...

Badai-Badai Puber 2

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Badai-Badai Puber 2
Badai-Badai Puber 2
Ada suatu yang berat yang memusingkan kepalaku sejak bulan Januari. Tetap
tidak bisa kukatakan pada seseorang pun. Bahkan tidak bisa kukatakan kepada
sahabat-sahabatku yang terdekat. Apalagi kepada kedua orang tuaku. Namun karena
soal ini kupendam terus, aku serasa terkurung dalam suatu kebencian dengan rahasia.
Tetapi bagaimana! Aku pun harus merahasiakannya. Dan sebagai akibat
merahasiakan soal inilah makanya tidak mengherankan banyak teman-temanku
mengatakan aku semakin kurus. Ini memang benar.
Aku memang semakin kurus dan itu tampak jika orang memandangku dan
samping. Dan alangkah mengerikan lagi, jika dihari-hari yang akan datang ini aku
menjadi semakin kurus lagi.. Memang, hampir saja aku membuka rahasia ini kepada
Reni. Tetapi, ketika kusebut nama Toni dan Reni tidak melakukan reaksi apa-apa aku
beranggapan Reni tidak mengetahui persoalannya.
Hari Sabtu siang itu, pada jam istirahat, kulihat mereka berdua berdiri
berhadapan dengan sikap yang menjengkelkan sekali: Toni bertopang pada tiang
sekolah kami di depan aula olahraga, dan Emmy bertolak pinggang menghadap pada
Toni dengan sombong. Emmy makan kacang sambil sekali-kali tertawa menyeringai,
ketawa yang sangat kubenci akhir-akhir ini, dan ingin saja aku meludahi mukanya itu.
Emmy kuakui gadis yang cantik. Kalung mutiara imitasinya yang
menggantung di lehernya, rantai emas pada pergelangannya dan rambutnya yang
disasak berlebih-lebihan itu, membuat aku semakin benci kepadanya.
“Emmy seorang cross-girl”, kataku kepada Imah siang itu. Imah menoleh,
mengarahkan pandang kepada mereka yang Iagi asyik itu.
“Biarin aja. Apa pusing sama mereka”, kata Imah.
“Aku sih nggak pusing. Cuma di sekolah begituan, ‘kan nyolok?” kataku pada Imah.
“Ah, biarin aja. Lagi muslim kedongdong barangka1i’ kata Imah. Aku tak mengerti
maksud ucapan Imah ini.
“Musim kedongdong bagaimana?”, tanyaku.
“Ya musimnya Emmy lagi kepingin digendong” kata Imah.
“Digendong?” tanyaku kaget.
“Ya. Digendong”, kata Imah.
“Siapa yang digendong?” tanyaku gelisah.
“Emmy” kata Imah tenang-tenang. “Apa kau belum dengar ceritanya, Fonnie?”
Darahku berdesir, terasa urat-urat mukaku tegang mendengarnya.
“Aku belum mendengarnya” kataku. “Rugi, Fonnie. Rugi”, kata Imah. Aku menjadi
semakin ingin mengetahui. “Imah! Ceritakan!” kataku berlagak lincah, sekalipun
darahku berdebar sekali.
“Ah, jangan berlagak pilon, dong” katanya.
“Pilon gimana? Ceritakan siapa yang menggendong Emmy, dan dimana dia
digendong” kataku mendesak.
ATAS DESAKANKU Imah bercerita. Sudah sebulan yang lalu cerita itu. Dan
terjadinya di Cibodas. Dan begitu mendengar Cibodas, aku membayangkan tempat
itu, karena aku pernah ke sana. Letaknya dibagian Puncak, sebuah taman penuh
kebun-kebun dan pohon-pohon lama, bahkan pohon-pohon dan abad yang silam juga
ada di situ.
Club “Tarantella” dimana Imah tergabung sebagai anggota, ketika itu sedang
mengadakan piknik ke daerah yang dingin lagi sepi itu.
“Kau ‘kan sudah pernah ke sana, Fonnie. Begini ceritanya. Sewaktu dan jalan raya
Puncak, membelok ke kanan mau ke Cibodas, motor BMW-nya si Toni terbanting
kedalam parit. Untunglah Toni dan Emmy tidak luka-luka. Cuma sedikit lecet, pada
siku Emmy, dan si Toni pada dengkulnya, sehingga blue jeans nya robek.
“Karena itu Emmy digendong”, kataku cepat-cepat sebab terlalu lama menunggu.
“Nanti dulu, dong. Ceritanya aja belon dimulai. Nah, dengar ya. Lalu, BMW punya
Toni itu nggak bisa jalan. Untung ada Johan, dan Johanlah yang membetulkannya.
Kata Johan: ‘Udah, dah. Jalan duluan! Biar gue yang ngebetulin. Dan atas desakan
teman-teman, maka Toni disuruh menggendong Emmy. Mulanya Emmy biasa
malu-malu kucing. Tau-tau bukan kucing biasa, emangnya Emmy kucing
bener-beneran. Coba bayangin”, kata Imah pelan-pelan dengan berbisik, sehingga aku
mendekat.
“Bayangin gimana”, tanyaku.
“Coba bayangin. Maunya lagi si Toni dibudakin oleh Emmy. ‘Kan dan mulai masuk
kearah Cibodas sampai di kebonnya ‘kan jauhnya setengah mati? Eh. Toni begitu
kuatnya. Mulai saat itulah kau ingat si Toni dikasih julukan Hercules oleh temanteman. Eh, bukan Hercules. Siapa itu, nama bintang film yang jadi Hercules?”, tanya
Imah padaku.
“Steve Reeves”, kataku cepat-cepat, karena buatku tidak penting julukan Hercules
maupun Steve Reeves.
“Kalau cuma digendong, nggak apa. Ini pakai ketawa dan merengek aleman, kayak
udah resmi aja” Imah kemudian mengutuk.
“Memangnya dia cross-girl” kataku menambahi.
“Mata duitan lagi”, sambut Imah.
“Itu. Liat tuh. Pita yang dipakainya. ‘kan diminta terang-terangan pada si Jim,
Sebelum dia pacaran-pacaran sama si Toni. Nggak tau malu, sudah genit, bangor lagi
berani minta-minta sama lelaki. Gimana, kau lmah, apa nggak malu minta dibeliin
apa-apa sama Ielaki?”,tanyaku.
“Guesih nggak doyan begituan, Fonnie”, sahut Imah.
“Bajunya yang dipakainya itu, paling-paling juga dibeliin orang. Tiap orang yang rada
kaya dikit aja, diaku sebagai Oom. Tamu baru kenal satu jam datang di rumahnya,
diaku Oom. Pendeknya, payah dah ngatur orang macam si Emmy itu”, kataku jengkel
sangat.
“Lalu
masa’ cuman digendong saja?” tanyaku mendesak.
“Ah jangan belagak goblok ya?”, kata Imah menunjuk hidungku.
“Habis, apa kau kira hidungku ini udah pinter?”, tanyaku marah.
“Bukan gitu. Soal si Emmy tadi maksudku. Kok darah tinggi? Begini, kata temanteman orang dua itu egois. Nggak tau tata tertib organisasi Tarantella. Memang betul.
Organisasi kita bukan organisasi brengsekan begitu. Musti tau aturan, musti sopan di
depan orang banyak. ‘Kan di Cibodas itu bukan kita anak muda melulu. Kakek-kakek
juga ada.” kata Imah.
Aku terdiam. Terbayang olehku tempat yang sepi itu, pohon-pohon yang tinggi
rimbun, jalan-jalan yang berputar-putar serta matahari yang tak pernah menyorot
terlebih jika musim gerimis.
“Lalu apa acara dua orang itu lagi?” tanyaku penasaran. Aku jadi benci kepada Emmy, benci betul, betul-betul benci dan betul benci sebenci-bencinya!
“Tanya sih boleh”, kata Imah melucu, “tapi jangan pake melotot mata, dong manis?”
“Ahh, aku jelek. Bukan manis”, kataku.
“Kalau kau jelek, Fonnie, mana mungkin sampai tiga orang jatuh cinta sama kau!”
“Biar saja tiga orang brengsek itu jatuh cmta sama aku. Aku tokh biasa saja. Aku tokh
bukan cross-girl”, kataku merengut.
Imah tertawa agak keras, sehingga kawankawan yang didalam kelas pada keluar semuanya. Tetapi, tanpa kuketahui lebih dahulu diantara yang mengerumuni kami
muncul saja Emmy. Aku melirik kepada Emmy dengan sudut mataku yang penuh
penasaran. Dan Emmy ketawa kepadaku. Lu jangan ngejek ya? Kataku mengutuk
dalam hati.
Lonceng berbunyi dua kali, tanda kami harus masuk kedalam kelas untuk dua mata
pelajaran terakhir. Tetapi setelah ditunggutunggu selama sepuluh menit, baru kami
ketahui, guru Tatabuku kami, Pak Amir, tidak masuk. Kawan-kawan yang rajin pada
menggerutu mendengar berita tidak masuknya pak Amir, tetapi mereka yang pemalas
membuat pekerjaan di rumah, pada berkumpul semuanya. Aku mencoba ingin
mengetahui, siapa yang mempelopori berkumpulnya teman-teman itu. Aku mendekat
dan mendengarkan apa yang dikatakan oleh Toni.
“Siapa yang mau ikut, nunjuk”, kata Toni.
Semuanya menunjuk. Aku tidak. Kulihat dengan gemas, Toni menghitung-hitung:
“Satu, dua, tiga, empat lu ikut juga monyong? lima, enam tujuh, delapan sembilan,
wah berabe nih, kantong gua bisa bolong. Semuanya sebelas dan Fonnie? Fonnie
nggak ikut dengan kita?”
“Ikut apa?” tanyaku.
“Ikut nonton di Menteng” kata Toni.
“Nggak!” kataku pendek dan mantep.
“Nggak!”, terdengar olehku ada yang menyahuti dengan nada yang mengejek.
Duabelas orang itu, termasuk Imah, pergi menonton ke Menteng untuk melihat film
siang dihari Sabtu itu. Aku hanya duduk-duduk di didalam klas karena Kemungkinan
pak Amir datang. Dan memang betul, pak Amir tahu-tahu muncul tidak lama seteIah
dua belas orang itu pergi. Dan pak Amir tampaknya tidak perduli kelas telah
berkurang dua belas manusia. Ia Iangsung menyuruh Somad ke papan tulis untuk
membuat pekerjaan di rumah.
Sambil cukil gigi, pak Amir melihat-lihat kepada bangku-bangku yang kosong.
“Semua pada pergi, pak”, kataku tiba-tiba.
“Kemana? Nonton?”, tanya pak Amir.
“Betul”, sahut Nafsiah.
Aku menoleh ke belakang, karena Nafsiah memang duduk di belakang. Nafsiah
mengerdip kepadaku dan aku membalas kerdipannya.
“Fonnie nggak ikut menonton?” tanya pak Amir tiba-tiba, mengejutkanku.
“Saya pak?” tanyaku.
“Iya, kamu!”, kata pak Amir.
Aku hanya tertawa saja kepada guruku. Dalam hati aku membayangkan, bahwa hari
Senin mereka semua pasti dijemur di panas siang han oleh Pak Amir.
Dan memang betul, keduabelas orang yang membolos hari Sabtu itu, pada hari Senin
telah distrap oleh Pak Amir di lapangan volley sekolah kami. Dalam hati aku
bersorak: Rasainlu Emmy, rasain lu Toni, nggak ada ampun dari pak Amir. Tetapi ada
suatu hal yang membikin aku terkejut sepulang dan sekolah. Seperti biasanya, aku
selalu menaiki sepedaku agak kepinggir trotoir, tetapi han Senin itu aku merasa ada
sepeda Yankee yang mendesakku lebih ke pinggir. Aku pelajari penuh tulisan pada
spatboardnya, tentu ini sepeda si Emmy.
Dugaanku tidak salah.
“Jangan mendesak gituan, Emmy.., kataku.
“Rupanya ada rasa juga kamu ya?” kata Emmy.
Sepeda kami jadi seiring dan Emmy tidak mendesak lagi tapi hatiku tiba-tiba merasa
was-was juga.
“Jadi orang, kok suka mengadu?” terdengar olehku suara Emmy, karena aku tak
berani memandangnya.
“Betul ‘kan, kamu yang bilang sama pak Amir kami yang selosin itu membolos?”,
terdengar suara Emmy.
“Betul”, jawabku.
“Mau ambil muka ya?”, terdengar suara Emmy.
“Bukan”, kataku pelan.
“Habis? Kalau bukan ambil muka? Ambil hati pak Amir”, kata Emmy, menyebabkan
aku memberanikan diri menoleh ke kanan menentang pandangannya.
“Jangan galak dong, bing, “kan pak Amir cakep wajahnya. Mirip Rock Hudson,
mayan ‘kan?”.
“Adalah gila jika murid mencintai guru”. kataku menjawab.
“Habis, tujuannya apa ngambil muka?” tanya Emmy.
“Tujuanku baik”, kataku.
“Orang kepanasan, ubun-ubun hampir ngelotok, apa itu baik?”, tanyanya.
“Terserah”, kataku.
‘Terimakasih”, katanya lalu mengayuh pedal sepedanya kencang-kencang memotong
jalan, dan hampir saja Emmy disikat oleh mobil jeep yang cepat melintas.
Aku bersyukur seketika, sebab aku selamat dan bahaya perkelahian di tengah jalan.
Ia, aku ingat cerita Nafsiah dulu, bahwa tangannya pernah dipelintir oleh Emmy
sewaktu kedua mereka bertengkar di tengah jalan. Biarpun tidak ada orang yang
melihat tetapi Emmy dengan galaknya telah membikin Nafsiah terjatuh karena
dipelintir itu.
Dari Nafsiah aku tahu bahwa Emmy pandai main yudo.
Aku tidak gembira sebenarnya karena keduabelas temanku dijemur di lapangan volley
sekolah kami disiang bolong tadi itu. Aku malah menyesal, bahwa aku telah dicap
oleh Emmy sebagai gadis yang busuk hati, tukang adu, dan pengambil muka. Namun
kebencianku terhadap Emmy dan Toni tidak berkurang. Maka karena itu, ketika
malam itu aku menghafal pelajaran sejarah, pelajaran itu tidak masuk sedikitpun
dalam kepalaku.
Rupa-rupanya, keadaanku diketahui oleh Fizzy, kakak perempuanku yang duduk di
bangku universitas.
‘Kau ini kerjanya ngelamun saja!” sentak kakakku, menyebabkan aku menjadi malu
dan wajahku merah padam.
“Mikiri pacar?” tanyanya lagi, mendekat kepadaku. Dan aku lebih malu lagi, sebab di
ruang tengah itu ada pula ayah dan ibu.
Aku hanya diam saja.
Tapi hatiku sedikit dongkol dan memaki-makinya dalam hati.
Dalam makian di hati itu kukatakan. “Kau perawan tua, nggak pernah pacar-pacaran,
jadi benci kalau melihat orang sedang ngelamun!”
Sebenarnya Fizzy bukan perawan tua. Usianya baru saja 24 tahun pada tanggal 21
Agustus tahun lalu. Tetapi kalau aku benar-benar jengkel dan berkelahi dengan dia,
selalu kuejek dia dengan sebutan perawan tua.
Dan malam ini aku kembali berkelahi dengan Fizzy, sebab ketika aku menyalin
sebuah sajak Chairil Anwar yang berjudul Cintaku Jauh di pulau, dikatakannya akan
kukirimkan pada teman lelaki di sekolahku.
Kugulung kertas dan kulempar ke kepalanya.
Dia juga membalas. Aku juga membalas
Dia menggetok kepalaku. Aku juga membalas mengetok kepalanya dengan rol 30
centimeter. Direbutnya rol itu, lalu digetoknya kepalaku lagi. Aku tidak mau kalah.
Kukejar ia, dan sambil menjerit aku berteriak: “Perawan tua”, kugigit tangannya,
Dia juga menjerit dan berteriak: “Kau cross-girl! “.
Aku membalas teriakannya:
‘Aku bukan cross-girl! “.
Ibu datang ke kamar kami dan aku cepatcepat menangis Tetapi justru ibu memarahiku
Kata ibu:
“Kau lagi biang keladinya, Fonnie!”
“Bukan aku yang mulai!” kataku memperkeras tangisku.
“Dia pacar-pacaran Anak sekarang bu, kecil-kecil mau cari laki!”, kata Fizzy.
“Aku bukan anak kecil lagi”, jawabku keras.
Ayah datang tiba-tiba.
“Ada apa, Fizzy? Kau sudah besar, jangan kasih contoh Yang jelek!”
“Ayah selalu begitu!”, kata Fizzy menangis, “Pro kepada Fonnie selalu!”
Ayahpun marah-marah:
“Berhenti! Rumah ini bukan pasar Senen, tempat berteriak-teriak!”
“Aku mengajari adikku!” dan sambungnya:
“Salahkah Fizzy?”, suara Fizzy berhiba-hiba.
Sebenarnya aku kasihan kepada Fizzy, kakak perempuanku. Sebenarnya Fizzy
seorang gadis yang manis. Tetapi yang menyebabkan aku benci kepadanya, karena dia
sangat judes sekali.
Bukan sekali aku bertengkar dengan Fizzy, sebenarnya.
Tetapi setelah itu Fizzy tidak menaruh dendam kepadaku. Bahkan, jika dia
menyayangiku, sayangnya sangatlah berlebih-lebihan.
“Maukah kau kubuatkan sebuah baju?” sekali Fizzy bertanya.
Baju apa, Fizzy?”
“Aku baru saja membeli sebuah buku modeblad tadi di toko buku. Marilah, mau kau
melihatnya”.
Fizzy membawaku ke kamar.
Dan diperlihatkannya buku tersebut.
“ini”, tunjuk Fizzy.
Aku melihat sebuah potongan baju, dan yang memakainya adalah seorang bintang
film yang kusenangi, Grace Kelly.
“Ini baju yang sopan”, kata Fizzy.
“Oh”, kataku sambil memeluk buku modeblad itu kesenangan, sambil melonjaklonjak
di kamar serta menari-nari.
Lalu dan dalam lemarinya — karena ayah membelikan kami lemari satu seorang —
dikeluarkan oleh Fizzy selembar dasar baju yang cantik sekali. Bunga-bunganya yang
kuning air, hijau yang tak menyolok, mengingatkan aku pada sebuah kenangan.
“Bukankah mi cadeau dan Mas Narko?” tanyaku.
“Ya. Kenapa?”
“Ini diberinya pada ulang tahunmu tahun lalu. Kenapa kau berikan padaku, Fizzy?
Nanti aku malu pada mas Narko kalau dia melihatku memakai in”, kataku.
Fizzy senyum. Dibenahinya rambutnya yang tergerai, dan diciumnya pipiku, tetapi
kemudian dia berbisik:
“Mas Narko sekarang sudah di Amenika”.
“Ya tapi itu tidak berarti bahwa dia akan melupakanmu, Fizzy!”
“Dia tidak mencintaiku, bukan?”
“Tapi waktu ulang tahunmu itu kelihatannya dia naksir!”, kataku.
“Cuma naksir saja to?”, tanya Fizzy.
“Ya, naksir itu ‘kan tinggal selangkah lagi untuk goal”, kataku. Fizzy ketawa. Dia
mulai ukuran dan pola pakaianku.
Mulanya dia mengukur pinggangku. “Pinggangmu mi langsing sekali”, kata Fizzy.
“Tapi pinggulku ini besar sekali”, kataku.
“Laki-laki senang sama pinggul gede macam kau ini Fonnie. Tapi lihat pantatku ini?
Tepos”, kata Fizzy.
Dan Fizzy kemudian mengukur bahuku. Dan kemudian mengukur dadaku:
“Kau.. “, kata Fizzy.
“Kenapa?”, tanyaku.
“Aku iri kepadamu, Fonnie” kata Fizzy.
“38”, kataku.
Aku melihat kepada mata Fizzy. Matanya benar-benar tampak iri hati memandang.
“Buah dadamu besar”, katanya, “seperti Gina Lolobrigida”.
“Bukan seperti Sophia Loren?” tanyaku ketawa.
“Sophia sih terlalu, kayak Anita Erkberg”, kata Fizzy.
Lalu Fizzy memandang Iagi, sehingga aku jadi malu, dan berbalik belakang dan
berkata:
“Ukur sajalah!”, suaraku manja dan jingkrak-jingkrak ketika itu.
“Fonnie”, kata Fizzy sambil mengukur dadaku.
“Apa?”, tanyaku.
“Kau pernah pacar-pacaran?”
“Nggak!” kataku mangkel.
“Ah bohong”, kata Fizzy.
“Betul”, kataku.
“Ah bohong. Kenapa kau begini segar bugar?”
‘Jadi, kalau segarbugar artinya berpacar-pacaran, gitu?”
“Bukan begitu”, kata Fizzy.
“Aku tak percaya. Aku ingin membuktikannya dengan diriku sendiri!”
“Kenapa?”
“Lihat. Aku begini kering. Seperti kembang yang tak disiram! “, kata Fizzy dengan
suara masygul.
Aku berbalik belakang dan mencubit pahanya kuat-kuat.
“Aduh’’, katanya.
“Aduh, jangan cubit”, ditariknya yurknya” diperlihatkannya pahanya yang merah
bekas cubitanku.
“Kau pernah dipeluk oleh pacarmu?” tanya Fizzy.
“Punya pacar saja belon”, kataku.
“Taroklah belon. Tapi, dicium sudah?” tanya Fizzy.
Kucubit lagi pahanya, sehingga Fizzy menjerit minta ampun.
“Kau genit” kataku.
“Fonnie. Ngaku aja dahhh,” kata Fizzy.
“Umurku saja belum tujuh belas”, kataku.
“Ah soal gituan sih nggak soal. Aku pernah ngobrol dengan Imah, temanmu sekelas
waktu dia menghafal disini malam Kemis dan Jum’at dulu”.
“Pantes kalian bangun kesiangan berdua. Ngobrol apa saja sampai jauh malam
begitu?”, tanyaku.
“Ah, tentu Imah sudah pernah cerita padamu,” kata Fizzy.
“Belum, berani sumpah”, kuunjukkan telapak tanganku.
“Serem”, kata Fizzy, “Aku kadang-kadang heran, Fonnie, Imah belum tujuh belas,
tapi ngeri dah. Katanya, waktu itu dia baru nonton film Parish, yang dibintangi oleh
Troy Donahue”, keluhnya:
“Dan Imah punya pacar. Katanya mirip Troy Donahue. Jangkung. Terus dia ditroydona-hue-in”, kata Fizzy.
‘Troy-donahue-in bagaimana?” tanyaku.
Fizzy melonjak seperti kena gelitik dan ketawa menyeringai kegelian sendiri.
“Dunia sudah terbalik! Aku, yang sudah hampir seperempat abad belum pernah
dijamah oleh lelaki, Kamu kok nggak bisa jaga diri?”
Dan Fizzy menceritakan kepadaku, bahwa Imah telah diremas-remas bibirnya oleh
kecupan Toni.
“Toni?” tanyaku cepat-cepat.
“Ya. Katanya Troy Donahue dia itu bernama Toni” kata Fizzy.
Ah, Imah bohong”, kataku.
“Itu cuman khayalnya. Kalau Toni sama si Emmy, memang betul. Kita sendiri melihat
waktu pesta ulang tahun si Wattie dulu. Tapi si Emmy sih menurut taksiran orangorang bukan orisinil lagi”, kataku.
Fizzy tak bertanya lagi sesudah itu. Sementara dia menggunting baju untukku aku menyanyikan sebuah lagu.
Tak kusangka, Fizzy mendengarkan laguku itu rupa-rupanya, padahal aku menyanyi
sambil tidur-tiduran di ranjang.
“Kau senang sekali dengan nyanyi itu”, kata Fizzy.
“Tentu dong”, kataku.
“Aku sering mendengarkannya di radio. Siapa penyanyinya?”, tanyanya.
“Onny, Onny Suryono”, kataku.
“Apa judul lagu itu?” tanya Fizzy sambil membolak-balik baju.
“Ah, nggak usah. Gunting aja dah bajunya”, kataku.
“Nama lagu itu Kasih Diperjalanan”, kataku.
“Kasih Diperjalanan• Tentu lagu itu berkesan. Waktu piknik bulan Agustus dulu itu?”
tanya Fizzy mendesakku. Kuambil sebuah bantal kulempar bantal itu kearah Fizzy,
dan tepat mengenai kepalanya, sehingga Fizzy terpekik.
Diambilnya bantal itu kembali, lalu dilemparkannya kepadaku. Aku terpekik,
sehingga ibu muncul di kamar:
“Berkelahi lagi?” tanya ibu melotot.
“Jangan melotot dong, bu”, kataku.
Fizzy terus menggunting baju itu setelah ibu pergi dari kamar kami. Dan sambil
menggunting-gunting kakak perempuanku itu bertanya:
“Ceritain dong mesranya kasih diperjalanan. Hebat?”
“Lagu itu pernah dinyanyikan oleh Toni”, kataku.
“Toni, Toninya Imah atau Toninya Emmy?” tanya Fizzy tak acuh.
Biarpun tanya itu tak acuh, tapi aku jengkel sekali mendengar pertanyaan itu.
“Toni duduk disebelahku dalam sebuah bus. Kami memang piknik Agustus waktu itu,
tapi bukan dalam rombongan Tarantell Club, melainkan dipimpin oleh guru. Dan
Toni menyanyikan lagu itu, tiap sebentar melihat saja padaku. Waktu itu orang pada
ehem-ehem-ehem dan ada yang batuk-batuk melihat tangan Toni ditaroknya pada
bahuku ini”.
“O, cuman itu saja?” kata Fizzy.
“Lalu, ketika memasuki hutan, Toni memegang tanganku.
“Aku betul-betul deg-degan. Mau apa Toni, fikirku. Ternyata dia mau menciumku.
Kukatakan: Nanti keliatan teman-teman atau pak guru. Tapi Toni memaksa,
leherku kena. Tapi aku berontak. Dia tak berhasil. Dia tak berhasil menciumku”,
kataku.
“O, cuma gituan saja?” kata Fizzy.
Aku penasaran karena tanyanya itu. Tetapi aku tak bisa berbohong, karena memang
demikianlah yang terjadi.
“Ini Toni-nya si Emmy atau si Imah?” tanya Fizzy.
Tiba-tiba hatiku merasa luruh mendengar pertanyaan itu diucapkan kembali oleh
Fizzy, dengan acuh tak acuh seperti tadi itu.
“Toni cuma satu”, kataku.
“Jadi ada tiga Toni kalau begitu. Satu Tony si Emmy, satu lagi Toninya Imah, dan
satu lagi Toninya Fonnie.”
“Ya!”, kataku keras-keras, dan menungkupkan kepala pada bantal. Tak sengaja aku
menangis.
Dan tiba-tiba kurasa ada tangan yang membelai.belai rambutku. Kudengar suara Fizzy
dengan Iembut sekali:
“Fonnie. Kau masih sekolah. Kau harus tammat SMA dulu, masuk fakultas dan baru
boleh pacar-pacaran. Jangan tiru si Emmy atau Imah. Biarin mereka dengan cara
mereka sendiri. Kau harus hati-hati, tetapi hatiku berontak mendengar bujukan lembut
itu. Aku tak mau macam kau”, kataku dalam hati.
“Kau sangat suka dengan Toni?” “Ya” kataku pelan.
“Apa yang kau senangi dari padanya?”
“Dia ganteng. Betul-betul seperti Troy Donahue”, kataku.
“Dan, itu sudah direbut oleh si Emmy?”
Aku angguk-angguk dengan membenamkan kepalaku pada bantal yang sudah basah.
“Anak itu genit! Kami satu kelas benci kepadanya! “, seruku dengan tersedu-sedu.
“Itu salahmu sendiri. Kau jatuh cinta anak Ielaki yang punya type Don Juan. Aku
dapat membayangkan Toni. Tentu ia anak seorang yang sangat kaya. Aku yakin, Toni
nanti bisa jadi Cassanova!”
Kubalikkan tubuhku, menghadap kakak perempuanku, dan aku duduk.
“Apa? Cassanova? Apa itu?”
“Seorang pemburu perempuan. Itu saja kerjanya selama hidupnya”.
Tiba-tiba hatiku senang.
“Toni memang begituan, Fizzy”, kataku.
“Dan orang macam begitukah yang ideal buatmu?”
Segera aku menggelengkan kepalaku.
“Kau masih kecil. Kau masih kagum pada orang-orang yang gagah, mentereng, type
lakilaki yang akan merajai dunia ini”, kata Fizzy.
Dan:
Tapi jika kau besar sedikit saja Iagi, fikiranmu akan berobah. Di fakultas nanti, kau
akan berfikir laki-laki yang lain Iagi. Laki-Iaki yang punya sikap teguh terhormat
karena isi otaknya, dan bukan terhormat karena isi kantongnya belaka”.
“Tapi aku belum lagi difakultas. Bagaimana aku bisa berfikir macam kau, Fizzy?”
“Makanya, fikirkan saja pelajaran” kata Fizzy.
Jika sudah sampai pada soal begitu, aku muak lagi mendengar nasihat-nasihat kakak
perempuanku itu, karena itu bukan yang pertama kali dikatakannya.
Aku bisa membuktikan kepadanya, bahwa pelajaranku tak kalah dengan teman-teman,
raportku tak pernah ada tinta merah, pekerjaan rumahku selalu kubuat. Lalu aku
berkesimpulan, jika aku berfikir seperti Fizzy, tentu aku akan punya nasib seperti dia
sudah hampir seperempat abad masih belum berpacar.
Aku tak mau nantinya jadi perawan tua.
Dan soal Fizzy jadi perawan tua ini, akhirnya juga bukan jadi fikiranku saja,
melainkan difikirkan baik-baik oleh ayah dan ibu.
Sekali, ketika aku belajar dekat pot bunga di ruang tengah, rupa-rupanya ayah dan ibu
mengira aku telah pergi tidur. Pada hal aku mendengar percakapan kedua mereka.
Bulan depan mereka merencanakan akan merayakan han ulang tahun kakakku Fizzy.
“Fizzy musti diingatkan, bahwa ia telah sepantasnya punya teman”, kata ayah.
Dan niat kedua orang tuaku itupun akhirnya terlaksana. Pesta ulang-tahun Fizzy
benar-benar meriah dan banyak sekali tamu yang datang. Diantara tamu-tamu yang
datang itu tampak Toni ikut hadir karena ia kuundang juga, biarpun aku benci
kepadanya.
Dan, ada yang membuatku gugup, sewaktu Fizzy berdiri di depan microphone, dan
meminta supaya aku menyanyikan lagu “Kasih Diperjalanan”.
Gemetar aku berdiri di depan mic. Sebelum musik mulai, aku berkata kepada tamutamu:
“Saya sih bukan penyanyi,” kataku “Tapi demi ulang tahun kakak saya, saya penuhi
juga permintaan Fizzy. Apa nyanyinya Fizzy?”
“Kasih Diperjalanan”, kata Fizzy sambil bertepuk.
Dan aku menyanyi. Ketika aku akan memasuki bait kedua dan lagu itu mataku
melihat Toni berdiri dari tempat duduknya, namun aku terus menyanyi juga.
Tutur katamu
Menjadi kenangan
Walaupun kini jauh
Tak lagi disisiku
Dan alangkah gugupnya aku, sewaktu aku akan memasuki reffain, Toni maju ke
depan berdiri agak dekat padaku. Tapi reffain ku1angsungkan juga, dengan suara
yang agak menggigil:
Tinggal kenangan
Tinggal harapan
Slalu membayang
Tak mudah kulupakan.
Terdengar bisik Toni: “Bait akhir sama-sama”. Dan tanpa kuharapkan sama sekali,
kami berdua melakukan duet untuk rnenyelesaikan bait terakhir Can lagu penyanyi
kesayangan ku:
Bilakah kita
Bersua kembali
Untuk memadu kata
Saling mengikat janji.
Tepuk tangan yang riuh rendah seakan-akan meruntuhkan dan meletuskan balonbalon yang bergantungan. Sambil berjalan membimbing lenganku, Toni membawaku
ke sudut garden rumah kami.
“Emmy mana?” tanyaku dengan suara ditabahkan.
“Nggak ikut”, kata Toni.
Dan kami berdua duduk. Katanya:
“Ternyata kau pintar sekali menyanyi”.
“Aku sih bukan penyanyi. Kau yang pintar”, kataku.
“Ya. Karena itu Emmy mau padamu”, kataku.
“Lagi-lagi Emmy. Kalau nggak Emmy gimana sih? Misalnya
Fonnie”.
Ketika lampu-lampu menjadi redup, Toni mencoba-coba untuk menarikku di balik
rumpunan pisang-belanda. Tapi dengan jijik aku berkata:
“Kau! Don Juan! Cassanova!”
Dalam kelasku, sebenarnya ada tiga orang anak lelaki yang menarik perhatianku, dan
bukan hanya Toni saja.
Yang seorang lagi, bernama Kherman Agustus, yang duduk di belakangku, yang suka
memberikan atau membisik-bisikkan soal-soal ujian kalau dilihatnya kertasku kosong
karena tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan soal ujian.
Kherman Agustus dikenal di kelas kami sebagai Plato*). Guru kami pula yang
menamakan dia dengan julukan itu, sebab Kherman Agustus pintar sekaIi, dan tidatk
pernah menjawab yang salah jika ada ujian lisan, dan bahkan dia suka mendebat guru
sejarahku. Ya, karena dia senang mendebat guru sejarah kami, maka guru sejarah
itulah yang memberinya julukan “Plato”. Guruku menceritakan, orang pintar Yunani
yang bernama Plato suka sekali mendebat gurunya, yang bernama Aristoteles.
Dan seorang lagi anak lelaki yang menarik hatiku, bernama Embeh Tigor, seorang
anak dan Sumatera yang mempunyai sikap yang lembut tetapi bertubuh kekar.
Kawan-kawan ada juga yang menjulukinya dengan nama Gregory Peck, karena
wajahnya memang mirip Gregory Peck. Dan kami menjulukinya demikian setelah
kami satu sekolah diajak’ direktur kami untuk menonton film amal, dimana Gregory
Peck main sebagai Moby Dick dalam film itu.
Tapi Embeh Tigor marah sekali dijuluki demikian.
“Aku bukan Gregory Peck, bukan juga Moby Dick. Aku cuma Tigor. Embeh Tigor”.
Semua teman-temanku yang perempuan amatlah senang melihat Tigor marah begitu.
Sebab ia yang kami kenal lembut sekali, sekalisekali melontarkan marah demikian,
terasa ia gagah serta kekar.
Aku tak setuju Reni mengatakan Tigor seperti bane Soalnya Tigor memang lebih
pendiam dari yang lain-lain.
“Matanya begitu tajam”, kataku pada Reni.
“Ya, tetapi bibirnya terlalu tipis”, kata Reni.
