...

PENGARUH DISKUSI KELOMPOK UNTUK MENURUNKAN STRES

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PENGARUH DISKUSI KELOMPOK UNTUK MENURUNKAN STRES
PENGARUH DISKUSI KELOMPOK UNTUK MENURUNKAN STRES
PADA MAHASISWA YANG SEDANG SKRIPSI
Faridah Ainur Rohmah
Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dahlan
Abstrak
The purpose of this research was to investigate the effectiveness of group discussion that
given to minimize stress of students writing thesis. The subjects were students of the Faculty of
Psychology, Ahmad Dahlan University in Yogyakarta, working on their thesis. They volunteered
to participate in the research. There were 18 students who were randomly divided into two
groups. Nine were joining group discussion and the other nine were in the control group. This
study performed by with pre-test and post-test control measurement toward scale of stress. The
subject’s stress before, after the treatment, and one month after treatment were measured.
The process of the experiment was observed and recorded with video tape recorder.
The data were analyzed quantitatively and qualitatively. The quantitative data were analyzed
with t-test. The data from the observational record, interview, and self report from the subjects
were analyzed qualitatively. The result show that: there is not difference in stress between the
discussion group and the control group (t=-3,67, p>0,05).
Keywords : group discussion, stress
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini untuk meneliti efektifitas kelompok diskusi yang diberikan
untuk meminimalkan stres terhadap mahasiswa yang menulis skripsi. Subjek penelitian adalah
mahasiswa fakultas psikologi universitas Ahmad Dahlan di yogyakarta, yang sedang
mengerjakan skripsi. Mereka secara sukarela berpartisipsi dalam penelitian. Ada 18
mahasiswa yang diambilsecara random dan dibagi menjadi dua kelompok. Sembilan mengikuti
kelompok diskusi dan yang lain sebagai kelompok control. Studi ini diambil datanya secara
pre tes dan pos tes dengan pengukuran menggunakan skala stres. Stres mahasiswa diukur
sebelum dan sesudah tritment, dan sebulan sesudah tritment.
Proses eksperimen diamati dan direkam dengan video. Data dianalisis secara kuantitatif
dan kualitatif. Data kuantitatif dianalisa dengan t-tes. Data observasi, iterview, dan self
report dari subjek penelitian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
tidak ada perbedaan stress antara kelompok diskusi dan kelompok control (t=-3,67, p>0,05).
Kata kunci : diskusi kelompok, stres
\ 50[
[
Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 3 No. 1 Januari 2006 : 50 - 62
Pendahuluan
Stres dan ketidakpuasan merupakan
aspek yang tidak dapat dihindari oleh individu.
Siapa pun dapat terkena stres baik anak-anak,
remaja maupun dewasa. Mahasiswa termasuk
golongan remaja akhir yang tidak luput dari
stres. Para mahasiswa oleh orangtua dan
masyarakat umum sudah dianggap dewasa dan
mampu menyelesaikan masalah-masalah yang
dihadapi.
Di pendidikan tinggi mahasiswa dituntut
untuk lebih mandiri dalam segala hal dan
mampu mengambil keputusan sendiri. Berbeda
sekali di pendidikan dasar sampai menengah
mereka masih dibimbing dan diarahkan secara
penuh. Perubahan ini banyak menimbulkan
masalah penyesuaian dan berakibat negatif
pada prestasi belajar dan performansinya
secara keseluruhan.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Shenoy (2000) bahwa tuntutan terhadap
mahasiswa bisa merupakan sumber stres yang
potensial. Hal tersebut disebabkan oleh
banyaknya tanggung jawab baru yang harus
dihadapi oleh mahasiswa, contohnya tekanan
untuk meningkatkan prestasi akademik,
kehidupan yang mandiri dan pengaturan
keuangan.
Berdasarkan data yang diperoleh dari
Biro Pelayanan Psikologi Universitas Ahmad
Dahlan bahwa sebagian besar klien yang
datang adalah mahasiswa. Masalah yang
banyak dialami mahasiswa di antaranya adalah
salah memilih jurusan, gangguan hubungan
interpersonal, praktikum dan tugas-tugas yang
banyak, nilai yang kurang memuaskan,
manajemen waktu dan kesulitan keuangan,
konflik dengan pacar dan keluarga, serta
tuntutan orang tua yang terlalu tinggi dan
desakan untuk segera menyelesaikan studi.
Sebagian besar mereka terbebani oleh tugastugas, praktikum dan skripsi atau tugas akhir.
Skripsi memang merupakan tugas yang
membuat cemas. Banyak mahasiswa yang
terbebani oleh skripsi, demikian pula
mahasiswa Fakultas Psikologi UAD. Tidak
sedikit mahasiswa yang gagal atau lama
lulusnya karena masalah skripsi. Skripsi
merupakan perwujudan dari kemampuan
meneliti calon ilmuwan pada jenjang program
Sarjana (S1).
Menurut informasi dari Biro Skripsi
diperoleh data bahwa sebagian besar
mahasiswa tergolong lama dalam mengerjakan
skripsi, di antaranya lama mencari judul dan
lambat dalam menyelesaikan revisi proposal
setelah seminar proposal dilakukan. Hal itu
didukung oleh data yang diperoleh dari Diskusi
Kelompok Terarah (Focus Group Discussion /
FGD) yang dilakukan oleh penulis pada
mahasiswa yang sedang skripsi terungkap
bahwa selama melakukan bimbingan skripsi
mereka mengaku mengalami stres. Gejalagejala emosi yang mereka rasakan di antaranya
perasaan jengkel karena dosennya sulit ditemui
dan tidak menepati janji, cemas, pesimis,
mudah marah, mudah putus asa, merasa tegang
dan tertekan, malu, sering menangis dan
linglung. Gejala-gejala fisik yang muncul antara
lain tidak nafsu makan, tidak bisa tidur, muncul
jerawat, sakit pinggang, migrain, sakit perut,
mata tegang dan berair, gatal-gatal, sari awan
dan gemetar pada waktu akan konsultasi.
Selain itu gangguan perilaku yang muncul
adalah bahwa mereka lebih banyak
menghabiskan waktunya dengan merokok,
melihat TV, menjadi pendiam, dan malas
berinteraksi dengan teman.
