...

PERSEPSI ANGGOTA TERHADAP PERAN KELOMPOK TANI

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PERSEPSI ANGGOTA TERHADAP PERAN KELOMPOK TANI
PERSEPSI ANGGOTA TERHADAP PERAN KELOMPOK TANI DALAM
MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENGUASAAN TEKNOLOGI BUDIDAYA
BELIMBING
Diarsi Eka Yani ([email protected])
Ludivica.ES
Rinda Noviyanti
Program Studi Agribisnis, Universitas Terbuka
ABSTRACT
This research aims are: (1) to identify factors related to the member perception on the role of
farmer group; (2) to identify member perception on the role of farmer group related to
competencies of farmer group member on the implementation of technology; and (3) to
explain the role of agricultural extension workers to improve the ability of members on starfruit
cultivation technology. Research uses a survey method, the population were farmer group
member on Pasir Putih village, Sawangan district, Depok, with. number of samples were 40
people. The data were analyzed by the Spearman Rank test. Perceptions to the leadership
group and group networking related significantly with perceptions of the role of members
farmer group as study class. Experience farming management related significantly with
perceptions of the farmer group member role as production unit farming management and
cooperation vehicle. Farmer member group access by information related significantly with
perception of the farmer group member as cooperation vehicle. The involvement of members
in group activities related significantly with perceptions of the role of members farmer group as
study class. The competencies of group member in skill technology related significantly to the
role of group as study class and cooperation vehicle.
Keywords: farmer group member, perception, the implementation of technology
Pemberdayaan petani mengarah pada kemadirian petani dalam berusaha tani, yang
meliputi: kemampuan petani dalam berusahatani, kemampuan petani menentukan keputusan dalam
berbagai alternatif pilihan, dan kemampuan petani dalam mencari modal usahatani (Bryant dan White
dalam Puspadi, 2002). Kemandirian petani dapat ditumbuhkembangkan dalam suatu kegiatan
kelompok. Pendekatan kelompok merupakan metode yang efektif untuk digunakan dalam
penyuluhan pertanian. Beberapa fungsi kelompok diantaranya sebagai forum belajar, unit kerjasama
dan unit produksi (Deptan, 2007). Namun pada kenyataanya yang dijumpai saat ini, banyak
kelompok tani yang didirikan, tetapi hanya tinggal papan namanya saja. Kelompok tani tersebut akan
bubar setelah suatu proyek selesai dijalankan.
Masalah yang sering muncul juga terlihat dalam pertemuan kelompok yang banyak tidak
dihadiri oleh anggota kelompok dalam jumlah yang memadai, karena mungkin anggota kelompok
merasa mendapat sedikit manfaat dari pertemuan kelompok tersebut. Pada akhirnya hanya ketua
kelompok beserta pengurusnya yang mengetahui adanya kebijakan baik dari pemerintah ataupun
yang merupakan kesepakatan kelompok tersebut.
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 133-145
Proses pengambilan keputusan untuk terlibat dalam kegiatan kelompok sangat terkait pada
persepsi seseorang terhadap kelompoknya. Hal ini dinyatakan oleh Mulyana (2001), bahwa persepsi
merupakan inti dari komunikasi. Persepsi merupakan hal yang sangat menarik, karena setiap orang
memiliki persepsi yang berlainan tentang sesuatu hal termasuk persepsi anggota terhadap peran
suatu kelompok, sehingga perlu digali informasi tentang bagaimana pandangan anggota kelompok
terhadap peran kelompoknya.
Di samping kelompok tani yang merupakan komponen utama dalam penyuluhan pertanian,
terdapat komponen lain yang peranannya tak kalah penting dalam pemberdayaan petani yaitu
penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian berupaya untuk mengubah perilaku petani yang tergabung
dalam kelompok agar menjadi tahu, mau, dan mampu menyerap serta menerapkan inovasi yang
akan meningkatkan kesejahteraannya.
Pengukuran karakteristik anggota kelompok di empat kelompok tani Kelurahan Pasir Putih,
menggunakan pendekatan sosiografis dan psikografis. Menurut Siregar dan Pasaribu (2000),
pendekatan sosiografis adalah cara mengenali khalayak dengan mempertimbangkan latar belakang
seseorang, seperti umur, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, pengalaman dan posisi seseorang
dalam kehidupan sosial. Pendekatan psikografis adalah cara mengenali karakteristik khalayak
dengan mempertimbangkan kecenderungan psikologis seseorang yang meliputi faktor motivasi,
kebutuhan rasa aman, kesenangan, keterlibatan seseorang, dan hal lain yang berhubungan dengan
cita rasa. Hasil penelitian Arimbawa (2004), menunjukkan bahwa karakteristik anggota kelompok
pada petani tanaman padi dapat diukur melalui beberapa indikator, yaitu umur, pendidikan, motivasi,
luas lahan, pengalaman usahatani. Pendekatan sosiografis yang diukur dalam penelitian ini adalah
umur, pendidikan, persepsi, pengalaman usahatani, sedangkan pendekatan psikografis yang diukur
adalah akses anggota terhadap informasi, motivasi, dan keterlibatan anggota kelompok dalam
kelompok tani.
Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan hubungan faktor internal dan eksternal anggota
dengan persepsi anggota terhadap peran kelompok tani sebagai kelas belajar, wahana kerjasama,
dan unit produksi usahatani; menjelaskan hubungan peran kelompok tani dengan kemampuan
anggota kelompok tani dalam penguasaan teknologi budidaya belimbing; dan mengetahui peran
penyuluh pertanian untuk meningkatkan kemampuan anggota dalam penguasaan teknologi budidaya
belimbing.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dengan menggunakan metode
survei untuk menjelaskan hubungan antara beberapa variabel penelitian terpilih berdasarkan kajian
teoritis dan permasalahan yang ada di lokasi penelitian. Penelitian ini menggunakan dua jenis data,
yaitu data primer dan data sekunder. Pengumpulan data primer melalui pengisian kuesioner
penelitian disertai wawancara mendalam dan observasi kegiatan di lahan usahatani. Data sekunder
diperoleh dari dinas pertanian, kelurahan, dan kelompok tani.
Pengambilan sampel dilakukan pada empat kelompok tani belimbing yang ada di Kelurahan
Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat dengan jumlah 40 responden.
Sampel dipilih secara acak sebanyak 70% dari seluruh anggota pada empat kelompok tani
belimbing.
Variabel pengaruh pada penelitian ini adalah karakteristik anggota kelompok, yang terdiri
dari umur (X1), pendidikan formal (X2), pendidikan nonformal (X3), persepsi anggota terhadap
kepemimpinan dan kerjasama kelompok (X4), pengalaman usahatani (X5), motivasi (X6), akses
134
Yani, Persepsi Anggota Terhadap Peran Kelompok Tani
anggota terhadap informasi (X7), dan keterlibatan anggota terhadap kelompok (X8). Variabel
terpengaruhnya adalah persepsi anggota kelompok tani terhadap peran kelompok sebagai kelas
belajar, unit produksi usahatani, dan unit kerjasama (Y1) dan kemampuan anggota dalam
penguasaan teknologi budidaya (Y2).
Analisis data dilakukan secara deskriptif dan inferensial, yaitu dengan menampilkan distribusi
frekuensi, dan persentase, serta analisis statistik inferensial dengan menggunakan uji korelasi Rank
Spearman pada taraf kepercayaan 0,05%.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Individu
Karakteristik individu adalah sifat-sifat yang ditampilkan seseorang yang berhubungan
dengan semua aspek kehidupannya di dunia atau lingkungan sendiri (Reksowardoyo, 1983).
Karakteristik individu anggota kelompok perlu untuk dikenali, karena anggota kelompok merupakan
sasaran yang ingin dicapai dalam meningkatkan kemampuan anggota kelompoknya.
Karakteristik individu petani yang dipaparkan dalam artikel ini adalah umur yang disajikan
pada Tabel 1.
Tabel 1. Sebaran Responden Berdasarkan Umur
Kategori umur
Muda (umur 25 – 39 thn)
Dewasa pertengahan
(umur 40 – 53thn)
Tua (umur 54 – 67 thn)
Total
Jumlah responden (n)
11
20
Persentase (%)
27,5
50,0
9
40
22,5
100,0
Terdapat (50%) responden berusia dewasa pertengahan, yang menunjukkan bahwa anggota
kelompok sebagian besar berusia produktif, mampu menjalankan akftifitas usahatani, serta dapat
berinteraksi dengan anggota kelompoknya, sehingga diperoleh hasil berkualitas serta produksi tinggi.
Hal ini didukung oleh Havighurst dalam Toha dan Asmoro (2009), yang menyatakan masa dewasa
pertengahan adalah masa dimana pria dan wanita mencapai puncak interaksi dalam masyarakat dan
pekerjaannya.
Karakteristik berikutnya adalah pendidikan, yang meliputi pendidikan formal dan pendidikan
nonformal. Pendidikan formal dan nonformal anggota kelompok disajikan yang pada Tabel 2.
Tabel 2. Sebaran Responden Berdasarkan Pendidikan Formal dan Nonformal
Kategori pendidikan formal
Kategori pendidikan nonformal
Rendah
Sedang
Tinggi
Jarang
Sedang
Tinggi
(<SMP)
(SMP-SMA)
(>SMA)
(1-3keg)
(4-5keg)
(6keg)
Jumlah responden (n)
11
18
11
5
33
2
Persentase (%)
27,5
45,0
27,5
12,5
82,5
5,0
Sebagian besar anggota kelompok (45%) berpendidikan formal cukup tinggi, yaitu berlatar
belakang pendidikan SMP dan SMA. Hal ini berarti anggota kelompok mempunyai bekal
pengetahuan cukup tinggi, sehingga mempermudah daya serap informasi dan adopsi teknologi.
135
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 133-145
Pendidikan formal juga akan mempengaruhi perilaku, pola pikir, kreatifitas, dan ketrampilan dalam
melakukan usahataninya dan kehidupan bermasyarakat.
Sebagian besar anggota kelompok berpendidikan nonformal cukup tinggi (82,5%). Anggota
kelompok pernah mengikuti pendidikan nonformal, yaitu kegiatan pelatihan, kunjungan lapang
ataupun magang. Anggota kelompok telah mengikuti pelatihan SOP (Standar Operasional
Procedure) belimbing ke daerah/kelompok lain sebanyak 11 orang (27,5%), magang ke
daerah/kelompok lain sebanyak 2 orang (5%). Dengan demikian pengetahuan teknis yang dimiliki
anggota sudah cukup tinggi.
