...

Media mana yang menentukan pemberitaan? Media massa

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Media mana yang menentukan pemberitaan? Media massa
Media mana yang menentukan
pemberitaan? Media massa
atau/dan media sosial?
Sebuah laporan penelitian independen yang disponsori
oleh iSentia
EXECUTIVE SUMMARY
Professor Jim Macnamara. PhD, MA, FAMI, CPM, FAMEC, FPRIA
PENDAHULUAN
Media menyediakan megafon bagi individu dan
organisasi untuk bersuara, dan media massa – pers,
radio dan televisi – telah menjadi saluran komunikasi
publik yang dominan selama satu abad terakhir.
Kejatuhan bisnis model media tradisional yang
memicu apa yang para akademisi dan praktisi media
sebut ‘krisis dalam jurnalisme’1, dan pesatnya
penggunaan media sosial, secara substansial telah
mengubah praktik-praktik jurnalisme, hubungan
masyarakat, corporate communication dan
pemasaran.
Popularitas media dan jejaring sosial seperti
Facebook, Twitter, YouTube, Flickr, Pinterest dan
Instagram memacu pertumbuhan ‘media sendiri’
yang memungkinkan perusahaan dan organisasi
untuk mengatur pemberitaan – secara langsung
maupun melalui perantara dan remediasi (dimana,
media massa mengambil berita utama dari media
sosial dan mempublikasikan ulang).
Di lain hal, beberapa orang mengklaim bahwa sebagian
besar media sosial bersifat ‘parasit’, mengambil banyak
informasi dan topik dari media massa.
PERTANYAAN RISET JUTAAN DOLAR:
Media mana yang menentukan
sebagian besar pemberitaan
saat ini?
Sebuah pertanyaan besar yang relevan bagi
pemerintah, perusahaan dan organisasi saat ini
adalah media mana yang menentukan sebagian
besar pemberitaan saat ini? Jawaban atas
pertanyaan ini mengungkapkan strategi media dan
komunikasi secara nyata.
iSentia secara independen meninjau terhadap
literatur riset di seluruh dunia untuk melihat data
sumber berita terbaru dan hubungan antara media
massa (atau media mainstream dan tradisional)
dan media sosial (atau media baru). Temuan dari
penelitian ini dirangkum dalam Bagian 1 dari laporan
ini.
Kedua, iSentia menganalisa reportase dan
pembahasan dalam media massa dan media sosial
mengenai tiga berita utama dari segi waktu dan fokus
dari informasi yang disebarkan. Temuan dari analisis
ini dirangkum dalam Bagian 2 dari laporan ini.
TEMUAN-TEMUAN UTAMA
Siklus berita 24 jam adalah sebuah ilusi - karena tidak ada ‘siklus’ berita - kini kita hidup di era yang dilingkupi
berita. Berita dan informasi saling beririsan, berbenturan, dan menyatu secara online dan offline tanpa titik
asal.
NEWS
Potensi adanya berita baru dalam media tradisional dan media sosial bervariasi sesuai dengan:
• Skala berita – peristiwa besar terliput secara baik oleh media tradisional, dan peristiwa bencana kerap
dilaporkan lebih dulu oleh media sosial
• Hubungan dengan pejabat – berita mengenai pemerintah dan perusahaan disodorkan kepada
wartawan
• Daerah – media tradisional berfokus pada berita-berita kota sementara media sosial sering
menyampaikan daerah lainnya
• Isu masyarakat – isu-isu daerah yang kurang diperhatikan sering muncul kepermukaan melalui media
sosial sebelum menjadi pemberitaan luas di media tradisional.
Isi berita tidak tepat lagi dikategorikan berdasarkan platform atau label-label tradisional. Pembuat berita
mulai bekerja di semua platform. Pendekatan yang lebih tepat adalah mengenali isi berita sebagai hasil karya
profesional atau masyarakat biasa.
ADALAH NAIF UNTUK MELIHAT MEDIA MASSA DAN SOSIAL
MEDIA SEBAGAI SALING BERLAWANAN – BENTUK-BENTUK
MEDIA TERSEBUT KIAN TERIKAT SATU SAMA LAIN.
Media sosial individu memiliki audiens yang sangat kecil (97% akun Twitter memiliki kurang dari 100
followers), maka volume konten, dan bahkan siapa yang menyampaikan berita tercepat, bukan merupakan
pertimbangan utama; jangkauan audiens dan kredibilitas merupakan faktor yang lebih penting dalam
menganalisa dampaknya.
1
PENGGUNAAN SOSIAL MEDIA OLEH PEMERINTAH, PERUSAHAAN
DAN ORGANISASI SERTA INDIVIDU BERKEMBANG PESAT DAN
MENJADI SESUATU YANG UMUM. SEBAGAI CONTOH:
Sebuah survei yang dilakukan McKinsey baru-baru ini terhadap 3.542 eksekutif global menemukan bahwa
83% perusahaan menggunakan setidaknya satu teknologi media sosial. Menurut McKinsey, perusahaan
secara ekstensif menggunakan konferensi video online (60%), jejaring sosial (53%), blog (43%), video sharing
(41%), wiki (26%), microblogging (25%) dan podcast (25 %) 2.
