...

studi hall - JSMA STIE STAN-IM

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

studi hall - JSMA STIE STAN-IM
AKUNTANSI DI ZAMAN KUNO (2): MESIR KUNO
Ivan A. Setiawan
STIE STAN – Indonesia Mandiri
Sugeng Riyadi
Universitas Budi Luhur
ABSTRAK
Artikel ini menguraikan mengenai peran penting akuntansi pada masa
Mesir Kuno. Praktek akuntansi pada zaman ini begitu kental, karena
bukan saja berkaitan dengan masalah adminstrasi pada sektor publik
maupun privat, namun juga berkaitan dengan masalah penyelengaraan
dan pengorganisasian tempat peribadatan, serta keterkaitan antara
kehidupan dan kematian, khususnya para penguasa (Pharaoh, Firaun).
Akuntan pada masa ini adalah mereka yang memiliki pendidikan tinggi
dengan sejumlah hak istimewa yang dimilikinya. Secara garis besar,
periodisasi Mesir Kuno terbagi atas Old Kingdom, Middle Kingdom
dan New Kingdom. Sementara masa penaklukan Graeco-Roman Period
dan Arab digolongkan secara terpisah. Merujuk pada temuan-temuan
arkeologis, akuntansi berkembang pada periode Middle Kingdom
meskipun dasar-dasarnya sudah muncul pada periode Old Kingdom.
Untuk itu, pembahasan akuntansi pada periode Mesir Kuno lebih
banyak didominasi oleh praktek akuntansi periode Middle Kingdom.
Kata kunci: scribes, work in progress, pembagian kerja, akuntansi
domain publik dan privat, redistribusi, rasio waktu-volume.
I.
PENDAHULUAN
Artikel ini bermaksud menguraikan peran penting akuntansi di zaman Mesir
Kuno. Tulisan ini terutama mengacu pada kajian Ezzamel (1994, 2002, 2004, 2005),
yang dilengkapi oleh pandangan dan kajian yang bersumber pada organisasi pemerintah
Mesir (www.ancient-egypt.org.), serta para peneliti lain yakni Carmona dan Ezzamel
(2005), Hoskin dan Macve (1986), serta Stone (1969). Praktis, uraian-uraian berikut
mengacu pada para penulis tersebut kecuali dinyatakan lain.
Sekitar 3500 SM, orang Mesir mulai membangun tanggul dan pintu air,
sehingga mendorong hasil pertanian hasil yang berlimpah dan disertai dengan
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
100
berkembangnya peternakan. Kelimpahan ini memungkinkan munculnya berbagai jenis
pekerjaan selain bertani seperti pendagang, pengrajin, pendeta, penulis (scribes) dan
tentara. Petani memiliki hak kepemilikan tanah, dan terdapat petani yang lebih berhasil
serta semakin kaya. Pembagian kelas dalam masyarakat dan pemerintahan lokal mulai
muncul. Para tuan tanah membentuk kelas aristokrat, beraliansi dengan raja atau
bersama-sama memilih raja. Sementara sebagian orang lainnya tetap menjadi petani
kecil dan diharuskan menyetorkan sebagian hasil panen kepada raja sebagai bentuk
pajak.
Sejarah Mesir Kuno dimulai sekitar 3100 SM ketika Mesir menjadi suatu
negara kesatuan, tetapi fakta arkeologis mengindikasikan bahwa perkembangan
masyarakat telah terbentuk sebelumnya. Mesir Kuno sebagai suatu negara independen
berlangsung sampai sekitar 343 SM.
Penting untuk diperhatikan mengenai istilah Pharaoh atau Firaun. Masih
banyak dari kita memahami bahwa Pharaoh, seperti yang tercantum pada kitab-kitab
suci, merupakan nama raja dan hanya satu orang. Nama Pharaoh itu sendiri berasal dari
dinasti ke-18, dan Thutmose III merupakan raja Mesir pertama yang disebut Pharaoh
yang berarti Great House. Jadi, Pharaoh berjumlah lebih dari satu karena merujuk pada
makna raja Mesir Kuno. Namun demikian, mengikuti istilah umum, artikel ini
menggunakan nama Pharaoh atau Firaun untuk keseluruhan raja Mesir Kuno.
II.
2.1.
BE A SCRIBE
Peran Penting dan Prestise Scribe (Akuntan)
Sejarawan T. J. H. James (1985) menterjemahkan nasihat seorang bapak pada
anaknya pada masa pemerintahan Ramesside atau Ramses (1290 SM) sebagai berikut:
I have put you to school with the children of high officials, to teach and
instruct you in this office which will lead to power and authority ……
Write with your hand, recite with your mouth; accept advice. Let
yourself not be tired; and pass no day in laziness; or (it will be) misery
to your body. Enter into the ways of your teacher, and obey his
instruction. Be a scribes!
Pada masa Ramesside keberadaan para scribes begitu dihargai. Prestise bahasa
hieroglyphic dianggap sebagai ‘bahasa manusia’, dan scribes merupakan kelompok elit
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
101
terpelajar yang dapat menulis dan membaca seluruh bahasa orang Mesir Kuno. Scribes
merupakan lelaki terdidik yang dapat membaca dan menulis, dan lebih penting lagi,
mereka dapat mengukur, menghitung dan melakukan penulisan akuntansi. Sejarawan
akuntansi mengklaim bahwa scribes merupakan akuntan. Keahlian para scribes sangat
diakui dan merupakan dimensi penting kerajaan. Posisi scribes bagi Raja berkembang
menjadi lembaga yang kuat, dan penampilan pemimpin scribes Raja menunjukkan
pembentukan suatu arsip kenegaraan. Berdasarkan makam para pemimpin pada periode
ini para scribes menunukkan bahwa mereka memiliki status sosial tertinggi (Goedickle,
1964).
2.2.
Para Scribes
Penghargaan terhadap para scribes ditunjukkan oleh pusara mereka sebagai
tanda pencapaian posisi kekuasaan dalam pemerintahan. Pusara yang mewah tetap
diperuntukan bagi para scribes. The Egyptian Galery of British Museum menyimpan
peti mayat Uah-ab-Ra yang pada 600 tahun SM merupakan “Overseer of the Scribes of
Crown Lands, Inspector of the Scribes and Chief Royal Scribe.” Peti mayat lain untuk
Hap-mem yang pada 650 tahun SM menjabat sebagai “Scribe of the Revenue of Egypt,
Chief Royal Scribe of the Taxes, Director of Public Granaries, and General Officer of
the Egyptian Army.”
Daftar judul untuk scribes yang berkaitan dengan akuntansi (tidak bersifat
saling menggantikan) adalah sebagai berikut:
•
Inspector of the Scribes of the Granary
•
Inspector of Bookkeepers
•
Scribes of the Treasuty of the Estate ‘Mansions of Menkaure’.
•
Scribes of the Two Granaries and the Pyramid-town
•
Scribes of the Treasury of the Estate of Amun
•
Scribes and Counter of the Grain in the Granary of Divine Offerings of
Amun
•
Counter of the Cattle of the God’s Wife of Amun
•
Scribes of the Royal Documents of the Granary
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
102
•
Scribes of the Counting of Cattle of the House of the Overseer of the
Seal
•
Great Scribes of the Counting of Amun
•
Scribes of the Silver and Gold of Ptah
•
Royal Scribes of Accounts of Everything in the Temple of Imhotep, Son
of Ptah
•
Scribes of the Two Granaries of the Temple of the Aten in Memphis.
•
Overseer of the Scribes in the Fields.
•
Temple Scribes and Chief Accountant of the Divine Adoratrice
Nitocris.
Manfaat akuntansi tidak terbatas pada daftar judul tersebut di atas atau tanggung
jawab yang diberikan pada para scribes. Anugerah kemuliaan atau keagungan diberikan
pada akuntansi dengan mengaitkannya secara eksplisit terhadap aspek ketuhanan
seperti yang ditunjukkan surat (Papyris Anastasi I) yang berasal dari Dinasti ke 19
masa pemerintahan Ramesses II, yang menyatakan secara eksplisit bahwa menulis dan
akuntansi merupakan pekerjaan Dewi Seshat.
2.3.
Perbandingan Pekerjaan Scribes dengan Pekerjaan Lain
Untuk menekankan baik prestise maupun keinginan terhadap pekerjaan scribal
sebagai karir yang sukses bagi orang mudah, sering dilakukan perbandingan pekerjaan
terhadap jenis pekerjaan yang lain, dimana pekerjaan sebagai scribes digambarkan
sebagai superior dan menyenangkan karena memiliki sejumlah keuntungan yang tidak
dimiliki oleh orang Mesir biasa (James, 1985). Peningkatan posisi menjadi seorang
scribe merupakan pengakuan masyarakat Mesir bahwa scribe merupakan seorang
terdidik, dan terdidik tidak bermakna grammatocentric. Pada kebudayaan Mesir,
terdidik jauh lebih menguntungkan ketimbang keterampilan lainnya. Terdidik atau
terpelajar dianggap ‘abadi’ atau immortal, seperti yang ditunjukkan oleh pusara makam
(Scribal Immortality, diterjemahkan dalam Clagett, 1992).