Kedua hal tersebut sejalan dengan pendapat Soekartawi (1988), yang menyatakan
pendidikan merupakan sarana belajar untuk menanamkan pengertian dan sikap yang
menguntungkan menuju praktek yang lebih modern. Pendidikan dapat diperoleh petani dari dua
sumber, yaitu formal dan nonformal.
Persepsi anggota terhadap kepemimpinan kelompok, kerjasama kelompok dengan kelompok
lain/gapoktan dan penyuluh disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Sebaran Responden Berdasarkan Kategori Persepsi
Kategori persepsi
Rendah ( skor < 8,67)
Sedang (skor 8,67 – 10,33)
Tinggi (skor > 8,67)
Total
Jumlah responden ((n)
1
7
32
40
Persentase (%)
2,5
17,5
80,0
100,0
Persepsi anggota kelompok terhadap kepemimpinan kelompok, kerjasama kelompok dengan
kelompok lain/gapoktan dan penyuluh tergolong tinggi (80%). Anggota kelompok berpersepsi baik
terhadap kepemimpinan kelompok, kerjasama dengan kelompok lain, dan kerjasama dengan
penyuluh. Menurut Asngari (1984), persepsi yang benar terhadap suatu obyek sangat diperlukan,
karena persepsi merupakan dasar pembentukan sikap dan perilaku.
Pengalaman usahatani memberikan pandangan atau keputusan seseorang terhadap
sesuatu yang akan dilakukan. Pengalaman usahatani anggota kelompok tersaji dalam Tabel 4.
Tabel 4. Sebaran Responden Berdasarkan Kategori Pengalaman Usahatani
Kategori pengalaman usahatani
Rendah (< 4,0 tahun)
Sedang (4,0 – 6,0 tahun)
Tinggi
Total
Jumlah responden (n)
6
Persentase (%)
15,0
28
70,0
6
15,0
(> 6,0 tahun)
40
100,0
Pengalaman usahatani yang dimiliki oleh anggota kelompok tergolong sedang (70%).
Anggota kelompok sebagian besar telah melakukan usahatani belimbing sejak sebelum masuk
kelompok/usahatani sendiri, sekitar 1-5 tahun (35%), 6-10 tahun (27,5%), dan di atas 10 tahun
(30%). Sebagian besar anggota telah mempunyai pengalaman usahatani di atas 5 tahun.
Motivasi merupakan faktor intrinsik dalam diri seseorang yang dapat mempengaruhi
persepsi. Hal ini sejalan dengan pendapat Terry dalam Riduwan (2007), bahwa motivasi merupakan
136
Yani, Persepsi Anggota Terhadap Peran Kelompok Tani
keinginan yang terdapat pada diri seseorang individu yang merangsangnya untuk melakukan
tindakan. Motivasi anggota kelompok disajikan pada Tabel 5.
Tabel 5. Sebaran Responden Berdasarkan Kategori Motivasi
Kategori motivasi
Rendah (skor < 10,67)
Sedang (skor 10,67-11,33)
Tinggi (skor >11,33)
Total
Jumlah responden (n)
5
19
16
40
Persentase (%)
12,5
47,5
40,0
100,0
Terdapat (47,5%) responden mempunyai motivasi yang tegolong sedang. Motivasi dalam
penelitian ini meliputi motif berkelompok, kebutuhan yang ingin dicapai melalui kelompok, dan
harapan yang diinginkan setelah mengikuti kelompok. Beberapa anggota bergabung menjadi
anggota kelompok hanya untuk menambah teman, serta kebutuhan yang ingin dipenuhi adalah untuk
mendapat bantuan usahatani yang berupa bibit, pupuk, dan obat. Harapan yang diinginkan anggota
setelah masuk kelompok adalah menambah pendapatan keluarga dan menambah pengetahuan,
sikap, dan ketrampilan usahatani.
Karakteristik anggota selanjutnya adalah akses anggota terhadap sumber informasi,
khususnya TV, radio, internet, dan hand phone (hp), yang disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Sebaran RespondenB Kategori Akses Anggota Terhadap Sumber Informasi
Kategori akses tehadap sumber
informasi
Rendah ( skor < 19,7)
Sedang (skor 19,7 – 22,3)
Tinggi (skor > 22,3)
Total
Jumlah responden (n)
5
24
11
40
Persentase (%)
12,5
60,0
27,5
100,0
Akses anggota kelompok terhadap sumber informasi dalam 6 bulan terakhir, tergolong
sedang (60%). Sebagian besar anggota mengakses informasi menggunakan TV dengan frekuensi
sekitar 2 - 3 kali dalam 6 bulan terakhir. Anggota kelompok mengakses media elektronik dengan
alasan sebagai sarana komunikasi serta memperoleh informasi usahatani. Media elektronik yang
dipilih, yaitu TV (60%), radio (12,0%), telepon genggam (50%), dan tidak ada yang menggunakan
internet. Untuk media nonelektronik, anggota kelompok lebih banyak membaca buku tentang SOP
belimbing atau budidaya belimbing (77,5%), poster (72,5%), brosur (57,5%), dan majalah (62,5%).
Untuk mengakses sumber informasi interpersonal, anggota kelompok selain memilih pedagang
sebagai penyedia saprodi (sarana produksi), juga menjalin hubungan dengan petani dalam kelompok
(100%), penyuluh (92,5%), petani di luar kelompok (77,5%), dan tengkulak (87,5%).
