...

PDF: PKM-GT-10-UM-Bagus-Pengawetan Bambu Dengan

by user

on
Category: Documents
9

views

Report

Comments

Transcript

PDF: PKM-GT-10-UM-Bagus-Pengawetan Bambu Dengan
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
PENGAWETAN BAMBU DENGAN ALAT BUCHERY-MORISCO
MENGGUNAKAN PESTISIDA NABATI CAMPURAN EKSTRAK BIJI
MIMBA DAN FILTRAT UMBI GADUNG SEBAGAI BAHAN
PENGAWET BAMBU RAMAH LINGKUNGAN
BIDANG KEGIATAN:
PKM-GT
Diusulkan oleh:
Bagus Dwi Hirmawan
Etty Kurniawati
Maya Indriyani
(107521407620 / 2007)
(108521409833 / 2008)
(107521409827 / 2007)
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Malang
2010
i
LEMBAR PENGESAHAN USULAN PROGRAM KREATIVITAS
MAHASISWA GAGASAN TERTULIS
1. Judul Kegiatan
2.
3.
4.
5.
: Pengawetan Bambu dengan Alat Buchery-Morisco
Menggunakan Pestisida Nabati Campuran Ekstrak Biji
Mimba dan Filtrat Umbi Gadung Sebagai Bahan Pengawet
Bambu Ramah Lingkungan
Bidang Kegiatan : ( ) PKM-AI
( ) PKM-GT
Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap
: Bagus Dwi Hirmawan
b. NIM
: 107521407620
c. Jurusan
: Teknik Sipil
d. Universitas
: Universitas Negeri Malang (UM)
e. Alamat Rumah dan No Telp./HP : Jl. Kertoraharjo 77 B
Malang – Jawa Timur
085732422595
f. Alamat e-mail
: [email protected]
Anggota Pelaksana Kegiatan
: 2 orang
Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar
: Drs. Karyadi, S.Pd.,M.P.,M.T.
b. NIP
: 196103121987031001
c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Jl. Candi VB/566 Karangbesuki Malang. Telp. (0341) 586013
Menyetujui, Malang 24 Februari 2010
Ketua Jurusan Teknik Sipil,
Ketua Pelaksana Kegiatan,
(Drs. Adjib Karjanto, S.T, M.T.)
(Bagus Dwi Hirmawan)
NIP 131760391
NIM 107521407620
Pembantu Rektor
Dosen Pendamping
Bidang Kemahasiswaan
(Drs. Kadim Masjkur, M. Pd.)
(Drs. Karyadi, S.Pd.,M.P.,M.T.)
NIP 195412161981021001
NIP 196103121987031001
ii
KATA PENGANTAR
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena hanya dengan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis ini tepat pada waktunya.
Karya tulis yang berjudul Pengawetan Bambu dengan Alat Buchery-Morisco
Menggunakan Pestisida Nabati Campuran Ekstrak Biji Mimba dan Filtrat Umbi
Gadung Sebagai Bahan Pengawet Bambu Ramah Lingkungan.
Pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Kedua orang tua penulis yang telah memberikan dukungan dan do’a dalam
penyusunan karya tulis ini.
2. Bapak Drs. Kadim Masjkur, M. Pd. selaku pembantu rektor bidang
kemahasiswaan.
3. Bapak Drs. Adjib Karjanto S.T, M.T selaku ketua jurusan teknik sipil
4. Bapak Drs. Karyadi, S.Pd.,M.P,M.T. selaku dosen pembimbing.
5. Serta seluruh pihak yang terlibat dan membantu dalam penulisan karya
tulis ini.
Penulis berharap karya tulis ini dapat memberikan manfaat sebagai sumber
informasi bagi para pembaca dan juga bermanfaat untuk memberikan
pengetahuan kepada masyarakat.
Sangat disadari, bahwa dalam penyusunan tulisan ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu saran-saran dan masukan-masukan positif sangat
diharapkan demi kesempurnaan tulisan ini dimasa-masa yang akan datang.
Akhir kata penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya jika dalam
penulisan ini masih banyak kekurangan. Semoga
tulisan ini dapat
memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.
Malang, 24 Februari 2010
Penulis
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................ ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................ iii
DAFTAR ISI....................................................................................................... iv
RINGKASAN KARYA TULIS.......................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.1 Perumusan Masalah ................................................................................ 3
1.2 Tujuan ..................................................................................................... 3
1.3 Manfaat ................................................................................................... 3
BAB II TELAAH PUSTAKA ............................................................................4
2.1 Pengawetan Bambu................................................................................4
2.2 ................................................................................................... Pote
nsi Bambu di Indonesia ..........................................................................4
2.3 .....................................................................................................Pen
gawetan Bambu dengan Menggunakan Alat Buchery-Morisco............. 5
2.4 .....................................................................................................Ba
haya Pengawetan Bambu Menggunakan Bahan Kimia ........................ 5
2.5 .....................................................................................................Um
bi Gadung ............................................................................................... 6
2.6 .....................................................................................................Biji
Mimba .................................................................................................... 7
2.7 .....................................................................................................Dat
a penelitian sebelumnya ......................................................................... 8
BAB III METODE PENULISAN....................................................................... 9
BAB IV ANALISIS DAN SINTESIS
4.1 Campuran Ekstrak Biji Mimba dan Filtrat Umbi Gadung Sebagai
Pestisida Nabati untuk Bahan Pengawet Bambu .................................. 10
4.2 Tingkat Racun yang Dihasilkan Dari Campuran Ekstrak Biji Mimba
dan Filtrat Umbi Gadung Sebagai Pestisida Nabati untuk
Bahan Pengawet Bambu ........................................................................ 11
4.3 Nilai Ekonomis Pengawetan Bambu dengan Alat Buchery-Morisco
Menggunakan Pestisida Nabati Sebagai Bahan Pengawet...................... 12
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ............................................................................................. 14
5.2 Saran........................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 16
DAFTAR RIWAYAT HIDUP............................................................................ vii
iv
LAMPIRAN
RINGKASAN KARYA TULIS
Kebutuhan kayu sebagai bahan bangunan meningkat seiring dengan
perkembangan jumlah penduduk di Indonesia. Kayu juga dipakai oleh Negara
sebagai penghasil devisa negara. Namun dengan merebaknya illegal loging, maka
di Indonesia telah terjadi kerusakan hutan yang sangat parah dan mengganggu
kelestarian lingkungan hidup. Dalam hal ini, tentunya terlebih dahulu perlu dicari
bahan lain untuk menggantikan kayu sebagai bahan bangunan. Bahan tersebut
adalah bambu, bambu juga mempunyai banyak keunggulan untuk dijadikan
pengganti kayu sebagai bahan bangunan. Bambu mudah ditanam dan tidak
memerlukan pemeliharaan secara khusus.
