...

Laporan dikompilasi oleh: Juli 2012 Divisi Indo

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Laporan dikompilasi oleh: Juli 2012 Divisi Indo
Juli 2012
Divisi Indo-Pasifik
Indonesia
Laporan No. 7/12
Laporan dikompilasi oleh:
Juli 2012
Divisi Indo-Pasifik
Indonesia
Laporan No. 7/12
Laporan dikompilasi oleh:
Diterbitkan oleh: The Nature Conservancy, Divisi Indo-Pasifik
Rizya Ardiwijaya: The Nature Conservancy, Program Kelautan Indonesia, Jl. Pengembak 2, Sanur,
Bali, Indonesia. Email: [email protected]
Saran pengutipan:
Wilson, J.R., R.L. Ardiwijaya, dan R. Prasetia. 2012. Studi Dampak Pemutihan Karang tahun 2010
terhadap Komunitas Karang di Taman Nasional Wakatobi. The Nature Conservancy, Divisi IndoPasifik, Indonesia. Laporan No. 7/12. 25 hal.
© 2012 The Nature Conservancy
Hak cipta dilindungi undang-undang, reproduksi untuk tujuan apapun dilarang tanpa izin terlebih
dahulu.
Foto sampul: Rizya Ardiwijaya (TNC Indonesia) substrat terumbu karang di Table Coral City,
Tomia © Joanne Wilson/TNC
Tersedia di:
Program Kelautan Indonesia
The Nature Conservancy
Jl. Pengembak 2
Sanur 80228, Bali
Indonesia
Asia-Pacific Resource Centre
The Nature Conservancy
245 Riverside Drive
West End, QLD 4101
Australia
Atau melalui laman:
www.nature.or.id
www.conservationgateway.org/
Studi ini dilaksanakan bekerjasama dengan:
Wildlife Conservation Society – Indonesia Program.
Jl. Atletik No.8, Bogor – Jawa Barat, Indonesia
Phone +62-(0)251-28342135, Fax +62-(0)251-8357347
Balai Taman Nasional Wakatobi
Jl. A. Yani, Desa Mandati II, Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Indonesia
Phone +62-(0) 404-21851, Fax +62-(0)404-21881
Kami ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kerja keras tim monitoring dan
dukungan yang sangat besar dari para mitra. Kami mengucapkan terima kasih kepada Kepala Balai
Taman Nasional Wakatobi,TNC-WWF Wakatobi Project Leader dan Pimpinan COREMAP Wakatobi
yang mendukung kegiatan monitoring kesehatan karang yang juga didalamnya dilakukan survei
pemutihan karang. Ucapan terima kasih kepada TNC Head Quarter yang menyediakan dana Coral
Bleaching Response sehingga survei pasca-pemutihan pertama dan kedua dapat terlaksana. Juga
penghargaan yang tinggi untuk semua awak kapal Songampa (TN Wakatobi), FRS Menami dan
Kambala atas dukungan yang tak ternilai, membawa tim ke lokasi.
Kepulauan Wakatobi terletak di ujung tenggara Pulau Sulawesi, berada di jantung Segitiga Karang.
Wakatobi merupakan akronim dari empat pulau utama yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan
Binongko, walaupun selain itu juga terdapat 39 pulau dan beberapa atoll besar. Pada tahun 1996,
pemerintah Indonesia mendeklarasikan Taman Nasional Wakatobi (TN Wakatobi) yang melindungi
1,39 juta hektar pulau-pulau dan perairan di sekitarnya.
TN Wakatobi melingkupi habitat laut yang sangat beragam. Pulau-pulau utamanya dikelilingi oleh
terumbu karang tepi. Terdapat tiga atoll besar yang terletak sejajar dengan kepulauan Wakatobi dan
sejumlah terumbu karang kecil terletak di lautan terbuka di bagian tenggara Wakatobi. TN Wakatobi
juga dikelilingi oleh selat-selat yang berfungsi penting sebagai koridor migrasi spesies laut besar
seperti penyu dan paus, yang terdaftar sebagai spesies terancam punah.
Ancaman utama terhadap TN Wakatobi adalah penangkapan dan eksploitasi yang berlebih terhadap
sumberdaya terumbu karang. Namun, peningkatan suhu permukaan laut yang terkait dengan
fenomena iklim La Nina/El Nino menyebabkan pemutihan karang yang muncul sebagai ancaman
yang serius. Pemutihan karang diamati pada survei kesehatan karang tahunan di bulan April 2010 di
seluruh lokasi. Survei peristiwa pemutihan secara kuantitatif hanya bisa dilakukan di delapan lokasi
pada April 2010, tetapi dilanjutkan pada survei pasca-pemutihan dan survei kelentingan (resilience) di
bulan September 2010 dan Januari 2011 di 24 lokasi.
Rata-rata 65% karang terkena dampak pemutihan, namun mortalitasnya diperkirakan kurang dari 5%.
Genera karang yang rentan terhadap pemutihan yang ditemukan antara lain Pocillopora, Stylophora,
Montipora berbentuk lembaran dan and Acropora berbentuk karang meja dan bercabang.
Karang Otiolo yang terletak di ujung selatan taman nasional, menderita pemutihan tertinggi pada
April 2010 dengan 70% karang terkena dampaknya di rataan karang dalam. Karang-karang di Table
Coral City yang didominasi Acropora, spesies yang rentan, ditemukan masih mengalami pemutihan
pada September 2010 dengan 35% koloni tercatat berwarna pucat.
Banyak faktor yang menjadi indikasi kejadian pemutihan karang yang disebabkan oleh peningkatan
suhu permukaan laut dan/atau sinar matahari intensitas tinggi, antara lain:
1) sifat alami ekstensif pemutihan seluruh Taman Nasional
2) peningkatan suhu permukaan laut dari bulan Februari hingga Mei 2010
3) fakta adanya karang-karang yang memutih total namun kemudian masih hidup dan pulih
setelah suhu kembali menurun
Oleh karena itu, rencana tanggap bencana pemutihan karang sangat penting untuk untuk
dikembangkan di TN Wakatobi, antara lain termasuk menggunakan produk berbasis web yang
menunjukkan tekanan suhu regional; menyiapkan sebuah tim yang mampu melaksanakan survei dan
melaporkan pemutihan karang; membangun dan memperkuat jejaring pemangku kepentingan dalam
rangka berbagi informasi adanya pemutihan; dan yang terpenting adalah untuk mengidentifikasi aksi
pengelolaan untuk menjamin kesehatan karang sehingga berpeluang besar selamat terhadap dampak
perubahan iklim.
Ancaman terhadap terumbu karang semakin meningkat karena fenomena perubahan iklim (HoeghGuldberg et al. 2007) khususnya karena peningkatan suhu permukaan yang menyebabkan pemutihan
karang. Pemutihan ini disebabkan oleh suhu permukaan laut (SPL) yang lebih tinggi di atas normal
yang membuat menyebabkan ‘keracunan’ ringan antara hubungan hewan karang dan alga simbiotik,
zooxanthellae, yang menyuplai makanan bagi hewan karang tersebut. Dalam kondisi ini zooxanthellae
akan dikeluarkan dari polip karang sehingga kemudian karang terlihat putih. Kondisi pemutihan ini
menyebabkan karang menjadi ‘kelaparan’ dan kondisi ini bersifat sementara; jika tekanan suhu
mereda, karang akan akan kembali ke kondisi normal tetapi jika tekanan tetap bertahan maka karang
akan mati dalam jumlah yang sangat besar. Peristiwa bencana ekologis di tahun 1998 telah
menyebabkan hilangnya 16% terumbu karang dunia (Wilkinson, 2000). Pada tahun 2010, pemutihan
karang terkait dengan peningkatan suhu permukaan laut yang berkaitan juga dengan fenomena El
Nino yang mempengaruhi terumbu karang di beberapa bagian di Indonesia (GCRMN, 2010).
