...

Bila Akidah dan Tauhid Dianggap Kulit Agama,Ditengah Derasnya

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Bila Akidah dan Tauhid Dianggap Kulit Agama,Ditengah Derasnya
Manusia, Malaikat dan Jin
Tidak Mengetahui yang Ghaib
MANUSIA, MALAIKAT DAN JIN TIDAK
MENGETAHUI YANG GHAIB
Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Istilah “penampakan” kian akrab di telinga masyarakat kita
akhir-akhir ini. Bagaimana pandangan syariat menyoroti hal
ini? Bagaimana pula dengan keyakinan bahwa sebagian manusia
bisa mengetahui hal-hal ghaib? Simak bahasan berikut!
Mempercayai hal-hal yang ghaib merupakan salah satu syarat
dari benarnya keimanan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan
padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Yaitu) mereka
yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan
menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada
mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur`an) yang
diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan
sebelum-mu. Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan)
akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb
mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (AlBaqarah: 1-5)
Ghaib adalah segala sesuatu yang tersembunyi dan tidak
terlihat oleh manusia, seperti surga, neraka dan apa yang ada
di dalamnya, alam malaikat, hari akhir, alam langit dan yang
lainnya yang tidak bisa diketahui manusia kecuali bila ada
pemberitaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Lihat Tafsir Al-
Qur`anul ‘Azhim, 1/53)
Alam jin dan wujud jin dalam bentuk asli seperti yang telah
Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan adalah ghaib bagi kita.
Namun golongan jin dapat berubah-ubah bentuk –dengan kekuasaan
Allah Subhanahu wa Ta’ala– dan amat mungkin bagi mereka
melakukan penampakan, sehingga kita dapat melihatnya dalam
wujud yang bukan aslinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya ia (setan) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu
dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (AlA’raf: 27)
Dari Abu As-Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah, beliau bercerita
bahwa dirinya pernah berkunjung ke rumah Abu Sa’id Al-Khudri
Radhiyallahu ‘anhu, katanya: “Aku mendapatinya tengah
mengerjakan shalat, akupun duduk menunggunya hingga beliau
selesai. Tiba-tiba aku mendengar adanya gerakan pada bejana
tempat minum yang ada di pojok rumah. Aku menoleh ke arahnya
dan ternya-ta ada seekor ular. Aku segera meloncat untuk
membunuhnya, namun Abu Sa’id memberi isyarat kepadaku agar aku
duduk. Ketika ia selesai dari shalatnya, ia menunjuk ke sebuah
rumah yang ada di kampung itu sambil berkata: ‘Apakah engkau
lihat rumah itu?’ ‘Ya,’ jawabku. Ia kemudian menutur-kan,
‘Dahulu yang tinggal di rumah itu adalah seorang pemuda yang
baru saja menjadi pengantin. Kala itu kami berangkat bersama
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam ke Khandaq dan pemuda
itupun ikut bersama kami. Saat tengah hari, pemuda itu meminta
izin kepada Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam untuk
pulang menemui istrinya. Rasulullah Shallallahu `alaihi wa
sallam mengizinkannya sambil berpesan: ‘Bawalah senjatamu
karena aku khawatir engkau bertemu dengan orang-orang dari
Bani Quraidhah.’ Pemuda itu mengambil senjatanya, kemudian
pulang menemui istrinya. Setibanya di rumah, ternyata istrinya
sedang berdiri di antara dua daun pintu. Ia mengarahkan
tombaknya kepada istrinya untuk melukainya karena merasa
cemburu karena istrinya berada di luar rumah. Istrinya berkata
kepadanya: “Tahan dulu tombakmu, dan masuklah ke dalam rumah
sehingga engkau akan tahu apa yang menyebabkan aku sampai
keluar rumah!”
Pemuda itu masuk, dan ternyata terdapat seekor ular besar yang
melingkar di atas tempat tidur. Pemuda itu lantas menghunuskan
tombaknya dan menusuk-kannya pada ular tersebut. Setelah itu,
ia keluar dan menancapkan tombaknya di dinding rumah. Ular itu
(yang belum mati, red.) menyerangnya dan terjadilah pergumulan
dengan ular tersebut. Tidak diketahui secara pasti mana di
antara keduanya yang lebih dahulu mati, ular atau pemuda itu.’
Abu Sa’id Radhiyallahu ‘anhu melanjutkan ceritanya: ‘Kami
menghadap Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam dan
melaporkan kejadian itu kepadanya dan kami sampaikan kepada
beliau: ‘Mohonlah kepada Allah agar menghidupkannya demi
kebahagiaan kami.’ Beliau menjawab: ‘Mohonlah ampun untuk
shahabat kalian itu!’
Selanjutnya beliau bersabda: ‘Sesung-guhnya di Madinah
terdapat golongan jin yang telah masuk Islam, maka jika kalian
melihat sebagian mereka –dalam wujud ular– berilah peringatan
tiga hari. Dan apabila masih terlihat olehmu setelah itu,
bunuhlah ia, karena sebenarnya dia adalah setan.” (HR. Muslim
no. 2236 dan 139 dari Abu Sa`ib, maula Hisyam bin Zuhrah) [1]
Para Rasul Tidak Mengetahui yang Ghaib
Telah disebutkan sebelumnya bahwa sekumpulan jin datang kepada
Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam, kemudian mendengarkan
bacaan Al-Qur`an. Ketika itu Nabi Shallallahu `alaihi wa
sallam tidak mengetahui kehadiran mereka kecuali setelah
sebuah pohon memberitahunya –dan Allah Subhanahu wa
Ta’ala Maha Kuasa untuk menjadikan pohon dapat berbicara–
seperti yang disebutkan Al-Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya
dari shahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu. Ini menunjukkan
bahwa beliau tidak mengetahui perkara ghaib kecuali yang telah
Allah Subhanahu wa Ta’ala kabarkan. (Nashihati li Ahlis Sunnah
Minal Jin)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa
perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui
yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepada-mu bahwa aku
seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang
diwahyukan kepadaku.’ Katakanlah: ‘Apakah sama orang yang buta
dengan orang yang melihat?’ Maka apakah kamu tidak
memikirkannya?” (Al-An’am: 50)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi
diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib,
tentulah aku berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku
tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah
pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orangorang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)
Para Malaikat Tidak Mengetahui yang Ghaib
Kendatipun para malaikat adalah mahluk yang dekat di sisi
Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun untuk urusan ghaib ternyata
mereka pun tidak mengetahuinya. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman saat pertama kali hendak menciptakan manusia:
“Dan ingatlah ketika Rabbmu berfir-man kepada para malaikat:
‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka
bumi.’ Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan
(khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan
padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa
bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Allah
berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak
ketahui.’ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (bendabenda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para
Malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama bendabenda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’ Mereka
menja-wab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui
selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana’.” (Al-Baqarah: 30-32)
Kaum Jin Tidak Mengetahui yang Ghaib
Banyak sekali orang yang tertipu dan keliru kemudian mengira
jika bangsa jin mengetahui yang ghaib, terutama bagi mereka
yang terjun dalam kancah sihir dan perdukunan. Akibatnya,
kepercayaan dan ketergantungan mereka terhadap jin sangatlah
besar sehingga menggiring mereka kepada kekufuran.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
mementahkan anggapan ini dalam firman-Nya:
tegas
telah
“Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak
ada yang menun-jukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali
rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia tersungkur,
tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang
ghaib tentulah mereka tidak
menghinakan.” (Saba`: 14)
tetap
dalam
siksa
yang
Manusia Tidak Dapat Mengetahui Alam Ghaib
Jika para rasul yang merupakan utusan Allah Subhanahu wa
Ta’ala dalam menyampaikan syariat-Nya kepada manusia tidak
mengetahui hal yang ghaib sedikitpun, maka sudah tentu manusia
secara umum tidak ada yang dapat mengetahui alam ghaib atau
menjangkau batasan-batasannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya
memerintahkan agar mengimani perkara yang ghaib dengan
keimanan yang benar.
Keyakinan seperti ini agaknya sudah mulai membias. Apalagi
saat ini banyak sekali orang yang menampilkan dirinya sebagai
narasumber untuk urusan-urusan yang ghaib, mampu menjawab
pertanyaan-pertanyaan terkait dengan masa depan seseorang,
dari mulai jodoh, karir, bisnis, atau yang lainnya.
Kata ‘dukun’ barangkali sekarang ini jarang didengar dan
bahkan serta merta mereka akan menolak bila dikatakan dukun.
Dalihnya, apalagi kalau bukan seputar “Kami tidak meminta
syarat-syarat apapun kepada anda”, “Kami tidak menyuruh
memotong ayam putih”, dan sebagainya. Padahal praktek seperti
itu adalah praktek dukun juga. Bedanya, dukun sekarang ini
berpendidikan sehingga bahasa yang digunakannya pun bahasabahasa ilmiah, sehingga mereka jelas enggan disebut dukun.
Tak ada seorang pun yang dapat melihat dan mengetahui perkara
ghaib, menentukan ini dan itu terhadap sesuatu yang belum dan
akan terjadi di masa datang. Jika toh bisa, itu semata-mata
bantuan dan tipuan dari setan, sehingga dusta bila itu
dihasilkan dari latihan dan olah jiwa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Iblis telah dapat membuktikan kebenaran
sangkaannya terha-dap mereka lalu mereka mengikutinya, kecuali sebahagian orang-orang yang beriman. Dan tidak adalah
kekuasaan Iblis terhadap mereka, melainkan hanyalah agar Kami
dapat membedakan siapa yang beriman kepada adanya kehidupan
akhirat dari siapa yang ragu-ragu tentang hal itu. Dan Rabbmu
Maha Memelihara segala sesuatu.” (Saba`: 20-21)
Ada pula sebagian manusia yang memiliki aqidah rusak, di mana
mereka meyakini adanya sebagian orang yang keberadaannya ghaib
dari pandangan manusia, dan biasanya identik dengan orangorang yang dianggap telah suci jiwanya. Mereka
mengistilahkannya dengan roh suci atau rijalul ghaib.
Ketahuilah bahwa tidak ada istilah manusia ghaib. Tidak ada
pula istilah rijalul ghaib di tengah-tengah manusia. Rijalul
ghaib itu tiada lain adalah jin. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia
meminta perlin-dungan kepada beberapa laki-laki di antara jin,
maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”
(Al-Jin: 6) (Lihat Qa’idah ‘Azhimah, hal. 152)
Alam ghaib tetaplah ghaib, sesuatu yang tidak bisa diketahui
dan dilihat manusia kecuali apa yang telah Allah Subhanahu wa
Ta’ala beritakan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“(Dia adalah) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak
memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.
Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia
mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di
belakangnya.” (Al-Jin: 26-27)
Kunci-kunci Ghaib
Ta’ala Semata
adalah
Milik
Allah
Subhanahu
wa
Sesungguhnya tak ada seorangpun yang mengetahui perkara ghaib
dan hal-hal yang berhubungan dengannya, kecuali Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
banyak menegaskan hal ini dalam Al-Qur`an. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Katakanlah: ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang
mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka
tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang Hari Kiamat, dan Dialah yang menurunkan hujan, dan
mengetahui apa yang ada dalam rahim.
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa
yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat
mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
“Yang demikian itu ialah Rabb Yang mengetahui yang ghaib dan
yang nyata, Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (As-
Sajdah: 6)
Dalam ayat lainnya:
“Allah berfirman: ‘Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa
sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan
mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu
sembunyikan?’.” (Al-Baqarah: 33)
Banyak sekali dalil-dalil yang berhu-bungan dengan masalah
ini. Namun mungkin yang disebutkan di sini, sudah dapat
mewakili bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala-lah yang mengetahui
hal ihwal alam ghaib. Sedang-kan manusia, tak ada yang bisa
mengetahui dan melihatnya kecuali apa-apa yang telah Allah
Subhanahu wa Ta’ala kuasakan.
Mudah-mudahan semua uraian-uraian di atas bermanfaat bagi kita
semua. Amin yaa Mujiibas sa`iliin.
Wal ’ilmu ‘indallah.
Sumber: Majalah Asy Syariah
**************
Catatan Kaki:
1. Terjadi perbedaan pendapat dalam hal membunuh ular yang
berada di rumah. Sebagian ulama berpendapat bahwa
pemberian peringatan terlebih dahulu itu hanya berlaku
di Madinah, adapun di tempat selainnya bisa langsung
dibunuh. Ini adalah pendapat Al-Imam Malik, dan yang
dikuatkan oleh Al-Maziri. Sebagian yang lain berpendapat
bahwa pemberian peringatan terlebih dahulu bersifat
umum, bukan hanya di Madinah. Kecuali ular Al-Abtar
yakni yang berekor pendek dan Dzu Thufyatain, yang
mempunyai dua garis lurus berwarna putih di punggungnya,
boleh langsung dibunuh walaupun di rumah. (ed)
Bila
Akidah
dan
Tauhid
Dianggap Kulit Agama
BILA AKIDAH DAN TAUHID DIANGGAP KULIT AGAMA
Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah AnNawawi
Perhatian umat untuk memperbaiki kondisi kaum muslimin yang
terbelakang dan senantiasa banyak menelan kekalahan sebenarnya
cukup tinggi. Lihatlah, demikian banyak tokoh atau kelompok
yang berupaya melakukan perbaikan dengan berbagai cara dan
trik. Namun sayang, sampai sekarang kondisi umat masih beginibegini saja, malah terlihat makin terpuruk. Apa penyebabnya?
Tahukah anda apa yang dimaksud dengan kata-kata kulit? Dan
siapakah yang memunculkan statemen ini?
Kulit dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang enteng,
remeh, kecil tidak berguna, dan akan dibuang. Padahal secara
rasio, kulit itu sangat menentukan isi dan bila kulit itu
rusak maka isinya pun akan ikut rusak. Bahkan terkadang kulit
lebih besar manfaatnya dari isinya.
Anda bisa membayangkan bila aqidah dan tauhid sebagai sesuatu
yang prinsipil di dalam agama hanya dianggap sebagai kulit
oleh mereka. Yang memunculkan statemen ini adalah ahli bid’ah
dari kalangan hizbiyyun.
Ketahuilah bahwa kerusakan moral di dalam beragama
sesungguhnya merupakan imbas kerusakan aqidah dan tauhid.
Kerusakan peribadahan setiap orang kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala merupakan akibat dari kerusakan aqidah dan tauhid.
Kerusakan bermuamalah dengan sesama merupakan percikan dari
kerusakan aqidah dan tauhid.
Kerusakan dalam keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara
merupakan implementasi dari kerusakan aqidah dan tauhid.
Kerusakan aqidah dan tauhid merupakan muara dan poros dari
segala kerusakan di muka bumi ini. Allah Subhanahu wa
Ta’ala telah menjelaskan di dalam firman-Nya:
“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan akibat
perbuatan tangan-tangan manusia, dan Allah akan merasakan
kepada mereka akibat perbuatan mereka agar mereka mau
kembali.” (Ar-Rum: 41)
Di dalam banyak ayat, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menvonis
suatu kaum atau individu sebagai orang-orang yang melakukan
kerusakan di muka bumi dan menjelaskan bentuk-bentuk kerusakan
mereka.
1.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menvonis orang-orang
munafik dengan kekufurannya sebagai perusak di muka bumi,
setelah mereka mencoba cuci tangan dari berbuat keru-sakan.
“Dan bila dikatakan kepada mereka janganlah kalian melakukan
kerusakan di muka bumi! Mereka menjawab: “Bahkan sesungguhnya
kamilah yang melakukan perbaikan. (Allah mengatakan)
ketahuilah sesungguhnya merekalah yang melakukan kerusakan
namun mereka tidak merasa.” (Al-Baqarah: 11-12)
2.
Allah telah menvonis orang-orang yang ingkar kepada
Allah dan kepada para rasul sebagai perusak di muka bumi.
“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan
dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah telah
perintahkan untuk dihubungkan dan meng-adakan kerusakan di
muka bumi, orang-orang itulah yang telah memperoleh kutukan
dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam).” (ArRa’du: 25)
3.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menvonis kaum Nabi Shalih yang
menentang seruannya sebagai perusak di muka bumi.
“Yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak mengadakan
perbaikan.” (Asy-Syu’ara`: 152)
“Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat
kerusakan di muka bumi dan mereka tidak berbuat kebaikan.”
(An-Naml: 48)
4.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menvonis Fir’aun dengan segala
tindak tanduknya sebagai perusak.
“Apakah sekarang (baru kamu mau percaya) padahal sesungguhnya
kamu telah durhaka sejak dahulu dan kamu termasuk orang-orang
yang berbuat kerusakan.” (Yunus: 91)
5.
Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam banyak ayat telah
memerintahkan kepada setiap hamba-hamba-Nya agar melihat apa
yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perbuat terhadap kaum yang
melakukan kerusakan, seperti di dalam Surat Al-‘Araf ayat 86
dan 103 dan Surat An-Naml ayat 14.
“Dan
perhatikanlah
bagaimana
kesudahan
orang-orang
yang
melakukan kerusakan.” (Al-A’raf: 86)
Dari gambaran ayat di atas, betapa jelasnya makna perbuatan
merusak di muka bumi. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala pun
mengutus seluruh rasul untuk melakukan perombakan dan
perbaikan atas segala bentuk kerusakan tersebut. Perlu diingat
bahwa para nabi tidak membuat rancangan sendiri dalam melakukan perbaikan situasi dan kondisi. Namun mereka menunggu
wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tugas yang pertama kali
mereka emban adalah pembaharuan landasan dan prinsip hidup,
itulah aqidah dan tauhid. Alangkah naifnya jika anda
mengatakan prinsip dan landasan itu sebagai kulit.
Angan-angan yang Salah
Banyak orang berangan-angan untuk bisa mengubah sebuah situasi
yang buruk untuk kemudian menjadi baik, yang terbelakang dan
mundur untuk menjadi maju dan berkembang. Sehingga bermunculan ide-ide dari berbagai lapisan, diiringi perdebatan
sengit untuk memunculkan ide tersebut. Mulai dari yang paham
agama sampai orang yang tidak mengerti agama, ikut mengambil
bagian dalam membicara-kan perbaikan moral dan kerusakan umat.
Tentunya dengan berbagai macam jenis manusia itu akan
melahirkan ide yang beraneka ragam.
Yang mengerti sedikit ilmu agama, akan melakukan tinjauan
dengan keterbatasan ilmu agama yang ada pada dirinya. Dan yang
hanya mengerti tentang ilmu dunia akan menjawabnya dengan
pengetahuan yang dimilikinya. Ada juga poros ketiga yang
berusaha mempertemukan semua ide tersebut sehingga bisa
seiring dan sejalan serta tidak bertentangan, sekalipun alat
timbangnya bukan agama.
Sungguh, jika mereka membuka kembali lembaran-lembaran AlQur`an dan As-Sunnah yang menceritakan seruan pembaharuan yang
dilakukan oleh para rasul, niscaya mereka akan menemukan
jawabannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat
(untuk menyerukan): Sembahlah Allah dan jauhilah thagut itu.
Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk
oleh Allah dan ada pula orang-orang yang telah pasti kesesatan
baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasulrasul).” (An-Nahl: 36)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu
melainkan Kami wahyukan kepadanya: ‘Tidak ada sesem-bahan yang
benar melainkan Aku maka sembahlah Aku oleh kalian’.” (AlAnbiya`: 25)
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya
(dengan mengatakan): “Sesungguhnya aku adalah pemberi
peringatan yang nyata kepada kalian yaitu agar kalian tidak
menyembah kecuali kepada Allah dan aku khawatir menimpa kalian
pada suatu hari adzab yang pedih.” (Hud: 25-26)
“Dan kepada kaum ‘Ad kami mengutus kepada mereka saudara
mereka Hud dan (dia) berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah,
kalian tidak memiliki sesembahan selain Dia, maka tidakkah
kalian takut?” (Al-A’raf: 65)
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam AlKitab (Al-Qur`an) ini, sesungguhnya dia adalah orang yang
sangat membenarkan dan seorang nabi. Ingatlah ketika ia
berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, mengapa kamu
menyembah sesuatu yang tidak bisa mendengar, tidak melihat dan
tidak bisa menolongmu sedikit-pun. Wahai bapakku, sesungguhnya
telah datang kepadaku sebahagian ilmu penge-tahuan yang tidak
datang kepadamu. Maka ikutilah
menunjukkan kepadamu jalan yang
aku niscaya aku akan
lurus. Wahai bapakku,
janganlah kamu menyembah setan, sesung-guhnya setan itu
durhaka kepada Rabb yang Maha Pemurah. Wahai bapakku,
sesungguh-nya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa adzab dari
Rabb Yang Maha Pemurah maka kamu menjadi kawan bagi setan.”
(Maryam: 41-45)
Wahai para da’i kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, apa yang
engkau ambil manfaat dari kisah pembaharuan para nabi dan
rasul tersebut?
Inilah Nabi Musa yang berada di bawah kekuasaan pemerintah
yang sangat kufur, bahkan menobatkan dirinya sebagai Rabb
semesta alam, berundang-undang dengan undang-undang iblis,
membunuh anak-anak laki dan membiarkan hidup anak-anak
perempuan.
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat semena-mena di muka bumi
dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas
segolongan dari mereka, menyem-belih anak laki-laki mereka dan
membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya
Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-
Qashash: 4)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata kepada Nabi Musa:
“Dan Aku telah memilihmu, maka dengarkanlah kepada apa yang
kamu diwahyukan: Sesungguhnya Aku adalah Allah dan tidak ada
sesembahan yang benar melainkan Aku. Maka sembahlah Aku dan
dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku. Sesungguhnya hari kiamat
pasti datang dan Aku menyembunyikannya agar setiap orang
dibalas apa yang telah diperbuat.” (Thaha: 15)
Inilah Nabi Yusuf u yang dihinakan di dalam penjara dan
disejajarkan dengan para pelaku maksiat. Beliau tidak mengajak
para penghuni penjara mencaci maki penguasa dan membakar
semangat mereka untuk menentang pemerintah yang diktator dan
mempersiapkan kekuatan untuk melakukan perombakan hukum dan
segala tatanan hidup kenegaraan yang kafir. Namun yang beliau
serukan di dalam penjara adalah:
“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan
yang bermacam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha
Perkasa. Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya
menyembah nama-nama dan nenek moyangmu membuatnya, Allah tidak
menurunkan
Keputusan
suatu keterangan pun tentang nama-nama itu.
itu hanyalah keputusan Allah. Dia telah
memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah
agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya.” (Yusuf: 39-40)
Dan inilah rasul terakhir dan penutup semua rasul, Muhammad
Shallallahu `alaihi wa sallam. Beliau diutus kepada kaum yang
rusak segala-galanya, bahkan mereka bagaikan binatang yang
berwujud manusia. Tidak ada halal dan haram, tidak ada aturan
yang mengikat perbuatan mereka. Kerusakan hidup tingkat
tertinggi dan segala bentuk kejahatan terkumpul di saat itu.
Apakah yang beliau perbuat untuk melakukan perombakan tatanan
kehidupan jahiliyah lagi hewani tersebut dan apa tugas yang
diemban dari Allah Subhanahu wa Ta’ala? Allah Subhanahu wa
Ta’ala menegaskan di dalam firman-firman-Nya:
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan
agama. Dan aku diperin-tahkan supaya menjadi orang yang
pertama berserah diri. Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut
akan siksaan hari yang besar jika aku durhaka kepada Rabbku.
Katakan, hanya Allah saja yang aku sembah dengan memur-nikan
ketaatan kepada-Nya dalam menjalan-kan agama.” (Az-Zumar:
11-14)
“Sesungguhnya Kami telah menurun-kan kepadamu kitab (AlQur`an) dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (Az-Zumar: 2) [Lihat secara
ringkas kitab Manhajul Anbiya` Fii Ad-Da’wati Ilallah Fiihi
Al-Hikmatu Wal ‘Aql karya Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi AlMadkhali, hal. 41-77]
Langkah yang Benar
Kini tahukah anda, bahwa angan-angan manusia untuk memperbaiki
situasi dan kondisi yang telah rusak dengan cara seperti itu,
ternyata keliru dan jauh dari syariat? Sehingga setelah itu
anda menge-tahui bahwa jalan yang benar untuk memperbaiki
situasi dan kondisi yang telah rusak adalah dengan menempuh
jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah ditapaki oleh para
rasul. Kembali kepada jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala artinya
kembali kepada agama-Nya. Berikut petikan indah dari
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, sebagaimana dalam
sabda beliau:
“Bila kalian telah mempraktekkan jual beli dengan ‘inah (salah
satu bentuk jual beli riba), kalian melakukan kedzaliman,
cinta kepada cocok tanam dan kalian meninggal-kan jihad, maka
Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan dan tidak akan
tercabut kehinaan tersebut sehingga kalian kembali kepada
agama kalian.” [1]
Agama mana yang dimaksud sehingga bisa mengembalikan kejayaan
dan kemuliaan kaum muslimin? Apakah agama yang dipahami dengan
akal? Ataukah agama yang dipahami oleh kelompok dan golongan
tertentu? Ataukah yang dipahami oleh nenek-nenek moyang?
Ataukah yang dipahami oleh guru-guru besar? Atau bagaimana?
Tentu hal ini telah ada jawabannya:
Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan di dalam
Al-Qur`an:
“Sungguh telah ada pada diri rasul kalian suri tauladan yang
baik bagi orang yang mengharapkan berjumpa dengan Allah dan
hari kiamat dan banyak mengingat Allah.” (Al-Ahzab: 21)
“Barangsiapa yang menentang Rasulul-lah setelah jelas baginya
petunjuk dan dia mengikuti selain jalan kaum mukminin maka
Kami akan memalingkannya kemana dia berpaling dan Kami akan
nyalakan baginya neraka Jahannam dan Neraka Jahannam adalah
sejelek-jelek tempat kembali.” (An-Nisa`: 115)
Kedua, Rasulullah Shallallahu `alaihi wa
menjelas-kan di dalam sabda-sabda beliau:
sallam
telah
“Hendaklah kalian menempuh sunnah-ku dan sunnah Al-Khulafa`ur
Rasyidin setelahku, gigitlah dia dengan gigi geraham dan
berhati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru (di dalam
agama) karena perkara-perkara baru di dalam agama adalah
bid’ah dan setiap kebid’ahan itu adalah sesat.”
[2]
“Sebaik-baik manusia adalah generasi-ku kemudian setelah
mereka kemudian setelah mereka.” [3]
Ketiga, beberapa ucapan ulama Salaf:
Abdullah ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata:
“Ikutilah oleh kalian dan jangan kalian mengada-ada
sungguh (Sunnah Rasulullah Shallallahu `alaihi wa
sallam) telah cukup buat kalian.” [4]
‘Umar bin Abdul ‘Aziz Rahimahullah mengatakan:
“Berhentilah kamu di mana kaum itu (para shahabat)
berhenti. Sesung-guhnya mereka berhenti di atas ilmu,
dan di atas ilmu pula mereka menahan diri, dan mereka
lebih sanggup untuk membuka (perbendaharaan ilmu) dan
jika memiliki keutamaan merekalah yang lebih dahulu.
Jika kalian mengatakan: ‘Telah muncul perkara baru
setelah mereka (shahabat).’ Maka tidak ada yang
mengadakannya kecuali orang yang menyelisihi dan benci
mengikuti jalan mereka. Mereka telah mensifati segala
apa yang menyembuhkan dan berbicara yang mencukupkan.
Melebihi mereka adalah melampaui batas dan menguranginya
adalah meremehkan. Maka tatkala suatu kaum meremehkan
mereka, mereka menjadi kaku. Dan ketika kaum itu
melampau batas, mereka menjadi berlebihan. Dan
sesungguhnya jika mereka berada di tengah-tengah,
sungguh mereka berada di atas jalan yang lurus.” [5]
Al-Imam Malik Rahimahullah berkata: “Tidak ada yang akan
memperbaiki situasi dan kondisi umat sekarang ini
melainkan harus kembali kepada
memperbaiki umat terdahulu.” [6]
apa
yang
telah
Abu ‘Amr Al-Auza’i Rahimahullah berkata: “Sabarkan
dirimu di atas As-Sunnah! Berhentilah di mana kaum
(Salafus Shalih) berhenti dan katakan (semisal) apa yang
mereka telah katakan, dan tahan dirimu pada hal-hal yang
mereka menahan diri. Tempuh-lah jalan Salafmu yang
shalih, niscaya kamu akan mendapatkan apa yang mereka
telah dapatkan.” [7]
Dalam kesempatan yang lain berkata: “Hendaklah kamu
menempuh jalan Salaf meskipun orang-orang menolakmu. Dan
berhati-hatilah dari pendapat banyak orang sekalipun
mereka hiasi dengan ucapan- ucapan.” [8]
Dari dalil-dalil di atas kita mengetahui Islam yang
dimaksudkan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam, Islam
yang akan mengembalikan kejayaan, kemuliaan, dan keemasan
Islam serta kaum muslimin. Itulah agama yang difahami,
diamalkan dan didakwahkan oleh salaf umat ini yang shalih.
Mereka adalah para shahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in.
Berarti jalan yang sesuai dengan syariat dalam menjawab
problematika umat sekarang ini adalah:
Pertama: Menyebarkan
muslimin.
aqidah
yang
benar
di
tengah
kaum
Kedua: Kembali ke jalan Salafush Shalih dalam memahami,
mengamalkan, dan mendakwahkan Islam.
Ketiga: Menyebarkan ilmu yang benar yaitu ilmu yang
berlandaskan Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu
`alaihi wa sallam sesuai dengan pemahaman Salaf umat ini.
Keempat: Mentarbiyah (mendidik) generasi Islam di atas agama
yang mushaffa (bersih).
Kelima: Menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar
Keenam: Mendirikan shalat
Ketujuh: Menunaikan zakat
(diambil dari kaset Keindahan Islam, Asy-Syaikh Musa Alu
Nashr)
Aqidah yang Benar
Munculnya berbagai keyakinan di tengah kaum muslimin memiliki
dampak demikian besar dalam beragama. Bagai-mana tidak, banyak
dari kaum muslimin menganggap sesuatu yang menurut agama
merupakan kesyirikan, sebagai tauhid yang harus diyakini dan
dipegang seumur hidup. Dan begitu sebalik-nya, ketauhidan
dianggap sebagai ajaran baru dan menyesatkan yang harus
dimusuhi dan diperangi. Sunnah men-jadi bid’ah dan bid’ah
menjadi sunnah, kebati-lan sebagai kebenaran dan kebenaran
menjadi sesuatu yang samar. Dengan fenomena yang menyedihkan
ini kita dituntut untuk belajar guna mengetahui aqidah yang
benar untuk kemudian bisa memilah-nya dari aqidah yang jelek.
Aqidah yang benar adalah aqidah yang bersumber dari Al-Qur`an
dan hadits-hadits yang shahih (benar datangnya dari Rasulullah
Shallallahu `alaihi wa sallam) yang dipahami dengan pemahaman
Salafush Shalih umat ini. (‘Aqidatu Tauhid karya DR. Shalih
bin Fauzan hal. 11)
Meremehkan Aqidah dan Tauhid
Aqidah dan tauhid memiliki keduduk-an tinggi dan sangat besar
di dalam agama. Bahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya
meletakkan keduanya dalam prinsip yang pertama dan utama di
dalam agama.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Berilmulah kamu tentang Laa Ilaha Illallah.” (Muhammad: 19)
Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
“Islam dibangun di atas lima dasar: Mempersaksikan bahwa tidak
ada sesem-bahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah
utusan Allah…”
[9]
“Hendaklah yang pertama kali kamu serukan kepada mereka adalah
mempersaksikan kalimat La Ilaha illallah.” [10]
Dengan sebab itulah para nabi dan rasul diutus, kitab-kitab
diturunkan, adanya perintah amar ma’ruf nahi munkar, ditegakkannya jihad, ada hari pembalasan, ada hari hisab
(perhitungan), adanya tim-bangan dan adanya surga dan neraka.
Bila engkau meremehkan masalah aqidah dan tauhid dengan
menyebutnya sebagai kulit agama atau ucapan lain yang semakna,
berarti engkau telah melakukan kesalahan yang sangat fatal dan
melakukan dosa besar. Engkau berada dalam ambang marabahaya
yang dahsyat dan di tepi jurang kehinaan serta kehancuran.
Dikhawatirkan engkau keluar dari Islam. Engkau wajib bertaubat
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari perbuatan-mu, yaitu
meremehkan sesuatu yang karenanya diutus para nabi dan rasul
serta diturunkannya kitab-kitab oleh Allah Subhanahu wa
Ta’ala.
Wallahu a’lam.
Sumber: Majalah Asy Syariah
**************
Catatan Kaki:
1. HR. Al-Imam Abu Dawud no. 3003, dishahihkan oleh AlAlbani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah jilid 1
hadits no. 11.
2. HR. Al-Imam Abu Dawud no. 3991, Ibnu Majah no. 42, Ahmad
no. 165 dan Ad-Darimi no. 95 dari shahabat ‘Irbadh bin
Sariyah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah AlAhadits Ash-Shahihah no. 2735.
3. HR. Al-Imam Al-Bukhari no. 2457, 2458 dan Al-Imam Muslim
no. 4600, 4601, 4602 dari shahabat Abdullah bin Mas’ud
dan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash.
4. Atsar Ibnu Mas’ud adalah shahih diriwayatkan oleh
beberapa tabi’in. Di antaranya Abu Abdurrahman As-Sulami
diriwayatkan oleh Al-Imam Ath-Thabrani di dalam Al-Kabir
(8870), Ad-Darimi (211), Al-Baihaqi di dalam Al-Madkhal
(204) dan Ibnu Wadhdhah di dalam Al-Bida’ wan Nahyu
‘Anha hal. 10. Juga dari Ibrahim An-Nakha’i diriwayatkan
5.
6.
7.
8.
9.
oleh Abu Khaitsamah di dalam kitab Al-‘Ilmu, serta dari
Qatadah diriwayatkan oleh Ibnu Wadhdhah (hal. 11).
Lihat Lum’atul I’tiqad karya Ibnu Qudamah dan beliau
sebutkan pula di dalam kitab beliau Al-Burhan Fi Bayanil
Qur`an hal. 88 dan 89.
Lihat Kitab ‘Ilmu Ushulil Bida’ karya Asy-Syaikh Ali
Hasan Ali bin Abdul Hamid.
Lihat Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah 1/174.
Lihat Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah 1/159 dan Lum’atul
I’tiqad masalah 9.
HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu
‘Umar.
10. HR. Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Ibnu
‘Abbas.
Ditengah
Derasnya
Badai
Fitnah dan Mahalnya Sebuah
Hidayah
DITENGAH DERASNYA BADAI FITNAH DAN MAHALNYA SEBUAH HIDAYAH
Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi
Mahalnya Sebuah Hidayah
Bila menengok tatanan kehidupan umat manusia di masa
jahiliyah, niscaya akan didapati potret kehidupan yang multi
krisis. Sebuah kehidupan, yang umat manu-sianya dirundung
kegalauan spiritual dan kepincangan intelektual. Tingkah
polahnya sangat jauh dari norma-norma agama yang luhur dan
fitrah suci. Sementara corak kehidupannya adalah kebejatan
akhlaq dan dekadensi moral. Sehingga kesyirikan –yang
merupakan dosa paling besar di sisi Allah– merajalela.
Demikian pula pembunuhan, kezhaliman, perzinaan dan berbagai
macam bentuk kemaksiatan lainnya tumbuh subur bak jamur di
musim hujan. Tak ayal, bila masa itu kemudian dikenal dengan
masa jahiliyah.
Di kala umat manusia berada dalam kegersangan hati dan haus
akan siraman rohani inilah, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang mengutus Nabi Muham-mad Shallallahu `alaihi wa
sallam, membawa petunjuk ilahi dan aga-ma yang benar serta
kitab suci Al-Qur`an. Dengan sebuah misi mulia: mengentaskan
umat manusia dari jurang kejahiliyahan yang gelap gulita
menuju cahaya Islam yang terang benderang. Allah Subhanahu wa
Ta’ala berfirman:
“Dialah (Allah Subhanahu wa Ta’ala) yang telah mengutus RasulNya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar, agar Allah
Subhanahu wa Ta’ala memenang-kan agama tersebut atas semua
agama yang ada, walaupun orang-orang musyrik tidak
menyukainya.” (Ash-Shaff: 9)
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami,
menjelaskan kepada kalian banyak dari Al-Kitab yang kalian
sembunyi-kan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sesungguhnya
telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang
menerang-kan (Al-Qur`an). Dengan kitab itulah Allah menunjuki
orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan
keselamatan. Dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluar-kan
orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan
yang lurus.” (Al-Ma`idah: 15-16)
Namun hidayah itu sangat mahal harganya. Tak setiap orang bisa
mendapat-kannya. Karena itu, Allah memerintahkan para hamba
untuk selalu memohon hidayah tersebut dalam setiap rakaat
shalat mereka. Dengan sebuah lantunan doa dan harapan:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (Al-Fatihah: 6)
Bahkan tatkala hidayah ilahi telah didapatkan, Allah Subhanahu
wa Ta’ala perintahkan pula para hamba untuk memohon keteguhan
hati (istiqamah) di atasnya. Karena tak setiap orang yang
telah mendapatkan hidayah tersebut dapat istiqamah di
atasnya.Allah perintahkan dengan sebuah lantunan doa:
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami
setelah Engkau beri kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami
kasih sayang dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Dzat
Yang Maha Pemberi.” (Ali ‘Imran: 8)
Betapa mahalnya nikmat hidayah tersebut. Oleh karenanya, Allah
Subhanahu wa Ta’ala selalu mengingatkan para hamba untuk
mensyu-kurinya, dengan berpegang teguh terhadap agama-Nya dan
tidak bercerai-berai. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala:
“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah
secara bersama-sama dan jangan bercerai-berai. Ingatlah akan
nikmat Allah yang telah dicurahkan kepada kalian, ketika
kalian dahulu bermusuhan lalu Allah menyatukan hati-hati
kalian sehingga kalian menjadi bersaudara dengan nikmat
tersebut, dan (juga) kalian dahulu berada di tepi jurang
neraka lalu Allah selamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah
Subhanahu wa Ta’ala menerangkan tanda-tanda kekuasaan-Nya
kepada kalian agar kalian mendapat hidayah.” (Ali ‘Imran: 103)
Badai Fitnah yang Menghempaskan
Seiring dengan mahalnya hidayah ilahi yang tak didapat oleh
setiap hamba Allah, ternyata kehidupan dunia ini tak pernah
lengang dari fitnah dan ujian. Badai fitnah dan hempasannya
yang amat kuat merupa-kan suatu realita yang harus dihadapi
oleh setiap anak manusia, terlebih seorang muslim.