Liese (1980) menyatakan bahwa bambu umumnya mempunyai keawetan
alami rendah, walaupun ada perbedaan dalam jenisnya. Bambu mudah sekali
diserang oleh organisme perusak seperti bubuk kayu kering, rayap kayu kering
dan rayap subteran.
Oleh karena itu bambu sebelum digunakan sebagai bahan bangunan pada
umumnya adalah proses pemasukan bahan kimia ke dalam kayu untuk
meningkatkan keawetannya. Pengawetan bambu dengan alat morisco yang
digagas memiliki kelebihan yakni mudah pelaksanaanya dan murah namun
kekuranganya bahan pengawet bambu sampai sekarang masih menggunakan
boraks. Menurut (Handayani, 2008) boraks bila menguap di udara, berupa gas
yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga merangsang
hidung, tenggorokan, dan mata.
Penulisan ini dikaji dan disusun secara runtut sehingga dapat
mencerminkan suatu ide yang kretif, inovatif, dan bermanfaat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dan kehidupan di masyarakat. Metode penulisan yang
digunakan adalah kualitatif atau kajian pustaka.
Dari permasalahan itulah berdasakan pendekatan empiris campuran
ekstrak biji mimba dan ekstrak gadung dari kedua senyawa ini akan sangat
mungkin dicampur dan tidak akan saling menetralkan karena HCN terdiri dari
senyawa H+ dan CN- sehingga senyawa pada HCN hanya dapat berikatan dengan
senyawa positif yang kuat dan tidak akan berikatan dengan senyawa-senyawa
kimia yang terdapat pada mimba Azadirackhtin (C35H44O16) hal ini terbukti dari
struktur kimia yang terdapat pada biji mimba juga senyawa OH- atau senyawa
anion atau senyawa negatif kalaupun ada unsur positif seperti H+ muatannya
lemah sehingga apabila senyawa-senyawa ini dicampur tidak akan menetralkan
namun hanya bercampur saja dan justru racun yang dihasilkan akan semakin
bersinergi.
Dari melimpahnya bahan baku yang terdapat dialam sekitar,serta didukung
dengan teknologi alat morisco, yang mudah digunakan dan murah menjadikan
pestisida campuran ekstrak biji mimba dan estrak umbi gadung sebagai alternatif
v
pestisida alami sebagai bahan pengawet bambu yang patut untuk dicoba, karena
telah terbukti keampuhannya dalam penggunaan pengawetan bambu saat ini.
Diharapkan dengan adanya penulisan karya ilmiah ini dapat memberikan
pengetahuan kepada masyarakat dan akan adanya tindak lanjut dari dinas yang
terkait sehingga memberikan pengetahuan kepada masyarakat sekitar tentang
pemanfaatan campuran ekstrak biji mimba dan ekstrak umbi gadung sebagai
pestisida alami untuk pengawetan bambu yang ramah lingkungan.
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kebutuhan kayu sebagai bahan bangunan meningkat seiring dengan
perkembangan jumlah penduduk di Indonesia. Kayu juga dipakai oleh Negara
sebagai penghasil devisa negara. Namun dengan merebaknya illegal loging, maka
di Indonesia telah terjadi kerusakan hutan yang sangat parah dan mengganggu
kelestarian lingkungan hidup. Untuk mengembalikan fungsi hutan sebagai salah
satu komponen lingkungan hidup yang terjamin kelestariannya, maka langkah
yang perlu dilakukan adalah menghentikan penebangan kayu hutan dan
melakukan reboisasi sampai hutan kembali sehat dan mencapai keseimbangan.
Dalam hal ini, tentunya terlebih dahulu perlu dicari bahan lain untuk
menggantikan kayu sebagai bahan bangunan.
Bahan tersebut adalah bambu, bambu juga mempunyai banyak keunggulan
untuk dijadikan pengganti kayu sebagai bahan bangunan. Bambu mudah ditanam
dan tidak memerlukan pemeliharaan secara khusus. Untuk melakukan budidaya
bambu, tidak diperlukan investasi yang besar, setelah tanaman sudah mantap,
hasilnya dapat diperoleh secara menerus tanpa menanam lagi.
Ditunjang oleh letak geografis Indonesia di khatulistiwa dengan iklim
tropisnya yang memungkinkan hadirnya berbagai jenis organisme perusak bambu
seperti rayap, bubuk kayu kering, jamur pelapuk. Dengan demikian dapat
dimengerti mengapa ancaman kerusakan bambu di Indonesia sangat besar. Upaya
pencegahan kerusakan bambu sangat penting dalam rangka peningkatan mutu dan
masa pakai bambu dalam pengunaan bahan bangunan. Salah satu langkah strategis
yang dapat diterapkan adalah memperpanjang umur pakai atau mempertahankan
umur komponen bambu dengan mengunakan cara pengawetan buchery-morisco
yang mudah dan murah sehingga bisa dilakukan oleh masyarakat secara umum.
Dalam kenyataan sehari-hari, yang dimaksud dengan pengawetan kayu
pada umumnya adalah proses pemasukan bahan kimia ke dalam kayu untuk
meningkatkan keawetannya. Bahan pengawet kayu yang biasa digunakan adalah
antara lain arsenat cuprum chromated (CCA), borium cuprum chromated (CCB),
flour cuprum chromated (CCF), zat asam karbol arsenat khromat flour (FCAP),
arsenat chromated flour borium (BFCA) dan boraks.
