...

Susanto Liau

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Susanto Liau
VERITAS 9/2 (Oktober 2008) 135-151
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL DALAM
1 SAMUEL 28:1-25
SUSANTO LIAU
PENDAHULUAN
Stanley memiliki seorang kakek yang bernama Urip. Kakek tersebut
telah meninggal dunia tanpa sempat menerima Tuhan Yesus Kristus
sebagai Juruselamatnya. Lalu, datanglah seorang penginjil dan bertanya,
“kakek Anda sudah meninggal, pak Stanley?” “Ya,” jawab Stanley.
“Ingin kakek Anda selamat?” Sebagai anak Tuhan yang mengasihi
kakeknya, tentu saja Stanley terpancing untuk mengatakan, “ingin.” Lalu,
tubuhnya digunakan sebagai media untuk pemanggilan arwah si kakek.
Penginjil itu pun berkata, “dalam nama Yesus, roh Urip, kupanggil
engkau.” Suara Stanley pun langsung berubah. Langsung si penginjil itu
berkata, “Urip, apakah Anda mau menerima Tuhan Yesus supaya masuk
surga?” “Saya mau terima Yesus dan mau masuk surga,” jawab arwah
pak Urip. Kemudian, roh Urip keluar dari tubuh Stanley. Lalu, suara
Stanley kembali seperti semula. Cerita tersebut merupakan sepenggal
kisah praktik pemanggilan arwah orang mati yang diceritakan oleh Daud
Tony.1
Belakangan ini, banyak ajaran sesat atau bidat yang mengatasnamakan
ajaran Kristen, namun pada hakikatnya ajaran-ajaran tersebut tidak sesuai
dengan kebenaran Alkitab. 2 Salah satu contohnya, sebut saja ajaran
1
Dalam hal praktik pemanggilan dan penginjilan arwah orang mati, Daud Tony
(seorang mantan dukun yang bertobat dan sekarang melayani Tuhan) sendiri tidak
menyetujuinya. Bahkan, ia sangat menentang praktik tersebut. Menurutnya, itu
adalah dosa yang fatal, karena si pelaku (penginjil) melakukan praktik spiritisme yang
dilarang Alkitab dan si mediator (Stanley) membuka diri kepada roh jahat untuk masuk
ke dalam tubuhnya (lih. Dunia Roh: Penyingkapan Misteri Sihir, Alam Gaib dan
Dunia Orang Mati [Jakarta: Bethlehem, 2002] 61-62).
2
Menurut Paulus Daun, ancaman bidat-bidat bukan hanya terdapat pada gereja
abad pertama saja, melainkan juga pada abad-abad berikutnya termasuk zaman
sekarang. Jika diperhatikan, bidat-bidat tersebut dalam berbagai bentuknya memiliki
inti pengajaran yang tidak jauh berbeda. Penyelewengan yang diajarkan oleh para
136
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
pemanggilan arwah orang mati dengan tujuan untuk menginjil seperti
cerita di atas. Gerakan pemanggilan dan penginjilan arwah orang mati di
Indonesia dipopulerkan oleh Andereas Samudera di Bandung sekitar
tahun 1996 dan sudah berhasil menarik banyak pengikut. Dengan
demikian, banyak jiwa sedang disesatkan dari kebenaran dan berpaling
kepada penyembahan kepada Iblis. 3 Itu sebabnya ajaran ini perlu
direspons dengan segera melalui pengajaran yang alkitabiah kepada
jemaat, agar mereka dapat membedakan mana ajaran yang benar dan yang
salah, sehingga mereka tidak disesatkan lagi oleh para guru palsu yang
mengaku “diutus” oleh Allah padahal tidak demikian.4
guru palsu pada umumnya berkisar pada masalah pembenaran, pengudusan,
kebangkitan, keilahian dan kemanusiaan Kristus, Alkitab sebagai firman Allah dan
sebagainya. Adapun contoh bidat-bidat masa kini adalah: Kampbelisme, Gerakan
Mormon, Saksi Yehova, Christian Science, The Worldwide Church of God, Christian
Unitisme, Liberalisme/Modernisme, Unification Church (Moonies), Christian of God,
Sekte Ranting Daud dan The Way International (lih. Bidat Kristen dari Masa ke Masa
[Manado: Yayasan Daun Family, 1997] 7, 135-223).
3
Bukankah jauh sebelumnya Tuhan Yesus sudah mengingatkan kita bahwa pada
akhir zaman banyak penyesat akan muncul dan akan menyesatkan banyak orang? Ada
empat belas kali dalam kitab-kitab injil mencatat bagaimana Yesus mengingatkan
murid-murid-Nya agar selalu waspada terhadap para pengajar/nabi palsu yang akan
menyesatkan mereka (lih. Mat. 7:15; 16:6, 11; 24:4, 11, 24; Mrk. 8:15; 12:38-40; 13:5,
22; Luk. 12:1; 17:23; 20:46; 21:8). Di tempat lain, umat percaya juga diingatkan—oleh
Paulus, Petrus, Yohanes dan Yudas—akan eksistensi ajaran-ajaran sesat dan perlunya
menguji ajaran-ajaran tersebut (2Kor. 11:13; Gal. 1:6-10; Ef. 4:14; 1Tes. 5:21; 2Ptr. 2:13; 1Yoh. 2:26; 3:7; 4:1, 6; Yud. 4, 18). Teks-teks lainnya mengingatkan umat Kristen
bahwa Setan dan roh-roh jahat adalah otak pelaku di balik penyesatan yang dilakukan
oleh para rasul dan pengajar palsu (2Kor. 11:13-14; Kol. 2:8; 1Tim. 4:1-2, 6).
Sehubungan dengan substansi dan metode penyesatan yang dilakukan Setan, Daniel
Lucas Lukito menjelaskan bahwa Setan beroperasi di wilayah doktrin atau ajaran,
dengan memakai metode penyesatan yakni: menyamar sebagai malaikat terang melalui
orang-orang (mis. rasul-rasul palsu, pengajar-pengajar palsu, dan hamba-hamba Tuhan
palsu) (lih. “Mengapa Ajaran Teologi Seseorang dapat Berubah?” Veritas 4/2 [Oktober
2003] 184-186).
4
Ada beberapa langkah yang dapat digunakan untuk menguji guru palsu atau nabi
palsu: (1) memperhatikan watak mereka; (2) memperhatikan motivasi mereka; (3)
menguji buah dalam kehidupan dan berita; (4) memperhatikan tingkat ketergantungan
mereka pada Alkitab; (5) menguji kejujuran mereka berkenaan dengan uang Tuhan
(lih. Donald C. Stamps, ed., Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan [terj. Nugroho
Hananiel; Malang: Gandum Mas, 2003] 1611). Disamping itu, menurut Lukito, dalam
menilai atau menguji para guru palsu khususnya berkaitan dengan roh-roh yang bekerja
di balik mereka, kita dapat memakai empat kriteria pengujian, yaitu: (1) tujuan akhir
dari karya Roh Kudus adalah selalu memuliakan Allah; (2) otoritas tertinggi dari Roh
Kudus adalah firman Allah; (3) berita utama Roh Kudus adalah selalu penebusan atau
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL
137
Ajaran dan praktik pemanggilan roh orang mati berawal dari
pemahaman bahwa antara orang hidup dan roh-roh orang mati masih
dapat saling berkomunikasi sehingga roh-roh orang mati yang belum
percaya Yesus layak untuk diinjili demi keadilan Allah karena mereka
belum sempat mendengarkan berita injil. Teks Alkitab yang dijadikan
acuan dalam mengembangkan ajaran di atas adalah 1 Samuel 28:1-25 dan 1
Petrus 3:19-20. 5 Pertanyaannya adalah: apakah bagian Alkitab yang
dijadikan acuan bagi pengajaran tersebut memang benar mengajarkan dan
membenarkan praktik pemanggilan dan penginjilan arwah orang mati?
