...

fulltext PDF - Universitas Pattimura

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

fulltext PDF - Universitas Pattimura
KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN PENERJEMAHAN TEKS
BAHASA JERMAN MAHASISWA PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN BAHASA JERMAN
FKIP UNIVERSITAS PATTIMURA AMBON
Samuel Jusuf Litualy1
Silvia Umkeketony2
Die Forschung verfolgt das Ziel, die Korrelation zwischen dem
Vorwissen und Übersetzungsfähigkeit der Studenten zu ermitteln.
Die Forschung wurde an der Deutschabteilung der FKIP
Pattimura Universität durchgeführt. Als Forschungssampel
wurden zwanzig Studenten, die gerade dabei sind, an dem
Unterrichtsfach Übersetzung I teilzunehmen. Diese Forschung hat
zwei Variable und zwar Vorwissen der Studenten als freie
Variable (X) und die Übersetzungsfähigkeit der Studenten als
gebundene Variable (Y). Diese Forschung ist ein Korrelationer
Prozeβ. Die Daten wurde durch eine Test gesammelt. Zur
Analysie wurde die Daten durch Korrelation Product Momen
benutzt auf ein Signifikantniveau α = 0,05. Das Ergebnis dieser
Forschung ergibt sich, dass “rrechnen = 0,871 > “rtab 0,456 (“rrechnen
höher als “rtab). Daraus kann man konkludieren, dass das
Vorwissen eine Positive Korrelation mit der Übersetzungsfähigkeit
der Studenten hat. Das heiβt, je besser man das Vorwissen hat,
desto besser ist seine Übersetzungsfähigkeit. Um zu befestigen,
ob die signifikante Korrelation kein Zufall ist, wurde die Analyse
durch Auswertung von “t” test fortgesetzt. Die Auswertung hat
sich ergeben, dass “trechnen höher als “ttab (“trechnen = 7,714 > “ttab =
1,729) ist. Daraus kann man zusammenfasen, daβ diese
signifikannte Korrelation zwischen dem Vorwissen und der
Übersetzungs-fähigkeit der Studenten kein Zufall ist.
Schlüsselwörter: Vorwissen, Übersetzungsfähigkeit,Deutsche Texte,
1
Samuel Jusuf Litualy adalah dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman Fkip
Universitas Pattimura, Ambon
2
Silvia Umkeketony adalah Alumnus Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman Fkip
Universitas Pattimura, Ambon
2 Tahuri, Volume 11, Nomor 2, Agustus 2014
Penguasaan bahasa asing diperlukan, baik untuk saling
berkomunikasi dengan orang lain yang berlainan bahasa, maupun untuk
memperoleh informasi dari buku-buku atau tulisan-tulisan. Untuk dapat
memperoleh informasi dari buku-buku atau tulisan-tulisan bahasa asing
tersebut, dibutuhkan kemampuan pengalihbahasaan yang disebut
kemampuan menerjemahkan (Übersetzungsfähigkeit). Banyak kendala
dalam penerjemahan, khususnya pada pembelajaran bahasa Jerman,
seperti kurangnya pemahaman atau wawasan terhadap tema teks,
kurangnya kosa kata yang dimiliki, yang mengakibatkan pembelajar
kesulitan untuk dapat menerjemahkan teks bahasa asing dengan baik.
Untuk itu, dalam kurikulum Program Studi bahasa Jerman ditetapkan mata
kuliah penerjemahan (Übersetzung). Tujuan ditetapkannya mata kuliah
penerjemahan, agar supaya mahasiswa dapat belajar teks dengan baik
dan benar, karena dalam menerjemahkan teks ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan oleh mahasiswa,terkait dengan itu Sudarno (2011),
mengemukakan bahwa salah satu yang perlu diperhatikan adalah struktur
suatu bahasa yang berbeda dengan struktur bahasa yang lain, walaupun
kadang memang ada sebagian yang sama. Contohnya ; ich habe Hunger
yang bermakna saya lapar, contoh yang lain; wir sind Ausländer yang
diartikan kami adalah orang asing. Kesepadanan seperti yang ditunjukkan
oleh kedua contoh tersebut tidaklah banyak, apalagi kalau sudah
memasuki tataran teks yang kalimatnya cukup kompleks, sehingga makna
terjemahannya tidak semudah seperti pada contoh di atas, karena setiap
kalimat sudah mengandung unsur frasa dan klausa yang perlu
diperhatikan secara khusus. Oleh karena itu melalui pengetahuan awal
atau skemata atau stuktur kognitif yang dimiliki, mahasiswa diharapkan
dapat menerjemahkan teks dengan baik.
