...

KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN ORTHOPTERA(INSECTA

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN ORTHOPTERA(INSECTA
Berita Biologi, Volume 7, Nomor 1, April 2004 dan Nomor 2, Agustus 2004
Edisi Khusus: Biodiversitas Taman Nasional Gunung Halimun (III)
KEANEKARAGAMAN DAN KELIMPAHAN ORTHOPTERA(INSECTA)
DI GUNUNG KENDENG DAN GUNUNG BOTOL, TAMAN NASIONAL
GUNUNG HALIMUN, JAWA BARAT, INDONESIA
[Diversity and Abundance of Orthoptera (Insect) at Gunung Kendeng
and Gunung Botol, Gunung Halimun National Park, West Java, Indonesia]
Nety Virgo Erawati1 , Tri Atmowidi1, dan Sin Kahono2
'Jurusan Biologi, FMIPA-IPB
Laboratorium Entomologi, Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LEPI
2
ABSTRACT
Study on diversity and abundance of Orthoptera (insect) was conducted at a tropical mountainous rainforest of Java, Mounts Kendeng and
Botol, Gunung Halimun National Park, West Java, Indonesia, from January to March 2002. Total Orthoptera captured was 414 individuals,
consist of 25 species and 9 families. Shannon Diversity Index and evenness were higher at Mount of Kendeng (2.44 and 0.81) rather than
Mount Botol (1.80 and 0.66). Similarity Index of Jaccard and Sorenson of both localities were similar (0.40 and 0.32). Relative abundant
of each family and species will be compared between the two locations also.
Kata kunci/ Key words: Keanekaragaman/diversity, kelimpahan/abundance, kelimpahan relatif/relative abundance, Orthoptera,
Gunung Kendeng/Mount Kendeng, Gunung Botol/Mount Botol, Taman Nasional Gunung Halimun/ Gunung
Halimun National Park, Jawa Barat/West Java, Indonesia.
PENDAHULUAN
Orthoptera merupakan salah satu ordo dari
kelas serangga (Insecta). Jenis-jenisnya mudah
dikenal karena memiliki empat pasang sayap, dimana
sepasang sayap depan kaku yang disebut tegmina
dan pasangan sayap belakang membraneous (Rente,
1996), dengan tungkai belakang (femur) membesar
yang teradaptasi untuk meloncat (Willemse, 2001),
misalnya belalang, kecoa dan jangkrik. Kelompok ini
hidup pada berbagai tipe habitat (Meyer, 2001),
seperti hutan, semak belukar, sekitar rumah dan lahan
pertanian. Di alam, jenis-jenis dari Orthoptera
berperan sebagai pemangsa, pemakan bangkai,
pengurai material organik nabati dan hewani,
pemakan bagian tumbuhan hidup, musuh alami dari
jenis serangga lainnya {(Borror et al, 1992; Meyer,
2001; bahanmakanan (Kahono 2003)}, dansumber
pakan bagi satwa liar seperti burung, primata dan
mamalia. Salah satu jenisnya sudah dikenal sejak
dahulu sebagai penghancur lahan pertanian.
Belalang Locusta migratoria atau belalang kembara
sangat dikenal di NTT, Lampung dan beberapa daerah
lainnya di Indonesia karena kemampuannya
melakukan peledakan populasi {outbreak) yang
menghancurkan ratusan hektar lahan pertanian hanya
dalam beberapa hari saja. Jenis lain yang juga
terkenal di Indonesia adalah belalang kayu
(Phalanga nigricornis) (Kalshoven, 1981).
Pengendali hama belalang secara terpadu di
Indonesia mempunyai permasalahan yang amat
mendasar yaitu rendahnya pengetahuan dasar tentang
keragaman dan ekologi populasinya. Salah satu
penyebab utama adalah rendahnya kemampuan
identifikasi sampai tingkat jenis. Kemampuan
identifikasi sampai tingkat jenis sangat diperlukan,
walaupun menjadi tidak terlalu penting selama aspekaspek cara makan, peranan, habitat, dan aspek lain
yang terkait diketahui dengan baik. Penelitian ekologi
populasi termasuk monitoring fluktuasinya secara
sistematis akan dapat meramalkan terjadinya
penghamaan dan outbreak.
