...

PENGARUH UMUR DAN JARAK KEHAMILAN TERHADAP

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

PENGARUH UMUR DAN JARAK KEHAMILAN TERHADAP
Seminar Nasional
Hasil - Hasil Penelitian dan Pengabdian LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
Sabtu, 26 September 2015 ISBN : 978-602-14930-3-8
PENGARUH UMUR DAN JARAK KEHAMILAN TERHADAP
KEJADIAN PERDARAHAN KARENA ATONIA UTERI
EFFECT OF MATERNAL AGE AND SPACING OF PREGNANCY TO
POSTPARTUM HEMORRHAGE BECAUSE OF ATONIC UTERINE
Sugi Purwanti* dan Yuli Trisnawati
Akademi Kebidanan YLPP Purwokerto.
Jl. Kh.Wahid Hasyim. No 274 A Purwokerto Selatan
*
Email : [email protected]
ABSTRAK
Perdarahan merupakan penyebab pertama kematian ibu pada saat setelah persalinan.
Penyebab perdarahan salah satunya karena Atonia Uteri. Atonia Uteri adalah kondisi tidak
berkontraksinya otot uterus setelah plasenta lahir. Uterus yang tidak berkontraksi
menyebabkan pembuluh darah terbuka di bekas penempelan plasenta tidak tertutup. Atonia
disebabkan karena fungsi organ reproduksi tidak maksimal. Umur reproduksi sehat sekitar 2035 tahun, sehingga ibu nifas pada usia berisiko yaitu kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35
tahun berisiko terjadi atonia uteri. Jarak kehamilan yang terlalu dekat juga menyebabkan
pemulihan organ reproduksi belum maksimal. Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan
umur dan jarak kehamilan terhadap kejadian perdarahan akibat atonia uteri. Mengetahui
faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian perdarahan karena atonia uteri. Metode
penelitian adalah survey kuantitatif dengan pendekatan cross sectional, populasi adalah ibu
yang nifas di RSUD margono tahun 2014. Ibu nifas dengan perdarahan karena atonia uteri 459
kasus. Besar sampel 156 responden. Analisis bivariat menggunakan chi square dan multivariate
menggunakan regresi logistic.Hasil penelitian umur ibu berisiko sebanyak 35.9%. Jarak
kehamilan berisiko sebanyak 33.3%. Ada hubungan antara umur dan jarak kehamilan
terhadap perdarahan karena atonia uteri (p value 0.045 dan 0.007). Analisis multivariate
menunjukkan bahwa adanya pengaruh jarak kehamilan (p value 0.011 dan exp B 2.47).
Kesimpulan ada hubungan antara umur dan jarak kehamilan terhadap perdarahan karena
atonia uteri. Responden dengan jarak kehamilan berisiko memiliki risiko 2.47 kali lebih besar
untuk mengalami perdarahan karena atonia uteri.
Kata kunci : Atonia Uteri; Jarak Kehamilan; Umur
ABSTRACT
Hemorrhage is the first cause of maternal death in the time after delivery. Causes of
bleeding either because Atoni uterine. Atoni uterine is condition that uncontraction uterine
muscle after delivery of the placenta. Uterine contraction causes the blood vessels open at the
implantation of the placenta is not closed. Atoni uterine is caused by reproductive organs do not
function optimally. Healthy reproductive age around 20-35 years, so the risk of puerpuralis at
the age of less than 20 years old and over 35 years of risk occurs atonic uterus. Spacing
pregnancies too close also cause reproductive organ recovery is not maximized. The research
objective was to determine the relationship of age and spacing of pregnancy on the incidence of
hemorrhage due to uterine atony. Knowing the factors that most influence on the hemorrhage
due to uterine atony. The research method was a quantitative survey with cross sectional
approach, the population was that postpartum mothers in hospitals RSUD Margono Soekardjo
2014. Mothers with postpartum hemorrhage due to uterine atony 459 cases. The number of
sample was a 156 respondents. Bivariate analysis used chi square and multivariate used
regression logistic. Result: maternal age risk as much as 35.9%. Spacing pregnancies at risk as
74
Seminar Nasional
Hasil - Hasil Penelitian dan Pengabdian LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
Sabtu, 26 September 2015 ISBN : 978-602-14930-3-8
much as 33.3%. There is a relationship between maternal age and spacing pregnancies to
hemorrhage due to atonic uterus (p value 0.045 and 0.007). Multivariate analysis showed that
the influence of spacing pregnancies (p value 0.011 and B exp 2:47). Conclusion there is a
relationship between gestational age and spacing pregnancies to hemorrhage due to atonic
uterus. Respondents with spacing pregnancies risk pregnancies have a greater risk of 2:47
times for hemorrhage due to uterine atony.
