...

penerapan zona dan jarak pandang dalam tatapmuka diklat

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

penerapan zona dan jarak pandang dalam tatapmuka diklat
PENERAPAN ZONA DAN JARAK PANDANG DALAM
TATAPMUKA DIKLAT
Oleh : Drs. Sumarsono. MM
DESKRIPSI
Hal yang utama bagi widyaiswara saat tatapmuka diklat adalah membangkitkan perhatian
kepada para peserta diklat, baik secara individu, kelompok, maupun klasikal. Sedangkan hal
yang utama bagi para peserta diklat adalah menaruh perhatian secara seksama pada
penatar, baik apa yang disajikan maupun bagaimana menyajikannya. Konsep tentang zona
dan jarak pandang antara penatar dan peserta diklat, meskipun belum banyak dipahami,
akan sangat banyak membantu membangkitkan perhatian tersebut. Kini, saatnya kita
menekuni konsep tersebut.
A. LATARBELAKANG
Saat tatapmuka di muka kelas, sadar atau tidak, setiap penatar telah menerapkan
pendekatan klasikal, pendekatan kelompok besar, pendekatan kelompok kecil, dan
pendekatan individual. Selain itu, penatar secara sadar atau tidak, telah berada dalam
posisi berdiri, duduk , diam atau bergerak. Berikutnya, penatar juga telah menerapkan
tahap-tahap pembelajaran diklat seperti tahap pendahuluan, tahap inti, dan tahap
penutup. Dari ke tiga aspek di muka, penatar secara tidak sengaja telah menerapkan
jarak pandang tertentu terhadap peserta, baik secara klasikal, kelompok besar,
kelompok kecil, dan individu. Dari segi yang sama penatar secara tidak sengaja telah
menerapkan zona umum, zona sosial, zona pribadi, dan zona intim. Penggolongan ini
diambil dari ilmu pemasaran, dimana ukuran berhasil atau gagal adalah bahwa
konsumen tertarik kepada jasa dan produk yang disajikan oleh pemasar. Penggolongan
ini akan dibahas dalam konteks pembelajaran tatap muka diklat.
B. TUJUAN
Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk:
1. Mensosialisasikan pengertian, jenis-jenis zona dan jarak pandang antara penatar dan
peserta diklat
2. Menyamakan persepsi tentang penggunaan zona dan jarak pandang antara penatar
dan peserta diklat, khususnya pada tiga tahap pembelajaran dalam tatapmuka diklat
C. PENGERTIAN
Kata zona dalam konteks hubungan satu orang dengan orang lain, berarti suatu daerah
atau ruang yang diakui oleh seseorang sebagai miliknya. Zona ini seolah-olah
merupakan perluasan tubuhnya (Allan Pease, 1993: 14). Pada saat berkomunikasi
dengan orang lain, setiap orang memiliki wilayah pribadi sendiri, termasuk ruang yang
ada di dalam penilikannya. Zona pribadi adalah ruang kosong di sekeliling tubuhnya.
1
Setiap manusia memiliki semacam “gelembung udara” pribadi yang mudah dibawa
kemanapun ia pergi. Seberapa besarnya ruang tersebut, biasanya dipengaruhi oleh
budaya sekitarnya. Negara atau kota yang berpenduduk padat akan terbiasa dengan
ruang pribadi yang berjarak dekat.
Ada pendapat yang hampir sama, yakni apa yangdisebut dengan proxemik.
Proxemik atau bahasa ruang, yaitu jarak yang Anda gunakan ketika berkomunikasi
dengan orang lain, termasuk juga tempat atau lokasi posisi Anda berada. Pengaturan
jarak menentukan seberapa jauh atau seberapa dekat tingkat keakraban Anda
dengan orang lain, menunjukkan seberapa besar penghargaan, suka atau tidak suka
dan perhatian Anda terhadap orang lain, selain itu juga menunjukkan simbol sosial.
Dalam ruang personal, dapat dibedakan menjadi empat ruang interpersonal :




Jarak intim
Jarak dari mulai bersentuhan sampai jarak satu setengah kaki. Biasanya jarak ini
untuk bercinta, melindungi, dan menyenangkan.