“Kau suka dengan laki-laki yang bibirnya tebal. Hah, aku bisa mencarikan buatlu satu
orang”, kataku.
“Siapa coba?”
“Siapa coba?”
“Nat King Cole afau Louis Ainstrong”, kataku tertawa.
“Tigor menurut pendapatku tetap sepertl banci”, kata Reni.
“Alt, kayak yang sudah nguji aja”, kata Imah menyeling tiba-tiba.
“Bagaimana pendapatmu, Imah?” tanyaku.
“Cakep deh. Lebih cakep dari Toni malahan. Cuma bau sepatunya, cukup ngerontokin
bulu hidung kita”, kata Imah.
Embeh Tigor memang punya keanehan sendiri dalam kelasku, karena itu ia menarik
perhatianku. Ia suka memakai sepatu lars yang sampai mata kakinya, dan sepatu itu
memang sudah agak usang juga, tetapi setahuku tidak bau seperti dibilang Imah.
Bila dia memakai celana pendek sekolah, kawan-kawanku sering berbisik bahwa
Tigor sedang memakai celana wool-aseli. Soalnya bulu kakinya seperti bulu domba
saja tebalnya. Dan bila kami tertawa-tawa di pintu, Tigor curiga pada kami, matanya
melirik, lalu senyum.
Melihat dia senyum, kami ketawa-tawa lagi.
“Iseng bener ngetawain orang”, kata Tigor.
“Abis. Nggak ada celana yang lebih pendekan lagi?” kata Reni.
“Ya, gue ‘kan nggak seperti kamu orang, babe gue PGP”, kata Tigor.
“Marah nih?” tanyaku membujuk, tahu, bahwa ia salah sangka oleh ucapan Reni tadi.
Dia melihat padaku dan aku merasa suaraku yang lembut berhasil mengurangi rasa
tersinggungnya.
Tigor memang kadang-kadang gampang tersinggung seperti itu.
Kadang-kadang gerak-geriknya seperti cross boy, dengan baju kaos yang lengannya
diperpendek itu.
Tapi entah bagaimana, aku senang dengan Tigor, senang sekali sebenarnya melihat
cara dan gerak-geriknya.
Tapi setahuku tidak ada gadis-gadis di kelasku yang berhasil berteman dekat dengan
dia. Karena guru kami pernah memberikan julukan Khairil Anwar kepadanya sewaktu
ia tidak tukar baju selama tiga hari, aku ingat, bahwa Tigor pasti punya sajak-sajak
Khairil Anwar karena kawan-kawan sering melihat sajaknya muncul di koran-koran
taman remaja.
“Betul, Gor, mau diadakan lomba deklamasi?”, tanyaku.
Mendengar pertanyaan itu, matanya tampak lebih tajam bersinar.
“Kau suka juga kepada sajak-sajak?”
“Aku mau coba-coba ikut deklamasi”, kataku.
“Betul?”
“Betul. Makanya aku mau pinjam. Kata guru bahasa, sajak-sajak itu bisa dicari pada
buku Deru Campur Debu Khairil betul?”
“Ya. Nanti kupinjamkan padamu”, tanyaku.
“Bener-bener, nih, Fonnie?”, tanyanya ragu tapi senang.
“Betul bener, kebentur kelenger”. kataku melucu.
Dan Tigor kuketahui siapa Khairil Anwar yang sebenarnya. Dari Tigor pula
kuketahui, bagaimana Khairil Anwar telah wafat dengan menyedihkan, pada tanggal
28 April 1949, dan dikuburkan di pekuburan Karet.
Dan Tigor kuketahui, bahwa Khairil Anwar bukanlah semacam “binatang jalang’’,
melainkan manusia biasa yang mengenal Tuhan, kemesraan dan cinta, nasa kasihan
kepada peminta-minta serta seorang yang berani.
“Aku akan membacakan sebuah sajak Khairil yang bagus”, kata Tigor, kepadaku;
sewaktu aku duduk-duduk di kebun samping rumahnya.
“Aku ingin mendengarnya, Tigor”, kataku.
Dan Tigor berdiri, berdeklamasi:
“Catetan Tahun 1946”, demikian mulainya dengan suaranya yang bernada bas yang
segar berat.
Ada tanganku, sekali akan jemu terkulai. Mainan cahya di air hilang bentuk dalam
kabut.
Dan suara yang ‘kucintai ‘kan berhenti membelai.
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
Aku menelan ludahku dengan nafas dihela panjang, karena bait pertama sajak tersebut
seakan-akan meremangkan bulutengkukku. Tigor meneruskan:
Kita — anjing diburu — hanya melihat sebagian dan sandiwara sekarang. Tidak tahu
Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang.
Lahir seorang besar dan tenggelam beratusribu.
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
Aku belum mengerti sajak itu, biarpun bulu romaku berdiri. Dan telingaku mengawasi
suara Tigor, mataku memperhatikan mimik Wajahnya.
Dan kita nanti tiada Iawan lagi diburu.
Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu.
Kita memburu arti atau diserahkan pada anak lahir sempat.
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah.
Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah.
Setelah membacakan sajak itu Tigor memandang kepadaku dengan pandangan yang
biasa dipunyainya selama ini, yang menarik hatiku.
“Sayang penyair besar itu telah wafat. Aku kadang-kadang teringat, bahwa Khairil
pun punya anak. Seorang anak gadis yang bernama Evawani Elissa. Ingin aku
membayangkan, jika aku kelak jadi seniman besar, besar seperti Khairil Anwar”, kata
Tigor.
Tetapi aku berpendapat ketika itu, aku akan membawakan sajak yang lain, karena itu
aku berkata:
“Tigor”, kataku pelan, ragu-ragu, takut ditertawakan nantinya.
“Apa, Fonnie”, tanyanya sungguh-sungguh
“Jangan marah ya? Aku tolol sekali. Tak ngerti sajak itu. Aku mau sajak Cintaku Jauh
Di pulau. Kau punya? Aku pernah menyalin sajak itu dan buku kepunyaan Imah, tapi
ketika aku berkelahi dengan kakakku Fizzy, kugulung saja, kulemparkan pada
kepalanya. Dan, kau punya?”
“Sebentar”, kata Tigor membalik-balik buku yang dipcgangnya. Dan kemudian Ia
berkata:
“Ya”, kataku.
Dan aku mulai merengek manja:
“Ajarin dong”. kataku.
Ia memandang padaku sejenak, dan aku suka ia memandangku, biar Iebih lama lagi.
Matanya seperti mata adikku rasanya, lucu dan menyenangkan.
“Dengar
“, kata Tigor.
Cintaku jauh di pulau,
Gadis manis, sekarang iseng sendiri.
Perahu melancar, bulan memancar.
“Dengan “, kata Tigor.
Cintaku jauh di pulau,
Gadis manis, sekarang Iseng sendiri.
Perahu melancar, bulan memancar.
Di leher kukalungkan oleh-oleh buat sipacar.
Angin membantu, laut tenang tapi terasa
Aku tidak ‘kan sampai padanya.
Aku waktu itu tak tahan lagi, dalam hati pelan kuikuti baris-baris sajak itu dengan
mengulangi gaya Tigor.
Karena aku duduk di korsi, rupa-rupanya dia berjongkok tiba-tiba, dengan suatu
maksud. Biarpun aku duduk dan dia jongkok, Tigor sama tinggi rasanya denganku
ketika itu. Sebab matanya sejajar dengan mataku. Dipandangnya lama-lama mataku
dan kulihat matanya yang jenaka, hitam dan belam.
“Idiiiih, ngeliat aja. Seniman genit ya” tanyaku.
“Kenapa sih seniman dibilang genit?” tanya Tigor.
“Imah pernah bilang, Seniman itu punya motto: Peluk kecup perempuan tinggalkan
kalau merayu hih, genit beeng”, kataku.
“Itu juga sajak Khairil. Janganlah curiga kepada seniman. Mereka itu manusia biasa.
Aku tak mengira, kau banyak mengenali sajak-sajak, bagaimana kalau kita jalan-jalan
sebentar,” katanya.
“Kemana sih?” tanyaku.
“Kan mau ngajarin deklamasi?”
Sebenarnya aku kepingin sekali jalan-jalan bersama Embeh Tigor. Dan karena itu
kuterima ajakannya.
“Hari mulai gelap”, kataku.
“Ah, nanti kau kuantarkan pulang”, katanya.
“Kita kemana?”
“Jalan-jalan”, katanya.
Kami berdua bersepeda akhirnya sama-sama berdua di air mancur Istiqlal di seberang
Tugu Nasional Gambir.
“Aku sebenarnya malu mengajak kau ke rumahku” kata Tigor.
“Kenapa?”
“Rumahku jelek,” kata Tigor.
“Ah, kau, Tigor”, kataku dengan suara membujuk.
“Panggil aku Embeh”, katanya.
“Kenapa?”
“Itu panggilan ibuku kepadaku. Dan ibuku sudah tua”, kata Tigor.
“Tapi aku lebih senang memanggilmu Tigor. Kau orang Batak?”
“Bukan”, katanya.
“Orang Padang?” tanyaku.
“Bukan. Aku orang Indonesia. Dan kau pun Fonnie, bisa kusebut kau ini orang Arab”,
katanya.
‘Kenapa?”
“Hidungmu mancung…..”, katanya dengan suara mengambang.
“Apa lagi?” tanyaku tak acuh, tetapi sebenarnya acuh.
“Matamu hitam seperti malam yang gelap menyinar cahya”, katanya.
“Apa lagi hmmm?”, tanyaku tak acuh, tapi ingin lagi, lagi, lagi.
“Dan alis matamu. Bukan dipoles oleh make-up tapi susunan bulu-bulu rambut yang
hitam, menggaris aseli”, kata Tigor.
“Apa lagi” tanyaku, membuang muka karena tak tahan oleh pandangannya yang
benar-benar mendenyut-denyutkan jantungku lebih kuat.
“Dan bibirmu itu. Impian setiap penyair,” katanya.
“Bagaimana bibirku?” tanyaku ingin.
“Lembut sekali, seperti agar,” katanya.
“Kok tau?” tanyaku.
“Biarpun belum pernah tau, tapi aku bisa melihat, bibirmu itu lembut, seakan-akan
sayang jika disentuh oleh bibir yang kasar”, katanya.
“O, jangan marah, nona”, katanya.
“Marah dong”, kataku dengan lebih ngambek lagi.
“Kalau nona marah, saya terjun ke dalam kolam air mancur ini,” katanya menjadikan
aku ketawa.
DAN Tigor berdiam sesaat, melemparkan batu-batu kecil ke dalam kolam air mancur
yang airnya butek itu.
Mataku memandang sekitar. Lampu-lampu yang mengelilingi kolam Istiqlal itu
kelihatan sudah mulai menyala, berwarna antara kehijau-hijauan dan abu-abu neon.
“Lampu telah menyala”, kataku.
“Hari sudah malam”, kata Tigor.
“Biarlah sebentar lagi saja kita pulang. Tadi aku ingin bertanya, Tigor, kenapa kau
beraniberani mengirimkan sajak-sajak untukku di suratkabar?”
Tigor kaget. Aku menyesal kenapa menanyakan hal itu.
“Kenapa sih?” tanyanya.
“Kata teman-teman, aku ini pacarmu. Aku bukan pacarmu bukan?”
“Aku hanya senang padamu. Kau memang bukan pacarku”, katanya.
“Kalau begitu, pacarmu siapa?” tanyaku.
“Aku nggak tau”, katanya.
“Ah kau bohong”, kataku.
“Sungguh. Aku nggak bohong. Aku khawatir, kalau aku pacar-pacaran dengan
seseorang, dia akan kecewa karena aku bercita-cita terlalu ideal. Karena tidak ingin
mengecewakan seseorang, aku tidak memikirkan hal itu”, kata Tigor pasti.
“Tetapi sajak-sajak itu membikin aku dituduh teman-teman berpacaran dengan kau.
Setidak-tidaknya mereka menyangka kau adalah pacarku”, kataku.
Tigor terdiam lama. Dan kantongnya, dikeluarkannya sebungkus rokok yang kumal.
Tanpa mengacuhkanku, Tigor merokok.
Tiba-tiba aku berusaha memancingnya. Aku ingin Ia tertarik pada kata-kataku tadi
kembali. Karena itu bibirku membacakan kembali sajak itu, sebuah sajak yang
kuhapal:
Malam menggelimang dalam gelimang mimpiku,
Seakan seribu cahaya bermain di kamarku yang gelap, dan ingin kau sekali waktu
‘kan kudekap Tapi sadar. Jaman ini telah membikin hatiku membeku, Tigor
memegang tanganku tiba-tiba. Katanya ini diulanginya sekali lagi.
“Kau hafal sajak itu”, — kata-katanya ini diulanginya sekali lagi.
“Tetapi teman-teman di kelas bilang, katanya si Tigor mau mendekap si Fonnie”,
kataku.
“Biarkan mereka bilang begitu, Fonnie!”, kata Tigor.
“Tapi…….“, dan aku tertegun segan-segan sedikit. “Tapi apa yang kau maksud
dengan kata-kata: Jaman ini membikin hatiku membeku ? Apa, Gor?”, tanyaku
lembut.
Tigor memandangku dengan pandangan yang menggetarkanku. Lalu ia berkata: “Fonnie. Aku kadang-kadang membuat perbandingan yang aneh. Aku membayangkan
diriku seperti anak semut dalam sebuah lubang yang gelap. Semut kecil itu mencari
ibu bapaknya yang tewas. Dan ia melihat sekeliling, menyeru kepada Tuhan: Berilah
kepadaku kegembiraan, aku masih muda!”
Aku tak mengerti arah kata-katanya itu. Tetapi aku merasakan, kira-kira apa maksudnya. Tiba-tiba berkata Tigor: “Tapi dengan kau, Fonnie, hatiku yang membeku dalam
sajak, cair kembali”.
Dipegangnya lenganku dengan lembut, tanpa paksa, sehingga, ketika ada orang
berpasangpasangan berlalu di depan kami, kami pun tertunduk malu.
“Apa yang kau maksudkan, bersama denganku engkau yang berhati membeku lantas
cair kembali?” tanyaku sembari menghindarkan elusan-elusan tangannya yang
menegakkan bulu romaku.
“Maksudku, kau telah mendorong semangatku hari-hari ini. Aku merasa hidup
kembali hari ini, Fonnie”, katanya.
Dielusnya kembali jari-jariku dengan jari-jari tangannya. Terkadang aku merasa geligelian, bila bulu-bulu tangannya yang menebal itu menyentuh-nyentuh kulitku
sehingga bangunlah seluruh bulu di permukaan kulitku karenanya. Ingin rasanya aku
disentuh-sentuh demikian itu perlahan-lahan dan berkali-kali, karena aku bisa
menerima kelembutan dan seseorang yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Suasana rimbunnya pohon-pohon yang merlap sekitar taman Istiqlal, redupnya
cahaya, sejuknya perasaan ketika itu, menyebabkan aku menunggu Tigor akan
mendekapku.
Di rumah, digarage mobil rumahku, sewaktu kami berdua saja di garage dadaku terasa
penuh sesak. Serasa ada alunan gelombang yang menerjuni dadaku ini. Tapi Tigor tak
mengelusku, tak mendekapku. Agaknya ia takut aku akan menolaknya, sekalipun
kutunggu, kutunggu, dengan memandang matanya lama-lama sambil dua tiga kali
menarik nafasku dalam-dalam.
Namun pelukan itu tak terjadi.
Tidak terasa, bahwa waktu telah berjalan perlahan-lahan. Tidak terasa bahwa Tigor
yang semula akan menjadi teman rapatku menurut perhitunganku nyata-nyatanya
sehari demi sehari malahan semakin menjauhiku. Aku kadang-kadang tak mengerti.
Bulan April yang lalu, ketika kuberikan selamat karena ia menjadi pemenang Lomba
Deklamasi seluruh Jakarta, Ia menyambut salamku dengan dingin. Karena itu aku tak
memikirkannya Iagi. Dan pernah Tigor menjadi marah sangat kepada Reni suatu kali,
karena Reni bertanya kepadanya: “Nggak mendekapi Fonnie lagi, Gor?!”
Aku mendengar ejekan Reni itu. Dan aku khawatir kalau-kalau Tigor mengira bahwa
aku menambah-nambahi pengalamanku sewaktu ia mengelus-elus lenganku di taman
Istiqlal dahulu. Setelah Tigor pergi sehabis marah itu, aku mendekati Reni.
“Kau jangan bergurau begitu”, kataku.
“Habis! Punya pacar seniman, lu bisa payah. Gampang ngambek. Nggak ingat riwayat
Khairil Anwar yang diceritakan pak Guru?”, kata Reni.
“Masa’?” tanyaku.
“Mangkanya cari pacar yang normal dong. Seniman ‘kan nggak normal. Sudah bagus
dulunya kamu dengan Tom, ditinggalin lagi! Akibatnya Toni ‘pan kewalahan
sekarang”, kata
Rem.
“Toni kewalahan bagaimana?” tanyaku.
“Itu…….., waktu pesta ulang tahun kakakmu Fizzy, ‘kan dia datang”, cerita Reni.
“Betul”, kataku “Lantas?”
“Bagaimana? Betul Toni gondok sama kau?”, tanya Reni.
Aku heran akan cerita Reni ini………Tanyaku:
“Apa Toni ceritakan?”
Akh! Mau disumpahnya. Katanya kau sok milih”, sambung Reni.
Aku terdiam mengenangkan.
Reni berkata lagi: “Kalau gue, gue terima ajalah nasib. Sekarang, dua-duanya
bernasib jelek”, kata Reni lagi.
“Gue nggak pernah merasa nasib gue jelek, Reni!” kataku.
“Eh, jangan melohok gitu dong, manis! Maksud gue yang punya nasib jelek bukan
kamu. Si Toni sama si Emmy. Lu tau, si Toni digampar oleh si Emmy?”
‘Digampar?”
‘Ya. Digampar. Banyak Yang liat. Dekat kakus sekolah, kata orang. Emmy cemburu,
katanya Toni memburu-.buru kamu, Fonnie! Si Toni sih, tukang jual omong. Jadi
lelaki, mentang-mentang dimauin seribu gadis jadinya sok. Sekarang baru dia tau
rasa. Broken-heart. Emmy juga nggak bakalan mau lagi sama lelaki yang suka
gampar-gamparin cewek!”.
“Emangnya dia pernah gamparin cewek?” tanyaku.
“Kata orang begitu, Fonnie. Tetapi sama si Emmy sebaliknya, dia diduluin kena
gampar.”
Setelah berkata begitu, Reni sekonyong.. konyong senyum-senyum kecil tertahantahan seperti ada yang menggelitik ketiaknya. Rupa-rupanya ada yang mendesak
hatinya maka Reni seperti orang kena gelitik demikian itu! Katanya:
“Si Kherman naksir tuh!”
“Naksir sama kamu. Tapi lu kok diem-diem melulu?!”, tanyanya kemudian.
“Gue segen sama si Plato!”, kataku.
Biarpun bibirku membilang “segen”, tetapi hatiku gemuruh bertanya-tanya: Apakah
benar? Apakah benar? Apakah benar? Benar atau bohong? Betul atau benar? Ah, itu
hanya ajukan-ajukan si Reni saja! Tiba-tiba anganku melayang pada potonganpotongan tubuh Toni. Potongan tubuh Tigor, Potongan tubuh Kherman. Tom
tampangnya sedikit halus, tapi matanya kelihatan seperti mau menelan. Tigor terlalu
suka berkhayal, Kherman kasar, tetapi justru pandai berbicara serta menarik sekali
kata-katanya. Pernah aku terlambat memulangkan bukunya yang kupinjam, Kherman
berkata: “Emangnya buku gue mau dipeties-in?”.
Kata-kata itu pedih buatku sebagai seorang gadis. Dan kadang-kadang Kherman tak
kusukai karena sok menonjolkan diri didalam kelas. Mentang-mentang pak guru
mengatakan bahwa Ia seorang pintar seperti Plato. Namun, sekali waktu guru
Tatanegara kami pernah berkata:
“Kau boleh merasa dirimu seperti Plato, Kherman. Tetapi kepalamu jangan terlalu
besar lebih besar dari kepala Plato, maksud bapak besar kepala. Karena bagaimanapun
jua kamu adalah murid di kelas ini!”
“Ya pak. Saya tidak boleh berdebat lagi pak?” tanya Kherman dengan muka merah
padam
“Kau mengatakan, bahwa, kenapa kita harus kagum kepada jaman gemilang Gajahniada. Katamu: Itu hanya sejarah yang sudah liwat. Baiklah, Kherman, sementara
bapak terima pendapatmu, bahwa kerajaan-kerajaan dulu hanya melakukan ekspansi
demi sang Raja, bukan demi sang Rakyat. Tetapi itu bukan imperialisme, Kherman”,
kata guru Tata negara kami.
“Buat saya, sama saja, pak. Ekpansi sama juga dengan imperialisme pak!”.
“Boleh saja kau berkata begitu. Dalam kelas ini saya adalah gurunya: Saya tidak
mengajarkan politik di kelas ini. Saya mengajar Tatanegara. Khususnya tadi saya
mengatakan perbedaan monarchi di Eropah dan Kerajaan di Indonesia. Saya gurumu
di kelas ini Itu harus kamu ingat!”
Kherman menjawab: “Saya tahu pak, bapak lebih pintar dan saya. Tetapi bapak yang
pernah mengajarkan perbedaan diktatur dan demokrasi telah menekan hak mendebat
saya, sehingga bapak seakan-akan seorang diktator. Saya berani mendebat bapak
karena bapak pula yang berkata, bahwa Indonesia negara demokrasi. Bahkan bapak
berkata, kelas kita ini sebuah micro-negara, dimana demokrasi pun memberikan
kesempatan pada murid-murid untuk bertanya”.
Kami di kelas menjadi gelisah karena debat ini.
“Tapi kau bersikap liar di kelas ini!” kata guru kami marah.
“Saya hanya tanya secara sopan, pak, bukan bikin gaduh”.
‘Tapi kau tafsirkan demokrasi dengan hak bicara asal bicara, hak mendebat asal
mendebat. Bukan merupakan wakil sikap dan murid-murid. Kau termasuk anarchie,
bukan demokrasi! “, kata guru Tata negara kami.
“Kalau saya teriak-teriak, itu memang betul, pak. Tapi ‘kan bapak dengar sendiri,
saya bertanya dengan suara sopan?”
“Tapi kau sok pintar. Kau masih bocah ingusan’, kata guru Tata negara.
“Karena bapak lebih dahulu lahir dan kami saja, soalnya. Katagori ‘ingusan’ dalam
hal mi karena saya dilahirkan belakangan dan bapak. Teman-teman yang lain tidak
mendebat karena takut ponten-ponten Tata negara mereka nanti dapat angka merah”,
kata Kherman berani.
“Apa kamu kepingin saya perintahkan keluar dan kelas ini?” tanya guru kami kemudian.
Kherman menggerutu sendirian. Dan ini didengar oleh guru Tatanegara kami.
“Kau ngomong apa di belakang?”
“Karena bapak tak memperbolehkan saya bicara tentu saya menggerendeng sendirian
di belakang”, kata Kherman lebih berani.
“Kamu keluar, Kherman!”
Kherman keluar dan kelas, tanpa tunggu waktu. Banyak teman-teman jadi benci
kepada Kherman pada mulanya. Tapi lama-lama teman-teman itu berbicara, bahwa
memang guru Tatanegara kami bertindak seperti diktator. Dan aku yang merasa,
bahwa setiap murid berhak bertanya, Ialu bersimpati kepada Kherman. Ketika keluar
istirahat, aku mendekati Kherman. Berkatalah Kherman: “Kalau pak guru kita jadi
pemimpin, berbahaya!”
“Kenapa?” tanyaku.
“Kalau dia jadi pemimpin, dia akan paksa setiap orang harus berfikir seperti dia”, kata
Kherman.
“Makanya lebih baik kau lain kali berdiam diri saja”, kataku.
“Memang, Fonnie. Aku tak pernah minta dijuluki Plato”, katanya.
“Ya, betul. Itu julukan guru sejarah kita, bukan?”, bujukku.
“Tapi gue merasa sedih sekarang, nih. Jiwaku merasa kena tekan seakan-akan
kemerdekaan berbicara gue diinjak-injak. Aku akan pindah saja dan sekolah ini”,
katanya.
“Kenapa kau ambil keputusan begitu terburu?”, tanyaku.
“Kau keberatan?” tanya Kherman.
“Aku sangat keberatan. Teman-teman mengatakan, kau yang benar. Kelas akan jadi
sepi kalau kau tak ada”, kataku.
Mungkin karena aku adalah yang pertama memberikan simpati kepadanya,.. maka
sejak hari itu Kherman sering-sering datang ke rumahku. “Ternyata kemudian olehku
bahwa Kherman pun seorang yang lembut. Aku ingin juga berkenalan dengan adiknya
yang diceritakannya kepadaku. Juga sangat. lngin berkenalan dengan ibu bapaknya.
Barangkali demikianlah semua perasaan gadis remaja. Seorang gadis remaja
senantiasa membayangkan dirinya sudah dekat diambang rumahtangga, sehingga
sering membayangkan bapak dan ibu lelaki yang disimpatikannya adalah Calon-calon
mertuanya. Ataukah perasaan seperti ini hanya ada pada diriku seorang? Aku tak tahu.
Tetapi harapan-harapanku untuk berkenalan dengan dekat pada orang tuanya itu tak
terkabulkan, karena Kherman keberatan.
‘Kenapa?” tanyaku.
“Kedua orangtuaku sama saja seperti guru Tatanegara kita. Berbakat untuk menjadi
diktator”, kata Kherman.
“Itu mungkin perasaanmu saja”, kataku.
“Tidak. Itu memang kenyataannya. Aku ini anaknya yang sudah kebal. Kena gampar,
biasa. Ditempeleng dan disepak, biasa. Apalagi dibentak, adalah makanan kami
sehari-hari. Ayahku bukan pemabuk, tetapi setiap ia pulang agak larut, selalu Ia
marah-marah. Ibuku pun akhir-akhir ini pemarah sekali. Jadi hendaknya kau jangan
kecil hati jika aku keberatan, jika kau ingin berkenalan dengan mereka. Nanti kau
kecewa”, kata Kherman.
“Kau tak suka pada ayahmu?” tanyaku.
“Entahlah. Namun bagaimanapun juga dia ayahku. Apa boleh buat. Tetapi aku
berpendapat, uang yang diperdapatnya dengan gampang, menyebabkan ayah menjadi
seorang yang tidak menghargai orang lain. Kenapa aku harus menceritakan perihal
yang buruk tentang ayahku sendiri? Karena ayah seperti menjadi anak kecil kembali.
Tidak boleh satupun diantara kami, termasuk abangku yang sulung mendekat dia.
Lebih-lebih jika abang menyelidiki soal-soal yang berhubungan dengan kebunkebunnya dan tentang darimana ayah mempunyaj uang sebanyak itu, kontan saja ayah
jadi marah”, kata Kherman.
Tapi rasa ingin tahu pada akhirnya membuat aku mendatangi rumah Kherman.
Banyak sekali mobil di luar, dan terdengar suara orang tertawa terkekeh-kekeh
gembira di beranda. Lalu aku membatalkan maksudku. Tiba-tiba di belakangku sudah
terdengar saja suara Kherman:
“Fonnie! Fonnie.”
Aku menoleh dan berbalik belakang.
“Oh, kau, Kherman”, kataku, “Kulihat rumahmu penuh tamu, sehingga aku tak jadi
masuk.”
“Untung tak jadi. Pernah Tigor datang ke rumahku, tepat dalam keadaan demikian.
Dia dibentak oleh ayahku. Ayah berkata ada rapat. Aku tak percaya. Mereka kongkokongko saja akhirnya sampai jauh malam, bisik-bisik menari-nari, akhirnya bagi
rejeki”, kata Kherman.
“Kau tahu benar tentang ayahmu, Kherman”, kataku. Kami melangkah bersama
melalui jalan yang penuh pohon-pohon palem di samping-samping kami.
“Sedih sekali ayah! Ia terlalu cepat menjadi kaya. Ibuku cuma dianggap kolot.
Kadang ibuku menangis. Lebih-lebih ketika menyaksikan bahwa abangku yang
sulung ditinjunya. Aku tak mengerti, sejak kapan ayah menjadi kasar begitu.
Seingatku, sebelum dia mendapat fasilitas bikin pabrik dan membeli kebun-kebun, dia
tak sedemikian itu. Akhir-akhir ini dia sombong sekali. Dan kami, anak-anaknya
menjadi orang yang tak diurusnya lagi, lebih-lebih sejak dia berbini lagi.”
Ada yang runtuh di hatiku tiba-tiba. Yaitu nasib yang sama antara kami berdua. Aku
dan Fizzy pernah sama-sama mengusut tentang ayah kami. Tetapi kepada ibu, ayah
bersikap takut sekali, seakan-akan patuh. Pernah ayah berkata, dulu itu terjadi, bahwa
ayah akan pergi konperensi. Aku tak sengaja telah diajak oleh Imah dan Reni untuk
pesta di rumah kawan. Alangkah malunya aku ketika melihat ayah menari-nari di
rumah tempat pesta itu, dan Reni berkata kepadaku: “Ayahmu genit juga ya?”
Sungguh. Aku pulang saja ketika itu tak tahan melihat kelakuan ayah. Dan kini, ada
lagi seorang kawan yang punya nasib yang sama tentang ayahnya.
Dia adalah Kherman, yang kini berjalan bersamaku. Kami berdua berjalan terus,
melalui sepinya jalan-jalan daerah itu. Angin berhembus lembut, dan bulan terang di
langit yang cerah bagaikan sutera biru tua. Sudah hampir setengah jam kami berdua
tak berkata-kata, akhirnya kami berdua setuju untuk keliling naik becak.
“Kemana rencanamu jika sudah tamat?” tanya Kherman tiba-tiba, menyebabkan aku
tersentak dari lamunan kepada ayah, yang malam ini sedang ada konperensi dinas di
Puncak.
“Apa kau bilang Man?”, tanyaku.
“Sambung kemana?”, tanya Kherman.
“Ke fakultas”, kataku.
“Aku juga demikian. Tapi aku akan memasuki fakultas ekonomi”, katanya.
‘Kenapa?”
“Kita sudah kebanyakan orang-orang yang pintar bicara. Ekonomi makin buruk,
seperti guru ekonomi kita sendiri pernah menerangkan”.
Aku seakan-akan terlupa mendengar Kherman menerangkan cita-citanya yang hebat
kurasa, jika pada tiap-tiap kampung benarbenar telah didirikan koperasi kampung.
Tetapi, lama-lama aku muak. Yang kuinginkan dan Kherman adalah mengurangi
kelelahan otakku, yang sehari-hari dicengkam oleh sepi, lebih-lebih sejak Fizzy sering
keluar rumah bersama temantemannya yang akhir-akhir ini semakin ramai. Kepalaku
serasa berat mendengar cerita Kherman, dan terkadang aku tak mengerti apakah ia
marah pada ayahnya ataukah kepada setiap orang.
Angin berhembus lembut, bulan terang. Tetapi hatiku terasa gelap saja.
Tiba-tiba ada yang bergerak-gerak dekat ketiakku, terasa olehku. Aku tahu sekarang,
itu jari-jari Kherman. Aku melirik kepadanya, ketika dia melirik kepadaku. Aku
senyum. Dia ‘juga senyum kecut, tetapi tiba-tiba tangan diremasnya dengan penuh
nafsu.
“Kenapa kau?” tanyaku.
“Aku butuh kemesraan”, katanya.
“Aku malu. Nanti kelihatan orang” kataku.
“Jalan begini sepi. Apa kau takutkah?” “Memang sepi”, kataku membenarkan. “Kau
takut?” Kherman bertanya.
“Aku takut kepadamu”, kataku, dan membalas remasan tangannya. Aku yang terlalu
lama kesepian dalam rumah sendiri, kini melepaskan rasa tertekanku dengan
meremas-remas tanganku pada jarinya. Kurebahkan kepalaku pada bahunya. Terasa
nafasnya pada ubun-ubunku.
Sejak kelas satu”, katanya.
“Apa?” tanyaku gemetar.
“Aku ingin seperti ini. Tapi Toni lebih dulu. Tigor lebih dulu. Dan menjadi orang
Yang ketiga”, katanya.
“Kau bukan orang Yang ketiga seperti ini Man”, kataku.
“Aku tak percaya”, katanya.
“Sungguh. Kau jangan begitu ah”, kataku melepaskan remasan tangannya Yang
menggetarkan setiap pori dalam tubuhku.
“Kemana kita?” tanyanya menggigil.
Tiba-tiba aku ingat pada rumahku. Kuajak dia ke rumahku.
Perlahan..lahan kubuka pintu garage di Samping rumahku. Perlahan kututup kembali
pintu itu. Terasa tangan Kherman mulai menjelujuri rambutku yang ikal, terdengar
olehku nafasnya menggeru. Terasa nafasnya pada telingaku bertiup pelahan, dan aku
terlena bergantung pada lehernya dengan kedua tanganku. Rasa sepi ini telah
direnggut oleh Kherman, direnggut oleh kami berdua yang berpagut tegang, tetapi
tiba-tiba ketika itu, aku merasa lunglai, tak tahan lagi berdiri Iama-Iama Kepalaku
Pusing, mataku berkunang-kunang, seakan-akan mau pingsan.
Dan aneh, dalam kemesraan menerima apa yang diperbuat Kherman, timbul curigaku,
bahwa Ia akan melewati batas-batas sewajarnya. Aku tahu hal itu tanpa diketahui
lebih dahulu ketika Kherman
“Aku tak mau kau lebih nakal lagi”, kataku dengan agak marah dan mengeluarkan
tangannya dan blouseku.
Kherman gugup. Tampak wajahnya seakan-akan menyesal. Kataku pasti:
“Aku tak mau kau sejahat ayahmu.”
Ia akan berkata, akan berkata, tapi Ia tak berkata, ataukah ia kehabisan akal untuk
berkata sehingga tak bisa mengatakan sepatah kata saja?
“Kau tau aku kesepian”, kataku.
“Kau juga tahu aku kesepian”, katanya.
“Tapi kau akan keluar dan batas”, kataku, karena tangannya yang nakal tadi.
“Aku tak sengaja. Kenapa kau menuduh aku seperti ayahku? Darimana kau
mengetahui pribadi ayahku?”
“Kau lupa. Kau tadi mengatakan di jalanan. Mungkin kau tak sadar, karena terlalu
benci, sehingga kau bilang, ayahmu pernah memperkosa gadis yang indekos di
rumahmu”, kataku dengan muak dan marah.
Kherman menggigil:
“Itu bukan rahasia lagi. Seluruh kompleks itu tahu. Aku takkan mengingkarinya. Tapi
kepadamu aku takkan melakukannya”, kata Kherman.
