...

Tidak Tunduk Kepada Hukum Tuhan?

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Tidak Tunduk Kepada Hukum Tuhan?
Reposisi Taurat Dalam Kehidupan Orang Percaya
Komunitas Nasrani Indonesia
Untuk Kalangan Sendiri
Tidak Tunduk Kepada
Hukum Tuhan ?
Reposisi Taurat
Dalam Kehidupan Orang Percaya
Komunitas Nasrani Indonesia
Untuk Kalangan Sendiri
ii
Tidak Tunduk Kepada Hukum Tuhan?
Reposisi Taurat
Dalam Kehidupan Orang Percaya
Disadur dari
"Not Subject to The Law Of God?"
www.yashanet.com
dengan beberapa perubahan
Diterbitkan oleh
Komunitas Nasrani Indonesia
www.nazarene.net/indonesia
Izin Memperbanyak
Pembaca dipersilakan untuk memperbanyak buku ini,
baik dalam media elektronik maupun media cetakan,
dengan syarat tidak mengubah, menambahi atau mengurangi
isi dari buku ini, termasuk informasi mengenai penerbit.
Jakarta 2002
First Revised Edition
iii
Daftar Isi
Kata Pengantar
Pembuka
...……………………………………………..
vi
………………………………………………………
1
1. Pandangan Kristen terhadap "Hukum" Taurat
…………….
2. Pandangan Ibrani tentang Taurat dan Keselamatan
……….
3
8
3. Apa kata "Perjanjian Baru" tentang Taurat dan Keselamatan ?
20
4. Kesulitan Kristen memahami "Hukum"
25
…………………...
5. Bagaimana pandangan Kristen terhadap Taurat bermula ?
..
37
6. Realitas Sejarah Mengenai Apa yang Dianut Yeshua dan
Pengikut-Nya …………………………………………………
49
7. Paulus dan Ajarannya dalam Perspektif Ibrani
……………
62
8. Membangun kembali hubungan antara orang percaya dan
Taurat ………………………………………………………...
74
9. Apakah semua ini begitu penting ?
………………………..
85
……………………………………………………….
93
……………………………………………………...
95
Penutup
Referensi
iv
Catatan penulisan
! Buku ini memakai nama asli Mesias dalam bahasa IbraniAramaik (bahasa sehari-hari yang dipakai oleh bangsa
Yahudi pada abad pertama) yakni Yeshua yang artinya
“TUHAN menyelamatkan”.
! Seluruh kutipan ayat Alkitab mempergunakan kata
El/Eloah/Elohim sebagaimana ia muncul dalam teks aslinya,
kecuali yang diberi keterangan khusus.
! Singkatan-singkatan yang digunakan:
o
o
Ay.
Bd.
Ayat
Bandingkan
Singkatan nama kitab-kitab suci mengikuti cara penyingkatan
seperti yang dipakai di dalam Alkitab Terjemahan Baru LAI,
misalkan Kej. untuk Kejadian, Mzm. untuk Mazmur dan
Why untuk Wahyu.
v
Kata Pengantar
Shalom aleikhem,
Menerima Yesus sebagai Mesias dan memelihara hukum Taurat
adalah sebuah pernyataan oksimoron bagi umat Kristen. "Sebab kita
tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat melainkan di bawah karunia."
Bagi sebagian orang, menerima Mesias dan memelihara hukum Taurat
adalah sebuah paradoks besar sebab keduanya dipandang sebagai
sebuah kontradiksi.
Menerima Mesias dan memelihara hukum Taurat sebenarnya tidak
terdengar aneh bila kita mau kembali kepada apa yang dikatakan
dalam Alkitab serta mempelajarinya dalam konteks yang benar.
Menerima Mesias dan memelihara hukum Taurat adalah dua hal yang
konsisten, berkesinambungan, saling berkaitan, dan tidak terpisahkan.
Menerima Mesias dan mengabaikan hukum Taurat adalah sebuah
sikap yang keliru dan sebaliknya, memelihara hukum Taurat tetapi
menolak Mesias adalah juga sikap yang keliru. Beratus-ratus tahun
manusia terjebak dalam dua posisi yang keliru ini. Tetapi puji Tuhan,
setidaknya dalam empat dekade terakhir, banyak kalangan dari orang
Yahudi maupun bukan Yahudi yang mengalami kerinduan akan
kebenaran Jalan Tuhan dengan menempatkan kembali penafsiran
Alkitab dalam konteks yang benar, yakni dalam pola pikir dan budaya
Ibrani tanpa disertai bias anti-Yahudi yang dianut oleh Barat selama
ini.
Kerinduan ini telah mendorong kami untuk membuka kembali fakta
bahwa para pengikut Yesus yang mula-mula terdiri atas kumpulan
orang Yahudi dan bukan Yahudi yang dikenal sebagai sekte Nasrani
(Kis 24:5). Lewat Kisah Para Rasul pula kita mengetahui bahwa
mereka rajin memelihara Taurat (Kis 21:20) dan sama sekali tidak
meninggalkan ibadah Yahudi (Kis 2:46). Santo Yerome, Bapa Gereja
dari abad keempat, menjelaskan kaum ini sebagai orang "...yang
menerima Kristus sedemikian rupa namun tanpa meninggalkan
Hukum yang lama." (Yerome; On Isaiah 8:14). Bapa Gereja lainnya,
Epiphanius memberikan deskripsi yang lebih detil:
"Tetapi pengikut sekte ini…tidak menyebut diri mereka Kristen –
melainkan Nasrani…Mereka tidak mempunyai pendapat yang
vi
berbeda namun melakukan semua hal tepat seperti apa yang
diperintahkan dalam Taurat, menurut tata cara Yahudi – kecuali satu
hal, kepercayaan mereka terhadap Mesias…tetapi karena mereka
tetap terbelenggu oleh hukum Taurat – sunat, hari Sabat, dan lainnya,
mereka tidak tergolong ke dalam Kristen." (Epiphanius; Panarion 29).
Alkitab dan bukti historis mengungkapkan bahwa Nasrani adalah
sebuah sekte yang eksis dalam tubuh Yudaisme. Bagaimana Kristen
sampai pada bentuknya saat ini sebenarnya merupakan hasil dari
proses pemisahan diri dari Yudaisme yang dipicu oleh sikap antiYahudi para Bapa Gereja. Akibat dari proses ini, umat Kristen
sekarang mewariskan suatu pandangan yang keliru terhadap peranan
Taurat dalam kehidupan orang-orang percaya. Kekeliruan ini juga
menciptakan suatu konsep teologi yang salah tentang hubungan orang
Yahudi dan orang bukan Yahudi dengan Tuhan. Tujuan buku ini
adalah untuk meluruskan kekeliruan ini dan membantu setiap orang
yang percaya kepada Yeshua ha-Mashiach, terutama dari kalangan
bukan Yahudi, untuk menemukan penerapan Taurat yang tepat dalam
iman mereka.
Struktur dan isi buku ini dibangun menurut sumber tulisan utama Not
Subject to the Law of God ? dengan penyesuaian di sana-sini supaya
lebih mudah dimengerti oleh pembaca di Indonesia. Oleh sebab itu
penulis hendak mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada
staf YashaNet yang telah menyediakan sumber tulisan yang begitu
luar biasa dan mengizinkan kami untuk menerjemahkannya. Tuhan
memberkati.
Eliyahu ben-Avraham.
vii
viii
Pembuka
Reposisi Taurat Dalam
Kehidupan Orang Percaya
Hampir setiap orang percaya masa kini, yang tumbuh dan dibesarkan
di dalam Gereja, mempunyai pemikiran yang negatif terhadap apa
yang dinamakan hukum Taurat dan serta merta menolaknya. Analisa
yang cermat memperlihatkan bahwa apa yang telah mereka tolak
sebagai hukum Taurat itu, hanyalah gambaran yang salah tentang
Taurat yang diciptakan oleh pemikiran-pemikiran keliru dan kesalahpahaman yang diturunkan generasi demi generasi
Ada orang yang menolak Taurat dengan alasan hukum Taurat adalah
aturan-aturan orang Yahudi yang tidak relevan untuk orang Kristen.
Yang lain menolak Taurat karena dikatakan bahwa Kristus telah
menggenapinya. Sementara yang lainnya lagi bersikap selektif dengan
menerima perintah-perintah tertentu yang sesuai dengan kehidupan
duniawi mereka. Sebagian berargumen bahwa hukum Taurat yang asli
adalah hanya meliputi sepuluh perintah Tuhan (plus dengan perubahan
dari perintah memelihara hari Sabat menjadi memelihara hari
Minggu). Sedangkan perintah-perintah lainnya hanyalah adat-istiadat
religi orang Yahudi yang ditambahkan ke dalam kitab Taurat. Ini
adalah teologi yang absurd. Tetapi lucunya ketika pengajar Kristen
ditanya tentang masalah homoseksualitas misalnya, mereka akan
segera mengacu kembali kepada apa yang dicap sebagai adat-istiadat
orang Yahudi itu. Ada banyak alasan lain dalam penolakan Gereja
yang semuanya bisa ditelusuri berasal dari sikap dan pemikiran tokohtokoh Gereja masa post-apostolik (sesudah para rasul) yang penuh
dengan semangat permusuhan dan kebencian terhadap bangsa Yahudi.
Selama berabad-abad kita menyaksikan bagaimana Taurat dirumuskan
oleh Gereja. Taurat selalu dipandang sebagi suatu cara hidup
legalistis, yang bersifat lahiriah dan kurang mempunyai nilai-nilai
spiritual. Taurat kemudian dimengerti semata-mata sebagai 'hukum'.
Perumusan tersebut dalam banyak hal bertolak-belakang dengan
pemahaman orang Yahudi tentang Taurat.
Apakah arti Taurat bagi anda ? Apakah kata itu membayangkan Sabat,
sunat, haram halal, serta cara-cara hidup orang Yahudi lainnya yang
1
dikecam oleh Yesus ? Apakah anda menghubungkan Taurat dengan
setiap pola hidup buruk orang-orang Farisi yang 'jahat' itu ? Apakah
ini yang menjadi alasan yang menghalangi anda untuk menerima
Taurat sebagai standar hidup bagi umat-Nya ? Banyak orang telah
memalsukan uang kertas. Kemudian apakah masih rasional bila anda
menolak yang asli itu karena yang palsu juga ada ?
Pemahaman orang percaya terhadap Yudaisme lebih banyak berasal
dari pengetahuan yang sedikit yang mereka baca dari Perjanjian Baru,
yang ditarik dari konteks historisnya dan ditafsirkan dengan cara-cara
yang tidak Ibrani. Beribadah untuk memenuhi kewajiban, memelihara
tradisi, mengikat beban berat, adalah sebagian dari praktek-praktek
buruk orang Yahudi yang sering dibicarakan dalam gereja. Seringkali
menyusul sikap yang negatif itu timbul kemudian respon penolakan
dalam diri orang-orang percaya. Akhirnya apa yang dikira sebagai
hukum Taurat ditolak oleh mereka. Mereka sendiri yang memberikan
gambaran yang salah mengenai Taurat, lalu mereka pulalah yang
menolaknya.
Mungkin andakah orang yang demikian ? Atau termasukkah anda di
antara mereka yang dengan rela ingin mengenal Taurat-Nya ? Jika
anda termasuk dalam kategori yang kedua, buku ini akan membantu
anda untuk mengenal gambaran yang benar akan hukum Tuhan.
2
Bagian 1
Pandangan Kristen terhadap
"Hukum" Taurat
Pandangan Kristen saat ini terhadap apa yang disebut dengan
"Hukum" Taurat berasal dari cara pikir dan pendekatan
Yunani/Romawi dalam mempelajari Alkitab. Semua ini dibentuk oleh
para Bapa Gereja pada masa awal-awal perkembangan Kristen yakni
antara abad kedua hingga keenam, dan sejak itu terus-menerus
merasuki cara pikir orang Kristen. Begitu orang Kristen mendengar
atau menggunakan istilah "Hukum" Taurat dalam setiap diskusi
rohani, khotbah, tulisan dan sebagainya, pemikiran mereka akan
langsung mengacu kepada pengertian "legalistis". Teologi Kristen
sering menuduh upaya manusia memelihara perintah-perintah Taurat
itu sebagai upaya sia-sia untuk mencapai keselamatan.
Tiga pandangan dalam dunia Kristen terhadap "Hukum" Taurat yang
patut disimak :
! Mengerjakan Hukum Musa menempatkan manusia "di bawah
belenggu" dan sekarang Yesus telah membebaskan manusia
dari belenggu itu.
! "Tidak ada seorangpun yang dibenarkan menurut Hukum" –
itulah sebabnya kita membutuhkan Yesus
! Hukum adalah sebuah "kutuk" dimana Yesus datang untuk
melenyapkannya
Tiga pandangan ini bisa jadi dinyatakan dengan susunan kata yang
berbeda-beda dalam setiap denominasi, tetapi konsepnya sama dan
terdapat dalam ajaran tiap-tiap denominasi Protestan dan Katholik.
Sebagai contoh, Dr. Charles Ryrie dalam buku teologianya yang
terkenal menulis dengan jelas bahwa "Hukum" Taurat telah diakhiri
dengan kedatangan Yesus:
"Arti penting lainnya dari kematian Kristus adalah sebuah permulaan
dari suatu keyakinan yang berdasarkan kebenaran iman dan
3
bukannya dari mengerjakan hukum. Tetapi, pernyataan Paulus dalam
Roma 10:4, bahwa Christ is the end of the Law, bisa mempunyai dua
pengertian: mengakhiri atau menggenapi. Dengan kata lain, apakah
Kristus mengakhiri Taurat, atau Kristus menggenapi Taurat (Mat
5:17). Tetapi nampaknya mengakhiri adalah arti dalam konteks ini
karena adanya perbedaan (mulai dari Rom 9:30) antara Taurat dan
kebenaran Tuhan. Argumen Paulus selanjutnya adalah bukannya
orang Yahudi tidak sempurna dan membutuhkan Kristus untuk
menyempurnakan hubungannya dengan Tuhan, tetapi sikapnya untuk
mengerjakan Taurat
itu yang jelas-jelas salah karena
menggantungkan kepada usaha manusia ketimbang menerima
anugerah kebenaran Tuhan. Walaupun adalah benar bahwa Tuhan
kita menggenapi Taurat, ayat ini tidak sedang mengajarkan demikian,
tetapi bahwa Ia mengakhiri Taurat dan memberikan kita sebuah jalan
hidup yang baru untuk Tuhan." 1
Contoh lainnya dari sebuah buku Kristen yang terkenal, When
Skeptics Ask karangan Norman L. Geisler, menunjukkan perbedaan
antara apa yang Taurat dan Yesus dapat lakukan untuk kita:
Ketika Musa menetapkan tatanan moral dan sosial untuk membimbing
bangsa itu, hukum Taurat tidak dapat menyelamatkan seorangpun
dari hukuman atas dosa mereka, yaitu maut. Seperti juga Paulus telah
berkata, "Sebab tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di
hadapan Tuhan oleh karena mengerjakan hukum Taurat, karena
justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Rom 3:20). Firman
yang datang dalam Yesus menyatakan dosa - yang telah
diperkenalkan oleh Taurat – sudah diampuni "dan oleh kasih karunia
telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam
Kristus Yesus" (ay. 24). Firman Kristus dibangun di atas fondasi
Musa dengan menuntaskan masalah yang telah ditunjukkan oleh
Taurat.2
Kristen mengajarkan bahwa barangsiapa "percaya kepada Yesus"
(Yahudi maupun bukan) tidak perlu lagi mengerjakan Taurat karena
sekarang mereka mempunyai "kemerdekaan dalam iman". Konsep
teologi ini paling banyak bersumber dari tulisan-tulisan Paulus, yang
1
Basic Theology - A Popular Systematic Guide To Understanding Biblical Truth,
Charles C. Ryrie, 1986, SP Publications Inc., Victor Books, Wheaton IL, pp. 302-303.
2
When Skeptics Ask, Norman L. Geisler and Ronald M. Brooks, 1990, SP Publications
Inc., Victor Books, Wheaton IL, p. 129.
4
menurut tradisi mengajarkan supaya tidak lagi mengerjakan "Hukum"
Taurat serta membuktikan bahwa "Hukum" Taurat tidak mempunyai
arti penting lagi dalam hidupnya.
Ayat-ayat yang seringkali dikutip untuk mendukung konsep teologi ini
antara lain:
For Christ is the end of the law for righteousness to every one that
believeth. (King James Bible, Roma 10:4)
Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat,
berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis, "Terkutuklah orang yang
tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum
Taurat". (Galatia 3:10)
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan
menjadi kutuk karena kita, karena ada tertulis: "Terkutuklah orang
yang digantung pada kayu salib". (Galatia 3:13)
Dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan
hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya
dengan memakukannya di kayu salib. (Kolose 2:14)
Karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu
mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan
baru ataupun hari Sabat; semuanya ini hanyalah bayangan dari apa
yang harus datang, sedang wujudnya ialah Kristus. (Kolose 2:16-17)
Di samping manusia tidak dapat dibenarkan oleh "Hukum" Taurat,
Kristen juga menyatakan bahwa barangsiapa mengajarkan orang
untuk memelihara Taurat, setelah orang itu menerima Kristus, adalah
pengajar sesat.
Penulis Kristen ternama William Barclay menyatakan hal berikut
dalam seri buku pemahaman Alkitabnya:
"Dalam Perjanjian Baru sendiri kita menemukan ada sekelompok
pengajar yang gagal dalam pertanggung-jawaban mereka dan
menjadi pengajar-pengajar sesat. Mereka adalah para pengajar yang
5
berusaha membelokkan Kristen menjadi semacam aliran dalam
Yudaisme serta mengajarkan sunat dan memelihara Taurat." 3
Pandangan Kristen terhadap Yudaisme
Kristen membedakan dirinya dengan Yudaisme (agama "Hukum"
Taurat) atas dasar pandangan bahwa Kristen adalah berdasarkan iman
dan kasih, sementara Yudaisme adalah berdasarkan usaha manusia
mengerjakan Taurat. Sejarah orang Yahudi dan orang Kristen
memberikan kesaksian bagaimana selama ini Yudaisme "dirumuskan"
oleh Gereja, dan hal itu mengakibatkan orang Yahudi dinyatakan
sebagai musuh gereja. Perumusan tersebut sepenuhnya bertolakbelakang dengan pemahaman orang Yahudi tentang dirinya sendiri.
Dalam banyak terbitan gereja, dari buku-buku dogmatika sampai buku
katekisasi, Yudaisme digambarkan sebagai sisi negatif dari umat
Kristen (yang positif). Jadi apabila orang Kristen berniat menegaskan
gagasan tentang "anugerah", Yudaisme akan dipaparkan sebagai
agama legalistis. Dan apabila kekristenan ditampilkan sebagai agama
universal, tanpa tembok pemisah, maka Yudaisme akan dijadikan
sebagai contoh agama yang menyempit dan tertutup.4 Mengutip lagi
tulisan William Barclay:
"Orang Kristen hidup di bawah hukum kemerdekaan, dan atas dasar
hukum kemerdekaan inilah ia akan dihakimi. Maksudnya begini.
Tidak seperti orang Farisi dan Yahudi Orthodoks, orang Kristen
bukanlah orang yang hidupnya terkekang dan diatur oleh seperangkat
lengkap aturan-aturan dan perintah yang dijatuhkan kepadanya tanpa
kecuali. Tetapi ia diatur oleh dorongan kasih. Ia mengikuti jalan yang
benar, jalan mengasihi Tuhan dan mencintai sesamanya, bukan
karena ada hukum yang memaksanya atau karena ketakutan akan
hukuman yang memaksanya melakukan itu tetapi karena kasih Kristus
dalam hatinya yang membuatnya melakukan itu." 5
Kristen juga jelas memandang bahwa dirinya adalah satu-satunya
agama Tuhan yang benar. Dalam penjelasan yang terdapat pada
3
The Daily Study Bible Series - the Letters of James and Peter, William Barclay, 1976,
The Westminster Press, Philadelphia, p. 80.
4
Akar Bersama – Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog Kristen-Yahudi, Hans
Ucko, 1999, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta, p.3
5
The Daily Study Bible Series - the Letters of James and Peter, William Barclay, 1976,
The Westminster Press, Philadelphia, p. 70.
6
appendiks salah satu versi King James Bible, tentang Surat Ibrani,
tertulis demikian:
"Dengan argumen yang dijelaskan dengan hati-hati, penulis [Surat
Ibrani]
memperlihatkan
bahwa
Kristen
mengungguli
Yudaisme,…Kristen adalah agama yang sempurna." 6
Penjelasan yang sama tentang Surat Galatia, seperti demikian:
"Surat Galatia telah dinyatakan sebagai deklarasi kemerdekaan
Kristen. Ini adalah jawaban Paulus buat orang-orang yang
menantang otoritasnya sebagai seorang rasul dan memaksa jemaat di
Galatia untuk hidup menurut hukum Musa. Bila orang Kristen
menerima hukum Yahudi sama artinya menjadikan Kristen sebuah
sekte di dalam Yudaisme. Paulus mengajarkan bahwa belenggu
hukum Taurat telah berakhir ketika Yesus membebaskan semua
manusia." 7
Penulis Kristen terkenal lainnya, J. Vernon McGee, membuat
pernyataan berikut tentang Paulus dan agama Yahudi dalam
penjelasan Alkitabnya:
"Paulus sekarang menyebut agama dimana ia dibesarkan "agama
orang Yahudi". Paulus diselamatkan, bukan dalam Yudaisme, tetapi
dari Yudaisme." 8
6
The Daily Study Bible Series - the Letters of James and Peter, William Barclay, 1976,
The Westminster Press, Philadelphia, p. 70.
7
ibid p. 10.
8
Thru the Bible Commentary Series, Galatians, J. Vernon McGee, Thomas Nelson
Publishers, Nashville, 1991, p. 23.
7
Bagian 2
Pandangan Ibrani tentang
Taurat dan Keselamatan
Istilah
Dalam banyak literatur Kristen, kata "Hukum" banyak digunakan
untuk mengacu kepada apa yang disebut orang Yahudi dengan Torah
(atau Taurat dalam bahasa Arab) – yakni kelima kitab pertama dalam
Alkitab. Istilah lain yang sering digunakan oleh orang Kristen adalah
Pentateuch (sebuah istilah Yunani). Istilah "Hukum", terutama dalam
pengertian legalitas sebagaimana pemahaman Kristen, bukanlah
terjemahan yang tepat untuk kata Torah. Terjemahan yang tepat
semestinya adalah "pengajaran" atau "firman". Inilah cara orang
Yahudi memandang Taurat.
Taurat adalah kumpulan pengajaran Tuhan bagaimana umat-Nya
(Yahudi maupun bukan) hidup, "supaya baik keadaanmu" (Ul 4:40).
Sebagai umat-Nya, bangsa Israel diberikan tanggung-jawab khusus
seperti Tuhan sudah berfirman, "Kuduslah kamu sebab Aku, TUHAN,
Elohimmu kudus." (Im 19:2) Disinilah Taurat berfungsi yaitu
menunjukkan cara bagaimana hidup kudus di hadapan Tuhan.
Ayat-ayat dalam Keluaran 12:48-49, Imamat 24:22 dan Yesaya pasal
56 menunjukkan bahwa Taurat bukan ditujukan untuk orang Yahudi
saja, tetapi juga untuk orang bukan Yahudi yang ingin menjadi bagian
dari umat-Nya. Walaupun Tuhan memutuskan untuk memberikan
wahyu-Nya kepada orang Yahudi, bukan lantas kemudian menjadi
milik tunggal "agama mereka". Mereka sebaliknya harus menjadi
"terang dunia" dan membawa berita keselamatan kepada orang-orang
bukan Yahudi (Lihat Yesaya 49:6, Zakharia 8:23, Matius 5:14,
Yohanes 4:22).
Walaupun Taurat sebenarnya adalah kelima buku Musa (Kejadian,
Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan), istilah Taurat juga meliputi
keseluruhan kitab-kitab lainnya dalam Alkitab, dalam pengertian
mereka merupakan kesinambungan wahyu Tuhan. Tidak ada firman
Tuhan dalam kitab-kitab setelah Taurat yang bertentangan dengan isi
Taurat, termasuk pula kitab-kitab "Perjanjian Baru". Firman Tuhan
adalah satu.
8
Apa yang dikatakan Alkitab tentang Taurat, Pengampunan Dosa
dan Keselamatan?
Dalam Injil Yohanes pasal 3 kita menjumpai salah satu ayat yang
menjadi fondasi dasar teologi "Kristen yang berbasiskan iman".
"Kamu harus dilahirkan kembali"
Orang Kristen sering memandangnya sebagai "ajaran Yesus" yang
luar biasa. Tetapi coba perhatikan, apa yang dikatakan Mesias ketika
Nikodemus bertanya "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi ?"
Yeshua menjawabnya, "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau
tidak mengerti hal-hal itu ?"
Nikodemus dikritik oleh Mesias yang berkata bahwa sebagai "seorang
pengajar Israel", semestinya ia tahu apa yang dimaksud dengan "lahir
kembali". Sekarang bagaimana Nikodemus bisa tahu tentang hal ini
jika ini adalah sebuah ajaran yang baru dari Yeshua ?
Jawabannya ialah "lahir kembali" adalah bukan ajaran yang baru.
Lahir kembali merupakan konsep dasar ajaran yang berbasiskan
Taurat sebab Taurat selalu mengajarkan untuk beriman kepada Tuhan
supaya selamat dan bukannya dengan "hidup dari pekerjaan hukum
Taurat".
Pesan ini bisa ditangkap dalam kitab Ulangan:
Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk.
(Ulangan 10:16)
Kata "tegar tengkuk" adalah sama dengan tidak mempunyai iman.
Tuhan menyebut angkatan di padang gurun itu tegar tengkuk sebab
mereka tidak percaya (beriman) kepada-Nya. (Lihat Keluaran 32:9;
33:3,5; 34:9; Ulangan 9:6,13; 2 Tawarikh 30:8; Kisah Para Rasul
7:51)
Ibrani 3:7-4:2 menjelaskan angkatan yang tegar tengkuk ini bahwa
mereka menerima firman Tuhan tetapi "tidak bertumbuh bersamasama oleh iman" dan "mereka sesat hati".
9
"Dan TUHAN, Elohimmu, akan menyunat hatimu dan hati
keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Elohimmu,
dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau
hidup." (Ulangan 30:6)
Kata "hidup" disini dipakai dalam pengertian rohani dan sama artinya
dengan keselamatan.
Dalam surat-suratnya Paulus memperlihatkan bahwa "sunat hati" ini
sama dengan "lahir kembali".
Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak
keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani,
bukan secara hurufiah. (Roma 2:29)
Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan
manusia, tetapi dengan sunat Kristus. (Kolose 2:11)
Tuhan selalu meminta kita untuk pertama-tama beriman kepada-Nya
sebelum berusaha "melakukan" sesuatu untuk-Nya.
Akulah TUHAN, Elohimmu, yang membawa engkau keluar dari tanah
Mesir, dari tempat perbudakan. Jangan ada padamu elohim lain di
hadapanKu. (Keluaran 20:2-3 dan Ulangan 5:6-7)
"Orang benar akan hidup oleh iman." (Habakuk 2:4 dan Roma 1:17)
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Eloah.
(Ibrani 11:6)
Yeshua melanjutkan percakapan-Nya dengan Nikodemus dengan
membicarakan kenaikan-Nya ke surga (Yoh 3:12-13), lalu
menghubungkan Taurat (sebagaimana Tuhan berbicara dalam
Ulangan 30:11-14) dengan diri-Nya (seperti yang ditulis Paulus dalam
Roma 10:1-8). Yeshua mengakhiri percakapan-Nya itu dengan
menunjuk kepada peristiwa ular tembaga (Yoh 3:14) sebagai suatu
kasus iman (Bil 21:9) diasosiasikan dengan iman kepada diri-Nya.
Tuhan tidak berubah (Mal 3:6). Keselamatan dalam sistem
kepercayaan berbasiskan Taurat selalu berdasarkan kepada iman, baik
10
sebelum Musa maupun sesudahnya, dan juga baik sebelum Yeshua
dan juga sesudah-Nya. Taurat adalah Firman Tuhan, seperti halnya
Yeshua adalah Firman Tuhan. Iman, Taurat dan Yeshua adalah tidak
terpisahkan. Keselamatan selalu datang lewat iman, Taurat, dan
Mesias, karena Yeshua adalah Anak Domba yang dikorbankan sejak
awal dunia (Ibr 4:3; 9:26; Why 13:8). Yeshua sendiri berkata:
"Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia
telah melihatnya dan ia bersukacita." (Yohanes 8:56)
Yeshua adalah kegenapan Taurat. Ia adalah Taurat yang menjadi
manusia (Yoh 1:1, 14).
Satu hal, ketika Yeshua dan para rasul menyebut Kitab Suci, yang
mereka maksudkan adalah kitab Taurat Musa – bukan Alkitab dengan
susunan seperti yang kita miliki sekarang. Meski orang-orang Yahudi
pada masa itu sudah menerima kitab para nabi dan kethubim (tulisantulisan seperti mazmur dan amsal) sebagai kitab yang sama sucinya
namun penetapan kanon Tanakh (Alkitab Yahudi - orang Kristen
menyebutnya "Perjanjian Lama") sendiri baru diselesaikan pada tahun
100. Jadi sewaktu Paulus menulis kepada Timotius: "Ingatlah juga
bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat
memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan
oleh iman kepada Kristus Yesus" (2 Tim 3:15) tentunya yang ia
maksud adalah kitab Taurat. Disini apa yang dipikirkan oleh Paulus
saat itu adalah bahwa kitab Taurat menuntun mereka kepada
keselamatan oleh iman kepada Mesias, sebuah konsep yang sama
seperti yang telah dijelaskan di atas.
Mengapa banyak orang tidak mampu menangkap hal ini ketika
mereka membaca Perjanjian Lama adalah karena pemahaman mereka
akan Alkitab telah dipengaruhi selama bertahun-tahun oleh generasigenerasi sebelumnya yang mempelajari dan menafsirkan kitab sucinya
orang Ibrani itu dengan pendekatan Hellenis (Yunani). Pola pemikiran
non-Ibrani ini tidak mudah untuk dibuang atau diubah sebab hampir
setiap hari kita dicekoki terus dengan pola pikir Hellenis oleh
keluarga, teman, pendeta, buku-buku rohani, acara rohani di radio dan
televisi – seluruh budaya dimana kita hidup.
Bagaimana dan mengapa Alkitab bisa ditafsirkan dengan pendekatan
demikian akan dijelaskan lebih jauh pada bab berikutnya.
11
Sebuah contoh Alkitab: Bagaimana Daud diselamatkan ?
Dalam Ibrani pasal 11 kita menjumpai satu daftar teladan-teladan
iman – banyak orang menyebutnya "The Faith Hall of Fame" – di
antaranya yang menarik adalah pencantuman antara lain nama Musa,
Samuel dan Daud. Penulis Ibrani menunjukkan bahwa mereka
diselamatkan oleh karena iman, yang mana kita ketahui bahwa mereka
juga dikenal taat mengerjakan Taurat.
Ketika menulis Mazmur 119, Daud tidak pernah merasa cukup untuk
menyatakan ekspresi kecintaannya terhadap Taurat. Mazmur 119
adalah mazmur terpanjang dalam Alkitab. 176 ayat hanya untuk
mengatakan satu hal : "TUHAN, aku mencintai Taurat-Mu." Sama
seperti seorang kekasih menceritakan kepada kekasihnya tentang
kasihnya dalam seribu cara, begitu pula Daud terus menerus
menceritakan kepada Tuhan bahwa ia mengasihi Tuhan, Tuhan yang
sudah membawanya dekat melalui firman-Nya: "Engkau dekat, ya
TUHAN" (ay. 151). Akan tetapi menurut teologi Kristen, ada
semacam dilema terhadap apa yang ia tulis.
Daud menulis tentang dirinya seperti berikut:
"Gulingkanlah dari atasku cela dan penghinaan, sebab aku
memegang peringatan-peringatanMu." (Mazmur 119:22)
"Orang-orang yang kurang ajar sangat mencemoohkan aku, tetapi
aku tidak menyimpang dari Taurat-Mu." (Mazmur 119:51)
"Inilah yang kuperoleh, bahwa aku memegang titah-titah-Mu."
(Mazmur 119:56)
"Aku tidak menyimpang dari hukum-hukum-Mu, sebab Engkaulah
yang mengajar aku." (Mazmur 119:102)
"Aku telah menjalankan hukum dan keadilan; janganlah menyerahkan
aku kepada pemeras-pemerasku!" (Mazmur 119:121)
Apakah ini Daud yang sama dengan yang mencabuli Betsyeba dan
merancang kematian Uria ? Ini belum termasuk pelanggaran Taurat
yang tidak tercatat. Menurut teologi Kristen, Daud jelas adalah
12
seorang pembohong. Bagaimana ia bisa mengatakan ia telah
menjalankan hukum Taurat, sementara kita tahu bagaimana ia
melanggarnya dengan cara yang keji ? Untuk menambah
"kebingungan", Tuhan sendiri menyebut Daud, "seorang yang
berkenan di hati-Nya." (1 Sam 13:14).
Jadi, apakah Daud seorang pembohong ? Atau mungkin Tuhan
membuat "pengecualian" untuknya ?
Ada sebuah petunjuk untuk menjawab pertanyaan ini yakni dalam
Mazmur 119 itu sendiri:
"Lihatlah betapa aku mencintai titah-titah-Mu! Ya TUHAN,
hidupkanlah aku sesuai dengan kasih setia-Mu." (Mazmur 119:159)
Kata "kasih setia" dalam bahasa Ibraninya adalah hesed dan ini
mempunyai arti yang sama dengan kasih karunia dalam "Perjanjian
Baru". Daud menyadari ia diselamatkan oleh kasih karunia Tuhan –
bukan karena mengerjakan semua perintah dengan sempurna, tetapi
karena ia mencintai titah-titah-Nya !
Sebuah pertanyaan menarik adalah "Mengapa Tuhan menyelamatkan
kita ?" Kebanyakan mungkin akan menjawab, "Supaya kita tidak
masuk ke neraka." Jawaban ini mungkin benar tetapi tidak lengkap.
Sebenarnya, Tuhan menyelamatkan kita supaya kita dapat melakukan
perintah-perintah (mitzvot) Taurat-Nya sepanjang hidup kita.
Mengerjakan mitzvot Tuhan adalah bagian dari kehendak-Nya agar
kita kembali kepada hubungan yang benar dengan Tuhan, yakni tujuan
dan maksud diciptakannya manusia, seperti keadaan mula-mula di
Taman Eden (Gan Eden).
Mazmur 119 memperlihatkan Daud memohon untuk diselamatkan
supaya ia dapat melakukan Taurat Tuhan. Tuhan menghakimi Daud
atas dasar imannya dan keinginannya untuk melakukan Taurat,
bukan atas dasar kemampuannya memegang setiap detil perintah.
Tidak ada seorang pun yang pernah diselamatkan karena kemampuan
mereka mengerjakan Taurat.
Pandangan bahwa Yudaisme mengajarkan bahwa manusia
diselamatkan karena mengerjakan Taurat adalah tidak benar.
Sepanjang zaman tentu ada saja kelompok tertentu dalam tubuh
13
Yudaisme yang mengajarkan hal yang tidak betul. Tetapi ajaran atau
tingkah-laku dari kelompok itu tidak mengubah apa yang Yudaisme
selalu ajarkan. Dan sebaliknya juga, kesalahan para pemimpin Yahudi
pada masa Yeshua tidak otomatis membuat Kristen, atau agama lain
menjadi benar (Tuhan adalah benar dan semua manusia adalah
pembohong – Roma 3:4). Satu-satunya kebenaran adalah apa yang
Tuhan sendiri nyatakan.
Iman dan keinginan untuk memelihara Taurat-Nya adalah dua hal
yang tidak terpisahkan menurut Tuhan.
Mengapa demikian ?
1.
Tuhan telah mengatakan apa yang Ia minta dari kita "selain
takut akan TUHAN, hidup menurut segala jalan yang
ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada
TUHAN, Elohimmu dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu." (Ul 10:12) – Segala jalan yang
ditunjukkan-Nya sudah didokumentasikan dalam Taurat.
2.
Walaupun demikian, kita tidak bisa hidup menurut jalan-Nya
(melakukan Taurat) tanpa disertai oleh iman. (Ibrani 10:38)
Keselamatan "di bawah Hukum"
Mari kita simak kembali apa yang ditulis oleh penulis Kristen
terkenal, Norman Geisler:
Ketika Musa menetapkan tatanan moral dan sosial untuk membimbing
bangsa itu, hukum Taurat tidak dapat menyelamatkan seorangpun
dari hukuman atas dosa mereka, yaitu maut. Seperti juga Paulus
telah berkata, "Sebab tidak ada seorangpun yang dapat dibenarkan di
hadapan Tuhan oleh karena mengerjakan hukum Taurat, karena
justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa" (Rom 3:20). Firman
yang datang dalam Yesus menyatakan: dosa - yang telah
diperkenalkan oleh Taurat – sudah diampuni" dan oleh kasih
karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan
dalam Kristus Yesus" (ay. 24). Firman Kristus dibangun di atas
fondasi Musa dengan menuntaskan masalah yang telah ditunjukkan
oleh Taurat.
14
Pernyataan Geisler ini meringkas pandangan Kristen tentang Taurat,
pengampunan dosa dan keselamatan.
1.
Tidak ada pengampunan dan keselamatan sejati sebelum
Yesus, ketika manusia berada "di bawah Hukum", apa yang
bisa dilakukan hukum Taurat adalah menyatakan dosa.
2.
Pengampunan datang hanya setelah kedatangan Yesus.
Alkitab di lain pihak mengatakan hal yang berbeda tentang hal ini,
dimana Tuhan menyatakan sendiri dengan jelas bahwa pengampunan
dapat dimiliki jauh sebelum kematian dan kebangkitan Yeshua.
"Marilah baiklah kita berperkara! – Firman TUHAN – Sekalipun
dosamu merah seperti kermizi, akan menjadi putih seperti salju;
sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih
seperti bulu domba." (Yesaya 1:18)
Strong’s Concordance menunjukkan bahwa kitab Imamat paling
banyak menceritakan "Tuhan mengampuni dosa" dibandingkan kitabkitab lain. Mungkinkah Tuhan tidak benar-benar serius ketika Ia
berkata bahwa dosa mereka akan diampuni jika mereka melakukan
apa yang diperintahkan-Nya, dalam iman ?
Satu lagi ajaran Kristen ialah bahwa sampai "kemenangan Yesus di
kayu salib", kita benar-benar tidak berdaya melawan dosa. Jika ini
benar, mengapa Tuhan memberitahu Kain, anak Adam, bahwa ia
dapat mengalahkan dosa ?
"Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik ?
Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan
pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa
atasnya." (Kejadian 4:7)
Bahwa manusia dapat dipandang benar dan tidak bersalah di mata
Tuhan, sebelum kematian Yeshua, ditunjukkan sepanjang Alkitab
sejak awal (Kain di atas), Henokh, Nuh, Abraham, Ayub sampai
kepada kelahiran Yeshua, dimana "Perjanjian Baru" menulis tentang
orangtua Yohanes Pembaptis:
15
Keduanya adalah benar di hadapan Eloah dan hidup menurut segala
perintah dan ketetapan TUHAN dengan tidak bercacat. (Lukas 1:6)
Jadi kalau menurut doktrin Kristen, bagaimana orang-orang ini bisa
dikatakan benar menurut hukum Taurat, sebelum kematian "Yesus" di
kayu salib ?
Mengapa Tuhan memberikan Taurat di Gunung Sinai ?
Jika Taurat (Firman Tuhan) telah ada sejak permulaan (Yoh 1:1) lalu
mengapa Tuhan memberikan Taurat (sebagaimana kita miliki
sekarang) kepada Musa di Gunung Sinai ?
Jawabannya singkat: karena belas kasihan
Pertama, coba kita lihat peristiwa air bah. Manusia menjadi begitu
berdosa di mata Tuhan. Sebelum menghukum mereka, karena belas
kasihan, Tuhan memberikan waktu 120 tahun buat mereka bertobat
(Kej 6:1-8). Tetapi mereka tidak bertobat dan air bah pun datang.
Tuhan menyuruh Nuh dan keluarganya – orang yang benar dan tidak
bercela (Kej 6:9) – untuk membuat bahtera dan menyertakan ke
dalamnya pasangan-pasangan binatang. Perhatikan bagaimana Nuh
mengetahui mana binatang yang haram dan yang tidak (Kej 7:2),
padahal peristiwa ini terjadi puluhan abad sebelum Musa menerima
Taurat. Dengan demikian, kita tahu bahwa Taurat firman Tuhan,
dengan satu dan lain cara, telah diberikan kepada manusia sejak
permulaan.
Kemudian kita tengok Abraham. Tuhan menjanjikan Abraham sebuah
negeri yang saat itu ditinggali oleh orang-orang jahat. Tetapi Tuhan
memberitahu bahwa waktu kebinasaan mereka belum tiba, karena
mereka belum mencapai puncak kedurjanaan mereka (Kej 15:16).
Tuhan, karena belas kasihan, memberi mereka waktu 400 tahun untuk
bertobat dari dosa – namun mereka tidak melakukannya.
Akhirnya sampai kepada kedatangan Yeshua Mashiach, "Karena
begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal…" (Yoh 3:16) Sekali lagi
Tuhan bertindak atas dasar belas kasihan.
16
Tuhan dengan belas kasih-Nya tidak terus menerus menghukum
manusia dengan air bah, atau menghajar tiap-tiap orang dengan bola
api – walau sebenarnya banyak yang layak untuk itu. Yeshua berperan
disini sebagai pendamaian (penyokong atau penyanggah) antara
Tuhan dan manusia – bukan hanya kepada orang percaya saja tetapi
juga seisi dunia (1 Yoh 2:2). Alkitab memberitahu kita bahwa
keselamatan dari Tuhan telah dimulai sejak awal dunia diciptakan. Ide
tentang Mesias sesungguhnya telah "dikerjakan" ribuan tahun sebelum
penyaliban dan kebangkitan-Nya, mungkin ini sulit sekali dimengerti
sebab pekerjaan Tuhan tidak terikat oleh konsep waktu seperti halnya
manusia.
Penting untuk diperhatikan pula bahwa bangsa Israel menerima Taurat
setelah mereka diselamatkan dahulu dari perbudakan di Mesir. Bukan
sebaliknya. Jadi disini kembali kita lihat Alkitab selalu mengajarkan
bahwa keselamatan datang terlebih dahulu melalui iman.
Singkat kata, Taurat di Gunung Sinai diberikan karena belas kasih dan
ditujukan:
! Untuk memberikan bimbingan dan panduan, karena dosa
manusia semakin besar.
! Untuk merangsang nafsu dosa dalam diri manusia, dengan
memberikan batasan-batasan, sifat asli manusia akan tergoda
untuk menyeberangi batasan-batasan itu (Roma 7:7-11).
! Untuk membuat manusia menyadari betapa mudahnya ia
jatuh dalam dosa.
! Untuk menyatakan Tuhan kepada manusia, kepada siapa
mereka harus beriman supaya selamat, karena percaya
kepada Tuhan adalah perintah pertama.
Taurat juga diberikan untuk menunjukkan manusia bagaimana hidup
di hadapan Tuhan dan dengan sesama manusia (Mat 22:37-40). Jadi
Taurat berisikan cara manusia membina hubungan vertikal (dengan
Tuhan) dan horisontal (dengan manusia) yang benar. Yeshua datang
bukan untuk meniadakan apa yang Taurat katakan tentang
BAGAIMANA hidup di hadapan Tuhan. Tetapi Kristen mengajarkan
bahwa kita tidak perlu lagi mengerjakan Taurat, karena Yesus telah
17
meniadakan hal-hal detil dari Taurat dengan meringkasnya jadi dua
perintah saja: kasihilah Tuhan Elohimmu dan kasihilah sesamamu
manusia. Kita sekarang telah dibebaskan dari hukum Taurat. Kita
sekarang mengikuti apa yang dinamakan "hukum kasih" atau "hukum
Kristus". Kristen mengajarkan bahwa kita sekarang "dipimpin oleh
Roh" dan tidak lagi terikat oleh huruf hukum Taurat.
Apakah Tuhan memberikan umat-Nya "tugas yang mustahil" ?
Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, Kristen mengajarkan
bahwa Tuhan memberikan Musa dan umat-Nya serangkaian perintah
yang harus ditaati supaya selamat, tetapi sebagai manusia berdosa,
mereka tidak mampu memegangnya. Oleh sebab itu tidak ada cara
untuk sempurna di depan "Hukum" sampai Yesus datang untuk
mengantarkan kita ke "era kasih karunia" – 1300 tahun kemudian.
Baiklah, saya mengutip apa yang dikatakan dalam Biblical Studies
Press:
"Akan tetapi, penerapan yang ketat terhadap hukum-hukum ini dalam
dunia kita adalah mustahil sebab kondisi semula seperti pada saat
Tuhan campur tangan tidak dapat diulangi kembali." 9
Dengan begitu menurut teologi ini, Tuhan memerintahkan umat-Nya
sesuatu yang Ia tahu mereka tidak akan mampu, dengan ketentuan jika
mereka gagal, mereka binasa.
Apakah Tuhan sadis ? Tentu tidak. Yeshua sendiri berkata sejahatjahatnya kita, kita akan memperlakukan anak-anak kita dengan baik,
apalagi Tuhan yang memperlakukan kita lebih baik daripada kita
memperlakukan anak-anak kita sendiri.
Pelajarilah firman Tuhan ketika Ia memberikan Taurat:
"Sebab perintah ini yang kusampaikan kepadamu pada hari ini,
tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di
langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik
ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya
kepada kita, supaya kita melakukannya ? Juga tidak di seberang laut
9
Questions and Answers, sub bagian : "How should New Testament Believers relate to
Old Testament Laws ?", Biblical Studies Press, www.bible.org
18
tempatnya sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan
menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan
memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya ?
Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu
dan di dalam hatimu, untuk dilakukan." (Ulangan 30:11-14)
Tuhan telah menyatakannya dengan jelas – Ia memberitahu umat-Nya
bahwa perintah-perintah Taurat tidaklah terlalu sukar bagi mereka
untuk dikerjakan.
19
Bagian 3
Apa kata "Perjanjian Baru"
tentang Taurat dan Keselamatan ?
Hukum Taurat adalah sebuah kutuk dan Yeshua datang untuk
meniadakan kutuk itu. Dua ayat yang paling sering dipakai oleh
Kristen untuk mendukung pendapat ini adalah:
Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat,
berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis, "Terkutuklah orang yang
tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum
Taurat". (Galatia 3:10)
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan
menjadi kutuk karena kita, karena ada tertulis: "Terkutuklah orang
yang digantung pada kayu salib". (Galatia 3:13)
Jelas ada sesuatu yang dinamakan "kutuk hukum Taurat" (the curse of
the Law). Tetapi apakah Taurat sendiri adalah sebuah kutuk ?
! Pertama, ingat kembali bahwa Tuhan memberikan Taurat
"supaya baik keadaan" umat-Nya (Ul 4:40).
! Paulus menulis bahwa hukum Taurat adalah kudus, benar dan
baik (Rom 7:12).
! Paulus menyatakan hukum Taurat adalah rohani (Rom 7:14).
! Paulus berkata bahwa ia sendiri suka akan hukum Tuhan
(Rom 7:22-25).
! Ketika Paulus dituduh telah mengajarkan untuk melepaskan
hukum Taurat, Paulus bernazar untuk membuktikan bahwa
itu tidak benar (Kis 21:21-26).
Bila kita lihat sepintas nampak ada semacam kontradiksi disini.
Bagaimana bisa sesuatu yang Tuhan berikan, yang dikatakan kudus,
benar, dan baik, yang dijunjung dan dipraktekkan oleh Yeshua (Mat
20
5:17-20), yang menjadi kegemaran Daud (Mzm 119:70, 74, 174),
yang Paulus sendiri sukai, disebut sebagai "kutuk" oleh Paulus ?
Masalah ini muncul karena antara lain kegagalan kita memahami sifat
dualitas Taurat. Tuhan sendiri menyinggung dualitas ini ketika Ia
memberikan Taurat:
"Ingatlah aku menghadapkan kepadamu hari ini kehidupan dan
keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku
memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Elohimmu,
dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang
pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup
dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Elohimmu, di
negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya. Tetapi jika
hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau
mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada elohim lain dan
beribadah kepadanya, maka aku memberitahukanmu pada hari ini,
bahwa pastilah kamu akan binasa…" (Ul 30:15-17a)
Pertama, Tuhan memerintahkan umat-Nya untuk mengasihi Tuhan
(iman), dan hidup menurut jalan-Nya (melakukan Taurat). Perhatikan
disini iman adalah yang mula-mula dan langsung dikaitkan dengan
ketaatan. Kemudian, Tuhan berkata bahwa jika hati mereka berbalik
dari-Nya (kehilangan iman), mereka akan binasa. Pandangan Tuhan
tentang iman adalah kita harus bertumbuh di dalamnya dengan
ketaatan. Jadi harus ada aksi atau perbuatan (Yak 2:17). Bukannya
sekedar masalah "percaya" atau tidak.
Landasan iman dalam Yudaisme adalah Shema, yang tertulis dalam
Ulangan 6:4:
Shema Israel Adonai Elohenu Adonai echad.
Dengarlah hai Israel, TUHAN Elohimmu, TUHAN itu esa.
Shema, kata pertama dari ayat ini, biasanya diterjemahkan menjadi
"dengarlah", namun sebetulnya mempunyai arti lebih dalam:
"menerima, menyatakan secara tidak langsung iman, komitmen, dan
ketaatan."10
10
The Shema, Spirituality and Law in Judaism, Norman Lamm, The Jewish Publication
Society, Jerusalem, 1998, p.16
21
Ibrani 3:7-4:2 menceritakan Musa dan bani Israel menerima Injil di
padang gurun tetapi mereka binasa. Apakah mereka binasa karena
"gagal menjalankan setiap perintah Taurat" ? Bukan, tetapi karena
ketidakpercayaan mereka. Surat Ibrani mengatakan bahwa mereka
tidak "membangun" apa yang mereka ketahui untuk dilakukan
(Taurat) bersama-sama dalam iman. Iman dan ketaatan dalam
memelihara Taurat adalah dua hal yang tidak terpisahkan.
Paulus, dalam surat Galatia, menulis tentang tujuan Taurat. Ia
membandingkannya dengan seorang pengajar untuk kita menuju iman.
Tambah lagi, ia juga berbicara tentang "kutuk hukum Taurat". Satu
waktu kelihatan "baik" dan di lain waktu kelihatan "buruk".
Bagaimana ini ?
Jawabannya terletak pada sifat dualitas Taurat dan tujuannya yang
beragam. Satu fungsi Taurat adalah untuk menunjukkan manusia
betapa berdosanya ia dan bersalah di hadapan Tuhan yang maha
benar. Fungsi ini hanyalah satu bagian dari keseluruhan Taurat. Hanya
dengan percaya kepada Tuhan DAN setuju untuk hidup menurut
jalan-Nya, manusia dapat beroleh keselamatan (1 Yoh 2:4).
Apa yang penting diketahui disini adalah Taurat bukanlah kutuk
itu melainkan kutuk itu adalah salah satu bagian daripada
Taurat.
"Kutuk hukum Taurat" DAN fungsi Taurat sebagai seorang "penjaga"
(penunjuk, pengantar) berlaku bagi orang yang belum percaya kepada
Tuhan. Kristen dengan ngawur menafsirkan bahwa ketika Paulus
bicara tentang Taurat yang bertindak sebagai penjaga sebelum
Yeshua, yang ia maksudkan ialah bangsa Yahudi berada di bawah
belenggu hukum sampai kedatangan dan kematian Yeshua.11 Ini
adalah penafsiran yang bias oleh karena Tuhan tidak pernah berubah.
Yang Paulus maksudkan ialah bahwa dalam hidup setiap manusia
(kemarin dan hari ini), Taurat berfungsi demikian sampai mereka
menerima Yeshua.
Setelah seseorang menerima Yeshua, dua aspek dari Taurat itu
(menyatakan kutuk dan sebagai penjaga) lenyap. Akan tetapi,
11
The Unity of the Bible, Daniel P. Fuller, 1992, Zondervan Publishing House, Grand
Rapids MI, p. 346-359.
22
peranan Taurat sebagai Firman Tuhan yang menerangkan
bagaimana kita hidup di hadapan-Nya tetap berlanjut.
Taurat sebagai pengajaran cara hidup di hadapan Tuhan, supaya baik
keadaanmu, adalah sisi lain dari dualitas Taurat – sebuah berkat bagi
kita untuk hidup, dan firman Tuhan untuk kita supaya kita bisa
semakin dekat dengan-Nya, seperti Daud berkata "Engkau dekat, ya
TUHAN" (Mzm 119:151).