Untuk menjawab pertanyaan di atas, perlu diadakan penelitian secara
mendalam terhadap bagian Alkitab yang menjadi kontroversial tersebut.
Berdasarkan penguraian di atas, maka penulis hendak memahami
kasus pemanggilan roh Samuel dalam 1 Samuel 28:1-25 secara lebih
mendalam.
Tujuan penulis dalam studi ini adalah selain untuk
menemukan esensi kebenaran dari teks tersebut dan untuk meluruskan
ajaran yang salah tentang pemanggilan dan penginjilan roh-roh orang mati,
tetapi juga untuk mengungkap strategi pekerjaan Setan dalam
menyesatkan umat percaya melalui “para hamba Tuhan” pada akhir zaman
ini. Untuk mencapai tujuan yang dimaksud, maka pertama-tama penulis
akan memaparkan secara singkat terminologi kata tentang pemanggilan
roh orang mati; selanjutnya penulis akan mengeksegesis 1 Samuel 28:1-25
yang diklaim sebagai dasar dari ajaran tentang pemanggilan roh orang
mati. Pada bagian terakhir, penulis akan memberikan kesimpulan dan
implikasi bagi kehidupan orang-orang Kristen zaman sekarang. Dalam
makalah ini, penulis tidak membahas sejarah pemanggilan arwah secara
detail,6 dan juga tidak memahami 1 Petrus 3:19-20 secara mendalam.7
karya Allah yang menebus manusia yang berdosa di dalam Kristus; (4) sarana karya
Roh Kudus adalah hamba Tuhan yang konsisten dengan firman Allah. Menurutnya,
jika seseorang mengklaim dirinya berbicara mewakili Tuhan, namun hidup mereka dan
ajaran mereka tidak selaras dengan firman Allah maka mereka patut dicurigai sebagai
pengajar sesat. Karena itu, penting sekali untuk meneliti apakah mereka meninggikan
Kristus dan tunduk kepada otoritas firman-Nya (lih. “Fenomena Lawatan Ilahi di
bawah Terang Kriteria Membedakan Roh,” Veritas 8/1 [April 2007] 54-60, 65).
5
Samudera mengklaim bahwa ajaran yang ia cetuskan tersebut merupakan ajaran
yang memiliki dasar Alkitab karena sudah pernah dipraktikkan oleh wanita petenung di
Endor dengan memanggil keluar roh Samuel (1Sam. 28:1-25). Sedangkan dalam
Perjanjian Baru, menurutnya, dijumpai catatan bahwa Tuhan Yesus sendiri pasca
kematian-Nya, turun ke dalam dunia orang mati untuk menginjili para arwah orang
mati (1Ptr. 3:19-20) (lih. Dunia Orang Mati [Bandung: Revival, 1996] 48).
6
Studi ringkas tentang poin ini lihat Richard Lovelace, “The Occult Revival in
Historical Perspective” dalam Demon Possessions (ed. J. W. Montgonery; Minneapolis:
138
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
TERMINOLOGI KATA
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kasus pemanggilan roh
Samuel, terlebih dahulu akan dilihat apa definisi dari frasa, “pemanggilan
roh.” Menurut Kurt Koch, pemanggilan roh atau arwah adalah: “praktik
okultisme yang didasarkan pada keyakinan bahwa roh-roh orang mati
dapat berkomunikasi dengan orang hidup atau sebaliknya, baik melalui
medium, maupun dengan cara-cara lain, misalnya jailangkung, 8 papan
Selanjutnya, pemanggilan arwah atau
Ouija, 9 dan sebagainya.” 10
spiritisme adalah suatu keyakinan yang mengajarkan bahwa roh-roh orang
mati dapat berkomunikasi dengan orang yang hidup melalui pihak ketiga
yang berperan sebagai mediator. 11 Kamus Besar Bahasa Indonesia
menjelaskan istilah “spiritisme” sebagai: (1) pemujaan kepada roh; (2)
kepercayaan bahwa roh dapat berhubungan dengan manusia yang masih
hidup; dan (3) ajaran dan cara-cara memanggil roh.12 Kemudian, definisi
yang hampir serupa juga dikemukakan dalam Kamus Inggris Oxford,
“Spiritualism is the belief that people who have died can send messages to
Bethany, 1976) 65-66; G. H. Pember, Earth’s Earliest Ages and Their Connection with
Modern Spiritualism and Theosophy (New York: Fleming, 1919) 285-291.
7
Studi ringkas mengenai hal ini, lihat: Roger M. Raymer, “1 Peter” dalam The
Bible Knowledge Commentary: New Testament, (eds. John F. Walvoord dan Roy B.
Zuck; USA: Victor, 1983) 851-852; Life Application Study Bible (Grand Rapids:
Zondervan, 1991) 2262-2263; Craig S. Keener, “1 Peter” dalam IVP Bible Background
Commentary New Testament (Downers Grope: InterVarsity, 1993) 713; Herlianto,
“Kebangkitan Dunia Roh,” Makalah Sahabat Awam, 50 (Mei 1999) 21-24.
8
Jailangkung adalah: “boneka orang-orangan yang dilengkapi alat tulis di tangan,
digunakan untuk memanggil arwah dan jika arwah itu telah masuk ke dalam boneka
tersebut diadakan tanya jawab, jawaban sang arwah diberikan melalui tulisan tangan
boneka itu” (lih. “Jailangkung” dalam Hasan Alwi, ed., Kamus Besar Bahasa Indonesia
[Edisi 3; Jakarta: Balai Pustaka, 2005] 465).
9
Papan Ouija adalah: “A board marked with letters of the alphabet and other signs,
used in seances to receive messages said to come from people who are dead (lih. Sally
Wehmeier, ed., Oxford Advanced Learner’s Dictionary [Oxford, New York: University
Press, 2000] 897).
10
Between Christ and Satan (Grand Rapids: Kregel, 1972) 98; bdk. Kenneth Boa,
Cult, World Religions and You (Wheaton: Victor, 1981) 131; Donald T. Kauffman, The
Dictionary of Religious Term (Westwood: Fleming, 1967) 400; Erika Bourguignon,
“Necromancy” dalam The Encyclopedia of Religion (eds. Mirce dan Heliade; New
York: Mucmillan, 1987) 345; Leslie A. Shepard, ed., “Necromancy” dalam
Encyclopedia of Occultism and Parapsychology (Detroid: Gale, 1984) 933.