Militansinya akan selalu diuji. Eksistensi keimanannya pun
akan senan-tiasa digoyang. Semua itu untuk membukti-kan siapa
yang tergolong jujur dalam keimanannya dan siapa pula yang
berdusta.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“ Apakah manusia mengira mereka dibiarkan berkata: ‘Kami telah
beriman’ se-dangkan mereka tidak diuji? Sungguh Kami telah
menguji orang-orang sebelum mereka agar Allah Subhanahu wa
Ta’ala melihat siapakah orang-orang yang jujur (dalam
keimanannya) dan siapa (pula) yang berdusta.” (Al-’Ankabut:
2-3)
Para pembaca yang mulia, bagai-manakah datangnya badai fitnah
itu?
Datangnya fitnah itu ibarat potongan-potongan malam. Tatkala
datang sepotong darinya, maka keadaan pun menjadi gelap. Dan
setiap kali datang potongan berikutnya semakin gelap pula
keadaannya. Demikian-lah seterusnya, kegelapan di atas
kegelapan. Hingga seseorang benar-benar merasa kesulitan untuk
membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Mana yang halal
dan mana yang haram. Wallahul Musta’an. Hal ini sebagaimana
yang disabdakan Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam:
“Bergegaslah kalian untuk beramal, (karena akan datang)
fitnah-fitnah ibarat potongan-potongan malam. Di pagi hari
seseorang dalam keadaan beriman dan sore harinya dalam keadaan
kafir. Di sore hari dalam keadaan beriman dan keesokan harinya
dalam keadaan kafir. Dia menjual agamanya dengan sesuatu dari
(gemerlapnya) dunia ini.” (HR. Muslim no.118, dari shahabat
Abu Hurairah Rahimahullah)
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al Madkhali -hafizhahullah- berkata:
“Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam seorang yang jujur
lagi terpercaya telah memberitakan kepada kita dalam banyak
haditsnya, termasuk hadits Abu Hurairah Rahimahullah (di atas
-pen) tentang munculnya berbagai macam fitnah di tengah umat
ini. Dan benar-benar telah terjadi berbagai macam fitnah besar
yang sangat kuat hempasannya terhadap aqidah dan manhaj
(prinsip beragama) umat Islam, mencabik-cabik keutuhan mereka,
menyebabkan pertumpahan darah di antara mereka dan menjatuhkan
kehormatan mereka. Bahkan benar-benar telah menjadi kenyataan
(pada umat ini) sabda Nabi Shallallahu `alaihi wa sallam:
“ Sungguh kalian akan mengikuti jalan/jejak orang-orang
sebelum kalian (Yahudi dan Kristen -pen) sejengkal dengan
sejengkal dan sehasta dengan sehasta1. Sampai-sampai jika
mereka masuk ke liang binatang dhab (sejenis biawak yang hidup
di padang pasir -pen) pasti kalian akan mengikutinya.”
Beliau juga berkata: “Di negeri-negeri kaum muslimin, saat ini
telah bermunculan berbagai macam fitnah, seperti komunis,
liberal, sekuler, ba’ts (sosialis), dan demokrasi dengan
segala perangkatnya. Kelompok sesat Syi’ah Rafidhah dan
Khawarij pun semakin gencar menghembuskan racun-racun yang
dahulu disembunyikannya. Sebagaimana pula telah muncul
kelompok sesat Qadiyaniyyah dan Baha`iyyah.” (Haqiqah AlManhaj Al-Wasi’ ‘Inda Abil Hasan, hal. 2)
Para pembaca yang mulia, dari keterangan di atas jelaslah bagi
kita bahwa badai fitnah yang menghempaskan itu ter-kadang
dalam bentuk iming-iming harta dan dunia (fitnah syahawat),
dan terkadang pula dalam bentuk kerancuan berfikir (fitnah
syubuhat) yang dihembuskan oleh para penyeru kesesatan. Hanya
Allah-lah satu-satunya tempat berlindung dari kedua jenis
fitnah tersebut, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
Fenomena Fitnah di Era Globalisasi
Era globalisasi dan industrialisasi kian hari semakin pesat.
Laju modernisasi yang kerap kali bertajuk ‘pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK)’ terus bergulir sesuai
dengan visi dan misinya. Sarana informasi, komunikasi, dan
transpor-tasi pun kian hari semakin mengglobal, yang
menjadikan dunia ini bak sebuah kampung yang mudah untuk
berinteraksi dan berkomunikasi. Fenomena ini, tentunya
memberikan kemudahan tersendiri bagi umat manusia dalam
melakukan berbagai aktivitasnya. Namun di sisi lain, tak bisa
dipungkiri mempunyai dampak negatif yang cukup serius bagi
moralitas mereka.
Hal ini nampak jelas bila kita mencer-mati salah satu saja
dari jargon era globalisasi dan industrialisasi semisal Pasar
Bebas yang kondisinya semakin hari semakin ‘menggila’. Para
mafia dan preman berdasi pun tak ketinggalan untuk
meramaikannya. Sehingga tak mengherankan bila dunia bisnis dan
perdagangan industri saat ini banyak diwarnai oleh kasus-kasus
kelabu (bahkan kelam) yang tidak selaras dengan fitrah suci
dan norma-norma agama yang murni.
Fenomena di atas, galibnya sudah dimengerti oleh khalayak
ramai. Namun di sana ada juga Pasar Bebas yang sejatinya samasama berdiri di balik ‘kecanggihan’ IPTEK dan tidak diketahui
oleh kebanyakan orang, namun efeknya demikian besar bagi
eksistensi keimanan seorang muslim. Tahukah anda, pasar bebas
apakah itu? Ia adalah pasar bebas ideologi dan syahwat. Pasar
bebas yang hakekatnya adalah perang pemikiran (ghazwul fikri),
dengan umat Islam sebagai sasaran bidiknya.
Di pasar bebas yang satu inilah, ekspor-impor ideologi sesat
sekaligus transfernya dapat dilakukan dengan begitu mudah.
Demikian pula promosi syahwat, baik dalam bentuk wanita dengan
segala aksennya ataupun hingar bingarnya fitnah dunia yang
selainnya. Cukuplah televisi, parabola dan internet sebagai
perwakilan global dari IPTEK yang menjadi mediator aktif bagi
proyek ekspor-impor ideologi sesat dan syahwat tersebut. Hal
ini semakin meyakinkan bahwa era globalisasi dan
industrialisasi modern dengan laju arusnya yang sangat deras
ini, setahap demi setahap dapat ‘menggerus’ agama, manhaj
(prinsip beragama), dan harga diri umat Islam.
Para pembaca yang budiman, ketika genderang ghazwul fikri
telah ditabuh via ‘pasar bebasnya’, maka tak ayal kesyirikan
dengan berbagai merknya muncul di permukaan. Kesesatan dengan
segala aksesorisnya pun meruak. Demikian pula kemurtadan dari
agama Islam terus berlangsung, seiring dengan semakin
gencarnya fitnah syahwat. Tentunya, ini merupakan petaka yang
dapat mengancam eksistensi umat Islam di penjuru dunia.
Atas dasar itulah nampaknya posisi kita di era globalisasi ini
benar-benar berada di persimpangan jalan. Persimpangan jalan
antara fitnah syubhat dan fitnah syahwat. Sebuah posisi yang
cukup mencemaskan. Pernahkah kita merenungkannya?! Pernah-kah
kita memikirkan keselamatan diri kita?! Ataukah justru kita
terlena dan larut dengan laju fitnah yang amat deras arusnya
itu?! Na’udzu billahi min dzalik.
Ketika Fitnah Syahwat Mengitari Kita
Fitnah syahwat (harta dan dunia) me-rupakan realita kehidupan
yang tidak bisa dipungkiri. Bahkan keindahannya yang menggoda,
merupakan bagian dari sunna-tullah. Namun itu semua tak ada
artinya bila dibandingkan dengan kenikmatan di ne-geri
akhirat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
segala apa yang diingini (syahawat), yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak berupa emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak,dan sawah ladang. Itulah kesenangan
hidup di dunia; Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga). Katakanlah: ‘Maukah aku kabarkan kepada kalian apa
yang lebih baik dari itu semua?’ Bagi orang-orang yang
bertakwa (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), di sisi Rabb
mereka ada jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.
Mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri
yang disucikan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan
Allah Maha Melihat akan para hamba-Nya.” (Ali ‘Imran: 14-15)
Para pembaca yang mulia, cobalah amati apa yang ada di sekitar
anda! Benarkah di sana ada fitnah syahawat? Orang yang bijak
pasti akan mengatakan: ‘Benar’. Terlebih dengan semakin
derasnya arus globalisasi yang kerap kali mengemas keangkaramurkaan dengan isu modernisasi dan kekinian. Bagaimana tidak?!
Slogan hidup ‘Time is money’ (waktu adalah uang) telah
bercokol pada otak kebanyakan orang, termasuk umat Islam.
Rumor kemiskinan dan penderitaan karena berpegang teguh dengan
agama sering kali didengungkan. Sehingga tak jarang bila
segala sesuatunya diukur dengan harta. Bahkan keberhasilan dan
kesuksesan hidup pun mulai diteropong dari sisi yang satu ini,
tanpa melirik lagi kepada kampung akhirat. Padahal di sanalah
sesungguhnya keberha-silan dan kesuksesan hakiki akan
terbukti. Wallahul Musta’an.
Pornografi dan pornoaksi telah menjadi hak asasi yang
diperjuangkan. Wanita pekerja seks komersial dengan praktek
prostitusinya berkeliaran di mana-mana. Bahkan dunia kampus
pun telah mereka rambah, walaupun dengan identitas ‘ayam
kampus’. Kasak-kusuk perselingkuhan dengan segala liku-likunya
sering menimpa rumah tangga. Hingar bingarnya kehidupan malam
di bar/kafe/diskotik dengan pesta dansa dan dentingan gelasgelas minuman keras mewarnai hari-hari sebagian kawula muda.
Kriminalitas pun sering kali terjadi, yang tak jarang motifnya
adalah urusan dunia. Hal ini mengingatkan kita akan sabda Nabi
Shallallahu `alaihi wa sallam:
“ Sesungguhnya di antara tanda (datangnya) hari kiamat adalah
dicabutnya ilmu agama dan tampak (tersebarnya) kebodohan,
merajalelanya perzinaan dan diminumnya (baca: dipestakannya)
minum-an khamr. Kaum lelaki semakin berkurang, sementara kaum
wanita semakin bertambah. Sampai-sampai limapuluh orang wanita
dikepalai oleh satu orang lelaki.” (HR. Muslim no. 2671, dari
shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu)
Dalam riwayat Muslim lainnya (no. 2672) dari shahabat Abdullah
bin Mas’ud dan Abu Musa Al-Asy’ari, Rasulullah Shallallahu
`alaihi wa sallam bersabda:
“Dan banyak
pembunuhan.”
terjadi
padanya
al-harj,
al-harj
adalah
Demikianlah realita fitnah syahawat yang mengitari kita.
Hempasannya tidak hanya menerpa orang awam atau anak jalanan
semata. Bahkan orang berilmu pun nyaris terancam ketika
orientasi hidupnya adalah dunia. Di mana ada ‘lahan basah’ dia
pun ada di sana, walaupun harus mengikuti keinginan big bosnya yang kerap kali tak sesuai dengan hati nuraninya.
Syahdan, ketika hawa nafsu telah membelenggu fitrah sucinya
maka ayat-ayat Allah (agama) dia jual dengan harga yang murah.
Manhaj (prinsip agamanya) pun dia korbankan demi meraih
kelayakan hidup atau kemapanan ekonomi. Dengan tegas Allah
Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan orang-orang berilmu dari
perbuatan tersebut, sebagai-mana dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah
diturunkan Allah, yaitu Al-Kitab, dan menjualnya dengan harga
yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan
(tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api. Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak akan berbicara kepada mereka pada
hari kiamat, tidak akan menyucikan mereka dan bagi mereka
siksa yang pedih. Mereka itulah orang-orang yang membeli
kesesatan dengan petunjuk dan (membeli) siksa dengan ampunan.
Alangkah beraninya mereka menghadapi api neraka!” (Al-Baqarah:
174-175)
Para pembaca yang mulia, sesungguh-nya agama Islam tidak
melarang seseorang untuk mencari sumber penghidupan. Namun
jangan sampai itu semua melupakannya untuk mencari kebahagiaan
negeri akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagian) negeri akhirat. Dan janganlah kamu melupa-kan
bagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah
(kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik
kepadamu. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.” (Al-Qashash: 77)
Menjual Agama, Pangkal Kehinaan
Para pembaca yang mulia, menjual agama dan manhaj merupakan
puncak terburuk dari tenggelamnya seseorang ke dalam badai
fitnah. Dan merupakan suatu kesepakatan bahwasanya menjual
agama (apapun alasannya) adalah tercela. Bahkan merupakan
pangkal kehinaan dan kemurtadan. Dalam banyak ayat-Nya Allah
Subhanahu wa Ta’ala mencela orang-orang yang menjual agamanya.
Di antaranya, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Merekalah orang-orang yang telah membeli kesesatan dengan
petunjuk, maka tidaklah beruntung perdagangan mereka itu dan
mereka itu bukanlah orang-orang yang mendapat hidayah.” (AlBaqarah: 16)
“Sesungguhnya orang-orang yang membeli kekafiran dengan
keimanan sekali-kali tidak akan memudharatkan Allah sedikit
pun dan bagi mereka adzab yang pedih.” (Ali ‘Imran: 177)
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekalikali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di
akhirat termasuk orang-orang yang merugi. Bagaimana Allah akan
menunjuki suatu kaum yang kafir (murtad) sesudah mereka
beriman, serta mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar
rasul, dan keterangan-keterangan pun telah sampai kepada
mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zhalim. Mereka
itu, balasannya ialah bahwasanya laknat Allah ditimpakan
kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan
manusia seluruh-nya.” (Ali ‘Imran: 85-87)
Dengan demikian, betapa tercelanya orang-orang yang menjual
agamanya. Di dunia jerih payahnya sia-sia. Bahkan mendapatkan
laknat dari Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.
Sedang-kan di akhirat, dia termasuk orang-orang merugi dan
menuai adzab yang pedih. Tentunya, hal ini berbeda dengan
keadaan orang-orang yang berteguh diri di atas keimanan hingga
akhir hayatnya. Mereka mendapatkan kebahagiaan baik di dunia
maupun di akhirat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa
Ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang yang me-nyatakan: ‘Rabb-ku adalah
Allah,’ kemudian berteguh diri di atasnya (istiqamah), para
malaikat akan turun kepadanya (ketika sakratul maut) seraya
mengatakan: ‘Janganlah kalian merasa takut dan jangan pula
bersedih. Ber-gembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan
Allah untuk kalian’. Kami Pelin-dung kalian dalam kehidupan
dunia dan di akhirat. Di dalamnya kalian akan memper-oleh
segala apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) apa yang
kalian minta. Sebagai hidangan dari Allah Dzat Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fush-shilat: 30-32)
Sehingga tak mengherankan bila Allah Yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang mewanti-wanti para hamba-Nya yang beriman agar
tidak meninggalkan dunia ini kecuali dalam keadaan di atas
agama Islam. Sebagaimana dalam firman-Nya Subhanahu wa Ta’ala:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada
Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali
meninggal dunia melainkan sebagai pemeluk agama Islam.” (Ali
‘Imran: 102)
Saatnya Kembali kepada Allah
Para pembaca yang mulia, mengingat betapa mahalnya nilai
hidayah di tengah kuatnya badai fitnah baik syubuhat maupun
syahawat, maka sudah saatnya bagi kita untuk kembali kepada
Allah. Kembali kepada-Nya dengan memegang erat-erat agama
Islam dan meniti jejak Rasulullah Shallallahu `alaihi wa
sallam dan para shahabatnya, kemudian bersatu di atasnya.
Itulah satu-satunya jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan berpegang teguhlah kalian dengan tali (agama) Allah
secara bersama-sama dan jangan bercerai-berai. Ingatlah nikmat
Allah yang telah dicurahkan kepada kalian, ketika kalian
dahulu bermusuhan lalu Allah menyatukan hati-hati kalian
sehingga kalian menjadi bersaudara dengan nikmat tersebut, dan
(juga) kalian dahulu berada di tepi jurang neraka lalu Allah
selamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan
tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kalian agar kalian mendapat
hidayah.” (Ali ‘Imran: 103)
“Dan ikutilah dia (Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi wa
sallam) supaya kalian mendapatkan petunjuk.” (Al-A’raf: 158)
“Jika mereka beriman seperti apa yang kalian (Rasulullah
Shallallahu `alaihi wa sallam dan para shahabatnya) beriman
dengannya, sungguh mereka akan mendapatkan hidayah.” (AlBaqarah: 137)
Akhir kata, semoga ampunan, taufiq dan hidayah ilahi selalu
mengiringi kita selama hayat masih dikandung badan.
“Wahai Rabb kami ampunilah dosa-dosa kami dan tindak-tanduk
kami yang keterlaluan dalam urusan kami, dan teguhkanlah
pendirian kami, serta tolonglah kami atas kaum yang kafir.”
