...

Perbandingan Kelimpahan Larva Chironomidae di Dua Danau

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Perbandingan Kelimpahan Larva Chironomidae di Dua Danau
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia (JIPI), Desember 2014
ISSN 0853 – 4217
Vol. 19 (3): 183 188
Perbandingan Kelimpahan Larva Chironomidae di Dua Danau Berbeda di
Provinsi Jambi
(Comparison of Chironomidae Larvae Abundance at Two Different Lakes
in Jambi Province)
*
Siti Anindita Farhani , Yusli Wardiatno, Majariana Krisanti
ABSTRAK
Penelitian dilakukan pada dua danau berbeda yang terletak di Provinsi Jambi (Danau Sipin dan Danau Teluk).
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kelimpahan larva serangga dari famili Chironomidae. Danau Sipin
memiliki lokasi dekat dengan pemukiman sehingga banyak mendapat pengaruh dari aktivitas antropogenik.
Sedangkan Danau Teluk hanya sedikit terpengaruh aktivitas antropogenik. Kedua danau memiliki perbedaan
penutupan lahan hijau di sekitar danau. Lahan di sekitar Danau Sipin lebih terbuka dibandingkan lahan di sekitar
Danau Teluk sehingga menyebabkan rendahnya tingkat kecerahan di Danau Sipin. Tingkat kecerahan Danau Sipin
terukur sebesar 58,62 cm, sementara tingkat kecerahan yang diperoleh di Danau Teluk adalah 70,29 cm. Perbedaan
tingkat kecerahan ini memengaruhi kelimpahan larva yang dihitung. Kelimpahan larva yang ditemukan di Danau
2
2
Sipin adalah 49 ind/m sedangkan kelimpahan larva di Danau Teluk ditemukan 374 ind/m . Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tingkat kecerahan, warna air, dan vegetasi di sekitar danau memengaruhi kelimpahan larva
Chironomidae yang ditemukan.
Kata kunci: chironomidae, kecerahan perairan, kelimpahan
ABSTRACT
This research was conducted at two different lakes in Jambi Province (Lake Sipin and Lake Teluk) to compare
abundance of aquatic insect larvae (family: Chironomidae). Lake Sipin located close by the settlement and got
many influences from anthropogenic activities. However, Lake Teluk got less anthropogenic disturbance. Both
lakes have difference plants cover. The area around Lake Sipin was more open compared to Lake Teluk and it
caused low transparency level in Lake Sipin. The transparency level of Lake Sipin was 58.62 cm whereas
transparency level of Lake Teluk was 70.29 cm. The difference of this transparency level influenced Chironomidae
2
Larvae abundance that was encountered. Larvae abundance which was found in Lake Sipin was 49 ind/m , while
2
larvae abundance of Lake Teluk was 374 ind/m . The result showed that water transparency level, water colors and
vegetation affected abundance of Chironomidae larvae.
Keywords: abundance, chironomidae, water transparency
PENDAHULUAN
Chironomidae adalah salah satu anggota ordo
Diptera yang ditemukan hampir di semua ekosistem
perairan baik perairan mengalir maupun tergenang.
Organisme ini juga dapat ditemukan di ekosistem laut
(Epler 2001). Chironomidae bahkan dapat tumbuh
dan berkembang pada perairan yang telah terkontaminasi misalnya kolam stabilisasi limbah
(Halpern et al. 2002). Famili Chironomidae menjadi
penyusun 10 50% biomassa makroinvertebrata air
yang masing-masing subfamili maupun ordonya
memiliki preferensi tertentu terhadap kondisi suatu
lingkungan perairan (Odume & Muller 2011). Larva
Chironomidae sangat cepat merespons perubahan
kondisi perairan (Heinrich et al. 2006). Oleh karena
itu, larva insekta ini sering dimanfaatkan sebagai
bioindikator pencemaran lingkungan. Batas toleransi
Departemen Manajemen Sumber Daya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor,
Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680.
