...

full text - Jurnal IAIN Mataram

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

full text - Jurnal IAIN Mataram
Pengaruh Model Problem........(Risnawati)
PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING DENGAN POSTER SESSION
TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP DAN KOMUNIKASI MATEMATIKA
MAHASISWA PENDIDIKAN MATEMATIKA PADA MATA KULIAH GEOMETRI
Risnawati
(Pendidikan Matematika UIN Sultan Syarif Kasim Riau, Email: [email protected])
Abstrak
Pemahaman konsep dan komunikasi matematika dipengaruhi oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah metode pembelajaran. Pada umumnya, metode pembelajaran yang digunakan
masih secara konvensional sehingga pemahaman konsep dan komunikasi matematika mahasiswa
tergolong rendah. Mahasiswa cenderung hanya mendengar, mencatat definisi, rumus, contoh
soal, dan mengerjakan latihan. Salah satu metode pembelajaran yang berpeluang untuk
meningkatkan pemahaman konsep dan komunikasi matematika mahasiswa pendidikan
matematika, fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim
Riaun adalah model Problem Based Learning dengan Poster Session. Penelitian ini menerapkan
metode quasi eksperimen. Desain penelitian ini adalah Randomized Control-Group Posttest Only
Design. Untuk mendapatkan data penelitian digunakan instrumen berupa tes pemahaman konsep,
komunikasi dan lembar observasi. Jumlah sampel 69 mahasiswa yang tersebar dalam dua kelas.
Analisis data dilakukan terhadap data hasil postes untuk melihat perbedaan rata-rata antara dua
kelompok sampel dengan menggunakan uji-t.
Berdasarkan hasil analisis data postes diperoleh temuan pemahaman konsep dan komunikasi
matematika mahasiswa yang diajar model PBL dengan Poster Session lebih tinggi dibandingkan
dengan perkuliahan biasa. Berdasarkan temuan penelitian, maka penerapan model PBL dengan
Poster Session dapat dijadikan sebagai alternatif metode pembelajaran yang dapat diterapkan
dalam upaya meningkatkan pemahaman konsep dan komunikasi matematika.
Kata Kunci: Problem Based Learning, Poster Session, Pemahaman Konsep, dan Komunikasi
Matematika.
152
Pengaruh Model Problem........(Risnawati)
PENDAHULUAN
Pemahaman konsep dan komunikasi matematika mahasiswa sebagai calon guru perlu
dikembangkan dalam pembelajaran matematika di tingkat perguruan tinggi. Dalam National
Council of Teacher Mathematics (NCTM) 2000 dijelaskan pula bahwa pemahaman matematis
merupakan aspek yang sangat penting dalam prinsip pembelajaran matematika, karena
pemahaman konsep merupakan prasyarat seseorang untuk memiliki kemampuan pemecahan
masalah. Sebab, ketika seseorang belajar matematika memahami konsep-konsep, maka saat
itulah orang tersebut mulai merintis kemampuan-kemampuan berpikir matematis, salah satunya
adalah komunikasi matematika. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Sumarmo (2010) yang
menyatakan pemahaman konsep penting dimiliki siswa, karena diperlukan untuk menyelesaikan
masalah matematika, masalah dalam disiplin ilmu lain, dan masalah dalam kehidupan seharihari, yang merupakan visi pengembangan pembelajaran matematika untuk memenuhi kebutuhan
masa kini.
Kemampuan berpikir matematis telah banyak mendapat perhatian para peneliti maupun
pendidik. Gagasan aktivitas matematis yang berfokus pada kemampuan berpikir matematis
tersebut memandang matematika sebagai proses berpikir aktif, dinamik, generatif, dan
eksploratif. Menamakan proses matematika itu dengan istilah bernalar dan berpikir matematika
tingkat tinggi (high-level mathematical thinking and reasoning) (Sumarmo, 2000). NCTM (1989
; dan 2000) mengusulkan aspek yang termasuk ke dalam berpikir tingkat tinggi ini adalah
pemecahan masalah matematis, komunikasi matematis, penalaran matematis, dan koneksi
matematis.
Geometri merupakan mata kuliah yang memiliki kegunaan yang sangat penting karena
materi geometri telah diajarkan dari tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas.