Keterlibatan anggota dalam kelompok dinilai dari seberapa besar partisipasinya dalam
kegiatan kelompok. Keterlibatan anggota dalam kegiatan kelompok disajikan pada Tabel 7.
Keterlibatan anggota dalam kelompok tergolong tinggi (77,5%). Keterlibatan anggota
kelompok dapat dirasakan oleh anggota kelompok pada saat seluruh anggota berperan aktif dalam
pengambilan keputusan kelompok. Seperti pendapat Danim (2004), upaya merangsang efektivitas
kelompok dapat dicapai bila setiap anggota mampu mengerjakan tugas kelompok secara bersamasama. Salah satu cara yang dilakukan yaitu penerapan metode pembuatan keputusan kelompok.
Cara ini sangat efektif, karena setiap anggota merasa bahwa keputusan kelompok merupakan
137
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 133-145
keputusannya sendiri, sehingga anggota menjadi lebih serius menghadapi keinginan yang dirasakan
sebagai milik sendiri.
Tabel 7. Sebaran Responden Berdasarkan Kategori Keterlibatan Anggota Terhadap
Kegiatan Kelompok
Kategori keterlibatan terhadap
kegiatan kelompok
Rendah (skor < 6,0)
Sedang (skor 6,0 – 7,0)
Tinggi (skor > 7,0)
Total
Jumlah responden (n)
1
8
31
40
Persentase (%)
2,5
20,0
77,5
100,0
Persepsi Anggota terhadap Peran Kelompok Tani sebagai Kelas Belajar, Unit Produksi
Usahatani, Wahana Kerjasama
Persepsi yang dimaksud adalah interpretasi anggota kelompok terhadap suatu obyek.
Persepsi akan mempengaruhi pola interaksi anggota kelompok dalam melakukan usahataninya
secara individual maupun kelompok. Persepsi yang baik terhadap suatu kelompok, akan
menyebabkan sikap dan perilaku yang baik dari anggota terhadap kelompoknya. Salah satu
karakteristik kelompok tani adalah fungsi kelompok tani sebagai: kelas belajar; unit produksi
usahatani; dan wahana sebagai kelas kerjasama.
Persepsi anggota terhadap peran kelompok tani sebagai kelas belajar disajikan pada Tabel
8.
Tabel 8. Sebaran Responden Berdasarkan Kategori Persepsi Anggota Terhadap Peran
Kelompok Sebagai Kelas Belajar
Kategori persepsi anggota terhadap
peran kelompok sebagai kelas belajar
Rendah (skor < 16,0)
Sedang (skor 16,0 – 17,0)
Tinggi (skor > 17,0)
Total
Jumlah responden (n)
8
29
3
40
Persentase (%)
20,0
72,5
7,5
100,0
Persepsi anggota terhadap peran kelompok sebagai kelas belajar dalam kategori sedang
(72,5%). Hal ini menunjukkan bahwa petani lebih banyak belajar bukan dari kelompok, melainkan
dari sesama anggota kelompok atau di luar kelompok. Antar sesama anggota ataupun di luar
kelompok, mereka sering bertukar pikiran untuk memecahkan masalah yang dihadapi, saling
bertukar informasi usahatani. Dengan demikian mereka dapat berinteraksi bukan hanya difasilitasi
sepenuhnya oleh kelompok, tetapi lebih banyak didapat dari teman sekelompoknya atau di luar
kelompoknya. Seperti hasil wawancara dengan bapak X, anggota salah satu kelompok tani, yang
mengatakan bahwa antaranggota kelompok tani saling bertukar informasi dan berdiskusi dalam
memecahkan masalah usahatani, misal dalam menghadapi serangan hama lalat buah pada tanaman
belimbing.
Persepsi anggota terhadap peran kelompok tani sebagai unit produksi usahatani disajikan
pada Tabel 9.
Persepsi anggota terhadap peran kelompok sebagai unit produksi usahatani tergolong
sedang (50,0%). Dalam hal ini anggota kelompok merasa bahwa keberadaan kelompok sebagai unit
138
Yani, Persepsi Anggota Terhadap Peran Kelompok Tani
produksi usahatani belum sepenuhnya membantu, karena sampai saat ini peran kelompok baru
memfasilitasi penyediaan bantuan sarana produksi dari Dinas Pertanian yang jumlahnya terbatas.
Kelompok belum dapat mengembangkan sendiri pemenuhan sarana produksi untuk kepentingan
anggotanya.
Tabel 9. Sebaran Responden Berdasarkan Kategori Persepsi Anggota Terhadap Peran
Kelompok Sebagai Unit Produksi Usahatani
Kategori peran kelompok sebagai unit
produksi
Rendah (skor < 86,33)
Sedang (skor 86,33 – 109,67)
Tinggi
(skor >109,67)
Total
Jumlah responden (n)
10
20
10
40
Persentase (%)
25,0
50,0
25,0
100,0
Persepsi anggota terhadap peran kelompok tani sebagai wahana kerjasama disajikan pada
Tabel 10.