“Bohong”, kataku hampir menangis, sedih rasanya mendapatkan seorang Kherman
yang dalam garage rumahku ini tiba-tiba berdusta kepadaku. “Tokh tidak terjadi”,
katanya pelan.
“Jika aku lupa pada kehormatanku?. Apa tidak mungkin hal itu terjadi?. Kukira kau
lebih baik dan Toni, nyatanya kalian sama!?“, kataku menangis.
“Maafkan aku”, kata Kherman.
Sebenarnya aku. bisa memaafkannya, tapi betapa terkutuknya diriku ini jika aku
terlupa barang sedetik saja dan syetan yang telah menguasai kami berdua. Sebenarnya
aku berjanii tidak akan menegur Kherman dalam kelas, yang pada esok harinya jika ia
datang dipagi itu kedalam kelas dalam cucuran air mata dan membawa kabar yang
menyedihkan: “Ibuku meninggal sebentar ini”.
Alangkah mengejutkan berita itu kemudian. Dan bisik-bisik kuketahui kemudian,
bahwa ibunya telah mati dalam keadaan yang paling menyedihkan: satu doos obat
tidur telah diminumnya.
“Aku tak perlu merahasiakannya, daripada kau dengar dari orang lain. Sepulangnya
dari rumahmu semalam itu, aku tidur dikamar ibu. Ibu berkata: Jangan bangunkan aku
besok pagi, Kherman. Ternyata Ia melakukan hal itu. Penderitaan bathinnya dalam
kemewahan sudah berakhir”, kata Kherman.
Rasanya usiaku yang belum lagi tujuh belas tahun, belum sanggup memikirkan halhal yang tak masuk akal, mengerikan, menyobek-nyobek hatiku yang masih muda,
tapi jaman begini sudah sejak lama membikin aku kenal dengan hal-hal yang belum
pantas untuk kukenal.
Meninggalnya ibu Kherman secara tragis itu, menyebabkan aku tidak melihat
wajahnya selama beberapa hari di sekolah. Pada hari pemakaman ibunya itu, kawan
kami Tigor buru-buru mengambil inisiatif Kami semua diajaknya mengumpulkan
uang duka cita. Hal ini ditentang oleh Toni.
Aku jadi melotot kepada Toni karena sikapnya yang angkuh itu.
“Orang punya duit banyak buat apa disumbangin lagi kayak fakir miskin aja. Itu
namanya ngejek”, kata Toni.
“Bukan duitnya soalnya, Meek”, kata Tigor dengan jengkel, “Soalnya simpati kita
kepada ibu teman kita”
“Ah udahlah, dateng aja”, seru Imah membela Toni.
“Iya, gue sih setuju dateng aje. Pake sumbangan segala macem
kampungan.”
Wajah Tigor menjadi merah seketika karena penghinaan itu. Untunglah guru kami
Pak Amir keburu datang. Emmy lebih dulu berbicara sewaktu Tigor mau membuka
mulut. Kata Emmy: “Pak, kalo ada orang mati, orangnya duitnya numplek, perlu
disumbangin nggak pak?”
Pak Amir tersenyum-senyum. Aku menunggu dengan tegang. Akhirnya Pak Amir
berkata: “Saya setuju kita memberi sumbangan. Bukan materi yang menjadi ukuran
pribadi orang Timur. Kita bangsa Timur. Bagi kita sumbangan uang yang seadanya
itu dimaksudkan sebagai imbangan moral ke Timuran kita. Moral inilah yang utama.
Makanya kita tak bisa zakelijk sebagai manusia Timur. Kita menyebut sehari-hari
dengan perkataan: Terimakasih atas sumbangan moral dan materil. Bukan perkataan:
“materil dan moril”.
“Kita beli bunga saja, pak. Karangan bunga ‘kan lebih keren dari duit, pak?”,
kudengar suara Imah.
Aku tak tahan lagi dengan kata-kata Imah yang terakhir ini, hingga akhirnya aku
berkata:
“Pak, mau ngelayat, mau ngeliat orang mati kok pakai keren-kerenan segala.
Emangnya mau pigi pesta?”
Pak Amir berkata: “Kamu betul Imah juga betul”.
Imah memandang dengan sengit kepadaku.
‘Alllaaaaah. Mentang-mentang mertuanya yang mati”, kata Emmy. Nafsih tiba-tiba
membelaku: “Pak, minta keputusan yang tepat dan bapak, pak. Kalau demokrasi cuma
ngumpulin semua suara ‘kan bisa menimbulkan anarkhie suara, pak?”
“Duilah”, kata Imah nyeletuk. “Mentang-mentang Tatanegaranya dapat angka
delapan! “.
Perang mulut pro dan kontra ini akhirnya diselesaikan oleh Pak Amir, guru kami yang
simpatik itu. Ia mengambil kesimpulan, bahwa semua mengumpulkan uang seberapa
suka. Sebahagian akan disumbangkan atas nama kelas, yang sebagian akan dibelikan
krans bunga. Tigor mendapat tugas untuk memungut jumlah uang itu. Ketika
giliranku, Tigor berbisik: “Kau nyumbang berapa, Fonnie?”
Kukeluarkan sejumlah uang. Tak banyak, tanpa menjawab pertanyaan Tigor yang
mengandung sinar mata yang menyindir itu. Ketika giliran Imah, Imah berkata pada
Tigor, didengar semua telinga di kelas: “Gor, Iu sendiri yang ngusulin, kok jumlah
sumbangan ente sebanyak harga sebatang rokok, Gor?”
Tigor menjawab pelan: “Maklum
kampungan
Aku ‘ikut bersimpati kepada jawaban Tigor itu. Dan hatiku senang bila Imah
andaikata terluka oleh kata-kata Tigor itu. Kata-kata lmah selalu kasar. Pak Amir
sendiri menyuruh Emmy dan aku untuk membeli bunga di Jalan Raden Saleh. Hatiku
agak memberontak atas suruhan pak Amir ini. Soalnya, aku dan Emmy sudah lama
perang dingin, tidak berteguran. Ketika aku mengambil sepedaku dan Emmy juga
mengambil sepedanya, di tempat sepeda kami belum berteguran. Bahkan ketika samasama ke luar pekarangan sekolah, aku dan Emmy belum saling berbicara.
Sepeda kami masing-masing meluncur melalui jalan-jalan, dan sewaktu melewati
Jalan Cikini, aku menoleh kepada Emmy. Emmy menoleh ke tempat toko-toko
minuman di Cikini, membuang muka.
Aku berusaha mau berbicara. Tidak enak rasanya kami sama-sama beriring-iringan
naik sepeda, tanpa berteguran. Aku tak tahu, apakah diantara anak-anak lelaki ada
juga sistim tidak berteguran ini.
“Emmy”, kataku mencoba, “Apa sebabnya ya ibu Kherman sampai membunuh diri
gituan?”
Emmy menoleh padaku dengan wajah cemberut, lalu membuang muka sambil
berkata:
“Tauk…!”
Aku merasa terpukul oleh jawaban dan caranya menjawab ini. Aku enggan untuk
beramah-tamah dengannya lagi. Kudayung sepeda lebih cepat, hingga akhirnya kami
sama-sama sampai di Jalan Raden Saleh. Di ujung Jalan Raden Saleh itu Emmy
melemparkan sepedanya pada pagar sebuah rumah. Tapi Ia tak memperlihatkan sikap
mau memilih bunga-bunga. Sedangkan uang diberikan oleh Pak Amir kepadanya.
Karena tidak ingin terlambat, aku segera saja menawar bunga aster lembayung dan
aster putih. Waktu tawar-menawar ini, Emmy tidak memberikan tanggapan apa-apa.
Tetapi waktu aku memilih krans bambu yang berwarna perak, Emmy nyeletuk:
“Emangnya warna begitu buat orang mau kawinan?”. Biarpun aku sakit hati atas katakatanya, aku bertanya: “Abis yang mana zus?”, sengaja kutekankan pada perkataan
“zus” itu.
“Yang kelirnya item dong”, sahut Emmy.
Aku bisa membenarkan usulnya itu, sekalipun hatiku amat sakit. Kami sama-sama
kembali ke sekolah setelah membeli pita hitam di oko Cikini. Dan setiba kami di
sekolah, kawanKawan sudah berkumpul. Akhirnya kami bersama-sama bersepeda
menuju rumah Kherman. Karena Tigor tidak bersepeda, ia memboncengiku dengan
memakai sepedaku. Di tengah jalan, diantara teman-teman ada yang tidak sedikitpun
membicarakan soal kematian. Seakan-akan kami mau pergi melihat teman yang akan
ulangtahun. Aku sakit hati dengan senda-gurau teman-teman ini, bahkan sewaktu
berpacu-pacuan di tengah jalan sambil berteriak-teriak, seakan-akan mau pergi ke
Cilincing, dan bukan mau ngelayat orang mati.
Ketika kami sampai di rumah Kherman, secara terkejut kulihat wajah Kherman yang
memandang kaget kepadaku yang diboncengi oleh Tigor. Aku begitu lupa untuk
menerima tawaran Tigor untuk memboncengiku. Kenapa kuterima pula tawaran Tigor
ini, kesalku! Tapi aku berusaha untuk menghalau kekacauan perasaan ini dengan
buru-buru melompat dan boncengan. Pak Amir yang memimpin pelayatan ini,
menyalami Kherman dan saudarasaudaranya serta para tetamu. Aku sendiri berdiri di
sudut untuk menghindarkan pandangan Kherman yang tertuju padaku. Aku ingat
peristiwa semalam.
Bila kuingat peristiwa semalam, betapa kontrasnya dengan keadaan pada pagi yang
muram ini. Aku dan Kherman sama-sama dalam beca. Tidak bisa dilupakan oleh
fikiran dan khayalku tentang bekas-bekas sentuhan jari-jemari Kherman pada kulitku.
Bulu kudukku jadi meremang jika mengingat hal-hal yang semalam digarage
rumahku, dengan keadaan sekarang, di pekarangan rumah Kherman. Aku berfikir
sesaat, betapa gampangnya perubahan yang terjadi atas nasib manusia. Aku ingat pada
pelajaran bahasa Inggris, dimana Bu Guru Bahasa Inggeris kami pernah mengajarkan
pepatah Inggeris yang berbunyi: “Man proposes, but God disposes”. Manusia merencanakan, tapi Tuhanlah yang memutuskan. Bila kuingat ini, betapa rapuhnya nasib
manusia ditangan Tuhan dan kadangkala betapa suburnya kurnia yang diberikan
Tuhan bagi manusia. Aku tertegun lama. Aku tak ingin mengkhayalkan lagi
bagaimana perasaan birahi remajaku melonjak malam kemarin, karena kini aku
dipukau oleh perasaan ke Illahian dan nasib manusia, nasib yang tak bisa ditentukan
oleh manusia, nasib yang tak bisa ditentukan oleh diriku sebagai manusia. Jika
semalam aku tak bisa tidur hingga kakakku Fizzy menggodaku dan mengkhayalkan
nasibku dikemudian hari, mengkhayalkan bahwa aku kelak akan menjadi isteri
Kherman, aku akan makan bersama-sama Kherman, aku akan mandi bersama-sama
Kherman, aku akan minum dan tidur bersama-sama Kherman. Bahkan khayalku
semalam lebih jauh lagi: Aku kalau nanti melahirkan, ingin ditemani oleh Kherman
yang menungguku di kamar bersalin.
Khayal itu kini seakan-akan gugur di hadapanku. Siapa tahu aku besok lusa aku mati,
dapatkah aku makan, tidur, minum dan mandi bersama Kherman? Tak mungkin. Aku
akan terpendam dalam tanah, ditanyai oleh malaikat-malaikat terhadap perbuatanku di
dunia seperti yang diajarkan oleh guru Agama dalam pelajaran Budi Pekerti, di
sekolah. Dan kini kufikir, apakah teman-teman yang lain itu, yang sekarang masih
saja bergelut-gelut mengganggu rambut temannya, melempar-lemparkan kertas, bisa
mengingat seperti apa yang aku ingat, bahwa besok atau lusa pun mereka akan mati?
Bahwa selama-lamanya manusia hidup, senang-senang atau ejek-mengejek gurau
bergurau? Manusia tidak akan hidup selama-lamanya. Manusia akan mati pada suatu
kali scperti halnya ibu Kherman dihari ini. Tiba-tiba meremang bulu kudukku.
Kenapa itu Kherman mati dengan membunuh diri? Ngeri aku! Ngerii! Mati dengan
bunuh diri menurut guru Agamaku yang bercerita, tidaklah merupakan mati yang
baik. Bumi akan menolak jasad manusia yang dikuburkan di dalam pangkuannya.
Mati bunuh diri adalah mati yang sesat. Dan bagaimana dengan ibu Kherman, yang
aturannya demikianlah aku mengkhayalkan apakah ia juga mati sesat? Tidakkah
Tuhan dapat mengampuni calon mertuaku yang mati ini, agar ia diterima oleh bumi,
dipangku dengan rela di pangkuan tanahnya? Apakah Tuhan tak bisa
mengampuninya? Bukankah ibu Kherman mati karena sudah terdesak oleh sikap ayah
Kherman? Kukira orang tak bisa menderita terus-terusan, apalagi menderita bathin
sepanjang hari. Kukira demikianlah dukacita hidup yang diderita oleh ibu Kherman
sehari-hari, biarpun sehari-hari ibu Kherman mengambil makanan dingin dari kulkas,
melihat televisi, tidur di kasur yang empuk, bisa mendengarkan plat-plat radio dan
para penyanyi yang terbaru.
Tidakkah Tuhan bisa mengampuni, bahwa jalan sesat yang ditempuhnya itu, akibat
dan kesesatan-kesesatan orang lain, dalam hal ini ayah Kherman? Jalan dunia sudah
sempit bagi perempuan yang mati ini, maka jalan kematian terpaksa ditempuhnya! O,
Tuhan, tak dapatkah Engkau mengampuni kesesatan ibu Kherman? Tiada jawaban
kudengar. Tuhan, berilah ia ampun, supaya jalan keakhirat lapang baginya, supaya
bumi bisa merangkulnya dengan rela. Perasaan ngeri timbul dalam hatiku, sewaktu
kuangan-angankan, andaikata Tuhan tiada mengampuni orang-orang yang sesat.
Kuingat cerita-cerita guru Agama kami di dalam kelas tentang amal dan salih manusia
di dunia. Amal dan ibadah manusia di dunia. Timbangan dihari kemudian setelah
dunia ini kiamat, tergantung dan banyak sedikitnya amal dan ibadah seseorang selagi
ia hidup. Ngeri aku! Aku ngeri justru karena aku tak tahu, apakah selama hidupnya
ibu Kherman itu ada beramal dan ada beribadah salih. Mungkin kesesatan itu tak bisa
diampuni oleh Tuhan dan kukhayalkan kembali cerita-cerita bapak guruku,
bagaimana dahsyatnya lidah-lidah api neraka yang akan menyiksa manusia-manusia
yang sesat dan berdosa. Namun entah oleh dorongan apa, hatiku saat berdiri di depan
mayat ibu Kherman yang dibujurkan di tengah-tengah rumah, berkata dalam berdoa,
Oh, Tuhan, jauhkanlah ibu Kherman ini dan lidah-lidah api dihari kemudian
Airmataku tak kusengaja telah menetes, jatuh di ujung sepatuku yang penuh debu.
Aku menyingkir di antara orang-orang banyak. Tak lama kemudian kulihat sebuah
mobil sedan datang. Rupa-rupanya orang inilah yang ditunggu para tetamu selama
tadi. Ia memakai sorban, berpakaian jas. Kudengar orang-orang berkata, bahwa beliau
yang dijemput inilah yang akan menyembahyangkan mayat. Setelah mayat itu
disembahyangkan, persiapan-persiapan untuk memberangkatkan pun terjadi. Tak
lama kemudian mayat yang terbujur di tengah-tengah rumah dan orang mati yang tak
pernah berbahagia di rumah itu, diusung oleh orang menuju mobil mayat berwarna
hitam, yang bertuliskan kalimat syahadat. Para tetamu banyak yang menangis. Juga
Kherman kulihat sudah tak menghiraukan orang banyak. Ia menekur mengantarkan
jenazah ibunya itu. Apakah Kherman juga berdo’a sepertiku, agar ibunya dilapangkan
Tuhan jalan ke akhirat, aku tak tahu.
Sebagian kawan-kawan ada yang menggunakan hari kematian ibu Kherman ini untuk
langsung pulang. Aku didatangi Tigor. Ia ingin memboncengiku. Tapi kukatakan
kepada Tigor bahwa ia boleh membawa sepedaku, karena aku akan membonceng
dengan Nafsiah.
“Kenapa?”, tanya Tigor. Aku tak bisa menjawabnya. Bahkan aku tak bisa menjawabnya sewaktu mayat akan diturunkan ke liang kubur. Semua menjadi terdiam sewaktu
Tigor meminta kepada keluarga yang berdukacita untuk membacakan sebuah sajak.
Hari ini engkau pergi meninggalkan kami, ibu berangkatlah dengan hati tulus, kami
melepaskanmu, airmata kami akan kering dan kaupun telah terbaring dalam suara
azan yang kami sampaikan dalam mengiring.
Begitu baiknya Tigor berdeklamasi sehingga teman-teman yang tadinya bergelutgelut pada membekukan bibir. Aku sendiri menitikan airmata. Sedangkan Kherman
menghapus matanya seraya berjongkok dan memegang nisan ibunya. Aku tak bisa
menahan kesedihan dan airmataku yang membanjir. Sebelah tanganku memegang
dahan kamboja, sebelah lagi menghapus.-hapus airmata. Agak jauh kulihat Emmy
memakai kacamata hitam, hingga tak kuketahui apakah ia sedang dalam perasaan
sedih. Sedangkan Toni mengunyah-ngunyah permen karet pada saat itu.
Sejak penguburan jenazah ibu Kherman itu ada hampir sebulan hal-hal mengenai
kematian berpengaruh kedalam jiwaku selaku seorang gadis remaja. Pada saat-saat
itu, aku menjadi gadis yang sentimentil, gampang tersinggung dan gampang sedih.
Bila aku melihat Kherman, bukanlah seperti dahulu lagi. Kalau dahulu aku menaruh
gairah ingin bercengkerama dengannya, ingin bertemu muka dengannya, ingin dielus
oleh jari-jarinya, ingin dipeluknya. Keadaan demikian itu berobah jika melihat Kherman setelah ibunya mati. Aku melihatnya dengan penuh kasihan, simpati, dan membayangkan rumahnya menjadi sepi tanpa ibunya. Ingin aku bertanya apakah yang
telah diperbuatnya setelah ibunya mati. Ingin aku bertanya, apakah adik-adiknya yang
kecil masih teringat pada ibunya. Ingin aku bertanya, kenapa ia semakin kurus. Ingin
aku merobah sikapnya yang menjadi pendiam, sikap “Plato”-nya yang suka mendebat.
Dan ingin aku bercakap-cakap dengannya, sekedar untuk menghibur hatinya. Tapi
keinginan itu tak terpenuhi. Beberapa hari setelah ibunya meninggal itu. Kherman tak
pernah masuk sekolah. Dan apabila kemudian ia masuk, aku maupun teman-teman
lain menjadi canggung. Cuma anak-anak lelaki yang tidak canggung. Tapi sikap
kawan-kawan lelaki ini pun tidak merobah daya tingkah Kherman yang sekarang. Ia
menjadi pendiam. Kalau keluar istirahat, ia hanya duduk-duduk saja di dalam kelas.
Beberapa kali kalau keluar istirahat, aku mencoba kembali ke dalam kelas. Tapi
sialnya, musti ada-ada saja orang lain di dalam kelas selain Kherman. Misalnya
beberapa kawan yang mencontek pekerjaan di rumah yang tak diperbuatnya. Ada juga
kadang-kadang waktu istirahat digunakan oleh teman-teman lain untuk menghafal
catatan-catatan. Ada juga digunakan untuk menggores-gores meja, dengan catatan,
supaya jika ujian sulit, ia bisa mencontoh dan goresan-goresan di meja itu.
Pendeknya, beberapa kali aku gagal untuk menegur atau berbicara dengan Kherman.
Ini membuatku menjadi seorang kesepian. Dan ini berpengaruh sampai di rumah.
Kadang-kadang aku pemarah kalau kakakku Fizzy menggangguku Dan untuk pertama
kali dalam hidupku aku harus menekan semua keinginankeinginan, semua harapanharapan, dan semua hari depan yang pernah kukhayalkan. Untuk pertama kali dalam
hidupku aku menjadi orang yang betah tinggal di kamar.
Tetapi tiba-tiba kesepian itu dipecahkan, oleh munculnya Mas Narko yang baru
kembali dan Amerika Serikat. Munculnya Mas Narko dan Amerika Serikat ini seperti
munculnya mimpi di siang hari.
Aku meloncat dan dalam kamar.
Mas Narko berdiri di pintu. Ia memakai sporthemd berwarna biru tua dengan celana
wool yang agak sempit. Justru hal inilah yang membuat Mas Narko jangkung. Aku
mendegut ludahku. Mas Narko ganteng sekali. Mas Narko ganteng sekali setelah
kembali dan Amerika. Mas Narko begitu tampan. Kenapa rasanya dulu ia tak tampan?
Wajahnya bersih, pakaiannya rapi. Dan kulitnya lebih kuning dari dahulu. Rasarasanya dahulu Mas Narko hitam. Dan rasanya kok dahulu Mas Narko jelek. Ketika ia
menegurku sambil mencium pipiku aku gemetar. Aku benar-benar gemetar. Ketika
Kherman menciumku, aku tak segemetar sekarang ini. Mas Narko memang laki-laki
yang menggentarkan. Bila Mas Narko berbicara, rasa-rasanya Mas Narko lebih
banyak menghadap kepadaku daripada Mas Narko berhadap-hadapan kepada Fizzy
kakak perempuanku. Sedangkan resminya Mas Narko adalah pacar kakakku Fizzy.
Kenapa Mas Narko memandang tajam kepadaku? Ataukah ini hanya perasaanku saja?
Ah, tidak. Matanya itu bersinar-sinar ketika memandangku. Biarpun ia melihat juga
kepada Fizzy, tapi matanya rasanya tak bersinar-sinar memandang kakakku itu. Tentu
saja tidak. Fizzy sok ambisius. Fizzy pun berpakaian jelek. Sedang aku tidak sok. Aku
diam-diam saja sambil mendengarkan obrolan Mas Narko. Semua obrolannya
menanik hati. Dan ingin aku duduk dekat-dekat dengan Mas Nanko. Tapi nanti Fizzy
marah. Makanya aku duduk agak menjauhjauh. Dan mi menguntungkanku. Karena
dan jauh dan tempat yang agak samar-samar ini, mataku lebih bebas untuk melihat
dengan puas wajah Mas Narko, pakaiannya dan gayanya itu, yang menarik bagiku.
Dan amatlah terkejutnya aku ketika Mas Narko berseru:
“Fizzy!”
Aku hampir pingsan rasanya, karena aku tertarik pada gigi Mas Narko yang berkilaukilauan itu. Pada saat itu aku yakin bahwa tanda pasta yang dipakainya pastilah bukan
prodent ataupun pepsodent, apalagi bintang tujuh.
Pastilah tandpasta yang dipakainya setidaknya bermerk “Kollinos”.
“Kenapa kok nyumput-nyumput di belakang, Fonnie?” tanya Mas Narko lagi. Aku
akan menjawab.
“Duduk sini, dong. Jangan nyepi-nyepi saja”.
Aku ingin duduk. Aku ingin. Ingin aku. Tapi aku malu. Aku ingin tetapi aku tak
berani.
“Sini dong Fonnie! Nanti dibagi-bagikan oleh-oleh dan Amerika. Duduk dekat sini
dong?!”
Hampir aku berdiri. Pinggulku sudah beringsut. Tapi kulihat wajah Fizzy yang
kemerahmerahan. Dan kudengar Fizzy berkata:
“Si Fonnie lagi patah hati, mas!”
Merah telingaku rasanya, seakan dibakar, ketika kudengar kata-kata itu. Aku
mengutuk:
Bangsat lu Fizzy. Kentut lu. Taik lu. Emangnya gue patah hati sama siapa? lu
cemburu ya takut kena potong?
“Jangan ganggu lagi ah”, kata Fizzy ketika Mas Narko masih menyuruh aku duduk ke
depan, “Cerita terus mas Jadi di Manhattan itu kau ketemu dengan Liz Taylor.
Aduuuuh, kita juga pingin, mas’.
Aku mengutuk dalam hati: Pingin taik ah, pakai pingin ketemu sama Liz Talor segala
macam. Asal ngornong, itu namanya asngo. Fizzy pencemburu, Fizzy brengsek.
Emangnya lu cantik apa? Aku terus mengutuk. Jengkel. Dan jijik pada sikap-sikap
kakak perempuanku itu.
Mas Narkö terus bercerita. Aku senang mendengar cerita Mas Narko. Mas Narko
ganteng. Gagah. Seperti William Holden. Aku senang mendengar cerita Mas Narko.
Kok suaranya sekembali dan Amerika ini bagus ya? Aku benci kalau Fizzy menyeling
bertanya. Buat apa nanya segala? Ngeganggu aja. Taik ah. Dan Mas Narko bercerita.
Dan sebelum ia pulang pada malam hari itu ke rumahnya, ia meninggalkan beberapa
oleh-oleh. Aku juga dapat bagian. Aku melonjak-lonjak setelah Mas Narko pulang itu.
Di kamar aku juga melonjak-lonjak senang. Knkatakan pada Fizzy, bahwa warna warna bajuku lebih menarik. Sedangkan warna yang untuk Fizzy adalah kamsyek.
Fizzy jadi jengkel. Dia mencubitku, dan memaki-maki:
‘Syokkkk ……syok nyumput-nyumput supaya dapat perhatian lu tadi ah …….”
Aku tidak berdiam diri setelah Fizzy mengejekku dengan sebuah anggapan, bahwa
aku nyumput-nyumput di sudut itu supaya dapat perhatian Mas Narko-nya. Aku
segera menjawab:
“Kalau memang mau diperhatikan orang, biar di dalam sumur juga bisa”, kataku
seraya berdiri di depan kaca mencoba-cobakan pakaian
baruku. Fizzy jadi jengkel dan menjawab:
“Ah, diyem lu. Ngomong lagi gua gampar”.
“Abis orang punya mulut mau diplester apa?”, jawabku lagi.
Fizzy mendekat. Aku diam-diam saja, mau menunggu, apakah kakak perempuanku ini
benar-benar mau menggamparku. Kalau ia menggampar, akan kubalas. Fizzy
mengangkat tangannya, dan aku berteriak:
“Coba kalau berani, coba, coba. Nih……nih sekalian potong leher gue ame piso dapur
kalo berani”.
“Lu ngotot ya?”
“Emangnya nggak ada demokrasi lagi di rumah ini nggak boleh jawab, he?” kataku
hampir menangis.
‘Nggak boleh jawab-jawab. Gua ini kakak lu ngarti?”.
“Emangnya disitu diktator?” balasku.
“Udah diem bacotlu itu. Entar betul-betul gue gampar nih”.
Kuberikan pipiku. Hatiku sengit, Fizzy juga rnatanya merah dan betul-betul mau
menggampar.
“Idiiih”, kataku, karena tidak jadi Fizzy menggamparku. Dan aku meloncat di atas
tempat tidur. Aku berselimut dengan baju baruku itu sambil mengembik-ngembik
seperti kambing. Ini menjengkelkan Fizzy rupa-rupanya. Ditariknya selimut, kutarik
lagi, dia tarik lagi, kutarik lagi, dia tarik lagi, dan aku berteriak:
“Mamaaaaaa!”
“Kecil-kecil udah genit”, kata Fizzy.
“Lu juga genit”, kataku.
“Kecil-kecil udah tau ciuman di garage”, kata Fizzy.
“Apa? Itu urusan gue. Gue ‘kan udah gede?”
“Gede apa? Bulu kelek aja belon tumbuh sok pacaran”, kata Fizzy. Aku pentalkan
selimut. Aku berdiri di tempat tidur.
“Ulangin!” kataku.
“Taik lu ah”, katanya.
“Lu yang taik kucing”, katanya.
“Badan lu krempeng”, kataku.
“Ya deeeh, lu yang kayak Brigitte Barojot…… “, katanya.
“Badan lu kayak papan”, kataku.
“Badan lu gede karena diremes-remes”, kata Fizzy sambil melemparkan diri ke
tempat tidur dan menangis-nangis.
Fizzy betul-betul menangis. Dan aku tak ambil pusing. Biarlah dia menangis,
masabodo. Dan aku diam-diam saja sambil mencukil kuku dengan biji korek api.
Sekali-sekali kutoleh pada Fizzy. Fizzy betul-betul menangis. Katanya:
“Memang gue krempeng, memang gue kayak papan. Memang gue jelek kayak tai
ayam”, katanya.
Aku diam-diam saja sambil mengupil hidungku. Dan kulihat sekali-sekali Fizzy. Dia
betul-betul menangis. Dia menangis tersedu-sedu sambil menggerendeng dengan
kata-kata yang tak kudengar. Aku lantas menjadi hiba kepadanya. Tetapi hiba itu
kutekan dalam hati. Karena aku jadi kesal, sebab tubuhku yang padat ini dikiranya
diremes-remes seperti yang dikatakannya. Memang Kherman ada berbuat demikian
padaku. Tapi tidak diluar batas. Dan kata-kata Fizzy itu seoah-olah aku ini gadis professional. ini menyakitkan hatiku. Aku tetap yakin bahwa aku masih gadis yang suci,
belum ternoda. Tetapi kata-kata Fizzy itu seakan-akan sengaja memancing jawaban
dariku, supaya aku menyatakan diri pribadiku kepadanya bahwa aku masih suci.
Kutekan perasaanku untuk mengatakannya.
“Cengeng”, kataku tiba-tiba dengan jengkel, biarpun pelahan.
“Memang gua cengeng, gua jelek, nggak laku di pasar loak. Mau apa lu ha?”
“Nggak mau apa-apa…………
, kataku. Diam sebentar. Tiba-tiba ibuku masuk.
“Ada apa kalian ini ha?” “Nggak ada apa-apa, bu”, kataku.
“Kok Fizzy menjerit, menangis”, kata ibu.
“Menjerit dan menangis karena happy tak apa ‘kan?” kataku.
“Sudah Fonnie. Kau selalu bikin sebab dalam segala-galanya”, kata ibu. Aku jadi tak
senang dengan tuduhan ibu itu. Jawabku:
“Sebab apa, bu?” Ibu diam saja, lalu menutup pintu kamar:
Aku menggerutu sendirian di kamar:
“Memang anak sulung, anak disayang, aleman, duuuuuh”.
Fizzy tetap menangis. Dan tak mengacuhkanku. Dan aku juga tak acuh padanya.
Masabodo. Biar nangis sampai pagi juga masabodoh. Cengeng. Aleman. Mentang -mentang disayang mama. Duilah, sudah gede kok nangis. Iih nggak malu. Kata-kata
kutukan ini bergema dalam hatiku sendiri.
Pertengkaran antara aku dan Fizzy dengan ucapan-ucapan brengsek begitu, memang
sudah biasa di rumah kami. Bahkan karena soal gunting, soal giliran belanja ke pasar,
bisa juga timbul pertengkaran mulut begitu. Aku tak tahu apakah dalam keluarga-keluarga orang lain, antara sesama saudara perempuannya terjadi rame-rame begitu.
Tetapi yang terang, antara aku dan Fizzy selama ini sudah jamak ejek-mengejek
begitu. Cuma saja, baik buat Fizzy, maupun buatku sendiri, ejek-mengejek yang
terjadi kali ini adalah yang agak hebat. Sebab hatiku benar-henar terluka. Dan hatinya
juga terluka, pasti.
Buktinya Fizzy masih menangis.
Buktinya nafasku sendiri masih sesak sendiri. Biarpun perang mulut sudah selesai,
tetapi perang di hatiku sendiri tetap berkecamuk. Yang kuperkirakan, bahwa dengan
menuduhku telah diremas-remas lelaki itu bisa ditafsirkan, bahwa aku menyerah
penuh kepada Kherman . Tidak. Aku sebagai seorang gadis masih punya penghargaan
pada kesucianku. Kuingat ketika telapak tangan Kherman menjalar ke dalam
blouseku, aku memarahinya.
Memang gairah di hatiku saat itu ingin seluruh tubuhku dijamah. Aku dengan jujur
mengakui, bahwa aku sangat gairah dimalam dalam garage mobil itu. Aku ingin
semuanya. Tetapi pada detik-detik tertentu, aku ingat lagi. Bagaimanapun juga
nikmatnya piyuh bibir Kherman, tetapi aku tak mengijinkan kepadanya, bagianbagian tertentu dalam diriku ini bisa dijamahnya dengan bebas. Seorarrg lelaki tak
boleh diberikan kebebasan penuh. Bagaimana pun juga pada saat-saat lupa, seorang
lelaki ingin mendapatkan seluruhnya dari seorang perempuan. Tinggal lagi masalah
pelaksanaan, tidak semua lelaki sama beraninya, seperti juga tidak semua lelaki sama
pengecutnya. Hati manusia seorang, hanya seorang manusia yang tahu. Begitupun
hatiku. Hatiku ingin. Ingin dijamah semuanya. Rasanya setiap pori dalam tubuhku
terbuka. dan penyesalan-penyesalan timbul bila ada hal-hal yang diingini oleh
kegairahan tak terlaksana. Tapi juga rasa syukur menjelma terang bila menyadari,
bahwa bila kegairahan meningkat akan timbul bahaya mengancam bagi hari depan
seorang gadis remaja. Aku gadis remaja. Aku belum lagi tujuhbelas tahun. Dan jika
demikian apakah Fizzy menganggap yang tidak-tidak telah terjadi? Apakah jika ia
pernah mendapat kesempatan yang baik seperti diriku dan Kherman itu, bisa
mempertahankan diri sekuat diri?
Masih dalam pakaian yang dibawakan sebagai oleh-oleh Mas Narko, aku mencoba
mengalahkan segala perasaan. Aku memanjat ranjang. Aku tidur di sebelah Fizzy.
Fizzy masih terdengar sedu-sedannya. Aku celentang di tempat tidur sambil
memandang loteng. Telingaku masih mendengar isak tangis Fizzy. Hatiku tiba-tiba
terharu karena suara tangisnya itu berada dekat telingaku. Bagaimanapun bencinya
aku pada tuduhan Fizzy tadi, tetapi mendengar sedusedan tangisnya, aku merasakan
basah air matanya seakan-akan meleleh di pipiku pula.
Lonceng jam telah berbunyi duabelas kali ketika mataku belum juga bisa tidur.
