...

Kelimpahan Populasi dan Kondisi Habitat Labi

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Kelimpahan Populasi dan Kondisi Habitat Labi
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 26-30 (ISSN : 2303-2162)
Kelimpahan Populasi dan Kondisi Habitat Labi-Labi (Dogania subplana: Reptilia:
Trionychidae) di Kawasan Kampus Universitas Andalas Padang
Population Abundance and Habitat of Forest Softshelled Turtle (Dogania subplana:
Reptilia: Trionychidae) at Campus Andalas University
Bimo Premono1*), Rizaldi1) dan Izmiarti2)
1)
Laboratorium Ekologi Hewan, Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas
Laboratorium Ekologi Perairan, Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Andalas
*Koresponden: [email protected]
2)
Abstract
A study on population and habitat of forest softshelled turtle (Dogania subplana: Reptilia:
Trionychidae) has been conducted from January to March 2014. This study aimed to understand
population abundance and to describe non-natural and natural habitats. Population abundances were
found out through searching, counting and release methods. Habitats were described based on
physic-chemical, potential food-resource and vegetation factors. The turtles were more abundance
in non-natural habitat (33 individual of 640 m²) than natural habitat (5 individual of 5.100 m²). The
turtles were abundance in sand and gravel streams of non-natural habitat and sand and rocky
streams of natural habitat. The turtles prefered in slow streams (0-10 cm/s) and neutral pH (7.1-7.6).
Keywords: population abundance, non-natural habitat, natural habitat, Dogania subplana.
Pendahuluan
Kura-kura
digunakan
manusia
untuk
dijadikan bahan makanan, bahan obat-obatan
tradisional (telur, anakan, dewasa serta
bagian tubuh), satwa peliharaan, barang
kerajinan, bahkan untuk kegiatan-kegiatan
religius sekalipun (Sinaga, 2008). Pada
penelitian Hamdani (2013), penyu atau kurakura laut dan labi-labi digunakan masyarakat
sebagai bahan obat-obatan tradisional.
Rhodin et al. (2011) menyatakan, banyak dari
spesies kura-kura berperan dalam menaikkan
fungsi ekosistem menjadi lebih baik dan
sehat. Hilangnya keberadaan kura-kura dalam
sebuah ekosistem, maka ekosistem tersebut
akan terganggu ataupun rusak.
Saat ini kura-kura mengalami
keterancaman dalam berbagai bentuk
sehingga populasi kura-kura di habitat asli
menurun drastis. Hal ini terjadi karena
adanya penangkapan yang berlebihan dan
banyaknya kegiatan manusia yang berdampak
buruk pada habitat alami kura-kura (Ditjen
Accepted: 27 November 2014
Perikanan RI, 1995; Rhodin et al., 2011).
Salah satu jenis dari kura-kura tersebut adalah
kura-kura air tawar atau labi-labi (Dogania
subplana) (Das, 2010).
Bangunan
Kampus
Universitas
Andalas (UNAND) didirikan di lahan bekas
hutan. Kampus UNAND memiliki luas area ±
500 Hektar (UNAND, 2013). Di area tersebut
terdapat gedung perkuliahan, asrama
mahasiswa,
gedung
pusat
kegiatan
mahasiswa dan Hutan Pendidikan dan
Penelitian Biologi (HPPB). Sari (2010)
melaporkan, labi-labi ditemukan di saluran
air sekitar gedung kampus UNAND yang
selalu dialiri air dan banyak ditemukan ikan
pantau. Pada dinding saluran tersebut terdapat
banyak lubang-lubang yang diperkirakan
menjadi sarang labi-labi.
Berdasarkan
pengamatan
pendahuluan ditemukan 2 bentuk habitat labilabi di kawasan kampus UNAND yaitu di
area sungai HPPB sebagai bentuk habitat
alami dan area sekitar gedung kampus
sebagai bentuk habitat non alami. Habitat non
27
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 26-30 (ISSN : 2303-2162)
alami tersebut adalah saluran air yang
seringkali dijumpai labi-labi. Hampir
keseluruhan dari habitat non alami labi-labi
sudah di semen. Berdasarkan hal tersebut,
maka perlu dilakukan penelitian terkait
kelimpahan populasi dan kondisi habitat labilabi (Dogania subplana) pada habitat non
alami dan habitat alami di kawasan Kampus
UNAND Limau Manih Padang.
