...

Document

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

Document
II.
TINJAUAN PUSTAKA
1.1. Petis Daging
Petis daging merupakan petis yang terbuat dari ekstrak daging, yaitu
cairan yang dihasilkan dari hasil perebusan daging (Suprapti, 2001). Menurut
Astawan (2004), petis daging merupakan produk yang menyerupai bubur kental,
elastis, liat berwarna coklat muda dan memberikan rasa yang dominan pada
makanan tradisional dari beberapa tempat di pulau Jawa. Pembentukan warna
cokelat atau hitam pada petis, dapat dilakukan dengan menambahkan pewarna
buatan, pewarna londo (air rendaman abu merang/ batang padi) yang justru
menimbulkan rasa pahit pada petis, ataupun tinta cumi–cumi yang dapat
menghasilkan warna hitam yang bagus, juga mampu memberikan cita rasa yang
khas pada petis (Suprapti, 2001).
Petis daging termasuk golongan makanan semi basah yang memiliki kadar
air sekitar 10-40 persen, nilai Aw (Aktivitas air) 0,65-0,90 dan mempunyai tekstur
plastis. Beberapa keuntungan makanan semi basah, antara lain tidak memerlukan
fasilitas penyimpanan yang rumit, lebih awet, sudah dalam bentuk siap
dikonsumsi, mudah penanganannya, dan bernilai gizi cukup baik (Suprapti, 2001).
Ciri-ciri petis yang baik adalah berwarna cerah, umumnya coklat kehitaman,
berbau sedap, kental tetapi sedikit lebih encer daripada margarin. Kerusakan pada
petis dapat diketahui dengan adanya pertumbuhan cendawan pada permukaan
petis. Hal ini terjadi pada petis yang memiliki kadar air yang cukup tinggi.
Komposisi gizi pada petis yang ada dipasaran sangat bervariasi tergantung
pada bahan baku yang digunakan dan cara pembuatanya serta permintaan
konsumen (Subani, 1981). Penambahan gula dan tepung dalam proses
6
pembuatannya menyebabkan cukup tingginya kadar karbohidrat pada petis yaitu
sekitar 20-40 g per 100 g. Kandungan mineral yang cukup berarti pada petis
adalah kalsium, fosfor dan zat besi masing-masing sebanyak 37 mg, 36 mg per
100 g serta kandungan protein yang cukup tinggi (15-20 g/100 g) (Astawan,
2004). Kandungan unsur nilai gizi petis dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Kandungan Unsur Gizi Dalam Petis Daging
Unsur Gizi
Protein
Lemak
Karbohidrat
Mineral
Kalsium
Fosfor
Zat Besi
Air
Kadar / 100 g bahan
15 – 20,0 g
0,2 g
20 – 40,0 g
23,8 g
37,0 mg
36,0 mg
2,8 mg
56,0 g
Sumber : Suprapti (2001)
1.2. Bahan Baku Petis
Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan petis daging meliputi bahan
baku utama yang disebut kaldu / ekstrak perebusan daging dan bahan tambahan
yang meliputi tepung tapioka, gula merah, gula pasir, bumbu-bumbu serta garam
(Suprapti, 2001).
1.2.1. Daging
Daging adalah sumber protein hewani yang bermutu tinggi dan perlu
dikonsumsi oleh anak-anak dan orang dewasa agar cerdas, sehat, tumbuh secara
normal, dan lebih produktif. Sebagai bahan pangan daging tersusun atas
komponen-komponen bahan pangan yang dibutuhkan tubuh seperti protein,
lemak, kaborhidrat, vitamin, mineral, air dan pigmen. Kadar masing-masing
7
komponen tersebut berbeda-beda besarnya tergantung kepada jenis atau ras, umur
dan jenis kelamin (Muchtadi dan Sugiono, 1992). Soeparno (2009) menambahkan
kualitas daging dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor sebelum
pemotongan dan setelah pemotongan. Faktor sebelum pemotongan meliputi
genetik, spesies, bangsa, tipe ternak, jenis kelamin, umur pakan dan zat aditif,
sedangkan faktor setelah pemotongan meliputi metode pelayuan, pemasakan,
tingkat keasaman daging dan lain-lain.
