...

Hotel Tugu, Arsitekturnya Bagus, Loh..

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Hotel Tugu, Arsitekturnya Bagus, Loh..
“In, temenin ke Lombok, yuk! Nginep di Hotel Tugu, arsitekturnya bagus, loh..,” ajak Vira, salah satu
founder indohoy.com yang kukunjungi malam itu di apartemennya sambil mengembalikan adaptor. Eh, Lombok?
Baru 10 bulan yang silam aku mengunjungi pulau itu mendaki gunung Rinjani dan berkeliling. Tapi tawaran
Vira amat menggoda iman untuk kembali ke pulau seribu masjid itu. Jaringan Hotel Tugu yang dikenal sebagai
heritage boutique hotel dan sering memasukkan unsur budaya di bangunan maupun materialnya, membuatku
tertarik untuk melihat bagaimana bahan-bahan kuno masih relevan dimasukkan ke masa kini. Dua hari
kemudian aku menyetujui untuk bertemu Vira di Lombok pada awal Oktober.
Pulau Lombok terlihat amat sepi ketika aku tiba hampir tengah malam itu. Seorang supir yang menjemputku,
bernama Pak Lalu membawaku ke kompleks hotel Tugu sejauh hampir 2 jam dari Bandara Internasional
Lombok di Praya, Lombok Tengah. Menuju ke utara, Pak Lalu lincah membawa kendaraannya melalui Monkey
Forest, salah satu hutan yang menarik juga di dataran tinggi Lombok. Sebenarnya ada jalan lain ke sini, yaitu
melalui tepian pantai Senggigi, namun agak memutar sekitar 15-20 menit.
Kami berkendara terus ke utara sampai Pak Lalu menunjukkan simpang arah Pelabuhan Bangsal, tempat naik
kapal menyeberang ke Gili Trawangan. Berbelok ke kanan, tak lama kemudian muncullah patok arah
bertuliskan Hotel Tugu. “Pantai ini namanya Pantai Sire, di Lombok Utara” sambil menyetir Pak Lalu
memberitahuku. Mobil memasuki jalan desa yang berpasir, melalui satu kampung yang penduduknya sudah
tertidur, kemudian melalui satu dinding yang di sampingnya terdapat deretan pohon kayu berwarna putih, baru
kami memasuki gerbang berhenti di depan bangunan lobby. Karena mengantuk, aku langsung tidur begitu
memasuki kamar yang sudah terisi terlebih dahulu oleh Vira.
Pagi-pagi kami dibangunkan oleh alarm ponsel dan petugas resepsionis yang mengingatkan Breakfast by the Sea.
Yes, pagi ini kami akan sarapan di tengah laut dengan perahu naga dan menikmati pemandangan seputaran
Gili Air. Setelah berpikir lama memutuskan mau pakai baju warna apa supaya bagus difoto (buat aku dan Vira,
hal ini penting banget!), kami berjalan santai ke arah pantai yang berpasir putih. Wah, di pantai terdapat
beberapa gazebo bambu untuk memandang laut dengan santai. Memandang ke arah timur, puncak Rinjani
berdiri anggun di tengah pegunungan sekitarnya, dengan lautan sebagai latar depan. Semburat lembayung
membias menunggu matahari yang masih bersembunyi di baliknya.
Kami disambut oleh Mas Januar yang membawakan minuman pesanan, jus stroberi untukku dan jus semangka
milik Vira. Bebarengan dengan mbak Era sebagai Public Relation Hotel Tugu dan dua orang staffnya, kami
berlima menaiki kapal kayu dengan hiasan kepala naga yang ada di depannya. Aku naik ke lantai atas beralas
datar yang sudah dialasi kasur empuk untuk kami bersantai-santai.
Perahu Naga Mesem ini dibuat terinspirasi oleh kisah cinta antara Dewi Anjani yang turun dari puncak gunung
Rinjani untuk berdoa di pantai, namun jatuh cinta pada pangeran Naga Laut yang memikatnya dan tidak
kembali ke puncak lagi. Batara Guru yang merasa kecewa, meminta Dewa Surya dan Dewa Bayu untuk memikat
sang Dewi untuk kembali ke puncak, namun tidak berhasil. Akhirnya dibuatlah perjanjian untuk menceritakan
kisah cinta ini secara turun temurun. Hotel Tugu membuat perahu Naga Mesem ini sebagai perlambang cinta
pasangan yang mengendarainya.