Berkali-kali kuhela nafasku panjang panjang, seperti sesalan mengumpat-ngumpat di
dadaku ini. Tanpa kuperkirakan, kepanasan airmata meleleh di pipiku ini. Airmata ini
meleleh terus. Dan pelan-pelan tanganku merayapi bantal, dan memegangi anak-anak
rambut di kening kakak perempuanku Fizzy.
“Fizzy”, bisikku.
Fizzy bertambah keras tangisnya oleh teguranku itu.
“Marah?” tanyaku lagi.
“Nggak”
“Kenapa kau menangis terus?”
Fizzy menambah keras sedu tangisnya.
“Berhentilah menangis, Fizzy. Aku memang anak bandel”, kataku.
“Bukan”, katanya.
“Aku mernang anak bandel”, kataku.
Tiba-tiba aku merasa sedih. Entah apa yang menyebabkan aku sedih. Aku sedih.
Sedih sekali. Dan rasa-rasanya ada yang meleleh.dalam kalbuku ini untuk merasa
rnenyesal. Aku rnenyesal telah berkata tentang mulut diplester, tentang potong leher
gue sama piso dapur kalo berani, tentang penuduhan pada dirinya bahwa dia diktator
di kamar kami, tentang rnengaku diriku sudah gede, tentang badannya yang kubilang
kerempeng, tentang badannya yang kayak papan, sehingga aku benar-benar menyesal
sama sekali, terbayang olehku caraku menuding seperti akan menerkamnya. Lama
aku menangis, lama aku menyelesaikan peperangan sesal dalam diriku sendiri.
Ayam telah berkokok, tak lama lagi bedug subuh berbunyi, tetapi mataku ini belum
juga bisa dipicingkan. Ada sesuatu yang belum selesai dalam hatiku sendiri.
Tiba-tiba, ketika mataku masih saja panas oleh airmata yang mulai mengering,
kudengar suara Fizzy:
‘Fonnie”, katanya.
‘Mmmh?”
“Fizzy mau jujur-jujur dengan Fonny”, katanya.
“Apa?”, tanyaku heran.
Ia menarik nafas panjang sebentar, kemudian berkata:
“Apakah menurut Fonnie ….. Fizzy ini terlalu jelek buat menjadi kekasih Mas
Narko?”.
Aku terdiam. Aku benar-benar dalam ujian, dan aku merasa benar-benar harus
bertanggungjawab tak boleh melukai hatinya. Kalau sewaktu duduk-duduk dikala
kedatangan Mas Narko serta ngobrol-ngobrol dimana aku menyumput itu aku berfikir
bahwa Mas Narko yang ganteng tak pantas untuk jadi pacar Fizzy, bagaimanakah
sekarang, dengan pertanyaan langsung dari Fizzy sendiri?
“Terus-teranglah, Fonnie”, kata kakak perempuanku itu.
Kuhela nafasku panjang-panjang, dengan sisa isak tangisku tadi. Akhirnya dengan
berat aku berkata:
“Fizzy memang pantas sebagai pacar Mas Narko.
Entah bagaimana, setelah berkata begitu, nafasku terasa sesak sekali. Seakan-akan
ingin aku menangis dan menjerit sekeras-kerasnya, bahwa aku telah berkata tanpa
kejujuran, sekadar untuk tidak melukai hati kakakku. Kurasakan berat pemberontakan
hatiku itu, seperti butiran-butiran debu yang menghalangi pernafasan manusiaku paruparu.
Waktu fakansi pun datang. Aku gembira sekali menyambut hari-hari vrir ini. Karena
dengan demikian aku bisa bertemu dengan wajah Mas Narko pagi ataupun sore.
Biasanya, selama ini, kalau dalam kelas, aku hanya membayangkan saja bahwa Mas
Narko datang ke rumah, ngobrol-ngobrol dengan kakak perempuanku Fizzy.
Bagaimana Mas Narko datang dan pulang, sudah bisa kubayangkan. Sekalipun hanya
dalam otakku.
Bayangan-bayangan dalam otak, semenjak sebulan Mas Narko kembali dari Amerika,
terkadang menyebabkan aku malas belajar di sekolah. Aku kepingin saja Iekas-lekas
pulang kerumah. Biarpun sesampainya aku di rumah Mas Narko tidak ada ataupun tak
datang ke rumah waktu paginya, itu tidak mengapa buatku. Setidak-tidaknya aku bisa
mendengar kabar dari Fizzy saja, mendengar cerita-cerita Fizzy tentang Mas Narko.
Karena itu aku amat senang dengan menyambut datangnya hari-hari fakansi ini. Aku
mengayuh sepedaku kencang-kencang untuk segera pulang ke rumahku. Kulemparkan
sepeda di pinggir garage. Aku berlari-lari tergopoh senang. Masuk ke kamar sambil
berteriak-teriak “Fizzy? Fizzy!”.
Dengan wajah bercelemong dari dapur, Fizzy bertanya mendapatkanku “Apa-apaan
kau Fonnie? Sudah miring?”
“Ya, aku miring dan sinting”, kataku.
Aku loncat ke atas tempat tidur. Dan aku menelentang dengan kejang sambil ketawatawa.
“Apa-apaan nih? Nanti sinting betul-betulan baru nyaho!”, kata Fizzy dengan suara
keheran-heranan.
“Aku berfakansi”, kataku.
“Mana rapportmu?”
“Itu nggak penting. Liat aja di dalam tas. Tapi yang penting kami telah mulai
berfakansi!”, kataku.
“Sialan. Kukira apa-apaan tadi. Eh……..ngomong-ngomong….“, kata Fizzy
menghenja lenganku kuat-kuat dan menatap mataku tajamtajam: “Jangan-jangan….”
Ia memutuskan perkataannya. Aku memotong: “He, jangan-jangan bagaimana?”
“Jangan-jangan kau happy ya, kata kakak perempuanku.
“Happy brengsek!”, kutukku sambil ketawa.
Segera aku teringat Mas Narko: “Fizzy! Apa Mas Narko tadi datang?
“Mas Narko lagi! Mas Narko lagi!” seru Fizzy.
“Emangnya tanya sedikit aja nggak boleh?”, tanyaku manja.
“Dikit sih boleh. Tapi terus-terusan itu namanya ngelunjak”, kata Fizzy.
Fizzy memunggungiku Dia berdiri membelakangi dengan sedikit menoleh sambil
bertanya: “Apa kau mi detektip?”
“Bukan detektip, zus manisku sayang….Tetapi kalau Mas Narko jadi kawin sama
kau, ‘kan aku bisa nebeng”, kataku.
“Bego….bego….Nebeng apanya?”
“Jangan salah tampa, zus. Bukan nebeng kayak orang goncengan naek scooter, bukan.
Nebeng makan kuweh dalam pesta. Boleh ngintip ‘ntar nggak?”, kataku geregetan.
Fizzy mencubitku kuat-kuat. Aku senang. Memang begitulah keadaanku. Kalau sudah
dekat datangnya saat-saat menstruasi, aku sering gampang geregetan. Aku kadang-
kadang kepingin Ioncat-loncat saja, dan sering-sering melihat foto-foto film star yang
gagah-gagah atau mendengar percakapan-Percakapan yang oleh kalangan kami
disebut “hampir kejeblos ke selokan”.
“Cerita dong”, kataku.
“Cerita apa sih?” kata Fizzy sedikit ketawa.
“Ehemmm”, kataku.
“Apanya yang ehem?” tanya Fizzy.
“Tahan, tuh”, kataku.
“Apanya yang tahan?” tanya Fizzy.
“Bibirnya”, kataku.
“Bibir siapa?” tanya Fizzy.
“Menahan bibir Mas Narko”, kataku. Fizzy mencubitku kuat-kuat. Aku merasa sakit,
tetapi terlonjak girang. Seakan-akan akulah yang menahan bibir Mas Narko
“Enak ya?” kataku.
“Apanya yang enak?” tanya Fizzy mau pergi. Dan kuhenja lengannya dengan paksa
sambil berbisik ke telinganya setengah teriak:
“Bibir Mas Narko!”.
“Genit Iu ah”, kata Fizzy.
“Mas Narko yang genit”, kataku.
“Mas Narko nggak genit”, kata Fizzy.
“Eh bibir Mas Narko genit nggak?” tanyaku.
“Gila beeng’, kata Fizzy.
“Tangannya genit ya?” kataku.
Fizzy membalikkan wajahnya, sambil dengan mata menyorot menyelidik sambil
ketawa berkata: “Pengalama dengan Toni ya:”
Aku mendorong tubuh kakak perempuanku hingga kalau tak ada dinding ia tentu
sudah terpelanting.
Fizzy membalik dan menunjuk..nunjuk sambil berkata: “Pas op ya? Pas op ya?
Penga1aman ya?”
“Nggak”, kataku.
“Mana yang galak
“, kata Fizzy dengan mata yang genit, “Si Toni atau si Kherman”.
Aku tiba-tiba menduga, bahwa Fizzy memang sudah dicumbu oleh Mas Narko
sewaktu aku di sekolah. Entah bagaimana telingaku menjadi merah. Bukan marah.
Tetapi cemburu. Entah apa yang menyebabkan aku cemburu. Tapi terbayang olehku,
Mas Narko mendesak Fizzy dekat pot bunga itu, dan di sudut itu Fizzy tersedak, dan
tangan Mas Narko menggelung di leher Fizzy. Wajah Mas Narko mendekat. Fizzy
pura-pura tidak mau. Sekalipun hatinya mau, mau, mau, mau. Pasti. Mau! Bayangan
itu makin lama menjengkelkan dan mencemburui hatiku, sehingga aku berkata tanpa
pikir:
“Toni dan Kherman sama galaknya!”
Entah bagaimana sebabnya wajah Fizzy menjadi merah senang mendengar cerita itu.
Aku makin tambah cemburu, darahku menggelegak, dan aku gemas. Ingin aku
menampar Fizzy rasa-rasanya.
Han itu Fizzy kelihatan amat tenangnya. Ketenangan Fizzy membuat aku gelisah.
Aturannya aku menjadi lupa. Aku tidak mengerti kenapa aku jadi cemburu seka1i
kepada Fizzy. Padahal Mas Narko bukan pacarku dan aku bukan kekasih Mas Narko.
Kulihat, setelah kupancing-pancing Fizzy dengan mengudak-udak hatinya, malahan
Fizzy bertambah senang. Aku mengharapkan Fizzy mau bercerita, apakah yang telah
terjadi antara dia dan Mas Narko, terutama sewaktu aku sedang di sekolah.
Jengkelnya aku, Fizzy cuma mengatakan bahwa Mas Narko datang jam delapan pagi
dan pulang setelah makan siang di rumah kami. Fizzy tak sedikitpun mau bercerita,
misalnya. apakah Mas Narko menciumnya dua atau tiga kali. Apakah Mas Narko
sudah mulai mengusik-usik soal perkawinan. Tetapi nyatanya Fizzy tak mau bercerita.
Sedangkan aku sendiri malu untuk memperlihatkan bahwa aku sedih atau jengkel
karena hal itu. Aku hanya tertawa dibuat-buat dan terkadang tertawa berlebih lebihan.
Terkadang, kalau aku mengudak. udaknya mengenai sesuatu lelucon yang tidah lucu,
Fizzy membahas pula dengan lelucon, aku segera memukul punggung Fizzy sambil
ketawa, tetapi pukulanku cukup keras untuk membalaskan sakit hati serta cemburuku.
Aku tiba-tiba merasa kesepian. Kesepian yang amat sangat. Serasa aku tidak punya
kawan atau saudara. Seakan-akan aku ini orang yang paling malang didunia. Ingin
rasanya aku menunggu seseorang yang bertanya kepadaku:
“Kenapa kau sedih, Fonnie?”. Dengan demikian hatiku terobat dan kesedihan Yang
melanda jiwaku ini.
Kuambil sepeda. Aku mengayuh sepeda. Entah kemana. Aku tak tahu dan tak mau
tahu, kemana kayuhan kakiku pada pedal ini berjalan. Ingin saja aku kena tabrak asal
tidak mati. Tapi, ah, aku kok ingin mati saja. Ingin aku berteriak keras-keras di tengah
jalan. Dan ingin pula aku menangis sendirian rasa-rasanya, tanpa ada yang membujuk
Sepeda ini terus laju. Entah siapa yang mengantar jiwaku ini, hingga aku
membelokkan sepedaku akhirnya: Ke rumah Tigor. Aku hanya ingin bertemu Tigor
saja. Tidak ingin sesuatu yang lain. Juga tak ingin supaya Tigor menghiburku.
Kuketuk pintu rumahnya. Kukira Tigor yang keluar. Tetapi nyatanya adalah ibunya.
Ibunya kurus dan pucat. Aku mengangguk.
“Tigor ada, bu?” tanyaku.
“Tidak”, katanya. “Embeh tak ada”.
Ibu Tigor memandangku dalam sekali untas, dan akupun minta permisi. Tapi ibu
Tigor bertanya: “Anak temannya Tigor?”
“Ya”, sahutku.
Kukira ada yang lain. Tetapi ternyata tak ada lanjutannya lagi. Mu mengangguk sekali
lagi. Lalu kukayuh pedal sepedaku. Sepeda menyusuri lapangan Monas akhirnya,
karena lapangan itu belum dikerjakan apa-apa, lagi pula banyak anak lelaki yang
menyiut-nyiut kepadaku, aku akhirnya memutar sepedaku. Sepeda menuju taman air
mancur Istiqlal. Di situ aku rebahkan sepedaku pada rumputan. Air mancur
kupandang. Beberapa tukang bakso menawarkan kepadaku: “Bakso non?”. Tapi aku
membungkam.
Kupandangi airmancur. Air itu memuncrat tinggi-tinggi, lalu rimah-rimah airnya
membasahi rambutku dan mukaku. baunya amat busuk. Dulu, disini, aku dan Tigor
duduk-duduk berduaan. Sekarang aku duduk sendiri, Kuangkat sepedaku. dan aku
menyeret sepedaku ketempat lain. Tampak olehku sebuah pohon mati, kering dan
menghitam, seperti terbakar layaknya. Pohon itu meranggas. Indah sekali terletak
diantara kesuburan rumputan dan bunga-bunga serta pohonan yang lain yang melingkari kolam air mancur Istiqlal ini Tapi apakah artinya ia berdiri indah, sekiranya
pohon ini mati? Apakah artinya ia sebagai pohon mati kering meranggas bagai
terbakar. Apakah gunanya ia sebagai tumbuh-tumbuhan untuk terus berdiri,
sedangkan kehidupannya sudah berakhir?
Kukayuh sepedaku lagi. Kukayuh. Dan melewati rumah Kherman. Tapi entah apa
yang tidak mendorongku untuk mampir, aku meneruskan perjalanan.
Tiba-tiba ingin aku bertemu dengan Toni. Tapi alangkah hina jika aku nantinya akan
dilayani dengan keangkuhan dan Toni itu. Dan aku letih tiba-tiba. Kepalaku merasa
pusing. Rupa-rupanya perasaan lapar dan haus sudah sangat mengganggu. Mataku
berkunang-kunang.
Modalku adalah kekerasan hati ini. Biarpun keringat dingin gampang kering karena
menahan lapar, tetapi pengaruhnya pada jantungku amat kencang. Jantungku
berdebar-debar. Mau muntah tidak jadi. Tapi mau muntah lagi. Kutahan. Sepeda
kukayuh kencang-kencang hingga membelok di dekat Gondangdia Lama. Pada
belokan itulah seakan-akan kulihat serangkuman benda hitam melintas di depanku.
Pemandanganku jadi gelap! Aku tak tahu lagi apakah aku terbanting atau tersungkur.
Yang terang aku telah pingsan.
Sewaktu mataku kubuka, rasanya tubuhku masih lemah sekali. Kulihat lampu neon
dan ruangan yang terang. Di sana-sini tampak lukisan-lukisan. Rumah ini tampaknya
rumah yang mewah sekali.
Tak lama kemudian ada telapak tangan di keningku. aku melirik untuk menyaksikan
telapak tangan siapakah itu. Yang kulihat hanya sebuah anggukan dan sebuah kepala
yang membundar, rambutnya disisir rapi, tangannya harum, dan kumisnya agak tebal.
“Dimana saya?” tanyaku.
“Tenang, dik. Di rumah Oom”, sahut suara itu.
Kulihat sebuah gelas diulurkan kepadaku. Aku mencoba untuk duduk untuk melihat
siapakah Oom itu. Kini menjadi jelas tanpa aku duduk. Oom itu adalah seseorang
yang tak kukenal. Ia tak begitu tinggi. Umurnya kira-kira sudah hampir empat puluh,
atau, mungkin sudah sebegitu. Ia tersenyum kepadaku.
“Sepedamu ada di garage”, kata Oom itu.
Barulah kutahu dengan jelas, bahwa Om inilah yang telah menolongku sewaktu aku
jatuh pingsan di Gondangdia Lama.
“Minumlah air jeruk ini?” katanya lagi dengan ramah.
Yang timbul dalam perasaanku ketika itu, bahwa aku ini masih dikasihani oleh
seseorang. Oom tersebut serasa buatku sebagai manusia yang paling
berperikemanusiaan, dan seseorang yang paling ramah dan baik.
Ia menolongku duduk. Ternyata aku dibaringkan oleh Oom itu pada sebuah sofa di
ruang belakang rumahnya yang besar. Tampak-tampaknya tak ada orang lain di
rumah besar itu selain aku dan si Oom.
Memang di rumah gedung itu tak ada orang lain lagi kecuali aku dan Oom yang telah
menolongku dan marabahaya. Segarnya minuman jeruk itu. Perasaan segar
menyelusuri seluruh tubuhku. Bukan saja segar karena minum jeruk. Melainkan segar
karena simpati yang telah diberi oleh Oom ini!
Kekosongan yang mengeringkan perasaanku sejak berangkat dan rumah yang tak bisa
dibasahi oleh suasana air mancur Istiqlal pada saat ini tiba-tiba membasah oleh
simpati dan 0om yang belum kukenal namanya ini.
“Duduk-duduk saja dulu sebentar, Fonnie”, kata Oom itu. Astaga! Darimana ia
mengetahui namaku segala ini? Pertanyaan lewat mataku itu tampak-tampaknya
diketahuinya, sehingga ia mendahulukan menjawab bahkan sebelum bibirku bertanya:
“Kartu pendudukmu telah Oom masukkan ke dalam tas.”
Tanganku masih memegang sela-sela buah dadaku, karena biasanya kartu pendudukku kutarok di lembah buah dadaku. Tetapi tiba-tiba, ketika dengan kemalumaluan kugosok-gosok jurkku, aku merasa seperti jurk plited-skirt yang kupakai.
Kepala kutundukkan. Aku terkejut. ini jurk baru! Mataku dengan sangat aneh
terangkat:
Heh?”
“Jangan terkejut”, kata Oom itu kemudian, “Yurkmu robek. Oom telah sedikit
menolong membelikan yang baru di Cikini tadi”.
Ketika jari-jariku meraba blouse yang kupakai, dan kulihat, juga ternyata blouse baru.
Tiba-tiba timbul kecurigaan yang amat sangat, yang mendenyutkan jantungku. Jika
yurkku sudah ditukarnya sewaktu aku tak sadar, dan jika blouseku sudah ditukarnya
pula sewaktu aku masih pingsan, betapa malunya aku! Sebagian dari diriku telah
dilihat oleh Oom ini sekalipun aku merasakan BH-ku masih kepunyaanku. Bukan
ditukar. Rupa-rupanya kesangsianku ada dibacanya.
“Tante tadi telah menukarkan pakaianmu. Bukan Oom”, katanya.
Aku segera menjadi lega mendengar jawab tanpa kutanya itu. LaIu mataku melihat ke
kin dan ke kanan. Ingin mengetahui dimana Tante itu.
Tetapi segera Oom itu menjawabnya:
“Tante tersebut telah pergi ke Bandung”.
“Sebelum saya sadarkan diri tadi?”
“Ya. Sebelum Fonnie sadar. Dia adalah adik saya”, katanya.
“Jadi bukan Tante“, aku berhenti karena Oom itu segera memutus:
“Bukan isteri Oom”, katanya.
Aku terdiam. Dalam hati aku bertanya:
Kemana isterinya? Dan pertanyaanku yang belum terkeluarkan itu, sudah lebih dahulu
dijawabnya:
“Oom belum beristeri”.
Mataku menyelidikinya. Ia juga tahu tampak-tampaknya bahwa aku menyelidikinya.
Ia tahu bahwa aku agak kurang percaya. Karena itulah ia menjawab untuk
meyakinkanku:
“Oom memang belum beristeri”. Hatiku tetap tidak percaya dengan pernyataannya
itu. Hatiku tetap menaruh curiga kepadanya. Tiba-tiba aku mencurigai kebaikannya
membelikan yurk dan blouse. Maka segera aku bertanya:
“Dirnana ditarok yurk saya yang robek serta blouse saya Oom?”. Ia menjawab:
“Di binatu Cikini”, katanya.
“Di binatu Cikini?”, tanyaku.
“Ya. Di binatu Cikini. Yang robek telah saya suruh tisik. Dan blouse itu sedikit kotor,
karena itu dua-duanya Oom masukkan di wasseriy. Apakah dik Fonnie keberatan?”.
Aku masih beranggapan, bahwa semuanya itu adalah siasat. Yurk dan Blouseku pasti
tidak ada di wasseriy, melainkan disimpannya di rumah ini. Ia hanya ingin
membohongiku dengan maksud-maksud tertentu. Ia hanya ingin melihat sebagian dari
diriku, sehingga dicopotnya yurkku serta dicopotnya blouseku. Semua itu adalah
semata-mata untuk kepuasannya. Laki-laki pada umumnya memang doyan
memandangi bagian-bagian tubuh seorang wanita, biarpun wanita itu bukan
mukhrimnya. Ataukah….. selama aku pingsan……aku telah……..
Fikiranku terhenti disitu. Fikiranku bercabang banyak. Oom itu masuk ke dalam. Dan
aku tiba-tiba makin menjadi sangsi. Aku merasa-rasa apakah bagian dan tubuhku
telah dinodainya ketika aku pingsan? Aku ingat cerita si Emmy dahulu. Juga cerita
Imah bahkan. Banyak di Jakarta “Oom-oom” yang suka kepada daun-daunan muda,
seperti kambing-kambing menyukai beluntas dan rumputan muda.
Jika ini terjadi, alangkah cemarnya diriku. Biar pun tidak ada yang mengetahui hal ini,
alangkah malunya aku pada diriku sendiri. Ketika aku masih memikirkan hal itu,
muncullah Oom itu dengan suatu senyum yang ramah. Ia menyerahkan sehelai kertas:
“Surat wasseny”, katanya, “Sudah lunas Oom bayar”. Kebaikannya yang beruntun
beginilah yang semakin mencurigai diriku. Ingin aku pura-pura menompang buang air
kecil di belakang, supaya aku dapat menyaksikan apakah diriku ini masih suci atau
telah ternoda. Jika kulihat saja bekas setitik darah, aku akan putus asa dan aku tak
kuasa untuk kembali ke rumah.
Perasaan lapar tiba-tiba menyenak-nyenak hatiku. Seperti tukang tenung saja
layaknya, ia berkata:
“Fonnie. Jika kau sudah merasa segar, silahkan mandi. Jangan malu-malu. Anggap
saja rumahmu sendiri. Sudah mandi Oom akan mengajakmu ke restoran makan
malam”. Malam?
Tiba-tiba aku kaget. Ternyata sudah hampir malam memang. Kalau demikian aku
pingsan terlalu lama. Tak mungkin aku pingsan begitu lama. Mungkin ia telah
melakukan hal-hal yang bersifat kriminalitas padaku. Mungkin setelah aku pingsan itu
ia melanjutkan dengan obat bius. Mungkin pada waktu aku pingsan lama-lama itulah
Oom ini mempergunakan kesempatan untuk memuaskan kebinatangannya. Tiba-tiba
aku benci kepadanya.
Simpati-simpatinya yang hampir melengket dalam kalbuku satu-satu berguguran.
Manusia memang makhluk yang aneh. Manusia tidak bisa menelan begitu saja
kebaikan-kebaikan yang berkelebihan. Seperti halnya manusia tak bisa menerima
keburukan-keburukan yang menghantam dirinya secara berlebih-lebihan. Pada saatsaat tertentu hati nurani manusia bangkit untuk menolak. Demikianlah pula halnya
dengan diriku. Aku dalam hatiku telah menolak kebaikan-kebaikan yang berkelebihan
yang diulurkan oleh Oom ini.
“Saya akan pulang”, kataku tiba-tiba.
“Kenapa pulang?” tanyanya.
“Saya harus pulang”, kataku dengan tegas. Adalah aneh, bahwa Oom ini tidak
menampakkan keberatannya. Apakah ia benar-benar seorang yang berjiwa penolong,
ataukah bagaimana? Oom ini berdiri. Ia masuk kamar sebentar. Diberikannya tas
kecilku. Aku memeriksa sejenak. Kartu penduduk memang ada di situ. Kulihat ada
bekas-bekas merah di kartu pendudukku itu. Darah? Setelah kuteliti ternyata
lipstickku yang menggurati kartu penduduk itu dengan warna darah. Hatiku lega
kembali. Lipstickku memang selalu kumasukkan dalam tas kecil ini. Dalam perasaan
lega itu, kumasukkan surat binatu. Tinggal lagi aku harus membuktikan apakah
memang benar-benar yurkku ditisik. Itu masih lama lagi, dua hari yang akan datang
baru bisa kubuktikan sendiri.
Karena menunggu Oom itu berpakaian yang agak lama juga, aku sementara itu telah
selesai meneliti rumah ini. Kalau melihat gambar-gambar yang tergantung, Oom ini
tampaknya orang yang suka kepada alam. Gambar-gambar dinding yang tergantung
semuanya menggambarkan pemandangan yang menyejukkan perasaan. Caranya yang
tenang, kata-katanya yang seperlunya yang bisa kuingat kembali sekarang,
menimbulkan simpang siur: Apakah aku yang terlalu salah curiga, ataukah Oom ini
benarbenar orang baik budi?
Pada waktu itulah ia muncul.
“Biar Oom antarkan”, katanya, “Sepedamu sudah Oom masukkan ke bagase belakang
sedan Oom. Kebetulan pintu bagasenya bisa terbuka secara otomatis. Percayalah,
sepedamu tak lecet, Fonnie”, katanya.
“Aku akan pulang sendiri, Oom”, kataku.
Ia berfikir sejenak.
‘Baiklah kalau begitu”, katanya.
Ia menghela lenganku. Tetapi aku menolak dengan halus. Ia pun tak tersinggung
karena tolakan halusku itu. Ia malahan memberikan jalan supaya aku berjalan lebih
dahulu. Tibatiba terasa jari-jarinya pada leherku. Aku kaget. Ia berkata sambil
memegang krah leher blouse baruku: “Krahnya kurang rapi. Kerapihan perlu bagi
seorang gadis”.
Hatiku yang sejenak berdebar, tenteram kembali.
Setelah sampai di garage mobil, dipandangnya wajahku teliti. Darahku berdampungdampung.
“Kukira kau perlu bersisir sebentar.” katanya.
“Oh tak usah”, tolakku ramah dan halus.
“Ah bersisirlah. Man Oom temani di kamar Oom. Biar rapi”, katanya menghela
lenganku. Kecurigaanku bangkit. Sekiranya aku mau, dan sekiranya aku masuk
kamarnya ditemamnya dan sekiranya, sekiranya, sekiranya terjadi hal-hal yang bukanbukan, betapa jahatnya dia. Segera aku berkata:
‘Nggak perlu bersisir lagi, Oom”.
“Baiklah”, katanya dengan tenang. Aku sungguh-sungguh lumpuh oleh caranya yang
tenang memukau dan sama sekali tak tersinggung itu!
Ia menoleh kepada sepedaku.
“Bagaimana? Apa mau pulang sendirian, naik sepeda, atau Oom antarkan?”,
tanyanya.
‘Sepeda”, kataku dengan kalimat tak sempurna.
“Okey, okey. Oom sangat menghargai demokrasi dan hak-hak azasi”, katanya dengan
senang. Aku heran, andaikata orang ini semacam hidung belang, tentu ia keberatan
aku pulang sendirian. Aku kok rada bimbang. Lebih-lebih ketika sepeda ini
diturunkannya• dan bagase belakang ditutup, aku kok rada menyesal lagi.
Diberikannya sepeda itu kepadaku. Aku menerima pada stangnya. Tiba-tiba ia
memegang yurkku. Aku kaget dan hampir menampar tangannya yang berani-berani
memegang yurkku. Ternyata yurkku mau menyangkut pada tempat kunci sepeda.
Yurk yang Oom ini belikan.
‘Terimakasih”, kataku dengan perasaan malu pada diriku sendiri. Aku tak kuasa untuk
mendorong sepeda ini karena ada sesuatu yang menyenak di perasaan, yaitu perasaan
malu sebab ternyata ia tidak seperti yang hampir kuduga: Agaknya ia bukan lelaki
hidung belang.
Di pagar aku berhenti. Hari sudah mulai malam memang. Aku menoleh ke belakang.
Ia di belakangku.
“Ada yang tinggal lagi?” tanyanya.
“Tidak”, kataku, “Cuma…….“, katakataku habis.
“Bagaimana?”
“Cuma saya ingin menyampaikan terimakasih kepada Oom”, kataku.
“Oh itu biasa dik. Sesama manusia tolong-menolong itu biasa”, katanya dengan wajah
yang berseri-seri.
“Terimakasih banyak, Oom”, kataku lagi.
“Kalau ada waktu senggang, mampirlah. Oom suka main halma. Apakah Fonnie suka
main halma?”, tanyanya.
“Suka, Oom. kataku dengan ramah”.
Tetapi setelah aku keluar dari rumah gedung itu, aku merasa bebas dan perasaan takut.
Aku benar-benar merasa merdeka. Kemerdekaan semacam inilah yang rupa rupanya
kuharapkan sejak tadi. Karena di dalam rumahnya aku seperti dipenjara, apalagi
setelah kutahu tentang ia yang belum beristeri, tentang yurk dan blouse yang diganti,
dan tentang terlalu lamanya aku pingsan. Soalnya laki-laki tua jaman sekarang lebih
agressif dan lelaki-lelaki mudanya malahan. Lebih-lebih yang sudah punya bini,
seperti diceritakan oleh Imah dalam pengalamannya sendiri dahulu. Lelaki yang sudah
punya bini lebih berbahaya, tetapi lelaki yang terlambat kawin juga berbahaya sekali
jika mendapatkan peluang-peluang. Setibanya di rumah, setelah aku merdeka untuk
berfikir, bebas dan rasa tertekan dan setelah aku dengan merdeka di kamarku
mengunci pintu dan kuperiksa bagian tubuhku yang paling berharga tiada cacad sama
sekali, perasaan lega menggamit hatiku. Aku menaruh hormat setinggi-tingginya
kepada Oom yang benar-benar telah menolongku dengan tulus. Sebelum tidur simpatiku tercurah padanya. Samasekali “aku” tak memikirkan Mas Narko.
Pagi-pagi sekali aku sudah terbangun karena mendengar suara kakak perempuanku
Fizzy. Fizzy sedang menyanyikan sebuah lagu bahasa Inggeris. Mataku terbuka
pelan-pelan. Sesungguhnya lagu itu merdu sekali. Dan aku belum pernah mendengar
lagu itu melalui pilihan pendengar Radio Australia ataupun plat teman-temanku.
Tetapi karena lagu itu lagu berbahasa Inggeris, aku menduga tentulah Mas Narko
yang mengajarkan lagu tersebut kepada kakakku.
Biarpun lagunya merdu, tetapi rasa-rasanya telingaku ini malas mendengarnya.
Fizzy sudah membersihkan karnar. Fizzy sudah mandi rupa-rupanya. Lalu ia pergi ke
depan kaca. Ia berhias. Lama sekali ia berhias. Terutama rambutnya yang panjang,
tiap sebentar dirobahnya gayanya. Mulanya ia menggunakan gaya Farah Diba.
Kemudian ditukar lagi dengan gaya Jacqueline Kennedy. Ditukarnya lagi dengan gaya
Farah Diba. Ditukarnya lagi dengan gaya Brigitte Bardot. Kuanggap Fizzy lebih
bagus jika bergaya Jacqueline Kennedy, karena tubuh isteri Presiden Amerika itu
tidak begitu montok. Lagipula tulang pipi Fizzy lebih menonjol, mukanya kempot jadi
lebih cocok jika ia memakai gaya demikian daripada sekiranya Fizzy bergaya Brigitte
bardot. Brigitte Bardot montok, buah dadanya menonjol, pinggulnya besar.
Sedangkan Fizzy kempes, pinggulnya semacarn papan.
Tetapi rnelihat ia berhias sudah selesai dengan gaya bintang film bom-sex Perancis
itu, aku ketawa-tawa sendiri dalam tutupan bantal. Fizzy rnenarik jempol kakiku.
“Bangun”, katanya.
Aku ketawa mengikik. Kuintip ia dari sela-sela bantal-bantal yang menimbunku.
“Bangun”, katanya lagi, “Kenapa ketawa sih”?
‘Gila-beeng”, kataku.
“Kenapa sih?” tanya Fizzy.
“Gunanya kaca ‘kan buat bandingan. kalau badan krepos bergaya Brigitte Bardot
kayak kambing takut air, Fizzy’, kataku.
Aku keluar dan timbunan bantal. Wajah Fizzy merah padam mendengar cemoohku.
“Gua nggak niru gaya Brigitte Bardot”, kata Fizzy
“Kepribadian ini?”, ejekku.
‘Emangnya nggak boleh orang bagusan ‘dikit?”, jengkelnya.
“Boleh aja”, kataku, “Asal 3 + 7 10. Bukan 3 + 5 = 2…… “, ejekku lagi..
Segera Fizzy keluar dengan membanting pintu. pelan-pelan aku keluar dan tempat
tidur. Aku berlari sempoyongan keluar kamar dan menyambar handuk sewaktu Fizzy
sedang membuka lemari makan. Matanya mendelik melirik kepadaku. Aku dengan
mengibaskan handuk menunduk sambil berkata sinis: “Sorry my Lady. Excuse me
because gue udeh ngomong brengsekan”.
Aku terus ke kamar mandi. Aku membuka pakaianku satu persatu. Hanya BH yang
belum kubuka. Lalu BH juga kubuka. Di kamar mandi kami ada sebuah kaca besar.
Aku berkaca dalam telanjang. Kurasa memang tubuhku indah sekali. Semua ukuran
dalam tubuhku memang montok sekali
Dan aku senang. Dan kuguyur tubuhku dengan air. Segala rasa pegal-pegalku terasa
kembali segar kena guyuran air yang pelan-pelan membersihkan pori-poriku.
Kusabuni tubuhku lambat-lambat. Sambil bersabun itu aku berkaca. Aku bergaya
sendirian dalam keadaan seperti Hawa itu di kamar mandi dengan segala tingkah yang
tentu saja tak berani kulakukan di luar kamar mandi ini.