Komposisi kimia daging terdiri dari air 75%, protein 19%, lemak 2.5%,
dan substansi bukan protein terlarut 3,5% yang meliputi karbohidrat, garam
organik, substansi nitrogen terlarut, mineral, dan vitamin (Lawrie, 1995).
Hasbullah (2005) menambahkan komposisi zat gizi daging kerbau terlihat pada
Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Komposisi Zat Gizi Daging Kerbau Per 100 g Bahan
Daging
Zat gizi
Air (gram)
Protein (gram)
Energi (K)
Lemak (gram)
Kalsium (mg)
Besi (mg)
Vitamin A (SI)
Kerbau
84
18,7
84
0,5
7
2
0
Sapi
66
18,8
207
14
11
2,8
30
Sumber : Hasbullah (2005)
1.2.2. Kaldu Daging
Menurut SNI No 01-4218-1996 (BSN, 1996), kaldu daging merupakan
produk yang diperoleh dari daging atau daging unggas dengan cara memasak
bahan kaya protein atau sarinya dan atau hidrolisatnya dengan air dengan atau
tanpa penambahan bumbu atau bahan penyedap. Kaldu daging diperoleh dari hasil
8
perebusan daging, karena pada proses perebusan tersebut terjadi pengkerutan serat
otot yang menyebabkan cairan dari daging akan keluar (Winarso, 2003). Cairan
daging yang keluar akan membawa ekstrak yang mengandung air, vitamin, garam
yang larut dalam air serta peptida (rantai pendek asam amino) (Amertaningtyas et
al., 2001).
Produk yang dapat dihasilkan dari limbah daging (kaldu) adalah kecap dan
petis daging (Rosyidah, 2005). Kaldu daging mengandung sejumlah zat gizi dan
komponen cita rasa, seperti protein, asam amino, vitamin dan mineral (Astawan,
2004). Menurut Kusumawati (2005), kaldu daging mengandung protein 2,48%,
nitrogen amino 0,19%, lemak 16,59%, kadar gula 10,04% dan kadar air 94,46%.
Kaldu daging memberikan cita rasa gurih pada petis daging karena mengandung
dua komponen utama, yaitu peptida dan asam amino. Jenis asam amino glutamat
pada kaldu daging merupakan asam amino yang paling dominan menentukan rasa
gurih. Sifat asam glutamat yang ada pada kaldu daging sama dengan asam
glutamat yang terdapat pada monosodium glutamat (MSG) yang berbentuk bubuk
penyedap rasa (Astawan, 2004). Departemen Perindustrian telah mengeluarkan
standar mutu kaldu daging, yaitu Standar Nasional Indonesia (SNI) No 01-42181996. Standar ini meliputi beberapa parameter penting yang mempengaruhi
kualitas kaldu daging. Persyaratan mutu kaldu terdapat pada Tabel 2.3.
9
Tabel 2.3. Persyaratan Mutu Kaldu Daging
Jenis
Keadaan (warna, bau dan rasa)
Kadar nitrogen total
Satuan
(mg/l)
Kadar nitrogen amino
Kadar nitrogen klorida
(mg/l)
(g/l)
Lemak
Bahan tambahan makanan
Cemaran logam
Pb dalam produk kering
Pb dalam kemasan kaleng
-Sn
-Cu
-As
Cemaran mikroba dan
mikroba Pathogen/spora
Clostridium Botulinum (untuk
produk dalam Kaleng dengan
pH >4,6)
(g/l)
-
Persyaratan
Normal
- Min 100 (Kaldu daging, kaldu
daging unggas)
- Min 160 (Konsumsi daging
sapi )
- Min 350 (Kaldu daging
lainnya)
Min 210 (Kaldu daging lainnya)
Maksimal 12.5
Minimal 3 (Kaldu daging
berlemak)
Sesuai SNI 01-0222-1995
(mg/kg)
(mg/kg)
(mg/kg)
(mg/kg)
(mg/kg)
-
Maksimal 1.00
Maksimal 0.50
Maksimal 150
Maksimal 1
Maksimal 20
Negatif
Sumber : Standar Nasional Indonesia No 01-4218-1996
1.2.3. Tepung Beras
Tepung beras merupakan sumber nutrisi, hal ini karena komposisinya
sangat lengkap. Komposisi utama tepung beras selain karbohidrat yang bagian
utamanya yaitu pati, juga terdapat protein dan lemak. Lemak akan melapisi
amilosa yang meleleh sehingga menghambat proses retrogadasi pati (Colona et
al., 1992). Pati tepung beras dapat membentuk gel yang lembut sehingga banyak
digunakan dalam berbagai industri pangan. Tepung memberikan warna yang
terang atau sedikit agak krem dan memiliki larutan yang jernih (Indoh et al.,
10
2006). Amilosa merupakan fraksi utama yang menyusun pati beras, bersifat larut
dalam air panas dan amilopektin bersifat tidak larut (Singh et al., 2003).