Seperti yang akan diuraikan pada bagian berikutnya, banyak tulisan berada
dalam bentuk draft akuntansi, pencatatan transaksi berbagai macam barang
menggunakan bahasa akuntansi yang dikembangkan secara khusus. Pentingnya status
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
103
pekerjaan sebagai scribal, baik karena sifat pekerjaannya maupun manfaat material
yang diperolehnya, secara tegas dinyatakan dalam berbagai dokumen dan yang
terpenting tercantum dalam The Satire of the Trades. Dokumen ini disusun oleh orang
yang disebut Dua-Khety yang hidup pada masa Middle Kingdom. Dokumen ini
menceritakan perjalanan Dua-Khety yang mengantar anaknya yang bernama Pepy
untuk memasuki dunia scribes. Dokumen ini lebih rinci daripada The Scribal
Immortality, dimana sang Ayah menguraikan kepada anaknya mengenai manfaat
pekerjaan sebagai scribes bila dibandingkan dengan pekerjaan lainnya.
Ayah tersebut menempatkan scribes sebagai posisi pertama dengan 18
pekerjaan lainnya termasuk: tukang kayu, pembuat berlian, tukang cukur, pemotong
buluh, pembuat tembikar, tukang batu, pertamanan, petani, tukang tenun, pembuat
panah, kurir, pembuat tungku, pembuat sepatu, pembuat tungku, penangkap burung dan
nelayan. Untuk menunjukkan superioritas pekerjaan sebagai scribes, Dua-Khety
memilih pekerjaan yang berkarakter sepenuhnya keterampilan sehingga pesan terhadap
anaknya, Pepy, menjadi tegas.
2.4.
Proses Belajar
Pelatihan bagi scribes dilakukan oleh kantor administrasi sipil Pharaoh yang
mencakup belajar membaca, menulis dan aritmetika. Teknologi pembelajaran membaca
sangat berbeda dengan pembelajaran aritmetik. Membaca dilakukan dengan suara keras
dan hafalan melalui “read with your mouth”, hitungan dilakukan tanpa suara “let no
sound of your mouth be heard.” Menulis dilakukan dengan peniruan. Disiplin sekolah
diterapkan dengan ketat dengan pengawasan, serta ketekunan dan kerja keras
merupakan keharusan. Hukumam fisik untuk ketidakdisiplinan sangat kuat. Jam belajar
yang panjang berlaku baik siang maupun malam hari.
2.5.
Learning Numeracy
Selain dituntut untuk memiliki kemampuan membaca dan menulis, siswa
scribes harus memahami angka-angka supaya bisa mengukur dan menilai hasil panen,
menentukan pajak, mengalokasikan perbekalan, dan mencatat transaksi ekonomi serta
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
104
daftar kesejahteraan pegawai. Scribes memiliki keahlian empat jenis aritmetika dasar
yaitu operasi penambahan, perkalian, pembagian dan pengurangan.
Perkalian dilakukan melalui penggunaan tabel dua-kali-dua. Sebagai contoh,
untuk mengkalikan dua angka, scribes akan memutuskan angka mana dari kedua nomor
merupakan hasil perkalian, mengulangi perkalian dengan 2, menambahkan perkalian
dan akhirnya menjumlahkan perkalian awal. Jadi, untuk mengkalikan 7 dengan 8
dengan mengasumsikan bahwa 8 merupakan hasil perkalian diperoleh:
1
2
4
7
8
16
32
56
dan jawabannya adalah 56
III.
KOSA KATA DAN TEKNOLOGI AKUNTANSI
Selepas kelulusan, scribes siap bekerja dengan menggunakan kemampuan
akuntansi untuk berbagai domain ekonomi. Material yang digunakan untuk menulis
teks secara umum dapat dibagi ke dalam tiga jenis: tembok pada ruang pemakaman
serta monumen yang didirikan untuk tujuan upacara seremonial dan kematian, papyrus
dan ostraca. Monumen dan ruang pemakaman hampir sepenuhnya digunakan untuk
mencatat teks keagamaan, aktivitas kehidupan sehari-hari dan catatan kampenye
militer. Papyrus sering digunakan untuk mencatat teks keagamaan, literatur termasuk
leteratur hukum, ilmiah dan masalah-masalah medis, serta kadang-kadang transaksi
bisnis dan akuntansi.
Ostraca berarti poster dan bor dari batu gaming, digunakan lebih sering
daripada papyrus untuk pencatatan transaksi harian dan account. Dalam penelusuran
terhadap harga 1250 komoditas dari perkampungan tenaga kerja yang dipandang ahli di
Deir-el-Medina, Janssen (1975) mengambil tidak kurang dari 350 ostraca dan
membandingkannya dengan hanya 25 papyri. Hal ini mengindikasikan bahwa ostraca
lebih banyak digunakan daripada papyrus.
Sejalan dengan mahalnya produksi papyrus, bila dibandingkan dengan ostraca,
papyrus digunakan untuk prasasti yang lebih penting. Ostraca, meskipun lebih kuat
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
105
terhadap lembab, mudah pecah dan kurang begitu tahan bila dibandingkan dengan
papyrus, dan dianggap kurang sesuai untuk pencatatan aktivitas maupun takdir
kematian serta teks suci seperti Book of Dead.
Scribes mengembangkan atau memiliki terminologi yang digunakan pada
berbagai account. Sebagai contoh, istilah pendapatan, pengeluaran, bunga, harga dan
biaya begitu sering digunakan. Demikian pula, terdapat banyak istilah yang
berhubungan dengan account seperti sub-total, total, grand-total, dsb. Kosa kata
tersebut secara teknik sangat akurat dan spesifik digunakan untuk akuntansi.
Dalam mencatat transaksi ekonomi privat para scribes membedakan antara
transaksi ke dalam tiga kategori:
1.
Transaksi yang mencakup pertukaran barang di pasar dengan menggunakan
account uang. Sebagai contoh:
Apa yang A berikan terhadap B dalam pertukaran untuk P, dimana A
dan B adalah penjual/pembeli, P merupakan komoditas yang dijual
oleh B, apa yang diberikan oleh A terhadap B adalah harga untuk P.
2. Transaksi yang mencakup pembayaran bagi keterampilan dalam membuat
barang tertentu seperti tempat tidur atau peti mati, pembayaran ini merupakan
bentuk komisi atas pembuatan barang. Terminologi yang digunakan pada kasus ini
merupakan imbalan terhadap seseorang atas pembuatan barang.
3.
Tipe transaksi ketiga berkaitan dengan daftar rinci persediaan yang berkaitan
dengan kesejateraan seseorang. Tipe ketiga ini berbentuk daftar berbagai item yang
disajikan dalam bentuk kuantitas atau dalam nilai uang. Pada tipe transaksi pertama
dan kedua, kedua pihak yang bertransaksi diidentifikasi secara jelas dan demikian
pula jenis dan nilai barang yang dipertukarkan. Untuk kasus transaksi yang dinilai
dengan uang, scribes selalu menekankan keseimbangan nilai untuk pihak-pihak
yang bertransaksi dengan membedakan nilai total dan jika barang baru dibayar
sebagian terdapat catatan untuk selisih yang belum dibayarkan.
Pada kasus akuntansi untuk institusi negara seperti lumbung, tempat pembuatan
roti, tempat pembuatan minuman dan tempat peribadatan, digunakan account yang
lebih rinci. Untuk tempat peribadatan, misalnya, pencatatan transaksi mencakup
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
106
persediaan, rincian arus barang masuk dan keluar, account alokasi ransum untuk
pegawai pemerintah, dsb.
Dokumen akuntansi, baik privat maupun negara, menunjukkan perkembangan
pada level tinggi dalam artian teknis. Dokumen akuntansi yang digunakan mencakup
berbagai bentuk termasuk jurnal. Ledger, daftar dan tabel dengan kolom berganda (pada
beberapa kasus terdapat catatan dengan lebih dari 80 kolom). Tanggal transaksi dan
berbagai entri dinyatakan secara tegas mencakup hari, bulan, musim dan tahun.
Account ditutup pada akhir masing-masing periode, dimana panjang periode bervariasi
sesuai dengan sifat account, dan saldo digunakan untuk perhitungan pada periode
berikutnya (carrry forward). Untuk account yang dianggap penting, kadang-kadang
suatu account ditutup dengan hanya sekali transaksi. Warna tinta berbeda (merah dan
hitam) digunakan untuk membedakan jenis barang dengan nilai berbeda atau untuk
membedakan antara pengiriman barang yang akan dilakukan dengan pengiriman barang
yang telah dikakukan.
Hanya terdapat sedikit temuan mengenai perkembangan akuntansi yang terjadi
sekitar 1200 SM sejak masa pemerintahan awal Old Kingdom sampai New Kingdom.