Taurat memuat 613 buah perintah. 365 buah diantaranya adalah
perintah "negatif" (larangan). Anda bisa mengenalinya dengan
perintah yang diawali dengan "Janganlah kamu". Tujuan dari perintah
negatif ini adalah: a) menunjukkan (juga merangsang) dosa, b)
menunjukkan kepada manusia ia terkutuk karena dosanya, c)
menunjukkan bahwa Tuhan adalah sumber keselamatan. 248 perintah
sisanya adalah perintah "positif". Tujuan perintah positif ini adalah
memperlihatkan kepada kita hal-hal yang dihendaki Tuhan supaya
dilakukan oleh kita SETELAH kita beriman kepada-Nya.
Sebagai orang percaya, kita tentu tidak lagi berada di bawah perintah
"Janganlah kamu", oleh karena sekarang kita telah beriman kepada
Tuhan dan diselamatkan. Dengan tidak lagi "berada di bawah
Hukum", bukan berarti sekarang kita bebas mencuri, membunuh, atau
melanggar perintah Taurat Tuhan. Disini maksudnya kita tentu tidak
lagi melakukan hal-hal semacam itu oleh sebab sekarang kita sudah
beriman kepada Tuhan dan hidup untuk-Nya. Kita sudah tidak lagi
berada di bawah kutuk dari perintah-perintah negatif itu.
Singkatnya, inilah yang diajarkan Paulus dalam surat-suratnya:
Berusaha memperoleh keselamatan dengan mengerjakan Taurat
menurut anda sendiri, tanpa disertai dengan iman, adalah kutuk
dari hukum Taurat.
Membaca dan memahami "Perjanjian Baru" dengan pengertian dan
sudut pandang Ibrani darimana Paulus berasal, mampu menghilangkan
silang-sengketa pandangan-pandangan (yang salah) mengenai
pernyataan-pernyataan Paulus tentang hukum Taurat. Kemana saja ia
pergi, Paulus mengajar melawan ajaran "populer" yang mengatakan
bahwa anda dapat memperoleh keselamatan dengan menuruti segala
23
perintah Taurat (legalistis). Namun demikian ia tidak pernah mengajar
untuk melepaskan Taurat dari bagian kehidupan setiap orang percaya.
24
Bagian 4
Kesulitan Kristen memahami "Hukum"
Seperti yang sudah dijelaskan, pandangan Ibrani terhadap iman bukan
semata-mata "percaya" kepada Tuhan. Bahkan setan-setan pun
percaya kepada-Nya (Yak 2:19) dan mengenali siapa Yeshua (Mat
8:29). Setelah bertobat (teshuvah) dalam iman, kita sekarang
menjadikan Taurat sebagai buku panduan kita bagaimana hidup
menurut kehendak-Nya. Keseluruhan Taurat adalah "hukum yang
memerdekakan" yang harus kita turuti (Yak 1:25;2:12). Kita tidak
dapat mengambil dan memilih mana saja perintah Taurat yang hendak
kita kerjakan (Yak 2:10-11).
Dalam hal ini terletak masalah yang cukup berarti dengan penafsiran
Alkitab Kristen. Saat mendefinisikan "iman", Kristen kurang memberi
perhatian kepada fakta bahwa dalam Alkitab Ibrani, termasuk
"Perjanjian Baru", para penulisnya (yang juga orang Ibrani)
mempunyai pandangan yang berbeda tentang arti "iman" sebagaimana
yang diajarkan dalam budaya mereka. Cara pandang mereka ini jelas
tidak sama dengan cara pandang non-Ibrani yang anda pakai.
Anda boleh saja mempunyai Alkitab dengan paralel teks bahasa
Yunani terbaik di dunia, tetapi jika anda tidak menempatkan teks
"Perjanjian Baru" kembali ke dalam konteks budaya Ibrani pada
abad pertama Masehi, anda tidak akan sampai kepada
pemahaman yang tepat.
Sebagai contoh, Kristen terutama dari kalangan Protestan, mengalami
kesulitan menerangkan bagian dari Surat Yakobus – terutama ayatayat semacam ini:
"Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatanperbuatannya dan bukan hanya karena iman." (Yakobus 2:24)
Pencetus gerakan Protestan, Martin Luther, sangat memprihatinkan
keberadaan Surat Yakobus dalam Alkitab karena kitab ini
mengajarkan perlunya perbuatan disamping iman. Luther terlalu
tenggelam dalam pengaruh Hellenisasi untuk memahami apa yang
penulis Ibrani ini (Ya’aqov, saudara Yeshua) katakan. Luther juga
25
mengeyampingkan Taurat karena sebab ini. Baginya perbuatan tidak
ada tempat dan keselamatan datang dari iman saja. Titik.
Karena cara pikir yang anti-Taurat, Surat Yakobus (bersama dengan
kitab lainnya) terus menerus disalah-pahami. Misalnya saja, ketika
Yakobus membuat pernyataan yang POSITIF tentang "Hukum",
seperti ayat di bawah, maka hal ini dianggap bahwa bukan Taurat
yang dimaksud oleh Yakobus.
"Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum
yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan
hanya mendengarkan untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh
melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus
1:25)
Penulis dan pengajar Kristen yang termasyhur, J. Vernon McGee
memberikan penjelasannya tentang ayat ini:
"’Hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang’ ini
bukanlah hukum Musa; ini adalah hukum kasih karunia. Yakobus
tidak berbicara tentang hukum disini dalam pengertian yang sama
dengan Paulus. Ketika Paulus berbicara tentang hukum, yang ia
maksudkan adalah hukum Musa. Ketika Yakobus berbicara tentang
hukum, yang ia maksud adalah hukum iman. Ada kasih dalam hukum
Perjanjian Lama dan ada kasih dalam hukum Perjanjian Baru." 12
McGee tidak memberikan bukti pendukung mengapa ia sampai pada
kesimpulan Paulus berkata A dan Yakobus berkata B. Penjelasannya
mengapa hukum yang dibicarakan Yakobus berbeda dengan hukum
yang dibicarakan Paulus adalah berdasarkan pandangan teologi
Kristen terhadap "Hukum" seperti berikut:
"Hukum" yang dibicarakan Paulus adalah hukum dalam Perjanjian
Lama yang mana ia mengajarkan bahwa hukum itu sudah dilepaskan.
Karena Yakobus memberikan pernyataan yang positif tentang
"Hukum" maka "hukum yang baik ini" pastilah tidak sama dengan
"hukum yang buruk" yang dibicarakan Paulus. Jadi ini berarti sesuatu
yang lain, sesuatu yang dinamakan "hukum kasih karunia".
12
Thru the Bible Commentary Series, James, J. Vernon McGee, Thomas Nelson
Publishers, Nashville, 1991, p. 68.
26
Pengajar Kristen akan menunjukkan ayat-ayat dari "Perjanjian Baru"
untuk membuktikan bahwa "Hukum" Taurat telah berakhir. Dalam
bukunya, pada bagian "The End of Law", Charles Ryrie menulis tiga
klaim berikut:
1.
"Konsili Yerusalem menyelesaikan masalah ini dengan cepat
dan tegas (Kisah Para Rasul 15)…Petrus menyatakan bahwa
hukum Taurat sebagai kuk yang tidak dapat dipikul…mereka
tidak mencoba menempatkan orang percaya di bawah hukum
Taurat…mereka menyadari bahwa hukum Taurat telah
berakhir."
2.
"Dalam 2 Korintus 3:7-11 Paulus bahkan menyatakan
bahwa bagian dari hukum Taurat yang tertulis di atas lohloh batu (Sepuluh Perintah) telah selesai. Ia dengan berani
menamakan bagian moral dari hukum Taurat sebagai
pelayanan untuk maut dan kutukan, tetapi puji Tuhan, ini
semua sudah digantikan dengan Perjanjian Baru yang
membawa kehidupan dan pembenaran."
3.
Dalam Ibrani 7:11-12…jika hukum Taurat tidak ditiadakan,
berarti imamat bani Lewi masih berlaku, dan dengan begitu
Kristus belum menjadi Imam Besar kita saat ini. Tetapi
ketika Kristus menjadi Imam Besar kita, maka hukum Taurat
tidak lagi berlaku dan mengikat kita." 13
Sayangnya, kesimpulan Ryrie dihasilkan dari pemahaman Alkitab
melalui bias anti-Taurat yang sama. Penafsiran dari ketiga ayat yang
sama berdasarkan sikap pro-Taurat dan konteks-sensitif, akan nampak
seperti ini:
1.
Kisah Para Rasul 15 – Konsili Yerusalem diadakan untuk
memecahkan masalah apakah orang-orang bukan Yahudi
harus membuktikan diri mereka dengan mengerjakan Taurat
dahulu SEBELUM memperoleh keselamatan (15:1). Injil saat
itu telah menyebar ke negeri-negeri lain yang dihuni oleh
para penyembah berhala. Dan mereka, orang-orang yang baru
percaya, menerima sistem kepercayaan Yahudi langsung
13
Basic Theology - A Popular Systematic Guide To Understanding Biblical Truth,
Charles C. Ryrie, 1986, SP Publications Inc., Victor Books, Wheaton IL, p. 304.
27
melalui Mesias, tidak perlu lagi melalui sistem konversi
tradisional Yahudi seperti sebelumnya. Ini boleh dibilang
"cara baru", tetapi Tuhan sendiri telah menegaskan hal ini
(15:8). Tetapi, sulit bagi beberapa orang Yahudi menerima
"penerimaan instan" seperti ini karena orang-orang
penyembah berhala yang baru bertobat itu tidak tahu apa-apa
tentang Taurat dan seringkali masih membawa-bawa cara
beribadah mereka yang dulu. Hal ini sangat mengerikan bagi
orang-orang Yahudi karena dalam pemahaman Yahudi dosa
seseorang bisa membawa dampak kepada seluruh bangsa.
Dalam sistem konversi tradisional, seseorang diwajibkan
mempelajari dan menguasai terlebih dahulu seluruh Taurat
sebelum diterima sebagai bagian dari umat Tuhan. Tetapi
sidang konsili memutuskan bahwa begitu mereka menerima
Yeshua, mereka cukup memenuhi perintah minimal dalam
Taurat (15:20). Sidang tersebut memberikan perintah
Taurat yang paling dasar dengan pengertian bahwa
mereka akan belajar lebih banyak tentang Taurat Musa
nantinya ketika datang beribadah di sinagoga (Ini adalah
penjelasan dari ayat 15:21). Komentar Petrus dalam ayat 10
maksudnya adalah jika Tuhan memerintahkan pelaksanaan
Taurat yang sempurna sebagai syarat untuk menerima
(beriman kepada) Yeshua, maka mereka semua akan gagal
karena tidak ada yang dapat mengerjakan Taurat dengan
sempurna tanpa iman.
2.
28
2 Korintus 3:7-11 – Paulus tidak menamakan "bagian moral
dari hukum Taurat sebagai pelayanan untuk maut dan
kutukan". Melainkan apa yang ia maksud adalah hanya Roh
Kudus, yang kita terima melalui iman, memberikan hidup
atas huruf-huruf Taurat. Jika kita mencoba mengerjakannya
tanpa Roh Kudus (dalam iman), pastilah akan membawa
binasa (kutuk Hukum Taurat). Paulus juga mengajarkan hal
ini dalam Roma pasal 8, tulisnya bahwa barangsiapa datang
kepada iman, hidup menurut Roh, tidak lagi dipersalahkan
menurut Taurat. Jadi bukannya hukum Taurat yang dibuang
jauh, tetapi selubungnya (mengerjakan Taurat membabi-buta
tanpa iman) yang dibuang (disunat) melalui iman kepada
Yeshua.
3.
Ibrani 7:11-12 – Surat Ibrani berisi banyak ajaran Yahudi
yang kurang dipahami Kristen. Memang surat ini ditujukan
khusus kepada orang Ibrani. Bayangkan, bagaimana anda
bisa mendapatkan pemahaman yang sempurna dari kitab ini
jika anda membacanya dengan cara pikir Hellenistis. Ibrani
menunjuk Yeshua sebagai korban keselamatan Yom Kippur
yang permanen, satu kali untuk selama-lamanya. ImamatNya merupakan bagian daripada imamat surgawi, yang
diawali oleh Adam dan diteruskan oleh "anak sulung" (atau
khususnya seseorang yang berhak atas hak kesulungan,
misalnya Set, Sem, Yakub). Tujuan Tuhan adalah agar anak
sulung dari setiap keluarga meneruskan peran sebagai imam,
tetapi hal ini diserongkan oleh dosa penyembahan anak
lembu emas sehingga peran imam ini dialihkan kepada bani
Lewi saja.14 Dengan imamat Yeshua, peran dari Imam Besar
(cohen hagadol) pada saat Yom Kippur telah berubah. Dan
ini artinya imamat dikembalikan kepada "anak sulung".
Perjanjian di Gunung Sinai sendiri tidak dengan sendirinya
rusak. Dosa manusia-lah (yang telah berjanji akan menaati
Taurat) yang menyebabkan Perjanjian itu dianggap rusak (Ibr
8:8). Perjanjian yang baru (yang diperbaharui), pada dasarnya
adalah Perjanjian yang sama. "Perbedaannya" adalah bahwa
Perjanjian yang baru tidak didasarkan oleh janji yang keluar
dari manusia yang berdosa, tetapi oleh janji Mesias, yang
imamat-Nya adalah kekal (Ibr 5:6-9; 7:20-22; 8:6). Kematian
Yeshua tidak membatalkan atau mengubah bagian tertentu
dari Taurat, termasuk ibadah korban persembahan (yang
bertujuan untuk pendamaian dosa BUKAN untuk
keselamatan). Surat Ibrani menaruh perhatian pada korban
keselamatan dalam Yom Kippur, bukan pada korban
persembahan yang lain. Satu hal lagi, kita BELUM masuk
dalam Perjanjian Baru (Yer 31:36; Ibr 8:13). Kitab
Yehezkiel dan Wahyu memperlihatkan ibadah korban
persembahan (di luar korban Yom Kippur) akan kembali
diadakan pada masa 1000 tahun ketika Bait Elohim dibangun
kembali di atas Gunung Moriah dan Yeshua akan datang
kembali ke dunia untuk memerintah atas manusia dalam
kerajaan-Nya. Tidak pernah ada kejadian dimana Perjanjian
14
Literatur Yahudi di luar Alkitab memberikan gambaran tentang hal ini, seperti dalam:
Midrash Rabbah Genesis LXXXV:1; Midrash Rabbah Exodus V:7; Midrash Rabbah
Numbers IV:8; Zohar, Bereshit Section 1, page 176a. (Soncino)
29
Tuhan atau bagian tertentu daripadanya yang mengalami
perubahan atau pembatalan. Ketika Tuhan mengadakan
Perjanjian dengan Abraham, Ia tidak membatalkan Perjanjian
sebelumnya dengan Nuh. Begitu pula ketika Ia mengadakan
Perjanjian dengan bangsa Israel di Gunung Sinai, Ia tidak
membatalkan Perjanjian-Nya dengan Abraham. Sunat
sebagai tanda Perjanjian dengan Abraham kembali
diperteguh dalam Perjanjian di Gunung Sinai. Tidak ada satu
kasus pun dimana Tuhan membatalkan Taurat. Hal ini
digenapi, seperti kata penulis David Stern, "dalam kerangka
satu Taurat yang kekal".15
Anehnya, Charles Ryrie mengakui bahwa orang Yahudi memandang
Taurat sebagai satu kesatuan. Berbicara tentang hal itu, Ryrie menulis:
"Hukum Taurat merupakan satu kesatuan…Yakobus memandang
hukum Taurat sebagai satu kesatuan. Ia menentang pengerjaan
Taurat yang setengah-setengah karena pelanggaran satu perintah
saja, katanya, membuat manusia itu bersalah atas seluruh Taurat
(Yakobus 2:10). Ia tidak mungkin sampai pada kesimpulan demikian
jika Taurat bukanlah satu kesatuan." 16
Ryrie mengakui ada kesulitan untuk memahami bagaimana hukum
Taurat masih diterapkan bagi orang Kristen. Ia menulis: "hukum
Kristus memuat beberapa perintah baru…beberapa yang lama…dan
beberapa yang disesuaikan." 17
Ryrie benar tentang kesatuan seluruh perintah Taurat (Mat 5:18-19;
Gal 3:10,12; 5:3; Yak 2:10-11). Maka lalu timbul pertanyaan : Jika a)
orang Yahudi memandang Taurat sebagai satu kesatuan b) Yakobus
dan Paulus mengajarkan kesatuan Taurat dalam surat mereka, dan c)
Yeshua mengajarkan kesatuan Taurat dengan mengatakan tidak satu
bagian terkecil pun dari Taurat yang dibatalkan oleh-Nya – maka
bagaimana orang Kristen bisa memilih perintah-perintah tertentu saja
lalu menerapkannya sebagai "hukum Kristus" ? Bagaimana orang
15
Jewish New Testament Commentary, David Stern, (Jewish New Testament
Publication, Inc., 4th edition, 1995), penjelasan Surat Ibrani 10:8-10.
16
Basic Theology - A Popular Systematic Guide To Understanding Biblical Truth,
Charles C. Ryrie, 1986, SP Publications Inc., Victor Books, Wheaton IL, p. 303.
17
ibid p. 305.
30
Kristen bisa bersikap "ambillah perintah-perintah yang kita kehendaki
saja, sisanya boleh diabaikan" ?
Tidak ada dasar untuk melakukan hal demikian menurut kepercayaan
Yahudi yang dianut Yeshua dan para pengikut-Nya. Yeshua sendiri
berkata, "Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan."
(Mat 23:23b) Bagaimana perubahan teologi ini terjadi akan dijelaskan
dalam bagian berikutnya.
Sistem kepercayaan Yahudi Messianis yang berbasiskan Taurat
adalah satu-satunya "agama" yang Tuhan ciptakan. Ini adalah
kepercayaan Yeshua dan kepercayaan Paulus (lebih tepatnya Rabbi
Sha’ul) sebelum DAN sesudah pertobatannya di jalan menuju
Damsyik. Ini adalah kepercayaan seluruh penulis "Perjanjian Baru"
dan kepercayaan komunitas Messianis mula-mula pada abad pertama
– yang dikenal sebagai sekte Nasrani (Kis 24:5) atau Jalan Tuhan (Kis
24:14).
Sistem kepercayaan Yahudi Messianis yang berbasiskan Taurat
adalah agama yang selalu menekankan keselamatan oleh karena
iman – iman menurut pemahaman Yeshua Sang Mesias Yahudi,
saudara-Nya Ya’aqov dan Yehuda, dan rasul-rasul-Nya, Kefa,
Mattityahu, Yochanan, dan Sha’ul – bukan iman menurut definisi
westernisasi orang-orang Yunani/Romawi.
Kasus: Bagaimana Kristen Memandang hari Sabat
Kristen mengajarkan bahwa Paulus berkata karena sekarang kita telah
percaya kepada Yesus, kita tidak lagi berada di bawah "Hukum", jadi
"Hukum" tidak berlaku lagi. Ini merupakan teologia yang
membingungkan sebab Kristen tetap memandang bahwa beberapa
bagian dari "Hukum" tetap berlaku.
Contoh utamanya adalah bagaimana Kristen memandang hari Sabat.
Kita diharuskan menaati 10 Perintah Taurat. Namun demikian
perintah untuk memelihara hari Sabat, yang termasuk ke dalam 10
perintah tersebut, tidak ditaati lagi. Kristen mengatakan bahwa hal ini
telah "diubah" oleh Tuhan.
Seperti yang ditulis penulis Kristen James Montgomery Boice berikut:
31
"Pertama, hari Sabat adalah kebiasaan unik orang Yahudi dan tidak
dimaksudkan atau diperintahkan kepada bangsa lain, baik dulu
maupun sekarang. Hal ini berbeda dengan perintah-perintah lainnya
yang secara umum kita jumpai di dalam hukum-hukum [agama] kuno
lainnya. Para pendukung hari Sabat seringkali menggunakan
Kejadian 2:2-3 (yang dirujuk dalam perintah keempat) untuk
memperlihatkan hal sebaliknya…Untuk tegasnya begini, ayat ini tidak
menunjukkan bahwa Tuhan menetapkan hari Sabat pada saat
penciptaan; namun ada beberapa ayat yang memperlihatkan bahwa
Ia melakukan hal itu di kemudian waktu. Dua di antaranya adalah
Nehemia 9:13-14… Ayat-ayat tersebut menghubungkan penetapan
aturan tentang hari Sabat di Gunung Sinai dan secara tidak langsung
menunjukkan bahwa hari Sabat tidak dikenal dan tidak dirayakan
sebelum waktu itu. Ayat lainnya yang penting adalah dalam
Keluaran…(Kel 31:12-17). Ayat-ayat tersebut menggambarkan hari
Sabat sebagai sebuah tanda perjanjian antara Tuhan dan bangsa
Israel; begitu pentingnya sehingga sampai diulangi dua kali. Jadi
sulit dimengerti bagaimana perintah hari Sabat dikatakan juga
berlaku untuk bangsa lain ? Justru sebaliknya, memelihara hari Sabat
adalah tanda untuk membedakan bangsa Israel dari bangsa lain,
sama seperti halnya perintah sunat. Tetapi bagaimana dengan hari
Minggu ? Minggu adalah hari lain yang ditetapkan Tuhan, namun
untuk Gereja bukan untuk bangsa Israel dan dengan karakteristik
yang berbeda tentunya. Hari Sabat adalah waktu untuk beristirahat
dan terbebas dari segala aktivitas. Dan kegagalan untuk beristirahat
membawa hukuman bagi para pelanggarnya. Berlawanan dengan
Sabat, hari Minggu adalah hari penuh sukacita, aktivitas, dan
pengharapan… Fakta bahwa hari Minggu telah ditetapkan
menggantikan hari Sabat terlihat dalam cara beribadah gereja mulamula." 18
Sayangnya, bukti yang disodorkan Boice ini penuh dengan ketidakakuratan dan ketidak-benaran:
! Mengenai "perintah hari Sabat ditujukan hanya untuk bangsa
Israel" – ketetapan atau perintah apakah yang diberikan
Tuhan kepada bangsa lain SELAIN bangsa Israel ? Tidak
ada. Setiap perintah yang Ia berikan kepada bangsa Israel
18
Foundations of the Christian Faith, James Montgomery Boice, 1986, InterVarsity
Press, Downsers Grove, IL, p.234
32
adalah untuk menjadikan mereka umat-Nya, sebagai terang
bagi dunia (Yesaya 49:5-6; Lukas 2:32). Fakta adanya
bagian-bagian dari Taurat yang terkandung dalam agama
bangsa-bangsa lain tidak dapat dijadikan bukti bahwa hari
Sabat hanya untuk bangsa Israel. Tuhan membuat satu
bangsa berbeda dari bangsa lain supaya mereka membawa
firman-Nya (Taurat) itu kepada dunia. Tuhan juga berfirman
bahwa hukum-Nya berlaku sama, untuk bangsa Israel dan
orang asing yang tinggal bersama-sama bangsa Israel
(Imamat 24:22). Dan faktanya, dalam Keluaran 12:48-49,
Tuhan berfirman "satu Hukum untuk bangsa Israel dan nonIsrael" – dan ini terjadi sebelum peristiwa Gunung Sinai.
Dalam Yesaya 51:4-5 dan 56:1-8, Tuhan kembali berfirman
tentang posisi orang non-Israel terhadap Taurat-Nya.
! Tuhan sendiri yang menghubungkan perintah hari Sabat
dengan pekerjaan-Nya pada waktu penciptaan. Ia berfirman
dengan jelas oleh sebab itulah hari Sabat dikuduskan
(Keluaran 20:11).
! Acuan dalam Nehemia sama sekali tidak mengimplikasikan
hal demikian. Bangsa Israel telah memelihara Sabat bahkan
sebelum di Gunung Sinai, seperti yang tertulis dalam
Keluaran 16:25-26 dan juga dalam literatur-literatur Yahudi.
! Tentang pertanyaan Boice, "bagaimana perintah hari Sabat
dikatakan juga berlaku untuk bangsa lain ?" – sekali lagi
poin yang hilang ialah bahwa Taurat adalah firman Tuhan
untuk seluruh dunia, bukan sekumpulan aturan khusus untuk
orang Israel. Tuhan membuat jelas bahwa orang non-Israel
suatu hari nanti akan bergabung dengan Israel dalam satu
kepercayaan untuk menyembah-Nya. Orang non-Israel tidak
akan memiliki kepercayaan baru yang terpisah dari bangsa
Israel (Yesaya 54:1-3). Paulus mengulanginya kembali dalam
Efesus 2:10-12 dimana ia mengatakan bahwa orang-orang
percaya bukan Yahudi tidak lagi asing terhadap perjanjian
dan hukum Israel – dan ini termasuk perintah hari Sabat.
! Alkitab dan fakta sejarah membuktikan gagasan bahwa
Tuhan "mengubah" Sabat menjadi hari Minggu adalah tidak
benar. Pembuktikan bahwa gagasan ini "ada di dalam
33
Alkitab" dihasilkan dari terjemahan beberapa ayat Alkitab
yang salah dan di luar konteks.19 Ingatlah firman ini,
"Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah." (Maleakhi
3:6)
! Hari Sabat adalah lebih dari sekedar "hari peristirahatan".
Pernyataan bahwa "kegagalan beristirahat membawa
hukuman" adalah tidak akurat. Hari Sabat memang hari
beristirahat dari segala akitivitas kita dalam mencari nafkah
dan kesenangan duniawi, akan tetapi hari Sabat adalah hari
yang penuh dengan aktivitas ibadah, belajar dan memuji
Tuhan.
Sejarah menunjukkan bahwa ibadah hari Minggu untuk menggantikan
ibadah Sabat adalah tradisi manusia, terutama pada masa awal Gereja
Roma. Ini merupakan bahasan utama dalam Konsili di Trent, yang
diadakan di Italia Utara (1545-1563). Wakil Paus, Uskup Agung
Reggio, membungkam argumen "sola scriptura"-nya Martin Luther
dan para pembaharu Protestan ketika ia dengan benar menyatakan:
"Kaum Protestan mengklaim bersandar kepada firman yang tertulis
saja; mereka menyatakan berpegang hanya kepada Alkitab sebagai
standar iman. Mereka membenarkan pemberontakan mereka dengan
dalih Gereja telah menyelewengkan firman yang tertulis dan
mengikuti tradisi-tradisi. Sekarang klaim kaum Protestan bahwa
mereka bersandar hanya kepada firman yang tertulis ternyata tidak
benar. Pengakuan mereka bahwa mereka berpegang hanya kepada
Alkitab adalah bohong. Buktinya…firman yang tertulis dengan
eksplisit memerintahkan untuk memelihara hari ketujuh sebagai
Sabat. Namun mereka tidak memelihara hari ketujuh itu, tapi malah
menolaknya. Jika mereka sungguh-sungguh berpegang hanya kepada
Alkitab, mereka akan memelihara hari ketujuh itu sebagaimana
diperintahkan sepanjang Alkitab. Tapi mereka bukan saja menolak
memelihara Sabat seperti yang diperintahkan dalam firman yang
tertulis, malahan mereka mengadopsi, dan mempraktekkan, ibadah
hari Minggu, yang hanya merupakan tradisi Gereja. Maka dari itu
klaim sola scriptura mereka telah gagal dan bahwa "Kitab suci dan
19
Buku yang membahas hal in secara detil adalah From Sabbath to Sunday, Samuele
Bacchiocchi, 1977, The Pontifical Gregorian University Press, Roma). Riset yang
dilakukan Bacchiocchi memperlihatkan bagaimana perubahan Sabat dan hari-hari raya
Alkitab lainnya dicetuskan oleh sikap anti-Yahudi para "Bapa Gereja".