11
Noah Webster, Webster’s New Twentieth Century Dictionary of English
Language, Unabridged (USA: Collins World, 1978) 1751.
12
“Spiritisme” 1087.
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL
139
living people, usually through a medium (a person who has special
powers).”13 Sedangkan istilah “necromancy” adalah (1) “the practice of
claiming to communicate by magic with the dead in order to learn about
the future; (2) the use of magic powers, especially evil ones.”14
Dari semua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pemanggilan
arwah atau spiritisme adalah: pertama, suatu praktik yang berkaitan
dengan okultisme, yaitu suatu keyakinan bahwa dunia arwah atau roh
orang mati memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan dunia orang
hidup. Kedua, pemanggilan roh orang mati ini dapat dilakukan dengan
memakai manusia sebagai mediator untuk menghubungkan dunia orang
mati dengan orang hidup. Ketiga, berbicara tentang cara-cara pemujaan
dan pemanggilan arwah-arwah orang mati dengan tujuan untuk memintai
nasihat dan pertolongan.
TINJAUAN KHUSUS TERHADAP PEMANGGILAN ROH SAMUEL
Berdasarkan narasi dalam 1 Samuel 28:1-25, dapat dipelajari beberapa
hal: pertama, latar belakang dan deskripsi pemanggilan roh Samuel; kedua,
pro dan kontra tentang roh Samuel dan ketiga, perspektif penulis tentang
penampakan roh Samuel.
Latar Belakang dan Deskripsi tentang Pemanggilan Roh Samuel
Konteks 1 Samuel 28 dapat dibagi menjadi empat bagian: (1) Persiapan
peperangan antara orang Israel dengan Filistin (ay. 1-2); (2) Keadaan
penghinaan yang dihadapi Saul (ay. 3-6); (3) Saul meminta nasihat kepada
medium di Endor (ay. 7-14); (4) Jawaban kepada Saul dan hasilnya (ay. 1525).
Narasi 1 Samuel 28:1-25 dimulai dengan ketegangan dan ketakutan
yang dirasakan oleh raja Saul pada saat Israel menghadapi ancaman
serangan militer dari bangsa Filistin (ay. 4). Pada waktu itu, nabi Samuel
sudah meninggal (1Sam. 25:1). Dalam keadaan takut dan gentar, maka
Saul bertanya kepada Tuhan. Namun, Tuhan tidak menjawabnya baik
melalui mimpi, Urim, maupun dengan perantaraan seorang nabi (ay. 5-6).15
13
Oxford Advanced Learner’s Dictionary 1245.
Ibid 851; bdk. dengan definisi berikut: “Spiritism is the third kind of the Occult:
Divination attempts to foretell the future, Magic to change it, Spiritism tries to
communicate with the death to receive information and help from them” (T.n.
14
“Spiritism,” http://www.religion-cults.com/Occult/Spiritualism/Spiritualism.htm).
15
Menurut H. Rothlisberger, ada tiga cara Tuhan biasanya menyatakan kehendakNya kepada manusia: (1) mimpi (1Sam. 3:2-9; 1Raj. 3:5); (2) Urim (Bil. 27:21; 1Sam.
10:20-21); (3) para nabi. Tuhan tidak menjawab Saul karena Tuhan sudah menolak
140
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
Saul meminta para pengawalnya agar dicarikan seorang perempuan yang
sanggup memanggil arwah (ay. 7-8). Singkat cerita, akhirnya pada malam
hari dengan menyamar, Saul didampingi dua orang pengawalnya pergi
menemui seorang dukun wanita di Endor.
Alasan Saul berangkat waktu malam, menurut Kenneth Chafin,
“Because it was easier to avoid being seen by the Philistines and because it
was believed that its was easier for the mediums to contact the dead in
sheol at night.”16 Saul berharap akan memperoleh petunjuk dan solusi
bagi masalah yang sedang ia dan umat Israel hadapi. Saul meminta agar
dukun perempuan tersebut memanggil roh Samuel kepadanya (ay. 8).
Menurut Bill T. Arnold, kejadian ini sangat ironis, karena, “He who
wanted to eliminate necromancy from the land (28:3) has come to her with
just such a request.”17 Mengapa di satu sisi Saul telah menyingkirkan
para pemanggil arwah (ay. 3; bdk. Ul. 18:11; Im. 20:6, 27), namun di sisi
lain justru ia meminta petunjuk kepada mereka? Chafin menjawab,
karena Saul menghadapi ancaman dari tentara Filistin dan karena Tuhan
tidak menjawab dia pada saat ia meminta nasihat dari-Nya.18
Narasi selanjutnya pada ayat 12 dikisahkan bahwa dukun perempuan
itu sangat terkejut dan menjadi takut ketika Samuel betul-betul datang dan
dia baru mengetahui bahwa orang yang minta tolong kepadanya itu adalah
raja Saul yang pernah membunuh para dukun (lih. ay. 3).19 Kemudian,
dia. Akan tetapi Saul tidak mau mengakui hal itu. Oleh sebab itu, ia mencari suatu
jalan untuk memaksakan penyataan Tuhan (lih. Tafsiran Alkitab 1 Samuel [Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 1983] 240-241). Adapun alasan Tuhan menolak Saul adalah
karena ia sudah memberontak kepada Tuhan. Lebih lanjut Ronald F. Youngblood
menulis, “Saul’s earlier rebellion against the Lord had been so heinous that Samuel had
compared it to the ‘sin of divination’ (1Sam. 15:23). Nevertheless, Saul is now
commanding a diviner, a necromancer, to ‘bring up’ for him one who dwells in the
‘realm of death below’ (Deut. 32:22)” (lih. “1 and 2 Samuel” dalam The Expositor’s
Bible Commentary [Vol. 3; ed. Frank E. Gaebelein; Grand Rapids: Zondervan, 1992]
780).
16
17
Mastering the Old Testament: 1, 2 Samuel (Dallas: Word, 1989) 219.
“1 and 2 Samuel” dalam The NIV Application Commentary (ed. Terry Muck;
Grand Rapids, Zondervan, 2003) 373.
18
Ia menulis demikian, “Because he faced the most powerful threat the Philistine
had posed to his kingdom since he had been king . . . because when he made effort to
seek God’s counsel the Lord did not answer him” (lih. 1, 2 Samuel 217).
19
Menurut Rothlisberger, ada dua penafsiran untuk menguraikan bagian ini: (1)
nama Samuel seharusnya diganti dengan Saul. Ketika “arwah Samuel” meninggalkan
mereka, barulah dukun perempuan itu memandang dia dengan teliti, lalu mengenali
raja Saul; (2) kata “melihat” seharusnya diganti dengan “mendengar nama.”
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL
141
perempuan petenung itu menjelaskan kepada Saul bahwa ia melihat
sesuatu yang ilahi muncul dari dalam bumi, menyerupai seorang tua
berselubungkan jubah (ay. 13-14).