Megally (1977) menyajikan perkembangan teknik penyusunan account pada periode
sekitar 1200 SM. Salah satu perkembangan berkenaan dengan ukuran gulungan payrus
dimana catatan akuntansi ditulis. Pada masa Old Kingdom, gulungan papyrus memiliki
tinggi antara 21-24 cm. Pada masa New Kingdom ukurannya mengecil menjadi 18 cm,
dan juga pengurangan secara proporsional terhadap lebar papyrus. Mengenai
pengurangan ini, Megally menyatakan bahwa terdapat penyederhanaan klasifikasi dan
prosedur akuntansi. Account pada masa Old Kingdom berisi banyak kolom dan
sejumlah bagian kosong serta agak bertele-tele.
Selain itu, terdapat sejumlah
pengurangan dalam ukuran dan isi penjelasan pada teks tertulis. Sebagai controh,
scribes tidak lagi menulis tanggal secara lengkap pada berbagai transaksi pada hari
yang sama, dan menggantinya dengan dengan kata “hari ini.” Penyederhanaan tersebut
memungkinkan pengurangan halaman dari dua halaman menjadi satu halaman. Lebih
jauh lagi, ledger dipisahkan menjadi entitas akuntansi tersendiri. Sebagai contoh,
terdapat account terpisah untuk pencatatan roti yang dikirimkan. Perkembangan ini
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
107
memungkinkan
penelusuran langsung terhadap pertanggungjawaban pengiriman
terigu.
IV.
ORGANISASI PEKERJAAN
Fakta-fakta mengenai keberadaan administrasi, organisasi kerja dan akuntansi
pada periode Old Kingdom sangat langka. Organisasi pekerjaan dilakukan melalui
pembagian pekerja ke dalam kelompok-kelompok menurut hirarki dengan jumlah
pekerja yang berbeda untuk melaksanakan pekerjaan spesifik dan diawasi oleh
supervisor. Para pekerja memperoleh pembayaran berupa bahan makanan seperti roti
atau bir. Sebagian besar pegawai direkrut secara temporer untuk beberapa tugas tertentu
seperti pekerjaan penambangan. Bagi pekerja untuk tugas yang bersifat keahlian yang
berkaitan dengan pembangunan, pekerja direkrut secara permanen.
Pembangunan
proyek
negara seperti
the Great Pyramids of Giza,
membutuhkan pengorganisasian sejumlah besar pekerja untuk jangka waktu yang
sangat panjang (mungkin mencapai 20 tahun seperti pada kasus Cheop Pyramid).
Berbeda dengan kondisi pada periode Old Kingdom, terdapat sejumlah besar
fakta pada periode Middle Kingdom. Organisasi pekerjaan pada periode Middle
Kingdom dicirikan oleh keakuratan, rincian administratif dan kontrol. Terdapat
sejumlah aplikasi ruang lingkup akuntansi yang melandasi keempat karakteristik
tersebut. Kompilasi daftar nama dan kelompok kerja diorganisasikan sedemikian rupa
sehingga memudahkan kalkulasi akuntansi dan akuntabilitas yang jelas. Dalam
mengalokasikan tugas-tugas, akuntansi menjadi pusat penentuan target pekerjaan dan
pendefinisian tanggung jawab yang spesifik. Hal ini disertai dengan pengembangan
teknik akuntansi yang sesuai yang memungkinkan penelusuran dan pelaporan mengenai
pencapaian aktual, perbandingan antara pencapaian aktual dengan target yang
ditetapkan, serta penentuan kinerja apakah sesuai atau tidak dengan hasil yang
diharapkan. Dengan demikian terdapat suatu sistem kontrol terhadap tugas tertentu.
Akuntansi juga berpotensi memainkan peranan penting dalam menentukan
tingkat gaji individu yang melaksanakan tugas tertentu dan individu yang menempati
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
108
kedudukan berbeda sesuai dengan hirarki organisasi. Ketidakadaan mata uang sebagai
nilai universal dapat diatasi oleh akuntansi yang mendefinisikan value equivalence pada
berbagai produk sehingga pembayaran terhadap berbagai jenis barang dapat
diselesaikan.
4.1.
Kerja dan Maknanya
Sebelum beranjak lebih jauh, beberapa hal perlu diperhatikan dalam kaitannya
dengan arti “kerja.” Pertama, istilah kerja dan non-kerja merupakan sesuatu lebih
mengacu pada konteks sosial dimana aktivitas dilakukan, bukan pada aktivitas aktual
itu sendiri; dalam hal ini, kerja dan non-kerja bersifat ambigu. Kedua, kerja dilihat dari
perspektif sosiologi yang lebih luas. Kerja tidak dapat diartikan sebagai pekerjaan
penuh waktu seperti halnya pegawai sekarang, dan tidak mengharuskan adanya insentif
ekonomi sebagai persyaratan fundamental dilaksanakannya aktivitas “kerja.” Aktivitas
religius dan tanggung jawab sosial dapat merupakan insentif yang kuat bagi
dilaksanakannya kerja. Penyelesaian kerja terjadi sejalan dengan selesainya aktivitas
minimum yang diperlukan, seperti pengumpulan makanan secukupnya untuk bertahan
hidup dalam masyarakat berburu dan pengumpul makanan. Ketiga, pada kasus Mesir
Kuno, negara membagi populasi ke dalam mereka yang tergolong anggota tenaga kerja
(subjek ekonomi) baik yang bersifat permanen, musiman atau berbasis ad hoc, serta
mereka yang tidak dianggap sebagai bagian tehaga kerja (subjek non-ekonomi), dan
karenanya makna kerja diberikan oleh negara.
Di Mesir Kuno, ideologi negara yang dipromosikan melalui religi, seni dan teks
tertulis, berpusat pada sifat ketuhanan raja untuk menjamin ketundukan masyarakat
terhadap kerajaannya, dan pada gilirannya raja memberikan perlindungan, penghidupan
dan menjaga Maat dalam masyarakat. Dalam realitasnya, Pharaoh mampu
memobilisasi masyarakat untuk bekerja pada proyek-proyek negara maupun hal-hal
lain yang dia inginkan.
Proyek-proyek penting negara seperti pembangunan kuil, tempat tinggal
keluarga raja, dan makam, biasanya diawali oleh dekrit kerajaan dan dilaksanakan oleh
Vizier ayau staf senior lain. Salah satu contoh adalah penugasan melalui dekrit dari Raja
Senusret III Dinasti ke-12 yang menugaskan pembuatan monumen bagi Dewa Osiris
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
109
tanpa menguraikan rincian tugas, misalnya, mengenai bentuk monumen atau cara
membangunnya. Perincian tugas berada pada tangan bendaharawan dan insinyur senior
yang dianggap mampu menterjemahkan keinginan Pharaoh.
4.2.
Roster, Daftar Nama dan Pembagian Kerja
Roster dan daftar nama digunakan secara ekstensif. Papyrus Reisner I yang
berasal dari rezim Senusret I pada awal Dinasti ke-12 (1971-1926 SM) berisi catatan
mengenai pembangunan proyek yang melibatkan hampir 300 pekerja dan pengawas
yang diorganisir menurut divisi. Beragam dokumen yang digunakan termasuk:
1. Jumlah pekerja yang terdaftar, pertahun dan per hari.
2. Daftar nama individual pekerja yang dikelompokkan menurut nama pengawas.
3. Kehadiran dan ketidakhadiran harian yang dikelompokkan menurut nama
pengawas.
4. Daftar nama pekerja yang berpindah lokasi pekerjaan.
5.
Spesifikasi ukuran dan kuantitas beragam produk/tugas yang dikonversi ke dalam
ekuivalensi orang-hari.
6. Ransum yang dialokasikan pada tiap-tiap pekerja.
Demikian pula Papyrus Reisner II memerinci akun proyek Dockyard di This,
suatu pusat administrasi dekat Abydos. Papyrus Reisner II berisi roster kira-kira 50
orang yang bekerja selama 228 hari, yang menunjukkan jumlah pengeluaran harian per
pekerja dan jumlah total yang dikalkulasi pada tiap-tiap akhir bulan.
Hal yang penting dalam penyusunan roster dan daftar nama tersebut adalah
sistem yang digunakan untuk mengorganisir pekerja yang secara umum disebut dengan
crew system. Sistem ini berasal dari periode pra-dinasti Mesir. Fakta-fakta awal
mengindikasikan bahwa crew system digunakan dalam tempat pemujaan dan sarana
untuk mengorganisasikan kependetaan kuil. Sistem ini diadaptasi untuk digunakan
dalam istana dan domain administratif lainnya pada periode Old Kingdom. Crew
system memiliki struktur internal yang dibuat sedemikian rupa untuk memudahkan
penyesuaian administratif. Di Old Kingdom, crew dibagi ke dalam dua regu, dan tiap
regu dibagi ke dalam empat atau lima phyles, tiap-tiap phyles memiliki empat divisi
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
110
yang berisi kira-kira 10 orang. Jumlah total pekerja dapat mencapai 400 orang, bahkan
lebih. Di Middle Kingdom, jumlah pekerja (termasuk mandor) pada suatu divisi pada
umumnya adalah 10, 14 atau 20 orang.
