...

- Universitas Lambung Mangkurat

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

- Universitas Lambung Mangkurat
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
PENGGUNAAN PENDEKATAN INKUIRI TERHADAP PEMAHAMAN
KONSEP KELANGSUNGAN HIDUP ORGANISME DI SMP NEGERI 1
ANJIR MUARA BATOLA
(Penelitian Eksperimen Melalui Aktivitas Outbond di Kawasan Hutan Mangrove)
H. Muhammad Zaini 1
Octa Belawati 2
Abstrak
Salah satu tujuan pembelajaran IPA di SMP/MTs dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diantaranya adalah
melakukan inkuiri ilmiah untuk menumbuhkan kemampuan berpikir,
bersikap dan bertindak ilmiah serta berkomunikasi dan
meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara,
menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam.
Untuk itu diperlukan pendekatan pembelajaran yang sesuai untuk
dapat mencapai tujuan tersebut. Salah satu pendekatan yang
diharapkan dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah
pendekatan inkuiri dan dengan menggunakan hutan mangrove
sebagai tempat pembelajaran.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan
pendekatan inkuiri melalui aktivitas outbond di kawasan hutan
mangrove berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman siswa
pada konsep kelangsungan hidup organisme di SMP Negeri 1 Anjir
Muara Batola. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan
kuasi eksperimen yang melibatkan kelas eksperimen dan kelas
kontrol dengan ragam rancangan penelitian The Counterbalanced
Design. Populasi penelitian adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1
Anjir Muara dan menggunakan sampel total siswa kelas IX yang
terdiri dari 3 kelas.
Data dianalisis dengan teknik analisis kovarian (ANACOVA).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ho ditolak dengan didasarkan
pada nilai kemungkinan Ho ditolak < 0,05 (Pr). Hal ini dapat
diartikan bahwa penggunaan pendekatan inkuiri melalui aktifitas
outbond di kawasan hutan mangrove berpengaruh terhadap
peningkatan pemahaman siswa pada konsep kelangsungan hidup
organisme di SMP Negeri 1 Anjir Muara Batola
Kata kunci: Pendekatan inkuiri, konsep kelangsungan hidup
organisme, hutan mangrove.
Salah satu tujuan pembelajaran IPA di SMP/MTs dalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) diantaranya adalah melakukan inkuiri ilmiah untuk
menumbuhkan kemampuan berpikir,
bersikap
dan
bertindak
ilmiah serta
1
Dosen Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Unlam Banjamasin; Ketua Program Magister
Pendidikan PPs Unlam Banjarmasin.
2
Mahasiswa semester 1 Program Magister Pendidikan Biologi PPs Unlam Banjarmasin.
197
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
berkomunikasi dan meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara,
menjaga, dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam. Untuk mencapai
tujuan tersebut diperlukan pendekatan pembelajaran yang sesuai, yang dapat
melibatkan siswa untuk berperan aktif, dapat mengembangkan kemampuan berpikir
dan konsep diri siswa dalam pembelajaran sehingga ilmu yang didapat akan selalu
melekat dalam ingatan siswa dan akhirnya siswa mendapatkan hasil belajar yang
maksimal dan siswa mendapatkan panduan untuk menghargai, menjaga dan
melestarikan lingkungan.
Pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan adalah pendekatan inkuiri.
Pendekatan inkuiri dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban
terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan
yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan,
merupakan proses yang bervariasi dan meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi,
merumuskan pertanyaan yang relevan, mengevaluasi buku dan sumber-sumber
informasi lain secara kritis, merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview
apa yang telah diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan
menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data,
serta membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya (Dahar dan Liliasari,
1986).
