...

eBook

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

eBook
PAULUS
Adam Aksara
Copyright 2014 Adam Aksara
ISBN: 9781311463258
Email: [email protected]
1
DAFTAR ISI
PROLOG
3
BAB 1
SAUL
8
BAB 2
BAIT ALLAH KEDUA
19
BAB 3
KITAB TAURAT
44
BAB 4
SEKOLAH
56
BAB 5
MESIR
95
BAB 6
KEPUTUSAN
106
BAB 7
PEMBUNUHAN
130
BAB 8
UNTUK KEADILAN
150
BAB 9
DAMASKUS
162
BAB 10
ARTI
192
BAB 11
RUMAH
219
BAB 12
YESUS
233
BAB 13
AJARAN
261
BAB 14
YESUS APA ADANYA
270
BAB 15
PAULUS
364
BAB 16
ANTIOKHIA
384
BAB 17
JEMAAT YERUSALEM
393
BAB 18
PERJALANAN PERTAMA
406
BAB 19
PERSELISIHAN
435
BAB 20
PERJALANAN KEDUA
457
BAB 21
PERJALANAN KETIGA
517
BAB 22
JEBAKAN
542
BAB 23
PERJALANAN KE ROMA
589
BAB 24
ROMA
611
EPILOG
623
2
PROLOG
Angin dahsyat itu dengan cepat menabrak kapal dan mengoyangkan seisinya.
Jangkar yang sudah dibongkar ke bagian bawah laut, tertarik sedemikian rupa
hingga kapal menjadi miring di dorong ombak dan angin badai. Beberapa benda
di atas kapal terlontar keluar dan orang-orang di atasnya mencoba berpegang
pada pinggiran kapal.
―Putuskan jangkar!!!!‖ teriak Nahkoda itu di antara suara badai. ―Kapal akan
terbalik jika kita tidak melakukannya.‖
Beberapa awak kapal terlihat berusah payah untuk menarik kembali jangkar yang
sudah tertancap dan dalam keadaan kapal miring. Yulius melihat hal itu dengan
merayap pada badan kapal yang miring, ia menghunuskan pedang dan menebas
tali jangkar tebal itu berkali-kali.
Pada saat tali terputus, kapal segera menjadi miring ke arah sebaliknya dan
melemparkan orang-orang di dalam kapal. Aku melihat Betsaida yang terseret di
atas kapal dan segera menangkapnya. Aku memeluknya dan tubuh kami jatuh ke
sisi kapal yang lain. Tubuhku menghantam kayu kapal dan rasa sakit menghujam
dalam tubuhku. Aku berharap tidak ada tulang yang patah.
Kapal yang terbebas dari jangkar itu, dengan cepat dilanda oleh angin badai dan
dibawa berputar-putar ke lautan bebas. Kapal kami terombang-ambing tanpa
3
tujuan. Di bawah angin badai, langit yang penuh awan gelap dan ombak mengila,
kami kehilangan arah cukup lama di lautan lepas.
Tak lama kemudian, kapal mendadak menabrak tepi pantai dan berhenti
bergoyang. Saat kami melihat keluar, kapal itu hanyut sampai di tepi pantai
sebuah pulau kecil bernama Kauda.
Memanfaatkan kempatan itu, nakhoda dan awak kapal segera menarik sekocisekoci kapal yang tadinya diturunkan dan masih terikat tali pada kapal utama.
Mereka menaikkan sekoci itu di atas kapal dan saat itu kapal mulai dihembus
angin badai untuk keluar dari pantai.
―Mengapa kita tidak turun ke pantai ini?‖ tanya Yulius pada nahkoda kapal.
Nahkoda dengan cepat berkata, ―Pulau ini akan terbenam oleh air saat badai dan
malam tiba. Kita tidak akan selamat di tempat ini. Satu satunya cara untuk
selamat adalah bertahan di dalam kapal.‖
Yulius masih hendak protes tapi nahkoda segera berteriak pada semua orang,
―Ikat tubuh kalian pada tiang kapal atau pinggiran kapal. Jangan biarkan diri
kalian terlempar oleh kapal dan badai.
Aku segera mencari tali dan mengikat tubuhku serta tubuh Betsaida pada sebuah
tiang kapal. Aku dapat melihat beberapa orang sudah terluka karena digoyanggoyang dalam kapal dan menghajar pinggiran kapal. Selain itu, beberapa muatan
dalam kapal juga bergerak bebas di atas kapal dan menghantam siapa pun yang
4
sedang tidak beruntung. Aku dapat melihat beberapa awak kapal mencoba
mengikat muatan-muatan itu agar tidak bergerak bebas.
Kini, layar sudah sepenuhnya diturunkan karena mereka takut angin badai
menyambar layar dan mematahkan tiang kapal. Lagi pula nahkoda mengira jika
di sekitar itu adalah wilayah beting Sirtis. Jika mereka melewati tempat itu
dengan cepat, batu-batuan akan mengoyak lambung kapal dan membuat mereka
terdampar.
Karena itu, di tengah lautan yang badainya masih mengamuk. Kapal kami
bergerak miring dari sisi lain ke sisi lainnya. Dari depan ke belakang dan kapal
berputar-putar dipermainkan ombak dan angin.
Kami dipermainkan selama satu harian dan keesokan harinya, angin badai sedikit
menjadi tenang. Meski langit masih gelap dan tidak kelihatan apa pun, nakhoda
memerintahkan untuk membuang semua muatan ke luar kapal.
―Mengapa demikian?‖ protes Yulis.
―Muatan-muatan dalam kapal sudah tidak dapat diikat lagi, semua benda itu
bergerak menghantam lambung kapal dan pinggiran kapal. Meski tidak ada orang
yang mati terkena hantaman muatan, tapi lambung kapal akan segera robek dari
dalam terkena benda-benda itu jika badai terus berlanjut!‖
Semua orang pria dan wanita langsung bahu membahu membuang semua muatan
kapal yang berisi buah-buahan, pakaian, kotak-kotak kayu dan sebagainya. Saat
5
angin badai kembali berhembus keras, kami kembali mengikat tubuh kami pada
tiang-tiang kapal.
Betsaida menatapku dengan wajah cema, ―Apakah kita akan baik-baik saja?‖
―Semuanya terserah pada Tuhan,‖ sahutku memeluknya. Kapal kembali bergerak
miring diterjang oleh badai dan Betsaida berteriak keras.
Pada hari kedua, badai tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Kebanyakan dari mereka sudah mabuk laut dan muntah. Tali yang mengikat pada
badanku sudah membuat lecet kulit. Namun badai masih dengan ganas
mempermainkan kami.
Dan pada hari yang ketiga, angin badai menjadi tenang sejenak. Nakhoda kapal
dengan cepat menyuruh semua awak-awak kapal untuk membuang alat-alat
kapal. Beberapa perkakas dan benda itu sudah mulai menghancurkan lambung
kapal. Maka mereka membuang semuanya dengan tangan mereka sendiri.
Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak
kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami siang
dan malam, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan
diri kami.
Malam itu, badai besar kembali terjadi. Semalaman lamanya, kapal diamuk
badai. Kali ini badai yang menyambar badan kapal teramat hebat. Kapal miring
dalam posisi yang sangat berbahaya.
6
Betsaida berteriak keras dan semua orang di sana mulai menyebut nama Tuhan
berkali-kali. Kapal terus menjadi semakin miring dan setiap saat kapal dapat
terbalik untuk menjatuhkan kami semua ke dalam lautan. Sungguh ini adalah
badai paling Dahsyat dan harapan dari beberapa orang telah putus.
Aku memeluk Betsaida dengan keras dan menutup mataku sambil berdoa,
―Tuhan terjadilah kehendak-Mu. Aku siap untuk semuanya.‖
7
BAB 1
SAUL
Tahun 12 M1 Roma
Umurku tujuh tahun saat ayah mengajakku ke kuil untuk pertama kalinya. Ibu
mendandaniku dengan pakaian berwarna putih terang, sebuah ikat pinggang baru
dan sandal ikat dari kulit. Aku berjalan cepat mengikuti langkah lebar ayahku
menuju ke sebuah bangunan berwarna putih yang begitu besar dan tinggi.
Pilar-pilar tiang berukir menopang atap bangunan yang terbuat dari batu. Tanggatangga menuju bangunan terbuat dari batu marmer berkilap. Di luar bangunan
terlihat taman yang sangat indah dengan air mancur. Taman yang tertata rapi dan
juga bunga-bunga hidup berwarna warni.
Aku terpesona tidak mampu bergerak saat memasuki bangunan kuil. Patungpatung prajurit dan binatang-binatang yang terlihat sangat menyeramkan
mengelilingiku dalam berbagai pose. Ukiran-ukiran batu mencuat dari seluruh
1
Paulus tidak memiliki waktu kelahiran yang tepat, tapi sejarah mengungkapkan antara 2 - 10 M.
Pada cerita ini menggunakan waktu lahir 5 M.
Menurut sejarah, Yesus lahir sekitar tahun 7 – 2 SM. Menurut Alkitab adalah 6 – 4 SM dan buku
ini memilih kelahiran Yesus pada tahun 4 SM. Sehingga jarak usia antara Yesus dan Paulus adalah
9 atau 10 tahun. Hal ini terjadi karena sejarahwan tidak mengenal tahun 0 M. Perhitungan tahun
Masehi dimulai dari 1 M ( ... 2 SM, 1 SM, 1 M, 2 M... ). Sedangkan perhitungan angka,
menghitung juga tahun 0 M ( ... 2 SM, 1 SM, 0 M, 1 M, 2 M... ). sehingga muncul selisih 1 tahun.
8
bagian dinding bangunan. Atap bangunan terlihat sangat tinggi dan di atasnya
terlihat berbagai warna yang memesona.
―Saul,‖ kata ayahku dengan suara beratnya. ―Jangan berdiri di sana saja. Ayo
cepat.‖
Terkejut, kakiku segera melangkah berlari mengejar ayahku yang sudah jauh di
depan. Langkah kaki ayahku terdengar kuat dan berwibawa. Suaranya menggema
di antara bangunan dan patung-patung prajurit. Ayahku memakai pakaian perang
dengan lempengan besi di dadanya, topi dari besi, pedang di pinggulnya dan juga
sepatu khusus prajurit yang indah, membuat ayahku tampak bagaikan dewa.
Kedua tangan kekar ayahku mendorong sebuah pintu ganda yang besar dan
membuka sebuah ruangan besar yang jauh lebih indah dan penuh warna.
Di dalamnya terdapat sebuah patung yang sangat besar. Patung seorang pria yang
mengenakan pakaian perang seperti ayahku. Patung yang besarnya sekitar empat
atau lima kali tubuh ayahku, diukir begitu indah dan halus hingga terlihat lekuklekuk otot-otot dan urat-urat dibalik kulit. Tampak seperti manusia hidup. Patung
sangat gagah. Dia berdiri menjulang perkasa dan tampak begitu sempurna.
―Saul, berlututlah di depan Dewa Mars,‖ kata ayahku membuka topi besinya dan
berlutut. ―Dewa perang terhebat di seluruh semesta. Mendengar namanya saja,
semua makhluk akan gemetar ketakutan. Dia adalah yang paling perkasa di atas
segalanya.‖
9
Aku segera berlutut di depan patung. Ayahku terlihat menutup mata dan
mulutnya mulai berbisik, ―Dewa Mars yang agung. Kami akan pergi berperang,
berikanlah kekuatanmu agar kami dapat menumpas musuh-musuh kami. Agar
kekuatan dan senjata kami dapat menembus jantung mereka. Biarkan
kemenangan ada pada kami dan kerajaan kami...‖
Aku berhenti mendengarkan pemohonan itu dan membuka mata melihat patung
Dewa Mars. Sudah berkali-kali ayah bercerita mengenai dewa perang yang
sangat gagah ini. Bagaimana dewa ini menjadi mimpi buruk bagi musuhmusuhnya. Semua prajurit Romawi mengidolakan Dewa Mars dan meminta
kekuatan darinya sebelum pergi berperang. Aku menundukkan kepala dengan
penuh hormat dan berjanji dalam hati.
Aku, Saul akan menjadi sekuat ayahku, menjadi sekuat Dewa Mars dan menjadi
mimpi buruk bagi musuh-musuhku.
Selesai menitipkan pemohonanku, aku merasa sebuah semangat baru meresapi
seluruh tubuhku dan membuat bulu kudukku berdiri. Aku merasa kuat.
Ayahku mengatakan itu karena Dewa Mars merestuiku dan akan membantuku.
Setelah itu aku selalu bermimpi untuk menjadi prajurit pilihan Dewa Mars,
menjadi prajurit dan jendral seperti ayahku yang perkasa.
Dua tahun kemudian...
Tahun 14 M, Kota Tarsus, Propinsi Kilikia.
10
Umurku sembilan tahun saat pindah ke Kota Tarsus, ibu kota dari propinsi
Kilikia di Asia Kecil2 yang merupakan bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan
Roma. Kota Tarsus adalah salah satu kota pelabuhan dan juga kota perdagangan
di Laut Tengah.
Ayah diperintahkan oleh kaisar Roma untuk menaklukkan wilayah sekitar Asia
Kecil dan dia meminta agar ibu membawaku ke Kota Tarsus tempat keluarga
besar Ibuku berada. Dengan demikian, ayah dapat mengunjungi kami di Tarsus
yang letaknya jauh lebih dekat daripada Roma.
Tapi, aku lebih menyukai Roma yang lebih maju daripada Tarsus. Rumah kami
di sana lebih besar.
Tarsus, tempat baruku berada, penuh dengan orang membenci orang Roma. Aku
tidak tahu alasan mereka membenciku hingga ayah angkatku menceritakan
sejarahnya. Tarsus adalah bagian dari provinsi Kilikia yang ditaklukkan oleh
Pompey yang Agung dari Kerajaan Roma pada tahun 66 SM. Meski di Tarsus
terdapat pemerintahan Roma, tetap saja penduduknya tidak menyukai mereka.
Di mana kaki berpijak, di sana langit dijunjung. Ayahku mengingatkanku akan
hal itu berkali-kali. Tapi, sebagian dari diriku memprotes hal itu. Ayahku adalah
pimpinan prajurit Roma yang terkenal. Aku bangga padanya dan juga Dewa Mars
yang dipujanya. Aku tidak boleh menutup-nutupi kenyataan itu.
2
Asia Kecil disebut juga Asia pada saat itu dan juga disebut Anatolia. Merupakan wilayah Turki
saat ini.
11
Pertama kali aku mengakui jika ayahku adalah orang Roma, aku mendapatkan
pukulan dan lemparan batu dari teman-teman seumuranku.
Kupikir mereka teman, tapi mereka berpikir aku ini musuh.
Mereka memukuliku cukup parah hingga membuat hidungku berdarah. Aku juga
berhasil mengigit seseorang dan menendang seorang lainnya. Setidaknya aku
dapat bertarung bagaikan seorang pria. Dewa Mars memberiku kekuatan. Meski
menghadapi lima orang bocah yang seumuranku dan beberapa lebih besar dariku,
aku tidak juga mundur.
Lebih baik kalah dalam pertempuran daripada lari dari pertempuran.
Ayahku mengajariku seperti itu. Tapi, ayah angkatku tidak menyetujuinya. Ia
berkata dengan jelas, memukul orang adalah hal yang tidak baik. Hanya saja ia
tidak menghitungnya saat memukulku karena aku berkelahi.
―Mengapa mereka tidak bisa menyukai bangsa Roma?‖ tanyaku saat berada di
rumah.
―Terlalu banyak perbedaan,‖ kata ayah angkatku menggerakkan matanya tanda
meremehkan atau jijik. ―Mereka menyembah berhala dan patung, kami
menyembah Tuhan. Mereka penjajah dan kami dijajah.‖
Aku ingat jika Dewa Mars yang kupuja adalah patung. Tapi, itu hanya sebuah
lambang. Aku tidak mau menanyakan persoalan ini lebih lanjut. Terakhir kali
kutanyakan hal ini, ia menceramahiku dengan sejarah panjang lebar tentang asal
mereka. Yang dengan jujur kukatakan, aku tidak mengerti sama sekali.
12
Ayah angkatku adalah saudara lelaki tertua ibuku. Dia tidak menyukai saat ibuku
menikah dengan ayahku yang merupakan orang Roma dan dia menutupi hal itu
dari semua orang.
Ia mengatakan jika menikah dengan pasangan yang tidak satu kepercayaan
adalah hal yang menyalahi ajaran dan adat istiadat orang Yahudi. Namun, hal itu
menjadi ‗tidak salah‘ saat ibu hamil dan memerlukan seorang untuk bertanggung
jawab.
Ibuku meminta agar aku memanggil ‗ayah‘ pada ayah angkatku dan memanggil
ibu pada istrinya. Ia juga mengatakan hal itu pada semua orang di Tarsus. Aku
sebenarnya tidak ingin melakukannya, akan tetapi karena saat aku mengakui
sebagai orang Roma dan dipukuli oleh orang Tarsus. Aku memilih untuk
mengikuti nasehat ayahku dan juga ibuku.
Lagi pula, ayah angkatku mengingatkanku jika ibuku ketahuan menikah dengan
orang Roma, mereka akan menyeret ibuku keluar dan dilempari batu hingga mati.
Di mana kaki berpijak, di sana langit dijunjung.
Ayah angkatku bernama Simoen Ben Hakal3. Ia adalah seorang Ibrani asli dari
keturunan Bangsa Ibrani dan dia sangat bersikukuh akan hal itu. Awalnya aku
tidak mengetahui apa perbedaan antara orang Ibrani dengan orang Yahudi.
―Tentu saja berbeda!‖ teriak ayah angkatku. Merasa pertanyaanku itu telah
menyentuh harga dirinya yang paling dalam. ―Orang Yahudi sekarang adalah
3
Dibaca Simoen Putra Hakal
13
keturunan dari suku Yehuda, Yudea dan suku-suku lain. Sedangkan kita
merupakan keturunan langsung dari Abraham, bapak dari orang Ibrani.‖
Aku tidak paham mengapa dia harus meributkan hal itu. Yehuda anak dari Yakub
yang menjadi cikal bakal suku Yehuda juga adalah keturunan Abraham. Yang
jika dipikir-pikir lagi, semua orang juga anak dari Adam dan Hawa. Tidak perlu
meributkan masalah suku dan bangsa.
―Kami,‖ protes ayah angkatku. ―Menggunakan bahasa Ibrani dalam keseharian,
tidak seperti orang Yahudi lainnya yang menggunakan bahasa Yunani, bahasa
Latin, bahasa Arab, dan bahasa aneh lainnya. Kita adalah orang Ibrani asli.‖
Seingatku, ia pernah berusaha memakai bahasa Ibrani pada penjual di pasar dan
akhirnya terpaksa menggunakan bahasa Aram, bahasa Yunani, bahasa Latin,
bahasa Arab dan bahasa aneh lainnya meski terbata-data. Atau dia tidak akan
mendapatkan apa yang diinginkannya.
Di Tarsus kota perdagangan ini, terdapat berbagai jenis macam orang, dari orang
Yahudi, orang Romawi, orang Yunani, orang Samaria dan sebagainya. Mereka
menggunakan berbagai macam bahasa. Bahasa yang paling sering digunakan
sesama orang Yahudi adalah bahasa Aram. Sedangkan bahasa resmi untuk
wilayah kekaisaran Roma adalah bahasa Yunani.
Bahasa Ibrani dan tulisan Ibrani hanya digunakan khusus untuk membaca kitabkitab Yahudi dalam hal ini adalah Kitab Taurat. Ingatkan aku untuk menjelaskan
tentang kitab-kitab yang memusingkan kepala itu saat aku agak besar nanti.
14
Sekarang, aku hanyalah seorang anak berumur sembilan tahun yang otaknya
selalu diisi oleh ayah angkatku dengan semua ketaatannya pada adat istiadat,
hukum Taurat dan cara hidup orang Yahudi.
Padahal yang kuinginkan hanyalah menjadi prajurit seperti ayah Romaku dan
menjadi pengikut Dewa Mars.
Oh, aku lupa mengatakan jika ayah angkatku, ibu angkat dan ternyata ibuku juga
bersama semua keluarga besar tempat aku tinggal adalah orang Yahudi—opss,
orang Ibrani—yang sangat fanatik pada adat istiadat Yahudi. Dapat dikatakan
kami yang terbaik dari yang terbaik. Kedisplinan ayah angkatku hanya bisa
ditandingi oleh Rabbi teladan. Dan ayah angkatku ingin menjadi orang Farisi.
Aku akan menjelaskan karena aku sudah pintar.
Rabbi berarti juga ‗guru‘ atau ‗yang bijaksana‘. Mereka adalah orang-orang
terpelajar yang dipilih untuk masyarakat untuk mengajarkan adat istiadat orang
Yahudi, mengajarkan aturan-aturan dan hukum Taurat dan juga memimpin
ibadah di hari Sabat.
Mereka adalah orang-orang membosankan yang akan kamu temui sedang
menceramahi orang, membaca Kitab Taurat dalam bahasa Ibrani dan pastinya
orang-orang tua kolot yang membenci hal apa pun yang tidak sesuai dengan adat
istiadat Yahudi dan hukum Taurat.
15
Dan orang Farisi—biarkan aku meludah ke lantai terlebih dahulu—adalah
sekumpulan orang-orang, cendekiawan, ahli-ahli hukum Taurat, penegak
peraturan yang sangat fanatik pada hukum Taurat.
Jika kamu ingin membayangkan seorang Farisi, kamu dapat membayangkan
demikian. Kumpulkan seratus orang Rabbi teladan, urutkan mereka menurut
tingkat kecerdasan dan fanatisme mereka pada hukum Yahudi. Ambil seorang
yang paling cerdas, paling fanatik, paling displin menaati hukum Taurat dan
paling membenci pelanggar aturan hukum, kalikan seratus dan itulah orang
Farisi, kumpulan orang-orang yang sangat teliti, paling vokal, garis keras dan
juga menganggap diri mereka sebagai orang paling benar.
Jangan biarkan aku membodohimu dengan mengatakan aku membenci dan
merasa jijik pada mereka, karena takdir akan membawaku menjadi orang Farisi
dan bahkan menjadi yang terdepan di antara ratusan orang Farisi. Tapi, aku tidak
akan menjilat ludahku. Itu sudah terbuang ke atas tanah.
***
―Jika kamu tidak bekerja, kamu tidak akan mendapatkan makanan,‖ bentak ayah
angkatku. Dia mencengkram lenganku hingga terasa sakit dan menarikku
terburu-buru untuk menuju ke tempat kerjanya yang ada di halaman belakang
rumah.
Di tempat itu, terdapat sebuah tenda besar yang di bawahnya terlihat beberapa
orang sedang bekerja. Semuanya saudara-saudara jauhku. Aku belum begitu
16
mengetahui nama mereka, tapi aku bisa katakan, si kurus, si cengeng, suami istri
pemarah dan tiga orang lainnya tidak begitu kukenal. Ayah angkatku adalah
kepala keluarga besar. Ia mengatur segala-galanya.
Di bawah tenda yang sangat besar itu, terlihat bertumpuk-tumpuk bulu kambing
berwarna abu-abu. ―Ini adalah Mohair, dari bulu kambing Angora yang terkenal.
Tugasmu adalah membersihkannya dan berikan pada Rahben untuk dipintal
menjadi kain.‖
Aku menatap pada seorang wanita gemuk bernama Rahben, seorang bibiku yang
entah dari saudara mana. Jari-jari tangannya sedang sibuk di atas sebuah alat dari
kayu untuk memintal bulu-bulu itu menjadi kain. Aku melihat tumpukan bulubulu berwarna putih dengan campuran abu-abu di sampingnya. Baunya tidak
menyenangkan. Bau binatang.
―Apa kamu tahu mohair?‖
Aku menggellengkan kepalaku.
―Mohari jika dipintal menjadi kain, akan menjadi sebuah kain dengan harga yang
mahal. Harganya seimbang dengan harga kain sutra dan kashmir. Kain itu akan
tahan terhadap api, tidak mudah koyak, tahan terhadap noda. Saat suhu panas,
mohair akan membuat bagian dalamnya tetap dingin dan saat suhu dingin, mohair
akan membuat bagian dalamnya tetap hangat. Ini adalah bahan yang utama untuk
membuat sebuah tenda. Abang-abangmu di sana akan menjahit kain itu menjadi
tenda,‖ jelas ayah angkatku dengan bangga. ―Kita adalah keluarga pengrajin
17
mohair dan pembuat tenda terbaik di Tarsus. Tenda dan kain kita bahkan terkenal
hingga negara-negara di luar Laut Tengah.‖
Aku menatap ayah angkatku.
―Apa lagi yang kamu lihat? Mulailah bekerja atau kamu tidak akan mendapatkan
makanan,‖ sahut ayah angkatku.
Aku segera bergegas untuk bekerja. Aku tahu dia tidak akan memukulku jika aku
tidak mau melakukannya. Masalahnya, aku lebih baik bekerja sebelum dia...
―Tahukah kamu, bekerja adalah sebuah cara kita melakukan ibadah pada Tuhan,
pada zaman dahulu, Nabi Musa....‖
... mulai menceramahiku dengan pelajaran membosankan itu selama berjam-jam.
Dia sungguh senang bercerita dan mengomeli apa pun juga.
Aku dapat melihat wajah-wajah para pekerja di dalam tenda berubah meringis.
Tampaknya mereka sudah sering mendapatkan siksaan itu. Kedua tangan kecilku
segera mengambil sekumpulan besar bulu dan pergi untuk membersihkannya.
***
―Kamu tidak boleh tidur sebelum kamu bisa mengenal huruf-huruf Ibrani ini dan
artinya.‖ Dan yah Ayah angkatku juga seorang Ibrani yang taat pada semua
ajaran dan adat istiadatnya. Tidak ada satu pun dari kami yang bisa bebas dari
ajaran Ibraninya setelah makan malam. Dia benar-benar pejuang Yahudi sejati.
18
BAB 2
BAIT ALLAH KEDUA
Tahun 15 M
―Sebagai orang Ibrani yang baik, kita harus mempersembahkan kurban
setidaknya setahun sekali ke Bait Allah,‖ kata ayah angkatku dengan wajah
penuh kebanggaan. ―Saul, kamu harus ikut dengan kami.‖
Pagi itu, aku bersama lima orang saudara lainnya sedang menumpuk tenda-tenda
buatan kami di atas dua buah gerobak kayu yang terikat pada keledai. Setelah
tenda-tenda itu penuh, kami berpamitan pada keluarga besar dan membawa
keledai-keledai itu menuju ke pelabuhan.
Saat kami mencapai pelabuhan yang penuh dengan para pedagang, seorang
pemilik kapal langsung mendekati ayah angkatku dan mereka berbicara dalam
bahasa Ibrani yang fasih. Mereka tampak akrab dan aku menebak, pemilik kapal
itu pasti salah seorang yang sejenis dengan ayah angkat. Penganut dan penurut
hukum Taurat hingga ke sumsum tulangnya, karena aku jarang menemukan
orang lain yang berbicara dalam bahasa Ibrani dengan ayahku selain keluarga
besar.
19
Awak-awak kapal segera menaikkan tenda-tenda kami ke atas sebuah kapal
dengan tiga tiang kapal. Kapal itu sangat besar, meski aku melihat di pelabuhan
masih ada kapal yang lebih besar lagi. Tapi, tetap saja kapal ini besar.
Kakiku berbunyi keras saat menapak papan kecil yang berguna sebagai jembatan
kayu seadanya untuk membawa masuk penumpang ke dalam kapal. Di atas kapal
terlihat sudah penuh dengan banyak orang-orang, binatang ternak dan berbagai
barang. Dengan semangat aku berlari naik ke atas kapal dan mengelilingi kapal
itu. Aku melihat burung, aku melihat laut, aku melihat matahari, tiang-tiang
kapal, kayu-kayu besar dan banyak lagi. Nahkoda dan awak kapal mulai
berteriak-teriak memanggil orang-orang di pelabuhan untuk naik secepatnya.
Tak lama kemudian, tali-tali yang menahan layar dibuka, kayu yang mengikat
layar jatuh dan mengembangkan layar kapal. Dengan cepat layar itu terkembang
menangkap angin yang bertiup. Kapal mulai bergerak perlahan di atas permukaan
air yang tenang.
Dan perjalananku menuju ke Yerusalem akan dimulai. Aku sudah tidak sabar
menceritakan apa yang akan kulihat di dalam perjalanan ini.
Beberapa hari kemudian...
Aku sudah tiba di sebuah kota pelabuhan bernama Kaisarea. Kota yang paling
dekat dengan Yerusalem. Dari sana ayahku berkata kami akan berjalan sekitar
beberapa hari hingga ke Yerusalem. Ayah angkatku terlihat sedang tawar
20
menawar dengan seorang pria yang menyewakan gerobak keledai untuk
mengangkut tenda-tenda kami. Dari pelabuhan itu, kami mulai berjalan.
Jika ada pertanyaan mengapa perjalanan menaiki kapal dari Tarsus ke Yerusalem
begitu cepat, aku tidak akan memberitahu. Aku mual dan hanya bisa tidur di
dalam dek kapal selama berhari-hari, jadi jangan tanyakan lagi. Aku tidak bisa
mengatakan apa pun kecuali, dek dalam kapal dan mual.
―Boleh aku keliling Yerusalem?‖ tanyaku semangat pada ayah angkatku.
Mata Simoen terpicing menatapku. ―Ada hal yang lebih penting daripada
berkeliling kota. Kamu akan berkeliling Bait Allah kedua.‖
―Bait Allah kedua? Tempat apa itu?‖
Simoen memegang bahuku. Kami sedang berjalan di atas jalanan berdebu dan
berbatu bersama banyak orang yang juga menuju ke Yerusalem. ―Bait Allah
adalah tempat di mana Allah tinggal, di sana kita akan melakukan upacara kurban
sebagai tanda terima kasih kita padanya. Kita akan menyembah Allah di sana.‖
Aku memutar mataku. Bukankah itu hanya berarti kita akan pergi ke kuli? Aku
sering melakukannya bersama ayahku sewaktu di Roma. Kami di sana akan
menyembah dewa-dewa. Berarti Allah adalah dewa yang disembah oleh ayah
angkatku.
―Mengapa kedua?‖ tanyaku. ―Di mana Bait Allah pertama? Mengapa kita tidak
pergi ke Bait Allah pertama saja?‖
21
Mata ayah angkatku terlihat bersinar dan sebuah senyuman tersinggung di
bibirnya. Aku melakukan kesalahan, karena setiap kali dia melakukan itu, ia akan
menceramahiku habis-habisan.
―Pertanyaan yang bagus, Saul.‖ Aku dapat melihat ayah angkatku menjilat
bibirnya. Dia akan menikmati setiap penjelasan itu. ―Bait Allah pertama didirikan
oleh Raja Salomo, putra dari Raja Daud sekitar tahun 966 - 960 SM. Bait Allah
pertama itu dibangun di atas Yerusalem untuk menggantikan Kemah Suci.‖
―Apa itu kemah suci?‖ tanyaku langsung.
―Kemah suci atau Tabernakel disebut juga tempat tinggal Allah. Itu adalah
tempat ibadah bangsa kita—Bangsa Ibrani—sejak keluar dari Mesir. Nenek
moyang kita melakukan perjalanan jauh keluar dari Mesir menuju ke negeri
Kanaan4. Yang memimpin adalah Nabi Musa dan setelahnya para hakim-hakim
...‖
―Mengapa bangsa kita keluar dari Mesir?‖
Simon menatapku tersinggung dan memiringkan bibirnya. ―Jangan menyela
pembicaraanku, Saul. Tapi, itu pertanyaan menarik. Pada tahun 1.450 SM – 1.250
SM, Nabi Musa diutus oleh Tuhan...‖
―Apakah Tuhan dan Allah itu sama?‖
Simon melototiku. ―Sama,‖ katanya ketus dan melanjutkan. ―Nabi Musa diutus
oleh Tuhan untuk menyelamatkan Bangsa Ibrani dari perbudakan bangsa Mesir.
4
Kanaan saat ini adalah wilayah Israel, Libanon dan Suriah.
22
Saat itu ada 2 juta orang Ibrani yang diperbudak oleh Mesir dan setelah Nabi
Musa menunjukkan kekuatan Tuhan, Raja Firaun penguasa Mesir bersedia
melepaskan mereka semua pergi.‖
―Tapi,‖ protesku yang ingat dengan cerita itu oleh guruku di Roma. ―Seingatku,
guruku pernah menceritakan tentang sejarah Bangsa Ibrani dan Mesir.‖
Ayah angkatku tidak mau melihatku dan tidak ingin bicara padaku lagi, aku dapat
melihatnya kesal. Sehingga aku melanjutkannya saja.
―Ada catatan sejarah oleh sejarawan Mesir bernama Manetho yang hidup pada
300 SM. Dia mengatakan dalam catatan sejarahnya jika Mesir pada 1.950 SM
dikuasai oleh orang-orang Hyksos—yang berarti penguasa asing dari bangsa
penggembala. Mesir untuk pertama kalinya tidak dikuasai oleh raja-raja
keturunan Mesir tapi raja asing. Guru berkata, kemungkinan itu adalah Nabi
Yusuf5 yang menggantikan kepemimpinan Raja Firaun. Nabi Yusuf yang berasal
dari penggembala menjadi raja Mesir dan membawa orang-orangnya—orang
Ibrani—untuk tinggal bersamanya di Mesir. Berikutnya, keturunan Nabi Yusuf
terus menerus menjadi raja-raja Mesir dan berkuasa selama 511 tahun. Orangorang Ibrani beranak pianak di dalam Mesir karena pemerintahan yang damai.‖
―Hingga pada sekitar tahun 1.450 SM, seorang keturunan raja Mesir asli bernama
Alisphragmuthosis yang merupakan raja Thebes dan wilayah Mesir bagian luar,
menyerang
Mesir
dan
menurunkan
5
raja
keturunan
Nabi
Yusuf.
Nabi Yusuf, seorang yang dijual oleh keluarganya ke Mesir sebagai budak dan kemudian dapat
menafsirkan mimpi Raja Firaun sehingga diberi kekuasaan yang tinggi.
23
Alisphragmuthosis menjadi Raja Firaun dan dia membenci Bangsa Ibrani. Orangorang Ibrani di dalam Mesir yang ketakutan, memilih seorang pria bernama
Osarseph—seorang imam dari Bangsa Ibrani—sebagai pemimpin mereka untuk
mengambil alih kekuasaan Mesir. Maka timbullah pemberontakan oleh 2 juta
penduduk Ibrani dalam Mesir untuk merebut kekuasaan. Namun, pemberontakan
itu gagal.‖
―Raja Firaun segera mengutus anaknya bernama Tethmosis bersama 480.000
prajurit Mesir bersenjata lengkap untuk membunuh semua orang Ibrani yang
berada di Mesir. Osarseph yang mendengar itu menjadi ketakutan. Ia segera
berdoa dan saat itu terjadilah tulah atau musibah pada rakyat Mesir. Terjadi
penyebaran penyakit menular, hama belalang dan akhirnya penyakit kusta yang
menulari hingga ratusan ribu orang di Mesir.‖
―Raja Firaun, Alisphragmuthosis, menganggap orang Ibranilah penyebab bencana
itu dan mengusir mereka semua keluar dari Mesir. Osarseph menyetujuinya
dengan janji dari Raja Firaun untuk tidak menyakiti orang Ibrani yang hendak
keluar dari Mesir. Raja Alisphragmuthosis berpikir tidak ada gunanya membunuh
mereka, sehingga membiarkan mereka semua pergi dari Mesir bersama orangorang yang terkena penyakit. Dengan demikian Osarseph membawa 2 juta orang
Ibrani dan 80.000 penderita kusta keluar dari Mesir.‖
―Manetho, sejarahwan Mesir, mencatat jika Osarseph kemudian berganti nama
menjadi Musa. Dan mereka bergerak menuju ke Tanah Kanaan. Begitu kata
guruku.‖
24
―Dari mana kamu mempelajari omong kosong itu?‖ tanya ayah angkatku dengan
wajah tidak senang.
―Sekolah.‖
―Kamu seharusnya tidak boleh bersekolah di tempat mana pun selain Sinagoga
milik kaum Yahudi. Terutama sekolah Roma, orang yang menyembah berhala
itu, pasti mengajarimu hal yang tidak berguna.‖
Aku tidak mengerti dengan arti pelajaran tidak berguna, ―Mereka mengajariku
berhitung, sejarah dan bahasa. Jika lebih tinggi lagi, kami akan mempelajari
filsafat.‖
―Kamu tidak perlu belajar apa pun kecuali dari Rabbi dan dari Kitab Taurat.
Selain itu semuanya tidak berguna dan tidak benar.‖
―Bukankah ajaran mengenai Musa membawa keluar dari Mesir yang ayah
ceritakan tadi berasal dari Kitab Taurat dan sama dengan catatan sejarah dari
sekolah Roma?‖
―Tidak sama,‖ protes Simoen kesal. ―Apa pun yang benar, jika keluar dari selain
Kitab Taurat adalah salah. Dan apa pun yang keluar dari Kitab Taurat adalah
benar.‖
―Bukankah itu menjadi, apa pun yang salah karena keluar dari Kitab Taurat, hal
itu menjadi benar?‖ tanyaku merasa tidak adil. Ayah angkatku melihatku dengan
kemarahan. Aku memilih untuk diam saja.
25
―Sampai di mana kita?‖ tanya ayahku, jelas ia ingin melanjutkan penjelasannya.
―Kemah suci,‖ jawabku.
―Benar, kemah suci adalah tempat Musa dan orang-orang Ibrani menyembah
Tuhan. Bentuknya seperti tenda dan dibawa ke mana-mana sepanjang perjalanan
dari Mesir ke Tanah Kanaan yang berjarak sekitar 700 kilometer. Namun karena
mereka tidak dapat berjalan menyebrangi padang gurun Syur yang membatasi
Yerusalem dan Mesir, maka mereka memutari padang gurun dan melewati
Gunung Sinai. Jarak tempuh perjalanan mereka mencapai 2.000 kilometer.‖
Aku cuma bisa membayangkan mereka mengangkat sebuah tenda berisi patung
Tuhan yang sama seperti patung dewa-dewa dan membawanya ke mana-mana.
―Tahun 966 SM atau sekitar 480 tahun sejak Musa membawa Bangsa Ibrani
keluar dari Mesir—yang merupakan tahun ke empat dan bulan ke dua
pemerintahan Putra dari Raja Daud, Raja atas Yerusalem dan orang-orang Ibrani,
Raja Salomo membangun Bait Allah di atas Gunung Moria tempat Tuhan
menampakkan diri pada Raja Daud. Itu adalah Bait Allah pertama.‖
―Apa yang terjadi pada Bait Allah itu?‖ tanyaku.
―Pada tahun 586 SM atau 380 tahun setelah dibangunnya Bait Allah, tempat itu
dihancurkan oleh Raja orang Babel dari Kerajaan Babilonia 6 yang bernama
Nebukadnezar II. Raja itu menaklukkan Yerusalem, memperbudak orang-orang
6
Babilonia sekarang bertempat di Irak
26
Ibrani dan mengusir sebagian besarnya. Itu adalah masa pembuangan dan
perbudakan Bangsa Ibrani.‖
―Mereka jadi budak kembali?‖ tanyaku dengan nada menyindir. Merasa dewa
Bangsa Ibrani tidak sehebat dewa bangsa Babilonia. Juga tidak sehebat dewa
bangsa Mesir. ―Seingatku Raja Nebukadnezar membangun taman gantung
Babilonia yang terkenal hingga sekarang. Alangkah hebatnya dia.‖
―Dia adalah bedebah. Jangan memujinya,‖ kata ayah angkatku sambil meludah
ke atas tanah. ―Tahun 540 SM Raja Koresh yang Agung ( Cyrus the Great )
pendiri kerajaan Persia 7 menaklukkan Babilonia dan mengalahkan bangsa Babel.
Dia membebaskan Bangsa Ibrani yang menjadi budak dan mengizinkan mereka
untuk pulang ke tanah Yerusalem. Ia mengembalikan harta-harta dalam Bait
Allah yang diambil oleh Raja Nebukadnezar dan memerintahkan untuk
membangun kembali Bait Allah.
Raja Koresh yang Agung memberikan Bangsa Ibrani uang dan semua yang
dibutuhkan untuk membangun Bait Allah yang jauh lebih besar dari Bait Allah
sebelumnya. Ia berjanji akan menggunakan harta kekayaan kerajaan Persia untuk
membangun Bait Allah itu hingga selesai. Dan Raja Agung itu bersama
keturunannya Raja Darius yang Agung memegang perkataan mereka dan terus
memberikan uang serta segalanya bagi Bangsa Ibrani untuk membangun Bait
Allah hingga selesai. Mereka membantu selama 20 tahun hingga pada tahun 515
7
Persia berada di wilayah Iran saat ini.
27
SM, Bait Allah itu selesai dibangun dan hingga saat ini dikatakan sebagai Bait
Allah Kedua.‖
Aku tentu saja ingat sejarah itu. Cyrus yang Agung, raja terhormat yang
menghargai seluruh bangsa-bangsa dan kepercayaan mereka. Ia menaklukkan
banyak bangsa tapi tidak memperbudak mereka. Ia memberikan kesempatan pada
bangsa-bangsa lain untuk berkembang menurut adat istiadat mereka, mendorong
mereka untuk semakin dekat pada kepercayaan mereka masing-masing dan ia
bahkan membangun tempat-tempat ibadah untuk mereka dengan kekayaan
kerajaannya. Seorang raja yang tiada tanding.
Kami berjalan selama beberapa hari. Saat mendekati kota Yerusalem, dari
kejauhan, aku dapat melihat sebuah bangunan yang sangat besar yang terletak di
puncak gunung. Bangunan itu luar biasa besar.
―Di sanalah tujuan kita,‖ kata ayah angkatku.
Semangatku menjadi tinggi dan saat mendekati bangunan itu, aku melihat
tembok-tembok tinggi yang luar biasa menakjubkan. Sama sekali tidak terlihat
seperti bangunan manusia mana pun.
Simoen segera melanjutkan. ―Tahun 19 SM, raja kita, Raja Herodes, raja atas
semua orang Yahudi8, merenovasi dan memperluas Bait Allah kedua hingga
8
Kekuasaan Bangsa Ibrani setelah kematian Raja Salomo terpecah menjadi dua kerajaan yang
pada akhirnya menjadi Kerajaan Yehuda dan Kerajaan Israel. Sejak saat itu orang ibrani dari
kerajaan Yehuda menyebut mereka sebagai orang Yahudi. Dan orang Ibrani dari kerajaan Israel
disebut juga orang Samaria.
28
menutupi seluruh gunung. Ini adalah bangunan raksasa yang membuat Raja
Herodes menjadi terkenal.‖
Aku melihat tembok terluar Bait Allah kedua dan kepalaku menengadah. Tembok
itu sungguh luar biasa tinggi.
―Tingginya 25 meter9,‖ kata ayah angkatku dengan bangga. ―Dengan pondasi
bangunan sedalam 15 meter. Luas seluruh wilayah ini mencapai 140.000 m2.
Dibangun dengan menyusun batu-batu berwarna putih dan keras. Setiap batu
ukuran panjangnya 25 hasta ( 11.25 meter), tingginya 8 hasta ( 3.6 meter ) dan
lebarnya 12 hasta ( 5.4 meter). Bayangkan Saul, bagaimana mereka memotong,
mengangkut dan menyusun batu-batu sebesar itu. Pada beberapa sudut tembok,
ketinggiannya mencapai 400 hasta ( 180 meter ) dari permukaan tanah.‖
Simoen membawa kami semua masuk melalui gerbang Bait Allah yang besar dan
memasuki sebuah lapangan yang teramat luas di dalamnya. Di tempat itu terlihat
penuh dengan orang-orang dan juga para pedagang. Tidak jauh dari sana, terdapat
sebuah bangunan besar di tengah-tengah Bait Allah yang dikelilingi oleh tembok
tinggi. Bangunan yang berada di dalam tembok itu terlihat menjulang tinggi dan
bersinar keemasan.
―Itu adalah Bait Suci Allah, dengan ketinggian 45 meter dan lebar 45 meter,
semuanya terbuat dari emas.‖
―Bolehkah aku masuk?‖ tanyaku penuh semangat.
9
25 meter adalah sekitar ketinggian gedung berlantai 8 pada zaman sekarang.
29
Ayah angkatku melihatku dan mendengus, ―Jangan berharap. Ini adalah tempat
terdalam yang bisa kamu masuki. Bagian untuk semua bangsa-bangsa. Bagian
dalam tembok atau Bait Suci Allah hanya boleh dimasuki oleh wanita, orang
Ibrani dan Imam. Wanita pun terbatas hanya boleh memasuki bagian depannya.
Dan bagian dalam Bait Suci Allah itu hanya boleh dimasuki lelaki orang Ibrani
dan Imam.‖
―Aku orang Ibrani,‖ kataku cepat. ―Aku lelaki, tentu saja aku boleh masuk.‖
―Kamu orang Roma, ayahmu orang Roma dan kamu hanya separuh orang
Ibrani,‖ bisik ayah angkatku takut kedengaran orang-orang.
―Kalau begitu untuk apa aku sunat,‖ protesku. ―Kemarin ayah angkat memaksaku
untuk sunat agar aku menjadi orang Ibrani. Padahal aku sudah merasakan sakit
dan sekarang aku belum menjadi orang Ibrani.‖
Ayah angkatku terlihat berpikir keras. ―Aku akan tanyakan itu pada Imam
nantinya. Sekarang mulailah bekerja.‖
―Apa yang akan kukerjakan?‖ tanyaku bingung berpikir jika kami ke Bait Allah
Kedua ini untuk beribadah dan memuja Dewa Tuhan itu.
―Jualan tentu saja.‖
Itu hal yang tidak kuketahui. Jika kamu berjualan sembarangan di depan kuil saat
di Roma, maka prajurit akan datang untuk menghancurkan daganganmu dan
mencambukmu. Kamu hanya bisa berjualan di pasar yang sudah ditetapkan
pemerintah Roma. Aku melihat sekeliling Bait Allah dan melihat orang-orang
30
ramai menjual kambing, lembu, buah-buahan, burung merpati, orang-orang yang
menukarkan uang dan juga orang yang menyediakan jasa.
Tentu di sini adalah pasar.
Aku melihat ayah angkatku mendekati seorang Imam yang kelihatannya sudah
dikenalnya. Wajah Simoen tersenyum merendah. ―Selamat siang Rabbi,
bagaimana kabarnya?‖
―Apa yang kamu lakukan di sini?‖ tanya Rabbi itu angkuh. Ia memakai pakaian
putih panjang dan sebuah kain menutupi rambutnya. Dua orang pria terlihat
mengikutinya dengan patuh. Mengingatkanku pada anak ayam yang mengikuti
induknya.
―Seperti biasa, Rabbi. Tahun ini juga saya datang untuk menjual tenda buatan
saya dengan harapan keuntungannya dapat membeli kurban untuk tahun ini,‖ kata
Simoen merendah dan menunduk.
―Tahun ini terlalu banyak orang berjualan. Mereka semua mengotori Bait Allah
ini dan sudah susah mencari tempat,‖ kata Rabbi itu menggerakkan tangannya
mengusir.
Ayah angkatku segera mengeluarkan sebuah kantungan untuk diselipkan pada
tangan Rabbi itu sambil berjabat tangan. ―Tolonglah, Rabbi. Kami berjanji tidak
akan mengotori Bait Allah. Tahun ini juga aku harus memberikan kurban pada
Allah.‖
31
Rabbi itu mendengus dan tersenyum menyelipkan kantungan itu ke dalam
bajunya. ―Yah, demi Allah, aku harus memberikan kesempatan padamu untuk
bertobat. Baiklah, ambil tempat di sudut sana dan kirimkan sebuah tenda sebagai
sumbangan bagi Bait Allah.‖
―Baik Rabbi,‖ sahut ayahku dengan penuh hormat. Tak lama kemudian, kami
sudah membongkar tenda-tenda kami di sudut yang ditunjuk oleh Rabbi tadi.
Kami menggelar sekitar 50 buah tenda dan mulai menjualnya dengan berteriakteriak memanggil orang-orang.
―Saul,‖ panggil Simoen dengan sibuk. ―Mulailah berteriak memanggil orangorang untuk membeli tenda-tenda dari Mohair ini. Katakan pada mereka ini
adalah tenda terbaik, kualitasnya paling bagus dan dijahit oleh tangan-tangan
hamba Allah yang setia.‖
Aku melihat pada bibiku yang menganyam tenda itu. Seingatku, kata-katanya
jauh lebih kasar daripada siapa pun yang pernah kudengar dan dia selalu
meragukan Tuhan. Terutama saat ia mendapatkan upah kecil dari ayah angkat.
―Teriakkan itu dalam bahasa Yunani, bahasa Latin, bahasa Ibrani, bahasa Aram,
bahasa Roma dan bahasa apa saja yang kamu bisa. Mengerti? Tidak...‖
―Tidak bekerja, tidak ada makan,‖ tambahku cepat dan berdiri di depan tempat
jual tenda dan mulai berteriak keras. Dalam bahasa Yunani. ―Jual tenda, jual
tenda, dari bulu kambing Anggora. Berbahan Mohair terbaik yang lebih mahal
32
daripada sutra, kasmir dan entah apa lagi. Dianyam oleh bibi... eh... hamba Allah
yang setia. Menganyamnya sambil melafalkan doa-doa penuh berkat...‖
Seingatku, bibiku selalu memaki dan bersumpah serapah sambil menganyam
tenda-tenda itu karena gajinya yang kecil.
―Tenda terbaik... tenda terbaik.‖ Aku kemudian mengatakan hal yang sama dalam
bahasa Aram, kemudian Ibrani dan mengulang-ulang mereka lagi.
Ayah angkatku terlihat puas dengan caraku berteriak-teriak meniru para penjual
binatang dan penukar uang.
Seminggu lamanya kami berada di sana dan Simoen sangat senang. Tenda sudah
terjual sebanyak 45 buah hanya dalam seminggu. Padahal dia berencana untuk
tinggal selama sebulan di Yerusalem. Ini semua karena berkat rombongan
pedagang dari Persia yang kebetulan bertemu dan memborong tenda dalam
jumlah besar untuk dibawa ke kerajaan mereka. Sisanya, tenda-tenda itu dibeli
oleh para pendatang dari berbagai bangsa untuk digunakan sebagai tempat
menginap di sekeliling Bait Allah. Lebih murah daripada menyewa penginapan di
Yerusalem jika mereka mereka berencana untuk tinggal dalam waktu panjang.
Dan tentu saja tenda-tenda ini lebih mahal jika mereka berencana untuk tidur di
alam bebas.
Ayah angkat bertahan di dalam Bait Allah selama beberapa hari karena ia
menemukan teman sehatinya. Orang-orang Farisi. Beberapa hari ini, dia selalu
mengunjungi mereka.
33
Pada malam hari saat ia berkumpul kembali dengan kami di tempat penjualan
dengan wajah yang teramat bersinar oleh kebahagiaan. ―Sebentar lagi aku akan
menjadi orang Farisi. Mereka berjanji akan menerimaku sebagai bagian dari
mereka. Mereka menyukai pengetahuanku tentang hukum Taurat. Mereka benarbenar dapat melihat isi pikiranku.‖
Tiga hari kemudian, semua tenda sudah habis terjual. Simoen merasa begitu
gembira karena dia baru saja diterima sebagai orang Farisi dan itu berarti dia bisa
membangga-banggakan dirinya di Tarsus dan bahkan menjadi Rabbi di sana.
Sebelum kami kembali ke Tarsus, dia membeli seekor kambing untuk dijadikan
kurban dia membawa semua orang kecuali diriku untuk masuk ke dalam Bait
Allah dan persembahan kurban.
Tentu saja aku marah, tapi sebelum aku dapat benar-benar marah dan memprotes.
Ia memberiku sekeping dirham. Mata uang dari kerajaan Persia itu, nilainya sama
dengan satu dinar uang perak dari Yunani dan tentu saja jumlah yang sangat
besar untuk seorang anak kecil sepertiku.
―Saul, kamu bisa menggunakan uang itu membeli apa yang kamu sukai,‖ sahut
ayah angkatku. ―Kamu bisa membeli mainan dari tanah liat, paha domba
panggang atau apa saja yang kamu suka. Sekarang pergilah.‖
―Setuju,‖ kataku mengambil uang itu dan membiarkan mereka pergi. Aku melihat
sekeping uang itu di tanganku. Pikiranku segera terbayang pada buah yang enak,
domba bakar campur madu yang manis dan banyak hal lainnya. Seketika aku
34
berlari mengelilingi keliling para pedagang dan melihat benda-benda jualan
mereka.
Semakin jauh aku berjalan, semakin banyak yang kulihat dan semuanya semakin
menarik hati. Aku menolehkan mata pada bangunan besar dan berkilau emas di
dalam tembok di tengah-tengah Bait Allah. Itulah yang paling menarik dan aku
benar-benar ingin melihat patung yang bernama Allah atau Tuhan itu.
Dengan perlahan, aku berjalan mendekati tembok bagian dalam yang mengurung
Bait Suci Allah itu. Dari kejauhan aku dapat membaca tulisan di atas sebuah
pintu gerbang, ―Orang asing dilarang masuk.‖ Apakah itu berarti selain orang
Ibrani dilarang masuk? Pernyataan itu memberikan efek terbalik, malah
membuatku semakin penasaran akan isinya.
Sedikit ketakutan, aku berjalan mendekati pintu gerbang yang dijaga oleh seorang
pria muda, mungkin seorang imam atau rabbi. Karena kata ayah angkat cuma
para imam dan rabbi yang diizinkan mengurus Bait Allah. Aku mencoba tidak
melihatnya dan ingin menerobos masuk. Aku yakin dia tidak akan mengetahui
aku anak dari ayahku seorang Roma atau aku anak dari ibuku serang Ibrani dalam
sekali lihat.
―Tunggu,‖ kata pria muda di depan gerbang langsung menghalangiku dengan
tubuhnya.
Dengan semua keberanianku, aku berbicara dalam bahasa Ibrani, ―Aku adalah
seorang dari keturunan Bangsa Ibrani, hamba Tuhan yang taat dan keturunan
35
langsung dari Nabi Abraham. Ayahku adalah seorang ...‖ Aku mencoba
memikirkan kata yang lebih bagus dan mungkin bisa meyakinkan rabbi itu.
―Seorang Farisi. Ayahku sudah berada di dalam sedang memberikan kurban.
Mengapa aku tidak boleh masuk? Ini tidak adil.‖
Pria muda itu menggelengkan kepalanya, ―Aku tidak menahanmu karena
meragukanmu sebagai seorang Yahudi. Aku menahanmu atas nama keadilan.
Kamu harus membayar uang dua keping dirham untuk dapat masuk. Peraturan
yang harus kamu patuhi.‖
―Ini tidak adil,‖ protesku langsung. ―Kamu bisa memungut dari orang dewasa.
Aku masih kecil dan kamu bisa pura-pura tidak melihatku dan membiarkanku
masuk.‖
―Tuhan sendiri memandang semua orang sama, besar dan kecil, anak-anak dan
dewasa. Aku hambanya harus mematuhinya,‖ kata Rabbi muda itu. ―Tidak ada
alasan aku harus menutup mata darimu meski kamu seorang anak kecil. Itulah
keadilan.‖
Aku merasa kesal dan hendak protes. Aku berbalik dan hendak pergi, aku tidak
punya dua keping dirham. Aku punya satu dan itu sangat berharga. Tanganku
menggenggam satu keping itu dan kemudian berbalik menghadapi rabbi muda.
―Ini satu keping dirham uangku satu-satunya,‖ kataku dengan tangan gemetar.
―Biarkan aku masuk untuk melihat Allah atau aku akan pergi dari tempat ini.
36
Besok aku akan kembali ke Tarsus dan tidak akan pernah ke tempat ini lagi. Jadi
izinkan aku masuk.‖
Rabbi itu mendengus sombong, ―Dua dirham adalah dua dirham.‖
―Dua dirham adalah untuk orang dewasa, tubuhku setengah dari orang dewasa
dan itu adalah satu dirham. Aku membayarmu satu dirham,‖ kataku berkeras.
Mataku mulai merah dan tubuhku bergetar.
―Peraturan adalah peraturan. Semua orang harus menaati peraturan. Itulah cara
agar Tuhan mau mengasihi kita. Harus menaati peraturan. Sekarang pergilah ke
sana.‖
Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku, mendadak aku merasa sedih dan
menangis. Air mataku mengalir dengan deras.
―Aranus, apa yang kamu lakukan padanya?‖ tanya sebuah suara mendadak dari
belakangku.
―Imam besar,‖ kata rabbi muda itu dengan tubuhnya yang tersentak. Ia segera
memberi hormat. ―Dia ingin masuk menemui orang tuanya di dalam tapi tidak
memiliki uang untuk membayar bea masuk sehingga aku melarangnya.‖
Pria yang dipanggil imam itu menyentuh kepalaku dan berkata, ―Ayahmu akan
segera keluar. Berhentilah menangis.‖
Aku melihat imam itu, pria itu terlihat baik sehingga aku segera berkata, ―Aku
tidak ingin bertemu ayahku. Aku ingin masuk untuk melihat Tuhan.‖
37
Imam itu terlihat penasaran. ―Mengapa kamu ingin melihat Tuhan?‖
Mendadak tangisku berhenti. Aku tidak tahu mengapa aku begitu ingin melihat
Tuhan. Aku mencoba berpikir sejenak dan tidak menemukan alasan mengapa aku
ingin melihat Tuhan. Akhirnya aku hanya bisa berkata jujur. ―Aku tidak tahu.
Hanya saja begitu aku mengetahui aku tidak dapat melihat Tuhan, aku merasa
sedih dan tiba-tiba menangis.‖
Imam itu tertawa senang, wajahnya penuh kedamaian. ―Aku suka saat kamu
jujur. Biarlah aku yang membayar dua dirham untukmu dan membawamu masuk.
Bagaimana menurutmu?‖
Aku mengangguk dan mengangkat satu dirham dalam tanganku untuk diserahkan
padanya. ―Aku akan mengembalikan satu dirham lagi saat aku sudah besar.‖
Imam itu terlihat terkejut saat aku memaksakan sekeping dirham di tangannya.
―Baiklah,‖ kata imam itu membawaku masuk melalui gerbang setelah membayar
dua dirham pada Rabbi penjaga. Imam itu tidak membayar bea masuknya.
Melewati tembok itu, aku dibawa ke sebuah lapangan luas. Di tengah-tengah
lapangan itu terlihat sebuah altar tinggi yang tersusun dari batu.
―Apa itu?‖ tanyaku tidak sadar.
―Itu adalah altar pengorbanan. Di sana kurban akan dibakar,‖ kata imam di
sampingku. Di samping kanan altar pengorbanan itu adalah tempat untuk
38
menyembelih kurban.‖ Aku melihat ke arah yang ditunjuk dan tidak
menyukainya. Karena tempat itu terlihat bercak darah.
Lebih dari semua itu aku memandang melewati altar pengorbanan dan
menemukan sebuah pintu yang sangat besar. Dengan dua buah tiang emas yang
berdiri menyilaukan. Semuanya terbuat dari emas dan aku melihat dengan mulut
terbuka karena takjub. Tinggi bangunan itu mencapai 45 meter10.
―Itulah Bait Allah,‖ kata imam tersebut.
Melihat bangunan itu dan pintunya yang terbuka, aku berusaha mencari patung
Tuhan dan tidak menemukannya. Aku memberanikan diri bertanya, ―Di mana
Tuhan?‖
―Di dalam sana,‖ kata Imam itu menunjukkan ke arah bagian dalam melalui
pintu. ―Kecuali kamu menjadi seorang imam, tidak ada yang boleh memasukinya.
Ini adalah bagian terjauh yang dapat dilewati oleh orang awam.‖
Aku segera menjadi kecewa dan mencoba melihat melewati pintu itu, tapi tidak
berhasil menemukan bayangan apa pun. ―Apakah aku tidak dapat melihat Tuhan
dari sini?‖
Imam itu mulai merasa penasaran dengan pertanyaanku dan bertanya, ―kamu
ingin melihat-Nya seperti apa?‖
―Patung,‖ jawabku cepat. ―Dewa Jupiter memiliki patungnya. Dewa Mars juga.
Aku ingin melihat patung Tuhan. Kata ayahku, Tuhan itu dibawa dari sejak Nabi
10
45 meter adalah kurang lebih setinggi bangunan berlantai 12.
39
Musa keluar dari Mesir dan diangkat dalam kemah suci. Kemudian diletakkan di
dalam Bait Allah pertama buatan Salomo dan ini yang kedua.‖
Imam itu tersenyum, ―Nak. Di dalam Bait Allah itu tidak ada patung atau bentuk
apa pun yang menyerupai Tuhan. Cuma ada sebuah ruangan kosong yang
bernama Ruang Maha Suci, tempat tinggal Allah.‖
Aku jelas kecewa, ―Semua dewa-dewa punya patungnya.‖
―Tuhan bukanlah dewa,‖ kata imam itu.
―Kalau Tuhan bukan dewa, siapakah Tuhan.‖
―Tuhan adalah Pencipta Semesta dan segala isinya. Dia-lah yang menciptakan
para dewa.‖
Tubuhku mendadak bergetar dan bulu kudukku merinding. Aku melihat ke arah
Bait Allah dan suaraku terdengar lirih, ―Diakah Tuhan yang menciptakan para
dewa?‖
―Benar,‖ kata imam tersebut.
―Lebih besar dari Dewa Jupiter yang menjadi raja para dewa? Dan lebih gagah
dari Dewa Mars?‖
Imam itu tersenyum, ―Dia-lah pencipta mereka. Dia Yang Maha Kuasa dan Maha
Agung.‖
Saat itu jantungku berdebar keras. Aku merasakan sesuatu yang luar biasa
bergetar dalam seluruh diriku. Aku merasa menemukan sesuatu yang sangat luar
40
biasa. Sesuatu yang bisa kuagung-agungkan dan membuat teman-teman Romawi
yang memuja dewa-dewa mereka merasa cemburu. Aku menemukan seorang
dewa. Bukan, tapi Maha Dewa. Juga bukan, aku menemukan Pencipta Segalagalanya. Mataku berbinar-binar, ―Aku akan memujanya,‖ kataku tidak sadar.
―Aku akan menjadi pengikutnya hingga akhir hayatku dan mengorbankan jiwa
ragaku untuk mengikuti Tuhan. Hingga darahku bercucuran di atas tanah dan
membuktikan bahwa aku adalah milik-Nya.‖
Ayahku sering mengatakan kata-kata itu saat memuja Dewa Mars dan hendak
pergi berperang. Aku merasa begitu bahagia.
Imam itu menatap pada Bait Allah dan berbisik lirih, ―Menjadi milik-Nya...‖ Air
mata terlihat mengalir di sudut matanya.
―Menjadi milik-Nya,‖ tambahku dengan semangat.
―Saul,‖ panggil ayah angkatku mendadak saat melihatku. Aku menelan ludah
ketakutan. Aku seharusnya keluar sebelum ayahku melihatku. ―Apa yang kamu
lakukan di sini?‖ tanyanya dengan wajah tidak senang.
Aku hanya bisa diam.
―Aku membawanya masuk,‖ kata imam itu pada ayah angkatku. ―Anakmu
sungguh luar biasa. Apakah kamu mengajarinya Kitab Taurat?‖
―Tentu saja,‖ kata ayahku tampak hormat pada imam. Dia memang selalu hormat
pada rabbi dan imam Yahudi. ―Setiap hari aku menyuruhnya menghafal Kitab
Taurat. Tahun ini dia sudah bisa menghafal kelima Kitab Taurat pertama.‖
41
―Anak yang menggagumkan,‖ kata imam itu.
―Saul, coba lafalkan kitab pertama,‖ kata ayah angkat yang bersemangat
menunjukkan hasil kerja kerasnya menerpa diriku. Dan dengan terpaksa, aku
melafalkan ayat-ayat kitab itu dalam bahasa Ibrani.
Melafal sampai separuh, imam itu menghentikanku dan melihat pada ayah
angkatku. ―Aku melihatnya fasih berbicara dalam bahasa Ibrani. Aku yakin di
dapat membaca tulisan Ibrani dan menghafal isi Taurat.‖
―Tentu saja,‖ kata ayahku bangga, ―seorang Ibrani baru dapat menjadi seorang
Ibrani sejati jika sudah berbicara, membaca dan menghafal Kitab Taurat.‖
Imam itu tersenyum dan berkata, ―Jika anakmu suatu saat nanti ingin
mempelajari hukum Taurat lebih dalam, kamu bisa mengirimnya padaku.‖
Aku tidak tahu apakah ayahku ingin mengirimku untuk mempelajarinya? Karena
tentu aku ingin belajar lebih banyak tentang Tuhan. Tapi, aku tidak melihat reaksi
apa pun dari ayah angkatku.
―Aku masih memiliki beberapa anak-anak lainnya yang lebih dewasa dan mereka
jauh lebih pintar darinya.‖
Imam itu tersenyum dan melihatku, ―Aku merasa ada sebuah takdir dari Tuhan
yang menemukanku dengan dirinya. Namaku Gamaliel, kita akan bertemu lagi
jika Tuhan menghendaki.‖
42
Aku tersenyum pada wajah ramah imam itu dan melihatnya pergi meninggalkan
kami.
Ayah angkatku terdiam lama tidak bergerak hingga akhirnya ia berkata dengan
nada gemetar dan wajahnya terlihat raut tidak percaya, ―Dia Rabbi Gamaliel, ahli
hukum Taurat paling terkenal dari orang Farisi. Salah seorang imam besar dalam
musyawarah orang Yahudi yang paling penting bernama Sanhedrin. Mereka
adalah orang-orang yang untuk memutuskan hukum bagi semua bangsa Yahudi.‖
Nah, sejak saat itu, aku tidak membenci orang Farisi. Aku malah menyukai dan
mengidolakan mereka. Karena meraka adalah para pejuang Tuhan. Aku akan
menjadi yang terdepan di antara para orang Farisi.
43
BAB 3
KITAB TAURAT
Sepulangnya dari Yerusalem, duniaku sedikit berubah. Ayah angkatku menjadi
orang Farisi dan hanya butuh satu jam setelah kakinya menginjak Tarsus, semua
orang di seluruh penjuru Tarsus sudah mengetahuinya. Bukan karena dia tenar,
tapi karena dia langsung pergi ke pasar paling ramai untuk memberitahu semua
orang dan kemudian karena merasa belum cukup, ia langsung berjalan keliling
kota.
Dan aku? Dia sudah merencanakanku untuk menjadi orang Farisi berikutnya. Ia
berjanji akan mengirimkanku ke Yerusalem saat umurku cukup untuk belajar di
sana. Tidak lupa, ayah angkatku langsung menyekolahkanku ke Sinagoga
setempat untuk mendapatkan pendidikan Kitab Ibrani yang sebenarnya. Meski ia
sendiri sudah mengajarkanku Kitab Taurat selama bertahun-tahun. Ah, aku lupa
menceritakan beberapa hal penting.
Sinagoga adalah tempat berkumpul para Yahudi untuk mempelajari Kitab Ibrani,
memuji Allah, membahas masalah keagamaan dan melakukan perayaan hari-hari
penting ataupun upacara kurban. Awalnya sinagoga sebagai tempat berkumpul
orang-orang Ibrani sudah dimulai sejak lama, sekitar zaman Nabi Musa. Sekitar
44
seminggu sekali, Nabi Musa mengajarkan Kitab Taurat pada mereka yang mau
mendengarkan.
Namun, sejak hancurnya Bait Allah pertama yang menjadi tempat beribadah
kaum Yahudi dan memasuki zaman pembuangan, sinagoga yang semula menjadi
tempat belajar, bertambah fungsi menjadi tempat peribadatan mereka. Hingga
kini sinagoga tetap menjadi tempat beribadah dan pendidikan.
Aku baru menyadari jika orang-orang Farisi adalah orang-orang yang membantu
menafsirkan Taurat di sinagoga-sinagoga awal. Kebanyakan mereka menjadi
rabbi atau guru. Itu membuat ayah angkatku yang sudah menjadi orang Farisi,
mengangkat dirinya sendiri menjadi rabbi setempat. Dan Rabbi sinagoga Tarsus
menganggapnya sebagai tenaga bantuan yang menyenangkan untuk mengajari
anak-anak Yahudi di Tarsus.
Kitab Ibrani atau kitab yang digunakan seluruh kaum Yahudi terdiri dari tiga
kelompok. Yang pertama adalah Kitab Taurat. Menurutku ini adalah kitab maha
sakti yang tiada banding. Atau hanya akan menjadi kitab biasa tergantung dari
mereka yang memahaminya.
Kitab Taurat dikatakan diterima langsung oleh Nabi Musa dari Allah di atas
Gunung Sinnai, dalam bentuk lisan dan tulisan. Taurat lisan disampaikan melalui
percakapan dan diturunkan dari generasi ke generasi. 11
11
Mulai dari tahun 70M, Taurat lisan mulai dicatat dan menjadi buku yang bernama TALMUD
dan MIDRAS berisi pembahasan dan hukum-hukum oleh para Rabbi dan Imam.
45
Dan lainnya adalah Kitab Taurat tertulis. Kata rabbi dan ayah angkatku, Nabi
Musa menuliskan langsung kitab itu dari suara Tuhan. Itu terjadi antara tahun
1.450 SM – 1.400 SM, tidak ada yang tahu kapan tepatnya. Namun, sejak Nabi
Musa menulis Kitab Taurat yang berisi lima kitab yaitu Kejadian, Keluaran,
Imamat, Bilangan dan Ulangan dalam tulisan Ibrani. Para imam besar mencatat
dan menyalin Kitab Taurat dalam bahasa Ibrani itu tanpa meluputkan satu titik
dan koma pun. Artinya semua tulisan itu dicatat sebagai mana aslinya tanpa ada
kekurangan satu tanda baca pun.
Ada sebagian kecil kaum Yahudi yang meyakini jika dalam Kitab Taurat itu ada
rahasia besar semesta dan dengan cara baca yang tepat, dapat membuat seseorang
itu menjadi sakti dan membuat mukjizat. Oleh karenanya sebuah tanda baca yang
kelihatan tidak penting pun harus dicatat. Orang-orang ini percaya Nabi Musa
membelah lautan dengan kesaktian itu. Dan kesaktiannya diturunkan pada orangorang yang mampu membacanya dengan izin dari Tuhan. Mereka menyebutnya
Sepiroth atau pohon kehidupan dengan diagram rumit.
Bukankah menurutmu itu adalah kitab maha sakti yang sudah bertahan seribu
tahun lewat dan tidak berubah sejak Tuhan memberikannya pada Nabi Musa?
Meski, belum pernah ada seorang pun dalam seribu tahun ini yang berhasil
memecahkannya. Mungkin itu hanya dongeng dari orang-orang yang mimpinya
ketinggian.
Sebagian orang memercayai jika pada Kitab Taurat pertama, yaitu Kitab
Kejadian yang mencatat tentang penciptaan langit dan bumi dan segala isinya,
46
adalah sebuah rancangan nyata dan langsung dari Tuhan sebelum bumi dan
segala isinya benar-benar diciptakan secara langsung. Aku tidak mau
memusingkan hal itu, seperti seorang filsuf yang pernah bertanya. ‗Apakah telur
duluan atau ayam duluan.‘ Sebuah pertanyaan yang tidak ada jawabannya,
mendebatnya hanya membuat emosi. Lebih baik melupakannya.
Kembali lagi, Kitab Ibrani terdiri dari Kitab Taurat yang dibagi menjadi lima
bagian dan merupakan tulisan Nabi Musa. Kitab pertama adalah Kitab Kejadian,
bagian awal hingga pertengahan kitab adalah tentang penciptaan langit dan bumi,
bagian pertengahan hingga akhir Kitab Kejadian adalah tentang sejarah nenek
moyang Bangsa Ibrani, yaitu Nabi Abraham. Aku menyukai kitab ini karena
katanya Tuhan yang berbicara sendiri. Dari sinilah muncul istilah kata ‗Ibrani‘
yang berarti ‗seberang‘. Ditujukan pada Abraham yang menyebrang dari
wilayahnya ke Tanah Kanaan. Semua keturunan Abraham berikutnya disebut
sebagai orang Ibrani. Diperkirakan itu terjadi pada tahun 2.500 SM – 2.000 SM
di mana Abraham memiliki anak bernama Ishak, dan Ishak memiliki anak
bernama Yakub. Anak dari Yakub bernama Yusuf, anak yang dijual saudaranya
ke Mesir dari Tanah Kanaan.
Pada akhirnya Yusuf yang merupakan seorang budak, menjadi orang penting
yang setara Raja Firaun di Mesir. Saat bencana kelaparan terjadi di Tanah
Kanaan. Dengan kekuasannya, pada tahun 1.950 SM ia mengundang semua
orang Ibrani keturunan Abraham untuk tinggal di Mesir dan mengosongkan
Tanah Kanaan. Begitulah Orang Ibrani tinggal di Mesir dan beranak pianak
47
selama 511 tahun hingga Nabi Musa membawa mereka semua keluar dari Mesir
untuk kembali ke Tanah Kanaan.
Jika ingin menarik garis keturunan Nabi Abraham ke atas sampai Adam, maka itu
adalah Adam, Set, Enos, Kenan, Mahalaleel, Yared, Henokh, Metusalah,
Lamekh, Nuh, Sem dan Abraham. 12
Kitab kedua adalah Kitab Keluaran, berisi catatan sejarah bagaimana Nabi Musa
dipilih Tuhan dan caranya mengeluarkan orang Ibrani dari Mesir. Di dalamnya
juga mencatat hal-hal yang terjadi saat mereka keluar dari Mesir menuju ke
Kanaan dan ditambahkan peraturan-peraturan hidup bermasyarakat serta
menyembah Tuhan. Bagian ini, mengikuti pola berpikir Romawiku, dapat
kukatakan sebagai catatan sejarah dan hukum yang mengatur sebuah bangsa
berjumlah 2 juta pada saat itu. Ditambahkan cara beribadah pada Tuhan termasuk
cara pembuatan kemah suci.
Kitab ketiga adalah Kitab Imamat. Aku tidak menguap. Ini adalah kitab yang
menurutku sedikit membosankan karena berisi semua hukum dan tata cara
beribadah untuk para imam yang saat itu disebut kaum Lewi. Kitab ini berguna
agar manusia tetap hidup dan beribadah pada Tuhan yang Maha Suci.
Kitab keempat adalah Kitab Bilangan. Seperti namanya, ini adalah kitab yang
berisi sensus penduduk. Menghitung jumlah jiwa Bangsa Ibrani saat itu.
12
Memakai perhitungan Kitab Kejadian, maka Adam hidup pada sekitar tahun 10.000 SM- 5.000
SM. Menurut ilmuan inggris melalui perhitungan dan mitokondria dari Hawa dan kromosom Y
dari Adam. Maka Adam dan Hawa hidup sekitar 207.000 SM. Meski, ada yang mengatakan Adam
hidup pada 336.000 SM jauh lebih dulu dari Hawa ( University of Arizona ).
48
Kitab kelima adalah Kitab Ulangan. Berisi catatan ulang khotbah Nabi Musa
selama perjalanan panjang Bangsa Ibrani keluar dari Mesir dan sebelum
mencapai Tanah Kanaan.
Lihat, aku berusaha menyingkatkan semuanya. Aku berusaha dengan baik agar
tidak tampak membosankan.
Kitab Ibrani kelompok kedua setelah Taurat adalah kelompok Nabi-nabi, berisi
kitab-kitab yang ditulis oleh para nabi-nabi dari zaman setelah kematian Musa
hingga pembangunan Bait Allah kedua. Semuanya kitab sejarah menurutku.
Kitab Nabi-Nabi ini juga dibagi menjadi dua, Kitab Nabi-Nabi Awal dan Kitab
Nabi-Nabi Akhir.
Yang pertama dari kitab para nabi-nabi awal adalah Kitab Yosua, tentang sejarah
pemimpin yang menggantikan Musa setelah kematiannya dan menyerang kota
Kanaan. Ditulis sekitar 1.400 SM- 1.366 SM, oleh Yosua dan anaknya setelah
kematiannya
Yang kedua dari kitab para nabi-nabi awal adalah Kitab Hakim-Hakim. Kitab ini
mencatat sejarah Bangsa Ibrani dari tahun 1.367 SM - 1.067 SM. Tidak ada yang
tahu kapan tepatnya kitab ini ditulis tapi kitab ini mencatat masa sejak kematian
Yosua dan sebelum kedatangan Nabi Samuel. Hakim-hakim di sini lebih tepatnya
disebut sebagai pemimpin militer dalam perang. Ada sebanyak 12 hakim yang
diutus oleh Tuhan selama masa 300 tahun itu. Enam hakim besar seperti Otniel,
Ehud, Debora, Gideon, Jefta dan Simson yang menghasilkan banyak
49
kemenangan. Enam hakim kecil seperti Samgar, Tola, Yair, Ebzan, Elon dan
Abdon.
Pola kehidupan Bangsa Ibrani di Tanah Kanaan saat itu sangat menarik untuk
diikuti. Dimulai dari Bangsa Ibrani menyembah Tuhan. Kemudian mereka
berpaling dari Tuhan menyembah dewa-dewa lain dan berbuat maksiat.
Selanjutnya Bangsa Ibrani diserang oleh bangsa lain dan menjadikan mereka
sebagai budak. Bangsa Ibrani yang menderita akhirnya kembali menangis
meminta pertolongan Tuhan. Tuhan kemudian mengutus seorang hakim pada
mereka. Hakim itu menyerang bangsa lain dan membebaskan Bangsa Ibrani dari
perbudakan. Bangsa Ibrani kembali pada Tuhan. Dan kemudian mereka
menyembah dewa lain lagi dan berbuat maksiat.
Itu terjadi berputar-putar hingga 12 kali. Mereka sungguh susah untuk belajar.
Tapi aku tidak menyalahkan mereka, karena saat itu—menurut sejarah—Bangsa
Ibrani cenderung menyembah dewa lain atau Dewa Kanaan, dengan alasan
praktik penyembahan dewa-dewa itu lebih menyenangkan. Dewa-dewa Kanaan
disembah dengan menggunakan gadis-gadis cantik yang menurut mereka bebas
untuk disetubuhi dalam beribadah. Aku masih kecil dan tidak tahu apa
maksudnya dan apa menariknya, tapi ayah angkatku dan rabbi menceritakannya
seperti itu padaku. Aku tidak mengerti mengapa para-pria selalu lemah pada
gadis-gadis cantik. Ibuku juga selalu mengatakan hal itu saat mengumpat pada
ayah.
50
Berbicara soal wanita, Deborah, seorang hakim utusan Tuhan, adalah wanita
tangguh yang memimpin perang Bangsa Ibrani. Dia sudah menikah, punya anak
dan masih berperang di garis depan. Ada yang mengatakannya sebagai nabi bagi
Bangsa Ibrani dan ada yang tidak. Tapi, pastinya ia memimpin mereka. Dan aku
masih tidak mengerti, mengapa mereka masih memisahkan wanita di bagian
belakang saat di dalam Bait Allah dan pemujaan. Jika dihadapan Tuhan, wanita
itu juga hebat. Bahkan sudah terbukti lebih hebat daripada para pria. Jadi,
mengapa saat ini, semua imam dan rabbi adalah pria?13
Kitab ketiga dari kelompok nabi-nabi awal adalah Kitab Samuel. Kitab ini ditulis
pada tahun 1.067 SM – 1.007 SM bercerita tentang Nabi Samuel yang diutus
Tuhan ke Bangsa Ibrani dan mereka meminta seorang raja. Bangsa Ibrani
menuduh jika mereka menjadi budak terus menerus karena tidak ada seorang raja
di antara mereka, tanpa mau menyadari kesalahan mereka sendiri yang
meninggalkan Tuhan. Sehingga mereka berhenti meminta hakim dan meminta
raja. Tuhan mendengarkan mereka dan menjadikan Raja Saul sebagai raja orang
Ibrani. Awalnya Saul merupakan raja yang baik. Tapi, dia berubah dan tidak
menaati Tuhan lagi. Sehingga Tuhan memilih Daud sebagai penggantinya, Raja
Saul malah memburu dan ingin membunuh Daud. Akhir kata, Raja Saul putus asa
dan akhirnya bunuh diri. Maka, naiklah Raja Daud.
Kitab keempat dari nabi-nabi awal adalah Kitab Raja-Raja. Kitab ini ditulis
sekitar tahun 967 SM. Tentang kematian Raja Daud, naiknya Raja Salomo yang
terkenal dengan kekayaan dan juga memiliki seribu orang istri. Dialah raja yang
13
Rabbi wanita pertama adalah Rabbi Regina Jonas, diangkat di Jerman pada tahun 1935.
51
membangun Bait Allah pertama. Pada saat kematiannya, Bangsa Ibrani pecah
menjadi dua, Kerajaan Utara dan Kerajaan Selatan.
Kerajaan Selatan yang dipimpin oleh Raja Rehabeam, putra Raja Salomo, diberi
nama Kerajaan Yehuda, ibu kotanya adalah Yerusalem. Kerajaan itu dihuni oleh
dua suku yaitu suku Yehuda dan suku Benyamin. Dari sanalah muncul sebutan
untuk orang Yahudi dari kata Yehuda. Mereka berhenti memakai sebutan orang
Ibrani.
Sedangkan Kerajaan Utara diberi nama Kerajaan Israel yang dipimpin oleh Raja
Yerobeam dengan ibu kota Samaria dan diikuti dengan 10 suku orang Ibrani,
sembilan di antaranya yaitu suku Zebulun, Isakhar, Asyer, Naftali, Dan,
Manasye, Efraim, Ruben dan Gad.
Kerajaan Israel - Samaria atau kerajaan utara berlangsung dari tahun 931 SM –
720 SM. Mereka berkuasa selama 211 tahun. Kerajaan itu dipimpin oleh 19 rajaraja—dari yang berkuasa 30 tahun hingga cuma satu bulan—yaitu Yerobeam,
Nadab, Baesa, Ela, Zimri, Omri, Ahab, Ahazia, Yoram, Yehu, Yoahas, Yoas,
Yerobeam II, Zakharia, Salum, Menahem, Pekahya, Pekah dan Hosea.
Pada tahun 720 SM, Kerajaan Israel itu jatuh ke tangan Kekaisaran Asyur. Orang
Ibrani yang ada di Kerajaan Israel dikatakan dibuang, lari ke Kerajaan Yehuda
atau menghilang. Kejadian itu dinamakan ‗sepuluh suku yang hilang‘ karena
orang Ibrani dari kerajaan itu tidak lagi diketahui keberadaannya. Tempat itu
berganti nama dengan Samaria.
52
Kerajaan Yehuda berdiri dari tahun 931 SM – 586 SM dengan 20 raja-rajanya
adalah Rehabeam, Abia, Asa, Yosafat, Yoram, Ahazia, Atalya, Yoas, Amazia,
Uzia, Yotam, Ahas, Hizikia, Manasye, Amon, Yosia, Yoahas, Yoyakim,
Yoyakhin dan Zedekia. Kerajaan ini berdiri selama 344 tahun. Hingga pada tahun
586
SM,
Kerajaan
Babilonia
menyerang
Kerajaan
Yehuda
dan
menghancurkannya. Saat itu Bait Allah dihancurkan bersama kota Yerusalem dan
orang Yehuda yang dinamakan orang Yahudi dijadikan budak dan dibuang.
Begitulah akhir Kitab Raja-Raja yang merupakan kitab akhir dari Nabi-Nabi
awal.
Adapun kitab-kitab yang termasuk dalam kitab nabi-nabi akhir adalah kitab yang
dituliskan oleh nabi-nabi selama pemerintahan kerajaan Yehuda hingga
kehancurannya dan pembuangan oleh Kerajaan Babilonia. Kitab-kitab itu adalah
Kitab Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan 12 kitab dari nabi-nabi kecil seperti
Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai,
Zakharia dan Maleakhi.
Demikianlah kelompok Kitab Nabi-Nabi yang diurutkan kedua setelah Kitab
Taurat.
Pada kelompok ketiga terdapat kelompok kitab-kitab atau tulisan. Kelompok ini
dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama bernama kitab puisi yang berisi Kitab
Mazmur, Kitab Amsal dan Kitab Ayub.
53
Kitab Mazmur berisi kumpulan mazmur, nyanyian dan doa yang biasa dipakai
dalam ibadah. Merupakan gubahan dari Raja Daud dan para pujangga dari zaman
Musa hingga pembuangan ke Babel yang memiliki sejarah 900 tahun.
Kitab Amsal berisi kumpulan nasihat-nasihat bagi orang muda yang
kemungkinan besar ditulis oleh Raja Salomo.
Kitab Ayub berisi kisah tentang kehidupan seorang yang bernama Ayub. Diduga
ditulis antara tahun 700 SM- 400 SM.
Bagian kedua bernama Lima Gulungan. Kitab itu terdiri dari lima buah yaitu,
Kitab Kidung Agung yang berisi syair-syair cinta, Kitab Rut yang bercerita
tentang seorang janda setia, Kitab Ratapan yang berisi ratapan dan kesedihan saat
Yerusalem jatuh ke tangan orang Babel dari Babilonia, Kitab Pengkhotbah
merupakan isi dari kumpulan renungan dan pikiran Raja Daud, Raja Salomo dan
para abdi bijaknya, yang terakhir adalah Kitab Ester yang bercerita tentang istri
Raja Ahasyweros dan ratu baru bernama Ester anak Abihail yang menyelamatkan
orang Yahudi yang tinggal di Persia sekitar 482 SM - 473 SM.
Kelompok ketiga adalah kitab-kitab sejarah lainnya yang berisi tiga buah kitab.
Kitab pertama adalah Kitab Daniel yang bercerita tentang kisah orang-orang
Yehuda yang dibuang ke Babel. Di sana Daniel yang pernah dijebloskan ke
kandang singa, menuliskan tentang kemampuannya melihat masa depan dan
menafsirkan mimpi serta tanda-tanda illahi.
54
Kitab kedua adalah Kitab Ezra yang mencatat kisah kehidupan orang Yehuda saat
dipimpin oleh Imam Ezra. Imam itu memimpin rombongan orang-orang Yehuda
yang dibuang ke Babilonia untuk kembali ke Yerusalem. Kembalinya orangorang Yehuda adalah atas perintah Raja Koresh yang mengalahkan Bangsa Babel
dan memerintahkan agar Bait Allah dibangun kembali. Kitab ini juga mencatat
saat-saat orang Yehuda atau berikutnya disebut Yahudi mengembalikan tatanan
kehidupan mereka dibidang sosial dan kebudayaan.
Kitab ketiga dan kitab terakhir dari seluruh Kitab Ibrani adalah Kitab Tawarikh.
Kitab itu ditulis oleh Imam Ezra dan kelompok Lewi yang menjadi imam sekitar
tahun 400 SM. Kitab ini berisi pengulangan cerita dari Kerajaan Bangsa Ibrani
pimpinan Daud hingga enam generasi orang Yehuda di pembuangan dan juga
berisi cara beribadah di dalam Bait Allah.
Begitulah akhir dari Kitab Ibrani. Sungguh aku sudah membaca Kitab Ibrani
berkali-kali dan aku menemukannya persis seperti buku sejarah. Mungkin inilah
yang dikatakan, manusia berpedoman dari sejarah untuk kehidupan masa depan
mereka.
55
BAB 4
SEKOLAH
Tahun 17 M
Waktu berlalu dengan cepat. Aku sedang berada di tenda kerja Simoen di
belakang rumah saat melihat seorang prajurit Roma dengan pakaian prajurit
lengkapnya memasuki rumah dengan terburu-buru. Tak lama kemudian, dengan
sama terburu-burunya, ibuku lari ke belakang rumah.
―Saul, Saul, cepat kemari kita harus pergi,‖ teriak ibuku dengan wajah gembira.
―Sekarang?‖ tanyaku melihat jahitan tendaku yang hampir selesai.
―Sekarang,‖ sahut ibuku dengan tegas. Aku melemparkan jarum besar yang
menjahit tenda dan pergi. Aku tahu ayah angkatku tidak akan senang. Ia selalu
marah jika ada orang yang meninggalkan pekerjaan dalam keadaan setengah jadi.
Biar ibuku yang menanganinya nanti.
Ibuku segera menggenggam tanganku dan mengikuti seorang prajurit Roma. Di
depan rumah, terlihat kereta kuda yang sudah menunggu dan kami segera naik ke
atasnya. Ini pertama kalinya aku menaiki kereta kuda untuk penumpang yang
kayu-kayunya diukir dan diwarnai dengan indah di Tarsus, karena setiap orang
dapat menghitung berapa buah kereta kuda seperti ini di Tarsus.
56
Cuma satu dan itu adalah milik pejabat tertinggi kota Tarsus.
Kereta kuda itu membawa kami memasuki wilayah kediaman pejabat kota Tarsus
yang sangat besar dan dijaga beberapa orang prajurit. Kereta kuda berhenti di
sebuah taman dan prajurit itu mengantar kami menembus taman menuju pada
sebuah rumah kecil yang sangat indah di dalam taman. Seorang gadis muda yang
mengenakan pakaian pelayan muncul dari dalam rumah dan memberi hormat
pada ibuku.
―Budak ini akan melayani keperluan kalian,‖ kata prajurit itu memberi hormat
dan pergi. Aku melirik pada gadis itu dan tersenyum, gadis itu memiliki bintik di
wajah dan hidungnya mancung. Cantik menurutku.
―Siapa namamu?‖ tanyaku pada gadis itu.
―Ella,‖ balas gadis itu.
―Hei Saul!‖ terdengar suara teriakan yang sangat kukenal. Aku segera berbalik
dan melihat ayahku sedang berdiri di tengah taman dengan seorang pria yang
berpakaian putih panjang layaknya para pejabat tinggi Roma. Wajah ayahku
terlihat gembira.
―Ayah,‖ teriakku, sambil berlari cepat menghambur ke dalam pelukannya.
Ayahku tertawa dan mengelus kepalaku, ―Kamu tambah besar sekarang.‖
***
57
Malam setelah makan malam bersama pejabat Tarsus dan keluarganya, ayahku
duduk di dalam rumah yang disediakan pejabat itu pada kami. Gadis bernama
Ella dan beberapa budak laki-laki yang telah menyalakan lampu-lampu minyak,
duduk di sudut luar rumah menunggu perintah.
―Pergilah tidur,‖ kata ayahku pada mereka. ―Kami tidak kekurangan apa pun lagi.
Katakan pada majikan kalian jika pelayanannya sungguh memuaskan.‖ Maka
pergilah para budak-budak itu. Ibuku sendiri masih sibuk berbincang-bincang
dengan istri pejabat di dekat taman. Mereka terlihat akrab dan seperti saudara.
―Apa yang kamu lakukan selama ayah tidak ada?‖ tanya ayahku memperlihatkan
senyumnya..
―Aku akan menceritakannya setelah ayah menceritakan petualangan ayah,‖
kataku cepat. ―Aku melihat luka baru pada lengan ayah. Apa yang terjadi.‖
Ayah kembali menunjukkan senyumannya yang khas dengan hidung mancung
dan mata biru. Ia duduk bersandar pada kursi kayu yang berlapis bulu domba.
―Kamu ingat ayah dikirim dari Roma untuk menuju ke Mesir?‖
―Tidak,‖ kataku cepat. ―Ibu hanya mengatakan jika setelah bertugas dari Asia
Kecil, Ayah akan pergi ke tempat yang jauh.‖
―Sekarang kamu tahu,‖ jawab ayahku. ―Ayah ditugaskan untuk ke Mesir setahun
yang lalu.‖
―Apakah mereka menyeramkan? Apakah ayah bertemu dengan para raja Firaun?‖
58
―Tentu saja,‖ kata ayahku. ―Mereka menunjukkan pada kami piramid-piramid
mereka yang besar, binatang penjaganya yang bernama Sphinx.‖
―Kenapa ayah tidak membawa kami ke sana?‖ kataku bersemangat.
Ayahku menggelengkan kepalanya. ―Tempat itu yang tidak layak untuk kalian.
Masih banyak pemberntakan.‖
―Kenapa ayah harus ke sana?‖
―Apa kamu tidak belajar sejarah Roma di sini?‖ tanya ayahku bingung.
―Tidak,‖ jawbaku. ―Tapi aku mempelajari sejarah orang Ibrani.‖
Ayahku terlihat tidak senang dan melanjutkan, ―Republik Roma pimpinan Julius
Caesar berakhir setelah pada tanggal 16 Januari 27 SM, Senator Roma
memberikan gelar Augustus pada Octavian. Itu terjadi setelah Octavian
memenangkan perang Actium. Apa kamu masih ingat perang itu?‖
―Tentu saja,‖ kataku cepat. ―Saat itu 2 September 31 SM, terjadi perang terakhir
dari Octavian melawan Mark Anthony yang bergabung Cleopatra. Perang itu
dimenangkan oleh Octavian.‖
―Sejak saat itu, Octavian diberi gelar Augustus dan dimulailah kekaisaran
Roma.‖
Aku mengangguk.
59
―Pada zaman Republik Roma, wilayah kekuasaan Roma sangatlah besar, berpusat
dari Laut Tengah, kita menguasai berbagai benua sekelilingnya 14. Tapi, saat ini
seluruh wilayah sedang dalam keadaan kacau karena muncul pemberontakanpemberontakan. Sehingga sejak Kaisar Augustus naik, ia membuat program Pax
Romana yang berarti Damai bagai Roma. Kami menyebutnya Pax Augusta yang
berarti Damai oleh Kaisar Augustus. Kita para prajurit dikirim ke berbagai
wilayah Roma untuk membangun kota-kota, memberantas para pemberontak dan
membuat keamanan. Sudah tidak lagi melakukan ekspansi atau perluasan wilayah
berbesar-besaran.‖
―Jika keadaan ini terus berlanjut, dalam dua atau tiga tahun, kita akan pulang ke
Roma atau ayah akan memimpin di salah satu wilayah tergantung keputusan
Kaisar Tiberius Julius Caesar. Apakah kamu tahu siapa Kaisar Tiberius?‖ kata
ayahku menatapku.
―Tidak,‖ jawabku.
―Dia adalah Kaisar Roma kita sekarang, dia menduduki jabatannya sejak tahun
14 M atau 3 tahun lalu, putra dari Tiberius Claudius Nero dan Livia Drusilla.
Pada tahun 39 SM, Kaisara Augustus atau Octavian jatuh cinta pada Livia pada
pandangan pertama. Octavian yang saat itu masih menikah dengan Scribonia
menceraikan istrinya yang sedang hamil 9 bulan. Octavian juga mendesak
Tiberius Claudius Nero untuk menceraikan Livia dengan kekuatan militernya.
14
Benua Eropa, Afrika dan Asia pada saat ini.
60
Akhirnya Octavian menikahi Livia dengan Tiberius Caludius Nero menghadiri
pernikahan mereka.‖
―Livia menikah dengan Octavian selama 51 tahun dan sangat terkenal di Roma
sebagai teladan istri yang sempurna. Meski ia telah menjadi seorang ratu, ia
selalu melayani suaminya sendiri, menjahit pakaiannya dan pakaian suaminya
sendiri. Ke mana pun ia pergi, ia tidak mengenakan perhiasan.‖
―Ia seorang istri yang baik,‖ kataku.
Ayahku tersenyum, ―Saat Augustus ingin mencari pewarisnya, di sanalah Livia
bertindak. Ia dan Augutus tidak memiliki anak sehingga ia membuat Tiberius.
anak kandungnya dan anak tiri Augustus, untuk menikahi Julia, putri kandung
Agustus dari Scribonia. Dia melakukan semua cara untuk membunuh keluarga
Scribonia, saudara sepupu Augustus dan memastikan Tiberius naik menjadi
Kaisar hingga saat ini.‖
―Sangat mengerikan,‖ kataku terkejut.
―Itulah politik,‖ katanya dan kembali mengelus kepalaku. ―Sekarang katakan apa
yang kamu pelajari di sini.‖
Aku merasa senang mendengarkan jika tidak lama lagi ayah akan menetap. Aku
segera menceritakan semua yang aku alami dari Tarsus hingga Yerusalem. ―...
aku bertemu dengan Tuhan dan sekarang mempelajari Kitab Ibrani,‖ kataku
mengakhiri ceritaku.
61
Ayahku jelas terlihat kurang suka dengan ceritaku. ―Apakah kamu masih
mencintai Dewa Mars?‖
―Tentu saja,‖ jawabku. ―Tapi ini Tuhan yang menciptakan mereka.‖
―Dewa Tuhan?‖ tanya ayahku.
―Bukan, Tuhan bukan dewa, Dia yang menciptakan para dewa-dewa.‖
―Mereka membohongimu,‖ kata ayahku sambil tertawa. ―Di atas Dewa Mars,
sang dewa perang, cuma ada Dewa Jupiter dan Neptune.‖
Aku terdiam.
―Ayah juga mempelajari sejarah,‖ tambah ayahku. ―Bangsa Ibrani memuja Tuhan
itu sebagai dewa mereka. Tapi, mereka lebih banyak diperbudak dan dibuang.
Dewa mereka lemah. Lihatlah dewa kita yang berhasil mengalahkan Dewa
Matahari orang Mesir, dan dewa-dewa lainnya. Itu menunjukkan kekuatan dewa
kita yang paling besar dan hebat. Jika orang Yahudi itu memiliki dewa yang lebih
hebat, dan katamu Tuhan yang menciptakan semuanya. Mereka tidak akan kalah
dari orang Roma seperti kita.‖
Ayahku mencoba berlogika. ―Mereka hanya orang lemah yang dilindungi dewa
lemah dan mencoba membesar-besarkan dewa pujaan mereka.‖
Aku merasa kurang lebih apa yang dikatakan ayahku itu masuk akal. Jika Tuhan
memang yang paling besar, kenapa ia kalah dari Dewa Mars.
62
Ayahku mendesah. ―Ayah menyetujuimu untuk mempelajari kebudayaan mereka
dan apa yang mereka percayai. Ayah mungkin akan membutuhkan bantuanmu
untuk memahami mereka jika diberikan kekuasaan di wilayah orang Yahudi.
Tapi, jangan lupakan dewamu, kita adalah orang Roma. Kamu harus selalu
menggunakan logikamu.‖
***
Keesokan harinya, ayah membawaku ke sebuah sekolah filsafat di Tarsus yang
isinya adalah orang-orang Roma dan Yunani.
Ayahku menepuk bahuku dan berkata, ―Mulai sekarang, kamu belajarlah di
sekolah ini tentang Roma dan budayanya. Roma adalah bangsa paling maju dan
paling unggul. Sudah seharusnya kamu mendapatkan pendidikan terbaik. Sekolah
di Tarsus ini sudah berdiri beratus-ratus tahun dan melahirkan para pemikirpemikir terbaik di Laut Tengah. Belajarlah yang giat.‖
Sebulan kemudian, ayahku kembali ke wilayah Mesir dan kami kembali tinggal
di tempat ayah angkatku. Saat aku mengatakan pada Simoen jika aku juga belajar
di sekolah orang Roma di Tarsus, ia hanya mengatakan. ―Jangan lupakan
pelajaran Kitab Ibranimu, aku akan mendidikmu lebih keras.‖
Pada kenyataannya, ayah angkatku bukan mendidikku lebih keras tapi
memaksaku bekerja lebih keras. Tenda-tendanya kebanjiran pesanan.
***
Tahun 18 M
63
Aku berumur 13 tahun dan itu menjadi sesuatu yang luar biasa buatku dan ayah
angkatku. Sejujurnya lebih luar biasa ke Simoen daripada diriku. Dia sibuk
mempersiapkan diriku untuk ritual Bar Mitzvah.
Bar Mitzvah adalah ritual untuk anak-anak Yahudi yang mencapai usia 13 tahun
untuk pria dan 12 tahun untuk perempuan. Sehubungan dengan hukum yang
berlaku bagi orang Yahudi, mereka yang sudah mencapai usia itu dikatakan
sudah menanggung dosa mereka sendiri dan bertanggung jawab atas apa yang
mereka perbuat kepada Tuhan. Orang tua mereka tidak lagi menanggung dosa
mereka dan tidak disalahkan atas perbuatan anak mereka. Yang berarti jika anakanak belum mencapai usia itu, maka orang tua merekalah yang menanggung dosa
mereka.
Ritual itu cukup rumit dan aku hanya mengikuti apa yang ayahku perintahkan,
memakai topi dan kain yang bernama tallit dan tefillin, membaca Kitab Taurat
dalam bahasa Ibrani dan yang paling hebat adalah pada saat acara Yom Kippur.
Yom berarti hari dan Kippur berarti pengakuan. Yom Kippur adalah hari
pengakuan dosa yang lakukan bersamaan dengan Bar Mitzvah. Yom Kippur
adalah hari paling suci dalam setahun kalender Yahudi. Intinya adalah pengakuan
dosa dan pertobatan. Aku dipaksa ayah angkatku untuk berpuasa selama 25 jam,
membaca doa berturut-turut dan berdiam di sinagoga.
Tentu saja aku berhasil melewati semua itu dengan baik. Meski berpuasa selama
25 jam itu sungguh menyulitkan, tapi aku sungguh patut diberi penghargaan
64
karena sanggup melewatinya. Karena kecerdasanku menyelipkan makanan dan
minuman ke dalam pakaian dan memakannya dalam sinagoga tanpa ketahuan.
Aku memang bersalah pada hari itu, tapi karena hari itu adalah hari pengakuan
dosa dan pertobatan. Yang ayah angkatku katakan akan diampuni, maka aku
langsung mengaku setelah makan. Dan aku tidak berdosa.
Bukankah aku pintar.
Satu hal yang kusesali adalah pertobatan. Itu berarti aku tidak boleh melakukan
kesalahan dengan cara yang sama tahun depan. Aku harus memikirkan cara lain
untuk melewati puasa tahun depan dan mengganti lagi caranya di tahun
berikutnya.
***
Aku memasuki tahun kedua pada sekolah filsafatku di Tarsus. Tempat itu
mengajarkan tentang filsafat yang berasal dari Yunani dan aliran yang diajarkan
adalah filsafat aliran Stoik. Aliran ini adalah aliran filsafat paling terkenal di
seluruh Roma dan wilayah kekuasaannya.
Ajaran Stoik mengajari tiga hal besar yaitu logika, fisika dan etika. Hal yang
menarik dalam filsafat ini adalah mengenai etika dan cara berpikirnya terhadap
kehidupan, Tuhan dan alam. Inti dari ajaran ini yang berhasil kutangkap adalah
mengenai pengendalian diri.
Pengendalian diri dan memiliki logika dalam berpikir akan membuat seorang
manusia menjadi bijaksana dan tidak mudah terpengaruh hal-hal buruk. Dalam
65
hal ini semua emosi negatif adalah buruk, keinginan berlebihan adalah buruk.
Setiap manusia harus hidup sesuai dengan alam dan takdirnya.
Seorang manusia seharusnya bisa bahagia tanpa tergoyahkan oleh bagaimana pun
situasi yang dihadapinya. Miskin yang penting bahagia, melarat yang penting
bahagia, sakit yang penting bahagia, apa pun situasinya yang penting bahagia.
Manusia yang dapat mengendalikan pikiran dan logikanya akan tetap bahagia.
Aliran ini juga percaya segala sesuatu itu ada maksud dan tujuannya. Dapat
dikatakan takdir itu sudah ada. Manusia sejak dilahirkan sudah dikendalikan alam
dan Tuhan penciptanya. Tuhan sudah menentukan seseorang itu akan hidup
menghadapi segala sesuatu dan menjadi sesuatu. Sehingga aliran ini mengajarkan
agar manusia bersahabat dengan kehidupannya, meski seburuk apa pun hidupnya,
karena pasti ada rencana Sang Pencipta di dalamnya. Oleh karenanya manusia
harus dapat menerima apa pun yg diberikan dengan ikhlas dan pasrah dan tetap
bahagia.
Jika seorang menerima sebuah jabatan, maka orang itu harus melakukan yang
terbaik sesuai dengan posisinya. Seperti matahari dan awan yang melakukan
tugasnya sesuai dengan alam, maka manusia pada sebuah jabatan juga harus
melakukannya dengan sebaik-baiknya. Karena itu sudah menjadi takdirnya dan
jalannya untuk melayani kehidupan dari posisinya.
***
Tahun 19 M
66
Simoen membawaku ke Yerusalem. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami
menjual tenda, memberikan kurban dan dia bertemu dengan rekan Farisinya.
Aku, masih seperti biasa. Berteriak-teriak menjual tenda, memasuki Bait Allah
dan mengagumi setiap orang yang berdatangan ke Bait Allah ini. Orang-orang
yang berdatangan ke Bait Allah berasal dari berbagai wilayah dan bahkan dari
Roma atau wilayah Mesir yang sangat jauh.
Semua itu demi Tuhan. Mereka melakukan perjalanan jauh. Lupakan para
pedagangan yang ikut melakukan perjalanan jauh, mereka hanya datang untuk
mencari keuntungan.
Malam ini, setelah gerbang Bait Allah ditutup, aku tidur bersama saudarasaudaraku yang lain di luar tenda sambil memandang langit biru. Saat hari tidak
berawan mau pun hujan, kami lebih memilih untuk tidur di luar daripada di
dalam tenda.
Di dalam Bait Allah yang biasanya ramai dengan orang-orang yang berjualan dan
berteriak-teriak, kini terlihat sepi. Sepanjang mataku memandang, hanya ada
orang-orang yang tidur di bawah tembok, beberapa penjaga yang patroli,
beberapa obor api yang menyala dari atas tembok dan api unggun dari beberapa
kumpulan orang. Semuanya sarat dengan kesunyian.
Aku memandang pada langit berbintang dan tenggelam di dalamnya. Hari ini
terasa berbeda dengan hari-hari biasanya, maupun tahun-tahun sebelumnya.
67
Sebuah perasaan yang begitu kuat mendadak muncul dan menyentuh bagian
terdalam perasaanku. Aku merasa ingin tinggal di tempat ini lebih lama lagi.
Tak lama kemudian, Simoen kembali ke tempat kami. Ia selalu bergabung
dengan orang-orang Farisi dan membahas tentang Kitab Taurat hingga larut
malam. Wajahnya terlihat gembira, ia segera menyusup ke dalam tempat tidurnya
dari kulit dan langsung terlelap.
Aku sedang memikirkan apakah aku akan mengatakannya besok atau sekarang.
Sungguh, aku memiliki tabiat buruk. Jika aku sudah memutuskan sesuatu, maka
aku akan melakukannya. Dengan semua hasil dari keputusanku, baik atau buruk.
Untuk hal ini, aku sama sekali tidak ada kebimbangan lagi. Bait Allah ini seakanakan menyuruhku untuk tetap tinggal di sini. Meski aku harus melarikan diri jika
ayah angkatku tidak menyetujui keinginanku, aku akan tetap melaksanakannya.
Sesuatu yang lebih besar sedang menungguku. Aku bisa merasakannya hingga ke
seluruh tubuh dan ujung-ujung jariku, getaran takdir yang mengikatku.
Mungkin aku mulai gila.
Aku menutup mata dan tidur. Malam itu aku bermimpi tentang sesuatu yang
sudah lama kulupakan. Pada umur tujuh tahun, ayahku yang pulang dari kuli
Dewa Mars membawaku pergi ke sebuah bangunan di samping Dewa Mars. Aku
melihat banyak orang di sana dan ayahku menghadap pada seorang wanita tua
yang menyeramkan.
Mata kedua wanita itu putih yang menandakan dia buta.
68
Ayahku mendekatinya dan menanyakan sesuatu tentang keselamatan perang dan
perajurit mereka.
―Pergilah,‖ kata wanita tua. Suaranya serak dan ia mengatakan itu semua sambil
memandang langit. ―Dewa Mars memberikan restunya padamu. Dia akan
menerima persembahan kalian dari darah-darah pemuja dewa lain. Kalian akan
beroleh kemenangan.‖
Ayahku terlihat senang dengan berita itu dan aku ketakutan. Sesuatu dalam
wanita itu membuat seluruh bulu kudukku berdiri.
―Dia!!!‖ teriak wanita tua itu menunjuk ke arahku tiba-tiba dengan jari-jarinya
yang keriput. ―Dia akan menjadi seorang pembunuh yang kejam. Ribuan orang
akan mati ditangannya. Dia akan mati dan kemudian hidup kembali. Anak ini
akan menjadi penyambung antara langit dan bumi. Namanya akan menjadi besar
hingga ribuan tahun lamanya.‖
Aku terus ketakutan dan bersembunyi di belakang tubuh ayahku. Ayahku
mengatakan jika aku akan menjadi jendral yang terkenal. Setelah itu aku baru
menyadari, wanita itu adalah orang terhormat yang mampu berbicara dengan para
dewa-dewa. Dirinya sangat dipercaya oleh orang-orang Roma dan Yunani.
Banyak para pejabat, senator bahkan hingga raja yang menggunakan jasanya.
Bahkan jika mereka ingin menyerang negara lain, wanita tua itu akan dipanggil
untuk memberikan pendapatnya.
***
69
―Tidak bisa,‖ kata Simoen pagi-pagi sekali saat kami semua sedang sarapan. Aku
memberitahunya jika aku ingin tinggal di Bait Allah. Mereka yang ada di sini
mungkin membutuhkan pekerja atau apa saja.
―Saul, memang ada rencanaku untuk menyekolahkanmu di sini dan membuatmu
menjadi orang Farisi terkenal. Tapi, aku baru mengetahui jika biaya tahunannya
sungguh mahal. Kita tidak akan sanggup membayarnya.‖
―Aku tidak mengatakan ingin menjadi bagian dari mereka. Aku hanya ingin
tinggal di tempat ini,‖ kataku mencoba. ―Aku tidak peduli, aku mungkin bisa
membantu para pedagang berjualan untuk menghidupi diriku sendiri.‖
―Tidak,‖ kata Simoen berkeras.
―Baik,‖ jawabku. Aku tahu, ayah angkatku tidak akan menyetujuiku dengan
mudah. Jadi aku sudah menyusun cara lain. Sejak beberapa tahun lalu, aku selalu
mendapatkan sedikit uang dari kiriman ayahku dan juga penjualan tenda dari
ayah angkatku. Memang sebagian besar uangnya kusimpan di Tarsus. Tapi, aku
membawanya sedikit saat ini. Aku akan dapat bertahan hidup beberapa bulan.
Beberapa hari lagi, kami akan pulang. Saat itu aku akan pergi, Bukankah setelah
pria berumur 13 tahun, ia bebas menentukan jalan hidupnya sendiri?
Siang itu, saat aku sedang menjual tenda, seorang rabbi mendadak singgah di
tempat penjualan kami. Ia sendirian dan tidak bersama dengan para pengikutnya
seperti rabbi atau imam lain.
70
Ia tersenyum padaku, mungkin dia sudah lupa pada diriku tapi aku masih
mengingatnya dengan jelas. ―Rabbi yang terhormat menginginkan tenda?‖
tanyaku yang segera berdiri untuk membentangkan tenda-tenda yang bersusun
itu.
Rabbi itu menatap tenda yang digerai. ―Beberapa saudaraku akan melakukan
perjalanan panjang ke daerah-daerah jauh. Aku bermaksud menghadiahkan
mereka sebuah tenda yang bagus.‖
―Kami menjual tenda-ternda terbaik yang dibuat dari Mohair, bulu kambing
Angora yang terkenal. Tahan terhadap api, kotoran dan tidak mudah sobek.‖
Rabbi itu terlihat tertarik sehingga aku melanjutkan apa yang biasa ayahku
katakan.
―Setiap bulu-bulunya dirajut dengan cermat dan teliti oleh orang Farisi yang taat.
Setiap helainya berisi doa-doa keselamatan bagi yang memakainya diperjalanan
jauh dan memiliki berkat dari Yang Maha Kuasa.‖
Rabbi itu mendadak menatapku dengan tajam. Ia tidak lagi menatap pada tenda
yang kugerai. ―Apakah itu benar?‖ tanyanya.
―Apa?‖ tanyaku tidak mengerti.
―Berisi doa-doa keselamatan dan dijahit oleh orang Farisi?‖
Aku terdiam dan kehilangan kata-kata. Aku menatapnya dan tidak ingin
berbohong. Aku menyukai Rabbi ini.
71
―Tidak,‖ kataku dengan menyesal. ―Hanya kata-kata menjual yang dilebihlebihkan. Ayahku adalah orang Farisi, ia kadang ikut merajut, kebanyakan tidak.
Sedangkan doa-doa keselamatan, ...‖ Aku ingat, kami berlima merajut bulu-bulu
itu dan kebanyakan dari kami berbicara gosip dan apa saja selama merajutnya.
Aku mengeluarkan sebuah tenda dan mengatakan, ―Ini tenda yang dibuat oleh
anak seorang Farisi dan saat merajutnya, anak Farisi itu menghafalkan Kitab
Taurat. Tepat saat tenda ini selesai dibuat, dia sudah menghabiskan hafalan
sebuah Kitab Ibrani.‖
Rabbi itu terlihat tertarik dan bertanya, ―Dalam bahasa Yunani atau Ibrani?‖
―Tentu saja Ibrani,‖ kataku. ―Ayahku selalu berkata jika mereka yang membaca
Kitab Ibrani dalam bahasa Koine Yunani sama sekali belum membaca Kitab
Ibrani. Tapi, aku tidak setuju.‖
―Kenapa tidak?‖ tanya Rabbi itu tertarik.
―Menurut
sejarah,‖
kataku
dengan
keren
sambil
ingin
memamerkan
kepandaianku pada rabbi yang kuhormati ini. ―Sekitar tahun 250 SM, Raja Mesir
bernama Ptolemaios II Philadelphos yang berkuasa dari 285–247 SM.
Memerintahkan agar Kitab Ibrani diterjemahkan ke bahasa Yunani bergaya
Koine yang umum dipakai oleh orang-orang pada zaman itu. Saat itu, ada 70
orang imam Yahudi yang mengerjakannya dan karena itu Kitab Ibrani hasil
penerjemahan ke bahasa Yunani diberi nama Septuaginta yang berarti tujuh
puluh.‖
72
―Pada saat ini, jauh lebih sedikit lagi orang yang dapat berbahasa Ibrani sehingga
mereka menggunakan Kitab Ibrani Septuaginta. Aku merasa tidak setuju jika
mereka yang membaca Septuaginta tidak dianggap membaca Kitab Ibrani.
Karena bukankah isi dan pengertiannya sama. Kata-kata itu dapat menyampaikan
isi yang Tuhan ingin beritakan pada mereka dengan jelas.‖
Rabbi itu tersenyum dan merasa tertantang, ―Tapi, Tuhan menurunkan isi Kitab
Taurat dalam bahasa Ibrani, sudah sewajibnya orang-orang mendengarkannya
dalam bahasa Ibrani juga.‖
―Aku percaya,‖ kataku. ―Sebuah kata-kata dan bahasa tercipta untuk
menyampaikan isi atau sebuah pengertian. Kata-kata dan bahasa, tidak peduli
diartikan dalam berbagai bahasa, selama menuju pada sebuah pengertian yang
sama maka hal itu dapat diterima. Seperti penjualan dari tenda ini, bangsa-bangsa
lain menyebutnya Morton dalam bahasa latin, σκηνή dalam bahasa Yunani yang
dilafalkan skini,
dalam bahasa Ibrani dan lain sebagainya. Selama mereka
memahami tenda maka kata-kata hanyalah alat pengantar.‖
Rabbi itu kelihatan tertarik. ―Katakanlah jika pendapatmu benar mengenai isi dan
pemahamannya yang bisa disampaikan dalam berbagai bahasa. Tapi bagaimana
dengan sebuah nama Tuhan yang diterjemahkan? Kamu akan memanggil Tuhan
dengan berbagai nama hasil penerjemahan dan tentunya Tuhan tidak akan
menjawab selain dipanggil dengan Nama-Nya.‖
―Aku sudah memikirkan hal itu,‖ kataku kini yang lebih tertarik pada diskusi
daripada menjual. ―Orang dari berbagai bangsa datang ke tempat ini dan
73
menyebut Tuhan dalam berbagai bahasa, θεός dalam bahasa Yunani,
' dalam
bahas Ibrani dan banyak bahasa lainnya. Sedangkan dalam Kitab Ibrani, kita
menemukan nama Tuhan yang disebut Elohim, Adonai, dan tentu saja yang
dikatakan jika nama Tuhan sebenarnya ...‖ aku tidak menyebutkan kata YHWH
atau biasa dibaca Yahweh atau Jehova, karena nama itu terlarang bagi orang
Yahudi. Ada hukum yang mengatakan tidak boleh menyebutkan nama Tuhan
secara sembarangan. Sampai saat ini, nama itu hanya digunakan setahun sekali
oleh Imam paling besar Yahudi saat berada di hadapan ruang Maha Suci.