Jarak personal
Jarak yang menunjukkan perasaan masing - masing pihak yang berkomunikasi dan
juga menunjukkan keakraban dalam suatu hubungan, jarak ini berkisar antara satu
setengah kaki sampai empat kaki.
Jarak sosial
Dalam jarak ini pembicara menyadari betul kehadiran orang lain, karena itu dalam
jarak ini pembicara berusaha tidak mengganggu dan menekan orang lain,
keberadaannya terlihat dari pengaturan jarak antara empat kaki hingga dua belas
kaki
Jarak publik , yakni berkisar antara dua belas kaki sampai tak terhingga
D. JENIS-JENIS ZONA DAN JARAK PANDANG
Jenis zona dibagi menjadi empat yaitu zona intim, zona pribadi, zona sosial, dan zona
umum. Pembahasan ini diambil dari buku berjudul Bahasa Tubuh, bagaimana membaca
pikiran seseorang melalui gerak isyarat, ditulis oleh Alan Pease.
2
Gambar 1. Empat zona
1. Zona intim (antara 15-45 cm)
Dibanding tiga zona yang lain, zona ini adalah yang terpenting. Pada zona ini, setiap
orang secara individu akan selalu menjaganya. Seakan-akan zona itu miliknya
pribadi. Hanya mereka yang merasa dekat secara emosional yang boleh
memasukinya
Gambar 2. Zona intim
Orang yang tergolong dekat adalah seperti kekasih, orangtua, suami, istri, anakanak, kerabat dekat, sahabat, sanak saudara. Di dalam zona intim masih terdapat
zona special, yang disebut zona sangat intim (antara 1-14 cm). Zona ini bisa dimasuki
orang lain hanya selama kontak fisik. Dalam kaitan ini misalnya berupa hubungan
suami istri. Bisa juga dua orang yang berpelukan mesra karena lama tidak bertemu.
Bisa juga berupa cium pipi kiri, cium pipi kanan, oleh dua sahabat yang saling
merindukan.
3
Gambar 3. Zona sangat intim
Dari segi pendidikan, hal ini terjadi misalnya sorang instruktur harus memberi
contoh menyentuh keyboard computer, atau memegang pensil saat menggambar.
Biasanya contoh peragaan memegang bahan-alat praktek dan mengoperasikannya
mengharuskan seorang indtruktur menggunakan zona intim dan zona sangat intim.
2. Zona pribadi (antara 46 cm - 122 cm)
Zona ini bisanya dipergunakan antara satu orang dengan orang lain dalam
kesempatan tertentu, misalnya saat berpesta, acara-acara sosial, pertemuan ramah
tamah. Lazimnya dalam posisi berdiri, bukan dalam posisi duduk atau posisi lainnya.
Gambar 4. Zona pribadi
3. Zona sosial (antara 122 – 360 cm
Kita menggunakan zona sosial ini disebabkan karena kita belum mengenal, atau
karena kita berhadapan dengan lebih dari satu orang. Kita berhadapan dengan
orang yang belum begitu dikenal seperti tukang bangunan yang akan memperbaiki
kerusakan rumah. Bisa juga terhadap tukang antar barang, pegawai baru, kenalan
baru, teman baru. Pendek kata orang yang belum kita kenal.
4
Gambar 5. Zona sosial
4. Zona umum (lebih dari 360 cm)
Zona ini kita gunakan jika berhadapan dengan sekelompok besar orang. Zona ini
merupakan jarakpandang yang aman jika kita berkomunikasi dengan orang banyak.
Jarak pandang tersebut juga dipengaruhi oleh sudut pandang dan kemampuan mata
melihat.
Gambar 6. Zona umum
Setelah membahas berbagai zona dan jarak pandang, perlu kiranya disampaikan
tentang perputaran leher manusia saat menoleh ataupun rentang sudut mata, saat
melihat obyek atau sekumpulan obyek di depannya.
Mata pada saat memandang ke depan lurus hanya mampu menjangkau sudut 45 ke
kanan dan 45 ke kiri. Selain itu gerakan leher ke atas dan ke bawah hanya sekitar 30
Gambar 7. Perputaran leher ke kanan ke kiri
5
Gambar 8. Gerakan leher ke atas dank e bawah
E. PENDEKATAN SELAMA TATAPMUKA DIKLAT
Pendekatan selama tatapmuka diklat bisa bersifat multi tafsir. Ada yang menggunakan
istilah pendekatan pembelajaran, pendekatan komunikasi, pendekatan antar pribadi.
