...

Fenomena Lemahnya Iman

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Fenomena Lemahnya Iman
Fenomena Lemahnya Iman
[ Indonesia – Indonesian – ‫] ﻧﺪوﻧيﻲﺴ‬
Muhammad Soleh al-Munajjid
Terjemah : Syafar Abu Difa
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad
2011 - 1432
‫﴿ ﻇﺎﻫﺮة ﺿﻌﻒ اﻹﻳﻤﺎن ﴾‬
‫» ﺑﺎلﻠﻐﺔ اﻹﻧﺪوﻧيﺴﻴﺔ «‬
‫ﻤﺪ ﺻﺎﻟﺢ اﻤﻟﻨﺠﺪ‬
‫ﺮﻤﺟﺔ‪ :‬ﺷﻔﺮ أﺑﻮ دﻓﺎع‬
‫مﺮاﺟﻌﺔ‪ :‬أﺑﻮ ز�ﺎد إﻳ�ﻮ ﻫﺎر�ﺎﻧﺘﻮ‬
‫‪2011 - 1432‬‬
Fenomena Lemah Iman
Isi Materi
Pertama : Fenomena lemah iman
Kedua
: Penyebab lemah iman
Ketiga
: Terapi lemah iman
Perkara-perkara yang mesti diperhatikan seorang muslim
dalam amal-amal salehnya
3
PENDAHULUAN
Segala puji bagai Allah. Kita memuji, meminta ampunan
dan petunjuk-Nya. Juga meminta perlindungan-Nya dari
keburukan jiwa serta amal-amal kita. Siapa yang Allah beri
petunjuk, tidak ada yang dapat menyesatkannya dan
siapa yang disesatkan-Nya, tidak ada yang dapat
menunjukinya.
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak
disembah selain Allah semata, yang tidak memiliki sekutu.
Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan
rasul-Nya.
� ٓ
َ
َُ ّ
َ ّ ‫ِين َء َام ُنوا ْ ٱ َّ ُقـوا ْ ٱ‬
َ َّ ‫ََ ُّ َها ٱ‬
ٰ  : �‫قال تعا‬
�‫َـقَ �قات ِـهِۦ َو‬
َ
َ
ُ َ‫ُو�ُنَ ِّ�َ َوأ‬
ّ َ‫م‬
(١٠٢:‫ )ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ‬ ١ ‫نتم ُّ ۡسل ُِمون‬
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam." (QS. Ali Imrân:102)
4
ّ ُ
ْ ُّ ُ ّ َ ّ� ٓ
ُ ََ َ
ٰ  : �‫قال تعا‬
‫اس ٱَقوا �َ َّ� ُم ٱَِي خلق�ـم ّمِـن‬
َ‫ََُها ٱ‬
ّۡ
ٗ ٓ َ َ ٗ َ ً َ َ‫َ َ َ َ َقَ ۡ َ َ ۡ َ َ َ� ث ّ ۡ ُم‬
ۚ ‫َف ٖس � ٰحِدة ٖ وخل مِنها زوجها ََ مِنه ارِجا� كثِ�� و� ِساء‬
ّ َّ ْ ُّ َ
َ ُ ٓ َ
ُ ۡ َ َ َ َ َ ّ ّ َ َ‫َ ۡ َ ۡح‬
ۡ‫�م‬
‫َ ٱَِي � َسا َءلون بِهِۦ وٱ�ر ـام ۚ ِنَ ٱَ �ن علـي‬
‫وٱَقوا ٱ‬
ٗ �َ‫ر‬
(١:‫ )ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬ ١ ‫ِيبا‬
"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu
yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari
padanya Allah menciptakan istrinya; dan dari pada
keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan
perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah
yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling
meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan
silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan
mengawasi kamu." (QS.an-Nisa:1)
ٗۡ َ ْ ُ َُ َّ ْ ُّ ْ َُ َ َ ّ َ ّ� ٓ
ٰ  : �‫قال تعا‬
�‫ـو‬
‫ََُهـا ٱَِيـن ءامنـوا ٱَقـوا ٱَ وقولـوا ق‬
ٗ
ُ ُُ ُ َ ۡ
ُ َ ۡ َ ُ َ
‫ يُ ۡصل ِۡح ل� ۡم أع َ� ٰل� ۡم َو َ�غفِ ۡر ل� ۡم ذنو�َ� ۡمۗ َو َمن‬٧ ‫َسدِيدا‬
5
َ َ‫و�ۥ َ� َق ۡد ف‬
َ ّ ‫يُطِعِ ٱ‬
ً ‫از فَ ۡو ًزا َع ِظ‬
ُ َ ‫َ وَرَ ُس‬
،٧٠: ‫ )ﺍﻷﺣـﺰﺍﺏ‬ ٧ ‫يمـا‬
(٧١
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu
kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar,
niscaya Allah memperbaiki untukmu amalan-amalanmu
dan mengampuni untukmu dosa-dosamu. dan
Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka
sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang
besar." (QS.al-Ahzab:70,71)
Adapun selanjutnya:
Fenomena lemah iman telah menjadi sesuatu yang
menyebar dan merata di tengah kaum muslimin. Sebagian
mengeluhkan kerasnya hati mereka dengan berujar, "Aku
merasa hatiku keras", "Aku tidak dapat merasakan
nikmatnya ibadah", "Aku merasa imanku berada di titik
nadir", "Aku tidak dapat merasakan pengaruh bacaan alQuran", "Aku mudah terjerumus dalam maksiat".
Pada sebagian orang nampak sekali pengaruh penyakit
ini. Penyakit lemah iman merupakan dasar dari segala
kemaksiatan, segala aib dan bencana.
6
Tema hati merupakan tema yang sensitif dan urgen. Ia
dinamakan "‫( "ﺍﻟﻘﻠﺐ‬hati) karena cepatnya berubah.
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
� ‫إنما القلب من تقلبه إنما مثل القلب كمثل ر�شـة معلقـة‬
ً
‫ ﻭﻫﻮ ﰲ‬٤٠٨/٤ ‫أصل شجرة يقلبها الر�ح ظهرا �طن ) ﺭﻭﺍﻩ ﺃﲪﺪ‬
(٢٣٦٤ ‫ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬
"Sungguh dia dinamakan ‫[ ﺍﻟﻘﻠﺐ‬al-qolb=hati 1] karena ‫ﺗﻘﻠﺒﻪ‬
0F
'taqollubihi' (perubahannya). Perumpamaan hati adalah
seperti bulu yang tersangkut di pangkal pohon, kemudian
angin menelungkupkan bagian atas menjadi bawahnya. 2
1F
Dalam riwayat lain:
‫)ﺃﺧﺮﺟﻪ ﺍﺑﻦ ﺃﰊ‬
‫ﻣﺜﻞ ﺍﻟﻘﻠﺐ ﻛﻤﺜﻞ ﺭﻳﺸﺔ ﺑﺄﺭﺽ ﻓﻼﺓ ﺍﻟﺮﻳﺢ ﻇﻬﺮﺍﹰ ﻟﺒﻄﻦ‬
‫ ﻇﻼﻝ ﺍﳉﻨﺔ ﰲ ﲣﺮﻳﺞ‬:‫ ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ‬٢٢٧ ‫ﻋﺎﺻﻢ ﰲ ﻛﺘﺎﺏ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺭﻗﻢ‬
(١٠٢/١ ‫ﺍﻟﺴﻨﺔ ﻟﻸﻟﺒﺎﱐ‬
1
Maksudnya adalah hati tempat segala perasaan batin/kalbu, bukan yang
bermakna organ jantung atau hati. Meskipun orang arab pada umumnya
jika menyebut "‫ "ﻗﻠ��ﺐ‬maksudnya adalah organ jantung atau tempat
perasaan batin/kalbu, bukan organ hati. Lihat KBBI –pent.
2
HR. Ahmad 4/408, terdapat dalam shahih al-Jâmi' 2364.
7
"Perumpamaan hati seperti bulu di tengah padang pasir
yang di bolak-balikan angin." 3
2F
Kalbu cepat berbolak-balik, sebagaimana yang telah
disifati oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalamdengan sabdanya:
‫ﻟﻘﻠﺐ ﺍﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﺃﺳﺮﻉ ﺗﻘﻠﺒﺎﹰ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﺫﺍ ﺍﺳﺘﺠﻤﻌﺖ ﻏﻠﻴﺎﻧـﺎ )ﺍﳌﺮﺟـﻊ‬
(١٠٢/١ ‫ ﻇﻼﻝ ﺍﳉﻨﺔ‬:‫ ﻭﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ‬٢٢٦ ‫ﺍﻟﺴﺎﺑﻖ ﺭﻗﻢ‬
"Sungguh kalbu anak Adam lebih cepat terbolak-balik dari
pada bejana yang direbus." 4
3F
Dalam riwayat lain:
‫ ﻭﻫـﻮ ﰲ‬٤/٦ ‫ﺃﺷﺪ ﺗﻘﻠﺒﺎﹰ ﻣﻦ ﺍﻟﻘﺪﺭ ﺇﺫﺍ ﺍﺟﺘﻤﻌﺖ ﻏﻠﻴﺎﻧﺎﹰ )ﺭﻭﺍﻩ ﺃﲪـﺪ‬
(٥١٤٧ ‫ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ ﺭﻗﻢ‬
"Lebih amat terbolak-balik dari pada bejana yang di
rebus." 5
4F
3
Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab as-Sunnah no.227
dengan sanad yang sahih dalam Dzilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah oleh alAlbani 1/102.
4
Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Abi 'Ashim dalam kitab as-Sunnah no.226
dengan sanad yang sahih dalam Dzilalul Jannah fi Takhrijis Sunnah oleh alAlbani 1/102.
5
HR. Ahmad 6/4. Shahihul Jami no.5137.
8
Allah -subhanahu wata'âla- yang membolak-balikkan hati
dan merubahnya sebagaimana hadits yang diriwayatkan
dari Abdullah Ibn Amr Ibn al-Ash bahwa dia mendengar
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,
‫إن قلوب ب� آدم �ها ب� أصبع� من أصابع الـر�ن كقلـب‬
‫واحد ي�فه حيث �شاء‬
"Sesungguhnya hati/kalbu anak keturunan Adam
seluruhnya berada di antara jari jemari Zat yang Maha
Pengasih,
seperti
satu
kalbu,
dibolak-balikkan
sekehendak-Nya."
Kemudian Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- berdoa:
‫اللهم م�ف القلوب �ف قلو�نا � طاعتك )رواه مسـلم‬
(٢٦٥٤ ‫ﺭﻗﻢ‬
[Allahumma mushorriful quluub, shorrif quluubana 'alaa
thoo'atika]
"Ya Allah, pembolak-balik kalbu, palingkanlah kalbu kami
kepada ketaatan-Mu." 6
5F
Allah-lah yang memisahkan antara seseorang dengan
kalbunya. Seseorang tidak akan selamat kecuali datang
6
HR. Muslim no.2654.
9
kepada Allah dengan hati/kalbu yang selamat.
Kedukaanlah bagi pemilik kalbu yang sulit untuk zikrullah
(mengingat Allah). Surga dijanjikan bagi siapa yang
merasa takut kepada Allah yang Maha Pengasih, padahal
tidak terlihat olehnya dan datang dengan hati yang
bertobat.
Seorang mukmin hatinya haruslah sensitif, menyadari
penyakit yang menyusup dan faktor penyebabnya, untuk
kemudian bersegera mengobatinya sebelum menjangkit
dan membinasakannya. Perkaranya besar dan serius.
Allah -subhanahu wata'âla- telah memperingatkan kita
mengenai hati yang keras, terkunci, sakit, buta, buntung,
terbalik, ternoda dan dicap.
Tulisan ini merupakan upaya mengenal fenomena
penyakit lemah iman, faktor penyebab dan terapinya.
Saya meminta kepada Allah semoga menjadikan amal ini
bermanfaat bagi diri saya dan saudara-saudaraku kaum
muslim. Membalas siapa saja yang berandil dalam
penerbitannya dengan ganjaran yang setimpal.
Allah -subhanahu wata'âla- kuasa melembutkan hati-hati
kita karena sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik pelindung.
Cukuplah Dia sebagai penolong dan tempat bergantung.
Pertama: Fenomena lemah iman
10
Sesungguhnya penyakit lemah iman memiliki gejala dan
tanda-tanda, di antaranya:
1. Terjerumus dalam kemaksiatan dan melakukan
perbuatan haram.
Sebagian orang intens melakukan maksiat. Sebagian lagi
hanya melakukan maksiat-maksiat tertentu saja. Kesering-an melakukan maksiat akan merubahnya menjadi
gaya hidup, sehingga hilang pandangan buruk maksiat
dari hatinya secara bertahap, yang pada akhirnya sanggup
menampakkan kemaksiatan itu, sebagaimana yang
terdapat dalam hadits:
‫� أم� معا� إ� المجـاهر�ن و�ن مـن المجـاهرة أن يعمـل‬
ً
‫ يـا فـ�ن‬:‫الرجل بالليل عم� ثم يصبح وقد س�ه ا� فيقـول‬
‫عملت ا�ارحة كـذا و�ـذا وقـد بـات �سـ�ه ر�ـه و�صـبح‬
(٤٨٦/١٠ ‫ ﻓﺘﺢ‬:‫ي�شف س� ا� عنه ) ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ‬
"Setiap umatku diampuni dosa-dosanya kecuali yang
melakukannya terang-terangan. Di antara bentuknya;
seseorang melakukan maksiat di malam hari, paginya
Allah telah menutupi dosanya, namun dia berkata, 'Wahai
Fulan, tadi malam aku melakukan begini dan begitu.'
Padahal dia telah bermalam dengan dosa yang tertutupi,
11
namun paginya dia sendiri yang menyingkap apa yang
telah Allah tutupi." 7
6F
2. Merasakan kalbu yang kaku dan keras. Sampai-sampai
merasakan hatinya telah berubah menjadi batu keras
yang tak dapat menyerap dan tidak terpengaruh oleh
apapun. Allah -azzawajalla- berfirman:
َ َٰ ۡ َ ۢ ّ ُ ُ ُ ُ ۡ َ َ ّ ‫ـ‬
َ ِ ‫ـك فَـ‬
�‫ـ‬
‫ ُـمَ قســت قلــو��م ِمـن �عـ ِد �لِـ‬ : �‫قــال تعــا‬
ٗ َ ّ ۡ َ َ‫َ ۡ َ ر‬
(٧٤: ‫ )ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬ ‫َشَدُ ق ۡس َوة‬
‫كٱ� ِجا ة ِ أو‬
"Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu,
bahkan lebih keras lagi." (QS.al-Baqarah:74)
Pemilik hati yang kaku tidak terpengaruh oleh nasihatnasihat kematian ataupun melihat orang mati dan
jenazahnya. Bahkan meskipun dia termasuk yang
mengusung jenazah dan menguruk kubur dengan tanah.
Langkahnya di antara perkuburan seolah hanya di antara
bebatuan.
7
HR. al-Bukhari. Fatul bâri 10/486.
12
3. Tidak dapat sempurna dalam melakukan beribadah.
Pikirannya selalu melayang-layang saat melaksanakan
shalat, membaca al-Quran, membaca doa maupun ibadah
lainnya. Tidak dapat menadaburi dan merenungi maknamakna zikir. Membacanya sambil lalu dan dengan cara
yang menjemukan jika telah dihafalnya. Sekalipun telah
membiasakan diri berdoa dengan doa-doa tertentu pada
waktu yang telah ditentukan oleh sunah, tetap saja dia
tidak dapat khusyuk memahami makna-makna doa
tersebut. Allah -subhanahu wata'âla- berfirman (dalam
hadits qudsi):
٣٤٧٩ ‫… � يقبل د�ء من قلب �فل )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣـﺬﻱ ﺭﻗـﻢ‬
(٥٩٤ ‫ﻭﻫﻮ ﰲ ﺍﻟﺴﻠﺴﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ‬
"...tidak diterima doa dari hati/kalbu yang lalai lagi
lengah." 8
7F
4. Malas melakukan ketaatan dan ibadah dan cenderung
melalaikan. Jika pun melaksanakan, hanyalah sekadar
aktivitas kosong tanpa ruh. Allah -azzawajallamendeskripsikan orang-orang munafik dengan firmanNya:
8
HR. at-Turmudzi no.3479. Dalam Silsilah as-Sohihah no.594.
13
َ
ّ ‫ـام ٓوا ْ إ َ� ٱ‬
ُ ‫صَــلَ ٰوة ِ قَـ‬
ُ ‫�ذا قَـ‬
ٰ َ ‫ـاموا ْ ُك َسـ‬
 �‫ـا‬
 : �‫قــال تعــا‬
ِ
(١٤٢:
‫)ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬
"...dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri
dengan malas..." (QS.an-Nisâ:142)
Termasuk juga ketidakpedulian akan luputnya musimmusim kebaikan serta waktu-waktu ibadah. Ini
menunjukkan akan tidak adanya perhatian mendapatkan
pahala. Mengakhirkan ibadah haji padahal mampu,
enggan berjihad padahal dalam keadaan lapang dan
meninggalkan shalat berjamaah sehingga berhujung pada
meninggalkan shalat Jumat. Rasulullah -shalallahu alaihi
wasalam- bersabda:
� �‫� يزال قوم يتأخرون عن الصـف ا�ول حـ� �لفهـم ا‬
(٥١٠ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﻟﺘﺮﻏﻴﺐ ﺭﻗﻢ‬٦٧٩ :‫ا�ار )ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﺭﻗﻢ‬
"Masih terus saja suatu kaum meninggalkan saf pertama,
hingga Allah akhirkan mereka ke neraka." 9
8F
Si penderita tidak sadar dengan teguran hatinya sewaktu
tertidur saat masuk waktu shalat wajib, demikian pula
ketika terluput melakukan shalat sunah rawatib atau
9
HR. Abu Dâwud no.679. Shahih at-Targhib no.510.
14
meninggalkan wirid dari wirid-wiridnya. Dia tidak
berhasrat untuk mengganti apa yang telah terluput itu.
Demikianlah, dia menjadi terbiasa melalaikan segala yang
dianggapnya sunah atau wajib kifayah 10, atau bahkan
sama sekali tidak menghadiri shalat 'Id (padahal sebagian
ulama mengatakan wajib melaksanakannya), tidak shalat
gerhana, tidak respons untuk menghadiri resepsi
kematian dan menyalatinya. Dia tidak menginginkan
pahala dan tidak merasa butuh. Kontras dengan orangorang yang telah Allah deskripsikan dalam firman-Nya:
9F
َ
َ ُ َُٰ ْ ُ َ ۡ ُّ
َ�
َۡ
� ‫ ِ�َهم �نوا‬ : �‫قال تعا‬
‫ت َو َ� ۡد ُعو َنا رَغ ٗبـا‬
ِ ٰ �َ ‫� ِرعون ِ� ٱ� ۡي‬
َ ‫وَرَ َه ٗباۖ َو َ�نُوا ْ �ََا َ� ٰشِ ع‬
(٩٠: ‫ )ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ‬ ٩ �
ِ
"...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu
bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan
yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap
dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk
kepada Kami." (QS.al-Anbiyâ`:90)
10
Fardu kifayah artinya wajib dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Jika
sebagiannya telah melaksanakan, maka yang lain sudah gugur
kewajibannya, seperti pengurusan jenazah, mempelajari ilmu duniawiah
dsb.
15
Di antara bentuknya yang lain adalah bermalas-malasan
dalam melaksanakan ketaatan. Malas melaksanakan
sunah rawatib 11, shalat malam, bersegera ke masjid, atau
ibadah-ibadah lain semisal shalat dhuha. Jika ibadahibadah tersebut saja tidak terbetik dalam pikirannya,
apatah lagi dengan shalat taubah atau shalat istikharah.
10F
5. Tidak lapang dada, hilang selera, terperangkap dalam
ego bahkan seolah ada beban berat yang menghimpit.
Akibatnya menjadi cepat emosi atau berkeluh kesah
hanya karena urusan sepele. Merasa tertekan dengan
tingkah orang di sekitarnya dan menjadi tidak toleran.
Nabi -shalallahu alaihi wasalam- mendeskripsikan iman
dengan sabdanya:
،٥٥٤ ‫ الص� والسماحة )ﺍﻟﺴﻠﺴـﻠﺔ ﺍﻟﺼـﺤﻴﺤﺔ ﺭﻗـﻢ‬:‫ا�يمان‬
(٨٦/٢
"Iman itu kesabaran dan toleran." 12
1F
Beliau mendeskripsikan seorang mukmin dengan:
11
Shalat sunat yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat fardhu yang
lima waktu.
12
As-Silsilah as-Shahihah no.554, II/86.
16
‫يألف و�ؤلف و� خ� فيمن � يألف و� يؤلـف )ﺍﻟﺴﻠﺴـﻠﺔ‬
(٤٢٧ ‫ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺭﻗﻢ‬
"...beramah-tamah. Tidak ada kebaikan bagi yang tidak
beramah-tamah." 13
12F
6. Tidak peka/terpengaruh dengan bacaan al-Quran.
Tidak dengan janji-janji dan ancaman, tidak pula perintah
dan larangan, maupun dengan penggambaran hari
kiamat. Mereka yang lemah imannya, berpaling dari
mendengar al-Quran. Jiwanya tidak sanggup konsisten
membacanya. Ketika membuka al-Quran, hampir-hampir
menutupnya kembali.
7. Lalai dari mengingat Allah -azzawajalla- dan berdoa
kepada-Nya -subhanahu wata'âla-. Sehingga berat ketika
berzikir. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, begitu
cepat diturunkannya lagi kemudian berlalu. Allah
mendeskripsikan orang munafik dalam firman-Nya:
ٗ َ ّ َّ َ ُُ َۡ ََ
(١٤٢: ‫ )ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ‬ ١ �‫َ ِ�َ قل ِي‬
‫ و� يذكرون ٱ‬ : �‫قال تعا‬
13
Silsilah as-Shahihah no.427.
17
"...dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit
sekali." (QS.an-Nisâ:142)
8. Tidak murka jika kesucian Allah -azzawajalla- dinistai,
karena api cemburu dalam kalbunya telah padam,
sehingga
tubuhnya
tidak
mampu
melakukan
pengingkaran, tidak pula beramar makruf nahi mungkar.
Seumur-umur tidak pernah melakukan pembelaan
terhadap Allah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalammendeskripsikan kalbu seperti ini sebagai kalbu yang
lemah, dalam hadisnya:
ُ ُ ْ ََ ُ َ ْ ُ َ ْ ُ
ْ ُ ْ َ ّ ‫ُ ً ُ ً َأَى‬
َْ َ
‫��َ َها‬
ِ ‫�عرض ال ِف� � القل‬
ِ ‫بأ‬
ٍ ‫وب �� ِص�ِ عودا عودا ُ قل‬
ْ ُ
ُ
َ �
ُ ‫� َت ٌة َس ْو َد‬
... ‫اء‬
‫ت �ِيهِ ن‬
ِ ‫ن‬
"Fitnah (cobaan) dibentangkan kepada kalbu seperti
keset, selembar demi selembar. Bagian manapun dari
kalbu yang menyerapnya akan menjadi titik hitam."
Hingga menjadi seperti yang dikhabarkan Rasulullah shalallahu alaihi wasalam-:
َ ْ ُ ُ ْ ُ َ َ ً ُ ْ َ ُ ْ َ� َ ً ّ َ ُ ُ ْ َ ّ �ْ‫َ ْ َ ُ ُر‬
ً ‫ك‬
‫ـرا‬
‫خيا � ع ِرف معروفا و� �نكِر من‬
ِ � ِ‫أسود َادًا �لكوز‬
َ ْ َ ُْ َ ّ
ُ
َ
(١٤٤ ‫�ب مِن هواه )ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ ﺭﻗﻢ‬
ِ ‫ِ�َ ما أ‬
18
"Hitam dengan sedikit bintik putih, seperti kerucut yang
miring tertelungkup, tidak mengetahui kebaikan dan tidak
mengingkari kemungkaran, selain yang diterima oleh
hawa nafsunya." 14
13F
Yang demikian itu karena telah luntur darinya cinta
kebaikan dan benci kemungkaran. Hal itu yang
menguasainya sehingga tidak ada yang mendorongnya
untuk mengajak berbuat baik maupun mencegah
kemungkaran. Bahkan ketika mendengar kemungkaran
terjadi bisa jadi malah meridainya, sehingga dia pun
mendapat dosa seperti orang yang menyaksikan namun
membiarkannya. Hal ini sebagaimana yang disabdakan
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:
‫ وقال‬- ‫إذا عملت ا�طيئة � ا�رض �ن من شهدها فكرهها‬
‫ كمن �ب عنها ومن �ب عنهـا فرضـيها �ن‬- ‫مرة أن�رها‬
‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉـﺎﻣﻊ‬،٤٣٤٥ ‫كمن شهدها )ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﺭﻗﻢ‬
(٦٨٩
"Jika keburukan dilakukan di bumi dan dia menyaksikan
dan membencinya –dalam riwayat yang lain
mengingkarinya- seperti orang yang tidak hadir. Dan
14
HR. Muslim no.144.