Pengetahuan awal yang dimiliki merupakan prasyarat untuk
mengikuti pembelajaran sehingga dapat melaksanakan proses
pembelajaran dengan baik. Karena pengetahuan awal yang dimiliki
pembelajar adalah tolak ukur baginya untuk melanjutkan proses
pembelajar yang selanjutnya, dengan demikian jika pengetahuan awalnya
baik maka pembelajar dapat melaksankan proses pembelajaan dengan
baik pula.
Pengetahuan awal dapat dikenal dengan sebutan skemata.
Skemata yang dimiliki seseorang adalah deskripsi sifat-sifat peserta didik
yang akan menerima struktursional. Kemampuan awal diperlukan dalam
sistim instruksional yang sesuai dengan kemampuan awal meliputi : 1)
tempat kelahiran, 2) bidang pengetahuanyang menjadi keahlian, 3) latar
belakang sosial budaya.Selain itu kemampuan awal juga dapat dikenal
dengan sebutan kognitif. Kogntiif adalah salah satu ranah dalam
taksonomi pendidikan. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual
yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman
(comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa
(sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang
Litualy & Umkeketony, Kemampuan Awal Dan Kemampuan --- 3
menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional
(akal).
Menurut Bruner(1957) yang dikemukakan dalam salah satu
situsnya
http://sainsmatika.blogspot.com/2012/04/teori-kognitif-daribruner-dan-teori.html bahwa, perkembangan kognitif seseorang sangat
dipengaruhi oleh lingkungan kebudayaan, terutama bahasa yang biasanya
digunakan.
Bertolak dari uraian di atas, dalam kesempatan ini penulis
bermaksud mengkaji sejauhmana hubungan pengetahuan awal
pembelajar dengan kemampuan menerjemahkan teks bahasa Jerman.
Untuk itu penulis tertarik untuk meneliti tentang “Hubungan Pengetahuan
Awal dengan Kemampuan Menerjemahkan Teks Bahasa Jerman
mahasiswa program studi bahasa Jerman. “
Metodologi Penelitian
Adapun tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian deskriptif korelasional, yaitu penelitian untuk mengetahui
hubungan
antara
pengetahuan
awal
dengan
kemampuan
menerjemahkan, dengan jumlah sampel 20 orang mahasiswa semester
IV, Program Studi Pendidikan Bahasa Jerman FKIP Universitas Pattimura
Ambon.
Masalah Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas,
masalah penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat
Hubungan Pengetahuan Awal dengan Kemampuan Menerjemahkan Teks
bahasa Jerman?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ada atau tidaknya
hubungan antara pengetahuan awal dengan kemampuan menerjemahkan
teks bahasa Jerman.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dalam bentuk tes, antara lain: (1) Tes
Pengetahuan awal, yakni tes yang dilakukan untuk mengetahui berapa
besar tingkat pemahaman terhadap tema teks.
Bentuk tes yang
digunakan adalah tes tertulis, yaitu mahasiswa diminta untuk menjawab
beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan tema teks yang
diterjemahkan.
Tema 1 : Feste in Deutschland
Pertanyaan tentang Feste in Deutschland.
Pertanyaan tentang Halloween dan simbol dari Halloween.
Pertanyaan tentang sejarah Oktoberfest.
4 Tahuri, Volume 11, Nomor 2, Agustus 2014
Pertanyaan tentang Valentinstag.
Tes Kemampuan Menerjemahkan
Bentuk tes yang dilakukan adalah tes tulis dengan menggunakan
teks yang sesuai dengan tema pada tes pengetahuan awal, yaitu masing
– masing orang menerjemahkan teks yang sudah diawali dengan
pertanyaan – pertanyaan yang berkaitan dengan pengetahuan awalnnya
tentang tema teks.
Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah melalui “tes”.
Tes pengetahuan awal dan tes kemampuan menerjemahkan teks. Tes
pengetahuan awal. Dalam tes ini diberikan beberapa pertanyaan dengan
tema “Feste in Deutschland”, setelah itu diberikan tes menerjemahkan
teks bahasa Jerman dengan tema yang sama.