Dalam menduga atau memantau keanekaragaman hayati perlu dilengkapi informasi jumlah
individu (kelimpahan) dan fungsi atau peranannya
pada suatu habitat dan ekosistem. Kelimpahan jenis
serangga sangat ditentukan oleh aktifitas
reproduksinya yang didukung oleh lingkungan yang
cocok dan tercukupinya kebutuhan sumber
makanannya. Kelimpahan dan aktifitas reproduksi
serangga di daerah tropik sangat dipengaruhi oleh
Erawati, Atmowidi dan Kahono - Keanekaragaman dan Kelimpahan Orthoptera
musim (Wolda and Wong, 1988), karena musim
berpengaruh kepada ketersediaan sumber pakan dan
kemampuan hidup serangga yang secara langsung
dapat mempengaruhi kelimpahan. Setiap kelompok
(ordo) serangga mempunyai respon yang berbeda
terhadap perubahan musim dan iklim (Wolda, 1978,
1982; Kahono etal, 2002). Datarantinggi mempunyai
keanekaragaman lebih rendah jika dibandingkan
dengan di dataran rendah (Wolda, 1983). Di daerah
padang rumput, kelimpahan dan biomasa belalang
berkurang pada musim semi (Porter and Redak, 1996).
BAHANDANMETODE
Taman Nasional Gunung Halimun (TNGH)
secara geografis terletak antara 106°21"-106°3 8 "BT dan
6°37"-6°51 "LS (Djuwarsah, 1997). Rata-rata curahhujan
mencapai 4,181 mm per tahun (Kahono dan Noerdj ito,
2002) dan kelembaban rata-rata sekitar 80%. Musim
kering terjadi sekitar bulan Juni-Agustus (Manikam,
1998). Rata-rata suhu maksimumbervariasi antara 31 °C34,5°C dan suhu minimum antara 18,3°C-23,4°C,
sedangkan variasi suhu hariannya berkisar antara
24,7°C-26,6OC (Djuwarsah, 1997).
Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun
(TNGH) merupakan salah satu hutan tropik basah
pegunungan, sebagai kawasan konservasi terbaik yang
masih tersisa di Pulau Jawa. Pada awal ditunjuknya
kawasan ini sebagai Taman Nasional, informasi ilmiah
dari dalam kawasan ini masih sangat terbatas.
Kemudian sejak adanya Biodiversity Conservation
Project (BCP) kerjasama antara UPI, PHKA dan JICA,
maka intensitas penelitian, terutama bidang biologi di
kawasan tersebut menjadi sangat tinggi (cf. Heryanto,
2002; Kahono dan Amir, 2002). Penelitian serangga di
TNGH telah dilakukan terutama penelitian ekologi
komunitas dan keanekaragaman kelompok serangga
tertentu (cf. Makihara etal, 2002; Ubaidillah et al, 1998;
Amir dan Kahono, 2003). Penelitian keanekaragaman
serangga tersebut cenderung dilakukan secara
kualitatif.
Penelitian keanekaragaman Orthoptera di
TNGH dilakukan di dua ekosistem yang berbeda
(Gunung Kendeng dan Gunung Botol) dimaksudkan
untuk mengetahui keanekaragaman serta kesamaan
dan perbedaan jenis yang menempati kedua daerah
tersebut serta untuk mengetahui tingkatan
keseragaman dalam kemelimpahannya. Analisis
dilakukan
dengan
perhitungan
indeks
keanekaragaman, sebaran keanekaragaman dan
kesamaan jenis yang ditemukan di kedua ekosistem
tersebut. Analisis peranan atau fungsi setiap jenisnya
dapat memberikan overview tentang kepentingan
kelompok ini di alam, paling tidak pada lingkungan
yang terbatas di TNGH. Hasil penelitian ini
diharapkan akan bermanfaat bagi kebijakan
perlindungan dan pemanfaatan yang lestari sumber
daya hayati, khususnya jenis-jenis Orthoptera.
Pengambilan sampel Orthoptera dilakukan
pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2002 di
Gunung Kendeng (1.050 -1.400 m dpi.) dan Gunung
Botol (1.500 - 1.800 m dpi.). Pengambilan sampel
dilakukan dengan membuat garis transek utama
dengan panjang 80 m mengikuti jalur jalan setapak.
Setiap 10 m pada transek utama dibuat transek
sekunder tegak lurus sepanjang 5 m ke kanan dan kiri.
Pada titik-titik yang telah dibuat pada transek utama
maupun transek sekunder dipasang secara acak
perangkap serangga. Khusus pemasangan light trap
dilakukan dengan jarak kira-kira 30 m dari ujung
transek utama agar tidak ada pengaruhnya terhadap
perangkap lainnya.
