...

1 ANALISIS PERBEDAAN PEMAHAMAN GOOD GOVERNANCE

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

1 ANALISIS PERBEDAAN PEMAHAMAN GOOD GOVERNANCE
ANALISIS PERBEDAAN PEMAHAMAN GOOD GOVERNANCE
DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP KINERJA AKUNTAN
DALAM KONTEKS GENDER
(Studi Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Indonesia)
Oleh : Sri Trisnaningsih
Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur
ABSTRACT
Aim of this research is proves the understanding of empirical influences
about good governance and leadership style to accountant performance.
Despitefully, also proves the understanding of empirical differences about good
governance and leadership style to accountant performance in Indonesia especially
to gender context. Result of this research expected been able to answer about
problem of human resources development, especially in related to public accountant
profession in gender context. Beside to gives image of factual condition about man
and woman public accountant worker. This matter is usable as basis in expansion
policy of accountant profession, also as input or recommendation in the effort to
preparing reliable public accountant.
This research respondent is public accountant at KAP in Indonesia. Method
of data collecting is applies survey method that distribution of questionnaire. Method
of data collecting respondent is applies simple random sampling method. Data
analysis is applies Multiple Regression and Independent Sample T Test. To see
homogeneity variance data between man and woman accountants is applies
Levene's Test with level confidence 95%.
Result of the research is indicates about three hypothesizes that submitted,
the first and third hypothesis its not provable, while the second hypothesis its
provable. Based on submitted hypothesis, the public accountant that comprehends
good governance will not influence to its performance, and the leadership style is
influences to accountant performance significantly. While in context of gender, there
was not understanding about differences of good governance and leadership style to
man and woman accountant performance.
Keywords: understanding of good governance, leadership style, accountant
performance
1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Perbedaan gender antara pria dan wanita, dalam sejarah terjadi melalui
proses yang sangat panjang. Terbentuknya perbedaan gender dikarenakan oleh
banyak hal, diantaranya akibat dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan
dikonstruksi secara sosial, kultural, atau melalui ajaran agama maupun negara.
1
Perbedaan gender sesungguhnya tidak
menjadi masalah sepanjang tidak
melahirkan ketidak adilan gender. Namun yang menjadi persoalan, ternyata
perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidak adilan, baik bagi pria maupun
wanita. Ketidak adilan gender merupakan sistem dan struktur dimana, baik kaum
pria maupun wanita menjadi korban dari sistem tersebut. Fakih (1996) menyatakan
bahwa ketidak adilan gender termanifestasikan dalam berbagai bentuk, yakni :
marginalisasi, proses pemiskinan ekonomi, subordinasi dalam pengambilan
keputusan, stereotype, dan diskriminasi.
Kinerja KAP yang berkualitas sangat ditentukan oleh kinerja akuntannya.
Secara ideal di dalam menjalankan profesinya, seorang akuntan hendaknya
memperhatikan prinsip dasar good governance dalam KAP. Akuntan harus mentaati
aturan etika profesi yang meliputi pengaturan tentang independensi, integritas dan
obyektivitas, standar umum dan prinsip akuntansi, tanggung jawab kepada klien,
tanggung jawab kepada rekan seprofesi, serta tanggung jawab dan praktik lainnya
(Satyo, 2005). Lebih lanjut Satyo menyatakan bahwa memahami kode etik saja tidak
cukup untuk membuat perilaku karyawan dan perusahaan menjadi lebih baik dan
etis. Pemahaman good governance diperlukan untuk diimplementasikan pada
perusahaan secara tepat, terutama untuk memperoleh karakter perusahaan yang
kuat dalam menghasilkan manajemen kinerja yang unggul.
Prinsip dasar konsep good governance pada KAP antara lain: (1) Fairness
(keadilan), yaitu akuntan publik dalam memberikan pendapat mengenai kewajaran
laporan keuangan yang diperiksa, harus bersikap independen dan menegakkan
keadilan terhadap kepentingan klien, pemakai laporan keuangan, maupun terhadap
kepentingan akuntan publik itu sendiri. (2) Transparency (transparansi), yaitu
hendaknya selalu transparan terhadap pembagian fee maupun informasi laporan
keuangan klien yang diaudit. (3) Accountability (akuntabilitas), adalah menjelaskan
peran dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan pemeriksaan. (4) Responsibility
(pertanggungjawaban), yaitu memastikan dipatuhinya prinsip akuntansi yang berlaku
umum dan berpedoman pada standar profesional akuntan publik selama
menjalankan profesinya
2
Terkait dengan good governance, gaya kepemimpinan (leadership style) juga
dapat mempengaruhi kinerja. Gaya kepemimpinan (leadership style) merupakan
cara pimpinan untuk mempengaruhi orang lain atau bawahannya sedemikian rupa
sehingga orang tersebut mau melakukan kehendak pimpinan untuk mencapai tujuan
organisasi meskipun secara pribadi hal tersebut mungkin tidak disenangi (Luthans,
2002:575). Alberto et al. (2005) menyatakan bahwa kepemimpinan berpengaruh
positif kuat terhadap kinerja, juga berpengaruh signifikan terhadap learning
organisasi. Temuan ini memberikan sinyal bahwa gaya kepemimpinan seorang
pemimpin sangat berpengaruh terhadap kinerja bawahannya, di samping itu untuk
mendapatkan kinerja yang baik diperlukan juga adanya pemberian pembelajaran
terhadap bawahannya. Demikian pula gaya kepemimpinan pada KAP sangat
diperlukan karena dapat memberikan nuansa pada kinerja akuntan yang cenderung
bisa formal maupun informal.
