...

Hubungan Kepatuhan Konsumsi Biskuit yang Diperkaya Protein

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Hubungan Kepatuhan Konsumsi Biskuit yang Diperkaya Protein
18
TINJAUAN PUSTAKA
Gizi Kurang pada Balita
Status
gizi
sebagai
keadaan
kesehatan
tubuh
seseorang
yang
diakibatkan oleh konsumsi, penyerapan, dan penggunaan zat-zat gizi makanan
yang dapat dinilai dengan berbagai cara yaitu melalui penilaian klinis, biokimia
dan antropometri (Riyadi, 1995). Menurut Almatsier (2003) status gizi adalah
keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi.
Setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda berdasarkan umurnya.
Anak yang berusia 1-3 tahun (batita) merupakan konsumen pasif, artinya anak
menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Sedangkan anak usia 3-5
tahun (prasekolah) merupakan konsumen aktif, yang berarti bahwa anak-anak
sudah dapat memilih makanan sendiri. Anak-anak pada usia pra sekolah
menurut Khomsan (2004) sering dianggap sedang memasuki fase Jonny won’t
eat (anak sering tidak mau makan)
Usia balita merupakan periode paling kritis dalam kehidupan manusia.
Bayi sampai anak berusia 5 tahun yang lazim disebut balita, dalam ilmu gizi
dikelompokkan sebagai golongan yang rawan terhadap kekurangan gizi. Gizi
kurang
pada
balita
diakibatkan konsumsi makanan
yang
tidak
cukup
mengandung energi dan protein dan atau karena gangguan kesehatan. Sejak
sebelum merdeka hingga sekarang pada anak-anak khususnya balita masih
merupakan masalah yang memprihatinkan (Soekirman 2000).
Pada umumnya balita adalah periode usia yang juga banyak menderita
penyakit dan infeksi, dengan angka kematian yang relatif paling tinggi
dibandingkan periode umur lainnya (Hastuti 2008). Oleh karena itu kebutuhan
gizi merupakan kebutuhan yang penting dalam membantu proses pertumbuhan
dan perkembangan balita. Hidayat (2004) menyebutkan bahwa manfaat gizi
dalam tubuh adalah dapat membantu proses pertumbuhan dan perkembangan
anak, serta mencegah terjadinya berbagai penyakit akibat kurang gizi dalam
tubuh seperti kekurangan energi dan protein yang dapat menghambat tumbuh
kembang anak.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gizi Kurang pada Balita
Kurang gizi dianggap sebagai masalah ekologi karena merupakan hasil
akhir dari
berbagai pengaruh faktor-faktor yang saling berinteraksi di dalam
ekologi (lingkungan) fisik, biologi dan budaya masyarakat. Pada umumnya
kurang gizi terjadi karena kemiskinan, keterbatasan ketersediaan pangan,
5
19
pengetahuan gizi rendah, kebiasaan makan dan faktor lainnya (Suhardjo 1989).
Namun ada fakta yang menunjukkan bahwa gizi kurang tidak selalu terjadi pada
keluarga-keluarga miskin atau tinggal di lingkungan yang kumuh. Dengan kata
lain, anak-anak yang mengalami gizi kurang dapat ditemukan pada keluargakeluarga mampu (tidak miskin) yang hidup di lingkungan masyarakat yang cukup
baik.
Menurut (Engel, Manon dan Haddad,1997) anak balita yang mengalami
gizi kurang salah satunya disebabkan oleh kurangnya kepedulian ibu dalam
mengasuh
anak
membiasakan
terutama
dalam
pemberian
makanan
misalnya
ibu
diri untuk mencuci tangan sebelum makan. Lebih rinci faktor-
faktor yang menyebabkan gizi kurang pada balita akan dijelaskan sebagai
berikut.
Konsumsi Pangan
Konsumsi pangan adalah informasi tentang jenis dan jumlah pangan
yang dimakan seseorang atau sekelompok orang (keluarga atau rumahtangga)
pada waktu tertentu. Konsumsi merupakan salah satu kebutuhan pokok yang
diperlukan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan
zat gizi. Kekurangan dan kelebihan dalam jangka waktu yang lama akan
berakibat buruk terhadap kesehatan. Kebutuhan akan energi dan zat gizi
bergantung pada berbagai faktor seperti umur, jenis kelamin, berat badan, iklim
dan aktivitas fisik (Almatsier 2003).
Frekuensi makan dapat menunjukkan tingkat kecukupan konsumsi gizi.