19
siapa yang tidak menyaksikannya tetapi meridainya maka
seperti menyaksikannya." 15
14F
Rida dengan perbuatan maksiat merupakan amal
hati/kalbu yang menyisakan dosa seperti orang yang
melihatnya.
9. Senang memamerkan diri, dalam bentuk:
- Senang berkuasa dan memimpin, tanpa memperdulikan
tanggung jawab dan bahayanya. Yang seperti inilah
yang diperingatkan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi
wasalam- dengan sabdanya:
‫إن�م ستحرصون � ا�مارة وسـتكون ندامـة يـوم القيامـة‬
(٦٧٢٩ ‫فنعم المرضعة و�ئس الفاطمة )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﺭﻗﻢ‬
"Kalian akan tamak pada kekuasaan yang pada hari
kiamat
akan
menjadi
penyesalan.
Nikmat
permulaannya dan malapetaka pada akhirnya.
Maksud "nikmat permulaannya" karena perolehan
harta, kehormatan dan kenikmatannya. Sedangkan
"malapetaka pada akhirnya" karena terdapat
15
HR. Abu Dâwud no.4345. Lihat Shahih al-Jâmi' 689.
20
pembunuhan, pelengseran, dan kepayahan pada hari
kiamat." 16
15F
Nabi -shalallahu alaihi wasalam- pun bersabda:
‫إن شئتم أنبأت�م عن ا�مارة وما � أولها م�مـة وثانيهـا‬
‫ندامة وثا�ها عذاب يوم القيامة إ� من عـدل )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﱪﺍﱐ‬
(١٤٢٠ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬٧٢/١٨ ‫ﰲ ﺍﻟﻜﺒﲑ‬
"Jika kalian ingin, aku dapat menjelaskan apa
kekuasaan itu; permulaannya celaan, keduanya
penyesalan, ketiganya siksa pada hari kiamat, kecuali
bagi yang adil." 17
16F
Jika perkaranya adalah menjalankan kewajiban dan
tanggung jawab, di mana tidak ada orang yang lebih
baik darinya, seraya bersungguh-sungguh, saling
menasihati dan adil sebagaimana yang dilakukan oleh
Nabi Yusuf –alaihisalam-, kita katakan nikmat dan
kemuliaan. Akan tetapi pada kebanyakannya adalah
keinginan liar kekuasaan, ingin lebih, menindas para
pemilik hak dan memonopoli perintah dan larangan.
16
17
HR. al-Bukhari no.6729.
HR. at-Thabaroni dalam al-Kabir XVIII/72. Lihat Shahih al-Jami no.1420.
21
- Senang muncul di majelis-majelis dan memonopoli
pembicaraan, sedang yang lain wajib mendengarnya.
Muncul di majelis-majelis maksudnya mimbar-mimbar.
Hal ini telah diperingatkan oleh Rasulullah -shalallahu
alaihi wasalam- dengan sabdanya:
‫ ﻭﻫﻮ‬٤٣٩/٢ ‫ يع� المحار�ـب )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ‬- ‫اتقوا هذه المذابح‬
(١٢٠ ‫ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬
"Jauhilah tempat-tempat penyembelihan –maksudnya
mimbar-mimbar." 18
17F
- Senang jika orang-orang berdiri menyambutnya, demi
memuaskan rasa gila penghormatan pada jiwanya
yang sakit. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalambersabda:
ُ ْ َ َُْ َْ ُّ َ
‫َنْ �َه أن‬
‫�َمثل ُ� ال ِع َباد � َِياً فَلْيَتَبَـوَّأْ بَيْتـاً �ِ ا�َّـارِ )ﺭﻭﺍﻩ‬
(٣٥٧ ‫ ﺍﻧﻈﺮ ﺍﻟﺴﻠﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ‬٩٧٧ ‫ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﰲ ﺍﻷﺩﺏ ﺍﳌﻔﺮﺩ‬
"Siapa yang senang dihormati dengan cara hambahamba Allah berdiri menyambutnya, maka dia telah
menempatkan tempat duduknya di neraka." 19
18F
18
HR. al-Baihaqi II/439. Lihat Shahih al-Jami' no.120.
HR. al-Bukhari dalam Adab al-Mufrod no.977. lihat Silsilah as-Shahihah
no.357.
19
22
Oleh karena itu, ketika Muawiah mendatangi Ibnu
Zubair dan Ibn Âmir, Ibn Âmir berdiri sedangkan Ibnu
Zubair tetap duduk, Muawiah berkata kepada Ibn Âmir:
"Duduklah, sesungguhnya aku mendengar
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
ً
‫من أحب أن يمثل � الرجال قياما فليتبوأ مقعده من ا�ار )ﺭﻭﺍﻩ‬
‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺍﻟﺴﻠﺴﻠﺔ‬٩٧٧ ‫ ﻭﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﰲ ﺍﻷﺩﺏ ﺍﳌﻔﺮﺩ‬٥٢٢٩ ‫ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﺭﻗﻢ‬
(٣٥٧ ‫ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ‬
'Siapa yang senang dihormati dengan cara
hamba-hamba Allah berdiri menyambutnya,
maka dia telah menempatkan tempat duduknya
di neraka'." 20
19F
Tipe orang seperti ini akan marah jika sunah nabi ini
diterapkan. Jika masuk suatu majelis, dia tidak rida
kecuali ada salah seorang yang berdiri menyambutnya
dan mendudukkannya, meskipun dia tahu Nabi shalallahu alaihi wasalam- melarang hal itu dalam
sabdanya:
20
HR.Abu Dâwud no.5229. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no.977. asSilsilah as-Shahihah no.357.
23
‫� يقيم الرجل الرجل من �لسه ثم �لس فيـه )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ‬
(٦٢/١١ ‫ﻓﺘﺢ‬
"Janganlah seseorang itu membangunkan orang lain dari
duduknya kemudian dia duduk di situ." 21
20 F
10. Serakah dan kikir.
Allah -subhanahu wata'âla- telah memuji kaum Anshar
dalam kitab-Nya:
َ ۡ َ َ ۡ َ َ ۡ ُ َ ٰ ٓ ََ َ ُ ۡ ُ َ
َ
َ
 ‫س ِهم ولو �ن ب ِ ِهم خصاصة‬
ِ ‫ و�ؤث ِرون أنف‬ : �‫قال تعا‬
(٩:‫)ﺍﳊﺸﺮ‬
"...dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin)
atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam
kesusahan." (QS.al-Hasyr:9)
Dijelaskan bahwa orang-orang yang beruntung adalah
mereka yang menjauhi keserakahan diri mereka. Tidak
diragukan bahwa lemah iman melahirkan keserakahan.
Bahkan Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
21
Al-Bukhari dalam Fathul Bâri no.XI/62.
24
:‫� �تمع الشح وا�يمان � قلب عبـد أبـدا )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻨﺴـﺎﺋﻲ‬
(٢٦٧٨ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬١٣/٦ ‫ﺘﱯ‬‫ﺍ‬
"Tidak akan berkumpul keserakahan dan keimanan dalam
hati seorang hamba sama sekali." 22
21F
Mengenai bahaya keserakahan dan pengaruhnya
terhadap jiwa telah dijelaskan oleh Nabi -shalallahu alaihi
wasalam- dengan sabdanya:
‫إيا�م والشح فإنما هلـك مـن �ن قـبل�م بالشـح أمـرهم‬
‫با�خل فبخلوا وأمـرهم بالقطيعـة فقطعـوا وأمـرهم بـالفجور‬
‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻـﺤﻴﺢ ﺍﳉـﺎﻣﻊ ﺭﻗـﻢ‬٣٢٤/٢ ‫ففجروا )ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ‬
(٢٦٧٨
"Jauhilah oleh kalian keserakahan. Sungguh binasanya
orang-orang sebelum kalian karena keserakahan. Ketika
(keserakahan) memerintahkan mereka untuk bakhil,
mereka berbuat kekikiran, ketika memerintah untuk
memutus persaudaraan, mereka memutus persaudaraan
22
HR.an-Nasâi dalam al-Mujtaba VI/13. Shahih al-Jâmi' no.2678.
25
dan ketika memerintah mereka untuk berbuat kekejian,
mereka melakukannya." 23
2F
Kebakhilan pada pemilik iman yang lemah, membuatnya
hampir-hampir tidak mengeluarkan sedikit pun untuk
Allah, sekalipun ada yang meminta sedekah dan
menyaksikan sendiri kebutuhan saudaranya muslim yang
terkena musibah. Tidak ada yang lebih tepat tentang
mereka ini daripada firman Allah:
ٓ ُۡ َٰٓ
ّ
ۡ ُ‫َ ُؤ َ�ٓءِ ت‬
َ � ْ ‫ـد َع ۡو َن �ِ ُنفِ ُقـوا‬
ٰ
‫ب‬
‫ـ‬
‫س‬
‫ َأنتم‬ : �‫قال تعا‬
َِ‫يل ٱ‬
ِ
ِ ِ
َ ۡ َ� َ‫ُ ّ �َ ۡ َ ُ َ َ �َ ۡ َ ۡ ّ م‬
ُ ّ ‫خ ُل َعـن َّ ۡفسِـهِۦ َوٱ‬
َ
‫ف َِمن�م َن بخل ۖومن بخل َإِ�َ ا ب‬
ۚ
َ ّ ۡ ُ َ ۡ َ ً ۡ َ ۡ ۡ َ‫ّ ۡ ْ َ ۡ ت‬
ٓ َ ُۡ ُ ََ ّ ۡ
� َ‫ُـم‬
‫نت ُم ٱلفق َرا ُء ۚ �ن َتَوَلَـوا �سـ بدِل قومـا �ـ��م‬
‫ٱلَ�ُِ وأ‬
ُ َ َ َْ ُ ُ
(٣٨: ‫ )ﳏﻤﺪ‬ ٣ ‫يَ�ون ٓوا أ ۡم�ٰل�م‬
"Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk
menafkahkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara
kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya
dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah
yang Mahakaya, dan kamulah orang-orang yang
membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling
23
HR. Abu Dâwud II/324. Shahihul Jami' no.2678.
26
niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang
lain; dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu."
(QS.Muhammad:38)
11. Mengatakan apa yang tidak dilakukannya.
Allah –wata'ala- berfirman:
َ ُ َ ۡ َ� َ َ َ ُ ُ َ� َ ْ ُ َ َ َ ّ َ ّ � ٰ ٓ
٢ ‫ ََُها ٱَِين ءامنوا ل ِم قولون ما � فعلـون‬ : �‫قال تعا‬
ۡ ََُ
َ ُ ۡ َ� َ ْ ُ ُ َ� َ ّ َ
،٢: ‫ )ﺍﻟﺼﻒ‬ ٣ ‫ِند ٱَِ أن قولوا َما � ف َعلـون‬
‫� َمق ًتا ع‬
‫ك‬
(٣
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu
mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat
besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan
apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS.as-Shaff: 2,3)
Tidak diragukan kalau ini adalah jenis kemunafikan. Siapa
yang perkataannya menyelisihi perbuatannya, menjadi
tercela di sisi Allah dan dibenci oleh makhluk. Penghuni
neraka nantinya akan membeberkan apa-apa yang telah
mereka
perintahkan
di
dunia
tetapi
tidak
melaksanakannya, dan apa yang dilarangnya tetapi
dilakukannya.
27
12. Gembira dan menginginkan saudaranya gagal, rugi,
terkena musibah dan lenyap kenikmatannya.
Dia merasa gembira ketika nikmat yang ada pada
saudaranya sirna. Karena sesuatu yang menjadikan
saudaranya itu istimewa telah tiada darinya.
13. Hanya melihat sesuatu perkara dari sisi apakah
mengandung dosa ataukah tidak, tanpa melihat lagi
apakah hal itu termasuk perkara "makruh" (dibenci) atau
tidak.
Sebagian orang, jika hendak mengerjakan suatu amal
tidak bertanya mana amal-amalan yang baik, tetapi yang
ditanya 'apakah perbuatan itu dosa atau tidak?', 'haram
atau cuma makruh?'. Mental seperti ini dapat
menjeratnya ke dalam syirik "subhat" (kerancuan) dan
"makruhat" (perkara-perkara yang dibenci), sehingga
menjerumuskannya pada perkara haram pada suatu saat.
28
Orang seperti ini tidak mengapa baginya mengerjakan
perkara "makruh" (yang dibenci) atau "musytabih"
(meragukan), selama perkaranya bukan haram. Inilah
yang senyatanya dikabarkan oleh Rasulullah -shalallahu
alaihi wasalam- dengan sabdanya:
�‫من وقع � الشبهات وقع � ا�رام �لرا� ير� حول ا�ـ‬
‫ )ﺍﳊﺪﻳﺚ ﰲ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﲔ ﻭﺍﻟﻠﻔﻆ ﳌﺴﻠﻢ ﺭﻗـﻢ‬.. ‫يوشك أن يرتع فيـه‬
(١٥٩٩
"Siapa yang terjerumus pada subhat (meragukan) telah
terjerumus pada yang haram. Seperti penggembala yang
menggembalakan gembalaannya di sekitar pagar, tidak
ayal akan menerobos ke dalamnya..." 24
23F
Bahkan sebagian orang jika meminta fatwa dalam suatu
perkara dan dikhabarkan bahwa hal itu haram akan
bertanya, 'apakah sangat haram atau tidak?' atau
'seberapa besar dosanya?'. Yang seperti ini, tidak ada
pada dirinya kepedulian untuk menjauhi kemungkaran
dan kejelekan. Bahkan dia siap untuk terjerumus dalam
tahap awal perbuatan haram. Dia menyepelekan dosadosa yang dianggap kecil, sehingga menjadi berani
melanggar apa yang Allah haramkan. Hilang sekat antara
24
Hadits di dalam Sahihain dengan lafal dari Muslim no.1599.
29
dirinya dan kemaksiatan. Karenanya Rasulullah shalallahu alaihi wasalam- bersabda dalam hadits sahih:
َ ُْ
ََْ َ َ َ
ّ ‫اما م ِْن‬
َ ‫ـو َم الْق َي‬
ً ‫َعْلَمَنَ أَقْ َو‬
ْ َ‫ون ي‬
ّ
‫ات أمثـا ِل‬
‫ـن‬
‫س‬
‫ة‬
‫ـ‬
‫ام‬
‫ت‬
�َ‫ي‬
�
َ‫ُم‬
�
ِ
ِ
ِ
ٍ
ِ
ّ ّ ُّ ََُ ْ ََ ً ََ َ
ً ‫اء َمنْ ُث‬
ً ‫َجَلَ َه َب‬
‫ورا‬
َ‫ج َبا ِل ت ِهامة �ِيضا �يجعلها �َ َز‬
ِ
"Sungguh aku mengetahui kaum dari umatku yang
datang membawa kebaikan seperti gunung Tuhâmah 25,
namun Allah -azzawajalla- menjadikannya debu yang
beterbangan."
24F
Tsauban -radiallahu'anhu- bertanya,
"Wahai Rasulullah, deskripsikan mereka kepada kami
agar kami tidak seperti mereka tanpa menyadarinya?"
Nabi menjawab,
ّ َ َ ُ ُ ْ َ َ ْ ُ َْ ْ َ ْ ُ ُ َ ْ ْ ُ ّ َ َ
ْ
َ‫َم‬
‫ـل ك ـا‬
ِ ‫أما ِ�َهم إِخوان�م ومِن‬
ِ ‫ج�ت ِ�م و�أخذون مِن للَي‬
َ ُ ُ َْ
َ ُ ْ ّ
ّ
َ َ‫ام إ َذا َخلَ ْوا بم‬
ٌ ‫َلَكِنَ ُه ْم أَقْ َو‬
‫حارِ ِم �َِ ا� َت َهكوها )ﺭﻭﺍﻩ‬
‫ون‬
‫تأخذ‬
ِ
ِ
‫ ﻗﺎﻝ ﰲ ﺍﻟﺰﻭﺍﺋﺪ ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ ﺻﺤﻴﺢ ﻭﺭﺟﺎﻟﻪ ﺛﻘﺎﺕ ﻭﻫﻮ‬٤٢٤٥ ‫ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﺔ ﺭﻗﻢ‬
(٥٠٢٨ ‫ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬
25
Nama tempat antara Mekah dan Madinah.
30
"Mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari
bangsa kalian. Malam mereka sama seperti malam
kalian 26, akan tetapi jika tengah bersendirian dengan
perkara haram mereka melabraknya." 27
25F
26F
Engkau dapatkan mereka terjerumus dalam perkara
haram tanpa risih dan ragu. Ini lebih buruk dari mereka
yang terjerumus setelah ragu-ragu dan risih, meskipun
keduanya dalam bahaya, namun keadaan orang yang
pertama lebih jelek dari yang kedua. Macam orang seperti
ini menggampangkan dosa karena kelemahan imannya.
Dia tidak melihat bahwa hal itu adalah sesuatu
kemungkaran. Karenanya Ibnu Mas'ud -radiallahu'anhumenggambarkan perbedaan antara keadaan orang
beriman dengan orang munafik dengan:
"Orang beriman melihat dosanya seperti batu di atas
gunung dan takut akan menimpanya. Sedangkan
pelaku dosa, melihat dosanya seperti lalat yang lewat
di hidungnya dan menepisnya." 28
27F
26
Maksudnya dalam beribadah di malam hari.
HR. Ibnu Hibban no.4245. Di dalam az-Zawaid disebutkan sanadnya sahih
dan periwayatnya terpercaya. Lihat Shahih al-Jami no.5028.
28
HR. al-Bukhari dalam Fathul Bâri XI/102. Lihat Taghliq at-Ta'lîq V/136
terbitan al-Maktab al-Islami.
27
31
14. Meremehkan kebaikan dan tidak peduli dengan
kebaikan-kebaikan kecil.
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- telah mengajarkan
kita agar tidak seperti itu. Telah diriwayatkan oleh Imam
Ahmad -rahimahullah- dari Abu Jarî al-Hajimi, katanya:
"Aku mendatangi Rasulullah
wasalam- dan bertanya:
-shalallahu
alaihi
'Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah
kaum badui, ajarkan kami sesuatu yang akan Allah
beri manfaat kepada kami!'".
Nabi bersabda:
ً
‫� �قرن من المعروف شيئا ولو أن تفرغ مـن دلـوك � إنـاء‬
ً
‫المست� ولو أن ت�لم أخـاك ووجهـك إ�ـه منبسـطا ] ﺭﻭﺍﻩ‬
[ ‫ﺃﲪﺪ‬
"Janganlah meremehkan kebaikan sekecil apapun,
sekalipun sekedar mengosongkan isi embermu untuk
orang yang memerlukan air, dan sekalipun berbicara
dengan saudaramu dengan wajah yang ceria." 29
28F
29
Musnad Ahmad V/63. Silsilah as-Sahihah no.1352.
32
Seandainya ada yang ingin mengambil air dari sumur,
sedangkan engkau telah lebih dulu mengambilnya, maka
berikan air itu kepadanya. Amalan seperti ini meskipun
nampaknya sepele, tidak semestinya diremehkan.
Demikian pula dengan menemui saudaramu dengan
wajah ceria, membersihkan kotoran dan sampah dari
masjid, walaupun hanya serpihan, semoga saja menjadi
sebab pengampunan dosa.
Allah mensyukuri hamba-Nya dengan amalan seperti itu
dan mengampuni dosanya. Bukankah Rasulullah shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
‫ وا� ��� هذا‬:‫مر رجل بغصن شجرة � ظهر طر�ق فقال‬
ُ
[ ‫عن المسلم� � يؤذيهم فأدخل ا�نة ] ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ‬
"Seseorang lewat dijalan dan mendapati ranting kayu
menghalangi jalan. Dia berkata, 'Demi Allah, aku akan
menyingkirkannya agar tidak menyakiti kaum muslimin
lain!' Dia pun dimasukkan ke dalam surga." 30
29F
Pada jiwa yang meremehkan amalan baik yang ringan,
ada kejelekan dan keteledoran. Cukup baginya hukuman
atas penghinaannya terhadap kebaikan yang kecil
30
HR. Muslim no.1914.
33
diharamkan dari keistimewaan agung yang dijelaskan oleh
sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:
‫من أماط أذى عـن طر�ـق المسـلم� كتـب � حسـنة ومـن‬
‫تقبلت � حسنة دخل ا�نـة )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﰲ ﺍﻷﺩﺏ ﺍﳌﻔﺮﺩ ﺭﻗﻢ‬
(٣٨٧/٥ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺍﻟﺴﻠﺴﻠﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ‬٥٩٣
"Siapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan kaum
muslimin, dicatatkan untuknya satu kebaikan. Siapa yang
diterima kebaikannya dia masuk surga." 31
30F
Mu'adz -radiallahu'anhu- berjalan bersama seorang lelaki.
Muadz menyingkirkan batu dari jalan. Lelaki itu bertanya:
"Apa yang kau lakukan?"
Muadz berkata: "Aku mendengar Rasulullah -shalallahu
alaihi wasalam- bersabda:
ً
‫من رفع حجرا من الطر�ق كتب � حسنة ومن �نت � حسنة‬
‫ ﺍﻟﺴﻠﺴﻠﺔ ﺍﻟﺼـﺤﻴﺤﺔ‬،١٠١/٢٠ ‫دخل ا�نـة )ﺍﳌﻌﺠﻢ ﺍﻟﻜﺒﲑ ﻟﻠﻄﱪﺍﱐ‬
(٣٨٧/٥
31
HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no.593. as-Silsilah as-Shahihah
V/387.
34
"Siapa yang menyingkirkan batu dari jalan, Allah
catatkan untuknya satu kebaikan. Siapa yang
memiliki kebaikan akan masuk surga." 32
31F
15. Tidak peduli dengan kondisi kaum muslimin, tidak
bersimpati dengan doa, sedekah maupun bantuan lain.
Mati rasa terhadap penderitaan saudara-saudaranya di
belahan bumi yang terbelenggu musuh, tertindas,
teraniaya dan terkena bencana. Cukup baginya
keselamatan dirinya sendiri. Ini adalah dampak lemahnya
iman. Seorang mukmin justru sebaliknya. Nabi -shalallahu
alaihi wasalam- bersabda:
‫إن المؤمن من أهل ا�يمان بم�لة الرأس من ا�سد يألم المؤمن �هـل‬
æåæ Ýí ٣٤٠/٥ãÓäÏ ÃÍãÏ ) ‫ا�يمان كما يألم ا�سد لما � الـرأس‬
(١١٣٧ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ
"Sesungguhnya seorang mukmin bagi ahli iman seperti
kepala pada tubuh. Seorang mukmin akan merasa sakit
terhadap (penderitaan) ahli iman seperti sakitnya tubuh
ketika merasa ada gangguan di kepalanya." 33
32F
32
33
Al-Mu'jam al-Kabir oleh at-Thabarani XX/101. Silsilah as-Shahihah V/387.
Musnad Ahmad V/340. Silsilah as-Shahihah no.1137.
35
16. Memutuskan tali persaudaraan antara orang yang
bersaudara.
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda,
‫ما تواد اثنان � ا� عز وجل أو � ا�س�م فيفرق بينهما أول‬
‫ ففرق بينهمـا إ� بـذنب { �دثـه أحـدهما‬:‫ذنب و� رواية‬
æÃÍãÏ Ýí ÇáãÓäÏ ٤٠١ÇáÈÎÇÑí Ýí ÇáÃÏÈ ÇáãÝÑÏ ÑÞã )
(٦٣٧æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ ٦٨/٢
"Tidaklah dua orang yang saling berkasih sayang karena
Allah -azzawajalla- atau dalam islam, kemudian berselisih,
melainkan karena dosa yang pertama kali 34 dilakukan
oleh salah seorang dari keduanya." 35
3F
34F
Ini adalah dalil akan "karma" yang disebabkan oleh
maksiat. Ia dapat menyebabkan terlepasnya ikatan
persaudaraan dan memutuskannya. Keberutalan yang
terkadang didapati seseorang dari saudaranya
dikarenakan keimanan yang menurun, akibat dari maksiat
yang dilakukannya; karena Allah menjatuhkan martabat
pelaku maksiat di hati hamba-hamba-Nya. Dia hidup di
antara manusia dengan keadaan yang buruk, tak
bermartabat, sulit keadaan lagi tidak terhormat. Terluput
34
Dalam riwayat lain: tidak terpisahkan kecuali oleh dosa.
HR. al-Bukhari dalam al-Âdab al-Mufrod no.401. Ahmad dalam alMusnad II/68. as-Silsilah as-Shahihah no.637.
35
36
juga darinya kemuliaan sebagai orang yang beriman serta
pembelaan Allah, sesungguhnya allah hanya membela
orang-orang yang beriman.