Berdasarkan uraian di atas, maka dalam penelitian ini dirumuskan masalah:
(1) Apakah pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan berpengaruh
terhadap kinerja akuntan ? (2) Apakah terdapat perbedaan pemahaman good
governance dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja akuntan pria dan wanita?
1.2. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membuktikan secara empiris
pengaruh pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja
akuntan. Di samping itu, penelitian ini juga akan membuktikan secara empiris
perbedaan pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja
akuntan di Indonesia dalam konteks gender.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat
guna menjawab permasalahan pembangunan sumberdaya manusia, khususnya
yang berkaitan dengan profesi akuntan publik dalam konteks gender. Disamping itu
guna memberikan gambaran faktual kondisi tenaga kerja akuntan publik pria dan
wanita. Hal ini dapat dipakai sebagai landasan dalam kebijakan pengembangan
profesi akuntan, juga sebagai masukan atau rekomendasi dalam upaya menyiapkan
tenaga akuntan publik yang handal.
3
2. TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1. Pengertian dan Pandangan Tentang Gender
Pengertian gender pertama ditemukan dalam kamus adalah penggolongan
secara gramatikal terhadap kata-kata benda dan kata-kata lain yang berkaitan
dengannya, yang secara garis besar berhubungan dengan keberadaan dua jenis
kelamin serta ketiadaan jenis kelamin atau kenetralan (Mansour Fakih, 1999).
Pandangan mengenai gender dapat diklasifikasikan, pertama; kedalam dua
model yaitu equity model dan complementary contribution model, kedua; kedalam
dua stereotipe yaitu Sex Role Stereotypes dan Managerial Stereotypes (Gill Palmer
dan Tamilselvi Kandasaami, 1997). Model pertama mengasumsikan bahwa antara
laki-laki dan wanita sebagai profesional adalah identik sehingga perlu ada satu cara
yang sama dalam mengelola dan wanita harus diuraikan akses yang sama. Model
kedua berasumsi bahwa antara laki-laki dan wanita mempunyai kemampuan yang
berbeda sehingga perlu ada perbedaan dalam mengelola dan cara menilai,
mencatat serta mengkombinasikan untuk menghasilkan suatu sinergi. Pengertian
klasifikasi stereotype merupakan proses pengelompokan individu kedalam suatu
kelompok, dan pemberian atribut karakteristik pada individu berdasarkan anggota
kelompok. Sex role stereotypes dihubungkan dengan pandangan umum bahwa lakilaki itu lebih berorientasi pada pekerjaan, obyektif, independen, agresif, dan pada
umumnya
mempunyai
kemampuan
lebih
dibandingkan
wanita
dalam
pertanggungjawaban manajerial. Wanita dilain pihak dipandang lebih pasif, lembut,
orientasi pada pertimbangan, lebih sensitif dan lebih rendah posisinya pada
pertanggung
jawaban
dalam
organisasi
dibandingkan
laki-laki.
Manajerial
stereotypes memberikan pengertian manajer yang sukses sebagai seseorang yang
memiliki sikap, perilaku, dan temperamen yang umumnya lebih dimiliki laki-laki
dibandingkan wanita. Adanya kenyataan yang spesifik dengan kondisi di Indonesia
pada umumnya dengan latar belakang budaya, lingkungan sosial dan peran gender
yang saling bersinergi, sehingga terdapat kemungkinan beberapa kenyataan yang
berbeda dibandingkan dengan uraian hasil penelitian sebelumnya.
Kesetaraan gender di Indonesia juga mempunyai eksistensi yang kuat
sebagai konsekuensi logis dari di tanda tanganinya konvensi penghapusan segala
4
bentuk diskriminasi terhadap wanita oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 29 Juli
1980, tentang kesempatan dalam lapangan kerja dan pekerjaan serta pengupahan
antara laki-laki dan wanita. Berikutnya pada tanggal 24 Juli 1984 konvensi ini
kemudian diratifikasi dengan UU no. 7 tahun 1984 tentang pengesahan konvensi
mengenai penghapusan diskriminasi terhadap wanita.
Peraturan mengenai
perlindungan terhadap diskriminasi kepada para pegawai berdasarkan gender di
Indonesia yang diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia no. 25 tahun 1997,
tentunya juga turut mempengaruhi kesetaraan tersebut.
2.2. Kinerja Akuntan (Accountat Performance)
Secara etimologi, kinerja berasal dari kata prestasi kerja (performance).
Sebagaimana dikemukakan oleh Mangkunegara (2005:67) bahwa istilah kinerja
berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau
prestasi sesungguhnya yang dicapai seseorang) yaitu hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai
dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Kinerja akuntan merupakan tindakan atau pelaksanaan tugas pemeriksaan
yang telah diselesaikan oleh akuntan dalam kurun waktu tertentu. Menurut Taylor
(1991) pengertian kinerja akuntan adalah akuntan publik yang melaksanakan
penugasan pemeriksaan (examination) secara obyektif atas laporan keuangan suatu
perusahaan atau organisasi lain dengan tujuan untuk menentukan apakah laporan
keuangan tersebut menyajikan secara wajar sesuai dengan prinsip akuntansi yang
berlaku umum, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha
perusahaan. Kalbers dan Forgarty (1995) mengemukakan bahwa kinerja akuntan
sebagai evaluasi terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh atasan, rekan kerja, diri
sendiri, dan bawahan langsung.
Kinerja akuntan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Larkin
(1990), kinerja akuntan diukur dengan empat dimensi personalitas: (a) Kemampuan,
yaitu kecakapan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan. Kemampuan terdiri
dari: tingkat pendidikan, pengalaman kerja, bidang pekerjaan, dan faktor usia.
