...

KMK No. 1405 ttg Persyaratan Kesehatan Lingkungan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

KMK No. 1405 ttg Persyaratan Kesehatan Lingkungan
KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 1405/MENKES/SK/XI/2002
TENTANG
PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA
PERKANTORAN DAN INDUSTRI
MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
Mengingat
:
bahwa untuk mencegah timbulnya gangguan kesehatan dan
pencemaran lingkungan di perkantoran dan industri, perlu
ditetapkan
Keputusan
Menteri
Kesehatan
tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan
Industri;
1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
(Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3495);
2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor
68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699);
3. Undang-undang
Nomor
22
Tahun
1999
tentang
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999
Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang
Tenaga Kesehatan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor
49, tambahan Lembaran Negara Nomor 3637);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
(Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 31, Tambahan
Lembaran Negara Nomor 3815);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang
Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai
Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pembinaan dan Pengawasan atas Penyelenggaraan
Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001
Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pencemaran Air (Lembaran
Negara Tahun 2001 Nomor 153, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4161);
9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1277/Menkes/SK/
XI/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen
Kesehatan;
1
10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 907/Menkes/ SK/VII/
2002 tentang Syarat-syarat Dan Pengawasan Kualitas Air
Minum;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
:
Pertama
:
KEPUTUSAN
MENTERI
KESEHATAN
TENTANG
PERSYARATAN KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA
PERKANTORAN DAN INDUSTRI.
Kedua
:
Persyaratan kesehatan lingkungan kerja perkantoran dan
industri meliputi : persyaratan air, udara, limbah,
pencahayaan, kebisingan, getaran, radiasi, vektor penyakit,
persyaratan kesehatan lokasi, ruang dan bangunan, toilet
dan instalasi.
Ketiga
:
Persyaratan dan tata cara penyelenggaraan kesehatan
lingkungan kerja perkantoran dan industri sebagaimana
dimaksud dalam diktum kedua tercantum dalam Lampiran I
dan II Keputusan ini.
Keempat
:
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan
pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan
Keputusan ini.
Kelima
:
Dengan ditetapkannya Keputusan ini, maka Keputusan
Menteri Kesehatan Nomor 261/Menkes/SK/II/1998 tentang
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja dinyatakan tidak
berlaku lagi.
Keenam
:
Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal 19 Nopember 2002
MENTERI KESEHATAN,
ttd
Dr. Achmad Sujudi
2
Lampiran I
Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor : 1405/Menkes/SK/XI/2002
Tanggal : 19 Nopember 2002
PERSYARATAN DAN TATA CARA PENYELENGGARAAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN
I. UMUM
1. Pimpinan satuan kerja/unit perkantoran bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan penyehatan lingkungan kerja perkantoran.
2. Dalam melaksanakan tugas tersebut Pimpinan perkantoran dapat
menunjuk seorang petugas atau membentuk satuan kerja/unit organisasi
yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang kesehatan lingkungan
kerja.
3. Petugas atau satuan kerja/unit organisasi yang ditunjuk untuk
menyelenggarakan kesehatan lingkungan kerja perkantoran harus
melaksanakan tahap-tahap kegiatan, meliputi antara lain :
a. Menyusun rencana/program kerja tahunan penyehatan lingkungan
kerja perkantoran yang merupakan bagian dari rencana/program kerja
perkantoran secara keseluruhan.
b. Menyusun
rencana
pelaksanaan
kegiatan
berdasarkan
rencana/program kerja tahunan yang meliputi :
1). Jenis kegiatan yang akan dilaksanakan
2). Sasaran/target tiap jenis kegiatan
3). Jadwal pelaksanaan kegiatan
4). Tenaga atau satuan kerja/unit organisasi yang akan
melaksanakan kegiatan.
5). Peralatan, bahan atau sarana yang diperlukan
(jenis dan jumlah)
6). Pembiayaan untuk tiap jenis kegiatan
7). Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan
8). Pencatatan dan pelaporan.
4. Petugas atau satuan kerja/unit organisasi yang ditunjuk untuk
menyelenggarakan penyehatan lingkungan kerja perkantoran wajib
melaksanakan penilaian/telaah hasil-hasil kegiatan penyehatan lingkungan
kerja dan merumuskan alternatif pemecahan masalah, apabila terdapat
hambatan atau terjadi penurunan mutu kesehatan lingkungan kerja.
5. Dalam menyelenggarakan penyehatan lingkungan kerja perkantoran,
Pimpinan satuan kerja/unit perkantoran dapat memanfaatkan pihak ketiga
untuk melaksanakan kegiatan kesehatan lingkungan kerja.
3
6. Pihak ketiga harus berbentuk Badan
lingkungan kerja perkantoran yang diakui.
Hukum
Usaha
penyehatan
7. Badan Hukum yang bidang usahanya menyelenggarakan penyehatan
lingkungan kerja perkantoran, harus mempekerjakan tenaga kesehatan
lingkungan yang memiliki pendidikan sekurang-kurangnya Diploma I atau
telah mengikuti pelatihan dari instansi yang berwenang.
8. Biaya penyelenggaraan penyehatan lingkungan kerja perkantoran menjadi
tanggung jawab perkantoran.
II.
AIR BERSIH
A. Persyaratan
Kualitas air bersih memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan
fisika, kimia, mikrobiologi dan radioaktif sesuai dengan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Air bersih adalah air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari
dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat
diminum apabila dimasak.
2. Tata cara pelaksanaan
1) Air bersih untuk keperluan perkantoran dapat diperoleh dari
Perusahaan Air Minum, sumber air tanah atau sumber lain yang
telah diolah sehingga memenuhi persyaratan kesehatan.
2) Tersedia air bersih untuk kebutuhan karyawan sesuai dengan
persyaratan kesehatan.
3) Distribusi air bersih untuk perkantoran harus menggunakan sistim
perpipaan.
4) Sumber air bersih dan sarana distribusinya harus bebas dari
pencemaran fisik, kimia dan bakteriologis.
5) Dilakukan pengambilan sampel air bersih pada sumber, bak
penampungan dan pada kran terjauh untuk diperiksakan di
laboratorium minimal 2 kali setahun, yaitu musim kemarau dan
musim hujan.
III. UDARA RUANGAN
A. Persyaratan
1. Suhu dan kelembaban
Suhu
: 18 – 28 0C
Kelembaban
: 40 % - 60 %
4
2. Debu
Kandungan debu maksimal didalam udara ruangan
pengukuran rata-rata 8 jam adalah sebagai berikut :
No.
JENIS DEBU
1.
Debu total
2.
Asbes bebas
dalam
KONSENTRASI
MAKSIMAL
0,15 mg/m3
5 serat/ml udara dengan
panjang serat 5 u
(Mikron)
3. Pertukaran udara : 0,283 M3/menit/orang dengan laju ventilasi : 0,15 –
0,25 m/detik. Untuk ruangan kerja yang tidak menggunakan pendingan
harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan
menerapkan sistim ventilasi silang.
4. Gas pencemar
Kandungan gas pencemar dalam ruang kerja, dalam rata-rata
pengukuran 8 jam sebagai berikut :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
PARAMETER
Asam Sulfida (H2S)
Amonia (NH3)
Karbon Monoksida (CO)
Nitrogen Dioksida (NO2)
Sulfur Dioksida (SO2)
KONSENTRASI
MAKSIMAL
(mg/m3)
ppm
1
17
25
29
25
5,60
3,0
5,2
2
5. Mikrobiologi
Angka kuman kurang dari 700 koloni/m3 udara
Bebas kuman patogen
B. Tata Cara
1. Pengertian
Penyehatan udara ruang adalah upaya yang dilakukan agar suhu dan
kelembaban, debu, pertukaran udara, bahan pencemar dan mikroba
di ruang kerja memenuhi persyaratan kesehatan.