Semakin
tinggi
frekuensi
makan,
maka
semakin
besar
kemungkinan
terpenuhinya kecukupan gizi. Frekuensi makan pada seseorang dengan kondisi
ekonomi mampu lebih tinggi dibandingkan dengan orang dengan kondisi
ekonomi lemah. Hal ini disebabkan orang dengan kondisi ekonomi yang lemah
memiliki daya beli yang rendah sehingga tidak dapat mengkonsumsi makanan
dengan frekuensi yang cukup. Ketiadaan pangan dapat mengakibatkan
berkurangnya asupan seseorang (Arisman 2009).
Menurut Hardinsyah & Martianto (1992) ada tiga hal yang mempengaruhi
konsumsi pangan yaitu kualitas dan ragam pangan yang tersedia dari produksi,
pendapatan dan tingkat pengetahuan gizi. Konsumsi pangan adalah informasi
tentang jenis dan jumlah pangan yang dimakan seseorang atau kelompok orang
(sekeluarga atau rumah tangga) pada waktu tertentu. Hal ini menunjukkan
20
bahwa telaah tentang konsumsi pangan dapat ditinjau dari aspek jenis pangan
yang dikonsumsi dan jumlah pangan yang dikonsumsi.
Manusia memerlukan sejumlah zat gizi agar dapat hidup sehat dan
mempertahankan hidupnya. Oleh karena itu, jumlah zat gizi yang diperoleh
melalui konsumsi pangan harus mencukupi kebutuhan untuk melakukan aktivitas
(internal dan eksternal), dan mempertahankan daya tahan tubuh. Kebutuhan gizi
merupakan sejumlah zat gizi minimal yang harus dipenuhi dari konsumsi
makanan. Kekurangan atau kelebihan konsumsi zat gizi dari kebutuhan normal
jika berlangsung dalam jangka waktu lama dapat membahayakan kesehatan
(Hardinsyah & Martianto 1992).
Kesehatan (Infeksi)
Sebagaimana Negara berkembang lainnya masalah kesehatan anak di
Indonesia masih berupa : (1) penyakit infeksi, pada umumnya infeksi saluran
nafas dan penyakit-penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi ; (2)
penyakit diare ; dan (3) masalah gizi khususnya malnutrisi. Keadaan status gizi
anak merupakan akibat interaksi berbagai faktor, yang paling utama adalah dua
faktor yaitu konsumsi dan infeksi (Soekirman 2000). Penyakit infeksi dan status
gizi seorang anak masih sering dianggap sebagai dua hal yang terpisah.
Sebenarnya antara dua faktor yang sama-sama menentukan kesehatan anak ini
terdapat hubungan yang timbal balik yang sangat erat dan saling mempengaruhi.
Penyakit infeksi seperti diare, campak, dan infeksi saluran nafas bisa
berhubungan dengan gangguan gizi melalui beberapa cara yaitu mempengaruhi
nafsu makan, dapat menyebabkan kehilangan makanan karena diare/muntahmuntah, atau mempengaruhi metabolisme makanan. Secara umum defisiensi
gizi sering merupakan awal dari gangguan defisiensi sistem kekebalan tubuh.
Selain infeksi oleh kuman dan virus, infeksi dapat berupa masuknya parasit ke
dalam tubuh yaitu cacing / kecacingan (Arisman 2009).
Menurut Sukarni (1989) usia balita merupakan usia yang rentan terhadap
masalah pangan, gizi dan kesehatan. Kemampuan saluran pencernaan pada
usia ini masih terbatas, kebutuhan zat gizi yang cukup tinggi dan aktifnya
interaksi dengan lingkungan bersanitasi buruk dapat memudahkan penularan
infeksi. Oleh karena itu diperlukan perhatian khusus dari orang tua. Perhatian
atau kepedulian yang tinggi dari ibu dan keluarga dalam mengasuh anak akan
berdampak pada pertumbuhan dan perkembangannya di masa depan.
21
Karakteristik Sosial Ekonomi Keluarga
Umur orang tua. Umur orang tua terutama ibu berkaitan dengan pengalaman
ibu dalam mengasuh anak. Seorang ibu yang masih muda kemungkinan kurang
memiliki pengalaman dalam mengasuh anak sehingga dalam merawat anak
didasarkan pada pengalaman orang tua terdahulu. Ibu dengan usia muda
cenderung memperhatikan kepentingannya sendiri daripada anak dan keluarga
(Hurlock 1993).