Sebenarnya stres dapat merupakan
motivasi yang dibutuhkan oleh individu untuk
bergerak dan merupakan suatu energi yang
dapat digunakan secara efektif (Rickard,
2000). Hal itu sejalan dengan pendapat
Prawitasari (1988) bahwa stres yang dosisnya
kecil dapat merupakan tantangan dan motivasi
bagi seseorang untuk bergerak ke arah yang
lebih baik, tetapi stres yang terlalu berat akan
menjadi sesuatu yang mengganggu kestabilan
diri seseorang dan akan membawa penderitaan
Pengaruh Diskusi Kelompok ......... (Faridah Ainur Rohmah)
\ 51[
[
bagi yang mengalaminya. Selye (Sarafino, 1998)
menyebutkan satu jenis stres yang sangat
berbahaya dan merugikan, disebut dengan
distress. Satu jenis stres lainnya justru
bermanfaat atau konstruksif disebut eustress.
Stres jangka pendek mungkin mempunyai
akibat yang bermanfaat, tetapi jika stres
berlangsung terus menerus akibat yang terjadi
menjadi negatif, karena akan mengganggu
kesehatan dan kehidupan pada umumnya.
Jika stres dinilai negatif dan berlebihan
akan berdampak pada kesehatan dan prestasi
akademis (Campbell dan Suenson dalam Misra
dkk, 2000). Perasaan yang ditekan dan tidak
diekspresikan atau stres yang ditunda
pemecahannya akan mengikat energi, yang
sebenarnya dapat digunakan secara
menguntungkan. Diperkirakan hanya sedikit
orang yang menggunakan secara maksimal
kemampuannya (Coulter dalam Bernard dan
Huckins, 1991) meskipun sebenarnya ada
dorongan dalam diri seseorang untuk
mengaktualisasikan potensi dirinya.
Ada individu yang tampaknya berisiko
terhadap stres tetapi ada juga yang tidak, salah
satunya tergantung dari faktor psikologis. Salah
satu faktor psikologis yang digunakan untuk
meningkatkan daya tahan stres adalah melalui
efikasi diri (Prokop dkk, 1991). Efikasi diri
adalah kepercayaan individu tentang
kemampuan yang dimiliki untuk menunjukkan
suatu perilaku (Bandura, 1997). Efikasi diri
mempengaruhi hubungan antara stresor
dengan ketegangan (Jex dan Bliese, 2001).
Sumber stres akan lebih menjadi ancaman bagi
mereka yang merasa dirinya tidak mampu
melakukan tugas. Diharapkan dengan semakin
ting gi
kesadaran
seseorang
akan
kemampuannya, semakin mudah mereka
mengatasi persoalan yang dihadapi dengan cara
konstr uktif. Sebaliknya hal-hal yang
menyebabkan orang ragu-ragu terhadap
kemampuannya dalam mengatasi masalah
akan menimbulkan stres. Kondisi emosi seperti
cemas, stres dan suasana hati yang negatif
\ 52[
[
mempengaruhi kegagalan atau kesuksesan
terhadap hasil ( Pajares, 2002).
Efikasi diri merupakan perkiraan
seseorang mengenai kemampuannya untuk
mengatur dan melaksanakan serangkaian
tindakan yang diperlukan untuk menyelesaikan
suatu tugas tertentu (Bandura, 1997). Efikasi
diri merupakan kemampuan yang dirasa
seseorang untuk berperilaku tertentu atau
mengadakan perubahan-perubahan terhadap
efek stres (Bandura dalam Rathus dan Nevid,
1991). Menurut Linnenbrink dan Pintrich
(2003) efikasi diri merupakan salah satu kunci
untuk meningkatkan kinerja belajar
mahasiswa. Efikasi diri dapat memfasilitasi
perilaku, kognisi dan peningkatan motivasi
dalam situasi belajar.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu
diupayakan suatu intervensi bagi mahasiswa
yang mengalami stres ketika sedang skripsi.
Salah satu intervensi untuk mengurangi stres
yang dapat digunakan adalah diskusi
kelompok. Berdasarkan FGD yang dilakukan
diperoleh data tentang faktor pendukung
kelancaran skripsi di antaranya adalah
dukungan teman-teman yang juga sedang
mengerjakan skripsi. Kelompok teman sebaya
disinyalir merupakan dukungan sosial yang
sangat berarti serta dapat merupakan agen
perubahan perilaku (Afiatin, 1996). Oleh
karena itu satu upaya untuk mengurangi stres
adalah melalui diskusi kelompok. Diskusi
tersebut akan membahas tentang efikais diri
dalam mengerjakan dan menyelesaikan skripsi.
Diskusi kelompok merupakan salah
satu pendekatan kelompok yang menggunakan
metode diskusi untuk menyelesaikan masalah.
Pendekatan kelompok sering digunakan
karena memiliki kelebihan di antaranya: 1)
kelompok memberikan kesempatan bagi
anggotanya untuk saling memberi dan
menerima umpan balik; 2) anggota akan
belajar untuk berlatih tentang perilaku baru
karena kelompok merupakan mikrokosmik
sosial; 3) kemampuan untuk menggali tiap
Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 3 No. 1 Januari 2006 : 50 - 62
masalah yang dialami anggotanya, 4)
mempelajari keterampilan sosial dan
kesempatan memberi dan menerima di dalam
kelompok (Prawitasari, 1991).
Pada penelitian sebelumnya diskusi
kelompok
ternyata
efektif
untuk
meningkatkan frekuensi pemilihan pola
makan sehat pada lansia (Nurhayati, 2001).
Selain itu diskusi kelompok dapat menurunkan
penggunaan injeksi (Prawitasari, 2005).
Berdasarkan
latar
belakang
permasalahan tersebut di atas, tidak sedikit
mahasiswa yang menyusun skripsinya
mengalami gangguan psikologis misalnya stres.
Permasalahan yang dapat dirumuskan dalam
penelitian ini adalah: salah satu cara untuk
mengurangi stres adalah melalui pendekatan
kelompok, di antaranya diskusi kelompok.
Seberapa efektifkah diskusi kelompok dapat
mengurangi stres pada mahasiswa yang sedang
skripsi?
Telaah Teori
Stres pada Mahasiswa yang Sedang
Skripsi
Kendall dan Hammen (1998)
mendefinisikan stres berdasarkan tiga teori
dasar stres yaitu:
Stres sebagai stimulus
Pengertian stres yang dimaksud di sini
adalah menunjuk pada kejadian eksternal atau
situasi yang mewakili permintaan atau
ancaman. Kejadian atau lingkungan yang
menimbulkan perasaan-perasaan tegang
disebut sebagai stresor (Sarafino dalam
Smet,1994).
Stres sebagai respon.
Stres merupakan reaksi organisme
terhadap ancaman atau tuntutan lingkungan
(Sarafino, 1998).
