...

Perbedaan Derajat Nyeri Haid Pasien Endometriosis Sebelum dan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Perbedaan Derajat Nyeri Haid Pasien Endometriosis Sebelum dan
MKS, Th. 47, No. 1, Januari 2015
Perbedaan Derajat Nyeri Haid Pasien Endometriosis Sebelum dan Sesudah
Tindakan Laparoskopi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Fitri Hidayati1, R.M. Aerul Chakra Alibasya2, Erial Bahar3
1. Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
2. Departemen Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
3. Bagian Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya
Jl. dr. Muh. Ali Komplek RSMH Palembang Madang Sekip, Palembang, 30126, Indonesia
E-mail: [email protected]
Abstrak
Endometriosis didefinisikan sebagai keberadaan kelenjar dan stroma endometrium di luar kavum uteri. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui perbedaan derajat nyeri haid pasien endometriosis sebelum dan sesudah tindakan
laparoskopi. Penelitian yang dilakukan ini bersifat analitik observasional dengan menggunakan pendekatan potong
lintang dengan besar sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 44 orang. Data diperoleh dari data primer hasil
pengisian kuesioner pasien endometriosis yang melakukan tindakan laparoskopi dan juga data sekunder dari rekam
medik RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dari bulan Januari 2014 sampai bulan Agustus 2014. Penelitian ini
menunjukkan pasien endometriosis banyak terjadi pada usia 15-45 tahun (90,9%) dengan rata-rata usia adalah 33,52,
derajat endometriosis ditemukan sama antara derajat I, II, dan IV sebanyak 13 orang (29,5%), dan IMT dengan
frekuensi terbesar berkisar 18,5-25,0 (77,5%). Dari hasil analisis didapatkan ada perbedaan sangat bermakna rata-rata
VAS nyeri haid sebelum dan sesudah tindakan laparoskopi (p= 0,000), dan ada perbedaan sangat bermakna rata-rata
VAS nyeri haid sebelum dan sesudah tindakan laparoskopi berdasarkan derajat endometriosis I, II, III, dan IV (p=
0,001). Ada perbedaan antara derajat nyeri haid pasien endometriosis sebelum dan sesudah tindakan laparoskopi.
Kata Kunci: Endometriosis, nyeri haid, laparoskopi.
Abstract
The differences of menstrual pain degree in patient with endometriosis before and after laparoscopic procedure in
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Endometriosis is defined as the existence of gland and stroma of the
endometrium outside the uterine cavity. This research was aimed to find out the differences of menstrual pain degree in
patient with endometriosis before and after laparoscopic procedure. This research was an analytic cross-sectional
study on 44 samples who fulfilled the inclusion criteria. The primary data were acquired by using questionnaire filled
by the patients and secondary data were taken from the medical record of RSUP Dr. Mohammad Hoesin in Palembang
since January 2014 until August 2014. The result showed that the age of endometriosis patients range from 15 to 45
years old (90.9%) and the average age is 33.52. The distribution endometriosis level were equal among level I, II, and
IV 13 peoples (29.5%). BMI with the highest frequency a range from 18.5 - 25.0 (77.5%). Based on the result of
analysis, there were signifficant difference on the average VAS score of menstrual pain before and after the
laparoscopy (p= 0,000), and there were significant differences on the average VAS score of menstrual pain before and
after laparoscopy based on the endometriosis level I, II, III, and IV (p= 0,001). This research showed that there were a
differences of menstrual pain degree in patient with endometriosis before and after laparoscopic procedure.
Keywords: Endometriosis, menstrual pain, laparoscopy.
45
MKS, Th. 47, No. 1, Januari 2015
secara bedah, medikamentosa dan kombinasi bedah
dengan medikamentosa. Pada terapi bedah bisa dilakukan
dengan cara laparotomi dan laparoskopi, namun menurut
Sinaii sebagian besar (69,1%) dilakukan dengan
laparoskopi. Namun, ada beberapa hal yang harus
diperhatikan saat melakukan tindakan bedah antara lain
: usia penderita, derajat penyakit endometriosis, berat
ringannya keluhan dan kebutuhan untuk fertilitasnya.7
Menurut Luthan8 banyak kelebihan yang dirasakan
pasien saat pasien memilih operasi dengan cara
laparoskopi dibandingkan operasi biasa seperti, dari
bekas sayatan, efektivitas sampai tingkat keberhasilan
yang lebih tinggi. Hampir 80% endometriosis yang
melakukan dengan operasi laparoskopi dapat mengatasi
keluhan mereka.
