau ber-Disapparate di dalam Hogwarts. Bahkan Voldemort tidak bisa
membuat kau terbang begitu saja keluar dari kamar asramamu, Harry.'
'Kau tidak meninggalkan tempat tidurmu, sobat,' kata Ron. 'Aku melihatmu tidak
tenang dalam tidurmu selama setidaknya satu menit sebelum kami bisa
membangunkanmu.'
Harry mulai berjalan bolak-balik di kamar itu lagi, sambil berpikir. Apa yang
mereka semua katakan bukan hanya menenangkan, itu masuk akal ... tanpa benarbenar berpikir, dia mengambil sebuah roti isi dari piring di atas tempat tidur dan
menjejalkannya dengan lapar ke dalam mulutnya.
Ternyata aku bukan senjatanya, pikir Harry. Hatinya menggembung dengan
kebahagiaan dan kelegaan, dan dia merasa ingin ikut serta ketika mereka mendengar
Sirius berderap melewati pintu mereka menuju kamar Buckbeak, sambil menyanyikan
'Tuhan Selamatkan Engkau, Hippogriff Gembira' sekeras-kerasnya.
*
Bagaimana mungkin dia bermimpi kembali ke Privet Drive untuk Natalan?
Kegembiraan Sirius mendapati rumahnya penuh lagi, dan terutama mendapatkan
Harry kembali, menjalar. Dia tidak lagi tuan rumah cemberut di musim panas,
sekarang dia tampak bertekad bahwa semua orang harus bersenang-senang sebesar,
kalau tidak lebih lebih dari yang akan mereka alami di Hogwarts, dan dia bekerja
tanpa lelah di hari-hari menjelang Hari Natal, membersihkan dan mendekorasi dengan
bantuan mereka, sehingga pada saat mereka semua pergi tidur pada Malam Natal
rumah itu hampir tidak bisa dikenali. Tempat-tempat lilin ternoda tak lagi bergantung
dengan sarang laba-laba melainkan dengan kalung tanaman holly dan pita-pita emas
dan perak; salju sihir berkilauan bertumpuk-tumpuk di atas karpet-karpet tipis; sebuah
pohon Natal besar, yang didapat oleh Mundungus dan dihiasi dengan peri-peri hidup,
menghalangi pohon keluarga Sirius dari pandangan, dan bahkan kepala-kepala peri
yang disumpal di aula mengenakan topi dan janggut Bapa Natal.
Harry terbangun di pagi Natal untuk menemukan setumpuk hadiah di kaki tempat
tidurnya dan Ron sudah setengah jalan membuka miliknya sendiri, tumpukan yang
lumayan besar.
'Tangkapan yang bagus tahun ini,' dia memberitahu Harry melalui tumpukan kertas.
'Trims atas Kompas Sapunya, bagus sekali; mengalahkan Hermione -- dia memberiku
sebuah perencana peer --'
Harry memilah-milah hadiahnya dan menemukan sebuah dengan tulisan tangan
Hermione di atasnya. Dia juga telah memberinya sebuah buku yang menyerupai diari
kecuali bahwa setiap kali dia membuka sebuah halaman buku itu berkata keras-keras
hal-hal seperti: 'Kerjakan hari ini atau kau akan bayar di kemudian waktu!'
Sirius dan Lupin memberi Harry satu set buku bagus berjudul Sihir Pertahanan
Praktis dan Kegunaannya Melawan Ilmu Hitam, yang memiliki ilustrasi berwarna
yang hebat dan bergerak-gerak mengenai semua kontra-kutukan dan guna-guna yang
digambarkannya. Harry membalik-balik volume pertama dengan bersemangat; dia
bisa melihat buku itu akan sangat berguna bagi rencana-rencananya untuk DA. Hagrid
telah mengirimkan sebuah dompet coklat berbulu yang memiliki taring, yang kiranya
seharusnya merupakan alat anti pencurian, tetapi sayangnya mencegah Harry
menempatkan uang ke dalamnya tanpa mengakibatkan jari-jarinya terkoyak. Hadiah
Tonks adalah sebuah model Firebolt kecil yang bisa bekerja, yang Harry amati
terbang mengitari kamar, sambil berharap dia masih memiliki versi ukuran penuhnya;
Ron memberinya sebuah kotak besar Kacang Segala Rasa, Mr dan Mrs Weasley
sweater rajutan tangan yang biasa dan beberapa pai daging, dan Dobby sebuah lukisan
yang sangat mengerikan yang Harry duga telah dilukis peri itu sendiri. Dia baru saja
membaliknya untuk melihat apakah terlihat lebih baik dengan cara itu ketika, dengan
suara lecutan keras, Fred dan George ber-Apparate di kaki ranjangnya.
'Selamat Natal,' kata George. 'Jangan turun ke bawah dulu.'
'Kenapa tidak?' kata Ron.
'Mum sedang menangis lagi,' kata Fred dengan berat. 'Percy mengirimkan kembali
sweater Natalnya.'
'Tanpa pesan,' tambah George. 'Belum bertanya bagaimana keadaan Dad atau
menjenguknya atau apapun.'
'Kami coba menghiburnya,' kata Fred sambil berpindah mengitari tempat tidur
untuk memandangi potret Harry. 'Bilang padanya Percy bukan apa-apa selain
setumpuk besar kotoran tikus.'
'tak berhasil,' kata George sambil makan sebuah Cokelat Kodok. 'Jadi Lupin ambil
alih. Kurasa, sebaiknya biarkan dia menghiburnya sebelum kita turun untuk sarapan.'
'Ngomong-ngomong, seharusnya itu apa?' tanya Fred sambil memicingkan mata
pada lukisan Dobby. 'Tampaknya seperti seekor siamang dengan dua mata hitam.'
'Itu Harry!' kata George sambil menunjuk ke bagian belakang gambar itu, 'katanya
begitu di belakang!'
'Mirip sekali,' kata Fred sambil menyeringai. Harry melemparkan diari peernya
yang baru kepadanya; benda itu mengenai dinding di seberang dan jatuh ke lantai di
mana dia berkata dengan gembira: 'Kalau kau sudah membubuhkan titik pada "i" dan
garis pada "t" maka kau boleh melakukan apapun yang kau suka!"
Mereka bangkit dan berpakaian. Mereka bisa mendengar berbagai penghuni rumah
saling berseru "Selamat Natal" kepada satu sama lain. Di perjalanan ke bawah mereka
bertemu Hermione.
'Trims atas bukunya, Harry,' dia berkata dengan gembira. 'Aku sudah
menginginkan Teori Baru Numerologi itu lama sekali! Dan parfumnya benar-benar
tidak biasa, Ron.'
'Tak masalah,' kata Ron. 'Ngomong-ngomong, untuk siapa itu?' dia menambahkan
sambil mengangguk pada hadiah yang terbungkus rapi yang sedang dibawa
Hermione.
'Kreacher,' kata Hermione dengan ceria.
'Sebaiknya bukan pakaian!' Ron memperingatkannya. 'Kau tahu apa yang dikatakan
Sirius: Kreacher tahu terlalu banyak, kita tidak bisa membebaskannya!'
'Bukan pakaian,' kata Hermione, 'walaupun kalau aku bisa aku tentu akan
memberinya sesuatu untuk dipakai selain kain rombengan kotor itu. Bukan, ini
selimut perca, kukira akan mencerahkan kamar tidurnya.'
'Kamar tidur apa?' kata Harry sambil menurunkan suaranya menjadi bisikan selagi
mereka melewati potret ibu Sirius.
'Well, Sirius bilang tak begitu mirip kamar tidur , lebih seperti sarang,' kata
Hermione. 'Tampaknya dia tidur di bawah ketel uap di dalam lemari itu di dapur.'
Mrs Weasley adalah satu-satunya orang yang berada di ruang bawah tanah ketika
mereka tiba di sana. Dia sedang berdiri di depan kompor dan terdengar seolah-olah
dia sedang flu berat ketika dia menyalami mereka 'Selamat Natal', dan mereka semua
mengalihkan mata mereka.
'Jadi, ini kamar tidur Kreacher?' kata Ron sambil berjalan ke sebuah pintu kumal di
sudut seberang lemari penyimpanan. Harry belum pernah melihatnya dibuka.
'Ya,' kata Hermione, sekarang terdengar sedikit gugup. 'Er ... kukira kita sebaiknya
mengetuk.'
Ron mengetuk pintu itu dengan buku-buku jarinya tetapi tidak ada jawaban.
'Dia pasti sedang menyelinap di atas,' dia berkata, dan tanpa ribut-ribut lagi
menarik pintu hingga terbuka. 'Urgh!'
Harry mengintip ke dalam. Sebagian besar dari lemari itu terambil oleh sebuah
ketel uap yang sangat besar dan kuno, tetapi di ruang di bawah pipa-pipa Kreacher
telah membuat sesuatu yang tampak seperti sarang bagi dirinya sendiri. Campuran
berbagai kain rombengan dan selimut tua yang bau ditumpuk di lantai dan lekuk kecil
di tengahnya memperlihatkan tempat Kreacher bergelung untuk tidur setiap malam.
Di sana-sini di antara benda-benda ada remah-remah roti basi dan potongan-potongan
keju berjamur. Di sudut jauh berkilau benda-benda kecil dan koin-koin yang Harry
tebak telah diselamatkan Kreacher, seperti burung pencuri, dari pembersihan rumah
oleh Sirius, dan dia juga berhasil mengambil foto keluarga berbingkai perak yang
telah dibuang Sirius pada musim panas. Kaca mereka mungkin pecah, tapi orangorang kecil hitam putih di dalamnya memandangnya dengan angkuh, termasuk -- dia
merasakan entakan kecil di perutnya -- wanita berkelopak mata tebal yang berkulit
gelap yang pengadilannya telah dia saksikan dalam Pensieve Dumbledore: Bellatrix
Lestrange. Tampaknya, fotonya adalah kesukaan Kreacher; dia telah
menempatkannya di depan semua yang lain dan telah memperbaiki kacanya dengan
canggung menggunakan Spellotape.
'Kukira aku hanya akan meninggalkan hadiahnya di sini,' kata Hermione, sambil
meletakkan paket itu dengan rapi di tengah turunan di kain-kain dan selimut
rombengan itu dan menutup pintu pelan-pelan. 'Dia akan menemukannya nanti, itu
bagus.'
'Kalau dipikir-pikir,' kata Sirius, sambil muncul dari lemari penyimpanan sambil
membawa seekor kalkun besar selagi mereka menutup pintu lemari itu, 'apa
sebenarnya ada yang melihat Kreacher akhir-akhir ini?'
'Aku belum melihatnya sejak malam kami kembali ke sini,' kata Harry. 'Kau sedang
menyuruhnya keluar dari dapur.'
'Yeah ...' kata Sirius sambil merengut. 'Kau tahu, kukira itu terakhir kalinya aku
melihatnya juga ... dia pasti sedang bersembunyi di atas di suatu tempat.'
'Dia tidak mungkin pergi, bukan?' kata Harry. 'Maksudku, waktu kau bilang
"keluar", mungkin dia berpikir maksudmu keluar dari rumah?'
'Tidak, tidak, peri-rumah tidak bisa pergi kecuali mereka diberi pakaian. Mereka
terikat pada rumah keluarga,' kata Sirius.
'Mereka bisa meninggalkan rumah kalau mereka benar-benar mau,' Harry
membantahnya. 'Dobby melakukannya, dia meninggalkan rumah keluarga Malfoy
untuk memberiku peringatan dua tahun yang lalu. Dia harus menghukum dirinya
sendiri setelahnya, tapi tetap saja dia berhasil.'
Sirius tampak sedikit bingung sejenak, lalu berkata, 'Aku akan mencarinya nanti,
kuduga aku akan menemukannya di atas sedang menangisi kesalahan ibuku atau
sesuatu. Tentu saja, dia mungki telah merangkak ke dalam lemari pengering dan mati
... tapi aku tidak boleh mengharap tinggi-tinggi.'
Fred, George dan Ron tertawa; namun Hermione tampak mencela.
Setelah mereka makan siang Natal, keluarga Weasley, Harry dan Hermione
merencanakan untuk menjenguk Mr Weasley lagi, ditemani oleh Mad-Eye dan Lupin.