Metodologi Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode survei (survey method) untuk
mencari keberadaan labi-labi. Survei akan di
hentikan apabila tidak ditemukan lagi
individu baru pada saat hari survei. Selain itu
juga dilakukan pengukuran faktor fisik dan
kimia perairan, pengamatan sumber makanan
yang berpotensi dimanfaatkan oleh labi-labi
dan vegetasi sekitar untuk mengumpulkan
data-data mengenai kondisi habitat.
Di Lapangan
Penelitian dilaksanakan dengan melakukan
survei di dua lokasi yaitu di saluran air sekitar
kampus UNAND (habitat non alami) selama
14 kali ulangan dan di HPPB (habitat alami
selama 6 kali ulangan. Jumlah ulangan di dua
lokasi tersebut adalah jumlah hari survei yang
dihentikan saat tidak ditemukan lagi individu
baru pada saat survei. Survei dilakukan
secara intensif di titik-titik yang di anggap
berpotensi di huni labi-labi seperti lobanglobang, celah-celah batu dan area berpasir.
Labi-labi yang tertangkap di catat
kordinatnya dengan GPS receiver, lalu
karakter morfologi labi-labi tersebut diukur
(panjang lengkung karapas, lebar lengkung
karapas dan berat) dan ditandai di bagian
karapas (Bennett, 1999). Setelah itu, labi-labi
dilepas kembali ke habitatnya. Pengambilan
data-data mengenai kondisi habitat dilakukan
dengan
pengukuran
dan
pengamatan
langsung disetiap titik didapatkan labi-labi,
meliputi faktor fisik dan kimia perairan
(substrat dasar perairan, kedalaman dan lebar
perairan, kecepatan arus air, suhu air, derajat
keasaman/ pH air), pengamatan sumber
makanan potensial dan vegetasi sekitar badan
perairan.
Analisis Data
Kelimpahan populasi labi-labi dihitung
berdasarkan jumlah individu yang ditemukan
di masing-masing lokasi survei. Data kondisi
habitat dan kelimpahan populasi labi-labi di
lingkungan non alami dan lingkungan alami
ditampilkan
dalam
bentuk
tabel
perbandingan. Kelimpahan antara kedua
lokasi survei dideskripsikan menurut faktor
fisik dan kimia perairan, potensial makanan
dan vegetasi sekitar.
Hasil dan Pembahasan
Kelimpahan labi-labi di habitat non alami
adalah 33 individu pada 640 m² dan di habitat
alami 5 individu pada 5.100 m² (Gambar 1).
Pada habitat non alami didapatkan 3 individu
jantan dan 18 individu betina dari 21 individu
dewasa yang didapatkan sedangkan pada
habitat alami didapatkan 4 individu betina
dari 4 individu dewasa yang didapatkan. Dari
total 38 individu, diketahui variasi ukuran
tubuh labi-labi mulai dari muda hingga
dewasa (Lampiran 1; Lampiran 4).
Gambar 1. Kelimpahan populasi labi-labi
Sumber daya habitat seperti sumber
makanan, predator dan kompetitor sangat
mempengaruhi populasi labi-labi. Di habitat
non alami, ditemukan sumber makanan
berupa cacing, sisa bahan laboratorium
(mencit putih), dan sisa makanan manusia
(lauk pauk/ sumber protein) sedangkan di
28
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 26-30 (ISSN : 2303-2162)
habitat alami ditemukan udang, kepiting dan
hewan bentos. Di kedua bentuk habitat juga
ditemukan sumber makanan lain yaitu ikan
dan katak (Tabel 1). Das (2010) menyatakan,
labi-labi
D.
subplana
biasanya
mengkonsumsi keong, ikan, udang dan
kepiting.
Makanan
labi-labi
Amyda
cartilaginea adalah daging ikan dan sisa
makanan manusia dan makanan labi-labi
Pelodiscus sinensis adalah ikan atau udang
dan sisa makanan manusia (Iskandar, 2000).
Vegetasi sekitar perairan di kedua bentuk
habitat tidak mengindikasikan adanya
perbedaan jumlah individu yang ditemukan.
Labi-labi tidak ditemukan dalam jumlah yang
banyak pada suatu jenis tumbuhan (Tabel 1).
Tabel 1. Sumber makanan yang berpotensi dan vegetasi sekitar perairan
No.
1.
2.
Parameter
Sumber makanan
potensial
Vegetasi sekitar perairan
Habitat Non Alami
Ikan, katak, cacing, sisa makanan
manusia dan sisa bahan laboratorium
Lumut, rumput, semak dan pohon
Selama survei, di habitat non alami
ditemukan predator sekaligus kompetitor bagi
labi-labi yaitu biawak (Varanus sp.), akan
tetapi di habitat alami tidak ditemukan
predator dan kompetitor. BKSDA RI (2008)
menyatakan bahwa, telur dan tukik
merupakan mangsa biawak (Varanus sp.).