(Ali ‘Imran: 147)
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: Majalah Asy Syariah
***************
Catatan Kaki:
1. Ini merupakan permisalan tentang betapa kuatnya
kecenderungan umat ini dalam mengikuti jejak orang
Yahudi dan Kristen. Bila mereka melangkah sejengkal,
umat ini pun mengikutinya sejengkal langkah pula. Dan
bila mereka melangkah sehasta, umat ini pun akan
mengikutinya sehasta pula. Sampai-sampai ketika mereka
masuk ke liang binatang dhab (yang hakekatnya tidak bisa
dimasuki oleh
mengikutinya.
manusia),
umat
Islam
pun
akan
Audio:
Kajian
Salafiyah
Indonesia Sabtu-Ahad / 06 -07
Shafar 1436H
‫ﺑﺴﻢ اﻟﻠﻪ اﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﻴﻢ‬
Berikut Rekaman Kajian Salafiyah Indonesia Sabtu-Ahad 22-23
Shofar 1436 H/15-16 November 2014 M
***
1. Tegal
# Masjid Ali bin Abi Thalib, Jln. Kapten Ismail, Gg. Anggur 1,
Kota Tegal, Jawa Tengah (Jum’at (ba’da Ashar), 05 Shofar 1436
H – 28 November 2014 M)
Tema : “Fenomena Tamyi’ dalam Dakwah”
Pemateri : Al-Ustadz Abu ‘AbdillahMuhammad ‘Afifuddin AsSidawy Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
Sesi 3 Tanya-Jawab ~ Download Disini
____________________________________________________________
2. Bogor
# Ma’had Riyadhul Jannah, Bogor, Jawa Barat (Sabtu, 06 Shofar
1436 H – 29 November 2014 M)
Tema : “Mengenal Prinsip Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah”
Pemateri : Al-Ustadz Usamah Mahri, Lc Hafidzhohulloh
Sesi 1 ~ Download Disini
Sesi 2 ~ Download Disini
Sesi 3 Tanya-Jawab ~ Download Disini
_____________________________________________________________
3. Sangatta
# Masjid An-Nur, Sangatta, Kalimantan Timur (Sabtu-Ahad, 06-07
Shofar 1436 H / 29 -30November 2014 M)
Tema : “Kokoh di atas Manhaj Salaf “
Pemateri : Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askary Jamal Al Bugisi
Hafidzhohulloh
Sesi 1 Kokoh di atas Manhaj Salaf~ Download Disini
Ciri-ciri Wanita Sholehah ~ Download Disini
Sikap Muslim Terhadap Pemerintah ~ Download Disini
Taushiyah Subuh – Pentingnya Berteman Dengan Orang Shalih
~ Download Disini
Sesi 2 Kokoh di atas Manhaj Salaf~ Download Disini
_____________________________________________________________
4. Depok
# Musholla An-Nuur, Limo Depok, Jawa Barat (Ahad, 07 Shofar
1436 H / 30November 2014 M)
Tema : “ Beruntunganlah Bagi Al-Ghuraba “
Pemateri : Al-Ustadz Usamah Mahri, Lc Hafidzhohulloh
Sesi 1 Taushiyah Umum – Beruntunganlah Bagi Al-Ghuraba
~ Download Disini
Sesi 2 Tanya Jawab ~ Download Disini
_____________________________________________________________
5. UNHAS
# Masjid Al’aafiyah (Masjid Medik) Lt.2 Fak Kedokteran Unhas
(Jum’at, 05 Shofar 1436 H / 28 November 2014 M)
Tema : Pelajaran Kitab “ Indahnya Surga (Kitab Hadil arwah ila
biladil afroh karya Ibnul Qoyyim) “
Pemateri : Al-Ustadz Abdurrohim Pangkep Hafidzhohulloh
003 Tawaran Jual Beli (Surga) ~ Download Disini
_____________________________________________________________
6. Pangkalan Bun
# Masjid Al-Markaz Al Islami, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah
(Jum’at – Ahad, 05-07 Shofar 1436 H / 28-30 November 2014 M)
Tema : Pelajaran Kitab “ Hak Anak atas Orang Tua “
Pemateri : Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin Hafidzhohulloh
360205-07~01 Ust. Ayip – Hak Anak atas Orang Tua
~ Download
Disini
Maa Hiya As-Salafiyyah
360205-07~02 Ust. Ayip – [Sesi 1] Maa Hiya As-Salafiyyah
~ Download Disini
360205-07~03 Ust. Ayip – [Sesi 2] Maa Hiya As-Salafiyyah ~
Download Disini
360205-07~04 Ust. Ayip – [Sesi 3] Maa Hiya As-Salafiyyah
~ Download Disini
360205-07~05 Ust. Ayip – [Sesi 4] Maa Hiya As-Salafiyyah
~ Download Disini
Kitabut Tauhid
360205-07~06 Ust. Ayip – [Sesi 1] Kitab At-Tauhid ~ Download
Disini
360205-07~07 Ust. Ayip – [Sesi 2] Kitab At-Tauhid ~ Download
Disini
360205-07~08 Ust. Ayip – [Sesi 3] Kitab At-Tauhid ~ Download
Disini
Arbain An-Nawawi
360205-07~09 Ust. Ayip – [Sesi 1] Arbain An-Nawawi ~ Download
Disini
360205-07~09 Ust. Ayip – [Sesi 2] Arbain An-Nawawi ~ Download
Disini
**************************************************************
**
Sumber Audio: Dari berbagai sumber…
Jazaahumullahu Khairaa, Kepada Semua Pihak Yang telah turut
andil dalam menyerahkan file rekamannya dan Semoga bermanfaat
bagi kita semua
Tiga Pesan Nabi Yang Agung
TIGA PESAN NABI NAN AGUNG
Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc.
Dari Abu Dzar radhiyallahuanhu, ia berkata:
Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda kepadaku:
Rasulullah
َ‫اﺗَّــﻖ ِ اﻟﻠــﻪَ ﺣ َﻴ ْﺜُﻤَــﺎ ﻛ ُﻨْــﺖَ وَأَﺗْﺒِــﻊ ِ اﻟﺴ َّــﻴِّﺌَﺔ‬
ُ
ْ
ٍ ‫اﻟ ﺤ َﺴ َﻨَﺔَ ﺗَﻤْﺤ ُﻬ َﺎ وَﺧ َﺎﻟِﻖ ِ اﻟﻨَّﺎسَ ﺑِﺨ ُﻠ ﻖ ٍ ﺣ َﺴ َﻦ‬
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada. Ikutilah
perbuatan jelek dengan perbuatan baik niscaya kebaikan akan
menghapusnya dan pergaulilah manusia dengan budi pekerti yang
mulia.” (HR. At-Tirmidzi dalam Sunannya, Kitabul Birri
Washshilah, hadits no. 1987. At-Tirmidzi mengatakan: Hadits
ini hasan shahih. Asy-Syaikh Al-Albani menghasankan dalam
Shahih Sunan At-Tirmidzi)
Pesan-pesan mulia dalam hadits ini meskipun Nabi Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam tujukan kepada sahabat Abu Dzar
Jundub bin Junadah Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam,
namun sebenarnya juga diarahkan kepada seluruh umatnya. Karena
telah maklum dalam kaidah ushul fiqih bahwa pembicaraan Allah
Subhanahuwata’ala dan Rasul-Nya (sebagai penentu syariat) bila
diarahkan kepada seorang dari umat ini, maka itu sesungguhnya
ditujukan pula kepada seluruh umat ini kecuali ada dalil yang
menyatakan kekhususan.
Seperti itu pula kaidah yang lainnya, bahwa dianggap adalah
keumuman lafadz bukan kekhususan peristiwa. Saudaraku, bila
sahabat Nabi Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam sebagai
generasi terbaik umat ini perlu diberi arahan dan disampaikan
kepadanya pesan, maka kita yang hidup di masa sekarang
tentunya lebih membutuhkan.
Tiga wasiat yang mulia ini adalah faktor utama seorang meraih
kebahagiaan hidup di dunia yang fana ini dan akhirat yang
abadi kelak. Karena wasiat tersebut mengandung bentuk
pelaksanakan hak-hak Allah Subhanahuwata’ala dan hak hambahamba-Nya. Seseorang akan dianggap baik bila bagus hubungannya
dengan Allah Subhanahuwata’ala dan bagus pergaulannya dengan
sesama manusia. Oleh karena itu, banyak sekali ayat Al-Qur’an
yang memerintahkan untuk mendirikan shalat dan memberikan
zakat.
Pada amalan shalat terkandung kedekatan yang tulus antara
hamba dengan Allah Subhanahuwata’ala, sedangkan amalan zakat
mencerminkan sikap belas kasihan kepada orang yang kesulitan
dan membutuhkan. Oleh karena itu, Nabi kita Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam banyak melakukan shalat dan
memberikan shadaqah.
Wasiat pertama dan paling utama dalam hadits ini adalah takwa
kepada Allah Subhanahuwata’ala di manapun berada
Takwa, seperti dikatakan Thalq bin Habib rahimahullah, adalah:
“Kamu melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahuwata’ala, di
atas cahaya (ilmu) dari-Nya dengan mengharap pahala-Nya. Kamu
(juga) meninggalkan bermaksiat kepada Allah Subhanahuwata’ala,
di atas cahaya (ilmu) dari-Nya dan karena takut siksa-Nya.”
Umar bin Abdul Aziz radhiyallahuanhu mengatakan, “Takwa kepada
Allah Subhanahuwata’ala adalah meninggalkan apa yang Allah
Subhanahuwata’ala haramkan dan melaksanakan apa yang Ia
wajibkan.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/400)
Allah Subhanahuwata’ala berfirman dengan menyebutkan sifatsifat orang yang bertakwa:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu
suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah
beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitabkitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada
kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta;
dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan
menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya
apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah
orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orangorang yang bertakwa.” (Al-Baqarah: 177).
Dari sini, maka takwa bukanlah kalimat yang sunyi dari makna
dan bukan pula pengakuan yang kosong dari bukti. Takwa adalah
kata yang sangat luas cakupannya. Takwa adalah melaksanakan
apa yang dibawa oleh syariat Islam ini baik yang berupa
aqidah, ibadah, muamalah, dan akhlak. Karena takwa adalah
bentuk pengabdian kepada Allah Subhanahuwata’ala, dia tidak
dibatasi oleh waktu dan tempat. Bukan orang bertakwa yang
sebenarnya bila dia di hadapan orang terlihat taat, namun di
saat sendirian dia bermaksiat.
Seperti itu pula ketika berada di masjid terlihat ruku’ dan
sujud namun di saat berada di pasar, di tempat kerja, dan
tempat-tempat
lainnya
meninggalkan
perintah
Allah
Subhanahuwata’ala dan melanggar batasan-batasan-Nya. Bertakwa
kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan sebenar-benar takwa
adalah dengan mensyukuri nikmat-Nya dan tidak mengkufuri serta
mengingat Allah Subhanahuwata’ala dan tidak melupakan-Nya di
saat lapang atau sempit, dalam kondisi senang ataupun sedih.
Bagi orang yang bertakwa adalah janji kemuliaan di dunia dan
akhirat. Diantara yang akan diperolehnya di dunia adalah:
1. Dibukanya keberkahan, dimudahkan semua urusannya, dan
diberikan dia rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan
bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka
berkah dari langit dan bumi.” (Al-A’raf: 96)
Juga firman-Nya:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan
mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari
arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaaq: 2-3)
2. M e m p e r o l e h d u k u n g a n
Subhanahuwata’ala.
dan
bantuan
dari
Allah
3. Dijaga oleh Allah Subhanahuwata’ala dari tipu daya
musuh.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
“Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka
sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu.” (Ali
Imran: 120)
Adapun di akhirat kelak, mereka mendapatkan surga dengan
segala kenikmatannya, yang jiwa-jiwa mereka akan senantiasa
bahagia dan mata pun sejuk karenanya. Allah Subhanahuwata’ala
berfirman:
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan)
surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Rabbnya.” (Al-Qalam:
34)
Namun, ketakwaan yang sesungguhnya tidak akan diperoleh tanpa
adanya ilmu. Dengan ilmu akan bisa dibedakan antara perintah
dan larangan, kebaikan dan kejelekan. Bila ketakwaan telah
menjadi baju bagi seseorang niscaya akan memunculkan sikap
takut kepada Allah Subhanahuwata’ala dan selalu merasa diawasi
oleh-Nya.
Inilah diantara rahasia mengapa tindak kejahatan di tengah
masyarakat kita seolah tak bisa diakhiri, bahkan setiap hari
semakin bertambah kejelekannya. Semua itu tidak lain karena
rasa takut kepada Allah Subhanahuwata’ala melemah atau nyaris
hilang. Memang, untuk tetap berada di atas ketakwaan tak
semudah yang dibayangkan. Beragam bujuk rayu serta gangguan
selalu menghadang. Akan tetapi manakala kita mengetahui
manisnya buah yang akan dipetik dari ketakwaan, maka jalan
untuk merealisasikannya terbuka lebar dan terasa mudah.
Wasiat atau pesan Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam yang kedua
adalah agar melakukan amal kebaikan setelah terpeleset
melakukan dosa dan kesalahan
Diantara faedah amal kebaikan adalah menghapus kesalahan.
Memang, tak bisa dimungkiri bahwa terkadang seseorang
terjerumus dalam kenistaan karena sekian banyak faktor.
Diantaranya, lingkungan yang jelek, bisikan jiwa yang tidak
baik, dan bujuk rayu setan. Jika iman seseorang itu lemah dan
faktor-faktor tersebut menyelimutinya, akan sangat mudah
seseorang tergelincir. Tetapi, Allah Subhanahuwata’ala lebih
sayang terhadap hamba-Nya daripada hamba terhadap dirinya
sendiri. Diantara bentuk kasih sayang-Nya bahwa dosa bisa
dihapus dan dampak negatif dari dosa bisa hilang dengan
bertaubat, istighfar, dan amal kebaikan yang dilakukan hamba.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
“Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan
petang) dan pada bagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa)
perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orangorang yang ingat.” (Hud: 114)
Sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahuanhu berkisah bahwa dahulu ada
seorang lelaki mencium seorang perempuan (yang tidak halal
baginya). Kemudian lelaki itu datang kepada Nabi
Shalallahu’alaihi wa sallam dan menyebutkan perbuatannya. Maka
turunlah kepadanya ayat tersebut. Orang itu berkata, “(Wahai
Nabi), apakah hal ini khusus bagiku?” Nabi menjawab, “Bagi
orang yang mengamalkannya dari umatku.” (Shahih Al-Bukhari no.
4687).
Hadits ini menunjukkan bahwa cahaya ketaatan mampu melenyapkan
gelapnya kemaksiatan. Diantara ketaatan terbesar untuk
menghapus dosa dan kesalahan adalah taubat dan istighfar
kepada Allah Subhanahuwata’ala. Oleh karena itu, seorang
muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah
Subhanahuwata’ala, sebesar apapun kesalahan yang dilakukannya.
Bila suatu saat seseorang digoda oleh setan sehingga terjatuh
ke dalam lumpur dosa, maka bersegeralah kembali kepada Allah
Subhanahuwata’ala pasti dia akan mendapati-Nya Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. Bergegaslah untuk memperbaiki diri dengan
melakukan kebaikan karena satu kebaikan akan dilipatgandakan
pahalanya oleh Allah Subhanahuwata’ala menjadi sepuluh.
Banyak hadits yang diriwayatkan dari Nabi Shalallahu’alaihi wa
sallam yang menerangkan bahwa amal kebaikan akan menghapus
kesalahan. Diantaranya sabda beliau Shalallahu’alaihi wa
sallam:
‫ﻣَﻦ ْ ﺻ َﺎمَ ر َﻣَﻀ َﺎنَ إِﻳْﻤَﺎﻧًﺎ وَاﺣ ْﺘِﺴ َﺎﺑ ًﺎ ﻏ ُﻔِﺮ َ ﻟَﻪُ ﻣَﺎ‬
ِ‫ﺗَﻘَﺪ َّمَ ﻣِﻦ ْ ذ َﻧْﺒِﻪ‬
“Barangsiapa puasa Ramadhan karena dorongan iman dan mengharap
pahala maka diampuni baginya apa yang telah lalu dari
dosanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi, dosa yang bisa dihapus dengan amal kebaikan
adalah dosa kecil. Adapun dosa besar dihapuskan dengan cara
seseorang bertaubat kepada Allah Subhanahuwata’ala darinya.
Ini pendapat jumhur (kebanyakan) ulama seperti dikatakan oleh
Al-Imam Ibnu Rajab rahimahullah. (Jami’ul ‘Ulum 1/429)
Termasuk kasih sayang Allah Subhanahuwata’ala terhadap hambaNya, bila seseorang tidak memiliki dosa kecil, amal shalih
yang dia lakukan dapat meringankan dosa besarnya sekadar
menghapusnya dia terhadap dosa kecil. Jika dia tidak punya
dosa kecil dan dosa besar, maka Allah Subhanahuwata’ala akan
melipatgandakan pahala kepadanya. (Al-Wafi Syarh Arba’in hlm.
118).
Saudaraku, perlu diingat bahwa dosa yang kita lakukan akan
berdampak negatif terhadap keimanan, kejiwaan, rezeki, dan
seluruh keadaan kita. Sungguh tiada suatu bala’ (musibah)
turun menimpa manusia kecuali karena dosa. Petaka tidaklah
dicabut kecuali dengan taubat dan amal shalih. Mari kita
banyak-banyak mengaca diri dengan memperbaiki kondisi. Semoga
Allah Subhanahuwata’ala akan mengubah keadaan menjadi baik dan
diberkahi.
Wasiat ketiga: Menggunakan akhlak yang mulia dalam pergaulan
dengan sesama
Dengan menjalankan pesan ini, keserasian hidup bermasyarakat
akan terwujud dan ketenteraman akan menebar. Adalah Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam seorang yang memiliki budi pekerti
yang baik. Segala akhlak mulia dan perangai terpuji ada pada
diri beliau sehingga kita diperintah untuk mencontohnya. Allah
Subhanahuwata’ala berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri
teladan yang baik.” (Al-Ahzab: 21)
Karena akhlak mulia termasuk pokok peradaban dalam kehidupan
manusia, Islam telah menjunjung tinggi kedudukannya dan sangat
memerhatikannya. Banyaknya ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi
Shalallahu’alaihi wa sallam adalah bukti terbaik atas
pentingnya hal ini. Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam
menyebutkan sabdanya:
َ
ُ
ِ ‫إِﻧَّﻤَﺎ ﺑ ُﻌِﺜ ْﺖُ ﻷِ ﺗَﻤِّﻢَ ﺻ َﺎﻟِﺢَ اﻷْ ﺧ ْﻼَ ق‬
“Sesungguhnya aku diutus (oleh Allah Subhanahuwata’ala) untuk
menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bukhari dalam AlAdab
Al-Mufrad.
Asy-Syaikh
Al-Albani
rahimahullah
menshahihkannya dalam Shahih Al-Adab)
Baiknya akhlak adalah bukti atas baiknya keimanan seseorang.
Pemiliknya akan memetik janji surga dan dekat majelisnya
dengan Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam di hari kiamat.
Berbudi pekerti yang luhur juga sebab utama seseorang meraih
kecintaan dari manusia. Seharusnya kita banyak menghiasi diri
dengan akhlak mulia. Misalnya, dengan silaturahmi, memaafkan
kesalahan, rendah hati, dan tidak menyombongkan diri serta
bertutur kata yang lembut.
Ibnul Mubarak rahimahullah mengatakan, “(Salah satu) bentuk
akhlak mulia adalah wajah yang selalu berseri, memberikan
kebaikan, dan mencegah diri dari menyakiti orang.” (Jami’ul
‘Ulum wal Hikam 1/457).
Telah terbukti bahwa apa yang disebutkan oleh Ibnul Mubarak
rahimahullah adalah akhlak mulia yang cepat mendatangkan
kecintaan dari manusia. Cerahnya wajah saat berjumpa dengan
saudaranya, diiringi senyuman dan ucapan salam, akan
memunculkan suasana keakraban tersendiri. Akan tersebar
diantara mereka ruh kasih sayang. Memberi kebaikan kepada
orang lain, artinya seseorang mencurahkan sebagian yang
dimilikinya untuk kebaikan orang lain. Pemberian itu bisa
berupa harta, tenaga, saran, dan bahkan dukungan dalam
kebaikan. Sebab, biasanya orang akan mencintai orang yang
berbuat baik kepadanya.
Menahan diri dari menyakiti orang, adalah karena setiap
individu masyarakat menginginkan berlangsungnya kehidupan
mereka dengan nyaman dan damai. Sehingga bila ada yang
menimpakan gangguan kepada mereka dalam bentuk apa pun,
ketenangan menjadi terusik dan keretakan di tengah masyarakat
tak bisa dihindarkan. Untuk bisa berhias diri dengan akhlak
mulia tentu ada beberapa cara, diantaranya:
1. Menelaah sejarah kehidupan Nabi Muhammad n berikut apa
yang terkandung di dalamnya berupa perangai-perangai
beliau yang terpuji.
2. Memilih lingkungan dan teman yang baik.
3. Duduk di majelis ulama untuk menimba ilmu mereka serta
bersuri tauladan dengan mereka.
Demikianlah sekelumit penjelasan seputar tiga pesan Rasulullah
Shalallahu’alaiihi wa sallam yang mulia, semoga Allah
Subhanahuwata’ala memberikan karunia-Nya kepada kita untuk
menjalankannya.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: Majalah Asy Syariah
Tashabuh
Bahaya
Ditengah Umat
Laten
TASHABUH BAHAYA LATEN DITENGAH
UMAT
Ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc
Oleh Barat (baca: musuh-musuh Islam), selama ini masyarakat
Islam dikesankan sebagai sebuah gambaran keterbelakangan,
kemiskinan, kebodohan dan sebagainya. Begitu kuatnya kesan
itu, sehingga umat Islam pun berhasil dibuat alergi dengan
segala atribut dan nilai yang berbau Islam. Walhasil, umat
merasa lebih nyaman dan lebih pe-de jika berbusana ala Barat,
atau menjadi bagian dari produk-produk budaya Barat.
