...

1 Kota Shaning terletak di lembah Sungai Yang

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

1 Kota Shaning terletak di lembah Sungai Yang
___________________________________________________________________________
Kota Shaning terletak di lembah Sungai Yang-ce yang mengalir melalui Propinsi An-hui.
Kota ini cukup besar dan penduduknya padat terbukti dari bangunan-bangunan rumah yang
berhimpit-himpitan. Berbeda dengan tempat-tempat di sekitar lembah Sungai Huai yang juga
mengalir melalui Propinsi An-hui dan yang seringkali membanjiri kanan kirinya, lembah di
sekitar Sungai Yang-ce amat subur dan makmur.
Demikianpun keadaan kota Shaning. Kebahagiaan mereka terpancar keluar dari seri wajah
penduduknya. Nelayan-nelayan di sepanjang Sungai Yang-ce melakukan pekerjaan mereka
sambil bernyanyi gembira, petani-petani mengerjakan sawah-ladang dengan giat dan muka
berseri, yakin akan hasil tanah yang diolahnya, para penggembala menghalau hewan
ternaknya dengan ayem dan senang sambil memperdengarkan suara suling bambunya di kala
mereka duduk di bawah pohon memandang dan menjaga hewan-hewan yang sedang makan
rumput yang hijau segar. Juga di dalam kotanya sendiri nampak kemakmuran dengan adanya
pedagang-pedagang yang menjual kebutuhan penduduk dengan harga murah.
Pembesar-pembesar setempat melakukan tugas mereka dengan amat baik, jujur, dan adil,
berbeda sekali dengan sebagian besar petugas yang mempergunakan kedudukan dan
kekuasaan mereka untuk menghisap rakyat dan memenuh kantung mereka sendiri. Hal ini
tidak terjadi karena kebetulan saja pejabat-pejabat di Shaning adalah orang-orang yang baik
budi, akan tetapi terutama sekali karena pengaruh seorang pendekar besar yang bertempat
tinggal di koti Shaning. Pendekar inilah yang membuat para pembesar merasa takut untuk
bertindak tidak adil atau memeras rakyat, bahkan dengan adanya pendekar ini, maka daerah di
sekitar Shaning menjadi aman sekali. Tidak ada seorang pun perampok yang berani
mengganggu daerah ini.
Memang tidak mengherankan apabila para petualang dari kalangan Hek-to (jalan hitam atau
dunia penjahat) tidak berani melakukan kejahatan di daerah itu, karena pendekar ini bukan
lain adalah Sie Cin Hai, pendekar berilmu tinggi yang telah membuat gempar seluruh dunia
persilatan, dan telah diakui kelihaiannya oleh tokoh-tokoh persilatan di empat penjuru. Selain
pendekar ini yang di kalangan kang-ouw mendapat nama julukan Pendekar Bodoh, juga
isterinya adalah seorang pendekar wanita yang tak kurang-kurang lihainya, karena isterinya
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
1
ini adalah bekas su-moinya (adik seperguruan) sendiri, yang selain lihai ilmu silatnya, juga
amat cantik jelita.
Di samping sepasang suami isteri yang tinggi ilmu kepandaiannya itu, masih ada lagi seorang
yang juga amat disegani, yakni ayah angkatnya Nyonya Sie yang bernama Yo Se Fu. Melihat
warna kulitnya dan potongan mukanya, orang akan menduga bahwa Yo Se Fu ini bukanlah
seorang Han. Memang betul, kakek tua yang disebut Yo Se Fu ini berasal dari Turki dan
dahulu namanya adalah Yousuf, seorang bangsawan Turki yang selain berilmu tinggi juga
amat baik budi. Di dalam cerita Pendekar Bodoh, diceritakan bahwa Yousuf atau Yo Se Fu ini
telah diangkat sebagai ayah oleh Lin Lin atau Kwee Lin yang sekarang menjadi Nyonya Sie
Cin Hai. Selain ilmu silatnya yang tinggi, juga Yo Se Fu memiliki ilmu hoat-sut (sihir) yang
cukup tinggi.
Dengan adanya keluarga inilah, maka kota Shaning menjadi tenteram dan damai. Rumah
mereka yang besar mendatangkan rasa aman di dalam hati semua penduduk Shaning, seakanakan di dalam rumah besar itu terdapat ribuan orang penjaga keamanan yang boleh dipercaya.
***
Pada suatu pagi yang cerah. Semua penduduk Shaning telah keluar dari pintu rumah masingmasing untuk melakukan pekerjaan mereka. Ada yang pergi ke ladang untuk mencangkul
tanah, ada yang pergi ke sungai untuk mulai dengan pekerjaan mereka mencari ikan atau
menambangkan perahu, ada pula yang pergi untuk berdagang dan lain-lain. Yang amat
menarik adalah kenyataan bahwa pintu rumah para penduduk itu dibiarkan terbuka begitu saja
sungguhpun di antaranya ada yang sama sekali kosong ditinggalkan oleh para penghuninya
yang pergi bekerja. Memang telah lama sekali penduduk Shaning tidak mengenal adanya
perampokan atau pencurian sehingga mereka boleh meninggalkan rumah-rumahnya dengan
pintu terbuka dan dengan hati aman!
Kalau pada pagi hari itu di jalan raya yang banyak toko-tokonya itu keadaan amat ramainya,
di lorong-lorong kecil tempat tinggal para petani dan nelayan amatlah sunyinya karena semua
orang pergi meninggalkan rumah untuk bekerja.
Tiba-tiba terdengar suara nyanyian memecah kesunyian sebuah lorong kecil yang diapit oleh
dua deretan rumah di kanan kiri. Suara nyanyian itu merdu sekali, dan dari suaranya yang
bening dan tinggi nadanya itu dapat diduga bahwa yang bernyanyi adalah seorang anak
perempuan. Selain merdu sekali, juga suara itu terdengar amat gembira dan jenaka.
“PLak! Plok! Plak Plok!
Si Tolol naik kuda,
Kudanya sudah tua,
Jalannya kaya onta!!!”
Dari sebuah tikungan di lorong itu muncullah penyanyinya. Cocok benar dengan suaranya
yang bening merdu, anak perempuan yang kurang lebih berusia delapan tahun itu luar biasa
cantik dan manisnya. Rambutnya yang hitam dan panjang itu dikuncir dua, dengan jambul di
atas kepala, di kanan kiri yang membuatnya nampak lucu sekali. Mukanya halus dan putih
kemerahan, dengan sepasang mata yang indah bening bagaikan mata burung Hong. Kesegaran
mukanya ini makin jelas karena hiasan setangkai bunga merah di atas telinga kanannya, dan
melihat bunga merah itu, orang akan membandingkannya dengan mulut kecil mungil dan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
2
merah yang selalu tersenyum gembira itu. Baik dari matanya yang bersinar-sinar, atau dari
hidungnya yang kecil mancung dan dikembang-kempiskan dengan cara lucu, maupun dari
mulutnya yang tersenyum-senyum, nampak kegembiraan yang membuat wajah ayu itu selalu
berseri-seri. Pakaian yang dipakainya juga pantas sekali, menambah kemungilan dan
kelucuannya. Bajunya berwarna merah dengan pinggiran putih. Celananya berwarna putih
bersih dengan pita lebar warna hijau di bagian bawah, sepatunya yang kecil berwarna hitam.
Baik baju maupun celananya terbuat daripada sutera mahal yang indah dan juga sepatunya
yang baru dan baik itu menunjukkan bahwa ia adalah anak seorang yang berkeadaan cukup
baik, dan kejenakaannya menunjukkan kemanjaan.
Siapakah anak perempuan yang amat lucu dan menyenangkan hati setiap orang yang
memandangnya ini?
Kalau pertanyaan ini diajukan kepada penduduk kota Shaning, setiap orang, baik ia petani,
nelayan, maupun pedagang, baik ia anak kecil, orang dewasa, maupun kakek-kakek, akan
dapat menjawabnya dengan cepat. Ia adalah anak kedua dari pendekar Sie Cin Hai. Anak
perempuan ini bernama Sie Hong Li, akan tetapi ibunya yang amat memanjakannya biasa
menyebutnya Lili dan untuk memudahkan, lebih baik kita pun menyebut Lili saja kepadanya.
Lili memang memiliki sifat periang dan jenaka, sungguhpun harus diakui bahwa kadangkadang ia amat bengal sehingga seringkali dimarahi ayahnya. Jauh bedanya dengan kakaknya
yang dua tahun lebih tua darinya, yakni putera sulung keluarga Sie yang bernama Sie Hong
Beng. Semenjak kecilnya Hong Beng menunjukkan sifat pendiam akan tetapi matanya yang
bersinar-sinar bagaikan bintang pagi itu mencerminkan kecerdasan otak yang luar biasa.
Sebaliknya, Lili tak begitu maju dalam hal pelajaran membaca dan menulis. Sebetulnya bukan
karena anak perempuan ini terlalu bodoh, akan tetapi karena ia memang tidak suka duduk
diam dan tekun belajar. Diwaktu menghafalkan pelajaran, pikirannya melayang kepada
kesenangan bermain-main dan bahkan seringkali ia mengganggu dan menggoda kakaknya
yang sedang tekun belajar sehingga ia mendapat omelan dari ayahnya. Kalau sudah begitu,
tentu ibunya yang akan datang menghibur dan memanjanva, atau juga kakeknya, ialah Yousuf
yang amat mencintanya. Hal ini membuat Lili menjadi makin bengal.
Betapapun juga, dalam hal pelajaran ilmu silat harus diakui bahwa Lili memiliki bakat yang
luar biasa dan baik sekali. Gerakan-gerakan kaki tangannya lemas dan indah kadang-kadang
mengingatkan ayah atau ibunya kepada Ang I Niocu, seorang pendekar wanita kenamaan
yang meniadi sahabat baik mereka dan yang tinggal bersama suaminya di seberang laut, di
sebuah pulau kecil.
Oleh karena bakatnya ini maka biarpun usianya baru saja delapan tahun dan sungguhpun ia
tidak dapat menandingi kakaknya yang memang luar biasa cerdik dan pandainya itu, Lili telah
menjadi seorang anak yang pandai ilmu silat dan laki-laki dewasa yang biasa saja jangan
harap akan dapat mengalahkannya!
Lili memang benar-benar nakal. Hampir setiap hari ia pergi dari rumah, pergi ke kampungkampung, bermain-main dengan kawan-kawan sekampung atau... berkelahi! Memang luar
biasa sekali, apalagi pada zaman itu, seorang anak perempuan selalu mencari jago-jago kecil
di setiap kampung dan mengajaknya mengadu kepalan! Dan akibatnya selalu tentu Lili yang
menang dan jago kecil itu mendapat telur yang menjendol di kepala atau pipinya menjadi
matang biru. Kalau sudah begitu, orang tua anak itulah yang akan datang mengadu sehingga
seringkali Lili dimarahi keras oleh ayahnya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
3
“Lili! Apakah kelak kau akan menjadi tukang pukul orang? Sungguh tak tahu malu, anak
perempuan bertingkah sekasar itu!” Ayahnya mengomel, akan tetapi diluar tahunya Cin Hai
biarpun telah dimarahi oleh ayahnya, Lili masih dapat mendongeng di depan ibunya atau
kakeknya tentang jalannya “pertempuran” yang tadinya ia lakukan dengan anak laki-laki itu!
Demikianlah, pada hari itu seperti biasa, Lili telah mulai “keluyuran” dan keluar dari rumah
pagi-pagi sekali. Kali ini ia lebih bebas daripada biasanya, oleh karena telah ada sepekan ini
ayah ibunya pergi ke barat untuk mengantarkan kakaknya, Hong Beng, ke tempat pertapaan
seorang kakek sakti bernama Pok Pok Sianjin yang juga terkenal sebagai ahli silat nomor satu
di bagian barat! Sepuluh tahun yang lalu, sebelum Hong Beng terlahir bahkan sebelum Sie
Cin Hai menikah dengan Lin Lin, kakek sakti ini pernah berjanji kepada Cin Hai bahwa ia
kelak akan memberi pelajaran ilmu silat tongkat kepada keturunan Pendekar Bodoh, maka
kini setelah Hong Beng berusia sepuluh tahun, Cin Hai bersama isterinya lalu membawa
putera mereka ini ke tempat pertapaan Pok Pok Sianjin untuk menagih janji, sekalian
melakukan perjalanan melancong untuk menghibur hati.
Lili yang hanya tinggal berdua dengan kakeknya, tentu saja lebih bebas karena Yousuf
memang amat memanjakan cucu perempuannya ini. Sambil bernyanyi lagu-lagu lucu yang ia
pelajari dari Yousuf karena kakek asal Turki ini seringkali mendongeng kisah-kisah kuno
kepada kedua cucunya, dongeng Turki yang didongengkan sambil bernyanyi. Lili berjalan
sambil berlompatan meniru larinya kuda yang dinyanyikannya dalam lagu “Kisah Si Tolol
Naik Kuda”.
Lorong kecil yang dilaluinya itu dipasangi batu-batu lebar dan rata di bagian tengah,
dijajarkan memanjang dan jalan batu ini dipergunakan pada waktu musim hujan karena jalan
kecil itu tentu akan menjadi amat becek berlumpur.
Kini Lili melompat-lompat dari batu ke batu sambil bernyanyi gembira, kadang-kadang
diseling oleh suara lucu meniru bunyi ringkik kuda, sehingga siapa saja yang melihat
kelucuan dan kegembiraan anak perempuan ini, tentu akan ikut tertawa gembira. Memang Lili
sedang gembira sekali. Betapa tidak? Ayah ibunya tidak berada di rumah, ini berarti bahwa ia
tidak usah menghafalkan pelajaran membaca kitab-kitab kuno yang sukar itu, tak usah
menghafalkan ujar-ujar dan sajak-sajak kuno yang seringkali membingungkan kepalanya.
Sebetulnya, oleh ibunya telah ditinggalkan pelajaran-pelajaran yang harus dihafal dan
ditulisnya, dan Yousuf mendapat tugas untuk mengawasinya, akan tetapi, kakek ini tidak kuat
menghadapi senyum atau rengek Lili dan sekali saja anak perempuan ini dengan pandang
mata manja menyatakan keinginannya hendak pergi bermain, Yousuf tak dapat dan tidak tega
melarangnya pula!
Ketika Lili sedang berlompatan sambil menyanyi dengan riangnya, tiba-tiba ia mendengar
bunyi derap kaki kuda yang sesungguhnya. Ia berhenti dan berdiri di atas jalan batu itu
dengan mata dipentang lebar. Dari sebuah tikungan jauh di depan muncullah tiga orang
penunggang kuda, seorang di depan dan yang dua di belakangnya. Dan ketika melihat
penunggang kuda yang di depan itu, tak terasa lagi, Lili memandang dengan mata terbelalak
dan mulutnya berkata perlahan,
“Ah, dia itu benar-benar Si Tolol Menunggang Kuda yang didongengkan oleh Kong-kong
(Kakek)!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
4
Penunggang kuda yang di depan itu adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat
puluh tahun. Mukanya cukup tampan, dan hidungnya mancung, akan tetapi ia memelihara
cambang bauk yang membuatnya menjadi brewok dari bawah telinga sampai di dagu dan
bawah hidungnya, menutupi mulutnya. Kepala dibungkus dengan ikat kepala yang lebar,
menyembunyikan semua rambutnya, dan ikat kepala ini berwarna merah. Pakaiannya
berwarna putih dan sepatunya tinggi sampai ke lutut, terbuat daripada kulit. Di pinggang
kirinya nampak gagang sebatang golok dengan ronce-ronce sutera merah. Kuda yang
ditungganginya putih dan bagus, dengan kendali warna merah pula. Pendeknya, seorang
setengah tua yang gagah. Lili menganggapnya seperti Si Tolol Naik Kuda yang tadi
dinyanyikan oleh karena memang di dalam dongeng kakeknya itu, terdapat seorang laki-laki
tampan yang naik kuda, akan tetapi karena ketolotannya, ia seringkali menghadapi hal-hal
yang lucu.
Dua orang menunggang kuda di belakang Si Brewok ini adalah dua orang pemuda, seorang
berjubah putih dan yang ke dua berjubah hitam, keduanya memakai topi putih yang
bentuknya segi empat.
Memang tidak terlalu salah kalau Lili mempersamakan penunggang kuda itu dengan tokoh
dalam dongeng kakeknya, karena orang-orang ini memang bukan orang Han, dan muka
mereka mempunyai potongan yang sama pula dengan Yousuf. Dan kalau Lili mengenal siapa
adanya Si Brewok itu dan tahu apa maksud kedatangannya di kota Shaning, tentu anak ini
takkan berdiri setenang dan sesenang itu menghadapi ketiga orang penunggang kuda ini!
Melihat seorang anak perempuan yang cantik jelita berdiri di tengah jalan sambil memandang
dengan mata terbelatak, Si Brewok menahan kudanya, diturut oleh kedua orang pengikutnya.
“Hei, Nona kecil! Tahukah kau di mana rumahnya bangsat tua Yousuf?” suaranya parau dan
kata-katanya ini diucapkan dalam bahasa Han yang amat kasar dan kaku, akan tetapi yang
amat menyakitkan hati Lili adalah sebutan “bangsat tua” kepada kakeknya itu!
Lili telah tahu pula bahwa kong-kongnya mempunyai nama yang aneh, dan pernah kakeknya
itu menceritakan bahwa ia datang dari negeri barat yang amat jauh dan di sana ia disebut
orang “Yousuf”. Akan tetapi Lili sendiri selalu menyebutnya “Yo-kong-kong”. Ia dapat
menduga bahwa orang berkuda ini tentu mencari kong-kongnya, akan tetapi ia sengaja
menjawab dengan mulut mentertawakan orang itu.
“Tidak ada bangsat-bangsat di sini, biar tua maupun muda. Apakah kau yang bernama
Aladin?” Lili menyebutkan nama tokoh dongeng yang diceritakan oleb kakeknya itu.
Si Brewok itu memandang heran mendengar pertanyaan ini.
“Eh, apa maksudmu?” tanyanya sambil menahan kendali kudanya yang telah tidak sabar dan
kaki depannya menggaruk-garuk tanah.
Lili tidak menjawab, hanya tersenyum mengejek, lalu ia pun membuat gerakan melompatlompat seperti kuda dan terdengar pula nyanyiannya.
“Plak! Plok! Plak Plok!
Si Tolol naik kuda,
Kudanya putih tua,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
5
Jalannya seperti onta!”
Ia sengaja mengganti kata-kata “kudanya sudah tua” menjadi “kudanya putih tua” karena
kuda yang ditunggangi oleh Si Brewok itu memang berbulu putih.
Mendengar nyanyian ini, Si Brewok dan kedua orang kawannya nampak terkejut dan heran.
Nyanyian dongeng Turki, bagaimana anak bangsa Han ini dapat menyanyikannya?
“Bocah kurang ajar, siapakah yang mengajarmu bernyanyi seperti itu?” Si Brewok
membentak sambil memandang tajam.
Lili masih tersenyum-senyum lucu dan karena mengira bahwa ketiga orang itu mengagumi
nyanyiannya seperti orang-orang lain, ia menjawab bangga,
“Di kota ini, siapa lagi kalau bukan Yo-kong-kong yang dapat mengajar nyanyian bagusbagus? Kalau kau mencari orang, lebih baik kau bertanya kepada kakekku Yo Se Fu, akan
tetapi jangan berlaku kurang ajar kepadanya!”
Berubahlah wajah Si Brewok itu ketika ia bertanya,
“Jadi Yo Se Fu adalah kakekmu? Apakah kau anak dari Sie Cin Hai?”
“Dia memang ayahku! Siapa yang tidak tahu hal ini?” kata pula Lili dengan bangga karena
memang ia tahu bahwa ayahnya dipuji-puji dan disegani orang.
Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika ia melihat betapa Si Brewok itu ketika mendengar
bahwa ia adalah cucu Yo Se Fu dan anak Sie Cin Hai, lalu mukanya berubah beringas dan
sambil mencabut gotok tajam yang tergantung di pinggang, membentak,
“Bagus! Kalau begitu, kau pun harus mampus mendahului Yousuf!”
Setelah membentak demikian, Si Brewok itu lalu majukan kudanya dan menggunakan
goloknya membacok ke arah Lili yang masih berdiri di atas jalan batu, di sebelah kanan
kudanya itu! Bacokan itu cepat dan kuat sekali sehingga yang nampak hanya berkelebatnya
sinar putih dari goloknya yang tajam berkilau diikuti sinar merah dari ronce-ronce goloknya.
Bagaikan kilat menyambar, golok ini menyambar ke arah leher Lili yang masih berdiri tak
bergerak. Agaknya dengan sekali bacok saja, akan putuslah leher anak itu!
Akan tetapi, biarpun usianya baru delapan tahun, Lili adalah anak dari Pendekar Bodoh,
seorang pendekar gagah perkasa yang berkepandaian tinggi, dan semenjak kecil Lili telah
mendapat gemblengan ilmu silat dari ayah dan ibunya, bahkan mendapat banyak petunjuk
dari Yousuf, maka biarpun ia belum memiliki ilmu silat tinggi, namun ia telah memiliki
dasar-dasarnya dan telah pula memiliki gerakan otomatis dan gaya reflek, yakni pergerakan
yang timbul dengan sendirinya dalam keadaan bahaya gerakan yang dikendalikan oleh
perasaan dan urat syarafnya apabila melihat atau mendengar sesuatu yang mungkin
mendatangkan bahaya atau serangan pada dirinya, sebagaimana dimiliki oleh semua jago silat
yang telah tinggi kepandaiannya. Maka, ketika Lili melihat berkelebatnya sinar golok ke arah
lehernya dan mendengar bunyi angin sambaran senjata itu, otomatis ia lalu membuang tubuh
bagian atas ke kiri sehingga golok itu menyambar lewat di atas punggungnya. Demikian cepat
dan kerasnya sambaran golok itu sehingga Lili merasa betapa leher dan punggungnya menjadi
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
6
dingin! Ketiga orang itu melongo ketika melihat betapa anak perempuan itu dengan gerakan
yang indah dapat mengelakkan diri dari serangan tadi, padahal Si Brewok itu biasanya kalau
sudah turun tangan, jarang sekali dapat gagal biarpun yang diserang memiliki kepandaian
silat. Apalagi hanya seorang anak-anak!
Merasa bahwa dirinya berada dalam bahaya maut, Lili mempergunakan saat ketiga orang itu
masih terheran-heran, lalu melompat cepat ke pinggir sebuah rumah dan rnelarikan diri. Ia
mendengar suara kaki orang turun dari kuda dan mengejarnya. Cepat bagaikan seekor tikus
yang dikejar oleh kucing, Lili menyelinap masuk ke dalam sebuah pintu rumah yang terbuka
dan bersembunyi di balik pintu. Ia sama sekali tidak merasa ketakutan, akan tetapi tidak
berani pula mengeluarkan suara, hanya berdiri diam sambil mengepal kedua tinjunya yang
kecil!
Para pengejarnya berlari cepat melewati pintu rumah itu dan tak lama kemudian mereka
datang kembali dengan langkah perlahan. Ketika tiba di depan pintu rumah itu, Si Brewok
melangkah masuk, akan tetapi hanya menjenguk ke dalam saja. Melihat di dalam rumah tidak
ada orang, ia lalu keluar lagi dan berkata kepada kawan-kawannya.
“Setan cilik itu telah pergi, biarlah kita mencari Yousuf lebih dulu. Mudah untuk mencarinya
kemudian!”
Orang-orang itu pergi lagi dan Lili yang bersembunyi di balik daun pintu tersenyum girang,
lalu keluar dan melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah kawan-kawannya. Anak kecil ini
tidak begitu mempedulikan ucapan orang-orang tadi dan tidak tahu akan adanya bahaya yang
mengancam kakeknya, karena biarpun ia dapat menduga bahwa mereka tidak mempunyai
maksud baik terhadap kakeknya, namun ia percaya penuh bahwa kakeknya yang amat pandai
itu akan dapat mengusir mereka.
Siapakah sebetulnya tiga orang tadi? Dan mengapa ia mencari Yousuf dan tiba-tiba
menyerang Lili anak kecil itu ketika mendengar bahwa Lili adalah cucu perempuan Yousuf
dan anak Sie Cin Hai? Untuk dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, marilah kita
meninjau secara singkat peristiwa-peristiwa yang terjadi pada dua belas tahun yang lampau.
tertentu di Tiongkok terdapat harta terpendam yang amat besar nilainya.
Ekspedisi pertama dilakukan untuk memperebutkan sebuah pulau di seberang laut Tiongkok,
yang disebut Kim-san-tho (Pulau Bukit Emas) dan yang disangkanya mengandung bukit
penuh logam kuning berharga itu. Dalam usaha memperebutkan pulau ini, terjadilah perang
hebat antara barisan Turki, barisan Mongol, dan juga barisan Kerajaan Tiongkok untuk
maksud yang sama.
Pemimpin besar dari barisan Turki adalah seorang gagah perkasa bernama Balutin yang amat
sakti sehingga ekspedisi itu berhasil sampai di tempat tujuan. Akan tetapi kemudian Balutin
tewas dalam pertempuran ketika melawan tentara Tiongkok yang dibantu oleh seorang hwesio
lihai sekali bernama Hai Kong Hosiang dan supeknya, yaitu Kiam Ki Sianjin yang gagu akan
tetapi memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa tingginya.
Kemudian, di Turki terjadi perpecahan setelah adanya usaha-usaha yang jahat dari seorang
pangeran yang disebut Pangeran Muda. Yang berkuasa di Turki pada waktu itu adalah
Pangeran Tua yang adil dan bijaksana, dan diantara kedua orang pangeran ini timbullah
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
7
permusuhan, akan tetapi akhirnya pengaruh Pangeran Muda dan kaki tangannya yang terdiri
dari orang-orang jahat dapat dihancurkan. Dan peristiwa hebat ini dapat dihancurkan. Dan
peristiwa hebat ini dapat diikuti dengan jelas dalam ceritaPendekar Bodoh .
Didalam keributan-keributan itu, terdapatlah seorang pemuda yang dilupakan orang. Pemuda
ini adalah putera tunggal dari Balutin yang gagah perkasa itu, dan pemuda ini telah berusia
dua puluh lima tahun ketika ayahnya gugur dalam ekspedisi mencari Pulau Bukit Emas. Tentu
saja ia merasa amat berduka dan hatinya penuh diliputi dendam, akan tetapi, biarpun ia telah
mewarisi hampir seluruh kepandaian ayahnya, namun ia maklum bahwa ia tidak berdaya
membalas dendam atas kematian ayahnya itu. Sedangkan ayahnya sendiri masih kalah
melawan jago-jago bangsa Han apalagi dia.
Pemuda ini mempunyai darah Tionghoa, oleh karena ibunya adalah seorang bangsa Han pula
yang dahulu diculik oleh Balutin dan dipaksa menjadi isterinya. Akan tetapi, ibunya
meninggal dunia ketika melahirkannya sehingga terpaksa ia dirawat oleh seorang inang
pengasuh yang juga seorang perempuan bangsa Han yang diculik oleh Balutin. Ia telah
menganggap inang pengasuh itu sebagai ibu sendiri dan juga oleh inang pengasuhnya itu ia
diberi nama Tionghoa, yaitu Bouw Hun Ti. Selain ini, Bouw Hun Ti juga mendapat pelajaran
membaca dan menulis bahasa Tionghoa oleh inang pengasuhnya, sehingga selain bahasa
Turki, Bouw Hun Ti juga mahir bahasa Han. Mungkin karena ia masih berdarah Tionghoa,
maka ia cinta sekali kepada inang pengasuhnya itu. Balutin sendiri tidak begitu peduli kepada
puteranya, karena panglima ini memang berwatak kurang baik dan sungguhpun ia
berkedudukan tinggi, akan tetapi ia terkenal sebagai seorang laki-laki mata keranjang.
Betapapun juga, ia, memberi latihan ilmu sitat tinggi kepada putera tunggalnya itu sehingga
Bouw Hun Ti memiliki ilmu kepandaian yang tinggi akan tetapi yang tidak diketahui oleh
banyak orang. Setelah Balutin tewas dalam pertempuran, Bouw Hun Ti lalu keluar dari
negerinya, bersama inang pengasuhnya yang telah menjadi nenek-nenek pergi ke pedalaman
Tiongkok, di mana ia lalu mengembara setelah mengantar inang pengasuhnya itu kembali ke
kampung halamannya. Cita-cita Bouw Hun Ti hanya satu, ialah membalas dendam atas
kematian ayahnya. Karena maklum bahwa ilmu kepandaiannya masih belum cukup tinggi
untuk melaksanakan maksud ini, maka ia mulai mencari guru dalam perantauannya. Akhirnya
ia bertemu dengan Ban Sai Cinjin, seorang yang berilmu tinggi, Bouw Hun Ti lalu
mengangkat guru kepada orang berilmu ini dan mempelajari ilmu silat, terutama ilmu golok
yang amat lihai gerakannya.
Setelah bertahun-tahun mempelajari ilmu silat dari Ban Sai Cinjin, dan kepandaiannya sudah
banyak maju, Bouw Hun Ti lalu mencari musuhnya, pembunuh ayahnya. Alangkah
kecewanya ketika ia mendengar bahwa Hai Kong Hosiang dan Kam Ki Sianjin telah
meninggal dunia. Dan pada waktu itu, inang pengasuhnya telah meninggal dunia pula karena
usia tua. Hal ini membuatnya tidak kerasan untuk tinggal lebih lama di pedalaman Tiongkok
dan ia segera kembali ke negaranya, dengan hati tetap mendendam yang belum terbalas.
Dalam hati kecilnya ia merasa benci terhadap orang-orang Han yang telah membunuh
ayahnya, dan terutama sekali ia memindahkan kebenciannya dari kedua musuh besar yang
telah mati itu kepada para pendekar yang pernah memusuhi pengikut Pangeran Muda.
Memang, Bouw Hun Ti juga menjadi pengikut setia dari Pangeran Muda, maka setelah ia
kembali ke Turki, kembali bersekutu dengan Pangeran Muda bahkan kini mendapat
kepercayaan besar dan kedudukan tinggi karena Pangeran Muda tahu bahwa ia telah memiliki
kepandaian tinggi. Kedudukan yang tinggi membuat watak Bouw Hun Ti yang sudah kejam
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
8
dan sombong makin menjadi. Pengaruhnya besar sekali dan mengandalkan kepandaiannya, ia
mulai mendesak pengaruh Pangeran Muda dan bahkan ia mulai bercita-cita untuk mendesak
pula kedudukan raja dengan pengaruhnya! Pangeran Muda melihat hal ini menjadi khawatir
sekali dan dicarinya akal untuk melenyapkan orang berbahaya ini. Pada suatu hari,
dipanggilnya Bouw Hun Ti menghadap dan dinyatakannya bahwa ia amat membutuhkan
seorang penasehat yang cerdik pandai. Dalam percakapan ini, disebutnya nama Yousuf.
“Kalau saja Yousuf dapat didatangkan dan membantuku, ah, hatiku akan menjadi senang. Ia
adalah seorang yang arif bijaksana dan pandai mengurus pemerintahan. Oleh karena itu harap
kausuka mencarinya di pedalaman Tiongkok, dan kalau mungkin, sekalian kaubalaskan sakit
hati kita terhadap seorang pendekar yang disebut Pendekar Bodoh, bernama Cin Hai, she Sie!
Menurut para penyelidik, Yousuf kini tinggal di rumah Pendekar Bodoh itu, di kota Shaning
dalam Propinsi An-hui.”
Maka berangkatlah Bouw Hun Ti ke pedalaman Tiongkok untuk melakukan tugas ini. Ia
membawa dua orang pengikut yang mempunyai kepandaian cukup tinggi dan langsung
menuju ke Propinsi An-hui. Pada luarnya saja ia seakan-akan mentaati perintah Pangeran
Muda, padahal di dalam hati ia mempunyai pendapat lain. Kalau sampai orang yang bernama
Yousuf itu dibawa ke tanah airnya, maka hal itu berarti bahwa ia akan menghadapi saingan
berat, apalagi ia mendengar bahwa Yousuf juga memiliki ilmu kepandaian tinggi. Hatinya
yang kejam dan penuh kedengkian membuat ia merasa benci sekali kepada Yousuf, lebihlebih setelah ia mendengar dari para perajurit yang dulu ikut melakukan ekspedisi mencari
pulau emas, bahwa Yousuf pernah mengkhianati Kerajaan Turki, dan mengkhianati ekspedisi
yang dipimpin oleh Balutin, ayahnya. Ia menganggap kegagalan ayahnya akibat daripada
pengkhianatan Yousuf ini dan oleh karenanya Yousuf harus dibunuh tidak saja untuk
membalaskan dendam ayahnya, akan tetapi juga untuk mencegah orang tua itu memperoleh
kedudukan tinggi di Turki!
***
Demikianlah sedikit riwayat Bouw Hun Ti, seorang yang berkepandaian tinggi dan yang kini
datang memasuki kota Shaning dengan maksud yang amat buruk dan berbahaya. Kalau saja ia
tadinya tidak memandang rendah kepada anak perempuan yang menjadi cucu Yousuf itu,
tentu Lili telah menjadi korbannya yang pertama. Baiknya Lili dapat mengelak serangannya
dan karenanya membuat Bouw Hun Ti terheran-heran sehingga terlambat mengejarnya.
Kini Bouw Hun Ti bersama dua orang pengikutnya melanjutkan perjalanannya mencari
rumah kediaman Pendekar Bodoh. Ia adalah seorang yang cerdik dan sebelum memasuki kota
Shaning terlebih dahulu ia telah melakukan penyelidikan sehingga ia tahu bahwa Cin Hai
beserta isterinya sedang keluar kota dan yang berada di rumah hanyalah Yousuf seorang. Hal
ini amat menggembirakan hatiriya karena sepanjang pendengarannya, Pendekar Bodoh dan
isterinya adalah orang-orang yang merupakan lawan amat tangguh ditambah pula dengan
Yousuf, maka ia merasa jerih juga! Kini kedua suami isteri itu tidak berada di rumah dan hal
ini merupakan kesempatan yang amat baik baginya.
Rumah Sie Cin Hai adalah sebuah bangunan besar yang dilindungi pekarangan luas,
sedangkan di kanan kiri dan belakang rumah ditanami bunga-bunga indah. Tanaman ini
diurus oleh Yousuf sendiri yang memang amat suka bunga. Karena adanya pekarangan ini,
maka letak rumah-rumah tetangga di kanan kiri agak jauh dari bangunan itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
9
Pada pagi hari itu, Yousuf yang kini telah tua sekali itu sedang berada di kebun bunga
sebelah kiri rumah, memetik dan membuangi daun-daun kering dan membunuh ulat-ulat yang
mengganggu tanaman. Dengan perlahan dan asyik sekali, ia melangkah dari pohon ini ke
pohon itu, dan nampaknya amat gembira. Memang, kakek tua ini merasa berbahagia sekali
hidupnya. Betapa tidak? Anak angkatnya yang terkasih, telah mempunyai rumah tangga yang
baik dan ia telah mempunyai dua orang cucu sedangkan kehidupan mereka sekeluarga dalam
keadaan aman dan damai. Ketenteraman hati ini membuat ia sehat-sehat saja dan jarang sekali
menderita sakit, sungguhpun usianya telah tua dan tenaganya telah banyak berkurang.
Seorang pelayan wanita menghampirinya dan membungkuk sambil berkata, “Yo-loya,
minuman untuk Loya telah tersedia di ruang tengah.”
Yo Se Fu atau Yousuf mengangguk dan menjawab, “Biarlah dulu, dan lebih baik kau
menyediakan makan pagi untuk Siocia (Nona Kecil).”
“Siocia semenjak tadi telah pergi keluar, Loya.”
Yousuf menggeleng-geleng kepala, “Aah, anak itu! Sepagi ini telah pergi. Kalau nanti ayah
ibunya datang dan mendapatkan ia tidak berada di rumah, bukan saja ia akan mendapat
marah, aku pula akan mendapat teguran. Mengapa kalian tidak mencegahnya dan tidak
menyuruh ia memberitahukan lebih dulu kepadaku sebelum pergi?”
“Siocia tidak bisa dicegah, Loya. Kami pun telah minta ia memberi tahu lebih dulu kepada
Loya, akan tetapi jawabnya takkan melarangnya keluar bermain dengan teman-temannya.”
Yousuf hanya menggeleng kepala dan berkata, “Sudahlah, dan kau bersama pelayan lain
bekerjalah baik-baik, jaga agar semua barang dalam rumah nampak bersih agar tuan dan
nyonyamu akan senang hati kalau datang nanti.”
“Baik, Yo-loya,” kata pelayan itu yang kemudian mengundurkan diri.
“Anak bandel...” Yousuf berkata seorang diri dengan mulut tersenyum, “mungkin seperti
ibunya ketika masih kecil.” Ia lalu melanjutkan pekeriaannya membuangi daun-daun kering
dan ulat-ulat. Kadang-kadang Yousuf tersenyum geli seorang diri kalau ia teringat akan
kenakalan-kenakalan Lili, dan tersenyum bangga kalau teringat kepada Hong Beng yang
pendiam, tampan, dan cerdik. Amat berbahagialah orang tua yang mempunyai anak seperti
Hong Li dan Hong Beng dan Yousuf merasa ikut beruntung melihat Sie Cin Hai dan Lin Lin
berbahagia, karena kedua orang yang dianggap seperti anak sendiri itu memang orang-orang
baik hati dan juga amat berbakti kepadanya. Tidak ada kesenangan lain bagi hati kakek tua ini
kecuali melihat Cin Hai serumah tangga sehat-sehat dan hidup beruntung.
Tiba-tiba ia mendengar derap kaki kuda dan ketika ia menengok, ia merasa terkejut dan heran
karena melihat tiga orang penunggang kuda masuk ke dalam pekarangan itu. Orang-orang
yang baru datang ini adalah Bouw Hun Ti bersama kedua orang pengikutnya. Yousuf segera
melangkah dan menghampiri tiga orang pengunjung itu.
Mudah saja bagi Bouw Hun Ti untuk menduga siapa adanya kakek tua yang berpakaian
seperti orang Han akan tetapi berwajah orang Turki itu, maka dengan cekatan ia melompat
turun dari kudanya dan bertanya,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
10
“Apakah Saudara Yousuf yang terhormat baik-baik saja?”
Yousuf terkejut sekali mendengar pertanyaan ini dan ia memandang dengan penuh perhatian.
Matanya yang tua itu telah agak lamur, akan tetapi ia masih dapat melihat bahwa orang ini
adalah seorang Turki, baik dipandang dari kepalanya maupun bentuk mukanya sungguhpun
kulitnya kekuning-kuningan seperti kulit orang Han. Akan tetapi, bagaimanapun ia
mengingat-ingat, ia tak merasa pernah melihat orang ini, maka jawabnya ragu-ragu,
“Maaf, Saudara Muda, mataku telah terlalu tua untuk mengingat kembali wajah orang-orang
yang telah lama tak bertemu denganku. Saudara ini siapakah dan datang dari mana?”
Bouw Hun Ti tertawa bergelak dan Yousuf merasa tak enak di dalam hatinya, karena suara
tawa ini menunjukkan bahwa ia berhadapan dengan seorang yang berhati kejam dan
sombong. Memang Yousuf memiliki perasaan halus dan pandangan tajam, dapat mengenal
watak-watak manusia hanya dengan mendengar suara ketawanya atau melihat wajahnya.
“Saudara Yousuf, biarpun kau telah lupa kepadaku, agaknya kau tidak lupa kepada Panglima
Besar Balutin yang telah gugur dalam menjalankan tugas yang gagal karena pengkhianatan
bangsa kita sendiri!”
Makin tak enaklah hati Yousuf mendengar ucapan ini, karena ia maklum bahwa yang
dimaksudkan dengan pengkhianatan itu tentu dia sendiri. Akan tetapi dengan tenang ia
mengangguk dan menjawab,
“Tentu saja aku kenal Panglima Balutin yang gagah perkasa, sungguhpun harus kuakui
bahwa perkenalan itu tidak sangat erat. Akan tetapi, aku masih belum mengerti apakah
hubungannya perkenalanku dengan Balutin itu dengan kunjunganmu sekarang ini. Apakah
kau sengaja datang jauh-jauh dari Turki hanya untuk mencariku?”
Bouw Hun Ti mengangguk. “Memang kami sengaja datang untuk mencarimu, dan kebetulan
sekali kita dapat berjumpa dengan mudah. Saudara Yousuf, lupakah kau kepada Bouw Hun
Ti, putera dari Balutin? Dulu aku hanya dapat melihatmu dari jauh, mengingat akan
kedudukanmu dan selalu aku memandangmu dengan kagum, yaitu sebelum mendengar betapa
kau mengkhianati ekspedisi pemerintahan kita.”
Yousuf teringat bahwa Balutin memang mempunyai seorang putera yang berkepandaian
tinggi, akan tetapi dulu ia belum pernah berhubungan dengan orang muda itu. “Sudahlah, tak
ada gunanya kita membicarakan hal yang sudah lampau. Setiap orang mempunyai kesalahankesalahannya sendiri, tergantung dari sudut orang itu memandangnya. Yang terpenting
sekarang beritahukanlah maksud kedatanganmu ini.”
“Ha, ha, ha! Setidaknya kau masih memiliki sifat terus terang dan langsung seperti sifat
bangsa kita!” Kini suara Bouw Hun Ti berubah kasar dan tanpa penghormatan pula. “Yousuf,
aku datang atas perintah Pangeran untuk membawamu ke Turki!”
Yousuf terkejut mendengar ini dan memandang penuh kecurigaan. Ia tahu bahwa Pangeran
Tua tak mungkin akan memanggilnya, karena ia telah minta ijin dari Pangeran Tua untuk
meninggalkan tanah air dan masuk menjadi bangsa Han sedangkan Pangeran Tua telah
memberi perkenan sepenuhnya. Semenjak saat itu, hubungannya dengan Turki telah putus
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
11
sama sekali dan ia telah menganggap diri sendiri sebagai seorang Han aseli. Mengapa
sekarang tiba-tiba Pangeran Tua yang memanggilnya?
“Bouw Hun Ti, kalau benar Pangeran Tua memanggilku, tentu ada suratnya. Perlihatkan
suratnya kepadaku.”
Bouw Hun Ti tersenyum sindir. “Untuk memanggil seorang hambanya, tak perlu Pangeran
menggunakan surat. Apakah kau tidak percaya kepadaku? Ketahuilah, Yousuf bahwa aku
adalah tangan kanan Pangeran dan kalau kau sudah tiba di sana, akan kau ketahui sendiri.”
“Kau selalu menyebut Pangeran, yang mana maksudmu? Tentu bukan Pangeran Tua yang
menyuruhmu, bukan?”
“Siapa sudi membantu Pangeran yang lemah itu? Pangeran Muda yang mengutusku untuk
membawamu kembali!”
Kini mengertilah Yousuf, dan ia tahu pula bahwa orang ini memang sengaja datang hendak
membikin ribut. Semua orang tahu belaka bahwa ia, Yousuf, adalah pengikut Pangeran Tua
dan yang selalu memusuhi segala tindakan yang tak patut dari Pangeran Muda, maka tentu
saja kalau sekarang pangeran itu mengutus seorang untuk memanggil atau membawanya ke
Turki, itu berarti bahwa utusan ini telah diberi wewenang penuh untuk membawanya hiduphidup ataupun mati!
Akan tetapi, Yousuf biarpun telah tua sekali, masih belum kehilangan keberanian dan
kegagahannya. Ia memandang tajam dan berkata,
“Dengarlah, Bouw Hun Ti! Kalau Pangeran Muda yang memanggilku, jangankan tanpa surat,
biarpun dengan surat yang disimpan dalam kotak emas permata sekali, aku takkan mau
mentaatinya!”
“Ha, ha, ha! Bagus, Yousuf, memang inilah yang kukehendaki! Dengan jawabanmu ini,
maka ada alasan bagiku untuk memenggal lehermu!” Sambil tertawa bergelak, Bouw Hun Ti
lalu menggerakkan tangan kanannya dan goloknya yang tajam berkilauan telah dicabutnya!
Yousuf sama sekati tidak takut menghadapi Bouw Hun Ti biarpun ia dapat menduga bahwa
putera Balutin ini tentu kepandaiannya tinggi sekali. Akan tetapi ketika Bouw Hun Ti
mencabut goloknya, tiba-tiba wajah Yousuf menjadi pucat sekali dan matanya terbelalak
lebar. Diluar dugaan Bouw Hun Ti, kakek ini lalu menjatuhkan diri berlutut menyembah
dengan jidat menempel di tanah sambil berkata penuh hormat,
“Hamba menanti perintah.”
Melihat hal ini, Bouw Hun Ti yang tadinya merasa heran, menjadi girang sekali karena ia
mengerti bahwa goloknya inilah yang membuat Yousuf bersikap seperti itu. Goloknya yang
dipegang ini adalah golok pusaka yang biasa digunakan oleh Pangeran Tua dan yang
digunakan sebagai lambang kekuasaannya. Menurut aturan lama dari kerajaan itu, barang
siapa yang diberi kekuasaan oleh Pangeran Tua untuk memegang golok ini, maka dia berhak
menghukum setiap orang sebagai wakil penuh.
Biarpun Yousuf merasa heran mengapa golok pusaka dari Pangeran Tua itu bisa terjatuh ke
dalam tangan orang ini, akan tetapi kesetiaannya terhadap Pangeran Tua membuat ia tidak
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
12
berani banyak cakap, dan segera berlutut, karena ia pikir bahwa dibawah pengaruh golok itu,
ia harus menyerah dan membiarkan dirinya dibawa ke Turki!
Akan tetapi, Yousuf tidak tahu akan kekejian hati Bouw Hun Ti yang memang telah
mempunyai keinginan untuk membunuhnya. Ketika melihat Yousuf bertutut dan menyembah
dihadapannya seperti itu, manusia berhati kejam dan curang ini lalu mengayun goloknya ke
arah leher Yousuf!
Bukan main terkejutnya hati Yousuf ketika mendengar sambaran angin dari atas lehernya,
tetapi sudah terlambat. Sebelum ia tahu apa yang terjadi atas dirinya, golok yang tajam itu
telah membabat lehernya! Darah mengalir keluar seperti pancuran dari lehernya ketika kepala
kakek tua yang bernasib malang itu menggelinding ke atas tanah!
Dua orang pelayan wanita menjerit ketika mereka keluar dan melihat tubuh Yousuf rebah di
tanah dengan leher putus. Mereka hendak melarikan diri, akan tetapi dengan satu lompatan
saja Bouw Hun Ti telah dapat menyusul mereka dan dua kali goloknya bergerak robohlah dua
orang pelayan itu dalam keadaan mandi darah dan tidak bernyawa lagi!
Melihat darah para korbannya itu, Bouw Hun Ti menjadi makin buas.
“Tunggu di sini, biar aku mengadakan pemeriksaan di dalam!” katanya kepada dua orang
pengiringnya yang memandang semua kejadian itu dengan muka menahan kengerian hati.
Bouw Hun Ti lalu lari masuk ke dalam rumah Sie Cin Hai, aduk sana bongkar sini
membunuh dua orang pelayan laki-laki yang kebetulan berada di situ, kemudian keluar lagi.
Ia lalu mengambil kepala Yousuf dengan memegang rambutnya, membungkus kepala itu
dengan saputangan lebar, lalu memberi tanda kepada dua orang pengiringnya untuk pergi dari
situ.
Beberapa orang yang kebetulan lewat di depan rumah itu, menjadi ketakutan dan segera
melarikan diri sambil berteriak-teriak, memberi tahu kepada semua orang bahwa Kakek Yo
dibunuh orang! Orang-orang sekota menjadi gempar dan mereka lalu membawa senjata dan
beramai-ramai menuju ke tempat itu. Akan tetapi, Bouw Hun Ti dan kedua pengiringnya
sambil membawa kepala Yousuf telah pergi dari situ dan orang-orang itu hanya mendapatkan
mayat Yousuf yang hilang kepalanya, dan mayat empat orang pelayan.
Gegerlah keadaan di situ, dan terdengar suara tangis para wanita ketika mendengar bahwa
Empek Yo yang baik hati itu terbunuh orang. Mereka lalu mencari-cari ke dalam rumah dan
ketika mereka tak melihat Hong Li, keadaan menjadi makin ribut lagi.
“Aduh celaka! Nona Lili lenyap...!” Mereka mengeluh dan peluh dingin keluar dari jidat
mereka karena mereka dapat membayangkan betapa akan marahnya pendekar besar Sie Cin
Hai dan isterinya apabila mengetahui hal ini!
Sementara itu, Bouw Hun Ti yang melarikan kuda bersama dua orang pengiringnya itu, lalu
memberikan bungkusan kepala itu kepada mereka dan berkata,
“Kalian berdua kembalilah dulu ke Turki dan berikan ini kepada Pangeran Muda. Kalian
boleh ceritakan kepada Beliau bahwa karena Yousuf menolak dibawa ke Turki, terpaksa
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
13
kubunuh mati. Aku sendiri hendak mencari anak perempuan dari Pendekar Bodoh itu dan
kemudian sebelum kembali ke Turki, aku hendak mengunjungi guruku.”
orang pengiringnya tak berani membantah, menerima bungkusan kepala itu, akan tetapi lalu
berkata dengan muka pucat, “Kepala ini tentu akan membusuk sebelum kami tiba di Turki.”
Bouw Hun Ti tertawa bergelak, lalu mengeluarkan sebungkus obat bubuk sambil berkata,
“Campurkan obat ini dengan air, kemudian balurkan di seluruh kulit muka dan kepala itu,
terutama yang banyak di bagian leher, tentu akan terpelihara baik dan tidak rusak kepala
jahanam itu!”
Setelah memberikan obat itu kepada mereka, Bouw Hun Ti lalu pergi menuju ke lorong di
mana tadi ia bertemu dengan Hong Li! Sedangkan kedua orang pengiringnya yang merasa
tidak aman berada di dalam kota itu lebih lama lagi, segera membalapkan kuda keluar dari
kota sambil membawa bungkusan kepala itu.
Agaknya memang sudah nasib Hong Li untuk mengalami bencana pada hari itu, karena anak
perempuan ini kebetulan sekali sedang berjalan hendak pulang dan di tengah jalan tiba-tiba ia
bertemu dengan Bouw Hun Ti yang melarikan kuda dari depan, muncul di sebuah tikungan!
Lili terkejut sekali ketika mengenal Si Brewok yang tadi mengejar dan hendak
membunuhnya. Cepat anak ini membalikkan tubuh dan lari pergi akan tetapi Bouw Hun Ti
telah melihatnya dan sambil berseru girang, orang ini melompat turun dari kuda dan
mengejar!
Lili telah menerima latihan silat dari kedua orang tuanya maka sekecil itu ia telah memiliki
kepandaian lari cepat yang cukup mengagumkan dan sekiranya yang mengejarnya seorang
laki-laki biasa saja, tak mungkin ia akan tertangkap. Akan tetapi, yang rnengejarnya adalah
Bouw Hun Ti, orang yang memiliki kepandaian tinggi maka dalam beberapa lompatan saja
Bouw Hun Ti telah berhasil menyusulnya.
“Anak setan, kau hendak lari ke mana?”
Lili maklum bahwa percuma saja ia melarikan diri, akan tetapi ia memiliki keberanian luar
biasa warisan kedua orang tuanya. Maka ketika melihat bahwa pengejarnya telah datang
dekat, tiba-tiba ia berhenti, membalikkan tubuh dan berdiri sambil memasang kuda-kuda dan
sepasang matanya memandang dengan tajam dan berani!
Bouw Hun Ti merasa kagum juga melihat sikap anak perempuan ini, apalagi ketika tiba-tiba
Lili menyerangnya dengan kepalan tangannya yang kecil itu, melakukan serangan ke arah
pusarnya dengan pukulan yang dilakukan amat indah dan baiknya, kekagumannya bertambah
dan timbullah rasa sayangnya kepada anak ini! Ia mengulur tangan dan dengan mudah
gerakannya yang cepat itu membuat ia berhasil menangkap tangan Lili dan sekali ia
membetot, tubuh Lili telah tertangkap dan berada dalam pondongannya!
“Setan kecil, kau mungil sekali!” kata Bouw Hun Ti sambil tertawa-tawa.
Akan tetapi, Lili tidak menyerah demikian saja. Biarpun tangan kanannya yang tadi memukul
telah terpegang dan ia telah dipondong orang, kini tangan kirinya memukul ke arah kepala
dan muka yang brewok itu, sedangkan kedua kakinya meronta-ronta hendak melepaskan diri!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
14
Namun apakah daya seorang anak perempuan berusia delapan tahun terhadap Bouw Hun Ti,
ahli silat yang tangguh itu? Sekali saja ia mengulur tangan dan memencet pundak Lili, anak
perempuan itu mengeluh dan tubuhnya menjadi lemas tak berdaya sama sekali. Kaki
tangannya serasa lumpuh tak bertenaga sehingga ia kini tak dapat meronta-ronta lagi.
“Ha-ha-ha! Setan cilik, kau harus ikut aku. Hendak kulihat Pendekar Bodoh dan isterinya
dapat berbuat apa!”
Bouw Hun Ti lalu membawa anak dalam pondongannya itu menuju ke kudanya dan ia segera
melompat naik ke atas kuda lalu melarikan kudanya dengan cepatnya keluar kota. Hal ini
tidak terlihat oleh siapapun juga, oleh karena semua orang yang mendengar tentang peristiwa
hebat terjadi di rumah Sie Cin Hai, berbondong-bondong pergi ke rumah itu.
Penduduk kota Shaning segera merawat jenazah Yousuf dan empat orang pelayan itu.
Mereka semua menghormat Yousuf sebagai seorang kakek yang selain baik hati, juga
peramah dan berpengetahuan luas. Apalagi mengingat bahwa kakek ini adalah ayah angkat
dari Sie-hujin (Nyonya Sie), maka tanpa ada yang perintah, mereka lalu membeli peti mati
yang baik dan melakukan upacara sembahyang dengan segala kehormatan. Setelah kelima
jenazah itu dirawat baik-baik dan ditaruh di dalam peti mati, lima buah peti mati itu dijajarkan
di ruang depan dan dipasangi lima meja sembahyang. Mereka, atas anjuran dari Kepala Kota
Shaning, siang malam menjaga peti-peti ini, dan orang yang datang untuk bersembahyang
serta ikut berduka cita, membanjir setiap waktu tiada hentinya. Mereka akan menanti sampai
datangnya Sie Cin Hai suami isteri, sebelum mengubur peti-peti itu.
Tiga hari kemudian, dari luar kota Shaning datang dua orang penunggang kuda, seorang lakilaki dan seorang wanita. Usia mereka kurang lebih tiga puluhan tahun, dan keduanya nampak
gagah sekali. Yang laki-laki berpakaian sederhana, wajahnya tampan dan tenang, sikapnya
gagah sekali. Gagang pedangnya nampak tersembul di atas punggungnya. Yang wanita cantik
sekali dan senyumnya selalu meramaikan wajahnya yang manis. Juga wanita ini kelihatan
gagah perkasa dengan pedang yang tergantung di pinggangnya. Mereka ini tidak lain adalah
Sie Cin Hai dan Kwee Lin atau Lin Lin, Pendekar Bodoh dengan isterinya yang baru pulang
dari barat.
“Hai-ko,” terdengar Lin Lin berkata dengan wajah berseri, “anak kita Lili tentu akan girang
sekali melihat kita datang!”
Sinar gembira memancar dari wajah yang tenang dari Pendekar Bodoh itu ketika ia
mendengar isterinya menyebut nama Lili, anak perempuannya yang nakal dan selalu
mendatangkan kegembiraan itu.
“Girang?” katanya. “Kurasa di samping kegirangannya, ia akan cemberut atau menangis
mencela kita yang tidak mau membawanya ketika pergi dulu. Tidak ingatkah kau betapa ia
dulu menangis dan hendak memaksa ikut kalau tidak kubentak-bentak?”
“Memang ia agak keras hati dan bandel.” Lin Lin membenarkan.
“Seperti ibunya,” kata Cin Hai.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
15
Lin Lin menengok kepada suaminya sambil cemberut. “Kauanggap aku keras hati dan
bandel? Kalau begitu, mengapa kau dulu menikah dengan aku?”
Cin Hai tertawa. “Karena keras hati dan kebandelanmu itulah!”
“He?? Bagaimana pula ini?”
“Aku suka kepadamu karena kau adalah Lin Lin yang keras hati dan bandel!” Mereka saling
pandang dan akhirnya keduanya tertawa bahagia. Memang, semenjak mereka menikah,
sepasang suami isteri ini selalu masih suka bersendau gurau dengan gembira, menandakan
bahwa mereka hidup bahagia sekali.
“Bagaimanapun juga Hai-ko, jangan kau terlalu keras terhadap Lili, ia masih kecil dan
kecerdikannya memang tidak seperti anak kita Beng-ji.”
“Kalau terlalu dikasih hati dan dimanja, ia akan menjadi bodoh. Apa kau suka melihat ia
menjadi bodoh seperti...” Cin Hai hendak berkata seperti “keledai” akan tetapi ia didahului
oleh isterinya.
“Seperti ayahnya!”
Kini Cin Hai yang menengok dan memandang kepada isterinya dengan hati agak
mendongkol, karena ia baru memikirkan keledai yang bodoh sehingga ketika Lin Lin
menyatakan bahwa anaknya bodoh seperti ayahnya, ia merasa seakan-akan ia dipersamakan
dengan keledai!
“Jadi kauanggap aku bodoh?”
Lin Lin tertawa geli sampai menekan perutnya dan ia menuding ke arah muka Cin Hai sambil
berkata, “Tidak ada orang di seluruh dunia ini yang lebih bodoh daripada Pendekar Bodoh!
Kau masih berani mengaku bahwa kau tidak bodoh!”
“Dan kau suka kepada orang bodoh?” tanya Cin Hai masih mendongkol.
“Kalau kau tidak bodoh, aku takkan suka kepadamu!”
Demikianlah, di sepanjang perjalanan mereka, setiap saat kedua orang ini bersendau gurau,
saling menggoda, seakan-akan mereka sedang melakukan perjalanan bulan madu dari
sepasang pengantin baru! Kedua orang ini, terutama Cin Hai yang biasanya amat cermat
pandangannya, lupa dalam mabuk kebahagiaan mereka, bahwa kesenangan dan kesusahan
selalu timbul silih berganti. Cin Hai yang di masa kecilnya telah kenyang mempelajari dan
menghafal semua ujar-ujar kuno itu pada saat-saat bergembira ria dengan isteeinya, lupa akan
bunyi ujar-ujar nasihat bahwa jangan terlalu bergembira dalam kesenangan dan jangan terlalu
berduka dalam kesusahan!
Setelah tiba di gerbang kota, Lin Lin sudah tak sabar lagi, ingin lekas-lekas melihat rumah,
bertemu dengan Lili dan dengan ayah angkatnya, Yousuf. Maka dicambuknya kuda yang
ditungganginya agar berlari lebih cepat lagi. Cin Hai mengikuti dari belakang. Mereka berdua
sama sekali tidak melihat betapa orang-orang di pinggir jalan memandang kepada mereka
dengan wajah pucat dan duka.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
16
Baru setelah tiba di pekarangan rumah mereka, Lin Lin dan Cin Hai memandang dengan
muka menjadi pucat dan dada berdebar keras. Untuk beberapa saat Lin Lin bahkan duduk saja
di atas kudanya seperti patung tak kuasa bergerak karena seluruh tubuhnya seakan-akan
menjadi kaku oleh kecemasan hebat.
Cin Hai melompat turun terlebih dulu dan segera menarik tangan isterinya. Keduanya lalu
berlari cepat menuju ke ruang depan di mana nampak meja sembahyang dan peti mati
berjajar-jajar, hio yang mengebulkan asapnya, dan banyak orang duduk sambil memandang
mereka dengan muka sedih!
Kedatangan mereka disambut oleh Kepala Kota dan isterinya yang terus memeluk Lin Lin
sambil menangis.
“Kui-lopeh, apakah yang telah terjadi?” tanya Cin Hai. “Siapakah yang... meninggal
dunia...?”
Sementara itu, Lin Lin segera bertanya dengan suara keras, “Mana anakku...? Mana...
Ayah...??”
“Sabarlah, Tai-hiap, dan kau juga Li-hiap,” kata Kepala Kota itu yang seperti juga orangorang lain, menyebut tai-hiap (pendekar besar) kepada Cin Hai, dan menyebut li-hiap
(pendekar wanita) kepada Lin Lin. “Memang telah terjadi hal yang amat hebat selama kalian
pergi. Terjadinya telah tiga hari yang lalu. Seorang laki-laki brewok bersama dua orang
kawannya yang tidak diketahui siapa adanya dan apa sebabnya, telah datang di sini pada pagi
hari tiga hari yang lalu dan orang brewok itu telah membunuh Yo-lo-enghiong (Orang Gagah
Yo), juga membunuh mati empat orang pelayanmu.”
“Dan... Lili... bagaimana?” tanya Cin Hai dengan pucat, sedangkan Lin Lin memandang
kepada Kepala Kota itu seakan-akan berada dalam sebuah mimpi buruk.
“Itulah yang membingungkan kami, Tai-hiap,” jawab Kepala Kota itu, “pada saat peristiwa
itu, anakmu telah pergi bermain keluar rumah, akan tetapi kami telah mencari setiap tempat
tak juga bertemu dengan Lili, entah ke mana ia pergi.”
Cin Hai mengangguk-angguk. “Hmm, kalau orang sudah berani membunuh gakhu (mertua
laki-laki), tentu ia berani menculik anakku pula.”
Mendengar ini, bagai meledaklah rasa marah yang telah mendesak-desak dalam dada Lin
Lin.
“Keparat jahanam! Siapa dia itu dan di mana dia? Biar kukeluarkan isi perutnya!” Sambil
berkata demikian, Lin Lin menggerakkan tangan kanannya dan “srtt!” pedang Han-le-kiam
yang pendek dan berkilau saking tajamnya itu telah dicabutnya dari sarung pedang.
Cin Hai memegang lengan isterinya. “Sabarlah, dan tenanglah.”
“Bagaimana aku bisa bersabar kalau mendengar ada anjing berkeliaran di kota yang berani
mengganggu Ayah dan Anakku? Mari, Hai-ko. Mari kita mencarinya sekarang juga! Hendak
kulihat sampai bagaimana lihainya sehingga anjing itu berani main-main dengan aku!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
17
Cin Hai membujuk isterinya dan menarik tangannya. “Lebih dulu kita harus memberi hormat
dan menghaturkan maaf kepada gakhu karena kita telah tinggalkan dia. Kalau kita berada di
sini, apakah hal ini akan dapat terjadi?”
Mendengar ucapan ini, Lin Lin dengan gerakan perlahan menengok ke arah peti Yousuf, dan
tiba-tiba nyonya muda ini menjerit dan melemparkan pedangnya, lalu berlari ke depan peti
mati Yousuf, lalu berlutut memeluki peti itu sambil menangis tersedu-sedu.
“Ayah... Ayah, ampunkan anakmu yang tidak berbakti ini...” Lin Lin menjambak rambutnya
sendiri sehingga menjadi awut-awutan! “Aku telah pergi meninggalkan Ayah... bersenang dan
tertawa di jalan, tidak tahunya Ayah mengalami nasib seperti ini...!” Kemudian ia bangun
berdiri dan mengepal tinjunya, memandang ke arah peti mati dengan air mata mengalir dan
sepasang matanya yang dipentang lebar itu pun penuh air mata.
“Ayah! Bagaimana kau sampai kalah oleh anjing itu? Mungkinkah kau yang gagah ini kalah
olehnya? Ayah! Katakanlah siapa orang itu, akan kucekik lehernya sekarang juga!” Akan
tetapi ia teringat kembali bahwa ayah angkatnya telah mati maka ia lalu menubruk peti mati
itu dan sambil menangis menjerit-jerit ia berusaha membuka tutup peti yang telah dipaku.
Cin Hai tadi pun berlutut dibelakangnya, dan ketika melihat perbuatan isterinya itu, ia cepat
memegang lengannya dan berkata perlahan,
“Lin Lin, kau hendak berbuat apakah?”
“Buka! Buka! Aku hendak melihat ayahku...!”
Orang-orang yang berada di situ tak dapat menahan mengucurnya air mata melihat
pemandangan yang mengharukan ini, akan tetapi mereka terkejut sekali mendengar nyonya
itu hendak membuka peti! Juga Kepala Kota merasa terkejut dan kuatir sekali, maka ia
melangkah maju dan berkata mencegah,
“Tai-hiap, lihat! Jangan dibuka peti itu...!”
Tiba-tiba Lin Lin melompat berdiri dan memandang kepada Kepala Kota itu dengan mata
bernyala! “Apa katamu? Mengapa tidak boleh dibuka?”
Melihat wajah yang pucat seperti mayat dan mata yang bernyala marah itu, Kepala Kota
melangkah mundur dua tindak dengan terkejut dan ucapan yang telah di ujung lidahnya ia
telan kembali!
“Hayo buka!” Sekali lagi Lin Lin memekik.
“Kui-lopeh, biarlah. Buka saja tutup peti mati ini agar kami dapat memandang wajah gakhu
sekali lagi,” kata Cin Hai perlahan sambil menahan jatuhnya air mata.
Kepala Kota she Kui itu hendak menjawab dan memberi keterangan, akan tetapi baru saja
bibirnya bergerak, Lin Lin yang sudah tak sabar lagi itu membentak lagi,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
18
“Hayo buka sekarang juga! Kalau kalian tidak mau, biarlah aku sendiri yang membuka!”
Sambil berkata demikian, Lin Lin melangkah maju dan hendak membuka tutup peti itu
dengan paksa.
Cin Hai merasa kuatir kalau-kalau peti itu akan menjadi rusak apabila Lin Lin mengerahkan
tenaganya, maka ia lalu memberi tanda sehingga Kepala Kota itu terpaksa menyuruh para
penjaga untuk mengambil alat dan tutup itu dibuka dengan tangan-tangan gemetar oleh empat
orang.
Peti dibuka perlahan. Semua orang menahan napas, dan di sana-sini terdengar isak tertahan.
Begitu peti itu terbuka dan Lin Lin bersama Cin Hai menjenguk ke dalam, keduanya menjerit
seakan-akan dari dalam peti itu melayang ular yang menggigit mereka.
“Ayah...!!” Dan jeritan yang mengerikan ini disusul dengan robohnya tubuh Lin Lin. Ia
pingsan!
“Gakhu...!” Cin Hai juga memekik dan mukanya berubah menjadi pucat sekali.
Siapa orangnya yang takkan merasa ngeri dan hancur hatinya melihat ayah dan mertuanya
mati dalam keadaan demikian mengerikan, tanpa kepala! Akan tetapi, Cin Hai yang memiliki
kekuatan batin luar biasa itu, dapat menekan penderitaan hatinya, dan setelah memandang
sekali lagi ke arah tubuh Yousuf yang tak berkepala lagi itu, ia lalu menutup petinya dan
menyuruh orang-memakunya kembali. Kemudian ia mengangkat tubuh isterinya dan
dipondong, dibawa masuk ke dalam rumah. Ia merasa kasihan sekali kepada Lin Lin dan
memaklumi sepenuhnya akan perasaan dan penderitaan batin isterinya ini. Ayah Lin Lin yang
aseli, yaitu Kwee In Liang, tewas sekeluarganya terbunuh orang, dan sekarang ayah
pungutnya juga tewas terbunuh, bahkan dalam keadaan yang amat mengerikan.
Setelah siuman kembali, Lin Lin menangis sedih, dihibur oleh Cih Hai, akan tetapi betapapun
juga, bencana besar yang menimpa keluarga Sie ini tidak mudah dihibur begitu saja, bahkan
Pendekar Bodoh sendiri yang biasanya berlaku tenang dan berbatin kuat, kali ini duduk
bengong seakan-akan semangatnya terbang melayang. Peristiwa ini amat berat tidak saja
Yousuf telah terbunuh mati secara kejam sekali, akan tetapi juga anak mereka yang tersayang,
Hong Li, telah diculik oleh pembunuh jahat dan kejam itu! Sungguhpun tidak ada bukti yang
nyata bahwa pembunuh itulah yang menculik Lili, akan tetapi siapa lagi kalau bukan
pembunuh itu yang berani melakukan perbuatan keji ini.
“Aku harus mencarinya! Aku harus mencari jahanam itu, harus membunuhnya!” kata Lin Lin
berulang-ulang sambil menangis!
“Tentu isteriku!” kata Cin Hai sambil memegang tangannya. “Akan tetapi kita harus berlaku
tenang dan menggunakan pikiran jernih. Ada sesuatu yang menghibur hatiku yaitu karena Lili
diculik orang, maka tentu ia masih selamat. Kalau penjahat itu bermaksud membunuh anak
kita, tentu sudah ia lakukan di sini seperti yang diperbuatnya terhadap gakhu, tak perlu susahsusah diculiknya lagi. Hanya sayangnya, penjahat itu tidak meninggalkan nama-nama yang
jejak, sehingga sukarlah bagi kita untuk mencarinya karena kita tidak tahu ke jurusan mana
kita harus mencari!”
Terhibur juga hati Lin Lin mendengar ucapan ini, karena memang kata-kata suaminya itu
beralasan. Kalau penculik itu bermaksud membunuh Lili tentu tak perlu dibawanya pergi.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
19
“Bagaimanapun juga, kita harus mencarinya!” katanya kemudian.
“Tentu saja, akan tetapi kita harus mengurus penguburan jenazah ayahmu dulu, dan kita
harus melakukan penyelidikan di sini, kalau-kalau ada yang dapat menceritakan terjadinya
peristiwa itu lebih jelas lagi!”
Penguburan lima jenazah itu dilakukan dengan baik dalam suasana diliputi kesedihan.
Sebagian besar penduduk kota Shaning mengantar dan kota itu nampak dalam suasana
berkabung.
Setelah selesai penguburan, Cin Hai lalu mencari keterangan ke sana kemari kalau-kalau ada
yang dapat menceritakan peristiwa itu lebih jelas lagi. Akan tetapi, orang-orang yang
kebetulan lewat ketika peristiwa maut itu terjadi, telah melarikan diri karena ketakutan, dan
mereka hanya dapat menceritakan bahwa yang memegang golok berlumpur darah adalah
seorang yang bermuka brewok dan kepalanya memakai ikat kepala warna merah dan biarpun
kulitnya kuning, akan tetapi potongan mukanya seperti orang asing dan agaknya sebangsa
dengan Yousuf, usianya kurang lebih empat puluh tahun.
“Bisa jadi orang itu adalah musuh dari gakhu,” kata Cin Hai setelah memutar otaknya karena
keterangan keterangan itu amat sedikit, “mungkin sekali dia adalah seorang Turki. Ingatkah
kau bahwa para pengikut Pangeran Muda dari Turki terdiri dari orang jahat yang
berkepandaian tinggi? Siapa tahu kalau-kalau orang itu adalah utusan dari Pangeran Muda
yang merasa sakit hati terhadap gakhu.”
“Akan tetapi mengapa ia menculik anak kita?” kata Lin Lin dengan hati sakit hati.
“Inilah yang harus kita selidiki. Sekarang, tidak ada lain jalan bagi kita selain menyusul ke
barat!”
“Ke Turki?” tanya Lin Lin memandang dengan mata terbelalak.
“Kalau perlu kita boleh menyusul ke sana. Akan tetapi, lebih baik kita mencari keterangan
dan menyelidiki ke daerah barat di mana terdapat banyak orang-orang Turki.” “Ke daerah
Kansu di barat?” tanya pula Lin Lin. Pendekar Bodoh mengangguk. “Kau masih ingat betapa
kita pernah pergi ke daerah itu dan betapa para pengikut Pangeran Tua yang dipimpin oleh
gakhu dan Suhu bertempur melawan pengikut-pengikut Pangeran Muda?” Lin Lin
mengangguk dan tentu saja ia masih ingat akan pengalaman-pengalamannya yang ketika
mereka bersama kawan-kawan mereka yang lain mengembara ke barat ke daerah Kansu di
mana mereka mengalami peristiwa-peristiwa hebat (diceritakan dalam cerita Pendekar
Bodoh). Memang di daerah ini terdapat banyak sekali orang-orang Turki maka kalau hendak
mencari keterangan tentang pembunuh Yousuf yang disangkanya orang Turki itu, tidak ada
lain tempat yang lebih tepat dan baik selain daerah Kansu. “Baiklah aku menurut saja.
Pendeknya, jangankan ke Kansu atau ke Turki, biar ke seberang lautan sekalipun, aku harus
dapat mencari jahanam itu!” kata Lin Lin. “Dan kita sekalian mampir di Tiang-an, karena
sudah setahun kita tidak bertemu dengan Kwee An,” kata Cin Hai. Demikianlah, sepasang
pendekar yang sedang bersedih hati itu lalu menyerahkan penjagaan rumah mereka kepada
para tetangga, kemudian mereka berangkat menunggang kuda, mulai dengan usaha mereka
mencari pembunuh Yousuf dan mencari anak mereka yang terculik orang.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
20
***
Marilah kita ikuti nasib Hong Li atau Lili yang dibawa pergi oleh Bouw Hun Ti.
Sesungguhnya putera Balutin ini memiliki hati yang lebih kejam dan keji daripada ayahnya.
Tidak dibunuhnya Lili bukan sekali-kali timbul dari hati nuraninya, karena manusia ini
agaknya tidak mempunyai pribudi sama sekali dan hatinya telah membeku terhadap segala
macam kebajikan dan sudah tidak mengenal perikemanusiaan lagi, seakan-akan iblis bertubuh
manusia! Ia tidak membunuh Lili, pertama-tama untuk mendatangkan siksaan batin kepada
orang tua anak itu, kedua kalinya oleh karena ia suka melihat kemungilan dan kejelitaan Lili
dan diam-diam ia mengandung maksud yang amat busuk dan keji. Ia hendak merawat anak
perempuan itu karena dapat membayangkan bahwa paling banyak tujuh delapan tahun
kemudian, anak perempuan ini akan menjadi seorang gadis remaja yang luar biasa cantiknya.
Dan ia bermaksud mengambil anak ini sebagai isterinya apabila anak itu telah besar kelak!
Sungguh sebuah niat yang amat busuk dan keji! Bouw Hun Ti menuju ke tempat tinggal
suhunya, yaitu Ban Sai Cinjin, seorang tua yang berwatak jauh lebih rendah daripada Bouw
Hun Ti sendiri. Biarpun usianya telah lebih dari lima puluh tahun, akan tetapi Ban Sai Cinjin
terkenal sebagai seorang yang gila perempuan dan di dalam rumahnya, ia mempunyai bini
muda yang tidak kurang dari lima orang jumlahnya masih muda-muda lagi cantik-cantik! Ia
dapat melakukan hal ini oleh karena selain amat berpengaruh dan ditakuti orang ia juga
terkenal kaya raya. Gedungnya besar dan mewah. Jubah luarnya terbuat daripada kapas halus
dan tebal yang berharga amat mahal, ditambah pula dengan baju bulunya yang selalu menutup
jubahnya. Juga tua bangka yang tak tahu diri ini memilih warna yang mencolok untuk
pakaiannya, kalau tidak merah, tentu biru dan lain-lain warna yang membayangkan bahwa
biarpun usianya telah tua, namun hatinya lebih muda daripada seorang teruna! Ban Sai Cinjin
bertempat tinggal di dusun Tong-si-bun di Propinsi Hupei yang berdekatan dan berada di
sebelah barat Propinsi An-hui. Oleh karena itu, setelah keluar dari kota Shaning, Bouw Hun
Ti langsung menuju ke barat dan memasuki Propinsi Hupei. Jalan yang ditempuhnya ini
berlainan dengan jalan yang ditempuh oleh Cin Hai dan isterinya, oleh karena sepasang
pendekar itu yang menuju ke Tiang-an tempat tinggal kakak Lin Lin yang bernama Kwee An,
melakukan perjalanan lurus ke utara. Biarpun Bouw Hun Ti memiliki kuda yang baik dan
melakukan perjalanan dengan cepat, akan tetapi oleh karena jarak yang ditempuhnya memang
jauh, maka tiga hari kemudian ia baru tiba di tapal batas Propinsi Hupei. Ia merasa bingung
dan juga gemas sekali oleh karena Lili yang berada dalam pengaruh totokannya itu sama
sekali tidak mau makan sehingga wajah anak itu pucat sekali serta tubuhnya lemas! Apabila
berada dalam perjalanan, ia membebaskan anak itu dari totokan, akan tetapi tiap kali
memasuki kampung atau kota, ia menotoknya kembali pada urat gagu anak itu agar jangan
sampai berteriak minta tolong. Pada hari ketiga itu ia tiba di sebuah dusun yang cukup besar
dan ramai. Dusun ini adalah dusun Sin-seng-chun dan adanya dua buah rumah penginapan
dan tiga buah rumah makan besar itu cukup menjadi bukti bahwa dusun itu cukup makmur
dan banyak didatangi tamu dari luar!
Bouw Hun Ti menghentikan kudanya pada sebuah rumah makan yang terbaik dan mengikat
tali kudanya pada patok-patok yang telah disediakan di pinggir rumah makan itu. Kemudian
ia menuntun Lili memasuki rumah makan. Ia merasa gelisah sekali dan merasa takut kalaukalau anak perempuan ini akan menderita sakit dan mati ditengah jalan. Oleh karena itu, kali
ini hendak memaksanya makan! Ia memesan arak dan masakan untuk diri sendiri dan minta
semangkuk bubur untuk Lili. Setelah pesanannya dihidangkan oleh pelayan rumah makan, ia
berkata kepada Lili dengan suara halus agar tidak menimbulkan kecurigaan orang.
“Kaumakanlah!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
21
Akan tetapi, seperti yang telah dilakukannya selama ia diculik oleh Si Brewok itu, Lili
menggeleng kepala sambil mengatupkan bibirnya. Bouw Hun Ti benar-benar merasa
kewalahan dan diam-diam ia merasa heran melihat kekerasan hati anak ini. Anak kecil baru
berusia delapan tahun saja sudah berani berlaku nekad dan mogok makan selama tiga hari,
sama sekali tidak mau menurut perintahnya! Ia mulai merasa ragu-ragu apakah kelak anak ini
tidak hanya mendatangkan kepusingan dan kesukaran kepadanya.
“Makanlah!” katanya lagi dan kali ini kemendongkolannya membuat suaranya terdengar
agak keras. Pelayan melayaninya dengan pandang mata kasihan lalu bertanya,
“Tuan, apakah Nona kecil ini menderita sakit?”
Bouw Hun Ti memang marah sekali sehingga pelayan itu menjadi terkejut dan melangkah
mundur.
“Mau apa kau tanya-tanya? Pergi!” bentak Bouw Hun Ti yang sedang marah itu dan pelayan
tadi segera pergi dengan ketakutan bagaikan seekor anjing diancam dengan cambuk.
“Mau makan atau tidak?” sekali lagi Bouw Hun Ti membentak Lili, akan tetapi Lili tetap
menggeleng kepala. Bukan main marahnya Bouw Hun Ti, kalau saja di situ tidak banyak
orang dan dia tidak ingin menimbulkan onar, tentu dia telah memukul kepala anak ini biar
mampus seketika itu juga! Ia lalu mendapat akal dan tiba-tiba ia tersenyum menyeringai
hingga mukanya nampak kejam sekali.
“Kau tidak mau makan, anak manis?” Sambil berkata demikian, ia menepuk-nepuk
punggung Lili, akan tetapi sebenarnya, di luar tahunya semua orang, ia melakukan tiam-hoat
(totokan) pada jalan darah di punggung anak itu juga. Lili merasa kesakitan yang luar biasa
hebatnya menyerang seluruh tubuhnya, sehingga ia menggeliat-geliat kesakitan bagaikan
cacing terkena abu panas! Kalau saja urat gagunya tidak tertotok, tentu ia akan menjerit-jerit
kesakitan. Akan tetapi, karena ia tak dapat mengeluarkan suara, hanya air matanya saja
mengucur turun membasahi pipinya dan kulit mukanya sampai berkerut-kerut saking
besarnya penderitaan nyeri yang menyerang tubuhnya! Bibirnya digigit-gigit sampai
berdarah! Bukan main besarnya penderitaan anak kecil berusia delapan tahun itu.
“Bagaimana? Kau masih mau makan atau tidak?” tanya Bouw Hun Ti sambil tersenyum
iblis.
Lili biarpun masih anak-anak, akan tetapi ia adalah anak seorang pendekar besar, maka ia
tahu apa artinya rasa sakit yang menyerang dirinya dengan hebat itu. Karena dapat menduga
bahwa penculiknya adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan tentu akan terus
menyiksanya apabila ia membangkang terpaksa ia menganggukkan kepalanya dan tangannya
telah menggigil karena kesakitan dan kelaparan itu, lalu meraba-raba mangkuk.
“Anak baik, kaumakanlah yang kenyang!” kata Bouw Hun Ti sambil menepuk-nepuk
punggung anak itu. Seketika itu juga lenyaplah rasa nyeri yang menyerang tubuh Lili tadi.
Anak kecil mulai makan bubur dalam mangkuk dan sungguhpun ia makan dengan otomatis
tanpa menikmati rasa bubur itu, namun .ia merasa tubuhnya segar kembali, tidak lemas seperti
tadi. Maka dihabiskanlah semangkuk bubur itu tanpa mau memandang wajah penculiknya,
karena ia maklum betapa penjahat itu memandangnya dengan mengejek.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
22
Para tamu yang berada di situ, sama sekali tidak tahu akan kekejaman ini dan mereka ikut
merasa lega melihat betapa “anak sakit” itu makan dengan lahapnya.
“Nah, begitulah!” kata Bouw Hun Ti kepada Lili. “Mulai sekarang, kau harus menurut segala
kata-kataku, kalau tidak, tentu kau akan menderita sakit dan siapakah yang akan susah kalau
terjadi demikian?”
Dalam pendengaran orang-orang lain, ucapan ini seperti ucapan seorang ayah memberi
nasihat kepada anaknya, akan tetapi dalam pendengaran Lili ucapan itu merupakan ancaman
bahwa kalau lain kali ia tidak menurut, ia akan menderita siksaan seperti tadi!
Akan tetapi, orang salah menduga kalau mengira bahwa diantara semua orang yang berada di
tempat itu tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi sebenarnya antara Si Brewok dan anak
kecil itu! Di sudut rumah makan itu, menghadapi meja seorang diri, duduk seorang laki-laki
berusia antara tiga puluh lima tahun. Orang ini berwajah putih, dan gagah, berambut hitam
dan bermata tajam. Kumisnya pendek sedangkan jenggotnya hanya sekepal bagaikan jenggot
kambing. Yang aneh sekali adalah pakaiannya karena pakaian yang dipakainya itu penuh
dengan tambal-tambalan, akan tetapi terbuat daripada bahan yang amat bersih! Bahkan kain
berwarna putih yang digunakan untuk menambal bajunya yang hitam itu pun amat bersihnya
seakan-akan kain baru yang sengaja ditambalkan di situ! Juga pengikat rambutnya yang
terbuat daripada sutera itu sama sekali tidak sesuai dengan bajunya yang bertambal-tambal
seperti baju seorang pengemis!
Lama sebelum Bouw Hun Ti masuk, orang ini telah masuk dan duduk di dalam restoran, dan
kelakuannya telah membuat semua orang terheran. Tadinya, pelayan yang melihat seorang
berbaju tambal-tambalan memasuki restoran, lalu menyambutnya dengan muka masam dan
berkata dengan nada menghina,
“Tidak ada tempat untuk golongan pengemis di restoran ini!”
Orang yang berbaju tambal-tambalan itu tidak menjadi marah, hanya tersenyum dan
menjawab, “Yang kaulayani semua ini orangnya atau pakaiannya?”
“Apa maksudmu?” tanya pelayan yang sombong itu.
“Kau memandang orang dari keadaan pakaiannya, benar-benar orang macam kau ini
menyebalkan!”
“Aku tidak peduli tentang pakaian, pendeknya kau punya uang atau tidak? Bagimu, semua
pesanan makanan harus dibayar dimuka!”
Sikap dan omongan pelayan ini memang benar-benar kurang ajar sekali, akan tetapi orang itu
masih tetap tersenyum sabar, sungguhpun jawabannya menyatakan bahwa ia amat
mendongkol.
“Beberapa kau menjual kepalamu? Kiranya aku sanggup membayarnya!” Sambil berkata
demikian, orang itu merogoh sakunya dan ketika ia menarik kembali tangannya ternyata
bahwa ia telah menggenggam beberapa potong uang perak dan emas! Tentu saja pelayan itu
menjadi amat malu dan juga tercengang melihat seorang berpakaian tambal- tambalan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
23
mempunyai uang perak sebanyak itu, bahkan memiliki uang emas pula. Tanpa dapat berkata
apa-apa lagi ia lalu mengundurkan diri dan lain orang pelayan lalu melayani orang berbaju
tambalan itu.
Sungguh amat baik untungnya pelayan tadi, karena kalau sampai orang berbaju tambalan itu
turun tangan, entah apa yang akan terjadi dengan dirinya. Kalau saja ia tahu siapa adanya
orang ini, tentu ia akan menjadi ketakutan sekali, dan untungnya orang itu tidak menyebut
namanya.
Orang berbaju tambalan itu adalah Lo Sian yang berjuluk Sin-kai (Pengemis Sakti) dan
namanya telah terkenal di segenap penjuru karena selain ilmu kepandaiannya amat tinggi,
juga Lo Sian terkenal sebagai pembasmi kejahatan. Pendekar yang suka mengenakan pakaian
tambal-tambalan ini sebetulnya adalah seorang tokoh dari Thian-san-pai, yang turun gunung
berbareng dengan seorang suhengnya (kakak seperguruannya). Juga kakak seperguruannya ini
selalu mengenakan pakaian tambal-tambalan, bahkan, kalau pakaian Lo Sian masih
terpelihara bersih-bersih, adalah pakaian kakak seperguruannya itu amat buruk dan kotor,
seperti pakaian pengemis tulen. Suhengnya ini bernama Nyo Tiang Le dan dijuluki Mo-kai
(Pengemis Iblis)! Julukan ini diberikan orang kepadanya oleh karena sepak terjangnya yang
seperti iblis mengamuk apabila ia menghadapi orang-orang jahat. Dalam memusuhi orangorang jahat, Nyo Tiang Le memang bertindak secara ganas dan tak kenal ampun, maka orangorang menjadi ngeri dan jerih melihatnya sehingga ia diberi julukan Pengemis Iblis!
Secara kebetulan saja Lo Sian si Pengemis Sakti lewat di dusun Sin-seng-chun dan makan di
restoran itu sehingga ia melihat Bouw Hun Ti masuk sambil menuntun tangan Lili. Lo Sian
hanya memandang sambil lalu saja, karena sungguhpun ia telah memiliki pengalaman yang
luas dan kenal hampir semua orang gagah di kalangan kang-ouw, akan tetapi ia belum pernah
melihat Bouw Hun Ti yang datang dari Turki itu. Akan tetapi ketika ia mendengar betapa
Bouw Hun Ti beberapa kali membentak-bentak anak itu, ia merasa heran dan memandang
juga. Ia merasa heran mengapa anak itu tidak mau makan, sedangkan mellhat wajahnya
sepintas lalu saja tahulah ia bahwa anak itu sedang menderita lapar sekali. Diam-diam ia
merasa heran melihat wajah laki-laki yang seperti orang asing ini, maka diam-diam ia mulai
menaruh perhatian, sungguhpun ia hanya memandang dengan kerling matanya saja.
Alangkah terkejut hati Lo Sian ketika kemudian ia melihat betapa laki-laki brewok itu
menepuk-nepuk pundak anak perempuan itu dan tiba-tiba menotok jalan darah Koan-goanhiat anak itu! Ia merasa kaget setengah mati karena totokan itu dapat membuat anak itu tewas
seketika, atau setidaknya mendatangkan rasa sakit yang luar biasa hebatnya! Gilakah Si
Brewok itu? Mengapa ada orang memperlakukan anak sendiri semacam itu? Lo Sian
memandang tajam dan hampir saja ia bertindak untuk memberi hajaran kepada orang kejam
ini, kalau saja pada saat itu Bouw Hun Ti tidak sudah melepaskan Lili dari pengaruh
totokannya kembali.
Jelas kelihatan oleh Lo Sian betapa anak perempuan itu menahan sakit dan biarpun air mata
anak itu bercucuran, akan tetapi tidak sedikit pun suara isak keluar dari mulutnya. Ia berdebar
deras karena kini ia menduga bahwa anak perempuan ini tentu telah ditotok urat gagunya
yang membuatnya sama sekali tak dapat mengeluarkan suara. Hatinya mulai menaruh curiga
kepada orang brewok itu dan ia menduga bahwa orang ini tentu seorang penculik anak kecil.
Lo Sian mulai bersiap untuk menyelidiki perkara ini dan kalau perlu menolong anak itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
24
Akan tetapi pada saat itu terjadilah hal lain yang cukup meributkan. Orang melihat betapa
Bouw Hun Ti tiba-tiba melemparkan daging yang sedang dikunyahnya ke atas lantai sambil
menyumpah-nyumpah.
“Bangsat dan penipu belaka pemilik rumah makan ini!” Ia menyumpah-nyumpah sambil
memegang pipinya. Sebetulnya, tanpa disengaja, Bouw Hun Ti yang mempunyai penyakit
gigi, kena gigit sepotong tulang kecil yang bersembunyi di dalam daging sehingga sakitnya
bukan main membuat matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut serasa mau pecah.
Siapa yang pernah menderita sakit gigi tentu akan dapat membayangkan rasa sakit yang
diderita oleh Bouw Hun Ti pada saat itu. Penyakit ini memang paling jahat dan berbahaya
karena membuat orang naik darah dan terutama Bouw Hun Ti yang berwatak buruk itu, tibatiba menjadi marah sekali. Ia pegang mangkok tempat masakan itu dan membantingnya ke
lantai hingga hancur berkeping-keping!
Pelayan yang tadi menghina Lo Sian adalah pelayan kepala dan ia memang terkenal beradat
keras dan sombong. Tadi ia telah “kecele” oleh Lo Sian dan sedikitnya kesombongannya
tersinggung, maka hal itu membuat ia merasa malu dan mendongkol. Kini melihat ada orang
yang membuat ribut naiklah darahnya. Dengan langkah lebar ia menghampiri lalu
membentak,
“Orang kasar dari manakah berani mengacau di rumah makan kami? Mengapa kau memakimaki dan merusak barang kami? Kau harus mengganti harganya!”
Pelayan itu memang sedang sial dan ia benar-benar mencari penyakit sendiri. Bouw Hun Ti
yang sedang menderita sakit gigi dan sedang marah-marah itu bagaikan api yang mulai
menyala, kini seakan-akan api itu disiram dengan minyak hingga makin berkobar. Ia bangkit
berdiri dengan perlahan dan sepasang matanya seakan-akan hendak menelan bulat-bulat
pelayan itu.
“Apa katamu...?” katanya perlahan dengan muka merah. “Kau sudah menipu orang, menjual
daging liat dan tulang, masih tidak mau mengaku salah bahkan berani memaki aku?”
“Siapa bilang kami menjual daging liat dan tulang? Barangkali gigimu yang telah ompong
sehingga tidak kuat mengunyah daging!” pelayan itu tidak mau kalah dan beberapa orang
terdengar tertawa mendengar ucapan ini.
Diam-diam Lo Sian memandang dengan penuh perhatian dan tertarik. Ia tahu bahwa pelayan
itu terlalu sombong dan akan mengalami celaka. Benar saja, tiba-tiba Bouw Hun Ti yang
mendengar ucapan ini lalu membungkuk dan mengambil sekerat daging yang tadi
dilemparnya, dan sekali ia mengayun tangan, daging itu melayang dan tepat menotok jalan
darah di dada pelayan itu yang segera menjerit keras, roboh dan bergulingan sambil berteriakteriak, “Aduh...! Mati aku...! Aduh...! Aduh...!”
Gegerlah semua tamu dan pelayan yang berada di situ. Dua orang pelayan yang bertubuh
tinggi besar melangkah maju.
“Bangsat kurang ajar! Kau berani memukul orang?” Dua orang pelayan itu juga mencari
penyakit, pikir Lo Sian yang menonton keributan itu sambil tersenyum simpul. Akan tetapi
dua orang pelayan yang hanya memiliki tenaga besar karena setiap hari dilatih mencacah
bakso, tidak dapat melihat bahwa Bouw Hun Ti memiliki ilmu kepandaian luar biasa, maka
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
25
dengan kepalan tangan mereka lalu menyerang hebat untuk memberi hajaran kepada Si
Brewok itu. Akan tetapi, Bouw Hun Ti sama sekali tidak pedulikan datangnya pukulan kedua
orang itu, bahkan lalu maju menyambut dengan kedua tangan terulur maju merupakan
cengkeraman garuda.
“Buk! Buk!” Dua pukulan itu tepat mengenai dada dan pundak Bouw Hun Ti, akan tetapi
aneh sekali. Si Brewok itu seakan-akan tidak merasa sama sekali, sebaliknya dua orang
pelayan itu memekik kesakitan dan memandang tangan mereka yang menjadi bengkak dan
biru setelah memukul tubuh yang mereka rasakan keras seperti besi itu! Sementara itu,
cengkeraman tangan Si Brewok telah mencapai sasaran, yakni rambut kedua orang pelayan
itu. Ketika Bouw Hun Ti mengangkat kedua lengannya maka dua orang itu terangkat ke atas
dan Bouw Hun Ti lalu menggerakkan kedua tangannya, membenturkan kepala dua orang itu
satu kepada yang lain.
“Duk!” Dan ketika Bouw Hun Ti melepaskan tangannya, dua orang pelayan itu roboh dengan
tubuh lemas dan pingsan serta kepala mereka yang saling bertumbuk tadi pecah kulitnya dan
mengeluarkan darah! Masih untung bagi mereka bahwa Bouw Hun Ti tidak menggunakan
seluruh tenaganya, karena kalau Si Brewok mau, dua butir kepala itu pasti akan menjadi
pecah dan nyawa mereka berdua akan melayang!
Pada saat itu dari luar pintu terdengarlah bentakan keras dengan suara yang parau,
“Jago dari manakah memperlihatkan kegagahan di sini?” Bentakan ini disusul masuknya
seorang laki-laki berpakaian mewah dan bertubuh tinggi besar bermuka hitam. Inilah Tiattauw-ciang (Si Kepala Besi) yang bernama Thio Seng, seorang yang terkenal sebagai jago di
dusun itu. Thio Seng tidak saja memiliki kepandaian silat yang tinggi, akan tetapi juga ia
terkenal sebagai seorang yang kaya raya. Selain banyak memiliki tanah, juga rumah makan itu
adalah miliknya. Pengaruhnya amat besar dan agaknya pengaruhnya ini yang membuat para
pelayannya berwatak sombong. Kebetulan sekali Thio Seng pada waktu terjadinya
pertempuran di rumah makan itu berada di luar rumah makan, maka ia segera mendengar dari
para pelayan tentang mengamuknya seorang tamu. Dengan marah ia lalu masuk ke dalam
rumah makannya dan membentak Bouw Hun Ti.
Bouw Hun Ti yang masih marah itu ketika melihat seorang tinggi besar bermuka hitam
memasuki pintu rumah makan, bertanya dengan suara kasar,
“Muka Hitam, siapakah kau dan mau apa?”
Thio Seng dapat menduga bahwa orang ini tentu memiliki ilmu silat, maka ia menjawab
sambil mengangkat dada,
“Akulah yang disebut Tiat-tauw-ciang Thio Seng dan pemilik rumah makan ini!” Dengan
ucapan ini Thio Seng menduga bahwa orang itu tentu telah mendengar namanya dan akan
minta maaf menyatakan tidak tahu bahwa restoran itu miliknya. Akan tetapi, selama hidupnya
Bouw Hun Ti belum pernah mendengar nama ini, maka ia menjawab,
“Tidak peduli pemilik rumah ini bernama kepala besi ataupun kepala udang, orang telah
melakukan penipuan di dalam rumah makan ini! Daging keras dan busuk dijual!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
26
Marahlah Thio Seng mendengar ini. “Eh, kau sombong sekali, sobat! Siapakah kau yang
tidak tahu aturan ini?”
“Siapa adanya aku bukan urusanmu! Dan jangan kau menghadang di jalan, aku hendak
pergi!” Sambil berkata demikian, Bouw Hun Ti memegang tangan Lili dan hendak
menariknya keluar dari situ. Akan tetapi Thio Seng berdiri sambil bertolak pinggang dan
berkata,
“Hemm, sabar dulu, sobat! Kalau kau tidak mengganti kerusakan ini dan memberi uang obat
kepada pelayan-pelayanku serta berlutut minta ampun kepada Tiat-tauw-ciang, jangan harap
bisa keluar dari sini!” Sambil berkata demikian, Thio Seng membuka jubah topinya dan kini
nampaklah kepalanya yang licin tak berambut di bagian muka dan tengah, mengkilap
bagaikan digosok dengan minyak. Inilah kepalanya yang amat ditakuti orang, karena dengan
kepala ini, Thio Seng pernah mengalahkan banyak jago silat, bahkan pernah berdemonstrasi
membentur dinding dengan kepalanya sehingga dinding bata yang tebal itu menjadi pecah!
Mendengar ucapan orang she Thio itu, Bouw Hun Ti tak dapat menahan marahnya lagi. Ia
melepaskan tangan Lili dan melangkah maju sambil menendang meja kursi yang berada di
dekatnya untuk mencari ruang yang lebih lebar.
“Kau mau melakukan kekerasan? Baik, agaknya kau ingin pula dihajar!”
“Rasakan pukulanku!” Thio Seng berseru dan mulai menyerang dengan pukulan tangan
kanan. Melihat gerakan yang keras dan cepat itu, Lo Sian yang masih duduk di sudut diamdiam memuji dan maklum bahwa Si Muka Hitam yang kasar ini memiliki kepandalan yang
tidak rendah. Akan tetapi, ia merasa terkejut dan kagum ketika melihat gerakan Bouw Hun Ti.
Ketika pukulan Thio Seng itu telah menyambar dekat dengan dadanya, Bouw Hun Ti cepat
melembungkan dadanya tanpa menangkis sedikit pun. Padahal melihat kerasnya pukulan, Lo
Sian maklum bahwa hal itu amat berbahaya.
“Buk!” terdengar suara keras ketika pukulan itu tepat menghantam dada akan tetapi aneh
sekali. Bukan Bouw Hun Ti yang roboh, bahkan tubuh Thio Seng terjengkang ke belakang
seakan-akan ia terdorong oleh tenaga amat besar!
Lo Sian terkejut benar-benar karena sesungguhnya tak pernah disangkanya orang yang
brewok itu memiliki lweekang yang sedemikian tingginya! Sungguh seorang berkepandaian
tinggi, lawan yang amat tangguh, pikirnya. Oleh karena itu, maka maksudnya untuk
menolong anak perempuan itu dipikirnya masak-masak. Ia harus menggunakan siasat untuk
menolong anak itu, karena dengan jalan kekerasan, belum tentu ia akan dapat menangkan Si
Brewok itu.
Sementara itu, Thio Seng yang tadi memukul, merasa terkejut dan marah karena ia merasa
seakan-akan memukul karet. Biarpun tangannya tidak menjadi bengkak seperti tangan
pelayannya ketika tadi memukul Bouw Hun Ti, akan tetapi ia telah terpental ke belakang oleh
kehebatan tenaga lawan. Ia tahu bahwa lawannya adalah seorang berkepandaian tinggi, maka
Thio Seng lalu mengambil jalan pendek dan nekat.
“Bangsat rendah, awas serangan pembalasanku!” serunya dan tubuhnya lalu membungkuk
dengan kepala di depan dan matanya melirik tajam bagaikan laku seekor kerbau jantan yang
hendak menyerang.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
27
“Hemm, majulah, hendak kurasakan betapa empuknya kepala tahumu!” kata Bouw Hun Ti
sambil memasang perutnya ke depan!
***
Pada saat itu, Lo Sian sudah mendapat akal untuk bertindak. Ia tadi melihat betapa dengan
menggunakan sepotong daging Si Brewok itu dapat menyerang lawannya. Diam-diam ia lalu
mengambil sekerat daging yang agak keras, kemudian setelah membidik dengan hati-hati ia
menyambitkan daging itu ke arah leher Lili.
Anak ini sedang menonton pertempuran dan selama tiga hari itu Lili tiada hentinya merasa
heran dan marah mengapa ayah ibunya, juga kakeknya, tidak mengejar dan memberi hajaran
kepada penculiknya ini! Tadi ketika melihat para pelayan menyerang Bouw Hun Ti, ia
mengharap agar Bouw Hun Ti akan kalah dan binasa, akan tetapi alangkah kecewanya ketika
melihat bahwa para pelayan yang hanya pandai berlagak itu dengan mudah dapat dirobohkan
oleh Si Brewok yang amat dibencinya. Pengharapannya menipis dan kemudian anak ini
merasa putus asa bahkan kini ia merasa menyesal kepada ayah ibu dari kakeknya yang tidak
juga muncul untuk menolongnya!
Ketika daging yang disambitkan oleh Lo Sian dengan tepat menyerang lehernya sehingga
tiba-tiba ia merasa betapa kekakuan leher dan lidahnya lenyap yang dapat ia serukan hanya
jeritan, “Ayah... Ibu... tolong...!”
Pada saat itu, Bouw Hun Ti tengah menghadapi Thio Seng yang hendak menyerangnya
dengan kepala. Bukan main kagetnya mendengar suara Lili karena ia tahu betul bahwa anak
itu telah ditotok jalan darahnya. Dengan heran Bouw Hun Ti menengok dan pada waktu itu,
Thio Seng sudah menyeruduk maju, menyerang perut Bouw Hun Ti dengan kepalanya yang
botak licin!
Tadinya Bouw Hun Ti tak bermaksud membunuh pemilik rumah makan ini dan hanya
hendak mempermainkannya, akan tetapi oleh karena pada saat itu ia sedang menengok
sehingga keadaannya amat berbahaya, ketika ia merasa betapa angin serudukan kepala dari Si
Muka Hitam itu amat kuatnya dan tidak ada kesempatan lagi baginya untuk menghindarkan
diri, ia lalu mengerahkan sinkangnya dan... “cep!” kepala Thio Seng menancap pada perutnya
bagaikan anak panah menancap pada batang pohon! Memang benar-benar luar biasa, karena
kini tubuh Thio Seng menjadi kaku, kepala menancap di perut Bouw Hun Ti dan kakinya
terangkat luruh ke belakang! Dengan sin-kangnya yang benar-benar luar biasa sekali Bouw
Hun Ti telah menyedot perutnya sehingga rongga perutnya menjadi kosong dan ketika kepala
lawannya menyeruduk perutnya ia mempergunakan tenaga lwee-kang untuk menggencet dan
menolak tenaga serudukan itu!
Ketika Bouw Hun Ti melembungkan perutnya lagi, tubuh Thio Seng terlempar dan roboh
dalam keadaan tak bernyawa lagi! Ternyata bahwa penolakan tenaga dari perut Bouw Hun Ti
telah membuat tenaga serudukan Thio Seng kembali menyerang kepalanya sendiri sehingga ia
mendapat luka di dalam kepala dan tewas pada saat itu juga!
Ributlah keadaan di situ melihat hal yang mengerikan ini. Dan ketika Bouw Hun Ti
menengok untuk membawa pergi Lili, ia melihat anak itu telah dipondong oleh seorang lakilaki berpakaian tambal-tambalan!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
28
“Lepaskan anak itu!” seru Bouw Hun Ti dan tangannya diulur kedepan sedangkan kedua
kakinya melompat dalam serbuan itu.
Lo Sian melihat tangan Si Brewok menyambar ke jalan darah Tai-twi-hiat, cepat mengangkat
tangan kirinya menangkis. Dua tangan orang-orang yang berilmu tinggi dan ahli lwee-keh
bertemu dengan keras dan Lo Sian terpental ke belakang! Untung ia berlaku waspada dan
hanya terhuyung-huyung saja tidak sampai roboh, sedangkan Bouw Hun Ti juga melangkah
mundur dua langkah.
Bukan main marahnya Bouw Hun Ti dan berbareng ia juga merasa terkejut karena tak pernah
disangkanya di tempat itu ia akan bertemu dengan seorang yang memiliki tenaga lwee-kang
demikian tingginya.
“Bangsat rendah kau ingin mampus!”
Dan ia lalu bergerak maju kembali untuk melakukan serangan.
Akan tetapi, para pelayan dan beberapa orang kaki tangan Thio Seng yang melihat betapa
Thio Seng terbunuh oleh orang brewok itu menjadi marah dan serentak maju menyerang
dengan senjata di tangan. Hal ini membuat Bouw Hun Ti terpaksa menunda niatnya
menyerang Lo Sian, dan sebaliknya ia lalu memutar tubuhnya dan menghadapi para
penyerangnya. Bukan main ributnya pertempuran itu, karena biarpun Bouw Hun Ti tidak
mempergunakan senjata, namun begitu tubuhnya bergerak, pedang dan golok beterbangan
dan tubuh para pengeroyoknya jatuh, tumpang tindih dan malang melintang! Jangankan
sampai terkena pukulan dan tendangan Bouw Hun Ti, baru keserempet sedikit saja para
pengeroyok bergulingan jatuh tak dapat bangun pula!
Tentu saja kehebatan sepak terjang Si Brewok ini membuat pengeroyok lain menjadi terkejut
dan gentar sehingga mereka merasa ragu-ragu untuk maju menyerang. Bouw Hun Ti cepat
menengok, akan tetapi ia tidak melihat lagi pengemis berbaju tambalan yang tadi memondong
Lili.