Mundungus muncul tepat waktu untuk puding Natal, setelah berhasil 'meminjam'
sebuah mobil untuk kesempatanitu, karena Kereta Bawah Tanah tidak jalan pada Hari
Natal. Maobil itu, yang Harry ragu telah diambil seizin pemiliknya, telah diperbesar
dengan mantera seperti dulu Ford Anglia lama keluarga Weasley. Walaupun besarnya
di bagian luar normal, sepuluh orang beserta Mundungus yang menyetir bisa masuk
ke dalamnya dengan nyaman. Mrs Weasley bimbang sebelum masuk ke dalam -Harry tahu ketidaksetujuannya pada Mundungus bertarung dengan ketidaksukaannya
untuk bepergian tanpa sihir -- tapi, akhirnya, udara dinign di luar dan permohonan
anak-anaknya menang, dan dia masuk ke tempat duduk belakang di antara Fred dan
Bill dengan anggun.
Perjalanan ke St Mungo sangat cepat karena sangat sedikit lalu lintas di jalan-jalan.
Aliran kecil para penyihir wanita dan pria sedang berjalan pelan-pelan di jalan yang
selain itu sepi untuk mengunjungi rumah sakit. Harry dan yang lainnya keluar dari
mobil, dan Mundungus menyetir mengitari sudut untuk menunggu mereka. Mereka
berjalan dengan biasa menuju jendela tempat boneka berbaju nilon hijau itu berdiri,
lalu, satu per satu, melangkah melalui kaca.
Area penerimaan tampak bersuasana pesta menyenangkan: bola-bola kristal yang
menerangi St Mungo telah diberi warna merah dan emas sehingga menjadi bola hiasa
Natal raksasa berkilauan; daun-daun holly bergantungan di setiap ambang pintul dan
pohon-pohon Natal putih bersinar tertutup tetes air beku dan salju sihir berkilauan di
setiap sudut, masing-masing diberi bintang emas berkilat di puncaknya. Tempat itu
tidak begitu padat seperti kali terakhir mereka di sana, walaupun setengah jalan
menyusuri ruangan itu Harry menemukan dirinya terdorong ke samping oleh seorang
penyihir wanita dengan jeruk tersumbat di lubang hidungnya.
'Percekcokan keluarga, eh?' penyihir wanita di belakang meja tersenyum
menyeringai. 'Kau yang ketiga yang kutemui hari ini ... Kerusakan Akibat Mantera,
lantai keempat.'
Mereka menemukan Mr Weasley bersandar di tempat tidurnya dengan sisa-sisa
makan malam kalkunnya di sebuah nampan di pangkuannya dan ekspresi yang agak
malu-malu di wajahnya.
'Semuanya baik-baik saja, Arthur?' tanya Mrs Weasley, setelah mereka semua
memberi salam pada Mr Weasley dan menyerahkan hadiah-hadiah mereka.
'Bai, baik,' kata Mr Weasley, sedikit terlalu bersungguh-sungguh. 'Kalian -- er -belum bertemu Penyembuh Smethwyck, bukan?'
'Belum,' kata Mrs Weasley dengan curiga, 'Kenapa?'
'Tidak apa-apa, tidak apa-apa,' kata Mr Weasley dengan ringan, sambil mulai
membuka bungkusan tumpukan hadiahnya. 'Well, semua orang senang? Apa yang
kalian semua dapatkan untuk Natal? Oh, Harry -- ini benar-benar menakjubkan!'
Karena dia baru saja membuka hadiah Harry berupa kawat sekering dan obeng.
Mrs Weasley tidak tampak benar-benar puas dengan jawaban Mr Weasley. Selagi
suaminya mencondongkan badan untuk menjabat tangan Harry, dia mengintip perban
di bawah baju tidurnya.
'Arthur,'dia berkata, dengan nada tajam dalam suaranya seperti perangkap tikus,
'perbanmu sudah diganti. Kenapa kau ganti perbanmu sehari lebih awal, Arthur?
Mereka bilang padaku tidak perlu diganti sampai besok.'
'Apa?' kata Mr Weasley, tampak agak takut dan menarik selimut lebih tinggi ke
dadanya. 'Tidak, tidak -- bukan apa-apa -- '
Dia terlihat mengerut di bawah tatapan menusuk Mrs Weasley.
'Well, jangan jadi kacau sekarang, Molly, tapi Augustus Pye punya gagasan ... dia
Penyembuh Magang, kau tahu, anak muda menyenangkan dan sangat tertarik dalam
... um ... obat-obat pelengkap ... maksudku, beberapa dari pengobatan Muggle tua ini
... well, disebut jahitan, Molly, dan berhasil sangat baik pada -- pada luka-luka
Muggle --'
Mrs Weasley mengeluarkan suara tidak menyenangkan antara jeritan dan geraman.
Lupin berjalan pergi dari ranjang dan ke arah manusia serigala itu, yang tidak
mendapat pengunjung dan sedang memandang agak prihatin ke kerumunan di sekitar
Mr Weasley; Bill menggumamkan sesuatu tentang minum secangkir the dan Fred dan
George melompat bangkit untuk menemaninya, sambil menyeringai.
'Apakah kau bermaksud memberitahuku,' kata Mrs Weasley, suaranya semakin
keras dengan setiap kata dan tampaknya tidak sadar bahwa pengunjung yang
bersamanya sedang giat mencari perlindungan, 'bahwa kau telah bermain-main
dengan pengobatan Muggle?'
'Bukan bermain-main, Molly, sayang,' kata Mr Weasley memohon, 'hanya -- hanya
sesuatu yang Pye dan aku kira akan kami coba -- cuma, sayangnya -- well, dengan
jenis luka seperti ini -- tampaknya tidak berhasil sebaik yang kami harapkan --'
'Artinya?'
'Well... well, aku tak tahu apakah kau tahu apa -- apa itu jahitan?'
'Kedengarannya seolah-olah kau mencoba menjahit kulitnya kembali,' kata Mrs
Weasley dengan dengus tawa tidak senang, 'tapi bahkan kau, Arthur, tidak akan
sebodoh itu--'
'Aku juga ingin secangkir the,' kata Harry sambil melompat bangkit.
Hermione, Ron dan Ginny hampir berlari kecil ke pintu bersamanya. Selagi pintu
itu berayun menutup di belakang mereka, mereka mendengar Mrs Weasley menjerit,
'APA MAKSUDMU, ITU GAGASAN UMUMNYA?'
'Ciri khas Dad,' kata Ginny sambil menggelengkan kepalanya selagi mereka
berjalan di koridor. 'Jahitan ... kutanya kalian ...'
'Well, kau tahu, jahitan berhasil pada luka-luka non-sihir,' kata Hermione dengan
adil. 'Kurasa sesuatu dalam bisa ular itu melarutkannya atau sesuatu. Aku ingin tahu
di mana ruang minum the?'
'Lantai kelima,' kata Harry teringat pada papan penunjuk di atas meja penyihir
penyambut.
Mereka berjalan menyusuri koridor, melalui serangkaian pintu ganda dan
menemukan tangga reyot yang dihiasi dengan lebih banyak lagi potret para
Penyembuh yang tampak kejam. Selagi mereka menaikinya, berbagai Penyembuh itu
memanggil mereka, mendiagnosakan keluhan-keluhan aneh dan menyarankan obatobat mengerikan. Ron benar-benar terhina ketika seorang penyihir pria abad
pertengahan berseru bahwa dia jelas-jelas terkena spattergroit yang parah.
'Dan apa itu?' dia bertanya dengan marah, sementara si Penyembuh mengejarnya
melalui enam potret lagi, sambil mendorong pada penghuninya menyingkir.
'Itu adalah penyakit kulit yang paling menyedihkan, tuan muda, yang akan
menyebabkan Anda bermuka bopen dan bahkan lebih mengerikan daripada sekarang -'
'Perhatikan siapa yang kau sebut mengerikan!' kata Ron, telinganya memerah.
'--satu-satunya penyembuhnya adalah dengan mengambil hati katak, mengikatnya
erat-erat di tenggorokanmu, berdiri telanjang saat bulan penuh di dalam satu tong
mata belut --'
'Aku tidak kena spattergroit!'
'Tapi noda-noda tak sedap dipandang di wajah Anda, tuan muda --'
'Itu bintik-bintik!' kata Ron marah besar. 'Sekarang kembali ke gambarmu dan
tinggalkan aku sendiri!'
Dia berpaling kepada yang lainnya, yang semuanya sedang bertekad memasang
muka biasa.
'Lantai berapa ini?'
'Kukira yang kelima,' kata Hermione.
'Bukan, yang keempat,' kata Harry, 'satu lagi --'
Tetapi selagi dia mendarat ke puncak tangga dia berhenti mendadak, sambil
menatap ke jendela kecil yang terdapat pada pintu ganda yang menandakan awal
sebuah koridor yang diberi tanda CEDERA AKIBAT MANTERA. Seorang lelaki
sedang mengintip kepada mereka semua dengan hidungnya tertekan pada kaca. Dia
memiliki rambut pirang bergelombang, mata biru cerah dan sebuah senyum lebar
yang hampa yang memperlihatkan gigi-gigi putih menyilaukan.
'Astaga!' kata Ron, juga menatap lelaki itu.
'Oh, Tuhan,' kata Hermione tiba-tiba, terdengar terengah-engah. 'Profesor
Lockhart!'
Bekas guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam mereka mendorong pintu-pintu itu
hingga terbuka dan bergerak ke arah mereka, mengenakan sebuah jubah longgar
panjang berwarna lila.
'Well, halo yang di sana!' dia berkata. 'Kurasa kalian akan mau tanda tanganku,
bukan?'
'Belum banyak berubah, bukan?' Harry bergumam kepada Ginny, yang
menyeringai.
'Er -- bagaimana keadaan Anda, Profesor?' kata Ron, terdengar sedikit bersalah.
Tongkat Ron yang rusaklah yang telah mencederai ingatan Profesor Lockhart dengan
begitu parahnya sehingga dia sampai ke St Mungo, walaupun karena Lockhart telah
berusaha untuk menghapus ingatan Harry dan Ron secara permanen pada saat itu, rasa
simpati Harry terbatas.
'Aku sangat sehat, terima kasih!' kata Lockhart dengan gembira, sambil menarik
sebuah pena bulu merak yang agak kumal dari kantongnya. 'Sekarang, berapa banyak
tanda tangan yang kalian inginkan? Aku bisa menulis huruf kursif sekarang, kalian
tahu!'
'Er -- kami tak mau apapun saat ini, trims,' kata Ron sambil mengangkat alisnya
kepada Harry, yang bertanya, 'Profesor, apakah Anda boleh berkeliaran di koridor?
Bukankah seharusnya Anda berada di dalam sebuah bangsal?'
Senyum memudar lambat-lambat dari wajah Lockhart. Selama beberapa saat dia
memandang Harry lekat-lekat, lalu dia berkata, 'Bukankah kita pernah bertemu?'
'Er ... yeah, memang,' kata Harry. 'Anda dulu mengajar kami di Hogwarts, ingat?'
'Mengajar?' ulang Lockhart, terlihat agak tidak tenang. 'Aku? Benarkah?'
Dan kemudian senyum itu muncul kembali ke wajahnya begitu mendadaknya
sehingga agak menakutkan.
'Mengajari kalian semua yang kalian tahu, kurasa begitu? Well, kalau begitu,
bagaimana dengan tanda tangan itu? Haruskah kita bilang sekitar selusin, dengan
begitu kalian bisa memberikannya kepada semua teman kecil kalian dan tak
seorangpun akan ketinggalan!'
Tetapi saat itu sebuah kepala terulur dari sebuah pintu di ujung jauh dari koridor itu
dan sebuah suara berkata, 'Gilderoy, kau anak nakal, ke mana kau pergi?'
Seorang Penyembuh yang tampak keibuan yang mengenakan sebuah rangkaian
bunga dari kertas perak di rambutnya datang bergegas menyusuri koridor, sambil
tersenyum hangat kepada Harry dan yang lainnya.
'Oh, Gilderoy, kau punya pengunjung! Betapa bagusnya, dan di Hari Natal juga!
Tahukah kalian, dia tak pernah mendapat mengunjung, anak malang, dan aku tak bisa
mengira kenapa, dia begitu manis, bukan?'
'Kami sedang melakukan tanda tangan!' Gilderoy memberitahu Penyembuh itu
dengan senyum berkilau lagi. 'Mereka mau banyak, tidak mau terima penolakan! Aku
hanya berharap kami punya cukup foto!'