Tabel 10. Sebaran Responden Berdasarkan Kategori Persepsi Anggota Terhadap Peran Kelompok
Sebagai Wahana Kerjasama
Kategori peran kelompok sebagai
wahana kerjasama
Rendah (skor < 5,67)
Sedang (skor 5,67 – 9,33)
Tinggi
(skor > 9,33)
Total
Jumlah responden (n)
Persentase (%)
10
18
12
40
25,0
45,0
30,0
100,0
Persepsi anggota terhadap peran kelompok tani sebagai wahana kerjasama tergolong
sedang (45%). Hal ini berarti anggota kelompok merasa bahwa keberadaan kelompok sebagai
wahana kerjasama belum sepenuhnya terjalin dengan baik. Beberapa anggota kelompok
menyatakan bahwa pemasaran hasil ke koperasi masih tersendat, hal ini disebabkan karena (1) daya
tampung koperasi terhadap hasil usahatani masih terbatas, sehingga pada panen raya hasil
usahatani anggota tidak tertampung seluruhnya, (2) kordinator wilayah sebagai perwakilan dari
Gapoktan belum bisa mengelola pemasaran hasil usahatani seluruh anggota kelompok ke koperasi,
(3) koperasi dalam membayar hasil usahatani tidak dilakukan secara tunai melainkan dibayarkan
lebih kurang satu minggu sesudah hasil usahatani diterima oleh koperasi, dan (4) koperasi dalam
melakukan penimbangan dan grading hasil usahatani dilakukan oleh pihak koperasi saja, tanpa
disaksikan oleh anggota kelompok sebagai penjual. Karena hal-hal tersebut di atas, maka sebagian
besar anggota kelompok menjual hasil usahatani ke tengkulak (87,5%), koperasi (10,0%), pasar
tradisional (2,5%).
Sementara itu kerjasama pencariaan modal atau lembaga permodalan formal baru
dilakukan dengan Bank Mandiri. Namun belum dapat diakses oleh semua anggota kelompok, karena
lembaga penyedia kredit tersebut menerapkan persyaratan yang dirasa memberatkan oleh anggota
kelompok.
Kemampuan Anggota dalam Penguasaan Teknologi Budidaya
Dalam studi ini yang dimaksud dengan kemampuan petani anggota kelompok dalam
penerapan teknologi usahatani yaitu petani mampu dalam menerapkan teknologi usahatani dengan
139
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 133-145
baik dan benar. Kemampuan para anggota kelompok dalam penerapan teknologi usahatani dapat
dilihat dari berbagai keragaman kemampuan yang dimilikinya, salah satunya adalah kemampuan
dalam penguasaan teknologi budidaya. Kemampuan anggota dalam penguasaan teknologi budidaya
terdapat pada Tabel 11.
Tabel 11. Sebaran Responden Berdasarkan Kategori Kemampuan Anggota Dalam
Penguasaan Teknologi Budidaya
Kategori kemampuan anggota dalam
penguasaan teknologi budidaya
Rendah (< 30,0)
Sedang (30,0 – 39,0)
Tinggi (> 39,0)
Total
Jumlah responden (n)
Persentase (%)
2
0
38
40
5,0
0,0
95,0
100,0
Sebagian besar anggota kelompok mempunyai kemampuan dalam penguasaan teknologi
budidaya (95%). Penguasaan teknologi ini didapat dari hasil interaksi anggota kelompok dengan
sesama anggota, atau juga anggota kelompok dengan penyuluh melalui kegiatan pelatihan,
kunjungan lapang dan magang yang difasilitasi oleh kelompok. Di samping itu anggota kelompok
juga sudah mempunyai dasar pengetahuan tentang budidaya belimbing sejak sebelum mengikuti
kelompok. Kemampuan anggota diukur dari pengetahuan yang dimiliki dan kemauan untuk
melakukan setiap kegiatan dalam tahapan budidaya. Anggota kelompok sebagian besar memiliki
kemampuan untuk melakukan semua kegiatan pada setiap tahapan dalam kegiatan budidaya,
contohnya pada kegiatan penyiapan lahan, anggota kelompok mampu untuk melakukan (1)
pembersihan lahan, (2) pengajiran, (3) pembuatan lubang tanam dan pemupukan awal, (4)
menentukan jarak tanam. Beberapa anggota kelompok mengatakan telah memiliki kemampuan
dalam penguasaan teknologi budidaya, meliputi kegiatan penyiapan lahan (85%), penyiapan bibit
(100%), penanaman (100%), pemupukan (82,5%), pengairan (47,5%), pemangkasan (37,5%),
pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman) (55%), sanitasi kebun (100%), penjarangan
buah (95,0%), pembungkusan buah (95%), panen (92,5%), pembersih dan grading (85%).
Hubungan Faktor Internal Anggota dengan Peran Kelompok Tani sebagai Kelas Belajar, Unit
Produksi Usahatani, dan Wahana Kerjasama
Hasil analisis hubungan faktor internal anggota kelompok dengan persepsi anggota terhadap
peran kelompok disajikan pada Tabel 12.
Hasil analisis Tabel 12 memperlihatkan bahwa terdapat hubungan positif yang sangat nyata
antara persepsi anggota dengan peran kelompok sebagai kelas belajar. Artinya anggota kelompok
mempunyai harapan yang besar terhadap kelompok sebagai wadah untuk interaksi anggota
kelompok dalam rangka pengembangan usahatani, yang di dalamnya terdapat suasana kelompok
yang akrab satu sama lain, saling menghargai antar pendapat, dan saling kerjasama.