Mendengar itu, Saul langsung
menyimpulkan bahwa roh itu adalah Samuel. Setelah pemunculan
“Samuel,” dialog pun mulai terjadi antara Saul dengan Samuel yang intinya
menyatakan bahwa karena ketidaktaatan Saul, maka ia dan keluargaanya
akan mengalami kekalahan dalam perang dan berakhir dengan kematian,
sedangkan tentara Israel akan diserahkan Tuhan ke tangan orang Filistin
(ay. 15-19). Setelah mendengar informasi tersebut, Saul menjadi sangat
takut dan hilanglah kekuatannya karena sehari semalam ia tidak makan
apa-apa. Akhirnya, ia dibujuk oleh dukun wanita supaya mau makan.
Setelah peristiwa itu, Saul pulang pada malam itu juga (ay. 20-25).
Pro dan Kontra tentang Roh Samuel
Mengenai kasus pemanggilan roh Samuel dalam 1 Samuel 28, terjadi
perdebatan yang tajam di antara para sarjana Alkitab khususnya mengenai
siapakah yang dipanggil keluar itu. Menurut Josh McDowell dan Don
Stewart, sejumlah sarjana injili meyakini bahwa yang dipanggil keluar itu
benar-benar Samuel.20 Sementara yang lainnya percaya bahwa itu adalah
roh Setan yang menyamar dan yang pandangan terakhir percaya itu adalah
sebuah trik dari dukun wanita untuk menipu orang. Sebab itu, berikut ini
penulis akan menguraikan pro dan kontra roh Samuel dan posisi penulis
sendiri dalam perdebatan ini.
Samudera menegaskan bahwa roh yang muncul dalam kasus
pemanggilan roh Samuel oleh dukun wanita di Endor adalah benar-benar
roh Samuel. Karena itu, menurutnya, penafsiran yang mengatakan bahwa
yang dipanggil keluar oleh dukun perempuan di Endor itu bukanlah roh
Samuel tetapi roh Setan, itu adalah tafsiran yang salah. Sebagai
kesimpulan dari keyakinannya, ia menyatakan, “Ternyata orang mati dapat
dipanggil keluar dari Hades oleh orang hidup, terbukti di dalam 1 Samuel
Keyakinan tersebut didasari oleh tiga argumentasi yang ia
28:7-9.” 21
kemukakan sebagai berikut: pertama, adanya larangan menghubungi arwah
orang mati dianggapnya itu membuktikan bahwa hubungan orang mati dan
Perempuan itu mendengar nama Samuel, lalu ia sadar bahwa si penanya itu ialah raja
Saul (lih. 1 Samuel 242).
20
Lih. Handbook of Today’s Religions: Understanding the Occult (San Bernardino:
Here’s Life: 1982) 164.
21
Dunia Orang Mati 28.
142
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
orang hidup dapat dilakukan; 22 kedua, yang dilarang adalah meminta
petunjuk pada roh orang mati, bukan memberi petunjuk atau menginjili
arwah orang mati;23 ketiga, orang-orang percaya juga mempunyai kuasa
yang sama seperti Tuhan Yesus miliki atas dunia orang mati.24 Sebab itu,
pemanggilan roh orang mati dapat dilakukan juga oleh seorang hamba
Tuhan.
Menurut Herlianto, ketiga argumentasi di atas, sama sekali tidak
memiliki dasar Alkitab. Menurutnya, cara berpikir yang sederhana di atas
menunjukkan cara penafsiran Alkitab yang sangat harfiah, tekstual dan
kurang memperhatikan konteks Alkitab dan kompleksnya ilmu sastra.25
Sebagai contoh, argumentasi pertama, larangan berhubungan dengan
arwah, tidak mesti berarti “tidak bisa berhubungan” sehingga mestinya
“dapat dan boleh berhubungan.”
Ia menambahkan bahwa contoh
larangan di atas tidak mewakili semua larangan. Misalnya kalau ada
“botol racun” yang diberi label “dilarang minum” memang kita dapat
meminumnya, tetapi orang yang minum langsung mati.
Dari konteks
Alkitab, dapat kita ketahui bahwa belum pernah ada orang yang berhasil
berhubungan dengan roh orang mati, yang ada adalah perjumpaan dengan
“roh-roh kegelapan” yang siap menerkam mereka yang menghubunginya.26
Selanjutnya, argumentasi kedua, juga tidak kuat. Alasannya, karena
larangan Alkitab terhadap praktik spiritisme tidak memberikan
perkecualian yang terkait dengan motivasi, baik dengan maksud mencari
petunjuk maupun memberi petunjuk kepada arwah (Im. 19:26b, 31).
Demikian juga dengan pembasmian para pemanggil arwah tanpa
membedakan apakah mereka memberi atau menerima petunjuk dari arwah
orang mati (Kel. 22:18; 1Sam. 28:3; 2Raj. 23:24).
Kemudian, argumentasi ketiga, bahwa orang percaya atau para hamba
Tuhan memiliki kuasa yang sama seperti kuasa Yesus atas dunia orang
mati, juga tidak memiliki dasar yang benar, tetapi justru mencerminkan
sifat dasar manusia yang ingin menjadi seperti Allah. (Kej. 3:5; 11:4),27
22
Andereas Samudera, Barang Tumpas (Bandung: Revival, 1998) 21; lih. juga
Andereas Samudera dan Dorcas Daud, “Dunia Roh” (bahan lokakarya disampaikan di
Bandung, tanggal 2-6 Maret 1999).
23
Dunia Orang Mati 35.
24
Ibid. 8.
25
“Bolehkah Berhubungan Dengan Arwah?,” Makalah Sahabat Awam 14.
26
Dalam pelayanan para nabi, Yesus dan para rasul, belum pernah ada petunjuk
yang menyatakan bahwa hubungan dengan roh orang mati itu mungkin (ibid 14).
27
J. Murray dan B. A. Milne mengatakan bahwa sifat dasar manusia yang mau
menjadi sama seperti Allah, bermula ketika Adam dan Hawa dicobai Setan di taman
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL
143
juga sejalan dengan pemberontakan Bintang Timur atau Lusifer (Yes.
14:12-14).28 Kecenderungan ini juga nampak pada diri manusia yang suka
mencari
popularitas,
menyombongkan
diri
dan
tidak
mau
tunduk/merendahkan diri di hadapan Allah (Ams. 6:17; 8:13; Rm. 1:18-21;
Yak.4:6-8; 1Ptr. 5:5-9).
Menurut penulis, Samudera telah menafsirkan Yohanes 14:12, dengan
keyakinan yang berlebihan karena ia merasa memiliki kuasa yang sama dan
Menurut Colin G. Kruse, untuk
bahkan melebihi kuasa Yesus. 29
memahami teks ini, kita harus meneliti apa yang dimaksud dengan frasa
“the works” (erga) dan “greater” (meizona). Menurutnya, kedua kata ini
tidak menekankan baik makna kuantitatif maupun kualitatif. Makna
kuantitatif artinya adalah pekerjaan para murid tidak sebanyak yang Yesus
sudah pernah lakukan, misalnya yang terkait dengan mukjizat-Nya (Yoh.