1. Pendahuluan
Endometriosis merupakan salah satu masalah yang
paling sering dihadapi di ginekologi. Endometriosis
didefinisikan sebagai keberadaan kelenjar dan stroma
endometrium di luar kavum uteri. Lokasi yang dapat
ditemukan di seluruh rongga pelvik, termasuk ovarium,
ligamen uterin, cavum dauglas, peritoneum, kandung
kemih dan meski jarang dapat ditemukan pada
umbilikus, pleura, dan perikardium.1 Kelainan ini
terutama mempengaruhi usia reproduktif. Sebagian
gejala dari endometriosis dapat bersifat asimptomatis
tetapi dapat juga mempunyai gejala nyeri yang berulang
setiap periodenya seperti pada nyeri haid, nyeri
senggama, nyeri kronis pelvis, dan infertilitas.2
Diagnosis gold standart pada endometriosis adalah
laparoskopi.3 Berdasarkan standar tersebut, beberapa
studi melaporkan insidensi tahunan untuk endometriosis
yang didiagnosis secara operatif, yaitu 1.6 kasus per
1000 wanita dalam rentang usia 15-49 tahun.4
Penelitian di Boston mendapatkan 70% remaja dengan
nyeri panggul kronik yang tidak memberi respons
dengan pil kontrasepsi mempunyai endometriosis yang
dibuktikan dengan laparoskopi.5
Berdasarkan uraian diatas, pada pasien endometriosis
paling sering terjadi pada usia reproduksi dengan salah
satu permasalahan utamanya nyeri terutama nyeri haid
(dysmenorea). Namun dengan laparoskopi, pasien
endometriosis dapat menggunakannya sebagai terapi
diagnostik ataupun sebagai terapi operatif dalam mengatasi
keluhan. Hal ini menjadi pertimbangan penulis untuk
melakukan penelitian mengenai perbedaan derajat nyeri
haid pasien endometriosis sebelum dan sesudah
tindakan laparoskopi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang.
Pada endometriosis terdapat dua permasalahan utama,
yaitu nyeri dan infertilitas. Nyeri dapat berupa nyeri
haid (dysmenorea), dysparaeunia, nyeri pelvik di luar
haid, nyeri saat ovulasi, diskezia, dan disuria.
Berdasarkan data RSCM pada tahun 2006 hingga 2010,
gangguan yang sering dikeluhkan pasien endometriosis
adalah adanya nyeri pelvik kronis (82.5%), dysmenorea
(81%), gangguan infertilitas (33.7%), dysparaeunia
(20.9%), konstipasi (13.9%), disuria (6.9%), dan
diskezia.6 Dysmenorea, nyeri panggul kronik, dan
dysparaeunia merupakan khas untuk endometriosis.
Nyeri haid akan muncul beberapa hari menjelang haid
dan biasanya pasien tidak dapat melakukan kegiatan
sehari-hari dan memerlukan
pengobatan
untuk
menghilangkan nyeri.5
2. Metode
Penelitian yang dilakukan ini bersifat analitik
observasional dengan dengan menggunakan pendekatan
potong lintang (cross sectional). Populasi penelitian ini
adalah semua penderita endometriosis di RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang yang melakukan
tindakan laparoskopi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang sejak bulan Januari 2014 sampai bulan
Agustus 2014. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 44
sampel. Penelitian dilakukan pada bulan September
sampai dengan bulan Desember 2014. Variabel yang
diteliti dalam penelitian ini adalah tindakan laparoskopi,
nyeri haid, usia, IMT, dan derajat endometriosis.
Setelah data dikumpulkan, data tersebut dianalisis
secara univariat dan bivariat. Analisis bivariat akan
menggunakan uji t berpasangan. Data akan disajikan
dalam bentuk narasi dan tabel.
