...

kualitas pupuk organik dari limbah padat industri pulp dan

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

kualitas pupuk organik dari limbah padat industri pulp dan
LEMBAR ABSTRAK
Dari penelitian pembuatan pupuk organik yang dibuat dari limbah padat industri
pulp (sludge) plus arang serbuk gergaji diperoleh hasil: kadar air 32,90-39,40%;
pH 6,70-6,90; nisbah C/N 18,70-23,70; C organik 24,17-28,26%; N 1,19-1,29%;
P2O5 total 0,53-0,63%; CaO total 0,27-0,34%; MgO total 0,26-0,27%; K2O total
0,63-0,68% dan KTK 29,34-32,44 meq/100 g. Kandungan logam berat Pb 0,070,09 ppm dan Cd 0,02 ppm.
Kata kunci : limbah padat industri pulp, pupuk organik, peningkatan kualitas
ABSTRACT
The organic fertilizer manufactured from pulp-mill sludge addded with sawdust
charcoal revealed specific characteristics, i.e. moisture content at 32.90-39.40%, pH
6.70-6.90, C/N ratio 18.70-23.70, C organic 24.17-28.26%, N 1.19-1.29%, total P2O5
0.53-0.63%, total CaO 0.27-0.34%, total MgO 0.26-0.27%, total K2O 0.63-0.68%,
and cation-exchange capacity 29.34-32.44 meq/100 g. Heavy metals content in the
fertilizer consisted of Pb 0.07-0.09 ppm and Cd 0.02 ppm.
Keywords : pulp-mill sludge, organic fertilizer, quality improvement
KARAKTERISTIK PUPUK ORGANIK LIMBAH PADAT INDUSTRI PULP
PLUS ARANG SERBUK GERGAJI
(Characteristics of Organic Fertilizer from Pulp-Mill Sludge Added with
Sawdust Charcoal)
Oleh/By:
Sri Komarayati
ABSTRACT
This experiment was conducted on fermenting the sludge from a pulp mill
into organic fertilizer. The pulp mill uses raw material of mangium (Acacia
mangium) wood. The composting process was assisted by adding to the sludge
decomposting-activator (10%). Besides, sawdust charcoal was also added (10%)
to the sludge. The mixture of sludge, decomposting activator, and sawdust
charcoal was rigorously agitated until homogenous, and subsequently let for 60
days thereby ensuring the process to completion. Afterwards, the resulting
organic fertilizer was dried, crushed to tiny pieces, sieved, and then ready for use.
The organic fertilizer revealed specific characteristics, i.e. moisture
content at 32.90-39.40%, pH 6.70-6.90, C/N ratio 18.70-23.70, C organic 24.1728.26%, N 1.19-1.29%, total P2O5 0.53-0.63%, total CaO 0.27-0.34%, total
MgO 0.26-0.27%, total K2O 0.63-0.68%, and cation-exchange capacity 29.3432.44 meq/100 g. Heavy metal content in the fertilizer consisted of Pb 0.07-0.09
ppm and Cd 0.02 ppm. To improve quality of the organic fertilizer, it should be
mixed with consecutively ectomycorhiza spore and clay soil.
Keywords : pulp-mill sludge,decomposting activator, organic fertilizer, sawdust
charcoal, quality improvement
1
ABSTRAK
Penelitian ini mengemukakan proses pembuatan pupuk organik dari
limbah padat industri pulp dengan bahan baku kayu mangium (Acacia mangium).
Proses pengomposan berlangsung dengan adanya penambahan aktivator sebesar
10% pada limbah padat industri pulp. Selain itu ditambahkan juga arang serbuk
gergaji sebesar 10%. Campuran limbah padat, aktivator dan arang serbuk gergaji
diaduk sampai homogen dan dibiarkan selama 60 hari. Setelah selesai proses
pengomposan, pupuk organik plus arang serbuk gergaji dijemur, digiling dan
disaring, akhirnya siap untuk digunakan.