Sewaktu aku berada di kamarku, dan menghias diri seorang diri, aku merasa bahwa
kecantikanku pastilah melebihi kecantikan Fizzy. Lebih-lebih jika aku lebih lama
berhias. kalau tidak fakansi, aku tak berani memakai eyes shadow yang agak tebal.
Memang lingkaran kelopak mata ini harus ditebalkan sedikit, dan wanita akan lebih
cantik dengan eyes-shadow. Dan bila kurasakan kombinasi pakaian, warna pita pada
rambutku serta gulungan besar seperti Liz Taylor sudah cocok. baru aku keluar.
Aku tidak melihat Fizzy di luar. Mungkin ia pergi ke tempat lain. dan aku pelan-pelan
ke beranda. Kulihat ada sebuah sedan di parkir di luar. Tak lain tentulah Mas narko
sudah datang. Tetapi dimana mereka?
Aku menjingkat-jingkat melangkah kesuatu tempat yang kucurigai. Aku yakin mereka
sedang berada di garden. Dadaku sesak nafas. Aku tetap pelan-pelan melangkah.
Kusingkap pintu ke garden. Tetapi ternyata sukar, karena diganjel.
Aku jadi jengkel, karena ganjelannya adalah cabang kayu jati yang utuh yang berat
sekali, yang selama ini digunakan sebagai tempat duduk. Aku tiba-tiba ingat, bahwa
dan dalam kamarku aku bisa melihat apa yang mereka lakukan. Aku makin sesak
nafas. Dan ingin tahu apa sebab mereka kunci pintu ke garden. Aku tiba-tiba ingat
kisah Imah ataupun Emmy yang punya banyak pengalaman. Kedua mereka
mengalami hal-hal yang meremangkan bulu-kuduk di garden rumah mereka masing-masing dengan seorang lelaki. Lebih-lebih garden rumah kami yang menurut
Kherman letaknya strategis untuk sepasang manusia bercinta. Dan selain itu, aku
ingat, bahwa di garden kami ada sebuah sofa yang empuk, tersembunyi di balik pohon
pisang Belanda.
Di kamarku jika aku memanjat lemari saja, aku bisa melihat mereka melalui lubang
angin. Hal ini pernah kulakukan sewaktu aku masih berusia tiga belas tahun dulu,
sewaktu aku ngambek pada suatu pesta di rumah kami. Tapi dalam ngambek itu aku
masih ingin melihat pesta garden itu. Dan aku mengintip pesta itu melalui lubang
angin.
Dan ini, pada usia hampir tujuh belas, aku juga kembali memanjat. Melalui lubang
angin itu aku mencari-cari dimanakah Fizzy dan Mas Narko telah melakukan
rendesvouz. Mulanya kukira tentulah dekat pot-pot kaktus yang besarnya sebesar
tubuh manusia itu. Tetapi firasatku tiba-tiba ingin melihat sofa yang tersembunyi di
balik pohon-pohon pisang Belanda yang rimbun dan iangkung-jangkung itu. Tiba-tiba
kulihat ujung kaki Fizzy berayun-ayun. Betisnya tampak olehku berjuntai-juntai dan
tepi sofa itu. Kudengar suaranya. Tetapi Mas Narko sendiri tak kelihatan, tertutup
oleh pohon-pohon pisang Belanda itu. Nafasku tambah sesak. Keringatku menitik.
dan tiba-tiba kurasakan airmataku membasah. Dan hatiku menggerumut sewaktu
kulihat betis Fizzy naik ke atas, lalu turun lagi.
Kegemasanku menjadi-jadi. Keringatku menitik dengan deras. Jantungku berdebar
kencang. Otakku bekerja dan bertanya: Apakah yang telah diperbuat Mas Narko
terhadap Fizzy? Apakah Mas Narko dalam keadaan yang tak terlihat olehku itu, berbuat seperti Kherman terhadapku, menyelusuri telapak tangannya? Dan Fizzy merasa
geli?
Aku kaget karena tiba-tiba sebuah sapu kasur mengenai pantatku.
“Ngapain kau di atas itu Fonnie??” teriak ibu sewaktu aku menoleh pada ibu.
“ini “, aku mau berdusta, “ini membersihkan labah-labah, bu?”
“Bagus”, kata ibu, “Kamar kalian ini belakangan memang jarang kalian perhatikan
lagi.”
Tak lama sesudah itu ibu membawa sapu membersihkan labah-labah yang tak kebaca
itu.
Dan atas lemari aku loncat ke atas tempat tidur.
“Gulung kasur dulu”, kata ibu.
Aku jadi penasaran, karena ibu bersungguh-sungguh mau menggulung kasur dan ikut
menolong membersihkan kamar kami.
“Kamar kalian harus bersih. Malu kita sama si Narko andaikata dia nompang bersisir
misalnya”, kata ibu.
Kemudian ibu bertanya kepadaku: “Apa Fizzy sudah pigi?”.
Aku tak menjawab: “Kemana?”
“Katanya mau jalan-jalan ke Puncak pagi ini
“Kalau kau sudah punya tunangan nanti ‘kan pergi juga nggak ngajak orang lain, Fonnie?”
“Sentimen nih”, kataku.
Begitu ibu meninggalkan di kamar sendirian, segera kukunci pintu kamar. Aku tidak
meneruskan membersihkan kamar melainkan kembali naik ke atas lemari. Mataku
melalui lubang angin ingin melihat kelanjutan apakah yang telah diperbuat Fizzy dan
Mas Narko. Tetapi ternyata mereka tak ada lagi. Yang ada hanya saputangan Fizzy
yang rupa-rupanya kececeran tanpa setahunya di kaki kursi. Memang kalau orang lagi
mesra-mesraan selalu kececeran. Segera aku melompat kembali dan membuka pintu
kamar dan terus ke beranda. Sewaktu baru selangkah saja aku tiba diberanda, hanya
bau asap knalpot sedan Mas Narko saja yang terasa olehku. Mereka berdua telah
kabur.
Dan aku tinggal sendiri.
Aku benar-benar merasa ditinggalkan. Seorang diri. Tubuhku jadi lunglai. Aku
melangkah gontai sambil menutup pintu beranda. Hatiku serasa terpotong-potong.
Dan kegemasanku tiba-tiba meronta.
Aku segera kembali ke kamar dan berhias lagi, karena make-up yang memolesi
mukaku sudah basah kuyup oleh keringat jengkelku. dan hanya bilang “Fonnie mau
pigi” saja, akupun pergi bersepeda ke rumah seorang temanku. Aku tiba-tiba butuh
untuk menghibur diri. Tiba-tiba aku ingin ditemani oleh seorang kawan.
Kufikir-fikir, Rini memang sedang asyik pacar-pacaran sekarang dengan Iwan. Dan
memang betul. Sewaktu aku datang iwan dan Rini lagi asyik mengobrol dengan
sangat mesra sekali. Mereka tepat sedang saling melempar-lempar kelopak bunga.
Dan mereka kaget sekali sewaktu aku menyaksikan kelakuan mereka di beranda itu.
“Na ini dia datang!” seru Iwan, “Kherman kok nggak diajak?”
“Berani-berani aja pigih sendirian. Kherman nanti bisa keki”, kata Rinj. Tiba-tiba
ucapan-ucapan spontan mereka ini menimbulkan harapan-harapan baru dalam
kekosongan hatiku ini.
Belum sempat aku menikmati kegembiraan dihibur mi, suara Rini terdengar: “Yok
kita ke rumah Kherman, Iwan?”.
“Boncengan bertiga?” tanya Iwan.
“Aku naik sepeda saja”, kataku.
“Begitu ah! Aku di depan, Rini di tengah, kau Fonnie di belakang”, kata Iwan dengan
pasti.
Sepedaku dititipkan di rumah Rini. Kami bertiga naik BMW-nya Iwan. Dalam
kekencangan naik motor itu, aku merasa irihati terhadap Rini yang mendekap
punggung Iwan begitu kuat, lebih-lebih pada saat di tikungan. tikungan.
Begitu kami memasuki pekarangan rumah Kherman kelihatan Kherman gembira
sekali: Rupa-rupanya ia sudah bisa melupakan saat-saat sedih kematian ibunya itu.
dan sewaktu lwan menawarkan untuk cari angin, Kherman tak menolak.
Bagiku, betapa gembiranya diboncengi Kherman dengan Vespanya. Kami berempat
menuju Cilincing. Dan betapa gementar tetapi senangnya aku sewaktu kami sampai di
pantai. Iwan mengusul kontan: “Nah. Sekarang kita cari masing-masing tempat
strategis buat mesramesraan yok!?,menyebabkan Iwan dicubit blue jeans nya oleh
Rini. Tapi aku yakin, seperti halnya Kherman — bahwa Rini sebenarnya senang
dengan usul blak-blakan Iwan tersebut.
Iwan memegang lengan Rini, meninggalkan kami yang masih berdiri dengan
kecanggungan masing-masing. Setelah beberapa langkah, mereka berdua melambailambaikan tangannya kepada kami dan Iwan sendiri membentak Kher man: “Jangan
bengong, Plato! “.
Kherman menoleh kepadaku.
Aku memandangi wajah Kherman. Kemudian kepalaku menunduk, dan senyum
sambil tertunduk itu. Kuangkat kepalaku kembali. Mata Kherman tenang. Hatiku
berdebar-debar. Kherman melangkah dengan kedua tangannya masuk kantong blue
jeannya. Ia memakai jacket merah. Rambutnya agak. gondrong, sehingga meriap-riap
ditiup angin Teluk Jakarta.
Aku melilitkan selendang pada leherku dan berpura-pura batuk.
“Sakit?” tanyanya.
Aku mengangguk dan bersenang.
Akhirnya kami berdua terdampar pada batu-batu yang menyembunyikan kami berdua
dan keterikan matahari jam sembilan pagi. Kherman belum berbuat suatu apa selain
menggores-gores pasir yang dijilat riak laut dengan ujung kayu apung. Tiba-tiba
Kherman menoleh kepadaku, hingga aku gemetar sekali. aku menunggu apakah yang
akan diperbuatnya kepadaku. Ujung sepatuku basah. Aku mendapat akal. Kubuka
sepatuku. Telapak kakiku pernah dipuji oleh Kherman sebagai telapak kaki calon
permaisuri. Telapak kakiku memang bersih, sedikit merah jambu bila sepatu dibuka.
Aku berharap Kherman memegangi telapak kakiku lagi seperti dulu.
Mataku melirik kepada Kherman, pelan-pelan agar ia tak tahu bahwa aku meliriknya.
Aku dengan sabar menunggu tangan Kherman pelan-pelan mendatangi telapak
kakiku. Kuingat dahulu bagaimana rasanya telapak tangan Kherman mengelus selasela jari kakiku. Tidak seorang gadispun yang tiada mengharapkan seorang lelaki
yang dipujanya, tanpa mengelus dirinya. Akupun demikian.
Tetapi Kherman tidak menggerakkan tangannya sedikitpun, sekalipun seluruh bulu
roma kakiku berdiri sewaktu aku merasakan jarak antara jari-jari Kherman hanya
beberapa mili saja dengan bulu-bulu kakiku. Ternyata segala harapanku sia-sia
belaka. Aku menghela nafas kecewa, sambil bertanya kepada Kherman:
“Ngapain kita di sini, ‘Man?”
Kherman menoleh kepadaku, sambil menepuk bahuku, ya, hanya menepuk bahuku
saja. Ia tersenyum pendek.
“Belum hilang juga”, kata Kherman dengan kalimat tak sempurna.
“Ada sesuatu yang kau fikirkan?” tanyaku heran.
“Tentu”, kata Kherman. “Aku mengherani kehidupan ini. Sebagai anak lelaki yang
kehilangan ibu, aku membayangkan, bahwa tak ada perempuan yang paling baik
selain ibu kita. Ibu adalah sumber dan pada kebaikan, pengorbanan dan kasihsayang”.
Aku termenung sejenak memahami katakatanya.
“Bagaimana kalau kita tidak duduk-duduk di tempat sunyi ini? Mungkin bersamasamaku kau diseret oleh kesedihan. Mari kita cari Rini dan lwan”, kataku.
“Mereka jangan ganggu. Mereka lagi pacaran”, kata Kherman.
“Bagaimana sih rasanya pacaran itu?” tanyaku.
Kherman ketawa dengan terpaksa. Dilumerinya kakiku dengan pasir. “Dan aku tibatiba menjadi gembira. Aku pura-pura marah: “Iseng ya?”
“Marah?” tanya Kherman.
“Hapus dong pasirnya”, kataku.
Aku sungguh-sungguh mengharap agar Kherman menghapus pasir itu. O, tidak.
Bukan pasir-pasir itu yang menjadi soal: Tetapi tangan Kherman dengan sendirinya
akan menyentuh kulit betisku. Selalu kurasakan demikian, selalu! Bila mendekati
saat-saat menstruasi melebihi dari biasa. Ingin didekap dan disentuh lelaki.
Kutanyakan pernah kepada Imah, Emmy ataupun Rini, memang wanita pada saat-saat
mau menstruasi nafsunya lebih daripada biasanya. Dan aku, pada saat begini, ingin
sekali Kherman membelaiku, ah, betapa sialnya, ia menghapus pasir-pasir itu hanya
sebentar saja. Ingin Ia mengotori kakiku lagi dengan pasir, lalu menghapusnya lalu
mengotori lagi, dan menghapusnya seterusnya. Uap bau keringatku sudah kurasakan
uap-uap dan perasaan sesungguhnya dan jenis wanita.
“Ah”, kataku terlontar.
“Kenapa ah?” tanya Kherman.
“Nggak”, kataku. “Kenapa nggak?” tanya Kherman. “Kau banyak berobah”, kataku.
Kherman agaknya tidak mengerti maksud kata-kataku itu. Ia malah berdiri tanpa
bertanya apa-apa lagi. Dihelanya tanganku. Aku merasa senang kembali. Jari-jarinya
kurasa menyelusupi jari-jariku. Kami berjalan agak cepat.
Jari-jarinya menyelusupi lagi, dan kurasakan tiba-tiba bahwa telunjuk jari Kherman
menggelitik telapak tanganku. Aku merasa senang digelitik demikian. dan kurasakan
lagi telunjuk jarinya menggelitik telapak tanganku lagi, lebih bersemangat. Aku
menoleh kepadanya, matanya bersinar-sinar.
Kami menuju sebuah pondok. Bau pantai tidak enak pada panas terik begini, karena
hawa panas membuat seluruh tumbuh-tumbuhan dan kotoran lain menguap. Tapi
heran, tak begitu terasa busuk oleh hidung ini karena Kherman makin asyik
mempermainkan telunjuknya pada telapak tanganku sembari kami berjalan terus.
“Mau kemana sih?” tanyaku. “Ikutin aja”, kata Kherman. “Bilangin dong mau apa
sih?”
“Mau apa aja”, kata Kherman. Dadaku berdebar-debar. Uap dan keringat di dalam
tubuhku terasa oleh hidungku, uap yang pernah dikatakan oleh Rini dengan jujur
hormon.
Dan tanganku terus dihelanya. Kami akhirnya sampai di pondok itu. Kami sudah
tersisih dari orang ramai. Disitu ada tanggul-tanggul tambak dan kami seperti
terkurung dikelilingi oleh tambak.
Pondok ini ternyata pondok tukang-tukang pancing kalau malam, seperti dikatakan
oleh kherman. Di dalamnya tak ada perabotan, kecuali sebuah ambin bambu.
Kherman mendekati ambin itu, menggoyang-goyangnya. Dan akhirnya Ia duduk..
Aku masih berdiri dengan melirik saja kepadanya.
Fonnie”, katanya tiba-tiba, mengejutkan jantungku. Seakan-akan jantungku berhenti
bergerak. Paru-paruku terasa sesak. Seluruh pori-poriku seakan-akan mengembang
dengan kuatnya, kulitku seakan-akan memadat.
“Fonnie”, kata Kherman Iagi. Aku melirik pucat. Kherman duduk di ambin itu.
“Apa sih?” tanyaku.
“Sini”, katanya.
Dan aku melangkah dengan pura-pura enggan. Sebenarnya aku agak takut juga.
Tetapi aku melangkah juga, takut-takut yang diruntuhkan oleh keinginan-keinginan.
Aku masih berdiri.
Dia masih duduk. Tiba-tiba ia meraihku, sehingga aku menunduk. Bagai angin yang
panas kurasakan menyelusup dan lubang hidungnya kepermukaan dadaku. Bulu
romaku meremang, dan aku meronta-ronta sekadar untuk menyatakan bahwa aku
bukanlah gadis yang gampang untuk dijamah.
“Apaan ini?” tanyaku dengan suara sembir dan sekali-sekali mengucapkan “Ah”.
Kurasakan hidungnya pada leherku, pada kudukku, dan kurasakan nafasnya
menyebabkan bulu kudukku meremang.
“Man”, kataku gugup, perlahan.
Dan mataku terkatup serta nafasku semakin sesak, sewaktu nafas hidung Kherman
memasuki liang telingaku, sehingga berkali-kali aku tergelinjang dalam pelukannya.
Dunia sudah terbalik! Bukan lelaki yang mencari perempuan, kini perempuan mencari
lelaki! demikian kuingat kemarahan ibuku dalam pondok itu, sewaktu secara tiba-tiba
dan penuh keringat, Kherman memandang kepadaku. Keringatnya menetes dan
membasahi keningku. Ia terdiam. Lalu ia terduduk kembali.
Aku masih terdiam. ‘Hatiku merintih dengan kejang. Kulihat Ia bersisir dengan
tergesa-gesa kembali, sambil berkata: “Ya, Tuhan....
Aku menangis. Aku malu sekalipun segala-galanya lewat dan berhenti dengan
mengerikan sekali.
“Untunglah Tuhan menunjukkan jalan yang benar, kepadaku, Fonnie”, keluh Kherman. “Mari kita segera pulang”.
Masih dalam keadaan menangis, aku mengenakan ruitsluting. Keringatku kuhapus,
dan aku masih menangis, aku menjadi malu. Sama malunya jika hal itu tadi
berlangsung. Biarpun aku telah membisikkan telinganya dan kubisikkan kembali
sewaktu matanya mengerikanku dengan suatu permintaan agar ia mau
bertanggungjawab.
Aku memang masih suci. Tetapi entah bagaimana, aku merasa seperti telah hanyut
sewaktu kurasakan yang aneh di hatiku. Dan pada saat demikian, bayangan tentang
kesucian sudah luluh hancur bergumul dengan keinginan-keinginan biologisku.
Pada saat kami sampai bertemu kembali dengan Rini, kulihat Rini dalam pakaian
renang sedang mengeringkan rambutnya. Hari panas terik. aku dan Kherman
melangkah. Kherman tidak sedikitpun menoleh kepadaku. Dan malu rasanya aku
untuk melihat Rini dan Iwan, sekalipun aku masih tetap suci berkat ingatnya Kherman
pada jalan yang menyesat yang hampir mrmbuat kami tenggelam dalam kolam noda.
Beberapa langkah menjelang menghampiri Iwan dan Rini, aku melihat Iwan
membisiki sesuatu kepada Rini. Rini tak acuh. Ia tetap mengeringkan rambutnya.
Aku dan Kherman berdiri di belakang mereka. Rini terkejut melihat bayangan Kherman. Kemudian ia menjadi biasa kembali. Tetapi ia tak begitu gembira kelihatannya.
Tidak seperti sewaktu kami akan berangkat maupun ketika sampai.
“Kita pulang yok”, kata Kherman.
Tak ada reaksi apa-apa dan mereka berdua. Entah bagaimana, aku merasa perasaanku
tak enak saja.
Iwan sedikit menoleh kearahku. Lalu Iwan menoleh kepada Rini:
“Bagaimana Rini? Pulang nggak?”, tanya lwan.
Rini membisu saja. Aku menoleh kepada Kherman. Kherman berdiam diri dengan
wajah yang heran melihat sikap Rini itu. Aku jadi gugup.
“Kami berdua akan minum-minum dulu”, kata Kherman seraya memegang lenganku
dan aku menampiknya. Tetapi kami akhirnya pergi juga berdua minum-minum
meninggalkan Rini dan Iwan.
Sambil mengemot-ngemot pipet Prem-Club yang bergambar anjing meloncat itu, aku
mencoba menerka apa yang sedang difikirkan oleh Kherman.
“Kenapa Rini diam saja ya?” tanyaku tiba-tiba.
Kherman menggelengkan kepalanya, sambil mengemot pipet minuman, dan
tampaklah warna kuning menanjak dan dasar botol melalui pipet plastik itu masuk ke
mulut Kherman, dan jakun Kherman kemudian bergerak tanda cream soda itu telah
masuk melalui lehernya.
“Bukan”, kata Kherman memandang jauh.
“Apa Rini bertengkar dengan Iwan?”, tanyaku.
“Entah”, kata Kherman.
Aku merasa sedikit tersinggung karena jawab-jawab Kherman yang pendek-pendek
saja itu.
Tiba-tiba hatiku terdesak untuk bertanya pada Kherman:
“Kenapa kau sombong?”
Baru Kherman mencoba tersenyum. Tetapi aku bisa mengerti, bahwa senyum itu
adalah senyum terpaksa.
“Kau marah?” tanya Kherman.
Aku kini membalas membungkam.
“Kau marah, Fonnie?’ tanya Kherman
Aku tetap membungkam mulutku. Aku ingin mencoba hatinya, apakah yang sedang
bergelombang di hatinya, sebuah gelombang yang dapat kurasakan, sebuah
gelombang yang kurasakan menghempas ke hatiku sebesar gelombang-geombang laut
Cilincing.
Akhirnya Kherman berdiri, dan membayar minuman. Kami kembali pergi berdua ke
tempat Rini dan Iwan. Mereka berdua sedang bertengkar dan Rini menangis kulihat.
Mereka bertengkar dengan hebat sehingga keduanya tak tahu serta sadar bahwa kami
berdua di dekat mereka.
Iwan berdiri. Kemudian beriongkok mengambil lengan Rini. Tapi Rini menyentaknya.
Iwan dengan gugup meminta sebatang rokok kepada Kherman. Kherman dua kali
menyalakan api rokok karena apinya padam. Dan kulihat bagaimana Iwan begitu
nervous.
Aku mengambil initiatif untuk membujuk Rini supaya mau pulang. Oleh bujukanku
Rini mau. Di kamar pakaian aku tak berusaha untuk bertanya, dan aku menolongnya
untuk memakaikan pakaiannya. Ia meremas-remas pakaian renangnya, kemudian
menggulungnya. Aku masih tak ingin bertanya apa sebab ia menangis. Tetapi oleh
perasaan naluri wanitaku, aku sudah menerka, tentu ada sesuatu yang hebat terjadi
yang telah dilakukan oleh Iwan terhadap Rini. Kalau tidak, kenapa Rini begitu
ngambek, begitu membungkam, begitu keras tangisnya. Ketika kami akan keluar dari
kamar pakaian, Rini menciumku pada leherku. Aku heran, karena kurasakan
airmatanya yang panas mengalir pada leherku.
‘Diamlah, Rini”, kataku membujuk.
Ketika kami berdua keluar setelah Rini kembali melihat dirinya pada kaca serta
membenahi rambutnya, tampak oleh kami Kherman dan Iwan sudah menyalakan
mesin motor. Hari itu kami pulang tidak segembira sewaktu kami berangkat
Aku sampai di rumah baru pada jam sembilan malam, karena Rini menahanku supaya
aku menemani kesedihannya. Meremang bulu tengkukku mendengar bagaimana
kisahnya. Aku sampai-sampai ikut menangis. Tetapi Rini akhirnya berkata: “Aku tak
bisa memaafkan Iwan.
Benar seperti kuduga, bahwa Iwan telah berlebih-lebihan. Rini memang suka
dimesrai, bahkan ia berkali-kali membiarkan Iwan. Sambil berenang pun Iwan
memagutnya dan mengecupnya di tengah Iaut. Tetapi selesai berenang itu lwan
mengajak Rini untuk pergi ke sebuah warung. Iwan berkata bahwa warung itu adalah
warung bibiknya. Dan Rini memang melihat keakraban Iwan dengan bibiknya itu.
Bibiknya berkata: “Iwan kalau capek-capek boleh mengasoh”. Bibiknya itu juga
berkata kepada Rini: “Anggap saja rumah bibik ini rumah anak sendiri”.
Rumah itu bukanlah rumah gedong yang bagus. Hanya rumah papan dan memang
atapnya besar. Cuma memang bertingkat dua. Iwan mengajak naik tangga menuju
tingkat dua. Rini ikut dari belakang. Tangga itu terderak-derak sewaktu mereka naik
ke atas. Di atas ruangan cukup lapang. Iwan menutup sebuah pintu yang ketangga
luar, Rini tak dapat melihat Iwan lagi, karena sewaktu Iwan memanggilnya dari
kamar, Rini sedang duduk-duduk memandang laut. Iwan keluar dari kamar dan
menarik lengan Rini. Rini bertanya: “Ada apa ini”. Iwan berkata: “Aku capek”.
Rini berkata: “Pergi saja sendiri sana istirahat”. Lalu Iwan menciumnya. Dan Rini
membalas kecupan itu dengan kebirahiannya. Tetapi ia menjadi jengkel sewaktu Iwan
menyeretnya. Dari kamar itu terkunci. Rini mengancam akan berteriak. Iwan sangat
tegang saat itu dan Rini menjadi putus asa sewaktu Iwan melemparkannya ke neraka.
Rini tak menceritakan jalannya pemerkosaan itu, karena sewaktu bercerita kembali
Rini kepadaku, ia sudah menangis terisak-isak.
“Hanya kepadamu aku bercerita”, kata Rini.
Ingin aku bertanya kepadanya. bagaimana kalau Ia hamil. Tetapi Rini masih tersedusedu, dan sekali-sekali memelukku.
“Bagaimana reaksi bibiknya sewaktu kalian turun?”.
Rini hampir tak bisa menahan sedu-sedannya sewaktu bercerita: “Coba kau
bayangkan, bagaimana aku heran melihat Iwan memberikan uang kepada bibik itu. Ia
seenaknya berkata, bahwa itu bukan bibiknya. Dan ketika kupaksa juga kepadanya,
rumah siapakah itu sebenarnya. Akhirnya ia mengakui, bahwa rumah itu bukan rumah
pelacuran. Rumah itu ternyata menyediakan dan menyewakan kamar.
Kau tahu, Fonnie! Bagaimana aku ingin bunuh diri dan tenggelam di laut. Aku yakin
bukan sekali ini Iwan melakukan hal itu bersama anak gadis di tempat itu. Aku yakin
Iwan telah melakukan hal itu berkali-kali dengan modal BMW-nya……..Coba kau
bayangkan betapa aku tidak sedih
Kupandangi bagaimana airmata Rini meleleh seperti sumbernya takkan keringkeringnya. Nafasnya sesak, tetapi dia masih ingin terus berkata:
Kuharap kau berhati-hati kepada semua lelaki. Sekalipun lelaki itu wajahnya ‘boyish’
seperti Iwan, bahkan kunasihatkan kau lebih hati-hati terhadap Kherman”.
Aku tertunduk dan pada sprei tempat tidur Rini dimana kami mengobrol, terbayang
olehku kontras terhadap apa yang menimpa diriku.
Seprei tempat tidur itu dalam bayanganku tiba-tiba seperti berubah menjadi anyaman
bale bambu nanti. Kuingat kembali bagaimana puncak dimana aku sangat tak bisa
menahan diri, antara sadar dan tiada. Kherman membatalkan semuanya sebelum hal
itu terjadi.
Yang dialami oleh Rini adalah kebalikannya. Lalu kuingat kemudian, apakah memang
benar, orang-orang perempuan yang tubuhnya banyak ditumbuhi bulu sepertiku ini
mempunyai kulminasi suhu energi yang lebih tinggi dan mereka yang kulitnya hem.
Jika Rini adalah diriku, mungkin keadaannya tidak demikian, sempat aku berfikir.
Sambil mengayuh pedal sepeda menuju rumahku, aku masih belum bisa
membayangkan bagaimana Iwan berhasil menaklukkan Rini. Timbul curigaku.
Apakah cerita Rini itu benar.
Ataukah Rini hanya menambah bumbu terhadap ceritanya. Kuingat kalau Rini
ngobrol tentang mesranya dengan Iwan, tak mungkin dia menolak ajakan Iwan itu.
Setiba di rumah aku dimarahi ibu. Aku menjawab singkat: “Kalau fakansi ‘kan acara
bebas, bu”. Tetapi ibu memaki-maki, bahwa aku sudah terlalu ngelunjak kepadanya.
Belum pernah kulihat keringat Fizzy begitu banyak. Kali ini Fizzy sehat sekali. Tetapi
kuingat cerita Imah dahulu, tentang pengalamannya, apa sebab seorang perempuan
bisa tidur nyenyak hingga sukar dibangunkan.
Wajah Fizzy kulihat lebih pucat dan biasa. Bilakah Fizzy dan Mas Narko kembali dan
Puncak? fikirku. Ibuku masuk ke kamar dan bertanya: “Kau sudah makan, Fonnie?”.
“Belum”, kataku.
“Jangan ganggu kakakmu lagi. Pergi sana makan, nanti masuk angin lagi!”, kata itu.
Aku pergi makan. Tetapi aku hampir tak merasa mengunyah. Otakku membayangkan
melalui khayal gadis remajaku, apa yang dialami oleh Fizzy di Puncak. Udara Puncak
yang dingin, sejuk dan sepi, menimbulkan perasaan yang bukan-bukan memang.
Melintas di otakku kisah Rini tentang bibik palsu dan lwan. Apakah tidak mungkin di
Puncak ada villa yang demikian itu, seperti dikisahkan oleh Emmy dahulu, sewaktu ia
dibawa oleh seorang pengusaha tua, yang diceritakan oleh Emmy seperti kuda tua
yang bahkan tidak kuat melangkah lagi?
“Jam berapa mereka pulang?”. tanyaku pada ibu.
Baru jam setengah sembilan malam tadi”, kata ibu ringan.
Setelah di kamar tinggal aku dan Fizzy saja, sekali lagi kuteliti wajah Fizzy yang
begitu nyenyak. Begitu tenang kelihatannya wajah Fizzy itu. Keringatnya pelan-pelan
mengalir dari keningnya. Tidurnya semakin tidak akan bisa dibangunkan lagi.
Kudekati wajah kakak perempuanku yang begitu ayem-ayem itu. Kucoba mengelus
keningnya. Kelihatan ia tersenyum kena elusanku itu. Kurang ajar! teriakku dalam
hati. Apa dikiranya aku ini Mas Narko, he? Kurang ajarnya! Fizzy senyum lagi waktu
dagunya kupegang, sambil merengeh-rengeh manja. Matanya pelan-pelan dibukanya
dengan manja pula, diliriknya aku. Lirikannya melemparkan senyum yang manja
pula.
“Mmmh……kau”, kata Fizzy.
“Enak sekali tidurmu”, kataku.
“Capek”, kata Fizzy.
“Capek kenapa sih?” tanyaku.
“Mmmmh”, katanya.
Ingin saja aku menampar bibirnya yang tertutup seraya melepaskan lenguhan
‘mmmh’ bergaya kerbau itu. Tetapi aku ingin mendengarkan laporan Fizzy. Mulanya
Fizzy tersenyum. Senyumnya seperti memanas-manaskanku. Kemudian sambil
tersenyum ia berkata:
“Boleh nggak kau mendengarnya ya?”.
“Kenapa nggak boleh?” tanyaku jengkel.
“Soalnya umurmu’, kata Fizzy.
“Emangnya umur gue berapa?”, desakku memprotes.
“Usiamu belum lagi tujuh belas”, kata Fizzy.
“Alaaah, brengsek”, kataku melemparkan diri ke tempat tidur, dan memeluk bantal
guling.
“Baiklah”, kudengar suara kakak perempuanku. “Tapi jangan bilang sama siapa-siapa
ya?”.
Melalui bantal guling yang kupeluk hingga leherku, aku mengintip sikap-sikap kakak
perempuanku. Fizzy menceritakan, bagaimana pada mulanya dia dan Mas Narko lebih
dahulu mandi-mandi di Lido, sebuah tempat pemandian di simpang mau ke
Sukabumi. Setelah mereka makan-makan sejenak, mereka tidak jadi ke Pelabuhan
Ratu, melainkan terus ke Puncak. Hujan turun pada jam setengah sepuluh. Pelanpelan mobil memasuki sebuah pekarangan bungalow. Bungalow itu tidak moderen
bentuknya. Warnanya merah hati ayam. Sekelilingnya pohon-pohon cemara
melingkupinya.
“Kudengar sebuah lagu yang belum pernah kudengar selama ini, kata Fizzy sambil
memandang kepadaku memenggal ceritanya.
“Tak penting lagu itu”, kataku, “Yang penting bagaimana cerita selanjutnya.”
“Tidak. Lagu itu penting”, kata Fizzy.
“Kenapa?” tanyaku.
“Kata Mas Narko, lagu itu merupakan lagu kegemaran para teenagers di Amerika
sewaktu Mas Narko kembali ke Indonesia. Pada hari-hari pertama lagu itu tersebar,
setiap siulan di jalan, setiap rumah terutama setiap teenagers menyanyikan lagu itu.
Pada hari kedelapan lagu itu merupakan tophit song, terjadi keganjilan-keganjilan:
Banyak sekali bunuh diri diantara para remaja, terutama gadis-gadis yang putus asa.
Lagu itu berjangkit seperti penyakit sampar menggambarkan dunia kiamat,
“The End of the World”.
Aku tak ambil pusing pada the end of the world, telingaku ingin mendengar cerita
kakakku Fizzy. Apa selanjutnya dan selanjutnya.
Fizzy bercerita. Tetapi demikianlah sememangnya yang kusaksikan pada besok
paginya. Kulihat bagaimana pada keesokan paginya, di beranda, Fizzy dan Mas Narko
saling mencumbu.
Kulihat betapa tololnya Fizzy. Kulihat betapa gugupnya Fizzy sewaktu Mas Narko
melirik kepadanya. Kulihat bagaimana ketika Mas Narko mengelus pipi dan leher
Fizzy dengan hidungnya. Nafas kutahan kuat-kuat, aku yang cuma menonton menjadi
berdebar-debar. Fizzy meringis. Aku seperti memberontak, lalu cepat-cepat keluar
untuk mensabot percumbuan mereka.
Mereka berhenti karena tak menyangka aku memergoki mereka dari kamarku, lalu
terus ke belakang dan mandi. Setelah mandi aku segera pergi ke luar rumah. Aku
sekonyong-konyong merasa kesepian. Tiada hiburku bergerak sewaktu aku berjalan
seorang diri, tetapi dalam hatiku terulang-ulang lagu yang diajarkan Fizzy semalam,
lagu the end of the World, seakan-akan aku mengalami akhir dan duniaku. Langkah
kakiku berjalan tak menentu arah, terasa muak fakansi lima belas hari ini rasa-rasanya, ingin aku supaya sekolah segera dibuka. Ingin aku ketemu siapa saja dan
temantemanku sekelas. Langkahku memberat jua, keringat mulai menyelusupi tepi
ketiak dan BH-ku, menerobos blouse yang kupakai.