Tabel 12 memperlihatkan pengalaman usahatani mempunyai hubungan positif yang nyata
dengan peran kelompok sebagai unit produksi usahatani. Artinya pengalaman usahatani meningkat,
maka peran kelompok sebagai unit produksi usahatani juga akan lebih baik lagi. Hal ini dapat
dijelaskan bahwa semakin lama anggota kelompok berusahatani, maka semakin besar keinginan
mereka untuk meningkatkan pengetahuan tentang usahataninya, sehingga memberikan hasil
berkualitas dan produksi yang tinggi. Anggota kelompok mencari sumber teknologi, yang sebagian
140
Yani, Persepsi Anggota Terhadap Peran Kelompok Tani
besar mereka peroleh melalui interaksi anggota dengan wadah kelompok. Di samping mencari
sumber teknologi, mereka juga mencari sumber sarana produksi untuk menunjang kegiatan
usahataninya.
Tabel 12. Hubungan Faktor Internal Anggota Kelompok Dengan Peran Kelompok
Sebagai Kelas Belajar, Unit Produksi Usahatani, dan Wahana Belajar
Faktor internal
Peran kelompok
sebagai kelas belajar
Umur
-0,260
Peran kelompok
sebagai unit produksi
usahatani
0,265
Pendidikan formal
0,266
0,305
0,136
Pendidikan non formal
Persepsi terhadap
kepemimpinan kelompok dan
kerjasama kelompok
0,005
0,063
0,127
0,449**
0,079
0,266
Motivasi
0,084
-0,121
0,015
0,092
0,397*
Pengalaman usahatani
Keterangan : * hubungan nyata pada taraf 5%
** hubungan sangat nyata pada taraf 5%
Peran kelompok
sebagai wahana
kerjasama
0,118
0,338*
Hubungan positif yang nyata antara pengalaman usahatani dengan peran kelompok sebagai
wahana kerjasama memberikan gambaran bahwa dengan semakin lama mereka berusahatani,
mereka menginginkan adanya hubungan kerjasama yang lebih baik lagi, baik dari segi permodalan
dan pemasaran hasil usahatani, sehingga kontinuitas usahatani akan tetap terjaga.
Kedua pernyataan di atas didukung oleh pendapat Middlebrook dalam Arimbawa (2004),
yang menyatakan bahwa bagi orang yang telah lama menggeluti suatu pekerjaan akan menjadi lebih
terampil dan cenderung menghasilkan suatu hasil yang lebih baik daripada orang yang baru.
Hubungan Faktor Eksternal Anggota Peran Kelompok Tani sebagai Kelas Belajar, Unit
Produksi Usahatani, dan Wahana Kerjasama
Hasil analisis hubungan faktor eksternal anggota kelompok dengan persepsi anggota
terhadap peran kelompok disajikan dalam Tabel 13.
Tabel 13. Hubungan Faktor Eksternal Anggota Kelompok Dengan Peran Anggota Kelompok
Sebagai Kelas Belajar, Unit Produksi Usahatani Dan Wahana Belajar
Faktor eksternal
Peran kelompok
sebagai kelas belajar
Akses anggota terhadap
-0,230
informasi
Keterlibatan anggota dalam
0,325*
kegiatan kelompok
Keterangan : * hubungan nyata pada taraf 5%
**hubungan sangat nyata pada taraf 5%
Peran kelompok
sebagai unit produksi
usahatani
0,155
-0,221
Peran kelompok
sebagai wahana
kerjasama
0,367*
0,180
Tabel 13 memperlihatkan akses informasi anggota kelompok berhubungan positif nyata
terhadap wahana kerjasama. Hal ini berarti semakin tinggi akses informasi, maka peran kelompok
sebagai wahana kerjasama semakin meningkat. Hal ini menggambarkan dengan semakin seringnya
141
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 133-145
anggota kelompok berinteraksi melalui media elektronik, nonelektronik, maupun interpersonal, maka
wawasan anggota akan semakin bertambah, baik informasi permodalan maupun pemasarannya.
Tabel 13 memperlihatkan adanya hubungan yang nyata antara keterlibatan anggota dengan
peran kelompok sebagai kelas belajar. Jika keterlibatan anggota meningkat, maka peran kelompok
sebagai kelas belajar juga meningkat. Hal ini berarti bahwa interaksi antar anggota memerlukan
suatu wadah belajar, yang mampu membawa anggota untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan
yang memadai baik secara teori maupun praktek.
Hubungan antara Peran Anggota Kelompok dengan Kemampuan Anggota dalam Penguasaan
Teknologi Budidaya
Terdapat hubungan positif yang nyata antara peran kelompok sebagai kelas belajar dengan
kemampuan anggota dalam penguasaan teknologi budidaya (0,362). Jika peran kelompok sebagai
kelas belajar meningkat, maka kemampuan anggota dalam penguasaan teknologi budidaya juga
akan meningkat. Beberapa anggota kelompok mengatakan, bahwa kemampuan anggota dalam
penguasaan teknologi budidaya mulai dari penyiapan lahan sampai dengan pembersihan, sortasi
dan grading semakin bertambah dengan adanya interaksi antar anggota dalam kelompok maupun
dengan penyuluh dengan wadah kelompok sebagai kelas belajar. Seperti dalam penelitian Yani
(2009), dengan fasilitas kelompok, anggota bisa saling berbagi pengalaman usahatani, saling
berdiskusi untuk memecahkan masalah yang dihadapi, saling menimba ilmu usahatani, dan saling
memotivasi untuk meningkatkan usahatani.