* Penulis Korespondensi:
E-mail: [email protected]
dan sensitivitas masing-masing spesies Chironomid
berbeda sehingga dapat menjadi indikator yang
sempurna bagi pencemaran organik, kontaminasi
logam berat maupun degradasi habitat (Carew et al.
2003; Odume & Muller 2011). Larva Chironomidae
berperan sangat penting dalam rantai makanan di
lingkungan perairan (Zilli et al. 2008). Organisme ini
bermanfaat sebagai pakan alami juvenil dan invertebrata lain serta berperan penting dalam proses
penguraian bahan organik (Pinder 1986; Bay 2003).
Larva Chironomidae merupakan pemanfaat bahan
organik langsung, hal ini dibuktikan oleh penelitian
Biasi et al. (2013) yang menyatakan bahwa keberadaan Chironomidae dalam densitas tinggi berasosiasi
dengan ketersediaan detritus sehingga Chironomidae
dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pengurai
yang berperan dalam proses dekomposisi. Sebagian
besar spesies Larva Chironomidae memiliki habitat di
perairan yang kaya bahan organik (Arimoro et al.
2007). Struktur komunitas seperti komposisi jenis,
diversitas, dan kelimpahan dipengaruhi kondisi
lingkungan. Oleh karena itu, komunitas larva Chironomidae diharapkan mampu menggambarkan kondisi
ISSN 0853 – 4217
184
perairan habitatnya. Junshum et al. (2008) menyatakan bahwa pendekatan secara biologi paling baik
untuk menentukan kualitas suatu perairan. Pendekatan secara biologi dinilai mampu menunjukkan kondisi
perairan untuk periode waktu tertentu dalam bentuk
respons organisme. Sedangkan pendekatan fisik
maupun kimia hanya mampu menggambarkan kondisi
perairan yang sifatnya sementara yakni pada waktu
pengukuran saja.
Hasil penelitian yang diperoleh dapat menjadi
tambahan informasi mengenai larva Chironomidae di
Danau Sipin dan Danau Teluk dan kaitannya dengan
kualitas air di kedua danau tersebut. Informasi ini
dapat digunakan sebagai dasar pengelolaan ekosistem danau. Pengelolaan danau yang tepat diharapkan
dapat menjamin ketersediaan sumber daya ikan di
danau serta keberlangsungan ekosistem danau di
masa yang akan datang.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan di Danau Sipin dan Danau
Teluk, Provinsi Jambi (Gambar 1). Kedua danau
tersebut adalah danau alami dengan sumber air
JIPI, Vol. 19 (3): 183 188
berasal dari Sungai Batanghari. Kegiatan antropogenik utama yang memengaruhi kedua danau
adalah kegiatan budi daya Keramba Jaring Apung
(KJA) serta kegiatan penangkapan dengan menggunakan anco. Titik pengambilan contoh ditentukan
secara purposive di masing-masing danau dengan
pertimbangan keberadaan indukan (Chironomid
dewasa). Danau Sipin didominasi pemukiman dan
hampir tidak memiliki tumbuhan di sekitar danau.
Sedangkan lahan di sekitar Danau Teluk masih
didominasi tumbuhan hijau baik pohon maupun
semak.
Paket alat yang digunakan dalam penelitian terdiri
dari tiga substrat buatan yang berfungsi sebagai
2
ulangan pengamatan berukuran 15 x 15 cm
dimodifikasi dari penelitian yang dilakukan Wardiatno
& Krisanti (2013) (Gambar 2). Substrat buatan dibuat
dari saringan nyamuk dengan mesh size 1 mm. Paket
alat diletakan di kedalaman 40 cm untuk masingmasing danau pada hari ke-0 dengan jumlah 60
substrat buatan di setiap danau. Masing-masing diberi
pemberat agar posisi dan kedalaman tidak berubah
apabila terkena arus. Peletakan alat dilakukan secara
bersamaan di kedua danau lokasi penelitian agar
kolonisasi larva Chironomidae seragam.