―Menurutku semua kata-kata itu bukan nama Tuhan sesungguhnya. Itu semua
hanyalah arti terjemahan universal yang dipakai semua orang untuk menyatakan
‗Sang Pencipta Semesta‘, ‗Sang Maha Agung‘ dan sebagainya. Sehingga nama
itu ada ribuan jumlahnya. Sedangkan nama Tuhan sebenarnya, tidak banyak yang
mengetahuinya.‖
―Bagaimana bisa demikian,‖ tanya rabbi.
―Aku merasa bahwa Tuhan hanya menurunkan nama-Nya yang sesungguhnya
pada orang-orang pilihannya seperti para Nabi dan orang yang berkenan
ditemuinya. Nabi Musa mengetahui nama Tuhan sebenarnya dan karena adanya
hukum yang melarang menyebutkan nama Tuhan secara sembarangan, maka
Nabi Musa tidak menurunkan nama Tuhan sesungguhnya pada orang-orang
sembarangan. Nabi Musa mungkin hanya menurunkannya pada para pemimpin
agar dapat memanggil Tuhan dan Yang Maha Pencipta itu berkenan hadir
dihadapannya.‖
74
Aku melanjutkan lagi, ―Tulisan YHWH pada Kitab Ibrani mungkin adalah
sebuah singkatan dari nama Tuhan sesungguhnya. Beberapa orang percaya jika
dapat menemukan nama Tuhan yang sebenarnya dan memanggilnya, akan terjadi
banyak hal seperti seluruh alam bergetar, langit terbelah dan tentu saja Tuhan
akan menjawab. Mereka yang menemukan nama-Nya akan dapat menggunakan
nama Tuhan untuk melakukan banyak mukjizat di dunia ini. Singkat kata, nama
Tuhan sudah disembunyikan sejak awal agar tidak dapat digunakan secara
sembarangan. Jadi, diterjemahkan dalam bahasa apa pun pengertiannya hanya
akan jatuh pada Sang Pencipta. Dan jelas Tuhan memahami itu.‖
Rabbi itu tertawa dengan keras, ―Hanya anak-anak yang dapat memikirkan
pendapat semacam itu. Kalian memang belum terbatasi oleh hukum dan
peraturan manapun juga.‖
Aku terkadang bertukar pendapat dengan ayah angkatku dan mengerti jika
seorang sudah mundur dari debat maka aku harus mengikutinya. ―Benar,‖ kataku.
―Ini hanya sebuah pemikiran sederhana yang tentu jauh dari pemikiran para rabbi
dan imam yang lebih mengetahui sebenarnya.‖
―Setiap pemikiran itu harus dihargai,‖ kata rabbi itu tersenyum dan melihat pada
tenda. ―Jadi anak muda, katakan tenda mana yang harus kubeli.‖
Aku menarik keluar sebuah tenda lain dan mengatakan, ―Ini adalah tenda yang
dirajut oleh pembuat tenda yang sudah bekerja selama 20 tahun, meski dia bukan
orang Farisi atau Yahudi taat. Tentu kualitasnya lebih bagus daripada tenda yang
75
dirajut oleh anak seorang Farisi yang baru membuatnya beberapa tahun dan
mengerjakannya sambil menghafalkan Kitab Ibrani.‖
―Sebuah tenda yang dibuat oleh pengrajin berpengalaman dan sebuah tenda yang
berisi hafalan Kitab Ibrani oleh pengrajin amatir,‖ kata Rabbi itu melihat kedua
tenda yang tergerai di hadapannya. ―Sungguh pilihan yang sulit. Sebuah tenda
yang bagus atau tenda yang berisi doa.‖
Aku hanya diam melihat rabbi itu.
―Begini saja,‖ kata rabbi itu mendadak tersenyum. ―Aku akan membeli kedua
tenda ini dan memberikannya pada dua orang yang berlainan. Kita akan melihat
tenda mana yang lebih bertahan dan membawa keberuntungan bagi keduanya.‖
Aku tertawa dan menggulung kedua tenda sambil berkata, ―Rabbi, anda sama
sekali tidak seperti orang Farisi lainnya.‖
―Kamu mengenalku sebagai orang Farisi?‖
―Tentu saja, Rabbi bahkan orang terkenalnya,‖ kataku tersenyum. ―Rabbi
Gamaliel.‖
Rabbi itu tidak menyangka ia dikenal. ―Mengapa kamu katakan aku berbeda?‖
―Orang Farisi cenderung memutuskan segala sesuatu tanpa ragu. Mereka seakanakan sudah mengetahui segala-galanya dan selalu tampil paling benar. Mereka
juga akan menolak pemikiran-pemikiran baru. Tapi, rabbi seperti pemikir Yunani
76
yang memikirkan dan memutuskan segala sesuatu tanpa buru-buru. Mencari
jawaban yang terbaik.‖
Rabbi Gamaliel tertawa, ―Tentu saja orang Farisi bukan orang yang paling benar.
Hanya setelah matilah seseorang dapat mengetahui kebenaran sesungguhnya.
Selama masih hidup, mereka hanya bisa menerka-nerka, menebak dan memilih
yang terbaik dengan akal dan pikiran mereka. Seperti pemikiranmu tadi.‖
―Apakah Rabbi memercayainya?‖ tanyaku merasa senang.
―Aku belum sepenuhnya memercayai itu dan juga belum sepenuhnya
menolaknya,‖ kata rabbi itu tersenyum. ―Mungkin ada kebenaran di sana,
mungkin juga tidak. Apakah kamu memercayainya?‖
Aku tertawa, ―Aku memercayainya tapi tidak sepenuhnya karena seiring aku
bertumbuh aku akan mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan yang mendukung
atau menolaknya. Jika pemikiran itu benar, maka dia akan bertahan, jika salah
maka dia akan hilang dengan sendirinya.‖ Tanganku mengikat kedua tenda itu
dengan baik dan memanggil seorang saudara untuk mengantarkannya ke tempat
yang Rabbi Gameliel inginkan.
Rabbi itu membayarkan harga tenda dan aku mengurangi satu dirham atas uang
itu.
―Mengapa demikian?‖ tanyanya.
―Aku ingat berhutang pada rabbi, bea masuk ke dalam Biat Allah dua tahun yang
lalu. Sungguh sayang tahun kemarin aku tidak berhasil menemukan Rabbi.‖
77
Rabbi itu memandangku sejenak dan tertawa. ―Ternyata bocah itu adalah dirimu.
Aku sudah menduganya.‖ Menandang sekeliling sejenak, Rabbi itu melanjutkan.
―Di mana ayahmu?‖
―Di tempat para orang Farisi biasa berkumpul di dalam Bait Allah,‖ kataku. ―Dia
selalu di sana.‖
***
Malam itu, kembali aku memandang langit. Hitam bertaburkan bintang yang
bercahaya, terlihat seperti lautan cahaya tanpa batas. Manusia hidup di dalam
dunia seperti terkurung dalam sebuah kandang bernama tubuh. Mereka dibiarkan
berkeliaran untuk menemukan sebuah jalan untuk kembali ke suatu tempat yang
jauh dan sangat jauh sekali.
Lagi-lagi aku memikirkan hal yang aneh. Tapi, bukankah hidup itu sedari awal
sudah aneh? Mereka bekerja pada pagi hari, tertawa bahagia, menangis, marah,
berantam dan pada malam harinya mereka tertidur. Hingga esok harinya, mereka
menjalani hidup yang sama. Mereka terjebak dalam ruang dan waktu.
Sedangkan aku. Tanganku mengenggam erat. Aku mencari sesuatu yang melebihi
segalanya. Sesuatu yang bisa membuat waktuku berjalan ke tempat seharusnya.
Menemukan takdir kehidupanku yang pastinya bukan berputar-putar dalam
sebuah kurungan bernama hidup ini.
***
78
Pada hari terakhir penjualan tenda dan setelah upacara kurban, ayah angkatku
menatapku dalam-dalam.
―Nak,‖ panggilnya dengan nada serius. ―Apakah kamu masih ingin tetap di sini?‖
Aku menganggukkan kepalaku. ―Sangat.‖ Aku bahkan sudah merencanakan
perlarianku.
―Begini,‖ kata Simoen. ―Gamaliel menemuiku dan bersedia menerimamu ke
dalam sekolahnya yang bernama Rumah Hillel atau Akademi Hillel. ‖
―Benarkah?‖ tanyaku dengan keras. Rasanya ada energi baru mengalir dalam
diriku.
―Meski aku lebih senang jika kamu masuk ke Rumah Shammai atau Akademi
Shammai. Tapi, Gamaliel mengerti akan kesulitan keuangan kita, dia akan
menerimamu dengan janji kamu juga akan bekerja membantunya sebagai biaya
makan dan tinggalmu.‖
―Aku akan melakukannya,‖ kataku dengan semangat. ―Aku janji.‖
***
Tahun 21 M
Dua tahun setelah aku mulai belajar dibawah bimbingan Rabbi Gamaliel yang
terhormat, aku baru memahami banyak hal, termasuk politik di dalam
kepemimpinan tertinggi bangsa Yahudi.
79
Kaisar Roma yang memerintah seluruh Kekaisaran Roma yang membentang di
sekeliling Laut Tengah termasuk wilayah Eropa, Mesir, Afrika, Yahudi dan
banyak wilayah lainnya adalah Tiberius Julius Caesar. Kaisar itu menunjuk
gubernurnya Valerius Gratus15 sejak 15 M untuk menjaga wilayah Yahudi dan
mengatur pemungutan pajak atau cukai tahunan dari wilayah itu untuk diserahkan
kepada Kekaisaran Roma. Gubernur Valerius Gratus adalah pengganti dari
gubernur sebelumnya yang bernama Annius Rufus, gubernur yang kedapatan
meninggal di dalam kantornya pada tahun 14 M.
Kerajaan Yahudi atau Kerajaan Yehuda yang disebut juga Kerajaan Judea tunduk
pada Kekaisaran Roma, selain memilih gubernur, Kaisar Roma juga memilih
seorang Raja Yahudi untuk mengurus bangsa Yahudi. Raja Yahudi pertama yang
dipilih oleh Kaisar Roma sejak dikuasainya kerajaan Yahudi adalah Raja Herodes
yang Agung atau juga disebut juga Herodes I. Raja ini menguasai bangsa Yahudi
dari tahun 37 – 4 SM. Dia adalah raja yang memperluas Bait Allah Kedua.
Raja Herodes Archelaus, putra dari Herodes I menggantikan ayahnya menjadi
Raja bangsa Yahudi dan memerintah dari tahun 4 SM – 6 M. Raja Herodes
Archelaus terkenal dengan kisahnya saat ia menaiki tahta.
Sebelum kematian Raja Herodes I, raja itu meletakkan elang emas di depan pintu
gerbang Bait Allah saat merenovasinya. Saat itu, dua orang rabbi dan 40 orang
murid muda kedua rabbi, menganggap hal itu sebagai penghujatan pada Tuhan
15
Valerius Gratus menjadi Gubernur wilayah Yahudi dari tahun 15 M – 26 M dan akan digantikan
dengan Pontius Pilatus dari 26 M – 36 M. Gubernur berikutnya adalah Marcellus ( 36 -37 M )
dan Marullus ( 37-41 M ). Tahun 41- 44 M, wilayah Yahudi dikuasai Raja Yahudi yang bernama
Herodes Agrippa I atas seizin Kekaisaran Roma.
80
dan memotong kepala elang tersebut. Raja Herodes I yang marah menangkap
mereka semua dan memaksa mereka berjalan menuju Yeriko yang berjarak
sekitar 20 km dan kemudian membunuh mereka semua.
Setelah kematian Raja Herodes I, Raja Herodes Archelaus mengundang para
imam-imam dan tokoh masyarakat Yerusalem untuk menuju ke istana. Di sana, ia
memakai pakaian putih dan mengenakan mahkota emas serta duduk di atas kursi
kerajaannya menerima kedatangan mereka. Untuk menunjukkan kebaikannya
pada para rakyat di Yerusalem, ia berniat untuk merendahkan pajak dan
membebaskan tawanan yang dipenjarakan oleh Raja Herodes I demi mengambil
hati mereka semua.
Akan tetapi, para imam dan tokoh masyarakat Yerusalem menuntut lebih banyak
lagi. Selain meminta pengurangan pajak, mereka meminta agar orang-orang yang
memerintahkan pembunuhan dua orang rabbi dan 40 muridnya untuk dihukum
mati. Kemudian meminta imam besar yang ditunjuk oleh Raja Herodes I untuk
kerajaan agar diganti dengan alasan kesalehan dan kemurnian. Raja Herodes I
sebelumnya menunjuk imam besar dari bangsa Babilonia untuk menjadi imam
besar kerajaan, sehingga banyak rakyat Yahudi yang marah.
Raja Archelaus menjadi sangat marah, namun dia tetap memperlihatkan wajah
tenang dan lembut. Ia dengan sopan mengatakan akan membicarakannya dengan
Kaisar Roma dan terutama setelah ia mendapat amanat dari Roma untuk menjadi
raja sepenuhnya—saat itu memang tahta kerajaan secara langsung diwariskan
pada putra sulung, namun Raja Archelaus ingin pergi ke Roma dan menemui
81
Kaisar untuk mendapatkan amanat secara langsung. Ia kemudian meninggalkan
tempat itu.
Pada malam harinya, Raja Archelaus berpesta dengan para teman-temannya. Saat
itu dari Bait Allah terdengar beberapa orang Yahudi yang berteriak marah,
menangis dan mengumpulkan rekan-rekannya. Mereka menangisi kedua orang
rabbi dan 40 orang saudara mereka yang mati. Kerumunan orang-orang Yahudi
di Bait Allah semakin bertambah besar dan Raja Archelaus merasa tidak nyaman.
Ia kemudian memerintahkan pemimpin prajurit dari Roma untuk pergi ke sana
dan menghentikan orasi orang-orang Yahudi.
Seorang kepala pasukan Roma bersama beberapa bawahannya pergi ke Bait
Allah, ―Saudara-saudara bangsa Yahudi. Raja Archelaus berjanji akan
menyelesaikan masalah ini setelah ia kembali dari Roma. Tenanglah dan
pulanglah ke tempat masing-masing. Hentikan orasi ini.‖
Entah siapa yang memulai, sebuah batu terlontar menghantam kepala pasukan
prajurit Roma dari keramaian. Dan berikutnya ribuan orang mulai melemparinya
dan bawahannya hingga mati. Setelahnya, orang Yahudi melemparkan jenazah
kepala pasukan dan prajurit Roma keluar dari Bait Allah dan tetap melanjutkan
orasi.
Raja Archelaus yang melihat kejadian itu, tidak mengatakan apa pun juga.
Gubernur Roma yang mengetahui kematian bawahannya, segera pergi menemui
Raja Archelaus dengan marah dan meminta keadilan.
82
―Aku tidak akan membiarkan orang Yahudi membunuh bawahanku, orang Roma,
tanpa hukuman setimpal,‖ kata gubernur penuh amarah. ―Keadilan harus
ditegakkan.‖
―Sahabatku yang baik,‖ kata Raja Archelaus dengan lembut. ―Di dalam bait Allah
ada ribuan orang. Bagaimana kamu akan menangkap mereka yang membunuh
orang-orangmu.‖
―Dengan pengadilan dan penangkapan,‖ kata gubernur keras. ―Jika Raja
Archelaus mengizinkan, aku akan segera melakukan penangkapan.‖
―Aku tidak akan mengizinkan penangkapan atas mereka.‖
Gubernur menjadi marah, ―Mengapa demikian? Mereka jelas telah melakukan
pembunuhan.‖
Raja Archelaus tersenyum, ―Jika demikian bunuhlah mereka semua. Kerumunan
itu akan bertambah besar seiring waktu. Mengapa kamu tidak memerintahkan
seluruh prajuritmu untuk membunuh mereka semua yang berada di dalam Bait
Allah dan kamu dapat mengatakan aku yang menyuruhnya? Mereka semua
melempari batu dan mereka semua bersalah. Lagi pula aku sudah berbaik hati
menyuruh mereka untuk membubarkan diri. Jadi siapa pun yang masih berada di
sana berarti melawan perintahku juga.‖
Pada tengah malam itu juga, seluruh prajurit Roma yang ada di Yerusalem
memasuki Bait Allah dan melakukan pembunuhan tanpa pandang bulu. Semua
orang di dalamnya dari rabbi, imam hingga orang biasa, tua muda, lelaki
83
perempuan, tidak ada yang terkecuali. Tercatat ada 3.000 nyawa yang tewas di
sana pada malam itu.
Raja Herodes Archelaus memerintah dari tahun 4 SM – 6 M, kemudian
digantikan oleh Raja Herodes Antipater yang memiliki nama singkat Antipas.
Dialah yang memerintah hingga saat ini.
Demikianlah pemerintahan saat ini. Kekaisaran Roma tidak pernah mau
mencampuri urusan adat istiadat dan budaya tiap bangsa. Mereka hanya
mencapuri urusan keamanan negara. Dan urusan dalam bangsa selalu
diserahkannya pada Raja dari bangsa itu dan alat-alat negaranya.
Raja Herodes Antipas, sama seperti raja-raja sebelumnya, membiarkan hukum
negara yang berhubungan dengan adat istiadat dan kepercayaan bangsa Yahudi di
atur oleh lembaga yang bernama Sanhedrin.
Sanhedrin berarti juga duduk bersama atau persidangan. Sekitar 20-23 orang
yang mewakili setiap wilayah dalam kerajaan Yehuda dikumpulkan untuk
membahas sebuah hukum dan aturan. Biasanya mereka adalah para imam-imam
kepercayaan dari bangsa Yahudi. Perbedaan antara imam dan rabbi adalah imam
memiliki sebuah posisi tinggi dalam adat Yahudi, jabatan dan kekuasaan,
sedangkan Rabbi adalah guru. Terkadang seorang imam dipanggil juga dengan
sebutan rabbi jika ia juga turut mengajarkan hukum Taurat.
Seorang imam, disebut juga sebagai imam besar jika ia termasuk dalam 23 orang
Sanhedrin atau menjadi imam penasehat raja. Tugas daripada imam besar
84
maupun imam adalah melaksanakan upacara kurban, ritual ibadah, memimpin
perayaan Yahudi, mengatur Bait Allah dan sebagainya.
Di dalam Sanhedrin inilah semua hukum bangsa Yahudi dibuat berdasarkan
Kitab Taurat dan Kitab Ibrani. Mereka bertugas menjaga agar semua bangsa
Yahudi menuruti perintah dari hukum Taurat. Dari membuat hukum dan
peraturan mengenai tata cara ibadah, pengajaran di sinagoga, hingga aturan
bermasyarakat seperti penikahan, perceraian, pembagian harta dan sebagainya.
Dapat dikatakan Sanhedrin adalah lembaga hukum bangsa Yahudi, karena bagi
bangsa Yahudi, hukum Taurat adalah satu-satunya hukum kehidupan yang paling
penting. Dan ajaran Yahudi bukanlah sebuah kepercayaan, tapi adat istiadat dan
tata cara kehidupan orang Yahudi yang harus diikuti.
Oleh karenanya, imam-imam menjadi orang penting dalam kerajaan dan dalam
mengatur kehidupan bangsa Yahudi. Meski semua ajaran berasal dari Kitab
Taurat dan Kitab Ibrani, akan tetapi setiap penafsiran dan cara ibadah membuat
perbedaan besar antara kelompok-kelompok yang mewakili sebagian besar orang
Yahudi. Kelompok yang paling besar dan berkuasa di bangsa Yahudi adalah
kelompok Farisi, kelompok Saduki dan kelompok Essenes.
Kelompok yang paling kecil adalah kelompok Essenes. Mereka adalah
sekelompok kecil orang Yahudi yang memiliki pandangan berbeda dengan ajaran
Farisi, Saduki dan Yahudi umumnya. Mereka sering hidup dalam sebuah
komunitas mereka sendiri yang jauh dari kota dan menjalani peraturan ketat.
Mereka sengaja hidup miskin dan melakukan dislpin ketat sehari-hari. Mereka
85
cenderung tidak menikah, menuruti dan mematuhi pimpinan kelompok mereka
dan bersumpah untuk setia.
Mereka hidup dengan melakukan amal, menyucikan diri setiap pagi, makan
bersama setiap kalinya, dilarang menunjukkan kemarahan, mempelajari kitab dan
mencatat nama-nama malaikat. Namun, karena kelompok ini bersifat komunitas,
mereka jarang dan hampir tidak kelihatan di ajang politik.
Sedangkan dua kelompok yang paling sering berhadap-hadapan dan aktif dalam
politik adalah kelompok Saduki dan Farisi. Meski kelompok Farisi lebih besar,
tetap saja kelompok Saduki memiliki kekuatan yang tidak dapat diremehkan.
Kelompok Saduki dan Farisi ada di dalam Sanhedrin dan juga ada di dalam
lingkup politik seperti menjadi pejabat negara, pemungut pajak, pemimpin
pasukan kerajaan Yahudi, pegawai kerajaan dan banyak lainnya.
Kelompok Saduki memercayai jika tidak ada yang namanya takdir, Tuhan tidak
melakukan hal buruk, manusia memiliki kehendak bebas untuk melakukan apa
pun, jiwa itu tidak abadi, tidak ada kehidupan setelah kematian, dan tidak ada
hadiah maupun hukuman saat orang mati.
Begitulah tentang orang-orang Saduki itu dan sekarang tentang orang Farisi.
Meskipun dikatakan orang Farisi, kami juga memiliki pertentangan di dalamnya.
Orang Farisi secara garis besar diwakili dua kelompok besar. Kelompok Hillel
dan kelompok Shammai.
86
Kelompok Hillel dengan akademi Hillel didirikan oleh seorang pemimpin Yahudi
terkenal bernama Hillel ( 110 SM–7 M ). Tetua Hillel ini terkenal dengan
beberapa kalimat yang dikatakan sebagai kata-kata emas.
Apa yang tidak kamu sukai, janganlah lakukan pada orang lain. Itulah isi semua
Kitab Taurat, sisanya adalah penjelasan. Pergi dan belajarlah.
Siapa pun yang menghancurkan sebuah nyawa, hal itu adalah sama seperti
menghancurkan seluruh dunia. Siapa pun yang menyelamatkan sebuah nyawa,
dia menyelamatkan seluruh dunia.
Hillel sangatlah terkenal dengan kebaikan hati dan kasihnya kepada sesama. Ia
sangat jarang marah hingga ada suatu kejadian di mana orang-orang bertaruh
untuk dapat membuatnya marah. Mereka sengaja mengolok-olok asal Hillel dan
mencaci makinya. Tapi, semua itu tidak membuat Hillel marah sama sekali.
Kata-kata bijak lainnya adalah „jangan percayai dirimu hingga kematianmu‟. Dia
selalu memberikan ruang dan toleransi pada agama lain dan tidak pernah
menggebu-gebu mempertahankan pandangannya. Dia adalah peletak hukum dan
pengembang bagi Talmud dan Mishnah. Sebuah hukum yang mengatur
kehidupan bangsa Yahudi berdasarkan Kitab Taurat.
Tetua Hiller adalah seorang imam besar dan ketua dari kelompok Sanhedrin
seluruh Yahudi hingga kematiannya.
Kelompok Farisi lainnya adalah kelompok Shammai. Pendirinya bernama
Shammai. Ia lahir pada tahun 50 SM, seorang imam besar dan menjadi ketua
87
Sanhedrin setelah kematian Hillel hingga saat ini. Dialah tokoh penting dalam
pembuatan hukum Yahudi dan selalu menjadi saingan Hillel. Kalimat yang
menjadi pedoman hidupnya adalah, “Berbicara sedikit, capailah banyak hal dan
terimalah semuanya dengan wajah bersahabat”.
Akan tetapi, Shammai terkenal dengan sifatnya yang keras, teguh dan sangat
berdisplin pada ajaran Yahudi. Seluruh murid-muridnya dapat dikatakan sangat
keras mendukung ajaran Yahudi secara membuta.
Orang sering membandingkan Hillel dan Shammai pada sebuah kejadian ini.
Pada suatu hari, seorang dari bangsa lain datang mengunjungi Shammai untuk
meminta restunya agar ia dapat mempelajari kitab Ibrani dan menjadi bagian dari
bangsa Yahudi yang percaya pada Allah. Shammai memandang orang itu dan
merasa mustahil untuk membuat orang dari bangsa lain untuk menjadi seorang
Yahudi sehingga mengusirnya.
Orang dari bangsa lain mendatangi Hillel dan meminta agar dia dapat
mempelajari Kitab Ibrani. Hillel mendekati orang itu dengan lembut dan berkata,
―Apa yang tidak kamu sukai, janganlah lakukan pada orang lain. Itu adalah
semua isi Kitab Taurat. Sisanya adalah penjelasan. Pergi dan belajarlah.‖ Orang
dari bangsa lain itu pun menjadi orang yang beribadah pada Allah.
Orang-orang Farisi memiliki kalimat yang sering diucapkan seperti ini, “Biarlah
orang-orang dapat menjadi rendah diri dan sabar seperti Hillel, dan jangan
terlalu bersemangat seperti Shammai.”
88
Meski demikian, setelah kematian daripada Hillel, Shammai diangkat menjadi
ketua Sanhedrin. Saat ini pengaruh Shammai sangatlah kuat. Dapat dikatakan di
antara orang Farisi yang menjadi imam besar Sanhedrin, sebagiannya adalah
berasal dari kelompok Shammai.
Gamaliel sendiri adalah putra dari Simeon ben Hillel dan cucu dari Tetua Hillel
pendiri akademi Hillel. Gamaliel adalah salah seorang imam besar dalam
Sandhedrin yang memiliki pengaruh kuat. Kepintarannya dalam hukum Kitab
Taurat tidak lagi diragukan dan dapat dikatakan yang terbaik. Namun karena
sifatnya yang terbuka dan penuh kasih, orang-orang Yahudi menganggapnya
lemah dan tidak memiliki pendirian.
Gamaliel seperti tetua Hillel melihat semua bangsa-bangsa itu sama dan layak
mempelajari kebudayaan mereka selama itu dapat mendukung Kitab Taurat dan
memajukan bangsa Yahudi ke arah yang benar. Gamaliel juga menerapkan kata
tetua Hillel, ―Jangan percaya pada dirimu hingga kamu mati.‖
Orang-orang dari Akademi Hillel sering berdebat dengan Akademi Shammai
dalam banyak kesempatan. Namun, orang-orang dari Akademi Hillel hampir
selalu menang dalam perdebatan karena mereka juga mempelajari ajaran dari
Akademi Shammai, tidak seperti Akademi Shammai yang selalu keras dalam
ajaran mereka dan tidak bersedia melirik pelajaran lain. Meski demikian, dalam
Sanhedrin, orang Farisi Hillel lebih suka mendukung keputusan Shammai.
Oh, saya lupa menambahkan sebuah kelompok yang patut untuk dijauhi.
Kelompok yang menamakan dirinya orang Zealot. Kelompok ini dapat dikatakan
89
sebagai kelompok berbahaya karena orang Roma dan Raja Herodes akan dengan
senang hati menangkap mereka. Mereka adalah para pemberontak yang
membenci dewa-dewa Roma dan cara penyembahan ‗Pagan‘ mereka. Kelompok
Zealot selalu berusaha menghasut para penduduk untuk memberontak melawan
Roma dan Raja Herodes yang mereka anggap sebagai Raja Boneka. Mereka tidak
mau diperintah oleh orang dari ajaran berhala.
Sejarah berdirinya kelompok mereka dapat ditelusuri dari tahun 164 SM hingga
63 SM, saat itu kelompok mereka bernama Maccabees. Mereka melakukan
pemberontakan dan menguasai sebagian wilayah Yahudi. Namun setelah itu,
Roma mengirim pasukannya untuk menumpas mereka dan kembali menguasai
wilayah Yahudi yang direbut.
Pada tahun 27 SM – 14 M, Roma melakukan sensus penduduk untuk pendataan
jumlah bangsa Yahudi dan juga wajib pajak. Kelompok Zealot mengambil
kesempatan itu untuk melakukan pemberontakan pada tahun 6 M. Mereka tidak
ingin bangsa Roma menguasai bangsa Yahudi. Padahal, saat itu sudah banyak
dari rakyat Yahudi yang merasa nyaman dan tenang diperintah oleh orang Roma.
Judas putra Ezekias dari Galilea adalah pemimpin kelompok Zealot. Ia bersama
dengan Saddok tetap melakukan penghasutan hingga saat ini. Mereka dan
terutama Judas mengumpulkan kekuatan mereka melalui pengajaran isi Taurat
dan mencoba membujuk sebanyak mungkin warga untuk memberontak.
Begitulah situasi di Yerusalem, bukan, tepatnya di seluruh kerajaan Yahudi. Aku
sendiri baru belajar di bawah bimbingan murid senior dari Rabbi Gamaliel. Jika
90
ada kesempatan, dua kali seminggu atau sebulan sekali, aku akan belajar
langsung dari Rabbi Gamaliel.
Belajar darinya selalu menyenangkan karena ia tidak memaksa para muridnya. Ia
lebih sering mengajak kami semua untuk berpikir daripada memaksakan
kehendaknya. Belajar dibawah bimbingannya selalu seperti berdiskusi. Dan
ajarannya selalu memberikan perasaan tenang dan lembut.
Pekerjaanku yang lain adalah membersihkan Bait
Allah. Bait
Allah
sesungguhnya sangat luas, terdiri dari empat tembok bagian luar dan juga tempat
tembok bagian dalam yang mengurung Bait Suci Allah sesungguhnya. Pada
tembok bagian luar, tingginya mencapai 25 meter dan lebar atau ketebalan
tembok itu sekitar 15 – 20 meter. Di dalam tembok itu sendiri terdapat banyak
ruangan yang dulunya menjadi tempat tinggal para perajurit penjaga dan para
raja-raja sebelumnya. Saat ini raja sudah memiliki istananya sendiri.
Ruangan-ruangan dalam tembok itu sudah berusia ratusan tahun dan mengalami
renovasi terus menerus selama bertahun-tahun. Bagian dalamnya sangat indah,
karena bekas tempat tinggal para raja-raja sebelumnya. Meski itu semua
tergantung kamu mendapatkan ruangan yang mana, ruangan bekas para raja atau
bekas prajurit dan tawanannya.
Pada saat ini semua ruangan dalam tembok sudah digunakan. Tembok bagian
utara berisi ruangan untuk Sanhedrin dan para imam-imam besar. Tembok bagian
timur digunakan oleh orang Saduki. Tembok bagian barat dan selatan digunakan
91
orang Farisi yang terbagi dua menjadi bagian Akademi Hillel dan Akademi
Shammai.
Tembok bagian timur meski dikatakan milik orang Saduki, tetap saja beberapa
bagiannya dikuasai oleh orang Farisi. Karena jumlah orang Farisi yang lebih
banyak.
Para murid-murid dan rabbi sebagian besar tinggal di dalam tembok bagian luar
itu, mereka memiliki asrama khusus. Aku sendiri tinggal di tembok bagian barat
bersama rekan-rekan sesama murid Akademi Hillel. Ruang belajar kami ada di
bagian tengah tembok sisi barat.
Ruang mandi dan mengambil air ada di bagian bawah tembok barat. Aku harus
mengakui jika Raja Herodes I yang memiliki gelar arsitek terbesar bangsa Yahudi
ini memang pantas dikagumi. Rancangannya pada Bait Allah benar-benar
mengaggumkan. Saat kita memasuki ruangan di bagian bawah tembok—yang
sudah di bawah permukaan tanah—di dalamnya sudah terdapat saluran air yang
digunakan untuk menampung air hujan dari seluruh Bait Allah dan
mengumpulkannya ke dalam kolam-kolam besar yang seperti sumur dalamnya
dan bentuknya seperti danau buatan karena sangat luas. Sedangkan air kotor dan
buangan mandi sudah dibuat sedemikian rupa untuk mengalir keluar dari tembok
ke tempat pembuangan sehingga keduanya tidak bergabung.
Selama di Bait Allah, aku sudah memiliki jadwal belajar dan tugas lapangan yang
tetap. Aku diserahkan tanggung jawab mengawasi sebuah lokasi di bagian barat
Bait Allah. Tanggung jawabku adalah memasktikan para pedagang meletakkan
92
barang dagangannya dengan baik, membuang sampahnya dengan baik dan
mengutip sumbangan dari mereka. Setiap harinya mereka akan memberikan
beberapa keping dirham yang akan memenuhi kebutuhan hidup Akademi Hillel.
Pedagang di bagian timur dikutip oleh orang Saduki, pedagang bagian selatan
dikutip oleh Akademi Shammai dan sisanya dikutip untuk hal-hal lain seperti
membeli minyak untuk obor, upah penjaga dan sebagainya.
Para pedagang dari bangsa-bangsa lain di dalam bait Allah membayar pajak dua
kali. Pertama pada saat ingin memasuki Bait Allah, pajak itu adalah untuk
Kekaisaran Roma dan Raja Herodes, dan pajak saat mereka berjualan di dalam.
Pajak itu adalah untuk para imam dan pekerja yang membersihkan Bait Allah
setiap hari.
Tugasku adalah menjaga kebersihan lokasi penjualan yang dipercayakan padaku,
memungut pajak, belajar pada siang harinya dan terkadang berjaga malam sesuai
jadwal gilir di antara kami.
Aku memiliki beberapa orang teman di tempat itu. Kami sama-sama belajar,
sama-sama tidak menyukai orang Saduki dan sama-sama berdebat dengan para
Farisi dari kelompok Shammai.
Aku termasuk orang yang menonjol di Akademi Hillel karena bantuan Ayah
Angkatku yang sudah mengajariku sejak kecil. Banyak murid yang masuk ke
tempat ini masih dalam tahap mempelajari bahasa Ibrani. Sebagian lagi sedang
menghafal Kitab Ibrani. Dengan demikian aku sudah menyelesaikan kedua itu
93
dan sudah mempelajari hal-hal lain seperti tafsir Kitab Taurat. Hukum-hukum
lisan Kitab Taurat dan sebagainya.
94
BAB 5
MESIR
Tahun 25 M
Aku baru saja selesai mengajar di sebuah sinagoga di ujung kota Yerusalem. Dan
saat ini sedang menunggang kuda melewati jalanan kota Yerusalem yang padat
untuk kembali ke Bait Allah. Cuaca sangat panas dan keringatku terus
bercucuran. Usiaku sudah 20 tahun dan belum menikah. Jika kamu menanyakan.
Aku sudah selesai belajar dari Akademi Hillel dua tahun yang lalu. Sekarang aku
sudah menjadi rabbi muda yang mengajar di beberapa sinagoga, terkadang
mengajar bahasa Ibrani di Akademi Hillel untuk murid-murid baru dan
membantu Rabbi Gamaliel untuk membuat tulisan-tulisannya tentang hukum.
Mereka yang sudah menamatkan diri dari Akademi Hillel biasanya dikasih
pilihan untuk kembali ke daerah mereka masing-masing atau melanjutkan bekerja
pada Akademi Hillel.
Kebanyakan mereka yang memilih untuk bekerja di Akademi Hillel akan
dikirimkan ke wilayah-wilayah jauh dari Yerusalem dan kadang hingga ke keluar
kerajaan Yahudi seperti Mesir, Asia Kecil, Kilika dan sebagainya untuk mengajar
di sinagoga wilayah itu. Selama ada sekumpulan orang Yahudi di tempat itu,
95
sudah selayaknya ada seorang rabbi yang memahami Kitab Taurat dan Kitab
Ibrani di sana.
Hal itu untuk mencegah ajaran sesat atau orang-orang yang tidak memahami
Kitab
Taurat
untuk
mengajar
dan
menyesatkan
orang-orang
dengan
menggunakan Kitab Taurat. Orang Zealot banyak berpura-pura menjadi rabbi dan
mengajak orang-orang Yahudi untuk membenci pemerintahan Roma. Tentu saja
pengiriman rabbi-rabbi Akademi Hillel ke pelosok-pelosok termasuk untuk
memperluas kekuatan dan mendapatkan sebanyak mungkin orang Yahudi yang
memercayai orang Farisi. Karena orang Farisi juga harus bersaing dengan orang
Saduki, Essense dan Zealot.
Aku sendiri tidak dikirim ke tempat-tempat jauh, tapi hanya mengurus sinagoga
kecil di ujung wilayah Yerusalem beberapa kali dalam seminggu karena Rabbi
Gamaliel membutuhkanku di Bait Allah. Aku sering membantunya menuliskan
berbagai hukum dalam bahasa Ibrani dan Koine-Yunani agar semua surat-surat
berisi hukum-hukum yang lama atau baru diputuskan oleh Sanhedrin dapat
dikirimkan pada rabbi-rabbi Akademy Hillel yang berada di tempat-tempat jauh.
Tidak jarang juga aku diutus sebagai pembicara dan pendebat bagai kaum Farisi
dan Kaum Saduki pada saat memutuskan sebuah hukum baru. Baru-baru ini kami
memdebatkan tentang hukum warisan. Menurut hukum Yahudi selama ini, jika
sebuah keluarga tidak memiliki anak lelaki, maka anak wanita akan mendapatkan
harta warisan keluarganya. Sedangkan orang Saduki ingin mengubah hukum itu
96
agar jika tidak ada keturunan lelaki, maka harta itu harus diwariskan pada putri
dan keluarga dari kakeknya.
Tahun lalu, kami berdebat tentang kerusakan yang dibuat oleh para budak. Orang
Saduki meminta jika seorang budak menghancurkan benda atau melakukan
kesalahan, maka pemilik budak itu harus bertanggung jawab menggantinya.
Kami orang Farisi tidak menyetujuinya, seorang budak harus bertanggung jawab
atas perbuatannya sendiri, karena jika hukum itu berlaku dan semua budak
sengaja menghancurkan benda untuk menghukum pemiliknya, maka akan terjadi
kekacauan.
Dua tahun sebelumnya, kami berdebat tentang saksi palsu. Orang Farisi
menyetujui untuk memberikan hukuman mati pada saksi yang memberikan
kesaksian palsu untuk seorang terhukum. Sedangkan orang Saduki tidak
menyetujui hukuman mati pada seorang saksi yang memberikan keterangan palsu
jika seorang terhukum itu belum dihukum mati.
Itulah yang kulakukan selama beberapa tahun ini. Mendebat, membuat peraturan
dan menuliskannya untuk dibagikan. Hukum yang dibuat selalu berdasarkan
Kitab Taurat, Kitab Ibrani dan perkataan dari nabi-nabi sebelumnya. Dengan
tujuan agar bangsa ini tidak lagi lari dari perintah Tuhan dan tetap berkenan di
hadapan-Nya. Jika tidak, maka seluruh kerajaan akan hancur. Sejarah akan
terulang dan orang Yahudi akan dibinasakan oleh Tuhan.
97
Meski kadang hukum yang kami buat itu tampak remeh, seperti mengenai
kepemilikian ternak, budak, hukum kepemilikan tanah dan sebagainya, kami
berusaha agar semuanya berasal dari hukum Taurat.
Dan aku sependapat dengan Tetua Hillel, ―Jika kamu tidak menyukainya, maka
jangan lakukan pada orang lain. Itulah seluruh isi hukum Taurat. Sisanya adalah
penjelasan.‖
Jika semua orang melakukannya, tidak akan banyak hukum yang harus dibuat
untuk mengatur setiap mereka.
***
Pada tahun 28 M, tepat pada saat umurku 23 tahun, sebuah surat datang padaku
dari Mesir. Surat itu menunjukkan tanggal dan tahun lalu. Surat dari ayahku yang
Roma.
“... datanglah ke Mesir, ayah dan ibu sudah menunggumu ... Seorang pejabat
Mesir
ingin
menikahkan
putrinya
padamu
dan
kami
berjanji
akan
mempertemukan kalian...”
Kira-kira begitulah isi surat yang melewati perjalanan panjang itu. Dan surat
yang mendatangkan bencana bagiku. Baiklah, aku kurang setuju dengan kata
bencana, mungkin sudah menjadi takdirku.
Kemarin, Rabbi Gamaliel memanggilku keluar dari sebuah ruang kelas tempat
aku mengajar bahasa Ibrani. Ia memberikan surat dan menatapku dengan lembut.
98
―Apakah kamu sungguh putra darinya?‖
Aku melihat pada surat yang diberikan padaku. Surat yang menuliskan nama
ayahku, Agustine Ananius, Gubernur Mesir dan ditujukan pada ‗Saul anakku‘
dengan alamat Akademi Hillel di Bait Allah Yerusalem.
Rabbi Gamaliel menambahkan, ―Beberapa hari lalu, seorang prajurit Roma
memberikannya pada bagian penerima surat untuk Bait Allah dan penerima surat
itu memberitahuku. Beberapa orang Saduki dan kaum Farisi dari Shammai
mengetahuinya dan tidak menyukai hal itu. Mereka bahkan membahasnya di
Sanhedrin.‖
Wajahku menjadi pucat. ―Apa yang mereka katakan?‖
―Sama seperti yang sudah kamu ketahui,‖ kata Rabbi Gamaliel. ―Mereka masih
menolak orang dari bangsa lain untuk mempelajari Kitab Ibrani di dalam Bait
Allah dan apa lagi, ...‖ wajah Gamaliel terlihat sedih. ―Kamu sudah memasuki
ruangan dalam Bait Suci Allah yang hanya bisa dimasuki oleh orang Yahudi.‖
Wajahku menjadi pucat dan menggenggam keras surat ditanganku. ―Apa
keputusan daripada rapat Sandhedrin?‖
―Shammai, ketua Sanherdrin, orang Saduki dan orang Farisi Akademi Shammai,
menganggap ini waktu yang tepat untuk mengeluarkanmu,‖ kata Rabbi Gamaliel.
―Selama ini, kamu telah memenangkan banyak debat dan menjadi kaum muda
yang paling cemerlang di dalam Bait Allah.‖
―Jadi,‖ tanyaku tidak percaya. ―Aku dikeluarkan?‖
99
Rabbi
Gamaliel
menggelengkan
kepalanya.
―Tidak,
aku
tidak
akan
mengeluarkanmu. Kamu sangat berharga bagi kaum Farisi. Aku ingin
menempatkanmu ke suatu sinagoga dan tetap bekerja untuk Tuhan.‖
Jika Sanhedrin sudah memutuskan, maka aku hanya bisa mengikuti. Aku
mengangguk.
―Tentukan tempat
yang kamu
inginkan,
aku akan menuliskan surat
penunjukanmu,‖ kata Rabbi itu.
Dua hari kemudian, aku sudah keluar dari Yerusalem dan dalam perjalanan
menuju ke Mesir. Bersama surat penunjukkanku sebagai rabbi di sinagoga sana.
Aku hanya bisa menghembuskan napasku. Air mataku tidak mengalir, meski
hatiku sedih. Tapi, peraturan adalah peraturan dan semua orang tahu Sanhedrin
dikuasai oleh orang Farisi dari kalangan Shammai dan Shammai adalah ketuanya.
Mereka orang sangat keras pada hukum Taurat dan mengagungkan darah orang
Yahudi.
Enam bulan kemudian, aku tiba di Mesir dan bergabung dengan ayah dan ibuku.
Kami akhirnya berkumpul lagi. Menjadi anak dari seorang pejabat membuatku
dihormati dan mudah bergerak. Aku membantu ayahku dalam membuat
peraturan-peraturan bagi para penduduk Mesir dan memastikan mereka semua
diperlakukan dengan baik.
―Aku senang kamu dapat membantuku di sini,‖ kata ayahku bahagia.
100
―Sudah sepantasnya seorang anak membantu orang tuanya,‖ jawabku. Aku dapat
melihat peraturan hukum Roma adalah yang paling maju. Akan tetapi, pada kotakota kecil mereka lebih menyukai peraturan yang sesuai dengan adat dan
kebiasaan hidup mereka bangsa Mesir. Aku melakukannya dengan baik,
mempelajari kebiasaan, kepercayaan, dan ajaran setempat untuk membuat
peraturan hukum yang mudah dimengerti.
Oh iya, aku tidak menikah dengan anak pejabat yang ingin dijodohkan padaku.
Seminggu sebelum kedatanganku, gadis itu dinikahi oleh anak pejabat kota
tetangga. Menurut ayahku, putra pejabat kota tetangga melarikan anak gadis itu.
Aku melihat wilayah yang indah itu dan merasa betah di Mesir. Aku merasa
yakin jika aku tidak akan pernah kembali ke Yerusalem lagi
***
Pada pertengahan tahun ini, aku mendapatkan surat dari Yerusalem yang
mengabarkan jika Ketua Sanhedrin dan juga ketua Akademi Shammai meninggal
dunia. Shammai memang sudah tua dan usianya juga sudah mencapai delapan
puluhan.
Posisi kepala Sanhedrin jatuh ke tangan Rabbi Gamaliel, tapi dari kabar yang
kudengar, dia selalu kalah dalam memutuskan sesuatu dalam Sanhedrin. Jumlah
imam besar dari kelompok Farisi Akademi Shammai memang lebih sedikit
dibandingkan dengan imam besar kelompok Farisi Akademi Hillel tapi, dengan
101
imam besar Saduki yang lebih cenderung memihak pada orang dari Akademi
Shammai, maka Rabbi Gamaliel hanya bisa mengikuti suara terbanyak.
Saat itu terdengar isu jika ada sebuah gerakan oleh seorang yang bernama Yesus
dari Nazaret yang membuat resah Yerusalem. Aku tidak terlalu memperhatikan
isu tersebut karena aku sendiri sedang mengawasi proyek pembuatan sumur air
dan membuat irigasi pada lahan pertanian di Mesir.
Banyak hal yang harus dikerjakan di tempat ini. Beberapa ahli pertanian dan
arsitek dari Roma dikirim ke Mesir untuk memajukan wilayah ini. Aku harus
mengawasi mereka semua, memastikan proyek yang dikerjakan berjalan lancar
dan membagi tugas di antara para pejabat setempat.
Pada 31 M, tiga tahun sejak aku keluar dari Yerusalem dan tinggal di Mesir,
sebuah surat datang dari Rabbi Gamaliel. Surat itu berisi ajakan agar aku kembali
ke Yerusalem. Dia hanya mengatakan jika ia membutuhkan bantuanku. Sejak ia
menjadi ketua Sanhedrin dan tanpa Shammai, sedikit banyak beberapa imam
besar mendukung agar aku dapat kembali.
Aku mengirimkan surat yang membalas jika aku belum dapat ke sana karena
beberapa proyek yang kukerjakan di Mesir belum selesai. Termasuk di antaranya
membangun sebuah pasar.
Pada tahun 32 M, aku mendapatkan kabar jika Sanhedrin memutuskan untuk
menyalibkan seorang bernama Yesus dari Nazaret. Beberapa orang mengatakan
suasana di Yerusalem menjadi cukup gaduh dan mencengkam. Beberapa
102
pengikut Yesus berusaha untuk menyerang para imam besar. Aku tidak begitu
mengetahui kejadiannya karena aku hanya membacanya dari kabar singkat. Tapi,
jika hingga prajurit Roma ikut mengamankan. Berarti memang keadaan sudah
cukup serius.
Setahun kemudian, sebuah surat datang dari Rabbi Gamaliel. Dia mengatakan
ingin menikahkanku dengan putri dari imam besar Ananias yang masih memiliki
hubungan kekeluargaan dengan Shammai. Aku tidak tahu bagaimana harus
menyingkapi hal itu.
Di atas meja makan, aku membawa permasalahan ini. Aku menatap kedua
orangku dan menjelaskan isi surat dari Rabbi Gamaliel.
―Berapa umurmu sekarang?‖ tanya ayahku menatapku.
―28 tahun,‖ kataku.
―Sudah selayaknya kamu menikah,‖ kata ayahku tersenyum. ―Dan berhenti
menggoda gadis-gadis Mesir dan Yunani.‖
Aku tidak menyangka jika mereka mengetahui bagian itu. ―Aku tidak menggoda
mereka,‖ protesku.
―Jika begitu,‖ kata ayahku tertawa. ―Kamu bersenang-senang dengan mereka.‖
Aku tidak memiliki kata untuk memprotesnya. Itu hanya bagian dari masa
mudaku yang indah dan berwarna.
103
―Seorang guru adalah seorang pengganti orang tua. Jika gurumu mengatakan
demikian, mengapa kamu tidak pergi ke Yerusalem untuk melihatnya sebelum
kamu menolak?‖ tanya ibuku.
Aku memandang pada ayahku.
―Nak, aku sedang berpikir untuk melihat Yerusalem. Saudara sepupuku diangkat
untuk menjadi gubernur di tempat itu beberapa tahun lalu. Aku sudah lama
berrencana untuk menemuinya,‖ kata ayahku dan berpikir sejenak. ―Kita tidak
memiliki banyak proyek lagi. Sampaikan pada gurumu, kita akan berangkat ke
tempatnya dua bulan lagi.‖
Aku jelas tidak tahu jika hal ini adalah baik atau tidak. Aku segera menyetujuinya
dan mengirim surat balasan pada Gamaliel.
Akan tetapi saat mendekati waktu keberangkatan, beberapa kejadian tidak
terduga muncul. Sejumlah kelompok pemberontak mendadak menunjukkan diri
dan mulai menganggu para penduduk. Mereka merampok dan membuat
kerusuhan di mana-mana.
Ayahku segera turun tangan dan harus kuakui, aku juga ikut bersama ayahku
menuju ke medan perang bersama para prajurit Roma lainnya. Dan di sana, aku
harus membunuh untuk pertama kalinya.
Di mana kaki berpijak, di sana langit dijunjung.
Di medan perang, tidak ada belas kasih. Hanya amarah, kebencian, kekuatan,
kesombongan dan berbagai emosi lainnya yang mendominasi. Untuk satu tujuan,
104
kehancuran musuh. Tidak ada waktu untuk mengasihani diri sendiri atau orang
lain.
Aku terluka, tergores panah dan pedang. Darah mengalir tapi aku masih harus
terus maju menancapkan pedang dan tombakku pada tubuh lawan. Itulah artinya
menjadi seorang prajurit. Mati di medan perang adalah kebanggaan dan kami
akan hidup di alam lain yang disediakan Dewa Mars jika kami gugur sebagai
prajurit sejati.
Itulah yang dipercayai semua prajurit Roma.
105
BAB 6
KEPUTUSAN
Pada tahun 34 M, setahun setelah pemberontakan dimulai, kami berhasil
mengendalikan keadaan dan memusnahkan para pemberontak. Dan setengah
tahun kemudian setelah keadaan benar-benar aman dan terkendali, kami
berangkat ke Yerusalem. Sebelum keberangkatan, ayahku sudah mengirimkan
surat pada Pontius Pilatus—gubernur kerajaan Yahudi dan sepupu ayahku—akan
kedatangan kami.
Saat tiba di Yerusalem, mereka menyambut kami dengan baik. Kami tinggal di
kediamannya selama di Yerusalem. Pernikahanku, aku tidak tahu bagaimana
harus memutuskan.
Imam Ananias menjodohkan putrinya yang bernama Yulia dan masih berusia 16
tahun padaku. Ibuku segera menyukainya karena mereka sesama orang Ibrani.
Dan aku hanya bisa menyerahkan semua keputusannya pada kedua orang tuaku.
Pertemuan demi pertemuan terjadi di antara keluarga kami dan mendadak waktu
bergerak cepat.
Tiga bulan kemudian aku sudah menikah dengan seorang gadis berambut hitam
dan panjang. Ia adalah seorang wanita yang membuatku memikirkan temanteman wanitaku di Mesir. Bukannya aku ingin membandingkan, tapi istriku
106
sungguh seorang yang sangat taat pada Kitab Taurat. Mertuaku, imam besar
Ananias dari Akademi Shammai tampaknya mengajarinya dengan baik. Bahkan
terlalu baik hingga aku merasa dia terlalu keras dan kaku pada beberapa hal.
Tapi, bukankah semua lulusan Akademi Shammai persis seperti itu?
Istriku, dia jarang tersenyum, persis seperti ayahnya imam besar Ananias. Mereka
melihat hidup seperti kumpulan dari ribuan jerat peraturan dan setiap hari adalah
tantangan untuk melewati hari tanpa melanggar hukum Taurat.
Sekarang kalian tahu mengapa aku merindukan mereka. Tapi aku juga sudah
mengirimkan surat pada mereka semua jika aku sudah menikah. Ini adalah takdir
yang tidak dapat dielakkan.
Tapi, itu bukan hal yang penting. Yang menjadi pusat perhatianku adalah
keributan di dalam Bait Allah dan dalam Sanhedrin setelah kematian seorang
bernama Yesus dari Nazaret. Aku akan menjelaskannya perlahan-lahan karena
situasinya cukup rumit.
Saat aku pergi ke Bait Allah setelah sekian lama, aku melihat sesuatu yang tidak
biasa di sana. Terdapat sekitar seribuan hingga dua ribu orang yang berkumpul
dan berkemah di dalam Bait Allah—di lapangan luar tempat orang-orang biasa
berdagang.
Beberapa orang setiap hari bergantian berdiri di hadapan orang banyak dan
mengajar. Cara mereka mengajar, menurutku lebih tepat disebut sebagai
provokasi. Tapi, mungkin juga itu hanya ajaran mereka yang terlalu mengebu-
107
gebu. Pada siang hingga sore harinya, mereka membentuk kelompok-kelompok
kecil di antara mereka dan seorang dari mereka akan menjadi ketua dalam
mengajar.
Pada saat itu, aku sedang dipanggil ke dalam ruangan rapat khusus kaum Farisi
dari Akademi Hillel yang ada di bagian barat tembok Bait Allah. Di tempat itu
aku menemukan Gamaliel, mertuaku dan beberapa imam besar dari kalangan
Hillel, Shammai dan juga dari kelompok Saduki. Cukup jarang melihat mereka
duduk bersama kecuali saat Sanhedrin. Mereka sedang berdiskusi dengan wajah
tegang dan aku mendapatkan beberapa informasi yang kubutuhkan dari
percakapan mereka.
―Mereka benar-benar berbahaya,‖ kata Imam Besar Caiaphas atau nama
lengkapnya Joseph Caiaphas. Aku mendengar jika dia yang menangkap Yesus
dan mendesak penyalibannya. Caiaphas dapat dikatakan sebagai penerus dari
Shammai, dia adalah ketua dari kelompok Akademi Shammai yang mendominasi
Sanhedrin. Dia juga adalah wakil ketua kelompok Sanhedrin.
Meski aku mendengar jika Imam Besar Ananias, mertuaku, yang juga dari
Akademi Shammai lebih berpeluang besar untuk menjadi ketua Sanhedrin
berikutnya. Karena dalam Akademi Shammai pun terjadi perebutan kekuasaan
antara Imam Besar Caiaphas dan Imam Besar Ananias setelah kematian
Shammai. Istriku dan mertuaku, sampai detik ini masih berusaha memasukkanku
ke dalam Akademi Shammai untuk menambah suara baginya dan aku sendiri
sedang berusaha memasukkan istriku ke dalam Akademi Hillel.
108
―Semua ini adalah salahmu,‖ teriak Caiaphas pada Gamaliel dengan wajahnya
yang memerah dan menuduh. ―Seharusnya pada saat persidangan di mana kita
sudah menangkap murid-murid Yesus, kita harus memberikan hukuman mati
pada mereka sebelum semuanya menjadi seperti ini. Lihatlah setelah kamu
membebaskan mereka. Saat ini mereka makan, ketawa dan bersenang-senang di
depan hidung kita sendiri. Dan kita bahkan tidak mampu melakukan apa pun!‖
Gamaliel mencoba menjawab dengan suara rendah dan tenang, ―Kita tidak bisa
sembarangan menghukum mati mereka.‖
Aku ingat kejadian itu. Gamaliel sudah menceritakannya padaku.
***
Setelah kematian Yesus, murid-muridnya bersama sekelompok orang mulai
mengabarkan berita bahwa Yesus tidak mati. Ia telah bangkit kembali. Dan
mereka mulai mengajarkan hal itu pada semua orang. Pada suatu hari, mereka
yang bernama Petrus dan Yohanes pergi ke Bait Allah dan membawa serta
banyak orang untuk mengabarkan hal itu pada semua orang yang mereka temui di
dalam Bait Allah.
Mereka mengatakan agar semua orang bertobat dan dibaptis atas nama Yesus dan
kemudian mengajarkan pada mereka tentang kehidupan setelah kematian. Bagi
kami orang Farisi, ajaran mereka benar kecuali dibaptis dengan nama Yesus. Hal
itulah yang menjadi masalah.
109
Karena semua orang sudah seharusnya mengikuti perintah dari hukum Taurat dan
dibaptis menurut ajaran hukum Taurat dan tentunya oleh para imam dan rabbi
yang sudah diketahui kematangannya dalam ajaran Taurat atau sudah lulus dari
Akademi terpercaya. Sedangkan Yesus sama sekali tidak memiliki catatan
sejarah pernah mempelajari hukum Taurat dari rabbi manapun. Itu membuat
Yesus sebagai seorang pendiri sekte yang tidak memiliki dasar hukum Taurat
yang benar. Dan bahkan aku mendengar jika pemimpin murid-murid Yesus yang
bernama Petrus adalah seorang mantan nelayan dan buta huruf. Itu membuat
semua imam besar meradang.
Lain dengan orang Farisi, orang-orang Saduki segera menjadi marah dan
menangkap Petrus dan Yohanes. Karena kelompok mereka tidak memercayai
kehidupan setelah kematian. Mereka percaya jika seorang mati maka semuanya
selesai.
Atas dasar itulah mereka berdua dibawa ke sidang Sanhedrin. Kelompok Saduki
ingin menghukum mati mereka. Tapi, Gamaliel sebagai ketua Sanhedrin dan juga
ketua dari orang Farisi berkata, ―Kita tidak perlu memberikan hukuman mati
pada orang yang memercayai kehidupan setelah kematian. Itu adalah
kepercayaan mereka. Kita mendapati bahwa mereka hanya melakukan kesalahan
dengan melakukan pembaptisan atas nama Yesus, guru mereka. Biarlah kita
menegurnya dan membebaskannya.‖
―Apakah kamu akan membiarkannya?‖ serang imam besar bernama Hanas dari
kelompok Saduki.
110
―Aku tidak mendapatkan kesalahan berat dari mereka yang pantas untuk di
hukum mati,‖ tambah Gamaliel di depan persidangan semua orang. ―Jika mereka
membuat kesalahan dengan membaptis memakai nama Yesus lagi setelah ini,
saat itulah kita baru menghukumnya. Tapi, hukuman untuk saat ini hanyalah
berupa teguran.‖
Dua orang imam besar bernama Yohanes dan Aleksander merasa tidak senang,
tapi tidak ada yang bisa mereka dilakukannya selain menerima keadaan itu.
Akhirnya Petrus dan Yohanes dibebaskan dengan teguran.
***
Kembali pada pertemuan Gamaliel. Seorang imam besar berkata dengan nada
ketakutan, ―Mereka mengatakan kedua orang itu melakukan mukjizat. Apakah itu
benar? Mereka menyembuhkan seorang pengemis yang sudah lumpuh selama
delapan tahun di depan Bait Allah.‖
Aku segera terkejut, apakah benar ada orang yang dapat melakukan mukjizat
seperti itu?
―Ya,‖ kata seorang imam besar lainnya. ―Orang lumpuh itu berdiri bersama kita
saat adanya sidang Sanhedrin. Pria berumur 40 tahunan dan berwajah tirus.‖
Mendadak dahiku berkerut-kerut dan aku segera mencampuri pembicaraan itu.
―Jika yang kalian katakan sebagai seorang pria berwajah tirus dengan umur 40
tahunan dan sudah 8 tahun mengemis di depan Bait Allah. Dia adalah Teumos
dari Samaria. Salah satu dari puluhan orang yang berpura-pura lumpuh dan
111
mengemis di depan Bait Allah. Semua orang di tempat itu mengetahuinya.‖
Sebagai mantan penjaga lapangan Bait Allah selama bertahun-tahun, aku dan
rekan-rekan lainnya mengetahui banyak hal yang terjadi di bawah sana.
Termasuk penipuan beberapa pedagang atau juga korupsi setoran oleh beberapa
prajurit penjaga lainnya.
Para imam besar langsung melihat ke arahku.
―Kita tahu, tidak semua orang di depan Bait Allah yang mengemis adalah
benaran lumpuh. Sebagian dari mereka adalah para penipu,‖ kataku. ―Jika
demikian, dia hanya membangkitkan seorang yang berpura-pura lumpuh dari
sekian banyak orang.‖
Seorang Imam Besar Yohanes dari orang Saduki berkata, ―Sebenarnya sebelum
disidangkan. Orang bernama Petrus dan Yohanes murid Yesus sudah kami
penjarakan tapi, keesokan harinya mereka sudah keluar dari penjara dan mengajar
di Bait Allah. Mereka mengatakan bahwa malaikat yang membukakan pintu bagi
mereka.‖
―Jadi kamu memercayainya?‖ tanya Caiaphas tertawa. ―Aku tidak mempercayai
hal itu sehingga menyuruh bawahanku mencari sebabnya. Ternyata para prajurit
penjaga mengatakan jika mereka dibebaskan oleh teman-teman mereka yang
menyelinap pada saat malam hari. Mereka hanya menipu para pengikutnya
dengan mengatakan malaikat telah datang. Seperti yang mereka katakan saat
Gamaliel membebaskan mereka dari sidang. Mereka mengatakan pada semua
112
orang jika malaikat dan Allah datang untuk membebaskan mereka. Mereka
adalah kumpulan-orang-orang gila.‖
Aku melihat wajah guruku yang menjadi pucat. Beberapa imam besar ikut
mencacinya. ―Lihatlah Gamaliel apa yang sudah kamu lakukan. Mereka sama
sekali tidak memiliki pengetahuan akan Taurat. Aku menyangsikan jika ada dari
mereka yang pernah memasuki sinagoga dan belajar Kitab Ibrani dengan benar.
Sekarang kamu membiarkan mereka mengajari orang-orang. Bukankah itu berarti
penipuan dan pembodohan? Mereka adalah para nelayan, orang-orang biasa yang
ingin menjadi Tuhan. Kita seharusnya menghukum mereka agar tidak
menyesatkan banyak orang.‖
Caiaphas menambahkan sambil memukul meja. ―Kamu membiarkan satu dari
mereka bebas, berikutnya akan muncul semakin banyak orang lagi yang mengajar
dan menyesatkan sesama mereka. Sebentar lagi mereka akan membaptis dengan
nama Yesus, dan besok entah atas nama siapa lagi. Kita harus menyelesaikan
masalah ini dan memberikan penegasan. Hanya mereka yang sudah belajar
hukum Taurat yang boleh mengajar. Bukan sembarangan.‖
Aku mulai membayangkan tiga ribu orang di depan bait Allah menerima
pengajaran dari seorang yang tidak memahami Kitab Ibrani. Tapi, masalahnya
mungkin lebih pelik dari ini lagi. Aku segera meminta izin berbicara.
―Para imam yang terhormat sekalian,‖ kataku. ―Aku datang ke tempat ini selain
untuk menemui kalian semua juga untuk menyampaikan pesan dari Gubernur
Pilatus.‖
113
Semua imam besar itu terdiam dan menatapku. Gamaliel melihat padaku dan
berkata, ―Katakan pesannya.‖
Aku segera berdiri. ―Gubernur Pilatus mencurigai jika tiga ribu orang yang
bergabung dalam Bait Allah, sebagiannya adalah orang Zealot. Ada kemungkinan
jika mereka sebenarnya ingin memberontak terhadapa pemerintahan Roma. Oleh
karena itu, ia meminta agar kalian tidak mendukung kelompok mereka. Meskipun
Roma tidak akan mencampuri urusan keagamaan kita, tapi seandainya timbul
pemberontakan, mereka akan segera masuk dan menghabisi mereka semuanya.
Dan mereka juga akan mengusut siapa saja yang memberikan sumbangan pada
kelompok itu.‖
Wajah para imam besar menjadi pucat.
―Kami tidak mendukung mereka atau pun memberikan sumbangan pada
mereka,‖ kata Imam Aleksander marah dan tersinggung. ―Kami bahkan tidak
menyukai mereka.‖
―Jadi? Dari mana mereka bisa hidup berbulan-bulan di dalam Bait Allah dan
tidak bekerja?‖ tanya Imam Yohanes. ―Mereka mengatakan Yesus memberi
makan pada ribuan orang dengan memecah roti dan ikan yang tiada habishabisnya. Tapi, aku tidak melihat mereka melakukan mukjizat dengan makanan
mereka.‖
114
Gamaliel menatapku, ―Panggillah Ellias sahabat Barnabas ke sini. Aku sudah
memerintahkan dirinya dan beberapa orang untuk menyelidiki kelompok itu dari
bulan lalu. Seharusnya dia dapat memberikan laporan itu pada kita sekarang.‖
Aku segera melaksanakan perintah itu dan keluar mencari Ellias. Tak lama
setelah bertanya pada beberapa orang, dan menemukannya sedang berada di
dalam kamarnya, aku membawanya ke tempat pertemuan itu.
Gamaliel menatap pria bertubuh kurus dan berusia sekitar empat puluh tahun itu,
―Ellias, kamu sudah mencoba bergabung di antara mereka bersama Barnabas
orang Lewi yang mengkhianati kita dan memasuki kelompok mereka. Katakan
bagaimana mereka dapat memberi makan pada banyak orang di sana. Jumlah
mereka bahkan terus bertambah.‖
Ellias terlihat sedih dan berkata, ―Demi Tuhan, aku akan mengatakan kebenaran.
Kelompok mereka terdiri dari berbagai orang dari berbagai tempat. Yang paling
banyak adalah kaum Zealot. Seorang yang bernama Simon orang Zealot adalah
murid dari Yesus. Dia membawa saudara-saudaranya dan orang-orang Zealot dari
berbagai tempat. Jumlah mereka terus bertambah. Mereka terus mengajarkan
pada semua orang jika mereka tidak takut pada pemerintah, imam dan siapa pun
kecuali pada Tuhan yang disembah oleh Yesus. Mereka mengatakan jika semua
orang seharusnya memiliki keyakinan dan lebih baik mati memperjuangkan
perkara Tuhan. Karena mereka akan dihidupkan kembali seperti Yesus.‖
Mendengar itu para imam-imam bereaksi, ada yang marah dan ada yang pucat.
Aku sendiri merasa hal ini adalah hal yang sangat besar. Jika sekelompok orang
115
mengatakan tidak perlu takut pada pemerintah dan para imam. Maka
pemberontakan akan terjadi dalam waktu dekat. Semua orang mengetahui jika
tidak semua orang Yahudi menyukai bangsa Roma, bahkan sebagian kecil dalam
Sanhedrin sendiri pun masih ada yang tidak menyukai bangsa itu. Terutama
setelah pembunuhan oleh Raja Herodes Archelaus pada ribuan orang di dalam
Bait Allah.
Pemerintahan ini bisa berjalan dengan damai karena Roma menegakkan displin
militer dan hukuman berat pada penjahat, Raja Herodes mengendalikan para
imam yang mengajarkan Taurat pada bangsa Yahudi agar bangsa ini tetap dapat
dikendalikan.
Orang Zelot adalah kelompok yang selalu ingin memberontak. Jika dia berhasil
mendapatkan ribuan orang yang tidak dapat dikendalikan para imam dan tidak
takut pemerintahan. Maka pemberontakan akan muncul.
Ellias menambahkan, ―Mereka menghasut agar semua orang menyembah satu
Tuhan. Tuhan Bangsa Ibrani dan tidak seharusnya membayar pajak pada
pemerintah Roma. Aku mendengar isu jika orang-orang Zealot dari berbagai
wilayah sedang berdatangan ke Bait Allah dengan membawa senjata. Mereka
ingin merebut Bait Allah terlebih dahulu.‖
―Hal, ini sangat berbahaya,‖ teriak Imam Besar Caiaphas. ―Kita harus
memberitahu tentara Roma agar mereka menghabisi kelompok itu sebelum kita
juga dianggap ikut serta dan dihukum.‖
116
―Bersabarlah terlebih dahulu,‖ sahut Gamaliel sesuai dengan wataknya yang
selalu tenang. ―Kita masih belum mengetahui keseluruhannya. Ellias lanjutkan
lagi.‖
―Baik Guru‖ tambah Ellias. ―Sebagian lainnya dari kelompok itu adalah orangorang yang mempercayai perkataan murid-murid Yesus. Mereka mengikuti
kelompok itu dengan sepenuh hati. Sisanya adalah orang-orang yang ingin
mendapatkan kecukupan makanan.‖
―Kecukupan makanan?‖ tanya Imam Hanas, ―Jadi benar mereka menghidupi dan
memberi makan pada ribuan orang di sana. Tapi, dari mana datangnya uang
mereka?‖
Ellias mendesah sedih. ―Pertama-tama adalah mereka mengatakan pada semua
orang jika Tuhan akan segera datang dan keselamatan bersama mereka. Mereka
membujuk agar mereka semua menjual harta benda mereka dan mengikuti
kelompok itu agar dosa-dosa mereka dihapuskan.‖
―Apakah ada orang bodoh yang melakukannya?‖ tanyaku terkejut.
―Ya,‖ kata Ellias. ―Barnabas saudara kita telah menjual tanah warisannya untuk
digantikan uang dan digunakan untuk mencukupi kebutuhan kelompok itu.‖
Gamaliel dan imam lainnya mendesah. Mereka mengenal Barnabas.
―Oleh karena itu,‖ lanjut Ellias. ―Beberapa dari mereka sudah menjual harta
benda mereka. Namun, setelah beberapa lama, orang-orang sudah kehabisan
harta benda mereka untuk menghidupi kelompok berjumlah ribuan orang.
117
Kebanyakan dari mereka mengatakan tidak ada lagi harta untuk dijual dan
beberapa orang berkumpul di sana hanya untuk mendapatkan pembagian
makanan saja. Oleh karena itu, mereka—para pemimpin kelompok—mulai
melakukan ancaman agar setiap orang di sana harus menjual harta benda mereka
dan tidak berbohong soal kepunyaan.‖
―Apa yang mereka lakukan?‖ tanyaku.
―Pembunuhan,‖ kata Ellias.
Semua orang di sana terdiam.
―Aku berada di sana saat itu. Beginilah ceritanya,‖ kata Ellias.
***
―Saudara Ananias suami dari Safira, engkau dipanggil oleh hamba Tuhan
Petrus,‖ sahut seorang pria dari kelompok Zealot yang mendatangi pria bernama
Ananias yang sedang duduk dalam kelompok kecil untuk berdoa. Ananias
terkejut dan berdiri mengikuti orang Zealot itu yang membawanya ke tenda
Petrus.
Petrus berdiri di depan tenda dan menatap Ananias sambil berkata, ―Saudaraku
Ananias di dalam Tuhan. Malaikat Tuhan semalam mendatangiku dan berkata,
‗Carilah seorang bernama Ananias di antara kalian. Sesungguhnya dia memiliki
sebidang tanah. Katakanlah padanya jika Tuhan berkenan agar dia menjual tanah
itu agar semua dosa-dosanya diampuni.‘ Begitulah kata malaikat itu.‖
118
Ananias segera menjadi senang mendengar hal itu. Ia pun segera memberitahu
Safira kabar gembira tersebut. Mereka lalu menjual tanah mereka dengan harga
yang cukup murah.
Setelah penjualan tanah, Anansia mendatangi Petrus dan meletakkan sekantung
uang hasil penjualan di depan kaki Petrus. Setelah menghitung uang hasil
penjualan, Petrus berkata, "Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga
engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah
itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah
dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau
merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia,
tetapi mendustai Allah."
Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka
sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu.
Lalu datanglah beberapa orang muda, mereka mengapani mayat
itu,
mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya. Kira-kira tiga jam kemudian
masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada
suaminya.
Kata Petrus kepada wanita itu dengan suara lantang, "Katakanlah kepadaku,
dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?"
"Betul sekian," jawab Safira.
119
Petrus kembali berkata, "Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh
Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan
pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar."
Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah
nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah
mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya.
Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal
itu.
Dan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak.
Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan
yang erat. Orang-orang lain tidak ada yang berani menggabungkan diri kepada
mereka. Namun mereka sangat dihormati orang banyak. Dan makin lama makin
bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan, baik laki-laki maupun
perempuan. Bahkan mereka membawa orang-orang sakit ke luar, ke jalan raya,
dan membaringkannya di atas balai-balai dan tilam, supaya, apabila Petrus lewat,
setidak-tidaknya bayangannya mengenai salah seorang dari mereka.
Dan juga orang banyak dari kota-kota di sekitar Yerusalem datang berduyunduyun serta membawa orang-orang yang sakit dan orang-orang yang diganggu
roh jahat. Dan mereka semua disembuhkan.
***
120
―Apakah itu benar terjadi?‖ tanya imam Hanas ketakutan jika Roh Kudus berada
dipihak mereka dan benar-benar melakukan penyembuhan atau pembunuhan.
Ellias meneteskan air mata dan berkata, ―Sesungguhnya adalah demikian.
Saudara Ananias, sahabat baikku, sesungguhnya menjadi sasaran kebohongan
mereka. Aku harus membersihkan nama baik mereka yang dicela sebagai orang
jahat. Petrus sebenarnya tidak didatangi oleh Roh Kudus yang memberitahu
sebidang tanah Ananias.‖
―Tapi, seorang teman sekampung Ananias bernama Gabean yang memberitahu
Petrus jika Ananias masih memiliki sebuah tanah yang tidak mau dijualnya.
Padahal semua orang sudah kehabisan makanan. Gabean meminta pada Petrus
agar jangan sampai Ananias mengetahui jika dialah yang membocorkan rahasia
mengenai tanah itu. Karena setiap orang banyak di sana tidak mau menjual harta
mereka untuk orang lainnya. Oleh karenanya Petrus menyuruh Ananias menjual
tanah miliknya dengan berbohong mengenai Roh Kudus.‖
Imam Caiaphas mendesah kesal, ―Petrus seorang pembohong. Waktu menangkap
Yesus, dia menggunakan pedangnya untuk memotong telinga seorang prajurit.
Dan saat prajurit itu hendak menangkapnya, dia tidak mengaku jika dia adalah
pengikut Yesus. Kemarin saat keluar dari sidang, dia diselamatkan Gamaliel, tapi
dia berkata Roh Kudus atau malaikat yang telah menyelamatkannya. Seperti saat
dia keluar dari penjara berkat orang-orang Zealot. Dia mengatakan malaikat dan
Roh Kudus yang menyelamatkannya. Dia menggunakan nama Tuhan secara
sesukannya, demi kepentingannya.‖
121
Ellias melanjutkan, ―Saat Ananias menjual tanahnya, Petrus memerintahkan
Gabean untuk menjadi teman Ananias dalam menjual tanah. Agar ia dapat
mengetahui jumlah uang penjualan tanah tersebut. Karena Petrus mengetahui jika
kebanyakan orang tidak memberikan seluruh hasil penjualan harta benda mereka
pada kelompoknya.‖
―Apakah Ananias tidak memberikan seluruh hasil penjualan tanah?‖ tanyaku.
―Apakah ia menipu Petrus dan kelompoknya?‖
―Tidak!,‖ teriak Ellias yang air matanya masih berlinang. ―Ananias sesungguhnya
tidak mau menjual sebidang tanah itu karena merupakan warisan ayahnya dan
juga ia pernah berjanji untuk tidak menjualnya. Tapi karena Roh Kudus yang
menyuruh, maka ia menjual tanah itu dan membagikan sebagian uang
penjualannya pada adik-adiknya sebagai warisan keluarga mereka dan membayar
utang keluarganya. Ia tidak menyimpan sepeser pun untuk dirinya dan istrinya
dari sisa uang itu. Ia sungguh-sungguh mengabdi pada kelompok tersebut dan
memberikan seluruh uang hasil sisanya.‖
―Tapi, Petrus yang mendapat bisikan dari Gabean mengenai harga sebenarnya
menjadi marah. Saat itu dia memanggil Ananias ke dalam tenda dan tidak ada
yang mengetahuinya entah bagaimana. Ananias sudah tewas. Saat menguburkan
sahabatku itu, aku melihat luka bekas pukulan pada belakang kepalanya. Aku
segera menyelidiki dan ternyata seorang prajurit dari orang Zealot membunuh
Ananias di dalam tenda Petrus tanpa dilihat oleh orang lain. Dia juga yang
membunuh Safira istri Ananias dengan cara memukul kepala mereka.‖
122
Darahku segera mendidih dan marah. ―Mengapa mereka melakukan hal sekejam
itu! Mereka sudah mendapatkan uang tapi juga membunuhnya dan istrinya.
Bukankah persembahan itu adalah ikhlas? Dan Tuhan tidak akan membunuh
orang secara sembarangan. Apalagi orang yang memberi. Mereka bahkan tidak
mencuri.‖
Ellias menggelengkan kepalanya. ―Mereka memakai peraturan, milikmu adalah
milik semua orang. Mereka menjadikan Ananias dan Safira sebagai contoh agar
orang-orang menjual tanah dan harta benda mereka. Karena Roh Kudus dijadikan
ancaman. Orang-orang segera menjadi ketakutan dan menjual harta mereka.
Uang kembali memasuki kelompok mereka untuk memberi makan pada orang
banyak.‖
―Bukankah setelah itu tidak ada orang yang mati jika tidak menjual hartanya?‖
tanyaku marah. ―Sejak awal itu semua adalah pembohongan.‖
―Banyak yang mati,‖ kata Ellias mengejutkan semua orang. ―Hal itu membuat
orang semakin takut dan percaya pada Petrus.‖
―Bagaimana mungkin?‖ tanya Imam Caiaphas terkejut.
―Orang-orang Zealot yang merupakan mantan pemberontak dan prajurit. Mereka
mendapatkan informasi dari para pembisik mengenai harta benda rekan-rekannya
yang tidak mau menjual harta mereka. Kemudian orang-orang Zealot itu
menculik serta membunuh mereka saat malam hari. Pagi harinya mereka kembali
mengatakan Roh Kudus telah membunuh mereka karena mereka merahasiakan
123
harta mereka. Semua orang menjadi ketakutan dan menjual harta mereka karena
mengira Roh Kudus yang melakukannya. Seandainya pun mereka tidak takut
pada Roh Kudus, mereka lebih takut pada orang-ornag Zealot itu.‖
―Jika demikian,‖ kataku. ―Orang yang pintar akan memisahkan diri dari
kelompok itu dan menyelamatkan diri mereka. Mereka tidak akan bertahan.‖
―Mereka menyebutnya persekutuan yang erat,‖ kata Ellias jijik. ―Karena siapa
pun yang keluar dari kelompok, dianggap pengkhianat dan Roh kudus atau
orang-orang Zealot akan mengejar dan membunuh mereka. Orang luar tidak mau
memasuki kelompok mereka karena hal itu dan orang dalam tidak bisa keluar.‖
―Tapi mengapa jumlah mereka bertambah banyak?‖ tanya Imam Hanas.
―Penipuan,‖ kata Ellias marah. ―Orang-orang Zealot sangat pintar dan mereka
bahkan lebih licik dari ular. Dia memanfaatkan isu mukjizat Petrus untuk
menarik semakin banyak orang untuk bergabung, agar kelompok Zealot mereka
dapat bertahan. Mereka menyuruh orang-orang Zealot yang sehat dari berbagai
wilayah untuk datang ke Bait Allah dengan berpura-pura sakit, lumpuh atau
kerasukan Roh Jahat. Saat Petrus datang untuk berdoa atau menyentuh mereka,
mereka akan segera menjadi sembuh dan membuat orang-orang awam terkagumkagum dan memasuki persekutuan mereka.‖
Semua imam terdiam dan aku merasa sunguh-sungguh marah. ―Kita akan
bertindak menghukum mereka dan memuka kedok penipuan mereka,‖ kataku
dengan suara parau menahan amarah.
124
Gamaliel mendesahkan napasnya, ―Bersabarlah, jika mereka melakukan penipuan
seperti itu, mereka akan merusak diri mereka sendiri dan bukan mustahil
kelompok mereka tidak akan bertahan. Mereka berani menggunakan nama Tuhan
untuk kepuasan diri mereka. Hukuman akan datang pada mereka dengan
sendirinya.‖
―Tapi Guru,‖ tambah Ellias, ―Mereka melakukan lebih dari itu. Aku belum
menceritakan jika mereka mulai melakukan kejahatan.‖
―Kejahatan apakah itu?‖ tanyaku. Semua imam-imam ikut menanti jawaban.
Ellias menjawab, ―Cara hidup kelompok mereka sudah diketahui orang banyak.
Sehingga mereka yang memiliki harta benda akan menyingkir. Tapi mereka,
janda-janda dan orang miskin bertambah jumlahnya untuk mendapatkan
pembagian makanan. Sedari awalnya mereka telah miskin dan tiada harta benda
sehingga mereka tidak memiliki ketakutan apa pun. Uang persekutuan itu pun
menipis dengan cepat.‖
―Jadi apa yang mereka lakukan?‖ tanya Imam Aleksander.
―Mereka menyuruh beberapa orang untuk menangani masalah makanan itu.
Mereka membaptis mereka dengan nama Yesus dan Roh Kudus serta membuat
mereka percaya jika mereka dilindungi Tuhan. Mereka disuruh meminta
sumbangan dari semua orang,‖ kata Ellias.
―Tidak ada orang yang akan menyumbang pada mereka,‖ kata Imam Hanas
dengan wajah serius. ―Uang sumbangan untuk sekedar makan bagi para rabbi-
125
rabbi di sinagoga saja terkadang banyak terkendala. Apalagi mereka yang
meminta sumbangan secara tiba-tiba.‖
Ellias menatap kami semua dengan wajah serius. ―Mereka mengutuk orang yang
tidak memberi sumbangan dengan nama Tuhan dan Roh Kudus. Mereka
menyumpahi mereka sehingga banyak orang menjadi ketakutan dan memberi
mereka sumbangan.‖
―Itu pemerasan,‖ makiku.
Ellias tersenyum sedih. ―Itulah yang terjadi saat ini. Para pedagang dalam Bait
Allah sudah diperas oleh kelompok Zealot dan mereka mengancam akan
membunuh para pedagang jika berani berhenti memberikan sumbangan atau
melaporkannya pada Sanhedrin dan prajurit kerajaan. Orang-orang dalam kota
Yerusalem mulai merasa resah dengan kegiatan mereka.‖
Aku segera berdiri dan berkata pada imam-imam di sana. ―Aku Saul ada di pihak
kalian dan semua orang yang lemah. Jika kejadian ini memang benar, aku harap
ditunjuk sebagai penegak dispiln untuk mengendalikan mereka. Sesungguhnya
gubernur Pilatus sudah menawarkanku sebuah jabatan pengawasan kelompok
orang Zealot dan orang-orang yang akan memberontak itu.‖
Gamaliel dan para imam terkejut melihatku. Aku segera menambahkan, ―Jika
para imam-imam besar Sanhedrin bersedia memberikanku izin penugasan agar
tidak dikatakan orang Roma membunuh sembarangan terutama menyangkut
masalah agama, aku akan memiliki kekuasaan untuk menghukum mereka dan
126
menghabisi mereka tanpa perlu peradilan lagi. Karena pihak Roma dan Sanhedrin
sudah menyetujuinya.‖
―Maksudmu?‖ tanya Imam Besar Caiaphas.
Aku menghela napas dan melanjutkan. ―Sebenarnya, Gubernur Pilatus merasa
tidak nyaman setelah pembunuhan Yesus. Tapi, dia tidak bisa sembarangan
memberikan hukuman pada sesorang jika sesuatu itu dikarenakan urusan
kepercayaan bangsa Yahudi dan hukum Taurat.
Dia tahu jika pemberontak
semakin banyak dan terus melakukan provokasi dengan dasar ajaran Taurat, tapi
dia tidak bisa menghukum mereka bila pemberontakan belum terjadi. Itu semua
karena dia menghormati hukum Taurat yang berlaku di antara kita.‖
―Sedangkan kita,‖ tatapku pada mereka, ―Imam-imam dan Rabbi yang
sesungguhnya dari Tuhan bangsa Yahudi, melihat perusakan nama Tuhan,
penyesatkan umat dan keinginan melawan ajaran sesungguhnya, di depan hidung
kita tanpa dapat melakukan apa pun. Padahal kita tahu jika mereka menggunakan
kedok ajaran Taurat itu hanya agar mereka dapat menggalang kekuatan dan
memberontak atas pemerintahan Roma. Kita tidak dapat memberikan hukuman
berat tanpa melalui pemerintahan Roma.‖
―Oleh karenanya, aku akan menjadi penghubung atas masalah ini,‖ kataku
dengan sungguh-sungguh. ―Gubernur Pilatus sudah menerima surat dari beberapa
imam besar untuk memberikan hukuman pada para pelanggar. Tapi, Gubernur
Pilatus merasa tidak dapat mengurusi semua itu karena jumlahnya sangat banyak.
Oleh karenanya ia menawarkanku jabatan untuk memimpin para prajurit
127
mengendalikan pemberontak yang berkedok ajaran Kitab Taurat yang tidak bisa
disentuhnya. Dan itu hanya akan terjadi jika Sanhedrin juga menyetujui
keputusan itu dan memberikan kekuasaan yang sama padaku. Kalian akan
memberikanku wewenang untuk menghukum mereka atas dasar hukum Taurat.‖
Semua imam-imam di sana langsung menyetujui dengan senang mereka bahkan
dengan semangat berdiri memuji nama Tuhan.
―Kita akhirnya punya sesuatu yang bisa menjadi kekuatan kita,‖ kata iman
Caiaphas. ―Aku menyetujuinya.‖
―Puji Tuhan,‖ kata Imam Aleksander. ―Kebenaran akan selalu menang.‖
Imam Hanas tersenyum, ―Tuhan akhirnya memberikan jalan pada kita.‖
―Kami menyetujuinya,‖ tambah Imam Yohanes. ―Lakukanlah secepatnya
Sanhedrin menyetujuinya.‖
Aku menatap pada Rabbi Gamaliel yang belum mengatakan apa pun, hingga
semua orang menatapnya karena ia seorang Ketua Sanhedrin dan ia akhirnya
berkata, ―Jangan gegabah melakukan apa pun juga. Kita akan dengarkan
pendapat imam besar lainnya. Dan kita belum mengetahui jika kelompok itu akan
sejahat ini.‖
Semua imam besar di sana segera protes dan mendesak Rabbi Gamaliel.
Gamaliel akhirnya menyerah dan menatapku. Ia berkata, ―Katakan pada
Gubernur Pilatus, kami Sanhedrin menyetujuinya. Kami akan mendapatkan
128
ketenangan dalam ajaran Taurat yang sesungguhnya dan dia dapat membasmi
pemberontak Zealot itu. Tapi, Janganlah bergerak sebelum kita menemukan
kesalahan mereka. Surat resminya akan kami kirimkan langsung ke Gubernur.‖
Aku segera undur diri dan kembali ke kediaman Gubernur Pilatus. Di sana ayah
dan ibuku ikut mendengarkan.
Ayahku berkata, ―Jika kamu menerima jabatan ini. Lakukanlah dengan benar dan
jangan menghukum yang tidak bersalah.‖ Ia dan ibuku kembali ke Mesir.
Gubernur Pilatus memberikanku 25 orang prajurit dan sebuah surat kuasa.
Ia menatapku dan berkata, ―Kamu bisa merekrut prajurit bagimu dari orang-orang
Yahudi atau menggunakan prajurit Roma dari pos-pos mereka di berbagai
wilayah dengan menunjukkan surat kuasa ini.‖ Ia menyerahkan surat penugasan
padaku dan sebuah jabatan yang cukup tinggi hingga bisa menggerakan kepala
pasukan.
129
BAB 7
PEMBUNUHAN
Setelah Sanhedrin membubuhkan tanda tangannya dan Gubernur Pilatus
menyetujuinya, kelompok penegak displin segera dibentuk. Kami memakai
seragam khusus berwarna putih dan merah.
Meski sudah terbentuk selama beberapa bulan, kami belum juga bergerak. Aku
dan Rabbi Gamaliel membuat peraturan-peraturan yang akan menjadi dasar
penangkapan dan pemberian hukuman pada para pelanggar yang bisa ditindak
oleh pasukan penegak displin. Agar kelompok ini tidak melakukan hal semenamena pada orang-orang yang tertangkap.
Saat itu mendadak terjadi kehebohan di pintu depan ruang sidang Sanhedrin. Di
sana terlihat beberapa orang jemaat Libertini, yang terdiri dari orang-orang
Yahudi dari Kirene, Aleksandria, Kilikia dan Asia Kecil. Mereka membawa
seorang terhukum dan meminta sidang Sanhedrin agar segera dibuka.
Rabbi Gamaliel yang sedang bersamaku dipanggil oleh seorang rabbi muda untuk
menuju ruang sidang.
―Siapakah yang ingin mereka sidangkan?‖ tanya Gamaliel.
130
Rabbi itu segera menjawab, ―Aku mendengar terdakwa itu bernama Stefanus.
Seorang dari kelompok Yesus.‖
Gamaliel menatap ke arahku dan berkata. ―Ikutlah, kamu memiliki kepentingan
dalam hal ini.‖
Aku mengikuti Gamaliel pergi ke ruang sidang. Di sana, beberapa imam besar
mulai berdatangan dan menuju ke tempat duduk mereka masing-masing. Setelah
semuanya berkumpul di sebuah aula dengan para imam besar duduk di depan,
Gamaliel segera berkata. ―Masukkan terdakwa dan orang-orang yang
mendakwanya bersalah.‖
Dua orang penjaga yang bertugas di sidang Sanhedrin mendorong seorang pria
masuk yang juga diikuti oleh sekitar dua puluhan orang jemaat dan rabbi orang
Libertini.
―Katakan siapa dirimu?‖ tanya Gamaliel melihat pria itu.
Pria yang masih terlihat muda, sekitar umur awal dua puluhan, itu segera berkata,
―Aku adalah Stefanus biarlah kuceritakan siapa diriku.‖
***
Ketika jumlah murid-murid yang mengikuti jalan Yesus semakin bertambah,
timbullah sungut-sungut di antara orang-orang Yahudi yang berbahasa Yunani
terhadap orang-orang Ibrani, karena pembagian kepada janda-janda mereka
diabaikan dalam pelayanan sehari-hari.
131
Berhubung dengan itu kedua belas rasul itu memanggil semua murid berkumpul
dan berkata, "Kami tidak merasa puas, karena kami melalaikan Firman Allah
untuk melayani meja.
Karena itu, saudara-saudara, pilihlah tujuh orang dari antaramu, yang terkenal
baik, dan yang penuh Roh dan hikmat, supaya kami mengangkat mereka untuk
tugas itu, dan supaya kami sendiri dapat memusatkan pikiran dalam doa dan
pelayanan Firman."
Usul itu diterima baik oleh seluruh jemaat, lalu mereka memilih Stefanus,
seorang yang penuh iman dan Roh Kudus, dan Filipus, Prokhorus, Nikanor,
Timon, Parmenas dan Nikolaus, seorang penganut agama Yahudi dari Antiokhia.
Mereka itu dihadapkan kepada rasul-rasul, lalu rasul-rasul itupun berdoa dan
meletakkan tangan di atas mereka.
Firman Allah makin tersebar, dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah
banyak; juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya. Dan Stefanus,
yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tandatanda di antara orang banyak.
***
Aku mendengarnya dan merasa orang bernama Stefanus ini begitu bangga akan
dirinya dan mengaku dapat melakukan kuasa dan mukjizat. Oh, aku lupa
mengatakan jika aku berdiri di bagian belakang pria bernama Stefanus itu. Pria
muda kurus dan berwajah tampan.
132
Imam besar Caiaphas mendadak menjadi marah, ―Jadi? Para murid-murid Yesus
itu sekarang mengutus orang lain untuk memeras uang untuk memberi makan di
meja-meja anggota kelompok kalian? Dan kamu memeras uang dari anggota
kelompokmu. Tidakkah itu membuatmu seperti orang jahat yang memaksa orang
untuk mengeluarkan uangnya? Dasar Perampok!!!‖
Srefanus langsung membantah dengan suara keras. ―Memberikan uang untuk
Tuhan sama sekali tidak salah, tugasku dan tanggung jawabku adalah menjaga
agar mereka semua dapat beroleh makanan dan belajar dengan baik dan tenang.
Juga membiarkan para rasul-rasul Yesus yang dipenuhi oleh Roh Kudus untuk
mengajar.‖
Gamaliel segera menambahkan, ―Aku tidak akan meributkan jika kamu menjadi
petugas bagi kelompokmu dan sekarang katakan apa kesalahanmu.‖
―Aku sedang menerima sumbangan dari jemaat dan orang-orang ini
menangkapku setelah kalah berdebat dalam agama denganku,‖ teriak Stefanus.
Seorang rabbi dari Libertini maju dan berkata, ―Kami menangkapnya karena dia
mencoba memeras uang dari anggota jemaat kami dan mencoba menakut-nakuti
para jemaat yang tidak memberi.‖
―Aku tidak memaksa atau menakuti-nakuti,‖ teriak Stefanus. ―Aku hanya
memberitahu kebenaran pada mereka.‖
Seorang imam besar memandang Stefanus dan berkata, ―Apa yang kamu katakan
pada mereka?‖
133
―Agar mereka memberikan sumbangan untuk menyucikan dosa-dosa mereka atas
nama Yesus dan segera bertobat untuk bergabung bersama kami.‖
―Jika mereka tidak mau bergabung?‖ tanya imam besar yang lain.
―Mereka akan seperti kalian semua, mati dan perut kalian akan terbelah dan
dimakan oleh cacing-cacing, karena kalian semua sudah membunuh Yesus. Cuma
petaka yang menanti kalian semua,‖ balas Stefanus dengan suara tajam.
Wajah semua orang di sana langsung meringis.
―Apakah dia mengatakan seperti itu pada anggota jemaat kalian?‖ tanya Imam
Hanas pada rabbi dari Libertini.
Rabbi itu segera menjawab, ―Ia malah mengatakan lebih daripada itu. Dia
mengatakan jika para jemaat tidak seharusnya membayar pajak pada pemerintah
dan memberikan sumbangan pada sinagoga kita karena keduanya tidak layak
menerima sepeser pun. Semua uang itu seharusnya untuk Tuhan mereka.‖
―Itu adalah benar,‖ kata Stefanus. ―Tidak ada yang layak menerima uang-uang itu
karena Bangsa Ibrani adalah bangsa pilihan Tuhan dan Yesus meminta kita untuk
bangkit dari kesesatan yang sudah lama melingkupi bangsa ini. Tidak sepeser pun
pantas untuk kalian meiliki jika itu adalah hak Tuhan.‖
Wajah para imam menjadi kesal.
Rabbi itu kembali menambahkan, ―Saat seorang jemaat menolak dengan halus
dengan berkata tidak memiliki uang. Dia mengutuk jemaat itu dengan berkata,
134
‗janganlah engkau membohongi Roh Kudus karena cuma kematian yang akan
kamu hadapi. Ananias dan Safira sudah menjadi buktinya.‘ Dia mengatakan hal
itu saat ia bersama tiga atau empat orang Zealot yang memasang wajah sangar
dan memegang senjata. Sehingga para jemaat merasa terancam dan memberikan
uangnya. Beberapa jemaat memberitahu kami sehingga kami berkumpul untuk
menangkapnya bersama-sama. Para orang Zealot itu tidak berhasil kami tangkap.
Mereka melarikan diri meninggalkan pria muda ini.‖
―Semua itu bukan ancaman.‖ Stefanus terlihat marah dan menambahkan, ―Petrus
memiliki kuasa. Ia dan kuasa Roh Kudusnya akan membunuh mereka yang
berbohong padanya. Saat ia menurunkan kuasa itu padaku, aku juga akan dapat
membuat mereka binasa. Karena aku mengatakan kebenaran. Seperti kalian
membebaskan
Petrus
karena
kuasa
Roh
Kudus.
Kalian
juga
akan
membebaskanku karena kuasa Roh Kudus, jika tidak, kematian akan segera
mendatangi kalian. Lebih cepat dari suaraku mencapai kalian.‖
Aku mulai merasa tidak yakin jika pria muda ini masih waras. Ia mengancam
para imam besar dan merasa begitu yakin akan kebenaran dirinya. Ia hampir
tampak seperti seorang fanatik yang sangat beriman. Kuasa roh, pembunuhan,
kutukan dan hujatan, aku hampir seperti melihat kembali kejadian saat kami
menangkap seorang dukun dari Mesir yang merupakan salah seorang kepala
pemberontakan. Ia terus memaki dan mengutuk kami. Kutukan dan sihirnya
ternyata tidak lebih hebat dari pada pedang seorang prajurit Roma yang mencapai
135
lehernya. Dan kami semua masih baik-baik saja dengan kutukannya hingga saat
ini.
―Pria ini dikuasai roh jahat,‖ tambah seorang imam besar.
―Aku dipenuhi kuasa Roh Kudus yang membuatku tidak takut dan gentar pada
kalian semua sama sekali,‖ teriak Stefanus. ―Roh Kudus besertaku dan malaikat
Tuhan besertaku.‖
Gamaliel menggeleng-gelengkan kepalanya. ―Stefanus murid Yesus, kami tidak
berniat untuk menakutimu. Kami ingin kamu tidak mengganggu para jemaat itu
lagi. Asalkan kamu bisa berjanji untuk tidak mengabarkan ajaranmu pada orang
yang tidak bersedia mendengarkan, tidak mengucapkan kata-kata mengancam
dan tidak mengajar dalam nama Yesus sebagai Tuhan. Kamu boleh pergi.‖
Para imam segera menjadi marah dan memprotes Gamaliel.
Stefanus yang mendengar itu berkata dengan marah, ―Aku menyampaikan
kebenaran. Aku tidak pernah mengucapkan kata-kata mengancam, yang
kuucapkan adalah kebenaran dan kuasa nyata. Saat ini juga malaikat dan Roh
Kudus ada bersamaku. Aku akan tetap mengajar dengan nama Yesus sebagai
Tuhan. Kuasa Roh Kudus akan membunuh kalian dan menghancurkan Bait Allah
jika kalian mencoba menyentuhku atau menghambat pengajaran kami.‖
Imam Gamaliel terdiam, para imam besar juga. Mereka antara tidak yakin jika
ancaman itu benar atau Stefanus sudah gila. Para jemaat Libertini juga terdiam
mendengarkan keberanian Stefanus.
136
Stefanus melanjutkan lagi, ―Sesungguhnya kalian para imam-imam sudah buta.
Kalian tersesat karena berdekatan terlalu lama dengan bangsa Roma. Bangsa
yang menyembah berhala. Sudah waktunya kalian sadar dan bertobat. Aku akan
membaptis kalian dalam nama Yesus dan Roh Kudus. Kita semua akan dikuatkan
dalam Tuhan dan menjadi besar kembali dengan tanah pilihan kita sendiri.‖
Aku menggelengkan kepalaku. Sebagian imam-imam besar marah dan memaki
sambil berteriak, ―berikan hukuman pada dia.‖
Stefanus berbalik marah, ―Kalian tidak akan bisa menghukumku tanpa membuat
Roh Kudus dan para malaikat marah. Sekali lagi kukatakan. Kalian semua yang
menyentuhku akan mati.‖
Putus sudah tali kesabaranku. Aku merasa marah dan berjalan ke depan Stefanus
untuk menatapnya. Dia melihatku dengan sedikit pandangan kebingungan/
Dengan cepat, tanganku terkepal dan meninju keras pipinya dengan keras. Ia
terlihat tidak siap menghadapi pukulan itu dan tubuhnya terjatuh. Bibirnya
mengalirkan darah.
―Kamu sudah menyentuhku!!‖ teriaknya marah. ―Roh Kudus!!! Bunuh orang
ini!!!‖
Semua orang di tempat itu menjadi hening ingin melihat tanda-tanda dari
ucapannya. Tempat itu terasa mencekam.
Aku tersenyum kejam padanya dan tetap melihatnya secara langsung. ―Aku
sudah menyentuhmu, di mana kematian yang sudah kamu janjikan padaku atas
137
nama Roh Kudus dan malaikat Tuhan yang seakan-akan dapat kamu perintah dan
atur untuk membunuh itu,‖ kataku dengan penuh kemarahan.
―Kesalahanmu sudah terlalu banyak. Tapi, kali ini aku akan menghukummu
karena perkataanmu yang tidak jujur dan berbohong. Jika aku tidak mati dalam
waktu aku menyeretmu keluar dari ruangan sidang ini menuju ke tempat
penghukumanmu, maka dirimu yang akan dirajam dengan batu hingga mati di
tempat itu. Jika aku mati, maka kamu akan bebas,‖ tantangku.
Wajah Stefanus menjadi pucat. ―Kalau kamu membunuhku, aku akan dihidupkan
kembali. Aku tidak dapat dibunuh.‖
Aku segera menghadap pada imam besar dan berkata, ―Aku tidak dapat
memutuskan hukuman padanya karena dia tampak tidak waras dihadapanku.
Maka keputusannya kuserahkan pada kalian.‖
Para imam besar segera berunding dan dari para saksi juga ikut menyuarakan
keinginan mereka. Teriakan ‗hukum mati‘ terdengar di seluruh penjuru ruang
sidang.
Selang tak berapa lama, Imam Gamaliel tampak kecewa dengan hasil rapat dan
dia akhirnya mengatakan, ―Sesuai hasil suara terbanyak, maka Stefanus akan di
hukum mati.‖
Semua orang bersorak dan Gamaliel kembali menambahkan. ―Hanya jika para
saksi bersedia menjadi saksi atas hukumannya, Saul dapat melaksanakan
hukuman mati padanya.‖
138
Beberapa orang anggota jemaat dengan cepat membuka baju mereka untuk
diletakkan di depan kakiku sebagai bukti jika mereka bersedia menjadi saksi.
Para imam-imam besar bersorak senang dan aku segera memerintahkan seorang
prajurit untuk menyeret Stefanus keluar untuk dirajam dengan batu di hadapan
orang banyak.
Suara Stefanus yang diseret keluar dari ruang sidang sambil diikuti oleh para
saksi, masih terus bergema dengan nama-nama ‗Roh Kudus, Tuhan dan
Malaikat.‘
Aku menatap pada Gamaliel dan semua imam-imam besar di sana untuk berkata,
―Aku, Saul, akan segera memberikan hukuman pada kelompok mereka, karena
jelas mereka sudah melakukan hal yang melewati batas toleransi kita. Jika kita
tidak menghukum mereka sekarang, mereka akan memanfaatkan pemberian
hukuman pada Stefanus dan kematiannya sebagai api untuk menyulut
pemberontakan di antara orang-orang.‖
Gamaliel hanya menatapku tapi, imam-imam lainnya segera memberi restunya.
Sesuai dengan keputusan Sanhedrin, aku mulai dapat bergerak.
Saat aku keluar, aku melihat Stefanus sudah tergeletak tak bergerak. Aku segera
berkata pada prajurit. ―Segera bakar mayatnya. Jika dia hidup kembali, dia hanya
akan menjadi abu.‖ Selesai berkata demikian, aku dapat melihat wajah lega pada
beberapa jemaat Libertini. Tampaknya mereka masih setengah percaya pada
ancaman Stefanus yang akan hidup kembali.
139
Berikutnya, aku menyuruh seorang prajurit untuk menemui Gubernur Pontius
Pilatus untuk meminta tambahan beberapa orang prajurit Roma darinya. Jumlah
prajuritku yang hanya 25 orang tidak akan banyak membantu untuk menegakkan
peraturan pada kelompok berjumlah ribuan itu.
***
Kabar kematian Stefanus segera diketahui oleh Petrus dan para orang Zealot
karena seorang saksi yang melihat Stefanus dirajam hingga mati segera
melaporkannya pada mereka. Siang itu juga, mereka semua—para pemimpin
kelompok—sedang berada di dalam sebuah tenda besar untuk mengadakan rapat
sehubungan dengan masalah tersebut.
―Kita harus membalasnya,‖ teriak Petrus dengan wajah merah pada semua orang
yang hadir.
―Benar!‖ teriak seorang pimpinan orang Zealot bernama Gaius sambil berdiri.
―Inilah saatnya kita bergerak. Para imam-imam Sanhedrin telah berani
menghukum hamba Tuhan sebenarnya. Mereka adalah para iblis sebenarnya yang
ikut menyembah berhala orang Roma. Mari kita berikan hukuman pada mereka
dan mengambil alih Bait Allah ini.‖
―Satu untuk semua dan semua untuk satu,‖ teriak pimpinan kelompok lainnya.
―Stefanus adalah saudara kita, darah daging kita sendiri dalam ikatan Yesus. Kita
harus membalaskan dendamnya,‖
140
Semua orang di dalam tenda para pimpinan segera setuju. Mereka segera
mengorganisasikan agar setiap orang mau mengangkat senjata untuk merebut
Bait Allah. Para orang Zealot memang sudah lama mempersiapkan diri untuk
rencana itu, mereka telah menyimpan banyak senjata-senjata tajam di sekitar
rumah-rumah anggota orang Zealot di Yerusalem.
Saat itu juga, mereka segera membawa gerobak ke tiap-tiap tempat
persembunyian senjata dan mengatur agar senjata-senjata tajam itu dapat
memasuki Bait Allah untuk dibagikan pada semua anggota mereka. Pada saat itu
di dalam Bait Allah, terdapat sekitar 5.000 – 6.000 orang yang ikut bersama
kelompok Petrus. Sebagian besarnya adalah orang Zealot.
Pada siang hari mendekati sore, ratusan orang yang menjadi pimpinan kelompok
memberitahu anggota-anggota mereka untuk mempersiapkan diri. Senjata-senjata
tajam seperti pedang, kapak, tombak, pisau hingga alat pertanian membanjiri
ribuan orang kelompok Petrus. Mereka menyelipkan senjata-senjata itu di dalam
jubah panjang mereka.
Saat itu seorang pria berteriak keras di hadapan semua orang yang berkumpul.
―Roh Kudus beserta kita. Kita akan memperjuangkan kebenaran dan perkara
Tuhan kita. Siapa pun yang mati dalam pertempuran ini akan segera dibangkitkan
oleh para Rasul. Maka berjuanglah tanpa takut akan kematian. Kita akan
menghukum para imam-imam tua dan menangkap Saul yang telah membunuh
suadara kita. Kita akan menemukannya meski mereka bersembunyi dalam bawah
tanah. Roh Kudus akan menunjukkan mereka pada kita.‖
141
Semua orang bersorak-sorak menyetujui. Tiba-tiba sebuah suara terdengar
berteriak keras pada mereka semua.
―Kalian tidak memerlukan Roh Kudus untuk menemukan Saul! Gunakan mata
kalian dan lihatlah dia ada di depan kalian.‖
Mereka semua melihat seorang pria berada di atas kuda sedang membalas
menatap ke arah mereka.
***
Aku mendatangi Bait Allah setelah beberapa orang mata-mata dari Sanhedrin
yang ikut bergabung dengan kelompok Petrus, berlari ke Bait Allah dengan
tergesa-gesa dan melaporkan rencana pemberontakan itu pada para imam.
Mereka dengan cemas mengatakan jika orang-orang Zealot sudah mulai
melancarkan orasi untuk mengajak orang dan mereka telah dipersenjatai. Para
mata-mata dari kelompok itu berlarian keluar memisahkan diri, tidak bersedia
ikut terjebak dalam kakacauan tersebut.
Keadaan akan semakin kacau sehingga aku segera memerintahkan 20 orang
prajuritku untuk buru-buru pergi ke Bait Allah.
Setibanya di sana, aku melihat mereka berorasi terang-terangan dan menghina
kelompok Sanhedrin yang mengatur bangsa Yahudi. Mereka jelas-jelas
melecehkan hukum, pemerintahan dan Kitab Taurat. Mereka bahkan ingin
menguasai Bait Allah.
142
Aku berdiri dari atas kuda dan berteriak keras pada mereka semua. ―Akulah Saul
yang kalian cari!!‖ Aku melihat pada ribuan orang kelompok Petrus yang sedang
menatap padaku. ―Oleh Sanhedrin dan pemerintahan Roma, aku dipilih menjadi
penegak hukum di antara kalian. Saat ini aku ingin memberikan peraturan baru
bagi kalian. Tapi, kalian mengangkat senjata bahkan sebelum peraturan itu
kuberikan.‖
―Tidak perlu peraturan!!!‖ teriak seorang pimpinan kelompok Zealot sambil
megangkat senjata berupa pedang. ―Sanhedrin dan pemerintahan Roma akan
lenyap hari ini juga sebelum matahari esok muncul.‖
―Benar! ―teriak banyak orang sekaligus sambil mengacungkan senjata tajam ke
atas. Dalam sekejap terlihat ribuan senjata tajam dari pisau, golok, kapak,
tombak, palu dan banyak lainnya yang teracung dari atas ribuan manusia.
Aku benar-benar marah, sebuah pedang kukeluarkan dari sarung dipinggangku
dan pedang itu terangkat tinggi di atas. ―Siapa pun yang berani mengangkat
senjata dan melawan Sanhedrin dan pemerintah akan beroleh kematian.
Menyerahlah sekarang sebelum terlamabat dan nyawa kalian akan selamat.
Menyeranglah sekarang dan tidak akan ada yang tersisa di antara kalian.‖
―Kami tidak akan menyerah,‖ teriak seorang pimpinan yang dianggap oleh
kelompok mereka sebagai orang suci. ―Tuhan bersama kamu, Roh Kudus hadir di
antara kami dan dengan kuasanya, engkaulah dan segelintir prajuritmu akan
menghadap Tuhan hari ini juga. Tangkap Saul!!!‖ Orang yang dianggap sebagai
pemimpin nomor satu kelompok mengatas namakan Yesus memberi perintah
143
tegas. ―Tangkap dia dan berikan dia hukuman seperti dia telah membunuh Yesus.
Beri mereka semua pelajaran.‖
Aku tidak ingat jika pernah melihat Yesus, apalagi membunuhnya. Tapi, dalam
sekejap, ratusan atau mungkin ribuan orang bergerak menuju ke arahku secara
serentak sambil berlari dan mengangkat senjata mereka. Mereka terlihat haus
darah. Jarak mereka ke tempatku adalah sekitar 200 meter. Mereka akan tiba ke
tempat kami dengan cepat.
―Bunyikan terompet,‖ kataku dengan cepat pada seorang prajurit di sampingku.
Aku kemudian melihat pada ratusan orang yang menyerang dan berteriak dengan
keras. ―Saat ini hanya kematian yang akan kalian temukan. Semua pria akan mati,
semua wanita yang memegang senjata akan mati. Hanya anak-anak yang akan
selamat.‖
Seolah tak peduli, ratusan orang itu segera menerjang semakin dekat padaku.
Sebuah suara terompet sudah terdengar melambung tinggi dari sampingku dan
kemudian suara terompet dari arah luar Bait Allah ikut berbunyi bershut-sahutan.
Suara langkah ribuan orang menyerangku terdengar mengerikan, bahkan suara
teriakan mereka terdengar bagai guntur. Namun, sebelum mereka berhasil
mendekatiku, dari arah belakangku berderap juga gemuruh suara langkah kuda
dan teriakan para prajurit Roma. Dari luar Bait Allah masuk juga ribuan prajurit
yang menderap kuda mereka dengan cepat.
144
Pemandangan itu menghentikan langkah banyak orang yang sebelumnya hendak
menyerangku. Mereka terdiam melihat ribuan prajurit Roma yang berpakaian
lengkap dan duduk di atas kuda garang sedang melaju ke arah mereka dengan
kecepatan tinggi. Pedang di tangan pada prajurit itu sedang terhunus untuk
membunuh.
Aku mengerakkan kudaku untuk ikut menerjang ribuan orang yang ingin
membunuhku berserta sekitar ribuan prajurit Roma. Tepatnya 4.000 prajurit
Roma. 1000 prajurit berkuda dan 3000 prajurit berjalan kaki. Perbedaan besar
antara kami adalah para prajurit Roma adalah para prajurit terlatih yang
berperang sudah menjadi pekerjaan sehari-hari mereka. Membunuh sudah
menjadi hal biasa bagi mereka. Termasuk diriku yang sudah terbiasa berperang di
Mesir melawan pemberontakan. Seorang pemimpin harus berani berada di garis
depan untuk memimpin dan melakukan lebih baik daripada bawahannya agar
mendapat penghargaan. Ayahku menanamkan sifat itu padaku dan dia selalu
berada di garis depan di saat yang dibutuhkan.
Sedangkan lawan kami adalah kumpulan orang Yahudi dan Zealot yang sudah
terbiasa hidup damai dan mungkin tidak pernah membunuh. Mereka kebanyakan
adalah petani dan orang-orang biasa yang lebih sering memegang cangkul
daripada senjata untuk membunuh. Dan kelompok mereka meski berjumlah 6.000
orang, sebagian dari mereka adalah wanita.
Dan mereka sedang menghadapi para pria yang haus darah.
145
Anggota kelompok Zealot dan para rasul yang berlari ke arahku, perlahan
melambat setelah mengetahui apa yang sedang terjadi. Beberapa orang bahkan
langkahnya terhenti dan terdiam saat melihat ribuan prajurit berpakaian lengkap
sedang menderap kuda semakin dekat dengan mereka.
―Terlambat untuk menyerah,‖ kataku menderapkan kudaku dengan cepat dan
menebas seorang pria yang mengacungkan kapak padaku. Berikutnya, semuanya
menjadi sederhana. Suasana menjadi kacau, mereka yang awalnya berpikir
sebagai pemburu kini menjadi yang diburu. Darah berceceran, orang-orang
berteriak, beberapa orang mencoba kabur dan pedang menemukan sasarannya.
Kuda-kuda kami berlari menerobos kelompok mereka dan mengejar mereka
dengan pedang yang terus menebas. Orang-orang berlarian terpencar-pencar,
diinjak dan diseruduk oleh kuda yang liar. Sebagian besar dari mereka
memperlihatkan belakang tubuh mereka pada kami. Kami bahkan hanya sedikit
mendapatkan perlawanan yang sungguh-sungguh.
Singkat kata, ini adalah pembantaian sepihak.
Mayat-mayat berjatuhan. Kebanyakan dari anggota kelompok Zealot dan para
rasul itu berlarian meninggalkan anggota-anggota kelompok mereka yang
merupakan orang biasa. Tapi, para prajurit terus mengejar mereka tanpa ampun.
Beberapa pria dan wanita meratap kesakitan di atas lantai, berteriak meminta
pertolongan. Tubuh mereka terluka dan darah mengalir. Aku segera ke sana
untuk memberikan mereka pertolongan dengan mata pedangku. Agar mereka
tidak lagi merasakan derita.
146
―Terlambat untuk menyerah!!!!‖ teriakku keras saat melihat banyak orang yang
membuang senjata dan berlutut meminta ampunan dan perlindungan. ―Bunuh
mereka semua. Jangan ada yang tersisa.‖
Satu hal yang kupelajari dari ayahku mengena pemberontak adalah, mereka tidak
pernah benar-benar menyerah dan jika kamu ingin menghukum, berikan
hukuman yang membuat mereka jera. Dan membuat yang lainnya tidak akan
pernah ingin mengikuti langkah itu lagi. Dengan demikan sebuah ‗trauma‘ awal
itu penting bagi mereka agar tidak mengulang hal yang sama lagi.
Aku dapat melihat ribuan anggota kelompok itu mulai berjatuhan dengan cepat.
Beberapa orang terlihat berusaha melarikan diri dan para prajurit terus mengejar
mereka ke segala arah.
Tubuhku sudah berceceran darah dan pedangku sudah memakan cukup banyak
jiwa. Aku duduk di atas kuda dan melihat sekeliling yang kacau itu. Kembali, aku
tidak percaya dengan apa yang kusaksikan. Beberapa para pedagang di sekitar
Bait Allah, mulai menangkap para anggota kelompok Zealot dan Petrus yang
berusaha melarikan diri dengan bergabung dengan mereka atau orang-orang
awam yang tidak bersalah. Aku melihat beberapa pedagang menyeret seorang
wanita mendekati prajurit Roma dan berteriak, ―Dia adalah bagian dari kelompok
mereka! Bunuh dia.‖
Prajurit Roma itu langsung menghunuskan tombak yang menembus jantung
wanita itu. Para pedagang segera bersorak, yang lainnya bahkan mengeluarkan
senjata mereka untuk ikut membantai para anggota kelompok Zealot yang
147
melarikan diri ke arah mereka. Mereka membuat garis pertahanan di mana
anggota kelompok itu tidak akan dapat memasuki kawanan mereka untuk
bersembunyi.