34
tradisi adalah sama pentingnya" justru dibenarkan. Biar kaum
Protestan sendirilah yang jadi hakimnya."
Hari Sabat : beban atau sukacita?
Ada semacam miskonsepsi pada sebagian orang bahwa perintah hari
Sabat hanya menyusahkan manusia saja. Contohnya seperti kisah
berikut ini. Seorang anak kecil menanyai ibunya apakah ia dapat pergi
bermain. Lalu ibunya menjawab, "kamu tidak boleh pergi bermain,
sebab seseorang tidak boleh melakukan hal itu pada hari Sabat."
Namun anak itu tetap mendesak, "Ibu, izinkanlah aku pergi."
Akhirnya, ibunya menyerah sembari menjawab, "baiklah, kamu bisa
pergi dan bermain, namun dengan satu syarat, jangan bersenangsenang sambil bermain, sebab bagaimanapun hari ini adalah hari
Sabat." Pengertian Sabat disini terlanjur diartikan sebagai hari yang
penuh beban karena kita dituntut untuk tidak boleh ini, tidak boleh itu.
Padahal dalam kitab nabi Yesaya hari Sabat dinamakan sebagai "hari
kenikmatan" (Yesaya 58:13-14). Dalam sebuah midrash dikatakan:
"Mungkin kamu mengira bahwa Aku memberikan kepadamu hari
Sabat untuk menyusahkanmu; Aku sesungguhnya memberimu Sabat
untuk menyenangkan kamu. Menguduskan hari ketujuh bukan berarti
kamu mesti menyengsarakan dirimu, tetapi sebaliknya engkau harus
menguduskannya dengan seluruh hatimu, dengan segenap jiwamu dan
dengan seluruh perasaanmu. Sucikanlah hari itu dengan memilih
makananmu, dengan memakai pakaian yang indah; penuhilah jiwamu
dengan kesenangan dan Aku akan memberi upah untuk kesenangan
itu." (Deuteronomy Rabba 3,1)
Yeshua pun berkata bahwa Sabat diciptakan untuk manusia dan bukan
manusia untuk Sabat. Oleh sebab itu pergunakanlah Sabat sebagai hari
sukacita dimana kamu bisa memanfaatkan 24 jam penuh khusus untuk
Tuhan. Tentu saja bukan berarti anda tidak boleh mempergunakan
hari-hari lain untuk Tuhan, tetapi sediakan satu hari spesial – Sabat –
supaya menjadi tanda bahwa TUHAN adalah Elohim kita (Yeh
20:20).
Tuhan sendiri berfirman tentang hubungan antara orang-orang percaya
yang bukan Yahudi dengan Sabat dan Taurat:
35
"Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang
berpegang kepadanya: yang memelihara hari Sabat dan tidak
menajiskannya, dan yang menahan diri dari setiap perbuatan jahat.
Janganlah orang asing yang menggabungkan diri kepada TUHAN
berkata: "Sudah tentu TUHAN hendak memisahkan aku dari pada
umat-Nya"; dan janganlah orang kebiri berkata: "Sesungguhnya, aku
ini pohon yang kering." Sebab beginilah firman TUHAN: "Kepada
orang-orang kebiri yang memelihara hari-hari Sabat-Ku dan yang
memilih apa yang Kukehendaki dan yang berpegang kepada
perjanjian-Ku, kepada mereka akan Kuberikan dalam rumah-Ku dan
di lingkungan tembok-tembok kediaman-Ku suatu tanda peringatan
dan nama--itu lebih baik dari pada anak-anak lelaki dan perempuan-,suatu nama abadi yang tidak akan lenyap akan Kuberikan kepada
mereka. Dan orang-orang asing yang menggabungkan diri kepada
TUHAN untuk melayani Dia, untuk mengasihi nama TUHAN dan
untuk menjadi hamba-hamba-Nya, semuanya yang memelihara hari
Sabat dan tidak menajiskannya, dan yang berpegang kepada
perjanjian-Ku, mereka akan Kubawa ke gunung-Ku yang kudus dan
akan Kuberi kesukaan di rumah doa-Ku. Aku akan berkenan kepada
korban-korban bakaran dan korban-korban sembelihan mereka yang
dipersembahkan di atas mezbah-Ku, sebab rumah-Ku akan disebut
rumah doa bagi segala bangsa." (Yesaya 56:2-7)
Menurut kitab Yesaya, orang-orang bukan Yahudi manakah yang
bakal mendapatkan berkat Tuhan ? Yaitu mereka yang memelihara
Taurat-Nya. Kitab Wahyu meneguhkannya demikian:
"Blessed are they that do His commandments, that they may have
right to the tree of life, and may enter in through the gates into the
city." (King James Bible, Wahyu 22:14)
36
Bagian 5
Bagaimana pandangan Kristen
terhadap Taurat bermula ?
Kekeliruan cara pandang Kristen terhadap Taurat dan juga "Perjanjian
Baru" disebabkan oleh penafsiran yang dilakukan dengan cara-cara
non-Ibrani dan banyak mengabaikan konteks historis yang ada. Ini
adalah bagian dari permasalahan. Jika anda mempunyai wawasan
yang salah tentang budaya pada masa itu, anda akan tiba pada
kesimpulan yang keliru, yang pada gilirannya akan menghasilkan
doktrin yang salah.
Sebagai contoh ketidak-pedulian akan konteks historis/budaya
terdapat pada bukunya J. Vernon McGee yang sudah disebutkan
sebelumnya. Pengajar Kristen ini menjelaskan kata kumpulan
(assembly) yang ditemukan dalam Yakobus 2:2 seperti berikut:
"Kata kumpulan (assembly) disini berarti sinagoga. Jelas sekali disini
orang-orang Jewish Christian menyebut tempat dimana mereka
berkumpul sebuah sinagoga. Mereka tidak membangun gedung
khusus dan secara teratur berkumpul di rumah-rumah jemaat, namun
ada kemungkinan di banyak tempat mereka menyewa sebuah
sinagoga. Mereka bertemu di hari Minggu dan bukan hari Sabtu
supaya tidak bertubrukan dengan pertemuan orang-orang Yahudi." 20
Sayangnya, orang-orang Kristen akan membaca tulisan tersebut apa
adanya dan menerimanya sebagai "fakta" – lagipula ini kan penjelasan
dari orang yang terkenal, maka sudah pasti benar. Sayangnya lagi,
penjelasan Bapak McGee ini penuh dengan kesalahan dan semakin
menambah kekeliruan umat Kristen.
Dari hasil analisis pernyataan di atas terungkap kekeliruan yang mesti
diluruskan:
1.
"Jewish Christian" – Tidak ada sebetulnya apa yang
dinamakan "orang-orang Jewish Christian". Ini adalah sebuah
istilah modern. Penggunaan istilah ini mendukung pendapat
20
Thru the Bible Commentary Series, James, J. Vernon McGee, Thomas Nelson
Publishers, Nashville, 1991, p. 56.
37
bahwa orang Yahudi pengikut Yeshua yang mula-mula telah
berpindah agama dari Yudaisme ke Kristen. Penggunaan kata
Kristen sendiri baru muncul kemudian untuk mengacu
kepada orang percaya di Antiokhia (Kis 11:26) dan istilah ini
mula-mula digunakan oleh penguasa Romawi sebagai kata
hinaan.21
2.
Mereka "menyebut tempat dimana mereka berkumpul sebuah
sinagoga" karena satu dari dua kemungkinan. Mereka bisa
jadi menggunakan bangunan sinagoga atau mereka
berkumpul di suatu gedung lain yang masih di berada di
dalam lingkungan sinagoga. Bukan saja "kekristenan" belum
ada pada waktu itu, juga halnya tidak ada kumpulan
"Kristen" yang dapat terorganisasi dan berkumpul, karena hal
ini tidak diizinkan oleh penguasa Romawi. Orang Yahudi
sebaliknya mempunyai izin untuk itu, di bawah hukum
Romawi.22 Di samping itu, jemaat mula-mula tetap datang
mengunjungi Bait Elohim (Kis 2:46) dan sinagoga-sinagoga,
termasuk orang-orang bukan Yahudi, karena ini satu-satunya
tempat dimana Alkitab dibacakan dan mereka bisa belajar
Taurat (Kis 15:21).
3.
"Menyewa sebuah sinagoga" – Ini adalah contoh bagaimana
sebuah pernyataan yang menggelikan disebar-luaskan
sebagai "pengetahuan". Adalah illegal bagi orang Yahudi
untuk menyewakan bangunan mereka kepada kelompok
mana saja kecuali kalau mereka mau kena sanksi dari
penguasa Romawi. Para pengikut Yeshua mempunyai hak
penuh sebagai orang Yahudi untuk terus beribadah secara
normal di sinagoga.
21
Ada petunjuk bahwa kata Kristen disisipkan kemudian ke dalam Perjanjian Baru
karena pada sejumlah manuskrip tua dijumpai kata "pemberi sedekah" (dan bukannya
Kristen). Ini nampak seperti sebuah bentuk pelecehan dari orang-orang Romawi karena
"pemberian sedekah" merupakan istilah dan praktek ibadah dari orang Yahudi. Ini
menunjukkan bahwa orang-orang percaya bukan Yahudi di Antiokhia "telah menjadi
seperti Yahudi" dalam iman baru mereka. Bagi orang Romawi, menjadi seperti Yahudi
adalah memalukan.
22
The Mystery of Romans, Mark Nanos, 1996, Fortress Press, Minneapolis, pp. 64-68.
Julius Caesar sangat menaruh hormat terhadap agama kuno dan memberikan orang
Yahudi hak legal yang disebut collegia, mengizinkan mereka untuk berkumpul,
memerintah dan menarik pajak sendiri, dan menerapkan aturan-aturan mereka sendiri.
Orang Yahudi adalah satu-satunya bangsa yang diberikan hak demikian. Hal ini
menimbulkan kebencian di antara penduduk Romawi lainnya.
38
4.
"Mereka bertemu di hari Minggu" – Pernyataan ini tidak
didukung fakta sama sekali. Para pengikut Yeshua tetap
berkumpul di sinagoga-sinagoga pada hari Sabat. Praktek
ibadah yang umum dilakukan adalah havdallah – berkumpul
di rumah setelah matahari terbenam untuk melanjutkan
diskusi dan pujian pada ibadah Sabat hari itu. Ini
menjelaskan mengapa Paulus dikatakan "berbicara sampai
tengah malam" dalam Kisah Para Rasul 20:7. Hari pertama
dalam seminggu bagi orang Yahudi (seperti Paulus) dimulai
pada saat matahari terbenam di akhir hari Sabat – yakni hari
Sabtu bukan hari Minggu.23
5.
Lagi, mereka "tidak bertubrukan dengan pertemuan orangorang Yahudi" karena mereka tetap adalah orang Yahudi dan
tetap mendatangi sinagoga bersama-sama saudara mereka
yang belum menerima Yeshua.
Sejarah singkat asal mula Gereja Kristen dan doktrinnya
Bagaimana bisa kepercayaan Yahudi Messianis yang berbasiskan
Taurat seperti ini…
! "Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama
belum lenyap langit dan bumi ini, satu jot atau satu
titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum
semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah
satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil,
dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan
menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan
Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala
perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat
yang paling tinggi di dalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:1819)
! Mendengar itu mereka memuliakan Tuhan. Lalu mereka
berkata kepada Paulus, " Saudara, lihatlah, beribu-ribu
23
Orang Yahudi memandang sebuah hari dimulai pada saat matahari terbenam di
malam hari dan bukan dimulai pada pagi hari seperti penduduk dunia lainnya.
Pandangan ini berdasarkan atas kisah penciptaan (Kej 1:3-5). Hari Sabat sendiri dimulai
pada Jum’at petang dan berakhir pada Sabtu petang.
39
orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua
rajin memelihara hukum Taurat." (Kisah Para Rasul 21:20)
! "Aku adalah orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia,
tetapi dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah
pimpinan Gamaliel di bawah hukum nenek moyang kita,
sehingga aku menjadi seorang yang giat bekerja bagi Eloah
sama seperti kamu semua pada waktu ini." (Kisah Para Rasul
22:3)
! "Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang
kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang
telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah
firman yang telah kamu dengar." (I Yohanes 2:7)
berubah menjadi kepercayaan non-Yahudi yang tidak berbasiskan
Taurat seperti ini…
! "Bahwa Kristen mengungguli Yudaisme…", "Paulus
mengajarkan bahwa perbudakan hukum Taurat telah
berakhir ketika Yesus membebaskan semua manusia." (dari
kutipan-kutipan pengarang Kristen yang sudah disajikan di
bagian awal)
Dalam "Perjanjian Baru" jelas tertulis bahwa Yeshua, para rasul dan
para jemaat mula-mula adalah para pelaku Taurat yang taat.
Bagaimana ceritanya kondisi seperti ini bisa berkembang menjadi
kondisi Gereja Kristen saat ini yang tidak berbasiskan Taurat ?
Penguasa Romawi di abad pertama dan kedua sering kali mempunyai
masalah dengan propinsi Yudea dan Galilea. Kerusuhan dan
pemberontakan berulang kali terjadi di dua propinsi Yahudi itu, dan
sampai kepada puncaknya adalah terjadinya dua kali peperangan besar
antara bangsa Yahudi dan penguasa Romawi.24
Ada dua peristiwa penting yang terjadi di sekitar masa itu:
1.
24
Yakobus (nama sebenarnya adalah Ya’aqov, saudara Yeshua)
mati syahid.
Lihat Jerusalem – One City Three Faiths, Karen Amstrong, Alfred A. Knopf, New
York, 1996.
40
2.
Bait Elohim dihancurkan.
Sepeninggal Yeshua, kepemimpinan jemaat diserahkan kepada
saudara-Nya, Ya’aqov yang dijuluki Tzaddik (Orang Saleh). Ya’aqov
diakui telah memegang peranan yang sangat besar dalam
menjembatani hubungan antara kelompok Messianis dengan
kelompok Yahudi lainnya.25 Ia memiliki hubungan yang sangat baik
dengan orang-orang Farisi dan Esseni, dan hidup sangat keras dan
teliti dalam menjalankan Taurat sehingga dikabarkan bahwa ia
diperbolehkan untuk memakai jubah imam dan berdoa di Ruang Imam
dalam Bait Elohim. Tetapi Ananus, Imam Besar saat itu bukan main
sentimennya dengan Yakobus. Pada tahun 62, Ia membawa Yakobus
ke hadapan Sanhedrin dan imam-imam Saduki. Oleh hasutan Ananus
pula mereka menjatuhkan tuduhan pelanggaran Taurat terhadap
Yakobus karena bersikeras mengatakan bahwa Yeshua adalah Sang
Mesias. Mereka berseru, "Oh, Tzaddik ini juga ikut-ikutan salah !"
Kemudian mereka menyeretnya dan menjatuhkannya dari bubungan
Bait Elohim.26 Beberapa orang Farisi berusaha membela Yakobus dan
memrotes tindakan Ananus kepada raja Agrippa dan Albinus, wali
negeri Romawi. Akibatnya Ananus kemudian dicopot dari jabatan
yang baru disandangnya tiga bulan27. Dengan wafatnya Yakobus,
hubungan baik antara dua kelompok Yahudi ini makin hari makin
menurun.
Selang beberapa tahun kemudian, jendral Titus datang memikul tugas
berat dari ayahnya, Kaisar Vespasianus, untuk menghadapi bangsa
yang amat fanatik dengan agamanya itu. Di saat-saat itulah para
pengikut Yeshua teringat akan pesan-Nya:
"Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara,
ketahuilah, bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orangorang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan
orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orangorang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota,
sebab itulah masa pembalasan di mana akan genap semua yang ada
tertulis." (Luk 21:20-22)
25
James the Brother of Jesus, Robert Eisenman, 1997, Penguin Books, New York, NY.
Ecclesiastical History, Eusebius, 325. (Buku II bab XXIII)
27
Antiquities of The Jews, Flavius Josephus, 93. (Antiquities 20:9:1)
26
41
Di bawah pimpinan Simeon (juga saudara Yeshua), mereka kemudian
mengungsi ke Pella, sebuah kota di seberang sungai Yordan. Seperti
apa yang telah diramalkan Yeshua, Yerusalem beserta Bait Elohim
akhirnya diluluh-lantakkan oleh pasukan Romawi (70 M). Enam ribu
orang Yahudi gugur saat itu dalam mempertahankan Yerusalem.
Disinilah timbul perselisihan. Larinya kaum Messianis dari keikutsertaan mempertahankan Yerusalem dinilai sebagai suatu tindakan
yang tidak "patriot".
Dua kombinasi peristiwa ini menyebabkan terjadinya perpisahan
antara orang-orang Yahudi yang percaya kepada Yeshua dengan yang
tidak. Sampai akhirnya pada tahun 90, para pemimpin agama Yahudi
memutuskan untuk melarang kaum Messianis beribadah lagi di
sinagoga. Hal ini menyebabkan komunitas Nasrani (termasuk orangorang bukan Yahudi yang menerima Yeshua) semakin jauh dari
orang-orang Yahudi lainnya.
Perpisahan ini memberikan peluang bagi orang-orang percaya nonYahudi (yang berlatar belakang dari kultur paganisme) yang tidak
mempedulikan keyahudian "kepercayaan" mereka – untuk bersuara
lebih besar dalam urusan-urusan komunitas dan penafsiran Alkitab.
Polemik anti-Yahudi sudah muncul seawal-awalnya pada tahun 98
dalam ajaran St. Ignatius, uskup Antiokhia – kota dimana istilah
Kristen pertama kali dipakai. Ignatius mengatakan kepada orangorang Kristen non-Yahudi agar tidak lagi mengikuti cara beribadah
orang-orang Yahudi dan kepada orang-orang Yahudi yang telah
menerima Mesias agar menghentikan cara hidup Yahudi mereka.
Demikian tulisnya: "tidak masuk akal berbicara tentang Yesus Kristus
dengan lidah [Yahudi] dan menumbuhkan harapan dalam pemikiran
kepercayaan Yahudi yang sekarang sudah berakhir." 28
Perang Yahudi kedua terjadi pada tahun 135 yang dipicu sebelumnya
oleh rencana Kaisar Hadrian untuk membangun Yerusalem menjadi
kota metropolis baru dengan nama Aelia Kapitolina. Hadrian juga
berencana mendirikan kuil Yupiter dan Venus di atas reruntuhan Bait
Elohim. Maka bangkitlah orang Yahudi melawan rencana ini di bawah
pimpinan Simon Bar Koseba. Tetapi kekuatan mereka tidaklah
sebanding dengan Romawi. Pasukan Romawi membumi-hanguskan
985 kota dan lebih dari setengah juta orang Yahudi tewas dalam
28
Letter to Magnesians, Ignatius, 98.
42
peperangan ini, termasuk di antaranya adalah anggota komunitas
Nasrani.29 Hadrian kemudian mengeluarkan undang-undang baru yang
melarang orang Yahudi untuk beribadah pada hari Sabat, merayakan
hari-hari raya Tuhan, mengadakan upacara-upacara keagamaan, dan
membaca Taurat. Inilah saat dimulainya masa Diaspora Yahudi.
Rencana Hadrian terus berlanjut, sebuah kota baru berdiri dan Hadrian
mendatangkan orang-orang Yunani dan Suriah untuk mengisi kota
baru tersebut. Tidak dapat disangkal, beberapa di antara orang-orang
itu adalah orang Kristen.30 Orang Yahudi sendiri, termasuk dari
golongan Messianis, dilarang untuk mendekati kota Yerusalem dalam
radius 150 mil. Apa yang tinggal tersisa sedikit dari komunitas
Nasrani ini segera tersingkir oleh kedatangan orang-orang Kristen
non-Yahudi itu. Bahkan kepemimpinan komunitas Nasrani – yang
turun temurun dipegang oleh kerabat Yeshua: Yakobus, Simeon,
Yustus, Zakheus, Tobias, Benyamin, Yohanes, Matias, Filipus,
Seneka, Yustus, Lewi, Efres, Yusuf, dan Yudas31 – diambil alih oleh
uskup non-Yahudi.
Kepemimpinan "Gereja" non-Yahudi yang baru ini kelak
mempengaruhi posisi pemerintah Romawi terhadap orang Yahudi dan
melahirkan sikap memusuhi apa saja yang berbau Yahudi, termasuk
kitab Taurat. Puluhan doktrin-doktrin salah dikembangkan sedinidininya mulai abad kedua. Di antaranya yang mengajarkan bahwa
hukum Taurat sebenarnya diberikan untuk menghukum orang Yahudi,
bahwa Yerusalem dihancurkan dan diambil dari orang Yahudi karena
dosa mereka, dan bahwa "Gereja" sekarang telah menggantikan posisi
Israel sebagai umat Tuhan (replacement theology).32
Ambil contoh, pada awal abad kedua, kita mendapati "Bapa Gereja"
Yustinus Martyr berkata:
"Kami juga, akan turut menjalankan sunat dagingmu itu, hari-hari
Sabatmu dan singkat kata semua upacara-upacaramu, jika saja kami
tidak mengetahui alasan mengapa itu semua dibebankan kepadamu,
yaitu karena dosa-dosamu dan kekerasan hatimu. Kebiasaan sunat,
29
Caesar and Christ, Will Durant, 1944, Simon and Schuster, New York, p. 548.
Ecclesiastical History 4:6. Eusebius melaporkan adanya sebuah gereja non-Yahudi di
masa itu.
31
Ecclesiastical History 4:5.
32
Kehancuran Yerusalem juga menjadi alasan bagi pihak Gereja Roma untuk
mengklaim diri sebagai pusat ajaran "Kristen" yang baru.
30
43
yang diturunkan dari mulai Abraham, diberikan kepadamu sebagai
tanda pembeda, untuk memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain
dan dari kami, orang Kristen. Tujuan hal ini ialah supaya kamu dan
hanya kamu mengalami kesusahan ini yang sekarang pantas kamu
terima; dimana negerimu menjadi sunyi, dan kota-kotamu dirubuhkan
oleh api, buah-buah yang dihasilkan negerimu dimakan oleh orangorang asing di depan matamu, tidak seorangpun darimu yang
diperbolehkan memasuki Yerusalem. Sunat dagingmu itu hanya
menjadi tanda supaya kamu dapat dibedakan dari orang-orang
lain…seperti yang saya katakan sebelumnya adalah karena dosadosamu dan dosa nenek moyangmu, di antara perintah-perintah
lainnya, Tuhan membebankanmu untuk memelihara Sabat untuk
menjadi tanda." 33
Pada abad ketiga, kita mendapati pernyataan Origen dari Alexandria
yang tersohor itu:
"Kami dengan demikian boleh menegaskan dengan keyakinan penuh
bahwa orang Yahudi tidak akan kembali lagi ke keadaan mereka
semula, oleh sebab mereka telah melakukan kejahatan yang paling
keji, dengan mengadakan persengkongkolan melawan Juruselamat
manusia…maka itu kota dimana Yesus menderita perlu dihancurkan,
bangsa Yahudi dibuang dari negerinya, dan untuk itu bangsa lain
telah dipanggil dan dipilih Tuhan." 34
Sikap dari kedua "Bapa Gereja" ini bukanlah hal yang tidak lazim.
Pada masa Yeshua dan para rasul, seluruh penduduk dalam Kerajaan
Romawi mempunyai sikap bermusuhan dengan bangsa Yahudi karena
hak istimewa mereka. Orang-orang cendekiawan Roma pada masa itu
banyak menulis karya-karya yang mengandung hinaan terhadap orang
Yahudi yang hidup di antara mereka.35 Masyarakat Romawi adalah
masyarakat penyembah berhala dan beribadah kepada banyak dewadewi. Di tengah-tengah mereka inilah hidup sekitar 7 juta masyarakat
Yahudi (kira-kira 10 persen dari total populasi Romawi), boleh
dibilang cuma minoritas.36 Bangsa Yahudi diperbolehkan untuk tidak
33
Dialogue with Trypho, Justin Martyr (Circa 138-161 M)
Origen dari Alexandria (185-254 A.D.) seperti dikutip dari Scattered Among the
Nations, Documents Affecting Jewish History 49 to 1975, diedit oleh Alexis P. Rubin,
Jason Aronson Inc., London, pp. 22-23.
35
Jew & Gentile in the Ancient World, Louis H. Feldman, 1993, Princeton University
Press, Princeton, NJ, pp. 123-176
36
Caesar and Christ, Will Durant, 1944, Simon and Schuster, New York, p. 546.
34
44
turut beribadah kepada dewa-dewi Roma, tidak seperti halnya bangsabangsa taklukan lainnya yang dipaksa untuk itu.37 Orang-orang
Kristen non-Yahudi datang dari latar belakang ini dan tidak menaruh
peduli dengan hal-hal keyahudian seperti Sabat dan Taurat. Bagi
mereka menjalankan hal-hal semacam itu merupakan "kebodohan".
Begitu kepemimpinan orang Yahudi dalam "Gereja" berhasil
disingkirkan, perubahan demi perubahan berhasil diterapkan tanpa
oposisi berarti dari kalangan orang percaya Yahudi. Justru silangpendapat mengenai doktrin-doktrin kekristenan terjadi di kalangan
orang-orang non-Yahudi ini. Unsur-unsur gnostisme, pantheisme, dan
paganisme begitu mudahnya terserap ke dalam Kristen dan sebaliknya
Taurat dan hal-hal berbau Yahudi semakin ditinggalkan.
Tetapi Kristen belum benar-benar menjadi agama resmi sampai awal
abad keempat. Pada tahun 312, Kaisar Konstantin (seorang
penyembah berhala matahari yang baru bersedia dibaptis saat hendak
menghembuskan nafas terakhirnya) mengklaim memperoleh
"penglihatan" yang mengantarnya kepada "legalisasi Kristen" dengan
mengeluarkan Undang-undang Milan.38 Hal ini memulai sebuah
proses yang pada akhirnya membuat Kristen menjadi agama resmi
kerajaan. Sekarang, jika anda seorang Yahudi, dan ingin "menerima
Yeshua sebagai Mesias", anda harus menyatakan diri meninggalkan
keyahudian anda dan menjadi "Kristen". Sedangkan orang-orang nonYahudi yang menggabungkan dirinya dalam ibadah orang Yahudi
akan dihukum karena melanggar undang-undang.