Stres sebagai transaksional
Stres dapat terjadi dalam konteks
interaksi individu-situasi, yaitu ketika ada
ketidakseimbangan antara tuntutan situasi
tersebut dengan kemampuan yang dimiliki
individu dalam menghadapi kebutuhankebutuhan tersebut.
Stres yang dialami mahasiswa dapat
ditimbulkan oleh berbagai macam sebab.
Bertambahnya mikrostresor dalam kehidupan
sehari-hari sebagian besar mengakibatkan
mahasiswa mengalami stres. Kehidupan sosial,
penyesuaian dalam kuliah dan tanggung jawab
pribadi dapat menjadi bagian yang menakutkan
bagi mahasiswa.
Goodman dan LeRoy (dalam Misra dan
Mckean, 2000) mengatakan bahwa sumber
stres yang mempengaruhi mahasiswa dapat
dikategorikan seperti masalah akademik,
keuangan, berhubungan dengan waktu,
kesehatan dan beban diri. Misra, dkk (2000)
menambahkan bahwa setiap semester
mahasiswa mengalami stres yang tinggi di
antaranya meliputi tekanan keuangan,
komitmen akademis dan kelemahan dalam
mengatur waktu.
Stres adalah bagian yang tak
terhindarkan dari kehidupan sehari-hari di
lingkungan kampus. Stres yang dialami oleh
mahasiswa dapat ditimbulkan oleh berbagai
macam sebab. Archer dan Carrol (2003)
mengatakan bahwa kompetisi, kebutuhan
untuk tampil, dapat juga menyebabkan stres
bagi mahasiswa. Penyesuaian dalam kuliah,
kehidupan sosial dan tanggungjawab pribadi
merupakan bagian tugas yang juga
menakutkan bagi mahasiswa. Kesulitan tugas
pada mahasiswa dapat menjadi sumber stres
yang utama. Salah satu tugas tersebut adalah
menyelesaikan tugas akhir atau skripsi.
Skripsi merupakan perwujudan dari
kemampuan meneliti calon ilmuwan pada
jenjang program Sarjana (S1). Skripsi yang
disusun oleh mahasiswa program sarjana
Pengaruh Diskusi Kelompok ......... (Faridah Ainur Rohmah)
\ 53[
[
berdasarkan hasil penelitian terhadap suatu
masalah yang dilakukan secara seksama dan
terbimbing. Tujuan dari penulisan skripsi adalah
melatih kecakapan mahasiswa dalam
memecahkan masalah secara ilmiah dengan
cara mengadakan penelitian, menganalisis dan
menarik kesimpulan dengan membuat laporan
hasil penelitian tersebut dalam bentuk skripsi.
Kedudukan penyusunan skripsi sebagai
salah satu sistem evaluasi akhir di Pendidikan
Tinggi telah ditetapkan dan diatur dalam
peraturan pemerintah no 30/1990 pasal 15
ayat (2) yaitu: ujian dapat diselenggarakan
melalui ujian semester, ujian akhir program
studi, ujian skripsi, ujian tesis dan ujian
disertasi. Pernyataan tersebut ditegaskan
kembali pada pasal 16 ayat (1) yaitu ujian
skripsi diadakan dalam rangka penilaian hasil
belajar pada akhir studi untuk memperoleh
gelar sarjana. Peraturan pemerintah no 30/
1990 juga mengandung pengertian bahwa
penyusunan skripsi sebagai tugas akhir
bukanlah syarat mutlak kelulusan namun
diserahkan pihak perguruan tinggi, sehingga
dapat diartikan bahwa prasyarat penyusunan
skripsi adalah salah satu ciri suatu perguruan
tinggi (Suhapti dan Wimbarti, 1999).
Banyak dari kalangan mahasiswa yang
menyelesaikan skripsi dengan cepat dan tidak
kalah banyak mahasiswa yang menyelesaikan
skripsinya dalam waktu yang lama bahkan
mengalami stres akibat skripsi. Ketika
mahasiswa mengalami stres, berbagai
perubahan akan terjadi dalam tubuh dan
pikirannya. Stres dapat mengganggu
kemampuan konsentrasi dan prestasi belajar
mahasiswa. Keadaan tersebut dapat
mempengaruhi perilaku dan akan berdampak
pada seluruh kehidupannya.
Secara umum individu mempunyai
berbagai macam respon terhadap stres secara
berbeda-beda. Reaksi-reaksi tersebut di
antaranya reaksi biologis dan psikososial
(Sarafino, 1998). Seseorang yang mengalami
peristiwa yang menekan akan mengalami
\ 54[
[
reaksi fisiologis di antaranya denyut jantung
meningkat, pernapasan meningkat, otot-otot
bergetar khususnya otot lengan dan paha.
Menurut Canon (Sarafino, 1998) respon tubuh
terhadap bahaya adalah melawan atau lari (fight
or flight) sehingga individu akan menyerang
terhadap ancaman yang dihadapi atau
melarikan diri dari ancaman tersebut.
Stresor menghasilkan per ubahanperubahan fisiologis, tetapi faktor-faktor
psikososial juga ikut berperan, di antaranya
pengaruh stres terhadap kognisi, emosi dan
sistem sosial (Sarafino, 1998). Stres dapat
mengganggu konsentrasi dan kemampuan
belajar. Stres tingkat tinggi mempengaruhi
ingatan dan perhatian orang. Artinya stres
dapat mengganggu fungsi kognisi dan merusak
perhatian individu. Menurut Baum (Sarafino,
1998) satu faktor utama yang menyebabkan
individu tetap dalam keadaan stres adalah
pikiran negatif tentang suatu peristiwa dan
munculnya ketakutan-ketakutan terhadap
pikirannya tersebut. Akhirnya pikiran-pikiran
tersebut mengabadikan stres mereka dan
membuatnya kronis.
Menurut Prokop dkk (1991) ada tiga
faktor yang ikut mempengaruhi stres, yaitu:
a. Faktor perilaku
Saat individu menghadapi stresor dalam
lingkungannya ada dua karakteristik dari
stresor tersebut yang akan mempengaruhi
reaksi individu, yaitu:
1). Durasi, lamanya individu menghadapi
stres akan berpengaruh pada efek stres
yang ditimbulkan.