Penyebab utamanya karena perubahan iklim, antara lain peningkatan produksi gas ‘rumah kaca’
secara global, dan berada di luar kendali para pengelola terumbu karang, namun terumbu karang dapat
dikelola dengan suatu cara sehingga mampu memperoleh peluang terbaik untuk pulih dari dampak
peningkatan suhu laut dan dampak iklim terkait lainnya (lihat Marshall dan Schuttenberg, 2007).
Salah satu dari beberapa strategi pengelolaan terumbu karang untuk mengatasi dampak perubahan
iklim adalah mengidentifikasi lokasi-lokasi yang mungkin lebih ‘lenting’ (resilient) terhadap dampak
perubahan iklim dan memasukkan lokasi-lokasi tersebut dalam kawasan konservasi perairan (KKP).
Kelentingan menunjukkan kemampuan terumbu karang untuk bertahan ataupun pulih dari gangguan,
dalam hal ini terkait dampak iklim. Mengurangi ancaman langsung dari manusia seperti penangkapan
ikan yang merusak dan berlebih di daerah-daerah kritis tersebut, diperkirakan akan meningkatkan
peluang bagi terumbu karang akan pulih dari dampak perubahan iklim.
Metode utama untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang lenting dijelaskan dalam protokol penilaian
kelentingan (Obura dan Grimsditch, 2009) yang menggunakan 61 faktor pengukuran kuantitatif dan
semi-kuantitatif. Faktor-faktor tersebut dikelompokkan menjadi:
-
komposisi dan kondisi komunitas bentos
karakteristik lingkungan yang dapat memberikan perlindungan dari panas seperti naungan
(shading) atau arus
komposisi populasi karang yang menegaskan riwayat pemutihan karang sebelumnya, dan bukti
adanya pemulihan
faktor-faktor yang meningkatkan atau mengancam proses-proses pemulihan karang seperti
keberadaan bio-eroder
populasi ikan yang difokuskan pada ikan-ikan herbivora
konektivitas karang antar habitat yang terdekat dan jauh sebagai sumber larva karang
faktor-faktor antropogenik yang mengancam habitat terumbu karang, dan
pengelolaan yang dapat mengatur tekanan antropogenik
Protokol ini dikembangkan setelah peristiwa pemutihan masal tahun 1998 dan tidak banyak
kesempatan untuk meguji kemampuan penilaian kelentingan ini untuk mengidentifikasi daerah-daerah
mana yang paling terpengaruh oleh peristiwa pemutihan karang. Protokol ini juga menguji untuk
melihat karang-karang yang berada di lokasi-lokasi dengan nilai kelentingan lebih tinggi yang mampu
untuk bertahan terhadap atau pulih dari pemutihan secara lebih baik dibandingkan lokasi-lokasi
dengan nilai yang lebih rendah.
Pemutihan karang diamati pada bulan April 2010 di Taman Nasional Wakatobi (TN Wakatobi),
Sulawesi Tenggara – Indonesia dalam survei kesehatan karang tahunan. Kondisi pemutihan di
terumbu karang dipelajari saat itu dan pada survei-survei berikutnya. Nilai kelentingan dikalkulasi
untuk masing-masing lokasi berdasarkan kombinasi pengukuran dan opini para ahli dan dibandingkan
terhadap dampak pemutihan. Sebagai tambahan, kami menguji riwayat tekanan termal di lokasi-lokasi
tersebut dan intensitas tekanannya selama kejadian pemutihan tahun 2010, untuk membantu
memahami faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi dampak pemutihan. Selama survei kesehatan
karang bulan Maret-April 2009, kami mencatat sejumlah kecil pemutihan di beberapa lokasi namun
tidak dikuantifikasi.
Tujuan dari studi ini adalah untuk menilai dampak pemutihan karang di TN Wakatobi tahun 2010 dan
untuk menilai faktor-faktor yang mungkin penting dalam memahami kerentanan karang di Wakatobi
terhadap pemutihan.
2.1.
TAMAN NASIONAL WAKATOBI
Kepulauan Wakatobi terletak di Sulawesi Tenggara, bagian timur Indonesia, dan dinamakan
berdasarkan empat pulau utama yaitu: Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko. Pada tahun
1996, seluas 1,39 juta hektar di wilayah Wakatobi dideklarasikan sebagai Taman Nasional Laut yang
meliputi 39 pulau, mangrove disekitarnya, padang lamun, terumbu karang dan termasuk di dalamnya
atoll-atoll besar, dan daerah lepas pantai. Wakatobi merupakan satu dari Taman Nasional Laut yang
padat penduduk mendekati 100.000 penghuni tercatat di tahun 2007 (Hermansyah et al. 2008).
Ketergantungan penduduk Wakatobi terhadap sumberdaya laut sangat tinggi, sebagian besar bekerja
sebagai nelayan, baik sebagai mata pencaharian utama maupun alternatif. Rencana zonasi yang ada
saat ini memasukkan tiga tipe zona non-ekstraktif – zona inti (dilarang masuk, dilarang ambil), zona
perlindungan laut (dilarang ambil) dan zona pariwisata (dilarang ambil) yang seluruhnya mencakup
2% dari wilayah taman nasional namun mencakup 37% habitat kritis. Sisanya dinyatakan sebagai
zona pemanfaatan tradisional di sekitar pulau-pulaunya bagi penduduk lokal dan zona pemanfatan
umum di daerah lepas pantai yang memperbolehkan kegiatan perikanan komersial. Dahulu, terumbu
karang TN Wakatobi menderita kerusakan secara extensif karena penangkapan ikan yang merusak.
Ancaman terhadap kesehatan terumbu karang dan perikanan berkelanjutan di TN Wakatobi yang ada
saat ini adalah penangkapan ilegal dan berlebih, dan eksploitasi karang dan pasir oleh masyarakat
lokal untuk keperluan material konstruksi.
Terumbu karang Wakatobi dibagi ke dalam tiga tipe habitat yang utama, yaitu: terumbu tepi pulaupulau utama, taka dan terumbu tepi pulau-pulau luar, dan atoll selatan. Secara umum, kontur di bawah
permukaan air cenderung dicirikan dengan rataan karang yang dangkal dan kemudian lebih dalam
kemiringan yang curam hingga berakhir dengan dasar pasir di kedalaman 30-50 m. Seringkali
terumbu karang sangat dekat dengan perairan dalam dengan dinamika perairan yang kuat (arus dan
gelombang) dan upwelling (kenaikan massa air laut) di beberapa daerah yang membawa massa air
dingin ke permukaan.
2.2.
SUHU PERMUKAAN LAUT
Catatan Suhu Permukaan Laut (SPL) saat terjadinya peristiwa pemutihan diperoleh dari data satelit
NOAA Coral Reef Watch Virtual Station di Wakatobi
(http://coralreefwatch.noaa.gov/satellite/current/products_dhw.html). Data ini merupakan rata-rata
dari pixel berukuran 50km2 pada koordinat 5°S 124°E, kira-kira 50 kilometer dari garis pantai pulau-
pulau di Wakatobi. Catatan data mingguan sejak tahun 2000 diunduh dari website dan di-plot untuk
setiap tahunnya.
Maynard et al. (2000) menghitung anomali termal dari set data SPL yang lebih presisi dari satelit
NOAA Pathfinder dengan resolusi 4-km2. Set data ini kemudian digunakan untuk menghitung Degree
Heating Weeks (DHW) untuk TN Wakatobi sejak tahun 1998. Satu DHW tercatat jika suhu satu
derajat lebih tinggi di atas normal selama satu minggu. Dua DHW dapat disebabkan oleh suhu dua
derajat lebih tinggi di atas normal selama satu minggu atau satu derajat lebih panas selama dua
minggu.
2.3.
SURVEI PEMUTIHAN KARANG
Beberapa survei untuk mengukur sebaran dan besaran dampak peristiwa pemutihan karang tahun
2010 telah dilaksanakan di TN Wakatobi dalam tiga kesempatan. Survei awal telah dilaksanakan saat
peristiwa pemutihan karang terjadi pada April 2010. Survei pasca-pemutihan dilaksanakan masingmasing pada bulan September 2010 dan Januari 2011, lima dan sembilan bulan setelah peristiwa
pemutihan (Tabel 1). Dalam survei bulan Januari 2011, beberapa lokasi yang diambil pada bulan
September 2010 tidak bisa dikases karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan. Daftar lokasi,
waktu survei dan atribut-atributnya disajikan dalam Lampiran 1.