Sejarah mencatat, kehidupan umat manusia sebelum diutusnya
Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam sangatlah jauh dari
petunjuk Ilahi. Norma-norma kebenaran dan akhlak mulia nyaris
terkikis oleh kerasnya kehidupan. Tidak heran bila masa itu
dikenal dengan masa jahiliah.
Ketika kehidupan umat manusia telah mencapai puncak
kebobrokannya, Allah Subhanahuwata’ala mengutus Rasul pilihanNya Muhammad bin Abdillah Shalallahu’alaihi wa sallam dengan
membawa petunjuk Ilahi dan agama yang benar, untuk
mengentaskan umat manusia dari jurang kejahiliahan yang gelap
gulita menuju kehidupan Islami yang terang benderang.
Beliau tunjukkan semua jalan kebaikan, dan beliau peringatkan
tentang jalan-jalan kebatilan. Sehingga benar-benar terasa
bahwa kenabian dan apa yang beliau bawa merupakan barakah dan
rahmat bagi semesta alam.
“Dan tidaklah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi)
rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya: 107)
Oleh karena itu, Allah Subhanahuwata’ala telah nobatkan beliau
Shalallahu’alaihi wa sallam sebagai suri teladan terbaik bagi
umat manusia, dan Allah Subhanahuwata’ala perintahkan seluruh
umat manusia untuk mengikutinya.
“Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagi kalian.” (Al-Ahzab: 21)
“Dan ikutilah dia (Muhammad), agar kalian mendapat petunjuk.”
(Al-A’raf: 158)
Lebih dari itu, Allah Subhanahuwata’ala mengancam orang-orang
yang menentangnya dan menyalahi perintahnya.
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran
baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang mu’min,
Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah
menguasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam neraka
Jahannam. Dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (AnNisa: 115)
“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul
takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (AnNur: 63)
Atas dasar itulah, maka segala ajaran yang menyelisihi ajaran
Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam adalah batil dan tidak
boleh untuk diikuti, terlebih lagi bila bersumber dari orangorang kafir. Oleh karena itu, di antara prinsip Islam yang
kokoh adalah kewajiban mengikuti jejak Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam dan dilarang untuk mengikuti atau
bertasyabbuh (menyerupai) orang-orang kafir dan orang-orang
yang menyelisihi Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam.
Hakekat Tasyabbuh dan Menyelisihi Orang-Orang Kafir
Pengertian Tasyabbuh
Tasyabbuh secara etimologis adalah bentuk mashdar dari ( )
yang berarti menyerupai orang lain dalam suatu perkara.
Sedangkan secara terminologis adalah menyerupai orang-orang
kafir dan orang-orang yang menyelisihi Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam dalam hal aqidah, ibadah,
perayaan/ seremonial, hari-hari besar, kebiasaan, ciri-ciri,
dan akhlak yang merupakan ciri khas bagi mereka.
Hukum Tasyabbuh dengan Orang-Orang Kafir
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Telah
kami sebutkan sekian dalil dari Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’,
atsar (amalan/ perkataan shahabat dan tabi’in), dan pengalaman
[1], yang semuanya menunjukkan bahwa menyerupai mereka
dilarang secara global. Sedangkan menyelisihi tata cara mereka
merupakan sesuatu yang disyariatkan baik yang sifatnya wajib
ataupun anjuran sesuai dengan tempatnya
(Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, 1/473)
Siapakah Orang-Orang
Menyerupainya?
Kafir
yang
masing-masing.”
Tidak
Boleh
Kita
Orang-orang kafir yang tidak boleh kita menyerupainya meliputi
ahlul kitab (Yahudi dan Nashara) dan orang-orang kafir
lainnya.
Bahaya Tasyabbuh dengan Orang-Orang Kafir
Di antara bahaya dan dampak negatif tasyabbuh adalah:
1. Bahwa partisipasi dalam penampilan dan akhlak akan
mewarisi kesesuaian dan kecenderungan kepada mereka,
yang kemudian mendorong untuk saling menyerupai dalam
hal akhlak dan perbuatan.
2. Bahwa menyerupai dalam penampilan dan akhlak, menjadikan
kesamaan penampilan dengan mereka, sehingga tidak tampak
lagi perbedaan secara dzahir antara umat Islam dengan
Yahudi dan Nashara (orang-orang kafir).
3. Itu terjadi pada hal-hal yang asalnya mubah. Dan bila
terjadi pada hal-hal yang menyebabkan kekafiran, maka
sungguh telah jatuh ke dalam cabang kekafiran.
4. Tasyabbuh dengan orang-orang kafir dalam perkara-perkara
dunia akan mewariskan kecintaan dan kedekatan terhadap
mereka. Lalu bagaimana dalam perkara-perkara agama?
Sungguh kecintaan dan kedekatan itu akan semakin besar
dan kuat, padahal kecintaan dan kedekatan terhadap
mereka dapat meniadakan keimanan seseorang.
5. Lebih dari itu Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam
telah menyatakan:
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia
termasuk dari
mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin
‘Umar radhiyallahuanhu, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
dalam Shahih Al-Jami’ no. 6025)
[Diringkas dari kitab Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim juz 1,
hal. 93, 94, dan 550]
***
Perkara-perkara yang Termasuk Tasyabbuh dan Diharuskan untuk
Menyelisihinya
Perkara-perkara yang termasuk tasyabbuh dan diharuskan untuk
menyelisihinya mencakup semua perkara yang merupakan ciri khas
bagi mereka (di setiap masa) baik dalam hal aqidah, ibadah,
hari-hari besar, penampilan/ model, ataupun tingkah laku.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah ketika mengomentari
hadits Anas bin Malik radhiyallahuanhu:
“Lakukanlah apa saja (terhadap istri kalian) kecuali nikah
(jima’).” (HR. Muslim, Kitabul Haidh, hadits no. 302)
“Maka hadits ini menunjukkan bahwa apa yang Allah
Subhanahuwata’ala syariatkan kepada Nabi-Nya sangat banyak
mengandung unsur penyelisihan terhadap orang-orang Yahudi.
Bahkan beliau Shalallahu’alaihi wa sallam menyelisihi mereka
dalam semua perkara yang ada pada mereka, sampai-sampai mereka
berkomentar: ‘Orang ini (Rasulullah Shalallahu’alaihi wa
sallam) tidaklah mendapati sesuatu pada kami kecuali berusaha
untuk menyelisihinya.” (Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim,
1/214-215, lihat pula 1/365)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah
berkata: “Tasyabbuh dengan orang-orang kafir terjadi dalam hal
penampilan, pakaian, tempat makan, dan sebagainya karena ia
adalah kalimat yang bersifat umum. Dalam artian, bila ada
seseorang yang melakukan ciri khas orang-orang kafir, di mana
orang yang melihatnya mengira bahwa ia termasuk golongan
mereka (maka saat itulah disebut dengan tasyabbuh, pen).”
(Majmu’ Durus Wa Fatawa Al-Haramil Makki, 3/367)
Perkara-perkara yang merupakan ciri khas mereka tersebut
terbagi menjadi tiga jenis:
1. Perkara yang disyariatkan dalam agama kita dan juga
dalam agama mereka. Atau dahulu bukan syariat mereka
namun saat ini mereka kerjakan sebagaimana kita
mengerjakannya, seperti: shaum ‘Asyura (10 Muharram,
pen), shalat, dan shaum (puasa). Maka cara
penyelisihannya
tuntunan yang
adalah mengerjakannya dengan cara/
berbeda dengan mereka. Seperti
mengiringkan shaum tasu’a (puasa 9 Muharram, pen)
bersamaan dengan ‘Asyura, menyegerakan berbuka dan
shalat maghrib, serta mengakhirkan sahur.
2. Perkara yang disyariatkan dalam agama mereka namun
kemudian di-mansukh (dihapus) secara total, seperti hari
Sabtu atau kewajiban shalat/ shaum tertentu. Maka
diharamkan bagi kita untuk menyerupai mereka dalam
perkara tersebut. Bahkan menyerupai mereka dalam perkara
tersebut lebih jelek dari menyerupai mereka dalam
perkara jenis pertama.
3. Perkara yang mereka ada-adakan dalam hal ibadah, adat,
atau ibadah yang berkaitan dengan adat. Maka menyerupai
mereka dalam jenis ini lebih jelek dari menyerupai
mereka dalam dua jenis lainnya. (Diringkas dari Iqtidha
Ash-Shirathil Mustaqim, 1/437-477)
Bagaimana
dengan
Mobil,
Pesawat
Terbang,
dan
Perangkat
Teknologi Lainnya?
Memanfaatkan dan meniru mobil, pesawat terbang, alat-alat
sains, dan teknologi lainnya bukanlah termasuk dari tasyabbuh.
Karena apa yang mereka buat dan kembangkan tersebut hakekatnya
bukanlah ciri khas/ kekhususan yang mereka miliki. Siapa saja
baik muslim ataupun kafir yang bersungguh-sungguh mempelajari
dan mengembangkannya akan mampu untuk membuatnya. Demikian
pula mengimpor barang-barang tersebut dari negeri-negeri kafir
dan menggunakannya, bukanlah bagian dari tasyabbuh.
Karena Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam sendiri pernah
menggunakan produk orang-orang kafir baik pakaian, bejana, dan
lain sebagainya. Sebagaimana pula beliau pernah menerima
hadiah dari Muqauqis, seorang raja Mesir yang beragama
Nashara. Namun bila penggunaan produk mereka diiringi dengan
penerapan kebiasaan, tata cara, dan aturan yang merupakan ciri
khas dari mereka (orang-orang kafir) maka yang demikian
dilarang dan termasuk dari tasyabbuh. (Diringkas dari
Muqaddimah (Muhaqqiq) Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, 1/48
dengan beberapa tambahan).
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin
berkata: “Adapun sesuatu yang sudah tersebar di
Islam dan orang-orang kafir, maka penyerupaan
diperbolehkan walaupun asalnya dari orang-orang
rahimahullah
kalangan umat
dalam hal ini
kafir, selama
bukan sesuatu yang dzatnya haram seperti pakaian sutra (untuk
laki-laki, pen).” (Majmu’ Durus wa Fatawa Al-Haramil Makki,
3/367)
Bagaimana dengan Pantalon?
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah berkata: “Pada pantalon
(celana panjang yang umum dipakai kaum laki-laki saat ini,
red) ada dua musibah:
Pemakainya menyerupai orang-orang kafir, karena umat
Islam dahulu memakai sirwal (celana) yang luas dan
lebar, yang sampai hari ini sebagiannya masih dipakai di
Syiria dan Lebanon. Umat Islam tidaklah mengenalnya
kecuali setelah masa penjajahan. Dan ketika para
penjajah itu hengkang, mereka tinggalkan peninggalanpeninggalan yang jelek, yang akhirnya diambil oleh
(sebagian besar) umat Islam karena kebodohannya.
Bahwasanya pantalon itu membentuk aurat, karena aurat
laki-laki adalah dari lutut hingga pusar. Seorang yang
mengerjakan shalat sudah seharusnya menjauhkan diri dari
maksiat, lalu bagaimana dengan seseorang yang dalam
keadaan sujud kepada Allah sementara kedua pantatnya
bahkan di antara keduanya tampak membentuk (karena
shalat memakai pantalon, pen)?! Bagaimana orang ini
mengerjakan shalat (dalam keadaan demikian) sedangkan
dia sedang menghadap Rabb Semesta Alam?!…” (Al Qaulul
Mubin Fi Akhthail Mushallin, hal.20-21)
Bagaimana Membangun Tempat Ibadah di Bekas Tempat-tempat
Kekafiran dan Kemaksiatan?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Adapun
tempat-tempat kekafiran dan kemaksiatan yang belum pernah
terjadi padanya adzab Allah Subhanahuwata’ala, jika dijadikan
sebagai tempat yang bernuansa keimanan dan ketaatan maka bagus
(bukan termasuk tasyabbuh). Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam
telah memerintahkan penduduk Thaif agar membangun masjid di
tempat sesembahan yang dahulu mereka punyai.
Demikian pula penduduk Yamamah agar membangun masjid di tempat
yang dahulu sebagai sinagog. Bahkan masjid beliau
Shalallahu’alaihi wa sallam asalnya adalah kuburan orang-orang
Musyrikin (beliau bangun setelah dipindahkannya semua kuburankuburan tersebut ke tempat lain).” (Iqtidha Ash-Shirathil
Mustaqim, 1/266-267)
Apakah Tasyabbuh harus dengan Niat?
Suatu amalan yang menyerupai ciri khas orang-orang kafir akan
dihukumi sebagai tasyabbuh, walaupun tidak ada niatan untuk
menyerupainya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah
berkata: “Demikian pula larangan tasyabbuh dengan mereka,
mencakup perkara-perkara yang engkau niatkan untuk menyerupai
mereka dan juga yang tidak engkau niatkan untuk menyerupai
mereka.” (Iqtidha Ash-Shirathil Mustaqim, 1/473, lihat pula
1/219-220, 226-227, dan 272).
Hikmah Menyelisihi Orang-Orang Kafir
Menyelisihi orang-orang kafir mempunyai hikmah yang sangat
besar bagi umat Islam. Di antara hikmahnya adalah:
1. Menyelisihi mereka dalam perkara-perkara yang dzahir
(penampilan dan akhlak) merupakan suatu maslahat bagi
orang-orang yang beriman. Dengan itu, akan tampak
perbedaan penampilan yang dapat menjauhkan mereka dari
2.
3.
4.
5.
perbuatan-perbuatan para penghuni An-Naar tersebut.
Bahwasanya cara/ jalan yang mereka miliki tidak keluar
dari dua keadaan: merusak atau mempunyai kelemahan.
Karena seluruh amalan yang mereka ada-adakan dalam agama
dan juga yang mansukh (terhapus dengan syariat Islam)
sifatnya merusak. Sedangkan amalan-amalan mereka yang
tidak mansukh mempunyai banyak kelemahan, dan masih
mengalami proses penambahan atau pengurangan dalam
syariat Islam.
Menyelisihi mereka merupakan sebab jayanya agama Islam.
Menyelisihi mereka termasuk tujuan utama diutusnya
Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam.
Dengan menyelisihi mereka akan terbedakan antara seorang
muslim dengan seorang kafir, dan tidak saling menyerupai
satu dengan yang lainnya. (Diringkas dari kitab Iqtidha
Ash-Shirathil Mustaqim, juz 1 hal. 197, 198, 209, dan
365)
Realita Tasyabbuh yang Melanda Umat Islam
Bila kita cermati, realita kehidupan umat Islam menunjukkan
bahwa kecenderungan mayoritas umat untuk bertasyabbuh dengan
orang-orang kafir sangatlah kuat. Tidak sedikit dari para ahli
ibadah yang menyerupai orang-orang Nashara dalam melakukan
ibadahnya. Yakni, rajin beribadah namun tidak dibangun di atas
ilmu yang benar.
Demikian pula tidak sedikit para intelektual yang menyerupai
orang-orang Yahudi, yakni mengetahui kebenaran namun berusaha
menghindari kebenaran tersebut karena dorongan hawa nafsunya.
Pengkultusan orang-orang shalih dan pengkeramatan kuburankuburan mereka dengan berbagai macam praktek kesyirikan yang
ada, merupakan wujud tasyabbuh dengan orang-orang musyrik dan
Ahlul Kitab (Yahudi dan Nashara). Demikian pula para muda-mudi
yang kian hari kian gandrung dengan model dan budaya orangorang kafir…, suatu realita buruk dan
menyedihkan yang
melanda umat ini.
Bila kita membuka kembali lembaran-lembaran sunnah Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam, ternyata realita ini telah beliau
kabarkan jauh-jauh hari sebelum beliau wafat. Beliau
Shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti cara/ jalan orangorang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi
sehasta. Sampai-sampai bila mereka masuk ke liang dhabb
(binatang sejenis biawak yang hidup di padang pasir), niscaya
kalian akan mengikuti mereka.” Kami berkata: “Wahai
Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nashara?”
Beliau menjawab: “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. AlBukhari dan Muslim, dari shahabat Abu Sa’id Al-Khudri
radhiyallahuanhu, lihat Al-Lu’lu Wal Marjan, hadits no. 1708)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Penyebutan lafadz
jengkal, hasta, dan liang dhabb, adalah sebagai kinayah
tentang kuatnya penyerupaan umat ini terhadap Yahudi dan
Nashara. Sedangkan penyerupaan di sini dalam hal kemaksiatan
dan pelanggaran-pelanggaran syar’i, bukan dalam hal
kekafiran.” (Syarh Shahih Muslim 16/436).
Demikianlah kabar dari Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam
yang benar-benar telah menjadi fakta dan realita saat ini,
suatu kabar yang hakekatnya merupakan peringatan agar umatnya
tidak tasyabbuh dengan orang-orang kafir. Asy-Syaikh Muhammad
bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata ketika
menerangkan hadits Abu Waqid Al-Laitsi radhiyallahuanhu:
“Sungguh kalian benar-benar akan mengikuti cara/ jalan orangorang sebelum kalian.” (HR. At-Tirmidzi, Kitabul Fitan, hadits
no. 2180)
“Perkataan ini bukanlah persetujuan dari Rasul, bahkan
merupakan peringatan dari beliau Shalallahu’alaihi wa sallam.
Karena sebagaimana dimaklumi, cara/ jalan orang-orang sebelum
kita (Yahudi dan Nashara) yang diikuti oleh umat ini adalah
jalan yang sesat …” (Al-Qaulul Mufid, 1/202)
Mungkin ada yang bertanya, “Jika memang tasyabbuh dengan
orang-orang kafir merupakan sunnatullah yang telah digariskan
untuk umat ini, lalu mengapa perbuatan tersebut dilarang?”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Karena Al
Qur’an dan As Sunnah telah menerangkan pula bahwasanya akan
selalu ada pada umat ini sekelompok kecil yang berpegang teguh
dengan kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi
wa sallam hingga hari kiamat, dan umat ini tidak akan bersatu
padu (secara keseluruhan) di atas kesesatan.
Maka dengan adanya larangan dari perbuatan tasyabbuh akan
memperbanyak kelompok kecil yang selalu dibela oleh Allah
Subhanahuwata’ala ini, mengokohkan dan menambah keimanan
mereka. Semoga Allah Subhanahuwata’ala, Dzat Yang Maha
Mengabulkan, menjadikan kita bagian dari mereka.” (Iqtidha
Ash-Shirathil Mustaqim, 1/170-171).
Semoga kajian tentang tasyabbuh ini menjadi secercah cahaya
yang dapat menunjuki kita untuk selalu mengikuti jejak
Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam dan menjauhkan kita
dari cara/ jalan orang-orang kafir para penghuni jahannam.
Amin Ya Mujibas Sailin.
Sumber: Majalah Asy Syariah
********************************
Catatan Kaki:
1. Lihat dalil-dalil tersebut dalam kitab Iqtidha AshShirathil Mustaqim, 1/95-406
Kiamat Sudah Dekat Namun
Tiada Seorang pun Mengerti
KIAMAT SUDAH DEKAT NAMUN TIADA
SEORANG PUN MENGERTI
Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.