5
(b) Komitmen Profesional, yaitu tingkat loyalitas individu pada profesinya seperti
yang dipersepsikan oleh individu tersebut. (c.) Motivasi, adalah keadaan dalam
pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatankegiatan tertentu untuk mencapai suatu tujuan. (d) Kepuasan Kerja, adalah tingkat
kepuasan individu dengan posisinya secara relatif dibandingkan teman lainnya.
2.3. Pemahaman Good Governance
Pemahaman
good
governance
merupakan wujud
penerimaan
akan
pentingnya suatu perangkat peraturan atau tata kelola yang baik untuk mengatur
hubungan, fungsi dan kepentingan berbagai pihak dalam urusan bisnis maupun
pelayanan publik. Pemahaman good governance adalah menciptakan keunggulan
manajemen kinerja perusahaan manufaktur (good corporate governance) ataupun
perusahaan jasa, serta lembaga pelayanan publik/pemerintahan (good government
governance). Pemahaman good governance merupakan wujud respek terhadap
sistem dan struktur yang baik untuk mengelola perusahaan dengan tujuan
meningkatkan produktivitas usaha.
Pengertian good corporate governance (tata kelola perusahaan yang baik)
menurut Organization for Economic Co-operation and Development (OECD, 1998),
yaitu “seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham,
pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan serta para
pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan hak-hak
dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur dan
mengendalikan perusahaan.” Artinya bahwa dalam pengelolahan perusahaan
diperlukan adanya peraturan yang jelas yang memuat hak dan kewajiban dari
masing-masing pihak yang terkait (manajemen, kreditor, pemegang saham,
masyarakat, pemerintah dsb) sehingga masing-masing dapat menjalankan tugasnya
dengan baik untuk mencapai tujuan organisasi. Pemahaman good governance bagi
akuntan merupakan landasan moral/etika profesi yang harus diinternalisasikan
dalam dirinya. Pemahaman good governance secara benar akan mempengaruhi
perilaku profesional akuntan dalam berkarya dengan orientasi pada kinerja yang
tinggi untuk mencapai tujuan akhir sebagaimana diharapkan oleh berbagai pihak.
6
2.4. Gaya Kepemimpinan (Leadeship Style)
Gaya kepemimpinan (leadership styles) merupakan cara pimpinan untuk
mempengaruhi orang lain/bawahannya sedemikian rupa sehingga orang tersebut
mau melakukan kehendak pemimpin untuk mencapai tujuan organisasi meskipun
secara pribadi hal tersebut mungkin tidak disenangi (Luthans, 2002:575). Fleishman
dan Peters (1962) menjelaskan bahwa gaya kepemimpinan merupakan pola perilaku
konsisten yang diterapkan pemimpin dengan melalui orang lain, yaitu pola perilaku
yang ditunjukkan pemimpin pada saat mempengaruhi orang lain seperti yang
dipersepsikan orang lain.
Fleishman et al. telah meneliti gaya kepemimpinan di Ohio State University
tentang perilaku pemimpin melalui dua dimensi, yaitu: consideration dan initiating
structure.
Consideration
(konsiderasi)
adalah
gaya
kepemimpinan
yang
menggambarkan kedekatan hubungan antara bawahan dengan atasan, adanya
saling percaya, kekeluargaan, menghargai gagasan bawahan, dan adanya
komunikasi antara pimpinan dengan bawahan. Pemimpin yang memiliki konsiderasi
yang tinggi menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka dan parsial. Initiating
structure (struktur inisiatif) merupakan gaya kepemimpinan yang menunjukkan
bahwa pemimpin mengorganisasikan dan mendefinisikan hubungan-hubungan di
dalam kelompok, cenderung membangun pola dan saluran komunikasi yang jelas,
menjelaskan cara-cara mengerjakan tugas yang benar (Gibson, 1996).
2.5. Pengaruh Pemahaman Good Governance dan Gaya Kepemimpinan
Terhadap Kinerja Akuntan dalam Konteks Gender.
FCGI (2000) menyebutkan bahwa dengan melaksanakan good governance,
salah satu manfaat yang bisa dipetik adalah meningkatkan kinerja perusahaan
melalui terciptanya proses pengambilan keputusan yang lebih baik, meningkatkan
efisiensi operasional perusahaan serta lebih meningkatkan pelayanan kepada
stakeholders. Sebagian besar penelitian tentang good governance di tingkat
perusahaan dilakukan di Amerika dan negara-negara anggota Organization for
Economic Co-operation and Development (OECD) (Shleifer dan Vishny, 1997).
Penelitian dilakukan di negara yang sedang berkembang masih sangat sedikit. Black
7
(2001) berargumen bahwa pengaruh praktek good governance terhadap nilai
perusahaan akan lebih kuat di negara berkembang dibandingkan di negara maju.
Hal tersebut dikarenakan oleh lebih bervariasinya praktik good governance di negara
berkembang dibandingkan negara maju
Kapler dan Love (2002) menemukan adanya hubungan positif antara
corporate governance dengan kinerja perusahaan yang diukur dengan return on
assets (ROA) dan Tobin’s Q. Penemuan penting lainnya dari penelitian mereka
adalah bahwa penerapan good governance di tingkat perusahaan lebih memiliki arti
dalam negara berkembang dibandingkan negara maju. Hal tersebut menunjukkan
bahwa perusahaan yang menerapkan good governance akan memperoleh manfaat
lebih besar
di
negara yang
lingkungan hukumnya buruk.
Mitton (2000)
mengemukakan bahwa variabel-variabel yang berkaitan dengan good governance
mempunyai dampak yang kuat terhadap kinerja perusahaan selama periode krisis di
Asia Timur (tahun 1997 s/d 1998).
