...

TOWARD MUSLIM DEMOCRACIES

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

TOWARD MUSLIM DEMOCRACIES
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
Pro
D
ig
ital
ct
je
TOWARD
MUSLIM
DEMOCRACIES
kaa
n
Saad Eddin Ibrahim
“Nasib Demokrasi di Dunia Arab”
Review Paper oleh Ihsan Ali-Fauzi
1
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
o
Sumber Paper: Saad Eddin Ibrahim, “Toward
Muslim Democracies,” Journal of Democracy, a c y
Volume 18, Number 2, April 2007, hal. 5-14.
cr
Dem
Artikel ini hendak menjawab pertanyaan mengapa
demokrasi tidak tumbuh di negara-negara Arab,
yang mencakup satu per tiga dari total kaum
Muslim di dunia. Menurut penulisnya, sosiolog
terkemuka dan aktivis pembela demokrasi dan
hak-hak asasi manusia, itu tak ada kaitannya
dengan budaya (agama) Islam. Melainkan,
hal ini terkait dengan sejarah dihentikannya
proses liberalisasi di sejumlah negara Arab oleh
kolonialisme Perancis dan Inggris pada akhir
abad ke-19 dan naiknya penguasa militer yang
otoritarian pada pertengahan abad ke-20.
Pe
rp
2
Agar demokrasi tumbuh, penulisnya menyarankan
agar perlawanan terhadap otoritarianisme
terus dilanjutkan dan agar kalangan demokrat
lebih rajin melibatkan kalangan Islamis dalam
gerakan-gerakan pro-demokrasi. Dia juga
merekomendasikan agar pemerintahan Barat
menghentikan bantuannya kepada para penguasa
otoriter.
us
ta
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
K
Pro
je
D
ig
ital
ct
etika gelombang demokratisasi
melanda dunia sejak tahun
1970-an, negara-negara mayoritas
Muslim tidak juga terkena pengaruh
gelombang itu. Karenanya, sebagian
sarjana berpandangan, itu terjadi
karena demokrasi pada dasarnya
memang tidak sejalan dengan
budaya (ajaran, nilai, praktik) yang
dominan di sana, yakni budaya
Islam. Pandangan ini antara lain
dikemukakan sarjana terkemuka
seperti Samuel Huntington dan
Ernest Gellner.
kaa
n
Artikel ini tegas menolak pandangan
di atas. Dasarnya pertimbanganpertimbangan sejarah, dinamika
kaum Muslim, dan keterlibatan
personal
penulisnya
dalam
gerakan-gerakan demokrasi.
Penulisnya adalah Pendiri dan
Ketua Ibn Khaldun Center for
Development Studies dan gurubesar
sosiologi politik pada American
University di Cairo, Mesir. Dia juga
3
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
Dem
o
intelektual terkenal yang sering
menyuarakan perlunya penegakan
demokrasi dan hak-hak asasi
manusia di dunia Arab, khsusnya
Mesir. Dia pernah dipenjarakan
oleh rezim Hosni Mubarak dengan
tuduhan menjelek-jelekkan Mesir.
y
Dia penulis dan penyunting lebihr a c
c
dari 35 buku dalam bahasa Arab
dan Inggris, termasuk Egypt,
Islam, and Democracy: Critical
Essays (2002).
Pe
Menurut Ibrahim, pandangan di
atas pertama-tama salah karena
ia tak menggambarkan fakta
sesungguhnya, yakni: dua per
tiga dari total kaum Muslimr p
di
negara-negara non-Arab seperti u s
ta
Turki, Bangladesh, Malaysia dan
Indonesia, pada kenyataannya
sudah mengalami demokratisasi.
Demokrasi juga dinikmati kaum
Muslim di India, yang jumlahnya
mencapai 150 juta orang. Yang
menjadi masalah memang absennya
demokrasi di negara-negara Arab.
4
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
Pro
je
D
ig
ital
ct
Tapi, kedua, bahkan di negaranegara Arab pun, proses liberalisasi
dan demokratisasi sebenarnya
pernah dilakukan oleh para
penguasa yang tengah melakukan
modernisasi, pada paroh kedua
abad ke-19. Ini misalnya dilakukan
oleh Muhammad III as-Sadiq
(di Tunisia, 1859-1881) dan
Dawood Pasha (di Irak, 18301869). Sayangnya, proses-proses
ini terhenti akibat dimulainya
kolonialisme atau pendudukan
Perancis dan Inggris di negaranegara itu. Selain menghentikan
proses awal itu, kolonisasi oleh
pemerintahan Barat juga membawa
citra buruk tentang demokrasi
kepada para khalayak Muslim.
kaa
n
Ketiga, demokrasi juga pernah
tumbuh di negara-negara Arab