Keywords: Maternal Age;Sspacing Of Pregnanncy;Uterine Atony
PENDAHULUAN
Reformasi di bidang kesehatan merupakan visi Indonesia Sehat 2025. Tiga pilar utama yang harus
dikembangkan untuk mencapai visi tersebut yaitu kemajuan secara bersama dalam bidang kesehatan,
pendidikan dan kualitas sumber daya manusia. Kemajuan dalam bidang kesehatan salah satunya dengan
penurunan Angka Kematian Ibu (AKI). Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia AKI
mencapai 359 per 100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2012)
Upaya pemerintah yang telah dilakukan untu penurunan AKI adalah adanya Program Perencanaan
Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dengan tujuan meningkatkan cakupan mutu pelayanan
kesehatan melalui peran serta aktif keluarga dan masyarakat dalam deteksi dini komplikasi guna
mencapai persalinan aman dan pencegahan komplikasi persalinan. Upaya lainnya adalah peningkatan
akses pelayanan persalinan yang berkualitas dengan penolong tenaga kesehatan sehingga penanganan
komplikasi mudah dan cepat tertangani (Depkes, 2011).
Penyebab kematian ibu adalah perdarahan yang terjadi pada 24 jam pertama persalinan. Penyebab
perdarahan pada 24 jam pertama persalinan salah satunya karena Atonia Uteri. Atonia Uteri merupakan
ketidakmampuan uterus untuk berkontraksi sebagaimana mestinya setelah plasenta lahir. Perdarahan
postpartum secara fisiologis dikontrol oleh kontraksi serat-serat myometrium terutama yang berada
disekitar pembuluh darah yang mensuplai darah pada tempat perlengketan plasenta. Atonia uteri terjadi
ketika myometrium tidak dapat berkontraksi (Manuaba. 2000).
Peran serta aktif keluarga dan masyarakat dalam mengenali faktor risiko, kelainan yang dialami
ibu selama proses kehamilan dan deteksi dini, penanganan komplikasi yang cepat dan aman oleh tenaga
kesehatan dapat mencegah dan mengurangi kejadian komplikasi persalinan akibat perdarahan karena
atonia uteri. Faktor risiko terjadinya perdarahan karena atonia uteri antara lain: ibu dengan pre eklampsi,
anemia, umur yang berisiko, serta jumlah persalinan atau paritas lebih dari 3 memiliki risiko 2.2 kali
lebih besar mengalami perdarahan karena atonia uteri (Purwanti, 2015).
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di RSUD Margono Soekarjo pada bulan April sampai dengan Mei 2014.
Variabel independen dalam penelitian adalah Umur responden, Jarak kehamilan. Variabel dependen
dalam penelitian adalah perdarahan post partum karena atonia uteri.
Jenis penelitian survey secara kuantitatif, dengan pendekatan waktu cross sectional. Populasi dari
penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan dengan perdarahan post partum dan ibu bersalin normal
di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto pada tahun 2014 dengan rincian populasi perdarahan
post partum 459 kasus. Sampel adalah ibu nifas perdarahan post partum karena atonia uteri dan ibu nifas
normal sebanyak 156 kasus.
Tahap pengumpulan data dilakukan dengan melakukan pendataan pada data sekunder. Sampel
yang diambil secara random kemudian ditelusuri tentang umur, jarak kehamilan. Instrumen penelitian
yang digunakan adalah menggunalakan lembar observasi, yang berisi daftar pernyataan tentang kejadian
atonia uteri, umur responden (dalam tahun), jarak kehamilan dalam tahun.