Gaya kepemimpinan berkenaan dengan cara–cara yang digunakan oleh
manajer untuk mempengaruhi bawahannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma
perilaku yang digunakan seorang manajer saat ia mempengaruhi perilaku
bawahannya. Jika kepemimpinan tersebut terjadi pada suatu organisasi formal
tertentu, dimana para manajer perlu mengembangkan karyawan, membangun iklim
motivasi, menjalankan fungsi-fungsi manajerial dalam rangka menghasilkan kinerja
yang
tinggi
dan
meningkatkan
kinerja
perusahaan,
maka
manajer
perlu
menyesuaikan gaya kepemimpinannya (Siagian, 2002:75).
Goleman (2004) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan manajer dapat
mempengaruhi produktifitas karyawan (kinerja karyawan), hasil penelitian ini
bertentangan dengan Siagian (2002) mengemukakan bahwa tidak semua gaya
kepemimpinan yang diterapkan oleh manajer dalam menjalankan aktifitasnya
mempunyai pengaruh yang sama terhadap pencapaian tujuan perusahaan, dalam
hal ini penggunaan gaya kepemimpinan yang tidak tepat oleh manajer justru akan
menurunkan kinerja karyawan. Sementara itu Alberto et al. (2005) menyatakan
bahwa gaya kepemimpinan berpengaruh positif terhadap kinerja.
8
Menurut Schwartz (1996), bidang akuntan publik merupakan salah satu
bidang kerja yang paling sulit bagi wanita karena intensitas pekerjaannya. Meski
demikian, bidang ini adalah bidang yang sangat potensial terhadap perubahan, dan
perubahan tersebut dapat meningkatkan lapangan pekerjaan bagi wanita. Schwartz
juga mengungkapkan bahwa sangat mudah untuk mengetahui mengapa jumlah
wanita yang menjadi partner lebih sedikit dibandingkan dengan pria. Salah satu
alasan yang dikemukakannya adalah adanya kebudayaan yang diciptakan untuk
pria (patriarkhi), kemudian juga tentang adanya stereotype tentang wanita, terutama
adanya pendapat yang menyatakan bahwa wanita mempunyai keterikatan
(komitmen) pada keluarga lebih besar daripada komitmen terhadap karir.
Berdasarkan logika dari tinjauan paparan diatas serta kesimpulan dari
landasan teori yang ada, maka dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
H1: Pemahaman good governance berpengaruh langsung terhadap kinerja akuntan.
H2: Gaya kepemimpinan berpengaruh langsung terhadap kinerja akuntan
H3:Terdapat perbedaan pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan
terhadap kinerja akuntan dalam konteks gender.
3. METODE PENELITIAN
3.1. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
3.1.1. Populasi
Populasi penelitian ini adalah akuntan yang bekerja di KAP, dan tersebar di
seluruh Indonesia yang tercatat pada Directory Ikatan Akuntan Indonesia (IAI)
Kompartemen Akuntan Publik 2007 terdapat 463 KAP dengan 1.058 akuntan publik
sebagai responden dalam penelitian ini.
3.1.2. Teknik Pengambilan Sampel
Prosedur pemilihan sampel ditentukan dengan menggunakan metode simple
random sampling. Menurut Arikunto (2006:134) jika populasinya besar atau subyek
penelitian lebih dari 100, maka pengambilan jumlah sampel dapat dilakukan antara
10-15% dari populasi atau subyeknya. Sampel minimal untuk penelitian ini adalah
10% × 1058 = 105.8 (dibulatkan 106 akuntan ).
9
3.1.3. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer
diperoleh dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah terstruktur dengan
tujuan untuk mengumpulkan informasi dari akuntan yang bekerja pada kantor
akuntan publik sebagai responden dalam penelitian ini. Sumber data dalam
penelitian ini adalah skor total yang diperoleh dari pengisian kuesioner yang telah
dikirim kepada responden.
3.2. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional variabel adalah bagaimana menemukan dan mengukur
variabel-variabel tersebut di lapangan dengan merumuskan secara singkat dan
jelas, serta tidak menimbulkan berbagai tafsiran. Berdasarkan kajian pustaka dan
penelitian terdahulu, pendekatan operasional variabel untuk masing-masing variabel
dalam penelitian ini adalah:
1. Kinerja Akuntan merupakan tindakan atau pelaksanaan tugas pemeriksaan yang
telah diselesaikan oleh akuntan dalam kurun waktu tertentu. Variabel kinerja
akuntan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan instrumen yang
dikembangkan oleh Larkin (1990) yaitu: kemampuan, komitmen profesi, motivasi
kerja, dan kepuasan kerja.
2. Pemahaman good governance didefinisikan seberapa jauh pemahaman atas
konsep tata kelola perusahaan yang baik oleh para auditor. Instrumen
pemahaman good governance diukur dengan menggunakan instrumen yang
dikembangkan oleh Indonesian Institute of Corporate Governance, diukur dengan
empat dimensi variabel yaitu: prinsip keadilan, transparansi, akuntabilitas, dan
pertanggungjawaban.
6. Gaya Kepemimpinan
Gaya
Kepemimpinan
yang
digunakan
oleh
seorang
pemimpin
untuk
mempengaruhi di dalam mengatur dan mengkoordinasikan bawahan dalam
rangka pencapaian tujuan perusahaan yang efektif. Gaya kepemimpinan dalam
penelitian ini adalah persepsian masing-masing auditor terhadap perilaku
pimpinan
atau
atasan
langsung
terhadap
10
bawahannya.
Variabel
gaya
kepemimpinan diukur dengan menggunakan instrumen yang dikembangkan oleh
Gibson (1996). Instrumen terdiri dari 5 item gaya kepemimpinan konsiderasi dan
4 item gaya kepemimpinan struktur inisiatif.