Tampaknya mereka juga memendam kemarahan dan mendendam setelah
dimintai uang untuk waktu yang lama.
Pada saat jeritan dan teriakan berhenti, bau amis darah memenuhi seluruh
wilayah dekat di Bait Allah. Lamat-lamat terdengar teriakan kebahagiaan serta
kemenangan menutupi suara tangisan dan jerit kesakitan. Para pedagang dan
imam-imam
bersorak-sorak atas kehancuran kelompok itu.
Jasad-jasad
dikumpulkan untuk dibuang ke sebuah lubang tanah yang luas dan dalam.
Air dalam jumlah banyak disiramkan di atas lantai-lantai Bait Allah yang penuh
noda darah. Ada sebanyak 4.000- 4.500 orang yang terbantai dan sisanya
melarikan diri.
Sejak saat itu, aku mulai menegakkan dislpin tidak hanya pada Bait Allah tapi
seluruh Yerusalem dan wilayah kerajaan Yahudi. Aku menjadi mimpi buruk bagi
kelompok Zealot danPetrus yang mencoba memeras dan menyesatkan orang lain.
Mereka harus mengetahui jika sembarangan berbohong dan mengumbar nama
Roh Kudus, Malaikat atau Tuhan akan berakibat kematian pada mereka.
Peraturan yang diberikan sebenarnya cukup sederhana, ‗mereka tidak boleh
meminta sumbangan paksa mengatas namakan Tuhan, mereka tidak boleh
148
mengajarkan pada orang-orang yang tidak bersedia mendengarkan dan mereka
dilarang menggunakan nama Yesus sebagai pengganti Tuhan.‘
Meski mudah, mereka tetap saja tidak patuh dengan mencoba mengajar secara
diam-diam. Mereka masih sering melanggar, terutama bagian ketiga. Mereka
menganggap Yesus sebagai Tuhan. Dan aku percaya, para murid-murid Yesuslah
yang mengajarkan demikian. Mereka terus bersembunyi dari kejaranku dan para
prajurit.
149
BAB 8
UNTUK KEADILAN
―Aku percaya...,‖ bisikku lirih saat berada di dalam Bait Suci Allah untuk
memberikan kurban persembahan sekaligus berdoa.
―Aku membunuh demi kebenaran. Demi menyelamatkan banyak orang. Yang
kubunuh adalah para penyesat, mereka yang jiwa-jiwanya telah ternoda oleh
kejahatan. Mereka diracuni oleh makhluk-makhluk jahat yang menjelma menjadi
manusia. Pada akhirnya mereka menjadi makhluk jahat itu sendiri dan
menyebarkan racun mereka ke orang-orang terdekat.‖
―Mereka menjauhkan kebenaran dari genggaman orang benar dan orang-orang
lemah. Mereka memangsa jiwa dan keselamatannya. Demi menegakkan Kitab
Taurat yang diturunkan langsung oleh Tuhan pada Musa untuk manusia, aku
harus menjadi pejuang bagi Tuhan dan rakyatnya.‖
―Meski aku harus membunuh, akan tetapi aku mendapatkan perlindungan dan
izin dari Tuhanku.‖
Para imam-imam besar yang ada di sampingku merestui hal itu dan berkata,
―Tuhan memberakti dan mendukungku untuk melakukannya.‖
150
Aku benar-benar percaya Tuhan bersertaku dalam penegakan hukum ini.
Semuanya demi Tuhan.
***
Beberapa bulan kemudian.
Seorang pria yang memakai pakaian seragam berwarna merah dan putih, sedang
duduk di atas kuda dan melihat empat orang prajurit yang sedang mengikat
seorang pria berumur empat puluhan dan seorang wanita berumur tiga puluhan
yang merupakan istri dari pria tersebut. Kedua tangan mereka terikat di atas tiang
kayu dan dibawahnya terdapat banyak jerami dan kayu-kayu kering.
―Sepasang suami istri ini membawa racun sesatnya ke desa ini,‖ teriak sang
penunggang kuda pada semua orang desa yang berkumpul melihat kejadian itu.
―Mereka telah dikuasai makhluk jahat dari alam lain. Mereka kini telah menjadi
budak-budaknya. Kata-kata mereka menjadi racun bagi yang mendengarkan.
Tubuh mereka menjadi wabah bagi yang mendekatinya. Di mana mereka berada
hanya kesialan dan murka dari Tuhan yang turun di sekelilingnya.‖
―Lenyapkan mereka,‖ teriak seorang penduduk dengan marah.
―Bakar mereka,‖ kata lainnya. ―Jangan biarkan murka Tuhan jatuh pada desa
kita.‖
Beberapa orang segera mengambil batu dan melempari sepasang suami istri itu.
Batu demi batu merajami kedua tubuh mereka. Dahi sang wanita sudah pecah
151
mengeluarkan darah. Dan pria itu sudah sekarat. Perutnya telah ditusuk pada saat
ditangkap. Mereka berdua hanya bisa menerima perlakuan kasar itu.
―Aku bertobat,‖ kata sang wanita perlahan sambil merintih kesakitan. ―Ampuni
aku. Suamiku yang mengajariku untuk menjadi sesat. Aku bertobat dan kembali
kepada Tuhan kalian. Aku akan mengabdi pada imam.‖
Pria penunggang kuda tersenyum dan berkata, ―Dengarlah kata-kata manis itu.
Makhluk jahat telah mengajarinya untuk melepaskan diri dari ikatan Tuhan. Jika
kita melepaskannya sekarang, ia akan kembali meracuni kalian. Tapi Tuhan tahu
isi hatinya yang sudah membusuk dan penuh racun jahat. Apakah kalian ingin
tetap tinggal bersama mereka?‖
―Tidak!‖ teriak seorang yang berikutnya diikuti dengan banyak orang lainnya
untuk menyuarakan penolakan.
―Bakar mereka,‖ sahut pria muda itu memerintahkan prajurit yang memegang api
untuk membakar jerami dan kayu di bawah kedua orang itu. Cuaca saat itu
sedang cerah dan kering, dengan cepat api berkobar dan mulai membakar kedua
orang yang terikat. Teriakan-teriakan kesakitan terdengar mengerikan dari
tengah-tengah kobaran api.
Pria itu menggerakkan kudanya untuk menghadap para penduduk dan
membelakangi kobaran api yang meninggi. ―Dengarlah para penduduk
semuanya. Tuhan kita adalah Tuhan pecemburu, Ia akan dengan mudah
memusnahkan kita semua, mendatangkan penyakit dan membuat bencana
152
kelaparan dan kekeringan. Jangan ada pada kalian tuhan lain selain Tuhan dari
Nabi Musa. Kalian sudah melihat bencana di masa lalu dan akibatnya. Jangan
bersekutu pada makhluk jahat yang menyesatkan. Bersekutulah pada Imamimam, datanglah ke Bait Allah pada waktunya, berikan kurban dan lenyapkan
makhluk jahat serta pengikutnya. Kalian akan beroleh selamat.‖
Para penduduk segera menyambut kata-kata itu dengan semangat.
***
―Tahukah kamu sebuah wabah?‖ kataku pada mereka dengan keras. ―Sebuah
wabah penyakit, tindakan terbaik untuk mencegah hal itu agar tidak menyebar
lebih jauh adalah dengan membasmi sumbernya. Jika kamu gagal menghentikan
seorang yang membawa penyakit, ia akan segera menularkan penyakit itu ke
orang banyak. Pada akhirnya, satu desa bisa musnah karena kelalaian
menghentikan seorang.‖
―Oleh karenanya, semua masyarakat harus bekerja sama dan mengenali sumber
penyakit. Bekerja sama untuk menghentikan penularan.‖ Pada saat ini, aku
sedang berbicara pada sekumpulan orang-orang Yahudi di desa ini di depan
pasar, berdiri di atas sebuah meja kayu dan kembali menyampaikan hal yang
sudah kukatakan berkali-kali di setiap kota dan desa di sekitar Yerusalem
maupun di sekitar wilayah kerajaan Yehuda, ―Sekelompok orang akan datang
menyesatkan kalian semua. Mereka akan berpura-pura mengajarkan Kitab Ibrani
di antara kalian, tapi mereka adalah serigala-serigala jahat yang ingin menerkam
kalian. Mereka akan mengajarkan kalian untuk tidak menaati imam dan rabbi
153
terhormat. Mereka akan membujuk kalian untuk melawan pemerintah. Mereka
akan menyesatkan kalian dari Tuhan Nabi Musa dan membawa kalian pada
Tuhan yang bernama Yesus mereka. Berhati-hatilah.‖
―Jika kalian melihatnya, jangan biarkan mereka menyentuh kalian dan
menularkan roh jahat yang ada di dalam diri mereka pada kalian. Mereka akan
mengatakannya Roh Kudus. Tapi, kita semua tahu itu adalah roh jahat. Jangan
biarkan telinga kalian mendengar bujuk rayu mereka yang manis. Ambil batu dan
lempari mereka, usir mereka pergi dari desa kalian jika ingin beroleh selamat.
Tuhan dari Nabi Musa akan menghukum kalian jika kalian mendengarkan
mereka. Pemerintahan Roma kan menghukum kalian jika kalian bergabung pada
mereka yang berjiwa pemberontak. Tuhan akan memberkati kalian dengan
banyak kesukaan dan kedamaian jika kalian dapat membunuh satu di antara
mereka para penyesat.‖
Aku menatap mereka semua. ―Ingat ajaran mereka adalah sesat dan jahat. Mereka
akan mengancam dan meminta uang dari kalian. Jika kalian menemukan satu di
antara mereka, beritahu kami. Jangan sampai Tuhan menurunkan wabah pada
kalian semua karena satu orang. Dan ingat, jangan menyentuh mereka, jangan
biarkan kuasa jahat mereka menulari kalian. Lempari mereka, usir mereka atau
bunuh mereka.‖
Semua orang bersorak-sorak menyetujui apa yang aku katakan. Mereka terlihat
senang dan bersemangat. Aku merasa begitu bangga. Aku di sini sedang
memperjuangkan kebaikan bagi mereka. Mereka adalah orang-orang baik yang
154
mudah terpengaruh. Para penyesat itu akan memangsa mereka dengan mudah jika
mereka tidak menunjukkan taringnya. Di sebuah sudut kerumunan, aku
mendengar suara orang berbisik-bisik. Wajah mereka terlihat pucat, jelas ada
sesuatu yang sedang terjadi.
―Saudaraku yang berada di sana,‖ tanyaku. ―Apakah ada masalah?‖
Seorang wanita setengah tua dengan pucat melihat ke arahku, ia baru menyadari
jika mata semua orang sedang menatap ke arahnya. ―A...aku...aku baru saja di
dekati seorang yang mengajarkanku untuk tidak memercayai para imam.‖
―Di mana dia?‖ tanyaku segera.
Wanita itu tidak mau menjawab.
Aku segera berkata, ―Menyembunyikan orang itu juga berarti kamu turut
membantunya. Dirimu dapat dihukum.‖
Wajah wanita itu menjadi pucat dan tangannya bergerak gemetar menunjuk pada
seorang pria di dalam kerumunan yang berada di ujung lain. Pria itu terkejut saat
menyadari dirinya sedang ditunjuk. Wajahnya seketika memucat dan ia segera
berbalik untuk lari secepatnya.
―Tangkap dia,‖ teriakku dengan keras.
Sebanyak dua orang prajurit langsung bereaksi dan berlari mengejarnya. Tak
lama kemudian lebih banyak lagi prajurit yang mengejarnya. Seorang prajurit
155
dengan cepat berlari mendekati orang yang melarikan diri dan melompat
menerkamnya dari belakang hingga keduanya jatuh ke atas tanah.
Saat digiring ke hadapanku, wajah pria itu terlihat penuh dengan debu. Mulutnya
mengeluarkan darah.
―Apakah kamu mengajarkan ajaran sesat itu pada mereka?‖ tatapku tajam.
Pria itu meludah ke wajahku dan berkata, ―Kamu, prajurit Roma, penyembah
berhala seperti iman-iman lainnya. Kalianlah yang dikuasai roh-roh jahat
sebenarnya, menghina Tuhan Musa dan menjadi bawahan kaum penyembah
dewa-dewa. Yesus, Tuhan itu sendiri datang dan sudah mengingatkan kalian, tapi
kalian membunuhnya. Oleh kuasa Roh Kudus, matilah kamu.‖
Tanganku mengusap ludahnya yang menempel di wajahku. ―Kita lihat, roh
jahatmu yang akan membunuhmu terlebih dahulu, atau aku yang akan
membunuhmu dan roh jahatmu terlebih dahulu.‖
Aku segera memerintahkan agar dirinya diikat di tengah-tengah pasar dan
meletakkan kayu-kayu bakar di bawah kakinya.
Pria itu terus berteriak-teriak pada orang ramai, ―Aku akan mati demi
keselamatan kalian. Tuhan bersamaku dan aku akan melihat-Nya datang untuk
membawaku ke surga dan membunuh kalian semua. Aku mengatakan kebenaran
untuk menyelamatkan kalian. Aku adalah utusan Tuhan yang membawa kalian
pada kebenaran.‖
156
Tanganku membawa obor api dan membakar jerami-jerami kering di antara
kayu-kayu di bawah kakinya.
―Matilah kamu roh jahat,‖ teriak pria itu padaku.
Aku berteriak dengan keras, ―Kamu roh jahat yang berpura-pura menjadi Roh
Kudus dan penuh dendam serta kedengkian. Biarlah api ini akan menyucikan
jiwamu.‖
Tak lama kemudian teriakan kesakitan dan sumpah serapah terdengar dari dalam
kobaran api yang membakar dirinya. Kulitnya dijilat oleh lidah-lidah api dan
dengan cepat melepuh juga menjadi hitam. Suara jeritan menyayat hati terdengar
hingga jauh.
Selama bertahun-tahun berikutnya, aku melakukan perburuan. Beberapa kali,
kami mendapatkan laporan jika ada orang yang dilempari dengan batu hingga
mati oleh para jemaat. Mereka kebanyakan orang-orang Zealot dan orang-orang
yang merasa dirinya terpilih. Orang yang khusus mendapatkan kuasa dari Tuhan
langsung.
Petrus, pemimpin itu begitu mudah menggunakan nama Tuhan untuk mengelabui
para pengikutnya. Ia berkata Roh Kudus, Tuhan berbicara padanya. Tuhan
memilihnya, Yesus adalah Tuhan dan sebagainya. Dirinya penuh dengan
kesombongan. Dan pengikutnya sungguh mengira jika mereka dipenuhi Roh
Kudus dan mengucap kata-kata aneh seperti orang gila yang mereka katakan
sebagai bahasa roh.
157
Aku merasa mereka gila, setengah waras dan dikuasai roh jahat. Mereka tidak
tampak seperti orang normal lainnya. Tapi, mereka selalu merasa mereka adalah
orang suci dan paling benar. Jelas ada perbedaan pendapat mengenai hal itu.
Sejujurnya aku juga bingung dengan mereka. Mereka menamakan diri mereka
sebagai kelompok pengikut Yesus dari Nazaret. Tapi, mereka sama sekali tidak
memiliki landasan pengetahuan yang menyatu. Mereka terdiri dari berbagai jenis
kelompok yang bahkan tampak berbeda di antara mereka. Ada kelompok yang
mengatakan Yesus itu Tuhan, ada yang mengatakan Yesus itu putra Tuhan,
hingga ada yang mengatakan Yesus itu sang Nabi.
Tampaknya penyebaran mereka hanya melalui pemberitaan sembarangan oleh
orang-orang yang merasa mengetahui tentang Yesus dan Tuhan. Mereka tidak
memiliki sebuah kitab yang menjadi dasar penyatuan. Dapat dikatakan, mereka
juga tidak sependapat di antara mereka sendiri.
Bebarapa kali selama perburuan, aku menemukan orang-orang yang mengaku
sebagai saudara kandung Yesus, ada yang mengatakn dirinya sebagai Nabi utusan
Yesus, ada yang mengatakan dirinya penuh kuasa Roh Kudus dan dapat membuat
mukjizat layaknya para Nabi atau ahli sihir. Banyak juga yang mengaku sebagai
imam dari kelompok Yesus. Mereka bergerak bersama atau pun terpisah-pisah
untuk menyesatkan orang-orang, menghasut mereka dan meminta uang
sumbangan secara paksa. Aku hanya dapat mengatakan, saat mereka bertemu
denganku atau jatuh ke tanganku, bagiku mereka semua sama.
Seonggok jasad tidak bergerak.
158
Selain membasmi kelompok Yesus, aku juga membasmi sekte-sekter lain yang
beberapa di antaranya membiarkan hubungan bebas sebelum pernikahan. Ada
juga sekte yang pimpinannya mengaku sebagai utusan Tuhan langsung. Jadi,
bukan hanya sekte Yesus saja yang kami kejar.
Kami hanya menangkapi sekte-sekte yang dengan jelas mengajarkan pada orangorang untuk melawan pemerintahan Roma, melanggar hukum Kitab Ibrani atau
tidak menuruti hukum dari Sanhedrin.
Sekte Yesus hanya kebetulan menjadi incaran yang paling luas karena mereka
cukup populer dikalangan orang miskin. Mereka mengatakan dapat berbicara
pada Tuhan hanya dengan berdoa di dalam kamar masing-masing dan tidak perlu
ke Bait Allah untuk menyerahkan kurban. Mereka juga tidak perlu ke sinagoga
untuk memberikan persembahan.
Mereka dibentuk seakan-akan untuk melawan semua tradisi yang sudah berdiri
selama ribuan tahun. Aku percaya jika orang-orang miskin merasa berat untuk
pergi ke Bait Allah yang jauh, membayar pajak masuk, membeli kurban dan
mengorbankannya hanya untuk berdoa kepada Tuhan.
Tapi, aku percaya bukankah itu semua diperlukan untuk menunjukkan iman dan
keikhlasan seseorang pada Tuhan.
Mereka mengatakan Yesus mengajari mereka untuk berdoa dalam roh dan
kebenaran, sehingga tidak perlu ke Bait Allah atau sinagoga lagi. Tentu saja
semua orang miskin menjadi senang.
159
Berkat patroli rutin, kerjasama para rabbi dan juga anggota jemaat serta
masyarakat, keamanan wilayah Yahudi kembali terkendali. Para murid-murid
Yesus
sama
sekali
tidak
terlihat
batang
hidung
mereka,
semuanya
menyembunyikan diri entah di mana. Para anggota Zealot juga sama sekali tidak
berani memunculkan diri. Karena jika mereka berani memperlihatkan diri, maka
itu artinya mereka sudah siap untuk mati.
Ada hal lucu yang beredar di kalangan masyarakat. Mereka yang mati ditanganku
dan lainnya dianggap pahlawan oleh rekan-rekan pengikut Yesus lainnya.
Mereka mengatakan hal itu sebagai mati martil, mati dalam mempertahankan
iman dan kepercayaan mereka.
Bagiku, mereka hanya sekumpulan orang gila yang percaya dapat berbicra
dengan Tuhan dan memiliki Roh Kudus. Bagiku, mereka sama seperti orangorang kesurupan oleh roh atau jiwa jahat. Jiwa-jiwa jahat sangat licik, mereka
bahkan bisa berpura-pura menjadi dewa-dewa, malaikat atau apa pun untuk
membohongi manusia.
Dan manusia itu mengira mereka berbicara pada Roh Kudus yang kiranya
hanyalah roh jahat.
Bagiku, Tuhan itu adalah hukum. Kita dan semua bangsa ini harus menaati
hukum yang sudah diberikan oleh Tuhan sebagai Pencipta dan Maharaja kita.
Seperti seorang prajurit, budak yang baik dan patuh pada hukum majikannya.
Mereka yang melanggar hukum harus mati, mereka yang semena-mena pada
kekuasan Raja mereka dan Tuhan mereka, harus mati.
160
Sejarah sudah membuktikan jika bangsa ini tidak menaati hukum dari Tuhan
yang diberikan langsung pada Musa, bangsa ini akan hancur. Hukum ada di atas
segalanya.
161
BAB 9
DAMASKUS
Tahun 36 M
Aku menghadap kelompok Sanhedrin dan melapor, ―Penegak displin bekerja
dengan baik, setiap desa telah memiliki jemaat yang bersedia melaporkan dan
menangkap para sekte yang mencoba mengganggu. Orang-orang Yahudi akan
menangkap dan bahkan membunuh langsung pada penyebar ajaran sesat itu.
Wilayah kerajaan Yehuda telah bersih dari wabah penyesat.‖
Begitulah laporanku pada kelompok Sanhedrin, mereka tampak puas dengan
hasil kerjaku. Namun, ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Kelompokkelompok itu melarikan diri ke luar wilayah Kerajaan Yahudi, dan mulai
menyebar ke tempat-tempat lain. Wilayah yang kudengar menjadi tempat
persembunyian mereka yang terbesar adalah Damsyik atau disebut juga
Damaskus.
Wilayah Damaskus16 berada di bawah pimpinan Raja Aretas IV. Raja itu
memiliki hubungan yang kurang baik dengan pemerintahan Roma. Pada tahun 26
M, Raja Aretas menyerang Raja Herodes Antipas serta mengalahkannya. Banyak
anggota kelompok Zealot dan pemuja Yesus yang bersembunyi di Damaskus
16
Damaskus berada di wilayah Suriah saat ini.
162
untuk lari dari penegak displin dan merasa aman karena berada di luar wilayah
kekuasaan Sanhedrin.
Pada akhir tahun 36 M aku pergi mengunjungi Sanhedrin, aku meminta pada
mereka agar diberikan surat izin untuk melakukan penegakkan displin di wilayah
Damaskus. Jika mereka menuliskan sebuah surat perintah itu, maka surat tersebut
dapat ditunjukkan pada majelis-majelis Yahudi di wilayah Damaskus dan aku
akan dapat bekerja untuk menangkap mereka yang mengacau di wilayah itu. Aku
mungkin tidak dapat membunuh mereka di sana karena alasan perbedaan otoritas
pemerintahan oleh wilayah kerajaan. Tapi, jika aku berhasil menangkap mereka
dan menyeretnya ke Yerusalem, maka hukuman mati dapat dijatuhkan atas
mereka.
Gamaliel menatapku dengan raut wajah sedih, ia berkata, ―Sudah cukuplah jika
wilayah Yehuda ini aman dari mereka. Tidak sebaiknya kita mencampuri wilayah
Damaskus, karena kita tidak tahu bagaimana pandangan Raja Aretas terhadap hal
ini.‖
Imam besar lainnya terlihat tidak setuju, termasuk imam-imam besar orang
Saduki yang dengan lantang berkata, ―Kita harus menegakkan displin di mana
pun orang Yahudi berada. Tidak boleh membiarkan para penyesat itu tetap hidup.
Jika kita membiarkan mereka berkembang di luar sana hari ini, suatu saat nanti
mereka akan menjadi kuat dan berbalik menerkam kita di sini.‖
163
Karena banyaknya pertentangan di antara imam-imam Sanhedrin, maka
diambillah pemungutan suara. Hasilnya, aku akan berangkat ke Damaskus
bersama beberapa prajurit dengan surat perintah penangkapan.
Jarak antara Yerusalem dan Damaskus adalah sekitar 220 km atau lima hari
perjalanan dengan kaki. Jika menggunakan kuda, perjalanan itu dapat ditempuh
dalam waktu dua hari.
Aku berangkat dengan sekitar dua belas orang prajurit yang menyamar menjadi
rabbi dan pedagang. Mereka mengendarai kuda dan aku menaiki kereta kuda
yang ditarik oleh seekor kuda.
Kereta kuda ini kecil, hanya muat untuk satu orang dan ditutup dengan kain
tenda. Kereta yang dibuat khusus untuk melakukan perjalanan jauh. Duduk di
dalamnya membuat perasaan nyaman dan jauh lebih baik daripada menunggang
kuda yang membuat pegal badan.
Sepanjang perjalanan menuju ke Damaskus, pikiranku melayang jauh
memikirkan cara untuk menangkap semua murid-murid Yesus dan menghentikan
ajaran mereka untuk selamanya. Jika aku tetap memburu mereka, mungkin dalam
tiga tahun ke depan, nama Yesus akan segera terlupakan. Saat itu, aku sudah
seharusnya memikirkan diriku untuk menjadi imam besar. Jika aku dapat
membimbing semua orang Yahudi menuruti perintah Tuhan, mungkin bangsa ini
akan menjadi besar dan kembali menemukan Raja yang baik, bijaksana dan
perkasa seperti Daud atau Salomo.
164
Setelahnya, ... mungkin aku bisa menjadi seorang imam kerajaan.
Aku memandang jalanan lebar melalui jendela kecil di samping kereta kuda dan
melihat langit yang begitu luas. Sebuah perasaan lembut menyelinap ke dalam
diriku.
―Dunia ini sungguh teramat luas,‖ bisikku.
Sebuah perasaan lembut terasa menyelimuti diriku dan membuat tubuhku terasa
ringan, mendadak aku merasakan sebuah kerinduan yang begitu mendalam. Air
mataku mengalir tiba-tiba karena sebuah perasaan haru yang tidak kukenal. Saat
itu di sekelilingku mendadak menjadi terang benderang. Aku dikelilingi cahaya
berwarna putih bersinar. Hal yang mengagumkan adalah cahaya itu meski sangat
terang, sama sekali tidak menyilaukan atau menyakitkan mata. Terasa lembut
mengelilingi diriku dan menyentuh kulitku.
Aku tidak merasakan ketakutan, hanya sebuah rasa penasaran.
Mendadak sebuah suara terdengar entah dari mana. Tapi, suara itu mencapai
diriku dari segala arah.
―Saul...‖
Aku melihat sekeliling, karena tidak menemukan siapa pun, aku segera
menjawab, ―Ya?‖
―Mengapa kamu membunuh saudara-saudaramu dengan kedua tanganmu?‖ kata
suara itu.
165
Sungguh aku terkejut dan tidak percaya akan pertanyaan itu. Aku tidak pernah
membunuh saudara-saudaraku.
―Aku tidak membunuh...‖ protesku. Aku segera melihat pada kedua tanganku di
antara cahaya terang. Sesuatu yang terlihat di kedua tanganku segera
menghentakkan diriku dan mendadak tangisku pecah tanpa kusadari, air mataku
mengalir deras. Kesedihan, ketakutan dan rasa bersalah memenuhi seluruh diriku
tanpa dapat kubendung.
Napasku menjadi sesak saat melihat kedua tanganku yang mendadak berlumuran
darah merah menghitam.
―Aku... Aku...‖ bisikku di antara isak tangisku. Aku hendak memprotes tapi
hanya suara tercekat itulah yang terdengar. Dengan bibir gemetar, aku bertanya,
―Siapakah engkau...‖
―Akulah Tuhan, Allahmu...‖ Suara itu menyebut sebuah nama yang membuat
seluruh tubuhku gemetar dan mendadak tubuhku terlontar keluar dari kereta kuda
dan tebah di atas tanah. ―Akulah Tuhan dari Adam, Tuhan dari Abraham dan
Musa. Dan, siapakah engkau?‖
―Aku...‖ hatiku terasa pedih, kedua tanganku masih terlihat bersimbah darah dan
mulutku tidak mampu berkata-kata. Air mataku masih mengalir dan memikirkan
begitu banyak perbuatan jahat yang telah kulakukan. ―Aku... aku...‖ tangisku
semakin keras dan tidak mampu berkata banyak hal selain sebuah kata,
―Hambamu yang bersalah.‖
166
―Engkau adalah anakku,‖ kata suara itu. ―Berhentilah menyakiti sesamamu dan
kasihilah mereka.‖
Tak lama kemudian, aku merasa cahaya itu memudar dan aku masih melihat
warna putih di depanku. Beberapa tangan kasar terasa menyentuh tubuhku
mengangatku untuk berdiri.Ssuara-suara lain mulai memasuki telingaku.
―Saul, kamu baik baik saja?‖
―Saul?‖
―Saul, mengapa kamu terjatuh?‖
―Aku... Aku...‖ aku tidak mampu berbicara dengan baik. Air mataku masih
mengalir dan bayangan darah pada tanganku masih terlihat nyata. Sekelilingku
terlihat putih. Aku tidak dapat melihat orang-orang disekelilingku.
―Dia mungkin kelelahan dan berhalusinasi karena panas yang teramat
menyengat,‖ kata seorang dari mereka. ―Mari naikkan dia di atas kereta kuda.
Damaskus sudah dekat, kita harus cepat.‖
Mereka menaikkanku kembali ke atas kereta kuda dan memaksa untuk
melanjutkan perjalanan. Mereka tidak tahu harus melakukan apa pun padaku,
seperti aku tidak tahu harus bagaimana menerima semua ini. Tubuhku terasa
dingin dan gemetar sepanjang perjalanan.
167
Sesampainya di Damaskus, mereka membawaku ke rumah seorang anggota
majelis Yahudi yang bernama Yudas di sebuah jalan bernama jalan lurus.
Adapun jalan ini disebut jalan lulus karena jalan itu membentang lurus membelah
kota Damaskus dari gerbang depan kota hingga gerbang belakang.
Di dalam rumah Yudas, aku dipindahkan oleh para prajurit ke atas tempat tidur
dan merasa sangat lemah. Aku tidak ingin melakukan apa pun.
Yudas yang merupakan salah seorang anggota majelis Yahudi di Damaskus
menghampirku dan bertanya. ―Apakah engkau memiliki surat untuk diserahkan
padaku? Sahabatku Gamaliel dalam suratnya terakhir memintaku untuk
membantumu menyerahkan surat dari Sanhedrin Yehuda pada majelis di sini.‖
Tanganku meremas sebuah surat di dalam kantong baju. ―Aku.. aku akan
menyerahkannya secara lagsung setelah diriku sembuh,‖ kataku memberi alasan
untuk menolak. Aku masih merasa ragu.
―Kamu bisa memberikannya padaku terlebih dahulu dan membiarkan para
prajuritmu bekerja untuk menangkap mereka,‖ paksa Yudas.
―Tidak!!‖ jawabku keras.
Yudas mungkin terkejut sama seperti diriku.
Ia segera berkata, ―Baiklah, aku akan menunggu. Tinggallah di sini hingga kamu
mendapat
kesembuhan.‖
Yudas
berjalan
meninggalkanku.
168
keluar
dengan
kesal
dan
Tak berapa lama, aku segera memanggil seorang prajurit dan juga wakilku.
―Rahel, kemarilah,‖ panggilku.
Prajurit yang merupakan orang Yunani itu mendatangi sisi tempat tidurku.
―Aku tidak dapat melihat apa pun,‖ kataku singkat. ―Pergilah dan carilah seorang
pengikut Yesus untuk kamu bawa kemari. Aku ingin menemuinya.‖
―Baik,‖ kata Rahel hendak bergerak pergi.
―Tunggu,‖ kataku mendadak. ―Lakukan secara sembunyi-sembunyi dan jangan
menghukumnya. Aku ingin berbicara dengannya baik-baik.‖
―Baik,‖ kata Rahel membawa prajurit lainnya untuk keluar dari kamar.
Sendirian di dalam kamar, aku meringkuk di atas tempat tiudr dan mengingat
kejadian sebelumnya. Mendadak tanganku gemetar dan aku kembali terisak. Aku
benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Aku mungkin sedang bermimpi.
Aku mungkin sedang kelelahan atau mungkin panas yang menyengat selama
perjalanan panjang telah membuatku berhalusinasi.
Aku benar-benar tidak tahu.
Aku tidak tahu.
Seorang membuka pintu dan berkata, ―Aku membawa makanan.‖ Ia terdengar
meletakkan piring di atas meja. Aku sama sekali tidak merasa ingin makan apa
pun.
169
Aku bergelung di atas ranjang dan meringkukkan tubuhku.
Aku tidak bersalah...
Tapi, aku melihat darah di tanganku dan suara itu menegurku.
Aku tidak bersalah...!!!!!
Aku melakukan apa yang kuanggap benar. Dan membunuh mereka adalah
kebenaran.
Tapi, bagaimana jika kamu yang salah dan mereka yang benar?
Suara-suara dalam pikiranku terus berteriak dan bertarung. Rasa bersalah,
perasaan membela diri dan sebagainya bercampur aduk dalam pikiranku.
Mengakui aku salah berarti juga membuatku menjadi pembunuh ribuan orang.
Dan aku bertanggung jawab atas semua itu. Pikiranku langsung terbayang pada
wajah-wajah orang-orang yang menangis meminta ampunan, namun tidak
kuberikan. Wanita yang berjanji akan bertobat, orang tua yang masih memiliki
anak dan banyak lainnya. Mereka semua mati di tanganku.
kepalaku terasa sakit dan bayangan demi bayangan mereka kembali muncul dan
meminta pertanggung jawaban. Tubuhku mengigil.
―Aku melakukan hal yang benar,‖ kataku mengigil. Tubuhku meringkuk semakin
dalam. ―Aku tidak bersalah,‖ bisikku.
―Criiitttt..‖ Terdengar sebuah suara dan aku langsung mengigil ketakutan.
170
Tubuhku melompat terkejut dan rasa takut menyerangku. Aku sungguh takut
suara itu akan kembali datang mencariku. Suara yang akan mengatakan aku
bersalah dan bertanggung jawab atas ribuan orang yang mati ditanganku. Aku
memeluk tubuhku dan meringkuk lebih kecil lagi.
―Saul,‖ panggil Rahel yang mendadak sudah berada di sampingku. ―Kami tidak
dapat menemukan seorang pun murid Yesus. Tampaknya kabar kedatangan kita
sudah menyebar ke seluruh Damaskus dan mereka telah menyembunyikan diri.‖
―Temukan mereka,‖ kataku dengan suara mengigil.
―Kamu baik-baik saja? Kamu terlihat pucat.‖
―Segera temukan mereka,‖ kataku dengan suara tinggi.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu tertutup kembali. Aku merasa tenang
dan juga ketakutan.
Aku tidak bersalah!
―AKU TIDAK BERSALAH!!!‖ teriakku sekeras-kerasnya.
***
Kabar kedatangan Saul, seorang penegak displin utusan Sanhedrin yang kejam
telah sampai ke telinga-telinga orang di Damaskus bahkan sebelum Saulus
menginjakkan kakinya ke tempat itu. Semua anggota Zealot maupun muridmurid Yesus menjadi ketakutan. Beberapa diantara mereka segera memilih untuk
meninggalkan Damaskus karena rasa takut.
171
―Kita akan membunuhnya,‖ kata seorang anggota Zealot dalam pertemuan
dengan yang lainnya. Mereka berkumpul di sebuah rumah murid Yesus. ―Kita
harus membalaskan dendam saudara-saudara kita padanya.‖
―Dia akan membunuh kita semua sebelum kamu membunuhnya,‖ kata seorang
murid Yesus pada yang lainnya.
―Di sini Damaskus,‖ sahut anggota Zealot. ―Dia tidak akan memiliki pasukan dan
prajurit seperti di Yerusalem. Di sini dia sendirian dan hanya memiliki beberapa
prajurit. Kita akan membunuhnya dan semua prajuritnya.‖
Mereka terus berdebat di antara mereka. Mendadak seorang pria memasuki
rumah dengan wajah pucat dan terburu-buru. ―Mereka menangkap Ananias.‖
Mendengar itu wajah mereka segera menjadi pucat. Beberapa orang segera
meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru dan ketakutan sambil berkata,
―Aku akan pergi keluar kota. Sebelum Ananias membocorkan nama-nama kita
pada bajingan Saulus itu.‖
***
Ananias adalah seorang Yahudi Damaskus yang terkenal saleh dan menaati
hukum Taurat. Tidak seperti anggota Zealot dan para murid Yesus lainnya yang
kebanyakan merupakan pelarian dari Kerajaan Yehuda dan berlindung di
Damaskus, Ananias merupakan orang lama di Damaskus dan dikenal baik. Ia
bergabung dengan majelis-majelis Yahudi Damaskus.
172
Salah seorang imam majelis Damaskus dari golongan Saduki, tidak menyukai
Ananias yang terlihat sering bergaul bersama dengan murid-murid Yesus. Diamdiam, ia melaporkan Ananias pada prajurit Rahel. Dengan cepat, Rahel bersama
empat orang prajurit lainnya, segera menuju ke rumah Ananias.
Rahel memandang sekeliling dan memanggil Ananias di depan rumahnya.
Namun, karena tidak ada jawaban, mereka mendobrak pintu rumah Ananias dan
tidak menemukan siapa pun di dalamnya. Mereka segera mencarinya ke
sekeliling kota Damaskus dan menemukan pria itu baru keluar dari sinagoga
setempat.
Ananias terlihat terkejut saat ia mendadak disergap oleh dua orang prajurit dan
wajahnya seketika menjadi pucat.
―Apa-apaan ini?‖
―Saudara Ananias,‖ sahut Rahel di depannya dan mendorongkan sebilah pisau
kecil ke arah wajah Ananias. ―Kamu kami tangkap karena bergabung dengan
sekte yang dilarang menurut hukum Taurat. Harap mengikuti kami.‖
―Aku tidak bersalah,‖ sahut Ananias gemetar. Ia sudah mendengar jika semua
orang yang tertangkap oleh prajurit Saul akan dapat dihukum mati di tempat.
Jantungnya berdebar keras.
―Ikuti kami,‖ kata Rahel mendorongnya.
173
Ananias mencoba memperlambat langkah kakinya tapi kedua prajurit yang
menjepit di kedua sisinya, memaksanya untuk berjalan dengan cepat hingga
setengah menyeretnya.
Banyak orang di jalanan yang melihat kejadian Ananias dibawa secara paksa.
Di dalam rumah Yudas, Rahel dan para prajurit mendorong Ananias ke sebuah
pintu kamar. Di depan kamar, Rahel segera menyahut. ―Saul, kami membawa
seorang murid Yesus.‖
―Biarkan dia masuk,‖ kata sebuah suara lemah dari dalam.
Ananias merasa jantungnya berdebar keras, ia sudah lama mendengar tentang
kekejaman Saul dan pria yang terkenal tidak memiliki belas kasihan. Ia berdiri di
depan pintu tidak berani masuk. Dua orang prajurit segera memaksanya masuk ke
dalam kamar yang terlihat gelap. Di sana Ananias melihat seorang yang duduk di
atas tempat tidur dan sedang menatapnya dengan tajam. Wajah yang terlihat
pucat, lemah dan kusut.
―Tinggalkan kami berdua,‖ perintah Saul.
Rahel dan prajurit lainnya segera keluar dan menutup pintu. ―Kami berada di
depan jika kamu membutuhkan sesuatu,‖ sahut Rahel.
―Aku akan memanggil jika memerlukan bantuan kalian,‖ sahut Saul dalam suara
serak. Hening sejenak, terdengar ia kembali berkata, ―duduklah.‖
174
Anianias melihat sebuah kursi di dekat meja dan menariknya. Ia juga melihat roti
dan minuman di atas meja. Setelah duduk, Ananias melihat Saulus dan segera
berkata dengan gugup, ―Aku adalah hamba Tuhan yang baik. Orang-orang
mengenalku sebagai orang yang taat pada Allah Musa dan hukum Taurat. Aku
adalah salah seorang anggota Majelis Yahudi yang taat.‖
―Jika demikian, mengapa kamu ada di sini?‖ tanya Saul.
―Aku tidak tahu,‖ kata Ananias gugup.
―Rahel!‖ teriak Saul hingga dapat terdengar di luar pintu.
Prajurit Rahel membuka pintu dan memasuki ruangan. ―Anda memanggil?‖
―Mengapa kamu menangkap seorang anggota majelis Yahudi yang menurutnya
menaati hukum Taurat dan menyembah Tuhan Musa.‖
Rahel melihat pada Ananias dan berkata, ―Kami mendapat laporan dari salah
seoang Imam dari Majelis Yahudi bahwa dia sering bergabung dengan kelompok
murid-murid Yesus.‖
Wajah Ananias menjadi pucat.
―Apakah imam itu berani bersaksi?‖
―Ia menyatakan kesediaannya jika dibutuhkan,‖ tambah Rahel.
Saul menatap Ananias, ―Jika begitu, kamu sudah terbukti bersalah. Kamu
bergabung bersama mereka. Beranikah kamu bersumpah atas Tuhan Musa jika
kamu tidak bersama mereka?‖
175
Ananias terdiam pucat. Dia tidak akan berani melakukannya.
―Rahel, tinggalkan kami berdua,‖ sahut Saul. Sepeninggal Rahel, suasana dalam
kamar terasa menyesakkan. Tidak ada terdengar suara apa pun. Ananias merasa
ketakutan dan kedua tangannya berkeringat dingin.
Ananias segera berpikir ingin kabur secepatnya, namun pintu di depan kamar
sudah dijaga. Udara terasa pengap dan dia merasa kesulitan untuk bernapas.
―Kamu yang saleh dan menurut pada hukum Taurat,‖ tanya Saul. ―Mengapa
engkau mau bergabung bersama mereka yang melanggar hukum Taurat?‖
―Aku tidak melakukannya,‖ sahut Ananias cepat. ―Percayalah.‖
Saul mengambil pedang yang selalu ada di sampingnya dan menghunuskan
pedang itu ke depan. Ujung pedangnya berada sangat dekat di leher Ananias. Pria
itu bahkan dapat merasakan ketajaman pedang itu di kulit lehernya.
―Katakan sejujurnya atau aku akan...‖ Saul mendadak melihat bayangan darah
pada tangannya dan pedang di tangannya segera dibuang. Tubuh Saul melompat
ke atas tempat tidur dengan napas terburu. Wajahnya terlihat sangat pucat.
Ananias juga tersentak berdiri dan menjatuhkan kursinya karena menyangka Saul
ingin menebasnya. Tapi karena melihat Saul malah mundur kebelakang dengan
wajah ketakutan, Ananias terdiam mencoba memahami situasi.
Saat itu Saul mendadak menangis. Air mata mengalir di matanya. Dia terisak
keras dan segera berteriak, ―Aku tidak bersalah. Sungguh aku tidak bersalah!‖
176
Ananias tidak mengerti apa yang terjadi pada Saul, pria itu lebih terlihat tidak
waras daripada orang yang disebut kejam.
Kedua tangan Saul menutupi wajahnya, ia menangis dan juga terlihat marah.
―Katakan padaku,‖ bisiknya. ―Di mana kesalahanku membunuh kalian para
penyembah Yesus.‖
Mata Ananias menatap Saul erat-erat dan ia menelan ludahnya. Ia ingin
mengatakan, ‗tidak bersalah‘ sehingga dirinya dapat selamat dari ancaman
pembunuhan. Akan tetapi, hati kecilnya seakan ingin protes. Jika ia mengatakan
Saul bersalah, itu akan membuktikan jika dirinya adalah pengikut Yesus.
Ia mungkin saja sedang dijebak.
―Aku membunuh atas dasar kebenaran,‖ teriak Saul. ―Para pengikut Yesus adalah
orang-orang yang memberontak melawan pemerintah. Mereka adalah orangorang yang membunuh sesamanya. Menolak Tuhan Musa dan menyembah
Yesus! Seorang dari Nazaret yang sudah menipu banyak orang. Membawa kalian
semua ke neraka.‖
―Kamu salah!‖ sahut Ananias dengan marah.
―Kalau begitu, katakan kesalahanku!‖ maki Saul membalas. ―Di mana aku
membuat salah.‖
―Para pengikut Yesus bukanlah orang-orang yang melawan pemerintah,‖ tegas
Ananias. ―Mereka juga tidak menyembah Yesus. Dengan jelas Yesus berdoa
177
pada Tuhan yang disembah Musa. Tuhan yang menciptakan langit, bumi dan
segala isinya.‖
―Jika demikian, mengapa imam-imam menghukumnya seperti seorang penjahat
besar di ataskayu salib?‖ tanya Saul.
Ananias melanjutkan, ―Itu karena Yesus mengajarkan pada semua orang untuk
dapat berdoa kepada Tuhan secara langsung. Kapan saja, di mana saja dan Tuhan
akan mendengarkan. Tidak perlu kurban dan harus di Bait Allah yang
membutuhkan banyak biaya.‖
Saul terlihat marah, ia menatap Ananias dengan kemarahan yang menciutkan hati
Ananias. ―Jelas ia salah. Ada tertulis jika tidak boleh menyebutkan nama Tuhan
Allahmu secara sembarangan dan Tuhan berdiam di dalam Kemah Suci. Setiap
orang hanya boleh memanggilnya saat berada di dalam Bait Allah. Jelas itu
penipuan oleh Yesus.‖
―Tuhan tidak berdiam di satu tempat,‖ balas Ananias. ―Dia adalah Pencipta
segalanya. Dia ada di mana-mana.‖
―Meski demikian, atas dasar apa kalian bisa berdoa pada-Nya dari mana saja!‖
Saul benar-benar marah. Karena semua itu bertolak dari hukum yang
dipelajarinya. ―Musa sendiri membuat kemah suci saat keluar dari pengasingan
untuk menyembah Tuhan. Tuhan itu adalah suci dan menemuinya juga harus dari
tempat yang suci. Dia adalah Tuhan dan Raja kita. Seorang hamba tidak boleh
berlaku sembarangan di hadapan Rajanya.‖
178
Ananias dengan penuh keyakinan menjawab, ―Yesus berkata, karena Dia, Tuhan
yang kita sembah adalah Bapa Yang Maha Pengasih dan kita adalah anak-anak
yang dikasihi-Nya.‖
Jawaban itu menggetarkan jantung Saul dengan keras, air matanya mengalir
turun. Ia teringat kembali suara yang didengarnya dalam perjalanan. Suara yang
menganggapnya sebagai anak dan bukan hamba.
Ananias terpana karena tangisan Saul terdengar sangat menyayat hati. Tak lama
kemudian, Saul turun dari tempat tidur dan bersujud. ―Aku sudah melakukan
kesalahan. Engkau boleh membunuhku atas kesalahanku. Ambillah pedang itu
dan tikamkan atas jantungku. Aku telah berdosa.‖
Ananias mundur selangkah karena tidak meyakini pendengarannya sendiri, ia
melihat Saul menutup mata dan membuka kedua tangannya tampak pasrah. Air
mata mengalir dari sudut matanya. Ananias berdiri kebingungan. Ia mengira
setelah pertengkaran tadi, ia akan segera dibunuh. Ia sama sekali tidak mengira
kebalikannya. Dengan kebingungan, Ananias mendekati Saul dan mencoba
mengangkat Saul ke atas tempat tidurnya. ―Saudara Saul, bangkitlah. Apa yang
terjadi padamu?‖
―Aku telah melakukan dosa besar,‖ ratap Saul menangis. Ia menceritakan apa
yang terjadi dalam perjalanannya menuju ke Damaskus. Bagaimana ia telah
ditegur secara langsung oleh Tuhan.
179
Ananias kembali mendengarkan sambil terheran-heran. Ia mendengar Saul
bercerita mengenai cahaya, suara dari Tuhan dan sebagainya. Ia menebak jika
Saul sudah gila. Mungkin tekanan batin karena membunuh banyak orang
membuat jiwanya terganggu.
Meski demikian, Ananias berpikir itu adalah sebuah kesempatan bagus baginya
untuk membuat Saul berhenti membunuh para pengikut Yesus. Ia mungkin bisa
membujuk Saul yang dalam keadaan lemah ini untuk membatalkan niatnya,
sekarang dan selamanya.
―Saudara Saul,‖ sahut Ananias dengan jantung berdebar keras. ―Maukah engkau
bertobat dan membiarkanku membaptismu dalam ajaran Yesus. Dengan
demikian, biarlah Tuhan yang memiliki dirimu dan menentukan nasibmu. Jika
dosa-dosamu terlalu berat untuk diampuni, biarlah Dia mengirimkan Roh Kudus
untuk mencabut nyawamu.‖
Saul terdiam sebentar lalu berkata, ―Baiklah.‖
Ananias berdiri untuk mengambil secangkir air bersih dan kemudian berdiri di
tengah-tengah ruangan. Ia berkata, ―Kemarilah. Aku akan berdoa untukmu dan
membaptismu sebagaimana ajaran Yesus.‖
Saul mencoba bangkit dengan tubuhnya yang terasa lemah. ―Tetaplah berbicara.
Aku tidak dapat melihat di mana engkau berada.‖
Ananias dengan terkejut mendekati Saul dan melihat pada mata pria itu yang
berwarna putih. ―Apa yang terjadi pada matamu.‖
180
Saul tertawa sedih, ―Aku punya mata tapi tidak dipakai untuk melihat yang benar
dan salah. Sama saja buta. Sejak cahaya itu, aku tidak dapat lagi melihat apa pun.
Biarlah mata ini buta karena jelas aku telah berdosa.‖
Ananias tidak menyangka orang yang menghunuskan pedang pada lehernya itu
ternyata buta. Setelah Saul berada di tengah ruangan dan berlutut, Ananias
meletakkan sebelah tangannya pada pundak Saul dan berdoa.
Sesungguhnya, Ananias merasa ragu jika Tuhan akan memaafkan dosa-dosa Saul
yang sudah membunuh banyak orang. Jika mengikuti pendapatnya dan para rasul
terutama Petrus, Saul sudah sepantasnya mati daripada dibiarkan bertobat. Mati
beberapa kali mungkin bisa menghapuskan dosanya. Seorang yang ketahuan
menipu saja dibunuh oleh kuasa Roh Kudus, apa lagi orang yang kejahatannya
sudah berlipat-lipat.
Akan tetapi, Ananias mencoba untuk tetap berdoa. Ia menatap Saul yang bersujud
dan melipat tangan dengan wajah yang tampak damai meski tampak pucat dan
lemah. Ia tampak bersiap untuk kematiannya. Usai mengucapkan doa dan selesai
membaptis Saul. Ananias menatap pria itu dan menunggu detik-detik kematian
menyambar nyawa Saul. Ia hampir yakin jika kuasa Roh itu benar ada dan Tuhan
itu ada, pria dihadapannya akan segera mati.
Namun, berikutnya yang terjadi sungguh mengejutkan Ananias. Ia merasa
sekeliling ruangannya bercahaya dan ia melihat selaput-selaput berwarna putih
mendadak berguguran dari bola mata Saul, tanpa disentuh siapa pun. Seakan-
181
akan doa dan baptisan itu telah membuat selaput itu berguguran dengan
sendirinya.
―Sungguh Allah Maha Pengasih!‖ sahut Ananias tanpa sadar. Ia segera sadar jika
cerita mengenai cahaya Tuhan yang menghampiri Saul dalam perjalanan menuju
Damaskus itu bukanlah khayalan atau cerita dari seorang yang jiwanya tertekan.
Kini mata Saul yang telah buta oleh cahaya itu terbuka kembali oleh baptisan.
Saul benar-benar tidak berbohong. Ia benar-benar bertemu Tuhan.
Kesadaran itu membuat Ananias tercengang.
***
Saudara Ananias membantuku berdiri dan membimbingku pada meja yang di
atasnya terletak beberapa buah roti. Setelah doa dan baptisan tadi, mataku dapat
melihat lagi, air mata pun kering dan perutku mulai berbunyi.
―Aku sudah tidak makan selama tiga hari,‖ kataku pada Ananias.
Perlahan-lahan, aku mulai makan dan minum dalam hening. Setelah beristirahat
cukup lama dan tenagaku sudah pulih, Ananias memandangku dan berkata,
―Apakah kamu akan berhenti mengejar orang-orang pengikut Yesus?‖
―Rahel,‖ panggilku agak keras dan prajurit itu segera masuk ke dalam ruangan. Ia
terlihat kebingungan menemukan Ananias sedang duduk bersamaku tanpa
kekurangan apa pun. Ia mungkin mengira aku sudah akan membunuh pria ini.
182
Aku mengeluarkan sebuah kertas dan dengan cepat menulis sebuah surat. Aku
menggulungnya dan menyerahkannya pada Rahel. ―Berikan surat ini pada Imam
Besar Gamaliel dan bawa serta semua prajurit kita untuk pulang bersamamu ke
Yerusalem.‖
―Bagaimana dengan penegakan displin di Damaskus?‖ tanya Rahel kebingungan.
―Bukankah kita datang untuk itu?‖
Aku mengeluarkan surat izin dari Sanhedrin dan kemudian merobeknya. ―Tidak
ada lagi pengejaran. Surat ditanganmu itu adalah surat pengunduran diriku
sebagai ketua penegakan displin. Aku berhenti.‖
Ananias memandangku sama seperti tatapan Rahel yang terlihat tidak percaya.
―Rahel, pergilah. Sampaikan salamku pada imam-imam di sana dan katakan pada
mereka, Saulus sudah menjadi pengikut Tuhan sesuai ajaran Yesus yang
merupakan anak-Nya.‖
Rahel tidak dapat mencerna semua kejadian ini dan pada akhirnyam, ia hanya
dapat pergi keluar.
Aku menatap pada Ananias dan berkata, ―Bolehkah aku menginap di rumahmu?
Aku tentu tidak lagi pantas menjadi tamu Yudas, seorang Majelis Yahudi yang
membencimu.‖
Ananias menuntunku keluar. Di depan rumah, aku dapat melihat Rahel dan para
prajurit yang bersiap untuk pergi dan Imam Yudas sedang berteriak-teriak pada
mereka dengan tidak percaya.
183
Imam Yudas kemudian menatapku dengan wajah penuh amarah dan berkata,
―Kamu akan membayar besar untuk pengkhianatanmu atas orang-orang Yahudi.‖
―Mari kita pergi,‖ kataku pada Ananias yang menuntunku.
Aku tidak peduli.
***
Pada hari ketiga aku menginap di rumah Ananias untuk memulihkan diri, setiap
harinya, keadaan semakin menjadi buruk.
Ananias mencoba meyakinkan murid-murid Yesus lainnya untuk menerimaku
sebagai bagian dari mereka. Aku pernah mendengar pembicaraannya dengan
dengan seorang murid Yesus.
Ananias terdengar berkata, ―Saul dijumpai Tuhan. Dia sudah bertobat, dia sudah
menjadi satu di antara kita.‖
―Saudara Ananias, dia sedang menipumu,‖ kata suara yang lain. ―Dia ingin
menjadi mata-mata dan menemukan lokasi para murid-murid Yesus untuk di
tangkap.‖
―Aku bersungguh-sugguh, dia bukan mata-mata, aku sudah membaptisnya atas
nama Yesus,‖ bantah Ananias.
Pria itu tetap tidak memercayainya.
Lain waktu, pengikut Yesus lainnya mencoba memukuli Ananias dan berkata,
―Saudara Ananias, berapa banyak uang yang sudah diberikan Saul itu padamu
184
hingga kamu bersedia mengkhianati saudara-saudaramu dan membiarkan
manusia kejam itu hadir diantara kita? Apakah engkau ingin mengkhianati Petrus,
ketua dan murid pertama Yesus, seperti Yudas yang mengkhinati Yesus?
Mengapa engkau menjual saudara-saudaramu demi uang?‖
Aku dapat melihat Ananias berusaha keras meyakinkan mereka. Beberapa orang
mau menerima hal itu dan mendekatiku. Namun, sebagian besar menolakku dan
sebagain besar lainnya. Mereka mencoba untuk mendapatkan izin dari Ananias
untuk membunuhku.
―Dia telah membunuh adik kandungku bersama istrinya.
Aku harus
membunuhnya,‖ teriak seorang pria pada Ananias. Akan tetapi, Ananias
melakukan segala cara untuk menahannya.
Ananias bercerita pada banyak pengikut Yesus lainnya seperti di bawah ini.
***
Firman Tuhan kepada Ananias dalam suatu penglihatan, "Ananias!"
Jawabnya, "Ini aku, Tuhan!"
Firman Tuhan, "Mari, pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di
rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan
dalam suatu penglihatan ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk
ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat
lagi."
185
Jawab Ananias, "Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu,
betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu
di Yerusalem. Dan ia datang ke mari dengan kuasa penuh dari imam-imam
kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu."
Tetapi firman Tuhan kepadanya, "Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan
bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja
dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa
banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku."
Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan
tangannya ke atas Saulus, katanya, "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah
menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku
kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus."
***
Ananias mengulang-ulang cerita itu dengan harapan agar mereka semua mau
menerimaku sebagai titipan dari Tuhan. Agar mereka mau berbaik hati padaku.
Tapi, keadaan semakin rumit saat para pengikut Yesus yang pada awalnya
mengungsi dari Damaskus, mulai kembali lagi setelah mendengar jika aku tidak
lagi mengejar mereka dan para prajurit sudah pulang ke Yerusalem.
Pengikut Yesus yang pulang, sebagian besar adalah orang Zealot dan aku
mendengar jika mereka mulai merencanakan pembunuhan atas diriku. Ananias
186
masih juga berjuang untuk melindungiku. Keyakinannya padaku sungguh
membuatku terharu.
Malam itu, mendadak Ananias pulang dalam keadaan pucat pasi bersama dua
orang lainnya, ia menemuiku dan berkata, ―Saul saudaraku segeralah berkemas.
Kamu harus pergi dari kota ini secepatnya.‖
Aku merasa keadaan sudah sangat genting.
―Saudaraku Ananias,‖ kataku. ―Berhentilah mencemaskanku. Aku rela mati di
tangan mereka, karena sungguh aku memang berdosa pada mereka."
―Bukan demikian,‖ kata Ananias cepat. ―Yang ingin membunuhmu saat ini
adalah Raja Aretas. Dia sudah mengumumkan pada para prajuritnya untuk
mencarimu ke tempat ini. Anggota-anggota Majelis Yahudi juga mulai
mencarimu.‖
Aku terkejut. ―Atas kesalahan apakah aku hendak dibunuh?‖
―Imam Yudas dari Majelis Yahudi melaporkanmu pada Raja Aretas IV penguasa
Damaskus sebagai seorang mata-mata pemerintahan Roma dari Yerusalem.
Mereka sekarang sedang mencarimu.‖
Aku segera berdiri dan protes. ―Jika demikian, aku berhak menjelaskan pada Raja
Aretas jika semua ini adalah kesalahpahaman. Keberadaanku di tempat ini bukan
sebagai mata-mata dan dapat dibuktikan oleh Sanhedrin.‖
187
Ananias menggelengkan kepalanya, ―Saudaraku Saul. Aku juga mendengar jika
Imam Yudas berani melaporkanmu karena ia sudah mendapatkan izin dari
Sanhedrin untuk menangkapmu. Sanhedrin tidak senang dengan rencana
pengunduran dirimu. Mungkin beberapa orang dari Sanhedrin menginginkan
kepalamu. Mereka kini sudah menjadi musuhmu.‖
Aku menelan ludah dan dapat memikirkan beberapa imam besar dari kalangan
Saduki dan Farisi dari Akademi Shammai yang menginginkan kepalaku.
―Cepatlah,‖ kata Ananias buru-buru. ―Kita harus segera pergi.‖
―Ke mana?‖ tanyaku bingung. ―Raja Areta akan membunuhku, orang Yahudi dari
kalangan majelis Yahudi ingin menangkapku dan kalian pengikut Yesus juga
ingin membunuhku. Ke mana aku harus pergi?‖
―Kita akan memikirkannya setelah berada di luar kota,‖ jawab Ananias.
Malam itu juga, aku mengikuti Ananias dan dua orang saudaranya menyelinap
dalam kegelapan malam untuk menuju ke gerbang kota. Saat tiba di sana, kami
terkejut menemukan gerbang itu sudah dipenuhi prajurit dan beberapa imam.
―Kita tidak bisa keluar dari gerbang,‖ bisik seorang saudara Ananias bernama
Yakhie.
―Jika kita tidak keluar sekarang, mereka akan segera melakukan penggeledahan
ke rumah-rumah dan saat itu tidak ada lagi tempat yang aman!‖ tambah saudara
yang lainnya yang bernama Balewi.
188
Ananias dan aku terdiam. Kami terkurung dalam kota Damaskus.
―Kita masih bisa melakukannya,‖ kata Yakhie mendadak. ―Kalian pergilah ke
tembok kota yang berada di sebelah barat, tempat menara pengintaian. Dua lantai
di bawah tembok tertinggi ada sebuah lubang jendela intai yang jarang dipakai.
Tunggulah aku di sana.‖
Ananias dan Balewi mengangguk dan Yakhie memisahkan diri dari kami. Dalam
kegelapan, kami mengendap-endap melewati rumah-rumah penduduk dan
memasuki tembok bagian barat. Balewi sepertinya mengenal tempat ini, ia
dengan mudah menemukan sebuah ruangan di antara tembok yang begitu luas.
―Kita akan menunggu saudara Yakhie di sini,‖ kata Balewi.
Aku melihat ruangan kecil yang berdebu dan sebuah jendela kecil dari batu. Dari
tempat itu dapat terlihat bagian luar kota Damaskus. Tapi jendela itu berada pada
ketinggian sekitar 30 meter dari atas tanah, dua hingga tiga kali ketinggian rumah
bertingkat tiga.
―Tidak ada yang bisa menuruni jendela ini,‖ kataku pada mereka.
Tak lama kemudian, Yakhie datang dengan membawa sebuah keranjang dan tali
yang sangat panjang.
―Kita harus cepat,‖ kata Yakhie terburu-buru. ―Seorang prajurit melihatku ke
tempat ini. Dia mungkin akan tiba sebentar lagi.‖ Ia dengan cepat mengikat tali
pada keranjang dari bambu dan melemparkannya keluar jendela.
189
―Saudara Saul,‖ sahutnya cepat. ―Naiklah ke atas keranjang. Dan kami akan
menurunkanmu ke luar tembok.‖
―Aku?‖ tanyaku gugup.
―Kita tidak memiliki waktu lagi,‖ kata Yakhie.
Kami bisa mendengar suara-suara prajuirt dari kejauhan. Dengan cepat aku
merayap ke luar jendela kecil. Udara dingin menyambar wajahku. Aku melihat
pada tanah di bawah dan jantungku menciut. Tapi, aku sudah tidak memiliki
waktu untuk itu semua. Aku segera menjejakkan kakiku ke dalam keranjang dan
bergantung pada tali yang mengikatnya. Aku merasa kuatir jika keranjang ini
tidak akan sanggup menahan beban tubuhku dan rusak
―Setelah kamu turun,‖ teriak Balewi. ―Segeralah berlari menjauh, jika prajurit
yang berada di atas tembok menemukan bayanganmu, mereka akan mengutus
prajurit berkuda untuk mengejarmu.‖
―Baik,‖ sahutku cepat. Aku melihat mereka semua dan berkata, ―Terima kasih,
kebaikan ini tidak akan pernah kulupakan.‖
―Semuanya karena berkat Tuhan,‖ kata Ananias yang segera disetujui kedua
lainnya.
Keranjang tempatku bergantung mendadak turun dengan cepat. Jantungku
kembali menciut. Aku terayun-ayun di udara dan keranjang bambu menggesek
tembok batu yang dingin.
190
Aku memandang ke bawah dan merasa ngeri. Jika aku terjatuh, tidak mungkin
aku akan dapat selamat. Keranjang itu terus turun hingga akhirnya mencapai
dasar tanah dan dengan cepat aku berlari menjauhi tembok kota Damaskus seperti
saran mereka.
Aku berlari dengan semua kekuatanku dan hingga paru-paruku terasa sesak. Aku
tidak berani berhenti hingga menemukan daerah pepohonan dan bersembunyi di
baliknya. Saat aku melirik ke belakang, tembok Damaskus terlihat kecil dan jauh.
Tidak terlihat tanda-tanda prajurit yang mengejarku.
Setelah duduk mengatur napas dan beristirahat cukup lama, aku baru menyadari,
aku tidak membawa bekal apa pun keluar dari Damaskus. Hanya memiliki
selembar pakaian, tanpa makanan dan uang.
Aku melihat langit malam yang penuh bintang dan aku juga baru menyadari. Aku
juga tidak memiliki tempat tujuan. Yerusalem jelas tidak menerimaku.
191
BAB 10
ARTI
Tahun 37 M
Seorang manusia...
Apa yang dicari olehnya dalam sebuah kehidupan yang sangat luas ini? Dunia
yang membentang jauh dan tidak akan pernah habis dijalani. Apa yang dicari
seorang manusia di dalamnya?
Aku sedang mendaki Gunung Sinai untuk menemui Tuhan. Yang setahun lalu
berbicara padaku. Hanya jika saat itu aku tidak sedang berhalusinasi atau gila.
Setahun sudah berlalu sejak aku keluar dari Damaskus. Tanpa membawa apa pun,
aku mencoba mencapai sebuah desa terdekat. Di sana, aku menawarkan tenagaku
pada mereka yang membutuhkan dan terus bergerak dari satu desa ke desa lain
untuk menghindari kejaran Raja Aretas. Aku bekerja untuk beberapa bulan
lamanya dan mengaku diriku sebagai seorang bernama Paulus. Karena nama Saul
dapat juga berarti Paul atau Paulus.
Aku bekerja apa saja, dari menjadi buruh kasar hingga membantu merajut kain
dan tenda. Tanpa terasa, waktu berlalu setengah tahun. Tanpa sehari pun aku
berhenti memikirkan pertemuanku dengan Tuhan dan Ananias. Semakin aku
192
berpikir, semakin ragu jika saat itu aku benar bertemu dengan Tuhan. Mungkin
saat itu aku sedang bermimpi. Jika demikian, aku dapat kembali pada Sanhedrin
di Yerusalem, kembali pada jabatanku dan mulai memburu pengikut Yesus serta
mendapatkan kehidupanku yang jauh lebih baik daripada saat ini, menjadi miskin
dan buronan.
Tapi, hatiku tidak pernah berhenti meyakinkanku jika hal itu adalah nyata.
Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang menuju ke
Gunung Sinai, tempat Musa menemui Tuhan. Jika aku ingin menemukan Tuhan,
di sanalah kemungkinan paling besar Tuhan berada. Mungkin aku bisa
mendapatkan beberapa petunjuk di sana.
Perjalanan itu berjarak sekitar 700 kilometer lebih. Hal yang mudah untuk
dilakukan dengan berjalan kaki jika memiliki waktu seumur hidup untuk
melakukannya.
Aku berjalan tanpa terburu-buru, aku berhenti saat lelah, makan saat lapar,
bekerja saat kehabisan uang, tidur di mana saja aku mampu berlindung dan
terkadang menemukan beberapa kereta kuda yang membiarkanku ikut.
Hingga akhirnya aku menemukan bayangan Gunung Sinai. Kakiku melangkah
mendaki gunung berwarna kuning kecoklatan yang penuh bebatuan itu. Gunung
tersebut menjulang tinggi dengan bentuk puncaknya yang terlihat tidak beraturan.
Aku tidak tahu harus mulai mendaki dari arah mana. Namun, aku percaya selama
mata masih dapat memandang puncaknya, kakiku masih dapat mencapainya.
193
Cuaca terlihat cerah dan langit biru dengan sedikit awan tampak mendukung
perjalananku.
Aku percaya, jika Nabi Musa berdiam di atas Gunung Sinai selama 40 hari, maka
aku juga mampu melakukannya. Bekal yang kubawa seharusnya cukup untuk
beberapa minggu. Dengan menghemat, mungkin aku akan dapat bertahan lebih
lama lagi.
Perjalanan mendaki gunung sama sekali tidaklah membahayakan jika aku
berhati-hati dengan bagian yang akan kupijak. Namun suhu udara yang dingin di
malam hari membuatku mengigil. Beberapa kali, aku beristirahat di antara
perjalanan menunju ke puncak Gunung Sinai. Sama sekali tidak jelas apa yang
sedang kulakukan.
Apakah aku akan dapat menemukan Tuhan di atas sana?
Apakah Tuhan akan memanggilku dan bersedia bercerita padaku?
Apakah Tuhan akan....
Aku berhasil mencapai puncak Gunung Sinai pada malam hari dan memandang
sekeliling yang dingin dan sunyi. Suara angin terdengar menderu-deru.
―Tuhan....‖ bisikku memanggil.
Aku melihat sekeliling dan kembali memanggil beberapa kali... ―Tuhan....‖
Aku melakukannya berjam-jam sambil berkeliling puncak Gunung Sinai dan
berteriak hingga suaraku kering. Mendadak sebuah suara terdengar dari
194
belakangku, secepat aku menoleh, aku hanya menemukan batu yang terjatuh oleh
hembusan angin.
―Tuhannn!!!!!‖ teriakku terus menerus hingga aku melihat sinar matahari
pertama.
Tidak ada Tuhan, tidak juga bayang cahayanya.
Mendadak aku tidak tahu apa yang sedang kulakukan di tempat ini dan mengapa
aku ada di atas puncak gunung. Aku merasa diriku kacau, sungguh teramat kacau.
Aku memikirkan kembali kehidupanku sebelum disentuh oleh Tuhan atau
kegilaan itu. Aku seharusnya menjadi seorang imam besar, aku seharusnya
memiliki masa depan yang cerah, aku seharusnya memiliki apa yang diidamkan
para manusia. Tapi, mengapa aku membuang semua itu hanya karena sebuah
bayangan yang muncul. Diriku protes, diriku marah.
Tapi, aku juga tidak bisa kembali ke kehidupan itu. Ingatan itu terus
menghantuiku.
Aku berdiri di tengah-tengah puncak gunung dengan perasaan tidak berdaya dan
tidak lagi mengetahui apa yang harus kulakukan. Aku mendadak kehilangan
semua jembatan dan jalan tempat kehidupanku seharusnya berjalan. Aku dibuang
ke dalam sebuah kehidupan yang tidak lagi memiliki arah.
Sekarang, aku berada di sini dengan sebuah keinginan kuat, Tuhan akan datang
padaku dan membuktikan jika aku sebenarnya tidak bermimpi. Aku benar-benar
akan bertemu dengan Tuhan. Dia sedang mencobai imanku.
195
Aku akan menunggu di atas tempat ini, tidak peduli selama apa pun juga.
10 hari berlalu tanpa kejadian apa pun juga. Aku masih percaya Tuhan akan
segera datang padaku.
30 hari berlalu dan sama sekali tidak ada tanda-tanda Tuhan akan menemuiku.
Aku kedinginan, kehujanan, namun tetap bertahan dengan bekalku yang semakin
menipis. Seperti juga menipisnya harapanku.
50 hari berlalu, bekalku sama sekali sudah habis. Aku tidak tahu lagi apa yang
sedang kulakukan. Aku kelaparan, dingin, haus dan tidak peduli. Mungkin
sebaiknya aku mati di atas tempat ini. Aku sudah tidak peduli lagi bahkan pada
diriku. Aku juga tidak lagi peduli jika Tuhan akan menemuiku atau tidak, jika
aku mati, aku pasti akan menemui-Nya.
Pada hari ke 58, seorang pria berjanggut putih membangunkanku dari tidur.
―Hei... bangun,‖ sahut pria itu sambil menuangkan air pada bibirku yang kering.
Aku melihat pria tua itu lamat-lamat dan bertanya, ―Apakah kamu Tuhan?‖
Pria tua itu mendengus tidak senang. ―Bukan,‖ jawabnya. ―Aku seorang pendaki
gunung yang menemukan dirimu sekarat di sini. Aku bisa membiarkanmu mati di
sini jika Tuhan yang kamu cari.‖
―Begitu juga baik,‖ kataku.
―Cih,‖ balas pria tua itu. ―Samuel, ke sini dan bantu ayah mengangkat pria bodoh
ini turun.‖
196
Harapanku sirna. Pria itu bersama seorang anaknya membawaku turun dari
Gunung Sinai dan merawatku hingga keadaanku pulih. Mereka tinggal di desa di
bawah kaki Gunung Sinai. Aku bekerja pada mereka selama setahun sebagai
penggembala ternak.
Pria tua itu bernama Harun, putranya bernama Samuel dan seorang putrinya yang
selalu tampak sehat bernama Eliza. Aku mencoba melupakan masa laluku dan
membuka hidup baru.
―Paulus,‖ panggil Harun suatu malam saat kami memasukkan domba-dombanya
ke dalam kandang. ―Apa yang kamu pikirkan tentang Eliza.‖
―Eliza?‖ tanyaku. ―Dia gadis yang menarik.‖
―Ya, dan dia sudah waktunya untuk menemukan jodohnya,‖ desah Harun.
―Benar,‖ kataku memandang Eliza yang sedang memasak di kejauhan. ―Dia gadis
yang cantik dan menarik. Akan ada banyak pemuda yang mengejarnya.‖
Harun menatap Eliza dan kembali mendesah, ―Gadis itu menyukaimu.‖
Tatapanku melekat pada wajah tua Harun dan mencoba melihat jika ia sedang
bercanda atau mencoba menggodaku. Setelah melihat keseriusan di wajahnya,
aku segera menjawab, ―Aku seperti seorang saudara lelaki baginya. Dia hanya
menyukaiku seperi dia menyukai Samuel.‖
―Apakah kamu mau menikahinya?‖ tanya Harun menatapku.
197
Aku terdiam sejenak dan melanjutkan, ―Mengapa tidak menjodohkannya dengan
pemuda-pemuda di desa saja.‖
―Mereka adalah pemuda-pemuda yang sudah kukenal sejak mereka masih
ingusan. Tidak ada yang mengena di hatiku,‖ jawab Harun tegas. ―Dan kamu,
dirimu tampak berbeda dari mereka. Kamu tampak terhormat dan terpelajar.‖
―Aku... tidak...‖
―Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir,‖ kata Harun meninggalkanku.
Setelah hari itu, aku terus memikirkan Eliza, kehidupanku dan masa depanku.
Hidup seperti apa yang ingin kujalani.
Di atas padang rumput yang hijau dan angin menari bebas di atasnya, kembali
aku menemukan diriku kehilangan arah tujuan hidupku. Aku melihat sekeliling
dan tidak lagi mengetahui bagaimana aku bisa berada di padang rumput ini
bersama ternak-ternak yang ada. Mendadak aku seperti tersadar dari tidur yang
panjang. Karena dalam setahun ini, aku hanya menjalani hidup dengan berpurapura dan menyembunyikan apa yang benar-benar berharga bagiku.
Aku tidak dapat menjalani kehidupan seperti ini lagi. Aku terus berpikir selama
beberapa hari dan pada akhirnya aku menemukan sebuah jawaban. Aku akan
melupakan pernikahan dan menemui murid-murid Yesus untuk belajar dari
mereka untuk mengetahui Tuhan yang sebenarnya. Aku tidak mampu hidup
terluntang-lantung seperti ini lagi.
198
Sore itu juga aku kembali menemui Harun untuk menolak tawarannya dan
sekaligus memohon diri untuk kembali ke Damaskus untuk menemui Ananias.
Aku tidak sadar jika saat itu Eliza mendengar pembicaraan kami dari dapur.
Gadis itu menangis. Dan aku pergi pada hari itu juga.
***
Tahun 40 M
Dalam perjalanan menuju ke Damaskus, aku membiarkan rambutku tumbuh tidak
teratur dan janggutku panjang tidak terawat. Saat tiba di gerbang kota, aku
melihat tembok kota dan sudah berselang tiga tahun sejak aku turun dari jendela
pengintai.
Aku melewati gerbang kota tanpa masalah dan dengan mudah aku menemukan
kembali rumah Ananias.
―Saudara Ananias,‖ panggilku mengetuk pintu. Setelah beberapa kali tanpa
jawaban, pintu terbuka dan seorang pemuda muncul dari baliknya.
―Siapa?‖ tanya pemuda itu memandangku. Aku tidak mengenalnya.
―Saya Paulus sahabat dari Ananias ingin menjumpainya.‖
Pemuda itu memandangku, ―Guru sedang pergi untuk mengajar ke luar kota.
Entah kapan dia baru akan kembali. Ada keperluan apakah?‖
Jelas waktu yang tidak tepat, aku melirik pemuda yang mengaku sebagai murid
Ananias itu dan berkata, ―Saya dulu dibaptis oleh Ananias dan ingin belajar
199
darinya. Apakah kamu mengetahui murid-murid Yesus lainnya di Damaskus ini
agar aku dapat belajar dari mereka?‖
Pemuda itu melirikku mendekatkan wajahnya untuk berkata, ―Murid-murid
Yesus atau para rasul sudah kembali ke Yerusalem.‖
―Yerusalem?‖ tanyaku tidak percaya. ―Apakah itu tidak berbahaya?‖
Pemuda itu tertawa, ―Sejak penegak displin kejam bernama Saul ditaklukkan oleh
Guru Ananias, Sanhedrin mencoba mengangkat penegak displin lainnya, tapi
pemerintahan Roma tidak menyetujuinya. Sehingga Sanherdin bekerja sama
dengan Raja Herodes untuk membentuk penegak displin baru dengan para
prajurit Yahudi.‖
Aku tidak tahu informasi itu sehingga hanya diam menunggu kelanjutan darinya.
―Penegak displin yang baru sama sekali tidak seperti Saul,‖ kata pemuda itu
dengan wajah mengejek. ―Mereka dan para prajuritnya mudah untuk dibayar jika
tertangkap. Mereka bahkan menggunakan kekuasaan mereka untuk memeras
orang-orang yang tidak bersalah.‖
―Mereka melakukannya?‖ tanyaku bingung.
Pemuda itu mengangguk sambil tersenyum senang. ―Sejak saat itu, para muridmurid Yesus sudah kembali ke Yerusalem.‖
***
200
Meninggalkan Damaskus, aku segera berjalan ke Yerusalem. Selain untuk
menemui murid-murid Yesus, aku juga sudah ingin kembali ke tempat itu. Jika
penegak displin Sanhedrin sekorup itu, maka tidak ada yang perlu ditakuti lagi.
Aku segera berbaur dengan orang-orang yang melakukan perjalanan ke
Yerusalem dan memasuki kota itu. Di dalam kota, ada begitu banyak kenangan
yang mengalir dalam pikiranku. Aku melewati beberapa prajurit, iman dan rabbi
yang kukenal. Tapi, tampak jelas mereka tidak mengenalku dengan wajahku yang
kotor dan tidak terawat.
Sebagai mantan penegak displin, aku masih cukup ahli untuk mengendus jejak
para pengikut Yesus. Mereka seharusnya berada di tempat-tempat yang jauh dari
prajurit penegak dispilin dan tempat-tempat ramai. Karena prajurit yang korup
dan tempat keramaian adalah satu paket. Mereka akan lebih senang meminta
uang di tempat-tempat itu karena lebih banyak orang kaya dan juga
menghabiskan uang mereka di sana. Para pengikut Yesus akan mengajar orangorang di beberapa sudut yang menurut mereka aman dan cukup banyak orang
berlalu lalang.
Seperti dugaanku, aku menemukan mereka setelah memeriksa dua tempat. Aku
melihat sedang berusaha mengajarkan ajaran Yesus dan mendekati mereka yang
berjumlah tiga orang.
―Salam damai,‖ kataku pada mereka.
―Salam damai,‖ balas mereka yang melihatku dengan tatapan tidak nyaman.
201
―Di manakah aku bisa menemukan murid Yesus bernama Petrus?‖ tanyaku pada
seorang dari mereka.
―Siapakah engkau saudaraku?‖ tanya seorang dengan tatapan curiga.
―Aku..‖ aku terdiam sejenak berpikir apakah aku akan memberikan namaku yang
sebenarnya pada mereka? Bukankah mereka akan membunuhku jika seorang di
antara mereka ternyata memiliki dendam denganku. ―Aku Paulus, seorang yang
ingin menemuinya.‖
―Apakah engkau saudara seiman? Apakah engkau sudah dibaptis?‖
―Aku adalah saudara seiman dan sudah dibaptis oleh Ananias dari Damaskus.‖
Mereka bertiga saling melihat.
―Engkau ingin menemui pemimpin kita, Petrus, tapi tubuhmu begitu kotor.
Pergilah mandi dan berbenah. Setelah itu aku akan mengantarkanmu ke sana,‖
kata seorang pria.
Menurutku itu bukan rencana yang bagus. Tapi, tentu saja aku tidak dapat
menolak permintaan itu. Mereka segera membawaku ke sebuah sungai terdekat
untuk membasuh diri. Saat aku turun ke sungai dan mulai membersihkan tubuh,
wajah, serta rambutku, seorang dari mereka menatapku lebih lama. Tapi, ia tidak
mengatakan apa pun juga. Mungkin dia tidak menyadarinya.
Selesai membasuh diri dan mengenakan pakaian yang bersih, seorang dari
mereka berkata, ―Ikuti kami.‖
202
Mereka membawaku melewati jalanan kecil antar rumah. Aku melihat dua orang
berjalan di depan dan seorang berjalan di belakangku. Perasaanku mendadak
menjadi tidak enak dan saat itu aku merasakan sebuah hentakan dan rasa sakit
pada belakang kepala.
Aku terjatuh ke depan dan menabrak kedua orang di depan.
―Apa yang kamu lakukan Yudea?‖ tanya seorang di depanku terkejut.
Aku melihat ke arah belakang dan pria bernama Yudea sedang membawa
sebatang kayu dan baru saja memukul belakang kepalaku. Aku dapat merasakan
sebuah aliran hangat mengalir turun pada leherku.
―Dia Saul. Dialah yang membunuh abangku dan saudara-saudara kita lainnya.‖
Mereka semua menatapku dengan rasa curiga.
Aku melihat mereka dan tidak menemukan cara lain selain menjelaskan, ―Benar
akulah Saul, tapi aku sudah bertobat.‖
―Bertobatlah setelah kematianmu,‖ teriak Yudea mengayunkan kayunya dan
hendak memukul kepalaku. Tanganku segera terangkat dan menahan pukulan itu.
Tidak berhenti, Yudea terus menerus mengayungkan kayu di tangannya dengan
beringas, Aku hanya dapat menahan semua itu dengan kedua tanganku yang
menjerit kesakitan.
―Kamu akan membunuhnya,‖ teriak seorang mencoba menarik Yudea ke arah
belakang.
203
―Memang itu rencanaku,‖ teriak Yudea mencoba menyerang lagi. Tapi, kedua
orang itu segera bergerak menahannya.
Aku melihat amarah dan kebencian pada mata Yudea. Tanpa sadar, aku segera
berdiri dan berlari ke arah lainnya. Aku tidak ingin mati di sini. Dengan cepat,
aku terus berlari dengan kepala yang pusing. Aku menyentuh belakang kepala
dan melihat darah berwarna merah kehitaman pada tanganku.
Menerobos jalanan padat dan melewati banyak orang yang melihatku berlari, aku
mengintip ke belakang dan terlihat Yudea mencoba mengejarku di kejauhan. Aku
segera berbelok ke dalam sebuah jalanan kecil dan terus berlari hingga napasku
habis.
Aku berlari hingga bayangan Yudea menghilang dari pandanganku.
Bersembunyi di sebuah sudut jalanan, aku merasa darah di tanganku mulai terasa
lengket dan kering. Aku melihat sekeliling jalanan di mana orang-orang sedang
mempehatikanku. Luka di kepalaku terlalu mencurigakan, apa lagi darah sudah
membasahi leher dan bajuku. Aku butuh tempat untuk mengobati kepalaku.
Tapi, di mana?
Jika aku mencari orang yang kukenal—aku jelas mengenal banyak orang di
Yerusalem, mereka mungkin akan melaporkanku ke Sanhedrin. Aku melihat
sekeliling dan menemukan sebuah tempat penginapan.
Yerusalem banyak memiliki penginapan karena banyak orang-orang dari
berbagai daerah mengunjungi Bait Allah setiap tahunnya. Dengan cepat, aku
204
menuju ke sebuah penginapan yang kecil. Meski disebut penginapan, terlihat
jelas hanya sebuah rumah yang dijadikan penginapan. Di dalamnya aku melihat
seorang pria tua yang balas memandangku.
―Aku butuh penginapan,‖ kataku melihat pria tua itu.
―Kupikir kamu butuh dokter,‖ balasnya.
―Setelah aku mendapatkan penginapan,‖ kataku cepat. Aku butuh bersembunyi
terlebih dahulu.
―Kamar belakang nomor 3,‖ kata pria tua itu dan memandangku. ―Apa yang
terjadi padamu?‖
―Aku bermain judi dengan seorang bajingan. Setelah aku menang, ia
memukuliku,‖ makiku sambil membuat alasan. ―Aku tidak akan bermain
dengannya lagi.‖
―Apakah dia juga merebut uang taruhan kalian?‖ tanya pria itu terlihat terkejut.
―Kenapa?‖ tanya.
―Kamu butuh membayar uang sewanya terlebih dahulu.‖
***
Di dalam kamar pria tua itu menatap lukaku dan berkata, ―Kamu memerlukan
dokter untuk lukamu.‖
―Bisakah kamu memanggilnya ke tempat ini?‖ tanyaku
205
―Tentu saja,‖ jawabnya. ―Dokter terbaik di Yerusalem.‖
Mendadak aku merasa takut jika dia akan memanggil dokter yang aku kenal.
Karena hampir seluruh dokter yang baik di Yerusalem mengenal para imamimam dan juga diriku bertahun-tahun lalu. ―Tolong, panggilkan dokter yang
bukan dokter.‖
―Dokter yang bukan dokter?‖ tanya pria itu terheran-heran.
―Maksudku cukup seorang yang bisa merawat luka ini dan bukan dokter.‖
―Ada apa dengan dokter?‖
Aku segera mencari alasan, ―aku tidak bisa membayar biaya pengobatan dari
seorang dokter benaran.‖
***
Satu jam kemudian, pria tua pemilik penginapan sudah menyuruh seorang
pekerjanya untuk memanggil seorang dokter yang bukan dokter ke dalam
kamarku. Dokter itu terlihat sudah tua, namun ia bekerja dengan cepat mengobati
lukaku.
Pria tua pemilik penginapan melihat pengobatan itu dan berkata dengan cengarcengir, ―Dia dokter hewan terbaik di kota ini.‖
Aku tidak dapat berkata apa pun. Setelah membayar uang pengobatan itu, aku
merebahkan diriku pada tempat tidur dalam kamar kecil yang terbuat dari tanah
206
liat. Perjalananku tampak tidak seindah dengan perkiraanku. Malamnya aku
menderita demam ringan dan tidak dapat keluar.
Tiga hari kemudian, aku masih di dalam kamar tidak melakukan apa pun kecuali
makan, tidur dan memikirkan cara untuk menemui murid-murid Yesus tanpa
bertemu dengan pria bernama Yudea.
Pada malam itu, aku terbangun di tengah malam karena terdengar suara ribut di
depan kamar. Aku terbangun dan membuka pintu kamar, saat itu aku menatap
Yudea dan beberapa orang sedang berada di depan kamarku dengan membawa
obor api.
Aku tidak perlu lagi memikirkan cara menemukan mereka. Karena mereka sudah
menemukanku.
Dengan cepat, aku berbalik menutupi pintu kamar dan memalangkan kayu. Dari
pintu terdengar suara orang mulai mendobraknya dan berteriak-teriak, ―Dia ada
di dalam. Cepat!‖
Aku mengambil barangku yang tidak seberapa, membuka jendela dan segera
melompat keluar dengan tergesa-gesa. Sebelah kakiku mendarat pada sebuah pot
bunga di bawah. Pijakan itu segera membuat kaki kananku tergelincir dan terkilir.
Tubuhku terjatuh.
Tepat saat itu, pintu dalam kamar berhasil didobrak hingga terbuka.
207
―Dia berada di luar, cepat kejar,‖ teriak seseoarang saat aku mulai berlari dengan
kakiku terpincang karena menjerit kesakitan. Jalanan terlihat sepi dan gelap. Aku
buru-buru mengeluarkan sebuah benda dari dalam pakaianku sambil berlari.
Tiga orang terlihat mengejarku dengan cepat. Aku sendiri tidak mampu lagi
mempertahankan kecepatanku berlari. Mereka semakin dekat mengejarku.
Aku yakin, tanpa keraguan sama sekali. Mereka akan membunuhku.
Kecuali...
Aku segera berhenti melangkah dan berbalik menghadapi lima orang yang
sedang mengejar ke arahku. Mereka tidak menyangka aku akan berbalik sehingga
mereka buru-buru berhenti dan menatapku.
―Kamu tidak akan bisa lari lagi,‖ sahut Yudea yang tampak bersama mereka.
―Kalian ingin membunuhku atau membawaku ke pengadilan?‖ teriakku pada
mereka.
Yudea tertawa dan mengambil sebuah tongkat kayu. ―Tentu saja membunuhmu.
Semua pejabat di pengadilan adalah sekutumu. Kami tidak akan mendapatkan
keadilan jika membawamu ke sana.
―Baiklah,‖ kataku membuang barang bawaanku dan tertinggal sebilah pisau kecil
pada tanganku. ―Aku tidak ingin mati di sini dan juga tidak ingin melukai kalian.
Jika kalian menyerangku, bersiap-siaplah untuk terluka.‖
208
Yudea melihat pada kawan-kawannya, ―Ambil batu dan lempari dia hingga
mati.‖ Beberapa di antara mereka mulai mengambil batu dan aku segera berpikir
untuk menerjang ke arah mereka.
Tapi, bukankah adalah salah dengan menerjang dan melukai mereka saat aku
hendak bertobat?
Dalam keadaan tidak siap, dua buah batu terbang ke arahku dan mengenai
badanku. Tak lama kemudian, semakin banyak batu yang terbang menuju ke
arahku. Aku sudah melupakan untuk menerjang ke arah mereka dan segera
menutupi wajahku. Jika aku lari saat ini, mereka akan menyerangku. Tanganku
segera menyambar barang bawaanku yang berupa tas dari kain dan menutupi
wajahku dari lemparan batu.
Batu demi batu terlontar menyerang tubuh, tangan dan kakiku. Dalam keadaan
seperti ini, aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku hanya bisa
berserah pada Tuhan, mungkin inilah pembalasan daripada apa yang sudah
kulakukan selama ini.
―Hentikan!!‖ teriakan sebuah suara terdengar keras memecah di kegelapan
malam.
Lemparan batu segera berhenti dan aku merasa lega untuk seketika. Menurunkan
tas di tanganku, aku melihat seorang pria mendekati kelima orang yang
melempariku. Pria itu tampak penting bagi kelimanya sehingga mereka semua
berhenti.
209
―Apa yang kalian lakukan padanya?‖ tanya pria itu.
Keempat lainnya segera menatap pada Yudea. Tampak jelas jika dialah yang
bertanggung jawab.
―Saudara Barnabas,‖ kata Yudea. ―Aku hanya membalaskan dendam pada
pembunuh ini.‖
Barnabas mendekati Yudea dan berkata, ―Apakah ada dari ajaran kita yang
mengajari pembalasan dendam? Bukankah Yesus sendiri mengatakan untuk
memberikan maaf dan mengasihi sesama kita?‖
―Tapi, dia ini Saul pembunuh ribuan orang kita,‖ protes Yudea.
Barnabas segera menatap ke arahku. ―Saul?‖
―Hai, Barnabas,‖ jawabku mencoba tersenyum. Aku mengenalnya, dia adalah
seoarang keturunan Lewi, orang yang bersekolah di Akademi Hillel denganku
selama beberapa tahun.
―Yudea,‖ teriak Barnabas. ―Orang ini sudah bertobat. Bukankah saudara Ananias
sudah mengatakannya pada kita semua.‖
―Aku tidak percaya, dia mungkin hanya mencoba menjadi mata-mata untuk dapat
membunuh kita semua.‖ Yudea bergerak ke arahku dengan mengambil sebatang
kayu.
Tangan Barnabas mencengkram tangan Yudea dengan keras dan berkata, ―Jika
dia memang mata-mata sekali pun, kamu tidak memiliki hak untuk
210
menghukumnya. Kita akan membawanya ke pimpinan kita, Petrus, untuk
diadili.‖
Yudea tidak dapat membantah hal itu.
***
Malam itu juga, kedua tanganku diikat ke belakang dan aku digiring oleh dua
orang, Mataku ditutup sepanjang perjalanan agar aku tidak mengetahui ke mana
aku akan dibawa. Barnabas berusaha meminta agar aku tidak diikat dan
diperlakukan dengan kasar. Tapi, dia tidak berhasil.
Ketika kami berhenti berjalan dan penutup kepalaku dibuka, kami ada di depan
sebuah rumah yang agak terpisah dari rumah-rumah lainnya, Yudea mengetuk
pintu dan memanggil dengan sopan. ―Pimpinan, kami membawa Saul
menghadap.‖
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan cahaya terang menyelinap keluar dari
pintu menerangi kegelapan malam. Aku melihat seorang pria kurus—berumur
sekitar 40-an dan berambut tipis pada depan kepala—keluar dan memerhatikan
sekelilingnya.
―Kami membawa Saul yang telah banyak membunuh saudara-saudara kita,‖ kata
Yudea mengulangi perkataannya. ―Mohon berikanlah hukuman yang setimpal
padanya. Dan hanya kematianlah yang pantas untuknya atas ribuan nyawa
saudara kita.‖
211
Barnabas segera maju, ―Pimpinan, Saulus ini sudah bertobat dan dibaptis oleh
Ananias, dia sudah menjadi salah satu dari saudara kita. Ampuni dosanya dan
terimalah dirinya.‖
―Dia hanya berpura-pura bertobat,‖ balas Yudea menatap Barnabas. ―Saat ia
sudah mengetahui lokasi pimpinan kita dan semua murid-murid Yesus, dia akan
membunuh kita semua. Dia adalah mata-mata.‖
―Tidak demikikan adanya,‖ protes Barnabas.
Aku melihat mereka segera berdebat di antara mereka. Petrus melihatku dan aku
melihat sekilas ketakutan di matanya. Aku sadar dia tidak akan memercayaiku
dan membahayakan nyawanya untuk menerimaku.
―Saudara-saudaraku,‖ kata Petrus, ―Masuklah ke dalam terlebih dahulu, biarlah
kita dapat mendiskusikannya bersama saudara-saudara lainnya yang berada di
dalam.‖ Yudea dan Barnabas masuk ke dalam rumah. Petrus segera melanjutkan,
―Bawalah dia ke gudang di samping rumah.‖
Aku segera digiring memasuki sebuah gudang kecil yang berisi jerami kering dan
beberapa tumpuk kayu kering. Mereka tidak melepas ikatanku dan mengunci
pintu gudang. Sepeninggal mereka, aku masih dapat mendengarkan suara-suara
berbicara dari dalam rumah. Mereka terus mendebat hingga aku jatuh tertidur.
Pagi harinya, aku terbangun saat Barnabas membuka pintu dan membawa roti
serta air minum. Wajahnya terlihat lesu.
212
―Saudara Saul,‖ kata Barnabas menatapku tertidur di antara jerami kering, ―Maaf
jika kamu harus mengalami semua ini.‖
―Tidak masalah,‖ kataku melihatnya masuk dan duduk di depanku.
―Makanlah roti ini,‖ katanya.
Aku duduk dan melihat ke arahnya, kemudian ke arah beberapa roti. Kami saling
memandang kembali cukup lama.
―Aku tidak menaruh racun pada roti itu,‖ kata Barnabas yang menatapku tidak
menyentuh roti tersebut.
―Bukan masalah itu teman, tapi tanganku sedang terikat ke belakang,‖ kataku.
Barnabas seperti tersadar. Ia segera berdiri dan berjalan ke belakangku. ―Maaf,
maafkan aku.‖
Kami berdua segera makan dan sambil bercerita panjang lebar.
―Bagaimana bisa kamu bertobat dan ingin memasuki kelompok ini,‖ tanya
Barnabas.
Aku segera menceritakan padanya tentang perjalananku ke Damaskus dan
pertemuanku pada Tuhan. ―Aku memutuskan ke tempat ini untuk mengetahui
lebih banyak mengenai Yesus yang dikatakan sebagai Tuhan atau juga Anak
Tuhan.‖
Barnabas mengangguk. ―Aku akan menceritakan semua yang kuketahui padamu
secepatnya. Saat ini belum tepat.‖
213
―Mengapa?‖ tanyaku.
―Petrus belum memastikan akan melakukan apa padamu. Ia belum dapat
memutuskan untuk menerimamu atau membunuhmu. Mereka takut jika
membunuhmu di sini, tentara Roma dan Sanhedrin akan segera menyerang kami.
Tapi, menerimamu juga adalah keputusan yang sulit. Mereka takut jika kamu
adalah mata-mata. Bertahanlah ssebentar lagi, aku akan melakukan apa pun yang
terbaik untukmu. Kami sedang menunggu kedatangan murid-murid Yesus
lainnya dan pimpinan-pimpinan lainnya untuk memutuskan nasibmu.‖
Tiga hari kemudian, aku masih juga diikat dan dikawal ke mana-mana. Beberapa
orang datang untuk melihat diriku, ada yang dengan wajah marah, ada yang
dengan wajah tidak peduli dan sebagainya. Beberapa dari mereka meludahiku.
Sepuluh hari kemudian. Tidak ada yang berbeda, aku tetap dikurung di dalam
gudang ini. Seorang murid Yesus bernama Yakobus mendatangiku dan berbicara.
Tidak seperti Petrus yang enggan menerimaku, dia terlihat mau menerimaku
dengan baik. Dia menanyakan alasan mengapa aku ingin bergabung.
Aku menceritakan perjalananku ke Damaskus yang sudah ku ulang-ulang berkalikali dalam sepuluh hari ini. Kembali aku melihat tatapan tidak percaya darinya
seperti orang-orang lain. Aku mulai meragukan kebenaran mengenai Tuhan
menemuiku.
214
Pada hari ke lima belas, Yudea dan Barnabas datang ke dalam gudang. Yudea
membawa tali untuk mengikat tanganku. Barnabas mendekatiku dan berkata,
―Saulus, maafkan aku. Aku sudah berusaha semampuku.‖
Mendengar perkataannya jelas membuat jantungku berhenti berdetak beberapa
saat. Aku sadar apa yang akan segera terjadi padaku.
Bibirku menjadi keluh dan aku berbisik, ―Terima kasih sudah mau
memercayaiku.‖ Saat Yudea mengikat tali ke tanganku dan menariknya keluar
dari gudang, aku melihat langit biru dan hari yang cerah. Air mataku tiba-tiba
mengalir dan mendadak aku merasa lelah untuk berjuang lagi. Mungkin
pertemuanku di Damaskus dengan Tuhan hanyalah ilusiku. Tumpukan dari
perasaan bersalahku, seperti kata orang-orang.
Aku tahu, mereka akan segera membunuhku. Namun, aku tetap bertanya pada
Barnabas yang mengiringiku. ―Apa yang akan mereka lakukan padaku?‖
―Mereka ingin menyalibkanmu,‖ sahut Barnabas dengan wajah sedih dan tidak
melanjutkan langkah kakinya mengiringiku.
Yudea dengan kasar menarikku untuk bergerak lebih cepat.
Dia membawaku berjalan menjauhi rumah Petrus dan menuju ke sebuah bukit di
mana aku dapat melihat sebuah kayu salib besar tergeletak dan beberapa orang
termasuk Petrus ada di sana.
Apakah aku akan mati seperti ini?
215
Sesungguhnya aku sudah lelah dan benar-benar lelah. Tidak ada lagi tempat
untukku. Aku memandang ke atas langit dan berbisik, ―Yah Tuhan. Kuserahkan
diriku padamu.‖
Aku berjalan dengan lemah dibawa menuju ke depan Petrus. Ia berdiri di
hadapanku dan berkata, ―Guruku dan Tuhan itu sendiri, Yesus telah mati
disalibkan oleh para imam dan oleh persetujuan pemerintahan Roma. Mereka
seharusnya bisa mencegah tapi tidak melakukannya. Tuhan kami, Yesus tidak
pantas untuk mati. Tapi kamu, yang sudah membunuh ribuan saudara-saudara
kami. Iblis yang mewujud pada manusia. Kamu sangat pantas untuk menerima
hukuman ini.‖
Kepalaku tertunduk dan tidak berniat untuk melawannya sama sekali. Yudea dan
seorang temannya segera menarikku ke depan kayu salib. Yudea mencoba
membuka tali yang mengikat pergelangan tanganku. Tangannya terus berusaha
membuka ikatan yang diikat oleh dirinya sendiri dengan begitu erat.
Ia mencoba cukup lama dan tidak berhasil melakukannya.
―Yudea,‖ tanya Petrus dari kejauhan. ―Apa yang membuatmu begitu lama di
sana? Cepatlah memaku tangannya ke kayu salib.‖
―Aku mengikatnya terlalu erat tadi,‖ balas Yudea.
Aku pasrah membiarkan Yudea berusaha membuka ikatan itu. Pergelangan
tanganku mulai tergores oleh tali rami itu. Karena Yudea belum juga berhasil
membukanya, Petrus segera mendekatinya.
216
―Ambilah pisau ini dan potong talinya,‖ kata Petrus tidak sabar.
Yudea menyambut pisau kecil itu untuk memotong tali yang mengikat tanganku
dan saat itu, entah apa yang merasuk dalam diriku, kedua tanganku yang bebas
segera menyambar pisau kecil di tangan Yudea dan menendang perutnya.
Aku melihat Petrus yang sudah berbalik dan segera menangkapnya. Pisau kecil di
tanganku mengalungi lehernya. Sungguh, aku tidak tahu bagaimana keadaan bisa
menjadi seperti ini. Semua orang terdiam menatapku dan Petrus.
Saat itu Barnabas terlihat baru mendatangi tempat penyaliban tanpa mengetahui
apa pun juga.
―Dasar mata-mata,‖ maki Petrus dengan marah.
Aku tersenyum dan menguatkan tanganku, ―Aku bukan mata-mata.‖
―Lihatlah apa yang sudah kamu lakukan padaku.‖
―Kamu yang memaksaku untuk melakukan ini, aku hanya mencoba
menyelamatkan
selembar
jiwaku.‖
Yudea
mendadak
bangkit
hendak
menyerangku. Aku menggerakkan tubuh Petrus untuk menghadap ke arahnya.
―Kamu lakukan itu, dia akan mati.‖
Langkah Yudea langsung terhenti.
Aku melihat ke sekeliling yang terlihat ada sekitar belasan orang. ―Berikan aku
kuda,‖ teriakku. ―Aku akan segera pergi dan tidak akan mengganggu kalian.‖
Tidak ada satu pun orang yang bergerak.
217
―Atau aku akan membunuh Petrus.‖
Tidak ada satu pun yang bergerak mereka semua menatap pada Petrus. Aku
segera merapatkan tanganku dan menekan ujung pisau pada leher Petrus.
―Perintahkan pada mereka untuk menyerahkan seekor kuda. Atau aku bersumpah
akan menusukkan pisau ini ke dalam lehermu.‖
―Berikan dia kuda...‖ teriak Petrus cepat.
Seorang pria buru-buru berlari pergi dan tak lama kemudian menarik sebuah kuda
mendekati kami.
―Tinggalkan di sana,‖ sahutku saat ia mendekati sekitar sepuluh langkah dariku.
Pria itu segera mundur perlahan-lahan. Aku berjalan menyeret Petrus mendekati
samping kuda.
Pisau kecil di tanganku berpindah posisi pada leher bagian samping Petrus dan
tubuhku menaiki kuda. Dengan gerakan cepat, aku memaksa agar kuda itu berlari
secepatnya dan meninggalkan tempat itu. Aku mendengar Petrus berteriak-teriak,
tapi jelas mereka akan segera kehilangan diriku.
Kuda tungganganku melesat begitu cepat mengikuti jalanan di depannya.
218
BAB 11
RUMAH
Dari Yerusalem, aku melakukan perjalanan darat sekitar 50 kilometer menuju ke
Kaisarea dengan berkuda. Itu adalah salah satu kota pelabuhan. Di sana, aku
menjual kuda untuk mendapatkan ongkos kapal laut yang akan berangkat menuju
ke Tarsus. Kota di mana aku sejak kecil berada. Aku memutuskan untuk kembali
ke sana daripada ke Mesir menemui orang tua kandungku dengan berbagai
alasan.
Sesampainya di Tarsus, aku berjalan di dalam kota yang terlihat sudah berubah.
Beberapa bangunan tampak baru dibangun dan sisanya adalah bangunan lama
dengan beberapa pemilik yang sudah berganti. Sudah sepuluh tahun lebih sejak
aku meninggalkan tempat ini.
Aku menuju ke rumah ayah angkatku. Ada begitu banyak pertanyaan yang ingin
kuberikan padanya. Saat aku masih kecil, dia selalu tampak mengetahui jawabanjawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tidak kumengerti. Ia selalu dapat
mengutip jawaban dari Kitab Taurat atau kata-kata dari orang terkenal. Kali ini
aku ingin tahu lebih banyak lagi apakah kata-kata dan tulisan dapat melawan
sebuah kegilaan.
219
Aku menggelengkan kepalaku, dari mana aku dapat merasa berbicara dengan
Tuhan. Aku pasti sudah gila.
Saat aku kembali ke dalam rumah yang menjadi tempat tinggalku bertahun-tahun,
aku melihat sesuatu yang aneh. Aku tidak melihat ayah angkatku di bengkel
tempatnya kerja. Bisa dikatakan, tidak ada orang di dalam bengkel kerja sama
sekali.
―Saul,‖ kata ibu angkatku melihatku dengan terkejut saat dia keluar dari rumah.
―Aku kembali,‖ kataku padanya dan dia memelukku sambil menangis.
―Ayahmu,‖ katanya dengan berbisik. ―Simon sudah meninggal.‖
Tubuhku menegang. ―Bagaimana mungkin?‖ tanyaku tidak percaya.
―Dia sakit selama tiga minggu dan meninggal bulan lalu.‖
Aku hanya bisa menghela napas.
Kematian begitu dekat pada orang yang tidak menginginkannya, tapi begitu jauh
dari orang yang mendamba.
***
Setahun kemudian.
Aku duduk di bengkel pembuatan tenda milik ayah angkatku, aku menggantikan
dirinya untuk menjalankan usaha ini bersama keluarga-keluargaku. Aku juga
berhenti dari mempelajari Kitab Taurat dan juga mencari Tuhan. Tepatnya, aku
220
hanya membiarkan hidup membawaku begitu saja. Dan mencoba melupakan
semua itu.
Hidupku seketika menjadi rutinitas yang membosankan. Pagi hari, aku bangun,
bekerja hingga sore dan kemudian duduk menatap langit hingga malam untuk
kemudian pergi tidur. Waktu berlalu dengan cepat.
Jika ada yang kupikirkan saat menatap langit malam, maka itu adalah sebuah
pertanyaan yang terus menerus muncul dalam pikiranku dan aku berusaha
menjawabnya dengan pikiranku juga.
“Apa yang Tuhan inginkan dariku?”
Kegelisahan itu terus bertambah dari hari demi hari. Aku tidak mendapat
pelajaran dari murid-murid Yesus karena mereka membenciku dan juga tidak lagi
mendapatkan kehausan yang sama dari Kitab Taurat. Aku mengetahui ada
sesuatu yang lebih berarti dan lebih berharga daripada isi Kitab Taurat dan
perdebatan para imam besar sekali pun.
Ada sesuatu yang sedang terjadi dalam kehidupan ini dan kuncinya ada pada
seorang yang disebut Yesus.
Kegelisahan itu awalnya kecil dan dari hari demi hari, ia berubah makin
membesar, hingga akhirnya kegelisahan itu memaksaku untuk mencari jawaban
sekali lagi. Kegelisahan itu merengut kedamaian dalam diriku hingga aku tidak
dapat lagi menikmati kehidupan yang rutin. Kegelisahan itu membawa mataku
memandang pada langit di kejauhan dan mendamba sebuah jawaban.
221
Tepat satu setengah tahun sejak aku kembali ke Tarsus, aku mengumpulkan uang
hasil bekerjaku membuat tenda. Saat itu juga aku mengambil barangku dan
permisi dari ibuku.
―Ke mana kamu akan pergi Saul?‖ tanya ibu angkatku.
―Aku ingin mengenal Yesus,‖ kataku.
―Tapi, mereka semua para pengikut Yesus sedang mencarimu. Mereka jelas akan
membunuhmu.‖ Wajah ibuku menjadi pucat.
―Aku tidak mencari mereka, aku hanya ingin mencari kembali jejak-jejak Yesus.
Sedari dia kecil.‖
***
Tahun 41 M
Kota tujuan pertamaku adalah kota Nazaret di Galilea. Karena itulah yang
kuketahui tentang Yesus saat masih berada di Yerusalem, orang-orang
memanggilnya Yesus dari Nazaret. Tentu kota kelahirannya akan menjadi tempat
paling bagus untuk mulai mengenal Yesus.
Aku membawa serta sebuah gerobak yang berisi tenda dan alat rajutku. Dengan
cara itu, aku dapat bekerja sebagai seorang pedagang tenda keliling dan juga
menerima perbaikan tenda di sepanjang perjalanan. Demi untuk keamanan dan
juga biaya hidupku.
222
Tidak akan ada yang menyangka Saul seorang penganiaya pengikut Yesus akan
menjadi seorang penjual dan tukang memperbaiki tenda. Aku mengganti namaku
menjadi Paul atau yang dikenal dengan Paulus. Paulus si penjual tenda dari
Tarsus begitulah aku memperkenalkan diriku sepanjang perjalanan menuju ke
Nazaret.
Perjalanan dari Tarsus ke Nazaret sebenarnya akan jauh lebih dekat jika
menggunakan perahu, namun aku tidak ingin segera tiba di Nazaret sehingga
mengambil perjalanan darat yang jauhnya sekitar 800 – 1.000 kilometer. Aku
ingin melihat sekelilingku lebih lama dan sekaligus merenungi arti kehidupanku.
Berjalan, bertemu manusia, menapak bumi dan mencari arti dari hidup yang
kubawa ke mana pun aku pergi. Terus terang aku merasa bebas.
Di saat pagi hari tiba, aku akan mulai berjalan dan menyambut segala sesuatu
dengan penuh semangat, seperti menyambut langit biru cerah tanpa awan dan
terbentang luas sejauh mata memandang. Di siang hari aku akan mencari pasar,
menjajakan tenda-tendaku. Kadang tenda-tenda itu terjual, kadang tidak. Jujur
saja, aku tidak peduli jika tenda-tenda itu terjual atau tidak, sama seperti aku
tidak lagi mempedulikan hidupku.
Aku, seseorang yang dulu merasa mengetahui Tuhanku, hidupku dan kehidupan,
menjalani kehidupan dengan ribuan peraturan yang ditulis dalam ratusan kitab
dan menghafal ratusan peraturan, semua itu kini hancur dan goyah oleh sebuah
panggilan langsung yang tidak dapat dijawab dengan semua pengetahuan dan
nalarku.
223
Hal itu membuka mata dan hidupku. Panggilan itu membawaku pada pencarian
akan Tuhan yang sesungguhnya, bukan sebuah tuhan yang kuciptakan dari
pikiran dan tafsiran melalui kitab.
Semua itu membuatku benar-benar menyadari jika Tuhan itu sungguh ada. Dia
hidup. Dia mampu berbicara dan bukan hasil pikiran. Selama ini aku dan para
imam-imam terlalu sibuk pada peraturan dan mencoba memahami perkataan
Tuhan melalui kitab hingga melupakan Tuhan itu sendiri. Kami merasa menjadi
penyambung lidah Tuhan pada manusia lainnya seakan-akan Tuhan itu tidak
nyata dan tidak hidup di antara mereka, hanya melalui kamilah Tuhan itu menjadi
nyata. Kami merasa sebagai orang-orang yang memperjuangan perkara Tuhan,
pada hal kamilah yang sesungguhnya tidak mengenal Tuhan yang sejati. Tuhan
yang langsung berbicara pada umatnya tanpa melalui kami.
Kami hanyalah makhluk sombong yang merasa mengenal Tuhan melalui kitabkitab tapi tidak pernah berbicara pada-Nya. Kami sesungguhnya membuat tuhan
bagi umat-umat kami. Bukan membiarkan Tuhan sejati itu hidup di antara
mereka melalui kehidupan.
Dan perjalananku kali ini adalah membiarkan Tuhan yang hidup mengatur
perjalananku. Aku yakin Dia melihat dan memiliki kuasa mengatur segalagalanya. Aku akan menyerahkan diriku dan menjalani hidup apa adanya, jika
Tuhan ingin bicara, ingin melakukan sesuatu padaku, aku akan siap. Aku ingin
menjadi kosong dari keinginanku. Dan menjalani hidup ini dengan sebuah
keringanan tanpa beban dalam kepasrahan dan penyerahan diri.
224
Ini bukan sebuah pencarian, karena aku tidak tahu apa yang sedang kucari, ini
adalah sebuah pejalanan penuh kepasrahan. Penyerahan diri sepenuhnya pada
Tuhan.
***
Uang hasil penjualan tendaku akan digunakan untuk membeli Mohari dari bulu
kambing Angora yang dijual oleh para peternak atau penjual di pasar. Saat aku
lelah berjalan, saat hari gelap, saat hujan turun, aku akan berlindung di samping
gerobak yang tertutup tenda untuk merajut dan membuat tenda baru.
Saat aku bertemu dengan para pedagang keliling yang memiliki tenda rusak, aku
akan memperbaikinya, kadang mereka menjual tenda mereka untuk digantikan
dengan tenda baru. Saat aku melihat orang yang kesusahan, aku mendermakan
sekeping atau dua keping uang yang kumiliki, kadang aku memberikan uang
terakhirku pada mereka.
Mereka membutuhkan makanan dan aku hanya membutuhkan Tuhan. Saat lelah
dan malam menjelang aku akan tidur di bawah tenda. Bumi menjadi tempat
tidurku dan langit menjadi atapku. Aku hidup bebas dalam lindungan-Nya.
Aku melupakan semua pelajaran yang kudapat dari Kitab Taurat dan para imam.
Aku hanya membuka diri dan hatiku untuk Tuhan. Untuk menjadi manusia yang
sesungguhnya.
225
Aku bertemu orang banyak, tersenyum pada beberapa orang, mengibur beberapa
dari mereka yang kesusahan dan pada akhirnya, aku lebih banyak melakukan
perjalanan sendiri di jalanan yang panjang.
Pada detik-detik itu, tidak jarang air mataku mengalir dan hatiku merasa begitu
merindukan Tuhan. Aku merasa ingin segera kembali ke suatu tempat di mana
Tuhan berada.
Aku hanya bisa berbisik dengan air mata, ―Tuhan.‖
Begitulah perjalanan yang kulakukan, butuh waktu setengah tahun untuk
mencapai Nazaret yang berada di Galilea. Bukan karena perjalanan itu jauh, tapi
lebih karena aku sering berhenti di setiap kotanya.
Di kota Nazaret, aku tinggal sekitar sebulan, mencoba mendekatkan diri pada
penduduk kota ini sebelum mulai mencari informasi. Aku membuat sekitar 2
hingga 3 tenda pada saat itu. Aku bersahabat dengan seorang pembuat roti
tempatku sering membeli roti dan dia menceritakan tetang Yesus saat aku
bertanya.
―Yesus,‖ kata penjual roti bernama Abram itu. ―Putra dari Yusuf dan Maria. Aku
mengenalnya sejak kecil, juga saudaranya James17, Joseph, Judas, Simon dan
seorang putri yang namanya... Aku sudah lupa. Jarang melihat putrinya itu.‖
17
James memiliki kesamaan nama dengan nama Yakobus.
226
―Kamu tahu?‖ kata Abram yang bertubuh gemuk dan pipi berminyak
mendekatiku dan berbisik rendah seperti membagikan sebuah rahasia. ―Yesus itu
sedikit tidak waras. Kami mengusirnya dari kota ini.‖
―Mengapa demikian?‖ tanyaku pura-pura terkejut.
―Begini ceritanya,‖ kata Abram dengan mata berbinar.
―Pada hari itu, hari Sabat, Yesus putra dari Yusuf masuk ke dalam rumah ibadat,
lalu saat ia berdiri hendak membaca dari Kitab Taurat, kepadanya diberikan kitab
Nabi Yesaya. Setelah dibuka, ia pun membaca. ‗"Roh Tuhan ada padaku, oleh
sebab Ia telah mengurapi aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orangorang miskin; dan Ia telah mengutus aku untuk memberitakan pembebasan
kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk
membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat
Tuhan telah datang."‘
Kemudian Yesus menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada petugas
rumah ibadah, dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepadanya.‖
―Kamu tahu,‖ tambah Abram padaku. ―Aku tidak tahu itu pemikiran siapa
meletakkan Yesus untuk mengajari kami di Hari Sabat itu. Mungkin itu
kesalahan terbesar kami.‖
Aku
cuma
bisa
mengangguk.