4:34; 5:20; 7:3, 21; 9:3-4; 10:25, 38; 14:11-12, pengajaraan-Nya (Yoh. 10)
dan seluruh pelayanan-Nya (Yoh. 5:36; 17:4).30 Demikian juga dari segi
kualitas, pekerjaan/pelayanan para murid tidak memiliki kualitas yang
Eden. Serangan Setan ditujukan terhadap keutuhan dan kebenaran Allah (Kej. 3:4).
Setan berusaha meyakinkan bahwa Hawa dan suaminya akan menjadi sama seperti
Allah, yakni akan mengenal yang baik dan yang jahat (Kej. 3:5). Kemudian reaksi
Hawa menunjukkan bahwa ia ingin menjadi seperti Allah. Bobot kejahatan dosa yang
pertama ini adalah membuang kekuasaan Allah, meragukan kebaikan hati-Nya,
mengingkari hikmat-Nya, menolak keadilan-Nya, memutarbalikkan kebenaran-Nya,
dan menghina kasih karunia-Nya (lih. “Dosa” dalam Ensiklopedi Alkitab Masa Kini [Jil.
1; gen. ed. J. D. Douglas; Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 1999] 257).
28
Terkait dengan motivasi di balik pemberontakan Lusifer, Billy Graham
menyatakan, “Lusifer, putra fajar, diciptakan dengan tujuan untuk memuliakan Allah.
Tetapi, daripada melayani Allah dan memuji-Nya untuk selama-lamanya, Iblis ingin
memerintah langit dan semua yang diciptakan, dan menggantikan Allah. Ia ingin
mendapat wewenang paling tinggi! Lusifer berkata (Yes. 14), ‘Aku hendak naik ke
langit.’ ‘Aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah.’ ‘Aku
hendak duduk di atas bukit pertemuan.’ ‘Aku hendak naik mengatasi ketinggian
awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi!’ Lusifer tidak puas memainkan peran
di bawah penciptanya. Ia ingin merampas takhta Allah. Ia bersukaria memikirkan
menjadi pusat kekuasaan di seluruh alam semesta. . . . Hasrat Iblis untuk mengganti
Allah sebagai penguasa jagat raya mungkin tertanam dalam dosa mendasar yang
menjurus ke dosa kesombongan. Di bawah kesombongan Iblis, menunggu dosa yang
paling berbahaya dari semua dosa, dosa ketamakan. Ia menginginkan apa yang bukan
miliknya” (lih. Malaikat [terj. Wim Salampesi; Jakarta: Binaputra Aksara, 1997] 101102).
29
Lih. Dunia Orang Mati 66.
30
The Tyndale New Testament Commentaries: John (Surabaya: Momentum, 2007)
299.
144
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
sama seperti Yesus lakukan.31
Kemudian, dalam kesimpulan ia dengan
tegas menyatakan, “We may say that the disciples’ work were greater than
his because they had the privilege of testifying by word and deed to the
finished work of Christ and the fuller coming of the kingdom that it
ushered in, whereas Jesus’ ministry prior to his death and resurrection only
foreshadowed these things.”32
Selain itu, jika benar bahwa para hamba Tuhan memiliki kuasa yang
tidak terbatas, maka dalam Amanat Agung tidak perlu ditambahkan
kalimat, “. . . Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman”
(Mat. 28:20).33 Kalimat di atas justru membuktikan bahwa Yesus tahu
para murid-Nya memiliki keterbatasan dan kelemahan, oleh sebab itu
mereka perlu disertai dengan kuasa-Nya. Sebab itu, mereka tidak bisa
melakukan semua yang Yesus pernah lakukan (mis. berjalan di atas air,
meneduhkan badai, mengutuk pohon ara, dan sebagainya) termasuk turun
ke dunia orang mati.
Sementara itu, di kalangan sarjana injili sendiri—meskipun mereka
tidak menyetujui praktik spiritisme seperti yang Samudera lakukan—
terdapat dua pendapat yang berbeda mengenai siapa yang dipanggil keluar
oleh dukun wanita di Endor. Sebagian dari mereka meyakini bahwa yang
dipanggil keluar oleh dukun wanita itu benar-benar roh Samuel. Namun,
seperti yang dinyatakan oleh Eugene H. Merrill, yang menyebabkan
munculnya roh Samuel itu bukan kuasa dari sang dukun, melainkan
Allah.34 McDowell dan Stewart mengatakan bahwa dalam peristiwa di
Endor tidak ada indikasi adanya penipuan maupun demonisme.35
31
Dalam mengomentari Yohanes 14:12, Kruse menulis, “The disciples’ works did
not reveal the Father in the same way as Jesus did in his ministry and teaching. From
apostolic times until now, as far as we know, Jesus’ followers have never performed
works that were qualitatively the same, let alone greater than those of Jesus” (ibid. 300).
32
Ibid. 301.
Mengenai kuasa yang diberikan Yesus kepada para murid untuk melakukan
Amanat Agung, John F. Hart menyatakan, “The Great Commission mentions nothing
33
of a delegated authority. The reference to authority (Matt 28:18) is all-inclusive (‘all
authority’), belongs exclusively to Christ (‘has been given to Me’), encompasses a
lordship over good as well as evil angels (‘in heaven’), and extends to all human rulers or
kings (‘and on earth’). The Church has no—and needs no—delegated authority to carry
out her obligation to evangelize and disciple the world (28:19–20). What it has is the
Holy Spirit; what it needs is obedience” (“The Gospel and Spiritual Warfare: A Review
of Peter Wagner’s Confronting the Power,” http://www.faithalone.org/journal
/1997/hart.html).
34
Lebih lanjut Merrill menyatakan, “So startled was she by Samuel’s appearance
that she immediately realized that the work was of God and not herself and that her
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL
145
Gleason L. Archer menambahkan bahwa dalam kasus penampakkan
roh Samuel, Allah yang memerintahkan roh Samuel meninggalkan
kediamannya untuk menyampaikan pesan-Nya yang terakhir kepada Saul.36
Alasannya adalah karena di ayat 13, dukun perempuan itu terkejut pada
saat melihat yang ilahi itu muncul. Itu berarti penampakkan Samuel itu
bukanlah hasil kekuatan gaibnya, melainkan kuasa Allah yang
memunculkannya.
Kemudian, ia menambahkan bahwa jika Allah
sanggup mendatangkan Musa dan Elia dalam penampakkan mereka
bersama Yesus di atas bukit seperti yang dicatat dalam Lukas 9:30-31,
demikian juga Ia sanggup melakukan hal yang sama dengan roh Samuel.37
Menurut penulis, argumentasi Archer kurang kuat, sebab peristiwa
penampakan Musa dan Elia (Luk. 9:30-31) berbeda dengan kisah
penampakan roh Samuel. Dalam penampakan Musa dan Elia, Allah
mengutus Musa dan Elia untuk menyampaikan pesan kepada Yesus untuk
menggenapi rencana Allah bagi keselamatan umat pilihan, melalui
kematian-Nya di kayu salib.38 Lagi pula, dalam kasus tersebut tidak ada
bukti Musa dan Elia berbicara dengan para murid atau atau indikasi bahwa
peristiwa demikian akan berulang. Lebih lanjut, jika Allah berkehendak,
Ia sanggup mengutus Samuel, tanpa melalui perantara seorang dukun,
karena Dia Mahakuasa dan berdaulat melakukannya.