Dari penelitian pembuatan pupuk organik plus arang serbuk gergaji
diperoleh hasil sebagai berikut: kadar air 32,90-39,40%; pH 6,70-6,90; nisbah
C/N 18,70-23,70; C organik 24,17-28,26%; N 1,19-1,29%; P2O5 total 0,53-0,63%;
CaO total 0,27-0,34%; MgO total 0,26-0,27%; K2O total 0,63-0,68% dan KTK
29,34-32,44 meq/100 g. Kandungan logam berat Pb 0,07-0,09 ppm dan Cd 0,02
ppm.
Untuk meningkatkan kualitas pupuk organik plus arang serbuk gergaji
dilakukan penambahan spora ektomikoriza dan tanah liat yang kemudian dicetak
berbentuk tablet.
Kata kunci : limbah padat industri pulp, aktivator pengomposan, pupuk organik,
arang serbuk gergaji, peningkatan kualitas
I. PENDAHULUAN
Perkembangan industri pulp dan kertas mempunyai prospek yang cukup
cerah, dan produk tersebut mempunyai peranan yang strategis sebagai komoditi
ekspor andalan di sektor non-migas (minyak dan gas bumi). Akan tetapi dari
perkembangan industri tersebut, timbul dampak yang cukup serius yaitu
menumpuknya limbah, baik limbah padat maupun limbah cair.
2
Salah satu cara memanfaatkan limbah padat industri pulp dan kertas yang
mudah dan dapat dikembangkan secara sederhana yaitu melalui proses
pengomposan dengan hasil akhir berupa kompos/pupuk organik. Hal ini didasari
karena limbah padat industri pulp dan kertas mengandung bahan organik sekitar
60%. Selain itu juga limbah tersebut mengandung sumber
karbon yang
diperlukan bagi mikroorganisme dalam proses pengomposan (Anonim, 2003).
Terkait dengan peranan tersebut, telah dilakukan penelitian dengan tujuan
mendapatkan informasi dan teknologi yang tepat dalam memanfaatkan limbah
padat industri pulp menjadi pupuk organik, yang diperkaya dengan penambahan
arang dan mikoriza.
II. BAHAN DAN METODE
A. Bahan
Bahan yang digunakan untuk pembuatan pupuk organik adalah limbah
padat dari industri pulp yang menggunakan bahan baku pulp kayu mangium
(Acacia mangium). Sebagai pemacu proses pengomposan digunakan aktivator
hayati yang terdiri dari bakteri Cytophaga sp. dan fungi Trichoderma
pseudokoningii. Bahan lain adalah arang serbuk gergaji, spora ektomikoriza, tanah
liat dan air secukupnya.
B. Peralatan
Peralatan yang digunakan : pH meter, higrometer, termometer, sekop,
cangkul, bak pengomposan terbuat dari semen dengan volume 1 meter kubik,
bangunan beratap sebagai naungan, karung plastik, timbangan, alat cetak tablet
dan lain-lain terkait.
C. Prosedur Kerja
1. Pembuatan pupuk organik plus arang
Limbah padat ditimbang sebanyak l ton, diberi 10% aktivator (b/b) yang
terdiri dari bakteri Cytophaga sp. dan fungi Trichoderma pseudokoningii,
ditambah arang serbuk gergaji sebesar 10% dari total bahan, kemudian dicampur
3
rata sampai homogen. Selanjutnya ditambah air secukupnya (tidak terlalu basah
dan tidak terlalu kering), diaduk hingga homogen dan merata. Campuran tersebut
dimasukkan ke dalam bak pengomposan yang terbuat dari semen, ditumpuk tidak
terlalu padat dan bagian atas tumpukan ditutup plastik berwarna hitam. Tujuan
ditutup dengan plastik warna hitam (black body) yaitu untuk menjaga kelembaban
di dalamnya agar relatif stabil dan menyerap cahaya dari luar. Cahaya yang tidak
diserap (menembus plastik) pada panjang gelombang ( intensitas getaran) tertentu
dapat mengganggu aktifitas pengomposan (dekomposisi) oleh bakteri atau fungi.