Pengumpulan spesimen dilakukan dengan
menggunakan beberapa alat, yaitu jaring serangga
(sweep net) yang diayun sebanyak 15 ayunan, dengan
ulangan sebanyak 5 kali; yellow pan trap sebanyak
10 buah yang dipasang selama 24 jam, malaise trap
sebanyak 2 buah yang dipasang selama 2 hari, pitfall
trap sebanyak 10 buah yang dipasang selama 2 hari,
bait pitfall trap dengan umpan ayam busuk sebanyak
10 buah yang dipasang selama 24 j am, dan perangkap
cahaya 100 watt {light trap) sebanyak 1 buah yang
dipasang dari jam 18:30 - 21:30 WIB. Sebanyakbanyaknya metode pengambilan sampel digunakan
agar kesempatan menangkap menjadi lebih tinggi.
Tanpa meragukan hasil tangkapannya, beberapa
metode telah dimodifikasi dari aslinya (Toda and
Kitcing 1999;Borrore/a/, 1992;YayukdanRosichon).
Identifikasi spesimen Orthoptera terutama dilakukan
dengan membandingkan spesimen ilmiah yang telah
teridentifikasi di Laboratorium Entomologi, Puslit
Biologi LIPI Cibonong.
Berita Biologi, Volume 7, Nomor 1, April 2004 dan Nomor 2, Agustus 2004
Edisi Khusus: Biodiversitas Taman Nasional Gunung Halimun (III)
Sampel yang diperoleh, dihitung jumlah
individu (N), jumlah famili (F), dan jumlah spesiesnya
(S). Keanekaragaman Orthoptera dihitung berdasarkan
indeks keanekaragaman Shannon (H'), sebaran
keanekaragaman Shannon (E), indeks kesamaan
Jaccard (Cj), indeks kesamaan Sorenson (Cn), serta
kelimpahanrelatif(KR)(Magurran, 1987). Persamaan
dalam perhitungan indeks tersebut adalah sebagai
berikut:
HASEL
= -Zni/Nlnni/N
=H'lnS
If
E
Keanekaragaman Orthoptera
q
Cn
KR
Keterangan:
ni =
j =
lokasi a dan b
= jumlah spesies yang ditemukan pada
lokasi a
b = jumlah spesies yang ditemukan pada
lokasi b
jN = jumlah kelimpahan terendah yang
terdapat pada lokasi a dan lokasi b
aN = jumlah individu pada lokasi a
bN = jumlah individu pada lokasi b
a
=2jN/(aN+bN)
=ni/NxlOO%
jumlah individu padaj spesies
jumlah spesies yang ditemukan pada
Dari penelitian ini diperoleh sebanyak 414
individu Orthoptera yang termasuk dalam 9 famili dan
25 spesies. Di Gunung Kendeng diperoleh 136
individu yang termasuk dalam 8 famili dan 20 spesies
dan Gunung Botol diperoleh 278 individu yang
termasuk dalam 7 famili dan 15 spesies (Tabel 1).
Tabel 1. Jumlah individu (N), famili (F), spesies (S), indeks keanekaragaman Shannon (H'), dan sebaran
keanekaragaman Shannon (E) spesies Orthoptera di Gunung Kendeng dan Gunung Botol, TNGH.
Lokasi
GK
Januari
Februari
Maret
Subtotal
N
F
S
H'
E
34
5
10
2,09
0,91
53
6
12
1,99
0,80
49
8
14
2,08
0,79
136
8
20
2,44
0,81
GB
N
F
S
H'
E
78
5
10
1,62
0,70
117
6
12
1,77
0,71
83
5
10
1,47
0,64
278
7
15
1,80
0,66
112
6
14
1,99
0,76
170
6
18
2,09
0,72
132
9
19
2,10
0,71
Subtotal
N
F
S
H'
E
Keterangan: GK= Gunung Kendeng, GB = Gunung Botol
Total
414
9
25
2,72
0,71
Erawati, Atmowidi dan Kahono - Keanekaragaman dan Kelimpahan Orthoptera
Kesamaan Orthoptera
Kesamaan spesies Orthoptera berdasarkan
indeks kesamaan Jaccard antara Gunung Kendeng dan
Gunung Botol sebesar 0,40 (Tabel 2). Berdasarkan
pada bulan pengambilan sampel, kesamaan spesies
Orthoptera pada bulan Januari, Februari, dan Maret
2002 di Gunung Kendeng berkisar antara 0,29-0*40,
sedangkan di Gunung Botol berkisar antara 0,47-0,82.