Teknik Analisa Data
Adapun data yang dianalisis menggunakan teknik analisis
korelasional Product Moment (Pearson) menurut Arikunto (1989) yaitu :
r=
Keterangan :
r = Person
∑x = Jumlah skor dalam selebaran x
Sedangkan untuk menguji keberartian koefisien korelasi, digunakan
uji t dengan rumus :
t=
Kajian Teori
Hakekat Kemampuan Menerjemahkan Teks
Penerjemahan adalah pengalihan pikiran atau gagasan dari suatu
bahasa sumber ke dalam bahasa yang lain. Penerjemahan adalah
mengubah teks bahasa sumber ke dalam teks bahasa sasaran dengan
mempertimbangkan makna kedua bahasa sehingga diusahakan semiripmiripnya, yang tak kalah pentingnya adalah terjemahan harus mengikuti
kaidah-kaidah yang berlaku dalam bahasa sasaran. Selain itu
Litualy & Umkeketony, Kemampuan Awal Dan Kemampuan --- 5
penerjemahan juga membutuhkan seni dalam menyusun kembali hasil
terjemahan ke dalam bahasa sasaran. Seni yang dimaksud di sini adalah
seni agar bahasa yang digunakan mudah dipahami, tidak kaku, dan
memiliki gaya bahasa sasaran tepat, sehingga tulisan yang dibaca
merupakan hasil terjemahan atau dengan kata lain bahwa seolah-olah
hasil terjemahan yang ditulis merupakan tulisan asli. Demikian yang
dikemukakan oleh Sudarno (2011), Kemampuan menerjemahkan
merupakan suatu kemampuan yang sangat penting
bagi seorang
pembelajar karena kemampuan ini dapat membuat mereka mengetahui
lebih jauh tentang perkembangan bagian dunia lain dalam bidang
ilmu pengetahuan,
budaya
dan
sebagainya. Kemampuan
menerjemahkan memerlukan pemikiran, karena pembelajar dituntut untuk
menyusun
kembali suatu teks
ke dalam bahasa sasaran tanpa
mengubah makna yang
terkandung
di dalam bahasa sumber.
Menerjemahkan adalah pekerjaan yang melibatkan sekumpulan teori atau
ilmu, tetapi kemampuan menerjemahkan dengan baik adalah seni.
Machali (2000: 11) juga mengemukakan bahwa kemampuan
seorang penerjemah dapat dinilai dari kemampuannya dalam
menghasilkan suatu terjemahan yang baik. Suatu terjemahan yang baik
adalah suatu terjemahan yang berterima, artinya suatu terjemahan yang
dapat dengan mudah dimengerti dan dipahami oleh pembaca. Ia
mengemukakan bahwa terdapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam
menilai sebuah hasil terjemahan, (1) ketepatan, bila menyimpang dari isi
atau informasi yang terdapat dalam teks asli bahasa sumber; (2)
kejelasan, artinya terjemahan tersebut dapat dimengerti dan dipahami
dengan mudah oleh pembaca; dan (3) kewajaran, maksudnya hasil
terjemahan tersebut menggunakan kalimat-kalimat yang tunduk terhadap
aturan kaidah bahasa sasaran dan tidak asing bagi pembaca.
Selain itu Sadtono (1985 : 9) mengemukakan bahwa
menerjemahkan ialah menyampaikan berita yang terkandung dalam
bahasa sumber ke dalam bahasa penerima supaya isinya benar-benar
mendekati aslinya dan sama. Maksud Sadtono, untuk menghasilkan
terjemahan yang sama artinya dengan karangan asli bukan berarti
seorang penerjemah itu harus meniru bentuk aslinya, melainkan
bagaimana ia mampu menyampaikan berita itu ke dalam bahasa
penerima dan bukan mempertahankan bentuk bahasa asli dalam hasil
terjemahannya.