“Kau hendak lari ke mana?” serunya keras dan tahu-tahu tubuhnya telah melayang melewati
kepala para pengeroyoknya yang berdiri melongo di depan pintu!
Bouw Hun Ti melompat naik ke atas genteng memandang ke kanan kiri, akan tetapi tetap
saja ia tidak melihat adanya orang yang telah merampas anak itu. Bukan main marah dan
mendongkolnya, akan tetapi kepada siapakah ia harus melampiaskan rasa marahnya? Ia
melompat turun lagi dan ketika ia melihat seorang di antara para pelayan itu memegang tali
kudanya, ia cepat menyambar dengan tendangannya.
Pelayan yang bermaksud menahan kudanya itu menjerit ngeri dan tubuhnya terlempar jauh,
jatuh di atas tanah dalam keadaan tidak bernyawa pula! Untuk melampiaskan
kemendongkolan hatinya karena Lili dirampas orang, Bouw Hun Ti telah membunuh seorang
lagi!
Ia lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan kudanya cepat-cepat menuju ke barat,
dengan harapan kalau-kalau ia akan dapat menyusul orang yang membawa lari anak kecil
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
29
tawanannya itu. Akan tetapi ia tidak tahu bahwa Lo Sian, Si Pengemis Sakti itu, tidak
membawa lari Lili ke barat, melainkan ke selatan!
Lo Sian membawa Lili bersembunyi ke dalam sebuah kelenteng tua yang terdapat di sebelah
selatan dusun itu. Ia menurunkan Lili yang semenjak tadi meronta-ronta dalam pondongannya
dan ketika diturunkan, Lili lalu melompat dan menyerangnya dengan pukulan kedua
tangannya!
Lo Sian berseru terheran-heran. Bukan saja ia merasa heran mengapa anak ini begitu
dilepaskan lalu tiba-tiba menyerangnya dengan marah, akan tetapi ia juga merasa heran
melihat bahwa gerakan serangan anak kecil ini indah dan baik sekali, merupakan tipu pukulan
dari ilmu silat yang tinggi!
Ia mengelak cepat dan berkata, “Eh, eh, anak baik, mengapa kau menyerang aku?”
Akan tetapi, tanpa berkata sesuatu, Lili terus menyerangnya membabi buta, menggerakkan
kedua tangannva, bahkan mengirim tendangan dengan kakinya! Dalam keheranannya, Lo
Sian menjadi gembira dan ingin melihat sampai di mana kepandaian anak ini dan ilmu
silatnya dari cabang mana, maka ia tetap mengelak ke sana ke mari dengan cepatnya. Makin
lama makin terheranlah ia ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu silat yang dimainkan oleh
Lili untuk menyerangnya, benar-benar merupakan ilmu pukulan yang luar biasa sekali gerakgeriknya dan yang sama sekali belum pernah dilihatnya! Ia paham akan ilmu silat cabangcabang besar seperti Siauw-lim-pai, Kun-lun-pai, Go-bi-pai dan lain-lain, akan tetapi ilmu
silat anak kecil ini benar-benar belum pernah dilihatnya dan yang harus diakui amat hebat!
Kalau ia tidak memiliki gerakan yang cepat, tentu ia telah kena terpukul, sungguhpun pukulan
anak itu tentu saja takkan mendatangkan bahaya sesuatu terhadap tubuhnya.
Ia lalu mengulur tangan dan menangkap pergelangan tangan Lili, lalu merangkul anak itu.
“Anak yang baik, dengarlah. Aku bukan orang jahat!”
“Kau juga penculik!” tiba-tiba Lili berseru keras dan sepasang mata yang indah bening itu
memandang tajam dan marah, bibirnya dikatupkan keras-keras.
Makin tertariklah hati Lo Sian melihat anak ini. Ia dapat menduga bahwa anak ini bukanlah
anak sembarangan, dan ia kagum sekali menyaksikan keberanian dan kekerasan hati anak ini.
“Bukan, bukan, anakku! Mungkin kau masih dipengaruhi oleh Si Brewok yang kejam tadi!
Dia memang orang jahat dan aku menolongmu dan merampasmu dari tangannya!”
Lili memang cerdik dan setelah kini terbuka matanya dan tahu bahwa orang berbaju tambalan
ini selain mempunyai wajah yang sabar dan baik juga kata-katanya tidak sekasar dan seganas
Si Brewok tadi, maka tiba-tiba saja ia menangis tersedu-sedu!
Lo Sian menarik napas panjang dan mengelus-elus kepala anak itu.
“Kasihan, anak yang baik. Kau siapakah dan anak siapa serta bagaimana pula sampai terjatuh
ke dalam tangan penculik jahat itu?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
30
Lili masih merasa gemas kepada ayah ibunya yang sampai saat itu belum juga datang
menyusul dan menolongnya, karena ia masih kecil, maka ia tidak dapat berpikir jauh dan
tidak tahu bahwa kedua orang tuanya tak mungkin dapat menyusulnya dengan mudah karena
tidak tahu ke mana ia dibawa pergi. Yang ia ketahui hanyalah ayah ibunya belum muncul dan
dalam anggapannya, ayah ibunya itu seakan-akan membiarkan saja ia dibawa pergi oleh
penculik jahat tadi! Penderitaan-penderitaan yang ia alami selama tiga hari itu memang benarbenar hebat. Seorang anak kecil seperti dia, baru berusia delapan tahun, telah dibawa lari
seorang kejam seperti Bouw Hun Ti, mengalami kekagetan, kelaparan, bahkan selalu berada
dalam pengaruh totokan yang membuatnya gagu, dan tadi malahan ia telah ditotok sehingga
merasakan kesakitan yang luar biasa. Tentu saja ia merasa marah dan sakit hati mengapa ayah
ibunya membiarkan saja ia menderita sehebat itu! Kini ia telah tertolong oleh seorang lain,
tentu saja segala simpatinya tercurah kepada orang ini dan ketika ia melihat orang itu
mengelus-elus kepalanya dan memandangnya penuh rasa terharu dan sayang, tiba-tiba ia
memeluk Lo Sian dan menangis di atas dada pengemis sakti itu!
“Anakku sayang, sudahlah jangan menangis. Si jahat itu telah pergi dan kau takkan tersiksa
lagi. Percayalah, dengan adanya aku di sini, takkan ada orang yang berani mengganggumu.
Aku bernama Lo Sian dan kau boleh menyebutku Lo-pekhu. Siapakah namamu?” Lo Sian
mengulang pertanyaannya.
Di dalam pelukan Lo Sian, Lili teringat kepada kakeknya, karena di samping ayah ibunya,
orang yang mengasihinya hanyalah kakeknya itulah, maka ia seakan-akan mendapat
pengganti kakeknya dalam diri Lo Sian ini.
“Namaku Lili,” jawabnya tanpa mengangkat muka dari dada Pengemis Sakti itu.
“Nama yang bagus!” kata Lo Sian. “Dan siapa Ayah Ibumu?”
Tiba-tiba Lili mengerutkan mukanya dan ia memandang dengan marah kepada Lo Sian.
Bibirnya yang manis itu cemberut sedangkan matanya yang masih basah dengan air mata itu
menyinarkan cahaya tajam yang membuat Lo Sian memandang makin kagum saja.
“Ayah ibuku tidak mau menolongku! Jangan kau tanyakan nama mereka!” Ia benar-benar
marah dan mengepal tinjunya! Lo Sian tersenyum. Alangkah pemarah dan galaknya anak ini,
pikirnya. Akan tetapi, dalam kemarahannya, anak ini benar-benar kelihatan gagah dan
bersemangat. Tentu ia anak seorang pendekar, pikirnya.
“Baiklah, kalau kau tidak mau memberitahukan nama Ayah Ibumu, sedikitnya kau mau
memberitahukan she-mu dan di mana pula kautinggal.”
Lili tahu bahwa ayahnya bernama Sie Cin Hai dan ibunya bernama Kwee Lin, akan tetapi
karena tadi ia sudah berkata tak hendak memberitahukan nama ayah ibunya, maka ia pun
tidak mau memakai she (nama keturunan) mereka. Ia teringat akan nama kakeknya, maka ia
menjawab,
“Aku she Yo dan di mana tempatku, aku tidak mau bilang karena aku tidak mau pulang!”
“Eh, eh, mengapa tidak mau pulang? Ayah-ibumu tentu akan mencari-carimu. Katakanlah di
mana tempat tinggalmu agar aku dapat mengantar kau pulang ke rumah orang tuamu,” kata
Lo Sian membujuk.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
31
“Tidak, tidak! Aku tidak mau pulang! Ayah dan Ibu tidak mau menolong dan mencariku,
untuk apa aku pulang? Lopek, aku mau ikut kau saja!”
Lo Sian tersenyum. “Maukah kau menceritakan bagaimana kau sampai terjatuh ke dalam
tangan penculik kejam tadi?”
“Dia datang dan mengejarku ketika aku sedang bermain-main di luar rumah, di kampung
lain. Aku tidak tahu mengapa ia membenci dan menculik aku!”
Lo Sian menjadi makin bingung. Anak ini tidak mau memberitahukan siapa orang tuanya dan
di mana rumahnya, bahkan tidak mau pulang. Pancingannya untuk mendapat keterangan
secara jelas ternyata gagal, bahkan mengapa Si Brewok tadi menculik anak ini pun masih
merupakan teka-teki baginya. Yang dapat memberi keterangan hanyalah Si Brewok tadi, akan
tetapi ia maklum bahwa Si Brewok itu adalah seorang yang memiliki kepandaian tinggi. Dia
sendiri belum tentu akan dapat mengalahkannya, karena dari peraduan lengan tangan mereka
tadi saja ia maklum bahwa tenaga lwee-kang orang itu masih lebih tinggi setingkat daripada
tenaganya sendiri!
“Anak yang baik, ilmu silatmu baik sekali. Dari siapakah kau belajar ilmu silat itu? Siapa
yang melatihmu?”
“Yang mengajarku Ayah, Ibu, dan juga Kakekku!”
Terkejutlah Lo Sian mendengar ini. Dugaannya tidak salah. Anak ini datang dari keluarga
pendekar. Tidak saja ayahnya yang dapat silat, bahkan ibu dan kakeknya agaknya juga orangorang berkepandaian tinggi.
“Siapakah nama kakekmu, Lili?”
“Kakekku she Yo, namanya aku tidak tahu.”
Lo Sian mengangguk-angguk dan mengira bahwa kakek she Yo itu tentulah ayah dari bapak
anak ini, kalau tidak demikian tentu anak ini tidak bershe Yo pula.
“Diantara ketiga orang tua itu, siapakah yang terlihai ilmu silatnya?”
Dasar anak-anak, biarpun ia sedang marah kepada orang tuanya, akan tetapi tentu saja ia
paling suka membanggakan kepandaian mereka, maka tanpa ragu-ragu lagi ia menjawab,
“Tentu saja Ayahku! Ke dua Ibu, dan ke tiga Kakek.”
“Kalau misalnya Ayahmu dapat menyusulmu, apa kaukira Ayahmu akan menang melawan
penculik tadi?”
Tiba-tiba Lili tertawa geli dan suara ketawanya demikian nyaring sehingga Lo Sian kembali
melongo. Anak ini benar-benar aneh, begitu tiba-tiba dapat tertawa lagi seriang itu. Ia tidak
tahu bahwa anak ini memang sifatnya seperti ibunya, bahkan suara ketawanya juga merdu dan
nyaring seperti suara ketawa ibunya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
32
“Tak usah Ayah sendiri maju, menghadapi Kakekku saja, dalam tiga jurus pasti ia akan dapat
dirobohkan!”
Lo Sian tentu saja tidak mau mempercayai omongan anak itu yang dianggapnya membual
belaka, akan tetapi menilik dari ilmu silat yang tadi dimainkan oleh Lili, ia percaya bahwa
keluarga anak kecil ini tentu memiliki ilmu silat yang tinggi.
Maka, sambil mencari-cari orang tua dan tempat tinggal anak ini, untuk sementara ia hendak
membawa anak ini bersama dia, membawanya merantau dan melatih silat, karena ia memang
belum mempunyai murid dan anak ini tidak mengecewakan kalau menjadi muridnya.
“Baiklah, Lili, kau boleh ikut padaku, dan maukah kau belajar silat padaku dan menjadi
muridku?”
Dengan muka girang Lili lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian dan berkata, “Tentu
saja suka, Suhu (Guru)!”
Demikianlah, mulai hari itu, Lili menjadi murid Lo Sian dan ikut Pengemis Sakti ini
merantau. Biarpun beberapa kali Lo Sian membujuknya, akan tetapi ia tetap tidak mau
memberitahukan nama orang tuanya atau tempat tinggalnya sehingga diam-diam Lo Sian
melakukan perjalanan sambil mencari-cari, karena sesungguhnya ia ingin sekali
mempertemukan anak ini dengan kedua orang tuanya kembali.
***
Di kota Tiang-an, kota di sebelah kota raja terdapat sebuah rumah gedung kuno yang besar.
Rumah ini dikenal sebagai tempat tinggal keluarga Kwee, dan dahulu ditinggali oleh Kweeciangkun (Perwira Kwee), seorang pembesar millter yang gagah perkasa. Akan tetapi,
sekarang rumah itu ditinggali oleh seorang putera dari mendiang Kwee-ciangkun yang
bernama Kwee An. Bagi para pembaca yang pernah membaca ceritaPendekar Bodoh , tentu
tahu bahwa Kwee An ini adalah kakak dari Kwee Lin atau Lin Lin yang menjadi nyonya Sie
Cin Hai.
Kwee An memiliki ilmu silat yang tinggi, karena orang muda ini adalah murid tersayang dari
jago tua Eng Yang Cu, seorang tosu tokoh dari Kim-san-pai yang termasyhur. Selain
mendapat gemblengan ilmu silat dari tokoh Kim-san-pai ini, juga Kwee An pernah menerima
pelajaran ilmu silat yang tinggi dari Kong Hwat Lojin si Nelayan Cengeng, bahkan pernah
pula menerima gemblengan ilmu silat yang ganas dan aneh dari seorang penjahat besar yang
bernama Hek Moko. Oleh karena itu, ilmu silat Kwee An amat tinggi dan namanya pun amat
terkenal di kalangan kang-ouw.
Isteri dari Kwee An juga seorang puteri dari seorang pembesar kerajaan, dan isterinya ini
bernama Ma Hoa, seorang wanita yang cantik manis. Dalam hal kepandaian ilmu silat, Ma
Hoa ini tidak berada di sebelah bawah suaminya, karena selain mendapat pelajaran ilmu silat
dari suhunya yang juga dianggap sebagai ayah angkat sendiri, yaitu Nelayan Cengeng, juga
Ma Hoa pernah menerima pelajaran Ilmu Silat Bambu Runcing yang amat luar biasa dari Hok
Peng Taisu, orang ajaib yang dianggap menjadi tokoh nomor satu dari daerah timur!
Saudara kandung dari Kwee An yang masih ada hanyalah Lin Lin yang kini tinggal bersema
suaminya di Propinsi An-hui dan seorang kakak yang bernama Kwee Tiong dan yang kini
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
33
hidup sebagai seorang hwesio di Kelenteng Ban Hok Tong, sebuah kelenteng kuno di luar
tembok kota Tiang-an di sebelah barat.
Kwee An hanya mempunyai seorang anak perempuan yang pada waktu itu telah berusia
sembilan tahun. Anak ini diberi nama Kwee Goat Lan yang berarti Anggrek Bulan. Goat
berarti bulan dan Lan berarti bunga anggrek. Nama ini diberikan kepada anak itu oleh karena
ketika mengandung, Ma Hoa bermimpi melihat bunga anggrek di waktu terang bulan!
Dalam usia sembilan tahun, Goat Lan telah kelihatan bahwa kelak ia akan menjadi seorang
gadis yang amat manis dan jenaka. Sebagai seorang anak tunggal, Goat Lan amat dimanja
oleh kedua orang tuanya, maka ia menjadi nakal sekali. Semenjak kecil ia telah mendapat
latihan dasar-dasar ilmu silat tinggi dari kedua orang tuanya bahkan ia telah dapat mainkan
sepasang bambu runcing seperti ibunya, sungguhpun permainannya baru merupakan ilmu silat
kembangan belaka. Akan tetapi, anak ini memiliki dasar-dasar yang amat luar biasa dalam hal
ilmu gin-kang (meringankan tubuh) sehingga dalam usia sembilan tahun ia telah dapat
melompat tinggi dan seringkali ia berlari di atas genteng atau melompat naik ke cabang
pohon-pohon tinggi!
Yang mengherankan adalah kesukaannya akan ilmu kesusastraan, sehingga seringkali kedua
orang tuanya saling pandang heran karena baik Kwee An maupun Ma Hoa kurang suka
mempelajari ilmu menulis dan membaca. Mengapakah anak tunggal mereka begitu tekun dan
rajin mempelajari ilmu sastera?
“Agaknya ia mendapat warisan dari Cin Hai yang juga menjadi seorang kutu buku!” pernah
Kwee An berkata secara berkelakar kepada isterinya.
“Tak mungkin!” bantah Ma Hoa. “Kita jarang bertemu dengan Cin Hai, bahkan anak kita
hampir tak mengenalnya. Kurasa ia mewarisi kesukaan ini dari kakeknya, karena mendiang
ayahku memang suka sekali akan kesusastraan.”
Memang anak itu amat suka membaca buku-buku kesusastraan kuno dan sajak-sajak baru,
dan selain itu ia pun amat suka melukis. Maka tidak heran apabila Goat Lan suka sekali pergi
ke Kelenteng Ban-hok-tong mengunjungi pek-hunya, oleh karena Kwee Tiong memang
semenjak menjadi hwesio, kesukaannya tiada lain hanya membaca kitab-kitab dan
memperdalam pengetahuannya dalam hal kesusastraan. Dari Kwee Tiong ia mendapat
tambahan pengetahuan yang tak sedikit, dan tiap kali ia datang ke kuil itu, selalu pek-hunya
itu pandai sekali mendongengkan sejarah kuno atau mengajarnya sajak-sajak baru yang amat
indah.
Kwee An maklum bahwa kakaknya yang telah menjadi hwesio itu amat sayang kepada Goat
Lan, dan di dalam hatinya, Kwee An merasa kasihan kepada kakaknya, maka untuk
menghibur hati Kwee Tiong, ia membiarkan saja anaknya sering mengunjungi pekhunya itu,
bahkan tidak jarang Goat Lan bermalam di kelenteng itu.
Dahulu Kelenteng Ban-hok-tong yang besar dan kuno ini tidak banyak penghuninya dan
ditinggalkan terlantar. Akan tetapi semenjak diketuai oleh Tong Kak Hosiang yang menjadi
guru Kwee Tiong dalam pelajaran Agama Buddha, maka banyak sekali murid-muridnya yang
menjadi hwesio. Ketika Tong Kak Hosiang meninggal dunia dan kedudukan ketua diserahkan
kepada Kwee Tiong, maka Ban-hok-tong telah mempunyai penghuni yang amat banyak.
Tidak kurang dari dua puluh lima orang hwesio tinggal di kelenteng itu di bawah pimpinan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
34
Kwee Tiong yang kini menjadi penganut Agama Buddha yang amat setia. Setelah menjadi
ketua kelenteng, namanya yang tadinya diubah oleh suhunya menjadi Tiong Yu Hwesio itu,
kini diubah lagi menjadi Thian Tiong Hosiang. Dengan bantuan Kwee An, Thian Tiong
Hosiang memperbaiki bangunan Kelenteng Ban-hok-tong dan dibawah bimbingannya,
perkembangan Agama Buddha di daerah Tiang-an makin meluas.
Semua hwesio yang berada di kelenteng itu, tua muda, amat suka dan sayang kepada Goat
Lan yang mungil dan cerdik, dan diantara mereka ini, banyak terdapat orang-orang yang
memiliki ilmu kesusastraan tinggi, maka di bawah petunjuk-petunjuk mereka itu, pengetahuan
Goat Lan makin maju saja. Selain kesusastraan dan melukis, Goat Lan ternyata memiliki
kecerdikan luar biasa dalam hal permainan catur, dan seorang hwesio ahli catur di kelenteng
itu yang mengajarkan main catur sekarang bahkan merasa amat sukar untuk menjatuhkan
muridnya yang baru berusia sernbilan tahun ini!
Pada suatu hari, Goat Lan seperti biasa bermain-main di dalam Kelenteng Ban-hok-tong.
Ketika ia seorang diri memasuki halaman kelenteng, ia disambut oleh seorang hwesio
pembersih halaman yang segera berkata,
“Kwee-siocia, baik sekali kau datang! Siang tadi datang dua orang tamu aneh di kelenteng
kita, dan semenjak tadi mereka berdua bermain catur tiada hentinya!”
Goat Lan memang paling suka menonton orang bermain catur, maka ia segera bertanya,
“Thian Seng Suhu, siapakah mereka dan dari mana datangnya?”
“Entahlah, mereka memang aneh seperti yang telah pinceng katakan tadi. Kalau ditanya
nama dan tempat tinggal merekag keduanya hanya tertawa-tawa saja. Begitu memasuki
kelenteng, mereka terus saja bertanya apakah di kelenteng ini ada alat bermain catur,
kemudian dari siang tadi sampai senja mereka tak pernah berhenti lagi. Aneh, aneh! Akan
tetapi Losuhu memesan agar supaya kami jangan mengganggu mereka karena betapapun juga,
tamu-tamu tidak boleh diganggu dan harus dihormati.”
“Aku mau nonton mereka bertanding catur!” kata Goat Lan.
“Akan tetapi Siocia...”
“Ah, Pekhu takkan marah kepadaku!” Goat Lan memotong. “Lagi pula, aku pun tidak hendak
mengganggu mereka, hanya menonton saja, apakah salahnya?”
Sambil berkata demikian, Goat Lan lalu berlari-lari memasuki ruang tamu yang berada di
sebelah kiri. Baru saja tiba di luar ruangan itu, ia telah mencium bau arak yang amat wangi
dan suara parau seorang berkata,
“Tianglo, kudamu terjebak! Ha, ha, ha, ha!” Kemudian suara ini tertawa terbahak-bahak
menyatakan kegirangan hati yang luar biasa sekali seperti seorang anak-anak menang dalam
sebuah permainan.
“Hm, jangan bergirang-girang dulu, Im-yang Giok-cu, biar kukorbankan kuda kurus ini,
mendapat ganti seorang perajuritmu pun lumayan juga!” Terdengar suara lain yang tinggi
kecil.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
35
Goat Lan tak sabar lagi dan cepat memasuki ruangan itu. Ia melihat dua orang duduk bersila
menghadapi papan catur dan keadaan mereka memang aneh, benar seperti penuturan Thian
Seng Hwesio tadi.
Orang pertama adalah seorang kakek gundul bertubuh gemuk tinggi bermuka merah, di
dekatnya terletak sebuah keranjang kecil berwarna hitam. Melihat bentuk keranjang yang ada
gantungannya ini, Goat Lan maklum bahwa inilah sebuah keranjang yang biasa digunakan
oleh para hwesio untuk mencari dan mengumpulkan daun-daun obat, dan selain keranjang
obat ini, nampak juga sebuah pisau pemotong daun dan akar yang bentuknya panjang dan
tipis.
Orang ke dua juga aneh, tubuhnya kecil pendek dan pakaiannya menunjukkan bahwa ia
seorang penganut Agama Tao. Seperti orang pertama, kakek ini pun usianya kurang lebih
lima puluh tahun. Sambil menghadapi papan caturnya, tiada hentinya tosu ini minum arak dari
sebuah ciu-ouw (tempat arak) yang bentuknya seperti buah labu, akan tetapi cugi arak ini
terbuat dari logam yang kekuning-kuningan seperti emas. Dari sinilah tersiarnya bau arak
wangi tadi.
Melihat bentuk tubuh orang-orang ini, Goat Lan menduga bahwa yang suaranya kecil tentu
Si Tosu Pendek ini. Akan tetapi ia salah duga dan menjadi terheran dan juga geli ketika
mendengar hwesio tinggi besar itu bicara dengan suara yang amat kecil dan tinggi.
“Im-yang Giok-cu, kalau kau tidak mengurangi kesukaanmu minum arak, tentu kelak kau
akan menderita penyakit dalam perutmu.”
Tosu itu tertawa dan menjawab dengan suaranva yang parau.
“Sin-kong Tianglo, kau boleh memberi nasihat kepada pemabok-pemabok yang lemah, akan
tetapi kalau kau memberi nasihat tentang minum arak kepadaku, sungguh lucu!” Kembali ia
tertawa.
“Aku tahu bahwa kau berjuluk Ciu-cin-mo (Iblis Arak), akan tetapi betapapun juga, kau
hanyalah seorang manusia biasa dengan perut biasa pula. Agaknya kau tidak menghendaki
usia panjang.”
Mendengar percakapan dan melihat sikap mereka, agaknya permainan catur itu telah
mempengaruhi mereka sehingga mereka menjadi panas!
“Sin-kong Tianglo, kau tukang obat tua! Sudah kukatakan, aku tidak butuh pertolongan dan
nasihatmu. Lebih baik kaucurahkan perhatianmu kepada rajamu. Nah, lihat, rajamu terancam
bahaya maut, Ha, ha, ha!” Sambil berkata demikian, ia menggerakkan biji caturnya dan
memang benar, kedudukan raja dari barisan catur hwesio itu terancam bahaya dan terdesak
sekali.
Mereka kembali memperhatikan papan catur dengan penuh ketekunan, sehingga keadaan
menjadi sunyi dan bunyi pernapasan kedua orang itu terdengar nyata. Goat Lan merasa heran
sekali mengapa bunyi pernapasan kedua kakek itu demikian panjang dan lama!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
36
Memang kedudukan raja hitam dari hwesio itu amat terdesak dan terancam sehingga hwesio
itu menatap papan caturnya dengan jidat dikerutkan. Sampai lama ia tidak dapat menjalankan
biji caturnya untuk melindungi atau menolong rajanya, sedangkan Si Tosu memandang
dengan bibir tersenyum mengejek, akan tetapi ia juga tidak melepaskan pandang matanya dari
papan catur. Nampaknya kedua orang itu sedang asyik sekali dan sama sekali tidak
mempedulikan kedatangan Goat Lan yang kini telah mendekat dan menonton permainan itu
sambil duduk bersila pula.
“Gerakkan benteng melindungi raja!” tiba-tiba suara Goat Lan yang nyaring dan merdu
terdengar. Melihat betapa raja hitam terdesak, tak terasa pula anak ini membuka mulut
memberi jalan. Hwesio itu yang tadinya tak bergerak bagaikan patung, kini bibirnya bergerakgerak dan sungguhpun ia tidak tahu apakah baiknya gerakan ini karena dengan demikian
bentengnya akan terancam dan dimakan oleh kuda lawan, akan tetapi oleh karena ia telah
kehabisan jalan, ia lalu menggerakkan tangannya dan menggeser kedudukan benteng menutup
rajanya. Ia melakukan ini tanpa menoleh sedikit pun kepada Goat Lan.
Tosu itu tercengang ketika Si Hwesio benar-benar menggerakkan bentengnya, kemudian
sambil tertawa bergelak ia lalu makan benteng itu dengan kudanya.
“Benteng telah kurampas! Ha, ha, ha, kedudukanmu makin lemah, Tianglo! Ha, ha, ha!”
Tosu kate itu tertawa senang.
Akan tetapi suara ketawanya itu diputus oleh suara Goat Lan yang berseru girang, “Berhasil
jebakan memancing kuda keluar kandang! Lekas geser menteri menyerang kedudukan raja
musuh!”
Bukan main girangnya hati hwesio itu. Tadinya memang ia tidak mengerti apakah
kebaikannya memajukan benteng yang hanya diberikan dengan cuma-cuma kepada kuda
lawan, tak tahunya bahwa dengan gerakannya memancing itu, kuda lawan meninggalkan
depan raja sehingga kedudukan raja merah menjadi terbuka, memungkinkan menterinya untuk
menyerang!
“Bagus, bagus!” katanya girang sambil mengajukan menterinya yang kini seakan-akan
menodong dada raja lawan dengan pedang. “Rajamu sekarang terjepit, Im-yang Giok-cu.
Bagus!”
Wajah tosu yang tadinya tersenyum-senyum girang itu tiba-tiba menjadi masam dan dengan
mulut cemberut ia menundukkan kepala, menatap papan catur dengan bingung karena kini
benar-benar kedudukan rajanya menjadi terdesak hebat!
Sampai beberapa lama ia diam tak bergerak, bahkan lupa untuk minum araknya. Memang
sesungguhnya kepandaian bermain catur kedua kakek ini masih amat rendah sehingga tiap
kali raja mereka terancam bahaya, mereka menjadi bingung, tidak tahu harus menggerakkan
biji catur yang mana!
“Ha, Im-yang Giok-cu, hayo gerakkan biji caturmu! Atau kau menerima kalah saja dan
memberi Im-yang Sin-na (nama ilmu-silat) kepadaku?” hwesio gemuk itu berkata dengan
wajah girang.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
37
Tosu itu tidak menjawab, hanya mencurahkan seluruh perhatian kepada papan catur,
memutar otak mencari jalan keluar bagi rajanya.
“Menteri setia bergerak melindungi raja, kalau perlu mengadu jiwa dengan menteri musuh!”
tiba-tiba Goat Lan berkata lagi sekarang membantu tosu itu! Anak ini merasa tak sabar sekali
mengapa kedua kakek ini begitu bodoh dalam permainan catur sehingga serangan yang
demikian ringan saja sudah membuat mereka tak berdaya!
Bercahayalah wajah tosu kecil itu. “Ha, ha, benar! Itulah jalan terbaik. Ha, ha, ha! Hayo,
Tianglo, kalau berani, kita bersama korbankan menteri!” Ia lalu menggeser menterinya ke kiri
dan melindungi raja merah daripada ancaman menteri hitam.
Hwesio itu menjadi penasaran dan mengerling ke arah Goat Lan tanpa menoleh. Kemudian ia
memandang ke arah papan catur lagi dan berkata dengan suaranya yang tinggi.
“Memang zaman sekarang ini zaman buruk! Anak-anak saja sudah kehilangan kesetiaannya,
suka mengkhianati ke sana ke mari! Sungguh sayang!”
Goat Lan adalah seorang anak yang berotak cerdik dan ia telah banyak membaca-baca kitabkitab kuno yang berisi filsafat-flisafat dan kata-kata yang bermaksud dalam. Maka ucapan
hwesio itu sungguhpun hanya menyindir, namun Goat Lan dapat menangkap maksudnya dan
tahu bahwa dialah yang dianggap tidak setia karena baru saja membantu hwesio itu, kini
berbalik membantu Si Tosu! Ia lalu menggunakan pikirannya mengingat-ingat dan mencaricari kata-kata yang tepat untuk menjawab sindiran ini, kemudian ia berkata dengan suara
nyaring, seakan-akan membaca kitab dan tidak ditujukan kepada siapapun juga.
“Membantu yang terdesak, ini baru adil namanya! Berlaku lurus tidak berat sebelah, ini baru
bijaksana!”
Ini adalah ujar-ujar kuno yang hanya dikenal oleh mereka yang pernah membaca kitab-kitab
peninggalan para pujangga zaman dahulu. Mendengar ujar-ujar ini diucapkan oleh seorang
anak perempuan kecil, kedua orang kakek itu tercengang dan keduanya lalu mengerling ke
arah Goat Lan dan untuk beberapa lama mereka melupakan pemainan caturnya dan melirik
dengan penuh perhatian.
“Otak yang baik!” Si Hwesio memuji. “Sayang agak lancang!” Sambil berkata demikian,
tiba-tiba tanpa menggerakkan tubuh, duduknya telah menggeser dan kini ia membelakangi
Goat Lan!
“Benar-benar pandai!” Si Tosu juga memuji. “Sayang ia perempuan!” Dan tosu ini pun tanpa
menggerakkan tubuh, tahu-tahu telah menggeser pula menghadapi hwesio itu.
Melihat gerakan mereka ini, Goat Lan menjadi bengong. Bagaimanakah orang dapat pindah
duduknya tanpa menggerakkan tangan dan kaki? Seakan-akan mereka itu duduk di atas rodaroda yang dapat menggelinding dengan sendirinya. Akan tetapi, anak yang cerdik ini dapat
menduga bahwa mereka tentulah orang-orang pandai yang menggunakan semacam tenaga
dalam yang luar biasa sehingga tubuh mereka itu dalam keadaan bersila dapat pindah tempat.
Dan di samping kecerdikannya, Goat Lan memang nakal dan memiliki watak yang tak mau
kalah. Kini ia duduk di belakang hwesio yang gemuk itu sehingga tak dapat melihat papan
catur. Untuk bangun dan berpindah tempat, ia merasa malu. Maka ia lalu mengendurkan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
38
kedua kakinya menempel pada lantai. Kemudian ia menggerakkan tenaga pada kedua kaki
dan mengerahkan gin-kangnya, maka tiba-tiba tubuhnya yang kecil itu mencelat naik dan
turun di sebelah kanan hwesio itu sehingga kedudukannya menjadi seperti tadi dan ia dapat
melihat papan catur itu seperti tadi!
“Ah, tidak jelek!” kata hwesio gemuk itu.
“Bagus!” Si Tosu juga memuji.
“Inilah murid yang pantas untukku!” kata pula hwesio itu.
“Tidak! Sudah lama aku ingin mendapatkan murid, dia inilah orangnya!”
Kini kedua orang kakek itu saling pandang dan kembali mereka menjadi panas hati. Kalau
tadi mereka panas karena permainan catur, kini mereka menjadi panas karena hendak
memperebutkan Goat Lan sebagai murid. Sementara itu Goat Lan diam saja seakan-akan
tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang kakek itu.
“Im-yang Giok-cu, mari kita lanjutkan permainan catur ini dan siapa yang menang, ia berhak
mendapatkan murid ini.”
“Boleh, boleh! Sekarang giliranmu, hayo kauteruskan!”
Sin Kong Tianglo lalu menggerakkan biji caturnya, dan Goat Lan mulai memperhatikan lagi,
siap membantu yang terdesak. Akhirnya kedua orang kakek itu selalu mendapat petunjuk dari
Goat Lan dan setelah biji-biji catur mereka tinggal sedikit dan pertandingan itu makin sulit
dan ramai, mereka keduanya hanya merupakan tukang menggerakkan biji catur saja dan yang
menjadi pengaturnya adalah Goat Lan! Memang anak ini ahli main catur, maka ia dapat
mengatur siasat yang amat baik sehingga pertandingan itu berjalan ramai, saling mendesak
dengan hebat. Kedua orang kakek itu merasa tegang karena seringkali raja mereka terkurung,
akan tetapi juga seringkali mendesak lawan sehingga seakan-akan merekalah yang bertanding,
bukan biji-biji catur.
Betapapun juga, yang menjadi pengatur adalah Goat lan yang benar-benar tidak berat
sebelah, maka setelah bertanding sampai hari menjadi gelap dan malam telah tiba, keadaan
pertandingan itu masih sama kuatnya!
Mereka bertiga, hwesio, tosu dan anak perempuan itu, demikian asyik dan tekun sehingga
mereka tidak melihat bahwa ruang itu telah penuh dengan para hwesio yang menonton pula
pertandingan catur aneh itu! Tak seorang pun diantara mereka berani menegur, hanya Thian
Tiong Hosiang yang memandang khawatir kepada keponakannya. Sebagai seorang yang
berpengalaman, ia dapat menduga bahwa kedua orang kakek itu bukan sembarang orang, dan
ia takut kalau-kalau seorang di antara mereka yang kalah akan menjadi marah.
Akan tetapi Goat Lan benar-benar pandai. Ia mengatur sedemikian rupa sehingga pada akhlr
pertandingan, kedudukan keduanya sama lemah sama kuat, yakni yang tinggal hanyalah si
raja merah dan si raja hitam! Hal ini berarti bahwa pertandingan itu berakhir dengan sama
kuat, tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
39
Thian Tiong Hosiang menarik napas lega dan hendak menghampiri mereka, akan tetapi tibatiba Si Tosu Kate itu melompat berdiri dan berkata,
“Sin Kong Tianglo, kau harus mengalah dan biarkan aku mendidik anak ini.”
Hwesio gemuk itu bangun berdiri dengan tenang dan mengambil keranjang obat serta
pisaunya, lalu berkata, “Enak saja kau bicara, Im-yang Giok-cu. Bukankah kita berjanji
bahwa siapa yang menang dia berhak menjadi guru anak ini?”
“Akan tetapi dalam permainan catur kita tidak ada yang kalah dan yang menang!” seru Si
Tosu.
Hwesio itu tersenyum. “Apakah kita hanya dapat bermain catur dan tidak memiliki ilmu
kepandaian lain? Kita belum mencoba kepandaian yang lain untuk menentukan kemenangan.”
“Ho, ho! Kau mau mengajak main-main? Baiklah, mari kita mencari penentuan di luar!” kata
tosu itu sambil melangkah keluar, membawa guci araknya.
“Aku ingin merasakan kelihaianmu!” kata hwesio itu yang juga bertindak keluar sambil
membawa keranjang obat dan pisaunya.
Sementara itu, ketika mendengar kedua orang kakek itu menyebut nama masing-masing,
Thian Tiong Hosiang menjadi terkejut sekali. Ia segera melangkah maju dan memegang
lengan Goat Lan sambil berkata,
“Goat Lan kau telah mendatangkan onar! Lekas kau pulang dengan cepat, biar diantar oleh
seorang Suhu!”
“Tidak, Pekhu, aku mau nonton mereka bertanding!”
“Eh, anak nakal!” kata Thian Tiong Hosiang dengan bingung, karena tadi ia mendengar
betapa dua orang kakek yang lihai ini memperebutkan Goat Lan untuk diambil murid. “Kau
harus pulang, biar aku sendiri mengantarmu!”
Akan tetapi tiba-tiba Goat Lan membetot tangannya dan lari melompat ke dalam gelap!
Thian Tiong Hosiang yang merasa khawatir kalau-kalau keponakannya itu akan
menimbulkan keributan, dan juga tidak ingin melihat ia pulang seorang diri ke dalam kota
pada malam hari yang gelap itu, lalu berkata kepada para hwesio yang berada di situ, “Cari
dia dan antarkan pulang ke kota!” Sedangkan ia sendiri dengan langkah lebar lalu keluar
hendak melihat apakah yang dilakukan oleh kedua orang kakek itu.
Karena malam amat gelap sedangkan pekarangan di sekeliling kelenteng itu amat luas
dengan kebun bunga dan kebun-kebun sayurnya, maka para hwesio yang mencari Goat Lan
menggunakan obor. Akan tetapi dicari-cari kemanapun juga, tidak nampak bayangan Goat
Lan!
Ketika para pencari yang memegang obor itu tiba di halaman tengah, mereka rnelihat betapa
dua orang kakek itu sedang bertanding di dalam gelap, maka mereka menjadi tertarik dan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
40
berkerumun menonton pertandingan itu sehingga keadaan di situ menjadi terang sekali.
Mereka telah lupa untuk mencari anak nakal tadi!
Thian Tiong Hosiang sendiri ketika melihat betapa kedua orang kakek itu bertempur, telah
berkali-kali berseru kepada mereka agar supaya menghentikan pertempuran itu, akan tetapi
kedua orang kakek itu sama sekali tidak mau mendengarnya. Thian Tiong Hosiang menjadi
bingung sekali. Hendak turun tangan memisah, biarpun ia memiliki ilmu silat yang cukup
tinggi, akan tetapi ia maklum bahwa kepandaiannya itu dapat disebut amat rendah apabila
dibandingkan dengan kedua orang kakek itu. Apalagi ketika ia mendengar dari para hwesio
bahwa Goat Lan tidak dapat ditemukan, kebingungan dan kegelisahannya bertambah, maka ia
lalu keluar dari kelenteng, lalu mempergunakan ilmu lari cepat menuju ke Tiang-an, mencari
adiknya, Kwee An atau ayah Goat Lan!
Sementara itu, Goat Lan yang tadi melarikan diri ketika hendak dipaksa pulang oleh
pekhunya, sebetulnya tidak pergi jauh. Anak yang nakal ini mempergunakan kegelapan
malam untuk cepat bersembunyi di balik batang pohon besar yang banyak tumbuh di sekitar
kelenteng itu, kemudian ketika banyak hwesio mencarinya, ia memanjat pohon besar dan
melompat ke atas genteng. Dengan bersembunyi di atas genteng, ia mengintai ke bawah,
melihat kesibukan orang-orang di bawah dan melihat pula pertempuran antara kedua orang
kakek itu yang berlangsung dengan amat ramainya, jauh lebih ramai daripada pertandingan
catur tadi!
Sebetulnya, siapakah kedua orang kakek itu dan mengapa Thian Tiong Hosiang terkejut
mendengar nama mereka?
Tidak heran bahwa Thian Tiong Hosiang merasa terkejut, oleh karena nama-nama itu adalah
nama-nama tokoh besar dunia persilatan yang tak asing lagi bagi orang-orang yang hidup di
dunia kang-ouw.
Sin Kong Tianglo, hwesio yang gemuk tinggi itu, adalah seorang tokoh besar yang terkenal
sekali dari Pegunungan Gobi-san. Selain ilmu silatnya yang amat tinggi dan lihai, ia juga
terkenal dengan kepandaiannya sebagai ahli pengobatan sehingga untuk kepandaian ini ia
mendapat julukan Yok-ong (Raja Obat). Biarpun tempat pertapaannya di Pegunungan Go-bisan, akan tetapi jarang ada orang yang dapat bertemu dengannya, karena ia banyak merantau
ke gunung-gunung mencari daun-daun dan akar-akar obat yang kemudian dipergunakan untuk
menolong orang-orang yang menderita sakit. Ke mana saja ia pergi, tentu ia akan
mempergunakan ilmunya untuk menolong orang sakit sehingga namanya sebagai ahli
pengobatan lebih terkenal daripada namanya sebagai seorang ahli silat.
Tosu yang pendek kecil itu, Im-yang Giok-cu, tidak kalah ternamanya. Ia seorang tokoh
besar dari Pegunungan Kunlun dan ilmu kepandaiannya sudah amat dikenal. Tokoh besar ini
pun jarang menampakkan diri di dunia ramai dan biarpun ia tidak mempunyai tempat tinggal
yang tetap dan suka merantau ke mana-mana namun ia jarang sekali memperkenalkan diri.
Oleh karena itu, munculnya dua orang tokoh besar ini tentu saja amat mengejutkan hati Thian
Tiong Hosiang. Sebetulnya, bukan sengaja kedua orang tokoh besar ini mengadakan
pertemuan di Tiang-an. Telah lama sekali Sin Kong Tianglo mendengar nama Pendekar
Bodoh sebagai seorang pendekar terbesar di masa itu dan ketika mendengar bahwa Pendekar
Bodoh adalah murid terkasih dari mendiang Bu Pun Su, jago tua tanpa tandingan itu, ia
merasa gembira dan ingin sekali mencoba kepandaian Pendekar Bodoh. Dulu pernah ia
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
41
berhadapan dengan Bu Pun Su dan setelah mengadakan pibu, (adu kepandaian) sampai
seratus jurus lebih, akhirnya ia tidak tahan menghadapi Bu Pun Su dan berjanji hendak
mencoba kepandaian lagi sepuluh tahun kemudian. Sayang bahwa setelah ia melatih diri dan
menciptakan ilmu silat yang hebat, ia mendengar bahwa Bu Pun Su telah meninggal dunia,
maka kini perhatiannya beralih kepada Pendekar Bodoh yang menjadi murid Bu Pun Su.
Karena Keinginan hati inilah, maka Sin Kong Tianglo meninggalkan daerah Go-bi-san yang
luas itu dan turun ke dunia ramai. Ia mendengar bahwa Pendekar Bodoh berada di kota Tiangan, maka ia lalu menuju ke kota itu. Di tengah jalan, ketika ia melalui sebuah dusun, ia
mendengar suara orang bernyanyi-nyanyi dengan suara yang keras dan parau. Ia merasa heran
sekali oleh karena di sekitar tempat itu tidak terdapat orang, dari manakah datangnya suara
nyanyian yang hebat ini. Ia melihat beberapa orang berlari-lari seakan-akan ketakutan dan
ketika ia menghampiri mereka dan bertanya, seorang di antara penduduk kampung itu
menjawab dengan muka pucat.
“Apakah Losuhu tidak mendengar suara nyanyian yang hebat itu?”
“Pinceng mendengar. Siapakah gerangan yang bernyanyi dengan suara seburuk itu?”
“Yang bernyanyi adalah seorang iblis!”
Tentu saja Sin Kong Tianglo menjadi heran mendengar ini dan ia minta penjelasan lebih
lanjut. Ternyata bahwa menurut cerita orang itu, di kampung tersebut muncul seorang kakek
yang tiba-tiba saja berada di atas jembatan kampung dan memenuhi jembatan kecil itu. Kakek
ini minum arak terus-menerus sambil bernyanyi-nyanyi dengan suara yang membuat anak
telinga serasa mau pecah. Karena dengan adanya dia yang merebahkan diri sambil bernyanyinyanyi di atas jembatan yang kecil itu, lalu lintas menjadi terhalang. Orang-orang telah
membujuknya, bahkan berusaha menggusurnya dari jembatan itu!
Sin Kong Tianglo menjadi tertarik hatinya dan segera menuju ke tempat itu. Benar saja,
melihat seorang kakek kate sedang rebah miring di atas jembatan dengan guci di tangan kanan
dan bernyanyi-nyanyi. Akan tetapi, wajahnya berubah girang ketika dia melihat Si Kate itu
karena dia mengenal orang ini sebagai seorang yang dulu telah dikenalnya baik, yaitu Imyang Giok-cu! Maka ia lalu menegur dan kakek kate itu ketika melihat Sin Kong Tianglo, lalu
melompat berdiri dan berkata,
“Ha, ha! Sungguh untungku baik sekali! Aku sedang kesepian dan merasa jengkel, kebetulan
kau datang! Eh, Tianglo! Beranikah kau main catur denganku?”
Demikianlah, keduanya lalu bercakap-cakap sambil meninggalkan dusun itu dan Im-yang
Giok-cu mendengar bahwa hwesio itu hendak mencari Pendekar Bodoh untuk diajak pibu, ia
pun menyatakan keinginannya bertemu dengan pendekar muda yang namanya telah
menggemparkan dunia persilatan itu!
Akan tetapi, karena sudah merasa amat kangen kepada permainan catur, mereka lalu
menunda perjalanan dan ketika melihat Kelenteng Ban-hok-tong, mereka masuk ke dalam dan
minta pinjam papan catur, terus saja bertanding catur!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
42
Goat Lan yang bersembunyi di atas genteng mengintai pertempuran di bawah dengan muka
senang sekali. Memang ia pun amat suka akan ilmu silat sungguhpun kesukaannya akan ilmu
silat tidak sebesar kesukaannya membaca kitab, melukis atau bermain catur!
Keadaan di bawah amat terang karena belasan orang hwesio dengan obor bernyala di tangan,
berdiri berkelompok menonton pertandingan, sehingga kegelapan malam terusir pergi,
terganti cahaya terang bagaikan siang, sungguhpun kalau orang melihat ke atas, langit hitam
ketam tak berbintang sedikit pun.
Menurut pandangan Goat Lan yang menonton di atas genteng, kedua kakek itu melakukan
pertandingan dengan cara yang amat aneh. Nampaknya mereka seperti bukan sedang
bertempur atau bersilat, akan tetapi seperti dua orang pelawak yang sedang menari-nari
dengan lucunya! Im-yang Giok-cu menari dengan guci araknya di tangan kanan yang
digerakkan lambat dan perlahan seperti orang menyerang, sementara itu Sin Kong Tianglo
juga menggerakkan pisau pemotong daun di tangan kanan sedangkan tangan kirinya
memegang keranjang obat, seakan-akan ia sedang menggunakan pisaunya untuk mencari
daun-daun obat!
Akan tetapi, sesungguhnya kedua orang kakek itu bukan sedang main-main, juga bukan
sedang menari atau melawak! Oleh karena, biarpun mereka itu bergerak dengan amat lambat
seakan-akan bukan sedang bertempur, namun obor yang dipegang tinggi-tinggi oleh para
hwesio itu apinya bergerak-gerak bagaikan tertiup angin besar, padahal pada saat itu daundaun di atas pohon tak bergerak sama sekali, tanda bahwa tidak ada angin! Kalau saja Goat
Lan tidak berada di atas genteng, tentu ia akan merasakan pula apa yang dirasai oleh para
hwesio itu, yaitu angin sambaran dari kedua orang itu sampai mendatangkan hawa dingin
pada muka mereka!
Lama juga kedua orang itu bertempur berputar-putaran, tipu dilawan tipu, gerakan-gerakan
dilawan gerakan. Sebetulnya, kedua orang itu tidak bertempur untuk saling merobohkan,
hanya mengadu kepandaian saja dan oleh karena keduanya maklum akan kelihaian masingmasing, maka tanpa dijanjikan terlebih dahulu, mereka membatasi gerakan mereka dengan
tipu-tipu gerakan yang dikeluarkan untuk kemudian dipecahkan oleh yang lain. Dengan
demikian, mereka hanya saling serang dengan angin pukulan saja dan siapa yang tak dapat
memecahkan sesuatu serangan, berarti kalah tinggi kepandaiannya. Telah lima puluh jurus
lebih kedua orang kakek itu mengeluarkan kepandaian, akan tetapi keduanya sama pandai dan
sama tangguhnya. Im-yang Giok-cu terkenal dengan ilmu silatnya Im-yang Kim-na-hwat
yang mendasarkan permainannya kepada gerak berlawanan dari Im dan Yang, sehingga
tenaga serangannya merupakan perpaduan dari tenaga kasar dan lemas dan lweekangnya telah
mencapai puncak yang amat tinggi. Sebaliknya, semenjak dikalahkan oleh Bu Pun Su, Sin
Kong Tianglo juga melatih diri sehingga tidak saja tenaga twee-kangnya tidak berada di
sebelah bawah tingkat Im-yang Giok-cu, akan tetapi ilmu silatnya juga telah maju amat
hebatnya. Ilmu silatnya berbeda dengan ilmu silat cabang persilatan Go-bi-pai dan bahkan ia
telah menciptakan berbagai ilmu pukulan yang belum pernah dilihat orang lain.
Pada saat itu, Goat Lan yang sedang menonton dengan hati kurang tertarik karena
kelambatan gerakan kedua orang kakek itu, tiba-tiba mendengar suara ayahnya dari sebelah
belakang,
“Goat Lan, kau sedang berbuat apakah?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
43
Ia cepat menengok ke belakang dan alangkah heran dan juga girangnya ketika ia melihat
bahwa ayah dan ibunya juga sudah berdiri di atas genteng, tak jauh di belakangnya! Agaknya
ayah ibunya telah semenjak tadi berdiri di situ.
Memang benar, sesungguhnya Kwee An dan Ma Hoa telah semenjak tadi berdiri di tempat
itu, diam-diam memperhatikan jalannya pertempuran dan juga melihat kearah anak mereka
dengan hati geli. Tadinya mereka merasa gelisah juga ketika Thian Tiong Hosiang datang
memberi tahu bahwa Goat Lan telah menimbulkan keributan di antara dua orang kakek yang
ternama sekali itu dan bahwa kedua kakek itu hendak mengambil murid anak mereka, bahkan
kini sedang bertempur karena memperebutkan Goat Lan. Mereka merasa gelisah kalau-kalau
mereka terlambat dan anak mereka sudah dibawa pergi oleh kedua orang tua aneh itu. Akan
tetapi, ketika dengan berlari cepat sekali sehingga Thian Tiong Hosiang tertinggal jauh
mereka menuju ke Ban-hok-tong, mereka melihat Goat Lan sedang mengintai ke bawah dari
atas genteng dengan muka kelihatan jemu dan bosan! Kedua suami isteri ini menjadi lega dan
mereka lalu mencurahkan perhatian mereka ke arah dua orang kakek yang masih saling
serang itu.
Bukan main terkejut hati Kwee An dan Ma Hoa melihat gerakan-gerakan mereka itu.
“Kepandaian mereka benar-benar hebat!” kata Kwee An kepada isterinya.
Ma Hoa mengangguk dan menarik napas panjang. “Memang benar, nama kedua tokoh ini
bukan nama kosong belaka.”
Goat Lan bangun berdiri dan menghampiri ayah ibunya. Mendengar ucapan ayah ibunya
yang memuji kepandaian dua orang kakek itu, ia berkata mencela,
“Apanya sih yang hebat? Kepandaian mereka bahkan lebih jelek daripada permainan catur
mereka!”
Kwee An dan Ma Hoa sudah mendengar dari penuturan Thian Tiong Hosiang betapa Goat
Lan memberi petunjuk-petunjuk kepada dua orang kakek itu ketika bermain catur, maka
mereka tersenyum geli.
“Anak bodoh, ilmu silat yang kaulihat amat lambat itu adalah ilmu silat yang jarang terdapat
di dunia ini! Mari kita turun untuk lebih mengenal dua orang tokoh besar itu!”
Kwee An memegang lengan tangan anaknya lalu melompat turun ke bawah bagaikan seekor
burung alap-alap menyambar mangsanya, diikuti oleh Ma Hoa yang juga melompat turun
dengan indah dan cepatnya.
Baik Im-yang Giok-cu maupun Sin Kong Tianglo yang memiliki kepandaian tinggi, dapat
melihat berkelebatnya dua bayangan orang ini, maka dengan heran mereka lalu berhenti
bertempur dan memandang kepada Kwee An dan Ma Hoa yang telah berdiri di hadapan
mereka.
Kwee An dan Ma Hoa menjura kepada mereka dan Kwee An berkata,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
44
“Ji-wi Locianpwe (Dua Orang Tua Gagah), kami berdua suami isteri yang bodoh telah
mendengar bahwa anak kami telah mengganggu Ji-wi, maka sengaja datang menghaturkan
maaf!”
“Aha, pantas saja anak ini demikian baik, tidak tahunya ayah-ibunya lihai dan memiliki
kepandaian tinggi!” kata Sin Kong Tianglo sambil memandang kagum.
Tiba-tiba Im-yang Giok-cu teringat akan sesuatu dan bertanya,
“Apakah kau yang bernama Pendekar Bodoh?” Pertanyaan ini ia tujukan kepada Kwee An
sambil memandang tajam.
Kwee An tersenyum dan diam-diam ia memuji nama Cin Hai yang sudah begitu terkenal
sehingga tokoh besar ini pun sampai mengenalnya pula.
“Bukan, Locianpwe. Pendekar Bodoh adalah adik iparku dan kini ia tinggal di Propinsi Anhui. Siauwte bernama Kwee An dan Suhu adalah mendiang Eng Yang Cu dari Kim-san-pai.”
Tosu kate itu mengangguk-angguk, “Hemm, aku kenal baik kepada Eng Yang Cu ketika dia
masih hidup. Bagus, kau sebagai murid Kim-san-pai, kepandaianmu tidak mengecewakan!”
Diam-diam Im-yang Giok-cu terheran karena melihat gerakan melompat turun dari Kwee An
tadi, agaknya kepandaian pemuda ini tidak berada di sebelah bawah tingkat kepandaian Eng
Yang Cu. Tentu saja ia tidak tahu bahwa setelah menerima pelajaran silat dari Eng Yang Cu,
Kwee An masih menerima gemblengan-gemblengan ilmu silat tinggi dari mendiang Kong
Hwat Lojin si Nelayan Cengeng, dan juga dari mendiang Hek Moko si Iblis Hitam. Maka
apabila dibandingkan, memang ilmu kepandaiannya sudah lebih tinggi dari mendiang
suhunya itu!
“Sayang sekali bahwa Pendekar Bodoh tidak tinggal di sini lagi,” kata pula Sin Kong Tianglo
sambil menarik napas panjang. “Biarlah kususul dia ke An-hui, akan tetapi, melihat bakat
anakmu yang amat baik, kuharap kau berdua suami isteri rela memberikan anakmu untuk
menjadi muridku.”
“Nanti dulu, Tianglo!” kata Im-yang Giok-cu. “Aku pun berhak menjadi guru anak ini,
karena pertandingan tadi pun tak dapat dianggap bahwa kau telah menang dariku!”
“Eh, eh, kalau begitu mari kita lanjutkan pertandingan tadi,” mengajak Sin Kong Tianglo
yang tak mau kalah.
“Ji-wi Locianpwe!” tiba-tiba terdengar seruan Ma Hoa yang merasa mendongkol sekali
melihat betapa anaknya diperebutkan oleh dua orang kakek itu. “Anakku tidak akan menjadi
murid siapapun juga, maka tidak seharusnya Ji-wi memperebutkannya!”
Kedua orang kakek itu tercengang mendengar ucapan ini dan mereka memandang kepada Ma
Hoa dengan heran. “Ah, kau benar-benar seorang Ibu yang tidak sayang kepada anak!
Anakmu akan diberi pelajaran ilmu kepandaian tinggi, mengapa kau ribut-ribut menolaknya?
Ketahuilah, andaikata kau hendak mencarikan guru bagi anakmu itu, biarpun kau mengelilingi
dunia ini, belum tentu akan mendapatkan guru seperti aku atau Sin Kong Tianglo ini!” jawab
Im-yang Giok-cu dengan penasaran. Memang Si Kate ini adatnya agak keras.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
45
Kwee An merasa serba salah. Ia maklum akan kekerasan hati isterinya dan tadinya ia
memang hendak mempergunakan jalan atau cara yang halus untuk menolak maksud kedua
orang kakek yang hendak mengambil Goat Lan sebagai murid itu. Akan tetapi, siapa tahu,
isterinya telah mendahuluinya! Ia segera menjura kepada mereka dan berkata halus,
“Harap Ji-wi sudi memaafkan. Sesungguhnya kami, terutama isteriku, amat berat untuk
berpisah dengan anak kami yang hanya satu-satunya ini.”
Akan tetapi Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu tidak mempedulikannya, bahkan hwesio
itu lalu bertanya kepada Ma Hoa.
“Kalau kau menolak maksud kami mengangkat murid kepada anakmu, habis siapakah yang
akan menjadi guru anak ini dan yang akan melatihnya ilmu silat?”
Karena merasa dirinya dipandang rendah, Ma Hoa mengangkat kepalanya dan menjawab,
“Kami sendiri yang akan mendidiknya dan kami sendiri yang akan menjadi gurunya!”
Tiba-tiba kedua orang kakek itu saling pandang dan tertawa bergelak.
“Im-yang Giok-cu, lihatlah! Kalau ibunya demikian bersemangat, apalagi anaknya! Anak itu
sungguh bernasib baik mempunyai seorang ibu seperti ini!” kata hwesio itu.
Kemudian Im-yang Giok-cu memandang kepada Ma Hoa dan berkata dengan muka sungguhsungguh, “Nyonya muda, kau harus sadar bahwa zaman ini adalah zaman yang buruk.
Kekacauan terjadi di mana-mana sedangkan anakmu ini bertulang baik dan patut menjadi
calon pendekar! Apakah kau ingin menyia-nyiakan waktu dan kesempatan baik ini? Apakah
kaukira akan dapat memberi pelajaran ilmu silat yang lebih baik daripada kami kepada
anakmu ini?”
Melihat suasana yang panas itu, Kwee An hendak maju menengah, akan tetapi ia didahului
oleh isterinya yang berkata marah, “Locianpwe berdua terlalu memandang rendah orang lain.
Tentang ilmu kepandaian, siapakah yang belum mendengar nama Ji-wi? Aku yang muda
memang hanya memiliki sedikit kebodohan, akan tetapi kalau Ji-wi merasa penasaran dan
kurang percaya, boleh kita coba dan uji!”
Ucapan ini merupakan tantangan halus! Kwee An merasa menyesal sekali, akan tetapi
ucapan telah dikeluarkan dan tak mungkin ditarik kembali!
Kedua orang kakek itu kembali saling pandang dan mereka tertawa gembira.
“Bagus, bagus!” kata Im-yang Giok-cu. “Tianglo, kita telah bertemu dengan orang-orang
yang bersemangat! Mari coba kepandaian orang-orang muda yang bersemangat besar ini!”
“Nanti dulu,” kata hwesio itu, “tantangan orang muda sekali-kali tak boleh ditolak. Akan
tetapi, lebih baik diatur begini saja!” Sambil berkata demikian ia memandang kepada Kwee
An dan Mai Hoa. “Kalian berdua main-main sebentar dengan kami orang-orang tua, kalau
kalian anggap bahwa kepandaian kami cukup berharga, kalian harus merelakan anakmu
menjadi muridku!”
“Eh, bukan! Menjadi muridku!” kata tosu itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
46
Kembali mereka bercekcok dan berebutan! Ma Hoa merasa mendongkol sekali.
“Kalau begini, takkan ada habisnya,” kemudian Sin Kong Tianglo yang lebih sabar berkata,
“Baiklah diatur begini, Im-yang Giok-cu. Kalau kita berdua kalah oleh orang-orang muda ini,
berarti memang kepandaian kita masih rendah dan tidak patut menjadi guru. Akan tetapi kalau
kita menang, kita berdua menjadi guru anak ini! Bagaimana?”
“Baik sekali!” kata Si Kate yang segera berkata kepada Ma Hoa.
“Nah, kalian boleh maju, hendak kami lihat sampai di mana kepandaianmu hingga berani
menolak kami sebagai guru-guru anakmu!”
Kedua orang kakek itu lalu bersiap dan mereka memang memandang ringan karena Kwee An
hanyalah murid Eng Yang Cu sedangkan Ma Hoa hanyalah isteri dari jago muda itu, mana
bisa memiliki kepandaian tinggi yang menyamai tingkat mereka?
Ma Hoa memberi tanda kepada suaminya yang masih nampak ragu-ragu dan dari pandangan
mata isterinya ini Kwee An dapat menerka maksud isterinya. Pertama, memang kedua orang
kakek ini memandang rendah kepada mereka, ke dua, kalau anak tunggal mereka harus
menjadi murid orang, terlebih dahulu ia harus membuktikan sampai di mana kelihaian orang
itu. Maka berbareng dengan isterinya, ia pun lalu maju menyerang Sin Kong Tianglo,
sedangkan Ma Hoa dengan gerakan cepat telah mencabut senjatanya yang aneh, yaitu
sepasang bambu kuning yang panjangnya sama dengan lengannya dan besarnya sebesar ibu
jari tangannya!
Begitu sepasang suami isteri itu menyerang, kedua orang kakek itu berseru karena terkejut
dan heran. Terutama Im-yang Giok-cu yang menghadapi Ma Hoa, karena nyonya muda itu
dengan amat cepatnya menggerakkan sepasang bambu runcingnya, yang kiri menyambar arah
leher sedangkan yang kanan melesat menuju ke pusar. Dua serangan yang luar biasa sekali
karena yang diarah adalah jalan-jalan darah yang berbahaya.
Juga Sin Kong Tianglo yang diserang oleh Kwee An yang menggunakan ilmu silat warisan
Hek Moko, menjadi terkejut melihat betapa tangan kanan Kwee An melancarkan pukulan ke
arah lambung, sedangkan tangan kiri pemuda itu diulur dengan jari terbuka mencengkeram
pundak!
Keduanya cepat mengelak dan mengebutkan lengan baju untuk menolak dan membikin
terpental tangan kedua suami isteri itu, akan tetapi ternyata bahwa Kwee An yang ditangkis
hanya miring kedudukan kuda-kudanya sedangkan Ma Hoa bahkan tidak terpengaruh oleh
tangkisan ujung baju Im-yang Giok-cu.
“Hebat sekali!” seru Im-yang Giok-cu yang segera menurunkan guci araknya yang tadi
digantungkan di punggung, dan kini ia lalu menyerang dengan guci araknya ke arah kepala
Ma Hoa!
“Lihai juga!” Sin Kong Tianglo juga berseru memuji dan kakek ini lalu melanjutkan katakatanya. “Orang muda, cabutlah pedangmu itu, hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
47
Kwee An tidak ragu-ragu lagi dan segera mencabut pedangnya yang luar biasa, yaitu pedang
Oei-kang-kiam yang bersinar kekuning-kuningan karena terbuat dari logam yang disebut baja
kuning, karena itulah diberi nama Oei-kang-kiam (Pedang Baja Kuning). Pedang ini adalah
pemberian puteri kepala suku bangsa Haimi yang bernama Meilani dan yang jatuh cinta
kepadanya sebelum ia menikah dengan Ma Hoa (bacaPendekar Bodoh ). Kemudian ia
menyerang lagi yang disambut oleh Sin Kong Tianglo dengan pisau dan keranjang obatnya.
Pertempuran berjalan berat sebelah dan sefihak, oleh karena ternyata bahwa kedua orang
kakek itu sama sekali tidak menyerang, hanya mempertahankan diri saja, karena memang
mereka hanya bermaksud menguji kepandaian suami isteri itu. Akan tetapi setelah bertempur
beberapa puluh jurus lamanya, makin heranlah mereka berdua. Sin Kong Tianglo mendapat
kenyataan bahwa ilmu pedang dari Kwee An benar-benar luar biasa dan tingkat kepandaian
orang muda ini tidak kalah oleh tingkat kepandaian Eng Yang Cu, tokoh Kim-san-pai. Juga
ilmu pedang Kwee An biarpun sebagian menunjukkan pelajaran Kim-san-pai, namun
tercampur dengan ilmu pedang lain yang aneh dan dahsyat! Memang, Kwee An telah
mencampuradukkan ilmu pedangnya dengan pelajaran-pelajaran yang ia terima dari Nelayan
Cengeng dan Hek Moko.
Yang lebih-lebih merasa heran adalah Im-yang Giok-cu. Begitu tadi Ma Hoa menyerangnya
dengan sepasang bambu kuning ia telah merasa heran dan terkejut, karena senjata macam ini
setahunya hanya dimiliki oleh seorang tokoh besar dari timur, yakni Hok Peng Taisu. Akan
tetapi ia masih meragukan dugaannya ini dan melayani nyonya muda itu dengan guci araknya.
Tidak disangkanya, permainan bambu kuning yang di kedua tangan nyonya muda ini
demikian hebatnya sehingga ia harus berlaku cepat dan gesit karena tubuhnya terkurung oleh
ujung-ujung bambu kuning yang agaknya berubah menjadi puluhan batang banyaknya itu!
“Tahan dulu!” Im-yang Giok-cu berseru sambil melompat mundur, diturut oleh Sin Kong
Tianglo.
Biarpun baru bertempur puluhan jurus, baik Kwee An maupun Ma Hoa maklum bahwa ilmu
kepandaian kedua orang kakek ini benar-benar hebat dan masih lebih tinggi daripada tingkat
mereka. Buktinya, selama itu mereka tak pernah membalas, dan hanya menangkis dan
mengelak saja, dan pertahanan mereka begitu kuat biarpun gerakan mereka nampak lambat
sehingga pedang di tangan Kwee An dan bambu kuning di tangan Ma Hoa seakan-akan
menghadapi benteng baja yang kuat! Maka mendengar seruan Im-yang Giok-cu, mereka pun
menahan senjata masing-masing.
Para hwesio dan juga Thian Tiong Hosiang yang semenjak tadi menonton dan berdiri di situ,
merasa kagum dan tidak ada yang mengeluarkan suara.
“Toanio, apakah kau murid Hok Peng Taisu?”
Ma Hoa menjura dan menjawab, “Benar Locianpwe, Hok Pek Taisu adalah Suhuku.”
Im-yang Giok-cu tiba-tiba tertawa bergelak dengan suaranya yang parau dan besar. “Ha, ha,
ha, inilah yang disebut kalau belum bertanding belum kenal dan tahu! Ketahuilah, bahwa aku
adalah Sute (Adik Seperguruan) dari Suhumu!”
Ma Hoa terkejut sekali, karena memang suhunya tak pernah mau menuturkan riwayatnya
sehingga ia belum pernah tahu bahwa suhunya itu mempunyai seorang sute, bahkan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
48
sebenarnya Hok Peng Taisu mempunyai pula seorang suheng (kakak seperguruan). Ia percaya
penuh kepada orang tua ini karena tak mungkin orang berilmu tinggi seperti dia itu mau
mendusta. Namun, Im-yang Giok-cu tersenyum dan melanjutkan, “Tentu kau kurang percaya
kalau belum dibuktikan. Memang ilmu bambu kuning itu adalah ciptaan suhengku sendiri
sehingga aku tidak dapat memainkannya. Akan tetapi ketahuilah bahwa dasar-dasar ilmu silat
bambu runcing itu adalah ilmu silat Im-yang Kun-hwat dari cabang kami. Sekarang marilah
kita main-main sebentar, kalau dalam sepuluh jurus aku tidak dapat mengalahkan kau, jangan
kau mau percaya bahwa aku adalah Susiok (Paman Gurumu) sendiri!”
Ma Hoa sebetulnya sudah percaya, akan tetapi mendengar ucapan ini, ia mau mencobanya
juga. Masa dalam sepuluh jurus ia akan dikalahkan? Ia lalu berkata,
“Maafkan kelancangan teecu (murid)!” lalu ia maju menyerang dengan bambu kuningnya.
Im-yang Giok-cu menggunakan gucinya menangkis dan tangan kirinya menyerang dengan
cengkeraman ke arah pergelangan tangan Ma Hoa. Gerakannya otomatis dan cepat sekali
sehingga Ma Hoa menjadi amat terkejut, akan tetapi nyonya muda ini masih terlampau gesit
untuk dapat dikalahkan dalam segebrakan saja. Ia cepat menarik kembali tangannya yang
dicengkeram dan melanjutkan serangannya dengan jurus kedua. Kini Im-yang Giok-cu
membalas setiap serangan dan gerakannya yang lambat itu sebetulnya tak dapat dikata lambat.
Memang aneh, kalau tangan kanannya menangkis dengan lambat, tangan kirinya menyusul
cepat sekali melakukan serangan, seakan-akan bahkan mendahului gerakan tangan kanan, dan
demikian sebaliknya sehingga Ma Hoa menjadi bingung. Tepat pada jurus ke sepuluh, ketika
Ma Hoa menyerang dengan tusukan bambu kuning di tangan kanan pada leher kakek itu
sedangkan tangan kiri menotokkan bambu kuning itu pada jalan darah hong-hut-hiat di dada,
tiba-tiba Im-yang Giok-cu miringkan kepala dan secepat kilat menggigit bambu kuning yang
tadinya menyerang leher itu, sedangkan ketika bambu kuning yang kedua menotok dadanya,
ia cepat menggunakan ilmu Pi-ki-hu-hiat (Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah) sehingga
ketika bambu itu menotok jalan darahnya, Ma Hoa merasa betapa dada itu menjadi keras
bagaikan batu karang dan sebelum ia hilang kagetnya, tangan kiri kakek itu telah menangkap
bambunya! Dengan bambu kuning di tangan kiri terpegang, maka berarti ia telah kalah!
Ma Hoa melepaskan kedua senjatanya lalu berlutut dan menyebut, “Susiok!”
Im-yang Giok-cu melepaskan kedua bambu kuning itu dan tertawa bergelak.
“Aduh, sungguh berbahaya! Hampir saja aku mendapat malu dan terpaksa kau takkan
mengakui aku sebagai Paman Gurumu! Tidak mengecewakan kau menjadi murid Suhengku,
sayang bahwa kau agaknya baru belajar belum lama dari Suhengku!” Memang kata-kata ini
benar karena sesungguhnya, Ma Hoa hanya belajar silat kepada Hok Peng Taisu selama tiga
atau empat bulan saja (bacaPendekar Bodoh ).
Kwee An juga memberi hormat dengan menjura kepada susiok dari isterinya itu.
“Dengarlah, Kwee An dan kau juga, eh, siapa pula namamu?” tanya kakek itu kepada Ma
Hoa.
“Teecu bernama Ma Hoa.”
“Hemm, bagus, dengarlah. Kalau kalian memang sayang kepada anakmu yang berbakat baik
itu biarlah dia kalian serahkan kepada kami untuk dididik selama empat atau lima tahun.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
49
Kami akan membawanya ke Bukit Long-ki-san yang tak berapa jauh letaknya dari sini.
Kawanku ini, Sin Kong Tianglo, adalah seorang tokoh besar dari Go-bi-san dan
kepandaiannya tak boleh disebut lebih rendah daripada kepandaianku, sungguhpun tak mudah
baginya untuk mengalahkan aku. Kalau kalian rela melepas anakmu, maka itu berarti bahwa
nasib anakmu memang baik. Akan tetapi, kalau kalian tidak membolehkannya, setelah kini
aku mengetahui bahwa kau adalah murid Suhengku, tentu saja aku takkan memaksa.”
Sebenarnya Ma Hoa merasa berat sekali harus berpisah dari puterinya, akan tetapi karena ia
maklum bahwa apabila puterinya menjadi murid kedua orang tua itu kelak akan menjadi
seorang yang tinggi kepandaiannya, ia menjadi ragu-ragu untuk menolaknya. Ia memandang
kepada suaminya dengan mata mengandung penyerahan.
“Ji-wi Locianpwe,” kata Kwee An dengan hormat, “teecu berdua tentu saja merasa amat
berbahagia apabila anak teecu menerima pelajaran dari Ji-wi. Akan tetapi oleh karena teecu
hanya mempunyai seorang anak maka perkenankanlah teecu berdua sewaktu-waktu datang
menengok anak kami itu.”
“Boleh, boleh...” kata Im-yang Giok-cu sambil tertawa, “tentu saja hal itu tidak ada
halangannya.”
“Goat Lan, kau tentu suka menjadi murid kedua Locianpwe ini, bukan?” tanya Ma Hoa
kepada anaknya. “Mereka jauh lebih tinggi kepandaiannya daripada ayah bundamu sendiri,
dan ketahuilah bahwa Locianpwe ini adalah Susiok-kongmu sendiri.”
Semenjak tadi, Goat Lan telah mendengarkan percakapan orang-orang tua dengan amat teliti,
maka sebagai seorang anak yang cerdik sekali ia maklum bahwa tidak ada guru-guru yang
lebih sempurna baginya daripada kedua kakek yang aneh dan yang bodoh kepandaian
caturnya itu. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut dan berkata,
“Teecu merasa suka sekali menjadi murid Ji-wi Suhu (Guru Berdua).”
Im-yang Giok-cu dan Sin Kong Tianglo saling pandang dan tertawa bergelak dengan hati
puas, akan tetapi Goat Lan lalu berdiri dan memeluk ibunya.
“Ibu, kalau kau lama sekali tidak datang mengunjungi tempatku, aku akan minggat dari
tempat tinggal Suhu dan pulang sendiri!”
Semua orang tertawa mendengar ucapan yang nakal ini.
“Jangan khawatir, Goat Lan. Kami juga tidak akan merasa senang kalau terlalu lama tidak
bertemu dengan kau,” kata Kwee An.
Kedua orang kakek itu lalu mengajak Goat Lan pergi dari situ, tidak mau ditahan-tahan lagi.
Karena maklum bahwa mereka adalah orang-orang berwatak aneh, maka Kwee An dan Ma
Hoa juga tidak berani memaksa dan menahannya. Setelah memeluk ayah ibunya dengan
mesra, dan mendengar bisikan ibunya, “Goat Lan, jangan menangis dan jangan nakal!” Goat
Lan lalu dituntun oleh kedua suhunya di kanan kiri dan sekali kedua kakek itu berkelebat,
maka anak perempuan itu telah dibawa lompat dan lenyap dari situ!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
50
Kwee An-dan Ma Hoa saling pandang. Terharulah hati Kwee An melihat betapa kedua mata
isterinya yang tercinta itu menjadi basah, maka ia lalu mengajak isterinya pulang dan
menghiburnya.
***
Kita tinggalkan dulu Goat Lan yang sedang dibawa oleh kedua orang suhunya untuk berlatih
silat di atas puncak Bukit Liong-ki-san, sebuah bukit yang puncaknya nampak di sebelah
selatan kota Tiang-an. Dan marilah kita kembali mengikuti perjalanan Lili atau Sie Hong Li
puteri dari Pendekar Bodoh yang ikut merantau bersama suhunya, yaitu Sinkai Lo Sian si
Pengemis Sakti itu.
Karena setiap kali ditanya tentang orang tuanya, Lili tak pernah mau mengaku lambat-laun
Lo Sian tidak mau bertanya lagi dan ia pun telah merasa suka sekali kepada muridnya yang
jenaka ini. Ia merasa hidupnya berubah menjadi penuh kegembiraan setelah ia mendapatkan
murid ini dan ia membawa Lili ke tempat-tempat yang indah dan kota-kota yang besar sambil
memberi latihan silat kepada muridnya. Lili juga terhibur dan merasa suka suhunya yang
ramah tamah dan tidak galak. Di dekat suhunya ia merasa seakan-akan dekat dengan
engkongnya (kakeknya), Yousuf atau Yo Se Fu. Kadang-kadang memang amat rindu kepada
ayah bundanya dan kepada kakeknya, akan tetapi anak yang memiliki kekerasan hati luar
biasa ini dapat menekan perasaannya dan sama sekali tak pernah memperlihatkan kelemahan
hati dan kerinduannya.
Lo Sian membawa muridnya merantau ke barat. Pada suatu hari mereka masuk ke dalam
sebuah hutan yang belum pernah dimasuki Lo Sian. Hutan itu besar sekali, penuh dengan
pohon-pohon yang ratusan tahun usianya.
“Mari kita mempercepat perjalanan kita,” ajaknya kepada Lili yang sebentar-sebentar
berhenti untuk memetik kembang. Ia tertawa geli dan juga kagum melihat Lili memetik
setangkai kembang mawar yang ditancapkan di atas telinga kanan, bunga itu berwarna putih
sehingga pantas sekali dengan bajunya yang merah. “Hayo kita berlari cepat, Lili. Hari telah
mulai gelap dan sebentar lagi malam akan tiba. Kalau kita kemalamam di hutan ini, tentu
terpaksa kita harus tidur di atas pohon!”
“Tidak apa, Suhu,” jawab Lili sambil tertawa. “Teecu takkan jatuh lagi.”
Suhunya tertawa. Muridnya ini memang luar biasa tabahnya. Beberapa hari yang lalu ketika
mereka kemalaman dalam sebuah hutan dan tidur di atas cabang pohon besar di dalam
tidurnya Lili bermimpi dan ngelindur sehingga terpelanting jatuh dari atas pohon! Akan
tetapi, anak ini benar-benar memiliki ketenangan dan hati yang berani sehingga sebelum
tubuhnya terbanting ke atas tanah, ia telah sadar dan dapat mempergunakan gin-kangnya yang
sudah baik sekali itu untuk mengatur keseimbangan tubuh dan dapat melompat turun dengan
baik. Kalau ia tidak tenang dan berlaku cepat, setidaknya tentu akan menderita tulang patah!
Akan tetapi, Lili tidak menjadi pucat atau ketakutan sedikit pun, bahkan tertawa-tawa ketika
suhunya melompat ke bawah dan bertanya kepadanya.
“Suhu, aku bermimpi berkelahi dengan monyet di atas pohon dan aku tergelincir jatuh!”
katanya sambit tertawa!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
51
Kini mereka mempergunakan kepandaian berlari cepat dan dalam kepandaian ini, Lili benarbenar memiliki kecepatan yang mengagumkan. Sebelum menjadi murid Lo Sian, gadis cilik
ini memang telah memiliki gin-kang luar biasa berkat latihan ayah bundanya. Oleh karena ia
telah memiliki dasar-dasar untuk pelajaran ilmu silat tinggi, maka dengan mudah Lo Sian
menambah pengetahuan dan kepandaian muridnya itu yang dapat menangkap dan
mempelajari serta melatih dengan lancar dan mudah sekali.
Ketika mereka hampir keluar dari hutan, tiba-tiba Lo Sian menahan larinya dan memandang
ke kiri, Lili juga menahan tindakannya dan ikut memandang karena wajah suhunya
memperlihatkan keheranan. Memang aneh, di tempat yang sunyi itu tersembunyi di balik
pohon-pohon besar, kelihatan sebuah bangunan kelenteng yang mentereng dan bersih sekali.
Lantainya mengkilap dan temboknya terkapur putih bersih. Benar-benar mengherankan
sekali.
“Eh, Suhu. Rumah siapakah begini indah di dalam hutan ini?”
“Sstt, aku pun sedang heran memikirnya. Mari kita menyelidiki, aku ingin sekali tahu.”
Lo Sian dengan diikuti oleh Lili lalu menyelinap di antara pohon-pohon itu dan mendekati
bangunan yang besar dan indah tadi. Karena di bagian depan nampak kosong dan sunyi,
mereka lalu mengitari rumah itu dan akhirnya tiba di sebelah belakang. Lo Sian mengajak Lili
mendekati kelenteng itu dan tiba-tiba mereka mendengar suara anak kecil tertawa-tawa penuh
ejekan. Lo Sian dan Lili menghampiri dan bersembunyi di balik daun-daun pohon.
Alangkah terkejut dan heran hati mereka ketika melihat dua orang anak laki-laki di ruang
belakang yang berlantai mengkilap itu. Seorang anak laki-laki yang usianya sebaya dengan
Lili nampak terikat tangannya di belakang dan bajunya terbuka sehingga nampak dadanya
yang kurus dan perutnya yang gembung. Melihat wajahnya yang pucat dan perutnya yang
gembung itu dapat diduga bahwa dia adalah seorang anak miskin yang seringkali menderita
kelaparan dan agaknya perutnya yang gendut itu penuh dengan cacing! Di depan anak kecil
yang terikat tangannya itu berdiri seorang hwesio kecil-kecil yang berkepala gundul licin.
Hwesio kecil ini memegang sebatang pisau belati dengan tangan kanan, sedangkan tangan
kirinya menuding ke arah anak yang terikat itu. Suara ketawa tadi adalah suara ketawa dari si
hwesio itu.
“Ha, ha, ha! Hendak kulihat kebenaran kata-kata Suhu,” terdengar hwesio kecil itu berkata.
“Kalau orang kurus perutnya gendut, itu berarti bahwa perutnya penuh cacing! Aku tidak
percaya keterangan Suhu ini karena biasanya cacing berada di dalam tanah, mana bisa berada
di dalam perutmu? Kau datang mencuri makanan dan sudah sepatutnya mendapat sedikit
hukuman. Aku tidak akan membinasakanmu, hanya akan membuktikan kebenaran ucapan
Suhu. Kalau betul di dalam perutmu terdapat banyak cacing, alangkah lucunya...! Ha, ha,
biarlah aku menolongmu dan hanya melenyapkan cacing-cacing dari dalam perutmu. Aku
adalah ahli bedah yang pandai!”
Sambil berkata demikian, hwesio kecil itu menunjuk-nunjuk perut yang gendut dari anak
yang terikat kedua tangannya itu. Sungguh mengagumkan sekali anak kecil yang terikat itu
tidak menjadi ketakutan mendengar ini, bahkan lalu tertawa!
“Kau hwesio gila, seperti gurumu! Memang kau dan gurumu orang-orang gila yang purapura menjadi hwesio. Aku memang hendak mencuri makanan karena perutku lapar. Sekarang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
52
kau telah menangkapku, mau bunuh mau sembelih, atau mau membedah perutku, terserah.
Aku tidak takut!”
“Bagus, maling hina-dina! Sekarang juga aku akan mengeluarkan cacing dari perutmu yang
buncit ini!” Hwesio kecit itu melangkah maju dan dengan tangan kirinya meraba-raba perut
anak kecil yang terikat tangannya, seakan-akan hendak memilih tempat yang tepat untuk
dibelek!
“Suhu…” dengan mata terbelalak Lili menoleh kepada suhunya dan menunjuk ke arah kedua
anak itu, “hwesio gila itu hendak membunuhnya!”
Lo Sian juga merasa terkejut sekali melihat kelakuan hwesio itu dan diam-diam ia
mengagumi anak miskin itu, maka ia mengambil keputusan hendak menolongnya. Pohon di
belakang mana mereka bersembunyi mempunyai banyak buah-buah kecil dan cukup keras. Ia
memetik sebutir buah yang tergantung paling rendah dan pada saat hwesio kecil itu hendak
mulai dengan perbuatannya yang keji, Lo Sian menggerakkan tangannya. Buah kecil itu
meluncur cepat sekali dan dengan cepat menghantam ke arah pergelangan hwesio kecil yang
memegang pisau!
Akan tetapi, ternyata hwesio yang masih kecil dan usianya sebaya dengan anak miskin itu,
amat lihai dan agaknya dapat mendengar suara sambaran buah itu. Ia menarik tangannya dan
buah itu kini menyambar ke arah pisau yang dipegangnya!
“Trang...!” Pisau itu jatuh di atas lantai mengeluarkan suara nyaring dan hwesio kecil itu
melompat mundur dengan cepat dan kaget.
Pada saat itu, Lo Sian dan Lili melompat keluar dari tempat persembunyian mereka dan
berlari ke dalam ruang itu. Hwesio kecil yang berhati kejam itu ketika melihat dua orang
muncul dari balik pohon, segera membungkuk dan memungut pisaunya tadi. Ia melihat
kepada Lo Sian dan dengan berani sekali, ia menyambut kedatangan Lo Sian dengan serangan
pisaunya!
Si Pengemis Sakti terkejut juga melihat betapa serangan ini cukup hebat dan berbahaya,
maka ia lalu miringkan tubuhnya dan mengulur tangan hendak merampas pisau itu. Namun,
alangkah herannya ketika hwesio kecil itu dapat mengelak pula!
Sementara itu, Lili segera menghampiri anak terikat tangannya dan segera membuka ikatan
tangan. Anak itu memandang kepadanya dengah mata mengandung rasa terima kasih akan
tetapi mereka berdua lalu berpaling menonton pertempuran antara Lo Sian dan hwesio kecil
tadi. Sebetulnya tak tepat disebut pertempuran, oleh karena Lo Sian sebetulnya hanya ingin
mencoba sampai di mana kelihaian anak ini dan sengaja tidak membalas. Ia memperhatikan
gerakan hwesio itu dan diam-diam ia merasa terkejut sekali ketika mengenal ilmu silat yang
dimainkan oleh hwesio kecil itu. Ia cepat mengulur tangan dan dengan gerakan kilat berhasil
menotok pundak hwesio itu yang segera roboh dengan lemas. Ternyata bahwa Lo Sian telah
menotok jalan darahnya yang membuatnya menjadi lemas dan tak berdaya, sungguhpun
totokan itu tidak mendatangkan rasa sakit.
“Hayo kita cepat pergi dari sini!” kata Lo Sian kepada Lili dan anak itu. Karena maklum
bahwa anak miskin itu tak dapat berlari cepat, Lo Sian lalu memegang tangannya dan sebentar
kemudian anak itu merasa terheran-heran karena kedua kakinya tidak menginjak tanah dan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
53
tubuhnya melayang-layang ditarik oleh pengemis aneh yang menolongnya. Lili merasa heran
sekali melihat betapa suhunya berlari seakan-akan takut pada sesuatu, akan tetapi melihat
kesungguhan wajah suhunya, ia tidak banyak bertanya dan mengikuti suhunya dengan cepat.
Setelah senja berganti malam dan keadaan menjadi gelap, mereka tiba di luar dusun yang
berdekatan dengan hutan itu, dan barulah Lo Sian menghentikan larinya. Akan tetapi
pengemis sakti itu masih nampak gelisah dan berkata,
“Kita bermalam di sini saja.” Lalu ia mengajak Lili dan anak miskin itu duduk di tempat
yang jauh dari jalan kecil menuju ke kampung, bersembunyi di balik gerombolan pohon.
“Mengapa kita tidak mencari tempat penginapan di dusun, Suhu?”
Suhunya menggelengkan kepala. “Terlalu berbahaya.”
“Suhu, mengapa Suhu melarikan diri? Apakah yang ditakutkan? Hwesio kecil itu sudah kalah
dan mengapa kita harus berlari-lari ketakutan?” tanya Lili dengan suara mengandung penuh
penasaran.
“Kau tidak tahu, Lili. Hwesio kecil itu melihat dari gerakan ilmu silatnya, tentu seorang
pelayan atau murid dari seorang tua yang amat jahat dan lihai. Kalau betul dugaanku, maka
berbahayalah apabila kita bertemu dengan dia!”
“Siapakah orang jahat itu, Suhu?”
Lo Sian menghela napas. “Dia itu adalah Ban Sai Cinjin, seorang pertapa yang amat sakti dan
tinggi ilmu silatnya, akan tetapi juga amat jahat dan kejam. Aku sama sekali tidak kuat
menghadapinya. Kepandaiannya amat tinggi dan ilmu silatnya luar biasa sekali. Pernah aku
melihat ia menghajar lima orang kang-ouw yang gagah, dan karena itu ketika aku melihat
gerakan hwesio kecil tadi, aku dapat menduga bahwa kepandaian hwesio kecil itu tentu
datang dari Ban Sai Cinjin!”
“Akan tetapi, Suhu...” Tiba-tiba Lo Sian menggunakan tangannya untuk menutup mulut
muridnya.
“Ssshhh...” bisiknya. Lili menjadi heran, dan anak miskin itu pun diam tak berani berkutik
sedikit pun.
Tak lama kemudian terlihat bayangan orang dalam gelap yang bergerak cepat sekali.
Bayangan itu setelah dekat ternyata adalah bayangan seorang tua yang gemuk sekali, agak
pendek dan gerakan kedua kakinya ketika berlari di atas jalan kecil menuju ke dusun itu
benar-benar hebat! Liti melihat betapa kedua kaki orang tua gemuk pendek itu seakan-akan
tidak menginjak tanah akan tetapi jelas sekali kelihatan betapa tanah yang dilalui oleh orang
itu melesak ke dalam karena injakan kakinya ketika berlari!
Ketika orang yang berlari itu berkelebat di dekat tempat mereka bersembunyi, Lili
mendengar suara yang parau dari orang itu berkata-kata seorang diri bagaikan sedang berdoa,
“Siauw-koai (Setan Kecil), Lo-koai (Setan Besar), semua harus tunduk kepadaku!” Ucapan
ini terdengar berkali-kali, makin lama makin perlahan sehingga akhirnya lenyap bersama
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
54
bayangan orang gemuk yang luar biasa itu! Ternyata bahwa ia lari menghilang ke dalam
dusun di depan.
Barulah Lo Sian bergerak dan menghela napas ketika orang itu telah pergi dan lenyap.
“Hebat...!” bisiknya.
“Suhu, dia itukah orang jahat yang bernama Ban Sai Cinjin?”
Gurunya mengangguk di dalam gelap. “Sekarang dia sedang mencari kita di dusun itu dan
kalau kita tadi bermalam di sana, tentu kita semua akan tewas di dalam tangannya yang
kejam.”
“Akan tetapi, Suhu. Ia kelihatan bukan seperti seorang hwesio. Kepalanya biarpun botak,
akan tetapi tidak gundul dan pakaiannya mewah sekali!”
“Memang aneh. Dulu ia gundul dan berpakaian seperti hwesio. Heran benar, sekarang ia
agaknya telah meniadi orang biasa dan bajunya yang dari bulu itu benar-benar menandakan
bahwa ia seorang kaya raya! Aneh!”
Kalau Lili dan Lo Sian dapat melihat keadaan orang yang lewat tadi dengan jelas, adalah
anak miskin itu hanya melihat bayangannya yang berkelebat saja.
“Memang Ban Sai Cinjin seorang kaya!” katanya. “Kaya raya, kejam, dan gila!”
Setelah mendengar suara ini, barulah Lo Sian agaknya teringat bahwa ada orang lain di situ.
Ia memandang kepada anak miskin itu dan bertanya, “Anak yang malang, siapakah kau dan
coba ceritakan pula keadaan Ban Sai Cinjin yang kauketahui.”
Anak itu lalu menceritakan bahwa ia bernama Thio Kam Seng, yatim piatu semenjak kecil
karena ayah bundanya meninggal dunia karena sakit dan kelaparan. Semenjak usia enam
tahun ia hidup seorang diri sebagai seorang pengemis, merantau dari kota ke kota dan dari
dusun ke dusun. Akhirnya ia sampai di dusun Tong-sim-bun di depan itu dan telah setahun
lebih ia tinggal di dusun itu dan hidup sebagai seorang pengemis. Ia mengetahui tentang Ban
Sai Cinjin yang dikatakan sebagai seorang hartawan besar, mempunyai banyak rumah dan
toko di dusun itu, bahkan telah mendirikan sebuah kelenteng besar di dalam hutan sebagai
tempat pertapaannya! Watak dari Ban Sai Cinjin yang kejam dan aneh itu memang telah
terkenal, akan tetapi oleh karena orang tua ini amat kaya, dan pula tinggi kepandaiannya, tak
seorang pun berani mencelanya.
“Aku mendengar bahwa Ban Sai Cinjin hidup mewah di dalam kelentengnya, bahkan sering
mendatangkan penyanyi-penyanyi dari kota dan sering pula memesan masakan-masakan
mewah, dan karena aku merasa amat lapar, aku mencoba untuk mencuri makanan di
kelenteng itu. Sungguh celaka aku terlihat oleh hwesio kecil yang kejam itu dan hampir saja
celaka kalau tidak mendapat pertolongan In-kong (Tuan Penolong).”
Lo Sian si Pengemis Sakti tidak mengira sama sekali bahwa Ban Sai Cinjin adalah guru dari
orang yang menculik Lili! Memang, sesungguhnya Ban Sai Cinjin ini adalah pertapa sakti
yang pernah memberi pelajaran silat kepada Bouw Hun Ti atau penclilik Lili itu. Kepandaian
Ban Sai Cinjin memang hebat sekali dan setelah merasai kesenangan dunia, pertapa ini
sekarang menjadi seorang yang mengumbar nafsunya. Ia dapat mengumpulkan harta
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
55
kekayaan dan menjadi seorang hartawan besar, hidup mewah dan suka mengganggu anak bini
orang. Akan tetapi, untuk menutupi mata umum, ia mendirikan sebuah kelenteng besar di
mana katanya digunakan sebagai tempat “menebus dosa” dan bersamadhi. Padahal
sesungguhnya tempat ini merupakan tempat persembunyiannya di mana ia menghiburi diri
dengan cara yang amat tidak mengenal malu. Di tempat ini dapat berlaku leluasa jauh dari
mata orang dusun atau orang kota.
Ban Sai Cinjin amat terkenal akan kelihaiannya dalam hal gin-kang dan lwee-kang juga
senjatanya amat ditakuti orang. Senjata ini memang istimewa, karena merupakan huncwe
(pipa tembakau) yang panjang dan terbuat daripada logam yang keras diselaput emas! Pada
waktu-waktu biasa, ia mempergunakan huncwenya ini sebagai pipa biasa yang diisi dengan
tembakau-tembakau yang paling mahal dan enak, juga kantong tembakaunya yang tergantung
pada gagang huncwe ini terisi penuh dengan tembakau yang kekuning-kuningan bagaikan
benang emas. Akan tetapi pada saat ia menghadapi musuh, kantong itu berganti dengan
sebuah kantong lain yang berisikan tembakau luar biasa sekali yang berwarna hitam. Dan
apabila ia mengambil tembakau ini dan dinyalakan di dalam pipanya, maka akan tercium bau
yang amat tidak enak dan keras sekali. Asap tembakau ini saja sudah cukup membuat
lawannya menjadi pening dan pikirannya kacau karena sesungguhnya asap ini mengandung
semacam racun yang berbahaya dan melemahkan semangat. Apalagi kalau ia sudah mainkan
senjata istimewa ini yang terputar cepat dan dari mulut pipa itu menyemburkan bunga api
karena tembakau yang masih terbakar itu tertiup angin, bukan main berbahayanya. Oleh
karena ini pula, Ban Sai Cinjin mendapat julukan Si Huncwe Maut!
Lo Sian yang berhati budiman itu menjadi tergerak hatinya ketika mendengar penuturan anak
miskin itu. Ia memandang kepada Thio Kam Seng yang kurus dan pucat, dan biarpun ia
maklum bahwa anak ini tidak memiliki cukup bakat dan kecerdikan untuk ahli silat, namun ia
tadi telah menyaksikan sendirl bahwa anak ini cukup tabah dan berjiwa gagah. Tadi telah
disaksikannya betapa anak ini menghadapi maut di ujung pisau hwesio kecil itu dengan
berani.
“Kam Seng, apakah kau suka ikut padaku dan belajar silat agar kelak jangan sampai kau
terhina orang?”
Mendengar ucapan ini, tiba-tiba anak itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambit
menangis! Saking girang dan terharunya, ia sampai tak dapat mengeluarkan sepatah pun kata,
hanya berkata terputus-putus,
“Suhu..., Suhu...”
Setelah bersembunyi di situ pada malam hari itu, keesokan harinya pagi-pagi sekali Lo Sian
mengajak kedua orang muridnya untuk melanjutkan perjalanan. Ia menggandeng tangan Kam
Seng agar perjalanan dapat dilakukan dengan cepat.
Beberapa hari lewat tak terasa dan mereka telah memasuki Propinsi Sensi. Ketika mereka
lewat kota Tai-goan, Lo Sian sengaja mampir di kota yang besar dan ramai itu. Kota Tai-goan
terkenal dengan araknya yang terbuat daripada buah leci, dan karena Lo Sian adalah seorang
yang suka sekali minum arak, maka sampai beberapa hari ia tidak mau tinggalkan kota itu dan
memuaskan dirinya dengan minuman yang enak ini.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
56
Pada suatu hari, ketika ia dan kedua orang muridnya keluar dari sebuah rumah makan di
mana ia telah menghabiskan banyak cawan arak, ia mendengar orang berseru keras dan tibatiba orang itu menyerangnya dengan pukulan hebat ke arah dadanya.
Lo Sian cepat mengelak dan alangkah terkejutnya ketika melihat bahwa yang menyerangnya
ini bukan lain adalah orang brewok yang menculik Lili dulu! Memang orang ini bukan lain
adalah Bouw Hun Ti yang berusaha mencari gurunya dan karena ia melakukan perjalanan
berkuda dengan cepat, maka ia telah sampai di tempat itu lebih dulu dan kini ia hendak
kembali ke timur setelah mendengar bahwa suhunya kini tinggal di dusun Tong-sim-bun.
Kebetulan sekali di kota Tai-goan ini ia bertemu dengan Lo Sian, pengemis yang merampas
Lili dari padanya itu! Tak menanti lagi ia segera mengirim pukulan maut yang baiknya masih
dapat dikelit oleh Lo Sian.
Lo Sian maklum bahwa orang ini memiliki kepandaian yang tinggi, maka ia segera mencabut
pedangnya yang selalu disembunylkan di dalam bajunya. Bouw Hun Ti tertawa bergelak
melihat ini dan segera mencabut goloknya.
“Jembel hina dina! Hari ini kau pasti akan mampus di ujung golokku!” serunya keras sambil
menyerang. Lo Sian menangkis dan mereka lalu bertempur hebat di depan rumah makan itu.
Orang-orang yang menyaksikan pertempuran ini tidak ada yang berani ikut campur, bahkan
mereka lari cerai-berai karena takut melihat dua orang itu mainkan senjata tajam demikian
hebatnya.
Sementara itu, ketika Lili melihat bahwa yang menyerang suhunya adalah penculik brewok
yang dibencinya, seketika menjadi pucat karena kaget sekali. Akan tetapi anak ini memang
hebat sekali keberaniannya. Ia tidak melarikan diri, bahkan lalu mengumpulkan batu-batu
kecil dan mulai menyambit ke arah bagian tubuh yang berbahaya dari Bouw Hun Ti.
Sungguhpun sambitan batu yang dilepas oleh Lili ini apabila ditujukan kepada orang biasa
akan merupakan serangan yang arnat berbahaya, akan tetapi terhadap Bouw Hun Ti sama
sekali tidak ada artinya. Tidak saja semua batu itu terlempar ketika terpukul oleh sinar
goloknya, biarpun andaikata mengenai tubuhnya pun takkan terasa olehnya!
Kam Seng yang melihat suhunya bertempur melawan seorang laki-laki brewok yang
berwajah galak menyeramkan, dan melihat betapa Lili menyambit dengan batu, tidak mau
tinggal diam dan ia pun mulai menyambit pula! Akan tetapi, ia segera menghentikan
bantuannya ini karena pandangan matanya telah menjadi kabur dan silau, ketika kedua orang
yang bertempur itu kini telah lenyap terbungkus oleh sinar senjata. Kam Seng tidak dapat
membedakan lagi mana gurunya dan mana lawan gurunya! Akan tetapi, Lili yang sudah
memiliki dasar-dasar ilmu silat tinggi dan sepasang matanya yang bening sudah terlatih baik
semenjak kecil oleh ayah ibunya, masih dapat melihat gerakan suhunya dan gerakan musuh
itu, maka masih saja ia melanjutkan penyambitannya, kini lebih hati-hati dan membidik
dengan baik. Sungguhpun serangan Lili ini tidak berarti baginya, namun cukup membikin
gemas hati Bouw Hun Ti.
“Setan kecil, aku bikin mampus kau lebih dulu!” serunya dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat
menyambar Lili dan goloknya membacok ke arah kepala anak kecil itu!
Lili memiliki ketenangan ayahnya dan kegesitan ibunya. Melihat menyambarnva sinar golok
ke arah kepalanya, ia cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah dan bergulingan
menjauhkan diri. Akan tetapi, Bouw Hun Ti yang merasa penasaran terus mengejarnya
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
57
setelah menangkis serangan Lo Sian yang menyerangnya dari samping dalam usahanya
menolong muridnya.
Lili bergulingan terus dan tiba-tiba ia merasai bahwa tubuhnya berguling ke atas pangkuan
seorang yang duduk di bawah pohon dekat situ. Ia memandang dan ternyata bahwa ia telah
berada di atas pangkuan seorang pengemis yang tinggi kurus dan berbaju penuh tambalan dan
buruk sekali.
Melihat betapa anak itu berada di atas pangkuan seorang pengemis, Bouw Hun Ti
melanjutkan serangannya, akan tetapi tiba-tiba ia berseru keras dan goloknya terpental hampir
terlepas dari pegangan ketika golok itu telah mendekati tubuh Lili. Ternyata bahwa pengemis
jembel itu telah mengangkat tongkatnya dan menangkis gotok itu!
“Hmm, manusia kejam! Apakah kau masih mau menjual lagak di depan Mo-kai Nyo Tiang
Le?”
Bouw Hun Ti makin terkejut karena ia sudah mendengar nama Pengemis Setan ini yang amat
lihai! Tadi ketika menghadapi Lo Sian, biarpun ia yakin akan bisa mendapat kemenangan,
akan tetapi kepandaian Lo Sian sudah cukup kuat sehingga ia tidak mungkin menjatuhkannya
dalam waktu pendek. Apalagi sekarang ditambah dengan seorang pengemis aneh yang dari
tangkisan tongkatnya tadi saja sudah menunjukkan bahwa kepandaiannya amat tinggi!
Bagaimana sebatang tongkat bambu dapat menangkis goloknya yang terkenal tajam dan yang
digerakkan dengan tenaga luar biasa? Bouw Hun Ti menjadi gentar juga dan dengan marah
sekali ia lalu melarikan diri! Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan gurunya untuk minta
pertolongan dan bantuan.
Lo Sian yang baru mengenal pengemis itu, segera menghampiri dan berseru girang. “Suheng!
Kau di sini?”
“Sute, dari mana kau mendapatkan anak ini?” tanya Mo-kai Nyo Tiang Le tanpa menjawab
pertanyaan adik seperguruannya.
Mendengar pertanyaan ini, barulah Lo Sian teringat kepada Bouw Hun Ti yang telah
melarikan diri. Ia menghela napas dan berkata,
“Sayang sekali Suheng. Orang yang dapat menjawab pertanyaanmu itu telah melarikan diri.
Aku sendiri tidak tahu siapa sebetulnya anak ini.” Ia lalu menuturkan pengalamannya ketika
merampas Lili dari tangan Bouw Hun Ti, lalu menuturkan pula tentang pengalamannya
menolong Thio Kam Seng.
Si Pengemis Setan itu tertawa terbahak-bahak mendengar penuturan Lo Sian. Ia memandang
kepada Lili yang kini telah berdiri, lalu berkata kepadanya, “Hemm, anak nakal! Kau tidak
mau menceritakan siapa ayah ibumu? Ha, ha, tak perlu kau menceritakannya lagi! Aku sudah
tahu, siapa ayahmu! Dia adalah seorang maling, seorang tukang colong ayam! Karena itulah
maka kau malu untuk mengaku! Ha, ha, ha!”
Bukan main marahnya hati Lili mendengar ucapan ini. Gadis cilik ini berdiri tegak kepalanya
dikedikkan, dadanya diangkat dan pandang matanya bersinar-sinar seakan-akan mengeluarkan
cahaya api. Kalau ada orang yang telah mengenal ibunya, dan melihat Lili bersikap seperti itu,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
58
tentu akan mengatakan bahwa anak perempuan ini persis sekali seperti ibunya kalau sedang
marah.
“Kau... kau berani menghina ayahku? Kalau Ayah mendengar hal ini, biarpun kau berada di
ujung dunia, Ayah pasti akan mematahkan batang lehermu! Ayah adalah seorang gagah
perkasa tanpa tandingan! Orang macam kau, biar ada seratus pun akan dipatahkan batang
lehernya dengan mudah!” Lili benar-benar marah sekali mendengar ayahnya disebut tukang
colong ayam!
Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. Agaknya ia geli sekali sehingga sambil
tertawa ia meraba-raba perutnya. “Ha, ha, ha! Pandai sekali kau menutupi keadaan ayahmu!
Ha, ha, ayahmu hanya seorang maling kecil. Memang ia bisa mematahkan batang leher, akan
tetapi hanya batang leher ayam. Tentu saja ia kuat mematahkan batang leher seratus ekor
ayam yang dicurinya! Ha, ha, ha!”
“Orang tua kurang ajar!” Lili semakin marah sehingga ia membanting-banting kakinya yang
kecil. Ia lupa bahwa suhunya tadi menyebut suheng kepada jembel ini. Jangankan baru
supeknya yang baru dikenal sekarang, biarpun siapa juga tidak boleh menghina ayahnya!
