...

hubungan antara penerimaan dan pemahaman informasi kb dalam

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

hubungan antara penerimaan dan pemahaman informasi kb dalam
HUBUNGAN ANTARA PENERIMAAN DAN PEMAHAMAN INFORMASI KB
DALAM PENGENDALIAN KELAHIRAN ANAK DIKALANGAN ANGGOTA
BHAYANGKARI DAN KELUARGA NELAYAN PESISIR DI KABUPATEN
DONGGALA
(RELATIONSHIP BETWEEN ACCEPTANCE AND UNDERSTANDING THE
INFORMATION KB CHILD BIRTH CONTROL AMONG BHAYANGKARI AND
FAMILY MEMBERS IN COASTAL FISHING DONGGALA.)
A. Febri Herawati. N, Hafied Cangara, A.Alimuddin Unde
Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik , Universitas Hasanuddin
Alamat Korespondensi :
A. Febri Herawati. N
Pascasarjana Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Hasanuddin,
Makassar, 90245
HP : 085241207457
Email : [email protected]
ABSTRAK
Penerimaan informasi KB yang diterima oleh keluarga nelayan, tidak ada hubungan dengan peningkatan
pemahaman ber KB dalam pengendalian kelahiran bagi keluarga nelayan, namun sebaliknya penerimaan informasi
KB anggota Bhayangkari ada hubunganya dengan pemahaman ber KB, sehingga berpengaruh terhadap perilaku
dalam mengendalikan kelahiran anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: Hubungan Antara Penerimaan
Dan Pemahaman Informasi KB Dalam Pengendalian Kelahiran Anak Dikalangan Anggota Bhayangkari Dan
Keluarga Nelayan Pesisir Di Kabupaten Donggala. Penelitian ini dilakukan Di Kabupaten Donggala, dengan lokasi
penelitian di Kecamatan Banawa dengan sasaran masyarakat nelayan dan anggota bhayangkari. Data dalam
penelitian didapatkan melalui data triangulasi, bersumber dari koesioner, observasi dan dokumentasi, serta
wawancara mendalam. Informan yang dipilih sebanyak 5 orang dan 160 orang responden, metode pemilihan
responden dengan metode acak, dan metode pemilihan informan secara random sampling. Metode penelitian yang
digunakan yaitu metode penelitian deskriptif dengan analisis kualitatif dengan menggunakan tabulasi silang sebagai
daya dukung interpretasi analisis. Hasil penelitian menjelaskan, Belum berhasilnya penerimaan informasi KB dalam
meningkatkan pemahaman ber KB keluarga nelayan terkait dengan rendahnya kualitas komunikator dalam proses
penyampaian informasi KB, belum terprogramnya penyajian informasi KB dengan baik dan minimnya penggunaan
media komunikasi dalam proses penerimaan informasi, serta isi pesan yang disampaikan hanya sekedar memenuhi
pertanggungnjawaban proyek, bukan berdasarkan kebutuhan. Dampak dari tidak adanya hubungan penerimaan
informasi KB terhadap pemahaman KB pada keluarga nelayan menyebabkan prilaku ber KB menjadi prilaku KB
pasif.
Kata kunci : Penerimaan, Pemahaman, Perilaku.
ABSTRACT
Acceptance of family planning information received by the family of fishermen, no association with an increased
understanding of family planning in the areas of birth control for family of fishermen, but instead receiving
members Bhayangkari infomation family planning are associated with understanding family planning, therefore
contributes to controlling the behavior of the child's birth. This study aims to determine: Relationship Between
Acceptance and Understanding of Information family planning Amongst the Kids In Birth Control And Family
Members Bhayangkari Coastal Fishermen In Donggala. The research was conducted in Donggala, with research
sites in the District Banawa targeting fishing communities and members Bhayangkari. The data were obtained
through triangulation of data, sourced from koesioner, observation and documentation, as well as in-depth
interviews. Informants were selected by 5 people and 160 respondents, respondent selection method with random
method, and the method of selecting informants by random sampling. The research method used is descriptive and
analisis qualitative research method using cross tabulation analysis interpretation as the carrying capacity. The
results explain, yet successful acceptance of family planning information to improve understanding of the family
planning family of fishermen due to the low quality of the communicators in the process of delivering family
planning information, presentation of information has not been programmed properly and lack of family planning
use of communication media in the process of receiving information, as well as the content of the message only
meets the accountability project, not based on need. The lack of acceptance relations planning information to the
understanding of family planning behaviors on family fisherman causing family planning being KB passive
behavior.