17. Tidak memiliki rasa tanggung jawab
mengamalkan agama ini. Tidak berupaya
menyebarkan dan berkhidmat kepada agama ini.
untuk
untuk
Bertolak belakang dengan para sahabat Nabi -shalallahu
alaihi wasalam- yang ketika memeluk Islam langsung
merasa memiliki tanggung jawab. Lihatlah Tufail Ibn Amr radiallahu'anhu-, berapa sering dia mondar-mandir
menjelaskan Islam kepada kabilahnya, menyeru kepada
Allah -azzawajalla-?! Dia bersegera mendakwahi
kaumnya. Spontan setelah memeluk Islam dia langsung
merasa harus kembali kepada kaumnya, kembali sebagai
seorang dai (juru dakwah) penyeru kepada Allah subhanahu wata'âla-.
Namun sekarang ini kebanyakannya membutuhkan waktu
lama antara komitmen beragama hingga sampai pada
tahap dakwah kepada Allah -azzawajalla-.
Para sahabat Muhammad -shalallahu alaihi wasalammemahami bahwa konsekuensi memeluk Islam adalah
memusuhi kekafiran, berlepas diri, serta memisahkan diri
dari mereka. Tsumamah Ibn Atsâl -radiallahu'anhu-,
37
pemimpin Yamamah, ketika tertawan dibawa dan diikat di
masjid. Nabi menawarkan kepadanya untuk memeluk
Islam. Allah memberinya cahaya (keimanan) menerima
Islam. Setelah memeluk Islam dia berangkat umrah.
Ketika sampai di Mekkah, dia berkata kepada kaum
Quraisy:
"Tidak akan sampai kepada kalian sebutir gandum
pun dari Yamamah, sampai Rasulullah -shalallahu
alaihi wasalam- mengizinkannya." 36
35F
Pemisahan dirinya dengan kaum kafir dan pemboikotan
secara ekonomi terhadap kafir Quraisy merupakan bentuk
upaya yang mungkin dan tersedia untuk berkhidmat
dalam dakwah. Ini terjadi secara langsung sebagai buah
keimanan yang mantap sehingga berdampak pada
munculnya perbuatan itu.
18. Cemas dan ketakutan ketika datang musibah atau
terjadi masalah.
Engkau mendapatinya gemetar ketakutan, terganggu
keseimbangannya, linglung, egois dan bingung dengan
keadaannya ketika tertimpa bencana dan musibah. Jalan
keluar tertutup dari pandangannya, dikuasai kegundahan,
36
HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bâri VIII/87.
38
tidak dapat menghadapi kenyataan dengan stabil dan
dengan hati/kalbu yang kuat. Itu semua dikarenakan
lemah iman. Seandainya imannya kuat, tentu dia akan
bertahan. Dia akan dapat menghadapi sebesar dan
separah apa pun musibah dan bencana dengan kuat dan
teguh.
19. Banyak berdebat, pamer lagi keras hati.
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
ÑæÇå ÃÍãÏ )
‫ما ضل قوم بعد هدى �نوا عليه إ� أتوا ا�دل‬
(٥٦٣٣æåæ Ýí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ ٢٥٢/٥Ýí ÇáãÓäÏ
"Tidaklah tersesat suatu kaum setelah mendapat petunjuk
atas apa yang mereka lakukan, melainkan setelah
melakukan perdebatan." 37
36F
Perdebatan tanpa dalil dan tanpa tujuan yang benar
membuat jauh dari jalan yang lurus. Berapa banyak
perdebatan manusia hari ini yang dilakukan dengan cara
yang batil, berdebat dengan tanpa dalil dan tanpa
petunjuk hadits maupun al-Quran.
37
HR. Ahmad dalam al-Musnad V/252. Shahih al-Jâmi' no.5633.
39
Cukuplah untuk dapat meninggalkan bagian tercela ini
sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:
ً
‫أنا زعيم ببيت � ر�ض ا�نة لمن ترك المـراء و�ن �ن �قـا‬
æåæ Ýí ÕÍíÍ ١٥٠/٥ÑæÇå ÃÈæ ÏÇæÏ )
(١٤٦٤ÇáÌÇãÚ
"Aku adalah pemimpin pada rumah di dasar surga bagi
yang meninggalkan riya (pamer), sekalipun benar." 38
37F
20. Cinta dunia, sangat bernafsu dan berhasrat
terhadapnya.
Ketergantungan hatinya kepada dunia sampai kepada
tingkatan akan merasa sakit jika ada kesempatan yang
luput darinya, baik dalam bentuk harta, kehormatan,
kedudukan maupun tempat tinggal. Menganggap diri
bodoh dan buruk perencanaan hanya karena tidak bisa
mendapat apa yang didapatkan orang lain. Dia merasa
sakit dan amat tertekan jika melihat saudaranya
memperoleh apa yang tidak didapatkannya dari
kesempatan dunia. Bahkan terkadang mendengki dan
mengharap nikmat itu sirna dari saudaranya. Ini
38
HR. Abu Dâwud V/150. Shahih al-Jami' no.1464.
40
bertentangan dengan iman, sebagaimana yang
disabdakan oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:
ÑæÇå ) ‫� �تمعــان � قلــب عبــد ا�يمــان وا�ســد‬
æåæ Ýí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ ١٥٠/٥ÃÈæ ÏÇæÏ
(١٤٦٤
"Tidaklah berkumpul di dalam kalbu seorang hamba
antara keimanan dan kedengkian." 39
38F
21. Mengambil ucapan seseorang dan retorika naluriah
akal semata dengan mengesampingkan sisi imaniah.
Bahkan hampir-hampir engkau tidak mendapati dalam
pembicaraannya unsur al-Quran, sunah atau perkataan
generasi pendahulu Islam (salaf) -rahimahullah-.
22. Pemanjaan diri yang berlebihan dalam makanan,
minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kendaraan.
Engkau dapati dia begitu konsentrasi dengan kebutuhan
tersier (bukan kebutuhan pokok) dengan perhatian yang
berlebihan. Memuaskan diri dan memaksakan diri
membeli pakaian yang mahal, menikmati interior mewah
39
Ibid.
41
dan menghamburkan harta dan waktunya untuk
kemewahan yang bukan kebutuhan darurat (primer),
padahal saudaranya dari kaum muslimin di sekitarnya ada
yang sangat berhajat kepada harta itu. Dia terhanyut
hingga tenggelam dalam kenikmatan dan kemewahan
yang dilarang, sebagaimana yang terdapat dalam hadits
Muadz Ibn Jabal -radiallahu'anhu- ketika diutus oleh Nabi
-shalallahu alaihi wasalam- ke Yaman dengan wasiat:
ÑæÇå ÃÈæ )
�‫إياك وا�نعيم فإن عباد ا� ليسوا بالمتنعم‬
٣٥٣æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ ١٥٥/٥äÚíã Ýí ÇáÍáíÉ
(٢٤٣/٥ÇáãÓäÏ :æÚäÏ ÃÍãÏ ÈáÝÙ ÅíÇí
"Hindarilah memuaskan diri, sesungguhnya hamba Allah
bukanlah dia yang suka memuas-muaskan diri." 40
39F
Kedua: Penyebab Lemah Iman
Lemah iman memiliki banyak sebab. Ada yang bertalian
dengan gejalanya, seperti terjerumus dalam maksiat dan
sibuk dengan dunia. Berikut ini sebab-sebab lain,
tambahan dari apa yang telah disebutkan sebelumnya:
40
HR. Abu Na'îm dalam al-Hilyah V/155. As-Silsilah as-Shahihah no.353.
Riwayat Ahmad dengan lafal '‫[ 'ﺇﻳﺎﻱ‬Tidaklah aku] al-Musnad V/243.
42
1. Menjauh dari suasana imaniah dalam waktu yang
lama.
Ini menjadi pemicu lemahnya iman dalam jiwa. Allah azzawajalla- berfirman:
ۡ
َۡ َ ْٓ ُ َ َ َ ّ َۡ ََۡ
ُ ُ‫ـع قُل‬
َ ‫� َش‬
‫ـو� ُه ۡم ِ�ِ�ـ ِر‬
‫ �لم يأ ِن ِ�َِين ءامنوا أن‬ : �‫قال تعا‬
َ ۡ ْ ُ ُ َ ّ َ ْ ُ ُ َ َ َ ّ َۡ َ َ َ َ َ َ ّ
َ
ٰ
‫ٱَِ وما نزل مِن ٱ� ِق و� ي�ونوا كٱَِين أوتوا ٱلكِ�ب مِـن‬
َ ُ َٰ ۡ ُ ۡ ّ ٞ َ َ ۡ ُ ُ ُ ُ ۡ َ َ َ ُ َ َ ۡ ُ ۡ َ َ َ َ َ ُ ۡ َ
‫سـقون‬
ِ � ‫�بل �طال علي ِهم ٱ�مد �قست قلو�همۖ و�ثِ� مِـنهم‬
(١٦:‫ )ﺍﳊﺪﻳﺪ‬ ١
"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang
beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan
kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan
janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya
telah diturunkan Al kitab kepadanya, kemudian berlalulah
masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi
keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orangorang yang fasik." (QS.al-Hadid:16)
Ayat di atas menunjukkan bahwa: meninggalkan suasana
imaniah dalam waktu lama menjadi pemicu lemahnya
iman di dalam hati/kalbu.
43
Permisalan:
Seseorang yang menjauh dari saudara seiman dalam
waktu lama karena safar, penugasan atau hal lain, akan
kehilangan suasana imaniah yang didapatinya ketika
bersama
saudara-saudaranya.
Kekuatan
hatinya
bersandar pada kebersamaan itu. Seorang mukmin lemah
jika bersendirian dan kuat jika bersama saudaranya
seiman. Al-Hasan al-Bashri -rahimahullah- berkata:
"Saudara-saudara seiman bagi kami lebih berharga
dari pada keluarga. Keluarga mengingatkan kami
tentang dunia, sedangkan saudara-saudara seiman
mengingatkan kami tentang akhirat."
Keterpisahan itu jika terus menerus berlangsung akan
meninggalkan perasaan terbalik setelah beberapa lama.
Merubahnya menjadi ketidaksukaan terhadap suasana
imaniah. Berdampak pada hati/kalbu yang mengeras dan
gelap, dan membuat cahaya iman menjadi padam. Inilah
penjelasan mengenai fenomena kebiasaan buruk pada
sebagian orang setelah berlibur, sepulang dari perjalanan
wisata atau sekembalinya mereka dari tempat penugasan
kerja atau pendidikan.
2. Menjauh dari teladan yang saleh.
44
Seseorang yang belajar kepada orang saleh, berarti
mengumpulkan antara al-ilmu an-nâfi' (ilmu yang
bermanfaat), amal saleh dan kekuatan iman. Tersambung
secara teratur dengan keilmuan, akhlak dan keutamaan
yang dimiliki sang guru. Jika menjauh beberapa waktu,
sang murid akan merasa hatinya kembali mengeras.
Karena itulah ketika Rasulullah -shalallahu alaihi
wasalam- wafat dan dikuburkan, sahabat berkata, "Kalbu
kami mengingkari". Mereka gusar, karena sang pendidik,
pengajar dan teladan -shalallahu alaihi wasalam- telah
wafat. Dalam kisah yang lain diceritakan: "mereka seperti
biri-biri di gelap malam dalam hujan yang deras".
Akan tetapi Nabi -shalallahu alaihi wasalammeninggalkan di belakangnya orang-orang berkarakter
gunung. Setiap mereka pantas untuk menggantikan dan
menjadi teladan di antara mereka. Sekarang ini, kaum
muslimin sangatlah berhajat kepada teladan seperti
mereka.
3. Menjauh dari menuntut ilmu syariat dan tersambung
dengan kitab-kitab salafussoleh maupun kitab imaniah
yang menghidupkan hati.
Terdapat berbagai kitab yang jika dibaca, pembacanya
akan merasa keimanan mengalir dalam hati/kalbunya.
45
Menggerakkan dan mendorong keimanan yang melekat
dalam jiwanya. Kitab yang utama adalah Kitabulah, alQuran dan Kitab Hadits kemudian kitab ulama Mujtahidin
dalam masalah melembutkan hati, nasihat, dan yang
piawai memaparkan masalah aqidah dengan metode yang
menghidupkan hati, seperti kitab Alâmah Ibnul Qoyyim,
Ibnu Rajab dan selain mereka.
Terputus dari kitab-kitab seperti ini dan tenggelam dalam
buku-buku filsafat saja atau buku-buku hukum yang tidak
terkandung dalil atau buku bahasa dan usul misalnya,
terkadang mewariskan kekerasan hati. Ini bukanlah
celaan pada buku bahasa, usul atau yang sepertinya,
tetapi peringatan bagi yang berpaling dari kitab-kitab
tafsir dan hadits yang hampir-hampir engkau dapati tidak
dibaca, padahal dia adalah kitab yang menghantarkan
hati/kalbu kepada Allah -azzawajalla-.
Ketika membaca kitab hadits Shahihain misalnya, engkau
akan merasa hidup pada masa generasi awal bersama
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- dan para
sahabatnya. Dapat merasakan suasana keimanan dari
sejarah, kehidupan dan kejadian-kejadian yang
berlangsung pada masa mereka.
Sebuah ungkapan:
46
Ahlul hadits adalah ahlu Rasul. Sekalipun mereka tidak
menemani secara fisik tetapi jiwa mereka menemaninya.
Sebab ini –yaitu menjauhi kitab-kitab imani-, dampaknya
begitu nyata terhadap mereka yang mempelajari materimateri yang tidak berhubungan dengan Islam, seperti
filsafat, ilmu jiwa, sosiologi dan materi-materi lain yang
memalingkan dari materi Islam. Termasuk pada penikmat
komik-komik, kisah percintaan, gairah maupun mengikuti
berita-berita yang tidak (/kurang) bermanfaat dari korankoran, majalah-majalah dsb dan intens mengikutinya.
4. Keberadaan seorang muslim di tengah ingar-bingar
kemaksiatan.
Si fulan berbangga dengan kemaksiatan yang
dilakukannya, sebagian lagi bersenandung musik,
sebagian lagi tenggelam dengan kepulan asap rokoknya,
sebagian lagi terlena dengan majalah amoralnya, sebagian
lagi lisannya tak lepas dari laknat, mencela dan
mengumpat dst. Pembicaraan gosip, gibah (bergunjing),
adu domba dan berita-berita pertandingan, menjadi suatu
yang tidak bisa dihitung banyaknya.
47
Sebagian majelis tidak disebut kecuali urusan dunia,
seperti keadaan kebanyakan majelis dan perkantoran hari
ini. Pembicaraan tentang perdagangan, pekerjaan, uang,
investasi, problem kerja, kenaikan gaji, promosi,
tunjangan dsb menguasai kepedulian banyak orang dalam
pembicaraan mereka.
Sedangkan di rumah –tak mengapa kita ungkapkan malapetaka dan perkara-perkara mungkar membuat
kening muslim berkerut dan membuat kalbu terhenyak.
Musik cabul, film porno, percampuran antara peria dan
wanita (yang bukan mahram) dan kemungkaran lain yang
memenuhi rumah-rumah kamu muslimin. Lingkungan
seperti ini akan membuat hati menjadi sakit dan menjadi
keras tentunya.
5. Larut dalam rutinitas dunia hingga hati/kalbunya
tersandera. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalambersabda:
ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí ÑÞã )
‫تعــس عبــد ا�ينــار وعبــد ا�رهــم‬
(٢٧٣٠
"Celakalah hamba dinar dan hamba dirham"
41
HR. al-Bukhari no.2730.
48
41
40F
Sabdanya pula -shalallahu alaihi wasalam-:
‫إنمــا ي�ــ� أحــد�م مــا �ن � ا�نيــا مثــل زاد الراكــب‬
æåæ Ýí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ ٧٨/٤ÑæÇå ÇáØÈÑÇäí Ýí ÇáßÈíÑ )
(٢٣٨٤
"Sesungguh cukuplah bagi kalian dari perkara dunia
seperti berbekalnya seorang yang berkendaraan." 42
41F
Maksudnya sekadarnya, sekadar cukup sampai ke tujuan.
Apa yang di sampaikan di atas adalah realita yang terjadi
sekarang ini, di mana kerakusan terhadap materi dan
ketamakan memiliki lebih dari berbagai sisi dunia,
menjadikan manusia mengendus-endus di belakang
perdagangan, produksi dan investasi-investasi. Benarlah
sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-
‫ إنا أنز�ا المال �قام الص�ة و�يتاء الز�ة‬:‫إن ا� عز وجل قال‬
� ‫ولو �ن �بن آدم واد �حب أن ي�ون إ�ـه ثـان ولـو �ن‬
‫واديان �حب أن ي�ون إ�هما ثالث و� يم� جوف ابن آدم‬
٢١٩/٥ÑæÇå ÃÍãÏ )
‫إ� ال�اب ثـم يتـوب ا� � مـن تـاب‬
(١٧٨١æåæ ÝÝí ÕÍíÍ ÇáÌÇãÚ
42
HR. at-Thabarani dalam al-Kabîr IV/78. Shahih al-Jâmi no.2384.
49
"Allah -azzawajalla- berfirman: 'Sesungguhnya kami
turunkan (keberadaan) harta untuk menegakkan shalat
dan membayar zakat. Seandainya anak keturunan Adam
memiliki satu danau harta niscaya dia ingin memilik dua,
jika dia memiliki dua danau niscaya ingin memiliki tiga
danau. Dan tidaklah anak Adam akan puas kecuali setelah
dipenuhi tenggorokannya oleh tanah, lalu Allah
mengampuni siapa saja yang bertaubat." 43
42F
6. Sibuk dengan harta, istri (wanita) dan anak.
Allah -azzawajalla- berfirman:
َ َ ُ ُ َ ٓ ّ �َ ْ ٓ ُ ۡ َ
ۡ ُ
 ‫ـوا َمَ ـا أ ۡمـ َ� ٰل� ۡم َوأ ۡو�ٰـ ُد� ۡم ف ِت َنـة‬
‫ وٱعلَم‬ : �‫قال تعا‬
(٢٨:‫)ﺍﻷﻧﻔﺎﻝ‬
"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu
hanyalah sebagai cobaan..." (QS.al-Anfâl:28)
Dan firman-Nya:
43
HR. Ahmad V/219. Shahih al-Jâmi no.1781.
50
ّ
ّ ‫ ُز ّ� َن‬ : �‫قال تعا‬
َ ّ ّ ‫اس‬
َ ‫لن َسـا ٓءِ َوٱ ۡ�َن‬
ِ َ‫ِلن‬
�‫ـ‬
ِ ‫ت مِـ َن ٱ‬
ِ ٰ �‫ُبُ ٱشَ َه‬
ِ
ِ
ۡ
ّ ۡ َ
َ ّ َ َِ َ َُۡ
َ ‫َوٱ ۡل َق‬
َ ۡ ‫ِضَـةِ َوٱ‬
ّ
ٰ
‫� ۡيـ ِل ٱل‬
‫ـب وٱل‬
‫ه‬
َ
‫ٱ‬
‫ِـن‬
‫م‬
‫ة‬
‫ـر‬
‫نط‬
‫ق‬
‫م‬
‫ل‬
‫ٱ‬
�
‫ط‬
�
ِ‫ُسَـوَ َمة‬
ِ
ِ
ِ
ۡ
ۡ
َ
َ َۡ ۡ َ
َ ‫َع‬
ُ ّ ‫� َي ٰوة ِ ٱ ُّ ۡ� َيـاۖ َوٱ‬
َ
ۡ
ُ‫ِنـدهُۥ ُح ۡسـن‬
َ ‫ث � ٰل َِك َم َ�ٰ ُع ٱ‬
َ
ٰ
�ِ ‫وٱ�ن� ِم وٱ�ر‬
ۡ
(١٤:‫ )ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ‬١ ‫اب‬
ٔ َ ‫ٱل‬
ِ ‫�َم‬
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan
kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak,
kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah
ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi
Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS.Ali
Imrân:14)
Makna dari ayat di atas, bahwa kecintaan kepada dunia, kepada wanita dan anak-anak yang terdepan-, jika lebih
didahulukan dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya,
dianggap buruk dan pelakunya tercela. Adapun jika
kecintaan itu sesuai implementasi syariat, yang
membantu dalam ketaatan kepada Allah, maka hal itu
terpuji. Nabi -shalallahu alaihi wasalam- bersabda:
51
ّ ‫حبب‬
‫إ� من ا�نيا النساء والطيب وجعل قرة عي� � الص�ة‬
(٣١٢٤ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬١٢٨/٣ ‫)ﺭﻭﺍﻩ ﺃﲪﺪ‬
"Dicintakan kepadaku dari dunia; wanita dan minyak
wangi dan dijadikan penyejuk pandanganku pada
shalat." 44
43F
Kebanyakan orang terbuai memuaskan istri sampai pada
perkara-perkara haram dan terbuai memuaskan anakanaknya hingga tersibukkan dari ketaatan kepada Allah.
Nabi -shalallahu alaihi wasalam- telah bersabda:
٢٤١/٢٤ ‫الو� �زنة �بنة �هلة مبخلة )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﻄﱪﺍﱐ ﰲ ﺍﻟﻜﺒﲑ‬
(١٩٩٠ ‫ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬
"Anak pembuat kesedihan, kepengecutan, kebodohan
juga kebakhilan." 45
4F
‫( ﳐﺒﻠﺔ‬pembuat kebakhilan) : jika seseorang ingin berinfak
di jalan Allah, setan mengingatkannya kepada anakanaknya, sehingga mengatakan, "Anak-anakku lebih
berhak. Akan aku tabung untuk mereka, sepeninggalku
44
45
HR. Ahmad III/128. Shahih al-jâmi' no.3124.
HR. at-Thabaroni dalam al-Kabir XXIV/241. Shahih al-Jâmi no.1990.
52
mereka akan membutuhkannya". Sehingga menjadi bakhil
untuk berinfak di jalan Allah.
‫( ﳎﺒﻨﺔ‬pembuat kepengecutan) : jika ia akan berjihad di
jalan Allah, setan datang dan berkata kepadanya, "Engkau
akan terbunuh dan anak-anakmu akan menjadi yatim!"
Sehingga dia pun urung dan tidak pergi jihad.
‫( ﳎﻬﻠﺔ‬pembuat kebodohan) : ia menjadi tersibukkan dari
menuntut ilmu dan hadir di majelis-majelis ilmu maupun
membaca kitab ilmu.
‫( ﳏﺰﻧﺔ‬pembuat kesedihan) : jika anak sakit ia menjadi
sedih. Jika anak meminta sesuatu yang dia tidak mampu,
dia menjadi sedih. Jika anak besar dan durhaka
kepadanya, menjadikannya sedih dan terus menerus
dalam kegalauan.
Hadits di atas bukan memaksudkan untuk tidak menikah
dan memiliki keturunan atau mendidik anak-anak. Tetapi
maksudnya adalah memperingatkan agar tidak
tersibukkan karena itu semua dalam perkara haram.
Mengenai fitnah harta, Rasulullah -shalallahu alaihi
wasalam- bersabda:
53
‫ ﻭﻫـﻮ‬٢٣٣٦ ‫إن ل� أمة فتنة وفتنة أم� المال )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ‬
(٢١٤٨ ‫ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬
"Setiap umat memiliki ujian, dan ujian umatku adalah
harta." 46
45F
Ambisi terhadap harta lebih sangat merusak agama dari
pada serigala yang menguasai kawanan domba. Inilah
makna sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:
‫ما ذئبان جائعان أرس� � غنم بأفسد لها من حـرص المـرء‬
‫ ﻭﻫـﻮ ﰲ‬٢٣٧٦ ‫� المال وال�ف �ينـه )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺭﻗـﻢ‬
(٥٦٢٠ ‫ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬
"Tidaklah dua ekor serigala lapar masuk ke kawanan
domba lebih merusak dari pada ambisi seseorang kepada
harta dan tahta terhadap agamanya." 47
46F
Karenanya
Nabi
-shalallahu
alaihi
wasalammenganjurkan mengambil sekadar cukup tanpa
berlebihan sehingga tidak menyibukkan dari berzikir
kepada Allah. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalambersabda:
46
47
HR. at-Turmudzi no.2336. Shahih al-Jâmi no.2148.
HR. at-Turmudzi no.2376. Shahih al-Jâmi no.5620.
54
‫إنما ي�فيك من �ع المال خادم ومر�ب � سبيل ا� )ﺭﻭﺍﻩ‬
(٢٣٨٦ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬٢٩٠/٥ ‫ﺃﲪﺪ‬
"Sesungguhnya cukup bagimu mengumpulkan harta
sebagai pelayan dan kendaraan di jalan Allah." 48
47F
Nabi -shalallahu alaihi wasalam- telah mengancam
mereka yang menumpuk harta, kecuali bagi yang suka
bersedekah. Sabdanya,
ْ َ َ
ّ َ ْ ُْ ٌْ َ
َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ
‫�ن ِ�َ َم ْن قال بِالمَ ا ِل هكذا َوهكذا َوهكذا َوهكذا‬
�
ِ ِ ‫و�ل ل ِلمك‬
(٧١٣٧ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬٤١٢٩ ‫)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ ﺭﻗﻢ‬
"Celakalah mereka yang menumpuk harta, kecuali bagi
yang berkata dengan hartanya, demikian, demikian,
demikian dan demikian ."