Konstantin memainkan pula peranan yang penting dalam urusan intern
Gereja. Ia melibatkan diri secara aktif dalam sengketa antara pengikut
Arius dengan pengikut Athanasius (dua teolog Kristen yang
mengajukan doktrin berbeda tentang aspek ketuhanan Yesus). Ia
kemudian memanggil 300 uskup dari seluruh dunia untuk menghadiri
konsili di Nicea pada tahun 325. Meski begitu Konstantin sebetulnya
tidak begitu peduli dengan apa yang dibicarakan dalam konsili
tersebut karena ia sangat awam terhadap masalah-masalah teologi
(ingat, ia sendiri belum menyerahkan dirinya dibaptis saat itu dan
tetap beribadah kepada berhala matahari). Baginya yang penting
kesatuan dan stabilitas negara bisa tetap terjaga.
37
38
The Mystery of Romans, Mark Nanos, 1996, Fortress Press, Minneapolis, pp. 64-68.
Undang-undang Milan juga menetapkan hari Minggu sebagai hari beribadah.
45
Konsili Nicea dan konsili-konsili lainnya yang menyusul belakangan
menghasilkan keputusan yang kelak menjadi doktrin dan kredo yang
dianut oleh Kristen sampai hari ini. Konsili-konsili ini diadakan oleh
orang-orang bukan Yahudi yang berasal dari latar belakang antiYahudi sama seperti mereka yang hidup dua abad lalu. Orang-orang
percaya dari kalangan Yahudi yang tetap memelihara Taurat dilarang
untuk ikut serta dalam rapat-rapat seperti itu, dan posisi mereka
terhadap pemahaman Alkitab yang berbasiskan Taurat ikut "dilibas".39
Salah satu keputusan konsili adalah barangsiapa ketahuan makan
bersama-sama orang Yahudi tidak akan diperbolehkan ambil bagian
dalam komuni supaya ia boleh "belajar untuk berubah" 40, dan bila
menikah dengan seorang Yahudi akan dikucilkan dari masyarakat.41
Sisa-sisa orang percaya yang tetap bertahan kepada kepercayaan yang
berbasiskan Taurat seperti halnya jemaat mula-mula, senantiasa
menjadi bahan olok-olok dan sudah untung cuma dianggap "lemah
iman" jika tidak mau dicap sesat.
Contohnya, kita dapati Epiphanius, pada abad keempat, berkata:
"Mereka [kaum Nasrani] tidak mempunyai pendapat yang berbeda,
namun melakukan semua hal tepat seperti apa yang diperintahkan
dalam Taurat, menurut tata cara Yahudi – kecuali kepercayaan
mereka terhadap Mesias…tetapi karena mereka tetap terbelenggu
oleh hukum Taurat – sunat, Sabat, dan lainnya – mereka tidak
termasuk ke dalam Kristen." 42
Pada akhir abad keempat, apa saja yang berhubungan dengan
kepercayaan "pro-Taurat" telah lenyap dalam lautan "kekristenan".
Konsili di Antiokhia (341 M) dan Laodicea (360 M) melarang orang
Kristen untuk turut serta dalam peribadatan Yahudi. Seperti yang
dikatakan sejarahwan modern, hal ini dilakukan untuk menunjukkan
39
Pertemuan terakhir yang diketahui antara orang Yahudi (minoritas) dengan orang
non-Yahudi (mayoritas) terjadi pada tahun 318 yakni antara Paus Silvester, yang
mewakili Kaisar dengan Yoses, juru bicara desposyni (orang-orang yang masih punya
hubungan darah dengan Yeshua). Setelah pertemuan itu, Silvester mengambil alih
kepemimpinan para desposyni dan menyerahkannya kepada uskup-uskup Romawi.
Sejak itu hilang sudah peranan orang Yahudi dalam "Gereja".
40
Council of Elvira, 304 A.D., Canon 50, Laws Relating to Jews
41
Council of Elvira, 304 A.D., Canon 16, Laws Relating to Jews
42
Panarion 29, Epiphanius, abad keempat.
46
bahwa tradisi Yahudi itu "sudah dari sananya buruk, usang, dan tidak
relevan lagi terhadap kehidupan orang Kristen sehari-hari."43
Kepercayaan terhadap Yeshua berubah dari 100 persen Yahudi
menjadi 100 persen anti-Yahudi dalam waktu kurang dari 300 tahun.
Semua ini kelak menjadi dasar "Gereja" Kristen. Penganiayaan
terhadap orang Yahudi sepanjang sejarah, Perang Salib, Inquisisi,
pengusiran massal yang tidak terhitung jumlahnya dalam sejarah,
isolasi di dalam ghetto dan tentu saja Holocaust-nya Hitler, semuanya
merupakan hasil langsung dari doktrin anti-Yahudi Gereja.
Dasar sikap anti-Yahudi ini tidak berubah sekalipun dengan reformasi
yang dilakukan oleh kaum Protestan pada abad keenambelas. Para
tokoh-tokoh reformasi seperti Martin Luther dan John Calvin sama
anti-nya, kalau tidak boleh dibilang lebih, dengan para pendahulu
mereka seribu tahun sebelumnya. Perhatian para reforman ini lebih
tercurah kepada apa yang mereka rasakan sebagai penyelewengan dan
penyalah-gunaan kekuasaan dalam Gereja (Katholik). Mereka tidak
berkeinginan untuk membawa Gereja kembali kepada kepercayaan
Yahudi Messianis berbasiskan Taurat seperti yang dianut Yeshua dan
para rasul. Luther pada mulanya mencoba merangkul orang Yahudi
(saat ia menulis buku That Jesus was Born a Jew) dengan harapan
mereka akan mendukung gerakan reformasinya itu, tetapi setelah
melihat tidak ada respon dari mereka, maka Luther berbalik menjadi
begitu benci terhadap orang Yahudi. Tulisan-tulisan Martin Luther ini
adalah bacaan kesukaan Adolf Hitler, yang memperoleh banyak ide
dari sana bagaimana cara menangani orang-orang Yahudi.44
Penting untuk dimengerti bahwa:
Sikap anti-Yahudi dan anti-Taurat dari para Bapa Gereja dan kelak
dari para tokoh reformasi Protestan telah menjadi dasar bagi seluruh
opini Kristen (Katholik dan Protestan) sampai kepada hari ini. Semua
43
Paul and the Jewish Law - Halakha in the Letters of the Apostle to the Gentiles, Peter
J. Tomson, 1990, Fortress Press, Minneapolis, p. 3.
Martin Luther dalam bukunya On The Jews and Their Lies (1543) memerintahkan
penganiayaan terhadap orang Yahudi, termasuk di dalamnya: membakar sinagoga
mereka sampai rata, menghancurkan rumah mereka, menyita kitab Talmud dan bukubuku doa, membunuh para rabbi yang menolak untuk berhenti mengajar, menghalangi
hak mereka untuk melakukan perjalanan, dan menempatkan mereka ke dalam kampkamp terkonsentrasi (ghetto). Hitler menuruti saran-saran Luther ini dengan baik sekali.
44
47
penafsiran Alkitab yang berasal dari para pengajar Kristen, pendeta
atau lembaga, termasuk setiap terjemahan Alkitab yang ada, bukubuku Kristen, renungan harian, khotbah di hari Minggu, film-film dan
kurikulum di sekolah-sekolah tinggi teologia, telah dihasilkan menurut
doktrin dari orang-orang ini dan dari kesalahan yang terkumpul
selama beratus-ratus tahun.
48
Bagian 6
Realitas Sejarah Mengenai
Apa yang Dianut Yeshua dan Pengikut-Nya
Untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang apa yang
Alkitab ajarkan, kita perlu kembali kepada masa dimana Yeshua dan
Paulus hidup. Yudaisme pada abad pertama didominasi oleh golongan
yang dinamakan Farisi. Hal pertama yang perlu dibereskan adalah
mengenai pengertian istilah "Farisi". The American Heritage
Dictionary45 memberikan dua definisi berikut:
1.
Seorang anggota dari sebuah sekte Yahudi kuno yang
menekankan pada penafsiran yang keras dan ketaatan
terhadap hukum Musa baik dalam bentuk tertulis maupun
lisan.
2.
Seorang yang berlaku munafik dalam beribadah.
Budaya Barat yang kita anut menyamakan definisi pertama dengan
yang kedua. Orang Farisi adalah "orang-orang yang jahat", dan
kepercayaan yang mereka anut pun juga sesat. Bukankah "Yesus"
sendiri menyebut mereka orang munafik, setan, keturunan ular
beludak, dan sebagainya ? Pandangan ini merupakan produk dari
sikap anti-Yahudi yang sudah berlangsung berabad-abad dan
berseberangan dengan Alkitab dan fakta historis.
Contoh-contoh tipikal dalam ajaran Kristen tentang hal ini dapat
dijumpai dalam karya penulis dan apologis terkenal, J. Dwight
Pentecost, dalam bukunya yang mashyur, The Words and Works of
Jesus Christ. Untuk menunjukkan bagaimana Yesus mengajarkan
doktrin yang berbeda dengan orang Farisi, dan memerintahkan
manusia untuk mengikuti ajaran-Nya, dan bukan ajaran mereka,
Pentecost memberikan bukti pendukung argumennya dengan
mengutip dua penulis Kristen lainnya.
Pentecost, mengutip J.W Shepard, menulis:
45
The American Heritage Dictionary, Second College Edition, Houghton Mifflin
Company, Boston, 1985.
49
"Contoh dari tulisan-tulisan dalam Mishna dan Gemara (dua bagian
dari Talmud) menunjukkan bahwa mereka adalah koleksi
menjemukan yang berisi penjelasan yang terputus-putus atas banyak
pokok persoalan. Ajaran mereka sempit, dogmatis, second hand, tidak
ada yang baru, memaksa, atau menggerakkan emosi…Khotbah Yesus
justru adalah sebaliknya, dengan pengertian intuitif yang cepat
menembus lubuk hati manusia yang paling dalam, menggerakkan
kesadaran dan kehendak untuk berbuat…Kata-kata yang begitu indah
keluar dari bibir-Nya, diucapkan dengan cara yang ramah, sehingga
dunia berkata: Tidak ada manusia yang berbicara seperti orang ini."
Pentecost, mengutip Frederick Farrar, menulis:
"Banyak hal telah ditulis belakangan ini yang memuji-muji Talmud.
Saat ini literatur yang diberi nama Talmud itu terdiri atas duabelas
volume tebal seukuran folio; dan adalah aneh jika dari literatur
setebal ensiklopedia ini kita tidak dapat mengutip barang sepotong
pun bagian yang mengesankan, ilustrasi yang menarik, atau sejumlah
perasaan moral yang membangkitkan pemikiran mulia. Tetapi apa
yang terlihat oleh saya tidak dapat disangkal, dan orang lain juga
bisa menilainya sendiri, bahwa apa yang benar-benar berharga
dalam Talmud sangat sedikit sekali dibandingkan dengan tumpukan
sampah di dalamnya yang hampir tidak terhitung jumlahnya." 46
Mari kita perjelas – Pentecost, Shepard dan Farrar tidak diragukan lagi
mewakili posisi Kristen terhadap Talmud (ajaran orang Farisi).
Mereka semua setuju bahwa:
1.
Ajaran "Yesus" berbeda secara keseluruhan dengan yang ada
di Talmud.
2.
Tidak ada ajaran Talmud yang mengandung nilai-nilai moral
seperti dalam ajaran "Yesus".
3.
Kata-kata dalam Talmud mengandung nilai-nilai "second
hand".
4.
Sedikit sekali hal-hal yang berharga di dalam Talmud.
46
The Words and Works of Jesus Christ, J. Dwight Pentecost, 1981, The Zondervan
Corporation, Grand Rapids, MI, p.188-189.
50
Selama berabad-abad Gereja memegang opini ini terhadap Talmud.
Sepanjang sejarah, kapan saja terjadi penganiayaan terhadap orang
Yahudi oleh orang-orang Kristen, Talmud selalu menjadi sasaran
pertama untuk dijadikan api unggun.
Ada dua lipat masalah dalam opini Kristen terhadap ajaran Farisi ini:
1.
Sedikit sekali orang Kristen yang pernah mengusahakan diri
mereka untuk membaca Talmud.
2.
Bahkan lebih sedikit lagi yang mengerti bagaimana
memahami tulisan tersebut karena Talmud tidak ditulis dalam
gaya literatur "Barat". (Makanya J.W Shepard mengomentari
Talmud sebagai "koleksi menjemukan yang berisi penjelasan
yang terputus-putus atas banyak pokok persoalan." Seperti
semua orang yang bersikap masa bodoh, ia mengutuki apa
yang tidak dimengertinya).
Talmud merupakan saripati dari karya-karya tulis orang Farisi,
kebanyakan berasal dari masa sebelum Yeshua. Dengan mempelajari
Talmud dan membandingkannya dengan kata-kata Mesias47, kita
menemukan hal yang bertolak-belakang dengan apa yang Kristen
ajarkan:
Ajaran Yeshua
Hari Sabat diadakan untuk
manusia dan bukan manusia
untuk hari Sabat. – Markus 2:27
Sesungguhnya segala sesuatu
yang tidak kamu lakukan untuk
sesamamu, kamu tidak
melakukannya juga untuk Tuhan.
– Matius 25:45
Menghina seseorang sama halnya
dengan membunuh. – Matius
Talmud ajaran Farisi
Hari Sabat diserahkan ke dalam
tanganmu, bukan kamu
diserahkan ke dalam tangannya. –
Yoma 85b
Seseorang yang mengkhianati
sesamanya, sama saja seperti ia
telah mengkhianati Tuhan. –
Tosefta Sh’vuot, pasal 3
Seseorang yang membuat malu
sesamanya, sama saja seperti ia
47
The Way of the Boundary Crosser, Gershon Winkler, 1998, Jason Aronson Inc.,
Jerusalem, pp. 221-251. Contoh-contoh yang ditunjukkan dalam tabel ini hanyalah
sebagian kecil dari yang diberikan oleh Winkler, yang memperlihatkan ajaran Yeshua
banyak memiliki kepadanan dengan Talmud, Midrash Rabbah, dan tulisan-tulisan
Yahudi kuno.
51
5:21-22
Setiap orang yang memandang
perempuan dengan penuh nafsu,
sudah berzinah dengan dia di
dalam hatinya. – Matius 5:28
Tuhan menurunkan hujan bagi
orang yang benar dan orang yang
tidak benar. – Matius 5:45
Jangan melakukan kewajiban
agamamu di hadapan orang
supaya dilihat mereka. – Matius
6:1
Jika engkau memberi sedekah,
lakukanlah dengan rahasia;
janganlah diketahui tangan
kirimu apa yang diperbuat tangan
kananmu. – Matius 6:3
Janganlah kamu bertele-tele
dalam berdoa. – Matius 6:7
Janganlah kuatir akan apa yang
hendak kamu makan atau minum.
– Matius 6:25-31
Sebab itu janganlah kamu kuatir
akan hari besok, karena hari
besok mempunyai kesusahannya
sendiri. Kesusahan sehari
cukuplah untuk sehari.- Matius
6:25-31
Bila ya katakan ya dan tidak
katakan tidak. – Matius 5:34-37
Kebijaksanaan diberikan kepada
orang kecil. – Matius 11:25
52
telah membunuhnya. – Bava
Mezia 58b
Seseorang yang memandang
seorang perempuan dengan penuh
nafsu, sama saja seperti ia telah
berzinah dengannya. – Kallah,
pasal 1
Tuhan menurunkan hujan bagi
orang yang benar dan orang yang
tidak benar. – Taanit 7a
Jangan melakukan kewajiban
agamamu di hadapan orang
supaya dilihat mereka. – Berachot
17b
Pemberian sedekah yang terbaik
ialah ketika kamu memberi tanpa
mengetahui siapa yang
menerimanya, dan yang
menerima tidak tahu dari siapa itu
berasal. – Bava Batra 10b
Seseorang yang berdoa terlalu
dalam dan terlalu panjang
membuat dirinya sendiri sakit
kepala. – Berachot 55a
Seseorang yang mempunyai
makanan untuk hari ini dan
berkata, "apa yang bakal saya
makan esok hari ?" mempunyai
iman yang kecil. – Sotah 48b
Setiap hari mempunyai
kesusahannya sendiri. – Berachot
9b
Sebuah Ya yang benar adalah Ya;
sebuah Tidak yang benar adalah
Tidak. – Bava Batra 49b
Nubuatan telah diambil dari
orang bijak dan diserahkan
kepada orang kecil. – Baba Batra
Lebih baik bagimu jika satu dari
anggota tubuhmu binasa, dari
pada tubuhmu dengan utuh
dicampakkan ke dalam neraka. –
Matius 5:29-30
Janganlah kamu disebut rabbi. –
Matius 23:8
Anak Manusia datang pada saat
yang tidak kamu duga. – Matius
24:44
Yeshua mengajarkan
perumpamaan tentang
menyenangkan raja (Tuhan)
dengan menyenangkan
sesamanya. – Matius 25:40
Kasihilah musuhmu. – Matius
5:43
Pada waktu kebangkitan orang
tidak kawin dan dikawinkan. –
Matius 22:30
12b
Lebih baik seseorang pecah
perutnya daripada ia harus turun
ke lubang kebinasaan. – Niddah
13b
Pandanglah rendah posisi rabbi. –
Avot 1:10
Tiga hal terjadi pada saat yang
tidak diduga-duga: kehilangan
barang, sengatan kalajengking,
dan kedatangan Mesias. –
Sanhedrin 97a
Seseorang yang menyenangkan
orang lain, menyenangkan Tuhan.
– Avot 3:3
Mereka yang dihina tetapi tidak
balik menghina; yang mendengar
cemooh tetapi tidak
membalasnya; yang melayani
dengan kasih dan bersuka-cita
dalam kesusahan mereka –
tentang merekalah ada tertulis
dalam Alkitab: Mereka yang
mencintai Tuhan seperti jalannya
matahari dengan kekuatannya. –
Yoma 23a, Gitin 36b, Shabat 88b
Tidak ada ikatan perkawinan
dalam dunia yang akan datang. –
Ma’asrot 4:5-6
Dari perbandingan antar ayat dalam tabel ini terungkap fakta:
1.
Banyak kata-kata Yeshua yang tidak "orisinil".
2.
Yeshua secara langsung mengutip dan mendukung ajaran di
dalam Talmud.
Bagaimana kemudian pengajar Kristen mengelak dari hal ini ?
53
Satu hal, orang Kristen tidak ada yang menaruh peduli dengan
kesalahan mereka itu. Orang Kristen sudah terbiasa dicekoki oleh apa
saja yang diajarkan dari atas mimbar. Orang Yahudi yang tidak
percaya kepada Yeshua tentu saja juga tidak mempunyai hasrat untuk
membangun dukungan bagi ke-Mesias-an Yeshua. Jadi siapa yang
tersisa untuk mengungkapkan muslihat yang tersembunyi ini ?
Untungnya, Tuhan masih meninggalkan sisa-sisa umat-Nya (Roma
11), dan kebenaran selalu mempunyai jalan untuk dinyatakan, walau
sekalipun lambat.
Satu hal, kenyataan bahwa ucapan-ucapan Yeshua banyak yang tidak
"orisinil" sama sekali tidak mengurangi kewibawaan dan otoritas
Mesias dalam mengajar Taurat. Kita harus berpikir dalam arah
kebalikan. Para rabbi sebelum Yeshua telah mewariskan pengajaran
Taurat ini dari para pendahulu-pendahulu mereka, para nabi-nabi, para
tua-tua, yang jika ditelusuri terus tentunya berawal dari Musa. Musa
menerima Taurat langsung dari TUHAN dan itu berarti bersumber
dari sang Mesias sendiri. Jadi sebenarnya Yeshua sedang mengulangi
apa yang Ia telah ajarkan kepada Musa !
Yeshua adalah seorang Farisi
Mengatakan Yeshua adalah seorang Farisi akan kedengaran sangat
menggelikan bagi orang Kristen. Ini sekali lagi menunjukkan betapa
jauhnya Kristen dari realitas sejarah mengenai Alkitab, Mesias dan
kepercayaan para pengikut-Nya mula-mula.
Betul memang Yeshua mengritik beberapa orang Farisi yang tidak
melakukan apa yang mereka ajarkan, karena kemunafikan mereka,
dan karena mengikat beban-beban berat. Apa yang tidak dipahami
oleh orang Kristen ialah kritikan keras merupakan hal yang lazim di
kalangan kelompok-kelompok Farisi, dan dianggap wajar dalam
ceramah-ceramah.
Sebagai contoh, orang Farisi sendiri mengakui bahwa mereka tidak
semuanya baik, sebetulnya dikatakan ada "tujuh macam orang
Farisi." 48 Kebiasaan Yeshua menyebut sebagian dari mereka dengan
kata-kata seperti "keturunan setan" merupakan hal yang umum
48
Babylonian Talmud, traktat Sotah 22b
54
dilakukan oleh orang-orang Yahudi yang religius pada masa itu.
Istilah yang sama juga digunakan oleh murid-murid Rabbi Hillel
untuk menyebut seorang murid Rabbi Shammai, beberapa tahun
sebelum Yeshua lahir.49 Dan sama halnya juga ketika Yeshua
menyebut Petrus "Iblis" (Mat 16:23).
Penting dicatat bahwa Yeshua tidak pernah memarahi orang Farisi
karena mengajarkan Taurat dengan benar, sebuah contoh yang bagus
terdapat pada Matius 23:23. Disini Yeshua berkata kepada mereka,
"Boleh-boleh saja kamu menambahkan hal-hal yang menurutmu dapat
membawamu lebih dekat kepada Tuhan." (membayar selasih, adas
manis dan jintan tidak diharuskan dalam Taurat). Tetapi Ia kemudian
berkata, "Kamu harus melaksanakan apa yang terpenting dalam Taurat
lebih dahulu, baru kemudian hal-hal optional seperti ini." Yeshua
tidak menyuruh mereka berhenti mengerjakan Taurat – Ia
menyuruh mereka untuk mengerjakannya dengan benar. Yang
dikecam oleh Yeshua adalah perbuatan manusianya dan bukan
hukum Tauratnya sebab perintah Taurat itu kudus, benar dan
baik.
Yeshua bukan saja mengutip dan mendukung ajaran Farisi, seperti
yang disajikan dalam tabel di atas, Ia juga menjunjung otoritas orang
Farisi. Ia menyuruh orang banyak untuk mematuhi apa yang diajarkan
oleh orang Farisi, karena mereka "telah menduduki kursi Musa",
artinya otoritas mereka berasal dari Tuhan. (Mat 23:1-3) Pernyataan
Yeshua ini menegaskan apa yang menjadi kalimat pembuka dalam
Mishna Avot:
Musa menerima Taurat di Sinai dan menurunkannya kepada
Y’hoshua, Y’hoshua kepada orang tua-tua, dan orang tua-tua kepada
para nabi, dan para nabi kepada orang-orang dalam Majelis Besar.50
(Mishna Avot 1:1)
49
Babylonian Talmud, traktat Yevamot, catatan kaki #14-16a: "secara harafiah ‘anak
sulung setan.'"
50
Majelis Besar adalah semacam mahkamah agama yang mengurus dan mengatur
semua masalah-masalah agama. Secara tradisional mahkamah ini dimulai oleh Ezra
sepulangnya bangsa Israel dari pembuangan. Shim'on Ha'Tzaddiq adalah salah seorang
anggotanya yang terakhir. Shim’on menurunkan Taurat (lisan) kepada Antigonus dari
Socho, Antigonus kepada Yose Ben Yo'ezer dan Yose Ben Yochanan, kemudian kepada
Y'hoshua Ben Perayah dan Nittay dari Arbela, kemudian kepada Y'hudah Ben Tabbai
dan Shim'on Ben Shetah, kemudian kepada Shemayah dan Abtalion, kemudian kepada
Hillel dan Shammai.(Mishna Avot 1:1-18)
55
Ada dua madrasah yang paling terkemuka dan menjadi acuan
masyarakat pada masa itu yakni madrasah Hillel dan madrasah
Shammai (30 SM - 10 M). Pada waktu itu Hillel menjabat sebagai
Nasi (presiden) Sanhedrin (mahkamah agama Yahudi) dan Shammai
sebagai ketua dewannya. Keduanya saling bersaing dalam
menghasilkan tafsiran-tafsiran dan aplikasi Taurat dalam kehidupan
sehari-hari. Ajaran Hillel tergolong "liberal" sedangkan Shammai
lebih cenderung menuruti "huruf hukum Taurat". Banyak sekali
doktrin Yudaisme yang "diselesaikan" sebelum masa Yeshua oleh
madrasah-madrasah ini. Ketika Yeshua bicara, Ia sering menyatakan
pendapat-Nya terhadap penafsiran Alkitab yang telah ada, yaitu
dengan mendukung pendapat orang lain. Misalnya, dalam Matius
7:12, kita menjumpai ajaran-Nya yang terkenal sebagai "the golden
rule":
"Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat
kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi
seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 7:12)
Yeshua disini mengulangi apa yang diajarkan oleh Rabbi Hillel
beberapa tahun sebelumnya:
"Apa yang jahat di matamu jangan lakukan itu terhadap sesamamu.
Itulah keseluruhan Taurat, sementara sisanya merupakan penjelasan
saja, maka pergilah dan pelajarilah." (Babylonian Talmud, Shabbat
31a)
Dalam banyak kasus, Yeshua mendukung ajaran Hillel (kakek Rabbi
Gamaliel, guru Paulus). Dalam kasus yang jarang, seperti dalam
aturan (halakha) mengenai perceraian (Mat 5:31), Yeshua justru
mendukung ajaran Shammai (bd. Gittin 9:10). Di luar itu kita juga
bisa menemukan kesamaan antara ajaran Yeshua dengan ajaran kaum
Esseni, misalnya tentang mengucapkan sumpah (Mat 5:33-37; bd.
Damascus Document - Geniza A; Kolom. 15; Baris 1-3).
Contoh-contoh dimana ajaran Yeshua bersesuaian dengan Hillel dapat
dijumpai dalam keempat Injil.51
51
The Way of the Boundary Crosser, Gershon Winkler, 1998, Jason Aronson Inc.,
Jerusalem, pp. 221-251.