Keyword : acceptance, understanding, behavior
PENDAHULUAN
Komunikasi dan pembangunan merupakan dua hal yang saling berhubungan erat,
dimana Siebert, Peterson dan Schramm (1956) menyatakan bahwa dalam mempelajari
sistem komunikasi manusia, seseorang harus memperhatikan beberapa kepercayaan dan
asumsi dasar yang dianut suatu masyarakat tentang asal usul manusia, masyarakat dan
negara.
Komunikasi merupakan alat bagi manusia dalam berinteraksi untuk memenuhi
kebutuhan informasinya, guna merubah pandangan dan perilaku individu dalam
menyikapi suatu permasalahan. Dengan demikian Program pembangunan selalu akan
membutuhkan peran komunikasi dalam
hal
menunjang pelaksanaan program
pembangunan.Salah satu program pembangunan adalah program kependudukan dan KB
dimana didalamnya dikenal istilah Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) yang
merupakan proses penyampaian dan penerimaan pesan dalam rangka meningkatkan dan
memanfaatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat, dan mendorongnya agar
secara sadar menerima program KB.
Kondisi kependudukan masih menjadi tantangan bagi pembangunan Indonesia
dewasa ini. Berbagai temuan empirik menunjukan bahwa tingkat kemajuan suatu bangsa
sebagian besar ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia (SDM) dan bukan oleh
melimpahnya sumber daya alam (SDA). Jumlah penduduk yang besar akan bermanfaat
jika kualitas SDM nya baik. Sebaliknya, jika kualitasnya rendah maka jumlah penduduk
yang besar hanya akan menjadi beban pembangunan (Rochajat dkk., 2011).
Ancaman baby booming di tanah air kini semakin nyata. Berdasarkan data Badan
Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN., 2012), jika tahun ini program
keluarga berencana stagnan, penduduk Indonesia diprediksi akan mencapai 255 juta
jiwa. Baby booming dapat teratasi, tergantung dari aktif atau tidak aktifnya masyarakat
untuk mensukseskan program Keluarga Berencana.Program Keluarga Berencana
dicanangkan dalam rangka usaha pemerintah untuk membangun manusia Indonesia yang
berkualitas. Melalui program pengendalian kependudukan dan keluarga sejahtera yang
lebih bernilai, perlu sentuhan peningkatan pemahaman pada penerimaan informasi
program keluarga berencana, terutama pemahaman tentang memaknai nilai anak dalam
kehidupan mereka. Oleh karena itu di dalam pelaksanaan program keluarga berencana
perlu mengajak subyek tadi untuk ikut berpartisipasi aktif dalam proses program KB
secara berkelanjutan (Pasaribu dkk., 2003).
Program KB dapat tercapai dan dapat dilalui dengan 3 konsep berfikir yang saling
berkaitan, yaitu masyarakat sadar KB, kemajuan pelaksanaan KB dan keberlanjutan
pelaksanaan KB. Keberlanjutan pelaksanaan program KB dilihat dari adanya hubungan
yang sinergi antara masyarakat khususnya masyarakat pasangan usia muda dengan pihak
BKKBN dan pemerintah (Sih Wulan Ardiana Putri (2010). Penerimaan informasi KB
seharusnya akan mempengaruhi tingkat pemahaman dimana berimplikasi pada perilaku
masyarakat dengan menjadi peserta KB aktif, hal ini bisa terealisasi ketika pihak
BKKBN kontinyu melakukan sosialisasi dengan memakai tenanga PLKB yang
berkualitas (menguasai materi) (Indriyanti., 2009).
