...

Benjamin Cook - British Council

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Benjamin Cook - British Council
Program Presentasi Khusus 06: LUX
Liyan
Dikurasi oleh Benjamin Cooks
Seleksi atas filem-filem karya seniman Inggris kontemporer dari koleksi LUX ini menyoroti subjektivitas
dalam tradisi dokumenter melalui serangkaian potret tindakan, orang, dan binatang yang menjelajahi
dan menggali persoalan-persoalan mendasar tentang batas bentuk dan permainan antara fiksi dan
kenyataan.
Media kontemporer kini menawarkan tingkat akses informasi dan pengetahuan tentang dunia yang tak
terbayangkan sebelumnya. Dari “reality tv” hingga media sosial, kemampuan mengetahui ini dipertajam
lagi dengan proyeksi kenyataan “yang tanpa perantara” (unmediated), keserentakan, dan akses pada
orang-orang serta situasi riil. Namun, seberapa jauh ini semua menjadi ilusi? Untuk segala perasaan
akan akses ini, tidakkah akhirnya kita masih terbatas pada pemahaman akan orang dan benda melalui
atribut eksternalnya? Bagaimana kita dapat berharap untuk mengetahui yang liyan saat diri interiornya,
perasaan dan pikiran pribadinya tetap tertutup bagi kita? Tidakkah bentuk kenyataan yang dipertajam
dalam media populer ini melanggengkan bahkan mendalamkan ilusi kita akan pengetahuan dan
pemahaman? Apakah kita diperdaya? Sebaik apa kita sesungguhnya tahu tentang yang liyan?
Program ini dimulai dengan dua filem yang dikomisikan oleh LUX sebagai bagian dari residensi yang
memberikan akses bagi seniman pada sumber dan arsip lembaga penyiaran nasional Inggris, BBC,
sebagai imbalan atas pembuatan karya sesuai konteks editorial dan panduan lembaga tersebut. Proyek
ini menarik sekaligus menantang karena menyingkapkan perbedaan mendalam dalam praktik kerja dan
ideologi antara pekerja broadcast dan seniman independen (walaupun masing-masing mengaku
berkomitmen pada kreativitas). Mungkin, tak mengejutkan bahwa kedua filem tersebut mengambil
perspektif yang kritis terhadap bentuk televisi dengan menggunakan materi lembaga tersebut untuk
menggugat dan mempersoalkan caranya menggambarkan subjeknya. Dalam Weight (2014), Kate Davis
mempertanyakan nilai dan representasi kreativitas perempuan serta kerja domestik melalui jukstaposisi
ironis arsip filem dengan dokumenter tentang pemahat Inggris, Barbara Hepworth. Sementara itu, filem
Luke Fowler, Depositions (2014), menjelajahi representasi komunitas pengembara yang secara
tradisional terpinggirkan di Dataran Tinggi Skotlandia dengan memanfaatkan materi-materi dari
dokumenter yang menggurui dan potongan berita guna mengartikulasikan narratif yang lebih kompleks
tentang perbedaan dan komunitas.
Terinspirasi oleh tujuan sutradara etnografis Prancis, Jean Rouch, untuk menjelajahi “sukunya sendiri”,
yaitu orang-orang Paris dalam filemnya, Chronique d’un été (1960), seniman sutradara AS, Margaret
Salmon, mengikhtiarkan potret etnografi mengenai komunitas angkatnya di Inggris sebelah Tenggara.
Mengeksplorasi ritme dan ritual kehidupan domestik dalam kerangka teori psikolog Abraham Maslow
tentang hierarki kebutuhan manusia, filem ini mempersoalkan bentuk filem etnografis. Dengan
menggunakan afeksi puitis, filem ini menggulingkan subjek tradisional kajian etnografi Barat dengan
menyorotkan kamera pada kehidupan kelas menengah Inggris selatan.
Ben Rivers dikenal atas seri filem “potret”-nya yang kerap menyiratkan ketidaktahuan dalam diri yang
fundamental dari subjeknya melalui minimnya komentar, unsur pemandu, atau perspektif jarak dekat.
Things (2014) unik dalam hal bahwa filem itu merupakan semacam potret diri, tetapi alih-alih
memandang dirinya secara langsung, Rivers mengkonstruksikan sejarah pribadi melalui kepemilikannya
atas barang-barang dalam apartemennya di London. Namun, begitu kita mulai menjangkau sebentuk
identitas di balik benda-benda itu, Rivers langsung menggeser gambar dengan hasil citraan 3D digital
dari tempat yang sama, yang bersih dari banyak detail pribadi dalam paro pertama filem. Secara tajam,
hal itu menyiratkan sifat konstruksi dan rekayasa dari sebuah citra, sebagaimana ia digeser hingga
menjadi perspektif yang nonmanusiawi dan sepenuhnya buatan.
Filem terakhir dalam kuratorial ini, Taskafa (2013), berfokus pada makhluk yang paling di-“liyan”-kan,
yaitu hewan, dan khususnya hewan jalanan, yang hidup bersama manusia di banyak kota besar. Hewan
adalah fokus dari banyak proyeksi kita yang paling antropomorfik. Dan dalam filem Andrea Luka
Zimmerman ini, hewan jalanan ini bertindak sebagai bilangan nol bagi tatanan terendah penghuni kota
modern, yang menghadapi dampak penuh dorongan kapitalistik atas pembangunan dan gentrifikasi.
Zimmerman secara aktif menantang naratif tradisional tentang hewan jalanan sebagai hama dan
gangguan bagi mengalirnya kota, dengan memberikannya harga diri dan pandangan dalam diri (dengan
kutipan narator anjing dari buku John Berger, King). Filem ini pada akhirnya menyorongkan proposisi
utopis yang penuh semangat demi nilai komunitas, hubungan timbal-balik, dan perhatian antarspesies
sebagai perlawanan kuat terhadap “kemajuan” yang rakus di dunia modern ini.
Fly UP