Dalam konteks ini digolongkan menjadi empat yakni pendekatan secara klasikal,
pendekatan secara kelompok besar, pendekatan secara kelompok kecil, dan pendekatan
secara perorangan.
P
Gambar 8. Pendekatan klasikal
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXX
XXX
Gambar 9. Pendekatan Kasikal
pPP
Zona sosial
P
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
Gambar 10. Pendekatan kelompok besar
6
Zona pribadi
P
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
Gambar 11. Pendekatan kelompok kecil
Zona intim
P
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
XXXX XXXX XXXX
XXXX
XXXX
Gambar 12. Pendekatan perorangan
Penggolongan di atas dalam penerapan sehari-hari dapat dipengaruhi oleh luas ruang
kelas, layout tempat duduk, dan jumlah peserta diklat.
F. PENERAPAN ZONA JARAK PANDANG PADA TIGA TAHAP PEMBELAJARAN
Dalam bagian ini hal-hal yang berpengaruh adalah posisi penatar, lokasi penatar, posisi
dan lokasi peserta diklat. Posisi penatar bisa dalam keadaan diam atau bergerak, bisa
dalam keadaan berdiri atau duduk, terutama duduk di belakang meja penatar.
Untuk mempermudah pemahaman, perlu disertakan tabel seperti di bawah ini.
7
Table 1. Tahap pembelajaran, posisi penatar, pendekatan pembelajaran
dan zona-jarak pandang
TIGA TAHAP SELAMA TATAPMUKA DIKLAT
POSISI
PENATAR
PENDEKATAN
B/D
B/D
PK/PKB
PK/PKB
B/D
B/D
B/D
B/D
B/D
B/D
B/D
PK/PKB
PK/PKB
PK/PKB
PK/PKB/PKK
PKK/PI
PKB/PKK/PI
PKK/PI
B/D
B/D
PK/PKB
PK/PKB
Tahap Pendahuluan
1.Salam, perkenalan, pengantar materi
2.Apersepsi
Tahap Inti
1. Materi pokok
2. Sub materi pokok
3. Uraian
4. Contoh/ilustrasi
5. Tanyajawab
6. Peragaan
7. Penugasan
Tahap penutup
1.Rangkuman
2.Penugasan lanjutan
Keterangan:
B/D
: posisi penatar berdiri atau duduk
PK
: pendekatan klasikal
PKB
: pendekatan kelompok besar
PKK
: pendekatan kelompok kecil
PI
: pendekatan individu
ZSI
ZI
ZP
ZS
ZU
ZONA DAN JARAK
PANDANG
ZSI
ZI
ZP
ZS ZU
v
V
V
v
v
v
v
v
v
v
v
V
V
v
v
v
v
v
v
v
V
v
v
v
V
V
: zona sangat intim
: zona intim
: zona pribadi
: zona sosial
: zona umum
Untuk jelasnya akan diuarikan satu persatu
Tahap pendahuluan
1. Penatar menyampaikan salam, perkenalan dan pengantar materi
Sebagaimana lazimnya, penatar mengawali tatapmuka diklat dengan menyampaikan
salam dan perkenalan. Setelah itu dilanjutkan dengan pengantar materi. Posisi
penatar bisa berdiri atau duduk di belakang meja penatar. Pendekatan yang
diterapkan biasanya adalah pendekatan klasikal. Dengan demikian akan lebih
mengarah pada zona umum (lebih dari 3 meter) atau zona sosial (1,22 – 3,6 m).
Alasan penggunaan zona sosial karena penatar harus berhadapan dengan hampir
semua peserta diklat. Dengan sudut pandang yang melebar, penatar dapat menatap
semua peserta. Selain itu tahap ini bersifat awal, di mana penatar menyampaikan
hal-hal yang umum.