Klasifikasi
sistematik
berdasarkan
divisi,
regu,
dsb.,
memungkinkan
administrator untuk memonitor pekerja. Tiap-tiap regu dialokasikan berdasarkan
ruangan tertentu dalam proyek. Para pekerja diharapkan dapat memenuhi beberapa
ukuran kontrol. Sementara pekerja mengerjakan proyek, kemajuan pekerjaan mereka
dilaporkan terhadap dan dimonitor oleh para scribes. Ukuran-ukuran kontrol mencakup:
1.
Output control forms, yang menunjukkan masing-masing pekerja pada lokasi
tertentu, jumlah batu yang diminta, jumlah batu yang dikirimkan, dan saldo batu
pada setiap hari kerja.
2.
Control notes, yang memberikan informasi menenai tanggal, prosedur
pemindahan batu dan pekerja yang melaksanakannya.
3.
Team marks, yang mengidentifikasi divisi, phyle maupun regu secara spesifik.
4.
Setting marks, yang dimaksudkan untuk memastikan bahwa batu disusun
dengan susunan yang tepat.
Tiap-tiap divisi memiliki nama khusus dan disatukan ke dalam phyle, dan
selanjutnya diklasifikasikan ke dalam regu. Hal ini memudahkan bagi penelusuran
pertanggungjawaban pekerja secara individual, untuk mengecek kehadiran atau
ketidakhadiran, dan untuk merotasikan pekerja baik secara individual maupun dalam
kelompok.
Perlu dibedakan antara definisi suatu divisi yang digunakan bagi organisasi
kerja dan definisi yang digunakan dalam hubungannya dengan pendistribusia ransum.
Pada kasus organisasi kerja, perhitungan hanya dilakukan pada jumlah pekerja dan
tidak termasuk mandor. Tabel 1 merupakan contoh perhitungan dengan 12 pekerja
dengan mandor Inyotef Putra Dedu (Inyotef’s son Dedu) yang dicatat oleh scribe pada
Papyrus Reisner I. Tidak dimasukkannya mandor bermakna bahwa mandor bersifat
permanen dan selalu hadir, sedangkan pekerja bersifat kurang permanen.
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
111
Tabel 1. Daftar Hadir: Papyrus Reisner I
Total Days Days on
Project
The foreman Inyotef’s son Dedu
Oker’s son Sobk-hopte
11
11
His brother Inyotef
11
8
Ketiu’s son Nedjes
75
42
Se’n-Worset’s son Sehetep-ib
75
46
Inyoief’s son Nesu-Mentu
75
65
Ameny’s son Nefer-Kha u
75
75
His brother Sefkhy
75
75
Sobk-hotpe’s son Nakhti’s son Inyotef
11
9
Sobek-nakhte’s son Mereri
75
60
Hedejenenu’s son Mer-su
11
11
Sobk-hotpe’s son Anhur-ankhu
11
Nefer-tjentet’s son Se n-Wosret
75
55
Total = 12
580
457
List of Workmen
Days of
Absence
3
33
29
10
2
15
11
20
123
Prosedur ini berbeda dengan penentuan distribusi ransum sebagai pembayaran
gaji. Pada kasus ini, ukuran divisi ditetapkan oleh scribe ke dalam ekuivalensi jumlah
pegawai dengan ransum yang sama. Karenanya, jika mandor memperoleh ransum dua
kali lebih banyak dari pekerja biasa, ukuran divisi ditingkatkan dengan menghitung
mandor sebanyak dua kali pekerja. Tabel 2 yang merupakan payroll dari Sinai
merupakan contoh perhitungan.
Tabel 2. Payroll dari Sinai
1 mandor
(dan) 20 orang (5 divisi) = 105 orang
1 mandor
(dan) 14 orang (8 divisi) = 120 orang
1 mandor pemotong batu
(dan) 10 orang (4 divisi) = 44 orang
Jumlah total orang dihitung dengan mengkalikan jumlah divisi dengan jumlah
pekerja dan mandor plus satu. Sebagai contoh, jumlah 44 orang diperoleh dari perkalian
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
112
antara 4 divisi dengan 10 (9 pekerja dan 1 mandor) plus 1. Plus 1 merupakan ketetapan
aritmetik untuk menunjukkan status mandor yang memiliki dua kali lebih banyak
ransum bila dibandingkan dengan pegawai biasa.
Alokasi dan urutan pekerja dalam hirarki kelompok (divisi, phyle, regu dan
crew), daftar mereka dalam roster, dan lembar kehadiran mereka menunjukkan
implikasi disiplin yang kuat bukan saja bagi pekerja namun juga bagi mandor dan
supervisor. Supervisor dan mandor dapat menyajikan account mengenai aktivitas yang
berada dalam tanggung jawabnya. Aktivitas pekerja dapat ditelusuri dengan tepat dalam
hal lokasi pekerjaan, hari, kehadiran, dan ketidakhadiran.
4.3.
Setting Target: Penggunaan Rasio Waktu-Volume
Target-target pekerjaan ditetapkan bagi divisi atau individual pekerja dan
dimonitor secara harian oleh scribes dengan menggunakan beragam teknik akuntansi,
seperti rasio waktu-volume dan rasio konversi. Papyrus Reisner I memberikan fakta
mengenai penggunaan teknik tersebut. Papyrus mencatat berbagai kalkulasi yang
digunakan dalam beragam tahap pengerjaan membuat tembok dan material yang
berkaitan dengan pekerjaan tersebut. Account memiliki tanggal, menunjukkan jumlah
unit, dan ekuivalensi jumlah pekerja. Account mencakup sejumlah aktivitas: (i)
pengadonan tanah, mengerjakan tembok, pembuatan parit dan koridor; (ii) pengiriman
material; (iii) penempatan tanah liat; (iv) pengeringan lahan; dan (v) pembangunan
tower. Dengan menspesifikasikan panjang, kedalaman, ketebalan dan indikator unit,
volume dikalkulasi untuk setiap set aktivitas.
Papyrus Reisner I juga menunjukkan rincian mengenai penugasan tenaga kerja.
Rincian ini memudahkan pekerjaan manajemen pembangunan proyek. Untuk setiap
entry, dokumen ini menspesifikasikan sifat pekerjaan yang dilakukan, hari dimulainya
dan diakhirinya suatu tugas, jumlah pekerja yang melaksanakan tugas, jumlah total hari
untuk mengerjakan tugas, dan jumlah ekuivalen orang-hari. Account berisi suatu
portfolio aktivitas berbeda: (i) perjalanan ke hulu dan ke hilir sungai; (ii) nama-nama
mandor, tukang batu dan tukang tembok; (iii) pembersihan acacia dari pinggir sungai;
(iv) pengiriman dan transportasi; dan (iv) pemasangan portal interior atau pintu masuk.
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
113
Informasi yang relevan untuk monitor dan kontrol dapat diperoleh dari
rekening ini; gambaran yang lengkap dapat disusun mengenai waktu yang digunakan
oleh mandor baik yang digunakan untuk perjalanan maupun mengawasi proyek. Tabel
3 menyajikan catatan mengenai jumlah hari yang diperoleh dari Papyrus Reisner I.
Tabel 3. Hari Kerja dan Transit antar Proyek: Papyrus Reisner I
Days
Days
in Transit
on Project
J2 from 6-13 IIII Proyet inclusive
8
J2 to J11-14 IIII Proyet to 7 I Shomu
24
J11 from 8-20 I Shomu inclusive
13
J11 to J17 21-27 I Shomu
7
J17 from 28 I Shomu to 7 II Shomu inclusive
10
J17 to J18 8-9 II Shomu
2
J18 from 10-20 II Shomu
10/11
41/42
33
Periode waktu yang digunakan adalah dimulai sejak hari ke enam bulan IIII
Proyet dan berakhir pada hari ke 20 bulan II Shomu. Mandor menggunakan waktu
untuk transit perjalanan antara 41 atau 42 hari dan 33 hari untuk mengawasi proyek,
dengan total hari adalah 74 atau 75 hari. Pembagian waktu yang digunakan mandor
memiliki implikasi penting. Dengan menetapkan lokasi tertentu dan hari yang
digunakan untuk mengawasi proyek serta hari meninggalkan proyek, administrator
dapat menelusuri dan menilai kinerja serta kompetensi mandor. Administrator juga
dapat menghitung jumlah total waktu (dalam ekuivalensi orang-hari), waktu yang
digunakan pada proyek tertentu dalam lokasi tertentu, serta rencana kerja untuk proyek
masa yang akan datang.
Rincian account seperti yang disusun dalam account tersebut di atas
selanjutnya disusun ke dalam ringkasan account yang menunjukkan dua jenis angka:
produk atau volume dan/atau ekuivalensi orang-hari (Tabel 4).