Penelitian akademis mengenai penggunaan media sosial oleh perusahaan-perusahaan Fortune 500 yang
dilakukan tiap tahun sejak 2008 oleh University of Massachusetts Dartmouth Center for Marketing Research
mengungkapkan bahwa pada tahun 2012, 73% perusahaan-perusahaan Fortune 500 memiliki akun Twitter
dan telah mentwit dalam 30 hari sebelumnya, 66% memiliki halaman komunitas Facebook, 62% memiliki
akun YouTube, dan 28% memiliki blog korporat3.
Pada 2011, IBM menyatakan diri sebagai sebuah “bisnis sosial” dalam whitepaper berjudul “The Social
Business: Advent of New Age”4.
Juga pada tahun 2011, Gartner Inc menerbitkan sebuah buku berjudul “The Social Organization: How to Use
Social Media to Tap the Collective Genius of Your Customers and Employees “5.
83% OF PERUSAHAAN
MENGGUNAKAN SEDIKITNYA
SATU TEKNOLOGI MEDIA
SOSIAL2
73% PERUSAHAAN FORTUNE
500 MEMILIKI AKUN TWITTER
DAN TELAH MENTWIT DALAM
30 HARI SEBELUMNYA
62% PERUSAHAAN FORTUNE
500 MEMILIKI AKUN YOUTUBE
DAN 28% MEMILIKI BLOG
KORPORAT
2
MEDIA SOSIAL MEMILIKI DAMPAK PENTING TERHADAP
PEMBERITAAN DAN KOMUNIKASI PUBLIK, SEPERTI TERLIHAT DALAM
BANYAK CONTOH PUBLIKASI. MISALNYA:
Ketika US Airways penerbangan 1549 terpaksa mendarat darurat di Sungai Hudson pada 2009, adalah foto-foto
yang diambil oleh penumpang feri bernama Janis Krums dengan menggunakan ponsel dan diposting di Twitpic
yang pertama kali memberikan gambar dan catatan kejadian kepada media massa dan dunia6.
Meski pada kenyataannya banyak wartawan berita hiburan berbasis di Los Angeles, berita kematian Michael
Jackson pada bulan Juni 2009 datang pertama kali dari situs berita sosial, TMZ dan diteruskan kepada jutaan
orang di seluruh dunia melalui Twitter dan media sosial lainnya7.
Berita kematian Osama Bin Laden pada 2011 dimuat pertama kali di Twitter ketika seorang tetangga men-twit
kegaduhan dari seberang rumahnya ketika pasukan keamanan AS menyerang tempat persembunyian Bin Laden8.
Dua puluh tujuh menit sebelum media mainstream menyampaikan berita kematian Whitney Houston pada
tahun 2012, cerita itu telah beredar di Twitter, dilaporkan oleh seorang pria yang men-twit kabar tersebut ke
14 pengikutnya9.
Ketika Clarence House (@ClarenceHouse) mengumumkan pertunangan Pangeran William dengan Catherine
(Kate) Middleton pada 16 November 2010, keluarga kerajaan men-twit pengumuman tersebut, serta merilis
pernyataan resmi10.
Keberhasilan gerakan demokrasi di Tunisia, Mesir, Iran dan Suriah yang dikenal sebagai ‘Arab Spring’
sebagian besar adalah berkat media sosial. Wael Ghonim, mantan manajer pemasaran Google yang
menciptakan halaman Facebook yang membantu mengatur pemberontakan di Mesir, mengatakan dalam
sebuah wawancara di CNN “Saya ingin bertemu Mark Zuckerberg suatu hari dan berterima kasih padanya ...
jika Anda ingin membebaskan masyarakat berikan saja mereka internet”11.
MJ
:(
KELUARGA KERAJAAN
MEN-TWIT PENGUMUMAN
PERTUNANGAN PRINCE
WILLIAM DAN KATE
MIDDLETON
BERITA KEMATIAN MICHAEL
JACKSON PADA BULAN JUNI
2009 BERASAL DARI SITUS
BERITA SOSIAL, TMZ
OSAMA
BIN
LADEN
KEMATIAN OSAMA BIN
LADEN PADA TAHUN 2011
DIBERITAKAN PERTAMA KALI
MELALUI TWITTER
3
PENELITIAN OLEH PEW RESEARCH CENTER MENUNJUKKAN BAHWA
KONSUMSI BERITA DAN PENGATURAN PEMBERITAAN MASIH TERFOKUS
PADA MEDIA MASSA, TAPI SEDANG BERADA PADA TITIK PERUBAHAN.
Misalnya, pada laporan ‘State of the News Media’ tahun 2012, yang menyajikan data tahun 2011, Pew
Research Center’s Project for Excellence in Journalism mencatat bahwa televisi terus mendominasi sebagai
sumber berita bagi kebanyakan orang dan bahwa mayoritas pengguna internet langsung membuka situs
media berita (36%), menggunakan pencarian kata kunci untuk berita (32%), atau pergi ke situs kumpulan
berita (29%) ketika mencari berita online. Hanya sedikit yang menggunakan Facebook atau Twitter untuk
mencari berita (9%)12.
Namun, pada laporan ‘State of the News Media’ tahun 2013, Pew Research Center menemukan sebuah
pergeseran di mana banyak orang telah melihat penurunan kuantitas dan kualitas berita yang dilansir media
massa karena pengurangan jumlah staf jurnalistik dan orang telah “berhenti membaca, menonton atau
mendengar dari sumber berita karena alasan itu “. Hampir sepertiga (31%) orang Amerika mengatakan
bahwa mereka telah meninggalkan outlet berita media massa karena tidak lagi memberikan berita dan
informasi yang biasa mereka butuhkan13.