“Hati-hatilah kau! Beritahukan siapa namamu agar dapat kuberitahukan kepada Ayah. Kau
pasti akan dipukul mati! Siapakah orangnya yang tidak tahu bahwa Ayah...” tiba-tiba Lili
terhenti karena ia teringat bahwa ia tidak ingin memberitahukan nama orang tuanya, bahkan
ia belum pernah mengaku kepada suhunya. “... bahwa ayahmu hanyalah seorang tukang
colong ayam...!” Pengemis tua itu melanjutkan kata-katanya yang terhenti sambil tertawa
bergelak.
“Bukan!” Lili menggigit bibirnya dengan gemas. “Nah, biarlah aku mengaku! Ayahku adalah
Sie Cin Hai yang berjuluk Pendekar Bodoh! Ibuku adalah Kwee Lin yang terkenal gagah
perkasa! Siapakah tidak kenal kepada ayah-ibuku yang menjadi murid terkasih dari Sukong
Bu Pun Su?” Sambil berkata demikian, Lili memandang dengan tajam kepada pengemis itu
dan juga kepada gurunya. Ia merasa bangga dan girang sekali ketika melihat betapa pengemis
itu yang tadinya sedang tertawa, kini membuka mulutnya dengan melongo sedangkan
suhunya sendiri pun memandangnya dengan mata terbelalak heran!
Lo Sian lalu mengelus-elus kepala Lili dan berkata, “Ah, anak baik, mengapa tidak dulu-dulu
kaukatakan kepadaku? Kalau aku tahu, tentu kau sudah kuantarkan kepada orang tuamu! Aku
tahu siapa adanya ayah-ibumu itu dan ketahuilah bahwa Suhumu dan Supekmu ini masih
orang-orang segolongan dengan ayahmu!”
“Akan tetapi, mengapa Supek tadi menghina ayahku? Mengapa ayahku disebut tukang
colong ayam?”
Nyo Tiang Le tertawa bergelak dan Lo Sian juga tersenyum. “Lili, Supekmu tadi hanya
bergurau. Ketika ia mengatakan bahwa ayahmu seorang maling ayam, ia tidak tahu bahwa
ayahmu adalah Sie Tai-hiap! Kalau ia tidak mempergunakan akal ini, apakah kau akan suka
menyebutkan nama ayahmu?”
Lili memang cerdik. Ia tahu bahwa ia telah kena diakali, maka sambil tersenyum ia berkata
kepada Nyo Tiang Le, “Supek telah menipuku! Akan tetapi, kalau Supek telah tidak menarik
kembali ucapannya tadi, aku selamanya akan benci kepada Supek!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
59
Mo-kai Nyo Tiang Le makin keras suara ketawanya. “Ha-ha-ha! Siapa bilang bahwa
Pendekar Bodoh pencuri ayam mengatakan demikian di depanku, orang itu akan kuhajar
mulutnya dengan seratus kali pukulan tongkatku! Tidak, anak manis, ayahmu bukan pencuri
ayam akan tetapi dia adalah seorang pendekar besar yang gagah perkasa!”
Berserilah wajah Lili mendengar pujian terhadap ayahnya ini.
“Suheng, kalau begitu, aku hendak mengantar pulang anak ini kepada Sie Tai-hiap di
Shaning.”
Nyo Tiang Le menggelengkan kepalanya. “Berbahaya sekali, Sute! Kau tentu sudah dapat
menduga siapa adanya orang brewok tadi?”
Lo Sian menggelengkan kepalanya. “Sungguhpun ilmu silatnya lihai sekali dan gerakan
goloknya mengingatkan aku akan kepandaian golok dari Ban Sai Cinjin, akan tetapi
sesungguhnya aku tidak tahu siapa adanya orang itu.”
“Dia adalah murid dari Ban Sai Cinjin, seorang peranakan Turki yang dulu memimpin
barisan Turki ke pedalaman dan menimbulkan banyak kerusakan!”
Lo Sian mengangguk karena ia memang membantu tentara kerajaan menghadapi perwira
yang amat tangguh itu.
“Nah, orang tadi adalah putera dari Balutin itulah! Namanya Bouw Hun Ti dan ia amat lihai,
apalagi setelah mendapat latihan dari Ban Sai Cinjin. Entah mengapa ia menculik anak
Pendekar Bodoh ini akan tetapi sudah jelas bahwa kalau ia melihat kau mengantar anak ini
pulang, tentu ia akan turun tangan dan hal ini berbahaya sekali.”
Lo Sian menundukkan kepalanya karena ia maklum bahwa kepandaian Bouw Hun Ti masih
lebih tinggi daripada kepandaiannya sendiri sehingga ia tidak dapat melindungi keselamatan
Lili dengan baik.
“Habis, bagaimana baiknya, Suheng?”
“Aku sedang dalam perjalanan menuju ke tempat pertapaan Pok Pok Sianjin di puncak Bengsan. Biarlah kubawa kedua anak ini bersamaku ke sana. Kaupergilah seorang diri mencari
Pendekar Bodoh dan memberi tahu bahwa puterinya telah selamat bersama dengan aku. Kam
Seng ini nasibnya buruk dan patut ditolong, sedangkan aku dahulu pernah mendapat
pertolongan dari Bu Pun Su, maka sekarang sudah selayaknyalah kalau aku membalas dan
menolong cucu muridnya ini! Nona kecil, kau tentu mau ikut dengan aku, bukan?”
Lili memandang kepada suhunya dan berkata, “Suhu, teecu memang tidak mau pulang.
Teecu baru mau pulang kalau Ayah dan Ibu menyusul teecu! Akan tetapi, kalau selamanya
teecu harus ikut Supek, teecu tidak suka.”
“Mengapa begitu, Lili?” tanya Lo Sian sambil tersenyum.
“Supek seorang pengemis!”
“Huss!” kata Lo Sian mencela. “Aku pun seorang pengemis!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
60
“Benar, akan tetapi Suhu berbeda dengan Supek. Suhu pengemis bersih, akan tetapi Supek...”
“Hussh, Lili!” Menegur suhunya.
Akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa geli dan berkata,
“Biarlah, Sute. Sudah sewajarnya kalau seorang anak perempuan suka akan kebersihan dan
keindahan. He, Lili anak nakal, kaulihatlah baik-baik, apakah aku masih nampak kotor dan
menjijikkan?” Dengan gerakan yang luar biasa cepatnya kedua tangan Pengemis Setan itu
bergerak dan tahu-tahu jubah luarnya yang butut itu telah terlepas dan Lili juga Thio Kam
Seng, anak piatu itu memandang dengan mata terbelalak heran. Setelah jubah butut kotor
penuh tambalan itu terlepas, kini pengemis tua itu nampak bersih dan gagah sekali, tubuhnya
tertutup oleh pakaian warna putih bersih dari sutera halus, sebatang pedang tergantung di
pinggang kirinya! Sikap pengemis tua itu pun berubah sama sekali, wajahnya yang tadi
tertawa-tawa bagaikan orang gila itu menjadi sungguh-sungguh dan nampak keren sekali!
“Bagaimana, apakah kau masih merasa jijik untuk ikut Supekmu?” tanya Nyo Tiang Le
dengan suara keren.
Lili merasa heran dan tertegun sehingga ia memandang dengan mata tak berkedip, lalu
menggelengkan kepalanya. Pengemis tua yang aneh itu lalu mengenakan kembali pakaian
bututnya dan wajahnya kembali berseri-seri. Barulah Lili merasa lega, karena sesungguhnya
hatinya enak dan senang menghadapi pengemis tua yang berpakaian butut dan yang tertawatawa ramah ini daripada menghadapinya dalam pakaian gagah dan sikap keren tadi!
“Mengapa pakaian bersih dan indah ditutupi oleh pakaian yang demikian kotor dan buruk?”
kini ia berani membuka mulut bertanya.
Nyo Tiang Le tertawa bergelak, seperti tadi sebelum memperlihatkan pakaiannya yang
dipakai di sebelah dalam.
“Ha-ha-ha, anak baik! Banyak sekali orang yang di luarnya mengenakan pakaian-pakaian
indah dan mahal, memakai kebesaran dan tanda pangkat, akan tetapi coba bukalah pakaian
yang indah-indah itu, kau akan melihat sesuatu yang kotor, bagaikan sebutir buah yang
kulitnya merah kekuningan dan nampak segar akan tetapi kalau dikupas kulitnya akan terlihat
isinya busuk! Bagiku, aku lebih suka yang sebaliknya, darl luar nampak kotor akan tetapi di
sebelah dalam bersih! Ha-ha-ha!”
Lili tidak percuma menjadi puteri Pendekar Bodoh, seorang pendekar besar yang gagah
perkasa dan yang terkenal ahli dalam hal filsafat hidup dan hafal akan semua ujar-ujar kuno.
Telah seringkali ayahnya memberi pelajaran budi pekerti kepadanya dan seringkali pula ia
mendengar ayahnya mengucapkan ujar-ujar kuno mengenai filsafat hidup. Kini, mendengar
ucapan Nyo Tiang Le, anak yang berotak tajam ini dapat menangkap maksudnya maka ia lalu
membantah,
“Supek, betapapun juga aku lebih suka lagi kalau yang bersih itu tidak hanya dalamnya saja,
akan tetapi luar dalam! Sungguhpun isinya sama bersih dan sama enak, kalau disuruh
memilih, aku lebih suka buah yang kulitnya menarik dan bersih daripada yang kulitnya
kotor!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
61
Kembali Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. “Benar benar! Kau memang seorang
perempuan, sudah seharusnya tahu merghargai keindahan, luar maupun dalam!”
Demikianlah, setelah memesan kepada Lili dan Kam Seng agar supaya taat kepada supek
mereka, dan memberi janji kepada Lili bahwa kelak mereka tentu akan bertemu kembali, Lo
Sian lalu meninggalkan mereka menuju ke timur untuk mencari Pendekar Bodoh di Shaning
mengabarkan tentang keadaan Lili kepada pendekar besar itu.
Nyo Tiang Le juga segera membawa kedua anak itu melanjutkan perjalanan menuju ke Bukit
Beng-san. Pengemis Setan ini sungguhpun menjadi suheng dari Lo Sian, akan tetapi apabila
dibandingkan dengan Pengemis Sakti itu, kepandaiannya jauh lebih tinggi, juga usianya
berbeda jauh sekali Lo Sian baru berusia tiga puluh lima tahun, akan tetapi Mo-kai Nyo Tiang
Le usianya sudah lima puluh tahun lebih. Bahkan kepandaian Lo Sian sebagian besar terlatih
oleh Nyo Tiang Le dan suhu mereka hanya memberi pelajaran-pelajaran dasar saja kepada
Sin-kai Lo Sian. Kepandaian Nyo Tiang Le ini hanya sedikit lebih rendah daripada tingkat
kepandaian empat besar di timur, barat, selatan, dan utara, yakni Hok Peng Taisu guru Ma
Hoa, Pok Pok Sianjin di Beng-san yang sekarang menjadi guru dari Sie Hong Beng putera
Pendekar Bodoh, mendiang Bu Pun Su, guru dari Cin Hai si Pendekar Bodoh dan isterinya,
dan Swi Kiat Siansu, tokoh di utara yang terkenal dengan senjatanva kipas maut itu! Kepada
empat orang tokoh besar ini, Nyo Tiang Le telah kenal baik, bahkan ia pernah mendapat
pertolongan dari Bu Pun Su yang terkenal paling lihai diantara para tokoh besar itu.
Mo-kai Nyo Tiang Le suka sekali melihat Lili dan karena ia tidak mempunyai murid, maka
melihat murid sutenya ini tergeraklah hatinya. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk
mewariskan ilmu pedangnya kepada Lili yang ia tahu memiliki bakat yang baik sekali. Ia
memang sedang menuju ke Beng-san untuk bertemu dengan Pok Pok Sianjin, seorang di
antara tokoh-tokoh besar dunia persilatan masih hidup.
Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang bernasib malang itu, benar-benar telah mendapat
karunia besar dan agaknya nasibnya telah mulai bersinar terang ketika ia bertemu dengan Lo
Sian, karena tak disangka-sangkanya bahwa ia akan terjatuh ke dalam tangan orang-orang luar
biasa sehingga ia dapat menjadi murid seorang gagah seperti Lo Sian, bahkan kini ia ikut
melakukan perjalanan dengan Nyo Tiang Le dan ikut pula mendapat latihan ilmu silat tinggi.
***
Mari sekarang kita mengikuti perjalanan Cin Hai dan Lin Lin yang meninggalkan rumah
mereka di Shaning untuk pergi mencari puteri mereka yang lenyap terculik orang.
Semenjak Kong Hwat Lojin atau Nelayan Cengeng yang menjadi guru dan ayah angkat Ma
Hoa meninggal dunia dua tahun yang lalu, belum pernah Pendekar Bodoh dan isterinya
mengunjungi Tiang-an. Maka setelah mereka tiba di perbatasan kota Tiang-an, mereka
berhenti sebentar dan memandang tembok kota, itu dengan pikiran penuh kenangan masa
lampau. Bagi Lin Lin, kota ini adalah kota kelahirannya dan bagi Cin Hai, kota ini pun
merupakan kota di mana ia telah mengalami banyak sekali penderitaan hidup di waktu ia
masih kecil.
Mereka memasuki kota dan mengunjungi rumah Kwee An. Rumah ini adalah rumah tua,
gedung besar dan kuno yang dulu menjadi tempat tinggal mendiang Kwee In Liang, yaitu
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
62
ayah Kwee An dan Kwee Lin. Kedatangan mereka mendapat sambutan yang hangat sekali
dari Kwee An dan Ma Hoa. Ma Hoa merangkul Lin Lin dan sampai lama mereka saling peluk
dan mencium dengan hati girang sekali.
“Enci Ma Hoa, kau makin gemuk dan makin cantik saja!” Lin Lin berkata sambil
memandang kepada so-so (kakak iparnya) itu. Karena sudah biasa semenjak belum menikah
dulu, Lin Lin tidak menyebut so-so kepada iparnya ini, akan tetapi masih menyebut enci.
“Lin Lin, kaulah yang makin cantik, akan tetapi mengapakah kau kelihatan agak pucat?
Terlalu lelahkah kau dalam perjalananmu ke sini?”
Cin Hai dan Kwee An yang saling berpegang tangan dengan girang itu juga mengucapkan
kata-kata ramah tamah.
“Ah, kami mendapat kesusahan,” kata Lin Lin sambil menghela napas lalu menggigit
bibirnya untuk menahan jangan sampai meruntuhkan air mata. “Lili telah terculik orang!”
Pucatlah wajah Ma Hoa dan Kwee An mendengar berita hebat ini.
“Apa...??” Ma Hoa melompat bangun dan memegang lengan tangan Lin Lin. “Siapa
orangnya yang demikian berani mampus melakukan hal itu? Lin Lin, beritahukan siapa
orangnya, akan kuhancurkan kepalanya!” Ma Hoa benar-benar marah sekali mendengar berita
ini dan sepasang matanya berkilat. Kwee An juga marah sekali dan kedua tangannya dikepal,
akan tetapi ia lebih tenang dan sabar daripada isterinya. Ia memegang tangan adiknya dan
berkata,
“Ah, bagaimana bisa terjadi hal itu? Lin Lin, marilah kita semua masuk ke dalam dan
ceritakanlah hal itu sejelasnya.”
Suara yang lemah lembut dan sikap mencinta dari kakaknya ini lebih tajam menyentuh
perasaan Lin Lin daripada sikap Ma Hoa yang menunjukkan pembelaannya dengan marah.
Tak terasa lagi Lin Lin meramkan mata menahan keluarnya air mata yang tetap saja
menembus celah-celah bulu matanya dan mengalir turun ke atas pipinya. Sambil
menyandarkan kepalanya di pundak Kwee An, Lin Lin menangis dan menurut saja ditarik
oleh Kwee An menuju ke ruang dalam, diikuti oleh Cin Hai dan Ma Hoa.
Setelah mereka duduk di atas kursi dan Lin Lin telah dapat menekan perasaan gelisah dan
sedihnya, maka berceritalah Lin Lin dan Cin Hai tentang penculikan terhadap Lili, dan juga
tentang terbunuhnya Yousuf. Mendengar bahwa Yousuf terbunuh pula dalam keadaan yang
amat mengerikan dan menyedihkan, yaitu dipenggal kepalanya, Ma Hoa menjerit dan
menangis tersedu-sedu. Kemudian ia berdiri dan dengah tangan terkepal ia berkata keras,
“Lin Lin, kita harus mencari jahanam itu sampai dapat! Hatiku belum puas kalau belum
menusuk mata jahanam itu dengan senjataku!”
Juga Kwee An merasa marah dan sedih sekali mendengar berita ini. Ketika mendengar dari
Cin Hai bahwa menurut orang yang melihatnya, pembunuh Yousuf itu adalah seorang Turki,
Kwee An berkata,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
63
“Tak salah lagi, tentu pembunuhnya adalah utusan Pangeran Muda dari Turki yang semenjak
dahulu memusuhi Yo-pek-hu!”
“Kami pun menduga demikian,” kata Cin Hai. “Oleh karena itu, kami hendak menyusul ke
barat, hendak mencari keterangan dan menyelidiki ke Kansu di mana banyak terdapat orangorang Turki baik pengikut Pangeran Muda maupun pengikut Pangeran Tua.”
“Betul sekali,” kata Kwee An mengangguk-anggukkan kepalanya. “Di sana banyak terdapat
kawan-kawan baik dari Yo-pek-hu, kurasa dari mereka kau akan bisa mendapatkan
keterangan.”
“Aku ingin sekali ikut pergi,” tiba-tiba Ma Hoa berkata, “aku ingin mendapat bagianku
menghajar penculik Lili!”
Kwee An memandang kepada isterinya, lalu dengan tersenyum ia berkata,
“Dalam keadaanmu sekarang ini lebih baik jangan melakukan perjalanan sejauh itu.”
Ma Hoa membalas pandangan suaminya dan tiba-tiba mukanya berubah merah, Lin Lin
mengerti akan maksud ucapan itu, maka ia merangkul Ma Hoa sambil berkata, “Enci yang
baik! Sudah berapa bulankah?”
Makin merahlah muka Ma Hoa dan dengan suara perlahan ia berkata, “Dua...”
Cin Hai sama sekali tidak mengerti apakah maksud pembicaraan antara isterinya dan Ma
Hoa, maka ia memandang kepada mereka dengan sinar mata bodoh. Melihat wajah dan
pandangan mata bodoh dari Cin Hai ini, tak tertahan pula Ma Hoa dan Lin Lin tertawa geli,
bahkan Kwee An juga tersenyum, teringat akan peristiwa dulu-dulu tentang Cin Hai yang
dalam beberapa hal memang agak bodoh. Pandang mata seperti itulah yang membuat ia
mendapat julukan Pendekar Bodoh!
“Eh, eh, kalian mengapakah?” Cin Hai tildak merasa aneh melihat isterinya tertawa-tawa,
karena memang demikianlah sifat Lin Lin. Dalam keadaan bersedih ia dapat tertawa gembira,
sebaliknya dalam kegembiraan tiba-tiba murung!
“Jangan tanya-tanya, ini urusan wanita. Laki-laki tahu apa!” kata Lin Lin.
Akhirnya dapat juga Cin Hai menduga bahwa yang dimaksudkan tentu keadaan Ma Hoa
dalam mengandung dua bulan. Akan tetapi karena merasa jengah dan malu, ia diam saja.
Dua pasang suami isteri itu lalu bercakap-cakap melepaskan rindu.
“Eh, sampai lupa aku! Mana si cantik Goat Lan? Mengapa semenjak tadi aku tidak
melihatnya?” kata Lin Lin.
“Ah, dia telah dibawa oleh dua orang kakek yang kalian tentu sudah kenal namanya.”
“Dibawa? Apa maksudmu? Siapakah mereka?” tanya Cin Hai.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
64
“Goat Lan telah diambil murid oleh Im-yang Giok-cu dan Sin Kong Tianglo dan dibawa ke
Liong-ki-san untuk dilatih ilmu silat.”
Cin Hai dan Lin Lin merasa girang mendengar ini dan keduanya lalu memberi selamat. Ma
Hoa menceritakan peristiwa tentang kedatangan kedua orang kakek gagah itu di Kuil Banhok-tong.
“Enci Hoa,” kata Lin Lin yang teringat akan sesuatu, “aku telah mengadakan pembicaraan
dengan suamiku tentang anakmu itu. Kau tentu dapat menduga maksud kami, yaitu tentang
anakmu dan anak kami Hong Beng.”
Wajah Ma Hoa berseri. “Ah, bagaimana dengan puteramu yang elok itu?”
Lin Lin lalu menceritakan bahwa Hong Beng telah diantarkan ke Pok Pok Sianjin untuk
menerima latihan ilmu silat.
“Kiranya tidak ada jodoh yang lebih tepat bagi Hong Beng selain anakmu yang cantik itu.
Bagaimana kalau kita resmikan pertunangan itu sekarang?”
Kwee An tertawa. “Kedua anak itu baru berusia sepuluh tahun, bagaimana harus diresmikan
pertunangan mereka?”
“Maksudku, pertunangan ini disahkan antara kita, orang-orang tua mereka. Kau tentu
menerima pinanganku, bukan?” menegaskan Lin Lin.
“Lin Lin, kau masih saja tidak sabar seperti dulu!” kata Ma Hoa tertawa. “Dulu pernah kita
bicarakan hal ini dan sudah saling setuju. Tentu saja, kami setuju sekali dan menerima
pinanganmu dengan kedua tangan terbuka. Memang selain putera kalian siapa lagi yang patut
menjadi mantu kami?”
Demikianlah, diantara tawa dan sendau gurau, mereka meresmikan pertunangan Hong Beng
dan Goat Lan. Dengan amat mudahnya Lin Lin telah lupa kesedihannya kehilangan Lili. Cin
Hai yang pendiam tak dapat melupakan nasib puterinya, akan tetapi tidak tega untuk
mengingatkan isterinya tentang hal yang tidak menyenangkan ini, maka ia diam saja.
Setelah mengunjungi Kwee Tiong atau Thian Tiong Hosiang, ketua Kuil Ban-hok-tong,
kakak tertua dari Lin Lin yang kini menjadi hwesio alim itu, Lin Lin dan Cin Hai lalu
melanjutkan perjalanannya ke barat. Mereka hanya bermalam satu malam saja di rumah Kwee
An. Ma Hoa dan suaminya mengantar mereka sampai di luar batas kota dan mereka lalu
berpisah.
Cin Hai dan Lin Lin melanjutkan perjalanan mereka dengan cepat dan setelah berpisah dari
Ma Hoa, kembali perhatian Lin Lin seluruhnya tercurah kepada puterinya dan kegelisahanya
timbul kembali. Perjalanan mereka amat jauh, dan beberapa pekan kemudian setelah
melaksanakan perjalanan cepat sekali, barulah mereka tiba di Kansu dan menuju ke kota
Lancouw. Di sepanjang perjalanan mereka teringat akan segala pengalaman mereka yang
penuh bahaya pada sepuluh tahun lebih yang lampau ketika mereka dengan kawan-kawan lain
mengunjungi propinsi ini.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
65
Cin Hai dan Lin Lin lalu masuk ke perkampungan orang Turki di mana dulu Yousuf tinggal.
Orang-orang Turki yang tinggal di situ ternyata masih ingat kepada mereka, karena ketika
mereka masuk ke kampung itu, mereka disambut dengan girang sekali oleh para kawan dari
Yousuf itu. Cin Hai segera dihujani pertanyaan tentang keadaan Yousuf.
Ketika mendengar bahwa bekas pemimpin mereka itu telah tewas dengan keadaan amat
menyedihkan, dipenggal kepalanya oleh seorang Turki lain yang brewok, maka sedihlah hati
mereka.
“Bouw Hun Ti!” seru seorang di antara mereka yang sudah lanjut usianya. “Tentu Bouw Hun
Ti si anjing pengkhianat yang melakukan hal itu.”
Cin Hai dan Lin Lin segera mendesak orang tua itu. “Sahabat,” kata Cin Hai, “sesungguhnya
kami datang dari tempat yang amat jauh, tak lain maksud kami hanya hendak menemui
saudara-saudara dan minta pertolongan untuk menduga siapa adanya bangsat yang telah
membunuh Yo Se Fu dan yang telah menculik puteri kami itu. Tadi kami mendengar
disebutnya nama Bouw Hun Ti, siapakah gerangan dia itu dan mengapa kalian mengira
bahwa dia yang melakukan perbuatan itu?”
Orang Turki tua itu baru saja datang dari Turki dan ia tahu akan keadaan Bouw Hun Ti, maka
ia lalu menceritakan sejelasnya kepada Cin Hai dan Lin Lin. Ketika mendengar bahwa Bouw
Hun Ti diutus oleh Pangeran Muda untuk membawa Yousuf dengan paksa ke Turki dan
bahwa Bouw Hun Ti adalah putera dari Balutin dan terkenal jahat dan kejam dan
berkepandaian tinggi, Cin Hai dan Lin Lin tidak ragu-ragu lagi bahwa memang dialah orang
yang dicari-carinya. Mereka lalu mengambil keputusan untuk menanti di Lancouw,
menghadang perjalanan Bouw Hun Ti yang tentu akan pulang ke Turki membawa Lili yang
diculiknya, karena menurut keterangan orang-orang Turki itu, Bouw Hun Ti sampai saat itu
belum kembali dari timur.
Akan tetapi, setelah menanti dua pekan belum juga kelihatan penculik dan pembunuh itu
datang, Cin Hai dan Lin Lin menjadi kecewa dan gelisah sekali. Betapapun lambat musuh itu
melakukan lperjalanan, tak mungkin akan makan waktu selama itu. Akhirnya Cin Hai dan Lin
Lin mengambil keputusan untuk kembali ke timur, mencari musuh yang membawa lari puteri
mereka itu. Kepada orang-orang Turki yang berada di situ mereka minta tolong agar supaya
mengamat-amati, jika melihat Bouw Hun Ti dan seorang anak perempuan, supaya berusaha
merampas anak perempuan itu. Orang-orang Turki itu maklum bahwa Lin Lin adalah anak
angkat Yousuf, sehingga dengan demikian anak perempuan yang diculik oleh Bouw Hun Ti
itu adalah cucu dari Yousuf, maka tentu saja mereka bersedia untuk membantu suani isteri itu
dan menolong Lili. Mereka maklum bahwa di antara mereka tidak seorang pun dapat
melawan Bouw Hun Ti yang lihai, akan tetapi dengan akal dan tipu, mereka merasa yakin
akan dapat menculik kembali anak itu dari tangan Bouw Hun Ti dan mengantarkannya kepada
suami isteri itu.
Maka berangkatlah Cin Hai dan Lin Lin kembali ke timur. Sungguhpun mereka merasa
kecewa dan gelisah, akan tetapi ada juga sedikit kegirangan karena telah mengetahui nama
dan keadaan musuh besar mereka. Kini mereka kembali ke timur tidak melalui jalan yang
mereka lalui ketika mereka menuju ke Lancouw, yakni jalan sebelah selatan, akan tetapi
mereka melalui jalan sebelah timur, di sepanjang perbatasan Mongolia dalam. Mereka
mengambil keputusan hendak mampir di tempat pertapaan Pok Pok Sianjin untuk menengok
Hong Beng yang belajar ilmu silat di situ.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
66
***
Mo-kai Nyo Tiang Le bersama dua orang anak-anak murid sutenya, yakni Lili dan Kam
Seng, tiba di Gunung Beng-san. Dengan perlahan Nyo Tiang Le mengajak dua orang anakanak itu mendaki bukit yang indah sambil menikmati pemandangan alam yang benar-benar
mengagumkan. Kam Seng kini setelah jatuh ke tangan orang-orang yang dapat ia percaya,
timbul kembali sifat-sifat aslinya, yaitu pemberani, bersemangat, dan jenaka. Lili merasa suka
kepada kawan ini dan ketika mendaki bukit yang indah itu, Lili dan Kam Seng mendahului
supek mereka, karena Pengemis Setan ini sebentar-sebentar berhenti untuk menikmati
keindahan pemandangan alam. Lili dan Kam Seng sudah diberi tahu oleh supek ini bahwa
tuiuan mereka adalah puncak bukit di sebelah utara itu. Maka mereka tidak sabar menanti
supek mereka yang dapat berdiri diam bagaikan patung sampai lama sekali untuk menikmati
tamasya alam.
“Supek benar-benar aneh,” kata Kam Seng sambil tertawa dan napas tersengal karena ia
harus mengikuti Lili yang lebih gesit dan cepat gerakannya itu, “apakah keindahan pohonpohon dan rumput di bawah gunung?”
Lili hanya tersenyum dan berkata, “Hayo cepat kita naik. Itu di atas banyak kembang merah
yang indah!” ia lalu melompat ke depan dengan cepat bagaikan seekor anak kijang. Tentu saja
Kam Seng tak dapat menyusulnya, dan anak yang sudah terengah-engah karena telah mendaki
bukit itu mencoba untuk mempercepat langkahnya sambil bersungut-sungut,
“Supek aneh, Lili juga aneh. Kembang macam itu saja, apa sih indahnya?” Memang, Kam
Seng yang semenjak kecilnya selalu menderita lahir batin, perasaannya menjadi acuh tak
acuh, tak dapat merasai atau menikmati sesuatu yang sedap dipandang. Matanya telah terlalu
banyak melihat hal-hal yang menimbulkan sedih dan putus harapan, bahkan dulu ketika ia
menderita kelaparan dan kesengsaraan, segala sesuatu yang betapa indah pun nampak buruk
dan menjemukan.
Karena Lili berhenti dan mengagumi bunga-bunga yang tumbuh di tepi jalan kecil itu, maka
Kam Seng dapat menyusulnya juga. Lili meraba bunga itu, dan nampaknya girang bukan
main. Kedua pipinya bersinar kemerahan, matanya berseri gembira. Ia memetik beberapa
tangkai bunga yang terindah, diikat menjadi satu dan dibawanya dengan hati-hati dan penuh
kesayangan.
Pada saat itu dari sebuah lereng bukit berlari turun seorang anak laki-laki yang gesit sekali
gerakannya. Anak ini berwajah tampan dan gagah sekali. Sepasang alisnya hitam tebal,
nampak jelas kulit mukanya yang putih kemerahan. Rambutnya juga tebal dan hitam, diikat di
atas kepala dengan sehelai pita kuning. Tubuhnya tegap sehingga nampaknya sudah hampir
dewasa, sungguhpun usianya sebenarnya baru sebelas tahun kurang. Matanya lebar dan
bersinar terang, membayangkan bahwa ia mempunyai watak yang jujur.
Anak laki-laki ini berlari turun dengan muka mengandung kemarahan. Ia melihat dua orang
anak yang berada di taman bunga itu dan melihat seorang anak perempuan memetiki kembang
yang menjadi kesayangan gurunya, ia menjadi marah sekali.
“Hai! Jangan sembarangan memetik dan merusak kembang!” tegurnya dari jauh sambil
berlari cepat menghampiri Lili dan Kam Seng.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
67
Lili dan Kam Seng terkejut, lalu memandang. Kam Seng diam saja karena merasa bahwa
kalau taman bunga ini kepunyaan seseorang, memang mereka berdua telah berlaku salah.
Akan tetapi Lili yang berwatak keras tentu saja tidak mau mengaku salah begitu saja. Ia
memutar tubuh menanti kedatangan anak laki-laki itu dan berteriak,
“Turunlah! Apa kaukira aku takut kepadamu? Kembang indah memang sudah seharusnya
dipetik, mengapa kaubilang merusak?”
Anak laki-laki yang berlari turun itu ketika mendengar suara Lili dan setelah berada lebih
dekat, berubah menjadi girang sekali dan ketika itu juga lenyaplah kemarahannya.
“Lili...!” serunya girang dan ia mempercepat larinya.
Lili tertegun mendengar suara ini. Tadi ia memang tak dapat melihat jelas, karena senjakala
telah mulai tiba dan udara menjadi kurang terang. Kini mendengar suara panggilan itu, ia
tertegun dan akhirnya berlari menyambut anak laki-laki itu sambil berseru,
“Hong Beng...!!” Lili memang semenjak kecil menyebut kakaknya dengan memanggil
namanya begitu saja, tanpa diberi tambahan kakak atau engko. Sungguhpun berkali-kali ayahbundanya menyuruh ia menyebut Hong Beng kakak, namun anak yang bandel ini tetap saja
tidak pernah mentaatinya dan tetap menyebut kakaknya Hong Beng saja!
Segera kedua orang anak itu berhadapan dan dengan girang Hong Beng memegang kedua
tangan adiknya.
“Lili... dengan siapa kau datang? Mana Ayah dan Ibu? Dan siapakah Siauwko (Engko Kecil)
itu?”
“Aku datang bersama Supek. Ayah dan Ibu tentunya berada di rumah, dan dia ini adalah
Kam Seng, anak yatim piatu yang diambil murid oleh Suhu.”
Hong Beng tercengang mendengar keterangan singkat ini. “Eh, siapakah Supekmu dan siapa
pula Suhumu? Mengapa kau meninggalkan rumah?”
Memang sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Hong Beng dibawa oleh ayahnya ke
puncak Beng-san untuk berguru kepada Pok Pok Sianjin, seorang tua berilmu tinggi yang
menjadi tokoh besar di barat. Ketika ia pergi, adiknya berada di rumah dan tidak mempunyai
guru karena seperti juga dia sendiri, adiknya pun belajar silat dari ayah ibu mereka. Mengapa
tiba-tiba saja adiknya itu mempunyai seorang suhu dan supek dan meninggalkan rumah?
Lili hendak menuturkan pengalamannya, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara suling yang
amat nyaring dari atas puncak.
“Ah, Suhu sedang berlatih. Mari kau kubawa menghadap Suhu. Kau juga ikutlah Saudara
Kam Seng. O ya, mana itu Supekmu yang kaukatakan datang bersamamu?”
“Supek sedang tergila-gila kepada pohon dan kembang, maka tertinggal di belakang.” Lili
menerangkan sambit tertawa. Ia telah memungut kembangnya kembali dan memegangnya
dengan sayang. Akan tetapi Hong Beng minta kembang itu dan berkata,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
68
“Lili, Suhu akan marah kalau melihat kembangnya dipetik orang.”
“Mengapa?” tanya Lili dengan heran.
“Menurut penuturan Suhu, kembang mempunyai semangat seperti orang pula, maka memetik
kembang yang sedang mekar berarti sama dengan membunuh seorang muda seperti kita!”
Lili memandang kakaknya dengan mata terbelalak penuh rasa sesal, akan tetapi sambil
tertawa Hong Beng lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya berlari naik ke puncak
dari mana terdengar suara tiupan suling yang aneh itu.
“Hayo, Kam Seng. Larilah yang cepat!” ajak Lili sambil menoleh ke belakang, dan merahlah
muka Kam Seng karena mana bisa ia berlari cepat di jalan menanjak yang sukar itu? Terpaksa
ia menguatkan kaki dan tubuhnya yang sudah lelah untuk mengikuti mereka, akan tetapi
tertinggal jauh!
Setelah suara suling itu makin terdengar jelas karena sudah dekat, tiba-tiba Hong Beng
menahan langkah kakinya dan berkata, “Ah, orang yang tak tahu diri itu datang lagi rupanya!”
Lili tak sempat bertanya karena kakaknya menggandeng tangannya dan diajak berlari cepat
menuju ke puncak dari mana terdengar suara suling yang makin nyaring menusuk telinga itu.
Ketika mereka tiba di tempat itu, Lili memandang dengan penuh keheranan ke depan. Di atas
tanah yang rata nampak dua orang sedang bergerak cepat dan aneh.
Yang seorang adalah seorang kakek berambut dan berjenggot putih yang bergerak-gerak
sambil meniup suling, sedangkan yang seorang lagi adalah seorang setengah tua yang
bergerak menyambar-nyambar laksana seekor burung garuda menyambar kelinci.
Lili menutup telinganya karena suara suling yang nyaring itu benar-benar membuat
telinganya terasa sakit. Adapun Kam Seng yang datang sambil terengah-engah kelelahan,
memandang pula dengan terheran-heran dan melongo, akan tetapi Hong Beng berdiri diam
dan matanya memandang tajam ke arah dua orang yang sedang bertempur itu.
Kakek tua itu bukan lain adalah Pok Pok Sianjin sendiri. Memang aneh sekali kelihatannya,
sungguhpun kakek itu meniup suling dengan enaknya dan lagu yang tertiup dari sulingnya
terdengar merdu, akan tetapi suara suling itu amat nyaring dan seakan-akan mengandung
tenaga gaib yang mengeluarkan hawa pukulan. Buktinya, biarpun orang yang meloncat-loncat
menyerang itu menggunakan seluruh kepandaiannya untuk menendang atau memukul, ia
selalu terpental kembali sebelum dapat menyentuh tubuh Pok Pok Sianjin. Hawa yang keluar
dari tiupan suling itu mengandung kekuatan lwee-kang dan khi-kang yang membuatnya
tertangkis dan terdorong oleh tenaga yang tidak kelihatan!
“Orang itu adalah seorang jago silat dan mahir ilmu silat Pek-eng-kun-hoat (Ilmu Silat
Garuda Putih). Telah beberapa kali ia datang minta berpibu (mengadu ilmu silat) dengan
Suhu, akan tetapi Suhu tidak mau meladeninya. Ternyata sekarang dia datang lagi, benarbenar orang tak tahu diri!”
Baru saja Hong Beng berkata demikian, tiba-tiba terdengar suara tertawa bergelak dan tahutahu tubuh orang yang menyerang Pok Pok Sianjin itu terlempar ke belakang, jatuh
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
69
bergulingan. Akan tetapi ia cepat melompat bangun kembali dan memandang ke arah orang
yang tertawa tadi. Ternyata bahwa yang tertawa itu adalah Mo-kai Nyo Tiang Le yang entah
kapan telah berada di tempat itu pula! Tentu saja Lili merasa heran karena tadi supeknya
tertinggal di belakang mengapa sekarang telah mendahuluinya berada di tempat itu?
Orang yang terguling tadi setelah memandang kepada Mo-kai Nyo Tiang Le, lalu menjura
dan berkata, “Mo-kai (Pengemis Setan), aku telah menerima pengajaran, lain kali bertemu
pula!” Setelah berkata demikian, ia lalu melompat jauh dan menghilang di bawah gunung!
Nyo Tiang Le bergelak-gelak dan Pok Pok Sianjin lalu menyimpan kembali sulingnya. “Mokai, kau masih saja bertangan jail, pukulanmu Soan-hong-jiu (Pukulan Kitiran Angin) telah
membuat ia menjadi gentar dan pergi dengan hati mendendam kepadamu!”
Nyo Tiang Le memang tadi telah melancarkan dorongan dari jauh dan hanya dengan angin
pukulannya saja telah berhasil mendorong roboh orang tadi, sungguh dapat dibayangkan
betapa hebatnya kepandaian Pengemis Setan ini! Ia tersenyum dan berkata sambil menghela
napas,
“Pok Pok Sianjin, mengapa kau suka melayani segala macam orang seperti dia? Bukankah
dia itu sute dari Ban Sai Cinjin? Aku pernah melihat orang tadi maka aku berani
mendorongnya agar ia jangan mengganggu kau orang tua lebih lanjut.”
Pok Pok Sianjin mengangguk-angguk, “Memang, dia adalah adik seperguruan Ban Sai Cinjin
dan namanya Lu Tong Kui. Ia menjagoi di Lok-yang dan telah beberapa hari ini ia merengekrengek dan mendesakku untuk mengadakan pibu. Tentu saja aku menolaknya, akan tetapi ia
mendesak terus dan menyatakan bahwa jauh-jauh dari Lok-yang ia datang untuk menguji
kepandaianku. Aku tidak tega dan terpaksa melayaninya bermain-main sebentar.”
Nyo Tiang Le tertawa kembali makin keras. “Ha-ha-ha, kau orang tua benar-benar
keterlaluan! Kaubilang tidak tega akan tetapi kau telah mainkan Seng-im-khi-kang, kalau aku
tidak keburu mendorongnya roboh dengan Soan-hong-jiu, apakah ia tidak akan menderita
luka-luka hebat di dalam tubuhnya terkena serangan hawa dari sulingmu? Ha-ha-ha!”
Pok Pok Sianjin juga tertawa. “Kaukira aku sekejam itu? Aku baru mempergunakan Sengim-khi-kang setelah yakin bahwa ia cukup kuat untuk menghadapi itu! Eh, Setan Tua, kau
baik sekali. Telah lama aku merasa rindu kepadamu, apakah kau datang hendak menantangku
main catur?”
Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa bergelak. “Asal bertaruh minum arak baik, siapa takut
kepandaian caturmu?”
Pada saat itu, Hong Beng menarik lengan tangan adiknya dan diajak berlutut di depan Pok
Pok Sianjin. “Suhu, ini adalah adik teecu yang bernama Lili!”
Pok Pok Sianjin memandang kepada Lili, mengangguk-anggukkan kepalanya dan berkata,
“Seperti ibunya... seperti ibunya...!”
Sementara itu, Nyo Tiang Le memandang kepada Hong Beng dan berkata, “Inikah putera
Pendekar Bodoh? Pantas sekali! Jadi kau orang tua telah menerima kehormatan mendidik
putera Pendekar Bodoh? Satu kehormatan besar dan kau beruntung sekali Pok Pok Sianjin!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
70
Mendengar ini, Hong Beng cepat membantah, “Bukan Suhu yang mendapat kehormatan
besar dan keberuntungan, Locianpwe, akan tetapi adalah teecu yang mendapat karunia besar!”
Nyo Tiang Le mengangkat alisnya dengan heran dan kemudian tertawa dengan senang.
“Anak ini pandai membawa diri seperti ayahnya!”
Kemudian, Pengemis Setan itu menuturkan kepada Pok Pok Sianjin tentang pertemuannya
dengan sutenya Lo Sian dan menceritakan pula pengalaman Lili yang terculik oleh Bouw Hun
Ti. “Suteku sedang menuju ke timur untuk memberi kabar kepada Pendekar Bodoh.
Sementara itu, aku akan menanti di sini dan melatih anak ini, sambil menanti datangnya orang
tuanya yang tentu akan menjemputnya.”
Bukan main girangnya hati Hong Beng mendengar bahwa adiknya akan tinggal di situ untuk
beberapa lama dan ayah ibunya akan datang pula di situ. Ketika Nyo Tiang Le menceritakan
pula tentang riwayat Kam Seng, Pok Pok Sianjin merasa kasihan juga. “Biarpun bakatnya
kurang, namun ia cocok menjadi murid Suteku,” kata Nyo Tiang Le.
Kemudian dua orang tua itu lalu masuk ke dalam pondok dan bermain catur, sedangkan
Hong Beng bersama Lili dan Kam Seng lalu bermain-main di sekitar puncak Beng-san itu.
Kam Seng merasa kagum dan tunduk kepada Hong Beng yang selain berkepandaian tinggi
juga amat ramah kepadanya.
Semenjak hari itu, Lili tinggal di puncak Beng-san dan mendapat latihan ilmu silat dari Nyo
Tiang Le. Dasar otaknya terang dan ia memang telah memiliki dasar kepandaian yang
diajarkan oleh ayah ibunya semenjak ia masih kecil, maka sebentar saja ia telah mendapat
kemajuan yang amat cepat. Juga Kam Seng mulai menerima latihan-latihan atas petunjuk Lili
dan Hong Beng, karena Nyo Tiang Le hanya memberi petunjuk-petunjuk teorinya saja
sehingga anak yatim piatu itu berlatih di bawah pengawasan Hong Beng dan Lili! Hong Beng
sendiri dengan amat tekun dan rajinnya mempelajari ilmu silat dari Pok Pok Sianjin terutama
sekali ilmu silat tongkat yang menjadi keahlian Pok Pok Sianjin dan yang telah menjunjung
tinggi namanya sebagai ahli silat kelas satu dan tokoh terbesar dari dunia persilatan sebelah
barat!
Oleh karena mendapat didikan ilmu silat dari seorang ahli dan pula karena tinggal bersama
kakaknya, Lili sampai lupa bahwa ayah ibunya yang dinanti-nanti ternyata belum juga datang,
sungguhpun ia telah berada di atas puncak Beng-san sampai berbulan lamanya!
Mengapa sampai demikian lama Cin Hai dan Lin Lin tidak menyusul anaknya di Beng-san,
padahal sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, sepasang suami isteri pendekar ini
dalam perjalanannya kembali dari Kansu, hendak mampir dan menengok putera mereka di
puncak bukit itu?
Sesungguhnya, Pendekar Bodoh dan isterinya menemui peristiwa yang hebat dan yang
membuat mereka belum juga tiba di Beng-san!
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Cin Hai dan Lin Lin telah mendapat
keterangan dari orang-orang Turki kawan-kawan mendiang Yousuf, bahwa menurut dugaan
mereka, tak salah lagi pembunuh Yousuf dan penculik Lili adalah seorang peranakan
Tionghoa Turki yang bernama Bouw Hun Ti. Maka mereka lalu kembali ke timur, mengambil
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
71
jalan sebelah utara di sepanjang tapal batas Propinsi Kansu dan Mongolia dalam. Mereka
mengambil keputusan untuk sekalian mampir di Beng-san dan menengok putera mereka yang
berlatih silat dibawah pimpinan Pok Pok Sianjin.
Puncak Beng-san terletak di Pegunungan Lu-liang-san yang panjang maka kalau mereka
mengambil jalan di utara, mereka akan melewati Lu-tiang-san.
Pada suatu hari mereka tiba di sebuah kota yang bernama Po-kwan, dan kota ini berada di
tapal batas Mongolia dalam, di lembah Sungai Huang-ho yang belum begitu besar airnya.
Kota Po-kwan cukup ramai dan suami isteri ini selain melihat-lihat kota yang belum pernah
dikunjunginya ini, juga mereka bertanya-tanya kalau-kalau ada Bouw Hun Ti di daerah itu.
Akan tetapi, tak seorang pun melihat orang she Bouw yang dicari-carinya itu, maka dua hari
kemudian, Cin Hai dan Lin Lin keluar dari kota Po-kwan dan hendak melanjutkan perjalanan
melalui Sungai Huang-ho menuju ke Pegunungan Lu-liang-san. Akan tetapi, baru saja mereka
keluar dari kota Po-kwan, mereka bertemu dengan orang-orang yang tak pernah mereka
sangka-sangka akan bertemu di situ. Mereka sedang berjalan keluar dari kota untuk menuju
ke sungai yang berada di sebelah timur kota, dan tiba-tiba dari sebuah tikungan mereka
melihat seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun berjalan cepat sekali di depan mereka.
Lin Lin memandang tajam, karena dari belakang ia serasa sudah mengenal orang itu, akan
tetapi baru saja ia hendak bertanya kepada suaminya, Cin Hai telah mendahuluinya dan
berseru girang, “Lie-suheng!” Laki-laki itu terkejut mendengar seruan ini dan segera
menghentikan tindakan kakinya dan cepat membalikkan tubuh. Wajahnya nampak tua dan
muram sekali, sungguhpun ia masih kelihatan tampan dan gagah. Kumisnya sudah mulai
putih tak terurus dan jenggotnya juga panjang tak terpelihara. Pakaiannya tidak karuan,
bahkan ada beberapa bagian yang sudah robek-robek didiamkannya saja. Akan tetapi ketika
melihat Cin Hai dan Lin Lin, untuk sekejap matanya bersinar-sinar, dan Cin Hai bersama
isterinya yang berlari menghampiri orang itu hanya melihat betapa kegembiraan itu
berlangsung sebentar saja. Orang itu segera menundukkan muka dan menjadi muram kembali,
seakan-akan merasakan kesedihan yang luar biasa besarnya. “Sie-sute, kaukah? Dari manakah
kau dan Sumoi, kau juga baik-baik saja, bukan?” Suaranya rata dan tak berirama, tanda bahwa
ia sedang menderita kesedihan besar sekali. Cin Hai segera memegang tangan orang itu
setelah memberi hormat. “Lie-suheng, kau kenapakah?” “Lie-suheng, agaknya kau amat
bersedih? Dimanakah Enci Im Giok?” tanya pula Lin Lin. Orang itu memandang kepada
mereka ganti berganti kemudian tiba-tiba dari sepasang matanya keluarlah air mata yang
membanjir turun membasahi kedua pipinya. Bukan main kagetnya Cin Hai dan Lin Lin
melihat keadaan orang itu. Cin Hai segera menariknya dan mengajaknya duduk di bawah
pohon di pinggir jalan dan segera mendesak kepada orang itu untuk menceritakan apakah
sebenarnya yang menyusahkan hatinya. Siapakah orang ini? Para pembaca yang sudah
membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa orang ini bukan lain adalah Lie
Kong Sian, murid mendiang Bu Pun Su, guru Cin Hai dan Lin Lin. Karena ada hubungan
perguruan ini, maka Lie Kong Sian masih terhitung suheng (kakak seperguruan) dari Cin Hai
dan Lin Lin. Di dalam cerita Pendekar Bodoh diceritakan bahwa Lie Kong Sian ini telah
berjodoh dengan seorang pendekar wanita baju merah yang amat lihai dan yang bernama
Kiang Im Giok atau lebih terkenal lagi dengan nama julukannya Ang I Niocu (Nona Baju
Merah). Lie Kong Sian tinggal bersama isterinya di sebuah pulau, yaitu Pulau Pek-lek-to yang
terletak di dekat pantai laut Tiongkok sebelah timur. Semenjak Lie Kong Sian dan isterinya
mengunjungi Cin Hai dan Lin Lin untuk menyaksikan upacara pernikahan kedua adik
seperguruannya itu, sehingga kini baru sekali mereka saling bertemu. Hal itu terjadi kurang
lebih sepuluh tahun yang lalu, yaitu baru saja setahun mereka saling berpisah. Akan tetapi
semenjak itu, mereka tak pernah saling bertemu kembali. Bahkan ketika Cin Hai dan Lin Lin
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
72
mengunjungi Pulau Pek-le-to pada lima tahun yang lalu sambil mengajak kedua anak mereka,
pulau itu ternyata kosong dan tidak diketahui ke mana perginya Lie Kong Sian dan isterinya.
Agar lebih jelas bagi para pembaca yang belum membaca buku Pendekar Bodoh, baiknya
diterangkan kembali bahwa Ang I Niocu adalah seorang wanita yang luar biasa cantiknya,
dan boleh disamakan dengan kecantikan seorang bidadari dari kahyangan. Dalam usia tiga
puluh tahun lebih, yaitu pada saat ia menikah dengan Lie Kong Sian, ia masih nampak cantik
jelita dan muda seperti seorang dara berusia tujuh belas tahun saja. Hal ini bukan saja
memang pada dasarnya ia cantik jelita, akan tetapi sebagian besar adalah pengaruh semacam
telur mujijat, yakni telur Pek-tiauw (Rajawali Putih). Nona Baju Merah ini amat sayang akan
kecantikannya dan untuk menjaga ini ia tidak segan-segan untuk mencari telur burung
rajawali putih yang amat sukar didapatkannya. Karena khasiat telur inilah, maka ia selalu
nampak cantik dan muda selalu. Kecantikannya ini ditambah lagi dengan keahliannya
bermain silat yang luar biasa, yaitu ilmu sliat yang disebut juga Ilmu Silat Tari Bidadari,
sehingga kalau ia sudah mainkan ilmu pedangnya dengan ilmu silat ini, maka ia benar-benar
merupakan seorang bidadari yang sedang menari dengan indahnya! Tidak heran bahwa
banyak sekali hati pemuda-pemuda runtuh karena kecantikannya ini bahkan Cin Hai sendiri
pernah tergila-gila kepada Ang I Niocu (dituturkan dengan menarik sekali dalam
ceritaPendekar Bodoh ). Akan tetapi Ang I Niocu mempunyai watak yang amat keras dan
angkuh. Semua pinangan pemuda-pemuda yang gagah dan tampan ditolaknya belaka bahkan
diejeknya pemuda-pemuda itu sehingga banyak yang patah hati.
Kemudian ia bertemu dengan Lie Kong Sian yang menjatuhkan hatinya karena budi kebaikan
pemuda ini dan pula karena pemuda ini memiliki ilmu silat tinggi yang sanggup
mengalahkannya. Akhirnya mereka menikah dan hidup penuh kebahagiaan di atas Pulau Peklek-to yang merupakan sorga bagi mereka. Pulau ini amat subur dan juga indah sekali
pemandangannya. Dua tahun setelah mereka menikah, Ang I Niocu mengandung. Semenjak
mengandung, pendekar wanita ini merasa tak enak sekali tubuhnya dan sifatnya yang keras itu
kini timbul kembali, bahkan makin menghebat. Seringkali ia marah-marah besar kepada
suaminya hanya karena urusan kecil saja. Akan tetapi Lie Kong Sian yang amat mencinta
isterinya dan amat sabar itu, dapat menghiburnya dan selalu mengalah dalam segala hal.
Akhirnya terlahirlah seorang bayi laki-laki dan keduanya merasa amat berbahagia kembali.
Bersama dengan kelahiran itu lenyaplah semua sifat pemarah, akan tetapi tubuh pendekar
wanita itu masih saja seringkali merasa tidak enak sekali dan kepalanya pening. Perubahan
besar nampak terjadi pada dirinya, sungguhpun terjadi amat lambat dan perlahan, akan tetapi
tiga tahun kemudian, perubahan ini sudah menjadi sedemikian hebatnya. Rambut Ang I Niocu
yang tadinya hitam dan panjang berombak itu lambat laun menjadi putih dan penuh uban!
Kulit mukanya yang tadinya halus dan kemerah-merahan itu lambat laun menjadi keriputan
dan menghitam! Bukan main penderitaan batin yang dirasakannya, kini melihat
kecantikannva melenyap dengan perlahan akan tetapi tentu, bagaikan penyakit yang memakan
habis kecantikannya itu sekerat demi sekerat, hampir tak tertahankan olehnya. Tiap kali ia
melihat wajahnya pada bayangannya di dalam air, ia menangis tersedu-sedu dengan hati
hancur. Lie Kong Sian berdaya upaya menghiburnya, juga mengobatinya, akan tetapi
percuma belaka. “Isteriku,” katanya menghibur ketika isterinya menangis tersedu-sedu sambil
menarik-narik rambutnya yang telah menjadi putih dan banyak yang terlepas dari kulit
kepalanya, “betapapun juga, dan apa pun yang akan terjadi dengan kau, aku tetap mencintamu
dengan tulus ikhlas dan suci. Jangan kau bersedih, isteriku...” Akan tetapi kata-kata ini
bahkan menghancurkan hati Ang I Niocu. Dengan suara terputus-putus ia berkata, “Ah...
bagaimanakah ini...? Mengapa Thian mengutuk diriku begini hebat...? Aku baru berusia
hampir empat puluh, mengapa rambutku telah putih semua, kulitku menjadi rusak seperti ini?
Mana kecantikanku yang dulu...? Ah, aku malu, aku malu...!” Ia lalu menangis dengan amat
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
73
sedihnya. “Im Giok, jangan kau berkata demikian. Kecantikan hanya keindahan lahir belaka
dan kau tahu bahwa cintaku kepadamu bukan hanya berdasarkan kecantikanmu.” Akan tetapi
segala macam hiburan tak dapat memuaskan hati Ang I Niocu. Ia dan suaminya maklum
bahwa kecantikannya yang dipengaruhi oleh obat telur rajawali putih itu memang mempunyai
batas dan syarat yang berat. Syarat itu ialah apabila seorang yang menjadi cantik karena telur
itu melahirkan seorang anak, maka kecantikannya tidak saja akan lenyap, bahkan usianya
akan bertambah dengan cepat dan lipat ganda, sehingga dalam usia empat puluh tahun, ia
menjadi seorang yang usianya hampir delapan puluh tahun! Akhirnya, setelah tersiksa oleh
kesedihan sendiri sampai hampir gila, pada suatu pagi Lie Kong Sian mendapatkan isterinya
telah minggat dari pulau itu menggunakan sebuah sampan dan membawa serta anaknya!
“Suamiku yang baik,” demikian bunyi surat yang ditinggalkan oleh Ang I Niocu untuk Lie
Kong Siang “ampunilah dosaku yang amat besar kepadamu. Aku tidak kuat lagi menahan
derita sehebat ini, maka lebih baik aku keluar dari kehidupanmu, agar aku tidak menyeret kau
yang berbudi ke dalam jurang kehinaan. Biarlah aku pergi mengasingkan diri. Anak kita
kubawa dan sisa hidupku akan kugunakan untuk mendidik dan menurunkan ilmu silat
kepadanya agar ia menjadi seorang yang berbudi dan gagah. Selamat tinggal suamiku! Kalau
aku sudah mati, anak kita tentu akan mencari ayahnya untuk berbakti!” Bukan main kagetnya
hati Lie Kong Sian membaca surat peninggalan isterinya yang tercinta itu. Ia cepat menyusul
dan mengejar akan tetapi karena air tak meninggalkan bekas isterinya, ia mengejar ke lain
jurusan dan tidak dapat menemukan isteri dan anaknya. Ketika itu anaknya baru berusia tiga
tahun lebih. Hancurlah penghidupan Lie Kong Sian. Dunia terasa kosong dan hidup terasa
merupakan penderitaan dalam neraka. Ia lalu merantau dan mencari-cari jejak isterinya
sampai bertahun-tahun. Kalau dulu ia merupakan seorang yang amat tampan dan biarpun
sederhana akan tetapi selalu berpakaian pantas, sekarang ia telah berubah sama sekali. Ia
menjadi seorang pendiam, kadang-kadang seperti orang gila. Demikianlah keadaan Lie Kong
Sian yang secara kebetulan berjumpa dengan Cin Hai dan Lin Lin. Tadinya Lie Kong Sian
merasa segan untuk menceritakan penderitaannya, akan tetapi karena tidak ada orang lain di
dunia ini yang lebih pantas mendengar tentang penderitaannya itu kecuali Cin Hai, ia lalu
menceritakan semua itu sambil bercucuran air mata. Cin Hai dan Lin Lin merasa terharu
sekali mendengar hal ini. Dengan air mata berlinang Cin Hai menegur suhengnya, “Suheng,
ada terjadi hal seperti itu, mengapa Suheng tidak cepat-cepat datang ke Shaning dan memberi
tahu kepada kami agar kami dapat ikut mencari ke mana perginya Ang I Niocu?” Di dalam
lubuk hatinya, Cin Hai merasa amat sayang dan mencinta Ang I Niocu, sungguhpun cintanya
itu telah berubah menjadi cinta seorang adik kepada kakaknya, atau lebih dari itu hampir
seperti cinta seorang anak kepada ibunya.
Lin Lin merasa lebih terharu lagi. Ia amat mencinta Ang I Niocu yang pernah membelanya
tanpa mempedulikan keselamatan jiwa sendiri (baca Pendekar Bodoh), maka kini mendengar
malapetaka yang menimpa diri Ang I Niocu ia menangis terisak-isak tanpa dapat
mengeluarkan kata-kata sedikit pun!
Setelah puas menangis dan menumpahkan rasa sedih di dalam dada di tempat pertemuan itu,
Lie Kong Sian lalu bertanya mengapa kedua suami isteri itu berada di tempat itu.
Cin Hai lalu menuturkan tentang penculikan atas diri Lili puteri mereka dan pembunuhan
yang dilakukan oleh Bouw Hun Ti kepada Yousuf.
Mendengar ini, bukan main marahnya Lie Kong Sian dan sambil menghela napas berat ia
berkata, “Ah, mengapa selalu orang-orang yang tak berdosa menerima siksaan hidup?
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
74
Mengapa bahkan orang-orang yang selalu menjunjung kebaikan dan keadilan yang harus
menderita banyak susah?”
“Suheng, biarlah aku dan isteriku membantu usahamu mencari tempat sembunyinya Niocu
dan anakmu, dan aku akan membujuknya agar suka kembali kepadamu.”
Lie Kong Sian menghela napas. “Agaknya sukar sekali. Selain ia pandai menyembunyikan
diri, juga hatinya amat keras dan sekali ia telah mengambil keputusan, sukarlah untuk
mengubahnya. Akan tetapi, biarlah kita mengambil jalan masing-masing, Sute. Kau
membantuku mencari isteriku, dan kau percayalah, kalau sampai aku bertemu dengan orang
she Bouw itu, pasti kubalaskan sakit hati Yo-pekhu dan kurampas kembali puterimu.”
Cin Hai yang maklum akan adat dan sifat Ang I Niocu yang keras, diam-diam merasa bahwa
apabila dia yang membujuk, agaknya masih ada harapan, akan tetapi terhadap Lie Kong Sian
ia diam saja.
Mereka lalu berpisah dan suami isteri itu memandang Lie Kong Sian yang berjalan pergi
dengan muka tunduk itu. Bukan main terharu hati mereka dan Lin Lin menggunakan
saputangan untuk menahan isaknya ketika ia melihat suhengnya itu berjalan bagaikan mayat
hidup, lemah tak bertenaga dan limbung.
“Kasihan sekali Suheng...” kata Cin Hai sambil menghapus air mata yang berlinang di
pelupuk matanya.
Karena Cin Hai pernah mengadakan perjalanan di daerah utara bersama Ang I Niocu, yaitu
pada waktu terjadi perebutan Pulau Emas antara kerajaan pihak Turki dan pihak Mongol
(baca Pendekar Bodoh), maka Cin Hai mendapat dugaan bahwa Ang I Niocu tentu
menyembunyikan diri di Pegunungan Im-san atau Go-bi-san di utara. Oleh karena itu, ia
menunda maksudnya menuju ke Beng-san menengok puterinya dan sebaliknya ia bersama
isterinya lalu membelok ke utara dan menrari Ang I Niocu di daerah Mongol! Inilah sebabnya
maka sampai berbulan-bulan ia dan isterinya belum juga tiba di Beng-san di mana Lili dengan
aman telah belajar silat di bawah asuhan Mo-kai Nyo Tiang Le si Pengemis Setan yang lihai!
***
Lo Sian Sin-kai atau Si Pengemis Sakti dengan cepat melakukan perjalanan seorang diri
menuju ke Shaning di Propinsi An-hui untuk mencari Cin Hai dan mengabarkan tentang Lili
yang kini berada di puncak Gunung Beng-san.
Seperti biasa tiap kali mengadakan perantauan, Pengemis Sakti ini tiada hentinya mengulur
tangan memberi pertolongan kepada orang-orang yang melarat dan tertindas sehingga
namanya makin terkenal sebagai seorang pendekar budiman.
Setelah tiba di Shaning, dengan amat mudahnya ia mendapatkan rumah Ciri Hai siapakah
orangnya di Shaning yang tidak mengenal nama Pendekar Bodoh? Akan tetapi, alangkah
kecewa dan kagetnya ketika melihat bahwa rumah dari Pendekar Bodoh itu tertutup, bahkan
masih ada kain putih tergantung di depan pintu, tanda bahwa rumah belum lama ini menderita
kematian seorang keluarga dekat. Lo Sian segera mencari keterangan kepada orang-orang di
situ dan bukan main marah dan kecewanya ketika mendengar bahwa ayah angkat Nyonya Sie
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
75
telah terbunuh oleh seorang peranakan Turki, dan bahwa selain melakukan pembunuhan yang
kejam, penjahat itu pun menculik puteri dari Pendekar Bodoh.
Sampai lama Lo Sian tertegun mendengar ini. Tak disangkanya bahwa orang brewok yang
menculik Lili bahkan telah membunuh pula ayah angkat dari ibu anak itu!
“Bangsat besar Bouw Hun Ti,” bisiknya gemas sambil mengertakkan giginya, “kau benarbenar mencari mampus berani memusuhi keluarga Pendekar Bodoh!”
Lo Sian lalu bertanya kepada orang yang memberi keterangan kepadanya ke mana perginya
Pendekar Bodoh dan isterinya. Ketika mendapat jawaban bahwa kedua suami isteri pendekar
itu pergi mengejar dan mencari si penculik dan pembunuh, Lo Sian lalu cepat-cepat
meninggalkan kota Shaning setelah memberi sesampul surat kepada tetangga dekat rumah Cin
Hal itu dengan pesanan bahwa apabila pendekar besar itu pulang, suratnya agar supaya
diberikannya. Di dalam surat itu ia menulis bahwa Lili telah tertolong dan kini berada di
puncak Beng-san bersama Mo-kai Nyo Tiang Le yang hendak mengunjungi Pok Pok Sianjin.
Kemudian ia lalu pergi keluar dari kota dan menuju ke Bukit Beng-san untuk memberi
laporan kepada suhengnya, dan juga untuk melanjutkan melatih kedua orang muridnya yaitu
Lili dan Kam Seng. Tentu saja ia tidak berani lagi menganggap Lili sebagai muridnya, karena
setelah kedua orang tua anak itu menjemput dan membawanya pulang, sudah tentu jauh lebih
baik kalau Lili mendapat pelajaran dari ayah ibunya sendiri yang memiliki kepandaian yang
jauh lebih tinggi dari padanya.
Pada suatu hari, dalam perjalanannya menuju ke Beng-san, ia tiba di kota Li-coan dan ketika
ia lewat di depan sebuah rumah makan, bau arak yang amat sedap menarik hatinya dan
menimbulkan seleranya yang amat kuat akan arak wangi. Ia lalu masuk ke dalam rumah
makan itu dan memesan seguci arak yang paling baik. Pada pelayan yang memandangnya
dengan mata curiga, ia memperlihatkan sepotong uang emas yang kiranya cukup untuk
membayar harga lima guci arak!
Pelayan itu memandang dengan mata terbelalak dan sambil pergi untuk mengambilkan arak
pesanan Lo Sian, ia menggerutu,
“Sungguh aneh sekali dunia ini! Aku yang bekerja keras siang malam tak kenal lelah, belum
pernah mempunyai sekeping emas murni! Akan tetapi, hari ini aku melihat seorang setengah
gila mempunyai banyak uang emas dan seorang pengemis berbaju tambalan memperlihatkan
sepotong emas besar! Aneh, aneh... dunia memang tidak adil!”
Lo Sian tersenyum seorang diri. Biarpun pelayan itu bicara dengan perlahan akan tetapi
telinga Lo Sian yang tajam dapat mendengar ucapan ini dan diam-diam ia membenarkan
keluh kesah pelayan itu. Memang kalau dipikir-pikir sungguh mengherankan. Orang-orang
yang bekerja, makin berat pekerjaannya, makin kecillah penghasilannya. Lihat saja para
pembesar tinggi yang kerjanya hanya naik turun kereta, naik turun kursi kebesaran, menjual
lagak di mana-mana, membentak-bentak rakyat dan cukup memberi cap kebesarannya saja,
hidupnya mewah dan penghasilannya berlebihan sungguhpun penghasilannya itu didapat
dengan jalan yang tidak halal!
Ketika pelayan itu datang mengantar arak yang dipesannya, tiba-tiba terdengar suara dari
sudut ruang rumah makan itu yang membentak si pelayan.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
76
“Hai, kau boleh menggerutu seorang diri, akan tetapi, jangan kaubawa-bawa aku pula! Aku
mempunyai banyak emas bukan dengan jalan mencuri atau merampok, maka tutuplah
mulutmu!”
Lo Sian terkejut. Orang itu duduknya cukup jauh dari tempat pelayan tadi menggerutu, maka
kalau orang dapat mendengar gerutuan si pelayan, dapat diduga bahwa orang itu memiliki
pendengaran yang luar biasa tajamnya! Ia menengok dan memperhatikan orang itu. Ternyata
bahwa orang itu bertubuh tegap, berwajah gagah sekali dan sepasang matanya berpengaruh,
membuat orang tidak berani bertemu pandang terlalu lama dengan dia. Akan tetapi,
keadaannya memang patut disebut kurang beres ingatan karena selain pakaiannya tidak
karuan macamnya, juga orang itu membiarkan rambut kepalanya bergantungan di depan
matanya. Kumis dan jenggotnya menjungat ke sana kemari tanpa terpelihara sedikit pun juga
dan wajahnya muram dan gelap. Juga orang ini telah memesan arak wangi serta meminumnya
bukan melalui cawan seperti orang biasa, melainkan menenggaknya langsung dari mulut guci
yang besar! Bahkan di atas mejanya telah ada sebuah guci yang kosong dan guci ke dua telah
diminum setengahnya.
Sekali pandang saja, tahulah Lo Sian bahwa orang itu tentu seorang yang pandai, akan tetapi
ia belum pernah melihat orang ini sungguhpun pengalaman Lo Sian cukup banyak di
kalangan kang-ouw. Ia tidak tahu apakah orang ini termasuk golongan pendekar perantau
seperti dia sendiri ataukah termasuk tokoh dari golongan hek-to (golongan hitam dan
penjahat), maka ia tidak berani sembarangan menegur dan berkenalan. Melihat pula sikap
yang keras dan pemarah dari orang itu dan wajahnya yang muram, Lo Sian mengira bahwa
orang itu tentulah seorang tokoh liok-lim (jago rimba hijau) yang ganas dan kejam. Maka
setelah menghabiskan araknya, ia lalu membayar dan hendak keluar dari rumah makan itu.
Akan tetapi, baru saja ia berdiri dan hendak keluar, tiba-tiba ia menjadi pucat karena dari luar
masuk dua orang yang bukan lain adalah Bouw Hun Ti dan seorang setengah tua yang
memakai ikat kepala lebar! Sebaliknya, ketika Bouw Hun Ti melihat Lo Sian, ia tertawa
bergelak dan berkata kepada kawannya itu,
“Ha-ha-ha, Susiok. Lihatlah, dicari ke ujung langit tak bersua, kalau tidak dicari si anjing she
Lo menyerahkan diri!”
Sementara itu, Lo Sian maklum orang she Bouw tentu takkan melepaskannya dan terpaksa ia
harus melawan mati-matian maka ia lalu mencabut pedangnya dan berkata,
“Bouw Hun Ti, kau manusia kejam dan hina-dina! Baru sekarang aku tahu bahwa selain
menculik puteri Pendekar Bodoh secara pengecut sekali, kau pun membunuh Yousuf dengan
kejam dan tak kenal malu!”
“Ha-ha-ha, Lo Sian pengemis jembel! Bagaimana orang macam kau bisa mengatakan bahwa
aku pengecut dan tak kenal malu? Coba terangkan apa sebabnya kau berani berkata
demikian.”
“Hemm, kau melakukan kekejaman itu sewaktu Pendekar Bodoh dan isterinya tidak berada
di rumah! Apakah itu boleh disebut kelakuan seorang yang gagah? Kau pengecut!”
Merahlah wajah Bouw Hun Ti dan dengan amat marah ia membentak,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
77
“Manusia jembel yang akan mampus! Kau telah merampas anak perempuan itu dengan cara
yang lebih pengecut lagi. Tempo hari kalau kau tidak mengandalkan bantuan Mo-kai Nyo
Tiang Le suhengmu yang gila itu, kau telah mampus di tanganku! Nah, bersedialah untuk
mampus!” Sambil berkata demikian, Bouw Hun Ti mencabut goloknya dan bagaikan seekor
harimau kelaparan ia menyerang dengan hebat sambil menendang meja yang menghadang di
depannya sehingga meja itu terbang dan menimpa meja-meja lain.
Lo Sian berlaku waspada dan cepat menangkis, sehingga sebentar saja kedua orang itu
bertempur hebat sambil menendang meja bangku untuk mencari ruang luas. Kali ini Lo Sian
berlaku hati-hati sekali. Ia tahu bahwa kepandaian orang she Bouw ini lebih tinggi daripada
kepandaiannya sendiri dan bahwa akhirnya ia takkan dapat menang apabila pertempuran itu
dilanjutkan. Apalagi menurut pendengarannya tadi, Bouw Hun Ti menyebut susiok (paman
guru) kepada orang yang berikat kepala lebar itu, maka dapat dibayangkan pula betapa tinggi
kepandaian orang itu. Jalan keluar tidak ada, maka tidak ada lain jalan bagi Lo Sian
melainkan melawan mati-matian dan takkan menyerah kalah begitu saja.
“He, pengemis jembel!” tiba-tiba orang yang disebut susiok oleh Bouw Hun Ti itu berkata.
“Katakan saja di mana adanya anak yang kauculik itu. Bouw Hun Ti, biar dia memberi
pengakuan, baru kita ampunkan jiwa anjingnya!”
Akan tetapi, sebagai seorang gagah, tentu saja Lo Sian tidak sudi bersikap lemah. Lebih baik
mati daripada menyerah dan membuat pengakuan yang berarti merendahkan nama
kehormatan sendiri, demikianlah pendirian tiap orang gagah.
“Keparat!” serunya sambil menangkis serangan golok Bouw Hun Ti yang menyambar cepat.
“Kalau hendak mengeroyok, majulah saja. Aku Sin-kai Lo Sian bukanlah orang yang takut
mati!”
“Bedebah!” kawan Bouw Hun Ti itu berseru marah, “Hun Ti, jangan memberi hati kepada
manusia rendah ini!” Sambil berkata demikian, ia pun melangkah maju hendak mengirim
serangan dengan tangan kosong.
Akan tetapi, pada saat itu, dari ujung ruangan itu menyambar sebatang tali sutera hitam yang
meluncur bagaikan seekor ular hidup dan tahu-tahu golok Bouw Hun Ti kena dilibat oleh tali
itu. Ketika tali itu dibetot keras, Bouw Hun Ti berteriak kaget karena tenaga betotan tali itu
luar biasa sekali kuatnya sehingga terpaksa ia melepaskan goloknya!
Pada saat itu, susiok dari Bouw Hun Ti yang bukan lain adalah Lu Tong Kui atau sute Ban
Sai Cinjin yang pernah menyerbu ke Beng-san untuk mencoba kepandaian Pok Pok Sianjin
kemudian dikalahkan oleh Nyo Tiang Le, telah melepaskan pukulan ke arah Lo Sian.
Sungguhpun pukulan itu dilakukan dari tempat yang jauhnya lebih dari setombak, akan tetapi
Lo Sian sampai terhuyung ke belakang, terdorong oleh sambaran angin yang luar biasa
kuatnya! Lo Sian terkejut sekali dan cepat mengerahkan tenaga pada kedua kakinya untuk
menahan keseimbangan tubuhnya.
Melihat betapa golok Bouw Hun Ti dapat terlepas dengan amat mudah oleh tali sutera yang
kecil, Lu Tong Kui menjadi terkejut dan juga marah. Ia cepat menengok dan ternyata yang
melepas tali sutera itu adalah seorang yang pakaiannya tidak karuan dan yang kini berdiri
dengan mata memancarkan cahaya berapi. Adapun Lo Sian yang melihat penolongnya,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
78
menjadi terkejut dan juga girang karena yang menolongnya itu adalah orang yang disangka
gila tadi!
“Bouw Hun Ti!” terdengar orang itu berkata, suaranya tenang akan tetapi seperti juga
pandang matanya, suara itu amat berpengaruh, “kebetulan sekali kita bertemu di sini.
Memang aku sedang mencari-cari kau dan hendak membunuhmu!” Setelah berkata demikian,
kembali ia menggerakkan tangan kanannya dan sutera hitam yang panjang itu meluncur
bagaikan cambuk dan mengirim serangan totokan hebat ke arah jalan darah di leher Bouw
Hun Ti. Orang she Bouw ini cepat mengelak, akan tetapi bagaikan bermata dan hidup, ujung
sutera hitam itu meluncur dan mengejar dan masih saja mengancam jalan darahnya. Bouw
Hun Ti menjadi pucat, terpaksa menangkis dengan tangannya dan ia berteriak kaget ketika
merasa betapa tangannya seakan-akan beradu dengan mata pedang yang taiam. Ia cepat
menarik kembali tangannya dan sutera hitam itu meluncur terus ke arah lehernya!
Pada saat yang amat berbahaya bagi Bouw Hun Ti itu, Lu Tong Kui tidak tinggal diam. Ia
berseru keras dan sambil mencabut pedangnya ia melompat dan membabat ke arah sutera
hitam itu. Sutera hitam itu bergerak mengelak dan tidak sampai terbabat oleh pedangnya, akan
tetapi Bouw Hun Ti terbebas dari bahaya maut. Sesungguhnya kalau sampai sutera hitam itu
menotok jalan darah pada lehernya, maka lehernya akan pecah dan ia akan binasa pada saat
itu juga!
“Eh, sahabat, siapakah kau? Mengapa kau memusuhi Bouw Hun Ti!” Lo Tong Kui bertanya
sambil melintangkan pedangnya pada dada.
Orang itu tersenyum mengejek. “Lu Tong Kui, kau tentu tidak mengenalku, akan tetapi aku
tahu bahwa kau dan murid keponakanmu ini adalah orang-orang jahat yang patut dikirim ke
neraka!”
“Bangsat!” Lu Tong Kui memaki marah. “Apa kaukira aku takut kepadamu?”
“Majulah,” orang itu berkata dengan suara yang masih tenang, “setelah berhadapan dengan
Lie Kong Sian, tak perlu menjual banyak lagak lagi!”
Mendengar nama ini, tidak saja Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti yang merasa akan tetapi Lo
Sian juga tertegun dan memandang dengan penuh perhatian dan kagum. Akan tetapi ia merasa
ragu-ragu karena sepanjang pendengarannya, pendekar yang bernama Lie Kong Sian dan
yang menjadi suami dari pendekar wanita Ang I Niocu yang amat terkenal, kabarnya
berwajah tampan dan gagah. Mengapa orang ini seperti orang gila dan berwajah muram?
Nama Ang I Niocu sudah amat terkenal dan tak seorang pun di kalangan kang-ouw yang
belum mendengar namanya sungguhpun jarang yang pernah bertemu dengan pendekar wanita
itu. Kalau Ang I Niocu yang tersohor gagah perkasa itu kabarnya masih kalah oleh suaminya
yang bernama Lie Kong Sian, maka tentu saja nama ini menggetarkan hati Lu Tong Kui dan
Bouw Hun Ti! Apalagi Bouw Hun Ti, karena sebagai suheng dari Pendekar Bodoh yang telah
diganggunya, dibunuh mertuanya dan diculik puterinya, tentu saja Lie Kong Sian takkan
memberi ampun kepadanya! Lo Sian menjadi girang sekali.
“Hemm, kaukah yang bernama Lie Kong Sian, pendekar dari Pulau Pek-le-to itu? Tak
kusangka bahwa orangnya hanya sebegini saja!” Lu Tong Kui mengejek untuk memperbesar
semangat sendiri, kemudian tanpa menanti jawaban ia menyerang dengan pedangnya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
79
Lie Kong Sian cepat mengelak sambil mencabut keluar pedangnya pula. Pedang ini bersinar
gemilang dan amat tajam, karena ini adalah pedang Cian-hong-kiam yang dulu ia terima dari
isterinya sebagai tanda perjodohan ketika belum menikah. Dengan gerakan yang luar biasa
cepat dan kuatnya, Lie Kong Sian membalas dengan serangah hebat sehingga Lu Tong Kui
harus mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian agar jangan sampai dirobohkan dengan
mudah.
Bouw Hun Ti yang melihat susioknya terdesak, lalu mengambil kembali goloknya yang tadi
terlepas dari pegangan, lalu membantu susioknya itu mengeroyok Lie Kong Sian.
Lo Sian tentu saja tidak mau mendiamkan hal ini dan ia pun bergerak maju sambil berseru,
“Bangsat pengecut, jangan main keroyokan!”
Akan tetapi Lie Kong Sian lalu berkata kepadanya,
“Sahabat, jangan kau turut campur! Biarkan aku sendiri memberi hajaran kepada penculik
rendah ini. Yang diculik adalah keponakanku, maka aku yang berhak menghajar!”
Mendengar suara ini, Lo Sian melangkah mundur lagi karena ia tidak mau menyinggung
perasaan pendekar gagah itu. Pula, ia melihat betapa Lie Kong Sian biarpun dikeroyok dua,
tetapi masih dapat mendesak kedua lawannya, dan maklum pula bahwa kepandaiannya sendiri
masih kurang cukup kuat sehingga bantuannya bahkan hanya merupakah gangguan saja bagi
pergerakan Lie Kong Sian.
Memang ilmu pedang dari Lie Kong Sian bukan main hebatnya. Pendekar ini adalah murid
dari mendiang Han Le Sianjin yang menjadi sute dari Bu Pun Su, maka tentu saja ilmu
kepandaiannya sudah mencapai tingkat tinggi sekali. Biarpun Lu Tong Kui dan Bouw Hun Ti
juga bukan sembarang orang dan kepandaian mereka sudah termasuk tinggi dan lihai, namun
menghadapi Lie Kong Sian, mereka tidak banyak berdaya dan setelah bertempur kurang lebih
tiga puluh jurus, maklumlah mereka bahwa kalau dilanjutkan mereka tentu akan roboh di
tangan pendekar besar dari Pulau Pek-le-to ini!
Lu Tong Kui adalah seorang yang licik dan juga pandai melihat gelagat. Daripada roboh di
tangan Lie Kong Sian, lebih baik melarikan diri saja, pikirnya. Ia tak usah merasa malu
melakukan hal ini, karena kalah dalam pertandingan melawan seorang gagah perkasa seperti
Lie Kong Sian, bukanlah merupakan hal yang amat memalukan.
“Mari kita pergi!” katanya dengan cepat sambil menyerang hebat ke arah kedua kaki Lie
Kong Sian.
Bouw Hun Ti memang sudah mengeluarkan keringat dingin karena takut dan gelisahnya, kini
mendengar susioknya yang dibarengi dengan serangan hebat sehingga Lie Kong Sian tidak
dapat menekannya, ia lalu melompat dari rumah makan.
“Bouw Hun Ti, jangan lari sebelum lehermu kupatahkan!” seru Lie Kong Sian menyampok
pedang Lu Tong Kui dan tubuhnya berkelebat keluar mengejar Bouw Hun Ti.
Karena gerak Lie Kong Sian gesit sekali dan gin-kangnya sudah mencapai tingkat tinggi,
maka dengan dua kali lompatan saja ia telah dapat menyusul dan mengirim bacokan dengan
pedangnya dari belakang. Bouw Hun Ti bukanlah orang lemah dan mendengar suara angin
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
80
pedang dari belakang, ia cepat membalikkan tubuh dan menangkis pedang itu dengan
goloknya sambil mengerahkan seluruh tenaga lwee-kangnya.
“Trang!!” Goloknya beradu dengan pedang sedemikian kerasnya sehingga telapak tangannya
serasa akan pecah kulitnya. Ketika ia melihat, ternyata bahwa goloknya telah terbabat putus
menjadi dua oleh pedang lawannya! Dan pada saat itu, pedang Lie Kong Sian menyambar
dengan cepatnya menusuk dadanya. Bouw Hun Ti dengan suara kaget melempar tubuh ke
belakang, akan tetapi ujung pedang itu masih menyerempet pundaknya dan melukai kulit
pundak sehingga pecah dan darah membasahi pakaiannya! Ia terhuyung ke belakang dan tak
tertahan lagi tubuhnya jatuh terjengkang!
Untung baginya, ketika Lie Kong Sian hendak menambahkan dengan tusukan maut datang
Lu Tong Kui yang menyerang Lie Kong Sian dari belakang sehingga pendekar Pulau Pek-leto itu terpaksa membalikkan tubuh untuk menghadapi Lu Tong Kui.
Bouw Hun Ti merangkak bangun dan melihat musuh tangguh itu telah ditahan oleh
susioknya, ia lalu melarikan diri secepatnya pergi dari tempat itu!
“Bouw Huii Ti, bangsat rendah, jangan lari!” seru Lie Kong Sian yang hendak mengejar
kembali, akan tetapi Lu Tong Kui menyerangnya sedemikian rupa sehingga ia tak dapat
melanjutkan niatnya mengejar musuh itu.
“Orang she Lu, jangan kau terlalu mendesak!” kata Lie Kong Sian. “Aku tidak mempunyai
permusuhan denganmu dan tidak bermaksud membunuhmu. Yang hendak kubikin mampus
hanya bangsat rendah Bouw Hun Ti itu. Minggirlah!”
Akan tetapi Lu Tong Kui tidak menurut, bahkan mendesak makin hebat.
“Kalau begitu, agaknya kau pun telah bosan hidup!” teriak Lie Kong Sian marah dan
pedangnya segera diputar cepat sekali. Gerakannya berubah dan kini pedangnya merupakan
seekor naga yang ganas sekali, menyambar-nyambar tak mengenal ampun. Beberapa belas
jurus Lu Tong Kui masih dapat mempertahankan diri, akan tetapi akhirnya ia berteriak ngeri
dan roboh tak bernyawa pula karena dadanya telah tertembus oleh pedang di tangan Lie Kong
Sian! Pendekar dari Pulau Pek-le-to ini untuk sesaat berdiri kesima dan merasa sedikit
menyesal telah membunuh orang ini yang sesungguhnya di luar kehendaknya semula.
Kemudian ia teringat kepada Bouw Hun Ti, lalu mengejar secepatnya ke arah orang she Bouw
itu tadi melarikan diri.
Lo Sian yang mengejar sampai di situ merasa kagum sekali dan berseru,
“Lie Kong Sian, Tai-hiap...! Tunggu dulu! Lili sudah berada di tangan yang aman sentausa!”
Akan tetapi Lie Kong Sian telah pergi jauh dan Lo Sian tidak dapat menyusul kecepatan lari
pendekar itu sehingga Si Pengemis Sakti ini hanya menggeleng-geleng kepala dan kemudian
pergi dari situ, tidak mengalami kesibukan karena terjadinya pembunuhan ini.
“Bouw Hun Ti telah berada di tempat ini dengan susioknya, maka tentu ia melarikan diri
menuju ke tempat tinggal gurunya yang tak jauh dari sini,” pikir Lo Sian dan ia lalu berlari
cepat menuju ke dusun Tong-si-bun, tempat tinggal Ban Sai Cinjin.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
81
Hari telah sore ketika ia tiba di dusun itu dan melihat betapa rumah Ban Sai Cinjin sunyi saja,
ia lalu menuju ke hutan di mana ia bersama Lili menolong Thio Kam Seng anak yatim piatu
itu dari siksaan seorang hwesio kecil yang mendiami kuil megah dari Ban Sai Cinjin.
Dugaannya memang tepat sekali. Ketika ia tiba di dekat kuil itu, ia menyaksikan pertempuran
yang hebat sekali tengah berlangsung antara Lie Kong Sian dan Ban Sai Cinjin sendiri!
Seperti juga dulu ia mengintai dari balik tetumbuhan yang rindang, menonton pertempuran
luar biasa dahsyatnya itu. Hwesio kecil yang kejam dulu itu berdiri tak jauh dari tempat
pertempuran dan di dekatnya berdiri pula Bouw Hun Ti yang bertolak pinggang. Tak jauh dari
tempat itu berdiri pula seorang yang melihat dari keadaan pakaiannya, adalah seorang dusun
yang kebetulan lewat di situ telah menonton pertempuran dengan mata terbelalak penuh
kegelisahan dan ketakutan. Orang dusun ini rupanya masih muda.
Lie Kong Sian memang telah mendapatkan jejak musuhnya dan mengejar terus sampai ke
tempat itu. Ia masih melihat berkelebatnya bayangan Bouw Hun Ti memasuki kuil yang amat
mentereng di dalam hutan itu. Lie Kong Sian ragu-ragu untuk masuk ke dalam kuil, karena ia
adalah seorang yang menghargai peraturan dan kesopanan. Tak berani ia secara sembarangan
memasuki kuil tanpa seijin kepala hwesio yang menguasai kelenteng. Maka ia lalu berseru
keras,
“Bouw Hun Ti manusia jahat! Jangan kau mengotori kelenteng suci dengan telapak kakimu
yang hitam! Keluarlah untuk menerima kematian secara laki-laki!”
Beberapa kali Lie Kong Sian berteriak-teriak dari luar kuil dan tak lama kemudian, dari
dalam kuil itu keluarlah seorang gemuk pendek yang sudah tua akan tetapi wajahnya masih
kemerah-merahan tanda bahwa ia sehat sekali. Pakaiannya amat mengherankan karena
mewahnya dan rambutnya yang sudah putih itu disisir rapi dan dikuncir ke belakang. Di luar
pakaiannya yang terbuat daripada sutera halus dan mahal itu, ia mengenakan sebuah baju luar
terbuat daripada bulu yang amat halus dan mahal. Sepatunya juga baru dan mengkilat dan
pada tangan kanannya ia memegang sebatang huncwe (pipa tembakau) yang panjang. Kepala
huncwe itu masih mengepulkan asap tembakau yang berbau harum, tanda bahwa tembakau
yang diisapnya adalah tembakau yang mahal.
Lie Kong Sian tertegun. Ia belum pernah bertemu dengan orang ini, dan melihat potongan
tubuhnya dan huncwe yang luar biasa itu, ia menduga bahwa orang ini tentulah Si Huncwe
Maut yang terkenal pula dengan sebutan Ban Sai Cinjin. Akan tetapi mengapa Ban Sai Cinjin
yang disohotkan sebagai seorang pemeluk kebatinan kelihatan begini pesolek? Maka Lie
Kong Sian merasa ragu-ragu dan hanya memandang dengan mata menyinarkan cahaya tajam.
Sebaliknya, kakek yang sebenarnya memang Ban Sai Cinjin dengan tenang keluar dari kuil
diikuti oleh seorang hwesio kecil berkepala gundul dan bermata liar, lalu ia menjura kepada
Lie Kong Sian dan berkata,
“Selamat datang di kuilku, Pek-le-to Tai-hiap (Pendekar Besar dari Pulau Pek-le.-to)!
Sungguh satu kehormatan besar sekali mendapat kunjungan seorang gagah seperti kau. Hanya
anehnya, sepanjang pendengaranku, Lie Kong Sian adalah pendekar besar yang penyabar dan
tenang, akan tetapi mengapa sekarang ia mengunjungi sebuah kuil dengan pedang di tangan
dan iblis maut membayang pada mukanya?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
82
Ucapan ini sungguhpun cukup pantas dan merendah, akan tetapi mengandung ejekan,
terutama sekali tekanan kata-katanya.
Lie Kong Sian juga menjura sebagai balas penghormatan, lalu bertanya,
“Kalau tidak salah dugaanku, Lo-enghiong (Orang Tua Gagah) tentu yang disebut Ban Sai
Cinjin si Huncwe Maut. Betulkah dugaanku ini?”
Ban Sai Cinjin tertawa dengan suara ketawanya yang aneh.
“Hehe, hehe, hehe, he-he-he, ha-ha-ha!” Akan tetapi ia tidak berkata sesuatu, hanya dengan
amat tenangnya lalu mengetuk-ngetuk keluar abu tembakau dari kepala pipanya kemudian
dengan masih tenang seakan-akan sedang menikmati waktu senggang seorang diri, ia
membuka kantong tembakau yang tergantung pada pipa itu, mengeluarkan tembakau warna
hitam yang dijemputnya dengan ibu jari, menutup kantong itu kembali dan
menggantungkannya lagi pada pipanya. Dengan mata meram-melek ia menggelintir-gelintir
tembakau itu di ibu jari dan telunjuk tangan kiri, lalu dimasukkannya ke dalam mulut huncwe
tempat tembakau.
Setelah itu, barulah ia memandang kepada Lie Kong Sian yang menjadi gemas juga melihat
sikap yang angkuh dan memandang rendah ini. “Kau menduga tepat. Aku telah kenal dengan
mendiang gurumu, Han Le Sianjin! Lie Kong Sian, apakah keperluanmu maka datang
mengunjungi kuilku dengan pedang di tangan?”
Lie Kong Sian adalah seorang pendekar yang jujur, tabah dan tidak suka menyembunyikan
perbuatannya sendiri. Ia tahu bahwa Lu Tong Kui yang terbunuh olehnya tadi adalah sute dari
Ban Sai Cinjin, maka tak perlu kiranya ia menyembunyikan permusuhannya dengan Bouw
Hun Ti dan pembunuhannya terhadap Lu Tong Kui tadi, katanya,
“Ban Sai Cinjin, ketahuilah aku mengejar muridmu Bouw Hun Ti dan tadi kulihat ia
bersembunyi di tempat ini.”
“Hemm, memang ada muridku Bouw Hun Ti di ruang dalam, akan tetapi mengapakah kau
mengejar-ngeiarnya dengan pedang di tangan?”
“Muridmu telah melakukan perbuatan yang jahat! Dia tidak saja membunuh Yousuf yang
menjadi ayah angkat Nyonya Sie Cin Hai, akan tetapi juga ia telah menculik puteri dari
Pendekar Bodoh itu. Kau tahu bahwa aku adalah Suheng dari Pendekar Bodoh, maka
mendengar kekejaman ini, tentu saja aku tidak tinggal diam dan berusaha membalas dendam.
Oleh karena itu, perlu pula kau ketahui untuk kaupertimbangkan, bahwa ketika aku mengejar
muridmu tadi, sutemu Lu Tong Kui menghalangiku. Sudah kukatakan bahwa aku tidak
memusuhinya, akan tetapi ia mendesak dan menyerang sehingga akhirnya ia tewas di ujung
pedangku!”
Hampir meledak rasa dada Ban Sai Cinjin mendengar ini, akan tetapi perasaannya ini sama
sekali tidak nampak pada wajahnya yang masih saja tersenyum-senyum mengejek. Akan
tetapi, jari-jari tangannya yang masih memasuk-masukkan tembakau pada kepala pipa itu
gemetar sedikit tanda bahwa dadanya bergelora karena marah.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
83
“Hemm, hemm, jadi kau telah membunuh Suteku pula? Lie Kong Sian! Agaknya kau
mengandalkan kepandaianmu untuk berbuat sesukamu terhadap murid dan Suteku. Kau
berlaku sebagai hakim sendiri untuk menghukum mereka. Apakah kau sama sekali sudah tak
memandang mukaku lagi?”
“Ban Sai Cinjin, harap kau orang tua suka mempertimbangkan baik-baik dan menggunakan
cengli (aturan). Muridmu telah melakukan pembunuhan terhadap diri Yousuf dan menculik
pula puteri Suteku, berarti bahwa ia sengaja memusuhi Pendekar Bodoh. Adapun sutemu Lu
Tong Kui itu, dia mencari kematian sendiri karena dialah yang mendesakku dan menghalanghalangiku mengejar muridmu yang jahat.”
“Enak saja kau bicara!” tiba-tiba Ban Sai Cinjin tak dapat menahan sabarnya lagi, matanya
bersinar-sinar, dadanya berombak, akan tetapi ia masih sempat menyalakan api untuk
membakar tembakau di kepala pipanya. “Bouw Hun Ti membunuh Yousuf adalah urusannya
sendiri. Mereka sama-sama dari Turki dan urusan antara mereka tidak ada hubungannya
dengan kita! Adapun tentang penculikan puteri Pendekar Bodoh, belum tentu kalau muridku
bermaksud buruk. Buktinya, manakah anak yang diculiknya? Kau hanya menuduh secara
membuta saja. Sekarang tak perlu kau banyak cakap, paling perlu kau harus membayar
hutangmu dan membalas kematian Suteku!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin
menyedot pipanya dan terciumlah bau asap yang amat keras memusingkan kepala.
“Bagus!” Lie Kong Sian berseru marah. “Kau hendak membela yang jahat? Majulah, jangan
kira aku takut kepadamu!” Lie Kong Sian yang sedang menderita kesedihan hati karena
perginya isteri dan anaknya itu memang berubah adatnya menjadi keras dan mudah marah.
Keberaniannya bertambah-tambah karena ia tidak takut mati lagi setelah hidupnya mengalami
kegagalan dan kepahitan.
“Manusia sombong! Gurumu sendiri belum tentu berani bersikap sesombong ini di
hadapanku. Nah, kau mampuslah!”
Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin menyemburkan asap hitam dari mulutnya.
Semburan ini bukanlah semburan biasa akan tetapi yang dilakukan dengan tenaga khi-kang
sepenuhnya sehingga asap hitam itu menyambar cepat ke arah muka Lie Kong Sian! Pendekar
ini mengelak cepat karena tahu akan lihainya asap ini.
“Iblis tua, kau tak malu menggunakan kecurangan?” Lie Kong Sian membentak marah dan
menyerang dengan pedangnya, akan tetapi ketika Ban Sai Cinjin dengan huncwenya, diamdiam ia merasa terkejut sekali karena ternyata bahwa tenaga lwee-kang dari orang tua pendek
itu benar-benar hebat sekali dan masih lebih tinggi daripada tenaganya sendiri!
Maka bertempurlah kedua orang berilmu itu dengan hebat. Pedang di tangan Lie Kong Sian
bergerak cepat dan sebentar saja tubuhnya telah lenyap di dalam gulungan pedangnya sendiri,
sedangkan huncwe di tangan Ban Sai Cinjin benar-benar luar biasa. Saking cepatnya gerakan
huncwe, maka yang terlihat hanyalah sinar kehitaman yang tebal dan kuat, merupakan
benteng baja yang diliputi asap hitam seperti kabut, yaitu asap yang keluar dari tembakaunya
yang beracun!
Setelah pertempuran berjalan seru, barulah kelihatan Bouw Hun Ti keluar dari sembunyinya
dan dengan bertolak pinggang ia menonton pertempuran itu, bersama pendeta cilik gundul
yang dulu hendak membedah perut Thio Kam Seng. Kebetulan sekali pada saat itu di tempat
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
84
itu terdapat seorang penduduk kampung muda yang datang mencari kayu kering. Ketika ia
mendengar suara senjata beradu, ia tertarik dan datang pula ke depan kelenteng. Kini ia
berdiri dengan mulut melongo, ketika menyaksikan pertempuran yang luar biasa dan yang
selama hidupnya belum pernah disaksikannya itu. Ia tidak dapat melihat orang yang sedang
bertempur, hanya melihat gulungan sinar putih keemasan dari pedang Lie Kong Sian, dan
gulungan sinar hitam dari huncwe Ban Sai Cinjin!
Dan pada saat pertempuran telah berjalan lima puluh jurus lebih, datanglah Lo Sian yang
mengintai dari balik gerombolan pohon. Biarpun Lo Sian bukan seorang biasa dan telah
memiliki kepandaian tinggi, namun menyaksikan pertempuran ini, ia menjadi tertegun dan
kagum sekali. Belum pernah selama hidupnya ia menyaksikan pertandingan yang demikian
seru dan hebatnya. Lo Sian selama ini mengagumi kepandaian suhengnya, Mo-kai Nyo Tiang
Le yang telah mewarisi seluruh kepandaian mendiang suhunya, akan tetapi melihat gerakan
kedua orang yang sedang bertempur, ia merasa ragu-ragu apakah kepandaian suhengnya itu
dapat menandingi kepandaian Ban Sai Cinjin.
Sebetulnya, dalam hal gerakan ilmu silat, Lie Kong Sian tak usah merasa kalah terhadap Ban
Sai Cinjin. Kalau saja kakek pesolek itu mempergunakan ilmu silat biasa, agaknya tak
mungkin ia akan dapat melawan Lie Kong Sian sampai sekian lamanya. Akan tetapi, Ban Sai
Cinjin bukan seorang ahli silat biasa. Selain ilmu silat ia telah mempelajari ilmu hoat-sut
(sihir) dari bangsa Mongol, di dalam gerakan huncwenya banyak terdapat gerakan-gerakan
aneh yang mempengaruhi pandangan mata lawan, seringkali huncwe itu membuat gerakan
rahasia sehingga tiba-tiba Lie Kong Sian merasa matanya kabur dan pikirannya bingung.
Hanya berkat lwee-kangnya yang sudah tinggi dan permainan pedangnya yang memang sudah
mendekati kesempurnaan sajalah yang masih menyelamatkan nyawanya karena lawannya tak
dapat mudah membobolkan pertahanan pedangnya. Selain ini juga dalam tenaga dalam Lie
Kong Sian harus mengaku kalah. Tenaga dalam yang dimiliki oleh Ban Sai Cinjin bukanlah
tenaga biasa, akan tetapi tenaga yang diperkuat oleh ilmu hitam dan mantera.
Sebaliknya, Ban Sai Cinjin merasa kagum dan diam-diam merasa amat penasaran sekali. Dia
adalah seseorang yang belum pernah merasa dikalahkan orang, dan huncwenya telah dikenal
oleh seluruh orang gagah di kalangan kang-ouw sebagai senjata yang tak terlawan sehingga ia
dijuluki Huncwe Maut. Akan tetapi, menghadapi seorang jago muda saja sampai puluhan
jurus belum juga ia dapat merobohkannya! Jangankan merobohkan, bahkan mendesak saja ia
pun tidak mampu. Maka, dengan penuh kemarahan Ban Sai Cinjin membentak,
“Siauw-koai, Lo-koai, semua tunduk kepadaku! Lie Kong Sian, ayahmu, kakekmu, gurumu,
semua tunduk kepadaku. Kau juga takut kepadaku!” Ini adalah ucapan yang mengandung
mantera dan merupakan sihir yang luar biasa, karena tiba-tiba Lie Kong Sian merasa
berdebar-debar dan dalam pandang matanya, Ban Sai Cinjin nampak amat menakutkan dan
mengerikan hati! Kalau orang lain yang menghadapi pengaruh ilmu hitam ini tentu akan
lemas seluruh tubuhnya sehingga akan mudah sekali dirobohkan. Namun Lie Kong Sian
bukanlah orang sembarangan. Telah bertahun-tahun tinggal menyepi seorang diri di pulau
kosong di tengah laut. Telah bertahun-tahun ia melakukan tapa dan samadhi untuk
memperkuat batin dan membersihkan pikiran. Banyak sekali godaan-godaan setan yang
dialaminya di waktu ia menyepi di atas pulau itu, dan semua rintangan dan godaan itu telah
dapat dihadapinya dengan baik. Kini, mendapat serangan luar biasa dari Ban Sai Cinjin
dengan ilmu hitamnya, biarpun hatinya berdebar dan rasa takut dan ngeri meliputi hatinya,
namun ia dapat memperteguh imannya dan permainan pedangnya tidak menjadi kacau.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
85
“Lie Kong Sian, lihat! Api neraka membakarmu!” teriak lagi Ban Sai Cinjin sambil tiba-tiba
menepuk pipa tembakaunya dengan tangan kiri sehingga api tembakau memancar keluar dari
kepala pipanya itu, menyambar ke arah Lie Kong Sian. Pengaruh ilmu sihir membuat api itu
nampak besar sekali yang menyambar ke arah kepalanya. Akan tetapi Lie Kong Sian masih
dapat berlaku gesit dan tidak terpengaruh oleh teriakan yang mengandung hawa hitam itu. Ia
cepat mengelak ke kiri dan sungguhpun ia merasa terkejut sekali, namun ia masih dapat
menyelamatkan diri daripada serangan api tembakau beracun itu.
Tak terduga sama sekali olehnya, bahwa diam-diam Bouw Hun Ti yang berwatak curang dan
palsu itu, melakukan kecurangan yang amat memalukan. Ketika Bouw Hun Ti melihat
suhunya amat sukar mengalahkan Lie Kong Sian, orang ini lalu mengeluarkan gendewanya
yang kecil akan tetapi kuat sekali. Melihat bentuknya, gendewa ini berbeda dengan gendewa
yang biasa digunakan orang Tiongkok, karena sesungguhnya gendewa ini adalah gendewa
model Turki. Sambil memegang gendewa dengan tangan kiri dan tiga batang anak panah
pendek di tangan kanan, Bouw Hun Ti bersiap-siap mencari kesempatan untuk membokong
musuhnya yang sedang bertanding melawan gurunya itu. Kesempatan itu tiba ketika Lie Kong
Sian diserang oleh api dari kepala huncwe Ban Sai Cinjin. Bouw Hun Ti melihat betapa Lie
Kong Sian mengelak ke kiri dengan muka memperlihatkan kekagetan, maka ia cepat
menggerakkan kedua tangannya dan “sr! sr! sr!” tiga batang anak panahnya yang pendek dan
kecil warnanya hitam itu meluncur cepat sekali ke arah Lie Kong Sian. Tiga batang senjata itu
menyerang ke arah leher, ulu hati, dan bawah pusar!
Bukan main kagetnya hati Lie Kong Sian melihat serangan yang tiba-tiba datangnya dan tak
tersangka-sangka ini!
“Bangsat curang!!” serunya marah dan berusaha menyelamatkan diri dengan mengelak cepat
ke kanan dengan miringan tubuhnya. Memang kecepatan gerakannya dapat menolong dirinya
dari ancaman tiga batang anak panah beracun itu, akan tetapi gerakannya ini disambut dengan
serangan maut oleh Ban Sai Cinjin yang tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Selagi tubuh
Lie Kong Sian miring dan dalam posisi yang amat lemah, huncwenya menyambar dan...
“tak!” huncwe itu dengan tepat sekali mengetuk kepala Lie Kong Sian di bagian ubunubunnya.
Lie Kong Sian menjerit ngeri, tubuhnya terhuyung-huyung, terputar-putar dan pedangnya
terlepas dari tangan. Kemudian setelah berputar beberapa kali, tubuh Lie Kong Sian
terjungkal dan roboh tertelungkup tak bergerrak lag!! Ubun-ubunnya telah pecah terkena
pukulan huncwe yang hebat itu dan nyawanya melayang pada saat itu juga! Lie Kong Sian,
suami Ang I Niocu, pendekar besar dari Pulau Pek-le-to, telah tewas dalam keadaan yang
amat mengecewakan!
Lo Sian yang mengintai dari balik pohon, mengerutkan kening dan meramkan matanya
dengan hati perih dan ngeri. Tak terasa pula dua titik air mata melompat keluar dari sepasang
matanya, turun di atas pipinya. Apakah dayanya? Kepandaiannya masih tak cukup kuat untuk
menghadapi Bouw Hun Ti, apalagi menghadapi gurunya, Ban Sai Cinjin yang amat tangguh
dan kejam itu.