Menyetujuinya
agar
dia
meneruskan
pembicarannya. Aku tahu, pria ini, Abram jelas tidak mengenal siapa Yesus
sebenarnya.
227
Abram melanjutkan ceritanya. ―Lalu Yesus memulai mengajar kami, katanya,
‗"Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."‘
Kami dan semua orang di dalam rumah ibadat terkejut. Heran akan kata-kata
yang diucapkan Yesus, lalu seorang dari kami berkata, ‗"Bukankah ia adalah
Yesus, anak Yusuf?"‘ Maka mulailah caci maki terdengar dari dalam rumah
ibadat padanya.
Maka berkatalah Yesus kepada kami, ‗"Tentu kamu akan mengatakan pepatah ini
kepadaku. Hai tabib, sembuhkanlah dirimu sendiri. Perbuatlah di sini juga, di
tempat asalmu ini, segala yang kami dengar yang telah terjadi di kota
Kapernaum!"‘
‗―Benar,‖‘ kata seorang diantara kami. ‗―Kamu sudah kerasukan jiwa-jiwa jahat.
Kamu sudah gila maka sembuhkan dirimu sendiri seperti kami mendengar kamu
mengusir jiwa jahat yag merasuki manusia dan membuat mereka menjadi gila.‖‘
‗―Benar, Benar, Benar,‖‘ kata semua orang menyetujuinya.‖
Abram terlihat bangga menatap padaku. ―Kami mendengar Yesus dapat
menyembuhkan di Kota Kapernaum. Tapi, dia lebih gila daripada yang kami
dengar. Dia dirasuki jiwa-jiwa jahat itu juga. Mungkin saat itu, dia menggunakan
kuasa dari jiwa-jiwa jahat untuk menyembuhkan dan menyesatkan.‖
―Apa yang kalian lakukan padanya?‖ tanyaku. Karena seorang yang dirasuki oleh
jiwa jahat biasanya akan diusir, dikurung atau dibuang.
Abram mencoba mengingat-ingat kejadian waktu itu.
228
―Waktu itu, Yesus berkata, ‗"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada
nabi yang dihargai di tempat asalnya.‖‘
‗―Dia menganggap dirinya sama seperti nabi,‖‘ kata seorang dengan marah.
Yesus melihat semua orang dalam rumah ibadat dan berkata, ‗―Aku berkata
kepadamu, dan kataku ini benar, Pada zaman Elia terdapat banyak perempuan
janda di Israel ketika langit tertutup selama tiga tahun dan enam bulan dan ketika
bahaya kelaparan yang hebat menimpa seluruh negeri. Tetapi Elia diutus bukan
kepada salah seorang dari mereka, melainkan kepada seorang perempuan janda di
Sarfat, di tanah Sidon.‖
Semua orang terdiam melihat keberanian dan pengetahuan Yesus.
‗―Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel dan tidak ada seorang
pun dari mereka yang ditahirkan, selain daripada Naaman, orang Siria itu."‘
Mendengar hal itu, sangat marahlah semua orang yang di rumah ibadat.
Termasuk diriku. ‗‖Hai Yesus putra Yusuf. Apakah itu berarti engkau adalah
Nabi dan kami adalah orang-orang kotor yang tidak mendapat kesempatan
membersihkan diri kami? Pergilah kamu keluar dari tempat ini. Karena tempat ini
tidak membutuhkanmu dan kegilaanmu.‖‘
Kami semua bangkit berdiri dengan marah. Lalu
bersama-sama menghalau
Yesus ke luar kota. Kami mengusir, memukuli dan melemparinya dengan batu
hingga dia berada di tebing gunung. Dari sana, beberapa orang muda dari kami
menangkapnya dan melemparkan dia dari tebing itu.‖
229
―Kalian melemparnya?‖ kataku tidak percaya jika Yesus akan mengalami hal itu.
―Ya,‖ kata Abram. ―Tapi, dia bangkit tanpa terluka. Kami tidak tahu bagaimana
dia melakukannya. Dia berdiri dan kemudian pergi dari kami. Sejak itu kami
tidak pernah melihatnya lagi. Kabar terakhir yang kudengar adalah dia disalibkan
oleh imam-imam karena sembarangan bicara. Dia memang tidak waras, kami
sudah mengetahuinya sejak lama. Kasihan orang-orang yang percaya padanya.‖
Dari Abram aku mengenal sedikit banyak tentang Yesus. Tapi orang-orang di
Nazaret ini tidak mengenal Yesus yang sebenarnya. Lebih tepatnya, mereka tidak
menyukai Yesus. Saat aku berjalan melewati tempat Yusuf, aku dapat melihat
jika tidak ada perlakuan khusus di rumah Yusuf dan tempat kerja mereka. Mereka
bekerja sebagai tukang kayu.
Tampaknya mereka semua menjalani hidupnya seperti biasa.
Malam itu aku berpikir bagaimana cara untuk mendekatkan diri pada mereka dan
mengetahui informasi mengenai Yesus yang sebenarnya dari keluarga mereka,
bukan dari orang-orang yang membencinya.
Apakah aku akan berpura-pura berteman atau aku akan mengunjungi mereka
dan langsung menanyai mereka?
Keesokan paginya, aku membawa sebuah tenda terbaik yang sudah kubuat dan
pergi ke rumah Yusuf.
―Salam damai dan sejahtera,‖ kataku di depan rumah Yusuf.
230
Seorang pria muda keluar untuk menatapku dan membalas, ―Salam damai dan
sejahtera untukmu juga. Mencari siapakah engkau?‖
―Aku Paulus dari Tarsus hendak mencari Yusuf ayah dari Yesus.‖
Pria muda itu menatapku dan mempersilakan diriku untuk masuk. Di dalam
rumah yang sederhana dan termasuk kecil itu, seorang pria tua sekitar akhir lima
puluhan atau awal enam puluhan, keluar untuk menjumpaiku.
―Salam damai dan sejahtera, aku Paulus dari Tarsus, dari dari jauh untuk
mempersembahkan tenda ini pada Yusuf orang tua dari Yesus. Ajaran Yesus
sudah menyelamatkanku,‖ kataku cepat.
―Salam,‖ kata Yusuf, pria tua dengan tubuh berotot yang tampak jelas seorang
pekerja keras. Ia mengambil tenda itu dan mempersilakanku untuk duduk.
―Yesus,‖ bisiknya sambil melihat tenda di tangannya. ―Duduklah saudaraku,
biarkan aku mengundang istriku. Dialah yang lebih banyak mengetahui tentang
anak itu.‖
Tak lama kemudian, seorang wanita masuk ke ruangan tamu. Untuk sesaat aku
tidak menyangka jika wanita itu sudah berumur lima puluhan atau awal enam
puluhan. Wanita itu terlihat masih cukup muda dan seluruh tubuhnya
memancarkan cahaya samar-samar. Hal itu membuatku terkejut.
Maria, ibu dari Yesus, hanya dengan kehadirannya saja dapat membuatku
merasakan kedamaian dan ketenangan. Dia terlihat lembut dan penuh kasih.
―Terima kasih atas pemberiannya,‖ kata Maria menerima tenda itu.
231
―Sebuah keberuntungan bagiku dapat memberikannya,‖ kataku dengan penuh
hormat.
Setiap orang dalam ruangan diam dan memberikan keheningan panjang sehingga
aku merasa harus mulai menjalankan aksiku.
―Apakah aku dapat mengetahui tentang Yesus?‖ kataku cepat. ―Aku berharap
suatu saat nanti dapat mencatat kisah kehidupan Yesus agar anak-anakku dapat
mengingatnya.‖
Yusuf melihat pada Maria dan kemudian ia mulai bercerita.
232
BAB 12
YESUS
Sekitar 40 – 50 tahun yang lalu. ( tahun 10 SM – 1 M )
Yusuf adalah seorang tukang kayu di Nazaret. Dia memiliki pekerjaan tetap,
memiliki masa depan dan seorang tunangan. Seorang gadis bernama Maria. Pagi
hari itu, dia tampak bekerja keras untuk memotong kayu. Dari raut wajahnya,
terlihat sedang menanggung beban berat atau menghadapi sebuah percobaan
berat. Sebuah percobaan yang tidak pernah disangka akan dibebankan padanya.
―Tidak mungkin,‖ bisik Yusuf dalam keadaan gelisah. Dilihat dari sudut mana
pun juga, dia tidak akan pernah mau mengakui jika dia baru saja diselingkuhi.
Maria, tunangannya yang dia percayai dan cintai, ternyata sudah berhubungan
dengan pria lain hingga hamil.
Yusuf tidak tahu harus berbuat apa. Maria yang diingatnya adalah seorang wanita
lembut, pengasih dan suci. Dia mencintai Maria karena dari dirinya seakan-akan
merembes keluar semua kebaikan dan kasih.
Tapi kenyataannya, gadis itu hamil. Itu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri.
Kemarin malam, Yusuf bertemu dengan Maria karena gadis itu memintanya.
233
―Kupikir aku hamil,‖ kata Maria dengan wajah pucat.
Sangat jarang terlihat wajah pucat pada raut wajah tunangannya. Biasanya, selalu
ada senyum dan kelembutan. Kali ini ada keseriusan dan kekuatiran. Siapa yang
tidak kuatir jika seorang gadis hamil sebelum pernikahan. Orang-orang Farisi,
orang Saduki dan tetua dalam kota akan mengusirnya, keluarganya akan
dipermalukan dan pada akhirnya jika keadaan menjadi buruk, gadis itu mungkin
saja akan dilempar batu atau ditelanjangi di depan umum.
Dan Yusuf hanya bisa membuka mulutnya lebar-lebar. Ia belum dapat menerima
kenyataan itu dengan baik.
―Kamu hamil?‖ tanya Yusuf terbata-bata.
Maria menunduk, ―Aku tidak mendapatkan siklus bulananku dalam beberapa
bulan terakhir dan rahimku membesar.‖
Yusuf terdiam tak mampu berkata-kata lagi. Tubuhnya lunglai, dia duduk
menatap Maria selama beberapa waktu hingga akhirnya sebuah pertanyaan dapat
keluar dari mulutnya yang bergetar. ―Siapa ayahnya? Siapa pria yang
menghamilimu?‖
―Tidak ada,‖ kata Maria dengan raut wajah cemas. ―Sumpah tidak ada pria di
dalam hidupku selain engkau.‖
Wajah Yusuf berubah penuh kemarahan. ―Aku tidak pernah menyentuhmu. Tidak
mungkin aku menghamilimu dan tidak mungkin engkau dapat hamil tanpa
seorang yang melakukannya.‖
234
―Tapi itu terjadi,‖ protes Maria.
Yusuf melihat Maria yang menangis dan dia memilih untuk pergi.
―Aku tidak akan menikahimu,‖ kata Yusuf dari kejauhan dan dalam kemarahan.
―Nikahilah pria yang menghamilimu!‖
―Tapi, tidak ada seorang pria pun,‖ ratap Maria saat ditinggalkan.
Yusuf kembali memotong kayu di hadapannya. Tidak ada orang yang akan
memercayai hal itu, batinnya dalam hati.
Sudah dua minggu ia tidak lagi menemui Maria. Padahal sebelum kejadian itu,
hampir setiap hari mereka bertemu. Rumah Maria tidak jauh dari tempatnya
bekerja.
―Aku tidak melihat maria,‖ kata Yoan putra Elia seorang tukang kayu juga.
Yusuf melihat temannya dan diam tidak menjawab.
―Hei, apa yang terjadi pada kalian?‖ tanya Yoan penasaran. ―Suasana hatimu
selalu tampak buruk dalam dua minggu ini.‖
―Tidak ada masalah,‖ kata Yusuf meletakkan peralatan kerjanya dan pergi. Dua
minggu ini ia tidak ingin berbicara pada siapa pun. Ia marah. Marah pada dunia
dan semua isinya. Ia tidak menyangka Maria yang dianggapnya baik, suci dan
lembut itu tega mengkhianatinya. Mengapa ketidakadilan selalu terjadi pada
hidupnya.
235
Yusuf pergi ke sebuah sudut dan beristirahat dari lelah dan panas. Ia merasa
marah dan di atas segalanya adalah ia lebih marah pada dirinya sendiri. Ia marah
karena dirinya masih menginginkan Maria. Ia masih mencintai gadis itu walau
sudah mengkhianatinya. Ia tidak dapat berhenti memikirkan gadis itu.
Tapi, apakah sebuah perasaan dan cinta kasih hanya dinilai dari kesetiaan?
Apakah sebuah cinta harus gugur karena masalah keperawanan? Apakah dirinya
akan membuang cintanya hanya karena masalah itu?
Berpikir ke sana kemari, Yusuf menjadi kesal sendiri. Ia berdiri dan memutuskan
untuk menemui Maria.
Setidaknya gadis itu harus mengatakan siapa pria yang menghamilinya.
Di rumah Maria, gadis itu menyambutnya dengan mata yang membengkak.
Yusuf tidak bertanya akan hal itu. Dia sudah terlalu marah untuk sekedar
memberikan perhatian. Mereka berdua duduk di depan teras rumah.
―Orang tuaku sudah mencurigaiku jika aku hamil,‖ kata Maria memulai
percakapan.
Seketika Yusuf menjadi panik. Ia mungkin akan menjadi tersangka pertama jika
itu benar terjadi.
―Kamu harus memberitahu mereka sesungguhnya siapa ayahnya.‖
Maria menggelengkan kepalanya, ―Yusuf, tidak ada lelaki lain. Aku masih
perawan.‖
236
Wajah Yusuf berubah. ―Apakah kamu akan menggunakan alasan itu terusterusan? Tidak akan ada orang yang memercayainya.‖
―Tidak ada orang yang percaya?‖ tanya Maria menangis. ―Aku selalu percaya
jika seluruh dunia tidak memercayaiku, kamu akan menjadi satu-satunya orang
yang memercayai perkataanku.‖
Yusuf terdiam serba salah. ―Jadi? Lelaki itu tidak mau bertanggung jawab?‖ Ia
merasa marah dan menatap Maria yang menangis. ―Kamu akan dilecehkan semua
orang, mungkin kamu akan diusir dari kota ini.‖
―Apalagi yang dapat kulakukan?‖ tanya Maria. ―Aku juga tidak akan
mengugurkan anak ini.‖
Yusuf melihat gadis yang dicintainya menangis dan kesusahan. Rasa pedih dan
sakit menghujam hati Yusuf. Ia berdiri dan menatap Maria. ―Aku akan
menikahimu hingga anak itu lahir. Sehingga tidak ada yang akan mengatakan hal
buruk tentang ini. Tapi, ... setelahnya aku mungkin akan menceraikanmu.‖
Maria menggelengkan kepalanya. ―Kamu dan aku tahu sebuah pernikahan harus
bertahan selamanya. Tidak ada perceraian yang diperbolehkan.‖
―Aku mengetahui itu,‖ kata Yusuf melihat ke arah lain.
Pada malam harinya, Yusuf mengunjungi kedua orang tua Maria dan meminta
izin untuk membawa Maria ke Betlehem.
237
―Kaisar Roma melakukan sensus penduduk dan meminta semua orang untuk
mendaftarkan diri mereka di kota kelahiran masing-masing,‖ kata Yusuf. ―Aku
berasal dari kota kecil bernama Betlehem di dekat kota Yerusalem. Aku ingin
mendaftarkan diriku dan Maria sebagai istriku di sana. Setelahnya kami akan
kembali.‖
Yusuf yang sebenarnya hendak membawa Maria keluar dari Nazaret agar tidak
ada orang yang mengetahui Maria sedang hamil. Jika Maria melahirkan sebelum
9 bulan dari penikahan mereka. Tetap saja mereka akan mendapat nama buruk
oleh orang-orang Nazaret. Hal terbaik yang dapat dipikirkannya adalah keluar
dari Nazaret dengan alasan sensus penduduk Kaisar Roma yang akan segera
mengenakan pajak bagi semua penduduk yang mendaftar. Setelah melahirkan di
Betlehem barulah mereka kembali lagi ke Nazaret.
Kedua orang tua Maria setuju dan mereka melakukan upacara pernikahan singkat
di rumah ibadat Nazaret yang dipimpin oleh seorang rabbi dan kemudian
langsung melakukan perjalanan ke Betlehem. Beberapa saat setelah pernikahan,
Yusuf kembali dihadapkan pada masalah pelik. Dia terkejut dan menatap pada
Maria.
―Istriku, aku sesungguhnya dapat melihat jika dirimu masih perawan,‖ kata
Yusuf terkejut. ―Jadi bagaimanakah kamu bisa hamil?‖
―Bukankah aku sudah mengatakannya padamu?‖ sahut Maria.
238
Perjalanan ke Betlehem sebenarnya tidaklah terlalu sulit, karena jarak dari kota
Nazaret ke Betlehem adalah sekitar 130-150 kilometer. Akan tetapi, Yusuf dan
Maria melakukan perjalanan dengan lambat karena keadaan Maria yang sedang
mengandung. Tidak jarang mereka berhenti di rumah-rumah penduduk selama
beberapa hari hingga beberapa bulan. Saat itu, Yusuf akan bekerja memperbaiki
lemari atau rumah-rumah orang yang sedang rusak. Lagi pula mereka tidak
terburu-buru untuk segera tiba di Betlehem.
Perjalanan mereka semakin lambat saat Maria hamil tua. Dengan gerakan
lamban, mereka akhirnya mencapai Betlehem. Saat itu bekal uang mereka sudah
habis dan mereka bahkan tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Saat malam
tiba, Yusuf dengan Maria terpaksa berlindung di sebuah kandang domba.
Pemiliknya memberikan tempat itu pada mereka untuk berteduh.
―Aku akan melahirkan,‖ kata Maria saat itu mengejutkan Yusuf. Mereka tidak
memiliki persiapan apa pun untuk menyambut seorang anak. Apalagi saat itu
mereka sedang berada di dalam kandang domba.
Dan di malam itu juga, lahirlah seorang bayi mungil di kandang domba.
Yusuf melihat pada bayi mungil itu dan segera memandikannya dengan air yang
berada di dalam palungan hingga bersih. Ia membuka pakaiannya dan
menggunakannya untuk mengeringkan tubuh basah sang bayi.
―Kita tidak memiliki kain untuk membungkus anak ini,‖ kata Yusuf menatap
Maria yang sedang beristirahat. Sesungguhnya mereka sudah menghabiskan
239
seluruh bekal mereka dan bahkan sudah menukarkan pakaian cadangan mereka
untuk makanan.
Maria menatap Yusuf dan berkata, ―Kamu pernah menanyakan siapa
sesungguhnya Bapak dari anak ini. Sesungguhnya, aku tidak berani
memberitahumu sebelum aku melihat kelahiran anak ini dengan mataku sendiri.
Adalah Roh Kudus yang datang kepadaku dan berkata aku telah hamil,
mengandung seorang yang merupakan Anak dari Allah.‖
Yusuf terdiam dan menatap pada bayi yang ada di kedua tangannya. ―Dia tampak
normal bagiku.‖
―Ya,‖ kata Maria. ―Karena itulah aku memberitahumu. Karena dia tampak
normal. Mengenai kain untuknya...‖ Maria tampak kelelahan setelah melahirkan
dan mencoba menarik napas panjang. ―Bapanya akan mengurusnya. Dia Anak
Allah. Tuhan akan menjaganya.‖
Yusuf melihat sekeliling yang merupakan kandang domba, waktu sudah malam
dan tidak ada seorang pun yang terlihat. Ia kemudian menatap pada bayi di kedua
tangannya. Ia yakin satu hal akan apa yang telah diajarkan Rabbi padanya sedari
kecil. Jika manusia menghadapi masalah penting, kesusahan dan sedang terancam
bahaya hingga seorang lainnya berkata, ‗Kita harus menyerahkannya pada
Tuhan.‘
Maka itu berarti, keadaan tersebut sudah tidak punya harapan lagi. Artinya kamu
harus menerima nasibmu dengan keadaan demikian. Yusuf menarik napasnya
240
dan melihat pada bayi di kedua tangannya, ia meletakkan bayi itu dalam palungan
kering dan berniat untuk mencari kain dari kota Betlehem. Ia tidak ingin bayi
kecil ini kedinginan.
―Gunakanlah kain ini,‖ kata seorang mendadak mendekati Yusuf dari belakang
dan mengejutkannya. Ia tidak menyadari jika ada orang di belakangnya. Yusuf
melihat seorang gembala dengan kedua temannya yang sedang memasuki
kandang domba.
Gembala-gembala itu segera berkumpul di sekeliling bayi di dalam palungan.
Mereka menatap bayi itu dengan tatapan penuh arti. Yusuf menerima kain
pemberian seorang gembala dan membungkus Yesus di dalamnya. Kain yang
terasa lembut dan mahal.
Seorang gembala berkata pada yang lainnya, ―Jadi apa yang dikatakan orang itu
benar?‖ Gembala lainnya melihat bayi dalam palungan dengan terkagum-kagum.
―Saudara-saudaraku,‖ kata Yusuf pada mereka setelah membungkus bayi Yesus.
―Terima kasih atas kebaikan yang kalian berikan. Entah bagaimana aku harus
berterima kasih.‖
Para gembala itu saling melihat dan kemudian duduk di sekeliling palungan
tempat Yesus yang diletakkan.
―Apakah dia memiliki nama?‖ tanya seorang gembala.
―Yesus,‖ jawab Yusuf.
241
―Dia adalah ‗yang diurapi‘ ( kristus ) dan juga orang pilihan ( almasih),‖ kata
seorang gembala.
―Mengapa kalian mengatakan seperti itu?‖ tanya Yusuf bingung.
Para gembala itu saling memandang dan seorang dari mereka mulai bercerita.
***
Tiga orang gembala sedang berkumpul di tengah-tengah padang rumput luas
dengan sebuah api unggun. Mereka sedang menjaga ratusan ekor ternak-ternak
mereka yang tidur di padang.
―Udara mulai dingin,‖ kata seorang gembala menatap api unggun. ―Aku berharap
kita punya sesuatu untuk dimakan.‖
Seorang gembala lainnya mendengus kesal. ―Kamu baru saja menghabiskan
bekal yang kubawa dan sekarang kamu memintanya lagi. Apakah tidak ada hal
lain yang bisa kamu pikirkan selain makan?‖
Gembala itu tertawa, ―Tentu saja ada. Apakah kamu lihat orang-orang bodoh
yang datang untuk mendaftarkan diri mereka ke Betlehem? Raja Romawi
sebentar lagi akan mengetahui berapa jumlah kita dan menarik sekeping dari
setiap kita. Tidak lama lagi dia akan menjadi kaya dan mereka akan menjadi
miskin.‖
―Dia adalah raja kita. Apa yang bisa kita lakukan?‖ tanya seorang gembala lain.
242
―Salam damai dan sejahtera bagi kalian semua,‖ kata seorang yang mendadak
mendekati ketiga orang gembala itu. Ketiga gembala terkejut dengan kemunculan
seseorang di depan mereka dan segera membalas dengan salam yang sama.
Orang baru tersebut tersenyum. ―Bolehkah aku ikut bergabung bersama kalian?‖
―Silakan,‖ kata seorang gembala. ―Tapi tidak ada makanan.‖
Orang baru itu duduk bersama para gembala dan berkata, ―Tahukah kalian jika
hari ini telah lahir seorang yang diurapi.‖
―Seorang yang diurapi?‖ tanya seorang gembala tertawa mendengar istilah itu.
―Apakah itu seperti Raja Daud yang diurapi oleh Nabi Samuel menjadi Raja
Israel?‖
―Benar, seperti Raja Daud. Tapi yang ini akan menjadi Raja atas segala bangsa.‖
Orang baru itu menjawab sambil tersenyum.
Para gembala di sana segera tertawa serentak merasa hal itu sangat lucu.
―Teman, kamu mengatakan hal yang sangat lucu,‖ kata seorang gembala tertawa.
―Aku tidak tahu kamu datang dari mana. Terlalu banyak orang yang datang ke
Betlehem sejak pendaftaran itu. Tapi Raja segala bangsa yang kuingat dan
menguasai tanah ini adalah Raja Roma dan mereka tidak mengenal kata ‗diurapi‘.
Katakanlah yang kamu katakan itu benar, Nabi siapakah yang mengurapi bocah
yang baru lahir itu. Nabi terakhir yang kuingat sudah mati ratusan tahun yang
lalu.‖
243
―Apakah kalian melihat kandang domba itu?‖ tanya orang baru itu menunjuk
dengan tangannya pada sebuah kandang domba yang terletak sekitar 300 meter
dari tempat mereka berada. ―Dia telah lahir di sana, seorang keturunan Daud dan
yang mengurapinya adalah Tuhan itu sendiri. Kalian akan dapat menemukannya
di dalam palungan.‖
―Dalam palungan?‖ tanya seorang gembala merasa sangat lucu sekali.
―Dalam palungan,‖ kata orang baru itu tersenyum dan mendadak menjadi
bercahaya terang. ―Berikanlah kain dan makanan untuk mereka maka
keberuntungan akan melimpahi kalian beserta keturunan kalian. Kemuliaan bagi
Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia
yang berkenan kepada-Nya."
Para gembala melihat orang baru itu bercahaya terang bagai bintang di kegelapan
malam dan kemudian lenyap dalam butir-butir cahaya yang menyebar tertiup
angin.
Ketiga gembala itu terdiam lama hingga cahaya sepenuhnya lenyap dari mereka.
Para gembala itu saling menatap satu dengan yang lainnya. ―Apakah yang kita
lihat itu nyata? Atau kita sedang bermimpi.‖
―Aku mungkin terlalu lapar hingga berhalusinasi,‖ kata seorang gembala dengan
wajah pucat.
***
244
Seorang gembala itu menatap Yusuf dan berkata, ―Kami mencoba mendatangi
tempat ini dan melihat apakah yang dikatakan orang atau malaikat itu benar.‖
Gembala itu melihat pada bayi Yesus dalam palungan. ―Ternyata kami
menemukan bayi ini dalam palungan. Tentu dia sudah ditakdirkan akan menjadi
raja atas kita semua.‖
Para gembala itu pun mulai bernyanyi untuk memuji kebesaran nama Tuhan.
Maria yang ikut mendengarnya, menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya
dan merenungkannya.
***
Beberapa bulan setelahnya...
Di Yerusalem, ada seorang yang bernama Simeon. Ia adalah seorang yang benar
dan saleh. Ia sudah cukup berumur dan masih saja selalu kuatir akan kehidupan
manusia. Ia selalu memikirkan nasib seluruh manusia dan masa depan mereka.
Sewaktu muda, Simeon selalu berpikir apa yang diinginkan oleh Tuhan darinya
dan manusia. Ia selalu berusaha untuk melakukan hal yang benar dan mengasihi
Tuhan. Hampir setiap hari ia berada di Bait Allah untuk melakukan kewajibannya
kepada Tuhan sebelum melakukan kewajibannya bagi orang lain dan kehidupan.
Setelah puluhan tahun hidup dalam ketakwaan pada Tuhan, dia beroleh
ketenangan, kedamaian dan kebenaran dalam hatinya. Karena Roh Kudus telah
bersemayam dalam hatinya dan dia merasa damai serta tenang dalam lindungan
Allah.
245
Akan tetapi, saat ia sudah semakin tua, ia melihat anak-anaknya tumbuh dewasa,
cucu-cucunya dan juga orang-orang di sekitarnya. Mendadak, ia menjadi resah.
Tidak semua dari mereka ingin mengikuti pengarahannya, ia merasa kuatir akan
akhir hidup mereka dan semua manusia.
Setiap malam dia selalu berdoa, ―Ya Tuhan, turunkanlah seorang juru selamat
yang dapat membuka jalan agar semua manusia dapat menemukan jalan untuk
kembali kepada-Mu. Agar kami semua dapat beroleh anugerah dan Kasih
Sayang-Mu. Sungguh aku kuatir semua manusia ini akan hidup semakin lama
semakin mengandalkan diri mereka masing-masing. Melakukan kebenaran
menurut ego mereka masing-masing dan mulai melupakan-Mu.‖
Setelah berdoa selama bertahun-tahun, mendadak kuasa Roh dalam hatinya
menyatakan padanya. Bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat juru selamat,
yaitu dia yang diurapi Tuhan. Seorang yang akan mengajarkan cara dan jalan
agar manusia dapat menemukan Tuhan kembali. Simoen hidup dalam
pengharapan dan penantian akan saat-saat itu selama bertahun-tahun.
Pagi itu, Simoen mendadak merasa ia harus ke Bait Allah lebih cepat dari harihari sebelumnya. Ia segera berganti pakaian dan pergi ke Bait Allah. Di sana, ia
bertemu dengan Hana.
Hana ada seorang wanita yang sudah tua. Dia berumur 84 tahun dan merupakan
seorang janda yang menikah selama tujuh tahun dan ditinggal mati oleh
suaminya. Sejak itu, putri dari Fanuel dan orang Yahudi keturunan suku Asyer ini
246
mengabdikan dirinya pada Tuhan. Dia tinggal di dalam Bait Allah, berpuasa dan
berdoa sepanjang hari.
―Apa yang kamu lakukan dengan terburu-buru seperti itu Simoen?‖ tanya Hana
melihat pria tua itu buru-buru datang.
―Hana,‖ kata Simoen senang. ―Hari ini aku akan berjumpa dengan juru selamat
manusia. Dia yang diurapi oleh Tuhan.‖
―Kamu masih memikirkan masalah dunia ini?‖ tanya Hana menatap sahabat
lamanya ini. ―Kamu sudah terlalu tua untuk terus memikirkannya. Masa-masa
mudamu untuk mengubah dunia sudah lewat. Sudah saatnya kamu memikirkan
dirimu sendiri yang akan segera menuju ke akhirat.‖
―Hana,‖ protes Simoen, ―ayolah temani aku berdoa. Kali ini aku merasa yakin.‖
―Kamu mengatakan hal yang sama beberapa bulan lalu,‖ protes Hana.
Simoen menatap memohon pada Hana dan wanita itu akhirnya ikut berdoa.
Setelah sekian lama menunggu, Hana mendadak bertanya
―Kamu yakin dirimu tidak mulai pikun, Simoen?‖
―Hana?‖ gerutu Simoen.
―iya..iya..iya,‖ jawab Hana kembali berdoa dan mereka berdua pun kembali
berdoa.
247
Pada saat itu datanglah Yusuf dan Maria ke Bait Allah membawa serta Yesus
yang sudah disunat pada genap delapan hari. Sesuai dengan hukum Taurat dari
Musa, semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah di Bait Allah.
Simoen yang sedang berdoa mendadak dirinya bergetar oleh sebuah kuasa dan
kebahagiaan. Ia segera menghentikan doanya dan memandang ke belakang pada
satu keluarga yang sedang mendekati Bait Allah. Hatinya segera bergembira dan
ia melihat terang yang muncul dari bayi yang digendong oleh ayahnya. Air
matanya mengalir.
Ia segera melihat pada Hana ingin memberitahukan hal itu, tapi nyatanya Hana
juga sudah berhenti berdoa dan memandang pada keluarga itu. Simoen melihat
tatapan tidak percaya dan juga air mata pada Hana. Wanita tua itu juga
merasakan hal yang sama dengannya.
Dengan cepat dan terburu-buru, Simoen bangkit berdiri dan menyambut anak itu.
Ia segera menatangnya langsung hingga mengejutkan Maria dan Yusuf, sambil
memuji Allah, katanya, "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam
damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat
keselamatan yang daripada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala
bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan
menjadi kemuliaan bagi umat-Mu.‖
Yusuf dan Maria menjadi amat heran dengan semua yang terjadi. Mereka melihat
Simoen yang memeluk Yesus dan menatap bayi itu dengan penuh kebahagaian.
Hati Simoen bersenandung akan keindahan puji-pujian bagi Allah dan mendadak
248
air matanya kembali jatuh karena Roh Kudus memberikannya kuasa penglihatan
atas apa yang akan terjadi pada Juru selamat ini.
Lalu Simeon menyerahkan bayi itu kembali pada Maria, memberkati mereka dan
berkata kepada Maria, "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan
atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang
menimbulkan perbantahan — dan suatu pedang akan menembus jiwanya
sendiri — , supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."
―Apakah maksudnya?‖ tany Maria dan Yusuf pada Simoen.
Simoen menutup matanya yang berair dan berkata, ―Dia akan mengorbankan
dirinya untuk membawa kebenaran kepada orang banyak.‖
Hana muncul di antara mereka dan menatap anak itu. Seketika ia memuji nama
Tuhan dan bergembira karena hatinya yang berbahagia saat melihat bayi Yesus.
Dan setelah selesai semua upacara anak sulung yang harus dilakukan menurut
hukum Tuhan di dalam Bait Allah, Yusuf dan Maria kembali ke kota
kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.
***
Dua belas tahun kemudian.
Sebagaimana orang yang taat beribadah, Yusuf dan Maria selalu pergi ke
Yerusalem pada saat hari raya Paskah setiap tahunnya. Dan sehabis hari-hari
249
perayaan itu, mereka akan langsung berjalan pulang bersama banyak orang
lainnya.
Setelah melakukan sehari perjalanan pulang dari Bait Allah ke Nazaret bersama
ramai orang-orang, Yusuf melihat sekeliling dan tidak menemukan Yesus.
―Di mana anak kita?‖ tanya Yusuf pada Maria. Maria juga tidak mengetahui
keberadaan Yesus. Mereka mengira Yesus sedang berada bersama keluarga
mereka lainnya. Atau bermain-main dengan saudara sepupunya maupun sahabatsahabat seumurannya.
Mereka mencoba memanggil namanya dan karena tidak ada yang menyahut,
mereka berdua segera mencari ke sekeliling. Namun karena tidak juga
menemukannya, mereka segera berjalan kembali ke arah Yerusalem sambil
mencari anak itu di sepanjang jalan, di antara kaum keluarga dan kenalan mereka.
Tapi, tidak satu pun dari mereka yang mengetahui di mana Yesus berada, mereka
segera pergi ke Bait Allah, berpikir jika mungkin saja anak itu tertinggal di sana.
Mereka masih sambil mencarinya di sepanjang perjalanan.
Sesudah tiga hari mencari dalam kelelahan dan kekuatiran, mereka menemukan
Yesus yang sedang berada di dalam Bait Allah, ia sedang duduk di tengah-tengah
alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada mereka. Semua orang yang mendengarnya sangat heran akan
kecerdasannya dan segala tanya jawab yang diberikannya.
250
Bagaimana mungkin seorang bocah berumur 12 tahun bertanya, ―Bagaimana
hukum Taurat dapat membantu manusia untuk semakin mengenal Allah? Apa
tujuan manusia dilahirkan di dunia? Siapakan Allah sebenarnya? Apakah
kehidupan itu?‖
Ketika Yusuf dan Maria menemukannya di sana, tercenganglah mereka. Maria
segera masuk dan memeluk Yesus. Lalu berkatalah Maria, "Nak, mengapakah
engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapamu dan aku dengan cemas
mencarimu ke mana-mana."
Yesus memandang Yusuf dan Maria sambil berkata, "Mengapa kamu mencari
aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa aku harus berada di dalam rumah Bapaku?"
Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan Yesus kepada mereka. Lalu
mereka membawa Yesus pulang bersama-sama mereka ke Nazaret.
***
Maria menatapku dan berkata, ―Begitulah kejadian-kejadian itu terjadi pada masa
kecil Yesus dan aku menyimpan hal-hal ini untukku sendiri.‖
Aku hanya bisa menunduk dan berkata, ―Yesus memang luar biasa. Semasa
hidupnya ia telah mencengangkan banyak orang. Tapi, tidak pernah kusangka,
awal kelahirannya pun begitu luar biasa.‖
Maria terlihat sedih, ―Anak itu tidak melakukan apa pun yang salah, mengapa
orang-orang harus menyalibkannya?‖
251
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu dan segera mohon diri.
Sepanjang perjalanan menuju kembali ke tempat aku meninggalkan tendatendaku, aku berpikir. Kisah yang diceritakan oleh Yusuf dan Maria adalah
tentang Yesus hingga dia berusia 12 tahun. Sedangkan sejak umur 12 tahun
hingga 30 tahun, Maria hanya mengatakan jika Yesus membantu ayahnya sebagai
tukang kayu dan selain itu, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdoa
hingga berjam-jam di dalam kamarnya.
Hal lain yang disampaikan Yusuf adalah pada saat Yesus mencapai usia 30 tahun,
ia memohon diri pergi ke sungai Yordan untuk mencari Yohanes Pembaptis agar
dibaptis. Setelah itu, ia pergi ke padang pasir untuk melakukan puasa selama 40
hari, pergi ke Kapernaum dan akhirnya kembali ke Nazaret sebelum diusir keluar.
Aku menarik napas dalam-dalam dan melihat kota Nazaret yang sudah lama
kutinggali. Jika aku ingin mengetahui tentang Yesus lebih banyak lagi, aku harus
pergi ke sungai Yordan atau Kapernaum. Mungkin ada yang masih mengingat
kejadian itu.
Demikianlah aku segera membawa gerobak dan tenda-tendaku meninggalkan
Nazaret untuk menuju ke sungai Yordan, berbekal cerita tentang kelahiran Yesus.
***
Di depan sungai Yordan yang panjang, aku mendengar jika Yohanes yang
dinamakan Yohanes Pembaptis sudah dihukum mati dengan cara dipenggal oleh
252
Raja Herodes. Namun, si sungai Yordan masih ada beberapa murid-muridnya
yang melakukan pembaptisan bagi orang-orang yang bersedia dibaptis.
Aku melihat beberapa orang turun ke sungai dan seorang murid Yohanes
membaptis mereka dengan menggunakan air. Di samping sungai Yordan,
terdapat sebuah warung dari kayu yang menjual makanan dan menyediakan
penyewaan tenda. Aku segera menuju ke sana dan memesan roti untuk makan
siangku.
―Apakah kamu datang untuk dibaptis?‖ tanya seorang bertubuh gemuk yang
merupakan pemilik warung.
―Tidak,‖ kataku menunjuk pada gerobakku. ―Aku menjual dan memperbaiki
tenda. Kebetulan lewat di tempat ini dan merasa lapar.‖
―Kebetulan sekali,‖ kata pemilik warung itu. ―Namaku Joshua, aku memiliki
sekitar 4-5 tenda yang butuh perbaikan. Para penyewa tidak berhati-hati dengan
api dan membuatnya berlobang. Apa kamu bisa memperbaikinya?‖
―Tentu,‖ jawabku senang.
Selama dua minggu, aku berada di sana. Melihat orang-orang yang bersedia
dibaptis di dalam air. Dari Joshua pemilik warung, aku mengetahui jika ritual
pembaptisan oleh Yohanes itu adalah sebuah ritual yang mengartikan jika
seseorang yang dibaptis akan mengakui kesalahan-kesalahannya dan berjanji
untuk hidup benar serta melaksanakan perintah Tuhan.
Sebuah ritual yang sama dengan pertobatan.
253
―Markus,‖ panggil Joshua saat aku sedang makan di tempatnya. ―Kenalkan ini
Paulus dari Tarsus,‖ kata Joshua membawa pria itu mendekatiku. ―Dia banyak
bertanya tentang pembaptisan.‖
Markus, seorang pria dengan hidung yang besar dan bertubuh sedang itu
mendekatiku. ―Apakah saudara sudah dibaptis?‖
―Sudah,‖ kataku cepat dan melihat tatapan menyelidik dari wajah Markus.
―Oleh siapakah dan dengan cara apakah?‖
―Oleh saudara Ananias dari Damaskus dan dengan cara memercikan air padaku.‖
―Apakah saudara Ananias itu adalah pengikut Yohanes?‖ tanya Markus.
―Aku tidak tahu,‖ kataku jujur. ―Dia adalah serorang yang taat dan benar menurut
hukum Taurat. Dia mengikuti ajaran Yesus.‖
―Yesus,‖ kata Markus dengan wajah meremehkan. ―Dia adalah murid dari
Yohanes. Guru kami membaptisnya.‖
―Benarkah Yesus orang Nazaret itu dibaptis di sini?‖
Markus segera mengambil posisi duduk di dekatku dan berkata, ―Sekitar sepuluh
tahun yang lalu atau lebih. Yesus datang untuk dibaptis oleh guru kami dan saat
itu langit terbuka terang. Awam-awan menyingkir membuka sinar cahaya mentari
turun atas guru kami yang sedang membaptis.‖
―Saat itu semua orang di sini menyaksikan kejadian itu,‖ lanjut Markus. ―Langit
terbuka begitu indah dan merpati turun. Semua orang tahu dalam hati mereka
254
setelah menyaksikan kejadian itu. Seolah-olah Tuhan berkata, ‗Inilah anakku
yang kukasihi.‘‖
Markus tampak emosional, ―Kamu tahu, guru kami, Yohanes adalah anak Allah.
Dia adalah juru selamat yang dikatakan oleh Kitab Taurat. Kamu seharusnya
dibaptis melalui ajarannya.‖
Aku merasa bingung akan pernyataan itu. ―Apakah ada perbedaan antara baptisan
Ananias dan baptisan Yohanes?‖ Aku merasa keduanya sama sekali tidak
memiliki perbedaan karena bukankah keduanya menggunakan air dan bukankah
pembaptisan adalah sebuah ritual yang ‗tampak‘ tapi sebenarnya prilaku
seseorang yang menjadi kuncinya.
Bukankah inti baptisan adalah apakah seseorang itu sungguh bertobat atau tidak?
Seandainya seorang dibaptis dengan air suci dan dilakukan dengan pesta yang
sangat meriah, tetap saja tidak ada gunanya jika seorang itu tidak bertobat. Semua
itu akan menjadi ritual kosong.
―Jika Ananias membaptismu dengan air,‖ kata Markus merasa bangga. ―Baptisan
Yohanes membaptismu dengan kuasa Roh Kudus.‖
―Apakah itu Roh Kudus?‖ tanyaku.
Markus kelihatan susah untuk menjawab, ―Itu adalah, itu adalah.... Sebuah Roh
yang kudus.‖
255
Tampak jelas aku harus mencari jawabanku sendiri akan Roh Kudus. Pada
malam harinya, aku berada di dalam tenda dan mengingat kembali kata ‗Roh
Kudus‘ yang pernah ada di dalam Kitab Taurat.
Aku ingat jika ada tertulis dalam kitab Mazmur yang ditulis oleh Raja Daud. Saat
Raja Daud mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Tuhan.
Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari
dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul
dengan dosaku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa
dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam
putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.
Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung
ibuku. Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan
dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku. Bersihkanlah aku
daripada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku
menjadi lebih putih dari salju!
Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang
Kauremukkan bersorak-sorak kembali! Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap
dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku!
Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang
teguh!
256
Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu
yang kudus daripadaku!
Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang daripada-Mu,
dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!
Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang yang melakukan
pelanggaran, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.
Ada tiga kali Daud menyebut tentang Roh. Pertama-tama ia menyebut tentang
hati yang tahir atau hati yang bersih dari dosa. Kemudian Allah akan
memperbaharui roh dalam diri Daud dan menjadikannya teguh.
Aku menebak jika Daud takut Tuhan akan mengambil Roh-Nya yang kudus dari
dalam dirinya. Itu berarti Roh Tuhan yang kudus ada dalam dirinya, sebelumnya
atau masih ada pada saat itu.
Aku tidak tahu... kalimat ini terlalu rancuh, apakah itu berarti roh yang teguh itu
sama dengan Roh Kudus? Apakah Roh manusia itu ada dan Roh Tuhan yang
kudus juga ada dalam diri? Terlalu banyak pertanyaan.
Pada akhirnya Daud berkata, ―Lengkapilah aku dengan roh yang rela.‖
Apakah itu berarti Daud meminta roh yang rela dari Tuhan atau meminta agar
Tuhan membuat roh Raja Daud menjadi rela?
Selain daripada itu, aku masih mengingat kitab dari Nabi Yesaya tentang
pengakuan dan permohonan.
257
Bukankah Ia berfirman, "Sungguh, merekalah umat-Ku, anak-anak yang tidak
akan berlaku curang," maka Ia menjadi Juruselamat mereka dalam segala
kesesakan mereka. Bukan seorang duta atau utusan, melainkan Ia sendirilah
yang menyelamatkan mereka; Dialah yang menebus mereka dalam kasih-Nya
dan belas kasihan-Nya. Ia mengangkat dan menggendong mereka selama zaman
dahulu kala.
Tetapi mereka memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya; maka Ia berubah
menjadi musuh mereka, dan Ia sendiri berperang melawan mereka.
Lalu teringatlah mereka kepada zaman dahulu kala, zaman Musa, hamba-Nya
itu, Di manakah Dia yang membawa mereka naik dari laut bersama-sama
dengan penggembala kambing domba-Nya? Di manakah Dia yang menaruh Roh
Kudus-Nya dalam hati mereka; yang dengan tangan-Nya yang agung menyertai
Musa di sebelah kanan; yang membelah air di depan mereka untuk membuat
nama abadi bagi-Nya; yang menuntun mereka melintasi samudera raya seperti
kuda melintasi padang gurun? Mereka tidak pernah tersandung, seperti ternak
yang turun ke dalam lembah. Roh TUHAN membawa mereka ke tempat
perhentian. Demikianlah Engkau memimpin umat-Mu untuk membuat nama yang
agung bagi-Mu.
Aku kembali mencoba menganalisis hal ini. Nabi Yesaya mengatakan jika bangsa
Israel telah memberontak dan mendukakan Roh Kudus-Nya. Dan kembali ke saat
Nabi Musa, ada tertulis, Dia menaruh Roh Kudus-Nya dalam hati mereka.
258
Setelahnya ada perkataan Roh Tuhan. Apakah itu sama artinya dengan Roh
Kudus?
Jika ini semua disingkat, maka Tuhan memberikan Roh Kudus-Nya kepada
manusia di dalam hati mereka. Dan manusia mendukakan serta memberontak
melawan Roh Kudus-Nya. Roh Tuhan yang seharusnya membimbing manusia.
Daud yang berbuat dosa, berdoa agar hatinya ditahirkan atau dibersihkan agar roh
di dalamnya menjadi teguh, agar Tuhan tidak mengeluarkan Roh Kudus yang
teguh darinya dan supaya dilengkapi.
Dari yang dapat aku simpulkan, Roh Kudus itu jelas ada berasal dari Tuhan dan
letaknya ada di dalam hati setip manusia. Jika demikian hati yang bersih akan
memiliki Roh yang tegar.
Aku akan berhenti memikirkan tentang Roh Kudus sampai di sini. Aku akan
melanjutkan perjalananku dan jika hal ini memang penting, aku akan
mendapatkannya saat mencari tahu tentang Yesus dan apa yang dia ajarkan dalam
perjalanannya.
Keesokan harinya, seperti biasa aku memperbaiki tenda milik Joshua. Tenda
terakhir yang jika selesai hari ini, maka aku dapat bergerak lagi. Tujuanku
berikutnya adalah Kota Kapernaum. Meski, aku akan melewatkan satu tempat
dalam pencarianku akan Yesus. Di mana Yusuf mengatakan Yesus pergi ke
padang pasir setelah dari Sungai Yordan, aku juga tidak yakin akan menuju ke
259
padang pasir untuk mencoba melacak jejak Yesus sehingga memutuskan untuk
pergi ke Kota Kapernaum..
Mengenai Yohanes yang membaptisnya dan kemudian langit terbuka serta
merpati turun dan ada perkataan, ―Inilah anakku yang kukasihi.‖ Aku hanya bisa
menduga jika kata itu untuk Yesus dan bukan untuk Yohanes seperti yang
diklaim oleh Markus muridnya. Tapi, aku tidak tahu, karena aku tidak di sana.
Dan apa pun itu, semua itu membuatku menyadari jika Yesus bukan manusia
biasa.
260
BAB 13
AJARAN
Kapernaum, sebuah kota kecil yang juga berada di Galilea. Kota itu tidak sebesar
Nazaret, hanya sebuah kota kecil dengan beberapa keluarga—yang tidak
membutuhkan tenda sama sekali.
Aku tidak berhasil menjual satu tenda pun di sana.
Seperti bagaimana layaknya orang baik dan orang yang tidak ingin terlihat buruk
di hadapan semua orang, aku pergi ke rumah ibadat di Kapernaum pada hari
Sabat. Sungguh jika seseorang tidak pergi ke rumah ibadat pada hari Sabat di
kota kecil, mereka akan saling bercerita dan bergunjing tentang itu.
Di dalam rumah ibadat, orang-orang terlihat saling mengenal satu dengan
lainnya, dan kedatanganku langsung membuat mereka mengetahui ada seorang
baru yang hadir di antara mereka.
―Salam damai dan sejahatera saudaraku,‖ sahut seorang pria tua di sana
memandangku dengan ramah.
―Salam sejahtera,‖ balasku.
―Siapakah nama saudara dan dari manakah?‖
261
―Aku Paulus dari Tarsus, seorang penjual tenda,‖ kataku.
―Saudara dari jauh,‖ kata orang tua itu tersenyum. ―Marilah berbagi dan ajarilah
kami dengan pengetahuanmu akan Taurat. Kami selalu senang menerima orang
baru dan berbagi pengalamannya.‖
Aku melihat sekeliling dan tidak dapat mengatakan apa pun selain
menyetujuinya. Sebagai seorang yang sudah mempelajari Kitab Taurat seumur
hidup, menjadi rabbi dan pengajar rabbi, memimpin atau mengajar sebuah rumah
ibadat di kota kecil sama sekali bukan masalah padaku. Tapi, yang membuatku
menyetujuinya adalah karena mereka semua melihatku dengan tatapan penuh
harap.
Setelah semua puji-pujian dan pembacaan ayat-ayat penting, aku membuka Kitab
Taurat dan mengajar seperti apa yang selalu diajarkan oleh guruku Gamaliel dan
dari kakeknya Hillel.
Kitab yang kubuka adalah Imamat dan isinya, ―Janganlah engkau menuntut balas
dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan
kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.‖
Lalu aku menjelaskan, ―Seorang pendiri Akademi Hillel yang bernama Hillel
pernah mengatakan. ‗―Apa yang tidak kamu sukai, janganlah lakukan pada orang
lain. Itu adalah semua isi Kitab Taurat. Sisanya adalah penjelasan.‖‘
262
―Dalam semua isi Kitab Taurat ini mengasihi sesama dan jangan menyakiti
sesama adalah intinya...‖ Aku memberikan penjelasan panjang lebar dan semua
orang menatapku dengan kagum.
Itu karena mereka belum tahu siapa diriku sebenarnya, seandainya mereka
mengenalku, mereka pasti terkejut.
Seorang buronan Sanhedrin yang sedang melarikan diri.
Hingga saat acara berakhir, beberapa orang mencoba mengundangku untuk
makan bersama di rumah mereka. Pada akhirnya aku menyetujui undangan dari
seorang bernama Timoti untuk makan di rumahnya. Aku menerima keramahan
itu dengan penuh hormat dan memang karena sedang membutuhkan informasi
tentang Yesus dari orang-orang di Kapernaum.
Aku makan bersama keluarga besarnya yang terdiri dari kedua orang tua Timoti
yang sudah tua, seorang saudara lelaki, seorang saudara perempuan dan istrinya
bersama kedua anaknya.
―Pengajaranmu bagus sekali,‖ kata Timoti senang. ―Aku yakin kamu pasti sudah
banyak belajar mengenai Kitab Taurat.‖
Aku segera menanggapi basa basi itu dengan senyuman dan beberapa kata
merendah. ―Aku mendengar seorang bernama Yesus pernah mengajar di sini,‖
kataku cepat dengan niat untuk memancing.
263
Seperti dugaanku, raut wajah Timoti langsung berubah cerah. Ia dengan
semangat berkata, ―Benar, Yesus dari Nazaret itu memang luar biasa. Dia datang
ke tempat ini sekitar sepuluh tahun lalu. Aku masih ingat kejadian saat itu.‖
***
Yesus mengajar di Kapernaum pada hari-hari Sabat dan mereka yang berada di
sana takjub mendengar pengajarannya, sebab perkataannya penuh kuasa. Pada
hari itu, di dalam rumah ibadat ada seorang yang mendadak kerasukan jiwa jahat.
Ia terjungkal dari tempat duduknya dan meraung-raung membuat semua orang di
sana menjadi sigap. Ia yang kesurupan segera berteriak dengan suara keras
sambil menunjuk pada Yesus, "Hai engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusanmu
dengan kami? Pergilah dari sini! Mereka semua tidak membutuhkanmu.‖
Semua orang terkaget-kaget dan Yesus hanya diam.
―Apakah engkau datang hendak membinasakan kami?‖ tanya yang kesurupan.
―Aku tahu siapa engkau, Yang Kudus dari Allah. Tapi, aku tidak ada sedikitpun
rasa takut padamu."
Yesus segera menghardiknya, "Diam, keluarlah daripadanya!" Dan pria itu pun
terhempaskan ke tengah-tengah orang banyak, lalu jiwa jahat itu keluar
daripadanya dan sama sekali tidak menyakitinya. Orang yang kesurupan itu
bangkit tanpa terluka dan melihat sekeliling dengan bingung. Dia tidak tahu apa
yang baru saja terjadi.
264
Dan semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, "Alangkah
hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa, ia memberi
perintah kepada jiwa-jiwa jahat dan merekapun keluar."
Dan hari itu juga, tersebarlah berita tentang Yesus ke mana-mana di Kapernaum
dan daerah sekitarnya.
Kemudian, Yesus meninggalkan rumah ibadat dan pergi ke rumah seorang
bernama Simon, atas permintaan pria itu dan keluarganya. Adapun saat tiba di
tempat itu bersama banyak orang dari rumah ibadat, Yesus melihat ibu mertua
Simon demam keras.
Ibu mertua Simon sudah sakit selama dua tahun lebih. Mereka sudah mencoba
segala macam obat-obatan namun tidak manjur. Mereka mengira jika perempuan
itu terkena gangguan jiwa yang jahat. Mereka meminta kepada Yesus supaya
menolong dia.
Maka Yesus berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu dan panas
tubuhnya langsung turun. Saat itu juga perempuan itu segera bangun dan
melayani mereka. Orang-orang yang ikut menyaksikan itu segera berkata-kata
pada sesamanya dan beberapa orang segera pergi untuk membawa orang-orang
sakit bersama mereka untuk menemui Yesus.
Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada Yesus orang-orang
yang sakit, yang menderita bermacam-macam penyakit. Yesus pun meletakkan
tangannya atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka semua.
265
Sekali lagi, semua orang takjub melihat hal itu. Dari banyak orang yang
kesurupan, keluar juga jiwa-jiwa jahat sambil berteriak, "Engkau adalah Anak
Allah. Apa yang sudah kami perbuat padamu sehingga kamu mengusir kami!"
Keesokan harinya, ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat
yang sunyi. Simon dan orang-orang Kapernaum terkejut dan mulai mencari dia
bersama orang banyak. Mereka lalu menemukannya dan berusaha menahan
Yesus supaya jangan meninggalkan mereka.
Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Juga di kota-kota lain Aku harus
memberitakan tentang Allah sebab untuk itulah aku diutus oleh-Nya."
Dan Yesus pun pergi untuk memberitakan tentang Allah dalam rumah-rumah
ibadat di wilayah Yudea.
***
―Aku ingat, dari sana Yesus pergi berbagai kota di Galilea sebelum pergi ke
Yudea,‖ kata Timoti.
Malam itu, aku kembali ke dalam tendaku dan berpikir. Bagaimana Yesus dapat
mengusir orang yang kerasukan jiwa jahat atau apa yang mereka katakan sebagai
setan. Aku mempelajari tentang fenomena kerasukan itu saat sedang di
Yerusalem.
Menurut Kitab Taurat dan beberapa pendapat imam, mereka menerangkan bahwa
tubuh manusia memiliki tiga jenis bagian. Itu adalah tubuh, jiwa dan roh. Tubuh
adalah apa yang terbuat dari debu tanah, roh adalah percikan Tuhan saat
266
menciptakan manusia dan jiwa adalah sebuah tubuh tak kasat mata yang menjadi
penghubung roh dengan tubuh.
Mereka mengatakan Roh adalah percikan dari Tuhan yang berisi diri kita yang
sejati. Ada yang mengatakan jika tempatnya bersemayam adalah dalam hati. Jika
seseorang mati, maka jiwanya akan gentayangan dengan memiliki roh di
dalamnya. Jiwa-jiwa itu dinamakan sebagai jiwa-jiwa yang tersesat dan
terkadang merasuk ke dalam tubuh orang-orang yang memiliki mental dan iman
yang lemah.
Jiwa-jiwa yang sudah meninggal dan tidak pergi ke tempat yang seharusnya
berada menurut Tuhan, akan menjadi jiwa-jiwa tersesat yang berada di dunia ini
bersama dengan jiwa-jiwa jahat lainnya seperti setan atau makhluk penghuni
alam lain yang juga kadang merasuk dalam tubuh manusia.
Dan bagaimana Yesus bisa mengusir mereka?
Dalam beberapa kejadian, beberapa imam dapat mengusir orang yang dirasuki
jiwa-jiwa jahat itu jika mereka berdoa atau membaca isi Kitab Taurat dengan
sungguh-sungguh. Tapi, tidak banyak imam yang memiliki kuasa itu. Mereka
adalah orang-orang yang sering berpuasa dan tulus hatinya.
Setidaknya itulah yang kupikirkan. Mungkin mereka masih memiliki sesuatu yang
tidak kumiliki.
Aku ingat sekitar lima belas tahun lalu, aku sedang berada di sebuah rumah
ibadat dan satu keluarga membawa seorang perempuan yang kesurupan. Seorang
267
rabbi setempat berusaha mengusirnya tanpa hasil. Dan dapat ditebak, rabbi itu
hanya mengatakan jiwa jahat yang merasuk pada perempuan itu terlalu kuat.
Rabbi itu melihat padaku dan aku segera berkata jika aku tidak dapat melakukan
pengusiran sama sekali. ‗Setidaknya, mari kita berdoa bersama untuk dirinya,‘
kata sang rabbi.
Kami berdoa bersama dengan para jemaat yang hadir dan perempuan itu
berteriak-teriak. Sama sekali tanpa hasil. Aku melihat perempuan itu begitu
menderita, berteriak, menangis, mengancam dan menghantukkan kepalanya ke
lantai. Aku hanya bisa merasakan pilu di hati tanpa mampu melakukan apa pun
untuk membantunya.
Aku segera menarik selimutku dan tidur. Aku akan mencoba mencari informasi
mengenai Yesus lagi di sekitar kota ini.
Tiga tahun lamanya, aku menjelajahi wilayah Galilea, Samaria dan Yudea.
Memasuki kota Tirus, Kana, Nain, Khorazim, Gerasa, Betani, dan juga Danau
Galilea hingga desa-desa kecil dan orang-orang yang mengenal Yesus dalam
perjalanan antar kota dan desa.
Sebagian keuntungan penjualan tendaku habis untuk membeli kertas agar dapat
menuliskan jejak perjalanannya. Berharap jika aku akan mendapatkan jejak
kebenaran yang ditinggalkannya.
Inilah jejak catatan mengenai Yesus yang kutemukan dan sebagian lainnya
kuhapuskan karena ceritanya tampak mengalami perubahan oleh orang-orang
268
yang terlalu memuja Yesus hingga melebih-lebihkannya atau menjelekjelekkannya. Aku berusaha menuliskan sebuah kebenaran tentang Yesus dan
ajarannya. Mencoba memahami keinginannya.
269
BAB 14
YESUS APA ADANYA
Pada suatu hari, Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh
kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, "Tuan, jika Tuan
mau, Tuan dapat mentahirkan aku."
Lalu Yesus mengulurkan tangannya, menjamah orang itu, dan berkata, "Allah
Maha baik, Ia tidak pernah memberikan luka dan sakit. Hanya kebaikan dan
bantuan yang selalu diberikan pada manusia. Tuhan mau, aku mau, jadilah
engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya.
Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan
berkata,
"Pergilah
kepada
imam
dan
persembahkanlah
kurban
untuk
pentahiranmu. Persembahan kepada Allah seperti yang diperintahkan Musa,
sebagai bukti bagi mereka yang telah ditahirkan atas dosa mereka."
Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersiar dan datanglah orang banyak
berbondong-bondong kepadanya untuk mendengar dia dan untuk disembuhkan
dari penyakit mereka. Akan tetapi, ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang
sunyi dan berdoa. Itu semua karena mereka datang kepadanya untuk meminta
mukjizat bukan untuk mendengar pengajarannya akan Allah.
270
Pada suatu hari ketika Yesus mengajar di dalam rumah, ada beberapa orang Farisi
dan ahli Taurat duduk mendengarkannya. Mereka datang dari semua desa di
Galilea, Yudea dan dari Yerusalem. Kuasa Tuhan selalu menyertainya, sehingga
ia dapat berkata-kata dan berbuat seperti bagian dari Kasih-Nya.
Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur;
mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus.
Karena banyaknya orang yang berkumpul di depan rumah dan sekeliling rumah,
maka naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan
orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan
Yesus.
Ketika Yesus melihat iman orang yang lumpuh, berkatalah ia, "Hai saudaraku,
dosamu sudah diampuni. Mengapa engkau masih meratapi luka dan beban itu?
Serahkanlah semuanya pada Allah."
Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya, "Siapakah
orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa selain
daripada Allah sendiri? Mengapa dia merasa dapat menghapuskan dosa?"
Akan tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka,
―Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah lebih mudah, mengatakan,
Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan, Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi
supaya kamu tahu, bahwa dosalah penyebab sakit. Tuhan tidak menyebabkan
sakit.‖
271
Berkatalah Yesus kepada orang lumpuh itu, ―Kepadamu kukatakan, bangunlah,
angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu! Kuasa Tuhan selalu
menyertaimu.‖
Dan seketika itu juga bangunlah orang lumpuh itu, di depan mereka, ia lalu
mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah.
Semua orang yang hadir menjadi takjub, lalu memuliakan Allah. Beberapa orang
menjadi ketakutan.
Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, ia melihat seorang pemungut cukai, yang
bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, ―ikutlah
aku!‖
Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikutnya. Dan
dalam kebahagiaan itu, Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Yesus di
rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai bersama-sama orang-orang lain
turut diundang untuk makan bersama-sama dengannya.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid
Yesus, katanya, ―Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan
pemungut cukai dan orang berdosa?‖
Pada saat itu para pemungut cukai atau pemungut pajak dari orang-orang Yahudi
untuk Raja Herodes dan Pemerintahan Roma selalu dianggap sebagai orang jahat.
Mereka sering dikatakan sebagai para pengkhianat yang memeras uang sesama
orang Yahudi untuk
menyenangkan pemerintahan Roma.
272
Jika terjadi
pemberontakan, orang-orang Zealot dan orang Yahudi yang membenci
pemerintahan Roma selalu mengincar para pemungut cukai sebagai sasaran
pertama. Orang-orang pemungut cukai dibenci oleh sebagian masyarakat Yahudi,
namun karena mereka dilindungi pemerintah, orang-orang yang membenci
mereka hanya dapat menjelek-jelekkan mereka di belakang karena takut
ditangkap.
Beberapa pemungut cukai memang terkenal sangat ganas dan kejam, mereka
tidak segan untuk menyita harta benda orang-orang yang tidak dapat membayar
pajak. Beberapa dari mereka juga memberikan pinjaman untuk tunggakan pajak
dengan bunga. Beberapa dari mereka juga mengambil pajak yang berlebih untuk
dijadikan milik mereka sendiri.
Lalu jawab Yesus kepada mereka, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib,
tetapi orang sakit; aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang
berdosa, supaya mereka bertobat."
Orang-orang Farisi itu berkata pula kepada Yesus, "Murid-murid Yohanes sering
berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi muridmuridmu makan dan minum."
Yesus
memberikan
perumpamaan
kepada
mereka,
"Tidak
seorangpun
mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju
yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu
tidak akan cocok dengan kain baru itu. Demikian juga tidak seorangpun
mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika
273
demikian, anggur yang baru itu akan mengoyakkan kantong itu dan anggur itu
akan terbuang dan kantong itupun hancur. Tetapi anggur yang baru harus
disimpan dalam kantong yang baru pula. Dan tidak seorangpun yang telah minum
anggur tua ingin minum anggur yang baru, sebab ia akan berkata, Anggur yang
tua itu baik."
―Apa maksudnya?‖ tanya seorang Farisi.
Yesus menatap mereka dan berkata, ―Jika peraturan Musa membuat kalian
semakin dekat pada Allah, maka itu adalah bagus untuk kalian. Jika seorang
dapat dekat dengan Allah dan memuliakan-Nya dengan cara lain, maka itu bagus
untuknya. Mengapa harus memaksakan kehendak kalian pada orang lain hanya
karena kalian merasa hal itu bagus untuk kalian?‖
―Karena kami merasa hal itu paling tepat dan bagus bagi mereka,‖ jawab seorang
Farisi lainnya.
―Apakah kalian ingin dipaksakan pada kalian suatu peraturan yang dirasa baik
oleh seseorang lainnya dan kalian tidak menyukainya?‖ tanya Yesus.
―Tidak,‖ kata orang Farisi itu dengan tegas, ―Karena kami tahu apa yang terbaik
bagi kami.‖
―Jika demikian,‖ balas Yesus. ―Jangan lakukan pada orang lain, hal yang kamu
tidak ingin orang lain lakukan padamu.‖
***
274
Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-muridnya
memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya
dengan tangannya.
Tetapi beberapa orang Farisi berkata, "Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak
diperbolehkan pada hari Sabat?"
Lalu Yesus menjawab mereka, "Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh
Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke
dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan
memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh
dimakan kecuali oleh imam-imam?"
Yesus berkata lagi kepada mereka, ―Manusia adalah tuhan atas hari Sabat.
Peraturan itu ada untuk menjaga manusia, oleh karenanya nyawa seorang
manusia jauh di atas peraturan. Apa gunanya jika seseorang itu berkeras
mengikuti peraturan jika membahayakan nyawa yang diberikan Tuhan padanya?
Bukankah itu mengkhianati Tuhan yang memberikan kehidupan?‖
Pada suatu hari Sabat lain, Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu mengajar. Di situ
ada seorang yang mati tangan kanannya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
mengamat-amati Yesus, kalau-kalau ia menyembuhkan orang pada hari Sabat,
supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan dia.
275
Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada orang yang mati
tangannya itu, "Bangunlah dan berdirilah di tengah!" Maka bangunlah orang itu
dan berdiri.
Lalu Yesus berkata kepada mereka, "Aku bertanya kepada kamu, Manakah yang
diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan
nyawa orang atau membinasakannya?"
Sesudah itu ia memandang keliling kepada mereka semua, lalu berkata kepada
orang sakit itu, "Ulurkanlah tanganmu!" Orang itu berbuat demikian dan
sembuhlah tangannya.
Maka meluaplah amarah mereka, lalu mereka berunding, apakah yang akan
mereka lakukan terhadap Yesus.
Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman ia
berdoa kepada Allah. Lalu ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu
tempat yang datar. Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-muridnya dan
banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari
daerah pantai Tirus dan Sidon.
Mereka datang untuk mendengarkan Yesus mengajar dan untuk disembuhkan
dari penyakit mereka. Juga mereka yang dirasuk oleh jiwa-jiwa jahat beroleh
kesembuhan. Saat mereka melihat kedatangan Yesus, banyak orang yang
berusaha menjamah dia, karena ada kuasa yang keluar daripadanya.
276
Lalu Yesus memandang semua orang yang menatapnya penuh harap dan
berkatalah dia,
"Berbahagialah, hai kamu semua. Meski kamu yang saat ini miskin, karena
kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
Berbahagialah, hai kamu semua. Meski yang sekarang ini lapar, karena kamu
akan dipuaskan.
Berbahagialah, hai kamu semua. Meski yang sekarang ini menangis, karena kamu
akan tertawa.
Berbahagialah kamu, meski orang-orang membenci kamu, dan meskipun mereka
mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu
yang jahat.
Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab sesungguhnya Allah selalu ada
bersamamu. Dia memerhatikanmu dan selalu menjagamu. Berbahagialah dan
bersukacitalah karena kasih Tuhan selalu ada padamu.
Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya namun melupakan Tuhan Allahmu
dan sesamamu, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburan
untukmu sendiri yang akan membutakanmu dari Penciptamu.
Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang dan bertindak sombong pada Tuhan
dan sesamamu karena kamu akan lapar.
277
Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa dan merasa hebat atas kehidupan
hingga melupakan Tuhan dan sesama, karena kamu akan berdukacita dan
menangis.
Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu dan menjadi lupa diri hingga
merasa lebih baik di antara sesamamu dan Tuhanmu. Karena secara demikian
juga engkau akan merasa dilupakan oleh Tuhanmu dan menghadapi bencana."
Yesus menatap mereka semua dan memberikan senyuman hangat.
"Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan aku, aku berkata, Kasihilah musuhmu,
berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang
yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.‖
―Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu
yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil
bajumu.‖
―Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta
kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.‖
―Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah
juga demikian kepada mereka.‖
―Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu?
Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi
mereka.‖
278
―Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu,
apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.‖
―Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap
akan menerima sesuatu daripadanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun
meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali
sama banyak.‖
―Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan
pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan
kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap
orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
"Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan
janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah
dan kamu akan diampuni.‖
―Berilah dan kamu akan diberi, suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang
digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab
ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."
Yesus mengatakan pula suatu perumpamaan kepada mereka, "Dapatkah orang
buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?
Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat
pelajarannya akan sama dengan gurunya.‖
279
―Mengapakah engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu,
sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?‖
―Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu, Saudara, biarlah aku
mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di
dalam matamu tidak engkau lihat? Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka
engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari
mata saudaramu. Lakukanlah terlebih dahulu sebelum engkau menyuruh orang
lain untuk melakukannya."
―Karena tidak ada pohon perbuatan baik yang menghasilkan buah yang tidak
baik, dan juga tidak ada pohon perbuatan tidak baik yang menghasilkan buah
yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri
orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.‖
―Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya
yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari
perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari
hatinya. Hati adalah kuncinya."
"Mengapa kamu berseru Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang
seharusnya kamu perbuat.‖
―Setiap orang yang datang kepadaku dan mendengarkan pengajaranku serta
melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat
disamakan — , ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah, Orang itu
280
menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air
bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena
rumah itu kokoh dibangun.
Begitulah
mereka
yang
mendengar
dan
melakukannya.‖
―Akan tetapi barangsiapa mendengar pengajaran, tetapi tidak melakukannya, ia
sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika
banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya."
Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah ia ke
Kapernaum.
Di situ ada seorang perwira Roma yang mempunyai seorang hamba, yang sangat
dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.
Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua
Yahudi kepadanya untuk meminta, supaya ia datang dan menyembuhkan
hambanya.
Mereka
datang
kepada
Yesus
dan
dengan
sangat
mereka
meminta
pertolongannya. Kata mereka para tua-tua, "Ia layak engkau tolong, sebab ia
mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat
kami."
Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika ia tidak jauh lagi dari
rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan
kepadanya, "Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima
281
Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk
datang kepadamu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan
sembuh.‖
―Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku
berkata kepada salah seorang prajurit itu, Pergi!, maka ia pergi, dan kepada
seorang lagi, Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku, Kerjakanlah
ini!, maka ia mengerjakannya. Aku percaya pada kuasa Allah yang ada padamu
dan begitu juga kuasa-Nya atas dunia ini. Jika engkau mengatakan sepatah kata,
tidak akan mungkin terjadi sebaliknya."
Setelah Yesus mendengar perkataan itu, ia menjadi heran dan sambil berpaling
kepada orang banyak yang mengikuti dia, Yesus berkata, "Aku berkata
kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah aku jumpai, sekalipun di antara orang
Israel!"
Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah
hamba itu telah sehat kembali.
Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-muridnya pergi
bersama-sama dengan dia, dan juga orang banyak menyertainya berbondongbondong. Setelah ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar.
Jasad seorang anak laki-laki, anak tunggal dari seorang ibu yang sudah janda, dan
banyak orang dari kota yang menyertai janda itu.
282
Dan ketika Yesus melihat janda itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan, lalu ia
berkata kepadanya, "Jangan menangis!" Sambil menghampiri usungan itu.
Yesus menyentuh usungan itu dan para pengusung berhenti bergerak, ia berkata,
"Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!"
Maka bangunlah anak muda itu. Ia duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus
menyerahkannya kepada ibunya.
Semua orang yang melihat itu segera menjadi ketakutan dan mereka semua
memuliakan Allah, sambil berkata, "Seorang nabi besar telah muncul di tengahtengah kita," dan "Allah telah melawat umat-Nya."
Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah
sekitarnya.
***
Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus
datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan.
Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa karena
melacurkan diri. Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan
di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi
air dan juga minyak wangi.
283
Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kakinya, lalu
membasahi kakinya dengan air dan menyekanya dengan bajunya, kemudian ia
mencuci kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.
Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam
hatinya, "Jika ia ini nabi, tentu ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan
yang menjamahnya ini. Tentu ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang
berdosa. Seorang yang beriman tidak akan mau terlihat dekat dengannya apalagi
disentuh olehnya."
Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu, "Simon, ada yang hendak kukatakan
kepadamu."
Sahut Simon, "Katakanlah, Guru."
"Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang
berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup
membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara
mereka yang akan terlebih mengasihi dia?"
Jawab Simon, "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya."
Kata Yesus kepadanya, "Betul pendapatmu itu." Dan sambil berpaling kepada
perempuan itu, ia berkata kepada Simon, "Engkau lihat perempuan ini? Aku
masuk ke rumahmu, karena undanganmu untuk makan. Namun engkau tidak
menyediakan air untuk membasuh kakiku saat memasuki rumahmu. Tetapi dia
yang melihat hal itu dan atas kasih dari hatinya, ia bersedia membasahi kakiku
284
dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Meminyaki kakiku dengan
minyak wangi.‖
―Sebab itu aku berkata kepadamu,‖ kata Yesus. ―Dosanya yang banyak itu telah
diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih."
Lalu Yesus berkata kepada perempuan itu, "Dosamu telah diampuni."
Dan mereka, yang duduk makan bersama Yesus, berpikir dalam hati mereka,
"Siapakah ia ini, sehingga ia dapat mengampuni dosa?"
Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, "Imanmu dan perbuatan kasihmu
yang telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"
Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa
ke desa memberitakan tentang Allah. Beberapa orang perempuan disembuhkan
dari jiwa-jiwa jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena,
yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara
Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini
melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.
Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari
kota ke kota menggabungkan diri pada Yesus, berkatalah ia dalam suatu
perumpamaan,
"Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia
menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-
285
burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang
berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air.‖
― Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama
dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan
setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat."
Setelah berkata demikian Yesus berseru, "Siapa mempunyai telinga untuk
mendengar, hendaklah ia mendengar!"
Orang-orang yang mengikutinya bertanya kepadanya, apa maksud perumpamaan
itu.
Lalu ia menjawab, "Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan
Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan,
supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar,
mereka tidak mengerti.‖
―Inilah arti perumpamaan itu, Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir
jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu
mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan
diselamatkan.‖
―Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang yang setelah mendengar
firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar dan
melaksanakannya. Mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan
mereka murtad.‖
286
―Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan
dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran, kekayaan dan
kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.‖
―Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman
itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah perbuatan baik
dalam ketekunan."
"Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan
atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas
kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat
cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan
dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan
diumumkan.‖
―Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai,
kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan
diambil juga apa yang ia anggap ada padanya. Dengarlah dan lakukanlah.‖
***
Pada suatu hari Yesus naik ke dalam perahu bersama-sama dengan beberapa
orang, dan ia berkata kepada mereka, "Marilah kita bertolak ke seberang danau."
Lalu bertolaklah mereka. Dan ketika mereka sedang berlayar, Yesus tertidur.
Sekonyong-konyong turunlah topan ke danau, sehingga ombak meninggi dan
perahu itu kemasukan air. Mereka berada dalam bahaya.
287
Maka datanglah murid-muridnya membangunkan Yesus, katanya, "Guru, Guru,
kita binasa!" Ia pun bangun, lalu menghardik angin dan air yang mengamuk itu.
Dan angin, air itupun reda. Danau menjadi teduh seketika.
Lalu kata Yesus kepada mereka, "Di manakah iman dan kepercayaanmu?"
Maka takutlah mereka dan heran, lalu berkata seorang kepada yang lain, "Siapa
gerangan orang ini, sehingga ia memberi perintah kepada angin dan air dan
mereka taat kepadanya?"
Lalu mendaratlah Yesus di tanah orang Gerasa yang terletak di seberang Galilea.
Setelah Yesus naik ke darat, datanglah seorang laki-laki dari kota itu menemui
dia; orang itu dirasuki oleh jiwa-jiwa jahat dan sudah lama ia tidak berpakaian
dan tidak tinggal dalam rumah, tetapi dalam pekuburan. Karena sering jiwa-jiwa
jahat itu menyeret-nyeret dia, maka untuk menjaganya, kedua tangan dan kakinya
dirantai dan dibelenggu sedemikian rupa sehingga tidak dapat bergerak bebas.
Ketika ia melihat Yesus, ia berteriak lalu tersungkur di hadapannya dan berkata
dengan suara keras, "Apa urusanmu dengan aku, hai Yesus Anak Allah Yang
Mahatinggi? Aku memohon kepadamu, supaya engkau jangan menyiksa aku."
Ia berkata demikian sebab Yesus memerintahkan jiwa-jiwa jahat itu keluar dari
orang itu. Setelah jiwa-jiwa jahat keluar, Yesus memutuskan segala pengikat dan
rantai pada pria itu dan Yesus bertanya kepadanya, "Siapakah namamu?"
"Legion," jawab pria itu. Namanya Legion karena ia kerasukan banyak jiwa-jiwa
jahat.
288
Dan keluarlah orang-orang setempat untuk melihat apa yang telah terjadi. Mereka
datang kepada Yesus dan mereka menjumpai orang yang telah ditinggalkan jiwajiwa jahat itu duduk di kaki Yesus; ia telah berpakaian dan sudah waras. Maka
takutlah mereka.
Orang-orang yang telah melihat sendiri hal itu memberitahukan kepada mereka,
bagaimana orang yang dirasuk jiwa-jiwa jahat itu telah diselamatkan. Lalu
seluruh penduduk daerah Gerasa meminta kepada Yesus, supaya ia meninggalkan
mereka, sebab mereka sangat ketakutan. Maka naiklah Yesus ke dalam perahu,
lalu berlayar kembali.
Dan orang yang telah ditinggalkan jiwa-jiwa jahat itu meminta supaya ia
diperkenankan menyertainya. Tetapi Yesus menyuruh dia pergi, katanya,
"Pulanglah ke rumahmu dan ceritakanlah segala sesuatu yang telah diperbuat
Allah atasmu."
Orang itupun pergi mengelilingi seluruh kota dan memberitahukan segala apa
yang telah diperbuat Yesus atas dirinya. Ketika Yesus kembali, orang banyak
menyambut dia sebab mereka semua menanti-nantikan dia.
Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala rumah ibadat.
Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepada-Nya, supaya Yesus
datang ke rumahnya, karena anaknya perempuan yang satu-satunya, berumur
kira-kira dua belas tahun, hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesakdesak orang banyak.
289
***
Di satu tempat lain, adalah seorang perempuan berusia dua belas tahun yang
menderita pendarahan dan tidak berhasil disembuhkan oleh siapa pun.
Keluarganya miskin sehingga tidak dapat memanggil tabib. Kedua orang tuanya
sering bertengkar karena dirinya yang sakit. Ayahnya menyalahkan ibunya dan
ibunya menyalahkan ayahnya.
Ayahnya sering memarahi ibunya. ―Kamu yang melahirkan anak seperti ini.
Sakit-sakitan!‖
Dan ibunya selalu berkata, ―Ini semua karena kesalahan dirimu. Saat muda kamu
selalu berbuat jahat pada orang-orang di sekelilingmu dan sekarang dosa-dosamu
harus ditanggung oleh anakmu. Gara-gara dirimu, aku dan anakmu kini
memperoleh derita.‖
Ayahnya adalah seorang yang dulunya ditakuti di tempat mereka dan tidak jarang
meminta uang dari orang-orang sekeliling. Akan tetapi ayahnya sudah bertobat
saat ia menikah dan tidak lagi pernah melakukan kejahatan apa pun meski hidup
dalam kemiskinan.
Gadis itu selalu berdoa pada Tuhan agar mendapatkan kesembuhan dan kedua
orang tuanya tidak perlu bertengkar atau mencemaskannya. Ia juga berdoa jika
kesembuhan tidak untuknya, ia menginginkan kematian yang cepat. Hanya agar
ia tidak lagi menjadi beban bagi kedua orang tua dan keluarganya.
290
Pada suatu siang, ramai terdengar jika ada seorang bernama Yesus dari Nazaret
yang mampu menyembuhkan orang sakit dan kabarnya pernah membangkitkan
orang mati. Gadis kecil itu melihat kedua orang tuanya yang sedang sibuk
bekerja, sehingga memutuskan untuk pergi sendiri.
Ia bangkit dari ranjangnya dengan kesusahan dan disertai rasa sakit, karena lukalukannya mengores di antara baju dan setiap gerakannya. Ia menyelinap keluar
dari pintu belakang. Ini adalah untuk pertama kalinya, ia keluar dari rumah tanpa
ditemani siapa pun. Ia berlari dan mencoba mendekati kerumunan orang-orang
yang berjumlah ribuan. Di antara orang banyak yang berdesak-desakan dan
orang-orang sakit yang berbaris mengelilingi Yesus, ia hanya bagaikan sebuah
perahu kecil di antara ombak besar.
Ia dapat sewaktu-waktu ditelan oleh kerumunan orang-orang itu atau jatuh
terinjak-injak. Gadis itu bahkan tidak berhasil melihat sosok Yesus.
Dengan
menguatkan dirinya dan berpegang
pada keyakinannya
akan
kesembuhan, ia dengan nekad menerjang ke dalam kerumuan orang-orang dewas
itu. Dengan tubuhnya yang kecil, ia mencoba mendesak di antara orang-orang
banyak. Tubuhnya tergencet di sana-sini. Luka-luka pada tubuhnya yang tidak
mau mengering tergores beberapa kali di antara orang-orang dan memberikan
rasa sakit yang menyayat. Beberapa kali juga, ia terjatuh dan terinjak oleh kakikaki besar.
Tubuhnya terasa sakit tapi imannya hidup. Air matanya mengalir dan ia harus
dapat menggapai Yesus. Karena bukankah Allah Maha Pengasih, tentu utusannya
291
juga. Ia berusaha keras mendesak untuk maju mendekati Yesus dari belakang di
antara orang banyak.
Pada saat ia melihat sosok Yesus, dan tangannya hampir menggapainya, pada
saat itu juga Yesus diundang oleh Yairus untuk pergi ke rumahnya untuk melihat
anaknya yang sakit. Maka seketika itu juga bergerak Yesus menjauh dari
pandangannya dan kumpulan orang-orang bergerak serentak mengikuti Yesus
dan menenggelamkan tubuhnya yang kecil.
Jarak darinya pada Yesus semakin jauh. Orang-orang bergerak mendesaknya dan
warna merah darah sudah memenuhi baju dan lengannya. Kerumunan orangorang semakin banyak menutupi pandangannya. Gadis kecil itu akhirnya berhenti
bergerak dan terisak. Dengan penuh kesedihan, ia menangis.
Pada saat itu terdengarlah sebuah suara sayup-sayup. ―Pergilah.‖
Gadis itu mendengar sebuah suara yang menenangkan hatinya. Suara yang datang
bersama dengan semilir angin hangat. Dan saat ia membuka matanya, tepat di
saat itu, terlihat olehnya sebuah jarak kecil yang terbuka di antara kerumunan
orang-orang yang menunjukan sosok Yesus.
Dengan cepat gadis itu melangkahkan kakinya menerobos jalur itu dan dengan
susah payah, ia akhirnya dapat melihat sosok Yesus. Saat semakin dekat, orangorang semakin merapat dan tubuhnya mulai kelelahan. Pada akhirnya ia tidak
dapat menembus kerumunan murid-murid Yesusu yang menjaga di sekeliling
292
Yesus, namun tangan kecilnya dapat menerobos kerumunan orang dan menjamah
belakang jumbai jubah Yesus.
Hanya sesaat saja dan jumbai jubah Yesus terlepas dari tangannya. Gadis itu pun
terduduk dan melihat sosok Yesus menjauh.
Namun, Yesus mendadak berhenti bergerak. Lalu kata Yesus ditengah orang
banyak, "Siapa yang menjamah aku?" Dan karena tidak ada yang mengakuinya,
berkatalah Petrus, "Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak engkau."
Tetapi Yesus berkata, "Ada seorang yang menjamah aku, sebab aku merasa ada
kuasa Allah keluar melalui diriku."
Ketika semua orang berhenti bersama berhentinya gerakan Yesus dan gadis muda
itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar sambil
berlinang air mata, tersungkur di depannya.
―Rabbi,‖ kata gadis kecil itu dengan ketakutan dan memanggil Yesus sebagai
Rabbi sebagaimana dia diajarkan untuk memanggil gurunya di rumah ibadat.
―Aku mengalami pendarahan yang tidak kunjung sembuh. Orang tuaku miskin
dan tidak berkesempatan mengantarku sehingga aku tidak membawa kurban
persembahan apa pun untuk diserahkan sebagai balasan beroleh kesembuhan.
Aku tidak memiliki apa pun bersamaku sehingga aku takut jika engkau tidak
akan menyembuhkanku. Tapi aku yakin dengan menyentuh rabbi, aku akan
disembuhkan. Karena bukankah Allah Maha Pengasih dan kuasanya bekerja
melalui rabbi?‖
293
Gadis kecil itu melihat dirinya dan terkejut. Ia melihat luka-luka pada lengan dan
tubuhnya sudah menghilang. Ia sama sekali tidak percaya dengan apa dilihatnya.
Ia dengan cepat menatap pada Yesus dan dengan terkejut berkata, ―Aku sudah
disembuhkan.‖
Maka kata Yesus kepada gadis kecil itu, "Hai anakku, imanmu telah
menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!"
Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah
ibadat dan berkata kepada Yairus, "Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau
menyusah-nyusahkan guru!"
Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus, "Jangan takut, percaya
saja, dan anakmu akan selamat."
Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorangpun ikut masuk
dengan dia, kecuali ayah anak itu serta ibunya.
Mereka menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata, "Jangan
menangis. Ia tidak mati, tetapi tidur."
Beberapa orang anggota keluarga menertawakan dia, karena mereka tahu bahwa
anak itu telah mati.
Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, "Hai anak bangunlah!"
Maka kembalilah jiwa anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu
Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. Dan takjublah orang tua anak
294
itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapa pun juga apa
yang terjadi itu.
***
Maka Yesus memanggil murid-muridnya, lalu mengutus mereka untuk
memberitakan Kerajaan Allah. Katanya kepada mereka, "Jangan membawa apaapa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau
dua helai baju. Tuhan akan mengatur perjalanan kalian. Milikilah iman pada
Tuhanmu dan jadikan perjalanan ini sebagai perjalanan bagi imanmu juga.‖
―Dan apabila kamu sudah diterima dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai
kamu berangkat dari situ. Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu,
keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai tanda
terhadap mereka. Bahwa kamu tidak akan merasa tersinggung atau memiliki niat
buruk atas apa yang telah mereka lakukan padamu. Kalian telah memaafkan
perlakuan mereka."
Lalu pergilah para pengikutnya dan mereka mengelilingi segala desa sambil
memberitakan tentang Allah. Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang
terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa
Yohanes yang dibunuhnya telah bangkit dari antara orang mati.
Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang
mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.
295
Tetapi Herodes berkata, "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan dia
ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat
bertemu dengan Yesus.
Sekembalinya para murid-murid itu, mereka menceritakan kepada Yesus apa
yang telah mereka kerjakan dan Raja Herodes memerintahkan untuk
menangkapnya. Lalu Yesus membawa mereka dan menyingkir ke sebuah kota
yang bernama Betsaida.
Akan tetapi orang banyak mengetahuinya, lalu mengikuti dia. Ia menerima
mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah.
Pada waktu hari mulai malam datanglah murid-murid kepadanya dan berkata,
"Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan
kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan,
karena di sini kita berada di tempat yang sunyi."
Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Kamu harus memberi mereka makan!"
Mereka menjawab, "Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua
ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini."
Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada
murid-muridnya, "Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira
lima puluh orang sekelompok."
Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk.
296
Dan setelah Yesus mengambil lima roti dan dua ikan itu, ia menengadah ke
langit, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya
kepada murid-muridnya supaya dibagi-bagikannya kepada orang banyak.
Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan
potongan-potongan roti yang sebanyak dua belas bakul.
Pada keesokan harinya ketika mereka turun dari gunung itu, datanglah orang
banyak berbondong-bondong menemui Yesus. Seorang dari orang banyak itu
berseru, katanya, "Guru, aku memohon supaya engkau melihat anakku, sebab ia
adalah satu-satunya anakku. Sewaktu-waktu ia diserang jiwa jahat, lalu
mendadak ia berteriak dan jiwa yang merasuk itu menggoncang-goncangkannya
sehingga mulutnya berbusa. Jiwa jahat itu terus saja menyiksa dia dan hampirhampir tidak mau meninggalkannya. Dan aku telah meminta kepada muridmuridmu supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat
melakukannya."
Beberapa murid yang mengenal orang tua yang sakit itu terlihat menundukkan
kepala. Mereka tidak berhasil melakukannya dan menyembunyikan hal itu dari
Yesus karena merasa malu. Yang seharusnya mereka harus memberitahu pada
Yesus agar si anak beroleh keselamatan dan tidak mengalami luka lebih lama.
Maka kata Yesus kepada mereka, "Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan
yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap
kamu? Bawa anakmu itu kemari!"
297
Dan ketika anak itu mendekati Yesus, setan itu membantingkannya ke tanah dan
menggoncang-goncangnya. Tetapi Yesus berteriak pada jiwa jahat itu dengan
keras dan menyembuhkan anak itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya.
Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah. Ketika semua orang
masih heran karena segala yang diperbuatnya itu, Yesus berkata kepada muridmurid-Nya, "Dengarlah dan camkanlah segala perkataanku ini, Anak Manusia
akan segera diserahkan ke dalam tangan manusia. Milikilah iman dan dan kuasa
Tuhan bagimu karena aku tidak akan selalu ada untukmu."
Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka,
sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani
menanyakan arti perkataan itu kepadanya.
***
Pada suatu waktu, timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang
siapakah yang terbesar di antara mereka. Pada saat itu ada sekitar dua ratusan
orang yang menjadi murid Yesus dan telah mengikutinya sepanjang perjalanan
mengajar tanpa kenal lelah. Di dalam dua ratusan murid itu juga terbagi menjadi
beberapa kelompok yang saling bertentangan karena merasa paling besar di
antara mereka.
Mereka, setiap ketua kelompok yang memiliki para pendukung mengaku sebagai
orang paling dekat dengan Yesus, murid yang paling benar dan paling memahami
bagi Yesus.
298
Simon Petrus adalah salah satu ketua dari kelompok berisi dua belas orang yang
merasa paling besar karena dia termasuk salah seorang senior atau orang yang
paling lama mengikuti Yesus. Ia selalu merasa jika dia dalah murid pertama yang
dipanggil langsung oleh Yesus dan menjadi yang terbesar di antara mereka semua
pengikut Yesus.
Di dalam kelompok-kelompok pengikut Yesus ada juga golongan orang Farisi
dan Saduki yang membentuk kelompok sendiri, mereka merasa kelompok
merekalah yang paling memahami isi hati Yesus. Karena mereka jugalah yang
paling mengenal kitab Taurat dan Tuhan. Itu membuat mereka sebagai kelompok
elit yang terpelajar dan khusus.
Beberapa pemungut cukai yang mengikuti Yesus sebagai murid memiliki
kelompoknya dan bergabung dengan beberapa orang pedagang yang berkumpul
sesamanya. Mereka adalah kelompok yang memiliki harta dan benda untuk
melayani Yesus dan merasa paling berjasa atas apa yang mereka sumbangkan
pada Yesus dan kelompok Yesus. Mereka merasa posisi merekalah yang paling
tinggi.
Sedangkan beberapa wanita yang mengikut dalam perjalanan Yesus berkumpul di
antara sesama mereka wanita dan melayani Yesus. Mereka merasa kelompok
merekalah yang paling dekat dengan Yesus.
Di luar kelompok itu, ada murid-murid Yesus yang tidak memiliki nama baik,
jabatan atau harta sehingga mereka melayani semua kelompok dengan tenaga
299
mereka. Mereka adalah para hamba, budak mau pun orang papa yang mengikut
Yesus.
Mereka adalah orang-orang yang melayani makan para murid Yesus, membagibagikan makanan pada semua orang yang mengikut Yesus dan makan terakhir
kali pada saat semua orang sudah makan. Mereka adalah orang-orang yang tidur
paling akhir setelah semua orang-orang telah tidur tanpa kekurangan apa pun dan
mereka juga adalah orang orang yang bangun paling awal untuk menyediakan
kebutuhan para murid-murid Yesus dan menyuci pakaian maupun memasak.
Mereka selalu ikut mendengarkan saat Yesus mengajar, mereka tidak tampak dan
tidak dipandang sebelah mata oleh para pengikut Yesus lainnya.
Mereka bahkan tidak dianggap sebagai murid-murid Yesus oleh kelompokkelompok yang merasa elit itu.
Tetapi Yesus mengetahui pikiran para murid-muridnya yang sering bertengkar
antar mereka karena merasa lebih baik. Karena itu, pada suatu hari sebagaimana
ia biasa mengajar di depan orang banyak dan para murid-muridnya, ia mengambil
seorang anak kecil dan menempatkannya di sampingnya dan berkata kepada
mereka, "Barangsiapa menyambut anak ini dalam namaku, ia menyambut aku
dan barangsiapa menyambut aku, ia menyambut Dia, yang mengutus aku. Karena
yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar."
Yohanes pengikut kelompok Petrus berkata, "Guru, kami lihat seorang mengusir
jiwa-jiwa jahat demi namamu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan
pengikut kita."
300
***
Adalah pada suatu ketika, seorang bernama Filemon dari Kapernaum, seorang
yatim piatu yang bekerja sebagai pengangkat air dan pengrajin tanah liat. Saat
Yesus tiba di Kapernaum, tergeraklah hati pria muda itu saat mendengar
perkataan Yesus dan ia meninggalkan segala pekerjaan dan tempatnya untuk
mengikuti Yesus ke mana pun ia pergi.
Karena Filemon tidak memiliki harta dan hanya memiliki sepasang baju yang
kumal murahan, ia mengandalkan kekuatannya untuk melayani semua orang
yang mengikuti Yesus. Ia membagi makanan, memasak, menambal tenda mau
pun baju, membuat tembikar penampungan, mengumpulkan dan mengangkut
bahan makanan yang disumbangkan oleh para pengikut Yesus maupun mereka
yang dengan sukarela memberikannya sebagai rasa terima kasih atas
penyembuhan yang dilakukan Yesus.
Kebahagiaannya adalah saat mendengarkan pengajaran Yesus. Dia sendiri merasa
segan dan takut sehingga belum pernah sekalipun berbicara langsung pada Yesus
seperti murid-murid lainnya. Ia hanya mendengarkan pengajaran Yesus,
memasukkannya di dalam hati dan melakukan apa yang diajarkan setiap hari.
Pada suatu hari, saat dia sedang berada di kota untuk membeli bahan makanan,
adalah seorang pria tua yang kerasukan jiwa jahat dan duduk di pasar setiap hari.
Tidak ada seorang pun yang menyukai pria tua itu karena pada waktu mudanya,
pria tua itu selalu mencaci maki para rabbi, ia tidak pernah mau beribadah dan
juga tidak percaya pada Tuhan.
301
Pada saat pria tua itu kerasukan jiwa jahat, orang-orang berkata jika sudah
sepantasnya itu terjadi. Filemon sudah beberapa kali melihat pria tua itu yang
sering berteriak-teriak tanpa sebab. Pada suatu hari, mata Filemon beradu
pandang dengan pria tua itu.
Sepercik cahaya dalam mata pria tua itu membuat hati Filemon tergerak akan
rasa kasihan. Ia pun mendekati pria tua itu. Ia duduk di samping pria tua itu dan
mengajaknya untuk berdoa bersama.
Beginilah doanya.
―Ya Tuhan Pencipta Segalanya, kami hanyalah manusia lemah yang tidak
memiliki kuasa apa pun. Dengan ini kami memohon pertolongan dari-Mu,
berkah-Mu dan juga perlindungan-Mu. Kami tahu Engkau Maha Baik dan
Pengasih yang selalu mengasihi kami. Biarlah kuasa-Mu terjadi pada kami dan
biarlah segala yang tidak sesuai dengan kehendak-Mu tidak terjadi pada kami.
Hanya kuasa dan kasih-Mu lah yang jadi atas kami.‖ Filemon membuka matanya
dan menatap pria tua itu. ―Atas nama Tuhan dari Yesus, keluarlah jiwa-jiwa yang
tersesat.‖
Setelah itu jiwa jahat pun keluar dan pria tua itu mendadak menangis di hadapan
Filemon. Pria tua itu merasa hatinya lega dan semua beban gelap dalam dirinya
hilang. Hatinya merasa damai hingga ia menangis hingga meraung-raung.
Sesungguhnya saat ia dalam kuasa jiwa-jiwa jahat, ia masih sadar dan selalu
menantikan pertolongan dari-Nya.
302
Kejadian itu disaksikan oleh semua orang. Maka berkata-katalah beberapa orang
dengan sesamanya. ―Dia mengusir jiwa jahat yang merasuki pria tua itu dengan
nama Yesus.‖
Yohanes serta beberapa orang murid Yesus dalam kelompok Petrus melihat
kejadian itu dan datanglah Petrus mendekatinya.
―Siapakah kamu yang berani menggunakan nama Yesus?‖ kata Petrus
menatapnya dan tidak mengenalinya. ―Hanya para pengikut Yesuslah yang boleh
menggunakan namanya. Kamu tidak boleh menggunakannya.‖
Filemon yang memang selalu duduk di bagian paling belakang setiap kali Yesus
mengajar dan juga tidak pernah bergabung dengan kelompok-kelompok elit yang
selalu berkumpul di dekat Yesus di bagian paling depan, berkata. ―Aku Filemon
salah seorang pengikut Yesus.‖
―Aku tidak pernah melihatmu,‖ kata Petrus.
―Aku bertugas membagi makanan, mencuci pakaian dan melakukan hal lainnya.‖
Petrus menatap Yohanees dan lainnya. ―Kalau begitu kamu hanya seorang
pekerja. Kuperingatkan kepadamu, murid dan pengikut Yesus hanya 12 orang.
Yang lainnya adalah bukan pengikut Yesus, mereka hanya mengikuti ke mana
Yesus pergi dan tidak memiliki kuasa seperti kami yang resmi.‖
Filemon merasa tidak setuju dengan hal itu dan berkata, ―Bagaimana dengan
kelompok orang Farisi dan Saduki yang sering bertukar pikiran dengan Yesus
dan sudah mengikutinya sejak lama? Bagaimana dengan para pedagang yang
303
sudah menyumbangkan hartanya dan mengikut pada Yesus? Dan bagaimana
dengan ribuan orang yang sering mendengarkan ajaran Yesus secara langsung?
Apakah mereka semua bukan murid-murid Yesus‖
Petrus merasa berang dan berkata, ―Kuperingatkan sekali lagi, dari sekian banyak
yang mengikuti Yesus bahkan mencapai lima ribuan, hanya kami 12 orang yang
benar-benar muridnya. Selain dari itu hanyalah orang-orang yang ikut pada guru,
tapi bukan muridnya secara resmi. Mereka bisa mengaku sebagai murid Yesus
tapi kami tidak akan pernah menerima mereka semua. Jangan lagi kamu
menggunakan nama Yesus karena kamu tidak berhak.‖
Terlukalah hati Filemon dan ia merasa sedih. Akan tetapi ia merasa lebih sedih
lagi saat Petrus berkata, ―Kamu penipu yang menggunakan nama Yesus, kamu
harus dihukum.‖ Selasai berkata seperti itu, Filemon langsung dipukuli oleh
beberapa orang di sana dan diusir keluar dari kota dengan tubuh yang babak belur
dan mulutnya berdarah.
Malam itu Filemon merasa sakit hati dan tidak dapat menerima jika dia
diperlakukan sedemikan rupa. Ia mengumpulkan barang-barangnya dari dalam
tenda berbagi sesama budak dan berencana untuk pergi karena merasa tempat ini
tidak seperti yang diduganya. Beberapa kelompok merasa merekalah yang
memiliki Yesus dan menjadi kelompok elitnya.
Saat ia keluar dari tenda dan melihat kerumunan orang di mana Yesus sedang
mengajar, ia mendekati tempat itu dengan niat mendengarkan untuk terakhir
kalinya. Di sanalah ia mendengarkan Yesus berkata, "Karena yang terkecil di
304
antara kamu sekalian, dialah yang terbesar." Tepat saat itu, mata Yesus
menatapnya dengan lembut yang berada di sudut kejauhan di antara ribuan orang
dan air mata Filemon mengalir.
Yohanes dari kelompok Petrus segera memprotes, "Guru, kami lihat seorang
mengusir setan demi namamu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan
pengikut kita."
Yesus berkata kepadanya, "Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan
kamu, ia ada di pihak kamu. Jangan juga dirimu menggunakan namaku untuk
dijadikan alasan berbuat jahat pada sesamamu. Karena dalam hal ini kamulah
yang bersalah."
Yohanes menunduk dan Filemon menatap pada Yesus yang ternyata pada saat itu
sedang menatap ke arahnya. Yesus mengetahui apa yang terjadi. Filemon
menangis dan membatalkan kepergiannya.
Yesus melihat sekeliling dan berkata, ― Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya di
antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat
Kerajaan Allah."
***
Tak lama kemudian, Yesus mengarahkan pandangannya untuk pergi ke
Yerusalem, dan ia mengirim beberapa utusan mendahuluinya. Mereka itu pergi,
lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu
baginya.
305
Tetapi Filemon yang merupakan utusan ke desa itu kembali dan melaporkan pada
Yesus jika orang-orang Samaria itu tidak mau menerima kedatangannya, karena
perjalanannya menuju Yerusalem. Saat itu orang-orang Samaria bermusuhan
dengan orang Yahudi bahkan ada perkataan jika orang Yahudi menemukan orang
Samaria yang terluka di jalan. Mereka pantas untuk dibiarkan mati di jalan tanpa
dibantu dan begitu juga sebaliknya.
Orang Yahudi dan Samaria adalah sama berasal dari keturunan bangsa Ibrani
dengan Abraham sebagai bapak asal mereka dan Raja Salomo sebagai raja
terakhir mereka bersama. Setelah kematian Salomo, kerajaan bangsa Ibrani pecah
menjadi Kerajaan Yehuda yang merupakan cikal bakal sebutan orang Yahudi dan
Kerajaan Israel yang menjadi cikal bakal orang Samaria. Kedua kerajaan ini
sering bertempur di antara mereka dan saling membenci untuk waktu yang sangat
lama.
Ketika dua muridnya, yaitu Yakobus dan Yohanes, ikut mendengar hal itu,
mereka berkata, "Guru, apakah engkau mau, supaya kami menyuruh api turun
dari langit untuk membinasakan mereka?"
Filemon menatap kedua orang itu dan merasakan kesombongan mereka sungguh
teramat besar.
Akan tetapi Yesus segera berpaling dan menegur mereka dengan keras. ―Apakah
kalian sungguh muridku? Mengapa keluar kata-kata jahat dari mulut kalian?
Tentunya hati kalian juga jahat.‖
306
Yohanes dan Yakobus saling berpandangan dengan menyesal dan berkata, ―Kami
muridmu guru, yang terbaik dan paling setia.‖
Yesus menatap mereka dengan lembut dan berkata, ―Mereka yang melakukan apa
yang kuajarkanlah muridku dan saudaraku. Kasihilah Tuhan Allahmu dan
kasihilah sesamamu dan juga musuh-musuhmu. Jika kalian tidak dapat
melakukannya, kalian bukanlah muridku.‖
Lalu mereka pergi ke desa yang lain.
***
Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat yang merupakan murid Yesus,
katanya, "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Jawab Yesus kepadanya, "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang
kaubaca di sana?"
Jawab orang itu, "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan
segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal
budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Kata Yesus kepadanya, "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau
akan hidup."
"Dan siapakah sesamaku manusia?" tanya ahli Taurat itu.
Jawab Yesus, "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke
tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi
307
yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah
mati.
Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia
melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat
itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.
Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan
ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.
Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya
dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai
tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.
Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu,
katanya, Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan
menggantinya, waktu aku kembali.
Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia
dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"
Jawab orang itu, "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya."
Kata Yesus kepadanya, "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"
***
308
Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika ia berhenti
berdoa, berkatalah seorang dari murid-muridnya kepadanya, "Guru, ajarlah kami
berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya."
Jawab Yesus kepada mereka, "Apabila kamu berdoa, katakanlah, Bapa,
dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari
makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab
kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah
membawa kami ke dalam pencobaan."
Lalu Yesusu bercerita kepada mereka, "Jika seorang di antara kamu pada tengah
malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya, Saudara,
pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada
dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk
dihidangkan kepadanya. Tidak mungkin ia yang di dalam rumah itu akan
menjawab, Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anakanakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepada saudara.
Aku berkata kepadamu, Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya
kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang
tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang
diperlukannya.
Oleh karena itu Aku berkata kepadamu, Mintalah, maka akan diberikan
kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan
dibukakan bagimu.
309
Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari,
mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.
Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan daripadanya, akan
memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan
memberikan kepadanya kalajengking?
Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anakanakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada
mereka yang meminta kepada-Nya."
Ketika Yesus selesai mengajar, seorang Farisi yang merupakan murid Yesus
mengundangnya untuk makan di rumahnya. Maka masuklah ia ke rumah itu, lalu
duduk makan.
Orang Farisi itu bertanya, ―Guru, aku adalah seorang yang beriman dan di
hadapan semua orang, aku tidak bercela. Apakah kekuranganku?‖
Yesus berkata kepadanya, "Bukankah Allah yang menjadikan bagian luar, Dia
juga yang menjadikan bagian dalam? Celakalah kamu yang membayar
persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu
mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain
jangan diabaikan. Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan
sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu.
Celakalah kamu jika kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan
suka menerima penghormatan di pasar, sebab kamu sama seperti kubur yang
310
tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya
dan menginjak-injakmu."
Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu berkata kepada Yesus, "Guru, dengan
berkata demikian, apakah yang akan mencelakai kami para ahli Taurat?"
Yesus menjawab, "Celakalah hai ahli-ahli Taurat jika kamu meletakkan bebanbeban berupa peraturan-peraturan yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu
sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.
Celakalah hai ahli-ahli Taurat jika kamu telah mengambil kunci pengetahuan;
kamu sendiri tidak masuk ke dalam dan orang yang berusaha untuk masuk ke
dalam kamu halang-halangi."
Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka
berdesak-desakan. Lalu seorang murid dari orang banyak itu berkata kepada
Yesus, "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan
aku."
Tetapi Yesus berkata kepadanya, "Saudara, siapakah yang telah mengangkat aku
menjadi hakim atau pengantara atas kamu?"
Katanya lagi kepada mereka, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala
ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya
tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu."
Kemudian Yesus mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, katanya, "Ada
seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya,
311
Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku
dapat menyimpan hasil tanahku.
Lalu katanya, Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbunglumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan
di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.
Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku, Jiwaku, ada padamu banyak barang,
tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah
dan bersenang-senanglah!
Tetapi firman Allah kepadanya, Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga
jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk
siapakah itu nanti?
Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya
sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah."
Yesus berkata kepada murid-muridnya dan semua orang di sana, "Karena itu aku
berkata kepadamu, Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu
makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu
pakai. Sebab hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih
penting daripada pakaian.
Perhatikanlah burung-burung gagak yang tidak menabur dan tidak menuai dan
tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi makan oleh
Allah. Betapa jauhnya kamu melebihi burung-burung itu!
312
Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta
pada jalan hidupnya? Jadi, jikalau kamu tidak sanggup membuat barang yang
paling kecil, mengapa kamu kuatir akan hal-hal lain?
Perhatikanlah bunga bakung, yang tidak memintal dan tidak menenun, namun
aku berkata kepadamu, Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian
seindah salah satu dari bunga itu.
Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api
demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya!
Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang
akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari bangsa-bangsa
di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu
memang memerlukan semuanya itu dan Dia akan menyediakannya untukmu.
Tetapi carilah dahulu Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga
kepadamu.
Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan
memberikan kamu Kerajaan itu. Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat
menjadi tua, suatu harta di surga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati
pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di
situ juga hatimu berada."
***
313
Pada suatu kali Yesus sedang mengajar dalam salah satu rumah ibadat pada hari
Sabat.
Di situ ada seorang perempuan yang telah delapan belas tahun dirasuk jiwa jahat
sehingga ia sakit sampai bungkuk punggungnya dan tidak dapat berdiri lagi
dengan tegak. Ketika Yesus melihat perempuan itu, ia memanggilnya dan berkata
kepadanya, "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh."
Lalu ia meletakkan tangannya atas perempuan itu, dan seketika itu juga berdirilah
perempuan itu, dan memuliakan Allah.
Tetapi kepala rumah ibadat gusar karena Yesus menyembuhkan orang pada hari
Sabat, lalu ia berkata kepada orang banyak, "Ada enam hari untuk bekerja.
Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan dan jangan pada
hari Sabat."
Tetapi Yesus menjawab dia, katanya, "Bukankah setiap orang di antaramu
melepaskan lembunya atau keledainya pada hari Sabat dari kandangnya dan
membawanya ke tempat minuman? Bukankah perempuan ini, yang sudah
delapan belas tahun diikat oleh jiwa jahat, harus dilepaskan dari ikatannya itu,
karena ia adalah keturunan Abraham?"
Dan waktu ia berkata demikian, semua lawannya merasa malu dan semua orang
banyak bersukacita karena segala perkara mulia, yang telah dilakukannya.
Pada saat itu adalah seorang murid dari kelompok Farisi bertanya, ―Guru, aku
mendengarkan ajaranmu tentang Kerajaan Allah dan apakah itu?‖
314
Maka kata Yesus, "Seumpama apakah hal Kerajaan Allah dan dengan apakah aku
akan mengumpamakannya?
Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu
tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabangcabangnya.
Hal-hal yang berhubungan dengan Allah, jika kamu mengambilnya dan
menanamnya di dalam hatimu, hal-hal itu akan tumbuh dan berbuah dari
perbuatan-perbuatanmu dan menghasilkan kebahagiaan bagi kehidupanmu."
Dan ia berkata lagi, "Dengan apakah aku akan mengumpamakan Kerajaan Allah?
Ia seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam
tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya. Kerajaan Allah akan hadir di
dalam kehidupan kalian tanpa terlihat dan membuat kehidupan kalian yang keras
menjadi lembut."
Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus
menjawab, kata-Nya, "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, juga
orang tidak dapat mengatakan, Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab
sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."
Pada hari itu juga Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin dari orangorang Farisi untuk makan di situ atas undangannya. Semua yang hadir
mengamat-amati dia dengan saksama.
315
Tiba-tiba datanglah seorang yang sakit busung air berdiri di hadapannya. Lalu
Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, katanya,
"Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?"
Mereka itu diam semuanya. Lalu ia memegang tangan orang sakit itu dan
menyembuhkannya dan menyuruhnya pergi. Kemudian ia berkata kepada
mereka, "Siapakah di antara kamu yang tidak segera menarik ke luar anaknya
atau lembunya kalau terperosok ke dalam sebuah sumur, meskipun pada hari
Sabat?"
Mereka tidak sanggup membantahnya.
Setelah selesai makan, Yesus mulai mengajar di rumah pemimpin orang Farisi itu
dan dia melihat, bahwa murid-muridnya termasuk Simon Petrus, Yohanes,
Yakobus dan kelompoknya yang berjumlah 12 orang berusaha menduduki
tempat-tempat di depan di dekatnya dan juga tempat kehormatan. Yesus
mengatakan perumpamaan ini kepada mereka,
"Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di
tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang
lebih terhormat daripadamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia,
jangan datang dan berkata kepadamu, Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu
engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.
Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah.
Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu, Sahabat, silakan duduk
316
di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata
semua tamu yang lain.
Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa
merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
Dan Yesus berkata juga kepada pemimpin orang Farisi yang mengundang dia,
"Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah
engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum
keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan
membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau
mendapat balasnya.
Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin,
orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Dan engkau akan
berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya
kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasan berupa jamuan dari Allah."
Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus,
"Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah."
Tetapi Yesus berkata kepadanya mengenai perjamuan dari Allah, "Ada seorang
mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang
perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para
undangan, Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.
Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf.
317
Yang pertama berkata kepadanya, Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi
melihatnya; aku minta dimaafkan.
Yang lain berkata, Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus
pergi mencobanya; aku minta dimaafkan.
Yang lain lagi berkata, Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang.
Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya.
Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya, Pergilah dengan
segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin
dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.
Kemudian hamba itu melaporkan, Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah
dilaksanakan, tetapi sekalipun demikian masih ada tempat.
Lalu kata tuan itu kepada hambanya, Pergilah ke semua jalan dan lintasan dan
paksalah orang-orang, yang ada di situ, masuk, karena rumahku harus penuh.
Demikianlah Allah akan menjamu semuanya ke dalam Kerajaan-Nya. Mereka
yang tidak menolak dan mereka yang bersedia tanpa melihat tinggi, rendah diri
mereka, kesalahan atau kejahatan yang pernah mereka lakukan dan sebagainya."
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus
untuk mendengarkan dia tidak peduli di mana pun Yesus diundang.
Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, "Ia
menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
318
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, "Siapakah di antara
kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di
antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang
gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan
gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetanggatetangganya serta berkata kepada mereka, Bersukacitalah bersama-sama dengan
aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.
Aku berkata kepadamu, Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu
orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh
sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."
"Atau perempuan manakah yang mempunyai sepuluh dirham, dan jika ia
kehilangan satu di antaranya, tidak menyalakan pelita dan menyapu rumah serta
mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya?
Dan kalau ia telah menemukannya, ia memanggil sahabat-sahabat dan tetanggatetangganya serta berkata, Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab
dirhamku yang hilang itu telah kutemukan.
Aku berkata kepadamu, Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat
Allah karena satu orang berdosa yang bertobat."
Yesus berkata lagi, "Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang
bungsu kepada ayahnya, Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang
319
menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara
mereka.
Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi
ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup
berfoya-foya.
Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri
itu dan iapun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di
negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga ternaknya.
Lalu, karena kelaparan, ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi
makanan ternak itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikan ampas ternak itu
kepadanya.
Lalu ia menyadari keadaannya, katanya, Betapa banyaknya orang upahan bapaku
yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan
bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya,
Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi
disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.
Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya dengan tekad menjadi orang
upahan bapanya. Karena sungguh ia tidak mengharapkan lebih lagi. Setidaknya
saat ia berada dengan bapanya, orang upahan mereka tidak pernah kekurangan
makanan dan pakaian. Sebuah keadaan yang jauh lebih baik dari dirinya saat ini.
Ketika ia masih jauh dalam perjalanan menuju ke rumah bapanya, ayahnya telah
320
melihatnya. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium
dia.
Kata anak itu kepadanya, Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap
Bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak Bapa. Jadikanlah aku budakmu,
salah seorang orang upahanmu yang rendah.
Tetapi ayah itu melihat keadaan si anak, kurus, kelaparan, pakaiannya kumal dan
berlubang, kakinya telah kotor dan terluka tanpa sepatu. Wajah pucat dan derita
terlihat diwajahnya. Berkatalah ayah itu kepada hamba-hambanya, Lekaslah
bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah
cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun
itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini
telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.
Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang,
ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian
tari-tarian.
Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti
semuanya itu.
Jawab hamba itu, Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak
lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat.
Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan
berbicara dengan dia.
321
Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya, Telah bertahun-tahun aku melayani bapa
dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah
bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabatsahabatku.
Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa
bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu
tambun itu untuk dia.
Kata ayahnya kepadanya, Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan
segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira
karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat
kembali."