Jenis data kuantitatif berdistribusi tidak normal dengan analisis univariat dilakukan untuk
memberikan gambaran secara umum terhadap variabel-variabel yang diteliti. Analisis Data dilakukan
dengan analisis persentase sehingga penyajiannya dalam bentuk tabel dan distribusi frekuensi. Analisis
Bivariat dengan tabulasi silang (Crosstab) dan chi square. Analisis ini dilakukan untuk melihat pola
75
Seminar Nasional
Hasil - Hasil Penelitian dan Pengabdian LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
Sabtu, 26 September 2015 ISBN : 978-602-14930-3-8
kecenderungan hubungan dua variabel yang diteliti dan dibuat dalam bentuk tabel. Chi Square dilakukan
untuk mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antara masing-masing variabel bebas dengan
variabel terikat, arah hubungan dan seberapa besar hubungan tersebut. Analisis Multivariat digunakan
untuk mengetahui pengaruh secara bersamaan variabel umur dan jarak kehamilan terhadap perdarahan
karena atonia uteri.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Umur Ibu
Umur reproduksi yang ideal bagi wanita untuk hamil dan melahirkan adalah 20-35 tahun, keadaan
ini disebabkan karena pada umur kurang dari 20 tahun rahim dan panggul ibu belum berkembang dengan
baik dan belum cukup dewasa untuk menjadi ibu, sedangkan pada umur 35 tahun keatas elastisitas otototot panggul dan sekitarnya serta alat-alat reproduksi pada umumnya telah mengalami kemunduran
sehingga dapat mempersulit persalinan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian pada ibu (Purwanti,
2015). Menurut Nadesul (2008), usia kurang dari 20 tahun secara biologis organ wanita belum mampu
memikul dan membesarkan kehamilan yang harapannya berjalan dengan sehat. Berdasarkan hasil
penelitian (Gambar 1) umur ibu berisiko (kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun) sebanyak 35.9
%.
Selain karena faktor biologis, usia kurang dari 20 tahun secara psikologis juga belum cukup untuk
mengasuh dan membesarkan anak, reaksi emosi yang masih labil dapat menyebabkan gangguan dalam
pola asuh sehingga mengganggu perkembangan anak nantinya.
UMUR
Risiko
35.9%
Tidak
Risiko
64.1%
Gambar 1. Distribusi Frekuensi Umur Responden
Syaifudin (2009), mengklasifikasikan pembuatan perencanaan keluarga menjadi tiga fase,
diantaranya sebagai berikut : 1). Fase menunda kehamilan, yaitu untuk usia ibu yang kurang dari 20
tahun. 2). Fase menjarangkan kehamilan, yaitu jarak usia ibu antara 20-35 tahun. Pada fase ini, jarak
antara kelahiran yang sebelumnya dengan kelahiran berikutnya sebaiknya antara 2-4 tahun. 3). Fase tidak
hamil lagi, yaitu untuk usia ibu diatas 35 tahun. Artinya risiko paling rendah dan kehamilan terbaik
adalah pada umum 20 sampai 35 tahun.
Jarak Kehamilan
Proses pemulihan rahim atau uterus setelah melahirkan sebenarnya sudah pulih kembali 6 bulan
setelah melahirkan akan tetapi secara fungsi belum maksimal. Kondisi uterus setelah kehamilan
sebelumnya belum mampu secara maksimal untuk memberikan cadangan nutrisi bagi ibu dan janin.
Akibat yang ditimbulkan bayi akan mengalami gangguan nutrisi selama kehamilan. Risiko yang mungkin
terjadinya adalah kehamilan ektopik, plasenta previa, inertia uteri atonia uteri, BBLR. Bahkan ibu dapat
mengalami gangguan gisi dan anemia (Chandranita, 2006).
Anemia yang terjadi selama kehamilan berisiko pada saat proses persalinan dan nifas, dimana
uterus kurang berkontraksi secara maksimal. Uterus tidak berkontraksi pada saat nifas menyebabkan
perdarahan karena pembuluh darah bekas implantasi plasenta tidak menutup sempurna. Berdasarkan hasil
penelitian (gambar.2) ibu nifas yang memiliki jarak kehamilan berisiko sebanyak 52 responden (33.3 %).
Jarak kehamilan yang aman adalah 2-5 tahun. Secara medis setelah 6-12 bulan pasca melahirkan
organ reproduksi sudah kembali normal. Perencanaan kehamilan perlu dilakukan untuk menghindari
76
Seminar Nasional
Hasil - Hasil Penelitian dan Pengabdian LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
Sabtu, 26 September 2015 ISBN : 978-602-14930-3-8
risiko komplikasi dan proses kehamilan berikutnya nutrisi ibu dan janin terpenuhi, sehingga ibu dan bayi
akan sehat.
JARAK KEHAMILAN
Tidak
Risiko
66.7%
Risiko
33,3%
Gambar 2. Distribusi Frekuensi Jarak Kehamilan
Menurut Cholil (2007) jarak kehamilan aman menggunakan rumus 3335 yaitu 3 untuk jumlah
anak, 3 untuk jarak kehamilan, 35 untuk usia ibu terakhir hamil. Kehamilan yang pertama dan kedua
memiliki risiko sama sehingga diperlukan perencanaan yang maksimal untuk kesehatan ibu dan anaknya.