Habitat alami labi-labi yang berupa hutan
sekunder berpotensi terdapat predator dan
kompetitor yang lebih beragam. BKSDA RI
(2008) menyatakan selain biawak, burung
gagak (Corvus sp.) dan burung elang
(Spilornis cheela) juga merupakan predator
labi-labi. Reza (2010) melaporkan, terdapat
20 jenis ular yang ada di Kampus UNAND.
Ketersediaan
jumlah
makanan
yang
melimpah serta kurangnya kehadiran predator
dan kompetitor diasumsikan merupakan
Habitat Alami
Ikan, katak, udang,
kepiting
Lumut, rumput,
semak dan pohon
faktor yang menyebabkan populasi labi-labi
di habitat non alami lebih besar dibandingkan
habitat alami.
Ancaman yang dapat mempengaruhi
populasi labi-labi lainnya yaitu interpensi
manusia. Penangkapan atau eksploitasi labilabi yang bertujuan komersil tidak ditemui
selama survei. Menurut informasi dari
mahasiswa, labi-labi pernah ditangkap untuk
dijadikan
piaraan
oleh
mahasiswa.
Penangkapan yang bertujuan non komersil,
sporadis dilakukan. Biasanya mahasiswa
menangkap labi-labi untuk digunakan sebagai
bahan pratikum. Setelah itu, labi-labi tersebut
dikembalikan ke perairan, tetapi proses
pengembalian sering tidak memperhatikan
lokasi pengembalian masing-masing individu
ke habitat atau lokasi yang seharusnya.
Tabel 2. Faktor fisik dan kimia perairan secara umum
No.
1.
Parameter
Substrat dasar perairan
Habitat Non Alami
Habitat Alami
Semen, semen berpasir, pasir, pasir
Pasir, pasir berbatu,
berkerikil, pasir berlumpur, lumpur
lumpur
2.
Kedalaman perairan (cm)
5 ─ 18,3
10 ─ 18
3.
Lebar perairan (cm)
25 ─ 120
100 ─ 400
4.
Kecepatan arus (cm/dt)
3 ─ 17
6 ─ 11
5.
Suhu air (ºC)
25 ─ 28
25 ─ 27
6. Derajat keasaman air (pH)
6,8 ─ 7,5
7,3 ─ 7,6
air limbah (limbah dapur kantin dan limbah
Sumber air utama habitat non alami
laboratorium) sedangkan habitat alami yaitu
berasal dari mata air, limpahan air pipa dan
berupa sungai berbatu dengan pinggir sungai
29
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 26-30 (ISSN : 2303-2162)
yang landai atau curam. Perairan habitat non
alami bersubstrat dasar semen, semen
berpasir, pasir berkerikil dan pasir berlumpur,
sedangkan perairan habitat alami bersubstrat
dasar pasir berbatu. Di kedua bentuk habitat
tersebut sama-sama memiliki substrat dasar
perairan yang berbentuk pasir dan lumpur,
akan tetapi perairan habitat alami lebih
dalam, lebih lebar dan lebih deras
dibandingkan dengan habitat non alami
(Tabel 2; Lampiran 2; Lampiran 3).
Pada habitat non alami, umumnya
labi-labi didapatkan di saluran yang telah
disemen, tetapi bagian dasar saluran tersebut
telah mengalami perubahan dari semen
menjadi substrat pasir, lumpur atau berkerikil
serta terdapat celah atau lobang di bagian
pinggir. Pada habitat alami labi-labi
ditemukan di sekitar lubuk sungai, di dalam
pasir dan di sela-sela batu. Labi-labi lebih
banyak didapatkan di lokasi bersubstrat pasir
berkerikil pada habitat non alami, sedangkan
pada habitat alami di lokasi bersubstrat pasir
berbatu
(Gambar
2).
Gambar 2. Kelimpahan populasi labi-labi yang didapatkan berdasarkan: (A) tipe substrat dasar, (B) kecepatan
arus, (C) derajat keasaman air
Pada kedua bentuk habitat, labi-labi
lebih banyak didapatkan pada perairan yang
berarus lambat dan memiliki derajat
keasaman yang netral (Gambar 2). Elviana
(2000) melaporkan, labi labi menghuni
perairan yang bersubstrat dasar pasir berbatu
(batu kerikil atau batu kali). Labi-labi Trionyx
spiniferus dilaporkan sering ditemukan pada
perairan yang memiliki banyak lubuk dan
jeram (Plummer, Mills dan Allen, 1997).