Indeks kesamaan spesies Orthoptera antar lokasi
(Gunung Kendeng dan Gunung Botol) pada ketiga
bulan tersebut berkisar antara 0,22-0,44.
Kesamaan spesies berdasarkan indeks
kesamaan Sorenson di Gunung Kendeng dan Gunung
Botol sebesar 0,32 (Tabel 3). Berdasarkan bulan
pengambilan sampel, kesamaan spesies pada bulan
Januari, Februari, dan Maret di Gunung Kendeng
berkisar antara 0,30-0,53; sedangkan di Gunung Botol
berkisar antara 0,59-0,71. Indeks kesamaan Sorensen
Orthoptera antar lokasi (Gunung Kendeng dan Gunung
Botol) pada ketiga bulan tersebut berkisar antara 0,150,36.
Tabel 2. Indeks kesamaan Jaccard (Cj) Orthoptera pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2002.
Lokasi
GK
Januari
GK
Februari
GK
Maret
GB
Januari
GB
Februari
GK Januari
1
GK Februari
0,29
1
GK Maret
0,50
0,44
1
GB Januari
0,36
0,22
0,33
1
GB Februari
0,38
0,33
0,44
0,47
1
GB Maret
0,33
0,22
0,30
0,82
0,57
GB
Maret
GK
1
GB
0,40
Keterangan: GB = Gunung Botol; GK = Gunung Kendeng
Tabel 3. Indeks kesamaan Sorenson (Cn) Orthoptera pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2002.
Lokasi
GK
Januari
GK
Februari
GK
Maret
GB
Februari
GK Januari
1
GK Februari
0,30
1
GK Maret
0,53
0,35
1
GB Januari
0,32
0,15
0,21
1
GB Februari
0,21
0,36
0,19
0,59
1
GB Maret
0,29
0,15
0,18
0,65
0,71
Total
Keterangan: GB = Gunung Botol; GK = Gunung Kendeng
10
GB
Januari
GB
Maret
GK
1
0,32
Berita Biologi, Volume 7, Nomor 1, April 2004 dan Nomor 2, Aguslus 2004
Edisi Khusus: Biodiversitas Taman Nasional Gunung Halimun (III)
Famili dan spesies dominan
Nilai kelimpahan relatif (KR) di Gunung
Kendeng yang paling tinggi adalah famili Blattidae
(73 individu; KR = 53,68%), kemudian disusul
berturut-turut oleh Gryllidae (20 individu; KR =
14,71%), dan Gryllacrididae (19 individu; KR =
13,97%). Sedangkan KR di Gunung Botol yang paling
tinggi adalah famili Gryllidae (101 individu; KR =
36,33%), kemudian disusul berturut-turut oleh
Gryllacrididae (92 individu; KR = 33,09%), dan
Blattidae (52 individu; KR = 18,71%) (Tabel 4 dan
Tabel 5).
Tabel 4. Jumlah individu (N), spesies (S), dan kelimpahan relatif (KR) masing-masing famili Orthoptera di TNGH.
Famili (F)
Acrididae
Tetrigidae
Gryllacrididae
Blattidae
Gryllidae
Mantidae
Gryllotalpidae
Tettigoniidae
Phasmidae
Jumlah
Individu (N)
GK
Jumlah
Spesies (S)
KR (%)
3
1
2
4
6
2
1
1
9,56
2,21
13,97
53,68
14,71
4,41
0,74
0,74
13
3
19
73
20
6
1
1
Jumlah
Individu (N)
GB
Jumlah
Spesies (S)
3
KR (%)
52
101
1
1
2
5
1
1
2,88
6,12
33,09
18,71
36,33
0,36
7
2
2,52
8
17
92
Keterangan: GK = Gunung Kendeng; GB = Gunung Botol; KR = Kelimpahan Relatif
Tabel 5.
Jumlah individu (N) dan kelimpahan relatif (KR) spesies* Orthoptera di Gunung Kendeng dan
Gunung Botol, TNGH.
Famili
Spesies
Acrididae
Phlaeoba sp.
Erucius sp.
Trilophidia sp.
GK
Jumlah
individu (N)
Blattidae
Rhicnoda rugosa
Blatta orientalis
Graptoblatta sp. 1
Graptoblatta sp. 2
Pycnocelus sp.
Epilampra sp.