2). Dapat diramalkan, semakin seseorang
dapat memprediksi stres maka semakin
siap seseorang menghadapi stres.
b. Faktor psikologis
Ada tiga faktor psikologis yang berpengaruh yaitu:
1). Kontrol yang dirasakan (perceived control)
adalah keyakinan bahwa seseorang dapat
menguasai stresor. Orientasi pusat kendali
(locus of control) merupakan suatu dimensi
Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 3 No. 1 Januari 2006 : 50 - 62
kepribadian yang menilai keyakinan umum
orang tentang kontrol di dalam hidup
mereka. Individu dengan pusat kendali
internal (internal locus of control) cenderung
lebih mampu menguasai stresor dan
mengatasi stres daripada individu dengan
pusat kendali eksternal (external locus of
control).
Selain itu kontrol situasional juga
berpengaruh terhadap stres. Penilaian
terhadap situasi erat kaitannya dengan
konsep Bandura (1997) tentang efikasi
diri. Di dalam konsep efikasi diri
mengandung unsur kepercayaan diri,
motivasi dan daya juang untuk
memperoleh hasil yang diharapkan.
2). Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned
helplessness) adalah reaksi tidak berdaya
seseorang akibat seringnya mengalami
peristiwa di luar kendalinya.
3). Kepribadian tabah (hardinness) adalah
keberanian dan ketangguhan seseorang
menghadapi situasi stres berupa; a).
keyakinan mampu mengendalikan
sesuatu, b). komitmen, keterlibatan dan
makna dari sesuatu yang dilakukan seharihari, c). fkeksibel untuk beradaptasi
dengan perubahan
c. Faktor sosial
Kejadian-kejadian yang utama
dalam hidup seperti menikah atau
kematian anggota keluarga dapat menjadi
penyebab stres dan merupakan stresor
sosial. Selain itu tugas rutin sehari-hari
juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa
seperti kecemasan dan depresi.
Semua individu dari semua usia
mengalami stres dan mencoba untuk
menghadapinya. Coping adalah proses untuk
mencoba mengatur ketidaksesuaian antara
tuntutan yang menekan dengan sumber daya
yang dimiliki (Sarafino, 1998). Menurut
Lazarus, dkk (Sarafino, 1998) coping dibagi atas
koping yang terfokus pada emosi (emotion-
focused coping) dan koping yang terfokus pada
pemecahan masalah (problem-focused coping).
Pada koping yang terfokus pada
pemecahan masalah (problem-focused coping)
tujuannya adalah untuk mengurangi tuntutan
terhadap situasi yang penuh stres atau dengan
memperluas sumber daya untuk menghadapi
situasi tersebut.
Diskusi Kelompok
Bukti-bukti empiris mengatakan bahwa
pendekatan kelompok dapat menjadi sebuah
bentuk yang efektif untuk tritmen (Bednar dan
Kaul dalam Nietzel, 1994).
Diskusi kelompok merupakan salah
satu bentuk dari pendekatan kelompok, yang
menggunakan metode diskusi sebagai salah
satu cara penyelesaian masalah. Diskusi
kelompok dapat diartikan sebagai sebuah
pembahasan di antara para peserta mengenai
suatu
topik
tertentu
(http://
www.thefreedictionary.co/group+discussion).
Lebih jauh diskusi kelompok merupakan
sebuah kelompok yang bertemu bersama
secara kooperatif untuk membahas sebuah
topik tentang persoalan-persoalan secara
bersama-sama (http://www.queensu.ca/idc/
idcresources /handouts/group_discussion .htm).
Individu akan mempelajari praktek berbicara,
mendengarkan dan juga kepemimpinan
sebagai bagian dari dinamika kelompok.
Peran instr uktur dalam diskusi
kelompok di antaranya adalah menentukan
topik yang menarik, mempersiapkan
pertanyaan-pertanyaan penting untuk
menstimulasi diskusi, mensugesti perilaku
kelompok tetapi tidak menyimpang dari topik,
menjaga diskusi tetap pada jalurnya,
membangkitkan semua ang gota untuk
berpartisipasi, memberikan kesimpulan
tentang hal-hal yang dikemukakan dan
mensugesti bagian atau bahan yang perlu
dipelajari lebih lanjut. Sedangkan peran
partisipan adalah mendengarkan secara aktif,
Pengaruh Diskusi Kelompok ......... (Faridah Ainur Rohmah)
\ 55[
[
menambah informasi atau ide yang relevan,
membantu anggota untuk memahami satu
topik tertentu dan menetapkan bagaimana
informasi yang diperoleh dapat digunakan
untuk dipelajari lebih lanjut.
Jumlah peserta dalam diskusi kelompok
akan mempengaruhi jalannya kelompok.
Biasanya terdiri dari 6-8 orang dan paling
banyak 10 orang. Jumlah anggota kelompok
yang terlalu besar juga akan mengurangi
keaktifan masing-masing peserta dan
mengurangi tanggung jawabnya untuk turut
serta mencapai hasil yang diharapkan.
Sebaliknya apabila jumlah anggota kurang dari
6 orang ada kecenderungan dalam kelompok
untuk mudah terpengaruh oleh anggota lain
sehingga pemecahan masalah tidak sesuai yang
diharapkan (Bulatau, 1971).
Waktu yang diperlukan untuk diskusi
antara 45-60 menit. Ada yang lebih lama yaitu
mencapai 120 menit tergantung bahan
pembicaraannya. Pembatasan waktu diskusi
ini memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kekurangannya adalah memadamkan diskusi
yang sedang menghangat, sedangkan
kelebihannya adalah para peserta diskusi
mendapat kepastian mengenai lamanya diskusi
sehingga mereka tidak segan untuk mengikuti
diskusi berikutnya (Bulatau, 1971).
Wheelan (1994) mengatakan bahwa ada
tiga macam diskusi kelompok ditinjau dari
peserta dan tujuannya yaitu:
a. Kelompok psikoterapi (psychotherapy
groups)
Pada kelompok psikoterapi ini
tujuan dari diskusi kelompok adalah untuk
mengurangi problem-problem psikologi
atau penyembuhan gangguan klinis dari
para pesertanya.
b. Kelompok konseling (counseling group)
Pada
kelompok
konseling
pesertanya membutuhkan masukan bagi
penyelesaian masalah yang relatif lebih
\ 56[
[
ringan dibandingkan dengan masalah pada
kelompok psikoterapi. Kelompok tersebut
biasanya digunakan untuk pelajar atau
mahasiswa yang mempunyai masalah.
Mereka dapat saling belajar memecahkan
masalah berdasarkan masukan dari
anggota lain, sehingga kualitas hubungan
antar anggota sangat menentukan
terhadap hasil (Prawitasari, 1992).
c. Kelompok
per tumbuhan
diri
(personal-growth groups)
Pada kelompok ini bertujuan untuk
membantu peserta diskusi yang relatif
sehat, agar dapat berfungsi lebih baik pada
tingkat interpersonal.