Tabel 4. Tugas dan Ekuivalens Orang-Hari: Papyrus Reisner I
Entry
2
3
4
5
Task/Item
Earth rubble
Builders
Hauling stone
Carrying (items)
Equivalent Man-Days
(V/E)
443 ½
85
715
36 ½
Volume (V)
4,435
381½
143; 2 palms
183
Equivalence Metric
(E)
1:10
2:9
5:1
1:5
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
114
6
10
13
Carrying sand
Brick
Loosening field (earth)
101 ½
602
55 ½
152½ ¼
39,118
556½
2:3
1:65
1:10
Berdasarkan account tersebut dimungkinkan kalkulasi nilai yang berbeda
menurut metrik yang ekivalen untuk tugas-tugas yang berbeda. Namun demikian, masih
menjadi pertanyaan apakah metrik tersebut bersifat tetap untuk waktu yang berbeda.
Penting untuk diperhatikan bahwa metrik tersebut merupakan sinyal bagi para scribe
untuk memonitor beragam aktivitas melalui pengukuran berdasarkan denominator yang
sama. Beragam jenis pekerjaan dikonversi menurut metrik yang sesuai.
F
Tabel 5. Account Target Kerja Yang Dinyatakan Dengan Orang-Hari:
Papyrus Reisner III
17
hsbw 676 (f)
6760 (e)
2040 (a)
sty
18 kmtnf m hn dh
hsb
2
20 (b1)
19 kmtnf m k’t dht
.
30
300 (b2)
20 kmtnf m shmw
.
12
120 (b3)
21 kmtnf m nhy.f
.
50
500 (b4)
22
total
2980 (c)
23
total
3780 (d)
Papyrus Reisner III yang berasal dari awal Dinasti Keduabelas, menyajikan
fakta penggunakan jenis rasio yang lain. Papyrus ini berkenaan dengan aktivitas 21
orang selama 72 hari kerja (lihat Tabel 6). Pada Tabel 6, f merupakan jumlah orang atau
orang-hari dan e merupakan target kerja yang diekspresikan sebagai orang-hari (jika f
merupakan jumlah orang) atau sebagai orang-jam (jika f merupakan jumlah orang-hari),
dimana e = fx10. Selanjutnya, e dibuktikan dengan penjumlahan a+b+d, dimana a+b =
c yang menandakan jumlah pekerjaan yang diselesaikan, dan d merupakan sisa
pekerjaan yang belum selesai. Karenanya, pada Tabel 6, pekerjaan yang telah
diselesaikan adalah 2980 (2040+20+300+120+500), dan merupakan pengurang dari
target kerja 6760 (e) yang menyisakan 3780 (d) sebagai pekerjaan yang tersisa. Jumlah
pekerja/orang-hari (f) dikonversi ke dalam ekuivalen beban kerja sebagai target, dan
pada akhir periode akuntansi, pekerjaan yang dapat diselesaikan dikuantifikasi dan
dibandingkan dengan target kerja untuk menentukan sisa pekerjaan yang harus
diselesaikan. Dengan demikian, scribe dapat: (i) menetapkan target kinerja yang
dinyatakan dengan ukuran fisik beban kerja dengan uraian yang dapat dipahami oleh
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
115
pekerja; (ii) memonitor dan mengkuantifisir pekerjaan yang dapat diselesaikan pada
akhir suatu periode; (iii) mengkuantifisir sisa pekerjaan yang dapat diselesaikan; dan
(iv) mengindentifikasi jumlah total orang-hari yang digunakan untuk menyelesaikan
suatu proyek tertentu, yang mungkin juga berguna untuk mengestimasi jumlah oranghari yang akan digunakan untuk proyek lainnya di masa yang akan datang.
4.4.
Pelaporan Pencapaian dan Work in Progress
Pada bagian ini, fokus utama adalah mendiskusikan secara eksplisit praktek
pelaporan pekerjaan yang telah diselesaikan dan sisa yang belum terselesaikan yang
akan dimasukkan pada periode mendatang (carry forward), serta menunjukkan
kegagalan pekerja untuk memenuhi target. Dua bentuk pelaporan dapat dibedakan:
surat (letter) dan rekening (account).
4.4.1.
Pelaporan Work in Progress melalui Surat
Dua jenis surat yang berhubungan dengan bisnis dapat ditelusuri pada masa
Middle Kingdom, yaitu model letters dan letters yang berkenaan dengan aktivitas
ekonomi aktual. Model letters biasanya pendek dan tujuan utamanya untuk
memberikan mengajarkan pada scribes muda, scribes yang belum berpengalaman
mengenai bagian-bagian kunci surat bisnis dan cara penulisan yang dapat diterima. The
Hieratic Papyri dari Kahun (rezim Amenemhat III, 1844-1797 SM) berisi sembilan
surat yang mencakup item-item seperti angsa, biji-bijian, jagung dan buah-buahan.
Letters yang berkenaan dengan bisnis aktual memiliki empat bagian utama: (i) kata
pembukaan berisi pujian dari bawahan kepada atasan; (ii) uraian panjang mengenai
kemajuan pekerjaan atasan yang sedang dilakukan; (iii) beberapa pernyataan spesifik
mengenai masalah yang sedang dihadapi oleh subordinat dan permintaan saran
mengenai apa yang harus dilakukan; dan (iv) kalimat penutup yang berisi pujian
terhadap atasan.
Salah satu bentuk pelaporan melalui surat ditulis oleh Arisu (seorang bawahan)
kepada Sakaanu (atasan) yang menginformasikan bahwa : …all the affairs of the
Master … are sound and prosperous. Selanjutnya Arisu menulis mengenai kedatangan
3 pekerja, muatan perahu, jumlah gandum dan jagung, karpet, kursi, dst., 11 pekerja
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
116
yang harus bekerja lebih lama untuk menyelesaikan pekerjaannya, dan 5 pekerja
lainnya yang harus menggali batu. Laporan ini menunjukkan fokus terhadap pekerja
yang melaksanakan tugas sampai output selesai, tidak memfokuskan pada pemenuhan
target waktu.
4.4.2.
Pelaporan Work in Progress dengan Menggunakan Account
Pelaporan yang lebih rinci berada dalam bentuk account yang menunjukkan
pekerjaan total (target) yang harus dilakukan, jumlah pekerjaan yang telah diselesaikan
dan sisa pekerjaan yang harus diselesaikan. Salah satu contoh adalah laporan
pembuatan batu bata di Kahun (tabel berikut). Jumlah batu bata yang diselesaikan
adalah 116.511 adalah sama dengan jumlah batu bata yang dibuat dengan dua ukuran
berbeda; 5 palms (23.603 buah) dan 6 palms (92.908) 1 palms kira-kira 3 inci. Senbef
merupakan orang yang bertanggung jawab untuk pembuatan bata tersebut.
Tabel 6. Brick Account: Kahun
36.
37.
38.
39.
40.
Total
Particulars of these
Bricks of 5 palms
Remainder
Under the hand of zau.n.satu. Senbet
116511
23603
92908
Contoh lain adalah jurnal account Kahun III.1. Account ini lebih panjang dan
mencakup sejumlah aktivitas termasuk pengiriman padi-padian, distribusi tanah dan
jumlah hari kerja tiap-tiap divisi dalam suatu proyek. Meskipun account tersebut
mencakup durasi 4 bulan, masing-masing divisi hanya bekerja selama dua bulan.
Dengan maksimum 60 hari, 4 hari istirahat, menghasilkan maksimum 56 hari kerja per
divisi.
Terlepas dari jenis account yang dibuat, terdapat kesamaan pola-pola pelaporan
mengenai work in progress. Pada masing-masing kasus, terdapat spesifikasi yang jelas
mengenai work target seperti jumlah batu bata berdasarkan ukuran tertentu atau jumlah
hari untuk menyelesaikan pekerjaan. Suatu inventory disusun yang selanjutnya
diperbandingkan dengan target, sehingga memungkinkan perhitungan sisa pekerjaan
yang harus diselesaikan. Sistem akuntabilitas ini mewujudkan tiga elemen targetsetting, pengukuran pencapaian aktual, serta perbandingan antara pencapaian dengan
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
117
target sebagai sinyal bagi sisa pekerjaan. Apa yang tidak tercantum disini adalah fakta
mengenai tindakan atasan sebagai tindak lanjut dari pelaporan baik untuk melakukan
tindakan koreksi atau memberikan ganjaran. Meskipun tidak terdapat fakta pendukung,
hal ini tidak mengimplikasikan bahwa tindakan tersebut tidak pernah dilakukan.
V.
AKUNTANSI UNTUK DOMAIN PUBLIK
Masih terjadi perdebatan dalam literatur mengenai relatif pentingnya domain
negara bila dibandingkan dengan domain privat. Sering dikemukakan bahwa Pharaoh
hampir memiliki segalanya, dan menyisakan sedikit saja untuk kepemilikan individual.