Di Indonesia sendiri, senyawa arsenat tembaga chromated (CCA) yang
dahulu merupakan satu-satunya bahan pengawet kayu untuk digunakan sebagai
bahan pengawet yang paling umum digunakan untuk berbagai tujuan penggunaan
kayu, tetapi sejak tahun 1994, bahan ini (CCA) telah dilarang beredar di
Indonesia. Karena dampaknya yang membahayakan kesehatan dan lingkungan.
Oleh karena itu pemerintah telah menaruh perhatian yang serius mengenai hal ini
dan mengambil tindakan dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri
Pertanian No. 326/KPTS.270/4/94 tanggal 28 April 1994 perihal pencabutan ijin
pestisida yang berbahaya yang mengandung kaftofol atau arsen (As).
Oleh karena itu perlu dicari alternatif solusinya. Berdasakan pendekatan empiris
campuran ekstrak biji mimba dan ekstrak gadung dari kedua senyawa ini akan
sangat mungkin dicampur dan tidak akan saling menetralkan karena HCN terdiri
vii
dari senyawa H+ dan CN- sehingga senyawa pada HCN hanya dapat berikatan
dengan senyawa positif yang kuat dan tidak akan berikatan dengan senyawasenyawa kimia yang terdapat pada mimba Azadirackhtin (C35H44O16) hal ini
terbukti dari struktur kimia yang terdapat pada biji mimba juga senyawa OH- atau
senyawa anion atau senyawa negatif kalaupun ada unsur positif seperti H+
muatannya lemah sehingga apabila senyawa-senyawa ini dicampur tidak akan
menetralkan namun hanya bercampur saja dan justru racun yang dihasilkan akan
semakin bersinergi.
Dari fakta empiris dan permasalahan inilah diperlukan suatu solusi
pengawetan bambu yang aman bagi kesehatan, ramah lingkungan, bahan bakunya
banyak tersedia di alam dan yang terpenting adalah harganya murah sehingga
dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahan-bahan tersebut adalah
pestisida alami yang terbuat dari campuran ekstrak biji mimba dan ekstrak umbi
gadung. Dari melimpahnya bahan baku tersebut diharapkan masyarakat dapat
membuatnya sendiri, dan tidak menutup kemungkinan jika bahan-bahan tersebut
dikelola dengan baik dapat dijadikan peluang usaha.
1.2 Rumusan Masalah
a.
Bagaimanakah campuran ekstrak biji mimba dan ekstrak umbi
gadung sebagai pestisida nabati untuk bahan pengawet bambu ?
b.
Bagaimanakah tingkat racun yang dihasilkan dari campuran
ekstrak biji mimba dan ekstrak umbi gadung sebagai pestisida nabati untuk
bahan pengawet bambu ?
c.
Bagaimanakah nilai ekonomis pengawetan bambu dengan alat
buchery-morisco dengan menggunakan pestisida nabati sebagai bahan
pengawet bambu ?
1.3 Tujuan
a.
Untuk mengetahui kemungkinan campuran ekstrak biji mimba
dan ekstrak umbi gadung sebagai pestisida nabati untuk bahan pengawet
bambu.
b.
Untuk mengetahui tingkat racun yang dihasilkan dari campuran
ekstrak biji mimba dan ekstrak umbi gadung sebagai pestisida nabati untuk
bahan pengawet bambu.
c.
Untuk mengetahui nilai ekonomis pengawetan bambu dengan
alat buchery-morisco dengan menggunakan pestisida nabati sebagai bahan
pengawet bambu.
1.4 Manfaat
a. Bagi Ilmu pengetahuan
Memberikan konstribusi yang positif dalam hal pengawetan kayu yang ramah
lingkungan.
viii
b. Bagi Masyarakat
Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tata cara pengawetan bambu
yang aman, mudah dan murah.
c. Bagi Penulis
Menambah pengetahuan tetang dunia pengawetan bahan bangunan.
ix
BAB II
TELAAH PUSTAKA
2.1 Pengawetan Bambu
Upaya pengawetan bambu bertujuan agar umur pakai bambu menjadi lebih
panjang dengan cara mencegah perusakan jamur, serangga, dan makhluk perusak
lainnya. Keberhasilan pengawet kayu ditentukan oleh banyak faktor. Sekurangkurangnya ada tiga faktor yang sangat menentukan, yaitu keadaan kayu (struktur
anatomi, kadar air, kerapatan), metode pengawetan, dan bahan pengawet yang
digunakan.
Hunt & Garrant (1986) menyatakan bahwa suatu bahan pengawet yang
baik untuk penggunaan komersial umumnya, harus beracun terhadap perusak
kayu, permanen, mudah meresap, aman untuk digunakan, tidak merusak kayu dan
logam, banyak tersedia dan murah.
Pengawetan kayu adalah perlakuan kimia dan atau perlakuan fisik
terhadap kayu untuk memperpanjang masa pakai kayu (Tarumingkeng, 2002).
Dalam kenyataan sehari-hari, yang dimaksud dengan pengawetan kayu adalah
proses pemasukan bahan kimia ke dalam kayu untuk meningkatkan keawetannya.
Bahan kimia yang digunakan dalam perlakuan tersebut di atas adalah bahan
pengawet kayu.
Merujuk dari Standar Nasional Indonesia, tahun 1999 tentang Pengawetan
Kayu untuk Perumahan dan Gedung, bahan pengawet yang digunakan adalah
bahan pengawet yang berfungsi ganda, yaitu selain dapat mencegah serangan
serangga (rayap tanah, rayap kayu kering dan bubuk kayu kering), juga dapat
mencegah serangan jamur perusak kayu, dari golongan CCB dan CCF.