1.2.4. Gula Merah
Gula merah merupakan jenis gula yang terbuat dari nira, yaitu cairan yang
dikeluarkan dari bunga pohon keluarga palm, seperti kelapa, aren dan siwalan.
Kuantitas dan kualitas gula kelapa yang diperoleh dipengaruhi oleh karakteristik
kelapa yang disadap, teknik penyadapan, teknik pengawetan nira dan
pengolahannya (Rumokoi, 1994).
Gula merah tersusun dari monosakarida yang terikat secara kimia, yaitu
glukosa dan fruktosa. Ikatan ini bisa dipotong secara hidrolisis atau dengan asam
atau dengan enzim invertase. Hasil hidrolisa ini akan menghasilkan campuran
yang terdiri dari glukosa dan fruktosa yang disebut dengan gula invert (Edwards,
2000). Gula menambah rasa manis dan kelezatan, mengurangi rasa asin
berlebihan akibat penambahan garam, memperbaiki aroma dan tekstur.
1.2.5. Gula Pasir
Pada proses pemasakan, gula pasir/sukrosa mengalami perubahan, mulamula mencair dengan adanya pemanasan suhu tinggi yang melebihi titik lebur
sukrosa kemudian membentuk karamel yang teksturnya liat dan agak keras
(Kisman et al., 2000). Pada pembuatan petis daging, gula memiliki peran yang
penting yaitu dapat menurunkan Aw dibawah 0,9 sehingga dapat mencegah
pertumbuhan bakteri dan menghambat pertumbuhan kapang (Susanto dan
Widyaningtyas, 2004). Gula digunakan sebagai pengawet dan lebih efektif bila
dipakai dengan tujuan menghambat pertumbuhan bakteri.
11
1.2.6. Bumbu
Campuran bumbu berguna untuk menambah aroma, cita rasa, dan untuk
memperpanjang daya awet. Beberapa jenis rempah telah diketahui mempunyai
daya antimikroba. Rempah-rempah atau bumbu adalah sejenis tanaman atau
sayuran beraroma, baik berupa rimpang, daun, kulit pohon, buah, biji, maupun
bagian tanaman lainnya yang digunakan untuk meningkatkan cita rasa makanan.
Tujuan utama pemakaian rempah-rempah pada masakan adalah meningkatkan cita
rasa yang enak dan gurih, sehingga mampu membangkitkan selera makan, serta
menjadi bahan pengawet (Astawan, 2004). Bumbu-bumbu yang digunakan untuk
pembuatan petis daging antara lain bawang putih, salam, bawang merah, jahe,
serai, daun jeruk purut dan garam.
1.3. Sifat Kimia Petis Daging Kerbau
1.3.1. Kadar Air
Petis dapat juga dikategorikan sebagai makanan semi basah yang memiliki
kadar air sekitar 10 - 40 persen, nilai Aw (aktivitas air) 0,65 - 0,90, dan
mempunyai tekstur plastis. Beberapa keuntungan pangan semibasah, antara lain
tidak memerlukan fasilitas penyimpanan yang rumit, lebih awet, sudah dalam
bentuk siap dikonsumsi, mudah penanganannya, dan bernilai gizi cukup baik
(Astawan, 2004).
Makanan dengan kadar air berkisar 15 - 50 persen digolongkan sebagai
makanan semi basah Intermediate Moisture Foods (IMF), yang sudah tentu
memiliki daya awet lebih lama dibandingkan makanan basah lainnya (Astawan,
2004). Bahan pangan setengah lembab yang berasal dari daging merupakan
bagian dari kelompok bahan pangan setengah lembab Intermediate Moisture
12
Foods (IMF). Intermediate Moisture Foods (IMF) adalah campuran suatu bahan
pangan, yang pada umumnya ditambah dengan bahan pengikat air yang dapat
menurunkan Aw produk sehingga pertumbuhan mikroorganisme terhambat.