Labi-labi Trionyx muticus ditemukan di area
berpasir, perairan dangkal yang ternaungi dan
di pinggir sungai yang landai. Individu jantan
menyukai area yang berpasir (Plummer,
1977).
30
Jurnal Biologi Universitas Andalas (J. Bio. UA.)
4(1) – Maret 2015: 26-30 (ISSN : 2303-2162)
Kesimpulan
1. Kelimpahan populasi labi-labi di kawasan
Kampus Universitas Andalas adalah 33
individu pada 640 m² di habitat non alami
dan 5 individu pada 5.100 m² di habitat
alami.
2. Labi-labi di habitat non alami cenderung
memilih lokasi yang bersubstrat pasir
berkerikil dan di habitat alami di lokasi
bersubstrat pasir berbatu. Di kedua bentuk
habitat, labi-labi lebih banyak didapatkan
pada perairan yang berarus lambat dengan
derajat keasaman air sedikit basa.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada Dr. Rizaldi, Izmiarti,
MS, Dr. Indra Junaidi Zakaria, Dr. Djong
Hon Tjong dan Dr. Jabang Nurdin yang telah
memberikan kritikan dan saran untuk
menyempurnakan penelitian ini.
Daftar Pustaka
Balai
Konservasi Sumber Daya Alam
Republik Indonesia. (2008). Harvest
Sustainability Of Asiatic Softshell
Turtle (Amyda Cartilaginea) In
Indonesia. Indonesia.
Bennett, D. 1999. Expedition Field
Techniques Reptiles And Amphibians.
Geography Outdoors. London.
Das, I. 2010. Reptiles of South-East Asia.
New Holland. UK.
Direktorat Jenderal
Perikanan. 1995.
Petunjuk Pelaksanaan Pembinaan
dan Pengelolaan Labi-labi. Jakarta.
Elviana. 2000. Habitat, Morfologi Dan
Kariotip Labi-labi Batu Dan Labilabi Super (Trionychidae: Reptilia)
Di Perairan Umum Jambi. [Tesis].
Program
Pascasarjana
Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Hamdani, R. 2013. Potensi Herpetofauna
Dalam Pengobatan Tradisional di
Sumatera
Barat.
[Skripsi].
Universitas Andalas. Padang.
Iskandar, D. T. 2000. Kura-Kura dan Buaya
Indonesia dan Papua Nugini. Dengan
Catatan Mengenal Jenis-Jenis di Asia
Tenggara. Jurusan Biologi, FMIPA
ITB. Bandung.
Plummer, M. V. 1977. Activity, Habitat and
Population Structure in the Turtle,
Trionyx muticus. Copeia. 3: 431-440.
Plummer, M. V., N. E. Mills dan S. L. Allen.
1997.
Activity,
Habitat
and
Movement Patterns of Softshell
Turtles (Trionyx spiniferus) in a
Small
Stream.
Chelonian
Conservation and Biology. 2 (4):
514-520.
Reza, F. 2010. Inventarisasi Jenis-Jenis Ular
Di Kampus Universitas Andalas
Limau Manih Padang. [Skripsi].
Universitas Andalas. Padang.
Rhodin, A. G. J., A. D. Walde, B. D. Horne,
P. P. Van Dijk, T. Blanck dan R.
Hudson. 2011. Editorial Introduction
And Executive Summary. In: Turtle
Conservation Coalition. Turtles In
Trouble: The World’s 25+ Most
Endangered
Tortoises
And
Freshwater
Turtles—2010.
Lunenburg, Ma: Iucn/Ssc Tortoise
And Freshwater Turtle Specialist
Group, Turtle Conservation Fund,
Turtle Survival Alliance, Turtle
Conservancy, Chelonian Research
Foundation,
Conservation
International, Wildlife Conservation
Society dan San Diego Global Zoo.
Pp. 3–16.
Sari, P. M. 2010. Jenis-Jenis Kura-Kura
(Testudinata) Di Kawasan Kampus
Universitas Andalas Limau Manih
Padang.
[Skripsi].
Universitas
Andalas. Padang.
Sinaga, H. N. A. 2008. Perdagangan Jenis
Kura-kura Darat dan Kura-kura Air
Tawar di Jakarta. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
UNAND.
2013.
Lokasi
Kampus.
http://www.unand.ac.id/index.php/id/
profil/lokasi-kampus.
Diakses
tanggal; 26 Nov. 2013. Padang.
Fly UP