Tabel 1. Lokasi survei pemutihan karang dan pasca-pemutihan di Taman Nasional Wakatobi 2010-2011. S =
dangkal, D = dalam.
Tipe
Nama lokasi
Pengelolaan
No Take
Blue Hole
Bola Tiga
Kaledupa 1
Kaledupa 2
Karang Bante
Karang Gurita 1
Karang Kaledupa 6
Karang Kaledupa 8
Karang Kapota 2
Karang Kapota 4
Karang Koko 2
Karang Otiolo 1
Mantigola
Matahora 2
Matahora 3
Moromaho
Ndaa 1
Open Access Ndaa 2
Onemobaa
Pak Kasim's
Palahidu
Pulau Sawa 1
Sampela
Sombu
Table Coral City
Waha
Kode
lokasi
BHol
Bol3
Kal1
Kal2
KBan
KGur
KKl6
KKl8
KKp2
KKp4
KKok
KOti
Mant
Mat2
Mat3
Moro
Nda1
Nda2
Onem
PKas
Pala
PSaw
Samp
Somb
Tabl
Waha
No.
lokasi
5272
5273
5294
5265
5260
5264
5252
5254
5287
5261
5269
5270
5288
5279
5280
5276
5293
5277
Lintang
Bujur
-5.444083
-5.473117
-5.473117
-5.497750
-5.874550
-5.391800
-5.778900
-5.926183
-5.561067
-5.585483
-6.107091
-5.812333
-5.558267
-5.302600
-5.338483
-6.592610
-5.650483
-5.653017
-5.775951
-5.464967
-5.894117
-5.771033
-5.482050
-5.267917
-5.752317
-5.248117
123.757883
123.757533
123.757533
123.820750
123.986000
123.675250
123.658917
123.737383
123.415450
123.468767
124.334056
123.613867
123.754150
123.653467
123.645683
124.592061
124.052600
124.041017
123.894316
123.755283
124.028000
123.874717
123.745150
123.517350
123.891067
123.527300
2010 Apr
S
2010 Sep
D
S

















2011 Jan
D






































S
D






































Pada bulan April 2010, survei pemutihan karang dilaksanakan di delapan lokasi secara acak
berdasarkan kesempatan yang ada selama survei monitoring kesehatan karang di TN Wakatobi.
Survei kuantitatif dilakukan pada rataan karang di kedalaman 10 m (dalam) di kedelapan lokasi dan
juga pada kedalaman 2-5 m (dangkal) di empat lokasi diantaranya. Semua koloni dengan diameter
lebih dari 10 cm di dalam satu transek sabuk (25x2 m) diidentifikasi hingga level genus atau bentuk
pertumbuhan (lifeform) dan diklasifikasikan sebagai berikut: ‘sehat’ (tidak ada tanda pemutihan),
‘pucat’ (warna lebih pucat dibanding koloni yang sehat), ‘putih’ (koloni benar-benar putih namun
masih hidup dan tidak ditutupi alga), atau koloni baru ‘mati’ (Wilson, 2010). Meski survei pemutihan
karang hanya dapat diselesaikan di delapan lokasi, peristiwa pemutihan teramati oleh tim lapangan di
42 lokasi yang dikunjungi dalam survei kesehatan karang dan ditinjau memiliki intensitas yang serupa
dengan lokasi survei pemutihan karang (pengamatan J. Wilson).
Survei pasca-pemutihan dilaksanakan pada bulan September 2010 di 24 lokasi dan pada bulan
Januari-Februari 2011 di 19 lokasi (Tabel 1, Gambar 1). Data genera karang dan kondisinya
dikumpulkan pada dua kedalaman – dangkal (2-5 m) dan dalam (10 m) – menggunakan metode yang
berbeda di masing-masing kedalaman. Data dangkal dikumpulkan pada rataan karang dan/atau tubir
dengan snorkeling, menggunakan metode acak (random swim). Pengamat mengumpulkan data di 15
lingkaran masing-masing dengan diameter 2 m menggunakan pipa PVC sepanjang 1 m sebagai
panduan radiusnya. Setiap lingkaran dipisahkan dalam jarak sekitar 10 kayuhan. Data dari lokasi
terumbu dalam dikumpulkan dengan peralatan SCUBA menggunakan tiga transek sabuk berukuran
15 x1 m, atau 25x1 m di beberapa lokasi. Pada kedua kedalaman koloni karang berukuran lebih besar
dari 10 cm diidentifikasi hingga level genus dan bentuk pertumbuhannya dan dicatat persentase
masing-masing koloni dengan kondisi normal, pucat, putih dan mati (McClanahan et al., 2001; Obura
dan Grimsditch, 2009) (Tabel 2). Masing-masing koloni kemudian ditetapkan sebagai normal, pucat,
putih atau mati, tergantung pada kondisi yang diterapkan berdasarkan luasan dari setiap koloni (lihat
Tabel 2).
Tabel 2. Kategori kondisi karang
Kondisi
koloni
Tolok ukur kondisi
Normal
- 100% sehat
- > 50% sehat dengan pucat dan/atau mati
Pucat
- 100% pucat
- ≥ 50% pucat dengan normal dan/atau mati
Putih
-
Mati
- ≥ 50% mati karena pemutihan tanpa ada kondisi masih ‘putih’
2.4.
B1 (sampai 20% koloni putih)
B2 (21% - 50% koloni putih)
B3 (51% - 80% koloni putih)
B4 (80%- 100% koloni putih)
Catatan
Kategori ini
diaplikasikan dalam
pengumpulan data
dalam survei acak
GENERA RENTAN PEMUTIHAN
Genera karang dimasukkan menjadi salah satu dari tiga kategori kerentanan terhadap pemutihan –
rentan, sedang atau resisten (Lampiran 2). Kategori ini dialokasikan berdasarkan klasifikasi
kerentanan genus karang oleh Marshall dan Baird (2000) dan Obura dan Grimsditch (2009).
Persentase karang dengan masing-masing kondisi dan mortalitas karena pemutihan kemudian
dikalkulasi untuk setiap lokasi dan kedalaman dan masing-masing genus. Regresi linear digunakan
untuk membandingkan proporsi dari koloni yang terpengaruh dampak pemutihan dengan persentase
komunitas karang yang terdiri atas genera rentan.
Gambar 1. Lokasi survei pemutihan karang dan pasca-pemutihan di kawasan Taman Nasional Wakatobi 2010-2011.
3.1.
SUHU PERMUKAAN LAUT
Di TN Wakatobi, SPL tidak biasanya tinggi di sepanjang tahun 2010 (Gambar 2). Suhu perairan tetap
berada pada rentang 30°C dan 30.5°C selama sembilan minggu dari Maret hingga Mei 2010, dan dari
musim suhu dingin hingga panas (Juni – September) tetap lebih tinggi 1-2 °C dibanding tahun-tahun
sebelumnya. Maynard et al. (2012) menunjukkan bahwa peningkatan suhu ini berhubungan dengan
6,5 DHW maksimum pada tahun 2010 dibanding dengan 4 DHW pada tahun 2002 dan 2008 (Gambar
3). Anomali termal di TN Wakatobi ini lebih tinggi dan lebih lama dibanding tahun-tahun
sebelumnya. Sehingga menjadi masuk akal untuk menyimpulkan bahwa pemutihan karang yang
terlihat di TN Wakatobi pada tahun 2010 disebabkan oleh SPL yang lebih tinggi di atas normal.