'Dengarkan dia,' kata si Penyembuh sambil memegang lengan Lockhart dan
tersenyum sayang kepadanya seolah-olah dia anak berusia dua tahun yang terlalu
cepat dewasa. 'Dia agak terkenal beberapa tahun yang lalu; kami sangat berharap
bahwa kegemarannya memberi tanda tangan adalah suatu tanda bahwa ingatannya
mungkin mulai kembali. Maukah kalian melangkah ke sini? Dia ada dalam bangsal
tertutup, kalian tahu, dia pasti telah meyelinap keluar sewaktu aku membawa masuk
hadiah-hadiah Natal, pintu biasanya dikunci ... bukannya dia berbahaya! Tapi,' dia
menurunkan suaranya menjadi bisikan, 'dia agak berbahaya bagi dirinya sendiri,
berkati dia ... tak tahu siapa dia, kalian paham, berkeliaran dan tak ingat bagaimana
kembali ... baik sekalil kalian datang untuk menemuinya.'
'Er,' kata Ron sambil memberi isyarat tanpa guna pada lantai di atas, 'sebenarnya,
kami Cuma -- er --'
Tetapi si Penyembuh sedang tersenyum penuh pengharapan kepada mereka, dan
gumaman lemah Ron 'akan minum secangkir teh' menghilang. Mereka saling
berpandangan tak berdaya lalu mengikuti Lockhart dan Penyembuhnya menyusuri
koridor.
'Kita jangan tinggal lama-lama,' Ron berkata pelan.
Penyembuh itu menunjukkan tongkatnya pada pintu Bangsal Janus Thickey dan
bergumam, 'Alohomora.' Pintu berayun terbuka dan dia memimpin jalan ke dalam,
sambil memegang lengan Gilderoy dengan mantap sampai dia menempatkannya ke
sebuah kursi berlengan di samping tempat tidurnya.
'Ini bangsal penghuni jangka panjang kami,' dia memberitahu Harry, Ron,
Hermione dan Ginny dengan suara rendah. 'Untuk kerusakan akibat mantera yang
permanen, kalian tahu. Tentu saja, dengan jimat dan guna-guna dan ramuan-ramuan
penyembuh yang intensif serta sedikit keberuntungan, kami bisa menghasilkan sedikit
perbaikan. Gilderoy tampaknya mulai kembali pada dirinya sendiri; dan kami telah
melihat perbaikan nyata pada Mr Bode, dia tampaknya mulai mendapatkan
kemampuan berbicafra dengan sangat baik, walaupun dia belum berbicara dengan
bahasa yang kami kenali. Well, aku harus menyelesaikan pembagian hadiah-hadiah
Natal, aku akan meninggalkan kalian semua untuk berbincang-bincang.'
Harry memandang berkeliling. Bangsal itu memiliki tanda-tanda tak salah lagi
merupakan rumah permanen bagi para penghuninya. Mereka memiliki lebih banyak
barang-barang pribadi di sekitar tempat tidur mereka daripada di bangsal Mr Weasley;
dinding-dinding di sekitar ujung tempat tidur Gilderoy, contohnya, dilapisi dengan
gambar-gambar dirinya sendiri, semuanya tersenyum memamerkan gigi dan
melambai-lambai kepada para pendatang baru itu. Dia telah menandatangani banyak
foto itu untuk dirinya sendiri dalam tulisan tangan kekanak-kanakan yang terputusputus. Saat dia telah ditempatkan ke kursinya oleh si Penyembuh, Gilderoy menarik
setumpuk baru foto kepada dirinya sendiri, meraih sebuah pena bulu dan mulai
menandatangani mereka semua dengan tergesa-gesa.
'Kau bisa meletakkannya ke dalam amplop-amplop,' dia berkata kepada Ginny,
sambil melemparkan gambar-gambar bertanda tangan itu ke pangkuannya satu per
satu setelah dia selesai. 'Aku tidak terlupakan, kalian tahu, tidak, aku masih menerima
banyak surat penggemar ... Gladys Gudgeon menulis surat tiap minggu ... Aku hanya
berharap aku tahu kenapa.' Dia berhenti sejenak, tampak agak bingung, lalu
tersenyum lagi dan kembali menandatangani dengan tenaga baru. 'Kurasa cuma
ketampananku ...'
Seeorang penyihir pria berkulit pucat dan tampak murung yang berbaring di tempat
tidur di seberang sedang menatap langit-langit; dia sedang berkomat-kamit pada
dirinya sendiri dan tampak tidak sadar akan apapun di sekitarnya. Dua ranjang
berikutnya adalah seorang wanita yang seluruh kepalanya tertutup bulu; Harry ingat
sesuatu yang serupa terjadi pada Hermione di tahun kedua mereka, walaupun
untungnya kerusakan itu, dalam kasusnya, tidak permanen. Di ujung terjauh bangsal
itu tirai-tirai berbunga-bunga telah ditarik mengelilingi dua ranjang untuk memberi
para penghuninya dan pengunjung-pengunjung mereka sedikit privasi.
'Ini dia, Agnes,' kata si Penyembuh dengan ceria kepada wanita berwajah berbulu
itu, sambil menyerahkan kepadanya setumpuk kecil hadiah Natal. 'Lihat, kamu belum
terlupakan, bukan? Dan anak lelakimu mengirim seekor burung hantu untuk
mengatakan dia akan berkunjung malam ini, jadi itu bagus, bukan?'
Agnes mengeluarkan beberapa gonggongan keras.
'Dan lihat, Broderick, kau telah dikirimi sebuah tanaman pot dan sebuah kalender
indah bergambar seekor Hippogriff menawan yang berbeda tiap bulannya; mereka
akan mencerahkan suasana, bukan?' kata si Penyembuh, sambil berjalan menuju pria
yang berkomat-kamit itu, menempatkan sebuah tanaman yang agak jelek yang
memiliki tentakel-tentakel panjang berayun ke atas lemari di sisi tempat tidur dan
memasang kalender ke dinding dengan tongkatnya. 'Dan -- oh, Mrs Longbottom,
Anda sudah akan pergi?'
Kepala Harry berputar. Tirai-tirai telah ditarik dari kedua ranjang di ujung bangsal
dan dua orang pengunjung sedang berjalan menyusuri gang di antara ranjang-ranjang:
seorang penyihir wanita tua yang tampak mengerikan yang mengenakan sebuah gaun
hijau panjang, sebuah mantel bulu musang termakan ngengat dan sebuah topi yang
dihiasi dengan apa yang tak salah lagi seekor burung nazar yang disumpal dan,
mengekor di belakangnya terlihat benar-benar tertekan -- Neville.
Dengan serbuan pengertian mendadak, Harry sadar siapa orang-orang di ranjang
ujung itu. Dia memandang berkeliling dengan liar untuk mencari cara-cara
mengalihkan perhatian yang lainnya sehingga Neville bisa meninggalkan bangsal itu
tanpa diperhatikan dan tanpa ditanyai, tapi Ron juga telah melihat ke atas ketika
mendengar nama 'Longbottom', dan sebelum Harry bisa menghentikannya dia telah
berseru, 'Neville!'
Neville terlompat dan gemetaran seolah-olah sebuah peluru hampir saja
mengenainya.
'Ini kami, Neville!' kata Ron dengan ceria, sambil bangkit. 'Sudahkah kau lihat --?
Lockhart ada di sini! Siapa yang kau kunjungi?'
'Teman-temanmu, Neville, sayang?' kata nenek Neville dengan sangat ramah,
sambil memandangi mereka semua.
Neville terlihat seolah-olah dia lebih suka berada di manapun di dunia kecuali di
sini. Suatu rona ungu menjalar di wajahnya yang bundar dan dia tidak mengadakan
kontak mata dengan satupun dari mereka.
'Ah, ya,' kata neneknya, sambil memandang Harry dengan seksama dan
mengulurkan tangan keriput yang mirip cakar kepadanya untuk bersalaman. 'Ya, ya,
aku tahu siapa kau, tentu saja. Neville sangat memujimu.'
'Er -- trims,' kata Harry sambil bersalaman. Neville tidak memandangnya, tapi
mengamati kakinya sendiri, rona wajahnya semakin dalam sementara itu.
'Dan kalian berdua jelas keluarga Weasley,' Mrs Longbottom melanjutkan, sambil
mengulurkan tangannya dengan khidmat kepada Ron dan Ginny bergantian. 'Ya, aku
kenal orang tua kalian -- tidak kenal baik, tentunya -- tapi orang-orang yang baik,
orang-oang yang baik ... dan kau pasti Hermione Granger?'
Hermione tampak agak terkejut bahwa Mrs Longbottom tahu namanya, tapi tetap
bersalaman bagaimanapun.
'Ya, Neville sudah menceritakan kepadaku semua tentang dirimu. Membantunya
keluar dari beberapa kesulitan, bukan begitu? Dia anak yang baik,' katanya sambil
memberi pandangan tajam menilai lewat hidungnya yang agak kurus kepada Neville,
'tapi dia tidak punya bakat ayahnya, aku kuatir mengatakannya.' Dan dia
menyentakkan kepalanya ke arah dua ranjang di ujung bangsal itu, sehingga burung
nazar isian di topinya bergetar mengkhawatirkan.
'Apa?' kata Ron, terlihat heran. (Harry ingin menginjak kaki Ron, tapi hal seperti
itu jauh lebih sulit dilakukan tanpa diperhatikan kalau kau memakai celana jins
bukannya jubah.) 'Apakah ayahmu yang di ujung situ, Neville?'
'Apa ini?' kata Mrs Longbottom dengan tajam. 'Apakah kau belum memberitahu
teman-temanmu mengenai orang tuamu, Neville?'
Neville mengambil napas dalam-dalam, memandang ke langit-langit dan
menggelengkan kepalanya. Harry tak bisa ingat pernah merasa lebih prihatin kepada
siapapun, tapi dia tak bisa memikirkan cara apapun untuk membantu Neville keluar
dari situaasi itu.
'Well, tidak perlu merasa malu!' kata Mrs Longbottom dengan marah. 'Kau
seharusnya bangga, Neville, bangga! Mereka tidak melepaskan kesehatan dan
kewarasan mereka sehingga anak lelaki mereka satu-satunya malu terhadap mereka,
kau tahu!'
'Aku tidak malu,' kata Neville dengan sangat lemah, masih memandang ke
manapun kecuali kepada Harry dan yang lainnya. Ron sekarang sedang berdiri di
ujung jarinya untuk melihat ke penghuni kedua tempat tidur itu.
'Well, kau menunjukkannya dengan cara yang aneh!' kata Mrs Longbottom. 'Anak
lelakiku dan istrinya,' dia berkata, sambil berpaling dengan angkuh kepada Harry,
Ron, Hermione dan Ginny, 'disiksa hingga gila oleh para pengikut Kau-Tahu-Siapa.'
Hermione dan Ginny keduanya menekupkan tangan mereka di atas mulut. Ron
berhenti menjulurkan lehernya untuk memandang sepintas lalu orang tua Neville dan
tampak malu.
'Mereka Auror, kalian tahu, dan sangat dihormati dalam komunitas penyihir,' Mrs
Longbottom melanjutkan. 'Sangat berbakat, keduanya. Aku -- ya, Alice sayang, ada
apa?'
Ibu Neville telah datang sambil berjalan miring di bangsal itu mengenakan baju
tidurnya. Dia tak lagi memiliki wajah bulat yang tampak bahagia yang dilihat Harry di
foto tua Moody tentang Order of Phoenix yang asli. Wajahnya kurus dan lemah
sekarang, matanya tampak terlalu besar dan rambutnya, yang telah berubah menjadi
putih, bergelung-gelung kecil dan tampak mati. Dia tampaknya tidak mau berbicara,
atau mungkin dia tidak bisa, tetapi dia membuat gerakan malu-malu kepada Neville,
sambil memegang sesuatu di tangannya yang terulur.
'Lagi?' kata Mrs Longbottom, terdengar agak letih. 'Baiklah, Alice sayang, baiklah - Neville, ambillah, apapun itu.'
Tetapi Neville sudah menjulurkan tangannya, ke mana ibunya menjatuhkan sebuah
pembungkus kosong Permen Karet Tiup Terbaik Drooble.
'Sangat bagus, sayang,' kata nenek Neville dengan suara ceria palsu, sambil
menepuk-nepuk bahu ibunya.
Tetapi Neville berkata pelan, 'Trims, Mum.'
Ibunya berjalan pergi tertatih-tatih, kembali ke ujung bangsal, sambil bersenandung
kepada dirinya sendiri. Neville memandang berkeliling kepada yang lain, ekspresinya
menantang, seolah-olah menantang mereka untuk tertawa, tapi Harry berpikir dia
belum pernah menemukan apapun yang lebih tidak lucu dalam hidupnya.
Tetapi ketika mereka pergi, Harry yakin dia melihat Neville menyelipkan
pembungkus permen itu ke dalam kantongnya.
Pintu menutup di belakang mereka.
'Aku tak pernah tahu,' kata Hermione, yang tampak berkaca-kaca.