Secara signifikan, tren ini terlihat paling menonjol di antara warga masyarakat yang berpendidikan dan
berpenghasilan lebih tinggi – sebuah tren yang patut diperhatikan oleh dunia bisnis dan organisasi.
Pergeseran ke sumber online – dan media sosial khususnya – paling menonjol terlihat pada masyarakat
muda.
Dalam studi terbaru News Media Consumption di Amerika Serikat, Pew Research Center melaporkan
bahwa konsumsi berita online meningkat tajam antara tahun 2011 dan 2012, di mana 50% responden
memperoleh berita secara online – sedikit lebih kecil dari televisi, tapi jauh melebihi surat kabar (29 %) dan
radio (33%). Studi ini menemukan bahwa 19% responden mendapatkan berita dan informasi dari media
dan jejaring sosial seperti blog, mikroblog (misalnya, Twitter) dan Facebook. 8% lainnya mengatakan mereka
mendengarkanpodcast untuk mengakses berita dan informasi14.
SEPERTIGA ORANG AMERIKA
MENGATAKAN MEREKA TELAH
MENINGGALKAN OUTLET
BERITA MEDIA MASSA13
ANTARA TAHUN 2011 DAN
2012... 50% ORANG MENGAMBIL
BERITA SECARA ONLINE
PERGESERAN KE ONLINE
– DAN KHUSUSNYA MEDIA
SOSIAL – TERLIHAT PALING
JELAS PADA MASYARAKAT
MUDA
3
PENELITIAN OLEH PEW RESEARCH CENTER MENUNJUKKAN BAHWA
KONSUMSI BERITA DAN PENGATURAN PEMBERITAAN MASIH TERFOKUS
PADA MEDIA MASSA, TAPI SEDANG BERADA PADA TITIK PERUBAHAN.
Di Inggris, laporan tahun 2011 dari Reuters Institute for Study of Journalism di Universitas Oxford
menyimpulkan bahwa “media sosial mulai menyaingi pencarian dalam mencari berita di Inggris”15.
Tren penting yang mendorong pergeseran ke media digital, termasuk media sosial, adalah pertumbuhan
perangkat mobile. Pada tahun 2012, 39% orang Amerika memperoleh berita dari perangkat mobile – naik dari
34% pada tahun 2010.
Meski mengakui bahwa jumlah orang yang mengandalkan media sosial untuk mencari berita masih relatif
kecil, Pew Research Center juga mencatat bahwa, bahkan ketika orang menggunakan media massa sebagai
tempat utama mereka untuk memperoleh berita, sharing berita (efek meneruskan) melalui media sosial
secara substansial meningkatkan penyebaran dan audiens16.
Laporan tahun 2011 oleh Institute for the Study of Journalism di Universitas Oxford juga menarik perhatian
mengenai pentingnya merujuk kepada media sosial bagi media massa melalui posting komentar dan link.
Reuters Institute melaporkan bahwa “situs berita media massa rata-rata menerima 7,5% traffic hanya dari
Facebook”17.
Meningkatnya peran media sosial sebagai sumber berita, serta sebagai media
untuk mensharing berita dan sebagai rujukan bagi media massa, menunjukkan
bahwa media massa dan media sosial tidak saling berlawanan tetapi semakin
terhubung satu sama lain.
39%
PADA TAHUN 2012,
39% ORANG AMERIKA
MEMPEROLEH BERITA DARI
PERANGKAT MOBILE
SHARING BERITA...MELALUI
MEDIA SOSIAL SECARA
SUBSTANSIAL MENINGKATKAN
PENYEBARAN DAN AUDIENS16
MEDIA MASSA DAN MEDIA
SOSIAL TIDAK SALING
BERLAWANAN – TETAPI
SEMAKIN TERHUBUNG SATU
SAMA LAIN
4
SEJUMLAH STUDI MENUNJUKKAN BAHWA MEDIA SOSIAL BERSIFAT
SANGAT PENERUS DAN PARASIT – MEREKA MENGIKUTI TOPIK DI MEDIA
MASSA DAN MENGAMBIL ISI BERITA DARI MEDIA MASSA.
Anekdot diklaim oleh sejumlah editor dan wartawan - misalnya, Oliver Kamm dari The Guardian.
Sebuah studi pada 2008 oleh akademisi Alvin Goldman melaporkan bahwa blogging bergantung pada media
massa untuk isinya18.
Demikian pula, sebuah studi akademik pada tahun 2009 mengenai media tradisional dan blog menunjukkan
bahwa “media tradisional masih mendominasi link blog, dengan hanya empat dari 20 situs top yang mewakili
media warga” - blogger sebagian besar merupakan link ke media massa utama19.
Sebuah laporan terbaru pada tahun 2011dari Reuters Institute for the Study of Journalism menyatakan bahwa
“isi media mainstream adalah darah topik percakapan media sosial di Inggris – yang menyebarkan link berita
sebagian besar” Selain itu, Reuters Institute mencatat bahwa bahkan ketika media sosial tidak mengikuti
pemberitaan media massa, mereka dipengaruhi oleh pemberitaan media massa20.
Salah satu studi kuantitatif terluas mengenai siklus berita yang meneliti meme (tema, konsep-konsep kunci
dan frase) dari 1,6 juta halaman situs media massa dan blog independen selama tiga bulan pada tahun 2009,
melacak sebanyak 90 juta artikel. Penelitian ini menemukan bahwa dalam banyak kasus, meme muncul
pertama kali di media massa dan kemudian menyebar ke wilayah blog. Hanya di 3,5% dari keseluruhan
kasus tersebut cerita muncul pertama kali dalam blog dan kemudian muncul dalam media mainstream.