Penerjemahan menurut Wills (1982), adalah sebagai suatu
prosedur pengubahan suatu naskah dari bahasa sumber ke dalam bahasa
sasaran dengan ekuivalensi seoptimal mungkin dan menghendaki
pemahaman penerjemah terhadap sintaksis, semantik, stilistik, dan
konteks naskah asli. Secara jelas maksud dari Wills adalah penerjemahan
bukan berpatokan pada kata demi kata atau kalimat demi kalimat, tetapi
yang utama adalah konteks naskah autentik di mana penerjemah harus
mengusahakan pemahaman sedemikian rupa terhadap kalimat dan
makna serta gaya atau langgam yang terkandung di dalamnya, dan bukan
6 Tahuri, Volume 11, Nomor 2, Agustus 2014
hanya sebatas memahami, namun lebih dari itu, yakni mampu untuk
mengalihbahasakannya ke dalam bahasa sasaran.
Bussnett-McGuire (1988: 2) mengatakan: what is generally
understood as translation involves the rendering of a source language
(SL) text into the target language (TL) so as to ensure that (1) the surface
meaning of the two will be approximately similar and (2) the structures the
SL will be preserved as closely as possible but not so closely that the TL
structures will be seriously distorted.
Maksudnya, penerjemahan dipahami sebagai perubahan atau
pengalihan teks bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran, dengan
menjamin bahwa makna luaran (tersurat) dari keduanya kurang lebih
setara, sedangkan struktur bahasa sumber akan dipertahankan sedekat
mungkin, namun tidaklah terlalu dekat karena struktur bahasa sasaran
akan sulit diubah.
Moelyono (1989:5) mengungkapkan bahwa penerjemahan
mengandung makna memproduksi amanat atau pesan di dalam bahasa
sumber dengan padanan yang paling dekat di dalam bahasa penerima,
baik dari jurusan arti maupun langgam dan gaya. Untuk memproduksi
amanat itu, diperlukan penyesuaian gramatis dan leksikal. Dalam hal ini,
Moelyono memberikan penekanan kemampuan seorang penerjemah
dalam memperhatikan langgam maupun gaya yang dipakai pengarang
dalam bahasa sumber, di samping berusaha untuk menyesuaikan
gramatik dan leksik, dan mampu menerjemahkan makna amanat atau
pesan dengan padanan yang dekat di antara kedua bahasa.
Berdasarkan pendapat – pendapat tentang menerjemahkan di atas
dapat disimpulkan bahwa menerjemahkan tidak dapat dilepaspisahkan
dari penerjemah. Baik buruknya hasil suatu terjemahan sangat tergantung
pada penerjemahnya, dapat diartikan bahwa kedudukan seorang
penerjemah sangat menentukan dalam proses penerjemahan. Di dalam
penerjemahan, seorang penerjemah dituntut untuk menguasai bahasa
sumber (yang akan diterjemahkan) dan bahasa sasaran (yang akan
menjadi hasil terjemahan).
Hakekat Kemampuan Awal
Setiap orang mempunyai struktur pengetahuan awal yang berbedabeda, yang berperan sebagai suatu filter dan fasilitator terhadap ide dan
pengalaman yang baru.Dalam hal ini pengetahuan awal dalam
menerjemahkan, sebelum mahasiswa ingin menerjemahkan, mahasiswa
harus mengetahui lebih awal kemampuannya dalam menerjemahkan.
Untuk itu mahasiswa harus terlebih dahulu mengaktifkan pengetahuan
awalnya tentang tema teks. Pengetahuan awal merupakan pengetahuan,
keterampilan, dan kemampuan yang dibawa oleh mahasiswa ke dalam
proses pembelajaran, pengetahuan awal tentang tema teks yang dimiliki
mahasiswa sangat berperan penting pada hasil penerjemahannya.
Pengetahuan awal tentang tema teks juga dapat dikatakan sebagai alat
bantu mahasiswa dalam menerjemahkan teks dengan baik.
Litualy & Umkeketony, Kemampuan Awal Dan Kemampuan --- 7
Dalam konteks pembelajaran, Prior Knowledge dapat diartikan
sebagai pengetahuan awal (entering behavior) yang dimiliki mahasiswa
yang bisa dijadikan sebagai titik tolak untuk melihat seberapa besar
perubahan perilaku yang terjadi setelah mahasiswa mengikuti proses
pembelajaran. Kujawa & Huske (1995) merumuskan pengertian
Pengetahuan Awal sebagai: “a combination of the learner’s preexisting
attitudes, experiences, and knowledge.
Rumusan ini menunjukkan bahwa Pengetahuan Awal tidak hanya
berkaitan dengan aspek pengetahuan saja, tetapi juga menyangkut sikap
dan pengalaman yang telah dimiliki seorang pembelajar.