Sementara itu, Ban Sai Cinjin juga tercengang melihat kecurangan muridnya. Ia menegur
perlahan,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
86
“Hun Ti, mengapa kau lancang membantuku? Kau merendahkan derajatku dengan bantuan
tadi dan hatiku tidak merasa puas biarpun aku telah menang dan berhasil merobohkan Lie
Kong Sian. Biarpun kau tidak membantu, akhirnya Lie Kong Sian pasti akan roboh juga di
tanganku. Mengapa kau membantu dengan jalan curang?”
“Teecu tidak tahan lebih lama lagi melihat orang yang telah membunuh Susiok ini!” jawab
Bouw Hun Ti, dan Ban Sai Cinjin terhibur juga mendengar ini.
Tiba-tiba ia melihat pemuda kampung itu dan membentak, “Siapa dia itu?”
“Entah, teecu juga tidak mengenalnya,” jawab Bouw Hun Ti.
“Dia adalah seorang kampung yang mencari kayu, Suhu,” kata hwesio cilik yang ternyata
murid merangkap pelayan dari Ban Sai Cinjin.
“Celaka, dia telah melihat perbuatanku terhadap Lie Kong Sian tadi, dan kalau hal ini sampai
diketahui orang luar, aku akan mendapat malu!” kata Ban Sai Cinjin. Tiba-tiba tubuhnya
melompat dan tahu-tahu ia telah berada di depan orang kampung muda yang masih berdiri
terbelalak ngeri melihat pembunuhan tadi. Kini ia menjadi ketakutan ketika melihat Ban Sai
Cinjin telah berada di depannya dan sebelum ia dapat melarikan diri, Ban Sai Cinjin
menyemburkan asap hitam ke arah mukanya. Orang itu mendekap muka dengan tangannya,
terbatuk-batuk beberapa kali seakan-akan tak dapat bernapas, kemudian tubuhnya terhuyunghuyung dan jatuh telentang tak bernapas lagi. Mukanya menjadi hitam karena racun yang
disemburkan melalul asap tembakau itu! Dengan amat kejamnya, untuk menolong
kehormatan dan namanya agar jangan sampai ada lain orang tahu akan kecurangannya
terhadapi Lie Kong Sian tadi, Ban Sai Cinjin telah membunuh pemuda kampung itu begitu
saja!
“Ha-ha!” Bouw Hun Ti tertawa girang. “Suhu telah membuat penyelesaian yang amat cepat
dan tepat!”
“Sudahlah, kaukubur dua mayat itu agar jangan sampai ada orang melihatnya,” kata Ban Sai
Cinjin.
“Suhu, mengapa menyia-nyiakan kesempatan baik ini?” tiba-tiba hwesio cilik itu berkata
kepada gurunya. “Jantung kedua orang ini masih segar dan mudah sekali diambil!”
Ban Sai Cinjin tertawa dan berkata kepada Bouw Hun Ti, “Lihat Sutemu benar-benar ingin
mempelajari dengan sempurna ilmu kebal itu!” Bouw Hun Ti hanya tersenyum menyeringai.
Ia maklum bahwa suhunya mempunyai ilmu kekebalan yang dapat diturunkan kepada
muridnya dengan jalan memakan obat yang dicampur dengan tiga buah jantung manusia!
“Jantung orang kampung ini tidak bersih, telah terkena racun, maka tidak dapat digunakan,”
kata Ban Sai Cinjin. “Kalau jantung dia itu,” dia menunjuk ke arah tubuh Lie Kong Sian yang
masih menelungkup di atas tanah, “masih baik, akan tetapi, dia seorang pendekar besar, aku
tak sampai hati untuk membelek dada mengambil jantungnya.”
“Biar murid sendiri yang melakukan hal itu, Suhu,” kata hwesio cilik itu dengan suara
memohon, “setelah itu barulah teecu akan menguburkannya baik-baik.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
87
“Sesukamulah!” akhirnya Ban Sai Cinjin berkata sambil tersenyum, dan masuklah ia ke
dalam kuilnya.
“Sute, biar aku yang mengubur orang kampung ini. Setelah kau selesai dengan yang itu, kau
harus menguburkannya sendiri baik-baik.”
Hwesio cilik itu mengangguk kepada suhengnya, lalu ia menghampiri mayat Lie Kong Sian
dan diangkatnya menuju ke belakang kuil. Sedangkan Bouw Hun Ti lalu mengubur mayat
pemuda kampung itu secara sembarangan di tempat yang agak jauh dari kuil, seperti orang
mengubur bangkai anjing saja.
Hari telah menjadi gelap dan malam itu bertambah seram dengan terjadinya dua pembunuhan
itu. Di dalam kamar dekat dapur, hwesio kecil telah menelanjangi mayat Lie Kong Sian dan
telah menyediakan sebilah pisau tajam dan sebuah mangkok putih tempat jantung yang
hendak diambilnya dari dalam dada Lie Kong Sian.
Kemudian, hwesio cilik ini menggunakan pisaunya untuk memotong sedikit rambut dari
kepala Lie Kong Sian lalu mengikatkan rambut itu pada sebatang sumpit gading yang telah
disediakan. Ia meletakkan sumpit itu di atas mangkok putih tadi, lalu ia menyalakan tiga
batang hio. Kemudian ia bersembahyang di depan mayat itu dan berkata,
“Arwah orang she Lie! Aku, Hok Ti Hwesio, dengan sungguh hati mengundangmu untuk
mengajukan beberapa pertanyaan!” Ia lalu membawa hio bernyala itu dan berjalan mengitari
mayat Lie Kong Sian tiga kali, kemudian ia menancapkan tiga batang hio itu ke dalam mulut
mayat Lie Kong Sian. Setelah itu, ia mengambil sumpit yang telah diikat ujungnya oleh
rambut Lie Kong Sian tadi, diputar-putarkan di atas hio agar terkena asap hio sambil
mulutnya berkemak-kemik membaca mantera. Lalu ia menaruh sumpit itu di atas mangkok
lagi dan berkata,
“Arwah orang she Lie! Kalau kau sudah masuk ke dalam sumpit ini, berputarlah!”
Sungguh aneh sekali dan sukarlah untuk diselidiki mengapa dapat terjadi demikian, akan
tetapi benar saja sumpit di atas mangkok itu lalu terputar-putar bagaikan digerakkan oleh
tangan yang tidak kelihatan!
Hwesio cilik yang bernama Hok Ti Hwesio itu tersenyum girang.
“Arwah orang she Lie! Perkenankanlah aku meminjam jantung dari tubuhmu yang sudah
tidak ada gunanya lagi untuk campuran obat membuat kebal tubuhku. Kalau kau setuju,
berputarlah satu kali, kalau tidak setuju, berputarlah tiga kali!”
Hwesio itu dengan penuh gairah memandang ke arah mangkok dan sumpit. Dan sumpit itu
mulai bergerak memutar satu kali, lalu diam, akan tetapi lalu memutar sekali lagi dan sekali
lagi baru diam tak bergerak! Ternyata bahwa kalau memang benar yang menjawab itu adalah
arwah Lie Kong Sian, maka arwah pendekar itu tidak menyetujui jantung dari tubuhnya
diambil oleh hwesio cilik ini!
Hok Ti Hwesio mengerutkan kening dan wajahnya menjadi muram. Ia mencabut tiga batang
hio itu dengan kasar dari mulut mayat Lie Kong Sian, lalu mengangkat hio itu tinggi di atas
kepalanya sambil berkata,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
88
“Arwah orang she Lie! Ketahuilah bahwa aku, Hok Ti Hwesio, akan merawat dan mengubur
jenazahmu baik-baik! Dengan demikian, aku telah melepas budi kepadamu, maka apakah kau
tidak mau membalas budi itu untuk bekal naik ke sorga? Nah, sekali lagi kupinta, arwah orang
she Lie, berikanlah jantungmu dengan rela!” Setelah berkata demikian, ia lalu menancapkan
kembali hio itu ke dalam mulut mayat itu. Ia menghampiri sumpit di atas mangkok dan
berkata lagi,
“Nah, sekarang jawablah! Berikan jantung tubuhmu kepadaku, setuju atau tidak?” Kembali
sumpit itu berputar-putar dan masih tetap... tiga kali!
Hok Ti Hwesio membanting-banting kakinya dengan gemas sekali. Ia mengambil pisau tajam
dari atas meja dan menghampiri mayat Lie Kong Sian yang bertelanjang bulat dan telentang
di atas meja panjang.
“Baik, kau tidak setuju? Aku tetap akan mengarnbil jantung tubuhmu, hendak kulihat kau
bisa berbuat apa! Sudah mampus kau masih saja jahat dan memusuhi kami, orang she Lie!”
Hwesio cilik ini dengan muka kejam lalu mengangkat tangan hendak menusuk dada mayat
Lie Kong Sian, akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba meniup angin besar dari jendela dan api
lilin menjadi padam! Hok Ti Hwesio terkejut sekali dan menoleh ke jendela. Wajahnya
menjadi pucat karena ia melihat sebuah kepala tersembul di jendela dan karena penerangan
lilin telah padam, maka kepala itu nampak hitam dan besar mengerikan! Hok Ti Hwesio
biarpun masih kecil, akan tetapi karena telah menerima latihan ilmu-ilmu hitam, tidak merasa
takut terhadap segala setan dan iblis, akan tetapi oleh karena tadi ia hendak memaksa dan
membedah dada mayat itu biarpun arwah si mayat tidak menyetujuinya, tentu saja kini
menyangka bahwa itu adalah setan penasaran dari Lie Kong Sian yang datang mengganggu!
Ia melemparkan pisaunya ke bawah dan berlari berteriak-teriak.
“Tolong... setan... tolong, Suhu... ada setan…!”
Kepala yang tersembul di jendela itu ternyata bertubuh dan kini tubuhnya bergerak melompat
ke dalam kamar, memondong mayat Lie Kong Sian dan cepat dibawa lagi keluar! Bayangan
yang disangka setan ini ternyata adalah Lo Sian! Sebagaimana diketahui, Pengemis Sakti ini
mengintai dan menyaksikan betapa Lie Kong Sian terbunuh dan betapa orang muda kampung
yang tanpa disengaja menyaksikan pula pembunuhan itu, telah dibunuh secara kejam oleh
Ban Sai Cinjin. Kemudian ia mendengar tentang permintaan Hok Ti Hwesio yang hendak
mengambil jantung dari mayat Lie Kong Sian. Di depan Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin Lo
Sian tidak berani bergerak, akan ketika melihat hwesio cilik itu membawa mayat Lie Kong
Sian ke belakang, ia lalu mengikuti dan mengintai dari jendela. Sesungguhnya, perbuatan Lo
Sian juga yang memutarkan sumpit gading tadi, dengan mengerahkan khi-kang dan meniup
dari jendela, dan dia pula yang meniup padam api lilin!
Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti ketika mendengar teriakan Hok Ti Hwesio, cepat memburu
dan mereka masih melihat bayangan Lo Sian membawa lari mayat Lie Kong Sian. Mereka
cepat mengejar, akan tetapi Lo Sian telah menghilang di dalam gelap, sebentar saja Lo Sian
telah dapat meninggalkan kedua orang pengejarnya.
“Celaka, bangsat Lo Sian telah mengetahui peristiwa itu, bahkan telah membawa lari mayat
Lie Kong Sian. Hal ini pasti akan berekor panjang sekali,” kata Ban Sai Cinjin sambil
menghela napas.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
89
“Biarlah, apakah Suhu takut menghadapi kawan-kawannya?” kata Bouw Hun Ti. “Kalau
Pendekar Bodoh dan yang lain-lain datang, kita gempur mereka!”
“Takut sih tidak, akan tetapi aku segan untuk bermusuhan dengan orang-orang kang-ouw.
Hidupku biasanya senang dan aman, kini pasti akan menemui gangguan dan semua ini garagara kau, Hun Ti! Karena itu, kau harus memperdalam kepandaianmu. Aku sendiri sudah
malas untuk mengajar dan jalan satu-satunya bagimu ialah pergi ke tempat pertapaan
Supekmu.”
“Wi Kong Siansu di Hek-kwi-san?” tanya Bouw Hun Ti sambil membelalakkan kedua
matanya.
Ban Sai Cinjin mengangguk. “Ya, siapa lagi selain supekmu yang dapat memperkuat
kedudukan kita dan dapat memberi pendidikan ilmu silat lebih jauh kepadamu?”
“Akan tetapi, bukankah Suhu pernah menceritakan bahwa Supek itu telah mencuci tangan
dan mengasingkan diri di puncak Hek-kwi-san, tidak mau mencampuri urusan dunia lagi?”
“Benar, akan, tetapi aku telah tahu akan tabiat Supekmu itu. Ia amat sayang kepada mendiang
Lu Tong Kui yang biarpun menjadi Sute, akan tetapi masih iparnya sendiri. Ketahuilah
rahasianya dahulu, bahwa Enci dari Lu Tong Kui pernah mengadakan hubungan dengan
Supekmu itu! Nah, kalau kau membawa suratku, dan menceritakan tentang tewasnya Lu Tong
Kui, tentu dia akan turun gunung dan memperkuat kedudukan kita.”
“Akan tetapi, Suhu. Pembunuh Lu Tong Kui adalah Lie Kong Sian dan Lie Kong Sian telah
terbalas oleh Suhu.”
“Bodoh! Jangan kauberitahukan bahwa pembunuh susiokmu itu Lie Kong Sian. Beritahukan
saja bahwa pembunuhnya adalah Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan bahwa matinya
dikeroyok sehingga tidak saja Suheng akan mendendam kepada Pendekar Bodoh, akan tetapi
juga kepada yang lain. Pendeknya, kalau Suheng dapat dibujuk turun gunung dan tinggal di
sini bersama kita, jangankan baru Pendekar Bodoh, andaikata Bu Pun Su bangkit lagi dari
kuburan, kita tak usah takut menghadapinya!”
Bouw Hun Ti merasa girang sekali. “Dan bagaimana dengan Lo Sian yang membawa lari
mayat Lie Kong Sian itu, Suhu?”
“Serahkan dia kepadaku. Aku yang akan mencarinya dan menghajarnya. Kau berangkatlah
besok pagi-pagi ke Hek-kwi-san jangan ditunda-tunda lagi dan aku akan membuat surat untuk
Suheng.”
Demikianlah pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Bouw Hun Ti berangkat ke tempat
pertapaan Wi Kong Siansu, suheng dari Ban Sai Cinjin dengan membawa surat dari suhunya
itu. Pendeta tua yang disebut Wi Kong Siansu dan yang menjadi suheng dari Ban Sai Cinjin
ini adalah seorang pertapa yang sakti. Dulu di waktu mudanya ia terkenal sebagal seorang
yang malang melintang di dunia kang-ouw, dan yang belum pernah menderita kekalahan
dalam setiap pertempuran. Bahkan orang-orang ternama dan yang termasuk tokoh-tokoh
terbesar di dunia persilatan seperti Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swi
Kiat Siansu yang terkenal sebagai empat tokoh terbesar dari empat penjuru, merasa segan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
90
untuk bentrok dengan Wi Kon Siansu. Bukan karena empat tokoh besar ini merasa jerih dari
takut, akan tetapi oleh karena Wi Kong Siansu terkenal memiliki kepandaian silat yang amat
ganas dan dahsyat sehingga setiap kali dia bertanding ilmu kepandaian dengan seorang lawan,
lawan itu tentu akan tewas di dalam tangannya! Bagi Wi Kong Siansu, hanya ada dua
keputusan dalam tiap pertandingan, yaitu menang atau kalah dan mati! Oleh karena inilah,
maka ia mendapat julukan Toat-beng Lo-mo atau Iblis Tua Pencabut Nyawa!
Adapun Ban Sai Cinjin lalu mengadakan perjalanan pula untuk mencari dan menyusul Lo
Sian yang telah mengetahui rahasianya. Sebetulnya Ban Sai Cinjin tidak takut orang
mengetahui bahwa ia telah membunuh Lie Kong Sian, kalau saja pembunuhan ltu dilakukan
dalam sebuah pertempuran yang adil. Yang membuatnya merasa kuatir kalau sampai
diketahui orang adalah bahwa kekalahan Lie Kong Sian sesungguhnya karena kecurangan
yang dilakukan oleh Bouw Hun Ti!
Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang terkenal dan mempunyai banyak
sahabat hampir di seluruh daerah, maka dengan mudah ia dapat menyusul dan mengetahui di
mana adanya Lo Sian yang juga banyak dikenal orang.
Kita mengikuti perjalanan Lo Sian yang membawa lari jenazah Lie Kong Sian. Setelah dapat
melepaskan diri dari pengejaran Ban Sai Cinjin dan Bouw Hun Ti, Lo Sian lalu masuk ke
dalam hutan pohon pek yang bersambung dengan hutan di mana terdapat kelenteng tempat
tinggal Ban Sai Cinjin. Ia memilih tempat yang baik, yaitu sebuah bukit kecil di tengah hutan
yang amat baik hongsuinya (kedudukan tanahnya). Kemudian dengan penuh khidmat ia lalu
mengubur jenazah pendekar besar Lie Kong Sian. Sampai lama Lo Sian bersila, di depan
gundukan tanah itu untuk mengheningkan cipta. Di dalam hatinya ia menyatakan terima
kasihnya kepada mendiang Lie Kong Sian, dan juga menyatakan penyesalannya bahwa
karena membela dia, pendekar besar itu sampai menemui maut di tangan Ban Sai Cinjin.
Kemudian Lo Sian lalu menanam sebatang kembang mawar hutan di depan gundukan tanah
itu untuk menjadi tanda.
Setelah itu, Pengemis Sakti ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Beng-san untuk
menyusul suhengnya yang membawa Lili dan Kam Seng ke puncak bukit itu. Sama sekali ia
tak pernah mengira bahwa bahaya besar sedang mengancam dan mengejarnya. Siapakah yang
menyangka bahwa Ban Sai Cinjin hendak menyusul dan mencarinya? Ia hanya mencuri
mayat Lie Kong Sian dan hal ini bukanlah hal yang terlalu penting bagi Ban Sai Cinjin. Lo
Sian tidak tahu bahwa Ban Sai Cinjin mengejarnya karena ia dianggap satu-satunya orang
yang telah mengetahui akan rahasia pembunuhan curang atas diri Lie Kong Sian.
Beberapa hari kemudian, baru saja Lo Sian keluar dari dusun, tiba-tiba di depannya
berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu Ban Sai Cinjin telah berdiri di depannya sambil
tersenyum-senyum dan huncwe mautnya mengebulkan asap hitam! Ternyata bahwa kakek
pesolek yang amat lihai ini telah dapat menyusulnya.
“Ha-ha, pengemis jembel!” kata Ban Sai Cinjin. “Apa kaukira kau dapat melarikan, diri
begitu saja dariku setelah kau mencuri tubuh yang dibutuhkan oleh muridku?”
“Ban Sai Cinjin,” kata Lo Sian dengan gelisah, “aku tidak mengganggu muridmu dan tentang
jenazah Lie Kong Sian itu, memang aku yang mengambil untuk dikubur sepatutnya. Dia
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
91
adalah seorang pendekar besar dan sudah sepatutnya kalau jenazahnya dikebumikan dengan
baik. Apakah perbuatanku itu kauanggap salah?”
“Hemm, Lo Sian, kau pandai memutar lidah! Kau telah berkali-kali mengganggu Bouw Hun
Ti mencampuri urusannya. Sekarang kau membawa pergi mayat Lie Kong Sian. Dimanakah
mayat itu sekarang?”
“Sudah dikubur dengan baik.” jawab Lo Sian.
“Bagus, dan jantungnya tentu sudah rusak. Kalau begitu, kaugantilah dengan jantungmu
sendiri. Hayo pengemis jembel, kauserahkan jantungmu kepadaku, baru aku mau memberi
ampun!”
Lo Sian tahu bahwa kakek ini sengaja mencari perkara. Bagaimana orang bisa hidup kalau
jantungnya diambil? Ia lalu mencabut pedangnya dan berkata keras, “Kau inginkan jantung?
Inilah dia!” Sambil berkata demikian, Lo Sian lalu menyerang dengan sebuah tusukan
pedangnya yang dilakukan dengan nekad dan cepat, karena ia maklum bahwa ilmu
kepandaian Ban Sai Cinjin jauh berada di atas tingkatnya.
Si Huncwe Maut tertawa geli, huncwe di tangannya bergerak didahului oleh semburan asap
hitam dari mulutnya ke arah muka Lo Sian. Pengemis Sakti tahu akan berbahayanya asap ini,
maka ia cepat melompat ke kiri dan memutar pedangnya untuk melindungi tubuhnya dari
serangan lawan. Akan tetapi tiba-tiba pedangnya berhenti berputar karena telah tertempel oleh
huncwe di tangan Ban Sai Cinjin dan tak dapat digerakkan lagi.
“Lepas!” Ban Sai Cinjin membentak sambil memutar huncwenya sedemikian rupa sehingga
pedang di tangan Lo Sian ikut terputar, kemudian dengan tenaga tiba-tiba ia membetot dan
terlepaslah pedang itu dari tangan Lo Sian tanpa dapat dicegah lagi. Kemudian huncwenya
meluncur dengan sebuah totokan hebat dan robohlah Lo Sian tanpa dapat berdaya lagi karena
jalan darahnya telah kena tertotok oleh huncwe yang lihai itu.
Ban Sai Cinjin mengempit tubuh Lo Sian yang menjadi lemas itu dan membawanya lari
secepat terbang kembali ke kelentengnya! Setelah tiba di kelenteng yang mewah itu, ia
melemparkan tubuh Lo Sian ke atas lantai, lalu mengambil semangkok obat yang biru
kehitaman warnanya.
“Minum ini!” katanya dan hwesio kecil muridnya itu memandang sambil menyeringai. Lo
Sian biarpun telah lemas dan tidak bertenaga lagi, namun hatinya masih cukup tabah dan
keras, maka ia diam saja, biarpun mangkok itu telah ditempelkan pada bibirnya, namun ia
tidak mau meneguk obat itu.
“Eh, pengemis jembel!” Hok Ti Hwesio si hwesio kecil itu mengeiek. “Kau kelaparan dan
kehausan, minuman seenak ini mengapa tidak mau minum?” Sambil berkata demikian,
hwesio kecil ini menampar mulut Lo Sian yang tak dapat mengelak atau mengerahkan tenaga
sehingga ketika terdengar suara “plak!” bibirnya pecah dan berdarah!
“Buka mulut anjing ini!” kata Ban Sai Cinjin kepada muridnya. Hok Ti Hwesio yang
memang semenjak kecil mendapat pendidikan kekejaman itu sambil tertawa-tawa lalu
menggunakan kedua tangannya membuka mulut Lo Sian dengan paksa, lalu mengganjal
mulut itu dengan kakinya yang bersepatu kotor, sehingga mulut Lo Sian kini ternganga
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
92
diganjal sepatu dari Ban Sai Cinjin lalu menuangkan obat mangkok itu ke dalam mulut Lo
Sian. Si Pengemis Sakti mencoba untuk menutup kerongkongannya, akan tetapi Hok Ti
Hwesio, si hwesio kecil yang kejam dan penuh akal itu lalu memencet hidung Lo Sian dengan
kedua jari tangannya. Lo Sian terengah-engah dan terpaksa harus bernapas dari mulut dan
masuklah obat itu ke dalam perutnya! Obat itu terasa amat getir dan masam dan setelah masuk
ke dalam perut terasa amat dingin sehingga ia menggigil. Lo Sian berpikir bahwa obat itu
tentulah racun dan ia tentu akan mati, maka sambil meramkan mata ia menanti datangnya
maut. Tak lama kemudian pikirannya menjadi lemah dan tak dapat digunakan lagi, lalu la
menjadi pingsan tak sadarkan dirinya!
Setelah ia membuka mata kembali, ternyata ia telah berada di dalam sebuah hutan seorang
diri. Tak nampak lain orang di situ dan pikiran Lo Sian masih tidak karuan. Segala benda di
depannya nampak berputar-putar dan sebentar lagi ia berteriak-teriak,
“Pemakan jantung...! Tolong... pemakan jantung...!” Kemudian, dengan beringas ia
melompat bangun dan berlari terhuyung-huyung tidak karuan seperti orang mabok. Terdengar
ia berteriak-teriak, sebentar menangis seperti orang ketakutan setengah mati, kemudian ia
tertawa dengan geli seakan-akan melihat sesuatu yang amat lucu. Ternyata Lo Sian telah
menjadi gila! Obat yang dipaksakan memasuki perutnya itu adalah semacam obat mujijat
yang merampas ingatannya dan membuat ia menjadi gila! Alangkah kejamnya Ban Sai Cinjin
dan muridnya Hok Ti Hwesio. Ban Sai Cinjin merasa tak ada gunanya membunuh Lo Sian,
maka timbul pikiran yang amat keji dan juga cerdik. Ia mernbiarkan Lo Sian hidup, akan
tetapi memberinya minum racun yang membuatnya menjadi gila sehingga tak mungkin lagi
Lo Sian membuka rahasia pembunuhan atas diri Lie Kong Sian! Jangankan mengingat akan
hal itu semua, bahkan kepada diri sendiri pun Lo Sian tak ingat lagi. Ia tidak tahu lagi siapa
adanya dirinya sendiri dan tidak ingat lagi segala kejadian yang lalu, yang terbayang di depan
matanya hanyalah jantung manusia yang dimakan orang!
Memang, kasihan sekali nasib Lo Sian yang terjatuh ke dalam tangan orang-orang berhati
iblis! Ia merantau tak tentu arah tujuan sebagai seorang gila.
***
Pegunungan Ho-lan-san memanjang dan menjadi tapal batas antara Mongolia dan daratan
Tiongkok Propinsi Kansu. Sungguhpun pegunungan ini di kanan kirinya, terutama sekali di
bagian utara, merupakan padang pasir yang amat luas, namun pegunungan ini cukup kaya
akan hutan-hutan dan pepohonan. Hal ini adalah berkat mengalirnya Sungai Kuning, yang
membuat lembah di sepanjang alirannya menjadi subur.
Oleh karena itu, tak heran apabila di tempat yang jauh dari dunia ramai ini telah banyak
orang datang dan desa-desa yang cukup ramai terdapat di sepanjang sungai besar itu. Dengan
adanya Sungai Huang-ho yang tak pernah mengering ini, lapangan pencarian nafkah hidup
bagi mereka tidak kurang. Selain bercocok tanam di lembah yang subur, para penduduk dapat
pula bekerja sebagai nelayan, karena air sungai mengandung cukup banyak ikan. Selain ini,
mereka dapat pula mengambil hasil hutan terutama kayu-kayu yang keras dan baik untuk
pembangunan. Pekerjaan ini makin lama makin ramai dan bahkan ada beberapa orang yang
cukup bermodal lalu mendirikan perusahaan kayu bangunan. Tukang-tukang kayu disebar ke
hutan-hutan untuk menebang pohon yang baik kayunya, kemudian kayu yang telah menjadi
balok-balok besar itu lalu ditumpuk di pinggir sungai, siap dikirim ke mana saja datangnya
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
93
pesanan. Untuk mengangkut kayu-kayu balok itu, air Sungai Huang-ho telah siap
melakukannya tanpa menuntut bayaran sepotong uang pun!
Pada suatu hari, tiga orang laki-laki yang berusia tiga puluhan tahun, bertubuh tinggi tegap
dan nampaknya kuat, berjalan mendaki sebuah puncak di Pegunungan Ho-lan-san. Mereka ini
membawa alat-alat penebang kayu, yaitu tambang besar yang digulung dan digantungkan di
pinggang, sebuah golok dan sebuah kapak besar yang berat dan tajam.
Ketika mereka tiba di luar sebuah hutan yang kecil akan tetapi liar dan gelap, mereka
berhenti mengaso dan duduk di atas rumput. Sambil bercakap-cakap, mereka memandang ke
arah hutan yang angker itu. Pohon-pohon besar dan tinggi menjulang dari hutan itu, membuat
bagian tanah di gunung ini nampak paling tinggi menonjol.
“Sute, aku masih saja merasa sangsi untuk memasuki hutan ini,” terdengar orang yang tertua
berkata. “Bukankah Suhu sudah berpesan agar kita lebih baik jangan mengganggu hutan ini?
Suhu sendiri katanya kalau melakukan perjalanan lewat di sini mengambil jalan memutar.
Menurut Suhu, bukan karena dia takut, akan tetapi sungkan menghadapi permusuhan dengan
sepasang setan itu.”
“Ah, Twa-suheng,” kata yang termuda, mengapa kita harus percaya akan segala tahyul bodoh
dari orang-orang dusun? Mereka itu hanya menyiarkan kabar bohong yang belum pernah
mereka buktikan sendiri. Siapakah orangnya yang pernah melihat sepasang iblis itu? Aku
tidak percaya. Kalau Suhu lain lagi, karena Suhu adalah seorang pendeta yang menghormati
kepercayaan orang lain. Kita adalah orang-orang muda yang datang dari kota memiliki
kepandaian, mengapa kita harus takut terhadap segala tahyul bohong?”
Orang ke dua menyambung. “Ucapan Sute memang ada benarnya, akan tetapi melihat
keadaan hutan yang demikian liar dan angker, timbul juga perasaan tak enak di dalam hatiku.
Dunia ini memang aneh dan banyak hal-hal yang belum kita mengerti. Bagaimana kalau
kabar itu ternyata tidak bohong? Bagaimana kalau benar-benar muncul setan di tengah hari
dan menyerang kita?”
“Mengapa takut?” kata pula yang termuda. “Percuma saja kita mempelajari ilmu silat sampai
beberapa tahun lamanya, dan percuma pula kita menjadi murid Pek I Hosiang yang telah
terkenal namanya di dunia kang-ouw! Lagi pula, kita bukan bermaksud buruk. Kita memasuki
hutan untuk menebang pohon dan mencari kayu besi yang amat dibutuhkan. Kui-loya (Tuan
Kui) akan membayar tiga kali lebih banyak daripada kayu-kayu biasa.”
Tiga orang yang nampak kuat dan gagah ini adalah tiga orang di antara banyak penebang
pohon yang banyak bekerja di daerah ini. Mereka adalah murid-murid dari Pek I Hosiang,
seorang hwesio yang menjadi ketua dari sebuah kelenteng di dalam dusun tempat tinggal
mereka. Hwesio ini memang berkepandaian tinggi dan ia mempunyai banyak sekali murid.
Boleh dibilang, lebih tiga puluh orang penebang kayu yang muda-muda dan kuat-kuat
menjadi muridnya! Para penebang pohon ini menjual kayu yang mereka tebang pada
perusahaan-perusahaan kayu yang banyak didirikan orang di tempat itu, di antaranya yang
terbesar adalah perusahaan kayu milik orang she Kui yang berasal dari kota besar di daerah
timur.
Sudah menjadi semacam dongeng yang amat dipercaya selama bertahun-tahun oleh
penduduk di daerah Pegunungan Ho-lan-san, bahwa puncak yang penuh dengan pohon-pohon
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
94
tinggi, jurang-jurang dalam dan gua-gua yang angker itu menjadi tempat tinggal sepasang
siluman atau iblis yang amat jahat. Sesungguhnya, belum pernah terjadi pembunuhan atau
penganiayaan terhadap manusia yang dilakukan oleh sepasang iblis itu, akan tetapi karena
perasaan takut mereka, maka orang-orang lalu bercerita bahwa iblis-iblis yang meniadi
penghuni hutan itu amat jahat dan mengerikan!
Hanya satu kali terjadi peristiwa yang membuktikan bahwa di hutan itu memang terdapat
mahluk yang sakti, sungguhpun orang tak dapat membuktikan dengan nyata bahwa mahluk
itu adalah iblis atau siluman. Terjadinya peristiwa itu telah dua tahun lebih, yaitu ketika
serombongan piauwsu mengantar seorang hartawan bersama keluarganya yang melakukan
perjalanan. Ketika rombongan ini tiba di tengah hutan, tiba-tiba, entah dari mana datangnya,
terdengar suara bergema di empat penjuru dan suara ini berkata tegas,
“Lekas keluar dari hutan ini!”
Para piauwsu yang mengawal rombongan ini adalah orang-orang gagah yang sudah banyak
pengalaman. Mereka tidak gentar menghadapi perampok-perampok dan bahkan jarang ada
perampok berani mengganggu mereka. Akan tetapi, peristiwa ini baru sekali mereka alami,
yaitu suara yang melarang mereka melalui sebuah hutan. Kepala rombongan itu lalu menjura
ke empat penjuru dan menjawab,
“Mohon maaf sebanyaknya dari Tai-ong kalau kami berani berlaku kurang ajar dan melalui
wilayah Tai-ong (Raja Besar, sebutan untuk kepala rampok) tanpa mendapat ijin lebih dulu.
Kami bersedia membayar uang sewa jalan apabila Tai-ong kehendaki, akan tetapi harap Taiong perkenankan kami melalui jalan ini”
Untuk beberapa lama tak terdengar suara sesuatu, akan tetapi tiba-tiba terdengar lagi suara
yang berlainan dengan suara pertama. Kalau suara pertama yang mengusir mereka keluar dari
hutan tadi terdengar halus dan nyaring seperti suara wanita, sekarang terdengar suara yang
juga halus dan nyaring, akan tetapi lebih besar seperti suara seorang pemuda.
“Jangan banyak cakap! Kami tidak butuh segala uang sewa jalan! Pergilah lekas dari hutan
ini!”
Para piauwsu yang jumlahnya tujuh orang itu menjadi penasaran sekali. Mereka mencabut
senjata masing-masing dan memandang ke sekeliling dengan sikap menantang.
“Kalau kami tidak mau pergi dan hendak melanjutkan perjalanan kami melalui hutan ini, kau
mau apakah?” tanya kepala piauwsu itu dengan marah.
Kini yang menjawabnya adalah suara pertama yang masih terdengar halus akan tetapi amat
berpengaruh.
“Terpaksa kami akan menggunakan kekerasan! Kami memberi waktu sampai ada ayam hutan
berkokok, itulah tanda bahwa kami akan bergerak apabila kalian belum keluar dari sini!”
Seorang di antara para piauwsu itu yang terkenal sebagai ahli senjata rahasia, diam-diam
mengeluarkan beberapa batang senjata piauw, dan tiba-tiba ia menyambitkan tiga batang
piauw ke arah daun-daun pohon besar dari mana suara itu datang. Akan tetapi hanya terdengar
berkereseknya daun terbabat senjata-senjata piauw itu, dan selain itu tidak nampak tanda-
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
95
tanda bahwa di pohon itu terdapat manusianya! Yang mengherankan, tiga batang piauw tadi
tidak turun lagi ke bawah, seakan-akan lenyap ditelan oleh daun-daun yang lebat itu.
Para piauwsu itu saling pandang dengan heran, sedangkan keluarga hartawan itu duduk
berkumpul di dekat kereta dengan muka pucat.
“Tidaklah lebih baik kita mengambil jalan memutar saja?” tanya hartawan itu kepada kepala
piauwsu. Akan tetapi yang ditanya menggeleng kepala.
“Wan-gwe (sebutan hartawan) tidak tahu. Hal ini adalah soal kehormatan bagi piauwsupiauwsu seperti kami. Kalau kami mengalah terhadap segala penggertak, bagaimana kami
dapat menjadi piauwsu?”
Mereka menanti dengan hati penuh ketegangan dan tiba-tiba mereka terkejut ketika
mendengar suara yang mereka nanti-nanti, yakni kokok seekor ayam hutan dari jauh.
“Waktunya sudah habis, kalian harus pergi!” tiba-tiba seru suara tadi dan entah dari mana
datangnya, bagaikan meluncur dari atas awang nampak dua bayangan berkelebat cepat
menubruk tujuh orang piauwsu tadi. Para piauwsu itu terkejut sekali dan cepat memutar
senjata untuk menyerang dua bayangan itu, akan tetapi alangkah terkejut mereka ketika
bayangan itu lalu bergerak dengan amat cepatnya, merupakan sinar putih dan merah dan tahutahu senjata di tangan para piauwsu itu terlempar jauh! Sebelum tujuh orang piauwsu itu
sempat memandang, tahu-tahu mereka merasa sakit sekali pada pundak mereka, terdengar
jerit mereka susul-menyusul dan tubuh mereka roboh tak dapat bangun kembali karena
mereka telah terkena tiam-hwat (ilmu totok) yang lihai. Setelah itu, hanya nampak bayangan
dua sosok tubuh berpakaian merah dan putih berkelebat lenyap di balik serumpun alangalang!
“Itulah hukuman bagi tujuh orang piauwsu sombong!” tiba-tiba terdengar suara yang halus
itu dari atas pohon. “Naikkan tujuh tikus itu ke atas kereta dan kembalilah kalian keluar dari
hutan ini!”
Rombongan itu dengan amat ketakutan lalu menolong para piauwsu menaikkan dan
menumpuk tubuh mereka yang lemas itu ke atas kereta lalu rombongan itu membalap keluar
dari hutan!
Maka tersiarlah berita ini sehingga nama kedua iblis penghuni hutan amat terkenal dan
semenjak itu, tak seorang pun berani melangkahkan kaki memasuki hutan. Siapa orangnya
yang takkan merasa takut dan ngeri mendengar betapa tujuh orang piauwsu ternama dibikin
tak berdaya oleh sepasang siluman yang lihai itu?
Berita tentang sepasang iblis itu tentu saja tidak begitu dipercaya oleh pendatang-pendatang
baru dari kota-kota besar, terutama sekali oleh orang-orang yang pandai ilmu silat. Betapapun
juga, karena mereka pun tahu bahwa di dunia ini banyak terjadi hal-hal aneh dan banyak
sekali terdapat orang-orang pandai tidak berani mencoba untuk melanggar pantangan
penduduk dan tidak mau memasuki hutan itu. Bahkan Pek I Hosiang, seorang tokoh kangouw yang sudah ulung dan berkepandaian tinggi, juga menasehatkan murid-muridnya yang
banyak jumlahnya agar supaya jangan mengganggu hutan itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
96
“Siapa tahu,” kata hwesio itu kepada muridnya yang membantah, “kalau-kalau di tempat itu
terdapat seorang pertapa yang mengasingkan diri dan tidak mau diganggu pertapaannya.”
Akan tetapi, sebagaimana telah dituturkan di depan, tiga orang penebang kayu yang bertubuh
kuat itu duduk di luar hutan, merundingkan tentang kehendak mereka menebang kayu besi
yang terdapat di hutan itu. Mereka ini adalah murid-murid Pek I Hosiang yang terhitung
pandai, dan sungguhpun tadinya yang tertua di antara rnereka masih merasa ragu-ragu untuk
memasuki hutan itu, namun berkat desakan kedua orang sutenya (adik seperguruannya),
akhirnya mereka masuk juga ke dalam hutan itu!
“Bagaimanapun juga, Sute, kita harus berhati-hati dan lebih baik bekerja diam-diam jangan
banyak berisik,” kata orang tertua di antara ketiga orang penebang pohon itu. Kedua sutenya
menurut, karena memang keadaan hutan yang masih liar dan tak pernah dimasuki orang itu
sangat menyeramkan.
Ketika mereka bertiga berjalan lambat sambil melihat ke kanan kiri untuk mencari pohon
besi yang hendak mereka tebang, tiba-tiba orang tertua itu melihat sesuatu dan ia cepat
memegang tangan kedua sutenya dan ditariknya mereka untuk bersembunyi di belakang
sebatang pohon yang besar.
“Lihat, apakah itu?” katanya kepada kedua orang sutenya yang memandang heran. Dua orang
kawannya memandang ke arah yang ditunjuknya dan mereka masih sempat melihat bayangan
putih berkelebat cepat sekali.
“Orangkah dia?” seorang berbisik.
“Entahlah, akan tetapi gerakannya sungguh cepat!” memuji orang termuda yang paling tabah
hatinya. “Mari kita mendekat, dia masuk ke dalam gua itu!”
Kedua orang kawannya ragu-ragu, akan tetapi karena tidak melihat bayangan tadi muncul
kembali, sedangkan sute mereka dengan berani sudah keluar dari balik pohon dan menuju ke
tempat bayangan tadi menghilang, mereka juga mengikuti sute mereka.
Benar saja, di tempat yang meninggi, terdapat sebuah gua yang lebar. Gua ini amat gelap
sehingga tidak kelihatan apakah gua itu merupakan terowongan atau bukan.
Tiba-tiba terdengar bentakan dari dalam, “He! Kalian mau apa datang ke sini? Hayo cepat
pergi!” Berbareng dengan ucapan itu, terlihat berkelebat bayangan putih keluar dari gua yang
gelap itu dan tahu-tahu di depan mereka berdiri seorang pemuda yang luar biasa eloknya!
Muka pemuda ini berkulit halus dan putih, matanya tajam berpengaruh dan mulutnya yang
kuat dan membayangkan kehendak yang teguh dan kemauan yang membaja. Tubuhnya
sedang dengan pinggang langsing, pakaiannva sederhana akan tetapi rapi, seperti pakaian
seorang pelajar, berwarna putih. Ia mengenakan mantel panjang yang putih pula, dan di antara
semua pakaian yang menutup tubuhnya, hanya leher baju yang menurun terus ke pinggang
dan kopyahnya saja yang berwarna biru. Juga sepatunya berwarna hitam. Memang janggal
sekali melihat seorang penghuni gua yang berpakaian sedemikian putih bersih.
Melihat pemuda ini hanya seorang manusia biasa, bukan seorang iblis, ketiga orang penebang
pohon itu bernapas lega.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
97
“Kami adalah penebang-penebang kayu dan hendak mencari pohon besi yang banyak tumbuh
di hutan ini,” jawab penebang tertua.
Pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, digoyang beberapa kali lalu berkata, “jangan
kalian melakukan hal itu. Lebih baik lekas kalian pergi dari sini!”
Penebang kayu yang termuda melangkah maju dan berkata marah,
“Orang muda, dengan alasan apakah kau melarang kami melakukan penebangan pohon besi
di hutan ini? Dan hak apakah yang kauandalkan untuk mengusir kami?”
“Alasannya, kalau kau melakukan penebangan pohon, berarti kau melanggar laranganku dan
ini berbahaya sekali bagi keselamatanmu. Adapun tentang hak, aku menggunakan hak sebagai
seorang yang lebih dulu datang di tempat ini daripada kalian bertiga!”
Marahlah penebang muda itu. “Kau anak kecil sombong amat! Kalau kami bertiga
melanjutkan kehendak kami, kau mau apakah? Apakah kau ini siluman yang menguasai hutan
ini seperti yang dikabarkan orang?”
“Tutup mulut dan pergilah!” seru pemuda itu dan biarpun sikapnya masih setenang tadi,
namun sepasang aslinya yang indah bentuknya itu mulai bergerak-gerak.
Akan tetapi, biarpun sinar mata pemuda ini tajam dan berpengaruh, namun ia hanya
merupakan seorang pemuda yang halus dan tidak nampak berbahaya. Tentu saja tiga orang
penebang kayu yang bertubuh kuat dan memiliki kepandaian silat itu tidak takut
menghadapinya. Mereka bertiga lalu mengeluarkan senjata mereka yang menyeramkan, yaitu
tangan kanan memegang golok lebar yang tajam sedangkan tangan kiri memegang sebatang
kapak yang tidak kalah hebatnya.
“Ha-ha, anak muda! Betapapun galaknya mulutmu, kami tidak takut. Kami hendak menebang
pohon dengan kapak dan golok ini, kau mau apa? Ha-ha-ha!” Akan tetapi baru saja ia
menutup mulutnya, pemuda itu telah lenyap. Tubuhnya berkelebat merupakan bayangan putih
dan penebang pohon yang termuda ini memekik keras ketika merasa betapa kapak dan
goloknya bagaikan bisa terbang sendiri meninggalkan kedua tangannya tanpa dapat dicegah
pula! Ternyata bahwa dengan sekali gerakan saja, pemuda baju putih itu telah berhasil
merampas kapak dan goloknya yang kini dilempar di atas tanah!
Dua orang penebang yang lain menjadi marah dan terkejut sekali. Sambil berseru marah,
mereka lalu maju menyerang dan pada saat itu, dua batang golok dan dua batang kapak telah
menyambar ganas menuju ke tubuh pemuda baju putih itu! Akan tetapi kembali mereka
dibikin bengong oleh pemuda aneh itu. Agaknya tubuh pemuda itu tidak bergerak sama
sekali, buktinya kedua kakinya tidak berpindah tempat. Hanya kedua lengan tangannya saja
bergerak cepat dan tubuhnya bergoyang-goyang menghindari sambaran keempat senjata itu
dan... “aduh...! aduh...!” dua orang itu merasa kedua lengan mereka tiba-tiba menjadi lemas
dan sakit sekali karena entah dengan gerakan bagaimana, jari-jari tangan pemuda itu telah
berhasil menotok pergelangan kedua tangan penebang pohon itu! Kembali senjata-senjata
mereka terpaksa mereka lepaskan dan jatuh bertumpuk di atas tanah!
Sudah tentu saja mereka bertiga hampir tak dapat percaya akan kejadian yang baru saja
mereka alami itu. Bagaimanakah mereka yang memegang senjata dan memiliki kepandaian
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
98
tinggi, kini dipaksa melepaskan senjata dengan cara yang demikian mudahnya oleh pemuda
ini? Ilmu silat apakah yang dipergunakan oleh pemuda baju putih itu untuk menghadapi
mereka? Mereka hanya memandang dan berdiri bagaikan patung. Silumankah pemuda ini,
demikian mereka berpikir dan memandang dengan hati merasa seram.
“Pergilah...! Pergilah...!” pemuda itu dengan acuh tak acuh berkata sambil menggerakkan
tangan kanan seperti mengusir lalat yang mengganggunya!
Tiba-tiba terdengar suara dari dalam gua. “Siong-ji..., lempar saja tikus-tikus itu ke dalam
jurang! Untuk apa melayani mereka!”
Pemuda baju putih itu menengok ke arah gua dan menjawab,
“Mereka hanyalah tiga penebang pohon yang tak berarti, Ibu!”
“Mereka telah lancang, berani mendekati tempat kita!” suara dari dalam gua itu makin
nyaring dan tiba-tiba tiga orang penebang pohon itu melihat berkelebatnya bayangan merah
yang luar biasa sekali cepatnya. Belum sempat mata mereka melihat dengan jelas, tiba-tiba
mereka telah roboh pingsan!
Ketika tiga orang penebang pohon itu siuman kembali, mereka mendapatkan diri telah berada
di luar hutan yang menyeramkan itu! Sambil mengeluh mereka meraba pundak mereka yang
masih terasa sakit dan linu, bekas tertotok secara luar biasa sekali oleh bayangan merah tadi.
“Ah, Sute. Kalau kau tadi mendengar omonganku, tidak akan kita mengalami kesengsaraan
ini!” kata yang tertua sambil bangun dengan tubuh masih lemas.
Penebang termuda tak dapat menjawab karena pengalaman tadi masih membuatnya berdebardebar.
“Mereka itukah siluman-siluman yang ditakuti orang?” tanyanya perlahan.
“Mungkin! Mana ada orang semuda itu sudah sedemikian lihainya? Hanya siluman saja yang
dapat merampas senjata kita secara demikian aneh,” kata orang ke dua.
“Dan bayangan merah tadi... apakah dia itu? Ia pandai bicara, akan tetapi gerakannya
demikian hebat! Hebat dan mengerikan!” kata yang tertua sambil bergidik teringat akan
serangan bayangan merah tadi. “Sungguh berbahaya sekali!”
“Betapapun juga, aku masih penasaran, Suheng!” kata yang termuda. “Tak mungkin pemuda
tadi seorang siluman. Memang kepandaiannya hebat luar biasa, akan tetapi ia seorang
manusia biasa saja, bukan setan. Apakah pekerjaan mereka berdua di tempat itu? Janganjangan mereka adalah orang-orang jahat yang menyembunyikan diri.”
“Habis kau mau apa, Sute? Terhadap orang-orang lihai seperti mereka, lebih baik kita
menjauhkan diri,” kata yang tertua.
“Celaka, kapak dan golok kita tertinggal di depan gua!” mengeluh orang ke dua.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
99
“Kita harus melaporkan hal ini kepada Suhu!” Demikianlah, sambil tiada hentinya
membicarakan peristiwa aneh itu, ketiga penebang pohon ini lalu kembali ke dusun tempat
tinggal mereka. Karena mereka menceritakan pengalaman mereka kepada kawan-kawan di
dusun, maka sebentar saja gegerlah dusun itu dan semua orang membicarakan sepasang
“siluman” di hutan itu yang disebutnya “Pek-ang-siang-mo” (Sepasang Iblis Putih Merah).
Pek I Hosiang mendengarkan penuturan tiga orang muridnya dengan penuh perhatian dan
hatinya amat tertarik. Akan tetapi ia tidak menyatakan perhatiannya, bahkan ia lalu menegur
ketiga orang muridnya itu.
“Kalian bertiga memang telah berlaku lancang. Mana ada siluman di dunia ini? Seperti yang
kuduga, mereka adalah orang-orang pandai yang bertapa. Mungkin pemuda itu murid si
pertapa yang kalian lihat sebagai bayang-bayang merah. Lain kali janganlah kalian berlaku
lancang. Hutan di sekitar pegunungan ini amat banyak, mengapa justru mencari di tempat
yang terlarang itu?”
Sungguhpun mulutnya menyatakan demikian, namun di dalam hatinya Pek I Hosiang merasa
tertarik dan ingin sekali menyaksikan sepasang siluman itu dengan mata kepala sendiri.
Sebagai seorang hwesio, ia tidak menghendaki permusuhan, akan tetapi sebagai seorang
kang-ouw yang berkepandaian tinggi, tentu saja ia amat tertarik mendengar tentang kelihaian
ilmu silat orang lain. Ia ingin sekali melihat siapakah gerangan orang pandai yang
menyembunyikan diri di tempat itu. Diam-diam ia mengambil keputusan untuk pergi sendiri
menemui dua orang aneh itu.
Di dalam hutan yang dianggap oleh penduduk sebagai tempat tinggal Pek-ang-siang-mo itu,
terdapat sebuah lapangan terbuka dekat sebatang anak sungai yang bening airnya.
Pemandangan di situ sungguh indah. Pada suatu pagi, di kala burung-burung hutan berkicau
dan bersuka-ria menyambut datangnya sang Matahari, di atas lapangan nampak sinar pedang
bergulung-gulung menyelimuti bayangan putih yang cepat sekali gerakannya. Kadang-kadang
gerakan sinar pedang itu mengendur dan tampaklah bavangan putih itu sebagai tubuh seorang
pemuda baju putih yang sedang mainkan pedangnya dengan gerakan yang amat indahnya. Di
waktu permainan ilmu pedangnya mengendur, ia seakan-akan sedang menari saja.
Tidak saja ilmu pedangnya yang aneh, bahkan pedang di tangan pemuda baju putih itu lebih
aneh lagi. Disebut pedang bukan pedang, akan tetapi cara memegang dan memainkannya
sama dengan pedang! Senjata ini selain aneh juga indah akan tetapi juga mengerikan. Ukuran
besar dan panjangnya tak berbeda dengan pedang biasa, akan tetapi senjata ini tidak tajam
juga tidak runcing sehingga lebih tepat kalau disebut bentuknya seperti tongkat pendek. Akan
tetapi, senjata ini berbentuk ukiran sin-liong (naga sakti) membelit tiang. Ukirannya indah
sekali dan agaknya terbuat daripada logam yang amat keras berkilauan, dan berwarna putih
sedangkan tubuh naga yang melibatnya berwarna kuning. Pemuda itu memegang naga itu
pada ekornya sehingga kepala naga merupakan ujung senjata itu. Dari mulut naga kecil itu
keluar lidah merah yang panjang dan mengerikan.
Setelah bermain silat dengan gerakan lambat dan indah, tiba-tiba ia memutar senjatanya
makin lama semakin cepat dan kembali lenyaplah tubuhnya terbungkus oleh gulungan sinar
senjatanya yang dahsyat.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
100
“Cukup, Siong-ji (Anak Siong), kau mengasolah!” terdengar suara nyaring dari seorang
wanita yang berdiri tak jauh dari situ sambil memandang permainan pemuda itu dengan penuh
perhatian.
Wanita itu mengenakan pakaian serba merah sungguhpun pakaiannya itu amat sederhana
potongannya, namun terbuat dari kain sutera dan amat bersih. Kalau orang melihatnya dari
belakang atau dari samping, orang akan mengira bahwa ia adalah seorang wanita muda,
karena bentuk tubuhnya yang langsing itu masih nampak kuat dan penuh, kulit tangannya
halus dan putih. Akan tetapi kalau orang berhadapan muka dengannya, ia akan terkejut
melihat bahwa wanita ini nampak sudah tua sekali. Rambutnya hampir putih semua, kulit
mukanya berkeriput, sungguhpun matanya masih bening dan bersinar tajam, bahkan giginya
masih bagus dan rata seperti gigi wanita muda yang cantik! Masih jelas nampak bahwa dia
dulu adalah seorang wanita yang amat cantiknya dengan bentuk muka yang bagus. Kerutmerut pada jidatnya membayangkan penderitaan batin yang hebat dan mulutnya yang masih
berbentuk manis sekali itu ditarik mengeras dan tak pernah nampak tersenyum.
Pembaca tentu telah dapat menduga siapa adanya wanita ini. Dia bukan lain adalah Ang I
Niocu Kiang Im Giok, pendekar wanita yang di waktu mudanya telah menggemparkan dunia
persilatan karena kegagahannya. Tak seorang pun ahli silat di dunia kang-ouw yang tidak
mengenal atau tak mendengar namanya yang besar. Ia amat terkenal, baik karena
kepandaiannya maupun karena kecantikannya yang luar biasa.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Ang I Niocu adalah seorang wanita yang amat
memperhatikan dan menyayangi kecantikannya sehingga untuk menjaga kecantikannya dari
usia tua, ia tidak segan-segan untuk mencari obat kecantikan berupa telur Pek-tiauw (burung
rajawali putih) dan telah banyak makan telur ini yang dapat memelihara kecantikannya. Di
waktu ia berusia tiga puluh tahun lebih ia masih nampak cantik jelita bagaikan seorang gadis
berusia tujuh belas tahun.
Akan tetapi segata sesuatu di dunia ini tidak kekal adanya. Bahkan keadaan yang ditimbulkan
karena kekuasaan alam yang sewajarnya pun masih tidak kekal adanya, apalagi keadaan yang
ditimbulkan oleh kekuasaan yang tidak wajar. Khasiat telur Pek-tiauw itu biarpun luar biasa
sekali, namun ada pantangannya, yaitu wanita yang telah makan obat ini, apabila mempunyai
putera, akan musnalah khasiat obat itu, bahkan akibatnya mengejutkan sekali. Ang I Niocu
setelah melahirkan seorang putera, tidak saja kecantikan dan kemudaannya lenyap, ia nampak
amat tua dua kali lipat seperti seorang wanita berusia delapan puluh tahun!
Di bagian depan telah diceritakan bahwa karena batinnya menderita disebabkan oleh keriput
di wajahnya dan uban di kepalanya yang membuatnya nampak tua sekali, diam-diam Ang I
Niocu meninggalkan suamina, Lie Kong Sian, dan pergi merantau membawa putera
tunggalnya. Pendekar wanita ini merantau sampai jauh, dan semenjak meninggalkan pulau
tempat tinggalnya, ia selalu memilih jalan yang sunyi agar tidak bertemu dengan orang-orang
yang dikenalnya. Akhirnya ia memilih Pegunungan Ho-lan-san sebagai tempat tinggalnya di
mana ia mendidik puteranya, Lie Siong, dengan sungguh-sungguh dan penuh ketekunan.
Tempat tinggalnya hanya di dalam sebuah gua yang besar dan amat dalam. Akan tetapi di
dalam hidup penuh kesederhanaan ini, ia selalu memperhatikan keperluan putranya yang amat
dicintainya. Segala keperluan Lie Siong, makanan lezat dan pakaian indah sampai barangbarang permainan apa saja, ia adakan dan tak segan-segan pada malam hari Ang I Niocu
mendatangi kota-kota besar untuk mencari barang-barang itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
101
Dengan amat rajin, Ang I Niocu menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Lie Siong. Ia
mengajarkan ilmu silat pedang yang luar biasa, Sianli-utauw (Tari Bidadari), Ngo-lian-hoankiam-hwat (Ilmu Pedang Lima Teratai), ilmu pukulan yang disebut Pek-in-hoat-sut (Ilmu
Sihir Awan Putih), dan juga Kong-ciak-sin-na (Ilmu Silat Burung Merak)! Lie Siong ternyata
memiliki otak yang cerdik dan bakat yang baik sekali sehingga ia dapat mempelajari semua
ilmu itu dengan cepat dan baik sekali.
Akan tetapi, oleh karena ia hanya hidup bersama dengan ibunya yang menderita dan tak
pernah bergembira, maka ia pun menjadi seorang pemuda yang amat pendiam, keras hati, dan
angkuh. Ang I Niocu merasa demikian bangga kepada puteranya ini sehingga ketika
puteranya baru berusia empat belas tahun, ia sengaja mencarikan sebuah senjata istimewa
untuk Lie Song. Ang I Niocu mendengar tentang seorang kepala rampok di Kun-lun-san yang
mempunyai sebatang senjata yang disebut Sin-liong-kiam (Pedang Naga Sakti). Tanpa
menghiraukan jauhnya tempat itiu dan kesukaran yang dihadapinya, Ang I Niocu mendatangi
tiga kepala rampok itu dan setelah bertempur hebat, akhirnya ia berhasil mengalahkan si
kepala rampok dan merampas senjatanya!
Demikianlah, dengan Sin-liong-kiam di tangannya Lie Siong makin gagah seakan-akan
seekor harimau muda tumbuh sayap. Beberapa kali anak muda ini bertanya kepada ibunya
tentang ayahnya, dan Ang I Niocu juga tidak menyembunyikan sesuatu. Ia menceritakan
kepada Lie Siong tentang ayahnya yaitu Lie Kong Sian dan mengapa mereka meninggalkan
Pulau Pek-le-to. Juga Ang I Niocu menceritakan tentang pendekar-pendekar silat yang
menjadi kawan-kawannya seperti Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan isterinya Kwee Lin,
sepasang suami isteri murid Bu Pun Su yang amat pandai. Ia menceritakan pula tentang Kwee
An dan Ma Hoa, sepasang suami isteri pendekar yang juga memiliki ilmu silat tinggi yang
menjadi sahabat baiknya.
“Kelak kalau kau bertemu dengan mereka, kau akan dapat menarik banyak pelajaran dari
empat orang pendekar ini, Siong-ji,” Ang I Niocu seringkali berkata. Akan tetapi, ia tidak
tahu bahwa hati puteranya itu lebih tinggi dan lebih angkuh daripada hatinya sendiri ketika
masih muda. Mendengar ibunya memuji-muji Pendekar Bodoh dan yang lain-lain, hati Lie
Siong tidak menjadi tunduk, bahkan ia merasa penasaran dan ingin sekali mencoba sampai di
mana kepandaian mereka itu!
Beberapa kali Lie Siong minta kepada ibunya untuk turun gunung, akan tetapi ibunya selatu
mencegahnya. “Kepandaianmu masih belum cukup sempurna, Siongji. Di dunia ini banyak
sekali terdapat orang jahat, dan kalau kau tidak memiliki kepandaian yang tinggi, kau akan
mudah terganggu oleh orang-orang yang jahat dan pandai.”
Demikianlah, pada pagi hari itu, seperti biasa Lie Siong berlatih ilmu silat pedang di bawah
pengawasan ibunya. Kali ini Ang I Niocu merasa puas betul karena ternyata bahwa gerakan
ilmu pedang puteranya sudah sempurna, tidak ada kesalahan sedikit pun. Diam-diam ia
maklum bahwa sekarang kepandaian puteranya telah mencapai tingkat yang tak lebih rendah
daripada kepandaiannya sendiri! Ia telah mewariskan seluruh kepandaiannya kepada putera
tercinta ini.
“Siong-ji,” kata Ang I Niocu sambil duduk di dekat puteranya dan memandang dengan mata
penuh kasih sayang, “sekarang aku berani menyatakan bahwa kepandaianmu sudah sampai di
tingkat yang cukup tinggi. Aku dapat meninggalkan dunia ini dengan hati lega karena
kepandaianmu ini sudah cukup untuk digunakan sebagai penjaga diri.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
102
Berseri wajah Lie Siong mendengar ini. Biasanya, sehabis berlatih, ibunya selalu masih
mencelanya.
“Kalau begitu, sudah tiba waktunya bagiku untuk turun gunung, Ibu?”
Ang I Niocu menggeleng kepala. “Berat bagiku untuk berpisah darimu, Anakku. Kalau kau
pergi, bagaimanakah dengan aku?”
“Mengapa, Ibu? Mengapa Ibu tidak ikut turun gunung? Marilah kita turun dari tempat yang
sunyi ini. Apakah selama hidup Ibu tidak mau bertemu dengan manusia?”
Tiba-tiba kerut di jidat Ang I Niocu makin mendalam. “Tengoklah aku, Siong-ji. Lihatlah
mukaku baik-baik! Alangkah akan malu hatiku dan hatimu apabila orang lain melihat mukaku
yang buruk ini!” Ia lalu menarik napas panjang berulang-ulang.
Lie Siong juga mengerutkan keningnya dan memandang wajah ibunya. “Aneh sekali, Ibu.
Aku telah merasa heran karena kau selalu menyebut hal ini. Menurut pandanganku wajahmu
amat cantik dan aku bangga melihat wajahmu, Ibu. Mengapa kau selalu menganggap
wajahmu buruk? Aku sudah seringkali melihat wanita-wanita di dusun bawah gunung dan tak
seorang di antara mereka memiliki mata sebening mata Ibu, bentuk muka secantik muka Ibu!
Ibu sama sekali tidak buruk, hanya nampak tua, itu betul. Akan tetapi, apakah hal ini perlu
dibuat malu? Apakah yang tidak akan menjadi tua di dunia ini? Benda-benda yang paling
keras dan kuat, akhirnya akan menjadi tua pula!”
Ang I Niocu memegang tangan puteranya. “Ah, Siong-ji, kalau saja kau dapat melihat wajah
ibumu di waktu masih muda dulu! Ah, dibandingkan dengan sekarang, bedanya seperti bumi
dengan langit!”
“Aku tidak peduli, Ibu. Bagiku, bagaimanapun juga perubahan yang terjadi kepada wajahmu,
kau tetap ibuku. Tua atau muda, cantik atau buruk, seorang Ibu tetap menjadi wanita termulia
di dunia ini! Marilah kita turun gunung, Ibu, dan aku bersumpah, siapa saja yang berani
mencela wajah Ibu, yang berani menghina atau membikin malu kepadamu, akan kupecahkan
kepalanya!”
Dengan terharu Ang I Niocu memeluk puteranya. “Aku girang mendengar ucapanmu ini,
Siong-ji. Kau tak perlu khawatir, kurasa tidak ada seorang pun di dunia ini yang begitu berani
menghina Ang I Niocu! Seandainya ada, tak perlu kau mengeluarkan peluh, aku sendiri masih
cukup kuat untuk meremukkan kepalanya!”
“Kalau begitu, kauturun gunung, Ibu?”
Kembali kening Ang I Niocu berkerut. “Nanti dulu, Siong-ji... aku masih ragu-ragu...
wajahku ini...”
Lie Siong bangun berdiri dan membanting-banting kaki. “Lagi-lagi Ibu bicara tentang
wajah...!”
“Ah, kau tidak tahu, Anakku. Dulu, Ang I Niocu adalah secantik-cantiknya orang, akan tetapi
sekarang, seburuk-buruknya wanita! Bagaimana aku dapat menghadapi mereka?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
103
“Mereka siapa, Ibu?”
“Ayahmu, Pendekar Bodoh, Lin Lin, Kwee An, Ma Hoa...”
“Sudahlah, sudahlah! Aku bosan mendengar nama mereka kausebut-sebut saja!” kata Lie
Siong sambil mempergunakan kedua tangan untuk menutup telinganya!
Pada saat itu, Ang I Niocu yang tadinya masih duduk di atas tanah, melompat bangun dan
memegang lengan anaknya. Ia mendengar sesuatu dan sebelum ia dan puteranya dapat
bergerak, tiba-tiba berkelebat bayangan orang dengan gesitnya dan tahu-tahu di depan mereka
telah berdiri seorang hwesio gundul yang berpakaian putih dan berusia kurang lebih enam
puluh tahun.
Hwesio ini bermuka lebar, bermata tenang berpengaruh dan mulutnya selalu tersenyum
sabar. Dia adalah Pek I Hosiang yang sengaja datang mencari ke dalam hutan ini karena
hendak menyaksikan sendiri bagaimana macamnya “Sepasang Iblis” yang ditakuti orangorang itu. Ia telah dapat menemukan gua tempat tinggal sepasang iblis itu dan melihat golok
dan kapak milik tiga orang rnuridnya berserakan di depan gua. Melihat gua itu kosong dan
sunyi, Pek I Hosiang lalu mencari ke tempat lain dan akhirnya ia mendengar suara dua orang
bercakap-cakap maka cepat menghampiri mereka.
Pek I Hosiang cepat membungkuk dan merangkapkan kedua tangan di depan dadanya.
“Omitohud! Harap dimaafkan apabila pinceng mengganggu Ji-wi, dan datang tanpa
diundang. Kalau pinceng tidak salah duga, Ji-wi tentulah sepasang pendekar yang
mengasingkan diri di dalam hutan ini, dan yang telah disohorkan oleh semua orang di sekitar
pegunungan ini.”
Tiba-tiba Ang I Niocu melangkah maju menghadapi hwesio itu dan membentak, “Pergilah...!
Kau hwesio tak tahu adat, pergilah dari sini!”
Pek I Hosiang terkejut melihat wanita tua yang amat galak ini, akan tetapi dengan sabar ia
tersenyum dan kembali memberi hormat.
“Maaf, maaf! Sudah pinceng akui tadi bahwa pinceng berlaku lancang, akan tetapi pinceng
memang sengaja datang hendak berkenalan dengan Ji-wi yang lihai. Pinceng mendengar
tentang keadaan Ji-wi dari tiga orang murid pinceng yang beberapa hari yang lalu telah
berlaku kurang ajar dan menerima hukuman. Pinceng bernama Pek I Hoasiang dan menjadi
ketua dari kelenteng di bawah gunung. Pinceng sengaja datang untuk memintakan maaf bagi
ketiga murid pinceng. Bolehkah kiranya pinceng mengetahui, Ji-wi siapakah?”
“Sudahlah, sudahlah!” Ang I Niocu membanting-banting kakinya dengan gemas dan hilang
sabar. “Kami tidak ingin mengetahui namamu dan tidak ingin pula memperkenalkan nama.
Kaupergilah, jangan sampai aku kehilangan kesabaranku dan menjatuhkan tangan
kepadamu!”
Akan tetapi Pek I Hosiang masih tetap tenang dan sabar.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
104
“Toanio (Nyonya Besar), harap suka berlaku sabar, karena sesungguhnya pinceng tak
bermaksud buruk. Sudah bertahun-tahun pinceng mendengar tentang adanya sepasang
siluman di hutan ini, tetapi pinceng tidak percaya dan menduga bahwa yang dianggap siluman
tentulah dua orang sakti yang bertapa di sini.”
“Cukup...! Pergi...!” Ang I Niocu membentak lagi.
“Omitohud! Banyak sudah pinceng ketemu orang-orang pandai, akan tetapi tidak ada yang
seaneh Ji-wi ini...”
“Kau mencari penyakit!” Sambil membentak marah, Ang I Niocu lalu maju menyerang
dengan sebuah pukulan dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut. Pukulan ini hebat luar biasa sekali,
karena dari kedua lengan tangannya mengebul uap putih!
“Omitohud!” Kembali Pek I Hosiang menyebut nama Buddha dan cepat seperti kilat ia
mengelak sambil menangkis dengan tangan kanannya. Ketika dua lengan tangan beradu, Pek I
Hosiang berseru kaget dan terhuyung-huyung mundur tiga tindak, sedangkan Ang I Niocu
juga merasa betapa tenaga pukulannva terbentur pada tenaga yang amat kuat. Ia merasa heran
sekali karena jarang ada orang yang dapat menahan pukulan Pek-in-hoat-sut! Ia maklum
bahwa hwesio ini bukanlah orang sembarangan.
Sebaliknya, melihat pukulan ini, Pek I Hosiang memandang dengan mata terbelalak.
“Bukankah... pukulan tadi sebuah gerakan dari Pek-in-hoatsut?” katanya sambil memandang
dengan mata terbelalak.
Kembali Ang I Niocu tertegun. “Kau sudah mengetahui kelihaian pukulanku, tidak lekas
minggat dari sini??” Ia maju lagi, siap menyerang kembali.
“Ah... kalau begitu..., Toanio ini, tentulah Ang I Niocu!”
Bukan main terkejut dan marahnya hati Ang I Niocu mendengar bahwa hwesio tua ini telah
mengenalnya. Selama ini ia berusaha untuk menjauhi manusia agar tidak ada orang melihat
bahwa Ang I Niocu yang cantik jelita kini telah berubah menjadi seorang nenek tua buruk.
“Bangsat gundul! Dengan menyebut nama itu, berarti kau harus mampus!” teriaknya dan
kembali ia memukul. Akan tetapi Pek I Hosiang dapat mengelak dengan cepat sambil berkata,
“Tentu Ang I Niocu! Siapa lagi wanita berbaju merah yang cantik jelita dan dapat mainkan
Ilmu Silat Pek-in-hoatsut selain Ang I Niocu?”
Ucapan ini makin membakar hati Ang I Niocu. Sesungguhnya, dalam pandangan mata Pek I
Hosiang, ia masih nampak cantik jelita, sungguhpun sudah amat tua, akan tetapi ia mengira
bahwa hwesio itu sengaja menghina dan mengejeknya dengan menyebutkan cantik jelita tadi.
Ketika ia hendak menyerang kembali, tiba-tiba Lie Siong berkata,
“Ibu, berikanlah hwesio ini kepadaku!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
105
Ang I Niocu tiba-tiba teringat akan puteranya dan ia lalu timbul pikiran untuk mencoba
kepandaian puteranya itu. Hwesio ini cukup tangguh, dan tepatlah kalau digunakan sebagai
ujian bagi puteranya.
“Baik, kaumajulah dan hancurkan kepala orang yang sudah berani menghina ibumu ini,”
katanya sambil melompat mundur.
Di dalam hatinya, Lie Siong tidak setuju dengan pendapat ibunya. Ia sama sekali tidak
menganggap hwesio tua ini menghina ibunya, akan tetapi ia tidak berkata sesuatu. Memang ia
sengaja hendak mencoba kepandaian hwesio ini, sekalian untuk mencegah ibunya turun
tangan, karena pemuda ini dapat menduga bahwa kalau ibunya yang maju, hwesio ini pasti
akan tewas!
Demikianlah, tanpa menanti hwesio itu mengeluarkan kata-kata, Lie Siong lalu melompat
maju dan menyerangnya dengan pukulan dari Ilmu Silat Sianli-utauw. Hwesio itu kagum
sekali melihat gerakan yang indah ini dan timbul kegembiraan hatinya untuk mencoba
kepandaian “siluman” ini.
Pek I Hosiang adalah seorang hwesio yang memiliki ilmu silat tinggi. Dia adalah murid
tunggal dari Biauw Leng Hosiang, tokoh kang-ouw yang amat terkenal. Bagi pembaca yang
sudah membaca cerita Pendekar Bodoh, tentu masih ingat bahwa Biauw Leng Hosiang adalah
sute (adik seperguruan) dari Biauw Suthai, tokouw (pendeta wanita) yang lihai dan yang
menjadi guru pertama dari Lin Lin atau Nyonya Cin Hai si Pendekar Bodoh! Oleh karena itu
tentu saja ilmu silatnya amat tinggi. Tidak seperti gurunya yang tersesat (baca Pendekar
Bodoh), Pek I Hosiang ternyata menjadi seorang hwesio yang suci dan beribadat.
Pek I Hosiang telah sering mendengar nama Ang I Niocu dan mendengar pula bahwa ilmu
silat Pendekar Wanita Baju Merah itu amat tinggi. Ia tahu pula bahwa Ang I Niocu mendapat
latihan dari Bu Pun Su dan mempelajari ilmu-ilmu silat tinggi seperti Pek-in-hoatsut, Kongciak-sinna dan lain-lain. Maka ketika ia melihat pemuda itu bersilat demikian indahnya, ia
dapat menduga bahwa tentu inilah ilmu silat yang disebut Sianli-utauw!
Biarpun gerakan pemuda itu lemah lembut dan ilmu silatnya lebih patut disebut tarian yang
indah, namun ia maklum akan kelihaian tarian ini dan tidak berani memandang ringan.
Beberapa kali ia sengaja menangkis untuk mencoba tenaga pemuda ini, akan tetapi ia terkejut
sekali ketika merasa betapa lengannya tergetar tiap kali bertemu dengan lengan pemuda itu! Ia
menjadi kagum sekali. “Pantas...!” serunya sambil mengelak dari sebuah pukulan. “Pantas
sekali kau menjadi putera Ang I Niocu yang lihai!”
Selama hidup Pek I Hosiang belum pernah menghadapi tandingan semuda dan selihai ini,
maka saking gembiranya, ia lalu mencabut keluar senjatanya, yaitu sepasang toya pendek
yang tadi diselipkan pada ikat pinggangnya.
“Anak muda, mari kita coba-coba mengadu senjata!” katanya.
Lie Siong mewarisi watak ibunya yang keras dan tinggi hati, maka mendapat tantangan ini, ia
tidak mempedulikan lawannya dan terus saja menyerang dengan tangan kosong! Ia lalu
mengeluarkan limu Silat Kong-ciak-sinna, semacam ilmu silat yang banyak mempergunakan
cengkeraman dan memang tepat sekali dipergunakan untuk menghadapi lawan bersenjata
dengan tangan kosong!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
106
Pek I Hosiang terkejut sekali dan biarpun mulutnya tetap tersenyum dan sepasang matanya
memandang kagum, namun di dalam hatinya ia merasa penasaran dan tidak senang. Alangkah
sombongnya anak muda ini, pikirnya. Karena itu, ia lalu memutar kedua toyanya dengan
cepat sekali dan mengerahkan seluruh kepandaiannya bermain toya.
Perlu diketahui oleh para pembaca yang belum membaca Pendekar Bodoh bahwa tingkat
ilmu silat Biauw Leng Hosiang tidak di bawah tingkat Ang I Niocu, maka karena Pek I
Hosiang juga sudah mewarisi sebagian besar dari ilmu silat gurunya itu, maka tentu saja Lie
Siong tak dapat tahan menghadapinya dengan tangan kosong.
Kedua toya pendek di tangan Pek I Hosiang bergerak bagaikan sepasang ular besar
menyerang dengan berlenggak-lenggok, sehingga usaha Lie Siong dengan Ilmu Silat Kongciak-sinna untuk merampas senjata ini tak pernah berhasil. Bahkan lambat akan tetapi pasti,
Pek I Hosiang mulai mendesak pemuda itu!
Melihat betapa pemuda itu masih saja tidak mau mengeluarkan senjatanya, Pek I Hosiang
lalu mainkan gerak tipu Hing-san-chian-kun (Menyerampang Bersih Ribuan Tentara). Kedua
toyanya menyambar-nyambar dari kanan kiri mengeluarkan gulungan sinar putih yang
mendatangkan angin menderu.
Lie Siong diam-diam terkejut juga melihat kehebatan lawan ini dan ia terpaksa lalu
menggerakkan kedua kakinya dan menghindarkan desakan lawan dengan Tui-po-lian-hoan
(Gerakan Kaki Mundur Berantai) sambil memukul-mukulkan kedua tangan menggunakan
tenaga dari Ilmu Silat Pek-in-hoatsut untuk menolak datangnya kedua toya yang berbahaya
itu.
Namun, gerakan kedua toya di tangan Pek I Hosiang amat cepatnya dan juga tidak lurus
seperti senjata lain, melainkan berlenggak-lenggok tak tentu dari mana arah menyerangnya
sehingga sukarlah untuk ditangkis, sungguhpun dengan tenaga Pek-in-hoatsut yang lihai.
Karena itu, terpaksa Lie Siong mengenjot kedua kakinya, dan sambil berseru keras ia
melompat dengan gerakan Lee-hi-ta-teng (Ikan Melompat ke Atas) kemudian disusul dengan
gerakan Koai-liong-hoan-sin (Naga Iblis Berjungkir Balik) tubuhnya talu berjumpalitan di
udara dan dengan jalan ini ia terhindar dari serangan lawan. Ketika ia melompat turun
kembali, di tangannya telah nampak pedang Sin-liong-kiam yang berbentuk naga itu!
Bukan main kagumnya Pek I Hosiang melihat Sin-liong-kiam yang hebat itu! “Bagus, jangan
berlaku seeji (sungkan) anak muda yang gagah, kau majulah dengan pedangmu itu!”
Mereka bertempur lagi dan kali ini benar-benar pertempuran itu hebat dan ramai sekali. Lie
Siong memutar pedangnya yang aneh itu dengan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan-kiam-hwat,
sedangkan Pek I Hosiang mainkan Ilmu Toya Hek-cia-kun-hwat yang juga luar biasa cepat
dan kuatnya.
Akan tetapi, akhirnya hwesio tua itu terpaksa harus mengakui keunggulan ilmu pedang lawan
yang muda tapi lihai itu. Dengan gerak tipu Lian-hwa-gai-ho (Bunga Teratai Membuka
Daun), Lie Siong menyerang dengan hebat sekali menusuk pusar lawannya. Pek I Hosiang
amat terkejut menyaksikan hebatnya serangan ini. Sungguhpun pedang lawannya itu tidak
runcing, namun bahayanya tidak kalah oleh pedang biasa yang runcing, karena kepala naga
itu mempunyai tanduk yang runcing dan dapat digunakan untuk menotok jalan darah atau
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
107
melukai tubuh. Ia cepat menangkis dengan toya di tangan kanannya sambil mengayun toya di
tangan kiri mengemplang lawan. Inilah gerakan ilmu toya yang disebut Menerima Kembang
Memberi Buah dari Ilmu Toya Heng-cia-kun-hwat yang lihai. Memang Ilmu Toya Heng-ciakun-hwat ini selalu mengutamakan gerakan pembalasan yang amat cepat. Tiap kali toya
kanan atau kiri menangkis, maka toya kedua pasti membarengi serangan lawan itu untuk
mengirim serangan balasan yang tak kalah hebatnya!
Akan tetapi, Lie Siong sudah tahu akan sifat ilmu toya ini, maka ia tadi menyerang dengan
gerakan Lian-hwa-gai-ho, ia telah siap sedia dengan tangan kirinya. Melihat toya di tangan
kiri lawan menyambar ke arah kepalanya, ia cepat mengulur tangan dan menggunakan
cengkeraman Kong-ciak-sinna mencoba merampas toya itu!
Tentu saja Pek I Hosiang tidak mau membiarkan toyanya dirampas, dan ia cepat mengubah
gerakan toya kiri ini ke samping agar tidak sampai dirampas. Akan tetapi ternyata bahwa
gerakan merampas dari pemuda itu hanya gerakan pancingan belaka untuk mengalihkan
perhatian Pek I Hosiang, karena sesungguhnya yang hendak merampas senjata lawan adalah
tangan kanannya yang memegang pedang. Ketika lawannya memperhatikan gerakan tangan
kiri maka ketika pedang itu ditangkis oleh toya kanan, Lie Siong menggetarkan tangan
kanannya dan lidah merah dari pedang naga itu dengan cepat lalu membelit toya lawan dan
sekali ia berseru keras dan menarik, toya kanan dari Pek I Hosiang telah terbetot dan terlepas!
Pek I Hosiang terkejut sekali, cepat ia menggunakan gerakan Naga Hitam Keluar dari Awan,
melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan lawannya. Akan tetapi
sebetulnya, tak perlu ia menggunakan gerakan ini, karena Lie Siong tidak menyerangnya, juga
tidak mengejarnya.
Melihat sebatang toyanya tergantung pada lidah pedang naga itu, Pek I Hosiang menghela
napas dan tersenyum pahit.
“Omitohud! Kau anak muda benar-benar mengagumkan! Pinceng Pek I Hosiang mengaku
kalah!” Ia menjura kepada Lie Siong.
Pemuda itu tidak menjawab, hanya menggerakkan tangan kanan dan tiba-tiba toya yang tadi
terbelit oleh lidah pedang naganya, kini terlepas dan meluncur ke arah pemiliknya dengan
kecepatan seperti anak panah terlepas dari busurnya! Pek I Hosiang cepat mengulur tangan
dan menangkap toyanya yang hendak menembus dadanya itu.
Akan tetapi, Ang I Niocu tidak puas dengan kemenangan puteranya yang tidak melukai
lawannya itu.
“Hwesio busuk, lekas kaupergi dari sini dan tinggalkan toyamu!” katanya dan secepat kilat ia
telah mencabut pedang Liong-cu-kiam yang bercahaya menyilaukan itu. “Tak seorang pun
yang datang bersenjata boleh pulang membawa senjatanya!” Ia lalu menerjang dengan cepat,
menyerang dengan gerak tipu Dewi Kwan Im Menyebar Bunga hingga pedangnya berkelebat
berubah menjadi segulung sinar indah. Pek I Hosiang terkejut dan cepat mengangkat kedua
toyanya untuk menangkis.
“Traang...! Traaaang...!” Ketika dua kali pedang Liong-cu-kiam bertemu dengan sepasang
toya itu, ternyata dengan amat mudahnya toya-toya itu terbabat putus!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
108
Ang I Niocu melompat mundur kembali, masukkan pedang ke dalam sarung pedangnya dan
berkata singkat, “Pergilah!”
Pek I Hosiang menjadi pucat dan ia masih menahan perihnya hati karena hinaan ini. Ia
tersenyum sabar dan menjura.
“Terima kasih atas petunjuk dari Ang I Niocu dan puteramu!” hwesio ini lalu melompat dan
turun gunung dengan tindakan kaki cepat sekali.
Setelah hwesio itu tidak nampak bayangannya lagi, Lie Siong lalu berkata kepada ibunya,
“Ibu, Liong-cu-kiam itu hebat sekali. Kalau pedangku Sin-liong-kiam bertemu dengan pedang
Liong-cu-kiam, bukankah senjataku akan terbabat putus pula?”
“Siong-ji, apa kaukira ibumu akan mencarikan pedang sembarangan saja untukmu tanpa diuji
terlebih dulu? Cabutlah pedangmu itu!”
Lie Siong meloloskan Sin-liong-kiam sedangkan Ang I Niocu juga mencabut Liong-cu-kiam.
“Nah, mari kita berlatih, sekalian untuk membuktikan apakah pedangmu akan rusak kalau
akan bertemu dengan pedangku!”
Anak dan ibu itu lalu bermain pedang, serang menyerang dengan hebatnya, bahkan lebih
hebat daripada pertempuran melawan hwesio tadi! Beginilah Ang I Niocu melatih anaknya!
Dulu, sebelum Lie Siong memiliki kepandaian tinggi, tiap kali berlatih dengan ibunya,
pemuda ini tentu mengalami kesakitan dan selalu dirobohkan oleh ibunya! Pernah ia
mengalami ditotok sampai pingsan, dipukul sampai matang biru, bahkan ketika berlatih
senjata tajam, pernah pundaknya tergores pedang sampai mengeluarkan darah! Hal ini
disengaja oleh Ang I Niocu untuk memberi ketabahan kepada puteranya. Kini mereka berlatih
dengan pedang-pedang mustika, hal yang baru kali ini mereka lakukan. Liong-cu-kiam dan
Sin-liong-kiam berkali-kali bertemu dan terdengar suara nyaring dibarengi bunga api berpijar,
akan tetapi kedua pedang itu ternyata tidak rusak!
Seratus jurus lebih mereka bermain pedang dan yang nampak hanya bayang-bayang putih
dan merah yang diselimuti oleh gulungan sinar pedang Liong-cu-kiam yang putih seperti
perak dan sinar pedang Sin-liong-kiam yang kekuning-kuningan seperti emas!
“Sudah cukup...!” Keduanya berhenti dan menyimpan pedang masing-masing, hati Lie Siong
merasa puas sekali dan diam-diam Ang I Niocu yang nampak berpeluh pada jidatnya itu
makin sayang dan bangga terhadap puteranya. Kini kepandaian puteranya itu tidak kalah
olehnya!
“Siong-ji, sekarang orang-orang sudah tahu akan tempat tinggal kita, bahkan hwesio gundul
tadi sudah mengetahui siapa adanya kita! Kurasa tak perlu lagi kita lebih lama tinggal di
tempat ini!” Lie Siong menatap wajah ibunya. Ia girang sekali, akan tetapi kegirangan ini
sama sekali tidak membayang pada wajahnya yang elok.
“Jadi, kita turun gunung?” tanyanya penuh harapan. Betapapun keras hatinya sehingga ia
seringkali berbantah dengan ibunya, namun Lie Siong adalah seorang anak yang berbakti dan
sama sekali ia tidak mau memaksa pergi kalau ibunya belum memberi persetujuannya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
109
Akan tetapi ibunya menggeleng kepala. “Bukan kita, akan tetapi engkau sendiri! Sudah lama
kau ingin merantau, bukan? Nah, sekarang kepandaianmu sudah cukup. Kau pergi dan carilah
pengalaman di dunia kang-ouw!”
“Akan tetapi, bagaimana dengan kau, Ibu...? Kau akan kesunyian, hidup seorang diri di
tempat ini...”
Ibunya mencabut pedang Liong-cu-kiam yang ampuh tadi. “Aku sudah mempunyai kawan.
Liong-cu-kiam ini adalah kawanku yang amat setia, pedang inilah yang memberi kenangkenangan kepadaku.” Sambil berkata demikian, ia mengusap-usap pedang itu dengan
tangannya, penuh kasih sayang.
“Ibu, dari manakah kau memperoleh Liong-cu-kiam itu?”
Ibunya menghela napas panjang dan teringatlah ia akan segala pengalaman dengan Pendekar
Bodoh ketika mendapatkan pedang itu (baca Pendekar Bodoh).
“Sesungguhnya, Susiok-couw Bu Pun Su yang memberi pedang ini kepadaku. Masih ada
sebatang lagi, yang lebih panjang, dan yang sekarang terjatuh ke dalam tangan Pendekar
Bodoh.”
“Ah, aku ingin sekali menyaksikan kelihaian orang tua yang menjadi susiok-couwmu itu,
Ibu.”
“Anak bodoh, jangan sembarangan bicara! Susiok-couw Bu Pun Su adalah seorang yang
paling tinggi ilmu kepandaiannya. Tidak ada tokoh di dunia ini yang dapat mengimbanginya,
dan sekarang yang mewarisi kepandaiannya hanyalah Pendekar Bodoh seorang sungguhpun
ibumu pernah mendapat latihan darinya.”
“Hemm, aku pun sejak dulu ingin sekali bertemu dengan Pendekar Bodoh yang seringkali
Ibu puji-puji.”
“Pergilah dan kau tentu akan bertemu dengan mereka yang pandai itu. Pergi dan berlakulah
hati-hati, jangan membikin malu nama ibumu.”
Setelah berkata demikian, Ang I Niocu mengajak puteranya kembali ke dalam gua lalu
mengumpulkan pakaian puteranya. Ia mengeluarkan pula beberapa stel pakaian warna kuning
dengan leher baju merah. Memang, semenjak masih kecil, Lie Siong selalu diberi oleh ibunya
pakaian warna putih atau kuning sehingga lama kelamaan pemuda itu hanya suka
mengenakan pakaian putih atau kuning saja.
“Nah, kaupergilah, Anakku. Kau telah tahu di mana tempat tinggal sahabat-sahabatku,
carilah mereka dan jangan kau membikin malu ibumu. Juga kau sudah tahu siapa adanya
tokoh-tokoh kang-ouw yang jahat dan yang pernah bermusuhan dengan ibumu. Hati-hatilah
terhadap mereka. Kurasa ayahmu tidak berada di Pulau Pek-le-to lagi, karena ayahmu tentu
mencari kita. Kasihan ayahmu itu, kaucarilah kepadanya dan mintakan ampun ibumu yang
telah meninggalkan dia. Berangkatlah, doaku besertamu selamanya.”
“Selamat tinggal, Ibu. Dan... Ibu hendak ke manakah? Bilakah aku dapat bertemu dengan Ibu
lagi?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
110
“Tak perlu kaubingungkan soal ibumu, Nak. Aku boleh jadi berada di sini atau di tempat lain,
akan tetapi jangan khawatir, kita pasti akan bertemu kembali kelak.”
Berat hati Lie Siong ketika hendak meninggalkan tempat itu. Ia telah melangkah keluar dari
gua, akan tetapi tiba-tiba ia kembali lagi dan memeluk ibunya.
“Ibu, berjanjilah bahwa kita pasti akan bertemu lagi.”
Ang I Niocu merasa terharu dan ia tersenyum, senyum yang sudah bertahun-tahun
meninggalkan bibirnya. Ia mendekap kepala puteranya dan mencium jidat puteranya yang
tercinta itu.
“Jangan gelisah, Siong-ji. Apa kaukira aku senang hati berpisah dengan kau untuk
selamanya? Percayalah, pasti aku akan bertemu kembali dengan engkau, Anakku.”
Maka berangkatlah Lie Siong, membawa sebungkus pakaian yang diikatkan di punggungnya,
dan pedangnya, Sin-liong-kiam atas kehendak ibunya, disembunyikan di balik mantelnya
yang panjang.
Ketika ia telah keluar dari hutan tempat tinggalnya dan memasuki hutan berikutnya, ia
mendengar suara riuh rendah dan ternyata bahwa dari bawah gunung nampak dua puluh orang
lebih sedang naik menuju ke hutan itu. Mereka ini adalah penebang-penebang pohon yang
bersenjata lengkap, mengiringkan enam orang yang bukan lain adalah para pengusaha kayu.
Mereka ini merasa penasaran ketika mendengar cerita tiga orang penebang pohon yang
bertemu dengan sepasang “siluman” itu dan kini setelah mengumpulkan dua puluh lebih
orang-orang yang dianggap paling kuat dan gagah di antaranya sebagian besar murid-murid
dari Pek I Hosiang, lalu beramai-ramai naik ke atas gunung hendak menyerbu dan menangkap
siluman-siluman itu!
Lie Siong tertarik hatinya melihat orang banyak ini, terutama ketika dia melihat mereka itu
berhenti dan bersorak seakan-akan menonton sesuatu yang menarik hati. Ketika Lie Siong
tiba di dekat tempat itu, ternyata ia melihat empat orang yang bertubuh kuat sedang
mendemonstrasikan tenaga mereka. Keempat orang ini adalah murid-murid Pek I Hosiang
yang paling pandai. Tadi ketika mereka berjalan naik, mereka tiada hentinya membicarakan
sepasang siluman itu dan timbul hati ngeri dan takut diantara sebagian besar para penebang
pohon. Oleh karena itu, untuk membakar semangat para kawan, empat orang yang terkuat itu
lalu memperlihatkan tenaga mereka dan memang mereka ini kuat sekali! Sebatang pohon
yang besarnya tak kurang dari tubuh enam orang menjadi satu, telah diikat batangnya dengan
seutas tambang yang besar dan amat kuat, kemudian empat orang itu lalu mengerahkan
tenaga, menarik tambang itu. Urat-uratnya menonjol pada dada dan tangan mereka yang
telanjang karena untuk demonstrasi ini, mereka sengaja menanggalkan baju agar tidak robek.
Memang sukar dipercaya kehebatan tenaga mereka. Empat ekor kerbau belum tentu akan
dapat menarik pohon itu sehingga tumbang, akan tetapi ketika empat orang ini mengerahkan
tenaga, terdengar suara keras sekali dan pohon itu roboh berikut akar-akarnya!
Karena semua orang sedang menonton pertunjukan ini dengan penuh perhatian maka tak
seorang pun di antara mereka melihat Lie Siong yang diam-diam berdiri di antara mereka,
yang menonton demonstrasi itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
111
Berbareng dengan robohnya pohon itu, terdengar sorak-sorai memuji, karena siapakah yang
tidak kagum menyaksikan tenaga luar biasa dari empat orang jagoan itu? Empat orang itu
memandang ke sekeliling dengan bangga dan mengangkat dada, akan tetapi tiba-tiba seorang
di antara mereka yang berjenggot pendek, melihat Lie Siong. Ia merasa heran karena tidak
mengenal pemuda ini, akan tetapi keheranannya berubah menjadi kemarahan ketika ia melihat
betapa pemuda yang lemah-lembut ini tidak ikut bersorak memuji. Memang tak seorang pun
di antara mereka mengenal Lie Siong, karena tiga orang penebang pohon yang pernah ia
robohkan itu tidak berani ikut bersama rombongan ini. Si Jenggot Pendek melangkah maju
dan menegur,
“Eh, Sobat! Kau ini siapakah dan mengapa kau diam saja? Apakah kau tidak menghargai
kepandaian kami? Ketahuilah, hanya mengandalkan tenaga dan kepandaian kami berempatlah
maka sepasang siluman Pek-ang-siang-mo itu akan ditumpas!”
Semua orang kini memandang kepada Lie Siong dengan heran karena mereka pun tidak
mengenal pemuda ini dan tidak tahu pula kapan pemuda ini datang di situ.
Lie Siong merasa mendongkol sekali melihat kesombongan mereka, terutama sekali
mendengar betapa mereka hendak membasmi sepasang iblis yang ia dapat menduga tentu
dimaksudkan ibunya dan dia sendiri. Dengan wajah tenang dan tidak berubah sedikitpun juga,
ia berkata acuh tak acuh,
“Apa sih anehnya tenaga kalian berempat? Lebih baik kalian pergi dan jangan masuk ke
dalam hutan di atas ini.”
“Eh, eh, mengapa kau berkata demikian?” tanya Si Jenggot Pendek.
“Karena tenagamu yang hanya dapat merobohkan pohon lapuk itu takkan ada gunanya.
Kalau kalian pergunakan untuk menarik lawan biarpun hanya satu kakinya saja kalian tidak
akan mampu merobohkannya!”
Bukan main marahnya empat orang jagoan itu dan semua orang juga memandang dengan
heran dan marah.
“Orang muda, kautahanlah lidahmu! Kalau kau bicara sembarangan saja, dengan sekali pukul
aku akan menghancurkan kepalamu!” kata seorang di antara empat jagoan itu yang bertubuh
besar pendek.
“Siapa bicara sembarangan? Kalianlah yang bermata buta dan sombong.”
“Kaubicara sungguh-sungguh?” kata Si Jenggot Pendek sambil tersenyum menghina. “Kalau
begitu, kau berani membiarkan sebelah kakimu kami tarik dengan tambang dan kau merasa
pasti bahwa kami takkan dapat merobohkanmu?”
Semua orang tertawa mengejek mendengar ini, dan enam orang pengusaha itu berdiri
sekelompok dan berbisik-bisik karena mereka juga merasa sangat heran melihat keberanian
pemuda tampan ini.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
112
Akan tetapi Lie Siong masih bersikap tenang dan dingin. “Mengapa tidak berani? Kalau kau
bisa menarik sebelah kakiku dengan tambang dan dapat merobohkan aku, barulah kalian patut
naik ke hutan itu.”
“Bagus!” seru Si Jenggot Pendek. “Akan tetapi kalau kakimu sampai terbetot putus dari
tubuhmu, jangan kaupersalahkan kami, anak muda yang manis!” Terdengar suara orang
tertawa disusul dengan ejekan, “Kalau kakinya sudah copot, bagaimana ia bisa mengeluarkan
kata-kata lagi?”
Kembali terdengar semua orang tertawa geli sungguhpun mereka memandang makin tertarik
dan dengan penuh perhatian. Semua orang menduga-duga siapa gerangan pemuda yang
mencari penyakit ini. Apakah dia berotak miring?
“Boleh, aku berjanji,” jawab Lie Siong yang hendak mempermainkan orang-orang sombong
itu, “sebaliknya kalian semua harus berjanji bahwa apabila kalian tak dapat merobohkan
sebelah kakiku selama hidup kalian tidak akan mengganggu dan menebang pohon di hutan
itu!”
“Jadi!!” seru Si Jenggot Pendek, tidak memikirkan lagi keheranan hati yang timbul karena
ucapan pemuda ini seakan-akan membela sepasang siluman di hutan itu!
Semua orang lalu mundur dan membuat lingkaran, berdiri mengelilingi pemuda itu. Para
pengusaha berdiri sekelompok sedangkan para penebang kayu berdiri di kelompok tersendiri,
tidak berani mendekati para “thauwke” (majikan) itu. Empat orang kuat itu lalu
mempersiapkan tambang besar tadi. Si Jenggot Pendek memegang ujung tambang dan
menghampiri Lie Siong sambil bertanya menyeringai,
“Kau sudah siap?”
Lie Siong menurunkan buntalan pakaiannya dan menaruh di atas tanah bawah pohon,
kemudian ia kembali ke tengah lapangan itu, dan berdiri dengan satu kaki, mengangkat kaki
kirinya ke depan, dan kedua tangannya ditaruh di belakang. Sikapnya demikian enak dan
seakan-akan tak bertenaga sama sekali sehingga semua orang tertawa mengejek. Kalau orang
yang memiliki kepandaian silat, tentu akan memasang bhesi (kuda-kuda) yang teguh,
mengerahkan tenaga pada kaki yang hendak ditarik. Akan tetapi mengapa pemuda ini berdiri
seakan-akan sedang makan angin menikmati sinar bulan purnama? Sungguh lucu dan
menggelikan. Jangan kata hendak ditarik dengan tambang oleh empat orang yang bertenaga
gajah, sedangkan kalau ada angin besar bertiup saja, agaknya pemuda itu akan rubuh.
Tentu saja mereka itu tidak tahu bahwa Lie Siong diam-diam telah mengerahkan ilmu
memberatkan tubuh yang disebut Ban-kin-cui (Beratkan Tubuh Selaksa Kati) dan cara berdiri
itu adalah bhesi (kuda-kuda) dari Ilmu Silat Sianli-utauw (Ilmu Silat Bidadari), yaitu disebut
Berdiri Dengan Kaki Berakar!
“Aku sudah siap!” kata Lie Siong dengan suara dingin saja seakan-akan tidak menghadapi
urusan penting.
Sambil tertawa haha-hihi, Si Jenggot Pendek lalu membelitkan ujung tambang kepada kaki
kanan Lie Siong tepat pada tulang keringnya, di atas pergelangan kaki, agak di bawah
betisnya. Kemudian setelah memeriksa bahwa ikatan tali pada kaki itu cukup kuat takkan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
113
terlepas bila ditarik, ia lalu mendekati kawan-kawannya dan sambil tersenyum-senyum ia
berkata perlahan,
“Kita menggunakan tenaga tiba-tiba menariknya agar ia jatuh terjengkang!” Tiga orang
tersenyum gembira dan menganggukkan kepalanya. Mereka lalu berdiri berbaris dan
memegang tambang itu. Semua orang memandang dengan napas tertahan, karena betapapun
mereka merasa lucu dan penasaran kepada pemuda yang mereka anggap berotak miring ini,
melihat wajah yang elok dan kulit yang halus itu mereka merasa kasihan juga. Sedikitnya kaki
yang tak seberapa besarnya itu pasti akan patah oleh tarikan empat orang kuat ini, pikir
mereka. Bahkan seorang pengusaha yang berpakaian kuning dan yang masih muda berwajah
tampan, lalu menghampiri Lie Siong dan berkata,
“Hian-te, mengapakah kau melakukan hal yang bodoh ini? Kaumintalah maaf kepada mereka
dan aku yang tanggung bahwa perkara ini akan dibikin habis sampai di sini saja.”
Lie Siong paling tidak suka kalau ada orang menaruh hati kasihan kepadanya, maka sambil
mengerling tajam ke arah orang itu, ia berkata, “Jangan ikut campur, dan mundurlah!” Tentu
saja semua orang makin merasa tak senang melihat sikap ini, dan orang baju kuning itu pun
mundur dengan muka kemerahan.
“Aku sudah siap, hayo tariklah sekuatmu!” kata Lie Siong sekali lagi.
Orang berjenggot pendek itu memberi aba-aba, “Tarik...!!” dan keempat orang itu
mengerahkan seluruh tenaga membetot tambang itu sehingga urat-urat pada lengan dan dada
mereka mengembung. Semua orang memandang dan terbayanglah sudah di mata mereka
betapa pemuda elok ini akan jatuh tunggang-langgang dengan kaki patah. Akan tetapi...
sungguh aneh, sama sekali tidak terjadi hal seperti itu! Pemuda elok itu masih berdiri seperti
tadi, kaki kiri diangkat ke depan, kedua tangan ditaruh di belakang dan sedikit pun ia tidak
berkedip seakan-akan sama sekali tidak merasa akan tarikan dan sama sekali tidak
mengerahkan tenaga untuk mempertahankan diri!
“Aduh...! Sungguh aneh!” terdengar suara penonton.
“Tak masuk di akal!”
“Tak mungkin...!”
“Ajaib sekali...!!”
Kalau semua orang yang menonton menjadi terheran-heran, empat orang jagoan itu lebih
terkejut lagi. Tambang itu telah tertarik sehingga menegang, bahkan terdengar bergerit saking
kuatnya mereka menarik, akan tetapi mereka merasa seakan-akan sedang menarik sebuah
gunung saja! Untuk sesaat mereka saling pandang, kemudian dengan amat penasaran mereka
lalu menarik lagi. Kini tarikan mereka tidak teratur lagi, suara mereka “ah-ah, uh-uh” sambil
mengerahkan tenaga sekuatnya, sehingga mereka terhuyung ke sana terdorong ke mari, akan
tetapi tetap saja kaki yang dilibat tambang dan ditarik itu sama sekali tidak bergeming sedikit
pun!
Kini tak seorang pun penonton dapat mengeluarkan suara, bahkan bernapas pun mereka
hampir lupa! Keempat orang jagoan itu sambil membetot, memandang kepada pemuda itu
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
114
dengan mulut ternganga saking herannya, akan tetapi mereka tidak berhenti menarik.
Mustahil tidak dapat merobohkannya, pikir mereka dan kembali mereka mengerahkan tenaga
seadanya untuk membetot kaki yang hanya kecil saja itu!”
Peluh sebesar kacang telah menitik turun dari jidat mereka, dan napas mereka mulai
terengah-engah setelah beberapa lama mereka menarik dengan tenaga sepenuhnya.
Lie Siong merasa bahwa sudah cukup ia memperlihatkan tenaganya, maka ia lalu membentak
keras.
“Tidak lekas lepaskan tambang?” Sambil berkata demikian, tanpa menurunkan kaki kirinya,
kaki kanannya melakukan gerakan mengisar dan... tak dapat ditahan pula, empat orang jagoan
itu terdorong ke depan dan karena mereka masih belum melepaskan tambang itu, mereka
jatuh saling timpa! Yang paling sial adalah Si Jenggot Pendek karena ia tertindih oleh dua
orang kawannya dan karena jatuhnya dengan hidung di depan, maka ketika ia merangkak
bangun kembali, hidungnya yang tadinya mancung telah menjadi pesek dan berdarah!
Kini ramailah orang-orang itu memuji dan menyatakan keheranan mereka. Bagaimana
mungkin terjadi hal yang aneh ini? Biarpun sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri,
mereka masih belum dapat percaya bahwa seorang pemuda yang lemah-lembut dan berkulit
halus itu dapat memiliki tenaga yang demikian besarnya. Siapakah pemuda lihai ini? Mereka
saling bertanya tanpa berani menanyakan sendiri kepada pemuda itu.
Pada saat itu, nampak dua orang berlari dari bawah lereng dan mereka ini adalah seorang
laki-laki tinggi besar bersama seorang hwesio. Ketika laki-laki tinggi besar itu tiba di situ dan
melihat Lie Siong, ia lalu cepat berseru kepada semua orang,
“Dia adalah iblis putih!”
Orang ini adalah seorang di antara penebang pohon yang dulu pernah dirobohkan oleh Lie
Siong, dan mendengar seruan ini, semua orang menjadi pucat mukanya, ada yang menggigil
dan bahkan ada yang cepat mengangkat kaki lari dari situ! Akan tetapi, ketika mereka melihat
hwesio yang datang bersama penebang tadi, semua orang menjadi tabah kembali dan
mengikuti hwesio itu menghampiri Lie Siong. Hwesio itu bukan lain adalah Pek I Hosiang
sendiri.
Melihat bahwa yang menimbulkan keributan itu adalah Lie Siong, Pek I Hosiang lalu
merangkapkan kedua tangan di depan dada sambil memberi hormat.
“Omitohud, tidak tahunya Siauw-enghiong (Orang Muda Gagah) yang datang di sini!
Maafkan murid-murid pinceng yang bodoh dan tidak tahu aturan, Siauw-eng-hiong.
Sesungguhnya ketika pinceng mendengar bahwa mereka ini hendak menyerbu ke dalam hutan
segera pinceng menyusul ke sini untuk mencegah mereka.”
Melihat Lie Siong hanya berdiri tanpa menjawab, hwesio itu lalu memandang kepada semua
orang dan berkata,
“Cuwi sekalian, harap mendengarkan kata-kata pinceng. Mulai sekarang janganlah ada
seorang pun berani mengganggu hutan di atas itu! Ketahuilah bahwa di situ tinggal dua orang
pendekar sakti yang mengasingkan diri! Pegunungan ini mempunyai banyak sekali hutan-
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
115
hutan besar, mengapa harus mengganggu hutan kecil? Kalau kalian sayang diri jangan sekalikali berani memasuki hutan itu. Ang I Niocu dan puteranya bukanlah siluman, akan tetapi
pendekar-pendekar besar yang berkepandaian tinggi dan tidak mau diganggu!”
