...

BAB X-BioU-10 - UPT. LABDAS UNTAD

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

BAB X-BioU-10 - UPT. LABDAS UNTAD
BAB X
KEANEKARAGAMAN ORGANISME
A. STANDAR KOMPETENSI
Pada kahir dari pengajaran bab ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami adanya
keanekaragaman makhluk hidup, prinsip klasifikasi daari dasar-dasar klasifikasi
makhluk hidup.
B. KOMPETENSI DASAR
Diharapkan mahasiswa dapat :
1. Menjelaskan sejarah klasifikasi.
2. Menerangkan prinsip-prinsip klasifikasi.
3. Menyebutkan dasar-dasar klasifikasi tumbuhan.
4. Menjelaskan/menyebutkan dasar-dasar klasifikasi hewan.
C. URAIAN MATERI
1. Sejarah Singkat Klasifikasi
Untuk memahami bermacam-macam organisme yang hidup diperlukan
pengertian tentang system klasifikasi. Dari pandangan visualisai mudah dibedakan
antara satu jenis organisme dengan jenis lain. Juga dapat dilihat persamaannya,
misalnya sapi amat mirip dengan kerbau, hampir serupa dengan kuda tetapi
berbeda sekali dengan burung.
Keadaan dimana orang mulai membedakan satu organisme dengan
organisme lain, ini merupakan tingkat permulaan dari klasifikasi. Dengan demikian
klasifikasi muncul pada saat manusia memulai kehidupam berbudaya di alam ini.
Karena manusia memerlukan hewan dan tumbuhan sebagai makanannya untuk
mempertahankan kelangsungkan kehidupannya, mereka harus mengenal apa yang
dimakan. Mereka lalu memberikan nama kepada hewan atau tumbuh-tumbuhan
yang dikenalnya untuk membedakan antara satu organisme dengan organisme yang
lain. Sebagai dasar untuk membedakan mereka memakai kriteria : bentuk, bau,
warna, rasa, bunyi, sifat berguna atautidak berguna, sifat beracun atau tidak, atau
factor-faktor lain yang dapat ditangkap oleh indra mereka.
Dengan menambahkan sesuatu keterangan salah satu faktor dibelakang
nama organisme, misalnya bentuk : hewan panjang (ular), hewan pendek katak),
buah bulat (apel), daun lonjong (mangga), dll. Mereka telah mengenal dwinama atau
meakai dua perkataan untuk satu organisame, inilah permulaan klasifikasi.
2. Prinsip-Prinsip Klasifikasi
Dibumi ini terdapat kira-kira 1.500.000 spesies organism eyang hidup. Kira-kira satu
juta lebih dari jumlah ini adalah hewan. Bagaimana kita dapat mengetahui dan
mengenal tiap-tiap spesies? Sebelum ada pertnian, mereka berkelana, berburu
hewan untuk dimakan, mencari tumbuhan untuk dimakan dan juga untuk obat. Dari
hasil penelitian dan predikasi, kita boleh mengatakan bahwa manusia primitif telah
mengenal ratusan macam organisme. Mereka dapat membedakan organisme
predator, beracun dll. Hal ini penting untuk mempertahankan hidupnya. Mereka
membagi organisme dalam dua golongan yaitu golongan organisme baik (berguna)
dan organisme tidak baik (berbahaya). Inilah langkah pertama manusia primitif untuk
memecahkan masalah penggolongan (kalsifikasi organisme). Kemudian manusia
Page 73
membedakan dunia hewan dan dunia tumbuhan. Dunia hewan dibagi dalam hewan
yang hidup di darat dan yang hidup di air. Dunia tumbuh-tumbuhan dibagi dalam
pohon, semak dan herba.
Seorang ahli filsafat yunani Aristoteles (384-322 SM) mencoba menggolonggolongkan semua organisme yang mereka kenal yaitu 1000 macam. Sesudah
Aristoteles jumlah organisme yang dikenal tiadk banyak bertambah. Tetapi pada
permulahan abad ke-18 telah dikenal kira-kira 10.000 spesies. Satu abad kemudian
jumlah ini meningkat menjadi 70.000 spesies dan terus bertambah. Dalam dua abad
terakhir ini terbentuk suatu siatem klasifikasi yang tersusun lebuh seksama sehingga
taksonomi sebagai suatu cabang biologi makain berkembang.