Sementara itu, kelompok kedua menentang pendapat bahwa roh itu
adalah Samuel. Mereka percaya bahwa roh orang mati tidak dapat
dipanggil keluar dari tempatnya. Karena itu, menurut mereka, pada kasus
di Endor yang muncul itu bukanlah roh Samuel, melainkan roh Setan yang
menyamar Samuel dengan tujuan untuk menipu manusia. Kelompok ini
disguised nocturnal visitor was King Saul. . . . Samuel’s appearance here is explained
by the intervention of the Lord who graciously permitted Soul one last encounter with
the prophet whom he had first sought so long ago in pursuit of his father’s lost donkeys
(1Sam. 9:6-9)” (lih. “1 Samuel” dalam The Bible Knowledge Commentary: Old
Testament [eds. John F. Walvoord and Roy B. Zuck; USA: Victor, 1985] 454).
35
Handbook of Today’s Religions 64.164; bdk. kutipan berikut, “She did not call up
Samuel by trickery or by the power of Satan; God brought Samuel back to give Saul a
prediction regading his fate, a message Saul already knew. This is no way justifices
efforts to contact the dead or communicate with persons or spirits from the past. God
is against all such practices (Gal. 5:19-21)” (Life Application Study Bible 485).
36
Encyclopedia of Bible Difficulties (Grand Rapids: Zondervan, 1982) 181.
37
38
Ibid.
Leon Morris, mengutip dari Conzelmann, menyatakan, “The purpose behind the
heavenly manifestation is the announcement of the Passion and by means the proof is
given that the Passion is something decreed by God” (lih. The Tyndale New Testament
Commentaries: Luke [Surabaya: Momentum, 2007] 188).
146
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
meyakini, bahwa para tukang sihir atau dukun itu sebenarnya tidak
menghubungi roh-roh orang mati, tetapi roh-roh penipu, yakni Iblis.
Karena itu, kisah dalam 1 Samuel 28:1-25 ini tidak dapat dijadikan dasar
bagi usaha seseorang termasuk orang Kristen zaman sekarang untuk
menghubungi orang mati, apa lagi menginjili mereka.
Herlianto termasuk salah satu dari kelompok ini. Ketika menegaskan
bahwa yang muncul itu adalah bukan roh Samuel, tetapi roh Setan, ia
mengemukakan beberapa alasan (1) Tidak ada bukti bahwa ada yang
melihat roh itu roh Samuel (1Sam. 28 ditulis bukan oleh saksi mata tetapi
oleh nabi Nathan dan Gad atau editornya berdasarkan laporan yang keluar
dari istana Saul tanpa ada usaha untuk menguji apakah itu betul-betul roh
Samuel); (2)Samuel telah melarang orang-orang berhubungan dengan
petenung sehingga Saul membasmi semua petenung; (3) Perkataan “roh”
yang muncul kontradiktif, sebab di satu sisi diakui sebagai Samuel dan mau
menemui Saul, padahal di sisi lain dikatakan bahwa Tuhan telah undur dari
Saul (ayat 16).39
Demikian juga W. Harris melihat dalam kasus 1 Samuel 28:14
terkandung tujuan roh jahat terhadap Saul yaitu supaya Saul
menyembahnya. Itu berarti roh yang muncul itu jelas bukan roh Samuel.
Ia menyatakan demikian, “This is what the devil aimed at; and it is well
observed that every one that consulteth with Satan worshippeth him.”40
Dari beberapa uraian di atas untuk sementara dapat disimpulkan:
pertama, secara prinsip, kelompok yang beranggapan bahwa roh Samuel
benar-benar muncul sama-sama setuju bahwa roh orang mati bisa dipanggil
ke luar, namun mereka berbeda pendapat mengenai siapa yang berkuasa
memanggilnya. Samudera meyakini bahwa roh orang mati bisa dipanggil
keluar dari tempatnya, oleh siapa saja termasuk melalui seorang dukun.
Sementara yang lain bahwa percaya roh orang mati (mis. roh Samuel) bisa
dipanggil keluar hanya melalui intervensi kuasa Allah; kedua, argumentasi
dari tersebut, didasarkan pada fakta yang kurang kuat dan tidak terbukti
kebenarannya, karena didasari oleh penafsiran ayat Alkitab yang tanpa
melihat konteks dan bersifat harfiah.
Akibatnya, menghasilkan
kesimpulan yang prematur. Keempat, kelompok kedua, yang menolak
penampakan itu adalah roh Samuel, mendasarkan argumentasi mereka
pada konteks dari teks Alkitab dan penafsiran yang bersifat induktif.
Perspektif Penulis tentang Roh Samuel
39
“Saul di Endor, Orang Kaya dan Lazarus,” Makalah Sahabat Awam 17-19.
The Preacher’s Complete Homiletic Commentary: Samuel (Grand Rapids:
Baker, 1996) 263.
40
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL
147
Menurut penulis, semangat dan usaha Samudera mencetuskan ajaran
dan praktik pemanggilan roh-roh orang mati dengan tujuan untuk diinjili
supaya mereka selamat, tidak dapat dibenarkan. Dalam membangun
ajarannya, ia telah jatuh ke dalam penafsiran Alkitab yang bersifat harfiah,
tanpa melihat konteks dari teks Alkitab, sehingga bukan lagi melakukan
eksegese (penggalian makna dari dalam Alkitab) tetapi eisegese
(memasukkan pemikiran manusia ke dalam Alkitab). Demikian juga dari
pihak yang meyakini roh Samuel yang muncul dengan intervensi Allah.
Mereka memiliki argumentasi yang lemah dan tidak komprehensif dalam
menafsir teks Alkitab. Karena itu, berikut ini penulis akan memaparkan
posisi penulis terkait dengan teks 1 Samuel 28:1-25.
Adapun posisi penulis dalam perdebatan di atas adalah penulis
meyakini bahwa yang muncul dalam peristiwa di Endor itu adalah bukan
roh Samuel, tetapi roh Setan yang menyamar sebagai Samuel dengan
tujuan menipu dan menyesatkan manusia (2Kor. 11:14; bdk. Yoh. 8:44;
10:10; 1Ptr. 5:8).41 Untuk itu, penulis menyoroti dari konteks dekat dan
konteks jauh.
A. Alasan Berdasarkan Konteks Dekat
Ada beberapa alasan dari konteks dekat yang menunjukkan bahwa roh
yang menampakkan diri pada Saul bukanlah roh Samuel. Pertama, 1
Samuel mencatat bahwa Tuhan sudah tidak mau lagi berkomunikasi
dengan Saul. Dalam 1 Samuel 28:4, dikatakan bahwa Allah tidak
menjawab Saul baik melalui mimpi, Urim maupun lewat perantara nabi.