3.3. Teknik Analisis
Analisis data penelitian dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu antara lain :
Tahap pertama, melakukan uji kualitas data yaitu uji validitas dan uji reliabilitas.
Pengujian validitas menggunakan teknik corrected item-total correlation, yaitu
dengan cara mengkorelasi skor tiap item dengan skor totalnya. Butir pertanyaan
dinyatakan valid jika nilai r > 0.30 untuk masing-masing pertanyaan (Sugiyono,
2001:116). Sedangkan uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana
hasil pengukuran tetap konsisten apabila diukur dua kali atau lebih terhadap gejala
yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama. Indikator untuk uji reliabilitas
adalah Cronbach Alpha, apabila nilai Cronbach Alpha (α) > 0,60 menunjukkan
instrumen yang digunakan reliable (Sekaran, 2000:204). Apabila data yang diuji
sudah memenuhi kriteria reliabilitas, maka dapat dilakukan tahap selanjutnya, yaitu
pengujian hipotesis.
Tahap kedua, menganalisis pengaruh pemahaman good governance dan
gaya kepemimpinan terhadap kinerja akuntan. Analisis data menggunakan regresi
linier berganda yang dikembangkan oleh Atmaja (1997: 341) sebagai berikut.
Y = a + b1.X1 + b2.X2 + e
Dimana : Y = Nilai Y prediksi ; a = Intercept ; X1 = Pemahaman good governance;
X2 = Gaya kepemimpinan. b1 = Koefisien regresi pemahaman good governance ;
b2 = Koefisien regresi budaya organisasi ; e = Kesalahan prediksi (error)
Tahap ketiga, menganalisis perbedaan pemahaman good governance dan
gaya kepemimpinan terhadap kinerja akuntan publik pria dan wanita dengan
menggunakan alat analisis statistik
Independent Sample T- test. Untuk melihat
homogenitas variance data antara akuntan publik pria dan wanita peneliti melakukan
uji Levene’s Test. Level convidence pada penelitian ini adalah 95% dengan level
toleransi kesalahan 5%. Kesimpulan hasil analisis pada penelitian ini diarahkan pada
nilai-p (p-value). Apabila nilai-p lebih besar dari batas toleransi 5% berarti hasil
11
analisis menerima hipotesis null. Tetapi apabila nilai-p lebih kecil dari batas toleransi
5% maka hasil analisis menolak hipotesis null. Analisis data dijalankan dengan
bantuan program SPSS 12.00
3.4. Model Penelitian
Berdasarkan landasan teori dan hipotesis tersebut di atas, maka dapat dibuat
suatu kerangka pemikiran teoritis yang menggambarkan perbedaan kinerja akuntan
pria dan wanita. Adapun model penelitian yang menunjukkan kerangka pemikiran
teoritis dibuat dalam model skema pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1. Model Penelitian
Akuntan Publik
Pria
Pemahaman Good
Governance dan Gaya
Kepemimpinan
Akuntan Publik
Wanita
Kinerja Akuntan
Alat Analisis Atatistik
Uji Beda : Indepandent
Sample T Test
Tidak Ada
Perbedaan
Ada Perbedaan
12
4. HASIL ANALISIS DAN PENGUJIAN HIPOTESIS
4.1. Statistik Deskriptif
Variabel-variabel dalam penelitian ini sesuai dengan judul penelitian meliputi:
pemahaman good governance, gaya kepemimpinan, dan kinerja akuntan. Hasil
penyebaran kuesioner menunjukkan variabel pemahaman good governace dengan
delapan indikator, variabel gaya kepemimpinan dengan sembilan indikator, dan
variabel kinerja akuntan dengan dua belas indikator. Statistik deskriptif dari ketiga
variabel tersebut disajikan pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1. Statistik Deskriptif
Variabel
Jumlah
Rata-rata
Standar Deviasi
Pria
59
29.92
5.503
Wanita
48
32.42
7.626
Gaya
Pria
59
33.92
4.966
Kepemimpinan
Wanita
48
35.56
5.355
Kinerja Akuntan
Pria
59
44.00
5.206
Wanita
48
44.21
5.231
Pemahaman
Good governance
Gender
Sumber: Data primer diolah
4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas
4.3.1. Uji Validitas
Uji validitas konstruk dalam penelitian ini diuji dengan menggunakan crected
item total corrlation, yaitu dengan mengkorelasikan antara skor total denganskor
yang diperoleh pada masing-masing butir pertanyaan. Jumlah responden n = 107
(59 responden pria dan 48 responden wanita) dengan tingkat signifikansi 5%. Butir
pertanyaan dinyatakan valid jika nilai r > 0.30 untuk masing-masing pertanyaan
(Sugiyono, 2001:116). Berikut menunjukkan hasil uji validitas untuk masing-masing
variabel pemahaman good governance, gaya kepemimpinan, dan kinerja akuntan.
Tabel 2. berikut menjukkan hasil uji validitas pemahaman good governance.
13
Tabel 2. Hasil Uji Validitas Pemahaman Good Governance
Item-Total Statistics
GG1
Scale Mean if
Item Deleted
27.69
Scale
Variance if
Item Deleted
17.461
Corrected
Item-Total
Correlation
.362
Squared
Multiple
Correlation
.333
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
.805
GG2
27.48
15.403
.612
.621
.734
GG3
27.58
18.680
.359
.342
.791
GG4
27.93
15.051
.578
.516
.740
GG5
27.43
18.115
.484
.574
.760
GG6
27.44
14.852
.777
.677
.704
GG7
27.20
17.574
.516
.655
.755
GG8
27.07
17.881
.553
.578
.753
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan hasil pengujian validitas instrumen penelitian terhadap 107
responden menunjukkan bahwa semua item pertanyaan mempunyai nilai crected
item total corrlation yang lebih besar dari 0.30. Dengan demikian, semua item
pertanyaan untuk variabel pemahaman good governance adalah valid untuk
pengujian selanjutnya.