2.2 Potensi Bambu di Indonesia
Potensi pengembangan bambu yang ada di Jepang sebenarnya ada di
Indonesia. Saat ini di Indonesia terdapat 88 jenis bambu endemik yang belum
seluruhnya dikembangkan, di antaranya bambu eul-eul dari Bandung, Jawa Barat;
Fimbribambusa di Meru Betiri, Jawa Timur; dan Schizotachyum di Kalimantan
Barat. Bambu itu berguna sebagai pengobatan, konstruksi bahan bangunan,
hingga bahan kerajinan. Indonesia diperkirakan memiliki 11 persen dari 1.250
spesies bambu dunia. Namun, dari 19 spesies bambu yang digunakan di dunia
baru lima spesies yang ditemukan di Indonesia, di antaranya bambu tali dan
betung (Tita, 2009).
Bambu dapat tumbuh di lahan sangat kering seperti di kepulauan Nusa
Tenggara atau di lahan yang banyak disirami air hujan seperti Parahiyangan.
Bambu mempunyai pertumbuhan yang sangat cepat, berbeda dengan pohon kayu
hutan yang baru siap tebang dengan kualitas baik setelah berumur 40--50 tahun,
maka bambu dengan kualitas prima dapat diperoleh hanya pada umur 3 -- 5 tahun.
Tanaman bambu mempunyai ketahanan yang luar biasa. Rumpun bambu yang
telah dibakar, masih dapat tumbuh lagi, bahkan pada saat Hiroshima dijatuhi bom
x
atom sampai rata dengan tanah, bambu adalah satu-satunya jenis tanaman yang
masih bertahan hidup. (Morisco, 2006).
2.3 Pengawetan Kayu dengan Menggunakan Alat Buchery-Morisco
Penggunaan alat morisco yang sederhana dan mudah digunakan sangat
memungkinkan untuk menunjang kegiatan pengawetan kayu. Dalam alat yang
diciptakan oleh morisco cara pengawetan yang dikembangkan mengunakan
tabung, dapat dioperasikan tanpa tenaga listrik, sehingga cocok untuk pedesaan.
Bahan pengawet berupa larutan dimasukkan dengan tekanan udara Menurut
(Morisco, 1998) proses pemasukan larutan pada bambu diameter 8 cm, panjang
6m memakan waktu sekitar 20 menit. Alat ini sangatlah sederhana dan mudah
digunakan sehingga mengurangi biaya pengawetan, dan sangat membantu
masyarakat umum untu melakukan kegiatan pengawetan kayu.
2.4 Bahaya Pengawetan Bambu Menggunakan Bahan Kimia
Sebagai alternatif pengganti kayu, bambu mempunyai banyak keunggulan,
tetapi perlu dijadikan perhatian bahwa bambu juga mempunyai beberapa kendala
di antaranya adalah bambu mudah terkena serangan kumbang dan bubuk kayu
sehingga menyebabkan bambu menjadi tidak awet.
Boraks adalah senyawa dengan nama Natrium Tetraborat (Na2B4O7)
yang mengandung tidak kurang dari 99 % dan tidaklebih 105,0 %
Na2B4O7.10H2O dengan sifat: hablur transparan, tidak berbau, warna putih
sangat sedikit larut dalam air dingin tetapi lebih larut dalam air panas. Besar daya
pengawet mungkin disebabkan senyawa aktif asam borat. Senyawa borat ini
dikenal sebagai bahan yang mampu membunuh bakteri pembusuk, walaupun
belum ada penelitian yang khusus mengemukakan hal tersebut (Yuliana, 2002).
Menurut (Handayani, 2008) boraks bila menguap di udara, berupa gas
yang tidak berwarna, dengan bau yang tajam menyesakkan, sehingga
merangsang hidung, tenggorokan, dan mata. Dampak Akut : efek pada
kesehatan manusia langsung terlihat : seperti iritasi, alergi, kemerahan, mata
berair, mual, muntah, rasa terbakar, sakit perut dan pusing. Dampak Kronik :
efek pada kesehatan manusia terlihat setelah terkena dalam jangka waktu yang
lama dan berulang : iritasi kemungkin parah, mata berair, gangguan pada
pencernaan, hati, ginjal, pankreas, system saraf pusat, menstruasi dan pada
hewan percobaan dapat menyebabkan kanker sedangkan pada manusia diduga
bersifat karsinogen (menyebabkan kanker). Mengkonsumsi bahan makanan
yang mengandung formalin, efek sampingnya terlihat setelah jangka panjang,
karena terjadi akumulasi formalin dalam tubuh.
xi
2.5 Umbi Gadung
Dilihat dari jenisnya, ada dua macam gadung yang biasa dipakai untuk
pestisida nabati ini. Yang pertama, gadung racun (Dioscorea hispida) yang
berbatang bulat dan berduri. Daunnya majemuk menjari beranak daun tiga, dan
permukaan daunnya kasap. Jenis kedua, gadung KB (Dioscore combosita),
berbatang persegi empat dengan diameter 2 - 4 mm, dan tidak berduri, daunnya
tunggal berbentuk seperti perisai serta permukaannya licin. Jenis ini digunakan
sebagai bahan dasar obat kontrasepsi.
Asam sianida atau asam biru baru timbul saat jaringan umbi gadung
dirusak, misalnya dikupas atau diiris. Bila jaringan rusak, dua senyawa prekursor
(kandidat racun), yaitu linamarin dan lotaustralin, yang terkandung di dalamnya
akan kontak dengan enzim linamarase dan oksigen udara hingga menjadi glukosa
dan sianohidrin. Sianohidrin, pada suhu kamar dan kondisi basa (pH di atas 6,8),
akan terpecah membentuk racun sianida (HCN) dan aseton (Sumarno, 2002).
Disebabkan berbahan alamiah, racun yang terkandung dari gadung yaitu asam
sianida yang bersifat mudah terurai di alam sehingga tidak akan mengakibatkan
pencemaran dalam lingkungan sekitar.
Pestisida dari umbi gadung ini digunakan untuk membasmi hama dan
penyakit pada tanaman di lahan kering seperti kacang panjang, kacang hijau, dan
kacang kedelai. Selain itu, pestisida alami ini juga digunakan pada tumbuhan yang
mengalami kerusakan batang dan buah (polong) akibat hama apis, ulat kutu daun,
walang sangit dan belalang, atau pada lahan basah. Untuk mengendalikan
serangan walang sangit dan hama apis yang menyerang pada tanaman padi,
beberapa kelompok petani juga menggunakan pestisida alami ini (Salam, 2004).