Oleh karena itu, Para mahasiswa calon guru matematika hendaklah menguasai materi geometri
ini dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi kenytaan dilapangan, banyak mahasiswa yang
mengulang pada mata kuliah ini. Oleh karena itu, peneliti tertarik melakukan penelitian
“Pengaruh Model Problem Based Learning dengan Poster Session terhadap Pemahaman
Konsep dan Komunikasi Mahasiswa Pendidikan Matematika pada Mata Kuliah Geometri.
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan
mahasiswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat
mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki
153
Pengaruh Model Problem........(Risnawati)
ketrampilan untuk memecahkan masalah (Kamdi, 2007: 77). PBL atau pembelajaran berbasis
masalah sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata
sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan
pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi
pelajaran.
PBL memiliki karakteristik sebagai berikut: (1) belajar dimulai dengan satu masalah, (2)
memastikan bahwa masalah tersebut
berhubungan dengan dunia
nyata siswa,
(3)
mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu, (4) memberikan
tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung
proses belajar mereka sendiri, (5) menggunakan kelompok kecil, dan (6) menuntut siswa untuk
mendemonstrasi-kan yang telah mereka pelajari dalam bentuk produk atau kinerja. Guna
menunjang pendemonstrasian mahasiswa ini, maka mahaisswa dapat menggunakan poster
session. Mahasiswa dapat membuat gambaran visual dari materi yang dia pahami dan kemudian
mempresentasikannya.
Berdasarkan uraian di atas, tampak jelas bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai
oleh adanya masalah yang dalam hal ini dapat dimunculkan oleh siswa ataupun guru, kemudian
siswa memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang
mereka perlu ketahui untuk memcahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih masalah yang
dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong berperan aktif dalam belajar
METODE PENELITIAN
1.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi eksperiment), dimana variabel
penelitian tidak memungkinkan untuk dikontrol secara penuh. Desain yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Randomized Control-Group Posttest Only Design. Desain ini melibatkan
dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang akan memperoleh perlakuan dengan model
Problem Based Learning dengan Poster Session (X), dan kelompok kontrol yang
mendapatkan perkuliahan biasa. Dua kelompok tersebut diberikan tes akhir atau postest
(Lufri, 2007: 69). Rancangan penelitian disusun seperti Tabel 1 berikut:
154
Pengaruh Model Problem........(Risnawati)
Tabel 1. Rancangan Penelitian
Kelompok
Perlakuan
Postest
Eksperimen
X
O
Kontrol
-
O
Keterangan:
X : Perkuliahan menggunakan model PBL dengan Poster Session
O :
2.
Postest
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa Jurusan PMT FTK UIN Suska Riau
yang mengambil mata kuliah Telaah Materi Matematika II pada semester genap yaitu
semester IV (empat) tahun akademik 2011/2012 yang tersebar dalam 3 kelas. Dari ketiga
kelas tersebut, diambil sampel untuk memilih dua kelas, yaitu satu kelas untuk kelompok
eksperimen dan satu kelas untuk kelompok kontrol.
Sebelum melakukan pengambilan sampel dari populasi, dilakukan uji normalitas, uji
homogenitas variansi, dan uji kesamaan rata-rata terhadap nilai geometri bidang pada
semester ganjil yaitu semester III (tiga) tahun akademik 2011/2012. Setelah dilakukan
pengujian ternyata populasi normal dan homogen serta rata-rata kelompok mahasiswa dari
ketiga kelas sama. Oleh karena itu, untuk menentukan sampelnya digunakan cara random
sampling dimana populasi diacak (kelas). Selanjutnya, untuk menentukan kelompok
eksperimen dan kelompok kontrol dilakukan dengan pengundian, terpilih kelas A sebanyak
33 orang sebagai kelompok kontrol dan kelas C sebanyak 36 orang sebagai kelompok
eksperimen
HASIL PENELITIAN
Kemampuan pemahaman konsep dan pengomunikasian matematika dianalisis melalui data
hasil postest. Setelah dilakukan pengolahan data hasil tes kemampuan pemahaman konsep dan
pengomunikasian matematika kedua kelompok diperoleh skor tertinggi, skor terendah, skor ratarata, dan standar deviasi seperti pada Tabel 2.