2. Tata cara pelaksanaan
1) Suhu dan kelembaban
Agar ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan
perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
a) Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
b) Bila suhu udara > 28 0C perlu menggunakan alat penata
udara seperti Air Conditioner (AC), kipas angin, dll.
5
c) Bila suhu udara luar < 18 0C perlu menggunakan
pemanas ruang.
d) Bila kelembaban udara ruang kerja > 60 % perlu
menggunakan alat dehumidifier.
e) Bila kelmbaban udara ruang kerja < 40 % perlu
menggunakan humidifier (misalnya : mesin pembentuk
aerosol).
2) Debu
Agar kandungan debu di dalam udara ruang kerja perkantoran
memenuhi persyaratan kesehatan maka perlu dilakukan upayaupaya sebagai berikut :
a) Kegiatan membersihkan ruang kerja perkantoran dilakukan pada
pagi dan sore hari dengan menggunakan kain pel basah atau
pompa hampa (vacuum pump).
b) Pembersihan dinding dilakukan secara periodik 2 kali/tahun dan
dicat ulang 1 kali setahun.
c) Sistem ventilasi yang memenuhi syarat.
3) Pertukaran udara
Agar pertukaran udara ruang perkantoran dapat berjalan dengan
baik maka perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
a) Untuk ruangan kerja yang tidak ber AC harus memiliki lubang
ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan menerapkan
sistem ventilasi silang.
b) Ruang yang menggunakan AC secara periodik harus dimatikan
dan diupayakan mendapat pergantian udara secara alamiah
dengan cara membuka seluruh pintu dan jendela atau dengan
kipas angin.
c) Membersihkan saringan/filter udara AC secara periodik sesuai
ketentuan pabrik.
4) Gas pencemar
Agar kandungan gas pencemar dalam udara ruang kerja
perkantoran tidak melebihi konsentrasi maksimum perlu dilakukan
tindakan-tindakan sebagai berikut :
a) Pertukaran udara ruang diupayakan dapat berjalan dengan baik.
b) Ruang kerja tidak berhubungan langsung dengan dapur.
c) Dilarang merokok didalam ruang kerja.
d) Tidak menggunakan bahan bangunan yang mengeluarkan bau
yang menyengat.
5) Mikroba
Agar angka kuman di dalam udara ruang tidak melebihi batas
persyaratan maka perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai
berikut :
a) Karyawan yang sedang menderita penyakit yang ditularkan
melalui udara untuk sementara waktu tidak boleh berkerja.
b) Lantai dibersihkan dengan antiseptik.
c) Memelihara sistem ventilasi agar berfungsi dengan baik.
6
d) Memelihara sistem AC sentral.
IV. LIMBAH
A. Persyaratan
1. Limbah padat/sampah
a. Setiap perkantoran harus dilengkapi dengan tempat sampah dari
bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya serta
dilengkapi dengan penutup.
b. Sampah kering dan sampah basah ditampung dalam tempat sampah
yang terpisah.
c. Tersedia tempat pengumpulan sampah sementara yang memenuhi
syarat
2. Limbah cair
Kualitas efluen harus memenuhi syarat sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
B. Tata Cara
1.Pengertian
a. Limbah padat adalah semua buangan yang berbentuk padat
termasuk buangan yang berasal dari kegiatan perkantoran.
b. Limbah cair adalah semua buangan yang berbentuk cair termasuk
tinja.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Limbah padat
1) Membersihkan ruang dan lingkungan perkantoran minimal 2 kali
sehari
2) Mengumpulkan sampah kering dan basah pada tempat yang
berlainan dengan menggunakan kantong plastik warna hitam.
3) Mengamankan limbah padat sisa kegiatan perkantoran.
b. Limbah cair
1) Saluran limbah cair harus kedap air, tertutup, limbah cair dapat
mengalir dengan lancar dan tidak menimbulkan bau.
2) Semua limbah cair harus dilakukan pengolahan lebih dahulu
sebelum dibuang ke lingkungan minimal dengan tengki septik.
V. PENCAHAYAAN DI RUANGAN
A. Persyaratan
Intensitas cahaya di ruang kerja minimal 100 lux.
7
B. Tata Cara
1. Pengertian
Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar pencahayaan memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan
tindakan sebagai berikut :
1) Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak
menimbulkan kesilauan dan memilki intensitas sesuai dengan
peruntukannya.
2) Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang
optimum dan bola lampu sering dibersihkan.
3) Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik segera diganti.
VI. KEBISINGAN DI RUANGAN
A. Persyaratan
Tingkat kebisingan di ruang kerja maksimal 85 dBA
B. Tata Cara
1. Pengertian
Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga
mengganggu atau membahayakan kesehatan.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan
perlu diambil tindakan sebagai berikut :
1) Pengaturan tata letak ruang harus sedemikian rupa agar tidak
menimbulkan kebisingan.
2) Sumber bising dapat dikendalikan dengan cara antara lain :
meredam, menyekat, pemindahan, pemeliharaan, penanaman
pohon, membuat bukit buatan, dan lain-lain.
VII.GETARAN DI RUANGAN
A. Persyaratan
Tingkat getaran maksimal untuk kenyamanan dan kesehatan karyawan
harus memenuhi syarat sebagai berikut :
No.
FREKUENSI
1
2
3
4
5
6,3
TINGKAT GETARAN
MAKSIMAL
(dalam mikron = 10 –6 M)
< 100
< 80
< 70
8
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
8
10
12,5
16
20
25
31,5
40
50
63
< 50
< 37
< 32
< 25
< 20
< 17
< 12
< 9
< 8
< 6
B. Tata Cara
1. Pengertian
Getaran adalah gerakan bolak balik suatu massa melalui keadaan
seimbang terhadap suatu titik acuan.
Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan
peralatan kegiatan manusia.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar getaran tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan perlu
diambil tindakan sebagai berikut :
a. Melengkapi ruang kerja dengan peredam getar.
b. Memperbaiki/memelihara sistem penahan getaran.
c. Mengurangi getaran pada sumber, misalnya dengan memberi
bantalan pada sumber getaran.
VIII.RADIASI DI RUANGAN
A. Persyaratan
Tingkat radiasi medan listrik dan medan magnit listrik di tempat kerja
adalah sebagai berikut :
1. Medan listrik :
a. Sepanjang hari kerja : maksimal 10 kV/m.
b. Waktu singkat sampai dengan 2 jam per hari maksimal 30 kV/m.
2. Medan magnit listrik :
a. Sepanjang hari kerja : maksimal 0,5 mT (mili Tesla).
b. Waktu singkat sampai dengan 2 jam per hari : 5 mT
B. Tata Cara
1. Pengertian
a. Radiasi adalah emisi energi yang dilepas dari bahan atau alat
radiasi.
b. Medan listrik adalah radiasi non pengion yang berasal dari kabel
benda yang bermuatan listrik.
c. Medan magnet listrik adalah radiasi non pengion yang berasal dari
kabel antara dua tegangan listrik yang dialiri oleh arus listrik.
9
2. Tata cara pelaksanaan
a. Pencegahan terhadap radiasi medan listrik
1) Merancang instalasi sesuai dengan Peraturan Umum Instalasi
Listrik (PUIL).