GB
Jumlah
individu (N)
KR (%)
Total
Jumlah
KR (%)
individu (N)
8,09
0,74
0,74
2
1
5
0,72
0,36
1,80
13
2
6
3,14
0,48
1,45
2,21
17
6,12
20
4,83
16
3
11,76
2,21
87
5
31,29
1,80
103
8
24,88
1,93
8
22
5,88
20,59
16,18
15
11,03
11
9
1
20
11
3,96
3,24
0,36
7,19
3,96
8
39
31
1
35
11
1,93
9,42
7,49
0,24
8,45
2,66
11
1
1
Tetrigidae
Captotetrix interuptus
Gryllacrididae
Rhaphidophora sp. 1
Rhaphidophora sp. 2
KR (%)
28
11
Erawati, Atmowidi dan Kahono - Keanekaragaman dan Kelimpahan Orthoptera
Lanjutan Tabel 5. ...
Famili
Spesies
GK
Jumlah
individu (N)
KR (%)
Gryllidae
Trydactilus sp.
Itara microcephala
Nemobius sp.
Muctibulus sp.
Cyclopaglum sp.
Gymnogryllus elegans
KR (%)
Total
Jumlah
KR (%)
individu (N)
1
10
106
2
1
1
0,24
2,42
25,60
0,48
0,24
0,24
5
1
1
1,21
0,24
0,24
Gryllotalpidae
Gryllotalpa Africana
1
0,24
Tettigoniidae
Paragraecia sp.
1
0,24
1
6
0,24
1,69
Mantidae
Gonypeta punctata
Ceratocrania macro
Hierodula vitrea
Phasmidae
Phasmidae sp. 1
Phasmidae sp. 2
Peranan Orthoptera di TNGH
Berdasarkan peranan di alam, Orthoptera di
TNGH berperan sebagai herbivora, omnivora,
predator, dan pemakan bangkai (scavenger).
Orthoptera yang berperan sebagai herbivora lebih
dominan daripada kelompok lainnya. Orthoptera
herbivora sebesar 4 1 % yang terdiri dari famili
Acrididae, Tetrigidae, Tettigoniidae, Gryllotalpidae,
dan Gryllidae, orthoptera omnivora 30% yang terdiri
dari famili Blattidae, Scavenger 27% yang terdiri dari
famili Gryllacrididae, dan predator sebesar 2% yang
terdiri dari famili Mantidae (Gambar 1).
Gambar 1. Persentase peranan Orthoptera di TNGH.
12
GB
Jumlah
individu (N)
101
36,33
0,36
0,36
2,15
PEMBAHASAN
Keanekaragaman
Indeks keanekaragaman Shannon dan sebaran
keanekaragaman Shannon (evenness) di Gunung
Kendeng (H'=2,44 dan E = 0,81) lebih tinggi
dibandingkan di Gunung Botol (H'= 1,80 dan E =
0,66). Hasil ini didukung beberapa penelitian di
Gunung Halimun, diantaranya Suantara (2000) yang
melaporkan keragaman Lepidoptera tertinggi terdapat
di Cikaniki (Gunung Kendeng) dan keragaman
terendah di Gunung Botol. Hasil ini juga sesuai
dengan penelitian Atmowidi (2000) yang menyatakan
bahwa keragaman dan sebaran keragaman
Hymenoptera parasitoid di Gunung Kendeng lebih
tinggi dibandingkan di Gunung Botol. Didukung juga
dengan penelitian Utomo (2001) yang menyatakan
bahwa keragaman dan sebaran keragaman Diptera di
Gunung Kendeng lebih tinggi dibandingkan di Gunung
Botol. Holloway et al. (1990) dalam Suantara (2000)
menyatakan bahwa keragaman Lepidoptera tertinggi
terdapat pada ketinggian 600-1.000 m dpi dan
Berita Biologi, Volume 7, Nomor 1, April 2004 dan Nomor 2, Agustus 2004
Edisi Khusus: Biodiversitas Taman Nasional Gunung Halimun (III)
keragaman akan menurun pada ketinggian lebih dari
1.000 m dpi. Gunung Botol mempunyai ketinggian
yang paling jauh dari kisaran ketinggian tersebut
sehingga keragamannya paling rendah.