Bahan pengontrol (humektan) yang ditambahkan biasanya sodium klorida,
sukrosa, dan alkohol polihidrik. Produk ini biasanya mempunyai kisaran Aw
antara 0,60 – 0,80, kadar air antara 15 – 30%, dan tidak membutuhkan suhu
rendah untuk penyimpanannya. Intermediate Moisture Foods (IMF) dapat juga
dibuat dengan cara merendam potongan daging, sayatan daging, atau daging
giling ke dalam larutan yang terdiri atas sodium khlorida, gliserol, dan antimikotik
untuk mencapai nilai Aw sekitar 0,82 – 0,86. Campuran ini kemudian dipanaskan
pada suhu 70oC selama 15 menit, dilanjutkan dengan pendinginan sampai suhu
kamar dan selanjutnya dikemas. Kadar air bahan pangan setengah lembab yang
berasal dari daging biasanya sekitar 20 – 50% (Purnomo, 1996). Menurut SNI No
01-2718-1996 kadar air dalam petis udang maksimal 20-30% b/b.
1.3.2. Kadar Lemak
Lemak dan minyak merupakan zat gizi penting untuk menjaga kesehatan
manusia. Selain itu, lemak dan minyak merupakan sumber energi yang lebih
efektif dibandingkan dengan karbohidrat dan protein. Sumbangan energi per gram
lemak, protein, dan karbohidrat masing-masing 9, 4, dan 4 kkal (Astawan, 2004).
Lemak adalah campuran trigliserida dalam bentuk padat (Buckle et al., 1997).
Lemak hewan pada umunya berbentuk padat pada suhu kamar karena banyak
mengandung asam lemak jenuh, misalnya asam palmitat dan stearat (Ketaren,
1986). Menurut Suprapti (2001) kadar lemak pada petis daging sebanyak 2%.
13
1.3.3. Kadar Protein
Kadar protein bahan pangan umumnya dipakai salah satu cara untuk
mengukur mutu bahan pangan karena protein adalah suatu zat yang penting bagi
kehidupan manusia (Sudarmadji et al., 1997). Protein berguna saat pembongkaran
molekul protein untuk mendapatkan energi baik berupa unsur ataupun senyawa.
Contohnya adalah natrium, sulfur untuk reaksi metabolism lain protein berfungsi
pula untuk keperluan fungsional tubuh maupun struktural (Khotimah, 2002).
Protein akan membentuk ikatan kompleks dengan molekul pati pada permukaan
granula dan mencegah molekul-molekul pati yang terdapat dalam granula untuk
keluar (Sumnu et al., 1998).
Protein daging lebih mudah dicerna dibandingkan dengan protein yang
bersumber dari bahan pangan nabati. Nilai protein daging yang tinggi disebabkan
oleh kandungan asam-asam amino esensialnya yang lengkap dan seimbang. Asam
amino esensial merupakan pembangun protein tubuh yang harus berasal dari
makanan (tidak dapat dibentuk di dalam tubuh) (Astawan, 2004). Menurut SNI
No 01-2718-1996 kadar protein dalam petis udang maksimal 10,0% b/b.
1.3.4. Kadar Abu
Sebagian besar dari bahan makanan terdiri dari bahan organik dan air,
yaitu sekitar 96%, sedangkan sisanya terdiri dari bahan mineral. Unsur mineral
juga dikenal sebagai zat anorganik atau abu. Dalam proses pembakaran, bahanbahan organik terbakar, tetapi zat anorganik tidak, karena itulah disebut abu
(Winarno, 1997). Jumlah abu dalam makanan mencerminkan jumlah bahan
organik yang terkandung dalam bahan makanan. Menurut SNI No 01-2718-1996
kadar abu dalam petis udang maksimal 8,0% b/b.
14
1.4.
Bakteri Asam Laktat (BAL)
Bakteri asam laktat adalah kelompok bakteri yang mampu mengubah
karbohidrat (glukosa) menjadi asam laktat. Bakteri asam laktat merupakan salah
satu mikrobiota alami daging yang banyak dimanfaatkan sebagai agensia
fermentasi untuk menjaga kualitas, meningkatkan higienitas dan sifat sensoris
produk (Pramono et al., 2008).