3.2.
HASIL SURVEI PEMUTIHAN KARANG
3.2.1. Survei pemutihan karang dan pasca-pemutihan
Pemutihan karang tercatat di semua lokasi yang disurvei di TN Wakatobi pada April 2010. Dengan
rata-rata 65% karang menunjukkan beberapa tanda pemutihan dengan 43-56% karang pucat dan
ditambah 10-16% memutih seluruhnya (Gambar 4). Mortalitas karena pemutihan diestimasi cukup
rendah dengan rata-rata <1% karang mati yang dicatat dari survei pasca-pemutihan. Karang Otiolo
mengalami pemutihan yang paling parah (Gambar 5). Saat peristiwa pemutihan karang, kemunculan
karang-karang yang putih seluruhnya, lebih banyak ditemukan di karang yang lebih dalam (10 m)
(16%) dibandingkan di karang dangkal (3 m) (10%) (Gambar 4). Pemutihan pada karang jenis lain
antara lain karang lunak dan anemone juga diamati namun tidak dicatat selama survei dikarenakan
keterbatasan jumlah pengamat dan waktu di setiap lokasi survei.
Ketika survei pasca-pemutihan pertama di bulan September 2010, saat suhu telah menurun, sebagian
besar koloni karang telah kembali ke warna normal. Namun di lokasi Table Coral City, 30% karang
masih dalam kondisi pucat pada September 2010 dan 18% pucat pada Januari 2011. Lokasi ini
didominasi oleh genera karang yang rentan, Acropora berbentuk cabang dan karang meja dan
Montipora berbentuk lembaran. Koloni-koloni yang putih seluruhnya masih ditemukan di bulan
September 2010 dan Januari 2011 khususnya di lokasi yang lebih dalam (Gambar 4).
31
30
Suhu (°C)
29
2000
2002
28
2004
2006
27
2008
2010
26
2011
25
J
F
M
A
M
J
J
A
S
O
N
D
1
2
3
4
5
6
7
Bulan
8
9
10
11
12
Gambar 2. Rata-rata suhu permukaan laut (SPL) (°C) bulanan di Taman Nasional Wakatobi pada beberapa
tahun antara 2000 dan 2011. Data dari NOAA Coral Reef Watch 50-km Satellite Virtual Station Time Series,
sumber http://coralreefwatch.noaa.gov/satellite/index.html.
Gambar 3. Degree heating weeks (DHW) tahunan selama 12 tahun terakhir di daerah Wakatobi dari near realtime and retrospective NOAA Coral Reef Watch datasets (Pathfinder resolusi 4-km). Sumber data dari Maynard
et al. 2012).
Komposisi kondisi karang
70%
4%
60%
3%
50%
2%
40%
1%
Pucat
30%
Putih
0%
S
20%
D
S
2010 Sep
10%
D
Mati
2011 Jan
0%
S
D
2010 Apr
S
D
2010 Sep
S
D
2011 Jan
Gambar 4. Komposisi (%) kondisi koloni karang di Taman Nasional Wakatobi. Gambar inset adalah gambar
yang sama dengan gambar utama, aksis-y disesuaikan dan hanya menampilkan kondisi September 2010 dan
Januari 2011. S = terumbu dangkal (1-3 m) dan D = terumbu dalam (7-10 m).
100%
Komposisi kondisi larang
2010 Apr
80%
Normal
60%
Mati
Putih
40%
Pucat
20%
D
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
0%
BHolBol3 Kal1 Kal2 KBan KGur KKl6 KKl8 KKok KKp2 KKp4 KOti Mant Mat2 Mat3 Moro Nda1 Nda2 Onem Pala PKas PSaw Samp Somb Tabl Waha
Komposisi kondisi karang
100%
2010 Sep
80%
60%
40%
20%
D
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
0%
BHolBol3 Kal1 Kal2 KBan KGur KKl6 KKl8 KKok KKp2 KKp4 KOti Mant Mat2 Mat3 Moro Nda1 Nda2 Onem Pala PKas PSaw Samp Somb Tabl Waha
100%
Komposisi kondisi karang
2011 Jan
80%
60%
40%
20%
D
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
0%
BHolBol3 Kal1 Kal2 KBan KGur KKl6 KKl8 KKok KKp2 KKp4 KOti Mant Mat2 Mat3 Moro Nda1 Nda2 Onem Pala PKas PSaw Samp Somb Tabl Waha
Gambar 5 Proporsi (%) semua koloni karang sebagai pucat, putih, mati dan normal pada masing-masing lokasi
di Taman Nasional Wakatobi dari survei April 2010, September 2010 dan Januari 2011 pada kedalaman 10 m
(D) dan 3 m (S).
3.2.2. Komposisi komunitas karang
Komunitas karang di TN Wakatobi didominasi oleh Porites masif dan Montipora baik di transek
dangkal maupun dalam (Gambar 6). Porites (cabang dan masif) dan Acropora lebih melimpah pada
karang dangkal dibanding dalam. Komposisi ini lebih dipengaruhi oleh perbedaan tipe habitat dengan
kemiringan karang yang landai atau rataan karang dan terumbu dalam yang terjal.
35
Dangkal (S)
30
30
25
25
20
20
15
15
10
10
5
5
0
0
Dalam (D)
Normal
Putih
Heliopora
Pachyseris
Favia
Favites
Cyphastrea
Echinopora
Fungia
Goniastrea
Acropora
Pocillopora
Porites (branching)
Pavona
Tubastrea
Montipora
Pucat
Porites (massive)
Turbinaria
Favites
Cyphastrea
Pavona
Galaxea
Favia
Genera Karang
Goniastrea
Fungia
Millepora
Heliopora
Acropora
Pocillopora
Montipora
Porites (branching)
Mati
Porites (massive)
Komposisi genera karang (%)
2010 35
Sep
Genera Karang
Gambar 6. Proporsi (%) komunitas karang dari 15 genera yang paling melimpah di Taman Nasional Wakatobi
yang tercatat dari 24 lokasi pada September 2010.
3.3.
PERBEDAAN PEMUTIHAN ANTAR GENERA KARANG
Di TN Wakatobi, proporsi koloni yang terpengaruh pemutihan berbeda antar genera. Proporsi koloni
masing-masing kondisi dan kerentanan terhadap pemutihannya ditunjukkan pada Tabel 3 dan Gambar
7. Di TN Wakatobi, karang yang rentan pemutihan mendominasi komunitas karang dua kali lebih
banyak dibanding yang sedang dan tiga kali lebih banyak dibanding koloni yang resisten.
Seperti yang telah diperkirakan, genera yang dianggap rentan terhadap pemutihan juga memiliki
proporsi koloni yang tinggi dan tercatat sebagai pucat atau putih. Seriatopora bercabang paling
terpengaruh oleh pemutihan dengan semua koloni Seriatopora pada kedalaman 10m seluruhnya
memutih, sementara pada kedalaman 3 m 86% koloni yang putih dan sisanya pucat (Gambar 7).
Nemun demikian, koloni Seriatopora hanya terdiri kurang dari 1% dari komunitas karang di kedua
kedalaman (Gambar 6).
Koloni Stylophora dan Pocillopora dari family Pocilloporidae juga terpengaruh cukup parah dengan
mengalami pemutihan sekitar 80% dari koloni dalam kondisi pucat dan putih (Gambar 7). Genera ini
dianggap sangat rentan terhadap pemutihan (Marshall dan Baird, 2000) dan merupakan komponen
utama dalam komunitas karang di TN Wakatobi (Gambar 6).