Selesai bercerita tentang itu, seorang Farisi berkata, ―Bukankah itu tidak adil bagi
anak sulung yang bekerja keras untuk bapanya dan ternyata sang adik yang jahat
itu mendapatkan lebih hanya karena pertobatan? Apa gunanya si anak sulung
berusaha keras menahan diri sejak awal dan setia pada bapanya?‖
―Jika seseorang yang merasa benar di hadapan Allah menjadi marah dan cemburu
saat melihat orang yang berdosa kembali kepada Allah dan mendapatkan
kebahagiaan, bahkan hingga menghalang-halanginya,‖ kata Yesus. ―Bukankah ia
menjadi sama dengan jiwa-jiwa jahat yang menyesatkan manusia dan
menghalangi mereka dari Tuhan. Atas dasar apakah orang-orang itu masih
mengatakan jika diri mereka benar jika mereka tidak mengasihi sesama mereka?‖
322
―Atas dasar keadilan,‖ sahut seorang lainnya.
―Allah itu selalu adil, tapi di atas segala-galanya, Dia adalah Maha Pengasih.
Keadilannya akan selalu adil di dalam Kasih-Nya, bukan adil di dalam apa yang
dipikirkan oleh manusia.
Keadilan yang manusia pikirkan adalah melakukan satu kebaikan dan
mendapatkan satu pahala. Melakukan satu kejahatan dan mendapatkan satu
hukuman. Tapi bagi mereka yang ada di dalam Tuhan, Allah akan membalas satu
kebaikan yang dilakukan manusia dengan jumlah yang lebih besar. Satu kebaikan
mungkin akan dikembalikan dengan puluhan pahala. Dan sepuluh kejahatan yang
di dalam pertobatan, mungkin hanya akan mendapatkan satu hukuman atau
kurang.
Oleh karenanya, tetaplah di dalam Tuhan dan Kasih-Nya. Kerjakan apa yang
terbaik menurut-Nya, lakukan kasih dan kebaikan. Jangan kuatirkan dan
menghitung setiap pahala dari kebaikan yang kamu lakukan. Serahkan dirimu
pada-Nya dan milikilah iman bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik
bagimu.
Jangan biarkan setiap keserakahan dan kecemburuan merusak hatimu. Karena
manusia selalu berpikir jika semua orang jahat yang bertobat mendapatkan pahala
dan kebahagiaan, apalagi yang akan tersisa bagi orang baik yang selama ini
melakukan kebaikan.
323
Sesungguhnya tidak ada yang dapat menilai kekuasaan dan Kasih Tuhan yang
tiada batas. Jangan biarkan kecemburuan, iri, dan keserakahan membutakan
matamu. Ada begitu banyak pahala dan kasih yang didapat dari Allah, jangan
kuatir engkau tidak akan mendapatkan bagianmu.
Janganlah menghitung pahalamu dan hukuman bagi sesamamu. Kasihilah
sesamamu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Jika engkau dapat berbahagia
atas kebahagiaan dan kemenangan musuhmu seperti kamu berbahagia atas
kemenanganmu dan kebahagiaanmu sendiri, maka kamu akan beroleh sukacita
selalu.
Jika kamu dapat merasakan sakitnya hukuman pada musuh-musuhmu seperti
kamu merasakan sakitnya hukuman itu atas dirimu, maka berbahagialah saat
musuh-musuhmu beroleh kebebasan atas hukuman itu dan mendapatkan
kebahagiaan. Janganlah menghalangi kebahagiaan untuknya.‖
***
―Guru,‖ tanya seorang murid Yesus dari kelompok pedagangan. ―Apakah benar
apa yang dikatakan murid-murid lainnya, jika mengikutimu harus melepaskan
semua harta dan menjadi miskin?‖
Yesus menatapnya dan menjawab, ―Tidak ada larangan untuk memiliki harta
lebih jika itu akan dapat membantu yang lainnya. Tuhan melimpahkan padamu
kekayaan dan di dalamnya terkandung hak-hak orang yang membutuhkan. Tuhan
memberikanmu kelebihan agar engkau dapat membantu mereka dan melalui
324
perantara dirimu Kasih Tuhan terjadi atas mereka. Maka berikanlah apa yang
menjadi hak mereka.
Sedangkan melepaskan kekayaan adalah maksud di sini engkau harus
melepaskan kekayaan itu dari hatimu meski engkau memiliki banyak harta
bersamamu. Hatimu harus selalu mengarah pada Tuhan Penciptamu. Tidak peduli
berapa banyak harta yang kamu miliki, pastikan hal itu tidak akan mengoyahkan
iman dan hatimu. Dengan demikian kamu telah melepaskannya. Penyesatan
terjadi padamu jika kamu mencintai hartamu lebih daripada engkau mengasihi
Tuhan Allahmu dan sesamamu manusia.‖
―Dengan demikian, guru,‖ kata murid itu.
―Murid-murid lain sudah
menyesatkanku dan para pedagang lainnya. Mereka memaksaku dan rekan-rekan
lain yang lemah iman untuk menjual semua harta kami dan membiarkan keluarga
kami kelaparan.‖
Yesus berkata kepada murid-muridnya, "Tidak mungkin tidak akan ada
penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Adalah lebih baik
baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan
ke dalam laut, daripada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.
Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia, dan jikalau ia
menyesal, ampunilah dia.
Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia
kembali kepadamu dan berkata, Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia."
325
Lalu kata rasul-rasul itu kepada Yesus, "Tambahkanlah iman kami!"
Jawab Yesus, "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja,
kamu dapat berkata kepada pohon ara ini, Terbantunlah engkau dan tertanamlah
di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."
Seorang murid menambahkan, ―Guru apa yang harus kami lakukan untuk
menguatkan iman yang lemahlah ini?‖
―Berdoalah dan mintalah dari Dia Yang Maha Memberi,‖ kata Yesus dan
mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa
mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Katanya, "Dalam sebuah
kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati
seorangpun.
Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan
berkata, Belalah hakku terhadap lawanku.
Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam
hatinya, Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati
seorangpun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku
membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang mengganggu aku dan
akhirnya menyerang aku."
Kata Yesus, "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah
Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru
kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?
326
Aku berkata kepadamu, Ia akan segera membenarkan mereka."
Yesus melihat ke sekeliling dan mendapati jika ada murid-muridnya yang
menerima dengan sepenuh hati dan ada juga murid-murid yang mengangkat
kepalanya karena merasa imannya telah tinggi dan benar. Mereka memandang
rendah pada murid-murid yang lemah iman dan penuh tanya itu.
Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang
rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini,
"Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan
yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya
begini, Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama
seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan
bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku
memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah
ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata, Ya Allah, kasihanilah aku
orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu, Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang
dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia
akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."
327
Maka datanglah orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus,
supaya ia menjamah mereka. Melihat itu murid-muridnya, Simon Petrus dan
kelompoknya memarahi orang-orang itu.
Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata, "Biarkanlah anak-anak itu datang
kepadaku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang
yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.
Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan
Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya."
Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya, "Guru yang baik, apa
yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
Jawab Yesus, "Mengapa kaukatakan aku baik? Tak seorangpun yang baik selain
daripada Allah saja. Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah, Jangan
berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta,
hormatilah ayahmu dan ibumu."
Kata orang itu, "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
Mendengar itu Yesus berkata kepadanya, "Masih tinggal satu hal lagi yang harus
kaulakukan, juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orangorang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke
mari dan ikutlah aku."
Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat
kaya. Dan Yesus sudah mengetahui jika pria ini meski menaati peraturan dan
328
melakukan semua untuk dirinya, ia kekurangan kasih. Ia tidak pernah
memberikan apa pun pada sesamanya dan hatinya juga sangat berat pada
hartanya lebih daripada nyawanya sendiri.
Lalu Yesus memandang dia dan berkata, "Alangkah sukarnya orang yang hatinya
terikat pada uang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab lebih mudah
seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang yang hatinya
mengarah pada harta kekayaan untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah."
***
Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Yesus menyusur perbatasan Samaria dan
Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui
Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh agar tidak menodai Yesus dan berteriak,
"Yesus, Guru, kasihanilah kami!"
Lalu ia memandang mereka dan berkata, "Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada
imam-imam." Dan sementara mereka di tengah jalan menemui para imam,
mereka menjadi tahir.
Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh. Ia kembali sambil
memuliakan Allah dengan suara nyaring, air matanya bercucuran lalu tersungkur
di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepadanya. Orang itu adalah seorang
Samaria.
329
Lalu Yesus berkata, "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi
tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang
kembali untuk memuliakan Allah selain daripada orang asing ini?"
Lalu ia berkata kepada orang itu, "Berdirilah dan pergilah, imanmu telah
menyelamatkan engkau."
Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir
jalan dan mengemis.
Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, "Apa itu?"
Kata orang kepadanya, "Yesus orang Nazaret lewat."
Lalu ia berseru, "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!"
Maka mereka, yang berjalan di depan dan murid-murid Yesus, menegur dia
supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, "Anak Daud, kasihanilah aku!"
Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepadanya. Dan ketika ia
telah berada di dekatnya, Yesus bertanya kepadanya, "Apa yang kaukehendaki
supaya aku perbuat bagimu?"
Jawab orang itu, "Guru, mintalah pada Tuhan supaya kuasa-Nya turun dan aku
dapat melihat."
Lalu kata Yesus kepadanya, "Allah Maha Pengasih, melihatlah engkau, imanmu
telah menyelamatkan engkau!"
330
Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan
Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.
Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.
Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang
yang kaya. Hatinya tergerak saat mendengar kedatangan Yesus dan ia berusaha
untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang
banyak, sebab badannya pendek.
Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk
melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
Ketika Yesus sampai ke tempat itu, ia melihat ke atas dan berkata, "Zakheus,
segeralah turun, sebab hari ini aku harus menumpang di rumahmu."
Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.
Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya, "Ia
menumpang di rumah orang berdosa."
Yesus mengajar di rumah Zakheus dan pria itu mendengarkan dengan sepenuh
hati. Hingga akhir pengajaran, Zakheus berdiri dan berkata kepada Yesus dengan
penuh air mata. Ia menyadari kesalahan yang sudah diperbuat olehnya dan
menyesalinya, "Guru, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin
dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat
kali lipat." Ia berlutut dan berkata, ―Terima kasih sudah bersedia menegur dan
menyadarkanku.‖
331
Kata Yesus kepadanya, "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini,
karena orang inipun anak Abraham. Sebab aku datang untuk mencari dan
menyelamatkan yang hilang."
Untuk mereka yang mendengarkan di situ, Yesus melanjutkan perkataan-Nya
dengan suatu perumpamaan, sebab ia sudah dekat Yerusalem dan mereka
menyangka, bahwa Kerajaan Allah akan segera kelihatan.
Maka ia berkata, "Ada seorang bangsawan berangkat ke sebuah negeri yang jauh
untuk dinobatkan menjadi raja di situ dan setelah itu baru kembali.
Ia memanggil sepuluh orang hambanya dan memberikan sepuluh mina kepada
mereka, katanya, Pakailah ini untuk berdagang sampai aku datang kembali.
Akan tetapi orang-orang sebangsanya membenci dia, lalu mengirimkan utusan
menyusul dia untuk mengatakan, ‗Kami tidak mau orang ini menjadi raja atas
kami.‘
Dan terjadilah. Ketika ia kembali, ia menyuruh memanggil hamba-hambanya,
yang telah diberinya uang itu, untuk mengetahui berapa hasil dagang mereka
masing-masing.
Orang yang pertama datang dan berkata, ―Tuan, mina tuan yang satu itu telah
menghasilkan sepuluh mina.‖
Katanya kepada orang itu, ―Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik;
engkau telah setia dalam perkara kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas
sepuluh kota.‖
332
Datanglah yang kedua dan berkata, ―Tuan, mina tuan telah menghasilkan lima
mina.‖
Katanya kepada orang itu, ―Dan engkau, kuasailah lima kota.‖
Dan hamba yang ketiga datang dan berkata, ―Tuan, inilah mina tuan, aku telah
menyimpannya dalam sapu tangan.‖
―Sebab aku takut akan tuan, karena tuan adalah manusia yang keras; tuan
mengambil apa yang tidak pernah tuan taruh dan tuan menuai apa yang tidak tuan
tabur.‖
Katanya kepada orang itu, ―Hai hamba yang jahat, aku akan menghakimi engkau
menurut perkataanmu sendiri. Engkau sudah tahu bahwa aku adalah orang yang
keras, yang mengambil apa yang tidak pernah aku taruh dan menuai apa yang
tidak aku tabur.
Jika demikian, mengapa uangku itu tidak kauberikan kepada orang yang
menjalankan uang? Maka sekembaliku aku dapat mengambilnya serta dengan
bunganya.‖
Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ, ―Ambillah mina yang satu
itu daripadanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu.‖
Kata mereka kepadanya, ―Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina.‖
333
Jawabnya, ―Aku berkata kepadamu, Setiap orang yang mempunyai, kepadanya
akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, daripadanya akan diambil, juga
apa yang ada padanya.‖‖
―Guru,‖ kata seorang ahli Taurat di sana. ―Apakah engkau menyuruh kami untuk
berdagang dan mengandakan uang?‖
Yesus menatap pria itu dan berkata, ―Itu adalah sebuah perumpamaan. Namun,
dengarkanlah. Setiap dari kalian di sini mendapatkan pengetahuan tentang
Kerajaan Allah, setiap dari kalian juga diberikan oleh Tuhan hati dan kemampuan
untuk mengasihi. Jika kalian mendapatkan kasih dari Allah dan sesama, maka
bagikanlah hal baik itu kepada sepuluh orang lainnya. Maka kalian telah
melakukan perkara yang baik.
Tapi, barang siapa yang menerima kasih dari Allah dan kasih dari sesama untuk
kemudian menyimpannya untuk dirinya sendiri, dia akan segera kehilangan kasih
itu. Dan kasih juga akan diambil darinya. Bagi siapa yang membagikan kasih
pada yang lainnya, maka akan semakin banyak kasih yang akan dia dapatkan.
Begitu juga pengetahuan, semakin banyak yang engkau bagikan, akan semakin
banyak pengetahuan yang dibukakan padamu. Simpanlah pengetahuan itu untuk
dirimu sendiri dan pengetahuan itu akan segera diambil darimu.‖
Dan setelah mengatakan semuanya itu Yesus mendahului mereka dan
meneruskan perjalanannya ke Yerusalem.
334
Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan tiap-tiap hari ia mengajar di dalam Bait
Allah. Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat serta orang-orang terkemuka dari
bangsa Israel berusaha untuk membinasakan dia, tetapi mereka tidak tahu,
bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepadanya dan
ingin mendengarkannya mengajar.
Pada suatu hari ketika Yesus mengajar orang banyak di Bait Allah dan
memberitakan tentang Allah, datanglah imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat
serta tua-tua ke situ, dan mereka berkata kepada Yesus, "Katakanlah kepada kami
dengan kuasa manakah engkau melakukan hal-hal itu, dan siapa yang
memberikan kuasa itu kepadamu!"
Jawab Yesus kepada mereka, "Aku juga akan mengajukan suatu pertanyaan
kepada kamu. Katakanlah kepadaku, baptisan Yohanes, apakah dia membaptis
dari kuasa surga atau dari manusia?"
Mereka mempertimbangkannya di antara mereka, dan berkata, "Jikalau kita
katakan, Dari surga, ia akan berkata, Mengapakah kamu tidak percaya
kepadanya?
Tetapi jikalau kita katakan, Dari manusia, seluruh rakyat terutama mereka yang
dibaptis oleh Yohanes akan melempari kita dengan batu, sebab mereka yakin,
bahwa Yohanes adalah seorang nabi."
Lalu mereka menjawab, bahwa mereka tidak tahu dari mana baptisan itu.
335
Maka kata Yesus kepada mereka, "Jika demikian, aku juga tidak mengatakan
kepadamu dengan kuasa manakah aku melakukan hal-hal itu."
Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada orang banyak, "Seorang
membuka kebun anggur; kemudian ia menyewakannya kepada penggarappenggarap lalu berangkat ke negeri lain untuk waktu yang agak lama.
Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarappenggarap itu, supaya mereka menyerahkan sebagian dari hasil kebun anggur itu
kepadanya.
Tetapi penggarap-penggarap
itu
memukul
hamba
itu
dan
menyuruhnya pulang dengan tangan hampa.
Sesudah itu ia menyuruh seorang hamba yang lain, tetapi hamba itu juga dipukul
dan dipermalukan oleh mereka, lalu disuruh pulang dengan tangan hampa.
Selanjutnya ia menyuruh hamba yang ketiga, tetapi orang itu juga dilukai oleh
mereka, lalu dilemparkan ke luar kebun itu.
Maka kata tuan kebun anggur itu, ―Apakah yang harus kuperbuat? Aku akan
menyuruh anakku yang kekasih; tentu ia mereka segani.‖
Ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berunding, katanya,
―Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, supaya warisan ini menjadi milik kita.‖
Lalu mereka melemparkan dia ke luar kebun anggur itu dan membunuhnya.
Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu dengan mereka?
336
Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, dan mempercayakan
kebun anggur itu kepada orang-orang lain."
Mendengar itu mereka berkata, "Sekali-kali jangan!"
Lalu ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala berusaha menangkap Yesus pada
saat itu juga, sebab mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkannya dengan
perumpamaan itu, tetapi mereka takut kepada orang banyak.
Ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala mengamat-amati Yesus. Mereka
menyuruh kepadanya mata-mata yang berlaku seolah-olah orang jujur, supaya
mereka dapat menjeratnya dengan suatu pertanyaan dan menyerahkannya kepada
wewenang dan kuasa wali negeri.
Orang-orang itu mengajukan pertanyaan menjebak ini kepadanya, "Guru, kami
tahu, bahwa segala perkataan dan pengajaranmu benar dan engkau tidak mencari
muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah. Apakah kami diperbolehkan
membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?"
Bagi beberapa imam, membayar pajak itu dilarang karena itu menunjukkan
ketaatan dan tunduk pada Kaisar Roma. Sedangkan Kaisar Roma menyembah
dewa-dewa, sehingga membayar pajak pada Kaisar adalah sama dengan tunduk
pada para penyembah dewa-dewa. Namun imam yang mengajarkan untuk tidak
membayar pajak kebanyakan dari mereka sudah ditangkap oleh prajurit Roma
dan dihukum mati.
337
Tetapi Yesus berkata kepada mereka, "Tunjukkanlah kepadaku suatu dinar;
gambar dan tulisan siapakah ada padanya?"
Jawab mereka, "Gambar dan tulisan Kaisar."
Lalu kata Yesus kepada mereka, "Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa
yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu
berikan kepada Allah!"
Dan mereka tidak dapat menjerat dia dalam perkataannya di depan orang banyak.
Mereka heran akan jawabnya itu dan mereka diam.
Ketika Yesus mengangkat mukanya, ia melihat orang-orang kaya memasukkan
uang-uang berjumlah besar sebagai persembahan mereka ke dalam peti
persembahan.
Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.
Lalu ia berkata, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini
memberi lebih banyak daripada semua orang itu.
Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda
ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya."
Pada siang hari Yesus mengajar di Bait Allah dan pada malam hari ia keluar dan
bermalam di gunung yang bernama Bukit Zaitun. Dan pagi-pagi semua orang
banyak datang kepadanya di dalam Bait Allah untuk mendengarkan dia.
338
Hari raya Roti Tidak Beragi, yang disebut Paskah, sudah dekat. Imam-imam
kepala dan ahli-ahli Taurat mencari jalan, bagaimana mereka dapat membunuh
Yesus, sebab mereka takut kepada orang banyak.
Beberapa murid-murid dan pengikut Yesus yang setia mengatakan hal itu pada
Yesus dan menyuruhnya untuk segera pergi dari Yerusalem. Tapi Yesus
menjawab mereka. ―Bukan keselamatanku yang aku cari. Tapi keselamatan
manusia. Tuhan yang membimbingku ke Yerusalem dan Bait Allah, Dia juga
yang akan memutuskan apa yang harus terjadi pada diriku. Aku pasrah dalam
kehendak-Nya.‖
Selesai berkata itu, Yesus tetap melanjutkan pengajarannya tanpa gangguan apa
pun. Maka tibalah hari raya Roti Tidak Beragi, yaitu hari di mana orang harus
menyembelih domba Paskah.
Lalu
Yesus
menyuruh
beberapa
murid-muridnya,
katanya,
"Pergilah,
persiapkanlah perjamuan Paskah bagi kita supaya kita makan."
Kata
mereka
kepadanya,
"Di
manakah
engkau
kehendaki
kami
mempersiapkannya?"
Jawabnya, "Apabila kamu masuk ke dalam kota, kamu akan bertemu dengan
seorang yang membawa kendi berisi air. Ikutilah dia ke dalam rumah yang
dimasukinya, dan katakanlah kepada tuan rumah itu, Guru bertanya kepadamu, di
manakah ruangan tempat aku bersama-sama dengan murid-muridku akan makan
Paskah?
339
Lalu orang itu akan menunjukkan kepadamu sebuah ruangan atas yang besar
yang sudah lengkap, di situlah kamu harus mempersiapkannya."
Maka berangkatlah mereka ke kota, di sana seperti yang dikatakan Yesus, mereka
menemukan seorang hamba yang membawa kendi air. Mereka mengikuti hamba
itu hingga ke sebuah rumah yang sangat besar.
Murid-murid Yesus melihat rumah itu dan merasa tidak percaya. Mereka
bertanya pada seorang yang lewat. ―Rumah siapakah ini?‖
Orang lewat itu segera berkata, ―Itu adalah rumah seorang kaya bernama Galiel.
Seorang yang disegani dan juga seorang pemungut cukai.‖
Murid-murid Yesus mulai merasa tidak yakin, namun mereka memasuki tempat
itu dan mencari tuan rumahnya.
Galiel menyambut kedatangan mereka dan bertanya, ―Siapakah kalian?‖
Seorang murid Yesus berkata, ―Tuan, kami adalah murid-murid Yesus. Kami
menyampaikan pesan darinya.‖
―Apakah pesan itu?‖ tanya Galiel dengan mata membelalak dan terkejut.
―Guru bertanya kepadamu, di manakah ruangan tempat aku bersama-sama
dengan murid-muridku akan makan Paskah?‖
Mendengar hal itu berlututlah Galiel dengan air mata berlinang dan memuji nama
Allah berkali-kali.
***
340
Galiel adalah putra dari seorang kaya. Secara turun temurun, ia mewarisi jabatan
dari orang tuanya sebagai pemungut cukai. Ia hidup berkelimpahan dan tidak
pernah kekurangan. Sewaktu ia muda, ia jauh lebih kejam dari ayahnya dalam
memungut cukai. Ia melipatkan gandakan kekayaan keluarganya pada
generasinya. Namun, ia selalu hidup dalam ketakutan dan tidak mendapatkan
ketenangan.
Ia selalu merasa jika kekayaannya akan segera hilang, dia akan sakit atau dia
akan mati mendadak. Karena jika itu terjadi, ia akan kehilangan semuanya.
Dalam sebulan terakhir, ia mendengar nama Yesus dan berniat untuk melihat
orang itu. Namun, hanya dalam seminggu terakhir ia dapat meluangkan waktu
untuk pergi ke Bait Allah. Ia hanya ingin melihat seperti apakah orang yang
bernama Yesus dari Nazaret itu.
Saat ia melihat Yesus sedang mengajar orang banyak, ia melihat pancaran damai
dan ketenangan dari wajah Yesus. Hal itu menggelitik hatinya dan tanpa sadar, ia
mencari tempat di antara ratusan orang yang mengelilingi Yesus dan duduk
bersama mereka. Melihat Yesus dan mendengarkan ajarannya membuat Galiel
merasakan ketenangan dan kedamaian.
Selama empat hari berturut-turut ia selalu pergi ke Bait Allah untuk
mendengarkan ajaran Yesus. Hatinya bersenandung gembira hingga ia
melupakan pekerjaannya dan meninggalkan kesibukannya.
341
Pada saat mendekati hari paskah, tergelaklah hatinya untuk membuat perjamuan
paskah bagi Yesus dan murid-muridnya yang berjumlah ratusan. Ia mendengar
jika mereka tinggal di bukit di antara tenda-tenda, tentunya mereka tidak akan
dapat merayakan hari paskah dengan nyaman. Maka Galiel membersihkan
ruangan atasnya yang besar yang biasa digunakan untuk menjamu ratusan orang
dan kemudian menyuruh tukang masak untuk mempersiapkan semuanya.
Saat semua sudah dipersiapkan, mendadak Galiel merasa ragu dan takut. Untuk
pertama kalinya ia takut jika Yesus akan menolah undangannya dan tidak akan
mau datang ke tempatnya. Karena bukankah dia adalah seorang pemungut cukai
yang kejam. Tidak mungkin Yesus yang merupakan Guru dan utusan dari Allah
itu akan bersedia datang kepadanya.
Maka berdoalah Galiel pada Tuhan sebelum ia akan mengutus hambanya untuk
mengundang Yesus, ―Ya Tuhan, jika Engkau Yang Maha Mengetahui dan Maha
Pemaaf bersedia memaafkanku atas kesalahan-kesalahanku dan keluargaku serta
bersedia menerima pertobatan ini, biarlah utusanmu Yesus bersedia menerima
perjamuan Paskah di tempat ini. Aku berjanji akan bertobat dan membagikan
sebagian hartaku untuk orang-orang miskin dan membutuhkan. Aku juga akan
melunasi utang-utang para hambaku dan orang orang yang tidak mampu
membayarnya. Aku tahu aku berdosa Tuhan. Apakah aku masih layak dihadapanMu?‖
Setelah selesai berdoa, ia masih duduk memikirkan tentang siapa hamba yang
akan diutusnya untuk menemui Yesus. Ia berpikir untuk pergi sendiri ke tempat
342
itu dan mengundang Yesus langsung tanpa perantara hambanya. Saat itu
datanglah hambanya mencarinya dan mengatakan beberapa orang ingin
menemuinya.
Saat ia keluar dan menemukan bahwa mereka adalah murid-murid Yesus yang
datang atas suruhan guru mereka, bahkan sebelum ia mengantarkan seorang
hambanya untuk memanggil Yesus, tersungkurlah Galiel dan menangis.
―Sungguh Engkau Tuhan Yang Maha Mengetahui, Sungguh Yesus adalah
utusanmu. Sungguh Engkau Maha Pengasih.‖ Saat itu kuatlah iman Galiel dan
tidak ada lagi keraguan dalam dirinya.
Lalu orang itu berdiri dan menghapus air matanya. Ia menunjukkan kepada
murid-murid Yesus sebuah ruangan atas yang besar yang sudah lengkap, dengan
makanan dan semuanya.
Murid-murid Yesus yang melihat tempat luas dan lengkap itu bertanya pada
Galiel, ―Apakah engkau sedang mengharapkan kedatangan orang lain?‖
Galiel tersenyum dan berkata, ―Aku sedang menunggu kedatangan Yesus dan
murid-muridnya.‖ Air matanya kembali jatuh dan hatinya bersukacita.
Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan murid-muridnya
yang berjumlah ratusan. Beberapa kepala-kepala murid berusaha untuk duduk
sedekat mungkin dengan Yesus dan berusaha untuk satu meja dengannya.
343
Yesus kemudian berdiri dan katanya kepada mereka, "Aku sangat rindu makan
Paskah ini bersama-sama dengan kamu, sebab Aku berkata kepadamu, aku tidak
akan memakannya lagi sampai ia beroleh kegenapannya dalam Kerajaan Allah."
Kemudian ia mengambil sebuah cawan, mengucap syukur, lalu berkata,
"Ambillah ini dan bagikanlah di antara kamu. Sebab aku berkata kepada kamu,
mulai dari sekarang ini aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur sampai
Kerajaan Allah telah datang."
Lalu ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan
memberikannya kepada mereka, katanya, "Aku tidak akan lagi berada di antara
kalian. Tapi, inilah tubuhku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi
peringatan akan aku di antara kalian dan bekerjalah untuk mengabarkan kabar
baik tentang hal Allah."
―Telah tiba waktuku untuk berpisah,‖ kata Yesus. ―Setelah perjamuan ini,
keluarlah dari Yerusalem dan pergilah kalian ke segala penjuru. Kabarkanlah
tentang Kerajaan Allah.‖
Beberapa orang yang mendengarkan perkataan itu merasa sedih, namun lebih
banyak dari mereka yang sibuk memperebutkan untuk meminum dari cawan
Yesus dan berebutan untuk mengambil roti yang dipecah daripada mencoba
memahami perkataan Yesus. Lalu terjadilah pertengkaran di antara murid-murid
Yesus, tentang siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka.
344
Karena sedari awal kelompok-kelompok yang saling berebut untuk duduk di
dekat Yesus sudah mulai bertengkar di antara sesamanya, maka pertengkaran itu
menjadi semakin hebat.
Simon Petrus yang tidak menyukai kelompok murid Yesus yang dari kalangan
orang Farisi, ahli Taurat dan pedagang berkata, ―Guru tunjuklah satu di antara
kami yang terbesar sehingga dapat memimpin di antara murid-murid ini jika
terjadi sesuatu padamu.‖
Yesus melihat murid-muridnya yang berjumlah ratusan dan tidak menjawab.
Simon yang dipanggil Petrus atau Kefas itu melanjutkan ―Aku adalah yang
pertama kali mengikutmu dan dipanggil olehmu. Bukankah aku layak untuk
memimpin mereka?‖
Seorang Farisi dan Ahli Taurat, pemimpin dari kelompok Ahli Taurat berdiri dan
berkata, ―Guru, aku memahami Kitab Taurat dan pengajaran Guru lebih baik
daripada Simon Petrus yang bahkan tidak dapat menulis itu. Akulah yang layak
untuk memimpin mereka dan mengajarkan Kitab Taurat pada mereka serta
ajaran-ajaran guru.‖
Seorang pemimpin di antara kelompok pedagang dan pemungut cukai berdiri,
―Guru, kami memiliki banyak hubungan dengan saudara di kota-kota. Kami
yakin dapat memimpin murid-murid guru untuk mengajar di semua tempat dan
mengharumkan nama guru.‖
345
Filemon dan lainnya masih bertugas mengisi makanan bagi para murid-murid
Yesus yang sibuk bertengkar di antara sesamanya.
Yesus berkata kepada mereka, "Yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi
sebagai yang paling kecil dan pemimpin sebagai pelayan. Sebab siapakah yang
lebih besar, yang duduk makan, atau yang melayani?‖
Simon Petrus dan lainnya melihat pada Filemon dan beberapa lainnya yang masih
melayani. Saat yang lainnya tidak mampu berkata-kata, Simon Petrus tidak bisa
menerima hal itu dan dia berkata, ―Guru, aku adalah yang paling setia padamu.
Aku adalah pimpinan bagi murid-muridmu. Di antara semuanya, aku adalah
gembala mereka. Engkau tahu itu.‖
Yesus menatap padanya dan menjawab, ―Simon, Simon, lihat, Iblis telah
menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi aku telah berdoa untuk
engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf,
kuatkanlah saudara-saudaramu."
Jawab Petrus, "Guru, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan
engkau!"
Tetapi Yesus berkata, "Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan
berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal aku."
Selesai berkata demikian, ia memanggil Yudas Iskariot seorang pemungut cukai
yang menjadi bendahara dari semua pengikut Yesus.
346
―Yudas,‖ kata Yesus. ―Pergilah dan katakan pada imam-iman jika ia mencari
seorang bernama Yesus, mereka bisa mendapatinya di Bukit Zaitun. Tidak perlu
mereka membawa banyak orang dan pedang untuk melukai orang yang tidak
bersalah di tempat ini hanya karena aku. Murid-muridku juga akan pergi
meninggalkanku.‖
―Guru,‖ kata Yudas. ―Jika aku melakukan itu, bukankah mereka akan
menangkapmu?‖
Yesus menatap Yudas. ―Bukan kehendakku yang terjadi tapi kehendak Bapa.
Aku memilihmu karena aku yakin engkau dapat melakukannya. Jika kamu tidak
melakukannya, akan banyak orang yang terluka.‖
Yesus segera berbalik dan berjalan keluar dari tempat Galiel dan menuju ke arah
Bukit Zaitun. Beberapa murid-murid lainnya yang patuh mulai berjalan keluar
dari Yerusalem sesuai perintah Yesus pada mereka.
Saat itu tersisa beberapa orang di dalam ruangan dan Simon Petrus yang merasa
malu atas teguran Yesus akan ketidaksetiaannya di depan orang banyak, merasa
harus melakukan sesuatu atas harga dirinya.
Ia melihat pada Yudas yang hendak pergi menemui para iman-iman.
―Yudas, jika kamu mengatakan letak Guru di Bukit Zaitun maka kamu adalah
pengkhianat di antara kami.‖
347
Yudas menatap pada Petrus dan berkata, ―Bukan kehendakku yang terjadi, tapi
kehendak Allah yang sudah dinubuatkan sejak awal. Guru yang menyuruhku
pergi maka aku haru melakukannya.‖ Maka pergilah Yudas.
Simon Petrus merasa marah dan ia melihat beberapa murid yang masih tersisa di
dalam ruangan itu. Lalu ia berkata kepada mereka semua yang berjumlah belasan
itu, "Ketika Guru mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan
kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?"
Jawab mereka, "Suatupun tidak."
Katanya kepada mereka, "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundipundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan
siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli
pedang. Sebab aku berkata kepada kamu, bahwa nas Kitab Suci ini harus
digenapi pada Yesus. Tapi ia yang tidak mencegahnya akan terhitung di antara
pemberontak-pemberontak. Kita harus mencegah agar Guru kita ditangkap."
Kata mereka, "Petrus, ini dua pedang."
Jawab Petrus, "Sudah cukup."
Lalu pergilah Petrus dan lainnya ke luar kota dan menuju Bukit Zaitun. Muridmurid Yesus juga mengikuti dia.
Setelah murid-murid tiba di tempat itu dan menemukan Yesus, Yesus menatap
Petrus dan lainnya, ia mengetahui kehendak mereka untuk melukai para iman-
348
iman sehingga ia berkata kepada mereka, "Berdoalah supaya kamu jangan jatuh
ke dalam pencobaan."
Kemudian ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya,
lalu ia berlutut dan berdoa, katanya, "Ya Bapa, jikalau Engkau mau, ambillah
cawan ini daripadaku; tetapi bukanlah kehendakku, melainkan kehendak-Mulah
yang terjadi."
Lalu ia bangkit dari doanya dan kembali kepada murid-muridnya, tetapi ia
mendapati mereka sedang tidur.
Katanya kepada mereka, "Mengapa kamu tidur? Bangunlah dan berdoalah,
supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan."
Waktu Yesus masih berbicara datanglah serombongan orang, sedang muridnya
yang bernama Yudas, berjalan di depan mereka. Yudas mendekati Yesus untuk
menciumnya dan berkata, ―Guru, jika sesuatu terjadi padamu aku akan
mengikutimu dengan segenap nyawaku.‖
Maka Petrus yang melihat itu segera berteriak marah menunjukkan kesetiaannya
pada Yesus, "Hai Yudas, engkau menyerahkan Guru dengan ciuman?"
Ketika mereka, murid-murid lain yang bersama-sama dengan Petrus, melihat apa
yang akan terjadi, berkatalah mereka, "Petrus, mestikah kami menyerang mereka
dengan pedang?"
Dan seorang dari mereka menyerang hamba Imam Besar sehingga putus telinga
kanannya.
349
Tetapi Yesus segera berkata, "Sudahlah itu." Lalu ia menjamah telinga orang itu
dan menyembuhkannya.
Maka Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan kepala-kepala pengawal Bait
Allah serta tua-tua yang datang untuk menangkap dia, katanya, "Sangkamu aku
ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung?
Padahal tiap-tiap hari aku ada di tengah-tengah kamu di dalam Bait Allah, dan
kamu tidak menangkap aku. Tetapi inilah saatnya."
Lalu Yesus ditangkap dan dibawa dari tempat itu. Ia digiring ke rumah Imam
Besar. Dan Petrus mengikut dari jauh, ia takut jika mereka juga akan
menangkapnya.
Di tengah-tengah halaman rumah itu orang memasang api dan mereka duduk
mengelilingi Yesus. Petrus juga duduk di tengah-tengah mereka.
Seorang hamba perempuan melihat dia duduk dekat api; ia mengamat-amatinya
lalu berkata, "Juga orang ini bersama-sama dengan Yesus."
Tetapi Petrus menyangkal, katanya, "Bukan, aku tidak kenal Yesus!"
Tidak berapa lama kemudian seorang lain melihat dia lalu berkata, "Engkau juga
seorang dari mereka!"
Tetapi Petrus berkata, "Bukan, aku tidak!"
Dan kira-kira sejam kemudian seorang lain berkata dengan tegas, "Sungguh,
orang ini juga bersama-sama dengan dia, sebab ia juga orang Galilea."
350
Tetapi Petrus berkata, "Bukan, aku tidak tahu apa yang engkau katakan."
Seketika itu juga, sementara ia berkata, berkokoklah ayam.
Lalu berpalinglah Yesus memandang Petrus. Maka teringatlah Petrus bahwa
Yesus telah berkata kepadanya, "Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau
telah tiga kali menyangkal aku."
Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya. Dan orang-orang yang
menahan Yesus, mengolok-olokkan dia dan memukulinya.
Mereka menutupi mukanya dan bertanya, "Cobalah katakan siapakah yang
memukul engkau?" Mereka kembali menghujamkan tinju pada wajah Yesus.
Dan banyak lagi hujat yang diucapkan mereka kepadanya.
Setelah hari siang berkumpullah sidang para tua-tua bangsa Yahudi dan imamimam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu mereka menghadapkan dia ke Mahkamah
Agama mereka, katanya, "Jikalau Engkau adalah Mesias, katakanlah kepada
kami."
Jawab Yesus, "Sekalipun aku mengatakannya kepada kamu, namun kamu tidak
akan percaya."
Kata mereka semua, "Kalau begitu, engkau ini Anak Allah?"
Jawab Yesus, "Kamu sendiri mengatakan, bahwa akulah Anak Allah."
Lalu kata mereka, "Untuk apa kita perlu kesaksian lagi? Kita ini telah
mendengarnya dari mulutnya sendiri."
351
Lalu bangkitlah seluruh sidang itu dan Yesus dibawa menghadap Pilatus.
Di situ mereka mulai menuduh dia, katanya, "Telah kedapatan oleh kami, bahwa
orang ini menyesatkan bangsa kami, dan melarang membayar pajak kepada
Kaisar, dan tentang dirinya ia mengatakan, bahwa ia adalah raja."
Pilatus bertanya kepadanya, "Engkaukah raja orang Yahudi?"
Jawab Yesus, "Engkau sendiri mengatakannya."
Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu, "Aku tidak
mendapati kesalahan apa pun pada orang ini."
Tetapi mereka makin kuat mendesak, katanya, "Ia menghasut rakyat dengan
ajarannya di seluruh Yudea. Ia mulai di Galilea dan sudah sampai ke sini."
Ketika Pilatus mendengar itu ia bertanya, ―Apakah orang itu seorang Galilea?‖
Dan ketika ia tahu, bahwa Yesus seorang dari wilayah Herodes, ia mengirim dia
menghadap Herodes, yang pada waktu itu ada juga di Yerusalem.
Ketika Herodes melihat Yesus, ia sangat girang. Sebab sudah lama ia ingin
melihatnya, karena ia sering mendengar tentang dia, lagipula raja itu
mengharapkan melihat bagaimana Yesus mengadakan suatu tanda.
Ia mengajukan banyak pertanyaan kepada Yesus, tetapi Yesus tidak memberi
jawaban apa pun. Sementara itu imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat maju ke
depan dan melontarkan tuduhan-tuduhan yang berat terhadap dia.
352
Maka mulailah Herodes dan pasukannya menista dan mengolok-olokkan dia, raja
Herodes lalu mengenakan jubah kebesaran miliknya kepada Yesus lalu mengirim
dia kembali kepada Pilatus.
Dan pada hari itu juga bersahabatlah Herodes dan Pilatus; sebelum itu mereka
bermusuhan. Lalu Pilatus mengumpulkan imam-imam kepala dan pemimpinpemimpin serta rakyat, dan berkata kepada mereka, "Kamu telah membawa orang
ini kepadaku sebagai seorang yang menyesatkan rakyat. Kamu lihat sendiri
bahwa aku telah memeriksanya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu
tuduhkan kepadanya tidak ada yang kudapati padanya.
Dan Herodes juga tidak, sebab ia mengirimkan dia kembali kepada kami.
Sesungguhnya tidak ada suatu apa pun yang dilakukannya yang setimpal dengan
hukuman mati.‖
Kata Pilatus, ―Jadi aku akan menghajar dia, lalu melepaskannya."
Para imam-iman tidak menyetujuinya dan karena melihat hal itu mustahil, Pilatus
lalu berkata, ―Pada hari Paskah, adalah wajib bagiku untuk melepaskan seorang
terhukum. Biarlah dengan kuasaku, aku akan melepaskan dia.‖
Tetapi mereka berteriak bersama-sama, "Enyahkanlah dia, lepaskanlah Barabas
bagi kami!"
Barabas
ini
dimasukkan ke
dalam
penjara
berhubung
dengan suatu
pemberontakan yang telah terjadi di dalam kota dan karena pembunuhan. Sekali
353
lagi Pilatus berbicara dengan suara keras kepada mereka, karena ia ingin
melepaskan Yesus.
Tetapi mereka berteriak membalasnya, katanya, "Salibkanlah dia! Salibkanlah
dia!"
Kata Pilatus untuk ketiga kalinya kepada mereka, "Kejahatan apa yang
sebenarnya telah dilakukan orang ini? Tidak ada suatu kesalahanpun yang
kudapati padanya, yang setimpal dengan hukuman mati. Jadi aku akan menghajar
dia, lalu melepaskannya."
Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya ia disalibkan.
Beberapa orang tampak marah dan ingin melakukan tindakan kasar. Pilatus takut
jika ia tidak mengabulkan pemintaan itu, mereka yang berjumlah banyak itu akan
memberontak dan membakar tempatnya.
Akhirnya Pilatus memutuskan, supaya tuntutan mereka dikabulkan. Tapi, ia
menghadap semua orang dan menyuruh hambanya untuk mengambil sebaskom
air.
Di hadapan semua orang, Pilatus berkata, ―Sungguh aku tidak menemukan suatu
kesalahan apa pun dari dia. Aku ingin membebaskannya namun kalian tidak
mengizinkan. Dengan ini aku akan mencuci tanganku dan memberikannya pada
kalian sesuai kehendak kalian. Tapi, dosa dan kesalahan atas hukuman padanya
tidak akan tercurah padaku tapi akan tercurah pada kalian.‖
354
Seorang imam berteriak, ―Biarkan hukuman itu tercurah pada kami karena
sebenarnya tidak ada hukuman tapi kebaikanlah yang akan jatuh pada kami dan
keturunan kami. Karena kami menghukum seorang penyesat.‖
Dan Pilatus melepaskan Barabas yang dimasukkan ke dalam penjara karena
pemberontakan dan pembunuhan itu sesuai dengan tuntutan mereka, tetapi Yesus
diserahkannya kepada mereka untuk diperlakukan semau-maunya.
Ketika mereka membawa Yesus, mereka menahan seorang yang bernama Simon
dari Kirene, yang baru datang dari luar kota, lalu diletakkan salib itu di atas
bahunya, supaya dipikulnya sambil mengikuti Yesus.
Dan ada juga digiring dua orang lain, yaitu dua penjahat untuk dihukum mati
bersama-sama dengan Yesus. Ketika mereka sampai di tempat yang bernama
Tengkorak atau Golgota, mereka menyalibkan Yesus di situ bersama kedua orang
penjahat itu, yang seorang di sebelah kanannya dan yang lain di sebelah kirinya.
Yesus berkata, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang
mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaiannya.
Orang banyak berdiri di situ dan melihat semuanya.
Pemimpin-pemimpin prajurit dan imam-imam mengejek Yesus, kata mereka,
"Orang lain ia selamatkan, biarlah sekarang ia menyelamatkan dirinya sendiri,
jika ia orang yang dipilih Allah."
355
Juga prajurit-prajurit mengolok-olokkan Yesus; mereka mengunjukkan anggur
asam kepadanya dan berkata, "Jika engkau adalah raja orang Yahudi,
selamatkanlah dirimu!"
Ada juga tulisan di atas kepalanya yang mereka buat untuk mengolok-olok.
Tulisan itu adalah, ‗Inilah raja orang Yahudi.‘
Seorang dari penjahat yang digantung itu menghujat Yesus, katanya, "Bukankah
engkau adalah anak Allah? Selamatkanlah dirimu dan kami!"
Tetapi yang seorang penjahat lainnya menegur dia, katanya, ―Kita memang
selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan
perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah.‖
Lalu ia berkata, "Yesus, ingatlah akan aku, apabila engkau datang sebagai Raja."
Kata Yesus kepadanya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga
engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus."
Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh
daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar. Dan tabir mendadak
Bait Suci terbelah dua.
Lalu Yesus berseru dengan suara nyaring, "Ya Bapa, ke dalam tanganmu
kuserahkan nyawaku." Dan sesudah berkata demikian ia menyerahkan nyawanya.
Ketika kepala pasukan melihat apa yang terjadi, ia menjadi takut dan memuliakan
Allah, katanya, "Sungguh, orang ini adalah orang benar!"
356
Dan sesudah seluruh orang banyak, yang datang berkerumun di situ untuk
melihat apa yang terjadi itu, pulanglah mereka sambil memukul-mukul diri
karena penyesalan.
Semua orang yang mengenal Yesus dari dekat, termasuk perempuan-perempuan
yang mengikuti dia dari Galilea, berdiri jauh-jauh dan melihat semuanya itu.
Adalah seorang yang bernama Yusuf. Ia anggota Majelis Besar, dan seorang yang
baik lagi benar. Ia tidak setuju dengan putusan dan tindakan Majelis itu. Ia
berasal dari Arimatea, sebuah kota Yahudi dan ia menanti-nantikan Kerajaan
Allah. Ia pergi menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus.
Pilatus mengabulkan permintaan itu, terlihat sirat rasa penyesalan dan sakit di
matanya.
Dan sesudah Yusuf menurunkan mayat Yesus, ia mengapaninya dengan kain
lenan, lalu membaringkannya di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu, di
mana belum pernah dibaringkan mayat.
Yudas Iskariot murid Yesus memenuhi janjinya dengan membunuh diri dan
mengikuti kematian gurunya. Namun Petrus dan lainnya tetap menyebutnya
sebagai pengkhianat pada semua orang agar ada yang disalahkan atas kematian
Yesus.
***
357
Begitulah kisah Yesus yang berhasil kukumpulkan, setelah kematiannya, mereka
mengatakan dia bangkit kembali. Ada banyak cerita mengenai kebangkitan
Yesus. Sudah kubuktikan secara langsung jika Yesus benar bisa membangkitkan
orang mati, tapi membangkitkan dirinya sendiri. Aku sedikit meragukan hal itu.
Jika Yesus bangkit kembali maka ada seorang yang penuh kuasa Allah telah
menghidupkannya kembali. Atau Tuhan itu sendiri yang membangkitkannya.
Hanya dua pilihan itu. Aku tidak akan meragukan jika Tuhan bisa
menghidupkannya kembali.
Aku sedang memutuskan untuk kembali ke Tarsus setelah apa yang kudapatkan.
Ajaran Yesus. Aku tidak mengatakan ajarannya luar biasa. Ajarannya sederhana
dan ada terdapat pada Kitab Taurat. Hal yang membuatnya luar biasa adalah dia
dapat merangkainya menjadi sebuah jalan bagi manusia untuk dapat mencapai
Tuhan.
Kekuatan dalam ajaran Yesus terletak pada, ‗lakukan apa yang diajarkan‟.
Memang orang Farisi, Saduki adalah mereka yang ahli-ahli Taurat tapi mereka
terlalu sibuk pada pengetahuan di dalam Kitab Taurat dan segara cara tetek
bengek peraturan yang ada.
Seperti yang Yesus katakan, mereka meletakkan beban yang terlalu banyak pada
orang lain namun mereka sendiri tidak menyentuh bebannya. Satu-satunya hal
yang kurang dari para ahli Taurat dan ajaran Yesus adalah Kasih.
358
Aku dan para imam atau rabbi diajarkan untuk mengetahui banyak peraturan.
Begitu juga kami mengajarkan lainnya dengan peraturan yang banyak. Pada
akhirnya aku menyadari, sistem ini membuat kami menjadi hamba yang baik,
budak yang turut peraturan, tapi kami tidak memiliki kasih yang sesungguhnya.
Kami menghukum orang-orang yang tidak mematuhi peraturan dengan kebencian
dan kami masih merasa benar atas kesalahan kami perbuat pada sesama kami.
Pada akhirnya kami menjadi seperti seorang budak atau hamba yang takut pada
Tuannya, karena Tuannya dapat menghukumnya dan menyiksanya. Hamba itu
menuruti peraturan bukan karena kasih dan menurut kesadarannya, tapi
ketakutan. Itu membuat semua inti ajaran Taurat adalah ketakutan.
Sedangkan Yesus mengajarkan agar setiap manusia dapat melakukan semua itu
dalam Kasih kepada Tuhan, bukan karena ketakutan. Beberapa kali dalam
perumpamaannya, dan ajarannya, Yesus mengatakan Tuhan Allah itu adalah
Bapa Yang Maha Baik dan Pengasih. Setiap manusia adalah anak-anak-Nya.
Hukum Musa yang dipraktekkan adalah melihat Tuhan sebagai Maha Raja
pemarah dan mutlak untuk dipatuhi. Meski dalam Kitab Taurat ada tertulis,
kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap kekuatanmu, pada prakteknya kasih itu ditunjukkan dari
menuruti peraturan yang ada.
Dan hal paling nyata dalam ajaran Yesus adalah Tuhan itu hidup dan penuh
kasih. Di sepanjang perjalanan, Kuasa dan Kasih Allah terlihat dari tangantangan perbuatan Yesus. Sesuatu yang tidak dimiliki oleh para Imam-imam
359
selama ratusan tahun. Kasih itu bahkan melebihi peraturan yang ada. Itulah yang
membuat ajaran Yesus berbeda.
Imam-imam menyembah Tuhan yang pemarah dan Yeusu mengajarkan Tuhan
Yang Maha Pengasih lagi Pemaaf. Imam-imam mengutuk dan memberikan
hukuman bagi para pendosa dan musuh-musuh mereka, Yesus menerima pendosa
dan memaafkan orang-orang yang bersalah padanya.
Aku menarik gerobakku yang berisi tenda untuk berjalan bersama beberapa
orang-orang yang satu tujuan. Sebenarnya ada sebuah kekecewaan dalam diriku.
Setelah memahami semua ajaran Yesus, aku menyadarinya, tidak ada hal yang
baru sama sekali. Semuanya sudah diperdengarkan dan diketahui. Tapi, Yesus
melakukannya dalam kehidupannya. Tidak hanya sekedar membiarkan hal itu
menjadi pengetahuan dan beban pada pikiran yang tidak dinyatakan dalam
perbuatan.
Semua itu lebih pada melakukannya dengan sepenuh hati dalam kasih dan
mewujudkannya.
Pada akhirnya semua itu kembali kepada diri sendiri.
―Serahkan barang-barang kalian!‖ teriak seseorang yang mengejutkan diriku
yang sedang berjalan menarik gerobak tendaku sambil termenung.
Aku melihat ke depan dan mendapati sekelompok orang membawa pedang dan
mencegat semua yang sedang berjalan. Jelas mereka para perampok. Aku melihat
360
hal itu dan seluruh diriku menjadi tegang. Aku memiliki cukup banyak uang
simpanan di dalam bajuku.
Hal yang terpikirkan pada pertama kali bagiku adalah berbalik dan melarikan diri
meninggalkan gerobak tendaku. Atau melwawan mereka. Aku juga adalah
seorang prajurit dan menghadapi perampok bukanlah hal yang terlalu sulit
bagiku.
Mendadak aku teringat akan ajaran Yesus.
―Jika ada yang meminta darimu, janganlah menolaknya. Jika kamu ditampar pipi
kiri, berikanlah pipi kanan.‖ Mendadak aku tersenyum dan berpikir, apakah ada
orang segila itu?
Seorang perampok bertubuh kurus datang mendekatiku. ―Tinggalkan gerobak
bersama isinya dan pergilah,‖ teriaknya menggerak-gerakkan pedangnya ke
arahku.
Sebersit kemarahan muncul dari dalam diriku. Perampok itu terlihat sangat
sombong dan sembrono, dengan mudah aku akan dapat merebut pedang di
tangannya dan menghunuskan pedang itu kembali pada dirinya. Tidak lupa
memberikan sedikit pelajaran untuk mematahkan kesombongannya.
Kebanyakkan perampok belum pernah membunuh, mereka hanya cenderung
menakut-nakuti dan melukai, hanya beberapa perampok yang dapat dengan
mudah membunuh. Seandainya perampok ini sadar berapa orang yang sudah
kubunuh, aku yakin dia tidak akan mengarahkan pedangnya padaku.
361
Tapi, seketika itu juga aku sadar, kemarahan dan kesombonganku tidak akan
dapat pernah sejalan dengan kasih. Kemarahan dan kesombonganku harus
menyingkir jika ingin kasih menduduki hati.
Dengan tersenyum, aku meninggalkan gerobakku dan mendekatinya. Perampok
itu menjadi sigap. Aku mengeluarkan kantong uangku yang berisi semua uangku
dan memberikannya pada perampok itu.
―Damai sejahtera bagimu,‖ kataku padanya. ―Allah memberkatimu dan semoga
uang itu dapat berguna bagimu.‖
Perampok itu menatapku dengan bingung, begitu juga orang-orang di sekitar
sana. Setelahnya aku langsung pergi meneruskan perjalananku, tanpa uang
sepeserpun.
Aku memandang langit dan berkata, ―Burung-burung tidak menabur, tidak
menuai dan tidak mempunyai gudang atau lumbung, namun demikian diberi
makan oleh Allah.‖ Mataku memandang langit dan berteriak, ―Tuhan ke dalam
tanganmu kuserahkan hidupku ini. Engkaulah yang memberinya makan,
Engkaulah yang menjaganya. Aku pasrah sepenuhnya padamu!!!‖
Setelah mengatakan itu, aku merasa tubuhku terbebas dari begitu banyak beban.
Hatiku bersenandung dan kebahagiaan memenuhi seluruh isi hatiku. Kematian
bahkan terasa begitu dekat padaku namun tidak ada sedikitpun kekuatiran lagi.
***
362
Perampok yang baru saja mendapatkan kantong uang dalam jumlah banyak
menatap pada kejauhan. ―Sepuluh tahun lamanya aku merampok, ini pertama
kalinya aku melihat orang yang begitu gembira saat dirampok.‖
363
BAB 15
PAULUS
Tahun 47 M
Di Yerusalem, ada sebuah Jemaat yang merupakan pusat dari pengabaran ajaran
Yesus. Ketuanya adalah James18 yang disebut ‗James yang adil'. Adalah Petrus
ketua dari kelompok 12 murid-murid Yesus—posisi Yudas Iskariot digantikan
dengan seorang bernama Matias—tampil menjadi murid yang paling cemerlang
dan mendominasi semua pengajar ajaran Yesus. Dia mengangkat James saudara
kandung Yesus untuk menjadi pemimpin tertinggi dari Jemaat Yerusalem dan
seluruh jemaat yang memberitakan ajaran Yesus.
Kelompok-kelompok murid Yesus yang dari kalangan ahli Taurat dan kumpulan
pedagang memutuskan untuk tunduk di bawah jemaat itu. Namun beberapa yang
tidak menyetujui, memutuskan untuk mengajar ajaran Yesus secara pribadi dan di
luar dari Jemaat Yerusalem.
Biasanya Jemaat dari Yerusalem akan mengirimkan orang untuk mengganggu
pengajaran mengenai Yesus yang tidak melalui mereka. Mereka tidak menyukai
segala tindakan mengajar atas nama Yesus tanpa melalui mereka. Karena
18
James saudara Yesus memiliki nama lain sebagai Yakobus. Untuk membedakannya dengan
kedua murid Yesus yang bernama Yakobus putra Zebedeus dan Yakobus anak Alfeus, maka
nama James digunakan pada cerita ini.
364
mungkin saja akan banyak orang-orang yang sebenarnya tidak mengenal Yesus,
namun mencoba mengajar untuk kepentingan mereka pribadi. Begitu juga orangorang yang sudah mengenal Yesus, belum tentu akan mengajar dengan benar jika
tidak diawasi.
Dengan alasan itu, mereka merasa berhak untuk mengintervensi semua bentuk
pengajaran atas nama Yesus agar tidak disalah gunakan. Karena merekalah yang
paling lama mengikuti Yesus dan paling memahami ajaran Yesus. Mereka
bertanggung jawab atas kebenaran ajaran Yesus. Mereka bahkan menggunakan
kekuatan orang Zealot atau para pemberontak untuk mengintimidasi mereka yang
sembarangan menggunakan nama Yesus.
Perbedaan pengajaran atas nama Yesus ini banyak terjadi, terutama setelah
banyak saudara-saudara mereka yang telah tersebar karena penganiayaan yang
timbul sesudah Stefanus dihukum mati. Mereka tersebar sampai ke Fenisia,
Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi
saja. Beberapa dari mereka belum berkordinasi dengan Jemaat Yerusalem.
Pada hari itu dapatlah kabar dari jemaat di Antiokhia pada Petrus jika ada
beberapa orang Siprus dan orang Kirene yang tiba di Antiokhia dan berkata-kata
dan memberitakan tentang ajaran Yesus juga kepada orang-orang Yunani.
Sejumlah besar orang Yunani itu menjadi percaya dan berbalik kepada Tuhan
daripada menyembah dewa-dewa mereka.
365
Petrus tidak menyukai apa yang dia dengar, apalagi pengajarnya bukan dari
jemaat Antiokhia tapi orang dari Siprus yang melupakan sebuah pulau yang jauh.
Dia tidak mengingat ada anggota dari jemaatnya yang pernah pergi ke pulau itu
untuk mengajar.
Dan lagi, mereka mengajar orang-orang dari bangsa lain.
"Hal itu tidak dapat dimaafkan," kata Petrus. "Adalah hal yang tidak
diperbolehkan oleh pengajar manapun. Itu adalah mengajar pada bangsa lain
selain orang Yahudi. Bangsa lain tidak berhak menerima keselamatan dan hanya
bangsa pilihan sajalah yang boleh. Hal itu sudah turun termurun sejak Nabi Musa
memanggil bangsa Israel keluar dari Mesir agar mereka terpisah dari yang jahat.
Bangsa-bangsa lain sudah menyembah berhala dan dewa-dewa jahat sejak dari
awal kehidupan mereka. Pada akhirnya, semua bangsa selain bangsa Israel harus
hancur dan binasa, hingga tertinggal bangsa pilihan Tuhan. Bait Allah sekalipun
tidak mengizinkan bangsa-bangsa lain untuk masuk. Siapa yang berani
melanggar hukum ini?"
Lalu Petrus mengutus Barnabas ke Antiokhia ( wilayah Suriah pada masa ini )
dan berkata, "Cegahlah mereka berkata-kata menggunakan atas nama guru kita
Yesus. Jika kamu melihat ajarannya benar, suruhlah mereka menuliskan namanya
sebagai salah satu anggota jemaat kita dan katakan pada mereka untuk tidak
mengajar pada bangsa lain selain orang Yahudi. Sudah sepuluh tahun lebih sejak
kematian guru dan belum pernah sejak itu kita mengajar bangsa lain. Dan tidak
akan pernah."
366
Barnabas menerima perintah dan pergi ke Antiokhia. Dia tinggal di tempat itu
dan melalui anggota jemaat di Antiokhia, Barnabas dipertemukan dengan seorang
dari Siprus bernama Yakob.
"Apakah yang kamu ajarkan mengenai Yesus?" tanya Barnabas mencoba
mengetahui apakah pengajarannya benar atau salah. Sering dia menemukan
seseorang yang mengajar dengan nama Yesus namun ajarannya sama sekali
berbeda. Pernah Barnabas menemukan seorang pria bernama Malkie yang
mengatakan ajaran Yesus adalah mengasihi sesama dan dia menggunakan alasan
itu untuk menambah jumlah istri dan hamba perempuannya. Tentu saja itu salah.
Yakob menatap Barnabas dan berkata, "Aku mengajarkan apa yang diajarkan
Yesus untuk melakukan kasih pada Allah dan pada sesama manusia."
"Dengan cara apakah engkau melakukan kasih itu?" tanya Barnabas berharap jika
Yakob bukan seorang yang mengasihi dengan menambah jumlah perempuan
baginya.
"Dengan Roh Kudus yang bersemayam dalam hati," kata Yakob.
Tergeraklah Barnabas atas jawaban itu karena belum pernah sekalipun ia
mendapatkan jawaban seperti itu. "Roh Kudus tidaklah turun sembarangan,
hanya beberapa murid istimewa yang mendapatkan Roh Kudus dari Yesus.
Bagaimana kamu berani mengatakan jika Roh Kudus turun padamu?"
Yakob tersenyum dan berkata, "Yohanes membaptis dengan air, tapi Yesus
membaptis dalam Roh dan Kuasa Tuhan. Hati adalah tempat di mana Roh Kudus
367
bertahta. Jika hati bersih, Roh Kudus akan turun dan bersemayam di dalamnya.
Dari hati yang bersih, akan muncul kat-kata dan perbuatan yang baik.‖
Barabas terpesona akan pengajaran itu dan bertanya, ―Bagaimana Roh Kudus
turun?‖
―Yesus pernah berkata, mintalah maka akan diberikan,‖ kata Yakob. ―Adalah
dengan berdoa kepada Tuhan tanpa jemu seperti Raja Daud agar dapat menerima
Roh Kudus di dalam hati. Untuk kemudian dari hati yang bersih dan kuasa Roh
Kudus yang bekerja, seseorang akan dapat melakukan apa yang diinginkan Tuhan
darinya. Dapat mengasihi Tuhan dan sesamanya dengan lebih baik lagi."
―Apakah Roh Kudus akan turun pada setiap orang yang meminta?‖
―Tuhanlah yang memutuskan tapi semua orang akan beroleh Roh Kudus hanya
jika hati mereka bersih. Tanpa hati yang bersih, Roh Kudus tidak akan
bersemayam di dalam hati dan pada akhirnya menjadi bagian dari Hati Nurani.‖
Barnabas tidak mengetahui hal itu. "Bagaimanakah mendapatkan hati yang
bersih?" tanyanya.
"Hati yang bersih adalah hati yang bebas dari kemarahan, kebencian,
kesombongan, iri hati, dengki, dendam dan segala yang kotor," kata Yakob. "Hati
yang bersih bisa di dapat dari memaafkan kesalahan orang lain, dan mau
membuka hatinya agar dapat dibersihkan oleh kuasa Tuhan."
"Membuka hati?" tanya Barnabas seakan-akan hal itu sesuatu yang baru.
368
"Yesus pernah berkata, orang yang baik mengeluarkan hal baik dari hatinya.
Orang yang mengeluarkan pembendaharaannya yang jahat adalah meluap dari
hatinya." Yakob menjelaskan, "Hati yang jahat adalah hati yang ternodai oleh
keserakahan, kesombongan dan semua yang buruk. Membuka hati adalah
menyerahkan keburukan dalam hati pada Tuhan agar dibersihkan."
―Keburukan dalam hati?‖
Yakobus menatap Barnabas, "Pada saat kita berhubungan dengan dunia dan
orang lain. Kita cenderung retan menjadi sedih, marah, terluka karena orang lain,
dendam dan sebagainya. Kita membebani hati kita dengan emosi-emosi jelek.
Hal itu berupa perasaan akan sesuatu yang berat dan jelek mengotori hati kita.
Hati kita dari waktu ke waktu kita akan terbiasa dan hati kita akan menjadi
semakin kotor. Pada saat itu, ketenangan dan kedamaian akan jauh dari diri kita.‖
―Apakah manusia dapat membersihkan hati mereka sendiri?‖ tanya Barnabas.
―Tidak,‖ kata Yakob. ―Adalah susah bagi manusia untuk membersihkan kotoran
dalam hatinya sendiri. Mereka yang ingin menghilangkan kemarahan dalam
dirinya cenderung terjebak dalam kemarahan itu. Mereka yang ingin
menghilangkan semosi negatif cenderung terjebak di dalamnya. Manusia adalah
makhluk yang lemah. Setiap dari mereka dapat mengotori hati, namun hanya
Tuhan yang dapat membersihkannya.‖
―Tentunya dengan berpuasa dan melatih diri,
membersihkan hatinya,‖ protes Barnabas.
369
seseorang akan dapat
Yakob menggelengkan kepala dan berkata, ―Saat melakukan hal itu, manusia
cenderung terlihat tanpa amarah dan emosi negatif. Tapi itu semua hanya karena
mereka tidak mengeluarkannya. Kemarahan dan semua emosi itu masih
tersimpan di dalam hati. Seperti barang-barang yang tersimpan di bawah tempat
tidur. Tidak terlihat tapi selalu ada di sana.‖
―Jika demikian, bagaimana seseorang dapat beroleh hati yang bersih? Beroleh
kedamaian dan ketenagan.‖
―Bukankah Yesus yang mengajarkan agar menyerahkan beban berat dan
kerisauan pada Tuhan? Karena bukankah Tuhan Maha Pengasih lagi
Penyayang?‖ tambah Yakob. ―Untuk membersihkan hati, kita harus berdoa.
Memohon pada Tuhan agar segala beban berat di hati untuk dikeluarkan dan
dibersihkan agar berganti dengan Kasih-Nya. Kita akan membuka hati kita dan
membiarkan beban itu keluar dari kita yang dibantu oleh Kasih Tuhan. Jika
dilakukan dengan benar, hati akan terasa ringan."
Barnabas terlihat bingung.
―Singkatnya,‖ kata Yakob yang memahami kerumitan itu, mengapa kita tidak
mencobannya saja.‖
Barnabas terlihat setuju dan Yakob menambahkan, ―Cobalah sekarang untuk
memikirkan hal-hal atau orang yang membuatmu marah, benci, kecewa atau
sedih. Secepat kita mengingatnya, kita akan dapat merasakan sebuah emosi yang
ada pada diri kita. Untuk sejenak, marilah kita berdoa pada Tuhan agar emosi
370
yang berupa kemarahan atau kebencian itu atau juga sakit hati, agar dikeluarkan
dari diri kita dan berganti dengan Kasih Tuhan...
Benar-benar serahkanlah sampah-samapah emosi itu ke pada Tuhan. Jika
dilakukan dengan benar, akan terasa sebuah energi berat yang keluar dari tubuh
bagian atas dan lenyap. Tubuh akan terasa lebih ringan dan damai.‖
Barnabas mencoba melakukannya dan langsung merasakan hati dan tubuhnya
yang menjadi ringan dan damai. "Sungguh luar biasa, siapakah yang
mengajarkanmu hal demikian?"
"Tentu saja Yesus," kata Yakob.
"Apakah kamu murid langsung dari Yesus?"
Yakob terlihat menyesal, "Tidak. Aku tidak mendapatkan kemuliaan untuk dapat
bertemu dengan Yesus. Aku hanya diajar oleh seorang lainnya."
"Siapakah dia yang mengajarmu ajaran Yesus ini?"
Yakob tersenyum dan berkata, "Dia Paulus dari Tarsus."
"Paulus dari Tarsus?" tanya Barnabas tidak mengenal nama itu. "Aku tidak
memiliki daftar nama anggota maupun pengajar jemaat yang ada di tempat itu.
Apakah dia mengajar jemaat di sana?"
"Tidak, dia hanya seorang pembuat dan penjual tenda di Tarsus. Dia mengajar
siapa saja yang mau bertanya dan datang ke tempatnya. Banyak orang Roma,
orang Yunani dan Samaria yang berkunjung ke tempatnya."
371
Barnabas melirik pada Yakob dan akhirnya dia berkata, "Saudara Yakob. Aku
tidak mengenal saudara yang bernama Paulus. Jika dia bagian dari jemaat
Yerusalem yang merupakan jemaat asli pimpinan Petrus murid Yesus yang
pertama, maka kami akan mengetahuinya. Saranku adalah sebaiknya saudara
Yakob tidak terlalu mempercayai perkataan Paulus, lagi pula tidaklah pantas bagi
seorang untuk mengajar pada orang dari bangsa lain. Engkau boleh belajar di sini
mengenai ajaran Yesus langsung dari anggota jemaat Antiokhia yang sudah
mendapatkan langsung pengajaran dari Petrus dan jemaat Yerusalem. Atau aku
dapat menuliskanmu surat rekomendasi untuk belajar langsung dari Petrus murid
Yesus di jemaat Yerusalem?"
Yakob diam untuk waktu yang panjang sebelum menjawab, "Baiklah, aku tidak
memiliki waktu untuk ke Yerusalem, biarlah aku belajar dari jemaat Atiokhia
saja."
Barnabas meninggalkan Yakob dan menemui pimpinan anggota jemaat
Antiokhia bernama Zakaria. "Aku meminta engkau untuk bersedia mengajari
Saudara Yakob mengenai ajaran Yesus seperti yang sudah engkau pelajari
langsung dari Petrus."
"Aku takut aku tidak bisa melakukannya," kata Zakaria dengan wajah sedih.
"Saudara Yakob disukai banyak orang dan jemaat ini bertumbuh setelah
kedatangannya. Aku tidak memiliki kemampuan untuk mengajarinya. Dia lebih
memahami ajaran Yesus dibandingkan denganku. Semua anggota jemaat
menyukainya."
372
Barnabas mendesah panjang dan berpikir kembali tentang Yakob. Ia juga merasa
pengetahuan pria itu lebih tinggi dari pada Zakaria. "Siapa sebenarnya Paulus
dari Tarsus yang mengajarinya?"
Zakaria berkata, "Aku mendengar cukup banyak kabar dari orang-orang yang
mengunjungi jemaat ini setelah melalui pelabuhan Tarsus, mereka mengatakan
jika Paulus hanyalah seorang pembuat dan penjual tenda."
"Begitu juga yang dikatakan Yakob padaku," sahut Barnabas.
"Paulus itu juga punya kemampuan untuk menyembuhkan orang yang lumpuh,‖
tambah Zakaria. ―Kedua kaki Yakob dulunya adalah lumpuh dan Paulus
menyembuhkannya."
"Dia tidak mengatakan hal itu padaku," kata Barnabas dengan cepat dan terkejut.
Barnabas akhirnya tinggal di Antiokhia dengan tujuan untuk membantu
perkembangan jemaat Antiokhia dan juga melihat Yakob mengajar. Jemaat
Antiokhia bertumbuh dengan cepat dan karena tidak hanya dari orang-orang
Yahudi, yang datang pada mereka tapi mereka yang berasal dari bangsa-bangsa
lain juga.
Barnabas tidak dapat mengusir mereka karena para jemaat Antiokhia terlihat
sama sekali tidak tersinggung saat mendengarkan ajaran Yesus bersama orangorang Roma atau Yunani.
Antiokhia adalah kota perdagangan yang dekat dengan pelabuhan. Orang-orang
Antiokhia adalah orang-orang yang tumbuh besar bersama dengan banyak
373
pedagang dari bangsa-bangsa lain. Mereka bersahabat, makan bersama dan
menganggap bangsa-bangsa lain adalah sama seperti mereka. Tingkat toleransi
antar bangsa di kota Antiokhia sangat tinggi, sehingga pemisahan antara orang
Yahudi dan bangsa lain yang sering terlihat di Yerusalem dan kota lainnya yang
merupakan pusat orang-orang Yahudi, tidak ada di sana.
Meski di Antiokhia masih ada beberapa tempat ibadat yang tidak mengizinkan
orang dari bangsa lain untuk memasukinya, biasanya itu adalah jemaat yang
sangat fanatik. Tempat-tempat ibadah pemujaan dewa-dewa orang Yunani,
umunya terbuka lebar bagi orang-orang Yahudi. Beberapa orang Yahudi memang
sudah berpindah untuk menyembah dewa-dewa.
Anggota Jemaat Antiokhia sendiri memberikan kebebasan bagi bangsa lain untuk
ikut beribadah bersama mereka. Karena hal itu, Barnabas merasa segan untuk
memberlakukan peraturan dari Petrus untuk tidak mengajar bangsa lain. Hampir
seluruh jemaat Antiokhia menyukai orang-orang dari bangsa lain.
Pada suatu hari, seorang anggota jemaat Antiokhia membawa seorang pria yang
merupakan orang Yunani datang ke Jemaat Antiokhia. Barnabas sedang berjaga
di tempat itu. Anggota jemaat itu segera berkata, "Guru, ini adalah saudara Alexa,
seorang rekan usahaku. Kapal dan barang dagangannya baru saja karam dan dia
memiliki banyak hutang. Aku menemukannya hendak bunuh diri. Mohon guru,
berikanlah kekuatan padanya untuk tetap hidup."
Barnabas yang belum pernah sekali pun mengajar bangsa lain terlihat mengalami
pertentangan dalam dirinya.
374
Anggota jemaat itu segera menambahkan. "Guru, aku harus kembali ke tempat
usahaku. Aku akan meninggalkannya di sini." Dia pun berlalu pergi
meninggalkan Barnabas dan orang Yunani yang sedang depresi itu.
Alexa terlihat tertunduk dengan mata yang tidak memperlihatkan semangat hidup
lagi. Lama Barnabas menatapnya hingga akhirnya dia berkata, "Tetaplah hidup.
Aku yakin Tuhan Yang Maha Baik pasti akan memberikan jalan keluar bagimu."
"Siapakah Tuhan?" tanya Alexa lemah. "Dewa apakah itu?"
"Dia adalah Tuhan yang menciptakan langit, bumi, malaikat-malaikat dan para
dewa."
Mata Alexa terlihat membelalak terkejut. Itu adalah pertama kalinya mengetahui
jika ada Tuhan. Baginya selama ini hanya ada dewa-dewa dan Dewa Zeus adalah
yang tertinggi. "Apakah dia akan menolongku?" tanya pria itu sama sekali tidak
yakin.
Barnabas menatap padanya, "Allah Yang Menciptakan Langit dan Bumi adalah
Allah Yang Maha Pengasih. Tidak akan nantinya Dia melihat hambanya yang
kesusahan dan membiarkannya. Tidak ada seorang bapa yang tidak mengulurkan
bantuan saat anaknya sedang membutuhkan."
Alexa mendadak menangis dan dengan gemetar berkata, "Katakanlah pada Allah
ini jika aku sangat membutuhkan bantuannya. Biarkanlah Dia menolongku yang
lemah ini. Sungguh aku tidak tahu harus bagaimana lagi... Deritaku sudah terlalu
besar untuk dapat kutanggung."
375
Barnabas menerima pria itu dan mengajarinya serta membaptisnya hari itu juga.
Saat Alex meninggalkannya, sudah ada senyuman dan kekuatan yang terpancar di
wajah orang Yunani itu. Dan Barnabas, dia akhirnya menerima jika bangsabangsa lain pun membutuhkan Tuhan bahkan mungkin lebih membutuhkan Allah
daripada orang-orang Yahudi sendiri.
Sejak itu dia mulai mengajar juga pada bangsa-bangsa lain dan setelah setengah
tahun lebih sejak kedatangannya ke Antiokhia, ia memutuskan untuk menemui
Paulus dari Tarsus.
"Jika dia seperti yang diceritakan orang-orang," kata Barnabas pada semua
anggota Jemaat Antiokhia, "Maka aku berkewajiban untuk membawanya ke sini.
Agar dia menjadi satu di antara kita dan membantu menyebarkan tentang
kerajaan Allah kepada semua orang seperti yang diperintahkan Yesus."
Pernyataan itu disambut gembira oleh semua anggota Jemaat Antiokhia.
***
Aku sedang berada di bengkel belakang rumah untuk merajut kain tenda dan
bekerja sebagaimana tubuhku melakukannya sebagai ibadahku pada-Nya. Berdoa
dan beribadah bukanlah hanya di lakukan pada saat-saat tertentu, tapi setiap saat.
Tangan bekerja, tubuh bergerak melakukan doa dan ibadah dalam gerak untuk
kebaikan sekeliling dan sebagai penyerahan segalanya termasuk tubuh, jiwa dan
hati ini sepenuhnya pada Tuhan. Tanpa ada keinginan untuk mendapatkan
376
keuntungan atau terikat pada hasil pekerjaan. Hanya menjadi alat sepenuhnya
bagi Tuhan.
Saat aku sedang bekerja, datangalah seorang pria mendekatiku.
―Saul,‖ panggilnya..
Aku melihat pada seorang pria yang sedang tersenyum ramah padaku.
―Barnabas,‖ kataku terkejut dan berdiri untuk menyambutnya. Sudah lama sejak
aku berjumpa dengan pria yang merupakan orang Lewi dan satu angkatan
denganku saat belajar di Yerusalem pada Guru Gamaliel. ―Apa yang
membawamu hingga ke sini.‖
―Kamu,‖ kata Barnabas. ―Aku ingin melihat keadaanmu setelah perjumpaan
terakhir kita di Yerusalem yang kurang menyenangkan.‖
Aku membawanya masuk ke dalam rumah dan mengundangnya makan serta
tinggal. Dia adalah sahabat yang mencoba menyelamatkanku saat melarikan diri
dari penangkapan Petrus sebelumnya.
Keesokan harinya, setelah Barnabas beristirahat dari perjalanan jauh. Dia
menjumpaiku dan meminta bantuanku.
―Apakah kamu mengenal semua pembuat tenda di tempat ini?‖
―Tentu saja,‖ kataku. ―Ada sekitar enam keluarga yang membuat tenda sejak
lama tapi belakangan ini juga bermunculan para pembuat tenda. Adakah yang
bisa kubantu?‖
377
―Apakah kamu mengenal seorang bernama Paulus yang juga pembuat tenda?‖
―Tentu,‖ kataku. ―Dia adalah sahabat baik ayahku. Aku dapat mengantarmu ke
sana jika kamu mau.‖
―Tidak,‖ kata Barnabas. ―Aku ingin menjumpainya sendiri.‖
Aku melihat Barnabas pasti punya alasannya sendiri untuk tidak kuantar.
―Baiklah
jika
demikian.
Aku
akan
menyuruh
keponakanku
untuk
mengantarkanmu.‖
***
Barnabas pergi dengan seorang bocah berumur 10 tahun. Alasannya untuk tidak
mengajak Saul sahabatnya untuk ikut agar tidak menyinggung perasaan
sahabatnya. Saul adalah murid kesayangan Gamaliel dan bahkan murid paling
cemerlang dalam Akademi Hillel yang bahkan orang-orang Akademi Shammai
yang selalu memandang rendah mereka juga menyeganinya.
Tapi kini pria itu sudah menjadi seorang pembuat tenda dan setelah penolakan
yang dia terima dari Petrus hampir merengut nyawanya, Barnabas tidak mau jika
sahabatnya melihat dia memanggil seseorang bernama Paulus untuk mengajar di
hadapannya. Tentu hal itu akan menyakitinya.
Di depan sebuah bengkel yang menjual tenda, keponakan Saul itu berkata,
―Paman, di sini tempatnya.‖
378
Barnabas melihat seorang pria muda dalam bengkel dan bertanya, ―Apakah saya
bisa menjumpai saudara Paulus?‖
Pria itu menatap Barnabas dan berdiri untuk masuk ke dalam bagian dalam
bengkel untuk memanggil seseorang. Dari sana keluarlah seorang pria tua yang
tampak berwajah damai. Barnabas mendadak menjadi segan, pria itu tampak
bijaksana dan penuh senyuman yang membuktikan dia seorang yang penuh kasih.
―Ada apakah mencari saya?‖ tanya pria tua bernama Paulus.
―Saya Barnabas datang dari Yerusalem dan juga Antiokhia untuk mencari anda.‖
―Tempat yang jauh sekali,‖ kata Paulus tersenyum.
―Ya,‖ jawab Barnabas. ―Tapi namamu telah dibawa oleh banyak orang hingga ke
tempat-tempat itu.‖
Paulus tersenyum merendahkan diri. ―Memang aku mengenal banyak orang dari
Tarsus yang pergi ke Antiokhia, namun aku tidak menyangka jika namaku akan
terdengar hingga di sana. Dan apakah yang bisa aku lakukan untukmu?‖
Tanpa basa basi lagi, Barnabas segera berkata, ―Aku datang untuk menemuimu
dan mengundangmu ke Antiokhia untuk mengajari kami.‖
―Hmmm...,‖ jawabnya merenung sebentar. ―Antokhia tempat yang tidak terlalu
jauh. Aku punya saudara di sana. Tidak ada masalah, aku bisa ke tempat itu untuk
mengajar.‖
379
―Terima kasih banyak,‖ jawab Barnabas senang. ―Mereka semua sudah
menantikan anda.‖
Paulus menatap Barnabas dan berkata, ―Bukan aku tidak sopan tapi bolehkah aku
mengetahui berapa aku akan dibayar untuk mengajar di sana? Karena yang akan
kuajarkan adalah ilmu hidupku.‖
Barnabas terkejut karena tidak menyangka pertanyaan itu terlontarkan. ―Aku,‖
kata Barnabas tergagap. ―Aku tidak bisa menjamin sebuah jumlah yang pasti
karena semuanya tergantung banyak sumbangan yang diberikan oleh para
anggota jemaat Antiokhia.‖
Paulus itu langsung marah. ―Apa kamu pikir ilmu membuat tenda itu murah?
Pergilah kamu dan sumbanganmu itu, aku tidak akan mengajari kalian ilmu
membuat tendaku.‖
―Tapi,‖ protes Barnabas dalam kebingungan. ―Kami meminta untuk diajarkan
ajaran Yesus.‖
―Siapa itu Yesus,‖ kata Paulus marah. ―Aku tidak kenal pembuat tenda dengan
nama itu. Pergilah.‖
Barnabas dalam kebingungan kembali ke rumah Saul. Di dalam bengkelnya,
terlihat dua orang bangsa Roma sedang duduk bersama Saul.
***
380
―Saudara Barnabas,‖ kataku saat melihat kedatangan Barnabas. ―Tepat sekali
waktu kedatanganmu. Kenalkan ini para pedagang yang ingin mengetahui
tentang ajaran Yesus.‖ Aku segera memperkenalkan Barnabas kepada kedua
orang pedagang dari Roma dan berkata, ―Inilah saudara Barnabas, kalian akan
dapat mengetahui semua ajaran Yesus dari pengajar resminya secara langsung.
Dia adalah orang yeng mengetahui langsung dari murid Yesus.‖
Aku memberikan tempat duduk pada Barnabas di depan mereka dan Barnabas
pun bercerita pada mereka dan mengajar tentang Yesus. Aku ikut mendengarkan
pengajaran itu.
Hingga pada sore harinya, kedua orang bangsa Roma meninggalkan bengkel
tenda sambil berkata, ―Saudara Barnabas, Saudara Paulus jika kalian
berkesempatan ke Roma, kunjungilah kami. Jika pun kami tidak di sana,
kunjungilah
keluarga
kami.
Mereka
membutuhkan
pengajaran
yang
menenangkan hati ini.‖
Setelah kepergian mereka, Barnabas menatap padaku dan bertanya, ―Bukankah
mereka memanggilmu Paulus?‖
Aku merasa sedikit bersalah dan menjelaskan. ―Aku menggunakan nama Paulus
saat berada di luar kota Tarsus karena nama Saulus masih menyisakan kenangan
buruk bagi banyak orang.‖
―Apakah kamu mengenal Yakob dari Siprus?‖ tanya Barnabas dengan penasaran.
381
―Tentu,‖ kataku. ―Dia seorang yang sangat bersemangat untuk mengetahui ajaran
Yesus dan bahkan mengajarkan pada beberapa orang di sini.‖
―Dia sekarang ada di Antiokhia.‖
―Oh,‖ kataku. ―Sampaikan salamku padanya.‖
―Bagaimana kamu mengetahui ajaran Yesus?‖ tanya Barnabas. ―Siapa yang
mengajarkanmu?‖
―Banyak yang mengajarkanku,‖ kataku menatap Barnabas. ―Beberapa tahun lalu,
aku pergi ke Nazaret dan merekam kembali jejak-jejak yang ditinggalkan oleh
Yesus. Dalam perjalanan itu, aku menemui banyak orang yang mengajarkanku
tentang Yesus. Beberapa adalah murid-murid langsung Yesus yang telah lama
mengikutinya hingga kematiannya.‖
―Siapakah murid-murid Yesus yang kamu maksud?‖ tanya Barnabas. ―Bukankah
murid-murid Yesus cuma 12 orang dan Petrus adalah pemimpinnya?‖
Aku tersenyum padanya, ―Itulah yang dikatakan oleh Petrus jika dia menganggap
kelompok elitnya sebagai ‗hanya murid-murid‘ Yesus. Ada ribuan orang yang
mengikuti Yesus pada setiap kali dia mengajar, ada ratusan orang yang
mengikutinya
selama
bertahun-tahun
dari
awal
pengajarannya
hingga
kematiannya. Aku menganggap mereka juga adalah murid-murid Yesus. Mereka
tinggal di desa-desa, hidup dengan melakukan pekerjaan sehari-hari mereka dan
pada setiap kesempatan, mereka mengajari orang-orang.‖
Barnabas menatap padaku tidak percaya.
382
Aku segera menambahkan. ―Tapi di atas segalanya, Tuhanlah yang mengajariku
melalui kehidupan ini. Melakukan apa yang diajarkan Yesus, menghadapi
kehidupan setiap harinya dalam kepasrahan dan syukur akan Kasih Tuhan.
Semua itu menumbuhkan imam dan pada akhirnya mengetahui Kasih dari Tuhan
yang sesungguhnya.‖
―Ikutlah aku ke Antiokhia,‖ kata Barnabas. ―Jemaat di sana membutuhkanmu.‖
―Baiklah,‖ kataku. ―Karena hatiku sendiri sudah ingin ke Antiokhia saat melihat
kedatanganmu pertama kali. Mungkin Tuhan memutuskan agar aku kembali
berguna bagi orang banyak.‖
Kami pun berangkat keesokan harinya.
383
BAB 16
ANTIOKHIA
―Semua manusia tersesat di dalam dunia ini,‖ kataku pada jemaat di Antiokhia.
―Kita terbuang dari Firdaus yang sempurna dan kekal abadi karena kesalahan
kita. Namun apakah kesalahan itu adalah dari Adam dan Hawa?‖
―Sesungguhnya, kukatakan tidak. Allah Maha Pengasih dan Pemaaf, dosa nenek
moyang kita tidak akan dilimpahkan pada kita. Tapi dosa kitalah yang sedang
dilimpahkan pada kita saat ini.‖
Seorang anggota jemaat bertanya, ―Dosa apakah itu?‖
Aku menatap mereka semua dan berkata, ―Dosa tidak mempercayai Tuhan Allah
kita.‖
―Kami percaya pada Tuhan,‖ kata seorang jemaat.
―Aku yakin banyak orang yang percaya pada Tuhan dalam pikiran dan
pengetahuan mereka, tapi apakah mereka percaya pada Tuhan dalam perbuatan
dan kesadaran mereka?‖ tanyaku.
Aku melihat sekeliling para jemaat dan melanjutkan, ―Jika seorang percaya pada
Tuhan dalam perbuatannya, mereka tidak akan ketakutan akan hari esok dan
selalu bersukacita dalam pelindungan Tuhan. Karena bukankah Yesus berkata,
384
bunga yang tidak berusaha saja dipakaikan keindahan oleh Tuhan mengapa kita
manusia harus cemas?‖
―Kita tidak akan iri, takut, kuatir dan terbebani oleh banyak masalah jika kita
percaya Tuhan akan mengasihi kita. Kelemahan kita adalah kita tidak sadar jika
Tuhan selalu ada dan mengasihi kita. Kita terlalu sibuk dengan diri kita dan
berusaha terlalu keras seakan-akan dunia ini milik kita. Tanpa kita, dunia tidak
akan berubah dan Tuhan tidak dapat melakukan apa pun dalam kehidupan kita.
Kita merasa diri kita lebih tinggi dari Tuhan. Keinginan kita lebih penting di atas
Tuhan dan itulah dosa yang membuat kita terpisah dari-Nya.‖
―Jadi guru, apa yang dapat kita lakukan?‖ tanya seorang jemaat.
―Marilah kita merenung sejenak,‖ kataku. ―Tuhan Allah dan orang tua kandung
kita, siapakah dari mereka yang lebih mencintai kita?‖
―Tuhan,‖ jawab mereka.
―Kalian yang memiliki anak dan keluarga, tentu kalian mencintai anak dan
keluarga kalian. Tapi, siapakah yang lebih mengasihi keluarga dan anak kalian,
diri kaliankah atau Tuhankah yang lebih mengasihi mereka?‖
―Tuhan,‖ jawab mereka.
―Jika demikian,‖ kataku. ―Mengapa kalian masih tidak percaya jika Tuhan sudah
menyediakan
kebutuhan
kalian
semua
bahkan
sebelum
kalian
dapat
memikirkannya. Tuhan juga sudah memberi semua bantuan-Nya saat kalian
385
bahkan belum menghadapi masalah yang akan datang. Dia Yang Maha Pengasih
dan Pemberi sudah menyediakan semua yang kalian butuhkan.‖
―Tapi, kami belum menerimanya,‖ kata seorang.
―Itu karena kalian menolak untuk menerima Kasih dan Kuasa-Nya. Kalian terlalu
sibuk dengan diri sendiri dan berusaha untuk menyelesaikan masalah itu sendiri
daripada memberikan kesempatan pada Tuhan untuk ikut membantu.‖
―Kami tidak mengerti guru,‖ kata seorang lainnya.
―Jika kalian mau menerima Kasih Tuhan, maka kalian tidak akan sibuk
menghadapi masalah. Saat kita kanak-kanak, kita tidak pernah merisaukan apa
yang akan kita makan karena orang tua kita sudah menyediakannya di atas meja
setiap saat makan. Setiap malam, kita juga tidak merisaukan apakah esok
matahari akan terbit. Begitu juga seharusnya kita dalam menghadapi hidup ini,
kita harus sadar jika Tuhan sudah menyediakan semua yang terbaik bagi kita.
Milikilah iman itu.‖
―Jadi,‖ kata seseorang. ―Apa yang harus kami lakukan?‖
―Sebenarnya,‖ jawabku. ―Tidak ada yang perlu kita lakukan. Kita seharusnya
menikmati kehidupan ini dengan sukacita dan di dalam Kasih Tuhan sehingga
iman kita bertambah. Tapi kita terlalu sibuk dan menyebabkan masalah bagi kita
sendiri.‖
386
―Tidak ada kesibukan kami yang menyebabkan masalah bagi kami,‖ kata seorang
lainnya. ―Kami mencoba menyelesaikan masalah kami. Kami tidak pernah
menyebabkan masalah bagi kami sendiri.‖
―Kita melakukannya.‖ Aku tersenyum. ―Kita disibukkan oleh keinginan kita.Satu
keinginan belum habis, keinginan lain sudah muncul. Kita sibuk mengejar
keinginan kita dan menyebabkan banyak masalah bagi kita. Kita mengejar apa
yang tidak kita butuhkan. Kita mengejar apa yang tidak diperuntukkan bagi kita.
Kita sibuk, kita iri, kita merasa sombong saat memiliki sesuatu yang lebih, kita
marah saat tidak mendapatkan sesuatu. Semua emosi itu adalah kesibukan kita
yang memberikan kita masalah.‖
―Janganlah sibuk, serahkan semuanya kepada Tuhan. Dia selalu memberi yang
terbaik pada kita, bahkan melebihi apa yang kita ketahui. Bersihkanlah hati kita
dari semua emosi-emosi jelek itu dan milikilah kasih. Sehingga hati kita bersih
dan Kuasa Tuhan dapat bekerja di dalamnya, memberikan kuasa Roh Kudus di
dalam hati dan akan menjadi nahkoda dalam diri kita yang bernama hati nurani
dan membiarkan kita selalu di dalam Kasih dan perlindungan Tuhan. Saat itu
hati dan diri kita akan menjadi ringan, dipenuhi kedamaian dan kebahagiaan.‖
―Marilah memaafkan orang yang pernah bersalah pada kita, memohon ampun
atas kesalahan kita pada Tuhan, dan meminta agar kemarahan, kesombongan,
kebencian, ketakutan, iri, keserakahan dalam diri kita dalam keluar dari hati
sehingga hanya kebaikan yang ada di dalam hati kita. Dan dari hati yang bersih,
akan lahir tindakan yang baik. Dari hati yang bersih akan tumbuh buah-buah roh
387
yang membuat hidup menjadi surga. Adapun buah-buah roh yaitu, kasih,
sukacita,
damai
sejahtera,
kesabaran,
kemurahan,
kebaikan,
kesetiaan,
kelemahlembutan, dan penguasaan diri.‖
Begitulah aku mengajar di Antiokhia selama hampir setahun. Aku dan Barnabas
serta jemaat Antiokhia bekerja sama untuk mengabarkan ajaran Yesus. Seorang
jemaat pernah bertanya, ―Guru mengapa engkau mengajar?‖
Setelah aku berpikir-pikir maka begitulah jawabanku.
―Jika kita memiliki sebuah gerobak yang ditarik dengan sepuluh ekor lembu
perkasa. Dan kita melewati jalanan di mana banyak orang sedang mengangkat
harta benda mereka di atas pundak dan kepala hingga mereka berjalan menunduk
karena beratnya beban itu, bukankah kita akan berkata, ‗saudaraku, naiklah ke
atas gerobak ini dan ringankan perjalananmu.‘‖
―Tentu,‖ jawab seorang itu.
―Begitulah yang sedang kita lakukan,‖ jelasku. ―Kita melihat saudara-saudara
kita sedang
menanggung
beban berat
dalam kehidupannya dan kita
mendatanginya untuk menawarkan cara agar beban itu tidak mereka tanggung
sendiri. Agar mereka dapat melepaskan beban mereka pada Tuhan, sehingga
hidup mereka menjadi ringan.‖
―Bagaimana jika mereka menolaknya,‖ tanya orang itu.
―Maka berdoalah agar hal baik terjadi pada mereka. Bahkan jika beberapa orang
marah pada kita karena bebannya yang berat dan melimpahkan kemarahannya
388
pada kita, tersenyumlah dan pergilah tanpa merasa terluka. Mereka juga adalah
saudara kita.‖
―Apakah dengan berbuat kebaikan kita akan masuk ke surga atau beroleh hal
baik?‖ tanya seorang lain.
―Saudaraku,‖ jawabku. ―Hak menuju ke surga adalah di tangan Allah. Aku tidak
melakukan hal ini karena menginginkan surga. Aku melakukannya karena inilah
kehidupanku. Sejak kecil aku tertarik pada pengetahuan akan Tuhan, setelah
dewasa aku tertarik pada saat mengajarkan Taurat pada orang-orang. Hingga kini,
aku tidak bisa memikirkan hal lain selain inilah hidupku.‖
―Saat mengajar, aku menemukan hidupku. Meskipun aku tidak mendapatkan
uang, makanan atau apa pun saat mengajar, namun aku menemukan kebahagiaan
dan hidupku saat melakukannya. Inilah arti keberadaanku yang diletakkan oleh
Tuhan di dunia ini. Aku tidak akan menodainya dengan keinginan-keinginanku
untuk dihormati dan membiarkan kesombongan kutumbuh, aku tidak akan
menghitung jumlah jemaatku karena berkah yang ingin kutanam, aku tidak akan
juga memanfaatkan kesempatan itu dengan meminta bagian dari mereka. Biarlah
cukup aku merasa hidup dengan mengajar itulah pahala terbesar bagiku, aku
dapat mengajar hingga kematianku. Setelah itu, seperti bagaimana aku di dunia
ini menyerahkan semaunya kepada Tuhan, biarlah setelah kematian, Dia
meletakkanku ke tempat di mana pun Dia menginginkan-Nya.‖
―Tidakkah guru akan kecewa jika Tuhan tidak meletakkan guru di surga setelah
apa yang guru perbuat?‖ tanya seorang lain.
389
Aku tertawa dan berkata, ―Mungkin aku akan menyesal jika Tuhan meletakkanku
di surga.‖
―Mengapa guru?‖
―Jika Tuhan meletakkanku di neraka, di sana aku masih bisa mengajar pada
banyak orang-orang agar beban mereka berkurang,‖ kataku. ―Aku tidak bisa
melakukan apa-apa di surga.‖
Anggota jemaat itu terdiam bingung.
―Lupakan apa yang kukatakan,‖ kataku. ―Sesungguhnya yang ingin kukatakan
adalah, aku tidak peduli di mana pun Tuhan meletakkanku. Selama hatiku
dipenuhi Kasih-Nya, selama Dia selalu bersamaku, aku selalu berada di dalam
kerajaan-Nya. Bahkan di dunia ini aku sudah selalu merasakan lembutnya Kasih
Tuhan, tidak nantinya surga lebih indah dari saat berada di dalam Kasih-Nya.‖
“Surga, Neraka, Firdaus atau tempat apa saja, aku tidak peduli. Hanya di dalam
Kasih-Nyalah aku selalu ingin berada.”
***
Setahun setelah aku berada di sana, datanglah beberapa orang dari Yerusalem
yang merupakan pengajar dan menganggap diri mereka sebagai nabi-nabi dari
jemaat Yerusalem.
Bukannya aku pesimis tapi bukankah mereka menggunakan nama jabatan ‗nabi‘
itu terlalu ringan dan mudah, tapi aku tidak akan protes. Adalah hak dari jemaat
390
pusat Yerusalem mengangkat pada pengajar dan guru-guru mereka menjadi apa
saja.
Pengajar atau nabi dari Yerusalem menyampaikan permintaan pengiriman
sumbangan kepada jemaat di Yerusalem. Mereka menambahkan jika sumbangan
itu juga termasuk untuk menyumbang untuk bahaya kelaparan yang akan muncul
dalam penglihatan mereka.
Barnabas menjelaskan padaku jika setiap bulannya, setiap jemaat di wilayah
mana pun, harus mengirimkan sebagian dari hasil sumbangan anggota jemaat
wilayah itu ke jemaat Yerusalem. Untuk dipergunakan demi kepentingan
bersama termasuk membantu orang-orang miskin dan membangun tempat ibadat
di sana atau berbagai tempat lainnya. Tidak jarang beberapa jemaat
mengumpulkan sumbangan bulanan itu dan mengirimkannya pada akhir tahun.
Pada kesempatan itu, mereka juga meminta agar Barnabas dapat kembali ke
Yerusalem bersama dengan Paulus untuk mempertanggung jawabkan pengajaran
pada bangsa-bangsa lain di Antiokhia yang seharusnya dilarang.
Barnabas menatap padaku, ―Kamu tidak perlu ikut, biarkan aku yang
bertanggung jawab. Karena akulah yang memanggilmu untuk membantuku.‖
―Rencana yang bagus,‖ kataku cepat. ―Pertama kali aku melihat Petrus, aku ingin
membunuhnya. Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia mau membunuhku.
Kukira kali ini bukan hal baik untuk menemuinya di Jemaat Yerusalem yang
penuh dengan orang-orang yang saudaranya pernah kubunuh.‖
391
―Benar,‖ kata Barnabas.
―Kalau begitu aku pergi menyertaimu.‖
Barnabas terkejut, ―Tapi bukankah kamu juga menyetujui jika itu adalah hal yang
buruk?‖
―Benar,‖ kataku. ―Kamu dan aku setuju ini adalah hal yang buruk. Tapi, hati
nuraniku memerintahkan agar aku ke sana, karena ada hal yang harus aku
lakukan.‖
―Meski kamu harus mati?‖
―Jika hati nuraniku tergerak, maka itu adalah perintah Tuhan yang terbaik. Aku
tidak peduli jika di sana mereka akan menyiksaku atau mencincangku. Aku harus
ke sana.‖
Barnabas menatapku lama dan berkata, ―Baiklah jika itu keputusanmu. Aku akan
memastikan agar engkau tidak akan binasa di sana.‖
Aku tersenyum merasa geli. ―Apa artinya seroang Barnabas jika Tuhan sudah
menghendaki kepergianku dari dunia ini di sana.‖
392
BAB 17
JEMAAT YERUSALEM
Tahun 49 SM
Tiba di Yersalem ternyata jauh lebih mudah daripada yang kukira. Hampir 15
tahun sudah berlalu sejak aku meninggalkan tempat ini dan selama itu juga
orang-orang sudah mulai melupakanku. Aku mendengar jika imam-imam
Sanhedrin juga sudah banyak yang berganti. Bahkan jemaat Yerusalem yang
mengikut ajaran Yesus sudah berdiri di tempat di mana dulunya Yesus disalibkan
dan para pengikutnya dianiaya. Jelas sudah banyak perbuahan yang terjadi di
Yerusalem.
Barnabas dan aku membawa serta sejumlah besar uang hasil sumbangan Jemaat
Antiokhia kepada Jemaat pusat di Yerusalem. Di sana, Barnabas membawaku ke
sebuah rumah ibadat yang terbuat dari batu. Rumah itu terlihat luas dan mewah.
Di dalam rumah ibadat, aku di bawa masuk ke bagian dalamnya di mana ada
begitu banyak ruangan yang indah dan di sanalah aku menemui tiga orang yang
menjadi pimpinan jemaat ajaran Yesus di seluruh wilayah orang Yahudi.
James saudara Yesus yang menjadi pimpinan utama dan di sampingnya ada
pimpinan bagian pengajaran dan hukuman yaitu Petrus dan Yohanes.
393
Barnabas menyapa mereka dan memperkenalkan aku. ―Inilah Paulus dari Tarsus
yang kubawa ke Antiokhia untuk mengajarkan ajaran Yesus dan menambah
jumlah jemaat di sana.‖
Petrus menatapku dengan seksama dan akhirnya ia mendadak berdiri dan berkata
dengan penuh kemarahan, ―Bukankah ini adalah Saul yang dulu menganiya
kita?‖
―Tidak salah lagi,‖ kataku. ―Dan aku memohon maaf atas apa yang sudah aku
lakukan padamu dan orang-orang lainnya.‖
―Kamu harus mati untuk menebus kesalahanmu,‖ bentak Petrus.
―James,‖ kata Barnabas mencoba menengahi. ―Engkau pimpinan kami yang di
sebut James ‗Sang Adil‖ bukankah Yesus mengajarkan jika seorang yang sudah
meminta maaf, maka harus dimaafkan meski orang itu akan melakukan kejahatan
lagi? Paulus sudah meminta maaf. Dia sudah bertobat dan bahkan membantu
pengajaran Yesus, Dia layak dimaafkan dan diberi kesempatan.‖
James melihat pada Petrus dan kemudian menjawab, ―Apa yang kamu katakan
tidak salah. Tapi tidak semua hal selesai hanya dengan kata ‗maaf‘ seperti apa
yang kalian lakukan di Antiokhia. Tidak seharusnya kalian mengajar pada
bangsa-bangsa lain.‖
―Petrus, Yohanes,‖ panggil James pada mereka. ―Pertemua kita kali ini adalah
mengenai pengajaran pada bangsa-bangsa lain. Biarlah apa yang terjadi pada
394
kalian di masa lalu dengan Paulus, kalian selesaikan setelah kita membahas
masalah utama ini.‖
Aku melihat pada James dan menyadari, saudara Yesus itu direkrut ketika nama
baik Petrus yang sedang pada puncaknya hancur oleh penganiayaan yang
dilakukan olehku. Aku menghancurkan kelompoknya yang berjumlah ribuan
orang hingga menjadi berkeping-keping. Ketika itu, Petrus kehilangan
kepercayaan dari banyak orang dan berbagai kelompok pengikut Yesus
memisahkan diri darinya. Oleh karena itu, dia pergi mencari James dan
mengangkatnya sebagai pimpinan mereka sehingga kelompok-kelompok yang
terpecah dapat kembali bersatu di bawah James yang merupakan saudara
kandung Yesus.
James dengan sendirinya tidak memiliki dendam denganku. Mungkin harus
berterima kasih karena kesempatan ini membuatnya dapat menjadi pimpinan
seluruh jemaat Yesus. Tapi, aku tidak boleh berpikiran buruk.
Aku mendengar James yang disebut James ‗yang adil‘ adalah karena dialah yang
memutuskan perkara-perkara dari Jemaat Yesus di mana saja dan terutama halhal dalam jemaat Yerusalem.
James memulai pernyataannya, ―Bangsa-bangsa lain tidak mengikuti hukum
Taurat, mereka tidak mengikuti hukum Musa yang menyatakan bahwa mereka
yang tidak disunat tidak akan pernah menerima keselamatan. Karena sunat adalah
tanda perjanjian antara Abraham pada Tuhan dan semua keturunannya. Mereka
395
semua adalah orang-orang tidak bersunat. Mereka bukanlah milik Tuhan kita
tidak dapat menyelamatkan mereka dan dilarang untuk mengajar pada mereka.‖
Aku mengetahui hukum itu lebih dari siapa pun karena aku adalah orang Farisi
dan sekaligus ahli Taurat yang mengajarkan Kitab Ibrani pada rabbi-rabbi. Dan
kesombonganku itu telah hancur oleh ajaran Yesus.
―Jika kamu mengatakan mereka bukan milik Tuhan,‖ tanyaku, ―lantas siapakah
yang menciptakan mereka? Jika kamu mengatakan sunat
memastikan
keselamatan, tidakkah kita melihat ada begitu banyak orang bersunat yang
melakukan kejahatan, berzinah, dan menggunakan kekuasaan mereka semenamena. Apakah kamu akan mengatakan imam-imam yang mengantungkan Yesus
ke atas kayu salib itu akan beroleh keselamatan karena mereka disunat?
Sesungguhnya menurut ajaran Yesus, sunat yang penting adalah sunat hati.
Mengeluarkan seluruh yang kotor dan penyebab yang kotor dari dalam hati untuk
memperoleh keselamatan.‖
Petrus tampak marah, ―Jangan menggunakan nama guru kami sembarangan. Apa
yang kamu ketahui tentang Yesus hanyalah segelintir, kami mengetahui lebih
baik daripadamu.‖
―Jika kamu yang paling mengetahuinya,‖ tanyaku memandang Yesus. ―Apakah
saat Yesus mengajar dan beribu-ribu orang mengikutinya, Yesus ada
mengatakan; bagi bangsa-bangsa lain, terutama mereka yang tidak bersunat,
keluarlah dari rombongan ini karena kalian tidak layak mendengarkannya.‖
396
Terdiamlah mereka semua di sana.
Yohanes
menjawab,
―Yesus
menerima
semua
orang
yang
bersedia
mendengarkannya. Tapi, aku mendengar karena kalian membawa masuk bangsabangsa lain yang tidak bersunat, orang-orang Yahudi di Antiokhia mulai
terpengaruh dan mereka tidak lagi melakukan sunat pada anak-anak mereka dan
mereka tidak lagi mematuhi hari Sabat maupun mengikuti hukum Taurat.‖
Aku mendesah dan menjawab, ―Mereka yang tidak melakukan sunat, mereka
yang tidak mematuhi hari sabat, mereka yang tidak mematuhi hukum Taurat, kita
dapat menemukannya tidak hanya di Antiokhia tapi juga di semua tempat
termasuk di tempat ini. Mereka bertanggung jawab atas diri mereka dan akan
berurusan dengan Tuhan jika mereka melakukan kesalahan. Aku tidak berhak
menilai mereka.‖
―Tapi, kamulah penyebabnya.‖ Protes Petrus. ―Kamu membiarkan mereka,
bangsa lain bergabung dengan jemaat kita. Mereka terpengaruh dan kamulah
penyebabnya.‖
―Baiklah jika demikian,‖ kataku. ―Apa yang harus aku lakukan?‖
―Berhentilah mengajar pada bangsa-bangsa lain,‖ kata Yohanes.
―Baiklah jika itu keputusan kalian,‖ kataku. Aku mengangkat uang sumbangan
dari jemaat Antiokhia dan meletakkannya di atas meja. ―Sekarang pisahkanlah
uang-uang sumbangan dari banga-bansgsa lain dari uang sumbangan orang-orang
Yahudi. Setelahnya, aku akan membawa uang itu pulang dan mengembalikannya
397
ke Jemaat yang merupakan bangsa-bangsa lain di Antiokhia dan mengusir
mereka.‖
―Kamu akan mengusir mereka?‖ tanya Barnabas terkejut.
Aku tersenyum. ―Kalianlah yang mengusir mereka. Sedangkan aku sendiri akan
ikut bersama mereka bangsa-bangsa lain. Sesungguhnya, dengan dan tanpa izin
persetujuan dari kalian, Jemaat Yerusalem, pusat pengajaran ajaran Yesus dan
ajaran langsung dari murid-muridnya, tidak akan ada yang berkurang dari kami
tentang ajaran Yesus dan keselamatannya pada kami. Karena ajaran itu bersifat
abadi. Karena ia penuh kebenaran. Kami akan bertumbuh, bertambah banyak dan
tetap dalam Kasih Tuhan. Satu satunya yang berkurang adalah apa yang ada di
atas meja ini. Uang sumbangan mereka dan uang dari sumbangan dari jemaat
bangsa-bangsa lain yang kelak bertumbuh semakin besar dan tidak akan mengalir
ke tempat ini.‖
Terdiamlah semua orang di sana.
―Sesungguhnya aku berkata kepadamu,‖ kataku lagi. ―Tidak ada sedikitpun kuasa
dari kalian yang akan dapat mencegah kebenaran itu memasuki hati orang-orang
banyak dan bangsa-bangsa lain. Tuhan sudah berkehendak, roda besar sudah
berputar, kalian tidak akan pernah dapat mencegah kebenaran ini mengisi hati
mereka yang merindukan Tuhan. Kalian bisa mencegah Barnabas dan semua
anggota Jemaat kalian mengajar pada bangsa-bangsa lain. Tapi saat itu, kalian
akan menemukanku
mengajar
di antara bangsa-bangsa.
Meski kalian
membungkamku dan membunuhku di sini, kelak murid-muridku dan jemaat
398
bangsa-bangsa lain akan terus mengajarkan pada keluarga mereka, pada saudara
mereka dan sesama mereka.‖
Aku melihat mereka semua. ―Apa yang kalian lakukan di sini sama sekali tidak
ada artinya. Memutuskan untuk mengajar pada bangsa-bangsa lain atau tidak.
Berhentilah menipu diri sendiri dan merasa berkuasa. Jika kalian ingin
membungkam ajaran Yesus pada bangsa-bangsa lain. Bunuhlah semua orang
yang mengetahui ajaran Yesus. Hanya itu cara satu-satunya.‖
―Sesungguhnya, apa yang kita bahas di sini menurutku bukanlah tentang ‗apakah
kita akan melakukan pengajaran kepada bangsa-bangsa lain?‘ Tapi, ini semua
tentang, apakah jemaat bangsa-bangsa lain akan mengalirkan sumbangan berupa
uang mereka ke tempat ini setiap bulan, setiap tahunnya atau tidak
mengalirkannya ke tempat ini? Kalian tidak bisa mencegah kebenaran, kalian
hanya bisa mencegah aliran uang.‖
―Paulus,‖ teriak Petrus marah. ―Kami tidak pernah memikirkan uang sumbangan.
Kami hanya memikirkan apakah ajaran-ajaran Yesus itu pada bangsa-bangsa lain
akan mereka pergunakan dengan baik? Apakah mereka tidak akan mencoreng
nama guru atau membelokkan ajarannya?‖
―Apakah kamu dapat memastikan semua anggota jemaatmu melakukan ajaranajarn Yesus dengan baik? Apakah kamu dapat memastikan dirimu sendiri
melakukan ajaran itu dengan baik?‖ tanyaku balik. ―Jika niatmu tulus akan
menegakkan ajaran Yesus, biarkan bangsa-banga lain menerima pengajaran dan
kalian dapat mengawasinya agar tidak disalahtafsirkan.‖
399
Petrus terdiam dan suasana menjadi hening.
James akhirnya membuka suara, ―Paulus, baiklah engkau mendengarkan kami
tanpa terburu-buru melemparkan dugaanmu. Kami tidak melarang ajaran kepada
bangsa-bangsa lain. Hanya saja kami berpikir alangkah baiknya jika mereka
semua dapat juga menuruti hukum Taurat.‖
―Jika yang kamu persoalkan adalah hukum Taurat,‖ kataku tersenyum. ―Orangorang Farisi, orang Saduki, dan imam-imam serta penatua-penatua yang
menyalibkankan Yesus sudah berusaha dengan semua kemampuan mereka untuk
memaksakan hukum Taruat pada semua orang. Mereka adalah ahli-ahli Taurat
yang lebih baik daripada kalian dan orang-orang tepat untuk memaksakan hukum
itu pada bangsa-bangsa lain. Mereka tidak kekurangan apa pun untuk
menegakkan hukum Taurat. Tapi sesungguhnya kukatakan, mereka—jemaat
Yesus dan bangsa-bangsa lain—tidak mencari ahli-ahli Taurat karena mereka
mencari ajaran Yesus.‖
Kembali terdiamlah mereka semua.
―Paulus,‖ kata James, ―Kamu keluarlah dari ruangan ini. Tinggalkan kami
berempat untuk memutuskan tentang pengajaran pada bangsa-bangsa lain.‖
―Baiklah,‖ kataku berdiri melihat mereka berempat. ―Jika seandainya kalian
menolak, pastikan kalian memisahkan uang sumbangan dari bangsa-bangsa lain.‖
Setelah itu aku keluar dari ruangan. Di luar, aku duduk di di sebuah kursi kayu
dan menunggu.
400
Aku memandang pada langit dan berbisik, ―Sesungguhnya Tuhan, aku tidak
membutuhkan izin dari mereka untuk mengajar pada siapa pun yang Engkau
kehendaki.‖
***
Di dalam ruangan, Petrus terlihat marah, ―Aku tidak tahu dari siapa dia mendapat
ajaran tentang Yesus dan merasa lebih mengetahui daripada kita.‖
―Dia menyelidikinya sendiri,‖ kata Barnabas. ―Dia juga berkata pernah bertemu
dengan murid-murid Yesus lainnya.‖
―Siapa dia?‖ tanya Yohanes. Dia merasa penasaran karena sudah cukup lama
mereka ber-12 murid-murid Yesus pergi ke arah yang berbeda. Hingga saat ini,
hanya beberapa yang masih dapat dihubungi.
―Filemon dan beberapa orang lainnya yang mengikuti Yesus dari awal hingga ke
hari dia disalibkan,‖ jawab Barnabas.
―Cih,‖ kata Petrus tidak menyetujui. ―Filemon hanya budak yang melayani
makan kami dan Yesus. Dia sama sekali tidak terhitung murid.‖
―Tapi, apa yang dia katakan memiliki kebenaran,‖ kata James pada semua orang
di dalam ruangan karena merasa topik mereka sudah berpindah terlalu jauh. ―Kita
tidak dapat mencegah pengajaran ke bangsa-bangsa lain. Jika kita tidak
melakukannya, kelompok pengikut ajaran Yesus lainnya yang tidak tergabung
pada Jemaat Yerusalem ini akan melakukannya.‖
401
―Mereka juga tidak akan melakukannya,‖ sahut Yohanes. ―Tidak ada orang
Yahudi yang ingin mengajar pada bangsa-bangsa lain dan mengkhianati darah
mereka sendiri. Semua orang Yahudi sejak kecil sudah tahu jika janji
keselamatan itu hanya pada bangsa Israel. Bangsa-bangsa lain akan dilenyapkan.‖
Mereka kembali berdebat hingga akhirnya Petrus dengan marah berkata,
―Barnabas, keluarkan uang-uang sumbangan bangsa-bangsa lain dan kembalikan
pada Paulus untuk diserahkan pada mereka.‖
Barnabas dengan muka kecewa mengeluarkan keping-keping uang itu dan
menghitung sekitar sepersepuluh dari dalam kantongan dan meletakkannya di
atas meja.
Petrus mendengus melihat jumlah itu, ―Lihatlah jumlah sumbangan yang kecil
itu. Lebih baik kita tidak menerimanya dari pada kita akan di hukum bersama
bangsa-bangsa lain yang akan binasa.‖
Barnabas melirik sekeliling dan berkata dengan segan, ―Sesungguh itu adalah
jumlah sumbangan dari orang Yahudi jemaat Antiokhia. Sembilan persepuluhnya
adalah dari anggota jemaat bangsa-bangsa lain. Mereka adalah para pedagang
lintas negara yang memiliki uang yang lebih banyak dari orang Yahudi.‖
Melihat semuanya masih diam, Barnabas melanjutkan. ―Jika kita tidak
mengizinkan ajaran Yesus pada mereka, bangsa-bangsa lain itu akan membangun
jemaatnya sendiri dan kemungkinan besar Paulus akan menjadi pimpinannya.‖
402
―Tidak mungkin pria itu dapat melakukannya,‖ kata Petrus. ―Tanpa pengajaran
dari tempat ini, mereka tidak akan bertahan lama.‖
―Mereka akan bertahan,‖ kata Barnabas yakin. ―Karena dialah yang mulai
mengajar bangsa-bangsa lain dan akhirnya berkembang di Antiokhia. Paulus
adalah pengajar yang memiliki kuasa roh. Dia dapat menyembuhkan orang
lumpuh, mengusir jiwa-jiwa jahat yang merasuk dan kata-katanya penuh kuasa.‖
―Apakah dia melakukannya?‖ tanya Petrus dan Yohanes bersama-sama.
―Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Aku merasakan Kuasa dan Kasih
Tuhan bekerja setiap kali ia menyembuhkan dan berkata-kata dalam ajaran
Yesus,‖ tambah Barnabas. ―Tampaknya pengakuan dia dipanggil langsung oleh
Tuhan itu adalah benar.‖
***
Pada hari itu juga, aku dipanggil ke dalam ruangan kembali oleh Barnabas dan
mendapatkan keputusan di hadapan mereka bertiga—pilar jemaat Yerusalem dan
semua jemaat ajaran Yesus.
James menatapku dan berkata, ―Dalam keputusan kami, kami memutuskan
bahwa tidak seharusnya kami
menghambat
bangsa-bangsa
lain untuk
memperoleh keselamatan dan kembali pada Tuhan Yang Sejati melalui ajaran
Yesus. Bahkan kami harus mendukung agar mereka semakin memahami ajaran
Yesus.‖
403
―Tapi,‖ tambah James. ―Kami juga menginginkan yang terbaik untuk mereka dan
kami memutuskan agar kalian dapat menyuruh semua bangsa-bangsa lain yang
ikut dalam ajaran Yesus, agar juga mengikuti hukum Taurat.‖
―Dan kami juga, akan mendukung pengajaran kepada bangsa-bangsa lain.
Melalui dirimu dan Barnabas yang dikhusukan untuk mengajar pada bangsabangsa lain, kami akan memberikan bantuan berupa para pengajar kami untuk
jemaat-jemaat yang kalian bangun di tempat-tempat bangsa lain agar mereka bisa
mendapatkan seorang pengajar yang baik. Semua itu akan kami lakukan jika
kamu bersedia memberikan uang hasil sumbangan dari jemaat mereka kepada
jemaat Yerusalem setiap bulannya, sehingga para pengajar di sini dapat beroleh
ongkos jalan dan kehidupan yang layak untuk pergi ke tempat itu.‖
Aku melihat mereka dan berkata, ―Katakanlah hal itu pada Barnabas, dia adalah
anggota jemaat kalian dan aku tidak. Aku akan membantunya mengajar di
wilayah bangsa-bangsa lain. Dia yang akan mengatur uang sumbangan dari
jemaat-jemaat yang kami bangun kepada jemaat kalian. Jika seandainya pun dia
tidak bersamaku, aku akan memberitahu jemaat-jemaat yang kubangun untuk
mengirimkan surat dan sumbangan kepada tempat ini dan meminta seorang
pengajar mupun pengawas yang dapat memberikan mereka ajaran tentang
Yesus.‖
―Baiklah,‖ kata James menyetujui kataku. ―Jika kamu membutuhkan biaya
perjalanan untuk memberitakan ajaran Yesus mintalah pada kami.‖
404
Aku tersenyum dan berkata, ―Terima kasih atas tawarannya. Aku sendiri masih
memiliki uang hasil kerjaku sebagai pembuat tenda selama bertahun-tahun untuk
biaya perjalanan ke tempat lain. Lagi pula aku melakukannya untuk diriku sendiri
dan Tuhan. Tuhan akan menyediakan bagiku semua biaya yang dibutuhkan.
Bukankah Yesus berkata; jangan membawa bagimu bekal dan pakaian saat
memberitakan Kerajaan Allah?‖
405
BAB 18
PERJALANAN PERTAMA
Tahun 50 SM
Setelah dari pertemuan itu, aku dan Barnabas ingin kembali ke Antiokhia.
Yohanes yang di sebut Yohanes Markus—saudara sepupu Barnabas—mengikuti
kami dengan tujuan untuk melihat jemaat di Antiokhia.
Aku tidak tahu maksud dan tujuan dia mengikuti kami, tidak juga nantinya aku
akan mencurigai dirinya untuk melakukan hal buruk. Mungkin saja Petrus
menyuruhnya untuk membunuhku. Aku ingat, dendam mereka padaku sama
sekali belum hilang. Tapi, sudahlah. Jika seorang sudah waktunya mati, maka ia
akan mati.
Dalam perjalanan menuju ke Antiokhia, mendadak aku merasa sudah waktunya
aku berangkat ke Pulau Siprus.
―Barnabas,‖ kataku dalam perjalanan bersama mereka. ―Aku akan ke Pulau
Siprus untuk mengajar di sana. Kamu pergilah ke Antiokhia terlebih dahulu
bersama Yohanes.‖
406
Barnabas tidak memberikan jawaban. Setelah sehari perjalanan, ia berkata,
―Baiklah aku akan mengikutimu. Lagi pula Antiokhia belum membutuhkan
keberadaan kita.‖
―Bagaimana dengan Yohanes?‖
―Biarlah dia ikut bersama kita agar dia bisa membantu.‖
Setelah itu, kami tidak jadi ke Antiokhia tapi ke Seleukia, sebuah kota pelabuhan
yang dekat dengan Antiokhia dan dari situ kami berlayar ke Pulau Siprus yang
berjarak sekitar 150 kilometer. Perjalanan dengan kapal itu tidak mengalami
masalah. Di Pulau Siprus, hanya ada dua kota besar yaitu Salamis dan Pafos.
Kapal kami tiba di kota pelabuhan Salamis dan di sana kami memberitakan
ajaran tentang Allah dan kasih pada rumah ibadat setempat. Kami menginap di
tempat di mana penduduk itu mengizinkan kami, makan dari sedekah pemberian
orang-orang dan setiap harinya, kami terus berjalan mengelilingi Pulau Siprus.
Dari Salamis, kami berjalan hingga ke kota Pafos yang berjarak 130 kilometer,
sebuah kota di ujung lain dari Pulau Siprus yang terletak berjauhan dari kota
Salamis.
Perjalanan ini cukup melelahkan tapi melihat mereka yang dapat mengetahui
bahwa Allah sesungguhnya mengasihi mereka dan melihat beban hidup mereka
diringankan, dari sebuah kemurungan menjadi senyuman, aku merasa senang
dapat diberi kesempatan untuk mengajar.
407
Di kota Pafos, kami mengajar di rumah ibadat dan keesokan harinya, Gubernur
Pulau Siprus yang bernama Sergius Paulus mendengar kedatangan kami dari
imam setempat dan mengundang kami ke tempatnya.
Namun, seorang Yahudi bernama Baryesus yang merupakan seorang nabi di kota
Pafos dan juga dapat melakukan beberapa mukjizat, mendatangi kami di tempat
tinggal kami.
―Apa yang kalian lakukan di tempat ini?‖ tanya Baryesus, seorang yang kepala
bagian atasnya botak, tubuhnya memancarkan harum wewangian dan pakaiannya
tampak mewah.
Kolous seorang pria yang mengizinkan kami tinggal di rumahnya tampak
ketakutan saat melihat pria itu.
―Mengajarkan tentang Allah,‖ kata Barnabas dengan berani.
―Tapi mereka semua tidak membutuhkan kalian di sini. Cukup sudah aku ada di
sini, nabi mereka yang terpercaya. Pergilah keluar dari tempat ini,‖ kata Baryesus
mengusir.
Kolous segera berbisik pada kami, ―Dia adalah teman gubernur dan seorang nabi,
turutilah kehendaknya dan jangan mencari gara-gara dengannya. Dia pernah
membutakan orang dengan ilmunya. Mereka memanggilnya dengan nama
Elimas.‖
Elimas atau Baryesus itu mencoba mengusir kami untuk keluar dari Pulau.
408
―Kami sudah berjanji untuk bertemu gubernur,‖ kata Barnabas tidak
mempedulikannya dan pergi ke rumah gubernur dengan diikuti olehnya.
Di rumah gubernur, Sergius menerima kami dengan gembira. Saat dia melihat
Elimas dia segera berkata, ―Ternyata Elimas turut datang ke tempat ini. Marilah
duduk dan sama-sama mendengarkan apa yang ingin mereka beritahukan pada
kita.‖
Yohanes yang merupakan murid Yesus langsung, segera menceritakan tentang
kehidupan Yesus dan gubernur itu tertarik mendengarkannya. Saat Yohanes
menceritakan tentang
mukjizat
yang
dilakukan Yesus,
Elimas
segera
menambahkan pada Sergius. ―Tentu dia memiliki trik rahasia untuk menipu para
pengikutnya.‖
Aku, Barnabas dan Yohanes mendengarkan itu tapi tidak membalasnnya.
Yohanes kemudian bercerita tentang hukum Taurat dan ajaran Yesus tentang hari
Sabat. Elimas langsung menambahkan, ―Kalian sama sekali tidak tahu apa pun
tentang hukum Taurat. Aku sudah mempelajarinya selama 40 tahun.‖
Yohanes kembali bercerita dan Elimas kembali menjawab-jawab dan berusaha
membelokkan gubernur itu dari kepercayaannya pada Tuhan. Sergius adalah
orang Roma yang cerdas dan penuh rasa ingin tahu, aku tidak ingin jika dia akan
dipengaruhi oleh Elimas.
Aku segera menatap Elimas dan berkata, "Hai orang berhati jahat, tidakkah
engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan. Karena
409
ketakutanmu akan kehilangan kekuasaan di tempat ini, kamu menggunakan
segala cara agar mengusir kami. Engkau musuh segala kebenaran, tidakkah
engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu? Sekarang,
lihatlah, tangan Tuhan datang menimpa engkau, dan engkau menjadi buta,
beberapa hari lamanya engkau tidak dapat melihat matahari."
Sergius terkejut dan menatap pada Elimas. Pria itu mendadak meraba-raba
sekelilingnya dan berteriak. ―Gelap sekali. Apa yang terjadi? Apakah langit
mendadak gelap? Aku tidak dapat melihat!‖ Wajah Elimas tampak ketakutan.
―Silakan teruskan pengajarannya,‖ kataku menyambar tangan Elimas dan
membawanya keluar dari rumah gubernur. Yohanes dan Barnabas melanjutkan
pengajaran mereka dan saat hendak pulang, mereka berjanji akan mengirimkan
seorang dari Jemaat Yerusalem ke kota ini.
Lalu kami meninggalkan Pafos dan berlayar ke kota pelabuhan Perga yang
berada di wilayah Pamfilia, ( salah satu wilayah Turki ). Jarak antara kedua
tempat itu adalah sekitar 200 kilometer. Setelah kejadian Elimas, Yohanes
mendadak menjaga jarak dariku. Ia terlihat takut padaku. Saat kami tiba di Perga,
dia memutuskan untuk tidak ikut bersama kami dan kembali ke Yerusalem.
Aku tidak tahu apa yang menyebabkannya pulang ke Yerusalem dan
membatalkan niatnya untuk mengajar bersama kami. Dari Perga, kami
melanjutkan perjalanan sekitar 150 kilometer ke bagian utara, lalu tiba di
Antiokhia di wilayah Pisidia. Kota itu memiliki nama yang mirip dengan kota
Antiokhia di wilayah Siria.
410
Keesokan hari saat kami tiba adalah hari Sabat sehingga kami pergi ke rumah
ibadat, lalu duduk di situ. Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab
nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat bertanya kepada semua orang, "Saudarasaudara, jikalau saudara-saudara ada pesan untuk membangun dan menghibur
umat ini, silakanlah!"
Karena melihat tidak ada seorang pun yang mengambil berkat itu, aku pun
bangkit berdiri lalu berkata, "Hai orang-orang Yahudi dan kamu yang takut akan
Allah, dengarkanlah tentang Kasih Allah pada kita.
Allah telah memilih nenek moyang kita orang Israel dan membuat umat itu
menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan
tangan-Nya yang luhur, Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu.
Empat puluh tahun lamanya Ia sabar terhadap tingkah laku mereka di padang
gurun. Dan setelah membinasakan tujuh bangsa di Tanah Kanaan, Ia membagibagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira
empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim
sampai pada zaman Nabi Samuel.
Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka
Saul bin Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul
disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah
telah menyatakan, Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di
hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.
411
Dan dari keturunannyalah, sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, Allah telah
membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel dan semua bangsa, yaitu Yesus
yang mengajarkan tentang Kasih Allah pada kita.
Hai saudara-saudaraku, baik yang termasuk keturunan Abraham, maupun yang
takut akan Allah, kabar keselamatan itu sudah disampaikan kepada kita. Dan
kami sekarang memberitakan kabar kesukaan kepada kamu, yaitu bahwa janji
yang diberikan kepada nenek moyang kita, yaitu pengampunan dosa.
Siapa yang bertobat dan menyeru dalam nama Tuhan dengan sungguh-sungguh
akan memperoleh pengampunan. Allah yang sesungguhnya adalah Allah Yang
Maha Pengasih. Ia akan mendengar seruan setiap orang yang berdoa padanya,
dengan kurban, tanpa kurban. Karena sesungguhnya menyembah Tuhan itu
haruslah dalam Roh dan Kebenaran. Inilah kebenaran yang aku katakan, Tuhan
mendengarkan. Dan Roh adalah apa yang ada di dalam hatimu. Milikilah hati
yang bersih maka damai dan sukacita akan bersamamu. Berdoalah sepenuh hati
pada-Nya.
Allah kita bukanlah Allah pemarah dan kejam seperti yang sering mereka katakan
di dalam Kitab Taurat. Allah kita adalah Allah Pemaaf lagi Penyayang.
Serahkanlah hidupmu pada-Nya dan milikilah iman.‖
Begitulah yang aku ceritakan pada mereka. Ketika aku dan Barnabas keluar dari
rumah ibadat, mereka meminta kami untuk berbicara tentang pokok itu pula pada
hari Sabat berikutnya. Bahkan saat setelah selesai ibadah, banyak orang Yahudi
412
dan penganut-penganut agama Yahudi dari berbagai bangsa yang takut akan
Allah, mengikuti kami.
Akhirnya kami menyempatkan diri berkumpul bersama mereka dan mengajar
tentang hidup di dalam kasih karunia Allah.
―Saat kita lemah,‖ kataku. ―Saat kita sakit, saat kita kehilangan semua cahaya
dalam hidup kita, bahkan saat semua orang tidak mempercayai kita, janganlah
ragu jika Allah Maha Pengasih tetap mempercayaimu, berada di sampingmu dan
selalu membantumu. Dia tidak akan marah karena kelemahan kita dalam berbuat
dosa. Dia akan tetap menatap kita dengan mata lembutnya dan menunggu kita
untuk mengaku bersalah dan meminta pengampunan darinya.
Setelahnya Dia akan memakaikan Kasih-Nya pada kita dan meringankan semua
beban kesulitan kita. Karena Dia adalah Allah yang Maha Sempurna.‖
***
Pada hari Sabat berikutnya saat kami tiba di depan rumah ibadat, terkejutlah
Barnabas melihat orang yang berjumlah sangat banyak itu hingga tidak dapat
memasuki rumah ibadat.
Ia berkata, ―Kupikir hampir seluruh kota itu berkumpul di rumah ibadat ini untuk
mendengar firman Allah.‖ Aku melihat yang datang tidak hanya orang-orang
Yahudi, tapi orang Yunani dan beberapa orang Roma.
413
Aku
dan
Barnabas
melihat
Rabbi
dan pejabat
rumah
ibadat
tidak
memperbolehkan orang-orang dari bangsa lain untuk masuk ke dalam rumah
ibadat dan hanya mengizinkan orang Yahudi.
Melihat jumlah orang yang berada di luar lebih banyak daripada yang ada di
dalam, aku memutuskan untuk mengajar di halaman luar rumah ibadat yang
dapat menampung ratusan orang.
Akan tetapi, seorang rabbi setempat dan pejabat rumah ibadat menatap kami
dengan wajah yang kurang senang. Namun, ia tidak dapat melarang kami.
Tepat saat aku memulai membaca Kitab Taurat dan orang-orang di dalam rumah
ibadat mengetahui aku dan Barnabas mengajar di luar, sebagian besar dari
mereka keluar dari rumah ibadat meninggalkan rabbi yang baru akan memulai
pembacaannya.
Karena banyaknya jumlah yang keluar dari rumah ibadat, akhirnya para pejabat
rumah ibadat mengikuti acara kami di luar rumah ibadat bersama bangsa-bangsa
lain. Aku dapat melihat wajah bersungut-sungut dari mereka. Tapi, melihat wajah
gembira dan senyuman dari bangsa lain yang berjumlah banyak, tergeraklah
hatiku dan bercerita.
―Mengapa kita membutuhkan Tuhan,‖ kataku menatap mereka semua karena
percaya orang Yunani belum mengenal Tuhan. ―Tuhan adalah Pencipta Langit
dan Bumi. Penguasa tertinggi dari semua makhluk dan yang menciptakan para
dewa.
414
Katakanlah seorang anak yang memiliki seorang bapak dan ibu dengan seorang
anak yang terlahir yatim piatu. Siapakah yang akan terlahir menjalani hidup lebih
baik?
Saat seorang anak yang memiliki orang tua, dia dapat berbagai banyak hal seperti
masalah dan beban hidup. Dia akan tumbuh dengan sehat karena kasih sayang
orang tuanya dan lebih menikmati kehidupan. Akan ada banyak senyum di
wajahnya, akan ada tidur yang damai di dalam rumahnya dan ada perasaan
tenang selalu di mana pun ia berada. Karena ia tahu kedua orang tuanya akan
selalu membantunya.
Saat seorang anak yatim piatu, dia tidak akan memiliki tempat mengadu dan
berbagi. Dia akan menjalani kehidupan yang keras dengan menanggung semua
beban dunia ke atas pundaknya hingga badannya bungkuk, kakinya tertekuk
kelelahan dan tidak mampu berjalan lurus.
Air matanya akan terjatuh dalam sepi dan tidak ada tempat berbagi. Dia akan
meringkukkan dirinya dalam selimut kehampaan dan rasa sakit. Dunia akan
menggilasnya dan hatinya akan menjadi keras untuk menaklukkan dunia yang
kejam padanya. Akan tumbuh kecurigaan pada sesamanya, akan muncul duri-duri
tajam untuk menjaga dirinya dari rasa sakit dan hatinya akan mengeras karena
tidak merasakan kasih sayang.
Saudara-saudaraku. Bukankah kita hidup di dunia ini tanpa Tuhan adalah seperti
seorang anak tanpa orang tua. Terimalah Tuhan dalam hidupmu, biarkan KasihNya bekerja atas dirimu, melembutkan hati kita yang telah mengeras.
415
Bukalah hatimu, serahkan bebanmu pada-Nya yang selalu mengasihimu.
Berikanlah bebanmu dan penderitaanmu yang tidak pernah engkau bukakan pada
orang lain pada-Nya. Katakan; Tuhan, aku membutuhkanmu.
Maafkanlah dirimu dan berhentilah menyiksa dirimu sendiri. Kita sudah
kelelahan dalam hidup ini. Beristirahatlah dan berdamailah dengan dirimu dan
lingkungan yang tidak ramah padamu. Meski mereka masih menyakitimu.
Berdoalah dan katakan; Tuhan, Pencipta segalanya, kuserahkan diriku dan semua
beban ini pada-Mu. Terimalah aku.
Setelah itu janganlah lagi engkau cemas, lepaskanlah kesedihan dan rasa sakitmu.
Biarkan imanmu bertumbuh dengan kepercayaan dan kepasrahan pada-Nya.
Bukankah kita ini makhluk yang lemah dan tidak dapat melakukan apa pun
dengan sempurna?
Lembutkan hatimu dan biarkan Kasih-Nya bekerja padamu. Saat itu Kuasa-Nya
dalam cahaya yang penuh Kasih dan kelembutan akan menyelimuti dirimu. Saat
itu, ke mana pun engkau pergi, Kuasa Tuhan akan besertamu, Kasih-Nya akan
memancar melalui dirimu. Dan saat itu, jiwa-jiwa jahat yang cenderung merasuki
dan mengganggu kehidupan orang-orang tanpa Tuan dan sendirian, akan
melihatmu bercahaya dan meninggalkanmu. Karena mereka adalah para
pemangsa orang yang lemah, pemangsa hati yang hancur dan tanpa Tuan pemilik
mereka.
416
Dengan Tuhan kamu akan beroleh kehidupan yang sesungguhnya. Semoga
kehidupan kekal penuh kebahagiaan akan dilimpahkan pada kita semua sesuai
kehendak-Nya.‖
Begitulah aku mengakhiri kisah itu dan melihat semua orang yang menatap
padaku. Beberapa orang terlihat sedang terisak dan aku berdoa dalam hati.
“Semoga kebahagiaan akan Kasih Tuhan ini dapat engkau semua rasakan juga.”
―Semua itu bohong!!!‖ teriak seorang rabbi Yahudi. ―Hanya di dalam menaati
hukum Tauratlah manusia beroleh keselamatan.‖
―Benar,‖ teriak pejabat rumah ibadat lainnya. ―Janganlah engkau menyesatkan
orang-orang ini. Tidak peduli apa yang kalian lakukan, selama kalian tidak
mematuhi hukum Taurat, hanya kebinasaan yang menunggu kalian.‖
―Orang yang tidak bersunat akan lenyap bagai rumput kering di atas api
membara.‖
Beberapa dari mereka mulai membantah, menghujat dan menyerangku. Aku tidak
tahu apa sebabnya mereka melakukan hal itu. Mungkin karena aku mengajar pula
bagi orang-orang bangsa lain. Maka aku berdiri dan berkata pada mereka,
"Memang kepada kamulah firman Allah harus diberitakan lebih dahulu. Engkau
yang memiiliki telinga, engkau yang mendengarkan. Tetapi kamu menolaknya
dan menganggap dirimu tidak layak untuk beroleh hidup yang kekal selain
daripada mengikuti peraturan-peraturan Taurat. Maka itulah kebenaran bagi
kalian.
417
Namun yang diperintahkan kepada kami oleh Tuhan dan Yesus utusannya adalah
menjadi terang bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya mereka
semua mengenal Allah dan mendapat keselamatan."
Aku menatap mereka semua dan berkata, ―Jadilah terang dan kabarkan jika Allah
itu ada. Dia Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Jadilah terang bagi sesamamu
dan jadilah sumber kasih. Agar Kerajaan Allah hadir ditengah-tengahmu dalam
kebahagiaan, kasih dan sukacita. Manusia tidak membutuhkan lebih banyak rasa
sakit, penderitaan, kemarahan dan kesombongan. Hanya Kasih yang seharusnya
hadir di antara kita.‖
Lalu disiarkanlah tentang Tuhan di seluruh daerah itu.
Aku dan Barnbas merasa senang saat melihat wajah-wajah gembira mereka.
Selalu ini adalah hal indah saat seseorang menemukan Tuhan mereka yang hidup
dan penuh kasih.
Keesokan harinya, seorang bernama Hagar datang ke tempat kami dan menyuruh
agar kami segera pergi keluar kota secepatnya.
―Guru,‖ katanya dengan cepat.
―Orang-orang Yahudi telah menghasut
perempuan-perempuan terkemuka yang takut akan Allah, dan pembesarpembesar di kota ini. Mereka sedang berkumpul di rumah ibadat menunggu
beberapa orang untuk datang menangkapmu.‖
Saat Hagar selesai berbicara demikian, aku dan Barnabas melihat sekitar dua
puluhan orang yang sedang berjalan dikejauhan dengan beberapa pejabat ibadat
418
di depannya. Mereka melihat ke arah kami dan mendadak berlari sambil berteriak
marah.
Aku dengan cepat melihat pada Barnabas dan begitu juga dirinya. Tanpa aba-aba,
kami berlari menjauh secepat mungkin.
―Berhenti,‖ teriak orang dari belakang yang mengejar kami.
Kakiku melangkah ringan dan serasa terbang, badanku terasa damai dan aku
mendadak tertawa keras. Rasanya kembali ke saat masa kanak-kanak saat berlari
bebas tanpa beban. Kami berdua berlari secepatnya sambil tertawa dan mereka
mulai melempari kami dengan batu.
Sekitar sepuluh menit kemudian dan para pengejar sudah berhenti mengejar kami
karena kami sudah berada di luar kota, aku melihat Barnabas dan begitu juga dia
menatapku. Kami bersamaan langsung tertawa keras.
Rasanya bebas.
―Tugas kita sudah selesai di tempat ini mari kita lanjutkan perjalanan kita,‖
kataku tertawa mengebaskan debu dan pergi dengan perasaaan damai.
***
Setelahnya, kami pergi ke kota Ikonium yang berjarak sekitar 100 kilometer dari
kota Antiokhia. Di sana, kami kembali memasuki rumah ibadat orang Yahudi,
lalu mengajar.
419
Saat itu aku mengatakan pada mereka. ―hukum Taurat penuh kebenaran dan
peraturan, tapi sesungguhnya ada yang lebih tinggi dari itu lagi, yaitu kasih.
Tidak ada gunanya melakukan semua peraturan hukum Taurat jika hati kita
bersungut-sungut,
melakukannya
dengan
terpaksa,
melakukannya
untuk
kesombongan atau melakukan beban berat peraturan itu sambil memaki di dalam
hati.
Allah yang mengetahui segalanya akan mengetahui isi hati kita. Lakukanlah
segalanya dengan kasih, saat kita melaksanakan peraturan hukum Taurat, kita
melakukannya dengan sepenuh kesadaran dan sepenuh kasih kepada Tuhan.
Saat kita membantu dan menolong orang lain, kita melakukannya dengan kasih,
bukan atas hukum atau imbalan yang kita harapkan.
Bagian yang terpenting dari mengenal Tuhan bukanlah mengetahui hukum atau
menambah pengetahuan di dalam pikiran. Tapi perbuatan untuk mewujudkannya.
Percuma bagi kita mengetahui semua isi Kitab Taurat jika kita tidak
melakukannya dengan kasih. Percuma jika kita ahli Taurat tapi perbuatan kita
tidak mencerminkan isi Taurat sama sekali. Katakanlah kita mengetahui bahwa
menolong orang itu adalah perbuatan baik dan kita mengetahui seribu satu cara
untuk melakukannya, tapi kita tidak pernah sekali pun melakukannya.
Mengetahui saja tidak ada gunanya jika tidak dilakukan.
Lebih baik, kenali satu dua buah kata dari isi Taurat tapi kita melakukannya
dengan sepenuh hati dan sungguh-sungguh. Isi dari seluruh Kitab Taurat adalah
420
kasihi Tuhan Allahmu dan kasihi sesamamu, lakukanlah itu dan kamu tidak akan
pernah salah.‖
Kami mengajar di sana tanpa pandang bulu. Setiap yang datang kepada kami
untuk mendengarkan pengajaran, tidak pernah kami tolak. Mungkin karena itulah
beberapa orang-orang Yahudi dari garis keras yang tidak menyukai bangsa lain
mulai memanas-manasi hati orang-orang yang tidak mengenal Allah dan
membuat mereka gusar terhadap kami.
Seketika, kami dapat melihat jika orang banyak di kota ini terbelah menjadi dua,
ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada kami.
Tiga minggu setelah kedatangan kami ke kota ini, seseorang melempar rumah
Jusuf tempat kami menginap. Batu itu terbang masuk ke dalam rumah melalui
pintu yang terbuka mengejutkan kami dan keluarga Jusuf yang ada di dalam
rumah.
Malam harinya saat kami semua tidur, terdengar suara keras menghantam pintu
rumah beberapa kali. Saat kami semua bangun dan membuka pintu, kami melihat
batu-batu yang tergeletak dan pintu rumah Jusuf mengalami kerusakan bekas
lemparan batu.
Keesokan paginya, dua orang pria mendatangi rumah Jusuf dan berkata ingin
bertemu kami.
421
―Ajarilah kami ajaran tentang Allah,‖ kata kedua pria itu ramah. Ia mengundang
kami ke rumah mereka agar keluarga dan tetangganya dapat ikut mendengar.
Kami berdua menyetujuinya, meski hatiku menolak dan perasaanku tidak bagus.
Tepat di sebuah sudut jalan, telah menunggu empat orang pria lainnya. Saat itu
juga aku menarik tangan Barnabas dan berkata, ―Sebaiknya kita menyingkir dari
sini.‖
Barnabas menatap ke arahku, ―Mengapa? bukankah kita harus mengajar mereka
yang membutuhkan?‖
―Kupikir mereka tidak membutuhkan kita,‖ kataku membujuk Barnabas lagi.
Tapi ia tidak bersedia.
Akhirnya seorang pria mendekati Barnabas dan memukul perutnya hingga tubuh
Barnabas tertekuk dan mukanya menjadi merah. Aku melihat sekitar dua orang
sudah mendekatiku dan Barnabas sedang terjatuh di atas tanah.
Aku mungkin dapat melawan mereka dan memilih untuk menyerang mereka atau
mempertahankan diri. Tapi, aku memilih untuk berdoa, ―Ya Tuhan, apa yang
terjadi. Terjadilah sesuai kehendak-Mu.‖
Karena aku yakin Tuhan akan menjagaku. Jika pukulan itu adalah sebuah
hukuman karena aku telah membunuh banyak orang, biarlah aku menerimanya.
Karena itu sangat kecil. Jika aku harus mati di tempat ini. biarlah aku mati dalam
kepasrahan pada Tuhan dari pada aku mati dengan menunjukkan kehebatan
diriku.
422
Jika seorang memukul pipi kirimu, berikan juga pipi kananmu.
Seseorang segera memukul wajahku dan kemudian menendang punggungku.
Berikutnya aku terjatuh dan seseorang terlihat mendekatiku dengan membawa
tongkat kayu di tangannya. Dia mengangkat tongkat kayu itu dan aku yakin,
mungkin tengkorakku akan pecah jika dia memukulkannya ke atas kepalaku.
―Hei, apa yang kalian lakukan di sana?‖ teriak seseorang dan mereka yang
memukuli kami langsung pergi kocar kacir. Karena yang datang adalah prajurit
penjaga kota.
Perajurit itu membantu membangkitkan diri kami dan berkata, ―Aku mengenal
beberapa dari mereka. Mari ikut kami untuk membuat dakwaan pada mereka
sehingga kami bisa menangkapnya.‖
―Tidak,‖ kataku. ―Kami datang untuk meringankan beban orang-orang. Bukan
untuk menambahkan beban meski beban pada orang yang membenci kami
sekalipun, tak mau aku menambahkannya. Aku sudah memaafkan mereka.‖
Barnabas bersamaku dan bertanya, ―Mengapa kamu tidak membalas mereka?
Bukankah kamu adalah seorang mantan prajurit? Orang biasa seperti mereka
tidak akan mudah memukulmu.‖
―Aku memasrahkannya pada Tuhan,‖ kataku tersenyum.
―Seandainya jika saat itu penjaga tidak kebetulan lewat, kamu mungkin sudah
mati,‖ sahut Barnabas.
423
―Saudaraku,‖ kataku yang memahami maksudnya. ―Dulu aku adalah seorang
yang yakin akan kebenaran pada Taurat, dan setelah mempelajarinya, aku
menjadi orang yakin pada diriku sendiri dan pengetahuan yang kumiliki. Aku
jatuh di dalam dosa sat itu. Tapi, Tuhan memanggilku dan aku melepaskan
Taurat mau pun diriku untuk berpegang hanya pada-Nya. Jika pada akhirnya, aku
melepaskan kepercayaanku pada Tuhan, akan menjadi apakah aku ini? Aku
hanya ingin berpegang pada Tuhan hingga pada akhir hidupku. Karena tanpa-Nya
aku hanyalah seorang hina yang penuh dosa. Biarlah beribu-ribu cobaan datang,
tidak nantinya aku akan berpikir untuk melepaskan-Nya dan memilih diriku lagi.
Cukup sekali saja aku melakukan kesalahan itu.‖
Setelah itu, untuk tidak melibatkan keluarga Jusuf yang baik itu, aku dan
Barnabas memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami ke wilayah Likaonia.
Pada wilayah Likaonia terdapat kota Listra yang berjarak 40 kilometer dari
tempat kami berada. Di sanalah kami pergi untuk mengabarkan tentang Tuhan
dan Kasih-Nya.
Di Listra ada seorang yang duduk saja, karena lemah kakinya dan lumpuh sejak
ia dilahirkan. Ia belum pernah dapat berjalan. Aku melihatnya sering
mendengarkan pengajaran kami dengan sungguh-sungguh.
Aku mendekatinya dan bertanya, ―Apakah engkau percaya Allah Maha
Pengasih?‖
―Percaya,‖ jawabnya sungguh-sungguh.
424
―Begitu juga sesungguhnya Dia sangat mengasihimu,‖ lalu kataku padanya
dengan suara nyaring, "Tuhan mengasihimu. Berdirilah tegak di atas kakimu!"
Dan orang itu mendadak melonjak berdiri. Ia kebingungan melihat dirinya berdiri
tegak dan kemudian mencoba menggerakkan kedua kakinya. Aku menatapnya
yang masih memandang kedua kakinya, lalu ia berjalan dengan semangat ke sana
ke mari dengan wajahnya yang penuh senyuman.
―Terpujilah Allah,‖ bisikku merasa hatiku berbahagia dan dapat melihat bukti
nyata Kasih Allah pada manusia. Sekali lagi imanku kembali dikuatkan dan
mataku menjadi basah. Sebab semua mukjizat yang terjadi sungguh bukan karena
aku, tapi keyakinanku pada Tuhan yang Maha Pengasih.
Ketika orang banyak melihat apa yang telah kuperbuat, mereka itu berseru dalam
bahasa Likaonia, "Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa
manusia."
Mereka melihat pada Barnabas dan menyeru ―Zeus.‖ Padaku, mereka
memanggilku dengan nama ―Hermes.‖
Saat itu, aku mendadak tertawa dan berkata pada mereka, ―Aku bukanlah
Hermes, aku hanyalah pengajar yang memberitakan tentang Allah.‖ Namun
mereka semua tidak mau mendengarkan dan sibuk berkata-kata di antara mereka.
Aku menatap pada Barnabas di sampingku dan berkata, ―Aku dapat si pengantar
pesan dan kamu Zeus si raja para dewa.‖
425
Pada awalnya aku menganggap ini lelucon yang lucu. Mereka akan segera
mengetahui jika kami bukan seperti apa yang mereka sangka dan menyesal.
Namun, hari itu juga datanglah seorang imam dari kuil Dewa Zeus, yang terletak
di luar kota. Ia dan beberapa gadis-gadis membawa lembu-lembu jantan dan
karangan-karangan bunga ke dekat pintu gerbang kota tempat kami berada.
Para gadis-gadis cantik itu mengalungi kami dengan kalung bunga dan
memakaikan jubah indah pada tubuh kami. Kami kemudian dibawa ke sebuah
panggung di tengah kota. Aku melihat Barnabas dan berkata, ―Aku tidak tahu
jika sebuah penyembuhan akan membuat kita disambut begitu meriah di kota ini.
Tampaknya orang-orang di kota ini akan menerima ajaran kita dengan baik.‖
Barnabas tersenyum senang. ―Mereka akan mendengarkan dengan baik.‖
Saat itu, para gadis-gadis mendadak sujud bersama semua orang di sana dan
imam kuil itu menarik lembu untuk kami sambil berkata, ―Oh Para dewa yang
mulia, terimalah kurban dari kami untukmu.‖
Mendengar itu aku langsung membuang jubah yang mereka pakaikan, lalu terjun
ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, "Hai kamu sekalian, mengapa
kamu berbuat demikian? Kami ini adalah manusia biasa sama seperti kamu.
Kami ada di sini untuk memberitakan tentang Allah kepada kamu, supaya kamu
meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang
telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya.
426
Dalam zaman yang lampau, Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya
masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagaibagai kebajikan, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan
memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan
makanan dan kegembiraan."
Walaupun kami sudah berkata-kata seperti demikian, namun hampir-hampir tidak
dapat mereka mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada kami.
Setiap hari, selalu ada yang berkumpul di antara kami untuk mempersembahkan
kurban. Kami tidak tahu bagaimana lagi cara harus menolak mereka. Oleh
karenanya, kami masih tetap mengajarkan tentang Allah pada mereka. Mereka
menganggap kami mengajarkan sebuah ilmu yang hanya diketahui oleh para
dewa-dewa pada mereka. Maka bersukacitalah mereka.
Seminggu kemudian, datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium
yang melihat kami dipuja-puja bagai dewa dan semakin meruaplah amarah
mereka. Aku dapat melihat kegusaran mereka dan saat itu aku mendengar bisikbisik dari yang lain bahwa mereka membujuk orang banyak itu memihak pada
mereka.
Lalu pagi itu, sebagaimana hari-hari biasanya, aku dan Barnabas berjalan di
tengah kota dan seorang perempuan mendatangi kami dengan membawa anaknya
yang kedua kakinya lumpuh karena sakit.
427
―Dewa tolonglah anakku ini,‖ mohon ibu itu memeluk anaknya dengan erat.
Seakan-akan anak itulah harta satu-satu yang terpenting baginya.
Aku menatapnya dan berkata, ―Aku tidak memiliki kuasa apa pun selain Kuasa
dari Tuhan. Jika kamu bersedia untuk tidak lagi menyembah dewa tapi langsung
pada Tuhan Allah yang menciptakan para dewa dan seluruh dunia ini. Aku akan
meminta berkat dari-Nya.‖
Perempuan itu terkejut dan mendadak air matanya mengalir sambil bertanya,
―Apakah aku yang hina ini pantas menyembah Tuhan yang menjadi dewa dari
para dewa? Tuhan yang menciptakan para dewa?‖
Aku tersenyum. ―Sesungguhnya Tuhan Allah sudah menunggu kedatanganmu.
Sembahlah Dia dan hanya Dia.‖
Perempuan itu mengangguk. Aku mengajaknya berdoa.
―Biarlah Kuasa dan Kasih-Mu terjadi atas kami,‖ doaku. Saat itu bergetarlah
kedua kaki si anak dalam pelukan ibunya dan saat dilepas, ia dapat berdiri
sendiri. Saat itu juga sang anak mencoba berjalan dan dia dapat melakukannya
tanpa halangan.
Perempuan menagis dan sujud padaku. Secepat mungkin aku segera
mengangkatnya berdiri, ―Bukan aku yang menyembuhkan, bukan aku yang
memiliki kuasa. Hanya Dia, Tuhan Yang Maha Agung yang pantas disembahlah
yang melakukannya. Aku hanyalah perantara. Sembahlah Dia dan hanya Dia.‖
428
Saat itu, aku tidak tahu dari mana, sebuah batu menyerangku dengan telak
mengenai kepalaku dari depan. Seketika kepalaku berguncang dan terasa sakit.
―Pergilah,‖ teriakku pada perempuan itu yang segera membawa anaknya
menjauh. Dari kejauhan, aku melihat sekitar empat puluhan orang melempari
kami dengan batu. Barnabas berusaha menutupi kepalanya dengan kedua
tangannya tapi puluhan batu menyerangnya dengan cepat. Tubuhnya berdarah
dan terjatuh setelah sebuah batu dengan telak menghajar dahinya.
Keadaanku juga tidak lebih baik. Batu-batu besar, batu-batu tajam menghujam
diriku bertubi-tubi. Dadaku terasa sakit, pahaku, tulang kakiku dan kepalaku.
***
―Lempari mereka hingga mati,‖ teriak seorang Yahudi yang merupakan rabbi dari
Ikonium. ―Mereka adalah penipu yang mengajar di rumah-rumah ibadat orang
Yahudi namun ternyata penyembah dewa-dewa Yunani.‖
Semakin bertambah emosilah ke empat puluh orang Yahudi itu dan semakin
menambah semangat untuk membunuh. Orang-orang sekeliling yang memuja
Paulus dan Barnabas tidak dapat melakukan apa pun karena semuanya
berlangsung cepat.
Dalam sekejap tubuh Paulus dan Barnabas rebah di tanah dengan berlumuran
darah. Batu-batu yang berterbangan menghajar kedua tubuh yang tidak lagi
bergerak. Maka mendekatlah orang-orang Yahudi itu dan memeriksa tubuh
Paulus dan Barnabas.
429
―Mereka tidak lagi bernapas, denyut jantungnya pun telah hilang,‖ kata seorang
dari mereka. ―Mereka sudah mati.‖
Maka berkatalah seorang pimpinan Yahudi itu pada semua orang. ―Dia adalah
seorang penipu bukan dewa seperti yang kalian duga. Lihatlah dia tidak memiliki
kuasa apa pun. Kini dia telah mati.‖
Beberapa orang mencoba mendekati tubuh Paulus dan Barnabas untuk
memeriksa denyut nadi mereka dan kedua tubuh itu sudah tidak memiliki denyut
apa pun juga.
―Kami akan membuangnya keluar kota ini,‖ sahut pemimpin Yahudi itu. ―Di
tidak pantas dikuburkan. Biarkan anjing-anjing liar dan burung-burung pemakan
bangkai merobek jasad mereka.‖
***
Pada awalnya adalah gelap... lalu terciptalah terang...
Samar-samar, aku teringat dengan isi kitab pertama tentang penciptaan langit dan
bumi oleh Tuhan. Aku tidak tahu di mana aku berada, tapi segalanya terasa
begitu ringan, damai dan bercahaya. Sekelilingku penuh kelembutan dan kasih
sayang yang membuat air mataku menetes.
Sebuah kerinduan terasa begitu dalam oleh hatiku. Seakan-akan hatiku sudah
mengenal cahaya itu dan seluruh hatiku berteriak oleh rasa rindu untuk...
Pulang...
430
Seketika seluruh tubuhku bercahaya dan melarut. Dan berikutnya terjadi
guncangan kuat hingga aku merasa leherku tersedak oleh sesuatu cairan. Aku
terbatuk dengan keras dan menemukan diriku sedang memuntahkan seonggok
darah di atas tanah.
Tubuhku rebah di atas tanah dan kepalaku miring memandang tanah serta kakikaki beberapa orang.
―Dia hidup kembali,‖ teriak suara-suara ribut di sekelilingku yang terdengar
kacau.
Aku berusaha bangkit dan melihat sekeliling. Beberapa orang murid-murid yang
senang mendengarkan ajaranku ada di sana. Begitu juga di sana ada beberapa
orang Yahudi yang melemparku dengan batu. Mereka semua melihatku dengan
takjub. Aku sedang duduk di atas tanah dan melihat tubuh Barnabas di
sampingku, tergeletak dengan berlumuran darah.
―Sahabatku,‖ kataku menyentuh tubuhnya. Tubuh itu lunglai dan tidak bergerak
sama sekali. Mataku menjadi basah dan aku berdoa, ―Tuhan, Engkau Yang Maha
Pengasih. Biarlah kuasa-Mu dan hanya kuasa-Mu yang bekerja pada Barnabas.
Aku percaya, kuasa-Mu nyata.‖
―Hueekk,‖ terdengar suara batuk Barnabas dan tubuhnya bergerak-gerak.
Maka terkejutlah semua orang. Para orang Yahudi yang melempariku dengan
batu segera berlarian menjauh. Murid-muridku yang berkumpul juga ikut
berlarian tanpa sebab.
431
Barnabas duduk dan menatap kepadaku, ―Apa yang terjadi?‖
Aku melihat sekeliling dan sadar kami berada di luar gerbang kota. ―Kupikir
mereka menyangka kita sudah mati dan membuang kita di luar kota. Saat kita
sadar, mereka ketakutan karena mereka mengira kita hidup kembali.‖
Aku segera berdiri dan merasakan tubuhku ringan. Meski ada noda darah
disekujur tubuh dan bajuku, namun tidak terlihat ada luka. Begitu juga dengan
Barnabas. Maka kami memutuskan untuk kembali ke dalam kota untuk mandi
dan berganti pakaian.
―Papahlah aku,‖ kata Barnabas mendadak. ―Aku merasa pusing.‖
Maka aku memapahnya bersama untuk masuk ke dalam kota Listra. Sepanjang
perjalanan mnuju ke kota, menapak langkah demi langkah. Air mataku mengalir
dan hatiku semakin kuat.
Allah itu Nyata.
Setiap yang dilakukan-Nya adalah nyata.
Kuasa-Nya Nyata.
***
Keesokan harinya berangkatlah aku bersama-sama dengan Barnabas ke kota
Derbe, yang letaknya sekitar 45 kilometer dari Listra kota kami berada. Sejak
kejadian itu, orang-orang Yahudi yang menyerang kami tidak lagi pernah
432
muncul. Aku mendengar kabar mereka semua ketakutan jika aku akan
menurunkan kutukan atau kematian atas mereka.
Tapi, sesungguhnya, aku sudah melupakan kejadian itu dan memaafkan mereka.
Dari sana jugalah imanku semakin diteguhkan. Aku semakin mengasihi Allah.
Kami mengajar tentang Allah di Derbe dan memperoleh banyak murid. Lalu
kembalilah ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Kembali di kota-kota ini tidak lagi
ada yang menganggu kami, malahan semakin banyak mereka yang berkumpul
bersama kami dan beberapa orang imannya semakin diteguhkan.
Di tempat itu kami menguatkan hati murid-murid dan menasihati mereka supaya
mereka bertekun di dalam iman, dan aku selalu mengingatkan mereka, jika
manusia dapat beroleh Kasih-Nya, akan banyak kesusahan yang akan keluar dari
hidup mereka.
Barnabas mengatur sumbangan pertama untuk tiba di Jemaat Yerusalem dan dari
sana dikirimlah para pengajar pada tiap-tiap jemaat, Barnabas mengatur agar ada
penatua-penatua bagi jemaat itu. Setelah berdoa dan berpuasa, kami menyerahkan
penatua-penatua itu kepada jemaat-jemaat dan terutama kepada Tuhan.
Kami memutuskan untuk kembali ke kota pelabuhan Perga tempat kami datang
untuk dapat kembali ke Antiokhia di Siria. Dalam perjalanan pulang melewati
wilayah Pisidia itu, kami menjelajah di desa-desa sekeliling sambil mengajar.
Saat tiba di kota pelabuhan Perga, kami berhenti untuk mengajar terlebih dahulu
karena tidak buru-buru untuk pulang. Dari tempat itu, beberapa orang
433
mengundang kami untuk mengunjungi kota Atalia, kota pelabuhan lain yang
berjarak 25 kilometer dari Perga.
Di sana kami mengajar dan menikmati keindahan pantai, hingga akhirnya
Barnabas dan aku memutuskan untuk berlayarlah kembali ke kota pelabuhan
Seleukia, yang berjarak 500 kilometer. Dari Seleukia, kami berjalan sekitar 20
kilometer untuk dapat mencapai Antiokhia di Syria tempat kami memulai
segalanya.
Di sanalah tempat pertama kali Barnabas membawaku untuk mengajar dan di
sanalah perjalanan ini berakhir. Di sana, kami tinggal bersama-sama dengan
murid-murid dan jemaat Antiokhia cukup lama.
434
BAB 19
PERSELISIHAN
Ketenangan jemaat Antokhia kembali terganggu saat beberapa orang pengajar
dari jemaat Yerusalem datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada
saudara-saudara di situ, "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang
diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
Tetapi aku dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat
mereka itu. Akhirnya karena timbul perselisihan dan mereka berkeras
melaporkan hal itu pada jemaat Yerusalem, maka ditetapkan, supaya aku dan
Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada penatua-penatua
di Yerusalem untuk membicarakan soal itu lagi.
Kadang aku berpikir, mengapa harus serumit itu untuk mendapatkan
keselamatan? Mengapa orang harus bertahan pada hal-hal yang sepele jika ada
begitu banyak hal yang harus didahulukan. Bukankah mengasihi Allah dan
mengasihi sesama jauh lebih penting daripada meributkan sunat dan tidak sunat?
Mengapa mereka tidak sibuk saja dengan perbuatan baik yang membuat orang
senang dan bahagia serta dekat dengan Tuhan? Mengapa mereka lebih suka
435
sibuk dengan selembar kulit yang tidak akan membuat mereka bertambah suci
sedikitpun jika hati mereka kotor?
Kami diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota Antiokhia, lalu kami berjalan
melalui Fenisia dan Samaria. Saat tiba di Yerusalem, kami disambut oleh jemaat
dan penatua-penatua.
Aku melihat jumlah Jemaat Yerusalem bertambah banyak dan kali ini aku bahkan
melihat kaum Farisi yang berkumpul menjadi anggota Jemaat Yerusalem.
Suasana di mana ada banyak orang berkumpul dan berdebat tentang peraturan ini
dan peraturan itu membuatku teringat dengan sidang Sanhedrin atau imam-imam
di dalam Bait Allah. Kini Jemaat di Yerusalem tampak tidak berbeda dengan itu.
Semakin banyak orang yang berkumpul, semakin banyak permasalahan.
Dan yang mereka ributkan adalah masalah selembar kulit.
Saat kami semua berkumpul dalam sidangan jemaat di mana semua orang telah
hadir, seorang dari kelompok itu dengan tegas berkata, "Orang-orang bukan
Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa."
Maka bersidanglah penatua-penatua untuk membicarakan soal itu. Tampaknya
ada beberapa orang yang bergabung itu menolak hal tersebut, meski lebih banyak
lagi yang mendukung.
Aku malas memberikan pembelaan sehingga menonton jalannya persidangan
yang kacau balau itu. Hingga tengah hari berlalu, tidak ada keputusan apa pun.
436
Aku melihat James pimpinan jemaat ada di sana. Petrus, dan Yohanes coba
berbicara di antara mereka.
Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal
itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka, "Hai saudara-saudara, kamu
tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya
dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar tentang Allah dan
menjadi percaya.
Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk
menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama
seperti kepada kita, dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita
dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.
Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada
tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek
moyang kita maupun oleh kita sendiri? Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh
kasih karunia Tuhan kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."
Aku segera bertepuk tangan memuji kata-kata Petrus, tampaknya ia begitu
memahami kesulitan daripada mengadopsi hukum Musa pada bangsa-bangsa
lain. Dan bahwa keselamatan tidak ditentukan oleh selembar kulit. Pandanganku
pada Petrus langsung berubah. Dia adalah orang yang baik.
Setelah itu berkatalah James pemimpin jemaat pada semua orang untuk
menyampaikan keputusan. "Hai saudara-saudara, dengarkanlah aku. Simon telah
437
menceritakan, bahwa sejak semula Allah menunjukkan rahmat-Nya kepada
bangsa-bangsa lain, yaitu dengan memilih suatu umat dari antara mereka bagi
nama-Nya. Hal itu sesuai dengan ucapan-ucapan para nabi seperti yang tertulis,
‗Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang
telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan,
supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal
Allah, yang Kusebut milik-Ku.‟ Demikianlah firman Tuhan yang melakukan
semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula. Sebab itu aku berpendapat,
bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa-bangsa
lain yang berbalik kepada Allah, tetapi kita harus menulis surat kepada mereka,
supaya mereka menjauhkan diri dari makanan yang telah dicemarkan berhalaberhala, dari percabulan, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari darah.
Sebab sejak zaman dahulu hukum Musa diberitakan di tiap-tiap kota, dan sampai
sekarang hukum itu dibacakan tiap-tiap hari Sabat di rumah-rumah ibadat."
Maka seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka
beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan aku dan
Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang
terpandang di antara saudara-saudara itu.
Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya,
"Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada
saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa
438
lain. Kami telah mendengar, bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang
tiada mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyangkan
hatimu dengan ajaran mereka.
Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus
beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang
kami kasihi, yaitu dua orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama
Yesus. Maka kami telah mengutus Yudas dan Silas, yang dengan lisan akan
menyampaikan pesan yang tertulis ini juga kepada kamu.
Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu
jangan ditanggungkan lebih banyak beban daripada yang perlu ini, kamu harus
menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah,
dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu
memelihara diri dari hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat."
Hari itu persidangan berakhir tanpa masalah. Aku bersyukur tidak mengucapkan
sepatah kata pun. Dan lucunya, mereka sudah memasukkanku ke dalam anggota
jemaat Yerusalem mereka. Bahkan tanpa persetujuanku. Karena aku tidak terlalu
peduli pada semua itu, aku membiarkannya. Setidaknya mulai dari saat ini,
semuanya akan menjadi lancar.
Setelah berpamitan, aku, Barnabas, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di
tempat itu, kami memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat
439
itu kepada mereka. Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya
yang menghiburkan.
Yudas dan Silas, yang adalah juga nabi—begitulah perkataan mereka oleh jemaat
Yerusalem—lama menasihati saudara-saudara di jemaat
Antiokhia dan
menguatkan hati mereka. Dan sesudah beberapa waktu lamanya, Yudas
memutuskan untuk kembali ke jemaat Yerusalem dan Silas memutuskan untuk
tinggal di Antiokhia.
Pada saat itu, Petrus dari Yerusalem, dia yang disebut juga Kefas, mengunjungi
jemaat di Antiokhia. Kami semua begitu bergembira karena hanya dia yang
pernah menemani Yesus selama ia hidup.
Aku melihatnya menerimaku dan bersedia memaafkan perbuatanku. Air mataku
mengalir dan merasa bahagia. Dia, Petrus, duduk bersama kami dan semua
jemaat Antiokhia, baik mereka yang orang Yahudi, maupun yang dari bangsabangsa lain yang tidak bersunat.
Ia mengajar di antara kami dan aku mendapatkan lebih banyak lagi gambaran
mengenai Yesus selama hidupnya. Termasuk saat Petrus mengatakan, ‗Kita
semua adalah anak-anak Allah, begitulah Yesus menyatakan.‘
Hal itu membuatku teringat kembali saat cahaya terang dan suara itu
memanggilku dalam perjalanan ke Damaskus dengan panggilan, ‗anak-Ku.‘ Dari
pengajarannya, aku dapat memahami mengapa ia menjadi pemimpin dari semua
murid-murid yang ada. Petrus memiliki kuasa itu.
440
Beberapa bulan kemudian, datanglah James dan Yohanes bersama anggota
jemaat Yerusalem termasuk orang-orang Farisi. Pada awalnya, kami semua dan
anggota jemaat Antiokhia menerima kedatangan mereka dengan penuh
kegembiraan.
Aku benar-benar merasa jika jemaat Antiokhia ini benar-benar akan menjadi
besar suatu saat.
Malam itu, saat perjamuan makan malam, aku melihat penyusunan tempat duduk
yang tidak wajar. Tempat duduk tidak lagi disusun bercampur menjadi satu
bagian di ruang makan. Tapi kali ini ada dua buah sisi meja di ruang makan.
Aku melihat James, Yohanes dan orang-orang Farisi dari Yerusalem memisahkan
diri dari bagian meja makan lain. Mereka membentuk kelompoknya.
Keesokan harinya, aku melihat mereka semua mendekati para jemaat Antiokhia
dan membagi pengetahuan mereka. Namun, aku jelas melihat jika bangsa-bangsa
lain tampak dianak-tirikan.
Tapi, mungkin saja mereka yang berasal dari jemaat Yerusalem, belum begitu
mampu bersahabat dengan mereka sebagai mana jemaat Antiokhia yang terbuka
bagi semua bangsa.
Pada malam harinya, aku melihat Petrus berpindah tempat duduk dan makan
dengan James serta jemaat Yerusalem.
Tidak ada masalah.
441
Namun beberapa hari kemudian, aku dapat melihat Barnabas yang selalu duduk
bersama bangsa-bangsa lain berpindah tempat duduk ke jemaat Yerusalem.
Perpecahan mulai terlihat. Aku mendapatkan kabar-kabar dari anggota jemaat
bangsa lain yang mengatakan jika jemaat Yerusalem mengajarkan orang Yahudi
yang bersunat untuk tidak makan bersama mereka yang tidak bersunat.
Beberapa hari kemudian, semakin banyak orang Yahudi dari jemaat Antiokhia
yang berpindah tempat duduk ke tempat jemaat Yerusalem, bersama James,
Yohanes, Barnabas, Petrus dan lainnya. Itu membuat semua bangsa-bangsa lain
yang tidak bersunat duduk di tempat duduk terpisah dan terasing.
Jemaat Antiokhia yang kubangun secara perlahan-lahan mulai hancur dan aku
tidak berdaya. Aku hanya dapat melihat mereka melakukan itu semua.
Keesokan harinya, aku mendapat kabar jika anggota jemaat Yerusalem
mengomentari tentang makanan yang disajikan tidak sesuai dengan hukum
Taurat. Mereka memaksa untuk mengetahui daging yang dimasak itu dibeli dari
mana, oleh penjual siapa dan sebagainya. Mereka takut memakan daging yang
dibeli dari pasar sedangkan binatang itu dibunuh tidak sesuai dengan hukum
Taurat.
Akhirnya untuk menghindari pertentangan, tukang masak mulai memasakkan
makanan lain dan membeli daging dari tempat-tempat orang Yahudi yang taat.
Beberapa hari berikutnya, pada suatu malam saat perjamuan makan malam,
datanglah Barnabas mendekatiku dan berkata, ―Paulus, Petrus meminta agar
442
mulai besok, orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain untuk makan pada waktu
yang berlainnya.‖
―Mengapa demikian?‖ tanyaku.
―Mereka tidak mau makan di satu tempat dengan mereka yang tidak bersunat.‖
Aku mengangguk dan berkata, ―Baiklah kamu kembali ke tempat dudukmu dan
biarkan aku yang mengumumkannya sekarang pada semua orang.‖ Barnabas
kembali pada tempat duduknya dan aku berdiri di hadapan semua orang yang
sedang makan malam.
―Petrus,‖ panggilku padanya untuk meluapkan kekecewaanku padanya karena dia
adalah pemimpin semua jemaat. "Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir
dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara
yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi? Menurut kelahiran kami adalah
orang Yahudi dan bukan orang berdosa dari bangsa-bangsa lain.‖
Aku memandang mereka semua dan mengatakan, ―Kamu tahu, bahwa tidak
seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya
oleh karena iman kepada Tuhan Allah. Sebab itu kami yang telah percaya kepada
ajaran Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman kepada Tuhan dan bukan
oleh karena melakukan hukum Taurat.‖
Sungguh hatiku terasa sakit saat melihat anggota jemaat bangsa-bangsa lain yang
terluka karena tidak diterima diantara anggota jemaat Yerusalem. ―Kukatakan
padamu James dan Petrus serta semua orang jemaat Yerusalem yang merasa
443
benar. Tetapi jika kami sendiri—sementara kami berusaha untuk dibenarkan
dalam Tuhan—ternyata adalah orang-orang berdosa dihadapan kalian karena
melanggar hukum Taurat, untuk apa kami menerima ajaran Yesus jika disalahkan
dari hukum Taurat.
Karena, jikalau aku membangun kembali apa yang telah kurombak. Kamu tahu
tidak ada celaku di dalam hukum Taurat, aku mengetahui lebih banyak daripada
apa yang ahli Taurat katakan. Lisan, tulis, segala macam kajian hukum Taurat
telah kuselidiki bertahun-tahun. Aku mengajar pada ahli-ahli Taurat sebelum aku
mengenal Allah. Tapi sesungguhnya aku lebih suka menyatakan diriku sebagai
pelanggar hukum Taurat.
Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Ajaran
Yesus tentang kasih dan Tuhan Allah hidup di dalam aku. Dan hidup yang
kuhidupi sekarang adalah hidup dalam iman dan kasih kepada Allah.
Apakah ada diantara kalian yang menerima Roh Kudus karena melakukan hukum
Taurat? Tidakkah kita semua mendapatkan roh dan kebenaran dalam ajaran
Yesus?
Apakah Yesus yang menganugerahkan Roh Kudus kepada kamu dengan
berlimpah-limpah dan yang melakukan mujizat di antara kamu, berbuat demikian
karena kamu melakukan hukum Taurat?
444
Kita sudah mulai dalam Roh dan Kasih, apakah kita sekarang akan kembali pada
daging, peraturan dan makanan oleh hukum Taurat? Dan karena itukah kami
menjadi salah setelah selama ini mengikuti ajaran Yesus dalam kasih?
Kukatakan sesungguhnya, bukan apa yang masuk ke dalam mulutmu yang
menajiskanmu, tapi apa yang keluar dari mulutmu yang menajiskanmu. Yesus
juga berkata, perkataan jahat yang keluar dari mulutmu adanya meluap dari
hatimu yang kotor.
Apakah masih ada Roh Kudus yang bersemayam dalam dirimu saat memutuskan
kami bersalah dan tidak layak? Bukankah Yesus berkata, jangan menghakimi
sesamamu manusia, agar kamu juga tidak dihakimi. Ukuran yang kamu gunakan
untuk mengukur kami akan diukurkan padamu tapi tidak pada kami.
Jika kalian memercayai hukum Taurat, biarkan hukum Taurat menjadi ukuran
kalian. Bagi kami yang tidak mengetahui hukum Taurat, biarlah Allah mengukur
dan menghakimi kami dengan ukuran dan peraturan yang kami tahu. Biarkan
Tuhan yang menyelidiki isi hati kami sendiri dan mengatakan jika kami salah.
Tapi tidak dari kamu dan kalian yang merupakan saudara-saudaraku. Penilaian
kalian pada kami sungguh teramat menyakiti hatiku. Siapakah kalian hingga
mengatakan kami salah? Bukankah kita sebelumnya adalah orang-orang yang
duduk dan berkumpul dalam sebuah keluarga besar yang saling mengasihi?
Mengapa semuanya kini menjadi seperti ini?‖
445
Air mataku mengalir karena rasa sakit. ―Biarlah kukatakan padamu sebagaimana
Tuhan mengutusmu untuk orang-orang Yahudi, begitu juga Allah memanggilku
agar bangsa-bangsa lain juga mendapatkan pengajaran tentang Allah bagi
mereka. Mengapa kita tidak dapat menjadi satu di dalam Tuhan dan menyebutnya
sebagai sesama manusia? Mengapa harus timbul penghakiman, penolakan dan
pembedaan yang menghancurkan membuat seorang menjadi manusia dan
seorang tidak?
Berhentilah menjadi munafik dan merasa benar, karena kita sama kotor dan
berdosanya dihadapan Allah.
Biarlah kalian semua mengetahui bahwa Yesus adalah seorang yang salah dan
terkutuk di bawah hukum Taurat. Sebab ada tertulis dalam Kitab Taurat,
"Terkutuklah orang yang tidak setia melakukan segala sesuatu yang tertulis
dalam kitab hukum Taurat. mereka tidak akan beroleh selamat.‖
Yesus sendiri berkali-kali melanggar hari Sabat.
Juga ada tertulis dalam hukum Taurat. "Terkutuklah orang yang digantung pada
kayu salib!" Tapi Yesus sendiri disalibkan.
Sesungguhnya kukatakan, Yesus dikutuk oleh hukum Taurat tapi dibenarkan oleh
iman. Dia mengajarkan bahwa ‗orang dibenarkan dalam imannya kepada Tuhan‘.
Bukan imannya pada hukum Taurat.
Karena hukum Taurat, kalian saling menghakimi, saling menyalahkan dan
membenarkan. Karena hukum Taurat ahli-ahli Taurat dan imam-imam
446
menggantung Yesus. Apakah kasih kepada Tuhan Allahmu dan kasih kepada
sesamamu itu tidak berarti dihadapan hukum Taurat? Biarlah kalian yang
menyembah dan mendewakan hukum Taurat memutuskan sendiri kebenarannya.
Dulu aku masih ingat betapa bahagianya kita semua pada waktu itu. Pada saat
menerima ajaran Tuhan dan mengasihi sesamamu. Dan sekarang, di manakah
bahagiamu itu? Kini yang kulihat adalah kalian saling menyerang dan melukai
karena sebuah hukum. Sebuah hukum yang sama yang telah menggantung Yesus
di atas kayu salib. Karena para imam-imam mencari-cari kesalahannya dari
hukum Taurat dan menggantungnya.
Dan sekarang, inilah yang kalian lakukan terhadap sesama kalian di sini,
mencari-cari kesalahan saudara kalian dengan hukum Taurat dan mungkin akan
menggantung mereka juga di atas kayu salib.‖
―Sesungguhnya jika ada diantara kalian yang benar-benar memahami hukum
Taurat seperti Guru besar ahli Taurat Hillel atau seperti Yesus yang mengenal
hukum Taurat, kalian akan mengerti seperti apa yang mereka katakan tentang inti
dari seluruh hukum Taurat. Semua dari hukum Taurat itu hanya berisi satu
kalimat, Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah sesamamu manusia. Dan tidak
ada satupun orang yang mengaku sebagai orang Farisi dan ahli Taurat di tempat
ini yang melakukannya. Tidakkah kalian malu memeggang nama sebagai orang
Farisi dan Ahli Taurat jika kalian sama sekali tidak dapat menerapkannya pada
kehidupan kalian, namun sibuk mengatur orang lain? Apakah kalian tidak melihat
447
bangsa-bangsa lain sebagai sesamamu manusia dan mengasihi mereka? Kalian
penuh pengetahuan tapi miskin perbuatan dan kasih.
Beginilah yang dikatakan Yesus, ―Mengapa engkau melihat serpihan kayu di
dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau
ketahui?
Bagaimana engkau dapat berkata kepada saudaramu; Saudara biarlah aku
mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu. Sedangkan balok yang
lebih besar dalam matamu tidak engkau lihat?
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan
melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu dari mata saudaramu!‖
***
Pada malam hari setelah kejadian itu, aku dipanggil oleh Barnabas dari dalam
kamarku untuk menuju ke ruangan tengah tempat ibadat jemaat Antiokhia.
―Datanglah saudaraku, ada pertemuan penting.‖
Saat aku tiba di sana, ―Terlihatlah James, Petrus dan Yohanes, beserta para orang
Fairis dari jemaat Yerusalem.‖
Entah bagaimana, aku sudah tahu apa yang akan mereka bicarakan.
Kemungkinan besar tersinggung oleh kata-kataku dan juga ingin mengeluarkanku
dari jemaat. Karena wajah-wajah mereka terlihat ingin menyerangku, bahkan
448
seorang anak kecil akan dapat merasakan hawa yang begitu penuh permusuhan.
Maka aku mengambil inisiatif memulai pembicaraan.
―Saudara-saudaraku,‖ kataku. ―Pertama kali aku ke tempat ini adalah karena
dipanggil oleh saudara Barnabas. Aku sepenuh hati mencoba melakukan yang
terbaik dan oleh karenanya aku tidak berhutang pada Barnabas. Dengan kalian
juga jemaat Yerusalem, aku tidak terikat, tidak sepeser pun uang dari kalian yang
kugunakan, dengan demikian, aku jug tidak berhutang pada kalian. Sejak awal,
aku hanya berhutang pada Allah dan hanya pada Dia.‖
―Yesus berkata; ‗jika engkau tidak diterima di satu tempat, keluarlah dan
kebaskan debu sebagai petanda tidak ada rasa sakit dan permusuhan di antara
kita.‘ Begitu juga aku akan pergi dari tempat ini dengan senang hati.‖
Mereka semua terdiam, karena aku berhasil menebak isi hati mereka.
―Kami tidak memperbolehkanmu mengajar dalam nama Tuhan Yesus,‖ kata
James dengan tegas. ―Karena kamu akan menyesatkan banyak orang dan
mengingkari hukum Taurat.‖
―Untuk hal itu,‖ kataku dengan hati yang sakit, ―Kamu harus membunuhku untuk
membungkamku. Aku mengajarkan ajaran Yesus, karena itu ajaran Kasih. Kasih
pada Allah dan kasih pada sesama. Aku sudah dipanggil oleh Tuhan untuk
melakukannya maka hanya pada Dia aku berhutang, kecuali Dia menyuruhku
berhenti, kalian hanya bisa menghentikanku dengan kematian.‖
Marahlah orang-orang Farisi di sana.
449
James, Petrus dan Yohanes diam dan berdiskusi di antara mereka. Orang-orang
Farisi yang menghujatku, kudengar pun tidak. Mereka hanyalah sekumpulan
orang-orang sombong yang merasa hebat saat menghakimi orang lain. Dan
mereka tidak bisa dihakimi sama sekali.
Setelah diskusi mereka, bertanyalah Petrus, ―Apa yang akan kamu lakukan
setelah kamu meninggalkan tempat ini?‖
―Aku akan kembali ke Tarsus. Atau juga, melihat kepada saudara-saudara di
wilayah Pisidia untuk melihat bagaimana keadaan mereka. Dari sana jika Tuhan
masih mengizinkan dan membutuhkanku, maka aku akan pergi lebih jauh lagi ke
bangsa-bangsa lain yang membutuhkanku."
―Mereka baik-baik saja,‖ kata James. ‖Para pengajar dari jemaat Yerusalem
sudah berada di sana. Tidak ada yang perlu kamu kuatirkan.‖
Aku tertawa dan berkata, ―Sungguh aku hanya ingin melihat mereka barang
beberapa hari. Tenangkanlah dirimu, sesungguhnya kukatakan, aku tidak
memiliki niat sedikitpun untuk membangun jemaatku sendiri dan menyaingi
kalian seperti kelompok-kelompok lain. Aku hanya pergi untuk mengajar. Jika
kalian ingin menjadikan tempatku pergi untuk menjadi jemaat kalian, aku tidak
peduli. Tidak ada niatku sama sekali menjadikan jemaat kalian menjadi milikku.
Karena semua itu adalah milik Tuhan.‖
450
Mereka kembali berdiskusi di antara mereka dan karena waktu sudah larut, James
berkata, ―Saudara Paulus bolehlah engkau pergi tidur, besok kami akan
memberikanmu keputusan.‖
―Terima kasih,‖ kataku yang sama sekali tidak berniat untuk mengikuti diskusi
ini lebih lanjut. Saat berjalan keluar pun aku masih berpikir keras. Mengapa
semua mereka hendak mengaturku, memberiku hukuman atau perintah dan
mengendalikan hidupku? Tidakkah semua orang yang mengajarkan ajaran baik
itu dan ajaran Yesus itu adalah saudara?
Lagipula, aku tidak pernah memasuki kelompok mereka. Sebenarnya, atas dasar
apa mereka mencoba mengendalikanku. Sanhedrin dan raja-raja mengendalikan
rakyatnya dengan hukuman dan ketakutan. Jika jemaat Yerusalem ingin
mengendalikanku dengan ketakutan, aku sama sekali tidak merasa takut dengan
ancaman apa pun dari mereka.
Jika mereka ingin mencabut hak-ku untuk mengajar, mereka tidak dapat
melakukannya karena itu adalah milik Tuhan bagiku. Sungguh sebenarnya, apa
yang sedang ingin mereka lakukan?
Bermain-main dalam angan kekuasaan mereka yang seakan-akan sangat luar
biasa dan dapat mengendalikan orang? Tampaknya bagi mereka memiliki
kekuasaan itu lebih memabukkan dan menyenangkan daripada mengajar orangorang untuk mengenal Allah.
451
Aku tidak memungkiri, selain jemaat Yerusalem, ada beberapa kelompok jemaat
yang mengajarkan tentang ajaran Yesus tapi tidak bergabung pada jemaat
Yerusalem. Kemungkinan besar, mereka adalah murid-murid Yesus dari
kelompok pedagang atau juga hanya orang-orang yang mengaku mengetahui
ajaran Yesus. Membuat jemaat sendiri memiliki beberapa keuntungan seperti
uang sumbangan dari jemaat dan pengikut-pengikut yang banyak. Itulah ranah
persaingan para pimpinan jemaat yang lebih sibuk pada duniawi daripada
menjalankan apa yang diinginkan Tuhan dari mereka.
***
Di dalam sidang itu, tinggallah orang-orang Farisi, Petrus, James, Yohanes dan
Barnabas. Mereka sedang memutuskan apa yang akan mereka lakukan pada
Paulus.
―Hentikan dia dan jangan izinkan lagi dia untuk mengajar,‖ kata pimpinan orang
Farisi. ―Kita harus mengirimkan surat kepada semua jemaat yang ada bahwa
Paulus tidak berhak untuk mengajar sehingga jika dia datang usirlah dia dari
jemaat itu. Sebelum dia menyesatkan dan mencelakai lebih banyak orang.‖
Petrus dan James diam memikirkan kemungkinan itu.
Barnabas melihat orang-orang Farisi dan berkata, ―Paulus tidak membutuhkan
jemaat kita. Dia dapat dengan mudah membangun jemaat-jemaat yang baru di
kota-kota lain. Kalian tidak dapat melarangnya.‖
452
James menatap Barnabas dan bertanya, ―Barnabas, kamu yang paling lama
dengan Paulus. Menurutmu, apakah dia akan mungkin membangun jemaatnya
sendiri?‖
―Menurutku tidak,‖ kata Barnabas. ―Dia tidak tertarik pada hal lain selain
mengajar. Selama dalam perjalanan pun, dia hanya makan apa yang diberikan
orang-orang padanya. Saat dia memiliki uang lebih, dia memberikan pada orang
yang membutuhkan. Dia juga tidak peduli dengan siapa yang menjadi pimpinan,
ke mana uang sumbangan itu pergi atau hal-hal tersebut. Dia juga tidak dapat
berdiam di suatu tempat. Jadi kupikir, dia tidak ada memiliki niat membangun
jemaat bagi dirinya sendiri. Dia hanya mengajar dan mengajar.‖
―Dia tampak sebagai orang yang susah menerima perintah dan dikekang,‖ kata
Yohanes.
―Ya,‖ kata Barnabas. ―Dia sebebas burung. Tidak memikirkan hari esok, tidak
membuat lumbung, tidak memikirkan apa yang akan terjadi berikutnya. Dia
hidup untuk hari ini dan dalam kepasrahan pada Tuhan.‖
―Orang yang tidak dapat mematuhi peraturan, tidak pantas ada di dalam jemaat
kita,‖ kata orang Farisi.
Barnabas menatap orang Farisi itu dan berkata, ―Dia mungkin tidak pantas di
hadapan kalian. Tapi ketahuilah saat aku berjalan dengannya, orang-orang
berkumpul saat dia mengajar. Karena kata-katanya memiliki kuasa. Keajaiban
kuasa Tuhan terjadi melaluinya, bahkan orang-orang yang mengambil kain yang
453
pernah ia gunakan atau sapu tangannya dan meletakkannya pada orang sakit atau
orang kesurupan, orang itu akan sembuh dan jiwa-jiwa jahat akan keluar dari
tubuh mereka.‖
―Tidak mungkin,‖ kata seorang Farisi. ―Pria seperti itu tidak memiliki kuasa
sebesar itu.‖
―Baiklah kuceritakan pada kalian,‖ kata Barnabas. ―Saat berada di tempat ini, aku
mendengar kabar jika beberapa orang tukang jampi Yahudi, yang berjalan
keliling dari satu wilayah ke wilayah lain, mereka mencoba menyebut nama
Yesus atas mereka yang kerasukan jiwa-jiwa jahat dengan berseru, katanya, "Aku
menyumpahi kamu demi nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus."
Mereka yang melakukan hal itu ialah tujuh orang anak dari seorang imam kepala
Yahudi yang bernama Skewa. Tetapi jiwa jahat itu menjawab, "Yesus aku kenal,
dan Paulus aku ketahui, tetapi kamu, siapakah kamu?"
Dan orang yang dirasuk jiwa jahat itu menerpa mereka dan menggagahi mereka
semua dan mengalahkannya, sehingga mereka lari dari rumah orang itu dengan
telanjang dan luka-luka.‖
Barnabas melihat mereka, ―Paulus memiliki kuasa yang bahkan makhluk dari
alam lain segan padanya. Hanya kalian orang-orang Farisi dengan hati yang keras
menolaknya dan menganggapnya rendah. Dia mengumpulkan jemaat dalam
setahun lebih banyak dari apa yang sudah kalian kumpulkan seumur hidup. Dari
tangannya orang lumpuh disembuhkan. Bahkan..‖ Barnabas terdiam dan
454
melanjutkan. ―Orang-orang mengatakan jika aku sebenarnya telah mati dan dia
dengan Kuasa Tuhan menghidupkan kukembali. Itu terjadi saat kami berada di
Listra.‖
Terdiamlah semua orang di sana.
―Apakah dia tidak menggunakan kuasa iblis?‖ tanya orang Farisi tidak dapat
menerima kenyataan itu.
―Aku tidak tahu,‖ kata Barnabas. ―Jika dia memang menggunakan kuasa jahat itu
dan dia mengajar tentang Tuhan dan Kasih-Nya. Bukankah hal itu lucu? Cuma
ada satu orang yang bisa mengetahui kuasanya itu asli atau tidak.‖
―Siapa?‖ tanya orang Farisi.
―Seorang yang memiliki kuasa yang sama besarnya dengan Paulus.‖ Barnabas
menatap pada Petrus dan berkata, ―Petrus yang memiliki kuasa untuk
menyembuhkan dan membangkitkan orang mati.‖
Petrus yang ditanya demikian menjadi terkejut. Ia segera menjawab, ―Aku tidak
pernah melihatnya melakukan mukjizat, jadi aku tidak tahu.‖
Terdiamlah mereka semua lagi, bingung untuk memutuskan perkara Paulus.
―Barnabas,‖ kata James. ―Apakah menurutmu jika Paulus akan menyerahkan
jemaat-jemaat yang dia bangun kepada jemaat Yerusalem?‖
455
―Tentu,‖ kata Barnabas, ―Jika seorang dari kita mengikutinya dan mengurus jalur
sumbangan serta menulis surat pada jemaat Yerusalem, dia akan membiarkan kita
melakukan semua itu. Dia tidak peduli pada hal-hal seperti itu.‖
―Apakah dia tidak akan tersinggung setelah kejadian hari ini?‖ tanya Petrus, yang
segera dibantah oleh orang-orang Farisi bahwa yang mereka lakukan adalah
benar dan Pauluslah yang bersalah.
―Aku tidak pernah melihatnya marah selama bersamanya,‖ kata Barnabas. ―Ia
mungkin akan menegur dengan keras tapi ia tidak menyimpan dendam dan
amarah. Percayalah tidak ada emosi buruk yang melekat dalam hatinya.‖
456
BAB 20
PERJALANAN KEDUA
Tahun 51 M
Keesokan paginya, aku sudah mengepak barang-barangku dan saat hendak pergi,
aku melihat seorang anggota jemaat yang bertubuh kecil dan mata berbinar
kecerdasan. Pria itu adalah seorang dokter, penulis, pelukis dan entah apa lagi
yang mampu dilakukannya.
Pria itu bernama Lukas, seorang dari bangsa-bangsa lain, campuran dari orang
Yunani dan Roma, dia tinggal di Antiokhia dan ikut dalam jemaat Antiokhia.
Alasan dia mengikuti jemaat ini adalah karena rasa penasarannya yang
mendalam. Dia adalah tabib di Antiokhia dan pada suatu saat, Kuasa Tuhan
melalui aku menyembuhkan seorang perempuan yang menderita penyakit kusta.
Tabib itu tercengang-cengang dengan kejadian itu. Dan sejak itu ia mengikuti
jemaat kami.
―Guru,‖ kata Lukas menatapku. ―Aku mendengar jika kamu akan pergi.
Biarkanlah aku mengikutimu.‖
457
―Aku tidak melarang engkau mengikutiku,‖ kataku. ―Tapi kamu harus siap
dengan semua kesukaran karena aku akan pergi ke tempat-tempat jauh tanpa
membawa apa pun kecuali rahmat-Nya.‖
―Jika demikian,‖ kata Lukas, ―Hal itu lebih melegakan dan mencukupi daripada
membawa uang dan bekal.‖
Aku tersenyum melihatnya yang tersenyum lebar, ―Imanmu akan terus
bertumbuh dan kerajaan-Nya akan datang dalam hidupmu.‖
Di luar pintu jemaat, datanglah Barnabas dan berkata, ―Paulus jemaat sudah
memutuskan jika kamu bebas untuk melakukan apa pun, tapi biarlah aku dan
Yohanes ikut dalam perjalananmu ke jemaat-jemaat yang lain.‖
―Tidak,‖ kataku langsung. ―Yohanes telah meninggalkan kita dalam perjalanan.
Aku tidak dapat membawa seorang yang mungkin akan berubah pikiran saat
berada dalam perjalanan. Lagi pula, aku akan pergi pada bangsa-bangsa lain, dia
mungkin tidak akan cocok dengan mereka yang tidak mematuhi hukum Taurat.‖
Barnabas tidak dapat menerima itu. ―Aku tetap akan pergi dengannya.‖
―Jika demikian,‖ kataku. ―Pergilah ke Salamis di Pulau Siprus jemaat kita yang
pertama dan aku akan pergi ke Derbe jemaat yang terakhir yang kita tinggalkan.
Dengan demikian, kita akan menghemat waktu.‖
―Tapi,‖ kata Barnabas. ―Seorang dari jemaat Yerusalem harus mengikutimu agar
jemaat yang kamu bangun bisa mendapatkan tenaga pengajar dari Jemaat
Yerusalem.‖
458
Aku menutup mata dan berdoa, hatiku mengembang dan wajah seseorang muncul
dalam pikiranku. ―Biarkanlah Silas ikut bersamaku. Dia masih muda, memiliki
semangat mengajar yang bagus dan iman yang kuat. Biarkan dia ikut denganku
dan mengabari kalian dengan surat-suratnya di mana kami berada.‖
―Demikian juga bagus,‖ kata Barnabas.
Hari itu juga, aku berangkat melalui jalan darat, dari Antiokhia ke Tarsus
rumahku yang berjarak sekitar 200 kilometer memasuki wilayah Kilikia dari
Antiokhia berada di wilayah Siria. Perjalanan itu mudah dan tanpa halangan,
kami bertiga mengajar sepanjang perjalanan ke Tarsus. Silas, sesuai dugaanku
adalah orang yang mudah bergaul dan dia tidak segan-segan duduk mengajar
bersama orang-orang dari bangsa lain.
Saat tiba di Tarsus kampung halamanku, aku tinggal beberapa hari bersama
Lukas dan Silas. Di sana, kami mengajar jemaat di Tarsus. Pada suatu malam,
aku menemui Silas dan Lukas. Aku mengetahui jika mereka berdua adalah orang
terpelajar, cerdas dan berpengetahuan tinggi. Mereka juga termasuk orang yang
terbuka dan bebas dari kedengkian.
―Inilah catatanku mengenai Yesus,‖ kataku pada mereka menyerahkan semua
catatan perjalananku saat mencari jejak Yesus. ―Kalian boleh menyalinnya dan
membagikannya agar semua orang mengetahui tentang Yesus.‖
459
Mereka berdua langsung terlihat bahagia. ―Kalian boleh membagikannya tapi
janganlah mengatas-namakan diriku. Tapi, katakan jika itu adalah hasil pencarian
kalian.‖
―Mengapa demikian Guru?‖ tanya Lukas.
―Karena sesungguhnya, aku adalah Saul yang dulu membunuh banyak di antara
kalian pengikut Yesus.‖ Aku lalu menceritakan masa laluku pada mereka.
Silas terkejut dan melihatku lekat-lekat, ―Jadi, kamukah Saul yang sangat kejam
itu?‖
―Ya,‖ kataku. ―Beberapa orang golongan tua jemaat kalian mengetahuinya.
Sejarah tentang Yesus ini sangat penting bagi semua orang dan semua bangsa. Ini
adalah catatan dari orang-orang yang mengenal Yesus, tapi kalian jika
berkesempatan lakukanlah perjalanan dan carilah kebenaran kalian sendiri.
Karena aku mendapatkan iman setelah melakukan perjalanan itu.‖
Aku mendesah napas dan menatap Silas, ―Jika kamu ingin mengetahui kebenaran
tentang catatan Yesus ini, salinlah catatan itu dan kirimkan kepada jemaat
Yerusalem, tentu Petrus dan Yohanes yang disebut Markus yang paling
mengetahui tentang Yesus. Mereka adalah murid-muridnya langsung.‖
Keesokan harinya, kami mulai melakukan perjalanan dan keluar dari Tarsus.
Perjalananan sekitar 350 kilometer dari darat menuju ke arah barat, membawa
kami ke kota Debre dan kota terdekatnya Listra kedua kota itu berada di wilayah
Galatia. Di Listra, aku menemukan ada seorang pria muda yang penuh semangat
460
dan ketertarikan pada Tuhan, dia bernama Timotius; ibunya adalah seorang
Yahudi dan telah menjadi percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani.
Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara di Listra dan di Ikonium, dan
karena melihat imannya serta aku merasa dari hati nuraniku jika dia akan berguna
untuk melakukan pekerjaan Tuhan, maka aku mengizinkannya untuk ikut dalam
perjalanan.
Dia adalah seorang yang haus akan pengetahuan akan Allah. Melihat Silas, Lukas
dan Timotius, aku dapat melihat bagaimana generasi baru yang lebih terpelajar
dan penuh kasih akan lahir untuk membagikan pengetahuan tentang Allah pada
semua orang.
Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota, aku membiarkan Silas
menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil oleh para rasul dan para
penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. Mereka
semua terhubung pada jemaat Yerusalem. Aku sendiri tidak memikirkan hal itu
karena aku tahu, mereka semua terhubung pada sesuatu yang lebih besar.
Kehendak Allah.
Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan makin lama makin
bertambah besar jumlahnya di wilayah Debre, Listra, Ikonium dalam wilayah
Galatia dan Antiokia yang berada di Pisidia.
Dari wilayah Antiokhia, aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lebih
jauh, karena aku wilayah lainnya sudah dikunjungi Barnabas dan Yohanes. Oleh
461
karenanya, kami terus maju ke arah barat melintasi tanah Frigia dan tanah
Galatia, menuju ke wilayah Asia kecil yang disebut juga Anatolia.
Sepanjang perjalanan yang mencapai enam ratus kilometer itu, kami tidak
mengajar sama sekali. Aku menggunakan uang yang ada untuk membuat gerobak
dan membuka usaha tendaku lagi. Aku merajut, menjahit dan menjual tenda.
Hasilnya digunakan untuk mengurus kebutuhan kami. Karena kami tidak
mengajar dan kami tidak meminta sumbangan.
Lukas, Silas dan Timotius bertanya akan alasan mengapa aku tidak mengajar di
sepanjang perjalanan ini. Maka aku mengajar pada mereka mengenai kuasa Roh
Kudus.
―Dengarkanlah,‖ kataku pada suatu malam saat sedang beristirahat. ―Roh Kudus
hanya turun ke dalam hati yang bersih. Kalian sudah mengetahui semua itu,
sehingga aku menasihati untuk selalu berdoa memohon pengampunan dan
membersihkan hati dari kemarahan, kesombongan, kebencian, keserakahan, iri
hati dan agar semua ketenangan dan kasih Tuhan turun atas hati kita.‖
―Saat hati sudah bersih dan ringan, Roh Kudus baru dapat turun untuk bertahta
dalam hati kalian. Begitulah yang sering aku ajarkan. Tapi sebenarnya, aku ingin
berbagai sedikit rahasia pada kalian. Roh Kudus itu memiliki nama lain yaitu
percikan Tuhan yang murni.‖
―Apakah percikan itu?‖ tanya Lukas penuh rasa ingin tahu.
462
Aku melihat mereka semua dan berkata, ―Saat Tuhan menciptakan manusia dari
debu dan tanah, Dia menghembuskan napas kehidupan pada manusia. Napas
Tuhan itulah percikan kehidupan kita yang paling murni, yang berasal dari
Tuhan. Percikan itulah yang menjadi Roh dan diri kita yang sejati saat tubuh kita
hancur.‖
―Roh itu bertahta di dalam hati dan saat kita terkotori oleh dosa dan
meninggalkan Tuhan, roh itu menjadi kotor dan tidak lagi murni. Setiap kali kita
marah, benci, sombong, serakah dan sebagainya, kotoran itu menutupi hati dan
membuat roh menjadi buruk, lalu nafsu daging akan semakin kuat. Dengan doa
untuk membuka hati dan membersihkan hati, kotoran-kotoran dalam roh juga
akan dibersihkan dan roh itu akan semakin terang di dalam kasih Tuhan.‖
―Apakah itu yang disebut Roh Kudus?‖ tanya Silas.
Aku tersenyum dan berkata, ―Belum, tapi hampir. Roh di dalam hati yang
diberkati oleh Tuhan itu jika semakin bersih, akan semakin dikuatkan oleh
Tuhan. Seperti kata Daud dalam Mazmur, “Janganlah membuang aku dari
hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus daripadaku!
Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang daripada-Mu,
dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!”‖
―Apa itu artinya guru?‖ tanya Timotius.
―Pada saat hati kalian bersih, roh kalian bersih dan murni, tahap berikutnya
adalah kerelaan, kepasrahan.‖
463
―Rela? Pasrah?‖ tanya Silas.
―Benar. Itu berarti juga penyerahan diri,‖ kataku. ―Begitu jugalah iman pada
Allah akan muncul. Jika kita rela dan pasrah membiarkan tubuh, jiwa, roh dan
semua keberadaan kita pada Tuhan, Dia akan dapat membawa kita pada ‗hidup‘
yang sebenarnya. Dia akan membukakan kita pintu-pintu yang tertutup dan
menunjukkan Kasih dan Kuasa-Nya yang nyata dari perantara kita.‖
―Imam berarti mempercayai Tuhan sepenuhnya dalam penyerahan diri dan hidup
kita kepadanya. Saat kita rela dan pasrah menjadi alat-Nya, hanya dari sanalah
kita akan melihat Keagungan-Nya dan nyata Kuasanya. Saat itulah kita akan
dapat melihat betapa nyata Kasih-Nya pada kita. Dengan membiarkan Tuhan
masuk dan bekerja dalam kehidupan kita.‖
―Apakah itu mungkin?‖ tanya Silas.
Aku tersenyum dan berkata, ―Dari sanalah imanku tumbuh. Dulu, setelah aku
selesai menyusun sejarah Yesus, aku membiarkan diriku pasrah dan
menyerahkan diriku sepenuhnya pada Tuhan. Aku berjalan tanpa membawa apa
pun dan membiarkan Tuhan yang berkarya dalam hidupku. Aku hanya perlu di
dalam Kasih-Nya selalu. Saat aku lapar aku menemukan orang-orang yang
tergerak hatinya oleh Tuhan untuk berbagi padaku.
Saat aku haus, Tuhan menunjukkan padaku mata air di sebuah gurun.
Saat aku kedinginan, Dia membuat udara malam menjadi hangat.
464
Saat aku membutuhkan tanda dari-Nya, Dia mengirimkan orang yang sakit dan
saat kami berdoa bersama, orang itu sembuh. Di sanalah hatiku tegar, air mataku
mengalir menyucikan ketidakpercayaanku dan menyadari jika Tuhan itu Nyata
dan ada bersama kita.‖
Mereka tidak bertanya sehingga aku melanjutkan.
―Aku membiarkan hidupku dibawa oleh Kasih Tuhan ke mana pun Dia inginkan
selama bertahun-tahun. Pengetahuan tentang-Nya diberitahukan padaku melalui
orang-orang awam yang berkata-kata, namun kunci pemahamannya diserahkan
padaku. Bumi, tanah, langit dan udara tempatku berada, berpijak dan bernapas
berubah menjadi Kerajaan-Nya.‖
―Kerajaan Allah?‖ tanya Lukas.
―Kerajaan Allah adalah berada di dalam Kasih-Nya setiap saat. Saat kamu
diliputi oleh Kasih-Nya setiap saat, Kerajaan itu turun kepadamu dan mengubah
sekelilingmu untuk memberikan damai dan sejahtera padamu. Kerajaan Allah ada
di antara kita. Masukilah dengan Kasih kepada-Nya dan lakukan kasih kepada
sesama manusia dengan Kasih-Nya. Maka kamu akan berada dalam kerajannya
senantiasa.‖
―Dan Roh Kudus?‖
Aku tersenyum, ―Saat Rohmu bersih, saat kamu selalu didalam Kasih-Nya,
Tuhan akan memberikan roh yang kudus pada rohmu, atau dengan kata lain
adalah membukakan Hati Nurani di dalam Hatimu. Di dalam roh kita, ada zat
465
kudus. Dan jika Tuhan berkenan pada kita, yang mana Dia selalu berkenan pada
kita, maka zat kudus dalam roh itu akan disempurnakan untuk menjadikan roh
kita menjadi kudus. Roh Kudus itu adalah Hati Nurani, inti percikan dan zat
Tuhan dalam diri kita yang juga merupakan inti dari hati. Dengan itu, kita akan
memahami apa yang Tuhan inginkan dari kita dan apa yang Tuhan kehendaki
dari kita untuk dilakukan. Karena Tuhan adalah roh dan hanya roh yang kuduslah
yang memahami kehendakNya.‖
―Semua itu, akan kalian dapatkan dari roh yang rela dan berpasrah pada
kehendak-Nya di dalam Kasih-Nya.‖
―Oleh karena itukah kita tidak mengajar di Asia kecil ini?‖ tanya Silas.
―Ya,‖ kataku. ―Hati nurani yang menerima kehendak Tuhan menyuruh agar kita
tidak mengajar di daerah ini.‖
―Apa yang kita lakukan saat kita mencoba mengajar di sini?‖ tanya Lukas.
Aku segera tertawa dan berkata, ―Jangan mencobai Tuhan Allahmu. Tapi
sesungguhnya aku juga tidak mau mencoba melakukannya. Karena sesungguhnya
Tuhan selalu menginginkan yang terbaik pada kita, karena Dia mengasihi setiap
kita. Jika kita melanggar perintah-Nya, Dia tidak akan marah, Dia akan tetap
mengasihi kita dan memaafkan kita. Namun, kita yang melanggarnya telah
memilih jalan yang akan mencelakai kita sendiri. Karena Tuhan melarang kita
karena Dia Maha Tahu dan mencegah agar kita sakit dan celaka, akan tetapi kita
nekad menerjang jalan celaka itu. Itulah manusia.‖
466
―Jadi,‖ kata Timotius. ―Saat kita melanggar perintah Tuhan dan mendapatkan
celaka, itu bukan karena Tuhan menghukum kita?‖
Aku tertawa lagi, ―Jika Tuhan menghukum kita, kita tidak akan sanggup
menerimanya. Kita akan lenyap begitu saja. Tuhan selalu mengasihi kita.‖
―Katakan kejadiannya adalah seperti ini. Di sebuah persimpangan jalan, Tuhan
melarang kita untuk meneruskan perjalanan ke arah yang kita inginkan karena di
depannya ada para perampok yang menunggu dan sebuah lubang besar yang akan
mencelakaimu. Dia menunjuk padamu sebuah jalan lain, jalan yang tertutup
semak namun setelah melewatinya, akan terlihat jalan besar dan pohon berbuah
lezat di depannya yang dapat engkau petik dan nikmati sepanjang perjalanan.
Namun kita berkata, ‗Tuhan, jalan inilah yang kuinginkan, jalan ini yang ingin
kutuju, jalan ini memanggilku, aku berkeras membutuhkan jalan ini. Jalan yang
Engkau tunjuk itu penuh semak, dan aku tidak mau.‘
Saat kita berjalan sesuai keinginan kita, kita dirampok dan jatuh ke lubang, kita
memprotes Tuhan dan berkata, ‗Ini semua karena Tuhan yang kejam, pemarah
dan menghukum saya. Karena saya tidak mau mengikuti perintah-Nya sehingga
Dia menghukumku.‘
Dia mencegah kita mengajar di tempat ini karena Dia tahu, kita akan mendapat
masalah besar jika melakukannya. Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah
menghukum manusia. Tuhan selalu memberikan solusi, bahkan sebelum masalah
itu datang..‖
467
Aku memandang mereka bertiga dan berkata, ―Tuhan Maha Sempurna dan Maha
Kuasa tapi ada satu hal yang Dia tidak bisa lakukan dengan semua kekuasaanNya.‖
―Apa itu?‖ tanya mereka bertiga.
―Tuhan tidak dapat berhenti mengasihi manusia meski apa pun yang telah
dilakukan manusia pada-Nya.‖
Mataku menjadi basah dan hatiku begitu merindukan Tuhan yang telah sangat
mengasihiku.
Aku memandang pada langit malam dan berbisik, ―Tuhan, aku merindukanmu.‖
Karena sungguh tidak ada satu pun kesenangan di dunia ini selain Kasih-Mu.
***
Dan setelah melewati Anatolia atau Asia kecil, kami tiba di wilayah Misia. Kami
kemudian mencoba masuk ke daerah Bitinia, yang terletak di bagian utara. Saat
itu angin berhembus keras dan burung-burung berpindah dalam jumlah banyak.
Hatiku melihat petanda itu dan berkata kepada mereka, ―Tuhan menyuruh kita
untuk tidak memasuki wilayah ini.‖
Jauh setelah ini, kami baru mengetahui jika di tempat itu sedang terjadi
peperangan.
Kami melanjutkan perjalanan sejauh empat ratus kilometer lagi ke arah barat,
melintasi wilayah Misia dan sampai di kota Troas, sebuah kota pelabuhan yang
468
berada di ujung benua atau ujung Anatolia. Kami juga tidak mengajar sepanjang
perjalanan dan di dalam kota itu.
Pada malam harinya, aku berjalan di luar kota Troas dan memikirkan apakah aku
akan meneruskan perjalanan atau kembali. Saat tiba di dermaga yang menghadap
ke laut, aku melihat langit malam yang gelap dan laut yang mengeluarkan suara
ombak tiada henti.
Mendadak dari kegelapan di seberang lautan, tampaklah olehku suatu cahaya.
Cahaya itu membentuk suatu titik terang dan akhirnya membentuk tubuh seorang
manusia. Seorang yang mirip keturunan Makedonia. Ia berdiri di situ, di antara
kegelapan malam dan di atas ombak. Ia terlihat putus asa dan berseru kepadaku,
katanya, "Menyeberanglah ke mari dan tolonglah kami!"
Setelah itu cahaya tersebut lenyap, pecah oleh udara menjadi sebuk cahaya dan
lenyap hanya menyisakan kegelapan. Saat itu juga, aku kembali ke tempat Silas,
Lukas dan Timotius berada. Mereka memasang tenda di sebuah sudut dekat luar
kota.
―Bangunlah,‖ kataku pada mereka dengan cepat. ―Tuhan sudah memberikan
tempat untuk kita mengajar.‖ Kebahagiaan menjalar di seluruh tubuhku. Aku
sudah berbulan-bulan tidak mengajar, aku persis seperti seekor ikan yang sudah
lama tidak mendapat air. Aku bahkan sudah berpikir untuk mengajar pada
sekumpulan domba-domba di padang rumput. Mataku menjadi basah.
469
Malam itu juga, kami semua mencapai dermaga dan mencari kesempatan untuk
berangkat ke Makedonia, ( wilayah Yunani saat ini ). Kami akan melewati lautan
dan memasuki benua baru yang akan berisi sebagian besar bangsa-bangsa
Yunani, Roma dan Macedonia.
Sedari awal, aku sama sekali tidak memiliki rencana untuk menyeberangi hingga
ke benua lain, tapi jika Tuhan yang menyuruh. Aku yakin semua akan sudah
dipersiapkan di sana. Kami berempat memencar untuk mencari para awak kapal
yang memiliki rencana berlayar ke benua itu. Dan malam itu, sebuah kapal
dagang akan berangkat malam itu juga dan kami beruntung dapat menaikinya.
Karena jika kami melewatkan kapal itu, kami harus menunggu sekitar 3 bulan
lagi untuk dapat pergi ke Macedonia—begitulah kata awak kapal.
Aku tahu, Tuhan sudah merencanakan semuanya bahkan pada sejak kami
pertama kali keluar dari Antiokhia. Lalu kami bertolak dari kota Troas dan
berlayar ke arah barat mencapai Pulau Samotrake yang berjarak sekitar 80
kilometer dan kapal berhenti di sana untuk menurunkan muatan dan mengambil
beberapa penumpang.
Kapal kemudian berangkat lagi menempuh jarak sekitar 120 kilometer ke arah
barat untuk memasuki wilayah Macedonia. Kami berlabuh di kota pelabuhan
bernama Neapolis.
Dari kota itu, kami bergerak ke kota Filipi yang berjarak 25 kilometer dari kota
Neapolis. Kota pertama di bagian Makedonia ini adalah suatu kota perantauan
470
orang-orang Roma. Yang terlihat di sana adalah kebanyakan orang-orang Roma,
beberapa orang Yunani dan juga sebagian kecil orang Yahudi.
Di kota itu kami tinggal beberapa hari.
Pada hari Sabat, Silas bertanya, ―ke mana kita akan mengajar di antara orangorang yang menyembah para dewa-dewa ini?‖
Aku tersenyum padanya dan berkata, ―Tuhan sudah menunjukkan tempatnya.
Ikutlah.‖ Ini semua berani aku katakan karena perasaanku yakin dan sudah
mendapatkan penglihatan sebuah tempat di tepi sungai.
Kami berjalan ke luar pintu gerbang kota, menyusur tepi sungai dan menemukan
tempat ibadat orang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ. Tempat ibadat itu
kecil dan berada di ruang terbuka dengan beberapa tenda menutupi. Setelah
duduk di sana, kami berbicara kepada perempuan-perempuan yang ada
berkumpul di situ. Menyampaikan asal kedatangan kami dan tujuan kami.
Setelah itu, mereka mempersilakanku untuk mengajar, maka saat itu juga aku
mengajar.
―Allah selalu ada diantara kita, meski kita sudah melewati lautan dan benua serta
tinggal di antara para penyembah berhala, Tuhan tidak sekalipun pernah
meninggalkan mereka yang memanggil-Nya dan juga tidak memanggil-Nya.
Tuhan Allah Yang Maha Pengasih bahkan juga mengasihi mereka yang tidak
mengenal-Nya atau bahakan membenci-Nya.
471
Karena itu mereka juga adalah sesama kita. Kasihilah mereka karena Allah
mengasihi mereka. Janganlah mengucapkan kata-kata buruk dan membenci
mereka karena mereka menyembah berhala.‖
Aku melanjutkan pengajaran itu setengah hari dan datanglah seorang perempuan
mendekatiku saat pengajaran selesai.
―Guru, singgahlah ke tempatku untuk makan. Keluargaku tentu akan senang
menerima kedatangan guru sekalian.‖
Kami memenuhi permintaan itu. Perempuan itu bernama Lidia. Ia adalah seorang
penjual kain ungu dari kota Tiatira, yang beribadah kepada Allah. Tuhan
membuka hatinya. Saat selesai makan, dia meminta agar aku dapat
membaptisnya bersama seisi rumahnya yang di mana ada saudaranya, ibu dan
bapaknya serta anak-anak dari saudara-saudaranya. Setelah itu, dia mendesak
agar kami tetap tinggal di tempatnya hingga kami berangkat dari kota Filipi.
"Jika kamu berpendapat, bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan,
marilah menumpang di rumahku." Ia mendesak sampai kami menerimanya.
Pada suatu kali ketika kami pergi ke tempat ibadat itu, kami bertemu dengan
seorang hamba perempuan yang mempunyai roh tenung; dengan tenungantenungannya tuan-tuannya memperoleh penghasilan besar. Ia dapat meramal
beberapa kejadian di masa depan dan memberikan saran-saran pada orang-orang
yang bertanya sebagai ganti beberapa keping uang.
472
Saat hamba wanita itu melihatku, ia langsung bangkit dan berseru katanya,
"Orang-orang ini adalah hamba Allah Yang Mahatinggi. Mereka memberitakan
kepadamu jalan kepada keselamatan."
Aku melihat sebuah jiwa lain yang merasuki hamba wanita itu. Sebuah jiwa yang
memiliki tingkat kecerdasan dan ilmu yang lebih tinggi daripada jiwa-jiwa jahat
biasanya. Karena ia memberitakan kebenaran, maka kami tidak mengganggunya.
Kami melanjutkan pengajaran kami. Akan tetapi, setiap kali ada kesempatan, dia
akan mengikuti kami dari belakang dan mengatakan hal yang sama.
Hal itu dilakukannya beberapa hari lamanya. Hingga aku tidak tahan lagi akan
gangguan itu, karena ia membuat semua orang melihat pada kami dan beberapa
orang memandangku dengan tatapan memuja.
Sungguh, tidak ada selain Tuhan yang patut disembah dan dipuja. Aku segera
berpaling dan berkata kepada jiwa itu, "Demi Tuhan, jiwa yang bersemayam
dalam tubuh perempuan ini, pergilah kamu ke tempat yang lebih baik dari dunia
ini. Pergilah engkau ke tempat yang sudah disediakan Tuhan Allah untukmu.
Pergilah dengan Kasih-Nya.‖ Seketika itu juga tubuh hamba wanita itu bergetar
dan mata serta wajahnya kembali normal. Tanda bawah jiwa itu sudah keluar.
Ketika tuan-tuan dari hamba perempuan itu melihat kejadian tersebut, dan hamba
wanita itu tidak lagi dapat memberikan ramalannya pada orang-orang. Mereka
segera menyadari jika penghasilan mereka telah lenyap.
473
Aku segera merasakan hal buruk pada perasaanku dan meminta agar kami semua
segera kembali ke rumah Lidia. Keesokan harinya, saat aku dan Silas berdua
sedang berjalan di pasar, tuan-tuan dari hamba perempuan itu mendadak
mendekati kami dengan sekitar enam orang budak lelakinya.
Keenam pria bertubuh besar itu mendekati kami dan dua orang menangkapku,
dua lainnya menangkap Silas. Mereka semua menatapku dengan tatapan
permusuhan.
―Bawa mereka,‖ kata tuan dari hamba-hamba itu. Dengan kasar, mereka
menyeretku dan Silas untuk menghadap penguasa kota Filipi.
Di hadapan pembesar-pembesar kota itu, berkatalah mereka tuan-tuan para
hamba, katanya, "Orang-orang ini mengacau kota kita, karena mereka orang
Yahudi, dan mereka mengajarkan adat istiadat, yang kita sebagai orang Roma
tidak boleh menerimanya atau menurutinya."
Aku ingin berkata-kata untuk membela diriku tapi saat itu juga beberapa orang
hamba pembesar itu menampar mulutku dan berkata, ―Orang Yahudi tidak punya
hak untuk berkata-kata.‖
Lalu pembesar-pembesar kota itu memberikan perintah, ―Koyak baju mereka dan
lakukan hukuman cambuk masing-masing 25 kali dan jika mereka berkata-kata,
tambahkan hukuman cambuk mereka.‖
Datanglah dua orang prajurit yang dengan kasar mengoyakkan pakaian dari tubuh
kami hingga telanjang untuk kemudian diseret keluar di tengah pasar.
474
Di sebuah tiang di tengah pasar, kedua tangan kami diikat dalam keadaan berdiri
dan mereka mencambuk kami sebanyak 25 kali. Tali panjang yang terasa panas
itu mengoyak badanku, memberikan rasa sakit dan panas membakar dikulitku.
Silas pingsan pada hukuman cambuk ke 20 dan aku bertahan hingga cambuk
terakhir. Semua orang kota di sana berkumpul dan berteriak gembira. Mereka
jelas tidak menyukai orang Yahudi.
Setelah itu, mereka membiarkan kami menjadi tontonan selama satu jam di
bawah panas terik dan rasa sakit. Lalat-lalat mencoba mengerubungi bekas-bekas
cambukan dan aku terlalu sakit untuk menggerakkan badanku mengusir mereka.
Tak lama kemudian, dua orang prajurit datang untuk melepas ikatan kami dan
menyeret kami ke dalam penjara.
Seorang prajurit menemui kepala penjara dan berkata, ―Pembesar kota
memintamu untuk menjaga mereka dengan sungguh-sungguh. Jika mereka
melarikan diri, maka nyawamu dan nyawa keluargamu akan menjadi
taruhannya.‖
Sesuai dengan perintah itu, kepala penjara memasukkan kami ke ruangan penjara
yang paling tengah dan membelenggu kaki kami dalam pasungan yang kuat.
―Saudara,‖ bisikku lirih pada kepala penjara itu. ―Bisakah aku mendapatkan
sedikit air untuk minum dari kebaikan hatimu?‖ Aku merasa sangat haus.
475
Kepala penjara itu melihatku dan menampar wajahku. ―Orang tahanan tidak
pantas meminta apa pun dariku.‖ Dia kemudian keluar meninggalkan kami yang
dalam keadaan telanjang, terluka dan kehausan.
Penjara itu terasa dingin dan mengeluarkan bawa pesing. Silas tersadar tak berapa
lama. Keadaan tidak menjadi lebih baik hingga saat tengah malam tiba. Kami
kehausan, kelaparan dan kedinginan.
―Apa yang akan kita lakukan dalam keadaan ini?‖ tanya Silas.
Aku mendesah napas dan berkata, ―Berdoa dan memuji Tuhan tentunya.
Bukankah ada dikatakan jika engkau memiliki kesukaran hidup, berdoalah padaNya.‖
Maka kami berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang
hukuman yang berada di ruangan lain ikut mendengarkan kami.
***
Di kota Filipi, tinggallah seorang pemuda cerdas. Dia adalah orang Roma yang
datang bersama keluarganya dari sebuah desa kecil di wilayah Roma ke Filipi
untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Di Filipi, dia bekerja sebagai juru
tulis dan menggandakan buku-buku, catatan atau surat-surat peraturan. Pada
suatu hari, dia bertemu dengan seorang hamba wanita yang datang kepadanya
atas perintah tuannya untuk menggandakan beberapa surat dan tulisan dari para
ahli filsafat.
476
Pemuda itu, orang-orang memanggilnya Yoel dan hamba wanita itu bernama
Namukh yang berarti ‗tidak memiliki harga‘. Namukh adalah seorang budak
perempuan yang diambil dari benua lain dan berkulit hitam legam.
Orang-orang Roma menyukai gadis-gadis Yunani yang berkulit putih dan
bersinar bak pualam. Sehingga gadis-gadis berkulit hitam sama sekali tidak
dipandang sebelah mata.
Tapi Yoel menemukan belahan jiwanya dari pandangan mata Namukh. Ia
terpesona pada gadis itu dan jiwanya bergetar. Setelah bertemu berkali-kali
karena tuan dari Namukh sering menggandakan tulisan, Yoel dan Namukh
menjadi dekat.
Hingga saat Yoel menyakini jika Namukh menyukainya, maka pergilah ia kepada
tuan dari Namukh untuk meminta Namukh darinya.
―Katakan harganya, maka aku akan mencoba menebusnya,‖ kata Yoel pada tuan
dari Namukh. ―Dengan uang itu, kamu akan dapat membeli hamba-hamba wanita
yang lebih cantik menurutmu.‖
Tuan dari Namukh melihat Yoel yang sangat menginginkan Namukh dan dia
melihat Namukh juga memiliki hati pada Yeol. Maka ia menyebut sebuah harga
yang bahkan dua kali lipat lebih tinggi daripada harga budak perempuan di pasar.
Tapi Yoel berkata, ―Baiklah aku memberikan sebagian uang yang kumiliki dan
sisanya akan segera kukumpulkannya.‖ Karena Yoel tidak menyangka harga
477
Namukh akan dua kali lebih mahal. Maka dibuatlah perjanjian tertulis di antara
mereka.
Yoel bekerja keras untuk mengumpulkan uang dan tuan dari Namukh yang
melihat bahwa hamba wanita itu akan segera meninggalkannya, dia melipat
gandakan tugas pada hamba itu. Namukh juga dikasari oleh rekan sesama
hambanya dan dianggapt pengkhianat karena akan meninggalkan mereka.
Setengah tahun kemudian, Namukh yang sedang tidur karena kelelahan,
mendadak dibangunkan oleh temannya sesama hamba perempuan. ―Namukh,
segera bangun dan pergilah dari tempat ini.‖
―Ada apa?‖ tanya Namukh terkejut.
―Tuan baru saja menjual keperawananmu untuk seorang temannya yang sedang
mabuk. Dia akan segera tiba di tempat ini.‖
Ketakutanlah Namukh dan ia segera keluar dari kamarnya dan melompat keluar
dari gerbang rumah tuannya untuk pergi ke rumah Yoel. Hanya sebentar sejak
pertemuan Yoel dengan Namukh di rumah Yoel, datanglah hamba-hamba lelaki
dari tuan itu dan memukuli Yoel serta membawa pergi Namukh.
Karena pemuda itu tidak mengizinkan, maka terjadilah keributan besar hingga
perkara itu diterima oleh pembesar kota. Pembesar kota itu juga adalah rekan dari
tuan Namukh.
Pada awalnya pembesar kota itu menyuruh agar Yoel dihukum cambuk karena
telah melarikan hamba perempuan dari tuannya.
478
Yoel mendadak mengeluarkan suart perjanjian membeli Namukh dan dia sudah
mempersiapkan uang sisa pembayarannya. ―Tuan pembesar,‖ kata Yoel. ―Dalam
surat ini tertulis jika Namukh dijual padaku dengan harga yang tertera dan setelah
aku melunasi keseluruhan pembayaran, maka Namukh adalah milikku. Ini adalah
surat itu dan ini adalah pembayarannya, dengan demikian Namukh adalah
milikku. Bukan lagi miliknya.‖
Tuan Namukh membantah, ―kamu telah melarikannya sebelum membayarnya
tadi malam.‖
―Bukankah di dalam surat itu ada tertulis jika Namukh harus diserahkan padaku
setelah uang pembayarannya dilunasi?‖ tanya Yoel. ―Ini adalah uangnya dan
kamu telah menerima setengah dari uang itu terlebih dahulu. Setengah dari hak
milik Namukh sudah menjadi milikku dan ini adalah keseluruhannya. Apakah
kamu mau mengambilnya atau tidak?‖
―Tidak,‖ sahut tuan dari Namukh marah.
―Kalau begitu aku akan memperkarakan kamu karena kamu telah membuat surat
bersamaku dan kini kamu mengingkarinya.‖
Maka takutlah tuan Namukh, ia pergi ke hadapan Yoel untuk mengambil uang itu
dan berkata, ―Sekarang Namukh adalah milikmu tapi jangan harap kamu bisa
selamat setelah ini.‖
Dia segera berkata pada pembesar kota, ―Baiklah, Namukh sekarang sudah
menjadi milik pemuda ini. Aku membatalkan perkara penculikan hambaku,
479
sebagai gantinya, aku akan melaporkan perkara bahwa pria ini, seorang Roma di
antara kita, telah merendahkan derajat diri bangsa kita dengan mengambil hamba
wanita ini untuk dijadikan istrinya.‖
Terkejutlah semua orang di sana termasuk pembesar kota. Semua orang Roma
langsung mengecam pria itu dan memakinya.
Pembesar kota menatap Yoel dan berkata, ―Apakah benar kamu orang Roma
akan mengambil Namukh, hamba berkulit hitam ini, sebagai istrimu?‖
Yoel memandang pada Namukh dan kemudian pada pembesar kota dan juga
manatap mantan tuan dari Namukh. Ia tidak dapat mengatakan apa pun.
―Tidak tuan,‖ teriak sebuah suara nyaring.
Semua orang dapat melihat Namukh sedang membela dirinya, ―Tuan Yoel, hanya
ingin membeliku sebagai budaknya. Dia tidak menginginkan aku sebagai
istrinya.‖
―Benarkah itu?‖ tanya pembesar kota pada Yoel.
Pemuda itu hanya diam.
Namukh segera memegang tubuh pemuda itu dan mengguncangnya, ―Katakan
pada mereka, kamu hanya ingin menjadikanku budak.‖ Mata Namukh basah
karena ketakutan. ―Tuan Yoel.‖
Pembesar kota berteriak lebih keras lagi, ―Yoel, berikan jawabanmu atau kalian
berdua akan kuhukum.‖
480
Yoel berdiri dan menatap pembesar kota itu. ―Aku akan menjadikannya istriku.‖
Kembali terkejutlah semua orang di sana dan segera berkata-kata dengan nada
menjijikan. Beberapa orang tampak marah dan meludahi Yoel. Air mata Namukh
jatuh.
―Berikan hukuman cambuk dan penjarakan dia,‖ teriak pembesar kota
menjatuhkan vonisnya. Namukh berteriak-teriak mencoba menahan agar mereka
tidak menangkap Yoel.
Pemuda itu menatap pada Namukh dan berkata, ―Aku sungguh mencintaimu.‖
Mereka membuka pakaian Yoel dan mencambuknya di depan orang-orang. Tak
lama kemudian, dia dimasukkan dalam penjara. Tanpa ada persidangan yang
jelas, dia sudah mendekam di dalam penjara selama lima bulan dan tidak ada
tanda-tanda akan dilepaskan.