Selain itu, umbi dari tanaman merambat ini menjadi salah satu bahan yang dapat
digunakan sebagai racun tikus. Disebabkan berbahan alamiah, racun tikus seperti
ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam sehingga tak akan
mengakibatkan pencemaran terhadap lingkungan sekitar (Pikiran Rakyat Cyber
Media 2004).
2.6 Biji Mimba
Menurut (Rukmana dan Oesman 2002), kandungan zat aktif tanaman
mimba adalah azadiractin, salanin, meliantriol, dan nimbien terutama terdapat
dalam biji dan daunnya.
Bagian yang digunakan pada tumbuhan mimba yang pada umumnya
digunakan sebagai pestisida adalah bijinya. Karena pada bagian tersebut
mengandung Azadirackhtin (C35H44O16), Melantriol, Salanin dan Nimbin.
(Kardinan, 2002).
Pestisida alami biji mimba memiliki daya kerja yang bersifat menolak
kehadiran serangga terutama karena baunya yang menyengat, daya kerja termisida
alami biji mimba adalah sebagai berikut :
1. Mengganggu dan menghambat pertumbuhan telur, larva dan pupa.
2. Memblokir atau menghambat pembentukan kepompong dari larva.
3. Mengganggu proses perkawinan dan komunikasi seksual.
4. Meracuni larva daun dewasa.
xii
5. Mencegah betina untuk bertelur.
6. Mensterilisasi serangga dewasa sehingga tidak bisa melakukan
perkawinan.
7. Mencegah serangga makan.
8. Mengurangi motalitas saluran pencernaan serangga.
9. Menyebabkan metamorfosis pada berbagai tahapan pertumbuhan menjadi
tidak normal.
10. Menghambat pembentukan kitin pada larva sehingga proses pergantian
kulit menjadi terhambat.
2.7 Data penelitian sebelumnya
Penggunaan campuran filtrat gadung dan filtrat biji mamba ini dilakukan
karena kurang maksimalnya hasil penelitian sebelumnya. Penelitian yang
pernah dilakukan oleh Didik (2006) menyatakan bahwa pengawetan kayu
kelapa dengan menggunakan filtrat biji mimba terhadap seranggan rayap
dengan cara perendaman sudah berhasil jika dibandingkan dengan kayu yang
tidak diberi bahan pengawet namun hasil yang dihasilkan masih belum
maksimal, sedangkan penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Fufu (2008)
menyatakan bahwa pengawetan kayu kelapa dengan menggunakan filtrat umbi
gadung terhadap seranggan rayap dengan cara perendaman sudah berhasil jika
dibandingkan dengan kayu yang tidak diberi bahan pengawet namun hasil
yang dihasilkan juga belum maksimal, oleh karena itu pencampuran mimba
dan gadung dilakukan agar racun yang dihasilkan akan semakin kuat.
xiii
BAB III
METODE PENULISAN
Dapat mencerminkan suatu ide yang kretif, inovatif, dan bermanfaat bagi
pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan di masyarakat. Metode penulisan
yang digunakan adalah kualitatif atau kajian pustaka.
Langkah-langkah yang digunakan penulis dalam mengungkap gagasan
masalah sebagai berikut :
1. Pengumpulan bahan pustaka yang relevan dengan topik yang ditulis baik dari
media cetak, internet dan makalah.
2. Bahan-bahan yang telah dikumpulkan kemudian ditelaah dan dianalisis
kemudian disaring kembali dalam karya tulis.
3. Dari bahan-bahan tersebut kemudian diambil kesimpulan yang langsung
ditarik dari rumusan masalah penulisan yaitu tentang pengawetan bambu
dengan alat buchery-morisco menggunakan pestisida nabati campuran ekstrak
biji mimba dan filtrat umbi gadung sebagai bahan pengawet bambu ramah
lingkungan
4. Semua data kemudian ditulis secara runtut dan sistematis menurut buku
pedoman penulisan PKM-GT. Kemudian melakukan penulisan karya tulis.
5. Setelah data dan masukan-masukan dari berbagai sumber yang kompeten,
kemudian dilakukan revisi karya tulis.
xiv
BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS
4.1 Campuran Ekstrak Biji Mimba dan Filtrat Umbi Gadung Sebagai
Pestisida Nabati untuk Bahan Pengawet Bambu
Pengunaan ekstrak biji mimba maupun filtrat umbi gadung sudah sering
diapplikasikan saat ini namun bagaimana jadinya jika kedua zat tersebut
dipadukan sebagai pestisida nabati untuk bahan pengawetan kayu bangunan yang
ramah lingkungan, dalam tulisan ini akan dicari tahu mengenai hal tersebut. Pada
dasarnya kedua jenis tumbuhan ini diketahui memiliki kemampuan untuk
mengusir dan memberantas berbagai variasi hama, atau lebih dikenal dengan
pestisida nabati yang ramah lingkungan. Dari kedua jenis tumbuhan tersebut baik
itu mimba maupun gadung mempunyai kandungan-kadungan zat yang berbeda
sehingga tumbuhan tersebut mempunyai keunggulan tersendiri dari daya racun
yang dikandungnya. Kelebihannya adalah dari dua varietas tumbuhan ini
meskipun mempunyai kandungan zat kimia yang berbeda namun zat-zat yang
dihasilkan tadi memiliki fungsi dan kemampuan yang sama dalam hal
memberantas hama.
(Kardinan, 2002) dari kandungan biji mimba saja dihasilkan senyawa
Azadirackhtin (C35H44O16), Melantriol, Salanin dan Nimbin tiap kandungan zat
memiliki fungsi yang berbeda. (Sitepu, 1994) menyatakan bahwa melantriol dan
salanin merupakan senyawa yang dalam konsentrasi rendah saja mampu menolak
serangga untuk makan. Sedangkan umbi gadung mengandung senyawa racun
sianida (HCN) dan aseton yang sering digunakan oleh beberapa kelompok petani,
umbi gadung dimanfaatkan sebagai pestisida alami. Pestisida dari umbi gadung
ini digunakan untuk membasmi hama dan penyakit pada tanaman di lahan kering
seperti kacang panjang, kacang hijau, dan kacang kedelai.