Widodo (2004) menyebutkan salah satu unsur penting dalam
lingkungan pembelajaran konstruktivisme adalah memperhatikan dan
memanfaatkan pengetahuan awal siswa. Kegiatan pembelajaran ditujukan
untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan. Siswa
didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru dengan memanfaatkan
pengetahuan awal yang telah dimilikinya. Oleh karena itu, pembelajaran
harus memperhatikan pengetahuan awal siswa dan memanfaatkan teknikteknik untuk mendorong agar terjadi perubahan konsepsi pada diri siswa.
Sementara itu, Harsono (1975) menyebutkan pengetahuan awal
merupakan modal utama dalam proses diskusi kelompok. Seorang guru
perlu mengerti tentang pentingnya pengetahuan awal dalam proses
belajar dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengingat kembali
tentang apa saja yang mereka pahami atau ketahui.
Pengetahuan awal dapat disebut dengan istilah skemata atau
struktur kognitif. Menurut Piaget (2001:21) skemata adalah representasi
bentuk dari seperangkat persepsi, ide, dan aksi yang diasosiasikan dan
merupakan kemampuan dasar pembangunan pemikiran. Skemata selalu
berkembang sejalan dengan kapasitas pengalamannya. Piaget juga
berpendapat bahwa, skemata merupakan bagian dari pengetahuan awal
yang menyediakan interpretasi bermakna tentang konteks yang baru.
Skemata berawal dari teori skema, yang menggambarkan proses dimana
pembelajar membandingkan latar belakang pengetahuan yang mereka
miliki dengan informasi yang baru akan didapatkannya. Teori skemata ini
didasarkan pada kepercayaan bahwa setiap kegiatan pemahaman
dipengaruhi oleh pengetahuan seseorang yang luas.Ada dua proses yang
saling mengisi yang menyebabkan skemata seseorang senantiasa
berkembang, yaitu ; proses asosiasi dan proses akomodasi, asosiasi
adalah proses penyerapan konsep baru kedalam struktur kognitif yang
telah ada, sedangkan proses akomodasi adalah proses pembentukan
skemata baru atau memodifikasikan struktur kognitif yang telah ada. Jadi
dalam proses akomodasi seseorang memerlukan modifikasi struktur yang
sudah ada dalam mengadakan respon terhadap tantangan lingkungannya.
Dikatakan selanjutnya oleh Piaget ( 2001 ) bahwa, keserasian
antara asimilasi dengan akomodasi, kemudian disebut Ekuilibrasi.
Ekuilibrasi adalah proses terjadinya perubahan dari suatu keadaan ke
keadaan yang lain yang mengahasilkan suatu keseimbangan baru. Jika
8 Tahuri, Volume 11, Nomor 2, Agustus 2014
seseorang berhadapan dengan suatu masalah, maka struktur kognitifnya
akan mengalami ketidakseimbangan sehingga secara spontan struktur
kognitif tersebut mengadakan kegiatan pengaturan diri (Self-regulation)
sebagai upaya untuk memperoleh suatu keseimbangan baru lagi.
Tercapainya keseimbangan baru meunjukkan bahwa ada sesuatu yang
telah dicapai sebagai umpan balik dan disimpan dalam struktur yang
permanen.Upaya untuk mengaktifkan skemata dalam pembelajaran
adalah dengan menggunakan advanced organizer atau pengorganisasian
awal, contohnya ; pengorganisasian awal adalah dengan menggunakan
visual aid (bantuan visual) berupa gambar, melakukan demonstrasi,
berbicara tentang pengalaman hidup yang nyata yang dihubungakan
dengan materi pembelajaran yang ada, memberikan pertanyaan yang
berhubungan dengan meteri yang ada, dan melakukan diskusi.
Dari berbagai penelitian terungkap bahwa lingkungan belajar
memerlukan suasana stabil, nyaman dan familiar atau menyenangkan.
Lingkungan belajar, dalam konteks pengetahuan awal, harus memberikan
suasana yang mendukung keingintahuan peserta didik, semangat untuk
meneliti atau mencari sesuatu yang baru, bermakna, dan menantang.