Acropora juga dianggap sangat rentan terhadap pemutihan. Namun saat peristiwa pemutihan di TN
Wakatobi hanya sedikit persentase koloni Acropora yang tercatat sebagai putih (1-3%), tetapi pucat
lebih banyak (25-57%) (Gambar 7). Pada bulan September, kemunculan pemutihan telah menurun
namun pucat masih jelas ditemukan pada koloni Acropora dan masih bertahan hingga Januari 2011
(Gambar 7). Sebagian besar karang ini tercatat di Table Coral City, satu-satunya lokasi di TN
Wakatobi yang didominasi oleh Acropora bercabang dan karang meja dan Montipora. Hal ini
dimungkinkan karena adanya fakta bahwa suhu perairan masih tetap berlangsung lebih tinggi di atas
normal setelah peristiwa pemutihan dan pada bulan September 2010 masih sekitar 2 derajat di atas
normal (Gambar 2). Meskipun karang jenis Acropora dianggap rentan, proporsi koloni pucat atau
putih (44%) tidak lebih tinggi dari genera lain yang dianggap lebih resisten (misalnya famili
Fungiidae dan Faviidae).
Pemutihan lebih jelas terlihat pada beberapa genera seperti Montipora karena merupakan komponen
dominan dari komunitas yang membangun 24% (dangkal) dan 43% (dalam) koloni karang (Gambar
6) dan memiliki proporsi tinggi (75%) puth dan pucat. Pada September 2010, koloni Montipora telah
pulih dengan hanya 1% koloni tercatat sebagai pucat di daerah dalam dan dangkal. Pada Januari 2011,
4% koloni Montipora pucat di daerah dalam dan 2% mati.
Genera karang yang diklasifikasikan dalam kategori sedang dan resisten juga terpengaruh oleh
peningkatan suhu perairan dengan proporsi yang tinggi pada koloni Gonipora dan Diploastrea (Tabel
3) yang tercatat dalam kondisi pucat.
2010 Apr
Dalam (D)
Dangkal (S)
% genera karang
100
90
Mati
80
Putih
70
Pucat
60
50
40
30
Dead
20
Bleaching
10
Pale
Fungia
Porites (massive)
Porites (branching)
coral encrusting
Acropora
Symphyllia
Merulina
Stylocoeniella
Lobophyllia
Echinophyllia
Goniastrea
Deep
Goniopora
Faviidae
Hydnophora
Leptoria
Pocillopora
Platygyra
Diploastrea
coral branching
Acropora
Montipora
Pale
Pocillopora
Bleaching
30
Fungia
Dead
40
Herpolitha
Goniopora
Stylophora
Seriatopora
Diploastrea
Hydnophora
Tubipora
coral encrusting
Faviidae
Acropora
Goniopora
Fungia
Montipora
Stylophora
50
20
Merulina
Ctenactis
Galaxea
Pachyseris
Porites (massive)
Diploastrea
Merulina
Physogyra
Echinopora
Leptoseris
Stylocoeniella
Goniopora
Acropora
Fungia
Shallow
Stylophora
Leptoria
Platygyra
Galaxea
Pocillopora
Pocillopora
Leptoria
Stylophora
Diploastrea
Seriatopora
Gardineroseris
Hydnophora
Acanthastrea
Acropora
80
Herpolitha
90
Fungia
0
100
Herpolitha
10
Ctenactis
% genera karang
Shallow
Porites (massive)
70
201060Sep
Porites (branching)
80
Pocillopora
90
Seriatopora
100
coral branching
0
Deep
70
% genera karang
2011
60 Jan
50
40
30
20
10
Genus/Famili/Tipe Karang
Fungia
Lobophyllia
Psammocora
Turbinaria
Goniopora
Stylophora
Porites (massive)
Pectinia
Pachyseris
Astreopora
Pocillopora
Montipora
Diploastrea
Ctenactis
Euphyllia
Diploastrea
0
Genus/Famili/Tipe Karang
Gambar 7. Proporsi (%) koloni masing-masing genera karang pada tingkatan pemutihan yang berbeda pada
bulan April 2010, September 2010 dan Januari 2011. Hanya 15 genera/tipe karang yang terpengaruh pemutihan
yang ditampilkan.
Tabel 3. Proporsi koloni karang dengan masing-masing tingkatan pemutihan untuk masing-masing genera yang
dicatat pada April 2010, diurut berdasarkan jumlah kumulatif tertinggi ke terendah, koloni diklasifikasi sebagai
pucat, putih dan mati. Nilai dikalkulasi sebagai rata-rata data transek dalam dan dangkal.
Genus
Seriatopora
Stylophora
Porites (branching)
Pocillopora
Goniopora
Montipora
coral branching
Diploastrea
Fungia
Faviidae
Acropora
Porites (massive)
Tubipora
Hydnophora
coral encrusting
Symphyllia
Symphyllia /other massive
rentan
sedang
resisten
total
n
25
142
75
223
8
1240
339
16
104
441
180
320
8
19
174
19
26
1810
943
606
3359
Normal (%) Pucat (%)
0
16
20
24
25
25
28
44
48
50
56
62
63
63
72
74
81
27
48
51
12
51
77
63
25
47
62
56
46
47
43
37
32
20
26
15
49
46
44
Putih (%)
88
33
3
9
50
28
10
6
3
2
1
38
5
7
4
24
6
5
Pucat +
Mati (%) Putih + Mati
(%)
100
84
80
4
76
75
75
72
56
52
50
44
38
38
37
28
26
19
1
73
52
49
Kerentanan
Rentan
Rentan
Sedang
Rentan
Resisten
Rentan
Sedang
Sedang
Resisten
Resisten
Rentan
Sedang
Resisten
Sedang
Sedang
Resisten
Resisten
Apakah komposisi komunitas karang menjelaskan perbedaan pemutihan
antar lokasi?
Sebuah analisis persen komposisi komunitas karang dibandingkan terhadap persen koloni yang
terpengaruh pemutihan (pucat dan putih) untuk masing-masing lokasi di TN Wakatobi, menunjukkan
korelasi yang kuat (Gambar 8). Di delapan lokasi yang disurvei, proporsi komunitas karang yang
disusun oleh jenis karang rentan pemutihan 43% menjelaskan variasi kemunculan pemutihan antar
lokasi. Hal ini berarti makin banyak koloni karang yang rentan pemutihan (Seriatopora, Stylophora,
Pocillpopora, Acropora) maka kemungkinan besar akan lebih parah terpengaruh oleh pemutihan.
Informasi ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi yang bisa dijadikan ‘peringatan dini’
untuk penilaian pemutihan karang jika kondisi suhu perairan lebih tinggi di atas normal diprediksi
atau terjadi di TN Wakatobi. Lokasi-lokasi ini tersaji di Tabel 4.
% koloni terkena dampak
80
70
R² = 0.4297
60
50
40
0
20
40
60
80
% genera rentan
Gambar 8. Scatter plot persen genera yang rentan dibandingkan dengan persentase karang pucat dan putih yang
tercatat pada survei pemutihan karang April 2010. Persentase genera rentan pemutihan dalam komunitas karang
43% menjelaskan variasi pemutihan antar lokasi.
Tabel 4. Sepuluh besar lokasi dengan komposisi persentase koloni karang rentan pemutihan tertinggi dan juga
mudah diakses
Nama
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
3.4.
Table Coral City
Kaledupa 1
Karang Bante
Matahora 2
Mantigola
Matahora 3
Kaledupa 2
Karang Koko
Karang Otiolo
Moromaho
% koloni genera rentan
>85%
>30%
30-40%
40%
40%
40%
30-40%
>60%
>60%
>60%
Dangkal atau
dalam
dangkal
dangkal
dalam
dalam
dalam
dalam
dalam
dangkal
dangkal
dangkal
Dekat atau jau dari
pulau utama
Dekat
Dekat
Dekat
Dekat
Dekat
Dekat
Dekat
Jauh
Jauh
Jauh
PEMBAHASAN
Pemutihan karang yang diamati di TN Wakatobi tersebar merata dengan lebih dari 60% karang
menunjukkan tanda-tanda pemutihan dan 10-20% koloni memutih seluruhnya. Namun mortalitas
yang ditemukan cukup rendah kurang dari 1% dari koloni karang yang dicatat sebagai mati karena
pemutihan. Namun juga ada indikasi bahwa mortalitas mungkin kurang tercatat dengan baik karena
lamanya jarak waktu dengan survei pasca-pemutihan. Sejumlah besar proporsi koloni Montipora
dictatat dalam kondisi putih atau pucat, tetapi sedikit yang tercatat baru mati pada bulan September.
