...

Masa Depan Ekonomi Dunia Ada di Asia Pasifik

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Masa Depan Ekonomi Dunia Ada di Asia Pasifik
Masa Depan Ekonomi Dunia Ada di Asia
Pasifik
(NUSA DUA). Konektivitas di kawasan Asia Pasifik terus meningkat dan memberikan
kontribusi dalam pertumbuhan ekonomi kawasan. Kawasan yang sebelumnya
tertinggal jauh dari Eropa dan Amerika Utara, kini mulai bisa mengejar
ketertinggalannya. “Memang masih banyak hal yang harus dilakukan, tetapi apa yang
terjadi saat ini merupakan sebuath kemajuan. Potensi Asia Pasifik sangan bagus, dan
dengan konektivitas, masa depan ada di Asia Pasifik.” Ujang CEO Air. Tony Fernandes
saat menjadi pembicara dalam APEC CEO Summit 2013 di Bali Invernational
Convention Center, Nusa Dua, Bali, Senin (7/10)
Dalam diskusi “Connectivity Across the Asia Pacitic” yang dipandu Publisher Berita
Satu Media Holdings, Peter F Gontha itu, Tony menyatakan, pembangunan ekonomi
sering terhambat oleh isu nasionalisme. Padahal dengan membuka diri dan menjalin
konektivitas antarnegara, pertumbuhan ekonomi akan terjadi dan kesejahteraan
masyarakat akan meningkat. “Ini adalah tantangan anggota APEC untuk membangun
konektivitas, baik di domestic maupun dengan negara lain,” ujar Tony.
Kunci untuk meningkatkan konektivitas ada di tangan pemerintah. Pemerintah harus
berani untuk mengambil kebijakan dan tidak hanya melihat kepentingan dendiri.
“Pemerintah harus berani membuka konektivitas di ruang udara dan mendorong
integrasi masyarakat. Hal ini akan member dampak pada pariwisata dan pertumbuhan
ekonomi,” katanya.
Menurut Tony, yang dibutuhkan dalam mewujudkan konektivitas adalah komitmen
dan tindakan nyata. Saat terjadi peristiwa Bom Bali dan isu SARS, banyak orang
membatalkan penerbangan ke Bali, “Kami tetap melanjutkan konektivitas dan
mengadakan kampanye Love Bali. Kami menyediakan lima ribu kursi gratis ke Bali dan
terbukti, orang tetap datang ke Bali,” ujarnya.
Berkait konektivitas, hal utama yang harus dibenahi di kawasan Asia Pasifik adalah
masalah infrastruktur, misalnya bandara yang kurang baik, landasan pacu yang kurang
panjang dan tidak memadai serta infrastruktur pendukung lainnya.
Penekanan serupa dikemukakan pembicara lainnya, Chairman Foxconn Terry Tai-Ming
Gou. Perbaikan infrastruktur memang harus dilakukan. Saat ini, pembangunan
infrastruktur masih belum bisa mengejar pertumbuhan ekonomi.
Terry menyatakan, peningkatan konektivitas dapat dilakukan melalui skema PublicPrivate Partnership (PPP). Menurutnya, cara ini akan membuat terjadi akselerasi dalam
peningkatan konektivitas di kawasan Asia Pasifik.
Hal senada diungkapkan Chairman dan CEO Deutsche Post DHL, Frank Appel. Negara
dengan konektivitas tinggi akan menjadi negara dengan indeks manusia tertinggi.
“Itulah yang dialami Singapura, Belanda dan Negara Eropa lainnya. Sekarang Asia
merupakan kawasan yang paling terhubung, ini tentu saja kemajuan,” tuturnya. Ia
menambahakan, selain pembenahan infrastruktur, reformasi birokrasi dan
konektrivitas informasi menjadi hal penting yang perlu di tingkatkan.
Presiden dan CEO Walmart Asia, Scott Price menyatakan, selain konektivitas fisik juga
penting untuk meningkatkan konektivitas digital. “Sebagai perusahaan global retail
penting bagi kami untuk menjual dengan harga termurah. Karenanya, efisiensi harus
dilakukan. Salah satunya dengan konektivits digital dengan mengandalkan mesin dan
teknologi. Ini membuat cost berkurang,” katanya.
Presiden dan CEO Underwriters Laboratories Inc. Keith Williams melihat, untuk
mendukung perdagangan bebas, keterhubungan antarnegara penting untuk
menciptakan konektivitas rantai pasokan. Banyak perusahaan multinasional yang
bergantung pada pasokan di berbagai negara. Untuk itu, konektivitas menjadi hal yang
mutlak dipenuhi.
Di tengah perkembangan teknologi saat ini, konektivitas konsumen mendorong hal
tersebut, “Konektivitas konsumen mendorong konektivitas rantai pasokan 88% dari
perusahaan menufaktur yang kami survei, menyatakan harapan bahwa ada
konektivitas untuk rantai pasokan. Untuk kawasan Asia Pasitifk, kami melihat ada
kemajuan berarti dalam 20 tahun terakhir,” katanya.
Jangan Buang Peluang
Ketua Umum Kadin Indonesia, Suryo Bambang Sulisto menyatakan, banyaknya
investor asing yang hendak berinvestasi di Indonesia, harus segera disambut. Indonesia
jangan sampai membuang peluang mendapatkan investasi APEC memberikan
penilaian positif kepada Indonesia.
“Semua investor yang saya temui menyatakan senang dengan Indonesia dan berniat
investasi di sini. Kini tinggal respons balik kita yang cepat dan mentap,” kata Suryo di
Nusa Dua, Bali, Minggu (6/10).
Indonesia saat ini, kata Suryo, sedang menarik perhatian dunia untuk investasi.
Indonesia saat ini adalah mother of opportunities. Tidak ada negara di dunia yang
semenarik Indonesia untuk investasi. Jika tidak ada follow up yang cepat dan tepat,
maka investor hanya akan sampai pada tahap berniat saja.
Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak seluruh CEO
perusahaan global di kawasan Asia Pasifik untuk berinvestasi di Indonesia.
Menurutnya, investasi terbuka bukan hanya untuk pemerintah atau perusahaan
pemerintah (BUMN), tetapi juga untuk pihak swasta. “Saya mengundang semua untuk
menanamkan investasi dan melakukan bisnis di Indonesia, sebab Indonesia merupakan
tempat yang bagus untuk berinvestasi,” ujar Yuhoyono kala membuka APEC CEO
Summit 2013 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Bali, Minggu (6/10).
Dalam acara bertema Towards Resilience and Growth: Reshaping Priorities for Global
Economy tersebut, Presiden menyatakan, ekonomi Indonesia yang bertumbuh di tengah
goncangan ekonomi global menunjukkan positifnya keadaan Indonesia.
Dikatakan, pencapaian pertumbuhan ekonomi Indonesia itu lebih dari dua kali dari
pertumbuhan rata-rata ekonomi dunia. Apalagi Indonesia didukung dengan demografi
dan pertumbuhan kelas menengah yang signifikan.
“Kini Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan ekonomi yang baik dengan
didukung kelas menengah yang besar. Selain itu, demokrasi Indonesia juga berjalan
dengan baik. Ini artinya, Indonesia adalah tempat yang baik untuk berinvestasi,” jelas
Yudhoyono dalam pidato berjudul Reshoping Global Priorities: The View from Modern
Indonesia tersebut.
Suara Pembaruan, Senin 7 Oktober 2013
Fly UP