Salah satu konsep yang diajarkan di kelas IX SMP/MTs semester 1 adalah
kelangsungan hidup organisme, konsep ini pada tahun-tahun sebelumnya hanya
diajarkan secara konseptual yaitu melalui penjelasan guru berdasarkan buku paket
atau buku pegangan siswa. Padahal ada cara lain untuk melakukan pembelajaran
yang lebih bermakna, yaitu menggunakan pendekatan inkuiri dan lingkungan sebagai
sumber belajar dengan membawa siswa melakukan aktivitas outbond (penjelajahan)
di lokasi hutan mangrove tepi sungai sehingga diharapkan dapat memudahkan siswa
memahami konsep kelangsungan hidup organisme dan dapat menanamkan etika
lingkungan kepada siswa agar siswa dapat berperan serta dalam memelihara,
menjaga, dan melestarikan lingkungan alam seperti yang tercantum di tujuan
pembelajaran IPA di SMP/MTs dalam KTSP.
Dengan menggunakan pendekatan inkuiri diharapkan siswa akan mampu
memecahkan pertanyaan dari masalah-masalah yang berkaitan dengan pengelolaan
hutan mangrove serta dampak pengalihfungsian hutan mangrove tepi sungai menjadi
daerah persawahan dan pelabuhan kapal liar di sekitar tempat tinggal siswa.
198
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
Sedangkan kunjungan lapangan ke hutan mangrove yaitu dengan melakukan
aktivitas outbond merupakan kesempatan yang baik untuk mempromosikan
konservasi alam kepada siswa yaitu perlindungan dan cara yang yang bijaksana
dalam memanfaatkan sumber daya alam secara lestari (Keeley, 2007).
Penggunaan pendekatan inkuiri dalam penelitian dintaranya, Sukamti (2004)
melaporkan metode discovery-inquiry memungkinkan siswa terlibat secara aktif
menggunakan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip
materi yang sedang dipelajari sedangkan Murtiani (2008) melaporkan bahwa
penggunaan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas siswa.
Meskipun pendekatan inkuiri dalam pembelajaran seperti dilaporkan tersebut
dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa, namun pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan inkuiri ini belum dilaksanakan di SMP Negeri 1 Anjir
Muara Batola. Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti melakukan suatu penelitian
yang berjudul “Penggunaan Pendekatan Inkuiri Terhadap Pemahaman Konsep
Kelangsungan Hidup Organisme di SMP Negeri 1 Anjir Muara Batola (Penelitian
Eksperimen Melalui Aktivitas Outbond di Kawasan Hutan Mangrove)”.
Rumusan masalah penelitian adalah apakah penggunaan pendekatan inkuiri
melalui aktivitas outbond di kawasan hutan mangrove berpengaruh terhadap
peningkatan pemahaman siswa pada konsep kelangsungan hidup organisme di SMP
Negeri 1 Anjir Muara Batola.
Masalah dalam penelitian ini dibatasi 1) Sekolah Menengah Pertama yang
diteliti adalah SMP Negeri I Anjir Muara Batola Kelas IX semester I. 2) Konsep
kelangsungan hidup organisme dalam penelitian ini berkaitan dengan pemahaman
tentang adaptasi, seleksi alam dan perkembangbiakan makhluk hidup serta etika
lingkungan terhadap hutan mangrove tepi sungai. 3) Pemahaman konsep
kelangsungan hidup organisme diukur melalui prestasi belajar yang diukur dari
kemampuan siswa menjawab LKS dan soal-soal tes hasil belajar siswa. 4)
Pemahaman etika lingkungan terhadap hutan mangrove tepi sungai diukur dari
kemampuan siswa menjawab soal evaluasi yang diadaptasi dari Clark tahun 1997.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penggunaan pendekatan inkuiri
melalui aktivitas outbond di kawasan hutan mangrove berpengaruh terhadap
peningkatan pemahaman siswa pada konsep kelangsungan hidup organisme di SMP
Negeri 1 Anjir Muara Batola.