Kesadaran masyarakat Kabupaten Donggala akan pentingnya program keluarga
berencana, dimanifestasikan dalam bentuk keikutsertaan pasangan usia subur (PUS)
dalam ber KB, adapun gambaran peserta KB aktif, dapat dilihat pada kesertaan KB dari 5
tahun terakhir, yaitu: pada tahun 2007 akseptor baru mencapai 17.432, pada tahun 2008
mengalami peningkatan menjadi 21.110, tahun 2009 menurun menjadi 19.688, tahun
2010 menurun drastis menjadi 17.948 dan pada tahun 2011 lebih memperihatinkan,
karena terjadi penurunan yang sangat signifikan dari tahun sebelumnya menjadi 13.359
PUS.( BPS., 2012 ).
Menurunnya peserta KB aktif salah satu indikatornya adalah para penyuluh tidak
maksimal dalam memberikan informasi dan mensosialisasikan program KB kepada
masyarakat, dan Sosialisasi langsung kemasyarakat membutuhkan anggaran yang cukup
besar untuk transportasi dan akomodasi para penyuluh, sementara sejak tahun 2008sampai sekarang tidak ada anggaran untuk sosialisasi KB pada Badan Keluarga
Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Donggala. (Lakip BKBPP
Kabupaten Donggala., 2012).
Pemahaman masyarakat di Kabupaten Donggala, tentang “anak adalah sumber
rejeki dan banyak anak banyak rejeki, serta anak membawa rejekinya masing-masing,
merupakan pemahaman yang cenderung menghambat program keluarga berencana di
Kabupaten Donggala. sehingga peranan tokoh masyarakat baik formal maupun nonformal sangat penting terutama dalam meningkatkan pemahaman masyarakat melalui
partisipasi aktif dalam memberikan informasi, mempengaruhi, dan memberi contoh,
bahwa jumlah anak yang bisa dikendalikan melalui pembatasan kelahiran, merupakan
perencanaan keluarga kecil masa depan yang akan menuju keluarga sejahtera.
Berdasarakan uraian latar belakang, maka permasalahan dalam penelitian ini
adalah bagaimana penerimaan dan pemahaman serta hubungan anatara penerimaan dan
pemahaman informasi KB dalam pengendalian kelahiran anak dikalangan anggota
bahayangkari dan keluarga nelayan pesisir di Kabupaten donggala. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui penerimaan dan pemahaman serta hubungan antara penerimaan
dan pemahaman informasi KB dalam pengendalian kelahiran anak dikalangan anggota
bhayangkari dan keluarga nelayan pesisir di Kabupaten Donggala. Berdasarkan latar
belakang dan tujuan penelitian ini, secara teoritis penulis mengharapkan agar hasil
penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan pengetahuan penulis
terhadap KB Dalam Pengendalian kelahiran Anak. Dan secara praktis dapat menjadi
masukan bagi para penentu kebijakan utamanya bidang pengendalian kependudukan pada
BKBPP Kabupaten Donggala. Serta Secara metodologi dapat menjadi bahan acuan dan
referensi serta kerangka dasar ilmiah bagi pihak lain yang berminat untuk meneliti dan
mengkaji lebih lanjut mengenai KB, dilihat dari komunikasi interpersonal.
BAHAN DAN METODE
Desain Penelitan
Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Donggala, Kecamatan Banawa Selatan.
Dengan pertimbangan Kecamatan Banawa terdapat masyarakat pesisir (masyarakat
nelayan) dan Asrama Polres Donggala. Selain itu kecamatan ini merupakan kecamatan
terpadat penduduknya, dari seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Donggala, dan
tingkat partisipasi KB tergolong rendah. Jenis penelitian deskriptif karena dalam
pelaksanaannya akan digambarkan dan dijelaskan suatu objek yang menjadi substansi
penelitian.