Dalam waktu itu juga Namukh pernah mengirimnya sebuah surat melalui seorang
petugas kebersihan penjara yang dibayar Namukh. Surat itu bertuliskan.
“Aku sudah menerima kebebasan dan tinggal di dalam rumahmu. Aku bekerja
untuk mencuci pakaian orang-orang untuk mengumpulkan uang. Jika suatu saat
nanti kamu keluar, marilah kita pergi ke suatu tempat di mana orang-orang tidak
akan saling bermusuhan dan kita berdua dapat hidup bahagia.
Tertanda
Namukh, istrimu.”
481
Hari demi hari, Yoel menunggu kebebasannya yang tidak kunjung tiba. Pada
suatu hari, di tengah malam buta, ia mendengar suara lafalan dua orang dari
dalam sebuah ruangan penjara bagian tengah. Tak lama kemudian terdengar suara
nyanyian dalam bahasa yang tidak dikenal.
Nyanyian itu terasa menenangkan jiwanya dan juga membuat hatinya merindu.
Dengan air mata yang berjatuhan, dia bertanya dalam bahasa Roma saat suara itu
berhenti.
―Teman, Apakah yang sedang kalian lakukan?‖ tanya Yoel.
―Kami sedang berdoa dan bernyanyi dalam bahasa Ibrani,‖ kata suara dari
penjara bagian tengah. Yoel tidak dapat melihat pemilik suara.
―Kepada dewa siapakah?‖ tanya Yoel.
―Kepada Tuhan, saudaraku,‖ kata suara itu.
―Dewa apakah Tuhan itu?‖
―Tuhan adalah pencipta para dewa, dia adalah yang paling Agung dan Maha
Pengasih.‖
Air mata Yoel mengalir tanpa sebab, rasa sakit di hatinya bertambah, ―Bolehkah
aku berdoa bersama kalian?‖
―Tentu saja,‖ kata suara itu.
482
―Tapi, apakah Dia mau mendengarkanku? Karena tidak pernah ada yang mau
mendengarkan kesedihanku dan bebanku.‖ Yoel terisak. ―Aku orang yang hina
ini. Hanya kesukaran yang kumiliki.‖
―Tuhan Maha Pengasih dia selalu mengasihi siapa pun juga. Jika engkau percaya
padanya, mari berdoalah bersamaku. Biarlah Kasih-Nya bekerja padamu dan
membawa jawaban atas semua kesedihan dan kesukaranmu.‖
―Baiklah,‖ kata Yoel dan dia bersujud di depan penjara dengan berlinang air
mata. ―Aku percaya.‖
―Marilah kita berdoa,‖ kata suara dari ruangan tengah, ―Tuhan, Engkau Yang
Maha Pengasih dan Maha Tahu atas semua kesukaran hidup kami. Engkau yang
mengetahui kepedihan dan beban dalam hati kami semua. Tuhan, sering kali
kami berjuang sendiri dalam kepedihan dan gelap kehidupan ini, meski Engkau
selalu di samping kami mau membantu kami. Kali ini biarlah kami percaya padaMu. Kami membuka hati kami, menerima uluran Kasih sayangmu agar Kasih-Mu
dapat menggapai seluruh kepedihan dan beban di hati kami agar Engkau gantikan
dengan Kuasa Kasih-Mu. Agar Kasih-Mu dapat bekerja sepenuhnya dalam diri
kami dan lingkungan kami. Hingga semuanya terjadi sesuai kehendak-Mu. Kami
sepenuhnya pasrah pada Kehendak-Mu.... Amin.‖
―Amin,‖ kata Yoel.
―Amin, Amin, Amin,‖ terdengar kata amin berkali-kali dari berbagai ruang
penjara. Saat itu, secara mendadak bergetarlah seluruh tanah di dalam penjara.
483
Yoel melihat seluruh ruang penjara itu bergetar hebat dan pintu-pintu besi di
antara dinding penjara bergetar keras menjatuhkan batu-batu di atasnya. Sendisendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terjatuhlah semua pintu dari besi
itu, terpisah dari dinding batu. Belenggu besi yang menancap pada dinding
terlepas dan membebaskan para tawanan.
Sebuah dinding luar penjara roboh dan membuka jalan ke luar.
Yoel keluar dari penjaranya dan melihat sebuah lubang besar di sebelah kanannya
yang memperlihatkan pemandangan luar yang langsung mengarah ke kota. Para
tahanan yang perlahan-lahan keluar dari ruang penjara mereka juga saling
bertatapan, akan tetapi, alih-alih Yoel pergi keluar, ia masuk untuk menuju ke
ruang penjara bagian tengah yang terbuka.
Dia melihat dua orang telanjang di sana dan melepaskan jubahnya untuk
menutupi pria itu, seorang terhukum lainnya juga melakukan hal yang sama. Yoel
melihat bahwa semua orang terhukum itu memilih untuk berkumpul di ruang
penjara tengah daripada melarikan diri.
Mereka semua menatap pada pria itu.
―Apa yang akan kita lakukan?‖ tanya seorang pria tua pada kedua orang itu.
Seorang dari mereka menjawab, ―Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang.
Jika kalian percaya pada-Nya dan kalian percaya bahwa kalian tidak melakukan
dosa hingga pantas berada dipenjara ini...‖
―Aku tidak bersalah,‖ kata Yoel.
484
―Aku juga,‖ kata seorang tua.
―Aku juga,‖ tambah terhukum lainnya. ―Pembesar kota semena-mena
menjebloskan kami ke dalam penjara tanpa persidangan yang adil.‖
Semua orang itu mengatakan hal yang sama.
―Jika demikian,‖ kata pria itu. ―Jika kalian percaya Tuhan bisa menyelesaikan
masalah kalian, duduklah di tempat ini. Dan bantuannya akan datang pada kalian
sehingga kalian tidak perlu keluar dari tempat ini dengan penuh kekuatiran dan
diburu oleh para prajurit.‖
―Kami bisa bersembunyi dari kejaran itu,‖ kata seseorang.
―Atau lari dari kota ini,‖ kata yang lainnya.
―Tapi, apakah kalian bisa lari dari hati nurani kalian sendiri?‖ tanya pria itu yang
membuat mereka semua terdiam. ―Kalian akan membebaskan tubuh kalian tapi
terpenjara oleh ketakutan dan kekuatiran. Percayalah Tuhan dapat mengatur
semuanya jika kalian percaya dan menyerahkan diri kalian pada-Nya.‖
Yoel melihat lubang besar yang akan membawanya dalam kebebasan, ia sudah
menunggu selama enam bulan untuk bertemu Namukh dan pergi bersamanya dari
kota ini. Dia sudah sangat menginginkannya.
Kebebasannya hanya berjarak dua puluh langkah dari tempatnya berada.
Ia melihat lubang itu dan juga kemudian melihat pada kedua orang pria itu. Ia
juga yakin jika ia akan dapat lari dari penjara ini tanpa ketahuan prajurit...
485
Tapi,
Yoel memilih untuk duduk di dalam penjara ruang tengah itu dan berkata, ―Aku
percaya pada Tuhan. Biarlah Dia yang membantuku.‖
***
―Saudaraku,‖ kataku melihat pada seorang pemuda yang duduk dan terhukum
lainnya yang sedang bimbang dan berkata, ―Milikilah imam, pengharapan dan
kasih.‖
―Apakah kamu tidak akan lari?‖ tanya seorang terhukum padaku.
Aku
tersenyum
padanya,
―Aku
memiliki
iman
jika
Tuhan
akan
menyelamatkanku, Aku juga memiliki pengharapan yang baik akan hal yang Dia
lakukan. Dan kasih, karena itu aku tidak akan lari, karena kepala penjara itu akan
kesulitan dan mendapatkan celaka jika aku melarikan diri. Dia dan keluarganya
akan dibunuh oleh pembesar kota.‖
Para terhukum itu menatap padaku dalam diam, mereka seakan-akan melihat
seorang yang aneh. Beberapa orang mendadak duduk di dalam ruangan itu dan
lainnya pun ikutan.
Akhirnya semua orang terhukum duduk dalam penjara bagian tengah dan tidak
ada yang keluar melalui lubang besar itu.
―Apa yang akan kita lakukan sekarang?‖ tanya seorang terhukum padaku.
―Mari kita berdoa dan memasrahkan segalanya pada Tuhan.‖
486
Tak lama kemudian, kami mendengar suara orang masuk ke dalam penjara, dia
berteriak-teriak, ―Matilah aku dinding penjara roboh dan semua pintu penjara
terbuka. Orang-orang terhukum telah melarikan diri semua.‖
Suara itu berteriak-teriak dan mendadak menjadi hening.
Aku berjalan keluar dan melihat kepala penjara sedang berlutut dengan mata
pedang tajam sedang terarah pada lehernya. Dia ingin membunuh dirinya.
"Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!" kataku
cepat.
Tergetarlah kepala penjara itu dan mata pedangnya jatuh di atas lantai
mengeluarkan
suara
berdenting.
―Siapa
di
sana?‖
teriaknya
sambil
memerintahkan prajurit untuk membawa suluh api.
―Aku Paulus,‖ kataku saat melihat pria itu mendekatiku dengan suluh api dan saat
ia melihat di dalam ruangan kami yang penuh dengan para terhukum. Terkejutlah
dia.
―Mengapa kalian tidak melarikan diri?‖
Aku melihat pada kepala penjara itu dan berkata, ―Mereka tidak lari karena
mengasihimu dan agar kamu serta keluargamu tidak mendapat celaka.‖
Kepala penjara itu melihat di dalam ruangan yang penuh dengan semua
terhukum, tanpa terikat dan bebas, ia melihat pada dinding penjara yang terbuka
dan dengan gemetar tersungkurlah ia.
487
―Kalian telah menyelamatkanku dan keluargaku.‖ Menangislah dia dihadapan
semua orang. Setelah ia selesai menangis, berdirilah dia menatap semua orang
terhukum.
―Pergilah kalian semua,‖ kata kepala penjara dengan tegas pada semua orang. Hal
itu mengejutkan semua terhukum. ―Apa lagi yang kalian tunggu? Pergilah.‖
―Mengapa?‖ tanya Yoel tidak percaya.
―Kalian tetap berada di sini demi untuk melindungiku dan keluargaku. Padahal
aku sudah begitu kejam pada kalian. Aku sudah berhutang nyawa pada kalian,
dan aku juga tidak mungkin memenjarakan kalian lagi karena kasih kalian
padaku. Pergilah dan larikan diri kalian. Malam ini juga aku akan membawa
keluargaku untuk melarikan diri menyelamatkan hidup mereka. Dan aku akan
bertanggung jawab atas semua ini.‖
Para terhukum melihat padaku menanti keputusan.
Aku memandang pada kepala penjara itu, aku melihat jika pria ini penuh kasih
dan Tuhan akan menyelamatkannya, ―Kepala penjara,‖ kataku. ―Karena kasihmu,
kita semua akan diselamatkan. Mereka akan bebas dan begitu juga keluargamu.‖
"Apakah yang harus aku perbuat, supaya kita semua selamat?" tanya kepala
penjara penuh harapan.
―Undanglah kami semua ke rumahmu untuk makan dan biarkan Tuhan bekerja
padamu dan seisi rumahmu.‖
488
Kepala penjara itu terlihat terkejut.
Yoel merasa lucu melihat tingkah kepala penjara dan berkata, ―Kami sama
terkejutnya denganmu saat dia menyuruh kami untuk tinggal di sini daripada
berlari keluar dari tempat ini.‖
―Marilah ke rumahku,‖ ajak kepala penjara itu.
Malam itu juga, pada tengah malam, dia membangunkan seluruh keluarganya,
dan hamba-hambanya. Dia mengundang kami semua untuk makan dan aku
mengajarinya tentang Tuhan seperti aku mengajarinya pada orang-orang
terhukum.
―Tuhan itu Maha Pengasih dan Kuasanya akan bekerja jika kamu semua
membuka hatimu, menerima kasih-Nya dan membiarkan kasih-Nya terjadi pada
kehidupanmu.‖
Pada pagi-pagi buta, aku menulis sebuah surat dan meminta agar kepala penjara
itu membawanya pada pembesar kota. Aku juga memintanya membawa kami
semua kembali ke dalam penjara.
Para terhukum menjadi bersungut-sungut dan aku berkata pada mereka, ―Apakah
iman kalian sudah berkurang setelah beberapa kali percobaan ini? Apakah kalian
masih lebih yakin pada diri sendiri dan bisa mendapatkan kebebasan dengan
melarikan diri dari sini daripada membiarkan Tuhan melakukannya untuk kalian?
Kalian bebas untuk melarikan diri sekarang atau ikut bersamaku ke dalam
penjara.‖
489
Akhirnya kami semua kembali ke dalam penjara dan aku merasa lucu melihat
mereka yang masih bersungut-sungut.
Semoga setelah kejadian ini, iman mereka akan semakin diteguhkan.
Setelah hari siang dan mereka semua menunggu dalam cemas, aku dapat melihat
betapa cemasnya mereka, mungkin beberapa orang sudah berpikir mengapa
mereka tidak melarikan diri dari semalam? Mengapa mereka mau mengikuti
kata-kata orang bodoh ini?
Aku merasa lucu.
―Kapan Tuhan akan melepaskan kita?‖ tanya seorang terhukum dari penjaranya.
―Pada saat Tuhan merasa itu baik,‖ jawabku.
―Dan kapan saat baik itu?‖
―Saat kamu berpasrah sepenuhnya pada Tuhan.‖
Terdengar suara gerutuan dari beberapa orang dan suara doa dari yang lainnya.
―Apakah masih ada yang percaya dan beriman?‖ tanyaku pada mereka semua.
Dari ujung lain penjara, terdengar sebuah suara yang penuh keyakinan, ―Aku
percaya.‖ Suara itu penuh kuasa dan bahkan Silas tergetar.
Saat itu juga pintu penjara terbuka dan kepala penjara lari ke dalam penjara
bersama prajurit pejabat kota yang memenjarakanku. Kepala penjara segera
berkata dengan penuh kegembiraan, "Pembesar-pembesar kota telah menyuruh
490
melepaskan kamu semua, jadi keluarlah kamu sekarang dan pergilah dengan
selamat! Tidak akan ada lagi orang-orang yang mengejar kalian."
Bersorak gembiralah semua orang di dalam penjara, beberapa bahkan menangis
karena gembira.
Tetapi aku berkata kepada prajurit pejabat kota dan kepala penjara, "Tanpa diadili
mereka telah mendera kami, warganegara-warganegara Roma, di muka umum,
lalu melemparkan kami ke dalam penjara. Sekarang mereka mau mengeluarkan
kami dengan diam-diam? Tidak mungkin demikian! Biarlah mereka datang
sendiri dan membawa kami ke luar."
Hal itu mengejutkan semua orang. Prajurit pejabat kota, kepala penjara dan para
terhukum.
Maka kembalilah, prajurit pejabat-pejabat kota itu menyampaikan perkataan itu
kepada pembesar-pembesar kota.
―Mengapa kamu mencobai hingga sejauh ini?‖ tanya seorang terhukum padaku
setelah kepergian para prajurit. ―Mengapa kita tidak pergi saja sebelum mereka
berubah pikiran.‖
Aku menatapnya dan berkata, ―Sesungguhnya saat Tuhan bekerja, Ia tidak pernah
bekerja setengah-setengah. Ia menunjukkan kesempurnaan yang melebihi apa
yang dapat manusia bayangkan. Jangan takut dan gentar tentang seberapa besar
Tuhan dapat berkarya dalam hidupmu.‖
491
Tak lama kemudian, datanglah pembesar kota itu sendiri di hadapan kami dan
membebaskan kami semua. Saat itu, kami keluar dari penjara menyambut
matahari dengan sebuah kegembiraan baru. Aku dapat melihat iman-iman mereka
kepada Tuhan telah tumbuh dan menjadi kuat dalam diri orang-orang terhukum
yang kini telah menjadi orang bebas. Kini mereka sudah melihat Kuasa-Nya.
Mendadak datanglah kepala penjara di antara kami dan berkata, ― Pembesar kota
memohon agar kalian menjaga rahasia ini dan meninggalkan kota ini. Dia akan
menyediakan uang bekal pengganti pada kalian.‖
―Mengapa demikian?‖ tanya seorang mantan terhukum.
Aku segera berkata, ―Dia merasa malu saat menghukum kalian tanpa persidangan
dan lebih malu lagi saat harus membebaskan kalian sendiri. Dia tidak ingin orang
kota ini mengetahui tindakannya yang memalukan meski semua orang sudah
mengetahuinya. Melukai keseombongannya. Jadi, terserah pada kalian, jika
memiliki kasih padanya, marilah kita selamatkan mukanya sedikit.‖
Para mantan terhukum itu tertawa dan rata-rata mengatakan, ―Kami juga tidak
lagi ingin tinggal di kota dengan pembesarnya yang semena-mena.‖
Aku tersenyum pada mereka dan berkata, ―Beritakanlah kabar gembira ini dan
tentang Tuhan di mana pun kalian berada, agar banyak orang beroleh selamat.‖
Mereka semua mengamininya dan pergi.
Kepala penjara mencegahku dan bertanya, ―Apakah surat yang kamu tuliskan
pada pembesar kota hingga dia ketakutan?‖
492
Aku tersenyum dan menjawab, ―Apa yang Tuhan suruh aku tuliskan.‖ Lalu aku
dan Silas pergi ke rumah Lidia; dan setelah bertemu dengan Timotius, Lukas dan
saudara-saudara lainnya yang berada di situ dan menghiburkan mereka, maka
berangkatlah kami keluar kota untuk melanjutkan perjalanan.
Di luar gerbang kota, kami bertemu dengan Yoel dan istrinya, Namukh. Kedua
orang itu terlihat penuh dengan kebahagiaan. Mereka meminta agar dibaptis
sebelum pergi dari kota Filipi. Aku melihat imannya yang begitu besar pada
Allah.
―Dia akan selalu menyertaimu ke mana pun engkau pergi.‖
Kami berempat berjalan sekitar 20 kilometer ke arah barat daya dan tiba di kota
Amfipolis, dari sana, kami kemudian bergerak 10 kilometer lagi ke arah barat
daya dan tiba di kota Apolonia.
Setelah menginap semalaman di kota Apolonia, kami kembali berjalan ke arah
barat daya sekitar 25 kilometer dan tiba di kota Tesalonika. Di situ ada sebuah
rumah ibadat untuk orang Yahudi dan karena jumlah penduduk yang banyak,
kami memutuskan untuk mengajar di tempat itu.
Seperti biasa, aku masuk ke rumah ibadat itu dan mulai menawarkan diri untuk
mengajar. Karena mereka cukup tanggap dan menerima kami, tiga hari Sabat
berturut-turut aku membicarakan dengan mereka bagian-bagian dari Kitab
Taurat. Hal ini karena mereka belum memiliki pemahaman mendasar akan Allah.
493
Setelahnya, aku mengajarkan pada mereka bahwa seorang bernama Yesus telah
memberikan ajaran bahwa manusia adalah anak-anak Allah. Dan Tuhan
mengasihi manusia. Maka dari itu segala hubungan yang selama ini menurut
hukum Taurat jika manusia jauh dari Tuhan, membutuhkan hewan kurban untuk
setiap kali menghubungi Tuhan dan juga Tuhan adalah pemarah dan akan
menjatuhi hukuman serta kebinasaan kepada setiap orang melakukan kesalahan
besar dan kecil adalah salah. Tuhan Maha Pengasih dan Maha Memaafkan.
Beberapa orang dari mereka menjadi yakin dan menggabungkan diri dengan
kami dan juga sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah, dan tidak
sedikit perempuan-perempuan terkemuka.
Akan tetapi ada juga orang-orang Yahudi menjadi iri hati dan marah. Karena bagi
mereka hukum Taurat adalah Tuhan bagi mereka. Mereka melihat hukum dan
peraturan jauh lebih tinggi daripada kasih kepada sesama. Mereka melihat semua
peraturan dan tulisan itu adalah Tuhan bagi mereka dan semua orang. Satusatunya cara menjaga hubungan dengan Tuhan bukanlah dengan kasih, iman dan
harapan. Tapi, tangan besi mengikuti semua peraturan. Karena Tuhan bagi
mereka ada otoriter pemarah yang lebih kejam dari raja mana pun.
Tapa peduli isi hati seseorang yang mendengki dan iri, asalkan orang itu
tersenyum dan mengikuti peraturan, itu adalah hal yang tepat. Tanpa peduli
orang-orang akan mati di hari sabat jika tidak disembuhkan, selama mereka
mengikuti peraturan, mereka sudah melakukan kebenaran. Dan tidak peduli
494
membunuh orang lain jika itu untuk menegakkan peraturan, maka mereka akan
beroleh surga dan hal baik dari tuhan.
Aku hanya berpikir, peraturan dan hukum Taurat itu sendiri sudah menjadi tuhan
bagi mereka. Peraturan itu sendiri telah menutupi mereka dari Tuhan yang sejati.
Mereka menyembah berhala berupa peraturan bagi diri mereka dan menutupi hati
mereka dari kebenaran.
Pada suatu hari, aku mendengar jika orang-orang Yahudi yang berkeras pada
hukum Taurat dan membenci kami karena mengajar pada orang-orang Yunani,
membayar beberapa penjahat dari antara petualang-petualang di pasar untuk
mengadakan keributan dan mengacau kota Tesaloika.
Maka kami pun berangkat meninggalkan tempat itu untuk melanjutkan perjalanan
sekitar 30 kilometer menuju ke kota Berea. Keesokan harinya di kota itu, kami
mendengar kabar dari orang Tesalonika yang berdagang di Berea mengatakan
telah terjadi kekacauan di rumah Yason—seorang baik yang menampung kami
untuk tinggal di dalam rumahnya hampir selama sebulan saat kami di Tesalonika.
―Apa yang terjadi?‖ tanyaku pada pedagang itu.
Pedagang itu pun menceritakan.
***
Pada siang hari, sekitar dua puluhan orang datang ke rumah Yason, mereka
mencari Paulus, Silas, Lukas dan Timotius, namun Yason mengatakan jika orang
yang mereka cari telah pergi. Kedua puluh orang itu tidak percaya dan memaksa
495
masuk ke dalam rumah Yason. Dan karena tidak menemukan orang yang mereka
cari di dalam rumah,
mereka menjadi marah dan mengamuk serta
menghancurkan seisi rumah.
Yason tidak berdaya mencegah kedatangan mereka dan wajahnya juga telah
hancur oleh pukulan-pukulan orang kasar itu. Karena tidak menemukan sasaran
mereka di tempat Yason, mereka menyeret Yason dan beberapa saudaranya yang
ada di dalam rumah itu untuk menghadap pembesar-pembesar kota.
Mereka berteriak, katanya, "Orang-orang yang mengacaukan seluruh dunia telah
datang juga ke mari, dan Yason menerima mereka menumpang di rumahnya.
Mereka semua bertindak melawan ketetapan-ketetapan hukum Taurat maupun
hukum Kaisar dengan mengatakan, bahwa ada seorang raja lain, yaitu Yesus.
Mereka mengajari untuk tidak mematuhi hukum yang ada."
Ketika orang banyak dan pembesar-pembesar kota mendengar semuanya itu,
mereka menjadi gusar.
Yason segera berdiri dan berkata, ―Apa yang dituduhkan pada kami sama sekali
tidaklah benar. Bukankah kami ini membayar pajak cukai kami kepada kasiar
setiap waktu yang ditentukan. Tapi, lihatlah mereka yang menangkapku, mereka
menghancurkan rumah kami, memukuli kami dan menyeret kami ke tempat ini.
Tapi siapakah mereka yang berhak melanggar hukum kaisar tentang keamanan
dan tidak boleh sembarangan memasuki rumah orang, menghancurkan benda
milik orang lain maupun memukuli orang tanpa sebab?‖
496
―Lihatlah mereka yang membawaku ke sini,‖ kata Yason dengan berani. ―Apakah
kalian ada mengenal mereka sebagai penduduk kota ini? Bukankah mereka para
petualang di sini? Mereka bahkan tidak membayar pajak pada kaisar. Atas dasar
apakah mereka merusak rumahku? Jika kalian membiarkan mereka, bukankah
rumah-rumah kalian juga akan dimasuki oleh mereka tanpa sebab? Bukankah kita
penduduk kota ini harus menjaga di antara kita dan menegakkan hukum kaisar?‖
Para penduduk Tesalonika mengenal Yason, karena dia dan keluarganya sudah
lama tinggal di kota ini sedangkan mereka yang menangkap Yason, sama sekali
tidak mereka kenali. Maka larilah sebagian besar orang-orang yang menangkap
Yason karena beberapa di antara mereka adalah pelarian dari berbagai kota
setelah melakukan kejahatan. Mereka takut tertangkap.
Maka tertinggallah beberapa orang Yahudi yang mencari Paulus dan menuduh
Yason di tempat itu tidak mampu berkata-kata.
Yason yang penuh kemarahan menatap pada orang Yahudi itu. ―Lihatlah orangorang ini yang penuh kesombongan. Merasa dirinya yang paling benar dan
memandang rendah semua orang selain orang Yahudi. Mereka mengutip
sumbangan dari orang-orang Yahudi atas nama hukum Taurat. Dan sekarang aku
tanyakan pada kalian semua yang berada di sini. Adakah dari kalian yang melihat
mereka ini yang menuduhkan pada kami melanggar hukum kaisar ada
menyumbangkan pajak cukai mereka pada Kaisar? Bukanlah mereka adalah
pelanggar sesungguhnya?‖
Takutlah orang-orang Yahudi itu dan segera melarikan diri.
497
Pembesar kota menatap pada Yason dan bertanya, ―Baiklah kamu benar, tapi
biarlah aku bertanya, apakah tuduhan mereka bahwa kalian mengakui Yesus
sebagai raja di atas Raja Roma dan hukum kaisar?‖
Yason segera menjawab, ―Adapun Yesus sudah mati, dan dalam ajarannya, yang
lebih tinggi dari Kaisar Roma adalah Tuhan Allah pencipta langit dan bumi.
Sedangkan yang lebih tinggi dari hukum yang ada di dunia ini adalah Kasih.‖
Pembesar itupun membebaskan mereka setelah meminta jaminan agar mereka
tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum.
***
Mendengar kisah itu, kami memutuskan untuk mengirimkan Lukas yang
merupakan tabib untuk pergi ke Tesalonika kembali. Untuk mengobati Yason dan
saudara-saudaranya. Juga untuk mengajar di antara mereka.
Di kota Berea, aku, Silas dan Timotius pun pergilah ke rumah ibadat orang
Yahudi untuk melanjutkan pengajaran.
Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya daripada orang-orang Yahudi
di Tesalonika. Mereka menerima kasih sebagai bagian paling penting bagi
kehidupan dan menerima dengan segala kerelaan hati.
Saat itu, aku segera melanjutkan, ―hukum Taurat ada karena pada saat itu,
manusia bertindak sesuka hatinya. Kesadaran serta kasih belum tumbuh di antara
mereka sehingga peraturan perlu ditegakkan. Penyembahan pada Tuhan melalui
ritual-ritual dan peraturan menjadi sebuah tradisi.
498
Tapi, apakah ada seorang bapa yang senang melihat anak-anaknya menaati
peraturan-peraturan karena takut padanya? Karena takut dihukum?
Pada saat seseorang memberikan kalian makanan karena mengikuti peraturan
yang ada, namun matanya menatap dengan kebencian, hatinya mendongkol
penuh ketidakrelaan serta tidak menyukai kalian. Apakah kalian akan makan dari
makanan yang diberikannya?
Saat kalian memasuki rumah ibadat, semua pejabat dan rabbi-rabbi di dalamnya
sangat displin dan tegas dalam menjalankan peraturan ibadah, hingga setiap
orang di sana merasa sesak dan susah bergerak. Tidak ada senyuman dari mereka
dan juga orang yang berkunjung. Tempat ibadat itu persis menjadi seperti tempat
para prajurit militer mengintimidasi musuh-musuhnya.
Mereka yang hadir di tempat itu karena terpaksa demi peraturan, wajah mereka
bersunggut-sunggut dan saat semua acara selesai, mereka semua keluar dengan
perasaan lega dan tersenyum dengan perasaan, satu hari melelahkan selesai
sudah.
Apakah itu masih rumah ibadat tempat kita memuja Tuhan?
Seorang pemula berusaha untuk memainkan kecapi, tapi karena ia tidak
mengetahui apa-apa, seorang pemain musik mengajarinya sebuah lagu. Dengan
bekerja keras, dia akhirnya dapat memainkan lagu itu dengan tepat.
499
Waktu berlalu hingga bertahun-tahun dan datanglah seorang pemain musik lain
yang melihat pada pemain musik yang hanya bisa memainkan lagu itu dan sudah
mengajari orang-orang untuk memainkan lagu tersebut.
―Teman,‖ kata pemain musik itu. ―Kamu sudah bisa memainkan satu lagu,
bahkan sama persis seperti yang diajarkan padamu. Tapi, tidakkah kamu berpikir
sudah saatnya kamu untuk memahami isi lagu itu, menikmati nada-nada dan
mencintai musik sehingga kamu tidak perlu lagi memainkan satu lagu itu terus
menerus, tapi berkarya dan membuat lagu-lagu baru dari isi hatimu?‖
Marahlah pemain musik satu lagu itu. ―Kawan,‖ katanya. ―Kecapi hanya indah
untuk memainkan satu lagu ini. Satu lagu ini adalah lagu terbaik di seluruh dunia.
Mereka yang memainkan lagu selain lagu ini adalah sesat dan tidak memahami
intisari kecapi sesungguhnya.‖
―Jadi mengapakah kamu memainkah satu lagu itu dengan bersungut-sungut?‖
tanya pemain musik itu meninggalkannya.
Seandainya pemain musik satu lagu itu memahami intisari musik, dia akan dapat
bebas dari satu lagu itu dan menemukan keindahan lewat banyak lagu-lagu dan
mungkin tiada batas. Kecapi itu akan memperdengarkannya berbagai macam
keindahan.
Begitu juga hukum Taurat, dia hadir untuk memberikan peraturan dan jika kita
memahami intisari dari hukum Taurat yang berusia seribu tahun lebih ini, kita
500
akan mengetahui intinya adalah, ‗kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah
sesamamu.‘
hukum Taurat terbatas peraturan tertulisnya, namun jika kalian sudah
mendapatkan intisarinya yaitu kasih, kalian tidak akan perlu menghapal semua isi
hukum Taurat, tapi kalian sudah akan melakukannya dengan sepeuh kesadara
bahkan di tempat-tempat di mana hukum Taruat itu belum tertulis. Karena
kesadaran, hati dan kasih akan menuntun kehidupan kalian.
Saat itu, kita akan dapat menikmati kehiduapan yang lebih indah dan penuh
sukacita. Tidak lagi menyakiti orang lain, namun membahagiakan mereka dengan
kasih.‖
Beberapa orang dapat menerima itu dan seorang di antara mereka bertanya,
―Guru, jika melalui Nabi Musa, Tuhan menurunkan hukum Taurat dan melalui
ajaran Yesus, Tuhan menunjukkan jalan pada kasih. Dan setelah hasih apakah
yang akan datang?‖
Aku melihat padanya dan tersenyum, ―Kamu akan mengetahuinya setelah
memiliki kasih.‖
Banyak di antara mereka penduduk kota Berea yang menjadi percaya; juga tidak
sedikit di antara perempuan-perempuan terkemuka dan laki-laki Yunani.
Tetapi ketika orang-orang Yahudi dari Tesalonika tahu, bahwa aku ada di Berea,
maka datang jugalah mereka ke tempat ini untuk menghasut dan menggelisahkan
hati orang banyak.
501
Kejadian di Tesalonika membuatku tidak ingin ada orang terluka lagi karenaku.
Lagi pula dari kabar yang kami terima, mereka memutuskan untuk membunuhku
dan sesuai saran dari saudara-saudara di sana, aku akan meninggalkan kota Berea
untuk melanjutkan perjalanan. Timotius masih akan tinggal untuk mengajar dan
Silas perlu waktu untuk membangun jemaat di tempat itu agar dapat terhubung
pada Jemaat Yerusalem. Mereka berdua akan aman, karena aku sendiri yang
menjadi sasaran orang-orang Yahudi itu.
Maka beberapa orang dari kota Berea mengantarku menuju ke pantai laut. Di
tempat itu, kami mencari kapal yang akan berangkat ke Athena.
Aku ada bersama delapan orang menunggu di pantai barat dan di antaranya ada
seorang wanita bernama Betsaida, dia adalah putri dari Harun. Betsaida berumur
sekitar dua puluhan dan dia adalah seorang gadis cemerlang yang mendengarkan
pengajaranku dengan sungguh-sungguh.
Aku cukup menyukai gadis itu. Sebuah perasaan kagum padanya karena
pencariannya yang tulus pada Tuhan. Betsaida sendiri, dia dan keluarganya
sering mengajak kami untuk berdiskusi tentang berbagai ajaran dan hukum
Taurat. Dia juga melayani kami saat membutuhkan bantuan di kota Berea. Dan
saat ini dia menatapku dengan matanya yang basah dan air mata yang mengalir.
Dia bagaikan matahari yang selalu bersinar cerah.
―Apakah kamu akan kembali?‖ tanya gadis itu padaku.
502
―Aku tidak bisa memastikan.‖ Hanya itu yang bisa kukatakan padanya. Malam
semakin dekat di pantai laut dan kapal yang akan ke Athena sudah akan segera
berangkat. ―Aku harus pergi,‖ kataku, ―jagalah dirimu.‖
Betsaida menangis dan menggenggam ujung pakaianku dengan erat. Aku
menatapnya menangis tersedu-sedu dan mencoba menghiburnya. Tapi tidak ada
kata yang terucapkan.
―Aku menyukaimu,‖ kata Betsaida mendadak. ―Biarkan aku ikut bersamamu.‖
Sesungguhnya, aku sedikit terkejut dan juga senang.
―Betsaida,‖ kataku menatapnya sambil tersenyum. ―Aku pria yang sudah beristri,
aku tidak dapat membalas perasaanmu. Engkau gadis yang cantik, Tuhan akan
memilihkan seorang pria yang jauh lebih baik dariku untukmu.‖
―Kamulah yang terbaik untukku,‖ kata Betsaida menangis.
―Aku harus pergi,‖ kataku meninggalkan dia yang menangis dan memasuki
kapal. Dari atas kapal aku memandang saudara-saudara dari kota Berea dan
Betsaida yang masih menangis menatapku. Aku sadar, aku memiliki seorang istri
yang sudah diceraikan saat aku disadarkan di Damaskus dan berseberangan
dengan Sanhedrin. Mungkin istriku akan terus menjanda karena ayahnya seorang
imam besar. Mereka melarang pernikahan dua kali dalam satu kehidupan.
Dan aku, aku juga akan terus sendirian.
503
Aku mendesah. Memiliki seorang istri, saat aku sendiri tidak tahu apakah apakah
aku akan tetap hidup saat banyak orang membenciku dan ingin membunuhku, hal
itu hanya akan menyakiti mereka.
Aku melihat pada Betsaida, seorang perempuan pertama yang dapat
menggetarkan hatiku setelah aku hidup selama empat puluh tahun lebih. Aku
berpikir jika aku berhenti mengajar dan menikah dengannya, mungkin hidupku
akan berbeda. Aku akan menjadi tukang tenda dan mengajaknya ke Tarsus atau
ke Mesir tempat orang tua kandungku.
Hidupku mungkin akan berbeda.
Kapal berlayar pergi, menghilangkan bayangan Betsaida dan saudara-saudara
dari Berea. Aku berada di atas kapal bersama beberapa orang saudara dari kota
Berea yang menjadi awak kapal dan berdagang di Athena. Jarak antara Berea ke
Athena adalah sekitar 800 kilometer melalui jalur laut.
Athena adalah pusat kebudayaan Yunani dan Roma, pusat pengetahuan berbagai
bidang ilmu seperti filsafat dan juga pusat penyebaran ajaran penyembahan para
dewa-dewa.
Perjalanan melalui laut kali ini melelahkan dan lama, tapi perjalanannya lancar
dan tidak memiliki halangan. Saat tiba di Athena, aku menggunakan uang yang
tersisa padaku untuk kembali membuat usaha perbaikan dan pembuatan tenda.
Karena di tempat ini, aku tidak memiliki sahabat, kenalan atau pun saudara. Aku
benar-benar sendiri di depan orang-orang Yunani. Tapi, bukankah Tuhan selalu
504
bersamaku. Hal itulah selalu membuatku tidak memiliki rasa takut di mana pun
aku berada.
Kota Athena penuh dengan patung-patung para dewa-dewa yang dibuat dengan
sangat indah. Di mana pun mata memandang, banyak orang-orang yang memuja
dewa-dewa itu dengan membuat patung-patungan di setiap rumah mereka.
Aku menemukan sebuah rumah ibadat kecil untuk orang Yahudi di tempat ini,
namun setelah mengajar, aku mengetahui jika orang-orang Yahudi tersebut tidak
benar-benar berminat untuk belajar. Mereka tampak tidak begitu peduli.
Maka aku berhenti mengajar di rumah ibadat. Sebagai gantinya, saat aku menjual
tenda di pasar, aku berusaha untuk bertukar pikiran para pedagang dan orangorang yang bersedia mendengarkan.
Dan ternyata beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa merasa tertarik
dengan pengajaranku. Yah, tertarik dalam hal ilmu pengetahuan. Rata-rata
mereka adalah orang-orang yang menyukai pengetahuan-pengetahuan baru dan
penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Tapi kurang berminat dalam
melakukannya.
Dalam mempelajari sebuah ilmu, ada beberapa tahap pemahaman yang dimulai
dari ‗tahu‘, ‗mengerti‘, dan akhirnya ‗sadar‘. Beberapa orang cenderung berhenti
pada tahap ‗tahu‘ dan ‗mengerti‘. Hanya orang-orang yang sudah menerapkan
akan apa yang mereka ketahui dan mengerti dalam kehidupan merekalah baru
dapat mencapai tahap ‗sadar‘. Rata-rata para ahli pikir Yunani hanya berhenti
505
sampai tahap, ‗tahu‘ dan ‗mengerti‘. Mereka tidak memiliki waktu untuk
mempraktekkannya.
Sebenarnya dalam mempelajari tentang Tuhan juga demikian. Banyak orang
yang tahu dan mengerti jika Tuhan adalah Maha Pengasih. Tapi, hanya sampai di
sana. Jika seandainya mereka mencapai tahap sadar, maka iman mereka sudah
tidak akan tergoyahkan.
Sedangkan orang-orang ahli pikir ini adalah orang-orang yang berpengetahuan,
mereka mungkin akan dengan bijak berkata bahwa menjadi manusia bijak itu
harus penuh sabar dan welas asih. Dan jika aku bertanya padanya, ‗mengapa dia
marah-marah?‘
Dia mungkin akan menjawab, ‗karena kedua hal itu tidak berhubungan.‘
Mereka tahu seribu satu cara menjadi orang bijak tapi mereka tidak melakukan
satu pun untuk menjadi bijak. Karena mungkin itu bukan panggilan mereka.
Aku melihat mereka yang ramai berkumpul dan segera berkata, ―Aku akan
bercerita tentang Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Tuhan Yang Maha
Pengasih.‖
Secara mendadak, ada orang-orang yang baru datang bergabung dan bertanya
pada rekannya, "Apakah yang hendak dikatakan si pembual ini?"
Tetapi yang lain berkata, "Rupa-rupanya ia adalah pemberita ajaran dewa-dewa
asing."
506
Lalu mereka memaksa membawaku pergi dengan diikuti banyak orang.
―Kita akan ke sidang Areopagus untuk mendengarkan lanjutan bualanmu,‖ kata
seorang petugas.
Di depan sidang Areopagus yang terdiri dari banyak majelis-majelis, seorang
anggota majelis menatapku dan bertanya, "Bolehkah kami tahu ajaran baru mana
yang kauajarkan ini? Sebab engkau memperdengarkan kepada kami perkaraperkara yang aneh. Karena itu kami ingin tahu, apakah artinya semua itu."
Aku berdiri di atas Areopagus dan berkata di hadapan mereka semua, "Hai orangorang Athena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada
dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barangbarang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan, Kepada
Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah
yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala
isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil
buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah
Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan
segala sesuatu kepada semua orang.
Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk
mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi
mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Dia dan
mudah-mudahan menjamah dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari
kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada,
507
seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu, Sebab kita ini dari
keturunan Allah juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh
berpikir, bahwa keadaan ilahi sama seperti emas atau perak atau batu, ciptaan
kesenian dan keahlian manusia.
Penyembahan sebagai ucapan syukur itu harus melalui kebenaran dan roh.
Dengan hati dan hati nurani pada Tuhan."
Ketika mereka mendengar itu, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata,
"Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu."
Mereka mengusirku pergi sehingga aku meninggalkan mereka.
Saat aku keluar, beberapa orang laki-laki mendekatiku dan berkata, ―Datanglah
ke tempat kami. Kami ingin mendengarkan pengetahuan tentang Tuhan lebih
jauh.‖
Mereka membawaku ke sebuah tempat pembelajaran milik sebuah kelompok ahli
pikir dan beberapa orang sedang menunggu di sana. Di tempat itu, mulailah aku
mengajar tentang Tuhan yang aku ketahui dan iman didalam-Nya.
Beberapa orang menjadi percaya, di antaranya juga Dionisius, anggota majelis
Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain
bersama-sama dengan mereka. Mereka merasa senang untuk menyelidiki lebih
jauh lagi dan membentuk jemaat.
Saat mereka sudah membentuk jemaat dan menyelidiki Tuhan dalam Kitab
Taurat maupun juga mengenai Tuhan dalam catatanku mengenai ajaran Yesus,
508
aku meninggalkan Athena dengan gerobak tendaku dan bergerak sejauh 110
kilometer untuk mencapai sebuah tempat bernama Korintus.
Di kota itu, aku juga tidak mulai mengajar, tapi menjajakan beberapa tenda
buatanku di pasar selama beberapa hari. Di sana, aku berjumpa dengan seorang
Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia
dengan Priskila, isterinya, karena Kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya
semua orang Yahudi meninggalkan Roma.
Akwila adalah seorang pria bertubuh gemuk dan senang bersahabat, istrinya
sendiri merupakan seorang wanita yang cerdas dan cermat. Mereka berdua adalah
tukang tenda sama sepertiku. Mereka mengajakku untuk singgah ke rumah
mereka.
Di rumah mereka, keduanya menawarkanku untuk bekerja sama dengan mereka
dalam membuat tenda. Priskila akan melayani tamu yang membutuhkan
perbaikan tenda dan menjual tenda, Akwila akan membantu mengirimkan tendatenda serta mencari bulu-bulu binatang untuk dirajut dan aku akan membuat
tenda serta memperbaikinya.
Kami membagi tugas dan berkat itu, aku tidak perlu memikirkan banyak hal,
hanya cukup bekerja. Hal itu lebih menenangkan hatiku. Dan setiap hari sabat
aku berbicara dalam rumah ibadat dan mengajar pada orang-orang Yahudi dan
kebanyakan orang-orang Yunani tentang Tuhan.
509
Beberapa bulan kemudian, tibalah Silas dan Timotius dari Makedonia. Lukas
yang mengikut bersama mereka tinggal di Athena untuk sementara waktu dan
mengajar pada jemaat di sana. Silas sendiri akan kembali ke Athena untuk
mengatur jemaat setelah mengunjungiku.
Hal yang tidak kupercaya adalah saat menemukan seorang pengikut lainnya.
―Betsaida,‖ kataku terkejut melihat perempuan itu ikut bersama mereka. ―Apa
yang kamu lakukan di sini?‖
Gadis itu terlihat malu-malu dan berkata, ―Aku ingin ikut mengajar dan melayani
Tuhan.‖
Aku melihat pada Silas dan Timotius dengan tidak percaya. ―Kalian
mengajaknya?‖
Silas menatap pada Betsaida dan berkata, ―Percayalah, aku tidak dapat
mencegahnya, orang tuanya pun tidak. Dia melarikan diri dari rumahnya untuk
ikut dengan kami dan saat itu kami terpaksa mengembalikannya ke rumah.‖
―Dan?‖ tanyaku. ―Mengapa dia di sini jika kalian sudah mengembalikannya ke
rumahnya.‖
―Dia bersumpah untuk tidak menikah dihadapan kedua orang tuanya,‖ lanjut
Silas.
―Dia?‖ aku menatap tidak percaya pada Betsaida.
510
Gadis itu membalas tatapanku dengan kedua matanya yang lurus dan besar. ―Aku
tidak akan menikah,‖ katanya yakin.
―Jika kamu tidak menikah, apa yang akan kamu lakukan?‖ tanyaku. Pada saat ini,
ada begitu banyak pandangan buruk bagi perempuan yang tidak menikah.
―Aku akan melayani Tuhan seumur hidupku,‖ kata Betsaida.
Timotius terbatuk dan menatap pada gadis itu. Seakan-akan mempertanyakan
kesungguhannya.
Gadis itu tersipu malu dan menambahkan, ―Melayani hamba Tuhan yang
mengajarkan ajaran-Nya juga termasuk melayani Tuhan.‖
Silas menatap pada Betsaida dan berkata, ―Bukankah aku hamba Tuhan juga.
Kamu boleh ikut denganku.‖
―Tidak,‖ jawab Betsaida cepat. ―Aku hanya akan ikut pada Guru Paulus.‖
Timotius segera menambahkan, ―Dan kamu tidak boleh menikah.‖
Betsaida menatapku dan berkata, ―Aku tidak akan menikah tapi akan selalu
bersamanya.‖
―Bersama Tuhan,‖ kataku cepat menyela perkataannya.
***
Di Korintus, aku tetap mengajar meski ada beberapa orang yang tidak menyukai
ajaran ini dan menghujatku, karena masih ada orang yang bersedia
511
mendengarkannya. Jika mereka merasa peraturan jauh lebih tinggi daripada
kasih. Maka itu urusan mereka. Karena masih ada orang yang merasa kasih lebih
baik, sebab kasih berasal dari hati. Tapi, penolakan itulah yang paling banyak
kudapatkan dari orang-orang Yahudi. Banyak orang yang membenci kasih karena
hal itu membuat mereka tidak bisa mengendalikan sesama mereka dengan
peraturan yang keras.
Katakanlah ada dua orang penguasa dari dua negara yang saling membenci dan
berperang, mereka membuat peraturan untuk rakyatnya agar membunuh setiap
orang yang datang dari negara lainnya. Pada suatu ketika, seorang pria
menemukan seorang anak kecil dari negara lain, jika dia mengikuti peraturan,
maka dia harus membunuh anak kecil itu dan menyenangkan penguasanya.
Jika dia mengikuti kasih yang berasal dari hatinya, dia tidak akan tega
menghabisi nyawa dari anak itu dan membuat penguasanya itu marah dan
mungkin akan membunuhnya juga.
Peraturan selalu muncul dengan hukuman dan pemaksaan untuk sebuah
kepentingan. Sedangkan kasih selalu muncul dengan iklas dan tulus meski akan
membahayakan diri sendiri dan selalu untuk kepentingan orang lain. Kasih dan
peraturan kadang tidak dapat berjalan bersama. Karena sebuah peraturan tidak
dapat diterapkan pada begitu banyak permasalahan, namun kasih dapat
diterapkan bagi semua permasalahan.
Hari itu, saat aku keluar dari sebuah tempat ibadat orang Yahudi yang
mengusirku, seorang hamba mengundangku ke tempat tuannya yang bernama
512
Titius Yustus. Pria itu beribadah kepada Allah, dan rumahnya berdampingan
dengan rumah ibadat lain.
Saat aku tiba di tempatnya, ia juga mengundang seorang bernama Krispus yang
merupakan kepala rumah ibadat di samping kediamannya. Mereka menjadi
percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya. Begitu juga selama
mengajar, banyak dari orang-orang Korintus yang mendengarkan pemberitaan
kami menjadi percaya dan memberi diri mereka untuk dibaptis.
Korintus begitu berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Tempat ini terasa
nyaman dan damai. Para pendatang yang kebanyakan adalah bangsa-bangsa lain
cenderung terbuka pada ajaran Tuhan. Anggota jemaat terus bertambah dan
semakin banyak yang melakukan kasih kepada Tuhan dan sesamanya.
Betsaida terbukti sangat berguna, ia membantu membimbing jemaat yang
merupakan kaum wanita dan jumlahnya terus bertambah.
Usaha tenda pun menghasilkan keuntungan yang cukup besar dan kehidupan
kami berjalan normal.
Tanpa terasa, waktu berlalu dan kami tinggal di situ selama satu tahun enam
bulan. Orang-orang Yahudi yang melawan kami, tidak mampu bertindak karena
jumlah pengikut Tuhan yang banyak dan juga karena mereka berada di wilayah
bangsa-bangsa lain, maka mereka tidak memaksakan hukum Taurat pada
pengadilan wilayah itu.
513
Akan tetapi setelah Galio menjadi gubernur di Akhaya yang melupakan wilayah
tempat kota Korintus berada, di mana ternyata gubernur itu memiliki hubungan
dengan beberapa orang Yahudi yang sangat taat pada hukum Taurat, mereka
yang membenci kami mendadak berkumpul di tempat usaha tenda.
Beberapa orang dengan kasar menuju ke tempatku dan menarik kedua tanganku.
―Ada apa ini?‖ tanyaku terkejut.
―Gubernur memintamu untuk menuju ke pengadilan,‖ kata seorang pemimpin
orang Yahudi di sana. ―Tarik dia,‖ serunya memberikan perintah.
Aku melihat pada Silas, Timotius, Lukas, Betsaida dan Akwila di sana sambil
berkata, ―Aku akan baik-baik saja.‖ Mereka kemudian menyeretku pergi ke
depan pengadilan.
Lalu di depan pengadilan, kata mereka kepada gubernur, "Ia ini berusaha
meyakinkan orang untuk beribadah kepada Allah dengan jalan yang bertentangan
dengan hukum Taurat."
Ketika aku baru saja hendak mulai berbicara, berkatalah Galio kepada orangorang Yahudi itu, "Hai orang-orang Yahudi, jika sekiranya dakwaanmu mengenai
suatu pelanggaran atau kejahatan, sudahlah sepatutnya aku menerima perkaramu,
tetapi kalau hal itu adalah perselisihan tentang perkataan atau nama atau hukum
agama yang berlaku di antara kamu, maka hendaklah kamu sendiri mengurusnya;
aku tidak rela menjadi hakim atas perkara yang demikian. Kalian perbuatlah
seperti kesepakatan di antara kalian."
514
Lalu Galio mengusir kami semua dari ruang pengadilan.
Maka orang-orang Yahudi yang merasa mendapatkan izin dan kesempatan itu,
mereka segera menyerbu ke arah rumah ibadat jemaat yang kami bangun. Mereka
menangkap kepala rumah ibadat yang bernama Sostenes lalu memukulinya
bersamaku di depan pengadilan. Galio sama sekali tidak menghiraukan hal itu.
Tak berapa lama, datanglah para anggota jemaat yang berjumlah banyak dan
berusaha menghentikan pemukulan itu sehingga membuat wilayah di depan
pengadilan menjadi ricuh hingga para prajurit melerai serta memisahkan kami
semua.
Aku tinggal beberapa hari lagi di Korintus untuk mengobati luka-lukaku sebelum
berangkat untuk pulang ke Siria di mana jemaat Antiokhia pertama berada. Lalu
kami minta diri kepada saudara-saudara di situ. Priskila, Akwila, Silas, Timotius,
Lukas dan Betsaida menyertaiku.
Dalam perjalanan pulang, kapal berhenti di wilayah Asia Kecil pada sebuah kota
pelabuhan bernama Efesus. Kapal kami mengalami kerusakan pada layar
sehingga kaptennya menyampaikan pesan jika kapal akan berlabuh sekitar tiga
hari untuk perbaikan dan mempersiapkan bahan makanan serta membawa
barang-barang dagangan.
Karena adanya waktu yang kosong itu, aku sendirian masuk ke rumah ibadat dan
berbicara dengan orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi di Efesus baru
515
pertama kali mendengar tentang kasih pada Tuhan. Mereka minta padaku untuk
tinggal lebih lama di situ, tetapi aku tidak bisa mengabulkannya.
Aku segera minta diri dan berkata, "Aku akan kembali kepada kamu, jika Allah
menghendakinya."
Priskila dan Akwila yang mendengar hal itu mengatakan jika mereka bersedia
untuk tinggal di Efesus dan mengajar orang-orang Yahudi yang berminat itu.
Alasan lain mereka tinggal di tempat ini juga karena penjualan tenda mereka laris
manis saat mereka menjualnya di Efesus.
Lalu bertolaklah kami dari Efesus meninggalkan Akwila dan Priskila. Perjalanan
laut dari Efesus menuju ke kota pelabuhan Kaisarea yang dekat dengan wilayah
Yerusalem adalah berjarak sekitar 2000 kilometer. Dan sepanjang perjalanan
sama sekali tidak mengalami masalah apa pun.
Setibanya di Kaisarea, Silas membawa kami menemui jemaat di kota itu dan
kami beristirahat di sana untuk beberapa hari. Silas sendiri kembali ke Yerusalem
untuk melaporkan hasil kerjanya, aku, Betsaida, Lukas dan Timotius berangkat
ke Antiokhia yang berjarak sekitar 900 kilometer.
516
BAB 21
PERJALANAN KETIGA
Tahun 53 M
Di Antiokhia, aku, Timotius, Lukas dan Betsaida tinggal beberapa hari. Jemaat
Antiokhia yang telah ku kenal telah hilang, berganti dengan jemaat Antiokhia
yang lebih mirip dari jemaat Yerusalem. Para pengajar dari jemaat Yerusalem
dan orang-orang Farisi memenuhi tempat itu. Kebanyakan dari mereka tidak
menyukai kehadiranku, maka aku berada di sana hanya beberapa hari untuk
menemui wajah-wajah lama, menguatkan mereka dan kemudian berangkat
menuju ke Tarsus.
Lukas menetap di Antiokhia karena ada beberapa hal yang harus dilakukannya.
Maka aku, Timotius dan Betsaida saja yang ada dalam perjalanan. Kami
berencana menuju ke Efesus sebagaimana janjiku pada mereka. Aku memutuskan
perjalanan ke Efesus dilakukan melalui jalan darat sehingga dapat melewati
beberapa wilayah yang sudah pernah kujelajahi, sekaligus mengambil
kesempatan untuk menguatkan mereka.
Berjalan dari Antiokhia, kami menuju ke Tarsus, dan dari sana menuju ke Derbe
yang merupakan kunjungan ketigaku. Di Derbe, seorang bernama Gayus
517
meminta izin untuk mengikuti perjalanan kami, maka aku mengabulkannya. Dari
Derbe, kami menuju ke Listra, Ikonium dan Antiokhia yang ada di wilayah
Pisidia.
Dari Antiokhia, kami melakukan perjalanan darat sekitar 800 kilometer menuju
ke Efesus yang berada di wilayah Asia kecil.
Di Efesus, berkat Akwila dan Priskila yang membangun jemaat di sana terlebih
dahulu, maka saat kami tiba, sudah ada jemaat yang percaya pada Tuhan dan
kasih-Nya.
Selama tiga bulan berikutnya, aku mengunjungi berbagai rumah ibadat di Efesus
dan mengajar dengan berani tentang Tuhan dan kasih-Nya pada manusia. Betapa
setiap orang harus saling mengasihi.
Tetapi ada beberapa orang yang tegar hatinya. Mereka tidak mau diyakinkan,
malahan mengumpat ajaran Tuhan itu di depan orang banyak. Aku tidak ingin
jika hal itu akan menjadi semakin buruk sehingga tidak lagi mengajar di tempattempat ibadat tersebut. Seorang bernama Tiranus adalah orang yang terpelajar
dan memiliki hubungan dengan pemerintahan. Dia bersedia memberikan ruang
kuliahnya pada kami untuk digunakan.
Anggota jemaat terus bertambah dan setelah beberapa bulan, kami kekurangan
tenaga pengajar. Karena jemaat dari Yerusalem tidak memberikan tenaga
pengajarnya pada kami dengan alasan mereka tidak menemukan pengajar dari
Yerusalem yang bersedia pergi ke tempat sejauh itu.
518
Aku menerima surat pribadi dari Silas yang mengatakan jika jemaat Yerusalem
sedang mengalami perdebatan internal mengenai pengajaran pada bangsa-bangsa
lain. Ia mengatakan orang-orang Farisi telah memperoleh kekuatan dan pengaruh
yang lebih besar seiring dengan pertumbuhan jemaat Yerusalem yang terus
membesar. Untuk sementara waktu, tenaga pengajar baru belum dapat dikirimkan
ke wilayah-wilayah di luar wilayah orang Yahudi.
Oleh karena hal itu, kami mengumpulkan murid-murid yang serius untuk belajar
dan dididik menjadi tenaga pengajar. Aku mengatakan murid-murid yang serius
dalam hal ini adalah mereka yang memiliki panggilan dari hati mereka untuk
mengajar pada wilayah-wilayah lain, khususnya wilayah sekitar Asia kecil.
Sedari awal, jemaat Yerusalem mendidik para pengajarnya untuk menyebarkan
ajaran Yesus tentang Tuhan, namun sebagian besar dari mereka menolak untuk
mengajar di antara orang asing dan bangsa-bangsa lain. Sebagian besar lainnya
bersedia mengajar di tempat bangsa-bangsa lain namun tidak ingin berada di
tempat yang belum memiliki jemaat. Selain itu juga, rata-rata tenaga pengajar
dari jemaat Yerusalem adalah orang Yahudi dan mereka juga terkendala dengan
bahasa yang mereka gunakan jika ingin mengajar di tempat bangsa-bangsa lain
yang belum memiliki jemaat untuk membantu mereka.
Oleh karena itu, di Efesus aku mendidik para calon pengajar yang benar-benar
dapat memahami ajaran Yesus tentang Tuhan dan Kasih-Nya. Namun membekali
mereka dengan berbagai kemampuan untuk mampu memasuki tempat-tempat
terpencil sekalipun dan pastinya kemampuan berbahasa pada wilayah setempat
519
yang ingin dituju. Efesus menjadi tempat pertama aku mengajar untuk calon
pengajar yang berasal dari berbagai bangsa dan bahasa. Aku berharap, kelak
mereka akan menjadi cikal bakal untuk pengajaran ajaran Yesus dan tentang
Tuhan ke seluruh penjuru dunia.
Saat mereka siap dan hati mereka terpanggil oleh Tuhan, aku membiarkan
mereka mengajar di seluruh wilayah Asia kecil dan sekitarnya.
Karena jemaat yang terus bertambah dan kesibukan yang terus meningkat,
Betsaida membentuk kelompok kaum wanita yang bersedia memberikan
pelayanan pada jemaat dan orang-orang yang membutuhkan di lingkungan
sekitar. Mereka terbukti sangat membantu perkembangan jemaat dan penerimaan
masyarat di sekitar jemaat.
Hal ini kami lakukan selama dua tahun, sehingga semua penduduk Asia kecil dan
sekitarnya dapat mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang
Yunani. Jemaat-jemaat kecil mulai tumbuh di beberapa desa dan kota dengan
berpusat pada Efesus.
Selama dua tahun itu, Tuhan menggunakanku sebagai alat-Nya untuk
memberikan beberapa penyembuhan dan juga mengusir jiwa-jiwa jahat.
Beberapa kali, orang-orang yang menyembah para dewa-dewa mencoba
mencelakai sesamanya dengan sihir-sihir jahat, namun mereka yang terkena
kutuk dan sihir itu berhasil disembuhkan tanpa masalah. Kasih Tuhan sama sekali
tidak menemukan tandingannya dan dapat menyembuhkan dari segala jenis
520
gangguan baik gangguan berat yang katanya dari sihir terhebat hingga gangguan
ringan.
Ada beberapa di antara mereka yang sering menggunakan sihir, akhirnya memilih
untuk mempelajari tentang Tuhan dan mengumpulkan kitab-kitabnya lalu
membakarnya di depan mata semua orang. Nilai kitab-kitab itu ditaksir lima
puluh ribu uang perak. Itu karena mereka menemukan sihir sehebat apa pun,
tidak berguna di hadapan para jemaat yang memiliki iman pada Tuhan. Karena
Tuhan melindungi mereka semua.
Beberapa orang yang terkena sihir jahat pun dengan mengunjungi jemaat dan
berdoa bersama, kutukan dan gangguan itu menghilang dalam sekejap. Semua itu
membuat para ahli sihir berang. Karena aku tahu, tidak ada kuasa yang nantinya
akan dapat melebihi Kuasa Tuhan.
Tanpa terasa waktu tiga tahun berlalu dengan cepat. Jemaat di Efesus
berkembang dengan pesat dan pagi itu, aku menatap pada langit biru. Aku merasa
waktuku akan segera tiba.
Hatiku menyadari jika semua makhluk akan mati dan begitu juga hidup ini akan
berakhir. Saat itu aku merasa waktuku sudah sangat dekat dan aku harus pergi ke
Yerusalem.
Karena di tempat itu semua berawal, maka di tempat itu juga semua harus
berakhir. Aku akan menggunakan waktu terakhirku untuk menyadarkan mereka
yang ada di dalam bait Allah. Itu akan menjadi misi terakhirku.
521
Memikirkan untuk pergi ke Yerusalem, aku bermaksud untuk mengunjungi
jemaat di Makedonia terlebih dahulu dan melihat kabar mereka. Maka dari itu,
aku menyuruh agar Timotius dan Erastus, untuk mendahuluiku ke Makedonia.
Kira-kira tepat pada saat aku akan segera ke Makedonia, timbul huru-hara besar
memprotes tentang ajaran tentang Tuhan di Efesus.
***
Di Efesus, ada seorang bernama Demetrius, seorang tukang perak, yang membuat
isi kuil-kuil dan benda-benda pemujaan Dewi Artemis dari perak. Usahanya itu
mendatangkan penghasilan yang tidak sedikit bagi dirinya dan tukang-tukangnya.
Ia mengumpulkan para pekerjanya dan bersama-sama dengan para pekerjapekerja lain yang sama-sama menggeluti profesi itu. Ia berkata kepada mereka
semua, "Saudara-saudara, kamu tahu, bahwa kelangsungan usaha kita tergantung
dari para pemuja dewa-dewa dan berkah dari dewa-dewa besar yang melindungi
kita.
Sekarang kamu sendiri telah melihat dan mendengar, bagaimana Paulus, bukan
saja di Efesus, tetapi juga hampir di seluruh Asia kecil dan sekitarnya telah
membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan, bahwa apa yang
dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa. Dia telah menghina dewa kita
sebagai ‗bukan dewa‘. Dia juga telah menghasut orang-orang untuk berhenti
menyembah dewa-dewa dan memesan patung-patung apa pun dari kita.
522
Dengan jalan demikian bukan saja kelangsungan pekerjaan kita berada dalam
bahaya, tapi semua orang juga akan ikut menghina dewa dan dewi kita. Dewi
Artemis sendiri yang disembah oleh seluruh Asia dan seluruh dunia yang
beradab, akan kehilangan kebesarannya. Kuil-kulinya akan kehilangan pemuja
dan kita akan mendapatkan kemarahan dari Dewi Artemis. Bergeraklah sekarang
untuk membunuh seorang bernama Paulus itu, sebelum Dewi Artemis
menurunkan bencana di antara kita."
Mendengar itu meluaplah amarah banyak orang, lalu mereka berteriak-teriak,
"Besarlah Artemis dewi orang Efesus! Tangkap Paulus!"
Seluruh kota Efesus menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung
kesenian serta menyeret Gayus yang berasal dari kota Derbe dan Aristarkhus
yang berasal dari kota Tesalonika, keduanya merupakan teman seperjalanan
Paulus.
***
Aku berada di dalam sebuah gedung kesenian untuk mengajar dan juga
menguatkan para murid-murid sebelum keberangkatanku dari Efesus. Saat itu
mendadak terdengar keributan di luar gedung kesenian.
Seorang murid berlari ke dalam ruangan sambil berseru keras, ―Mereka
menangkap Gayus dan Aristarkhus.‖
―Siapa mereka?‖ tanyaku cepat melihat wajah kuatir murid itu.
523
―Mereka para pengrajin kuil dan benda-benda pemujaan para dewa. Mereka
datang ke sini ingin menangkapmu guru,‖ kata murid itu.
Aku dengan cepat bergerak hendak menuju ke pintu keluar dan saat itu Betsaida
menghalangi pintu keluar dan berkata, ―Kamu tidak boleh keluar.‖
―Mereka mencariku,‖ kataku cepat. ―Mereka hanya menginginkanku dan
semuanya akan selesai.‖
Tak lama kemudian, mendadak muncul dua orang hamba dari depan pintu yang
menatapku sambil berkata, ―Tuan meminta agar engkau tidak pergi di antara
mereka.‖ Aku mengenal tuan dari hamba-hamba itu yang merupakan beberapa
pembesar kota. Mereka bersahabat denganku.
―Mereka sudah mengutus orang untuk menyelesaikannya,‖ lanjut hamba-hamba
itu.
Mendengar itu, legalah hatiku dan para murid-murid. Dari jendela ruangan, kami
melihat mereka yang berkumpul di depan gedung semakin bertambah jumlahnya.
Teriakan-teriakan yang pada awalnya hanya sebatas, ―Hidup Dewi Artemis,
tangkap Paulus,‖ kini semakin beragam. ―Turunkan harga makanan, naikkan
harga gaji,‖
Orang yang berkumpul berteriak-teriak tidak jelas, yang seorang mengatakan ini
dan yang lain mengatakan itu, kumpulan itu menjadi kacau-balau dan
kebanyakan dari mereka tidak tahu untuk apa mereka berkumpul. Tampak
sebagian dari mereka hanya ikut-ikutan dalam keramaian saja.
524
Lalu di antara kumpulan banyak orang itu, munculah seorang yang kukenal. Dia
bernama Yosua seorang yang berdiri berseberangan denganku karena dia pemuja
hukum Taurat dan tidak menyetujui kasih. Dia selalu berkata kasih adalah bukti
kelemahan. Kasih adalah alasan untuk melanggar peraturan. Kasih hanya dimiliki
oleh orang lemah dan tidak berdaya untuk membalas perbuatan jahat seseorang.
Setiap orang harus rela mati demi peraturan dan peraturan harus ditegakkan
meski memakan korban jiwa berapa pun. Aku melihat dirinya didorong ke depan
oleh orang-orang Yahudi.
Ia segera memberi isyarat dengan tangannya di antara keramaian dan terlihat mau
memberi penjelasan di depan rakyat itu. ―Kita harus menangkap Paulus karena
dia mengajar tidak sesuai dengan hukum Taurat.‖
Ketika orang banyak itu tahu, bahwa ia adalah orang Yahudi, beberapa orang
segera menariknya untuk turun dan memukulinya di antara orang banyak sambil
berteriaklah, "Besarlah Artemis dewi orang Efesus!"
Maka kaburlah orang-orang Yahudi yang bermaksud untuk memanfaatkan
kesempatan itu untuk menjatuhkan Paulus. Kira-kira dua jam lamanya datanglah
salah seorang pembesar kota menenangkan orang banyak itu.
Dia berkata, "Hai orang Efesus! Siapakah di dunia ini yang tidak tahu, bahwa
kota Efesuslah yang memelihara baik kuil dewi Artemis yang mahabesar,
maupun patungnya yang turun dari langit? Hal itu tidak dapat dibantah, karena itu
hendaklah kamu tenang dan janganlah terburu-buru bertindak.
525
Sebab kamu telah menangkap dua orang ini dan juga hendak menangkap seorang
bernama Paulus, walaupun mereka tidak merampok kuil dewi kita dan tidak
menghujat namanya.
Jadi jika Demetrius dan tukang-tukangnya ada pengaduannya terhadap seseorang,
bukankah ada sidang-sidang pengadilan dan ada gubernur, jadi hendaklah kedua
belah pihak mengajukan dakwaannya ke situ.
Dan jika ada sesuatu yang lain yang kamu kehendaki, seperti menurunkan harga,
menaikkan gaji, baiklah kehendakmu itu diselesaikan dalam sidang rakyat yang
sah. Sebab kita semua sedang berada dalam bahaya akan dituduh, bahwa kita
menimbulkan huru-hara pada hari ini, karena tidak ada alasan yang dapat kita
kemukakan untuk membenarkan kumpulan yang kacau-balau ini."
Dan dengan kata-kata itu, ia berhasil membubarkan kumpulan rakyat di depan
gedung kesenian yang memenuhi jalanan.
Setelah reda keributan itu, aku memanggil murid-murid dan menguatkan hati
mereka. Dari sana berangkatlah aku bersama Betsaida, Aristarkhus dari
Tesalonika, Gayus dari Derbe dan dua orang dari wilayah Asia kecil, yaitu
Tikhikus dan Trofimus.
Kami berjalan menuju ke kota pelabuhan Troas yang berjarak sekitar 600
kilometer. Dari sana kami mengambil kapal dan menuju ke kota pelabuhan
Neapolis yang akhirnya menuju ke Filipi dari tempat itu. Di Filipi, kami
526
mengunjungi jemaat dengan banyak nasihat menguatkan hati saudara-saudara di
sana.
Dari Filipi kami menuju ke Tesalonika. Di sana Timotius sudah menunggu dan
Aristarkhus yang berasal dari sana mengajak seorang temannya bernama
Sekundus untuk ikut bersama kami.
Dari Tesalonika, kami menuju ke Berea tempat asal Betsaida dan seorang
bernama Sopater anak dari Pirus yang berasal dari Berea mengikuti perjalanan
kami. Rencana awalku adalah menuju ke Athena, namun karena kondisi kota
Athena sedang mengalami pergolakan dan keributan, kami melanjutkan
perjalanan ke Korintus.
Di Korintus, kami berdiam selama tiga bulan dan dari sana aku hendak kembali
ke Yerusalem dengan kapal. Namun kepala jemaat di sana mendapatkan kabar
jika masih banyak orang-orang Yahudi di Korintus yang ingin membunuhku dan
beberapa dari mereka sudah menungguku di pelabuhan. Mereka berencana
menghabisiku saat aku akan pulang.
Oleh karena itu, aku memutuskan untuk kembali melalui tempat di mana aku
datang. Aku kembali ke Berea, Tesalonika, Filipi, Neapolis dan keluar dari
Macedonia untuk kembali ke Troas kota pelabuhan Asia kecil.
Di Troas, aku ada bersama Betsaida dan Sopater anak Pirus, dari Berea, dan
Aristarkhus dan Sekundus, keduanya dari Tesalonika, dan Gayus dari Derbe, dan
Timotius dan dua orang dari Asia, yaitu Tikhikus dan Trofimus. Di jemaat Troas,
527
aku menemukan Lukas dari Antiokhia yang baru tiba dari Efesus untuk
mencariku. Dia menyampaikan pesan jika jemaat Yerusalam menginginkan
kehadiranku di sana. Aku segera mengatur kepulanganku melalui pelabuhan.
Kami tinggal di Troas beberapa hari karena semua orang telah kelelahan.
Pada hari itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, aku
berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena aku bermaksud untuk berangkat
pada keesokan harinya. Pembicaraan dan pengajaran itu berlangsung sampai
tengah malam. Di ruang atas lantai tiga, di mana kami berkumpul, dinyalakan
banyak lampu.
Pada saat itu mendadak terdengar suara jatuh yang teramat keras. Saat kami
melihat dari jendela, seorang muda bernama Eutikhus yang tadinya duduk di
jendela sambil menahan kantuk, sudah terjatuh di atas tanah. Dia jatuh dari
tingkat tiga ke bawah.
Maka ramailah orang-orang di bawah mengelilinginya. Ketika ia diangkat,
seseorang berteriak ke atas, ―Dia sudah mati.‖
Aku segera turun ke bawah untuk melihat jasad pria muda itu dan merebahkan
diriku untuk dapat mendekapnya
―Ya, Tuhan,‖ bisikku sambil mendekapnya, ―dia yang sungguh-sungguh ingin
mendengarkan tentang diri-Mu dan Kasih-Mu. Dia yang mempertaruhkan
nyawanya demi mendengarkan-Mu. Kasih-Mu Maha Besar. Biarlah Engkau
menjadikan kembali apa yang tidak seharusnya terjadi.‖
528
Anak itu masih juga tidak bernapas maka ributlah semua orang-orang di sana.
"Jangan ribut, sebab ia masih hidup," kataku yakin. ―Biarkan dia tidur di salah
satu tempat tidur dan bangunkan dia esok pagi.‖
Tuan rumah tempat kami berkumpul, membaringkan jasad pria muda tersebut di
atas tempat tidur anaknya dan aku kembali ke ruangan atas untuk memberikan
nasehat. Mereka semua tidak berani bertanya meski aku tahu jika mereka semua
yakin jika anak itu sudah mati dan bukankah dia sudah tidak bernapas lagi?
Aku memecah-mecahkan roti lalu makan. Sehabis makan, aku kembali berbicara,
sampai fajar menyingsing. Karena ada begitu banyak hal yang ingin
kusampaikan, namun aku menyadari waktuku semakin sedikit.
Aku melihat mereka semua dan merasa yakin jika ini akan menjadi pertemuan
terakhir kami.
Saat pagi tiba, Eutikhus, pria yang jatuh dari jendela itu bangun dan memasuki
ruangan kami. Semua orang di sana terkejut dan aku tersenyum padanya.
―Tidurmu nyenyak?‖
―Sangat,‖ kata pria muda itu.
Setelahnya, aku pergi ke pelabuhan dan menemukan Betsaida, Lukas, Timotius
dan lainnya sudah siap untuk berangkat. Saat aku hendak naik ke atas kapal,
mendadak hati nuraniku berkata lain. Tuhan menghendaki agar aku dapat
melakukan hal lain.
529
Saat itu aku berkata pada mereka semua, ―Kapal ini akan berlayar hingga ke Asos
dan memerlukan waktu sekitar dua hari. Biarlah aku berjalan kaki saja karena
waktu yang dibutuhkan juga sama. Karena kapal ini akan memutari daratan.‖
Beberapa dari mereka menolak dan ingin ikut bersamaku. Namun aku segera
berkata, ―Ada hal yang harus aku lakukan dan aku harus sendiri. Tunggulah aku
di Asos.‖ Setelah berkata seperti itu, aku segera berjalan pergi ke kota Asos yang
berjarak sekitar 60 kilometer.
Perjalanan ini kulakukan sendirian karena sebenarnya inilah satu-satunya peluang
bagiku untuk melarikan diri. Sebab aku sudah melihat bagi diriku kematian yang
akan aku terima. Jika aku kembali ke Yerusalem, hanya siksaan dan kematian
yang akan kuterima.
Aku berdoa meminta petunjuk Tuhan, karena jika aku tidak pergi ke Yerusalem
saat ini, aku mungkin bisa lari ke Roma dan mengajar ajaran Tuhan di sana. Jika
aku mati di Yerusalem, maka semuanya akan berakhir. Aku mungkin akan
membiarkan mereka semua menungguku di Asos dan aku mengirimkan
seseorang pembawa pesan agar mereka semua kembali ke Yerusalem dengan
pesan, ‗Paulus sudah pergi di antara kalian‘.
Apakah itu yang akan aku lakukan?
Berjalan sekitar 35 kilometer, di tengah perjalanan, aku menemukan seorang
nenek tua bersama seorang cucu lelakinya. Wajah mereka terlihat pucat dan
menderita. Aku segera mendekati mereka berdua dan menegur mereka. Setelah
530
berbasa basi sejenak, mereka ternyata juga pergi menuju ke Asos. Sehingga kami
berjalan bersama.
Saat itu mendekati malam hari sehingga aku menghentikan perjalanan dan
membentangkan tenda milikku. Aku melihat mereka tidak memiliki bekal dan
segera membagi bekalku pada mereka.
Sebelum memakan bekal itu, aku mengajak mereka untuk berdoa dan mereka
meski dari bangsa lain, mereka ikut berdoa bersamaku. Sehabis berdoa, aku dapat
melihat air mata pada sudut mata si nenek.
Nenek dan cucu itu makan dengan lahap hingga aku menyadari jika mereka
belum mendapatkan makanan sejak pagi.
―Apa yang akan kalian lakukan di kota Asos,‖ tanyaku menatap si nenek yang
berumur sekitar tujuh puluhan atau delapan puluhan dan si anak masih berumur
sekitar 10 tahun.
Nenek itu tidak menjawab sehingga aku juga tidak memaksa. Tapi tak lama
kemudian, nenek itu menatap cucunya dan berkata, ―Apa yang ada di kota itu?‖
Aku tidak pernah ke kota Asos sebelumnya sehingga menjawab, ―Aku tidak
tahu.‖
Si nenek tersenyum sedih, ―Begitu juga aku.‖
Kali ini aku merasa bingung. Bukankah seorang pergi ke sebuah tempat tentunya
memiliki sebuah tujuan?
531
Meski aku belum pernah ke kota Asos, aku ke sana untuk mencapai
pelabuhannya.
―Ke mana pun kami pergi,‖ kata nenek itu, ―semua tempat sama saja.‖ Dia
terlihat sedih dan menambahkan. ―Ayah dan ibu dari anak ini meninggal karena
sakit. Kakeknya juga meninggal tidak lama setelah kematian putra dan menantu
kami. Hanya tertinggal aku dan anak mereka.‖
―Ke mana pun kami pergi, tidak ada tempat untuk kami. Kami berdua diusir dari
tempat kami dibesarkan dan sekarang tidak memiliki tempat sehingga kami
berjalan dari satu kota, ke kota lain hingga menemukan kota yang mau menerima
kami.‖
Aku menatap nenek itu lekat-lekat.
―Setiap kota adalah sama saja, mereka tidak menerima kami sehingga kami terus
berpindah,‖ kata nenek itu dan menatapku. ―Anak muda, apakah kamu
mengetahui tempat di mana kami berdua seharusnya berada? Kami sudah
berjalan bertahun tahun dan tidak menemukan tempat kami di dunia yang begitu
luas ini. Kami kelelahan dan merasa letih.‖
―Aku..‖ balasku gugup. ―Aku tidak tahu.‖
Nenek itu mendesah dan memandang api unggun di depan kami. ―Aku membawa
akhir dan dia membawa harapan,‖ katanya mendadak.
―Maksudnya?‖ tanyaku.
532
―Usiaku sudah tua sehingga aku sudah hampir mencapai garis akhir di dunia ini.
kematian sudah begitu dekat denganku. Sedangkan cucuku ini, dia masih muda
dan penuh harapan. Ia masih bisa menjadi apa pun di dunia ini, ia masih dipenuhi
dengan banyak harapan dan masa muda.‖
Lanjut nenek itu, ―Jika hanya aku sendiri, aku hanya perlu mencari tempat di
mana aku akan dikuburkan. Namun bersama anak ini, aku ingin anak ini berada
di tempat di mana ia dapat tumbuh dan mekar dengan banyak kehidupan dan
harapan. Sebuah tempat hidup yang layak. Tapi, tempat itu juga tidak terlalu
cocok untukku. Karena aku hanya membutuhkan tempat yang tenang. Aku
mencari sebuah tempat di mana akhir dan awal menyatu. Di mana tempat itu
menyambut kami yang tidak memiliki apa pun.‖
―Adakah tempat seperti itu?‖ tanyaku karena merasa aneh.
―Tentu saja ada,‖ kata nenek itu mendadak tersenyum. ―Suamiku selalu berkata,
jika kamu tidak dapat menemukan apel, maka carilah bibitnya dan tanamlah.
Maka kamu akan mendapatkan apel.‖
―Apakah nenek sudah menemukan bibitnya atau cara agar menemukan tempat
yang nenek maksudkan?‖ tanyaku lagi.
Nenek itu tersenyum padaku dan berkata, ―Anak muda, tempatnya adalah di bumi
ini. Bibitnya adalah kasih. Meski sekarang, di setiap kota dan di setiap tempat
belum ada orang yang hendak menerima kami. Jika kamu menyemai bibit kasih
pada hati setiap manusia dan setiap dari mereka meletakkan kasih pada generasi
533
mereka yang berikutnya, hingga saat itu, dunia ini akan menjadi seperti surga.
Manusia akan dapat saling menerima dan mengasihi sesama mereka.‖
Aku merasa nenek ini mengatakan sesuatu hal yang tidak pernah kusangka.
―Sudah bertahun-tahun lamanya,‖ lanjut nenek itu. ―Manusia meletakkan bibit
kemarahan, kebencian, kesombongan dan keserakahan serta bibit negatif lainnya
dalam hati setiap mereka dan mereka juga meletakkannya pada generasi mereka.
Sehingga dunia ini terus dipenuhi dengan hal-hal itu dan menjadi semakin buruk.
Mereka membenci sesama mereka, melukai sesama mereka dan menghancurkan
sesama mereka manusia.
Sudah saatnya proses ini dihentikan dan dibalik. Biarlah semua hal-hal buruk itu
dikeluarkan dari hati dan dunia ini, hingga hanya ada kasih di dunia ini. Dan saat
kasih bertumbuh dalam setiap manusia, maka dunia akan menjadi surga.‖
―Tapi,‖ kataku. ―Itu akan membutuhkan waktu yang sangat lama.‖
Nenek itu tersenyum, ―Saat seorang menanam bibit apel, dia tidak berharap jika
dia masih akan dapat menikmati buahnya. Tapi, dia berharap jika suatu saat nanti,
generasi berikutnya dapat menikmati apel itu. Begitu juga menjadikan bumi
seperti surga ini. Seseorang harus berkorban untuk mulai menghentikan
kemarahan, kebencian, keserakahan dan kesombongan dalam dirinya dan mulai
menanamkan kasih dan kebaikan pada sesamanya. Seseorang harus mulai
memaafkan. Di mulai dari dirinya menjadi bibit kasih itu dan selanjutnya Tuhan
akan mengatur pertumbuhannya. Pengorbanan akan selalu diperlukan. Tapi,
534
apakah ada seorang yang akan memulai untuk mengorbankan keinginan dalam
dirinya dan mulai mengasihi sesamanya lebih dari dirinya sendiri?‖
―Berapa banyak orang yang perlu dikorbankan untuk membuat dunia menjadi
surga?‖ tanyaku.
―Cuma satu,‖ katanya sambil tersenyum. ―Diri kita sendiri dan bukan orang lain.‖
Setelah berkata demikian, nenek dan cucu itu tersenyum begitu indah padaku dan
mendadak mereka lenyap dari hadapanku. Berganti menjadi cahaya yang
menghilang ke atas langit malam.
“Semuanya dimulai dari dirimu sendiri dan dari sana, dunia akan berubah.
Untuk kehidupan generasi selanjutnya yang lebih baik.”
***
Dua hari kemudian, aku bertemu dengan mereka semua di kota Asos dan naik ke
atas kapal. Lalu kami melanjutkan pelayaran kami dari kota Asos menuju ke kota
Metilene yang berjarak sekitar 50 kilometer. Kota pelabuhan itu adalah sebuah
pulau kecil.
Dari situ kami terus berlayar sejauh 85 kilometer dan pada keesokan harinya
kami berhadapan dengan pulau Khios. Pada hari berikutnya kami menuju Samos
dan sehari kemudian tibalah kami di kota Miletus yang berjarak 120 kilometer
dari pulau Khios. Kapal itu berlabuh semalaman di kota Miletus untuk menunggu
penumpang dan mengumpulkan perbekalan.
535
Aku sendiri telah memutuskan untuk tidak singgah di Efesus, sebab aku harus
segera tiba di Yerusalem. Karena itu, aku menyuruh seorang dari kota Miletus
untuk pergi ke kota Efesus yang berjarak sekitar 65 kilometer dengan pesan
supaya para penatua jemaat datang ke kota Miletus jika mereka ingin bertemu.
Saat pagi hari tiba, datanglah mereka para penatua dari Efesus bersama beberapa
orang-orang baru. Maka aku mengajak mereka untuk sarapan dan kemudian
menceritakan kepada mereka siapa aku sesungguhnya. ―Aku dulu memiliki nama
Saul penganiaya murid Yesus hingga Tuhan memanggilku...‖ aku melanjutkan
ceritaku dan tidak satu pun dari mereka yang percaya jika aku adalah Saul yang
dulunya membunuh para murid Yesus dengan kejam. Aku melihat di antara
mereka dan melanjutkan. "Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak
hari pertama aku tiba di Asia ini, dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan.
Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami
pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku.
Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu.
Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun
dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi
kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat
kepada Allah dan percaya kepada Tuhan.
Tetapi sekarang sebagai tawanan roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu
apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain daripada yang dinyatakan Roh
Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.
536
Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai
garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan kepadaku
untuk memberi kesaksian tentang kasih karunia Allah.
Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu
sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu
pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap
siapa pun yang akan binasa. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud
Allah kepadamu.
Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang
ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah
yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Aku tahu, bahwa sesudah
aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan
tidak akan menyayangkan kawanan itu.
Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan
ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan
supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga
tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu
masing-masing dengan mencucurkan air mata.
Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih
karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada
kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya.
537
Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga.
Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk
memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam
segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja
demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat
perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan, Adalah lebih
berbahagia memberi daripada menerima."
Sesudah mengucapkan kata-kata itu aku berlutut dan berdoa bersama-sama
dengan mereka semua.
―Ya Tuhan,‖ doaku. ―Aku telah menyelesaikan tugas yang engkau berikan
padaku tanpa cacat. Aku siap untuk Engkau serahkan ke mana pun juga.‖
Beberapa orang di sana menangis dan memelukku, mereka memintaku untuk
tidak pergi. Tapi, Tuhan sudah mengatur perjalanan manusia bahkan sebelum ia
dilahirkan.
Sesudah perpisahan yang berat itu bertolaklah kami dan langsung berlayar
melewati kepulauan Kos. Keesokan harinya sampailah kami di pulau Rodos yang
berjarak 200 kilometer dari Miletus dan dari situ kami terus berlayar sejauh 110
kilometer ke kota pelabuhan Patara.
Perjalanan kapal yang kami tumpangi berakhir di kota Patara sehingga kami
harus mencari kapal lain untuk tiba di Yerusalem. Tepat di Patara, kami
mendapat kapal yang kebetulan hendak menyeberang ke Fenisia wilayah tepi
538
pantai dari Siria dan sudah dekat dengan Yerusalem. Maka kami naik kapal itu,
lalu bertolak sejauh 1200 kilometer. Kemudian tampak pulau Siprus di sebelah
kiri, tetapi kami melewatinya dan menuju ke Siria.
Akhirnya tibalah kami di kota pelabuhan Tirus, sebab muatan kapal harus
dibongkar di kota itu. Di kota itu, kami mengunjungi murid-murid dan tinggal di
situ tujuh hari lamanya, karena Betsaida mengalami demam sebab kelelahan
dalam perjalanan.
Saat itu murid-murid di dalam kota Tirus menemuiku dan berkata,
―Guru,
janganlah engkau pergi ke Yerusalem. Sebab kami mendengar jika mereka tidak
menyenangimu dan sedang merencanakan hal buruk padamu.‖
Aku melihat pada mereka dan berkata, ―Aku harus ke sana, sebab sesungguhnya
Tuhan-lah yang menyuruhku ke sana, meski mereka menganggap diri merekalah
yang menyuruhku ke Yerusalem.‖
Maka kami meninggalkan kota Tirus dan meneruskan perjalanan kami. Semua
murid-murid kota Tirus dengan isteri dan anak-anak mereka, mengantar kami
sampai ke luar kota. Dan di tepi pantai kami berlutut dan berdoa. Sesudah minta
diri, kami naik ke kapal, dan mereka pulang ke rumah.
Dari kota Tirus kami tiba di kota pelabuhan Ptolemais yang berjarak 30 kilometer
dan di situ berakhirlah pelayaran kami. Kami memberi salam kepada saudarasaudara di kota Ptolemais dan tinggal satu hari di antara mereka.
539
Pada keesokan harinya kami berangkat dari situ melalui perjalanan darat dan
setelah 40 kilometer, kami tiba di kota Kaisarea. Di kota itu, kami tinggal di
rumah Filipus, seorang pemberita ajaran Yesus yang merupakan salah satu dari
ketujuh orang yang dipilih di Yerusalem untuk wilayah Kaisarea.
Filipus mempunyai empat anak dara yang sangat memahami tentang ajaran
Yesus. Betsaida terlihat senang bersahabat dengan mereka.
Setelah beberapa hari kami tinggal di situ, datanglah dari wilayah Yudea seorang
nabi bernama Agabus. Pria itu bertubuh pendek dan gemuk, semua rambut
hingga janggutnya sudah memutih.
Ia datang pada kami, lalu mendadak mengambil ikat pinggangku. Dengan cara
yang lucu, dia mengikat kaki dan tangannya sendiri.
Lalu ia berkata, "Demikianlah kata Roh Kudus, beginilah orang yang empunya
ikat pinggang ini akan diikat oleh orang-orang Yahudi di Yerusalem dan
diserahkan ke dalam tangan bangsa-bangsa lain."
Maka terkejutlah semua orang di sana. Wajah Betsaida memucat, Lukas,
Timotius dan lainnya yang datang bersamaku dari Makedonia dan Asia.
―Guru,‖ kata Timotius, ―Janganlah engkau pergi ke Yerusalem.‖ Yang lainnya
segera menyatakan hal yang senada.
Aku melihat mereka dan menjawab, ―Aku harus pergi.‖
540
―Guru,‖ kata Betsaida menangis dan kemudian beberapa orang lainnya juga ikut
menangis.
"Mengapa kamu menangis dan dengan jalan demikian mau menghancurkan
hatiku? Sebab aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di
Yerusalem oleh karena nama Tuhan."
Mereka masih mencoba membujukku beberapa lama hingga akhirnya mereka
menyerah dan berkata, "Jadilah kehendak Tuhan!"
Sesudah itu, kami masih tinggal beberapa hari lamanya di Kaisarea, aku menduga
mereka sengaja memperlambat perjalanan ini. Hingga akhirnya aku berkata, ―Jika
kalian tidak berangkat hari ini, maka aku akan berjalan sendiri ke Yerusalem.‖
Maka berkemaslah mereka semua, lalu berangkat ke Yerusalem bersama-sama
yang berjarak 130 kilometer dari kota Kaisarea.
541
BAB 22
JEBAKAN
Tahun 58 M
Kami berangkat ke Yerusalem bersama-sama dengan beberapa murid dari
Kaisarea. Mereka membawa kami ke rumah seorang yang bernama Manason di
Yerusalem. Ia berasal dari Siprus dan sudah lama menjadi murid dari ajaran
Yesus. Kami semua menumpang di rumahnya.
Pada keesokan harinya, datanglah seorang anggota jemaat Yerusalem yang
mengundangku untuk menghadap sidang para penatua jemaat Yerusalem. Aku,
Lukas dan beberapa murid juga ikut serta. Aku tidak mengizinkan Betsaida ikut
sehingga dia tetap tinggal di tempat Manason.
Di dalam jemaat Yerusalem, telah hadir pula di situ James dan para penatua yang
kebanyakan dari mereka adalah orang Farisi. Petrus dan Yohanes tidak terlihat di
sana, kabarnya mereka sedang berada di luar kota.
Aku melihat mereka semua yang berkumpul dan mendapati jika ada beberapa
wajah yang kukenal dan segera tertawalah aku. Sebab itu adalah wajah-wajah
mereka yang mengenalku sebagai Saul.
542
Lagi pula aku tidak mengerti mengapa aku harus di sidang oleh mereka. Selain
karena aku bukanlah anggota jemaat mereka, tidakkah ajaran Yesus itu bebas?
Dan mengapa mereka harus merantaiku dengan semua kerumitan ini. Meski
demikian, aku tetap memberi salam kepada mereka, lalu menceriterakan dengan
terperinci apa yang dilakukan Allah di antara bangsa-bangsa lain melalui
pelayananku.
Aku menceritakan perjalanan panjang dari Asia kecil, hingga Makedonia dan
berberapa jemaat yang sudah dibangun.
Mendengar itu, maka sebagian dari mereka memuliakan Allah. Lalu sebagian
dari mereka berkata kepadaku di hadapan semua para penatua, "Saudara, lihatlah,
beribu-ribu orang Yahudi telah menjadi percaya dan mereka semua rajin
memelihara hukum Taurat. Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa
engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain
untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka
jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita.‖
―Aku tidak melakukannya,‖ kataku pada mereka dengan tegas. ―Aku tidak pernah
menyuruh orang-orang Yahudi melepaskan hukum Taurat, sesungguhnya aku
menyuruh mereka untuk lebih memahami hukum itu. Aku mengajari mereka
untuk lebih mendalami hukum Taurat.‖
―Benarkah itu?‖ tanya seorang penatua dengan pandangan sinis. ―Bagaimana
kamu dapat mengajari mereka lebih baik daripada kami?‖
543
―Sesungguhnya, aku katakan pada kalian, sebagian dari kita telah menjadi sesat
dan tidak lagi menyembah Tuhan. Tapi mereka menyembah hukum Taurat
melebihi Tuhan itu sendiri.‖
Mendengar itu maka marahlah sebagian orang. Tapi aku tetap melanjutkan.
―Sesungguhnya Tuhan adalah Kasih, Tuhan adalah sesuatu yang melebihi apa
pun yang dapat dipikirkan manusia dan tidak akan pernah dapat diungkapkan
oleh Kitab Ibrani. Salah satu wujud-Nya adalah kasih.‖
―Tapi, kalian tidak akan pernah menemukan Tuhan di dalam kitab Ibrani. Tidak
juga dalam Bait Allah. Karena sesungguhnya Tuhan ada di mana-mana.
Menyembahnya adalah melalui perbuatan kasih pada-Nya dan kasih kepada
sesama. Hati setiap manusia adalah Bait Allah dan di dalam roh serta kebenaran,
mereka akan dapat selalu bersamanya.‖
―Bukankah hukum Taurat mengajarkan cara menyembah Allah yang benar?‖
tanya seseorang.
―Benar,‖ kataku. ―Tapi kalian membuat semua penyembahan itu sebagai
peraturan, seperti peraturan dan hukuman bagi para budak terhadap majikannya.
Kalian membuat para penyembah tunduk dalam perbuatan tanpa hati dan kasih.
Kalian membuat mereka menjadi jasad bergerak tanpa isi. Menyembah Tuhan
adalah hal yang paling membahagiakan dan paling indah. Tapi, kalian
membuatnya menjadi neraka.‖
544
―Bagaimana mungkin kami membuat neraka bagi para penyembah,‖ teriak
mereka.
Suaraku menjadi keras dan berkata, ―Karena kalian memaksakan peraturan pada
mereka tanpa pemahaman. Kalian membebani mereka peraturan tanpa
memberikan mereka kesadaran. Kalian bahkan melihat peraturan di atas kasih,
dan membutakan hati kalian dan hati mereka demi sebuah peraturan yang
menghancurkan.‖
―Peraturan itu ada untuk membangun iman dan ketakwaan,‖ sahut seorang Farisi.
―Kasih adalah perwujudan kelemahan diri. Kasih adalah alasan agar orang dapat
tidak mematuhi peraturan. Kasih adalah kepengecutan, peraturan adalah sifat
ksatria yang terpuji untuk menjadi hamba bagi Tuhan. Setiap orang wajib mati
demi peraturan dan dalam melaksanakan peraturan.‖
―Sesungguhnya,‖ tanyaku. ―Mereka yang mematuhi peraturan kalian, akan
menjadi laskar kalian atau laskar Tuhan?‖
―Bukan peraturan kami, tapi hukum Taurat yang diberikan oleh Nabi Musa dari
Tuhan langsung,‖ balas seorang anggota jemaat.
―Dan itu adalah hukum Taurat yang sama yang tafsirkan oleh sekelompok orang
yang mengaku sebagai ahli Taurat, imam-imam besar untuk mengendalikan
masyaratkat,‖ sahutku. ―Hukum yang sudah mereka tafsirkan sesuai kehendak
mereka.‖
545
―Pertanyaanku,‖ tambahku. ―Spakah hukum Taurat itu benar adalah apa yang
diinginkan Tuhan dari manusia? Kalian membiarkan orang mati di hari sabat
yang seharusnya dapat kalian tolong, kalian membiarkan orang-orang yang tidak
bersunat untuk mati tanpa mengenal Tuhan, kalian bahkan membiarkan orangorang Samaria mati dihadapan kalian karena perbedaan hukum. Apakah itu yang
Tuhan kehendaki?‖
―Semua dari Tuhan langsung melalui Nabi Musa,‖ kata seorang penatua dengan
penuh kebencian padaku.
―Tapi, Yesus mengatakan hal lain. Kasihilah Tuhan Allahmu dan kasihilah
sesamamu. Kasih sesungguhnya jauh lebih kuat dari pada peraturan. Ia tidak
lemah, ia dapat membalas tapi ia memilih untuk memaafkan.‖
―Bukankah itu juga yang kalian tuduhkan pada Yesus?‖ tanyaku. ―Saat dia
datang membawa ajarannya akan kasih yang begitu besar, saat dia mengajari
orang-orang untuk menolong sesamanya di hari sabat, saat dia mengatakan Tuhan
adalah Maha Pengasih, atas dasar hukum yang sama, hukum Taurat, kalian
menghancurkannya dan menyalibkannya dengan tuduhan sesat.
Kini, aku juga tahu jika kalian dengan hukum yang sama juga akan
mencelakaiku. Berapa kali aku harus mengatakan pada kalian. Yesus tidak datang
untuk menghancurkan peraturan atau agama yang kalian miliki. Dia datang untuk
menunjukkan sesuatu yang lebih besar dan agung. Itu adalah kasih.
546
Tidakkah kalian paham? Mata kalian terlalu lama melihat pada Kitab Taurat
untuk mencari Tuhan, bahkan jika Tuhan saat ini muncul di hadapan kalian
sekalipun, kalian akan menolaknya. Sesungguhnya kalian adalah orang-orang
yang tidak mempercayai adanya Tuhan Yang Berbuat dan Tuhan Yang Nyata.
Sesungguhnya kalian bahkan lebih tidak bertuhan daripada orang-orang dari
bangsa lain kalian menyembah berhala berbentuk hukum. Sama sekali bukan
Tuhan yang menciptakan langit dan bumi yang kalian sembah.
Yesus datang dan berkata, ‗Itulah Tuhan Yang Maha Agung tidak terbatas pada
ruang dan tempat dan Bait Allah, Bapa kita, berdoalah dan kasihi Dia.‘ Akan
tetapi kalian berkata, ‗Itu bukan Tuhan karena tidak ada tertulis di dalam hukum
Taurat‘. Sudahkah kalian lihat jika Tuhan kalian adalah hukum Taurat? Bahkan
Tuhan sejati kalian buat lebih rendah dari pada hukum Taurat.
Di sini, biarlah kubukakan pada kalian kesalahan kalian yang sesungguhnya.
Kalian memilih hukum Taurat karena kalian dapat mencernanya, mempelajarinya
dan memahaminya. Kalian tidak siap dengan Tuhan Yang Maha Segalanya yang
tidak mampu kalian pahami dan artikan. Kalian hanya ingin menyembah Tuhan
yang dapat kalian kerdilkan dalam pikiran kalian, dapat kalian pahami dan dapat
kalian atur. Kalian ingin menyembah Tuhan yang dapat kalian bentuk. Kalian
sesungguhnya menyembah tuhan berhala dari bentukan pikiran kalian yang tidak
berbentuk patung. Kalian tidak siap menerima Tuhan Yang Sesungguhnya yang
melebihi semuanya.‖
547
―Paulus, ―teriak seorang penatua mrah. ―Jaga omonganmu. Tuhan menyatakan
dirinya di dalam Kitab Taurat dan ada di dalam Bait Allah. Semua orang
mengetahui dan menyetujui hal itu. Hanya dirimu yang sesat.‖
―Dengan demikian,‖ kataku tersenyum. ―Itulah tuhan kalian yang ada di dalam
kitab dan terkurung dalam Bait Allah yang mezbahnya dibelah oleh Yesus saat
kematiannya. Kalian
tidak ada bedanya dengan orang-orang yang mencari
tuhannya dari patung dan benda-benda mati. Sesungguhnya kalian semua akan
terus menggantung nabi-nabi selanjutnya dan utusan Tuhan yang datang
mengajari kalian tentang Tuhan, karena kalian tidak akan menemukan Tuhan
ajaran mereka dari dalam kitab kalian.
Kalian juga akan menghancurkan orang-orang yang tidak sesuai dengan ajaran
kelompok kalian, kalian akan membunuh mereka yang memiliki agama lain, dan
mengatas namakan Tuhan. Kalian akan melumatkan kasih serta menghancurkan
sesama kalian. Sampai kapan kalian baru dapat membuka mata dan sadar jika
Tuhan pencipta langit dan bumi itu adalah satu yang menciptakan semua
manusia? Dari mana jalan mereka mencapai Tuhan pencipta langit dan bumi itu,
tidak seharusnya kalian melarang mereka, apa lagi membunuh mereka dalam
nama Tuhan. Kalian selalu merasa diri kalian paling baik dan hebat di atas
segala-galanya.‖
Segera menjadi ributlah semua orang di sana. Para penatua saling berteriak
memaki dan menghina. Beberapa orang melemparkan benda-benda yang mereka
548
pegang ke arahku. Ruang sidang menjadi kacau dan James segera berusaha
menenangkan mereka semua.
Akhirnya James memerintahkan agar aku keluar dari ruangan sidang dan
membiarkan mereka yang memutuskan hukumanku. Sekali lagi bagiku semua ini
terasa aneh. Aku bukanlah anggota jemaat mereka, dan aku tidaklah berhutang
pada mereka dan kini mereka ingin menjatuhkan hukuman atasku. Bukankah
mereka sama saja dengan orang-orang Yahudi yang ingin membunuhku. Hanya
saja mereka lebih sopan.
Kira-kira saat hari mendekati sore, mereka kembali membawaku ke dalam ruang
sidang dan seorang penatua berdiri untuk berbicara atas nama seluruh sidang
jemaat Yerusalem.
―Engkau Paulus sudah melakukan pelanggaran pada hukum Taurat. Sebab itu,
lakukanlah apa yang kami katakan ini, di antara kami ada empat orang yang
bernazar.
Bawalah mereka bersama-sama dengan engkau ke dalam Bait Allah, lakukanlah
pentahiran dirimu bersama-sama dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka,
sehingga mereka dapat mencukurkan rambutnya; maka semua orang akan tahu,
bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar,
melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat.
Tetapi mengenai bangsa-bangsa lain, yang telah menjadi percaya, sudah kami
tuliskan keputusan-keputusan kami, yaitu mereka harus menjauhkan diri dari
549
makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang
yang mati dicekik dan dari percabulan."
Sebuah hukuman yang sangat mudah dan membuatku penuh tanda tanya. Apakah
mungkin mereka semua menjadi baik dan penuh kasih?
Pada hari berikutnya saat mereka mengirimkan empat orang padaku untuk
dibawa serta ke Bait Allah, tahulah diriku apa yang sedang terjadi. Seorang di
antara mereka adalah orang Yunani dari Efesus yang kukenal. Sedangkan ketiga
lainnya mungkin bukan orang Yahudi.
Membawa mereka semua ke dalam Bait Allah adalah mudah, tapi jika aku
membawanya, aku akan melanggar hukum Taurat karena jelas ada tertulis bahwa
orang selain orang Israel dilarang memasuki Bait Suci Allah.
Jika aku tidak membawa mereka, maka aku tidak dapat melaksanakan hukuman
yang mereka berikan. Ini akan sama saja seperti mengakui jika aku melanggar
hukum Taurat. Aku melihat pada seorang dari Efesus itu dan masih mengingat
namanya.
―Trofimus,‖ panggilku. ―Apakah engkau ingin masuk ke dalam Bait Suci Allah?‖
―Benar guru,‖ jawabnya.
―Bagaimana dengan yang lainnya?‖ tanyaku.
―Kami juga guru,‖ kata mereka semua. ―Kami ingin bertemu dengan Tuhan.‖
550
―Ikutlah denganku,‖ kataku pada semua mereka. Aku tidak akan pernah menolak
mereka yang ingin bertemu dengan Tuhan. Meski aku segera menambahkan,
―Aku akan membawa kalian ke dalam Bait Suci Allah, tapi ingatlah Tuhan
sesungguhnya tidaklah terikat pada satu tempat atau hanya ada pada Bait Suci
Allah. Dia ada di mana-mana dan Dia ada dalam hati kalian.‖
Lalu, dengan mereka semua, aku menuju ke Bait Allah. Di sana, aku mengajari
mereka cara membersihkan diri—karena mereka belum pernah memasuki Bait
Suci Allah sebelumnya. Di depan pintu masuk ke dalam Bait Suci Allah, yang
merupakan bagian tengah dari Bait Allah, aku melihat sebuah tulisan di atasnya,
―Hanya untuk bangsa israel, bangsa-bangsa lain tidak diperkenankan masuk.‖
Melihat itu, aku segera tersenyum. Saat Yesus mati, tabir Bait Suci Allah terbelah
dua. Dan sekarang sebelum kematianku, aku akan membuat kegemparan di
tempat ini. Membelah peraturan hukum Taurat di depan umum.
―Apakah kami boleh masuk?‖ tanya Trofimus kuatir. ―Ada tertulis di atas jika
kami dilarang masuk.‖
Aku segera tertawa, ―Sungguh celaka Bait Allah ini. Tuhan yang ada di dalamnya
adalah Tuhan yang menciptakan segala bangsa, tapi mereka membuat hanya
orang Israel yang boleh masuk. Bait Allah ini juga dibangun dengan kasih,
bantuan dan harta dari bangsa-bangsa lain, tapi seperti kacang lupa kulit, orang
Yahudi melarang mereka bangsa-bangsa lain yang telah membantu membangun
Bait Allah ini untuk masuk.
551
Sesungguhnya Tuhan tidak akan membiarkan Bait ini bertahan lebih lama lagi.
Karena orang Yahudi membuat Tuhan seakan-akan hanya memandang pada
mereka dan menjadikan hal ini sebagai kesombongan mereka dan menahan
keselamatan pada bangsa-bangsa lain. Akan datang saatnya kaki-kaki dari bangsa
lain memasuki tempat ini dan menghancurkan semuanya. Saat itu jika kalian
melihat kejadiannya, ingatlah artinya. Tuhan yang menyuruh mereka untuk
melakukannya dan sebagai bukti bahwa Tuhan ada untuk semua bangsa. Bangsa
yang menjadi penghalang bagi bangsa lain untuk mengenal Tuhan akan
dihancurkan.‖
Aku melihat seorang penjaga di depan Bait Allah dan menegurnya sambil
memberikan pajak uang masuk untuk kami berlima. ―Kami berlima hambahamba yang takut akan Tuhan,‖ kataku padanya. Ia mengizinkan kami masuk.
Aku membawa mereka berempat ke dalam Bait Allah dan melihat kembali Bait
yang dulu pernah mempesonaku saat aku masih kecil. Dan sekarang, Bait itu
masih tetap mempesonaku tapi tidak seperti dulu lagi. Saat kecil aku melihat
kemegahan tempat ini, tapi kini aku melihat kemegahan Tuhan yang melebihi
tempat ini dan hukum apa pun.
Aku pun mengajari mereka untuk menyelesaikan pentahiran dan persembahan
apa saja yang akan dipersembahkan oleh mereka masing-masing kepada Tuhan
menurut hukum Taurat.
Saat semuanya selesai, aku menatap mereka berempat dan berkata, ―Kalian
beempat keluarlah dari pintu kecil itu,‖ sebuah pintu yang hanya diketahui oleh
552
para rabbi dan imam sepertiku dulu. ―Saat tiba di persimpangan lorong, ambillah
sebelah kiri dan turuni tangga itu, dari sana segeralah kalian keluar dari pintu
gerbang Bait Allah, karena sebentar lagi akan terjadi keributan dan pintu-pintu
akan ditutup.‖
Trofimus dan lainnya segera bertanya, ―Apakah guru tidak akan ikut bersama
kami?‖
―Tidak,‖ jawabku.
―Jadi apa yang akan guru lakukan?‖
Aku tersenyum dan berkata, ―Membuat keributan. Sekarang, pergilah secepatnya
sebelum orang-orang melihat kalian.‖
Trofimus dan lainnya segera pergi setelah berpelukan denganku dan aku melihat
bayangan mereka yang berlari semakin jauh. Dengan tenang, aku keluar dari
pintu keluar umum Bait Suci Allah dan seperti yang sudah kukira, orang-orang
Yahudi telah berkumpul di sana, beberapa dari mereka adalah para penatua
jemaat Yerusalem dan mereka segera berteriak.
"Hai orang-orang Israel, tolong! Inilah orang yang di mana-mana mengajar
semua orang untuk menentang bangsa kita dan menentang hukum Taurat dan
tempat ini! Dan sekarang ia membawa orang-orang Yunani pula ke dalam Bait
Allah dan menajiskan tempat suci ini!"
Aku sudah menduga itu, aku hanya tidak menduga jika yang berkumpul
mencapai ribuan orang.
553
Beberapa dari mereka segera maju hendak menangkapku, tapi aku segera
membentak mereka, ―Jika ini adalah Bait Suci, apakah kalian akan menangkapku
dengan paksa dan mengotori tempat ini dengan kemarahan dan amukan kalian?
Bukankah itu berarti kalian melanggar hukum Taurat? Jika kalian ingin masuk ke
tempat ini untuk menyeretku keluar, maka tahirkan dulu diri kalian. Atau kalian
akan menajiskan tempat ini juga.‖
Berhentilah beberapa orang yang ingin menangkapku. Aku tersenyum dan masuk
kembali ke dalam Bait Suci Allah. Dengan tenang, aku memasuki Bait Suci dan
bahkan memasuki tempat-tempat dalam ruangan yang hanya diperbolehkan bagi
imam-imam besar.
Dulu aku adalah imam dan aku boleh memasuki tempat terlarang itu. Dan kini,
bukankah aku lebih dari saat aku dulu, tentu aku boleh berada di sana.
Maka di dalam ruang rahasia Bait Suci Allah itu, aku bersembunyi dan berpuasa.
Aku mendengar para pengejarku di luar Bait Suci Allah sibuk mencariku dan
tidak dapat menemukanku. Mereka tidak berani memasuki bagian terlarang
dalam Bait Suci. Sedangkan bagiku, Bait Suci ini dan lorong-lorong rahasianya
sudah menjadi seperti rumahku.
Setelah tiga hari lamanya, datanglah Gamaliel dan kedua anaknya, Abibus dan
Nicodemus. Mereka memasuki ruangan rahasia dalam Bait Suci Allah yang
merupakan tempat para imam-imam berpuasa.
554
―Aku sudah menduga kamu akan bersembunyi di sini,‖ kata Gamaliel yang
terlihat sudah sangat tua dan renta. Ia ditopang oleh kedua putranya
menjumpaiku. ―Dari dulu kamu selalu berada di tempat ini jika menghadapi
masalah.‖
―Guru,‖ kataku melihat keriput di wajahnya dan sudah 30 tahun berlalu sejak
terakhir kali aku melihatnya. Aku segera mendekatinya dan berlutut untuk
menunjukkan penghormatanku kepada orang yang telah mengajariku semua
dasar hukum Taurat dan terutama tentang Tuhan. ―Maaf aku telah merusak
namamu.‖
Gamalier terlihat menggapaikan tangannya dan Nicodemus mengarahkan
tangannya ke arah pundakku. Aku melihat kedua mata Gamaliel telah memutih
dan rabun.
―Bangunlah,‖ kata Gamaliel menyentuh pundakku. ―Aku sudah mendengar
sedikit banyak tentangmu. Tapi, ceritakan padaku tentang perjalananmu.‖
―Guru tidak marah?‖ tanyaku terkejut.
―Karena apa?‖ tanya Gamaliel tertawa. ―Karena kamu mengajar tentang Tuhan
pada bangsa-bangsa lain? Mungkin hal itu yang paling bisa aku banggakan pada
kakekku Hillel nantinya. Dia membaptis orang dari bangsa lain dan kamu bahkan
berani membangun jemaat bagi mereka dan membawa mereka masuk ke dalam
Bait Suci Allah.‖
555
Aku melihat tawa guruku dan air mataku mengalir. Bersama mereka, aku
menceritakan semua tentang bagaimana aku mendengar suara Tuhan, bertobat,
mencari tentang Yesus dan mengajar. Mereka bertiga mendengarkanku dengan
seksama dan waktunya hampir mencapai dua hari lamanya.
―Aku menemukan Tuhan, kasih dan iman,‖ kataku pada mereka.
―Iman?‖ tanya Gamaliel.
―Iman yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang mengaku ahli Taurat dan sibuk
dengan peraturan serta pikiran mereka hingga melupakan hati dan perasaan kasih
mereka.‖ Aku menyentuh tangan Gamaliel dan berdoa.
Saat itu mata Gamaliel yang putih mendadak menjadi hitam kembali dan dia
dengan terkejut menatapku. ―Aku dapat melihat kembali.‖ Kedua orang anaknya
segera menatapnya dengan penuh keterkejutan.
―Itulah kasih Allah,‖ kataku. ―Dia sungguh Maha Pengasih.‖
Gamaliel menatapku begitu lama dan mendadak matanya menjadi basah. Air
mata jatuh di pipi tuanya. Ia segera memelukku dan berkata, ―Sungguh Tuhan itu
nyata.‖
Maka hari itu juga aku membaptis mereka bertiga dan mengajar. Setelah itu, tepat
setelah tujuh hari aku bersembunyi, aku menatap guruku erat-erat dan berkata,
―Sudah waktunya aku keluar untuk bertemu mereka.‖
556
―Tetaplah di sini,‖ kata Abibus. ―Kamu tidak akan bisa melarikan diri, sejak
kemarin, mereka sudah menutup semua pintu masuk ke dalam Bait Allah.‖
―Aku tidak pernah berniat untuk melarikan diri dari apa pun,‖ kataku.
―Sesungguhnya aku berada di tempat ini selama berhari-hari karena Tuhan
memintaku untuk menyampaikan semua tentang Tuhan pada kalian. Tuhan tahu
kalian akan ke tempat ini untuk menemuiku. Setelah aku menyelesaikan tugas
yang Tuhan berikan, sudah saatnya aku menghadapi mereka.‖
―Tapi,‖ kata Nicodemus.
―Aku harus pergi,‖ kataku dengan cepat meninggalkan mereka. Saat sudah jauh,
aku melihat mereka berlutut untuk berdoa.
Di luar pintu Bait Suci Allah, aku segera berjalan keluar mengejutkan semua
orang di sana. Dan aku bahkan lebih terkejut lagi karena jumlah di dalam tempat
itu mencapai puluhan ribu. Tampaknya seluruh Yerusalem sudah mendengar jika
seorang telah berani melanggar hukum Taurat yang merupakan perintah Allah
langsung bahkan di dalam Bait Suci Allah itu sendiri.
Mereka semua segera menangkapku, menarik-narik bajuku dan menyeretku
keluar dari Bait Suci Allah menuju ke lapangan. Beberapa orang memukuliku
sambil menyeretku, beberapa orang menendangku dan lebih banyak lagi yang
meludahiku dengan penuh kemarahan.
―Hentikan,‖ teriak seseorang di antara mereka. Maka pukulan dan tendangan pun
berhenti, mereka melemparkanku di atas tanah. Saat semua orang terdiam dan
557
memperhatikan pria itu, dia segera melanjutkan. ―Kita tidak boleh membunuhnya
seperti ini. Kita harus menyalibkannya atau mengarak-araknya di dalam kota
Yerusalem agar semua orang tahu apa yang akan terjadi pada orang yang
melawan hukum Taurat.‖
Bersorak-soraklah mereka semua. Ada yang segera berkata agar aku dibawa ke
tengah kota untuk dirajam dengan batu hingga mati, ada yang meminta agar
diriku dibakar di tengah-tengah mereka, ada yang mengusulkan agar aku dibuang
dari tembok Bait Allah dan ada yang meminta agar aku diseret oleh kuda di
sepanjang jalanan.
Anehnya, mendengar itu semua, sambil tergeletak di atas tanah, aku malah
tersenyum. Kematian bukanlah hal yang menakutkan saat memiliki Kasih Tuhan
di dalam hati.
Sementara mereka merencanakan cara untuk membunuhku, mendadak muncullah
suara terompet keras dan pintu-pintu gerbang Bait Allah bagian luar yang sudah
tertutup, kini terbuka dan ribuan prajurit Roma segera memenuhi tempat itu
dengan berkuda dan berjalan.