Memberikannya ke empat arah; kanan, kiri, depan dan
belakangnya 49.
48F
Maksudnya hartanya disedekahkan dan digunakan untuk
amalan-amalan baik.
7. Panjang Angan-angan.
48
49
HR. Ahmad V/290 dalam Shahih al-Jâmi no.2386.
HR. Ibnu Mâjah no.4129 dalam Shahih al-Jâmi no.7137.
55
Allah -subhânahu wata'âla- berfirman:
ْ ُ ُ َۡ ۡ ُ ۡ
َۡ َ َ ََُۡ ُ َُۡ ْ ُّ
‫ ذَرهم يأ�لوا َ�َتَمَتَعوا و�ل ِه ِهم ٱ�مل ۖ فسـوف‬ : �‫قال تعا‬
َ ُ ۡ َ�
(٣:‫ )ﺍﳊﺠﺮ‬ ‫لَمون‬
‫ع‬
“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan, bersenangsenang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), kelak
mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka).”
(QS.al-Hijr:3)
Ali -radiallahu'anhu- berkata,
“Sesungguhnya dari hal yang paling aku takutkan atas
kalian adalah memperturutkan hawa nafsu dan
panjang angan-angan. Memperturutkan hawa nafsu
menyimpangkan dari kebenaran. Sedangkan panjang
angan-angan menjadikan lupa pada akhirat.” 50
49F
Dalam asar lain:
“Ada empat penderitaan: pandangan yang kaku, hati
yang keras, panjang angan-angan, tamak dengan
dunia.”
50
Fathul Bâri XI/236.
56
Panjang angan-angan membuat malas untuk berbuat
ketaatan, jadi penunda, gila dunia, lupa akhirat serta hati
yang mengeras. Karena kelembutan hati dan
kebersihannya terjadi dengan mengingat kematian, alam
kubur, pahala, dosa dan keadaan hari kiamat,
sebagaimana firman Allah,
ۡ ‫ـد َ� َق َسـ‬
ُ ‫ـيه ُم ٱ ۡ�َ َمـ‬
ُ ‫ـت قُلُـ‬
ۡ ََ َ ََ
ۖ�‫ـو� ُه ۡم‬
ِ ‫ �طــال علـ‬ : �‫قــال تعــا‬
(١٦:‫)ﺍﳊﺪﻳﺪ‬
“Kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka
lalu hati mereka menjadi keras. “ (QS.al-Hadîd:16)
Sebuah ungkapan:
“Siapa yang pendek angan-angannya akan sedikit
kegundahannya dan bercahaya hatinya, karena ketika
teringat kematian dia akan bersungguh-sungguh
melakukan ketaatan...” 51
50F
8. Yang juga menjadi sebab lemah iman dan kerasnya
hati; berlebihan dalam makan, tidur, bergadang, bicara
dan bercampur dengan manusia.
51
Id. Hal.237.
57
Banyak makan memampatkan pikiran, memberatkan
badan dalam berbuat ketaatan dan menyuplai tempat
jalan setan pada diri manusia, sebagaimana sebuah
ungkapan:
ً
ً
ً
ً
ً
‫من أ� كث�ا �ب كث�ا فنام كث�ا وخ� أجرا كب�ا‬
"Siapa yang banyak makannya akan banyak minum dan
tidurnya sehingga rugi banyak pahala."
Berlebih-lebihan dalam bicara mengeraskan hati. Banyak
bercampur dengan manusia menghalangi seseorang dari
mengintrospeksi diri dan merenungi urusan-urusannya.
Banyak tertawa menghilangkan rasa malu dalam hati dan
mematikannya. Rasulullah -shalallahu alaihi wasalamdalam hadits sahih:
‫� ت��وا الضحك فإن ك�ة الضحك تميت القلب )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﺑﻦ‬
(‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬٤١٩٣ ‫ﻣﺎﺟﻪ‬
"Jangan perbanyak tertawa, sesungguhnya banyak
tertawa mematikan hati." 52
51F
Demikian pula waktu yang tidak diisi dengan ketaatan
kepada Allah menghasilkan hati yang gersang, tidak
52
HR. Ibnu Mâjah no.4193. Terdapat dalam Shahih al-Jâmi.
58
bermanfaat baginya peringatan al-Quran dan nasihat
keimanan.
Penyebab lemah iman banyak, tidak dapat dibatasi.
Akan tetapi mungkin mengambil petunjuk dari apa
yang telah disebutkan apa-apa saja yang belum
disebutkan. Orang yang berakal dapat menemukannya
sendiri. Kita meminta kepada Allah agar membersihkan
hati kita dan melindunginya dari keburukan jiwa-jiwa
kita.
Ketiga: Terapi lemah iman.
Al-Hakim meriwayatkan dalam kitab Mustadroknya juga
at-Thabarani dalam Mu'jamnya bahwa Nabi -shalallahu
alaihi wasalam- bersabda:
‫إن ا�يمان �خلق � جوف أحد�م كما �لق ا�وب فاسألوا‬
ÑæÇå ÇáÍÇßã Ýí )
‫ا� أن �ـــدد ا�يمـــان � قلـــو��م‬
æÞÇá ١٥٨٥æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ ٤/١ÇáãÓÊÏÑß
ÑæÇå ÇáØÈÑÇäí Ýí ٥٢/١ÇáåíËãí Ýí ãÌãÚ ÇáÒæÇÆÏ
(ÇáßÈíÑ æÅÓäÇÏå ÍÓä
59
"Sungguh keimanan itu dibuat di dalam diri tiap kalian
seperti dibuatnya pakaian. Maka mintalah kepada Allah
agar memperbaharui keimanan kalian." 53
52F
Maksudnya bahwa iman ditambal sulam di dalam kalbu
seperti pakaian yang ditambal sulam jika sudah menjadi
usang. Kalbu seorang mukmin terkadang terselubungi
debu dari debu kemaksiatan sehingga menjadi gelap.
Gambaran seperti ini digambarkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasalam- dengan sabdanya dalam hadits
yang sahih:
‫ما من القلوب قلب إ� و� سحابة كسحابة القمر بينا القمـر‬
ÑæÇå )
‫م�ء إذ علته سحابة فاظلم إذ �لت عنه فأضـاء‬
æåæ Ýí ÇáÓáÓáÉ ÇáÕÍíÍÉ ١٩٦/٢ÃÈæ äÚíã Ýí ÇáÍáíÉ
(٢٢٦٨
"Tidak ada kalbu melainkan memiliki selubung seperti
selubung bulan. Dia bercahaya, tetapi ketika terselubungi
menjadi gelap, jika selubungnya tersingkap ia kembali
bersinar." 54
53F
53
HR. al-Hâkim dalam al-Mustadrak I/4. Silsilah as-Shahihah no.1585. AlHaitsami berkata di dalam Majma' az-Zawaid I/52: 'Diriwayatkan oleh atThabarani dalam kitab al-Kabîr dan sanadnya Hasan'.
54
HR. Abu Na'îm dalam al-Hilyah II/196. Silsilah Shahihah no.2268.
60
Bulan terkadang terselubungi awan sehingga menutupi
bias cahayanya. Beberapa waktu kemudian awan itu
berlalu dan bulan kembali memancarkan bias cahayanya
dan menerangi langit. Demikian pula dengan kalbu orang
yang beriman, terkadang dia terselubungi oleh awan
gelap dosa akibat maksiat, sehingga cahayanya tertutup,
sehingga manusia itu dalam kegelapan dan kegalauan.
Jika dia berupaya untuk menambah imannya dan
meminta pertolongan Allah -azzawajalla-, gelap dosa
yang menyelubungi itu tersingkap, sehingga cahayanya
kembali seperti semula.
Di antara pilar penting memahami lemah iman dan
memetakan terapinya adalah pengetahuan bahwa iman
bertambah dan berkurang. Ini merupakan keyakinan
Ahlussunnah Wal Jama'ah. Mereka mengatakan bahwa
iman merupakan ucapan lisan, keyakinan hati dan
amalan tubuh, bertambah dengan ketaatan dan
berkurang dengan kemaksiatan. Hal ini ditunjukkan oleh
dalil-dalil al-Quran dan Sunah. Di antaranya firman Allah ta'âla-:
ُ َ َۡ
َ ‫ي� ٰ ٗنا َّ َع إ‬
َ ‫اد ٓوا ْ إ‬
(٤:ÇáÝÊÍ)  ۗ‫ي� ٰن ِ ِه ۡم‬
‫ ل ِ�د‬ : �‫قال تعا‬
ِ
ِ
"...supaya keimanan mereka bertambah di samping
keimanan mereka (yang telah ada). (QS. Al-Fath:4)
61
Dan firman-Nya:
َ َ ۡ ُ ّ
َ ‫ادتۡـــ ُه َ�ٰـــذه ِۦٓ إ‬
)  ۚ ‫ي� ٰ ٗنـــا‬
‫ َيُ�ـــم ز‬ : �‫قـــال تعـــا‬
ِ ِ
(١٢٤:ÇáÊæÈÉ
"... 'Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya
dengan (turannya) surat ini?'..." (QS.at-Taubah:124)
Sabda Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-:
ً
‫من رأى من�م منكرا فليغ�ه بيده فإن لم �سـتطع فبلسـانه‬
ÇáÈÎÇÑí ÝÊÍ )
‫فإن لم �ستطع فبقلبه وذلك أضعف ا�يمـان‬
(٥١/١
"Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran
hendaklah merubah hal itu dengan tangannya, jika tidak
sanggup maka dengan lisannya, jika tidak sanggup maka
dengan hatinya, dan itu selemah-lemah iman." 55
54F
Pengaruh ketaatan dan maksiat dalam keimanan
berbanding
lurus
dengan
penambahan
dan
pengurangannya. Hal ini bisa dimaklumi dan terjadi. Jika
seseorang pergi ke pasar menonton penampilan para
perempuan berbusana minim, mendengar gurauan dan
kekonyolan obrolan orang yang ada di pasar, kemudian
55
HR. al-Bukhari, Fath I/51.
62
beralih pergi ke perkuburan, merenungi dirinya, maka dia
akan mendapatkan perbedaan yang jelas antara kedua
keadaan di atas, kalbunya begitu cepat berubah.
Terkait dengan tema ini, para Salafussoleh berkata,
"Bentuk
kefakihan
seorang
hamba
adalah
berkomitmen dengan keimanannya dari apa-apa yang
menguranginya. Dan di antara bentuk kefakihan
seorang hamba adalah mengetahui apakah imannya
bertambah atau berkurang. Dan di antara kefakihan
seseorang itu mengetahui bilamana gangguan setan
itu datang.” 56
5F
Yang perlu diketahui bahwa manakala imannya berkurang
hingga membuatnya meninggalkan kewajiban atau
sampai melakukan perbuatan haram atau urung
melakukan perbuatan “mustahabah” (baik), misalnya,
maka dia musti mengupayakan semampunya agar dapat
kembali kepada semangat dan kekuatannya semula dalam
beribadah kepada Allah. Inilah manfaat yang dapat
diambil dari sabda Nabi -shalallahu alaihi wasalam-:
�‫ يعـ‬- ‫ ولـ� �ة فـ�ة‬- ‫ يع� �شـاط وقـوة‬- ‫ل� عمل �ة‬
‫ فمن �نت ف�تـه إ� سـن� فقـد أفلـح ومـن‬- ‫ضعف وفتور‬
56
Syarah Nuniah Ibnul Qoyyim, oleh Ibn ‘Isa II/140.
63
æåæ Ýí ٢١٠/٢ÑæÇå ÃÍãÏ )
‫�نت إ� غ� ذلك فقـد هلـك‬
(٥٥ÕÍíÍ ÇáÊÑÛíÈ ÑÞã
"Pada setiap amalan ada massa semangat, dan pada tiap
massa semangat ada masa lemah. Siapa yang massa
lemahnya dalam melakukan sunahku, maka dia
beruntung dan siapa yang lemahnya kepada hal lain
sungguh dia binasa." 57
56F
Sebelum masuk pada pembicaraan mengenai
pengobatan, ada baiknya menyebutkan beberapa
catatan:
Kebanyakan mereka yang merasa hatinya mengeras
mencari pengobatan eksternal, ingin bergantung dengan
orang lain, padahal -jika mau– dia dapat mengobati
dirinya sendiri, dan begitulah pada asalnya. Karena iman
adalah hubungan antara hamba dengan Tuhan-Nya.
Berikut ini akan disebutkan beberapa wasilah syariat yang
mungkin bagi seorang muslim mengobati lemah imannya
dan menghilangkan kekerasan hatinya setelah berserah
diri kepada Allah -azzawajalla- dan bertekat untuk
berupaya:
57
HR. Ahmad II/210. Shahih at-Targhib no.55.
64
1. Menadaburi al-Quran al-Adhzim yang diturunkan Allah
-azzawajalla- yang merupakan obat segala sesuatu dan
cahaya, yang dengannya Allah menunjuki siapa saja yang
dikehendakinya. Tidak diragukan padanya terdapat terapi
yang agung dan obat yang efektif. Allah -azzawajallaberfirman:
َ ۡ َ‫ وَر‬ٞ‫� ُل م َِن ۡٱل ُق ۡر َءان َما ُه َو ش َِفا ٓء‬
َ ‫ ّل ِۡل ُم ۡؤ ِمن‬ٞ‫�ة‬
َُّ
�ِ
ِ
ِ �َ‫ و‬ : �‫قال تعا‬
(٨٢:‫ )ﺍﻹﺳﺮﺍﺀ‬
"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi
penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman..."
(QS.al-Isrâ: 82)
Adapun cara terapinya adalah dengan tafakur dan
“tadabur” (merenunginya).
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- senantiasa
menadaburi kitab Allah dan mengulang-ulangi bacaannya
ketika shalat di malam hari. Sampai-sampai pada suatu
malam hanya mengulang-ulang bacaan satu ayat dalam
shalatnya hingga subuh. Beliau membaca firman Allah ta'âla-:
65
َ ۡ َ�
ّ ُ
ّ
َ ّ
ُ
‫ إِن � َعذ ِۡ� ُه ۡم َإِ�َ ُه ۡم ع َِباد َك ۖ �ن غ ِف ۡر ل ُه ۡم َإِنَـك‬ : �‫قال تعا‬
َ َ‫أ‬
ُ ‫ٱ�ك‬
ُ ‫نت ۡٱل َعز‬
َ ۡ ‫�ز‬
(١١٨:‫ )ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬ ١ ‫ِيم‬
ِ
"Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya
mereka adalah hamba-hamba Mu, dan jika Engkau
mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau-lah
yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS.alMaidah:118) 58
57F
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- menadaburi alQuran hingga sampai pada tahap yang agung. Ibnu Hibbân
meriwayatkan dalam sahihnya dengan sanad yang baik
dari Itharah, katanya:
"Aku dan Ubaidullah Ibn Amr mendatangi Aisyah radiallahu'anha-. Ubaidullah berkata, 'Ceritakan kepada
kami sesuatu yang menakjubkan yang engkau lihat dari
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-!'
(Aisyah menangis) seraya berkata,
'Pada suatu malam Rasulullah shalat malam dan
berkata, 'Wahai Aisyah, biarkan aku beribadah
kepada Tuhan-ku.'
58
HR. Ahmad 4/149. Lihat juga shifat ash-Shalat oleh al-Albani hal.102.
66
Aku jawab, 'Demi Allah, aku suka berada dekat
denganmu
dan
suka
apa
pun
yang
menyenangkanmu.’
Nabi pun pergi bersuci kemudian melaksanakan
shalat. Rasulullah terus saja menangis dalam
shalatnya hingga pangkuannya basah dan terus saja
menangis hingga lantai pun basah. Ketika Bilal
datang untuk mengumandangkan azan, dia melihat
Rasulullah menangis dan bertanya,
'Wahai Rasulullah, engkau menangis padahal
Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang
terdahulu dan yang akan datang?!'
Rasulullah menjawab,
'Tidakkah semestinya aku menjadi hamba yang
bersyukur?!' Telah turun kepadaku tadi malam
ayat-ayat yang celakalah bagi yang membacanya
tetapi tidak mentafakuri isinya:
َ
ّ
َ َ ّ ‫ِنَ � َخ ۡلق‬
ۡ ّ ‫ت َوٱ ۡ�� ِض َوٱ ۡخت ِ َ�ٰـ ِف‬
‫�َـ ِل‬
ِ ٰ �ٰ �‫لسَـ‬
ِ  : �‫قال تعا‬
ِ
َ ُُ ۡ َ َ ّ
َ ‫َوٱَّ َهار � َ� ٰت ّ ِ�ُ ْو� ۡٱ�َ ۡل‬
َ ّ ‫ون‬
ٰ
‫�َ ق َِ�ٰ ٗمـا‬
‫ ٱَِيـن يـذكر‬١ ‫ب‬
‫ـ‬
�
ٖ
ِ
ِ
ِ
67
َۡ
َ ّ
ٗ َُُ
َ َ ّ ‫ون � َخ ۡلق‬
ۡ ُ ُ ٰ ََ ‫ودا َو‬
 ‫ت َوٱ�� ِض‬
‫و�ع‬
ِ ٰ �ٰ �َ‫لس‬
ِ ‫� جنو� ِ ِهم َ�َتَفَكَ ُر‬
ِ
(١٩٠:‫) ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ‬
"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam
keadaan berbaring dan mereka memikirkan
tentang penciptaan langit dan bumi ...." (QS. Ali
Imraân:190)" 59
58F
Hal ini menunjukkan akan wajibnya menadaburi ayatayat-Nya.
Pada al-Quran terkandung: “tauhid” (pengesaan), janji,
harapan, hukum-hukum, berita dan kisah-kisah, adab,
akhlak maupun berbagai macam pengaruh pada jiwa.
Terdapat juga surat-surat tertentu yang membuat hati
bergetar melebihi surat-surat yang lain, sebagaimana
yang ditunjukkan oleh sabda Nabi:
59
Silsilah as-Shahihah I/106.
68
‫شيبت� هود وأخواتهـا قبـل المشـيب )ﺍﻟﺴﻠﺴـﻠﺔ ﺍﻟﺼـﺤﻴﺤﺔ‬
(٦٧٩/٢
"Kisah Hud dan kaumnya telah membuatku beruban
sebelum waktunya." 60
59F
Dalam riwayat lain (disebutkan beberapa ayat):
‫هود والواقعة والمرس�ت وعم يتساءلون و�ذا الشمس كـورت‬
(٩٥٥ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺍﻟﺴﻠﺴﻠﺔ ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ ﺑﺮﻗﻢ‬٣٢٩٧ ‫)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ‬
"(yaitu) Surat Hud, al-Waqiah, al-Mursalât, Amma
yatasa'alun dan Idzas Syamsu Kuwwirot." 61
60F
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam- menjadi beruban
karena apa yang terkandung dari hakikat iman dan
pembebanan yang besar yang memenuhi dan
memberatkan batin Rasulullah -shalallahu alaihi
wasalam- sehingga terlihat pengaruhnya pada rambut
dan jasadnya.
60
61
Silsilah as-Shahihah II/679.
HR. at-Turmudzi no.3298. Silsilah as-Shahihah no.955.
69
َ
َ ۡ ُ ٓ َ‫َ ۡ َ ۡ َم‬
َ ‫ت َو َمــن تَـ‬
 ‫ـاب َم َعــك‬
‫ فٱس ـت ِقم ك ــا أ ِمــر‬ : �‫قــال تعــا‬
(١١٢:‫)ﺍﳍﻮﺩ‬
"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar,
sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang
yang telah bertaubat bersamamu .... (QS.al-Hûd:112)
Para sahabat Rasulullah -shalallahu alaihi wasalammembaca al-Quran, menadaburinya dan mendapati
pengaruhnya. Abu Bakar -radiallahu'anhu- adalah seorang
lelaki yang suka menyesali diri lagi lembut hatinya. Jika
mengimami shalat dan membaca Kalamullah, tidak kuasa
menahan diri dari tangisnya. Umar pun pernah sakit
setelah membaca firman Allah -ta'âla- :
َ َ ّ َ َ َ ّ
(٧:‫ ) ﺍﻟﻄﻮﺭ‬ ٧ ‫ِع‬ٞ ‫رَ�ِك ل َ� ٰق‬
‫ ِنَ عذاب‬ : �‫قال تعا‬
"Sesungguhnya azab Tuhan-mu pasti terjadi." (QS. AtThûr:7) 62
61F
Isak tangisnya terdengar dari saf di belakangnya ketika
beliau membaca firman Allah yang mengisahkan tentang
Nabi Ya'kub:
62
Asar dan sanad-sanadnya terdapat dalam Tafsir Ibnu Katsir VII/406.
70
َ ّ َ ۡ ُ ّ َ ْ ُ ۡ َ ٓ َ‫َ َ ّ م‬
َ ‫ـم م‬
ُ َ‫�َِ َوأ ۡعل‬
ٓ ‫ قال ِ�َ ا أشكوا �� وَحز‬ : �‫قال تعا‬
‫ِـن‬
�ِ‫� إ‬
ِ
ِ
َ ُ ۡ َ� َ َ ّ
(٨٦:‫ ) ﻳﻮﺳﻒ‬ ٨ ‫لَمون‬
‫�َِ ما � ع‬
"Ya'qub menjawab: ‘Sesungguhnya hanyalah kepada
Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan
aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada
mengetahuinya’." (QS. Yusuf:86) 63.
62F
Utsman -radiallahu'anhu- berkata:
"Jika batin kita bersih, hati tidak akan berhenti berpuaspuas dengan Kalamulah."
Utsman -radiallahu'anhu- syahid terbunuh, terzalimi dan
darahnya membasahi mushaf al-Quran. Berita tentang hal
ini dari para sahabat Nabi banyak sekali.
Ayub berkata, "Aku mendengar Sa'id Ibn Jubair
mengulang-ulangi bacaan ayat berikut ini dalam shalatnya
lebih dari 20 kali:
ْ ُّ
َ
ُ
ّ َ
 َِۖ� �ِ‫ َوٱَقــوا يَ ۡو ٗمــا ت ۡر َج ُعــون �ِيــهِ إ‬ : �‫قــال تعــا‬
(٢٨١:‫)ﺍﻟﺒﻘﺮﺓ‬
63
Manâqib Umar oleh Ibnu al-Jauzi hal.167
71
"Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari
yang waktu itu kamu semua dikembalikan kepada
Allah...." (QS. Al-Baqarah:281) 64
63F
Ia merupakan ayat al-Quran yang terakhir turun, yang
kelanjutannya:
ۡ َ� ّ ُ ٰ ّ ّ
َ ُ ُۡ َ ۡ َُ ۡ َ َ َ ّ
 ‫لَمـون‬
‫ُوَ�َ ُ ف ٖس َا كسبت وهم � �ظ‬
َ‫ ُم‬ : �‫قال تعا‬
"...kemudian masing-masing diri diberi balasan yang
sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang
mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)."
Ibrahim Ibn Basyâr berkata:
"Ayat yang menghantar wafatnya Ali Ibn al-Fudhail:
ََ ْ ُ ۡ ٰ ۡ َ َ
َ‫َ َ ُ ْ َ َ ت‬
ّ
ُ‫َرَىٓ إِذ ُوق ِفوا � �َّارِ �قـالوا � ٰل ۡي َنـا ُـرَد‬
‫ ولو‬ : �‫قال تعا‬
ّ َ ُ ََ
َ ُ َ
ۡ ُۡ َ
َ ِ ‫ـؤ ِمن‬
ّ ‫ب َا� ٰـت‬
َ ‫ـذ‬
 ٢�
‫رَ� ِ َنــا َون�ــون ِمــن ٱلمـ‬
ٔ ِ ‫ِب‬
َ�
‫و� ن � ـ‬
ِ
(٢٧:‫)ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ‬
64
Siar a'lam an-Nubala IV/324.
72
"Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka
dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, ‘Kiranya
kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan
ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang
yang beriman." (QS. Al-An'am:27)
Pada saat pembacaan ayat inilah Ali Ibn al-Fudhail
wafat, dan aku termasuk orang yang menyalatkan
jenazahnya -rahimahullah-. 65
64F
Hingga pada saat sujud tilawah 66 pun mereka
terpengaruh. Di antaranya kisah seorang lelaki yang
membaca firman Allah -azzawajalla-:
65F
ُ ُ ۡ ُ ُ َ َ َ ُ ۡ َ� َ ۡ َ ۡ َ ّ
ٗ
 ١ ۩�‫ان بكون و�زِ�دهم خشو‬
ِ ‫ َ�َخِرُون ل ِ�ذق‬ :‫ﻗﺎﻝ ﺗﻌﺎﱃ‬
(١٠٩:‫)ﺍﻹﺳﺮﺍﺀ‬
"Dan mereka menyungkurkan muka mereka sambil
menangis dan mereka bertambah khusyuk'." (QS.alIsra':109)
Dia pun melakukan sujud tilawah. Kemudian dia berkata
mencela dirinya: "Ini adalah sujud, tetapi di mana
tangisannya?"