Kapal melaju dengan kecepatan rendah dibantu oleh motor tempel yang menderu. Di timur sana, perlahanlahan matahari mulai naik. Kami berputar memandang Gili Air yang tidak terlalu jauh. Udara pagi cukup
berangin menghembuskan kesejukan di geladak datar itu. Tidak terlalu banyak nelayan dari perairan sekitar
yang berputar-putar mencari ikan.
Sarapan kami adalah tiga butir telur yang dibuat omelet dipadu dengan roti dan garnis segar. Ketika perlahan
matahari mulai menampakkan diri dari balik Rinjani, kami mulai menyantap telur dengan tambahan sedikit
merica. Kata orang, udara laut gampang membuat perut terasa lapar. Benar juga sih, tak lama kemudian dua
potong roti dan omelet itu sudah berpindah ke perutku.
Kami ditunjukkan Bay Rocks, tempat pembudidayaan terumbu karang yang juga diprakarsai hotel Tugu.
Sayang, tempatnya tertutup satu tongkang kecil yang mengapung di atasnya. “Kami boleh nyemplung ke situ,
mas?” tanya Vira. “Nanti sore saja, mbak. Kapalnya ada jadwal mau dipakai lagi,” jawab mas Januar. Okelah,
berarti nanti sore kami kembali lagi.
Tiba di daratan, aku dan Vira disambut Hanny salah satu petugas yang bertugas menjelaskan isi hotel Tugu
pada kami. Lahan seluas enam hektar itu diisi oleh berbagai macam fungsi bangunan untuk mengakomodasi
kebutuhan hotel. “Saat ini kami sedang mengadakan pembangunan di ujung timur, nanti bisa dilihat,” jelas
Hanny yang pagi itu mengenakan kebaya berwarna merah.
“Bangunan Lobby Ampenan ini dulu adalah kepunyaan seorang melayu bernama Haji Abdul Kodir, yang
direlokasi ke sini. Asalnya dari daerah Ampenan yang berada di pusat kota Mataram. Dulu warga asli maupun
pendatang hidup berdampingan sehingga rumah Melayu ini disewa oleh seorang Cina hingga datang Belanda
yang mengkotak-kotakkan etnis dan dipisah menjadi Kampung Cina, Kampung Arab, Kampung Melayu.
Karenanya, rumah ini rencana dipindahkan sesuai dengan lokasi etnis yang ditentukan, namun entah kenapa
tidak jadi pindah. Beberapa tahun yang lalu Pak Anhar pemilik grup hotel Tugu membeli rumah ini untuk dirakit
kembali di sini, di Pantai Sire,” Hanny menerangkan asal muasal bangunan etnik ini.
Aku menebak umur bangunan ini pasti sudah lebih dari 100 tahun. Zaman dahulu, orang hanya menebang
pohon ketika cukup umur untuk ditebang sehingga kayu yang dihasilkan bisa tahan lama. Sistem pengawetan
tradisional pun membuat kayu-kayu tua ini tak mudah lapuk ketika dipindah, dibongkar dan dipasang kembali.
Lantai bangunan dari tegel kuno baik polos dan dikombinasikan dengan tegel bercorak. Terdapat beberapa
dinding pembatas rendah yang berlapis keramik biru, mengingatkan pada motif cina.
Di depan konter resepsionis ada rantang kaleng yang besar sebagai pajangan. Di depannya ada dua set sitting
groups berisi meja dan dua buah bangku. Hanya dua? Ya tentu, karena pasar utama hotel ini adalah pasangan
yang mau honeymoon, mencari tempat tersembunyi yang indah dan romantis. Di salah satu sudut terdapat
perpustakaan dengan buku-buku berbahasa Inggris baik novel maupun travel guide untuk ke daerah-daerah
sekitar.
Hanny mengajak kami melalui Jembatan Singa Barong, yang menghubungkan area bangunan lobby dengan area
hotel. Jembatan ini berdiri di atas kolam besar dengan air mancur dengan material lantainya kayu tersusun.
Tiang-tiangnya didominasi warna hijau dengan ukiran barong. Atap jembatan yang berlapis rumbia ini diberi
hiasan ujung wuwungan berupa ukiran singa barong dari batu.