Pada penelitian ini diskusi kelompok
yang dimaksud adalah diskusi kelompok dengan
mahasiswa yang sedang skripsi dan mengalami
stres. Oleh karena itu diskusi kelompok yang
digunakan dalam penelitian ini adalah konseling
kelompok.Diskusi kelompok merupakan suatu
program diskusi yang disusun dalam bentuk
panduan diskusi kelompok yang akan diberikan
pada mahasiswa yang sedang skripsi. Diskusi
kelompok ini bertujuan untuk meningkatkan
efikasi diri dalam mengerjakan skripsi agar ia
mempunyai keyakinan yang tinggi untuk dapat
menyelesaikan tugas akhir (skripsi).
Bandura (1997) mengemukakan
dimensi-dimensi efikasi diri yang digunakan
sebagai dasar bagi pengukuran terhadap efikasi
diri individu yaitu:
a. Tingkat kesulitan
Dimensi ini berkaitan dengan
tingkat kesulitan tugas. Dimensi ini
memiliki implikasi terhadap pemilihan
tingkah laku yang dicoba atau yang akan
dihindari. Individu akan mencoba tingkah
laku yang dirasa mampu dilakukan dan
akan menghindari tingkah laku yang
berada di luar batas kemampuan yang
dirasakannya.
Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 3 No. 1 Januari 2006 : 50 - 62
b. Tingkat generalisasi
Dimensi ini merupakan dimensi
yang berkaitan dengan luas bidang tugas
yang dilakukan. Beberapa keyakinan
individu terbatas pada bidang tingkah laku
yang khusus dan beberapa keyakinan
mungkin menyebar meliputi berbagai
bidang tingkah laku.
c. Tingkat kekuatan
Dimensi ini berkaitan dengan
tingkat kemampuan individu terhadap
keyakinan
atau
pengharapan.
Pengharapan yang lemah akan mudah
berubah oleh pengalaman-pengalaman
yang tidak mendukung.
Efikasi diri ini menjadi penting karena
dapat mengurangi stres. Hal tersebut dijelaskan
oleh Jex,Bliese (2001) efikasi diri berpengaruh
pada stres. Pendapat tersebut didukung oleh
Pajares dan Schunk (2000) bahwa kondisi
emosi seperti stres dan mood yang negatif
mempengaruhi efikasi dirinya.
Hipotesis
Berdasarkan uraian penjelasan tersebut
di atas maka dapat diajukan hipotesis sebagai
berikut: Ada perbedaan stres mahasiswa yang
sedang skripsi antara kelompok diskusi
kelompok dan kelompok kontrol. Kelompok
diskusi lebih mengalami penurunan stres
dibandingkan kelompok kontrol.
Metode Penelitian
Variabel-variabel dalam penelitian ini
adalah: variabel bebasyaitu: keikutsertaan
dalam diskusi kelompok, dan variabel
tergantung adalah stres pada mahasiswa yang
skripsi.
Definisi operasional masing-masing
variabel adalah:
Stres pada mahasiswa yang sedang
skripsi adalah kondisi yang dialami oleh
mahasiswa yang sedang skripsi sebagai reaksi
karena mengalami tekanan, yang meliputi
gangguan fisiologis, kognitif, emosional dan
sosial (Sarafino, 1998). Kondisi stres ini
diungkap dengan skala stres yang dibuat oleh
peneliti. Semakin tinggi skor skala stres berarti
semakin tinggi tingkat stresnya, sebaliknya
semakin rendah skor skala stres berarti
semakin rendah tingkat stresnya.
Diskusi kelompok yaitu salah satu
pendekatan kelompok dengan membentuk
kelompok sebagai peserta diskusi. Tujuannya
membicarakan suatu topik yang berkaitan
dengan peningkatan efikasi diri dan berusaha
untuk mencari jalan keluar. Pada penelitian ini
akan membicarakan topik-topik :a)
kemampuan mengenali potensi diri; b)
kemampuan membentuk persepsi positif, c)
penguasaan penulisan skripsi; d) manajemen
waktu; e) daya juang. Diskusi kelompok
dilakukan dengan cara memberikan tanggapan
dan umpan balik di antara para anggota
kelompok. Dinamika yang terjadi dalam
diskusi kelompok tersebut diharapkan dapat
terjadi perubahan pemahaman tentang aspekaspek efikasi diri dalam kaitannya dengan stres
selama menyusun skripsi sehingga terjadi
perubahan sikap dan perilaku pada diri subyek.
Diskusi kelompok dilaksanakan 2 kali
pertemuan selama masing-masing 120 menit.
Diskusi dipandu oleh seorang pemandu diskusi
yang berpengalaman dan peneliti berperan
sebagai pengamat. Proses diskusi dibagi
menjadi tiga bagian yaitu pembukaan, diskusi
dan penutup.
Subjek penelitian ini adalah mahasiswa
dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Berstatus sebagai mahasiswa aktif
b. Mahasiswa psikologi UAD (Universitas
Ahmad Dahlan) Yogyakarta yang sedang
mengambil skripsi
c. Sedang melakukan proses pembimbingan
Subjek diambil dengan menggunakan
teknik random berdasarkan nama subjek.
Kelompok Eksperimen berjumlah 10 orang
dan kelompok kontrol berjumlah 10 orang. KE
Pengaruh Diskusi Kelompok ......... (Faridah Ainur Rohmah)
\ 57[
[
diberi perlakuan berupa diskusi kelompok
sedangkan KK merupakan kelompok daftar
tunggu (waiting list).
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
adalah: pedoman diskusi kelompok berisi
tentang prosedur, materi dan daftar pertanyaan
yang akan digunakan untuk diskusi kelompok.
Topik dalam diskusi adalah mengenai efikasi
diri berupa cara-cara menumbuhkan keyakinan
diri untuk melakukan suatu tugas dalam hal
ini menyusun skripsi, penguasaan materi
skripsi dan manajemen waktunya serta caracara mengatasi hambatan yang dihadapi.
Diskusi dilaksanakan dua hari selama masingmasing 120 menit.