Entah dituntun oleh siapa langkah ini, tiba-tiba aku telah sampai pada sebuah rumah
gedung. Hari masih amat pagi. Rumah gedung itu tampak sepi-sepi saja. Apakah Oom
itu ada di rumah? Hatiku kesepian. Oom itu sangat ramah, mungkin ia bisa
menghiburku. Tetapi tiba-tiba aku membatalkan niatku untuk memasuki pekarangan
rumahnya. Aku melangkah lagi.
Sekonyong-konyong kudengar namaku dipanggil. Aku menoleh. Oom yang pernah
menolongku, masih memakai kameryas kembali menyerukan namaku. Ia seorang
yang rajin tentunya, memegang penyiram bunga di tangannya. Melihat wajahnya yang
simpatik tanpa dosa itu, tiap-tiap kata dan lagu the end of the world gugur satu
persatu, berganti dengan the beginning of my world. Hatiku berdebar sewaktu Oom
yang pernah menolongku dulu menghampiriku dan mengajakku mampir ke
rumahnya.
“Mari kita main halma”, ajaknya, sehingga aku masuk ke pekarangan rumahnya.
Ketika Oom itu membawaku masuk ke dalam rumahnya melalui garden belakang, ia
bertanya kepadaku kenapa aku tidak pernah Iagi ke rumahnya semenjak aku
ditolongnya sewaktu pingsan di Gondangdia dulu itu. Aku menjawab bahwa aku
sibuk sekali dengan hafalan-hafalan. Dia berkata, bahwa dia sangat mengharap sekali
kedatanganku. Aku bertanya kenapa. Dia menjawab bahwa dia kesepian. Kukatakan
kepadanya, kenapa dia harus kesepian.
“Oom membutuhkan teman”, katanya.
“Bukankah rumah Oom begini besar?” kataku memandang ke sekeliling. Di batas
garden yang memang luas yang bentuknya seperti tempat dansa di Wisma Nusantara
Harmoni itu, langkahnya terhenti. Katanya: “Rumah yang begini luas malahan
menambah kesepianku”.
Oom ini semakin berbicara semakin menjadi misterius bagiku. Dia tak melanjutkan
langkahnya. Dipandanginya tempat itu sekeliling, seperti ada sesuatu yang
dikenangnya.
Lihatlah”, katanya, “ Lampu-lampu pesta merah, hijau dan warna-warni ini semuanya,
seperti kemarin malam saja pesta-pesta selesai. Disini beberapa tahun yang lalu
semacam tempat pesta dansa kalau malam minggu dan malam-malam libur.
Dia melangkah masuk ke ruang tengah meninggalkan garden pesta itu dan
melanjutkan kata-katanya “Sekarang ruang itu seperti ruang hantu yang menakutkan”.
Wajahnya ditolehkannya ke wajahku. Kulihat betapa wajahnya memperlihatkan wajah
yang cukup ‘boyish’, menurut istilah kami anak-anak perempuan di kelas: ‘wajah
tanpa dosa’.
Di ruang tengah ini kami sama-sama berhenti. Aku dengan iseng menyelonong
melihat ukiran-ukiran relief di dinding ruang tengah itu. Tengkukku tiba-tiba
meremang sewaktu melihat relief-relief di dinding itu menggambarkan ke rukunan
laki-laki dan wanita. Baik lelaki-lelaki maupun wanita-wanita dalam relief-relief
dinding itu menggambarkan sebelum ada industri pakaian. Kengerian perasaan yang
timbul itu, diselesaikan oleh kata-kata Oom itu:
“Ruang ini Oom namakan Taman Eden. Lihatlah betapa rukunnya lelaki-lelaki dan
perempuan itu”.
“Ya... . ...“, ucapku.
“Mari kita bermain halma. Tunggu sebentar”, katanya tiba-tiba, dan meninggalkan
aku di ruang tengah yang disebutnya Taman Eden jtu.
Agak Iama aku menunggu. Sementara Itu kucari tempat duduk yang agak sejuk. Tibatiba sewaktu aku duduk di tempat yang kupilih, lampu biru yang sejuk menyala. Aku
menoleh melihat bayangan sesosok manusia. Manusia itu berpici dan berpakaian
pelayan. Dia membawa minuman es buah dua gelas dan menarokkan kedua gelas
minuman es buah itu di meja kecil di ujung lututku. Pelayan itu tak berkata suatu apa,
melainkan pergi lagi. Tiba-tiba jiwaku merasa tertekan. Tertekan oleh lirikan pandangan si pelayan ini. Lirikannya mengandung tanda tanya. Apakah lirikan itu bukan
semacam ejekan? Ejekan yang seakan-akan menuding kepadaku: He, kau adalah gadis
yang tak berharga, mau saja dibawa ke rumah gedung ini untuk kemudian menjadi
mangsa? Ingin aku memanggil pelayan itu dan menyatakan kepadanya, bahwa aku
bukan gadis sembarangan, bahwa gadis semacamku bukan dengan gampang untuk
dinodai. Tapi pelayan itu telah hilang, dan muncullah Oom dalam pakaian payama
serta bersandal Jepang yang bagus sekali. Sisirannya rapi, dan wajahnya semakin
boyish tampak olehku. Ketika ia duduk, bau parfum memencar dari seluruh dirinya,
harum nyaman. Ditaroknya kotak halma di atas meja. Lalu disodorkannya minuman
itu kepadaku.
“Minumlah”, katanya, “Adalah segar minum es buah dipagi hari begini Fonnie”, dan
dipandangnya aku.
Pandangannya benar-benar intim, seakan-akan masih punya pertalian keluarga,
seakan-akan dia adalah Oomku yang sebenarnya. Aku beberapa kali dipandang oleh
seorang lelaki dalam pandangan yang demikian. Bahkan Mas Narko, pacar kakakku,
suka memandang begitu tajam padaku. Lain halnya Toni, lain pula halnya Tigor,
begitu juga lain halnya Kherman. Kuanggap pandangan Mas Narko, Toni, Kherman
mempunyai daya yang nakal. Tigor tidak, melainkan matanya itu begitu suci rasanya,
seakan-akan aku. Tetapi pandangan Oom itu cukup nakal, namun ingin
memandangnya terus-terusan.
“Kenapa melihat saja, Fonnie?” tanyanya padaku.
Aku menjadi malu dan sadarkan diri.
“Ndak apa-apa”, kataku menunduk dan mulai mengacau minuman. Air strup mulai
bergulung-gulung dalam gelas, bersatu dengan potongan-potongan buah dalam gelas,
bersatu dengan susu dan mocca, semuanya dalam gelas, menerbit selera untuk minum.
Dan seteguk kuminum pelan-pelan. Ketika mataku melirik, bertemulah mataku
dengan mata Oom, biji mata yang hitam menyenangkan itu.
Tak lama kemudian kami main halma. Satu set pertama aku kalah! Aku minta
revanche. Oom itu mengabulkan. Kami main satu set permainan lagi. Keringatku
mengalir melepaskan pion-pion biji halmaku. Tiba-tiba, melihat bulu tangannya yang
tebal dan tangan dan jari-jarinya yang kokoh itu hatiku menggidik aneh. Lebih-lebih
ketika aku merasa kakinya menyentuh kakiku, terasa bulu kakinya menimbulkan geli
pada betisku.
Aku mengangkat wajahku dan menatapnya. Oom itu biasa saja. Tetapi hatiku
bergetar, mengamuk lebih-lebih pada waktu betisku merasakan ini.
Tak Iama kemudian, setelah bermain lima set permainan, kepalaku cukup pusing.
Pusing bukan karena kalah tiga set dan lima set permainan halma ini, tetapi melayang
pada pelajaran ilmu kesehatan, bahwa gadis sebelum usia tujuh belas, pada umumnya
punya rangsang berbahaya. Memang benarlah hal itu. Keinginan untuk didekap
selama ini semuanya gagal. Terakhir bahkan keinginanku yang meluap-luap terhadap
Kherman yang masih menghargai kesucianku. Apakah aku ini seorang gadis yang
mata keranjang? Ataukah semua ini dorongan keras belaka karena aku menyaksikan
cumbu mesra Mas Narko terhadap Fizzy, ataukah’ kisah-kisah pengalaman temanku
yang lain seperti Emmy atau Rini? Apakah pada akhirnya, aku akan mengalami
semacam Rini, atau Emmy, atau Imah? Apakah aku kuat untuk menahan pandangan
mata Oom ini, ataukah aku tertarik kepadanya sekarang karena usianya yang
menyebabkan ia menjadi lelaki idaman biarpun ia jauh lebih tua?
Ataukah seperti dikatakan oleh guru agamaku, jaman ini sudah terbalik, dimana kaum
wanita semakin menunjukkan kelemahannya menghadapi laki-laki?
Aku ingat kata-kata Emmy. Emmy temanku sekelas yang punya pengalaman dengan
seorang lelaki tua yang mengajaknya ke Puncak. Lelaki itu sudah punya isteri. Dan
Emmy dibujuk dengan materi, sehingga akhirnya berhasil dibawa ke Puncak. Suasana
di sana telah dibuat seperti suasana honeymoon dan Emmy sudah ditawarkan oleh
orang itu untuk dijadikannya isteri keempatnya. Tetapi Emmy pura-pura menolak.
Dan apa yang dialami oleh Emmy adalah menggelikan sekali sewaktu dia
menceritakannya kepada kami anak-anak gadis yang bandel di kelas. Yaitu julukan
keledai tidak bisa apa-apa. Biarpun demikian.. Emmy pernah berkata, bercumbu
untuk dengan laki-laki tua memang jauh berbeda dengan romantik terhadap para
jejaka yang pernah dialaminya. Heran kami semua, bahwa Emmy lebih tertarik
dengan Ielaki-lelaki yang usianya di atas 35 tahun. Mereka lebih kalem, sabar, dan
mempunyai magnet yang kuat. Gadis-gadis seperti jenis besi yang menghadapi
magnet, terhadap mereka Ini. Berbeda dengan para jejaka yang cuma mengejar-ngejar
begitu saja, tanpa kepastian, seperti halnya pada diri Kherman yang sok. Rini
bersumpah selama hidupnya tak mau lagi pacar-pacaran dengan anak-anak remaja
seperti Iwan itu. Ia bersumpah akan mencari idaman seorang lelaki dewasa, yang
Iebih bisa bertanggungjawab. Rini terpengaruh pada kata-kata Emmy, atau Imah,
mungkin. Tapi aku? Sekarang ini? Aku juga terpengaruh!
Aku rasa-rasanya lebih merasa dekat dengan Oom ini. Ia simpatik. Ia lebih hati-hati
dan Iebih berterus-terang. Apa yang telah dilakukannya terhadap diriku sewaktu ia
menolongku pernah aku membuktikan ía seorang laki-Iaki yang jujur. Andaikata aku
dulu itu ditolong pingsan oleh anak-anak muda, dan diangkut anak-anak muda yang
cross-boyish sifatnya, tentu aku sudah terancam sewaktu pingsan. Bahkan ada
temanku gadis yang diajak oleh kawan-kawannya yang muda-muda, lantas diberikan
sejenis minuman yang menyebabkan dia terjerumus menjadi mangsa. Tak seorang dan
yang menodainya yang mau bertanggungjawab.
“Kenapa kau seperti termenung, Fonnie?”, tiba-tiba aku seperti terkejut mendengar
katakata Oom ini.
“Saya kira sudah waktunya makan siang”, kata Oom itu pula.
Aku dibimbingnya ke ruang sebelah. Ruang itu ternyata ruang makan. Makanan telah
tersedia di situ. Apakah aku tertarik oleh sikap” ramah ini? fikirku dalam hati.
Dia pergi ke washtafel, dan membasuh tangannya. Aku mengikuti membasuh tangan.
Kemudian melapnya. Dan kemudian duduk makan bersama. Makanan yang
dihidangkan begitu mewah.
Setelah makan siang itu, Oom itu mengajakku kesebuah ruang yang disebutnya
sebagai ruang-angin. Ia akhirnya memakai celana pendek tennis, dan hanya berkaus
singlet saja. Kepadaku dipersilahkannya untuk tidur-tiduran disebuah kursi malas. Ia
sendiri juga rebah-rebahan disebuah kursi malas, yang jaraknya hanya dua meter dari
kursi malas yang ditawarkannya bagiku.
Ia mengipas-ngipas.
Kufikir, inilah orang yang sudah binnen!
Besoknya aku datang lagi pagi-pagi kesini. Begitupun pada besoknya. Tetapi yang
paling aneh adalah kejadian pada hari ketiga ini. Sehabis bermain halma, kami tidak
pergi makan. Dia mempersilahkan aku untuk memutar-mutar plaat yang baru.
Diantara plaat itu sebuah lagu yang akhir-akhir ini paling kusenangi ternyata ada
padanya: The End of the World yang pernah diajarkan oleh Fizzy. Oom itu pergi
entah kemana. Dan aku sendirian di ruang itu. Karena itu aku seenaknya tidur-tiduran
di lantai sembari mendengarkan lagu tentang berakhirnya sebuah dunia. Terutama
bait-bait terakhir kata-kata lagu itu, benar-benar membias serta membius kedalam
semangatku. Aku seakan-akan rapuh dalam duniaku. Aku tak mengerti, apakah semua
ini karena sebab-sebab ayahku yang terlalu keras, tetapi disamping itu lebih
mengutamakan kakakku Fizzy, sedangkan tak acuh kepadaku? Acuh orang yang
sibuk. Aku memasuki Tarantella Club karena aku butuh teman dahulu, justru ayah
terlalu sibuk, sebentar-sebentar pergi konperensi dinas ini dan itu. Ibu juga lebih
banyak mengisi kesepian dengan menjahit. Fizzy sibuk dengan pelajarannya hingga
kurus karena terlalu banyak studi. Akibatnya aku sering mengunjungi rumah teman
dan kurang betah di rumah. Teman-teman gadisku, terutama yang sudah
berpengalaman berpacaran inikah yang selama ini memberikan rangsang-rangsang
cerita sehingga aku kaya dengan khayal yang bukan-bukan? Tak mengerti aku.
Aku tak tahu, bahwa aku telah terlena dalam tidur dialun oleh lagu The End of the
World. Aku tertidur di atas lantai diantara timbunan bungkus-bungkus plaat.
Dalam tidurku tiba-tiba aku merasa leherku tersentuh.
“Fonnie”, kudengar bisiknya.
Tiba-tiba, pintu ruang diketuk. Terdengar suara di luar: “Tuan, makan siang. sudah
tersedia”.
Aku meloncat, dan berbuat seakan-akan baru bermimpi. Oom itu agak kaget juga.
Apakah wanita bukan termasuk sama lemahnya dengan lelaki-lelaki. Kalau tidak,
kenapa Oom ini memasuki ruang ini, mendapatkan aku sedang ketiduran? Apa
maksud kedatangannya, kalau bukan dibimbing oleh setan?
Tetapi sewaktu makan siang itu.
“Kau sudah punya pacar?” tanyanya.
“Sudah”, kataku disengaja. Aku ingin, melihat bagaimana lelaki yang seperti magneet
ini membiaskan rasa cemburu melalui mata dan wajahnya itu.
“Bagus itu”, katanya.
“Bagus bagaimana?” tanyaku.
“Bagus kau sudah punya pacar”, katanya.
Tapi tak kulihat bagaimana ia cemburu.
Aku melihat pernah, bagaimana Toni cemburu.
Aku pernah melihat bagaimana Tigor cemburu.
Aku juga pernah bagaimana Kherman cemburu.
Tetapi aku tak melihat bagaimana Oom ini cemburu, padahal itulah yang ingin kulihat
daripadanya.
“Tetapi Oom sudah punya isteri”, kataku mengajuk.
Ia kaget. Bagairnana kepalanya terangkat itu, seakan-akan tolakan terhadap
tuduhanku. Dan aku senang melihat hal itu.
Ia mengambil sesendok kecap dan diserahkannya kecap itu pada nasinya. Lalu ia
menyuapi nasinya. Ia melirik kepadaku.
“Mernang Oom sudah punya isteri bukan?”, kataku Iagi, sengaja. Ia menggelengkan
kepalanya.
“Sudah bukan?” kataku lagi.
“Kenapa?” tanyanya.
“ya ngaku saja kalau sudah”, akulah sekarang yang cemburu. “Memang kalau orang
sudah punya isteri suka mengganggu anak-anak sebayaku”.
“Kok gitu?” tanyanya.
“Oom sudah punya isteri. Dan yang di Bandung itu siapa?”, tanyaku lebih cemburu.
“Yang di Bandung?”, tanyanya ketawa.
“Ya, yang di Bandung….., ngaku aja deh”, desakku.
“Dulu sudah Oom katakan. Yang di Bandung itu adalah adik perempuan Oom”,
katanya.
“Adik ketemu besar apa adik kandung?”, tanyaku.
“Adik kandung”. katanya.
“Bohong”, kataku.
“Ah masak Oom bohong,…. Sungguh-sungguh kok”, katanya.
Hatiku belum percaya. Inilah yang membuatku jadi gigih dan gemas dan ingin tahu.
Makanya setelah makan siang itu aku duduk menyendiri. Hatiku untuk pertama kali
tertarik dengan hebatnya seperti jarum pentul mengejar tak kebaca.
Apakah memang sudah semua begini perkembangan jaman ini. Atau benar, gadis-gadis dalam masyarakat modern lebih tertarik kepada orang-orang yang sudah bukan
pemuda remaja lagi, seperti halnya bintang filem Sofia Loren yang masih muda
tertarik dengan situa producer Carlo Ponti? Banyak mengenai hal ini kami bicarakan
di sekolah. Tetapi kawan-kawan banyak beranggapan, bahwa baik Sofia Loren,
maupun gadis-gadis Barat yang lain, bukan tertarik pada lelaki tua, melainkan tertarik
pada materi. Ataukah aku juga demikian? Apakah aku tetap tertarik pada type lelaki
macam Oom inl, sekiranya ia tinggal di gubug yang reot?
***
Aku termenung. Kupandangi lampu-lampu merah-hijau-kuning di garden. Semua
padam. Tapi hatiku tak padam. Hatiku makin berkobar sendiri begini. Sekonyongkonyong kulihat bayangan manusia dan matahari siang, yang mulai turun. Ia adalah
Oom itu. Tangannya yang besar melingkari leherku, menyentuh daguku dan aku geli.
Ia coba berbuat seperti anak muda, tapi aku rasakan lucu. Kutertawakan ia pada
akhirnya hingga wajahnya merah padam. Kepalanya terkulai. Matanya melihat lantai.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu, sesuatu yang aneh, sesuatu yang mengherankan, dan
kemudian Ia membuang muka dengan terkulai. Aku mencoba duduk. Oom itu lunglai
dan berkata dengan suara rapuh:
“Itu makanya Oom tidak kawin-kawin.”
Aku maklum mengenai hal ini pernah menjadi pembicaraan kami anak-anak gadis di
kelas tentang sebuah kaya Mokhtar Lubir, Jalan Tak Ada Ujung dan kami tertawatawa sambil melirik pada guru laki-Iaki kami. Roman yang pernah jadi mata pelajaran
ujian kwartal dulu itu, sering menjadi acara-acara lucu bagi kami tentang tokoh lelaki
impotent dalam karya Mokhtar Lubis tersebut, tentang pipa yang ketinggalan di balik
bantal, pipa laki-laki yang berbuat serong dengan isteri seorang guru. Kami anak-anak
perempuan kadang-kadang ketawa mengikik kalau guru muda sedang iseng dan
menceritakan perihal guru itu yang akhirnya dimasukkan ke dalam penjara oleh
Belanda dan menjadi lelaki jantan kembali sewaktu disiksa oleh Belanda.
***
“Aku jujur, bukan? Tapi semua yang terjadi akibat dari masa remaja. Oom terlalu
puas melampaui jaman itu. Ayah Oom seorang kaya. Dan dahulu semasa Oom masih
remaja, Oom puas berdansa di garden belakang. Pernah Oom membaca memang, puas
berdansa laki-laki jadi immun terhadap wanita akhirnya terbukti benar. Sekarang apa
artinya semua ini Fonnie yang baik? Segala dokter tak bisa menyembuhkan. Hari
depanku telah menjadi suram, karena terlalu terangnya sinar lampu dimasa yang
silam”.
Ia berdiri. Ia malu memandangku. Aku juga berdiri dan dudukku di lantai. Ia menoleh
kepadaku lagi, dan membuang muka lagi. Ia yang mulanya merupakan besi-berani
tampaktampaknya, kekar dan seolah-olah berkuasa, kini kulihat seperti bubur.
Ketika aku akan meninggalkannya, tampak sekali wajah Oom tersebut sangat sedih.
Seperti yang akhirnya dikatakannya:
“Kau akan pergi”, dan sambungnya:
“Oom takkan punya teman 1agi”.
“Saya telah memaafkan”, kataku, “Karena Oom memang tak bersalah. Saya yang
bersalah.
Seorang gadis berani-berani mendatangi rumah Oom.
“Bukan. Akulah yang seharusnya meminta maaf, Fonnie. Begitulah gampangnya perpisahan. Andaikata kau tak kuganggu, tentu kau masih sudi datang ke tempat Oom
ini….. kita bermain halma bersama-sama, ngobrol panjang lebar seenaknya tanpa
prasangka. Sekarang kau tak mau datang-datang lagi, bukan? Apalagi engkau telah
mengetahui, bahwa aku punya kekurangan”.
“Oom tak berkekurangan. Oom cukup mewah dan senang”, kataku. Oom itu terdiam.
Wajahnya tak berani menantang wajahku. Mungkin perasaan rendah dirinya, seakanakan membayanginya!
Aku sendiri berat dengan perpisahan ini. Bagiku masih terbayang betapa wajahnya
yang simpatik tak berdosa itu mempunyai daya magneet yang memikatku. Betapa ia
bagiku ibarat payung pelindung. Betapa ia tak pernah menodaiku. Tetapi sebaliknya,
sekiranya ia orang sempurna, apakah jadinya orang seperti Oom ini? Bukankah ia
lebih bergajul dari teman-teman sekelasku yang lelaki yang berandal seperti Toni atau
Kherman atau yang lain? Belum lagi terhitung temanku Kami, yang tampaknya sangat
pendiam dan alim, tetapi akhirnya menjadikan berita teman-teman di kelas, karena
Kamil sering berhubungan dengan Dokter penyakit kelamin, karena ia diajak oleh
teman-temannya ketempat-tempat mesum dimana perempuan-perempuan jalang telah
menulari penyakit raja singa kepada Kamil?
Bagaimanakah hidup ini yang sebenarnya? fikirku. Aku hampir-hampir tak percaya
pada kehidupan. Aku hampir-hampir tak percaya pada manusia. Aku hampir tak
percaya pada pakaian yang dipakai oleh setiap orang. Aku tak percaya pada tempat
tinggal orang-orang sekalipun mereka diam di Menteng barat atau istana sekalipun.
Karena semua itu adalah pembungkus-pembungkus raga manusia: pakaian, lagak,
sikap kehormatan-kehormatan, tempat tinggal ataupun bahasa yang mereka pakai
sehari-hari. Aku menjadi kehilangan kekaguman pada kehidupan-kehidupan ini
semua, karena nyatanya semua yang dipakai oleh manusia hanyalah kepalsuan. Sekali
lagi kepalsuan yang menjadi topeng dari pribadi-pribadi yang sesungguhnya.
Sejenak aku merenung sebelum keluar dari pagar yang memagari rumah gedung yang
mewah, dari Oom yang kukira semula sebagai lambang seorang lelaki yang simpatik,
tolerant dan lambang kejantanan. Sejenak, aku merasa diriku apakah masih benarbenar suci, ataukah aku telah luput seperti yang lain?
Aku berjalan. Hanya langkah-langkahku yang mengetuk-ngetuk trotoir. Akhirnya aku
sampai di trotoir Cikini. Kulihat beberapa majalah. Beberapa orang sedang membalikbalik majalah. Ada anak lelaki yang kira-kira seusia denganku. Ada juga laki-laki tua.
Laki-laki tua ini sedang menatap sebuah foto bintang film Sofia Loren yang memakai
pakaian Pin-up. Laki-laki tua itu begitu asyik mengagumi bentuk tubuh Sofia Loren,
entah dengan khayal yang bagaimana, entah laki-laki tua itu saat itu merasa sedang
berada disebuah suasana bersama Sofia Loren, entah ia merasa sedang berpeluk atau
entah apa……
Tetapi kenyataan membuktikan, hampir separuh dari laki-laki mengagumi bentuk
tubuh Sofia Loren. Separuh lagi mengagumi di dalam hati dengan ucapan-ucapan
yang membenci tetapi seleranya lebih tajam. Semua adalah lambang dari kepurapuraan pribadi manusia. Aku beranggapan, pada umumnya manusia berhati munafik,
lain katahati dan lain bicara bibir. Aku melihat pribadi Yang Sesungguhnya dari
manusia jantan pada wajah lelaki tua Yang kini membuka lembaran lain, dan
mendegut ludahnya sambil menikmati Pandangan dari tubuh Claudia Cardinale.
Ketika aku mendekatinya, lelaki tua itu menoleh kepadaku dan cepat-cepat menutup
majalah itu.
Hatiku berkata: Itulah pribadimu dan itulah manusia mu.
Aku berjalan terus tak menentu arah. Sampai akhirnya aku duduk sore-sore sambil
makan sate Madura dipojokan Cikini, seorang diri. Kemudian aku berjalan lagi. Aku
berjalan Iagi entah kemana, sampai-sampai aku pulang telah hampir jam sembilan
malam. Setiba aku di rumah, tak ada tanda-tanda satu orangpun di rumah. Apakah
seisi rumah pergi mencariku, karena aku tak pulang seharian? Di atas tempat surat ada
sebuah MEMO yang ditujukan kepada ayahku. Memo itu menyebutkan bahwa teman
ayah menunggunya jam sebelas malam dalam urusan import semen dari Jepang.
Dan bila aku masuk, ibu tak ada. Hanya secarik kertas ditinggalkan oleh ibu ditujukan
kepada Fizzy, bahwa ibu menginap di rumah tante Lucy karena tante Lucy
mengadakan pesta all night. Pesan ibu lagi, supaya Fizzy mengatur rumah selama ibu
pergi. Kulihat jarum jam. Telah jam setengah sepuluh. Malam terasa sepi bagiku.
Tetapi terkejut sekali aku sewaktu pintu kamar kubuka perlahan, aku melihat Fizzy
dan Mas Narko.
Hatiku berdesir. Apakah seseorang yang sudah melalui beribu mil menuntut ilmu,
akhirnya tak beda juga dengan Iwan terhadap Rini atau Kherman atau yang lain?
Hatiku luluh, aku kehilangan ukuran tentang manusia. Aku segera Pergi ke gudang
belakang. Kukunci pintu. Kudengar suara langkah memasuki kamar mandi. Kudengar
Fizzy bernyanyi di kamar mandi. Fizzy mandi. Dan bila akhirnya aku memberanikan
diri keruang tengah, kudapatkan Mas Narko pura-pura membaca surat kabar. Lagilagi…. kepura-puraan yang kukenal, topeng pribadi manusia. Bila kumasuki kamarku
untuk pergi tidur, seprei tempat tidurku sudah tak ada, bantal guling terlempar tak
keruan dan sebuah bantal yang penuh air mata ada di lantai. Dan, sekonyongkonyong, hatiku yang rapuh, rontok melalui airmataku yang gugur.
Besok paginya, ibu pulang lebih pagi. Ibu bertanya kepadaku, apakah ayah ada
kembali tadi malam. Aku katakan bahwa aku tidur jam sepuluh. Dan aku katakan juga
bahwa aku tak mendengar ayah kembali, karena pagi-pagi pun aku tak melihat ada
mobil di garage.
“Fizzy mana?” tanya ibu.
“Fizzy masih tidur”, sahutku.
“Jam tujuh masih tidur. Ibu sudah pesan supaya siap-siap karena mungkin hari ini
keluarga Mas Narko akan datang meminang Fizzy secara resmi”.
“Fonnie nggak tau”, kataku.
Nah, ibu mulai marah-marah. Aku sudah tahu, kalau ayah tak pulang, biasanya ibu
sudah mulai marah-marah kayak senapan mesin. Pada hari itu ibu tak mengijinkan
aku pergi-pergi lagi seperti kemarinnya. Aku harus membantu ibu mempersiapkan
makanan, dan menjelang tengahhari ibu menyuruhku pergi membeli kuweh-kuweh ke
Cikini, membeli taplak meja yang baru serta korset kaki yang baru.
Fizzy menjelang tengah hari itu pun bangun. Aku cuma mendengar omelan bahwa ia
dimarahi oleh ibu.
Keluarga Mas Narko padahal datangnya setelah magrib.
Mereka mengobrol-ngobrol. Aku tak diperbolehkan mendengar oleh ibu, apalagi ayah
yang melotot bila aku mencoba melintas-lintas ke luar dengan alasan bahwa aku akan
ke belakang atau mencuci kaki, atau segala macam. Tetapi maksudku memang ingin
mendengar percakapan yang serius itu. Ayah yang suka berbicara keras, agak tegang
kelihatan. Yang kudengar:
“Kenapa kok sekonyong-konyong perkawinan? Bukankah pertunangan lebih
dahulu?”, demikian kudengar ayah mendebat. Jika ayah mulai mendebat, ada harapan
hubungan Fizzy dan Mas Narko putus, fikirku dalam hati. Dan aku mencoba
mengikuti percakapan-percakapan itu hingga larut malam.
Akhirnya pintu kamarku kudengar diketuk dari luar. Lambat ketukan itu. Aku
membuka dengan keinginan tahu besar sekali. Kulihat Fizzy berwajah muram.
“Bagaimana? putus?” tanyaku cepat-cepat.
“Tidak”, kata Fizzy lemah.
“Ayah tak setuju kau dengan Mas Narko?”, tanyaku.
“Bukan”, jawab Fizzy.
“Bagaimana? Terangkanlah. Aku ingin mendengar”, kataku mendesak. Fizzy duduk
di tempat tidur dengan lunglai. Wajahnya kelihatan pucat. Aku mengerti apa sebab
pucat begitu, karena aku menyaksikan sendiri. Dan matanya yang dulu riang, melirik
kepadaku. Kemudian dia memelukku kuat-kuat.
“Ayah brengsek betul. Fonnie!” tangisnya.
“Brengsek bagaimana?” kataku memegangi rambutnya yang terjurai.
“Ayah terlalu bertele-tele. Mas Narko mendesak supaya perkawinan dilakukan
minggu depan”, kata Fizzy.
“Minggu depan?” aku terkejut menganga. Mengapa begitu cepat?
“Ya. Minggu depan. Mas Narko sanggup menyebar undangan. Tapi ayah khawatir
pesta akan sepi. Lagi pula ayah mengusulkan sesuatu yang membikin Mas Narko
gondok!”.
“Katakan kepadaku apa sebab Mas Narko gondok”, kataku.
“Ayah menolak perkawinan Minggu depan”, kata Fizzy.
“Tentu ayah ada alasan”, kataku.
“Bukan alasan”, kata Fizzy, “Tetapi usul yang tak masuk diakal oleh mereka”.
“Ayah mengusulkan apa?”, tanyaku.
Fizzy menangis. Menangis lebih kuat. Dan Iebih kuat lagi hingga yurkku basah oleh
airmatanya.
“Apa usul ayah. Fizzy?” tanyaku gigih, tapi suaraku membujuk.
“Ayah mengusulkan perkawinan dilangsungkan dua bulan lagi”.
“Itu lebih baik. Kita cukup persiapan”, kataku.
“Tidak”, kata Fizzy, “Itu menyulitkan kami”. Aku terdiam sejenak.
“Bahkan ayah berkata”, kata Fizzy lagi dengan suara tertelan-telan oleh tangisnya,
“Bahkan ayah menyarankan andaikata Mas Narko atau keluarga Mas Narko tak setuju
dengan usul itu, ayah dengan sukarela setuju jika Fizzy atau Mas Narko
mengundurkan diri dengan sukarela, tanpa dendam, pertanda kita orang-orang
berpendidikan intelek”.
Dan Fizzy menangis Iagi.
“Lantas?” tanyaku.
“Sungguh memedihkan buatku. Lebih baik aku mati saja”, kata Fizzy lagi.
“Kau tak boleh putus asa, Fizzy”, kataku menasihati seperti nenek-nenek menasehati
cucunya. Aku geli sendiri dihati melakukan kata-kata itu kalau kuingat, akupun
pernah melakukan demikian. Mungkin semua anak gadis yang berjiwa perasa dan
putus asa akan punya fikiran demikian. Bahkan ibu-ibu yang putusasa telah
melakukannya, seperti yang dilakukan oleh ibunya Kherman.
Kucoba menenangkan Fizzy.
“Ayah gila”, kata Fizzy tiba-tiba.
“Kenapa?”, tanyaku.
“Semua itu dimintanya mengundurkan dengan suatu alasan yang sangat gila”, kata
Fizzy lagi.
“Jangan kau berkata demikian. Bukankah ayah adalah ayah kita? Tanpa ayah, kita ini
tidak ada”, kataku.
“Lebih baik kita tidak ada daripada kita hadir kedunia tersiksa begini. Aku Iebih baik
tak dilahirkan dahulu”, kata Fizzy.
“Kenapa kau sampai berkata demikian?” desakku.
“Kenapa?”.
Fizzy memandang kepadaku dengan tajam:
“Ayah minta diundurkan, bayangkan, dik, karena kata ayah, tiga hari lagi ia akan
berangkat ke Tokyo dalam urusan import semen dari Jepang”.
Aku terdiam mendengar laporan Fizzy tentang alasan ayah menunda perkawinan
Fizzy dan Mas Narko itu.
Akhirnya ayah setuju juga dan menerima seluruh usul Mas Narko. Bahkan ayah lebih
dari pada setuju, bahwa ia akan menanggung semua biaya perkawinan dan pesta itu
asal saja pesta dilakukan di rumah kami. Mendengar persetujuan ayah tersebut,
kakakku Fizzy yang berada dalam pelukan penuh tangis, berdiri dengan terkejut,
tetapi kemudian jatuh lagi ke tempat tidur. Fizzy pingsan. Aku menjadi kaget, dan aku
segera membuka pintu kamar serta berteriak:
“Ayah! Fizzy pingsan di kamar!”