Namun, studi ini juga menemukan bahwa media massa lebih lambat menangkap isu ketimbang media sosial,
dan lebih cepat membuangnya. Media sosial (khususnya blog yang diteliti dalam studi ini), dengan cepat
mengambil meme dan mendiskusikannya jauh lebih lam. Ini mengilustrasikan panjangnya ekor diskusi media
sosial, hal yang patut dicatat oleh organisasi dan bisnis.
ISI MEDIA MAINSTREAM
ADALAH DARAH TOPIK
PERCAKAPAN MEDIA SOSIAL
DI INGGRIS
HANYA 3.5% DARI
KESELURUHAN KASUS, CERITA
MUNCUL PERTAMA KALI
DALAM BLOG DAN KEMUDIAN
DALAM MEDIA MAINSTREAM21.
MEDIA MASSA LEBIH LAMBAT
MENANGKAP ISU KETIMBANG
MEDIA SOSIAL, DAN LEBIH
CEPAT MEMBUANGNYA
5
PENELITIAN TERBARU MENUNJUKKAN BAHWA SOSIAL MEDIA
MENENTUKAN AGENDA MEREKA SENDIRI DAN MEREKA SEMAKIN
SERING DIGUNAKAN SEBAGAI SUMBER BERITA OLEH MEDIA MASSA.
Contoh-contoh yang disebutkan dalam Temuan 2 menggambarkan secara luas hal ini pada skala nasional
dan bahkan global.
Penelitian yang dilakukan untuk gelar PhD oleh mantan wartawan yang sekarang menjabat sebagai Asisten
Profesor di University of North Carolina, Brendan Watson, dan yang disajikan sebagai makalah dalam
konferensi Association for Education in Journalism & Mass Communication (AEJMC) 2012 di Amerika Serikat
menyimpulkan bahwa: “Studi terhadap 100 blog menemukan bahwa, berbeda dengan pernyataan-pernyataan
media dan penelitian sebelumnya, blogger yang membahas isu lokal tidak mengandalkan surat kabar
sebagai sumber mereka yang utama. Blogger dalam penelitian ini lebih cenderung menggunakan sumber
asal dan reportase asli ketimbang mengandalkan sumber media, terutama ketika menulis tentang topik lokal
yang sering diabaikan media berita”22.
Sebuah studi Pew Research Center pada 2010 menemukan bahwa “cerita dan isu-isu yang memperoleh
perhatian di media sosial berbeda secara substansial dibanding isu-isu yang memimpin di pers
mainstream”23.
Dalam bukunya yang terbit pada 2010 berjudul ‘Insidious Competition: The Battle for Meaning dan Corporate
Image’, Richard Telofski berkata “media sosial adalah tempat lahirnya banyak cerita yang memasuki media
mainstream”24. Peringatan Telofski bahwa media sosial sangat cocok untuk ‘underdog’ seperti organisasi
aktivis yang patut diperhatikan oleh pemerintah dan perusahaan, hal ini selanjutnya akan dibahas dalam
Temuan 7.
Sebuah analisis akademis pada 2013 mengenai reportase kerusuhan London oleh Farida Vis pada tahun 2011
dapat memberi gambaran mengenai munculnya model baru berita hibrid. Vis melaporkan bahwa wartawan
secara ekstensif menggunakan Twitter selama kerusuhan untuk mencari tahu perkembangan peristiwa,
bertukar informasi dengan warga, bertanya dan memeriksa fakta-fakta dengan mengikuti aliran Twitter
melalui hashtag kunci seperti #ukriots, #tottenham dan #tottenhamriots. Mereka juga menggunakan gambar
dan video yang direkam oleh warga menggunakan ponsel kamera 25. (Lihat Temuan 6)
BERBEDA DENGAN
PERNYATAAN MEDIA DAN
PENELITIAN SEBELUMNYA,
BLOGGER YANG MEMBAHAS
ISU LOKAL TIDAK
MENGANDALKAN SURAT
KABAR SEBAGAI SUMBER
MEREKA YANG UTAMA22
MEDIA SOCIAL SANGAT COCOK
UNTUK ‘UNDERDOG’24
WARTAWAN SECARA
EKSTENSIF MENGGUNAKAN
TWITTER...UNTUK MENGETAHUI
PERKEMBANGAN PERISTIWA,
BERBAGI INFORMASI DENGAN
WARGA...DAN MEMERIKSA
FAKTA25
6
MEDIA MASSA DAN MEDIA SOSIAL SEMAKIN SALING TERGANTUNG
DAN PEMBERITAANNYA SALING MENGANGKAT. SEPERTI YANG
DITULIS JOHN CLARE PADA TAHUN 2012 DALAM BUKU, “MEDIA
MAINSTREAM MEMBERIKAN BAHAN BAGI MEDIA SOSIAL
YANG KEMUDIAN MENGEMAS KEMBALI, MENDAURNYA, DAN
MENGOMENTARINYA DALAM ARTIKEL MEDIA MAINSTREAM.”26
7
DALAM HAL KOMUNIKASI PERUSAHAAN MAUPUN ORGANISASI
SERTA HUBUNGAN MASYARAKAT, SOSIAL MEDIA MENENTUKAN ATAU
MEMPENGARUHI PEMBERITAAN DENGAN TIGA CARA YANG DAPAT
DAPAT DIJELASKAN SEBAGAI BERIKUT:
1. Diawali pelanggan – perusahaan dan organisasi dapat melihat diri mereka dikritik atau dibahas di media
sosial seperti yang terjadi pada Restoran McDonald’s dan Qantas (#QantasLuxury) ketika konsumen
menanggapi secara negatif twit dan promosi perusahaan. Juga, konsumen semakin sering memposting
keluhan di media sosial. Topik ini dapat digunakan oleh media massa.