2) Menyediakan alat pelindung (isolasi) radiasi pada sumber.
b. Pencegahan terhadap radiasi medan magnet listrik :
Lokasi perkantoran jauh/tidak berada dibawah Saluran Udara
Tegangan Tinggi (SUT) atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi
(SUTET), jarak vertikal bangunan dari sumber maksimal 10 m dan
jarak horisontal minimal 30 m.
IX. VEKTOR PENYAKIT
A. Persyaratan
1. Serangga penular penyakit
a. Indeks lalat : maksimal 8 ekor/fly grill (100 x 100 cm) dalam
pengukuran 30 menit.
b. Indeks kecoa : maksimal 2 ekor/plate (20 x 20 cm) dalam
pengukuran 24 jam.
c. Indeks nyamuk Aedes aegypti : container indeks tidak melebihi 5%.
2. Tikus
Setiap ruang kantor harus bebas tikus.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Vektor penyakit adalah binatang yang dapat menjadi perantara penular
berbagai penyakit tertentu (misalnya serangga).
a. Reservoar (penjamu) penyakit adalah binatang yang didalam
tubuhnya terdapat kuman penyakit yang dapat ditularkan kepada
manusia (misalnya tikus).
b. Pengendalian vektor penyakit adalah segala upaya untuk mencegah
dan memberantas vektor.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Pengendalian secara fisika
1) Konstruksi bangunan tidak memungkinkan masuk dan
berkembang biaknya vektor dan reservoar penyakit kedalam
ruang kerja dengan memasang alat yang dapat mencegah
masuknya serangga dan tikus.
2) Menjaga kebersihan lingkungan, sehingga tidak terjadi
penumpukan sampah dan sisa makanan.
3) Pengaturan peralatan dan arsip secara teratur.
4) Meniadakan tempat perindukan serangga dan tikus.
10
b. Pengendalian dengan bahan kimia yaitu dengan melakukan
penyemprotan, pengasapan, memasang umpan, membubuhkan
abate pada tempat penampungan air bersih.
c. Pengendalian penjamu dengan listrik frekwensi tinggi.
d. Cara mekanik dengan memasang perangkap.
X. RUANG DAN BANGUNAN
Persyaratan
1. Bangunan kuat, terpelihara, bersih dan tidak memungkinkan terjadinya
gangguan kesehatan dan kecelakaan.
2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak
licin dan bersih.
3. Setiap karyawan mendapatkan ruang udara minimal 10 m3/ karyawan.
4. Dinding bersih dan berwarna terang, permukaan dinding yang selalu
terkena percikan air terbuat dari bahan yang kedap air.
5. Langit-langit kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal 2,50 m
dari lantai.
6. Atap kuat dan tidak bocor.
7. Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya
minimal 1/6 kali luas lantai.
XI.TOILET
Persyaratan
1. Toilet karyawan wanita terpisah dengan toilet untuk karyawan pria.
2. Setiap kantor harus memiliki toilet dengan jumlah wastafel, jamban dan
peturasan minimal seperti pada tabel-tabel berikut :
a. Untuk karyawan pria :
No
JUMLAH
KARYAWAN
1
2
3
S/d 25
26 s/d 50
51 s/d 100
JUMLAH
JUMLAH
JUMLAH
JUMLAH
KAMAR
JAMBAN PETURASAN WASTAFEL
MANDI
1
1
2
2
2
2
3
3
3
3
5
5
Setiap penambahan 40-100 karyawan harus ditambah
satu kamar mandi, satu jamban, dan satu peturasan
b. Untuk karyawan wanita :
No
JUMLAH
KARYAWAN
1
2
3
S/d 20
21 s/d 40
41 s/d 70
JUMLAH
KAMAR
MANDI
1
2
3
11
JUMLAH
JAMBAN
JUMLAH
WASTAFEL
1
2
3
2
3
5
4
5
6
XII.
71 s/d 100
101 s/d 140
141 s/d 180
4
4
6
5
5
7
6
6
8
Setiap penambahan 40-100 karyawan harus
ditambah satu kamar mandi, satu jamban, dan satu
peturasan
INSTALASI
A. Persyaratan
1. Instalasi listrik, pemadam kebakaran, air bersih, air kotor, air limbah, air
hujan harus dapat menjamin keamanan sesuai dengan ketentuan
teknis yang berlaku.
2. Bangunan kantor yang lebih tinggi dari 10 meter atau lebih tinggi dari
bangunan lain disekitarnya harus dilengkapi dengan penangkal petir.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Instalasi adalah penjaringan pipa/kabel untuk fasilitas listrik, air limbah,
air bersih, telepon dan lain-lain yang diperlukan untuk menunjang
kegiatan industri.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Instalasi untuk masing-masing peruntukan sebaiknya menggunakan
kode warna dan label.
b. Diupayakan agar tidak terjadi hubungan silang dan aliran balik
antara jaringan distribusi air limbah dengan air berrsih sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
c. Jaringan Instalasi agar ditata sedemikian rupa agar memenuhi
syarat estetika.
d. Jaringan Instalasi tidak menjadi tempat perindukan serangga dan
tikus.
MENTERI KESEHATAN,
ttd
Dr. Achmad Sujudi
12
Lampiran I
Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor : 1405/Menkes/SK/XI/2002
Tanggal : 19 Nopember 2002
PERSYARATAN DAN TATA CARA PENYELENGGARAAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA PERKANTORAN
I. UMUM
9. Pimpinan satuan kerja/unit perkantoran bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan penyehatan lingkungan kerja perkantoran.
10. Dalam melaksanakan tugas tersebut Pimpinan perkantoran dapat
menunjuk seorang petugas atau membentuk satuan kerja/unit organisasi
yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang kesehatan lingkungan
kerja.
11. Petugas atau satuan kerja/unit organisasi yang ditunjuk untuk
menyelenggarakan kesehatan lingkungan kerja perkantoran harus
melaksanakan tahap-tahap kegiatan, meliputi antara lain :
a. Menyusun rencana/program kerja tahunan penyehatan lingkungan
kerja perkantoran yang merupakan bagian dari rencana/program kerja
perkantoran secara keseluruhan.
b. Menyusun
rencana
pelaksanaan
kegiatan
berdasarkan
rencana/program kerja tahunan yang meliputi :
1). Jenis kegiatan yang akan dilaksanakan
2). Sasaran/target tiap jenis kegiatan
3). Jadwal pelaksanaan kegiatan
4). Tenaga atau satuan kerja/unit organisasi yang akan
melaksanakan kegiatan.
5). Peralatan, bahan atau sarana yang diperlukan
(jenis dan jumlah)
6). Pembiayaan untuk tiap jenis kegiatan
7). Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan
8). Pencatatan dan pelaporan.
12. Petugas atau satuan kerja/unit organisasi yang ditunjuk untuk
menyelenggarakan penyehatan lingkungan kerja perkantoran wajib
melaksanakan penilaian/telaah hasil-hasil kegiatan penyehatan lingkungan
kerja dan merumuskan alternatif pemecahan masalah, apabila terdapat
hambatan atau terjadi penurunan mutu kesehatan lingkungan kerja.
13. Dalam menyelenggarakan penyehatan lingkungan kerja perkantoran,
Pimpinan satuan kerja/unit perkantoran dapat memanfaatkan pihak ketiga
untuk melaksanakan kegiatan kesehatan lingkungan kerja.
13
14. Pihak ketiga harus berbentuk Badan
lingkungan kerja perkantoran yang diakui.