Untuk penanganan endometriosis perlu mendapatkan
perhatian karena keluhan nyeri yang merupakan
manifestasi klinis dapat menurunkan kualitas hidup
akibat keterbatasan dalam melakukan aktivitas seharihari. Dari data RSCM tahun 2010-2011 menunjukan
sebanyak 43,4% pasien endometriosis merasakan nyeri
derajat berat sehingga tidak dapat dapat melakukan
aktivitas sehari-hari, 36,7% merasakan nyeri derajat
sedang yang menyebabkan keterbatasan dalam
melakukan aktivitas sehari-hari dan 20% merasakan
nyeri derajat ringan dengan gangguan aktivitas minimal.6
Penanganan endometriosis bersifat simtomatis yaitu
tergantung pada keluhan dan gejala klinisnya. Tujuan
penanganan endometriosis adalah : 1) mengontrol nyeri,
2) mengontrol perkembangan penyakit endometriosis
dan 3) mempertahankan fertilitasnya. Terdapat 3
(tiga) bentuk cara penanganan endometriosis, yaitu
3. Hasil
Hasil penelitian ini didapatkan dengan informasi dari
data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh
dari hasil pengisian kuesioner dari pasien yang
menderita endometriosis yang melakukan tindakan
laparoskopi, sedangkan data sekunder dari rekam medik
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang pada bulan
Januari 2013 sampai bulan Agustus 2013. Jumlah kasus
endometriosis yang melakukan tindakan laparoskopi 72
dan hanya 44 yang memenuhi kriteria inklusi.
46
MKS, Th. 47, No. 1, Januari 2015
Distribusi Nyeri VAS
Tindakan Laparoskopi
Sebelum
dan
Lanjutan Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perubahan Nyeri
VAS Sebelum dan Sesudah Tindakan Laparoskopi Pasien
Endometriosis di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
VAS Sebelum
VAS Sesudah
n
%
Nyeri Sedang
Tidak Nyeri (0)
11
78,57
(4-6)
Nyeri Ringan (1-3)
3
27,27
Total
14
100
Sumber : Data primer dan sekunder tahun 2014
Sesudah
Dari 44 pasien yang menjadi sampel penelitian, nyeri
VAS sebelum dilakukan tindakan laparoskopi banyak
dialami pada derajat nyeri berat dengan skala VAS 7 – 9
sebanyak 21 orang (47,7%), sedangkan nyeri VAS
sesudah tindakan laparoskopi banyak pada derajat nyeri
tidak nyeri dengan skala VAS 0 sebanyak 28 orang
(63,6%). Distribusi frekuensi nyeri VAS sebelum dan
sesudah tindakan laparoskopi pasien endometriosis di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dapat dilihat
pada Tabel 1 berikut:
VAS Sebelum
Nyeri Berat
(7-10)
VAS Sesudah
Tidak Nyeri (0)
Nyeri Ringan (1-3)
Nyeri Sedang (4-6)
Total
n
15
7
5
27
%
55,55
25,93
18,52
100
Sumber: Data primer dan sekunder tahun 2014
Tabel 1. Distribusi Frekuensi Nyeri VAS Sebelum dan
Sesudah Tindakan Laparoskopi Pasien Endometriosis di
RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
Derajat
Nyeri
Skala
VAS
n
Sebelum
Tindakan
%
n
Sesudah
Tindakan
%
Tidak
Nyeri
0
0
0
28
63,6
Nyeri
Ringan
1-3
3
6,8
10
22,7
Nyeri
Sedang
4-6
14
31,8
6
13,6
Nyeri
7 – 10
27
61,4
0
Berat
Total
44
100
44
Sumber : Data primer dan sekunder tahun 2014
Distribusi Usia
Dari 44 pasien yang menjadi sampel penelitian,
endometriosis lebih banyak ditemukan pada wanita
berusia 15-45 tahun, yaitu sebanyak 40 orang (90,9%)
daripada wanita yang berusia >45