'Aku juga tidak,' kata Ron agak serak.
'Aku juga,' bisik Ginny.
Mereka semua memandang Harry.
'Aku tahu,' dia berkata dengan murung. 'Dumbledore memberitahuku tetapi aku
berjanji aku tidak akan memberitahu siapapun ... itulah yang menyebabkan Bellatrix
Lestrange dikirim ke Azkaban, menggunakan Kutukan Cruciatus pada orang tua
Neville sampai mereka hilang ingatan.'
'Bellatrix Lestrange melakukan itu?' bisik Hermione, terkejut. 'Wanita yang fotonya
ditaruh Kreacher di sarangnya?'
Ada keheningan lama, yang dipecahkan oleh suara marah Lockhart.
'Lihat, aku tidak belajar menulis huruf kursif untuk disia-siakan, kalian tahu!'
HARRY POTTER
and the Order of the Phoenix
-- BAB DUA PULUH EMPAT -Occlumency
Kreacher, ternyata, bersembunyi di loteng. Sirius berkata dia menemukannya di atas
sana, tertutup debu, tak diragukan lagi sedang mencari lebih banyak barang
peninggalan keluarga Black untuk disembunyikan di lemarinya. Walaupun Sirius
kelihatannya puas dengan cerita ini, Harry merasa tidak tenang. Kreacher tampak
berada dalam suasana hati yang lebih baik, gumaman getirnya telah sedikit reda dan
dia menuruti perintah-perintah dengan lebih patuh daripada biasanya, walaupun sekali
atau dua kali Harry memergoki peri-rumah itu sedang menatapnya lekat-lekat, tetapi
selalu berpaling dengan cepat kapanpun dia melihat bahwa Harry memperhatikan.
Harry tidak menyebutkan kecurigaan samarnya kepada Sirius, yang keceriaannya
sedang menguap dengan cepat sekarang setelah Natal usai. Sementara hari
keberangkatan mereka kembali ke Hogwarts semakin dekat, dia menjadi semakin
mudah terkena apa yang disebut Mrs Weasley 'serangan kecemberutan', di mana dia
akan menjadi pendiam dan galak, sering menarik diri ke kamar Buckbeak selama
berjam-jam pada sekali waktu. Kemurungannya merembes ke seluruh rumah, lewat
bagian bawah ambang pintu seperti gas berbahaya, sehingga mereka semua tertular.
Harry tidak ingin meninggalkan Sirius lagi dengan hanya Kreacher sebagai teman;
bahkan, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak menanti-nantikan kembali
ke Hogwarts. Kembali ke sekolah akan berarti menempatkan dirinya sendiri sekali
lagi di bawah kezaliman Dolores Umbridge, yang tak diragukan berhasil memaksakan
selusin dekrit lagi dalam ketidakhadiran mereka; tidak ada Quidditch untuk dinantikan
sekarang setelah dia dilarang bermain; ada kemungkinan besar bahwa beban
pekerjaan rumah mereka akan meningkat sementara ujian semakin mendekat; dan
Dumbledore tetap sejauh dulu. Bahkan, kalau bukan karena DA, Harry berpikir dia
mungkin telah memohon kepada Sirius untuk mengizinkannya meninggalkan
Hogwarts dan tetap di Grimmauld Place.
Lalu, di hari terakhir liburan, sesuatu terjadi yang membuat Harry benar-benar
ngeri akan kembalinya ke sekolah.
'Harry, sayang,' kata Mrs Weasley sambil menjulurkn kepalanya ke dalam
kamarnya dan Ron, di mana mereka berdua sedang bermain catur penyihir ditonton
oleh Hermione, Ginny dan Crookshanks, 'bisakah kau turun ke dapur? Profesor Snape
ingin berbicara denganmumu.'
Harry tidak segera menyadari apa yang telah dia katakan; salah satu bentengnya
sedang berada dalam pergumulan hebat dengan sebuah pion Ron dan dia sedang
menyemangatinya dengan antusias.
'Lumatkan dia -- lumatkan dia, dia cuma sebuah pion, kau idiot. Sori, Mrs Weasley,
apa yang Anda katakan?'
'Profesor Snape, sayang. Di dapur. Dia mau bicara.'
Mulut Harry terbuka karena ngeri. Dia memandang berkeliling kepada Ron,
Hermione dan Ginny, yang semuanya sedang memandangnya kembali sambil
menganga. Crookshanks, yang telah Hermione tahan dengan susah payah selama
seperempat jam terakhir ini, melompat dengan gembira ke atas papan dan membuat
bidak-bidak berlarian mencari perlindungan, sambil memekik sekeras-kerasnya.
'Snape?' kata Harry dengan hampa.
'Profesor Snape, sayang,' kata Mrs Weasley mencela. 'Sekarang ayolah, cepat, dia
bilang dia tidak bisa tinggal lama-lama.'
'Apa yang dia mau denganmu?' kata Ron, terlihat bingung ketika Mrs Weasley
pergi dari kamar itu. 'Kau tidak melakukan apapun, 'kan?'
'Tidak!' kata Harry tidak senang, sambil memutar otaknya untuk memikirkan apa
yang mungkin telah dilakukannya yang akan membuat Snape mengejarnya ke
Grimmauld Place. Apakah peer terakhirnya mungkin mendapatkan sebuah T?
Satu atau dua menit kemudian, dia mendorong pintu dapur hingga terbuka untuk
mendapati Sirius dan Snape keduanya duduk di meja dapur panjang, saling melotot ke
seberangnya. Keheningan antara mereka sarat akan ketidaksukaan bersama. Sepucuk
surat tergeletak terbuka di meja di depan Sirius.
'Er,' kata Harry, untuk mengumumkan kehadirannya.
Snape memandangnya, wajahnya terbingkai di antara tirai rambut hitam
berminyak.
'Duduk, Potter.'
'Kau tahu,' kata Sirius dengan keras, sambil bersandar pada kaki belakang kursinya
dan berbicara kepada langit-langit, 'Kukira aku lebih suka kalau kau tidak
memberikan perintah di sini, Snape. Ini rumahku, kau tahu.'
Rona jelek meliputi wajah pucat Snape. Harry duduk di sebuah kursi di samping
Sirius, menhadapi Snape di seberang meja.
'Aku seharusnya menemuimu sendirian, Potter,' kata Snape, seringai mengejek
yang sudah lazim melengkungkan mulutnya, 'tetapi Black --'
'Aku ayah angkatnya,' kata Sirius, lebih keras dari sebelumnya.
'Aku di sini atas perintah Dumbledore,' kata Snape, yang suaranya, sebaliknya,
semakin pelan, 'tapi bagaimanapun tinggallah, Black, aku tahu kau suka merasa ...
terlibat.'
'Apa artinya itu?' kata Sirius sambil membiarkan kursinya jatuh kembali ke atas
empat kaki dengan suara bantingan keras.
'Hanya bahwa aku yakin kau pasti merasa -- ah -- frustrasi karena fakta bahwa kau
tak bisa melakukan sesuatu yang berguna,' Snape memberikan tekanan lembut pada
kata, 'untuk Order.'
Giliran Sirius yang merona. Bibir Snape melengkung dalam kemenangan selagi dia
berpaling kepada Harry.
'Kepala Sekolah telah mengirimku untuk memberitahumu, Potter, bahwa adalah
keinginannya bagimu untuk mempelajari Occlumency semester ini.'
'Mempelajari apa?' kata Harry dengan hampa.
Seringai mengejek Snape menjadi semakin jelas.
'Occlumency, Potter. Pertahanan sihir pikiran terhadap penetrasi dari luar. Cabang
sihir yang tidak dikenal, tetapi sangat berguna.'
Jantung Harry mulai memompa dengan sangat cepat. Pertahanan terhadap penetrasi
dari luar. Tetapi dia tidak dirasuki, mereka semua menyetujui itu ...
'Kenapa aku harus mempelajari Occlu -- ini?' dia berkata tanpa pikir.
'Karena Kepala Sekolah mengira itu ide yang bagus,' kata Snape dengan halus. 'Kau
akan menerima pelajaran privat sekali seminggu, tetapi kau tidak akan memberitahu
siapapun apa yang sedang kau lakukan, terutama Dolores Umbridge. Kau mengerti?'
'Ya,' kata Harry. 'Siapa yang akan mengajari saya?'
Snape mengangkat alisnya.
'Aku,' dia berkata.
Harry merasakan sensasi mengerikan bahwa isi tubuhnya sedang meleleh.
Pelajaran tambahan dengan Snape -- apa yang telah dilakukannya sehingga pantas
mendapatkan ini? Dia memandang Sirius dengan cepat untuk mencari dukungan.
'Kenapa Dumbledore tidak bisa mengajari Harry?' tanya Sirius dengan agresif.
'Kenapa kau?'
'Kurasa karena hak istimewa seorang kepala sekolah untuk mendelegasikan tugastugas yang kurang menyenangkan,' kata Snape dengan licin. 'Kuyakinkan kau aku
tidak memohon pekerjaan ini.' Dia bangkit. 'Aku akan menantimu pada pukul enam
Senin malam, Potter. Kantorku. Kalau ada yang tanya, kau sedang mengambil
pelajaran perbaikan Ramuan. Tak seorangpun yang pernah melihatmu dalam kelasku
akan mengingkari kau butuh perbaikan.'
Dia berpaling untuk pergi, mantel bepergiannya yang hitam berombak di
belakangnya.
'Tunggu sebentar,' kata Sirius sambil duduk lebih tegak di kursinya.
Snape berpaling untuk menghadapi mereka, sambil tersenyum mencemooh.
'Aku agak terburu-buru, Black. Tidak seperti kamu, aku tidak punya waktu luang
tak terbatas.'
'Kalau begitu, aku akan langsung ke pokok permasalahannya,' kata Sirius sambil
berdiri. Dia agak lebih tinggi daripada Snape yang, Harry perhatikan, mengepalkan
tinjunya di kantong mantelnya pada apa yang Harry yakin merupakan pegangan
tongkatnya. 'Kalau kudengar kau menggunakan pelajaran-pelajaran Occlumency ini
untuk memberi Harry kesulitan, kau akan berhadapan denganku.'
'Betapa menyentuhnya,' Snape tersenyum menyeringai. 'Tetapi tentunya kau sudah
memperhatikan bahwa Potter sangat mirip ayahnya?'
'Ya, memang,' kata Sirius dengan bangga.
'Well kalau begitu, kau akan tahu dia begitu arogan sehingga kritik hanya akan
memantul darinya,' Snape dengan halus.
Sirius mendorong kursinya dengan kasar ke samping dan berjalan mengitari meja
ke arah Snape, sambil menarik tongkatnya selagi dia jalan. Snape mengeluarkan
tongkatnya sendiri. Mereka sedang berhadap-hadapan, Sirius tampak pucat karena
marah, Snape sedang melakukan perhitungna, matanya beralih dari ujung tongkat
Sirius ke wajahnya.
'Sirius!' kata Harry keras-keras, tetapi Sirius tampaknya tidak mendengar dia.
'Kuperingatkan kau, Snivellus,' kata Sirius, wajahnya tidak sampai satu kaki dari
wajah Snape, 'Aku tidak peduli kalau Dumbledore mengira kau sudah tobat, aku lebih
tahu --'
'Oh, tapi kenapa kau tidak memberitahunya begitu?' bisik Snape. 'Atau apakah kau
takut dia mungkin tidak menganggap serius nasehat dari seorang lelaki yang telah
bersembunyi di dalam rumah ibunya selama enam bulan?'
'Beritahu aku, bagaimana keadaan Lucius Malfoy akhir-akhir ini? Kuduga dia
senang anjing piaraannya bekerja di Hogwarts, bukan?'
'Berbicara tentang anjing,' kata Snape dengan lembut, 'tahukah kau bahwa Lucius
Malfoy mengenalimu terakhir kali kau mempertaruhkan pesiar kecil ke luar? Gagasan
yang pintar, Black, membuat dirimu terlihat di atas sebuah peron stasiun yang aman ...
memberimu alasan sekuat besi untuk tidak meninggalkan lubang persembunyianmu di
masa mendatang, bukan?'
Sirius mengangkat tongkatnya.
'TIDAK!' Harry berteriak, sambil melompati meja dan mencoba berada di antara
mereka. 'Sirius, jangan!'
'Apakah kau menyebutku pengecut?' raung Sirius, mencoba mendorong Harry,
tetapi Harry tidak mau bergeming.
'Ya, kurasa begitu,' kata Snape.
'Harry -- menyingkirlah!' bentak Sirius, sambil mendorongnya ke samping dengan
tangannya yang bebas.