Perencanaan yang ideal adalah dengan melaksnakan program keluarga berncana.
Hubungan umur dengan perdarahan post partum
Seiring dengan bertambahnya umur wanita maka fungsi organ reproduksi juga menurun. Fungsi
organ reproduksi terutama uterus dimana otot uterus harus berkontraksi maksimal sesaat setelah plasenta
lahir agar tidak terjadi perdarahan. Selain itu adanya peningkatan jumlah penyakit degenerative pada
kehamilan dengan usia tua seperti pre eklampsi, hipertensi, diabetes mellitus akan menambah risiko
komplikasi pada saat persalinan. Selain itu adanya fibroid uterine yang memicu timbulnya tumor dan
perdarahan pada saat persalinan.
Kehamilan di usia muda memiliki risiko yang lebih tinggi pada kesehatan. Fungsi organ dan
kematangan sel telur yang belum maksimal potensial mengalami persalinan dengan premature, plasenta
previa, abortus, pre eklampsi, kondisi ini berisiko lebih besar terjadinya perdarahan.
Tabel 1. Hubungan antara umur dengan perdarahan post partum karena atonia uteri
UMUR
ATONIA UTERI
Tidak Atonia Uteri
%
f
34
60.7
Atonia Uteri
%
39.3
f
56
Total
%
100
Risiko
f
22
Tidak Risiko
56
56
44
44
100
100
Total
78
50
78
50
156
100
Nilai p = 0.045
Berdasarkan hasil penelitian (Tabel 1) menunjukkan bahwa umur ibu berisiko memiliki
kecenderungan mengalami atonia uteri 39.3 %. Analisis bivariate chi square (Nilai p = 0.045) artinya ada
hubungan antara umur ibu dengan kejadian perdarahan karena atonia uteri. Akan tetapi berdasarkan
analisis multivariate regresi logistic umur ibu tidak berpengaruh secara bersama-sama terhadap kejadian
perdarahan karena atonia uteri (Nilai p = 0.074). Hal ini dapat disimpulkan bahwa meskipun variabel
umur secara bivariate behubungan tetapi setelah dianalisis secara bersamaan dengan variabel lain (jarak
kehamilan) tidak bermakna.
77
Seminar Nasional
Hasil - Hasil Penelitian dan Pengabdian LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
Sabtu, 26 September 2015 ISBN : 978-602-14930-3-8
Hubungan jarak kehamilan dengan perdarahan post partum
Penentuan jarak kehamilan adalah upaya untuk menetapkan atau memberi batasan sela antara
kehamilan yang lalu dengan kehamilan yang akan datang. Idealnya jarak kehamilan adalah lebih dari 2
tahun (2-5 tahun). Pengaturan jarak kehamilan merupakan salah satu usaha agar pasangan dapat lebih
siap dalam menerima dan siap untuk memiliki anak. Jarak kehamilan harus di hindari antara lain empat T
yaitu : terlalu muda untuk hamil (<20 tahun), Terlalu tua untuk hamil (> 35 tahun), terlalu sering hamil
(anak > 3 orang berisiko tinggi), terlalu dekat jarak kehamilan (< 2 tahun).
Berdasarkan hasil penelitian adanya hubungan antara jarak kehamilan dengan perdarahan post
partum karena atonia uteri (Nilai p = 0.007), tetapi dilihat dari tabel silang kecenderungan yang muncul
adalah ibu yang berisiko (jarak kehamilan kurang dari 2 tahun) hanya 34 % lebih sedikit mengalami
atonia uteri dibandingkan dengan yang tidak atonia uteri ( 65.4%). Sedangkan ibu yang tidak berisiko
(jarak kehamilan 2-5 tahun) memiliki kecenderungan mengalami atonia uteri 57.7 % lebih banyak
dibanding dengan yang tidak atonia uteri (42.3%). Hal ini kemungkinan penyebab perdarahan tidak hanya
karena jarak kehamilan tapi juga faktor paritas diamana 36.2 % ibu memiliki paritas berisiko (lebih dari
3), hasil uji chi square Nilai p 0.037 yang artinya ada hubungan antara paritas dengan perdarahan karena
atonia uteri (Purwanti, 2015).