Ibuku bagaikan meloncati terali tembok setinggi Iutut di ruang tengah. Keluarga Mas
Narko juga ikut sibuk. Mas Narko juga ikut sibuk. Mas Narko pucat. Ayah terlebih
lagi pucatnya. Aku tahu, ayah yang menjadi gugup secara tiba-tiba, menunjukkan
sayangnya untuk pertama kali di depan hidungku, karena beliau menangis. Tetapi
tiba-tiba beliau berdiri dengan segera dan berkata seperti pada diri sendiri:
“Kenapa aku begini linglung?”.
Ayah keluar dan aku mengikuti beliau bersama Mas Narko. Ayah mencari-cari buku
telpon.
“Mau tilpon siapa, pak?” tanya Mas Narko.
“Dokter langgananku, Dokter Anwar Jahri”, kata ayah.
“Tak usah ke dokter, pak! Sebentar juga sadar kembali”, kata Mas Narko. Tetapi ayah
tetap juga mencari-cari nomor tilpon Dokter Anwar Jahri itu.
‘Tak perlu dokter-dokter segala, pak!” kata Mas Narko.
“Apa maksud nak Narko melarang saya? Fizzy tokh masih anak saya, bukan?”
“Bukan begitu, pak. Hari sudah malam. Mungkin dokter sudah pulang!”, kata Mas
Narko.
“Tapi dia ini dokter lain dari yang lain. Tidak seperti dua tiga dokter yang pantangan
kalau ditelpon malam atau dibangunkan kalau ngorok. Bahkan ketika ban mobilku
kempes, dia meminjamkan mobilnya yang merah itu kepada saya. Ah, sudah, biar
saya urus!”
Akhirnya ayah temui juga nomer tilpon Dokter langganan ayah tersebut. Ayah
mengangkat tilpon. Mas Narko kebingungan. Mas Narko kembali masuk kamar, dan
berusaha keras supaya Fizzy segera sembuh dari pingsannya.
Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki pekarangan, namun Fizzy belum juga
siuman. Aku, Mas Narko, dan Ibu, menemani Fizzy. Kepada ibu Mas Narko tetap
menyarankan agar Fizzy tak perlu diperiksakan kepada dokter, — tidak apa-apa,
katanya. Bahkan Mas Narko menambahkan mungkin Fizzy pingsan karena terlambat
makan. Tiba-tiba ibu kulihat memandang sejenak pada Mas Narko, seperti ada yang
ibu setujui dan kata-kata usul Mas Narko. Seketika ketika ibu mengatakan: “Nanti
akan ibu sarankan kepada bapak”, maka…. pintu kamar terbuka. Dokter Anwar Jahri
yang ganteng dan masih muda itu berdiri di depan pintu siap dengan alat-alat
pemeriksaannya serta stoteskop di dalam kantong baju putihnya.
“Dokter…. Fizzy tak apa-apa!”, kata ibu.
Memang kata-kata ibu secara kebetulan sekali, karena Fizzy telah sadar dari
pingsannya. Dan Mas Narko menambahkan:
“Ya, Fizzy sudah sadar kembali!” dengan lega.
Fizzy melihat dokter tiba-tiba melotot matanya “Aku tak sakit! Aku tak sakit! Fizzy
tak mau diperiksa dokter! “.
Ayah mendekati kakak perempuanku itu:
“Bukankah kau sejak kecil paling doyan berobat dan minum obat? Kenapa kau
sekarang jadi senewen begini ha?”
Belum selesai ayah akan melanjutkan kata-katanya, ibu menyeret ayah ke sudut dan
berbisik-bisik sesaat. Kemudian ayah berkata kepada Dokter Anwar Jahri: “Sayang
dokter…. Memang Fizzy tidak suka disuntik”.
“Hanya diperiksa sedikit saja”, kata Dokter Anwar Jahri. Tetapi Fizzy menjawab
kebaikan dokter itu dengan menelungkupkan badannya, sehingga dokter muda yang
ganteng itu tak berdaya. Lebih tak berdaya lagi setelah ayah — yang menilpon dia —
mendorongnya dengan halus supaya ke luar.
Keadaan menjadi pulih kembali setelah Fizzy memperlihatkan bahwa ia sehat betulbetul, sekalipun aku tahu, semua gerak-geriknya dibikin lincah dengan dipaksa-paksa.
Begitu rumah kami tinggal hanya kami saja:
ibu, aku dan Fizzy, karena ayah pergi lagi ada urusan dagang, aku berusaha untuk
menyadari Fizzy supaya tetap memeriksakan diri.
“Sudah. Jangan diolok-olok juga”, kata ibu.
“Idiiiih. Mentang-mentang mau jadi penganten nggak mau ke dokter ya?”
Aku dicubit oleh kakakku. Ibu menyeretku ke luar kamar sewaktu Fizzy makan
sendirian di kamar.
“Kau jangan olok-olokkan juga si Fizzy”, nasihat ibu padaku sewaktu aku menemani
ibu tidur di kamar beliau.
“Kenapa sih?”
“Kau masih kanak-kanak, Fonnie”, kata ibu.
“Bu…..“, kataku bersungguh-sungguh. Ibu juga memandangku dengan bersungguhsungguh pula.
“Apa Fonnie. Makin aleman aja”, kata ibu.
“Kenapa si Fizzy dan Mas Narko.... nggak mau diperiksa dokter? Dan apa sih yang
ibu bisikan sama ayah tadi di pojok itu?”
“Sst! Anak kecil nggak boleh tau!” kata ibu.
“Tetapi tiba-tiba intuisi wanitaku bisa menjalari kebenaran: ada yang telah terjadi atas
Fizzy. Mungkin Fizzy tak bisa menahan diri, sehingga terjadilah apa yang harus
terjadi. Aku tetap bersyukur, bahwa hal demikian tidak terjadi atas diriku, dan ini
membuat mataku tak bisa dipicingkan hingga pagi.
Aku mendapat jatah undangan sepuluh buah cuma-cuma. Terpaksa teman-teman yang
benar-benar dekat yang kupilih. Terpaksa membagi undangan itu lima untuk teman
lelaki dan lima untuk teman gadis-gadis. Anak-anak perempuan yang kuundang masih
kuraguragukan, tetapi yang terang Nafsiah dan Rini kuundang.
Tiba-tiba Rini kubatalkan untuk mengundangnya, karena mungkin peristiwa
perkawinan Mas Narko dan Fizzy ini akan menimbulkan sedih hatinya.
Tentu Rini akan merasa sedih. Sebab Rini telah mengalami suatu cobaan dunia, yang
telah merusak dirinya sebagai seorang gadis, sedang Iwan sendiripun tidak
menjanjikan untuk mengawininya andaikata hal-hal yang tak terduga terjadi dalam
pertumbuhan biologisnya kemudian hari
Dari anak-anak lelaki yang kuundang terpaksa juga Kherman, Tigor dan Iwan
kuundang. Kuundang Kherman untuk menyadarkan dirinya, bahwa pada akhirnya
seorang lelaki pun harus memasuki gerbang perkawinan.
Kuundang Tigor hanya untuk membujuk luka hatinya, mungkin dengan pesta ini
dimana ia hadir, Ia bisa bersimpati lagi kepadaku. Kuundang Iwan dengan harapan,
agar Iwan benar-benar sadar akan perbuatannya yang telah merusak temanku Rini.
Agar ia tetap bertanggungjawab, dan jika terjadi sesuatu yang tak terduga atas diri
Rini, ia harus mengawini Rini. Ketika kudatangi Kherman, maka Kherman cuma
menjawab: “Ada pesta rame-ramean lagi ha?”, — suatu kalimat yang
mengherankanku sekali.
“Iwan”, kataku kepada Iwan sewaktu mengantarkan undangan padanya: “Datanglah
pada perkawinan kakakku ini!”, bujukku, karena tiba-tiba Iwan berkata bahwa ia
sibuk sekali.
“Aku nggak bisa dateng, Fonnn”, kata Iwan lembut.
“Emangnya ada janji nonton dimalam Minggu dengan Rini?” tanyaku berbuat seakanakan tak mengetahui peristiwa dia dengan Rini.
“Kalau Rini datang, aku mau datang”, kata Iwan.
“Betul?”, tanyaku.
“Tapi ntar dulu ah”, kata Iwan tiba-tiba berbelot.
“Apa lagi soalnya?”, kataku bertanya.
“Nontonin orang kawin nggak enak ah”, kataku.
“Lho kok nggak enak. .Jangan begok ah”, kataku.
“Bukan begok tapi rasanya ngeliat orang kawin itu aku kok mual. Buat apa sih orang
kawin?” tanya Iwan.
“Untuk melanjutkan generasi ummat manusia”, kataku.
“Apa lagi?” tanya Iwan.
“Buat membangun keluarga. Kitab Suci dan juga guru agama menekankan, bahwa
perkawinan wajib bagi lelaki dan perempuan. Ingat tidak ajaran guru agama kita:
Perempuan ibarat Iadang bagi lelaki?”
“Kalau perempuan itu ladang, kan artinya dijaga baik-baik, supaya ladangnya subur
bibitnya baik. Terjadilah generasi yang baik. Kalau ladangnya sesudah ditanam
ditinggalkan, mungkin orang anggap tanah ladang itu hanya semak-semak tak berarti,
si pemilik ladang ‘kan artinya tak bertanggungjawab?” kataku menekankan
sindiranku.
“Kalau aku ini pemilik ladang, apa kau fikir aku ini termasuk yang tak
bertanggungjawab?”, tanya Iwan tiba-tiba, mungkin tahu bahwa aku tadi
menyindirnya. Aku segera menjawab:
“Aku yakin kau pemilik ladang yang baik. Pemilik ladang yang baik, tentu setelah
menaburkan benih menyiangi ladang itu, memberinya pupuk, mengawasi binatang-binatang yang akan merusak seperti kerbau atau sapi yang lewat mau merusak. Dan
pada waktunya tentu bahagia menuai hasilnya!“.
Berkata Iwan: “Kau telah ketularan penyakit filsafat-filsafat si Plato Kherman,
hmmmmh?”.
Aku kaget. Tapi kurahasiakan kagetku, kalau-kalau Kherman pernah berkisah.
“Emangnya Kherman pernah bilang apa?”, tanyaku berdebar.
‘Kherman pernah bilang, bahwa bagi dia gadis-gadis adalah ibarat ibunya. Gadisgadis adalah calon ibu. Ibu adalah sumber dari manusia dan kemanusiaan serta
kesucian. Karena itu, seorang gadis tak boleh dilukai sedikitpun. Apalagi seorang
ibu”, kata Iwan.
“Benar dia mengatakan hal itu?” tanyaku masih gemetar, kalau-kalau Kherman bicara
soal pengalamanku dan dia dipondok terpencil dikelilingi tambak-tambak di Cilincing
dahulu.
“Aku heran kenapa Kherman selalu berkata begitu.”, kata Iwan sekonyong-konyong
yang menyegarkan hatiku sedikit.
Akhirnya Iwan memutuskan akan menghadiri pesta perkawinan kakakku juga,
sehingga aku menuliskan nama Rini dalam amplop undangan, langsung ke rumah
Rini.
Usahaku ini berhasil. Iwan dan Rini bersama-sama menghadiri pesta perkawinan itu,
bahkan datang semesra-mesranya, belum kulihat mereka begitu mesra. Seyogianya
jika aku menjadi iri hati, apalagi Kherman telah mengabarkan melalui Iwan, bahwa ia
tak bisa hadir. Tetapi Tigor tetap datang. Cuma Ia tampaknya tak gembira.
Aku berusaha duduk dekat Tigor dalam acara makan kuwe-kuwe kecil di sebuah
pojok yang sepi di balik pohon-pohon pisang belanda. Lampu-lampu biru kecil
bergatungan mengelilingi kami.
“Kenapa kau murung, Tigor?” tanyaku.
“Aku sedang memikirkan sesuatu”, kata Tigor.
“Sesuatu apa? tanyaku mania membujuk.
“Sesuatu yang tak hilang dalam otakku selama ini. Yaitu tentang perkawinan.
Pada akhirnya, baik lelaki ataupun perempuan, harus memasuki dunia ini. Sementara
itu, merasakan merindukan sesuatu melihat kakaku bersanding bersama suaminya.
Mas Narko itu. Kubayangkan, jika aku nanti jadi pengantin wanita siapakah yang
akan bersanding di sebelahku? Aku belum mengetahuinya, aku tak bisa
membayangkannya.
Tigor tiba-tiba menjadi kaget, mendengar suara pengacara yang berkata: “Atas
permintaan kedua mempelai, diminta saudara Tigor tampil berdeklamasi sajak”.
Tigor tanpa ragu sedikitpun maju ke depan mic. Ia berdeklamasi:
Tuhan berikan bumi ini bagi kita manusia
Tuhan lahirkan kita pada saat pertama
Tuhan takdirkan perkawinan dalam jenjang kedua
Pada waktunya, Tuhan memanggil manusia disaat ketiga
Diantara yang tiga itu kita berjalan Itulah kehidupan
Alangkah indah kehidupan jika dicintai
Alangkah agungnya kehidupan jika manusia sudi mengabdi
Saat-saat ditiga pintu itu, bagi kekekalan abadi
Alangkah terasa sunyinya rumah. Biasanya ada Fizzy. Sekarang Fizzy telah menjadi
Nyonya Narko. Mereka tinggal di Bendungan Hilir, jauh dan tempat tinggal kami.
Lebih-lebih, setelah perkawinan Fizzy bcrlangsung dan Fizzy berpindah ke rumah
suaminya, ayahpun berangkat pula ke Sepang, seakan-akan kami yang ditinggal harus
benarbenar menekan sepi berdua, yaitu aku dan ibuku.
Aku kadang-kadang berfikir, sekiranya akulah yang nantinya kawin, maka setelah
bubarnya pesta. akan dibawa suamiku ke rumahnya, ke rumah kami. Jika kebetulan
Ayah Sibuk bagi baik ke luar Negeri atau berkomperensi dinas lagi, alangkah
sunyinya Ibu sendirian. Terkadang, aku kepingin tak usah kawin saja kalau
memikirkan hal ini.
Kenapa fikiranku masih berkisar soal perkawinan saja, terutama semenjak Fizzy
menikah? Atau karena kesunyian, atau karena sekolah berlibur menjelang
pengumuman lulus tidaknya ujian, ataukah karena baru-baru ini Fizzy datang dengan
perut menggembung tanda dia telah mengandung, dan aku merasa ketinggalan?
Ketika aku memikirkan tentang perkawinan, tak sedikitpun melintas dalam
bayanganku, siapakah laki-laki yang kelak menjadi suamiku. Karena aku akhirnya
sadar, selama ini yang kuliwati bukanlah cinta, bukanlah calon suami. Tetapi anakanak perjaka yang sedang bertumbuh, yang umurnya tak beda usianya denganku,
anak-anak remaja dalam jaman Sturm und Drang, kami anak-anak yang masih dalam
taufan pancaroba
Mereka membelai kulitku, mereka menciumku, begitupun aku terhadap mereka,
kukira semua bukan atas dasar kasih yang bisa abadi, melainkan keinginan-keinginan
remaja belaka. Bila kuingat begini, bahwa diriku pernah dibelai diciumi dipeluk
biarpun tak lebih dari itu, aku merasakan, seolah-olah kehilangan virginitas. Biarpun
aku masih perawan utuh, tetapi adakah aku ini masih suci? Adakah masih suci bila
fikiranku sudah pernah terjadi sekalipun hanya didalam khayal, kehendak, fikiran dan
niat belaka? Atau sekalipun manusia, baik lelaki atau perempuan yang pernah hidup
sebenar-benarnya hidup, pernah berbuat noda, sekalipun noda itu terpancang dalam
fikiran, kehendak, khayal dan niat belaka? Sebagai bungkusnya, manusia berbuat
baik-baik dalam gerak-gerik dan tingkah laku, tetapi siapa yang bisa membaca hati
nurani manusia, yang terdiri atas kebaikan dan keburukan?
Atau diriku seorang diri sajakah yang mengakui secara terus terang tentang hal ini,
sekalipun pengakuan terhadap diri sendiri, yang pendengannya hanya malaikatmalaikat serta Tuhan belaka? Sehingga teman-temanku yang sudah tak perawan lagi
merasa kagum kepadaku, seperti halnya Emmy, Rini dan Imah, ketiga-tiganya pernah
menganggap aku ini manusia yang layak tinggal dalam biara. Padahal tidak? Dalam
fikiranku aku telah menjalani beribu-ribu dosa, beribu-ribu nista.
Terkadang aku menangis seorang diri di kamar, dan aku tetap mendustai ibuku,
bahwa aku menangis karena khawatir aku tidak lulus ujian SMA-ku! Aku yakin, ibu
kagum kepadaku yang memikirkan pelajaran serta ijazah, sebagai murid yang baik,
tetapi padahal aku sedang terombang-ambing dalam gelombang taufannya masa
pubertas, entah semua ini karena arus jaman yang menghempas dilingkungan
hidupku, mengingatkanku pada sajak Khairil Anwar yang pernah dideklamasikan oleh
Tigor, yang berbunyi: “Kita — anjing diburu — hanya melihat sebagian dari
sandiwara sekarang. Tidak tahu Romeo dan Juliet berpeluk di kubur atau di ranjang”,
yang bisa kutafsirkan seolah-olah aku ini termasuk dari generasi yang mewarisi jaman
lampau yang tiada kami ketahui, karena jaman lampau telah diukir oleh generasi
sebelumku, sebelumku dan sebelum nenek moyangku. “Kita hanya melihat sebagian
dan sandiwara sekarang”, kata Khairil Anwar.
Kuingat lanjutan sajak itu lagi, yang berbunyi: Lahir seorang besar tenggelam beratus
ribu. Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat”. Mungkin penyair Khairil
Anwar benar, fikirku. Cuma aku tak tahu, apakah dalam masyarakat bangsaku telah
pernah lahir seorang besar yang harus dicatet, ataukah masih akan lama lagi. Yang
terasa olehku, seperti ayah Nafsiah seorang pegawai negeri pernah berkata kepadaku
dengan kata-kata yang memancang di otakku sampai sekarang: “Kita ini tenggelam
melulu. Abis rakyat sih. Yang nimbul cuman pemimpin aje” Kufikir bahkan penyair
seperti Khairil pun ada diantara pegawai-pegawai negeri.
Untuk itulah aku mendatangi temanku Tigor. Mungkin Ia Iebih mengerti arti sajak
Khairil itu, karena sajak itu diciptakan ditahun 1946, ketika gelombang jaman sedang
menghempaskan pada pundak bangsaku suatu na.sib antara hidup terus atau mati
sebelum berusia setahun. Karena pada saat itupun aku sendiri belum lagi lahir
“Fonnie. Ada yang sudah lebih dahulu berangkat dari kita”, kata Tigor dengan wajah
yang muram.
“Siapa?”, tanyaku kaget.
“Kau belum mendengar?”, tanyanya, menyebabkan aku ingin tahu. Tigor menjelaskan
kepadaku: “Rupa-rupanya kematian Ibu Kherman yang menyebar ke kelas kita,
berpengaruh atas diri seorang teman kita. ltu maka aku percaya pada kisah Mas
Narko, lagu The End of The World pada saat-saat hits, menimbulkan kematiankematian karena bunuh diri, putus asa pada jaman dan Dunia yang Akan Berakhir.
Tahu kau, salah seorang teman kita telah melompat dari atas Jembatan Semanggi.
Karena malam itu lwan masih ragu-ragu. Ragu-ragu untuk mengawininya. Rini sudah
meninggal. Mayatnya pagi ini dibawa ke Kudus, kampung halamannya. Oh “, Tigor
mendengus sedih. “Kudus, nama yang identik dengan perkataan Suci. Mungkin Rini
ingin dikembalikan pada tempat ía dilahirkan semula. Betapa tragis dan kontrasnya
nama negeri itu dengan akhir hidup Rini. Atau sajakku dimalam itukah yang
mempengaruhi otaknya? Rini menangis dimalam perkawinan kakakmu!”
Aku terdiam. Aku benar-benar seperti merasakan bagaimana mati itu! Oh, Tuhan.
Alangkah pahitnya mati demikian, fikirku.
“Padahal Rini lulus, bukan?”, tanya Tigor lagi.
“Rini lulus dengan angka-angka baik”, kataku, termangu. “Mengkirik bulu kudukku
mengingatkan kematian sahabat sekelas. Mungkin Rini mengalami demikian, karena
ía membayangkan dirinya ibarat ibunya Kherman kalau Iwan nanti jadi suaminya tokh
akan di sia-siakau! “.
“Makanya kita tak boleh membayangkan diri kita sebagai orang lain. Diri kita adalah
seadanya yang ada pada kita”, kata Tigor. Aku seakan-akan lumpuh. Tak kuasa aku
berdiri. Lututku lemah rasanya, karena taku melihat kedepan.
Namun sekonyong-konyong terasa olehku bahwa aku ini masih lagi gadis yang
berusia tujuh belas tahun. Teringat olehku nasihat kakakku Fizzy dahulu: “Cinta
remaja adalah cinta platonis. Cinta sekolahan. Kau masih kecil. Kau masih kagum
pada orang-orang yang gagah mentereng! Type lelaki yang akan merajai dunia. Di
Fakultas nanti, lain halnya lagi. Yaitu lelaki yang punya sikap, terhormat karena isi
otaknya, bukan isi kantongnya”.
‘Kenapa kau terdiam?” tanya Tigor seraya menghalau ayam yang memakani nasi
yang dikeringkan di tetampah. Dan karena aku tertarik pada nasi-nasi yang dijemur di
tetampah, Tigor berkata: “Kalau digoreng, kerak-kerak nasi begitu enak untuk adikadikku”. Katanya lagi: “Di rumah kami sebutir nasi amat berharga. Maklumlah
ayahku harus membina begini banyak anak”.
Airmataku tertelan melalui leherku menahan sedih. Karena kami sering melemparkan
nasi-nasi restan ke tong depan rumah kami, supaya nanti kalau ada ayam atau anjing
lewat atau orang-orang gelandang, mungkin akan mereka ambil. Terutama supaya
jangan mengotori rumah kami. Tetapi disini, di rumah Tigor, sebutir nasi katanya,
dihargai sungguh-sungguh.
Negeri ini begini kaya, setiap pemimpin berkata bahwa Indonesia kaya, strategis,
seperti gadis cantik yang menerbitkan selera bagi negeri lain. Aku melihatnya dan
kenyataan lain, karena ingat pepatah yang pernah diajarkan guru bahasa Indonesiaku
di kelas: Ibarat ayam mati di lumbung padi.
Tigor mengusir ayam yang naik ke atas atap mencotoki kerak nasi yang dijemur, kali
ini betul-betul memungkangnya dengan batu. Begitupun ibunya memaki-maki. Aku
tunduk dengan takzim. Aku merasa, bahwa aku tiada pernah merasa kekurangan,
bahkan kelebihan sampai-sampai membuang restan nasi ke tong sampah di pinggir
jalan supaya diambil pengemis, anjing atau ayam dan kucing, supaya jangan
mengotori pekarangan rumah kami. Tetapi setiap aku ke rumah Tigor, aku merasakan
kurangnya keluarga kami. Karena hubungan dalam keluarga Tigor sangat mesra. Aku
dalam keluargaku seperti siapa lu siapa gua saja, sehingga aku kesepian.
Sekali lagi, dalam penuh simpati ini, aku takut jatuh cinta dengan seluruh simpati
kepada Tigor ini. Ya, aku takut jatuh cinta. Karena. melihat Tigor mengusir ayam itu
dengan penuh tanggung jawab, aku merasa lelaki yang penuh tanggungjawab, aku
merasa lelaki yang penuh tanggungjawab beginilah yang pantas jadi suamiku kelak.
Dan kubayangkan Tigor adalah suamiku. Khayal ini tiba-tiba kutekan, karena hatiku
sudah melambung tinggi, seakan-akan rela aku hidup susah begini semacam keluarga
Tigor tetapi susah yang dijalin kemesraan, tidak siapa lu siapa gua semacam keluarga
kami. Kutekan angan-angan ini, karena sadar kembali, bahwa aku belum lagi tujuh
belas tahun. Ada waktunya kelak aku benar-benar mencintai dan dicintai. Itu akan tiba
waktunya, seperti dikatakan Tigor, yaitu: saat kedua dalam kehidupan. Sekarang aku
belum lagi tujuh belas. Tiba-tiba kutolakkan standard sepedaku.
“Mau kemana kau lagi?”, tanya Tigor.
“Pulang. Ibuku kesepian seorang diri di rumah”, kataku.
Setiba di rumah aku memeluk ibuku.
Ibu heran kenapa aku memeluknya begitu mesra.
Ada beberapa waktu lamanya, seluruh kelas kami bertanya-tanya tentang kematian
teman kami Rini.
Tetapi hanya dua orang saja Yang mengetahui sebab-sebab tersebut sampai Rini
bunuh diri Dua orang yang mengetahui itu adalah Iwan dan aku! Teringat kembali
olehku bagaimana Rini menangis tersedu-sedu di kamarku menceritakan kejadian
yang dialaminya atas perlakuan Iwan. Teringat olehku bagaimana Rinr menyesal dan
putus asa. Harapan-harapan Rini timbul kembali pada saat aku berhasil
mempertemukan Iwan dan Rini yang bersama.sama menghadiri pesta perkawinan
kakakku Fizzy, bahkan datang semesra-mesranya, belum pernah mereka semesra itu.
Mengingat bagaimana mereka duduk bermesra-mesra pada pesta jtu, pada saat itu
timbullah kebencian yang meluap-luap dalam diriku-sebagai seorang gadis. Tiba-tiba
tertanam dalam kalbuku, bahwa pada umumnya laki-laki adalah tidak berani
bertanggungjawab apabila mereka melakukan affair! Mereka lebih pengecut dari
kucing-kucing. Gemasku meluap-luap dan di kamar ku kutuliskan kata-kata: No Time
for Love. Kata-kata ini sudah biasa kubaca di kamar-kamar kawan-kawanku yang
perempuan. Umumnya kawan-kawanku yang dipermainkan oleh pacarnya. Tetapi
tidak buatku. Kata-kata murahan seperti dibilang oleh ibuku itu, bagiku merupakan
peringatan yang amat tinggi bagi pribadiku. Memang dalam kehidupan ini aku begitu
cepat rasanya untuk berfikir yang tinggi-tinggi. Berfikir, bahwa dan sesuatu yang
kelihatannya murahan, mungkin saja timbul hal-hal yang terbaik dalam
perkembangan hidup selanjutnya!
Pada suatu malam aku tak bisa tidur. Seperti biasanya, aku mematikan lampu supaya
bisa tidur. Kamarku gelap. Kepalaku kuperbantalkan dengan kedua telapak tanganku.
Aku menghadap ke loteng. Tiba-tiba bulutengkukku meremang. Rasanya dan loteng
itu muncul wajah seseorang yang makin lama makin jelas. Wajah Rini almarhumah!
Rini melambaikan tangan. Rini makin dekat, Rini senyum makin sejelas-jelasnya
seakan-akan ia hidup! Rini yang berpakaian putih itu tidak berkata-kata malahan
semakin dekat dan sewaktu tiba-tiba ia meraihku, perasaan ngeriku memuncak hingga
aku memekik!
Ibu menggedor-gedor pintu. Tetapi aku sudah seperti orang bisu dan kejang di tempat
tidurku. Ibu masih menggedor-gedor pintu. Ada apa Fonnie? Ada apa Fonnie? Aku
ingin menjawab: Aku melihat hantu, aku meihat hantu, aku melihat hantu
tetapi
lidahku semakin kelu membeku.
Pintu terbongkar juga rupa-rupanya, hingga aku melihat cahaya dari ruang tengah. Ibu
berdiri di pintu. Nafasku masih sesak. Dadaku menyempit, lidahku tetap mengelu.
“Ada apa nak?” tanya ibu.
“Rini”, kataku terpatah-patah.
“Rini? Kenapa Rini?”, tanya ibu menghapus keringatku, dan menegukkan air putih di
gelas ke dalam mulutku.
Setelah meneguk air putih itu, dadaku mulai merasakan bernafas sedikit.
Bayangan almarhumah Roni seakan-akan masih berdiri di depanku.
“Aku takut, ibu”, kataku.
“Bukankah Rini sudah meninggal, Fonnie?” tanya ibu.
“Ya. Tapi Rini datang, bu”, kataku.
“Ah mungkin hanya angan-anganmu saja”, kata ibu, yang kutahu hanya untuk menentramkan perasaanku saja.
“Aku melihatnya”, kataku.
“Anganmu saja”, kata ibu.
“Tapi aku betul-betul menyaksikan dia datang dan atas itu. Dan meraihku”, kataku
menangis, dan memeluk ibuku.
Ibu menghela nafas panjang-panjang, terasa helaan itu bergelung di dada ibu sewaktu
aku mendekap demikian.
“Mungkin kau teringat kepada Rini sebelum tidur” kata ibu.
“Apakah orang mati bisa mengingat kita yang masih hidup?”, tanyaku. Ibu menjawab:
“Orang mati hanya jasadnya yang tertanam. Mati. Tetapi rokhnya kadang-kadang
melayang. Mungkin juga Rini meninggal dengan tidak rela. Bukankah yang kau
maksud ini Rini yang meloncat dari Jembatan Semanggi, yang bunuh diri itu?” tanya
ibu.
“Betul. Rini yang bunuh diri itu”, kataku.
“Ibu heran pada jaman sekarang begini masih ada juga orang yang berani mati bunuh
diri. Kadang-kadang akal manusia berobah dalam suatu saat yang sangat pendek.
Tahukah kau, Fon, pernah ibu sendiri membayangkan hal untuk melakukan perbuatan
maksiat bunuh diri itu. Tapi ibu merasa bersyukur tidak melaksanakannya. Karena ibu
telah dibekali oleh iman kepada Tuhan yang dibekali oleh kakek dan nenekmu, bahwa
setiap bunuhdiri hukumnya hanyalah neraka!”.
“‘Neraka?” kejutku,” Apakah Rini akan hangus dibakar api neraka seperti nenek
ceritakan semasa Fonnie kecil dulu, bu?”.
Kurasakan belaian jari-jari ibuku pada anak-anak rambutku di kening.
“Itu keputusan Tuhan. Tapi janganlah sekali-kali memikirkan hal itu, apalagi
melakukannya”, kata ibu. Makin terasa jari-jemari ibuku mempermainkan
anakrambutku
“Kalau ibu fikir-fikirkan kelakuan ayahmu, sudah lama hal itu terjadi”, kata ibu.
“Bagaimana ayah?” tanyaku mendesak.
“Tidak”, kata ibu, “Ayahmu baik-baik saja
“Ah, tentu ada yang ibu rahasiakan mengenai ayah barangkali. Ada tentunya hal-hal
yang tidak baik yang pernah diperbuat oleh ayah makanya ibu pernah berfikir untuk
bunuh diri”; kataku mendesak.
“Itu dulu. Tetapi sekarang tidak lagi. Sekarang ibu telah melepaskan ayahmu dan
membiarkannya untuk berbuat semaunya. Kalau pada suatu saat teman hidupnya tidak
bisa menginsyafkannya lagi, aku sebagai teman hidupnya terpaksa berlepas diri.
Kalau dia masih manusia, dia tentu akan kembali kejalan yang benar
Aku beranggapan, tentu ada sesuatu yang telah diperbuat oleh ayah yang melukai hati
ibu. Karena itu aku semakin berkeinginan untuk menyelidikinya.
“Seharusnya ibu bercerita tentang ayah. Apa yang telah diperbuat oleh ayah makanya
ibu teringat hal itu sekarang?”
“Sekarang ibu telah melupakannya”, katanya.
“Tidak. Ibu berdusta. Ada sesuatu yang ibu pikul selama ini”.
“Kalau itu pikulan, pikulan itu tak berat lagi sekarang”, kata ibu.
“Ibu memendam sesuatu yang berat dan ibu menanggungnya barangkali selama ini”,
kataku mendesak,” Katakanlah bu!”
lbu mencoba meneduhkan desakanku dengan senyumnya. Tapi aku tahu senyumnya
itu senyum yang dibuat-buatnya belaka.
“Katakan”, kataku mendesak.
“Apa yang harus ibu katakan? Tidak ada apa-apa lagi”, kata ibu.
“Tidak. Hal itu masih ada dan membekas di hati ibu”, kataku.
‘Bekasnya masih ada memang. Tetapi perasaan pedihnya sudah lenyap”, kata ibu.
‘Ibu tak mau berterus terang pada anak kandung ibu sendiri?” tanyaku.
“Biarpun kau anak kandungku, Fon, tapi kau masih belum pantas mengetahuinya”,
kata ibu kepadaku.
“Aku ingin”, kataku, katakanlah. Bukankah ayah tak ada sekarang ini?”
“Biarpun kau ingin mendengarnya, tetapi kau belum waktunya untuk mendengar
hal’itu”, kata ibu.
“Katakan, bu”, kataku merengek-rengek.
“Kau masih anak-anak”, kata ibu.
“Aku sudah gadis dewasa, bu”, kataku.
“Tidak. Kau masih ingusan. Kau masih SMA. Lebih baik hal itu tak kau fikirkan lagi,
seperti ibu juga tak memikirkannya Iagi”.
“Jadi ibu tak mau menceritakannya?” tanyaku mangkel.
“Ibu tidak boleh menceritakannya”, kata ibu.
“Kenapa?” desakku.
“Karena kau masih sekolah. Yang harus kau fikirkan semasa masih belajar, hanyalah
pelajaran. Lain-lainnya tidak”, kata ibu.
“Itu jaman kolonial. Sekarang jaman merdeka. Kami juga diajarkan pelajaran sexuologi. Bahkan pelajaran ilmu kesehatan. Ibu sepantasnya menceritakan hal itu
kepadaku”, kataku mendebat.
“Itu tidak pantas untuk diceritakan. Bagaimanapun buruknya ayahmu, ayahmu adalah
suami ibu”, kata ibu.
“Jika ayah bersalah, ibu pantas untuk menunjukkan kebenaran. Ibu menganggap
wanita lebih rendah dan lelaki jika demikian”, kataku.
“Ayah memang menganggap wanita lebih rendah dan lelaki”, kata ibu.
“Jadi apa yang telah ayah perbuat, makanya ibu merasa direndahkan oleh ayah?”,
tanyaku.
Ibu hanya tersenyum.
Kulihat senyum ibuku menyimpan sesuatu pikulan yang berat, tidaklah ringan seperti
yang dikatakannya tadi itu. Senyum ibu mengandung awan yang berat menggumpal,
senyum yang tawar dan dingin, senyum yang mengendapkan siksaan bathin yang
rupa-rupanya sudah menahun.
“Tidurlah”, kata ibu. “Aku takut”, kataku. “Takut?”
“Aku takut bayangan Rini datang lagi”.
Tetapi memang demikian! Selama seminggu berturut-turut bayangan Rini selalu mendatangiku pada malam hari. Kadang-kadang bayangan itu muncul bahkan sewaktu
lampu terang, bahkan juga sewaktu aku tidur berdua bersama ibu. Aku selalu menjerit
bila bayangan Rini muncul.