Menciptakan kesempatan yang menantang para peserta didik untuk
”memanggil kembali” pengetahuan awal yang merupakan upaya yang
esensial. Dengan cara-cara tersebut maka pengajar/instruktur/fasilitator
mendorong peserta didik untuk mengubah pola pikir, dari mengingat
informasi yang pernah dimilikinya menjadi proses belajar yang penuh
makna dan memulai perjalanan untuk menghubungkan berbagai jenis
kejadian/peristiwa dan bukan lagi mengingat-ingat pengalaman yang ada
secara terpisah-pisah. Dalam seluruh proses tadi, pengetahuanawal
merupakan elemen esensial untuk menciptakan proses belajar menjadi
sesuatu yang bermakna.
Dalam proses belajar, pengetahuan awal merupakan kerangka di
mana peserta didik menyaring informasi baru dan mencari makna tentang
apa yang sedang dipelajari olehnya. Peserta didik merupakan sumber
daya utama dan terpenting dalam proses pendidikan. Peserta didik bisa
belajar tanpa guru. Sebaliknya, guru tidak bisa mengajar tanpa peserta
didik. Karenanya kehadiran peserta didik menjadi keniscayaan dalam
proses pendidikan formal atau pendidikan yang dilambangkan dengan
menuntut interaksi antara pendidik dan peserta didik.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
awal atau yang disebut juga dengan skemata sangat berperan penting
dalam proses pembelajaran,dalam hal ini dalam proses menerjemahkan
teks, pengetahuan awal yang dimiliki jika diaktifkan dengan baik maka
dapat menghasilkan hasil terjemahan yang baik.
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan landasan teori di atas, maka hipotesis penelitian ini
dapat dirumuskan sebagai berikut: Terdapat hubungan kemampuan awal
dengan kemampuan menerjemahkan teks bahasa Jerman.
Litualy & Umkeketony, Kemampuan Awal Dan Kemampuan --- 9
Deskripsi Hasil Penelitian
Hasil tes pengetahuan awal
Hasil tes kemampuan awal terhadap 20 responden, diperoleh skor
tertinggi yang dicapai mahasiswa adalah 10 sebanyak tiga orang,
sedangkan skor terendah adalah 2 sebanyak dua orang dari skor
maksimal yaitu 10. Berdasarkan data – data hasil tes kemampuan awal
dilanjutkan dengan perhitungan harga – harga yang diperlukan dalam
pengujian hipotesis, jumlah hasil perhitungan menunjukan bahwa ΣX =
126, ΣX² = 896 dan X = 6,3.
Rangkuman data yang dideskripsikan di atas ditampilkan dalam
table 1 berikut ini :
Tabel 1. Rangkuman Hasil Tes Pengetahuan Awal.
Parameter
Skor
N
20
X¯
6,3
ΣX
126
ΣX²
896
Hasil tes kemampuan menerjemahkan
Hasil tes kemampuan menerjemahkan teks bahasa Jerman
terhadap 20 responden, diperoleh skor tertinggi yang dicapai mahasiswa
adalah 10 sebanyak tiga orang, sedangkan skor terendah yang dicapai
mahasiswa adalah 6 sebanyak delapan orang dari skor maksimal 10.
Berdasarkan data – data hasil tes kemampuan menerjemahkan
dilanjutkan dengan perhitungan harga – harga yang diperlukan untuk
pengujian hipotesis, hasil perhitungan menunjukan bahwa ΣY = 150, ΣY²
= 1164 dan Y = 7.5.
Rangkuman data yang dideskripsikan diatas dapat dilihat dalam
table 2 berikut ini :
Tabel 2. Rangkuman Hasil Tes Kemampuan Menerjemahkan Teks.
10 Tahuri, Volume 11, Nomor 2, Agustus 2014
Parameter
Skor
N
20
Y
7,5
ΣY
150
ΣY²
1164
Pengujian hipotesis
Untuk perhitungan pembuktian hipotesis penelitian ini, digunakan
teknik korelasi product moment dengan rumus sebagai berikut :
r=
Hasil perhitungan menunjukan bahwa koefisien korelasi antara
kemampuan awal (X) dengan kemampuan menerjemahkan (Y) = 0,871.
Sedangkan nilai kritis r pada table dengan derajat kebebasan (dk) N-1 =
19 pada taraf signifikasi α = 0,05 diperoleh r table = 0,456. Hasil tersebut
menunjukan bahwa r hitung > r tabel atau r hitung 0,871 > r table 0,456.