Pintu dapur terbuka dan seluruh keluarga Weasley, ditambah Hermione, masuk,
semuanya terlihat sangat gembira, dengan Mr Weasley berjalan dengan bangga di
tengah-tengah mereka berpakaian piyama garis-garis yang ditutupi dengan jas hujan.
'Sembuh!' dia mengumumkan dengan ceria kepada dapur secara keseluruhan.
'Sepenuhnya sembuh!'
Dia dan semua anggota keluarga Weasley lainnya membeku di ambang pintu,
menatap ke adegan di depan mereka, yang juga terhenti di tengah-tengah, baik Sirius
maupun Snape sedang memandang pintu dengan tongkat mereka saling menunjuk
wajah satu sama lain dan Harry tidak bergerak di antara mereka, sebuah tangan
direntangkan ke masing-masing orang, mencoba memaksa mereka berpisah.
'Jenggot Merlin,' kata Mr Weasley, senyum memudar dari wajahnya, 'apa yang
sedang terjadi di sini?'
Sirius dan Snape menurunkan tongkat mereka. Harry memandang dari yang satu ke
yang lain. Masing-masing mengenakan ekspresi sangat jijik, namun masuknya begitu
banyak saksi yang tidak terduga tampaknya telah menyadarkan mereka. Snape
mengantongi tongkatnya, berpaling dan berjalan kembali menyeberangi dapur,
melewati keluarga Weasley tanpa komentar. Di pintu dia memandang balik.
'Pukul enam, Senin malam, Potter.'
Dan dia pergi. Sirius melotot di belakangnya, tongkatnya di sampingnya.
'Apa yang sudah terjadi?' tanya Mr Weasley lagi.
'Tidak apa-apa, Arthur,' kata Sirius, yang sedang bernapas dengan berat seolah-olah
dia baru saja berlari jarak jauh. 'Cuma perbincangan kecil yang ramah antara dua
teman sekolah lama.' Dengan apa yang tampak seperti usaha berat, dia tersenyum.
'Jadi ... kau sembuh? Itu kabar yang sangat bagus, benar-benar hebat.'
'Ya, bukan begitu?' kata Mrs Weasley sambil menuntun suaminya maju ke sebuah
kursi. 'Penyembuh Smethwyck melakukan sihirnya akhirnya, menemukan sebuah
penawar racun atas apapun yang ular itu punya di taringnya, dan Arthur sudah jera
mencoba-coba obat Muggle, bukan begitu, sayang?' dia menambahkan, agak
mengancam.
'Ya, Molly, sayang,' kata Mr Weasley tanpa perlawanan.
Makan malam ini seharusnya ceria, dengan Mr Weasley kembali di antara mereka.
Harry bisa tahu Sirius sedang berusaha membuatnya demikian, tetapi ketika ayah
angkatnya tidak sedang memaksa diirnya sendiri untuk tertawa keras-keras pada
lelucon-lelucon Fred dan George atau menawari semua orang makanan lagi, wajahnya
kembali ke ekspresi murung dan memikirkan hal-hal yang menyedihkan. Harry
dipisahkan darinya oleh Mundungus dan Mad-Eye, yang mampir untuk memberi Mr
Weasley selamat. Dia ingin berbicara kepada Sirius, untuk memberitahunya dia
seharusnya tidak mendengarkan sepatah katapun yang dikatakan Snape, bahwa Snape
sedang menghasutnya dengan sengaja dan bahwa yang lainnya tidak menganggap
Sirius seorang pengecut karena melakukan seperti yang disuruh Dumbledore dan
tinggal di Grimmauld Place. Tetapi dia tidak mempunyai kesempatan untuk
melakukannya, dan, sambil memandang tampang jelek di wajah Sirius, Harry
terkadang bertanya-tanya apakah dia akan berani menyebutnya kalaupun dia memiliki
kesempatan. Alih-alih, dia memberitahu Ron dan Hermione dengan suara rendah
tentang harus mengambil pelajaran-pelajaran Occlumency dengan Snape.
'Dumbledore mau kamu berhenti mendapatkan mimpi-mimpi tentang Voldemort
itu,' kata Hermione seketika. 'Well, kamu tidak akan menyesal tidak mendapatkannya
lagi, bukan?'
'Pelajaran tambahan dengan Snape?' kata Ron, terdengar kaget. 'Aku lebih suka
dapat mimpi buruk!'
Mereka harus kembali ke Hogwarts naik Bus Ksatria hari berikutnya, dikawal
sekali lagi oleh Tonks dan Lupin, yang keduanya sedang makan pagi di dapur ketika
Harry, Ron dan Hermione turun pagi berikutnya. Orang-orang dewasa tampaknya
sedang mengadakan percakapan bisik-bisik ketika Harry membuka pintu; mereka
semua memandang berkeliling dengan buru-buru dan terdiam.
Setelah makan pagi tergesa-gesa, mereka semua mengenakan jaket dan scarf
melawan pagi Januari yang dingin kelabu. Harry memiliki perasaan tertarik yang
tidak menyenangkan di dadanya; dia tidak mau mengatakan selamat tinggal kepada
Sirius. Dia memiliki perasaan buruk tentang perpisahan ini; dia tidak tahu kapan
mereka akan bertemu satu sama lain lagi dan dia merasa berkewajiban mengatakan
sesuatu kepada Sirius untuk menghentikannya melakukan apapun yang bodoh -Harry kuatir bahwa tuduhan kepengecutan Snape telah menusuk Sirius begitu hebat
sehingga sekarang dia bahkan mungkin merencanakan beberapa perjalanan gila-gilaan
keluar dari Grimmauld Place. Namun, sebelum dia bisa memikirkan apa yang harus
dikatakan, Sirius telah memberinya isyarat untuk datang ke sampingnya.
'Aku mau kau bawa ini,' dia berkata pelan, sambil menyodorkan sebuah paket yang
dibungkus sekenanya yang kurang lebih seukuran sebuah buku tulis ke dalam tangan
Harry.
'Apa itu?' Harry bertanya.
'Suatu cara memberitahuku kalau Snape sedang menyulitkanmu. Tidak, jangan
buka di sini!' kata Sirius, dengan pandangan waspada kepada Mrs Weasley, yang
sedang mencoba membujuk si kembar untuk mengenakan sarung tangan rajutan
tangan. 'Aku ragu Molly akan menyetujui -- tapi aku mau kau menggunakannya kalau
kau perlu aku, oke?'
'OK,' kata Harry sambil menyimpan paket itu di kantong bagian dalam jaketnya,
tetapi dia tahu dia tidak akan pernah menggunakan apapun itu. Bukan dia, Harry,
yang akan memikat Sirius keluar dari tempat keselamatannya, tak peduli betapa
buruknya Snape memperlakukan dia dalam kelas-kelas Occlumency mereka yang
akan datang.
'Kalau begitu, ayo pergi,' kata Sirius sambil menepuk bahu Harry dan tersenyum
suram, dan sebelum Harry bisa mengatakan hal lai, mereka sedang menuju lantai atas,
berhenti di depan pintu depan yang penuh rantai dan terkunci, dikelilingi oleh
keluarga Weasley.
'Selamat tinggal, Harry, jaga dirimu,' kata Mrs Weasley sambil memeluknya.
'Sampai jumpa, Harry, dan hati-hati dengan ular!' kata Mr Weasley dengan riang,
sambil menjabat tangannya.
'Benar -- yeah,' kata Harry dengan pikiran kacau; ini kesempatan terakhirnya untuk
memberitahu Sirius agar berhati-hati; dia berpaling, memandang ke wajah ayah
angkatnya dan membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi sebelum dia bisa
melakukannya Sirius sedang memberinya pelukan satu lengan yang singkat dan
berkata dengan kasar, 'Jaga dirimu, Harry.' Saat berikutnya, Harry mendapati dirinya
dilangsir ke luar ke udara musim dingin yang sedingin es, bersama Tonks (hari ini
menyamar sebagai seorang wanita jangkung dengan rambut kelabu) yang sedang
mengejarnya menuruni undakan.
Pintu nomor dua belas terbanting menutup di belakang mereka. Mereka mengikuti
Lupin menuruni anak-anak tangga depan. Ketika dia mencapai trotoar, Harry
memandang berkeliling. Nomor dua belas sedang mengerut dengan cepat sementara
rumah-rumah di kedua sisinya merentang ke samping, menjepitnya hingga keluar dari
pandangan. Satu kedipan kemudian, ia sudah hilang.
'Ayolah, semakin cepat kita naik bus semakin baik,' kata Tonks, dan Harry mengira
ada kegugupan dalam pandangan sekilas yang dilemparkannya ke sekitar alun-alun.
Lupin mengulurkan lengan kanannya.
BANG.
Sebuah bus bertingkat tiga yang sangat ungu muncul dari udara kosong di depan
mereka, hampir mengenai tiang lampu terdekat, yang melompat mundur menghindar.
Seorang pemuda kurus, berjerawat, bertelinga besar yang mengenakan seragam
ungu melompat turun ke trotoar dan berkata, 'Selamat datang ke --'
'Ya, ya, kami tahu, terima kasih,' kata Tonks dengan cepat. 'Naik, naik, ke atas --'
Dan dia mendorong Harry maju ke tangga, melewati kondektur, yang membelalak
kepada Harry ketika dia lewat.
'Itu 'Arry --!'
'Kalau kau meneriakkan namanya aku akan mengutuknya menjadi pingsan,' gumam
Tonks mengancam, sekarang melangsir Ginny dan Hermione ke depan.
'Aku selalu ingin naik benda ini,' kata Ron dengan gembira sambil bergabung
dengan Harry di atas bus dan memandang sekeliling.
Terakhir kali Harry bepergian dengan Bus Ksatria adalah sewaktu malam hari dan
ketiga tingkatnya penuh dengan ranjang-ranjang berangka kuningan. Sekarang, pagipagi sekali, bus itu dijejali dengan beragam kursi-kursi yang tidak serasi yang
dikelompokkan dengan sembarangan di sekitar jendela-jendela. Beberapa di antara
kursi-kursi ini tampaknya telah jatuh ketika bus berhenti mendadak den Grimmauld
Place; beberapa orang penyihir wanita dan pria masih sedang bangkit, sambil
menggerutu dan tas belanjaan seseorang telah meluncur di bus itu: campuran tak
menyenangkan dari telur kodok, kecoak dan krim kenari berceceran di mana-mana di
atas lantai.
'Tampaknya kita harus berpisah,' kata Tonks dengan cepat sambil memandang
berkeliling mencari kursi-kursi kosong. 'Fred, George dan Ginny, kalau kalian ambil
kursi-kursi itu di belakang ... Remus bisa tinggal bersama kalian.'
Dia, Harry, Ron dan Hermione meneruskan ke tingkat yang paling atas, di mana
ada dua kursi yang tidak terpakai di bagian paling depan dan dua di belakang. Stan
Shunpike, si kondektur, mengikuti Harry dan Ron dengan bersemangat ke belakang.
Kepala-kepala berpaling ketika Harry lewat dan, ketika dia duduk, dia melihat semua
wajah-wajah itu berkibas kembali ke depan lagi.
Ketika Harry dan Ron menyerahkan kepada Stan masing-masing sebelas Sickle,
bus itu berangkat lagi, sambil berayun mengerikan. Bus berderu di sekitar Grimmauld
Place, naik-turun trotoar, lalu, dengan bunyi BANG hebat lagi, mereka semua
terdorong ke belakang; kursi Ron berguling dan Pigwidgeon, yang berada di
pangkuannya, keluar dari kandangnya dan terbang sambil mencicit dengan liar ke
bagian depan bus di mana dia berkibar turun ke bahu Hermione. Harry, yang telah
menghindari jatuh dengan meraih siku-siku tempat lilin, memandang keluar dari
jendela: mereka sekarang ngebut di apa yang tampak seperti jalan tol.
'Persis di luar Birmingham,' kata Stan dengan gembira, menjawab pertanyaan Harry
yang tidak ditanyakan sementara Ron berjuang bangkit dari lantai. 'Kalau begitu, kau
baik, 'Arry? Aku lihat namamu di koran sering sekali selama musim panas, tapi bukan
hal yang sangat baik. Kubilang pada Ern, kubilang, dia tidak tampak seperti orang
sinting waktu kita jumpa dia, tidak bisa tahu, bukan?'
Dia menyerahkan tiket kepada mereka dan terus menatap Harry dengan terpesona.
Tampaknya, Stan tidak peduli betapa sintingnya seseorang, kalau mereka cukup
terkenal untuk berada di koran. Bus Ksatria berayun menakutkan, melewati sebarisan
mobil. Ketika melihat ke bagian depan bus, Harry melihat Hermione menutupi
matanya dengan tangan, Pigwidgeon sedang berayun dengan gembira di bahunya.