a
b
Gambar 1 Lokasi peletakan substrat buatan: a) Danau Spin, b) Danau Teluk.
b
a
f
Keterangan :
a. Permukaan air danau
b. Pelampung
c. Tali tambang
d. Frame substrat buatan (z=40 cm)
e. Pemberat pada dasar perairan
2
f. Substrat buatan (15 x 15) cm ,
mesh size 1 mm
c
d
e
Gambar 2 Paket substrat buatan pengambilan sampel larva Chironomidae di Danau Sipin dan Danau Teluk.
ISSN 0853 – 4217
JIPI, Vol. 19 (3): 183 188
Satu paket alat diangkat setiap 2 hari dan
kemudian disikat untuk memanen larva Chironomidae. Larva kemudian diawetkan dengan alkohol
70%. Seluruh pengukuran parameter fisika air dan
pengukuran beberapa parameter kimia, yaitu pH dan
Dissolved Oxygen (DO) dilakukan secara in situ.
Sementara untuk pengukuran parameter Biological
Oxygen Demand (BOD) dilakukan secara ex situ di
Laboratorium Badan Lingkungan Hidup Kota Jambi.
Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan membandingkan parameter kualitas air di kedua danau
lokasi penelitian secara temporal dengan menggunakan uji-t untuk parameter fisika air dan uji U
Mann-Whitney untuk parameter kimia air. Berikut
hipotesis yang digunakan dalam kedua uji tersebut.
H0: parameter yang diukur di kedua danau tidak
menunjukkan perbedaan yang signifikan
H1: parameter yang diukur di kedua danau
menunjukkan perbedaan yang signifikan
Nilai p digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan untuk kedua uji statistika tersebut. Nilai
P<0,05 menunjukkan bahwa keputusan yang
diperoleh adalah tolak H0 sedangkan P>0,05
menghasilkan keputusan gagal tolak H0. Selanjutnya,
dianalisis perbandingan antara kelimpahan larva
Chironomidae pada masing-masing danau dan
hubungannya dengan kualitas air danau.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Larva Chironomidae merupakan bagian dari ordo
Diptera, yaitu insekta atau serangga yang memiliki
sayap satu pasang (Meier et al. 2000) dan 78%
spesies ordo Diptera merupakan larva Chironomidae
(Canedo-Arguelles & Rieradevall 2011). Insekta ini
tidak merugikan karena tidak menggigit seperti halnya
nyamuk (Bay 2003) namun beberapa penelitian
menunjukkan bahwa massa telur larva Chironomidae
menjadi pembawa bakteri penyebab kolera (Vibrio
cholerae) (Halpern et al. 2006). Fase hidup Chironomidae berlangsung di dua habitat berbeda. Fase telur,
larva hingga pupa memiliki habitat di perairan
sedangkan fase dewasa hidup di darat sebagai
serangga. Fase telur insekta ini akan menetas dalam
±24 jam. Fase larva berlangsung selama ±1 bulan,
pupa selama 24 jam, dan fase dewasa selama ±2 hari
(Bay 2003; Farhani 2012). Chironomidae dapat
ditemukan hampir di semua jenis perairan baik yang
tenang maupun mengalir dan baik di air laut maupun
air tawar sehingga biota ini seringkali dinamakan biota
kosmopolit. Larva Chironomidae bahkan ditemukan di
atas permukaan tanah (habitat terestrial) pada lapisan
vegetasi menurut penelitian yang dilakukan Delettre
(2000) di Brittany Tengah, Prancis.
185
Penelitian dilakukan pada dua danau yang terletak
di Provinsi Jambi, yaitu Danau Sipin dan Danau
Teluk. Kedua danau tersebut memiliki perbedaan
kondisi, yaitu Danau Sipin terletak di tengah
pemukiman dan hanya memiliki sedikit tutupan ruang
hijau di sekitarnya. Sebaliknya Danau Teluk tidak
terlalu banyak mendapat pengaruh dari kegiatan
antropogenik dan sebagian besar lahan di sekitar
Danau Teluk masih memiliki tutupan hijau yang baik.