Kelompok sebagai wadah anggota untuk belajar, menjadikan anggota mempunyai
kemampuan untuk melakukan semua kegiatan yang merupakan skor tertinggi kemampuan yang
dimiliki anggota pada setiap kegiatan budidaya yang meliputi kegiatan penyiapan lahan (85%),
penyiapan bibit (100%), penanaman (100%), pengairan (47,5%), pemangkasan (37,5%),
pengendalian OPT (55%), sanitasi kebun (100%), penjarangan buah (95%), pembungkusan buah
(95%), panen (92,5%), dan pembersihan, sortasi, grading (85%).
Peran kelompok sebagai wahana kerjasama mempunyai hubungan positif yang nyata
dengan kemampuan anggota dalam penguasaan teknologi budidaya (0,373). Jika peran kelompok
sebagai wahana kerjasama semakin tinggi, maka kemampuan anggota dalam penguasaan teknologi
budidaya akan semakin baik. Keadaan ini menggambarkan bahwa kelompok berusaha memfasilitasi
untuk melakukan kerjasama pendanaan dengan pihak lain untuk kepentingan anggota kelompok.
Kerjasama kelompok, dalam hal ini melalui gapoktan dilakukan dengan Koperasi Belimbing Dewa
Depok untuk menampung hasil usahatani anggota kelompok. Selain itu kelompok melalui gapoktan
melakukan kerjasama kredit dengan Bank Mandiri. Beberapa kerjasama lain dilakukan dengan pihakpihak yang bersedia mengadakan pameran. Dengan adanya fasilitas yang diberikan kelompok, maka
anggota termotivasi untuk meningkatkan kemampuan usahataninya melalui penguasaan teknologi
budidaya yang benar, agar buah yang dihasilkan mempunyai kualitas yang baik, sehingga dapat
ditampung di koperasi ataupun layak untuk ditampilkan di pameran.
Peran Penyuluh dalam Perencanaan, Pelaksanaan dan Evaluasi Program Penyuluhan
Perencanaan
Perencanaan program yang disusun oleh penyuluh berdasarkan urutan sebagai berikut: (1)
pengumpulan data keadaan, (2) analisis data dan keadaan, (3) identifikasi masalah, (4) pemilihan
masalah yang hendak dipecahkan, (5) perumusan tujuan, (6) perumusan alternatif pemecahan
142
Yani, Persepsi Anggota Terhadap Peran Kelompok Tani
masalah, (7) perumusan cara mencapai tujuan. Selanjutnya hasil perencanaan program
dilaksanakan dan dievaluasi bersama, antara penyuluh dan anggota kelompok.
Dari hasil wawancara dengan penyuluh, diperoleh keterangan mengenai data potensi
wilayah. Data yang diambil dari kelompok secara langsung, terdiri dari: data AD/ART kelompok, data
anggota kelompok, data luas lahan yang diusahakan, data keuangan kelompok, data kegiatan
kelompok, dan sebagainya.
Penyuluh menganalisis data dan keadaan. Data yang dianalisis adalah data tentang (a)
sumber daya alam dan sumber daya manusia, (b) teknologi yang digunakan, (c) sarana dan
prasarana yang ada, (d) kebutuhan yang dirasakan anggota, serta (e) peraturan yang berasal dari
Dinas Pertanian yang perlu disosialisasikan ke anggota kelompok.
Dari hasil wawancara dengan penyuluh dan anggota kelompok, kesenjangan yang dihadapi
adalah masalah permodalan dan pemasaran hasil. Anggota kelompok sebagian besar berusahatani
dengan modal sendiri, karena kerjasama dengan Bank Mandiri mempunyai persyaratan yang cukup
memberatkan petani. Selain kendala di bidang permodalan, anggota kelompok terkendala di bidang
pemasaran hasil yaitu dalam hal penampungan hasil usahatani. Sampai saat ini penampungan hasil
usahatani selain dijual ke pasar tradisional atau tengkulak, juga dipasarkan melalui Koperasi
Belimbing Dewa Depok. Namun tidak semua hasil usahatani anggota kelompok dapat tertampung di
koperasi tersebut, apalagi kalau bertepatan dengan panen raya.
Sejauh ini menurut hasil wawancara dengan penyuluh dan anggota kelompok, masalah
umum yang dihadapi penyuluh adalah masalah permodalan dan pemasaran. Sedangkan masalah
khusus yang dihadapi penyuluh dan anggota kelompok adalah kekurangharmonisan antara penyuluh
dengan beberapa kelompok tani dalam melakukan kegiatan usahatani.
Perencanaan program penyuluhan yang disusun oleh penyuluh dilakukan secara realistis
ditinjau dari kemampuan penyuluh, anggota kelompok sebagai sasaran penyuluhan, serta sarana
dan prasarana yang tersedia. Menurut hasil wawancara dengan penyuluh, perumusan tujuan yang
realistis melibatkan anggota kelompok dengan menerima segala masukan yang berupa usulan,
saran bahkan kritikan.