2. Diawali karyawan (tidak resmi) – bahkan dengan adanya aturan berkenaan media sosial, karyawan dapat
dengan sengaja atau tidak sengaja memposting komentar di media sosial yang dapat mempengaruhi
organisasi. Misalnya, pada tahun 2012, seorang karyawan perusahaan telekomunikasi Vodafone di
Australia yang bekerja untuk program ‘Ambassador’ mencemooh pelanggan di Twitter, dengan menyebut
mereka menderita “keterbelakangan mental” dan mengancam mereka dengan “pukulan backhand”27.
# Mc-not-lovin-it
# McFail
# Mc-UN-happymeal
ORGANISASI DAPAT
MENEMUKAN DIRI
MEREKA DIKRITISI ATAU
DIPERBINCANGKAN DI MEDIA
SOSIAL
NEWS
TODAY
#QantasLuxury
SEMAKIN BANYAK KONSUMEN
MEMPOSTING KELUHAN DI
MEDIA SOSIAL. TOPIK INI DAPAT
DIAMBIL OLEH MEDIA MASSA
:( !!!
#uncool
KARYAWAN DAPAT DENGAN
SENGAJA ATAU TIDAK SENGAJA
MEMPOSTING KOMENTAR
DI MEDIA SOSIAL YANG
MEMPERNGARUHI ORGANISASI
7
DALAM HAL KOMUNIKASI PERUSAHAAN MAUPUN ORGANISASI
SERTA HUBUNGAN MASYARAKAT, SOSIAL MEDIA MENENTUKAN ATAU
MEMPENGARUHI PEMBERITAAN DENGAN TIGA CARA. YANG DAPAT
DIJELASKAN SEBAGAI BERIKUT:
3. Diawali perusahaan (resmi) – idealnya perusahaan semakin proaktif menggunakan media sosial untuk
menyebarkan berita dan informasi. Sebagai contoh:
• Menyusul pengeboman Boston Marathon pada tahun 2013, Departemen Kepolisian Boston beralih ke
media sosial karena kecepatan komunikasi yang diperlukan seiring datangnya informasi dan penjabaran
peristiwa.28 Sebagian besar berita dirilis oleh Departemen Kepolisian Boston pada website dan media
sosial seperti Twitter, dengan 148 tweet terposting mengenai krisis tersebut, beberapa di antaranya
memperoleh hingga 144.000 retweet29.
• Penggunaan media sosial secara efektif juga dapat membantu organisasi menghindari krisis. Pada tahun
2009 ketika dua karyawan Domino Pizza di Conover, North Carolina, mengunggah video mengenai diri
mereka mengkontaminasi makanan dengan kotoran manusia, yang menarik satu juta views dalam dua
hari, Presiden Domino Pizza Patrick Doyle memakai YouTube untuk menjelaskan tindakan perusahaan
dan menyelamatkan reputasi perusahaan30.
• Organisasi juga dapat menggunakan media sosial untuk behubungan dengan pelanggan dan melakukan
pemasaran. Misalnya, pada tahun 2011 pelanggan reguler Morton Steakhouse Peter Shankman bertanya
sambil bercanda melalui Twitter apakah restoran tersebut bisa menghidangi dia bistik setelah mendarat
dari penerbangan antar negara bagian. Mereka menghidangkannya. Tidak hanya bahwa inisiatif ini
dibicarakan secara luas di media sosial, tapi juga diberitakan oleh media massa, sehingga mendapatkan
publisitas positif yang substansial.
Sebuah tren utama pada dekade kedua abad ke-21 adalah pertumbuhan cepat media milik sendiri, terutama
situs media sosial pribadi. Ini membawa kepada ekpansi dari apa yang disebut jurnalisme brand atau
perusahaan, sementara organisasi mempekerjakan spesialis pembuat konten untuk menciptakan situs yang
menarik dan meningkatkan upaya mereka untuk mengatur pemberitaan dan komunikasi publik32.
Organisasi progresif juga menciptakan newsroom media sosial yang, bukan berisi konten teks seperti press
release, tetapi berisi konten multimedia seperti video, gambar dan podcast (misalnya, pidato) serta link ke
dokumen seperti laporan, arsip dan Facebook, Twitter, YouTube, dan situs media sosial lainnya yang dimiliki
organisasi31.
144,000
RETWEETS
148 TWEETS
MENYUSUL PEMBOMAN
BOSTON MARATHON.. [DARI]
148 TWEET YANG TERPOSTING
MENGENAI KRISIS TERSEBUT,
BEBERAPA MENERIMA
HINGGA 144,000 RETWEET29
PELANGGAN REGULER
MORTON STEAKHOUSE PETER
SHANKMAN BERTANYA SAMBIL
BERCANDA MELALUI TWITTER
APAKAH RESTORAN TERSEBUT
BISA MENGHIDANGI DIA
BISTIK SETELAH MENDARAT
DARI PENERBANGAN ANTAR
NEGARA BAGIAN. MEREKA
MENGHIDANGKANNYA.