199
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
Hipotesis penelitian ini adalah:
H0 = Penggunaan pendekatan inkuiri melalui aktivitas outbond di kawasan hutan
Mangrove tidak berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada
konsep kelangsungan hidup organisme
Ha = Penggunaan pendekatan inkuiri melalui aktivitas outbond di kawasan hutan
Mangrove berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada konsep
kelangsungan hidup organisme
Inkuiri berasal dari bahasa Inggris inquiry yang dapat diartikan sebagai
proses bertanya dan mencari tahu jawaban. Inkuiri adalah suatu proses untuk
memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi dan atau
eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan
atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis
(Dahar dan Liliasari, 1986).
Secara
umum
proses
pembelajaran
dengan
menggunakan
strategi
pembelajaran inkuiri mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:
1. Orientasi
2. Mengajukan hipotesis
3. Mengumpulkan data
4. Menguji hipotesis
5. Merumuskan kesimpulan (Sanjaya, 2007).
Dalam kurikulum SMP/MTs tahun 2006, kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan (KTSP), materi kelangsungan hidup organisme terdapat pada kelas IX
semester ganjil. Standar Kompetensi: memahami kelangsungan hidup makhluk hidup
dan kompetensi dasar mengidentifikasi kelangsungan hidup makhluk hidup melalui
adaptasi, seleksi alam, dan perkembangbiakan. Kompetensi Dasar: mengidentifikasi
kelangsungan hidup makhluk hidup melalui adaptasi, seleksi alam, dan
perkembangbiakan.
METODE
Penelitian dilaksanakan dengan menggunakan metode:
1. Rancangan kuasi eksperimen dengan desain berimbang (Counterbalanced
Design) untuk hasil belajar siswa (Campbell & Stanley, 1966).
200
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
2. Menggunakan metode kategorikal untuk
proses pembelajaran siswa dengan
kategori yakni baik (76-100%), sedang (56-75%), kurang (40-55%), dan buruk
(< 40%) (Arikunto, 1998).
3. Menggunakan metode deskriptif untuk penelitian tentang pemahaman etika
lingkungan terhadap hutan mangrove tepi sungai dengan menggunakan
instrumen penelitian yang diadaptasi dari Clark, tahun 1997.
4. Menggunakan metode deskriptif untuk aktivitas siswa dan guru pada proses
pembelajaran dianalisis melalui tahapan pemaparan data dan penyimpulan hasil
analisis (Suyanto, dkk., 2006).
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah penggunaan pendekatan inkuiri
melalui aktivitas outbond di kawasan hutan mangrove. Variabel terikat adalah
pemahaman siswa berupa hasil belajar siswa pada konsep kelangsungan hidup
organisme. Penelitian dilakukan selama 4 bulan dimulai pada bulan September
sampai Desember 2008 di SMP Negeri I Anjir Muara Tempat pembelajaran untuk
kelas kontrol di dalam kelas sedangkan tempat pembelajaran untuk kelas eksperimen
di kawasan hutan mangrove muara sungai Anjir Muara.
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini meliputi LKS, alat
evaluasi hasil belajar yang berpedoman pada indikator masing-masing rencana
pembelajaran dan evaluasi etika lingkungan terhadap hutan mangrove. Populasi
dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri 1 Anjir Muara yang terdiri
dari tiga kelas dengan
sampel total. Teknik pengumpulan dan analisis data
dibedakan sebagai berikut:
1. Data kuantitatif berupa hasil belajar yang diperoleh dari nilai pretes dan postes di
kelas kontrol dan eksperiment dianalisis dengan teknik analisis kovarian
(ANACOVA) menggunakan fasilitas Statistical Analysis Sistem (Program SAS
604). Penarikan kesimpulan signifikansi didasarkan atas apabila nilai
kemungkinan Ho ditolak lebih besar dari Pr, maka Ho diterima. Apabila nilai
kemungkinan Ho ditolak lebih kecil dari Pr, maka Ho ditolak. Nilai Pr
(Probability) diperoleh otomatis dari penggunaan fasilitas Statistical Analysis
Sistem (Program SAS 604) yaitu sebesar 0,05 (Ingraham dkk, 1985).