Skala pertama yang digunakan adalah
skala stres pada mahasiswa yang sedang skripsi
digunakan untuk mengungkap gangguan yang
dialami mahasiswa ketika menyusun skripsi
terdiri dari empat aspek yaitu gangguan
fisiologis, kognitif, emosi dan sosial. Skala
tersebut dibuat berdasarkan pendapat Sarafino
(1998). Seluruh aitem berjumlah 52 butir, 32
bersifat favorable dan 20 unfavorable. Skor untuk
aitem favorable: SS (Sangat Sesuai) skor 4, S
(Sesuai) skor 3, TS (Tidak Sesuai) skor 2, STS
(Sangat Tidak Sesuai) skor 1. Skor untuk aitem
unfavorable: SS (Sangat Sesuai) skor 1, S
(Sesuai) skor 2, Tidak Sesuai (TS) skor 3,
Sangat Tidak Sesuai (STS) skor 4.
Skala yang kedua adalah skala efikasi
diri yang bertujuan untuk mengungkap sejauh
mana keyakinan seseorang untuk melakukan
suatu perbuatan tertentu, mencapai tujuan dan
mengatasi rintangan. Ada tiga dimensi efikasi
diri seperti yang terdapat pada tabel 3 yaitu
tingkat kesulitan, tingkat generalisasi dan
tingkat kekuatan. Skala efikasi diri dibuat
berdasarkan pendapat Bandura (1997).
Seluruh aitem berjumlah 30 butir, 17 bersifat
favorable dan 13 unfavorable. Skor untuk aitem
favorable: SS (Sangat Sesuai) skor 4, S (Sesuai)
skor 3, TS (Tidak Sesuai) skor 2, STS (Sangat
Tidak Sesuai) skor 1. Skor untuk aitem
unfavorable: SS (Sangat Sesuai) skor 1, S
\ 58[
[
(Sesuai) skor 2, Tidak Sesuai (TS) skor 3,
Sangat Tidak Sesuai (STS) skor 4.
Observasi merupakan metode
pengumpulan data penelitian yang dilakukan
melalui pengamatan secara langsung terhadap
subjek. Setiap perilaku yang dimunculkan oleh
subjek dicatat secara sistematis untuk
selanjutnya dianalisa bersama data yang lain.
Observasi ini dilakukan dengan membuat
pedoman observasi yang berisi tentang aspekaspek perilaku subjek baik verbal maupun non
verbal yang muncul selama pelatihan maupun
diskusi kelompok. Aspek-aspek yang
diobser vasi terdiri dari konsentrasi,
penguasaan materi, motivasi, komunikasi,
kepercayaan diri dan keuletan.
Analisis data dilakukan dengan t-tes.
Analisis data menggunakan fasilitas komputer
program SPSS (Statistical Product and Service
Solution) 10.00 for windows.
Uji hipotesis
Pengujian hipotesis penelitian dilakukan
dengan menggunakan t-tes untuk mengetahui
perubahan stres. Hasil uji hipotesis adalah
bahwa tidak ada perbedaan antara kelompok
diskusi dan kelompok kontrol (MD= -3,67,
p>0,05), tetapi ada perbedaan stres yang
sangat signifikan antara pre tes, postes 1 dan
postes 2 (F=6,173, p=< 0,1). Secara rinci ada
perbedaan yang signifikan antara sebelum
diskusi (pretes) dan setelah diskusi (postes 1)
yaitu t=3,120 (p<0,05). Rerata skor stres
sebelum diskusi lebih tinggi dibanding setelah
diskusi (postes 1). Tidak ada perbedaan antara
setelah diskusi (postes 1) dan tindak lanjut
(postes 2) yaitu t=1,091 (p>0,05). Penurunan
rerata skor stres pada postes 1 ketindak lanjut
(postes 2), tidak signifikan. Hasil rerata skor
stres pretes, postes 1 dan postes 2 adalah pre
tes=100,89, postes1=88,00 dan postes2 =
82,11.
Berdasarkan analisis terhadap data
individual pada kelompok diskusi, didapatkan
Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 3 No. 1 Januari 2006 : 50 - 62
beberapa kesimpulan di antaranya:
1. Secara keseluruhan hasil analisis individual
menunjukkan bahwa tiga orang (33,3%)
mengalami penurunan stres tetapi masih
dalam kategori stres tinggi walaupun
skornya menurun. Empat subjek (44,4%)
benar-benar mengalami penurunan stres,
satu orang (11,1%) skornya tetap dan satu
orang (11,1%) justru meningkat tapi masih
dalam kategori stres tinggi. Berdasarkan
penjelasan tersebut dapat dikatakan
bahwa diskusi kelompok mempunyai taraf
keberhasilan program sebesar 44,4%.
Variasi perubahan tersebut disebabkan
karena perbedaan tingkat pemahaman
peserta, keaktifan dan tidak semua peserta
cocok dalam kelompok untuk menangani
masalah-masalahnya.
2. Pada saat tindak lanjut skor subjek
mengalami perubahan, ada enam subjek
(66,7%) yang mengalami penurunan stres,
dua subjek (22,2%) mengalami penurunan
tetapi masih dalam kategori stres tinggi
dan satu orang (11,1%) skornya
meningkat. Berdasarkan data tersebut
diskusi kelompok cukup mempunyai efek
jangka panjang terhadap penurunan stres,
tetapi variasi perbedaan skor sangat tinggi
tergantung dari motivasi, pengembangan
dan aplikasi dari pengetahuan yang telah
diterima setelah diskusi kelompok.
3. Perubahan yang dialami peserta diskusi di
antaranya lebih mengenali diri sendiri,
lebih mengetahui kelebihan dan
kekurangan diri, lebih percaya diri,
mempunyai
persepsi
positif,
mengembangkan
potensi
diri,
menumbuhkan motivasi intrinsik, mampu
mengatur waktu antara kuliah, skripsi dan
kegiatan lain, menyadari dan menambah
daya juang yang dimiliki tidak hanya untuk
skripsi tapi juga untuk hal-hal lain yang
positif.
4. Perubahan yang berhubungan dengan
skripsi antara lain mengetahui cara
membuat latar belakang masalah, lebih
memahami langkah-langkah dan teknikteknik penulisan skripsi, mempunyai
gambaran tentang skripsi ke depan,
membantu
pemecahan
masalah
berhubungan dengan skripsi, menambah
pengetahuan dan pengalaman dalam
menyusun skripsi, lebih yakin dalam
membuat skripsi, menyadari tentang
kesalahan dan hal-hal yang har us
dikerjakan dalam menyusun skripsi,
mampu mengatur waktu untuk
mengerjakan skripsi, menjaga komitmen
untuk mengerjakan skripsi dan
termotivasi untuk menyelesaikan skripsi.