3. Klasifikasi Tumbuhan
Apabila kita tidak mempunyai perhatian sama sekali terhadap tumbuhan
maka tentu saja tumbuhan itu hanya merupakan benda-benda berwarna hijau bagi
kita. Memang, mungkin ada orang yang mengeluh tentang alang-alang yang tumbuh
di kebunnya atau ada orang yang memperebutkan sebatang pohon rambutan
dengan tetangganya karena kebetulaan tepat pada p erbatasan kebunnya. Alangalang dan pohon rambutan merupakan dua dari kira-kira 350.000 spesies tumbuhan
yang dikenal.
Berabad-abad lamanya
tumbuhan digolongkan menurut klasifikasi
Theiopratus yang mendasarkan teorinya pada filsafat Aristoteles. Ia menggolongkan
tumbuhan dalam : 1. pohon-pohonan, 2 semak, 3. herba, yaitu tumbuhan yang tidak
berkayu. Dahulu manusia menggolongkan mendasarkan keadaannnya di alam.
Tetapi setelah para ahli botani yang mempelajari seluk beluk tumbuhan, pendapat
mereka berubah, mereka merasa bahwa penggolongan yang nampaknya sederhana
namun menyulitkan juga karena tidak menunjukkan hubungan jenis satu dengan
jenis lainnya.
Ada beberapa pohon besar misalnnya Angsana dan beberapa semak
misalnya orok-orok yang menurut penggolongan Theopratus termasuk golongan
yang berbeda tetapi sebenarnya mempunyai hubungan yang dekat dengan kacang
tanah yang berwujud herba. Tetapi sebaliknya tumbuhan kelapa dan mangga yang
menurut Theopratus termasuk dalam golongan pohon, masing-masing dapat
dicarikan hubungan yang lebih dekat dengan herba, tumbuhan kelapa dengan
rumput dan tumbuhan mangga dengan pohon.
Bagian manakah tumbuhan yang sebenarnya yang digunakan sebagai dasar
klasifikasi. Pada permulaan abad 18 seorang ahli botani dari Swedia yang bernama
Carolus Lineaus, dasar klasifikasi yang digunakannya adlah alat-alat berbiak yaitu
bunga tumbuhan. Pad waktu itu dalam klasifikasi, yang dipentingkan adalah dalam
pemakaian, pengertian dengan hubungan keluarga antara spesies yang satu
dengan yang lain belum ada. Penemuan Lineaus untuk menggolongkan tumbuhan
menurut banyaknya bagian bagian yang terdapat pada bunganya, memudahkan
pengenalan tumbuhan sehingga merupakan suatu revolusi dalam botani, misalnya
enceng gondok (Eichamia crasipes) selalu mempunyai tiga helai daun kelopak, tiga
daun mahkota, 6 benang sari dan tiga daun bawah. Kembang kamboja mempunyai
5 daun kelopak, 5 daun mahkota, 5 benang sari dan 2 daun bawah.
Setelah banyak data dikumpulkan pengertian-pengertian yang sederhan
selalu menimbulkan kesulitan-kesulitan baru, demikian pula penemuan Lineaus.
Pada waktu sekarang para ahli taksonomi memang masih menganggap struktur
alat-alat perkembang biakan sebagai dasar yang penting bagi klasifikasi. Tetapi
disamping itu mereka tidak mengabaikan struktur yang lain, misalnya zat-zat kimia
Page 74
yang dikandung oleh tumbuhan. Oleh karena itu pada jaman sekarang tugas ahli
taksonomi lebih berat. System klasikasinya harus mencerminkan adanya hubungan
antara satu tumbuhan dengan tumbuhan yang lain, disamping itu mudah dalam
pemakainnya.
4. Klasifikasi Hewan
Klasifikasi yang paling tua dapat dijumpai pada tulisan Aristoteles, dia
mengajari hampir semua cabang ilmu termasuk zoology. Dari tulisan-tulisannya
dapat disimpulkannya bahwa dia mengklasifikasikan hewan-hewan sebagai berikut :
A. Enaima (vertebrata ) : berdarah merah
a. vivipar : manusia, ikan paus, mamalian lainnya
b. ovipar : burung-burung, ampibia, dan kebanyakan reptilian, ular-ular, ikan-ikan.
B. Anaima (avertebrata) : tidak mempuyai darah merah
a. cephalopoda
b. crustacea
c. insecta, laba-laba dlll.
d. moluska, echinodermata dll.
e. spon, coelenterate dll.