Pemanfaatan BAL oleh manusia telah dilakukan sejak lama, yaitu untuk
proses
fermentasi
makanan.
BAL
merupakan
kelompok
besar
bakteri
menguntungkan yang memiliki sifat relatif sama. Saat ini BAL digunakan untuk
pengawetan dan memperbaiki tekstur dan cita rasa bahan pangan. BAL mampu
memproduksi asam laktat sebagai produik akhir perombakan karbohidrat,
hidrogen peroksida, dan bakteriosin (Waade & Stahnke, 1996). Selain itu bakteri
asam laktat juga dapat menurunkan aktivitas deaminasi dengan cara menghambat
pertumbuhan bakteri penghasil komponen bioamin (Pramono et al., 2009).
Komponen bioamin ini dapat menimbulkan alergi bagi yang mengkonsumsinya
serta cukup berbahaya untuk orang yang mempunyai potensi pertumbuhan sel
kanker dalam tubuhnya karena dapat mempercepat stimulasi pertumbuhannya
(Kalae, 2006).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fermentasi daging adalah faktor
endogenus dan eksogenus. Faktor endogenus yaitu faktor yang mempengaruhi
proses fermentasi yang berasal dari dalam bahan, sedangkan faktor eksogenus
merupakan faktor yang mempengaruhi fermentasi yang berasal dari luar bahan
dan/atau lingkungan (Pramono et al., 2009). Efektivitas BAL dalam menghambat
15
bakteri pembusuk dipengaruhi oleh kepadatan BAL, strain BAL, dan komposisi
media (Jeppensen and Huss, 1993).
1.4.1. Bakteri Streptococcus thermophilus
Bakteri Streptococcus thermophilus merupakan bakteri asam laktat
berbentuk bulat (kokus) dengan koloni berantai yang bersifat homofermentatif.
Bakteri ini bersifat Gram positif, katalase negatif, anaerob fakultatif, dapat
mereduksi litmusmilk, tidak toleran terhadap konsentrasi garam lebih besar dari
6,5%, tidak berspora, bersifat termodurik, dan menyukai suasana mendekati
netral dengan pH optimal untuk pertumbuhannya adalah 6,5 (Helferich and
Westhoff, 1980).
Berdasarkan hasil penelitian Mital dan Steinkraus (1974) Streptococcus
thermophilus dapat tumbuh dengan baik pada susu kedelai dan menghasilkan
flavor yang paling baik. Suhu optimal untuk pertumbuhan Streptococcus
thermophilus adalah 37 – 45oC (Chaitow dan Trenev, 1990). Streptococcus
thermophilus bersifat homofermentatif yaitu memfermentasi laktosa, sukrosa,
glukosa, fruktosa, dan produksi utamanya adalah asam laktat (Tamime and Deeth,
1980).
Adapun taksonomi dari bakteri Streptococcus thermophilus yaitu :
Kingdom
: Bacteria
Phylum
: Firmicutes
Class
: Cocci
Order
: Lactobacillales
Family
: Streptococcaceae
Genus
: Streptococcus
Species
: S. salivarius
Subspecies
: S. salivarius subsp. Thermophilus
16
1.4.2. Bakteri Lactobacillus bulgaricus
Bakteri Lactobacillus bulgaricus merupakan bakteri asam laktat berbentuk
batang dan koloninya berbentuk pasangan dan rantai dari sel-selnya yang bersifat
homofermentatif. Bakteri ini termasuk bakteri Gram positif, lebih tahan terhadap
asam (Buckle et al., 1987). Bakteri ini bersifat anaerob, katalase negatif,
tidak membentuk spora, dan suhu optimal untuk pertumbuhannya adalah
40 – 45oC (Surono, 2003). L. bulgaricus tumbuh optimum pada pH 5.5 - 5.8 dan
terhenti pada pH 3.5 - 3.8 (Hutkins dan Nannen, 1993).
Adapun taksonomi dari bakteri Lactobacillus bulgaricus yaitu:
Kingdom
: Bacteria
Divisi
: Firmicutes
Kelas
: Bacilli
Ordo
: Lactobacillales
Famili
: Lactobacillaceae
Genus
: Lactobacillus
Species
: Lactobacillus delbrueckii
Subspecies
: Lactobacillus delbrueckii Subsp. bulgaricus
17
Fly UP