Proses dekomposisi berlangsung selama dua bulan, setiap satu minggu sekali
dilakukan pembong-karan, pengadukan, dan penumpukan kembali. Setiap hari
dilakukan pengukuran (pengamatan) suhu, pH dan kelembaban sampai proses
tersebut berakhir (Gambar 1). Sebelum dan sesudah terbentuknya pupuk organik,
dari proses dekomposisi tersebut dilakukan analisis kadar air, unsur hara makro,
nisbah C/N dan kandungan logam berat. Analisis dilakukan di Laboratorium
Tanah Biotrop, Bogor.
Limbah padat industri pulp dibersihkan dan ditimbang + aktivator + arang serbuk
gergaji + air secukupnya diaduk, ditutup dengan plastik hitam, di biarkan selama dua
bulan, tiap minggu dilakukan pembongkaran, pengadukan dan penumpukan kembali,
setiap hari dicatat suhu, pH dan kelembaban
(Pulp-mill sludge was cleaned, weighed, added with decomposing activator, sawdust
charcoal, and sufficient amount of water; the mixture rigorously agitated, covered
with black plastic, let for 2 months, and recorded each day for temperature, pH and
humidity)
Hasilnya (POA) dibongkar, diaduk, dikeringkan, digiling
dan dimasukkan ke dalam karung
(The mixture (the resulting organic fertilizer / compost plus
sawdust charcoal, removed ( open) of the black plastic
cover, reagitated,milled, and put into plastic sack)
Pupuk organik plus arang siap digunakan
(Organic fertilizer / compost plus sawdust
charcoal ready for use)
Gambar 1. Proses pembuatan pupuk organik plus arang serbuk gergaji (POA)
Figure 1. Manufacturing process of organic fertilizer added with sawdust
charcoal
4
2. Pencampuran pupuk organik plus arang dengan spora mikoriza
Pupuk organik plus arang (POA) yang telah matang dan kering dicampur
tanah liat dengan komposisi 80% POA dan 20% tanah liat, diaduk sampai
homogen. Kemudian campuran tersebut ditambah spora ektomikoriza sebesar 5%
dari berat campuran POA dan tanah liat, dan diaduk lagi hingga homogen, setelah
tercampur rata, kemudian dicetak menjadi berbentuk tablet (Gambar 2).
Pupuk organik plus arang + tanah liat + spora
(Organic fertilizer and charcoal, added with clay
soil and mycorrize spore)
Di cetak berbentuk tablet
(Shaped into tablet)
Tablet siap diaplikasikan pada media tanam
(Tablet ready for application in the planting media)
Gambar 2. Proses pembuatan tablet pupuk organik plus arang serbuk gergaji dicampur
dengan spora mikoriza (POAM)
Figure 2. Manufacturing process of tablet from the organic fertilizer and sawdust
charcoal mixed with mycorhiza spore
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Limbah padat yang akan digunakan sebagai bahan utama pembuatan pupuk
organik, dianalisis sifat dan kandungan unsur hara dan logam berat yang
terkandung, hasilnya dapat diketahui pada Tabel l.
5
Tabel 1. Kualitas dan kandungan unsur hara limbah padat industri pulp
Table 1. Quality and nutrient contents in pulp - mill sludge
No.