56
Ajaran
Mengritik kebiasaan
membayar selasih, ada manis
dan jintan
Menyembuhkan orang pada
hari Sabat diperbolehkan
Melayani orang-orang berdosa
dan mengajar mereka
Memperbolehkan mengangkat
sebuah barang pada hari Sabat
Yeshua
Matius 23:23
Hillel
Ma’asrot 4:5-6
Markus 3:2-4
Tosefta Shabat
7:14
Avot D’Rebbe
Natan 3:1
Betzah 26b
Lukas 15
Yohanes 15
Banyak sekali bukti yang bisa ditunjukkan, jika kita membandingkan
Talmud dengan Kitab Suci, bahwa Yeshua meneguhkan ajaran-ajaran
orang Farisi. Alkitab menunjukkan bahwa Ia juga meneguhkan
otoritas orang Farisi dalam masalah-masalah agama. Jika dipahami
dengan baik (tanpa bias), kritikan Yeshua terhadap orang Farisi
sebenarnya bagian dari rangka diskusi antar Farisi yang menjadi
kebiasaan di antara mereka sendiri (mungkin paling baik dikatakan
sebagai "debat kekeluargaan"). Talmud sendiri dipenuhi oleh
setumpuk besar debat-debat macam ini – yang dikenal dengan istilah
"berdebat demi Kerajaan [Elohim]" atau "berdebat demi perkara
Hashem (Tuhan)".
Sejarah dan Alkitab menunjukkan bahwa Yeshua mengidentifikasikan
diri-Nya sebagai seorang Farisi. Sesungguhnya, ketika orang-orang
Farisi menanyakan Yohanes (Yochanan) Pembaptis siapakah dia, ia
menjawab bahwa seseorang dari antara MEREKA (orang-orang Farisi
itu) adalah Mesias yang akan datang (Yoh 1:26-27).
Yeshua adalah seorang Yahudi, seorang rabbi dan seorang Farisi,
yang selalu menjunjung tinggi Taurat, mengucapkan Shema,
mengenakan tzitzit, mendukung Talmud, dan orthodoks dalam
kehidupan-Nya.
Inikah "Yesus"-nya orang Kristen ?
Orang Farisi dalam "Perjanjian Baru"
Seperti yang sudah diterangkan di atas, pada masa Yeshua ada dua
buah kelompok besar dalam tubuh Farisi yang masing-masing
dipimpin oleh madrasah besar, satu didirikan oleh Rabbi Hillel dan
57
satunya lagi oleh Rabbi Shammai. Kalau kita memahami konteks
dalam "Perjanjian Baru" dalam setting Yahudi pada abad pertama, kita
akan banyak menemukan perjumpaan Yeshua dengan kedua
kelompok orang Farisi ini. Walaupun "Perjanjian Baru" tidak
menerangkan secara definitif dari madrasah mana orang-orang Farisi
yang bertanya-jawab dengan Yeshua, kita bisa mengetahuinya dari
diskusi mereka tersebut.
Marilah kita meluruskan dulu hal yang disalah-pahami oleh orang
Kristen bahwa : SEMUA orang Farisi adalah jahat dan memusuhi
Yeshua. Ini adalah asumsi yang SALAH. Sebaliknya, juga adalah
asumsi yang SALAH mengatakan Yeshua mengecam SEMUA orang
Farisi. Pemahaman yang keliru ini merupakan hasil pendekatan yang
sangat hurufiah terhadap bahasa Ibrani "Perjanjian Baru" yang sarat
dengan gaya bahasa hiperbola. Contoh yang satu ini rasanya sudah
mencukupi. Dalam Markus 14:64 ditulis: "Lalu dengan SUARA
BULAT mereka memutuskan bahwa Dia harus dihukum mati".
Bandingkan dengan ayat paralel dalam Lukas 23:50-51: "Adalah
seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar dan seorang
yang baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan
Majelis itu. Ia berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia
menanti-nantikan Kerajaan Tuhan."
Contoh di atas menunjukkan penggunaan gaya bahasa hiperbola
dalam penulisan Injil. Markus mengatakan bahwa semua anggota
Sanhedrin dengan SUARA BULAT memutuskan hukuman mati
sementara Lukas memperlihatkan bahwa Yusuf dari Arimatea (dan
mungkin juga Nikodemus) tidak setuju dengan putusan ini. Apakah
Markus disini mau mengatakan bahwa semua anggota Sanhedrin,
termasuk Yusuf dan Nikodemus, turut menjatuhkan putusan untuk
menyalib Yeshua ? Tidak ! Markus disini menggunakan pernyataan
hiperbola bergaya Ibrani untuk menyatakan bahwa mayoritas
Sanhedrin memutuskan demikian.
Kembali kepada fakta historis bahwa ada dua kelompok besar Farisi
pada masa Yeshua, yang dimotori masing-masing oleh madrasah
Hillel dan madrasah Shammai. Jadi ketika Yeshua bertanya-jawab
dengan orang-orang Farisi ini, maka tentunya Ia sedang berbicara
dengan salah satu dari kedua kelompok ini. Madrasah Shammai
adalah madrasah yang lebih dominan. Kita mengetahui dari literatur
yang luas dari masa itu bahwa madrasah ini belum lama didirikan
58
ketika Yeshua dilahirkan. Madrasah Shammai merupakan contoh apa
yang dinamakan dengan "the letter of the Law", menuruti hukum
secara hurufiah. Ajaran-ajaran madrasah ini bisa dibayangkan seperti
demikian: bahwa orang Yahudi adalah bangsa yang lebih unggul dan
bangsa lain sama sekali tidak berharga. Bahwa keselamatan hanya
diperoleh oleh bangsa Yahudi dan mereka membuat aturan yang keras
bagi orang-orang bukan Yahudi yang mau menganut agama mereka.
Madrasah ini membenci semua yang bukan Yahudi dan meremehkan
orang-orang Yahudi yang tidak mengikuti ajaran mereka. Sekitar
tahun 8 Masehi (ketika Yeshua baru berumur kira-kira 12 tahun),
Shammai mengeluarkan 18 buah maklumat yang ditujukan untuk
memaksakan pemisahan antara orang Yahudi dan orang bukan
Yahudi. Ini termasuk pelarangan memasuki rumah orang bukan
Yahudi agar tidak mencemarkan diri. Maklumat ini menjadi hukum
bagi bangsa Israel. Jadi, jika kita membaca bagaimana Yeshua dan
Petrus dikecam karena makan bersama dan masuk ke rumah orang
bukan Yahudi, hal ini dapat ditelusuri berasal dari maklumat
Shammai. Madrasah tersebut juga mempunyai ikatan yang erat
dengan golongan fanatik Zelot yang menyerukan perlawanan
bersenjata melawan Romawi. Sebenarnya setiap kali kita melihat
Yeshua atau para rasul berseteru dengan orang-orang Farisi, mereka
adalah orang-orang Farisi dari kelompok madrasah Shammai.
Madrasah Hillel jauh lebih memiliki karakteristik apa yang dinamakan
dengan "the spirit of the Law", menuruti hukum secara rohani. Hillel
terkenal karena menempatkan humanisme dan belas-kasih ke dalam
intisari Yudaisme dimana Shammai lebih menekankan ketaatan dalam
menjalankan hukum-hukum agama. Walau para pengikut Hillel
mengakui bahwa bangsa Yahudi adalah umat pilihan Tuhan, mereka
menerima orang-orang bukan Yahudi yang mau menganut agama
mereka dengan tangan terbuka.52 Boleh jadi ketika Yeshua berada di
Bait Elohim pada usia 12 tahun seperti yang diceritakan oleh Lukas, Ia
ditemukan sedang bertanya-jawab dengan orang-orang Farisi, dan
sangat mungkin Rabbi Hillel ada disana juga pada waktu itu.
Perbedaan antara dua kelompok ini juga bisa dilihat dari tabiat
pemimpinnya. Dalam Talmud dikisahkan pada suatu ketika datanglah
seorang tidak bersunat kepada Shammai dan berkata kepadanya,
"Buatlah saya bertobat, dengan satu syarat engkau harus dapat
52
Bd. Matius 23:15
59
mengajari saya seluruh Taurat sampai selesai selagi saya berdiri di
atas satu kaki". Shammai menganggap orang itu melecehkan
agamanya, lalu memukul orang itu sampai termundur-mundur dengan
tongkat pengukur cubit yang ada di tangannya. Kemudian orang itu
ganti mendatangi Hillel dan memberikan tantangan yang sama. Hillel
tidak menjadi marah karena hal itu. Jawab Hillel kepada orang itu,
"Apa yang jahat di matamu jangan lakukan itu terhadap sesamamu.
Itulah keseluruhan Taurat, sementara sisanya merupakan penjelasan
saja, maka pergilah dan pelajarilah." 53
Satu contoh yang menunjukkan betapa kontrasnya Hillel dan
Shammai ditemukan dalam kisah orang yang disembuhkan di kolam
Bethsaida. Selagi membawa pulang tilamnya, orang itu mendapat
omelan dari beberapa orang Farisi karena membawa tilam pada hari
Sabat. Berdasarkan fakta yang ada, tidak diragukan lagi orang-orang
Farisi ini berasal dari madrasah Shammai. Menurut halakha yang
dikeluarkan oleh madrasah Shammai, seseorang yang disembuhkan
pada hari Sabat tidak diizinkan membawa tilamnya tanpa melanggar
aturan Sabat. Sebaliknya, madrasah Hillel menganut aturan yang
berlawanan – orang yang disembuhkan pada hari Sabat boleh
membawa pulang tilamnya.
Ketika kita membaca "Perjanjian Baru" dimana Yeshua berbincangbincang secara positif dengan orang Farisi (misalnya Nikodemus, atau
orang muda yang kaya), Ia kemungkinan besar sedang berbincang
dengan orang Farisi dari madrasah Hillel. Orang-orang yang akrab
dengan ajaran Hillel dan ajaran Yeshua akan menemukan persamaanpersamaan yang luar biasa di antara keduanya.
Contoh lainnya lagi bagaimana Yeshua berinteraksi dengan kedua
madrasah ini terdapat dalam Yohanes 9:16. Maka kata sebagian
orang-orang Farisi itu (dari madrasah Shammai): "Orang ini tidak
datang dari Eloah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat". Sebagian
pula (dari madrasah Hillel) berkata: "Bagaimanakah seorang
berdosa dapat membuat mukjizat demikian ?" Maka timbullah
pertentangan di antara mereka. Perhatikan bagaimana orang-orang
dari madrasah Shammai menolak Yeshua mentah-mentah, sementara
orang-orang dari madrasah Hillel tidak yakin. Shammai mengajarkan
bahwa menyembuhkan orang di hari Sabat sama saja artinya dengan
53
Babylonian Talmud, Shabbat 31a. Lihat pula Imamat 19:18.
60
bekerja, maka itu dosa, sedangkan Hillel memandang bahwa
menyembuhkan orang itu adalah perbuatan baik sehingga
diperbolehkan pada hari Sabat.
Sepeninggal Hillel, posisinya digantikan oleh anaknya, Rabbi
Simeon.54 Simeon kemudian digantikan oleh anaknya, Rabbi
Gamaliel, yang adalah guru Paulus (Kis 5:34; 22:3). Yang menarik
untuk diperhatikan bahwa hampir semua orang-orang Farisi yang
diceritakan dalam Kisah Para Rasul dan surat-surat para rasul berasal
dari kelompok Shammai. Banyak dari mereka sebenarnya yang
menjadi percaya. Ketika membaca Kisah Para Rasul dimana
menyebut "beberapa orang dari golongan Farisi yang menjadi
percaya", maka yang dimaksud adalah orang-orang dari kelompok
Shammai. Orang-orang Farisi ini masih terpaku kepada filosofi
mereka dan mempersulit orang-orang bukan Yahudi untuk menjadi
percaya. Paulus berulang-kali berurusan dengan orang-orang seperti
mereka. Sikap Paulus terhadap mereka ini dapat dipahami bukan saja
karena memang apa yang mereka ajarkan adalah tidak benar tetapi
dengan melihat pula sisi latar-belakang Paulus yang merupakan
jebolan madrasah Hillel. Bab berikutnya akan membicarakan siapa
Paulus dan bagaimana ajaran-ajarannya sering disalah-pahami, baik
oleh orang-orang Yahudi maupun oleh orang-orang bukan Yahudi.
54
Posisi Ketua Dewan dihapuskan setelah Rabbi Akabia menolak menduduki jabatan
itu untuk menggantikan Rabbi Shammai. Sejak itu presiden (Nasi) menjadi pimpinan
tunggal dalam Sanhedrin.
61
Bagian 7
Paulus dan Ajarannya
Dalam Perspektif Ibrani
Paulus juga adalah seorang Farisi
Rabbi Sha’ul atau yang lebih dikenal sebagai Paulus, juga membaca,
mengerti, mengajar dan menulis tentang Kitab Suci Ibrani dan Mesias
Ibrani dengan cara-cara pikir orang Farisi. Secara pribadi Paulus
dididik langsung oleh Rabbi Gamaliel, Nasi Sanhedrin yang sekaligus
juga adalah cucu dari Rabbi Hillel.
Paulus mengaku bahwa ia adalah "orang Farisi dari keturunan Farisi",
sebuah pernyataan bahwa ia bukan dari golongan Yahudi yang
dipengaruhi oleh budaya Hellenis (orang-orang Yahudi yang lebih
suka menghiraukan Taurat supaya lebih dapat diterima dalam budaya
Yunani/Romawi dimana mereka tinggal). Alkitab memperlihatkan
bahwa tidak ada yang berubah dari Paulus ketika ia menjadi orang
percaya – ia tetap seorang rabbi Farisi yang taat menjalankan Taurat
sampai akhir hidupnya. Lewat dua puluh tahun pelayanannya
menyebarkan Injil, ia tetap mengakui dirinya sebagai seorang Farisi
(Kis 23:6; 26:5 - teks Yunani yang dipakai adalah dalam continuous
tense !55). Kalau saja anda bisa menghapuskan pemikiran anti-Yahudi
ini: "Farisi = orang jahat", maka pengakuan Paulus disini bukanlah
suatu kontradiksi terhadap apa yang diajarnya.
Semua ini membuat persoalan yang serius bagi orang yang ingin
memahami surat-surat Paulus pada masa kini.
Bagaimana orang Kristen bisa memperoleh pemahaman yang
mendalam terhadap nats-nats keagamaan Yahudi dari abad pertama
yang ditulis oleh seorang rabbi Farisi yang sangat menguasai Taurat
bila mereka membaca surat-surat Paulus dalam budaya westernisasi
abad ke-20 yang alergi terhadap Taurat dan budaya Yahudi dimana
Paulus tumbuh dan belajar ?
55
Lihat Strong #1510 (5748).
62
Maka itu tidaklah mengherankan mengapa ajaran Paulus terkadang
membingungkan, sulit ditangkap, dan bahkan mengandung
kontradiksi bagi sebagian orang yang membacanya. Misalkan, buku
seri pemahaman Alkitab "The Daily Study Bible Series: The Letters to
Galatians and Ephesians" karangan William Barclay, menulis
demikian untuk menjelaskan Galatia 3:19-22:
"Ini adalah bagian yang paling sukar yang pernah Paulus tulis, begitu
sukarnya sehingga ada hampir tiga ratus penafsiran tentangnya." 56
Tiga ratus penafsiran yang dikatakan Barclay disini tentunya adalah
penafsiran yang tidak berbasiskan Taurat.
Jadikan saja 301 dengan penafsiran Barclay sendiri. Ia melanjutkan
perkataannya bahwa Tuhan memberikan hukum Taurat untuk
menyatakan pelanggaran. Itu benar, namun kemudian Barclay
menambahkan ini artinya, "…jika hukum tidak ada, maka dosa tidak
ada. Seseorang tidak dapat dipersalahkan karena melakukan
kesalahan jika ia tidak tahu bahwa itu salah." 57 Ini adalah pemikiran
yang bagus, tetapi bukan apa yang Taurat, Yeshua, dan Paulus
ajarkan. Taurat diberikan TUHAN untuk menunjukkan manusia mana
yang baik dan mana yang tidak. Sama halnya seperti seorang ayah
yang mengajarkan anaknya bahwa mencuri mangga tetangga atau
berkelahi memperebutkan layang-layang itu tidak baik. Jika kita
memakai logika Barclay, maka untuk apa ayah tersebut mengajarkan
anaknya hal-hal tersebut ? Biarkan saja, toh selama ia tidak tahu
bahwa itu salah maka ia tidak bisa dipersalahkan. Demikiankah ?
Bukan demikian, tetapi karena cinta kasih.
Cukup aneh, dalam buku yang sama, Barclay dengan BENAR
mengatakan:
"…kita harus ingat bahwa Paulus adalah seorang rabbi yang
terpelajar, seorang ahli dalam metoda pelajaran dalam madrasah
para rabbi. Ia mampu memakai cara-cara mereka dalam berargumen,
dan itu ia lakukan, yang mana sangat meyakinkan sekali bagi orang
Yahudi, tetapi mungkin sukar dimengerti oleh kita." 58
56
The Daily Study bible Series - the Letters to the Galatians and Ephesians, William
Barclay, 1976, The Westminster Press, Philadelphia, p. 29.
57
Ibid. p.29
58
Ibid. p.27
63
Legalisme vs Iman
Paulus mengerti benar perbedaan antara legalisme Farisi dengan
pendekatan iman terhadap hukum Taurat melalui pengalaman
pribadinya sendiri. Kita harus ingat bahwa Paulus adalah sekaligus
seorang Farisi dan juga seorang rasul Mesias. Dengan demikian, ia
benar-benar memahami sepenuhnya perbedaan kedua pendekatan
tersebut.
Legalisme adalah praktik, teori, doktrin atau sistem dimana perintahperintah Taurat dikerjakan supaya kewajiban agama orang tersebut
terpenuhi. Legalisme sebagaimana pengertian Paulus ialah tentang
"bagaimana" dan bukan tentang "apa". Hukum Taurat adalah baik jika
ia digunakan dengan benar (menurut roh). Sebaliknya Taurat menjadi
tidak baik jika digunakan untuk sekedar memenuhi kewajiban saja
(legalistis) (I Tim 1:8).
Definisi Paulus mengenai legalisme dapat diuraikan sebagai sebuah
pendekatan non-iman terhadap Hukum Tuhan. Antara legalisme dan
pendekatan iman terdapat perbedaan perspektif seperti berikut :
! Legalisme berfokus kepada suatu sistem.
! Iman berfokus kepada suatu hubungan (relationship).
! Legalisme berfokus kepada apa yang Hukum kehendaki.
! Iman, sebaliknya, berfokus kepada apa yang Tuhan
kehendaki melalui Hukum-Nya itu.
! Legalisme mempertanyakan "bagaimana saya memenuhi
seluruh kewajiban Hukum ?"
! Iman mempertanyakan "apa yang Tuhan hendaki pada diri
saya melalui Hukum-Nya itu ?"
Efek samping pendekatan legalisme adalah kita menjadi lupa apa
sebenarnya yang dihendaki Tuhan melalui Hukum-Nya itu karena kita
telah tenggelam dalam upaya memenuhi setiap detil Hukum.
Tujuan legalisme Farisi adalah bagaimana melakukan hal-hal baik
untuk memperoleh pahala. Yang dimaksud dengan hal-hal baik disini
64
antara lain bagaimana kita memenuhi ke-613 perintah Taurat sesuai
dengan penafsiran para ahli Taurat.
Berlawanan dengan mentalitas yang demikian, tujuan pendekatan
iman terhadap Hukum adalah bagaimana meningkatkan hubungan kita
dengan Tuhan dengan berlandaskan kasih dan setia.
Legalisme didasarkan kepada usaha diri-sendiri untuk memenuhi
kewajiban Hukum dimana pertolongan dan pengajaran Tuhan seakanakan tidak diperlukan lagi. Pendekatan iman terhadap Hukum,
sebaliknya, justru menggantungkan diri kepada kemurahan dan
kekuatan Tuhan dalam memenuhi kewajiban Hukum. Seorang yang
beriman harusnya berdoa seperti Daud berdoa :
! "Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaibankeajaiban dari Taurat-Mu." (Mzm 119:18)
! "Ajarkanlah
119:26)
ketetapan-ketetapan-Mu
kepadaku."
(Mzm
! "Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang TauratMu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati."
(Mzm 119:34)
! "Hamba-Mu aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku tahu
peringatan-peringatan-Mu." (Mzm 119:125)
Buah dari pendekatan legalisme adalah perasaan bermegah terhadap
pencapaian yang kita raih. Sedangkan pendekatan iman justru semakin
menumbuhkan rasa betapa kita sebenarnya tidak layak dan masih
terus-menerus membutuhkan pertolongan dan pengajaran dari Tuhan.
Yeshua datang untuk mengoreksi dan mengritik pendekatan legalisme
ini terutama pada diri kaum Farisi. Paulus mengerti benar hal ini
sehingga dalam setiap tulisannya ia mengecam betul legalisme yang
ada dalam masyarakat Yahudi. Namun sayangnya tulisan-tulisan
Paulus banyak sekali disalah-pahami orang seperti contohnya dalam
Galatia 3:10-14.
Karena semua orang, yang hidup dari pekerjaan hukum Taurat,
berada di bawah kutuk. Sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang
65
tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis dalam kitab hukum
Taurat." Dan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan di hadapan
Tuhan karena melakukan hukum Taurat adalah jelas, karena: "Orang
yang benar akan hidup oleh iman." Tetapi dasar hukum Taurat
bukanlah iman, melainkan siapa yang melakukannya, akan hidup
karenanya. Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat
dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis:
"Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus
telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai
kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh
yang telah dijanjikan itu. (Galatia 3:10-14)
Frase di atas akan terbaca lain jika kita me-render tulisan Paulus ini
dengan perspektif "Legalisme vs Iman". Ada beberapa poin yang
rancu antara pengertian hukum Taurat dengan legalisme. Yang
dikecam oleh Paulus sebenarnya adalah pendekatan legalismenya bukan hukum Tauratnya. Baiklah saya kutip frase yang sama dari
Complete Jewish Bible terjemahan Dr. David Stern:
Karena semua orang, yang hidup demi memenuhi kewajiban
hukum Taurat semata (legalistis), berada di bawah kutuk. Sebab
ada tertulis: "Terkutuklah orang yang tidak melakukan segala sesuatu
yang tertulis dalam kitab hukum Taurat." Sekarang jelas bahwa tidak
ada orang yang dibenarkan di hadapan Tuhan karena melakukan
hukum Taurat demi kewajiban semata-mata, karena: "Orang yang
benar akan hidup oleh iman dan kasih-setia." Tetapi dasar legalisme
bukanlah iman, melainkan penyalah-tafsiran ayat yang mengatakan :
"siapa yang melakukannya, akan hidup karenanya." Mesias telah
menebus kita dari kutuk dosa yang diceritakan dalam Taurat dengan
jalan menjadi kutuk demi kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang
yang digantung pada kayu salib!" Yeshua Mesias telah membuat ini,
supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa
lain, sehingga oleh iman dan kasih-setia kita menerima Roh yang
telah dijanjikan itu. (Complete Jewish Bible, Galatia 3:10-14)
Ajaran Paulus diselewengkan
Bahwa Paulus telah mengajarkan bahwa hukum Taurat tidak berlaku
lagi sekarang benar-benar diyakini bukan saja oleh umat Kristen tetapi
juga oleh sekelompok orang yang disebut kaum Ebion di masa lampau
66
yang menyingkirkan surat-surat Paulus dari kanon Alkitab mereka.59
Mereka juga menganggap Paulus sebagai rasul gadungan. Anggapan
bahwa Yeshua tidak mengajarkan membatalkan Taurat, tetapi Paulus
yang melakukannya, telah didengung-dengungkan sejak zaman dulu.
Contohnya Toldot Yeshu, sebuah tulisan abad keenam dari kalangan
Yahudi yang berisikan kisah parodi Injil, menuduh Paulus bersilangpendapat dengan Yeshua dalam masalah ini (Toldot Yeshu 6:16-41;
7:3-5). Orang Islam juga memandang hal yang sama. Mereka
menganggap Paulus orang yang paling bertanggung jawab atas
penyelewengan ajaran nabi Isa.60 Bahwa Paulus yang menjadi peletak
dasar teologi Kristen juga dipercaya oleh banyak kalangan.
Setidaknya seorang Dispensationalis modern seperti Maurice Johnson,
mengajarkan bahwa Yeshua tidak membatalkan Taurat, melainkan
Paulus beberapa tahun kemudian. Ia menulis:
"Jelas Tuhan membolehkan peribadatan Yahudi diteruskan selama
tigapuluh tahun setelah Kristus menggenapinya oleh karena
kesabaran-Nya, Tuhan secara pelan-pelan memperlihatkan kepada
orang Yahudi bagaimana program-Nya sedang berubah…Maka
setelah Tuhan secara perlahan membimbing orang Kristen keluar
dari agama Yahudi, Ia pada akhirnya mengutus Paulus untuk menulis
kebenaran mulia yang memerdekakan ini." (Saved By "Dry" Baptism;
sebuah pamflet oleh Maurice Johnson; pp.9-10)
Rasul Shim’on Kefa (Petrus) mengakui bahwa dalam surat-surat
Paulus ada hal-hal yang sukar dipahami. Ia berpesan kepada kita
supaya berhati-hati terhadap orang-orang yang memutar-balikkan
surat-surat Paulus tersebut.
"Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk
beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah
menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.
Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara
tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal
yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya
dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi
kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat
dengan tulisan-tulisan yang lain. " (II Petrus 3:15-16)
59
60
Ecclesiastical History. Eusebius. 3:27:4
Lihat Christ in Islam, Ahmad Deedat.
67
Siapakah orang-orang yang dimaksud ? Petrus mengatakan mereka
adalah orang-orang yang tidak mengenal hukum (2 Pet 3:17). Apakah
yang Petrus maksud disini adalah orang-orang yang tidak mengenal
hukum lalu lintas, hukum dagang, hukum Romawi ? Tentu tidak.
Tidak mengenal hukum, dalam konteks religius ini artinya keadaan
tanpa hukum Tuhan yaitu Taurat. Petrus hendak mengatakan bahwa
orang-orang yang memutar-balikkan tulisan-tulisan Paulus adalah
orang-orang yang tidak mempunyai (mengerti/memelihara) Taurat.
Mereka membaca surat-surat Paulus, dalam ketidak-tahuan dan
ketidak-pedulian akan Taurat, dan tidak heran jika tafsiran mereka
kemudian menjadi ngawur.
Inilah yang diwariskan oleh Gereja Kristen. Dalam masa Gereja Purba
saja, uskup Kristen Iraneus (187 M) telah menghitung adanya
duapuluh aliran yang berbeda dalam kekristenan. Pada tahun 384,
Epiphanius menghitung ada delapanpuluh.61 Kurangnya dasar–dasar
pengenalan akan Taurat telah mendorong begitu banyak aliran sesat
yang berlindung dibalik kedok "kasih" dan "kemerdekaan".
"Perjanjian Baru" sudah memperingatkan kita akan hal ini dalam
banyak tempat. Tentu saja tidak ada golongan gereja manapun
(apalagi kalau menjadi "mayoritas") yang mau mengakui bahwa diri
merekalah yang dimaksudkan oleh ayat-ayat tersebut.