Tabel 3. Hasil Uji Validitas Gaya Kepemimpinan
Item-Total Statistics
Scale Mean if
Item Deleted
Scale
Variance if
Item Deleted
Corrected
Item-Total
Correlation
Squared
Multiple
Correlation
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
GK1
30.86
21.933
.613
.465
.896
GK2
30.68
21.596
.730
.714
.888
GK3
30.55
22.514
.649
.481
.894
GK4
30.81
21.021
.782
.648
.884
GK5
30.83
20.858
.713
.624
.888
GK6
31.00
20.057
.745
.607
.886
GK7
30.92
21.210
.655
.510
.893
GK8
30.83
21.217
.697
.710
.890
GK9
30.75
23.134
.490
.640
.904
Sumber : Data primer diolah
14
Berdasarkan hasil pengujian validitas instrumen penelitian terhadap 107
responden menunjukkan bahwa semua item pertanyaan mempunyai nilai crected
item total corrlation yang lebih besar dari 0.30. Dengan demikian, semua item
pertanyaan untuk variabel gaya kepemimpinan adalah valid untuk pengujian
selanjutnya.
Tabel 4. Hasil Uji Validitas Kinerja Akuntan
Item-Total Statistics
KA1
Scale Mean if
Item Deleted
40.60
Scale
Variance if
Item Deleted
20.677
Corrected
Item-Total
Correlation
.666
Squared
Multiple
Correlation
.851
Cronbach's
Alpha if Item
Deleted
.721
KA2
40.26
22.893
.435
.744
.751
KA3
40.54
25.288
.378
.506
.795
KA4
40.80
24.423
.329
.307
.773
KA5
40.39
22.882
.431
.748
.751
KA6
41.50
23.403
.341
.493
.779
KA7
40.08
24.399
.334
.704
.761
KA8
40.08
23.361
.467
.593
.749
KA9
40.21
22.316
.490
.692
.744
KA10
40.25
22.077
.564
.710
.737
KA11
39.90
24.037
.569
.726
.748
KA12
40.40
21.903
.661
.754
.728
Sumber : Data primer diolah
Berdasarkan hasil pengujian validitas instrumen penelitian terhadap 107
responden menunjukkan bahwa semua item pertanyaan mempunyai nilai crected
item total corrlation yang lebih besar dari 0.30. Dengan demikian, semua item
pertanyaan untuk variabel kinerja akuntan adalah valid untuk pengujian selanjutnya.
4.3.2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana hasil pengukuran
tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran dua kali atau lebih terhadap
pernyataan yang sama menggunakan alat ukur yang sama. Suatu alat pengukur
dikatakan reliabel jika nilai cronbach alpha (a) > 0,60 (Sekaran, 2000:204). Tabel 3.
berikut menunjukkan hasil pengujian reliabilitas.
15
Tabel 5. Hasil Uji Reliabilitas
Variabel Penelitian
Pemahaman Good Governance
Gaya Kepemimpinan
Kinerja Akuntan
Sumber : Data primer diolah
Cronbach
alpha (α)
0. 60
0..60
0. 60
Nilai
Cronbach
alpha (α)
0.781
0.902
0.770
Keterangan
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Hasil pengujian reliabilitas instrumen penelitian terhadap 107 responden
menunjukkan bahwa semua variabel penelitian mempunyai nilai Cronbach alpha (α)
lebih besar dari 0.60. Dengan demikian, semua item pertanyaan untuk variabel
pemahaman good governance, gaya kepemimpinan, dan kinerja akuntan adalah
reliabel untuk pengujian selanjutnya.
4.4. Pengujian Hipotesis
4.4.1. Pengaruh Pemahaman Good Governance dan Gaya Kepemimpinan
terhadap Kinerja Akuntan.
Hasil analisis regresi berganda dengan bantuan program SPSS (Statistical
Program for Social Science) diperoleh hasil secara simultan variabel independent
pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan pengaruhnya terhadap
kepuasan kerja. Tabel 6 berikut menunjukkan hasil analisis regresi linier berganda.
Tabel 6. Analisis Regresi Linier Berganda
Variabel
Koefisien
thitung
Independent
Regresi
GG (X1)
0.049
0.543
GK (X2)
0.254
2.674
Konstanta = 33.801
Dependent Variabel (Y) = Kinerja Akuntan
Fhitung = 3.801
R2
= 0.068
R
= 0.261
Sumber : Data primer diolah
16
Sig.
0.588
0.009
Koef. Korelasi
Partial
0.053
0.254
Hasil perhitungan diperoleh koefisien determinasi sebesar 0.068 artinya
bahwa independent variabel pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan
secara simultan mempengaruhi kinerja akuntan sebesar 6.8 % sedangkan sisanya
93,2% dijelaskan oleh faktor lain. Nilai R multiple (koefisien korelasi berganda)
sebesar 3.801 berarti hubungan antara seleruh independent variable secara
serempak dengan variable terikat adalah erat/kuat.
Berdasarkan hasil perhitungan data dengan bantuan program SPSS
diperoleh persamaan regresi linier berganda sebagai berikut:
Y = 33.801 + 0.049 X1 + 0.254 X2 + e
Konstanta sebesar 33.801 menunjukkan besarnya variabel kinerja akuntan (Y)
adalah tetap sebesar 33.801 dengan asumsi bahwa koefisien regresi variabel bebas
pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan sama dengan nol
atau
konstan.