Semua orang terkejut mendengar ini, karena tak pernah mereka sangka bahwa hwesio ini pun
telah kenal kepada kedua orang yang tadinya dianggap siluman itu terutama sekali para murid
yang pernah mendengar nama Ang I Niocu yang tersohor! Mereka cepat memandang kepada
pemuda yang diperkenalkan sebagai putera Ang I Nicou itu, akan tetapi alangkah heran dan
kagetnya semua orang ketika melihat bahwa di situ tidak nampak lagi bayangan pemuda tadi!
Pemuda tadi telah lenyap bersama buntalan pakaiannya tanpa diketahui oleh seorang pun
kecuali Pek I Hosiang. Hwesio ini berkata,
“Dia sudah pergi!” Ia menghela napas. “Masih baik bahwa pemuda itu sendiri yang datang di
sini, tidak bersama ibunya. Kalau kalian berani mengganggu ibunya tak dapat kubayangkan
kengerian yang menjadi akibatnya!”
Semenjak saat itu, semua orang memandang hutan itu sebagai tempat keramat dan tak
seorang pun berani naik ke situ. Nama Ang I Niocu makin terkenal, dan juga puteranya
menjadi buah bibir semua orang yang tinggal di sekitar Pegunungan Ho-lan-san.
***
Pada suatu hari, ketika Lie Siong tiba di sebuah jalan yang sunyi, ia melihat dua orang lakilaki sedang bertengkar. Tadinya ia tidak hendak mempedulikan dua orang yang bercekcok itu,
akan tetapi karena ia mendengar suara yang seorang amat aneh dan kaku seperti orang asing,
ia tertarik juga dan segera menghampiri mereka sambil bersembunyi di balik pohon besar.
Laki-laki yang bicaranya kaku itu adalah seorang setengah tua yang berkumis dan berjenggot
panjang, nampaknya gagah sekali, dan matanya bersinar tajam. Orang yang bercekcok dengan
dia adalah seorang muda yang bertubuh tinggi besar dan bermuka kasar dengan mulut selalu
menyeringai sombong.
“Gui-kongcu (Tuan Muda Gui), sudah berkali-kali aku menegur dan menasihatimu agar kau
jangan menggoda anakku, akan tetapi agaknya kau sengaja bahkan menghina puteriku. Aku
biasanya amat sabar, akan tetapi jangan kira bahwa kesabaranku ini tanda bahwa aku takut
kepadamu!”
Laki-laki muda itu tertawa bergelak dengan sikap menghina sekali.
“Paman Manako, kau orang tua mengapa tidak memaklumi hati orang-orang muda? Aku
mencinta Lilani, mengapa aku menghina? Aku pernah melamar anakmu itu, mengapa pula
kau berani menampik pinanganku? Ingatlah, Paman Manako, kau datang sebagai seorang
perantau, dan kalau tidak ada aku dan ayahku, tak mungkin kau dapat tinggal di daerah ini!”
“Kurang ajar!” bentak laki-laki yang bernama Manako itu. “Gui-kongcu, kau telah
mengucapkan kata-kata menghina terhadap seorang laki-laki Haimi. Kalau aku tidak ingat
bahwa kau masih kanak-kanak dan tidak ingat bahwa ayahmu telah menolongku, untuk
ucapanmu itu saja aku sanggup membunuhmu! Memilih mantu tak dapat dipaksa. Anakku
Lilani tidak suka kepadamu, bagaimana aku harus menerima pinanganmu? Sungguh amat
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
116
tidak tahu malu bagi seorang pemuda yang sudah ditolak pinangannya, masih saja mendesak
dengan cara yang kurang ajar sekali!”
“Manako!” pemuda itu membentak marah, kini tidak mcnggunakan lagi sebutan paman.
“Lupakah kau sedang bicara dengan siapa?” Pemuda ini lalu mencabut pedangnya dengan
sikap mengancam.
Orang tua berjenggot itu tersenyum dan dengan tenang ia pun mencabut pedangnya pula.
“Tentu saja aku tidak lupa. Aku berhadapan dan bicara dengan Gui-kongcu, putera dari
Kepala Daerah Ki-ciang. Akan tetapi agaknya kau lupa bahwa aku Manako bukan seorang
penjilat. Tidak peduli siapa saja kalau berani menghinaku, akan kulawan!”
“Orang Haimi yang sombong, rasakan tajamnya pedangku!” teriak pemuda tinggi besar itu
dan segera ia menyerang dengan sebuah tusukan hebat. Gerak tipunya ini adalah yang disebut
Han-ya-pok-cui (Burung Gagak Menyambar Kelinci), sebuah tipu gerakan dari Ilmu Pedang
Tat-mo-kiam-hwat yaitu ilmu pedang ciptaan pendekar besar Tat Mo Couwsu. Akan tetapi,
dengan tenang orang Haimi itu menangkis dengan pedangnya sehingga Pemuda she Gui itu
terkejut sekali karena ternyata bahwa tenaga lawannya amat besar, membuat pedangnya
terpental ke belakang! Ia berseru keras dan segera menyerang lagi dengah gerak tipu Hui-engbok-thou (Elang Terbang Menyambar Kelinci), kedua kakinya melompat ke atas dan
pedangnya menyambar. Akan tetapi, Manako, orang Haimi itu dengan gesitnya lalu
mengubah kedudukan kakinya, melangkah dengan kaki kanan ke belakang, lalu memutar
tubuhnya dengan gerak tipu Monyet Sakti Memasuki Gua. Dengan gerakan ini ia dapat
menghindarkan diri dari serangan lawan kemudian ia balas menyerang dengan tak kurang
hebatnya.
Sebentar saja ternyata bahwa ilmu pedang orang Haimi ini jauh lebih unggul daripada ilmu
pedang lawannya dan cepat ia mendesak dan mengurung pemuda itu dengan pedangnya yang
menyambar-nyambar! Lie Siong yang mengintai dari balik pohon maklum bahwa orang tua
itu tidak berniat buruk, karena kalau ia mau, dengan mudah saja ia pasti akan dapat
merobohkan pemuda itu. Akan tetapi pemuda itu ternyata tak tahu diri dan ia tidak tahu
bahwa orang tua itu telah berlaku murah hati dan mengalah. Kalau ia tahu diri, tentu ia takkan
melawan terus. Sebaliknya, ia malah memaki-maki dan menyerang dengan membuta tuli.
“Kau benar-benar tak tahu diri!” teriak Manako dan sebuah serangan dengan pedang diputar
dibarengi gerakan menggetarkan pedang, membuat pedang pemuda itu terkurung dan
tertempel, kemudian sekali orang tua itu membentak, “Lepas senjata!” sambil membetot,
pedang pemuda itu terlempar dan terlepas dari pegangan!
Pada saat itu, tujuh orang yang berpakaian seperti perwira kerajaan lari mendatangi dan
mereka segera mencabut senjata golok dan pedang.
“Orang Haimi yang sudah bosan hidup!” teriak seorang di antara para perwira itu. “Kau
berlaku kurang ajar terhadap Gui-kongcu?”
“Bukan aku yang mulai lebih dulu!” jawab Manako dengan berani, akan tetapi tujuh orang
perwira itu segera mengurung dan menyerangnya. Manako melawan sekuatnya, akan tetapi
tujuh orang perwira itu kepandaiannya rata-rata lebih tinggi daripada kepandaian pemuda she
Gui tadi sehingga sebentar saja Manako terdesak hebat dan menjadi sibuk sekali.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
117
Pada saat orang tua itu berada dalam keadaan yang amat berbahaya, tiba-tiba berkelebat
bayangan putih dari balik pohon. Lie Siong yang menyaksikan keroyokan yang berat sebelah
itu tidak mau tinggal diam dan dia telah melompat keluar, langsung mengamuk dan mainkan
Ilmu Silat Kong-ciak-sinna. Tubuhnya bergerak cepat bagaikan halilintar menyambar dan di
mana saja tubuhnya berkelebat, seorang perwira lalu menjerit, pedang atau goloknya terampas
dan tubuhnya menerima pukulan atau tendangan yang cukup membuatnya mencium tanah
tanpa dapat bangun kembali!
Pemuda she Gui yang melihat kehebatan lawan baru ini, dengan cerdik lalu diam-diam
melarikan diri dari situ. Tujuh orang perwira itu dalam waktu pendek saja telah dirobohkan
oleh Lie Siong yang tidak menggunakan senjata sehingga orang tua Haimi itu telah
memandang dengan bengong.
Manako cepat menghampiri Lie Siong, memberi hormat dan berkata kagum, “Kau hebat
sekali, anak muda. Kehebatanmu mengingatkan aku akan Sie Tai-hiap!”
“Siapakah Sie Tai-hiap itu?” tanya Lie Siong.
“Sie Tai-hiap adalah Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh! Seperti kau inilah sepak terjangnya
menghadapi orang-orang jahat.”
Lie Siong tadi membantu Manako tanpa mengandung maksud sesuatu, hanya terdorong oleh
hatinya yang tak senang melihat keroyokan yang tidak adil. Kini mendengar betapa orang tua
itu memuji-muji nama Pendekar Bodoh, ia menjadi sebal sekali. Telah seringkali ibunya
memuji-muji Pendekar Bodoh sehingga nama Pendekar Bodoh ini seakan-akan merupakan
lidi yang ditusuk-tusukkan ke dalam telinganya, sekarang mendengar lagi orang memujinya,
membuat ia tidak puas.
“Sudahlah, aku tidak kenal segala Pendekar Bodoh. Kaupergilah sebelum orang-orang ini
sempat mengeroyokmu lagi!”
Manako memandang heran kepada pemuda yang bersikap dingin ini, akan tetapi ia lalu
teringat bahwa ia telah melawan perwira-perwira bahkan bertempur dengan putera Kepala
Daerah, maka dengan cepat ia lalu memberi hormat lagi dan berlari pergi dari situ. Akan
tetapi, baru saja ia membelok di sebuah tikungan jalan, tiba-tiba ia telah dicegat oleh belasan
orang perwira yang mengantar pemuda she Gui tadi! Ternyata bahwa Gui-kongcu setelah lari
cepat lalu memanggil lebih banyak perwira untuk mengeroyok pemuda yang lihai dan
Manako.
“Penggal leher orang Haimi jahat ini!” Gui-kongcu berseru marah dan sebentar saja Manako
telah dikeroyok oleh belasan orang perwira itu. Perwira-perwira yang datang ini tingkatnya
lebih tinggi dari pada tujuh orang perwira yang tadi, bahkan di antara mereka terdapat seorang
panglima tamu dari kota raja yang amat terkenal kegagahannya. Panglima muda ini bernama
Kam Liong dan orang ini bukan lain adalah keturunan dari Panglima Besar Kam Hong Sin
yang amat tersohor karena kegagahannya (baca Pendekar Bodoh).
Sudah tentu saja Manako bukan tandingan para perwira ini. Panglima muda yang
berkepandaian tinggi itu sama sekali tidak mau turun tangan karena ia merasa rendah untuk
mengeroyok seorang Haimi! Akan tetapi, perwira-perwira yang lain sudah cukup kuat untuk
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
118
merobohkan Manako sehingga sebentar saja orang Haimi ini roboh dengan beberapa luka
parah pada tubuhnya.
Lie Siong yang hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba mendengar bentakan-bentakan para
perwira yang mengeroyok Manako, karena pertempuran itu terjadi di belakang tikungan dan
tidak kelihatan dari tempatnya, maka ia cepat berlari menghampiri tempat itu. Alangkah
marah dan terkejutnya ketika ia melihat betepa Manako telah roboh mandi darah, dikeroyok
oleh belasan orang perwira.
“Pengecut hina dina!” seru Lie Siong sambil mencabut keluar Sin-liong-kiam dari balik
jubahnya. Sekali tubuhnya berkelebat, ia merupakan bayangan putih yang cepat gerakannya
bagaikan seekor burung garuda. Seperti juga tadi ketika menghadapi tujuh orang perwira, kini
begitu ia menggerakkan pedangnya, golok dan pedang perwira beterbangan dan teriakanteriakan terdengar susul-menyusul dibarengi jatuhnya tubuh mereka bertumpang tindih.
Bukan main kagetnya Panglima Muda Kam Liong ketika menyaksikan kelihaian pemuda
baju putih ini. Terpaksa ia harus bertindak, kalau tidak, mungkin belasan orang perwira itu
akan roboh semua! Ia mencabut keluar pedangnya yang mengeluarkan cahaya berkilauan, dan
sekali mengenjot tubuhnya, ia telah melayang dan menyambut pedang Lie Siong yang
mengeluarkan sinar kuning keemasan.
“Trang...!” Sepasang pedang itu bertemu, menimbulkan bunga api berpancaran.
“Tahan dulu!” seru Kam Liong dan Lie Siong yang merasa tercengang menyaksikan ada
pedang yang dapat menyambut Sin-liong-kiamnya, segera menahan senjata dan memandang
dengan sinar mata tajam.
Dua orang muda yang sama tampan sama gagah ini saling pandang dengan penuh perhatian.
Lie Siong melihat seorang pemuda yang berpakaian sebagai seorang panglima, pakaiannya
gagah dan mentereng sekali, wajahnya membayangkan kegagahan. Sedangkan Kam Liong
tercengang ketika melihat bahwa orang yang lihai sekali kepandaiannya itu ternyata hanya
seorang pemuda berkulit muka halus dan bersikap lemah lembut!
“Saudara yang gagah, kau siapakah dan mengapa kau membela seorang pemberontak bangsa
Haimi?”
“Aku tidak tahu apa yang kaumaksudkan dengan pemberontak, dan juga aku tidak peduli apa
yang menjadi persoalannya, akan tetapi yang sudah jelas bahwa orang tua ini kalian keroyok
secara tidak tahu malu sekali. Pengecut-pengecut macam kalian ini tak dapat kuberi ampun!”
Marahlah Kam Liong mendengar ucapan ini yang dianggapnya amat sombong dan
kurangajar. “Orang sombong!” teriaknya sambil menggerakkan pedang di tangan. “Kau
terlalu mengandalkan kepandaian sendiri. Tidak tahukah bahwa kau berhadapan dengan
Panglima Muda she Kam dari kota raja?”
Mendengar disebutnya she Kam ini, Lie Siong memandang dengan penuh perhatian. Ibunya
pernah menuturkan kepadanya tentang panglima kosen bernama Kam Hong Sin.
“Ada hubungan apakah kau dengan Panglima Kam Hong Sin?” tanyanya tiba-tiba.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
119
“Dia adalah ayahku, bagaimana kau dapat mengetahui namanya? Siapakah kau sebetulnya
dan siapa pula guru atau orang tuamu!”
Akan tetapi Lie Siong tidak menjawab pertanyaan ini, bahkan melangkah maju dan berkata,
“Bagus! Kalau begitu biarlah kita menguji kepandalan masing-masing dan tak perlu banyak
mengobrol lagi!” Ia lalu memutar pedangnya yang aneh bentuknya itu. Kam Liong yang
maklum akan kelihalan lawan, tidak berlaku lambat dan cepat sekali ia menangkis dan
membalas dengan serangannya yang tak kalah hebatnya.
Kam Liong adalah putera tunggal dari Panglima Kam Hong Sin yang tinggi ilmu silatnya.
Pemuda ini mengikuti jejak ayahnya dan kini telah menduduki pangkat yang tinggi dalam
ketentaraan di kota raja, telah mewarisi hampir seluruh kepandaian ayahnya. Ia amat lihai,
terutama dalam ilmu pedang yang berasal dari ilmu pedang Partai Kun-lun-pai. Gerakan
pedangnya cukup cepat dan kuat, ditambah pula dengan pedangnya yang bukan sembarangan,
melainkan sebuah pedang mustika hadiah dari kaisar, tentu saja ia jarang menemukan
tandingan dalam ilmu pedang. Akan tetapi, setelah ia bertempur menghadapi Lie Siong, ia
menjadi terkejut sekali oleh karena ilmu silat pemuda elok ini benar-benar hebat dan lihai
sekali. Pedang yang berbentuk naga itu selain amat keras sehingga tidak menjadi rusak oleh
pedang mustikanya, juga amat berbahaya. Pedang itu kalau menyabet tidak akan melukai
kulit, akan tetapi akan meremukkan tulan dan otot, sedangkan tanduk pedang naga itu dapat
digunakan untuk menusuk bagian tubuh yang berbahaya. Yang lebih istimewa lagi adalah
lidah pedang naga yang panjang itu, karena lidah ini dapat berputar-putar melakukan
sambaran-sambaran tersendiri dan menotok jalan darah. Bahkan beberapa kali lidah merah ini
mencoba untuk melibat pedang di tangannya untuk dirampasnya!
Kam Liong teringat akan nama-nama pendekar besar yang pernah ia dengan dari ayahnya.
Menurut ayahnya, ilmu pedangnya atau ilmu silatnya harus dipergunakan dengan amat hatihati apabila menghadapi mereka atau murid dan keturunan mereka.
“Apakah kau putera Sie-taihiap Si Pendekar Bodoh?” Ia bertanya sambil menangkis sebuah
tusukan ke arah lehernya.
“Aku tidak kenal Pendekar Bodohl” jawab Lie Siong dengan hati mangkel karena lagi-lagi ia
mendengar nama pendekar ini disebut-sebut orang! Ia lalu menyerang lebih hebat lagi dan
mainkan Ilmu Pedang Ngo-lian-hoan-kiamsut, pedangnya berputar demikian hebatnya
seakan-akan berubah menjadi lima putaran sehingga nampak bagaikan lima bunga teratai,
sesuai dengan namanya, yaitu Ngo-lian-hoan-kiamsut (Ilmu Pedang Lima Bunga Teratai).
Kam Liong terkejut melihat ilmu pedang ini dan terpaksa ia mengeluarkan seluruh
kepandaiannya untuk menjaga diri, dan untuk sementara ia mencurahkan perhatiannya
terhadap pertahanannya sehingga tak sempat bertanya lagi. Akan tetapi, setelah ia terdesak, ia
lalu menggunakan gerak tipu Pek-hong-koan-jit (Bianglala Putih Menutup Matahari). Pedang
mustikanya berputar cepat sekali sehingga merupakan payung penutup tubuhhya yang amat
rapat dan kuat.
“Kalau begitu, tentulah putera Kwee An Locianpwe!” kata Kam Liong lagi, menduga-duga.
Karena kalau bukan putera Pendekar Bodoh, hanya putera atau murid Kwee An Locianpwe
saja yang memiliki kepandalan sedemikian hebatnya, demikian ia berpikir.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
120
“Jangan mengobrol! Aku tidak kenal orang she Kwee itu!” jawab Lie Siong dengan marah
dan ia pun merasa penasaran sekali karena telah bertempur lima puluh jurus lebih, belum juga
dapat mengalahkan panglima muda yang lihai ini. Ia lalu berseru keras dan dengan pedang di
tangan kanan mainkan Ilmu Pedang Sin-liong-kiamsut (Ilmu Pedang Naga Sakti), yaitu ilmu
pedang yang diciptakan oleh ibunya sendiri untuk menyesuaikan pedang yang
dipergunakannya, ia lalu menggunakan tangan kirinya untuk menyerang dengan Ilmu Pukulan
Pek-in-hoatsut yang membuat tangan kirinya mengeluarkan uap putih!
Pek-in-hoatsut sudah terkenal sekali kelihaiannya, dan kepandaian ini adalah warisan dari
Guru Besar Bu Pun Su, tidak saja pukulannya yang amat lihai, bahkan uap putih itu saja kalau
menyambar lawan dapat mematahkan tenaga lwee-kang dan dapat mendatangkan luka di
dalam tubuh. Akan tetapi ilmu pedang itu pun luar biasa hebatnya. Ketika Ang I Niocu
menciptakan ilmu pedang ini untuk puteranya, ilmu pedang ini disesuaikan dengan bentuk
Pedang Naga Sakti itu, sehingga di dalam gerakannya ini terdapat totokan-totokan jalan
darah, dan juga lidah pedang naga yang panjang itu dipergunakan dengan ilmu melempar tali
kepandalan tunggal dari Lie Kong Sian!
Bukan main terkejutnya hati Kam Liong ketika menyaksikan serangan lawannya yang hebat
ini, ia terkejut dan cepat mengelak dari serangan pukulan Pek-in-hoatsut, akan tetapi lidah
pedang naga itu telah berhasil membelit pedangnya dan sekali Lie Siong mengerahkan tenaga,
pedang itu telah terbetot terlepas dari pegangan Kam Liong!
Kam Liong kaget sekali dan berteriak keras sambil melempar tubuhnya ke belakang lalu
membuat gerakan melompat berjungkir balik beberapa kali ke belakang. Inilah gerakan Naga
Sakti Menembus Awan yang amat indah sehingga diam-diam Lie Siong kagum juga melihat
gerakan lawannya.
“Pergi...! Pergi kalian dari sini!” bentaknya sambil menggerakkan tangan kanan sehingga
pedang Kam Liong yang terampas tadi tahu-tahu terlepas dan meluncur ke arah dada
pemiliknya! Kam Liong tidak keburu menyambut dan terpaksa cepat menjatuhkan tubuhnya
sehingga pedangnya itu meluncur terus dan menancap pada dada seorang perwira yang berdiri
di belakangnya! Perwira itu menjerit dan tewas dengan dada tertembus pedang!
“Kau... kau tentu putera Ang I Niocu!” seru Kam Liong dalam dugaannya sambil mencabut
pedangnya dan memandang kagum. Mendengar ini, Lie Siong terkejut sekali dan juga marah.
“Apakah kau ingin mampus?” bentaknya sambil menggerakkan tubuh menerjang, akan tetapi
Kam Liong yang sudah tahu akan kelihaian pemuda elok ini tidak berani melawan dan
melarikan diri! Lie Siong hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar keluhan orang
Haimi yang menggeletak mandi darah itu, maka ia menunda niatnya hendak mengejar dan
menghampiri orang tua yang terluka tadi.
Ketika ia berlutut, ternyata orang tua itu keadaannya payah sekali. Tubuhnya penuh luka dan
darah telah keluar banyak sehingga napasnya tinggal satu-satu.
“Orang muda...” katanya terengah-engah, “kau gagah sekali... tak ubahnya Pendekar Bodoh
sendiri... kau tentu berbudi... seperti Pendekar Bodoh pula... kautolonglah puteriku... Lilani...
ia tentu mendapat susah dari putera kepala daerah she Gui itu! Lekas, tolonglah... ia yatim
piatu... tolong anakku...!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
121
Melihat keadaan orang tua itu sudah tak ada harapan lagi, Lie Siong lalu bertanya,
“Di mana dia...? Di mana anakmu itu?”
“Di... di rumahku, di ujung barat kota Tatung, tak jauh dari sini... kau cepat tolonglah dia...
hanya kaulah orang satu-satunya yang menjadi harapanku...” tiba-tiba orang tua itu menarik
napas panjang dan ternyata napas itu adalah tarikan yang terakhir!
Lie Siong cepat bangun berdiri dan membentak kepada perwira yang terluka dan yang
ditinggalkan oleh kawan-kawannya. “Kau harus rawat jenazahnya baik-baik, kalau tidak,
awas! Lain kali aku datang mengambil kepalamu!”
Perwira itu mengangguk-angguk dengan muka pucat. “Baik, baik... Hohan!”
Lie Siong lalu melompat pergi dan berlari cepat sekali menuju ke kota Tatung yang berada di
sebelah selatan hutan itu.
Setibanya di kota itu, Lie Siong lalu menuju ke ujung barat dan dengan mudah saja ia
mencari keterangan tentang rumah tempat tinggal seorang bangsa Haimi bernama Manako.
Ketika ia menanyakan kepada seorang tetangga orang Haimi itu karena rumah yang dicarinya
ternyata tertutup, tetangga itu memandangnya dengan ragu-ragu dan muka takut.
“Kongcu, kau mencari Manako, apakah kau masih keluarganya?”
“Bukan, aku hanya sahabatnya. Aku mau bertemu dengan Nona Lilani, puterinya.”
Muka orang yang nampak ketakutan itu menjadi makin pucat. Ia memberi isarat dengan jari
tangannya ditaruh ke depan mulut lalu berkata perlahan,
“Sst, Kongcu, jangan kau bicara terlalu keras tentang gadis itu. Lebih baik lekas kau pergilah
dari sini dan jangan katakan kepada siapapun juga bahwa kau telah kenal dengan Nona itu...!
Aku kasihan kepadamu karena kau adalah orang Han bukan bangsa Haimi.”
Lie Siong memandang tajam dan sekali ia menggerakkan tangannya, ia telah memegang
tengkuk orang itu dengan keras sehingga orang yang dipegangnya menjadi terkejut dan
ketakutan. Tangan yang mencekik tengkuknya seakan-akan sepasang jepitan baja yang kuat
sekali.
“Hayo, lekas katakan, apa yang telah terjadi dengan Lilani, dan di mana ia berada!”
“Am... ampun, Hohan...! Gadis itu baru tadi telah dibawa pergi oleh sepasukan perajurit,
ditangkap oleh Gui-siauw-ya!”
“Kaumaksudkan Gui-siauwya putera Kepala Daerah?”
“Benar, Hohan.”
“Di mana rumah Kepala Daerah itu?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
122
Orang itu cepat-cepat menunjuk ke arah timur dan berkata, “Di tengah kota ini, bangunan
yang tertinggi dan terbesar.”
Lie Siong melepaskan pegangannya dan sekali ia berkelebat, lenyaplah tubuhnya dari depan
orang yang menjadi bengong dan bergemetaran seluruh tubuhnya itu.
Mudah saja untuk mencari gedung besar Kepala Daerah she Gui di kota itu, karena
gedungnya besar dan tinggi, berada di tengah-tengah kota. Tanpa banyak peraturan lagi, Lie
Siong lalu memasuki pintu gerbang dan ketika empat orang penjaga pintu menegur dan
menghampirinya, dengan beberapa kali menggerakkan kaki tangannya, empat orang penjaga
itu terlempar ke kanan kiri. Ia terus masuk ke dalam didahului oleh seorang penjaga yang
bergegas lari memberi laporan tentang datangnya seorang pengamuk muda yang lihai.
Dengan diiringkan oleh serombongan penjaga, Gui-taijin sendiri keluar dari ruang dalam,
bersama Kam Liong, panglima muda yang menjadi tamunya.
Begitu melihat pembesar ini, Lie Siong melompat dan menangkap lengannya.
“Hayo lepaskan Lilani, kalau tidak kepalamu akan kuhancurkan!” katanya dengan bengis.
Pembesar Gui yang sudah setengah tua itu memandang heran dan gelisah, lalu bentaknya
marah,
“Siapakah kau dan apa maksudmu?”
Juga Kam Siong lalu maju dan menjura ke arah Lie Siong.
“Taihiap, harap kau bersabar dulu, ada urusan dapat diurus dan ada persoalan dapat
dirundingkan. Sesungguhnya kami tidak mengerti akan maksud kedatanganmu ini, dan
siapakah adanya Lilani?”
Lie Siong mengerling tajam dan dengan heran ia melihat bahwa wajah panglima muda itu
tidak membayangkan kebohongan. Akan tetapi ia lalu berkata dengan penuh sindiran.
“Bagus! Kalian telah membunuh orang Haimi itu dan merampas puterinya, sekarang masih
berpura-pura tidak tahu?”
“Siapa yang membunuh orang dan siapa yang merampas puterinya?” Gui Taijin berseru
marah. “Jangan menuduh sembarangan saja!”
Kam Liong yang berdiri di samping dengan muka merah lalu berkata kepadanya,
“Sesungguhnya memang ada pembunuhan atas diri orang Haimi itu. Akan tetapi menurut
keterangan puteramu orang Halmi itu adalah seorang pemberontak, oleh karena itulah maka
ketika aku dimintai bantuan, aku lalu membantu puteramu. Akan tetapi tentang perampasan
gadis itu, aku sama sekali tidak tahu!”
Sesungguhnya, Gui Taijin ini tidak tahu sama sekali tentang urusan puteranya, dan segala
peristiwa yang terjadi tadi adalah di luar kehendak dan pengetahuannya. Puteranya bertindak
seorang diri untuk melampiaskan nafsu jahatnya dan mempergunakan kedudukannya sebagai
putera Kepala Daerah.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
123
“Apakah artinya semua ini?” Gui Taijin membentak marah kepada para penjaga yang berdiri
dengan ketakutan. “Di mana adanya Gui Kongcu? Benarkah ia telah merampas anak gadis
orang?”
Seorang penjaga dengan ketakutan lalu memberi hormat dan melapor, “Kongcu telah
membawa gadis itu ke rumah peristirahatan Taijin di dekat sungai.”
“Keparat...!” seru Gui Taijin, akan tetapi pada saat itu, Lie Siong sudah melompat maju dan
dengan mudah ia telah menangkap penjaga yang bicara tadi, mengempitnya dan
membawanya lompat keluar dari situ.
“Kau harus tunjukkan kepadaku di mana adanya tempat itu!” katanya.
Biarpun ia sedang marah kepada puteranya, kini melihat betapa pemuda yang lihai itu hendak
mengejar ke sana, Gui Taijin merasa berkhawatir juga. Ia lalu mengerahkan perajuritperajuritnya dan dengan cepat melakukan pengejaran pula, didampingi oleh Kam Liong yang
diam-diam merasa benci kepada putera Kepala Daerah itu.
Perajurit yang dikempit dan dibawi lari oleh Lie Siong itu merasa seakan- akan dibawa
terbang oleh seekor burung besar dan dengan muka pucat ia lalu menunjukkan jalan yang
menuju ke sebuah dusun di pinggir Sungai Yung-ting. Di tempat ini, Kepala Daerah Gui
memang mempunyai sebuah gedung indah di mana ia dan keluarganya menghibur diri di
musim panas.
Setelah tiba di tempat yang dicari Lie Siong lalu melempar tubuh penjaga itu kesamping jalan
di mana penjaga itu rebah dengan tubuh menggigil tak berani bangun, kemudian pemuda
perkasa itu lalu cepat melompat ke atas tembok tinggi yang mengelilingi gedung itu.
Beberapa orang penjaga melihatnya dan berteriak-teriak sambil mengejar, akan tetapi Lie
Siong tidak mempedulikannya dan terus saja melompat masuk dan menyerbu ke dalam. Ia
bertemu dengan beberapa orang penjaga yang berlari keluar mendengar teriakan kawankawannya, akan tetapi bagaikan orang membabat rumput saja, Lie Siong merobohkan mereka
dengan pukulan dan tendangan kakinya.
Ketika ia telah merobohkan para penjaga, tiba-tiba ia mendengar suara jeritan wanita, maka
cepat ia mengejar ke dalam dari mana jeritan itu terdengar, ternyata bahwa jeritan itu
terdengar dari ruangan belakang, di mana bangunan didirikan di atas air. Memang gedung
yang indah ini bagian belakangnya berada di atas air Sungai Yung-ting, sehingga kalau orang
duduk di belakang, ia akan menikmati pemandangan yang indah sekali.
Lie Siong terus berlari ke belakang, dua orang penjaga yang menghadang di jalan kembali
dirobohkannya dengan sekali pukul. Sekali lagi ia mendengar jeritan wanita dan kali ini
terdengar keras sekali dari balik sebuah pintu. Dengan marah Lie Siong menendang daun
pintu itu dan alangkah marahnya ketika ia melihat seorang pemuda yaitu pemuda yang dengan
orang Haimi itu, sedang menarik-narik tangan seorang gadis muda yang meronta-ronta,
menjerit-jerit, dan memaki-maki!
Muka laki-laki jahanam yang tadinya menyeringai seakan-akan merasa gembira melihat
perlawanan gadis itu, tiba-tiba menjadi pucat bagaikan mayat ketika ia mendengar pintu
kamar itu mengeluarkan bunyi keras dan melihat daun pintu itu roboh. Lebih kagetlah dia
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
124
ketika melihat munculnya Lie Siong, pemuda gagah perkasa yang telah menghajar para
perwira pembantunya siang tadi dengan hebatnya.
Betapapun juga, melihat Lie Siong bertindak menghampirinya dengan mata bersinar marah,
Gui Kongcu masih ingat akan pedangnya yang diletakkan di atas pembaringan. Ia menyambar
pedangnya dan menyambut kedatangan Lie Siong dengan sebuah bacokan hebat. Akan tetapi
tanpa berkejap sedikit pun, Lie Siong lalu mengangkat tangannya dan dengan gerak tipu
Tangan Kapak Membacok Cabang ia lalu menangkis sambaran pedang itu dengan babatan
tangannya dari samping ke arah pinggir pedang.
“Krak!” Pedang itu menjadi patah ketika terkena sambaran tangan Lie Siong yang
dimiringkan. Pukulan ini hebat sekali dan tak sembarangan ahli silat berani mempergunakan
untuk menangkis pedang. Biar bagaimanapun juga tangan tebuat daripada kulit dan daging
pembungkus tulang, tentu saja tak mungkin dipergunakan untuk diadu dengan tajamnya
pedang. Akan tetapi gerakan Tangan Kapak Membacok Cabang ini mengandalkan kecepatan
dan ketangkasan, disertai tenaga lwee-kang yang amat kuat. Digunakannya bukan untuk
menyambut datangnya pedang yang tajam, melainkan digerakkan dari pinggir dengan
memukul pedang itu dari samping pada mukanya dengan mempergunakan tangan yang
dimiringkan. Tentu saja kalau gerakan ini kurang cepat atau kurang tepat, banyak bahayanya
tangan akan bertemu dengan mata pedang dan akan terluka!
“Bangsat hina-dina!” Lie Siong membentak marah dan sekali ia majukan tangan kiri, ia telah
mencekik batang leher pemuda cabul itu. “Pergilah!” serunya dan tubuh Gui Kongcu yang
dilempar itu melayang laju keluar dari jendela kamar dan langsung meluncur ke dalam sungai
yang amat dalam itu, kemudiar terdengar suara “byur!” tanda bahwa air telah menyambutnya
dan setelah itu sunyi.
Gadis itu memandangnya dengan sepasang matanya yang lebar.
Gadis itu memandangnya dengan sepasang matanya yang lebar.
“Siapakah kau...?” Dengan jujur gadis ini tidak menyembunyikan kekaguman yang keluar
dari suara dan pandangan matanya.
Lie Song balas memandang. Ia melihat seorang gadis yang berusia paling banyak enam belas
tahun, berwajah cantik jelita, kecantikan yang aneh dan berbeda dengan kecantikan wanita
biasa. Mungkin karena matanya yang lebar sekali itu atau rambut dan manik matanya yang
hitam, atau mungkin suaranya yang bernada lain daripada suara gadis biasa.
“Apakah kau yang bernama Lilani?” tanya Lie Siong yang lebih heran daripada tertarik
melihat kecantikan ini.
Gadis ini mengangguk. “Dan kau siapakah?”
“Aku datang menolongmu untuk memenuhi pesanan ayahmu.”
Tiba-tiba gadis itu memegang lengan Siong dan bertanya dengan muka pucat, “Bagaimana
dengan Ayah? Di mana dia...?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
125
Benar-benar gadis aneh, pikir Lie Siong dengan hati tidak enak karena merasa betapa telapak
tangan gadis itu dengan halus memegang lengannya. Di mana ada seorang gadis yang belum
dikenalnya memegang lengan seorang pemuda begitu saja?
Ia menarik lengannya dan menggeleng kepala, lalu berkata singkat.
“Kita pergi dulu dari tempat ini!”
Karena maklum bahwa gadis ini tidak memiliki kepandaian tinggi, ia lalu memegang tangan
Lilani dan menariknya keluar dari kamar itu. Akan tetapi, baru saja ia keluar dari kamar
ternyata bahwa gedung itu telah penuh dengan perwira yang menghadang jalan keluarnya.
Para perwira dan penjaga dengan senjata tajam di tangan menyerbu masuk untuk menolong
putera Kepala Daerah. Ketika melihat pemuda baju putih itu bejalan sambil menggandeng
tangan Lilani, mereka berseru keras dan menyerang.
Bagi Lie Siong, tidak sukarlah menghadapi mereka itu dan mencari jalan keluar melalui jalan
darah, akan tetapi ia teringat akan gadis itu. Kedatangannya bukanlah dengan maksud untuk
mengamuk dan mencari permusuhan dengan para perwira itu, akan tetapi khusus untuk
menolong Lilani. Melihat para perwira itu menyerbu, Lie Siong lalu membalikkan tubuh dan
menarik tangan Lilani memasuki kamar itu kembali.
“Celaka, mereka mengejar kita!” kata Lilani akan tetapi gadis ini tidak nampak takut. “Kau
pergilah, jangan sampai kau menjadi korban karena menolongku. Aku sanggup melawan
mereka dan sebelum aku mati, pasti aku akan dapat membunuh seorang dua orang!”
“Bodoh!” kata Lie Siong dan ia lalu bertindak ke arah jendela, lalu menjenguk keluar. Kamar
ini berada di bagian terbelakang, maka di luar jendela itu kosong dan di bawah jendela adalah
air Sungai Yung-ting yang nampak kebiruan. Tak mungkin membawa gadis itu lompat keluar,
karena tubuh mereka tentu akan terjatuh ke dalam air dan ia tidak pandai berenang. Sementara
itu, suara kaki para pengejar telah makin dekat sehingga Lie Siong merasa bingung juga.
Kemudian ia mendapat akal. Pedang Sin-liong-kiam dicabut dan tubuhnya tiba-tiba melayang
naik sambil memutar pedang itu pada di atas kamar. Terdengar suara keras dan langit-langit
itu berlubang besar sedangkan potongan kayu jatuh berhamburan di dalam kamar itu. Lie
Siong melompat turun kembali dan cepat ia menyambar tubuh gadis itu tanpa banyak cakap
lagi.
Ketika itu, para pengejar sudah tiba di depan kamar. Lie Siong menggunakan tangan kiri
mengempit pinggang Lilani yang ramping, lalu menyambar daun pintu yang sudah roboh
ketika ditendangnya tadi. Daun pintu yang berat itu ia lemparkan ke arah para penyerbu
sehingga tiga orang terdepan menjadi terjengkang tertimpa oleh daun pintu itu. Kawankawannya di belakang tertimpa pula sehingga mereka menjadi tumpang tindih dan untuk
sesaat lamanya tak dapat melanjutkan pengejaran. Lie Siong cepat melompat naik sambil
mengempit Lilani.
Ketika para pengejar tiba di dalam kamar, ternyata bahwa dua orang muda itu lenyap! Tak
lama kemudian Kam Liong dan Gui Taijin datang pula, akan tetapi mereka tak dapat mencari
Lie Siong maupun Lilani. Sedangkan Gui Kongcu pun tak nampak bayangannya!
Sesungguhnya, dengan kepandaiannya yang tinggi, Kam Liong tentu saja dapat mengejar Lie
Siong yang melarikan diri dari atas genteng. Akan tetapi panglima muda ini tidak mau
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
126
melakukannya. Pertama ia memang segan bermusuhan dengan Lie Siong yang gagah perkasa
dan lihai itu, kedua kalinya ia tidak suka akan kebiasaan Gui Kongcu dan tidak mau
membantu perbuatan jahat. Ia tahu bahwa pendekar muda baju putih itu tentu mengambil
jalan genteng, maka ia hanya memberitahukan ini kepada para perwira yang segera melompat
dan mengejar ke atas genteng. Namun gerakan mereka tidak secepat Lie Siong. Ketika
melihat para pengejarnya kacau-balau karena serangannya dengan daun pintu tadi, Lie Siong
lalu melompat ke atas langit-langit yang telah berlubang. Dengan mudah ia menghancurkan
genteng dari bawah, lalu keluar dari lubang di genteng itu. Setelah berada di atas genteng,
cepat ia melarikan diri, berlompatan bagaikan seekor garuda putih terbang sehingga Lilani
terpaksa meramkan mata saking ngerinya melihat tubuhnya melayang-layang di atas genteng
yang begitu tinggi.
Lie Siong membawa Lilani ke pinggir sungai dan melihat perahu-perahu kecil para nelayan
ditambatkan di pinggir sungai, ia lalu melompat ke sebuah perahu kecil yang terbaik,
memutuskan talinya dan segera mendayung perahu itu ke tengah sungai.
“Hai...!” Pemilik perahu itu berteriak. “Hendak kaubawa kemana perahuku itu?”
Sementara itu, Lilani yang sudah di dalam perahu berkata, “Tidak baik mencuri perahu
orang, siapa tahu kalau-kalau nelayan miskin itu akan kehilangan sumber nafkahnya kalau
perahu ini kita bawa pergi.”
Lie Siong memandang kepada gadis itu dengan heran dan juga kagum. Ia tak menjawab, akan
tetapi merogoh buntalannya dan mengeluarkan sepotong emas murni. Ketika berangkat ia
mendapat bekal tiga puluh potong lebih emas murni seperti ini dari ibunya.
“Ini cukup?” tanyanya sambil memperlihatkan emas itu kepada Lilani.
Gadis ini memandang dengan mata terbelalak. Ia tahu akan nilai emas dan sepotong emas di
tangan Lie Siong ini kalau dijual dapat digunakan untuk membeli sedikitnya tiga atau empat
buah perahu kecil seperti ini.
“Terlalu banyak,” jawabnya, “sepertiga juga sudah cukup.” Akan tetapi setelah mendengar
jawaban ini, tanpa banyak cakap lagi ia lalu mengayun tangannya dan melemparkan potongan
emas itu ke arah orang yang berteriak-teriak tadi.
“Perahumu kubeli, inilah uangnya!” seru Lie Siong. Ketika orang itu memungut potongan
emas yang jatuh tepat di depannya, tentu saja ia menjadi girang sekali dan berlari-larilah ia
pulang sambil berjingkrak-jingkrak dan menari-nari karena merasa mendapat keuntungan
yang besar sekali.
Lie Siong membiarkan perahunya hanyut oleh aliran air yang deras dan ia hanya
menggunakan dayung untuk mengemudi jalannya perahu. Semenjak mereka duduk di dalam
perahu, yaitu pada siang hari tadi, sampai sekarang sudah hampir senja, mereka tak pernah
bicara sepatah kata pun! Lilani hanya duduk sambil menundukkan kepala, kadang-kadang
memandang ke pinggir sungai dan hanya sewaktu-waktu saja mengerling kepadanya. Gadis
itu nampak susah, bingung dan juga malu-malu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
127
Akhirnya ia tidak dapat menahan lagi. Berada dekat seseorang yang sama sekali tidak pernah
bicara, tidak menengok kepadanya, dan tidak mempedulikannya, jauh lebih sunyi rasanya
daripada kalau ia berada seorang diri tanpa kawan!
“Kita mau ke manakah?” tanyanya sambil mengerling tajam ke arah pemuda yang angkuh
dan tinggi hati itu.
“Ke mana saja air ini membawa perahu yang kita tumpangi,” jawab Lie Siong tanpa
memandang.
“Ke mana akan dibawanya?”
“Entahlah!”
Lilani menarik napas panjang. Aneh dan sukar benar pemuda ini. Belum pernah selama
hidupnya ia menghadapi seorang pemuda seperti ini. Hampir setiap laki-laki yang pernah
ditemuinya, baik pemuda maupun sudah tua, selalu akan memandangnya dengan mata gairah,
tersenyum-senyum dan segera mengeluarkan ucapan-ucapan menggoda atau memuji. Akan
tetapi pemuda ini... menengok pun tidak, bahkan diam saja seperti patung! Sungguh hampir
tak dapat dipercaya wajah pemuda yang seelok dan setampan itu ternyata didampingi oleh
watak yang demikian angkuh dan aneh.
“Kau telah menolongku dari bahaya maut...”
“Tak perlu dibicarakan hal sekecil itu.” Lie Siong memotong.
Lilani berpaling dan menggigit bibir. Alangkah sukarnya menghadapi orang ini, pikirnya.
“Bolehkah aku mengetahui namamu?”
“Aku she Lie dan namaku Siong.”
Lilani menarik napas lega. Sedikitnya pemuda ini tidak merahasiakan namanya. Akan tetapi
ia masih merasa penasaran karena dalam menjawab pertanyaannya, pemuda itu sama sekali
belum mau menengoknya, bahkan duduknya pun membelakanginya!
“Di manakah ayahku? Di mana dia?” tanya Lilani.
Tiba-tiba pemuda itu menarik napas panjang, lalu mendayung perahunya ke tepi. Ia
menghentikan perahunya di tempat yang dangkal, lalu memutar tubuhnya, menghadapi gadis
itu. Ternyata bahwa Lie Siong bukan karena keangkuhannya semata maka ia tidak mau
menengok gadis itu, akan tetapi sebagian besar karena rasa terharu mengingat akan nasib
gadis ini. Sebelum tewas orang tua berbangsa Haimi itu mengatakan bahwa Lilani telah
menjadi yatim piatu, maka itu berarti bahwa ibu gadis ini telah meninggal dunia pula.
Melihat sikap pemuda itu, Lilani menjadi pucat dan mengulang pertanyaan lagi. “Katakanlah,
di mana dia?”
“Ayahmu telah tewas.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
128
Gadis itu tidak kelihatan terkejut, juga tidak menangis menjerit-jerit. Ia hanya meramkan
kedua matanya dengan kening berkerut. Akan tetapi, keadaannya ini lebih mengharukan hati
Lie Siong yang mungkin takkan demikian terharu kalau melihat gadis itu menangis tersedusedu. Lama mereka duduk berhadapan dalam keadaan demikian. Lilani duduk bagaikan
patung, sedangkan Lie Siong duduk memandangnya dengan penuh keharuan hati yang tak
diperlihatkan.
“Sudah kuduga...” Akhirnya Lilani dapat juga mengeluarkan kata-kata seperti berbisik.
Ketika ia membuka kembali matanya, selaput matanya menjadi merah, tanda bahwa ia telah
mengerahkan seluruh tenaga untuk menahan membanjirnya air mata. Betapapun juga masih
nampak beberapa titik air mata mengalir perlahan menuruni pipinya yang pucat.
“Tentu oleh anak buah keparat she Gui itu, bukan?”
Kata-kata ini merupakan pertanyaan dan tuntutan kepada Lie Siong untuk menceritakan
semua peristiwa yang terjadi, maka ia pun lalu menceritakannya tentang pertempurannya
membantu Manako dan betapa orang tua itu terbunuh oleh keroyokan para perwira.
Mendengar penuturan ini, gadis itu memandang ke arah awan yang bergerak perlahan di
angkasa, mengepal kedua tangannya yang kecil, menggigit bibirnya dan membiarkan air
matanya mengalir turun bagaikan sumber air kecil, lalu, berkata,
“Bangsaku dimusnahkan! Ibuku terbunuh, kini ayahku terbunuh pula! Terkutuklah manusiamanusia berjiwa iblis itu...!”
Mendengar ucapan ini, Lie Siong merasa tertarik dan lalu ia minta gadis itu menuturkan
riwayatnya. Ia mulai merasa kagum melihat ketabahan hati gadis cantik ini, yang dapat
menahan perasaannya sehingga tidak menangis menjerit-jerit seperti gadis lain yang tertimpa
bencana sehebat itu.
“Benar-benarkah kau ingin mengetahui riwayat seorang yang rendah dan bodoh seperti aku,
Tai-hiap?” tanya Lilani sambil memandang melalui air matanya ketika ia mendengar
permintaan Lie Siong.
“Tentu saja. Setelah ayahmu minta kepadaku untuk menolongmu, sudah sepatutnya aku
mengetahui keadaanmu untuk menetapkan kemudian apa yang selanjutnya harus kulakukan
dengan kau.”
Lilani menghela napas, menghapus air matanya dengan ujung baju kemudian menuturkan
riwayatnya dengan singkat.
Lilani adalah puteri tunggal dari Manako, kepala suku bangsa Haimi yang terdiri tiga ratus
orang suku bangsa Haimi yang hidup berkelompok dan berpindah-pindah. Manako adalah
suami dari Meilani dan suami-isteri ini hidup dengan rukun dan saling mencintai, memimpin
bangsanya dengan penuh keadilan dan ketenteraman. Manako dan Meilani pernah tertolong
oleh Pendekar Bodoh, bahkan sebelum menikah dengan Manako diantara Meilani dan Kwee
An pernah terjadi hal yang amat lucu sehingga Kwee An hampir dipaksa menikah dengan
Meilani yang cantik jelita akan tetapi bergigi hitam itu! (Baca cerita Pendekar Bodoh).
Setelah berkenalan dengan pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa ini, maka banyak
kemajuan yang diperoleh Meilani dan Manako, sehingga ketika mereka memperoleh seorang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
129
puteri, yaitu Lilani, anak ini tidak dihitamkan giginya seperti yang telah menjadi kebiasaan
suku bangsa Haimi. Manako dan Meilani melatih ilmu silat kepada puteri mereka itu dan
mereka semua hidup penuh kebahagiaan.
Akan tetapi, pada waktu Lilani berusia empat belas tahun, malapetaka besar menimpa
keluarga suku bangsa Haimi itu. Kelompok mereka terdesak oleh bangsa Mongol yang
hendak menawan mereka untuk dijadikan pekerja paksa sehingga mereka terpaksa melarikan
diri ke selatan, keluar dari tapal batas Mongolia, setelah mengadakan perlawanan sengit dan
kehilangan beberapa puluh jiwa.
Pada waktu itu, golongan yang lemah dan kecil selalu tentu tertindas dan terinjak oleh yang
besar. Setelah mereka melalui tapal batas, mereka tidak menemui kebahagiaan bahkan
sepasukan tentara kerajaan yang menjaga tapal batas itu, lalu menyerbu mereka, membunuh
yang laki-laki sambil menculik yang wanita! Pertempuran hebat terjadi. Manako dan Meilani
melakukan perlawanan sekuat tenaga, bahkan Meilani yang pernah menerima petunjukpetunjuk ilmu silat dari Ma Hoa isteri Kwee An dan dari Lin Lin isteri Pendekar Bodoh, lalu
mengamuk bagaikan seekor naga betina. Juga Lilani yang baru berusia empat belas tahun itu
ikut pula mainkan pedang, membantu ibu dan ayahnya. Akan tetapi kekuatan musuh
terlampau besar dan akhirnya terpaksa Manako membawa Lilani melarikan diri dengan hati
hancur setelah melihat Meilani roboh tak bernyawa lagi di bawah tusukan banyak pedang
musuh! Kelompok suku bangsa Haimi hancur dan cerai-berai. Banyak yang tewas atau
tertawan dan ada pula yang dapat melarikan diri berpencaran.
Manako berhasil melarikan diri bersama puterinya dan selama dua tahun lebih ia merantau
bersama Lilani, pindah dari satu kota ke lain kota. Akhirnya sampailah ia di kota Tatung dan
tinggal di situ bersama puterinya. Ia tidak khawatir akan biaya hidupnya sehari-hari, karena
ketika melarikan diri, ia masih menyimpan berbagai barang dari emas, bahkan ia mempunyai
sebatang golok yang seluruhnya terbuat daripada emas. Juga keamanannya terjamin, karena
pada masa itu, hanya suku-suku bangsa kecil yang berkelompok saja yang mendapat
gangguan dan dicurigai. Akan tetapi kalau hanya satu dua orang saja takkan mendapat
gangguan dari siapapun juga, asalkan taat akan peraturan-peraturan kota setempat.
Manako dan Lilani hidup berdua dengan hati menderita kesedihan, dan selalu mereka teringat
akan keadaan suku bangsanya yang sudah musna, dan terutama sekali teringat akan Meilani
yang gugur dalam pertempuran itu. Akan tetapi apakah yang dapat mereka lakukan?
Lilani menjadi dewasa dan makin cantik jelita seperti mendiang ibunya. Telah biasa
dikatakan orang bahwa kecantikan dan kepandaian merupakan karunia dan berkah Thian
Yang Maha Kuasa. Akan tetapi bagi Manako dan Lilani, ternyata bahwa kecantikan Lilani
tidak merupakan berkah bahkan merupakan sebab bencana besar! Putera kepala daerah she
Gui ketika menyaksikan keindahan bentuk tubuh dan kemanisan wajah Lilani gadis Haimi itu,
tergerak hatinya dan ia mengajukan pinangan kepada Manako untuk minta gadis itu sebagai
selirnya.
Manako adalah bekas kepala suku bangsa, dan betapapun juga, ia boleh disebut raja kecil.
Tentu saja ia mempunyai keangkuhan dan mendengar pinangan ini, ia merasa terhina sekali.
Mana ia sudi memberikan puterinya yang tunggal untuk dijadikan selir oleh putera seorang
Kepala Daerah? Demikianlah, ia menolak pinangan itu yang berakhir malapetaka besar
baginya. Gui Kongcu merasa sakit hati dan sebagaimana telah dituturkan di atas, akhirnya
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
130
pemuda bangsawan jahanam ini lalu melakukan kekerasan, membunuh Manako dan menculik
Lilani!
Setelah menuturkan riwayatnya sambil menghela napas Lilani berkata, “Dulu ibuku pernah
menceritakan kepadaku bahwa di antara orang-orang bangsa Han terdapat pendekar-pendekar
seperti Kwee An Eng-hiong dan Pendekar Bodoh, akan tetapi setelah menderita akibat
kejahatan bangsamu yang menjadi perwira-perwira kaisar kukira bahwa sekarang tidak ada
lagi pendekar-pendekar seperti itu! Ternyata sekarang, aku bertemu dengan engkau yang
berbudi dan gagah perkasa. Ah, Lie Tai-hiap, dengan jalan bagaimanakah aku dapat
membalas budimu yang besar ini?”
Lie Siong merasa kasihan sekali mendengar riwayat gadis ini.
“Apakah kau tidak mempunyai keluarga lain?”
Gadis itu menggeleng kepalanya dengan sedih.
“Tidak mempunyai sahabat-sahabat yang boleh kautumpangi?”
Kembali Lilani menggelengkan kepalanya yang cantik sambil termenung. Lie Siong tak
dapat berkata-kata lagi, hanya duduk diam dengan bingung. Apakah yang harus ia lakukan?
Bagaimana ia dapat menolong gadis ini selanjutnya? Ia sendiri adalah seorang perantau, tidak
mempunyai tempat tinggal yang tetap. “Dan... bagaimanakah tujuanmu? Kau hendak pergi ke
manakah?” Lie Siong lalu bertanya perlahan.
Lilani yang semenjak tadi dapat menahan kesedihan hatinya, ketika mendengar pertanyaan
ini, hanya dapat memandang dengan sinar mata amat mengharukan, lalu ia menangis tersedusedu! Ia menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya dan air mata mengalir
keluar dari celah-celah jari tangannya sedangkan tubuhnya terisak-isak.
Lie Siong menjadi bingung, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Selama hidupnya, baru kali
ini ia merasa bingung dan menghadapi perkara yang luar biasa sukarnya. “Lilani, ayahmu
berpesan kepadaku untuk menolongmu dari tangan jahanam she Gui itu. Aku telah
melakukannya dan setelah kau kini bebas dan selamat, aku tidak tahu harus berbuat apa
selanjutnya. Ketahuilah, bahwa aku sendiri tidak mempunyai tempat tinggal, merantau
seorang diri, juga tidak mempunyai tujuan tertentu...” Tiba-tiba Lilani menghentikan
tangisnya dan ia mengangkat mukanya memandang pemuda itu. Sebelum bicara, beberapa
kali ia menelan ludah karena merasa tenggorokannya seakan-akan terganjal sesuatu. “Lie Taihiap, aku maklum akan maksudmu. Tak perlu kau menyusahkan keadaanku dan janganlah
aku menjadi penghalang dari kebebasanmu. Aku tahu bahwa dengan adanya aku, kau tidak
merasa senang, tidak dapat bergerak bebas, pertama karena aku seorang gadis, kedua karena
aku lemah. Kau janganlah menjadi bingung, Tai-hiap, jangan kau memikirkan aku lagi.
Pergilah kau melanjutkan perjalananmu, biar aku seorang diri di perahu ini sampai... sampai...
entah ke mana saja perahu dan air sungai ini membawaku!” Lie Siong lalu berdiri, merogoh
buntalannya dan mengeluarkan sepuluh potong emas murni. Ia memberikan benda berharga
ini kepada Lilani dan berkata, “Kau cukup maklum akan keadaanku dan ini sedikit bekal
untuk biaya perjalananmu.” Dengan air mata masih menitik turun, Lilani memandang tangan
yang mengangsurkan potongan-potongan emas itu. Ia menggeleng kepala dan berkata tegas.
“Tai-hiap, kau telah menolongku dan untuk itu saja aku telah merasa amat berat serta tidak
tahu harus membalas budimu dengan cara bagaimana. Karena itulah maka aku tidak berani
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
131
memberatkan kau lagi, apalagi menerima pemberianmu. Ah, tidak, aku tak dapat menerima
emas ini. Hidupku takkan lama lagi... untuk apakah benda itu...?” Tertegun hati Lie Siong
mendengar ucapan ini, akan tetapi ia pun tidak mau banyak cakap, memasukkan emas itu ke
dalam buntalan kembali lalu ia melompat ke darat. “Kalau begitu, selamat berpisah!” katanya
lalu melompat pergi. Lilani duduk di perahu dan memandang bayangan pemuda itu dengan
lemas. Ia merasa seakan-akan semangatnya telah melayang pergi meninggalkan tubuhnya.
Merasa betapa seluruh perasaannya telah terbawa pergi oleh pemuda yang gagah perkasa,
tampan dan juga aneh serta amat pendiam itu. Ia maklum bahwa hatinya telah terampas oleh
kegagahan Lie Siong dan jantungnya telah tertembus oleh sinar mata pemuda itu. Ia maklum
bahwa tanpa adanya pemuda itu didekatnya, hidupnya tidak ada artinya lagi. Bangsanya telah
musna, ayah bundanya telah tewas. Tadinya ia bercita-cita untuk membangun suku
bangsanya, untuk menggantikan kedudukan ayahnya kemudian bersama bangsanya, berjuang
memperbaiki nasib. Akan tetapi kini semua itu lenyap, lenyap bersama bayangan Lie Siong.
Dengan Lie Siong di sampingnya, ia merasa pasti dan yakin bahwa cita-citanya itu akan
terlaksana. Tak tertahan lagi ia lalu menjatuhkan mukanya di atas kedua telapak tangannya
dan menangis dengan hati terasa disayat-sayat. Dalam kesedihannya yang hebat ini,
terbayanglah wajah ibunya yang cantik jelita dan teringatlah ia betapa ibunya pernah
menuturkan kepadanya tentang perhubungan ibunya dengan seorang pendekar besar bernama
Kwee An yang bertempat tinggal di Tiang-an. Ibunya, Meilani, pernah menuturkan
kepadanya betapa ibunya itu pun pernah jatuh hati kepada pendekar itu. Ah, mengapa ia harus
putus asa? Sahabat-sahabat baik ibunya masih banyak. Kalau saja ia dapat mencari Kwee An
dan Ma Hoa, atau Pendekar Bodoh dan Lin Lin, tentu mereka akan mau menolong, menolong
puteri tunggal Meilani! Akan tetapi teringat akan kejahatan putera kepala daerah she Gui itu,
hatinya menjadi gentar lagi. Banyak sekali manusia-manusia jahat semacam pemuda she Gui
itu di dunia ini! Ah, alangkah bedanya dengan Lie Siong pemuda yang sopan santun dan
gagah perkasa itu. Pemuda yang sedikit pun tidak mau mengganggunya, jangankan
mengganggunya, bahkan menengok pun tidak, agaknya ia bukan seorang gadis cantik!
Mungkin dalam pandangan Lie Siong, ia hanya seorang perempuan yang buruk rupa dan
menjemukan! Mengingat akan hal ini, kembali hatinya terasa bagaikan disayat dan air
matanya mengucur makin deras. Tiba-tiba ia mendengar suara yang halus di sebelah
belakangnya. “Lilani, sudahlah, jangan kau terlalu berduka.” Seketika itu juga air matanya
yang mengucur berhenti mengalir seakan-akan sumbernya tertutup rapat, kedua matanya
dibuka lebar-lebar dan ia cepat memutar lehernya menengok. Ternyata bahwa Lie Siong telah
berdiri di darat sambil bertolak pinggang! “Lie Tai-hiap…!” Dalam seruan ini terkandung
kegirangan yang luar biasa sekali.
“Aku tak merasa enak hati meninggalkan kau dalam keadaan begini.” kata pemuda itu sambil
mengerutkan kening seakan-akan tidak puas akan kelemahannya sendiri. “Kalau sampai
terjadi sesuatu dengan kau, maka akan sia-sialah usahaku membebaskan kau dari
cengkeraman orang jahat, dan berarti aku telah melanggar janji kepada ayahmu.”
“Tai-hiap... Thian Yang Agung telah mengirimmu kembali padaku...” kata Lilani dengan
bisikan terharu.
“Akan tetapi aku masih tidak tahu harus membawa kau ke mana, Lilani. Sekarang kaucarilah
tujuan tertentu agar aku dapat mengantarkan kau ke tempat yang aman, baru kemudian akan
melanjutkan perantauanku.”
“Tai-hiap, aku sudah mendapat pikiran ketika kau pergi tadi. Aku teringat akan Kwee-lo-enghiong dan Pendekar Bodoh. Kalau saja kau sudi mengantarkan aku sampai ke tempat tinggal
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
132
mereka, aku akan mendapat perlindungan yang sentausa. Budimu takkan kulupakan selama
hidupku, Tai-hiap.”
“Sudahlah, jangan bicara tentang budi,” kata Lie Siong yang segera masuk ke dalam perahu.
“Aku pernah mendengar bahwa Kwee Lo-eng-hiong tinggal di kota Tiang-an. Baiknya kita
mengambil jalan sungai ini sampai ke kota raja, kemudian kita menuju ke Tiang-an dengan
jalan darat.”
Saking girangnya, Lilani tak menjawab, hanya mengangguk-angguk sambil menatap pemuda
itu dengan mata berseri. Lenyaplah segala kesedihannya, segala keraguannya. Dengan
pemuda ini di sampingnya, dunia seakan-akan menjadi lebih lebar dan terang, air Sungai
Yang-ting seakan-akan merupakan sutera kehijauan yang dibentangkan di depannya, bunyi
riak air berdendang merdu dan ia mendengar hatinya bernyanyi gembira!
Lie Siong tidak banyak bicara, hanya mendayung perahu itu dengan cepat ke tengah dan
lajulah perahu itu terbawa aliran air sungai ditambah dengan tenaga dayung di tangan Lie
Siong yang kuat.
***
Kita tinggalkan dulu Lie Siong dan Lilani yang melakukan pelayaran dalam usaha mereka
mencari tempat tinggal Kwee An atau Pendekar Bodoh untuk mendapatkan tempat tinggal
dan tempat menumpang bagi gadis itu. Marilah kita menengok keadaan Pendekar Bodoh Sie
Cin Hai dan isterinya, Lin Lin, yang melakukan perjalanan ke perbatasan utara, bahkan
memasuki daerah Mongol untuk mencari Ang I Niocu!
Dengan hati penuh keharuan dan kegelisahan Cin Hai dan Lin Lin hendak kembali ke selatan
perbatasan Mongol di mana dulu Ang I Niocu dan Lin Lin pernah mengadakan perantauan.
Mereka mencari keterangan di sana-sini, mengadakan kunjungan ke berbagai tempat dan
pegunungan, akan tetapi hasilnya sia-sia belaka.
Pada suatu hari, ketika dengan putus harapan Cin Hai dan Lin Lin hendak kembali ke selatan
dan tiba di dalam sebuah hutan, mereka mendengar orang bernyanyi dengan suara nyaring.
“Ah kipas sial, kipas butut!
Apakah jasamu terhadapku?
Hanya mendatangkan nama besar yang kosong.
Menambah musuh menjauhkan sahabat.
Kau tidak mampu merenggut nyawaku.
Yang jemu dan telah lama terkurung.
Kau tetap hanya menghibur badan.
Mengusir hawa panas mendatangkan angin.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
133
Ah, kipas butut, kipas sial!”
Hutan itu liar dan sunyi, maka tentu saja Cin Hai dan Lin Lin terheran-heran mendengar
nyanyian ini, karena selain kata-katanya amat aneh, juga suara itu nyaring sekali sehingga
menggema di seluruh hutan!
Suami isteri ini saling pandang dan cepat menghampiri arah datangnya suara. Mereka
tertegun melihat seorang kakek tua sekali tengah duduk di bawah sebatang pohon besar
sambil menggunakan sebuah kipas yang benar-benar sudah butut untuk mengipasi tubuhnya
yang gemuk. Pakaian kakek ini hampir telanjang tidak terurus dan tubuhnya sudah kotor
penuh debu dan lumpur. Kalau saja tidak melihat kipas yang terbuat daripada kulit harimau
itu tentu suami isteri pendekar ini tidak mengenal orangnya. Cin Hai yang lebih dulu
mengenalnya dan segera berseru keras,
“Swie Kiat Siansu! Locianpwe, mengapa kau berada di sini?” Ia lalu menghampiri bersama
isterinya, dan menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.
Kakek tua renta yang gemuk itu memandang dengan bermalas-malasan, kemudian ia tertawa
bergelak dan memukul-mukul kepalanya dengan kipasnya.
“Ha-ha-ha-ha! Pendekar Bodoh...! Agaknya Thian masih menaruh kasihan kepadaku
sehingga di saat terakhir masih dapat bertemu dengan engkau! Alangkah sempitnya dunia ini?
Dan alangkah cepatnya sang waktu berlari.” Ia memandang kepada Lin Lin dan berkata pula,
“Agaknya kalian sedang menderita, akan tetapi jangan ceritakan hal itu kepadaku, aku sudah
cukup kenyang mendengar penderitaan manusia sehingga menjadi bosan. Eh, Nyonya muda,
coba kaubuatkan masakan yang cocok untukku, nanti kuberikan kipasku yang butut ini
kepadamu.”
Lin Lin diam-diam merasa mendongkol. Untuk apakah kipas butut itu baginya? Akan tetapi
dengan muka girang Cin Hai berkata kepadanya,
“Kautangkaplah seekor kelinci dan panggang itu untuk Locianpwe.” Lin Lin memandang
kepada suaminya, akan tetapi karena ia telah percaya kepada suaminya yang sesungguhnya
tidak bodoh itu, ia lalu bangkit berdiri dan berlari memasuki hutan.
“Ha-ha, Pendekar Bodoh, kau baik sekali. Berapa orangkah anakmu sekarang?”
“Dua orang, Locianpwe, seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Putera teecu itu
kini sedang belajar di bawah asuhan Pok Pok Sianjin.”
Kembali kakek gemuk itu tertawa bergelak. “Bagus, bagus! Setan tua dari barat itu agaknya
tidak mau mampus sambil membawa kepandaiannya yang akan membikin pusing saja di
neraka! Baikiah, kalau begitu, aku pun akan meninggalkan kipas ini kepada anakmu yang
perempuan itu. Akan tetapi aku harus makan dulu, telah dua pekan lebih aku tidak makan
sama sekali!” Sambil berkata demikian, kakek ini lalu menggunakan tangan kanannya untuk
menekan tanah dan berpindah tempat duduk.
Terkejutlah Cin Hai ketika melihat bahwa kakek ini menderita penyakit hebat sekali, agaknya
tangan dan kaki kirinya telah lumpuh tak dapat digerakkan lagi! Sungguh mengherankan,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
134
dalam keadaan demikian dan dua pekan tidak makan, kakek ini masih saja nampak gemuk
dan sehat!
“Maafkan, Locianpe. Apakah Locianpwe menderita sakit?”
Swie Kiat Siansu mengangguk-angguk dan menghela napas. “Agaknya dosaku terlalu besar
sehingga sebelum mampus harus menderita dulu. Setelah tua, darahku jalan terlampau cepat
dan memecahkan urat-urat syaraf, membuat semua urat-urat di setengah tubuhku pecahpecah. Akan tetapi tidak apa, dalam keadaan sakit atau tidak, kematian akan datang juga
akhirnya!”
Cin Hai teringat akan keadaan orang tua ini pada belasan tahun yang lalu. Swie Kiat Siansu
adalah seorang di antara “empat besar” yang menjagoi di seluruh daratan Tiongkok. Pada
masa itu, Bu Pun Su (guru Cin Hai dan Lin Lin) dan Hok Peng Taisu (guru Ma Hoa)
merupakan tokoh besar dari selatan dan timur, adapun Pok Pok Sianjin adalah tokoh dari
barat. Tokoh dari utara yang paling terkenal adalah Swie Kiat Siansu inilah! Empat orang ini,
yaitu Bu Pun Su, Hok Peng Taisu, Pok Pok Sianjin, dan Swie Kiat Siansu terkenal sebagai
empat besar dan kepandaian mereka telah mencapai tingkat tertinggi hingga jarang bertemu
tandingan! Hanya sayang sekali bahwa Swie Kiat Siansu telah salah dalam memilih murid.
Dua orang muridnya yang bernama Thai Kek Losu dan Sian Kek Losu menjadi perwiraperwira Mongol dan berwatak jahat sekali. Swie Kiat Siansu ini bersama Pok Pok Sianjin
pernah mengadakan pibu (adu kepandaian silat) menghadapi Hok Peng Taisu dan Bu Pun
yang diwakili Pendekar Bodoh (bacalah cerita Pendekar Bodoh).
Kini melihat keadaan orang tua ini, diam-diam Cin Hai menghela napas dan teringatlah ia
bahwa ia sendiri kelak takkan terlepas daripada pengaruh usia tua dan kematian. Akan tetapi,
mendengar bahwa kakek ini hendak menyerahkan kipasnya kepada puterinya, ia menjadi
girang sekali. Menyerahkan senjata berarti menyerahkan atau menurunkan ilmu silat, dan
kipas kakek ini memang merupakan senjatanya yang paling lihai dan yang telah membuat
namanya menjadi terkenal sekali.
Tak lama kemudian, Lin Lin datang sambil membawa dua ekor kelinci putih yang gemuk. Ia
tertawa manis sekali dan berkata,
“Aku sengaja menangkap keduanya agar pasangan ini tidak terpisah, biarpun sudah
berpindah tempat ke dalam perut!”
Swie Kiat Siansu tertawa bergelak, “Ha-ha-ha! Pantas saja kau dan suamimu Pendekar
Bodoh ini dapat hidup rukun dan damai, tidak tahunya kau dapat menghargai kesetiaan dan
kecintaan! Lekas masak... lekas masak... aku tidak tahan lagi menghadapi cacing-cacing
perutku!”
Cin Hai lalu membuat api dan setelah kedua kelinci itu disembelih dan dibersihkan,
dagingnya lalu dipanggang. Tak lama kemudian terciumlah bau yang sedap dan menimbulkan
selera, Swie Kiat Siansu menahan air liurnya ketika tercium bau sedap ini olehnya.
“Aduh, cacing perutku makin menggeliat-geliat. Lekas bawa ke sini!”
Lin Lin tersenyum senang, karena ucapan ini secara tidak langsung menyatakan pujian atas
pekerjaannya. Wanita manapun juga di dunia ini mempunyai dua macam kesenangan yang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
135
sama, yaitu mendapat pujian tentang kepandaiannya atau kelezatan masakannya. Ia lalu
membawa daging yang sudah merah dan mengebulkan uap dan kesedapan itu kepada Swie
Kiat Siansu. Kakek tua yang hanya dapat menggerakkan tangan kanannya itu lalu menerima
daging itu dan makan dengan amat lahapnya. Cin Hai dan Lin Lin memandang kagum karena
biarpun daging itu baru saja keluar dari api dan amat panas, akan tetapi kakek itu dapat
memakannya demikian enak dan sekali-kali tidak kelihatan kepanasan! Tanpa
menawarkannya kepada Cin Hai dan Lin Lin yang terpaksa memandang sambil menelan
ludah, kakek itu makan terus dengan enak dan lahapnya sampai lenyaplah daging dua ekor
kelinci itu berpindah ke dalam perutnya!
Swie Kiat Siansu menggunakan tangan kanannya yang masih berminyak untuk mengeluselus perutnya yang gendut, lalu ia tertawa dan berkata,
“Aah, yang senang saja kalian sepasang ketinci tinggal di perutku!” ia tertawa lagi, kemudian
berkata. “Sayang tidak ada arak...”
“Jangan khawatir, Locianpwe, teecu membawa bekal arak,” kata Cin Hai yang cepat
mengeluarkan seguci arak dari buntalannya.
Berserilah wajah kakek itu. “Bagus, bagus! Kau baik sekali! Ah, benar-benar Thian telah
memimpin kalian suami isteri ke tempat ini untuk menyenangkan hatiku di saat terakhir ini
dan untuk menerima warisan dariku!” Ia lalu minum arak itu dan nampak senang sekali. Tiap
kali habis menenggak arak, ia menjulurkan lidah dari mulut dan diputarnya lidah itu
menghapus kedua bibirnya dengan puas sekali.
Lin Lin juga merasa girang ketika mendengar bahwa kakek itu hendak menurunkan ilmu silat
dan kepandaian mainkan senjata kipas itu kepada puterinya, maka ia pun bersiap sedia untuk
memasak apa saja yang dibutuhkan kakek ini.
Dua pekan lebih Cin Hai dengan tekun mempelajari ilmu silat tinggi dari Swie Kiat Siansu
untuk kemudian dipelajarkan kepada puterinya. Karena Cin Hai telah memiliki dasar ilmu
silat tinggi dan memiliki pengertian dasar dan pokok segala macam ilmu silat, maka setelah
memperhatikan dan mempelajari selama dua pekan, ia telah dapat menerima semua
kepandaian itu.
Pada malam ke lima belas, setelah memberikan keterangan-keterangan terakhir dan
memberikan kipas itu kepada Cin Hai, Swie Kiat Siansu berkata puas, “Nah, bebaslah aku
dari kipas sial dan butut itu! Eh, Nyonya muda, tolong kaupanggangkan sepasang kelinci lagi
untukku!”
“Baik, Locianpwe,” jawab Lin Lin yang selama itu selalu mengurus keperluan Swie Kiat
Siansu yang membawa mereka tinggal di sebuah gua di hutan itu.
Setelah sepasang kelinci didapatkan dan dagingnya dimasak, kembali kakek itu makan
dengan enaknya dan menghabiskan persediaan arak yang tinggal seguci lagi dari Cin Hai.
Setelah makan kenyang, ia lalu menjatuhkan tubuhnya terlentang di atas tanah, berkata,
“Besok kalian boleh pergi!” dan sebentar kernuthan ia tidur mendengkur!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
136
Cin Hai dan Lin Lin teringat akan Bu Pun Su, guru mereka yang juga memiliki adat yang
amat aneh seperti kakek ini pula. Dengan perlahan mereka lalu keluar dari gua itu dan makan
buah-buahan yang dikumpulkan oleh Lin Lin.
“Besok kita disuruh pergi,” kata Cin Hai. “Karena Ang I Niocu tidak ada kabarnya, lebih
baik kita kembali mencari anak kita dan mampir di Beng-san menengok putera kita.”
Teringat akan puteri mereka, Sie Hong Li atau Lili yang terculik oleh Bouw Hun Ti, Lin Lin
tiba-tiba merasa berduka sekali dan menunda makannya, memandang dengan mata melamun
ke tempat jauh. Perlahan-lahan dua titik air mata mengalir turun membasahi pipinya.
“Isteriku, jangan kau berduka. Percayalah bahwa Thian pasti akan melindungi Lili,” Cin Hai
menghibur sambil menepuk-nepuk pundak isterinya. Mendengar hiburan ini, Lin Lin makin
terharu dan sedih sehingga ia lalu menangis terisak sambil menjatuhkan kepalanya di atas
pundak suaminya.
Cin Hai membiarkan saja karena untuk melepaskan kedukaan, memang tidak ada yang lebih
baik daripada tangis dan air mata. Karena besok pagi mereka harus pergi, maka sekali lagi Cin
Hai menghafal dan melatih ilmu silat yang diturunkan oleh Swie Kiat Siansu sehingga malam
itu mereka berada di luar gua dan melatih ilmu silat dengan amat rajinnya. Dasar suami isteri
ini memang gemar sekali akan ilmu silat maka berlatih semalam penuh di bawah sinar bulan
itu merupakan hiburan yang amat baik bagi kedukaan hati mereka karena lenyapnya puteri
mereka.
Akan tetapi, alangkah kagetnya sepasang suami isteri ini ketika pada keesokan harinya
mereka memasuki gua tempat tinggal Swie Kiat Siansu, mereka mendapatkan kakek itu telah
menggeletak tak bergerak dan tak bernapas lagi! Ternyata setelah makan kenyang dan tidur,
kakek yang usianya sudah seratus lebih ini dan yang terserang penyakit berat telah
menghembuskan napas terakhir, hal yang sudah lama dinanti-nantinya!
Dengan penuh penghormatan, Cin Hai dan isterinya lalu mengurus jenazah itu, menggali
tanah dan mengubur jenazah itu sebagaimana mestinya. Mereka bersembahyang dengan
sederhana, menunda keberangkatan mereka sampai pada keesokan harinya lagi untuk
memberi penghormatan terakhir. Kalau kiranya manusia mati masih mempunyai roh, dan
kalau rohnya ini pandai melihat dan berpikir, maka roh Swie Kiat Siansu tentu akan merasa
berterima kasih sekali melihat sepasang suami isteri ini.
Baru pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Cin Hai dan isterinya meninggalkan tempat itu
dan terus menuju ke selatan. Di sepanjang jalan tiada hentinya mereka berdua mencari
keterangan dan menyelidiki tentang Ang I Niocu dan juga tentang Bouw Hun Ti.
Tanpa mendengar keterangan sesuatu tentang kedua orang yang dicari-carinya itu, akhirnya
mereka sampai di Beng-san dan mendaki gunung itu dengan cepat.
Baru saja mereka tiba di lereng gunung, tiba-tiba terdengar suara yang nyaring memanggil
mereka. “Ayah... lbu...!!”
Cin Hai dan Lin Lin cepat menengok dengan wajah berubah, dan alangkah kaget, heran dan
girang hati mereka ketika melihat di atas sebuah puncak berdiri Lili bersama Hong Beng dan
seorang anak laki-laki lain lagi!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
137
Lin Lin berlari seperti terbang cepatnya ke arah anaknya itu sambil menangis. Cin Hai juga
berlari mengejar isterinya, akan tetapi kali ini ia kalah cepat! Kegirangan agaknya telah
membuat nyonya muda itu seakan-akan terbang saja dan ilmu berlari cepatnya makin hebat.
Juga Lili dan Hong Beng berlari turun dari puncak. Setelah berhadapan, Lin Lin lalu
menubruk Lili sambil mencium anaknya itu dan menangis tersedu-sedu.
“Lili... Lili... anak nakal... kau selamat, Nak?” dengan megap-megap Lin Lin bertanya.
Lili juga menangis saking girangnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia
menengok kepada ayahnya yang juga sudah datang ke situ lalu tersenyum!
“Ayah dan Ibu tidak marah...?” tanyanya.
“Mengapa marah? Tidak, anakku, tidak!” jawab Cin Hai.
“Kenapa Kong-kong tidak ikut datang?” tanya lagi Lili dan mendengar pertanyaan ini, tibatiba Lin Lin menangis lagi.
Hong Beng maju mendekati ibunya dan melihat ibunya menangis sedih kali ini, ia lalu
menyentuh pundak ibunya yang masih berlutut memeluk Lili. “Ibu, apakah yang terjadi
dengan Kong-kong?”
Karena Lin Lin tidak dapat menjawab, Cin Hai yang maju dan berkata tenang, “Kongkongmu telah ditewaskan oleh orang-orang yang menculik Lili. Maka kalian belajarlah baikbaik agar kelak dapat mencari musuh besar ini.”
Lili yang amat sayang kepada engkongnya, menjerit ketika mendengar berita ini. “Apa...?” Ia
memandang kepada ayahnya dengan mata bernyala. “Engkong di... dibunuh oleh bangsat
itu...?”
Ketika Cin Hai menganggukkan kepalanya, Lili merangkul ibunya dan menangis keras.
Adapun Hong Beng yang juga amat sayang kepada kong-kongnya itu, berdiri dengan muka
muram dan pemuda cilik ini mengepal tinju dan membanting-banting kakinya sambil berkata
perlahan,
“Jahanam...! Jahanam...!” Akan tetapi ia tidak mengeluarkan air mata.
Diam-diam Cin Hai menjadi bangga melihat ketenangan dan kekuatan hati puteranya ini,
maka ia lalu menarik tangan Lili, mendekapnya dan berkata halus,
“Lili, lihat kakakmu itu. Kau tidak boleh berhati lemah dan menangis seperti seorang anak
cengeng! Kewajibanmulah untuk kelak membalas sakit hati kong-kongmu.”
Mendengar ucapan ayahnya, bangkit semangat Lili dan dengan muka masih basah air mata ia
berkata, “Ayah, aku bersumpah untuk mencari keparat Bouw Hun Ti dan menghancurkan
kepalanya!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
138
Lin Lin juga sudah dapat menguasai keharuan hatinya dan nyonya muda ini teringat kepada
pemuda cilik yang tadi bersama kedua anaknya. Ternyata pemuda itu masih berdiri tak jauh
dari mereka dan hanya diam saja sambil memandang dengan mata berduka. Anak ini adalah
Thio Kam Seng, anak yatim piatu yang menjadi murid Sin-kai Lo-sian atau kini menjadi
suheng dari Lili. Melihat betapa Lili dan Hong Beng bertemu kembali dengan kedua orang tua
mereka, hatinya menjadi perih dan teringatlah ia akan nasibnya sendiri yang sudah ditinggal
mati oleh ayah ibunya.
“Eh, anak itu siapakah?” tanya Lin Lin kepada Lili.
Baru Lili teringat kepada suhengnya ini dan ia lalu melambaikan tangan kepadanya.
“Lili, siapakah kedua orang gagah ini?”
“Kam Seng, kau kesinilah bertemu dengan ayah bundaku!”
Dengan malu-malu Kam Seng lalu bertindak maju dan memberi hormat sambil menjura
kepada Cin Hai dan Lin Lin.
“Dia bernama Thio Kam Seng, murid dari Suhu,” kata Lili.
“Suhu? Siapakah Suhumu?” tanya Cin Hai terheran.
Lili lalu menceritakan pengalamannya semenjak ia diculik oleh Bouw Hun Ti, lalu tertolong
oleh Sin-kai Lo sian dan dibawa ke atas Gunung Beng-san ini dan kemudian dilatih oleh Mokai Nyo Tiang Le, suheng dari Lo Sian atau supek mereka.
Cin Hai dan Lin Lin merasa girang sekali mendengar penuturan iin dan mereka amat
berterima kasih kepada Sin-kai Lo Sian, pengemis sakti yang sudah mereka dengar namanya
itu.
“Di mana dia, penolong dan suhumu itu? Kami harus bertemu dengan dia untuk
menghaturkan terima kasih,” kata Lin Lin.
“Dia sudah turun gunung, Ibu. Katanya hendak pergi ke Shaning untuk mencari Ayah dan
Ibu, melaporkan keadaanku yang sudah tertolong.”
Pada saat itu, dari puncak gunung nampak bayangan orang yang cepat sekali berlari
mendatangi.
“Nah, itu dia Supek datang!” kata Kam Seng ketika melihat bayangan itu. Cin Hai dan Lin
Lin cepat menengok dan mereka melihat seorang yang berpakaian pengemis datang berlari
cepat sekali dari atas.
Mo-kai Nyo Tiang Le biarpun sudah seringkali mendengar nama Pendekar Bodoh akan tetapi
belum pernah bertemu muka, maka ia tidak mengenal siapa adanya dua orang itu. Dari atas ia
tadi melihat seorang laki-laki dan seorang wanita bercakap-cakap dengan tiga orang anak itu,
maka cepat ia menghampiri karena ia berkhawatir kalau-kalau kedua orang itu adalah orangorang jahat. Ketika melihat dua orang itu bersikap gagah dan berwajah elok, ia lalu bertanya
kepada Lili,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
139
“Lili, siapakah kedua orang gagah ini?”
“Supek, mereka ini adalah ayah bundaku!” kata Lili dengan girang dan tersenyum, sama
sekali lenyap rasa dukanya yang tadi! Memang watak gadis cilik ini benar-benar sama dengan
ibunya.
Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut sekali mendengar pengakuan ini. Ia memandang dengan penuh
perhatian kepada Cin Hai yang sementara itu bersama isterinya telah menjura kepadanya
untuk memberi hormat.
“Ah, jadi kau ini adalah Pendekar Bodoh yang bernama Sie Cin Hai? Maaf, maaf! Aku tidak
mengenal orang pandai!” Nyo Tiang Le cepat menjura dan membalas penghormatan itu.
“Nyo Loheng (Saudara Tua Nyo) terlalu sungkan!” jawab Cin Hai merendah. “Sesungguhnya
kami berdua yang harus menghaturkan banyak terima kasih atas kebaikan hatimu, terutama
sekali kepada adikmu yang telah menolong nyawa puteri kami. Mudah-mudahan saja budi ini
akan terbalas oleh Thian apabila kami tiada kesempatan untuk membalasnya.”
Mo-kai Nyo Tiang Le tertawa terbahak-bahak dengan gembira sekali, sehingga Lili dan Kam
Seng memandang karena jarang mereka menyaksikan supek mereka ini sedemikian
gembiranya.
“Pendekar Bodoh, kau seperti anak kecil saja!” kata Pengemis Iblis Mo-kai Nyo Tiang Le
setelah tertawa bergelak. “Di antara kita masih perlukah bicara tentang budi? Sekarang Lili
telah bertemu dengan kalian, suami isteri pendekar yang kepandaiannya tinggi sekali, maka
sudah cukup lama kiranya aku tinggal di tempat ini mengganggu Pok Pok Sianjin! Lili, yang
baik-baiklah kau belajar ilmu kepandaian agar kelak jangan sampai terculik orang lagi. Ha-haha! Kam Seng, kauikutlah padaku turun gunung!” Setelah berkata demikian, Mo-kai
menyambar lengan tangan Kam Seng dan berlari pergi dari situ dengan cepat.
Lili tertegun menyaksikan sikap ini, akan tetapi Cin Hai hanya tersenyum saja dan berkata,
“Memang orang-orang kang-ouw selalu mempunyai watak yang aneh sekali. Kita harus catat
nama Mo-kai Nyo Tiang Le itu sebagai seorang sahabat baik. Marilah kita naik ke puncak
untuk menghadap Pok Pok Sianjin!”
Mereka beramai-ramai lalu pergi ke atas puncak dan menghadap Pok Pok Sianjin yang
menerima kedatangan mereka dengan girang.
“Pendekar Bodoh, kebetulan sekali kau dan isterimu datang! Apakah kalian sudah bertemu
dengan Sin-kai Lo Sian?”
Setelah memberi hormat, Cin Hai menjawab, “Belum, Locianpwe.” Ia lalu menceritakan
perjalanannya mencari Lili, dan betapa mereka bertemu pula dengan Swie Kiat Siansu yang
meninggal dunia karena penyakit dan usia tua. Pok Pok Sianjin menarik napas panjang. “Aah,
semua kawan-kawan telah meninggalkan aku! Mereka sudah bebas dan senang! Tinggal aku
seorang tua bangka yang harus mengalami penderitaan entah beberapa tahun lagi.”
Cin Hai dan Lin Lin tidak lama tinggal di tempat itu, hanya tiga hari, ini pun karena Hong
Beng selalu menahan mereka. Akhirnya mereka turun gunung bersama Lili, setelah memesan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
140
kepada Hong Beng untuk belajar ilmu dari Pok Pok Sianjin dengan giat dan rajin. Pemuda
cilik ini diam-diam merasa amat kesepian setelah adik perempuannya turun gunung mengikuti
ayah ibunya, akan tetapi Hong Beng memang seorang pemuda pendiam dan selain tenang,
juga ia memiliki kekuatan batin yang cukup tabah. Kesunyiannya ini ia tutup dengan
ketekunannya belajar ilmu silat sehingga Pok Pok Sianjin merasa makin gembira menurunkan
ilmu-ilmunya kepada pemuda yang berbakat ini.
Demikianlah, kalau Sie Hong Beng dengan rajin mempelajari ilmu silat dari Pok Pok Sianjin,
Lili juga menerima latihan ilmu silat tinggi dari ayahnya, bahkan ia menerima pula Ilmu Silat
Kipas Maut yang diwariskan oleh Swie Kiat Siansu untuknya. Biarpun Lili mempunyai watak
yang lincah dan tidak dapat tekun belajar, akan tetapi apabila ia teringat akan kematian
kakeknya, ia lalu mengerahkan semangatnya dan mempelajari ilmu silat dengan giatnya
sehingga ayah bundanya merasa girang juga melihat perubahan ini.
***
Seperti telah dikatakan oleh Swie Kiat Siansu, waktu memang berlari amat pesatnya. Hari
berganti hari, bulan berganti bulan, tahun terbang lalu dengan cepatnya sehingga kita sendiri
tidak merasakan sesuatu, tahu-tahu usia selalu bertambah tua! Memang aneh kalau
direnungkan, apabila kita memperhatikan jalannya waktu, jangan kata setahun, sebulan
maupun sehari, baru satu jam saja kalau kita menanti datangnya sesuatu, nampaknya amat
lama. Akan tetapi siapakah orangnya yang setiap saat memperhatikan jalannya waktu? Kita
semua tidak merasa dan sungguhpun masa kanak-kanak kadangkala masih suka di depan
mata, peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu masih terbayang nyata, namun kalau
dihitung-hitung kita telah menjadi makin tua. Belasan tahun itu kalau tidak kita rasakan, tahutahu telah lewat bagaikan baru kemarin saja! Siapa bilang kalau hidup ini lama? Benarkah
kata para pujangga bahwa hidup yang singkat ini harus kita isi dengan perbuatan-perbuatan
yang berguna agar kita tidak menyesal kalau sudah terlambat!
Tak terasa lagi, sepuluh tahun telah berlalu cepat semenjak terjadinya peristiwa di atas. Telah
sepuluh tahun anak-anak itu belajar ilmu silat dengan rajinnya. Lili telah berusia delapan
belas tahun dan ia kini menjadi seorang gadis yang amat cantik jelita berwatak gembira suka
tertawa, bermata kocak dan selalu berseri, bibirnya selalu tersenyum manis, gerakannya
lincah sekali dan pendek kata, ia sama benar dengan ibunya, Lin Lin, di waktu muda!
“Kalau aku melihat anak kita, aku teringat kepada dara yang bernama Lin Lin!” kata Cin Hai
sambil menengok kepada isterinya yang duduk di dekatnya.
Lin Lin yang biarpun sudah berusia hampir empat puluh tahun masih nampak cantik itu,
mengerling sambil cemberut manja.
“Ah, kau ini memang tukang memuji! Lili memang hampir sama dengan aku, akan tetapi,
siapa bilang dia cantik? Ibunya buruk rupa, bagaimana anaknya bisa cantik?”
Cin Hai tertawa karena ia sudah maklum bahwa isterinya ini biarpun di mulutnya mengomel
namun di dalam hatinya merasa girang sekali. Mereka duduk di kebun belakang memandang
Lili yang sedang berlatih ilmu silat.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
141
Lin Lin memandang kagum lalu menghela napas. “Betapapun juga, ada satu hal yang
menyusahkan hatiku. Dia sudah berusia delapan belas tahun, akan tetapi bertunangan pun
belum! Sampai usia berapakah ia kelak menikah?”
“Hal itu tak perlu tergesa-gesa,” jawab suaminya dengan tenang, “ia cantik jelita dan ilmu
silatnya tinggi, harus mendapat jodoh yang sesuai!”
Lin Lin mengangguk-anggukkan kepalanya. “Memang, satu hal sudah pasti bahwa ketika aku
masih gadis, ilmu silatku tidak setinggi tingkat kepandaiannya. Lihat alangkah indahnya
gerakan Sian-li-san-hwa (Bidadari Menyebar Bunga) yang ia mainkan itu!”
Cin Hai memandang lagi ke arah Lili yang masih bersilat. Memang, gadis itu sedang melatih
Ilmu Silat Sianli Utauw (Ilmu Silat Bidadari) yang amat indah dan cepat dan gerakan Sianlisan-hwa adalah sebuah di antara tipu-tipu ilmu silat ini. Melihat gerakan puterinya itu, Cin
Hai menjadi kagum dan diam-diam ia membandingkan puterinya ini dengan Ang I Niocu dan
Lin Lin. Anak gadisnya ini benar-benar mengagumkan dan pikiran Cin Hai mulai mencaricari pemuda manakah gerangan yang patut menjadi mantunya. Ia merasa puas dengan ikatan
jodoh antara puteranya, Hong Beng, dengan Goat Lan, puteri dari Kwee An. Akan tetapi
untuk Lili, ia belum dapat memilih seorang calon mantu yang cukup sesuai dan cocok.
Sementara itu, Lili sudah menghentikan permainannya dan seperti merasa bahwa kedua
orang tuanya sedang memandangnya dan membicarakannya, ia lalu menengok dan berlari-lari
menghampiri ayah ibunya. Dengan sikap manja ia duduk di dekat ibunya sambil memeluk
pundak Lin Lin yang menggunakan saputangannya untuk menghapus peluh yang membasahi
jidat dan leher puterinya dengan penuh kasih sayang.
“Ibu, sekarang kau dan Ayah harus memberi perkenan kepadaku untuk pergi mengunjungi
Enci Goat Lan, dan aku ingin sekali melakukan perjalanan seorang diri.”
“Tak baik bagi seorang gadis muda untuk melakukan perjalanan seorang diri,” kata Cin Hai.
Lili merengut. “Aah, Ayah selalu berkata demikian untuk mencegah keinginan hatiku.
Bukankah Ayah dan lbu sering bercerita betapa Ibu dulu juga seringkali merantau menambah
pengalaman? Lagi pula, aku bukan seorang anak kecil lagi, bukan seorang gadis muda yang
masih bodoh, usiaku sudah delapan belas tahun, Ayah!”
Cin Hai memandang dengan muka bersungguh-sungguh. “Lili, dulu lain lagi, karena keadaan
negara tidak sekacau ini. Orang jahat dahulu tidak sebanyak sekarang. Pula, ayah dan ibumu
dahulu telah banyak membasmi penjahat sehingga banyak orang-orang jahat memusuhi kita.
Kalau mereka tahu bahwa kau adalah anakku, mereka pasti akan turun tangan dan
mengganggumu.”
Lili berdiri dan dengan sikap menantang berkata keras, “Aku tidak takut! Aku bukan puteri
ayah dan ibu, bukan anak Pendekar Bodoh dan cucu murid Pendekar Sakti Bu Pun Su kalau
aku takut! Ayah, apa perlunya aku semenjak kecil mempelajari segala macam ilmu silat itu
tanpa mengenal lelah kalau sekarang aku takut mendengar tentang orang-orang jahat?
Bukankah ayah sendiri sering berkata bahwa kepandaian yang dipelajari dengan susah payah
tak akan ada artinya kalau tidak dipergunakan demi kepentingan orang banyak? Seorang ahli
silat yang tidak mengulurkan tangan mempergunakan kepandaiannya menolong orang
tertindas, bukanlah pendekar namanya!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
142
Cin Hai tersenyum. Ia merasa betapa puterinya yang cerdik ini seringkali menggunakan ujarujar dan pelajaran yang ia berikan untuk melawan dia sendiri!
“Sudah, bicara dengan kau takkan ada orang bisa menang! Kalau kau hanya rindu kepada
calon Sosomu (Kakak Iparmu) Goat Lan, tunggulah beberapa hari lagi, nanti kita bertiga
dapat melakukan perjalanan ke sana.”
Lili makin cemberut. “Tidak, aku ingin pergi seorang diri, bebas seperti burung di udara. Aku
ingin merantau menambah pengalaman, ingin mempergunakan kepandaian yang kupelajari
untuk menolong orang-orang lemah yang tertindas. Di samping itu, aku ingin mencari si
jahanam Bouw Hun Ti untuk membalas perhitungan lama! Kalau Ayah tidak boleh, aku... aku
akan minggat!”
Cin Hai melongo dan Lin Lin segera memegang tangan puterinya.
“Hush, Lili! Jangan kau berkata begitu!”
Lili memandang kepada ibunya dan matanya berseri nakal ketika ia berkata memperingatkan,
“Ibu, lupakah kau bahwa kau dulu pernah minggat pada malam hari bersama Ang I Niocu?
Ibu sendiri yang menceritakan hal itu kepadaku!”
Lin Lin tak dapat menjawab, hanya memandang kepada suaminya dengan bohwat (tak
berdaya). “Lili,” kata Cin Hai menolong isterinya, “Ibumu lain lagi. Ketika itu ibumu bercitacita untuk menyusulku dalam usaha membalas dendam kepada musuh-musuh yang telah
membasmi keluarga ibumu.”
“Apa bedanya? Sekarang pun aku hendak pergi untuk membalas dendam kepada keparat
Bouw Hun Ti!” Kemudian, dara yang manja ini lalu membanting kaki dengan muka merah
dan berkata, “Ah, sudahlah! Ibu dan Ayah tidak sayang kepadaku! Tidak ingin melihat aku
senang, Kalau Beng-ko lain lagi. Dia anak laki-laki, dicinta dan dimanja, semenjak kecil ikut
berguru di Beng-san dan boleh merantau sesuka hatinya! Ah, aku ingin menjadi seorang anak
laki-laki!”
Cin Hai dan Lin Lin saling pandang dengan bengong. Celaka dua belas, pikir Cin Hai di
dalam hatinya. Anak ini lebih keras kepala daripada ibunya! Akan tetapi Lin Lin berpikir lain.
Hebat bisik hatinya, anak ini malah lebih gagah dan bersemangat daripada ayahnya!
“Sudahlah, Lili jangan marah-marah seperti kucing terinjak buntutnya!” kata Cin Hai.
“Baiklah, kami akan merundingkan hal ini.”
Setelah Lili kembali ke dalam kamarnya, suami isteri ini masih duduk di tempat itu.
“Bagaimana baiknya?” tanya Lin Lin dengan gelisah “Kalau ia memaksa dan pergi, apakah
kiranya tidak berbahaya?”
“Berbahaya sih tidak,” jawab suaminya setelah berpikir keras. “Kepandaian Lili sudah lebih
dari cukup, bahkan kiranya tidak di sebelah bawah tingkat kepandaian Ang I Niocu ketika dia
merantau dahulu. Tak mudah anak kita itu dirobohkan lawan. Akan tetapi, kau tahu sendiri
akan bahayanya perantauan di dunia kang-ouw. Tidak hanya kepandaian silat tinggi saja yang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
143
dapat menjaga keselamatan tubuh. Banyak akal-akal busuk yang jauh lebih berbahaya
daripada kepandaian silat lawan.”
“Kalau begitu, kita harus melarangnya pergi!” kata Lin Lin cepat dan penuh kekuatiran.
Pendekar Bodoh menggelengkan kepalanya. “Melarang pun tidak benar. Anak itu lebih keras
kepala daripada engkau!”
“Hm, jadi aku keras kepala, ya? Mengapa kau dulu suka padaku yang keras kepala ini?”
Cin Hai tertawa. “Justeru kekerasan kepalamu itulah yang membuat aku suka kepadamu.
Sudahlah, jangan kita bercekcok karena urusan ini, kita sudah cukup tua bukan anak-anak
lagi.”
“Kau yang mulai!”
“Begini saja baiknya. Mulai sekarang kita memberi pelajaran baru kepada Lili, membeberkan
semua rahasia penjahat-penjahat di dunia kang-ouw agar terbuka matanya terhadap tipu-tipu
muslihat yang keji. Kalau ia sudah tahu akan segala hal itu, barulah kita memberi perkenan
kepadanya untuk merantau dengan dibatasi waktunya. Pergi ke Tiang-an takkan lebih dari dua
bulan pulang pergi, dan kalau memberi waktu tiga atau empat bulan saja, ia takkan berani
pergi terlalu jauh.”
Karena tidak dapat mencari jalan lain yang lebih baik terpaksa Lin Lin menyatakan
persetujuannya. Lili merasa girang sekali ketika mendengar keputusan orang tuanya ini. Ia
segera menyatakan kesanggupannya untuk mempelajari semua tipu-tipu busuk dari orangorang golongan hek-to (jalan hitam, yaitu para penjahat). Sampai hampir dua pekan ia
menerima wejangan dan nasihat, memperhatikan semua cerita dari ayah bundanya tentang
kekejaman orang-orang jahat. Kemudian ia mempelajari pula peta perjalanannya, yaitu dari
Shaning di Propinsi An-hui tempat tinggal mereka, melalui Propinsi Ho-nan dan memasuki
Propinsi Hopei menuju ke Tiang-an yang terletak di sebelah utara Sungai Huang-ho.
Lin Lin yang amat sayang kepada puterinya itu memberi bekal yang cukup banyak, sambil
tiada hentinya memberi nasihat-nasihat agar dara itu berlaku hati-hati. Seekor kuda yang amat
kuat dan baik menjadi tunggangan Lili, dan gadis itu membawa bungkusan besar berisi
pakaian, uang, bahkan obat-obat untuk menjaga diri. Pedangnya Liong-coan-kiam, pemberian
ayahnya tergantung di pinggangnya. Bajunya berkembang merah dengan pinggiran biru,
celananya putih bersih dari sutera mahal. Sepatunya berkembang dan ia nampak cantik jelita
dan gagah sekali. Kedua orang tuanya memandang dengan bangga ketika mereka melihat
puteri mereka duduk di atas kuda bulu putih dengan sikap demikian gagahnya.
“Ayah, Ibu, aku berangkat!” katanya sekali lagi setelah duduk di atas kudanya.
“Hati-hatilah di perjalananmu,” kata Cin Hai.
“Sampaikan salam kami kepada Kwee pekhu sekeluarga,” pesan Lin Lin.
Kemudian berangkatlah Lili. Ia membalapkan kudanya yang kuat itu keluar dari Shaning lalu
langsung menuju ke utara. Ia merasa gembira sekali, wajahnya yang manis berseri-seri,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
144
sepasang matanya bersinar gemilang. Ia benar-benar merasa seperti seekor burung yang
terbang bebas merdeka di angkasa raya.
Apakah ia akan langsung menuju ke Tiang-an sebagaimana yang berkali-kali dipesankan
oleh ayah ibunya? Ah, tidak! Dia bukan Lili yang nakal kalau ia menurut nasihat orang tuanya
dan langsung menuju ke tempat tinggal pekhunya (uwaknya) di Tiang-an. Tidak, maksud
tujuannya dengan perantauannya ini sesungguhnya adalah untuk mencari musuh besarnya,
Bouw Hun Ti! Pergi mengunjungi Goat Lan di Tiang-an hanya menjadi alasan saja yang
dipergunakan di hadapan orang tuanya agar ia diperbolehkan pergi!
Oleh karena inilah maka ia lalu membelok ke barat setelah keluar dari kota Shaning! Bukan
Tiang-an yang ditujunya, melainkan Tong-sin-bun, dusun tempat tinggal Ban Sai Cinjin! Ia
hendak mencari Bouw Hun Ti di dalam kelenteng besar dalam hutang kelenteng milik Ban
Sai Cinjin di mana dulu ia dan Sin-kai Lo Sian menolong Thio Kam Seng! Dulu ia suka
menggigil ngeri kalau teringat akan Ban Sai Cinjin, orang tua yang aneh dan lihai itu, akan
tetapi sekarang, jangankan baru Ban Sai Cinjin biarpun raja iblis sendiri muncul di depannya,
belum tentu Lili akan merasa takut!
Keadaan Lili yang demikian mewah pakaiannya, cantik jelita, gadis muda yang melakukan
perjalanan seorang diri, tentu saja menarik perhatian banyak orang. Akan tetapi melihat cara
ia naik kuda dan melihat gagang pedangnya yang tergantung pada pinggangnya, membuat
orang-orang maklum bahwa nona cantik ini tentulah seorang perantau yang pandai ilmu silat
dan tak seorang pun berani mencoba-coba untuk mengganggunya.
Hanya satu kali terjadi gangguan ketika ia masuk ke kota Lok-yang. Di kota ini terdapat
seorang jagoan muda bermuka kuning yang berjuluk Oei-bin-liong (Naga Muka Kuning)
bernama Lok Ceng. Ia adalah seorang ahli silat dari cabang Bu-tong-pai, berwatak sombong
dan berlagak tinggi. Kebetulan sekali Lok Ceng sedang duduk di depan restoran terbesar di
Lok-yang, ketika Lili menghentikan kudanya di depan restoran itu, melompat turun dan
memanggil seorang pelayan.
Seorang pelayan berlari menghampiri. Lili menyerahkan kendali kudanya sambil berkata,
“Kau urus baik-baik kudaku sewaktu aku makan. Berilah dia makan dan sikat bulunya
sampai bersih. Hati-hati jangan sampai ada orang jahat mengganggu buntalanku di atas kuda
itu dan jangan khawatir, hadiahnya akan besar!”
Pelayan itu tersenyum dan mengangguk dengan hormat. “Tentu saja, Siocia. Akan kulakukan
pesanmu baik-baik.” Ia lalu menuntun kuda itu ke pinggir restoran.
“Kuda yang bagus!” tiba-tiba terdengar suara parau dan keras sehingga Lili menengok ke
arah orang yang memuji kudanya. Orang ini bukan lain adalah Lok Ceng sendiri. Melihat
seorang laki-laki muda yang bertubuh tinggi besar, bermuka kuning dan bermata kurang ajar
itu, Lili berlaku hati-hati dan segera membuang pandangan matanya. Tanpa mempedulikan
orang itu, Lili terus saja memasuki restoran itu dan memesan makanan kepada pelayan yang
cepat datang menghampirinya. Restoran itu besar sekali dan para tamu yang makan di situ
tidak kurang dari duapuluh orang banyaknya. Mereka makan sambil bercakap-cakap gembira.
Ketika Lili memasuki restoran itu, hampir semua mata menengok memandang kagum. Akan
tetapi Lili tidak mempedulikan semua ini karena semenjak keluar dari rumah, ia telah menjadi
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
145
biasa dengan pandangan kagum dari mata laki-laki. Ia telah menganggap hal ini biasa saja.