Menurut perspektif yang lain, terdapat fakta kuat adanya kepemilikan privat yang
signifikan seperti tanah, lahan peternakan/pertanian, rumah, dan pabrik kecil seperti
tekstil. Terlepas dari mana yang lebih tepat, pajak pendapatan merupakan bagian yang
signifikan dari pendapatan negara, dan penilaian, pengumpulan serta re-distribusi pajak
merupakan salah satu pekerjaan utama para scribes dan pegawai negara lainnya.
Banyak aktivitas ekonomi di Mesir Kuno termasuk domain publik. Istana
kerajaan dan kuil merupakan dua institusi yang berpengaruh terhadap perekonomian
dan masyarakat Mesir Kuno. Istana kerajaan mencakup Pharaoh dan keluarganya,
keluarga dekat, the Vizier, pegawai kerajaan pada level atas dan orang-orang yang
digolongkan sebagai anggota istana yaitu bendaharawan, pendeta dan militer.
5.1.
Akuntansi dan Istana
Salah satu ciri sejarah Mesir adalah kontinuitas penekanan pada sentralisasi
kontrol yang kuat (Old dan New Kingdom) dan kontrol moderat (Middle Kingdom)
dari aparat pemerintah. Kombinasi fungsi pemerintah yang signifikan (misalnya
kepemilikan ekonomi agrikultural dan pengaturan terhadap masyarakat) serta
penekanan dan sentralisasi kontrol memungkinkan bagi terbentuknya struktur
departementalisasi dan hirarkikal. Lebih jauh lagi, dorongan untuk menguatkan
keamanan masyarakat maupun individual serta kepatuhan terhadap hukum telah
meningkatkan penekanan terhadap perwujudan administrasi yang efisien. Scribes,
dengan demikian, menjadi agen yang sangat berpengaruh dalam organisasi. Dengan
struktur organisasi pemerintahan yang ditujukan untuk memperkuat kekuasaan
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
118
Pharaoh, kebutuhan akan kontrol telah memberikan ruang bagi sribes untuk
menanamkan pengaruh. Dengan sifat keahlian teknisnya, scribes memiliki kedudukan
baik sebagai kontributor dalam fungsi pengawasan dan menjadi semakin penting bagi
Pharaoh.
Untuk mengeksplorasi peran yang dimainkan oleh scribes pada domain publik,
adalah relevan untuk mengkaji struktur pemerintah sedikit lebih rinci. Struktur
pemerintah dicerminkan oleh spesialisasi fungsional dan lokasi geografis. Struktur
tersusun atas 3 unit utama, yaitu pemerintah internal, administrasi daerah penaklukan,
dan dinasti. Pemerintah internal, yang menjadi fokus bagian ini, dibagi ke dalam empat
unit utama dan kadang-kadang dibagi lagi secara geografis. Unit tersebut adalah
domain kerajaan, tentara dan angkatan laut, pemerintahan religius dan pemerintahan
sipil. Untuk menjaga sentralisasi kontrol oleh Pharaoh, pejabat dengan kekuasaan yang
tinggi memimpin tiap departemen dan memberikan laporan langsung pada Raja yang
mengangkat dan memberhentikan mereka.
Dibawah pemerintahan sipil terdapat vizier, pengawas harta negara, lumbung
dan ternak, serta kota dan perkampungan utama. Stabilitas pemerintahan dijaga melalui
pemeliharaan ikatan yang kuat antara pemerintah pusat, provinsi, dan kekuasaan
kerjaan. Vizierate bertanggung jawab, diantaranya, terhadap penetapan arahan, tindakan
dan urusan-urusan Istana selaku institusi, serta efisiensi fungsi pemerintahan sipil dan
harta benda. Pengawas lumbung dan ternak dipercaya untuk melakukan regulasi
kehidupan ekonomi, serta pengelolaan pajak untuk diserahkan pada pemerintah. Kotakota penting memiliki walikota yang memiliki tanggung jawab diantaranya
mengumpulkan pajak, membantu pemerintah pusat dalam menyelenggarakan tugasnya,
serta pelaksanaan tugas yang dibebankan pada pemerintah kota. Komunikasi teratur
antara pusat dan provinsi dilakukan di istana kerajaan, yang difasilitasi dengan inspeksi
formal dan kontak informal, serta melalui vizier selaku pembawa pesan yang sering
melakukan perjalanan untuk mengkomunikasikan instruksi, menyelenggarakan tugas
dan memeriksa urusan-urusan pemerintah lokal.
Pada akuntansi untuk domain publik, scribes menyusun dan menggunakan
beragam prosedur akuntansi yang menelusuri arus masuk input dan transformasi ke
dalam output. Salah satu contoh adalah sekumpulan account mengenai pembuatan roti
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
119
yang berasal dari masa pemerintahan Seti I (1303-1290 SM). Dua jenis sistem metrik
akuntansi digunakan pada kasus ini. Pertama, perhitungan untuk kehilangan dan
kerusakan yang tidak dapat dihindarkan yang berasal dari proses konversi, seperti
penguapan dan perbedaan kualitas terigu. Penghitungan juga dilakukan melalui teknik
pembobotan yang mencerminkan perbedaan pentingnya perbedaan input/output
sehingga memungkinkan penetapan agregasi perbedaan barang melalui denominator
kuantitas yang sama. Jenis kedua mencerminkan masalah rendahnya kualitas output, hal
ini mengindikasikan jumlah roti yang dapat diproduksi dari satu hekat terigu.
Pengukuran ini memungkinkan konversi perbedaan-perbedaan output yang dihasilkan,
sehingga dapat diukur dan diperbandingkan. Hal ini juga memudahkan pengendalian
pada proses konversi dengan mengkaji hubungan input dan output. Kehilangan yang
melebihi batas kelonggaran (allowance) dicatat dengan jelas, sehingga dapat
diperkirakan jumlah roti yang dihasilkan serta berapa kehilangan yang terjadi. Beberapa
prosedur akuntansi yang dilakukan adalah:
1. Pengiriman bahan baku dari lumbung pada pabrik pembuatan roti direkonsiliasikan
dengan pengiriman roti dari pabrik ke gudang dengan menyesuaikan jumlah roti
yang dihasilkan (melalui penggunaan rasio konversi) terhadap roti yang dikirimkan
yang dikuatkan oleh referensi terhadap bobot total roti.
2.
Masing-masing account baking diperhitungkan dalam hal input dan ekuivalensi
output roti.
3.
Account
untuk
masing-masing
baker
bersifat
harian,
dengan
demikian
memungkinkan untuk menelusuri pertanggungjawaban pesanan baking terhadap
baker individual yang relevan.
5.2.
Akuntansi dan Kuil
Pentingnya kuil dalam masyarakat berasal dari perannya dalam ritual kematian
yang menjadi ciri masyarakat Mesir Kuno. Karenanya, tidak mengejutkan jika terdapat
fakta baik dalam papyri maupun batu prasasti yang menunjukkan aktivitas kuil dan
pemeliharaan tempat pemujaan terhadap Pharaoh serta petinggi istana lainnya. Sebagai
contoh, terdapat sejumlah dokumen yang berasal dari Old Kingdom mengenai kuil Raja
Néférirkaré-Kakai (Dinasti Kelima). Dokumen tersebut berisi daftar tamu dan alokasi
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
120
tugas-pekerjaan harian serta rincian alokasi account pengumpulan, pendistribusian dan
persediaan barang serta item-item lainnya.
Kuil bukan hanya institusi religius yang sangat berpengaruh, namun juga
memiliki peran penting sebagai bagian dari aparat negara. Scribes pada tiap-tiap kuil
memelihara catatan yang menunjukkan pendapatan kuil dan pengeluaran kuil seperti
pengeluaran untuk upacara, pemeliharaan kuil, gaji untuk staf, dsb., yang diuraikan
berdasarkan jenis barang dan perhitungan berdasarkan account kuantitas maupun
account uang. Referensi dibuat bukan menurut metode “ekonomi konvensional” yaitu
berdasarkan kuil, tetapi diuraikan dalam bentuk ringkasan pencatatan transaksi yang
dikenal dengan Papyrus Harris yang dibuat tidak lama setelah kematian Ramses II
(1193-1162 B.C). Breasted (1988) menguraikan Papyrus Harris:
Manuskrip luar biasa, naskah terbesar yang pernah ada dengan panjang
tidak kurang dari 133 kaki, berisi 117 kolom dengan masing-masing 12
atau 13 baris. Manuskrip ini merupakan tulisan tangan yang sangat
bagus dan merupakan manuskrip termewah yang ditinggalkan oleh
Mesir Kuno untuk kita.