Parameter (Paremeters)
Nilai (Value)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
pH (1:1)
Kadar air (Moisture content), %
C organik (Organic C), %
N total (Total N), %
Nisbah C/N (C/N ratio), %
P2O5 total, %
CaO total, %
MgO total, %
K2O total, %
Pb, ppm
Cd, ppm
6,90
36,20
19,24
1,21
15,90
0,48
0,31
0,24
0,48
0,05
0,04
Keterangan
(Remarks) *)
Sedang (Medium)
Sedang (Medium)
Tinggi (High)
Sedang (Medium)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Sumber (Source) : * Anonim ( 2000)
Pada Tabel 1 dapat diketahui kandungan unsur hara dan logam berat yang
terdapat dalam sludge yang digunakan sebagai bahan untuk pembuatan pupuk
organik. pH 6,90 dan kadar air 36,20% termasuk kategori sedang, C organik
19,24% (tinggi), N total 1,21% (sedang), nisbah C/N 15,90 (rendah), P2O5 total
0,48% (rendah), CaO total 0,31% (rendah), MgO total 0,24% (rendah), K2O total
0,48% (rendah), sedangkan kandungan logam berat Pb 0,05 ppm (rendah), Cd
0,04 ppm (rendah). Apabila dilihat dari nisbah C/N sludge sebesar 15,90 (rendah),
nisbah tersebut akan mempengaruhi proses pengomposan karena C/N bahan yang
optimal adalah 25 – 40 (Gaur, 1982). Bila nisbah C/N bahan terlalu rendah
maupun terlalu tinggi akan berpengaruh terhadap proses pengomposan.
Proses pengomposan berlangsung selama 2 bulan dengan kondisi suhu
30-420C, pH 7,00-8,10 dan kelembaban 60-85%. Ternyata pengomposan
berlangsung secara mesophilik, hal ini kemungkinan disebabkan karena tumpukan
bahan terlalu sedikit sehingga tidak menimbulkan panas, yang mengakibatkan
mikroorganisme tidak bekerja secara optimal. Kelembaban ruangan yang berubahubah dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya, seperti curah hujan.
Kelembaban sangat berpengaruh pada jalannya proses pengomposan. Selain
faktor di atas, kadar air bahan juga berpengaruh pada proses pengomposan. Kadar
air limbah padat industri pulp sebesar 36,20% termasuk rendah, karena kadar air
6
optimum bahan untuk pengomposan berkisar antara 50 - 60% (Dalzell et al,
1987).
Setelah mengalami proses pengomposan selama 2 bulan, kemudian
dilakukan pembongkaran, pengadukan secara merata dan kemudian diambil
contoh untuk dianalisis kualitas pupuk organik tersebut. Pada Tabel 2 diketahui
kandungan unsur hara dan logam berat pupuk organik. Ditinjau dari sifat kimia,
pupuk organik ini mempunyai kondisi pH 6,70 – 6,90 termasuk kategori sedang
(netral) menurut Pedoman Pengharkatan Hara Kompos (Anonim, 2000). Faktor
pH sangat menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap oleh tanaman.
Pada umumnya unsur hara mudah diserap akar tanaman pada pH netral, karena
pada pH netral kebanyakan unsur hara mudah larut dalam air. Nisbah C/N pupuk
organik yang dihasilkan dari penelitian ini adalah 18,70 – 23,70 termasuk tinggi
menurut Pedoman Pengharkatan Hara Kompos (Anonim, 2000). Apabila
dibandingkan dengan nisbah C/N pupuk organik yang dihasilkan Komarayati et
al, (2006), nisbah C/N yang dihasilkan termasuk tinggi karena adanya
penambahan arang serbuk gergaji. Akan tetapi keadaan ini tidak menjadi masalah
pada saat pupuk organik ini diaplikasikan pada tanaman, karena arang dapat
meningkatkan porositas tanah, meningkatkan tingkat keasaman tanah (pH) hingga
akan merangsang pertumbuhan tanaman antara lain akar. Sebaliknya apabila
dibandingkan dengan hasil penelitian Komarayati dan Pasaribu (2005), nisbah
C/N ini termasuk rendah yaitu sebesar 32,00. Hal ini disebabkan proses
pengomposannya relatif cepat yaitu 1 bulan, sehingga proses perombakan bahan
organik belum sempurna. Nisbah C/N yang baik untuk tanaman yaitu lebih kecil
dari 20.