tahun, yaitu
sebanyak 4 orang (9,1%). Distribusi frekuensi pasien
endometriosis berdasarkan usia yang melakukan
tindakan laparoskopi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang dapat dilihat pada Tabel 3 berikut:
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pasien Endometriosis
Berdasarkan Usia yang Melakukan Tindakan
Laparoskopi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
0
100
Usia
N
15 – 45 th
40
>45 th
4
Jumlah
44
Sumber: Data primer tahun 2014
Dari 44 pasien yang menjadi sampel penelitian, nyeri
VAS sebelum pada derajat nyeri ringan (1-3) sebanyak
3 orang, sesudah tindakan VAS berubah menjadi tidak
nyeri (0) sebanyak 2 orang (66,7%), dan tetap pada
derajat nyeri ringan (1-3) 1 orang (33,3%). Nyeri VAS
sebelum pada derajat nyeri sedang (4-6) sebanyak 14
orang, sesudah tindakan VAS berubah menjadi tidak
nyeri (0) sebanyak 11 orang (78,57), dan menjadi nyeri
ringan (1-3) sebanyak 3 orang (27,27). Nyeri VAS
sebelum pada derajat nyeri berat (7-10) sebanyak 27
orang, sesudah tindakan VAS berubah menjadi tidak
nyeri (0) 15 orang (55,55%), nyeri ringan (1-3) sebanyak 7
orang (25,93%), dan nyeri sedang (4-6) sebanyak 5 orang
(18,52%). Distribusi frekuensi perubahan VAS nyeri
haid dapat dilihat pada Tabel 2 berikut:
Dari 44 pasien diketahui bahwa rata-rata (mean) usia
responden adalah 33,52 tahun, dan standar deviasi
sebesar 7,125 tahun. Usia termudah 22 tahun dan tertua
48 tahun. Distribusi statistik responden berdasarkan usia
dapat dilihat pada Tabel 4 berikut:
Tabel 4. Distribusi Statistik Responden Berdasarkan Usia
Variabel
Standar
Deviasi
Usia
33,52
7,125
Sumber : Data primer tahun 2014
Tabel 2. Distribusi Frekuensi Perubahan Nyeri VAS
Sebelum dan Sesudah Tindakan Laparoskopi Pasien
Endometriosis di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang
VAS Sebelum
VAS Sesudah
n
Nyeri Ringan
Tidak Nyeri (0)
2
(1-3)
Nyeri Ringan (1-3)
1
Total
3
Sumber : Data primer dan sekunder tahun 2014
%
90,9
9,1
100
Mean
Min – Max
22 – 48
Distribusi Derajat Endometriosis
Dari 44 pasien yang menjadi sampel penelitian, pasien
yang menderita endometriosis derajat I sebanyak 13
orang (29,5%), derajat II sebanyak 13 orang (29,5%),
derajat III sebanyak 5 orang (11,5%), dan derajat IV
sebanyak 13 orang (29,5%). Distribusi frekuensi pasien
endometriosis berdasarkan derajat endometriosis yang
%
66,7
33,3
100
47
MKS, Th. 47, No. 1, Januari 2015
melakukan tindakan laparoskopi di RSUP Dr. Mohammad
Hoesin Palembang.dapat dilihat pada Tabel 5 berikut:
Lanjutan Tabel 6. Distribusi Frekuensi
dan IV Berdasarkan Derajat Nyeri
Derajat
Derajat Nyeri
Endometriosis
Nyeri Sedang (4-6)
Nyeri Berat (7-10)
Total
Sumber: Data sekunder tahun 2014
Tabel 5. Distribusi Frekuensi Pasien Endometriosis
Berdasarkan Derajat Endometriosis yang Melakukan
Tindakan Laparoskopi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin
Palembang
Derajat
N
Endometriosis
I
13
II
13
III
5
IV
13
Jumlah
44
Sumber: Data sekunder tahun 2014
%
Derajat Nyeri
n
%
Nyeri Sedang (4-6)
Nyeri Berat (7-10)
12
1
13
92,3
7,7
100
Derajat Nyeri
n
%
Nyeri Sedang