Dari
Anas
bin
Malik
radhiyallahuanhu:
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:
َ‫وَﺿ َﻢَّ اﻟﺴ َّﺒَّﺎﺑ َﺔ‬- ِ ‫ﺑ ُﻌِﺜ ْﺖُ أَﻧَﺎ وَاﻟﺴ َّﺎﻋ َﺔُ ﻛ َﻬ َﺎﺗَﻴ ْﻦ‬
‫وَاﻟْﻮُﺳْﻄ َﻰ‬
“Aku diutus, dan kiamat (demikian dekat) sebagaimana
(dekatnya) dua jari ini.” Beliau rapatkan jari telunjuk dan
jari tengah.
Takhrij Hadits
Hadits Anas bin Malik radhiyallahuanhu dengan lafadz tersebut
di atas diriwayatkan Al-Imam Muslim dalam Ash-Shahih (4/2268
no. 2951) dari jalan Abu Ghassan Al-Misma’i, dari Mu’tamir bin
Sulaiman bin Tharkhan, dari bapaknya, dari Ma’bad bin Hilal
Al-‘Anazi, dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu Semua
perawinya tsiqah, termasuk para perawi Ash-Shahihain,
kecuali Abu Ghassan, Al-Bukhari tidak meriwayatkan haditsnya
dalam Ash-Shahih.
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (4/2268
no. 2951) dan At-Tirmidzi dalam As-Sunan (4/496 no. 2214)
melalui
jalan
Syu’bah,
dari
Qatadah,
dari Anas radhiyallahuanhu.
Dalam riwayat Muslim, Syu’bah berkata:
ِ ‫ ﻛ َﻔَﻀ ْــﻞ‬: ُ‫وَﺳَــﻤِﻌْﺖُ ﻗ َﺘَــﺎدَةَ ﻓ ِــﻲ ﻗ َﺼ َﺼ ِــﻪِ ﻳَﻘُــﻮل‬
َ
َ
ُ
ْ ‫ ﻓ َﻼَ أ دْرِي أ ذ َﻛ َﺮ َه ُ ﻋ َﻦ‬.‫إِﺣ ْﺪ َاﻫُﻤَﺎ ﻋ َﻠَﻰ اﻷْ ﺧ ْﺮ َى‬
ُ‫أَﻧَﺲ ٍ أَوْ ﻗ َﺎﻟَﻪُ ﻗ َﺘَﺎدَة‬
Aku mendengar Qatadah dalam kisahnya berkata: “(Dekatnya
kiamat itu) seperti perbedaan panjang keduanya.” Namun aku
tidak tahu apakah Qatadah meriwayatkan dari Anas, atau ini
ucapan Qatadah.
Hadits Anas radhiyallahuanhu diriwayatkan pula dari sahabat
Sahl bin Sa’d radhiyallahuanhu dalam Ash-Shahihain dan Musnad
Imam
Ahmad,
demikian
pula
dari
Jabir
bin
Abdillah radhiyallahuanhu dalam Sunan Ibnu Majah dengan
keragaman lafadz.
Makna Hadits
Al-Qurthubi rahimahullah berkata dalam At-Tadzkirah: Sabda
beliau:
َ
َ ‫ﺑ ُﻌِﺜ ْﺖُ أ ﻧَﺎ وَاﻟﺴ َّﺎﻋ َﺔُ ﻛ َﻬ َﺎﺗَﻴ ْﻦ‬
“Aku diutus, dan kiamat (demikian dekat) sebagaimana
(dekatnya) dua jari ini,” mengandung makna bahwasanya aku
adalah nabi terakhir. Tidak ada nabi lain sesudahku. Yang
datang mengiringiku adalah hari kiamat, sebagaimana jari
telunjuk langsung diiringi jari tengah.
(Hadits ini juga bermakna bahwa) kiamat itu demikian dekat.
dan tanda-tandanya telah berdatangan silih berganti.
Sebagaimana Allah sebutkan dalam firman-Nya:
“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat
(yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena
sesungguhnya telah datang tanda-tandanya…” (Muhammad: 18)
Yakni kiamat itu telah dekat, dan tanda pertamanya adalah
(diutusnya) Nabi shalallahu’alaihi wa sallam , karena beliau
adalah nabi akhir zaman. Allah utus beliau dan tidak ada nabi
lain sesudahnya hingga tegaknya hari kiamat…” (At-Tadzkirah Bi
Ahwalil Mauta Wa Umuril Akhirah 3/1219)
Ibnu
At-Tin
rahimahullah
berkata:
“Terjadi
perselisihan
mengenai
makna
sabda
Rasul
shalallahu’alaihi
wa
sallam Seperti dua jari ini. Sebagian berpendapat: ‘Seperti
perbedaan panjang antara jari telunjuk dan tengah.’ Sebagian
lagi berpendapat: ‘(Maknanya), tidak ada nabi antara beliau
shalallahu’alaihi wa sallam
dan hari kiamat.’ Demikian
dinukilkan Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (6/73).
Pembaca rahimakumullah.
Kehidupan
Ar-Rasul
shalallahu’alaihi
wa
sallam
adalah
kehidupan yang penuh kasih sayang dan bimbingan. Tak ada satu
kebaikanpun melainkan telah beliau sampaikan. Demikian pula
tidak ada satu kejelekanpun bagi umat ini melainkan telah
beliau peringatkan umat darinya. Dengan penuh kasih dan cinta
beliau tarbiyah umat untuk berjalan menuju ridha Allah hingga
wafatnya ditahun sebelas hijriyah.Shallallahu ‘alaihi
wasallam.
Dalam hadits Anas radhiyallahuanhu, ada bimbingan Rasulullah
shalallahu’alaihi wa sallam
bagi umat ini untuk segera
bangkit dari kelalaian dan bergegas menyiapkan bekal
menghadapi hari kiamat yang telah dekat. Dekatnya hari itu
dengan diutusnya beliau shalallahu’alaihi wa sallam ibarat
dekatnya jari telunjuk dan jari tengah yang dihimpitkan. Allah
Subhanahuwata’ala berfirman:
“Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap
mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa
atas segala sesuatu.” (An-Nahl: 77)
Jika dekat, kenapa tak kunjung tiba?
Kabar dekatnya kiamat telah berlalu empat belas abad silam.
Mungkin ada yang bertanya: Jika kiamat telah dekat, kenapa
hingga saat ini belum ditegakkan? Kata-kata ini boleh jadi
muncul sebagai bentuk pengingkaran orang kafir atas berita
Allah dan Rasul-Nya shalallahu’alaihi wa sallam . Atau,
mungkin juga pertanyaan ini adalah waswas setan yang
dibisikkan pada sebagian dada muslimin.
Adapun orang kafir, perkaranya telah jelas. Ungkapan ini
sangat wajar muncul dari mulut orang-orang yang hatinya telah
buta dan telinganya telah tuli. Dengan mudahnya mereka ingkari
kiamat dan hari kebangkitan, sebagaimana Allah sebutkan
tentang mereka dalam firman-Nya:
Orang-orang yang kafir mengatakan, bahwa mereka sekali-kali
tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: “Tidak demikian, demi
Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan
diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang
demikian itu adalah mudah bagi Allah. (At-Taghabun: 7)
Dalam ayat lain Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya? Tentang berita
yang besar, yang mereka perselisihkan tentang ini. Sekali-kali
tidak; kelak mereka akan mengetahui, kemudian sekali-kali
tidak; kelak mereka akan mengetahui. (An-Naba’: 1-5)
Bagi mereka, cukup kita bacakan firman Allah yang Maha Agung:
“Bahkan mereka mendustakan hari kiamat. Dan Kami sediakan bagi
orang yang mendustakan kiamat api yang menyala-nyala.” (AlFurqan: 11)
Kiamat dekat, jika dibandingkan umur umat terdahulu
Kedatangannya adalah sebuah kepastian. Sungguh segala sesuatu
yang pasti kedatangannya, maka ia adalah perkara yang dekat.
Jarak diutusnya Rasul shalallahu’alaihi wa sallam
hingga
kiamat nanti adalah waktu yang sangat dekat jika dibandingkan
umur dunia yang sudah sangat lama, sejak sebelum Adam
alaihissalam menempatinya bersama Hawa. Rasulullah
shalallahu’alaihi wa sallam
bersabda:
َ
ٍ ‫ﻣَﺜَﻠُﻜ ُﻢْ وَﻣَﺜَﻞ ُ أ ﻫْﻞ ِ اﻟْﻜ ِﺘَﺎﺑ َﻴ ْﻦ ِ ﻛ َﻤَﺜَﻞ ِ ر َﺟ ُﻞ‬
ْ
ُ
ٍ‫ ﻣَﻦ ْ ﻳَﻌْﻤَﻞ ُ ﻟِﻲ ﻣِﻦ ْ ﻏ َﺪ ْوَة‬: َ‫اﺳْﺘَﺄ ﺟ َﺮ َ أ ﺟ َﺮ َاءَ ﻓ َﻘَﺎل‬
.ُ‫إِﻟَﻰ ﻧِﺼ ْﻒِ اﻟﻨَّﻬ َﺎرِ ﻋ َﻠَﻰ ﻗ ِﻴﺮ َاط ٍ؟ ﻓ َﻌَﻤِﻠَﺖِ اﻟْﻴَﻬ ُﻮد‬
‫ ﻣَﻦ ْ ﻳَﻌْﻤَﻞ ُ ﻟِﻲ ﻣِﻦ ْ ﻧِﺼ ْﻒِ اﻟﻨَّﻬ َﺎرِ إِﻟَﻰ‬: َ‫ﺛُﻢَّ ﻗ َﺎل‬
.‫ﺻ َﻼَ ةِ اﻟْﻌَﺼ ْـﺮ ِ ﻋ َﻠَـﻰ ﻗ ِﻴ ْـﺮ َاط ٍ؟ ﻓ َﻌَﻤِﻠَـﺖِ اﻟﻨَّﺼ َـﺎر َى‬
َ
ْ‫ ﻣَﻦ ْ ﻳَﻌْﻤَﻞ ُ ﻟِﻲ ﻣِﻦ َ اﻟْﻌَﺼ ْﺮ ِ إِﻟَﻰ أ ن‬: َ‫ﺛُﻢَّ ﻗ َﺎل‬
َ
.ْ‫ـﻢ‬
‫ـﻢْ ﻫُـ‬
‫ـﻦ ِ؟ ﻓ َﺄ ﻧْﺘُـ‬
‫ـﻰ ﻗ ِﻴﺮ َاﻃ َﻴ ْـ‬
‫ـﺲ ُ ﻋ َﻠَـ‬
‫ـﺐ َ اﻟﺸ َّﻤْـ‬
‫ﺗَﻐِﻴـ‬
‫ ﻣَـﺎ ﻟَﻨَـﺎ‬:‫ﻓ َﻐَﻀ ِﺒَـﺖِ اﻟْﻴَﻬ ُـﻮدُ وَاﻟﻨَّﺼ َـﺎر َى ﻓ َﻘَـﺎﻟُﻮا‬
َ
َ
ْ‫ ﻫَﻞ ْ ﻧَﻘَﺼ ْﺘُﻜ ُﻢ‬: َ‫أ ﻛ ْﺜَﺮ ُ ﻋ َﻤَﻼً وَأ ﻗ َﻞ ُّ ﻋ َﻄ َﺎءً؟ ﻗ َﺎل‬
ُ
ِ‫ ﻓ َﺬ َﻟِﻚ َ ﻓ َﻀ ْﻠِﻲ أ ﺗِﻴﻪ‬: َ‫ ﻗ َﺎل‬.َ ‫ ﻻ‬:‫ﻣِﻦ ْ ﺣ َﻘِّﻜ ُﻢْ؟ ﻗ َﺎﻟُﻮا‬
ُ‫ﻣِﻦ ْ أَﺷ َﺎء‬
Perumpamaan kalian dan dua ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani)
adalah seperti seorang yang menyewa pekerja-pekerja. Ia
berkata: “Siapakah yang mau bekerja untukku dari pagi hingga
tengah siang dengan upah satu qirath?” Maka bekerjalah Yahudi.
Lalu ia berkata: “Siapakah yang mau bekerja untukku dari
tengah siang hingga shalat ashar dengan upah satu qirath?”
Maka bekerjalah Nasrani. Kemudian ia berkata: “Siapa yang mau
bekerja untukku dari ashar hingga tenggelam matahari dengan
upah dua qirath?” Maka (bekerjalah suatu kaum, dan kalianlah
mereka.Marahlah Yahudi dan Nasrani. Mereka berkata: “Kenapa
kami yang lebih banyak pekerjaannya tetapi pemberiannya lebih
sedikit?” Allah berfirman: “Apakah Aku mengurangi sesuatu dari
hak kalian? Mereka berkata: “Tidak.” Allah berfirman: “Itulah
keutamaan-Ku, Aku
kehendaki.” [1]
berikan
kepada
siapapun
yang
Aku
Demikian perumpamaan umat Rasulullah shalallahu’alaihi wa
sallam
dan umat-umat sebelumnya. Hidup di akhir-akhir
kehidupan dunia dengan umur yang sangat pendek, namun Allah
berkahi dan Allah lipat gandakan pahala. Ibnu Umar
radhiyallahuanhu mengisahkan, suatu saat sesudah shalat ashar,
ketika
matahari
bersinar
dari
arah
bukit Qu’aiqi’an [2], Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam
duduk bersama para sahabat. Beliau bersabda:
َّ‫ﻣَﺎ أَﻋ ْﻤَﺎر ُﻛ ُﻢ ﻓ ِﻲ أَﻋ ْﻤَﺎر ﻣَﻦ ْ ﻣَﻀ َﻰ إ ﻻ‬
َ ‫ﻛ َﻤَﺎ ﺑ َﻘِﻲ‬
ِ
ِ
ُ‫ﻣِﻦ َ اﻟﻨَّﻬ َﺎرِ وَﻓ ِﻴ ْﻤَﺎ ﻣَﻀ َﻰ ﻣِﻨْﻪ‬
“Tidaklah umur kalian jika dibandingkan umur umat sebelum
kalian kecuali seperti apa yang tersisa dari hari ini (yaitu
waktu ashar) dan yang telah lalu darinya.” [3]
Dalam hadits lain Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam
bersabda:
َ
َ
‫أ ﺟ َﻠُﻜ ُﻢ ﻓ ِﻲ أ ﺟ َﻞ ِ ﻣَﻦ ْ ﺧ َﻼَ ﻣِﻦ َ اﻷْ ُﻣَﻢِ ﻣَﺎ‬
ِ ‫ﺑ َﻴ ْﻦ َ ﺻ َﻼَ ةِ اﻟْﻌَﺼ ْﺮ ِ وَﻣَﻐْﺮ ِبِ اﻟﺸ َّﻤْﺲ‬
‫إِﻧَّﻤَﺎ‬
“Sesungguhnya ajal kalian dan ajal umat-umat yang telah lalu
hanyalah seperti masa antara shalat ashar dan tenggelamnya
matahari.” [4]
Hadits-hadits di atas semuanya menunjukkan bahwasanya apa yang
tersisa dari umur dunia dibandingkan umurnya yang telah lalu
adalah waktu yang sangat sedikit. Umat Muhammad
shalallahu’alaihi wa sallam adalah kaum terakhir yang hidup
di muka bumi, sebagaimana Rasulullah shalallahu’alaihi wa
sallam adalah rasul terakhir yang Allah utus kepada manusia.
Pembaca rahimakumullah. Sesungguhnya apa yang dikatakan dekat
oleh Allah dan Rasul-Nya maka kita katakan itu dekat, walaupun
manusia menganggapnya jauh. Allah berfirman:
“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil).
Sedangkan Kami memandangnya dekat (pasti terjadi).” (AlMa’arij: 6-7)
Kiamat adalah rahasia allah
Meskipun dekat, namun hari itu Allah rahasiakan. Tidak ada
seorangpun mengetahuinya. Allah berfirman:
Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah
terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang
kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang
dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. (Al-A’raf:
187)
Pengetahuan tentang hari kiamat adalah ilmu yang Allah
khususkan untuk diri-Nya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan
tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan
mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun
yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat
mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Luqman: 34)
Lima
perkara
inilah
kunci-kunci
shalallahu’alaihi wa sallam
ghaib
yang
Rasulullah
sabdakan dalam hadits-Nya:
- …ُ‫ـﻪ‬
‫ـﺎ إِﻻَ اﻟﻠـ‬
‫ـﺲ ٌ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬ َـ‬
‫ـﺐ ِ ﺧ َﻤْـ‬
‫ـﺎحُ اﻟْﻐَﻴ ْـ‬
‫ﻣِﻔْﺘَـ‬
ُ‫ وَﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻣَﺘَﻰ اﻟﺴ َّﺎﻋ َﺔُ إِﻻ َّ اﻟﻠﻪ‬:‫ﻣِﻨْﻬ َﺎ‬
“Kunci-kunci ghaib ada lima, tidak ada yang megetahuinya
kecuali Allah … Di antaranya adalah: dan tidak ada yang
mengetahui kapan hari kiamat kecuali Allah.”
Alhasil, tidak satu makhlukpun mengerti kapan hari kiamat
terjadi. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam
hanya
mendapatkan wahyu dari Allah bahwa kiamat terjadi pada hari
Jumat, sebagaimana Allah juga mewahyukan kepada beliau tentang
tanda-tandanya. Selebihnya beliau tidak tahu kepastian hari
tersebut.
Asy-Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah berkata:
“Adalah Nabi shalallahu’alaihi wa sallam
ketika ditanya
tentang hari kiamat, beliau menjawabnya dengan menyebut
sebagian tandanya. Maka tidak ada seorangpun selain Allah yang
mengetahui di tahun berapa kiamat itu, di bulan apa kiamat
itu, dan di tanggal manakah di bulan itu. (Adapun hari),
hadits Rasul shalallahu’alaihi wa sallam
telah menetapkan
bahwa hari itu adalah hari Jum’at. Beliau shalallahu’alaihi wa
sallam bersabda:
ِ‫ﺧ َﻴ ْﺮ ُ ﻳَﻮْمٍ ﻃ َﻠَﻌَﺖْ ﻋ َﻠَﻴ ْﻪِ اﻟﺸ َّﻤْﺲ ُ ﻳَﻮْمُ اﻟْﺠ ُﻤُﻌَﺔ‬
ُ
ِ‫ﻓ ِﻴ ْـﻪِ ﺧ ُﻠِـﻖَ آدَمُ وَﻓ ِﻴـﻪِ أ دْﺧ ِـﻞ َ اﻟْﺠ َﻨَّـﺔُ وَﻓ ِﻴـﻪ‬
ُ
ُ‫أ ﺧ ْــﺮ ِجَ ﻣِﻨْﻬ َــﺎ وَﻻَ ﺗَﻘُــﻮمُ اﻟﺴ َّﺎﻋ َــﺔُ إِﻻَّ ﻳَــﻮْم‬
ِ‫اﻟْﺠ ُﻤُﻌَﺔ‬
“Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari
Jumat. Di hari itu Adam diciptakan, di hari itu ia dimasukkan
jannah, dan di hari itu pulalah ia dikeluarkan dari jannah.
Dan tidaklah kiamat itu ditegakkan kecuali pada hari Jumat.”
[5] (Qathfu Al-Janad Dani Syarh Muqaddimah Risalah Ibni Abi
Za’id Al-Qairawani hal. 115)
Nabi Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam –rasul paling mulia
dari kalangan manusia–, demikian pula Jibril alaihissalam
–rasul (utusan) paling mulia dari kalangan malaikat– keduanya
tidak mengerti bilakah hari itu terjadi. Ketika Jibril datang
dalam bentuk manusia yang tidak dikenal, ia bertanya kepada
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam kapankah hari kiamat?