Sejumlah koloni mungkin telah mati segera setelah pemutihan tetapi tidak dapat dianggap pemutihan
karang sebagai penyebab kematiannya. Namun demikian, komunitas karang masih berada dalam
kondisi relative sehat saat survei pasca-pemutihan sehingga estimasi mortalitas karang tidak lebih dari
10-15%.
Secara spesifik pemutihan karang mengikuti fenomena La Nina/El Nino, yang menyebabkan
peningkatan suhu regional secara berkelanjutan (Baker et al., 2008). Pada tahu 2010, fenomena La
Nina/El Nino menyebabkan pemutihan karang di seluruh wilayah Indo-Pasifik (GCRMN, 2010).
Studi serupa yang berjalan bersamaan mengenai dampak pemutihan karang di Bali dan Aceh
menunjukkan bahwa Bali juga mengalami pemutihan dan mortalitas karang yang terbatas, sementara
pemutihan karang lebih parah terjadi di Aceh dengan mortalitas lebih dari 50% (Maynard et al.,
2012). Meskipun fakta menunjukkan bahwa Aceh mengalami tekanan termal yang lebih rendah saat
peristiwa pemutihan karang. Sementara itu Wakatobi dan Bali menerima rentang variasi termal yang
lebih besar selama bulan-bulan panas dan kondisi ini menolong terumbu karang untuk terbiasa
menghadapi peristiwa kenaikan suhu perairan. Fenomena serupa juga didokumentasikan di wilayah
terumbu karang di tempat lain saat peristiwa pemutihan karang ini (Guest et al., 2012)
Survei pemutihan karang dilaksanakan oleh para praktisi dari The Nature Conservancy bersama mitra
lain dengan kemampuan identifikasi karang dan pengenalan status pemutihan karang. Namun akan
lebih ekonomis dan logis jika survei dilaksanakan oleh staf dari TN Wakatobi dan mitra local lainnya.
Staf dengan kemampuan survei bawah air mereka saat ini dapat dengan mudah dilatih dengan
kemampuan survei pemutihan karang. Mereka juga bisa dilatih untuk menggunakan produk SPL
berbasis satelit seperti NOAA Coral Reef Watch untuk waspada terhadap fenomena peningkatan
SPLdi wilayahnya.
Meski terumbu karang di TN Wakatobi tidak begitu parah terkena dampak pemutihan karang tahun
2010, namun frekuensi dan tingkat keparahan pemutihan karang nampaknya akan semakin meningkat.
Karena tingginya proporsi komunitas karang di TN Wakatobi yang tersusun oleh genera yang rentan
terhadap pemutihan, ada peluang bahwa terumbu karang di TN Wakatobi akan terkena dampak
pemutihan karang lagi di masa yang akan datang. Salah satu cara terbaik adalah pengelola
meningkatkan kelentingan terumbu karang terhadap pemutihan untuk menjamin terumabu karang
memperoleh peluang terbaik untuk pemulihan dari pemutihan karang dan kerusakan lainnya. Dua
konsisi yang paling penting untuk pemulihan karang adalah ketersediaan substrat yang stabil untuk
penempelan larva karang, dan komunias ikan herbivora yang beragam dan melimpah untuk mencegah
pertumbuhan alga berlebih (Grimsditch dan Salm, 2006). Oleh karena itu ada dua prioritas
pengelolaan yang harus diperhatikan untuk meningkatkan kelentingan terumbu karang Wakatobi.
Pertama, menghilangkan ancaman penangkapan ikan yang destruktif dan kegiatan lain yang merusak
substrat karang seperti penambangan karang/pasir dan perusakan oleh jangkar. Kedua, pengelolaan
perikanan melalui regulasi dan pengawasan sistem zonasi untuk memastikan populasi ikan herbivora
yang sehat di TN Wakatobi.













Pemutihan karang tercatat di Wkatobi pada bulan April 2010 dan disebabkan oleh SPL
yang lebih tinggi di atas normal, tekait dengan fenomena El Nino/La Nina.
Lebih dari 60% koloni karang yang tercatat sebagai pucat atau putih saat survei April 2010
namun dengan mortalitas yang rendah <4%.
Karang Otiolo, atoll selatan menderita pemutihan karang tertinggi dengan 70% koloni
putih atau pucat pada rataan terumbu dalam.
Table Coral City juga merupakan lokasi yang rentan pemutihan karena didominasi oleh
genera karang yang rentan pemutihan seperti Acropora dan Montipora.
Dampak pemutihan di Wakatobi tidak separah lokasi lain di Indonesia seperti di Aceh.
Kunci untuk meningkatkan kelentingan di TN Wakatobi dalam menghadapi peristiwa
pemutihan karang di masa depan adalah dengan mengelola semua ancaman yang dapat
merusak substrat terumbu karang seperti penangkapan ikan yang destruktif dan
memastikan populasi herbivora yang sehat melalui pengelolaan perikanan dan
pengawasan sistem zonasi.
Menyiapkan sistem pemantauan pemutihan karang di TN Wakatobi, menggunakan sistem
peringatan dini yang tersedia di
http://coralreefwatch.noaa.gov/satellite/current/products_dhw.html, dan melaporkan
keberadaan pemutihan secara berkala saat diprediksi dari data satelit.
Memasukkan lokasi Table Coral City dalam monitoring rutin sebagai lokasi peringatan dini
untuk pemutihan karang.
Para Jagawana TN Wakatobi dapat menjadi bagian jejaring peringatan dini terhadap
pemutihan karang dan mampu melaksanakan survei pemutihan karang.
Mempersiapkan modul survei pemutihan karang, para jagawana taman nasional dilatih
untuk mengidentifikasi indikasi pemutihan karang, melaksanakan survei pemutihan karang
yang sederhana, dan dilatih untuk menganalisis data dan membuat laporan sederhana.
Perlu dibangun jejaring masyarakat yang dapat memberikan informasi kepada staf TN
Wakatobi dan Pemerintah Daerah jika mereka melihat pemutihan karang, terutama di
terumbu karang yang jauh letaknya.
Perli diidentifikasi keberadaan sumber dana untuk melaksanakan survei bila peristiwa
pemutihan terjadi
Ada dua prioritas pengelolaan yang sangat perlu diperhatikan untuk meningkatkan
kelentingan terumbu karang Wakatobi. Pertama, menghilangkan ancaman penangkapan
ikan yang destruktif dan kegiatan lain yang merusak substrat karang seperti penambangan
karang/pasir dan perusakan oleh jangkar. Kedua, pengelolaan pengelolaan perikanan
melalui regulasi dan pengawasan sistem zonasi untuk memastikan populasi ikan herbivora
yang sehat di TN Wakatobi.
Baker, A.C., P.W. Glynn, B. Riegl. 2008. Climate Change and Coral Reef Bleaching: An Ecological
Assessment of Long-term Impacts, Recovery Trends and Future Outlook. Estuarine, Coastal and
Shelf Science (2008) 1-37.
GCRMN (Global Coral Reef Monitoring Network). 2010. Status of Coral Reefs in East Asian Seas
Region: 2010. Ministry of Environment, Japan. 121 pp
Grimsditch, G. D. and R.V. Salm. 2006. Coral Reef Resilience and Resistance to Bleaching. IUCN,
Gland, Switzerland. 52pp.
Guest, J.R., A.H. Baird, J.A. Maynard, E. Muttaqin, A.J. Edwards, et al. 2012. Contrasting Patterns of
Coral Bleaching Susceptibility in 2010 Suggest an Adaptive Response to Thermal Stress. PLoS
ONE 7(3): e33353. doi:10.1371/journal.pone.0033353
Hermansyah, H., M.F. Aziz, M.H. Sofita. 2008. Law Enforcement Statistics 2008. The Judicial Data
Centre. 420 pp
Hoegh-Guldberg, O., P.J. Mumby, A.J. Hooten, R.S. Steneck, P. Greenfield, E. Gomez, C.D. Harvell,
P.F. Sale, A.J. Edwards, K. Caldeira, N. Knowlton, C.M. Eakin, R. Iglesias-Prieto, N. Muthiga,
R.H. Bradbury, A. Dubi, M.E. Hatziolos. 2007. ‘Coral reefs under Rapid Climate Change and
Ocean Acidification’. Science 318: 1737-1742.