Objek Penelitian
Objek Penelitian ini adalah anggota Bhayangkari dan keluarga nelayan pesisir.
Dimana penulis ingin mengetahui penerimaan, pemahaman, hubungan penerimaan dan
pemahaman informasi KB dalam pengendalian anak serta perilakunya.
Teknik Pengambilan Sampel
Penetapan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan jenis
metode random sampling. Teknik sampling ini diberi nama demikian karena di dalam
pengambilan sampelnya, peneliti “mencampur” subjek-subjek di dalam populasi
sehingga semua subjek-subjek dalam populasi dianggap sama. maka dengan
pertimbangan jumlah sampel dan kebutuhan penelitian, maka sampel yang ditentukan
dalam penelitian ini adalah 160 PUS, dimana 80 PUS dari keluarga nelayan dan 80 PUS
dari anggota Bhayangkari. Pemilihan responden berdasarkan metode random dengan
memilih (30 %) dari setiap populasi, dengan alasan bahwa responden sangat heterogen.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif
kualitatif, bersumber dari (Sugiono., 2005), dengan menguraikan seluruh data dan fakta
yang berhasil dikumpulkan dalam bentuk narasi dan argumentasi yang berlandaskan pada
data lapangan yang telah diperoleh dengan menggunakan tabel frekuensi dan persentase.
Setiap item dari jawaban yang di berikan akan di tentukan berdasarkan sebagai berikut :
Nilai persentaseskor 
Skor yang diperoleh
x 100 % .
Skor ideal / tinggi
(Sumber : Sugiono., 2005)
Dari kriteria di atas dan setelah diketahui bobot dan persentase, maka langkah
berikutnya dibuat analisis atau penyederhanaan data melalui interpretasi secara tertulis
dengan pendekatan analisis kualitatif . Dengan teknik analisis diatas penulis dapat
mengetahui sejauh mana kedua komunitas ini menerima dan memahami informasi KB
dalam pengendalian kelahiran anak dan bisa menentukan apakah ada hubugan antara
penerimaan dan pemahaman informasi KB dalam pengendalian anak.
HASIL
Penelitian ini menfokuskan analisis data terhadap penerimaan, pemahaman,
perilaku terhadap informasi Kb dalam pengendalian kelahiran anak dikalangan anggota
bhayangkari dan keluarga nelayan pesisir di Kabupaten Donggala.
Jumlah anak
Bahwa jumlah anak yang dimiliki, oleh keluarga nelayan rata-rata berjumlah 3-5
orang, dan jumlah anak yang dimiliki oleh anggota Bhayangkari, rata-rata memiliki anak
1-4 orang, dimana anggota Bhayangkari yang memiliki anak 4 orang jumlahnya sangat
sedikit hanya 3 orang dari jumlah responden.
Penerimaan Informasi KB
Berdasarkan tabel 1 bahwa dari 80 responden keluarga nelayan menjelaskan
bahwa sikap menerima informasi cukup tinggi mencapai 77,5%. Dan tabel 2 dari 80
responden anggota bhayangkari menjelaskan sikap penerimaan informasi sangat tinggi
mencapai 88,75%.
Pemahaman Informasi KB
Tabel 3 menjelaskan bahwa dari 80 responden nelayan tingkat pemahamannya
sangat rendah hanya 13,75%. Dan tabel 4 dari 80 responden bhayangkari tingkat
pemahamannya cukup tinggi mencapai 97,5%.
Hubungan antara penerimaan dan pemahaman informasi KB dalam pengendalaian
kelahiran anak.