ORGANISASI PROGRESIF JUGA
MENCIPTAKAN NEWSROOM
MEDIA SOSIAL
8
LEMBAGA PEMERINTAH, PERUSAHAAN DAN ORGANISASI PERLU
MENERAPKAN STRATEGI MEDIA TERPADU YANG MENCAKUP
PEMELIHARAAN HUBUNGAN MEDIA MASSA SERTA PENGGUNAAN
SOSIAL MEDIA, DENGAN MEMPERHATIKAN BAHWA:
Media massa (tradisional/mainstream) tetap merupakan saluran komunikasi utama karena:
1. Berlanjutnya dominasi TV sebagai sumber berita massa;
2. Peran koran terkemuka, terutama koran harian nasional dan metropolitan dan koran bisnis dan
keuangan khusus yang telah lama terbentuk, yang dipandang berkuasa meski jika sirkulasi mereka
kecil dan/atau menurun33;
3. Pengaruh media massa, terutama koran utama dan televisi terhadap politisi, pembuat kebijakan dan
pemerintah (yang sering tidak proporsional kepada audiens mereka sebenarnya)34;
4. Jangkauan mereka ke masyarakat yang lebih tua.
Media Sosial menjadi bermanfaat dan menjadi saluran komunikasi yang semakin penting karena:
5. Meningkatnya penggunaan media sosial sebagai situs berita dan informasi oleh semakin banyak orang;
6. Penggunaan terus-menerus dan ketergantungan terhadap media sosial di kalangan masyarakat muda
khususnya;
7. Penyebarluasan berita dan informasi melalui media sosial dan jejaring sosial, memperluas audiens
media massa;
8. Referensi ke situs berita utama yang seringkali datang dari media sosial (misalnya, dalam percakapan
online dan link posting);
9. Peningkatan penggunaan media sosial untuk komunikasi publik yang diawali oleh pelanggan,
karyawan dan warga, termasuk komentar tentang brand, produk dan layanan.
hello.
hey you.
TV TETAP DOMINAN SEBAGAI
SUMBER BERITA MASSA
PENYEBARLUASAN BERITA
DAN INFORMASI MELALUI
MEDIA SOSIAL DAN JEJARING
SOSIAL
MENINGKATNYA PENGGUNAAN
MEDIA SOSIAL UNTUK
PELANGGAN, KOMUNIKASI
PUBLIK YANG DIINISIASI WARGA
KESIMPULAN
KESIMPULAN
1. Selain tidak terpakai lagi siklus berita tradisional, siklus berita 24 jam juga dianggap sebagai sebuah ilusi.
Sekarang kita tidak lagi mengenal ‘siklus’ berita – yang merupakan sebuah konsep yang menyatakan
adanya titik asal untuk setiap cerita dan bahwa berita beredar dalam sebuah pola dengan interval pada
tiap tahap dalam siklus tersebut.
•Sekarang kita hidup pada era yang dilingkupi berita. Cerita dan komentar dapat muncul dari siapa
saja, kapan saja, di mana saja. Berita dan informasi saling beririsan, berbenturan, dan menyatu secara
online dan offline. Pembuat konten profesional memperoleh informasi dari masyarakat, dan masyarakat
menyebarkan kembali konten profesional. Organisasi media massa menggunakan media sosial dan
media sosial menggunakan media massa. Pembuat konten profesional menggunakan media sosial, dan
non-profesional (para amatir atau masyarakat) menggunakan media sosial.
2.Keunggulan dan potensi adanya berita baru dalam media massa dan media sosial bervariasi dan
bergantung pada sejumlah faktor diantaranya:
•Skala berita - yaitu, peristiwa besar seperti pengunduran diri pemimpin politik dan bencana alam
biasanya diliput dengan baik oleh media massa dan menjadi fokus perhatian (=jumlah liputan media
massa tinggi);
•Hubungan dengan pejabat - yaitu, berita yang berasal dari pemerintah, lembaga-lembaga dan
perusahaan seperti pengumuman, penetapan, dll biasanya disodorkan ke media massa (=jumlah liputan
media massa tinggi);
• D
ekatnya jarak antara peristiwa terjadi dengan pusat-pusat media massa (yaitu, wartawan khusus seperti
bisnis, keuangan, IT, dll) (=jumlah liputan media massa tinggi);
• Tingkat pengaruh langsung pada masyarakat (=jumlah komentar media sosial yang tinggi);
• I su-isu ‘sleeper’ yang tidak memuat peristiwa tertentu, seperti meningkatnya kekhawatiran tentang
ekstraksi lapisan gas batubara, isu-isu lingkungan, tren-tren baru, dll (= jumlah liputan media massa
rendah hingga munculnya sebuah peristiwa seperti protes atau komentar dari orang penting; bisa
menjadi = liputan media sosial yang tinggi).
Point terakhir di atas memerlukan penelitian lebih lanjut, tetapi ada indikasi kuat bahwa, sementara
media massa terus mendominasi sebagian besar berita baru keseluruhan, media sosial mencerminkan
berbagai keprihatinan dan pandangan yang tidak dianggap ‘layak diberitakan’ oleh media massa sampai
mereka meluas dan meledak. Singkatnya, media massa dan sosial mungkin efektif dalam menceritakan
berbagai cerita dengan konteks yang berbeda.