65
Siar a'lam an-Nubala IV/446.
Sujud yang dilakukan ketika membaca ayat-ayat tertentu yang
dinamakan dengan ayat sajadah.
66
73
Di antara tadabur yang efektif adalah memperhatikan
perumpamaan-perumpamaan al-Quran, karena Allah subhanahu wata'âla- memberi permisalan dalam alQuran untuk menggugah kita berpikir dan merenung.
Firman-Nya:
ّ
َ ّ
ّ ‫�َ ۡٱ�َ ۡم َث َال‬
ُ ّ ‫ َو َ� ۡ� ُب‬ �‫قال تعا‬
ۡ ‫َعَلَ ُه‬
ِ َ‫ِلن‬
 ‫ـم َتَـذَكَ ُرون‬
‫اس‬
ِ
(٢٥:‫)ﺇﺑﺮﺍﻫﻴﻢ‬
"...Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu
untuk manusia supaya mereka selalu ingat." (QS.
Ibrahim:25)
Firman-Nya yang lain:
ّ
َ ّ
َ ۡ َ
ّ ‫ك ۡٱ�َ ۡم َ�ٰ ُل نَ ۡ� ُ� َها‬
ِ َ‫ِلن‬
 ‫اس َعَلَ ُه ۡم َتَفَكَ ُرون‬
‫ وت ِل‬ �‫قال تعا‬
ِ
(٢١:‫)ﺍﳊﺸﺮ‬
"...dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk
manusia supaya mereka berpikir. (QS.al-Hasyr:21)
Salah seorang salaf, suatu kali mencoba memikirkan
permisalan dari permisalan yang ada dalam al-Quran,
namun dia tidak dapat memahaminya. Dia pun kemudian
menangis. Ketika ditanya: "Apa yang membuatmu
menangis?" Dia menjawab,
74
"Allah -subhanahu wata'âla- berfirman:
ّ ٓ َ ُ ۡ َ� َ َ
ۡ َ َُٰ َۡ ۡ َ ۡ َ
ّ
ُ
َ
َِ ‫ـاس ومـا عقِلهـا إ‬
� ِ َ‫��ها ِلن‬
ِ ‫ وت ِلك ٱ�م�ل ن‬ : �‫قال تعا‬
(٤٣:ÇáÚäßÈæÊ )
َ
َۡ
 ٤ ‫ٱل� ٰل ُِمون‬
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat
untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali
orang-orang yang berilmu." (QS.al-Ankabût: 43)
Aku tidak dapat memahaminya, berarti aku bukan
termasuk orang berilmu. Aku menangisi ilmu yang
luput dariku.”
Allah telah memberikan permisalan kepada kita dalam alQuran dalam jumlah yang banyak, di antaranya:
permisalan orang yang menyalakan api, permisalan
penggembala yang memanggil binatang yang tidak
mendengar, permisalan biji yang menumbuhkan tujuh
tangkai, permisalan anjing yang menjulurkan lidah,
permisalan keledai yang membawa tumpukan kitab,
permisalan lalat, laba-laba, permisalan orang buta dan
tuli, permisalan orang yang dapat melihat dan
mendengar, perumpamaan tumpukan pasir yang ditiup
angin kencang, permisalan pohon yang baik dan pohon
yang buruk, permisalan air yang turun dari langit dan
75
lentera yang di dalamnya terdapat cahaya api, permisalan
seorang budak yang tak dapat berbuat apa-apa dengan
seorang yang memiliki banyak sekutu, serta permisalanpermisalan lain. Maksudnya adalah memperhatikan ayatayat yang mengandung permisalan-permisalan itu dan
memperlakukannya dengan pelakuan khusus.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- merangkum apa-apa yang
semestinya dilakukan oleh seorang muslim untuk
menterapi kekerasan hatinya dengan al-Quran, dengan
mengatakan:
"Penuntasnya pada dua perkara: pertama: engkau
pindahkan hatimu dari wilayah dunia lalu
menempatkannya di wilayah akhirat, kemudian
pertemukan hati itu seluruhnya dengan makna alQuran dan kemuliaannya, tadaburi dan pahami apa
maksudnya, untuk apa diturunkan, dan ambil yang
kau butuhkan dari setiap ayat-ayatnya. Lekatkan ayatayat itu pada penyakit hatimu, jika ayat-ayat itu
menyentuh hatimu yang sakit, sembuhlah hati itu."
2. Merasakan keagungan Allah -azzawajalla-.
Mengetahui nama-nama dan sifat-sifat-Nya serta
merenungi dan memahami maknanya.
76
Menetapi perasaan itu dalam hati dan mengalirkannya ke
seluruh tubuh agar direalisasikan dalam praktek amal
sesuai dengan perintah hati, karena hati adalah raja dan
tuannya, sedangkan anggota tubuh sebagai tentara dan
pengikutnya. Jika hati itu baik, baik pulalah amalannya,
tapi jika buruk, buruk pulalah amalnya.
Nas-nas al-Quran dan sunah mengenai keagungan Allah
banyak sekali. Jika seorang muslim merenungkannya, hati
akan bergetar dan jiwanya akan tunduk kepada Zat yang
Maha Tinggi lagi Maha Agung. Turut pula tunduk anggota
tubuhnya kepada Zat yang Maha Mendengar dan Maha
Mengetahui. Kekhusyukannya kepada Tuhan seluruh
makhluk bertambah. Itu bisa dilihat dari nama-nama-Nya
yang banyak dan sifat-sifat-Nya yang suci. Dia Maha
Agung, Maha Memelihara, Maha Kuasa, Pemilik segala
keagungan, Maha Kuat lagi Maha Mengalahkan, Maha
besar lagi Maha tinggi. Yang Hidup dan tidak akan mati,
sementara jin dan manusia mengalami kematian. Dialah
yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya dan guruh
itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) Para
Malaikat karena takut kepada-Nya, Allah Maha Perkasa
lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab, terus
menerus mengurus makhluk-Nya lagi tidak pernah tidur.
Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, Dia
mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang
77
disembunyikan oleh hati. Keluasan ilmunya dideskripsikan
dalam firman-Nya:
َ
ُ ّ ٓ ُ ۡ َ� َ ۡ َ ۡ ُ َ َ ُ َ َ
‫لَم َها ِ�َ ه َوۚ َو َ� ۡعل ُم َما‬
‫ب� ع‬
ِ ‫ وعِندهۥ مفات ِح ٱلغي‬ : �‫قال تعا‬
َ
ّ َ ‫� ۡٱل‬
ُ ‫� َوٱ ۡ�َ ۡحر َو َما � َ ۡس ُق ُط مِـن وَرَقَـ ٍة ِّ�َ �َ ۡع‬
�ِ ٖ‫لَم َهـا َو� َ ّبَـة‬
ِ
�ِ
ِ
ّ ٰ�َِ ‫ُظلُ َ� ٰت ۡٱ�َ� ِض َو َ� رَ ۡطب َو َ� يَا�س ِّ�َ � ك‬
٥�
ِ
ِ
ٍِ
ٖ ِ ‫ب ُب‬
ٖ
ٖ
(٥٩: ‫) ﺍﻷﻧﻌﺎﻡ‬
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib;
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan
Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan
tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia
mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun
dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah
atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Lauh Mahfudz)" (QS. al-An’âm:59)
Mengenai keagungan-Nya, Allah sendiri mengabarkan:
78
ۡ َ ّ ‫ََ َ ُ ْ َّ ـ‬
ٗ �َ ‫ـدره ِۦ َوٱ ۡ�َ� ُض‬
‫ِيعـا‬
ِ ‫ ومــا قــدَروا �َ َـقَ قـ‬ : �‫قــال تعــا‬
َ ‫ـب‬
ۡ ‫ت �يَمين ِـهِۦ ُس‬
ۢ ُ ّ ۡ َ ُ َ َ ّ َ َ‫َ ۡ َ ُ ُ َ ۡ َ ۡ َ م‬
‫�ٰ َن ُهۥ‬
ۚ ِ ِ ‫�بضتهۥ يوم ٱلقِ�ٰ ةِ وٱسَـ� ٰ� ٰت مطِ�َٰـ‬
(٦٧:‫) ﺍﻟﺰﻣﺮ‬
َ ُ ۡ ُ ّ َٰ َٰ َ َ
 ٦ ‫��ون‬
ِ � ‫وت�� َمَا‬
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan
pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya
dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit
digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Tuhan
dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka
persekutukan.” (QS.az-Zumar:67)
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
“Allah menggenggam bumi pada hari kiamat dan langit
digulung dengan tangan kanan-Nya, kemudian berkata,
“Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia?!” 67
6F
Hati berdebar-debar dan gemetar ketika merenungi kisah
Nabi Musa –alaihissalam-, ketika berkata:
َ َ ُ َ ٓ
ّ َ‫ر‬
 ۚ‫� أنظ ۡر إ ِ ۡ�ك‬
ِ  : �‫قال تعا‬
ِ ِ‫ب أَر‬
67
HR. al-Bukhari no.6947.
79
Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau)
kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau"
Allah menjawab:
ۡ َ ۡ ُ
َ
َ َ َ َ
ۡ ‫ٱ� َبل فَإن‬
ّ ‫ٱس‬
َ‫َقَر‬
ِ ٰ �‫ قال لن ت َرٮ ٰ ِ� َو‬ : �‫قال تعا‬
ِ ِ ِ َ �ِ‫� ِن ٱنظر إ‬
َ َ َ َ َ
ّٗ َ ُ َ َ َ َ َ ۡ ُ ّ ٰ ّ ّ
ّ ‫�ا‬
َ‫َخَر‬
‫َم�ن ُهۥ ف َس ۡوف ت َرٮ ٰ ِ� � َلَمَا ََ�َ َ�ُهۥ ل ِلجب ِل جعلهۥ د‬
ُ ۠ ََ َ َ ُ ُۡ َ ََٰ ۡ ُ َ َ َ ََ ٓ ّ
ٗ
ٰ َ ‫ُم‬
‫ت إ ِ ۡ�ـك َو�نـا َّوَل‬
‫و� َصعِقا ۚ َلَمَا أفاق قـال سـب�نك �بـ‬
َ ‫ٱل ۡ ُم ۡؤ ِمن‬
(١٤٣:‫ )ﺍﻷﻋﺮﺍﻑ‬ ١ �ِ
Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup
melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, jika ia tetap di
tempatnya (seperti sediakala) niscaya kamu dapat
melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada
gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan
Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar kembali, dia
berkata: "Maha suci Engkau, aku bertaubat kepada
Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".
(QS.al-A’raf:143)
Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menafsirkan ayat
ini yang dibacanya sendiri beliau mengisyaratkan dengan
tangannya demikian (beliau meletakkan jempol pada
80
buku atas jari kelingking, kemudian -shalallahu alaihi
wasallam- berkata, “Gunungpun runtuh.” 68
67F
Allah -subhanahu wata'âla- hijabnya cahaya, jika
disingkap niscaya terbakarlah seluruh makhluknya. 69
68F
Di antara keagungan Allah, apa yang disebutkan oleh
Rasulullah -shalallahu alaihi wasalam-. Sabdanya,
‫إذا ق� ا� ا�مر � السـماء ��ـت الم�ئ�ـة بأجنحتهـا‬
ً
‫خضعانا لقو� كأنه سلسلة � صفوان فإذا فزع عـن قلـو�هم‬
�‫قالوا ماذا قال ر��م قالوا ل�ي قال ا�ـق وهـو العـ� الكبـ‬
(٧٠٤٣ ‫)ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ‬
"Jika Allah memutuskan suatu perkara di langit, para
malaikat mengepakkan sayap-sayapnya, tunduk dengan
firman-Nya, seperti rantai di atas batu licin. Jika tersadar
dari keterkejutan mereka bertanya, 'Apa yang dikatakan
Tuhan kalian?' Sebagian menjawab, 'Yang mengatakan alHak adalah Zat yang Maha Tinggi lagi Maha Besar'." 70
69F
Nas-nas dalam hal ini banyak sekali. Maksudnya bahwa
merasakan keagungan Allah dengan merenungi nas-nas
68
69
70
HR. At-Turmudzi
HR.Muslim no.197.
HR. al-Bukhari no.7043.
81
tersebut termasuk yang paling bermanfaat dalam
menterapi lemah iman.
Ibnul Qoyyim mendeskripsikan keagungan Allah dengan
ungkapan yang indah:
"Allah mengatur malaikat, memerintah dan melarang,
mencipta, memberi rezeki, mematikan, menghidupkan,
memuliakan dan menghinakan, menggantikan malam
dengan siang, merotasi hari di antara manusia,
melengserkan negeri dan menggantinya dengan yang lain,
perintah dan kekuasaan-Nya terlaku pada seluruh langit
dan bumi, di permungkaan maupun di dalamnya, di
lautan dan udara, ilmunya meliputi segala sesuatu dan
mengetahui detail jumlah. Pendengaranya mencapai
segala sesuatu, tidak tercampur dan tidak tersamarkan,
bahkan mendengar kebisingan dengan bahasa yang
berbeda-beda sesuai dengan hajat mereka. Tidak
teralihkan antara satu suara dengan suara lain, tidak
tercampur karena banyaknya permintaan, tidak silap
dengan banyaknya rintihan mereka yang berhajat,
penglihatan-Nya meliputi segala sesuatu, dapat melihat
rayapan semut hitam di gurun luas pada malam gelap
gulita, yang gaib bagi-Nya ada, yang rahasia bagi-Nya
terang benderang..
82
َۡ َ َ َ ّ
َ ُ ٔ‫ � َ ۡس‬ : �‫قال تعا‬
َ ‫ض َُ ّ يَ ۡو� ُه‬
ِ
�ِ ‫ـو‬
�
ِ ٰ �ٰ �َ‫�َ ُ�ۥ من ِ� ٱس‬
� �‫ت وٱ‬
ٍ
ۡ َ
(٢٩:‫ )ﺍﻟﺮﲪﻦ‬ ٢ ‫شأ ٖن‬
(QS.ar-Rahman:29)
Dia mengampuni dosa, memberi jalan keluar, menyingkap
kesulitan, menambal yang pecah, mengayakan yang
miskin, memberi petunjuk yang tersesat, memberi arahan
yang bingung, menolong yang butuh, mengenyangkan
yang lapar, memberi pakaian yang telanjang,
menyembuhkan yang sakit, memberi keafiatan mereka
yang terkena bala, menerima taubat, membalas
perbuatan baik, menolong mereka yang teraniaya,
menghukum orang yang bengis, menutupi aurat/aib,
memberikan keamanan, memuliakan suatu kaum dan
menghinakan yang lain.. jika penghuni seluruh langit dan
bumi, dari yang pertama hingga yang terakhir, manusia
dan jinnya setakwa orang yang paling takwa dari mereka,
tidaklah hal itu menambah kerajaan-Nya sedikit pun, jika
makhluk-Nya yang pertama hingga yang terakhir, manusia
dan jinnya sefajir orang yang paling fajir di antara mereka,
tidaklah hal itu mengurangi kerajaan-Nya sedikit pun, jika
penghuni langit dan bumi yang pertama hingga yang
terakhir, manusia dan jinnya, yang masih hidup dan yang
83
sudah mati, yang kering dan yang basah berkumpul di
satu tempat kemudian seluruhnya meminta, niscaya akan
diberikan masing-masing apa yang diminta, dan itu tidak
mengurangi sebesar biji zarah pun apa yang ada
padanya... Dia adalah yang pertama yang tidak ada
sesuatu pun sebelumnya, dan Dia yang terakhir yang tidak
ada sesuatu pun setelahnya, Maha Mulia lagi Maha
Tinggi, yang paling berhak disebut dan yang paling berhak
diibadahi, yang pertama disyukuri, yang paling pemurah
dan paling dermawan bagi yang meminta....Dia adalah
raja yang tidak ada sekutu baginya, Esa tidak memiliki
tandingan, tempat bergantung lagi tidak beranak, Maha
Tinggi tidak ada yang menyerupai, segala sesuatu binasa
kecuali WajahNya, segala sesuatu sirna kecuali kerajaanNya...tidak ada yang berbuat taat kecuali dengan izin-Nya,
tidak dimaksiati kecuali dengan sepengetahuan-Nya, jika
taat maka disyukuri, jika dimaksiati Dia mengampuni,
segala bencana yang ditimpakan adalah keadilan dan
segala nikmat yang dicurahkan adalah karunia, saksi yang
paling dekat, penjaga yang membimbing, merekam setiap
asar dan mencatat ajal, setiap hati kepada-Nya tunduk,
dan rahasia bagi-Nya jelas, pemberian-Nya dengan kalam
dan azab-Nya juga dengan kalam, firman-Nya,
84
َ َ ُ َ ۡ َ َ َ‫ّ مَ ٓ َ ۡ ُ ُ ٓ َ ٓ َر‬
ُ
‫�ا أن �َ قــول ُ�ۥ �ــن‬
ٔ ‫ ِ�َ ــا أمـرهۥ إِذا أ اد‬ : �‫قــال تعــا‬
ً�
(٨٢:íÓ) 
ُ ُ َ
٨ ‫� َيكون‬
(QS.Yâsîn: 82) 71
70F
3. Menuntut ilmu syariat. Ia merupakan ilmu yang
pencapaiannya membuahkan rasa takut kepada Allah dan
menambah
iman
kepada
Allah
-azzawajalla-.
Sebagaimana firman Allah -ta'âla-:
ْ ُ ٓ �َ‫ُۡل‬
ۡ َ َ‫ّ م‬
َ ّ ‫� َ�ــ ٱ‬
ۡ ‫َم‬
ٰ ‫ِــن ع َِبــادِه ِ ٱل‬
 ‫َــ ۗؤا‬
‫ ِ�َ ــا‬ : �‫قــال تعــا‬
(٢٨:‫)ﺍﻟﻔﺎﻃﺮ‬
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama....” (QS.Fâthir:28)
Tidaklah sama keimanan orang yang mengetahui dengan
orang yang tidak mengetahui. Bagaimana bisa menyamai
orang yang mengetahui rincian syariat, makna
"syahadatain" dan kandungannya, mengenal kehidupan
71
Al-Wâbil as-Shaib hal.125 degan perubahan.
85
setelah mati seperti fitnah kubur dan keadaan mahsyar,
kejadian kiamat, nikmat surga, azab neraka, hikmah
syariat pada hukum halal dan haram, rincian sejarah Nabi
-shalallahu alaihi wasallam- dan hal-hal lain dari cabang
ilmu. Bagaimana akan sama yang mengetahui perkaraperkara itu dengan yang bodoh terhadap agama, hukumhukumnya serta apa-apa yang dijelaskan oleh syariat
dalam perkara gaib. Mengetahui agama hanya ikutikutan, ilmunya hanyalah barang yang tidak berharga (di
akhirat).
Firman Allah:
ۡ َ ُۡ
َ ُ ۡ َ� َ َ ّ َ َ ُ ۡ َ� َ ّ
 ۗ‫لَمـون‬
‫َيـن علَمـون وٱَِيـن � ع‬
ِ ‫ قل هـل � َ ۡسـ َتوِي ٱ‬ : �‫قال تعا‬
(٩:‫)ﺍﻟﺰﻣﺮ‬
"...Katakanlah: "Adakah sama orang-orang
mengetahui
dengan
orang-orang
yang
mengetahui?"..." (QS.az-Zumâr:9)
yang
tidak
4. Menghadiri majelis-majelis taklim. Hal ini akan
menambah keimanan dengan berbagai sebab, di
antaranya yang didapat dari berzikir kepada Allah, rahmat
yang meliputi, turunnya ketenangan, para malaikat yang
menaungi orang-orang yang berzikir, disebut oleh Allah di
86
langit yang tertinggi, dibangga-banggakan kepada
malaikat dan diampuni dosa-dosanya, sebagaimana yang
disebutkan dalam Hadits-Hadits sahih, di antaranya sabda
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam-:
‫� يقعد قوم يـذكرون ا� إ� حفـتهم الم�ئ�ـة وغشـيتهم‬
‫)صحيح‬
‫الر�ة ونزلت عليهم السكينة وذكرهم ا� فيمن عنده‬
(٢٧٠٠ ‫مسلم رقم‬
"Tidaklah berkumpul suatu kaum berzikir kepada Allah,
melainkan malaikat menaungi mereka, rahmat meliputi,
turun ketenangan dan Allah menyebutkan mereka kepada
para malaikat yang ada di sisinya.” 72
71F
Sahal Ibn Handzolah -radiallahu'anhu- berkata, Rasulullah
-shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
ً
‫ قوموا مغفورا‬:‫ما اجتمع قوم � ذكر فتفرقوا عنه إ� قيل لهم‬
(٥٥٠٧ ‫)ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬
‫ل�م‬
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di atas zikir, kemudian
membubarkan diri, melainkan dikatakan kepada mereka,
'Berdirilah! dosa kalian telah diampuni'.” 73
72F
72
73
HR. Muslim no.2700.
Shahih al-Jami’ no.5507.
87
Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata:
"Disebut zikrullah maksudnya adalah kesenantiasaan
melakukan amal yang diwajibkan Allah atau disukai,
seperti membaca al-Quran, membaca al-Hadits dan
mempelajari ilmu." 74
73F
Di antara yang menunjukkan bahwa "majelis zikir"
menambah Iman adalah apa yang dikeluarkan Imam
Muslim -rahimahullah- dalam sahihnya dari Hanzhalah alUsaidi, katanya:
“Aku bertemu Abu Bakar. Dia berkata:
“Bagaimana keadaanmu, wahai Hanzhalah?”
“Hanzhalah
Jawabnya
(khawatir)
menjadi
munafik.”
“Mahasuci Allah. Apa yang engkau katakan?!”
Ujar Abu bakar.
Hanzhalah berkata,
“Ketika kami bersama Rasulullah, beliau
mengingatkan kami akan neraka dan surga,
sampai-sampai seolah kami melihatnya. Ketika
meninggalkannya, kami kembali bercampur
dengan istri anak-anak dan amanah-amanah –
74
Fathul Bâri XI/209.
88
maksudnya rutinitas hidup baik harta benda,
produksi dll- kami menjadi banyak lupa (dengan
peringatan-peringatan Rasulullah).”
Abu Bakar berkata,
“Demi Allah, aku pun mendapati hal itu.”
Aku dan Abu Bakar pun menemui Rasulullah shalallahu alaihi wasallam-. Aku berkata kepada
Rasulullah,
“Hanzhalah (khawatir) menjadi munafik wahai
Rasulullah.”
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bertanya,
“Mengapa demikian?”
“Wahai Rasulullah, ketika kami bersamamu dan
engkau ingatkan kami tentang neraka dan surga
seolah kami melihatnya dengan mata kepala
kami. Namun setelah meninggalkanmu, bertemu
kembali dengan istri, anak-anak dan hal-hal yang
melalaikan lain, kami jadi banyak lupa dengan
peringatan itu.” Jawab Hanzhalah.
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata,
89
�‫وا�ي نف� بيده إن لو تدومون � ما ت�ونون عنـدي و‬
‫ا�كر لصـافحت�م الم�ئ�ـة � فرشـ�م و� طـرق�م‬
(٢٧٥٠ ‫)ﺻﺤﻴﺢ ﻣﺴﻠﻢ ﺭﻗﻢ‬
‫ول�ن يا حنظلة ساعة ﻭﺳﺎﻋﺔ‬
“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Jika
kalian senantiasa dalam kondisi ketika berada
bersamaku dan peringatan-peringatanku, niscaya
malaikat akan menyalami kalian di tempat tidur
dan di jalan-jalan kalian, akan tetapi wahai
Hanzhalah, saat dan saat, 3x.” 75
74F
Para sahabat -radiallahu'anhum- berupaya konsisten
untuk hadir di majelis zikir, dan mereka menyebutnya
sebagai iman. Muadz -radiallahu'anhu- berkata kepada
seorang lelaki,
“Duduklah bersama kami, beriman untuk sesaat.” 76
75F
5. Di antara sebab yang menguatkan iman,
memperbanyak amal saleh dan memenuhi waktu
dengannya.
75
76
HR. Muslim no.2750.
Sanadnya Sahih. Lihat Arba’ Masail Fil Iman, Tahqiqi al-Albani hal.72.
90
Ini merupakan sebab terapi agung dan merupakan
perkara agung, pengaruhnya dalam menguatkan
keimanan nampak sekali. Abu Bakar ash-Shiddîk
merupakan permisalan yang agung dalam hal ini. Ketika
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bertanya kepada
para sahabatnya,
“Siapa di antara kalian yang hari ini berpuasa?”
Abu Bakar menjawab, “Saya.”
“Siapa yang mengiringi jenazah hari ini?” Tanya Nabi lagi.
“Saya.” Jawab Abu Bakar
“Siapa di antara kalian yang hari ini memberi makan orang
miskin?” Tanya Nabi lagi.
“Saya.” Jawab Abu Bakar.
“Siapa di antara kalian yang hari ini menjenguk orang
sakit?” tanya Nabi lagi.