Saat perkenalan, selain dari diri penatar, sering dilanjutkan dengan perkenalan diri
setiap peserta diklat. Dalam hal-hal tertentu, untuk mengakrabkan komunikasi
antara penatar, peserta dan antar peserta, maka penatar bergerak mendekat.
Tibalah saatnya penatar menerapkan zona pribadi (46-122 cm)
2. Penatar menyajikan apersepsi
Pada saat penatar menyajikan apersepsi, masih menerapkan zona umum atau juga
zona soscial. Meskipun kadang penatar menyinggung hal-hal yang mengarah pada
8
kelompok besar atau kelompok kecil, namun masih bersifat umum. Zona tersebut
dipakai karena penatar perlu menyesuaikan diri dengan layout kelas. Penatar
mengamati, berapa banyak peserta wanita, berapa banyak peserta pria. Berapa yang
tua, berapa yang muda. Apakah barisan depan masih ada yang kosong? Secara tidak
sadar, penatar dipengaruhi oleh barisan terdepan. Apabila cukup lebar, maka penatar
bergerak mundur pada zona antara zona umum dan zona sosial.
Tahap inti
1. Penatar menyampaikan materi pokok
Pada kesempatan ini penatar menggunakan pendekatan klasikal, dilanjutkan dengan
pendekatan kelompok besar. Dengan demikian penatar menerapkan zona umum dan
kemudian zona sosial. Posisi penatar kadang diam, tetapi akan lebih menarik jika
melakukan pergerakan secukupnya. Penatar bisa duduk di kursi atau berdiri antara
layar LCD dengan tempat duduk peserta di barisan depan. Penyampaian materi
pokok, biasanya tidak terlalu lama, karena hanya berupa besaran dari
keseluruhan materi.
2. Penatar menyampaikan sub materi pokok
Pada kesempatan ini penatar menggunakan pendekatan kelompok besar, dilanjutkan
dengan pendekatan kelompok kecil. Area pergerakan penatar masih sekitar barisan
peserta diklat dan meja penatar. Penyampaian sub-sub materi pokok lazimnya juga
tidak terlalu lama. Dengan demikian penatar biasanya menerapkan zona sosial dan
zona pribadi. Zona sosial diperkirakan lebih sering daripada zona pribadi.
Jika mata diklat terkait dengan manajemen, sub-sub materi pokok biasanya berupa
hal-hal yang tergolong dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring, evaluasi dan
pelaporan. Bisa juga berupa besaran yang tergolong pada jenis-jenis, unsur-unsur,
bagian-bagian, sifat-sifat, langkah-langkah, dan sebagainya.
3. Penatar menyampaikan uraian dari sub materi pokok
Uraian dari sub materi pokok sudah mulai melebar karena sudah mendeskripsikan
dari jenis-jenis, unsur-unsur, bagian-bagian, sifat-sifat, langkah-langkah, dan
sebagainya. Dari segi penggunaan waktu, sudah tiba saatnya penatar menerapkan
pendekatan kelompok kecil dan pendekatan perorangan.
4. Penatar menyampaikan contoh / ilustrasi dari sub materi pokok
Contoh-contoh ataupun ilutrasi dari sub materi pokok bisa berupa padanan istilah,
bisa berupa contoh benda, peristiwa, percakapan, cara pembuatan, atau proses
penyelesaian. Bisa juga berupa contoh menurut waktu, bisa contoh berdasar
perbandingan. Dalam kesempatan ini penatar menerapkan pendekatan kelompok
kecil dan pendekatan pribadi. Apalagi dalam diklat selalu menerapkan pendekatan
andragogi. Ini berasumsi bahwa setiap peserta diklat memiliki masalah individu.
Dengan demikian pendekatan perorangan lebih banyak berperan. Untuk itu penatar
akan lebih banyak menerapkan zona pribadi.
Untuk memperkuat contoh penggunaan pendekatan klasikal, pendekatan kelompok
besar , pendekatan kelompok kecil dan pendekatan individu, berikut ini disajikan
suatu ilustrasi yang memadai.
9
Contoh hal-hal yang bersifat klasikal misalnya SMP dalam satu propinsi yang terdiri
dari SMP Negeri, SMP Swasta, dari berbagai Kabupaten, berbagai kota dan berbagai
kecamatan.