2. Data kuantitatif proses pembelajaran yang diperoleh dari LKS di analisis dengan
menggunakan kategori sebagai berikut baik (76-100%), sedang (56-75%), kurang
(40-55%), dan buruk (<40%) (Arikunto, 1998).
201
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
3. Data kuantitatif tentang pemahaman etika lingkungan terhadap hutan mangrove
yang diperoleh siswa selama pembelajaran dikumpulkan dan di analisis dengan
menggunakan instrumen penelitian yang diadaptasi dari Clark tahun 1997.
4. Data kualitatif berupa aktivitas siswa dan guru yang diperoleh dari pengamatan
terhadap perilaku siswa dan aktivitas guru pada proses pembelajaran dianalisis
melalui tahapan pemaparan data dan penyimpulan hasil analisis (Suyanto, dkk.,
2006).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian penggunaan pendekatan inkuiri terhadap pemahaman
konsep kelangsungan hidup organisme di SMP Negeri 1 Anjir Muara Batola
(penelitian eksperimen melalui aktivitas outbond di kawasan hutan mangrove) ini,
dari hasil belajar siswa eksperimen dan kelas kontrol pada pembelajaran 1, 2 dan 3
terdapat perbedaan nilai pretes dan postes. Data hasil belajar tersebut selanjutnya
dianalisis dengan menggunakan teknik analisis kovarian. Hasil analisis tersebut
digunakan untuk pengujian hipotesis yang telah ditetapkan, yaitu apakah Ho ditolak
ataukah Ho diterima. Pengujian hipotesis pada penelitian ini didasarkan pada tingkat
signifikansi atau probabilitas yang ditetapkan (Pr) yaitu sebesar 0,05, maka apabila
nilai kemungkinan Ho ditolak lebih besar dari 0,05 maka Ho diterima, dan apabila
nilai kemungkinan Ho ditolak lebih kecil dari 0,05 maka Ho ditolak.
Berdasarkan hasil analisis kovarian pada pembelajaran 1 menunjukkan
kemungkinan Ho ditolak sebesar 0,0595 yaitu lebih besar dari 0,05 artinya
peningkatan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak berbeda
secara signifikan, maka dapat dikatakan bahwa pada pembelajaran 1 penggunaan
pendekatan inkuiri melalui aktivitas outbond tidak berpengaruh terhadap peningkatan
hasil belajar siswa. Kemungkinan hal ini terjadi karena pembelajaran menggunakan
pendekatan inkuiri melalui aktivitas outbond tergolong baru bagi siswa sehingga
siswa masih belum terbiasa dan harus menyesuaikan diri terhadap cara pembelajaran
tersebut.
Hasil analisis kovarian pada pembelajaran 2 menunjukkan nilai kemungkinan
Ho ditolak sebesar 0,0008 yaitu lebih kecil dari 0,05 artinya peningkatan hasil belajar
antara kelas eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan, maka dapat
dikatakan bahwa pada pembelajaran 2 penggunaan pendekatan inkuiri melalui
aktivitas outbond berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa. Hasil
202
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
analisis kovarian pada pembelajaran 3 menunjukkan nilai kemungkinan Ho ditolak
sebesar 0,006 lebih kecil dari 0,05 artinya peningkatan hasil belajar antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol berbeda secara signifikan, maka dapat dikatakan bahwa
pada pembelajaran 3 penggunaan pendekatan inkuiri melalui aktivitas outbond
berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa.
Berdasarkan hasil analisis pembelajaran 1, 2 dan 3 tersebut walaupun pada
pembelajaran 1 tidak terdapat perbedaan yang signifkan antara peningkatan hasil
belajar siswa kelas eksperimen dan kelas konrol, namun pada pembelajaran 2 dan 3
peningkatan hasil belajar antara siswa kelas eksperimen dan kontrol telah
menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dari analisis kovarian hasil belajar siswa
pada pembelajaran 2 dan 3 dapat dikatakan bahwa penggunaan pendekatan inkuiri
melalui aktivitas outbond di kawasan hutan mangrove berpengaruh terhadap
peningkatan hasil belajar siswa. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan Ho
ditolak dan Ha diterima, yaitu penggunaan pendekatan inkuiri melalui aktivitas
Outbond di kawasan
hutan Mangrove berpengaruh terhadap peningkatan hasil
belajar siswa pada konsep kelangsungan hidup organisme.