Perhitungan tutupan lahan hijau Danau Sipin
menunjukkan danau memiliki tutupan hijau sebesar
20,88% dari keseluruhan keliling. Danau Teluk
memiliki tutupan hijau sebesar 85,04% dari
keseluruhan keliling danau.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kedua
danau lokasi penelitian ditemukan larva Chironomidae
dengan kelimpahan rata-rata yang berbeda secara
signifikan (Tabel 1). Kelimpahan rata-rata larva
Chironomidae pada Danau Sipin selama 40 hari
2
penelitian adalah 49 ekor per m . Larva ditemukan
pertama kali pada pengambilan contoh ke-5 (hari ke10 setelah peletakan alat). Sementara itu, kelimpahan
larva Chironomidae di Danau Teluk sebesar 374 ekor
2
per m dan pertama kali ditemukan pada pengambilan
contoh ke-3 (hari ke-6 setelah peletakan alat).
Gambar 3 menunjukkan diagram batang kelimpahan
larva Chironomidae pada dua lokasi penelitian.
Parameter fisika dan kimia yang terukur sebagian
besar menunjukkan bahwa kedua danau memiliki
kondisi kualitas air yang hampir sama (Tabel 2). Suhu
rata-rata air permukaan yang terukur di kedua danau
berkisar antara 28,00 30,83 C, kisaran suhu tersebut
masih memenuhi suhu optimal bagi kehidupan biota
perairan secara umum termasuk larva Chironomidae.
Secara statistika, suhu rata-rata permukaan air di
Danau Teluk lebih tinggi secara signifikan dibandingkan Danau Sipin (P<0,05). Kedalaman rata-rata titik
peletakkan substrat buatan antara kedua danau
sama, yaitu 2,38 m. Kedalaman perairan tempat
Gambar 3 Kelimpahan larva Chironomidae di Danau Sipin
dan Danau Teluk.
Tabel 1 Kelimpahan rata-rata larva Chironomidae yang ditemukan pada pada masing-masing danau
2
Danau
Sipin
Teluk
2
0
0
4
0
0
6
0
15
Kelimpahan hari ke- setelah peletakan alat (ind/m )
8
10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40
0 15 30 60 60 30 60 45 89 30 60 60 104 75 45 104 15
104 149 489 504 430 430 504 386 475 356 460 489 489 312 386 386 371
ISSN 0853 – 4217
186
JIPI, Vol. 19 (3): 183 188
Tabel 2 Parameter kualitas air dan uji statistik untuk melihat perbedaan kondisi kedua danau yang diteliti
Parameter
Suhu ( C)
Kedalaman (m)
Kecerahan (cm)
pH
DO (mg/l)
BOD (mg/l)
Danau
Sipin
29,06 (28,00 30,33)
2,38 (2,20 2,81)
58,62 (28,00 78,00)
5,7 (5,5 6,5)
5,24 (3,37 6,22)
2,98 (0,8 4,83)
Teluk
29,85 (29,00 30,83)
2,38 (1,82 3,22)
70,29 (52,50 85,00)
5,6 (5,5 6,0)
4,03 (2,09 5,1)
3,38 (2,01 6,43)
peletakan substrat dirancang sama untuk menghindari
pengaruh perbedaan volume badan air.
Nilai pH yang diperoleh di kedua danau menunjukkan bahwa kondisi kedua danau adalah asam. Hal ini
dipengaruhi kondisi perairan di Pulau Sumatera
sebagian besar merupakan air gambut ber-pH rendah
sesuai pernyataan Sutapa (2014) yang menyatakan
bahwa air di wilayah Sumatera memiliki pH rendah
sehingga bersifat sangat asam, memiliki kadar
organik yang tinggi, kadar besi dan mangan tinggi
serta berwarna kuning atau cokelat tua (pekat). Berdasarkan uji-U Mann Whitney, diperoleh pernyataan
bahwa nilai pH di kedua danau lokasi penelitian tidak
berbeda secara signifikan (P>0,05).