Paulus sendiri mengetahui ajarannya telah disalah-pahami. Ia
mengungkitnya dalam Surat Roma, dengan berkata: "Bukankah tidak
benar fitnahan orang yang mengatakan, bahwa kita berkata:
"Marilah kita berbuat yang jahat, supaya yang baik timbul dari
padanya." (Rom 3:8) Paulus membantah fitnahan terhadap ajarannya
ini dengan mengatakan: "Jika demikian, apakah yang hendak kita
katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin
bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak!" (Rom 6:1-2) dan
"Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak
berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia?
Sekali-kali tidak!" (Rom 6:15) Jadi Paulus disalah-pahami telah
mengajarkan bahwa karena kita di bawah kasih karunia, maka kita
tidak perlu lagi mengikuti hukum Taurat. Seperti yang sudah
diceritakan dalam bab sebelumnya, Paulus dihadapkan kepada
tudingan ini dalam kunjungannya ke Yerusalem (Kis 21). Dan Paulus
membuktikan ketidak-benaran hal ini dan bahwa ia tetap menjalankan
61
Caesar and Christ, Will Durant, 1944, Simon and Schuster, New York, p. 616.
68
hukum Taurat dengan bernazar dan melakukan persembahan di Bait
Elohim sesuai apa yang diperintahkan dalam Taurat (Bil 6:13-21).
Dalam kehidupan dan pelayanannya Paulus mengajar dan
mengerjakan banyak hal untuk membuktikan ia tetap memelihara
Taurat. Ia:
•
•
•
•
•
•
•
Menyunat Timotius (Kis. 16:1-3)
Bersembahyang di sinagoga (Kis. 16:13,17:2,18:19)
Merayakan hari raya Hag ha-Matzah/Roti Tidak Beragi (Kis.
20:6)
Merayakan hari raya Shavuot/Pentakosta (Kis. 20:16; 1 Kor
16:8)
Berpuasa pada hari raya Yom Kippur/Pendamaian (Kis. 27:9)
Bernazar dan mentahirkan diri (Kis. 18:18,21:26)
Melakukan persembahan korban di Bait Elohim (Kis. 21:26,
24:17)
Di samping itu beberapa perkataannya yang berkaitan dengan hal ini
antara lain:
! Sebaliknya Paulus membela diri, katanya: "Aku sedikitpun
tidak bersalah, baik terhadap hukum Taurat orang Yahudi
maupun terhadap Bait Elohim atau terhadap Kaisar." (Kisah
Para Rasul 25:8)
! "Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan
terhadap bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek
moyang kita, namun aku ditangkap di Yerusalem dan
diserahkan kepada orang-orang Roma." (Kisah Para Rasul
28:17)
! "Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat
karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami
meneguhkannya." (Roma 3:31)
! "Jadi hukum Taurat adalah kudus, dan perintah itu juga
adalah kudus, benar dan baik." (Roma 7:12)
! "Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan
yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya
kepada Eloah sungguh-sungguh berusaha melakukan
69
pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi
manusia." (Titus 3:8)
Dan apakah pekerjaan yang baik itu jika bukan dengan memelihara
perintah-perintah Taurat Tuhan yang kudus, benar dan baik ?
Perhatikan dalam ayat-ayat selanjutnya Paulus berpesan kepada Titus
supaya tidak perlu berdebat terus menerus kepada orang yang
menyalah-pahami Taurat Tuhan (bisa dari kalangan Yahudi maupun
yang bukan Yahudi). Perhatikan pula bagaimana Paulus berpesan
supaya Titus menolong sebaik-baiknya Zenas, seorang ahli Taurat!
(lihat Titus 3:9-14).
Beberapa ayat yang sering disalah-tafsirkan
! Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh
karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena
iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya
kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena
iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan
hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang
dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat. (Galatia
2:16)
Paulus menggunakan frase ini untuk menyatakan metode
keselamatan yang salah, yang berlawanan 180 derajat dengan
iman Messianis. Penemuan manuskrip Laut Mati membantu
kita untuk memahami apa yang dimaksud oleh Paulus dengan
“melakukan hukum Taurat”. Dalam sebuah dokumen yang
diberi nama 4QMMT (4Q394-399) kita menjumpai istilah
yang sama dipakai untuk merujuk kepada suatu pengajaran
yang menerangkan bahwa manusia dibenarkan karena
melakukan hukum Taurat. Menurut Paulus "melakukan
hukum Taurat supaya dibenarkan di hadapan TUHAN"
bukanlah apa yang diajarkan dalam Alkitab, melainkan suatu
bentuk penyimpangan yang tidak benar. Tetapi bukan berarti
ia mengatakan bahwa kita mesti meninggalkan hukum
Taurat.
! "Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena
kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah
kasih karunia." (Roma 6:14)
70
Paulus memandang bahwa keadaan "di bawah hukum
Taurat" dan "di bawah kasih karunia" merupakan dua hal
yang bertolak-belakang. Kita tidak bisa berada di bawah
keduanya. Karena kita selalu berada di bawah kasih karunia
(lihat Kej 6:8; Kel 33:12, 17; Hak 6:17; Yer 31:2), kita tidak
pernah berada "di bawah hukum Taurat". Sebab hukum
Taurat diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk
hukum Taurat (lihat Mrk 2:27). Yang dihendaki Tuhan
ialah bahwa kita memelihara Taurat karena kasih setia
kita kepada-Nya ("with the Law") dan bukannya malah
merasa terbeban oleh karenanya ("under the Law"). Jadi
"di bawah hukum Taurat" sebenarnya juga bukan apa yang
diajarkan dalam Alkitab, tetapi suatu bentuk penyimpangan
yang tidak benar.
! "Tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari hukum Taurat,
sebab kita telah mati bagi dia, yang mengurung kita,
sehingga kita sekarang melayani dalam keadaan baru
menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf
hukum Taurat." (Roma 7:6)
Marilah kita membuka Roma 7:1-7. Paragraf ini ditujukan
Paulus kepada orang-orang Yahudi dalam jemaat Roma
dengan menyebut mereka "orang yang mengetahui hukum"
(ay. 1). Sebab itu Paulus mengambil ilustrasi dari hukum
perkawinan dalam Taurat supaya mereka lebih mudah
mengerti. Seorang wanita terikat dengan suaminya sepanjang
suaminya masih hidup. Jika suaminya sudah mati barulah ia
boleh menikah dengan orang lain. Kita disini diibaratkan
sebagai sang istri (ay. 2-3). Dalam pengertian hukum Taurat,
kita sekarang telah dibebaskan dari suami lama kita yaitu
dosa sehingga kita boleh menikah dengan suami baru kita
yakni Mesias (ay. 4-6). Paulus sadar bahwa para pembacanya
akan mudah menyalah-pahami apa yang ia bicarakan. Ia
khawatir para pembaca-nya akan menangkap kesan keliru
dari ilustrasinya itu dengan mengira bahwa yang ia
maksudkan dengan dosa adalah Taurat. "Sekali-kali tidak !",
Paulus berkata dengan tegas (ay. 7). Bukan itu yang
dimaksud Paulus. Suami kita yang lama adalah DOSA yang
mana menurut hukum Taurat kita sudah dibebaskan darinya.
71
Jadi TAURAT BUKANLAH DOSA. Dan karena Taurat
bukan dosa maka Taurat BUKAN suami kita yang lama dan
itu berarti kita TIDAK dibebaskan dari Taurat untuk menjadi
pengantin Mesias. Kita dibebaskan dari DOSA supaya kita
boleh menjadi pengantin Mesias. Hukum Taurat adalah alat
atau perangkat hukum yang mengizinkan kita untuk memilih
: menikah dengan DOSA atau dengan MESIAS. Taurat
menjelaskan apa itu dosa dan apa itu Mesias. Anda tidak bisa
menikah dengan kedua-duanya.
! "dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuanketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu
ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib."
(Kolose 2:14)
Pengertian yang keliru terhadap ayat ini disebabkan oleh
terjemahan yang buruk. Jika secara literal diterjemahkan dari
teks Alkitab Peshitta yang berbahasa Aramaik maka akan
terbaca demikian:
"Dan Ia telah menghapuskan dengan ketetapan-Nya, surat
hutang kita yang menuntut kita, dan Ia mengambilnya dari
tengah-tengah kita dan mengikatnya pada balok [salib]Nya."
! "Having abolished in his flesh the enmity, even the law of
commandments contained in ordinances" (King James Bible,
Efesus 2:15a)
Ayat ini juga merupakan hasil terjemahan yang buruk. Dalam
Peshitta tertulis: "dan hukum (namosa) karena perintah
(puqada) dalam ketetapannya (puqdana)." Kata namosa
dalam Aramaik adalah sama dengan torah dalam bahasa
Ibrani, puqada sama dengan mitzvah dan puqdana sama
dengan mitzvot (mis. Mrk 10:19). Sedang kata ganti "karena"
disebut sebagai klausa dalet yang dapat diartikan "of", "that",
"which", atau "because". Dalam ayat ini artinya adalah
"because" seperti halnya dalam Daniel 3:29, 4:9, 6:3, 23 dan
7:11.
72
Kata kerja pasif "ditiadakan" (abolished) yang digunakan
dalam Peshitta adalah dalam bentuk singular sehingga tidak
mungkin mempunyai dua subyek. Jadi yang ditiadakan
adalah rasa permusuhan. Ayat di atas kemudian dapat
diterjemahkan menjadi:
"Dan rasa permusuhan telah ditiadakan dengan jadinya Ia
sebagai manusia dan dengan hukum Taurat, karena
perintah dalam ketetapannya."
Kesimpulan dari bahasan di atas jelas sampai pada suatu fakta bahwa
Paulus tetap memelihara Taurat dan tidak pernah mengajarkan hal
sebaliknya. Penafsiran terhadap tulisan-tulisan Paulus yang dilakukan
dengan cara-cara pemikiran Hellenistis yang anti-Taurat telah
membawa Kristen ke dalam jurang kesalahan.
73
Bagian 8
Membangun kembali hubungan
antara orang percaya dengan Taurat
Salah satu kemungkinan respon orang Kristen terhadap semuanya ini
adalah…apakah anda mau mengatakan kepada saya bahwa saya
harus menjalankan semua perintah, termasuk mengadakan
persembahan korban dan merajam orang-orang yang berbuat cabul ?
Apakah anda tinggal di negeri teokrasi, negeri Israel ?
Tidak.
Kalau begitu maka perintah-perintah itu tidak bisa diterapkan.
Taurat mempunyai perintah-perintah di dalamnya yang hanya
diterapkan di atas negeri Israel yang teokrasi (catatan: negara Israel
modern bukanlah negara teokrasi). Taurat juga mempunyai aturanaturan yang hanya diterapkan untuk para imam, dan ada juga yang
hanya untuk Imam Besar. Ada perintah-perintah khusus untuk pria
dan khusus untuk wanita – dan juga untuk yang sudah menikah dan
yang belum menikah. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya,
Taurat juga cukup fleksibel dan dinamis dengan memberikan ruang
yang luas bagi terjadinya perubahan-perubahan atau amandemen
menurut rencana Tuhan yang sempurna. Paulus mengajarkan hal yang
sama. Ia juga mengajarkan Timotius untuk "bertekun" dalam kitab
suci – artinya selalu ada cara untuk "memecahkan masalah" – menurut
Taurat !
Bukankah Paulus mengajarkan bahwa kita tidak perlu lagi
memelihara hukum Taurat ?
Hal pertama yang perlu diluruskan adalah surat-surat Paulus banyak
berurusan dengan kasus-kasus yang spesifik. Setidaknya ada DUA
pengajaran sesat yang menyusup ke dalam komunitas Messianis mulamula pada zaman Paulus. Yang pertama mengajarkan bahwa orangorang non-Yahudi harus menjadi Yahudi terlebih dahulu (disunat),
menjalankan semua perintah Taurat, sebelum mereka beroleh
keselamatan. Ini adalah persoalan pertama yang timbul, datangnya
74
dari "kelompok Yahudi" yang notabene adalah orang-orang yang
pertama kali menerima pengajaran Yeshua. Mereka ini masih
memegang pandangan tradisional tentang keselamatan untuk orangorang yang tidak bersunat. Kebanyakan orang Kristen tahu tentang
"kelompok Yahudi" ini beserta seluruh tindak-tanduk mereka karena
cerita tentang mereka sudah sering diterangkan bahkan sejak masa
sekolah minggu.
Namun apa yang tidak diterangkan dalam dunia Kristen adalah
pengajaran sesat yang belakangan muncul dan berasal dari "orangorang tidak bersunat dari seberang lautan". Mereka ini mengajarkan
bahwa orang bukan Yahudi tidak perlu memelihara Taurat setelah
mereka beroleh keselamatan. Latar belakang persoalan kedua ini sama
sekali berbeda dengan yang pertama karena yang kedua ini disokong
oleh budaya paganisme darimana orang-orang bukan Yahudi itu
berasal. Mayoritas orang Kristen saat ini tidak pernah mempelajari
sejarah abad pertama dan mereka tidak mengetahui bahwa orangorang percaya yang bukan Yahudi, berasal dari masyarakat Romawi
yang tidak bersahabat dengan orang Yahudi. Padahal ini penting untuk
memahami Alkitab dengan baik (terutama surat-surat Paulus).
Paulus sedang menghadapi dua persoalan yang berbeda jenis, dan
penting untuk diketahui kepada siapa sebenarnya ia menujukan
suratnya itu. Sebagai contoh, permulaan Surat Galatia ditujukan
kepada kelompok pengajar sesat yang pertama ("kelompok Yahudi"),
sementara surat Roma, ditujukan terutama kepada kelompok kedua
(orang-orang bukan Yahudi).62
Tiga konteks penting dalam penafsiran Alkitab adalah:
! Konteks Grammatikal/Literasi
! Konteks Historis
! Konteks Kultural/Religius
Dua yang terakhir ini biasanya agak terabaikan dalam studi Alkitab.
Hal ini menimbulkan persoalan penting lainnya mengenai penafsiran
Alkitab. Kristen secara umum memandang surat-surat Paulus sebagai
pelajaran yang dinamis untuk semua orang sepanjang zaman untuk
ditafsirkan menurut situasi mereka masing-masing. Meskipun
sebagian besar ajaran Kitab Suci dapat diterapkan untuk "kejadian
62
The Mystery of Romans, Mark Nanos, 1996, Fortress Press, Minneapolis.
75
masa kini", tetapi selama anda tidak memahami dahulu situasi
yang ditujukan oleh penulisnya dalam konteks yang benar, maka
anda tidak bisa memulainya untuk diterapkan pada situasi anda
dengan benar.
Kembali kepada "musuh" Paulus dalam jemaat Galatia. Mereka adalah
orang-orang Yahudi yang belum lama menjadi percaya, yang masih
mempunyai pemahaman yang tidak benar atau tidak lengkap tentang
iman dan keselamatan. Hal ini ditunjukkan dalam banyak tempat
seperti: 2:3-5; 3:1-4;5:2-11 dan 6:12-15. Mereka ini mengajarkan
kepada jemaat Galatia bahwa anda harus melakukan hal-hal tertentu
untuk beroleh keselamatan, selain percaya kepada Tuhan melalui
Yeshua. Mereka adalah golongan yang sama dengan yang disebutkan
dalam Kisah Para Rasul 15.
Perhatikan bagaimanapun orang-orang ini juga mempunyai pandangan
yang salah terhadap apa yang sebenarnya diajarkan oleh Paulus,
dengan menuduhnya mengajarkan orang untuk melepaskan hukum
Taurat. Paulus pun terkejut mendengar tuduhan ini, seperti
komentarnya dalam Roma 3:8. Sewaktu ia tiba di Yerusalem, para
penatua memintanya untuk membuktikan ketidak-benaran hal itu.
Seandainya memang benar Paulus telah mengajarkan demikian, maka
berarti tuduhan itu benar. Tetapi Paulus membuktikan sebaliknya.
Paulus menolak semua tuduhan bahwa ia mengajarkan orang
untuk melepaskan hukum Taurat dengan bernazar dan
mentahirkan diri (Kis 21:21-26). Tindakan ini seperti apa yang
diatur dalam hukum Taurat dengan melibatkan pula persembahan
korban (Bil 6:13-21). Dengan demikian Paulus juga membuktikan
bahwa dirinya tetap memelihara hukum Taurat.
Pesan Paulus kepada jemaat Galatia adalah untuk mengingatkan
mereka akan persamaan yang benar:
Iman yang berbasiskan Taurat + Tanpa hal lain = Keselamatan
Ini adalah pesan yang sama yang Musa berikan kepada bangsa Israel
pada zamannya.
Membangun Hubungan Ibrani : Taurat dan Injil
76
Surat Ibrani menulis bahwa angkatan bani Israel di padang gurun telah
menerima Injil (Beh-so-rah’) dan Injil itu harus diikuti dalam iman.
Bukankah menarik bahwa mereka telah menerima Injil SEBELUM
Mesias mati dan dibangkitkan ? Perjanjian Lama menunjukkan kepada
kita apa yang mereka terima adalah Taurat, yang harus diikuti dalam
iman. Maka inilah hubungan yang tercipta antara Taurat dan Injil.
Taurat = Injil = Firman = Yeshua = Taurat yang telah menjadi
manusia dan berdiam (tabernacle) di tengah-tengah kita (Yoh 1:1,14)
Firman Tuhan luar biasa konsistennya dan saling menjalin satu sama
lain jika anda menafsirkannya dengan benar.
Istilah "tabernacle" disini berhubungan erat dengan Sukkot (Pondok
Daun), yaitu salah satu Hari Raya TUHAN yang utama. Coba ingat
saat Petrus menyaksikan Yeshua bersama-sama dengan Musa dan Elia
(Mat 17:1-13). Apa yang Petrus pikirkan dan lakukan saat itu ? Ia
memandang apa yang terjadi di depan matanya suatu penggenapan
Messianis yang terkandung dalam makna hari raya Sukkot, dan oleh
sebab itulah ia buru-buru mendirikan pondok daun (sukkah) !
Anda sekarang mulai melihat "gambaran besar"-nya jika anda
meletakkan "Perjanjian Baru" kembali ke dalam konteks Ibrani.
Membangun Hubungan Ibrani : Taurat dan Mesias
Mari kita lihat apa yang tertulis dalam Ulangan 30:11-14 tentang
Hukum Taurat.
"Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini,
tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di
langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik
ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya
kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut
tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan
menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan
memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Tetapi
firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di
dalam hatimu, untuk dilakukan."
77
Sekarang bacalah perbandingan antara Taurat dan Yeshua yang ditulis
oleh Paulus dalam Surat Roma:
"Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah,
supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian
tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Eloah,
tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak
mengenal kebenaran Eloah dan oleh karena mereka berusaha untuk
mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk
kepada kebenaran Eloah. Sebab Kristus adalah kegenapan hukum
Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya.
Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat:
"Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya." Dan kebenaran
karena iman berkata demikian: "Jangan katakan di dalam hatimu:
Siapakah akan naik ke sorga?", yaitu: untuk membawa Yesus turun,
atau: "Siapakah akan turun ke jurang maut?", yaitu: untuk membawa
Kristus naik dari antara orang mati. Tetapi apakah katanya? Ini:
"Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam
hatimu." Itulah firman iman, yang kami beritakan." (Roma 10:1-8)
Kutipan Surat Roma di atas mengandung perbaikan atas kesalahan
penerjemahan yang terjadi hampir di semua Alkitab Kristen. Pertama,
dalam ayat 4, Yeshua (Kristus) BUKAN "the end of the Law" (dalam
pengertian pembatalan Hukum) tetapi Ia adalah "the goal" yakni
tujuan akhir daripada Taurat (dalam konteks ini kata Yunani yang
digunakan adalah "telos" = "tujuan", bukan "akhir").63 Puji Tuhan,
dalam Alkitab Bahasa Indonesia terjemahan baru, kata telos ini telah
diterjemahkan dengan baik sebagai "kegenapan".
Kedua, kata "Tetapi" pada permulaan ayat 6, diganti kata "Dan"
sebagai terjemahan yang benar (dalam konteks ini kata Yunani "de" =
"dan", bukan "tetapi"). Disini Paulus tidak sedang menunjukkan suatu
perbedaan atau kontradiksi antara Taurat dengan Yeshua, malahan ia
berusaha mengungkapkan sebuah persamaan dan kesinambungan di
antara keduanya, sebagaimana Tuhan selalu konsisten dan tidak
berubah. Jika Paulus hendak menggambarkan perbedaan di antara
keduanya, ia seharusnya memakai kata "alla" yang mana hanya dapat
63
Vine’s Expository Dictionary, kamus referensi Kristen yang paling banyak digunakan,
menyatakan bahwa kata telos seharusnya tidak diterjemahkan sebagai "end" dalam
Roma 10:4 melainkan sebagai "suatu hasil dari sebuah kondisi atau proses" (tujuan).
78
diartikan sebagai "tetapi", seperti yang ia pakai pada permulaan ayat
8.64
Kesalahan penerjemahan ini tentunya menggiring umat Kristen
kepada pemahaman yang keliru, yakni bahwa Taurat sudah "habis".
Hal ini semakin menjadi-jadi dengan penggunaan istilah "Perjanjian
Baru" yang menciptakan sebuah pemahaman bahwa ada jalan yang
"lama" (Yudaisme) sebelum Yeshua, dan ada jalan yang "baru"
(Kristen) sesudah-Nya.
Gagasan ini merupakan bagian daripada doktrin replacement theology
yang dianut Kristen yakni bahwasanya Gereja telah menggantikan
bangsa Israel sebagai umat pilihan Tuhan. Doktrin ini tentu saja
melawan fakta bahwa firman Tuhan tidak pernah berubah (Roma 11).
Kata "Gereja" (church) sendiri pada dasarnya tidak pernah ada dalam
Alkitab. Kata Yunani darimana kata tersebut diterjemahkan adalah
ekklesia, yang berarti "yang terpanggil", bukan "Gereja". Ekklesia
adalah kata yang sama yang digunakan oleh 70 orang rabbi Yahudi
yang menulis Septuaginta (Alkitab Yahudi berbahasa Yunani), jauh
sebelum Yeshua dilahirkan.65
Lukas, dalam Kisah Para Rasul, memperjelas bahwa orang Israel yang
menerima Mesias Israel DAN memelihara Taurat, adalah ekklesia.66
Penerjemahan kata ekklesia menjadi "Gereja" merupakan suatu
kesalahan yang serius dan sekali lagi digunakan untuk mendukung
sebuah konsep yang asing dari apa yang Alkitab katakan.
Membangun Hubungan Ibrani : Taurat dan "Kemerdekaan"
Orang Percaya
Pertama-tama kita harus meluruskan dulu masalah penafsiran terhadap
ungkapan "kemerdekaan Kristen" dan "hukum kasih". Kedua
ungkapan ini seringkali ditafsirkan sebagai "bebas dari Hukum
64
Jewish New Testament Commentary, David Stern, Jewish New Testament
Publication, Inc., Edisi Keempat, 1995.
65
Kata "Gereja" disusupkan dalam teks "Perjanjian Baru" pada abad pertengahan dan
sangat mungkin berasal dari tradisi paganisme.
66
The Unknown Paul – Essays on Luke-Acts and Early Christian History, Jacob Jervell,
1984, Augsburg Publishing House, Minneapolis, p.41
79
Taurat". Sebagai contoh, dalam menjelaskan 1 Yohanes 2:3, J. Vernon
McGee menulis:
"Pertama, biarkan saya menunjukkan bahwa ayat ini tidak
berhubungan sama sekali dengan masalah apakah orang percaya
selamat atau tidak [dari api neraka]. Yohanes sedang berbicara
tentang jaminan. Sebagai anak-anak Tuhan, kita adalah dalam satu
keluarga. Tetapi bagaimana kita mempunyai jaminan bahwa kita
berada di dalam keluarga Tuhan ? Ia mengatakan kepada kita bahwa
jaminan itu didapat dengan menuruti perintah-perintah-Nya. "Jika
kita menuruti perintah-perintah-Nya" tidak mengacu kepada Sepuluh
Perintah. Yohanes disini tidak berbicara tentang aspek legal, ia
berbicara tentang masalah keluarga." 67
Penulis yang sama menjelaskan pula Yakobus 2:12 seperti berikut:
"Hukum yang memerdekakan" adalah hukum Kristus. Tuhan Yesus
berkata: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala
perintah-Ku." (Yoh 14:15). Apakah perintah-Nya itu ? "Inilah
perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah
mengasihi kamu." (Yoh 15:12) 68
McGee juga menulis bahwa perintah-perintah Bapa dalam Perjanjian
Lama telah diganti dengan yang baru dari "Yesus", seperti "pikullah
beban sesamamu", "bersukacitalah", "berdoalah senantiasa", dan
"jangan padamkan Roh".
Benar memang bahwa menuruti perintah Tuhan adalah JAMINAN
BAGI ORANG PERCAYA bahwa mereka hidup dalam Roh – akan
tetapi yang dimaksud dengan perintah-perintah itu adalah Taurat-Nya.
Coba pikir, apakah yang langsung muncul dalam benak orang-orang
Yahudi yang menyimak khotbah-khotbah Yeshua begitu mendengar
kata "perintah Bapa" atau "perintah Tuhan" seperti ini ?
"Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala
perintah El." (Mat 19:17b)
67
Thru the Bible Commentary Series, First John, J. Vernon McGee, 1991, Thomas
Nelson Publishers, Nashville, pp. 41-42
68
Thru the Bible Commentary Series, James, J. Vernon McGee, 1991, Thomas Nelson
Publishers, Nashville, pp. 61
80
"Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam
kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di
dalam kasih-Nya." (Yoh 15:10)
Tentu saja tanpa pikir dua kali mereka akan segera menjawab: Taurat
Tuhan! (Mrk 10:19; Luk 18:20). Beginilah jika kita mau memahami
Alkitab dalam konteks budaya yang benar. Jika perintah-perintah
Yeshua tidak sama dengan perintah Tuhan, maka Yeshua bukanlah
Tuhan, atau kita mempunyai dua Tuhan yang berbeda. Tetapi Tuhan
tidak pernah berubah. Selama 1900 tahun, Kristen menggantikan
Taurat dengan konsep demikian dan mengajarkan bahwa orang
percaya mampu memahami apa yang dimaksudkan untuk mereka
dengan "mengikuti petunjuk Roh Kudus", sehingga dengan begitu
malah menimbulkan penafsiran yang beraneka-ragam, dan
kebanyakan justru bertentangan dengan Taurat Tuhan.