Hal ini berarti bahwa hipotesis penelitian ini diterima, karena terdapat
hubungan positif antara kemampuan awal dengan kemampuan
menerjemahkan mahasiswa. Hubungan positif tersebut menunjukan
bahwa Semakin baik kemampuan awal yang dimiliki, semakin baik pula
kemampuannya untuk menerjemahkan teks bahasa Jerman.
Kemudian untuk mengetahui keberartian koefisien korelasi maka
dilakukan uji t dengan rumus :
t=
Pengujian ini untuk mengetahui apakah hubungan tersebut
mempunyai keberartian pada taraf nyata atau hanya merupakan suatu
kebetulan saja. Hasil perhitungan diperoleh harga t hitung sebesar 7,714
> t tabel sebesar 1,729 dengan derajat kebebasan (N-1) = 19 dan taraf α
= 0,05. Dari pengujian tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara Kemampuan Awal dengan kemampuan
Menerjemahkan mahasiswa bukan merupakan suatu kebetulan. Untuk
hasil perhitungan yang lebih jelas lihat pada lampiran 10.
Pembahasan
Hasil penelitian di atas menunjukkan bahwa semakin baik
kemampuan awal seseorang maka akan semakin baik pula kemampuan
Litualy & Umkeketony, Kemampuan Awal Dan Kemampuan --- 11
menerjemahkan yang dimilikinya. Seperti yang dikemukakan Piaget
(2001: 21) kemampuan awal atau skemata adalah representaasi bentuk
dari seperangkat persepsi, ide, dan aksi yang diasosiasikan dan
merupakan kemampuan dasar pembangunan pemikiran. Skemata selalu
berkembang sejalan dengan kapasitas pengalamannya. Piaget juga
berpendapat bahwa, skemata merupakan bagian dari pengetahuan awal
yang menyediakan interpretasi bermakna tentang konteks yang baru.
Dengan demikian dalam menerjemahkan teks bahasa Jerman,
tentu saja seseorang harus mengaktifkan kemampuan awalnya karena
dengan mengaktifkan kemampuan awal yang dimilikinya maka dia mampu
menerjemahkan teks dengan baik. Sebaliknya, jika mahasiswa memiliki
kemampuan menerjemahkan tetapi tidak didukung dengan kemampuan
awal maka akan mempengaruhi mahasiswa tersebut dalam
menerjemahkan teks karena kemampuan awal mempunyai peran penting
dalam menerjemahkan teks.
Selanjutnya, dalam pengujian hipotesis diperoleh rhitung lebih besar
dari rtabel. Hasil tersebut menunjukan bahwa kemampuan awal tentang
tema teks sangatlah penting bagi pembelajar bahasa Jerman yaitu
mahasiswa bisa mendapatkan hasil yang maksimal dalam mengikuti
perkuliahan Übersetzung I. Hal ini membuktikan bahwa hipotesis dalam
penelitian ini dapat diterima, karena terdapat hubungan yang positif antara
kemampuan awal dengan kemampuan menerjemahkan teks mahasiswa.
Oleh karena itu, mahasiswa harus lebih mengoptimalkan
kemampuan awalnya dalam menerjemahkan teks khususnya
menerjemahkan teks bahasa Jerman dengan lebih banyak belajar dan
menguasai kemampuan awalnya yang merupakan faktor penting dalam
menerjemahkan teks juga dengan mengikuti perkuliahan yang dapat
membantu mahasiswa untuk menerjemahkan dengan baik yaitu mata
kuliah Übersetzung I.
Simpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan di atas, dapat
disimpulkan bahwa: Pengetahuan awal mahasiswa Program Studi
Pendidikan Bahasa Jerman Fkip Universitas Pattimura Ambon
mempunyai hubungan yang positif dengan Kemampuan Menerjemahkan
Teks bahasa Jerman. Sebab pengetahuan awal merupakan tahap awal
bagi mahasiswa Program Studi Pendidikan bahasa Jerman untuk
menerjemahkan teks dalam bahasa Jerman. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa semakin baik pengetahuan awal yang dimiliki
mahasiswa, semakin baik pula kemampuannya untuk menerjemahkan
teks bahasa Jerman. Untuk itu diharapkan mahasiswa harus lebih sering
mengaktifkan pengetahuan awalnya agar kemampuan menerjemahkan
mereka lebih maksimal. Hal ini dapat dibuktikan lewat rumus uji-r produck
moment dan diperkuat dengan uji-t dipendent. Diperoleh r = 0,871,
Sedangkan nilai kritis r pada tabel dengan derajat kebebasan (dk) N-1 =
12 Tahuri, Volume 11, Nomor 2, Agustus 2014
19 pada taraf signifikasi α = 0,05 diperoleh rtabel = 0,456. Hasil tersebut
menunjukan bahwa rhitung > rtabel atau rhitung = 0,871> rtabel = 0,456.
