...

Implan Gigi pada Pasien Diabetes Kurang Terkontrol

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Implan Gigi pada Pasien Diabetes Kurang Terkontrol
BERITA TERKINI
frekuensi resonansi untuk memeriksa posisi
implan terhadap alveolar ridge dan untuk
menentukan stabilitas implan.
Implan Gigi pada Pasien
Diabetes Kurang Terkontrol
S
tudi terbaru menunjukkan bahwa
implan gigi dapat dipasang dengan
aman pada pasien diabetes yang kurang
terkontrol. Temuan ini bertentangan dengan
rekomendasi umumnya. Penulis pertama
Thomas W. Oates Jr (DMD, PhD, Department
of Periodontics, School of Dentistry, University
of Texas Health Science Center at San Antonio)
mengatakan bahwa ia dan koleganya gagal
mengidentifikasi kaitan antara peningkatan
kadar gula darah dengan kegagalan atau
komplikasi implan gigi. Dalam studi yang dipublikasikan di edisi Desember Journal of the
American Dental Association, setelah 1 tahun
tidak terdapat kegagalan pada implan yang
dipasang pada 19 pasien dengan diabetes
kurang terkontrol.
Diabetes diketahui dapat menyebabkan
banyak masalah yang secara teoritis
mempengaruhi
keberhasilan
implan.
Diabetes mengubah pembentukan tulang,
meningkatkan risiko infeksi, mengganggu
penyembuhan luka, dan menyebabkan
banyak komorbiditas lainnya. Beberapa studi
sebelumnya menemukan bahwa implan
kurang stabil pada pasien diabetes kurang
terkontrol. Untuk alasan-alasan ini, beberapa
konsensus dan tinjauan memberikan
peringatan mengenai pemasangan implan
pada pasien-pasien tersebut. Akan tetapi
studi-studi tersebut memiliki durasi singkat,
kebanyakan berfokus pada status implan
sebelum pemasangan restorasi final
(mahkota tiruan atau gigi palsu).
Untuk lebih memahami luaran jangka
panjang, dilakukan follow up pada 117 pasien
edentoulosa (kehilangan gigi) dengan 234
implan. Semua pasien menerima 2 implan
pada rahang bawah untuk mempertahankan overdenture (sejenis gigi tiruan yang dipasang di atas sisa akar atau implan). Peneliti
meletakkan gigi tiruan di atas implan setelah
periode penyembuhan selama 4 bulan dan
setelah itu melakukan follow up pasien selama
1 tahun lagi.
Peneliti mengkategorikan pasien berdasarkan kadar glycated hemoglobin A1c (HbA1c).
Sebanyak 50 pasien dengan kadar HbA1c
5,9% atau lebih rendah tidak memiliki
diabetes, 47 pasien dengan kadar 6,0 – 8,0%
memiliki diabetes yang terkontrol, dan 20
pasien dengan kadar 8,1% atau lebih memiliki
diabetes yang tidak / kurang terkontrol. Pada
keadaan awal, kadar HbA1c tertinggi adalah
11,1% dan kadar tertinggi yang tercatat
selama studi adalah 13,3%.
Pemeriksa menyamarkan status diabetes
pasien yang dinilai status implannya selama
periode penyembuhan 4 bulan setelah
pemasangan, dan kemudian dilakukan
kembali pada 3, 6, dan 12 bulan setelah
pemasangan restorasi / gigi tiruan. Peneliti
mengkategorikan implan sebagai berhasil jika
mereka kurang memiliki tanda mobilitas klinis,
radiolusensi peri-implan, temuan klinis yang
konsisten dengan kegagalan implan untuk
berintegrasi, atau alasan lain yang mencegah
pemasangan restorasi di atas implan.
Keberhasilan implan dalam waktu 1 tahun
setelah restorasi tidak berbeda secara
signifikan pada ketiga kelompok, bahkan jika
7 pasien yang tidak kembali untuk follow up
dianggap sebagai kegagalan implan.
Tim peneliti juga menggunakan analisis
Tabel. Tingkat keberhasilan implan selama 12 bulan setelah pemasangan restorasi.
Tanpa Diabetes
Diabetes
Terkontrol
Diabetes
Kurang terkontrol
Nilai P
110 pasien yang dapat di follow up.
99%
98.9%
100%
NA
117 pasien, dengan 7 pasien yang tidak dapat di
follow up dianggap sebagai kegagalan implan.
93%
92.6%
95%
0,6510
Pasien
Integrasi implan tertunda pada pasien
dengan diabetes yang kurang terkontrol dibandingkan dengan dua kelompok lain. Pada
kelompok kurang terkontrol, rerata waktu
untuk tercapainya stabilitas 100% adalah 7,3
bulan dibandingkan dengan 3,8 bulan pada
pasien tanpa diabetes, dan 4 bulan pada
kelompok diabetes yang terkontrol. Akan
tetapi, perbedaan waktu penyembuhan
tampaknya bukan alasan kuat untuk menolak
pemasangan implan pada individu yang
dapat memperoleh manfaat dari pemasangan
implan, karena hal ini tidak mempengaruhi
tingkat keberhasilan / keselamatan implan.
Ketika pasien sudah melewati masalah tertundanya penyembuhan, tidak ada masalah
lain lagi yang terjadi pada studi ini.
Sebagai tambahan, risiko yang mungkin
terjadi tampaknya lebih sedikit dibanding
manfaat yang diperoleh. Pada pasien yang
tidak memiliki gigi sama sekali, mereka tidak
dapat mengunyah dengan baik. Dengan
pemasangan implan dan gigi tiruan, pasien
diabetes dapat makan diet yang lebih sehat,
sehingga dapat memperbaiki status diabetes
pasien.
Peneliti juga mengingatkan bahwa temuan
ini mungkin tidak dapat diaplikasikan pada
semua kondisi; keadaan mungkin berbeda
pada pemasangan implan di rahang atas.
Waktu penyembuhan 4 bulan sebelum pemasangan restorasi pada studi ini mungkin
lebih lama dibandingkan dengan yang
diberikan beberapa dokter gigi. Dalam studi
ini, semua pasien menerima antibiotik selama seminggu.
Simpulannya, pemasangan implan pada
pasien diabetes yang kurang terkontrol membutuhkan waktu penyembuhan dan integrasi
implan yang lebih lama dibandingkan dengan
pasien tanpa diabetes atau diabetes yang
terkontrol, tetapi tidak terdapat perbedaan
dalam tingkat keberhasilan implan selama 1
tahun setelah pemasangan restorasi. (AGN)
REFERENSI:
1.
Harrison L. Dental implants safe in patients with uncontrolled diabetes. Medscape [Internet] 2014 [Cited 2014 Dec 27]. Available from: http://www.medscape.com/viewarticle/836325#vp_2
2.
Oates TW Jr, Galloway P, Alexander P, Green AV, Hyunh Ba G, Feine J, et al. The effects of elevated hemoglobin A1c in patients with type 2 diabetes mellitus on dental Implants: Survival
and stability at one year. JADA. 2014;145(12):1218-26.
376
CDK-228/ vol. 42 no. 5, th. 2015
Fly UP