Pendidikan Orang Tua. Tingkat pendidikan orang tua merupakan salah satu
faktor yang berpengaruh terhadap pola asuh anak termasuk pemberian makan,
(Sukandar 2007). Dari berbagai penelitian diketahui bahwa apabila pendidikan
dan pengetahuan dalam berbagai bidang gizi yang dimiliki orang tua baik, maka
keadaan gizi anak juga baik (Riyadi 2006). Semakin tinggi tingkat pendidikan
formal maka akan semakin luas wawasan berfikirnya, sehingga lebih banyak
informasi yang diperoleh. Hal tersebut akan berdampak positif terhadap ragam
pangan yang dikonsumsi. Latar belakang pendidikan ibu juga berpengaruh
terhadap perilaku ibu dalam mengelola rumah tangga, termasuk konsumsi
pangan sehari-hari (Engle et al. 1997). Pendidikan merupakan penuntun
manusia untuk berbuat dapat digunakan untuk mendapatkan informasi sehingga
dapat meningkatkan kualitas hidup. Ibu yang memiliki pendidikan tinggi
cenderung mempunyai pengetahuan gizi, kesehatan dan pengasuhan anak yang
baik (Madanijah 2003).
Pekerjaan Orang Tua. Bekerja adalah kegiatan melakukan pekerjaan dengan
maksud
memperoleh
atau
membantu
memperoleh
penghasilan
atau
keuntungan. Besar pendapatan yang diterima individu akan dipengaruhi oleh
jenis pekerjaan yang dilakukan (Suhardjo 1989). Tingkat pendidikan akan
berhubungan dengan jenis pekerjaan seseorang. Semakin tinggi tingkat
pendidikan maka kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan semakin besar
(Engel et al. 1994). Bila mereka bekerja maka akan diupah lebih tinggi dibanding
dengan orang yang berpendidikan rendah. Jenis pekerjaan yang akan dilakukan
individu akan berpengaruh terhadap besar pendapatan yang akan diterimanya.
Kemampuan individu menyediakan makanan dalam jumlah yang cukup
dipengaruhi oleh pendapatan dan daya beli yang cukup.
Besar Keluarga . Besar keluarga adalah banyaknya anggota keluarga yang
terdiri dari ayah, ibu, anak dan anggota keluarga lain yang hidup dari
pengelolaan sumberdaya yang sama. Menurut Sanjur (1982), banyaknya
22
anggota keluarga akan mempengaruhi konsumsi pangan dalam hubungannya
dengan pengeluaran pangan rumah tangga. Besar kecilnya anggota keluarga
dapat mempengaruhi kebutuhan keluarga, semakin besar anggota keluarga
maka kebutuhan pangan yang harus tercukupi semakin meningkat, sehingga
biaya yang dikeluarkan untuk kebutuhan pangan keluarga akan tinggi ( Lumeta
1987).
Peningkatan jumlah keluarga menurunkan konsumsi pangan hewani dan
pangan sumber karbohidrat diganti dengan yang lebih murah atau dalam porsi
yang lebih kecil (Hartog et al. 1995). Menurut BKKBN (1998), jumlah anggota
keluarga dapat diklasifikasikan sebagai besar keluarga dalam tiga kategori, yaitu
kecil (<4 orang), sedang (5-7 orang), dan besar (> 7 orang). Suhardjo (1989)
menyatakan bahwa ada hubungan yang sangat nyata antara besar keluarga
dengan kurang gizi pada masing-masing keluarga.
Pendapatan Keluarga. Pendapatan keluarga adalah besarnya rata-rata
penghasilan yang diperoleh dari seluruh anggota keluarga. Pendapatan keluarga
tergantung pada jenis pekerjaan kepala keluarga dan anggota keluarga lainnya.
Jika pendapatan masih rendah maka kebutuhan pangan lebih dominan daripada
kebutuhan
non
pangan.
Sebaliknya,
jika
pendapatan
meningkat maka
pengeluaran untuk non pangan akan semakin besar, mengingat kebutuhan akan
pangan sudah terpenuhi (Husaini et al. 2000).
Menurut Sajogyo (1994) rendahnya pendapatan merupakan faktor yang
menyebabkan orang tidak mampu membeli dan memilih pangan yang bermutu
gizi baik dan beragam. Sesuai dengan Hukum Bennet, semakin tinggi
pendapatan maka kualitas bahan pangan yang dikonsumsi pun semakin baik
yang tercermin dari perubahan pembelian bahan yang harganya murah menjadi
bahan pangan yang harganya lebih mahal dengan kualitas yang baik.