Daftar Rujukan
Ausubel. 1988. Teori Kognitif dalam http://saputradavid.blogspot.com
/2013/04/teori-kognitif-menurut-david-ausubel.html. (Di akses
pada tanggal 19 Februari 2014)
Brislin, Richard, W. 1976. Translation: Application and Research. New
York: Gardner Press.
Bolton Sybille. 1991. Probleme der Leistungsmessung, München :
Goethe Institut.
Bruner. 1957. Teori Kognitif dalam
http://sainsmatika.blogspot.com
/2012/04/teori-kognitif-dari-bruner. (Di akses pada tanggal 19
Februari 2014)
Busnett-McGuire, Susan,1988.Translation Studies. London-New York:
Routledge.
Gagne. 1996. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses BelajarMengajar.
Bandung: Sinar Baru Algesindo
Gerlach dan Ely dalam Harjanto. 2006. Kemampuan Awal. Dalam
http://sainsedutainment.blogspot.com/2011/04/kemampuanawal-prior-knowledge.html. (di akses pada tanggal 13 Oktober
2014)
Kujawa & Huske.1995. Pengetahuan Awal. Dalam
https://akhmad
sudrajat.wordpress.com/2013/09/23/mengaktifkan-prior
knowledge-melalui-teknik-k-w-l/. (Di akses pada tanggal 3
November 2014)
Larson, Mildred, L. 1989. Penerjemahan Berdasarkan Makna : Pedoman
untuk Pemadanan Antarbahasa. Terjemahan: Kencanawati
Taniran, Jakarta: Arcan.
Ma’luf,
Beirut. 1986.Cara menerjemahkan. dalam http://pekilouim.
blogspot.com/2013/01/teknik-dan-cara-menerjemahkan.html. (Di
akses pada tanggal 19 Februari 2014)
Machali, Rochayah, 2000Pedoman bagi Penerjemah. Jakarta: PT.
Grasindo.
Litualy & Umkeketony, Kemampuan Awal Dan Kemampuan --- 13
Moelyono, Anton, M. 1989. Kembara Bahasa: Kumpulan Karangan
Tersebar. Jakarta: PT Gramedia.
Nord, Christiane. 1989. “Textanalyse und Übersetzungsauftrag” in Frank
G.
Königs
(ed.),
Übersetzungswissenschaft
und
Fremdsprachenunterricht. München: Goethe Institut.
Piaget, Jean. 2001. Teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Yogjakarta.
Kanisus.
Piaget, Jean. 1995. Strukturalisme. Jakarta. Yayasan obor Indonesia.
Sadtono, E. 1985. Pedoman Penerjemahan. Jakarta. Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa, Depdikbud.
Sudarno, A. P. 2011. Penerjemahan Buku Teori dan Aplikasi. Surakarta :
UNS Press
Sugiryato.
2009.
Kemampuan
Awal.
Dalam
http://sainsedutainment.blogspot.com/2011/04/kemampuanawal-prior-knowledge.html. ( di akses pada tanggal 13 Oktober
2014 )
Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: Raja Grafindo
Widyamarthaya . A. 1989.Seni Menerjemahkan. Yogyakarta: Kanisius.
Widodo. 2004. Pengetahuan Awal. Dalam https://akhmadsudrajat.
wordpress.com/2013/09/23/mengaktifkan-prior
knowledgemelalui-teknik-k-w-l/. (Di akses pada tanggal 3 November 2014)
Wills, Wolfram, 1982. The Science of Translation: Problems and Methods.
Tübingen. Gunter Narr Verlag.
Zajonc. 1984.Teori – teori Psikologi Sosial. Jakarta. PT Raja Grafindo
Persada
Fly UP