Nilai DO dan BOD yang terukur di kedua danau
menunjukkan hubungan linier negatif. Peningkatan
konsentrasi DO menyebabkan turunnya BOD.
Konsentrasi DO dan BOD dipengaruhi masukan
bahan organik, BOD merupakan parameter yang
berguna untuk mengkaji daya biodegradasi bahanbahan organik terlarut dari suatu perairan (Simon et
al. 2011). Sumber bahan organik bagi Danau Sipin
adalah kegiatan antropogenik baik pemukiman
maupun kegiatan wisata yang dilakukan di sekitar
danau, sedangkan masukan bahan organik pada
Danau Teluk lebih banyak bersumber dari serasah
vegetasi yang berada di sekitar (pepohonan) maupun
di dalam danau (eceng gondok). Nilai DO dan BOD di
kedua danau tidak berbeda secara signifikan berdasarkan uji-U Mann Whitney (P>0,05 dan P>0,05).
Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perairan di kedua
danau tersebut hampir sama.
Parameter kualitas air yang berbeda secara
signifikan pada kedua danau lokasi penelitian adalah
parameter kecerahan (P<0,05). Kecerahan rata-rata
yang terukur di Danau Sipin hanya 58,62 cm.
Rendahnya nilai kecerahan ini dipengaruhi kurangnya
tutupan hijau pada DAS danau. Tutupan hijau yang
sangat kurang menyebabkan tingginya tingkat erosi
sehingga meningkatkan masukan tanah permukaan
ke dalam danau. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Zuazo (2011), dapat disimpulkan bahwa penggunaan penutupan tanaman dapat menjadi rekomendasi untuk menurunkan tingkat erosi maupun resiko
pencemaran. Penutupan tanaman yang kurang
menyebabkan lahan di sekitar danau mudah tergerus
run off atau aliran air permukaan. Tanah yang masuk
dari daratan di sekitar danau merupakan bagian dari
padatan total tersuspensi yang menyebabkan turunnya intensitas cahaya yang masuk ke badan air.
Sedangkan nilai rata-rata kecerahan pada Danau
Hasil
*, p=0,00005, t-test (n=20)
ns, p=0,9381, t-test (n=20)
*, p=0,0013, t-test (n=20
ns, p=0,1508, u-test Mann Whitney (n=5)
ns, p=0,0556, u-test Mann Whitney (n=5)
ns, p=0,1000, u-test Mann Whitney (n=5)
Teluk selama penelitian terukur sebesar 70,29 cm.
Hal ini disebabkan karena masih rendahnya erosi
yang terjadi di sekitar danau. Tutupan hijau yang lebih
besar dibandingkan dengan Danau Sipin menjadi
penyebab rendahnya erosi yang terjadi dan nilai
kecerahan yang lebih tinggi.
Parameter kualitas air yang diukur selama
penelitian sebagian besar menunjukkan kondisi
Danau Sipin dan Danau Teluk relatif sama, kecuali
parameter kecerahan dan warna perairan secara
visual. Kedua parameter ini menyebabkan perbedaan
kelimpahan larva Chironomidae di kedua danau lokasi
penelitian. Kelimpahan larva Chironomidae pada
Danau Teluk jauh lebih tinggi dibandingkan Danau
Sipin. Hal ini berkaitan dengan preferensi indukan
(serangga dewasa) dalam memilih tempat peneluran
(oviposition).
Serangga dewasa melakukan pemijahan pada
saat senja (Armitage et al. 1995). Setelah proses
pemijahan, serangga jantan akan mati dan serangga
betina akan meletakan telur di permukaan air. Telur
yang dihasilkan berbentuk massa telur berjumlah
ribuan dan terbungkus gelatin bening. Meltser et al.