KESIMPULAN
3.Kesimpulan sebelumnya menyatakan bahwa tidak lagi tepat untuk mengkategorikan isi berita
berdasarkan platform atau label tradisional. Pembuat konten berita mulai bekerja di semua platform.
Produser media yang disebut ‘massa’ dan ‘tradisional’ juga menggunakan media sosial sebagai sumber
berita dan menggunakan media social untuk menyebarkan berita mereka. Tidak ada lagi ruang media
yang terpisah. Pendekatan yang lebih tepat adalah melihat konten sebagai hasil kerja profesional atau
masyarakat biasa (istilah ‘pengguna’ juga tidak lagi relevan karena semua orang adalah pengguna
media dan informasi). Media menjadi semakin hibrid dan terintegrasi. Apakah penting membahas
melalui platform atau teknologi apa yang digunakan seseorang untuk berbicara? Tampaknya yang lebih
penting sekarang adalah mengetahui siapa yang berbicara dan apa yang mereka katakan, terlepas dari
kewenangan dan kredibilitas mereka.
4.Faktor lainnya yang penting untuk diperhatikan dalam kaitan dengan media sosial adalah audiens - baik
jumlah maupun hubungannya. Sementara terdapat data yang ektensif mengenai audiens media massa
(misalnya, statistik sirkulasi yang telah diaudit dan peringkat program siaran), jumlah audiens media
sosial seringkali kecil dibandingkan dengan media massa - misalnya, 97 persen dari pengguna Twitter
memiliki kurang dari 200 pengikut pada tahun 2012 dan pengguna Facebook rata-rata memiliki 200
teman di 2014. Maka jumlah berita dan siapa yang pertama, bukanlah hal yang penting; jangkauan
audiens dan kredibilitas merupakan faktor yang lebih penting dalam menganalisa dampak dari konten
media. Ini, digabungkan dengan poin sebelumnya, menunjukkan bahwa sumber, pesan dan analisa dari
audiens menjadi faktor yang paling penting, dibandingkan faktor menjadi yang pertama dan jumlah
berita.© 2014
FOOTNOTES
1.
Curran, J. (2010). Future of journalism. Journalism Studies, 11(4),
464–476. Also Macnamara, J. (2014). Journalism and PR: Unpacking
‘spin’, stereotypes and media myths. New York, NY: Peter Lang.
19. Meraz, S. (2009). Is there an elite hold: Traditional media to social
media agenda setting influence in blog networks. Journal of Computer
Media Communication, 14, 68 –706, p. 698.
2.
McKinsey. (2013). Evolution of the networked enterprise. McKinsey
& Company. Retrieved from https://www.mckinseyquarterly.com/
Evolution_of_the_networked_enterprise_McKinsey_Global_Survey_
results_3073
20. Newman, N. (2011).
3.
Barnes, N., Lescault, A., & Andonian, J. (2012). Social media surge
by the 2012 Fortune 500: Increase[d] used of blogs, Facebook,
Twitter and more. Retrieved from http://www.umassd.edu/cmr/
socialmedia/2012fortune500/
21. Leskovec, J., Backstrom L., & Kleinberg, J. (2009). Meme-tracking and
the dynamics of the news cycle. Proceedings of the 15th Association
for Computing Machinery (ACM) SIGKDD International Conference on
Knowledge Discovery and Data Mining, New York, NY, 497–506.
22. Cited in Berstrom, G. (2014). Are bloggers parasites on the mainstream
media: New study says blogs do mostly original reporting. About.com
Marketing. Retrieved from http://marketing.about.com/od/traditional_
social_media_roles/a/Are-Bloggers-Parasites-on-the-MainstreamMedia.htm
4.
IBM Software Group. (2011). The social business: Advent of a new age,
pp. 2, 5. Retrieved from http://www.ibm.com/smarterplanet/global/
files/us__en_us__socialbusiness__epw14008usen.pdf
5.
Bradley, A., & McDonald, M. (2011a). The social organization: How to
use social media to tap the collective genius of your customers and
employees. Boston, MA: Harvard Business Review Press, p. 5.
23. Pew Research Journalism Project. (2010). New media, old media:
How blogs and social media agendas relate and differ from the
traditional press. Washington, DC: Author. Retrieved from
http://www.journalism.org/2010/05/23/new-media-old-media
6.
Cellan-Jones, R. (2009, January 16). Twitter and a classic picture. BBC
News. Retrieved from http://www.bbc.co.uk/blogs/technology/2009/01/
twitter_and_a_classic_picture.html
24. Telofski, R. (2010). Insidious competition: The battle for meaning and
the corporate image. Bloomington, IN: The Kahuna Content Company.
7.
TMZ. (2009, June 25). Michael Jackson – Cardiac arrest. Retrieved
from http://www.tmz.com/2009/06/25/michael-jackson-rushed-to-thehospital
8.
Laird, S. (2012, April 18). How social media is taking over the news
industry, Mashable. Retrieved from http://mashable.com/2012/04/18/
social-media-and-the-news
9.
Murphy, S. (2012, February 12). Twitter breaks news of Whitney
Houston’s death 27 minutes before press. Mashable, para. 12.