Bateman (1922) dalam Hunt dan Garrat, 1986 menyatakan bahwa agar
suatu bahan pengawet beracun terhadap perusak kayu, haruslah larut dengan
cukup ke dalam cairan tubuh organisme penyerang kayu untuk dapat mencapai
dosis yang mematikan. Oleh karena cairan tubuh itu merupakan air, maka bahan
pengawet harus dapat larut dalam air.
Dalam penelitian ini digunakan bahan pengawet yang larut dalam air. Oleh
karena itu perpaduan antara ekstrak biji mimba dan gadung ini sangat
dimungkinkan pengaplikasianya sebagai bahan pengawet bambu. Hal ini juga
didukung fakta bahwa campuran biji mimba dan filtrat gadung yang digunakan
petani untuk memberantas hama pertanian tetap efektif, dan hasil yang diperoleh
daya kerjanya lebih kuat, sehingga hal ini sangat memungkinkan sebagai bahan
pengawet bambu yang lebih berkualitas tinggi.
xv
4.2 Tingkat Racun yang Dihasilkan Dari Campuran Ekstrak Biji Mimba
dan Filtrat Umbi Gadung Sebagai Pestisida Nabati untuk Bahan
Pengawet Bambu
Liese (1980) menyatakan bahwa bambu umumnya mempunyai keawetan
alami rendah, walaupun ada perbedaan dalam jenisnya. Bambu mudah sekali
diserang oleh organisme perusak seperti bubuk kayu kering, rayap kayu kering
dan rayap subteran.
Hasil penelitian yang pernah dilakukan oleh (Didik, 2006) menyimpulkan dalam
penelitiannya tentang penggunan pestisida alami dengan menggunakan ekstrak
biji mimba untuk pengawetan kayu pada kayu kelapa dengan menggunakan
sistem rendaman dingin menunjukan bahwa berdasarkan jumlah sisi luar
permukaan kayu yang dimakan rayap, menunjukkan pengaruh yang signifikan .
Bagian yang digunakan pada tumbuhan mimba yang pada umumnya
digunakan sebagai pestisida adalah bijinya. Karena pada bagian tersebut
mengandung Azadirackhtin (C35H44O16), Melantriol, Salanin dan Nimbin.
(Kardinan, 2002)
Sedangkan kandungan yang terdapat dalam umbi gadung adalah kangdungan
alkaloid yang dapat menimbulkan rasa pusing, mual, bahkan dapat menyebabkan
kematian linamarin dan lotaustralin, yang terkandung di dalamnya akan kontak
dengan enzim linamarase dan oksigen udara hingga menjadi glukosa dan
sianohidrin. Sianohidrin, pada suhu kamar dan kondisi basa (pH di atas 6,8), akan
terpecah membentuk racun sianida (HCN) dan aseton (Sumarno, 2002).
Berdasarkan pendekatan empiris campuran dari kedua senyawa ini akan
sangat mungkin dicampur dan tidak akan saling menetralkan karena HCN terdiri
dari senyawa H+ dan CN- sehingga senyawa pada HCN hanya dapat berikatan
dengan senyawa positif yang kuat dan tidak akan berikatan dengan senyawasenyawa kimia yang terdapat pada mimba Azadirackhtin (C35H44O16) hal ini
terbukti dari struktur kimia yang terdapat pada biji mimba juga senyawa OH- atau
senyawa anion atau senyawa negatif kalaupun ada unsur positif seperti H+
muatannya lemah sehingga apabila senyawa-senyawa ini dicampur tidak akan
menetralkan namun hanya bercampur saja dan justru racun yang dihasilkan akan
semakin bersinergi. Sehingga sangat mungkin jika digunakan sebagai pestisida
nabati untuk pengawet bambu yang ramah lingkungan.
4.3 Nilai Ekonomis Pengawetan Bambu dengan Alat Morisco Menggunakan
Pestisida Nabati Sebagai Bahan Pengawet
Di Indonesia sendiri pemanfaatan mimba dan gadung belum
memasyarakat karena masih banyak masyarakat yang belum mengetahui sosok
dan kegunaan tanaman ini dengan baik. Tidak heran jika tanaman ini tumbuh
alami dan terlantar begitu saja. Tanaman mimba ini biasanya hidup di pinggirpinggir jalan sedangkan gadung didaerah lembab. Namun sejalan dengan
gencarnya larangan penggunaan pestisida dan meningkatnya kesadaran
masyarakat, pestisida alami ini mulai mendapatkan tempat dihati masyarakat.
Menurut (Rukmana dan Oesman 2002), menyebutkan bahwa tanaman
untuk di jadikan bahan baku pestisida alami ini haruslah memenuhi beberapa
xvi
kriteria sebagai berikut: merupakan tanaman tahunan, memerlukan sedikit ruang,
tenaga pekerja, pupuk, dan air, merupakan tanaman inang, memiliki kegunaan
lain. Selain pestisida alami, bahan anti hama dapat di ambil tanpa mematikan
tanaman yang bersangkutan. Mimba dan gadung jelas memenuhi syarat yang
disebutkan diatas.
Menurut (Sukrasno, 2003) menyebutkan bahwa buah mimba baru dapat di
panen setelah pohon berumur 3-5 tahun. Pohon mimba akan mencapai umur
produktifnya setelah umur 10 tahun. Pada umur produktifnya, tanaman mimba
dapat menghasilkan 50 kg setiap panen. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan
bahwasanya pemanenannya relative singkat dan juga pada umur produktifnya
pohon mimba mampu menghasilkan biji mimba untuk bahan baku pestisida alami
dalam jumlah besar.