155
Pengaruh Model Problem........(Risnawati)
Tabel 2. Skor Tertinggi, Skor Terendah, Skor Rata-rata, dan Standar Deviasi Tes Pemahaman
Konsep dan Pengomunikasian Matematika
Aspek
Skor
Kelompok Eksperimen
Kelompok Kontrol
Maks xmin xmaks x
xmin xma x
s
S
ks
Pemahaman Konsep
8
2
8
6,42
1,71
0
8
5,52
2,37
Pengomunikasian
1
3
12
9,31
2,63
2
12
8,12
2,84
Matematika
2
Keseluruhan
2
6
20
15,72
4,17
2
20
13,64
5,01
0
Hipotesis pertama yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Kemampuan pemahaman
konsep mahasiswa yang diajar dengan menerapkan model PBL dengan Poster Session dalam
perkuliahan Geometri lebih baik daripada kemampuan pemahaman konsep mahasiswa dengan
perkuliahan biasa”. Berdasarkan hipotesis penelitian tersebut, maka hipotesis nol (Ho) yang diuji
adalah: “Tidak terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep mahasiswa yang diajar
dengan menerapkan model PBL dengan Poster Session dalam perkuliahan Geometri Matematika
dan model perkuliahan biasa”.
Dari hasil perhitungan perbedaan rata-rata menggunakan uji t pada  = 0,05 diperoleh
thitung = 1,82 dan ttabel = 1,65 (perhitungan lengkap lihat Lampiran D hlm. 229). Dengan demikian,
kriteria thitung < tdaftar tidak terpenuhi. Hal ini menunjukkan Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya,
nilai rataan postest kemampuan pemahaman konsep kelompok eksperimen lebih besar daripada
kelompok kontrol. Dengan kata lain, kemampuan pemahaman konsep mahasiswa yang diajar
dengan menerapkan model PBL dengan Poster Session dalam perkuliahan Geometri Matematika
lebih baik daripada kemampuan pemahaman konsep mahasiswa dengan perkuliahan biasa.
Hipotesis kedua yang diajukan dalam penelitian ini adalah “Kemampuan pengomunikasian
matematika mahasiswa yang diajar dengan menerapkan model PBL dengan Poster Session
dalam perkuliahan Geometri lebih baik daripada kemampuan pengomunikasian matematika
mahasiswa dengan perkuliahan biasa”. Berdasarkan hipotesis penelitian tersebut, maka hipotesis
nol (Ho) yang diuji adalah: “Tidak terdapat perbedaan kemampuan pengomunikasian matematika
mahasiswa yang diajar dengan menerapkan model PBL dengan Poster Session dalam Geometri
dan model perkuliahan biasa”.
156
Pengaruh Model Problem........(Risnawati)
Dari hasil perhitungan perbedaan rata-rata menggunakan uji t pada  = 0,05 diperoleh thitung =
1,80 dan ttabel = 1,65. Dengan demikian, kriteria thitung < tdaftar tidak terpenuhi. Hal ini
menunjukkan Ho ditolak dan Ha diterima. Artinya, nilai rataan postest kemampuan
pengomunikasian matematika kelompok eksperimen lebih besar daripada kelompok kontrol.
Dengan kata lain, kemampuan pengomunikasian matematika mahasiswa yang diajar dengan
menerapkan model PBL dengan Poster Session dalam perkuliahan Geometri lebih baik daripada
kemampuan pengomunikasian matematika mahasiswa dengan perkuliahan biasa
PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data postes yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa skor rata-rata
kemampuan pemahaman konsep, pengomunikasian matematika dan skor secara keseluruhan,
pada kelompok eksperimen yang menggunakan model PBL dengan Poster Session lebih baik
dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menggunakan perkuliahan biasa. Tingginya
perolehan skor postes pada kelompok eksperimen disebabkan karena dalam perkuliahan dengan
model PBL dengan Poster Session memberikan peluang kepada mahasiswa untuk bekerja sama,
saling bertukar pikiran dengan sesamanya dan saling membantu dalam menyelesaikan tugas
yang diberikan dosen.
Selain itu, standar deviasi pada kelompok eksperimen lebih rendah dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Ini berarti kemampuan pemahaman konsep dan pengomunikasian matematika
mahasiswa yang mengikuti perkuliahan dengan model PBL dengan Poster Session lebih seragam
dibandingkan kemampuan pemahaman konsep dan pengomunikasian matematika mahasiswa
yang mengikuti perkuliahan biasa.
Dari data skor rata-rata postes kemampuan pemahaman konsep mahasiswa, kelompok
eksperimen lebih baik daripada kelompok kontrol. Artinya, kemampuan pemahaman konsep
yang diperoleh melalui perkuliahan model PBL dengan Poster Session dapat tersimpan lebih
lama dan lebih mudah. Hal ini disebabkan karena mahasiswa dalam perkuliahan diberi
kemandirian dalam mengkontruksi pemahaman sendiri.