5. Manfaat lain yang diperoleh peserta
adalah menambah teman baru, dapat
berinteraksi dengan orang lain, dapat
bertukar pengalaman tentang pengalaman
pribadi, menambah pengetahuan dan
wawasan, mengurangi kesulitan yang
sedang dihadapi, katarsis, beban pikiran
berkurang, mengetahui cara serta teknik
untuk menghadapi masa depan, dapat
tidur nyenyak, menambah masukan
tentang diri sendiri, tidak merasa sendiri,
memotivasi diri dalam menghadapi
masalah, lebih disiplin diri, dan belajar
menghargai dan mempertahankan
pendapat.
6. Secara umum penilaian peserta terhadap
pelaksanaan pelatihan baik dari segi
materi, pemandu, waktu dan fasilitas
adalah cukup baik. Ada waktu untuk
mengerjakan
tugas
di
rumah
memungkinkan
mereka
untuk
mengeplikasikan ilmu yang telah diterima
pada saat pelatihan.
Pembahasan
Hipotesis dalam penelitian ini tidak
diterima sehingga tidak ada perbedaan tingkat
stres antara kelompok diskusi dan kelompok
kontrol. Beberapa kemungkinan tidak terjadi
perbedaan penurunan tingkat stres antara
Pengaruh Diskusi Kelompok ......... (Faridah Ainur Rohmah)
\ 59[
[
kelompok diskusi dan kontrol adalah pertama,
skala yang digunakan dalam penelitian ini
kurang reliabel dan terjadi carry over effect.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh
peneliti kelompok kontrol belajar dari
pengisian skala pada saat pretesi. Mereka
menjadi sadar dan insight tentang perilaku ideal
atau yang seharusnya dilakukan seorang
mahasiswa ketika sedang menyusun skripsi
sehingga pada saat pengisian posttest perilakunya
sudah berubah menjadi lebih baik. Peneliti
seharusnya menggunakan skala yang paralel
untuk mengukur hal yang sama.
Kedua, pada peserta diskusi kelompok
ada dua mahasiswa angkatan lama yaitu 1998
dan 1999. Mereka tidak mengalami perubahan
stres setelah perlakuan. Menurut Prokop, dkk
(1991) lamanya stres yang dialami semakin
banyak efek negatif yang dirasakan dan
kemungkinan terjadinya stres semakin besar.
Selain itu individu akan memberikan reaksi stres
yang berbeda pada stresor yang sama (Smet,
1994). Stres bisa dipandang sebagai sesuatu
yang (eustres), sesuatu yang negatif (distres) atau
netral sehingga individu yang tidak berubah
kemungkinan memandang stresor (skripsi)
sebagai sesuatu yang netral atau distres.
Ketiga, subjek yang mengalami masalah
pribadi yang cukup kompleks kurang berhasil
dalam diskusi kelompok. Menurut Prawitasari
(1992) bahwa tidak semua individu cocok
berada dalam kelompok. Beberapa di antara
individu tersebut membutuhkan perhatian dan
inter vensi individual. Selain itu faktor
eksternal juga ikut berpengaruh misalnya
keuangan sehingga mahasiswa selain
mengerjakan skripsi juga sibuk bekerja.
Hasil analisis kualitatif menunjukkan
bahwa diskusi kelompok memberikan manfaat
bagi mahasiswa yang sedang mengerjakan
skripsi, walaupun secara kuantitatif tidak
terbukti. Manfaat yang dirasakan di antaranya
lebih mengenali diri sendiri, lebih mengetahui
kelebihan dan kekurangan diri, lebih percaya
diri, mempunyai persepsi positif,
\ 60[
[
mengembangkan potensi diri, menumbuhkan
motivasi intrinsik, mampu mengatur waktu
antara kuliah, skripsi dan kegiatan lain,
menyadari dan menambah daya juang yang
dimiliki tidak hanya untuk skripsi tapi juga
untuk hal-hal lain yang positif.
Perubahan yang berhubungan dengan
skripsi antara lain mengetahui cara membuat
latar belakang masalah, lebih memahami
langkah-langkah dan teknik penulisan skripsi,
mempunyai gambaran tentang skripsi ke
depan, membantu pemecahan masalah
berhubungan dengan skripsi, menambah
pengetahuan dan pengalaman dalam
menyusun skripsi, lebih yakin dalam membuat
skripsi, menyadari tentang kesalahan dan halhal yang harus dikerjakan dalam menyusun
skripsi, mampu mengatur waktu untuk
mengerjakan skripsi, menjaga komitmen untuk
mengerjakan skripsi dan termotivasi untuk
menyelesaikan skripsi.
Manfaat lain yang diperoleh peserta
adalah menambah teman bar u, dapat
berinteraksi dengan orang lain, dapat bertukar
pengalaman tentang pengalaman pribadi,
menambah pengetahuan dan wawasan,
mengurangi kesulitan yang sedang dihadapi,
katarsis, beban pikiran berkurang, mengetahui
cara serta teknik untuk menghadapi masa
depan, dapat tidur nyenyak, menambah
masukan tentang diri sendiri, tidak merasa
sendiri, memotivasi diri dalam menghadapi
masalah, lebih disiplin diri, dan belajar
menghargai dan mempertahankan pendapat.
Menurut
Prawitasari
(1992)
karakteristik pendekatan kelompok
merupakan faktor penyembuh di antaranya
adalah sependeritaan, kebersamaan,
kesempatan memberi atau altr uisme,
kesempatan belajar untuk mengenali diri dan
orang lain. Faktor-faktor penyembuh itu
berkaitan satu sama lain. Beberapa hal yang
mendukung keberhasilan individu adalah
minat yang besar, ditunjukkan dengan
konsentrasi tinggi dan motivasi yang baik.
Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 3 No. 1 Januari 2006 : 50 - 62
Selain itu keterlibatan dalam kelompok juga
ting gi misalnya berinisiatif dan aktif
berpendapat. Menurut Prawitasari (1992)
karakteristik subjek dan sikap dalam
menghadapi
proses konseling akan
mempengaruhi efektivitas hasilnya.
Pada tindak lanjut, peserta diskusi
kelompok mempunyai variasi yang sangat
ting gi dalam pemahaman dan aplikasi
terhadap materi yang diperoleh selama diskusi
kelompok.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa:
Diskusi kelompok tidak efektif dalam
menurunkan stres pada mahasiswa yang
sedang skripsi, tetapi terjadi perbedaan
penurunan stres antara pretes dan postes 1.