Sedangkan potensi gadung saat ini juga semakin meningkat dan melimpah
ditanah air hal ini didasari dari meningkatnya jumlah pengusaha olahan keripik
gadung, sehingga maka dari itu prospek budidaya gadung malai mendapat tempat
dihati masyarakat yang nantinya baik hasil olahan umbi gadung maupun gadun itu
sendiri mudah didapatkan karena semakin banyak petani yang menanam gadung
sebagai bentuk hasil pertanian, mengingat semakin berkembangnya produk olahan
umbi gadung.
Dengan didukung menggunakan alat morisco biaya pengawetan bambu
akan semakin murah, karena alat yang digunakan ini tidak memerlukan lisrik
ataupun bahan bakar apapun, penggunaanya yang hanya mengandalkan pompa
hidrolik. Adapun perbedaan nilai ekonomis dari pengawetan bambu
menggunakan alat morisco berbahan dasar pengawet kimia yang umumnya
mengunakan boraks dan yang menggunakan pestisida nabati. Jika dihitung dengan
mengunakan boraks yang harga perkilogramnya adalah : Rp. 45.000, sedangkan
untuk bahan alami bisa diambil sendiri di alam dan diolah secara mandiri. Jika
dihitung untuk 1 kg Mimba hanya Rp. 2.500/kg, sedangkan gadung Rp. 4.500/kg,
dan biaya pengolahan Rp. 10.000 sehingga totalnya Rp. 17.000 dengan hasil
pengolahan 1 kg mimba = 10 liter, dan 1 kg Gadung = 5 liter, angka yang jauh
lebih murah dibandingkan dengan menggunakan bahan kimia boraks.
xvii
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
1. Pengawetan bambu saat ini dengan menggunakan boraks berbahaya bagi
kesehatan karena racunya dapat terurai, dan dapat masuk lewat udara, dan
kulit yang mengakibatkan pada manusia bersifat karsinogen (menyebabkan
kanker).
2. Pengawetan bambu dengan menggunakan pestisida nabati lebih ramah
lingkungan dan lebih murah karena sifatnya yang biodegedable oleh alam
sehingga tidak menjadi ancaman bagi manusia dan lingkungan.
3. Tingkat racun gabungan ekstrak biji mimba dan filtrat gadung akan semakin
kuat dan lengkap hal ini dibuktikan dari fungsi masing-masing zat yag
dikandung dalam mimba ,Salanin berperan sebagai penurun nafsu makan,
melantriol sebagai penghalang (repellent), sehingga serangga enggan
mendekat, sedangkan Nimbin berperan sebagai anti mikro organisme, seperti
anti virus dan bakterisida, sedangkan gadung memiliki racun sianida (HCN)
dan aseton yang memiliki daya kerja racun yang lebih cepat. Racun kedua
senyawa tersebut tidak akan saling menetralkan justru semakin bersinergi.
4. Berdasarkan pendekatan empiris campuran dari kedua senyawa ini akan
sangat mungkin dicampur dan tidak akan saling menetralkan karena HCN
terdiri dari senyawa H+ dan CN- sehingga senyawa pada HCN hanya dapat
berikatan dengan senyawa positif yang kuat dan tidak akan berikatan dengan
senyawa-senyawa kimia yang terdapat pada mimba Azadirackhtin
(C35H44O16) hal ini terbukti dari struktur kimia yang terdapat pada biji
mimba juga senyawa OH- atau senyawa anion atau senyawa negatif
kalaupun ada unsur positif seperti H+ muatannya lemah sehingga apabila
senyawa-senyawa ini dicampur tidak akan menetralkan namun hanya
bercampur saja dan justru racun yang dihasilkan akan semakin bersinergi.
5. Pengawetan bambu menggunakan alat buchery-morisco ini jauh lebih mudah
dan harganya lebih murah sehingga semua lapisan masyarakat mampu
menggunakan alat ini, karena penggunaanya tidak memerlukan bahan bakar
dan listrik dalam proses pengoperasiaanya.
6. Nilai ekonomis dari pengawetan bambu menggunakan alat morisco
berbahan dasar pengawet kimia yang umunya mengunakan boraks dan yang
menggunakan pestisida nabati. Jika dihitung dengan mengunakan boraks
yang harga perkilogramnya adalah : Rp. 45.000,untuk 10 Liter bahan
pengawet, untuk 1 kg Mimba hanya Rp. 2.500, sedangkan gadung
Perkilogram Rp. 4.500, dan biaya pengolahan Rp. 10.000 sehingga totalnya
Rp. 17.000 dengan hasil pengolahan 1 kg mimba = 10 liter, dan 1 kg
Gadung = 5 liter, total campuran 15 liter, angka yang jauh lebih murah
dibandingkan dengan menggunakan bahan kimia boraks.
5.2 Saran
1. Bagi peneliti lain, bahwasanya pestisida alami dari campuran ekstrak biji
mimba dan ekstrak umbi gadung dengan menggunakan alat morisco ini
xviii
masih belum teruji keawetannya, dan diharapkan permasalahan ini ada
tindak lanjut dari pihak yang terkait, yang mempunyai keahlian dalam
bidangnya untuk menciptakan suatu terobosan bagaimana menciptakan agar
bahan ini awet dalam penggunaanya jika digunakan sebagai pengawetan
bambu.
2. Bagi masyarakat, hendaknya mulai beralih dengan cara pengawetan kayu
yang sederhana ke cara yang lebih baik dan moderen namun tetap ramah
lingkungan dan murah.
3. Bagi penulis, hendaknya lebih kreatif dan inovatif lagi dalam penulisan
selanjutnya.
xix
DAFTAR PUSTAKA
Didik, K. 2006. Pengawetan Kayu Kelapa terhadap Seranggan Rayap dengan
Menggunakan Ekstrak Biji Mimba dengan Sistem Perendaman Dingin. Skripsi:
Tidak diterbitkan. Malang Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Bangunan.
Universitas Negeri Malang.
Handayani. 2008. Bahaya Kandungan Formalin pada Makanan. (Online)
.(http://www.katamutiara.info/tulisan.php?id=6002. htm diakses 10 februari 2010)
Hunt, G.M dan G.A Garrat. 1994. Pengawetan Kayu (Terjemahan) Edisi Pertama.