Contoh hal-hal yang bersifat kelompok besar misalnya SMP dari Kabupaten atau
Kotamadya tertentu. Contoh untuk hal-hal yang bersifat kelompok kecil misalnya
SMP dari satu kecamatan tertentu. Sedangkan hal-hal yang bersifat perorangan
adalah SMP dari setiap peserta, disentuh satu per satu.
Apabila tata letak peserta diklat sudah diatur berkelompok secara sistimatis berdasar
kabupaten, kota, kecamatan, maka pendekatan klasikal, kelompok besar, kelompok
kecil dan perorangan dapat dilakukan penatar dengan efektif.
5. Penatar melakukan tanyajawab
Tanya jawab bisa terjadi dari arah penatar, bisa juga dari arah peserta diklat.
Pertanyaan dari penatar biasanya dilakukan secara klasikal, misalnya:”Apakah Bapakibu sudah faham?” atau “Apakah di antara Bapak-Ibu ada yang ingin bertanya?”
Pertanyaan ini sebagai pemicu. Sedangkan dari segi peserta, jawabannya akan
bersifat individu.
Dapat dicatat di sini, biasanya pertanyaan penatar jarang disampaikan secara
kelompok besar, kelompok kecil. Hanya dalam keadaan tertentu, pertanyaan
diajukan secara individu. Misalnya: “Coba Bapak X, masalah kesekolahan apa yang
terjadi di wilayah anda?” Atau jika pertanyaan tersebut diarahkan pada kelompok
besar, seperti :”Tolong Bapak Ibu dari SMP Kabupaten X, prestasi apa saja yang diraih
di kabupaten anda?” Kenyataannya, jawaban peserta akan bersifat perorangan atau
disampaikan secara individu.
Bertolak dari fakta di atas, maka akan lebih efektif jika Tanya jawab dilakukan dengan
zona pribadi (46 cm – 122 cm). Jika terjadi peserta diklat mulai berkurang
perhatiannya, penatar bisa melakukan variasi dengan zona sosial, sekaligus
mengamati kelompok-kelompok besar dan klasikal, apakah menaruh perhatian atau
tidak.
Rentang jarak antara zona social dan zona pribadi bisa diatur oleh penatar secara
luwes dengan memperhitungkan tipe peserta, keluasan ruang, lay out tempat duduk
peserta, perhatian kelompok-kelompok besar dan kelompok kecil, dan faktor-faktor
insidental lainnya.
6. Penatar melakukan peragaan
Penatar memberikan peragaan bisa berupa (1) ucapan, perbuatan, tanpa benda
peraga, (2) ucapan – perbuatan, dengan benda peraga, dan (3) bagian-bagian benda
peraga.
Penggunaan zona sosial, zona pribadi akan dipengaruhi oleh (1) besar kecilnya
ukuran benda peraga, (2) kompleks tidaknya wujud benda peraga. Untuk benda
berukuran besar, penggunaan zona sosial masih dimungkinkan. Sedang yang
berukuran sedang atau kecil, akan lebih efektif jika menggunakan zona pribadi.
Peragaan harus dilakukan berulang disesuaikan dengan arah pandang para peserta
diklat.
7. Penatar menyelenggarakan penugasan
10
Penugasan yang diberikan widyaiswara untuk peserta diklat biasanya bersifat
individu atau kelompok kecil. Jarang yang bersifat klasikal. Dengan demikian penatar
akan lebih sering menggunakan zona pribadi. Dalam keadaan tertentu akan lebih
tepat jika menggunakan zona intim.