BANG.
Kursi-kursi meluncur mundur lagi selagi Bus Ksatria melompat dari jalan tol
Birmingham ke sebuah jalan perdesaan tenang yang penuh belokan-belokan tajam.
Pagar tanaman di kedua sisi jalan melompat menyingkir ketika mereka berpapasan.
Dari sini mereka pindah ke sebuah jalan besar di tengah sebuah kota kecil yang sibuk,
lallu ke sebuah jembatan di atas jalan yang dikelilingi oleh bukit-bukit tinggi, lalu ke
sebuah jalan berangin kencang di antara apartemen-apartemen tinggi, setiap kali
dengan bunyi BANG yang keras.
'Aku berubah pikiran,' gumam Ron sambil bangkit dari lantai untuk keenam
kalinya, 'aku tidak akan pernah mau benda ini lagi.'
'Dengar, pemberhentian 'Ogwarts setelah ini,' kata Stan dengan ceria sambil
berayun menuju mereka. 'Wanita tukang perintah di depan yang naik bersama kalian,
dia memberi kami tip kecil untuk memindahkan kalian ke depan antrian. Kami hanya
akan menurunkan Madam Marsh dulu --' ada suara muntah dari bawah, diikuti dengan
bunyi percikan mengerikan '-- dia tidak merasa sehat.'
Beberapa menit kemudian, Bus Ksatria mendecit berhenti di luar sebuah bar kecil,
yang menyingkir untuk menghindari tubrukan. Mereka bisa mendengar Stan
mengantarkan Madam Marsh yang tak beruntung itu keluar dari bus dan gumam
kelegaan teman-teman penumpangnya di tingkat dua. Bus itu bergerak lagi,
menambah kecepatan, sampai -BANG.
Mereka sedang melalui Hogsmeade yang bersalju. Harry melihat sekilas Hog's
Head di jalan samping, papan penanda yang bergambar kepala babi hutan yang
terpotong berderit dalam angin musim dingin. Butir-butir salju mengenai jendela
besar di bagian depan bus. Akhirnya mereka berhenti di luar gerbang-gerbang
Hogwarts.
Lupin dan Tonks membantu mereka keluar dari bus bersama barang-barang bawaan
mereka, lalu turun untuk mengatakan selamat tinggal. Harry memandang sekilas ke
ketiga tingkat Bus Ksatria dan melihat semua penumpangnya menatapi mereka,
hidung-hidung rata pada jendela-jendela.
'Kalian akan aman begitu kalian berada di halaman sekolah,' kata Tonks, sambil
memandang berkeliling dengan waspada ke jalan yang sepi. 'Semoga semester kalian
menyenangkan, OK?'
'Jaga diri kalian,' kata Lupin sambil menyalami mereka semua dan meraih Harry
paling akhir. 'Dan dengar ...' dia merendahkan suaranya sementara yang lain saling
mengucapkan selamat tinggal saat terakhir dengan Tonks, 'Harry, aku tahu kamu tidak
suka Snape, tapi dia Occlumens yang hebat dan kami semua -- termasuk Sirius -- mau
kamu belajar melindungi dirimu sendiri, jadi kerja keraslah, oke?'
'Yeah, baiklah,' kata Harry dengan berat sambil memandang wajah Lupin yang
berkerut sebelum waktunya. 'Kalau begitu, sampai jumpa.'
Mereka berenam berjuang menyusuri jalan kereta licin menuju kastil, sambil
menyeret koper-koper mereka. Hermione sudah berbicara tentang merajut beberapa
topi peri sebelum waktu tidur. Harry memandang sekilas ke belakang ketika mereka
mencapai pintu-pintu depan dari kayu ek; tetapi Bus Ksatria sudah pergi dan dia
setengah berharap, mengingat apa yang akan datang malam berikutnya, bahwa dia
masih di atasnya.
*
Harry menghabiskan sebagian besar waktunya keesokan harinya merasa takut pada
malam harinya. Pelajaran Ramuan ganda di pagi harinya tidak menghilangkan
kengeriannya, karena Snape sama tidak menyenangkannya seperti sebelumnya.
Suasana hatinya semakin merosot akibat para anggota DA yang terus-menerus
menghampirinya di koridor-koridor antara jam pelajaran, bertanya penuh harap
apakah akan ada pertemuan malam itu.
'Akan kuberitahu kalian dengan cara biasa kapan yang berikutnya,' Harry berkata
berulang-ulang, 'tapi aku tidak bisa melakukannya malam ini, aku harus menghadiri -er -- perbaikan Ramuan.'
'Kau mengambil perbaikan Ramuan!' tanya Zacharias Smith dengan congkak,
setelah memojokkan Harry di Aula Depan setelah makan siang. Demi Tuhan, kau
pasti mengerikan. Snape biasanya tidak memberikan pelajaran tambahan, bukan?'
Ketika Smith berjalan pergi dengan gaya ringan yang menjengkelkan, Ron melotot
kepadanya.
'Haruskah kukutuk dia? Aku masih bisa mengenainya dari sini,' dia berkata sambil
mengangkat tongkatnya dan membidik di antara tulang bahu Smith.
'Lupakan,' kata Harry dengan muram. 'Itu yang akan dipikirkan semua orang,
bukan? Bahwa aku benar-benar bod--'
'Hai, Harry,' kata sebuah suara di belakangnya. Dia berpaling dan mendapati Cho
berdiri di sana.
'Oh,' kata Harry sementara perutnya terlompat dengan tidak menyenangkan. 'Hai.'
'Kami akan ada di perpustakaan, Harry,' kata Hermione dengan tegas selagi dia
menyambar Ron di atas siku dan menyeretnya pergi menuju tangga pualam.
'Natalmu menyenangkan?' tanya Cho.
'Yeah, tidak buruk,' kata Harry.
'Punyaku agak tenang,' kata Cho. Untuk alasan tertentu, dia tampak agak malu.
'Erm ... ada perjalanan Hogsmeade lainnya bulan depan, apakah kau melihat
pengumumannya?'
'Apa? Oh, tidak, aku belum memeriksa papan pengumuman sejak aku kembali.'
'Ya, pada Hari Valentine ...'
'Benar,' kata Harry sambil bertanya-tanya kenapa dia memberitahunya hal ini.
'Well, kurasa kau mau --?'
'Hanya kalau kau juga mau,' dia berkata dengan bersemangat.
Harry menatapnya. Dia tadi akan berkata,'Kurasa kau mau tahu kapan pertemuan
DA berikutnya?' tetapi tanggapannya tampaknya tidak sesuai.
'Aku -- er --' dia berkata.
'Oh, tidak apa-apa kalau kau tidak mau,' Cho berkata, terlihat malu. 'Jangan kuatir.
Aku -- sampai jumpa lagi.'
Dia berjalan pergi. Harry berdiri menatapnya, otaknya bekerja gila-gilaan. Lalu
sesuatu menjadi jelas.
'Cho! Hei -- CHO!'
Dia berlari mengejarnya, mendapatinya setengah jalan menaiki tangga pualam itu.
'Er -- apakah kau mau pergi ke Hogsmeade bersamaku di Hari Valentine?'
'Oooh, ya!' dia berkata, merona merah padam dan tersenyum kepadanya.
'Baiklah ... well ... kalau begitu itu sudah beres,' kata Harry, dan merasa bahwa hari
itu ternyata tidak akan merugikan sepenuhnya, dia bahkan melambung ketika menuju
perpustakaan untuk menjemput Ron dan Hermione sebelum pelajaran-pelajaran sore
mereka.
Namun, pada pukul enam malam itu, bahkan semangat karena telah berhasil
mengajak Cho Chang pergi tidak bisa meringankan perasaan mengerikan yang terus
menguat bersama setiap langkah yang diambil Harry menuju kantor Snape.
Dia berhenti sejenak di luar pintu ketika dia sampai, berharap dia berada di hampir
semua tempat yang lain, lalu, sambil mengambil napas dalam-dalam, dia mengetuk
pintu dan masuk.
Ruangan penuh bayang-bayang itu dibarisi dengan rak-rak yang berisikan ratusan
toples kaca yang menampung potongan-potongan berlendir binatang-binatang dan
tanaman-tanaman yagn tercelup di dalam berbagai ramuan berwarna. Di salah satu
sudut berdiri lemari penuh bahan ramuan yang pernah Snape tuduh Harry -- bukan
tanpa alasan -- rampok. Namun, perhatian Harry tertarik kepada meja tulis, di maan
sebuah baskom batu dangkal yang diukir dengan rune-rune dan simbol-simbol
tergeletak dalam genangan cahaya lilin. Harry mengenalinya dengan seketika -- itu
Pensieve Dumbledore. Bertanya-tanya mengapa benda itu ada di sana, dia terlompat
ketika suara dingin Snape datang dari balik bayang-bayang.
'Tutup pintu di belakangmu, Potter.'
Harry melakukan yang disuruhnya, dengan perasaan mengerikan bahwa dia sedang
memenjarakan dirinya sendiri. Ketika dia berpaling kembali, Snape telah berpindah
ke tempat terang dan sedang menunjuk diam-diam ke kursi di seberang meja tulisnya.
Harry duduk dan begitu pula Snape, mata hitamnya yang dingin terpaku tanpa
berkedip kepada Harry, ketidaksukaan tertanam dalam setiap garis di wajahnya.
'Well, Potter, kau tahu kenapa kau di sini,' dia berkata. 'Kepala Sekolah telah
memintaku mengajarimu Occlumency. Aku hanya bisa berharap bahwa kau terbukti
lebih cakap pada pelajaran itu daripada pada Ramuan.'
'Benar,' kata Harry singkat.
'Ini mungkin bukan kelas biasa, Potter,' kata Snape, matanya menyipit dengan
dengki, 'tetapi aku masih gurumu dan karena itu kau akan memanggilku "sir" atau
"Profesor" sepanjang waktu.'
'Ya ... sir,' kata Harry.
Snape terus mengamatinya melalui mata yang disipitkan selama beberapa saat, lalu
berkata, 'Sekarang, Occlumency. Seperti yang kuberitahukan kepadamu di dapur ayah
angkatmu tercinta, cabang ilmu sihir ini menyegel pikiran terhadap gangguan dan
pengaruh sihir.'
'Dan kenapa Profesor Dumbledore mengira aku membutuhkannya, sir?' kata Harry,
memandang langsung ke mata Snape dan bertanya-tanya apakah Snape akan
menjawab.
Snape memandang balik kepadanya sejenak dan lalu berkata dengan menghina,
'Tentunya bahkan kaupun sudah bisa memahami itu sekarang, Potter? Pangeran
Kegelapan memiliki keahlian tinggi dalam Legilimency --'
'Apa itu? Sir?'
'Itu adalah kemampuan untuk mengeluarkan perasaan dan ingatan dari pikiran
orang lain --'
'Dia bisa membaca pikiran?' kata Harry cepat-cepat, ketakutan terbesarnya telah
dibenarkan.
'Kau tidak mengerti kepelikan ungkapan, Potter,' kata Snape, matanya yang gelap
berkilauan. 'Kau tidak mengerti perbedaan halus. Itu adalah salah satu kekuranganmu
yang menjadikanmu pembuat ramuan yang patut disesali.'
Snape berhenti sejenak, tampaknya menyesapi kesenangan menghina Harry,
sebelum melanjutkan.
'Hanya Muggle yang berbicara tentang "membaca pikiran". Pikiran bukan sebuah
buku, untuk dibuka sekehendak hati dan diperiksa sesukanya. Pemikiran tidak diukir
di bagian dalam tengkorak, untuk dibaca dengan teliti oleh penyerbu. Pikiran adalah
sesuatu yang rumit dan memiliki banyak lapisan, Potter -- atau setidaknya,
kebanyakan pikiran begitu.' Dia tersenyum mencemooh. 'Namun, benar bahwa
mereka yang telah menguasai Legilimency mampu, di bawah kondisi tertentu,
menyelidiki ke dalam pikiran para korban mereka dan menginterpretasikan penemuan
mereka dengan tepat. Contohnya, Pangeran Kegelapan hampir selalu tahu ketika
seseorang sedang berbohong kepadanya. Hanya mereka yang ahli dalam Occlumency
yang mampu menutup perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan mereka yang
menyangkal kebohongan itu, dan dengan demikian bisa mengucapkan dusta di
hadapannya tanpa diketahui.'
Apapun yang dikatakan Snape, Legilimency terdengar seperti membaca pikiran
kepada Harry, dan dia tidak suka yang didengarnya sama sekali.