Sebaliknya, rendahnya
pendapatan
yang
dimiliki oleh seseorang akan
mengakibatkan terjadinya perubahan kebiasaan makan yang tercermin dari
pengurangan frekuensi makan dari tiga kali
menjadi dua kali dalam sehari.
Tingkat pendapatan merupakan faktor yang paling menentukan terhadap
kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Rendahnya pendapatan
menyebabkan daya beli terhadap makanan menjadi rendah dan konsumsi
pangan keluarga akan berkurang (Berg 1986)
23
Pola Asuh
Pola pengasuhan merupakan sikap dan perilaku ibu atau pengasuh lain
dalam
hal kedekatannya
dengan
anak,
memberikan
makan, merawat,
kebersihan, dan memberi kasih sayang. Oleh karena itu menurut Hastuti (2008)
pola pengasuhan mencakup pengasuhan makan, pengasuhan hidup sehat,
pengasuhan akademik, pengasuhan sosial ekonomi, serta pengasuhan moral
dan disiplin. Pola pengasuhan tersebut berhubungan dengan keadaan ibu dalam
hal kesehatan (fisik dan mental), status gizi, pendidikan umum,pengetahuan
tentang pengasuhan anak yang baik, peran keluarga dalam masyarakat, sifat
pekerjaan sehari-hari, adat kebiasaan keluarga dan masyarakat dari ibu atau
pengasuh (Soekirman 2000). Dalam penelitian Diana (2004) di Sumatera Barat,
pola asuh anak yang kurang akan mempunyai resiko anak balita KEP 1,5 kali
dibandingkan dengan anak balita yang dengan pola asuh cukup. Selain itu Diana
(2004) juga menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi pola asuh adalah
pendidikan ibu,pekerjaan ibu,umur,dan tingkat pengetahuan ibu.
Pola Asuh Makan. Pola asuh makan merupakan praktek-praktek pengasuhan
yang diterapkan oleh ibu kepada anak yang berkaitan dengan pemberian makan
(Karyadi 1985). Pemberian makanan bergizi mutlak dianjurkan untuk anak
melalui peran ibu atau pengasuhnya. Menurut Hastuti (2008) pola asuh makan
mengacu pada apa dan bagaimana anak makan, serta situasi pada saat anak
makan. Makanan dan minuman bergizi harus dapat disediakan orang tua bahkan
sejak masa prenatal (sebelum kelahiran) hingga masa post natal (setelah
kelahiran), periode usia bayi, balita, usia prasekolah,usia sekolah hingga periode
usia dewasa. Anak telah memiliki kemampuan motorik halus ketika berusia dua
tahun, olah karena itu pada usia ini anak dapat dibiasakan untuk memegang
sendok makan dan gelas minumnya sendiri, belajar memasukkan makanan ke
dalam mulut dan mengunyahnya dengan baik.
Kebiasaan makan yang beragam, bergizi dan berimbang, harus
dibiasakan sejak usia dini. Pemberian makanan yang baik akan membentuk
kebiasaan makan yang baik pula pada anak. Selain itu, balita yang mendapatkan
kualitas pengasuhan yang lebih baik kemungkinan besar akan memiliki angka
kesakitan yang rendah dan status gizi yang relatif lebih baik. Praktek pola asuh
makan terdiri dari : (1) pemberian makan yang sesuai umur dan kemampuan
anak, (2) kepekaan ibu atau pengasuh mengetahui waktu makan anak, (3) upaya
menumbuhkan nafsu makan anak, (4) menciptakan situasi makan yang baik
24
seperti memberikan rasa nyaman, (5) kuantitas dan kualitas makanan serta (6)
cara penyajian dan pemberian makan yang benar (Engel dkk 1997). Apabila
praktik pengasuhan yang diterapkan oleh keluarga khususnya ibu yang berkaitan
dengan
cara
dan
situasi
makan
dapat
memberikan
suasana
yang
menyenangkan bagi anak, maka ibu tidak akan mengalami kesulitan dalam hal
pemberian makan kepada anak. Pada usia anak di bawah lima tahun merupakan
masa yang tergolong rawan. Pada umumnya anak mulai susah makan atau suka
pada makanan jajanan yang rendah energi dan tidak bergizi. Oleh karena itu
perhatian terhadap makanan dan kesehatan bagi anak pada usia ini sangat
diperlukan (Hardinsyah & Martianto 1992).