(4-6)
Nyeri Berat
(7-10)
5
38,5
8
61,5
Total
Sumber: Data sekunder tahun 2014
13
100
Derajat Nyeri
n
%
Nyeri Sedang (4-6)
Nyeri Berat (7-10)
4
1
13
80
20
100
Total
Sumber: Data sekunder tahun 2014
Derajat
Endometriosis
II
Derajat
Endometriosis
III
Total
Sumber: Data sekunder tahun 2014
Derajat
Endometriosis
IV
%
4
6
30,8
46,1
100
Dari 44 pasien yang menjadi sampel penelitian, pasien
endometriosis yang memiliki IMT dengan frekuensi
terbesar adalah IMT berkisar 18,5 – 25,0, yaitu 34 orang
(77,5%), IMT >27,0 sebanyak 5 orang (11,4%), IMT
17,0-18,4 sebanyak 2 orang (4,5%), IMT 25,1-27,0
sebanyak 2 orang (4,5%), dan IMT <17,0 sebanyak 1
orang (2,3%). Distribusi frekuensi pasien endometriosis
berdasarkan IMT yang melakukan tindakan laparoskopi
di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang dapat
dilihat pada Tabel 7 berikut:
Tabel 7. Distribusi Frekuensi Pasien Endometriosis
Berdasarkan IMT yang Melakukan Tindakan
Laparoskopi di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang
IMT
N
< 17,0
1
17,0 – 18,4
2
18,5 – 25,0
34
25,1 – 27,0
2
>27,0
5
Jumlah
44
Sumber : Data primer tahun 2014
Tabel 6. Distribusi Frekuensi Derajat I, II, III, dan IV
Berdasarkan Derajat Nyeri
I
n
Distribusi IMT
29,5
29,5
11,5
29,5
100
Dari 44 pasien yang menjadi sampel penelitian, pada
derajat endometriosis I sebanyak 13 responden dengan
nyeri sedang 12 orang (92,3%) dan nyeri berat 1 orang
(7,7%). Pada derajat endometriosis II sebanyak 13
responden dengan nyeri sedang 5 orang (38,5%) dan
nyeri berat 8 orang (61,5%). Pada derajat endometriosis
III sebanyak 5 responden dengan nyeri sedang 4 (80%)
dan nyeri berat 1 orang (20%). Pada derajat
endometriosis IV sebanyak 13 responden dengan nyeri
ringan 3 orang (23,1%), nyeri sedang 4 orang (30,8%),
dan nyeri berat 6 orang (46,1%). Distribusi frekuensi
derajat endometriosis I, II, III, dan IV berdasarkan
derajat nyeri dapat dilihat pada Tabel 6 berikut :
Derajat
Endometriosis
Derajat I, II, III,
Perbedaan Rata-rata VAS Nyeri Haid Pasien
Endometriosis Sebelum dan Sesudah Tindakan
Laparoskopi
Dari hasil uji statistik dengan uji wilcoxon didapatkan p
value= 0,000 berarti ada perbedaan sangat bermakna
rata-rata VAS nyeri haid sebelum dan sesudah tindakan
laparoskopi. Secara statistic didapatkan rata-rata VAS
nyeri haid sebelum laparoskopi adalah 7,07 dan ratarata VAS nyeri haid sesudah laparoskopi adalah 0,98
Ditemukan nilai perbedaan rata-rata antara pengukuran
sebelum dan sesudah adalah 5,93 mengindikasikan
adanya perubahan rata-rata VAS nyeri haid sebelum dan
sesudah laparoskopi. Hasil analisis uji wilcoxon
perbedaan VAS nyeri haid sebelum dan sesudah
tindakan laparoskopi dapat dilihat pada Tabel 8 berikut:
Tabel 8. Hasil Analisis Uji Wilcoxon Perbedaan VAS Nyeri
Haid Sebelum dan Sesudah Tindakan Laparoskopi
Nyeri Haid
Derajat Nyeri
n
%
Nyeri Ringan (1-3)
3
23,1
%
2,3
4,5
77,5
4,5
11,4
100
Rerata
Perbedaan
rata-rata
5,93
z
hitung
-5.803
Pre
7,07
Post
1,14
Sumber : Data primer dan sekunder tahun 2014
48
P
value
0.000
MKS, Th. 47, No. 1, Januari 2015
Kelainan ini terutama mempengaruhi usia reproduktif.