Berdasarkan analisis individual diskusi
kelompok memberikan manfaat di antaranya
mampu menambah rasa percaya diri dan optimis
dalam hidup, menambah pengetahuan dan
wawasan tentang skripsi, termotivasi dan
mempunyai komitmen yang tinggi dalam
menyusun skripsi, memecahkan masalahmasalah skripsi dan mempunyai strategi
pemecahan masalah yang digunakan di masa
yang akan datang, berbagi pengalaman dan
mengurangi beban pikiran sehingga dapat tidur
nyenyak, tidak merasa sendiri dan dapat
dukungan dari orang lain, mengurangi kecemasan
berbicara di depan umum, tahu mengatur waktu
dan termotivasi untuk disiplin diri.
Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian
yang telah dikemukakan di atas maka dapat
diajukan beberapa saran sebagai berikut:
Kepada mahasiswa yang sedang skripsi,
selama skripsi mahasiswa hendaknya
mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat
menambah wawasan tentang skripsi, misalnya
ke perpustakaan, diskusi dengan dosen atau
teman dan mempunyai kelompok belajar
sesama skripsi. Kegiatan-kegiatan tersebut
diharapkan mampu memotivasi diri dan tetap
fokus dan komitmen untuk menyelesaikan
skripsi.
Kepada dosen pembimbing skripsi,
perhatian dan dukungan dosen pembimbing
sangat membantu untuk kelancaran skripsi
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Mahasiswa merasa diperhatikan dan
termotivasi untuk mengerjakan skripsinya.
Kepada peneliti selanjutnya, peneliti
yang tertarik melakukan penelitian dengan
metode eksperimen sebaiknya menggunakan
skala berbeda yang paralel. Proses belajar akan
terjadi dan akan mengalami perubahan ketika
subjek diminta mengisi skala yang sama. Selain
itu ada kecenderungan dari subjek tidak
sungguh-sungguh dalam mengisi skala karena
merasa sudah pernah mengisi skala tersebut.
Hasil atau jawaban subjek menjadi tidak valid
karena tidak mengukur keadaan yang
sebenarnya dari diri subjek.
Daftar Pustaka
Afiatin, T. 1996. Peningkatan Kepercayaan
Diri Remaja Melalui Konseling
Kelompok. Tesis. Yogyakarta: Fakultas
Psikologi UGM.
Archer, J dan Carroll, C. 2003. Student Stress.
Tanggal akses 14 Mei 2004 dalam
h t t p : / / w w w. c o u n s e l . u f l . e d u /
selfHelp/studentstress.asp.
Azwar, S. 2000. Penyusunan Skala Psikologi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bandura, A. 1997. Self Efficacy. The Exercise
of a Control. New York: W.H. Freeman
and Company.
Bernard, H. W dan Huckins, W.C. 1991.
Dynamic of Personal Adjustment.
Bulatau, J. 1971. Teknik Diskusi Berkelompok.
Pengaruh Diskusi Kelompok ......... (Faridah Ainur Rohmah)
\ 61[
[
Cetakan ke-22. Yogyakarta: Kanisius
Kendall, C. P., Hammen, C. 1998. Abnormal
Psychology. Understanding Human
Problems (2nd ed.). New York:
Houghton Mufflin Company.
Linnenbrink, E. A dan Pintrich, P. R. 2003.
Reading and Writing Quarterly. 1 April
2003, Vol. 19, No. 2, pp. 119-137 (19).
The Role of Self Efficacy Beliefs
Instudent Engagement and Learning
Intheclassroom.
http://
www.ingentaconnect.com/content/tandf/urwl/
2003/00000019/00000002/art00002
Misra, R., McKean, M. West, S., dan Russo, T.
2000. Academic Stress of Comparison
of Student and Faculty Perception.
Colledge Student Journal. Tanggal akses
14 Maret 2003 dalam http://
www.findarticles.com/
p/articles/
mi_m0FCR/is_2_34/ai_63365179
Misra, R dan McKean M. 2000. College
Students’ Academic Stress and Its
Relation to Their Anxiety, Time
Management and Leisure Satisfaction.
American Journal of Health Studies.
Tanggal ases 14 Maret 2003. dalam
http://ajhs.tamu.edu/16%2D1/
Nietzel, M.T., Bernstein D.A., Milich. R. 1998.
Introduction to Clinical Psychology (4th ed.).
New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Eksperimental. Laporan Penelitian
(Tidak Diterbitkan). Yog yakarta:
Fakultas Psikologi UGM.
Prawitasari, Y. S. 1992. Pendekatan Kelompok
dalam Konseling dan Psikoterapi.
Yog yakarta: Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada.
Prawitasari, Y. S. 2005. Terapi Kelompok.
Makalah
(tidak
diterbitkan)
Yogyakarta.
Prokop, C. K., Bradley, L. A., Burish, T. G.,
Anderson, Ko & Fox J. E.1991. Health
Psychology, Clinical Metods & Research.
New York: Macmillan Publishing.
Rathus, S. A., dan Nevid, J. S. 1991. Abnormal
Psychology. New Jersey: Prentice. Hall.
Inc.
Rickard, J. 2000. Relaksasi untuk Anak-anak.
Jakarta: PT. Grasindo.
Sarafino, E. P. 1998. Health Psycholog- Bio
Psychosocial Interactions. Third Edition.
New York: John Wiley & Sons. Inc.
Shenoy, UA. Colledge-Stress and Symptomexpression in International Students: A
Comperative Study. Tanggal Akses 31
Juli 2004. dalam http://scholarlib.vt.edu/
thesis/available/etd.07022001-115853.
Smet, B. 1994. Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT.
Grasindo.
Pajares, F & Schunk, D.H. 2000. Self Belief
and School Success: Self Efficacy.
Tanggal akses 27 Juli 2004 dalam http:/
/www.emory.edu/EDUCATION/ mfp/
PajaresShunck2000.html.
Suhapti, R & Wimbarti, S. 1999. Kajian
Pelaksanaan Penulisan Skripsi di
Fakultas Psikologi UGM. Laporan
penelitian
(tidak
diterbitkan).
Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Pajares, F. 2002. Overview of Social Cognitive
Theory and of Self-efficacy. Tanggal
akses 27 Juli 2004 dalam http://
www.emor y.edu/EDUCATION/
mfp/eff.html.
Wheelan, S.A. 1994. Group Processes.
Developmental
Perspective.
Massachusetts: Allyn & Bacon.
Prawitasasi, Y. S. 1988. Pengaruh Relaksasi
terhadap Keluhan Fisik- Suatu Studi
\ 62[
[
Humanitas : Indonesian Psychological Journal Vol. 3 No. 1 Januari 2006 : 50 - 62
Fly UP