Hukum
Usaha
penyehatan
15. Badan Hukum yang bidang usahanya menyelenggarakan penyehatan
lingkungan kerja perkantoran, harus mempekerjakan tenaga kesehatan
lingkungan yang memiliki pendidikan sekurang-kurangnya Diploma I atau
telah mengikuti pelatihan dari instansi yang berwenang.
16. Biaya penyelenggaraan penyehatan lingkungan kerja perkantoran menjadi
tanggung jawab perkantoran.
II.
AIR BERSIH
A. Persyaratan
Kualitas air bersih memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan
fisika, kimia, mikrobiologi dan radioaktif sesuai dengan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Air bersih adalah air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari
dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dapat
diminum apabila dimasak.
2. Tata cara pelaksanaan
1) Air bersih untuk keperluan perkantoran dapat diperoleh dari
Perusahaan Air Minum, sumber air tanah atau sumber lain yang
telah diolah sehingga memenuhi persyaratan kesehatan.
2) Tersedia air bersih untuk kebutuhan karyawan sesuai dengan
persyaratan kesehatan.
3) Distribusi air bersih untuk perkantoran harus menggunakan sistim
perpipaan.
4) Sumber air bersih dan sarana distribusinya harus bebas dari
pencemaran fisik, kimia dan bakteriologis.
5) Dilakukan pengambilan sampel air bersih pada sumber, bak
penampungan dan pada kran terjauh untuk diperiksakan di
laboratorium minimal 2 kali setahun, yaitu musim kemarau dan
musim hujan.
III. UDARA RUANGAN
A. Persyaratan
1. Suhu dan kelembaban
- Suhu
: 18 – 28 0C
14
-
Kelembaban : 40 % - 60 %
2. Debu
Kandungan debu maksimal didalam udara ruangan
pengukuran rata-rata 8 jam adalah sebagai berikut :
No.
JENIS DEBU
1.
Debu total
2.
Asbes bebas
dalam
KONSENTRASI
MAKSIMAL
0,15 mg/m3
5 serat/ml udara dengan
panjang serat 5 u
(Mikron)
3. Pertukaran udara : 0,283 M3/menit/orang dengan laju ventilasi : 0,15 –
0,25 m/detik. Untuk ruangan kerja yang tidak menggunakan pendingan
harus memiliki lubang ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan
menerapkan sistim ventilasi silang.
4. Gas pencemar
Kandungan gas pencemar dalam ruang kerja, dalam rata-rata
pengukuran 8 jam sebagai berikut :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
PARAMETER
Asam Sulfida (H2S)
Amonia (NH3)
Karbon Monoksida (CO)
Nitrogen Dioksida (NO2)
Sulfur Dioksida (SO2)
KONSENTRASI
MAKSIMAL
(mg/m3)
ppm
1
17
25
29
25
5,60
3,0
5,2
2
5. Mikrobiologi
- Angka kuman kurang dari 700 koloni/m3 udara
- Bebas kuman patogen
B. Tata Cara
1. Pengertian
Penyehatan udara ruang adalah upaya yang dilakukan agar suhu dan
kelembaban, debu, pertukaran udara, bahan pencemar dan mikroba
di ruang kerja memenuhi persyaratan kesehatan.
2. Tata cara pelaksanaan
1) Suhu dan kelembaban
Agar ruang kerja perkantoran memenuhi persyaratan kesehatan
perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
f) Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m.
15
g) Bila suhu udara > 28 0C perlu menggunakan alat penata udara
seperti Air Conditioner (AC), kipas angin, dll.
h) Bila suhu udara luar < 18 0C perlu menggunakan pemanas
ruang.
i) Bila kelembaban udara ruang kerja > 60 % perlu menggunakan
alat dehumidifier.
j) Bila kelmbaban udara ruang kerja < 40 % perlu menggunakan
humidifier (misalnya : mesin pembentuk aerosol).
6) Debu
Agar kandungan debu di dalam udara ruang kerja perkantoran
memenuhi persyaratan kesehatan maka perlu dilakukan upayaupaya sebagai berikut :
d) Kegiatan membersihkan ruang kerja perkantoran dilakukan pada
pagi dan sore hari dengan menggunakan kain pel basah atau
pompa hampa (vacuum pump).
e) Pembersihan dinding dilakukan secara periodik 2 kali/tahun dan
dicat ulang 1 kali setahun.
f) Sistem ventilasi yang memenuhi syarat.
7) Pertukaran udara
Agar pertukaran udara ruang perkantoran dapat berjalan dengan
baik maka perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
d) Untuk ruangan kerja yang tidak ber AC harus memiliki lubang
ventilasi minimal 15% dari luas lantai dengan menerapkan
sistem ventilasi silang.
e) Ruang yang menggunakan AC secara periodik harus dimatikan
dan diupayakan mendapat pergantian udara secara alamiah
dengan cara membuka seluruh pintu dan jendela atau dengan
kipas angin.
f) Membersihkan saringan/filter udara AC secara periodik sesuai
ketentuan pabrik.
8) Gas pencemar
Agar kandungan gas pencemar dalam udara ruang kerja
perkantoran tidak melebihi konsentrasi maksimum perlu dilakukan
tindakan-tindakan sebagai berikut :
e) Pertukaran udara ruang diupayakan dapat berjalan dengan baik.
f) Ruang kerja tidak berhubungan langsung dengan dapur.
g) Dilarang merokok didalam ruang kerja.
h) Tidak menggunakan bahan bangunan yang mengeluarkan bau
yang menyengat.
9) Mikroba
Agar angka kuman di dalam udara ruang tidak melebihi batas
persyaratan maka perlu dilakukan beberapa tindakan sebagai
berikut :
e) Karyawan yang sedang menderita penyakit yang ditularkan
melalui udara untuk sementara waktu tidak boleh berkerja.
f) Lantai dibersihkan dengan antiseptik.
g) Memelihara sistem ventilasi agar berfungsi dengan baik.
16
h) Memelihara sistem AC sentral.
IV. LIMBAH
A. Persyaratan
1. Limbah padat/sampah
d. Setiap perkantoran harus dilengkapi dengan tempat sampah dari
bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya serta
dilengkapi dengan penutup.
e. Sampah kering dan sampah basah ditampung dalam tempat
sampah yang terpisah.
f. Tersedia tempat pengumpulan sampah sementara yang memenuhi
syarat
2. Limbah cair
Kualitas efluen harus memenuhi syarat sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
B. Tata Cara
1.Pengertian
a. Limbah padat adalah semua buangan yang berbentuk padat
termasuk buangan yang berasal dari kegiatan perkantoran.
b. Limbah cair adalah semua buangan yang berbentuk cair termasuk
tinja.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Limbah padat
4) Membersihkan ruang dan lingkungan perkantoran minimal 2 kali
sehari
5) Mengumpulkan sampah kering dan basah pada tempat yang
berlainan dengan menggunakan kantong plastik warna hitam.
6) Mengamankan limbah padat sisa kegiatan perkantoran.
b. Limbah cair
3) Saluran limbah cair harus kedap air, tertutup, limbah cair dapat
mengalir dengan lancar dan tidak menimbulkan bau.
4) Semua limbah cair harus dilakukan pengolahan lebih dahulu
sebelum dibuang ke lingkungan minimal dengan tengki septik.
V. PENCAHAYAAN DI RUANGAN
A. Persyaratan
Intensitas cahaya di ruang kerja minimal 100 lux.
17
B. Tata Cara
1. Pengertian
Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar pencahayaan memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan
tindakan sebagai berikut :
1) Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak
menimbulkan kesilauan dan memilki intensitas sesuai dengan
peruntukannya.
2) Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang
optimum dan bola lampu sering dibersihkan.
3) Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik segera diganti.
VI. KEBISINGAN DI RUANGAN
A. Persyaratan
Tingkat kebisingan di ruang kerja maksimal 85 dBA
B. Tata Cara
1. Pengertian
Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga
mengganggu atau membahayakan kesehatan.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan
perlu diambil tindakan sebagai berikut :
1) Pengaturan tata letak ruang harus sedemikian rupa agar tidak
menimbulkan kebisingan.
2) Sumber bising dapat dikendalikan dengan cara antara lain :
meredam, menyekat, pemindahan, pemeliharaan, penanaman
pohon, membuat bukit buatan, dan lain-lain.
VII.GETARAN DI RUANGAN
A. Persyaratan
Tingkat getaran maksimal untuk kenyamanan dan kesehatan karyawan
harus memenuhi syarat sebagai berikut :
No.
FREKUENSI
1
2
4
5
TINGKAT GETARAN
MAKSIMAL
(dalam mikron = 10 –6 M)
< 100
< 80
18
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
6,3
8
10
12,5
16
20
25
31,5
40
50
63
< 70
< 50
< 37
< 32
< 25
< 20
< 17
< 12
< 9
< 8
< 6
B. Tata Cara
1. Pengertian
Getaran adalah gerakan bolak balik suatu massa melalui keadaan
seimbang terhadap suatu titik acuan.
Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana dan
peralatan kegiatan manusia.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar getaran tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan perlu
diambil tindakan sebagai berikut :
a. Melengkapi ruang kerja dengan peredam getar.
b. Memperbaiki/memelihara sistem penahan getaran.
c. Mengurangi getaran pada sumber, misalnya dengan memberi
bantalan pada sumber getaran.
VIII.RADIASI DI RUANGAN
A. Persyaratan
Tingkat radiasi medan listrik dan medan magnit listrik di tempat kerja
adalah sebagai berikut :
3. Medan listrik :
c. Sepanjang hari kerja : maksimal 10 kV/m.
d. Waktu singkat sampai dengan 2 jam per hari maksimal 30 kV/m.
4. Medan magnit listrik :
c. Sepanjang hari kerja : maksimal 0,5 mT (mili Tesla).
d. Waktu singkat sampai dengan 2 jam per hari : 5 mT
B. Tata Cara
1. Pengertian
a. Radiasi adalah emisi energi yang dilepas dari bahan atau alat
radiasi.
b. Medan listrik adalah radiasi non pengion yang berasal dari kabel
benda yang bermuatan listrik.
c. Medan magnet listrik adalah radiasi non pengion yang berasal dari
kabel antara dua tegangan listrik yang dialiri oleh arus listrik.
19
2. Tata cara pelaksanaan
a. Pencegahan terhadap radiasi medan listrik
3) Merancang instalasi sesuai dengan Peraturan Umum Instalasi
Listrik (PUIL).
4) Menyediakan alat pelindung (isolasi) radiasi pada sumber.
b. Pencegahan terhadap radiasi medan magnet listrik :
Lokasi perkantoran jauh/tidak berada dibawah Saluran Udara
Tegangan Tinggi (SUT) atau Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi
(SUTET), jarak vertikal bangunan dari sumber maksimal 10 m dan
jarak horisontal minimal 30 m.
IX. VEKTOR PENYAKIT
A. Persyaratan
1. Serangga penular penyakit
a. Indeks lalat : maksimal 8 ekor/fly grill (100 x 100 cm) dalam
pengukuran 30 menit.
b. Indeks kecoa : maksimal 2 ekor/plate (20 x 20 cm) dalam
pengukuran 24 jam.
c. Indeks nyamuk Aedes aegypti : container indeks tidak melebihi 5%.
2. Tikus
Setiap ruang kantor harus bebas tikus.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Vektor penyakit adalah binatang yang dapat menjadi perantara penular
berbagai penyakit tertentu (misalnya serangga).
a. Reservoar (penjamu) penyakit adalah binatang yang didalam
tubuhnya terdapat kuman penyakit yang dapat ditularkan kepada
manusia (misalnya tikus).
b. Pengendalian vektor penyakit adalah segala upaya untuk mencegah
dan memberantas vektor.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Pengendalian secara fisika
5) Konstruksi bangunan tidak memungkinkan masuk dan
berkembang biaknya vektor dan reservoar penyakit kedalam
ruang kerja dengan memasang alat yang dapat mencegah
masuknya serangga dan tikus.
6) Menjaga kebersihan lingkungan, sehingga tidak terjadi
penumpukan sampah dan sisa makanan.
7) Pengaturan peralatan dan arsip secara teratur.
8) Meniadakan tempat perindukan serangga dan tikus.
20
b. Pengendalian dengan bahan kimia yaitu dengan melakukan
penyemprotan, pengasapan, memasang umpan, membubuhkan
abate pada tempat penampungan air bersih.
c. Pengendalian penjamu dengan listrik frekwensi tinggi.
d. Cara mekanik dengan memasang perangkap.
X. RUANG DAN BANGUNAN
Persyaratan
8. Bangunan kuat, terpelihara, bersih dan tidak memungkinkan terjadinya
gangguan kesehatan dan kecelakaan.
9. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak
licin dan bersih.
10. Setiap karyawan mendapatkan ruang udara minimal 10 m3/ karyawan.
11. Dinding bersih dan berwarna terang, permukaan dinding yang selalu
terkena percikan air terbuat dari bahan yang kedap air.
12. Langit-langit kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal 2,50 m
dari lantai.
13. Atap kuat dan tidak bocor.
14. Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya
minimal 1/6 kali luas lantai.
XI.TOILET
Persyaratan
3. Toilet karyawan wanita terpisah dengan toilet untuk karyawan pria.
4. Setiap kantor harus memiliki toilet dengan jumlah wastafel, jamban dan
peturasan minimal seperti pada tabel-tabel berikut :
a. Untuk karyawan pria :
No
JUMLAH
KARYAWAN
1
2
3
S/d 25
26 s/d 50
51 s/d 100
JUMLAH
JUMLAH
JUMLAH
JUMLAH
KAMAR
JAMBAN PETURASAN WASTAFEL
MANDI
1
1
2
2
2
2
3
3
3
3
5
5
Setiap penambahan 40-100 karyawan harus ditambah
satu kamar mandi, satu jamban, dan satu peturasan
b. Untuk karyawan wanita :
No
JUMLAH
KARYAWAN
1
2
3
S/d 20
21 s/d 40
41 s/d 70
JUMLAH
KAMAR
MANDI
1
2
3
21
JUMLAH
JAMBAN
JUMLAH
WASTAFEL
1
2
3
2
3
5
4
5
6
XII.
71 s/d 100
101 s/d 140
141 s/d 180
4
4
6
5
5
7
6
6
8
Setiap penambahan 40-100 karyawan harus
ditambah satu kamar mandi, satu jamban, dan satu
peturasan
INSTALASI
A. Persyaratan
3. Instalasi listrik, pemadam kebakaran, air bersih, air kotor, air limbah, air
hujan harus dapat menjamin keamanan sesuai dengan ketentuan
teknis yang berlaku.
4. Bangunan kantor yang lebih tinggi dari 10 meter atau lebih tinggi dari
bangunan lain disekitarnya harus dilengkapi dengan penangkal petir.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Instalasi adalah penjaringan pipa/kabel untuk fasilitas listrik, air limbah,
air bersih, telepon dan lain-lain yang diperlukan untuk menunjang
kegiatan industri.