tertentu
sesudah
merdeka,
seperti Mesir, Syria dan Lebanon.
Sayangnya, demokrasi yang baru
tumbuh ini terhenti akibat kudeta
militer yang antara lain dilakukan
5
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
o
dengan menggunakan ancaman
Israel terhadap kaum Muslim
sebagai tameng. Sejak itu, yang
diminan adalah otoritarianisme
tentara. Ini ditunjang kebiasaan
buruk masyarakat Arab yang
kadang menyalahkan pihak lain
cy
a
atas penderitaan mereka.
r
c
Dem
Belakangan, absennya demokrasi di
negara-negara Arab juga ditunjang
oleh kepiawaian para diktator di
dalam memainkan isu “ancaman
Islamis”, sehingga para pengambil
kebijakan di negara-negara Barat
terus memberi dukungan kepada
mereka.
Contoh
terbaiknya
rp
adalah Hosni Mubarok, yang
memainkan kartu “Pilih Saya atau u s
ta
Osama bin Ladin”, yang membuat
pemerintah Amerika Serikat terus
mendukungnya.
Pe
Dengan ketatnya kontrol negara
atas para aktivis demokrasi seperti
dirinya, Ibrahim menyarankan agar
para aktivis demokrasi melibatkan
6
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
Pro
je
Dari
pengalamannya
bergaul
dengan mereka, Ibrahim tidak
percaya bahwa kalangan Islamis
tidak memiliki jiwa demokrasi.
Kecurigaan bahwa mereka hanya
akan memanfaatkan demokrasi
untuk berkuasa, lalu menghentikan
demokrasi itu sendiri selamanya,
juga
ditepisnya,
berdasarkan
pengalamannya bergaul dengan
aktivis Ikhwan al-Muslimin di Mesir
dan pengamatannya atas aktivis
Hamas di Palestina. Tambahnya,
satu-satunya partai yang menang
pemilu
lalu
menghancurkan
demokrasi
selamanya
justru
D
ig
ital
ct
lebih banyak kalangan Islamis di
dalam melawan otoritarianisme. Ini
karena mereka memiliki ruang lebih
banyak, dengan memanfaatkan
arena seperti masjid sebagai tempat
berkumpul. Saran ini diperoleh
dari mempelajari peran lembagalembaga agama, seperti Gereja
Katolik di Spanyol, dalam proses
demokratisasi.
kaa
n
7
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
adalah partai sekular: Nazi, yang
mengangkat Hitler di Jerman pada
1933.
Dem
o
Akhirnya,
Ibrahim
juga
menyarankan agar bantuan dana
kepada para rezim otoritarian
y
dihentikan. Ini akan banyakr a c
c
membantu tumbuhnya demokrasi,
karena dana itu selama ini
digunakan
untuk
mengebiri
kekuatan-kekuatan demokrasi.
Pe
Argumen dan saran Ibrahim di
atas kuat karena ketekunannya
yang sudah luas dikenal di dalam
mempelajari tema ini. Itu ditambah
rp
oleh keterlibatan personalnya
yang juga sudah dikenal luas. u
sta
Sekarang, sekitar empat tahun
sesudah artikel ini terbit, kita tahu
bahwa argumennya benar: bahwa
mandeknya demokrasi di dunia
Arab bukan soal budaya (agama),
tetapi soal seberapa jauh, dan
berapa lama, rakyat bisa ditindas
oleh otoritarianisme. Itulah yang
8
Edisi 060, Juni 2012
Review paper
terjadi baru-baru ini di Tunisia dan
Mesir, dan yang demamnya sedang
menghantui negara-negara Arab
lain.
Pro
je
D
ig
ital
ct
Sayang, Ibrahim tidak membahas,
bahkan sekadar menyinggung,
tesis bahwa demokrasi tidak bisa
tumbuh di negara-negara yang kaya
minyak, karena pemerintahnya
tidak memerlukan suara apa
pun dari rakyatnya, karena
mereka tidak mengambil pajak
dari rakyat (no taxation without
representation). Tapi sarannya
mengenai para aktivis Islamis
masuk akal dan patut dijalankan.
Saran itu didukung oleh studistudi yang lain yang menunjukkan
bahwa kalangan Islamis itu juga
manusia biasa: bisa bernegosiasi,
mengalami moderasi, dan bersikap
serta bertindak fleksibel.[]
kaa
n
9
Edisi 060, Juni 2012
c
cy
a
r
Dem
o
Review paper
© 2012
Review Paper ini diterbitkan oleh
Democracy Project, Yayasan Abad Demokrasi:
www.abad-demokrasi.com.
Pe
Jika Anda berminat mendapatkan artikel yang
rp
direview, silakan isi form permintaan dalam
website kami dengan menuliskan kode artikel.
u
Kode artikel:
SEI001
Sumber gambar: www.johngaltfla.com
10
sta
Fly UP