Secara logis, kalau Allah sudah tidak mau lagi berbicara dengan Saul
melalui sarana dan metode yang wajar seperti mimpi, Urim dan nabi,
mestinya Ia tidak berbicara melalui perantara arwah Samuel yang dipanggil
oleh dukun wanita. Apalagi Saul sudah dikuasai oleh roh-roh jahat
setelah Roh Allah meninggalkan dia (lih. 1Sam. 16:14; 18:10; 19:9; 28:7).
Kedua, pemakaian kata “arwah” dalam 1 Samuel 28:7 yang sama
dengan Imamat 20:27 yaitu bAa (‘ôb) bukan menunjuk kepada roh-roh
orang mati, melainkan Iblis dan roh-roh jahat. Menurut Hoffner, kata
(‘ôb) menunjukkan tiga makna yang berbeda: (1) lubang di tanah yang
41
Iblis adalah nama penguasa kejahatan, (Ibrani: Satan; Yunani: Satanas), yang arti
dasarnya adalah “lawan,” yakni melawan kepentingan manusia dalam kaitannya dengan
penyembahan kepada Allah. Jadi, iblis adalah realitas yang jahat, yang senantiasa
memusuhi Allah dan umat-Nya. Tetapi ia sudah dikalahkan secara total dalam hidup,
kematian dan kebangkitan Kristus, dan kekalahan ini akan menjadi nyata dan genap
pada akhir zaman (lih. Leon Morris dan R. S. Wallace, “Iblis” dalam Ensiklopedi
Alkitab Masa Kini 1:409-410).
148
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
sengaja digali sebagai pintu keluar bagi roh orang mati yang dipanggil
keluar (1Sam. 28:7); (2) Roh-roh orang mati yang membuat kekacauan
(Yes. 29:4); (3) Petenung atau dukun yang dipakai Iblis untuk memanggil
roh orang mati untuk dimintai informasi (Im. 19:31; 20:6, 27; Ul. 18:11;
1Sam. 28:3, 9; 2Raj. 21:6; 23:24; Yes. 8:19). Menurutnya, untuk konteks
Imamat 20:27 dan 1 Samuel 28:7 lebih tepat menerapkan arti ketiga.42
Kemudian kata bAa (‘ôb) lebih banyak dipakai (enam belas kali) untuk
menggambarkan jenis medium atau pengantara yang berhubungan dengan
roh-roh jahat.43
Ketiga, dalam kasus di Endor tidak ada saksi mata yang secara
langsung melihat Samuel dan juga tidak ada bukti yang jelas bahwa wanita
petenung itu benar-benar melihat roh Samuel. Dia hanya melihat
bayangan menyerupai seorang tua yang muncul dari dalam tanah (1Sam.
28:13-14). Dari laporan dukun wanita itu, Saul yakin itu adalah Samuel.
Pertanyaannya: apakah perkataan seorang dukun yang dipakai Iblis dapat
dipercaya? Sedangkan kata Tuhan Yesus, Iblis sendiri adalah bapa segala
dusta (Yoh. 8:44).
B. Alasan Berdasarkan Konteks Jauh
Beberapa alasan dari konteks jauh: Pertama, Allah melarang praktik
spiritisme dan disebut sebagai perbuatan “najis” (Im. 19:31) dan “zinah
rohani” (Im. 20:6). Orang Israel yang melakukan praktik tersebut akan
dihukum mati. Demikian juga dukun dan medium yang memberi diri
dirasuk oleh arwah atau roh peramal harus dilenyapkan dan dihukum mati
(Im. 20:27). Bagian lain dari PL juga melarang praktik spiritisme serupa
(Ul. 18:11; 1Sam. 28:3, 9; 2Raj. 21:6; 23:24; 2Taw. 33:6; Yes. 8:19; 19:3).
Jika spiritisme dilarang Allah, maka Ia tidak mungkin melanggar laranganNya sendiri dengan mengizinkan pemanggilan arwah Samuel. Ia tetap
konsisten dengan larangan-Nya, karena Ia adalah Allah yang setia dengan
apa yang sudah diucapkan-Nya. Firman-Nya tidak pernah berubah untuk
selama-lamanya (Mzm. 89:35).
Kedua, roh-roh orang percaya termasuk roh Samuel tidak berada di
bumi lagi. Sejak mereka meninggal, roh-roh mereka dikumpulkan Allah
bersama-Nya di surga, dan menjadi milik Allah (Ayb. 7:9-10; 1Tes. 4:13;
Why. 14:13). Menurut G. I. Williamson, selain dua tempat, yakni surga
42
“‫ ”וֹ בא‬dalam Theological Dictionary of the Old Testament (eds. G. Johannes
Botterweek, Helmer Ringgren; Grand Rapids: Eerdmans, 1977) 1:133.
43
M. V. Van Pelt dan W. C. Kaiser, Jr. “‫ ”וֹ בא‬dalam New International Dictionary
of Old Testament Theology and Exegetical (ed. William A. Van Gemeren; Grand
Rapids: Zondervan, 1997) 1:303.
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL
149
dan neraka bagi setiap jiwa yang terpisah dari tubuhnya, Alkitab tidak
mengakui tempat lain mana pun. Ia menegaskan bahwa ajaran gereja
Katolik Roma bahwa orang-orang mati sebagian besar tidak pergi ke surga
dan neraka melainkan ke tempat penyucian (purgatori) adalah ajaran yang
salah.
Ajaran ini tidak hanya bertentangan dengan ajaran Alkitab tetapi
juga merendahkan kecukupan karya Kristus sebagai tebusan bagi semua
dosa kaum pilihan-Nya (Ibr. 10:14).44 Kemudian, Alkitab menegaskan
bahwa roh orang mati dan orang hidup tidak bisa saling berhubungan,
karena ada terbentang jurang yang tak terseberangi (Luk. 16:26).
Ketiga, Saul mati karena ia tidak setia kepada Tuhan dan telah
meminta petunjuk dari arwah dan tidak meminta petunjuk Tuhan (1Taw.
10:13-14). Dari teks ini, jelaslah jika yang muncul itu betul roh Samuel,
maka tentu tidak disebut sebagai arwah saja. Selain itu, Saul disalahkan
karena tidak meminta petunjuk Tuhan, secara logis jika yang muncul itu
roh Samuel dan Tuhan berbicara melaluinya, tentu Saul tidak perlu
disalahkan. Lagipula, Samuel adalah corong atau perantara firman Tuhan
semasa hidupnya. Fakta ini membuktikan itu bukan roh Samuel.
Keempat, adanya ketidaklaziman pada pemunculan roh Samuel yang
dilukiskan keluar dari dalam bumi. Biasanya kalau hal yang berasal dari
Allah selalu dilukiskan turun dari atas langit, bukan keluar dari dalam bumi
(lih. Kel. 16:4; Mzm. 78:24; 147:16; Mat. 3:16; Mrk. 1:10; Luk. 3:22; Yoh.
1:32).