Hasil belajar siswa pada pembelajaran 1 persentase ketuntasan klasikal kelas
eksperimen lebih tinggi yaitu sebesar 72,22% dibandingkan kelas kontrol yang hanya
57,14%. Pada pembelajaran 2 persentase ketuntasan klasikal kelas eksperimen juga
lebih tinggi yaitu sebesar 83,64 % bila dibandingkan kelas kontrol yang hanya 74,07
%. Pada pembelajaran 3 persentase ketuntasan klasikal kelas eksperimen mencapai
89,09 % sedangkan kelas kontrol sebesar 66,67 %.
Bila dilihat ketuntasan klasikalnya, hasil belajar siswa yang didapat setiap
pembelajaran 1, 2 dan 3 juga terdapat perbedaan antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol, pada materi pelajaran yang sama yaitu kelangsungan hidup organisme
persentase ketuntasan klasikal kelas eksperimen yang menggunakan pendekatan
inkuiri lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan cara
belajar menggunakan pendekatan konseptual.
Dengan demikian penggunaan pendekatan inkuiri pada pembelajaran dalam
penelitian ini dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini sejalan dengan
penelitian-penelitian sebelumnya yaitu Sukamti (2004) dan Murtiani (2008) yang
melaporkan bahwa penggunaan pendekatan inkuiri dapat meningkatkan hasil belajar
pada konsep biologi.
203
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
Penggunaan pendekatan inkuiri dalam penelitian ini dapat meningkatkan
hasil belajar siswa pada pembelajaran konsep kelangsungan hidup organisme hal ini
dikarenakan bahwa melalui pembelajaran menggunakan pendekatan inkuiri, dengan
adanya pencarian jawaban yang mempersyaratkan siswa melakukan serangkaian
kegiatan intelektual agar pengalaman (masalahnya) dapat dipahami. Karena itu
inkuiri menekankan pada adanya inisiatif siswa untuk mengalami proses belajarnya
sendiri (Susilo, 2003). Dan menurut Bruner dalam Dahar dan Liliasari (1986)
pendekatan inkuiri meningkatkan potensi intelektual siswa, karena siswa diberi
kesempatan untuk mencari dan menemukan keteraturan-keteraturan dan hal-hal yang
berhubungan dengan pengamatan dan pengalaman sendiri. Selain itu belajar melalui
inkuri memperpanjang proses ingatan atau dengan kata lain hal-hal yang dipelajari
melalui inkuri lebih lama dapat diingat.
Kualitas proses pembelajaran siswa dalam memperoleh pengetahuannya
melalui aktivitas outbond di kawasan hutan mangrove tepi sungai dapat diketahui
dari hasil pikiran yang mereka tuangkan dalam mengisi lembar kegiatan siswa (LKS)
yang kemudian dapat dinilai dan menjadi data kuantitatif proses pembelajaran yang
terlihat pada tabel 9, hasil tersebut menunjukkan pada proses pembelajaran 1
tergolong sedang, pada proses pembelajaran 2 tergolong baik dan pada proses
pembelajaran 3 juga tergolong baik. Dari proses belajar tersebut siswa diharapkan
memperoleh pengetahuannya sendiri dari data-data yang telah diperoleh dari
lingkungan tempat belajarnya yang dalam penelitian ini tempat belajarnya adalah
kawasan hutan mangrove tepi sungai. Menurut Susilo (2003) teknik berinkuiri
menekankan pada bagaimana data diperoleh dan diubah menjadi pengetahuan.