Koefisien regresi untuk variabel pemahaman good governance (X1) sebesar
0.049 menunjukkan bahwa jika variabel bebas pemahaman good governance (X1)
meningkat satu satuan maka variabel terikat kinerja akuntan (Y) akan meningkat
sebesar 0.049 dengan asumsi konstanta dan koefisien regresi gaya kepemimpinan
(X2) sama dengan nol atau konstan.
Koefisien regresi untuk variabel gaya kepemimpinan (X2) sebesar 0.254
menunjukkan bahwa jika variabel bebas gaya kepemimpinan (X2) meningkat satu
satuan maka variabel terikat kinerja akuntan (Y) akan meningkat sebesar 0.254
dengan asumsi konstanta dan koefisien regresi pemahaman good governance (X1)
sama dengan nol atau konstan.
Hipótesis Pertama
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai thitung variabel pemahaman good
governance sebesar 0.543 dengan nilai-p sebesar
0.588 lebih besar dari batas
toleransi 0,05. Dengan demikian H0 diterima dan H1 ditolak, sehingga hipotesis
pertama yang menyatakan pemahaman good governance berpengaruh signifikan
terhadap kinerja akuntan tidak teruji kebenarannya.
17
Hipotesis Kedua
Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai thitung variabel gaya kepemimpinan
sebesar 2.674 dengan nilai-p sebesar 0,009 lebih kecil dari batas toleransi 0,05.
Dengan demikian
H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga hipotesis kedua yang
menyatakan gaya kepemimpinan berpengaruh significan terhadap kinerja akuntan
teruji kebenarannya.
4.4.2. Pemahaman Good Governance dan Gaya Kepemimpinan terhadap
Kinerja Akuntan dalam Konteks Gender.
Untuk menguji perbedaan pemahaman good governance dan gaya
kepemimpinan terhadap kinerja akuntan pria dan wanita, digunakan alat analisis
statistik Independen Sample T Test (Uji T untuk dua sampel independen). Hasil
analisis data dengan menggunakan independen sampel T Test tersebut dapat dilihat
pada Tabel 7 berikut.
Tabel 7. Hasil Pengolahan Independent Sampel T Test
Independent Samples Test
Levene's Test for
Equality of Variances
F
GG
GK
KA
Equal variances
assumed
Equal variances
not assumed
Equal variances
assumed
Equal variances
not assumed
Equal variances
assumed
Equal variances
not assumed
7.640
.001
.383
Sig.
.007
.970
.537
t-test for Equality of Means
t
Mean
Std. Error
Sig. (2-tailed) Difference Difference
df
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
Upper
-1.968
105
.052
-2.501
1.271
-5.022
.019
-1.905
83.162
.060
-2.501
1.313
-5.114
.111
-1.647
105
.102
-1.647
1.000
-3.630
.335
-1.635
97.216
.105
-1.647
1.008
-3.647
.353
-.205
105
.838
-.208
1.014
-2.219
1.802
-.205
100.427
.838
-.208
1.015
-2.221
1.804
18
Pemahaman Good Governance
Berdasarkan hasil pengolahan data, hasil uji T dengan sampel independen
data variabel pemahaman good governance menunjukkan nilai-p sebesar 0.052
lebih besar dari batas toleransi 0.05. Dengan demikian hasil analisis ini menerima
hipotesis null, berarti tidak ada perbedaan atau terdapat kesetaraan pemahaman
good governance antara akuntan pria dan wanita. Hasil uji Levene’s untuk variabel
pemahaman good governance menunjukkan nilai-p sebesar 0.007 yang lebih rendah
dari batas toleransi 0.05. Hal ini menunjukkan data variabel pemahaman good
governance untuk akuntan pria dan wanita memiliki variance yang berbeda.
Gaya Kepemimpinan
Berdasrkan hasil pengolahan data, hasil uji T dengan sampel independen
data variabel gaya kepemimpinan menunjukkan nilai-p sebesar 0.102 lebih besar
dari batas toleransi 0.05. Dengan demikian hasil analisis ini menerima hipotesis null,
berarti tidak ada perbedaan atau terdapat kesetaraan gaya kepemimpinan antara
akuntan pria dan wanita. Hasil uji Levene’s untuk variabel gaya kepemimpinan
menunjukkan nilai-p sebesar 0.970 yang lebih tinggi dari batas toleransi 0.05. Hal ini
menunjukkan data variabel gaya kepemimpinan untuk akuntan pria dan wanita
memiliki variance sama.
Kinerja Akuntan
Berdasrkan hasil pengolahan data, hasil uji T dengan sampel independen
data variabel kinerja akuntan menunjukkan nilai-p sebesar 0.838 lebih besar dari
batas toleransi 0.05. Dengan demikian hasil analisis ini menerima hipotesis null,
berarti tidak ada perbedaan atau terdapat kesetaraan kinerja antara akuntan pria
dan akuntan wanita. Hasil uji Levene’s untuk variabel kinerja akuntan menunjukkan
nilai-p sebesar 0.537 yang lebih tinggi dari batas toleransi 0.05. Hal ini menunjukkan
data variabel kinerja akuntan untuk akuntan pria dan wanita memiliki variance sama.
Hipotesis Ketiga
Berdasarkan hasil analisis data dengan menggunakan uji T atau Independent
Sample T Test, maka hipotesis ketiga yang menyatakan terdapat perbedaan
19
pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan yang secara langsung
berpengaruh terhadap kinerja akuntan dalam konteks gender tidak teruji
kebenarannya.