“Saya.” Jawab Aku Bakar.
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata,
“Tidaklah berkumpul hal itu semua pada seseorang
melainkan masuk surga.” 77
76F
77
HR. Muslim. Kitab Fadhail as-Shahabah. Bab: 1 no.12.
91
Kisah ini menunjukkan bahwa Abu Bakar as-Shiddîk radiallahu'anhu- begitu loba untuk memanfaatkan
kesempatan dan meragamkan amalan. Momen ini
ditanyakan Nabi -shalallahu alaihi wasallam- secara tibatiba, yang menunjukkan bahwa hari-hari Abu Bakar radiallahu'anhu- dipenuhi dengan ketaatan. Generasi
Salafussoleh -rahimahullah- dalam mengisi waktu mereka
dengan amal saleh telah mencapai tingkat yang agung.
Sehingga para Salafussoleh di jadikan permisalan, seperti
yang di katakan kepada Hammad Ibn Salamah, Imam
Abdurrahman Ibn Mahdi berkata:
“Jika dikatakan kepada Hammad Ibn Salamah,
‘Engkau akan mati besok, tentu dia tidak akan lagi
sanggup menambah amalannya.” 78
7F
Seorang muslim pada amalan-amalan salehnya
hendaknya memperhatikan perkara-perkara berikut:
Bersegera melaksanakannya. Sebagaimana firman Allah ta'âla-:
78
Siar ‘Alam an-Nubala VII/447.
92
ُ ّ ّ ّ َ ۡ َ َٰ ْ ٓ ُ َ َ
ّ ‫� ۡم‬
َ ‫َجَنَـة َع ۡر ُض‬
‫ـها‬
ٍ
ِ �َ ‫ وسارِعوا إِ� مغ ِفر� ٖ مِن‬ : �‫قال تعا‬
ُ َۡ ُ َ َ ّ
ّ ۡ ۡ ّ
َ ‫ُتَق‬
(١٣٣:‫ )ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ‬ ١ �
‫ٱ‬
ِ ‫سَ� ٰ� ٰت َوٱ��ض ُعِدَت ل ِل‬
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhan-mu
dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi
yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”
(QS.Ali Imran:133)
Ayat ini menunjukkan dorongan kepada para sahabat
Nabi -shalallahu alaihi wasallam- untuk segera melakukan
amal saleh.
Imam Muslim -rahimahullah- meriwayatkan dalam
sahihnya dari Anas Ibn Mâlik pada peristiwa perang Badar
ketika pasukan kaum musyrikin mendekat, Nabi shalallahu alaihi wasallam- berkata:
‫قوموا إ� جنة عرضـها السـماوات وا�رض )ﺻـﺤﻴﺢ ﻣﺴـﻠﻢ‬
(١٩٠١
“Berhamburanlah ke surga yang luasnya seluas langit dan
bumi.”
Umair Ibn al-Hammam al-Anshari berkata,
93
“Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan
bumi?!”
“Ya." Jawab Rasulullah.”
Dia berkata,
“Bakhin, bakhin! 79.”
78F
“Apa yang membuatmu berkata ‘bakhin bakhin’?” Tanya
Rasulullah.
“Tidak. Demi Allah, wahai Rasulullah. Tidak lain hanya
ingin menjadi penghuninya.”
“Engkau termasuk penghuninya.” Ucap Rasulullah.
Umair mengeluarkan kurma
memakannya, seraya berujar,
dari
sakunya
dan
“Jika aku masih hidup hingga selesai memakan kurmakurma ini, sungguh merupakan waktu yang panjang.”
Dia pun membuang kurma yang tersisa kemudian
memerangi musuh hingga syahid terbunuh. 80
79F
Sebelum itu, ada kisah Nabi Musa yang ingin bertemu
dengan Allah. Musa berkata,
79
80
Kalimat yang menunjukkan perkara besar.
HR. Muslim no.1901.
94
َ َۡ ُ ۡ َ َ
ۡ َ ‫ك رَ ّب ل‬
ٰ َ �ِ
‫ ﻣـﻦ‬:‫ )ﻃﻪ‬ ٨ �
�ِ‫جلت إ‬
ِ ‫ وع‬... : �‫قال تعا‬
ِ
(٨٤ ‫ﺍﻵﻳﺔ‬
“...dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar
supaya Engkau rida (kepadaku)". (QS.Thâha:84)
Allah pun memuji Nabi Zakaria dan keluarganya:
َ
َ�
َ ُ َُٰ ْ ُ َ ۡ ُّ
َۡ
‫ت َو َ� ۡد ُعو َنا رَغ ٗبـا‬
� ‫ ِ�َهم �نوا‬ : �‫قال تعا‬
ِ ٰ �َ ‫� ِرعون ِ� ٱ� ۡي‬
َ ‫وَرَ َه ٗباۖ َو َ�نُوا ْ �ََا َ� ٰشِ ع‬
(٩٠:‫ )ﺍﻷﻧﺒﻴﺎﺀ‬ ٩ �
ِ
“...Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu
bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan
yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap
dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk
kepada kami.” (QS.al-Anbiya:90)
Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
‫)ﺭﻭﺍﻩ‬
‫ إ� � عمـل ﺍﻵﺧﺮﺓ‬- �‫ و� رواية خ‬- ‫ا�ؤدة � � �ء‬
(٣٠٠٩ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬١٥٧/٥ ‫ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﰲ ﺳﻨﻨﻪ‬
95
“Lirih dalam segala hal –dalam riwayat dalam kebaikankecuali pada amalan akhirat.” 81
80F
Kontinu dalam ketaatan, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam- dalam Hadits Qudsi:
ّ ‫ما يزال عبـدي يتقـرب‬
‫�َ با�وافـل حـ� أحبـه )صـحيح‬
(‫ا�خاري‬
“Hambaku masih saja mendekat kepada-Ku dengan
amalan-amalan
'nawafil'
(sunah)
hingga
aku
82
mencintainya.”
81F
Ungkapan “masih saja” mengartikan kekontinuan. Nabi shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺍﻟﺴﻠﺴﻠﺔ‬٨١٠ ‫تابعوا ا�ج والعمـرة )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ﺭﻗﻢ‬
(١٢٠٠ ‫ﺍﻟﺼﺤﻴﺤﺔ‬
“Iringi amalan Haji dengan Umroh!” 83
82F
Mengiringi pengertiannya juga termasuk kekontinuan. Ini
adalah permulaan penting dalam menguatkan keimanan,
81
HR.Abu Dawud dalam sunannya V/157. dan dalam Shahih al-Jami
no.3009.
82
HR.al-Bukhari no.6137.
83
HR.at-Turmudzi no.810. Silsilah as-Shahihah no.12000.
96
tidak mengabaikan jiwanya hingga menjadi condong pada
pengabaian dan penyesalan. Konsisten walau sedikit lebih
baik dari banyak yang terputus. Konsisten dalam beramal
saleh menguatkan keimanan. Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- penah ditanya,
“Amalan apa yang lebih dicintai Allah?”
Beliau menjawab,
“Yang konsisten walau sedikit.” 84
83F
Dahulu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- jika
mengerjakan suatu amalan beliau senantiasa konsisten. 85
84F
- Bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya.
Terapi hati yang keras tidaklah baik jika hanya sewaktuwaktu. Membaik suatu waktu lalu kembali melemah. Yang
semestinya adalah perbaikan yang bersambung. Ini tidak
akan terwujud kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam
beribadah.
Allah
-subhânahu
wata'âlatelah
menyebutkan di dalam kitab-Nya akan kesungguhan para
wali-wali Allah dalam beribadah di berbagai keadaan, di
antaranya:
84
85
HR.al-Bukhari dalam Fathul Bâri XI/194.
HR.Muslim dalam kitab Shalatul Musâfirin Bab:18 no.141.
97
ْ ُ ّ ُ َ َ ّ َ َ
ۡ ّ
� ‫ِـروا ب ِ َهـا‬
‫با� ٰتِنا ٱَِيـن إِذا ذك‬
ٔ ِ ‫ ِ�َمَ ا يُؤم ُِن‬ : �‫قال تعا‬
َ�
َ ُ ۡ َ َۡ َ ۡ َُ ۡ ّ ۡ ْ ُ ّ
َ ‫ �َ َت‬١ ۩‫ون‬
َٰ ‫ج‬
�‫ـا‬
�ِ ‫� َسَبَحوا ِ�َم ِد رَ� ِ ِهـم وهـم � �سـتك‬
َ ُ ۡ َ
َ َ‫ۡم‬
َ ۡ ُُ ُُ
ّ ‫ـم َخ ۡو ٗفـا َوطَمَ ٗعـا‬
ۡ ‫ون �َ َّ ُه‬
‫َمِمَـا‬
‫جعِ يـدع‬
ِ ‫ـن ٱل ضـا‬
ِ ‫جنو�هم ع‬
ۡ
َ ُ
(١٥،١٦:‫ )ﺍﻟﺴﺠﺪﺓ‬ ١ ‫رَ َزق َ�ٰ ُه ۡم يُنفِقون‬
“Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada
ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila
diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera
bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya, dan
mereka tidaklah sombong. Lambung mereka jauh dari
tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka
menafkahkan setiap rezeki yang Kami berikan.” (QS.asSajdah:15-16)
Firman-Nya yang lain:
98
َ ُ َ ۡ َ� َ ۡ ّ َ ّ ٗ َ ْ ُ َ
َ ‫ وَ�ٱ ۡ�َ ۡس‬١ ‫ون‬
‫ار‬
‫ح‬
‫ �نوا قل ِي� مِن ٱَ ِل ما هجع‬ : �‫قال تعا‬
ِ
ِ
ۡ
ٓ ّ ٞ ّ َ‫َ ٓ َ ۡ َ ۡ ح‬
ۡ
َ
ُ
ِ ‫ِّلسَـا� ِ ِل َوٱلمَ ۡحـ ُر‬
‫ و ِ� أم� ٰل ِ ِهم ـق‬١ ‫ه ۡم � َ ۡس َتغفِ ُرون‬
 ١ ‫وم‬
(١٩-١٧:‫)ﺍﻟﺬﺍﺭﻳﺎﺕ‬
“Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan
selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum
fajar, dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang
miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak
mendapat bagian.” (QS.adz-Dzariât: 17-19)
Jika menengok keadaan generasi Salafussoleh dalam
menetapi sifat-sifat "'âbidin" (ahli ibadah) akan
membangkitkan rasa takjub, sehingga menuntun kita
untuk meneladani mereka. Di antaranya: mereka
mengkhatamkan bacaan al-Quran setiap tujuh hari,
mereka tetap melaksanakan shalat malam dalam medan
perang dan pertempuran, berzikir kepada Allah dan
melakukan shalat tahajud, meskipun dalam penjara, kaki
mereka memar-memar, air mata membasahi pipi-pipi
mereka, mentafakuri penciptaan langit dan bumi. Di
antara mereka ada yang mengguraui istrinya seperti ibu
yang guraui momongannya, namun ketika istrinya
tertidur, dia pun bangkit meninggalkan selimut dan
tempat tidurnya melakukan shalat malam. Mereka
99
membagi malam untuk diri dan keluarga, sedang siangnya
untuk berpuasa, belajar, mengajar, mengiringi jenazah,
menjenguk orang sakit dan membantu kesusahan orang
lain, bahkan pada sebagiannya tidak pernah tertinggal
"takbiratul ihram" bersama imam selama bertahun-tahun,
mereka menunggu shalat setelah shalat, menafkahi
keluarga saudaranya yang ditinggal mati selama
bertahun-tahun. Siapa yang keadaannya seperti itu, maka
imannya senantiasa bertambah.
- Jangan membuat diri menjadi jenuh.
Bukanlah maksud dari kontinuitas dalam ibadah atau
bersungguh-sungguh melaksanakannya untuk menjadikan
dirinya jenuh dan bosan, tetapi maksudnya agar tidak
terputus dalam beribadah selama sanggup dilakukan,
dengan berupaya sedapat mungkin, baik dalam keadaan
sedang bersemangat maupun ketika sedang lemah.
Gambaran seperti ini ditunjukkan oleh hadits-hadits
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- di antara
sabdanya:
‫إن ا�ين �� ولن �شاد ا�ين أحد إ� غلبه فسـددوا وقـار�وا‬
(‫)صحيح ا�خاري‬
100
“Agama itu mudah. Tidaklah seseorang itu berlebihlebihan dalam beragama melainkan dia akan menyerah,
karenanya tepatilah (sedapat mungkin) dan serupailah
(sedapat mungkin).” 86
85F
Dalam riwayat lain:
(‫والقصد القصد تبلغوا )صحيح ا�خاري‬
“Maksudnya adalah engkau sampai kepada maksud.” 87
86F
Al-Bukhari -rahimahullah- menyebutkan bab: Mâ Yukrohu
Minat Tasydid Fil Ibadah (Apa-apa yang dibenci ketika
bersangatan dalam ibadah).
Sahabat Anas -radiallahu'anhu- berkata,
“Nabi -shalallahu alaihi wasallam- masuk masjid, dan
didapatinya ada tali merentang. Beliau bertanya,
“Tali apa ini?”
Orang-orang menjawab,
“Itu adalah tali milik Zainab, jika mengantuk dia akan
berpegangan.” Nabi -shalallahu alaihi wasallambersabda,
86
87
HR.Sahih al-Bukhari no.39.
HR.Sahih al-Bukahri no.6099.
101
‫� حلوه �صل أحد�م �شاطه فـإذا فـ� فليقعـد )صـحيح‬
(‫ا�خاري‬
“Jangan demikian. Lepaskanlah tali itu! Hendaknya setiap
kalian shalat saat fit, jika lelah hendaknya duduk.” 88
87F
Ketika Nabi -shalallahu alaihi wasallam- tahu bahwa
Abdulllah Ibn Amr Ibn al-Ash melakukan shalat sepanjang
malam dan berpuasa setiap hari, Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- melarang hal itu dan menjelaskan sebabnya
dengan sabdanya:
‫ يع� �رت أو ضعفت لك�ة‬- ‫فإنك إذا فعلت هجمت عينك‬
‫ يع� �ت‬- ‫ ونفهت نفسك‬- ‫السهر‬
“Jika engkau melakukan sedemikian engkau merusak
matamu –maksudnya melemah karena banyak
bergadang- dan jiwamu menjadi lemah.”
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
88
HR.al-Bukhari no.1099.
102
�‫ا�فوا من العمل ما تطيقون فإن ا� عز وجـل � يمـل حـ‬
‫تملوا و�ن أحب ا�عمـال إ� ا� عـز وجـل أدومـه و�ن قـل‬
(‫)رواه ا�خاري‬
“Laksanakanlah amalan yang mampu kalian lakukan.
Sesungguhnya Allah -azzawajalla- tidaklah bosan, hingga
kamu sendiri yang bosan. Sesungguhnya amalan yang
paling dicintai Allah -azzawajalla- adalah yang
berkesinambungan walaupun sedikit.” 89
8F
- Mengganti amalan yang tertinggal.
Dari Umar Ibn al-Khaththab -radiallahu'anhu- bahwa Nabi
-shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
‫من نام عن حز�ه من الليل أو �ء منه فقرأه فيما ب� ص�ة‬
‫الفجر وص�ة الظهر كتـب � كأنمـا قـرأه مـن الليـل )ﺭﻭﺍﻩ‬
(١٢٢٨ ‫ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬،٦٨/٢ :‫ﺘﱯ‬‫ ﻭﺍ‬،‫ﺍﻟﻨﺴﺎﺋﻲ ﻭﻏﲑﻩ‬
“Siapa yang tertidur dari "hizb"nya (membaca zikir, doa
dan al-Quran) pada suatu malam atau sesuatu darinya,
89
HR. al-Bukhari. Lihat Fathul Bâri III/38.
103
hendaknya dibaca setelah shalat Fajar dan Zuhur.
Dicatatkan baginya seperti membaca pada malam hari.”
90
89F
Aisyah -radiallahu'anha- berkata,
“Dahulu Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- jika
melakukan suatu shalat akan kontinu melaksanakannya.
Jika luput shalat malam karena tertidur atau sakit, beliau
melakukan shalat 12 rakaat di siang hari.” 91
90F
Ketika Ummu Salamah -radiallahu'anha- melihat
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- melakukan shalat
dua rakaat setelah shalat Asar, dia pun bertanya kepada
Nabi. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menjawab dengan
sabdanya:
‫يا ابنة أ� أمية سألت عن الر�عت� بعد الع� و�نه أتا� ناس‬
‫من عبد القيس فشغلو� عن الر�عت� اللت� بعد الظهر فهما‬
(‫هاتان )رواه ا�خاري‬
“Wahai putri Abu Umayyah, engkau bertanya mengenai
dua rakaat setelah Asar. Telah datang kepadaku orangorang dari kabilah Abdul Qois, sehingga menyibukkanku
90
91
HR.an-Nasai dan selainnya. Al-Mujtaba II/68. Shahih al-Jami no. 1228.
HR.Ahmad VI/95.
104
dari melaksanakan dua rakaat setelah zuhur, inilah dua
rakaat itu.” 92
91F
Jika beliau belum melaksanakan shalat 4 rakaat sebelum
zuhur, beliau akan melaksanakan setelahnya. 93
92F
Jika terlewat melaksanakan 4 rakaat sebelum zuhur beliau
akan melaksanakannya setelah zuhur. 94
93F
Hadits-Hadits di atas menunjukkan akan "qodho"
(mengganti) sunah rawatib.
Ibnul Qoyyim al-Jauziah -rahimahullah- menyebutkan
mengenai puasa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- di
bulan Syaban yang lebih banyak dari bulan lain, dengan
tiga alasan, pertama: beliau biasa puasa 3 hari setiap
bulan. Bila beliau tersibukkan melakukannya selama
beberapa bulan, maka beliau ganti pada bulan Syaban
agar dapat menyelesaikannya sebelum masuk puasa wajib
Ramadhan.... 95
94F
Rasulullah dahulu beritikaf pada sepuluh hari akhir
Ramadhan. Ketika suatu kali beliau tidak sempat
92
HR.al-Bukhari dalam al-Fath III/105.
HR. at-Turmudzi no.427. Shahih Sunan at-Turmudzi no.350.
94
Shahih al-Jami no.4759.
95
Tahdzîb Sunan Abu Dâwud III/318.
93
105
melakukannya karena safar, beliau beritikaf dua puluh
hari pada tahun berikutnya. 96
95F
- Berharap dikabulkan sembari khawatir tidak diterima.
Setelah bersungguh-sungguh melakukan ketaatan,
semestinya khawatir amalnya tidak diterima. Aisyah radiallahu'anha- berkata,
“Aku bertanya kepada Rasulullah -shalallahu alaihi
wasallam- mengenai ayat ini:
َ ۡ ُ ّ �َ ٌ َ َ ۡ ُ ُ ُ ُ ّ ْ َ َ ٓ َ َ ُ ۡ ُ َ ّ َ
�ٰ ِ ‫ـم إ‬
‫جلـة َه‬
ِ ‫ وٱَِين يؤتون ما ءاتوا َقلو�هم و‬ : �‫قال تعا‬
َ
َ ۡ ّ
(٦٠:‫ )ﺍﳌﺆﻣﻨﻮﻥ‬ ٦ ‫ج ُعون‬
ِ ٰ � ‫رَ� ِ ِهم‬
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah
mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka
tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada
Tuhan mereka.” (QS.al-Mukminun:60)
(Apakah yang takut) mereka yang meminum khamar dan
mencuri?” Tanyanya.
Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menjawab,
96
Fathul Bâri IV/285.
106
‫� يــا ابنــة الصــديق ولكــنهم ا�يــن يصــومون و�صــلون‬
‫و�تصــدقون وهــم �ــافون أن � يقبــل مــنهم أو�ــك ا�يــن‬
(‫�سارعون � ا��ات )رواه ال�مذي‬
“Tidak, wahai putri as-Shidhdhik. Akan tetapi mereka
adalah orang-orang yang berpuasa, melaksanakan shalat
dan bersedekah, namun khawatir apa yang dilakukan
tidak diterima. Mereka itu adalah orang-orang yang
bersegera dalam melakukan kebaikan.” 97
96F
Abu Darda -radiallahu'anhu- berkata,
“Jika dapat dipastikan bahwa Allah telah menerima satu
shalatku, lebih aku sukai dari pada dunia dan seisinya.
Allah -subhânahu wata'âla- berfirman:
ّ ۡ
َ ‫ُتَق‬
ّ ‫ ِ َّمَ ا‬ : �‫قال تعا‬
ُ ّ ‫َتَقَبَ ُل ٱ‬
(٢٧:‫ )ﺍﳌﺎﺋﺪﺓ‬ ٢ �
ِ ‫َ م َِن ٱل‬
�
“...Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari
orang-orang yang bertakwa". (QS.al-Maidah:27) 98
97F
97
98
HR.at-Turmudzi no.3175. Lihat as-Silsilah as-Shahihah I/162.
Tafsir Ibnu Katsir III./67.
107
Di antara sifat seorang mukmin adalah merendahkan
dirinya kepada kewajiban yang merupakan hak Allah ta'âla-. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
ً
ً
� ‫لو أن رج� �ر � وجهه من يوم و� إ� يوم يمـوت هرمـا‬
‫مرضاة ا� عز وجل �قره يوم القيامـة )ﺭﻭﺍﻩ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﺃﲪﺪ ﺍﳌﺴﻨﺪ‬
(٥٢٤٩ ‫ ﻭﻫﻮ ﰲ ﺻﺤﻴﺢ ﺍﳉﺎﻣﻊ‬١٨٥/٤
“Jika seorang lelaki mengupayakan sejak lahir hingga
mati, total hanya untuk memperoleh rida Allah azzawajalla-, niscaya dia sendiri akan meremehkan
seluruh upayanya itu pada hari kiamat.” 99
98F
Siapa yang mengenal Allah dan mengenal dirinya, akan
jelas baginya bahwa perbekalan yang dibawanya tidak
akan cukup, sekalipun mengerjakan amalan seluruh
manusia dan jin. Jika pun Allah -subhânahu wata'âlamenerima amalannya, itu karena kemurahan, keutamaan
dan kebaikan-Nya. Dia membalas hamba-Nya dengan
kemurahan, keutamaan dan kebaikan-Nya.
99
HR.Imam Ahmad, Musnad IV/175. Lihat Sahih al-Jami no.5249.
108
6. Meragamkan ibadah.
Di antara rahmat Allah dan hikmah-Nya, Dia meragamkan
untuk kita ibadah. Ada yang "jasadiah" (jasmaniah) seperti
shalat dan ada yang dengan harta seperti zakat, ada juga
yang keduanya sekaligus seperti haji dan ada pula yang
dengan lisan seperti zikir dan doa.
Pada setiap macamnya pun terbagi lagi; ada yang "fardu"
(wajib), sunah dan "mustahabah" (disukai). Yang ibadah
fardu pun bertingkat sebagaimana halnya sunah, seperti
shalat. Di antaranya sunah rawatib sebanyak 12 rakaat di
siang hari. Ada juga yang lebih rendah kedudukannya,
seperti 4 rakaat sebelum asar dan shalat dhuha. Atau
yang lebih tinggi seperti shalat malam. Masing-masingnya
pun memiliki tata cara yang beragam. Ada yang dua
rakaat dua rakaat, 4 rakaat kemudian witir, ada yang 5
rakaat atau 7 rakaat, atau 9 rakaat dengan satu tasyahud.
Demikianlah, siapa yang memperhatikan pernik ibadah
akan mendapati keragaman yang agung dalam jumlah,
waktu, bentuk, cara dan hukum. Bisa jadi hikmahnya agar
jiwa tidak menjadi bosan, mau terus melakukan dan
memperbaharuinya. Dan lagi, jiwa masing-masing orang
tidaklah sama dalam kehendak dan kemampuan. Bisa jadi
sebagian jiwa menikmati ibadah tertentu melebihi orang
lain. Maha Suci Allah yang telah menjadikan pintu-pintu
surga dengan berbagai bentuk ibadah, sebagaimana yang
109
disebutkan di dalam Hadits Abu Hurairah radiallahu'anhu- bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi
wasallam- bersabda:
‫ يـا عبـد‬:‫من أنفق زوج� � سبيل ا� نودي من أبواب ا�نة‬
‫ا� هذا خ� فمن �ن من أهل الص�ة د� من بـاب الصـ�ة‬
‫ومن �ن من أهل ا�هاد د� من باب ا�هـاد ومـن �ن مـن‬
‫أهل الصيام د� من باب الر�ان ومـن �ن مـن أهـل الصـدقة‬
(‫د� من باب الصدقة ) رواه ا�خاري‬
“Siapa yang "menginfakkan" (merelakan) 2 suaminya 100
(berjihad hingga mati syahid) di jalan Allah, akan
dipanggil dari seluruh pintu surga; “Wahai hamba Allah,
ini kebaikan, barang siapa yang ahli shalat, dipanggil dari
pintu shalat, siapa yang ahli jihad, dipanggil dari pintu
jihad, siapa yang ahli puasa dipanggil dari pintu Royyân,
siapa yang ahli sedekah dipanggil dari pintu sedekah.” 101
9F
10F
Maksudnya adalah yang memperbanyak ibadah sunah
dalam ibadahnya. Adapun 'farâ`id" (kewajiban) semua
100
Maksudnya suami pertama mati syahid kemudian menikah lagi, lalu
suami keduanya pun mati syahid berjihad di jalan Allah pent.