7
Tabel 2. Kualitas dan kandungan unsur hara pupuk organik plus arang
Table 2. Quality and nutrient content of organic fertilizer added with charcoal
No.
Parameter (Parameters)
Nilai (Value)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
pH (1 : 1)
Kadar air (Moisture content), %
C organik (Organic C), %
N total (Total N), %
Nisbah C/N (C/N ratio), %
P2O5 total, %
CaO total, %
MgO total, %
K2O total, %
Kapasitas tukar kation (Cation
exchange capacity), meq/100 g
Pb, ppm
Cd, ppm
6,70-6,90
32,90-39,40
24,17-28,26
1,19-1,29
18,70-23,70
0,53-0,63
0,27-0,34
0,26-0,27
0,63-0,68
29,34-32,44
11
12
0,07-0,09
0,02-0,04
Keterangan
(Remarks) *)
Sedang (Medium)
Sedang (Medium)
Tinggi (High)
Sedang (Medium)
Tinggi (High)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Tinggi (High)
Rendah (Low)
Rendah (Low)
Sumber (Source) : *Anonim (2000)
Nilai kapasitas tukar kation (KTK) 29,34 – 32,44 meq/g (Tabel 2) termasuk
kategori tinggi (Anonim, 2000) sehingga dapat meningkatkan daya simpan dan
ketersediaan unsur-unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. KTK merupakan
sifat kimia yang erat hubungannya dengan kesuburan. Pupuk organik dengan
KTK tinggi mampu menyerap dan menyediakan unsur hara lebih besar dari pada
pupuk organik dengan nilai KTK rendah (Saifudin, 1989).
Unsur hara makro yang terdapat dalam pupuk organik dari limbah padat
industri pulp adalah P 0,53-0,63%; Ca 0,27-0,34%; Mg 0,26-0,27% (Tabel 2)
termasuk kategori rendah, sedangkan K2O 0,63-0,68% termasuk kategori sedang
(Anonim, 2000). Umumnya kandungan hara kompos/pupuk organik sangat
tergantung dari jenis dan kualitas bahan baku yang digunakan. Apabila pupuk
organik ini akan di uji coba pada tanaman, sebaiknya kandungan unsur hara
ditingkatkan terlebih dahulu dengan cara menambahkan bahan-bahan organik
lainnya. Hal ini disebabkan karena unsur hara makro seperti di atas sangat
diperlukan oleh tanaman, dimana masing-masing unsur hara akan memberikan
dampak yang berbeda pada tanaman.
8
Logam berat Pb 0,07-0,09 ppm (Tabel 2) termasuk kategori rendah karena
nilainya di bawah baku mutu yang ditetapkan sebesar 5 ppm. Begitu pula Cd
hanya 0,02 ppm, berarti lebih rendah dari yang ditetapkan sebesar 1 ppm. Setelah
diketahui kandungan logam berat dalam pupuk organik plus arang nilainya
rendah, berarti apabila pupuk organik plus arang di uji coba pada tanaman tidak
perlu khawatir akan terjadi akumulasi logam berat pada tanah.
Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pupuk organik dari sludge ini,
yaitu dengan adanya penambahan arang karena diketahui dan telah dibuktikan
bahwa arang
dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap kesuburan
tanaman. Penambahan arang dapat meningkatkan kapasitas tukar kation, hal ini
disebabkan karena struktur arang memiliki gugus fungsional –COOH dan –OH
pada permukaannya (Miyakuni, 2003 dalam Hesti dan Prameswari, 2003). Ogawa
(1989) menyatakan bahwa arang memiliki banyak pori yang dapat meningkatkan
sirkulasi air dan udara dalam tanah, sehingga dapat lebih mengintensifkan sistem
perakaran tanaman. Kombinasi penambahan spora mikoriza dan arang dapat
merangsang pertumbuhan tanaman, karena arang dapat meningkatkan porositas
tanah (media tumbuh), sehingga miselia cendawan ektomikoriza dapat
berkembang dan meningkatkan koherensi tanah dan perakaran lebih mudah
menyerap hara dan air dari tanah (Hesti dan Prameswari, 2003).