2008; Lerner et al. (2008) menyatakan bahwa
serangga betina tidak meletakan telurnya secara
acak. Preferensi serangga betina dalam meletakan
telur tidak berkaitan dengan organ pembau (olfaktori),
namun berkaitan dengan organ visual. Berdasarkan
penelitian yang dilakukan Lerner et al. (2008),
diketahu bahwa chironomid betina memiliki preferensi
peletakan telur pada perairan yang cenderung
berwarna hijau (panjang gelombang 490 510 nm).
Preferensi ini juga berkaitan dengan kesukaan
serangga pada area yang lebih terang. Selain itu,
berdasarkan penelitian yang dilakukan Frouz (1997),
diketahui bahwa kelimpahan larva Chironomidae
maupun Chironomidae dewasa jenis terrestrial lebih
tinggi pada habitat yang memiliki vegetasi terutama
vegetasi yang cenderung terbuka dan rendah
(semak). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa
kelimpahan larva Chironomidae lebih tinggi ditemukan
pada Danau Teluk yang memiliki lebih banyak
vegetasi di sekitar danau sebagai lahan hijau.
KESIMPULAN
Kelimpahan larva lebih tinggi ditemukan pada
Danau Teluk yang memiliki nilai kecerahan yang lebih
2
tinggi, yaitu sebesar 374 ekor/m . Kecerahan, warna
perairan, dan tutupan vegetasi di sekitar danau
ISSN 0853 – 4217
JIPI, Vol. 19 (3): 183 188
adalah faktor-faktor yang memengaruhi kelimpahan
larva Chironomidae. Hal ini berkaitan dengan
preferensi induk betina Chironomidae dalam memilih
tempat meletakan massa telur (oviposition).
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada
Lembaga Pengelola Dana Pendidikan, Kementerian
Keuangan Republik Indonesia yang telah membantu
seluruh pembiayaan penelitian ini. Penulis juga
mengucapkan
terima
kasih
kepada
Badan
Lingkungan Hidup Provinsi Jambi, Universitas Jambi,
dan Laboratorium Produktivitas dan Lingkungan
Perairan Institut Pertanian Bogor atas segala bantuan
yang telah diberikan kepada penulis selama
penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Arimoro FO, Ikomi RB, Iwegbue CMA. 2007. Water
quality changes in relation to diptera community
patterns and diversity measured at an organic
effluent ampacted stream in the Niger Delta,
Nigeria. Ecological Indicators. 7(3): 541 552.
Armitage PD, Cranston PS, Pinder LCV. 1995. The
Chironomidae: The Biology and Ecology of NonBiting Midges. Chapman & Hall, London (GB).
187
berbeda dalam skala laboraorium [Skripsi]. Bogor
(ID): Institut Pertanian Bogor.
Frouz J. 1997. The effect of vegetation patterns on
oviposition
habitat
preference:
a
driving
mechanism in terrestrial chironomid (Diptera:
Chironomidae) succession?. Researches Population Ecology. 39(20): 207 213.
Halpern M, Gasith A, Broza M. 2002. Does the tube of
a benthic chironomida larva play a role in
protecting its dweller against chemical toxicants?.
Departement of Biology, University of Haifa (IL).
Halpern M, Raats D, Lavion R, Mittler S. 2006.
Dependent
population
dynamics
between
chironomids (nonbiting midges) and Vibrio
cholerae. FEMS Microbiol Ecology. 55(1): 98 104.
Heinrich ML, Barnekov L, Rosenberg S. 2006. A
comparison of chironomid biostratigraphy from
Lake Vuolep Njakajaure with vegetation, lake-level,
and climate changes in Abisko National Park,
Sweden. Journal of Paleolimnology. 36(2):
119 131.
Junshum P, Choonluchanon S, Traichaiyaporn S.
2008. Bbiological indices for classification of water
quality around Mae Moh power plant, Thailand.