101
HR.al-Bukhari no.1798.
110
harus melaksanakannya. Rasulullah -shalallahu alaihi
wasallam- bersabda:
(‫الوا� أوسط أبواب ا�نة )رواه ال�مذي‬
“Orang tua (bapak) adalah pintu pertengahan surga.” 102
10F
Maksudnya berbakti kepada orang tua.
Keragaman ibadah ini bisa dimanfaatkan untuk mengobati
lemah iman. Memperbanyak ibadah yang jiwa condong
melakukannya, seraya menjaga "farâ`id wal wajibât"
(fardu dan wajib) 103 yang Allah perintahkan.
102F
Dengan demikian amat mungkin bagi seorang muslim jika
mengamati nas-nas ibadah yang ada, mendapati macam
ibadah tertentu yang memiliki pengaruh dan membantu
jiwanya, yang tidak didapati pada ibadah lainnya. Berikut
dua permisalan:
Abu Dzar -radiallahu'anhu- meriwayatkan dari Nabi shalallahu alaihi wasallam-, sabdanya:
102
HR.at-Turmudzi no.1900. Shahih al-Jami no.7145.
Istilah fardu dan wajib oleh sebagian ulama dipandang sebagai sesuatu
yang sama. Walaupun ada sebagian ulama lain yang menjadikan fadu lebih
tinggi dibandingkan wajib pent.
103
111
‫ أمـا‬- ‫ أي يبغضـهم‬- �‫ث�ثة �ـبهم ا� وث�ثـة �شـنؤهم ا‬
‫ا��ثة ا�ين �بهم ا� الرجل يل� العدو � الفئـة فينصـب‬
�‫لهم �ره ح� يقتل أو يفتح �صـحابه تـن� أحـدهم فيصـ‬
‫ح� يوقظهم لرحيلهم والرجل ي�ون � ا�ـار يؤذيـه جـواره‬
‫فيص� � أذاه ح� يفـرق بينهمـا مـوت أو ظعـن )مسـند‬
(‫أ�د‬
“Ada tiga yang dicintai Allah dan ada tiga yang dimurkai
Allah. Adapun tiga yang dicintai Allah adalah seorang
lelaki yang menghadapi pasukan musuh, meneroboskan
dirinya hingga terbunuh atau berhasil membuka pintu
masuk bagi sahabat-sahabatnya, (kedua) suatu kaum
melakukan safar, titian perjalanan terasa panjang hingga
membuat ingin beristirahat, kemudian mereka pun turun.
Salah seorang dari mereka memisahkan diri melakukan
shalat hingga tiba waktunya melanjutkan perjalanan dia
membangunkan sahabat-sahabatnya. (ketiga) seorang
lelaki yang mempunyai tetangga yang senantiasa
mengganggunya, namun dia bersabar atas gangguan itu
hingga mereka dipisahkan oleh kematian atau pergi....” 104
103F
104
Musnad Ahmad V/151. Lihat Shahih al-Jami no.3074.
112
Seorang lelaki mendatangi Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- mengadukan kekerasan hatinya. Nabi shalallahu alaihi wasallam- berkata kepadanya,
‫أ�ب أن يل� قلبك وتدرك حاجتـك أرحـم ا�تـيم وامسـح‬
‫رأســه وأطعمــه مــن طعامــك يلــن قلبــك وتــدرك حاجتــك‬
(�‫)ا�ديث رواه الط�ا‬
“Apakah engkau suka hatimu menjadi lembut dan
hajatmu tersampaikan?! Sayangilah anak yatim, usap
kepalanya, beri ia makan dari makananmu, maka hatimu
akan menjadi lembut dan hajatmu akan terpenuhi.” 105
104 F
Ini adalah keterangan eksplisit untuk tema mengobati
lemah iman.
7. Takut "Su’ul Khatimah" (buruk pengakhiran).
Takut akan su’ul khatimah akan mendorong seorang
muslim untuk berbuat ketaatan dan memperbaharui iman
dalam hatinya.
Su’ul khatimah sendiri sebabnya banyak, di antaranya:
105
HR.at-Thabarani dengan riwayat-riwayat yang serupa. Lihat as-Silsilah
as-Shahihah II/533.
113
- Lemah iman dan larut dalam kemaksiatan.
Nabi
-shalallahu
alaihi
wasallammenggambarkannya seperti sabdanya:
telah
‫ بها‬- ‫ أي يطعن‬- ‫من قتل نفسه �ديدة فحديدته � يده يتوجأ‬
ً
ً
ً
ً
‫� بطنه � نار جهنم خا�ا ��ا فيهـا أبـدا ومـن �ب سـما‬
‫ � نار‬-‫ أي ���ه � تمهل و�تجرعه‬- ‫فقتل نفسه فهو يتحساه‬
ً
ً
ً
‫جهنم خا�ا ��ا فيها أبدا ومن تردى من جبل فقتـل نفسـه‬
ً
ً
‫فهو ي�دى � نار جهـنم خـا�ا �ـ�ا فيهـا أبـدا )صـحيح‬
(‫مسلم‬
“Siapa yang bunuh diri dengan besi, maka besi itu akan
berada di tangannya menikami perutnya di neraka
jahanam, kekal selamanya. Siapa yang minum racun
hingga membunuh dirinya, maka dia akan meminum
racun itu dengan perlahan dalam api neraka jahanam
kekal selamanya. Siapa yang menjatuhkan dirinya dari
atas bukit untuk bunuh diri, maka dia akan menjatuhkan
dirinya ke dalam api neraka jahanam kekal selamanya.”
106
105F
106
Shahih Muslim no.109.
114
Pada masa Nabi -shalallahu alaihi wasallam- hal ini
terjadi. di antaranya kisah seorang lelaki yang berada
bersama pasukan kaum muslimin memerangi tentara
kafir. Tidak ada seorang pun yang menandingi cara
berperangnya. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- berkata:
“Adapun dia, dia termasuk ahli neraka.”
(Mendengar itu) salah seorang kaum muslimin
mengikutinya. Lelaki itu mendapat banyak luka parah.
Ayalnya ia tergesa-gesa untuk mati. Ditempelkannya
ujung pedangnya di dadanya lalu dia sandarkan dirinya
pada pedang itu sehingga membunuh dirinya. 107
106F
Keadaan manusia yang su’ul khatimah banyak. Ahli ilmu
menutupi kisah beberapa di antaranya. Dari yang
diungkap seperti yang disebutkan Ibnul Qoyyim rahimahullah- dalam kitab ‘ad-Dâ’ wad-Dawâ’; ketika
dikatakan kepada seseorang yang sedang sekarat,
"ucapkan la ilaha illallah!" dia berkata, “Aku tidak bisa”,
sebagian lagi ketika diminta mengucapkan la ilaha illallah
malah bernyanyi. Ketika dikatakan kepada seorang tajir
yang lalai dari zikrullah karena perniagaannya, ketika
datang kematian diminta mengucapkan la ilaha illallah
107
Al-Fathul Bâri VII/471.
115
malah mengatakan, “Ini barang bagus, harganya sesuai
dan murah” hingga kematiannya. 108
107F
Diriwayatkan bahwa sebagian tentara Raja an-Nâshir
menghadapi kematian. Ketika anak mereka memintanya
mengucapkan la ilaha illallah malah berkata, “an-Nâshir
tuanku. anaknya terus menuntunnya tetapi bapaknya
tetap mengatakan, an-Nashir tuanku, an-Nashir tuanku
hingga mati.” Yang lain dituntun mengucapkan la ilaha
illallah malah berkata, “Perbaikilah dar fulaniah jadi
sedemikian dan kebun fulani jadikanlah demikian dan
demikian”. Dikatakan kepada seorang pendidik saat
mendekati ajalnya, ucapkan la ilaha illallah, dia malah
mengatakan, “sepuluh dikalikan satu sepuluh...terus
mengulang-ulanginya” Hingga mati. 109
108F
Sebagian lagi wajahnya menjadi hitam atau berubah dari
sebelumnya. Ibnul Jauzi -rahimahullah- berkata, “Aku
telah mendengar mengenai sebagian orang yang aku kira
banyak kebaikannya, pada beberapa malam menjelang
kematiannya mengatakan, “Tuhankulah yang telah
menzalimi aku” –Maha Suci Allah dari apa yang
diucapkannya-. Dia menuduh Allah dengan kezaliman di
ranjang kematiannya. Ibnul Jauzi melanjutkan, “Aku pun
108
109
Thariqul Hijratain hal.308.
Ad-Dâ` wad Dawâ 170,289.
116
masih saja risau dan tertarik untuk menemukan yang
serupa atas pengalaman hari itu”. 110
109F
Maha Suci Allah. Berapa banyak manusia yang
menyaksikan pelajaran dari kejadian seperti ini. Yang
tidak terungkap dari orang-orang yang menyaksikan
mereka yang sekarat lebih banyak lagi. 111
10F
8. Memperbanyak mengingat kematian.
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
( ‫أك�وا من ذكر هادم ال�ات يع� الموت )رواه ال�مذي‬
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan yaitu
kematian.” 112
1F
Mengingat kematian dapat mengerem kemaksiatan dan
melunakkan hati yang keras. Dengan mengingatnya
seseorang yang merasa sempit hidupnya akan merasa
lapang dan yang merasa lapang hidupnya akan berasa
sempit.
110
Shoidul Khawâtir hal.137.
Ad-Dâ` wad Dawâ`.
112
HR. At-Tumudzi no.2307. Lihat Sahih al-Jami no.1210.
111
117
Pengingat kematian terbesar adalah ziarah kubur. Karena
itu Nabi -shalallahu alaihi wasallam- memerintahkan
dengan sabdanya:
‫كنت نهيت�م عن ز�ارة القبور أ� فزوروها فإنها ترق القلب‬
ً
( ‫وتدمع الع� وتذكر ا�خرة و� تقولوا هجرا )رواه ا�ا�م‬
“Dahulu aku melarang kalian dari ziarah kubur, tetapi
sekarang ziarahilah, karena ia dapat melembutkan hati,
meneteskan air mata dan mengingatkan akhirat. Namun
janganlah berkata yang tidak pantas.” 113
12F
Bahkan diperbolehkan bagi muslim menziarahi
perkuburan kafir untuk mengambil pelajaran. Dalilnya
apa yang terdapat dalam Hadits sahih bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam- menziarahi kubur pamannya
kemudian menangis, sehingga menangislah orang di
sekitarnya. Beliau berkata:
‫استأذنت ر� � أن أستغفر لها فلم يـأذن � واسـتأذنته � أن‬
‫أزور ق�ها فأذن � فزوروا القبـور فإنهـا تـذكر المـوت )رواه‬
( ‫مسلم‬
113
HR. Al-Hakim 1/376.Lihat Sahih al-Jami no.4584
118
“Aku
meminta
izin
kepada
Tuhan-ku
untuk
mengampuninya tetapi Tuhan tidak mengizinkanku. Aku
meminta izin untuk menziarahinya maka Tuhan
mengizinkanku.
Ziarahilah
kubur
karena
akan
114
mengingatkan pada kematian.”
13F
Ziarah kubur termasuk wasilah besar meluluhkan hati dan
bermanfaat bagi penziarahnya untuk mengingat
kematian. Ia bermanfaat juga bagi penghuni kubur
dengan mendoakan mereka. Di antara sunah ketika
berziarah kubur sebagaimana doa Nabi -shalallahu alaihi
wasallam-:
‫)الس�م علي�م أهل ا�يار من المؤمن� والمسلم� و�رحم‬
‫ا� المستقدم� منا والمستأخر�ن و�نـا إن شـاء ا� ب�ـم‬
( ‫ل�حقون( )رواه مسلم‬
“Keselamatan atas kalian penghuni kubur dari orangorang yang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah
memberi rahmat kepada orang-orang yang mendahului
kami dan orang-orang yang belakangan. Kami insyaAllah
akan menyusul kalian.” 115
14F
114
115
HR.Muslim 3/65
HR.Muslim no.974
119
Bagi siapa saja yang hendak berziarah kubur, hendaklah
memperhatikan adab-adab dan menghadirkan hatinya
ketika mendatanginya. Maksudkanlah ziarah itu hanya
untuk mengharap wajah Allah dan membetulkan hatinya
yang rusak. Andaikan dirinya sebagai orang yang berada
di bawah tanah terpisah dari keluarga dan orang-orang
yang dicintainya. Merenungi keadaan yang telah berlalu
dari saudara-saudaranya, bagaimana upaya temantemannya mencapai angan-angan dan mengumpulkan
harta, kemudian angan-angan itu terputus dan harta tidak
dapat mencukupkan mereka. Tanah telah melumat
ketampanan paras mereka, tubuh mereka lebur di dalam
kubur dan istri-istri mereka menjanda. Ingatlah bencana
akibat terperdaya oleh sebab-sebab dan mengandalkan
kesehatan dan masa muda, condong kepada bersenangsenang dan bermain-main. Akhirnya mau tidak mau pasti
mengalami kematian. Pikirkanlah keadaan penghuni
kubur, bagaimana kedua kakinya hancur, kedua matanya
meleleh, lidahnya dimakan cacing dan tanah melusuhkan
gigi-giginya. 116
15F
Syair:
Waktu, dunia dan langit yang tinggi tidak akan bertahan
Tidak pula cahaya matahari dan bulan
116
At-tadzkirah oleh al-Qurtubi hal:16 dan setelahnya dengan perubahan.
120
Semuanya akan tinggalkan dunia walau dengan
keberatan 117
16F
Siapa yang banyak mengingat kematian dimuliakan
dengan tiga perkara: disegerakan bertaubat, ketenangan
hati dan giat beribadah.
Siapa yang melupakan kematian mengakibatkan pada tiga
perkara: menunda untuk bertaubat, tidak rida dengan
kecukupannya dan malas untuk beribadah.
Yang juga dapat membekas dalam jiwa menyaksikan
orang yang sekarat. Melihat mayat, menyaksikan orang
yang meregang nyawa, nyawa yang tercabut dan
membayangkan keadaan setelah kematiannya dapat
memutus kenikmatan-kenikmatan dari jiwa, mencegah
mata tertidur dan badan beristirahat, sehingga
membangkitkannya untuk beramal dan menambah
kesungguhan.
Hasan Al-Bashri menjenguk orang sakit dan didapatinya
dalam keadaan sakaratul maut. Dia perhatikan kepayahan
dan kesusahan orang itu sampai meninggal. Ketika
kembali kepada keluarganya, air mukanya berbeda
dengan saat dia keluar. Keluarganya menawarkan makan
117
Bait-bait syair Abdullah bin Muhammad Asy-Syantarini:Tafsir Ibnu Kasir
5/436.
121
kepadanya, “Makanlah! Semoga Allah merahmatimu.”
Hasan berkata, “Wahai keluargaku. Nikmatilah makanan
dan minuman kalian. Demi Allah, aku telah melihat
seorang yang meregang nyawa dan masih saja
memikirkannya.”
Dari kesempurnaan merasai kematian turut menyalati
jenazah, turut mengusung jenazah di pundaknya sampai
ke kuburan, turut mengubur dan menimbunkan tanah ke
atas kubur. Semua itu mengingatkan kepada akhirat. Nabi
-shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
( ‫عودوا المر� واتبعوا ا�نائز تذكر�م ا�خرة )رواه أ�د‬
“Jenguklah orang sakit dan iringi jenazah, yang demikian
itu mengingatkan kalian pada akhirat.” 118
17F
Lebih dari itu, ada pahala besar bagi yang mengiringi
jenazah. Nabi -shalallahu alaihi wasallam- menyebutkan
dalam sabdanya,
‫ من اتبع جنازة مسـلم‬:‫ و� رواية‬- ‫من شهد ا�نازة من بيتها‬
ً
ً
‫ ح� يصل عليها فله قـ�اط ومـن شـهدها‬- ‫إيمانا واحتسابا‬
‫ح� تدفن فله ق�اطان من ا�جر‬
118
HR.Ahmad 3/48 lihat Shahih Al-Jami’ 4109
122
“Barang siapa bertakziah dari rumah duka -dalam riwayat
lain: Barang siapa yang mengantarkan jenazah muslim
dengan keimanan dan berharap pahala- hingga
menyalatinya, maka baginya satu qirath, dan barang
siapa bertakziah hingga penguburan maka baginya dua
qirath pahala.”
Ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, dua qirath itu
apa?” Beliau menjawab,
( ‫مثل ا�بل� العظيم� )رواه الشيخان وغ�ها‬
“Seperti dua gunung yang besar.”
Dalam riwayat lain, setiap qirath besarannya seperti
gunung Uhud.” 119
18F
Dahulu para salaf -rahimahumullah- menasihati dengan
mengingatkan kematian manakala ada seseorang yang
terjerumus dalam maksiat. Ketika di majelis salah seorang
salaf -rahimahullah- ada seseorang yang menghibah
(menggunjing) orang lain, dia menasihati orang yang
menghibah dengan mengatakan, “Ingatlah pada kapas
bila diletakkan di kedua matamu.” Maksudnya ketika
dikafankan.
119
HR. As-Syahikhân dan selain keduanya. Lafalnya merupakan gabungan
dari beberapa riwayat. Lihat Ahkam al-Janaiz oleh al-Albani hal.67.
123
9. Di antara perkara-perkara yang memperbaharui iman
dalam hati, mengingat kejadian akhirat.
Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata: “Jika seseorang
sehat akal pikirannya dia diberi "bashiroh" (kesadaran)
berupa cahaya di hati. Menyadari janji dan ancaman,
surga dan neraka dan apa yang Allah janjikan di dunia
untuk wali-walinya dan musuh-musuhnya. Jadilah dia
manusia yang paling sadar.
Sungguh manusia akan keluar dari kubur-kuburnya
bergegas memenuhi seruan yang hak. Malaikat langit
turun mengelilingi mereka. Allah telah datang, dan telah
ditegakkan kursi-Nya untuk memutuskan perkara. Terang
benderanglah bumi (padang Mahsyar) dengan cahaya
(keadilan) Tuhan-nya; diberikan buku (perhitungan
perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para Nabi
dan saksi-saksi. Timbangan (amal) telah ditegakkan,
lembaran-lembaran
(catatan
amal)
beterbangan,
berkumpul orang yang berselisih, tersangkut setiap yang
berhutang dengan piutangnya. Ditampakkan telaga dan
gelas-gelasnya dari dekat, banyak yang kehausan dan
hanya sedikit yang mendatangi telaga itu. Jembatan telah
di bentangkan untuk menyeberang dan manusia pun
berdesak-desakan terhadapnya. Cahaya dibagikan
mengusir kegelapannya untuk dapat menyeberang,
sementara api neraka menyala-nyala satu sama lain di
124
bawahnya. Sekelompok berjatuhan dan sekelompok lain
selamat. Dibukakan dalam hatinya mata yang melihat hal
itu, hatinya seolah menyaksikan kejadian akhirat,
peristiwa demi peristiwa dan kekekalannya, sedang dunia
begitu cepat berakhir. 120
19F
Al-Qur’an banyak menyebutkan tentang kejadian hari
akhir seperti yang terdapat pada surat Qaaf, surat alWaaqi’ah, Al-Qiyaamah, Al-Mursalat, An-Nabaa, AlMuthaffifîn dan At-Takwir. Demikian juga dalam
kumpulan Hadits disebutkan dalam bab kiamat, padang
mahsyar, surga dan neraka. Selain itu semua, perlu juga
kita membaca buku-buku para ulama yang setema,
seperti kitab Haadii Al-Arwah (petunjuk ruh) karya Ibnul
Qayyim, An-Nihaayah fi Al Fitan (akhir dari ujian) karya
Ibnu Katsir, At-Tadzkirah fi Ahwaal Al Mauta wa Umuril
Âkhirah (pengingat peristiwa kematian dan perkara
akhirat) karya Qurthubi, Al-Qiyamat Al Kubra, Al-Janah wa
An-Naar (Surga dan neraka) karya Umar Al Asyqari dan
yang lainnya. Tujuannya adalah untuk menambah
keimanan, dengan mengetahui kejadian hari kiamat
seperti kebangkitan, "ma'sar" (pengumpulan), syafa’at,
penghitungan, pembalasan, qishash, timbangan, telaga,
daarul qarar, surga dan neraka.
120
Madaariju As-Saalikin 1/123.
125
10.
Di
antara
perkara-perkara
yang
dapat
memperbaharui iman, respek dengan tanda-tanda alam.
Al-Bukhari, Muslim dan selain keduanya meriwayatkan:
“Bahwa Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- jika
melihat awan mendung atau angin berubah air mukanya.”
Aisyah -radiallahu'anha- berkata, “Wahai Rasulullah, aku
perhatikan orang-orang jika melihat mendung gembira,
berharap akan turun hujan. Namun aku perhatikan jika
melihatnya engkau justru nampak khawatir.”
Nabi menjawab,
‫يا ��شة ما يؤمن� أن ي�ون فيه عذاب قد عذب قوم بالر�ح‬
‫ )هـذا �رض ممطرنـا( )رواه‬:‫وقد رأى قوم العذاب فقـالوا‬
(‫مسلم‬
“Wahai Aisyah, apa yang menjamin, bisa jadi itu adalah
azab. Telah diazab kaum terdahulu dengan angin, dan
mereka melihat sendiri azab itu datang seraya berkata,
“Ini adalah hujan yang datang.” 121
120F
Nabi -shalallahu alaihi wasallam- spontan berdiri ketika
melihat gerhana, sebagaimana yang disebutkan dalam
sahih al-Bukhari dari Abu Musa -radiallahu'anhu- katanya,
121
HR. Muslim no.899.
126
“Terjadi gerhana matahari. Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- spontan berdiri, khawatir terjadi kiamat.” 122
12F
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- memerintahkan
kita ketika terjadi gerhana matahari maupun bulan untuk
bersegera melaksanakan shalat. Beliau mengabarkan
bahwa keduanya adalah tanda-tanda yang Allah berikan
untuk mempertakuti hamba-Nya.
Tidak diragukan bahwa respons hati terhadap kejadian
dan spontanitas memperbaharui keimanan dalam hati
dan mengingatkan azab Allah, kekerasan azab-Nya,
kedahsyatan-Nya, kekuatan-Nya dan siksa-Nya.
Aisyah -radiallahu'anha- berkata, “Nabi -shalallahu alaihi
wasallam- menghela tanganku kemudian menunjuk ke
bulan, seraya berkata,
‫ استعيذي با� من � هذا فإن هذا هو الغاسـق إذا‬:‫يا ��شة‬
(‫وقب )رواه أ�د‬
“Wahai Aisyah, mintalah perlindungan kepada Allah dari
keburukan ini, sesungguhnya ini adalah kejahatan malam
jika telah gelap gulita.” 123
12F
122
123
Fathul Bâri II/545.
HR.Ahmad VI/237. Lihat as-Silsilah as-Shahihah.
127
Contoh yang lain: merasakan pengaruh ketika lewat di
tempat bekas bencana, azab atau kubur orang-orang yang
zalim.
Ibnu Umar -radiallahu'anhuma- meriwayatkan bahwa
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- berkata kepada
para sahabatnya ketika sampai al-Hijr:
‫� تدخلوا عليهم هؤ�ء المعذب� إ� أن ت�ونوا باك� فـإن‬
‫لم ت�ونوا باك� ف� تدخلوا عليهم � يصيب�م ما أصابهم‬
(‫)رواه ا�خاري‬
“Janganlah masuk ke dalamnya, mereka itu diazab,
kecuali sambil menangis. Jika kalian tidak menangis
janganlah masuk ke dalamnya, agar kalian tidak
mengalami apa yang mereka alami.” 124
123F
Demikianlah. Namun sekarang ini orang-orang
mendatanginya untuk berwisata dan berfoto. Maka
renungkanlah!!
11. Yang juga merupakan perkara yang amat penting
dalam pengobatan lemah iman adalah zikrullah -ta'âla-.
124
HR.al-Bukhari no.423.
128
Ia merupakan pembersih hati dan penyembuh. Obat di
kala sakit. Ia merupakan ruh amal saleh. Allah -subhânahu
wata'âla- telah memerintah berzikir dengan firman-Nya,
� ٓ
ٗ ِ ‫َ ذ ِۡكـ ٗر� َكث‬
َ ّ ‫ِين َء َام ُنوا ْ ٱ ۡذ ُك ُروا ْ ٱ‬
َ َّ ‫ََ ُّ َها ٱ‬
ٰ  : �‫قال تعا‬
 ��‫ـ‬
(٤:‫)ا�حزاب‬
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan
menyebut nama) Allah, dengan sebanyak-banyaknya.”