Pola Asuh Hidup Bersih
Kebersihan adalah faktor yang sangat besar pengaruhnya terhadap
kesehatan, Hal ini terlihat dari banyaknya orang yang mendapat penyakit karena
tidak memperhatikan faktor kebersihan (Depkes RI 1995). Beberapa penyakit
tertentu misalnya penyakit kulit bakteria dan jamur berhubungan erat dengan
kebersihan perorangan (personal hygene) (Notoadmojo 2007)
Hygene diri sangat penting diketahui dan dipraktikkan oleh setiap
orang untuk kesehatan dirinya maupun kesehatan masyarakat. Hygene diri
adalah pengetahuan yang sifatnya individualistis, artinya sangat tergantung dari
diri sendiri, yang praktiknya harus diketahui, dimengerti dan dilaksanakan oleh
setiap individu (Suklan 2000). Mengingat balita adalah individu pasif, maka
penjagaan kesehatannya merupakan tanggung jawab individu dewasa di
sekitarnya, terutama oleh orang tuanya (Depkes 1995)
Ruang lingkup kebersihan pribadi meliputi kebersihan kulit, rambut,
mata, kuku, hidung, telinga, mulut dan gigi. tangan dan kaki, pakaian, serta
kebersihan sesudah buang air besar dan buang air kecil. Anak harus dapat
belajar menjaga kesehatannya sendiri sejak dini seperti memotong kuku setiap
minggu dan menjaga kebersihannya, menggosok gigi sehari dua kali, mandi
dengan sabun sehari dua kali, mencuci anggota badan sebelum tidur,
menggunakan pakaian bersih dan sebagainya. Selain menjaga kebersihan diri,
terpenuhinya pelayanan kesehatan balita juga sangat penting agar status
kesehatan balita tetap terjaga. (Depkes 1995)
Pola Asuh Kesehatan (Akses terhadap pelayanan kesehatan dasar)
Orang tua memiliki kewajiban untuk memberikan asuhan kesehatan
kepada anak sehingga anak selalu berada dalam kondisi terbebas dari penyakit
25
serta dapat beraktifitas rutin selayaknya individu normal. Hastuti (2008)
menyebutkan bahwa ada dua usaha yang dapat dilakukan orang tua untuk
melakukan pola asuh hidup sehat yaitu preventif dan kuratif. Upaya preventif
adalah dengan membiasakan pola hidup sehat, melalui penanaman kebiasaan
hidup bersih dan teratur seperti mandi, keramas rambut,gosok gigi,guting kuku,
dan cuci tangan sebelum makan. Upaya tersebut perlu ditanamkan sejak usia
dini. Upaya kuratif yang dapat dilakukan meliputi upaya orang tua untuk
memberikan pengobatan dan perawatan agar anak selalu berada dalam kondisi
terbebas dari penyakit infeksi, dan penyakit lain yang umum terjadi pada anak.
Menurut Azwar (1990) pelayanan kesehatan yang baik harus
memenuhi minimal tiga persyaratan pokok yakni sesuai dengan kebutuhan
pemakaian jasa pelayanan, terjangkau oleh pemakai jasa pelayanan serta
terjaminnya mutu. Untuk memenuhi syarat sesuai kebutuhan masyarakat dan
keterjaminan mutu, maka pelayanan kesehatan tersebut akan menjadi mahal
sehingga tidak dapat dijangkau oleh masyarakat. Salah satu jenis pelayanan
kesehatan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat antara lain Pos Pelayanan
Terpadu (POSYANDU). Kartu Menuju Sehat (KMS) yang diperoleh dari
posyandu berguna untuk memonitor berat badan anak setiap bulannya.
Kartu Menuju Sehat (KMS) adalah alat yang memungkinkan
dilakukannya pengamatan terhadap pertumbuhan anak dengan cara sederhana
yang berfungsi sebagai alat pemantauan gerak pertumbuhan (Arisman 2009).
Imunisasi dan vitamin A berguna untuk mencegah timbulnya penyakit tertentu
pada balita. Penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi ialah TBC, dipteria,
pertunis, tetanus, polio dan campak melalui kegiatan vaksinasi DPT. Pada
dasarnya, status gizi anak balita dan perawatan kesehatan dikatakan baik bila
berat badannya setiap bulan meningkat (Hardinsyah & Martianto, 1992).