Sedangkan menurut Sanjaya (2007) tujuan utama dari strategi inkuiri adalah
pengembangan kemampuan berpikir. Dengan demikian, strategi pembelajaran inkuiri
selain berorientasi kepada hasil belajar juga berorientasi pada proses belajar. Proses
pembelajaran pada dasarnya adalah proses interaksi, baik interaksi antara siswa
maupun interaksi dengan guru, bahkan interaksi siswa dengan lingkungan.
Hasil pemahaman etika lingkungan siswa kelas eksperimen terhadap hutan
mangrove pada pembelajaran 1, 2 dan 3, menunjukkan bahwa pengetahuan dasar
siswa tentang pemahaman etika lingkungan tergolong rendah, namun pada hasil
postes yaitu setelah terjadi proses pembelajaran dengan pendekatan inkuiri terlihat
adanya peningkatan pengetahuan dasar siswa tentang etika lingkungan terhadap
hutan mangrove. Peningkatan penguasaan pengetahuan dasar siswa tentang etika
204
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
lingkungan akan berdampak pada kemampuan siswa dalam mengetahui pentingnya
topik dan nilai-nilai sebagai pembelajaran etika lingkungan. Pada hasil postes
pembelajaran 1, 2 dan 3,
pentingnya topik dan nilai-nilai menjadi lebih baik
dibandingkan hasil pretes, hal ini menunjukkan topik yang dipilih pada pembelajaran
melalui pendekatan inkuiri dapat menunjang pemahaman siswa tentang etika
lingkungan terhadap hutan mangrove. Sebaliknya pada kelas kontrol, selama
pembelajaran 1, 2 dan 3 tidak terjadi peningkatan pengetahuan dasar yang
memuaskan, bahkan masih terjadi peningkatan persentase ketidaktahuan dan keraguraguan pada siswa, hal tersebut terjadi, kemungkinan karena siswa kelas kontrol
tidak melihat secara langsung bagaimana kondisi hutan mangrove yang
sesungguhnya.
Peningkatan pengetahuan dasar siswa tentang etika lingkungan terhadap
hutan mangrove, dapat dikatakan bahwa siswa mulai sadar tentang pentingnya
pelestarian hutan mangrove tepi sungai, dan dari peningkatan penguasaan
pengetahuan dasar siswa tentang etika lingkungan
akan berdampak pada
kemampuan siswa menilai pentingnya memasukkan topik etika terhadap hutan
mangrove sebagai materi pembelajaran. Peningkatan pengetahuan dasar juga akan
mempengaruhi pergeseran nilai-nilai yang diperoleh siswa tentang etika lingkungan
terhadap hutan mangrove menjadi lebih baik setelah proses pembelajaran.
Dari peningkatan pemahaman etika lingkungan yang meliputi 3 komponen
utama yakni, pengetahuan dasar, pentingnya topik dan nilai-nilai selama
pembelajaran menunjukkan bahwa topik yang dipilih pada pembelajaran melalui
pendekatan inkuiri melalui aktivitas outbond di kawasan hutan mangrove dapat
menunjang pemahaman siswa tentang etika lingkungan terhadap hutan mangrove.
Sehingga pembekalan pengetahuan dasar tentang etika lingkungan atau pengetahuan
lingkungan hidup bagi siswa dengan memanfaatkan lingkungan disekitarnya sebagai
tempat belajar diharapkan dapat mendidik siswa menjadi manusia yang dapat
memanfaatkan alam terutama kawasan hutan mangrove tepi sungai secara bijaksana.
Selain itu menurut Keeley (2007) kunjungan lapangan ke hutan mangrove
merupakan kesempatan yang baik untuk mempromosikan konservasi alam kepada
siswa yaitu perlindungan dan cara yang yang bijaksana dalam memanfaatkan sumber
daya alam secara lestari. Hal ini sesuai salah satu tujuan pembelajaran IPA di
SMP/MTs
dalam
Kurikulum
Tingkat
Satuan
Pendidikan
(KTSP)
adalah
205
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan
melestarikan lingkungan alam.