Sebagian gejala dari endometriosis dapat bersifat
asimptomatis tetapi dapat juga mempunyai gejala nyeri
yang berulang setiap periodenya seperti pada nyeri haid,
nyeri senggama, nyeri kronis pelvis, dan infertilitas.2
Penilaian nyeri dapat dinilai dengan cara dimensi
tunggal dapat berupa skala analog visual (VAS). Visual
Analogue Scale (VAS) VAS merupakan cara yang
paling banyak digunakan untuk menilai derajat nyeri. VAS
adalah skala respons psikometrik dengan menggunakan
kuesioner, dan merupakan metode yang sederhana
terdiri dari garis datar sepanjang 10 cm, yang dimulai
dengan 0 menandakan tidak ada nyeri, sedangkan angka
10 nyeri paling buruk yang pernah dialami.9
Perbedaan Rata-rata VAS Nyeri Haid Pasien
Endometriosis Sebelum dan Sesudah Tindakan
Laparoskopi Berdasarkan Derajat Endometriosis
Dari hasil uji statistik dengan uji kruskal wallis
diperoleh p value = 0,001 dapat diambil kesimpulan
bahwa ada perbedaan sangat bermakna rata-rata VAS
nyeri haid sebelum dan sesudah tindakan laparoskopi
berdasarkan derajat endometriosis I, II, III, dan IV.
Hasil uji kruskal wallis perbedaan VAS nyeri haid
sebelum dan sesudah tindakan laparoskopi berdasarkan
derajat endometriosis dapat dilihat pada Tabel 9 berikut:
Tabel 9. Hasil Uji Kruskal Wallis Perbedaan VAS Nyeri
Haid Sebelum dan Sesudah Tindakan Laparoskopi
Berdasarkan Derajat Endometriosis
Adanya pengurangan rasa nyeri disebabkan efek dari
hasil tindakan laparoskopi. Tindakan laparoskopi adalah
suatu tindakan operasi invasif minimal dengan
memasukan teleskop yang akan memberikan gambaran
pandangan yang luas pada organ-organ panggul sehingga
dapat meminimalkan luka.1 Laparoscopic Uterine Nerve
Ablation (LUNA) adalah prosedur pembedahan
laparoskopi konservatif yang sering digunakan untuk
mengatasi nyeri haid yang disebabkan oleh
endometriosis. Pembedahan ini dapat dilakukan dengan
cara memotong, membakar, atau menghancurkan
bundel saraf simpatik dan parasimpatik sehingga nyeri
dapat berkurang.10
P value
Perbedaan VAS nyeri
0,001
haid
Sumber : Data primer dan sekunder tahun 2014
Dari hasil uji statistik menunjukkan ada perbedaan ratarata VAS pada setiap derajat endometriosis. Pada
derajat I sebelum tindakan laparoskopi didapatkan ratarata skala VAS 8,54 dan sesudah tindakan laparoskopi
menjadi 1,08. Pada derajat II sebelum tindakan
laparoskopi didapatkan rata-rata skala VAS 7,54 dan
sesudah tindakan laparoskopi menjadi 1.15. Pada
derajat III sebelum tindakan laparoskopi didapatkan
skala VAS 5,80 dan sesudah tindakan laparoskopi
menjadi 1,80. Sedangkan derajat IV sebelum tindakan
laparoskopi skala VAS 5,62 dan sesudah tindakan
laparoskopi menjadi 0,92. Hasil uji rata-rata VAS nyeri
haid pasien endometriosis sebelum dan sesudah
tindakan laparoskopi berdasarkan derajat endometriosis
dapat dilihat pada Tabel 10 berikut:
Berdasarkan Tabel 8 diatas menunjukkan pasien
endometriosis sebelum dilakukan tindakan laparoskopi
mempunyai skala nyeri dengan VAS rata-rata 7,07.