Kondisi Lingkungan
Kondisi lingkungan adalah segala sesuatu baik benda maupun
keadaan yang berada disekitar manusia yang dapat mempengaruhi kesehatan
dan kesejahteraan seseorang atau kelompok masyarakat. Kesehatan lingkungan
mencakup aspek yang sangat luas yang meliputi hampir seluruh aspek
kehidupan manusia. Pentingnya lingkungan yang sehat akan mempengaruhi
sikap dan perilaku manusia.
26
Sanitasi Lingkungan Perumahan
Keadaan perumahan merupakan salah satu faktor yang menentukan
keadaan hygene dan sanitasi lingkungan. Rumah merupakan tempat
manusia berlindung dari panas, terik matahari, hujan dan lain-lain yang dapat
mengganggu kesehatan, keamanan, dan kenyamanan manusia. Menurut
Latfiah et al (2002) rumah dikatakan sehat jika memenuhi beberapa
persyaratan sebagai berikut :
1. Lantai rumah harus mudah dibersihkan misalnya lantai yang terbuat dari
keramik, teraso, tegel atau semen, dan kayu atau bambu. Lantai tanah
tidak memenuhi syarat kesehatan karena dapat menjadi sumber penyakit
seperti cacing dan bakteri penyebab sakit perut.
2. Atap rumah harus kuat dan tidak mudah bocor misalnya genteng, asbes,
gelombang, seng, sirap, dan nipah
3. Dinding rumah yang baik adalah tembok yang dapat dicat dan
dibersihkan dengan mudah. Menurut Depkes (2008) penggunaan jenis
dinding dapat pula digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteran
masyarakat.
4. Ventilasi udara biasanya berupa jendela yang dilengkapi dengan lubang
angin.Fungsi ventilasi udara adalah untuk pertukaran udara agar di dalam
rumah tetap bersih dan segar. Sebaiknya setiap ruangan mempunyai
sedikitnya satu buah jendela yang bisa dibuka dan ditutup sehingga
udara dapat mengalir lancar.
5. Rumah harus memiliki sumber air bersih dan sehat. Syarat lokalisasi
bertujuan agar sumber air minum terhindar dari kotoran, sehingga perlu
diperhatikan jarak sumber air minum dengan cubluk (kakus) lubang galian
sampah, lubang galian untuk air limbah dan sumber-sumber pengotor
lainnya. Menurt Widyati dan Yuliarsih (2002) jarak sumur dengan WC
minimum 10 meter
6. Jumlah kamar mandi sebaiknya disesuaikan dengan jumlah annggota
keluarga. Jika anggota keluarga ada empat orang maka paling sedikit
harus ada satu kamar mandi. Setiap kamar mandi biasanya dilengkapi
dengan jamban atau WC
7. Rumah harus memiliki sarana pembuangan air limbah dan sampah. Air
limbah terdiri dari kotoran manusia,air kotoran dapur, kamar mandi
termasuk air kotor dari permukaan tanah. Kurang lebih 80 % air yang
27
digunakan oleh manusia untuk aktivitas sehari-hari akan dibuang lagi
dalam bentuk yang sudah kotor dan tercemar. Pembuangan limbah
manusia yang tidak pada tempatnya dapat menimbulkan gangguan
kesehatan pada masyarakat. Oleh karena itu menurut Sukandar (2007),
pembuangan kotoran manusia harus dapat dibuat dengan baik agar tidak
mencemari lingkungan sekitar karena di dalam kotoran manusia, banyak
sekali terdapat bibit-bibit penyakit yang mampu menyebabkan dan
menularkan berbagai penyakit. Selain itu juga menimbulkan bau yang
tidak sedap
8. Kandang ternak harus terpisah cukup jauh dari rumah agar rumah terjaga
kebersihan dan kesehatannya. Selain itu kandang ternak harus memiliki
tempat pembuangan kotoran
Status Gizi dan Morbiditas
Morbiditas dan status gizi merupakan variabel yang mencerminkan status
kesehatan. Morbiditas ini meliputi prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak
menular. Derajat kesehatan atau status kesehatan adalah tingkat kesehatan
perorangan, kelompok atau masyarakat yang diukur dengan angka kematian,
umur harapan hidup, status gizi, dan angka kesakitan (morbiditas). Kesehatan
merupakan masalah yang kompleks hingga tidak mungkin diukur semua faktor
yang mempengaruhinya, baik secara langsung maupun tidak langsung, karena
itu diperlukan suatu alat yang dapat memberi indikasi untuk menggambarkan
keadaan kesehatan. Indikator kesehatan dapat digunakan untuk mengukur
status kesehatan, memonitor kemajuan keadaan kesehatan dan merupakan alat
bantu dalam mengadakan evaluasi program kesehatan Depkes (2008).