Selanjutnya perbandingan kualitas dan unsur hara pupuk organik dari limbah
padat industri pulp dan kertas dari beberapa hasil percobaan disajikan pada Tabel
3.
9
Tabel 3. Perbandingan kualitas dan unsur hara pupuk organik dari limbah padat
industri pulp dan kertas dari beberapa hasil penelitian
Table 3. The comparison of quality and nutrient content of the organic fertilizer
from pulp and paper mill sludge resulted from several experiments
No.
Parameter (Parameters)
1)
2)
3)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Kadar air (Moisture content), %
pH
C organik (Organic C), %
N total (Total N), %
Nisbah C/N (C/N ratio)
P2O5 total, %
CaO total, %
MgO total, %
K2O total, %
Kapasitas Tukar Kation (CEC),
meq/100 g
Logam berat (Heavy metal)
Pb, ppm
Cd, ppm
Zn, ppm
29,47
6,70
23,58
0,86
32,00
0,37
1,90
0,64
0,48
31,74
26,00
7,15
12,52
0,69
18,15
0,58
0,28
0,19
1,42
25,33
40,09-51,22
6,75-7,0
5,33-7,69
0,38-0,85
9,00-14,00
0,47-0,65
0,34-0,45
0,07-0,31
0,09-0,22
26,22-35,89
27,36
0,03
11.
0,06
0,01
12.
4,69
0,15
13
Sumber (Source): 1) Komarayati dan Pasaribu (2005)
2) Komarayati (2007 )
3) Komarayati dan Gusmailina (2007)
0,01-0,06
0,03
-
Dari Tabel 3 dapat diketahui bahwa pupuk organik yang bahan bakunya
dari limbah padat industri kertas dengan bahan kertas dari daur ulang kertas bekas
(kolom no 1), kandungan logam berat Pb sangat tinggi, melebihi standar baku
mutu yang ditetapkan. Begitu pula nisbah C/N lebih besar dari 20. Keadaan ini
disebabkan adanya kandungan tinta dari kertas bekas (Komarayati dan Pasaribu,
2005). Sedangkan pupuk organik dari limbah padat industri pulp dengan bahan
baku pulp kayu mangium (kolom no 2 dan 3), logam Pb dan nisbah C/N rendah
atau di bawah standar yang ditetapkan (Komarayati dan Gusmailina, 2007;
Komarayati, 2007). Sementara itu pupuk organik plus arang dari limbah padat
industri pulp pada hasil percobaan ini (Tabel 2), kandungan logam Pb rendah,
akan tetapi nisbah C/N tinggi (lebih besar dari 20). Tingginya nisbah C/N
disebabkan adanya tambahan arang serbuk gergaji, yang diketahui bahwa arang
mengandung karbon (C).
10
Rina et al, 2002 telah melakukan penelitian pembuatan kompos dari limbah
padat industri kertas dengan bahan baku kertas bekas, kandungan unsur hara dan
logam berat kompos tersebut dapat dilihat pada Tabel 4. Bila dibandingkan dengan
penelitian Komarayati dan Pasaribu (2005), dari hasil analisis dapat diketahui ada
beberapa persamaan hasil seperti nisbah C/N (tinggi), unsur hara makro P, K, Ca dan
K (rendah), logam berat Pb, Cd dan Zn (jauh lebih rendah dari baku mutu yang
ditetapkan menurut Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999).