Marshall, P.A. and A.H. Baird. 2000. Bleaching of corals on the Great Barrier Reef: differential
susceptibilities among taxa. Coral Reefs (2000) 19:155-163.
Marshall, P. and H. Schuttenberg. 2006. A Reef Manager’s Guide to Coral Bleaching. Great Barrier
Reef Marine Park Authority Publication, Townsville, Australia.
Maynard, J., J. Wilson, S. Campbell, S. Mangubhai, N. Setiasih, J. Sartin, R. Ardiwijaya, D. Obura, P.
Marshall, R. Salm, S. Heron, and J. Goldberg. 2012. Assessing coral resilience and bleaching
impacts in the Indonesian archipelago. Technical Report to The Nature Conservancy with
contributions from Wildlife Conservation Society and Reef Check Indonesia. 62 pp.
McClanahan, T.R., N.A. Muthiga, S. Mangi. 2001. Coral and algal changes after the 1998 coral
bleaching: interaction with reef management and herbivores on Kenyan reefs. Coral Reefs 19,
380– 391.
Obura, D.O. and G. Grimsditch, 2009. Resilience Assessment of coral reefs – Assessment protocol for
coral reefs, focusing on coral bleaching and thermal stress. IUCN working group on Climate
Change and Coral Reefs. IUCN, Gland, Switzerland. 70 pages.
Wilkinson C.R. 2000. Status of coral reefs of the world: 2000. Global Coral Reef Monitoring Network
and Australian Institute of Marine Science, Townsville, Australia 363 pp
Wilson, J. 2010. Report on Coral Bleaching at Wakatobi National Park – April 2010. The Nature
Conservancy. 10 pp.
Lampiran 1. Deskripsi lokasi di TN Wakatobi untuk survei pemutihan karang dan pasca-pemutihan 2010-2011.
Periode survei
2010 Apr
Tanggal
20- Apr- 10
21- Apr- 10
23- Apr- 10
24- Apr- 10
25- Apr- 10
2010 Sep
21- Sep- 10
22- Sep- 10
23- Sep- 10
24- Sep- 10
25- Sep- 10
26- Sep- 10
27- Sep- 10
28- Sep- 10
29- Sep- 10
30- Sep- 10
2011 Jan
24- Jan- 11
25- Jan- 11
26- Jan- 11
27- Jan- 11
28- Jan- 11
29- Jan- 11
30- Jan- 11
31- Jan- 11
1- Feb- 11
2- Feb- 11
Nama lokasi
Moromaho
Karang Koko 2
Palahidu
Karang Gurita 1
Matahora 3
Karang Kaledupa
Karang Kapota 4
Karang Otiolo 1
Sombu
Waha
Bola Tiga
Pak Kasim's
Sombu
Waha
Blue Hole
Bola Tiga
Pak Kasim's
Ndaa 1
Ndaa 2
Table Coral City
Ndaa 1
Ndaa 2
Pulau Sawa 1
Table Coral City
Karang Bante
Karang Kaledupa
Karang Kaledupa
Karang Otiolo 1
Mantigola
Onemobaa
Palahidu
Pulau Sawa 1
Kaledupa 1
Kaledupa 2
Karang Gurita 1
Karang Kaledupa
Karang Kaledupa
Karang Otiolo 1
Mantigola
Sampela
Kaledupa 1
Kaledupa 2
Karang Gurita 1
Karang Kapota 2
Karang Kapota 4
Sampela
Karang Kapota 2
Karang Kapota 4
Matahora 2
Matahora 3
Sombu
Karang Bante
Sombu
Table Coral City
Karang Bante
Ndaa 1
Ndaa 2
Onemobaa
Table Coral City
Ndaa 1
Ndaa 2
Onemobaa
Palahidu
Pulau Sawa 1
Karang Kaledupa
Karang Kaledupa
Palahidu
Pulau Sawa 1
Karang Kaledupa
Karang Kaledupa
Mantigola
Pak Kasim's
Bola Tiga
Kaledupa 1
Kaledupa 2
Mantigola
Pak Kasim's
Bola Tiga
Kaledupa 1
Kaledupa 2
Karang Gurita 1
Matahora 2
Matahora 3
Karang Gurita 1
Matahora 2
Matahora 3
Waha
Waha
8
6
8
6
8
6
8
6
8
Kode lokasi
Moro
KKok
Pala
KGur
Mat3
KKl8
KKp4
KOti
Somb
Waha
Bol3
PKas
Somb
Waha
BHol
Bol3
PKas
Nda1
Nda2
Tabl
Nda1
Nda2
PSaw
Tabl
KBan
KKl6
KKl8
KOti
Mant
Onem
Pala
PSaw
Kal1
Kal2
KGur
KKl6
KKl8
KOti
Mant
Samp
Kal1
Kal2
KGur
KKp2
KKp4
Samp
KKp2
KKp4
Mat2
Mat3
Somb
KBan
Somb
Tabl
KBan
Nda1
Nda2
Onem
Tabl
Nda1
Nda2
Onem
Pala
PSaw
KKl6
KKl8
Pala
PSaw
KKl6
KKl8
Mant
PKas
Bol3
Kal1
Kal2
Mant
PKas
Bol3
Kal1
Kal2
KGur
Mat2
Mat3
KGur
Mat2
Mat3
Waha
Waha
16
Tipe pengelolaan
Zona Inti
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
KKP Masyarakat
KKP Masyarakat
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
KKP Masyarakat
KKP Masyarakat
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Pemanfaatan Lokal
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
KKP Masyarakat
Zona Pariwisata
KKP Masyarakat
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
Zona Pariwisata
Zona Pariwisata
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Zona Perlindungan Laut
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
Zona Perlindungan Laut
Zona Perlindungan Laut
Pemanfaatan Lokal
KKP Masyarakat
KKP Masyarakat
Lampiran 2. Klasifikasi kerentanan genera karang keras
Susceptible (Rentan)
Interm ediate (Sedang) Resistant (Resisten)
Acropora
Montipora
Pocillopora
Seriatopora
Stylophora
Acanthastrea
Alveopora
Astreopora
Caulastrea
coral branching
coral encrusting
Cycloseris
Diploastrea
Echinopora
Favia
Favites
Goniastrea
Hydnophora
Leptoria
Lobophyllia
Merulina
Millepora
Montastrea
Mycedium
Oulophyllia
Oxypora
Pachyseris
Pectinia
Platygyra
Plesiastrea
Porites (branching)
Porites (massive)
Scolymia
Coeloseris
Coscinaraea
Ctenactis
Cyphastrea
Dendrophyllia
Distichopora
Echinomorpha
Echinophyllia
Euphyllia
Faviidae
Fungia
Galaxea
Gardineroseris
Goniopora
Halomitra
Heliofungia
Heliopora
Herpolitha
Leptastrea
Leptoseris
Pavona
Physogyra
Plerogyra
Podabacia
Psammocora
Sandalolitha
Stylocoeniella
Symphyllia
Symphyllia/other massive
Tubastrea
Tubipora
Turbinaria
Lampiran 3. Skor kelentingan rata-rata di Wakatobi (Maynard et al., 2012)
17
Lampiran 4. Komposisi (%) genera yang rentan di level lokasi pada karang dalam (D, 7-10 m) dan dangkal (S,
1-3 m) dalam tiga periode survei
Komposisi genera karang (%)
100
2010 Apr
Stylophora
80
Seriatopora
Pocillopora
60
Montipora
Acropora
40
20
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
0
BHolBol3 Kal1 Kal2 KBan KGur KKl6 KKl8 KKok KKp2 KKp4 KOti Mant Mat2 Mat3 Moro Nda1 Nda2 Onem Pala PKas PSaw Samp Somb Tabl Waha
Komposisi genera karang (%)
100
Stylophora
2010 Sep
Seriatopora
80
Pocillopora
60
Montipora
Acropora
40
20
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
0
BHolBol3 Kal1 Kal2 KBan KGur KKl6 KKl8 KKok KKp2 KKp4 KOti Mant Mat2 Mat3 Moro Nda1 Nda2 Onem Pala PKas PSaw Samp Somb Tabl Waha
2011 Jan
Stylophora
80
Seriatopora
Pocillopora
60
Montipora
Acropora
40
20
0
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
S
D
Komposisi genera karang (%)
100
BHolBol3 Kal1 Kal2 KBan KGur KKl6 KKl8 KKok KKp2 KKp4 KOti Mant Mat2 Mat3 Moro Nda1 Nda2 Onem Pala PKas PSaw Samp Somb Tabl Waha
18
Lampiran 5. Komposisi (%) genera karang survei September 2010, diurut dari tertinggi ke terendah akumulasi
kondisi koloni pucat, putih dan mati.