Ibunya telah menasihatinya untuk bersikap dingin dan jangan mempedulikan hal ini.
“Lili, kau seorang gadis muda yang cantik manis,” kata ibunya memberi nasihat, “akan
banyak sekali gangguan kauhadapi di perjalanan. Laki-laki memang bermata minyak, selalu
tidak dapat menjaga mata mereka kalau melihat seorang gadis cantik. Akan tetapi, kalau
mereka itu memandangmu dengan mata kagum dan kurang ajar, janganlah kauhiraukan
mereka. Asal mereka tidak mengganggumu dengan ucapan atau perbuatan kurang ajar,
anggap saja mereka itu sebagai patung-patung hidup yang tak perlu dilayani.”
Oleh karena itu, maka Lili selalu menganggap sepi mata laki-laki yang memandangnya
dengan kagum bahkan orang-orang yang tersenyum-senyum dengan penuh arti kepadanya,
dianggapnya sebagai lalat saja!
Akan tetapi, pada saat ia sedang menikmati hidangan yang telah dikeluarkan oleh pelayan,
tiba-tiba telinganya yang tajam dapat menangkap perubahan yang terjadi di dalam warung itu.
Suara yang tadinya riuh gembira, tiba-tiba terhenti dan ketika ia mengerling, ternyata orang
muda bermuka kuning yang tadi memuji kudanya, telah memasuki ruang itu dengan langkah
dibuat-buat dan dada diangkat!
Diam-diam Lili merasa heran mengapa semua orang agaknya takut kepada pemuda ini,
apalagi ketika ia mendengar betapa setiap meja yang dilalui oleh pemuda itu, selalu ada orang
yang menawarkan makan dengan sikap menghormat sekali. Akan tetapi pemuda tinggi besar
muka kuning itu menolak semua penawaran dengan gerakan tangan, lalu ia tersenyumsenyum menghampiri meja dekat meja di mana Lili sedang makan! Ia lalu mengambil tempat
duduk dan memandang kepada Lili dengan cara yang amat menjemukan. Mulutnya
menyeringai bagaikan seekor kuda kelaparan dan terdengarlah ia berkata keras,
“Kudanya besar dan bagus, pemiliknya lebih bagus lagi!”
Semua orang yang duduk di situ maklum siapakah yang dimaksudkan oleh Lok Ceng ini. Lili
juga maklum bahwa pemuda itu sedang berusaha mengganggunya, akan tetapi oleh karena
ucapannya itu masih belum bersifat kurang ajar, ia pura-pura tidak mengerti dan melanjutkan
makannya. Melihat betapa gadis manis itu tidak menengok dan tidak mempedulikan
pujiannya, Lok Ceng menjadi makin berani. Dengan sikap kurang ajar sekali dan tertawa
haha-hihi ia lalu menggeser kursinya dan duduk di dekat meja Lili, menghadapi gadis itu dan
memandang dengan mata kurang ajar dan mulut menyeringai. Semua orang diam-diam
tersenyum, ada yang merasa geli, ada yang merasa gembira, akan tetapi ada pula yang diamdiam merasa kuatir akan nasib gadis cantik jelita itu.
Semenjak tadi Lili menahan sabarnya, karena ia selalu masih teringat akan nasihat ibunya
agar menjauhkan diri dari setiap permusuhan. Akan tetapi karena orang itu kini duduk dekat
di depannya tentu saja ia merasa amat terganggu dan masakan yang tadinya nikmat itu, kini
tidak enak lagi rasanya.
“Lalat kuning sungguh menjemukan!” Ia lalu menunda makanannya dan dengan perlahan
Lili menggebrak mejanya sambil mengerahkan tenaga khi-kang ke arah mangkok masakan
yang banyak kuahnya. Air kuah di dalam mangkok itu tiba-tiba memercik ke arah Lok Ceng
dan tak dapat terelakkan lagi mengenai bajunya!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
146
Semua orang terkejut mendengar gadis itu berkata demikian, karena siapa pun tentu akan
maklum bahwa dengan sebutan lalat kuning, gadis itu telah memaki Lok Ceng! Mana ada
lalat yang berwarna kuning? Yang kuning ialah muka dari Lok Ceng!
Akan tetapi, tidak seorang pun tahu bahwa air kuah yang memercik ke atas dan membasahi
baju Lok Ceng itu adalah perbuatan yang disengaja oleh Lili. Mereka mengira bahwa hal itu
kebetulan saja. Bahkan Lok Ceng sendiri pun tidak menyangka bahwa gadis itu memiliki
kepandaian tinggi sehingga dapat menggerakkan tenaga khi-kang untuk membuat air kuah itu
muncrat ke arahnya. Oleh karena itu, pemuda ini hanya tersenyum-senyum saja dan biarpun ia
tahu bahwa dirinya dimaki “lalat kuning”, ia tidak menjadi marah. Ia lebih suka melihat
seorang gadis yang melawan apabila diganggunya, daripada seorang gadis yang akan
tersenyum-senyum melayani gangguannya.
“Aku ingin sekali menjadi potongan-potongan daging itu, untuk berkenalan dengan bibir dan
mulut yang manis!” katanya lagi tak kenal malu dan orang-orang yang mendengar ucapannya
ini lalu tertawa untuk mengambil hati jagoan muda yang disegani ini.
Mendengar ucapan dan melihat sikap orang muka kuning itu, Lili maklum bahwa kegagahan
orang itu hanya pada lagaknya saja, akan tetapi sebetulnya tidak memiliki kepandaian tinggi.
Hal ini mudah saja diduga. Seorang yang berkepandaian tinggi, tentu akan tahu akan
demonstrasi tenaga khikang yang diperlihatkannya tadi. Akan tetapi, Si Muka Kuning ini
agaknya tidak tahu akan hal ini, bahkan mengeluarkan ucapan yang demikian kurang ajar.
Lili sudah kehabisan kesabarannya.
“Lalat kuning, kau lapar dan ingin makan daging? Nah, ini makanlah!” Secepat kilat
tangannya menyambar mangkok yang berisi masakan penuh kuah dan sebelum Si Muka
Kuning sempat mengelak, isi mangkok itu telah menyiram mukanya, bahkan sepotong daging
mengenai mulutnya demikian keras sehingga ia merasa sakit!
Suara tertawa dari para tamu tadi tiba-tiba tak terdengar lagi dan mereka kini memandang
dengan muka pucat. Belum pernah ada orang yang berani menghina Oei-bin-liong Lok Ceng
sedemikian hebatnya! Sementara itu, untuk sesaat Lok Ceng merasa kedua matanya pedas dan
tak dapat dibuka sehingga ia menjadi gelagapan dan mempergunakan kedua tangannya untuk
membersihkan mukanya. Keadaannya amat lucu dan para penonton menahan suara ketawa
mereka karena sungguhpun mereka merasa geli melihat orang yang ditakuti itu berada dalam
keadaan demikian lucunya, akan tetapi mereka tidak berani memperdengarkan suara ketawa.
Kini kegembiraan Lok Ceng lenyap sama sekali. Mukanya yang berwarna kuning menjadi
kemerah-merahan karena marah dan berminyak karena siraman kuah tadi. Matanya yang
sudah bebas dari kepedasan kuah kini memandang dengan melotot.
“Gadis liar, apakah kau sudah bosan hidup berani menghina Oei-bin-liong Lok Ceng?” Ia
membentak dan melangkah maju.
“Eh, eh, cacing muka kuning!” Lili mengejek dan sengaja mengganti sebutan naga menjadi
cacing. “Apakah kau masih belum kenyang?” Sambil berkata demikian, kembali tangannya
bergerak dan kini lain masakan penuh kecap berwarna merah yang masih ada setengah
mangkok melayang cepat ke arah muka Lok Ceng. Si Naga Muka Kuning cepat mengelak
akan tetapi kurang cepat dan tahu-tahu mukanya telah tersiram oleh masakan kecap ini!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
147
Untung baginya ia cepat-cepat meramkan kedua matanya yang tadi melotot sehingga kecap
itu tidak memasuki kedua matanya. Akan tetapi celaka sekali, ia tidak dapat menutup kedua
lubang hidungnya sehingga kedua lubang hidungnya yang lebar itu diserbu oleh kecap
membuat ia tersedak dan berbangkis-bangkis beberapa kali seakan-akan hendak copot!
Kini para tamu di restoran itu terpakga mendekap mulut masing-masing untuk menahan
ketawa, karena melihat Lok Ceng berbangkis-bangkis, sambil mencak-mencak sungguh
merupakan pemandangan yang amat lucu dan menggelikan. Lok Ceng memaki-maki dan
kemarahannya memuncak. Ia mencabut golok yang terselip pada pinggangnya dan kini
mengamuk hebat. Beberapa kali ia membacok ke kanan kiri dan meja kursi yang terkena
bacokan golok itu menjadi terbelah. Ia masih menggerakkan kedua kakinya menendang ke
sana ke mari sehingga meja kursi beterbangan ke mana-mana.
Para tamu yang tadinya menahan ketawa, menjadi ketakutan dan segera mereka
menyingkirkan diri ke tempat jauh, mepet pada dinding, berjajar merupakan pagar. Muka
mereka menjadi pucat karena sekarang keadaan bukan main-main lagi. Gadis itu pasti akan
menjadi korban golok Lok Ceng yang amat tajam.
Akan tetapi, Lili tidak mau membu ang banyak waktu untuk melayani Si Muka Kuning yang
sombong itu. Biarpun Lok Ceng mengobat-abitkan golok dengan ganas sekali, ia tidak
menjadi gentar dan dengan senyum mengejek tubuhnya bergerak dan tahu-tahu ia telah
berada di depan si pengamuk itu.
“Gadis liar, kupenggal lehermu!” teriak Lok Ceng.
“Manusia tak tahu diri, kau harus diberi rasa sedikit!” Lili balas membentak dan dengan
gerak tipu Sianli-jip-pek-to (Bidadari Memasuki Ratusan Golok) sebuah gerakan dari Ilmu
Silat Sianli-utauw, ia melompat maju dan dengan tubuh lincah sekali ia dapat masuk diantara
gotok itu dan langsung menggerakkan tangan kanan ke arah iga lawannya.
“Duk!” dengan tepat sekali jari tangannya mengirim tiam-hwat (totokan) yang mengenai
jalan darah hong-twi-hiat dengan jitu sekali. Terdengar Lok Ceng memekik kerasa dan
aneh...! Orang muka kuning yang tinggi besar ini tak dapat bergerak lagi. Tubuhnya menjadi
kaku dan dalam keadaan masih berdiri dengan golok terpegang erat-erat di tangan kanannya!
Semua orang memandang dengan mata terbelalak. Mereka masih tidak mengerti mengapa
Lok Ceng berdiri kaku seperti patung. Lili yang semenjak kecil memang telah mempunyai
kesukaan berkelahi dan memang wataknya nakal dan jenaka itu, tersenyum-senyum dan
dengan mata berseri-seri ia lalu mengambil semua mangkok di atas meja yang masih terisi
masakan, lalu ia membalikkan mangkok itu ke atas kepala Lok Ceng, sehingga Lok Ceng kini
memakai topi mangkok yang isinya tumpah dan mengalir di sepanjang hidungnya!
Semua orang yang merasa lebih heran daripada lucu itu, tak dapat tertawa dan masih
memandang dengan bengong, bahkan pelayan yang dipanggil oleh Lili seakan-akan tak
mendengar panggilan gadis itu dan masih berdiri bengong sambil memandang ke arah Lok
Ceng.
“He, aku mau membayar! Mana pelayan?” teriak Lili.
Barulah pelayan itu berlari menghampiri sambil membungkuk-bungkuk.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
148
“Nah, ini untuk membayar masakan yang telah kumakan. Lebihnya untuk mengganti
kerugian rumah makan ini karena barang-barang yang dirusak oleh lalat kuning ini!” Ia
melemparkan sepotong uang perak yang berat ke atas meja, lalu keluar dari restoran itu, sama
sekali tidak mempedulikan Lok Ceng yang masih berdiri seperti patung batu.
Pelayan yang mengurus kudanya mendapat hadiah yang lumayan pula.
“Eh, Siocia...” kata pelayan ini, ”bagaimana dengan Oei-bin-liong? Tubuhnya kaku dan ia
tidak dapat menggerakkan kaki pergi dari rumah makan kami.”
Lili tertawa geli. “Biarlah, bukankah ia menjadi sebuah patung yang baik sekali untuk
menarik perhatian langganan sehingga restoran selalu akan penuh dengan tamu?”
“Akan tetapi... tentu ia akan marah dan... bagaimana kalau ia mati?”
Lili berkata dengan sungguh-sungguh, “Jangan kuatir. Aku sengaja memberi hukuman
kepadanya. Dalam waktu pendek ia akan dalam keadaan demikian, nanti kesehatannya akan
pulih kembali.” Setelah berkata demikian, Lili lalu melompat ke atas kudanya dan melarikan
kudanya itu cepat-cepat meninggalkan Lok-yang.
***
Setelah melakukan perjalanan dengan cepat selama dua pekan akhirnya sampailah Lili di
tempat yang menjadi tujuan utamanya, yaitu dusun Tong-sin-bun. Ia lalu memilih rumah
penginapan dan menyewa sebuah kamar. Kudanya ia serahkan kepada pelayan untuk dirawat
baik-baik.
Tanpa bertanya kepada orang lain, Lili dapat mencari rumah Ban Sai Cinjin dengan mudah,
oleh karena di dalam dusun yang tak berapa besar itu, hanya satu-satunya gedung yang besar
dan mewah yang menjadi tempat tinggal Ban Sai Cinjin. Bahkan ketika ia bertanya kepada
pelayan, hotel di mana ia bermalam juga milik dari Ban Sai Cinjin yang kayaraya dan
berpengaruh besar.
“Nona datang dari mana dan apakah hendak bertemu dengan Ban Sai Cinjin Loya?”
Lili tersenyum dan maklum bahwa semua pekerja di dalam hotel ini adalah anak buah Ban
Sai Cinjin, maka ia menjawab, “Ah, tidak. Aku hanya seorang pelancong yang tertarik
melihat keadaan di dusun ini yang amat ramai.”
Pada senja hari itu diam-diam tanpa diketahui oleh seorang pun, Lili mengenakan pakaian
yang ringkas, menggantungkan pedangnya di pinggang, lalu keluar dari penginapan itu untuk
mencari musuh besarnya, Bouw Hun Ti. Ia menduga bahwa musuh besarnya itu tentu berada
di kelenteng yang dulu pernah dilihatnya dengan Sin-kai Lo Sian, yaitu dalam sebuah hutan
tak jauh dari dusun Tong-sin-bun itu.
Akan tetapi sebelum menuju ke hutan itu, ia sengaja menyelidiki dulu gedung besar tempat
tinggal Ban Sai Cinjin yang nampak sunyi dari luar. Ketika ia hendak melompat ke atas pagar
tembok yang tinggi dan yang mengelilingi gedung itu, tiba-tiba ia melihat seorang pemuda
yang tampan bersama seorang setengah tua berjalan keluar dari gedung itu dengan tindakan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
149
cepat. Lili cepat bersembunyi di tempat gelap dan memandang tajam. Bukan main heran dan
terkejutnya ketika ia melihat pemuda itu. Tak salah lagi, pemuda itu tentulah Thio Kam Seng,
anak laki-laki yang dulu pernah ditolong oleh suhunya, Sin-kai Lo Sian, atau yang boleh juga
disebut suhengnya, karena mereka keduanya pernah menjadi murid Sin-kai Lo Sian.
Lili menjadi girang sekali dan hampir saja ia memanggil pemuda itu. Akan tetapi ia dapat
menahan keinginannya ini karena teringat bahwa pemuda ini baru saja keluar dari gedung Ban
Sai Cinjin. Hal ini benar-benar aneh sekali. Kam Seng pernah hampir dibunuh oleh seorang
murid Ban Sai Cinjin, bagaimana sekarang ia bisa keluar masuk demikian leluasa di gedung
Ban Sai Cinjin itu? Hal ini menimbulkan kecurigaannya dan ia tidak memanggil pemuda itu,
bahkan lalu diam-diam mengikuti perjalanan Kam Seng dan orang tua itu yang berjalan cepat
menuju ke hutan di mana terdapat kelenteng besar kepunyaan Ban Sai Cinjin.
Bagaimanakah Kam Seng dapat berada di tempat itu dan keluar dari gedung Ban Sai Cinjin
dengan enaknya? Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ketika Pendekar Bodoh dan
isterinya naik ke Gunung Beng-san dan bertemu kembali dengan Lili, pemuda ini dibawa
pergi oleh Mo-kai Nyo Tiang Le.
Sesungguhnya, Thio Kam Seng tidak mempunyai riwayat hidup yang baik. Dulu ketika
ditolong oleh Sin-kai Lo Sian, ia memang menceritakan riwayatnya bahwa kedua orang
tuanya telah meninggal dunia karena kemiskinan dan kelaparan, akan tetapi sesungguhnya
tidak demikian halnya. Thio Kam Seng ini adalah anak tunggal dari seorang tokoh persilatan
tinggi yang bernama Song Kun. Para pembaca dari cerita Pendekar Bodoh tentu masih ingat
bahwa Song Kun adalah sute (adik seperguruan) dari Lie Kong Sian, dan bahwa karena
kejahatannya hendak mengganggu Lin Lin akhirnya Song Kun tewas dalam tangan Cin Hai,
Si Pendekar Bodoh. Pada waktu hal ini terjadi, Cin Hai belum menikah dengan Lin Lin, akan
tetapi Song Kun telah meninggalkan seorang gadis yang dipeliharanya sebagai isteri tidak sah,
dan isterinya ini telah mengandung tiga bulan. Karena Song Kun terkenal sebagai seorang
pemuda mata keranjang yang jahat sekali, maka ia mempunyai banyak bini peliharaan di
mana-mana, baik yang ia dapatkan karena ketampanannya maupun yang ia ambil secara
paksa, bahkan yang diculiknya dari rumah orang tua gadis itu!
Setelah Song Kun tewas dalam tangan Pendekar Bodoh, Thio Kui Lin hidup terlunta-lunta.
Untuk kembali ke rumah orang tuanya ia merasa malu, dan hanya untuk kepentingan anak
dalam kandungannya belaka ia masih mempertahankan hidupnya. Beberapa bulan kemudian,
dalam keadaan yang amat sengsara, terlahirlah seorang anak laki-laki yang ia beri nama Kam
Seng. Karena Thio Kui Lin sesungguhnya amat benci kepada suaminya yang mengambilnya
secara paksa maka ia memberi nama keturunan Thio kepada puteranya ini.
Betapapun juga, setelah Kam Seng berusia lima tahun dan sudah pandai berpikir, ketika Kam
Seng bertanyakan ayahnya, Kui Lin lalu menceritakan bahwa ayahnya telah tewas dalam
tangan seorang pendekar besar bernama Pendekar Bodoh!
Dalam keadaan yang amat miskin, Kui Lin hidup berdua dengan puteranya. Mereka terluntalunta dan hidup serba kekurangan, dan akhirnya Kui Lin jatuh sakit yang membawanya
kembali ke alam baka. Semenjak itu Kam Seng menjadi yatim piatu, hidup merantau terluntalunta sebagai seorang pengemis cilik. Ternyata ia mempunyai otak yang cerdik sekali, dan
agaknya kecerdikan ayahnya menurun kepadanya. Ia dapat berpura-pura bodoh dan jarang
bicara, padahal segala sesuatu ia perhatikan betul-betul. Cerita ibunya tentang ayahnya yang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
150
terbunuh oleh Pendekar Bodoh, berkesan di dalam lubuk hatinya, dan ia tak dapat melupakan
nama Pendekar Bodoh ini dari ingatannya.
Demikianlah, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, ia tertolong oleh Sin-kai Lo
Sian, diangkat menjadi muridnya dan akhirnya ia diajak pergi oleh Mo-kai Nyo Tiang Le Si
Pengemis Iblis yang lihai.
“Kita harus mencari suhumu,” kata Mo-kai Nyo Tiang Le. “Sebelum kita bertemu dengan
gurumu, kau harus melatih diri baik-baik, akan kuajarkan ilmu silat-ilmu silat tinggi
kepadamu agar kelak kau tak usah kalah oleh murid Pok Pok Sianjin atau puteri Pendekar
Bodoh sekalipun!”
Diam-diam Kam Seng merasa girang sekali, telah lama ia menahan-nahan dendamnya ketika
ia mengetahui bahwa musuh besarnya, yaitu pembunuh ayahnya, adalah ayah Lili yang
menjadi sumoinya. Dapat dibayangkan betapa menggeloranya hatinya ketika dulu ia melihat
Pendekar Bodoh di puncak Gunung Beng-san. Saking terharu dan sedihnya tak berdaya
membalas dendam, dulu ia telah menangis sedih. Tak seorang pun mengetahui apa yang
menyebabkannya menangis. Kini mendengar ucapan Mo-kai Nyo Tiang Le supeknya, ia
menjadi girang sekali dan mulai hari itu ia belajar dengan tekun dan rajinnya, membuat girang
hati Mo-kai Nyo Tiang Le.
Bertahun-tahun Kam Seng pergi merantau dengan Mo-kai Nyo Tiang Le, menjelajah seluruh
propinsi di daerah Tiongkok, akan tetapi mereka tak bertemu dengan Sin-kai Lo Sian, bahkan
mendengar beritanya pun tidak. Orang-orang kang-ouw yang mereka tanyai, tak seorang pun
pernah bertemu dengan Sinkai Lo Sian yang telah menghilang untuk bertahun-tahun lamanya.
Terpaksa Mo-kai Nyo Tiang Le mewakili sutenya mendidik Kam Seng yang sesungguhnya
menguntungkan pemuda itu, karena kepandaian Pengemis Iblis ini jauh lebih tinggi daripada
kepandaian Pengemis Sakti. Sembilan tahun lamanya Mo-kai Nyo Tiang Le mengajak Kam
Seng merantau, berpindah-pindah dari barat ke timur, dari utara ke selatan dan sementara itu,
kepandaian Kam Seng telah maju dengan cepat sekali. Ia telah mewarisi kepandaian Mo-kai
Nyo Tiang Le, terutama sekali permainan Ilmu Silat Soan-hong-kun-hwat (Ilmu Silat Kitiran
Angin) dan ilmu melepas senjata rahasia yang disebut Thio-tho-ci (biji buah Tho besi). Ilmu
permainan tongkat dari Pengemis Iblis ini pun telah ia warisi dengan baik sekali.
“Supek,” kata Kam Seng pada suatu hari setelah supeknya itu menyatakan kekesalan hatinya
karena belum juga dapat bertemu dengan Sin-kai Lo Sian, “apakah tidak bisa jadi Suhu
terkena celaka di tangan Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin? Bagaimana kalau kita mencari di
sana?”
Supeknya mengangguk-angguk. “Mungkin dugaanmu ini benar juga. Aku pun telah
mempunyai dugaan demikian.” Ia menghela napas. “Memang Ban Sai Cinjin jahat dan kejam,
akan tetapi ilmu kepandaiannya amat tinggi. Jangankan Sute, aku sendiri belum tentu dapat
melawannya. Akan tetapi, kita harus dapat mengetahui bagaimana dengan nasib Sute. Kita
berangkat ke dusun Tong-sin-bun.”
Mereka lalu menuju kembali ke barat dan tiba di dusun itu di waktu malam.
“Supek, biarlah teecu menyelidiki ke kuil itu.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
151
“Kau hati-hatilah, Kam Seng. Di sana terdapat banyak orang pandai,” kata Mo-kai Nyo Tiang
Le yang duduk di bawah pohon sambil minum arak yang dibelinya di warung arak.
“Jangan kuatir, Supek. Tak percuma selama ini teecu mempelajari ilmu kepandaian dari
Supek.”
Pemuda ini lalu mempergunakan ilmunya berlari cepat menuju ke hutan itu. Ia melihat
kelenteng itu terang sekali, penuh dengan lampu-lampu penerangan yang besar dan mewah.
Melihat keadaan kelenteng itu dan melihat betapa kain-kain sutera yang halus tergantung
dijadikan tirai penutup pintu, ia menghela napas dan melirik ke arah pakaiannya sendiri.
Semenjak ia pergi ikut dengan supeknya belum pernah ia berpakaian baik. Pakaiannya
tambal-tambalan dan kotor sekali. Sesungguhnya tidak sukar baginya kalau ia mau
mengambil pakaian dari para hartawan, akan tetapi supeknya tentu melarangnya, dan ia
merasa malu untuk berpakaian bagus sedangkan supeknya berpakaian kotor penuh tambalan.
Keadaannya sama seperti seorang pengemis muda!
Kam Seng menanti sampai beberapa lama, akan tetapi oleh karena ia tidak melihat seorang
pun keluar dari kelenteng itu, ia lalu memberanikan diri dan menghampiri kelenteng itu.
Dengan ginkangnya yang sudah terlatih baik dengan mudah ia lalu melompat ke atas genteng.
Dari atas genteng ia melihat bahwa penerangan yang paling besar keluar dari ruangan
belakang, maka dengan amat hati-hati ia lalu menuju ke ruang itu, mengerahkan gin-kangnya
agar genteng yang diinjaknya tidak menerbitkan suara berisik.
Ketika ia mengintai ke bawah, ia melihat tiga orang sedang bercakap-cakap di dalam ruangan
itu. Ia mengenal dua orang diantara mereka yaitu Bouw Hun Ti dan Ban Sai Cinjin. Yang
seorang lagi adalah seorang tosu tua yang rambutnya masih nampak hitam, demikianpun
jenggotnya. Kam Seng merasa heran mendengar bahwa Ban Sai Cinjin yang berambut putih
dan tua itu menyebut suheng (kakak seperguruan) kepada tosu ini. Sungguh mengherankan
bahwa seorang yang usianya lebih tua daripada Ban Sai Cinjin masih nampak segar dan
rambutnya masih hitam. Akan tetapi pada saat itu, percakapan mereka lebih menarik hati Kam
Seng, karena ia mendengar nama Pendekar Bodoh' disebut-sebut.
“Memang Pendekar Bodoh lihai sekali,” ia mendengar tosu itu berkata sambil
menganggukkan kepalanya. “Ia telah mewarisi kepandaian Bu Pun Su. Akan tetapi pinto
(aku) tahu bagaimana harus menghadapi dan melawannya. Ia mengandalkan pengertiannya
tentang pokok dan dasar gerakan ilmu silat sehingga kalau ia dilawan dengan ilmu silat biasa,
ia akan menang di atas angin. Akan tetapi pinto telah mempelajari ilmu silat dunia barat yang
mempunyai gerakan berlainan dan dasarnya pun berbeda sehingga kalau menghadapi
Pendekar Bodoh, belum tentu pinto takkan dapat merobohkannya!”
“Supek berkata benar,” Bouw Hun Ti tiba-tiba berkata, “bagaimanapun juga, Pendekar
Bodoh bukan tidak dapat dilawan! Pernah teecu mendengar bahwa Pendekar Bodoh masih
belum selihai Hek Pek Mo-ko (Iblis Hitam dan Iblis Putih, tokoh kang-ouw yang muncul
dalam cerita Pendekar Bodoh). Pernah dia terluka oleh kedua saudara itu. Kalau kepandaian
Suhu saja sudah setingkat dengan kepandaian Hek Pek Mo-ko karena dari satu cabang
persilatan, mustahil kalau Supek tidak dapat menundukkan Pendekar Bodoh!”
Ketika Ban Sai Cinjin menyedot huncwenya dan hendak menjawab tiba-tiba tosu itu
menengok ke arah genteng di mana Kam Seng mengadakan pengintaian dan berkata halus,
“Sahabat muda yang mengintai di atas genteng, kauturunlah saja!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
152
Bukan main kagetnya Kam Seng mendengar ucapan ini. Semenjak tadi ia mendengarkan
dengan penuh perhatian dan hatinya tertarik sekali. Kalau orang-orang di bawah ini yang
demikian lihai ternyata memusuhi Pendekar Bodoh, maka ia tidak sekali-kali boleh memusuhi
mereka. Alangkah baiknya kalau ia bisa berkawan dengan mereka untuk membalas
dendamnya kepada Pendekar Bodoh! Telah berkali-kali supeknya, Mo-kai Nyo Tiang Le
menyatakan bahwa kepandaian Pendekar Bodoh amat tinggi, masih lebih tinggi daripada
kepandaian Pengemis Iblis itu, maka sudah menipislah harapan di dalam hati Kam Seng
mendengar pernyataan ini. Kini mendengar betapa ilmu kepandaian Ban Sai Cinjin dan tosu
yang menjadi suheng kakek berhuncwe itu demikian tingginya, ia mendapat sebuah pikiran
baik sekali.
Mendengar ucapan tosu itu, makin yakinlah ia bahwa tosu itu benar-benar lihai sekali, maka
ia lalu menjawab,
“Maafkan teecu yang muda berlaku lancang!” Setelah berkata demikian, ia lalu meloncat ke
bawah, melayang sambil menggunakan gerakan In-liong-san-hian (Naga Awan Perlihatkan
Diri). Gerakan ini cukup indah dan ilmu lompatnya cukup hebat sehingga tiga orang yang
berada di ruang itu memandang dengan kagum. Melihat seorang pemuda cakap berbaju
tambal-tambalan dan kotor sekali, Ban Sai Cinjin lalu melangkah maju, dan bertanya,
“Orang muda, siapakah kau dan mengapa kau melakukan pengintaian di kelentengku?”
Kam Seng menjura memberi hormat dan otaknya yang cerdik diputar-putar, kemudian ia
berkata dengan sikap gagah dan suara tenang,
“Tadi teecu mendengar tentang totiang ini yang hendak melawan Pendekar Bodoh. Oleh
karena ada permusuhan pribadi antara teecu dan Pendekar Bodoh, maka hati teecu tertarik
sekali dan ingin teecu mencoba kepandaian Totiang yang lihai. Teecu maklum bahwa teecu
bukanlah lawan Totiang ini, akan tetapi kalau Totiang dapat mengalahkan teecu dalam
sepuluh jurus, teecu akan menghambakan diri menjadi murid dan akan menceritakan sesuatu
bahaya yang mengancam ketenteraman di sini. Kalau Totiang tidak dapat mengalahkan teecu
dalam sepuluh jurus, jangah harapkan akan dapat menangkan Pendekar Bodoh!”
Kata-kata ini membuat Bouw Hun Ti menjadi marah sekali dan ia melompat ke depan, cepat
mengirim pukulan keras ke arah kepala Kam Seng sambil berseru,
“Macammu hendak menantang Supek?”
Pukulan tangan kanan Bouw Hun Ti ini keras sekali dan tenaga yang terkandung dalam
pukulan itu cukup untuk menghancurkan batu karang. Sudah diketahui bahwa ilmu
kepandaian Bouw Hun Ti sudah mencapai tingkat tinggi, lebih tinggi dari Sin-kai Lo Sian
maka dapat diduga betapa lihai dan berbahayanya pukulan ini.
Akan tetapi, Kam Seng bukanlah seorang pemuda yang bodoh. Ia telah mewarisi kepandaian
Mo-kai Nyo Tiang Le dan kepandaiannya sekarang mungkin sudah lebih tinggi daripada Sinkai Lo Sian! Ia maklum bahwa dalam hal tenaga lwee-kang tak mungkin ia dapat melawan
orang kuat ini, maka ia lalu mempergunakan kecerdikannya. Dengan lengan kanan, ia
mengerahkan tenaga halus untuk menangkis pukulan lawan, sedangkan tangan kirinya tidak
tinggal diam, akan tetapi digerakkan memukul ke depan dengan ilmu silat Soan-hong-jiu
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
153
(Kepalan Kitiran Angin). Bouw Hun Ti merasa terkejut sekali karena sebelum pukulannya
mengenai sasaran, lebih dulu pukulan lawan itu mendatangkan angin yang hebat dan
berbahaya sehingga terpaksa ia miringkan tubuhnya dan pukulannya tidak keras lagi. Ketika
pukulannya tertangkis oleh lengan kiri Kam Seng, keduanya terpental ke belakang!
“Bagus...!” kata tosu itu yang sesungguhnya adalah suheng dari Ban Sai Cinjin yang bernama
Wi Kong Siansu. Wi Kong Siansu ini sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan adalah
seorang pertapa di Hek-kwi-san dan dijuluki Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pencabut Nyawa).
Oleh karena merasa kuatir menghadapi musuh-musuh yang tangguh, Ban Sai Cinjin
menyuruh Bouw Hun Ti untuk mengundang dan membujuk suhengnya itu yang kemudian
ternyata berhasil baik.
Melihat pukulan Soan-hon-jiu yang digerakkan oleh Kam Seng, Wi Kong Siansu menjadi
tertarik dan ia lalu berdiri dari bangkunya.
“Bouw Hun Ti, biarkan anak muda ini memenuhi keinginannya.” Ia melangkah maju
menghadapi Kam Seng. “Anak muda, sebelum pinto menuruti permintaanmu yang kurang
ajar tadi, lebih dulu katakanlah kau siapa, anak siapa dan mengapa kau bermusuhan dengan
Pendekar Bodoh?”
Semenjak dulu, Kam Seng tak pernah menyebut-nyebut nama ayahnya di depan siapapun
juga. Sekarang karena maklum sepenuhnya bahwa ia berada diantara orang-orang yang
menjadi musuh Pendekar Bodoh pula, ia tidak merasa ragu-ragu untuk memberitahukan nama
ayahnya, bahkan ia pun merubah pula shenya yang biasanya Thio itu menjadi Song.
“Teecu bernama Kam Seng, she Song, Ayah teecu telah tewas di tangan Pendekar Bodoh,
dan ayah teecu itu bernama Song Kun.”
Mendengar disebutnya nama ini, Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin saling pandang dengan
terkejut sekali. “Apa? Ayahmu adalah Song Kun Si Tubuh Baja yang berjuluk Ang-ho-siankiam?” tanya Wi Kong Siansu dengan heran.
“Entahlah, karena ayah telah tewas sebelum teecu terlahir. Teecu hanya mendengar dari
ibuku yang sekarang telah meninggal dunia pula. Hanya satu hal yang teecu ketahui, yaitu
bahwa ayah teecu yang bernama Song Kun itu terbunuh oleh Pendekar Bodoh!”
“Benar, benar!” Wi Kong Siansu mengangguk-angguk. “Memang terbunuh oleh Pendekar
Bodoh. Marilah, kau maju dan hendak kulihat sampai di mana kepandaianmu, anak muda!”
Kam Seng memang sengaja menantang untuk dirobohkan dalam sepuluh jurus karena ia
mempunyai maksud tertentu. Ia telah maklum sampai di mana tingkat kepandaiannya, apabila
diukur dengan kepandaian supeknya Nyo Tiang Le. Sungguhpun ia belum dapat menyamai
ilmu kepandaian supeknya itu, namun dari latihan-latihan dengan supeknya ia dapat menaksir
bahwa supeknya itu tak mungkin akan dapat merobohkan dan mengalahkannya dalam tiga
puluh jurus! Maka ia sengaja menantang untuk dirobohkan dalam sepuluh jurus oleh tosu itu,
karena kalau hal ini memang dapat terjadi, ia tidak ragu-ragu lagi akan kepandaian tosu ini
dan tidak ragu-ragu untuk mengkhianati supeknya!
Setelah tosu itu melangkah maju menghadapinya, tanpa seji (sungkan) lagi Kam Seng lalu
menyerang dengan Ilmu Silat Soan-hong-kun-hwat yang paling lihai. Ia hendak mendahului
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
154
menyerang agar supaya kakek itu tidak mempunyai kesempatan untuk menyerangnya. Kalau
saja ia dapat menyerang bertubi-tubi sampai sepuluh jurus, biarpun tidak dapak merobohkan
tosu itu, berarti ia telah menang karena dalam sepuluh jurus kakek itu tak dapat
mengalahkannya!
Wi Kong Siansu agaknya maklum akai isi pikirannya ini, maka sambil tersenyun kakek yang
amat lihai ini tidak memberi kesempatan kepada Kam Seng untuk menyerang dengan susulan
lain. Begitu pukulan Kam Seng mendatang dan telah dekat dengan dadanya yang sama sekali
tidak terpengaruh oleh angin pukulan itu ia mengebutkan ujung lengan bajunya menangkis
dan tangan kanannya lalu meluncur keluar membarengi pukulan itu menotok ke arah pundak
Kam Seng.
Pemuda ini terkejut sekali karena tangkisan ujung lengan baju itu ketika menimpa lengannya,
tulang lengannya terasa sakit sekali bagaikan beradu dengan baja keras sedangkan totokan itu
pun cepat sekali datangnya sehingga hampir saja ia menjadi korban dalam segebrakan saja! Ia
cepat menjatuhkan diri ke belakang, berjumpalitan ke belakang dua kali, kemudian setelah
berdiri ia lalu menyerang lagi. Serangan dalam jurus ke dua ini dilakukan dengan gerak tipu
yang amat lihai. Ia melakukan serangan dari tiga jurusan, tangan kanan diputar merupakan
kepalan yang mengarah kepala, tangan kiri dengan jari tangan terbuka menyabet lambung
sedangkan kaki kanan menyusul dengan tendangan maut ke arah pusar! Inilah gerak tipu yang
disebut Sam-in-koan-goat (Tiga Awan Menutup Bulan). Gerakan tiga macam pukulan ini
dilakukan susul menyusul sehingga hampir boleh dibilang berbareng datangnya, dan karena
yang diarah oleh ketiga pukulan ini adalah anggota-anggota tubuh yang berbahaya, maka
dapat dibayangkan betapa hebatnya serangan Sam-in-koan goat ini. Satu saja di antara ketiga
pukulan itu mengenai sasaran, cukup untuk mengantar nyawa orang ke tempat asal!
“Bagus...!” seru Wi Kong Siansu melihat kehebatan serangan ini. Dengan amat tenang kakek
ini melangkahkan kakinya dalam bentuk segitiga. Pertama- tama ia melangkah ke kanan
sambil menundukkan kepala menghindarkan diri dari pukulan ke arah kepalanya, lalu
melangkah lagi menyerong ke muka sambil menangkis pukulan ke arah lambungnya,
sedangkan tendangan yang mengarah pusarnya itu tidak dielakkan, bahkan ia lalu mengangkat
kakinya menyambut tendangan itu dengan tendangan pula.
Sungguh mengherankan. Kalau dilihat tendangan Kim Seng amat keras dan cepat datangnya
sedangkan kakek itu hanya mengangkat sedikit saja kakinya untuk menyambut tendangan
pemuda itu akan tetapi begitu sepatu mereka bertemu, Kam Seng berseru kaget dan tubuhnya
terlempar ke belakang tiga tombak lebih! Masih baik bahwa ia mempunyai gin-kang yang
sempurna sehingga ia dapat berjungkir balik dan mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga
ia dapat turun dengan kaki terlebih dulu!
Bukan main kagumnya hati Kam Seng. Ia maklum bahwa tosu ini benar-benar jauh lebih
lihai daripada supeknya, maka tanpa banyak ragu-ragu lagi, ia lalu menjatuhkan diri berlutut
di depan tosu itu. “Kalau Totiang sudi menerima teecu sebagai murid, teecu akan merasa
bahagia sekali.”
Wi Kong Siansu tertawa bergelak. “Sayang kau ditinggal ayahmu dan tidak bertemu dengan
guru yang baik. Kalau ada ayahmu, tentu kepandaianmu sudah sepuluh kali lipat lebih pandai
daripada sekarang.”
Ban Sai Cinjin lalu maju dan mengebulkan huncwenya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
155
“Song Kam Seng, kau tadi bilang bahwa kau mempunyai rahasia yang hendak dituturkan.
Apakah rahasia itu? Hayo kau berkata terus terang, karena kalau memang betul kau putera
Song Kun, kita adalah orang-orang sendiri. Ketahuilah bahwa antara kami dengan ayahmu
dahulu terdapat perhubungan yang baik sekali.”
“Sesungguhnya amat malu untuk menuturkan keadaan teecu,” kata Kam Seng sambil
menundukkan kepalanya dan masih berlutut di depan Wi Kong Siansu. “Semenjak kecil teecu
telah ditinggal mati ibu, dan ayah bahkan telah meninggalkan teecu sebelum teecu terlahir.
Teecu berkelana dan bersengsara seorang diri dengan hati mengandung dendam kepada
Pendekar Bodoh, akan tetapi apa daya? Kemudian, teecu bertemu dengan Mo-kai Nyo Tiang
Le yang memberi pelajaran ilmu silat kepada teecu. Sungguhpun kemudian teecu ketahui
bahwa Mo-kai Nyo Tiang Le dan juga Sin-kai Lo Sian adalah kawan-kawan segolongan
dengar Pendekar Bodoh sehingga hati teecu merasa segan sekali untuk belajar ilmu silat
darinya, akan tetapi terpaksa teecu pertahankan juga. Karena, lebih baik menerima pelajaran
ilmu silat dari siapapun juga daripada tidak berkepandaian sama sekali. Nah, kebetulan sekali
hari ini teecu dibawa oleh Mo-kai Nyo Tiang Le yang sedang berusaha mencari Sin-kai Lo
Sian. Dia menyangka bahwa sutenya itu tentu telah mendapat celaka dari Ban Sai Cinjin,
maka ia lalu menyuruh teecu mengadakan penyelidikan ke sini!”
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. “Ha-ha-ha! Mo-kai Nyo Tiang Le pengemis kelaparan! Apa
yang kutakuti terhadap orang seperti dia itu?”
“Teecu juga maklum akan hal ini, dan mulai saat ini juga, kalau kiranya Cu-wi Locianpwe
sudi menerima, teecu ingin tinggal di sini mempelajari ilmu silat dan kemudian bersama Cuwi ikut menyerbu dan membalas hukum kepada Pendekar Bodoh.”
Ban Sai Cinjin agaknya masih ragu-ragu dan menaruh hati curiga. Akan tetapi Wi Kong
Siansu sambil berkedip sutenya itu, berkata kepada Kam Seng, “Anak muda, kami percaya
bahwa kau memang putera Song Kun. Akan tetapi, siapa mengetahui keadaan seseorang? Mokai Nyo Tiang Le yang menjadi gurumu itu ternyata hendak memusuhi sute dan menyuruh
kau mengadakan penyelidikan ke sini. Bagaimanakah kalau sikapmu ini hanya sandiwara
belaka agar kau dapat menyelamatkan diri dari kami? Kalau kau sekarang bisa memancing
Mo-kai Nyo Tiang Le datang ke sini, tanpa mengatakan bahwa pinto dan Ban Sai Cinjin
berada di tempat ini, dan kemudian di depan kami kau memperlihatkan sikapmu bermusuh
dengan dia, barulah kami akan percaya. Menerima murid bukanlah hal yang amat mudah, dan
sebelum mengetahui betul kesetiaanmu, pinto tidak dapat menerimamu sebagai murid.”
“Baiklah, harap Cu-wi suka menanti sebentar. Malam ini juga teecu akan membawa Mo-kai
Nyo Tiang Le datang ke tempat ini!” Setelah berkata demikian, Kam Seng memberi hormat
dan melompat keluar dari ruangan itu. Ban Sai Cinjin hendak menggerakkan tangan
mencegah, akan tetapi suhengnya berkata,
“Anak itu memang betul keturunan Song Kun. Tidak lihatkah kau akan gerak matanya dan
bentuk bibirnya? Sama benar dengan Song Kun. Dan andaikata sikapnya tadi hanya untuk
menyelamatkan diri untuk seorang pemuda macam dia, kita takut apakah?”
Sementara itu, Kam Seng cepat kembali ke tempat supeknya yang masih menantinya.
Hatinya girang sekali. Tadinya ia telah merasa putus harapan untuk dapat membalas
dendamnya kepada Pendekar Bodoh, karena kalau Mo-kai Nyo Tiang Le yang menjadi
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
156
gurunya masih mengatakan kalah jauh oleh Pendekar Bodoh, apalagi dia? Pendekar Bodoh
menurut supeknya ini mempunyai banyak orang-orang pandai. Isteri Pendekar Bodoh sendiri
adalah murid Bu Pun Su dan memiliki kepandaian yang amat tinggi. Masih ada lagi Ang I
Niocu dan suaminya Lie Kong Sian yang terhitung kakak seperguruan dari Pendekar Bodoh,
ada lagi Kwee An yang menjadi iparnya dan isteri Kwee An yang bernama Ma Hoa dan yang
memiliki kepandaian tinggi karena nyonya muda ini adalah murid terkasih dari Hok Peng
Taisu yang lihai! Bagaimana ia dapat menghadapi Pendekar Bodoh seorang diri saja? Bahkan
supeknya amat menghormat Pendekar Bodoh maka tak mungkin supek atau suhunya
memperkenankan ia berlaku kurang ajar terhadap Pendekar Bodoh.
Kini, pertemuan dengan Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu yang amat tinggi
kepandaiannya, menimbulkan pengharapan baru di dalam hatinya. Ia tadi tidak melihat Hok
Ti Hwesio, hwesio kecil jahat murid Ban Sai Cinjin yang dulu hendak membelek perutnya,
akan tetapi ia pun tidak takut. Andaikata Hok Ti Hwesic mengenalnya, ia rasa masih dapat
melayani hwesio itu, dan apalagi kalau ia sudah menjadi murid Wi Kong Siansu, tentu Hek Ti
Hwesio tidak berani mengganggunya.
“Bagaimana, Kam Seng? Apakah kau melihat suhumu di sana? Dan apakah Ban Sai Cinjin
berada di sana pula?”
“Teecu rasa Suhu berada di sana, Supek. Mungkin dikurung dalam sebuah kamar. Akan
tetapi teecu tidak berani turun dan berlaku sembrono, karena di sana teecu melihat ada muridmurid Ban Sai Cinjin. Teecu rasa sekarang lebih baik kalau kita berdua menyerbu ke sana,
karena tidak terlihat Ban Sai Cinjin, yang ada hanya Bouw Hun Ti!”
Girang sekali hati Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar kesempatan yang amat baik ini, maka ia
cepat berdiri dan mengajak pemuda itu cepat berlari kembali ke hutan itu.
Kam Seng mengajak supeknya melompat ke atas genteng dan mengintai di atas ruang tadi,
akan tetapi baru saja Nyo-kai Tiang Le menginjak genteng ia mendengar suara Bouw Hun Ti
tertawa di bawah genteng.
“Pengemis kelaparan Nyo Tiang Le! Perlu apa mengintai seperti seorang maling? Kalau kau
kelaparan tak perlu kau mencuri makanan di sini, turunlah ada makanan anjing tersedia
untukmu!”
Bukan main marahnya Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar ucapan yang sangat menghina ini.
Ia memang seorang pemarah yang keras hati, maka tanpa mempedulikan sesuatu lagi, ia lalu
melayang turun, diikuti oleh Kam Seng. Akan tetapi, begitu kakinya menginjak lantai ruangan
itu, Mo-kai Nyo Tiang Le terkejut sekali melihat Ban Sai Cinjin dan seorang tosu tua muncul
dari balik pintu. Ban Sai Cinjin mengebulkan asap huncwenya dan melihat asap itu berwarna
hitam, tahulah Mo-kai Nyo Tiang Le bahwa ia harus melawan mati-matian.
Terdengar tosu yang tak dikenalnya itu tertawa girang dan berkata kepada Kam Seng,
“Bagus, bagus, Kam Seng! Kau memang boleh dipercaya dan pinto suka menjadi suhumu.
Tentu saja Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi melongo melihat dan mendengar ucapan ini.
“Kam Seng! Apakah artinya ini?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
157
Akan tetapi sebelum pemuda itu menjawab, Ban Sai Cinjin sudah menegur Pengemis Iblis
itu, “Orang she Nyo! Kau datang sebagai tamu tak diundang, mengapa lagakmu demikian
kasar? Sebetulnya, apakah keperluanmu datang ke tempatku ini?”
“Ban Sai Cinjin, semenjak dulu kita belum pernah bermusuhan, maka harap kau suka
memberi keterangan tentang suteku Lo Sian. Di manakah dia?”
Ban Sai Cinjin mengeluarkan suara menghina. “Apa kaukira aku menjadi bujang pengasuh
dari Lo Sian? Kaucarilah sendiri, di sini tidak ada sutemu yang gila itu!”
“Gila...? Suteku tidak gila...” kata Mo-kai Nyo Tiang Le sambil memandang tajam.
Merahlah wajah Ban Sai Cinjin karena tanpa disengaja ia hampir saja membuka rahasianya.
Memang Lo Sian telah menjadi gila karena ia paksa minum obat beracun.
“Kau dan Sutemu memang orang-orang tidak waras, kalau sehat bagaimana malam-malam
datang ke tempat tinggal orang lain mencari Sutemu?”
Mo-kai Nyo Tiang Le merasa segan untuk bermusuh melawan Ban Sai Cinjin yang lihai dan
di situ masih ada tosu tua yang nampaknya berkepandaian tinggi itu. Juga ia masih merasa
heran mendengar percakapan antara tosu itu dengan Kam Seng, maka ia pikir lebih baik
mengajak pemuda itu pergi dari tempat berbahaya ini.
“Sudahlah, aku tak mau mengganggu terlebih jauh. Hayo, Kam Seng, kita pergi dari sini!”
katanya mengajak pemuda itu.
Akan tetapi, sungguh di luar dugaan sama sekali jawaban yang ia dengar dari mulut pemuda
itu, “Tidak, aku tidak pergi dari sini. Di sinilah tempatku bersama suhuku yang baru Wi Kong
Siansu!”
Barulah Mo-kai Nyo Tiang Le tahu bahwa tosu itu adalah Toat-beng Lomo yang amat
terkenal. Ia terkejut sekali, akan tetapi keheranannya lebih besar lagi.
“Apa katamu? Kam Seng, apa artinya ini? Apakah kau sudah gila?”
Pemuda itu memandangnya tajam. “Tidak, Mo-kai Nyo Tiang Le, kaulah yang gila kalau
kaukira akan dapat memaksaku untuk menjadi pengemis, hidup berkeliaran, pakaian tidak
karuan, makan tak tentu. Aku tidak mau mengikuti kau terus. Kau, pergilah dari sini!”
Marahlah Mo-kai Nyo Tiang Le mendengar ucapan ini. Tak pernah disangkanya bahwa
pemuda yang biasanya pendiam dan penurut itu kini berubah menjadi sedemikian kurang ajar.
“Kam Seng...! Kau murid durhaka! Kalau kau tidak mau pergi, terpaksa aku harus binasakan
kau lebih dulu agar kelak tidak mencemarkan namaku!”
Tiba-tiba Kam Seng tersenyum. “Hm, Mo-kai Nyo Tiang Le! Ketahuilah siapa sebenarnya
aku. Aku adalah putera dari Ang-ho Sian-kiam Song Kun, dan aku telah bersumpah untuk
membalas kematian ayahku kepada Pendekar Bodoh! Nah, apakah kau tidak mau lekas pergi
dari sini? Aku masih mengingat akan sedikit kebaikanmu yang telah menurunkan sedikit ilmu
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
158
silat tak berarti kepadaku. Kalau kau tidak lekas pergi, jangan menganggap aku keterlaluan
kalau terpaksa turun tangan melawan dan mengusirmu!”
Serasa meledak dada Mo-kai Nyo Tiang Le. Sepasang matanya menjadi merah bagaikan
terbakar dan rambutnya yang tidak karuan itu menjadi kaku berdiri.
“Murid durhaka! Manusia berhati rendah!”
Akan tetapi, Kam Seng dengan marah sekali telah mengeluarkan beberapa butir Thi-tho-ci
dan mengayun senjata-senjata rahasia itu ke arah Mo-kai Nyo Tiang Le sambil berseru, “Kau
pergilah!”
Dengan amarah yang meluap-luap Mo-kai Nyo Tiang Le menyambut datangnya senjatasenjata rahasia itu dengan gerakan tangan kirinya yang menangkis dan memukul runtuh
beberapa senjata-senjata rahasia itu, kemudian sambil berseru keras ia lalu melancarkan
serangannya yang hebat yaitu pukulan Soan-hong-jiu yang dilakukan dengan tenaga penuh ke
arah bekas muridnya itu! Kam Seng maklum akan kelihaian pukulan ini, akan tetapi karena ia
tahu pula bahwa mengelak dari pukulan ini selain sia-sia juga amat berbahaya, terpaksa ia pun
mengerahkan tenaganya dan melakukan gerakah pukulan yang sama. Biarpun jarak di antara
mereka ada dua tombak lebih jauhnya, namun angin pukulan Soan-hong-jiu dari Mo-kai Nyo
Tiang Le ini menyambar hebat sekali ke arah Kam Seng. Pemuda ini juga melakukan pukulan
Soan-hong-jiu dengan tenaga khi-kang sepenuhnya untuk menangkis. Dua angin pukulan
bertemu dan akibatnya Kam Seng terlempar ke belakang sampai tubuhnya menimpa dinding
di belakangnya! Namun tangkisannya itu menyelamatkan jiwanya, karena sedikitnya telah
membentur tenaga pukulan bekas supeknya dan ia hanya terlempar saja tanpa menderita luka.
“Kau harus mampus!” Mo-kai Nyo Tiang Le berseru sambil melompat ke arah bekas
muridnya untuk memberi pukulan maut. Akan tetapi, tiba-tiba dari sebelah kiri berkelebat
bayangan putih dan tahu-tahu Wi Kong Siansu telah berada di depannya dan tersenyum
mengejek.
“Wi Kong Siansu! Jangan kau ikut-ikut! Tidak ada orang kang-ouw yang begitu tidak tahu
malu untuk mencampuri urusan antara guru dan muridnya sendiri!” teriak Mo-kai Nyo Tiang
Le marah sekali.
Wi Kong Siansu tertawa bergelak. “Mo-kai, kau lupa bahwa pemuda ini bukan muridmu
lagi! Ia telah menyatakan tidak sudi menjadi muridmu dan kau harus ingat lagi bahwa dia kini
telah menjadi murid pinto! Apakah kaukira pinto dapat berpeluk tangan saja melihat murid
pinto hendak dibinasakan olehmu?”
Saking marahnya Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi nekat. “Bagus!” teriaknya “Hendak kulihat
sampai di mana kehebatan Toat-beng Lo-mo!”
“Ha-ha! Majulah, mari kita main-main sebentar!” jawab tosu itu.
Nyo Tiang Le menyerang dengan cepat dan bertubi-tubi. Akan tetapi, tosu yang berilmu
tinggi itu dengan tenangnya dapat mengelak dan membalas dengan serangannya. Toat-beng
Lo-mo Wi Kong Siansu ini melayani Pengemis Iblis dengan kedua ujung lengan bajunya yang
panjang yang menyambar-nyambar dengan totokan-totokan ke arah jalan darah. Setiap
sambaran ujung lengan baju membawa angin keras dan berat sekali. Mo-kai Nyo Tiang Le
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
159
terkejut ketika menyaksikan betapa angin pukulan Soan-hong-jiu yang dipergunakannya
selain terpental kembali tiap kali terbentur oleh ujung lengan baju itu dan maklumlah ia
bahwa dalam hal tenaga lwee-kang dan khi-kang, ia masih kalah setingkat!
Oleh karena merasa percuma saja melawan tosu lihai ini, Mo-kai Nyo Tiang Le membuat
gerakan mengalah, yaitu melompat mundur beberapa tindak sambil berkata, “Toat-beng Lomo, kepandaianmu benar-benar mengagumkan! Perkenankan aku pergi membawa muridku
yang murtad!” Sambil berkata demikian, ia melompat hendak menyambar tubuh Kam Seng
yang berdiri di sudut akan tetapi Wi Kong Siansu telah mendahuluinya dan kembali
menghadang di depannya.
“Mo-kai! Jangan kaulanjutkan kehendakmu yang salah ini. Kau pergilah dengan aman, dan
pinto takkan mengganggumu. Akan tetapi kalau kau berkeras hendak mencelakakan muridku,
terpaksa pinto harus turun tangan!”
Mo-kai Nyo Tiang Le menjadi makin marah. Ia maklum bahwa ia akan sukar sekali dapat
menangkan tosu ini, akan tetapi kalau ia mundur, berarti bahwa ia telah menurunkan
kehormatannya dengan rendah sekali. Bagi seorang gagah, soal kehormatan lebih penting dan
lebih mahal daripada nyawa. Muridnya berlaku khianat dan durhaka, sudah menjadi haknya
untuk menghukum murid itu. Kalau ada orang lain yang menghalanginya, itu berarti
penghinaan yang amat besar.
Sambil berseru keras, Mo-kai Nyo Tiang Le lalu mencabut tongkatnya yang tadi diselipkan
di ikat pinggang depan. Kemudian ia lalu menotok ke arah leher tosu itu dengan gerak tipu
Sian-jin-tit-lou (Dewa Menunjukkan Jalan).
“Bagus!” seru Wi Kong Siansu yang segera mengebut dengan ujung lengan bajunya sebelah
kiri, kemudian ia lalu mengibaskan lengan baju kanan ke arah kepala lawannya dengan gerak
tipu Burung Elang Menyambar Ayam. Nyo Tiang Le cepat mengelak dan ia lalu memutar
tongkatnya dengan hebat sekali. Tongkat pendek itu terputar-putar bagaikan kitiran, berubah
menjadi gulungan sinar yang amat kuat dan dapat berkelebatan ujungnya menotok ke arah
jalan darah di tubuh lawan. Inilah ilmu tongkat dari Hoa-san-pai yang lihai sekali, karena
setiap serangan dapat mendatangkan maut!
Akan, tetapi Wi Kong Siansu adalah tokoh persilatan yang sudah banyak pengalaman dan
kepandaiannya tinggi sekali. Ia telah tahu akan ilmu tongkat Hoa-san-pai ini, maka biarpun ia
tidak menggunakan senjata, kedua ujung lengan bajunya sudah cukup untuk memunahkan
semua serangan Nyo Tiang Le. Nampaknya ia hanya menggerakkan kedua ujung lengan baju
itu perlahan dan lambat saja, akan tetapi angin gerakannya demikian kuat sehingga tiap kali
ujung tongkat Mo-kai menyerang, selalu kena ditolak oleh ujung lengan baju itu.
Setelah menyerang selama tiga puluh jurus lebih belum juga dapat mendesak lawannya yang
tangguh, bahkan gulungan sinar tongkatnya makin lemah, tiba-tiba Mo-kai Nyo Tiang Le
berseru keras dan tubuhnya bergulingan ke atas lantai sambil melakukan penyerangan hebat
dan bertubi-tubi dari bawah! Inilah ilmu tongkat Hoa-san-pai yang paling lihai dan disebut
gerak tipu Naga Sakti Mempermainkan Mustika!
Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu terkejut juga melihat cara penyerangan yang hebat dan
berbahaya ini. Ujung tongkat lawannya menyambar-nyambar dari bawah dibarengi dengan
tubuh lawannya yang bergulung-gulung dan mengejarnya ke mana juga ia melompat. Ia telah
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
160
mengenal ilmu silat ini, akan tetapi oleh karena ilmu meringankan tubuh dari Mo-kai Nyo
Tiang Le memang hebat, maka kelihaian penyerangan ini sungguh mengatasi dugaannya!
Ketika ia melompat untuk mengelak dari tusukan yang diarahkan kepada pusarnya, tiba-tiba
Mo-kai Nyo Tiang Le berseru keras dan melompat pula, dengan cara yang amat tak terduga
merubah serangannya dengan gerak tipu Monyet Tua Menyambar Bunga, langsung
menusukkan tongkatnya ke arah ulu hati tosu itu! Serangan ini amat cepat dan tak terduga
sehingga sukar untuk dielakkan lagi. Akan tetapi Wi Kong Siansu benar-benar mengagumkan.
Ia amat tenang dan tidak menjadi gugup. Dengan ujung lengan baju sebelah kiri ia menyabet
ujung tongkat itu dan lengan baju sebelah kanan untuk menyabet pula sehingga kain ini kini
melibat tongkat lawannya. Sekarang dua ujung lengan baju itu telah membelit tongkat, tak
dapat dilepaskan lagi. Melihat kesempatan baik ini, dengan girang Nyo Tiang Le lalu
menggerakkan tangan kirinya, dengan jari tangan terbuka ia memukul kepala tosu itu dengan
pukulan Soan-hong-jiu yang hebat!
Kalau pukulan ini mengenai kepala tosu itu biarpun ia amat kuat dan lihai, agaknya ia akan
mendapat luka di dalam kepala dan nyawanya takkan dapat diselamatkan lagi. Akan tetapi,
dengan gerakan yang amat cepatnya, tosu itu menarik kepalanya ke bawah lalu melakukan
serangan dengan kepalanya itu, diserudukkan ke arah dada Nyo Tiang Le, di bawah lengan
kiri yang memukulnya! Nyo Tiang, Le terkejut sekali, menahan napas dan mengumpulkan
lwee-kangnya pada dada untuk menyambut benturan kepala yang tak dapat dielakkan ataupun
ditangkis lagi itu.
“Duk...!!” Tubuh Nyo Tiang Le terpental sampal dua tombak lebih, sedangkan Wi Kong
Siansu nampak pucat dan terhuyung-huyung. Akan tetapi pada saat itu dapat mengatur
napasnya kembali sedangkan Nyo Tiang Le setelah terguling sambil muntah darah merah dari
mulut, ternyata juga dapat melompat berdiri lagi! Akan tetapi pada saat itu, dari sebelah
kanannya menyambar benda hitam kekuningan ke arah kepalanya. Ia terkejut dan mengelak
cepat, akan tetapi terlambat! Terdengar suara “tak!” ketika kepala huncwe di tangan Ban Sai
Cinjin mengenai batok kepalanya. Seketika itu juga Nyo Tiang Le merasa kepalanya pening
dan matanya gelap. Tiba-tiba ia berbangkis beberapa kali, lalu tertawa bergelak dan ia lalu
melompat keluar di dalam gelap, terus melarikan diri!
Ban Sai Cinjin tertawa terbahak-bahak. “Ia telah terluka di dalam otaknya, sekarang ia hanya
kehilangan ingatannya saja, akan tetapi tak lama lagi ia akan roboh dan mampus!”
Kam Seng terkejut sekali mendengar ucapan ini dan hatinya merasa ngeri. Sesungguhnya ia
tidak mengira bahwa supeknya akan mengalami nasib sehebat itu. Tadinya ia hanya
bermaksud untuk melepaskan diri dari Mo-kai Nyo Tiang Le untuk berguru kepada tosu itu
dan untuk mendapatkan harapan baru dalam cita-citanya membalas dendam.
Juga Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu menghela napas panjang dengan menyesal. “Sute,
mengapa kau menewaskannya? Permusuhan akan menjadi makin hebat.”
Ban Sai Cinjin tersenyum. “Suheng, pengemis itu terlalu menghina kita, dan orang jahat dan
berbahaya seperti dia sudah sepatutnya dilenyapkan agar kelak tidak menimbulkan
kepusingan.”
Kam Seng lalu berlutut di depan Wi Kong Siansu dan berkata, “Suhu, betapapun juga, Mokai Nyo Tiang Le pernah melepas budi kepada teecu, apakah teecu boleh mengubur
jenazahnya?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
161
Tosu itu nampak girang. “Bagus, Kam Seng. Sikapmu menyenangkan hatiku, karena boleh
kuharapkan kesetiaanmu kepadaku kelak. Kaususullah dia, kurasa takkan jauh dari sini kau
akan dapat menemukannya.”
Kam Seng lalu melompat keluar dan mengejar ke arah Nyo Tiang Le tadi melompat pergi.
Benar saja, di tempat yang tak jauh dari kelenteng itu ia mendapatkan tubuh supeknya itu
telah tak bernyawa lagi, rebah di atas tanah dalam keadaan terlentang! Kedua mata pengemis
iblis itu terbuka dan di bawah sinar buIan, mata itu seakan-akan memandangnya dengan
penuh penyesalan, mulut yang telah biru itu seakan-akan berbisik, “Murid durhaka!” Ia
bergidik dan cepat mempergunakan saputangan untuk menutupi muka itu, lalu ia menggali
lubang di tanah dekat tempat itu untuk mengubur jenazah supeknya.
Demikianlah, semenjak saat itu, Kam Seng menjadi murid Wi Kong Siansu dan menerima
latihan ilmu silat yang tinggi sehingga kepandaiannya maju pesat sekali. Ketika Hok Ti
Hwesio, murid Ban Sai Cinjin yang kini telah menjadi seorang hwesio muda yang cakap tiba
di kelenteng itu, hwesio muda ini memandang kepada Kam Seng dan berkata,
“Sute, agaknya aku pernah melihat mukamu, entah di mana.”
Kam Seng tersenyum dan menekan debar jantungnya. “Tak bisa jadi, Suheng. Selama
hidupku baru sekali ini aku bertemu dengan kau.”
Karena Kam Seng pandai membawa diri dan amat menghormat kepada semua orang sebagai
orang baru, ia amat disuka. Selain Bouw Hun Ti dan Hok Ti Hwesio, Ban Sai Cinjin masih
memptinyai seorang murid lain yang usianya baru empat belas tahun, yaitu putera seorang
pangeran dari kota raja. Pangeran itu maklum akan kelihaian Ban Sai Cinjin, maka ia lalu
memberikan puteranya untuk dididik oleh kakek lihai ini. Anak muda ini datang dua bulan
setelah Kam Seng berada di kelenteng itu dan namanya adalah Ong Tek. Sebelum berguru
kepada Ban Sai Cinjin, Ong Tek pernah mempelajari ilmu silat dari panglima kerajaan,
sehingga ilmu silatnya pun sudah lumayang juga. Kam Seng memberi banyak petunjuk
kepada sutenya yang dikasihinya ini, sebaliknya Ong Tek juga memberi pelajaran ilmu surat
kepada suhengnya ini. Hubungan mereka amat erat karena dengan lain-lain orang yang berada
di situ, terutama dengan Hok Ti Hwesio, kedua anak muda ini kurang merasa cocok.
Dengan amat tekun dan rajin, Kam Seng berlatih ilmu silat dari Suhunya yang baru dan tanpa
terasa lagi, setahun telah lewat dengan amat cepatnya.
***
Demikianlah riwayat Kam Seng yang terlihat oleh Lili. Tentu saja Lili merasa terheran-beran
melihat betapa Kam Seng dan orang tua yang berjenggot pendek itu ternyata menuju ke
kelenteng di mana dulu Kam Seng akan dibelek perutnya oleh hwesio cilik murid Ban Sai
Cinjin!
Sebetulnya, Kam Seng baru saja datang dari dusun Tong-sin-bun, ke rumah Ban Sai Cinjin
untuk menjemput orang setengah tua yang menjadi utusan dari Parigeren Ong. Utusan ini
adalah seorang guru silat yang dulu pernah pula mengajar Ong Tek di kota raja dan kini ia
menerima tugas dari Pangeran Ong untuk menengok puteranya serta membawa segala macam
barang kiriman berupa pakaian, uang dan lain-lain.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
162
Kedatangan Kam Seng dan guru silat disambut oleh Ong Tek dengan girang sekali. Anak
muda ini berlari menghampiri guru silat itu dan sambil memegang tangannya, ia bertanya,
“Tan-kauwsu, apakah Ayah dan Ibu baik-baik saja?”
“Baik, Kongcu, semua baik. Taijin dan Hujin hanya berpesan agar supaya Kong-cu belajar
dengan rajin di sini.”
Mereka bertiga lalu masuk ke ruang dalam, di mana terdapat Wi Kong Siansu dan Hok Ti
Hwesio. Ban Sai Cinjin tidak berada di situ, karena kakek mewah ini lebih banyak bermalam
di dusun Tong-sin-bun. Semenjak Wi Kong Siansu tinggal di kelentengnya itu, Ban Sai Cinjin
tidak merasa leluasa kalau tinggal bermalam di situ pula. Ia merasa malu kepada suhengnya
karena ia memiliki kesukaan yang meniadi pantangan bagi kakak seperguruannya, yaitu
misalnya berminum minuman keras, main judi dengan kawan-kawannya, atau bergurau
dengan perempuan-perempuan penyanyi.
Mata Lili yang tajam masih dapat mengenal Hok Ti Hwesio sebagai hwesio kecil yang dulu
hampir membelek perut Kam Seng, maka makin heranlah ia melihat betapa kini Kam Seng
dapat bersahabat dengan hwesio itu! Juga ia heran sekali ketika mendengar Kam Seng
menyebut “Suhu” kepada tosu tua yang duduk di situ! Di manakah adanya suhu Sin-kai Lo
Sian dan supek Mo-kai Nyo Tiang Le? Demikian dara perkasa ini bertanya seorang diri
dengan penuh rasa bingung.
Lili mendengarkan guru silat she Tan itu bercerita tentang keadaan di kota raja dan hatinya
berdebar keras ketika guru silat itu berkata,
“Agaknya keturunan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya telah mulai datang dan
mengacau pula di sekitar kota raja.”
Tidak hanya Lili yang mengintai dari atas genteng yang tertarik oleh penuturan ini, bahkan
semua orang di bawah genteng juga tertarik sekali.
“Seorang pemuda keturunan Pendekar Bodoh atau entah kawan-kawannya karena menurut
cerita Kam Thai-ciangkun, penjahat itu pandai ilmu-ilmu silat Pendekar Bodoh, telah
mengacau di kota Tatung dan membunuh putera Kepala Daerah Tatung, yaitu Gui Kongcu.
Bahkan pemuda jahat itu telah melarikan seorang gadis bangsa Haimi yang tadinya hendak
menjadi bini muda Gui Kongcu!”
Kam Seng amat tertarik dan bertanya,
“Tan-kauwsu, siapakah namanya? Dan apakah ia benar-benar putera Pendekar Bodoh?
Apakah namanya Hong Beng, Sie Hong Beng?”
Guru silat itu menggeleng kepalanya. “Entahlah, tentang namanya aku tidak tahu. Hanya,
menurut penuturan Kam-ciangkun, pemuda jahat itu lihai sekali. Kam-ciangkun sudah
terkenal memiliki kepandaian tinggi sekali, akan tetapi ia mengaku bahwa pemuda pengacau
itu ilmu silatnya benar-benar tinggi, hampir sama dengan Pendekar Bodoh!”
Tentu saja Lili merasa heran dan juga tertegun mendengar cerita ini. Siapakah pemuda itu?
Benarkah Hong Beng kakaknya? Boleh jadi, karena ia mendengar dari ayah ibunya bahwa
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
163
kakaknya itu pun telah meninggalkan perguruan dan kini menuju pulang setelah merantau
dulu untuk meluaskan pengalaman.
Tiba-tiba terdengar suara tertawa dan ketika Lili memandang ke bawah, ia melihat bahwa
yang tertawa itu adalah Hok Ti Hwesio, kepala gundul muda itu. Hok Ti Hwesio tertawa
menyeringai dengan sikap menghina dan berkata, “Ha-ha-ha, mengapa orang selalu
menyebut-nyebut nama Pendekar Bodoh dan menganggapnya seakan-akan seorang dewata?
Mengapa orang agaknya memuji-muji musuh dan memperkecil semangat sendiri? Urusan
Pendekar Bodoh, serahkan saja kepadaku, siapa yang takut kepadanya? Tunggulah sampai
aku bertemu dengan dia!”
Semua orang tahu bahwa Hok Ti Hwesio ini selain sombong seperti gurunya juga amat lihai.
Ia telah mempelajari, tidak saja ilmu silat tinggi, akan tetapi juga ilmu sihir dan ilmu-ilmu
yang aneh dan mujijat. Ia memiliki ilmu kebal yang luar biasa, bukan ilmu kebal yang timbul
karena tenaga lwee-kang, akan tetapi ilmu kebal yang dipelajari oleh pengaruh sihir.
Sebagaimana pernah dituturkan di bagian depan, untuk memperoleh ilmu ini, ia tidak segansegan untuk makan jantung manusia. Selain itu, ia amat terkenal dengan kepandaiannya
melempar dan mainkan pedang kecil atau pisau belati yang disebutnya sendiri “hui-kiam”
(pedang terbang). Pedang kecil ini dapat ia lontarkan dengan cepat dan yang aneh, pedang ini
dapat mengejar sasarannya dan dapat terbang kembali seakan-akan bersayap. Tentu saja
pedang itu tidak dapat terbang sebagaimana nampaknya, melainkan karena kepandaiannya
melempar yang terlatih baik dan karena bentuk pedang itu agak bengkok, ditambah dengan
pengerahan tenaga yang tepat maka pedang itu seakan-akan dapat terbang kembali.
Ketika Lili mendengar ucapan hwesio muda ini, timbul kemarahannya. Hampir saja ia
melompat turun untuk mengamuk dan menampar mulut hwesio yang menantang-nantang
ayahnya itu, akan tetapi ia teringat akan nasihat ayahnya yang berkata, “Lili, kelemahan yang
paling membahayakan diri kita sendiri, adalah rasa takut dan nafsu marah. Kalau kau takut
dan marah, maka kau takkan dapat berlaku tenang dan mutu permainan silat akan menjadi
turun serta keadaan menjadi lemah sekali. Oleh karena itu, baik dalam keadaan bagaimana
juga kau harus dapat menguasai hatimu, dan dapat membebaskan diri dari rasa takut dan nafsu
marah.”
Aku tidak boleh marah, pikirnya dan setelah dengan susah ia dapat menekan hawa amarah
yang mengalun di dalam dadanya, Lili lalu memandang kembali ke bawah. Ia mendengar
Tan-kauwsu masih banyak menceritakan keadaan kota raja dan melihat kepala Hok Ti
Hwesio yang gundul plontos dan mengkilap tertimpa sinar tujuh batang lilin yang dipasang di
atas meja, timbullah keinginan di hati Lili untuk mempermainkannya. Memang gadis ini
mempunyai watak seperti ibunya, jenaka, nakal dan suka mempermainkan orang yang
dibencinya.
Di atas genteng itu terdapat banyak tanah lumpur yang terjadi dari debu dan air hujan. Ia lalu
menggaruk lumpur ini dari celah-celah genteng dan membuat beberapa butir pel lumpur
sebesar kacang.
Lili bekerja dengan hati-hati sekali sehingga tidak menimbulkan suara sama sekali, kemudian
ia meletakkan sebutir pel lumpur atau tanah liat itu di atas telapak tangan kiri, lalu
menggerakkan jari tengah dan ibu jari kanan untuk menendang atau menyelentik pel itu ke
bawah. Ia tidak berani menggunakan tangan menyambit karena kalau ia lakukan hal ini, tentu
angin tenaga sambitannya akan terdengar dari bawah oleh telinga orang-orang yang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
164
berkepandaian tinggi itu. Ketika pel tanah liat itu terkena tendangan jari tengah, benda kecil
ini meluncur turun dengan amat cepat menuju ke arah kepala Hok Ti Hwesio yang gundul
licin dan mengkilap.
“Plok!” Pel tanah liat itu dengan tepat sekali mengenai kepala Hok Ti Hwesio dan menjadi
gepeng serta melengket di kulit kepalanya! Akan tetapi tubuh hwesio muda itu tidak bergerak
sedikit pun juga, seakan-akan serangan ini tidak terasa olehnya. Hal ini amat mengejutkan hati
Lili, oleh karena ia maklum bahwa tenaga selentikannya ini cukup untuk membuat tanah liat
itu melubangi batang pohon! Demikian keraskah batok kepala hwesio itu?
Sebaliknya, Hok Ti Hwesio juga terkejut sekali. Ia tidak merasa terlalu sakit, akan tetapi
cukup merasa pedas kulit kepalanya. Yang membuat ia amat terkejut adalah kelihaian
serangan ini. Mengapa ia tidak mendengarnya sama sekali? Bagaimana orang dapat
menyambit sesuatu tanpa mengeluarkan suara? Dan lagi, kalau memang betul yang
menyambitnya seorang manusia yang berada di atas genteng, mengapa ia dan yang lain-lain
tidak mendengarnya? Mungkin pendengaran telinganya kurang tajam, akan tetapi Wi Kong
Siansu tentu akan mendengarnya!
Maka ia lalu meraba kepalanya dan mengira bahwa yang jatuh di atas kepalanya itu hanya tai
cecak yang kebetulan jatuh di atas kepalanya. Juga Kam Seng dan Wi Kong Siansu
mendengar suara “plok” tadi, akan tetapi karena mereka tidak melihat sesuatu hanya mengira
bahwa itu adalah suara buah busuk yang jatuh di atas tanah di luar kelenteng.
Benda hitam kecil ke dua meluncur cepat, disusul dengan yang ke tiga dan ke empat. Tibatiba Hok Ti Hwesio berseru keras dan mencabut pisau belatinya dengan marah sekali. Kali ini
ia merasa sakit sekali pada hidung dan kedua telinganya. Dengan tepat sekali tiga pel tanah
liat kecil itu menghantam hidung dan kedua daun telinganya. Tak salah lagi, ini tentu
perbuatan seorang manusia. Tak mungkin binatang cecak bisa melempar tai demikian
kebetulan!
“Bangsat rendah, kalau kau memang berani, turunlah!” bentaknya sambil mendongakkan
kepalanya memandang ke arah genteng. Akan tetapi malang baginya, karena ia berseru sambil
menengadah sebutir pel tanah liat yang tidak kelihatan dan tidak terdengar menyambarnya,
tahu-tahu telah memasuki mulutnya dan tak tertahan pula terus masuk ke tenggorokan turun
ke perut!
“Kurang ajar! Keparat!!” Hok Ti Hwesio menggerakkan tubuhnya dan dengan cepat ia telah
melompat keluar dan langsung naik ke genteng, sedangkan Wi Kong Siansu, Kam Seng, Tankauwsu dan Ong Tek memandang kelakuan hwesio itu dengan heran.
Ketika tiba di atas genteng, Hok Ti Hwesio memandang ke sana ke mari akan tetapi ia tidak
melihat bayangan seekor kucing pun di atas genteng. Dengan mendongkol dan juga heran
sekali ia melompat turun dan kembali ke dalam ruang itu. Ia berpikir bahwa kalau memang
benar ada orang mengganggunya, tentu orang itu melakukan hal itu karena marah mendengar
ia tadi menantang Pendekar Bodoh, maka dengan suara keras ia berkata,
“Kalau yang datang tadi Pendekar Bodoh atau konco-konconya, maka ternyata bahwa
Pendekar Bodoh dan konco-konconya hanyalah pengecut-pengecut besar yang berani
menyerang dengan sembunyi! Kalau ia berani turun ke sini, dalam beberapa jurus saja tentu
pisauku ini akan menembus lehernya!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
165
Baru saja ucapannya habis, tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dari atas, “Bangsat gundul
bermulut besar!” Berbareng dengan bentakan itu, berkelebat bayangan orang dan tahu-tahu di
ruangan itu telah berdiri seorang gadis yang cantik jelita dan gagah sekali.
Semua orang terkejut melihat gadis ini, karena bagaimanakah seorang dara muda remaja
memiliki gin-kang yang sedemikian tingginya sehingga kedatangannya sampai tidak
terdengar sama sekali?
Yang lebih terkejut adalah Kam Seng, karena sekali memandang saja ia mengenal gadis ini
sebagai Lili!
“Lili...!” ia berseru perlahan dengan mata terbelalak. Kalau orang melihat sinar matanya, di
situ akan terbayang kasih sayang yang besar, tercampur kebencian yang mengejutkan.
Memang, semenjak dahulu ketika tertolong oleh Sinkai Lo Sian, Kam Seng merasa kagum
dan suka sekali kepada Lili. Ia kagum akan kecantikan dan kejenakaan gadis ini, sehingga
dulu seringkali ia diam-diam memandang kepada gadis itu dengan pikiran melamun. Akan
tetapi, di samping rasa kasih sayangnya ini, ia mangandung kebencian hebat sekali mengingat
bahwa dara jelita ini adalah puteri dari musuh besarnya, Pendekar Bodoh!
Seruan perlahan ini terdengar juga oleh Lili, maka ia menengok dan tersenyum manis.
“Kukira tadi bukan Kam Seng yang berada di sini, akan tetapi ternyata benar-benar kau!
Mengapa kau berada di sini? Di manakah Suhu dan Supek?” tanyanya sambil memandang
tajam. Sinar matanya berkelebat seakan-akan menembus dada Kam Seng sehingga pemuda itu
merasa tak enak hati sekali dan mukanya berubah merah.
Sementara itu, Wi Kong Siansu dan yang lain-lain juga sudah bangkit dari tempat duduknya,
dan Hok Ti Hwesio bertanya kepada Kam Seng,
“Sute, siapakah perempuan ini?”
Tiba-tiba timbul sebuah pikiran yang baik dalam otak Kam Seng. Ia memang mempunyai
perasaan tidak suka kepada Hok Ti Hwesio yang kini menjadi suhengnya, dan ia ingin
mengadu hwesio ini dengan Lili agar dengan demikian ia dapat mengadukan dua orang yang
termasuk dalam daftar musuhnya.
“Suheng, kau tadi mencari Pendekar Bodoh. Nah, inilah puterinya yang bernama Sie Hong Li
atau Lili!”
Lili makin terheran mendengar ucapan Kam Seng ini. “Dan Si Gundul ini kalau tidak salah
tentulah si tukang membelek perut, bukan? Apakah dia sekarang menjadi suhengmu, Kam
Seng?”
Makin merahlah muka Kam Seng mendengar hal ini. “Lili...” katanya perlahan. “Sekarang
tidak ada hubungan antara kau dan aku lagi, aku... aku sudah menjadi murid Wi Kong Siansu,
yaitu suhuku yang baru ini!”
Lili tersenyum mengejek. “Siapa bilang bahwa kau dan aku pernah ada hubungan? Dari dulu
pun kita tidak mempunyai hubungan sesuatu!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
166
Sementara itu, Hok Ti Hwesio tak dapat menahan kemarahannya lagi.
“Bagus, hendak kulihat sampai di mana kelihaian anak dari Pendekar Bodoh!” Sambil
berkata demikian, ia lalu menyerang dengan pisau belatinya, menusuk ke arah dada Lili yang
berdiri dengan tenang. Melihat tusukan ini, Lili tertawa mengejek dan sambil mengelak gesit
ia mentertawakan hwesio itu.
“Tukang sembelih babi! Bagaimana kau berani berlagak di depan nonamu?? Apakah kau
masih ingin merasai pel tanah liat lagi? Masih kurang kenyangkah yang tadi itu?” Sambil
berkata demikian, tangan Lili terayun dan ia melemparkan dua butir pel lagi yang masih
dipegangnya. Dengan cepat sekali dua butir pel itu menyambar ke arah sepasang mata Hok Ti
Hwesio!
Bukan main kagetnya Si Kepala Gundul ini, ketika melihat dua titik hitam berkelebat
menyambar matanya. Ia cepat menundukkan mukanya, akan tetapi serangan dua butir pel
tanah liat itu benar-benar cepat sekali.
“Tak! Tak!” Bagaikan dua buah pelor besi, dua butir pel tanah liat itu melesat di atas
kepalanya yang gundul, sungguhpun tak dapat melukai kulitnya yang kebal, namun cukup
mendatangkan rasa sakit!
“Perempuan liar, kau harus mampus!” serunya marah dan ia lalu maju lagi menyerang
dengan cepat, menggunakan gerak tipu yang disebut Coan-jiu-ciongkiam (Lonjorkan Lengan
Sembunyikan Pedang). Gerakan ini merupakan serangan yang berbahaya sekali, karena ia
melakukan serangan dengan pukulan tangan kanan sambil menyembunyikan pedang kecil itu
di bawah lengannya. Pedang kecil ini siap untuk diputar dan ditusukkan apabila pukulan itu
dapat dielakkan lawan.
Akan tetapi, Lili yang sudah menerima latihan-latihan ilmu silat tinggi dari ayah ibunya,
bahkan sudah menerima ilmu silat warisan dari Swie Kiat Siansu yang diturunkan melalui
ayahnya, tentu saja hanya mentertawakan serangan ini. Ia maklum bahwa pedang kecil yang
tersembunyi di bawah lengan itu akan melakukan serangan lanjutan, maka ia lalu memutar
kedudukan kakinya, mengelak sambil mainkan Ilmu Silat Sianli Utauw (Tari Bidadari) yang
indah sehingga tubuhnya seakan-akan sedang menari-nari menghadapi serangan lawannya.
Mulutnya yang kecil manis itu tiada hentinya tersenyum dan sambil menggerakkan tubuh
mengerling tajam ke arah lawannya, ia menyindir,
“Tikus gundul! Tiada guna kau maju memperlihatkan kebodohanmu! Suruhlah Bouw Hun Ti
si keparat itu keluar untuk kuambil kepalanya!”
Hok Ti Hwesio makin marah, apalagi ketika ia mendengar Wi Kong Siansu berkata sambil
menudingkan jari telunjuknya ke arah gadis itu,
“Itulah Ilmu Silat Sianli Utauw yang lihai dari Ang I Niocu! Hok Ti, kau mundurlah karena
kau takkan menang menghadapi Nona ini!”
Hanya seorang saja di dunia ini yang ditakuti dan ditaati oleh Hok Ti Hwesio, yaitu gurunya,
Ban Sai Cinjin. Biarpun ia menghormati supeknya ini, namun di dalam kemarahan dan rasa
penasarannya terhadap Lili ucapan supeknya itu bahkan menambah kemarahannya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
167
“Biarlah, Supek. Masa teecu tidak dapat mengalahkan perempuan liar ini?” Ia lalu maju lagi
dan kini mengirim serangan maut bertubi-tubi. Pisau belati di tangannya menyambar-nyambar
cepat sekali dan karena gin-kangnya memang sudah tinggi, sedangkan pisau itu kecil dan
ringan, ditambah tenaga lwee-kangnya yang sudah baik, maka tubuhnya lenyap berubah
menjadi segunduk bayangan yang mengurung tubuh Lili dari segenap jurusan.
Lili sudah mempelajari ilmu silat tinggi dari ayahnya, bahkan biarpun belum sempurna
seperti ayahnya, namun dara jelita yang gagah perkasa ini sudah mengerti pula tentang dasar
dan pokok pergerakan ilmu silat, maka dengan enaknya ia menghadapi serangan-serangan
Hok Ti Hwesio.
Ia melihat hwesio itu menyerangnya dengan gerak tipu Tiang-ging-king-thian (Pelangi
Panjang Melengkung di Langit) dan pedang kecil itu menyambar di atas kepalanya,
sedangkan kaki kanan hwesio itu menendang dengan cepatnya sambil mengerahkan tenaga
Kim-kong-twi (Tendangan Sinar Emas). Melihat gerakan pedang dan kaki yang menendang,
Lili dapat menduga bahwa lawannya tentu memancingnya untuk mengetakkan tendangan itu
dengan gerak lompat Kim-le-coan-po (Ikan Gabus Terjang Ombak) atau Cian-liong-sengthian (Naga Sakti Naik ke Langit) agar tubuhnya naik ke atas sehingga pedang kecil yang
berkelebat di atas kepalanya itu dapat menyerangnya dengan gerak tipu Liong-ting-thi-cu
(Ambil Mutiara di Kepala Naga).
Ia maklum pula akan berbahayanya serangan beruntun ini, akan tetapi dasar Lili memang
berhati tabah, berwatak nakal jenaka, dan sudah memiliki perhitungan yang tepat maka
dengan sengaja seakan-akan tidak tahu bahaya, ia segera melompat ke atas mengelakkan
serangan tendangan lawan dengan Ilmu Lompat Cian-liong-seng-thian!
Hok Ti Hwesio menjadi girang sekali melihat pancingannya berhasil dan benar saja, seperti
yang sudah diduga oleh Lili, pedang kecil di tangannya lalu menyambar dari atas, memapaki
kepala Lili dengan gerakan Liong-ting-thi-cu (Ambil Mutiara di Kepala Naga)! Satu hal yang
tidak terduga oleh Lili, yaitu sambil melakukan serangan berbahaya ini, tangan kiri Hok Ti
Hwesio tidak tinggal diam dan maju memukul ke arah dada gadis itu dengan pukulan yang
mengandung tenaga Thiat-ciang-kang (Pukulan Tangan Besi)!
Kam Seng yang melihat bahaya mengancam gadis cantik yang diam-diam menjatuhkan cinta
kasihnya itu, hampir saja berseru ngeri karena bagaimanakah orang dapat menghindarkan diri
dari bahaya serangan sehebat itu?
Akan tetapi Lili berlaku tenang. Ia mengangkat tangan kirinya ke atas dan menggerakkan
tangannya itu secara luar biasa sekali ke arah pedang lawan sehingga terdengar suara
“cring...!!” dan ternyata ia telah berhasil menangkis pedang lawannya itu dengan gelang emas
yang melingkar di pergelangan tangan kirinya! Adapun pukulan ke arah dadanya itu ia sambut
dengan tangan kanannya, dengan telapak tangan dari jari-jari yang dikembangkan!
“Ah... tangan kanan itu sudah terang mainkan Pek-in-hoatsut akan tetapi tangan kiri itu...
apakah itu yang disebut Kong-ciak Sinna, ilmu-ilmu lihai dari Bu Pun Su?” terdengar Wi
Kong Siansu berseru kagum.
Akan tetapi, orang lain tidak memperhatikan ucapan ini karena memang lebih tertarik melihat
akibat dari dua gerakan gadis yang lihai itu. Hok Ti Hwesio tadi merasa kaget setengah mati
ketika menyaksikan betapa gadis muda itu dapat menangkis pedangnya hanya dengan gelang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
168
di tangannya! Akan tetapi kekagetannya itu tidak berarti apabila dibandingkan dengan
kenyataan yang ia hadapi ketika pukulan tangan kirinya bertumbuk dengan telapak tangan
gadis itu! Ia tidak merasa bahwa kepalan tangannya sudah bertemu dengan telapak tangan
kanan lawannya, akan tetapi dari telapak tangan itu mengebul uap putih dan ia merasa lengan
kirinya seakan-akan hendak patah! Rasa sakit menusuk-nusuk tulang lengannya yang kiri, dan
ia tahu bahwa itu adalah akibat membaliknya tenaga pukulannya sendiri!
Sambil berseru keras hwesio ini melompat ke belakang dan cepat menggunakan gagang
pedangnya untuk menotok urat lengan kirinya dan dengan cara demikian ia membuyarkan
tenaga sendiri yang membalik karena tangkisan gadis secara istimewa tadi!
“Perempuan liar! Jangan lari!” teriak Hok Ti Hwesio dengan keras dan marah, suatu sikap
untuk menutup rasa malunya dan untuk memperbesar semangatnya. Ia menubruk maju lagi
dan kini ia bersilat lebih hati-hati. Diam-diam ia merasa penasaran dan sedih sekali sehingga
ingin sekali ia menangis berkaok-kaok saking jengkelnya. Bagaimanakah dia, Hok Ti Hwesio,
murid Ban Sai Cinjin, yang semenjak masih kecil dengan rajin dan tekunnya mempelajari
banyak macam ilmu silat tinggi, bahkan telah memiliki kekebalan dan ilmu kesaktian yang
berdasarkan ilmu hitam, sudah “bertapa” mencari kesaktian dari mahluk halus, bermalam di
tanah pekuburan, kini dengan pedang di tangan tidak berdaya menghadapi seorang gadis yang
bertangan kosong? Saking jengkelnya, ia tidak ingat lagi akan pengalamannya yang tadi.
Kalau Hok Ti Hwesio tidak begitu jengkel dan penasaran, tentu telah terbuka matanya bahwa
ia menghadapi seorang lawan yang tingkat kepandaiannya jauh lebih tinggi daripadanya.
“Hemm, tikus gundul! Binatang rendah macam kau inikah yang hendak melawan ayah? Ha,
kau perlu diberi rasa sedikit!” Setelah berkata demikian, Lili mengubah caranya bersilat dan
kini ia mainkan Sianli Utauw bagian yang paling cepat. Tubuhnya seakan-akan lenyap
berubah menjadi sinar kemerahan dari bajunya yang berkembang merah itu, dan pandangan
mata Hok Ti Hwesio menjadi pening. Seringkali ia menyaksikan gurunya atau supeknya
bersilat dengan hebat, akan tetapi belum pernah melihat yang secepat ini. Ia lalu mengamuk
dan menggunakan pedang kecilnya menyambar ke arah bayangan tubuh lawannya, akan tetapi
tiap kali pedangnya menyerang, ia merasa hanya mengenai angin saja karena lawannya sudah
dapat mengelak lebih dulu. Dan sebagai imbangannya, terdengar suara “tok!” karena
kepalanya telah kena diketok oleh jari tangan Lili.
Beberapa puluh jurus mereka bertempur dan entah sudah beberapa belas kali terdengar suara
“tak-tok! tak-tok!” karena selalu tangan atau kaki Lili berkenalan dengan kepala yang gundul
klimis itu. Gadis ini benar-benar merasa kagum dan heran. Ketokan, pukulan, dan
tendangannya itu dilakukan dengan tenaga lwee-kang yang penuh dan kuat sekali, jangankan
baru kepala orang, biarpun kepala patung batu akan pecah atau retak terkena serangan ini.
Bagaimanakah hwesio ini dapat menerima semua pukulan itu dengan adem saja, seakan-akan
yang hinggap di kepalanya hanyalah lalat-lalat belaka?
Sebaliknya, Hok Ti Hwesio menjadi demikian mendongkol, malu, penasaran dan marah
sehingga tak terasa lagi dari kedua matanya keluar dua titik air mata yang besar-besar! Bukan
main gemasnya karena kepalanya dibuat main bola oleh gadis ini, dan biarpun ia dapat
menahan pukulan itu, namun tetap saja ia merasa sedikit puyeng!
Wi Kong Siansu khawatir kalau-kalau murid keponakan ini akan mendapat luka di dalam
otaknya akibat pukulan-pukulan lihai itu, maka ia segera membentak, “Hok Ti! Mundur
kau...!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
169
Kali ini Hok Ti Hwesio tidak membangkang, karena di dalam suara supeknya terdengar
perintah yang amat keras. Pula, tadinya ia ingin mengadu nyawa karena merasa malu
mengundurkan diri mengaku kalah setelah ia tadi bersumbar, kini ia melihat kesempatan baik
karena supeknya yang memerintahnya mundur! Dengan gerak lompatan Naga Hitam
Berjungkir Balik ia melompat ke belakang, membuat poksai (salto) tiga kali dan tiba-tiba
ketika tubuhnya masih berjumpalitan itu, pisau belati yang berada di tangannya telah ia
lontarkan ke arah Lili!
Inilah keistimewaan Hok Ti Hwesio. Pedang kecil atau pisau belati itu menyambar dengan
cepatnya, merupakan sinar putih yang mengkilap menuju ke arah leher Lili yang sama sekali
tidak menyangkanya. Akan tetapi, dengan tenang sekali dan masih tersenyum, Lili
mengangkat tangan kiri ke depan leher dan dengan gerak tipu Kwan-im-siu-koai-to (Dewi
Kwan Im Menyambut Golok Siluman) ia telah dapat menangkap hui-kiam (pedang terbang)
itu dan berbareng pada saat itu juga, ia mengirim pulang pedang itu dengan melontarkannya
ke arah perut Hok Ti Hwesio disusul suara ejekannya,
“Nah, makanlah pisau penyembelih babimu ini!”
Baru saja tubuh Hok Ti Hwesio melompat turun, pisaunya telah terbang menyambar perutnya
yang kecil karena jarang makan itu. Ia terkejut sekali dan tidak sempat mengelak atau
menangkis, maka ia lalu mengerahkan kekebalannya ke tempat yang terserang itu dan “bret!”
hanya pakaiannya sajalah yang terobek oleh pisau itu, akan tetapi kulitnya lecet pun tidak!
“Terlalu enak bagimu!” Lili berseru penasaran dan sambil melangkah maju dua tindak, ia
melancarkan pukulan Pek-in-hoatsut ke arah hwesio itu dengan kedua lengannya!
“Celaka!” seru Wi Kong Siansu dan tosu ini dari tempatnya lalu menggerakkan ujung kedua
lengan bajunya menangkis serangan angin pukulan yang dilancarkan oleh Lili ini. Akan
tetapi, masih tetap saja sebagian tenaga pukulan ini menyerang Hok Ti Hwesio sehingga
hwesio itu terpental menubruk dinding di belakangnya yang terpisah tiga tombak lebih dari
padanya! Kalau saja pukulan ini tidak tertahan oleh angin tangkisan Wi Kong Siansu tak
dapat diharapkan Hok Ti Hwesio akan dapat bernapas lagi. Biarpun ia kebal, akan tetapi
pukulan Pek-in-hoatsut menembus semua kekebalan dan merusak tubuh bagian dalam. Kini
Hok Ti Hwesio juga terluka, akan tetapi tidak parah dan tidak membahayakan jiwanya,
namun cukup membuat ia duduk mengeluh panjang pendek dan berusaha mengerahkan
tenaga dalam untuk memulihkan lukanya.
“Ganas, ganas...!” kata Wi Kong Siansu sambil memandang kepada Lili. “Tak kusangka
bahwa Pek-in-hoatsut dari Bu Pun Su yang budiman dan penuh hati welas asih itu kini
dipergunakan oleh cucu muridnya secara demikian kejam!”
Lili tersenyum manis dan menjura kepada Wi Kong Siansu, lalu berkata, “Wi Kong Siansu,
aku yang muda sudah seringkali mendengar namamu yang besar sebagai seorang yang
berkepandaian tinggi. Ucapanmu tadi memang kuakui ada benarnya akan tetapi agaknya kau
orang tua telah menjadi pikun dan lupa akan ejekan orang-orang jaman dahulu yang berbunyi
: peluh orang lain berbau busuk, akan tetapi kotoran sendiri berbau sedap! Tadi mudah saja
kau mencela aku yang muda, bahkan membawa nama Sucouw Bu Pun Su. Akan tetapi,
bukankah tikus gundul itu murid keponakanmu sendiri? Mengapa kau tidak mencelanya sama
sekali? Apakah kauanggap bahwa perbuatannya terhadap aku tadi cukup pantas?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
170
Merahlah wajah Wi Kong Siansu mendengar ucapan ini. Ia tidak tahu bahwa Lili memang
semenjak kecil gemar berkelahi dan karena seringkali bertengkar, maka ia menjadi pandai
berdebat! Apalagi karena ia seringkali mendengar ayahnya memberi nasihat dengan segala
macam ujar-ujar kuno, maka ujar-ujar yang kiranya dapat ia pergunakan untuk “memukul”
lawan, telah hafal di dalam kepalanya.
Dengan kata-katanya yang lantang itu, gadis ini sama sekali tidak memandang muka Wi
Kong Siansu sehingga tosu itu menjadi penasaran sekali. Ia merasa ditantang!
“Hemm, Nona muda, biarpun kau puteri Pendekar Bodoh, tak selayaknya kau bersikap begini
sombong di hadapan Toat-beng Lo-mo! Agaknya ayahmu hanya memberi didikan ilmu silat
saja kepadamu, sama sekali tidak memberi pelajaran tentang tata susila dan sopan santun!”
Kembali Lili tersenyum lebih manis lagi. Makin manis senyum gadis ini makin berbahayalah
dia, karena itu adalah tanda bahwa ia sedang mengasah otaknya dan berada dalam keadaan
yang amat waspada.
“Totiang, orang-orang dahulu yang lebih tua daripadamu telah menyatakan bahwa manusia
dihormat oleh sesamanya bukan karena keputihan rambutnya (usia tua), melainkan karena
keputihan hatinya (budiman).”
Mulai bersinar pandang mata Wi Kong Siansu. “Bocah lancang mulut! Apakah kau mau
menyatakan bahwa kauanggap aku seorang jahat?”
“Tidak ada sangka-menyangka dalam hal ini, Totiang,” kata Lili sambil mengerling ke arah
Kam Seng dengan pandangan mengejek. “Ayah pernah berkata bahwa burung gagak hanya
akan berkawan dengan mayat, sedangkan burung Hong hanya berkawan dengan burung
sorga! Aku tidak berani menyatakan atau menyangka bahwa Totiang dan orang-orang lain
jahat pula, akan tetapi aku berani menyatakan bahwa orang-orang yang bernama Bouw Hun
Ti dan Hok Ti Hwesio yang keduanya tinggal di tempat ini juga adalah binatang-binatang
rendah yang harus dimusnakan dari muka bumi ini!”
Ucapan ini terasa bagaikan tamparan pedas di muka Wi Kong Siansu, akan tetapi terhadap
Kam Seng merupakan ujung pedang yang menikam di ulu hatinya. Mukanya yang tadi merah
sekarang berubah menjadi pucat.
Wi Kong Siansu berkata lagi, “Hemm, kau masih kanak-kanak akan tetapi mulutmu jahat
sekali. Sikapmu menantang padaku, akan tetapi aku masih malu untuk menghadapi seorang
anak kecil seperti kau. Kam Seng, kauwakili aku dan coba kau uji kepandaian Nona ini!”
Kam Seng tak berani membantah. Gurunya sudah tahu bahwa sebelum ia datang di tempat
itu, ia adalah suheng dari gadis ini, maka kalau sekarang ia memperlihatkan sikap ragu-ragu
dan membantah, tentu gurunya akan menaruh hati curiga kepadanya. Pula, Lili adalah anak
dari musuh besarnya yang harus pula ia balas, sungguhpun cara membalas dendam terhadap
Lili telah ada rencana lain dalam otaknya! Ia amat sayang kalau nona yang begini cantik
manis sampai terbinasa. Akan lebih baik kalau ia dapat mengambil nona ini menjadi isterinya!
Bukan karena cinta kasih murni, akan tetapi hanya untuk mempermainkan anak musuh
besarnya!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
171
Sambil menekan debar jantungnya, Kam Seng melangkah maju dan mencabut pedangnya.
“Lili,” katanya dengan suara tenang, “kau telah berani menghina Suhu. Cabutlah pedangmu
itu dan mari kita main-main sebentar. Hendak kulihat apakah kepandaianmu sesuai dengan
kesombonganmu ini!”
Lili tidak menjawab, bahkan lalu menatap pemuda itu dan memandang dengan penuh
perhatian dari kepala sampai ke kaki. Ia melihat pemuda ini sekarang nampak tampan dan
gagah, mukanya putih terawat, rambutnya tersisir rapi dan diikat ke atas. Pakaiannya bersih
dan terbuat dari sutera mahal, baju warna merah dengan leher kuning emas dan celana warna
biru. Alangkah jauh bedanya dengan Kam Seng yang dulu itu! Dulu hanya seorang pengemis
kelaparan dan kurus kering, berpakaian compang-camping dan kotor.
“Hemm, Kam Seng, kau benar-benar telah memperoleh kemajuan hebat! Pakaianmu
semewah keadaan dalam ruangan ini! Hanya sayangnya, tidak semua keadaan di luar
mencerminkan keadaan di dalam! Banyak kutemui keindahan luar yang hanya menjadi kedok
daripada kebobrokan di sebelah dalam!” Suara ini dikeluarkan dengan bibir masih tersenyum
simpul, seakan-akan ia adalah seorang dewasa yang memberi nasihat kepada seorang anak
kecil.
“Sudahlah, Lili, jangan banyak cakap lagi,” jawab Kam Seng dengan muka kemerahmerahan. “Tidak ada gunanya bertanding kata-kata, cabutlah pedangmu!”
“Lagakmu seperti orang gagah saja!” Lili masih menyindir dan dengan gerakan perlahan ia
mengeluarkan sebuah kipas dari dalam bajunya, membuka kipas itu lalu mengipasi tubuhnya
yang tidak gerah!
Bagi pandangan orang lain dan juga Kam Seng, agaknya sikap Lili ini memandang rendah
sekali kepada lawannya. Bahkan Kam Seng tidak mengira bahwa gadis itu akan
menghadapinya dengan kipas di tangan!
“Lili lekas kau keluarkan pedangmu aku tidak mau menyerang orang bertangan kosong!”
Ucapan ini sengaja dikeluarkan dengan keras untuk memberi tamparan kepada Hok Ti
Hwesio yang dibencinya.
Akan tetapi, Lili hanya tersenyum dan mengipasi tubuhnya makin cepat lagi. “Untuk
menghadapi seekor lalat, cukup dengan sehelai kipas!” katanya.
Tidak seperti Kam Seng dan orang-orang lain, Wi Kong Siansu memandang kepada kipas di
tangan Lili itu dengan penuh perhatian. Bukan kipasnya yang menarik perhatiannya,
melainkan cara jari tangan gadis itu memegang kipas itu. Orang lain kalau memegang kipas
tentu gagangnya digenggam di telapak tangan di antara empat jari dan ibu jari. Akan tetapi
Lili memegang kipas itu dengan gagang dijepit antara ibu jari dan telunjuk, sedangkan tiga
jari tangan yang lain lurus dan tegang! Berdebarlah dada tosu ini karena pegangan ini
mengingatkan ia akan jago tua di utara, yaitu Swie Kiat Siansu, ahli Kipas Maut! Akan tetapi
tidak mungkin, pikirnya. Bagaimana gadis ini bisa menjadi murid Swie Kiat Siansu?
“Kam Seng, jangan pandang ringan kipas itu, kau seranglah!” katanya kepada muridnya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
172
Lili diam-diam memuji ketajaman mata tosu itu, sedangkan Kam Seng menjadi terkejut dan
memperhatikan kipas di tangan Lili. Kipas itu gagangnya berwarna putih kekuningan seperti
tulang. Ia dapat menduga bahwa kalau kipas ini dipergunakan sebagai senjata, tentu gagang
kipas itu terbuat daripada gading yang keras. Layar atau permukaan kipas entah terbuat dari
apa, kekuningan pula akan tetapi telah digambari gunung dan sungai dan ditulisi syair pula. Ia
masih merasa ragu-ragu. Bagaimanakah kipas sekecil itu akan dipergunakan sebagai senjata?