Jawaban Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam
ketika itu
tidak melebihi ucapan beliau:
َ
ِ ‫ﻣَﺎ اﻟْﻤَﺴ ْﺆُولُ ﻋ َﻨْﻬ َﺎ ﺑِﺄ ﻋ ْﻠَﻢَ ﻣِﻦ َ اﻟﺴ َّﺎﺋ ِﻞ‬
“Tidaklah yang ditanya lebih tahu dari yang bertanya.” (Yakni
keduanya sama-sama tidak mengetahui). (HR. Muslim)
Jika keduanya tidak mengerti kapan hari kiamat, masuk akalkah
jika kemudian ada seseorang yang mengaku tahu kapan hari
itu? Subhanallah, ini adalah kedustaan yang nyata!!
Bahkan Israfil –malaikat peniup sangkakala yang dengan
tiupannya kiamat akan ditegakkan– pun tidak mengetahui kapan
Allah perintahkan dia untuk meniupkan sangkakala. Yang ia
lakukan hanyalah terus menatapkan pandangannya ke
arah ‘Arsy –tidak berkedip sedikitpun– menanti perintah Allah
untuk meniupkannya. Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam
bersabda:
ٌ ‫إِنَّ ﻃ َﺮ ْفَ ﺻ َﺎﺣ ِﺐ ِ اﻟﺼ ُّﻮرِ ﻣُﻨْﺬ ُ وُﻛ ِّﻞ َ ﺑِﻪَ ﻣُﺴ ْﺘَﻌِﺪ‬
َّ ‫ﻧَﺤ ْﻮَ اﻟْﻌَﺮ ْشِ ﻣَﺨ َﺎﻓ َﺔَ أَنْ ﻳُﺆْﻣَﺮ َ ﻗ َﺒْﻞ َ أَنْ ﻳَﺮ ْﺗَﺪ‬
َ
َ
ِ‫إِﻟَﻴ ْﻪِ ﻃ ﺮ ْﻓ ُﻪُ ﻛ َﺄ نَّ ﻋ َﻴ ْﻨَﻴ ْﻪِ ﻛ َﻮْﻛ َﺒَﺎن دُرِّﻳَّﺎن‬
“Sesungguhnya pandangan malaikat peniup sangkakala selalu
tertuju ke arah Arsy semenjak Allah tugaskan. Khawatir andai
ia diperintah meniupkannya sebelum mengedipkan keduanya,
seolah-olah matanya dua bintang yang memancar.” [6]
Dua jawaban Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam atas
pertanyaan kapankah kiamat?
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam
tidak mengetahui
kapankah kiamat. Oleh karenanya, ketika ada pertanyaan
diajukan kepada beliau tentang kiamat, beliau menjawabnya
dengan dua jenis jawaban.
Pertama, beliau jawab pertanyaan itu dengan menyebutkan tandatandanya.
Kedua, beliau arahkan penanya untuk melakukan hal yang lebih
penting, yaitu mempersiapkan bekal untuk menghadapinya. Anas
bin Malik radhiyallahuanhu berkata:
َ
َ
‫ ﻣَﺘَﻰ‬: َ‫أ نَّ ر َﺟ ُﻼً ﺳَﺄ لَ اﻟﻨَّﺒِﻲ َّ ﻋ َﻦ ِ اﻟﺴ َّﺎﻋ َﺔِ ﻓ َﻘَﺎل‬
َ‫ ﻻ‬: َ‫ وَﻣَـﺎذ َا أَﻋ ْـﺪ َدْتَ ﻟَﻬ َـﺎ؟ ﻗ َـﺎل‬: َ‫اﻟﺴ َّﺎﻋ َـﺔُ؟ ﻗ َـﺎل‬
ُ
َ
: َ‫ ﻓ َﻘَﺎل‬. ُ‫ إِﻻَّ أ ﻧِّﻲ أ ﺣ ِﺐ ُّ اﻟﻠﻪَ وَر َﺳُﻮﻟَﻪ‬،ٌ‫ﺷ َﻲ ْء‬
َ
َ
َ‫أ ﻧْﺖَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦ ْ أ ﺣ ْﺒَﺒْﺖ‬
Seorang bertanya kepada Nabi shalallahu’alaihi wa
sallam tentang hari kiamat, ia berkata: Kapankah hari kiamat?
Beliau bersabda: “Apa yang telah kau siapkan untuk menghadapi
hari itu?” Dia menjawab: “Tidak banyak bekalku, tetapi aku
mencintai Allah dan Rasulnya shalallahu’alaihi wa sallam .”
Bersabdalah Rasulullah kepadanya: “Engkau bersama orang yang
kau cintai.”
Sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam yang mulia ini
benar-benar membahagiakan para sahabat. Kebahagiaan itu
terungkap dari ucapan Anas berikutnya:
ِّ ‫ ﻓ َﻤَﺎ ﻓ َﺮ ِﺣ ْﻨَﺎ ﺑِﺸ َﻲ ْءٍ ﻓ َﺮ ِﺣ ْﻨَﺎ ﺑِﻘَﻮْل ِ اﻟﻨَّﺒِﻲ‬n:
َ
ُ
َ
َ
َ
ُّ ‫ ﻓ َﺄ ﻧَﺎ أ ﺣ ِﺐ‬:ٌ ‫ ﻗ َﺎلَ أ ﻧَﺲ‬.َ‫أ ﻧْﺖَ ﻣَﻊَ ﻣَﻦ ْ أ ﺣ ْﺒَﺒْﺖ‬
َ
َ
َ
َ
َ‫وَأ ﺑ َﺎ ﺑ َﻜ ْﺮ ٍ وَﻋ ُﻤَﺮ َ وَأ ر ْﺟ ُﻮ أ نْ أ ﻛ ُﻮن‬
َّ ‫اﻟﻨَّﺒِﻲ‬
َ
ِ ‫ﻣَﻌَﻬ ُﻢْ ﺑِﺤ ُﺒِّﻲ إِﻳَّﺎﻫُﻢْ وَإِنْ ﻟَﻢْ أ ﻋ ْﻤَﻞ ْ ﺑِﻤِﺜ ْﻞ‬
َ
ْ‫أ ﻋ ْﻤَﺎﻟِﻬ ِﻢ‬
Tidaklah kita berbahagia (setelah Islam) sebagaimana
bahagianya kita dengan sabda Nabi n: “Engkau bersama orang
yang kau cintai.” Kemudian Anas berkata: “Maka aku mencintai
Nabi n, Abu Bakr dan Umar; aku berharap akan bersama mereka
(di jannah) dengan kecintaanku pada mereka meski aku tidak
mampu beramal sebagaimana amal mereka.” [7]
Alangkah indahnya sabda beliau, dan betapa jujurnya sahabat
Anas radhiyallahuanhu. Sungguh kita pun berkata: “Ya Allah aku
mencintai Nabi-Mu shalallahu’alaihi wa sallam , Abu Bakr AshShiddiq, ‘Umar bin Al-Khaththab, Utsman bin ‘Affan, Ali bin
Abi Thalib, Al-Hasan, Al-Husain, Ummahatul Mukminin dan
seluruh sahabat-sahabat Nabi-Mu. Aku berharap kepada-Mu, ya
Allah, Engkau kumpulkan diriku bersama mereka di Firdaus-Mu…
Walau aku tak mampu beramal sebagaimana amalan mereka. Walau
aku tak mampu bertaubat sebagaimana taubat mereka.
Hadits-hadits yang menetapkan kepastian waktu terjadinya
kiamat adalah hadits maudhu’ (palsu)
Semua hadits tentang penentuan hari kiamat tidak benar
penyandarannya kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam .
Demikian Ibnu Katsir rahimahullah memberikan faedah penting
ini dalam kitabnya An-Nihayah. [8]
Ada baiknya pada majelis ini kita simak sebuah hadits yang
dinukil Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Manarul Munif, sebagai
contoh hadits maudhu’ (palsu) tentang hari kiamat, karena
penyelisihannya yang sangat jelas terhadap Al-Kitab dan AsSunnah.
Diriwayatkan bahwasanya
sallam
bersabda:
Rasulullah
shalallahu’alaihi
wa
َ
ِ‫إِﻧَّﻬ َــﺎ ﺳَــﺒْﻌَﺔُ آﻻَ فِ ﺳَــﻨَﺔٍ وَﻧَﺤ ْــﻦ ُ ﻓ ِــﻲ اﻷْ ﻟْــﻒ‬
ِ‫اﻟﺴ َّﺎﺑِﻌَﺔ‬
“Dunia itu berusia tujuh ribu tahun, dan kini kita berada pada
seribu yang ketujuh.”
Mengomentari hadits ini, berkata Ibnul Qayyim: “Ini adalah
kedustaan yang sangat nyata. Andaikata hadits ini shahih,
niscaya semua orang tahu bahwa kiamat akan terjadi 251 tahun
mendatang.” [9] (Al-Manarul Munif Fish-Shahih Wadh-Dha’if hal.
80)
Ibnu Hazm rahimahullah berkata: “Kami tidak sedikitpun
memastikan hitungan tertentu. Sedangkan orang yang menyangka
bahwa dunia itu berumur tujuh ribu tahun atau lebih dari itu,
atau kurang darinya, sungguh dia telah berdusta dan berbicara
dengan sesuatu yang tidak pernah sedikitpun Rasulullah
shalallahu’alaihi wa sallam
menyabdakannya dalam lafadz
shahih. Bahkan telah shahih dari beliau shalallahu’alaihi wa
sallam apa yang menyelisihi persangkaannya.
Kita memastikan bahwasanya dunia itu memiliki urusan yang
tidak ada seorangpun mengerti kecuali Allah Subhanahuwata’ala.
Dia Subhanahuwata’ala berfirman:
“Aku tidak menghadirkan mereka untuk menyaksikan penciptaan
langit dan bumi dan tidak (pula) penciptaan diri mereka
sendiri…” (Al-Kahfi: 51) [Al-Fishal 2/84]
Ghuluw kaum Sufi
Di antara bentuk ghuluw adalah perkataan sebagian pengikut
hawa nafsu bahwa Nabi shalallahu’alaihi wa sallam mengetahui
ilmu ghaib, termasuk di antaranya hari kiamat. Anehnya, di
antara mereka berdalil dengan hadits shahih. Tentu saja mereka
pelintir maknanya menurut pemahaman dan hawa nafsu
mereka. Na’udzubillah minal fitan (Kita berlindung dari godaan
dan fitnah).
Sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam kepada Jibril
alaihissalam ketika bertanya tentang kapan hari kiamat:
َ
َِ ‫ﻣَﺎ اﻟْﻤَﺴ ْﺆُولُ ﻋ َﻨْﻬ َﺎ ﺑِﺄ ﻋ ْﻠَﻢَ ﻣِﻦ َ اﻟﺴ َّﺎﺋ ِﻞ‬
“Tidaklah yang ditanya lebih mengetahui dari yang bertanya.”
Mereka tafsirkan dengan penafsiran yang menyelisihi Al-Kitab
dan As-Sunnah, serta menyelisihi kesepakatan umat. Kata
mereka: “Makna hadits ini bahwasanya aku (Rasulullah
shalallahu’alaihi wa sallam ) dan engkau (Jibril
alaihissalam), sama-sama mengetahui kapan terjadinya hari
kiamat.”
Lihatlah, wahai kaum muslimin. Bagaimana setan menipu mereka
dan menghiasi kebatilan dengan angan-angan dusta yang
mengantarkan kepada kebinasaan. Mereka tafsirkan hadits dengan
penafsiran yang menyelisihi kesepakatan salaf umat ini dari
kalangan sahabat, tabi’in, atba’ut tabi’in dan orang yang
mengikuti mereka dengan baik. Bahkan menyelisihi nash (dalil
yang jelas) dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Melengkapi pembahasan dalam Al-Manarul Munif, Ibnul Qayyim
membantah pemahaman keliru dan batil akan hadits Jibril di
atas dengan pembahasan yang sangat bagus. Beliau sertakan juga
hadits-hadits shahih yang menunjukkan ketidaktahuan Rasulullah
shalallahu’alaihi wa sallam
terhadap perkara ghaib.
Kesimpulan bantahan itu kita katakan bahwa Rasulullah
shalallahu’alaihi wa sallam
–ketika datang Jibril dalam
bentuk seorang Arab badui dengan baju yang sangat putih dan
rambut yang sangat hitam– beliau samasekali tidak mengetahui
bahwa laki-laki itu adalah Jibril. Dalam sebuah riwayat
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam
bersabda:
َ
ِ‫ﻣَﺎ أ ﺗَـﺎﻧِﻲ ﻓ ِـﻲ ﺻ ُـﻮر َةٍ إِﻻَّ ﻋ َﺮ َﻓ ْﺘُـﻪُ ﻏ َﻴ ْـﺮ ِ ﻫَـﺬِه‬
ِ‫اﻟﺼ ُّﻮر َة‬
“Tidaklah Jibril datang padaku dalam suatu bentuk kecuali aku
mengenalinya, kecuali bentuk ini (yakni dalam kejadian hadits
Jibril).” [10]
Akankah beliau mengatakan kepada orang yang beliau sangka
manusia badui biasa, dan beliau tidak tahu dia adalah Jibril
dengan ucapan: “Aku dan engkau (wahai lelaki badui yang tidak
aku kenal-pen) mengetahui kiamat?” Mahasuci Allah. Ini tentu
sebuah kedustaan. Terlebih lagi ayat-ayat Al-Qur’an dan
hadits-hadits nabawi dengan tegas menyelisihinya. Jawaban
Ibnul Qayyim dan pembahasan yang sangat bermanfaat
selengkapnya bisa dilihat dalam kitab tersebut hal. 81-84.
Pembaca rahimakumullah. Ghuluw kepada Nabi shalallahu’alaihi
wa sallam
bukan hanya perkataan mereka bahwa beliau
shalallahu’alaihi wa sallam
mengetahui hari kiamat. Lebih
dari itu, mereka meyakini bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi
wa sallam mengetahui segala yang ghaib dan mengerti semua
yang ada di Al-Lauhul Mahfuzh.
Dalam Mimiyah Al-Bushiri, yang dikenal dengan Qashidah Burdah,
penulisnya Al-Bushiri [11] berkata:
ِ‫وَﻣِﻦ ْ ﻋ ُﻠُﻮﻣِﻚ َ ﻋ ِﻠْﻢُ اﻟﻠَّﻮْح ِ وَاﻟْﻘَﻠَﻢ‬
“Dan di antara ilmu-ilmumu (wahai Nabi) adalah ilmu Al-Lauhil
Mahfuzh dan pena (pencatat taqdir).
Sungguh, sebuah ucapan yang telah mencapai puncak kebatilan.
Di mana kandungannya menetapkan bahwa Rasulullah
shalallahu’alaihi wa sallam
mengetahui perkara-perkara
ghaib. Perlu diketahui bahwa ucapan-ucapan serupa yang penuh
dengan syirik dan kebid’ahan banyak tertera dalam Qashidah
tersebut. Wal ‘iyadzubillah. Dengan lancang ia selisihi AlQur’an
dan
As-Sunnah
yang
menunjukkan
bahwa
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam
tidak mengetahui
perkara ghaib. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
Katakanlah (wahai Nabi): “Tidak ada seorang pun di langit dan
di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan
mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.(AnNaml: 65)
Allah juga berfirman:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tak ada
yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa
yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang
gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh
sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang
basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang
nyata (Al-Lauh Al-Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)
Wahai para penyanjung Qashidah Burdah, dan mereka yang selalu
mendendangkannya. Jawablah dengan jujur. Ucapan Bushiri-kah
yang benar atau firman-firman Allah dan sabda Rasul-Nya?
Renungkan ayat-ayat di atas, lalu bandingkan dengan baitbait kufur Qoshidah Burdah yang kalian dendangkan. Segeralah
kembali ke jalan yang benar sebelum Allah menutup pintu
taubat.
Ramalan kiamat, upaya mendangkalkan aqidah umat
Desember 2012 diramalkan sebagai hari H berakhirnya dunia.
Ramalan ini bukan kedustaan pertama dalam peradaban manusia.
Ramalan-ramalan kiamat sebenarnya telah tercatat dalam catatan
panjang sejarah, namun tetap saja ramalan serupa dihembuskan
ditengah-tengah manusia. Muslim yang kokoh akidahnya akan
segera melihat ramalan ini sebagai kedustaan. Akan tetapi di
saat berita ini diterima oleh orang yang lemah imannya, yang
tidak mengerti akidah yang benar, goncanglah jiwanya dan
sempitlah dadanya.
Ada satu sisi yang ingin kita ingatkan di sini. Sesungguhnya
musuh-musuh Islam terus berusaha menghembuskan berita-berita
dan keyakinan yang merusak aqidah umat dengan segala media
yang mereka miliki. Berita kiamat 2012 adalah sebagian kecil
dari upaya musuh Islam mendangkalkan aqidah dan akhlak kaum
muslimin.
Dari sini muncul sebuah pertanyaan: “Apa benteng untuk
menghadapi perang pemikiran itu?”
Al-Kitab dan As-Sunnah adalah benteng dari kesesatan
Al-Kitab dan As-Sunnah adalah pelita di tengah kegelapan dan
benteng dari kesesatan. Apapun ujian/godaan yang menimpa,
ketika seorang mengembalikan kepada keduanya niscaya dia
dapatkan jawaban yang membantah semua kerancuan.
Seorang mukmin yang mengenal Allah, Rasul-Nya dan agama Islam,
ketika ramalan kiamat mengetuk gendang telinganya ia akan
segera tersentak dan menjawab bahwa dalil-dalil Al-Kitab dan
As-Sunnah secara tegas menunjukkan bahwa kiamat tidak ada yang
mengetahuinya kecuali Allah.
Di akhir majelis, sejenak kita baca sebuah hadits di antara
hadits-hadits yang membantah ramalan kiamat 2012, yaitu hadits
tentang turunnya Isa bin Maryam alaihissalam ke muka bumi.
Beliau akan turun dan menetap di dunia selama tujuh tahun.
Dalam hadits tersebut dikatakan:
ُ‫ﻓ َﻴَﺒْﻌَـﺚُ اﻟﻠـﻪُ ﻋ ِﻴ ْﺴ َـﻰ ﺑ ْـﻦ َ ﻣَﺮ ْﻳَـﻢَ … ﺛُـﻢَّ ﻳَﻤْﻜ ُـﺚ‬
،ٌ‫اﻟﻨَّﺎسُ ﺳَﺒْﻊَ ﺳ ِﻨِﻴﻦ َ ﻟَﻴ ْﺲ َ ﺑ َﻴ ْﻦ َ اﺛ ْﻨَﻴ ْﻦ ِ ﻋ َﺪ َاوَة‬
‫ﺛُﻢَّ ﻳُﺮ ْﺳ ِﻞ ُ اﻟﻠﻪُ رِﻳْﺤ ًﺎ ﻣِﻦ ْ ﻗ ِﺒَﻞ ِ اﻟﺸ َّﺎمِ ﻓ َﻼَ ﻳَﺒْﻘَﻰ‬
َ
َ
ٍ‫ﻋ َﻠَﻰ وَﺟ ْﻪِ اﻷْ ر ْضِ أ ﺣ َﺪ ٌ ﻓ ِﻲ ﻗ َﻠْﺒِﻪِ ﻣِﺜ ْﻘَﺎلُ ذ َر َّة‬
َ
ُ‫ﻣِﻦ ْ ﺧ َﻴ ْﺮ ٍ أ وْ إِﻳْﻤَﺎنٍ إِﻻَّ ﻗ َﺒَﻀ َﺘْﻪ‬
“Maka Allah utus ‘Isa bin Maryam [12] … kemudian hiduplah
manusia selama tujuh tahun, tidak ada permusuhan antara dua
orang, [13] hingga Allah kirimkan angin dari arah Syam. Tidak
ada seorangpun di muka bumi yang ada kebaikan atau iman dalam
hatinya melainkan angin ini akan mewafatkannya.” [14]
Kita katakan, seandainya Nabi Isa turun di tahun ini, 2010 M,
niscaya beliau akan tinggal di dunia tujuh tahun ke depan.