Lebih rendahnya keanekaragaman Orthoptera
di Gunung Botol mungkin disebabkan oleh lebih
rendahnya keanekaragaman vegetasinya dari pada di
Gunung Kendeng (Atmowidi, 2000; Suzuki, etal, 1997;
Manikam, 1998). Vegetasibawahdi Gunung Kendeng
lebih bervariasi jika dibandingkan di Gunung Botol
(Atmowidi 2000). Gunung Kendeng merupakandaerah
submontain( 1.050-1.400mdpl), didominasiolehpuspa
(Schima wallichii), Antidesma montanum, Eurya
acuminata, Evodia aromatica, dan jenis dari famili
Fagaceae (Manikam 1998). Atmowidi (2000)
melaporkan, tumbuhan bawah yang terdapat di
Gunung Kendeng adalah hariang {Homalomena sp.),
talas salempat (Colocacia gigantea), pakis banyer
(Diplazium esculentum), pakis bulu (Diplazium sp.),
kokopian (Lasianthus constrictus), patat (Halopegia
blumei), rotan korad {Calamus heteroidens), hariang
(Begonia hirtella), dan bubukuan (Sambucus
javanica). Sedangkan gunung Botol merupakan
daerah montain (1.500-1.800 m dpi). Vegetasi di
gunung Botol didominasi oleh jenis dari famili
Fagaceae, pasan balatua (Quersus lineata), puspa
(Schima wallichii), Eugenia sp (Suzuki et al 1997 ;
Manikam 1998). Selain itu tumbuhan bawah yang
terdapat di Gunung Dotol adalah pakis benyer
(Diplazium asculentum), pakis bulu (Diplazium sp.),
hariang (Begonia hirtella), kapol (Amomum sp.),
bubukuan (Sambucus javanica), harees (Rubus
rosaefolius), canar (Smilax leucophilla), teh (Camellia
sinensis), dan pacar tera gunung (Impatiens
platypetalo) (Atmowidi 2000).
Keragaman
Orthoptera yang tertinggi di Gunung Kendeng
ditunjukkan oleh banyaknya jumlah spesies yang
ditemukan. Jumlah spesies Orthoptera di Gunung
Kendeng (20 spesies) lebih tinggi dibandingkan
dengan Gunung Botol (15 spesies).
Berdasarkan waktu pengambilan sampel,
keanekaragaman tertinggi terjadi pada bulan Maret
(H'= 2,10), disusul bulan Februari (H'= 2,09), dan
bulan Januari (H'= 1,99).
Sebaran indeks
keanekaragaman Orthoptera tertinggi terjadi pada
bulan Januari (E = 0,76), disusul bulan Februari (E =
0,72), dan bulan Maret (E = 0,71) (Tabel 1). Hal ini
menunjukkan bahwa pada bulan Januari sebaran
jumlah individu masing-masing spesies adalah tinggi
(kelimpahan jumlah individu antar spesies paling
tinggi), disusul berturut-turut pada bulan Februari dan
Maret. Belum cukup data yang dapat menerangkan
secara jelas mengapa keanekaragaman di bulan
Januari lebih tinggi dari pada di bulan lainnya.
Mungkin, pada bulan Januari lebih 'favorable' dilihat
dari tingginya jumlah daun-daun muda yang sangat
disukai oleh Orthoptera pada umumnya (Kahono, dok.
data fenologi).
Famili dan spesies dominan
Spesies yang lebih melimpah di Gunung
Kendeng adalah Blatta orientalis (Blattidae) (28
individu; KR = 20,59%), kemudian disusul berturutturut oleh Graptoblatta sp. 1 (Blattidae) (22 individu;
KR= 16,18%), Rhaphidophora sp. 1 (Gryllacrididae)
(16 individu; KR = 11,76%), dan Pycnocelus sp
(Blattidae) (15 individu; KR = 11,03%) (Tabel 4 dan
Tabel 5)).
Spesies yang lebih melimpah di Gunung Botol
adalah Nemobius sp. (Gryllidae) (101 individu; KR =
36,33%), kemudian disusul berturut-turut oleh
Rhaphidophora sp. 1 (Gryllacrididae) (87 individu;
KR = 31,29%), Pycnocelus sp. (Blattidae) (20
individu; KR = 7,19%) dan Captotetrix interuptus
(Tetrigidae) (17 individu; KR=6,12%). Empat spesies
yang lebih melimpah dari pada yang lainnya di kedua
lokasi tersebut adalah Nemobius sp. (106 individu;
KR = 25,60%), Rhaphidophora sp. 1 (103 individu;
KR = 24,88%), Blatta orientalis (39 individu; KR =
9,42%), dan Pycnocelus sp. (35 individu; KR =
8,45%) (Tabel 4 dan Tabel 5).