Akan tetapi karena suhunya telah menyuruhnya menyerang, ia lalu bergerak maju. “Awas
pedang!” teriaknya dan menyeranglah dia dengan gerak tipu Liu-seng-kan-goat (Bintang
Mengejar Bulan), sebuah gerak tipu serangan yang cukup berbahaya. Bagaikan sebuah
bintang, ujung pedang itu bergerak secara berantai dan dapat mengejar terus kemana saja
sasarannya bergerak. Kini yang dijadikan sasaran oleh pedangnya adalah pundak kanan Lili.
Dengan memilih sasaran pundak kanan, Kam Seng hendak menyatakan bahwa dia tidak
berniat jahat atau menewaskan gadis itu. Dengan menyerang pundak, maka ia memberi
banyak kesempatan kepada Lili untuk mengelak.
Akan tetapi, ternyata Lili sama sekali tidak mengelak, bahkan menanti datangnya serangan
ini dengan senyum mengejek. Kam Seng terkejut sekali. Betapapun juga, tidak bisa
membatalkan serangannya karena hal ini akan membikin marah suhunya dan biarpun hanya
pundak, kalau terkena pedangnya tentu akan terluka hebat juga! Serangannya ini amat cepat
dan dilakukan dengan tenaga lwee-kang sepenuhnya.
Ketika ujung pedang Kam Seng sudah berada dekat sekali dengan baju Lili yang menutup
pundak, tiba-tiba gadis itu yang masih saja mengipasi tubuhnya dengan kipas lalu mengubah
gerakan kipasnya dan kini ia mengebut ke arah pedang Kam Seng yang ujungnya sudah
mendekati pundaknya. Kam Seng hampir mengeluarkan seruan keras saking kagetnya.
Gerakan sederhana dengan kipas di tangan luar biasa sekali dibarengi penyerangan luar biasa
sekali. Sekaligus kipas itu telah melakukan tiga gerakan yang luar biasa. Muka kipas
menangkis ujung pedang, kebutannya mendatangkan angin yang menyambar mukanya
sehingga membuat ia tak dapat membuka mata, dan gagang kipas dari gading itu cepat sekali
melakukan totokan berbahaya ke arah pergelangan tangannya yang memegang pedang!
“Lihai sekali...!” terdengar Wi Kong Siansu berseru kagum. “Aku berani bertaruh bahwa ini
tentulah Ilmu Kipas Maut dari Swie Kiat Siansu!”
Sementara itu Kam Seng yang lincah gerakannya telah dapat melompat mundur dan mukanya
menjadi pucat. Karena tadi memandang rendah hampir ia terkena totokan dalam segebrakan
saja. Sedangkan Lili makin kagum mendengar ucapan Wi Kong Siansu yang ternyata dapat
mengenal ilmu silatnya demikian cepatnya.
Kam Seng berlaku hati-hati dan kini ia tidak berlaku seji (sungkan) lagi. Ia mengerahkan
kepandaiannya dan menyerang dengan cepat, mempergunakan Ilmu Pedang Hek-kwikiamsut, yaitu ilmu pedang ciptaan Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu yang amat ganas dan
selain kuat juga amat cepat gerakannya.
Diam-diam Lili kagum juga melihat ilmu pedang ini. Sayang ia telah berkumpul dengan
orang-orang jahat, pikirnya, kalau ia terus terdidik oleh orang baik-baik, tentu ilmu sitatnya
akan amat berguna. Sama sekali Lili tidak tahu bahwa sesungguhnya dasar ilmu silat Kam
Seng ia dapat dari pendidikan Mo-kai Nyo Tiang Le. Hanya ilmu pedangnya ini memang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
173
pelajaran dari Wi Kong Siansu. Agaknya pemuda ini merasa malu untuk mengeluarkan ilmu
silat yang ia pelajari dari Nyo Tiang Le guna menghadapi gadis ini.
Lili maklum bahwa ilmu kepandaian Kam Seng lebih baik dan lebih berbahaya daripada Hok
Ti Hwesio. Perbedaan yang amat mencolok antara kedua orang ini ialah bahwa Hok Ti
Hwesio mendasarkan kepandaiannya untuk daya tahan, tubuhnya kebal, pertahanannya kuat,
bahkan batok kepalanya pun dapat menahan pukulan maut. Sebaliknya, Kam Seng
mendasarkan kepandaiannya pada daya serang. Serangannya berbahaya dan cepat, tidak
memberi banyak kesempatan kepada lawan. Akan tetapi, daya tahannya tidak sekuat Hok Ti
Hwesio.
Ilmu Kipas Maut yang ia warisi dari Swie Kiat Siansu adalah semacam ilmu silat yang luar
biasa sekali, dan disebut ilmu silat San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas Gunung dan Air). Kipas
yang dulu dipergunakan oleh Swie Kiat Siansu adalah kipas yang layarnya terbuat daripada
kulit harimau, akan tetapi sebagai seorang gadis, Lili tidak suka mempergunakan kipas yang
buruk rupa. Ia sengaja membuat kipas yang kecil dan indah bentuknya, dengan layar dari kain
tebal yang dilukisi dan ditulisi syair. Dengan demkian, kipasnya ini tidak saja dapat
dipergunakan untuk senjata, akan tetapi juga dapat dipakai untuk pemantas dan untuk mencari
angin sejuk. Lukisan di atas kipasnya ini indah sekali dan syairnya ditulis sendiri oleh
ayahnya, maka Lili merasa sayang sekali kepada kipas ini. Dalam perkelahian menghadapi
lawan, baru kali ini ia mempergunakan kipas ini, maka ia berlaku amat hati-hati agar jangan
sampai lukisan pada kipas itu menjadi rusak. Maka ia lalu menutup kipasnya, dan hanya
menggunakan gagangnya saja untuk menghadapi Kam Seng.
Hal ini tidak saja memperlambat kemenangannya, bahkan membuat ia sukar sekali
menjatuhkan lawannya. Kalau kipas itu dibuka, maka senjata istimewa ini menjadi tiga kali
lipat lebih berbahaya, karena gagangnya berubah menjadi dua di kanan kiri yang keduanya
dapat dipergunakan untuk menotok. Permukaan kipas dapat dipergunakan untuk
mengacaukan pandangan mata musuh, bahkan angin kipasannya saja dapat membingungkan
lawan. Dengan menutup kipas itu, maka senjata ini hanya merupakan sebuah gagang yang
digerakkan untuk menangkis atau mengirim serangan totokan.
Sebelum berguru kepada Wi Kong Siansu, terlebih dulu Kam Seng telah mendapatkan
gemblengan dari Mo-kai Nyo Tiang Le dan ia telah banyak menderita sehingga ia menjadi
tekun sekali melatih lwee-kang, maka ilmu pedangnya kini sama sekali tak dapat dibilang
rendah tingkatnya. Kalau saja Lili tidak sayang kepada kipasnya dan melayaninya dengan
kipas terbuka, dapat dipastikan bahwa kurang dari dua puluh jurus saja Kam Seng akan dapat
dirobohkan. Akan tetapi, karena Lili menghadapinya dengan kipas tertutup, maka
pertempuran berjalan sengit dan ramai sekali. Namun masih saja Lili selalu berada di pihak
penyerang, karena dengan pengertiannya akan dasar dan pokok pergerakan ilmu silat, gadis
ini dapat menduga gerakan-gerakan dan perkembangan serangan lawan dan dapat
mendahuluinya. Berbeda dengan ketika melawan Hok Ti Hwesio, Lili tidak mau
mengejeknya dan tidak mau mempermainkannya pula, karena tidak terkandung kebencian di
dalam hatinya terhadap Kam Seng, hanya penyesalan dan kekecewaan besar melihat pemuda
itu tersesat.
Setelah bertempur hampir lima puluh jurus, perlahan akan tetapi pasti Lili mulai mendesak
Kam Seng. Pemuda ini merasa penasaran sekali, karena bagaimanakah Lili dapat berkelahi
demikian kuatnya dengan hanya bersenjata sebuah kipas kecil? Ia mengerahkan ilmu silat
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
174
yang ia pelajari dari Mo-kai Nyo Tiang Le, akan tetapi sia-sia belaka. Kipas Lili benar-benar
hebat sekali dan selalu ujung gagang gading itu mengancam jalan darahnya.
Pada saat pedangnya berkelebat membabat pinggang Lili dan dapat ditangkis oleh Lili yang
mementalkan gagang gadingnya dan membalas dengan totokan ke arah iga, terpaksa Kam
Seng menjatuhkan diri ke bawah dengan gerak tipu Harimau Lapar Mengintai Korban.
Dengan amat cepatnya, ia lalu menggerakkan pedang menyapu pergelangan kaki gadis itu.
Menghadapi serangan ini, Lili memperlihatkan kepandaiannya yang mengagumkan. Ia tidak
melompat ke atas untuk menyelamatkan kakinya, bahkan ia lalu memapaki datangnya pedang
ini dengan gerakan kaki yang disebut gerak tipu Dewa Bumi Menginjak Ular. Kaki kanannya
dengan kecepatan luar biasa dan dari arah atas menyerong ke bawah dapat menyambut
permukaan pedang dan sambil meminjam tenaga serangan lawan, ia menekan dan
menggerakkan tenaga lwee-kang pada kakinya yang terus menindih dan menginjak pedang itu
di atas tanah!
Kam Seng terkejut sekali. Ia cepat mengerahkan tenaga untuk membetot pedangnya, akan
tetapi sia-sia belaka. Pedangnya itu seakan-akan terjepit dan tertindih oleh batu karang yang
berat sekali sehingga tak dapat terlepas dari tindihan kaki Lili yang memandangnya sambil
tersenyum! Kemudian, gagang kipas gading di tangan Lili menyambar turun, menotok ke arah
pundak kanan Kam Seng. Melihat datangnya totokan yang amat berbahaya ini, terpaksa
pemuda itu melakukan hal yang membuatnya mendapat malu dan yang sekaligus menyatakan
kekalahannya. Yaitu ia melepaskan gagang pedangnya dan menggulingkan tubuhnya ke
belakang dengan gerakan Trenggiling Turun dari Lereng! Ia dapat menghindarkan diri dari
totokan, akan tetapi ia harus melepaskan pedangnya yang berarti bahwa ia telah kalah!
Dengan muka merah ia melompat bangun dan berdiri menundukkan muka akan tetapi diamdiam ia amat mengagumi gadis puteri musuh besarnya itu.
“Hebat..., hebat...!” kata Wi Kong Siansu sambil melangkah maju menghadapi Lili yang
masih menginjak pedang. Sekali tosu tua ini mengebutkan ujung lengan bajunya, maka
tubuhnya merendah dan ujung lengan baju melibat gagang pedang itu bagaikan seekor ular.
Lalu ia membetot keras akan tetapi mukanya tiba-tiba menjadi merah ketika merasa bahwa
pedang itu tak dapat terbetot dari injakan kaki Lili! Ia terkejut dan diam-diam ia kagum sekali
karena ternyata bahwa tenaga injakan itu benar-benar hebat. Ia dapat menduga bahwa gadis
ini tentu nggunakan tenaga Thai-san-cui, karena hanya dengan ilmu pengerahan tenaga ini
sajalah betotannya dapat tertahan. Kakek ini tersenyum-senyum, kemudian sambil berseru,
“Lepas!” ia lalu mengerahkan tenaga Im-yang-cui. Tenaga betotannya kali ini bukanlah
tenaga membetot semata, karena ujung bajunya itu membetot dengan terbalik, yaitu bahkan
mendorong pedang itu ke depan, kemudian ditengah-tengah dorongannya ini, ia lalu menarik
keras. Inilah tenaga Im-yang-cui yang sifatnya bertentangan, akan tetapi dapat dipergunakan
dengan berbareng maka kehebatannya pun luar biasa sekali.
Lili maklum bahwa ia tidak dapat mempertahankan injakannya lagi, maka ia tiba-tiba
melepaskan tenaga injakannya sambil berbareng menekuk jari kakinya, yaitu ibu jari dan jari
kedua, lalu jari-jari kakinya itu menggunakan gerakan menyentik pedang itu! Memang gadis
ini selain nakal, juga banyak akal dan lihai sekali. Sungguhpun jari kakinya tersembunyi di
dalam sepatu kain, namun tenaganya dapat berkurang karenanya, dan masih dapat melakukan
gerakan yang lihai ini. Pedang itu yang terbetot oleh ujung lengan baju Wi Kong Siansu,
ditambah dengan tenaga menyentik dari jari kaki Lili, tiba-tiba bergerak membalik dan
seakan-akan terbang menuju ke arah leher tosu itu!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
175
Kini Wi Kong Siansu yang maklum akan demonstrasi yang diperlihatkan oleh gadis itu, tidak
mau “kalah muka”! Melihat datangnya pedang yang melayang ke arah lehernya, ia lalu
merendahkan tubuh dan membuka mulutnya. Pedang itu, dengan tepat sekali memasuki
mulutnya dan tergigitlah ujung pedang itu oleh gigi si kakek yang lihai! Semua orang
memandang dengan melongo melihat betapa gagang pedang itu bergoyang-goyang seakanakan pedang itu telah menancap di batang pohon! Lili sendiri pun merasa kagum dan terkejut
karena makin maklum bahwa ia kini menghadapi seorang tosu yang berilmu tinggi sekali.
Dengan tenang Wi Kong Siansu mengambil pedang itu dari mulutnya, kemudian tersenyumsenyum kepada Lili lalu berkata,
“Siancai... Sungguh seorang gadis yang lihai, cerdik, nakal dan tabah sekali! Nona, kau
masih begini muda, akan tetapi telah mewarisi kepandaian Pendekar Bodoh, bahkan telah
mewarisi kepandaian Swie Kiat Siansu! Tidak percuma kau menjadi puteri Pendekar Bodoh!
Akan tetapi pinto (aku) tidak ingin bertanding melawan seorang kanak-kanak seperti kau.
Lebih baik kau pulang saja dan kalau memang kau ingin mengacau rumah tangga kawankawanku, suruhlah ayahmu yang datang ke sini.”
“Totiang, kau tidak ingin bertanding melawan aku, sebaliknya siapakah yang ingin bertempur
dengan kau? Sudah kukatakan bahwa kedatanganku bukan hendak berurusan dengan kau, dan
juga aku tidak butuh sesuatu dari Kam Seng atau kepala gundul itu! Aku hanya perlu mencari
manusia busuk bernama Bouw Hun Ti untuk kupenggal lehernya dan kubawa pulang
kepalanya!”
Pada waktu itu, Bouw Hun Ti tidak berada di kelenteng itu, bahkan tidak ada pula di dusun
Tong-sin-bun, oleh karena orang she Bouw ini semenjak beberapa hari yang lalu telah pergi
jauh ke utara. Bouw Hun Ti memang seorang yang amat cerdik dan hati-hati. Biarpun ia telah
berhasil mengundang datang Wi Kong Siansu untuk memperkuat kedudukannya namun ia
masih berkhawatir juga. Setelah berunding dengan suhu dan supeknya itu dan mendapat
persetujuan, ia lalu berangkat ke utara untuk mengunjungi tiga orang sahabat baiknya yang
berilmu tinggi yaitu yang disebut Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun).
Ketiga orang ini adalah orang-orang yang aneh dan sakti dan yang tinggal di Hailun, yaitu
sebuah kota di daerah Mancuria. Bouw Hun Ti mengunjungi mereka untuk membujuk mereka
datang dan bersama-sama menghancurkan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya. Ia
mempunyai harapan besar untuk mendapat bantuan ketiga orang ini yang masih terhitung
keluarga dari Panglima Mongol yang bernama Balaki dan yang dulu tewas dalam perang
ketika orang Mongol menyerbu ke selatan (baca cerita Pendekar Bodoh).
Mendengar ucapan Lili yang menyatakan hendak memenggal leher Bouw Hun Ti, Wi Kong
Siansu tertawa.
“Ah, sungguh kau sombong sekali, Nona. Belum tentu Bouw Hun Ti akan demikian
mudahnya menyerahkan lehernya untuk kau sembelih! Pula, pada saat ini, murid
keponakanku itu tidak berada di sini.”
“Bohong!” seru Lili marah. “Totiang, kauingatlah. Sungguhpun aku tidak ingin bermusuhan
dengan kau orang tua, akan tetapi kalau kau menyembunyikan dan membela keparat Bouw
Hun Ti, terpaksa aku berlaku kurang ajar!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
176
Tiba-tiba terdengar suara tertawa terkekeh-kekeh dari kelenteng disusul dengan mengebulnya
asap hitam dan berkelebatnya tubuh seorang tua pendek gemuk yang berpakaian mewah. Ban
Sai Cinjin telah datang sambil membawa huncwenya yang mengebulkan asap hitam, tanda
bahwa ia telah siap untuk bertempur! Bagaimanakah orang ini bisa datang ke kelenteng itu
pada waktu malam gelap?
Sebagaimana telah diceritakan di bagian depan, hampir semua rumah penginapan dan tokotoko besar di dusun Tong-sin-bun adalah milik dari Ban Sai Cinjin. Demikian pula rumah
penginapan di mana Lili bermalam, adalah rumah penginapan orang tua ini pula. Para
pengurus hotel ketika menyaksikan kecantikan Lili, segera memberi laporan kepada Ban Sai
Cinjin yang mata keranjang dan rnemang berwatak sebagai bandot tua. Ia amat girang
mendengar bahwa di hotel itu bermalam seorang gadis cantik jelita, dan penuturan pengurus
rumah itu bahwa gadis ini nampaknya berkepandaian tinggi, bahkan makin menggembirakan
hatinya.
“Ha-ha-hi-hi! Itulah yang selama ini kucari-cari,” katanya. “Aku sudah bosan dengan gadisgadis yang lemah. Aku sudah bosan dengan bunga-bunga harum yang mudah layu dan rontok.
Aku menghendaki bunga hutan, bunga liar. Ha-ha-ha!”
Akan tetapi ketika ia mendengar bahwa gadis itu keluar dari kamar tanpa diketahui ke mana
perginya, dan ditunggu-tunggu belum juga kembali mulai curigalah hati Ban Sai Cinjin. Di
dusun sekecil Tong-sin-bun, orang dapat melancong ke manakah? Apalagi seorang gadis
muda! Ia teringat akan penuturan pengurus hotel bahwa gadis itu berkepandaian silat, dan
karena Ban Sai Cinjin merasa bahwa ia mempunyai banyak musuh yang mendendam sakit
hati kepadanyaa maka ia lalu berlaku waspada. Digantinya tembakau pada huncwenya dan ia
lalu berlari cepat menuju ke kelenteng di tengah hutan itu, benar saja, ia melihat gadis cantik
jelita itu berada di dalam kelentengnya dan mengucapkan ancaman terhadap muridnya Bouw
Hun Ti.
Ia lalu tertawa dan melompat masuk, dan sambil menyembunyikan rasa kagumnya
menyaksikan kecantikan yang luar biasa dari gadis itu ia berkata,
“Nona, kau mencari Bouw Hun Ti? Ha-ha, muridku ini sedang pergi jauh. Biarlah aku
mewakilinya menyambutmu yang sudah datang dari tempat jauh. Kalau aku tahu, tentu kau
tak kuperbolehkan mendiami kamar hotelku yang kecil itu, akan kusediakan kamar besar dan
mewah di rumahku. Ha-ha-ha!”
Melihat munculnya orang tua itu, maklumlah Lili bahwa ia harus melawan mati-matian,
karena ia tahu akan kelihaian dan kejahatan Ban Sai Cinjin.
“Hemm, aku tahu siapa kau ini. Ban Sai Cinjin, aku memang datang untuk memenggal leher
muridmu Bouw Hun Ti, untuk membalas dendamku ketika aku terculik olehnya di waktu aku
masih kecil dan terutama sekali untuk membalasnya karena ia telah membunuh kakekku,
yaitu Yo Se Fu!”
“Mudah saja, mudah. Marilah kau ikut aku ke rumah, dan sementara menanti datangnya
Bouw Hun Ti, kita makan minum untuk menghormat kedatanganmu!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
177
Lili maklum bahwa orang tua ini mencari perkara. Menghadapi Ban Sai Cinjin tak boleh
gegabah, apalagi di situ terdapat Wi Kong Siansu yang menjadi suheng dari orang tua mewah
ini, maka kalau tidak diserang, lebih baik jangan mencari penyakit sendiri.
“Ban Sai Cinjin, kata-katamu sama hitamnya dengan tembakaumu yang berbau busuk! Siapa
mau meladeni orang seperti kau? Kalau Bouw Hun Ti si jahanam itu tidak berada di sini,
sudahlah!” Ia lalu menggerakkan kakinya hendak pergi dari situ, akan tetapi tiba-tiba Ban Sai
Cinjin bergerak maju menghadang di tengah jalan.
“Ha-ha-hi-hi, enak saja kau mau pergi dari sini! Kau datang ke kelentengku tanpa kupanggil,
dan kau datang dengan maksud jahat, apakah aku harus membiarkan kau berlaku sesuka
hatimu? Hendak kulihat sampai di mana kelihaianmu maka kau berani membuka mulut besar
hendak membunuh muridku. Siapakah adanya kau yang sombong ini?”
“Suhu, dia adalah puteri dari Pendekar Bodoh dan tadi dia pun hampir saja membunuh
teecu!” tiba-tiba Hok Ti Hwesio berkata sambil menudingkan jarinya ke arah Lili dengan
pandangan marah. Hwesio muda ini ingin sekali suhunya membalaskan hinaan yang ia alami
tadi.
Merah muka Ban Sai Cinjin mendengar ini. Kalau gadis ini sudah dapat mengalahkan Hok Ti
Hwesio, itu tandanya bahwa kepandaian gadis ini tak boleh dibuat gegabah. Ia menengok
kepada Kam Seng dan Wi Kong Siansu dengan heran.
“Ada Suheng dan Kam Seng di sini, bagaimana dia bisa mengganggu Hok Ti?”
Kam Seng buru-buru berkata, “Teecu juga sudah kena dikalahkan oleh Nona ini.”
“Hem, hem, lihai juga,” Ban Sai Cinjin mengangguk-angguk. “Baiknya Suheng belum turun
tangan, biarlah aku yang meringkus bocah ini!” Sambil berkata demikian, dengan gerakan
yang tak terduga-duga, Ban Sai Cinjin mengulurkan tangan kirinya hendak menangkap
pundak Lili.
Gadis itu cepat mengelak dan menggunakan kipasnya yang masih terpegang untuk mengebut
dan menotok pergelangan tangan yang diulur itu. Ban Sai Cinjin hanya tersenyum-senyum
saja dan sama sekali tidak mau mengelak. Kakek ini telah memiliki kekebalan yang melebihi
Hok Ti Hwesio dan ia tidak takut akan segala totokan biasa saja.
“Awas, Sute!” seru Wi Kong Siansu yang maklum bahwa sutenya memandang rendah
kepada gadis muda itu. Akan tetapi sudah terlambat, karena ujung gagang kipas di tangan Lili
dengan tepat telah menotok jalan darah pergelangan tangan Ban Sai Cinjin. Kakek ini
mengerahkan kekebalannya, akan tetapi ia segera menjerit karena kaget dan kesakitan dan
alangkah terkejutnya ketika ia merasa betapa lengan kirinya menjadi lumpuh! Bukan main
hebatnya totokan yang dilancarkan oleh kipas Lili ini, sehingga ia dapat mematahkan
kekebalan Ban Sai Cinjin dan masih dapat menembusi kulit tebal itu untuk mencari
sasarannya.
Sambil berseru keras, Ban Sai Cinjin melompat ke belakang dan cepat ia menggunakan
tangan kanannya untuk mengetok dan mengurut lengan kirinya dan dengan cepat ia dapat
membebaskan lengan kirinya dari pengaruh totokan yang lihai itu!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
178
Lili juga terkejut dan kagum sekali. Totokannya tadi berbahaya dan dapat menewaskan
seorang lawan, akan tetapi kakek itu tidak dapat roboh dan bahkan dapat memulihkan kembali
jalan darahnya dengan cepat.
“Kurang ajar!” teriak Ban Sai Cinjin dengan marah sekali sehingga mukanya jadi pucat yang
merah itu berubah menjadi pucat sekali. “Kau ganas dan liar, harus mampus di tanganku!”
Cepat seperti harimau menerkam ia lalu menubruk maju dan menggerakkan huncwenya
mengetok kepala Lili dengan gerakan yang cepat sekali. Lili tidak mau berlaku lambat dan
tiba-tiba nampak sinar terang berkelebat menyilaukan mata ketika gadis ini mencabut
pedangnya, yaitu Liong-coan-kiam pemberian ayahnya! Terdengar bunyi keras, “trang...!!”
ketika huncwe itu beradu dengan pedang dan bunga api berpijar indah.
Ilmu silat Ban Sai Cinjin benar-benar hebat, ganas dan kuat sekali. Huncwe di tangannya
menyambar-nyambar, diliputi uap hitam yang menyeramkan dan berbau tidak enak sekali.
Akan tetapi, pedang Liong-coan-kiam di tangan Lili, bergerak dengan indahnya pula. Sedikit
pun huncwe lawannya tak dapat mendekati tubuhnya, karena ke mana saja huncwe itu
berkelebat, selalu terhalang oleh sinar pedang yang agaknya secara otomatis mengikuti
gerakan lawannya. Tubuh gadis itu ketika bersilat pedang bergerak dengan lincah dan indah
bagaikan orang sedang menari, begitu lemah gemulai, namun demikian kuatnya. Benar-benar
mengagumkan dan kini Wi Kong Siansu sendiri memandang dengan mata terbelalak, bukan
saja saking kagumnya, akan tetapi juga karena heran dan bingung. Belum pernah ia
menyaksikan ilmu pedang sehebat dan seaneh ini! Inilah limu pedang Liong-cu Kiam-sut,
ciptaan Pendekar Bodoh. Ilmu pedang Liong-cu Kiam-sut ini berdasarkan Ilmu Pedang Daun
Bambu, ilmu pedang sederhana yang aneh dan lihai sekali yang diciptakan oleh Sie Cin Hai
Si Pendekar Bodoh (baca cerita Pendekar Bodoh).
Oleh karena ilmu pedang ini ciptaan ayah Lili sendiri dan tak pernah diturunkan kepada
orang lain, tentu saja ilmu pedang ini jarang sekali terlihat di dunia persilatan, berbeda dengan
ilmu-ilmu pedang cabang persilatan besar seperti Go-bi Kiam-hwat, Kun-lun Kiam-hwat, dan
lain-lain yang banyak dimainkan oleh para muridnya.
Kalau dilihat Lili sedang mainkan pedang ini, agaknya ia lebih mahir daripada ayahnya
sendiri, yaitu dalam hal kelincahan dan keindahan gerakan. Akan tetapi, sesungguhnya tentu
saja ia tidak dapat menandingi ayahnya, terutama sekali dalam kematangan gerakan dan
pengalaman pertempuran. Kini menghadapi seorang lawan berat seperti Ban Sai Cinjin,
biarpun ilmu pedangnya berhasil membingungkan lawan dan membuat huncwe maut di
tangan Ban Sai Cinjin tak banyak berhasil, namun pertempuran ini membuat gadis itu menjadi
letih sekali. Tiap kali senjatanya beradu dengan senjata lawan, ia merasa urat-uratnya tergetar
dan pertempuran kali ini telah memaksa ia mengerahkan seluruh kepandaian dan tenaga. Ia
memang tak usah khawatir akan terkena senjata lawan, akan tetapi sebaliknya, sukarlah pula
baginya untuk dapat merobohkan lawan tangguh ini. Huncwe itu benar-benar lihai sekali dan
memiliki gerakan yang serba aneh dan tak terduga.
Ban Sai Cinjin menjadi gemas dan marah luar biasa. Perasaan ini timbul dari rasa malu dan
penasaran. Benar-benarkah dia, Ban Sai Cinjin, Si Huncwe Maut juga Si Golok Malaikat,
orang yang sudah puluhan tahun malang-melintang di kalangan kang-ouw dan jarang sekali
menemui tandingan, kini tidak berdaya merobohkan seorang bocah yang belum ada dua puluh
tahun usianya? Dan seorang bocah perempuan pula, yang berkulit halus, bermata bintang,
berbibir merah semringah, dan nampak lemah? Jarang ada seorang lawan, seorang kang-ouw
yang bagaimana tangguh pun, dapat melawan huncwenya lebih dari dua puluh jurus. Akan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
179
tetapi gadis manis ini telah melawannya sampai lima puluh jurus dan sedikit pun ia belum
dapat menjatuhkannya!
“Bangsat perempuan, kau harus mampus!” tiba-tiba Ban Sai Cinjin berseru marah dan kini
tangan kirinya yang tadi tidak ikut menyerang, lalu dikepal-kepal dan kepalan tangan itu tak
lama kemudian berubah menjadi kemerah-merahan!
Thio Kam Seng atau lebih benar Song Kam Seng, terkejut sekali melihat kepalan susioknya
ini. Celaka, pikirnya, kini Lili berada di pinggir jurang maut! Ia maklum bahwa kalau kepalan
tangan kiri Ban Sai Cinjin sudah menjadi kemerah-merahan, itu tandanya bahwa kakek ini
telah mengerahkan tenaga Ang-tok-jiu (Tangan Merah Beracun)! Jangankan sampai terkena
pukul, baru tersambar oleh angin pukulan tangan Ang-tok-jiu ini saja, lawan dapat roboh
menderita luka hebat yang dapat membawanya ke lubang kubur!
Harus diakui bahwa Lili adalah seorang gadis yang boleh dikata masih hijau pengalamannya
dalam hal pertempuran dan jarang sekali ia bertempur menghadapi tokoh-tokoh kang-ouw
seperti Ban Sai Cinjin. Akan tetapi, ia adalah puteri dari sepasang suami isteri pendekar besar.
Ayahnya, Sie Cin Hai atau Pendekar Bodoh, adalah seorang ahli silat yang jarang
tandingannya, sedangkan ibunya, Kwee Lin atau Lin Lin, juga memiliki kepandaian yang
amat tinggi. Lebih-lebih lagi karena baik ayah maupun ibunya telah mempunyai banyak sekali
pengalaman pertempuran dan terutama sekali ayahnya telah seringkali menghadapi akal-akal
dan ilmu-jimu jahat dan kejam yang dimiliki golongan hek-to (jalan hitam, penjahat). Maka
seringkali gadis ini didongengi oleh ayah bundanya, juga tentang Ang-se-jiu (Tangan Pasir
Merah) dan Ang-tok-jiu ia pernah mendengar dari ayahnya.
Ia tidak mengira bahwa kakek ini memiliki ilmu yang jahat ini, maka setelah melihat kepalan
tangan kiri Ban Sai Cinjin berubah merah, cepat ia menyelipkan kipasnya di saku baiunya dan
ia pun lalu menggerak-gerakkan tangan kirinya lalu mengerahkan tenaga khi-kangnya,
bergerak-gerak ke kanan kiri sehingga tak lama kemudian dari seluruh lengan kirinya
mengebullah uap putih. Inilah Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut, ilmu turunan dari sucouwnya (kakek
guru) yang bernama Bu Pun Su!
Pada saat huncwe Ban Sai Cinjin melayang ke arah pelipisnya, ia menangkis dengan
pedangnya dan secepat kilat Ban Sai Cinjin menonjok ke arah dadanya dengan langan kiri
yang mengandung tenaga Racun Merah itu! Angin pukulan itu telah lebih dulu menyambar
dan dengan tenang akan tetapi waspada dan cepat sekali Lili lalu menangkis pula dengan
tangan kiri.
Hebat sekali tenaga pukulan Angtok-jiu dan tenaga tangkisan Pek-in-hoatsut ini. Orang tak
melihat dua lengan tangan itu beradu, akan tetapi tubuh kedua orana itu terpental mundur
sampai dua tindak ke belakang! Ban Sai Cinjin menjadi pucat saking kagetnya melihat betapa
gadis muda itu dapat menangkis pukulan mautnya sedemikian lihainya. Adapun Lili juga
terkejut sekali dan buru-buru ia mengerahkan tenaga dalam dan mengatur napasnya ketika
merasa betapa seluruh urat pada tangan kirinya terasa kesemutan! Ini adalah tanda bahwa
betapa pun hebatnya ilmu silat Pekin-hoat-sut, namun dalam hal tenaga dalam, ia masih kalah
terhadap kakek ini.
Pengalaman ini membuat ia berlaku hati-hati sekali. Berkali-kali Ban Sai Cinjin melancarkan
serangan, pukulan Ang-tok-jiu, karena kakek ini pun maklum bahwa ia masih menang tenaga
dan kalau ia menyerang bertubi-tubi, ada harapan ia akan melukai gadis itu. Akan tetapi kini
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
180
Lili menangkis dengan cerdik sekali. Ia menggunakan tangkisan dari ilmu pukulan Pek-inhoat-sut dari samping, dengan cara menyampok tenaga serangan lawan dari samping, tidak
mengadu tenaga seperti tadi. Oleh karena ini, selalu apabila pukulan Ang-tok-jiu datang, ia
tidak perlu mengadu tenaganya, dan hanya menyampok dari samping sambil mengelak saja.
Dengan demikian tenaga pukulan lawan yang hebat itu tidak langsung datangnya dan tidak
demikian telak menghantamnya.
Wi Kong Siansu makin kagum saja, demikian pula Ban Sai Cinjin diam-diam kagum sekali
kepada puteri Pendekar Bodoh ini. Tadinya ia tidak ingin mempergunakan kelicikan dalam
pertempuran ini, karena ia segan untuk merobohkan lawannya yang masih muda dan wanita
pula ini dengan ilmu hitam. Namun, karena tahu bahwa ia tidak mudah dapat merobohkannya,
dan hal ini akan lebih memalukannya lagi, tiba-tiba ia lalu menyedot huncwenya dan sekali ia
berseru keras, dari mulutnya menyembur keluar asap hitam yang amat berbahaya menuju ke
muka Lili!
Gadis itu terkejut sekali. Sungguhpun asap itu masih jauh dari mukanya, namun ia telah
mencium baunya yang amat memuakkannya dan ia cepat melempar tubuhnya ke belakang,
melakukan gerakan Burung Walet Pulang ke Sarang membuat gerakan poksai (salto) sampai
tiga kali dan turun beberapa tombak jauhnya dari lawannya.
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. Ia maklum bahwa lawannya takut kepadanya, maka ia
berseru, “Nona manis, kau hendak lari ke mana?” Lalu ia menyedot huncwenya pula dan
kesempatan itu ia pergunakan untuk membuka kantong tembakau yang tergantung pada
huncwenya dan mengisi mulut huncwe itu dengan tembakau baru. Ia mengambil keputusan
untuk merobohkan lawannya dengan asap mautnya!
Lili maklum bahwa sungguhpun hawa Pek-in-hoat-sut dari tangan kirinya akan dapat
menolak asap hitam itu buyar terkena hawa Pek-in-hoat-sut, asap yang ringan itu masih akan
dapat menyerangnya. Asap macam ini tidak menyerangnya mengandalkan tenaga tiupan,
melainkan mengandalkan kejahatan racun yang dikandungnya. Maka ia lalu melepaskan
tenaga Pek-in-hoat-sut dari lengan kirinya dan sebagai gantinya ia lalu mengeluarkan
kipasnya. Sekali ia menggerakkan jari tangan kirinya, kipasnya ini telah terkembang dan
dipegangnya seperti hendak mengipas tubuhnya.
Ban Sai Cinjin belum tahu gadis ini telah mewarisi Ilmu Silat San-sui-san-hwat (Ilmu Kipas
Bukit dan Air) yang lihai dari Swie Kiat Siansu, maka tanpa memperhatikan kipas ini, ia lalu
menyerbu lagi dengan sekaligus mengeluarkan tiga serangannya. Tangan kirinya memukul
dengan Ang-tok-jiu, tangan kanan menggerakkan huncwe menotok leher, dan dari mulutnya
menyemburkan asap yang hitam dan tebal ke arah muka lawannya!
Lili merasa girang melihat lawannya tidak memperhatikan kipasnya dan gadis yang cerdik ini
mengambil keputusan untuk merobohkan lawannya yang amat lihai ini. Ia menanti datangnya
serangan dengan amat tenang dan sengaja berlaku agak lambat untuk menarik perhatian
lawan. Untuk menghindarkan diri dari tiga serangan itu, ia mempergunakan gin-kangnya
(ilmu meringankan tubuh) yang luar biasa, berkelit ke kanan sambil merendahkan tubuh,
karena maklum bahwa asap hitam itu tidak akan turun ke bawah. Ia sengaja menanti untuk
memancing lawannya. Benar saja, Ban Sai Cinjin melihat keadaan gadis yang agaknya lambat
gerakannya ini, menjadi girang dan mengira bahwa gadis itu telah terkena racun asap
hitamnya, maka ia melanjutkan serangan dengan mencengkeram ke bawah dan mengayun
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
181
huncwenya. Akan tetapi pada saat itu juga, tiba-tiba kipas di tangan kiri Lili dikebutkan ke
arah uap hitam yang tebal tadi sehingga uap itu melayang ke arah muka Ban Sai Cinjin!
Tentu saja sebelumnya, Ban Sai Cinjin telah mempergunakan obat penawar untuk menolak
pengaruh asap hitam dari huncwenya sendiri sehingga serangan asap yang membalik ke
mukanya ini tidak membahayakannya sama sekali. Akan tetapi bukan itulah kehendak Lili.
Kebutan kipasnya ini bermaksud membuat asap hitam itu menutupi pandang mata lawannya
dan maksudnya ini memang berhasil baik. Betapapun juga, Ban Sai Cinjin tidak berani
menghadapi racun asap tembakaunya sendiri dengan mata terbuka.
Untuk sesaat sambil meniup ke arah asap itu ia meramkan matanya dan dengan tak terdugaduga sekali, tiba-tiba ia merasa pangkal lengan kirinya sakit sekali! Ternyata bahwa tadi
ketika ia sedang menghadapi asap yang membalik itu, secepat kilat Lili mengelak dari
serangan kedua tangannya, bergerak sambil menggeser kaki ke kanan dan dari samping ia
mengirim totokan dengan kipasnya yang dapat tepat sekali mengenai pangkal lengan kiri
lawannya!
Tubuh Ban Sai Cinjin terhuyung ke belakang dan tiba-tiba ia merasa datangnya angin dingin
ke arah leher dan lambungnya! Ia maklum akan bahaya maut itu. Ternyata bahwa
lambungnya telah diserang oleh pedang Liong-coan-kiam dengan gerakan Lutung Sakti
Memetik Buah sedangkan lehernya telah diserang oleh sepasang gagang kipas dengan
gerakan Gunung Thai-san Menimpa Kepala!
Ban Sai Cinjin mengeluarkan keringat dingin dan cepat ia menjatuhkan diri ke belakang,
akan tetapi gerakan kipas ke arah lehernya itu luar biasa cepatnya “Krek!” terdengar suara dan
pundaknya masih terkena gagang kipas itu.
Ban Sai Cinjin menjerit dan maklum bahwa tulang pundaknya telah terlepas sambungannya!
Lili tidak niau memberi hati dan terus mendesak dengan serangan yang lebih hebat lagi.
Agaknya nyawa Ban Sai Cinjin terpaksa akan meninggalkan raganya tak lama lagi.
Akan tetapi, tentu saja Wi Kong Siansu tidak mau tinggal diam melihat sutenya terancam
bahaya maut. Cepat bagaikan seekor burung gagak menyambar bangkai, ia melompat ke
belakang gadis itu dan mengirim serangan dengan kebutan ujung lengan bajunya!
Lili sedang mengerahkan tenaga dan perhatiannya untuk menewaskan kakek mewah yang
dibencinya itu. Sungguhpun ia mendengar angin pukulan Wi Kong Siansu dari belakang dan
mencoba untuk mengelak, ia tetap terlambat. Gerakan Wi Kong Siansu luar biasa cepatnya
dan tahu-tahu jalan darah kim-to-hiat di punggungnya telah kena tertotok oleh ujung lengan
baju tosu itu. Lili mengeluh perlahan, kipas dan pedangnya terlepas dari pegangan dan
tubuhnya dengan lemas tak berdaya terkulai ke atas lantai!
Ban Sai Cinjin dengan meringis-ringis telah dapat bangun kembali dan melihat keadaan Lili
yang sudah roboh oleh suhengnya, ia masih dapat tertawa terbahak-bahak. “Bagus, Suheng,
bagus! Kau telah dapat merobohkan kuda betina liar ini!” Matanya berkilat penuh dendam
terhadap Lili dan ia bergerak perlahan maju menghampiri gadis muda itu. Lili masih dapat
memandang lawannya ini dan pikirannya masih berjalan terang, akan tetapi seluruh tubuhnya
sudah lemas tak dapat digerakkan lagi. Gadis ini maklum akan bahaya yang akan menimpa
dirinya dan sinar ketakutan terbayang pada matanya. Gadis ini tidak takut akan mati, akan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
182
tetapi ia maklum bahwa terjatuh ke dalam tangan manusia iblis seperti Ban Sai Cinjin ini,
nasibnya akan jauh lebih mengerikan daripada kematian!
Akan tetapi, pada saat itu tiba-tiba bayangan tubuh Kam Seng berkelebat dan pemuda ini
tahu-tahu telah mendahului Ban Sai Cinjin menyambar tubuh Lili yang terus dipeluk dan
dipondongnya!
“Kam Seng! Kau lepaskan dia!” Ban Sai Cinjin berseru keras dengan mata melotot. Kam
Seng memandang kepada susioknya. Hatinya bimbang ragu. Di lubuk hatinya ada perasaan
cinta besar terhadap gadis ini, sungguhpun perasaan itu tertutup kabut kebenciannya karena
kenyataan bahwa gadis ini adalah puteri Pendekar Bodoh, musuh besarnya! Kalau gadis jelita
ini harus mati, maka dialah yang berhak membunuhnya, bukan orang lain. Apalagi ia merasa
ngeri dan jijik memikirkan akan gadis jelita ini di tangan susioknya. Maka ia lalu memandang
kepada suhunya dan berkata,
“Suhu, maukah Suhu memberikan puteri musuhku ini kepada teecu?”
Wi Kong Siansu adalah seorang kakek yang tajam pandangan matanya. Karena
pengalamannya, ia dapat merasa bahwa muridnya yang tersayang tentu jatuh hati dan tertarik
oleh kecantikan gadis ini. Ia pun dapat melihat sinar mata dahsyat dari mata sutenya, maka ia
lalu berkata kepada sutenya,
“Sute, berikan gadis ini kepada Kam Seng. Kau tentu masih ingat bahwa ayah gadis ini
adalah musuh besar dari Kam Seng dan biarkanlah ia melepaskan sakit hati dan dendamnya
kepada puteri musuh besarnya!”
Ban Sai Cinjin memandang marah, akan tetapi ia lalu tertawa.
“Baik, baik, Suheng. Kau yang meronohkannya, maka kau pula yang berhak menentukan
nasibnya. Akan tetapi awaslah kalau gadis ini sampai terlepas, Kam Seng. Dia lihai sekali dan
kau takkan dapat menguasainya!”
Wi Kong Siansu juga tertawa. “Sute, kau sudah tua. Kam Seng lebih muda, maka kau tentu
tahu akan kehendak hatinya melihat gadis cantik ini. Biarlah, dia melampiaskan dendamnya
dan biar dia pula yang menghabiskan nyawa musuhnya ini. Hati-hati, Kam Seng, jangan
sampai dia terlepas!”
Juga Hok Ti Hwesio berkata Kam Seng sambil menyeringai,
“Sute, kalau kau sudah selesai dengan dia berikanlah kepadaku. Aku perlu jantungnya untuk
obat!” Kemudian hwesio ini berjalan masuk ke kelenteng. Sambil tertawa-tawa Ban Sai
Cinjin juga berjalan masuk untuk mengobati lukanya.
Ong Tek, putera pangeran yang semenjak tadi menyaksikan segala peristiwa ini dengan dada
berdebar dan muka pucat, lalu pergi pula ke dalam kamarnya sambil menarik tangan Tankauwsu. Kini Wi Kong Siansu tinggal berdua dengan Kam Seng yang masih memondong
tubuh Lili yang lemas.
“Muridku, kau tentu mencinta gadis ini, bukan?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
183
Bukan main terkejutnya hati pemuda itu mendengar ucapan suhunya. Untuk beberapa lama ia
tidak mau dan tak dapat menjawab, akan tetapi akhirnya ia menjawab juga dengan perlahan,
“Suhu lebih waspada dan awas. Sesungguhnya, sakit hati teecu terhadap ayah gadis ini amat
besar, oleh karena itu, teecu hendak menjadikannya sebagai isteri di luar kehendaknya
ataupun kehendak orang tuanya. Hal ini akan dapat teecu pergunakan untuk membalas
penghinaan dan sakit hati, kalau tak terkabul cita-cita teecu menewaskan Pendekar Bodoh.”
Wi Kong Siansu menggeleng-geleng kepalanya. “Salah... salah..., muridku. Aku mengerti
akan maksudmu, akan tetapi apakah kaukira akan mudah saja menjadikan gadis ini sebagai
sekutu kita? Biarpun kau dapat memaksanya menjadi isterimu, akan tetapi apa kaukira dia
akan tunduk begitu saja? Kau jangan memandang rendah gadis ini. Dia benar-benar lihai
sekali. Lebih baik kau tamatkan saja riwayatnya agar kelak kita tidak mengalami gangguan
dari padanya.” Tosu ini membicarakan tentang mati hidup seorang gadis bagaikan bicara
tentang seekor domba saja! Memang, bagi Wi Kong Siansu, urusan-urusan dunia sudah tidak
masuk hitungan pula dan mati hidup baginya hanya urusan kecil.
“Akan teecu pikir-pikir dulu, Suhu,” kata Kam Seng dan ia lalu membawa Lili ke dalam
kamarnya. Di ruang dalam, ia bertemu dengan Ong Tek yang menghadangnya dan pemuda
tanggung ini berkata,
“Suheng... hendak kau apakan gadis ini?”
Wajah Kam Seng berubah merah. “Kau tak usah tahu, Sute. Kau masih kecil dan belum tahu
urusan. Gadis ini adalah musuh besarku, ayahnya dulu telah membunuh ayahku.”
“Ah...!” hanya demikian seruan Ong Tek yang segera berlari kembali ke dalam kamarnya.
Akan tetapi sebelum memasuki kamarnya ia merasa pundaknya dipegang orang. Ketika ia
menengokg ternyata Hok Ti Hwesio yang memegangnya.
“Ong-sute, jangan kau turut campur dengan urusan itu. Seng-sute sedang berpesta-pora,
mendapat keuntungan besar, mendapat hadiah seorang bidadari jelita. Kau tentu tidak tahu...!
Ha-ha-ha!”
“Tidak... tidak!” Ong Tek menjadi pucat dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Suheng,
besok pagi juga aku akan pergi dari sini. Aku mau pulang saja ke kota raja! Tak tertahan
olehku semua kejadian yang mengerikan ini. Tak kusangka sama sekali bahwa kalian
demikian... demikian...”
“Apa maksudmu, Sute?” Hok Ti Hwesio memandang tajam.
“Mengapa kalian begitu kejam terhadap seorang gadis seperti dia?” Sambil berkata demikian,
Ong Tek lalu melompat ke dalam kamarnya dan menutupkan pintunya keras-keras, terdengar
ia menangis dan berkata-kata dengan Tan-kauwsu utusan dari kota raja itu.
Hok Ti Hwesio termenung sambil mengerutkan jidat. Kemudian ia lalu mencari suhu dan
supeknya untuk menceritakan sikap dari putera pangeran ini.
Sementara itu, dengan dada berdebar keras, Kam Seng memondong tubuh Lili ke dalam
kamarnya, menutup daun pintu dan melemparkan tubuh Lili ke atas pembaringannya. Gadis
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
184
itu terbanting ke atas pembaringan dengan tubuh lemas dan rebah telentang tak berdaya.
Hanya sepasang matanya saja yang masih bertenaga dan kini ditujukan kepada Kam Seng
dengan tajam berapi-api! Ia telah mendengar semua percakapan tadi dan tahu akan maksud
pemuda ini. Yang membuatnya terheran-heran adalah ketika mendengar bahwa Kam Seng
adalah musuh besar Pendekar Bodoh, bahwa ayahnya telah membunuh ayah pemuda ini!
Sungguh-sungguh mengherankan, akan tetapi keheranannya ini tersapu habis oleh
kebenciannya terhadap pemuda ini. Ia maklum bahwa ia tidak berdaya sama sekali. Telah
dicobanya untuk membebaskan diri daripada totokan Wi Kong Siansu, akan tetapi sia-sia saja.
Ia maklum dengan hati penuh kengerian bahwa ia telah berada di dalam tangan Kam Seng dan
takkan dapat melawan sedikitpun juga. Akan tetapi masih ada semangat di dalam hatinya
yang tidak karuan rasanya itu, yaitu semangat membalas dendam. Biarlah, pikirnya, dan
tunggulah saja! Kalau aku sampai terlepas daripada totokan ini, akan kuhancurkan kepalamu
sampai menjadi bubur!
Sementara itu, Kam Seng duduk menghadapi Lili dengan wajah sebentar merah sebentar
pucat. Ia menatap wajah dan tubuh Lili tanpa berkedip. Seribu satu macam pikiran teraduk di
dalam hatinya. Pikirannya menjadi pening. Berkali-kali ia telah mengulurkan tangan hendak
meraba muka gadis, itu, akan tetapi selalu ditariknya kembali. Pandang mata Lili yang
bagaikan dua sinar api itu terasa menusuk matanya. Hatinya penuh gairah kalau ia melihat
wajah yang manis hidung yang kecil bangir, apalagi bibir yang luar biasa indah dan manisnya
itu. Akan tetapi sepasang mata Lili merupakan dua pedang mustika yang membuat ia
senantiasa tak enak pikiran.
“Dia musuh besarku!” demikian bisik hatinya. “Aku boleh membunuhnya, menghinanya!
Ayahku dulu terbunuh oleh ayahnya!”
“Akan tetapi ia dan Sin-kai Lo Sian pernah menolongku!” bisik lain suara hatinya. “Dan
aku... aku cinta kepadanya. Alangkah baiknya kalau ia bisa menjadi isteriku untuk
selamanya!”
“Sekarang pun kau bisa mengambilnya menjadi isterimu!” bisik suara pertama.
“Siapa tahu kalau ia akan dapat tunduk terhadapmu dan membalas cintamu. Setidaknya
malam ini kau akan menjadi suaminya!”
Terdorong oleh bisikan ini, Kam Seng mengulurkan tangan kanan untuk beberapa lama jarijari tangannya membelai rambut Lili yang halus. Belaian ini penuh dengan kasih sayang, akan
tetapi tiba-tiba ia menarik kembali tangannya ketika pandang matanya bertemu dengan sinar
mata Lili.
Demikianlah, sampai lewat tengah malam Kam Seng berada dalam keadaan ragu-ragu. Nafsu
dendamnya mendorongnya untuk membunuh Lili, untuk menghinanya, untuk melampiaskan
sakit hatinya terhadap ayah gadis itu. Akan tetapi lain kekuasaan menahan kehendaknya ini,
kekuasaan cinta. Kekuasaan ini membuat ia tidak tega untuk menyakiti Lili baik menyakiti
hati maupun raganya.
Akhirnya ia tidak kuat pula menghadapi pandangan mata Lili. Ia mencabut pedangnya dan ia
hendak membebaskan gadis ini dari siksaan lebih lanjut. Hendak dibunuhnya gadis ini dan
habis perkara!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
185
“Lili,” katanya sambil berdiri dengan pedang di tangan. “Aku akan membunuhmu, dan
sebelum itu hendaknya kau ketahui bahwa kau adalah puteri musuh besarku! Ayahku
bernama Song Kun dan menjadi kakak seperguruan ayahmu, akan tetapi ayahmu telah
membunuhnya! Ayahmu telah membunuh ayahku dan karena itulah aku hidup sengsara.
Karena itulah ibuku terlunta-lunta dan aku menjadi yatim piatu, menjadi pengemis untuk
bertahun-tahun lamanya! Karena itu kau harus mati! Kau harus berterima kasih kepadaku
karena kau terhindar dari penghinaan, terhindar dari penghinaan Susiok, dan... dan... aku pun
tidak sampai hati menghinamu! Aku... aku kasihan kepadamu!”
Ia berhenti sebentar dan dilihatnya air mata mengalir turun dari sepasang mata indah dan
jelita itu.
“Lili, bersedialah untuk mati,” katanya sambil mengangkat pedangnya.
Dari kedua mata gadis itu tidak nampak rasa takut sedikit pun, bahkan sinar berapi-api tadi
telah padam, bibirnya agak tersenyum. Lili memang merasa lega bahwa ia tidak akan menjadi
kurban penghinaan dan ia menghadapi kematian dengan amat tabahnya. Kam Seng mengayun
pedangnya ke atas dan... tiba-tiba ia menurunkan pedangnya kembali, bahkan pedang itu
terlepas ke atas lantai! Ia lalu meramkan mata dan menubruk Lili, lalu... mencium jidat gadis
itu satu kali. Dilemparkannya tubuhnya ke belakang, terduduk di atas bangku yang tadi
didudukinya.
Ia menggunakan kedua tangan menutupi mukanya. Terdengar elahan napas berkali-kali. “Ah,
Lili... aku... aku tidak tega membunuhmu... aku... aku cinta kepadamu!”
Sinar mata Lili mulai berapi-api lagi. Untuk ciuman pada jidatnya itu saja ia dapat
membunuh Kam Seng kalau dapat. Keadaan menjadi sunyi kembali. Kam Seng duduk seperti
tadi, menghadapi Lili, tak tahu harus berbuat apa! Betapa pun bencinya kepada Pendekar
Bodoh, hatinya tidak tega untuk mengganggu atau membunuh gadis ini.
“Lili... Lili... aku tidak sanggup membunuhmu... tanganku gemetar... bagaimana aku sanggup
membunuh gadis yang kucinta dengan seluruh jiwaku? Tidak, Lili, tidak! Aku takkan
membunuhmu, akan tetapi... aku pasti hendak mencari ayahmu, aku harus membalas sakit
hatiku terhadap Pendekar Bodoh...!” demikian keluh kesah yang keluar dari mulut Kam Seng
sambil menggunakan kedua tangannya untuk menutupi mukanya.
Pada saat itu, terdengar suara senjata-senjata beradu di ruang depan dibarengi teriakan Hok
Ti Hwesio, “Supek... tolong...! Supek, lekas bantu...! Lekas bantu merobohkan gadis setan
ini...!”
Mendengar seruan ini, Kam Seng melompat bangun. Kalau Hok Ti Hwesio sampai minta
tolong kepada suhunya, yaitu Wi Kong Siansu, dan tidak minta tolong kepada suhunya
sendiri, berarti bahwa tentu terjadi malapetaka hebat dan datang musuh yang tangguh. Ia
hendak melompat keluar dari kamarnya, akan tetapi ia teringat kepada Lili dan merasa
khawatir bahwa kalau ia meninggalkan gadis itu seorang diri, jangan-jangan gadis yang
dikasihinya itu akan diganggu oleh Hok Ti Hwesio atau Ban Sai Cinjin. Ia merasa ragu-ragu
sebentar, lalu menghampiri Lili dan berkata,
“Lili, aku hendak membebaskanmu. Ketahuilah, bahwa perbuatanku ini hanya terdorong oleh
rasa cinta kasih terhadapmu, dan ketahuilah pula bahwa pada suatu hari aku pasti akan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
186
membalas dendamku pada ayahmu yang sudah membunuh ayahku!” Setelah berkata
demikian, Kam Seng lalu menggerakkan jari tangan kanannya dan menotok pundak Lili. Ia
telah belajar ilmu silat dari Wi Kong Siansu, maka ia tahu pula bagaimana harus membuka
totokan dari suhunya itu. Setelah menotok pundak gadis itu, ia lalu melompat keluar sambil
membawa pedangnya, langsung menuju ke ruang depan dari mana terdengar suara senjata
beradu.
Biarpun pengaruh totokan yang menghentikan jalan darahnya telah lenyap dan jalan
darahnya telah terbuka kembali, namun Lili masih merasa lemas dan hanya dapat bergerak
perlahan. Ia segera mengumpulkan semangat dan mengatur pernapasannya untuk
melancarkan kembali jalan darahnya. Ia melihat betapa kipas dan pedangnya telah ditaruh di
atas meja dalam kamar itu oleh Kam Seng. Hatinya merasa tidak karuan dan ia telah
mengalami ketegangan hebat selama dibawa di dalam kamar Kam Seng. Kini ia merasa
terharu, marah, malu, dan juga diam-diam ia merasa berterima kasih kepada pemuda itu. Ada
sedikit rasa girang di dalam hatinya bahwa sungguhpun pemuda itu telah menggabungkan diri
dengan orang-orang jahat, namun pada dasarnya hati pemuda itu tidaklah kejam dan jahat.
Masih ada kegagahan dalam lubuk hati Kam Seng. Ia teringat akan supeknya Song Kun,
karena ia pernah ia diceritakan tentang halnya Song Kun ini oleh ibunya.
Setelah kesehatannya pulih kembali, Lili lalu mengambil senjata-senjatanya dan melompat
keluar di mana kini suara senjata masih beradu ramai sekali. Ketika ia tiba di ruang luar, di
bawah sinar lampu ia melihat seorang gadis cantik manis yang memiliki gerakan lincah
sekali, sedang bertempur dikeroyok tiga oleh Ban Sai Cinjin, Song Kam Seng, dan Hok Ti
Hwesio! Sungguh mengagumkan sekali betapa gadis cantik manis itu menghadapi lawannya
sambil tersenyum-senyum dan mainkan kedua tangannya yang tak memegang senjata. Ginkangnya sungguh hebat dan mengagumkan, bagaikan seekor kupu-kupu bermain di antara
tiga bunga itu menyambar-nyambar di antara tiga gulungan sinar senjata di tangan tiga
pengeroyoknya.
“Goat Lan...!” Lili berteriak girang ketika ia mengenal wajah manis yang tersenyum-senyum
itu.
“Hai, Lili, anak nakal! Kau di sini?” Gadis itu dalam menghadapi desakan lawan-lawannya
masih sempat berjenaka.
“Goat Lan, jangan khawatir. Mari kita basmi tiga anjing busuk ini!” Lili lalu mencabut keluar
kipas dan pedangnya, lalu menyerbu dan menyerang Ban Sai Cinjin. Ia merasa segan dan
sungkan untuk menyerang Kam Seng, maka ia sengaja memilih Ban Sai Cinjin dan
membiarkan Goat Lan menghadapi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio.
Ban Sai Cinjin sudah merasai kelihaian Lili, bahkan tadi sore pundaknya telah terluka hebat
oleh gadis ini. Dalam keadaan sehat ia masih belum dapat mengalahkan Lili, apalagi sekarang
pundaknya masih belum sembuh benar, tentu saja ia merasa amat gelisah. Kalau saja ia tidak
sedang terluka, tadipun Goat Lan tidak nanti dapat mempermainkannya begitu mudah. Dan ia
maklum bahwa belum tentu ia kalah oleh Lili kalau saja tadi sore ia tidak bertempur dengan
main-main dan memandang rendah. Terpaksa ia menggigit bibir, dan mengerahkan seluruh
kepandaiannya. Ban Sai Cinjin adalah seorang tokoh kang-ouw yang selain berkepandaian
amat tinggi, juga telah mengenal banyak sekali taktik perkelahian dan mempunyai banyak
tipu-tipu curang. Pengalamannya luas sekali dan tenaga lwee-kangnya sudah mendekati batas
kesempurnaan. Oleh karena itu biarpun ia sudah terluka masih amat sukarlah bagi Lili untuk
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
187
dapat merobohkan kakek mewah ini. Sebaliknya, jangan harap bagi Ban Sai Cinjin untuk
mengalahkan puteri Pendekar Bodoh yang memiliki ilmu kipas dan ilmu pedang yang luar
biasa sekali.
Berbeda dengan pertempuran antara Lili dan Ban Sai Cinjin yang berjalan seru dan seimbang
pertempuran antara gadis cantik manis dan kedua pengeroyoknya, Kam Seng dan Hok Ti
Hwesio, berjalan berat sebelah. Ketika tadi dikeroyok tiga, gadis itu masih dapat melayani
dengan senyum simpul, apalagi sekarang. Biarpun kepandaian Kam Seng dan Hok Ti Hwesio
sudah jauh lebih tinggi daripada kepandaian silat para ahli silat biasa, namun bagi gadis manis
itu mereka berdua ini masih merupakan ahli-ahli silat kelas rendah saja!
Bagaimanakah gadis itu yang ternyata adalah Kwee Goat Lan, dapat tiba-tiba muncul di situ?
Dan mengapa tahu-tahu sudah dikeroyok oleh Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio pada saat
Lili tertawan dalam kamar Kam Seng?
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan dalam percakapan antara Ong Tek putera
pangeran dan Hok Ti Hwesio, pemuda cilik dari kota raja itu merasa amat muak dan tidak
senang melihat peristiwa yang terjadi di dalam kuil di mana ia belajar silat kepada Ban Sai
Cinjin. Betapapun juga, Ong Tek adalah seorang pemuda bangsawan yang semenjak kecil
dididik dengan pelajaran-pelajaran kesopanan dan juga ia telah banyak membaca kitab-kitab
kuno di mana terdapat segala macam pelajaran tentang kebajikan. Ia menjadi terkejut dan juga
kecewa melihat dengan kedua mata sendiri betapa jahat adanya orang-orang yang selama ini
ia hormati dan junjung tinggi. Maka ia lalu masuk ke dalam kamarnya sambil menangis, lalu
ia memaksa kepada Tan-kauwsu, utusan dari ayahnya itu, untuk pada malam hari itu juga
meninggalkan kuil dan pulang ke kota raja.
Sikap pemuda bangsawan ini membuat Hok Ti Hwesio menjadi curiga dan cepat hwesio ini
menjumpai suhunya. Ketika Ban Sai Cinjin mendengar keadaan muridnya dari kota raja itu, ia
pun mengerutkan alisnya.
“Sungguh berbahaya,” katanya perlahan. “Kalau anak itu pulang dan menceritakan segala
peristiwa yang terjadi kepada ayahnya dan para pembesar, nama kita akan hancur dan
tercemar.”
“Mengapa pusing-pusing, Suhu? Kalau Sute tidak mau menurut kehendak kita dan bahkan
hendak merusak nama kita, lebih baik kita lenyapkan dia dan guru silat itu, habis perkara!”
Ban Sai Cinjin menjadi ragu-ragu. “Enak saja kau bicara! Apa kaukira Ong Tek itu orang
biasa saja yang boleh kita perbuat sesuka kita! Kalau ia sampai lenyap, apa kaukira Pangeran
Ong tidak akan mencari dan menimbulkan huru-hara yang akan menyulitkan kita?”
Hok Ti Hwesio tersenyum “Apa sih bahayanya seorang putera bangsawan macam Ong Tek?
Sedangkan menghadapi orang-orang besar seperti pendekar Pek-le-to Lie Kong Sian, Mo-kai
Nyo Tiang Le, Sin-kai Lo Sian, kita masih dapat membereskan mereka tanpa banyak ribut
dan tak seorang pun mengetahui, apalagi seorang manusia macam Ong Tek dan seorang guru
silat seperti orang she Tan itu? Suhu, mengapa kita tidak mau meminjam nama puteri
Pendekar Bodoh untuk melenyapkan mereka? Kita siarkan bahwa yang menewaskan Ong Tek
dan Tan-kauwsu adalah puteri Pendekar Bodoh, bukankah ini baik sekali?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
188
Ban Sai Cinjin berseri wajahnya. “Kau benar! Kau memang cerdik sekali, Hok Ti!” ia
memuji. “Kita lenyapkan kedua orang itu, kemudian kita bikin puteri Pendekar Bodoh seperti
Lo Sian. Ha-ha-ha-ha! Akan lenyap jejak mereka dan tak seorang pun mengetahuinya.”
Pada saat itu, terdengar tindakan kaki dua orang yang berlari keluar dari kelenteng itu.
“Nah, itu mereka agaknya hendak melarikan diri pada malam hari ini juga. Kita harus
bertindak cepat sebelum Supek mengetahui!” kata Hok Ti Hwesio yang merasa takut kepada
supeknya, Wi Kong Siansu yang pada saat itu sudah berada di dalam kamarnya.
Ban Sai Cinjin dan Hok Ti Hwesio lalu melompat keluar dan mereka melihat Ong Tek diikuti
oleh Tan-kauwsu yang menggendong buntalan pakaian putera pangeran itu.
“Ong Tek, kau hendak pergi ke manakah?” Ban Sai Cinjin membentak.
Melihat suhunya datang bersama Hok Ti Hwesio, Ong Tek menjadi terkejut dan sinar
ketakutan membayangi wajahnya yang tampan.
“Suhu... teecu hendak... hendak pulang ke kota raja bersama Tan-suhu. Teecu... merasa rindu
kepada ayah dan ibu...!”
“Hemm, kau hendak lari dari kami, ya? Bagus, murid macam apa kau ini? Tidak boleh, kau
tidak boleh pergi! Kau tentu hendak membuka mulut besar di kota raja tentang kami, ya?”
“Tidak... tidak, Suhu... tidak!” kata Ong Tek dengan muka pucat ketika melihat suhunya
melangkah maju dengan huncwe mengancam di tangan.
“Kau murid durhaka. Kau harus diberi hajaran!”
Tan-kauwsu melompat maju. “Jangan kau berani mengganggu Ong-kongcu, Ban Sai Cinjin!
Ingat, dia adalah putera Pangeran Ong!”
Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. “Haha-ha. Segala tikus busuk seperti kau berani pula ikut
campur bicara! Apa kaukira aku takut kepada segala macam pangeran? Biar kepada Kaisar
sendiri pun aku tidak takut!” Ia lalu melangkah maju dan mengayun huncwenya ke arah
kepala guru silat she Tan itu! Serangan ini hebat dan cepat sekali, akan tetapi Tan-kauwsu
sungguhpun tidak memiliki ilmu silat yang dibandingkan dengan kepandaian Ban Sai Cinjin,
namun ia telah banyak merantau dan telah memiliki pengalaman yang banyak dalam
pertempuran. Cepat ia mengelak ke belakang akan tetapi hawa pukulan huncwe itu masih
membuatnya terhuyung-huyung ke belakang.
Pada saat Ban Sai Cinjin hendak mengejar untuk mengirim pukulan maut, tiba-tiba dari atas
genteng menyambar turun sesosok bayangan manusia yang begitu cepat gerakannya sehingga
nampak bagaikan seekor burung garuda menyambar.
“Manusia setan!” seru bayangan itu dengan suaranya yang nyaring dan merdu. “Kau benarbenar kejam!” dan tiba-tiba huncwe di tangan Ban Sai Cinjin yang sudah dipukulkan ke arah
kepala Tan-kauwsu itu terpental mundur oleh tenaga pukulan dari atas!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
189
Ketika Ban Sai Cinjin yang merasa terkejut sekali itu memandang, ternyata di depannya telah
berdiri seorang gadis yang cantik manis dengan dua lesung pipit di sepasang pipinya. Gadis
ini cantik dan jenaka sekali, sepasang matanya bersinar-sinar bagaikan sepasang bintang pagi,
mulutnya tersenyum lebar sehingga giginya yang rata dan putih berkilau bagaikan mutiara itu
nampak berkilat. Ban Sai Cinjin tercengang karena sama sekali tak pernah disangkanya
bahwa seorang gadis muda dapat menahan huncwenya dengan tangan kosong saja! Ia maklum
bahwa ia sedang menghadapi seorang gadis muda yang menjadi murid orang sakti.
Gadis cantik itu tersenyum manis. “Kau tentu yang bernama Ban Sai Cinjin Si Huncwe Maut.
Hemm, pantas saja kau disebut Huncwe Maut, karena hampir saja kau membunuh orang
lagi.” Ia lalu menengok ke arah Ong Tek dan Tan-kauwsu, lalu berkata kepada Ong Tek,
“Aku sudah mendengar bahwa kau adalah seorang putera pangeran. Entah bagaimana kau
bisa tersesat dalam neraka dunia ini, akan tetapi itu bukan urusanku. Lebih baik kau lekas
melanjutkan niatmu pergi dari sini. Lebih cepat lebih baik. Jangan takut, boneka besar
pengusir burung di sawah ini serahkan saja kepadaku!”
Ong Tek memandang tajam, agaknya untuk mengukir wajah gadis penolongnya itu dalam
ingatannya, kemudian ia mengangguk memberi hormat dan segera pergi, diikuti oleh Tankauwsu.
“Ong Tek, jangan kau berani pergi dari sini!” seru Hok Ti Hwesio yang segera mencabut
pisaunya dan menyambitkan pisau terbangnya itu ke arah Ong Tek!
Pisau itu terbang lewat di dekat gadis itu yang dengan tenang mengulur tangan dan sekali
tangannya bergerak, pisau itu telah disampok ke bawah sehingga pisau itu kini meluncur ke
bawah dan menancap di atas lantai!
“Hemm, hwesio gundul, sudah banyak aku mendengar tentang hwesio-hwesio gundul yang
pada hakekatnya hanyalah penjahat-penjahat rendah dan yang mencemarkan nama para
pendeta Buddha! Agaknya kau yang paling rendah diantara mereka semua!”
Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin mendengar ucapan dan melihat sikap gadis itu. Tanpa
banyak cakap lagi ia lalu menyerang dengan huncwenya. Juga Hok Ti Hwesio lalu menubruk
kembali pisaunya, mencabutnya dari lantai dan maju menyerang. Ban Sai Cinjin yang
biasanya amat sayang kepada gadis cantik, biarpun harus diakui bahwa dara di hadapannya ini
memiliki kecantikan yang amat menggiurkan dan jarang terdapat, kini sama sekali tidak
terguncang hatinya, bahkan ingin sekali ia membunuh gadis ini. Demikianlah, Ban Sai Cinjin
dan muridnya lalu menyerang hebat kepada gadis manis itu yang melayani mereka dengan
tangan kosong.
Sungguh hebat ilmu gin-kang dari gadis itu. Dengan lincahnya ia dapat mengelakkan dari
sambaran huncwe dan pisau lawannya, bahkan ia masih sempat memaki-maki,
mentertawakan dan membalas serangan mereka dengan pukulan-pukulan yang tidak boleh
dipandang ringan. Ban Sai Cinjin terkejut sekali melihat sepak terjang gadis ini. Diam-diam ia
mengeluh dalam hatinya. Selamanya hidup, belum pernah ia mengalami malam sesial ini.
Berturut-turut telah datang dua orang gadis yang aneh dan lihai sekali! Kalau saja ia tidak
terluka pundaknya oleh pukulan kipas dari Lili sore tadi, tentu ia akan dapat menyerang lebih
baik terhadap gadis yang baru datang ini. Ia dapat melihat betapa gadis itu mempergunakan
Ilmu Silat Bi-ciong-kun (Kepalan Menyesatkan) yang menjadi pecahan Ilmu Silat Tangan
Kosong Kwan-im-siu-ban-po (Dewi Kwan Im Menyambut Selaksa Musuh)! Akan tetapi
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
190
pergerakan kedua tangan gadis ini aneh, agak berbeda dengan ilmu silat tersebut, dan yang
membuatnya diam-diam harus mengakui dan mengagumi adalah ilmu ginkang dari gadis ini.
Ilmu meringankan tubuhnya mengingatkan ia kepada empat besar di dunia dan terutama
sekali kepada Bu Pun Su! Akan tetapi, gadis yang kini tertawan dalam kamar Kam Seng dan
yang menjadi cucu murid Bu Pun Su sendiri, agaknya tidak sehebat ini ilmu gin-kangnya!
Melihat betapa ia dan gurunya sama sekali tak berdaya, bahkan telah dua kali ia menerima
pukulan tangan halus akan tetapi antep itu, Hok Ti Hwesio mulai berteriak-teriak memanggil
supeknya minta bantuan! Hanya berkat ilmu kebalnya yang hebat, ia terhindar dari
malapetaka ketika tangan gadis itu berhasil memukulnya sampai dua kali.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, teriakan-teriakan Hok Ti Hwesio terdengar
oleh Kam Seng yang berada di dalam kamarnya menghadapi Lili yang tertawan. Suara senjata
yang didengarnya adalah suara pisau di tangan Hok Ti Hwesio beradu dengan huncwe Ban
Sai Cinjin. Memang, Goat Lan yang jenaka dan nakal itu berkali-kali menyampok tangan Hok
Ti Hwesio sehingga pisaunya menjadi nyeleweng dan membentur senjata suhunya sendiri,
membuat Ban Sai Cinjin menjadi makin marah dan mendongkol.
Goat Lan terheran ketika melihat seorang pemuda tampan dengan pedang di tangan maju
mengeroyoknya. Ia melihat gerakan pedang yang cukup tangkas dan lihai. Kini setelah
dikeroyok tiga, ia tidak mendapat banyak kesempatan untuk membalas dengan serangannya.
Akan tetapi ia benar-benar tabah dan jenaka. Biarpun tiga orang lawannya amat tangguh, ia
masih melayani mereka dengan tangan kosong, mempergunakan kelincahan gerakan
tubuhnya, menyambar-nyambar di antara gelombang serangan.
Dan pada saat itu, datanglah Lili. Hal ini benar-benar tak pernah disangka oleh Goat Lan.
Tentu saja ia menjadi amat gembira dan girang. Telah bertahun-tahun ia tidak bertemu dengan
Lili, mungkin sudah ada tiga tahun. Ia melihat betapa calon adik iparnya ini maju menyerbu
dengan senjata kipas dan pedang. Ia merasa amat heran ketika melihat betapa Lili menyerbu
Ban Sai Cinjin dengan muka merah dan mata berapi, agaknya Lili amat marah dan membenci
kakek mewah itu.
Melihat kemarahan Lili yang agaknya penuh nafsu membunuh itu, Goat Lan tidak mau mainmain lagi dan ketika ia berseru keras, kaki kanannya dengan gerakan Soan-hong-twi
(Tendangan Kitiran Angin) telah berhasil menendang- tubuh belakang Hok Ti Hwesio.
Tendangan ini dilakukan dengan tenaga yang ratusan kati beratnya dan cukup membuat
tulang punggung lawan menjadi patah-patah. Akan tetapi, bagaikan sebuah bal karet, tubuh
Hok Ti Hwesio terpental keras dan ketika membentur dinding, lalu mental kembali dan
bergulingan di atas lantai tanpa luka sedikit pun! Goat Lan terheran-heran sehingga untuk
sesaat ia berdiri bengong memandang manusia bal itu! Tentu saja ia tidak tahu bahwa Hok Ti
Hwesio telah melatih diri dengan ilmu kebal yang luar biasa dan yang dimilikinya setelah ia
makan jantung tiga orang manusia!
Pada saat Goat Lan berdiri bengong memandang Hok Ti Hwesio saking herannya, Kam Seng
mengirim tusukan maut dengan pedangnya. Ujung pedangnya telah berada dekat sekali
dengan dada kiri Goat Lan, akan tetapi alangkah terkejut hati Kam Seng ketika tiba-tiba,
bagaikan tubuh seekor ular, tubuh gadis itu melenggok ke kiri dan tusukan itu hanya lewat, di
pinggir tubuhnya saja! Dan sebelum Kam Seng kehilangan rasa herannya, tiba-tiba ia merasa
lengan kanannya sakit dan pedangnya telah terlepas dari pegangannya! Tanpa ia ketahui,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
191
dengan gerakan yang amat cepat bagaikan kilat menyambar, Goat Lan telah mengirim totokan
ke arah urat nadinya!
Hok Ti Hwesio telah bangun berdiri lagi, demikian juga Kam Seng telah mengambil kembali
pedangnya karena totokan tadi tidak berbahaya, akan tetapi kedua orang itu kini merasa raguragu dan hanya memandang kepada gadis itu dengan bengong. Mereka mengira sedang
berhadapan dengan setan, karena bagaimanakah seorang gadis cantik lagi muda itu dapat
menghadapi mereka dengan tangan kosong dan membuat mereka tak berdaya dengan dua kali
serangan saja?
Sementara itu, Ban Sai Cinjin telah diserang dan didesak hebat oleh Lili yang berusaha
membunuhnya! Pundak yang tadi terluka mulai terasa amat sakit dan agaknya sambungan
tulang yang telah disambung itu kini terlepas lagi! Keadaannya benar-benar berbahaya dan
Goat Lan hanya memandang sambil tertawa-tawa.
Pada saat itu, terdengar seruan orang dan tahu-tahu dari dalam menyambar angin yang
menolak kipas Lili yang sedang dipukulkan ke arah dada Ban Sai Cinjin! Goat Lan terkejut
ketika melihat betapa kipas itu terpental dan tahu bahwa dari dalam ada orang berkepandaian
tinggi yang turun tangan. Benar saja, seruan tadi lalu disusul dengan munculnya seorang tosu
tua.
“Nona Sie!” kata tosu itu ketika Lili melompat mundur. “Muridku telah berlaku baik
kepadamu, mengapa kau masih mati-matian mengacaukan tempat tinggal orang lain?”
Melihat munculnya tosu yang sore tadi telah merobohkannya, kemarahan Lili makin
memuncak. Ia maklum bahwa ilmu kepandaian Wi Kong Siansu ini jauh lebih tinggi daripada
kepandaiannya sendiri, akan tetapi puteri Pendekar Bodoh ini memang memiliki ketabahan
yang diwarisinya dari ayah bundanya.
“Tosu siluman, rasakan pembalasanku!” teriaknya keras dan ia cepat menyerang dengan
pedangnya dan mainkan Ilmu Pedang Liong-cu-kiam-sut di tangan kanan dan mainkan Sansui-san-hwat (Ilmu Kipas Gunung dan Air) dengan tangan kirinya!
Wi Kong Siansu sudah tahu akan kelihaian gadis galak ini, maka ia berlaku hati-hati sekali
dan mainkan kedua lengan bajunya dengan cepat. Juga Goat Lan berdiri dengan kagum
memandang ilmu silat yang dimainkan oleh Lili. Diam-diam ia mengakui bahwa ilmu silat
Lili benar-benar hebat sekali. Akan tetapi ketika ia melihat gerakan kedua ujung lengan baju
tosu itu, ia lebih kaget lagi. Ujung lengan baju yang terbuat dari kain lemas itu kini mengeras
bagaikan ujung toya baja dan tiap kali terbentur dengan pedang atau gagang kipas Lili,
terdengar suara keras dan senjata di tangan gadis itu terpental ke belakang.
Melihat hal ini saja maklumlah Goat Lan bahwa kepandaian tosu tua ini benar-benar hebat
dan kalau dibiarkan saja, Lili mungkin takkan dapat menang. Maka ia lalu mencabut
senjatanya dan berseru,
“Kakek tua, jangan kau orang tua menghina yang muda!”
Ketika Wi Kong Siansu melihat datangnya serangan dan melihat senjata di tangan Goat Lan,
kakek ini terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur. Ternyata bahwa gadis ini sekarang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
192
memegang dua batang bambu kuning yang hanya sebesar lengan anak-anak dan berujung
runcing, panjangnya kira-kira hanya tiga kaki!
“Tahan, Nona. Apakah hubunganmu dengan Hok Peng Taisu?”
Goat Lan memang bersifat nakal dan jenaka, maka sambil tersenyum-senyum ia menjawab,
“Totiang (sebutan untuk pendeta tua), aku yang muda tidak mau membawa-bawa nama
orang-orang tua untuk menakuti-nakuti kau!”
Merahlah wajah Wi Kong Siansu mendengar ucapan ini. “Siapa takut kepadamu? Biarpun
Hok Peng Taisu sendiri yang datang, aku Wi Kong Siansu belum tentu akan takut kepadanya!
Hanya kulihat bahwa sepasang bambu runcingmu itu adalah bambu runcing yang merupakan
kepandaian tunggal dari Hok Peng Taisu.”
“Sudahlah, tak perlu membawa-bawa nama orang tua itu di tempat yang kotor ini.
Pendeknya, kalau Totiang takut, sudah saja jangan kau mengganggu adikku ini!”
“Siapa takut? Biarlah, biar kumencoba kepandaian Bu Pun Su dan Swie Kiat Siansu yang
diturunkan kepada Nona Sie ini dan sekalian kurasakan kelihaian bambu runcing dari Hok
Peng Taisu!” Sambil berkata demikian, Wi Kong Siansu lalu mencabut pedangnya yang
disembunyikan di balik jubahnya yang lebar. Pedang ini bersinar kehitaman dan inilah pedang
mustika yang amat ganas dan berbahaya yang bernama Hek-kwi-kiam (Pedang Setan Hitam)!
Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu memang telah menciptakan semacam ilmu pedang tunggal
yang pada waktu itu merupakan sebuah dari ilmu-ilmu pedang yang paling terkenal dan
ditakuti di masa itu. Ilmu pedang ini ia ciptakan berdasarkan pedang mustikanya yang
didapatkannya di atas Bukit Hek-kwi-san. Karena pedang itu mengeluarkan sinar kehitamhitaman dan didapatkannya di atas Bukit Hek-kwi-san (Bukit Setan Hitam), maka ia lalu
memberi nama Hek-kwi-kiam pada pedang itu dan lalu memberi nama pada ilmu pedang
ciptaannya Hek-kwi-kiamsut. Biarpun Kam Seng sudah mempelajari ilmu pedang ini dengan
tekunnya, akan tetapi oleh karena ilmu pedang ini amat sukar dan banyak sekali
perubahannya, maka kepandaian itu boleh dibilang belum ada sepersepuluh bagian dari
kepandaian Wi Kong Siansu Si Iblis Tua Pencabut Nyawa!
“Majulah, anak-anak muda! Biarlah kalian mendapat kehormatan mengenal Hek-kwi-kiamsut dari dekat!”
Akan tetapi Lili yang amat marah sudah tak sabar lagi mendengar ocehan tosu itu dan cepat
maju menyerang dengan pedangnya. Goat Lan yang dapat menduga kelihaian tosu itu, lalu
maju pula membarengi gerakan Lili dan mengirim serangan dengan bambu runcingnya.
Sesungguhnya, dari kedua suhunya yang menggemblengnya selama delapan tahun, yaitu Sin
Kong Tianglo Si Raja Obat dan Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak, Giok Lan hanya menerima
latihan-latihan ilmu silat tangan kosong dan lwee-kang serta gin-kang. Akan tetapi gadis ini
tentu saja tidak mau meniru kedua suhunya yang mempergunakan senjata-senjata yang paling
aneh di antara sekalian senjata ahli silat di dunia ini. Yok-ong Sin Kong Tianglo selalu
mempergunakan senjata keranjang obat dan pisau pemotong rumput, sedangkan Im-yang
Giok-cu mempergunakan senjata guci arak. Oleh karena itu, di samping menerima
gemblengan ilmu silat dari kedua kakek sakti ini, Goat Lan juga mempelajari ilmu pedang
dari ayahnya dan terutama sekali yang paling disukai ialah mempelajari ilmu bambu runcing
dari ibunya! Bahkan setelah ia dapat mainkan ilmu bambu runcing dengan pandai, ia lalu
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
193
minta kepada ayahnya untuk membuatkan bambu runcing terbuat dari sepasang bambu
kuning seperti milik ibunya! Hanya dengan senjata inilah Goat Lan melakukan
perantauannya!
Ilmu silat Goat Lan tentu saja sudah amat tinggi dan tangguh. Ia telah menerima gemblengan
dari empat orang berkepandaian tinggi dan biasanya ia hanya menghadapi para lawan yang
betapa lihai pun dengan kedua kaki tangannya sambil mengandalkan gin-kangnya yang
seperti ibunya itu. Akan tetapi kini menghadapi Wi Kong Siansu, terpaksa ia mengeluarkan
bambu-runcingnya.
Demikian pula dengan WiKong Siansu. Biasanya, orang tua ini selalu memandang rendah
lawan-lawannya dan tak pernah ia mengeluarkan pedang mustikanya. Kini menghadapi dua
orang gadis cantik dan masih muda ia sampai mengeluarkan pedangnya, dapat diketahui
bahwa tosu ini sama sekali tidak berani memandang ringan kepada Lili dan Goat Lan. Bahkan
Ban Sai Cinjin sendiri memandang heran dan ia bersiap sedia dengan hati berdebar-debar.
Hok Ti Hwesio dan Kam Seng tentu saja hanya berdiri di sudut ruang yang luas itu sambil
menonton dan sama sekali tidak berani mencoba untuk ikut turun tangan.
Pertempuran kali ini memang benar-benar hebat sekali. Ilmu Pedang Hek-kwi-kiam-sut luar
biasa ganas dan cepatnya sehingga ruang yang terang oleh cahaya lampu itu menjadi muram,
karena sinar pedang itu bergulung-gulung bagaikan uap gunung berapi yang mengandung abu
hitam. Akan tetapi sepasang bambu runcing di tangan Goat Lan merupakan titik kuning, yang
kadang-kadang berkelebat bagaikan halilintar menyambar dengan cepatnya. Adapun pedang
Liong-coan-kiam terkenal sebagai pedang yang ampuh, kini digerakkan dengan Ilmu Pedang
Liong-cu-kiam-sut sungguh mengagumkan, berkelebat-kelebat bersinar putih bagaikan perak
merupakan seekor naga perkasa yang bermain-main di antara awan hitam dan halilintar!
Kipas maut di tangan kiri Lili merupakan pusat angin yang apabila digerakkan membuat para
penonton merasakan sambaran angin dingin yang aneh! Empat ilmu silat yang luar biasa
tingginya kini bertemu, dimainkan oleh tiga orang, sungguh merupakan pemandangan yang
sukar dilihat orang! Ban Sai Cinjin, Kam Seng, dan Hok Ti Hwesio sampai berdiri bengong
bagaikan terpaku di lantai.
Bagi Kam Seng dan Hok Ti Hwesio yang ilmu kepandaiannya jauh lebih rendah, tidak ada
kemungkinan sama sekali bagi mereka untuk ikut turun tangan dalam pertempuran, maha
dahsyat itu, akan tetapi tidak demikian dengan Ban Sai Cinjin. Apabila diukur tingkat
kepandaiannya, memang ia tidak usah mengaku kalah terhadap dua orang gadis itu. Maka
diam-diam kakek mewah ini lalu menelan dua butir pel dan mengurut-urut pundaknya,
membenarkan letak tulang pundak dan mengatur napasnya. Setelah pundaknya tidak begitu
sakit lagi, ia lalu mengeluarkan tembakau hitamnya yang berbahaya, dan mulai mengisi
kepala huncwenya dengan tembakau beracun itu. Tak lama kemudian, mengebullah asap
tembakau yang membuat kepala menjadi pening dan napas menjadi sesak. Kam Seng dan
Hok Ti Hwesio sendiri terpaksa melangkah mundur menjauhi agar jangan sampai terkena
serangan asap beracun itu.
Goat Lan adalah murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo Si Raja Obat, maka tentu saja ia juga
mempelajari ilmu pengobatan, terutama sekali tentang racun yang seringkali dipergunakan
oleh kaum hek-to (jalan hitam, yaitu orang-orang jahat). Begitu hidungnya mencium bau asap
tembakau yang mulai melayang-layang di ruangan itu, ia maklum bahwa kakek mewah
dengan huncwe mautnya itu akan turun tangan, mengandalkan huncwe dan asapnya yang
lihai. Cepat tangan kirinya menancapkan bambu runcing yang kiri di ikat pinggang, menjaga
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
194
diri dengan bambu runcing kanan, lalu menggunakan tangan kirinya untuk merogoh saku
bajunya. Ia mengeluarkan dua butir buah yang putih warnanya, lalu menyerahkan sebutir
kepada Lili sambit berkata,
“Lili, masukkan buah ini ke dalam mulut dan gigit! Jangan telan!”
Lili menerima buah itu dan ketika ia menggigitnya, maka mulut dan hidungnya terasa dingin
dan pedas, akan tetapi tercium hawa yang amat harum keluar dari mulut dan hidungnya.
Pada saat itu, Ban Sai Cinjin sudah melompat maju dan menyerbu dengan huncwe mautnya
sambil mengebulkan asap hitam dari mulutnya ke arah dua orang gadis itu. Akan tetapi,
alangkah heran dan kagetnya ketika ia melihat Lili dan Goat Lan tidak mengelak dan
menerima asap itu tanpa terpengaruh sedikit pun! Ternyata bahwa asap hitam itu sebelum
dapat memasuki hidung atau mulut kedua orang dara pendekar ini, telah diusir kembali oleh
hawa harum yang keluar dari mulut dan hidung mereka!
Akan tetapi, setelah Ban Sai Cinjin ikut menyerbu, sibuk jugalah Lili dan Goat Lan. Tadi
ketika menghadapi dan mengeroyok Wi Kong Siansu, keadaan mereka baru dapat disebut
seimbang, masih saja mereka berdua merasa amat sukar untuk dapat merobohkan Toat-beng
Lo-mo yang memang sakti itu. Kini, Ban Sai Cinjin yang memiliki ilmu kepandaian tidak
lebih rendah daripada tingkat mereka, tentu saja menimbulkan banyak kesukaran dan terpaksa
keduanya mengerahkan kepandaian pada penjagaan diri.
“Lili, mari kita pergi, malam sudah lewat!” kata Goat Lan sambil memutar kedua bambu
runcingnya menghadapi pedang hitam Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu. Memang, malam
telah terganti pagi dan ayam-ayam hutan mulai berkokok nyaring, burung-burung mulai
berkicau.
“Ha-ha-ha, nona-nona manis! Kalian baru boleh pergi setelah meninggalkan tubuh kalian
yang bagus di sini. Hanya nyawa kalian saja yang bisa pergi! Ha! ha!” Ban Sai Cinjin tertawa
bergelak karena girangnya melihat betapa ia dan suhengnya dapat mendesak kedua nona lihai
itu.
Sesungguhnya, pertempuran itu boleh dibilang amat ganjil. Wi Kong Siansu tetap dikeroyok
dua oleh Lili dan Goat Lan, sedangkan Ban Sai Cinjin hanya membantu suhengnya dengan
serangan-serangan curang kepada dua orang nona itu. Lili dan Goat Lan tak dapat membalas
kakek mewah ini karena mereka selalu harus mencurahkan perhatian terhadap Toat-beng Lomo yang benar-benar berbahaya dan lihai. Kedua nona itu merasa serba sulit. Kalau seorang
di antara mereka meningalkan Toai-beng Lo-mo untuk menghadapi Ban Sai Cinjin, mungkin
sekali ia dapat merobohkan Ban Sai Cinjin yang sudah terluka pundaknya.
Akan tetapi kawan yang ditinggalkan juga amat berbahaya kedudukannya dan mungkin tak
akan kuat menghadapi Toat-beng Lo-mo. Maka mereka tetap saling bantu dan tidak mau
meninggalkan kawan dan bersama-sama menghadapi desakan Toat-beng Lo-mo dan Ban Sai
Cinjin tanpa dapat membalas!
Sesungguhnya, Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu biarpun hati nurani dan
perikemanusiaannya amat tipis, namun ia masih mempunyai kegagahan dan keangkuhan,
tidak mempunyai sifat pengecut dan rendah seperti sutenya. Mendengar ejekan sutenya
terhadap dua orang nona itu, ia merasa amat jengah dan malu. Dua orang kakek yang telah
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
195
terkenal tokoh-tokoh besar persilatan dan yang telah membuat nama besar di kalangan kangouw, kini menghadapi dua orang gadis yang usianya baru belasan tahun dan telah bertempur
dua ratus jurus belum juga dapat mengalahkan mereka! Apalagi kalau ia mengingat bahwa
dua orang gadis muda ini adalah anak dan murid-murid dari orang-orang sakti seperti Hok
Peng Taisu, Bu Pun Su dan Pendekar Bodoh, ia merasa gentar juga kalau harus merobohkan
atau menewaskan mereka ini. Juga ada sedikit rasa sayang dalam hatinya kalau harus
menewaskan dua orang gadis muda yang demikian cantik jelita, jenaka, dan memiliki ilmu
kepandaian yang sedemikian tingginya. Sebagai seorang ahli silat yang kawakan, tentu saja ia
selalu merasa sayang kepada orang-orang muda yang berbakat dan yang telah mewarisi ilmuilmu silat tinggi.
Tiba-tiba Lili dan Goat Lan yang sudah merasa sibuk dan mengambil keputusan untuk
berlaku nekad, merasa betapa desakan pedang Hek-kwi-kiam mengendur dan melemah.
Mereka merasa heran sekali, akan tetapi tentu saja kedua orang gadis ini betapa pun tabah dan
beraninya, tidak sudi berlaku bodoh dan membunuh diri. Cepat mereka mempergunakan
kesempatan selagi pedang Hek-kwi-kiam mengendur dan mengecil sinarnya, mereka lalu
berbareng melakukan penyerangan kepada Ban Sai Cinjin yang amat nekad menyerang
membabi buta. Hampir saja Ban Sai Cinjin menjadi kurban pedang Lili kalau saja Toat-beng
Lomo tidak cepat-cepat menggerakkan pedangnya menangkis. Akan tetapi perubahan ini,
yaitu dari pihak terserang menjadi pihak penyerang, telah memberi kesempatan kepada Lili
dan Goat Lan untuk cepat melompat keluar dari ruangan itu!
Ban Sai Cinjin hendak mengejar akan tetapi suhengnya mencegah.
“Mereka sudah lari, jangan dikejar, Sute. Kepandaian mereka tinggi dan tak perlu
pertempuran yang sudah berlangsung setengah malam ini akan diperpanjang lagi.”
Karena pundaknya juga terasa amat sakit, terpaksa Ban Sai Cinjin membatalkan niatnya.
Kalau suhengnya tidak ikut mengejar, bagaimana ia dapat melawan kedua orang gadis yang
lihai itu? Ia menarik napas panjang dan berkata,
“Baru anak dari Pendekar Bodoh dan seorang kawannya saja, dua orang gadis muda, sudah
membuat kita tak berdaya, apalagi kalau Pendekar Bodoh sendiri dan kawan-kawannya
datang menyerbu!”
Ucapan ini sengaja dikeluarkan untuk mencela dan menegur suhengnya, dan Toat-beng Lomo Wi Kong Siansu juga merasa sindiran ini. Ia menghela napas ketika menjawab,
“Kau tahu sendiri bahwa mereka adalah murid orang-orang sakti. Akan tetapi hal itu bukan
berarti bahwa aku kalah atau takut kepada mereka, Sute. Yang menjadikan pikiranku ruwet
adalah pulangnya Ong Tek. Kalau Pangeran Ong mendengar bahwa puteranya hampir saja
kau bunuh, bukankah ini berarti bahwa kita memancing permusuhan dengan para perwira
kerajaan?”
“Aku tidak takut, Suheng!” jawab Ban Sai Cinjin.
Toat-beng Lo-mo tidak menjawab, hanya menarik napas panjang. Perkara sudah menjadi
makin besar dan ruwet, tak ada lain jalan melainkan bersiap sedia menghadapi segala
kemungkinan.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
196
“Kam Seng, mulai sekarang kau harus melatih diri baik-baik, karena kau pun maklum bahwa
pihak musuh-musuhmu ternyata terdiri dari orang-orang pandai.”
Pada siang harinya, datanglah Bouw Hun Ti membawa tiga orang tua aneh dan besarlah hati
Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin melihat kedatangan tiga orang tua ini. Mereka ini adalah
Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun), tiga orang-kakek aneh dan sakti
yang sudah amat terkenal namanya di perbatasan Mancuria di utara. Baru melihat keadaan
tiga orang ini saja sudah amat aneh. Yang seorang tinggi kurus potongan tubuhnya seperti
suling, sama besarnya dari kaki sampai ke kepalanya. Orang kedua gemuk dengan muka lebar
dan mulut besar, berjubah pendeta Buddha, mulutnya lebar seperti terobek dari telinga ke
telinga. Orang ke tiga lebih aneh lagi. Kalau orang tidak melihat mukanya, tentu akan
menyangka bahwa dia adalah seorang anak kecil. Dari pundak sampai ke kaki memang ia
persis seperti seorang anak berusia sepuluh tahun, akan tetapi kalau orang melihat wajahnya,
ia akan terkejut dan heran. Mukanya adalah muka seorang kakek tua berjenggot dan berkepala
botak.
Sungguhpun keadaan ketiga orang ini aneh sekali, namun ilmu kepandaian mereka amat
tersohor dan mereka terkenal sebagai orang-orang sakti.
Hailun Thai-lek sam-kui tadinya agak merasa segan untuk menurut bujukan Bouw Hun Ti,
akan tetapi ketika mereka mendengar bahwa Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu agak takut
dan gelisah serta mengharapkan bantuan mereka untuk menghadapi Pendekar Bodoh dan
kawan-kawannya, ketiga orang Iblis Geledek ini menjadi amat tertarik. Mereka lalu ikut turun
gunung dan tiba di tempat tinggal Ban Sai Cinjin. Dengan serta merta Ban Sai Cinjin yang
kaya raya lalu memberi perintah kepada Hok Ti Hwesio untuk mempersiapkan hidanganhidangah yang paling mewah dan lezat. Mereka lalu makan minum dengan riangnya.
Kegelisahan yang tadi terlupakan sudah oleh Ban Sai Cinjin. Bahkan Wi Kong Siansu mulai
merasa lega karena ia maklum akan kelihaian tiga orang iblis itu.
Sementara itu, setelah dapat melarikan diri dari kuil dan meninggalkan Ban Sai Cinjin dan
Toat-beng Lo-mo Wi Kong Siansu yang lihal, Lili lalu membawa Goat Lan untuk mampir ke
rumah penginapan dan mengambil buntalan pakaiannya. Kemudian, pada pagi itu juga
mereka lalu melarikan diri keluar dari dusun Tong-sin-bun.
“Ah, sungguh lihai tosu tua itu!” kata Goat Lan setelah mereka tiba di luar dusun. Ia berhenti
dan memegang kedua tangan Lili. “Akan tetapi mengapa kau bisa berada di dalam kuil itu,
Lili? Dan apakah yang terjadi? Pertemuanku dengan kau di tempat itu selain amat
menggirangkan hati, juga amat mengejutkan dan mengherankan!”
Lili membalas pelukan Goat Lan dan berkata sambil tertawa. “Sesungguhnya, aku sedang
melakukan perjalanan untuk mengunjungi kau di Tiang-an.”
“Aih, aneh benar kau ini. Dari tempat tinggalmu ke Tiang-an, sama sekali tidak melewati
tempat ini. Apakah kau tersesat jalan?”
Lili tersenyum lagi. “Goat Lan, berjanjilah dulu, bahwa kau takkan membuka rahasiaku ini
kepada orang lain. Juga tidak kepada ayah ibu, karena sesungguhnya aku telah mengambil
jalan sendiri!”
“Rahasia apakah?” Goat Lan bertanya heran.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
197
“Sesungguhnya, dari rumah aku berpamit untuk pergi ke Tiang-an dengan alasan sudah
merasa rindu kepadamu. Akan tetapi, diam-diam aku tidak menuju ke rumahmu, melainkan
membelok ke Tong-sin-bun untuk mencari musuh besarku, Bouw Hun Ti. Kau tentu sudah
mendengar bahwa Bouw Hun Ti adalah murid dari Ban Sai Cinjin, maka aku langsung
menuju ke sana untuk mencarinya. Nah, jangan kauceritakan hal ini kepada ayah atau ibuku,
karena mereka tentu akan marah besar. Memang ayah ibuku benar, karena hampir saja aku
mendapat celaka besar.”
Maka berceritalah Lili tentang pengalamannya, akan tetapi tentu saja ia tidak menceritakan
bahwa ketika ia tertawan, Kam Seng telah mencium jidatnya! Ia hanya memberitahukan
kepada Goat Lan bahwa Kam Seng itu sesungguhnya adalah putera dari Song Kun, suheng
dari ayah Lili!
“Dan bagaimana kau bisa kebetulan sekali datang pada malam hari tadi, Goat Lan?”
“Mari kita mengaso dulu dibawah pohon itu,” kata Goat Lan sambil menuju ke arah sebatang
pohon besar di pinggir jalan. “Ceritaku agak panjang karena memang telah lama kita tidak
saling bertemu. Mari kita duduk di sana dan mari kuceritakan pengalamanku. Kau tentu akan
tertarik mendengarnya. Karena ketahuilah bahwa aku pernah bertemu dengan Bouw Hun Ti
musuh besarmu itu!”
Mereka lalu pergi dan duduk di bawah pohon yang rindang itu, dan berceritalah Goat Lan
dengan jelas, didengarkan oleh Lili dengan asyiknya.
Memang sudah terlalu lama kita meninggalkan Goat Lan dan sepatutnya kita menengok
keadaannya semenjak ia diambil murid Yok-ong Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Goat Lan dibawa oleh kedua suhunya ke
Bukit Liong-ki-san, sebuah bukit yang puncaknya nampak di sebelah selatan kota Tiang-an.
Dengan amat tekun dan rajinnya Goat Lan melatih diri di, bawah bimbingan Sin Kong
Tianglo dan Im-yang Giok-cu. Selama delapan tahun ia berlatih silat, juga ia mempelajari
ilmu pengobatan dari Yok-ong Sin Kong Tianglo. Kedua kakek ini merasa amat gembira
melihat ketekunan dan kemajuan murid tunggal mereka dan menurunkan ilmu-ilmu silat yang
paling tinggi.
Goat Lan tidak merasa kesepian oleh karena hampir sebulan sekali, ayah ibunya tentu datang
menengoknya, bahkan ia menerima pula latihan ilmu silat dari kedua orang tuanya.
Sebaliknya kedua orang suhunya pada waktu menganggur selalu bermain catur dan kedua
orang kakek itu biarpun sudah seringkali mendapat petunjuk dari Goat Lan, tetap saja masih
amat bodoh dalam hal permainan catur! Agaknya memang betul kata orang-orang dulu bahwa
otak orang tua sudah menjadi keras dan tumpul! Tidak saja Kwee An dan Ma Hoa seringkali
berkunjung ke puncak Liong-ki-san, bahkan beberapa kali Pendekar Bodoh Sie Cin Hai dan
isterinya, yaitu Lin Lin, membawa Lili naik ke gunung itu untuk mengunjungi. Oleh karena
itu, hubungan antara Lili dan Goat Lan menjadi erat.
Delapan tahun kemudian, Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu yang sudah merasa bahwa
kepandaian yang mereka ajarkan kepada Goat Lan sudah cukup, kedua orang kakek yang kini
telah berusia amat tua itu lalu kembali ke tempat tinggal masing-masing, yaitu di daerah utara.
Goat Lan kembali ke Tiang-an, melanjutkan pelajaran ilmu silatnya dari ayah bundanya
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
198
sehingga ia kini menjadi seorang gadis yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau dibuat
perbandingan, gadis muda ini memiliki lebih banyak ilmu silat yang tinggi-tinggi daripada ibu
atau ayahnya, maka tentu saja Kwee An dan Ma Hoa menjadi amat bangga akan puteri
tunggalnya ini. Dua tahun lamanya Goat Lan mempelajari ilmu pedang dari ayahnya dan Ilmu
Silat Bambu Runcing dari ibunya. Seperti ibunya, ia dapat mainkan Ilmu Silat Bambu
Runcing ciptaan Hok Peng Taisu dengan amat baiknya dan bahkan berkat didikan Im-yang
Giok-cu ia memiliki lwee-kang yang amat hebat serta gin-kang yang dilatihnya dari Sin Kong
Tianglo membuat gerakannya laksana seekor burung walet.
Pada suatu hari, datanglah Im-yang Giok-cu yang membawa berita amat menyedihkan hati
Goat Lan dan orang tuanya. Ternyata bahwa Sin Kong Tianglo yang sudah amat tua itu
meninggal dunia di daerah utara.
“Sin Kong Tianglo meninggalkan sebuah pesanan untukmu, Goat Lan,” kata Im-yang Giokcu setelah kesedihan Goat Lan agak reda. “Pada waktu ini, putera Kaisar yang menjadi Putera
Mahkota, menderita sakit hebat sekali. Menurut Sin Kong Tianglo, obat satu-satunya yang
dapat menyembuhkan penyakit pangeran itu hanyalah To-hio-giok-ko (Daun Golok Buah
Mutiara) yang terdapat di daerah bersalju sebelah utara tapal batas. Dan karena mencari obat
itulah maka ia menemui kematiannya! Tubuhnya yang amat tua itu tidak kuat menahan dingin
dan karena serangan hawa dingin dan kelelahan, ia tewas di sana!”
“Mengapa ia bersusah payah mencarikan obat untuk Putera Mahkota?” tanya Ma Hoa dengan
heran. Pertanyaan ini agaknya terkandung dalam pikiran Kwee An dan Goat Lan pula karena
mereka juga memandang kepada Im-yang Giok-cu untuk mendengar bagaimana jawaban
kakek itu.
Im-yang Giok-cu menurunkan guci araknya dan sebelum menjawab ia meneguk dulu
araknya.
“Memang Raja Obat itu orangnya aneh sekali. Seperti juga aku tua bangka tiada guna, ia
tidak menaruh perhatian tentang keadaan Kaisar dan keluarganya. Akan tetapi, sebagai
seorang ahli pengobatan ia mempunyai satu kelemahan, yaitu selalu ingin menyembuhkan
penyakit yang paling aneh. Selain daripada itu, harus diakui bahwa diantara para pangeran,
maka Putera Mahkota boleh disebut seorang pemuda yang paling baik, mempunyai sifat-sifat
baik dan agaknya kalau ia menjadi Kaisar kelak, ia akan menjadi seorang Raja yang
bijaksana. Karena itulah, maka banyak sekali ahli pengobatan yang mencoba untuk
menyembuhkannya, hanya untuk mencegah agar jangan sampai ada pangeran lain yang
menggantikannya menjadi Putera Mahkota kalau ia meninggal.”
“Dan apakah pesan mendiang Suhu untukku?” tanya Goat Lan kepada suhtinya yang kedua
ini.
“Ia mengharuskan engkau untuk pergi ke utara mencari obat itu dan menyembuhkan penyakit
Putera Mahkota!” jawab Im-yang Giok-cu sambil meneguk araknya lagi.