Tabel 5 menjelaskan bahwa tidak ada hubungan antara penerimaan informasi
dengan pemahaman KB dalam pengendalian kelahiran anak pada masyarakat nelayan,
hal tersebut dibuktikan dengan data yang dihimpun dari koesioner yang menjelaskan
tingkat penerimaan dalam informasi KB dapat dikatakan baik (skor.77,5%) sementara
pemahamannya rendah hanya 13,75%. Dan pada tabel 6, terlihat ada hubungan yang
positif antara penerimaan dan pemahaman anggota Bhayangkari karena terlihat bahwa
tingginya tingkat penerimaannya 88,75% dari tingkat pemahamannya 97,5% sehingga
pada komunitas ini tidak adanya peserta KB pasif dan dropout.
PEMBAHASAN
Dalam penelitian ini menemukan tidak adanya hubungan antara penerimaan
informasi dengan pemahaman KB dalam pengendalian kelahiran anak pada masyarakat
nelayan, hal tersebut dibuktikan dengan data yang dihimpun dari koesioner yang
menjelaskan tingkat penerimaan dalam informasi KB dapat dikatakan baik (skor.77,5%),
namun penerimaan yang baik tersebut tidak memberi hubungan yang baik pula pada
peningkatan pemahaman responden tentang pengetahuan ber KB, karena yang
memahami informasi KB secara baik hanya 13,75 %, apabila dilihat dari penerimaan
masing-masing responden, terlihat jelas berdasarkan tabel 2 bahwa penerimaan informasi
KB bagi keluarga nelayan mencapai 77,5%, sedangkan tingkat pemahamannya hanya
13,75%, ini menunjukan bahwa penerimaan informasi tidak memberikan hubungan yang
positif terhadap perubahan perilaku dalam berpartisipasi pada program pengendalian
angka kelahiran anak yang dilaksanakan oleh Pemerintah melalui program KB. Dan
untuk anggota Bhayangkari Polres Donggala ada hubungan antara penerimaan dan
pemahaman informasi responden tentang program KB, karena terlihat jelas bahwa
penerimaan informasi dikomunitas ini baik, hingga mencapai 88,75% dimana berkorelasi
pada tingkat pemahamannya 97,5%, kesimpulannya menunjukan hubungan yang positif
terhadap perubahan perilaku anggota Bhayangkari dengan tidak adanya peserta KB pasif.
Berarti bisa dikatakan bahwa komunitas ini berpartisipasi aktif dalam mensukseskan
program KB dalam pengendalian kelahiran anak, guna mewujudkan norma keluarga
kecil, bahagia, dan sejahtera.
Pemahaman yang kurang akan informasi KB dalam pengendalian kelahiran anak
dari masyarakat nelayan Kecamatan Banawa, dibuktikan dengan perilaku KB yang
banyak menjadi peserta pasif 486 Pus (12, 50%), dari peserta aktif 3.887 Pus (Kecamatan
Banawa dalam Angka , 2012). Di Desa Bone Oge peserta KB pasif mencapai 15,2%.
(Laporan Tahunan Puskesmas Pembantu Desa Bone Oge, 2012), demikian pula pada
Kelurahan Tanjung Batu yang memilki peserta KB pasif mencapai 20,17%. (Laporan
Tahunan Puskesmas Pembantu Desa Tanjung Batu, 2012). Hal itu dibuktikan secara
kongkrit pada jumlah anak yang dimiliki dengan rata-rata memiliki anak berjumlah 3-5
orang.
Penerimaan yang baik, yang tidak disertai pemahaman yang baik, dapat saja
dipengaruhi oleh factor pendidikan
yang rendah. Menurut Moekijat (1990) bahwa
pemahaman seseorang dalam menerima program pembangunan sangat dipengaruhi oleh :
kemampuan yang menerima dan menyampaikan informasi, pemilihan dengan seksama,
apa yang ingin disampaikan oleh komunikator, saluran komunikasi yang jelas dan
langsung, media yang memadai untuk menyampaikan pesan, penentuan waktu dan
penggunaan media yang tepat, tempat-tempat penyebaran yang memadai apa bila
diperlukan untuk memudahkan penyampaian pesan yang asli, tidak dikurangi, tidak
diubah, dan dalam arah yang tepat.