Artinya, kita bisa pastikan bahwa 2012 bukanlah hari kiamat
yang mereka sangkakan.
Kaum muslimin, rahimakumullah. Setelah hadits ini dan haditshadits yang demikian banyak menunjukkan kedustaan semua
ramalan kiamat, akankah kemudian seorang yang beriman terusik
dengan berita-berita dusta itu?
Wallahu a’lam bish-shawab. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin. Wa
shallalahu ‘ala Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa
sallam.
Sumber: Majalah Asy Syariah
Catatan Kaki:
1. Al-Bukhari no. 2268.
2. Sebuah gunung 12 mil selatan Makkah. Lihat An-Nihayah fi
Gharibil Hadits (4/88).
3. Musnad Al-Imam Ahmad (8/176 no. 5966) dengan tahqiq AsySyaikh Ahmad Syakir, beliau berkata: “Sanadnya shahih.”
4. Al-Bukhari (6/495 no. 3459)
5. HR. Muslim dalam As-Shahih (2/585 no.854) dari Abu
Hurairah,
Abdurrahman
bin
Shakhr
Ad-Dausi
radhiyallahuanhu.
6. HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (4/603). Ibnu Hajar
menghasankannya dalam Al-Fath (11/447), dishahihkan Al-
7.
8.
9.
10.
11.
Albani dalam Ash-Shahihah (3/65 no. 1078).
Al-Bukhari
meriwayatkan
hadits
Anas
radhiyallahuanhu dalam Shahih-nya no. 3688.
Lihat An-Nihayah Fil Fitan Wal Malahim (1/195).
Ucapan Ibnul Qayyim menunjukkan bahwa kitab Al-Manarul
Munif ditulis sekitar tahun 749 H, yaitu 251 tahun
sebelum tahun 1000 H. Kini kita memasuki tahun 1431 H,
kedustaan itu semakin terang. Jika berita ini benar dari
Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam niscaya kiamat
sudah terjadi 431 tahun silam.
Musnad Imam Ahmad (1/53) dari Umar bin Al-Khaththab
radhiyallahuanhu.
Muhammad bin Sa’id Al-Bushiri, (608-695 H) berkubang
dalam lumpur tashawuf, dibenci manusia lantaran katakatanya yang kotor. Meminta-minta bahkan menjilat
penguasa demi harta, adalah kebiasaannya. Menetapi
tarekat Syadziliyyah dan menulis Qashidah Burdah yang
dipenuhi ghuluw, bid’ah dan kesyirikan.
12. Yakni Allah turunkan beliau dari langit.
13. Di masa Isa bin Maryam As bumi penuh dengan keadilan dan
keamanan bahkan disebutkan dalam riwayat bahwasannya
anak-anak kecil bermain dengan ular-ular tidak ada
sedikitpun bahaya. Lihat Musnad Imam Ahmad (2/406) dan
dishahihkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari
(6/493)
14. HR. Imam Muslim dalam Shahih-nya no.2940
Batasan Toleransi
BATASAN TOLERANSI
Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari
Toleransi selama ini terbukti cukup ‘sakti’ dan banyak memakan
korban dari umat Islam yang memang hidup di tengah masyarakat
yang majemuk. Toleransi kerap kali dijadikan sebagai pembenar
untuk melegalkan perbedaan dan perselisihan meskipun hal
tersebut sudah menyentuh prinsip-prinsip agama. Bagaimana
sesungguhnya konsep toleransi dalam Islam?
Perbedaan dan perselisihan adalah perkara yang tercela dalam
Islam. Allah subhanahuwata’ala berfirman:
“Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al
Kitab dengan membawa kebenaran, dan sesungguhnya orang-orang
yang berselisih tentang (kebenaran) Al Kitab itu, benar-benar
dalam penyimpangan yang jauh.” (Al-Baqarah: 176)
“Manusia itu umat yang satu, (setelah timbul perselisihan)
maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi kabar gembira
dan pemberi peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka
kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia
tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih
tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan
kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka
keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka
sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman
kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu
dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang
yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Al-Baqarah:
213)
“Dan Kami berikan kepada mereka keterangan-keterangan yang
nyata tentang urusan (agama). Maka tidaklah mereka berselisih
melainkan sesudah datang kepada mereka pengetahuan karena
kedengkian (yang ada) di antara mereka. Sesungguhnya Tuhanmu
akan memutuskan antara mereka pada hari kiamat terhadap apa
yang mereka selalu berselisih padanya.” (Al-Jatsiyah: 17)
Dan ayat-ayat lainnya teramat banyak untuk disebutkan. Meski
demikian, perbedaan dan perselisihan adalah tabiat manusia, di
samping keduanya adalah perkara yang telah ditaqdirkan Allah
subhanahuwata’ala. Allah subhanahuwata’ala berfirman:
“Tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orangorang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu.” (Hud: 118-119)
Hanya
saja
meluruskan
berfirman:
kaum
dan
muslimin
dibebani
menghilangkannya.
secara
Allah
syar’i
untuk
subhanahuwata’ala
“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Quran) ini,
melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang
mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman.” (An-Nahl: 64)
Menghadapi kenyataan demikian ini, manusia berbeda-beda di
dalam menyikapinya. Ada yang tidak menaruh respek sedikit pun,
serta ada yang tidak peduli sama sekali dengan anggapan bahwa
“perbedaan dan perselisihan itu adalah rahmat.” Anggapan ini
jelas salah, karena di antara perbedaan dan perselisihan itu
ada yang menyebabkan pelakunya tercela dan mendapat murka
Allah subhanahuwata’ala, seperti perbedaan dan perselisihan
dalam hal aqidah, manhaj, bahkan agama – wal ‘iyadzubillah –
dan pokok-pokok Islam lainnya.
Ada pula yang berusaha untuk menyembunyikan perbedaan dan
perselisihan internal di tengah-tengah kaum muslimin, dengan
dalih “itu hanya akan memperkuat posisi musuh”. Tak heran bila
kemudian didapati orang-orangnya sangat gemar menyerukan agar
saling menghormati, saling memberikan toleransi, mendiamkan
penyimpangan-penyimpangan, demi mencapai sebuah persatuan dan
kesatuan, sampai-sampai muncul pernyataan bahwa “madzhabmadzhab itu adalah partai dalam fiqih, sedang partai-partai
itu adalah madzhab dalam politik.”
Propaganda semacam ini sangat berbahaya, sebab menyembunyikan
perbedaan dan perselisihan dengan menampakkan wajah persatuan
dan kesatuan adalah cara-cara yang ditempuh kaum al-maghdhubi
‘alaihim wadh dhalliin, di mana Allah telah mensifati mereka
dalam firman-Nya:
“Kamu kira mereka itu bersatu sedang hati mereka berpecahbelah.” (Al-Hasyr: 14)
Propaganda ini jelas-jelas ajakan untuk menempuh jalan mereka,
yang padahal Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kita agar
menyelisihinya, tidak menyerupainya, dan tidak mengikuti
jejak-jejaknya.
Para pembaca, tidak diragukan lagi bahwa persatuan adalah hal
yang terpuji, bahkan banyak ayat yang memerintahkan bersatu
dan melarang berselisih. Allah subhanahuwata’ala berfirman:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali ‘Imran: 103)
“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai
dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada
mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang
berat.” (Ali ‘Imran: 105)
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan
mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit
pun tanggung jawabmu terhadap mereka.” (Al-An’am: 159)
“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama dan apa yang
telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada
Ibrahim, Musa dan ‘Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah-belah tentangnya.” (Asy-Syura: 13)
Perlu untuk diperhatikan, tidaklah Allah memerintahkan kaum
muslimin agar bersatu dengan perintah yang mutlak. Bukanlah
maksud bersatu itu memperbanyak jumlah muslimin, namun
maksudnya adalah berpegang teguh kepada tali Allah yang kokoh.
Jumlah yang banyak tidaklah bermanfaat bila tidak berpegang
teguh kepada tali Allah yang kokoh, bahkan keberadaannya hanya
akan memudharatkan. Allah subhanahuwata’ala berfirman:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka
bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(Al-An’am: 116)
“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun
kamu sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)
Perbedaan dan perselisihan memang hal yang tidak bisa kita
hindari. Namun bukan berarti kemudian kita meninggalkan sikap
saling menasehati, memerintah kepada yang ma’ruf, dan mencegah
dari yang mungkar. Karena, kaum muslimin dibebani secara
syariat untuk mengusahakan segala hal yang menjadi ketetapan
atasnya. Allah subhanahuwata’ala berfirman:
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua,
agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah
kepada-Ku.” (Al-Mu’minun: 52)
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua,
agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(Al-Anbiya: 92)
Bahkan perbedaan dan perselisihan yang timbul akibat dari
menegakkan nasehat, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar,
membela Al-Kitab dan As-Sunnah, penyelisihan terhadap ahlil
bid’ah serta orang-orang yang sesat dan menyesatkan, merupakan
perbedaan dan perselisihan yang terpuji, tidak tercela
sedikitpun karena Allah dan Rasul-Nya memerintahkan untuk
memisahkan diri dari mereka itu.
Sebaliknya, adalah kedzaliman yang besar serta pelanggaran
yang fatal terhadap agama, bila menyerukan persatuan dalam
keadaan berbeda-beda manhaj dan aqidah di mana setiap orang
dituntut saling menghormati, mentolerir, dan membiarkan
kebid’ahan serta penyimpangan-penyimpangan dengan cara menutup
mata dan berpura-pura tidak tahu. Wallahul musta’an.
Inilah sebenarnya yang akan melenyapkan agama dan menghapus
kemuliaannya serta kedudukannya. Allah subhanahuwata’ala
berfirman:
“Orang-orang kafir Bani Israil telah dilaknati dengan lisan
Dawud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan
mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama
lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka
perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka
perbuat itu.” (Al-Maidah: 78-79)
Maka perbedaan dan perselisihan adalah dua hal yang tercela
dalam agama secara umum namun tidak secara mutlak. Dengan
demikian sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui batasanbatasan perbedaan dan perselisihan yang boleh dan yang tidak,
serta batasan-batasan toleransi di dalamnya.
Perbedaan dan perselisihan ada beberapa macam, di antaranya:
Pertama, perbedaan dan perselisihan dalam pokok-pokok agama,
seperti dalam ibadah dan aqidah. Perkara aqidah adalah
tauqifiyyah, bukan tempatnya ijtihad, di mana kita wajib
berpegang kepada perkara aqidah yang telah Allah syariatkan,
tidak boleh mengikutsertakan ra’yu (hasil pemikiran akal, red)
dan ijtihad-ijtihad kita.
Begitupun ibadah adalah perkara tauqifiyyah. Perkara ibadah
yang terdapat dalilnya maka kita amalkan dan yang tidak ada
dalilnya maka ia adalah bid’ah yang wajib untuk kita
meninggalkannya berdasarkan hadits:
“Barangsiapa mengadakan suatu yang baru dalam urusan (agama)
kami yang bukan berasal darinya maka tertolak.” (HR. AlBukhari dan Muslim).
Juga hadits:
“Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru (dalam agama),
karena tiap perkara baru itu adalah bid’ah dan tiap-tiap
bid’ah itu adalah sesat dan setiap kesesatan di neraka.” (HR.
At-Tirmidzi, An-Nasai, dan lainnya)
Maka perkara aqidah, ibadah, dan perkara agama secara umum
tidak ada tempat untuk berbeda dan berselisih di dalamnya
selama-lamanya, akan tetapi mesti mengikuti nash-nash dari AlKitab dan As-Sunnah serta apa yang ada pada salaful ummah,
generasi terbaik umat ini.
Perbedaan dan perselisihan dalam hal ini tercela dan
diharamkan, tidak boleh saling menghormati dan memberikan
toleransi, karena pokok-pokok agama bukan tempatnya berijtihad
bukan pula tempatnya untuk memunculkan ra’yu.
Kedua, perbedaan dan perselisihan dalam perkara yang mendapat
kelapangan untuk berijtihad dari masalah-masalah fiqih dan
mengambil kesimpulan hukum dari suatu dalil. Dalam hal ini,
perbedaan dan perselisihan terjadi dalam hal ijtihad dan bukan
dalam hal aqidah, tidak ada pengingkaran di dalamnya dengan
syarat setiap orang menjauhi ta’ashshub dan menjauhkan diri
mengikuti hawa nafsu. Namun jika telah nampak suatu dalil,
maka wajib untuk mengikutinya dan meninggalkan apa-apa yang
tidak dibangun di atas dalil.
Ketiga, perbedaan dan perselisihan sebagian fuqaha dalam hal
furu’ yang telah dijelaskan dan didatangkan semuanya oleh
syariat. Perbedaan dan perselisihan dalam hal ini tidaklah
membahayakan, bahkan merupakan bagian dari agama, seperti
perbedaan dalam sifat adzan, jenis-jenis doa istiftah, dan
yang lainnya.
Perbedaan dan perselisihan inilah yang tidak tercela. Dalam
perbedaan ini, setiap orang mendapat kelapangan dan dapat
saling memberikan toleransi kepada yang lainnya.
Wal ‘ilmu ‘indallah.
Sumber bacaan:
Syarh Al-Ushul As-Sittah
Syarh Masail Al-Jahiliyyah
Sumber-sumber lainnya
Sumber: Majalah Asy Syariah
AUDIO
Kajian
Salafiyyah
Indonesia Sabtu-Ahad 23-24
Dzulhijjah 1435H
Berikut ini Rekaman Kajian yang di adakan di beberapa tempat
di Indonesia, pada Hari Sabtu-Ahad 1435H/18-19 Oktober 2014M
1. Tegal *Al Ustadz Muhammad as Seweed -Melepas BelengguBelenggu Hizbiyyah
1. Sesi 1 Download
2. Sesi 2 Download
3. Sesi 3 Download
4. Sesi 4 Download
5. Sesi 5+ TJ Download
Sumber : Panitia Kajian Tegal Jazaahumullahu Khairaa
**************************************************************
**************************************
2. Solo * Al Ustadz Abu Mu’awiyah Asykari -Dolar Datang
Manhaj di Tendang
1. Khutbah Jum’at Download
2. Tausiyah Untuk Pengajar Download
3. Sesi 1 Dolar datang Manhaj di Tendang Download
4. Sesi 2 Dolar datang Manhaj di Tendang Download
5. Sesi Tanya Jawab Download
6. Tausiyah Ba’da Maghrib Download
Sumber : WA Admin Radio Streaming
**************************************************************
*****************************************
3. Medan * Al Ustadz Abu Ishaq Muslim- Prinsip
Pokok Dakwah Salafiyyah dan Perusak2 Dakwah
* Sabtu 23 Dzulhijjah 1435H
1. Prinsip Pokok Dakwah Salafiyyah dan Perusak Dakwah
1. Sesi 1 Download
2. Sesi 2 Download
3. Sesi Tanya Jawab Download
* Ahad 24 Dzulhijjah 1435H
4. Tausiyah Shubuh Download
5. ISIS dalam pandangan Islam Download
6. Tanya Jawab Download
Sumber : Panitia Kajian Stabat Medan Jazaahumullahu Khairaa
**************************************************************
********************************************
4. Gresik * Al Ustadz Muhammad Afifuddin – Kekerasan dalam
Timbangan Syariat Islam
1. Sesi 1 Download
2. Sesi 2 Download
3. Sesi Tanya Jawab Download
Sumber : Kontributor Forsalnet Jazaahumullahu Khairaa
**************************************************************
*********************************************
5. Jember *Al Ustadz Luqman Ba’abduh -Ketika ISIS Banyak di
Perbincangkan /Mengenal Hakikat gerakan ISIS
1. Sesi 1 Download
2. Sesi 2 TJ Download
Sumber : Radio Miratsul Anbiya
**************************************************************
**********************************************
6. Purbalingga * Al Ustadz Ridwanul Bari & Al Ustadz Maimun Al
Yustawi
1. Pengaruh Pertemanan Download
2. Fadhlul Islam Download
Sumber : WA Admin Radio Streaming
**************************************************************
***********************************************
7. UNHAS MAKASSAR Al Ustadz Abdurrahim Pangkep + Al Ustadz Abu
Nasiim Mukhtar (Teleconference)
1. Muraqabatullah Al Ustadz Abdurrahim Download atau Download
2. Nasehat Berharga bUat Pemuda-Pemudi Ustadz Mukhtar Download
atau Download
3. Kesimpulan Teleconference Download atau Download
**************************************************************
**************************************************
Kami Htaurkan Jazaakumullahu Khairaa yang sudah turut Andil
menyebarkan Kajian ini, Baarokallohu Fiikum
Silsilah Bantahan Prinsipprinsip Hadadiyyah - Bagian 1
SILSILAH
BANTAHAN
PRINSIP HADADIYYAH
TERMASUK CIRI-CIRI AL HADADIYYAH :
PRINSIP-
1. Kebencian dan pelecehan mereka terhadap para ulama
salafiyyin zaman sekarang, terlebih lagi ulama Madinah.
Bahkan sampai (membenci, mencelehkan) Ibnu Taimiyyah,
Ibnul Qayyim dan Ibnu Abil Izz pensyarah (kitab Aqidah
Thohawiyyah). Untuk menjatuhkan kedudukan mereka dan
menolak ucapan-ucapan mereka.
2. Ucapan mereka yang mentabdi’ (memvonis bid’ah) setiap
orang yang terjatuh pada sebuah kebid’ahan. Dan Ibnu
Hajar -Rahimahullohu- menurut mereka lebih keras dan
lebih berbahaya (kebid’ahannya -pent) dibandingkan
dengan Sayyid Qutub.
3. Memvonis bid’ah, setiap orang yang tidak membid’ahkan
orang yang terjatuh pada suatu kebid’ahan, memusuhinya
dan memeranginya.
Tidak cukup bagi mereka (Hadadiyyah -pent), engkau
mengatakan : “Fulan memiliki pemikiran Asy’ariyyah atau
Asy’ariy”, bahkan wajib bagimu untuk mengatakan : ”
Fullan mubtadi”.
Jika tidak, mereka akan memerangi, menghajr dan memvonis
bid’ah orang tersebut.
4. Haramnya “At Tarohhum” (mendo’akan “Rahimahullohu”)
kepada Ahli bid’ah secara mutlak, tanpa membedakan
apakah ia seorang Rofidhiy, Qodariy atau Jahmiy dengan
seorang alim yang terjatuh pada suatu kebid’ahan.
Bersambung In Syaa Alloh…
Disusun oleh : Abu Juhhad Al Jazairiy
(Dari kitab “Khuturoh Al Hadadiyyah Al Jadiddah” dan “Manhajul
Hadadiyyah” Syaikh Rabi’ -hafidhohulloh-)
Sumber
artikel
http://www.tasfiatarbia.org/vb/showthread.php?t=12718
Alih bahasa : Ibrohim Abu Kaysa
:
Fly UP