Retrieved from http://mashable.com/2012/02/12/whitney-houstontwitter
10. Kelly, L. (2010, November 16). Prince Williams’ engagement news
comes courtesy of Twitter. The Washington Post, Celebritology
2.0. Retrieved from http://voices.washingtonpost.com/
celebritology/2010/11/prince_williams_big_news_comes.html
11. Ghonim, W. (2011, February 14). CNN Egyptian Wael Ghonim Facebook
to thank for freedom. CNN. Retrieved from http://www.facebook.com/
video/video.php?v=10150139218344853
12. Mitchell, A., Rosenstiel, T., & Christian, L. (2012). What Facebook
and Twitter mean for news. In The state of the news media 2012.
Washington DC: Pew Research Center Project for Excellence in
Journalism. Retrieved from http://stateofthemedia.org/2012/mobiledevices-and-news-consumption-some-good-signs-for-journalism/
what-facebook-and-twitter-mean-for-news/?src=prc-section
13. Enda, J., & Mitchell, A. (2013). Americans shows signs of leaving a
news outlet, citing less information. In The state of the news media
2013. Washington, DC: Pew Research Center Project for Excellence in
Journalism. Retrieved from http://stateofthemedia.org/2013/specialreports-landing-page/citing-reduced-quality-many-americansabandon-news-outlets
14. Sasseen, J., Olmstead, K., & Mitchell, A. (2013). Digital: As mobile
grows rapidly, the pressures on news intensify. In The state of the
news media 2013. Washington, DC: Pew Research Center Project
for Excellence in Journalism. Retrieved from http://stateofthemedia.
org/2013/digital-as-mobile-grows-rapidly-the-pressures-on-newsintensify
15. Newman, N. (2011). Mainstream media and the distribution of news
in the age of social discovery. Oxford, UK: Reuters Institute for the
Study of Journalism, University of Oxford, p. 6. Retrieved from https://
reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/fileadmin/documents/Publications/
Working_Papers/Mainstream_media_and_the_distribution_of_news_.pdf
16. Olmstead, K., Mitchell, A., & Rosenstiel, T. (2011). Facebook is
becoming increasingly important. In Navigating news online.
Washington, DC: Pew Research Journalism Project. Retrieved
from http://www.journalism.org/2011/05/09/facebook-becomingincreasingly-important
25. Vis, F. (2013). Twitter as a reporting tool for breaking news. Digital
Journalism, 1(1), 27–47.
26. Clare, J. (2012). Communicating clearly about science and medicine.
Farnham, Surrey, UK and Burlington, VT: Gower Publishing, p., 138.
27. Kotsopoulos, A. (2012, July 31). Message posted to Twitter, @
GrathiusXR. Retrieved from https://twitter.com/GrathiusXR
28. Fiandaca, C. (2013). Inside a crisis: The Boston Marathon
bombing. Paper presented to the Public Relations Institute of
Australia National Conference, November, 18. Adelaide, South
Australia. Also Sutton, J. (2013). Video. Gainesville, FL: Institute
for Public Relations. Retrieved from http://www.instituteforpr.
org/events/trustees-research-symposium/2013-2/?utm_
source=The+Sociology+of+Disaster+and+Social+Media&utm_
campaign=Sociology+of+Disaster+and+Social+Media&utm_
medium=email
29. Brunoli, N. (2013). Inside a crisis at #PRIA2013 national conference.
Sydney, NSW: Public Relations Institute of Australia. Retrieved from
https://www.pria.com.au/priablog/inside-a-crisis-at-pria2013national-conference
30. Clifford, S. (2009, April 15). Video prank at Domino’s taints brand. The
New York Times, Media & Advertising. Retrieved from http://www.
nytimes.com/2009/04/16/business/media/16dominos.html
31. Popken, B. (2011, August 18). Morton’s delivers man steak at airport
after he jokingly asks for one in a tweet. Consumerist blog. Retrieved
from http://consumerist.com/2011/08/18/mortons-delivers-mansteak-at-airport-after-he-jokingly-asks-for-one-in-a-tweet
32. Defren, T. (2007, February 5). The social media newsroom template
debuts: Download a copy today! PR-Squared. Retrieved from http://
www.pr-squared.com/index.php/2007/02/the_social_media_
newsroom_temp
33. Martin, S., & Hansen, K. (1998). Newspapers of record in a digital age:
From hot type to hot link. Westport, CT: Praeger.
34. Bartels, L. (1996, September). Politicians and the press. Who leads,
who follows? Paper presented to the annual meeting of the Americal
Political Science Association, San Francisco, CA. Also see Greenslade,
R. (2011, June 21). How newspapers, despite decline, still influence the
political process. The Guardian, Roy Greenslade blog. Retrieved from
http://www.theguardian.com/media/greenslade/2011/jun/21/nationalnewspapers-newspapers
35. Janda, M. (2014, April 15). Commonwealth Bank outage blamed on
network hardware failure. ABC News. Retrieved from http://www.abc.
net.au/news/2014-04-15/commonwealth-bank-customers-hit-byelectronic-banking-outage/5391366
17. Newman, N. (2011).
36. DigitalBuzz. (2010, May 12). Infographic: Twitter statistics, facts and
figures. Blog post. Author. Retrieved from http://www.digitalbuzzblog.
com/infographic-twitter-statistics-facts-figures
18. Goldman, A. 2008. The social epistemology of blogging. In J. van
den Hoven & J. Weckert (Eds.), Information technology and moral
philosophy (pp. 111–122). New York, NY: Cambridge University Press.
37. Kraut, R., & Resnick, P. (2011). Building successful online
communities: Evidence-based social design. Boston, MA:
Massachusetts Institute of Technology.
Fly UP