KESIMPULAN
Setelah menelusuri semua pembahasan di atas, ada beberapa
kesimpulan yang dapat diambil: Pertama, spiritisme adalah praktik
okultisme yang didasarkan pada keyakinan bahwa roh-roh orang mati
dapat berkomunikasi dengan orang hidup atau sebaliknya, baik melalui
manusia sebagai mediator, maupun jailangkung, ouija board dan
sebagainya. Tujuan dari praktik spiritisme bagi kalangan yang nonKristen adalah untuk memintai nasihat dan pertolongan kepada arwah para
laluhur. Sedangkan bagi orang Kristen (hamba Tuhan) adalah untuk
tujuan penginjilan, supaya roh-roh orang mati yang belum sempat percaya
Kristus diberikan kesempatan untuk mendengar dan merespons injil agar
selamat.
Kedua, latar belakang yang mendasari praktik spiritisme adalah adanya
pemahaman bahwa roh-roh orang mati masih dapat berkomunikasi dengan
orang hidup; serta adanya pemahaman bahwa orang-orang percaya juga
44
Pengakuan Iman Westminster (tr. Irwan Tjulianto; Surabaya: Momentum, 2006)
392-393.
150
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
memiliki kuasa yang sama dan bahkan melebihi kuasa Kristus. Kedua
dasar tersebut tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Di satu sisi, Alkitab
mengajarkan bahwa roh-roh orang mati tidak dapat mengadakan kontak
dengan orang hidup, sebab sejak pasca kematian, bagi yang percaya Yesus,
rohnya berada di pangkuan Abraham (firdaus) sementara yang tidak
percaya Yesus berada di Sheol/hades. Di sisi lain, para hamba Tuhan
tidak memiliki kuasa yang sama seperti kuasa Yesus. Karena itu, ajaran
dan praktik pemanggilan dan penginjilan roh orang mati oleh Andereas
Samudera termasuk ajaran sesat, meskipun tujuannya adalah mulia, yakni
peduli dengan keselamatan para arwah orang mati.
Ketiga, latar belakang terjadinya kasus pemanggilan roh Samuel adalah
di mana raja Saul pada waktu itu sedang dalam kondisi takut dan gentar
menghadapi ancaman tentara Filistin yang hendak membinasakan umat
Israel. Karena itu, ketika dia hendak mencari petunjuk Allah dan tidak
memperoleh jawaban, maka ia mencari pertolongan seorang dukun
perempuan di Endor untuk memanggil roh Samuel dengan tujuan untuk
dimintai nasihat dan pertolongan.
Keempat, pemanggilan roh Samuel adalah kasus yang kontroversial di
kalangan hamba Tuhan. Bagi pihak yang meyakini bahwa yang muncul
itu benar-benar Samuel, beralasan bahwa kuasa Allah yang menyebabkan
pemunculannya. Sebaliknya, sebagian mereka yakin bahwa yang dipanggil
itu bukan Samuel, tapi roh Setan yang menyamar sebagai Samuel. Alasan
dari kelompok kedua ini adalah karena dukun perempuan tidak
mempunyai kuasa atas roh Samuel dan pratik spiritisme sangat dilarang
Allah dalam Alkitab.
Kelima, menurut penulis roh yang muncul itu bukanlah roh Samuel,
tetapi roh Setan yang menyamar seperti Samuel. Pandangan penulis ini
didasarkan atas alasan konteks dekat dan jauh. Alasan yang berdasarkan
konteks dekat adalah: (1) karena Tuhan sudah tidak mau lagi bicara
dengan Saul baik melalui Urim, mimpi maupun lewat perantara seorang
nabi; (2) pemakaian kata “arwah” di 1 Samuel 28:7 sama dengan Imamat
20:27 yaitu bAa (‘ôb) bukan menunjuk kepada roh-roh orang mati,
melainkan Iblis dan roh-roh jahat; (3) tidak ada saksi hidup atau bukti yang
jelas bahwa dukun wanita itu benar-benar melihat Samuel. Apakah
perkataan seorang yang dipakai Iblis (dukun wanita itu) dapat dipercaya?
Sedangkan menurut Yesus, Iblis adalah bapa segala pendusta (Yoh. 8:44).
Alasan yang berdasarkan konteks jauh adalah: (1) Allah melarang
praktik spiritisme, karena itu Ia konsisten dengan perkataan-Nya. (2)
Roh-roh orang percaya termasuk Samuel tidak lagi berada di bumi, sejak
mereka meninggal. Roh-roh tersebut dikumpulkan Allah bersama Yesus
di surga, dan menjadi milik Allah. (3) Saul dihukum Allah karena ia
PRO DAN KONTRA MENGENAI ROH SAMUEL
151
meminta petunjuk kepada arwah, bukan kepada Tuhan (1Taw. 10:13-14).
(4) Adanya ketidaklaziman pada pemunculan roh Samuel yang dilukiskan
keluar dari dalam bumi.
IMPLIKASI
Beberapa implikasi yang penulis tarik dari pemaparan di atas: pertama,
teks 1 Samuel 28 adalah salah satu teks Alkitab yang sulit dipahami,
sehingga tidak heran kalau terjadi kesalahpahaman pada pembaca juga
teks tersebut dipergunakan untuk mendukung praktik spiritisme. Hal ini
mengingatkan kita atau para hamba Tuhan untuk mempelajari firman
Tuhan dengan lebih serius dan memiliki komitmen terhadap studi
hermeneutik Alkitab yang baik dan benar, karena studi tersebut akan
menolong kita menafsirkan teks-teks Alkitab secara benar, teliti dan akurat
sehingga tidak menyimpang dari tujuan penulis Alkitab.
Kedua, pengajaran dan praktik spiritisme sama sekali tidak memiliki
dasar Alkitab. Oleh karena itu perlu segera direspons dengan meluruskan
ajaran tersebut melalui pengajaran firman Tuhan secara komprehensif
yang didasarkan pada eksegese Alkitab yang benar secara bagian-bagian
yang dipakai oleh kelompok yang mempraktikkan dan mengajarkan
spiristisme (mis. 1Sam. 28:1-25).
Ketiga, anggota jemaat harus diingatkan bahwa meminta nasihat,
petunjuk dan pertolongan kepada roh-roh orang mati termasuk
menginjilinya adalah perbuatan dosa, karena terlibat dalam kuasa
kegelapan dan itu dilarang oleh Allah. Barangsiapa yang melanggar
larangan ini, pasti akan menerima konsekuensi yang serius dari Tuhan
seperti pengalaman Saul.
Keempat, selain itu, para hamba Tuhan harus mempersiapkan para
jemaat yang dilayani baik melalui pemahaman Alkitab (PA), diskusi
kelompok, maupun khotbah di mimbar tentang pandangan Alkitab
mengenai dunia orang mati, okultisme dan demonologi, untuk menghadapi
tipu muslihat Iblis melalui para guru palsu yang mengajarkan ajaran sesat,
khususnya spiritisme.
Kelima, jemaat harus diingatkan bahwa pertobatan dan beriman
kepada Yesus harus dilakukan pada waktu masih hidup, demikian juga
tanggung jawab untuk memberitakan injil harus dilakukan dan ditujukan
kepada mereka yang masih hidup, bukan kepada roh-roh orang mati.
Karena penghukuman Allah atas orang-orang yang tidak bertuhankan
Kristus, tidak pernah dapat diubah pasca kematian.
Fly UP