Beberapa spesies yang hanya ditemukan di
Gunung Kendeng adalah Rhicnoda rugosa (Blattidae),
Trydactilus sp., Itara microcephala, Muctibulus sp.,
Cyclopaglum sp., Gymnogryllus elegans (Gryllidae),
Gonypetapunctata, Ceratocrania macra (Mantidae),
Gryllotalpa africana (Gryllotalpidae), dan
Paragraecia sp. (Tettigoniidae). Spesies yang hanya
ditemukan di Gunung Botol adalah Graptoblatta sp.
2, Epilampra sp. (Blattidae), Hierodula vitrea
13
Erawati, Atmowidi dan Kahono - Keanekaragaman dan Kelimpahan Orthoptera
(Mantidae), Phasmidae sp. 1, dan Phasmidae sp. 2
(Phasmidae) (Tabel 4 dan Tabel 5).
Peranan Orthoptera di TNGH
Orthoptera yang ditemukan di TNGH yang
berperan sebagai herbivora sebesar (41 %) yang terdiri
dari famili Acrididae, Tetrigidae, Tettigoniidae,
Gryllotalpidae, dan Gryllidae. Orthoptera omnivora
(30%) yang terdiri dari famili Blattidae. Scavenger
(27%) (Gryllacrididae). Orthoptera predator sebesar
2% (Mantidae). Orthoptera yang berperan sebagai
herbivora mendominasi di TNGH (Gambar 6).
Serangga herbivora merupakan pemakan tumbuhan
dan dapat menempati hampir semua tipe habitat, baik
pada kanopi atau tajuk pohon dan belukar. Omnivora
merupakan pemakan segala bahan makanan dan
biasanya sebagai perombak, dapat menempati hampir
semua tipe habitat, pada serasah dan humus di
permukaan tanah. Scavenger merupakan pemakan
bangkai, biasanya hidup pada permukaan tanah dan
serasah (Meyer 2001).
KESIMPULAN
Dari penelitian ini diperoleh 414 individu
Orthoptera di Gunung Kendeng dan Gunung Botol.
Di Gunung Kendeng diperoleh 136 individu yang
terdiri 20 spesies yang termasuk dalam 8 famili.
Sedangkan di Gunung Botol, diperoleh 278 individu
yang terdiri 15 spesies yang termasuk dalam 7 famili.
Berdasarkan indeks keragaman Shannon, keragaman
Orthoptera di Gunung Kendeng lebih tinggi
dibandingkan Gunung Botol. Berdasarkan indeks
kesamaan Jaccard, kesamaan Orthoptera di Gunung
Kendeng dan Gunung Botol sebesar 40%. Sedangkan
menurut indeks kesamaan Sorenson, kesamaan
Orthoptera di Gunung Kendeng dan Gunung Botol
sebesar 32%. Di Gunung Kendeng Orthoptera
didominasi oleh spesies Blatta orientalis,
Rhaphidophora sp 1, Pycnocelus sp., Phlaeoba sp.,
danltara microchepala. Di Gunung Botol, Orthoptera
didominasi oleh spesies Nemobius sp.,
Rhaphidophora sp 1, dan Pycnocelus sp. Spesiesspesies Orthoptera dominan di kedua lokasi adalah
Nemobius sp., Rhaphidophora sp I, Blatta orientalis,
Pycnocelus sp., dan Graptoblatta sp 1. Di Taman
14
Nasional Gunung Halimun, Orthoptera yang
mendominasi adalah yang berperan sebagai herbivora
(Phasmidae, Tetrigidae, Acrididae, Gryllidae, dan
Gryllotalpidae), omnivora (Blattidae), scavenger
(Gryllacrididae), dan predator (Mantidae).
UCAPAN TERIMAKASIH
Saudara Sarino dan Hendi yang telah
membantu dalam pelaksanaan penelitian selama di
lapangan. Staf dan teknisi laboratorium Entomologi,
Bidang Zoologi, Puslit Biologi-LIPI yang telah banyak
membantu dalam proses sorting, mounting serta
identifikasi. Biodiversity Conservation Project (BCP)
LIPI dan JICA yang secara tidak langsung telah
memberikan bantuan sampai penelitian ini dapat
berjalan dengan lancar. Kepada Kepala Balai Taman
Nasional Gunung Halimun atas ijin yang telah
diberikan. Untuk semua itu, penulis mengucapkan
banyak terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Amir M dan S Kahono (eds.). 2003. Serangga Taman
Nasional Gunung Halimun Jawa Bagian Bar at.
BCP-JICA-LIPI-PHKA, 205.