Kami memasuki bangunan terbesar di kompleks hotel ini, yaitu Bale Kokok Pletok yang difungsikan sebagai
restoran. Di tiang-tiangnya dihiasi dengan patung Dewi Sri yang langsing dan anggun. Alkisah, Dewi Sri dan
kakaknya dikutuk menjadi ular dan ayam karena tidak mau tinggal di istana. Karena ia berkelakuan baik, Sang
Hyang Jagadnata membebaskan Dewi Sri dari kutukan ayahnya dan dijadikan dewi kesuburan. Perlambang ini
dianggap cocok untuk menemani pasangan yang berbulan madu di sini. Bale ini tingginya wuwungannya
hampir 10 meter dan terbuka langsung ke arah lapangan hijau dan kolam renang yang berada di depan dan
sampingnya. Lantainya dari batu bata yang disusun bersilangan. Ada beberapa set kursi di sini, yang paling
banyak adalah kursi kayu. Menghadap kolam renang, ada kasur dengan bantal-bantal yang menggoda kami
untuk tidur-tiduran bermalasan sambil menikmati jus menghadap kolam renang. Pahatan kepala ayam dan ular
yang menutup ujung wuwungan mengingat kisah Dewi Sri ini.
Hanny mengajak aku dan Vira ke Loro Jonggrang Bar yang berada di samping Bale Kokok Pletok. Konsep
ruangan ini sama dengan Restoran Loro Jonggrang yang di Jakarta. Di sini terdapat banyak gambar-gambar
Loro Jonggrang yang berwajah hitam, dan juga Bandung Bondowoso si peminang putri yang gagal. Restoran ini
lebih ramai di malam hari, menyajikan masakan nusantara maupun barat. Atapnya juga dari rumbia yang belum
diganti sejak tahun 2008. “Kalau di restoran ini atapnya belum pernah diganti, sementara lobby Ampenan
sudah pernah diganti sekali tahun kemarin,” kata Hanny. Material tradisional ini memang memberikan udara
sejuk di bawahnya, namun juga mengundang binatang-binatang kecil juga. Karenanya untuk area kamar
menggunakan atap sintetis. Di depan Loro Jonggrang terdapat area ‘Pasar Malam’ yang kalau tahun baru
digunakann untuk acara bakar ikan dan lain-lain oleh tamu-tamunya. Di sampingnya ada dapur kecil yang bisa
digunakan sebagai cooking class tamu-tamu hotel yang berminat.
Kami masuk ke villa pertama, Bhagavad Gita yang berarti nyanyian surga. Dari lorong dibatasi dengan gerbang
berpintu kayu dan halaman sepanjang 8 meter, baru sampai pintu bangunan eksklusif ini. Di depannya ada
teras kecil dengan bangku pendek yang sengaja diletakkan untuk mengingat masa kecil di situ. Pintunya ganda
dengan material kayu dicat duco putih dengan krepyak di bagian atas. Uniknya, engsel yang dipakai pun
berukir cantik! Kami memasuki ruangan besar itu dengan tempat tidur kayu besar berbentuk ambin dan tiangtiang dengan kelambu putih melengkung yang digantung pada kuda-kuda.
Kamar mandinya memanjang dengan bathub batu di ruang terbuka dan pancuran bambu. Dinding-dinding
kamar mandi pun terbuat dari bambu yang berjajar. Di dalamnya didominasi warna hijau untuk dinding dan
marmer putih untuk meja lavatory. Tempat ini sangat cocok untuk menyendiri dan menikmati kedamaian untuk
pasangan yang berbulan madu tanpa terganggu lingkungan sekitar.
Villa kedua yang kami masuki dinamakan Aloon-Aloon. Areanya mengitari satu tanah lapang sesuai dengan
nama villanya. Karena areanya di dalam, di setiap villa ini terdapat private tropical garden yang bisa dinikmati
tanpa terganggu orang lalu lalang. Setelah memasuki gerbangnya ada daybed dan meja kayu untuk dudukduduk di luar. Tempat tidurnya berupa dipan rendah dengan kelambu yang digantung. Ada cermin kayu ukir
juga untuk memacak diri, juga sitting groups dan televisi. Kamar mandinya didominasi warna hijau dengan
bathub bulat dari bahan tembaga.