Papyrus Harris merupakan daftar aktivitas Ramses III selama 31 tahun. Hal
yang menonjol pada aktivitas Ramses III adalah persembahan terhadap dewa-dewa
yang diklasifikasi oleh tiga kuil terbesar yaitu Thebes, Heliopolis, Memphis serta
beberapa kumpulan kuil kecil lainnya. Account masing-masing kuil diklasifikasikan
menurut beberapa judul: (i) orang yang mengunjungi kuil (dihitung berdasarkan jumlah
kepala); (ii) pendapatan dewa-dewa (diklasifikasikan berdasarkan komoditas seperti
emas, perak, sayuran, dsb., dan dihitung dalam bentuk account uang atau kuantitas);
(iii) persembahan raja pada dewa-dewa (diklasifikasikan berdasarkan komoditas dan
dihitung dalam bentuk account uang atau kuantitas); (iv) padi untuk upacara atau pesta
(dihitung dalam ukuran kapasitas seperti hekat); (v) sumbangan untuk upacara atau
pesta yang akan datang yang dibiayai oleh raja (diklasifikasikan berdasarkan jenis dan
dihitung dalam kuantitas); (vi) persembahan untuk dewa-Nil (diklasifikasikan dan
dihitung dalam account uang atau kuantitas).
Account (account) untuk tiap-tiap kuil (setara dengan panjang antara 7-17
halaman buku modern) diagresasikan pada akhir papyrus dengan judul yang sama
dengan tambahan tiap-tiap judul didahului dengan kata "total".
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
121
Account
bangsa Mesir Kuno memiliki kecenderungan pencatatan berbasis
harian atau bulanan, dan pada kasus Papyrus Harris pencatatan tersebut merupakan
konstruksi daftar atau laporan tahunan. Papyrus Harris yang dikonstruksikan setelah
kematian Ramses III mengimplikasikan bahwa account harian atau bulanan yang
membentuk basis papyrus tetap terjaga utuh selama 31 tahun. Hal penting disini adalah
fakta bahwa account muncul dan merupakan basis bagi konstruksi Papyrus Harris. Hal
ini berarti bahwa account tidaklah sesederhana untuk tujuan harian, tetapi lebih jauh
lagi merupakan salah satu sumber informasi dan sebagai sarana pencatatan transaksi
ekonomi untuk referensi dimasa mendatang.
Hal kedua yang menarik dari Papyrus Harris adalah tujuan penggunaan
komposisi. Dalam hal ini, jelas nampak jelas bahwa account tidak hanya digunakan
sebagai tujuan kontrol atau monitoring. Account memiliki makna penting secara
religius dan seremonial yang kuat. Papyrus yang disusun dalam suatu “manuskrip yang
mewah”, “tulisan tangan yang sangat bagus” merupakan kesaksian yang tepat bagi the
Great Pharaoh yang telah bergabung dengan dewa, bahkan dirinya merupakan dewa, di
surga.
Untuk menjadi seorang raja besar adalah masalah penghargaan terhadap dewadewa, persembahan, persembahan baru atas nama dirinya, dan menunjukkan
kedermawanan. Kegunaan persembahan dapat ditunjukkan secara nyata melalui
berbagai cara, seperti keragaman persembahan dan persembahan dengan material yang
langka atau material yang sangat diidam-idamkan. Namun kuantifikasi melalui beragam
sistem pengukuran akuntansi dan klasifikasi dengan beragam jenis komoditas melalui
penggunaan prosedur akuntansi membuat persembahan menjadi lebih nampak.
Persembahan seorang raja dapat lebih bermakna bila dibandingkan dengan
persembahan dari raja-raja sebelumnya dengan membandingkan kuantitas yang
dipersembahkan untuk tiap-tiap komoditas, dan melalui denominator yang sama
account uang, persembahan secara total dapat dikomparasikan. Lebih jauh lagi, account
yang tertulis menyediakan catatan yang permanen untuk referensi pada masa
mendatang sehingga keagungan raja dapat berlanjut sampai pada generasi berikutnya
dan juga merupakan contoh untuk raja yang akan datang.
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
122
5.3.
Akuntansi dan Peran Redistributif Institusi Negara
Untuk memudahkan operasi birokrasi negara, dikembangkan pengukuran arus
keluar masuk barang. Istana memiliki sejumlah departemen untuk membantu
pengadministrasian dan redistribusi ekonomi yaitu Bendaharawan (Treasury), Biro
Tenaga Kerja, dan Kepala Rumah Tangga. Selain itu, Vizier dan administrator negara
lainnya memainkan peran penting untuk memastikan berfungsinya sistem redistribusi,
dengan mempertimbangkan keperluan khusus atau kekurangan barang sehingga
kontribusi tiap-tiap sumber pasokan dapat direvisi dan cadangan dari gudang negara
dapat dikeluarkan untuk menutup kekurangan pada lokasi spesifik. Kuil mengambil
bahan-bahan dari persembahan yang ada secara reguler, dan sebagian besar makanan
tersebut berasal dari sumber daya produktif yang dimilikinya. Persembahan tersebut
berkisar mulai dari barang tahan lama seperti metal berharga sampai pada sumber
pendapatan yang permanen seperti lahan pertanian. Kuil juga memiliki tenaga kerja
sendiri, dan banyak dari tenaga tersebut menyewa lahan pertanian dengan ongkos
sebesar 30% dari hasil panen. Persembahan lainnya termasuk akses terhadap sumber
daya mineral, binatang ternak, hak penangkapan ikan, sayuran, kebun anggur dan
sarang lebah.
Hubungan simbiotik ini bukan hanya menandai keberadaan Pharaoh di setiap
kuil sebagai pendeta tetapi juga sebagai realitas aktual ekonomi. Kuil dengan seluruh
kekayaannya merupakan pemberian Pharaoh. Dalam konteks ekonomi, kuil bertindak
sebagai institusi negara yang diorganisir melalui mesin administratif dan sering
mengalami intervensi Pharaoh.
Akuntansi juga secara langsung berkaitan dengan organisasi dan fungsi sistem
re-distribusi. Scribes bertanggung jawab terhadap arus masuk dan arus keluar
komoditas. Dalam akuntansi untuk komoditas, scribes mengukur dan mencatat hasil
panen dan mengestimasikan pajak panen. Mereka memonitor transportasi hasil panen
dan pengiriman menuju gudang milik negara dengan melakukan pengecekan dan
pelaporan terhadap kuantitas atau jumlah aktual yang ada dan membandingkannya
dengan jumlah yang diharapkan. Dalam akuntansi arus keluar komoditas, sejumlah
dokumen akuntansi disusun termasuk pesanan yang telah ditetapkan, pengeluaran
komoditas yang bernilai, laporan pegawai dan dokumen yang menetapkan jumlah
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
123
barang diterima dan dokumen tersebut juga mencakup ringkasan account harian yang
menunjukkan pengiriman khusus, sisa, saldo, dan surplus. Ringkasan account harian
disusun dalam format tabular dan dibagai ke dalam dua bagian, pertama untuk
pencatatan pendapatan dan bagian lainnya untuk pengeluaran. Format tabular tersusun
atas berbagai kolom yang memiliki entries untuk komoditas tertentu.
Ringkasan account harian memiliki lebih dari sekedar implikasi ekonomi.
Account yang memiliki dokumen yang rinci mengindikasikan sumber-sumber pasokan
masing-masing komoditas serta kontribusi yang diestimasi maupun aktual untuk
masing-masing sumber, yaitu Head of South, the Labour Bureau dan the Treasury.
Sumber-sumber tersebut diberi fisibilitas dan legitimasi lebih besar melalui pencatatan
transaksi secara rinci.
Dalam perspektif akuntansi, Stone (1969) meringkaskan peran akuntansi bahwa
pada Departemen Keuangan Pharaoh, terdapat lembaga yang diberi nama The House of
Silver of the Treasury dimana internal kontrol dan auditing digunakan. Pencatat
menyiapkan catatan penerimaan dan pengeluaran perak, jagung serta hasil komoditas
lainnya. Seorang pencatat melakukan pencatatan pada papyrus jumlah yang
dimasukkan ke dalam gudang dan yang lainnya melakukan pengecekan pengurangan
sejumlah barang yang dimasukkan ke dalam ruang penyimpanan. Audit dilakukan oleh
orang ketiga yang mengkomparasikan kedua catatan tersebut. Seorang pegawai
bertugas melakukan penarikan barang dari ruang penyimpanan, dan bertanggung
bertanggung jawab untuk mencatat pengeluaran serta sisa yang berada dalam ruang
penyimpanan. Catatan petugas tersebut mengenai penerimaan, pengeluaran, dan saldo
persediaan secara periodik diaudit oleh petugas lain atau atasannya.
VI.
AKUNTANSI UNTUK DOMAIN PRIVAT
Meskipun sebagian besar aktivitas ekonomi di Mesir Kuno diorganisir dan
dikoordinasikan oleh institusi negara, terdapat domain ekonomi privat yang penting.
Keterlibatan para scribes dalam domain privat dimanifestasikan dalam tiga jenis
aktivitas yaitu: pencatatan transaksi antara penjual dan pembeli di pasar lokal;
pencatatan re-kompensasi pengrajin atas barang tertentu yang dihasilkan; dan
pencatatan daftar kekayaan pribadi. Sebagaimana halnya akuntansi dalam domain
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
124
publik, perhitungan account privat dilakukan dalam term kuantitas atau account uang.