'Jadi, dia bisa tahu apa yang sedang kita pikirkan sekarang? Sir?'
'Pangeran Kegelapan berada dalam jarak yang cukup jauh dan dinding-dinding
serta halaman Hogwarts dijaga oleh banyak mantera dan jimat kuno untuk menjamin
keselamatan fisik dan mental mereka yang tinggal di dalamnya,' kata Snape. 'Waktu
dan ruang penting dalam sihir, Potter. Kontak mata sering diperlukan sekali untuk
Legilimency.'
'Well, kalau begitu, kenapa aku harus mempelajari Occlumency?'
Snape memandangi Harry, sambil menelusuri mulutnya dengan satu jari yang
panjang dan kurus.
'Peraturan biasa tampaknya tidak berlaku bagimu, Potter. Kutukan yang gagal
membunuhmu tampaknya telah menempa semacam hubungan antara kamu dengan
Pangeran Kegelapan. Bukti menyatakan bahwa pada saat-saat, ketika pikirannya
paling santai dan mudah diserang -- saat kau tertidur, contohnya -- kau berbagi pikiran
dan emosi Pangeran Kegelapan. Kepala Sekolah berpikir tidak bijaksana untuk
diteruskan. Beliau ingin aku mengajarimu bagaimana menutup pikiranmu pada
Pangeran Kegelapan.'
Jantung Harry berdebar cepat lagi. Tak satupun dari ini masuk akal.
'Tetapi kenapa Profesor Dumbledore mau menghentikannya?' dia bertanya
mendadak. 'Aku tidak begitu suka, tapi berguna, bukan? Maksudku ... aku melihat
ular itu menyerang Mr Weasley dan kalau tidak, Profesor Dumbledore tidak akan bisa
menyelamatkannya, bukan? Sir?'
Snape menatap Harry beberapa saat, masih menelusuri mulutnya dengan jarinya.
Ketika dia berbicara lagi, dilakukannya lambat-lambat dan berhati-hati, seolah-olah
dia menimbang setiap kata.
'Tampaknya Pangeran Kegelapan belum menyadari hubungan antara dirimu dan
dirinya sampai akhir-akhir ini. Sampai sekarang tampaknya bahwa kau telah
mengalami emosinya, dan berbagi pikirannya, tanpa dia tahu. Namun, penglihatan
yang kau dapatkan tak lama sebelum Natal --'
'Tentang ular dan Mr Weasley?'
'Jangan sela aku, Potter,' kata Snape dengan suara berbahaya. 'Seperti yang sedang
kukatakan, penglihatan yang kau dapatkan tak lama sebelum Natal menggambarkan
serangan yang begitu kuat pada pikiran-pikiran Pangeran Kegelapan --'
'Aku melihat ke dalam kepala ular itu, bukan dia!'
'Kupikir aku baru saja menyuruhmu untuk tidak menyelaku, Potter?'
Tetapi Harry tidak peduli kalau Snape marah; setidaknya dia tampaknya mulai
mencapai dasar masalah ini; dia telah maju di kursinya sehingga, tanpa sadar, dia
sedang bertengger di bagian paling tepi, tegang seolah-olah sedang bersiap untuk lari.
'Bagaimana bisa aku melihat melalui mata ular itu kalau pikiran Voldemort yang
kumasuki?'
'Jangan sebut nama Pangeran Kegelapan!' ludah Snape.
Ada keheningan tidak menyenangkan. Mereka melotot kepada satu samal lain
melewati Pensieve.
'Profesor Dumbledore menyebut namanya,' kata Harry pelan.
'Dumbledore adalah seorang penyihir yang sangat kuat,' Snape bergumam.
'Walaupun beliau mungkin merasa cukup aman untuk menggunakan nama itu ... kitakita yang lain ...' Dia menggosok lengan bawah kirinya, tampaknya dengan tidak
sadar, di titik di mana Harry tahu Tanda Kegelapan terbakar ke kulitnya.
'Aku hanya ingin tahu,' Harry mulai lagi, memaksa suaranya kembali ke nada
sopan, 'kenapa --'
'Kau sepertinya telah mengunjungi pikiran ular itu karena di sanalah Pangeran
Kegelapan berada pada saat tertentu itu,' geram Snape. 'Dia sedang merasuki ular itu
pada saat itu dan dengan begitu kau bermimpi kau ada di dalamnya juga.'
'Dan Vol -- dia -- sadar aku ada di sana?'
'Tampaknya begitu,' kata Snape dengan dingin.
'Bagaimana Anda tahu?' kata Harry mendesak. 'Apakah ini cuma dugaan Profesor
Dumbledore, atau --?'
'Kusuruh kau,' kata Snape, kaku di kursinya, matanya menyipit,' untuk
memanggilku "sir".'
'Ya, sir,' kata Harry tidak sabaran, 'tapi bagaimana Anda tahu --?'
'Cukup bahwa kami tahu,' kata Snape menekan. 'Poin pentingnya adalah bahwa
Pangeran Kegelapan sekarang sadar bahwa kau mendapatkan akses kepada pikiran
dan perasaannya. Dia juga menarik kesimpulan bahwa proses itu mungkin sekali
bekerja berlawanan arah; yakni, dia sadar bahwa dia mungkin bisa memasuki pikiran
dan perasaanmu sebagai balasannya --'
'Dan dia mungkin mencoba membuatku melakukan hal-hal?' tanya Harry. 'Sir?' dia
menambahkan dengan buru-buru.
'Mungkin,' kata Snape, terdengar dingin dan tidak peduli. 'Yang membawa kita
kembali ke Occlumency.'
Snape menarik keluar tongkatnya dari sebuah kantong di bagian dalam jubahnya
dan Harry tegang di kursinya, tetapi Snape hanya mengangkat tongkat itu ke
pelipisnya dan menempatkan ujungnya ke akar-akar berminyak rambutnya. Saat dia
melepaskannya, beberapa zat keperakan keluar, merentang dari pelipisnya seperti
benang halus yang tebal, yang putus ketika dia menarik tongkat itu menjauh dan jatuh
dengan anggun ke dalam Pensieve, di mana benda itu berputar putih keperakan, bukan
gas maupun cairan. Dua kali lagi, Snape mengangkat tongkatnya ke pelipisnya dan
menempatkan zat keperakan itu ke dalam baskom batu itu, lalu, tanpa menawarkan
penjelasan apapun tentang perilakunay, dia mengangkat Pensieve itu dengan hati-hati,
menyimpannya ke sebuah rak menyingkir dari hadapan mereka dan kembali
menghadapi Harry dengan tongkatnya dipegang siap sedia.
'Berdiri dan keluarkan tongkatmu, Potter.'
Harry bangkit, merasa gugup. Mereka saling berhadapan dengan meja tulis itu di
antara mereka.
'Kau boleh menggunakan tongkatmu untuk berusaha melucuti senjataku, atau
mempertahankan dirimu dengan cara apapun yang bisa kau pikirkan,' kata Snape.
'Apa yang akan Anda lakukan?' Harry bertanya, sambil memandang tongkat Snape
dengan gelisah.
'Aku akan mencoba masuk ke dalam pikiranmu,' kata Snape dengan lembut. 'Kita
akan melihat seberapa baik kau bertahan. Aku telah diberitahu bahwa kau sudah
memperlihatkan bakat melawan Kutukan Imperius. Kau akan mendapati bahwa
kekuatan yang serupa dibutuhkan untuk ini ... kuatkan dirimu, sekarang. Legilimens!'
Snape telah menyerang sebelum Harry siap, sebelum dia bahkan mulai memanggil
kekuatan bertahan apapun. Kantor itu berdengung di depan matanya dan menghilang;
gambar demi gambar berpacu di pikirannya seperti sebuah film yang berkelap-kelip
begitu hidup sehingga membutakannya dari sekelilingnya.
Dia berumur lima tahun, sedang menyaksikan Dudley mengendarai sepeda baru
berwarna merah, dan hatinya penuh dengan kecemburuan ... dia berumur sembilan
tahun, dan Ripper si bulldog sedang mengejarnya naik ke sebuah pohon dan keluarga
Dursley sedang tertawa di bawah di halaman ... dia sedang duduk di bawah Topi
Seleksi, dan topi itu sedang memberitahunya dia akan berhasil di Slytherin ...
Hermione sedang berbaring di sayap rumah sakit, wajahnya tertutup bulu hitam tebal
... seratus Dementor menuju ke arahnya di samping danau yang gelap ... Cho Chang
sedang mendekatinya di bawah mistletoe ...
Tidak, kata sebuah suara di dalam kepala Harry, selagi memori Cho semakin
mendekat, kau tidak akan menyaksikan itu, kau tidak akan menyaksikan itu, itu
pribadi -Dia merasakan sakit menusuk di lututnya. Kantor Snape telah kembali ke
penglihatannya dan dia menyadari bahwa dia telah jatuh ke lantai; salah satu lututnya
terbentuk kaki meja tulis Snape dengan menyakitkan. Dia memandang kepada Snape,
yang telah menurunkan tongkatnya dan sedang menggosok pergelangan tangannya.
Ada bekas lecutan besar di sana, seperti bekas terbakar.
'Apakah kau bermaksud menghasilkan Guna-Guna Penyengat?' tanya Snape
dengan dingin.
'Tidak,' kata Harry dengan getir, sambil bangkit dari lantai.
'Kukira begitu,' kata Snape sambil mengamatinya dengan seksama. 'Kau
membiarkan aku masuk terlalu jauh. Kau kehilangan kendali.'
'Apakah Anda melihat semua yang kulihat?' Harry bertanya, tidak yakin apakah dia
ingin mendengar jawabannya.
'Kilasan-kilasan,' kata Snape, bibirnya melengkung. 'Milik siapa anjing itu?'
'Bibiku Marge,' Harry bergumam, sambil membenci Snape.
'Well, untuk percobaan pertama itu tidak terlalu buruk,' kata Snape sambil
mengangkat tongkatnya sekali lagi. 'Kau berhasil menghentikanku pada akhirnya,
walaupun kau menghabiskan waktu dan energi dengan berteriak. Kau harus tetap
fokus. Tolak aku dengan otakmu dan kau tidak akan perlu terpaksa menggunakan
tongkatmu.'
'Aku sedang berusaha,' kata Harry dengan marah, 'tapi kau tidak memberitahuku
bagaimana caranya!'
'Tata krama, Potter,' kata Snape dengan berbahaya. 'Sekarang, aku mau kau
menutup matamu.'
Harry memberinya pandangan tidak senang sebelum melakukan apa yang disuruh.
Dia tidak suka gagasan berdiri di sana dengan mata tertutup sementara Snape
menghadapinya, sambil membawa sebuah tongkat.
'Bersihkan pikiranmu, Potter,' kata suara dingin Snape. 'Lepaskan semua emosi ...'
Tetapi kemarahan Harry kepada Snape terus menderu melewati nadinya seperti
bisa. Lepaskan kemarahannya? Dia bisa melakukannya semudah melepaskan kakinya
...
'Kau tidak melakukannya, Potter ... kau perlu lebih banyak disiplin daripada ini ...
fokus, sekarang ...'
Harry mencoba mengosongkan pikirannya, mencoba tidak berpikir, atau
mengingat, atau merasakan ...
'Ayo coba lagi ... pada hitungan ketiga ... satu -- dua -- tiga -- Legilimens!'
Seekor naga hitam besar sedang berdiri dengan kaki belakangnya di depannya ...
ayah dan ibunya sedang melambai kepadanya dari sebuah cermin sihir ... Cedric
Diggory sedang terbaring di atas tanah dengan mata hampa menatapnya ...
'TIDAAAAAAAK!'
Harry berlutut lagi, wajahnya terbenam dalam tangannya, otaknya berpacu seolaholah seseorang telah mencoba menariknya dari tengkoraknya.
'Bangun!' kata Snape dengan tajam. 'Bangun! Kau tidak berusaha, kau tidak
mencoba. Kau membiarkan aku memasuki memori-memori yang kau takuti,
menyerahkan senjata kepadaku!'
Harry berdiri lagi, jantungnya berdebar dengan liar seolah-olah dia benar-benar
baru melihat Cedric mati di pekuburan itu. Snape tampak lebih pucat daripada biasa,
dan lebih marah, walaupun tidak semarah Harry.
'Aku -- sedang -- berusaha,' dia berkata melalui gigi-gigi yang dikertakkan.
'Kusuruh kau mengosongkan dirimu dari emosi!'
'Yeah? Well, kudapati itu sulit dilakukan saat ini,' Harry menggeram.