Banyak ahli-ahli sistematik telah menyumbangkan pikirannya, akhirnya Carolus
Lineaus (1707-1778) menciptakan system binomial, artinya penamaan dengan dua
nama yang biasa disebut system Lineaus yang masih digunakan sampai sekarang.
System bionomial tersebut ialah menuliskan atau memberi nama pada organisme
dengan memakai dua perkataan.
Pada waktu sekarang tidak kurang dari 1 juta jenis hewan yang hidup di bumi
jelas nampak perbedaan antara organisme-organisme tersebut. Ada sekelompok
organisme yang mempunyai kelenjar air susu (glandula mammae) sebagai sumber
makanan anaknya yang sedang tumbuh. Kelompok ini disebut mammalian. Ada
hewan yang berbulu, bersayap, yaitu kelompok burung-burung (aves), ada yang
mempunyai potongan badan untuk hidup di air yaitu bermacam macam ikan.
Dalam kelompok besar mammalian ada lebih dari 4000 jenis yang masih dapat
dibagi ke dalam kelompok yang lebih kecil, seperti sekelompok pemakan daging,
kelompok pemakan serangga, kelompok bergigi untuk mengerat dll.
Semua organisme yang termasuk hewan digolongkan dalam kelompok besar yang
disebut Kingdom Animal, kingdom animal ini dikelompokan lagi ke beberapa phylum,
misalnya phylum protozoa (hewan bersel satu), phylum arthropoda (hewan beruas),
chordate (memiliki chorda dorsalis).
Didalam kelompok phylum dapat dibedakan beberapa kelompok-kelompok
lebih kecil yaitu sub-phylum. Phylum Chordata terdiri dari 2 sub phylum ialah sub
phylum Craniata (vertebrata) dan Acraniata. Sub phylum Vertebrata terdiri dari
beberapa kelompok yang lebih kecil disebut kelas. Marmot, kucing, dan anjing
adalah contoh hewan yang termasuk kelas mamalia. Marmot berbeda dengan anjing
dan kucing. Marmot ialah salah satu hewan pengerat yang merupakan ordo
Rodentia, kucing dan anjing adalah hewan pemakan daging yang merupakan ordo
Carnivora.
Familia menghimpun hewan-hewan yang serupa misalnya famili Felidae,
serupa kucing, Famili Caniidae, serupa anjing, famili Cafiidae serupa marmot.
Kelompok mamalia dapat dibedakan atas kelompok-kelompok yang lebih kecil yaitu
genus. Tiap famili dapat terdiri dari hanya satu genus atau beberapa genera.
Page 75
Dibawahnya genus adalah kelompok spesies. Dengan demikian marmot, kucing dan
anjing dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kelompok
Takson
Takson
Takson
Phylum
Chordata
Chordata
Chordata
Sub phylum
Vertebrata
Vertebrata
Vertebrata
Klas
Mamalia
Mamalia
Mamalia
Ordo
Rodentia
Carnivore
Carnivore
Sub ordo
Simplicidentata
Fessipedia
Fessipedia
Familia
Caviidae
Felidae
Canidae
Genus
Cavia
Felis
Canis
Spesies
Cavia cabaya
Felis domestica
Canis canis
(marmot)
(kucing)
(anjing)
Kelompok-kelompok Phylum, klas, ordo dan seterusnya disebut dengan takson.
Tunggal disebut takson dan taksa menunjukkan jamak.
Apakah Keanekaragaman Hayati itu ? Keanekaragaman hayati adalah
istilah payung untuk derajat keanekaragaman sumberdaya alam yang mencakup
jumlah dan frekuensi ekosistem, spesies dan genetik yang terdapat dalam wilayah
tertentu (Mc Neely, 1992). Kottelat et al, (1993) keanekeragaman hayati adalah
suatu ukuran untuk mengetahui keanekaragaman kehidupan yang berhubungan
erat dengan jumlah spesies suatu komunitas. Keanekeragaman hayati tersebut
dapat dibagi ke dalam tiga taraf yang berbeda :
keanekaragaman ekosistem,
keanekaragaman spesies dan keanekaragaman genetik.