Tabel 4. Kandungan unsur hara dan logam berat dalam kompos dari limbah
padat industri kertas
Table 4. Nutrient content and heavy metal of compost made from paper-mill
sludge
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
Parameter (Parameters)
Nilai (Value)
pH
C total (Total C), %
N total (Total N), %
Nisbah C/N (C/N ratio)
P sebagai P2O5, %
K sebagai K2O, %
Ca, meq/100 g
Mg, meq/100 g
K, meq/100 g
Na, meq/100 g
KTK (CEC), meq/100 g
Logam berat (Heavy metal)
Pb, mg/l
Cd, mg/l
Zn, mg/l
7,70
28,44
1,06
20,25
0,06
0,10
25,05
2,30
3,06
1,40
33,71
< 0,001
< 0,050
< 0,410
Sumber (Source) : Rina et al, (2002)
Walaupun nisbah C/N tinggi, unsur hara makro rendah ternyata pada saat
kompos diaplikasikan pada tanaman jagung dengan dosis kompos sebesar 11,5
ton/ha, tidak menimbulkan masalah baik pada produksi maupun terhadap
kehidupan populasi mikroba tanah seperti jamur, actinomycetes dan rhizobium
(Rina et al, 2002).
Mikoriza merupakan salah satu bentuk asosiasi antara mikroba tanah
dengan akar tanaman tingkat tinggi. Mikoriza berperan dalam penyerapan unsur
11
hara, penyedia karbohidrat, pertumbuhan tanaman, dan mempertinggi ketahanan
terhadap patogen dan lingkungan (Santoso, 1997).
Arang merupakan hasil pembakaran pada keadaan tanpa oksigen (oksigen
terbatas) dari bahan lignoselulosa yang mengandung karbon yang berbentuk padat
dan berpori, seperti kayu atau bahan biomaterial lainnya. Dari beberapa hasil
penelitian, diketahui bahwa arang dapat meningkatkan pH tanah dan juga dapat
memudahkan
terjadinya
pembentukkan
dan
peningkatan
jumlah
spora
ektomikoriza dan endomikoriza. Kombinasi antara spora mikoriza dengan arang
dapat merangsang pertumbuhan tanaman, karena arang dapat meningkatkan
porositas tanah sebagai media tumbuh, sehingga miselia cendawan ektomikoriza
dapat berkembang dan meningkatkan koherensi tanah dan sistim perakaran lebih
mudah menyerap hara dan air tanah. Kombinasi penambahan arang dan mikoriza
merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas pupuk organik plus arang
dari limbah padat industri pulp dan kertas, dimana pupuk organik plus arang
berfungsi sebagai carier mikoriza. Pada penelitian ini pupuk organik plus arang
dicampur dengan spora ektomikoriza dan tanah liat dengan perbandingan tertentu,
kemudian dicetak berbentuk tablet. Tablet tersebut dinamakan tablet pupuk
organik mikoriza plus arang.
Keunggulan lain dari mikoriza yaitu mikoriza dapat menurunkan
kandungan logam berat Pb karena mikoriza dapat mengikat logam berat pada
gugus karboksil dalam senyawa pektat (hemiselulosa) pada matriks antar
permukaan kontak mikoriza dan tanaman inang, pada selubung polisakarida dan
dinding sel hifa (Pujawati et al., 2003). Dari pernyataan di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa pupuk organik plus arang dari limbah padat industri plup
sangat cocok bila dikombinasi dengan campuran spora ektomikoriza dan tanah
liat.
12
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Limbah padat industri pulp (sludge) yang menggunakan pulp kayu mangium
(Acacia mangium) berindikasi
dapat digunakan sebagai bahan baku
pembuatan pupuk organik, melalui proses pengomposan dengan waktu
minimal 2 bulan.
2. Pupuk organik plus arang dari limbah padat industri pulp yang dicampur
dengan tanah liat dan spora mikoriza dapat digunakan sebagai carier
ektomikoriza.
3. Tablet pupuk organik mikoriza plus arang tersebut dapat digunakan pada
media tanam dan hanya diberikan 1 kali pada saat di persemaian.
4. Pemberian tablet pupuk organik mikoriza plus arang pada tanaman dapat
meningkatkan
pertumbuhan
tanaman,
menghemat
pemakaian
pupuk
anorganik, lebih praktis dalam pengangkutan juga ramah lingkungan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2000. Pedoman pengharkatan hara kompos. Laboratorium Natural
Products, SEAMEO - BIOTROP. Bogor.