Bukankah ini yang dimaksud dengan ajaran untuk memuaskan
keinginan telinga, yang menjauhkan orang percaya dari Taurat Tuhan
? (2 Tim 4:3) Alkitab telah memperingatkan kita terhadap guru-guru
palsu yang mau mengajarkan apa yang orang-orang ingin dengar. Dan
kebanyakan orang puas mendengar bahwa mereka tidak perlu lagi
melaksanakan kewajiban hukum Taurat.
Ajaran yang mengatakan "kita dimerdekakan dari hukum Taurat"
merupakan produk dari teologi anti-Yahudi yang telah berlangsung
ratusan tahun. "Perjanjian Baru" kalau ditempatkan kembali ke dalam
konteks Ibrani, mengatakan demikian tentang Taurat dan orang-orang
percaya:
! Iman tidak membatalkan bagian manapun dari Taurat yang
merupakan satu kesatuan (Mat 5:17-21; Yak 2:10).
! Memelihara Taurat adalah bagian dari iman yang membawa
kita ke surga (Mat 19:17; Why 12:17; 14:12; 22:14).
! Kamu akan tinggal dalam kasih Yeshua, jika kamu menuruti
perintah Taurat (Yoh 14:15-23) sebagaimana Ia tinggal
dalam kasih Bapa dengan menuruti perintah Taurat (Yoh
15:10; Ibr 2:17-18; 4:15).
81
! Iman dalam Yeshua tidak membatalkan apa yang Taurat
katakan, justru meneguhkannya (Rom 3:31).
! Taurat sendiri adalah "memerdekakan" dan standar dimana
kita harus bertekun (Yak 1:22-25).
! Yang hidup menurut daging tidak mau tunduk kepada Taurat
(Rom 8:5-8).
! Jika kamu berkata kamu mengenal Dia tetapi tidak menuruti
Taurat-Nya, maka kamu adalah seorang pendusta (1 Yoh 2:37).
! Yahudi atau bukan adalah tidak penting, yang penting ialah
menaati Taurat Tuhan (1 Kor 7:19).
! "Hukum Kasih" adalah bahwa kita memelihara Taurat-Nya –
tanpa merasakan itu sebagai beban lagi, melainkan sebagai
pernyataan kasih setia kita kepada-Nya (1 Yoh 5:3; 2 Yoh
1:6; Mat 11:29-30).
Perkataan-perkataan dalam "Perjanjian Baru" yang diasosiasikan
dengan Taurat seperti di atas mungkin akan membingungkan orang
karena mereka tidak terbiasa berpikiran demikian. Namun demikian,
pada saat Yeshua dan para penulis "Perjanjian Baru" (yang notabene
adalah orang Yahudi) berbicara tentang "perintah/hukum Tuhan"
dalam konteks religius, tentu yang dimaksud tidak lain dan tidak
bukan adalah Taurat, karena memang inilah yang berlaku dalam
budaya mereka. Atau adakah yang lain ?
Taurat ini pula, termasuk kitab-kitab lainnya dalam Tanakh
("Perjanjian Lama"), yang dimaksud Paulus sebagai Kitab Suci dalam
suratnya untuk Timotius:
"Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci
yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada
keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang
diilhamkan Roh memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk
mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap
82
manusia kepunyaan Eloah diperlengkapi untuk setiap perbuatan
baik." (2 Timotius 3:15-17)
Ada beberapa hal penting yang dapat dipetik:
1.
Timotius mempunyai Kitab Suci sejak ia masih kecil. Kitab
Suci ini tentunya tidak memuat "Perjanjian Baru" (sebab baru
ditulis antara tahun 40-90 M).
2.
Rencana keselamatan Tuhan dalam Kitab Suci "Perjanjian
Lama" adalah berdasarkan iman, dan bukan perbuatan.
3.
Kitab Suci "Perjanjian Lama" adalah yang digunakan oleh
para pengikut Yeshua untuk mengajar, untuk menyatakan
kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk
mendidik orang dalam kebenaran.
4.
Dengan Kitab Suci "Perjanjian Lama", tiap-tiap manusia
kepunyaan Tuhan diperlengkapi.
5.
Perbuatan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari iman.
Kristen mengajarkan tentang "Yesus" hampir secara ekslusif dari
"Perjanjian Baru". Saya jadi teringat ketika sewaktu kecil saya
memperoleh Alkitab gratis dari pekerja Gideon dimana ketika saya
membacanya, saya hanya menemukan bagian "Perjanjian Baru" di
dalamnya. Dimana "Perjanjian Lama"-nya ? Apakah itu artinya
"Perjanjian Lama" menjadi kurang penting dalam memberitakan
Yeshua ? Padahal Yeshua sendiri mengajarkan bahwa "Perjanjian
Lama" bercerita tentang diri-Nya (Lukas 24:27).
Apakah Paulus dan murid-murid lainnya memberitakan Yeshua
dengan "Perjanjian Baru" ? Tentu tidak – sebab yang mereka miliki
hanyalah Tanakh. Disini saya tidak bermaksud mengurangi
arti/peranan dari kitab-kitab "Perjanjian Baru" yang tentu juga
merupakan kitab suci. Yang hendak diluruskan disini adalah bahwa
Taurat, yang adalah Firman Tuhan, datang sebagai yang pertama, dan
tidak ada satupun kitab setelahnya yang bertentangan dengannya.
Taurat adalah dasar bagi penafsiran "Perjanjian Baru" yang
benar – BUKAN dengan cara-cara lainnya.
83
Kitab-kitab dalam "Perjanjian Baru" ditulis oleh para penulis Yahudi
dengan pola pikir Yahudi Messianis mereka, dengan harapan tulisan
mereka dibaca, dimengerti dan diajarkan dengan pola pikir Yahudi
Messianis yang sama. Terima kasih kepada ajaran teologi anti-Taurat
yang telah berlangsung selama 1900 tahun - yang menyebabkan hal
ini tidak terjadi ! Hasilnya adalah suatu ajaran yang salah tentang
Taurat dan "Perjanjian Baru" yang melekat pada Kristen.
84
Bagian 9
Apakah semua ini begitu penting ?
Apakah Yeshua memandang Taurat penting ?
Orang Kristen akan mengatakan, "Tidak, sebab kami diselamatkan
semata-mata oleh iman – jadi semua ajaran tentang tetek-bengek
hukum Taurat ini adalah tidak penting." Seperti yang telah dijelaskan
di depan, disini terdapat persoalan tentang definisi "iman". Definisi
"iman" menurut orang Kristen masa kini adalah tidak sama seperti
yang dimiliki oleh Yeshua – Mesias Yahudi – dan orang-orang
Yahudi penulis kitab-kitab "Perjanjian Baru", serta orang-orang
Yahudi lainnya di masa itu. Definisi Kristen berpusat kepada apa
yang anda percaya, sementara dalam Yudaisme, fokusnya adalah
pada sebuah hubungan yang berbasiskan iman dan ketaatan terhadap
Taurat. Yakobus menekankan pada hal ini, iman dan taat, dalam
keseluruhan suratnya, terutama pada ayat 2:17, dimana ia berkata
bahwa "iman" tanpa disertai perbuatan pada hakekatnya adalah iman
yang mati.69
Yeshua sendiri dengan jelas menjunjung tinggi pandangan Yahudi.
Matius 5:17-7:28 adalah penjelasan panjang dari Mesias tentang cara
melakukan Taurat dengan benar.
"Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan
hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan
bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari
hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang
meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang
paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia
akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan
Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala
perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang
69
Lebih jauh Yakobus mengatakan "Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang
mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan?
Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?" (ay. 14) dan "Hai manusia yang bebal,
maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang
kosong?" (ay. 20).
85
tinggi di dalam Kerajaan Sorga. Maka Aku berkata kepadamu: Jika
hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak
akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 5:17-19)
Ia memulainya dengan menyatakan dua buah fakta:
1.
Jika anda berpikir ada bagian dari Taurat yang dibatalkan,
maka anda salah. (Matius 5:17-18)
2.
Jika anda tidak mengerjakan Taurat dan mengajarkannya
demikian kepada orang lain, maka anda tidak akan
memperoleh tempat di Kerajaan-Nya (Matius 5:19-20)
Perhatikan kalimat pertama yang digunakan oleh Yeshua adalah
"Janganlah kamu menyangka". Yeshua mengetahui sejak awal bahwa
banyak pengikut-Nya akan berpikir bahwa Ia hendak mengakhiri
hukum Taurat. Dan itu dikatakan-Nya tidak benar.
Setelah Ia menjelaskan panjang lebar tentang Taurat, Ia
menyimpulkan ajaran-Nya (Mat 7:21-23) dengan berbicara tentang
masa depan, ketika orang-orang tertentu tidak diperbolehkan
memasuki Kerajaan Sorga.
"Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan
kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang
akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat
demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan
banyak mujizat demi nama-Mu juga ? Pada waktu itulah Aku akan
berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah
mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian orangorang yang tidak mengerjakan hukum!" (Matius 7:21-23)
Apakah Ia menolak orang-orang ini karena "tidak mempercayai-Nya
sebagai Mesias ?" Atau karena "tidak mengundang-Nya dalam hati
mereka ?" Atau karena "tidak melakukan pengakuan dosa ?"
Tidak. Melainkan Yeshua dengan jelas mengatakan bahwa orangorang yang tidak mengerjakan hukum (Yunani: anomia) tidak akan
86
masuk ke dalam Kerajaan-Nya.70 Hukum apa yang dilanggar oleh
orang-orang anomos ini ?
Konteks dalam Matius 7:21-23 tentu berhubungan dengan "hukum
agama", karena Yeshua telah berbicara tanpa putus tentang Taurat
dalam ayat-ayat sebelumnya yang Ia mulai dengan mengatakan tidak
satu pun bagian dari Taurat yang dibatalkan (Matius 5:17-21). Ia
menutup khotbah-Nya itu dengan memberikan suatu peringatan:
barangsiapa tidak mengerjakan Taurat tidak akan masuk ke dalam
Kerajaan-Nya.
Perhatikan baik-baik, orang-orang yang dimaksud oleh-Nya bukanlah
para penyembah berhala atau kaum atheis. Atau adakah Yeshua
berbicara tentang para pembuat dosa, maling, perampok, pelacur ?
Bukan. Tetapi Yeshua berbicara tentang mereka yang mengklaim diri
mereka adalah orang percaya dan memanggil-Nya "Tuhan". Mereka
adalah orang-orang yang telah pergi menginjil dalam nama-Nya,
mengusir setan dalam nama-Nya dan membuat mukjizat dalam namaNya.
Ini menimbulkan pertanyaan serius:
Apakah itu yang berisi kumpulan orang-orang yang mengaku sebagai
pengikut Yesus, namun menganggap tidak perlu lagi mengerjakan
Taurat – seperti deskripsi yang disebutkan oleh Yeshua ?
Bukankah Gereja Kristen cocok sekali dengan deskripsi ini ?
Orang-orang anomos ini kelak di hari penghakiman akan terkejut amat
kepalang ketika Yeshua menolak dan mengusir mereka. Mengapa ?
Karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa di sorga. Dan apakah
kehendak Bapa itu ?
70
Dalam Alkitab bahasa Indonesia terjemahan baru, kata anomia ini diterjemahkan
menjadi "pembuat kejahatan". Sebenarnya terjemahan ini kurang pas. Kata anomia
(Nomor Strong 458) sesungguhnya berarti: (1) keadaan tanpa hukum: (1a) karena tidak
menghiraukannya (1b) karena melanggarnya. (2) pelanggaran terhadap hukum,
kejahatan, perbuatan salah. Adalah lebih tepat kalau ayat 23 diterjemahkan menjadi
"orang-orang yang tidak mengerjakan hukum." Kata anomia juga digunakan dalam 1
Yoh 3:4 untuk menyatakan pelanggaran hukum Tuhan, juga dalam 2 Tesalonika 2:7,
untuk menyatakan anti-Mesias yang melawan kebenaran Tuhan.
87
"Sesungguhnya kamu harus berpegang pada ketetapanKu dan
peraturanKu. Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya;
Akulah YHWH." (Imamat 18:5)
"Akulah YHWH, Elohimmu: Hiduplah menurut ketetapan-ketetapanKu dan lakukanlah peraturan-peraturan-Ku dengan setia,
kuduskanlah hari-hari Sabat-Ku, sehingga itu menjadi peringatan di
antara Aku dan kamu, supaya orang mengetahui bahwa Akulah
YHWH, Elohimmu." (Yeh 20:19-20)
Ketetapan dan peraturan-Nya itu semua sudah ditulis dalam Taurat.
Yang tinggal adalah apakah kita mau mengerjakannya untuk
menyatakan kasih setia kita kepada-Nya ?
Apakah Paulus memandang Taurat penting ?
Ada semacam miskonsepsi yang dipegang banyak orang, termasuk
oleh orang Yahudi modern saat ini, bahwa Yeshua mungkin saja
mendukung hukum Taurat, namun rasul Paulus – dialah yang
mendirikan agama Kristen dengan mengambil pendirian yang
berlawanan dengan Taurat.
Sebagai contoh, seperti yang ditulis oleh pengarang Kristen Daniel
Fuller dalam bukunya, The Unity of the Bible:
Tetapi para ahli sejarah harus juga menjelaskan bagaimana seorang
yang begitu terlibat dalam Yudaisme dapat kemudian terlepas
sepenuhnya dari jalan hidup Yahudi. Menolak sunat sebagai tanda
perjanjian untuk orang percaya baik Yahudi dan bukan Yahudi (Gal
2:3-5) dan mau makan makanan yang haram supaya ia memelihara
persahabatan dengan orang-orang bukan Yahudi (ay. 11-14). Tidak
ada satupun dari latar belakang Paulus sebagai orang yang
terpengaruh kuat dalam tradisi Yudaisme, yang dapat menjelaskan
tindakannya berbalik dari Yudaisme. Satu-satunya alternatif yang
dapat menjelaskan bagaimana Paulus mau makan daging babi adalah
dengan menerima penjelasannya sendiri: perubahan mencolok ini
disebabkan pertemuannya dengan Yesus yang telah bangkit pada saat
perjalanannya menuju Damaskus untuk menghancurkan gereja
Kristen disana.71
71
The Unity of the Bible, Daniel P. Fuller, 1992, Zondervan Publishing House, Grand
Rapids MI, p. 53.
88
Kecaman Paulus terhadap Petrus, dalam Galatia pasal 2, secara
tradisional dipandang oleh umat Kristen sebagai bukti bahwa hukum
Taurat telah berakhir bagi orang-orang Yahudi yang menjadi pengikut
Mesias. Permasalahan disini ialah dalam paragraf tersebut kasus yang
dibicarakan bukan tentang makanan. Petrus memang sedang makan
bersama orang-orang bukan Yahudi, akan tetapi ini BUKAN berarti ia
sekarang sedang makan makanan yang haram. Melainkan karena
orang Yahudi biasanya tidak duduk dan makan bersama-sama orang
bukan Yahudi pada masa itu. Namun Petrus telah diberitahu Tuhan
bahwa orang-orang bukan Yahudi adalah "halal" – bahwa Tuhan tidak
membedakan manusia. (Inilah arti mimpinya dalam Kisah Para Rasul
pasal 10, yang tidak ada hubungannya dengan makan makanan haram
sebagaimana terlihat dalam respon Petrus dalam Kisah Para rasul
10:17, 28, 34; 11:3-17; 15:7-10)
Petrus dikecam oleh Paulus karena kemunafikannya, karena begitu ia
melihat saudara-saudara Yahudinya (dari kalangan Yakobus) datang,
ia berjalan menjauhi orang-orang bukan Yahudi itu, dengan
menganggap mereka seolah-olah lebih rendah. Ketika Paulus berkata
kepada Petrus bahwa mereka "hidup" dengan cara yang sama, ia tidak
sedang berbicara tentang kebiasan makan mereka, melainkan yang
dimaksudnya ialah mereka "diselamatkan" dengan cara yang sama.
Hal ini konsisten dengan tema dalam ayat-ayat berikutnya, bahwa
orang Yahudi dan bukan Yahudi diselamatkan ("hidup") dengan cara
yang sama, yaitu dengan iman, bukan dengan "mengerjakan Taurat".72
Dengan menyimpulkan bahwa "Paulus mau makan daging babi", dan
mengajarkan Petrus untuk berbuat hal yang sama, setidaknya Fuller:
! Mengasumsikan Paulus
mengajarkan demikian.
anti
terhadap
Taurat
dan
! Mengasumsikan apa yang dibicarakan Paulus dalam ayatayat ini ialah "kita tidak perlu lagi menaati larangan makan
makanan yang haram".
72
Lihat The Mystery of Romans, Mark nanos, 1996, Fortress Press, Minneapolis,
pp.337-371, untuk bahasan yang lebih dalam tentang ayat-ayat ini.
89
! Tidak menghiraukan konteks keseluruhan dari surat Paulus
ini, tentang keselamatan atas dasar iman baik untuk orang
Yahudi dan orang bukan Yahudi.
Tetapi apa yang diasumsikan Fuller tidak demikian pada diri Paulus
sebenarnya, yang mengajarkan bahwa Taurat juga berlaku untuk
orang bukan Yahudi – bukan untuk keselamatan, tetapi sebagai
petunjuk jalan hidup dalam iman. Ini adalah bagian dari rencana
Tuhan untuk memulihkan kesatuan-Nya (melalui iman Israel), karena
walaupun "Tuhan adalah satu" (Ulangan 6:4), Ia belum benar-benar
"satu", sampai kedatangan Mesias pada akhir zaman (Zakharia 14:9).
Sebagai seorang rabbi orthodoks, begitulah cara pandang Paulus
terhadap "kesatuan" (echad) Tuhan dan menjadi landasan bagi semua
tulisan-tulisannya. Kepercayaan ini menekankan bahwa satu Tuhan, di
bumi ini, untuk orang Yahudi dan orang bukan Yahudi (mis. Roma
1:16). Dan satu Tuhan di surga, dengan satu Taurat (pengajaran) dariNya untuk seluruh umat manusia (Keluaran 12:48-49; Imamat 24:22;
Yesaya 56). Dan satu Tuhan sepanjang sejarah (Maleakhi 3:6; Ibrani
13:8). Jalan yang Ia sediakan untuk kita mengarah kepada pemulihan
kesatuan Tuhan dengan ciptaan-Nya, yang terjadi melalui Mesias,
pada masa 1000 tahun dan masa berikutnya "Dunia Baru" (Olam
Haba), sebuah konsep yang fundamental dalam Yudaisme.
Dalam Surat Roma sendiri terkandung sebuah ajaran (midrash) yang
sangat signifikan tentang Taurat. Walaupun Paulus secara agresif
mengecam ajaran bahwa orang bukan Yahudi harus mengerjakan
Taurat supaya memperoleh keselamatan (Kisah Para Rasul, Galatia),
ia tetap pada pendiriannya bahwa setelah keselamatan diperoleh,
hukum Taurat harus menjadi pedoman hidup bagi setiap orang
percaya.
Peranan Taurat di Masa Depan
Ayat-ayat dalam Tanakh ("Perjanjian Lama") yang menunjuk kepada
Messias dan masa 1000 tahun, semuanya memperlihatkan ketaatan
kepada Taurat.
! Persembahan (untuk pendamaian, BUKAN keselamatan)
berlangsung kembali (Yehezkiel 45:13:20).
90
! Bangsa-bangsa tidak datang untuk merayakan Natal 25
Desember di Yerusalem, mereka datang untuk merayakan
Sukkot, Hari Raya Pondok Daun (Zakharia 14:16-19).
! Orang-orang percaya akan menjadi imam (cohen) di dalam
Kerajaan Tuhan – anda tidak bisa menjadi seorang cohen
dengan mengabaikan Taurat (Ibrani 7:12).
! Para imam semuanya akan berpakaian dalam 4 macam
pakaian Imam Besar, menggambarkan status Yom Kippur
yang berkelanjutan. (Yehezkiel 44:17-18; juga Keluaran 28
dan Imamat 16:4)73
! Orang-orang akan memegang tzitzit (jumbai atau punca
jubah) seorang Yahudi pada waktu itu dan berkata "bawalah
saya kepada Elohim" (Zakharia 8:23).
! Masa 1000 tahun itu sendiri adalah kegenapan dari apa yang
ditunjukkan kepada kita pada setiap Sabat.
Yesaya 61:3 (bagian yang dibaca oleh Yeshua dalam Lukas 4:16-21)
berbicara tentang Mesias, pada Masa 1000 tahun, menyebut umat-Nya
"pohon tarbantin kebenaran", "tanaman TUHAN". Istilah ini adalah
bentuk eufemisme Yahudi untuk menyebut orang-orang yang taat
kepada Taurat. Wahyu pasal 22 menggambarkan ide yang sama,
dimana "pohon kehidupan" juga menyatakan Taurat. Sebagaimana
dijelaskan sebelumnya, Wahyu menempatkan sebuah ketentuan bagi
orang-orang yang berharap memasuki Yerusalem Baru – mereka
adalah orang-orang yang memelihara Taurat-Nya (Why 22:14)74
Tempat bagi orang-orang yang melanggar Taurat adalah di luar kota
(Why 22:15).
Kristen sejak lama menafsirkan ayat-ayat Ibrani baik dalam Perjanjian
"Lama" dan "Baru" dengan pola pikir Yunani yang anti-Taurat
73
Juga lihat Mishna Yoma 7:5
Ada perbedaan terjemahan disini antara King James Bible Authorised Version 1769
dengan Revised Standard Version 1947. Dalam KJV tertulis: "they that do His
commandments" sedangkan RSV tertulis: "those who wash their robes". Alkitab bahasa
Indonesia terjemahan baru mengikuti terjemahan yang terdapat pada RSV.
74
91
sehingga mempunyai arti yang berbeda dari apa yang ayat-ayat itu
katakan.
Kita diselamatkan oleh iman semata-mata – tetapi iman ini, menurut
Kitab Suci Ibrani (baik Perjanjian "Lama" maupun "Baru") adalah hal
yang tidak terpisahkan dari perbuatan menaati perintah Tuhan tentang
bagaimana kita harus hidup – Taurat Tuhan. Yeshua sendiri tidak
terpisahkan dari Taurat, sebab Ia adalah tujuan dan kegenapannya –
Yeshua adalah "Taurat yang hidup".
Ajaran ini konsisten dalam keseluruhan "Perjanjian Baru" jika
ditafsirkan dengan benar. Paulus sendiri berkata jika kamu adalah
seorang bukan Yahudi yang dipilih untuk mengikut Mesias, maka
selamat datang kepada Taurat-nya Israel (Efesus 2:11-13).
92
Penutup
Kesimpulan
Seribu sembilan ratus tahun bukanlah sebuah masa yang singkat.
Selama kurun waktu tersebut banyak hal dan perubahan yang telah
terjadi, baik dalam tubuh Kristen maupun Yahudi. Pemahaman
Alkitab yang tidak menghiraukan konteks dan cara pikir Ibrani telah
menghasilkan ajaran yang tidak benar tentang hubungan Taurat
dengan orang percaya, seperti yang disimpulkan oleh Biblical Studies
Press di bawah ini:
Kristus adalah "the end of the Law" dan orang percaya tidak berada
di bawah Hukum Taurat.75
Kesimpulan ini jelas-jelas berlawanan (kontradiksi) dengan firman
TUHAN:
1.
Bahwa Taurat-Nya adalah kekal dan tidak dibatalkan
hingga kesudahan zaman. (Kej 17:7; Kel 12:24; Yer
33:20-21; 33:25-26; Mat 5:18; Luk 16:17)
2.
Bahwa orang percaya harus hidup menurut Taurat-Nya.
(Im 18:5; Ul 8:6; 10:12; 12:32; Yos 1:8; Yeh 20:19-20;
Mzm 119:1; Mat 5:18-19; Luk 11:28; Yoh 14:21; 15:10;
Yak 1:22-25; 1 Yoh 1:3-7)
Dalam Roma 8:5-8 Paulus mengatakan bahwa manusia bisa masuk ke
dalam satu dari dua kategori di hadapan Tuhan. Apakah mereka
hidup: a) menurut daging, atau b) menurut Roh. Paulus mengatakan
jika anda hidup menurut daging, anda tidak mungkin berkenan kepada
Tuhan. Mengapa demikian ? Karena, jawab Paulus, mereka yang
hidup menurut daging tidak tunduk kepada hukum Tuhan
(TAURAT). Dengan begitu sebaliknya Paulus mengatakan bahwa
mereka yang hidup menurut Roh (yang telah diselamatkan) TUNDUK
kepada Taurat.
75
Questions and Answers, sub bagian : "How should New Testament Believers relate to
Old Testament Laws ?", Biblical Studies Press, www.bible.org
93
Jika anda menganggap diri anda hidup menurut Roh, berarti anda
TUNDUK kepada Taurat Tuhan.
Demikiankah ?
Atau anda hidup menurut daging dan tidak tunduk kepada hukum
Tuhan ?
Keputusan Akhir di Tangan Anda
Bagi anda yang haus akan kebenaran Tuhan dan ingin lebih jauh
mengenal dan belajar bersama-sama kami, silakan menghubungi
alamat e-mail Komunitas Nasrani: [email protected]
Dan berdoalah demikian:
"Bapa di surga, buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang
Taurat-Mu; aku hendak memeliharanya dengan segenap hati."
(Mazmur 119:34)
Selamat. Tuhan memberkati.
-SELESAI-
94
Referensi
! Not Subject to the Law of
(http://www.yashanet.com), 1999.
God
?,
YashaNet
! What is Nazarene Judaism ?, Dr James Trimm dan Chris
Lingle, The Society for the Advancement of Nazarene
Judaism (http://www.nazarene.net), 1997.
! Biblical Law, Dr. James Scott Trimm, The Society for the
Advancement
of
Nazarene
Judaism
(http://www.nazarene.net), 1997.
! Yom Kippur and The New Convenant, Dr. James Scott
Trimm, The Society for the Advancement of Nazarene
Judaism (http://www.nazarene.net), 1997.
! Legalism vs. Paul's Faith Response to the Torah, David
Rudolph, The Joseph Rabinowitz School of Jewish Studies,
Messiah Biblical University, Association of Torah-Observant
Nazarenes (www.teshuvah.com), 1995.
! Under The Law, or With The Law?, Yeshayahu Heiliczer,
Association
of
Torah-Observant
Nazarenes
(www.teshuvah.com), 1995.
! Torah Rediscovered, Ariel dan D’vorah Berkowitz, First
Fruit of Zion (www.ffoz.org), 1998.
! Jerusalem – One City Three Faiths, Karen Armstrong, Alfred
A. Knopf, New York. 1996.
! Akar Bersama – Belajar tentang Iman Kristen dari Dialog
Kristen-Yahudi, Hans Ucko, PT BPK Gunung Mulia, Jakarta,
1999.
95
96
Fly UP