...

Cegah Korupsi, Perempuan Harus Berkontribusi

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Cegah Korupsi, Perempuan Harus Berkontribusi
portal
Launching “Saya, Perempuan Antikorupsi”
integrito
Cegah Korupsi,
Perempuan Harus Berkontribusi
Talkshow membahas peran penting perempuan dalam pemberantasan korupsi.
Dalam sebuah
keluarga
,perempuan
memiliki peran
sentral terhadap
penanaman nilainilai integritas.
Perilaku
koruptif juga
dapat dicegah
melalui peran
perempuan.
42 |
A
uditorium KPK lantai satu, 22 April 2014
lalu riuh rendah. Ratusan perempuan
dari berbagai usia dan latar belakang
profesi tampak menyesaki ruangan tersebut.
Bukan menggelar unjuk rasa. Mereka adalah
para “kartini” yang tengah memenuhi undangan
KPK dalam rangka peluncuran program, “Saya,
Perempuan Antikorupsi”.
Momen Hari Kartini yang jatuh pada 21
April, dinilai KPK mempunyai makna yang tak
kalah penting. Hal ini tak lain, mengingat sosok
perempuan yang mempunyai peran sentral
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara. Termasuk dalam hal pencegahan
korupsi. Oleh karena itu, seperti disampaikan
Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas, perempuan
memiliki peranan besar dalam memberikan
perubahan yang mendasar terhadap perilaku
korupsi yang terus terjadi di Tanah Air.
“Perempuan adalah sosok yang memiliki akar
sejarah luar biasa dalam memberikan pengaruh
positifnya. Tidak hanya pada sosok Kartini, tetapi
“kartini-kartini” di era berikutnya,” kata Busyro saat
menjadi salah satu pembicara dalam talk show
“Kartini Bicara Korupsi”.
Selain talk show, acara launching yang
digelar pada 22 April 2014, tersebut, sekaligus
memberikan pengenalan dan simulasi tools
untuk program tersebut. Turut hadir pula sebagai
narasumber, antara lain perwakilan Ibu Indonesia
vol. 38/ Th.VI /MARET-APRIL 2014
yang juga mantan Menteri Pemberdayaan
Perempuan Meutia Hatta, Koalisi Perempuan
Indonesia (KPI) Dian Kartika Sari, Pemred
Majalah Femina Petty S Fatimah, dan perwakilan
Organisasi Perempuan NTB Yuyun.
Lebih lanjut Busyro mengatakan, meski saat
ini kaum perempuan juga telah masuk dalam
pusaran korupsi, bahkan ada yang terlah berstatus
tersangka, namun jika dilihat jumlahnya masih
relatif kecil. Menurutnya, secara general masih
banyak perempuan-perempuan atau ibu rumah
tangga yang masih menjaga otentisitasnya.
Permasalahannya, kata Busyro, ketika sebagian
kaum perempuan masuk dalam birokrasi politik
atau di organisasi profesi, itu kemudian bisa
mengalami proses pelunturan nilai-nilai fitrahnya.
“Nah, dengan demikian pasti ada sesuatu yang
salah dalam birokrasi tersebut,” ujarnya.
Sementara itu, menurut Meutia Hatta, keluarga
memang merupakan pondasi utama dalam mena­
namkan nilai-nilai integritas. Ketika ia masih kanakkanak misalnya, kata Meutia, meski menjadi bagian
dari keluarga Wakil Presiden pada waktu itu,
namun keluarganya mempunyai aturan yang ketat
perihal penggunaan fasilitas dinas ayahnya. “Ketika
ayah saya mempunyai fasilitas mobil dinas, itu
hanya dipakai oleh ayah saya dan untuk keperluan
dinas. Ibu saya pun kalau masuk ke mobil itu hanya
jika bersama ayah saya. Begitu halnya dengan
fasilitas-fasilitas lainnya,” kata Meutia.
Fly UP