Akademika Pressindo, Jakarta.
Kardinan, A. 2002. Pestisida Nabati Ramuan dan Aplikasi. Jakarta: PT. Penebar
Swadaya.
Kardiman, A.2006. Mimba (Azadiricha indica) Bisa Merubah Perilaku Hama.
Sinar Tani. Edisi 29 Maret – 4 April 2006.
Liese, W. 1980. Preservation of Bamboo. In Lessard, G & Chouinard, A (eds).
Bamboo Research in Asia. IDRC Canada.
Morisco. 1999. Rekayasa Bambu. Yogyakarta.
Morisco, 2006, Pemberdayaan Bambu untuk Kesejahteraan Rakyat dan
Kelestarian Lingkungan. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas
Teknik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Pikiran Rakyat Cyber Media. 2004. Cara Aman Basmi Tikus dengan Gadung,
(Online), (http://www.pikiran- rakyat. com/cetak/0104/ 11/ 1003. htm, diakses 3
Maret 2009).
Rukmana, R. dan Oesman.Y.Y.2002. Nimba Tanaman Penghasil Pestisida Alami.
Yogjakarta : Kartisius.
Salam. 2004. Isu 6 - Keanekaragaman Hayati: Potensi yang Tersembunyi
Gadung, Pestisida Nabati yang Aman dan Murah. (Online), (http:
//salam.leisa.info/index.php?url=article-details.tpl&p%5B_id%5D=67289, diakses
3 Maret 2009).
Sukrasno. 2003. Mimba Tanaman Obat Multi Fungsi. Jakarta : Agromedia
Pustaka.
Sumarno. 2002. Isu 6 - Keanekaragaman Hayati: Potensi yang Tersembunyi
Gadung, Pestisida Nabati yang Aman dan Murah. (Online), (http:
//salam.leisa.info/index.php?url=article-details.tpl&p%5B_id%5D=67289, diakses
3 Maret 2009).
xx
Tarumingkeng, R.C. 2002. Status Pengawetan Kayu Di Indonesia, (Online),
(http://tumoutou.net/702_05123/rudi.htm, diakses 3 Maret 2009).
Sukrasno. 2003. Mimba Tanaman Obat Multi Fungsi. Jakarta : Agromedia
Pustaka.
Yuliana, Tri. 2002. Analisa Kadar Boraks dalam Mie Basah dan Mie Kering
dengan Indikator Kurkumin Menggunakan Analisa Volumetri. Skripsi tidak
diterbitkan. FMIPA, UNNES, Semarang.
xxi
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
1. Daftar Riwayat Hidup Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama
: Bagus Dwi Hirmawan
b. NIM
: 107521407620
c. Tempat, Tanggal Lahir
: Tuban, 10 Mei 1989
d. Alamat
: Jl. Mayjen Panjaitan N0.09 Malang
e. No. Telp. / Hp.
: 085749621234
f. Alamat email
: [email protected]
g. Orang Tua:
- Ayah
: Sarmidi
- Ibu
: Suyati
h. Riwayat Pendidikan:
- TK
: TK NU Muslimat Tuban (1993-1995)
- SD
: SDN Prambon wetan 01 Tuban (1995-2001)
- SMP
: SLTP Negeri 01 Rengel Tuban (2001-2004)
- SMA
: SMU Negeri 01 Rengel Tuban (2004-2007)
- PT
: Universitas Negeri Malang (UM) (2007-sekarang)
i. Penghargaan karya tulis yang pernah diraih:
- Juara 2 KKTM tingkat Fakultas (2007)
- Juara 1 KKTM tingkat MABA se-Universitas Negeri Malang (2007)
- Penyaji/perserta PIMNAS 2009
Ketua Pelaksana
Bagus Dwi Hirmawan
NIM 107521407620
xxii
2. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana
a. Nama
: Maya Indriyani
b. NIM
: 107521409827
c. Tempat, Tanggal Lahir : Malang, 6 September 1988
d. Alamat
: Jl. Uranium No. 47 Malang
e. No. Telp. / Hp.
: 08563539338
f. Alamat email
: [email protected]
g. Orang Tua:
- Ayah
: -
- Ibu
: Sriyani
h. Riwayat pendidikan
- TK
: NU Muslimat (1991-1993)
- SD
: SDN Purwantoro 7 Malang (1993-1999)
- SMP
: SLTPN 20 Malang (1999-2002)
- SMA
: SMAN 10 Malang (2002-2005)
- PT
: Universitas Negeri Malang (UM) (2007-sekarang)
i. Penghargaan karya tulis yang pernah dicapai:
- Juara 2 KKTM tingkat Fakultas (2007)
- Juara 1 KKTM tingkat MABA se-Universitas Negeri Malang (2007)
- - Penyaji/perserta PIMNAS 2009
Anggota Pelaksana,
Maya Indriyani
NIM 107521409827
xxiii
3. Daftar Riwayat Hidup Anggota Pelaksana
a. Nama
: Ety Kurniawati
b. NIM
: 108521409833
c. Tempat, Tanggal Lahir : Malang, 11 Maret 1989
d. Alamat
: Jl. Candi Bima No. 6A RT/RW:01/02
Mojolangu – Lowokwaru 65142
e. No. Telp. / Hp.
: 08523311928
f. Alamat email
: [email protected]
g. Orang Tua:
- Ayah
: Choiron
- Ibu
: Nur Tatik
h. Riwayat pendidikan
- TK
: TK ABA (1994-1996)
- SD
: SDN Purwantoro 7 Malang (1996-2002)
- SMP
: SMP Negeri 18 Malang (2002-2005)
- SMA
: SMA Negeri 2 Malang (2005-2008)
- PT
: Universitas Negeri Malang (UM) (2007-sekarang)
j. Penghargaan karya tulis yang pernah dicapai:
- Penyaji/perserta PIMNAS 2009
Anggota Pelaksana,
Etty Kurniawati
NIM 108521409833
xxiv
Fly UP