Dari data kualitatif yang meliputi data observasi aktivitas yang dilakukan
guru dan observasi aktivitas yang dilakukan siswa, baik di kelas eksperimen maupun
kelas kontrol. Diperoleh hasil bahwa siswa pada kelas eksperimen cenderung aktif
disetiap parameter aktivitas yang diamati, namun aktivitas yang terlihat paling
dominan baik pada proses pembelajaran 1, 2 maupun 3 adalah melakukan
pengamatan dan mengumpulkan data-data pengamatan, dan berdiskusi antar siswa,
kelompok atau guru. Sedangkan siswa pada kelas kontrol baik pada proses
pembelajaran 1, 2 maupun 3 cenderung hanya memperhatikan penjelasan guru atau
siswa lain dan menulis hal-hal yang releven dengan kegiatan belajar mengajar. Pada
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan inkuiri menekankan kepada aktivitas
siswa secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya inkuiri menempatkan
siswa sebagai subjek belajar. Dalam proses pembelajaran, siswa tidak hanya
berperan sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal, tetapi
mereka berperan untuk menemukan sendiri inti dari materi pelajaran itu sendiri
(Sanjaya, 2007).
Aktivitas guru pada kelas eksperimen yang terlihat paling dominan baik pada
proses pembelajaran 1, 2 maupun 3 adalah
membimbing siswa melakukan
pengamatan dan membimbing siswa berdiskusi antar siswa, kelompok atau guru. Hal
ini dapat dilihat dari banyaknya frekuensi dan besarnya persentase aktivitas tersebut
bila dibandingkan dengan aktivitas lain yang diamati. Sedangkan di kelas kontrol
guru terlihat paling dominan pada proses pembelajaran 1, 2 maupun 3 adalah dalam
membimbing siswa memahami materi. Pada pembelajaran menggunakan pendekatan
inkuiri tugas dan peran guru dalam tahapan mengumpulkan data adalah mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk berpikir mencari
informasi yang dibutuhkan sehingga guru hanya bertindak sebagai fasilitator,
narasumber dan penyuluh kelompok sedangkan para siswa didorong untuk mencari
pengetahuan sendiri, bukan dijejali dengan pengetahuan (Hamalik, 2008)
Dalam pelaksanaannya strategi pembelajaran inkuri banyak dianjurkan
karena merupakan pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek
kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang sehingga pembelajaran melalui
strategi ini dianggap lebih bermakna, pembelajaran ini dianggap sesuai dengan
perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses
206
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman selain itu, keuntungan lain
pembelajaran ini dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan
gaya belajar mereka. Namun perlu juga diperhatikan bahwa pembelajaran
menggunakan pendekatan inkuiri ini juga memiliki kelemahan yaitu memerlukan
waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang
telah ditentukan (Sanjaya, 2007)
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan
bahwa: Penggunaan pendekatan inkuiri melalui aktifitas outbond di kawasan hutan
mangrove berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman siswa pada konsep
kelangsungan hidup organisme di SMP Negeri 1 Anjir Muara Batola.
Beberapa saran yang dapat diberikan adalah 1) Pendekatan inkuiri dapat
dijadikan pilihan yang baik dalam pembelajaran karena dengan berinkuiri siswa
dapat mengalami pembelajaran yang lebih bermakna. 2) Pembelajaran menggunakan
pendekatan inkuiri, khususnya dengan menggunakan lingkungan seperti kawasan
hutan mangrove sebagai tempat pembelajaran, guru memerlukan pendamping untuk
mengawasi siswa dalam melaksanakan penjelajahan lingkungan. 3) Pembelajaran
menggunakan pendekatan inkuiri memerlukan waktu yang relatif panjang sehingga
guru harus merencanakan pengalokasian waktu sejak dalam membuat program
semester.