2. Tata cara pelaksanaan
e. Instalasi untuk masing-masing peruntukan sebaiknya menggunakan
kode warna dan label.
f. Diupayakan agar tidak terjadi hubungan silang dan aliran balik
antara jaringan distribusi air limbah dengan air berrsih sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
g. Jaringan Instalasi agar ditata sedemikian rupa agar memenuhi
syarat estetika.
h. Jaringan Instalasi tidak menjadi tempat perindukan serangga dan
tikus.
MENTERI KESEHATAN,
ttd
Dr. Achmad Sujudi
22
Lampiran II
Keputusan Menteri Kesehatan
Nomor : 405/Menkes/SK/XI/2002
Tanggal : 19 Nopember 2002
PERSYARATAN DAN TATA CARA PENYELENGGARAAN
KESEHATAN LINGKUNGAN KERJA INDUSTRI
I.
UMUM
1. Pimpinan satuan kerja/unit industri bertanggung jawab terhadap
penyelenggaraan penyehatan lingkungan kerja industri.
2. Dalam melaksanakan tugas tersebut pimpinan satuan kerja/unit kerja
industri dapat menunjuk seorang petugas atau satuan kerja/unit
organisasi yang mempunyai tugas pokok dan fungsi di bidang kesehatan
lingkungan.
3. Petugas atau satuan kerja/unit organisasi yang ditunjuk untuk
menyelenggarakan kesehatan lingkungan kerja industri harus
melaksanakan tahap-tahap kegiatan, meliputi antara lain :
a. Menyusun rencana/program kerja tahunan penyehatan lingkungan
kerja industri yang merupakan bagian dari rencana/program kerja
industri secara keseluruhan.
b. Menyusun
rencana
pelaksanaan
kegiatan
berdasarkan
rencana/program kerja tahunan yang meliputi :
1). Jenis kegiatan yang akan dilaksanakan
2). Sasaran/traget tiap jenis kegiatan
3). Jadwal pelaksanaan kegiatan
4). Tenaga atau satuan kerja/unit organisasi yang akan
melaksanakan kegiatan.
5). Peralatan, bahan atau sarana yang diperlukan
(jenis dan jumlah)
6). Pembiayaan untuk tiap jenis kegiatan
7). Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan
8). Pencatatan dan pelaporan.
4. Petugas atau satuan kerja/unit organisasi yang ditunjuk untuk
menyelenggarakan penyehatan lingkungan kerja industri wajib
melaksanakan penilaian/telaah hasil-hasil kegiatan penyehatan
lingkungan kerja dan merumuskan alternatif pemecahan masalah,
apabila terdapat hambatan atau terjadi penurunan mutu kesehatan
lingkungan kerja industri.
5. Dalam menyelenggarakan penyehatan lingkungan kerja industri,
pimpinan satuan kerja/unit industri dapat memanfaatkan pihak ketiga
untuk melaksanakan kegiatan kesehatan lingkungan industri.
23
6. Pihak ketiga harus berbentuk Badan Hukum yang menyelenggarakan
usaha kesehatan lingkungan kerja industri harus memperkerjakan tenaga
di bidang kesehatan lingkungan industri kerja.
7. Badan Hukum yang bidang usahanya menyelenggarakan penyehatan
lingkungan kerja industri harus mempekerjakan tenaga kesehatan
lingkyngan kerja industri yang memiliki pendidikan sekurang-kurangnya
Diploma I atau telah mengikuti pelatihan dari industri yang berwenang.
8. Biaya penyelenggaraan lingkungan kerja industri menjadi tanggung
jawab pengelola industri.
II.
Air Bersih
A. Persyaratan
1. Tersedia air bersih untuk kebutuhan karyawan dengan kapasitas
minimal 60 lt/orang/hari.
2. Kualitas air bersih memenuhi syarat kesehatan yang meliputi
persyaratan fisika, kimia, mikrobiologi dan radioaktif sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Air bersih adalah air yang dipergunakan untuk keperluan sehari-hari
dan kualitasnya memenuhi persyaratan kesehatan air bersih sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dilengkapi
alat pengolah air bersih sesuai dengan kebutuhan.
2. Tata cara pelaksanaan :
a. Air bersih untuk keperluan industri dapat diperoleh dari
Perusahaan Air Minum (PAM), Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) sumber air tanah atau sumber lain yang telah diolah
sehingga memenuhi persyaratan kesehatan.
b. Tersedia air bersih untuk kebutuhan karyawan sesuai dengan
persyaratan kesehatan.
c. Distribusi air bersih untuk perkantoran harus menggunakan sistim
perpipaan.
d. Sumber air bersih dan sarana distribusinya harus bebas dari
pencemaran fisik, kimia dan bakteriologis.
e. Dilakukan pengambilan sampel air bersih pada sumber, bak
penampungan dan pada kran terjauh untuk diperiksakan di
laboratorium minimal 2 kali setahun, yaitu musim kemarau dan
musim hujan.
24
III.
UDARA RUANGAN
A. Persyaratan
1. Suhu dan kelembaban
a.Suhu
:
18 – 30 0C
b.Kelembaban :
65 % - 95 %
2. Debu
Kandungan debu maksimal didalam udara ruangan
pengukuran rata-rata 8 jam adalah sebagai berikut :
No.
JENIS DEBU
1.
Debu total
2.
Asbes bebas
3.
Silicat total
dalam
KONSENTRASI
MAKSIMAL
10 mg/m3
5 serat/ml udara dengan
panjang serat 5 u
(Mikron)
50 mg/m3
3. Pertukaran udara : 0,283 M3/menit/orang dengn laju ventilasi : 0,15
– 0,25 m/detik.
4. Gas pencemar
a. Kandungan maksimal gas pencemar dalam udara ruang proses
produksi adalah sebagai berikut :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
PARAMETER
Air raksa
Amonia
Amonium klorida
Arsen
Asam asetat
Asam klorida
Asam nitrat
Asam Sianida
Asam Sulfida
Asam Sulfat
Aseton
Butil Alkohol
Butil Merkaptan
DDT
Diazinon
Dieldrin
Dimetil Amin
Etil Alkohol
25
KONSENTRASI
MAKSIMAL
(mg/m3)
0,1
35
10
0,5
25
7
25
11
28
1
2400
300
1,5
1
0,1
0,25
75
1900
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
Fenol
Ferum Oksida
Flour
Formaldehid
Fosfor kuning
Kadmium
Kalsium Oksida
Kamfer
Kapas
Karbon Dioksida
Karbon Monoksida
Klor
LPG
Magnesium Oksida
Mangan
Nitrogen Oksida
Nikel
Perak
Platina
Seng Klorida
Seng Oksida
Sianida
Silicon
Sulfur Dioksida
Timah Hitam
Timah Putih
19
10
2
6
0,1
0,2
5
12
1
9000
115
3
1800
10
5
30
1
0,01
0,002
1
5
5
10
13
0,1
2
b. Kandungan maksimal bahan pencemar udara ambien di kawasan
industri sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Penyehatan udara ruang adalah upaya yang dilakukan agar suhu dan
kelembaban, debu, pertukaran udara, bahan pencemar dan mikroba
di ruang kerja industri memenuhi persyaratan kesehatan.
5. Tata cara pelaksanaan
a. Suhu dan kelembaban
Agar ruang kerja industri memenuhi persyaratan kesehatan perlu
dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
1) Tinggi langit-langit dari lantai minimal 2,5 m
2) Bila suhu udara > 30 0C perlu menggunakan alat penata udara
seperti Air Conditioner (AC), kipas angin, dll
3) Bila suhu udara luar < 18 0C perlu menggunakan alat pemanas
ruang (heater).