Tabel 2. Hubungan antara jarak kehamilan dengan perdarahan post partum karena atonia uteri
JARAK
KEHAMILAN
ATONIA UTERI
Atonia Uteri
%
34.6
Tidak Atonia Uteri
%
f
34
65.4
f
52
Total
%
100
Risiko
f
18
Tidak Risiko
60
57.7
44
42.3
104
100
78
50
78
50
156
100
Total
Nilai p = 0.007
Berdasarkan analisis multivariate dengan regresi logistic dengan hasil Nilai p = 0.011 dengan exp
B sebesar 6.467 artinya ibu yang memiliki jarak kehamilan kurang dari 2 tahun berisiko 6.467 kali lebih
besar mengalami perdarahan karena atonia uteri dibandingkan dengan ibu yang memiliki jarak kehamilan
lebih dari 2 tahun. Anak yang dilahirkan 2-5 tahun setelah kelahiran anak sebelumnya, memiliki
kemungkinan hidup sehat 2,5 kali lebih tinggi daripada yang berjarak kelahiran kurang dari 2 tahun, maka
jarak kehamilan yang aman adalah 2-5 tahun.
Dalam Al Quran dijelaskan bagaiman menjaga jarak kehamilan agar ibu dan bayi sehat sesuai
dengan FirmaNya dalam Quran Surat Al Luqman (31): ayat 14 “Dan Kami perintahkan kepada manusia
(agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah
yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia 2 tahun. Bersyukur kepada-Ku dan kepada kedua
orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu”. Jarak kehamilan yang aman akan menurunkan risiko
terjadinya perdarahan akibat atonia uteri karena fungsi otot uterus telah kembali berfungsi maksimal
untuk berkontraksi saat kala IV persalinan.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari penelitian ini adalah umur ibu yang berisiko 35.9 %, Ibu yang jarak kehamilan berisiko
33.33 %. Adanya hubungan antara umur dan jarak kehamilan terhadap perdarahan karena atonia uteri.
Adanya pengaruh secara bersama-sama antara jarak kehamilan dengan perdarahan karena atonia uteri
yaitu ibu dengan jarak kehamilan berisiko memiliki risiko 2.47 kali lebih besar untuk mengalami
perdarahan karena atonia uteri.
78
Seminar Nasional
Hasil - Hasil Penelitian dan Pengabdian LPPM Universitas Muhammadiyah Purwokerto,
Sabtu, 26 September 2015 ISBN : 978-602-14930-3-8
UCAPAN TERIMAKASIH
Alhamdulilah, puji sukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan karunia Nya kepada
kami sehingga dapat menyelesaikan penelitian ini. Tidak lupa pula kami sampaikan terimakasih kepada :
Ibu Direktur Akademi Kebidanan YLPP, Direktur RSUD Margono Soekardjo atas ijin penelitian yang
diberikan, Ketua P3M Akbid YLPP, Rekan Dosen dan Karyawan Akbid YLPP, Suami dan Anakku
tercinta terima kasih atas segala support yang diberikan, serta semua pihak yang telah membantu dalam
penelitian ini, terima kasih semoga Allah membalas kebaikan rekan semua. Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, Gari F., Norman F. Gant, dkk. (2010). Obstetri williams. Edisi 21. Jakarta. EGC
Cholil, Abdullah.(2007) A to Z 26 kiat menata keluarga. Jakarta. Pt Elex Media Computindo.
Chandranita.(2006), Memahami kesehatan reproduksi wanita. Edisi 2.Jakarta. EGC
Depkes RI (2014) Profil Kesehatan Indonesia tahun 2014.
https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CBo
QFjAAahUKEwjA9euh5ZLIAhVGGI4KHUL0ACk&url=http%3A%2F%2Fwww.depkes.go.id%2Fresou
rces%2Fdownload%2Fpusdatin%2Fprofil-kesehatan-indonesia%2Fdata-dan-informasi2014.pdf&usg=AFQjCNF23ef89qgf42KmV3353YSKsDNHRQ&sig2=Ngs1xi5L7iYWACXFlPMcKQ
(tanggal akses 20 Agustus 2015)
Direktorat Bina Kesehatan Ibu, DitJen Bina Gisi Dan Kesehatan Ibu Dan Anak Kementrian Kesehatan
RI. (2011) Program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K).
anuaba. (2000) Penuntun kepaniteraan klinik obstetri dan ginekologi edisi 2, Jakarta, EGC
Nadesul, H. (2008) Cara sehat menjadi perempuan.Jakarta, PT Kompas Media Nusantara.
Purwanti, (2015) Determinan penyebab perdarahan karena atonia uteri, Jurnal Prada. ISSN 2087-6874
volume VI nomor 1 Juni 2015
79
Fly UP