Dari teori Moekijat dalam (Hartanto., 2003) jelas memberi pemahaman bahwa,
penerimaan informasi yang baik sangat ditentukan oleh pemberi informasi, namun
pemahaman informasi KB yang diterima oleh akseptor sangat ditentukan oleh
kemampuannya (pendidikan) dalam menyerap informasi yang diberikan.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari koesioner, wawancara, maupun hasil
observasi dan konsep yang mendukung, bahwa penerimaan informasi KB yang diterima
oleh masyarakat nelayan dari Puskesmas maupun media lainnya tidak ada berhubungan
dengan perubahan perilaku dalam memahami informasi KB, sehingga tidak berubah cara
pandang dalam memahami program KB dalam pengendalian kelahiran anak, akibatnya
program KB untuk pengendalian kelahiran anak pada keluarga nelayan dapat dikatakan
kurang berhasil.
Sementara pada anggota Bhayangkari, memperlihatkan ada hubungan yang cukup
baik antara penerimaan informasi KB dengan pemahaman akseptor pada program KB.
Penerimaan informasi KB pada keluarga Bhayangkari dapat dikatakan baik, karena
mencapai angka 86,25%, penerimaan yang baik tersebut berkorelasi erat dengan
pemahaman yang baik pula dengan angka 71,25 %, diatas rata-rata. Pemahaman yang
baik dikuatkan dengan jumlah anak yang dimiliki anggota Bhayangkari rata-rata 1-2
orang (81,25%), hanya 18, 75% yang memiliki anak 3 orang.
Menurut Moekijat (1990) bahwa: pemahaman seseorang dapat dipengaruhi oleh
kemampuannya (pendidikannya) dalam menerima program pembangunan, sehingga
apabila teori tersebut dikorelasikan dengan tingkat pemahaman anggota Bhayangkari,
dapat disimpulkan bahwa pendidikan yang dimiliki oleh anggota Bhayangkari
menguatkan informasi yang didapat sehingga dapat menambah wawasannya terhadap
informasi KB dan dapat merubah perilakunya dalam pengendalian kelahiran anak. Dari
teori tersebut dapat disimpulkan bahwa penerimaan informasi tidak dapat mempengaruhi
pemahaman apabila tidak disertai dengan pendidikan, baik yang menerima informasi
(Komunikan), maupun yang memberikan informasi (Komunikator).
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa
penerimaan informasi KB yang diterima oleh nelayan tidak berhubungan dengan tingkat
pemahaman ber KB dalam pengendalian kelahiran bagi keluarga nelayan, namun untuk
penerimaan informasi KB anggota Bhayangkari ada hubunganya dengan pemahaman ber
KB, sehingga berpengaruh terhadap perilaku dalam mengendalikan kelahiran anak.
Belum berhasilnya penerimaan informasi KB dalam meningkatkan pemahaman ber KB
keluarga nelayan terkait dengan rendahnya kualitas komunikator dalam proses
penyampaian informasi KB, belum terprogramnya penyajian informasi KB dengan baik
dan minimnya penggunaan media komunikasi dalam proses penerimaan informasi, serta
isi pesan yang disampaikan hanya sekedar memenuhi pertanggungjawaban proyek, bukan
berdasarkan kebutuhan. Dampak dari tidak adanya hubungan penerimaan informasi KB
terhadap pemahaman KB pada keluarga nelayan, menyebabkan prilaku ber KB menjadi
prilaku KB pasif.