Kami berjalan ke arah tengah melintasi tanah lapang besar di samping bangunan spa. Ada bale pertemuan
yang sedang dibangun untuk event-event pernikahan. “Bangunan ini berasal dari Cakranegara, baru
direkonstruksi di sini,” kata Hanny menunjukkan Sang Hyang Barong Temple. Dilihat dari kayunya yang cukup
tua, tampak pekerja sedang menghaluskan beberapa bagiannya. Ada meja makan yang diset rapi lengkap
dengan segala peralatan makannya. Kursi-kursi kayu tua pun berjajar di belakangnya.
Di belakangnya ada koridor dengan villa-villa berjajar yang kami masuki salah satunya. Rupanya villa ini untuk
keluarga, karena selain satu bed besar pada ruang utama, ada juga sepasang bed di kamar di baliknya. Cocok
untuk berlibur bersama-sama di sini. Antara kamar anak dan kamar utama dihubungkan dengan kamar mandi
yang menghadap area terbuka. Tepat di belakangnya ada beranda untuk duduk-duduk sekadar minum teh.
Di ujung dekat villa ada beberapa kamar lagi yang sedang dibangun dan belum difungsikan. “Pak Anhar
menyimpan banyak koleksi dari Kampung Cina di Ampenan di sini,” kata Hanny sambil menunjukkan beberapa
barang yang dipajang di situ. “Kampung Ampenan ini dikonsepkan seperti rumah-rumah Cina, dengan koridor
penghubung di bagian depannya untuk sirkulasi. Gawangan bulat ini juga terinspirasi oleh lokasi di Lombok.”
Kamarnya tidak terlalu besar dibanding villa sebelumnya, dengan dinding didominasi warna biru laut. Dipan
kayu dengan kelambu berada di tengah ruangan dengan meja dengan ukiran khas Cina. Kamar mandi masih
menggunakan bathub bulat dengan keramik warna hijau. Warna merah yang digunakan sebagai aksen
memberikan pengaruh kuat untuk ruangan ini.
Villa terbesar yang kami lihat adalah Sang Hyang Jagadnata. Terletak di tengah-tengah di samping Sang Hyang
Barong Temple, gerbangnya adalah sepasang tiang tinggi berwarna putih di depan patung Mahesa Sura. Kami
disambut patung Buddha tidur di dalam ruangan dan satu bed besar dengan aksen warna merah. Terasa sekali
sentuhan Cina di sini. Tempat tidur besar itu menghadap ke satu private pool yang besar dan menghadap
langsung ke laut. Kelambu biru yang menggantung mengingatkanku pada the blue lotus di komik Tintin karya
Herge. Di satu sudutnya ada patung Rama dan Sinta berduaan yang diyakini bisa meningkatkan kemesraan
pasangan. Furnitur di kamar ini cukup indah. Ada satu kursi kayu penuh dengan ukiran yang rumit sengaja
dihadirkan di sini. Walk-in closet dengan partisi kisi-kisi berwarna merah memberi aksen suasana temaram
.
Kembali ke luar, kami menemukan ukiran besi bermotif Lembu pada pintu masuk gerbang area President Suite
ini. Selera Pak Anhar terhadap kekayaan budaya nusantara ini diterapkan di berbagai lokasi, tidak hanya
sebagai ornamental belaka. Lampion-lampion besar pun bergantungan di lapangan sekeliling area villa ini.
Kami kembali ke kamar tempat kami beristirahat di Kampong Lombok Bungalows. Bangunan dengan dua bed
ini dilengkapi dengan furnitur unik. Kayu bulat untuk tempat tidurnya yang tinggi dan disusun acak untuk
headboardnya. Pertama melihatnya di malam sebelumnya, aku jatuh cinta pada bentuk bed ini. Kami
berlompatan ke tempat tidur masing-masing untuk beristirahat menunggu aktivitas sore nanti yang pasti tidak
kalah seru. Hmm, tempat ini selain cocok untuk honeymoon, juga cocok untuk melarikan diri sejenak dari
aktivitas sehari-hari. Apalagi di malam purnama seperti sekarang.
HOTEL TUGU LOMBOK
Location : Sire Beach, Lombok
Jl. Pantai Sire, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung,
West Lombok –INDONESIA
Telephone : (62 – 370) 6120111
Facsimile : (62 – 370) 6120444
E-mail : [email protected]
Website : www.tuguhotels.com
GPS point : 8°21’50.18″ S 116°06’37.91″ E elev 12 ft
Fly UP