Dalam memilih cara pemecahan masalah di antara berbagai alternatif pemecahan masalah,
penyuluh akan mempertimbangkan kemampuan sumber daya, teknologi yang tersedia, peraturan
yang mendukung, serta pertimbangan mendesak atau tidaknya masalah tersebut untuk dipecahkan.
Menurut hasil wawancara penyuluh dan anggota kelompok, perumusan alternatif pemecahan
masalah dilakukan dengan melibatkan anggota kelompok.
Penyuluh menyusun cara mencapai tujuan yang dilakukan dalam rangka pemecahan
masalah. Perumusan cara mencapai tujuan mencakup data keadaan, impact point, cara mencapai
tujuan, jumlah unit kegiatan dan frekuensinya, lokasi, waktu, tempat, sasaran dan asal sumber dana
yang dituangkan dalam bentuk daftar.
Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan dilakukan setelah perencanaan program disahkan, dan dilakukan
berdasarkan (1) metode yang dipilih, (2) bahan dan alat serta pihak-pihak yang dilibatkan untuk
mendukung terselenggaranya kegiatan, (3) frekuensi, (4) lokasi yang sesuai dengan masalah yang
dihadapi anggota kelompok, (5) waktu yang tepat, dan (6) jumlah dan sumber dana yang diperlukan.
143
Jurnal Matematika, Sains, dan Teknologi, Volume 11, Nomor 2, September 2010, 133-145
Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi kegiatan dilakukan dengan menggunakan pedoman evaluasi yang
jelas, terukur, dan dilengkapi dengan indikator keberhasilan. Di wilayah Pasir Putih, penyuluh
melakukan evaluasi program bersama 4 kelompok tani. Selanjutnya penyuluh melakukan perbaikan
perencanaan program untuk tahun berikutnya berdasarkan hasil evaluasi program yang telah
dilakukan oleh anggota kelompok tani di wilayah tersebut.
KESIMPULAN
Persepsi anggota terhadap peran kelompok tani sebagai kelas belajar, unit produksi
usahatani, dan wahana kerjasama tergolong cukup baik. Kelompok sebagai kelas belajar memaknai
kelompok bukan sebagai tempat secara fisik, tetapi lebih pada di mana anggota bertemu dengan
suasana yang akrab, saling menghargai pendapat antar anggota, tempat untuk memecahkan
masalah dan berdiskusi masalah usahatani. Kelompok sebagai unit produksi usahatani baru
berperan untuk memfasilitasi pendistribusian, tetapi belum memfasilitasi pengadaan sarana produksi
untuk anggota kelompok. Kelompok sebagai wahana kerjasama telah menjalin kerjasama
permodalan dengan Bank Mandiri, dan menjalin pemasaran dengan Koperasi Belimbing Dewa
Depok, namun kelompok belum membuat terobosan kerjasama permodalan dan pemasaran ke
tempat lain, untuk alternatif permodalan dan pemasaran. Untuk itu perlu dukungan dari pihak
penyuluh yang selama ini belum intensif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi anggota
kelompok dalam pemasaran dan permodalan.
Secara umum kemampuan anggota terhadap penerapan teknologi usahatani tergolong
tinggi. Anggota kelompok telah mampu melakukan semua kegiatan dalam setiap tahapan budidaya.
REFERENSI
Arimbawa, P. (2004). Peran kelompok untuk meningkatkan kemampuan anggota dalam penerapan
inovasi teknologi. Tesis Magister yang tidak dipublikasikan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Asngari, P.S. (1984). Persepsi direktur penyuluhan tingkat karesidenan dan kepala penyuluh
pertanian terhadap peranan dan fungsi lembaga penyuluhan pertanian di Negara Bagian
Texas, Amerika Serikat. Media Peternakan, 9(2).
Danim, S. (2004). Motivasi, kepemimpinan, dan efektivitas kelompok. Jakarta: PT: Rineka Cipta.
[Deptan] Departemen Pertanian. (2007). Pedoman penumbuhan dan pengembangan kelompok tani
dan gabungan kelompok tani. Jakarta: Deptan.
Mulyana, D. (2001). Ilmu komunikasi suatu pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Puspadi, K. (2002). Rekonstruksi sistem penyuluhan pertanian. Disertasi doctoral yang tidak
dipublikasikan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Reksowardoyo. (1983). Hubungan beberapa karakteristik warga desa Sarampad kabupaten Cianjur
dan persepsi mereka tentang ternak kelinci. [Karya Ilmiah]. Bogor: Fakultas Peternakan,
Institut Pertanian Bogor.
Riduwan. (2007). Skala pengukuran variabel-variabel penelitian. Bandung: Penerbit Alfabeta.
Siregar, A. & Pasaribu, R. (2000). Bagaimana mengelola media korporasi organisasi. lembaga
penelitian, pendidikan dan penerbitan yogyakarta (LP3Y). Yogyakarta: Kanisius.
Soekartawi. (1988). Prinsip dasar komunikasi pertanian. Jakarta: Universitas Indonesia.
144
Yani, Persepsi Anggota Terhadap Peran Kelompok Tani
Toha, R & Hendro A. (2009). Pendekatan penididikan orang dewasa. Memahami orang dewasa dan
cara orang dewasa belajar. Jakarta: Golden Media.
Yani, D.E. (2009). Persepsi anggota terhadap peran kelompok tani pada penerapan teknologi
usahatani belimbing. Tesis Master yang tidak dipublikasikan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
145
Fly UP