Tetapi bukan bayangan Rini saja yang membuatku pusing. Juga hal-hal yang tidak
jadi diceritakan ibu perihal ayah, membuatku sekejap dalam sehari memikirkan hal
itu.
Memang aku sedang memperjuangkan sesuatu. Tetapi bisa saja aku malahan ikut
terjerumus ke dalam arus putar. Kebimbanganku berubah menjadi ciut hati.
Mendadak hatiku kecut. Dan aku berkata pada cewek yang belum kukenal di Jalan
Sukun itu:
“Biarlah saya cari sendiri”.
Dan aku tidak mencarinya. Sepeda aku belokan kearah Sentul, dan cewek tadi berseru
memanggil-manggil karena mereka tahu arah sepedaku bukan menuju ke Klitren
Kidul. Tidak. Aku tak perlu ke sana. Aku lebih baik menghindar resiko. Dan pulang.
Cuma saja, mungkin rasa soliderku yang tidak berubah. Buktinya malam itu aku baru
bisa tidur pada larut malam. Malahan aku bermimpi buruk, dikejar orang tua
mengerikan dengan caling-caling yang tajam sehingga aku mengigau menjerit-jerit.
Gedoran pada dinding kamarkulah yang membuat aku terbangun dari mimpi.
Cepat aku beristighfar. Dan sebuah buku yang dihadiahkan ayahku pada ulangtahunku
yang lalu, aku ingat sesuatu anjuran, dan ulama yang mengarang buku itu. Yaitu
bersembahyang sunnat sehabis mimpi buruk, mohon dipilihkan yang baik dari Allah.
Segera aku keluar kamar. Hampir aku menjerit lagi. karena didepan kamarku berdini
mas Domo. Suatu perasaan aneh membuatku merinding sejenak, lalu meneruskan
langkah ke kamar mandi untuk bersuci. Bila aku keluar dari kamar mandi, dilangit
aku melihat bulan terang menderang, bagaikan bola yang sedang terapung diatas
permukaan awan yang bentuknya mirip ombak lautan.
Aku terus melangkah masuk rumah Iagi. Dan perasaan aneh membentur lagi dinding
hatiku. Betapa tidak! Mas Domo masih berdiri, memperhatikanku. Cepat
kumohonkan perlindungan dan Tuhan andaikata mas Domo ada niat-niat yang tak
baik. Ia cuma berdiri dengan tatapan aneh, dan aku mencoba menyapa: “Belum tidur,
mas”. la malah tidak menyahut. Kucepatkan Iangkah masuk kamar. Dan buru-bunu
mengunci pintu dari dalam.
Kebetulan, lampu gantung dikamarku kehabisan minyak. Api yang membakar sumbunya sudah kelihatan berkedip-kedip, siap untuk padam. Kucoba membetulkan dengan
menggerak-gerakkan sumbu turun naik. Cahaya jadi terang untuk beberapa lama. Dan
cahaya itu masih konstan saja sampai aku selesai sholat sunnat dua raka’at.
Tapi aku tetap tak bisa tidur. Pikiranku masih dirongrong oleh nasib Wartini, dan
perasaan solider masih saja menyeru dihati. Tanpa ada maksud apa-apa, aku duduk
dihadapan meja belajarku, tak sengaja terambil buku tebal terjemahan Kitab Suci A1Qur’an. Herannya diriku oleh jari-jari tanganku yang membalik lembaran, langsung
mataku melihat surat An-Nur. Dan Bagai kena tuntun oleh tenaga ghaib, bola mataku
langsung saja membaca ayat 26:
Wanita yang keji bagi lelaki keji
Lelaki yang keji bagi wanita keji
Wanita yang baik bagi lelaki yang baik
Dan lelaki yang baik bagi wanita yang baik
Aku tidak melanjutkan membaca seluruhnya. Tetapi kubaca lagi dan kubaca lagi
baris-baris itu. Heran sekali! Rongrongan bathin, rasa solider, yang semula meluap
mendadak saja jadi padam. Dan lampu kamarku pun padam sewaktu aku merebahkan
tubuhku di ranjang. Dan suasana bathinku pun jadi tenteram dalam kegelapan
ruangan. Dan kemudian, tidurku pun jadi nyenyak hingga subuh tiba!
Dan bahkan, perasaan disekolahpun tenteram-tenteram saja. Sampai akupun terlupa
untuk memperhatikan tubuh dan perut Lusiana, apa ia hamil atau tidak. Entah
mengapa, sepagi sampai waktu istirahat kedua, hatiku damai-damai saja. Malahan aku
mendapatkan sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan lagi: Surat mas Yonardi, dari
Wonogiri.
Karena surat itu langsung kuterima dan pak pos, tidak ada seorang pun yang
melihatnya untuk ingin tahu. Dan aku sendiri pun tidak akan memperlihatkan kepada
siapapun. Juga tidak ingin memperlihatkan isinya kepada siapapun. Pokoknya surat
mas Yonardi mesra sekali. Bagian-bagian tertentu dan suratnya membuat buluromaku
berdiri. Maka ini kuyakini, bahwa Tuhan itu Maha Pengasih Maha Penyayang bagi
setiap insan, jika itu dikehendaki-Nya. Dan kadangkala, nikmat kasihsayang-Nya itu
justru sangat merasuk kedalam jiwa, sebab sebelumnya insan-insan diberinya cobaan
dan ujian terlebih dahulu untuk menentukan tabah atau tidaknya. Syukurlah aku
senantiasa berbaik sangka kepada-Nya.
Ingin saja aku agar mas Yon cepat pulang dari Wonogiri. Bila selesai belajar malam
hari, kubaca sekali lagi suratnya yang mesra itu. Dan surat itu pulalah yang menutup
hari itu menjadi paling indah dalam hidupku, sampai mataku pun tertutup dalam tidur
yang lelap.
Lewat tengah malam aku terjaga dari tidurku. Tetapi kali ini aku terbangun bukan
karena mimpi buruk. Juga bukan karena mimpi manis. Aku terbangun begitu saja.
Mataku terbuka. Dan mataku yang barusan saja terbuka itu langsung melihat pada
genteng kaca. Ada dua genteng kaca diantara susunan genteng tanah liat yang lain,
yang membuat pandangan mata menerobos menatapi langit biru. Dan bulan purnama
kemarin begitu sempurna bulat dilangit itu, seakan-akan pemandangan indah tengah
malam ini hanya diperuntukkan bagiku seorang.
Hal ini kuceritakan kepada mas Yon sewaktu ia telah kembali dari Wonogiri. Aku dan
dia sedang duduk berdua. Waktu itu siang. Mas Yon menyusul. kesekolahku pada jam
11 karena sudah kuberitahu dua mata pelajaran terakhir kami prei sebab ada guruku
yang sakit. Aku kini terhampar di padang rumput yang luas di pinggiran kota Yogya
bagian selatan, letih mengayuh sepeda berduaan. Tapi kini justru keletihan itu tertebus
pula dengan berduaan diatas rumputan.
“Memang, Yara, selagi muda bulan pumama itu menggugah perasaan. Tapi nanti
ketika kamu mendewasa, yang bagus itu bukan bulan purnama lagi”, ucapnya.
“Jadi yang bagus nanti itu apa?” tanyaku.
“Uang”, katanya, “Karena uang membuat manusia merasa kaya. Tanpa kekayaan, kita
gemar menyalahi nasib”.
“Wah oleh-oleh pulang dari Wonogiri koq diluar dugaan?” aku mencoba
menyindirnya.
“Memang begitulah kenyataan. Kita dari keluarga miskin. Di Wonogiri ketemu lagi
dengan petani-petani miskin. Kita melihat sebuah cermin. Kira-kira apa yang mereka
inginkan ya sama dengan saya. Yaitu kekayaan, hidup senang, makmur. Adalah
bohong orang miskin Sepertiku tidak kepengin kaya. Kalau perlu ya kaya tujuh
turunan, Tiara!”
“Hmmm. Ngeri saya mendengarnya, mas!” ujarku.
“Kenapa harus membohongi diri sendiri. Memang itulah faktanya. Aku ndak mau
mengulangi kesalahan bapakku”, kata mas .Yonardi.
“Oom Daud ‘kan cukup terhormat?” bantahku.
“Hidup ini bukan sekedar dihormati orang saja, Yara. Kita bangga seperti bapakku
bangga dihormati orang karena kejujurannya. Tokh ia menyembunyikan keluhankeluhan nasib, menyembunyikan kerinduan naik motor pergi ngantor, tidak pegal linu
karena bersepeda saban hari. Betul ndak?”
Aku agak terheran-heran melihat perubahan drastis dalam diri lelaki yang kukasihi
ini! Tentu ada seseorang, atau situasi, yang telah mempengaruhinya selama tugas
sebulan didesa Wonogiri. Dan aku ingin menyelidikinya.
“Mas”, ucapku, “Diantara teman-teman yang pergi, ada yang kaya?”
“Untuk apa kamu tanya itu?”
“Saya cuma ingin tau”, kataku.
Ia menghela napas dalam-dalam. Lalu: “Ada yang kaya. Bagus! Menjadi kaya itu
bukan pantangan kehidupan”.
“Memang tiada larangan”, kataku.
“Lalu apa perlunya kamu tanyakan lagi? Pendeknya, cara berfikir yang sederhana
yang tertanam pada bangsa ini harus dirombak. Itu cara berfikir orang jajahan, yang
barangkali masih cocok di India, ada kasta shudra dan paria. Ah, Tiara, sayang kamu
masih muda belia. Jika kamu sedari kecil menderita dengan hidup sederhana seperti
kami semua selama ini, bertahun-tahun
kamupun akan merombak otakmu seperti
mas Yon, Tiara!” Kini aku tak perlu mengherani lagi. Sepertinya matanya baru saja
terbuka terhadap masa-masa lampau yang dilaluinya dengan tekun, seperti seekor
badak yang melangkah tekun tanpa melihat kanan dan kiri.
Aku berdiam diri.
Dia juga berdiam diri.
Agak lama juga, sampai aku terlena oleh deru angin siang hari yang kencang
menghembus-hembus rambutku.
“Kamu tidak bosan duduk berduaan begini saja?” tanyanya tiba-tiba.
“Tidak Tidak bosan”.
“Jangan dusta, ya”.
“Sungguh tidak”, bantahku, “Saya senang dengan alam pedesaan ini. Alangkah
lucunya jika saya bayangkan hidup didesa dimasa tua”.
“Ilusi lagi”, ia mengejekku.
Ditatapnya mataku: “Tahu kamu mengapa kamu kubawa kepinggiran desa ini? Jangan
jawab dulu. Biarkan aku menjawabnya: Supaya kamu menyaksikan kenyataan, bahwa
saya tidak ingin hidup terlantar sebagaimana tanah pesawahan yang terlantar ini.
Orang harus berani menyeruakkan derita dirinya lebih dulu, menyapu bersih
keterlantaran dirinya dulu, baru ia mampu berfikir dengan baik, dan menikmati hidup
dengan baik. Kalau cuma terlena oleh nyanyi nina bobok, apa artinya nikmat
kehidupan?”
Maka bila ayah sekali berada di rumah, begitu ayah datang, aku memperhatikan
sikap-sikap ayah terhadap ibu. Bahkan ayah membelikan untuk ibu lipstick, sandal
baru luar-negeri, juga mantel wool yang dikatakan oleh ayah “untuk nonton sekalikali di Hotel Indonesia”.
Sewaktu ayah tak di rumah, hampir saja kutanyakan kepada ibu kenapa ibu
berpendapat ayah merendahkan martabatnya. Tetapi tak jadi, karena khawatir ibu
tersinggung bahwa aku tak percaya padanya. Akibatnya hal yang ditekan ini membuat
aku bermenung. Kadangkala aku duduk-duduk di balik pohon-pohon pisang Belanda
di balik bayangan, memikirkan hal itu. Berhari-hari aku lalai memikirkan hal-hal lain
kecuali hal itu. Sekali ibu mendatangiku. Tanya ibu:
“Kenapa kau ngelamun terus belakangan ini, Fonnie? Apa kau kesunyian?”
“Tidak kesunyian, bu. Tapi ada yang kufikirkan”
“Kulihat ayah biasa saja pada ibu. Bahkan ayah membelikan sandal dan mantel,
lipstick dan perhiasan mutiara”, kataku.
“Memang ayah membelikan apa-apa bagi ibu. Ayah selalu membelikan untuk ibu
segalagalanya”, kata ibu.
“Kenapa ibu memendam sesuatu juga terhadap ayah?” tanyaku.
“Tidak. Tidak ada apa-apa”, kata ibu.
Tapi aku tetap berpendapat bahwa ibu tentunya menyimpan sesuatu yang sangat
rahasia. Ini tak bisa ibu mungkiri, cuma saja, karena aku masih belum berusia tujuh
belas, dianggap masih ingusan ibu tak mau menceritakannya kepadaku.
Menurut keterangan teman-temanku Sekelas, ijazah baru akan diisi dua minggu lagi.
Ini berarti selama dua minggu ini aku harus berada di rumah lagi. Entah karena apa,
aku malas sekali untuk pergi ke sekolah. Di sekolahpun orang-orang cuma bersendagurau saja. Belum pernah aku punya perasaan malas seperti sekarang ini.
Tetapi di rumah pun kadang-kadang aku tak berbuat apa-apa selain membaca-baca
buku di kamar atau pergi tidur.
Sekali, sewaktu aku membuang restan nasi ke tong sampah di depan rumah, sebuah
sedan Fiat 1300 berhenti di depan pekarangan rumah.
Kulihat seorang Iaki-laki berkacamata hitam di depan Setir Laki-laki itu mengai~gguk
kepadaku.
Aku membalas mengangguk dengan bimbang.
“Ayah ada?” tanya laki-laki berkacamata itu.
“Tidak”, kataku, “Tapi ibu ada.”
Sedan Fiat 1300 itu dibelokkan memasuki pekarangan rumahku, langsung ke garage.
Lakilaki itu turun dan mobil. Ia kelihatan gagah sekali. Aku baru sekali ini
melihatnya.
Ia begitu gagah, gagah menurut hematku, walaupun usianya mungkin sudah hampir
empat puluh tahun. Kacamata hitamnya tak lepas menjadi perhatianku, karena, baru
sekali itulah kulihat kacamata hitam sebagus itu.
Aku langsung berlari-lari masuk ke rumah mendapatkan ibu.
“Ada orang gagah”, kataku.
“Siapa? Teman ayahmu lagi?”
“Mungkin. Ia naik sedan Fiat 1300”, kataku.
Ibu ke Iuar. Kulihat mereka seperti telah pernah berkenalan. Mereka bahkan
kelihatannya intiem sekali. Aku menjadi cemburu karena aku kurang mendapat
perhatian.
Aku segera berlari ke kamar dan berdandan. Kupakai baju yang paling menarik
supaya mendapat perhatian daripadanya nanti.
Aku menjadi gugup sekali dalam berhias. Ketika kubuka pintu ke dalam aku menjadi
kecewa karena kudengar suara mobil meninggalkan garage dan laki-laki gagah itu tak
lagi ada. Kujengukkan kepala dengan menyibakkan daun jendela beranda. Ibu
melambaikan tangannya sampai sedan Flat 1300 itu pergi menghilang cepat.
Aku dongkol sekali.
“Siapa sih dia?” tanyaku.
“Saudara tiri ayahmu”, kata ibu.
“Kalau begitu masih Oom dong”, kataku.
“Bawa kopor-kopor ini ke kamar depan. Rudi akan menginap di sini”, kata ibu.
“Rudi? Emangnya namanya Rudi?” tanyaku.
“Akh anak ingusan. Bawa saja kopor-kopornya ini ke kamar depan. Ibu akan
berbelanja ke pasar Cikini supaya kita tidak malu menerimanya. Rudi baru datang dari
Paris”.
“Paris? Duilah jauhnya. Paris “, kataku mengangkat kopor. Ibu menjewer telingaku.
Dan dengan gembira aku marah-marah: “Udah jadi kulinya kopor Oom Rudi, dijewer
lagi! “, kataku sambil ketawa.
“Anak-anak jaman sekarang ………, kata ibu.
“Emangnya ginlana?” kudorong pintu dengan dengkul.
“Anak-anak sekarang pantangan liat lelaki ganteng”, kata ibu. Aku membenahi kamar
depan bersama ibu, menukar seprei dan aku sendiri mendapat tugas mengepel lantai.
“EmangnYa Oom Rudi masih single?” tanyaku.
“Na genit lagi”, kata ibu.
“Tanya saja ‘kan boleh?” kataku.
“Ya kalo tanya yang masuk akal. ini ‘kan pamanmu” kata ibu. Ketika ibu berbelanja
ke Pasar Cikini itulah, Oom Rudi kembali datang dengan Fiat 1300-nya. Lagi-lagi aku
jadi iri hati karena pamanku ini menanyakan ibu. Tibak diperhatikannya sedikitpun
kacamata hitam model mata kucing yang kupakai sewaktu menyambut datangannya!
“Duduklah Oom Rudi”, kataku, “Ibu lagi ke pasar”.
“Eh, kok kau tau saja nama Oom?” tanyanya ramah.
“Tentu dong”, kataku.
Aku duduk sopan-sopan namun gelisah rnemandangnya mencuri-curi.
“Sekolahnya dimana?”
“Nggak sekolah”, kataku.
“Masa’, nggak sekolah?” tanya Oom Rudi.
“Buta huruf”, kataku.
“Bahaya!” katanya, “Kalau seseorang cantik dan mengaku buta huruf, itu bahaya”.
Aku ketawa dibuat-buat menggumam bibirku.
“Baru saja lulus SMA”, kataku.
“Lulus?” tanyanya berdiri dan mengulurkan tangan. Aku malu-malu dan berkata:
Nggak terima akh”.
“Kenapa?” tanya Oom Rudi heran.
“Kuku kita kotor”, kataku malu-malu
“Terima dong”, katanya.
“MaIu ah”, kataku.
Tetapi aku merasa rugi tidak mau menerima jabatan tangannya. Telapak tangannya
bersih kemerah-merahan dan kekar sekali. Agaknya ia pandai main karate karena
bonggol-bonggol pada punggung telapaknya Tapi aku rugi karena tidak bisa
merasakan telapak tangannya
Tapi aku merasa tidak rugi lagi setelah ia berkata: “Rambutmu memang menjadi
model di Indonesia sekarang?”
“Emangnya kenapa Oom?” tanyaku.
“Gadis-gadis di Paris sedang sibuk dengan baju kertas”, katanya.
“Cakep dong. Kalo robek gimana?” tanyaku.
“Kalau kotor tinggal ganti. kalau robek tinggal ganti. Jaman sekarang manusia berfikir
secara praktis”, kata Oom Rudi.
“Hebat dong”, kataku.
Tetapi ketika ia bertanya tentang Fizzy, aku cepat-cepat mengatakan bahwa Fizzy
sudah kawin.
“Kawin?” tanya Oom Rudi.
“Iya. Dengan Mas Narko”, kataku.
“Alangkah cepatnya”, kata Oom Rudi.
Aku duduk menjuntai-juntaikan kaki berayun-ayun untuk menarik perhatiannya.
Aku melirik kepadanya, dan bertanya:
“Dan Oom?” “Maksudmu bagaimana?” “Masih bachelor?” tanyaku. “Masih
bachelor”, katanya. “Pantas awet muda”, kataku.
“Di Paris orang tidak memikirkan perkawinan lagi. Dunia modern menganggap
perkawinan sebagai hambatan untuk maju. Di Indonesia bagaimana?” tanyanya.
“Di Indonesia sih biasa aje, Oom”. kataku. “Bagus”, katanya.
“Kukira ketegasannya berbicara mirip-mirip bintang film Luis Jordan yang selalu
memegang peranan-peranan Pangeran atau Prince dalam film-film. Ya, memang
paman Rudi mirip-mirip Luis Jordan. Bibirnya yang tipis, matanya yang tajam setelah
dibukanya kacamatanya itu, dan alis matanya yang tebal hampir bertemu satu dengan
yang lain, dagunya yang runcing serta bekas-bekas cukuran jenggotnya yang
membiru.
Kenapa dia justru adik ayahku? fikirku dalam hati, kenapa dia bukan orang lain saja
misalnya?
Fikiran begitu masih bertarung dalam otakku ketika kami sama-sama bertiga menonton film di Hotel Indonesia, di Bali Room yang sejuk itu.
Pada malam hari, kami bertiga bermain kartu. Oom Rudi memperkenalkan permainan
kartu Nominon, yang katanya sedang menjadi mode abad sekarang. Kadang-kadang
kami bertiga main kartu nominon sampai jauh malam. Ibu tidur dikamar Fizzy dulu,
aku tidur di kamarku, dan Oom Rudi tidur di kamar depan.
Pada saat-saat bermain kartu, kulihat perasaan gembira tertuang bagi kami semuanya.
Kadang-kadang jika siang Oom Rudi lama sekali datang aku menjadi gelisah. Buatku,
ciuman di kening pada waktu selesai bermain kartu dan juga terhadap ibuku
dilakukannYa, menggembirakan hatiku. Kadangkala hingga jauh malam, bekas-bekas
bibirnya seraya masih menempel dikeningku, sekalipun hanya di kening.
Oom Rudi pandai sekali menciptakan kegembiraan, berlain dari ayahku. Juga
kelihatan, semenjak Ia datang, ibuku agak gemuk sedikit serta berseri-seri.
Tetapi kegembiraan itu agak tegang ketika pada suatu malam aku terbangun dan
tidurku dan mendapatkan ibuku sedang bertengkar dengan Oom Rudi di ruang tengah.
Aku segera membela Oom Rudi.
“Ibu sih nggak menghomati tamu”, kataku sewaktu Oom Rudi masuk ke kamarnya
dengan kepala menunduk.
Kau diam, Fonnie”, kata ibu marah padaku.
“Oom Rudi begitu simpatik, ibu memaki-makinya”, kataku.
“Apa kau mendengar ibu memakinya?” tanya ibu.
“Mendengar sih tidak. Tapi suara ibu yang keras menyebabkan saya sampe bangun,
bu”, kataku.
“Sudahlah. Kau masih kecil. Tidur saja”, kata ibu marah-marah. Besoknya, secara
sembunyi-sembunyi aku bertanya pada Oom Rudi kenapa ibu marah-marah. Oom
Rudi berkata, bahwa ibu menyuruh dia kawin dengan keponakan ibu yang sekarang
berada di Surabaya.
Aku jadinya mengutuk ibu, yang kuanggap terlalu kolot.
Lama kupandangi matanya di garage itu. Dan aku malu-malu ketika ia memperbaiki
rambutku. Tetapi pada suatu sore ketika ibu telah tidur, kami berjumpa kembali di
garage setelah duduk dalam mobil dan aku pura-pura mencari korek api mau
menghidupkan lilin karena listrik mati.
Ketika korek api diambilnya dari kantong, aku gemetar melihat matanya yang
kelihatan menggigil itu. Tiba-tiba tanganku ditangkapnya dari belakang, dan Ieherku
diserangnya dengan ciuman. Aku terdiam, terpana tak tahu apa yang kuperbuat dalam
suatu pesona penyerahan. Ia kelihatan begitu sabar mencium bibirku hanya sekali saja
dan begitu lama, sehingga aku merasa terayun dalam ayunan semangat gadisku.
‘Tidurlah”, katanya.
Aku masih terdiam sejenak seperti masih disihir oleh apa yang telah terjadi.
Membawa sebatang lilin, aku kembali ke kamarku.
Tetapi ternyata ia menyertaiku di belakangku.
Ia memagut begitu cepat dari be1akang hingga lilin pun jatuh di lantai kamarku
sehingga ruangan menjadi gelap. Dalam kegelapan itu aku terbanting dalam suatu
bantingan kobaran yang melonjak-melonjak di dadaku dan kumerintih-rintih
membisiki sesuatu.
Aku berbuat seperti menolak tetapi juga menerima, menerima seperti juga menolak.
Pada saat-Saat itu dadaku meronta, aku terhempas pada kelupaanku. Tetapi tiba-tiba
aku merenggutkan diri sewaktu ia berbuat sesuatu yang menyebabkan bayangan Rini
tiba-tiba berdini di depanku, merintih dan menjerit, sehingga aku menjerit sambil
memukul kepala Oom Rudi dengan sepatu yang kudapatkan di lantai.
Aku menubruknya sewaktu ia Iari dan memaki-makinya seperti manusia tak sadarkan
diri.
Ibu keluar dari kamar dan langsung memaki-makinya: “Terkukutk kau! Kau telah
gagal kepadaku, sekarang kau akan berbuat terhadap Fonnie yang masih ingusan! Kau
jahanam! Kau tak berbeda dengan suamiku dan rupa-rupanya kalian keturunan anjing!
Abangmu telah menyiksa bathinku selama ini dengan nmmelihara gundik di luar
kota…..sekarang kau datang lagi mau merusak rumah kami! Bajingan! Pergi kau dari
rumah kami!
Pergi kau ke hotel malam ini juga! Di hotel kau bisa membawa pelacur! Tapi rumah
kami rumah keluarga baik-baik, keluarga yang punya iman, kau sama seperti
abangmu! Membujuk orang dengan kemewahan! Apakah ini yang kau maksud
dengan jaman moderen? Apakah jaman moderen itu berarti nilai-nilai manusia bisa
dibeli dengan harta benda? Seperti abangmu membelikan sandal, mantel, lipstick
untukku.... yang semuanya telah kuharamkan memakainya?”.
Ibu menoleh kepadaku. Ibu mendekati dan memelukku.
“Kau tak apa-apa?” tanya ibu menangis mencium Ubun-ubunku.
Aku mengangguk menahan tangisku.
“Betulkah kau tak apa-apa, nak?” tanya ibu menciumi lagi Ubun-ubunku.
Ibu menoleh lagi kepada Oom Rudi.
“Pergi kau! Jangan injak lagi rumah kami ini selama-lamanya! Tidak ada perbuatan
yang lebih terkutuk di dunia ini selain perbuatan serong.... mengertikah kau? Sekarang
juga kau harus angkat kaki dari rumah ini! Tak ada lagi yang lebih buruk dari
kebaikan-kebaikan kami yang hampir kamu nodai!”
Sementara paman Rudi berbenah, ibu menyatakan lagi kegusarannya kepadaku:
“Betulkah kau tak apa-apa. Fonnie?”
“Betul, bu. Demi Tuhan, bu.”
‘Syukurlah. Syukurlah. Satu-satunya milik wanita yang paling berharga adalah
kesuciannya. Jika itu telah ternoda, noda itu akan berulang kembali sekalipun kau
kelak telah bersuami. Ingatlah hal itu. Ibu terpaksa menyatakan hal ini sekalipun kau
belum lagi pantas mendengarnya! Kau janganlah bernasib seperti Fizzy, anakku!”
Ibu memelukku dan membimbingku ke kamar.
Malam itu juga Oom Rudi angkat kaki dan rumah kami tanpa sepatah kata dan tanpa
kami restui keberangkatannya. Bahkan ibu menutup dan mengunci pintu beranda
sewaktu mobil Fiat 1300 itu telah jauh menghilang suaranya ditelah kesunyian malam
hari.
Malam itu ibu tidur bersamaku. Lagi-lagi ibu menanyakan kepadaku, apakah aku
tidak apa-apa. Lagi aku dengan menangis menyatakan bahwa aku tidak apa-apa.
“Dunia ini semakin kotor, Fonnie. Kadangkadang ibu menyesal mengapa kita ini kaya
dengan uang dan hartabenda, sehingga kebahagiaan hati makin terdesak. Ayahmu
sibuk sehari-hari. Kejadian atas Fizzy merupakan pukulan terbesar bagiku sebagai
ibu. Antara nikah. Hati kami sudah lama saling hancur menghancurkan. Ayahmu telah
kehilangan nilai-nilai hidup. Nilai-nilai hidupnya telah ditelan oleh kemewahan
materi, teman yang begitu banyak tetapi juga sahabat-sahabatnya yang tak bermoral.
Kau yang masih suci, Fonnie, carilah sahabat-sahabatmu yang bermoral. Kau masih
lama lagi menjalani masa mudamu. Jagalah masa mudamu itu sebaik-baiknya,
sekalipun nanti kau sudah dibangku universitas”.
Berlain dan biasa, pada malam itu ibu banyak memberikan nasihat-nasihat kepadaku.
Barangkali selama ini, hal inilah yang kurang kudapatkan daripada beliau. Kukira
ayah dan ibu adalah kunci dan moral anak-anaknya ketika remaja. Baik buruk masa
depan remaja seperti kami adalah tanggungjawab sang ayah dan ibu kami. Kini aku
tidak bisa menyalahkan Kherman begitu saja, karena ayah dan ibu Kherman —
terutama ayahnya — tidak memberikan contoh yang baik! Dan kini, bala itu menimpa
diriku! Aku telah tahu apa yang diperbuat ayah selama ini yang telah menjadi beban
penderitaan ibuku. Tetapi rupa-rupanya hati ibu terlalu agung untuk menanggungnya
sendiri, tanpa membagi penderitaan itu kepada kami.
Sekarang aku merasa ikut menanggung beban ibu. Pada han pembagian ijazah, aku
pergi ke sekolah. Beban itu masih menyenak di otakku. Kawan-kawanku mengatakan
aku agak kurus dan murung sekali. Aku menyahuti mereka dengan senyuman hambar
pada bibirku.
Selembar ijazah di tanganku kini. Aku masih terdiam diantara teman-temanku yang
bergembira dan bersorak-sorei. Di depanku terbayang bangku universitas menunggu
kedatanganku. Namun, hatiku tetap hambar. Tiba-tiba, di bawah lonceng sekolah,
kulihat Tigor berdiri memperhatikanku. Ia membuang muka setelah ia tahu aku
mengetahui dia melihat padaku. Tetapi rupa-rupanya Tigor juga gelisah.
Sekali-sekali Ia melirik kepadaku. Mungkin ada yang difikirkannya. Tiba-tiba,
kelihatan sekali ia memberanikan diri mendatangiku.
“Angka-angka ijazahmu baik?” tanya Tigor.
“Baik”, kataku, “Dan kau?”
“Baik”, katanya.
Ia kelihatan bertambah gelisah. Seperti ada sesuatu yang mau ditanyakannya.
“Mau kau pulang bersama-samaku nanti?” tanya Tigor.
“Aku mau pulang sekarang”, kataku.
“Kawan-kawan merencanakan piknik”, kata Tigor.
“Aku tak pergi barangkali”, tanyaku.
“Kau mau pulang sekarang?” tanya Tigor.
“Ya. Sekarang”, kataku.
“Boleh aku ikut?” tanyanya. “Boleh saja”, kataku. Siang hari yang terik itu kami
berdua pulang, bersepeda bersama-sama.
“Ada yang kau fikirkan?”, tanya Tigor. “Tidak”, kataku.
“Kau murung”, katanya. “Ah ndak”, kataku sambil tersenyum. Tigor juga tersenyum.
“Ada kau terima?” tanya Tigor. “Terima apa?” tanyaku. “Ucapan selamat dariku.
Kumasukkan via pos”, katanya.
“Selamat apa?” tanya Tigor. “Jadi belum kau terima?” tanya Tigor. “Belum. Apa
sih?” tanyaku. “Sebuah sajak bagi ulang tahunmu.
Bukankah tiga hari yang lalu kau berulangtahun?” tanya Tigor kemudian.
Aku mengerem sepedaku. Kucoba tersenyum.
“Oh ya”, kataku.
Kukayuh pedal sepedaku lagi.
“Terimakasih”, kataku.
“Jadi belum kamu terima?” kata Tigor lagi.
“Biarpun belum, terimakasih. Ada yang ingat hari ulangtahunku yang ketujuh belas.”
“Kemana kau melanjutkan pelajaran?” tanya Tigor.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Tigor itu. Tapi kujawab: “Entah ya?”.
“Aku mungkin tidak ke universitas. Mungkin ke akademi kejuruan”, kata Tigor,
“Selain tidak mampu, juga Indonesia sudah terlalu banyak sarjana-sarjana umum.
Indonesia memerlukan ahli-ahli kejuruan. Kau akan melanjutkan ke universitas?”
tanya Tigor mendesak.
Aku menoleh kepadanya. Aku tersenyum.
“Aku belum tahu”, kataku.
“Memang belum tahu”, kataku.
Dan memang aku belum tahu. Ini baru kusadari sekarang, ketika ditanganku kupegang
segulungan ijazah SMA. Memang aku dan Tigor berbeda. Sambil bersekolah Tigor
selama ini telah berfikir hidup yang bagaimana yang akan diterjuninya di depannya.
Bahkan Indonesia yang bagaimana yang harus dipunyai oleh generasi kami di depan,
sudah terbayang oleh Tigor dan sekarang ini. Apakah ayahku, dan ayah-ayah yang
lain, pernah juga membayangkan bagaimana Indonesia bagi anak-anak mereka di
depan ini? Aku terlalu enak selama ini Aku hidup tanpa kesulitan, seperti hidup yang
disuapi saja.
Sesampainya di rumah, di atas meja kamarku sudah ada sepucuk surat dalam amplop.
Ketika kubuka, isinya hanya empat baris puisi:
Selamat ulangtahun, kawanku yang baik
Selamat menginjak usia tujuh belas
Ingatlah kawan, matahari semakin naik
Semoga haridepanmu tidak terhempas.
Biarpun hanya sekelumit sajah tetapi buatku sajak ini sangat berarti. Tidak, aku tidak
gampang goyang lagi serta menganggap ada sesuatu yang istimewa yang ada di hati
Tigor. Mungkin dulu ataupun kini Tigor menaruh sesuatu perasaan tersimpan di
hatinya. Tetapi besok lusa Tigor akan memasuki kehidupan baru, seperti halnya diriku
sendiri, besok lusa akan melangkah pada usia delapan belas, sembilan belas dan
selanjutnya. Kami pernah berjumpa di sekolah, mungkin juga antara kami pernah
terjalin kemesraan jiwa yang nanti akan berganti. Berganti lebih.dewasa.
Semua ini akan berganti, karena matahari akan semakin naik. Jika harapan Tigor
cukup tulus, aku sendiri pun berharap, masa depanku tidak terhempas pada hari-hari
yang akan datang
Tiba-tiba fikiran dan angan-anganku terganggu sesaat mendengar suara ibu. “Kau
lulus, Fonnie?”
“Lulus”, kataku.
Ibu tiba-tiba memelukku dengan sangat erat. Ia terharu sekali tampaknya serta
menitikkan airmata kegembiraan.
“Tidak percuma kami menyekolahkanmu, Fonnie”, katanya. Dipeluknya diriku lagi.
Dipeluknya diriku lagi. Hingga aku menangis di bawah buah dadanya, tempat dahulu
aku menyusu kepadanya.
Fly UP