'Kalau begitu kau akan mendapati dirimu sebagai mangsa mudah untuk Pangeran
Kegelapan!' kata Snape dengan kejam. 'Orang-orang bodoh yang mengenakan hati
mereka dengan bangga di lengan baju mreeka, yang tidak bisa mengendalikan emosi
mereka, yang berkubang dalam ingatan-ingatan menyedihkan dan membiarkan diri
mereka dihasut dengan mudah -- orang-orang lemah, dengan kata lain -- mereka tidak
punya peluang melawan kekuasaannya! Dia akan memasuki pikiranmu dengan begitu
mudahnya, Potter!'
'Aku tidak lemah,' kata Harry dengan suara rendah, kemarahan sekarang terpompa
dalam dirinya sehingga dia mengira dia mungkin menyerang Snape dalam beberapa
saat.
'Kalau begitu buktikan! Kuasai dirimu!' ludah Snape. 'Kendalikan amarahmu,
disiplinkan pikiranmu! Kita akan coba lagi! Sedia, sekarang! Legilimens!'
Dia sedang mengamati Paman Vernon memaku kotak surat hingga tertutup ...
seratus Demetor melayang menyeberangi danau di halaman sekolah ke arahnya ... dia
sedang berlari menyusuri sebuah lorong tanpa jendela bersama Mr Weasley ... mereka
semakin dekat dengan pintu hitam polos di ujung koridor itu ... Harry menduga akan
melewatinya ... tetapi Mr Weasley menuntunnya ke kiri, menuruni serangkaian anak
tangga batu ...
'AKU TAHU! AKU TAHU!'
Dia bertumpu pada kaki dan tangannya lagi di lantai kantor Snape, bekas lukanya
menusuk-nusuk tidak menyenangkan, tetapi suara yang baru saja keluar dari mulutnya
penuh kemenangan. Dia mendorong dirinya bangkit lagi untuk mendapati Snape
sedang menatapnya, tongkatnya terangkat. Tampaknya seolah-olah, kali ini, Snape
telah mengangkat mantera itu sebelum Harry bahkan mencoba melawan.
'Kalau begitu apa yang terjadi, Potter?' dia bertanya sambil memandang Harry
dengan sungguh-sungguh.
'Aku melihat -- aku ingat,' Harry terengah-engah. 'Aku baru saja menyadari ...'
'Menyadari apa?' tanya Snape dengan tajam.
Harry tidak menjawab seketika; dia masih merasakan saat kesadaran yang
mengaburkan sementara dia menggosok keningnya ...
Dia telah bermimpi tentang sebuah koridor tak berjendela yang berakhir pada
sebuah pintu terkunci selama berbulan-bulan, tanpa sekalipun menyadari bahwa
tempat itu nyata. Sekarang, melihat memori itu lagi, dia tahu bahwa selama ini dia
telah memimpikan koridor yang dilaluinya bersama Mr Weasley pada tanggal dua
belas Agustus selagi mereka bergegas ke ruang sidang di Kementerian; koridor yang
mengarah ke Departemen Misteri dan Mr Weasley ada di sana pada malam dia
diserang oleh ular Voldemort.
Dia memandang Snape.
'Apa yang ada di Departemen Mister?'
'Apa katamu?' Snape bertanya pelan dan Harry melihat, dengan kepuasan
mendalam, bahwa Snape terkesima.
'Kubilang, apa yang ada di Departemen Misteri, sir?' Harry berkata.
'Dan kenapa,' kata Snape lambat-lambat, 'kau menanyakan hal semacam ini?'
'Karena,' kata Harry sambil mengamati wajah Snape dengan seksama, 'koridor itu
yang baru saja kulihat -- aku telah memimpikannya selama berbulan-bulan -- aku baru
saja mengenaliknyaa -- koridor itu mengarah ke Departemen Misteri ... dan kukira
Voldemort mau sesuatu dari --'
'Sudah kubilang padamu jangan sebut nama Pangeran Kegelapan!'
Mereka saling melotot. Bekar luka Harry membara lagi, tetapi dia tidak peduli.
Snape tampak gelisah; tetapi ketika dia berbicara lagi dia terdengar seolah-olah
sedang mencoba tampak tenang dan tidak kuatir.
'Ada banyak hal di Departemen Misteri, Potter, sedikit yang bisa kau mengerti dan
tak satupun yang berkaitan denganmu. Apakah perkataanku jelas?'
'Ya,' Harry berkata, masih menggosok-gosok bekas lukanya yang menusuk-nusuk,
yang semakin menyakitkan.
'Aku mau kau kembali ke sini waktu yang sama hari Rabu. Saat itu kita akan
meneruskan kerja.'
'Baik,' kata Harry. Dia putus asa ingin keluar dari kantor Snape dan menemukan
Ron dan Hermione.
'Kau harus menyingkirkan dari pikiranmu semua emosi setiap malam sebelum
tidur; mengosongkannya, membuatnya hampa dan tenang, kau mengerti?'
'Ya,' kata Harry, yang hampir tidak mendengarkan.
'Dan kuperingatkan, Potter ... aku akan tahu kalau kau tidak berlatih.'
'Benar,' Harry bergumam. Dia memungut tas sekolahnya, mengayunkannya lewat
bahunya dan bergegas menuju pintu kantor. Ketika dia membukanya, dia memandang
sekilas kepada Snape, yang memalingkan punggungnya kepada Harry dan sedang
mengumpulkan pikiran-pikirannya sendiri keluar dari Pensieve dengan ujung
tongkatnya dan meletakkan kembali dengan hati-hati ke dalam kepalanya sendiri.
Harry pergi tanpa sepatah katapun, menutup pintu dengan hati-hati di belakangnya,
bekas lukanya masih berdenyut menyakitkan.
Harry menemukan Ron dan Hermione di perpustakaan, di mana mereka sedang
mengerjalkan tumpukan terbaru pekerjaan rumah dari Umbridge. Murid-murid yang
lain, hampir semuanya kelas lima, duduk di meja-meja yang diterangi lampu di dekat
sana, dengan hidung dekat ke buku, pena bulu mencoret-coret dengan tergesa-gesa,
sementara langit di luar jendela-jendela semakin hitam. Satu-satunya suara lain adalah
decit ringan salah satu suara Madam Pince, selagi penjaga perpustakaan itu berjalan di
gang-gang dengan mengancam, bernapas pada leher-leher mereka yang menyentuh
buku-bukunya yang berharga.
Harry merasa gemetaran; bekas lukanya masih sakit, dia merasa hampir seperti
demam.
Ketika dia duduk di seberang Ron dan Hermione, dia melihat pantulan dirinya di
jendela seberang; dia sangat putih dan bekas lukanya tampaknya lebih jelas daripada
biasa.
'Bagaimana?' Hermione berbisik, dan kemudian, tampak kuatir. 'Apakah kau baikbaik saja, Harry?'
'Yeah ... baik ... aku tak tahu,' kata Harry tidak sabaran, sambil mengerenyit ketika
rasa sakit menusuk bekas lukanya lagi. 'Dengar ... aku baru saja menyadari sesuatu.'
Dan dia memberitahu mereka apa yang baru saja dia lihat dan tarik kesimpulan.
'Jadi ... jadi kau sedang mengatakan ...' bisik Ron, selagi Madam Pince lewat,
sambil mencicit sedikit, 'bawa senjata itu -- benda yang sedang dikejar Kau-TahuSiapa -- ada di dalam Kementerian Sihir?'
'Di Departemen Misteri, pasti di sana,' Harry berbisik. 'Aku melihat pintu itu ketika
ayahmu membawaku turun ke ruang sidang untuk dengar pendapatku dan pastilah itu
pintu yang sama dengan yang sedang dikawalnya ketika ular itu menggigitnya'
Hermione mengeluarkan napas panjang lambat-lambat.
'Tentu saja,' dia berkata dengan berbisik.
'Tentu saja apa?' kata Ron agak tidak sabaran.
'Ron, pikirkanlah ... Sturgis Podmore sedang mencoba melalui sebuah pintu di
Kementerian Sihir ... pastilah yang satu itu, terlalu banyak kebetulan!'
'Bagaimana bisa Sturgis mencoba mendobrak masuk kalau dia ada di pihak kita?'
kata Ron.
'Well, aku tidak tahu,' Hermione mengakui. 'Itu sedikit aneh ...'
'Jadi apa yang ada di Departemen Misteri?' Harry bertanya kepada Ron. 'Apakah
ayahmu pernah menyebut apapun tentang itu?'
'Aku tahu mereka menyebut orang-orang yang bekerja di sana "Yang-Tak-BolehDisebut",' kata Ron sambil merengut. 'Karena tak seorangpun tampaknya benar-benar
tahu apa yang mereka kerjakan -- tempat yang aneh untuk menyimpan senjata.'
'Tidak aneh sama sekali, masuk akal sekali,' kata Hermione. 'Kuduga pastilah
sesuatu yang rahasia besar yang sedang dikembangkan Kementerian ... Harry, apakah
kau yakin kau baik-baik saja?'
Karena Harry baru saja menggosokkan kedua tangannya di atas keningnya seolaholah mencoba menyetrikanya.
'Yeah ... baik ... ' dia berkata sambil menurunkan tangannya yang masih bergetar.
'Aku hanya merasa sedikit ... aku tidak terlalu suka Occlumency.'
'Kurasa semua orang akan merasa gemetaran kalau pikiran mereka diserang terusmenerus,' kata Hermoine bersimpati. 'Lihat, mari kembali ke ruang duduk, kita akan
sedikit lebih nyaman di sana.'
Tetapi ruang duduk padat dan penuh pekik tawa dan kegembiraan; Fred dan George
sedang mendemonstrasikan barang dagangan terbaru toko lelucon mereka.
'Topi Tanpa-Kepala!' teriak George, sementara Fred melambaikan sebuah topi
runcing yang dihiasi dengan bulu halus merah jambu kepada murid-murid yang
sedang menyaksikan. 'Masing-masing dua Galleon, amati Fred, sekarang!'
Fred memakaikan topi ke kepalanya sambil tersenyum. Selama sedetik dia hanya
tampak agak bodoh; lalu topi maupun kepalanya hilang.
Beberapa anak perempuan menjerit, tetapi semua orang yang lainnya tertawa
bergemuruh.
'Dan lepas lagi!' teriak George, dan tangan Fred meraba-raba sejenak di apa yang
tampak seperti udara kosong di atas bahunya; lalu kepalanya muncul lagi ketika dia
melepaskan topi berbulu merah jambu itu.
'Kalau begitu bagaimana cara kerja topi-topi itu?' kata Hermione, teralihkan dari
pekerjaan rumahnya dan mengamati Fred dan George dengan seksama. 'Maksudku,
jelas itu semacam Mantera Kasat Mata, tapi agak pintar bisa memperluas bidang kasat
matanya melebihi batas-batas benda yang disihir ... walaupun kubayangkan mantera
itu tidak akan bertahan lama.'
Harry tidak menjawab; dia merasa tidak enak badan.
'Aku akan mengerjakan ini besok,' dia bergumam sambil mendorong buku-buku
yang baru dikeluarkannya dari tasnya kembali ke dalam.
'Well, tulis di dalam perencana peermu kalau begitu!' kata Hermione mendorong.
'Agar kau tidak lupa!'
Harry dan Ron saling berpandangan ketika dia meraih ke dalam tasnya,
mengeluarkan perencana itu dan membukanya dengan coba-coba.
'Jangan biarkan sampai kemudian, kau si nomor dua!' caci buku itu selagi Harry
menuliskan pekerjaan rumah Umbridge. Hermione tersenyum kepada buku itu.
'Kukira aku akan pergi tidur,' kata Harry sambil menjejalkan perencana peer itu
kembali ke dalam tasnya dan membuat catatan batin untuk menjatuhkannya ke dalam
api pada kesempatan pertama yang didapatkannya.
Dia berjalan menyeberangi ruang duduk, mengelak dari George, yang mencoba
memakaikan sebuah Topi Tanpa-Kepala kepadanya, dan mencapai tangga batu yang
tenang dan sejuk menuju kamar asrama anak-anak laki-laki. Dia merasa mual lagi,
seperti yang dirasakannya pada malam dia mendapatkan penglihatan tentang ular itu,
tetapi berpikir bahwa kalau saja dia bisa berbaring sebentar dia akan baik-baik saja.
Dia membuka pintu kamar asramanya dan sudah masuk selangkah ketika dia
merasakan sakit yang begitu hebat sehingga dia mengira seseorang pasti mengiris
puncak kepalanya. Dia tidak tahu di mana dia, apakah dia sedang berdiri atau
berbari