Sedangkan setelah dilakukannya tindakan laparoskopi
skala nyeri dengan VAS rata-rata menjadi 1,14. Dengan
rata-rata selisih skala VAS sebelum dan sesudah terapi
sebesar 5,93. Sedangkan dari hasil uji statistik dengan
uji wilcoxon didapatkan p value = 0,000 dapat
disimpulkan ada perbedaan yang bermakna rata-rata
VAS nyeri haid sebelum dan sesudah tindakan
laparoskopi. Hal ini sesuai dengan teori yang ada. Pada
kasus endometriosis, tindakan laparoskopi merupakan
baku emas baik laparoskopi diagnostik maupun operatif
dapat dilakukan. Menurut Luthan8 banyak kelebihan
yang dirasakan pasien saat pasien memilih operasi
dengan cara laparoskopi dibandingkan operasi biasa
seperti, dari bekas sayatan, efektivitas sampai tingkat
keberhasilan yang lebih tinggi. Hampir 80%
endometriosis yang melakukan dengan operasi
laparoskopi dapat mengatasi keluhan mereka. Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
di Klinik Fertilisasi RSU Dr. Sutomo Surabaya
didapatkan bahwa ablasi lebih baik dibandingkan
dengan hanya melakukan laparoskopi diagnostik saja.
73% pada tindakan ablasi tidak didapatkan keluhan
nyeri lagi dibandingkan dengan 27% pada yang
dilakukan laparoskopi saja.7
Tabel 10. Hasil Uji Rata-rata VAS Nyeri Haid Pasien
Endometriosis Sebelum dan Sesudah Tindakan
Laparoskopi Berdasarkan Derajat Endometriosis
Derajat
Endometriosis
Rata-rata
VAS
n
Pre
Post
Rata-rata
perbedaan
VAS
Nilai
f
I
13 8,54
1,08
7,46
II
13 7,54
1,15
6,39
III
5
5,80
1,80
4,00
IV
13 5,62
0,92
4,70
Total
44 7,07
1,14
5,93
Sumber : Data primer dan sekunder tahun 2014
4. Pembahasan
Endometriosis didefinisikan sebagai keberadaan
kelenjar dan stroma endometrium di luar kavum uteri.1
49
MKS, Th. 47, No. 1, Januari 2015
Berdasarkan Tabel 10 di atas menunjukkan skala ratarata VAS nyeri haid sebelum dan sesudah tindakan
laparoskopi. Pada derajat I sebelum tindakan laparoskopi
didapatkan rata-rata skala VAS 8,54 dan sesudah tindakan
laparoskopi menjadi 1,08. Pada derajat II sebelum
tindakan laparoskopi didapatkan rata-rata skala VAS
7,54 dan sesudah tindakan laparoskopi menjadi 1,15.
Pada derajat III sebelum tindakan laparoskopi
didapatkan skala VAS 5,80 dan sesudah tindakan
laparoskopi menjadi 1,80. Sedangkan derajat IV
sebelum tindakan laparoskopi skala VAS 5,62 dan
sesudah tindakan laparoskopi menjadi 0,92. Pada uji
kruskal wallis diperoleh p value= 0,001 dapat diambil
kesimpulan bahwa ada perbedaan rata-rata perubahan
VAS nyeri haid sebelum dan sesudah tindakan
laparoskopi pada endometriosis derajat I, II, III dan IV.
Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang sama.
Nyeri haid (dysmenorea) pada endometriosis
merupakan rasa nyeri waktu haid yang semakin lama
semakin menghebat. Penyebab dari nyeri haid ini tidak
diketahui secara pasti, tetapi ada hubungannya dengan
vaskularisasi
dan
perdarahan
dalam
sarang
endometriosis pada waktu sebelum dan semasa haid.
Menurut ASRM, endometriosis dapat diklasifikasikan
kedalam 4 derajat keparahan tergantung pada lokasi,
luas, kedalaman implantasi dari sel endometriosis,
adanya perlengketan, dan ukuran dari endometrioma
ovarium. Endometriosis dapat timbul dalam berbagai
bentuk di dalam pelvis, lesi merah menyala, lesi
berpigmen gelap dengan hemosiderin dan skar putih
yang dapat berkontribusi terhadap nyeri melalui
mekanisme yang berbeda-beda. Secara umum, belum
ada hubungan yang pasti antara gejala dan
perkembangan penyakit, lokasi dan tipe dari
endometriosis yang dapat mempengaruhi rasa nyeri.
Adamson menyatakan sulitnya menentukan derajat
endometriosis dari beratnya nyeri. Tidak ditemukan
korelasi antara derajat endometriosis menurut beberapa
klasifikasi dengan tingkat nyeri.11
haid sebelum dan sesudah tindakan laparoskopi. Pada
uji hipotesis dapat dikatakan bahwa tindakan
laparoskopi memberikan pengaruh terhadap perubahan
nyeri haid pada pasien endometriosis.