DAFTAR RUJUKAN
Alma, Buchari, Hari Mulyadi, Girang Razati dan B. Lena Nuryati. 2008. Guru
Profesional (Menguasai Metode dan Terampil Mengajar). Alfabeta. Bandung
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka
Cipta. Jakarta.
Arisworo, Djoko & Yusa. 2007. Ilmu Pengetahuan Alam. Grafindo Media Pratama.
Bandung.
Ary, Donald, Lucy Cheser Jacobs, Asghar Razavieh. 1996. Pengantar Penelitian
Dalam Pendidikan diterjemahkan oleh Arief Furchan. Usaha Nasional.
Surabaya
Campbell, Donald T. & Julian C, Stanley. 1966. Experimental and QuasiExperimental Designs for Research On Teaching. Dalam Gage N.L.
(penyunting). Handbook of Research On Teaching. A Project of The
207
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
American Educational Rsearch Association. Department of The National
Education Association. Chicago.
Clark. 1997. Sosial Issue dan Genetics Testing: A Case Study Using Advocacy
Groups.
Dahar, Ratna Wilis dan Liliasari. 1986. Interaksi Belajar Mengajar IPA. Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuka. Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri dan Aswan Zain. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Rineka
Cipta. Jakarta.
Faisal, Sanapiah. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Usaha Nasional.
Surabaya
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta
Hasibuan, J.J dan Moedjiono. 1985. Proses Belajar Mengajar. Remaja Rosdakarya.
Bandung
Ingraham, Kathryn P, Regina C. Luginbuhl, Sandra D. Schlotzhauer, Harriet Watts.
1985. SAS/STAT User’s Guide Release 6,03. Cary, North Carolina. SAS
Institute Inc, USA
Keeley, Martin A. 2007. Hutan Mangrove Yang Menakjubkan : Buku Panduan
Pendidikan Lingkungan Hidup Berbasis Kurikulum. Pusat Studi Asia Pasifik
UGM. Yogyakarta
Keraf, A. Sonny. 2008. Etika Lingkungan. Kompas. Jakarta.
Kresno, Aji. Menengok Bekantan di Kalimantan. www_kbmwbu_jawatengah
_go_id.mht. Diakses 28 September 2008
Murtiani. 2008. Penggunaan Pendekatan Inkuiri Dengan Pendekatan Kooperatif
Untuk Meningkatkan Pemahaman Difusi dan Osmosis Pada Siswa SMP
Negeri Batu Ampar. Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNLAM.
Banjarmasin
Putri, Vincencia. 2006. Mendidik Generasi Muda dengan Pendidikan Lingkungan.
http://superboinx.blogspot.com/2005/10/bencana-alam-etikalingkungan.html. Diakses 25 Oktober 2008
Roestiyah. 2008. Strategi Belajar Mengajar. Rineka Cipta. Jakarta
Rudianto. 2008. Menyelamatkan Hutan Mangrove http://www.banjarmasinpost.
co.id. Diakses 28 September 2008
Sanjaya, Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Kencana. Jakarta.
208
Seminar Nasional Sains 2010
Palangka Raya, 07 Agustus 2010
Sudjana, Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru
Algensindo.
Susilo, Herawati. 2003. Kapita Selekta pembelajaran Biologi. Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka.
Sukamti. 2004. Penerapan Metode Discovery-Inquiry dalam Pengajaran SAINS di
Sekolah Dasar. Universitas Negeri Malang, http://www.pages-yourfavorite.
com./ppsupi/abstraksains2004.html .diakses 16 September 2008.
Tim Adiwiyata. 2008. Wujudkan Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan. Asdep
Urusan Edukasi dan Komunikasi Lingkungan, Deputi Bidang Komunikasi
Lingkungan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Negara
Lingkungan Hidup. Jakarta.
Tim Revisi. 2007. Petunjuk Penulisan Karya Ilmiah Edisi IV. Jurusan Pendidikan
Matematika dan IPA FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Banjarmasin
209
Fly UP