Maejo International Journal of Science and
Technology. 2(1): 24 36.
Bay EC. 2003. Chironomida Midges. Washington
State University (US).
Lerner A, Meltser N, Sapir N, Erlick C, Shashar N,
Broza M. 2008. Reflected polarization giudes
chironomid females to oviposition sites. Journal of
Experimental Biology. 211(22): 3536 3543.
Biasi C, Tonin AM, Restello RM, Hepp LU. 2013. The
colonisation of leaf litter by Chironomidae
(Diptera): the influence of chemical quality and
exposure duration in a subtropical stream.
Elsevier. Limnologica. 43(6): 427 433.
Meier PG, Choi K, Sweet LI. 2000. Acute and chronic
life cycle toxicity of acenaphthene and 2, 4, 6
trichlorophenol to the midge Paratanytarsus
parthenogeneticus
(Diptera:
Chironomidae).
Aquatic Toxicology. 51(1): 31 44.
Carew ME, Pettigrove V, Hoffmann AA. 2003.
Identifying Chironomidas (Diptera: Chironomidae)
for Biological Monitoring with PCR-RFLP. Bulletin
of Entomological Research. Australia.
Meltser N, Kashi Y, Broza M. 2008. Does polarized
light guide chironomids to navigate toward water
surfaces?. Boletin do Museu Municipal do Funchal
(História Natural). 13: 141 149.
Canedo-Arguelles M, Rieradevall M. 2011. Early
succession of the macroinvertebrate community in
a shallow lake: response to changes in the habitat
condition. Limnologica Ecology and Management
of Inland Waters. 41(4): 363 370.
Odume ON, Muller WJ. 2011. Diversity and structure
of Chironomidae communities in relation too water
quality differences in the Swartkops River.
Elsevier. Aquaculture. 36: 929 938.
Delettre YR. 2000. Larvae of terrestrial Chironomidae
(Diptera colonize the vegetation layer during the
rainy season. Pedobiologia. 44(5): 622 626.
Epler JH. 2001. Identification manual for the larval
Chironomidae (Diptera) of north and south
Carolina.
North
Carolina
Department
of
environment and natural resources. Division of
Water Quality. Crawfordville (US).
Farhani SA. 2012. Perkembangan dan pertumbuhan
larva Chironomus sp pada level bahan organik
Pinder
LCV.
1986.
Biology
of
freshwater
Chironomidae. Annual Review of Entomology. 31:
1 23.
Simon FX, Penru Y, Guastalli AR, Llorens J, Baig S.
2011. Improvement of the analysis of the
biochemical
oxygen
demand
(BOD)
of
Mediterranean seawater by seeding control.
Elsevier. Talanta. 85 (1): 527 532.
Sutapa IDA. Kajian jar-test koagulasi-flokulasi sebagai
dasar perancangan instalasi pengolahan air
gambut menjadi air bersih. http://www.opi.lipi.go.id/
188
data/1228964432/data/13086710321320146107.
makalah.pdf. 28 Oktober 2014.
Wardiatno Y, Krisanti M. 2013. The vertical dynamics
of larval chironomids on artificial substrates in Lake
Lido (Bogor, Indonesia). Tropical Sciences
Research. 24(2): 13 29.
Zilli FL. Montalto L, Paggi A, Merchese C. 2008.
Biometry and life cycle of chironomus calligraphus
Goeldi 1905 (Diptera, Chironomidae) in laboratory
ISSN 0853 – 4217
conditions.
767 770.
Association
JIPI, Vol. 19 (3): 183 188
Interciencia.
33(10):
Zuazo VH, Pleguezuelo CR, Peinando FJ, Graaff JD,
Martinez JR, Planagan DC. 2011. Environmental
impact of introducing plant covers in the taluses of
terraces: implication for mitigating agricultural soil
erosion and runoff. Elsevier. Catena. 84(1 2):
79 88.
Fly UP