Daftar Acuan
1. Hesla JS dan Rock JA. 1997. Endometriosis. Dalam:
Rock dan Thompson (Editor). Te Linde’s Operative
Gynecology Eight Edition (hal 585-616). Lippincott
- Raven Publishers, Philadelphia, Amerika Serikat.
2. Evans S, Taylor GM, and Tracey DJ. 2007. Pain and
Endometriosis.
132
(2007).
(http://www.journals.elsevier.com/pain. Diakses 02
Oktober 2011).
3. Kennedy S, Bergqvist A, Chapron C, D’Hooghe T,
Dunselman G, Greb R, et al. 2005. ESHRE
Guideline for Diagnostic and Treatment of
Endometriosis.
Hum
Reprod
20(10).
(http://humrep.oxfordjournals.org/.
Diakses
02
September 2014).
4. Sari, AN. 2014. Angka Kejadian Infertilitas Pada
Pasien Endometriosis Di RSUP DR. Mohammad
Hoesin Palembang 1 Januari 2008 – 31 Desember
2010. Skripsi pada Jurusan Kedokteran Unsri yang
tidak dipublikasikan, hal. 3, 17, 18.
5. Permadi, W. 2011. Pengaruh Pemberian Terapi
Gonadotropin-Relesing Hormone Agonis (GnRHa)
Terhadap Kepadatan Mineral Tulang Pada Wanita
Dengan Endometriosis. Skirpsi pada Jurusan
Kedokteran Unpad, hal. 1-3.
6. Wiweko B, Puspita CG, Sumapraja K, Natadisastra
M, Harzief AK, Situmorang H, et al. 2013.
DLBS1442: Pilihan Penanganan Terkini Pada
Endometriosis. Medicinus 26(2), 02 Agustus 2013,
hal. 5-7.
7. Hendarto H. 2012. Penanganan Bedah Pada
Endometriosis. Makalah Seminar Simposium on
Gynecologic Surgery and Operating Theater Course
on Gynecologic Surgery. Surabaya, 14 Desember 2008.
8. Luthan D, Adenin I, Halim B. 2011. Endometriosis.
Dalam: Anwar M, Baziad A, dan Prabowo P
(Editor). Ilmu Kandungan Edisi Ketiga (hal. 239249). P.T. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,
Jakarta, Indonesia.
9. D Gould. 2001. Information Point: Visual Analogue
Scale (VAS). Journal of Clinical Nursing, 10, 697706.
(http://www.blackwellpublishing.com/
specialarticles/jcn_10_706.pdf.
Diakses
10
September 2014).
10. Overton C, Davis C, McMillan L, Shaw RW. 2007.
An Atlas of Endometriosis Third Edition. Informa
Healthcare, United Kingdom, England, hal. 1-3, 911, 57-60, 72.
11. Hestiantoro A. 2013. Panduan Nasional Pelayanan
Kedokteran Nyeri Endometriosis. Makalah Himpunan
Endokrinologi Reproduksi dan Fertilisasi Indonesia,
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia.
5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, dapat diperoleh
kesimpulan bahwa Derajat nyeri haid pasien
endometriosis sebelum tindakan laparoskopi di RSUP
Dr. Mohammad Hoesin Palembang, yaitu banyak
dialami pada skala VAS 7, 8, dan 9 sebanyak 7 orang
atau persentase 15,9%. Derajat nyeri haid pasien
endometriosis sesudah tindakan laparoskopi di RSUP
Dr. Mohammad Hoesin Palembang, yaitu banyak
dialami pada skala VAS 0 sebanyak 28 orang atau
persentase (63,6%). Berdasarkan analisis bivariat, ratarata VAS nyeri haid pasien endometriosis sebelum
tindakan laparoskopi adalah 7,07. Sedangkan rata-rata
VAS nyeri haid pasien endometriosis sesudah tindakan
laparoskopi adalah 1,14. Dengan
uji Wilcoxon,
didapatkan nilai p < 0,05 sehingga diinterpretasikan
bahwa terdapat perbedaan bermakna antara VAS nyeri
50
Fly UP