Faktor yang mempengaruhi kesehatan adalah penyebab penyakit,
manusia, dan lingkungan. Gangguan keseimbangan diantara ketiga faktor
tersebut menimbulkan gangguan kesehatan yang menyebabkan penurunan
derajat kesehatan seseorang. Penyebab penyakit dapat berasal dari dalam
maupun luar tubuh. Daya tahan tubuh manusia akan mempengaruhi kemudahan
terkena penyakit. Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar
manusia dan dapat mempengaruhi kehidupannya (Supariasa dkk 2001).
Menurut
Subandriyo
(1993),
angka
kesakitan
(morbiditas)
lebih
mencerminkan keadaan kesehatan sesungguhnya, sebab kejadian kesakitan
mempunyai hubungan yang erat dengan berbagai faktor lingkungan, seperti
perumahan, air minum dan kebersihan serta faktor kemiskinan, kekurangan gizi
28
serta pelayanan kesehatan di daerah tersebut. Sedangkan angka kematian lebih
banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi kedokteran sehingga kurang
mencerminkan keadaan kesehatan yang sesungguhnya.
Antara status gizi kurang dan infeksi terdapat interaksi bolak-balik. Infeksi
dapat menimbulkan gizi kurang melalui berbagai mekanisme. Infeksi yang akut
mengakibatkan kurangnya nafsu makan dan toleransi terhadap makanan. Orang
yang mengalami gizi kurang, daya tahan tubuh terhadap penyakit menjadi
rendah, sehingga mudah terkena serangan penyakit infeksi (Suhardjo 1989).
Keadaan kesehatan atau adanya infeksi akan berpengaruh terhadap
status gizi. Penurunan keadaan gizi dan pertumbuhan akibat adanya kejadian
sakit (morbiditas), mekanismenya mencakup penurunan asupan makanan,
gangguan penyerapan, gangguan peningkatan kebutuhan gizi, serta peningkatan
kerusakan jaringan (Latham 1997). Ada hubungan yang sinergistik antara
kejadian sakit dengan status gizi. Infeksi bersama-sama penurunan asupan
makanan merupakan sebab utama kurang gizi
Makanan Tambahan serta Peranannya dalam Mengatasi Gizi Kurang
Makanan tambahan adalah makanan atau minuman yang mengandung
zat gizi yang diberikan pada bayi atau anak di atas 6 bulan untuk memenuhi
kebutuhan gizinya selain dari ASI (Depkes RI, 2000). Tujuan pemberian
makanan tambahan pada bayi atau anak diantaranya untuk melengkapi zat-zat
gizi yang kurang karena kebutuhan zat gizi akan semakin meningkat sejalan
dengan bertambahnya usia bayi atau anak. Pemberian Makanan Tambahan
merupakan salah satu komponen penting dalam Usaha Perbaikan Gizi Keluarga
(UPGK) dan program yang dirancang oleh pemerintah. PMT sebagai sarana
pemulihan gizi dalam arti kuratif, rehabilitatif dan sebagai sarana untuk
penyuluhan merupakan salah satu bentuk kegiatan pemberian gizi berupa
makanan dari luar keluarga.
Pemberian makanan tambahan bertujuan untuk memperbaiki keadaan
gizi pada anak golongan rawan gizi yang menderita kurang gizi, dan diberikan
dengan kriteria anak balita yang tiga kali berturut-turut tidak naik timbangannya
serta yang berat badannya pada KMS terletak dibawah garis merah. Bahan
makanan yang digunakan dalam PMT hendaknya bahan-bahan yang ada atau
dapat dihasilkan setempat, sehingga kemungkinan kelestarian program lebih
besar.
Diutamakan
bahan
makanan
sumbar
kalori
dan
protein
tanpa
29
mengesampingkan sumber zat gizi lain seperti: padi-padian, umbi-umbian,
kacang-kacangan, ikan, sayuran hijau, kelapa dan hasil olahannya.