Kemampuan pengomunikasian matematika dari data skor rata-rata postes juga lebih baik
dengan perkuliahan model PBL dengan Poster Session. Hal ini karena mahasiswa lebih leluasa
berkomunikasi baik lisan maupun tulisan dengan anggota kelompoknya. Temuan ini didukung
oleh pendapat Kramaski (2000:167) yang mengatakan bahwa mempertinggi kemampuan
157
Pengaruh Model Problem........(Risnawati)
komunikasi matematika secara alami adalah dengan memberi kesempatan belajar kepada
mahasiswa dalam kelompok kecil dimana mereka dapat berinteraksi.
Mahasiswa yang mampu menempatkan ide dan pemahamannya dengan baik, akan lebih
mudah mengomunikasikan materi yang menjadi keahliannya kepada kelompok dan dapat
menyelesaikan persoalan dengan urutan-urutan yang sistematis. Jika mahasiswa telah mampu
untuk mengomunikasikan persoalan matematika dengan baik dan sistematis, maka mahasiswa
tersebut telah memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat
Romberg dan Chair (dalam Sumarmo, 2002: 15), salah satu aspek berpikir tingkat tinggi dalam
matematika adalah kemampuan komunikasi dalam matematika. Uzi (2006: 6), yang menyatakan
bahwa mahasiswa yang memiliki kemampuan lebih tinggi menunjukan solusi penyelesaian yang
lebih sistematik.
Dari temuan di atas, terbukti bahwa kemampuan pemahaman konsep dan pengomunikasian
matematika mahasiswa berkembang lebih baik pada mahasiswa yang mengikuti perkuliahan
Telaah Materi Matematika dengan model PBL dengan Poster Session dibandingkan dengan
perkuliahan biasa
KESIMPULAN
1.
Kemampuan pemahaman konsep mahasiswa yang diajar dengan menerapkan model PBL
dengan Poster Session dalam perkuliahan Geometri Matematika lebih baik daripada
kemampuan pemahaman konsep mahasiswa dengan perkuliahan biasa.
2.
Kemampuan pengomunikasian matematika mahasiswa yang diajar dengan menerapkan
model PBL dengan Poster Session lebih baik daripada kemampuan pengomunikasian
matematika mahasiswa dengan perkuliahan biasa.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Nurhayati. 2000. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Beroriantasi
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction). Program Studi
Pendidikan Matematika Pasca Sarjana. UNESA.
Arikunto, Suharsimi.1997. Prosedur penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Baedhowi. 2007. Kebijakan Pengambangan Kurikulum. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional.
158
Pengaruh Model Problem........(Risnawati)
Billstein, (1993). A Problems Solving Approach to Mathematics for Elementary School
Teahers. Fith Edition. New York: Addison Wesley Publishing Company.
Buchori, dkk. 2005. Jenius Matematika3 untuk SMP/MTS Kelas IX. Semarang:Aneka Ilmu.
Darsono, Max, dkk. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang.
Delva, Dianne, (2006), Problem Based Learning/Tutor Handbook. Fakulty of Mediecine
Queen’n University
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Jurnal Matematika, Sains dan Pembelajarannya. 2005. Wahana Matematika dan Sains.FP MIPA
IKIP N Singaraja
J.A, Dahlan. 2004. Meningkatkan Kemampuan Penalaran dan Pemahaman Matematik Siswa
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama melalui Pendekatan Open-Ended (Disertasi).
Bandung: UPI Bandung.
Kurniawan, Rudi. 2006. Pembelajaran Dengan Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan
Kemampuan Koneksi Matematik Siswa SMK (Tesis). Bandung: PPS UPI.
Mulyasa, E. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ibrahim, Muslimin dan Nur. 2000. Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya: UNESA.
Nurhadi. 2003. Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) Dan
Penerapannya Dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang..
Ronnis, Diane. 2000. Problem- Based Learning for Math and Science: Integrating Inquiry and
the Internet. Illionos: Skylight Professional Devalopment .
Sumiyati. 2007. Kebijakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Pusat
Kurikulum Balitbang Depdiknas.
Syaiful Bahri. 2002. Srategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rhineka Ilmu.
Suyitno, Amin. 2004. Dasar-dasar Proses Pembelajaran Matematika: Semarang: Jurusan
Matematika. Tri Anni, Catharina. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK
UNNES.
159
Fly UP