Genus
n
Normal (%)
Pucat (%)
Puti h (%)
Mati (%)
Fungia
67
80
14
0.3
6
Herpolitha
28
82
14
Diploastrea
15
86
11
3
Acropora
17
90
9
0.5
198
92
5
Ctenactis
51
92
Platygyra
175
Hydnophora
18
Res i s ten
14
Sedang
1
10
Rentan
0.3
2
8
Rentan
4
2
2
8
Res i s ten
93
6
1
7
Sedang
12
93
2
4
1
7
Sedang
Acanthastrea
17
94
6
6
Sedang
Leptoria
35
94
3
6
Sedang
Physogyra
18
94
6
6
Res i s ten
Merulina
15
95
3
1
5
Sedang
Stylophora
196
96
3
1
1
4
Rentan
Goniopora
174
97
1
1
2
3
Res i s ten
Leptoseris
177
97
2
2
3
Res i s ten
Echinopora
332
97
2
2
3
Sedang
Lobophyllia
126
97
2
2
3
Sedang
Goniastrea
65
97
1
1
3
Sedang
Euphyllia
34
97
3
3
Res i s ten
Pachyseris
24
97
1
3
Sedang
Plerogyra
114
97
3
3
Res i s ten
Montastrea
255
98
1
2
2
Sedang
Galaxea
37
98
1
1
2
Res i s ten
Stylocoeniella
57
98
2
2
Res i s ten
Echinophyllia
243
98
2
2
Res i s ten
Astreopora
66
98
2
2
Sedang
Cyphastrea
462
99
1
1
Res i s ten
Leptastrea
156
99
1
1
Res i s ten
Pectinia
84
99
1
Sedang
Psammocora
92
99
1
1
Res i s ten
Symphyllia
17
99
1
1
Res i s ten
542
99
0.4
0.2
0.4
1
Sedang
4155
99
0.2
0.2
0.4
1
Rentan
Favites
465
99
1
0.2
1
Sedang
Millepora
Porites (mas s i ve)
484
99
1
1
Sedang
5349
100
0.1
0.4
Sedang
97
100
0.3
0.3
Res i s ten
1858
100
0.3
0.3
Sedang
Alveopora
8
100
Sedang
Caulastrea
3
100
Sedang
Coeloseris
167
100
Res i s ten
Coscinaraea
8
100
Res i s ten
Cycloseris
2
100
Sedang
Dendrophyllia
1
100
Res i s ten
Distichopora
1
100
Res i s ten
Echinomorpha
1
100
Res i s ten
Gardineroseris
31
100
Res i s ten
Halomitra
6
100
Res i s ten
Heliofungia
3
100
Res i s ten
Heliopora
613
100
Res i s ten
Mycedium
155
100
Sedang
19
100
Sedang
Oxypora
7
100
Sedang
Plesiastrea
5
100
Sedang
Podabacia
9
100
Res i s ten
Sandalolitha
13
100
Res i s ten
Scolymia
48
100
Sedang
Seriatopora
37
100
Rentan
Tubastrea
11
100
Res i s ten
Tubipora
67
100
Res i s ten
216
100
rentan
7186
96
3
0.4
1
4
sedang
11264
99
1
0.2
0.4
1
resisten
5887
97
2
0.1
1
3
Pocillopora
Favia
Montipora
Pavona
Porites (branchi ng)
Oulophyllia
Turbinaria
Total
4
Pucat +
Puti h + Mati
Kerentanan
(%)
20
Res i s ten
3
0.2
1
0.5
0.2
0.2
1
0.3
Res i s ten
24337
19
Lampiran 6. Komposisi (%) genera karang survei Januari 2011, diurut dari tertinggi ke terendah akumulasi
kondisi koloni pucat, putih dan mati.
Genus
Ctenactis
n
Normal (%)
Pucat (%)
Puti h (%)
20
85
10
141
87
10
Euphyllia
11
91
9
Acropora
1654
92
7
Herpolitha
25
92
8
Pocillopora
1055
94
5
Seriatopora
17
94
Gardineroseris
20
95
5
2475
95
3
Leptoria
23
96
Galaxea
230
96
3
Fungia
519
97
3
0.2
Stylophora
497
97
3
0.4
Pachyseris
112
97
Goniopora
112
Diploastrea
Mati (%)
5
4
Pucat +
Puti h + Mati
Kerentanan
(%)
15
Resi sten
13
Sedang
9
Resi sten
8
Rentan
8
Resi sten
1
6
Rentan
6
6
Rentan
5
Resi sten
0.4
5
Rentan
4
4
Sedang
1
4
Resi sten
0.2
3
Resi sten
3
Rentan
3
3
Sedang
97
3
3
Resi sten
77
97
3
3
Sedang
5545
98
2
2
Sedang
Stylocoeniella
44
98
2
2
Resi sten
Astreopora
90
98
2
2
Sedang
Psammocora
62
98
2
2
Resi sten
Merulina
134
99
1
1
Sedang
Pavona
621
99
0.3
1
0.3
1
Resi sten
Goniastrea
580
99
1
0.2
0.2
1
Sedang
84
99
1
1
Resi sten
2822
99
1
0.04
1
Sedang
Lobophyllia
93
99
1
1
Sedang
Plerogyra
95
99
1
1
Resi sten
Favia
542
99
0.4
1
1
Sedang
Symphyllia
113
99
1
1
Resi sten
Mycedium
114
99
1
1
Sedang
Leptoseris
115
99
1
1
Resi sten
Montastrea
281
99
1
1
Sedang
Echinophyllia
183
99
1
Resi sten
Cyphastrea
390
99
1
1
Resi sten
Turbinaria
217
100
0.5
0.5
Resi sten
Favites
414
100
0.2
0.2
Sedang
Acanthastrea
27
100
Sedang
Alveopora
14
100
Sedang
Echinopora
166
100
Sedang
94
100
Sedang
455
100
Sedang
12
100
Sedang
Oxypora
2
100
Sedang
Platygyra
233
100
Sedang
Scolymia
52
100
Sedang
Dendrophyllia
21
100
Resi sten
Distichopora
14
100
Resi sten
Halomitra
2
100
Resi sten
Heliofungia
3
100
Resi sten
Heliopora
1035
100
Resi sten
Leptastrea
226
100
Resi sten
Physogyra
33
100
Resi sten
Podabacia
29
100
Resi sten
8
100
Resi sten
Tubastrea
1151
100
Resi sten
Tubipora
3
100
rentan
5357
94
4
1
1
6
sedang
11813
98
1
0.1
0.3
2
resisten
5331
99
1
0.1
0.1
1
Montipora
Pectinia
Porites (massi ve)
Coeloseris
Porites (branchi ng)
Hydnophora
Millepora
Oulophyllia
Sandalolitha
Total
0.1
0.2
1
0.02
0.04
2
0.5
1
Resi sten
22501
20
Fly UP