Dengan cepat semua orang berlarian dan seorang kepala prajurit berteriak di
sana, ―Apa yang sedang terjadi di tempat ini? Apa yang membuat seisi kota
Yerusalem berkumpul di sini dan menutup pintu gerbang? Apakah kalian sedang
merencanakan pemberontakan?‖
558
Beberapa imam-imam besar segera maju ke depan kepala prajurit karena takut
dituduh sedang merencanakan pemberontakan.
―Tidak, sesungguhnya kami sedang menangkap seorang pengacau di antara kami
dan dialah yang telah membuat keributan ini.‖ Imam itu menunjuk ke arahku.
Kepala pasukan itu mendekatiku. Ia memerintahkan dua orang prajurit untuk
menangkap dan mengikatku dengan dua rantai.
―Siapakan kamu dan apa yang telah kamu perbuat?‖ tanya kepala pasukan.
―Dia sudah melanggar hukum Taurat,‖ teriak seseorang di antara orang banyak.
―Dia sudah melecehkan Bait Allah.‖
―Gantung dia!‖
―Salibkan dia!‖
―Bakar dia!‖
Suara-suara itu terus bertambah dan kepala pasukan tidak dapat mendengar apa
pun sehingga ia berteriak pada beberapa prajurit, ―Bawa dia ke markas untuk
diperiksa.‖
Para prajurit berusaha menarikku keluar dari kerumunan namun mereka semua
menjadi terjebak ditengah-tengah orang banyak yang saling mendesak dan
berteriak, "Enyahkanlah dia!"
559
Semua orang mengerumuni kami dan tidak membiarkan kami keluar, saat itu
muncullah imam-imam besar di tengah-tengah kami dan berkata pada kepala
pasukan. ―Dia melanggar hukum Taurat dan seorang Yahudi. Biarlah kami
melakukan sidang atasnya di sini dan atas hukum yang berlaku pada orang-orang
Yahudi.‖
Kepala pasukan itu melihat sorak-sorak ribuan orang dan menjadi gentar. Dia
melihatku dan bertanya, "Tahukah engkau bahasa Yunani?‖
―Tentu,‖ kataku.
―Jadi engkau bukan orang Mesir itu, yang baru-baru ini menimbulkan
pemberontakan dan melarikan empat ribu orang pengacau bersenjata ke padang
gurun?"
―Bukan,‖ kataku.
Kepala pasukan itu menatapku lamat-lamat lalu berseru. ―Baiklah, kalian boleh
melakukan sidang untuknya di sini dan biarkan kami melihat hingga akhir sidang
agar tidak terjadi kekacauan.‖
Maka di tempat itu juga, disediakanlah tempat duduk bagi imam-imam besar.
Aku melihat Gamaliel ada di antara mereka dengan kedua anaknya. Aku sendiri
berdiri di sekeliling mereka.
―Saudara Paulus atau bernama Saul dulunya,‖ seru seorang imam. ―Telah
melanggar hukum Taurat dengan membawa orang-orang dari bangsa lain
memasuki Bait Suci kita,‖
560
Suara ribut kembali terdengar memaki-maki diriku.
Mengapa mereka begitu sibuk untuk membinasakanku jika hari masih cerah?
―Siapakah yang menuntutku?‖ tanyaku pada mereka semua. ―Dan siapakah
mereka yang melihatku membawa mereka? Di manakah orang-orang yang kalian
tuduh aku bawa masuk itu sebagai bangsa-bangsa asing. Orang yang kubawa
masuk adalah orang-orang yang takut akan Tuhan dan hati mereka lebih suci dari
orang Yahudi yang menuduh kami.‖
Dari banyak orang ramai itu, tidak terlihat seorang pun yang berani menjawab
itu. Karena aku juga tahu jika mereka orang-orang Farisi dari kelompok jemaat
Yerusalem tidak ingin mencelakai diri mereka dengan tampil di depan. Mereka
hanya ingin memanfaatkan tangan-tangan tidak berdosa untuk membunuhku.
Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, aku segera berkata, "Hai
saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani
yang murni di hadapan Allah."
Tetapi Imam Besar Ananias atau mantan mertua yang sangat membenciku, segera
berkata dengan wajah sombong dan penuh kebencian pada seorang di sampingku,
―Kamu yang berada di dekatnya, segera tampar mulutnya yang penuh dosa itu.‖
Membalas itu aku segera berkata kepadanya, ―Engkau muka tembok yang
dikapur putih-putih. Kamu duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum
Taurat, namun engkau sendiri melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk
menampar aku?"
561
Dan orang-orang yang hadir di situ menegurku, "Engkau berani mengejek Imam
Besar Allah?"
―Hai saudara-saudara, aku tidak tahu, bahwa ia adalah Imam Besar. Karena aku
tidak melihat ada kuasa Allah atau juga kasih yang memancar darinya. Hanya
kesombongan yang memenuhi dirinya. Atas dasar apa kalian mengatakan dia
Imam Besar Allah? Atas Tuhan atau atas diri kalian sendiri?"
Beberapa orang di sana menjadi murka dan aku mengambil kesempatan itu untuk
berbicara pada orang banyak. Aku mengambil kursi dan berdiri di atasnya agar
dapat terlihat oleh orang banyak.
Aku memberi isyarat dengan tangan kepada mereka semua yang mengelilingiku.
Mungkin ada puluhan ribu orang. Ketika suasana sudah tenang, mulailah aku
berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani
"Hai saudara-saudara dan bapa-bapa, dengarkanlah, apa yang hendak kukatakan
kepadamu sebagai pembelaan diri. Aku adalah orang Yahudi, dari Tarsus, warga
dari kota yang berada di Kilikia,‖
Aku melihat lebih banyak orang menjadi tenang karena mendengarku berbahasa
Ibrani. Mungkin sebagian dari mereka sebelumnya mengira aku orang Mesir atau
apa.
"Aku dibesarkan di kota ini; dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel
dalam hukum nenek moyang kita, sehingga aku menjadi seorang yang giat
bekerja bagi Allah sama seperti kamu semua pada waktu ini. Dan aku telah
562
menganiaya pengikut-pengikut ajaran Tuhan sampai mereka mati; laki-laki dan
perempuan kutangkap dan kuserahkan ke dalam penjara.
Tentang hal itu baik Imam Besar maupun Majelis Tua-Tua dapat memberi
kesaksian. Dari mereka aku telah membawa surat-surat untuk saudara-saudara di
Damaskus dan aku telah pergi ke sana untuk menangkap penganut-penganut
ajaran Tuhan, yang terdapat juga di situ dan membawa mereka ke Yerusalem
untuk dihukum.
Tetapi dalam perjalananku ke sana, ketika aku sudah dekat Damaskus, yaitu
waktu tengah hari, tiba-tiba memancarlah cahaya yang menyilaukan dari langit
mengelilingi aku.
Maka rebahlah aku ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang berkata
kepadaku, Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku.
Jawabku, Siapakah Engkau, Tuhan? Kata-Nya, Akulah Tuhan yang kauaniaya
itu. Dan mereka yang menyertai aku, memang melihat cahaya itu, tetapi suara
Dia, yang berkata kepadaku, tidak mereka dengar.
Maka kataku, Tuhan, apakah yang harus kuperbuat? Kata Tuhan kepadaku,
Bangkitlah dan pergilah ke Damaskus. Di sana akan diberitahukan kepadamu
segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu.
Dan karena aku tidak dapat melihat oleh karena cahaya yang menyilaukan mata
itu, maka kawan-kawan seperjalananku memegang tanganku dan menuntun aku
ke Damaskus.
563
Di situ ada seorang bernama Ananias, seorang saleh yang menurut hukum Taurat
dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ. Ia datang berdiri
di dekatku dan berkata, Saulus, saudaraku, bukalah matamu dan melihatlah! Dan
seketika itu juga aku melihat kembali dan menatap dia.
lalu katanya, Allah nenek moyang kita telah menetapkan engkau untuk
mengetahui kehendak-Nya, untuk melihat Yang Benar dan untuk mendengar
suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab engkau harus menjadi saksi-Nya
terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar. Dan
sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis
dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!
Sesudah aku kembali di Yerusalem dan ketika aku sedang berdoa di dalam Bait
Allah, rohku diliputi oleh kuasa Ilahi. Aku melihat Dia, yang berkata kepadaku,
Lekaslah, segeralah tinggalkan Yerusalem, sebab mereka tidak akan menerima
kesaksianmu tentang Aku.
Jawabku, Tuhan, mereka tahu, bahwa akulah yang pergi dari rumah ibadat yang
satu ke rumah ibadat yang lain dan yang memasukkan mereka yang percaya
kepada-Mu ke dalam penjara dan menyesah mereka.
Dan ketika darah Stefanus, saksi-Mu itu, ditumpahkan, aku ada di situ dan
menyetujui perbuatan itu dan aku menjaga pakaian mereka yang membunuhnya.
Tetapi kata Tuhan kepadaku, Pergilah, sebab Aku akan mengutus engkau jauh
dari sini kepada bangsa-bangsa lain."
564
Mereka mendengarkan sampai kepada perkataan itu. Saat aku menyebut bangsabangsa lain, wajah mereka semua berubah dan mereka mulai berteriak,
"Enyahkan orang ini dari muka bumi! Ia tidak layak hidup!"
Mereka terus berteriak sambil melemparkan jubah mereka dan menghamburkan
debu ke udara. ―Biarkan kami menjadi saksi dan menanggung dosa atas pria ini.
Biarkan dia mati.‖
Melihat sekeliling yang semakin ribut, aku segera berteriak kembali, ―Hai
saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku
dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku sesungguhnya aku mengharap akan roh
dan kebangkitan orang mati.‖
Ketika aku berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan
orang-orang Saduki di antara mereka. Orang banyak itu segera terbagi-bagi
dalam keributan. Karena itu adalah perkara di antara mereka imam-imam yang
tidak pernah selesai meski sudah melewati ratusan tahun.
Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak
ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya. Aku
melihat orang-orang Saduki yang berteriak, ―Tidak ada kebangkitan, tidak ada
roh. Hukum mati orang Farisi itu!‖
Orang Farisi segera tersinggung dan berteriak, ―Roh dan Kebangkitan itu ada,
Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Orang
Sadukilah yang harus di hukum mati!‖
565
Kedua pihak segera saling berteriak-teriak. Dalam sekejap maka terjadilah
keributan besar dan mereka sudah terlihat saling dorong dan tolak menolak.
Melihat kejadian itu, kepala pasukan terlihat memerintahkan agar para
prajuritnya menangkapku. Aku melihat para prajurit itu masuk ke tengah-tengah
kerumunan dan membawaku keluar sambil berdesak-desakan.
Dia membawaku ke dalam markas prajurit Roma dan menyuruh prajuritnya
untuk memeriksaku.
―Siksa saja dia jika dia tidak mau mengakui apa yang sudah ia katakan pada
ribuan orang itu sehingga membuat mereka bertengkar di antara sesamanya,‖ kata
kepala pasukan. Aku segera ditelentangkan untuk dicambuk.
Lalu berkatalah aku kepada perwira yang bertugas, "Bolehkah kamu menyiksa
seorang warganegara Roma, apalagi tanpa diadili?"
Mendengar perkataan itu, perwira tersebut tidak jadi menjatuhkan cambuknya
padaku. Ia pergi melaporkan kepada kepala pasukan.
Maka datanglah kepala pasukan itu kepadaku dengan terkejut dan berkata,
"Katakanlah, benarkah engkau warganegara Roma?"
"Benar," kataku.
Kepala pasukan itu melototkan matanya dan berkata, ―Aku orang Roma dan
kewarganegaraan ini kubeli dengan harga yang mahal. Bagaimana mungkin
kamu adalah orang Roma?"
566
"Kamu membelinya, tetapi aku mempunyai hak itu karena kelahiranku," kataku
tanpa kenal takut. ―Pontius Pilatus, mantan gubernur tempat ini adalah pamanku.
Jika kamu tidak percaya. Carilah seorang pejabat tua dari gedung gubernur dan
katakan pada mereka namaku Saul. Aku pernah menjadi kepala pasukan khusus
di sana.‖
Maka mereka segera mundur dariku dan kepala pasukan itu juga terlihat takut. Ia
terlihat berbicara dengan seorang prajurit dan prajurit itu kemudian berlari pergi.
Tak lama kemudian, sekitar setengah jam berlalu, datanglah prajurit itu dengan
wajah pucat bersama seorang wanita Roma yang sudah tua dan di sampingnya
terlihat seorang anak muda.
―Saul,‖ teriak wanita itu menatapku.
―Bernice saudaraku,‖ sahutku tidak menyangka akan menemukan dirinya.
Bernice adalah putri dari Pontius Pilatus dari istri ketiganya yang merupakan
orang Yahudi. Dia adalah sepupuku.
Bernice segera berbicara dengan kepala pasukan dan kepala pasukan itu dengan
wajah pucat menatapku.
―Lepaskan talinya dan bebaskan dia,‖ sahut kepala pasukan itu.
―Tidak,‖ jawabku segera mengejutkan mereka semua. ―Kepala pasukan, jika
kamu membebaskanku sekarang, seluruh Yerusalem akan kembali ribut dan aku
akan mereka arak di jalanan. Biarkan aku tetap di sini. Katakan pada mereka jika
aku sedang engkau penjara.‖
567
Kepala pasukan itu mengetahui maksudku dan memanggil seorang prajuritnya,
―Tempatkan di dalam penjara dan perlakukan dia dengan baik.‖
Bernice dan putranya, Aesop diizinkan untuk menemaniku di penjara dan kami
berbicara panjang lebar. Pontius Pilatus, ayahnya telah menetap di Roma, dia
sendiri di Yerusalem memiliki usaha perdagangan pengiriman barang-barang ke
Roma dan seluruh Eropa. Dari dia juga aku mendapat kabar jika ayah dan ibu
kandungku sudah kembali ke Roma, masa penugasan mereka di Mesir telah lama
berakhir dan mereka menetap di sana.
Pada malam harinya datanglah Betsaida dan Lukas ke dalam penjara. Kepala
penjara mengizinkan mereka untuk masuk. Keduanya menatapku dengan wajah
sedih dan was-was, ―Saudaraku,‖ kataku pada mereka. ―Janganlah risau, sebab
aku tidak akan mengalami musibah apa pun karena Tuhan bersamaku. Tuhan
sendiri telah mengutus aku agar dapat bersaksi di depan Bait Allah.‖
Mereka berlutut dan berdoa bersamaku. Aku melihat air mata Betsaida mengalir
jatuh.
***
Keesokan harinya, di bawah terik matahari yang panas, terlihat empat puluh
orang-orang Yahudi yang berkumpul. Mereka mengucapkan sumpah serapah.
Mereka bahkan mengutuk diri mereka sendiri.
―Aku bukanlah manusia jika tidak dapat membunuh Saul itu. Saudaraku mati di
tangan dia.‖
568
Yang lain segera menambahkan, ―Aku tidak akan makan dan minum selama dia
masih bernapas.‖ Maka ramailah orang-orang itu bersumpah.
Setelah menyatakan tekad mereka, keempat puluh orang itu pergi kepada imamimam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi.
Seorang pemimpin dari mereka
berkata, "Kami telah bersumpah dengan mengutuk diri, bahwa kami tidak akan
makan atau minum, sebelum kami membunuh Paulus.
Karena itu hendaklah kamu bersama-sama dengan Mahkamah Agama
menganjurkan kepada kepala pasukan, supaya ia menghadapkan Paulus kepada
kamu, seolah-olah kamu hendak memeriksa perkaranya lebih teliti, dan
sementara itu kami sudah siap sedia untuk membunuh dia sebelum ia sampai
kepada kamu."
***
Siang itu, Aesop mendadak datang mengunjungiku di penjara, ―Paman,‖ katanya
dengan cemas dan wajahnya pucat. ―Mereka merencanakan untuk membunuh
paman.‖
―Siapa mereka?‖ tanyaku.
―Orang-orang Yahudi di pasar, mereka berkumpul dan mencari orang yang ingin
membalas dendam padamu.‖ Aesop kemudian menceritakan apa yang dia dengar
dari pasar.
569
Aku segera memanggil salah seorang perwira dan berkata kepadanya, "Bawalah
anak ini kepada kepala pasukan, karena ada sesuatu yang perlu diberitahukan
kepadanya."
Aku melihat perwira itu membawa Aesop pergi dan aku berharap semoga
semuanya dapat berakhir dengan baik.
***
Perwira itu membawa Aesop kepada kepala pasukan dan berkata, "Paulus orang
tahanan itu, memanggil aku dan meminta, supaya aku membawa anak muda ini
kepadamu, sebab ada yang perlu diberitahukannya kepadamu."
Maka kepala pasukan segera berlaku sopan. Ia memegang tangan anak muda itu,
lalu membawanya ke samping dan bertanya, "Apakah yang perlu kauberitahukan
kepadaku?"
Jawabnya, "Orang-orang Yahudi telah bersepakat untuk meminta kepadamu,
supaya besok engkau menghadapkan Paulus lagi ke Mahkamah Agama, seolaholah Mahkamah itu mau memperoleh keterangan yang lebih teliti daripadanya.
Akan tetapi, janganlah engkau mendengarkan mereka, sebab lebih daripada
empat puluh orang dari mereka telah siap untuk menghadang dia. Mereka telah
bersumpah dengan mengutuk diri, bahwa mereka tidak akan makan atau minum,
sebelum mereka membunuh dia; sekarang mereka telah siap sedia dan hanya
menantikan keputusanmu."
570
Lalu kepala pasukan menyuruh Aesop pulang dan memerintahkan kepadanya,
"Jangan katakan kepada siapa pun juga, bahwa engkau telah memberitahukan hal
ini kepadaku."
Kemudian kepala pasukan memanggil dua perwira dan berkata, "Siapkan dua
ratus orang prajurit untuk berangkat ke Kaisarea beserta tujuh puluh orang
berkuda dan dua ratus orang bersenjata lembing, kira-kira pada jam sembilan
malam ini.
Sediakan juga beberapa kuda tunggang untuk Paulus dan bawalah dia dengan
selamat kepada wali negeri Feliks di Kaisarea."
Dan ia menulis surat, yang isinya sebagai berikut,
"Salam dari Klaudius Lisias kepada wali negeri Kaisarea, Feliks yang mulia.
Orang ini ditangkap oleh orang-orang Yahudi dan ketika mereka hendak
membunuhnya, aku datang dengan pasukan mencegahnya dan melepaskannya,
karena aku dengar, bahwa ia adalah warganegara Roma. Yang setelahnya aku
ketahui merupakan keponakan dari Pontius Pilatus yang masih memiliki
hubungan keluarga jauh dengan kekaisaran.
Untuk mengetahui apa alasannya mereka mendakwa dia, aku menghadapkannya
ke Mahkamah Agama mereka. Ternyata setelah sidang itu, ia didakwa karena
soal-soal hukum Taurat mereka, tetapi tidak ada tuduhan, atas mana ia patut
dihukum mati atau dipenjarakan.
571
Kepadaku telah diberitahukan, bahwa ada komplotan merencanakan membunuh
dia. Karena itu aku segera menyuruh membawa dia kepadamu, sedang kepada
para pendakwa telah kuberitahukan, bahwa mereka harus mengajukan perkara itu
kepadamu. Sebab jika dia mati di tempat ini, kami akan mendapatkan celaka dari
Kaisar Roma dan jika aku membebaskannya, orang-orang Yahudi di sini akan
memberontak dan menyerang prajurit Roma."
***
Malam itu, beberapa perwira dengan sopan membawaku menemui kepala
pasukan yang bernama Klaudius Lisias itu. ―Paulus,‖ katanya, ―Aku akan
menitipkan kamu ke Kaisarea agar tangan-tangan orang Yahudi itu tidak
mencapaimu.‖
Aku mengucapkan terima kasih padanya dan menunggang kuda pemberiannya.
Para prajurit lengkap mengelilingiku untuk mencegah hal buruk terjadi padaku.
Mereka membawaku pada tengah malam hingga ke Antipatris yang berjarak 20
kilometer dari Yerusalem. Kami menginap di sana semalaman.
Pada pagi harinya, dari tempat itu, para prajurit pejalan kaki kembali ke
Yerusalem dan para prajurit berkuda menemaniku ke Kaisarea.
Setibanya di Kaisarea kepala prajurit berkuda menyampaikan surat kepada wali
negeri serta menyerahkanku kepadanya.
Setelah membaca surat itu, wali negeri yang bernama Feliks menanyakan padaku,
―Siapakah orang tuamu?‖
572
Aku segera menjawabnya. Feliks tampaknya mengenal beberapa saudaraku dan
berkata, "Aku akan memeriksa perkaramu, bila para pendakwamu juga telah tiba
di sini."
Lalu ia menyuruh perwiranya untuk membawaku ke salah satu wilayah dekat
istana Herodes di Kaisarea. Mereka memberikanku sebuah rumah kecil yang
merupakan rumah bagi para tamu dari Roma untuk Raja Herodes. Tempat itu
nyaman dan berada di dalam lingkungan penjagaan sehingga tidak sembarang
orang dapat masuk.
***
Lima hari kemudian seorang prajurit datang memanggilku. Ia berkata jika telah
datang Imam Besar Ananias bersama-sama dengan beberapa orang tua-tua dan
seorang pengacara bernama Tertulus. Mereka menghadap wali negeri dan
menyampaikan dakwaan mereka terhadapku.
Aku dipanggil menghadap ke ruang sidang dan Tertulus mulai mendakwaku,
katanya, "Feliks yang mulia, oleh usahamu kami terus-menerus menikmati
kesejahteraan, dan oleh kebijaksanaanmu banyak sekali perbaikan yang telah
terlaksana untuk bangsa kami.‖
Aku dapat melihat mulut manisnya seindah pakaian yang dia kenakan. Tertulus
melanjutkan, ―Semuanya itu senantiasa dan di mana-mana kami sambut dengan
sangat berterima kasih. Akan tetapi supaya jangan terlalu banyak menghabiskan
573
waktumu, aku minta, supaya engkau mendengarkan kami sebentar dengan
kemurahan hatimu yang terkenal itu.‖
Tertulus melihatku dengan tatapan sangar, ―Telah nyata kepada kami, bahwa
orang ini adalah penyakit sampar, seorang yang menimbulkan kekacauan di
antara semua orang Yahudi di seluruh dunia yang beradab, dan bahwa ia adalah
seorang tokoh dari sekte yang melanggar hukum Taurat.
Malahan ia juga mencoba melanggar kekudusan Bait Allah. Oleh karena itu kami
menangkap dia dan hendak menghakiminya menurut hukum Taurat kami. Tetapi
kepala pasukan Lisias datang mencegahnya dan merebut dia dengan kekerasan
dari tangan kami, lalu menyuruh para pendakwa datang menghadap engkau. Jika
engkau sendiri memeriksa dia, dapatlah engkau mengetahui segala sesuatu yang
kami tuduhkan kepadanya."
Feliks terus mendengarkan dakwaan itu dan juga saksi-saksi orang-orang Yahudi
menyokong dakwaan itu dengan mengatakan, bahwa perkara itu sungguh
demikian. Mataku melirik sekeliling dan hendak mencari keempat puluh orang
yang telah bersumpah untuk tidak makan dan minum sebelum aku mati. Mereka
mungkin sudah tewas jika nekad memenuhi sumpah mereka.
Lalu wali negeri itu memberi isyarat kepadaku, bahwa aku boleh berbicara. Maka
aku berkata, "Aku tahu, bahwa sudah bertahun-tahun lamanya engkau menjadi
hakim atas bangsa ini. Karena itu tanpa ragu-ragu aku membela perkaraku ini di
hadapanmu,
574
Engkau dapat memastikan, bahwa tidak lebih dari dua belas hari yang lalu aku
datang ke Yerusalem untuk beribadah. Dan tidak pernah orang mendapati aku
sedang bertengkar dengan seseorang atau mengadakan huru-hara, baik di dalam
Bait Allah, maupun di dalam rumah ibadat, atau di tempat lain di kota.
Dan mereka tidak dapat membuktikan kepadamu apa yang sekarang dituduhkan
mereka kepada diriku. Tetapi aku mengakui kepadamu, bahwa aku berbakti
kepada Allah nenek moyang kami dengan menganut Jalan Tuhan, yaitu Jalan
yang mereka sebut sekte. Aku percaya kepada segala sesuatu yang ada tertulis
dalam hukum Taurat dan dalam kitab nabi-nabi.
Aku menaruh pengharapan kepada Allah, sama seperti mereka juga, bahwa akan
ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orangorang yang tidak benar. Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan
hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.
Dan setelah beberapa tahun lamanya aku datang kembali ke Yerusalem untuk
membawa pemberian bagi bangsaku dan untuk mempersembahkan persembahanpersembahan. Sementara aku melakukan semuanya itu, aku di dalam Bait Allah,
untuk mentahirkan diriku, tanpa orang banyak dan tanpa keributan. Saat aku
hendak keluar, beberapa orang Yahudi segera menuduhku dengan alasan tidak
jelas dan tanpa bukti. Aku menjadi takut dan bersembunyi dalam Bait Allah
selama tujuh hari.
Merekalah yang sebenarnya harus menghadap engkau di sini dan mengajukan
dakwaan mereka, jika mereka mempunyai sesuatu terhadap aku. Namun biarlah
575
orang-orang yang hadir di sini sekarang menyatakan kejahatan apakah yang
mereka dapati dariku dan pelanggaran apa yang sudah aku lakukan di dalam Bait
Allah.‖
Terdiamlah semua orang di sana. Tertulus menatap pada para imam besar dan
tidak ada dari mereka yang dapat mengatakan apa pun.
Tertulus akhirnya berdiri dan berkata, ―Yang Mulia, dia telah menodai Bait Suci
dengan membawa orang dari bangsa lain untuk memasuki Bait Suci Allah.‖
―Tertulus,‖ kataku. ―Jika itu dakwaanmu, siapakah yang aku bawa masuk?
Siapakah orangnya? Siapakah saksi yang melihatku membawa mereka masuk,
orang-orang yang menurutmu tidak berkenan di hadapan Tuhan? Karena tentunya
aku dipersalahkan karena membawa orang yang tidak diperkenankan Tuhan dan
bukan bangsa-bangsa lain seperti Yang Mulia Feliks ini, bukan?‖
Aku tahu, jika Tertulus nekad mengatakan aku membawa bangsa-bangsa lain
yang tidak diperkenankan oleh Tuhan, maka Yang Mulia Feliks yang berasal dari
bangsa Roma tentu akan tersinggung dan marah.
Tertulus tidak berani mendesakku lebih dari itu, karena takut menyinggung Yang
Mulia Feliks. Karena dia juga tidak memiliki saksi atau bukti apapun, ia segera
melanjutkan, ―Jika kamu tidak membawa orang-orang yang tidak diperkenankan
Tuhan ke dalam Bait Suci Allah, mengapa engkau bersembunyi di dalamnya
selama Tujuh hari dan menyebabkan keributan di dalam Bait Allah‖
576
Aku segera membela diri, ―Sahabatku Tertulus, aku adalah seorang Farisi, ahli
Taurat dan juga seorang imam dulunya, berada di dalam Bait Suci selama tujuh
hari adalah masa berpuasaku yang boleh dilakukan oleh para imam. Dan
keributan di dalam Bait Suci Allah bukanlah aku yang memulainya. Aku adalah
korbannya.‖
Maka terdiamlah semua orang di sana karena jelas mereka menuduh tapi tidak
memiliki bukti apa pun juga.
Aku segera melanjutkan, ―Atau mungkinkah karena satu-satunya perkataan yang
aku serukan, ketika aku berdiri di tengah-tengah mereka, yakni, Karena hal
kebangkitan orang-orang mati dan roh, karena ini aku dihadapkan kepada kamu?"
―Benar,‖ teriak seorang imam Saduki. ―Dia harus diperkarakan atas hal itu.‖
Seorang Imam Farisi segera berteriak, ―Tidak, dia tidak bersalah atas hal itu.‖
Kembali terjadi perpecahan di antara para imam dan Imam besar Ananias terlihat
tidak mampu mengendalikan mereka.
Feliks segera menangguhkan perkara ini. "Setibanya kepala pasukan Lisias di
sini, aku akan mengambil keputusan dalam perkaramu."
Nyatanya, dia tidak pernah lagi membuka sidang atas perkara itu. Ia tetap
membiarkanku tinggal di lingkungan istana Herodes karena beberapa hal.
Dia takut jika aku dibebaskan, maka aku akan dijadikan kambing hitam oleh
orang-orang Yahudi untuk memulai pemberontakan melawan kekuasaan Roma.
577
Atas dasar ketidakadilan pemerintahan Roma yang mendukungku atau tidak
menghargai keputusan imam besar Yahudi.
Selain itu juga, jika dia membebaskanku, orang-orang Yahudi juga sedang
menantikan pembebasanku dan ingin membunuhku. Ia tidak ingin aku celaka di
Kaisarea karena keluargaku yang merupakan orang Roma. Membebaskanku akan
memberikan dia kerugian besar. Oleh karenanya, ia membiarkanku tinggal
dengan nyaman di sebuah rumah sendiri dan mengatakan pada orang-orang jika
aku sedang terikat dan dipenjara dalam penjara yang kecil, kering dan kotor.
Ia juga mengizinkan saudara-saudara dari Kaisarea untuk menemuiku. Betsaida,
Lukas dan Timotius sering datang mengunjungiku. Terkadang, mereka membawa
beberapa orang murid untuk belajar bersama di tempatku.
Dan setelah beberapa hari datanglah Feliks bersama-sama dengan isterinya
Drusila, seorang Yahudi. Ia menyuruh seorang perwira untuk memanggilku
menghadapnya di istana Herodes. Di sana, dia meminta agar aku menjelaskannya
tentang Tuhan dan Kasih-Nya.
Setelah aku menjelaskan semuanya, Feliks terlihat menjadi takut dan berkata,
"Cukuplah dahulu dan pergilah sekarang; apabila ada kesempatan baik, aku akan
menyuruh orang memanggil engkau."
Setelah itu, ia sering memanggilku untuk bercakap-cakap. Dan beberapa kali
setelah mempelajari tentang Tuhan, dia menatapku dan berkata, ―Sesungguhnya,
membiarkan dirimu tinggal di sini menghabiskan beberapa keping dinar. Berbaik
578
hatilah untuk menggantinya.‖ Aku tahu tentu biaya hidupku tidaklah seberapa,
dia hanya menginginkan uang yang lebih besar.
Aku segera menuliskan surat dan menitipkan pada perwiranya untuk diberikan
pada Bernice di Yerusalem. Beberapa hari kemudian, datanglah Bernice padaku
dengan membawa sekantong penuh uang. Kami memberikannya pada Feliks dan
senyum di wajahnya langsung bertambah lebar.
Sesungguhnya, Tuhan sudah menyediakan semua solusi sebelum masalah apa
pun timbul. Meski selama di Tarsus dan melakukan perjalanan, aku serba
berkecukupan dari hasil merajut tenda, sesungguhnya dari kelahiranku yang di
tempatkan oleh Tuhan, aku memiliki banyak harta warisan. Orang tuaku
memiliki tanah di Mesir dan Roma, mereka membiarkan hamba-hambanya dan
saudara-saudara jauh untuk mengelolanya dan mendapatkan bayaran setiap
tahunnya. Bagian dari tanah milikku yang diberikan oelh orang tuaku padaku
juga selalu menghasilkan uang yang tidak pernah aku gunakan. Uang itu aku
titipkan pada saudara lainnya untuk dikelola sebagai usaha. Dan kali ini, aku
menggunakannya untuk kepentinganku.
Aku tinggal di Kaisarea selama dua tahun dan tetap mengajar, para imam besar
mungkin mengira jika mereka berhasil menahanku dalam penjara, sedangkan aku
berpikir Tuhan sedang melindungiku dari tangan-tangan mereka dan dunia yang
ingin membunuhku.
***
579
Sesudah genap dua tahun, Feliks digantikan oleh Perkius Festus, dan untuk
mengambil hati orang Yahudi. Tiga hari sesudah gubernur baru dari Roma ini
tiba di propinsi Kaisarea, berangkatlah Festus dari ke Yerusalem untuk
mengunjungi Raja Herodes Aggripa II yang menguasai Yerusalem dan orangorang penting di tempat itu.
Di situ imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi yang terkemuka, mengambil
kesempatan dengan datang menghadap dia. ―Yang Mulia Festus, serahkanlah
seorang bernama Saul atau Paulus pada kami. Karena dia adalah duri dalam
daging dan seorang tokoh jahat pelanggar hukum Taurat yang menjadi teladan
bagi semua pembangkang. Selama dia masih hidup, orang-orang akan mengikuti
jejaknya dan Tuhan akan murka dan menjatuhkan hukuman bagi kita semua.‖
Festus terlihat kurang nyaman dengan permintaan itu, maka ia berkata dengan
lembut, ―Biarlah aku akan membuka sidang untuknya saat aku pulang ke
Kaisarea. Karena tidak ada orang yang boleh dijatuhi hukuman tanpa
pengadilan.‖
Imam-imam besar dan orang-orang Yahudi itu segera berkata, ―Tidak, kami tidak
meminta agar dia dijatuhi hukuman. Kami hanya meminta agar dia dapat datang
ke
Yerusalem
untuk
meminta
maaf
pada
kami
dan
kami
dapat
membebaskannya.‖ Sebab mereka sedang membuat rencana untuk membunuh
Paulus di tengah jalan antara Kaisarea ke Yerusalem.
Tetapi Festus dengan bijak menjawab, ―Aku juga tidak dapat membebaskan dia
tanpa disidang terlebih dahulu. Dalam beberapa hari lagi, kunjunganku di
580
Yerusalem akan selesai. Karena itu baiklah orang-orang yang berwewenang di
antara kamu turut ke sana bersama-sama dengan aku dan mengajukan dakwaan
terhadap dia, jika ada kesalahannya."
Festus tinggal tidak lebih daripada delapan atau sepuluh hari di Yerusalem.
Sesudah itu ia pulang ke Kaisarea.
***
Pada suatu pagi, seorang perwira mendatangiku dan menyuruhku untuk pergi ke
ruang pengadilan menghadap, karena Yang Mulia Festus menggelar sidang atas
diriku.
Sesudah aku tiba di dalam ruangan pengadilan, semua orang Yahudi yang datang
dari Yerusalem berdiri mengelilingiku. Aku melihat wajah-wajah lama kembali.
Mereka tidak terlihat berubah, bahkan dari sekian banyak tuduhan berat
terhadapku, semua itu masih sama seperti dulu, tidak ada tuduhan yang dapat
mereka buktikan.
Yang menarik adalah ada sebuah tuduhan baru yang mengatakan aku berzinah
dan melakukan hubungan bebas dan tentu saja itu melanggar hukum Taurat. Tapi,
mereka juga tidak dapat membuktikan dasar tuduhan mereka dan juga
menunjukkan saksi atas kesalahan yang mereka limpahkan padaku. Dari hal itu,
aku dapat melihat jika namaku sungguh menjadi sangat buruk di pasar-pasar
Yerusalem.
581
―Apakah aku dituduh melanggar hukum Taurat karena aku orang Farisi dan
percaya pada Roh serta kebangkitan orang mati?‖ tanyaku memancing lagi.
Reaksi mereka masih seperti dulu, orang Saduki langsung tersurut keberaniannya
dan mengatakan, ―Iya benar, karena itu.‖ Imam Farisi segera memprotes, ―Bukan
karena itu.‖ Dan mereka segera ribut di antara sesamanya.
Benar-benar tidak ada yang berubah.
Aku menghadap pada Yang Mulia Festus. "Yang Mulia, aku sedikitpun tidak
bersalah, baik terhadap hukum Taurat orang Yahudi maupun terhadap Bait Allah
atau terhadap Kaisar."
Karena memang pengadilan itu tidak dapat menghadirkan seorang saksi pun,
maka dengan cepat pengadilan itu gugur.
Tetapi Festus yang terlihat hendak mengambil hati orang Yahudi, bertanya
padaku, "Jika seandainya kamu tidak bersalah, aku pasti akan membebaskanmu.
Tapi, apakah engkau bersedia pergi ke Yerusalem, supaya engkau dihakimi di
sana di hadapanku tentang perkara ini? Agar ada saksi-saksi di antara mereka
yang akan membuktikan tuduhan padamu?"
Aku melihat sesungguhnya jika waktuku di Kaisarea sudah habis. Aku harus
meninggalkan tempat ini untuk mengajar di tempat lain. Dan aku tahu aku punya
hak itu. "Aku sekarang berdiri di sini di hadapan pengadilan Kaisar dan di sinilah
aku harus dihakimi. Seperti engkau sendiri tahu benar-benar, sedikitpun aku tidak
berbuat salah terhadap orang Yahudi.
582
Jadi, jika aku benar-benar bersalah dan berbuat sesuatu kejahatan yang setimpal
dengan hukuman mati, aku rela mati, tetapi, jika apa yang mereka tuduhkan itu
terhadap aku ternyata tidak benar, tidak ada seorangpun yang berhak
menyerahkan aku sebagai suatu anugerah kepada mereka. Aku naik banding
kepada Kaisar!"
Hal itu membuat seisi ruangan menjadi gempar. Karena tidak ada orang Yahudi
yang dapat naik banding kepada Kaisar, kecuali daripada orang Roma sendiri dan
juga biasanya hanya pada orang-orang yang masih memiliki hubungan keluarga
atau pangkat dalam kerajaan Roma yang dapat melakukannya. Warganegara
Roma biasa hanya dapat naik banding pada pengadilan Roma pada beberapa
tingkatan. Kecuali mendapatkan izin dari berbagai pengadilan Roma, seorang
tidak dapat sembarangan naik banding pada Kaisar.
Tapi dari kelahiranku, aku memiliki hak itu.
Setelah berunding dengan anggota-anggota pengadilan, Festus yang sudah
mempelajari asal usul kelahiranku, segera memutuskan, "Engkau telah naik
banding kepada Kaisar, jadi engkau harus pergi menghadap Kaisar."
Seluruh isi sidang langsung gempar. Karena imam-imam besar serta orang
Yahudi mengetahui jika tangan mereka tidak lagi dapat menggapai di mana aku
berada. Tuhan telah menjauhkanku dari mereka dan menyediakan tempat baru
untukku.
***
583
Beberapa hari kemudian datanglah raja Herodes Agripa II yang disebut juga
Marcus Julius Agrippa II dengan saudara perempuannya yang bernama Julia
Berenice yang disebut juga Bernike, ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan
kehormatan kepada Festus.
Karena mereka beberapa hari lamanya tinggal di situ, Festus memaparkan
perkara Paulus kepada raja itu, katanya, "Di sini ada seorang tahanan yang
ditinggalkan Feliks pada waktu ia pergi. Ketika aku berada di Yerusalem, imamimam kepala dan tua-tua orang Yahudi mengajukan dakwaan terhadap orang itu
dan meminta supaya ia dihukum.
Aku menjawab mereka, bahwa bukanlah kebiasaan pada orang-orang Roma
untuk menyerahkan seorang terdakwa sebelum ia dihadapkan dengan orangorang yang menuduhnya dan diberi kesempatan untuk membela diri terhadap
tuduhan itu.
Karena itu mereka turut bersama-sama dengan aku ke mari. Pada keesokan
harinya aku segera mengadakan sidang pengadilan dan menyuruh menghadapkan
orang itu. Tetapi ketika para pendakwa berdiri di sekelilingnya, mereka tidak
mengajukan suatu tuduhan pun tentang perbuatan jahat seperti yang telah aku
duga.
Tetapi mereka hanya berselisih paham dengan dia tentang soal-soal agama
mereka. Karena aku ragu-ragu bagaimana aku harus memeriksa perkara-perkara
seperti itu, aku menanyakan apakah ia mau pergi ke Yerusalem, supaya
perkaranya dihakimi di situ.
584
Tetapi Paulus naik banding. Ia minta, supaya ia tinggal dalam tahanan dan
menunggu, sampai perkaranya diputuskan oleh Kaisar. Karena itu aku menyuruh
menahan dia sampai aku dapat mengirim dia kepada Kaisar."
Kata Agripa kepada Festus, "Aku ingin mendengar orang itu sendiri."
Jawab Festus, "Besok engkau akan mendengar dia."
Pada keesokan harinya datanglah Agripa dan Bernike dengan segala kebesaran
dan sesudah mereka masuk ruang pengadilan bersama-sama dengan kepalakepala pasukan dan orang-orang yang terkemuka dari kota itu, Festus memberi
perintah, supaya Paulus dihadapkan.
Festus berkata, "Ya raja Agripa serta semua yang hadir di sini bersama-sama
dengan kami. Lihatlah orang ini, yang dituduh oleh semua orang Yahudi, baik
yang di Yerusalem, maupun yang di sini. Mereka telah datang kepadaku dan
sambil berteriak-teriak mereka mengatakan, bahwa ia tidak boleh hidup lebih
lama.
Tetapi ternyata kepadaku, bahwa ia tidak berbuat sesuatupun yang setimpal
dengan hukuman mati dan karena ia naik banding kepada Kaisar, aku
memutuskan untuk mengirim dia menghadap Kaisar.
Tetapi tidak ada apa-apa yang pasti yang harus kutulis kepada Kaisar tentang dia.
Itulah sebabnya aku menghadapkan dia di sini kepada kamu semua, terutama
kepadamu, Raja Agripa, supaya, setelah diadakan pemeriksaan, aku dapat
menuliskan sesuatu.
585
Sebab pada hematku tidaklah wajar untuk mengirim seorang tahanan dengan
tidak menyatakan tuduhan-tuduhan yang diajukan terhadap dia."
―Baiklah,‖ kata Raja Agripa, ―bukalah sidang besok dan aku akan mencoba
mendengarkannya.‖
***
Sidang kembali digelar dan setelah kehadiranku di sana, aku dapat melihat Raja
Herodes Agrippa II ikut mendengarkan bersama Festus dan imam-imam besar
lainnya yang mengikut pada Raja Agrippa.
Aku sadar, hanya karena kuasa Tuhanlah aku diminta untuk mengabarkan
mengenai-Nya pada raja ini.
Kata Agripa kepadaku "Engkau diberi kesempatan untuk membela diri."
"Ya raja Agripa, aku merasa berbahagia,‖ kataku, ―karena pada hari ini aku
diperkenankan untuk memberi pertanggungan jawab di hadapanmu terhadap
segala tuduhan yang diajukan orang-orang Yahudi terhadap diriku, terutama
karena engkau tahu benar-benar adat istiadat dan persoalan orang Yahudi. Sebab
itu aku minta kepadamu, supaya engkau mendengarkan aku dengan sabar.
Semua orang Yahudi mengetahui jalan hidupku sejak masa mudaku, sebab dari
semula aku hidup di tengah-tengah bangsaku di Yerusalem. Sudah lama mereka
mengenal aku dan sekiranya mereka mau, mereka dapat memberi kesaksian,
bahwa aku telah hidup sebagai seorang Farisi menurut mazhab yang paling keras
dalam agama kita.‖
586
Aku kembali menceritakan seluruh kehidupanku dari saat menyiksa mereka,
hingga dipanggil Tuhan, bertobat dan memiliki iman pada Tuhan dan Kasih-Nya.
―Sebab itu,‖ lanjutku. ―Aku bertahun-tahun mengajar supaya mereka oleh iman
mereka kepada Tuhan dapat memperoleh pengampunan dosa dan mendapat
bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang yang dikuduskan.
Sebab itu, ya Raja Agripa, kepada penglihatan yang dari surga itu yang telah
menyadarkanku, tidak pernah aku tidak taat.
Mula-mula aku memberitakan kepada orang-orang Yahudi di Damsyik, di
Yerusalem dan di seluruh tanah Yudea, dan juga kepada bangsa-bangsa lain,
bahwa mereka harus bertobat dan berbalik kepada Allah serta melakukan
pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan pertobatan itu.
Karena itulah orang-orang Yahudi menangkap aku di Bait Allah, dan mencoba
membunuh aku. Tetapi oleh pertolongan Allah aku dapat hidup sampai sekarang
dan memberi kesaksian kepada orang-orang kecil dan orang-orang besar. Dan apa
yang kuberitakan itu tidak lain daripada yang sebelumnya telah diberitahukan
oleh para nabi dan juga oleh Musa, yaitu, Ia akan memberitakan terang kepada
bangsa ini dan kepada bangsa-bangsa lain.
Sementara aku mengemukakan semuanya itu untuk mempertanggungjawabkan
pekerjaanku, berkatalah Festus dengan suara keras, "Engkau gila, Paulus!
Ilmumu yang banyak itu membuat engkau gila." Aku tahu Festus adalah
penyembah dewa dan tidak memahami tentang ajaran Tuhan.
587
Tetapi aku menjawab, "Aku tidak gila, Festus yang mulia! Aku mengatakan
kebenaran dengan pikiran yang sehat! Raja juga tahu tentang segala perkara ini,
sebab itu aku berani berbicara terus terang kepadanya. Aku yakin, bahwa tidak
ada sesuatupun dari semuanya ini yang belum didengarnya, karena perkara ini
tidak terjadi di tempat yang terpencil.
Percayakah engkau, raja Agripa, kepada Tuhan dan Kasih-Nya yang Maha
Mengampuni?"
Jawab Agripa, "Hampir-hampir saja kauyakinkan aku."
Lalu aku menatap mereka dengan mata teduh dan berkata, "Aku mau berdoa
kepada Allah, supaya bukan hanya engkau saja, tetapi semua orang lain yang
hadir di sini dan yang mendengarkan perkataanku, agar menjadi sama seperti aku.
Dapat mengenal Tuhan yang sesungguhnya di luar pikiran dan tafsiran. Berada di
dalam Kasih-Nya dan beroleh kedamaian serta pengampunan dosa. Kecuali
belenggu-belenggu ini."
Lalu bangkitlah raja Agrippa II dan wali negeri Festus serta Bernike untuk
meninggalkan ruangan pengadilan.
Semua orang yang duduk bersama-sama
mereka juga mengikuti hal itu.
***
Kata Agripa kepada Festus, "Orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan
sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar."
588
BAB 23
PERJALANAN KE ROMA
Tahun 60 M
Setelah diputuskan oleh Festus, bahwa aku akan naik banding ke Kaisar. Mereka
mengatur perjalananku akan ke Italia, bersama dengan beberapa orang tahanan
lain dan budak untuk dikirim ke Roma.
Yang bertanggung jawab atas pelayaran itu adalah seorang perwira yang bernama
Yulius dari pasukan khusus Kaisar. Mereka memperlakukanku dengan baik dan
mengizinkanku untuk membawa serta Lukas dan juga Betsaida. Lukas
menyatakan dirinya untuk siap menemaniku hingga ke Roma dan begitu juga
Betsaida, gadis itu ternyata lebih memiliki tekad daripada yang kukira. Pada saat
menit-menit terakhir hendak berangkat, Aristarkhus, seorang Makedonia dari
Tesalonika, mendadak bertekad untuk menyertai kami.
Kami naik ke sebuah kapal dari Adramitium yang akan berangkat ke pelabuhanpelabuhan di sepanjang pantai Asia kecil dari Kaisarea. Pada keesokan harinya
kami singgah di kota pelabuhan Sidon yang berjarak 80 kilometer dari Kaisarea.
Yulius memperlakukanku dengan ramah. Meski statusku tahanan, mereka tidak
meletakkanku ke dalam penjara kapal seperti para tahanan dan budak. Aku
589
memiliki tempatku sendiri dan diperbolehkan mengunjungi Lukas, Betsaida, dan
Aristarkhus untuk makan ataupun hal lainnya.
Oleh karena angin sakal atau angin yang berhembus berlawanan dengan arah
kapal, kami tidak dapat memasuki lautan lepas dan terpaksa berlayar menyusur
tepi pantai Pulau Siprus sejauh 1.400 kilometer.
Dan setelah mengarungi laut di depan wilayah Kilikia tempat kota Tarsus berada
dan wilayah Pamfilia tempat Ikonium dan Derbe berada, sampailah kami di kota
pelabuhan Mira, di wilayah Likia.
Di situ Yulius, perwira kami menemukan sebuah kapal dari Aleksandria yang
hendak berlayar ke Italia. Ia memindahkan kami ke kapal besar itu. Kapal itu
adalah kapal yang besar dan ada sekitar dua ratusan penumpang di atasnya.
Selama beberapa hari berlayar, kami hampir-hampir tidak maju. Karena arah
angin terus mendorong layar perahu kami ke arah lain. Dan dengan susah payah,
kami baru berhasil mendekati kota pelabuhan bernama Knidus yang berjarak 300
kilometer.
Karena angin tetap tidak baik, kami menyusur sepanjang pantai Pulau Kreta
melewati tanjung Salmone yang berjarak 240 kilometer dari kota Knidus.
Sesudah kami dengan susah payah melewati tanjung itu, sekitar 200 kilometer
lagi, kami tiba di sebuah tempat bernama Pelabuhan Indah, dekat kota Lasea
pada Pulau Kreta.
590
Setibanya di pelabuhan itu, aku melihat arah angin dan mendadak hatiku menjadi
terbuka lebar dan terasa hangat. Kasih Tuhan bekerja pada hatiku dan
memberikanku gambaran-gambaran yang akan terjadi seandainya kami tetap
melanjutkan perjalanan.
Aku pergi menghadap Yulius dan berkata, ―Sudah banyak waktu yang hilang
dalam perjalanan. Musim sudah berganti menjadi musim dingin dan sudah
berbahaya untuk melanjutkan pelayaran. Aku lihat, bahwa pelayaran kita akan
mendatangkan kesukaran-kesukaran dan kerugian besar, bukan saja bagi muatan
dan kapal, tetapi juga bagi nyawa kita."
Yulius segera mencari jurumudi dan nakhoda. Mereka dengan cepat mencemoh
ucapan itu dan berkata, ―Kami sudah hidup di lautan selama puluhan tahun.
Udara seperti ini hanyalah hal kecil bagi kami. Kita masih dapat melanjutkan
perjalanan. Setidaknya, sebelum musim dingin pertama tiba, kita dapat sampai ke
kota pelabuhan Feniks yang hanya berjarak sekitar 200 kilometer dari tempat
ini.‖
Karena ada beberapa orang yang setuju padaku dan juga ada yang tidak setuju,
maka kemudian diambillah suara terbanyak. Yang pada akhirnya, mereka
memutuskan untuk terus melakukan pelayaran sebab kota pelabuhan ini menurut
mereka tidak baik untuk ditinggali selama musim dingin, maka kebanyakan dari
mereka lebih setuju untuk berlayar terus dan mencoba mencapai kota Feniks
untuk tinggal di situ selama musim dingin.
591
Kota Feniks adalah sebuah kota pelabuhan yang masih berada di Pulau Kreta.
Kota yang berjarak 200 kilometer ke arah barat dari kota pelabuhan kami, terbuka
ke arah barat daya dan ke arah barat laut menuju lautan bebas.
Kami melanjutkan perjalanan dan keesokan harinya, angin sepoi-sepoi bertiup
dari selatan sehingga membantu kapal kami untuk merapat pada tepi pantai Pulau
Kreta. Jurumudi dan nakhoda terlihat senang. Dengan demikian mereka akan
segera tiba di kota Feniks.
―Turunkan jangkar,‖ teriak daripada nakhoda kapal bagi seluruh awak kapal saat
sudah mendekati kota Feniks. ―Turunkan sekoci kapal untuk mengantar tamu ke
kota Feniks.‖
Nakhoda kapal harus menurunkan kapal-kapal kecil dan sekoci karena wilayah
perairan sekitar sana memiliki benting atau batu-batuan menjorok yang dapat
menghancurkan lambung kapal jika berlayar terlalu dekat.
Saat beberapa sekoci diturunkan, mendadak angin sepoi-sepoi dari arah selatan
berubah. Angin bertiup sebaliknya dari arah utara dan timur laut. Angin yang
turun dari arah Pulau Kreta itu adalah angin badai, yang disebut angin "Timur
Laut".
Angin dahsyat itu dengan cepat menabrak kapal dan mengoyangkan seisinya.
Jangkar yang sudah dibongkar ke bagian bawah laut, tertarik sedemikian rupa
hingga kapal menjadi miring di dorong ombak dan angin badai. Beberapa benda
592
di atas kapal terlontar keluar dan orang-orang di atasnya mencoba berpegang
pada pinggiran kapal.
―Putuskan jangkar!!!!‖ teriak Nahkoda itu di antara suara badai. ―Kapal akan
terbalik jika kita tidak melakukannya.‖
Beberapa awak kapal terlihat berusah payah untuk menarik kembali jangkar yang
sudah tertancap dan dalam keadaan kapal miring. Yulius melihat hal itu dengan
merayap pada badan kapal yang miring, ia menghunuskan pedang dan menebas
tali jangkar tebal itu berkali-kali.
Pada saat tali terputus, kapal segera menjadi miring ke arah sebaliknya dan
melemparkan orang-orang di dalam kapal. Aku melihat Betsaida yang terseret di
atas kapal dan segera menangkapnya. Aku memeluknya dan tubuh kami jatuh ke
sisi kapal yang lain. Tubuhku menghantam kayu kapal dan rasa sakit menghujam
dalam tubuhku. Aku berharap tidak ada tulang yang patah.
Kapal yang terbebas dari jangkar itu, dengan cepat dilanda oleh angin badai dan
dibawa berputar-putar ke lautan bebas. Kapal kami terombang-ambing tanpa
tujuan. Di bawah angin badai, langit yang penuh awan gelap dan ombak mengila,
kami kehilangan arah cukup lama di lautan lepas.
Tak lama kemudian, kapal mendadak menabrak tepi pantai dan berhenti
bergoyang. Saat kami melihat keluar, kapal itu hanyut sampai di tepi pantai
sebuah pulau kecil bernama Kauda.
593
Memanfaatkan kempatan itu, nakhoda dan awak kapal segera menarik sekocisekoci kapal yang tadinya diturunkan dan masih terikat tali pada kapal utama.
Mereka menaikkan sekoci itu di atas kapal dan saat itu kapal mulai dihembus
angin badai untuk keluar dari pantai.
―Mengapa kita tidak turun ke pantai ini?‖ tanya Yulius pada nahkoda kapal.
Nahkoda dengan cepat berkata, ―Pulau ini akan terbenam oleh air saat badai dan
malam tiba. Kita tidak akan selamat di tempat ini. Satu satunya cara untuk
selamat adalah bertahan di dalam kapal.‖
Yulius masih hendak protes tapi nahkoda segera berteriak pada semua orang,
―Ikat tubuh kalian pada tiang kapal atau pinggiran kapal. Jangan biarkan diri
kalian terlempar oleh kapal dan badai.
Aku segera mencari tali dan mengikat tubuhku serta tubuh Betsaida pada sebuah
tiang kapal. Aku dapat melihat beberapa orang sudah terluka karena digoyanggoyang dalam kapal dan menghajar pinggiran kapal. Selain itu, beberapa muatan
dalam kapal juga bergerak bebas di atas kapal dan menghantam siapa pun yang
sedang tidak beruntung. Aku dapat melihat beberapa awak kapal mencoba
mengikat muatan-muatan itu agar tidak bergerak bebas.
Kini, layar sudah sepenuhnya diturunkan karena mereka takut angin badai
menyambar layar dan mematahkan tiang kapal. Lagi pula nahkoda mengira jika
di sekitar itu adalah wilayah beting Sirtis. Jika mereka melewati tempat itu
594
dengan cepat, batu-batuan akan mengoyak lambung kapal dan membuat mereka
terdampar.
Karena itu, di tengah lautan yang badainya masih mengamuk. Kapal kami
bergerak miring dari sisi lain ke sisi lainnya. Dari depan ke belakang dan kapal
berputar-putar dipermainkan ombak dan angin.
Kami dipermainkan selama satu harian dan keesokan harinya, angin badai sedikit
menjadi tenang. Meski langit masih gelap dan tidak kelihatan apa pun, nakhoda
memerintahkan untuk membuang semua muatan ke luar kapal.
―Mengapa demikian?‖ protes Yulis.
―Muatan-muatan dalam kapal sudah tidak dapat diikat lagi, semua benda itu
bergerak menghantam lambung kapal dan pinggiran kapal. Meski tidak ada orang
yang mati terkena hantaman muatan, tapi lambung kapal akan segera robek dari
dalam terkena benda-benda itu jika badai terus berlanjut!‖
Semua orang pria dan wanita langsung bahu membahu membuang semua muatan
kapal yang berisi buah-buahan, pakaian, kotak-kotak kayu dan sebagainya. Saat
angin badai kembali berhembus keras, kami kembali mengikat tubuh kami pada
tiang-tiang kapal.
Betsaida menatapku dengan wajah cema, ―Apakah kita akan baik-baik saja?‖
―Semuanya terserah pada Tuhan,‖ sahutku memeluknya. Kapal kembali bergerak
miring diterjang oleh badai dan Betsaida berteriak keras.
595
Pada hari kedua, badai tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti.
Kebanyakan dari mereka sudah mabuk laut dan muntah. Tali yang mengikat pada
badanku sudah membuat lecet kulit. Namun badai masih dengan ganas
mempermainkan kami.
Dan pada hari yang ketiga, angin badai menjadi tenang sejenak. Nakhoda kapal
dengan cepat menyuruh semua awak-awak kapal untuk membuang alat-alat
kapal. Beberapa perkakas dan benda itu sudah mulai menghancurkan lambung
kapal. Maka mereka membuang semuanya dengan tangan mereka sendiri.
Setelah beberapa hari lamanya baik matahari maupun bintang-bintang tidak
kelihatan, dan angin badai yang dahsyat terus-menerus mengancam kami siang
dan malam, akhirnya putuslah segala harapan kami untuk dapat menyelamatkan
diri kami.
Malam itu, badai besar kembali terjadi. Semalaman lamanya, kapal diamuk
badai. Kali ini badai yang menyambar badan kapal teramat hebat. Kapal miring
dalam posisi yang sangat berbahaya.
Betsaida berteriak keras dan semua orang di sana mulai menyebut nama Tuhan
berkali-kali. Kapal terus menjadi semakin miring dan setiap saat kapal dapat
terbalik untuk menjatuhkan kami semua ke dalam lautan. Sungguh ini adalah
badai paling Dahsyat dan harapan dari beberapa orang telah putus.
Aku memeluk Betsaida dengan keras dan menutup mataku sambil berdoa,
―Tuhan terjadilah kehendak-Mu. Aku siap untuk semuanya.‖
596
Mendadak sekelilingku menjadi tenang. Tidak terdengar suara ombak atau pun
teriakan orang-orang. Aku perlahan membuka mata dan melihat sekeliling.
Semua benda berhenti bergerak. Orang-orang sedang membuka mulut tanpa
suara, air yang memercik berhenti di tengah udara dan kapal itu masih miring
pada posisinya yang hampir tegak lurus dengan permukaan laut.
Saat itu mendadak sebuah cahaya terlihat dari sampingku, aku melihat sesosok
tubuh manusia yang bercahaya dan menggantung di udara.
―Paulus,‖ katanya padaku. ―Janganlah takut, engkau masih memiliki tugas
menyelamatkan orang-orang di Roma dan menggenapi pertolongan Allah pada
mereka. Dan sesungguhnya oleh karunia Allah, maka semua orang yang ada
bersama-sama dengan engkau di kapal ini akan selamat karena engkau. Tapi,
jangan biarkan seorangpun memisahkan diri darimu karena mereka akan
mendapat celaka. Biarkan mereka semua di dalam Kasih Tuhan yang memancar
melaluimu, sehingga Tuhan dapat menyelamatkan kalian semua.‖
Setelah ia selesai berbicara, segera lenyaplah tubuh bercahaya itu dan teriakanteriakan kembali terdengar, air bergerak memercik dan kapal yang sudah miring,
kembali bergerak ke arah berlawanan. Kapal tersebut tidak terbalik namun masih
bergerak terombang-ambing.
Keesokan harinya, angin badai menjadi tenang meski awan masih gelap
menyembunyikan sinar matahari. Dan karena kami semua sudah beberapa
lamanya tidak makan, aku berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata,
597
"Saudara-saudara, jika sekiranya nasihatku dituruti, supaya kita jangan berlayar
dari Pulau Kreta, kita pasti terpelihara dari kesukaran dan kerugian ini!‖
―Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya
kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorang pun di antara kamu yang akan
binasa, kecuali kapal ini. Karena tadi malam seorang malaikat dari Allah, yaitu
dari Allah yang aku sembah sebagai milik-Nya, berdiri di sisiku, dan ia berkata,
Jangan takut, Paulus! Engkau harus menghadap Kaisar; dan sesungguhnya oleh
karunia Allah, maka semua orang di kapal ini akan selamat. Sebab itu
tabahkanlah hatimu dan saudara-saudaramu! Karena aku percaya kepada Allah,
bahwa semuanya pasti terjadi sama seperti yang dinyatakan kepadaku. Namun
kita harus mendamparkan kapal ini di salah satu pulau."
Malam yang keempat belas sudah tiba dan kami masih tetap terombang-ambing
di laut Adria. Wajah orang-orang sudah memperlihatkan keputus-asaan. Pada
Betsaida, Lukas dan lainnya, aku berkata, ―Iman lahir dari perbuatan dan tetap di
dalamnya saat terjadi bencana. Setelah melewati ini, iman kalian akan semakin
dikuatkan. Atau kalian dapat memilih untuk resah dan gelisah serta melemahkan
iman kalian.
Kira-kira tengah malam, terdengarlah suara-suara ribut-ribut. Aku terbangun dan
melihat anak-anak kapal yang sibuk berada di sudut kapal. Aku mendengar
mereka berkata, ―Kita sudah dekat dengan daratan.‖
Saat itu, aku melihat sekeliling yang gelap. Langit tidak berbulan mau pun
berbintang, kami tidak dapat melihat apa pun di depan kami selain kegelapan.
598
Lalu beberapa dari mereka mengulurkan batu duga, dan setelah batu menyentuh
dasar, ternyata air di situ dua puluh depa atau 37 meter dalamnya. Setelah kapal
maju sedikit, mereka memeriksa lagi dan ternyata lima belas depa atau 25,5
meter.
Semua orang menjadi semangat dan gembira. Kapal terus bergerak dan karena
takut, bahwa kapal akan terkandas di salah satu batu karang, nahkoda segera
memerintahkan awak kapal untuk membuang empat buah jangkar yang ada di
buritan.
Kami semua segera berharap langit cerah sehingga kami dapat melihat daratan.
Akan tetapi, beberapa anak-anak kapal dikuasai ketakutan dan ketidaksabaran.
Aku melihat beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik di antara sesama mereka
untuk meninggalkan kapal. Mereka menurunkan sekoci, dan berbuat seolah-olah
mereka hendak melabuhkan beberapa jangkar di haluan.
Aku melihat hal itu dan kuatir dengan keselamatan mereka. Dengan cepat aku
berkata kepada perwira dan prajurit-prajuritnya, "Jika mereka tidak tinggal di
kapal, kamu tidak mungkin selamat." Karena jika semua awak kapal
meninggalkan kapal, maka tidak ada yang akan dapat mengendalikan kapal jika
kami melihat daratan.
Yulius menghampiri awak kapal, ―Kalian tidak boleh meninggalkan kapal.‖
―Kami hanya memeriksa jangkar kapal.‖
599
―Turunlah tapi cukup dua orang, tidak boleh semuanya,‖ sahut Yulius dengan
kasar.
Saat itu awak-awak kapal menjadi ribut dan mereka saling ribut untuk menjadi
dua orang yang akan turun ke kapal. Melihat hal buruk itu dan awak kapal mulai
memukul di antara mereka, Yulius segera memerintahkan para prajuritnya,
―Putuskan tali sekoci!!‖
Lalu prajurit-prajurit segera menghunuskan pedang dan memotong tali sekoci.
Membuat sekoci itu hanyut. Para awak kapal segera terdiam dan hanya dapat
melihat bayang kapal yang menghilang dalam kegelapan.
Ketika hari menjadi terang dan semua orang sudah menunggu dalam
pengharapan, kami mencoba melihat sekeliling kami dalam cahaya matahari
pertama. Namun, apa yang kami lihat menghancurkan semua harapan.
Sejauh mata memandang, hanya terlihat lautan luas dan tidak terlihat satu daratan
pun. Beberapa orang wanita di sana segera menangis. Dan wajah-wajah para
awak kapal menjadi pucat. Jika mereka menuruti keinginan mereka kemarin
malam, mereka hanya akan hanyut di tengah lautan luas.
―Guru, bagaimana ini?‖ tanya Lukas yang melihat semua orang sudah kehilangan
harapan mereka. Menjelang siang hari, beberapa dari mereka sudah menolak
untuk makan.
―Apa artinya aku makan jika pada akhirnya kita semua akan mati,‖ teriak seorang
ibu muda yang membuat semua orang bersedih hati.
600
Aku segera berdiri di antara mereka, "Sudah empat belas hari lamanya kamu
menanti-nanti saja, menahan lapar dan tidak makan apa-apa. Karena itu aku
menasihati kamu, supaya kamu makan dahulu. Hal itu perlu untuk
keselamatanmu. Tidak seorang pun di antara kamu akan kehilangan sehelai pun
dari rambut kepalanya."
Beberapa orang menatapku dengan mata sayu mereka, seakan-akan ingin
menggantungkan hidup mereka dalam keyakinan dan kata-kataku akan
keselamatan mereka.
―Di dalam kata-kataku dan diriku tidak ada terdapat keselamatan. Hanya di dalam
Tuhan dan Kasih Tuhan kalian akan mendapatkan keselamatan. Oleh karenanya
milikilah iman kepada Tuhan,‖ sebutku. ―Karena sesungguhnya hanya Tuhan
yang Maha Kuasa dan Maha Pemberi, manusia hanyalah alatnya.‖
―Kami mau beriman pada-Nya, ajarilah kami,‖ kata seorang pria dengan
memeluk seorang putrinya dan seorang istrinya yang kurus dan pucat.
―Kalau begitu marilah kita makan terlebih dahulu untuk menguatkan diri,‖
sahutku.
―Tapi kita tidak punya makanan lagi,‖ kata seorang dari mereka. ―Semua bendabenda sudah dibuang, jika pun ada, sudah basah oleh air.‖
Betsaida mendekatiku dan menyerahkan sebuah roti kering. ―Guru, aku punya
roti yang kubuat dan kubungkus dalam kertas minyak untukmu. Tapi, cuma ini
yang aku miliki.‖
601
Aku menatap pada roti itu dan kemudian kepada mereka semua yang berkumpul.
Aku kemudian memegang roti tersebut dan kemudian mengucap syukur pada
Tuhan. Karena Dia-lah yang mencukupi kami. ―Datanglah mendekat dan ambilah
roti ini,‖ kataku pada mereka. ―Karena roti ini berisi Kasih Tuhan pada kita.‖
Aku memecah-mecah roti itu dan satu persatu mereka datang mendekat untuk
mendapatkan bagian dari roti tersebut. Mereka yang melihat roti yang kupecahpecahkan tiada habis-habisnya, menjadi penuh tanda tanya. Seluruh orang di atas
kapal itu berjumlah 276 dan mereka semua makan hingga kenyang.
Bahkan setelah mereka semua makan hingga kenyang, roti itu masih ada bersisa
satu karung gandum. Melihat kuasa dan kasih Tuhan itu, maka kuatlah hati
semua orang.
Kami berdoa bersama dan bernyanyi memuji nama Tuhan untuk menguatkan hati
sesama kami agar semakin beriman pada-Nya. Malam itu, semua orang tidur
dengan tenang.
Keesokan harinya, terbangunlah semua orang karena beberapa awak kapal
berteriak memanggil. Lumbung kapal sudah bocor dan mereka tidak memiliki
peralatan kapal untuk menambalnya. Air perlahan-lahan memasuki lumbung
kapal dan membuat kapal itu semakin turun ke dalam air.
Kembali, mereka semua menjadi gelisah, dan menatapku penuh harap.
Aku berdiri di antara mereka dan berkata, ―Sekali lagi kukatakan, aku tidak
memiliki kuasa apa pun. Pengharapan kalian padaku hanya akan jatuh dalam
602
lembah tak berdasar yang tidak akan menjawab apa pun selain kekecewaan. Tapi,
Allahku adalah nyata. Dia adalah sumber kasih yang tiada berkesudahan, Dia
tidak akan membiarkan makhluk ciptaannya beroleh kesusahan. Berimanlah
pada-Nya, biarkan dia menjadikan kasih-Nya nyata dalam hati dan hidup kalian.‖
Aku kembali melihat mereka semua yang sudah gelisah, ―Apakah masih ada
iman kalian kepada Tuhan!‖
Mereka semua melihatku dengan wajah bersungut-sungut dan penuh keraguan.
Iman memang tidak mudah timbul di dalam hati.
Betsaida, Lukas dan Aristarkhus melihatku dengan wajah gelisah. Mereka ingin
mengatakan jika mereka beriman tapi aku menggelengkan kepalaku agar mereka
tidak menjawab, sebab bagi orang-orang yang ada di tempat inilah iman harus
tumbuh.
―Aku percaya,‖ kata seseorang di tengah orang banyak itu. Membuat semua
orang melihat padanya. Seorang anak kecil yang baru berumur sekitar sepuluh
atau dua belas itu meninggalkan orang tuanya dan mendekatiku. ―Aku percaya
Tuhan akan menyelamatkan kita, bukankah guru berkata jika pada akhirnya kita
semua akan selamat dan hanya kapal ini akan hancur.‖
Aku menatap lurus pada kedua bola matanya yang bening. ―Benar,‖ kataku.
―Kapal ini akan segera hancur, itu berarti keselamatan pada kita semua akan
segera tiba,‖ katanya. ―Bukankah aku benar lagi?‖ tanyanya.
603
Anak kecil ini memang memiliki iman. Ia tidak hanya percaya tapi juga beriman
aku dapat merasakan kuasa yang memancar dari dirinya.
―Anakku,‖ kataku menyentuh pundaknya. ―Panjatlah tiang kapal ini dan katakan
apa yang kamu lihat dari atasnya.‖
Anak kecil itu dengan cekatan berlari ke arah tiang dan memanjat tangga dari
kayu. Semua orang menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman dan penuh
pengharapan. Setiap langkah dari anak muda itu sama sekali tidak menunjukkan
keraguan. Ia begitu dipenuhi dengan keyakinan hingga semua yang melihatnya
dapat menjadi yakin.
Saat ia tiba di atas tiang kapal dan berdiri pada tempat di mana awak kapal
biasanya memantau sekeliling kapal, ia melihat ke suatu tempat di kejauhan.
Semua orang memandangnya dalam hening. Tidak ada suara apa pun yang
terdengar di antara kami yang berjumlah dua ratusan.
Anak
itu
mendadak
berteriak,
―Daratannnn....
Aku
melihat
darataaannnnn.....!!!!!‖
Sorak sorak orang segera pecah dan air mata mengalir dari beberapa orang.
Mereka terisak dan berpelukan. Aku menatap anak kecil itu yang terus berteriak
hingga paru-parunya kering. Ia tampak tersenyum dan bahagia. Setiap orang yang
ada di dalam kasih Tuhan, sudah selayaknya untuk bahagia sepenuhnya.
604
Awak-awak kapal mulai sibuk, mereka mengembangkan layar agar kapal yang
sudah semakin tenggelam itu, dapat dengan cepat mencapai daratan yang masih
terlihat di kejauhan.
Angin bertipu mendorong kapal kami menuju ke sebuah suatu teluk yang rata
pantainya. Walaupun kami tidak mengenal daratan itu, kami memutuskan untuk
sedapat mungkin mendamparkan kapal di dekat tempat itu.
Semua orang melihat dengan harapan yang cerah, namun tak berapa jauh dari
daratan, kapal kami melanggar busung pasir atau batu yang menjorok, dan
terkandaslah kapal kami. Haluannya terpancang tidak dapat bergerak dan
buritannya hancur dipukul oleh gelombang yang hebat. Air mulai memenuhi
kapal dan semua orang berteriak-teriak.
Yulius menatap para tahanan dan budak-budak yang ingin melarikan diri. Dia
dengan diam-diam memerintahkan pada prajurit untuk membunuh mereka.
Karena jika mereka tiba di darat, semua orang-orang itu akan kabur.
Aku yang mengetahui maksudnya segera mendekatinya dan berkata, ―Jika kamu
harus membunuh para tahanan ini, kamu juga harus membunuhku. Karena
sesungguhnya aku juga berstatus tahanan.‖
―Aku,‖ kata Yulius menatapku dan kemudian dengan kesal menatap pada para
prajurit serta para tahanan. ―Para prajurit, tinggalkan pedangmu. Orang-orang
yang pandai berenang terjunlah lebih dahulu ke laut dan naik ke daratan. Yang
605
lain dapat menyusul dengan mempergunakan papan atau pecahan-pecahan kapal.
Air sangat dingin, jangan terlalu lama di dalam air, kalian akan mati kedinginan.‖
Kapal yang kami naiki semakin karam dan air laut yang dingin sudah memenuhi
kaki kami yang berada di atas kapal. Aku melihat beberapa orang mulai
menghancurkan pintu kapal, merobek papan dari kapal untuk digunakan sebagai
pelampung.
―Betsaida,‖ panggilku pada gadis itu. ―Apakah kamu bisa berenang?‖
Gadis itu tertawa dan berkata, ―aku tinggal tidak jauh dari laut. Aku dapat
berenang.‖
―Jika demikian pergilah terlebih dahulu bersama Lukas dan Aristarkhus mereka
sudah membawa papan bersama mereka.‖ Aku melihat mereka berdua sudah
memeluk papan bagi mereka.
―Bagaimana denganmu guru?‖ tanya Lukas yang mulai gelisah. Dia tidak tahu
cara berenang.
―Aku akan pergi terakhir, untuk memastikan tidak ada orang yang tertinggal. Aku
dapat berenang lebih baik darimu. Tenangkan hatimu.‖
Aku melihat anak-anak bersama orang tua mereka, beberapa orang sudah terlebih
dahulu berenang pergi dan kapal sudah tenggelam hingga hanya tersisa tiangnya.
Dengan cepat, aku berenang di atas lautan itu dengan memegang sepotong papan.
Air tersebut sangat dingin menyengat karena musim dingin telah tiba.
606
Dengan susah payah, aku berhasil mencapai pantai. Dengan pakaian yang basah
kuyup dan kedinginan, aku melihat semua dari kami yang berjumlah dua ratusan
tiba dengan selamat. Tidak ada yang tenggelam atau juga binasa.
Mereka semua kedinginan. Kami melihat beberapa orang penduduk setempat
yang terkejut melihat kedatangan kami. Mereka menyalakan sebuah api yang
sangat besar di tengah-tengah pantai. Dari mereka, kami mengetahui jika mereka
adalah para penduduk Pulau Malta. Pulau itu berjarak sekitar 2400 kilometer dari
Pulau Kreta tempat kami pertama kali terkena badai.
―Datanglah mendekat,‖ kata mereka yang sudah menyalakan api. Dalam sekejap
semua orang langsung menghampiri api tersebut. Hujan rintik-rintik telah turun
dan udara di sekeliling teramat sangat dingin. Kulit-kulit orang menjadi memutih.
Sebagian dari kami dan terutama para pria, mencari kayu-kayu bakar untuk
membesarkan api tersebut. Dalam hitungan menit, api itu menjadi besar dan
semua orang berkerumun di sekelilingnya.
Ketika aku memungut seberkas ranting-ranting dari atas pasir dan meletakkannya
di atas api, mendadak keluarlah seekor ular beludak dari dalam pasir. Ular itu
bersembunyi di dalam pasir selama musim dingin dan terbangun karena panasnya
api. Aku tidak menyangka kehadiran ular tersebut. Dengan cepat, ular itu
melompat untuk menyerangku, kedua taringnya menembus tanganku. Dan ular
tersebut menggantung pada lenganku.
607
Beberapa orang di sekelilingku yang melihat ular terpaut pada tanganku,
berteriak terkejut dan menghindar. Aku bahkan dapat mendengar beberapa orang
berbisik-bisik, ―Orang ini sudah pasti seorang pembunuh, sebab, meskipun ia
telah luput dari laut, ia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan."
Akan tetapi, aku hanya tersenyum dan mengibaskan ular itu ke dalam api. Pada
tanganku terlihat dua buah lubang bekas gigitan.
―Guru,‖ sahut Betsaida mendekatiku dengan cemas. Ia mencoba melihat
tanganku.
―Jangan kuatir,‖ kataku pada gadis itu dan juga Lukas yang mendekat dengan
ketakutan. ―Meski waktuku untuk hidup sebenarnya sudah habis, dan dunia sudah
memaksaku untuk keluar darinya, akan tetapi tidak ada dari semua itu yang dapat
melawanan Kehendak Tuhan agar aku tetap hidup. Semuanya terjadi menurut
Kehendak-Nya saja.‖ Aku pun duduk di sekeliling api unggun.
Beberapa penduduk lokal yang melihat kejadian itu berbisik di antara sesama
mereka. Tak lama kemudian, Lukas yang tadinya mencoba mencari obat untuk
menyembuhkanku kembali dengan tangan kosong.
―Guru,‖ kata Lukas dengan cemas. ―Para penduduk lokal ini mengatakan jika ular
tersebut sangat beracun. Beberapa orang sebelumnya pernah terkena bisa ular
tersebut dan langsung mati tidak sampai hitungan jam.‖
608
Lukas dengan cemas melihat tanganku. Aku juga merasa semua orang sedang
melihat padaku. Tentu saja banyak dari mereka yang menyangka, bahwa
tanganku akan bengkak atau aku akan rebah mati seketika itu juga.
Tetapi sesudah lama menanti-nanti, dan mereka tidak melihat apa pun yang
terjadi padaku. Para penduduk itu semakin banyak berbisik di antara mereka.
Mereka menatapku dengan tatapan kagum dan bahkan beberapa kata terdengar
dari mereka saat menatapku. ―Dewa,‖ itulah kata mereka.
Setelah lama beristirahat di bawah api, Yulius memutuskan untuk menemui
gubernur pulau ini yang bernama Publius. Dengan diantar oleh penduduk
setempat, ia meninggalkan kami dan para prajuritnya.
Sebelum malam tiba, ia kembali dengan beberapa orang dan seorang pria yang
terlihat seperti layaknya orang kaya.
―Atas kebaikan hati Gubernur Publius,‖ kata Yulius, ―beliau mengizinkan kita
untuk tinggal di tanahnya sebelum kita menemukan kapal berikutnya untuk
membawa kita.‖
Mendengar itu bersoraklah semua orang. Gubernur tersebut menjamu kami
dengan ramah. Tiga hari kemudian, aku mendengar jika ayah dari gubernur
terkena penyakit demam dan disentri.
Atas kebaikan yang sudah mereka tunjukkan pada kami, maka aku masuk ke
kamar ayah Publius dan berdoa agar kuasa Tuhan dapat bekerja padanya melalui
609
aku sebagai alat-Nya. Hal itu tidak menjamin kesembuhan karena kesembuhan
hanya terjadi jika Tuhan menghendaki.
Aku menumpangkan tangan ke atasnya dan tak lama kemudian, sembuhlah dia.
Sesudah peristiwa itu datanglah juga orang-orang sakit lain dari pulau itu. Karena
ternyata kabar kesembuhan itu menyebar lebih cepat daripada badai. Aku
menerima mereka semua dan menyerahkan hasilnya sepenuhnya pada Tuhan.
Selama itu juga aku mengajar pada mereka untuk selalu membuka hati pada
Tuhan, membersihkan hati dengan mengakui kesalahan kita, memaafkan
kesalahan orang lain dan saling mengasihi di antara sesama.
Kami tinggal di tempat itu selama tiga bulan untuk menunggu berakhirnya musim
dingin. Sambil mengajar tentang ajaran Tuhan, Gubernur Publius dibaptis dan dia
menjadi kepala jemaat Pulau Malta pertama.
Mereka sangat menghormati kami dan ketika kami meninggalkan pulau itu,
mereka menyediakan segala sesuatu yang kami perlukan. Atas keramahan itu,
aku meneteskan air mata dan berdoa agar semua kebaikan terjadi atas mereka.
610
BAB 24
ROMA
Kami semua berangkat dari Pulau Malta dengan menumpang sebuah kapal dari
Aleksandria yang selama musim dingin berlabuh di pulau itu. Kapal itu memakai
lambang Dioskuri—disebut juga Gemini—yang memakai lambang dua orang
kembar bernama Castor dan Pollux.
Kami singgah di kota pelabuhan Sirakusa—berjarak 110 kilometer dari Pulau
Malta—yang berada di wilayah Pulau Sisilia dan tinggal di situ tiga hari lamanya.
Dari situ kami menyusur pantai Sisilia, lalu sampai ke kota pelabuhan Regium
yang berjarak 120 kilometer dari Sirakusa dan kota itu berada di dalam wilayah
Italia
Sehari kemudian bertiuplah angin selatan yang menambah laju kecepatan kapal
kami dan pada hari kedua sampailah kami di kota Putioli yang berjarak sekitar
300 kilometer dari kota pelabuhan Regium.
Di kota pelabuhan Putioli, kami turun dari kapal dengan niat untuk melakukan
perjalanan darat ke Roma yang hanya berjarak sekitar 200 kilometer. Akan tetapi,
beberapa orang di antara dua ratusan orang yang ikut bersama kami mengarungi
badai, merupakan orang Putioli. Mereka mengajak kami untuk singgah dan
611
tinggal bersama mereka. Mereka adalah orang-orang yang sudah mendengarkan
ajaran tentang Tuhan dan juga dibaptis saat di Pulau Malta.
Yulius dan prajuritnya tidak dapat berhenti bersama kami dan terpaksa
melanjutkan perjalanan mereka bersama para budak dan tahanan ke Roma. Aku
sendiri diharapkan untuk menghadapnya saat aku tiba di Roma untuk
mempertanggung jawabkan statusku.
Kami tinggal di kota Putioli selama tujuh hari bersama-sama mereka. Sesudah itu
kami berangkat ke Roma. Di tengah perjalanan ke Roma, kami kembali diundang
oleh beberapa orang yang tinggal di kota Forum Apius dan kota Tres Taberna.
Beberapa dari mereka juga adalah teman seperjalanan menembus badai yang
menjadi percaya akan ajaran Tuhan.
Ketika aku melihat mereka semua bersama saudara-saudara mereka, aku segera
mengucap syukur kepada Allah. Betapa dalam hidupku ini aku dapat melihat
begitu banyak kegembiraan. Di tempat itu, aku mendapat kabar jika tangantangan pekerjaan Akwila dan Priskila telah menghasilkan banyak buah. Anggota
jemaat di wilayah Italia bertumbuh atas pekerjaan mereka berdua. Saudarasaudara mereka hadir di antara kami.
Di Roma sendiri, aku segera dijemput oleh prajurit dari ayahku. Mereka
menggunakan kereta kuda untuk membawaku ke tempat mereka. Di tempat itu,
aku melihat ayahku yang seluruh rambutnya telah memutih dan wajahnya yang
masih terlihat segar. Ia mengenakan pakaian putih dan aku baru menyadari jika
dia telah menjadi salah seorang anggota senator.
612
Aku memeluknya penuh rasa rindu. Ibuku juga berada di sana, mereka tampak
sehat. Kami menghabiskan sepanjang malam untuk bercerita panjang lebar.
Keesokan harinya, ayahku membawaku bersama seorang pengacara untuk
menemui Yulius untuk mempertanggung jawabkan statusku.
Ayahku tampak berbicara dengan kepala pasukan Kaisar yang merupakan atasan
dari Yulius, kemudian mereka berbicara dengan kepala bagian peradilan. Kedua
orang penting itu tampak menghormati ayahku dan setelah mereka berbincangbincang selama setengah hari, ayahku mengantarku pulang dan menyerahkan
beberapa berkas penahananku padaku.
―Apa artinya?‖ tanyaku menatapnya yang tersenyum.
―Kamu sudah dibebaskan dan tidak membutuhkan peradilan dengan Kaisar.‖
―Mengapa demikian?‖ tanyaku.
―Anakku,‖ kata ayahku dengan tertawa. ―Kita warga Roma tidak terikat pada
peraturan wilayah jajahan kita. Hukum yang berlaku adalah hukum Roma,
kecuali kamu melakukan kesalahan menghina Kaisar atau melanggar hukum
Roma, maka kamu akan diadili. Akan tetapi, jika kamu melanggar hukum yang
berlaku di wilayah jajahan kita terutama hukum agama mereka yang tidak dianut
oleh warga Roma, bahkan Kaisar sendiri akan mengugurkannya sebelum sidang.‖
―Apakah itu diizinkan?‖ tanyaku.
―Anakku,‖ kata ayahku lagi. ―Aku percaya tuntutan mereka padamu adalah atas
dasar hukum Taurat yang tidak berlaku di sini. Kamu bisa bayangkan jika
613
tuntutan ini naik pada Kaisar dan katakanlah bahwa kamu melanggar tentang
hukum sunat. Jika hal itu diajukan pada Kaisar dengan mengatakan orang yang
tidak bersunat adalah haram dan beroleh binasa, bukan kamu yang nantinya akan
dipenggal tapi orang yang mengajukan hukum itu juga dan semua gubernurnya.
Karena Kaisar sendiri tidak bersunat, itu sama saja dengan menghina Kaisar tidak
akan beroleh selamat dan binasa. Atas dasar itu, semua tuntutan padamu gugur
tanpa peradilan. Hanya saja jika kamu kembali ke Yerusalem, hukuman itu
mungkin akan dinyatakan lagi atas dirimu.‖
Aku tertawa dan berkata, ―Aku tidak memiliki rencana untuk kembali ke tempat
itu. Aku ingin tinggal bersama kalian hingga kematianku.‖
Kami berdua tertawa dan merayakan kebebasanku. Ayahku membawaku ke
sebuah rumah yang sangat besar di daerah kota tempat para pejabat tinggal dan
mengatakan, ―Inilah rumahmu. Aku juga sudah menyediakan beberapa prajurit
untuk menjagamu dari orang-orang Yahudi yang ingin mengancam jiwamu.‖
Aku tinggal di rumahku sendiri bersama Betsaida dan Lukas. Aristarkhus sendiri
kembali ke kota Putioli untuk membangun jemaat atas permintaan anggota
jemaat kota itu. Untuk menghindari keributan, Yulius mengirim surat pada
Gubernur Kaisarea dan Raja Aggripa jika aku dikenai tahanan rumah dan
menunggu jadwal pengadilan.
Tiga hari kemudian, aku mengundang orang-orang terkemuka bangsa Yahudi di
antara kota Roma ke rumahku. Aku mengadakan jamuan makan bagi mereka dan
berkata, "Saudara-saudara, meskipun aku tidak berbuat kesalahan terhadap
614
bangsa kita atau terhadap adat istiadat nenek moyang kita, namun aku ditangkap
di Yerusalem dan diserahkan kepada orang-orang Roma.
Setelah aku diperiksa, mereka bermaksud melepaskan aku, karena tidak terdapat
suatu kesalahan pun padaku yang setimpal dengan hukuman mati. Akan tetapi
orang-orang Yahudi menentangnya dan karena itu terpaksalah aku naik banding
kepada Kaisar, tetapi bukan dengan maksud untuk mengadukan bangsaku.
Itulah sebabnya aku meminta, supaya aku melihat kamu dan berbicara dengan
kamu, sebab justru karena pengharapan Israellah aku diikat dengan belenggu ini."
Mereka semua bertanya-tanya dalam kebingungan dan seorang dari mereka
berkata, "Kami tidak menerima surat-surat dari Yudea tentang engkau dan juga
tidak seorangpun dari saudara-saudara kita datang memberitakan apa-apa yang
jahat mengenai engkau.
Tetapi kami ingin mendengar dari engkau, bagaimana pikiranmu, sebab tentang
mazhab ini kami tahu, bahwa di mana-manapun ia mendapat perlawanan. Apakah
boleh mengajar Tuhan kita pada bangsa-bangsa lain?"
Aku merasa jika hal itu akan menjadi panjang dan waktu sudah larut sehingga
kami menyepakati untuk menentukan suatu hari di mana semua orang dapat
berkumpul dan mendengarkan.
―Tentukanlah hari,‖ kataku pada mereka. ―Kalian dapat datang kapan saja ke
tempatku ini. Karena pintunya selalu terbuka untuk orang yang mencari Tuhan.
615
Tempatku ini dapat menampung ribuan orang dan menyediakan makanan bagi
mereka.‖
Pada hari yang ditentukan itu datanglah mereka semua dalam jumlah besar ke
tempatku. Di tempat itu juga, aku menerangkan dan memberi kesaksianku kepada
mereka tentang Kerajaan Allah; dan berdasarkan hukum Musa dan kitab para
nabi. Di mulai dari hukum Taurat, berakhir pada ajaran Yesus tentang kasih dan
Tuhan yang nyata. Hal itu berlangsung dari pagi sampai sore. Aku begitu ingin
mereka menyadari jika Tuhan itu nyata, bukan sekedar peraturan-peraturan. Aku
ingin meletakkan kasih di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat melakukan
inti dari semua hukum, mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Tentunya dalam
perbuatan yang membuahkan hasil. Bukan hanya pemahaman yang tidak
berbuah.
Tapi, ada yang dapat diyakinkan oleh perkataanku dan ada yang tetap tidak
percaya. Mereka yang menilaiku telah melanggar hukum Taurat. Maka bubarlah
pertemuan itu dengan tidak ada kesesuaian di antara kami.
Tetapi aku masih mengatakan perkataan yang satu ini untuk mereka. "Tepatlah
firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek moyang kita dengan
perantaraan Nabi Yesaya, Pergilah kepada bangsa ini, dan katakanlah, Kamu
akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan
melihat, namun tidak menanggap.
Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan
matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan
616
mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik
sehingga Aku menyembuhkan mereka. Sebab itu kamu harus tahu, bahwa
keselamatan yang daripada Allah ini disampaikan kepada bangsa-bangsa lain dan
mereka akan mendengarnya."
Lalu pergilah mereka.
Aku tinggal di Roma tempatku selama dua tahun, dan mengajar pada mereka
yang ingin mendengarkan. Tidak peduli siapa mereka dan status mereka. Aku
mengajar pada semua hamba-hambaku yang diberikan ayahku padaku.
Aku mengajar pada para prajurit Roma, orang Yunani dan juga para tahanan.
Pintu rumahku selalu terbuka untuk mereka yang ingin mengetahui.
Betsaida, melayaniku dan juga membangun pelayanan khusus pada para pengajar
oleh beberapa orang wanita yang terpanggil untuk ikut melayani.
Sesungguhnya, Tuhan sudah mengatur segalanya, Dia Maha segala-galanya, Dia
yang mengembalikanku ke Roma dan keluargaku. Di sana, aku menggunakan
hak warisanku untuk membangun berbagai jemaat yang pernah aku lalui. Jemaat
Efesus adalah yang paling utama, di tempat itu, aku mengharapkan mereka dapat
menghasilkan para pengajar yang beriman, berani dan memiliki kasih pada
sesamanya.
Sebab aku adalah alat-Nya, semua yang aku miliki adalah dari-Nya. Dan
tujuanku adalah untuk mengabarkan tentang Tuhan kepada sesama. Maka semua
harta dan benda ini hanyalah untuk satu tujuan itu.
617
***
Di Yerusalem.
―Aku mendapat kabar jika Paulus tidak berada di dalam tahanan penjara,‖ kata
seorang dari jemaat Yerusalem.
―Kita harus membunuhnya dengan cara apa pun,‖ kata lainnya. ―Pengaruhnya
pada jemaat-jemaat kita, terutama jemaat yang dibangunnya menjadi semakin
kuat. Kita akan kehilangan pengaruh kita jika membiarkan dirinya begitu saja.
Kita harus membunuhnya dan merebut kembali pengaruhnya.‖
―Tapi, kita tidak dapat mendekati Paulus,‖ kata yang lainnya.
―Kecuali,‖ kata seorang pemimpin jemaat Yerusalem.
...
***
Di Roma.
Pada pagi itu, aku terbangun dari sebuah mimpi dan tidak henti-hentinya aku
memikirkan mimpi itu. Semuanya terasa begitu nyata.
Aku segera memanggil Betsaida dan Lukas.
―Saudaraku,‖ kataku pada mereka. ―Aku ingin menitipkan apa yang tidak dapat
kukerjakan pada tangan kalian.‖
―Apakah itu guru?‖ tanya Lukas.
618
―Saat ini, surat-surat dari jemaat mengatakan jika di dalam setiap jemaat juga
terjadi perpecahan. Terjadi persaingan antar mereka. Ada yang mengaku sebagai
kelompok Simon Petrus, ada yang mengaku sebagai kelompok Paulus dan juga
kelompok Apollos atau lainnya. Semua pertentangan ini akan menjadi panjang
dan tiada berkesudahan,‖ kataku.
Betsaida menatapku penuh harap, ―Apakah semua ini tidak bisa diselesaikan?‖
―Manusia memiliki berbagai ragam keinginan dan perbedaan adalah hasilnya.‖
Aku menghela napas. ―Akan tetapi yang ingin kukatakan pada kalian adalah, jika
pada suatu saat nanti, setelah kematianku dan mereka berada dalam pertentangan.
Terutama jika pertentangan dalam ajaran atau tulisan. Katakanlah pada mereka,
bukan tulisan yang membenarkan, bukan juga ajaran dari mana yang
membenarkan. Yang membenarkan itu adalah iman dan perbuatan dalam kasih
kepada Tuhan dan sesamanya.‖
―Katakanlah pada mereka untuk tidak bertengkar tentang ajaran agama di antara
mereka dengan bangsa-bangsa lain. Bukan perbedaan yang menyelamatkan tapi
perbuatan akan kasih. Katakan pada mereka bukan karena tokoh ‗apa‘ dan ‗siapa‘
manusia yang datang pada mereka dan mengajar sehingga keselamatan itu ada
dan nyata. Keselamatan itu hanya datang dari Tuhan dan atas apa yang mereka
perbuat dalam hidup masing-masing dengan sepenuh hati. Milikilah iman kepada
Tuhan dan lakukanlah kasih dalam hidup kalian.‖
―Jika mereka bertanya apa ajaranku, inti ajaranku adalah kasihi Tuhan Allahmu
dan kasihi sesamamu.‖
619
―Jika bertemu dengan kelompok lain, ahli-ahli Taurat atau bangsa-bangsa lain,
katakanlah jika kalian menyembah Tuhan yang sama, Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi. Tuhan yang sama dengan yang mereka sembah. Karena
sesungguhnya Tuhan yang menciptakan semua manusia itu satu, janganlah kita
memecah-mecahnya. Dan semua ajaran hanya untuk kembali kepada-Nya.
Jangan membuat ajaranku dan ajaranmu memecah pada penyembahNya. Jika
mereka menyembah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi , maka mereka
sudah benar.‖
―Dan katakanlah pada semua pengajar terutama dan para jemaat untuk
membersihkan hati mereka sendiri daripada mencoba mengatur kebersihan hati
saudara-saudara lainnya. Karena setiap saat adalah kesempatan untuk dapat
semakin dekat kepada Tuhan. Semakin bersih hati semakin dekatlah kita pada
Tuhan. Dan begitu juga katakan dan awasi mereka agar tidak menghakimi di
antara sesamanya, sungguh lebih mudah untuk mencoba mencongkel kotoran dari
hati saudara lainnya daripada mencoba membersihkan hati mereka sendiri.
Beberapa dari mereka dan mungkin banyak dari mereka yang akan meletakkan
beban pada lainnya tanpa memikulnya. Mereka akan dikuasai kesombongan dan
mencoba mengatur kehidupan anggota lainnya tanpa mengatur diri mereka
terlebih dahulu.
Jika itu terjadi, sadarkanlah mereka. Sebelum mereka mengajar atau berbicara,
pastikan apa yang mereka ajarkan dan bicarakan sudah mereka lakukan terlebih
620
dahulu. Dan katakan pada mereka kehidupan ini adalah sarana yang diberikan
Tuhan agar semua manusia dapat kembali padanya.‖
―Tetap lakukanlah kasih, milikilah kasih dan penuhilah hatimu dengan kasih,
hingga seluruh bagian dirimu dan keberadaanmu menjadi kasih di dalam Tuhan.‖
―Jangan jerumuskan mereka dalam pemujaan, seperti aku tidak memuja Yesus
tapi menyebarkan pengajarannya. Karena sesungguhnya bagi seorang guru,
mereka tidaklah bahagia saat murid-muridnya memujinya, karena kesombongan
adalah hal yang hina bagi mereka. Tapi jika mereka melakukan apa yang
diajarkan oleh guru mereka dan melakukannya dalam kehidupannya, hal itu akan
sangat membahagiakan guru-guru manapun. Begitu juga katakan pada mereka,
jangan memujaku, jangan mengagungkanku, jangan memujiku, tapi lakukanlah
apa yang diajarkan karena untuk itulah aku mengajar. Aku yakin Yesus sendiri
akan lebih senang saat melihat murid-muridnya melakukan apa yang
diajarkannya daripada memujinya berlebihan.‖
Lukas menatapku dan berkata, ―Guru, maafkan aku bertanya. Aku selalu berpikir
mengapa guru tidak keluar dari pengaruh Jemaat Yerusalem saja dan membangun
jemaat sendiri dengan ajaran Yesus dan tanpa melalui Petrus. Dengan demikian
pertentangan antar golongan dapat dihindari.‖
Aku tersenyum dan berkata, ―Jika sesungguhnya ada yang menjadi batu penjuru
mengenai semua ajaran ini, maka Yesus adalah batu penjurunya hingga kita bisa
menemukan Tuhan Yang Sejati. Sedangkan Yesus memilih Petrus sudah menjadi
kehendak-Nya. Memang aku beberapa kali berselisih paham dengan Petrus tapi
621
aku tidak akan memungkiri, ajaran Yesus ada dan berkembang adalah karena
dirinya. Aku sesungguhnya sangat menghormati Petrus sebagai pendiri jemaat
ajaran Yesus.‖
―Mengapa demikian guru?‖ tanya Lukas.
―Dulu, aku berusaha membasmi kelompok yang mempelajari ajaran Yesus,‖
kataku. ―Setiap sudut aku jelajahi untuk menemukan kelompok-kelompok di luar
Sanhedrin dan setiap dari mereka hancur hingga tidak dapat bangkit lagi. Kecuali
kelompok Yesus ini. Tidak peduli seberapa keras aku mencoba, Petrus selalu
dapat mencari jalan untuk menghidupkan ajaran Yesus ke mana pun ia pergi.
Hingga akhirnya aku bergabung pada mereka.
Ia sesungguhnya adalah pendiri semua kelompok ajaran Yesus ini, dia dipilih
langsung oleh Yesus dan juga tentunya oleh Tuhan dengan satu tujuan mulia.
Oleh karenanya kepada semua jemaat, haruslah menghormati Petrus dan
menerima ajarannya juga. Begitu juga ajaran-ajaran dari murid-murid Yesus
lainnya, karena mereka jugalah ajaran Yesus dapat bertahan. Jika ada
pertentangan di dalam tubuh jemaat, maka selesaikan perlahan-lahan di antara
sesama saudara.‖
Setelah itu, aku mewariskan pengelolaan harta warisanku pada Lukas dan
Betsaida agar mereka dapat membagikannya pada jemaat-jemaat, termasuk
jemaat Yerusalem. Aku mengatakan pada mereka jika aku akan melanjutkan
perjalananku untuk mengajar ke tempat-tempat baru.
622
EPILOG
Pada tahun 63 M.
Aku berangkat ke Inggris dan mengajar pada orang-orang Yahudi maupun
bangsa-bangsa lain. Di tempat itu aku tinggal selama dua tahun dan berikutnya
aku pergi ke Pulau Kreta untuk menemui Titus. Dari tempat itu aku pergi ke
Nicopolis dan kemudian berangkat ke Spanyol dari tempat tersebut.
Pada tahun 67 M, aku kembali ke Roma karena ada surat yang memintaku untuk
pulang karena adanya seorang tamu penting. Di sana, aku menemukan istriku.
wanita cantik dan anak dari imam besar Ananias. Sudah puluhan tahun lamanya
aku tidak melihatnya lagi. Nyatanya, ia datang menghadapku.
―Apa yang kamu lakukan di sini?‖ tanyaku menatapnya yang raut wajahnya
sudah menua dan penuh garis-garis kehidupan yang keras.
―Apakah seorang istri tidak dapat melihat suaminya?‖
―Kupikir kamu sudah menceraikanku sejak aku mengikuti ajaran lain.‖
Istriku menatapku dan menunduk, ia memberikan sebotol anggur padaku. ―Aku
membawanya dari Yerusalem. Semoga kamu bersedia meminumnya bersamaku
seperti kita menikmati anggur pernikahan kita.‖
623
Aku tidak dapat menolak permintaan itu. ―Baiklah,‖ ajakku ke ruang tengah dan
menuangkan anggur itu bersama dengannya. Kami berbicara banyak hal dan aku
menegak minuman itu.
Tak lama kemudian, aku terjatuh tidak sadarkan diri.
Saat aku terbangun, aku sedang terikat di sebuah tempat tidur keras yang
mungkin dari batu. Mungkin juga sebuah kuburan batu. Aku melihat di
sampingku, istriku sedang berbicara dengan imam besar Ananias.
Imam besar yang membenciku itu ada di sana. Hal yang jelas mengejutkanku.
Istriku datang mendekatiku dan berkata, ―Aku tidak percaya ternyata hatimu
sejahat itu. Aku ingin melihat apakah darah dari jantungmu adalah merah atau
hitam.‖
―Apa yang terjadi?‖ tanyaku tidak mengerti.
―Kamu,‖ kata istriku. ―Kamu menganut ajaran yang menyimpang dari Hukum
Tuarat. Kamu membuat kita terpisah. Aku hidup dalam kesepian dan berharap
setiap harinya agar kamu bertobat, tapi kamu malah bertindak semakin jauh
melanggar hukum Taurat bahkan menikahi wanita bernama Betsaida.‖
―Aku tidak menikahi Betsaida,‖ kataku. ―Dan aku tidak melangggar hukum
Taurat. Aku sudah berusaha membujukmu berkali-kali untuk ikut denganku. Tapi
kamu tidak pernah mau.‖
624
Istriku tersenyum kejam, ―Lebih baik aku bunuh diri daripada mengikutimu
melanggar hukum Taurat.‖
Saat itu ia menghujamkan belati di tangannya pada dadaku dan rasa dingin
menghujam jantungku.
***
Sekitar tahun 62 M – 64 M
Yang Mulia Festus yang sebelumnya menggantikan Felix, meninggal pada tahun
62 M. Kematian Festus yang tidak wajar membuat Kaisar Roma mengirim
Lucceius Albinus menggantikan posisi Festus dan menyusut kematian tersebut.
Para imam-imam besar sepakat untuk menuduh jemaat Yerusalem yang
memberikan ajaran Yesus sebagai tertuduh. Imam besar Ananias memberitahu
Albinus jika James, Petrus dan Yohanes sebagai kepala jemaat Yerusalem
bertanggung jawab atas kematian itu.
Lucceius Albinus segera memerintahkan penangkapan pada James atau Yakobus,
kepala jemaat Yerusalem. Pada saat itu, Petrus juga ikut tertangkap namun
berhasil melarikan diri.
James dihukum mati pada saat itu juga. Tak lama kemudian, para imam-imam
besar berhasil melacak keberadaan Petrus dan menangkapnya. Karena jumlah
pengikut Petrus yang banyak di Yerusalem dan untuk mencegah terjadinya
pemberontakan, mereka memberikan kabar jika Petrus telah ditangkap dan di
625
bawa ke Roma untuk menjalani peradilan. Padahal, imam-imam sendiri yang
membunuhnya di Yerusalem. Mereka tidak membiarkan Petrus keluar dari Roma.
Dengan kematian James dan Petrus, sementara Yohanes yang melarikan diri dan
tidak diketahui letaknya, jemaat Yerusalem hancur dan tidak dapat bangkit lagi.
Mereka mengajar secara rahasia karena tidak ingin dituduh oleh imam-imam
besar melawan hukum Taurat dan ditangkap.
Beberapa jemaat yang sebelumnya berada di bawah kendali jemaat Yerusalem,
diambil alih oleh imam-imam besar Sanhedrin dan menjadikannya sebagai jemaat
mereka. Karena takutnya atas hukuman dari para imam-imam, beberapa anggota
jemaat terpaksa menerima keadaan itu. Jemaat yang tidak disentuh oleh para
imam-imam besar adalah jemaat-jemaat bangsa-bangsa lain. Mereka merasa
enggan untuk pergi ke tempat itu dan mengajari mereka hukum Taurat.
***
Tanggal 18 dan 19 July 64 M
Di Roma terjadi kebakaran besar yang menghanguskan sebagian besar isi kota
Roma dan kebakaran baru dapat dipadamkan setelah enam hari lamanya api
membakar habis banyak rumah-rumah yang berhimpit-himpitan.
Kaisar Roma saat itu adalah Nero, ada yang mengatakan jika kaisar Nero sendiri
yang membakar kota tersebut. Namun kaisar itu menunjuk biang masalah
pembakaran itu pada orang-orang yang menyembah Tuhan. Mereka menuduh
mereka yang tidak menyembah dewa-dewa sebagai dalang kebakaran.
626
Saat itu terjadilah penangkapan terhadap para penyembah Tuhan di seluruh
wilayah kekuasaan Roma. Saat itu para jemaat dari Itali hingga Asia kecil
menjadi terancam.
Ahli-ahli Taurat tetap tidak setuju dengan pengajaran yang diberikan oleh Paulus
dan menganggap mereka di luar hukum Taurat atau ajaran orang Yahudi.
***
Pada tahun 70 M.
Terjadi pemberontakan di Yerusalem. Maka pecahlah perang antara pasukan
Roma di bawah kepemimpinan jendral Roma bernama Titus yang membawahi 70
ribu prajurit Roma melawan pasukan Yahudi. Pasukan Yahudi itu sendiri terdiri
dari orang Saduki yang berjumlah 30 ribu orang dipimpin oleh seorang bernama
Simon Bar Giora dengan orang Zealot yang berjumlah 10 ribu yang dipimpin
oleh Yohanes dari Gischala dan Eleazar ben Simon.
Kerajaan Roma beroleh kemenangan dan Bait Allah dihancurkan oleh pasukan
Roma. Seluruh isinya dijarah oleh mereka. Kaki-kaki orang Roma menginjakinjak Bait Allah, memasuki hingga Bait Suci Allah yang paling dalam.
Setelah itu, Bait Allah dihancurkan oelh pasukan Roma.
***
627
Pada Tahun 90 M
Setelah kehancuran Bait Allah kedua dan Yerusalem dibawah kendali penuh oleh
Roma, posisi Sanhedrin atau kekuasaan tertinggi para imam-imam dipindahkan
ke kota Jamnia atau Yavne. Adapun Rabbi Yohanan ben Zakkai yang meminta
persetujuan dari Roma untuk mengembalikan posisi Snhedrin untuk mengatur
orang-orang Yahudi.
***
Pada Tahun 111 M
Kaisar Trajan yang menggantikan Kaisar Nero memberikan kesempatan untuk
para penganut ajaran Tuhan untuk bersidang atas kesalahan mereka terhadap
pembakaran kota Roma. Mereka tidak lagi sembarangan dibunuh seperti pada
masa Kekaisaran Nero.
Sejak itu keamanan bagi para pemeluk ajaran Tuhan dapat bernapas lega.
Semakin banyak dari orang-orang yang menyembah Tuhan dan tidak lagi
menyembah dewa-dewa yang lebih rumit. Namun pengajaran tentang Tuhan itu
dipisahkan dari ajaran agama Yahudi yang menggunakan hukum Taurat. Karena
Sanherdin dan orang-orang Yahudi tidak bisa menerimanya.
Pada saat itu mulailah terjadi perpisahan antara ajaran Paulus akan Tuhan dan
juga ajaran Yahudi akan hukum Taurat. Meski ajaran Yesus yang dibawa oleh
Paulus menggunakan hukum Taurat, tapi mereka bergerak selangkah lebih jauh
628
dengan menambahkan bahan pembahasan bagi jemaat mereka selain kitab-kitab
Ibrani.
Para anggota jemaat mereka menggunakan surat-surat Paulus dan juga surat-surat
dari para murid-murid Yesus. Karena sesuai pesan Paulus, mereka harus
menghormati dan mempelajari surat-surat dari murid-murid Yesus lainnya. Meski
mereka tetap mengutamakan surat-surat dari Paulus yang mendirikan mereka.
Sedangkan agama Yahudi tetap bertahan pada ajaran hukum Taurat dan
menggunakan kitab-kitab Ibrani. Untuk membedakan kedua kelompok dan ajaran
itu, mereka yang mengikuti ajaran Yesus menyebut diri mereka sebagai Kristen.
Kristen sendiri oleh Paulus diartikan sebagai, ‗Mereka yang percaya pada Tuhan
Yang Maha Pengasih.‘ Sedangkan bagi orang-orang Yahudi
yang memakai
hukum Taurat, mereka adalah orang-orang yang memercayai para imam-imam
dan juga ‗Tuhan adalah penghukum dan pemarah. Menaati peraturan adalah satusatunya cara untuk mendapatkan keselamatan, perhatian dan kebaikan dari
Tuhan.‘
Kedua kelompok itu semakin lama semakin terpisah. Para penganut kristen tidak
lagi menerapkan aturan keras dari hukum Taurat meski mereka mempercayai
hukum Taurat sebagai bagian dari mereka.
***
629
Pada Tahun 132-136 M
Terjadi pemberontakan Bar Kokhba. Pemberontakan itu terjadi oleh seorang
bernama Simon Bar Kokhba mengajak orang Yahudi untuk memberontak.
Pemberontak dari Yahudi berjumlah sekitar 200 ribu - 400 ribu dan pasukan
Roma berjumlah 60 ribu – 120 ribu. Pada akhir pertempuran yang dimenangkan
oleh pasukan Roma, 580 ribu penduduk Yahudi tewas dibunuh. Sekitar 50 kota
dan 985 desa-desa Yahudi dihancurkan, dibakar hingga rata dengan tanah.
Setelah itu, seluruh orang-orang Yahudi menjadi pelarian, diasingkan dan
diperbudak oleh orang Roma. Pusat kekuasaan hukum Taurat yang berupa
Sanhedrin dihancurkan pasukan Roma. Delapan imam besar Sanhedrin dihukum
mati oleh pasukan Roma dengan cara yang sangat menggenaskan. Mereka
dikuliti, disiksa, dan diperlakukan semena-mena.
Tempat Bait Allah semula, digantikan dengan Patung Dewa Jupiter atau Dewa
Zeus bersama patung pemimpin orang Roma bernama Hadrian. Hukum Taurat
dilarang di seluruh Yerusalem dan Yudea. Para ahli Taurat ditangkap dan
dihukum mati. Semua kegiatan pengajaran hukum Taurat tidak diperbolehkan
dan Yerusalem menjadi kota penyembahan para dewa-dewa dan tidak ada
seorang Yahudi pun yang boleh masuk kecuali hari tertentu.
Saat itu ajaran orang-orang Yahudi yang taat pada hukum Taurat mengalami
kepunahan dan berubah menjadi kelompok-kelompok kecil yang dinamakan
ajaran para rabbi dan harus selalu sembunyi dari kejaran orang Roma. Kerajaan
630
Yehuda hancur menjadi puing-puing. Ajaran yang mereka bangga-banggakan
menjadi ajaran sekte kecil yang dikejar-kejar dan dianiaya oleh prajurit Roma.
Sedangkan kelompok Kristen bertumbuh semakin besar dan memenuhi banyak
wilayah bangsa-bangsa. Mereka mulai menyatakan diri sebagai pemegang janji
Allah yang sah dari sejak Abraham hingga Musa dan kemudian oleh Yesus.
Kehancuran agama Yahudi oleh orang Roma dianggap mereka sebagai hukuman
atas kesombongan para imam-imam yang tidak mau mengakui Tuhan Yang
Maha Pengasih dan Yesus yang memberikan ajaran tentang keselamatan bagi
banyak orang.
***
Tahun 325 M
Kristen menjadi ajaran yang diakui oleh pemerintahan Roma dan menjadi salah
satu agama yang paling besar dan berkembang di masa itu. Ajaran tentang
menyembah satu Tuhan yaitu Allah yang menciptakan langit dan bumi dengan
cepat menggeser ajaran menyembah para dewa-dewa. Dan setelahnya ajaran itu
tetap hidup hingga sekarang. Mereka yang disebut Kristen menggunakan kitab
mereka yang diberi nama Injil. Injil Merupakan gabungan dari kitab Ibrani, suratsurat dari murid-murid Yesus dan sebagian besar surat-surat Paulus.
***
631
Pada Tahun 570 M – 8 Juni 632 M
Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah istri dari Nabi Muhammad, adalah seorang
yang beragama Kristen yang tinggal di Mekkah. Dia mengetahui tentang
kenabian Muhammad dari kitab Injil. Ketika dia dibacakan tentang Surah Al'Alaq yang diterima oleh Nabi Muhammad, ia mengetahui bahwa Muhammad
adalah seorang nabi.
Diriwayatkan oleh Aisyah, “...Nabi kembali kepada Khadijah disaat jantungnya
berdetak dengan cepat. Lalu Khadijah membawanya kepada Waraqah bin
Naufal, seorang nasrani dan seorang pembaca Injil dalam bahasa Arab. Waraqa
bertanya (kepada nabi), ”Apa yang kamu lihat?” Di saat nabi menceritakannya,
Waraqah menjawab, “Itu adalah malaikat yang oleh Allah utus kepada Musa.
Andai aku masih hidup hingga engkau menerima wahyu, pastilah aku akan
mendukungmu sekuat tenaga.”
Saat itu Nabi Muhammad menerima Al Quran dan menciptakan ilmu
pengetahuan dan ajaran yang berupa agama Islam. Islam berarti berserah diri
kepada Tuhan.
Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad adalah Allah yang menciptakan
langit dan bumi dan Tuhan yang sama yang menunjukan diri pada Musa dan juga
Tuhan yang sama yang mengutus Nabi Isa atau Yesus.
632
Agama Islam mempercayai Muhammad adalah Nabi atau Rasul terakhir utusan
Tuhan. Melalui sejarah perjalanan mencapai Tuhan yang disusun ke atas baik
Kristen maupun Islam adalah menyembah Tuhan yang sama.
Nabi Adam, berarti juga kelahiran atau juga kejatuhan. Nabi Nuh berarti
pemisahan karena adanya banjir besar. Nabi Abraham berarti perjanjian. Nabi
Musa berarti ketaatan di sana turunlah Kitab Taurat. Yesus atau yang dikatakan
sebagai Nabi Isa mengajarkan Tuhan Yang Maha Pengasih yang memberikan
keselamatan dan pertobatan, pengajaran utamanya adalah kasihilah Tuhan
Allahmu dan kasihilah sesamamu. Nabi Muhammad S.A.W sendiri mengajarkan
penyerahan diri pada Tuhan.
***
Pada akhirnya, bukanlah agama, ajaran atau kitab yang membenarkan tapi
perbuatan seseorang pada sesamanyalah yang membenarkannya.
Seseorang lebih baik tidak mengatakan dia beragama Kristen atau Islam dan
merasa benar jika perbuatannya adalah zinah, munafik dan pendengki. Seseorang
dapat mengatakan dirinya benar jika dia melakukan apa yang diajarkan padanya
dan perbuatannya pada sesama tidak melanggar apa yang yang dipelajarinya.
Paulus memang bukanlah seorang Nabi, tapi dia meletakkan sebuah dasar yang
kuat untuk perkembangan agama Kristen dan Islam untuk menyembah satu
Tuhan. Ia memulai hidupnya pada saat ada begitu banyak para penyembah dewa-
633
dewa dan meletakkan dasar penyembahan pada satu Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi. Hingga banyak bangsa yang mempercayai satu Tuhan.
Paulus sendiri, saat itu tidak memiliki satu agama, dia bukanlah kristen karena
kristen muncul sesudah dirinya dan dia juga bukan beragama Yahudi karena
meski dia berasal dari sana, dia meninggalkannya di tengah perjalanan dan terus
berkembang.
Dia hanya memiliki Tuhan dan bekerja di dalam kasih-Nya.
Oleh karenanya setiap manusia harusnya mencari Tuhan terlebih dahulu dan
setelahnya mencari agama yang akan membantu mereka menemukan Tuhan.
Bukan sebaliknya.
Karena manusia lahir untuk mencari Tuhan, bukan untuk mencari agama.
SELESAI
634
Fly UP