----------. 2003. Potensi dan kesesuaian pemanfaatan limbah padat. Berita Industri
Pulp dan Kertas Indonesia. Edisi September 2003, No : 197/BIPKI/IX/
2003. Hlm. 13-15. Penerbit : Asosiasi Pulp & Kertas Indonesia.
Dalzell, H.W., A.J. Biddlestone, K. R. Gray and K. Thurairajan. 1987. Soil
management compost production and use in tropical and subtropical
environment. Soil Bulletin. Vol. 56. FAO. Rome.
Gaur, A.C. 1982. A Manual of Rural Composting. Food Agriculture Organization
of United Nations. Rome.
Hesti, L. T. dan D. Prameswari. 2003. Pengaruh inokulasi tablet spora
ektomikoriza Scleroderma columnare terhadap pertumbuhan Shorea
seminis dan efektivitasnya pada berbagai dosis arang. Makalah disajikan
pada Seminar Mikorioza. Tanggal 16 September 2003 di Bandung, hal
163-170. Prosiding Teknologi Produksi dan Pemanfaatan Inokulan
Endo-Ektomikoriza untuk Pertanian, Perkebunan dan Kehutanan.
Penerbit : Asosiasi Mikoriza Indonesia-Jawa Barat.
13
Komarayati, S., Gusmailina dan E. Santoso. 2005. Teknologi produksi skala kecil
pupuk organik mikoriza (POM) dari sludge industri kertas untuk
tanaman HTI. Laporan Hasil Penelitian. Sumber Dana DIK-S Dana
Reboisasi, Tahun 2004. Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor.
----------------------------------------------------- 2006. Teknologi produksi skala kecil
pupuk organik mikoriza (POM) dari sludge industri kertas untuk
tanaman HTI. Laporan Hasil Penelitian. Sumber Dana DIPA, Tahun
2005. Pusat Litbang Hasil Hutan, Bogor.
------------------ dan Ridwan A. Pasaribu. 2005. Pembuatan pupuk organik dari
limbah padat industri kertas. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 23 (1) : 35 41, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.
------------------- dan Gusmailina. 2007. Pemanfaatan limbah padat industri pulp
untuk pupuk organik. Jurnal Penelitian Hasil Hutan 25 (2) : 137 - 146.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan. Bogor.
----------------- 2007. Kualitas pupuk organik dari limbah padat industri kertas.
Info Hasil Hutan 13 (2) : 165 – 173. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Hasil Hutan. Bogor.
Ogawa, M. 1989. Mycorhizza and their utilization in forestry. Report on Shorttermed Research Cooperation. The Tropical Rain Forest Research
Project JTA (137). JICA. Japan.
Pujawati, S., M.R. Setiawati dan Rataseca. 2003. Peranan mikoriza mikofer dan
bahan organik kascing dalam translokasi PB, serapan fosfor dan hasil
tanaman cabai pada tanah tercemar logam berat. Prosiding Seminar
Mikoriza, 16 September 2003, Bandung. Halaman 103 – 113. Asosiasi
Mikoriza Indonesia. Jawa Barat.
Rina S. Soetopo, S. Purwati, H. Hardiani dan A. Surachman. 2002. Pengaruh
kompos dari limbah lumpur IPAL industri kertas terhadap tanaman dan
tanah. Prosiding Seminar Teknologi Selulosa. Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Industri Selulosa. Bandung.
Saifudin, S. 1989. Fisika Kimia Tanah. Pustaka Buana. Jakarta.
Santoso, E. 1997. Hubungan perkembangan ektomikoriza dengan populasi jasad
renik dalam rizosfer dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan Eucalyptus
pellita dan Eucalyptus urophylla. Disertasi Doktor. Program Pasca
Sarjana, IPB. Bogor. (Sirkulasi Terbatas).
14
Fly UP