Keanekaragaman ekosistem berhubungan dengan keanekaragaman habitat
dan kesehatan komplek-komplek habitat spesies yang berbeda-beda. Ekosistem
perairan mengadakan suatu siklus-siklus nutrien (rantai makanan) dan siklus air,
oksigen, karbondioksida (mempengaruhi iklim) dan siklus biogeokimia. Prosesproses ekologis sangat menentukan besarnya produksi primer dan sekunder (arus
energi), mineralisasi, bahan-bahan organik dalam sedimen dan penyimpanan
dan transport mineral serta biomassa. Upaya-upaya untuk melestarikan spesies
spesies ikan dan binatang air lainnya adalah menjaga kelestarian ekosistem habitat
mereka yang menjadi bagian kehidupan spesies (McNeely, 1992).
Keanekaragaman spesies adalah konsep variabelitas ikan-ikan yang hidup
diper-airan tawar, payau dan laut, dan diukur dengan jumlah seluruh spesies.
Diperkirakan sekitar 40.000 spesies ikan yang hidup diseluruh dunia dan sekitar
19.000 spesies lebih yang sudah teridentifikasi dan diberi nama secara ilmiah. Di
Indonesia telah ditemukan > 8.500 dari 19.000 spesies ikan (45 % spesies) (
Barber et al., 1997). Spesies ikan air tawar dari seluruh perairan Indonesia bagian
barat telah teridentifikasi dan diberi nama ilmiah : Kalimantan berjumlah > 394
spesies / 149 endemik (38 %), Sumatera ber-jumlah 272 spesies / 30 spesies
endemik (11 %), Jawa berjumlah 132 spesies / 12 spesies endemik (9%) dan
Sulawesi berjumlah 68 spesies / 52 spesies endemik (76 %) (Kottelat et al, 1993).
Keanekaragaman genetik merupakan konsep variabelitas di dalam suatu spesies
yang diukur oleh variasi genetik atau unit-unit biokimia dan informasi keturunan
yang dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi yang lain, di dalam spesies,
varietas, subspecies atau keturunan tertentu (McNeely, 1992). Pada prinsipnya
semakin besar ukuran populasi spesies ikan, semakin besar keanekaragaman
genetik didalamnya. Akan tetapi peningkatan spesies tertentu dapat menjurus
kepenurunan populasi ikan lain, bahkan sampai kepengurangan keanekaragaman
spesies ikan tertentu.
Hal ini tidak mungkin mendapat keduannya, baik
Page 76
keanekaragaman spesies maksimum maupun keanekaragaman genetik
maksimum. Kalimantan terutama dengan perairan tawar yang cukup luas dan
memiliki jumlah kekayaan spesies air tawar yang tinggi, tentu memiliki variasi
genetik yang tinggi dan hal ini perlu untuk dipertahankan tingkat kelestariannya.
Keanekaragaman hayati yang kita temukan di alam hanya dapat berupa
keanekaragaman optimum. Hal-hal yang penting di alam adalah menjaga dan
menjamin bahwa tidak ada spesies dibawah ukuran populasi kritis, sehingga
mengancam keanekaragaman genetik hilang dengan cepat. Di Indonesia saat ini,
banyak spesies ikan air tawar yang terancam dan bahkan mungkin punah karena
kerusakan dan perubahan lingkungan habitat aslinya oleh kegiatan manusia.
Dimana Kenekeragaman Hayati berada dan Bagaimana Melestarikannya ?
Keanekaragaman hayati menyebar tidak merata diseluruh perairan planet bumi ini.