26
4) Bila kelembaban udara ruang kerja > 95 % perlu menggunakan
alat dehumidifier.
5) Bila kelembaban udara ruang kerja < 65 % perlu menggunakan
humidifier (misalnya : mesin pembentuk aerosol).
b. Debu
Agar kandungan debu di dalam udara ruang kerja industri
memenuhi persyaratan kesehatan maka perlu dilakukan upayaupaya sebagai berikut :
1) Pada sumber dilengkapi dengan penangkap debu (dust
enclosure).
2) Untuk menangkap debu yang timbul akibat proses produksi,
perlu dipasang ventilasi lokal (lokal exhauster) yang
dihubungkan dengan cerobong dan dilengkapi dengan
penyaring debu (filter).
3) Ruang proses produksi dipasang dilusi ventilasi (memasukkan
udara segar).
c. Pertukaran udara
Agar pertukaran udara ruang industri dapat berjalan dengan baik
maka perlu dilakukan upaya-upaya sebagai berikut :
1) Memasukkan udara segar untuk mencapai persyaratan NAB
dengan menggunakan ventilasi/AC.
2) Kebutuhan suplai udara segar 10 lt/org/dtk.
3) Membersihkan saring/filter udara AC secara periodik sesuai
ketentuan pabrik.
d. Gas pencemar
Agar kandungan gas pencemar dalam udara ruang kerja industri
tidak melebihi konsentrasi maksimum perlu dilakukan tindakantindakan sebagai berikut :
1) Pada sumber dipasang hood (penangkap gas) yang
dihubungkan dengan local exhauster dan dilengkapi dengan
filter penangkap gas.
2) Melengkapi ruang proses produksi dengan alat penangkap
gas.
3) Dilengkapi dengan suplai udara segar.
e. Mikroba
Agar angka kuman di dalam udara ruang kerja industri tidak
melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) maka perlu dilakukan
beberapa tindakan sebagai berikut :
1) Untuk industri yang berpotensi mencemari udara dengan
mikroba agar melengkapi ventilasi/AC dengan sistim saringan
udara bertingkat untuk menangkap mikroba atau upaya
desinfeksi dengan sinar ultra violet atau bahan kimia.
2) Memelihara sistem ventilasi agar berfungsi dengan baik.
3) Memelihara sistem AC sentral
27
IV.
LIMBAH
A. Persyaratan
1. Limbah padat domestik
Pengumpulan, pengangkutan dan pemusnahan sampah domestik
harus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
2. Limbah cair
Kualitas limbah cair hasil proses pengolahan harus sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3. Limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3)
Penanganan limbah B3 harus sesuai dengan perturan perundangundangan yang berlaku.
4. Limbah gas
Emisi limbah gas harus sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.
B. Tata Cara
1. Pengertian
a. Limbah padat adalah semua buangan yang berbentuk padat
termasuk buangan yang berasal dari kegiatan industri.
b. Limbah cair adalah semua buangan yang berbentuk cair termasuk
tinja.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Limbah padat
1) Limbah padat yang dapat dimanfaatkan kembali dengan
pengolahan daur ulang dan pemanfaatan sebagian (Re-use,
recycling, recovery) agar dipisahkan dengan limbah padat
yang non B3.
2) Limbah B3 dikelola ke tempat pengolahan limbah B3 sesuai
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3) Limbah radio aktif dikelola sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
b. Limbah cair
1) Saluran limbah cair harus kedap air, tertutup, limbah cair dapat
mengalir dengan lancar dan tidak menimbulkan bau.
2) Semua limbah cair harus dilakukan pengolahan fisik, kimia
atau biologis sesuai kebutuhan.
V.
PENCAHAYAAN
A. Persyaratan
Intensitas cahaya di ruang kerja sebagai berikut :
28
JENIS KEGIATAN
Pekerjaan kasar dan
tidak terus menerus
TINGKAT
PENCAHAYAAN
MINIMAL (LUX)
KETERANGAN
Ruang penyimpanan & ruang
peralatan/instalasi yang
memerlukan pekerjaan yang
kontinyu.
Pekerjaan dengan mesin dan
perakitan kasar.
R. administrasi, ruang kontrol,
pekerjaan mesin & perakitan/
penyusun.
Pembuatan gambar atau
berkerja dengan mesin kantor
pekerja pemeriksaan atau
pekerjaan dengan mesin.
Pemilihan warna, pemrosesan
tekstil, pekerjaan mesin halus &
perakitan halus
100
Pekerjaan kasar &
terus menerus
200
Pekerjaan rutin
300
Pekerjaan agak
halus
500
Pekerjaan halus
1000
Pekerjaan amat
halus
1500
Tidak
menimbulkan
bayangan
Pekerjaan terinci
3000
Tidak
menimbulkan
bayangan
Mengukir dengan tangan,
pemeriksaan pekerjaan mesin
dan perakitan yang sangat halus
Pemeriksaan pekerjaan,
perakitan sangat halus
B. Tata Cara
1. Pengertian
Pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja
yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar pencahayaan memenuhi persyaratan kesehatan perlu dilakukan
tindakan sebagai berikut :
a. Pencahayaan alam maupun buatan diupayakan agar tidak
menimbulkan kesilauan dan memilki intensitas sesuai dengan
peruntukannya.
b. Kontras sesuai kebutuhan, hindarkan terjadinya kesilauan atau
bayangan.
c. Untuk ruang kerja yang menggunakan peralatan berputar
dianjurkan untuk tidak menggunakan lampu neon.
d. Penempatan bola lampu dapat menghasilkan penyinaran yang
optimum dan bola lampu sering dibersihkan.
29
e. Bola lampu yang mulai tidak berfungsi dengan baik segera
diganti.
VI.
KEBISINGAN
A. Persyaratan
Tingkat pajanan kebisingan maksimal selama 1 (satu) hari pada ruang
proses adalah sebagai berikut :
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
TINGKAT KEBISINGAN
(dBA)
85
88
91
94
97
100
PEMAPARAN
HARIAN
8 jam
4 jam
2 jam
1 jam
30 menit
15 menit
B. Tata Cara
1. Pengertian
Kebisingan adalah terjadinya bunyi yang tidak dikehendaki sehingga
mengganggu atau membahayakan kesehatan.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar kebisingan tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan
perlu diambil tindakan sebagai berikut :
a. Pengaturan tata letak ruang harus sedemikian rupa agar
terhindar dari kebisingan.
b. Sumber bising dapat dikendalikan dengan beberapa cara antara
lain: meredam, menyekat, pemindahan, pemeliharaan,
penanaman pohon, peninggian tembok, membuat bukit buatan,
dan lain-lain.
c. Rekayasa peralatan (engineering control).
VII. GETARAN
A. Persyaratan
Tingkat getaran maksimal untuk kenyamanan dan kesehatan karyawan
pada masing-maing ruangan lingkungan industri sebagai berikut :
No.
FREKUENSI
1
2
3
4
4
5
6,3
8
TINGKAT GETARAN
MAKSIMAL (10 -6 M)
< 100
< 80
< 70
< 50
30
5
6
7
8
9
10
11
12
13
10
12,5
16
20
25
31,5
40
50
63
< 37
< 32
< 25
< 20
< 17
< 12
< 9
< 8
< 6
B. Tata Cara
1. Pengertian
a. Getaran (vibrasi) adalah gerakan bolak balik suatu massa melalui
keadaan seimbang terhadap suatu titik acuan.
b. Getaran mekanik adalah getaran yang ditimbulkan oleh sarana
dan peralatan kegiatan manusia.