(QS.al-Ahzab:41)
Allah menjanjikan keberuntungan bagi siapa yang banyak
melakukannya:
ُۡ ۡ ُ ّ ٗ َ َّ ْ ُ ُ ۡ َ
َ
 ٤ ‫ـم �فل ُِحـون‬
�َ‫ وٱذكـروا ٱَ كثِـ�� ّعَل‬ : �‫قال تعـا‬
(٤٥:‫)ﺍﻷﻧﻔﺎﻝ‬
“...dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar
kamu beruntung. (QS.al-Anfâl: 45)
Zikrullah lebih besar dari segala-galanya:
ۡ َ ّ ُ ۡ َ�َ
َُ�
‫ و ِ�ر ٱَِ أ‬ : �‫قال تعا‬
(٤٥:‫ )ﺍﻟﻌﻨﻜﺒﻮﺕ‬ �
129
“...dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah
lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang
lain)....” (QS.al-Ankabut:45)
Ia merupakan wasiat Nabi -shalallahu alaihi wasallambagi yang tidak mampu menjalankan syariat Islam dengan
maksimal:
ً
(‫� يزال لسانك رطبا من ذكر ا� )رواه ال�مذي‬
“Senantiasakan lisanmu basah berzikir kepada Allah.” 125
124F
Zikrullah diridai Allah yang Maha penyayang dan mengusir
setan, penghilang kegalauan dan kerisauan, pendatang
rezeki, pembuka pintu-pintu makrifat, menjadi tanaman
di surga dan sebab terselamatkan dari ketergelinciran
lisan. Ia merupakan pelipur kesedihan fakir miskin yang
tidak
mampu
bersedekah.
Allah
mengganti
ketidakmampuannya dengan zikir, menggantikan
kedudukan ketaatan badaniah dan harta.
Meninggalkan zikrullah menjadi sebab kerasnya hati.
Syair:
Lupa berzikir kepada Allah adalah kematian hati mereka
Tubuh mereka menjadi kubur sebelum perkuburan
125
HR.at-Turmudzi no.3375, dan berkata Hadits ini hasan gharib. Lihat
sahih al-Kalim 3.
130
Ruh-ruh mereka terperangkap dalam jasad
Tidak ada bagi mereka kebangkitan pada hari kebangkitan
Karenanya, siapa yang ingin mengobati lemah imannya
haruslah memperbanyak zikrullah. Allah berfirman:
ُ ۡ ُّ َٓ ََ َ ّٓ
َ َ َ
ۡ ُ َ
‫ِـيت َوقـل‬
‫َۚ َوٱذكـر ّ� َّـك إِذا �س‬
‫ ِ�َ أن �شـاء ٱ‬ : �‫قال تعا‬
َ ٓ
َۡ ّ
ٗ َ َ َ
ٰ
(٢٤:‫ )ﺍﻟﻜﻬﻒ‬ ٢ ‫َ�َ أن �َ ۡهدِيَ ِن رَ ِ� ِ�ق َر َب م ِۡن �ٰذا رَشدا‬
“...dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa....”
(QS.al-Kahfi:24)
Allah -subhânahu wata'âla- menjelaskan pengaruh
zikrullah terhadap hati:
ُ ُ‫ِنُ ٱ ۡل ُقل‬
ّ �َ‫ َ� َ� بذ ِۡ�ر ٱ َِّ �َ ۡط‬ : �‫قال تعا‬
(٢٨: ‫ )ﺍﻟﺮﻋﺪ‬٢ ‫وب‬
ِ ِ
“...Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati
menjadi tenteram.” (QS.ar-Ro’du:28)
Ibnul Qoyyim –rahimahullahu ta'âla- berkata mengenai
pengobatan dengan berzikir,
131
“Pada hati ada kekerasan yang tidak bisa dilembutkan
kecuali dengan zikrullah (menyebut dan mengingat Allah).
Hendaklah seorang hamba mengobati kekerasan hatinya
dengan berzikir kepada Allah -ta'âla-. Seseorang berkata
kepada al-Hasan al-Bashri -rahimahullah-,
'Wahai Abu Sa’id (panggilan al-Hasan), aku mengadu
kepadamu akan kekerasan hatiku!
Al-Hasan menjawab,
'Lembutkan dengan zikir'.
Karena ketika hati bertambah lalai, semakin keras pulalah
ia. Jika dia berzikir kepada Allah -ta'âla-, lenyaplah
kekerasan itu seperti timah yang meleleh terkena api.
Tidak ada yang melembutkan kekerasan hati seperti
zikrullah -azzawajalla-. Zikir adalah kesembuhan hati dan
obatnya, sedangkan kelalaian adalah penyakitnya.
Kesembuhan dan obat hati ada pada zikrullah -ta'âla-.
Makhul berkata,
“Zikrullah (menyebut dan mengingat Allah) adalah
obat, sedangkan 'zikrunnâs' (mengingat manusia)
adalah penyakit.” 126
125F
Dengan berzikir seorang hamba telah mengalahkan setan,
sebagaimana setan mengalahkan manusia dengan lalai
126
Al-Wâbil as-Shoib Rôfi`ul Kalamut Toyyib hal.142.
132
dan lupa. Sebagian salafussoleh berkata, “Jika zikir telah
bertempat dalam hati, tatkala setan mendekat, ia
mengalahkannya, seperti manusia yang mendekat kepada
setan, setan akan mengerumuninya –maksudnya
mengerumuni untuk berusaha mendekati hati orang
beriman-, mereka akan mengatakan, “Tidak ada peluang
untuk yang ini.” Dikatakan pula, “Dia telah disusupi jiwa
manusia!”. 127
126F
Manusia yang tersurupi setan kebanyakannya adalah yang
biasa lalai dan tidak membentengi diri dengan wirid
maupun zikir. Karena itulah mudah bagi setan untuk
menyurupinya.
Sebagian mereka yang mengeluhkan lemah iman, terasa
berat bagi mereka terapi "qiyamullail" (shalat malam) dan
ibadah sunah. Sehingga cocok bagi mereka pengobatan
dengan menggunakan zikrullah dan mengonsistenkannya.
Hafalkan zikir-zikir mutlak dan ulang-ulangilah bacaannya,
seperti:
‫� إ� إ� ا� � ��ك � � الملك و� ا�مد وهو � � �ء‬
‫قدير‬
127
Madarijus Sâlikîn II/424.
133
[laa ilaaha illallah laa syarikalahu, lahulmulku walahul
hadmu wahua ‘ala kulli syai`in qodiir]
Artinya: “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain
Allah yang tidak memiliki sekutu, milik-Nya Kerajaan dan
segala pujian dan Dia mampu atas segala sesuatu.”
‫سبحان ا� و�حمده وسبحان ا� العظيم‬
[subhanallah wabi hamdihi wa subhanallahal adzim]
Artinya: “Maha suci Allah dan segala pujian-Nya, dan
Maha Suci Allah yang Maha Agung.”
�‫� حول و� قوة إ� با‬
[laa haula walaa quwwata illa billah]
artinya: “Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan
kekuatan Allah.”
Serta zikir-zikir lainnya.
Hafalkan juga "zikir-zikir muqoyyadah" (zikir yang terikat
dengan tempat dan waktu) yang terdapat dalam sunah,
ulang-ulangi bacaannya sesuai waktu dan tempatnya,
seperti zikir pagi dan petang, ketika tidur, bangun dari
tidur, ketika bermimpi, ketika makan, masuk kamar
mandi, melakukan safar, ketika turun hujan, ketika
mendengar azan, ketika masuk masjid, beristikharah,
134
ketika mendapat musibah, melewati kubur, ada angin
kencang, melihat hilal (awal bulan), naik kendaraan,
ketika bersin, mendengar kokok ayam, ringkikan keledai,
penutup majelis dan melihat tempat yang terkena
musibah.
Tidak diragukan, bahwa siapa yang menghafal semua doa
itu akan mendapati pengaruh dalam hatinya. Syaikhul
Islam Ibn Taimiyah memiliki risalah yang bermanfaat
mengenai zikir yang dinamakan al-Kalim at-Thayyib,
diringkas oleh al-Albani dengan nama Sahih al-Kalim atTayyib.
12. Di antara perkara yang memperbaharui iman adalah
bermunajat kepada Allah dan luluh di hadapan Allah azzawajalla-.
Semakin hamba itu merendah dan tunduk, semakin dekat
dia dengan Allah. Karena itu Rasulullah -shalallahu alaihi
wasallam- bersabda,
‫أقرب ما ي�ون العبد مـن ر�ـه وهـو سـاجد فـأك�وا ا��ء‬
(‫)رواه مسلم‬
135
“Posisi seorang hamba yang paling dekat dengan
Tuhannya adalah ketika sujud. Perbanyaklah berdoa
(ketika itu).” 128
127F
Yang demikian karena sujud adalah posisi merendah dan
menunduk, tidak seperti posisi lain. Ketika seorang hamba
menempelkan keningnya di tanah –sementara Allah Maha
Tinggi- menjadilah dia paling dekat dengan Tuhan-nya.
Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berkata dalam ungkapan
yang indah dengan bahasa merendah dan luluh bagi
orang yang bertaubat di hadapan Allah:
“Bagi Allah ucapan yang indah sebagaimana ungkapan
seorang:
‫أسألك بعزك وذ� إ� ر�ت� أسألك بقوتك وضع� و�غناك ع� وفقري‬
� �‫إ�ك هذه ناصي� ال�ذبة ا�اطئة ب� يـديك عبيـدك سـواي كثـ‬
‫ملجأ و� منجا منك إ� إ�ك أسألك مسألة المسـاك� وأبتهـل إ�ـك‬
‫ابتهال ا�اضع ا��ل وأدعوك د�ء ا�ائف ال��ر سؤال من خضـعت‬
‫لك رقبته ورغم لك أنفه وفاضت لك عيناه وذل لك قلبه‬
“Aku memohon dengan kemuliaan-Mu dan kehinaanku
agar Engkau merahmatiku. Aku meminta dengan
kekuatan-Mu dan kelemahanku, dengan kekayaan-Mu
128
HR.Muslim no.482.
136
dan kefakiranku kepada-Mu, ini adalah diriku yang
pembohong lagi pembuat salah berada di hadapan-Mu,
engkau punya hamba-hamba yang banyak selain diriku,
tidak ada tempat kembali dan mengadu kecuali kepadaMu, aku meminta kepada-Mu seperti permintaan seorang
miskin, mengiba kepada-Mu pengibaan orang yang
tunduk dan rendah, aku bermohon kepada-Mu dengan
permohonan orang yang takut dan teraniaya, permintaan
dari seorang yang merendahkan dirinya dan di bawah
kendali-Mu, untuk-Mu kedua matanya menangis, dan
untuk-Mu hatinya merendah .”
Manakala seorang hamba menghadap dengan ungkapanungkapan seperti di atas, bermunajat kepada Rab-nya,
maka iman dalam hatinya akan berlipat ganda.
Menampakkan kefakiran di hadapan Allah juga
menguatkan iman. Allah -subhânahu wata'âla- telah
mengabarkan akan kefakiran kita dan kebutuhan kita
kepada-Nya. Firman-Nya:
َُۡ ُُ َ ُ ّ
َ ُّ َ� َ
ُ ّ ‫ـرا ٓ ُء إ َ� ٱ َِّۖ َوٱ‬
َ ‫َ ُه‬
َ
ٰ ٓ  : �‫قال تعا‬
‫ـو‬
‫ق‬
‫ف‬
‫ل‬
‫ٱ‬
‫م‬
‫نـت‬
‫أ‬
‫ـاس‬
َ
‫ٱ‬
‫ـا‬
‫ه‬
ِ
ۡ
ۡ
ُ ‫�م‬
(١٥:‫ )ﻓﺎﻃﺮ‬ ١ ‫يد‬
ِ َ ‫ٱلَ�ُِ ّ ٱ‬
137
“Hai manusia, kamulah yang berhajat kepada Allah; dan
Allah, Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan
sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS.al-Fâthir:15)
13. Memendekkan angan-angan. Ini penting sekali
dalam memperbaharui keimanan.
Ibnu Qoyyim -rahimahullah- berkata:
“Di antara yang agung mengenai hal ini adalah ayat-ayat
berikut :
ْ ُ َ ّ ُ ََٓ ّ
ّ ‫ت إن‬
َ ‫ّتَ ۡع َ�ٰ ُه ۡم ِسن‬
َ ۡ‫ أَفَ َر َءي‬ : �‫قال تعا‬
‫ ُمَ جاءهم َا �نوا‬٢ �
ِ
ِ
َ
ُّ
ْ ُ َ
ّ
ُ ۡ َ� َ ۡ َ ٓ َ
َ ُ َ ُ
ٰ �‫ ما أ‬٢ ‫يوعدون‬
‫ )ﺍﻟﺸـﻌﺮﺍﺀ‬ ٢ ‫� نهم َـا �نـوا ُمَتَعـون‬
(٢٠٥:
“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada
mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun, kemudian
datang kepada mereka azab yang telah diancamkan
kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka apa
yang mereka selalu menikmatinya.” (QS.as-Syu’arâ`:205207)
138
ّ ْ ُ ۡ ّ ََ
َٗ
(٤٥: ‫ )ﻳﻮﻧﺲ‬ ِ‫كأن َ ۡم يَل َبث ٓوا ِ�َ َساعة ّم َِن ٱَّ َهار‬ : �‫قال تعا‬
“...(mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak
pernah berdiam (di dunia) melainkan hanya sesaat di
siang hari....” (QS.Yunus:45)
Sebegitulah
dunia,
hendaklah
manusia
jangan
memanjangkan angan-angannya dengan mengatakan,
“Aku akan hidup dan terus hidup.”
Sebagian Salafussoleh mengatakan kepada seorang lelaki,
“Shalatlah zuhur bersama kami!”
Dia menjawab,
“Jika aku shalat zuhur bersama kalian, shalat asarnya
tidak akan shalat bersama kalian!”
Maka dikatakan kepadanya: “Seolah engkau
berangan-angan akan hidup sampai tiba waktu shalat
asar. Kami berlindung kepada Allah dari panjangnya
angan-angan.”
14. Merenungi kehinaan dunia, hingga pupus
ketergantungan kepada dunia dari hati seorang hamba.
Allah -subhânahu wata'âla- berfirman:
139
ُۡ َ ّ ٓ ۡ
َ ۡ ‫ َو َما ٱ‬... : �‫قال تعا‬
 ١ ِ‫� َي ٰوةُ ٱ ُّ� َيا ِ�َ َم�ٰ ُع ٱلغ ُرور‬
(١٨٥:‫)ﺁﻝ ﻋﻤﺮﺍﻥ‬
“...kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan
yang memperdayakan.” (QS.Ali Imrân:185)
Nabi -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
ً
‫إن مطعم ابن آدم قد �ب ل�نيا مث� فانظر ما �رج من ابن‬
(�‫آدم و�ن قزحه وملحه قد علم إ� ما يص� )رواه الط�ا‬
“Sesungguhnya makanan anak Adam merupakan
permisalan dunia. Lihatlah apa yang dikeluarkan anak
Adam, padahal itu adalah bumbu dan garam (yang
semula dimakannya), sehingga sadar akan menjadi apa
dia.” 129
128F
Abu Hurairah -radiallahu'anhu- berkata, aku mendengar
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
ً
ً
‫ا�نيا ملعونة ملعون ما فيها إ� ذكر ا� ومـا وا�ه أو علمـا أو متعلمـا‬
(‫)رواه ابن ماجه‬
129
HR. at-Thabarani dalam al-Kabîr I/198. Lihat silsilah as-Shahihah no.382.
140
“Dunia terlaknat serta apa-apa yang ada di dalamnya,
kecuali zikrullah dan yang berkaitan dengannya atau ilmu
atau mempelajari ilmu.” 130
129F
15. Yang juga perkara yang dapat memperbarui
keimanan dalam hati, mengagungkan "hurumatillah"
(hak-hak Allah).
Allah -ta'âla- berfirman,
ۡ َ�
ّ ّ
ٰ ٓ �َ ‫ َو َمن ُ� َع ّ ِظ ۡم‬ :�‫قال تعا‬
‫َ� ِ َر ٱَِ َإِ�َ َهـا مِـن قـوَى‬
ُ ُۡ
(٣٢:‫ ) ﺍﳊﺞ‬٣ ‫وب‬
ِ ‫ٱلقل‬
“Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa
mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu
timbul dari ketakwaan hati.” (QS.al-Hajj: 32)
Hurumatillah adalah hak-hak Allah -ta'âla-. Bisa pada
perorangan, tempat maupun pada waktu. Di antara
bentuk pengagungan hak-hak Allah pada perorangan
130
HR.Ibnu Mâjah no.4112. Lihat shahih at-Targhib no.71.
141
seperti menunaikan hak-hak Rasulullah -shalallahu alaihi
wasallam-. Di antara bentuk mengagungkan pada tempat
seperti mengagungkan tanah suci (Mekkah dan Madinah),
dan pada waktu seperti mengagungkan bulan Ramadhan.
ّ ۡ َ َ َُ ّ
َ ُ ۡ َُّ ََ
‫ ومن �ع ِظ‬ : �‫قال تعا‬
‫ َُۥ‬ٞ�‫ـ‬
‫ت ٱَِ �هـو خ‬
ِ ‫ـم ح ُر�ٰـ‬
ّ ‫ِند‬
َ ‫ع‬
(٣٠/‫ )ﺍﳊﺞ‬ ‫رَ�ِهِۦ‬
“...dan barangsiapa mengagungkan apa-apa yang
terhormat di sisi Allah maka itu adalah lebih baik baginya
di sisi Tuhan-nya....” (QS.al-Hajj:30)
Di antara bentuk mengagungkan hak-hak Allah, tidak
meremehkan dosa-dosa kecil. Abdullah Ibn Mas’ud radiallahu'anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam- bersabda,
�‫إيا�م و�قـرات ا�نـوب فـإنهن �ـتمعن � الرجـل حـ‬
( ‫يهلكنه )رواه أ�د‬
“Hindarilah dirimu dari dosa-dosa remeh, sesungguhnya
dia
terkumpul
pada
seseorang
hingga
membinasakannya.”
Rasulullah -shalallahu alaihi wasallam- memberikan
contoh seperti suatu kaum yang datang ke suatu gurun,
142
mulailah seorang demi seorang mengumpulkan ranting
hingga menjadi gundukan besar, kemudian dinyalakanlah
api hingga menghancurkan apa saja yang dimasukkan ke
dalamnya.” 131
130F
Syair:
Jangan meremehkan sesuatu yang kecil
Sesunguhnya gunung berasal dari batu kecil
Ibnul Jauzi berkata dalam kitab Shaidul Khatr:
“Kebanyakan manusia menganggap biasa perkara-perkara
remeh padahal mengandung cela pada asalnya. Seperti
melepaskan pandangan pada perkara haram atau
meminjam buku dan tidak memulangkannya.”
Sebagian salafussoleh berkata:
“Aku meremehkan satu suapan sehingga memakannya,
dan kini aku telah berumur 40 tahun dari waktu itu.”
Ini adalah bentuk "ketawadu'annya" (kerendahan hati) rahimahullah.
131
HR.Ahmad I/402. Lihat as-Silsilah as-Shahihah no.389.
143
16- Yang dapat memperbaharui iman dalam hati: "wala'
dan baro`" yaitu bersikap loyal terhadap orang mu’min
dan berlepas diri terhadap orang kafir.
Jika hati terkait dengan musuh Allah akan lemah dan
pupuslah aqidah di dalamnya. Apabila loyalitas
dimurnikan kepada Allah, maka akan loyal kepada hambahamba Allah yang beriman, membela mereka, dan
membenci dan memusuhi musuh-musuh Allah, sehingga
menjadi hiduplah keimanannya.
17. Kerendahan hati memiliki pengaruh dalam
memperbaharui keimanan dan kemuliaan hati dari
dampak kesombongan.
Karena rendah hati dalam berbicara dan bersikap
merupakan cerminan kerendahan hati kepada Allah. Nabi
-shalallahu alaihi wasallam- bersabda:
‫)ا�ذاذة من ا�يمان( رواه ابن ماجه‬
“Kesederhanaan pada pakaian sebagian dari iman” 132
13F
Artinya rendah hati pada tubuh dan berpakaian 133
132F
Sabda beliau pula:
132
133
H.R.Ibnu Majah 4118 Lihat as-Silsilah ash Sahih No.341
Lihat an-Nihâyah karya Ibnu al-Atsir 1/110
144
ً
‫)من ترك اللباس تواضعا � وهـو يقـدر عليـه د�ه ا� يـوم‬
‫القيامة � رؤوس ا��ئق ح� ��ه من أي حلـل ا�يمـان‬
‫شاء يلبسها( رواه ال�مذي‬
“Siapa yang meninggalkan berpakaian mewah
"tawadu'an" (rendah hati) karena Allah sedangkan ia
mampu untuk itu, Allah akan menyerunya pada hari
kiamat di antara makhluk-Nya hingga dipersilahkan untuk
mengenakan perhiasan iman yang dikehendakinya." 134
13 F
Abdurrahman ibn Auf -radiallahu'anhu- dahulu tidak
dapat dibedakan dengan para hamba sahayanya jika
sedang berada di antara mereka.
18. Ada amalan-amalan hati yang penting dalam
memperbaharui keimanan seperti "mahabbatullah" (cinta
kepada Allah), takut kepada-Nya, mengharap kepada-Nya,
berbaik sangka kepada-Nya, bertawakal kepada-Nya, rida
kepada Allah dan ketentuan-ketentuan-Nya, bersyukur
kepada-Nya, membenarkan-Nya, yakin kepada-Nya,
percaya kepada-Nya, taubat kepada-Nya dan amalanamalan hati lainnya.
134
H.R.at-Tirmidzi No.2481 Lihat as-Silsilah ash-Shahihah 718
145
Ada pula "maqamat" (kedudukan) yang selayaknya
seorang
hamba
sampai
kepadanya
untuk
menyempurnakan penyembuhan, seperti "istiqamah"
(konsisten dalam beramal), "inabah" (kembali kepada
Allah), mengingat-Nya, berpegang teguh kepada kitab dan
sunah, khusyu’, "al zuhdu wal wara’" (sederha dan rendah
hati), dan "muraqabah" (merasa dalam pengawasan
Allah).
Maqomat ini telah dipaparkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah- dalam kitabnya Madâriju as-Sâlikîn.
19. Mengintropeksi
memperbaharui hati.
diri
juga
penting
dalam
Allah -azzawajalla- berfirman:
ُ ََۡ َّ ْ ُّ ْ ُ َ َ َ ّ َ ّ�ٰٓ
ٞ ‫نظ ۡر �َ ۡفـ‬
‫س َّـا‬
�‫ ََُها ٱَِين ءامنوا ٱَقوا ٱَ و‬ : �‫قال تعا‬
َ ۡ َ ّ
(١٨: ‫ )ﺍﳊﺸﺮ‬ �ٖ‫ت ل ِغد‬
‫َدَم‬
“Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa
yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”.
(Q.S.al-Hasyr:18)
Umar ibn Khatthab -radiallahu'anhu- berkata,
146
“Introspeksilah (hitung-hitung) diri kalian sebelum kalian
dihitung.”
Al-Hasan berkata,
“Janganlah kamu bertemu seorang mukmin kecuali
introspeksilah diri.”
Maimun ibn Mahran pun berkata,
“Sesungguhnya orang yang bertakwa lebih ketat
menghitung dirinya sendiri dari pada teman yang kikir."
Ibnul Qayyim berkata,
“Celakalah jiwa yang lalai menghitung dirinya dan
memperturutkan hawa nafsunya.”
Seorang muslim hendaknya meluangkan waktunya untuk
"berkhalwat" (menyendiri) merenungi dirinya sendiri,
mengevaluasi,
menghitung
dan
memperhatikan
keadaannya, bekal apa yang telah dipersiapkan untuk hari
kiamat.
20. Sebagai penutup, doa kepada Allah -azzawajallamerupakan sebab yang terkuat yang selayaknya seorang
hamba mengupayakannya. Sebagaimana Nabi -shalallahu
alaihi wasallam- bersabda:
147
‫إن ا�يمان �خلق � جوف أحد�م كما �لق ا�ـوب فاسـألوا ا� أن‬
‫�دد ا�يمان � قلو��م‬
“Sesungguhnya iman itu diciptakan di dalam diri setiap
kalian sebagaimana pakaian dibuat, maka mohonlah
kepada Allah untuk memperbaharui iman dalam hati
kalian.”
“Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu
dengan nama-nama-Mu yang baik dan sifat-sifat-Mu yang
tinggi agar memperbaharui iman dalam hati-hati kami. Ya
Allah, jadikanlah kami cinta kepada keimanan dan hiasilah
ia pada hati-hati kami. Jadikanlah kami benci kepada
kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan, jadikanlah kami
orang-orang yang diberi petunjuk. Maha suci Tuhan yang
Maha Perkasa dari apa yang disifati-Nya dan keselamatan
atas para Rasul pengemban risalah dan segala puji bagi
Allah Tuhan semesta alam”.
148
Fly UP