Prasyarat pemberian makanan tambahan pada anak adalah nilai gizi
harus berkisar 200 – 300 kalori dan protein 5 – 8 gram, mempergunakan bahan
makanan setempat dan diperkaya protein nabati/hewani, mempergunakan resep
daerah atau dimodifikasi, serta dipersiapkan, dimasak, dan dikemas dengan
baik, aman memenuhi syarat kebersihan serta kesehatan. Pemberian makanan
tambahan (PMT) diberikan dengan frekuensi minimal 3 kali seminggu selama
100 – 160 hari. PMT yang diberikan dapat berupa makanan selingan seperti
biskuit atau makanan lengkap (porsi) kecil.
Program intervensi yang dikhususkan untuk balita yang menderita
masalah gizi kurang dikenal dengan sebutan PMT. Jumlah makanan untuk PMT
diperkirakan 300-400 kalori dan 15-20 gram protein per 100 gram bahan yang
diberikan selama 180 hari makan anak untuk balita dengan status gizi buruk dan
90 hari makan anak untuk balita dengan status gizi kurang
Makanan Tambahan Biskuit ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Menurut Standar Nasional Indonesia , biskuit adalah sejenis makanan
yang terbuat dari tepung terigu dengan penambahan bahan makanan lain,
dengan proses pemanasan dan percetakan. Dalam prosesnya, biskuit juga dapat
ditambahkan dengan bahan tambahan pangan yang diijinkan. Menurut Boober et
al (2006) bahwa biskuit konvensional yang tinggi lemak dan gula yang
diasosiasikan dengan diet tidak sehat oleh konsumen dapat dimodikasi. Salah
satu modifikasi biskuit yang pernah dilakukan sebelumnya yaitu biskuit dengan
subsitusi tepung ikan lele dumbo dan isolate protein kedelai oleh Kusharto et al
2009.
Lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan salah satu jenis lele yang
memiliki ukuran besar yang dikembangkan di Indonesia. Protein ikan lele
tergolong istimewa karena bukan hanya berfungsi sebagai penambah jumlah
protein yang dikonsumsi tetapi juga pelengkap mutu protein. Protein ikan lele
mengandung semua asam amino esensial dalam jumlah yang cukup (FAO 1972
dalam Astawan 2008) yaitu Arginin (6.3%), Histidin (2.8%), Isoleusin (4,3%),
Leusin (9.5%), Lisisn (10.5%), Metionin (1.4%), Fenilalanin (4.8%), Treonin
(4.8%), Valin (4.7%), Triptofan (0.8%). Tepung ikan merupakan salah satu hasil
pengawetan ikan dalam bentuk kering untuk kemudian digiling menjadi tepung.
30
Kedelai merupakan salah satu sumber protein nabati yang potensial
karena kandungan protein yang tinggi yaitu 40%. Isolat protein kedelai
merupakan bentuk protein kedelai yang paling murni, karena kadar protein
minimumnya 95% dalam berat kering. Isolat protein kedelai selain sebagai
pengikat dan pengemulsi, juga dapat berfungsi sebagai sebagai additive untuk
memperbaiki penampakan produk, tekstur, serta flavour produk (Koswara 1995).
Biskuit dengan subsitusi tepung ikan lele dumbo dan isolate protein
kedelai yang dikembangkan oleh Kusharto et al 2009 merupakan biskuit yang
diperkaya dengan tepung protein ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) dan isolat
protein kedelai. Komposisi dari PMT biskuit terdiri dari : tepung ikan lele (tepung
daging dan tepung kepala), tepung terigu, isolat protein kedelai, telur ayam, gula
bubuk, margarin, mentega, dan susu. Dengan komposisi demikian memberikan
sumbangan zat gizi yang cukup tinggi. Berikut formulasi biskuit dengan
tambahan tepung ikan dan isolat protein kedelai
Tabel 1 Formulasi biskuit dengan tambahan tepung ikan dan isolat protein
kedelai
Komponen
Tepung ikan lele
Tepung kepala ikan lele
Isolat protein kedelai
Tepung terigu
Gula bubuk
Telur
Margarin
Mentega
Tepung susu
Total
Baking powder
Soda kue
Sumber : Kusharto et all 2009
%
3.5
1.5
10.0
25.0
18.0
18.0
9.0
9.0
6.0
100.0
8.0
4.0
Dalam 50 g biskuit lele mengandung energi 240 kkal dan protein
sebanyak 10 g. Hasil pengukuran daya cerna protein dengan metode enzimatik
secara in vitro sebesar 89.34% (Mervina 2009), tergolong sedang karena nilainya
menyerupai daya cerna kacang kacangan (FAO/WHO/UNU 1994)
Fly UP