2. Tata cara pelaksanaan
Agar getaran tidak mengganggu kesehatan atau membahayakan
perlu diambil tindakan sebagai berikut :
a. Melengkapi ruang kerja dengan peredam getar.
b. Memperbaiki/memelihara sistem penahan getaran.
c. Mengurangi getaran pada sumber, misalnya dengan memberi
bantalan pada sumber getaran.
VIII. RADIASI
A. Persyaratan
Tingkat pajanan oleh radiasi medan listrik dan medan magnit listrik
adalah sebagai berikut :
1. Medan listrik :
a. Sepanjang hari kerja : maksimal 10 kV/m.
b. Waktu singkat sampai dengan 2 jam per hari : maksimal 30 kV/m.
2.Medan magnit listrik :
a. Sepanjang hari kerja : maksimal 0,5 mT (mili Tesla).
b. Waktu singkat sampai dengan 2 jam per hari : 5 mT
B. Tata Cara
1. Pengertian
a. Radiasi adalah emisi energi yang dilepas dari bahan atau alat
radiasi.
31
b. Medan listrik adalah radiasi non pengion yang berasal dari kabel
benda yang bermuatan listrik.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Pencegahan terhadap radiasi medan listrik
b. Merancang instalasi yang sesuai dengan peraturan
c, Menyediakan alat pelindung (isolasi) radiasi pada sumber
d. Pencegahan terhadap radiasi medan magnet listrik :
1) Lokasi perkantoran jauh/tidak berada dibawah Saluran Udara
Tegangan Tinggi (SUT) atau Saluran Udara Tegangan Ekstra
Tinggi (SUTET), jarak vertikal bangunan dari sumber maksimal
10 m dan jarak horisontal minimal 20 m.
2) Untuk pengguna kabel umum tegangan menengah tidak
dipergunakan sebagai tempat kerja (20 kV)
IX.
VEKTOR PENYAKIT
A. Persyaratan
1. Serangga penular penyakit
a. Indeks lalat : maksimal 8 ekor/fly grill (100 x 100 cm) dalam
pengukuran 30 menit.
b. Indeks kecoa : maksimal 2 ekor/plate (20 x 20 cm) dalam
pengukuran 24 jam.
c. Indeks nyamuk Aedes aegypty container indeks tidak melebihi
5%.
2. Tikus
Setiap ruang kerja industri harus bebas tikus.
B. Tata Cara
1. Pengertian
a. Vektor penyakit adalah binatang yang dapat menjadi perantara
penular berbagai penyakit tertentu (misalnya serangga).
b. Reservoar (penjamu) penyakit adalah binatang yang didalam
tubuhnya terdapat kuman penyakit yang dapat ditularkan kepada
manusia (misalnya tikus).
c. Pengendalian vektor penyakit adalah segala upaya untuk
mencegah dan memberantas vektor.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Pengendalian secara fisika
1) Konstruksi bangunan tidak memungkinkan masuk dan
berkembang biaknya vektor dan reservoar penyakit kedalam
ruang kerja dengan memasang alat yang dapat mencegah
masuknya serangga dan tikus.
32
2) Menjaga kebersihan lingkungan, sehingga tidak
penumpukan sampah dan sisa makanan.
3) Pengaturan peralatan dan arsip secara teratur.
4) Meniadakan tempat perindukan serangga dan tikus.
terjadi
c. Pengendalian dengan bahan kimia yaitu dengan melakukan
penyemprotan, pengasapan, memasang umpan, membubuhkan
abate pada tempat penampungan air bersih.
d. Pengendalian penjamu dengan listrik frekwensi tinggi.
e. Cara mekanik dengan memasang perangkap.
X.
RUANG DAN BANGUNAN
Persyaratan
1. Bangunan harus kuat, terpelihara, bersih dan tidak memungkinkan
terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan.
2. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, dan
tidak licin, pertemuan antara dinding dengan lantai berbentuk conus.
3. Dinding harus rata, bersih dan berwarna terang, permukaan dinding
yang selalu terkena percikan air terbuat dari bahan yang kedap air.
4. Langit-langit harus kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal
3,0 m dari lantai.
5. Luas jendela, kisi-kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya
cahaya minimal 1/6 kali luas lantai.
XI.
TOILET
A. Persyaratan
1. Toilet karyawan wanita terpisah dengan toilet untuk karyawan pria.
2. Setiap industri harus memiliki toilet dengan jumlah wastafel, jamban
dan peturasan minimal seperti pada tabel-tabel berikut :
a. Untuk karyawan pria :
No
JUMLAH
KARYAWAN
1
2
3
S/d 25
26 s/d 50
51 s/d 100
JUMLAH
KAMAR
MANDI
JUMLAH
JUMLAH
JUMLA
JAMBAN PETURASAN
H
WAST
AFEL
1
1
2
2
2
2
3
3
3
3
5
5
Setiap penambahan 40-100 karyawan harus
ditambah satu kamar mandi, satu jamban, dan satu
peturasan
33
b. Untuk karyawan wanita :
No
JUMLAH
KARYAWAN
1
2
3
4
5
6
S/d 20
21 s/d 40
41 s/d 70
71 s/d 100
101 s/d 140
141 s/d 180
JUMLAH
JUMLAH
JUMLAH
KAMAR
JAMBAN
WASTAFEL
MANDI
1
1
2
2
2
3
3
3
5
4
4
6
5
5
7
6
6
8
Setiap penambahan 40-100 karyawan harus
ditambah satu kamar mandi, satu jamban, dan satu
peturasan
B. Tata Cara
1. Pengertian
Toilet adalah sarana sanitasi di industri yang meliputi kamar mandi,
WC, dan westafel yang disediakan atau dipergunakan oleh karyawan
selama jam kerja.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Toilet harus dibersihkan minimal 2 kali sehari.
b. Tidak menjadi tempat berkembang biaknya serangga dan tikus.
XII. INSTALASI
A. Persyaratan
1. Instalasi listrik, pemadam kebakaran, air bersih, air kotor, air limbah,
air hujan harus dapat menjamin keamanan sesuai dengan ketentuan
teknis yang berlaku.
2. Bangunan kantor yang lebih tinggi dari 10 meter atau lebih tinggi dari
bangunan lain disekitarnya harus dilengkapi dengan penangkal petir.
B. Tata Cara
1. Pengertian
Instalasi adalah penjaringan pipa/kabel untuk fasilitas listrik, air
limbah, air bersih, telepon dan lain-lain yang diperlukan untuk
menunjang kegiatan industri.
2. Tata cara pelaksanaan
a. Instalasi
untuk
masing-masing
menggunakan kode warna dan label.
34
peruntukan
sebaiknya
b. Diupayakan agar tidak terjadi hubungan silang dan aliran balik
antara jaringan distribusi air limbah dengan air bersih sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
c. Jaringan Instalasi agar ditata sedemikian rupa agar memenuhi
syarat estetika.
d. Jaringan Instalasi tidak menjadi tempat perindukan serangga
dan tikus.
e. Pengoperasian instalasi sesuai dengan prosedur tetap yang
telah ditentukan.
f. Konstruksi instalasi diupayakan agar sesuai dengan standard
desain yang berlaku.
MENTERI KESEHATAN,
ttd
Dr. Achmad Sujudi
35
Fly UP