Thus, beberapa transaksi barter, suatu komoditas dipertukarkan tanpa reverensi spesifik
bagi penilaian. Kemungkinan besar, transaksi barter didukung oleh beberapa estimasi
penilaian. Transaksi yang dimediasi oleh account uang memberikan gambaran lebih
jelas mengenai pertukaran ekonomi sehingga lebih mudah untuk menetapkan
keberadaan uang. Sebagai contoh, entry pembukuan berikut yang berlangsung pada
masa Ramses II:
1. Diberikan pada dia sebagai pertukaran untuk peti mati
2.
Tembaga, 8½ deben; tambah, tembaga 5 deben;
3.
1 babi, seharga 5 deben; 1 kambing, seharga 3 deben; 1 kambing, seharga 2 deben.
4.
2 log kayu, seharga 2 deben. Total 25 ½ deben.
Karenanya, harga peti mati adalah 25 ½ deben, dan jumlah ini sesuai dengan
pembayaran beragam komoditas yang dinilai secara agregat sebesar 25 ½ deben.
Melalui pencatatan transaksi, dan penambahan transaksi, pertukaran ekonomi dapat
terjadi; dalam hal ini, pertukaran dicatat dalam entries pembukuan yang disusun oleh
scribes.
Scribes tidak hanya mendokumentasikan harga suatu objek, tetapi juga
menguraikan secara rinci mengenai biaya komponen utama suatu objek, termasuk biaya
tenaga kerja dan biaya dekorasi. Beberapa contoh berasal dari perkampungan Deir-elMedina selama pemerintahan Ramessid (the New Kingdom). Sebagai contoh,
pencatatan transaksi penjualan sebuah tempat tidur diidentifikasi dengan jelas. Dari
jurnal akuntansi dapat ditemukan biaya untuk masing-masing komponen; kayu (kirakira 5 khar), pelapis (kira-kira 1 khar), dekorasi (kira-kira ½ khar). Perincian lebih jauh
juga didokumentasikan mengenai biaya seperti untuk empat kaki tempat tidur (1½
deben).
Dalam konteks ini adalah relevan untuk menanyakan: mengapa transaksi barter
dianggap penting untuk dicatat? Perlu dikemukakan bahwa transaksi tersebut dicatat
oleh scribes, bukan oleh pihak yang bertransaksi. Hal ini bermakna bahwa pencatatan
transaksi tidak bebas biaya (no cost-free) karena scribes mensyaratkan adanya fee.
Cukup masuk akal untuk menyatakan bahwa pencatatan account transaksi dapat
digunakan sebagai dokumen legal. Catatan ini kelak dapat digunakan sebagai referensi
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
125
jika terdapat kasus perselisihan mengenai kualitas komiditas yang dipertukarkan
dan/atau sebagai referensi bagi penyelesaian transaksi.
Kemungkinan potensi kegunaan pemeliharaan account lainnya adalan catatan
permanen mengenai ekuivalensi. Dalam ketidakadaan daftar harga pasar, hanya melalui
ekuivalensi pertukaran ekonomi dapat dicapai, catatan transaksi masa lalu merupakan
panduan bagi transasi masa mendatang. Hal ini dapat menjelaskan sebagian mengapa
tingkat harga pada Mesir Kuno tetap stabil sepanjang periode ratusan tahun. Jika
seseorang disiapkan untuk mengajukan kemungkinan bahwa akuntansi dapat
menyediakan suatu catatan ekuivalensi ekonomi, akan menjadi mungkin untuk
meningkatkan kredibilitas argumen yang menyatakan bahwa, meskipun dalam bentuk
yang kasar, akuntansi adalah teknologi yang paling kuat dan bahwa para scribes sangat
mungkin memegang prestise yang tinggi. Untuk saat ini, akuntansi mampu
menempatkan dirinya sendiri untuk lebih siap dalam jaringan pertukaran ekonomi.
Objek akuntansi sederhana sekarang telah digantikan dengan akuntansi yang lebih baik,
melalui money of account yaitu deben dan khar, dan sebagai konsekuensinya, mode
baru pertukaran ekonomi muncul. Penilaian objek yang dipertukarkan berlangsung
lebih pasti, sejalan dengan fungsi uang yang menggantikan (meskipun tidak
sepenuhnya) objek yang dipertukarkan. Dengan tersedianya teknologi penilaian melalui
money of account, dan keseimbangan penilaian uang pada kedua sisi transaksi,
akuntansi berada pada jantung hubungan ekonomi.
Lebih jauh lagi, penyebaran money of account menandai era baru dimana
resiprokritas ekonomi dapat ditetapkan dalam term yang lebih tepat. Jadi, daripada
menyamakan komoditas satu dengan yang lain melalui penghitungan ekuivalensi,
misalnya lima biri-biri untuk satu ekor sapi, kita sekarang menghadapi situasi dimana
segalanya direduksi terhadap, dan dihitung berdasarkan, pembagi yang sama yaitu
money of account. Melalui penilaian komoditas, perbedaan komoditas untuk jenis yang
sama misalnya biri-biri dengan berat yang berbeda, dapat lebih mudah dikuantifisir.
Resiprositas ekonomi, karenanya, mencapai level yang lebih tinggi dalam hal referensi
pertukaran, dimana pertukaran barang dilakukan dengan lebih tepat melalui kesesuaian
nilai yang lebih tepat.
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
126
VII.
PENUTUP
Tema pokok bagian ini adalah menguraikan peran penting akuntansi dan para
scribes (akuntan) dalam konteks ekonomi, sosial dan politik dalam sejarah Mesir Kuno.
Meskipun prosedur akuntansi pada masa ini dianggap masih kasar menyulitkan, potensi
dan efek kekuatan akuntansi tidak dapat disangsikan.
Scribes merupakan tenaga terdidik yang menspesialisasikan diri pada
pembukuan, telah menjadi anggota masyarakat penting sekurang-kurangnya sejak 3000
SM. Tidak ada keraguan bahwa profesi scribal sangat dihargai dan merupakan salah
satu jenis pekerjaan yang sangat prestisius.
Para scribes ditempa dengan sistem pendidikan dan disiplin yang ketat dan
diajari membaca menulis dan menghitung, siang maupun malam. Selepas pendidikan,
mereka beraktivitas dalam beragam domain ekonomi, baik publik maupun privat.
Kemunculan kosa kata dan teknologi akuntansi memungkinkan scribes melakukan
improvisasi dalam berbagai transaksi.
Scribes memainkan merupakan agen penting pada organisasi pemerintah dan
organisasi keagamaan. Pencatatan transaksi harian di pasar lokal baik dalam artian
kuantitas maupun transformasi barang fisik ke dalam nilai yang setara melalui
penggunaan money of account, menjadikan scribes sebagai pemeran penting dalam
menyelesaikan transaksi dimana catatan transaksi menjadi ekspresi nyata reprositas
perekonomian. Dalam akuntansi pada domain negara, scribe menggunakan beragam
ukuran fisik untuk memonitor pengubahan input ke dalam output dan melakukan
penilaian melalui money of account yang mencerminkan keterbatasan atau nilai barang
secara individual.
--- 000 ---
REFERENSI
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
127
Carmona, Salvador., and Mahmoud Ezzamel. 2005. Accounting
and Forms of
Accountability in Ancient Civilizations: Mesopotamia and Ancient Egypt. Paper
to be presented to the Annual Conference of the European Accounting
Association.
Eyre. C. J. 1992. The Adoption Papyrus in Social Context. The Journal of Egyptian
Archaeology, Vol. 78, pp. 207-221
Ezzamel, Mahmoud. 1994. The Emergence of the ‘Accountant’ in the Institution of
Ancient Egypt. Management Accounting Research, Vol. 5, pp. 221-246.
Ezzamel, Mahmoud. 2004. Work Organization in the Middle Kingdom, Ancient Egypt.
Organizations, Vol. 11 No. 4, pp. 497-537.
Ezzamel, Mahmoud., and Keith Hoskin. 2002. Retheorizing Accounting, Writing, and
Money with Evidence from Mesopotamia and Ancient Egypt. Critical
Perspectives on Accounting, Vol. 13, pp. 333–367
Hoskin, K., and Macve R. 1986. Accounting and Examination: a Genelogy of
Disciplinary Power. Accounting, Organization and Society, Vol. 11 No. 2, pp.
105-136.
James, T. G. H. 1968. An Early Middle-Kingdom Account. The Journal of Egyptian
Archaeology, Vol. 54, pp. 51-56
Stone, Williard E. 1969. Antecedents of the Accounting Profession. The Accounting
Review, Vol. 44 No. 2, pp. 284-291.
www.ancient-egypt.org. 2007. The History of Ancient Egypt.
Ivan A. Setiawan dan Sugeng Riyadi
Akuntansi di Zaman Kuno (2): Mesir Kuno
128
Fly UP