5. KESIMPULAN, SARAN DAN KETERBATASAN PENELITIAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa
pemahaman good governance tidak berpengaruh terhadap kinerja akuntan. Dengan
demikian, dapat diindikasikan bahwa akuntan yang hanya memahami good
governance saja, tetapi tidak diimplementasikannya dengan baik pada KAP maka
tidak akan mempengaruhi kinerjanya. Sedangkan gaya kepemimpinan berpengaruh
signifikan terhadap kinerja akuntan. Dengan demikian, seorang pemimpin dalam
KAP sangat dominan mempengaruhi kinerja akuntan (bawahannya). Berdasarkan
hasil analisis data dalam penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan pemahaman good governance dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja
akuntan antara akuntan pria dan wanita pada kantor akuntan publik diIndinesia.
5.2. Saran
Hasil
penelitian
ini
diharapkan
dapat
menambah
wacana
dalam
pengembangan literatur akuntansi keperilakuan. Selain itu diharapkan juga
bermanfaat bagi pihak-pihak terkait sebagai dasar dalam mempertimbangkan
rekruitmen pegawai, penilaian kinerja, perencanaan kerja, pendidikan profesi, dan
penetapan staf. Juga pengembangan sumberdaya organisasi sehingga dapat
meningkatkan kinerja akuntan secara optimal.
5.3. Keterbatasan Penelitian
Ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini, yang kemungkinan dapat
menimbulkan bias atau ketidakakuratan pada hasil penelitian. Pertama, penelitian ini
menggunakan metode survei melalui kuesioner, sehingga kesimpulan yang diambil
hanya berdasarkan pada data yang dikumpulkan melalui penggunaan instrumen
secara tertulis. Kedua, hasil penelitian ini hanya dapat dijadikan analisis pada obyek
penelitian yang terbatas pada profesi akuntan publik, sehingga memungkinkan
20
adanya perbedaan hasil dan kesimpulan apabila dilakukan penelitian dengan obyek
dan subyek penelitian yang berbeda. Ketiga, pengujian non respon bias tidak
dilakukan, sehingga tidak dapat mengetahui pengaruh non respon bias. Pengujian
tidak dapat dilakukan karena peneliti kesulitan dalam menentukan identitas
responden yang memberikan jawaban pertama kali dan terakhir kali. Jawaban non
respon bias mungkin berbeda dengan jawaban responden, sehingga mungkin akan
mengganggu hasil pengujian.
DAFTAR PUSTAKA
Alberto, A., Victor, J.G., dan Eulogio, C.P. 2005. Leadership and Organizational
Learning’s Role on Innovation and Performance: Lessons from Spain.
Industrial Management Marketing. Available online at www.sciencedirect.com.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi
Revisi VI Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Black, Bernard S. 2001. The corporate governance behavior and market value of
Russian Firms. Emerging Market Review, (2) : 98 -108.
Directory Ikatan Akuntan Indonesia. 2007. Ikatan akuntan Indonesia, Kompartemen
akuntan Pendidik.
Fakih, Mansour.1996. Menggeser Konsepsi (lender dan Transformasi Social.
Yogyakarta. Pustaka Pelajar.
-------------------,1999. Gender dan Perubahan Organisasi. Yogyakarta. Pustaka
Pelajar.
Fleishman, A dan Peters, D.R. 1962. Leadership Attitudes and Managerial
“Success”. Personel Psychology. 127-143.
Gibson James. L, Ivancevich John M dan Donnely James H, Jr. 1996. Organisasi:
Perilaku, Struktur dan Proses. Terjemahan. Jilid 1. Penerbit Binarupa Aksara,
Jakarta.
Goleman, D. , Boyatzis R., dan McKee Annie. 2004. Kepemimpinan Berdasarkan
Kecerdasan Emosi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
21
Kalbers, P., Lawrence and Timothy J. Forgarty. 1995. Profesionalism and Its
Consequences: A Study of Internal Auditors . Auditing: A Journal of Practice
Vol. 14. No. 1 : 64-86.
Klapper, Leora F. dan Love. 2002. Corporate governance, investor protection, and
performance in emerging markets. World Bank Working Paper.
http://ssrn.com.
Larkin, Joseph M. 1990. Does Gender Affect Auditor KAPs' Performance ?, The
Women CPA, Spring. pp.20-24.
Luthans, Fred. 2002. Organizational Behavior. ninth Edition. McGraw-Hill. Inc., New
York.
Mangkunegara, Anwar Prabu. 2005. Evaluasi Kinerja SDM. Cetakan Pertama. PT.
Refika Aditama, Bandung.
Mitton, T. 2000. A cross-firm analysis of the impact of corporate governance on the
East Asian financial crisis. Journal of Financial Economics.
Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), 1998. OECD
Principles of Corporate Governance, Meeting of OECD Council at Ministerial
Level.
Satyo. 2005. Mendorong Good Governance dengan Mengembangkan Etika di KAP.
Media Akuntansi. Edisi Oktober : 39-42
Schawrtz, Felice N. 1996. Women in the profession. Journal of Accountancy
(February): 39-42.
Sekaran, Uma. 2000. Research Methods For Business: A Skill-Building Approach.
Third Edition. John Wiley & Sons. Inc. New York.
Shleifer, A dan R.W. Vishny. 1997. A Survey of Corporate Governance. Journal of
Finance, (52) :737-783
Siagian, Sondang P. 2002. Kiat Meningkatkan Produktivitas Kerja. PT. Ardi
Mahasatya, Jakarta.
Sugiyono. 2001. Metode Penelitian Bisnis. Penerbit Alfabeta, Bandung.
Taylor, Donald H., G. William Glezen. 1991. Auditing: Integrated Concept and
Procedures. 5th Edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.
22
23
Fly UP