Tahap-tahap penugasan mencakup
 Penatar menguraikan rincian tugas (menggunakan zona sosial, zona pribadi)
 Peserta mengklarifikasi uraian tugas
 Peserta mengerjakan tugas
 Penatar membimbing teknik dan langkah pengerjaan tugas (menggunakan zona
pribadi, zona intim)
 Penatar mengumpulkan hasil tugas (menggunakan zona pribadi, zona sosial)
 Penatar mengendalikan peserta menyampaikan presentasi (menggunakan zona
sosial, zona pribadi)
Tahap penutup
1. Penatar menyajikan rangkuman
Dalam kesempatan ini , penatar lebih sering menggunakan zona sosial dan zona umum
2. Penatar menyampaikan tugas lanjutan
Dalam kesempatan ini , penatar biasanya menggunakan zona sosial dan zona umum
G. MASALAH YANG AKAN TIMBUL, JIKA PENATAR TIDAK MENERAPKAN ZONA DAN
JARAK PANDANG DALAM TATAPMUKA DIKLAT
Apabila penatar tidak menerapkan berbagai zona dan jarak pandang atau salah sewaktu
menerapkannya, maka peserta akan :
1. Merasa kurang diperhatikan
2. Merasa kurang jelas tentang apa yang diucapkan penatar
3. Merasa kurang jelas tentang suara, nada, kata, gerak, dan gestur penatar
4. Kurang memahami materi yang diberikan
5. Tidak bisa membedakan, mana yang terpenting, penting, dan kurang penting
6. Tidak simpati kepada penatar
7. Merasa bahwa penatar hanya memberi perhatian pada sebagian peserta
H. PENTINGNYA PENGGUNAAN ZONA PRIBADI DAN ZONA INTIM
Penggunaan zona pribadi dan zona intim begitu penting bagi penatar, terutama untuk
pendekatan kelompok kecil dan pendekatan individu. Ini akan efektif, agar peserta:
1. Merasa diberi perhatian lebih. Terutama bagi peserta tertentu yang kurang mampu,
lambat mengerjakan tugas, mengalami masalah, tidak aktif bertanya, atau suka
mendominasi
2. Merasa terbantu sudah diatasi kelemahannya
3. Bertambah motivasi, partisipasinya, baik untuk setiap peserta dan antar peserta
4. Lebih dinamis, produktif dalam bekerja secara individu maupun kelompok
5. Tidak ada jarak antar peserta dan penatar
11
Di lain pihak, penatar akan mengenal lebih banyak tentang identitas dan hal-hal yang
dialami peserta.
I. KESIMPULAN
1. Sosialisasi tentang pengertian, jenis-jenis zona dan jarak pandang antara penatar dan
peserta diklat sangat penting. Hal-hal tersebut selama ini belum dikenal secara luas
dan dalam.
2. Kesamaan persepsi tentang penggunaan zona dan jarak pandang antara penatar dan
peserta diklat, khususnya pada tiga tahap pembelajaran dalam tatapmuka diklat
wajib ditekuni oleh setiap widyaiswara. Pada dasarnya setiap widyaiswara sudah
melakukannya. Akan lebih efektif jika perilaku ini secara ilmiah dan sadar
dikembangkan oleh setiap widyaiswara
J. SARAN-SARAN
1. Konsep zona dan jarak pandang dan segala likalikunya harus diberikan juga kepada
para peserta diklat. Hal mana akan menjadi masukan para penatar, apakah
perilakunya efektif atau tidak.
2. Supervisi terhadap widyaiswara yang sedang menatar, sebaiknya juga mengamati
tentang zona dan jarak pandang. Hal mana akan memperkaya teaching skill
widyaiswara
DAFTAR PUSTAKA
Allan Pease, 1993, Bahasa Tubuh, Bagaimana Membaca Pikiran Seseorang Melalui
Gerak Isyarat, Arcan, Jakarta, cetakan X
Hasibuan, J.J. Drs. dan Moedjiono, Drs., 2000, Proses Belajar Mengajar, PT Remaja Rosdakarya,
Bandung
BIODATA PENULIS
Drs. Sumarsono MM, akrab dipanggil Om Son, De Son,
atau Eyang Son. Lahir di Lampung, 11 Oktober 1956.
Menyelesaikan studi di TK, SD, SMP, SSRI Jurusan Seni
Lukis, FPBS IKIP Jurusan Seni Rupa, S2 UGM. Semua di
Yogyakarta. Widyaiswara di PPPPTK Seni Budaya
Sleman Yogyakarta. Sejak 1996 – 2014 selalu menjadi
Koordinator Diklat Kepala Sekolah atau Diklat
Manajemen Sekolah. Isinya sekitar Delapan Komponen
Sekolah (1996-2004) atau Delapan SNP (Standar
Nasional Pendidikan) (2006-2014).
Email : [email protected]
12
Fly UP