Pada umumnya ekosistem-ekosistem perairan tropik Indonesia mempunyai
keanekaragaman hayati terbesar. Hal ini disebabkan oleh letak geografisnya yang
berada diantara dua benua Asia dan Australia serta banyak ditemukan relungrelung ekologi diberbagai habitat air tawar,payau dan laut. Ikan air tawar tersebut
hidup di dalam air dalam gua gua, rawa dan di bawah hutan rawa gambut, danau
dan sungai-sungai dengan karakter-istik habitat dan spesies yang berbeda-beda
dari dataran tinggi sampai kedataran rendah. Di daerah air payau banyak terdapat
spesies spesies ikan yang dapat beradaptasi dengan lingkungan estuarin yang
menempati relung-relung ekologi dengan karakteristik habitat dan spesies yang
berbeda-beda. Sedangkan spesies-spesies ikan laut mempunyai jumlah terbesar
yang hidup dilaut bebas dan hidup diantara atau disekitar pulau pulau besar dan
kecil yang dikelilingi oleh terumbu karang dengan karakteristik habitat yang
berbeda. Keanekaragaman ikan air tawar semakin rendah seiring dengan
menurunnya curah hujan di suatu wilayah tertentu dan semakin jaut dari garis
katulistiwa (ketinggian tempat),
pulau-pulau kecil (habitat kecil) cenderung
mempunyai lebih sedikit jumlah spesies dibanding wilayah-wilayah yang luas pada
tipe habitat yang sama (McNeely, 1992). Pulau-pulau yang besar dan pulau-pulau
yang terpencil dengan jumlah penduduk yang kecil cenderung mempunyai
kekayaan dan keanekaragaman spesies tinggi serta spesies endemik. Pengaruh
aktivitas manusia cenderung mengurangi keanekaragaman hayati, ter-utama
diwilayah yang berpenduduk padat. kegiatan eksploitasi sumberdaya alam dan
industri ramah lingkungan, sangat sulit ditemukan di Indonesia, karena setiap
pengusaha dan penguasa ingin mengeksploitasinya sumberdaya alam dengan
cepat untuk mencapai tingkat pendapatan nasional yang setinggi-tingginya,
sehingga faktor kelestarian keanekaragaman hayati kurang menjadi perhatian.
Hal ini diikuti pula oleh masyarakat nelayan yang dimodali oleh pengusahapengusaha
perikanan
dengan
modal
besar,
sehingga
mengancam
keanekaragaman hayati. Danau-danau dan sungai sungai yang besar di wilayah
tropik seperti Indonesia mempunyai keanekaragaman spesies yang tinggi dibanding
danau danau dan sungai-sungai beriklim sedang.
Jadi jelaslah bahwa
keanekaragaman cenderung ditemukan dihabitat-habitat tropik yang luas dan tidak
begitu banyak dipengaruhi oleh kegiatan manusia. Kawasan-kawasan konservasi
yang relatif luas di wilayah tropis merupakan cara yang paling efektif dalam
konservasi keanekaragaman hayati yang maksimum. Oleh karena itu, diperlukan
sistem zonasi, pencegaran wilayah, pentatagunaan lahan dan peraturan-peraturan
tentang kegiatan yang diijinkan dan sistem pengelolaan dan penggunaan habitat
yang ketat (Giles, 1971; McKinnon et al, 1986 dalam McNeely, 1992). Di Indonesia
untuk wilayah konservasi ikan air tawar hampir tidak ditemukan, walaupun ada
Page 77
tetapi tidak dikelola dengan baik dan sering terjadi penjarahan oleh masyarakat dan
biasanya oleh orang-orang yang propesinya bukan nelayan. Bagaimana dengan
keanekaragaman spesies yang hidup di perairan tawar Kalimantan Tengah yang
menjadi milik umum, hal ini menunjukkan bahwa keaneka-ragaman spesies rendah
dan banyak spesies ikan air tawar yang sudah atau terancam punah karena
kegiatan eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan (Harteman, 2001, 2002).
Spesies-spesies ikan yang hidup di perairan tawar dan laut di wilayah tropis seperti
Indonesia banyak ditemukan spesies-spesies ikan pelagis dan ikan demersal.
Cyprinidae termasuk yang paling dominan hidup di wilayah permukaan perairan dan
tengah, dan aktif pada siang hari (diurnal), sadangkan ikan demersal aktif pada
malam hari (nocturnal) ( Lowe dan McConnel, 1987; Choat, 1991; Jones et al,
1991;
Hobson, 1991). Kelompok-kelompok spesies-spesies
ikan tersebut
berkaitan erat perilaku dan habitat, baik dengan sistem penglihatan dan penciuman,
pemangsa dan mangsa, spesiealisasi makanan serta intensitas cahaya.
LATIHAN SOAL
1. Jelaskan secara singkat sejarah singkat klasifikasi .
2. Jelaskan prinsip-prinsip klasifikasi dan berikut contoh cara penggolongan
mahluk hidup yang dilakukan orang sebelum Lineaus.
3. Jelaskan perbedaan dasar klasifikasi tumbuhan yang dikemukakan oleh
Theophratus dengan Lineaeus.
4. Sebutkan dasar-dasar klasifikasi hewan dan buatlah klasifikasi harimau, tikus
dan sapi ?
Page 78
Fly UP