Mengingat penerimaan informasi KB sangat berpengaruh terhadap pemahaman
dan perilaku anggota Bhayangkari dan keluarga nelayan pesisir dalam pengendalaian
kelahiran anak, maka perlu meningkatkan akses penerimaan Informasi KB melalui
penyediaan tempat pelayanan KB yang dekat dengan tempat tinggal masyarakat
khususnya masyarakat nelayan di Kabupaten Donggala (seperti posyandu dan posdaya
KB), serta Peningkatan sumber daya manusia pada petugas lapangan keluarga berencana
di tingkat kecamatan, seperti diklat maupun tugas belajar dan juga Perlunya peningkatan
kualitas komunikasi, baik isi pesan yang disampaikan maupun media yang digunakan
sehingga informasi yang diterima komunikan tepat sasaran dan dapat diterima dengan
baik dan sempurna, yang pada akhirnya memberikan kontribusi positif terhadap
peningkatan pemahaman akseptor KB.
DAFTAR PUSTAKA
BKKBN., (2012). Buku panduan. Jakarta
BPS., 2012
Hartanto., (2003), Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta.
Rochajat Harun., Ardianto Elvinaro., (2011). Komunikasi pembangunan dan perubahan
social. PT. Raja Grafindo Persada. Bandung
Lakip BKBPP Kabupaten Donggala., (2012)
Moekijat., (1985), Analisa Kebijakan Publik, Mandar Maju, Bandung.
Pasaribu dan Simanjuntak., (2003) Pengaruh nilai dan jumlah anak pada keluarga
terhadap norma keluarga kecil bahagia dan sejahtera (NKKBS). Diunduh 5 Februari
2013 Available from:
http://library.usu.ac.id/modules.php?op=modload&name=Downloads&file=i
ndex&req=getit&lid=625.
Sugiyono., (2005). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Bandung.
Putri Ardiana Wulan Sari ., (2010). Presepsi dan Partisipasi Masyarakat Pasangan Usia
Subur pada Program KB di desa Giripanggung
Indriyanti silvianingrum indah., (2009). Sumber informasi Yang Mempengaruhi
Keputusan Menjadi Akseptor KB Wanita di Kelurahan Bandarharjo Semarang
Tabel 1. Distribusi responden pada sikap menerima informasi KB pada keluarga nelayan
No
1
2
Sikap menerima informasi
Frekuensi
Menerima
62
Tidak menerima
18
80
Total
Sumber ber: Data Primer , diolah kembali April, 2013
Persentase (%)
77,5
22,5
100
Tabel 2. Distribusi Responden pada Sikap Menerima Informasi KB Anggota Bhayangkari
No
Sikap menerima informasi
Frekuensi
Menerima
71
Tidak menerima
9
80
Total
Sumber ber: Data Primer , diolah kembali April, 2013
1
2
Persentase (%)
88,75
11,25
100
Tabel 3. Distribusi Responden tentang pemahaman KB pada Keluarga Nelayan
No
1
2
Jenis pemahaman
Frekuensi
Memahami
11
Tidak memahami
69
80
Total
Sumber: Data Primer , diolah kembali April, 2013.
Persentase (%)
13,75
86,25
100
Tabel 4. Distribusi Responden Anggota Bhayangkari Berdasarkan Pemahaman KB
No
Jenis pemahaman
Frekuensi
Persentase (%)
1
Memahami
78
97,5
2
Tidak Memahami
2
2,5
80
100
Total
Sumber: Data Primer , diolah kembali April, 2013.
Tabel 5 Distribusi responden berdasarkan hubungan penerimaan Informasi KB dengan
tingkat pemahaman Keluarga Nelayan
No
Penerimaan
Memahami
Memahami
Tdk
Memahami
13,75
77,5
1 Menerima
22,5
86,22
2 Tdk menerima
18,14
81,86
Jumlah
Sumber: Data Primer , diolah kembali April, 2013.
Total
45,63%
54,37 %
100 %
Tabel 6 Distribusi responden berdasarkan hubungan penerimaan Informasi KB
dengan tingkat pemahaman Keluarga Bhayangkari
No
Penerimaan
Memahami
Memahami
Total
1
Menerima
97,5
Tdk
memahami
2,5
2
Tdk menerima
88,75
11,25
50%
93,13
6,87
100 %
Jumlah
Sumber: Data Primer , diolah kembali April, 2013
50%
Fly UP