Atmowidi T. 2000. Keanekaragaman Morfospesies
Hymenoptera Parasitoid dan Senyawa
Antiherbivora di Taman Nasional Gunung
Halimun, Jawa Barat. Master Tesis. Institut
Pertanian Bogor, Bogor:
Borror DJ, Triplehorn CA and Johson NF. 1992.
Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada
University (terjemahan dari buku An Introduction
to Study of Insect).
Borror DJ and RE White. 1970. Field Guide Insects.
Houghton Mifilin Company. New York, 76.
Djuwarsah M. 1997. The Soil of Gunung Halimun National
Park. Reasearch and Conservstion of Biodiversity
in Indonesia. In: The Inventory of Natural
Resources in Gunung Halimun National
Park.Vol. II.
Kahono S. 2003. Ethnologi Serangga di Jawa (data tidak
dipublikasi).
Kahono S and WA Noerdjito. 2002. Fluctuation of Rainfall
and Insect Community in Gunung Halimun
National Park, West Java. Research and
Conservation of Biodiversity in Indonesia, IX,
157-169.
Kalshoven LGE. 1981. The Pests of Crops in Indonesia.
PT Ichtiar Baru-Van Hoeve. Jakarta.
Berita Biologi, Volume 7, Nomor 1, April 2004 dan Nomor 2, Agustus 2004
Edisi Khusus: Biodiversitas Taman Nasional Gunung Halimun (III)
Magurran. 1987. Ecological Diversity and Its
Measurement. Princeton, New Jersey.
Makihara H, WA Noerdjito and Sugiarto. 2002.
Longicorn Beetles from Gunung Halimun
National Park, West Java, Indonesia from 19972002 (Coleoptera, Disteniidae and Cerabycidae).
Bulletin of Forestry and Forest Products Research
Institute 1(3), 189-223.
Manikam PJ. 1998. Gunung Halimun National Park Plan
Book I. Research and Conservation of
Biodiversity in Indonesia. Vol III. Information
System and Park Management of Gunung
Halimun National Park. Bogor.
Meyer JR. 2001. Orthoptera. http: //www, cals. nscuedu/
course/ ent425/ compendium/ orthop.htmal [22
Maret 2002].
Porter EE, Redak RA. 1996. Short-term recovery of
grasshopper communites (Orthoptera: Acrididae)
of a California native grassland after prescribe
burning, http://www.ags.uci.edu/eporter/
research.html [3 Februari 2003].
Rentz DCP. 1996. Grasshopper Country. CSIRO,
Australia.
Toda MJ, Kitcing RL. 1999. Forest Ecosystem: the
assessment of plant and animal biodiversity in
forest ecosystem. International Biodiversity
Observation Year, Japan.
Ubaidillah R, MR Sofyan, H Kojima, S Kamitani and
M Yoneda. 1998. Survey on Butterflies in
Gunung Halimun National Park. Research and
Conservation of Biodiversity in Indonesia, IX,
157-169.
Suantara IN. 2000. Keanekaragaman Kupu-Kupu
(Lepidoptera) di Taman Nasional Gunung
Halimun, Jawa Barat. Skripsi. Institut Pertanian
Bogor, Fakultas Pertanian, Jurusan Hama dan
Penyakit Tumbuhan, Bogor.
Suzuki A, Yoneda M, Simbolon H, Muhidin A,
Wakiyama S and Soegarjito J (Editor) 1997.
Establisment of two permanent plots in Gunung
Halimun National Park for study of vegetation
structure and forest dynamics. Biodiversity
Reasearch and Conservation in Gunung
Halimun National Park, 36-55.
Utomo S. 2001. Keanekaragaman Ordo Diptera (Insecta)
di Gunung Kendeng dan Gunung Botol, Taman
Nasional Gunung Halimun, Jawa Barat. Skripsi.
Institut Pertanian Bogor, Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Bogor.
Willemse LPM. 2001. Fauna Malesiana Guide to Pest
Orthoptera of Indomalayan Region. Buckhuy.
Netherlands.
Wolda H. 1978. Seasonal fluctuation in rainfall, food and
abundance of tropical insects. Journal of Animal
Ecology 47,369-381.
Wolda H. 1983. Diversity, diversity indices and tropical
cockroaches. Oecologia 58,290-298.
Wolda H and H Wong. 1988. Tropical insect diversity and
seosonality Sweep samples vs Light trap.
Proceeding Entomology 91(2): 203-216.
15
Fly UP