Goat Lan menerima berita ini dengan tenang saja, akan tetapi kedua orang tuanya saling
pandang dengan muka berubah. Mereka telah maklum akan berbahayanya perjalanan ke
daerah utara yang selain dingin juga banyak terdapat orang-orang buas dan jahat.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
199
“Mengapa harus Goat Lan yang pergi mencari obat itu?” tanya Kwee An dan Ma Hoa
menyambung dengan suara penasaran.
“Apakah tidak bisa orang lain yang mencarikannya?”
Im-yang Giok-cu tertawa bergelak. “Tentu saja aku maklum akan kekhawatiranmu berdua.
Siapa orangnya yang akan membiarkan Goat Lan pergi seorang diri ke tempat jauh itu? Akan
tetapi Sin Kong Tianglo memang orang aneh!” Ia mengangguk-angguk lalu menyambung,
“Aneh dan gila!”
Bagi Goat Lan, tidak aneh kalau Im-yang Giok-cu memaki gila kepada Sin Kong Tianglo,
karena memang dua orang suhunya ini sudah biasa saling memaki!
“Dan susahnya, ini adalah pesannya, pesan orang yang hendak menghembuskan nyawanya.
Pesan seorang yang sudah meninggal harus dilaksanakan dan dipenuhi, kalau tidak, ah... aku
orang tua takkan dapat hidup tenang dan tenteram lagi. Arwah Sin Kong Tianglo tentu akan
menjadi setan dan mengejar-ngejarku ke mana-mana. Pesannya ialah Giok Lan seorang, tidak
boleh orang lain, harus melanjutkan usahanya mencari obat To-hio-giok-ko itu dan
menyembuhkan penyakit Putera Mahkota.”
“Akan tetapi,” bantah Ma Hoa, “mengapa mendiang Sin Kong Locianpwe begitu
mengkhawatirkan kesehatan Putera Mahkota dan tidak mempedulikan bahaya yang dapat
menimpa diri anakku? Apakah ini adil namanya? Atau, apakah dia tidak sayang kepada
muridnya?”
Im-yang Giok-cu tertawa bergelak. “Belum kuceritakan yang lebih aneh lagi. Sesungguhnya
Sin Kong Tiangto sendiri tidak berapa peduli apakah Putera Mahkota akan mati atau hidup,
akan tetapi sampai pada saat terakhir, orang tua yang berkepala batu itu selalu hendak
mempertahankan namanya! Ia memang angkuh dan menjaga namanya sebagai Yok-ong (Raja
Obat)! Ketahuilah, secara kebetulan Yok-ong Sin Kong Tianglo tiba di kota raja dan ia
bertemu dengan orang-orang kang-ouw ahli pengobatan yang terkenal dari seluruh daerah.
Tentu saja, tukang obat bertemu ahli obat, mereka bicara asyik tentang hal pengobatan dan
akhirnya mereka itu berdebat ramai sekali. Semua tukang obat yang berada di kota raja
menyatakan bahwa untuk penyakit yang diderita oleh Putera Mahkota, tidak ada obatnya lagi
di dunia ini. Akan tetapi Yok-ong Sin Kong Tianglo menyatakan bahwa ada obatnya! Ia
dibantah oleh banyak orang dan akhirnya semua orang minta bukti. Kakek gila itu menantang
dan menyatakan kesanggupannya, bahwa ia akan mendapatkan obat itu dan menyembuhkan
Putera Mahkota dengan taruhan bahwa kalau ia tidak bisa, ia tidak mau memakai gelar Yokong (Raja Obat) lagi! Nah, celakanya, ketika ia sedang mencari obat itu, ia terserang hawa
dingin dan meninggal dunia. Masih baik bahwa ia bertemu denganku dan aku sudah
menawarkan tenaga untuk melanjutkan usahanya mencari obat itu, akan tetapi ia tidak mau
menerima tawaranku, katanya, harus muridku yang akan mencari obat dan menyembuhkan
penyakit Putera Mahkota. Biarlah muridku sendiri yang menolong namaku dari hinaan orang,
dan biar muridku yang membuktikan bahwa julukan Yok-ong bukanlah sia-sia belaka!”
Kwee An, Ma Hoa, dan Goat Lan mendengarkan penuturan ini dengan bengong. Tanpa
diberitahu, mereka bertiga maklum bahwa hal ini menyangkut nama baik dan kehormatan Sin
Kong Tianglo.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
200
“Nah, kalian tahu sekarang mengapa dia menghendaki Goat Lan seorang yang mencari obat
itu? Kakek gila itu takut kalau-kalau para ahli obat di dunia kang-ouw akan mencela,
mentertawainya, dan menghina julukannya sebagai Yok-ong! Dan aku tahu, kalau terjadi hal
demikian, nyawa Yok-ong itu tentu akan berkeliaran dan terutama sekali yang dijadikan
sasaran adalah aku, karena akulah yang berjanji kepadanya untuk menyampaikan hal ini
kepada Goat Lan dan membujuknya agar supaya suka berbakti kepadanya.”
“Baik, Suhu, teecu akan pergi melanjutkan usaha Suhu Sin Kong Tianglo!” tiba-tiba Goat
Lan berkata dengan suara tetap.
Im-yang Giok-cu tertawa bergelak lalu menenggak araknya lagi.
“Ha-ha-ha, sudah kuduga!” katanya dengan mata dikedip-kedipkan girang. “Kalau tidak
demikian jawabanmu, kau tentu bukan murid Yok-ong dan aku!” Im-yang Giok-cu lalu
menuangkan semua sisa araknya ke dalam perut lalu berkata lagi dengan wajah berseri,
“Goat Lan, Sin Kong Tianglo telah berkata kepadaku bahwa kalau kau sanggup melanjutkan
usahanya dan mengangkat namanya sebagai Yok-ong, aku boleh memberikan barang
warisannya ini!” Ia lalu mengeluarkan sebuah bungkusan segi empat yang tipis kepada
muridnya.
Goat Lan menerimanya dan dengan hati-hati ia membuka bungkusan kain kuning itu dan
ternyata bahwa di dalamnya terdapat sebuah kitab yang sudah usang dan kuning.
“Kitab obat dari Suhu!” Goat Lan berseru dengan mata terbelalak. Pernah Yok-ong Sin Kong
Tianglo menyatakan kepadanya bahwa banyak sekali orang-orang pandai dan orang-orang
jahat yang menginginkan kitab itu, akan tetapi suhunya itu selalu menjaganya dengan baikbaik.
“Kitab ini amat berharga,” kata suhunya dahulu, “maka jangan harap orang lain dapat
mengambilnya dari aku. Aku lebih menghargai kitab ini daripada jiwaku sendiri! Dan kalau
aku mati kitab ini akan kubawa serta. Karena kalau sampai terjatuh ke dalam tangan orang
jahat, kitab ini akan mendatangkan malapetaka hebat kepada dunia, sungguhpun di dalam
tangan orang baik-baik benda ini akan merupakan penolong manusia yang amat besar
jasanya.”
Dengan bengong Goat Lan memegang kitab itu dan Im-yang Giok-cu berkata lagi, “Aku
merasa berat sekali membawa kitab ini selama melakukan perjalanan ke sini, oleh karena aku
pun maklum akan keinginan orang-orang kang-ouw yang menghendaki kitab ini. Di waktu
kitab ini berada di tangan Sin Kong Tianglo, tidak ada yang berani mencoba-coba untuk
merampasnya, akan tetapi setelah orang tua itu meninggal dunia, tentu mereka akan berusaha
mendapatkan kitab ini. Oleh karena itu hati-hatilah kau menjaga kitab ini, muridku. Dan satu
hal lagi, kalau kau hendak mencari obat Tohio-giok-ko, hanya satu tempat yang terdapat daun
dan buah itu yaitu di sepanjang lembah Sungai Sungari di sebelah selatan kota Hailun. Nah,
aku sudah memenuhi tugasku. Selamat tinggal!” Setelah berkata demikian, Im-yang Giok-cu
lalu pergi dengan cepat tanpa dapat ditahan lagi.
Kwee An dan Ma Hoa saling pandang dengan mata masih mengandung penuh kekhawatiran.
Akhirnya Ma Hoa memegang tangan Goat Lan dan berkata,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
201
“Goat Lang memang sudah seharusnya kau menjaga nama baik suhumu. Akan tetapi, kami
tidak tega untuk melepasmu pergi seorang diri begitu saja. Kami akan pergi bertiga.”
“Benar kata-kata ibumu, Goat Lan. Tempat itu amat jauh dan aku sendiri bersama Pendekar
Bodoh pernah melakukan perjalanan ke sana dan memang tempat itu amat berbahaya.”
“Akan tetapi, Suhu Sin Kong Tianglo telah memesan agar supaya aku pergi sendiri, kalau
sampai terdengar oleh orang kang-ouw bahwa aku sebagai murid Sin Kong Tianglo
mengandalkan kepandaian Ayah dan lbu untuk mendapatkan obat itu, bukankah nama Suhu
akan ditertawakan orang?”
“Peduli apakah kalau mereka mentertawakan di belakang punggung kita?” kata Ma Hoa.
“Coba suruh mereka tertawa di depan mukaku, tentu tertawanya itu adalah tertawa terakhir
dalam hidupnya!”
“Akan tetapi aku ingin pergi seorang diri, Ibu. Apabila Ayah dan Ibu ikut membantuku, aku
akan merasa seakan-akan aku menyalahi pesanan terakhir daripada Suhu. Hanya kitab ini...”
Ia memandang kepada kitab itu dengan penuh khidmat, “aku tidak berani membawa-bawanya
pergi merantau. Lebih baik ditinggal di sini di dalam perlindungan Ayah dan Ibu.”
“Goat Lang jangan berkata demikian,” ayahnya menegur. “Kalau kau pergi merantau seorang
diri, kau tentu akan membikin ibumu selalu merasa gelisah dan berkhawatir selalu. Apakah
kau senang melihat ibumu selalu dirundung kegelisahan memikirkan keadaanmu?”
Goat Lan menengok kepada ibunya yang juga memandangnya. Melihat sinar mata ibunya
yang penuh kasih sayang dan wajah yang cantik itu kini menjadi murung, Goat Lan lalu
tersenyum dan memeluk ibunya.
“Ah, Ayah! Kau jangan merendahkan Ibu! Ibu kan bukan anak kecil lagi dan Ibu sudah
menaruh kepercayaan sepenuhnya kepadaku. Bukankah begitu, Ibu? Semenjak kecil, Ayah
dan Ibu telah mendidik dan memberi pelajaran ilmu silat dan kepandaian untuk menjaga diri
kepadaku. Bahkan delapan tahun lamanya dua orang suhuku telah menggemblengku untuk
meyakinkan ilmu silat tinggi, kemudian Ayah dan Ibu memberi tambahan lagi ilmu
kepandaian yang kupelajari dengan rajin. Selama bertahun-tahun itu aku selalu tekun, rajin
dan dengan susah payah mempelajari ilmu silat. Kalau sekarang melakukan perjalanan
sebegitu saja aku harus mundur dan takut, apa perlunya aku mempelajari ilmu silat selama
ini? Bukankah hal itu hanya akan merendahkan nama kedua orang suhuku, bahkan akan
mendatangkan rasa malu kepada Ayah dan Ibu? Aku telah mempelajari ilmu silat, kalau tidak
sekarang dipergunakan, habis apakah kepandaian itu harus kukeram di dalam kamar,
menyulam, membaca buku, mempelajari tulisan-tulisan indah dan sajak, sehingga kepandaian
silat itu akan membusuk dan kemudian terlupa olehku?”
Selama puteri mereka ini bicara, Kwee An dan Ma Hoa bertukar pandang dan mata mereka
bersinar gembira. Girang hati mereka mendengar semangat yang gagah ini. Lenyaplah
keraguan mereka dan tanpa mereka lihat perubahannya, ternyata Goat Lan kini telah menjadi
dewasa. Hanya orang yang sudah dewasa saja dapat mempunyai pendirian seperti itu.
Akhirnya keduanya menyetujui keberangkatan Goat Lan setelah memberi nasihat-nasihat dan
petunjuk-petunjuk yang amat perlu diketahui seorang perantau.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
202
“Hanya satu hal yang harus kaujanjikan,” kata Ma Hoa, “yaitu kau tidak boleh pergi lebih
lama dari enam bulan.”
“Baik, Ibu, aku berjanji. Perjalanan ke sana pulang pergi menurut perhitungan Ayah hanya
makan waktu dua bulan, maka waktu enam bulan sudah cukup bagiku.”
“Bukan karena aku ingin memberi batas waktu yang terlalu sempit dan mengikat, anakku,
hanya kau harus ingat bahwa usiamu telah sembilan belas tahun dan perjanjian kita terhadap
keluarga Sie sudah dekat waktunya.”
Tiba-tiba wajah Goat Lan menjadi merah. Ia memang tahu bahwa ia telah dipertunangkan
dengan Sie Hong Beng, kakak dari Lili, putera dari Pendekar Bodoh yang tidak diketahui
bagaimana rupanya. Ia hanya satu kali bertemu dengan Sie Hong Beng, yaitu ketika ia masih
berusia lima tahun! Semenjak itu, belum pernah ia bertemu lagi dan ia sudah lupa akan rupa
pemuda yang kini menjadi caIon suaminya itu. Memang, kalau ia ingat bahwa pemuda itu
adalah kakak Lili yang cantik manis dan putera dari Pendekar Bodoh yang amat terkenal
sebagai suami isteri pendekar yang gagah dan dikasih sayangi oleh ayah ibunya, ia boleh
merasa puas akan ikatan jodoh ini. Namun betapapun juga, sungguhpun mulutnya tak pernah
berkata sesuatu, namun ada perasaan kurang enak di dalam lubuk hati, ia belum melihat
bagaimana keadaan pemuda tunangannya itu, bagaimana macam orangnya dan bagaimana
pula kepandaiannya.
Goat Lan berangkat ke utara sambil membawa pesan dan nasihat kedua orang tuanya. Ia
masih ingat betapa ayah ibunya beberapa kali berpesan kepadanya bahwa apabila ia bertemu
dengan seorang yang bernama Bouw Hun Ti, jangan ragu-ragu dan ia diperbolehkan
menyerang dan membinasakan orang itu.
“Dia adalah pembunuh Paman Yousuf dan dahulu telah menculik Lili, maka berarti bahwa
dia adalah musuh besar kita pula. Menurut penuturan Pendekar Bodoh, penjahat bernama
Bouw Hun Ti itu kepandaiannya tak perlu ditakutkan, akan tetapi kau berhati-hatilah Goat
Lan, karena ia adalah murid dari Ban Sai Cinjin yang amat jahat dan curang.”
Bagaikan seekor burung terlepas dari kurungan, Goat Lan melakukan perlajanan dengan amat
gembira. Baru kali ini ia melakukan perantauan dan melakukan segala sesuatu atas keputusan
sendiri. Selama ini selalu ada orang-orang yang menjaganya, suhu-suhunya, ayah ibunya, dan
baru sekarang ia merasa betapa besar kegunaan segala pelajaran ilmu silat yang dipelajarinya
selama bertahun-tahun itu. Ia tidak membekal lain senjata kecuali sepasang bambu
runcingnya dan karena ayah bundanya maklum akan kemampuannya menjaga diri dengan
tangan kosong atau dengan bambu runcing itu, maka mereka melepaskan dengan hati aman.
Tepat seperti yang telah diperhitungkan oleh Kwee An, kurang lebih sebulan kemudian
setelah melakukan perjalanan cepat dan lancar, Goat Lan tiba di lembah sungai Sungari di
perbatasan Boancu. Ia lalu berjalan di sepanjang sungai itu dan ketika ia tiba di sebelah
selatan kota Hailun, ternyata bahwa lembah itu tertutup oleh hutan tang amat liar dan gelap.
Hari telah menjadi senja ketika ia tiba di sebuah dusun di luar hutan. Melihat ke arah hutan
yang amat gelap dan membuat tempat itu nampak hampir hitam. Goat Lan terpaksa menunda
perjalanannya. Ia merasa lapar setelah melakukan perjalanan sehari lamanya, akan tetapi
biarpun asap gurih dan sedap yang keluar dari sebuah rumah makan kecil membuat hidungnya
berkembang kempis dan perutnya menggeliat-geliat, ia dapat menahan selerangan dan lebih
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
203
dulu mencari tempat penginapan. Namun ia kecewa karena ternyata bahwa di dusun itu tidak
terdapat rumah penginapan. Satu-satunya rumah penginapan kecil yang masih ada papan
namanya, telah ditutup. Heranlah Goat Lan melihat keadaan ini dan ia bertanya kepada
seorang kakek petani yang memandangnya dari pintu rumahnya.
“Lopek, aku adalah seorang pelancong yang membutuhkan tempat penginapan. Di manakah
kiranya terdapat rumah penginapan di dusun ini?”
Kakek itu memandang kepadanya dengan penuh perhatian dan sepasang matanya yang
keriput dan sipit itu membayangkan kecurigaan besar, kemudian melihat bahwa yang
bertanya kepadanya adalah seorang gadis muda cantik dan halus tutur sapanya, kecurigaannya
berubah menjadi keheranan besar.
“Nona, mendengar bicaramu, kau tentulah datang dari selatan. Mengapa kau tersasar sampai
sejauh ini? Kaulihat sendiri, di dusun ini hanya sebagian saja dari penduduknya adalah orangorang Han, sebagian besar adalah penduduk dari suku bangsa lain. Kau hendak pergi ke
manakah?”
Memang benar, semenjak tadi agak sukar bagi Goat Lan untuk bertanya keterangan sesuatu,
karena di mana-mana ia melihat orang-orang yang amat berlainan dengan orang-orang Han,
baik bentuk muka maupun keadaan pakaiannya. Sungguhpun jawaban kakek ini tidak pada
tempatnya, yaitu menjawab dengan sebuah pertanyaan pula, akan tetapi Goat Lan tetap
bersabar dan tersenyum ramah.
“Tidak salah dugaanmu, Lopek. Aku memang datang dari selatan dan seperti telah kukatakan
tadi, aku adalah seorang pelancong.”
“Sebagai seorang pelancong, kau benar-benar telah memilih tempat yang aneh. Hawa begini
dingin, tidak ada pemandangan indah di sini, banyak penyakit merajalela.” Ia memandang
kepada pakaian Goat Lan yang tidak tebal dan kepada wajah serta tangan gadis itu yang
telanjang tidak tertutup sesuatu, dan makin heranlah dia. Bagaimana mungkin seorang gadis
cantik jelita dan muda seperti ini dapat menahan dingin yang menggoroti kulit? Pada waktu
itu, bulan kedua baru tiba dan keadaan sedang dingin-dinginnya. Bagi kakek itu sendiri
biarpun telah puluhan tahun ia tinggal di daerah dingin ini, namun tetap saja pada waktu
seperti itu, tanpa perlindungan pakaian dari kulit domba, ia takkan tahan dan dan kulit
tubuhnya akan pecah-pecah.
“Nona, selanjutnya kau hendak ke manakah?” tanyanya kemudian.
“Aku ingin bermalam di dusun ini untuk satu malam dan besok pagi-pagi aku akan
melanjutkan perjalanan ke sana!” Goat Lan menudingkan telunjuknya ke arah hutan yang kini
sudah menjadi hitam karena diselimuti oleh malam yang mulai mendatang.
Tiba-tiba kakek itu nampak gugup dan pucat.
“Jangan, Nona...! Jangan kau pergi ke sana. Dengarlah kata-kata orang tua seperti aku.
Hidupku tak lama lagi dan aku ingin mencegah seorang muda seperti engkau dari
kesengsaraan, jangan kau memasuki tempat itu kalau kau sayang kepada nyawamu!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
204
Goat Lan terkejut, akan tetapi hatinya yang tabah membuat ia tetap tenang. Ia memandang
kepada kakek itu dengan tajam dan ketika kakek itu balas memandang dan sinar mata mereka
bertemu, kakek itu menjadi makin pucat dan ia melangkah mundur dua langkah.
“Kau… matamu sama benar dengan matanya… kau...”
“Eh, ada apakah Lopek? Aku seorang manusia biasa, seorang pelancong yang membutuhkan
tempat penginapan untuk beristirahat malam ini. Jangan kau bicara yang aneh-aneh Lopek.
Dapatkah kau menolongku dan memberitahukan di mana aku dapat bermalam? Kalau tidak
mau, tidak apalah, aku bisa mencari keterangan dan minta tolong kepada orang lain.”
Ucapan ini agaknya menyadarkan kakek itu kembali.
“Kau... kau bukan orang jahat?”
Goat Lan merasa mendongkol, akan tetapi terpaksa ia tersenyum juga. Melihat pandangan
mata dan wajah kakek itu, ia maklum bahwa sikap yang aneh ini timbul dari rasa takut yang
hebat dari orang tua ini.
“Tiada gunanya aku menjawab pertanyaanmu ini, Lopek. Siapakah orangnya di dunia ini
yang suka mengaku bahwa ia adalah orang jahat? Tentu saja seperti orang lain di dunia ini,
aku akan menjawab bahwa aku bukan orang jahat, akan tetapi biarpun kau dapat mendengar
jawaban mulutku, bagaimana kau akan dapat mengetahui keadaanku yang sebenarnya?”
Jawaban ini benar-benar membuat kakek itu tercengang.
“Nona, kau masih amat muda akan tetapi sudah dapat bicara seperti itu. Terang bahwa kau
bukan orang jahat. Mari, silakan masuk, akan kuceritakan mengapa aku mencegahmu
memasuki tempat berbahaya itu.”
Akan tetapi Goat Lan menggeleng kepalanya. “Aku datang untuk mencari tempat
penginapang Lopek, bukan untuk mendengar cerita tentang tempat berbahaya,” Ia
mengangguk dan hendak pergi meninggalkan kakek itu. Akan tetapi orang tua itu melangkah
maju dan berkata,
“Nona, kalau aku mempersilakan kau masuk ke dalam gubukku, itu berarti aku menawarkan
tempat ini untuk kau tinggal malam ini. Tentu saja kalau kau sudi menempati rumah yang
buruk dan kecil ini. Dan aku berani menawarkan rumahku, oleh karena aku maklum bahwa di
dalam dusun ini kau takkan dapat menemukan rumah penginapan. Nah, sudikah kau?”
Melihat sikap yang sungguh-sungguh dari kakek itu dan melihat pandang matanya yang
jujur, Goat Lan terpaksa melangkah masuk sambil tersenyum menyatakan terima kasihnya. Di
luar dugaannya semula, biarpun rumah itu dari luar nampak amat buruk dan di dalamnya juga
amat sederhana, namun benar-benar bersih dan menyenangkan. Sebuah lampu terletak
menyala di atas meja kayu yang sederhana bentuknya akan tetapi yang seringkali bertemu
dengan kain pembersih. Di kanan kiri meja itu terdapat dua buah bangku kayu yang sederhana
pula. Dari ruang depan yang kecil ini nampak dua buah pintu kamar di kanan kiri yang
tertutup oleh muili (tirai pintu) yang berwarna kuning dan cukup bersih sungguhpun sudah
ada beberapa tambalan di sana sini.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
205
Kakek itu mempersilakan Goat Lan mengambil tempat duduk di atas bangku. Lalu ia sendiri
mengeluarkan sebotol arak dan dua cawan kosong dari peti besi yang berdiri di sudut.
“Aku orang miskin, Nona, seperti sebagian besar orang yang tinggal di sini.”
“Kau maksudkan, seperti sebagian besar manusia di dunia ini,” menyambung Goat Lan.
“Kemiskinan bukanlah hal yang menyusahkan hati, Lopek.”
Kembali kakek itu tercengang dan wajahnya berseri. “Mendengar ucapanmu, hampir aku
percaya bahwa kau adalah seorang gadis petani yang sederhana dan bijaksana. Akan tetapi tak
mungkin seorang gadis petani mempunyai wajah seperti kau dan pakaianmu pula. Ah, kau
tentulah seorang gadis bangsawan yang kaya raya.” Sebelum Goat Lan membantah kakek itu
telah menaruh botol arak di atas meja, lalu cepat berkata lagi. “Kau tentu belum makan,
Nona? Tunggulah, biar aku masak bubur untukmu.”
Goat Lan cepat mencegah dan segera mengeluarkan sepotong uang perak. “Jangan repotrepot, Lopek. Memang aku lapar dan belum makan semenjak pagi tadi, akan tetapi kalau kau
suka, tolonglah belikan nasi dan sedikit masakan dengan uang ini.”
Kakek itu memandang ke arah uang perak di atas meja dan tersenyum pahit, kemudian ia
mengambil uang itu dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu bertindak keluar.
“Lopek, jangan lupa, beli untuk dua orang. Aku tidak mau makan sendiri saja!” Goat Lan
berseru kepada kakek itu yang hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Goat Lan yang sudah banyak menerima banyak pesan dari ayah bundanya agar supaya
berlaku hati-hati setelah kakek itu keluar, cepat ia mengadakan pemeriksaan di dalam rumah
itu. Disingkapnya tirai pintu kamar dan dilongoknya ke dalam. Kamar tidur biasa saja dan
amat sederhana. Demikian pun kamar tidur ke dua. Rumah ini benar-benar kosong, tidak ada
orang lain dan agaknya menjadi tempat tinggal dari dua orang, melihat adanya dua buah
kamar tidur itu. Ia lalu membuka tutup botol arak dan mencicipi sedikit. Arak biasa saja, arak
merah yang sudah dicampur air. Ia lalu duduk lagi dengan lega. Tak dapat diragukan lagi
bahwa kakek itu adalah seorang petani miskin yang sederhana dan jujur. Kalau memang di
dusun ini tidak ada rumah penginapan, tidak ada tempat yang lebih aman dan baik daripada
rumah Pak Tani ini. Goat Lan menurunkan buntalan pakaian dari pundaknya dan
meletakkannya di atas meja, lalu ia duduk melonjorkan kedua kakinya yang penat. Kakek
yang aneh, pikirnya, mengapa ia begitu takut kepada hutan itu?
Tak lama kemudian kakek itu datang membawa makanan. Tanpa banyak cakap mereka
berdua lalu makan bersama bagaikan keluarga serumah. Entah mengapa, duduk makan
bersama kakek di dalam rumah sederhana itu membuat Goat Lan teringat kepada ayah
bundanya! Setelah selesai makan, barulah Goat Lan bertanya mengapa kakek itu melarangnya
memasuki hutan liar itu. Sebelum menjawab, kakek itu mengusap perutnya dan berkata,
“Ah, alangkah nikmatnya makan masakan mahal itu. Sudah bertahun-tahun tidak merasai
makanan sesedap itu.”
Goat Lan tersenyum dan hatinya girang bahwa sedikit uangnya dapat mendatangkan
kenikmatan kepada kakek yang ramah tamah ini. “Kalau setiap hari kau masak masakan
seperti ini, akan lenyaplah kelezatannya, Lopek.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
206
“Kau benar!” kakek itu berseru gembira. “Kau mengingatkan aku akan dongeng tentang raja
yang sudah bosan dengan semua kemewahan dan makanan enak yang setiap hari dihadapinya
sehingga ia tidak doyan lagi makanan-makanan lezat dan mahal yang dihadapinya dan ingin
ia menjadi seorang petani yang dapat makan hidangan sederhana dengan lahapnya. Ia tidak
tahu sama sekali betapa sambil makan hidangannya yang miskin, petani itu pun merindukan
makanan lezat yang dihadap raja. Ha-ha!”
Goat Lan mengangguk. “Demikianlah napsu angkara mempermainkan hati manusia, Lopek.
Selalu bosan akan keadaan diri sendiri dan selalu ingin menjangkau apa yang tidak
dimilikinya.”
“Kau pintar sekali! Ha-ha, kau sungguh mengagumkan, Nona.”
“Lopek, kau belum menjawab pertanyaanku tadi. Mengapakah kau nampak begitu takut
kepada hutan itu dan mengapa pula kau mencegahku memasukinya?”
Tiba-tiba lenyaplah kegembiraan pada wajah kakek itu. Ia menghela napas beberapa kali lalu
menceritakan dengan suara perlahan.
“Hutan itu memang semenjak dulu amat liar. Selain banyak terdapat binatang buas, terutama
sekali ular-ular berbisa, juga belum lama ini di dalam hutan itu muncul seorang siluman yang
amat mengerikan! Dahulu di dalam hutan itu terdapat segerombolan perampok yang
mempergunakan hutan itu sebagai asrama akan tetapi begitu siluman itu muncul, pada suatu
pagi para perampok yang jumlahnya tiga puluh orang lebih tahu-tahu telah menggeletak di
luar hutan dalam keadaan luka-luka hebat dan bertumpuk-tumpuk! Dan menurut cerita
mereka, katanya pada malam hari itu mereka diserang oleh seorang siluman wanita yang
mengerikan! Semenjak saat itu, tidak ada perampok lagi yang mengganggu sekitar daerah ini,
akan tetapi juga tidak ada seorang pun manusia berani memasuki hutan yang mengerikan itu.”
Goat Lan merasa amat tertarik mendengan cerita ini. “Benar-benar tidak pernah ada orang
yang berani memasuki hutan itu, Lopek?” ia bertanya.
Orang tua itu mengerutkan keningnya.
“Semenjak saat itu memang tak pernah ada manusia yang lewat di sini dan terus menuju ke
hutan. Kukatakan manusia, karena tentu saja yang berani memasuki hutan itu hanya iblis-iblis
dan siluman-siluman, bukan manusia biasa seperti yang kulihat kemarin.” Kakek itu nampak
takut-takut dan merasa ngeri ketika ia memandang ke arah pintu depan yang terbuka dan
nampak hitam kelam di luar.
“Apa maksudmu, Lopek? Ada iblis dan siluman yang kaulihat memasuki hutan itu?” ketika
mengajukan pertanyaan ini, biarpun Goat Lan seorang dara perkasa yang tak kenal takut,
namun kini ia merasa betapa bulu tengkuknya meremang!
“Betul, memang mereka bukan manusia!” Kakek itu mengangguk dan berkata sambil
berbisik, “Aku melihat empat bayangan yang seperti sosok bayangan manusia, akan tetapi
luar biasa anehnya. Baru cara mereka berjalan saja sudah aneh, demikian cepatnya seperti
terbang! Memang, kurasa mereka itu berjalan tidak menginjak bumi seperti biasa iblis
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
207
berjalan, melayang-layang satu kaki di atas tanah! Dan bentuk tubuh mereka, sungguh ganjil!
Yang tinggi berkepala kecil, yang pendek berkepala besar. Huh, sungguh menyeramkan!”
“Berapa orangkah semuanya, Lopek?”
“Ada empat! Yang seorang seperti manusia biasa, akan tetapi yang tiga orang, ah, aku masih
menggigil ketakutan kalau teringat akan mereka! Maka, sekali lagi aku minta agar supaya kau
membatalkan niatmu memasuki hutan itu, Nona. Kalau kau hendak melakukan perjalanan,
jangan sekali-kali berani memasuki hutan yang penuh siluman dan binatang buas itu.”
Goat Lan tersenyum. “Percayalah, Lopek, menengar ceritamu tadi, aku pun merasa takut dan
ngeri. Akan tetapi, tentang memasuki hutan, aku takkan mundur. Besok pagi-pagi aku tetap
akan melanjutkan perjalananku memasuki hutan itu, dan apabila seperti yang kau katakan
tadi…”
“Apa yang hendak kau lakukan? Apa dayamu terhadap siluman-siluman yang pandai terbang
melayang? Nona, jangan kau mencari penyakit!”
Goat Lan tersenyum lagi. “Kalau bertemu dengan mereka, akan kusampaikan salamku
kepada mereka, Lopek.”
Kakek itu melengak dan memandang kepada dara perkasa itu dengan mata terbelalak. “Nona,
jangan kau main-main! Tiga puluh lebih perampok yang gagah perkasa dan kuat roboh lukaluka tak berdaya menghadapi seorang siluman wanita dari hutan itu. Apalagi Nona hanya
gadis muda, dan kini dalam hutan itu terdapat sekian banyak siluman!”
Goat Lan tidak menyembunyikan senyumannya. “Lopek, jangan kau khawatir.
Sesungguhnya aku pernah mempelajari ilmu kepandaian dan tahu cara bagaimana harus
menghadapi dan mengalahkan siluman-siluman!”
Tiba-tiba gadis itu memandang ke arah pintu dan alangkah kagetnya hati kakek itu ketika
melihat gadis itu sekali berkelebat telah lenyap dari hadapannya dan terdengar seruan gadis
itu dari luar pintu. “Siluman dari mana mengintai rumah orang?”
Terdengar suara angin di luar pintu dan ketika kakek itu memburu keluar, ia melihat dua
bayangan orang berkelebat seperti sedang bertempur! Tak lama kemudian terdengar seruan
seorang laki-laki yang suaranya parau, ”Aduh...” Dan terlihat olehnya betapa bayangan yang
berseru kesakitan itu berlari cepat ke arah hutan! Ketika kakek itu masih memandang dengan
tubuh menggigil dan muka pucat, ia melihat bayangan ke dua, melompat di depannya dan
ternyata bahwa bayangan ini adalah bayangan gadis yang tadi duduk berhadapan dengan dia.
“Jangan takut, Lopek. Siluman tadi telah pergi.” Ia lalu memegang lengan kakek itu dan
dibawanya masuk ke dalam pondok.
Kedua mata kakek itu hampir keluar dari rongganya ketika ia memandang kepada Goat Lan
dengan mata terbelalak. Sukar sekali dapat dipercaya betapa seorang gadis cantik jelita dan
jenaka seperti ini benar-benar dapat mengusir pergi seorang siluman jahat! Kemudian dalam
benaknya yang telah banyak dipengaruhi cerita tahyul itu timbullah sangkaan bahwa gadis ini
tentulah seorang bidadari, bukan seorang manusia biasa. Ia lalu menjatuhkan diri berlutut di
depan Goat Lan dan berkata,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
208
“Niang-niang (sebutan untuk bidadari atau dewi), mohon maaf sebanyaknya bahwa hamba
tadi berani berlaku kurang ajar dan kurang menghormat. Harap Niang-niang sudi
mengampunkan dosa hamba tadi...”
Hampir saja Goat Lan tertawa bergelak-gelak ketika menyaksikan tingkah laku orang tua ini.
Ia merasa geli sekali dan dengan agak kasar ia membetot tangan kakek itu supaya bangun dan
berdiri kembali.
“Lopek, apakah kau mengajak aku bermain sandiwara? Jangan menyangka yang bukanbukang Lopek, dan marilah kita mengaso. Aku perlu beristirahat untuk menghadapi hari
esok.” Ia lalu memasuki sebuah di antara dua kamar itu dan merebahkan diri di atas
pembaringan tanpa membuka pakaian dan sepatu. Kakek itu setelah berkali-kali menarik
napas panjang saking heran dan kagum, lalu menutup pintu dan buru-buru memasuki kamar
ke dua. Akan tetapi bagaimana ia dapat tidur? Pikirannya penuh dengan siluman-siluman dan
dewi yang gagah perkasa itu dan diam-diam ia merasa girang sekali bahwa ia telah mendapat
kehormatan besar menjadi tuan rumah dari seorang bidadari atau dewi. Ia akan menceritakan
hal ini kepada semua tetangga, dan ia akan menjadikan peristiwa ini sebagai kebanggaannya
seumur hidup.
Akan tetapi, bukan main kagetnya ketika pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia
mendengar suara. “Lopek, selamat tinggal dan terima kasih!” Ketika ia melompat bangun dan
keluar dari kamarnya, ternyata tamunya yang cantik dan aneh itu telah pergi dan tidak berada
di dalam kamar lagi. Di atas mejanya terdapat tiga potong uang perak yang cukup besar!
Kembali kakek itu menjatuhkan diri berlutut dan mulutnya berkemak-kemik seperti laku
seorang dukun meminta berkah dari Penghuni Langit!
Goat Lan memang meninggalkan rumah itu secara diam-diam dan di waktu hari masih pagi
sekali, karena ia merasa tidak enak melihat sikap kakek yang berlebih-lebihan dan yang amat
tahyul itu. Malam tadi, ia telah merasa heran sekali ketika melihat benar-benar ada orang yang
mengintai rumah kakek itu. Lebih-lebih herannya ketika ia menyerbu keluar, ia disambut oleh
seorang laki-laki setengah tua yang berkepandaian tinggi! Begitu keluar pintu karena melihat
berkelebatnya bayangan yang mengintai, ia lalu mengulur tangan hendak menangkap pundak
orang itu dengan gerakan dari Gin-na-hwat (ilmu silat yang mempergunakan tangkapan dan
cengkeraman). Akan tetapi ketika orang laki- laki itu menangkis, Goat Lan merasa betapa
tangkisan itu berat dan kuat sekali mengandung tenaga lwee-kang yang tak boleh dibuat
gegabah! Ia maklum bahwa “siluman” ini adalah seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi,
maka cepat ia lalu mengeluarkan Ilmu Silat Im-yang-kun-hwat dan menyerang hebat. Sampai
beberapa belas jurus orang itu dapat mempertahankan diri akan tetapi akhirnya sebuah
totokan jari tangan Goat Lan pada pundaknya membuat ia berseru kesakitan dan melarikan
diri ke arah hutan!
Hal inilah yang membuat Goat Lan mendapat kesimpulan bahwa di dalam hutan itu tentu
terdapat orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian silat tinggi. Ia masih belum dapat
menetapkan apakah orang-orang itu termasuk golongan orang jahat ataukah orang gagah yang
menyembunyikan diri dari dunia ramai. Orang yang malam tadi bertempur dengan dia adalah
seorang yang memiliki kepandaian tinggi sehingga totokannya tidak membuatnya roboh,
hanya berseru kesakitan akan tetapi masih dapat melarikan diri. Kalau saja ia tidak
mempunyai keperluan mencari obat To-hio-giok-ko yang berada di lembah sungai dalam
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
209
hutan itu, tentu ia tidak mau memasuki hutan mencari penyakit atau perkara dengan orangorang yang dianggap siluman oleh kakek itu.
Dengan waspada dan hati-hati sekali Goat Lan berjalan memasuki hutan itu, lalu mencari
sungai yang mengalir di hutan. Hutan ini benar-benar liar dan penuh dengan pohon-pohon
besar, penuh pula dengan semak-semak belukar yang belum pernah dijamah oleh tangan
manusia. Ketika ia tiba di pinggir sungai yang ditumbuhi rumput-rumput hijau, tiba-tiba ia
mendengar suara gerakan di antara semak-semak. Ia cepat memandang dan menghentikan
langkah kakinya, akan tetapi ia tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Ah, tentu seekor
binatang yang lari bersembunyi, pikirnya. Dengan tenang dan tabah ia melanjutkan
perjalanannya di sepanjang Sungai Sungari yang lebar dan jernih airnya, terus menuju ke
utara. Matanya mencari-cari ke kanan kiri, melihat rumput-rumput yang tumbuh di situ.
Beberapa kali ia seperti mendengar suara tindakan orang yang mengikutinya akan tetapi tiap
kali ia ia tidak melihat bayangan seorang pun. Diam-diam ia merasa ngeri juga. Benarkah
dongeng kakek itu bahwa di dalam hutan ini terdapat banyak siluman dan setan? Ia seperti
mendengar tindakan kaki orang yang ringan sekali dan kalau memang yang berjalan itu
seorang manusia, ia tentu akan dapat melihatnya. Sampai tiga kali ia merasa seperti
mendengar orang berjalan, akan tetapi betapa pun cepatnya ia menengok ke belakang, ia tidak
pernah melihat sesuatu, kecuali daun-daun pohon yang bergerak tertiup angin atau seekor
burung yang terbang sambil mengeluarkan seruan kaget.
Ah, peduli apa dengan siluman maupun orang? Asal saja ia tidak menggangguku, pikirnya. Ia
lalu melanjutkan usahanya mencari daun dan buah obat itu. Akan tetapi sampai matahari naik
tinggi, belum juga ia mendapatkan Daun Golok Buah Mutiara. Banyak terdapat pohon
bermacam-macam di tempat itu, akan tetapi tidak ada yang berdaun seperti golok dan berbuah
seperti mutiara. Goat Lan adalah seorang gadis muda yang lincah dan jenaka, maka ia mulai
merasa tipis harapannya. Ia kurang sabar dan akhirnya ia duduk beristirahat di bawah pohon
sambil makan buah yang dipetiknya di tengah perjalanan itu.
Tiba-tiba ia melempar buah yang dimakannya dan melompat berdiri. Ia mendengar suara
orang bicara dan tak lama kemudian muncullah empat orang laki-laki di tempat itu
berlompatan keluar dari balik pohon-pohon besar. Melihat mereka ini, berdebarlah jantung
Goat Lan dan ia merasa bulu tengkuknya meremang. Benar-benarkah ada siluman muncul di
siang hari? Tiga di antara empat orang yang muncul ini benar-benar tidak pantas disebut
manusia, adapun orang ke empat potongan tubuhnya seperti yang telah bertempur dengan dia
malam tadi! Orang ke empat ini, seorang setengah tua yang bertubuh kekar dan berjenggot
lebat, tersenyum menyeringai dan berkata kepada tiga orang kawannya yang seperti siluman,
“Sam-wi-enghiong (Tuan Bertiga Yang Gagah), inilah Nona yang gagah dan jelita itu!”
Tak salah lagi, orang inilah yang telah bertempur dengan dia malam hari tadi, pikir Goat Lan
dan mendengar orang itu bercakap-cakap dengan bahasa manusia kepada tiga orang yang
seperti siluman, legalah hatinya. Apapun juga yang akan terjadi, ia tidak merasa gentar
menghadapi sesama manusia! Ia mulai menaruh perhatian kepada tiga orang aneh itu.
Memang, tiga orang ini benar-benar mempunyai bentuk yang lucu dan aneh. Mereka ini
bukan lain adalah Hailun Thai-lek Sam-kui (Tiga Iblis Geledek dari Hailun). Yang tertua
bernama Thian-he Te-it Siansu (Manusia Dewa Nomor Satu di Dunia) dan sungguhpun ini
bukan sebuah nama, namun oleh orang ini diaku sebagai nama julukannya! Thian-he Te-it
Siansu ini adalah seorang yang tubuhnya seperti seorang anak-anak, akan tetapi kepalanya
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
210
botak dan jenggotnya sudah putih semua, mukanya jelas muka seorang kakek yang sudah
tinggi usianya. Kedua kakinya kecil seperti kaki anak-anak pula, demikian pun tangannya.
Orang kate ini memegang sebatang payung yang ujungnya tumpul dan setiap ranting
payungnya terbuat dari benda yang berujung runcing dan terbuat dari logam keras. Orang ke
dua adalah seorang pendek gemuk sekali yang bermuka lebar dan mulut serta kedua matanya
besar-besar. Kepalanya tertutup kopyah pendeta yang bertuliskan huruf “Buddha”. Orang ini
selalu tersenyum lebar dan ia berjalan sambil menyeret sebuah rantai panjang dan besar.
Inilah orang kedua dari Hailun Thai-lek Sam-kui yang bernama Lak Mou Couwsu.
Adapun orang ke tiga berpotongan tubuh seperti suling, tinggi kurus dengan kepala kecil
tertutup kopyah kecil pula. Kumisnya hanya beberapa lembar di kanan kiri dan jenggotnya
hitam seperti jenggot kambing modelnya. Ia memegang sebatang tongkat dan namanya adalah
Bouw Ki. Melihat keadaan mereka, agaknya tidak pantas sama sekali bahwa mereka ini
adalah Hailun Thai-lek Sam-kui yang telah terkenal di seluruh dunia kang-ouw dan membuat
para orang gagah gentar mendengar nama mereka!
Orang ke empat, yaitu orang setengah tua yang tadi bertempur dengan Goat Lan, sebenarnya
adalah Bouw Hun Ti! Memang, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Bouw Hun Ti
pergi ke utara untuk membujuk dan minta bantuan Hailun Thai-lek Sam-kui untuk
memperkuat kedudukannya menghadapi musuh-musuhnya, yaitu Pendekar Bodoh dan
kawan-kawannya.
Ketika Bouw Hun Ti dan kawan-kawannya tiba di dusun itu, dan sebagaimana biasa ketiga
orang iblis itu tidak suka bermalam di tempat ramai, melainkan memilih hutan belukar, Bouw
Hun Ti berjalan-jalan dan ia melihat Goat Lan! Bouw Hun Ti selain jahat dan kejam, juga
mempunyai kelemahan terhadap wajah elok. Maka begitu melihat Goat Lan yang cantik jelita
seperti bidadari, ia menjadi tertarik. Malam hari itu ia mendatangi gubuk kakek yang menjadi
tuan rumah Goat Lan, akan tetapi tak disangkanya sama sekali bahwa gadis itu ternyata
bukanlah makanan empuk, bahkan ia terkena totokan yang amat lihai! Tentu saja Bouw Hun
Ti menjadi terkejut dan curiga. Siapakah gadis muda yang lihai sekali ini? Dan apakah
perlunya seorang gadis pendekar bangsa Han sampai di tempat itu? Ia lalu menceritakan
keadaan gadis itu kepada tiga orang kawannya yang juga amat tertarik hatinya.
Seorang di antara ketiga iblis itu, yaitu Lak Mou Couwsu, adalah seorang yang amat malas
dan paling doyan tidur. Sampai matahari naik tinggi, belum juga ia bangun dan masih
mendengkur di bawah pohon di dalam hutan itu. Bouw Hun Ti sudah kehabisan
kesabarannya, karena ingin sekali mencari gadis yang lihai malam tadi. Akan tetapi ketika ia
hendak membahgunkan Lak Mou Couwsu, hampir saja ia menjadi kurban kaki kakek aneh
ini. Begitu ia memegang lengan Lak Mou Couwsu dengan maksud hendak rnenggugahnya,
tiba-tiba kaki kanan orang tua aneh itu bergerak cepat sekali menendang ke arah dadanya!
Baiknya pada saat itu, tangannya telah disambar oleh Thian-he Ta-it Siansu yang
membetotnya ke belakang sehingga tendangan itu tidak mengenai sasaran. Bouw Hun Ti
terkejut sekali dan ketika ia memandang ke arah orang yang masih tidur mendengkur, ia
mendapat kenyataan bahwa kakek gemuk itu masih tidur nyenyak!
“Bouw-enghiong, jangan kau bertindak sembarangan!” Kakek kate botak itu menegurnya.
“Dia ini biarpun amat pemalas dan doyan tidur, akan tetapi sekali-kali tidak boleh
dibangunkan, karena sebelum tidur ia tentu telah memasang dan membuat semua urat-urat
bersiaga. Siapa saja yang menyentuhnya, otomatis tentu akan diserangnya, sungguhpun ia
masih dalam keadaan tidur!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
211
Bouw Hun Ti menjulurkan lidahnya. Selama hidupnya, baru kali ini ia mendengar keanehan
dan kelihaian seperti itu. Oleh karena itu, ia menahan kesabarannya dan menanti sampai
matahari naik tinggi barulah orang tua itu sadar dari pulasnya. Mereka lalu berangkat dan di
tengah jalan bertemulah mereka dengan Goat Lan!
Tiga iblis tua itu memandang kepada Goat Lan sambil tertawa-tawa dan Hailun Thai-lek
Sam-kui bertanya, “Nona muda, kau siapakah dan siapa pula Suhumu sehingga kau mampu
mengalahkan dia?” Ia menunjuk kepada Bouw Hun Ti.
Goat Lan menjura dan berkata dengan halus, “Orang tua, burung-burung di udara bertemu di
angkasa tak pernah saling bertanya dan mengurus persoalan yang tiada sangkut pautnya
dengan dirinya. Kita orang-orang perantau sebaiknya mencontoh burung-burung itu.”
Memang Goat Lan tidak ingin orang mengetahui keadaannya dan tak menghendaki orang
mengetahui akan maksudnya mencari obat untuk putera kaisar. Siapa tahu orang ini termasuk
mereka yang hendak menghalangi usaha mendiang suhunya.
Mendengar jawaban ini, Thian-he Te-it Siansu tertawa bergelak dan ia memandang kepada
kawan-kawannya yang juga tertawa geli. Hanya Bouw Hun Ti seorang yang memandang
kepada Goat Lan dengan pandang mata menyatakan kekagumannya dan juga penasaran.
Setelah melihat Goat Lan di siang hari, ia makin tertarik akan kecantikan nona ini dan makin
penasaranlah hatinya mengapa ia sampai kalah oleh seorang nona yang demikian muda.
“Ha-ha, Nona yang baik!” kata Thian-he Te-it Siansu, “kau tidak saja berkepandaian
lumayan akan tetapi juga memiliki pandangan luas dan ketabahan yang cukup. Hutan yang
seliar ini kau berani masuki. Sungguhpun aku orang tua tidak dapat menyangkal kebenaran
ucapanmu, akan tetapi ketahuilah bahwa baru bertemu dengan kami tiga orang-orang tua saja
sudah merupakan hal yang langka dan luar biasa bagimu. Kami adalah Hailun Thai-lek Samkui, tiga orang tua dari Hailun yang bodoh! Dan sahabat baik kami ini,” ia menudingkan
telunjuknya ke arah Bouw Hun Ti, “adalah seorang yang cukup ternama juga. Namanya
Bouw Hun Ti dan kepandaiannya cukup lihai! Nah, setelah kami memperkenalkan nama,
masihkah kau menganggap bahwa kau terlampau tinggi untuk memperkenalkan diri kepada
kami?”
Goat Lan terkejut sekali mendengar nama ketiga orang tua ini karena ia pun pernah
mendengar dari kedua suhunya bahwa Hailun Thai-lek Sam-kui adalah tokoh-tokoh persitatan
yang pandai dan ditakuti orang. Akan tetapi, mendengar nama Bouw Hun Ti membuat dia
lebih tercengang lagi dan kemarahan membuat mukanya menjadi merah padam. Inikah si
jahat yahg pernah menculik Lili dan membunuh Yousuf?
“Sam-wi Locianpwe,” katanya kepada kakek kate itu sambil menjura memberi hormat,
“sesungguhnya merupakan kehormatan besar bagi teecu (murid) yang muda dan bodoh telah
dapat bertemu muka dengan Sam-wi Locianpwe. Teecu bernama Kwee Goat Lan.”
Terbuka lebar mata ketiga orang kakek itu. “Ha, kau sudah pernah mendengar nama kami?
Bagus, kalau begitu, tentu kau murid seorang pandai.”
Akan tetapi Goat Lan tidak mempedulikan ucapan ini, sebaliknya ia lalu memandang dengan
penuh kebencian kepada Bouw Hun Ti dan berkata,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
212
“Orang she Bouw, kalau aku tahu bahwa siluman yang malam tadi mengintai rumah kakek
petani adalah jahanam yang bernama Bouw Hun Ti, tentu aku takkan mau melepaskanmu
begitu saja! Bouw Hun Ti, bersiaplah kau untuk menebus semua dosa-dosamu dan mampus di
tanganku!” Sambil berkata demikian, Goat Lan mencabut keluar sepasang bambu runcingnya
dan siap hendak menyerang Bouw Hun Ti.
“Eh, Nona manis, sudah miringkah otakmu? Kenapa kau tiba-tiba menjadi marah dan begitu
membenciku?” Bouw Hun Ti lebih merasa heran daripada marah mendengar makian itu
karena sesungguhnya ucapan gadis ini tidak pernah disangkanya.
“Kau pernah menculik Lili puteri Pendekar Bodoh, juga secara kejam kau telah membunuh
Kakek Yousuf! Kalau aku memberitahumu bahwa aku adalah puteri dari Kwee An, apakah
otakmu yang tumpul masih tidak tahu mengapa aku hendak membunuhmu?” Sambil berkata
demikian secepat kilat tubuhnya berkelebat maju dan ia mengirim serangan maut ke arah
tubuh Bouw Hun Ti. Orang she Bouw ini menjadi terkejut sekali ketika ia mendengar bahwa
nona ini adalah puteri dari Kwee An dan lebih-lebih kagetnya ketika ia melihat serangan yang
mendatangkan angin dingin mengerikan itu. Ia cepat melompat mundur ke belakang, akan
tetapi kedua ujung bambu runcing di tangan Goat Lan tidak mau melepaskannya dan terus
mengejar hebat. Terpaksa Bouw Hun Ti mencabut keluar goloknya dan melakukan
perlawanan sekuatnya. Akan tetapi, begitu goloknya bertemu dengan bambu runcing gadis
itu, ia merasa tangannya tergetar dan secara aneh sepasang bambu runcing itu menggunting
goloknya dan diputar sedemikian rupa sehingga goloknya kena dirampas!
Bouw Hun Ti berteriak kaget dan cepat ia melompat ke belakang tiga orang kakek yang
memandang kagum.
“Sam-wi Lo-enghiong! Dia ini adalah keponakan Pendekar Bodoh dan seorang diantara
musuh-musuhmu yang sombong itu!”
Thian-he Te-it Siansu melompat ke depan sambil menggerakkan payungnya. Senjata
istimewa ini mengeluarkan angin sambaran yang kuat sekali sehingg Goat Lan cepat
miringkan tubuh dan menyabetkan bambu runcingnya. Ia maklum bahwa kakek ini tinggi
sekali ilmu silatnya, maka ia lalu berkata,
“Locianpwe, harap kau orang tua tidak mencampuri urusan pribadi orang lain!”
“Ha-ha-ha, Nona yang gagah perkasa! Kami bertiga sengaja datang turun gunung karena
dimintai bantuan oleh sahabat Bouw Hun Ti. Kulihat kau mainkan Ilmu Silat Bambu Runcing
dari Hok Peng Taisu, sungguh mengagumkan! Biarlah kita main-main sebentar dan berilah
kesempatan kepadaku untuk merasakan kelihaian bambu runcing dari Hok Peng Taisu!”
sambil berkata demikian, payungnya meluncur ke depan dan ternyata bahwa ujung payung
yang tumpul itu dipergunakan untuk menotok jalan darah lawan! Gerakannya cepat dan
bertenaga besar, sedangkan tiap kali payung itu ditarik kembali, maka cabang-cabangnya
berkembang merupakan perisai (tameng) yang kuat untuk menjaga diri!
“Twa-suheng (Kakak Seperguruan Tertua), jangan borong sendiri, biarkan siauwte (Adik)
merasai kelihaian Nona ini!” seru Lak Mou Couwcu yang segera memutar rantai bajanya.
Memang ketiga orang kakek ini paling suka bertempur. Di dalam dunia persilatan tingkat
tinggi, hanya ada dua rombongan orang aneh yang paling doyan bertempur. Rombongan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
213
pertama adalah Hek Pek Mo-ko (Dua Saudara Setan Hitam dan Putih) yang amat ditakuti
orang karena tiap kali kedua orang saudara ini turun tangan dalam pertempuran, pasti mereka
membunuh orang. Keduanya merupakan manusia buas yang haus darah. Berkelahi dan
membunuh orang merupakan “hobby” (kesukaan) mereka, tanpa mempedulikan siapakah
orang yang dibunuhnya itu dan apa alasannya! Pembaca dari cerita Pendekar Bodoh tentu
masih ingat bahwa Hek Mo-ko menjadi guru dari Kwee An dan betapa kedua orang Iblis
Hitam dan Putih ini kemudian tewas karena bertempur sendiri.
Rombongan ke dua yang paling doyan berkelahi adalah Hailun Thai-lek Sam-kui ini. Juga
bagi mereka ini, pertempuran merupakan kebiasaan dan kesukaan, sungguhpun sifat mereka
berbeda dengan Hek Pek Mo-ko. Ketiga orang kakek ini suka berkelahi dan mencoba
kepandaian orang lain, hanya untuk membuktikan bahwa mereka memiliki kepandaian yang
lebih unggul! Mereka tidak biasa membunuh lawan yang mereka kalahkan, cukup asal
mempermainkan mereka saja dan memaksa agar lawan-lawan mereka itu mengaku kalah! Di
dalam setiap pertempuran, ketiganya tentu maju bersama, bukan dengan maksud mengeroyok
karena sifat mereka curang, melainkan tak seorang pun di antara mereka yang mau mengalah
dan yang mau tinggal diam, karena ketiganya haus akan kemenangan dan ingin mempunyai
saham dalam kemenangan itu!
Demikianlah, ketika Thian-he Teit Siansu menyerang Goat Lan, Lam Mou Couwsu si kakek
gemuk bertopi pendeta Buddha itu lalu maju pula menyerang, dan Si Tinggi Kurus pun lalu
melompat maju memutar tongkatnya! Tentu saja Goat Lan merasa mendongkol sekali melihat
betapa Hailun Thai-lek Sam-kui yang terkenal memiliki kepandaian tinggi itu
mengeroyoknya. Hal ini ia anggap amat tidak tahu malu dan curang. Lenyaplah semua
penghormatannya terhadap tiga orang kakek ini.
“Bagus, tidak tahunya kalian hanyalah tua-tua bangka tidak tahu malu!” teriaknya sambil
memutar sepasang bambu runcingnya dengan cepat sekali sehingga sepasang senjata ini
berubah menjadi dua sinar kuning yang bergulung-gulung!
Melihat betapa tiga orang kakek sakti itu mengeroyok Goat Lan, Bouw Hun Ti diam-diam
tersenyum girang. Dari serangan tadi, ia telah maklum akan kelihaian gadis puteri Kwee An
ini, maka kalau tidak dilenyapkan sekarang, mau tunggu kapan lagi? Ia lalu melompat maju
dengan golok di tangan, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara keras dan goloknya terlempar
lagi dari pegangan! Kalau tadi sepasang bambu runcing di tangan Goat Lan telah
melemparkan goloknya yang diambilnya kembali, kini goloknya teelempar lebih jauh lagi. Ia
menjadi sangat terkejut karena tahu bahwa yang menangkis goloknya dan membuat
senjatanya terlempar itu adalah rantai baja di tangan Lak Mou Couwsu!
“Minggirlah dan jangan mengganggu kami kalau kami sedang bermain-main dengan Nona
ini!” Lak Mou Couwsu berkata. “Gangguanmu itu sama artinya dengan penghinaan!”
Bukan main heran dan kagetnya hati Bouw Hun Ti menyaksikan watak yang aneh ini.
Terpaksa ia mengambil kembali goloknya dan berdiri menonton saja, sama sekali tidak berani
coba-coba lagi untuk membantu.
Sementara itu, Goat Lan merasa amat gelisah ketika mendapat kenyataan bahwa ilmu silat
ketiga orang kakek ini benar-benar tinggi dan lihai. Kalau saja mereka maju seorang demi
seorang, agaknya ia masih akan sanggup melawannya, akan tetapi dikeroyok tiga oleh tiga
orang tokoh persilatan yang memiliki kepandaian tinggi, sebentar saja ia telah terkurung dan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
214
sinar senjatanya makin rnengecil, tanda bahwa gerakannya amat terkurung dan tidak leluasa.
Ia hanya mengandalkan kegesitan tubuhnya, untuk mengelak dan menangkis setiap serangan
yang datang. Yang membuat ia terheran dan mendongkol adalah kenyataan bahwa tiga orang
kakek ini tidak bermaksud mencelakakannya. Setiap kali senjata mereka telah mendekat
tubuhnya, maka senjata itu tiba-tiba ditarik kembali dan terdengar suara kakek-kakek itu
tertawa mengejek! Goat Lan merasa dirinya dipermainkan, maka ia lalu menahan napas
mengumpulkan semangat untuk mengadakan perlawanan yang hebat.
Tiba-tiba dengan seruan keras, ujung rantai baja di tangan Lak Mau Couwsu menangkap dan
membelit kedua bambu runcingnya dan dari kiri menyambarlah ujung payung Thian-he Te-it
Siansu menotok nadi tangannya ditambah lagi dengan totokan dari kanan oleh ujung tongkat
Bouw Ki si tinggi kurus ke arah nadi tangan kanannya!
Terpaksa untuk menolong kedua tangannya, Goat Lan melepaskan sepasang bambu
runcingnya. Terdengar gelak terbahak dari ketiga orang kakek itu,
“Aduh, sungguh lihai Ilmu Silat Bambu Kuning dari Hok Peng Taisu!” kata Si Kakek Kate.
“Hayo, mengakulah bahwa kau kalah terhadap kami!” seru Lak Mou Couwsu sambil
melemparkan sepasang bambu runcing itu ke atas tanah.
“Akuilah bahwa kami Hailun Thailek Sam-kui lebih menang daripada Hok Peng Taisu yang
terkenal!” juga Bouw Ki mendesak.
Akan tetapi, Goat Lan adalah puteri dari suami isteri pendekar besar gagah berani, juga murid
dari guru-guru besar yang sakti. Mana dia mau mengaku kalah begitu saja? Sambil
menggertak gigi, ia lalu mainkan serangan dari Ilmu Silat Im-yang-sin-na, yaitu ilmu silat dari
suhunya Ciu-sin-mo Im-yang Giok-cu tokoh Kun-lun-san yang terkenal itu!
Thian-he Te-it Siansu cepat menyambut serangan ini dengan gembira, dan setelah bertempur
sepuluh jurus, ia berkata dengan gembira,
“Aduh! Bukankah ini Im-yang Sin-na dari Kun-lun-pai? He, Nona kau tentu murid dari Imyang Ciok-cu, tosu pemabukan itu, bukan?”
“Memang Im-yang Giok-cu adalah Suhuku!” jawab Goat Lan dan memperhebat
serangannya.
“Bagus!” Lak Mou Couwsu dan Bouw Ki berseru keras. “Hari ini benar-benar kita beruntung
sekali! Setelah mencoba kepandaian dari Hok Peng Taisu dan berhasil mengalahkannya,
sekarang mendapat kesempatan untuk mengalahkan Im-yang Giok-cu sutenya! Ha-ha-ha!”
Mereka lalu maju menyerbu lagi dan kembali Goat Lan yang bertangan kosong dikeroyok tiga
oleh Thai-lek Sam-kui yang bersenjata aneh!
Memang guru Goat Lan yang bernama Im-yang Giok-cu adalah sute (adik seperguruan) dari
Hok Peng Taisu. Ilmu Silat Im-yang-sin-na yang dimainkan oleh Goat Lain adalah ilmu silat
yang memang khusus dipergunakan untuk menghadapi lawan yang bersenjata. Kalau saja
yang mengeroyok Goat Lan orang lain yang tingkat kepandaiannya seperti Bouw Hun Ti saja,
besar kemungkinan ia akan dapat merampas senjata-senjata para pengeroyoknya. Akan tetapi,
yang ia hadapi sekarang adalah Thai-lek Sam-kui, tokoh-tokoh persilatan yang amat tinggi
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
215
ilmu kepandaiannya, maka biarpun senjata-senjata mereka hanya senjata aneh yang sederhana
saja, namun sukarlah baginya untuk dapat merampas senjata mereka! Kembali ia terkurung
dan terdesak hebat!
Pada suatu saat, dengan amat jitunya, ujung payung di tangan Thian-he Te-it Siansu telah
menotok pundak kanan Goat Lan di bagian jalan darah Kim-seng-hiat! Kalau orang lain yang
tertotok, betapapun lihainya, tentu tubuh atas bagian kanan akan menjadi kaku dan tak
berdaya lagi. Akan tetapi Goat Lan tidak percuma menjadi murid tersayang dari Yok-ong Sin
Kong Tianglo Si Raja Obat, tokoh yang amat terkenal karena kepandaiannya dalam hal
pengobatan. Dari suhunya ini, Goat Lan telah banyak mempelajari ilmu kepandaian untuk
mengobati segala macam luka dan penderitaan tubuh, juga tentang penotokan berbagai
pukulan yang berbahaya. Begitu merasa pundaknya kaku karena totokan yang lihai itu, tibatiba tubuhnya melompat ke atas mengandalkan tenaga kedua kaki, berjungkir balik di udara
sambil mengeluarkan seruan keras dari dalam dada, “Hu! Hu! Hu!” Kemudian setelah
tubuhnya tiba di atas tanah, ia sengaja menjatuhkan tubuhnya dengan pundak kanan di bawah,
lalu bergulingan beberapa kali. Dan ketika ia melompat kembali, ternyata bahwa totokan pada
jalan darah Kim-seng-hiat di pundak kanannya itu telah sembuh!
Melihat perbuatan gadis ini, ketiga orang kakek itu saling pandang dengan mata terbelalak.
Thian-he Te-it Siansu lalu maju selangkah dan berkata dengan suara menyatakan
keheranannya.
“Hai! Bukankah yang kauperlihatkan barusan adalah Ilmu Menolak Tiam Hwat dari Yok-ong
Sin Kong Tianglo?”
“Dia adalah Suhuku juga!” jawab Goat Lan dengan singkat dan marah karena ia masih
merasa mendongkol sekali.
“Hebat!” kakek kate itu memuji. “Kau menjadi seorang muda yang benar-benar beruntung.
Mewarisi kepandaian Hok Peng Taisu, Im-yang Giok-cu, dan Sin Kong Tianglo! Nona, kalau
kau tidak memberi tahu bahwa kau adalah murid Sin Kong Tianglo, hal itu masih tidak apa.
Akan tetapi setelah kami tahu bahwa kau adalah murid Sin Kong Tianglo, kami takkan dapat
melepaskan kau sebelum kau menyerahkan Thian-te-ban-yo Pit-kip (Kitab Rahasia Selaksa
Pengobatan Bumi Langit)! Bukankah gurumu itu setelah meninggal dunia lalu meninggalkan
kitab obatnya kepadamu?”
Goat Lan terkejut sekali. Benar seperti telah dikatakan oleh gurunya, Im-yang Giok-Cu,
bahwa banyak sekali orang-orang kang-ouw yang menghendaki kitab rahasia yang amat
berharga itu. Dan kini ketiga orang iblis tua ini telah dapat menduganya, celaka! Mengingat
akan kelihaian ketiga orang tua ini, tanpa banyak cakap lagi Goat Lan lalu melompat pergi
sambil mengerahkan tenaga dan kepandaiannya melarikan diri!
“He, Nona! Kau tak boleh pergi sebelum menyerahkan kitab itu kepada kami.!” Ketiga orang
kakek itu mengejarnya dengan gerakan mereka yang juga amat cepatnya.
Goat Lan telah memiliki gin-kang yang luar biasa sekali dan ia telah melatih diri untuk dapat
berlari secepat kijang melompat. Sebentar saja ia telah lari jauh meninggalkan hutan itu dan
ketika ia tiba di lembah sungai yang bercadas dan penuh batu karang, para pengejarnya telah
dapat menyusulnya!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
216
“Nona, kau harus mengalah terhadap kami orang-orang tua!” seru Lam Mou Couwsu yang
segera menggerakkan rantai bajanya yang menyambar ke arah kedua kaki Goat Lan bagaikan
seekor ular menyerang!
Goat Lan mempergunakan gin-kangnya melompat tinggi sambil tersenyum dan mengejek,
“Kalian ini tua bangka-tua bangka yang benar-benar jahat dan curang! Tidak malukah
mengeroyok seorang gadis muda yang bertangan kosong?”
Pada saat itu, ujung payung di tangan Thian-he Te-it Siansu telah menyerang dengan totokan
pada pinggangnya, akan tetapi biarpun tubuh Goat Lan masih berada di udara, gadis ini dapat
menggerakkan kaki dan tangan kanan untuk miringkan tubuh sehingga totokan ini pun tidak
mengenai sasaran. Akan tetapi, begitu tubuhnya turun di atas tanah, ia telah dikurung kembali
dengan rapat dan hebat oleh desakan-desakan tiga orang kakek lihai itu.
Goat Lan berada dalam keadaan amat terdesak dan berbahaya sekali. Tiba-tiba terdengar
seruan orang yang amat nyaring sehingga membuat anak telinga terasa sakit. Seruan ini
dibarengi dengan berkelebatnya bayangan merah yang cepat dan kuat sekali gerakannya.
Sinar pedang berkilau ketika orang yang berpakaian merah ini menggerakkan pedangnya dan
terdengar suara keras tiga kali “Trang! Trang! Trang!” disusul oleh seruan kakek dari Hailun
Thai-lek Sam-kui yang melihat betapa ujung senjata mereka semuanya telah terbabat putus!
Tanpa banyak cakap lagi ketiga orang kakek aneh ini lalu melompat pergi dan melarikan diri
dari situ!
Ketika Goat Lan memandang, ternyata yang datang menolongnya adalah seorang wanita tua
sekali. Wanita ini berpakaian serba merah, memegang sebatang pedang yang berkilauan
cahayanya dan yang telah dimasukkannya kembali ke sarung pedangnya. Rambut wanita ini
telah putih semua, kulit mukanya penuh keriput menyatakan bahwa usianya sudah amat tua,
akan tetapi sepasang matanya bersinar tajam dan bening sekali seperti mata seorang anak
kecil atau mata seorang gadis yang elok!
“Siapakah kau yang begitu bodoh memasuki hutan liar seperti ini?” tanya nenek ini dan
biarpun suaranya nyaring dan merdu, akan tetapi terdengar galak sekali. Pandang matanya
seakan-akan hendak menembus jantung Goat Lan.
Gadis ini cepat menjura dengan penuh hormat, lalu ia menjawab,
“Terima kasih banyak, kalau tidak ada kau orang tua yang menolong, entah bagaimana
dengan nasibku. Aku bernama Kwee Goat Lan, puteri dari Kwee An di Tiang-an.”
Nenek itu memandang tajam. “Hemm, jauh-jauh kau dari Tiang-an sampai di tempat ini, ada
keperluan apakah?” Entah mengapa, terhadap nenek ini, Goat Lan menaruh kepercayaan
besar. Sungguhpun sikap nenek ini amat galak, akan tetapi ada sesuatu pada diri nenek ini
yang menimbulkan penghormatan dan kepercayaannya. Agaknya sepasang mata yang bening
itulah!
“Sesungguhnya, aku menjalankan tugas dari Suhu Sin Kong Tianglo yang sudah meninggal
dunia, untuk mencari obat “to-hio-giok-ko” yang katanya tumbuh di sekitar lembah sungai
ini. Tidak tahunya, obat belum ditemukan, sebaliknva aku mendapat gangguan dari Hailun
Thai-lek Sam-kui itu. Baiknya kau orang tua yang amat gagah perkasa datang menolongku.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
217
“Bodoh!” Nenek itu mencela. “Hanya karena mereka kaget melihat ketajaman pokiamku
(pedang mustikaku) saja yang menolongmu. Kalau mereka tidak lari, belum tentu aku dapat
mengalahkan mereka! Kau katakan tadi hendak mencari to-hio-giok-ko? Untuk apakah?”
“Untuk mengobati penyakit yang diderita oleh putera Kaisar.” Dengan terus terang Goat Lan
lalu menceritakan pengalamannya yang didengarkan oleh nenek itu dengan tidak sabar.
“Bodoh! Benar-benar bodoh! Mengapa mengorbankan nyawa sendiri untuk menolong nyawa
orang? Gila dan ganjil sekali.”
“Mohon tanya, siapakah sebenarnya Suthai ini?” Goat Lan menyebut suthai karena ia
mengira bahwa wanita ini tentulah seorang pertapa yang mengasingkan diri.
Nenek itu tidak menjawab untuk beberapa saat. Kemudian ia menggerakkan tangan dan
menjawab. “Tak usah kau pusingkan hal itu. Kau mau mencari To-hio-giok-ko, marilah kau
ikut padaku!”
Goat Lan menjadi girang sekali dan tidak merasa sakit hati karena nenek itu tidak mau
mengaku siapa namanya. Yang paling penting baginya adalah mendapatkan buah dan daun
itu, agar ia dapat menyelesaikan tugasnya dan dapat pulang. Nenek itu membawanya ke utara
dan sekira dua jauhnya dari situ, mereka memasuki sebuah hutan kecil yang gelap. Senjakala
telah menghilang, terganti malam penuh bintang yang membuat cahaya redup dan sayu
membayang di sekitar hutan itu.
“Untung kau bertemu dengan aku, kalau tidak, apabila kau mencari obat itu di siang hari,
sampai selama hidupmu pun kau takkan berhasil.”
Goat Lan tidak mengerti apa maksud ucapan ini akan tetapi diam-diam ia berpikir, siapakah
gerangan wanita aneh ini? Inikah yang dianggap siluman oleh kakek petani itu? Wanita inikah
yang telah mengalahkan tiga puluh orang perampok?
Mereka lalu pergi ke dekat sungai dan tiba-tiba wanita tua itu berkata sambil menudingkan
telunjuknya ke arah sebatang pohon yang besar.
“Kau lihat, bukankah buah itu mengeluarkan sinar seperti mutiara? Itulah yang disebut giokko (buah mutiara) dan daunnya juga seperti golok bentuknya, maka disebut to-hio (daun
golok). Nah, kauambillah buah dan daun itu.”
Bukan main girangnya hati Goat Lan. Ia segera melompat dan bergantung pada cabang
terendah kemudian ia mengayun tubuhnya ke atas dan berdiri di atas cabang itu. Tadinya ia
merasa heran melihat buah yang besarnya hanya sekepalan tangan itu nampak berkilau dari
bawah, seakan-akan yang bergantungan pada pohon itu bukan buah, melainkan batu-batu
giok! Akan tetapi setelah dekat, tahulah ia mengapa buah-buah itu berkilau. Ternyata bahwa
buah-buah itu mengeluarkan semacam getah dari kulitnya dan getah ini amat bening sehingga
ketika tertimpa cahaya bintang lalu berkilau di dalam gelap! Daun-daunnya berwarna hijau,
bentuknya seperti golok-golok kecil dan ujungnya runcing. Cepat ia memetik lima butir buah
dan mengumpulkan belasan daun. Semua buah dan daun itu ia masukkan ke dalam buntalan
pakaiannya yang bergantung di punggungnya. Lalu ia melompat turun di depan nenek yang
masih memandang dengan mata tajam itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
218
Goat Lan menjura di depan nenek itu. “Suthai, alangkah besar pertolonganmu kepadaku,
tidak saja kau telah membantuku mengusir Thai-lek Sam-kui, akan tetapi kau juga telah
menolongku mendapatkan obat ini. Hanya sayangnya, Suthai belum memberitahukan nama
sehingga aku tidak tahu kepada siapa aku harus selalu mengingat budi ini.”
Mendengar ucapan yang sopan santun dan ramah ini, wajah nenek itu yang tadinya muram
dan galak lalu melembut dan senyum membayang di bibirnya.
“ANAK baik, kau tadi mengaku bahwa kau adalah puteri dari Kwee An, seorang pendekar
yang sudah lama kukenal namanya yang besar. Oleh karena itu, mengapa aku tidak mau
menolongmu? Keturunan orang baik-baik tentu di mana pun juga ia berada akan mendapat
bantuan orang lain. Soal aku dan namaku, tak perlu kuingat lagi, anakku. Sekarang lebih baik
kau ikut ke goaku untuk bermalam, karena di dalam hutan ini, tidak mungkin kau dapat
melanjutkan perjalananmu. Besok pagi-pagi boleh kau melanjutkan perjalanan.”
Setelah berkata demikian, nenek itu lalu membalikkan tubuh dan berjalan pergi tanpa
menengok lagi, seakan-akan ia tclah merasa pasti bahwa gadis itu tentu akan mengikutinya.
Suaranya tadi biarpun amat ramah, akan tetapi mengandung pengaruh yang besar. Goat Lan
tidak rnembantah dan berjalan mengikuti nenek itu.
Mereka tiba di depan sebuah goa di antara batu-batu karang yang tinggi dan dengan
tangannya nenek itu mempersilakan Goat Lan masuk ke dalam. Heranlah nona itu ketika
memasuki goa yang dari luar nampak besar dan hitam, karena ternyata bahwa di dalam goa
itu terdapat sebuah lampu bernyala terang dan keadaan kamar itu bersih sekali. Hanya
terdapat sebuah pembaringan terbuat daripada kayu di tempat itu, maka Goat Lan lalu
mengambil tempat duduk di atas sebuah batu hitam yang halus.
“Jangan kau duduk di situ, itu tempatku bersamadhi. Kau pakailah pembaringan dan
tidurlah!” kata nenek tadi.
Tentu saja Goat Lan merasa sungkan sekali. Sebagai seorang tamu, bagaimana ia bisa
merampas tempat tidur nyonya rumah yang hanya satu-satunya itu?
“Tidak, Suthai, biarlah aku mengaso sambil duduk di sini saja. Suthai tidurlah di
pembaringan itu.”
“Anak bandel! Mana ada aturan yang muda harus mengalah terhadap yang tua? Kau tidurlah
di situ dan kalau membandel terhadapku, lebih baik kau keluarlah lagi!”
Goat Lan menjadi terkejut dan biarpun ia merasa amat mendongkol menyaksikan kekasaran
orang, akan tetapi ia tetap menurut. Sambil tersenyum sungkan ia lalu duduk di atas
pembaringan itu, merasa sungkan sekali untuk merebahkan dirinya.
“Kau tidurlah!” kembali nenek itu memerintah sambil menduduki batu dalam keadaan bersila
seperti orang bersamadhi.
Goat Lan memang sudah merasa lelah sekali sehabis bertempur melawan tiga orang kakek
yang lihai itu, maka ia lalu merebahkan dirinya di atas pembaringan itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
219
“Kau bilang tadi bahwa kau adalah puteri dari Kwee An dan Ma Hoa? Apakah kau puteri
tunggal mereka?” tiba-tiba nenek itu bertanya.
Goat Lan tercengang mendengar pertanyaan ini karena sepanjang ingatannya, ia belum
pernah menyebutkan nama ibunya. Akan tetapi ia menjawab juga.
“Betul, Suthai, aku adalah puteri tunggal mereka. Kenalkah Suthai kepada ayah-bundaku?”
Akan tetapi nenek itu hanya berkata singkat. “Kau tidurlah dan berangkat pagi-pagi.” Karena
nenek itu nampak meramkan kedua matanya, Goat Lan tidak berani mengganggunya lagi.
Dengan heran ia menduga-duga siapakah gerakan nenek yang aneh dan yang agaknya telah
mengenal ayah-bundanya ini, dan akhirnya ia tidur nyenyak.
Menjelang fajar, ketika sadar dari pulasnya, Goat Lan mendengar suara isak tangis tertahan.
Ia menjadi heran sekali dan tanpa menggerakkan tubuhnya, ia membuka mata dan mengerling
ke arah nenek itu. Ternyata bahwa nenek itu tidak duduk bersamadhi sebagaimana yang
dilihatnya sebelum ia tidur, akan tetapi kini nenek itu menggunakan kedua tangannya
menutup mukanya dan tubuhnya bergoyang-goyang menahan tangis dan sedu sedan! Tentu
saja Goat Lan merasa terkejut dan heran, akan tetapi ia tidak berani bergerak dan hanya
memandang nenek itu melalui bulu matanya.
Tiba-tiba nenek itu bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Giok Lan yang masih
rebah telentang dengan mata meram. Untuk beberapa saat lamanya, nenek itu menatap wajah
Goat Lan, lalu berisik perlahan, “Kau puteri tunggal Ma Hoa... alangkah cantik dan gagah, ah,
sayang Siong-ji tidak berada di sini...” Setelah berkata demikian, nenek itu melangkah maju,
membungkuk dan mencium jidat Goat Lan yang berkulit halus dan putih.
Ketika nenek itu menciumnya, Goat Lan mencium bau yang harum seperti bau bunga Ci-lan
dan setelah nenek itu melangkah mundur sambil menghela napas berulang-ulang, Goat Lan
membuka sedikit matanya. Di dalam keadaan yang suram, ia melihat tubuh nenek itu yang
masih langsing dan penuh, rambutnya terlepas dan panjang sekali, sedikit pun tidak nampak
ubannya dan rambut itu di dalam gelap kelihatan hitam dan berombak. Wajahnya yang
memang baik bentuknya itu tidak kelihatan keriputnya, hanya kelihatan sebagai bayangbayang hitam dari wajah wanita yang cantik sekali!
Bagaikan mendapat cahaya penerangan kilat, tiba-tiba timbul dugaan yang pasti dalam
pikiran Goat Lan. Tanpa disadarinya, ia berseru keras,
“Ang I Niocu...!!”
Nenek itu nampak terkejut dan melompat mundur bagaikan diserang oleh seekor ular dari
bawah. Terdengar ia mengeluarkan seruan tertahan yang aneh, setengah tertawa setengah
menangis, kemudian tubuhnya bergerak dan sekali berkelebat, ia telah melompat keluar!
“Ang I Niocu... tunggu...!” Goat Lan berteriak sambil melompat dan mengejar keluar, akan
tetapi ketika ia tiba di luar goa, ternyata bayangan nenek itu tidak nampak lagi! Goat Lan
menarik napas panjang berkali-kali dengan hati kecewa. Dia tentu Ang I Niocu, pikirnya
dengan hati berdebar tegang. Ia telah mendengar dari ibunya tentang pendekar wanita yang
hebat ini. Tadinya ia sama sekali tidak pernah mengira bahwa nenek yang keriputan dan
berambut putih itu adalah Ang I Niocu, karena menurut cerita ibunya, Ang I Niocu adalah
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
220
seorang wanita yang tercantik di dunia ini. Akan tetapi, ketika kegelapan menyembunyikan
uban dan keriput nenek itu, Goat Lan melihat bayangan seorang wanita yang benar-benar
cantik, gagah dan mengeluarkan keharuman seperti bunga Ci-lan, maka timbullah dugaannya
bahwa nenek itu tentu Ang I Niocu.
Setelah merasa yakin bahwa nenek itu tidak mau bertemu dengan dia lagi, dan karena obat
yang dicarinya telah terdapat, Goat Lan lalu keluar dari hutan itu dan kembali ke selatan.
Selain membawa obat itu ke kota raja, ia hendak pulang dulu untuk mengambil kitab obat
yang ditinggalkan suhunya, karena kitab itu penting sekali baginya untuk menjadi petunjuk
mengobati penyakit putera Kaisar. Dan di dalam perjalanannya pulang inilah ia lewat dusun
Tong-sin-bun. Ia telah melakukan perjalanan cepat sekali sehingga tanpa diketahuinya ia telah
dapat meninggalkan Bouw Hun Ti dan Thai-lek Sam-kui yang melakukan perjalanan sambil
melancong. Kebetulan sekali, ia melihat Ban Sai Cinjin dan setelah mengadakan
penyelidikan, ia mendengar tentang keadaan orang tua yang mewah itu. Mendengar tentang
kakek yang pernah didengar namanya yang amat terkenal ini, Goat Lan menunda
perjalanannya dan mengambil keputusan untuk menyelidiki keadaan kelenteng di hutan. Ia
pernah mendengar dari ayahnya bahwa Ban Sai Cinjin yang berjuluk Huncwe Maut adalah
suhu dari Bouw Hun Ti.
Demikianlah, sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, malam hari itu Goat Lan dapat
menolong nyawa putera Pangeran Ong Tek dan Tan Kauwsu, bahkan ia lalu bersama Lili
yang telah dibebaskan oleh Kam Seng, mengadu kepandaian melawan Wi Kong Siansu yang
lihai.
Lili merasa kagum dan tertarik mendengar penuturan Goat Lan, terutama sekali tentang
pertemuan Goat Lan dengan Ang I Niocu.
“Dan sekarang, kau hendak ke kota raja atau pulang dulu, Goat Lan?” tanya Lili sambil
memandang wajah calon iparnya yang cantik manis.
“Aku harus pulang dulu ke Tiang-an, membuat persiapan mengobati penyakit yang diderita
oleh putera Kaisar.”
“Bagus, kalau begitu, marilah kita pergi bersama, karena aku pun hendak mengunjungi orang
tuamu.”
Berangkatlah kedua orang dara remaja yang cantik jelita dan gagah perkasa itu, langsung
menuju ke Tiang-an.
***
Untuk menghormat dan menyenangkan hati Hailun Thai-lek Sam-kui, Ban Sai Cinjin lalu
mengadakan pesta di gedungnya di dusun Tong-sin-bun. Dalam pesta ini, ia mengundang
kawan-kawannya yang terdiri dari orang-orang kang-ouw dan para pembesar serta hartawan.
Bouw Hun Ti dan Hok Ti Hwesio disuruh mengundang beberapa orang gagah dari kota-kota
yang berdekatan. Banyak orang-orang yang berkepandaian tinggi akan tetapi yang termasuk
segolongan dengan Ban Sai Cinjin, menghadiri pesta itu. Akan tetapi, di antara para tamu ini
yang patut dikemukakan hanya seorang dari Shantung yang kebetulan lewat di dusun itu.
Orang ini bernama Lok Cit Sian dan ia adalah seorang ahli silat cabang Thai-kek-pai yang
tersesat dan tidak diakui lagi sebagai anak murid Thai-kek-pai. Lok Cit Sian yang bertubuh
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
221
tinggi kurus seperti pohon bambu ini biarpun usianya telah mendekati lima puluh tahun,
namun ia terkenal sebagai seorang bandot tua yang menjemukan. Kesukaannya inilah
agaknya yang membuat ia bersahabat baik dengan Ban Sai Cinjin, cocok seperti yang
dikatakan orang bahwa dua orang dapat menjadi sahabat karib apabila kesukaan mereka sama.
Pesta berlangsung meriah sekali dan pengaruh arak telah mulai nampak pada para tamu.
Suara ketawa bergelak makin lama makin riuh dan percakapan yang terdengar, makin lama
makin bebas dan tidak dibatasi oleh kesopanan lagi. Di meja besar yang berada di tengah
ruangan pesta, duduklah Ban Sai Cinjing, Wi Kong Siansu, ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui
dan Lok Cit Sian. Meja-meja lain penuh dalam ruangan itu sampai ke ruangan luar. Semua
ada belasan meja banyaknya. Meja-meja di ruangan luar diduduki oleh tamu-tamu yang
muda, sebagian besar orang-orang muda yang kurang ajar dan tidak sopan, orang-orang muda
yang pandainya hanya berjudi, mengganggu wanita dan berkelahi mengandalkan kekayaan
orang tua.
Pada waktu para pemuda itu bersendau gurau membicarakan tentang wanita-wanita, tiba-tiba
semua mata memandang ke arah selatan darimana datang seorang gadis remaja yang amat
menarik hati. Gadis itu masih amat muda, bertubuh ramping menggiurkan dengan pakaian
yang sederhana, akan tetapi kesederhanaan pakaiannya yang mencetak tubuhnya ini bahkan
menonjolkan keindahan bentuk tubuhnya yang bagaikan setangkai bunga baru mulai mekar
itu. Wajahnya yang cantik manis tidak dibedaki, akan tetapi kecantikannya yang wajar itu
benar-benar mengagumkan dan menggairahkan hati tiap orang laki-laki.
Tentu saja, melihat datangnya gadis ini, para pemuda itu bagaikan kucing-kucing kelaparan
melihat tikus gemuk. Semua mata memandang dengan dipentang lebar seolah-olah hendak
melompat keluar dari pejupuk mata, bibir mereka tersenyum menyeringai dan mereka sibuk
membereskan rambut atau pakaian yang kusut. Banyak yang menelan ludah ketika
menyaksikan betapa gadis elok itu melenggang dengan pinggang yang lemas, sehingga cocok
sekali perumpamaan kuno bahwa pinggang dan tubuh gadis itu demikian lemas dan gayanya
demikian indah seperti pohon yang-liu tertiup angin!
Tidak heran apabila semua pemuda mata keranjang itu tertarik hati mereka melihat gadis ini.
Gadis ini bukan lain adalah Lilani, dara suku bangsa Haimi yang cantik. Sebagaimana telah
dituturkan di bagian depan, Lilani setelah tertolong oleh Lie Siong, lalu diantar oleh pemuda
itu menuju ke Tiang-an. Mereka melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki meninggalkan
perahu di tepi sungai.
Sebagai seorang gadis Haimi yang berwatak jujur, dengan terang-terangan Lilani menyatakan
dalam sikap dan perbuatannya bahwa gadis ini mencinta pemuda penolongnya itu. Akan
tetapi, Lie Siong selalu bersikap dingin, sungguhpun di dalam hatinya kadang-kadang timbul
gelora karena sikap dan kecantikan gadis ini amat menarik hatinya. Tiap kali mereka
bermalam di rumah penginapan, Lilani selalu berkeras hendak bermalam di dalam satu kamar.
Tentu saja Lie Siong merasa tidak enak hati sekali, akan tetapi ia menjadi terharu juga ketika
mendapat kenyataan bahwa gadis ini benar-benar jujur dan berhati putih bersih. Tiap kali
mereka tinggal sekamar dalam sebuah hotel, gadis itu tanpa banyak cakap lalu merebahkan
diri di atas pembaringan yang hanya sebuah, tidur di pinggir dan miringkan tubuh
membelakangi Lie Siong lalu tidur pulas! Terpaksa Lie Siong tidak mengajukan keberatan
lagi, bahkan ia merasa malu kepada diri sendiri karena tadinya ia menyangka bahwa Lilani
adalah gadis yang berpikiran kotor. Yang lebih mengharukan hatinya adalah ia melihat gadis
itu tidur dalam kedinginan lalu selimut yang hanya satu-satunya itu ia selimutkan di atas
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
222
tubuh gadis itu akan tetapi pada keesokan harinya ketika ia bangun dari tidurnya, ternyata
bahwa selimut itu telah pindah tempat dan telah diselimutkan oleh Lilani di atas tubuhnya!
Pernah Lilani mengatakan bahwa kini ia tidak ingin tinggal bersama Kwee-lo-enghiong di
Tiang-an.
“Mengapa?” tanya Lie Siong terheran. “bukankah kau yang minta supaya aku mengantarmu
ke Tiang-an?”
“Dulu memang hanya Kwee-lo-enghiong satu-satunya orang yang dapat kuharapkan, akan
tetapi sekarang aku lebih senang tidak berumah dan selamanya merantau bersamamu, Lie Taihiap.”
Ucapan yang sejujurnya ini menusuk perasaan Lie Siong dan membuka matanya bahwa gadis
Haimi ini benar-benar mencinta padanya. Akan tetapi ia tidak berkata apa-apa dan berlaku
seolah-olah ia tidak mengerti akan pengutaraan rasa hati gadis itu.
Pada hari itu, mereka tiba di dusun Tong-sin-bun dan menyewa sebuah kamar di hotel.
Seperti biasa, pelayan mengira bahwa mereka adalah sepasang suami isteri, akan tetapi hal ini
tidak mempengaruhi perasaan Lie Siong karena telah seringkali mereka dianggap suami isteri
oleh pelayan hotel. Dan selalu Lilani menyambut anggapan ini dengan wajah berseri dan
mulut tersenyum manis.
“Tai-hiap, marilah kita berjalan-jalan melihat keadaan dusun ini yang amat ramai,” Lilani
mengajak Lie Siong ketika mereka telah duduk mengaso.
“Kau pergilah kalau ingin berjalan-jalan, Lilani. Aku sedang malas dan biar aku menunggu
kau di sini,” jawab Lie Siong.
Biarpun hatinya kecewa, Lilani pergi juga seorang diri, dengan maksud hendak mencari
sesuatu yang enak dan dibelinya untuk Lie Siong! Demikianlah, tanpa disengaja ia lewat
rumah gedung Ban Sai Cinjin dan kini, dengan hati mendongkol ia melihat betapa mata
beberapa orang muda yang sedang makan minum diruang depan memandangnya dengan
kurang ajar sekali.
“Aduh, Nona manis, hendak pergi ke manakah?” seorang di antara mereka menegur sambil
tersenyum-senyum. Lilani tidak mempedulikannya dan hendak berjalan terus. Akan tetapi
orang ke dua lalu menghadang di depannya dan berkata,
“Wahai dewi kahyangan, marilah kau makan minum dengan kami. Bukan begitu kawankawan?”
“Akur! Nona ini harus makan minum, menemani kita bcrgembira,” teriak yang lain. Sambil
tertawa-tawa, pemuda itu lalu mengulur tangan hendak menangkap dan menarik lengan
Lilani. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika gadis itu mengelak dan mengirim tamparan ke
arah pipinya, “Plok!”
Pemuda itu menjerit kesakitan dan terhuyung mundur. Kawan-kawannya menjadi marah dan
hendak menangkap Lilani, akan tetapi menghadapi kawanan pemuda liar ini Lilani cukup
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
223
lihai. Beberapa kali tangannya bergerak dan empat orang pemuda roboh sambil mengaduhaduh kesakitan.
Ban Sai Cinjin yang duduk makan minum di ruang dalam, mendengar suara ribut-ribut ini,
lalu ia berdiri dan bertindak keluar, diikuti oleh Liok Cit Sian. Adapun Wi Kong Siansu dan
ketiga Thailek Sam-kui yang sedang bertanding mengadu kekuatan minum arak, tidak
mempedulikannya dan terus saja duduk minum dengan gembira.
Ban Sai Cinjin menjadi kaget dan marah sekali melihat seorang gadis muda yang cantik
menghajar beberapa orang tamunya. Akan tetapi ketika Lok Cit Sian melihat gadis itu,
matanya yang juling berseri-seri dan ia berbisik, “Ban Sai Cinjin sahabat baik, jangan
mencelakai burung molek ini, serahkan dia untukku.”
Ban Sai Cinjin tersenyum dan ia lalu bertanya kepada para tamunya apakah yang telah
terjadi.
“Kami dengan baik-baik menawarkan dia makan minum, akan tetapi Nona ini sebaliknya lalu
mengamuk dan memukul!” Pemuda yang kena ditampar tadi mengadu.
“Hem, hem, galak benar,” kata Ban Sai Cinjin. Dengan mulut menyeringai, ia mengambil
tempat masakan, lalu menggunakan sebatang sumpit ia mencokel sepotong daging yang panas
mengebul sambil berkata,
“Nona manis, akulah tuan rumahnya dan karena kau sudah datang, silakan kau makan daging
ini!” Biarpun gerakannya mencokel daging dengan sumpit itu perlahan saja, namun daging itu
bagaikan disambitkan lalu meluncur dan menyambar ke arah muka Lilani! Gadis itu terkejut
sekali ketika merasa betapa sambaran daging itu mendatangkan angin kuat. Hal ini sama
sekali tak pernah disangkanya sehingga kalau ia tidak cepat menarik tubuhnya ke belakang,
tentu daging panas itu akan mengenai mulutnya!
“Tua bangka kurang ajar!” bentaknya dan semua orang merasa heran mendengar betapa suara
gadis ini lain dengan orang Han biasa. Akan tetapi pada saat itu, sumpit di tangan Ban Sai
Cinjin sudah mencokel lagi berkali-kali dan tiga potong daging menyambar ke arah Lilani.
Gadis ini berusaha mengelak dan memang benar ia dapat menghindarkan diri dari sambaran
daging pertama dan kedua, akan tetapi sambaran daging ke tiga tak dapat dielakkannya lagi.
Dengan jitu sekali daging ini mengenai jalan darahnya di dekat iga kiri dan seketika itu juga
Lilani merasa seluruh tubuhnya kesemutan dan kedua tangannya tak dapat digerakkan lagi! Ia
terkejut sekali dan lebih-lebih terkejutnya ketika orang tinggi kurus yang tadi berdiri di
belakang Ban Sai Cinjin sambil tertawa-tawa, kini melangkah maju dan begitu orang tinggi
kurus ini mengulur tangan, ia telah kena dipeluk dan dipondongnya.
“Ha-ha-ha, burung muraiku yang manis. Mari masuk dalam sangkar emas bersamaku!”
Dengan mata terbelalak bagaikan seekor kelinci yang tertangkap oleh srigala, Lilani
memaklumi akan keadaannya yang amat berbahaya ini. Ia tak dapat menggerakkan kedua
tangannya, akan tetapi ia masih dapat mengeluarkan suara. Ketika dulu ia masih hidup
bersama suku bangsanya dan hidup di hutan belukar, ia dan kawan-kawannya mempunyai
semacam seruan tanda bahaya yang maksudnya untuk minta tolong kepada kawan-kawan.
Kini dalam keadaan bahaya dan hatinya takut sekali, otomatis ia lalu mengeluarkan pekik
yang amat nyaring bunyinya. Pekik ini terdengar seperti siulan panjang yang nyaring
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
224
bergema, dan terdengar seperti bunyi seekor burung hutan. Semua orang terkejut mendengar
bunyi yang aneh ini, akan tetapi Lok Cit Sian sambil tertawa berkata,
“Ha-ha-ha, burungku yang indah benar-benar pandai bersiul!”
Letak rumah penginapan yang ditinggali oleh Lie Siong tidak jauh dari gedung Ban Sai
Cinjin. Ketika itu, ia sedang duduk memikirkan Lilani dengan pikiran bingung. Harus
diakuinya, bahwa setelah melakukan perjalanan bersama Lilani selama sebulan lebih, ia telah
merasa biasa dan gembira berada dekat gadis ini. Sikap gadis ini yang ramah dan
mencintanya, berkesan dalam-dalam di hatinya sehingga kini timbul keraguan di dalam
hatinya apakah ia akan merasa senang kalau Lilani ia tinggalkan di rumah Kwee An. Apakah
ia akan dapat merasa gembira lagi setelah berpisah dari gadis itu?
Tiba-tiba ia mendengar siul panjang dan nyaring. Ia terkejut karena ketika masih melakukan
perjalanan dengan perahu, pada suatu malam di tengah hutan, pernah Lilani mengeluarkan
siulan seperti itu. Karena perahu mereka berada di dalam hutan dan banyak terdengar suara
binatang di waktu malam, saking gembiranya Lilani mengeluarkan siulan itu sehingga
mengejutkan hati Lie Siong. Dan kini terdengar siulan seperti itu lagi! Ia teringat bahwa
siulan itu berarti minta tolong, demikian Lilani dulu menerangkan siulan itu kepadanya.
Tanpa membuang banyak waktu lagi, Lie Siong menyambar pedangnya yang segera
diikatkan di pinggang, kemudian ia berlari menuju ke arah datangnya siulan tadi.
Alangkah marahnya ketika ia tiba di depan gedung yang sedang berpesta itu, ia melihat
Lilani sedang dipondong oleh seorang kurus tinggi dan diiringi oleh gelak tertawa para tamu
yang berada di situ. Dalam kemarahan yang berkobar memuncak, Lie Siong lalu melompat
dan menerjang Si Tinggi Kurus itu dengan gerakan yang disebut Raja Kera Merampas
Mustika. Tangan kanannya menyerang dengan tusukan kedua jari tangan ke mata Si Tinggi
Kurus, sedang tangan kirinya menyambar ke arah tubuh Lilani!
Tak seorang pun menduga datangnya pemuda ini, maka tentu saja Lok Cit Sian menjadi
terkejut sekali. Ia sedang bergembira telah berhasil mendapatkan seorang dara yang demikian
cantiknya, maka dengan nafsu yang memeningkan kepalanya, hampir saja ia tidak dapat
menghindarkan matanya dari tusukan dua buah jari tangan Lie Siong. Baiknya Lok Cit Sian
telah memiliki pengalaman pertempuran yang cukup luas, maka ia masih dapat merasakan
datangnya bahaya. Cepat ia menjatuhkan diri ke belakang dan ia dapat mengelak dari
serangan Lie Siong. Akan tetapi ia tidak dapat mencegah pemuda itu merenggut tubuh Lilani
dari pondongannya. Dengan gerakan cepat, Lie Siong menotok iga Lilani dan membebaskan
gadis itu dari pengaruh totokan Ban Sai Cinjin, kemudian ia memegang tangan gadis itu dan
dibawaya melompat ke pekarangan depan.
Barulah terjadi keributan setelah semua orang menyaksikan gerakan Lie Siong yang tak
terduga ini. Terutama sekali Lok Cit Sian menjadi marah sekali. Murid murtad dari Thai-kekpai ini lalu mencabut pedangnya dan dengan mengeluarkan gerengan bagaikan seekor
harimau terluka, ia menyerbu ke depan dan menyerang Lie Siong yang juga sudah mencabut
pedangnya Sin-liong-kiam yang istimewa.
Pedang Lok Cit Sian berkelebat, disambut oleh pedang Sin-liong-kiam. “Traang...!” Dua
pedang bertemu dan berpijarlah bunga api karena pedang Lok Cit Sian ternyata bukanlah
pedang sembarangan pula. Namun, Lok Cit Sian menjadi amat terkejut ketika merasa betapa
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
225
pedangnya telah menempel pada pedang lawan yang aneh itu, dan ketika ia melihatnya,
ternyata bahwa pedang lawan yang berbentuk naga itu telah berhasil melibatkan lidah naga
pada pedangnya. Ia mencoba untuk menarik pedangnya, akan tetapi tiba-tiba tangan kiri Lie
Siong melakukan pukulan dengan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut ke arah dadanya. Lok Cit Sian
adalah seorang ahli silat yang berkepandaian tinggi. Melihat pukulan tangan kiri yang
mengeluarkan uap putih, ia maklum akan kelihaian pukulan ini, maka ia mengerahkan tenaga
lwee-kangnya, membuka tangan kirinya untuk menyambut pukulan lawan.
“Aduh...!” Lok Cit Sian mengeluh dan tubuhnya terlempar ke belakang, pedangnya masih
menempel pada pedang Lie Siong!
Tiba-tiba Lie Siong merasa ada sambaran angin yang kuat sekali dari belakang. Ia cepat
membalikkan tubuh sambil menangkis dengan pedangnya kebelakang.
“Traaang...!” Lie Siong merasa terkejut sekali ketika merasa betapa tangannya yang
memegang pedang tergetar sedangkan pedang Si Tinggi Kurus yang tadinya masih terlibat
oleh lidah pedangnya telah mencelat jauh. Ternyata bahwa yang menyerangnya tadi adalah
seorang kakek gemuk yang berpakaian mewah. Kakek ini telah menyerangnya dengan sebuah
huncwe yang panjang dan berat dan melihat tenaga serangan yang dapat menggetarkan
tangannya, maklumlah Lie Siong bahwa ia menghadapi seorang pandai.
“Bangsat muda, butakah kau maka berani mengganggu pesta dari Ban Sai Cinjin?” kakek itu
berkata sambil melanjutkan serangannya dengan huncwe mautnya. Akan tetapi, Lie Siong
sama sekali tidak gentar menghadapi huncwenya dan dengan cepat dapat menangkis dan
membalas dengan serangan yang tak kalah hebatnya.
Sementara itu, Lilani setelah dibebaskan oleh Lie Siong lalu menyerang pemuda yang tadi
mengganggunya. Orang yang tadi ditamparnya, ketika mencoba untuk menyerang dengan
pedang, kena dipegang pergelangan tangannya oleh Lilani dan ketika gadis ini membalikkan
tubuh sehingga tubuh lawannya berada di belakangnya, gadis itu menekan lengan lawannya
itu di atas pundaknya dan sekali ia berseru keras sambil membungkukkan tubuh, maka tubuh
lawannya itu terlempar ke udara!
Pemuda itu menjerit-jerit ketakutan ketika tubuhnya melayang ke atas dan untung sekali ia
jatuh di atas genteng. Akan tetapi karena genteng itu tinggi, ia tidak berani turun dan sambil
berkaok-kaok minta tolong, ia memegang wuwungan dengan tubuh menggigil dan muka
pucat. Sementara itu ketika Lilani melihat betapa Lie Siong bertempur melawan seorang
kakek yang mainkan senjata huncwe secara hebat mengerikan, dan melihat pula betapa
banyak orang mulai mencabut senjata agaknya hendak mengeroyok Lie Siong, lalu berseru,
“Tai-hiap, mari kita pergi dari sini. Aku takut!”
Lie Siong tidak kenal akan arti takut, maka menghadapi Ban Sai Cinjin dan orang-orang itu,
biarpun harus ia akui bahwa kepandaian kakek berhuncwe itu tidak boleh dipandang ringan,
ia pantang mundur. Akan tetapi, begitu mendengar suara Lilani yang menyatakan rasa
takutnya, teringatlah ia bahwa biarpun ia dapat menjaga diri sendiri, namun apabila orangorang itu menyerang dan menangkap Lilani, belum tentu ia dapat melindungi gadis itu. Maka
dengan gerakan yang cepat dan indah, ia lalu menyerang Ban Sai Cinjin dengan gerak tipu
Naga Sakti Bermain-main Dengan Kilat. Pedangnya yang berbentuk naga itu bergerak ke
depan, tanduk naga menotok jalan darah maut di leher Ban Sai Cinjin, lidah naga yang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
226
panjang menyambar ke arah mata dan tangan kiri Lie Siong bergerak pula melakukan pukulan
Pek-in Hoatsut.
Ban Sai Cinjin tidak mengenal ilmu pedang Lie Siong yang aneh gerakannya dan aneh pula
pedangnya itu, akan tetapi melihat pukulan Pek-in-hoat-sut ini, ia teringat akan kepandaian
Lili dan Goat Lan. Ia terkejut sekali dan cepat ia melompat ke belakang sambil berseru,
“Bangsat rendah, ternyata kau adalah keturunan Pendekar Bodoh!” Akan tetapi Lie Siong
sudah melompat ke dekat Lilani, menyambar pinggang gadis itu yang ramping lalu berlari
pergi sambil berseru,
“Jahanam tua bangka! Aku tidak kenal Pendekar Bodoh!” Ia memang merasa mendongkol
karena ke mana juga ia pergi, ia selalu mendengar nama Pendekar Bodoh disebut orang,
sungguhpun kali ini agaknya disebut oleh orang yang memusuhi Pendekar Bodoh.
Ban Sai Cinjin dan Lok Cit Sian hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba terdengar suara Wi
Kong Siansu yang baru saja keluar. “Tak perlu dikejar lawan yang sudah melarikan diri. Pula,
kali ini kawan-kawanmu berada di pihak yang salah, Sute.” Ban Sai Cinjin merah mukanya
dan tanpa banyak cakap lagi ia lalu kembali ke ruang dalam. Pesta dilanjutkan biarpun
suasananya tidak semeriah tadi.
Lie Siong berlari terus memasuki kamar hotel, mengambil buntalan pakaian mereka dan
mengajak Lilani keluar dari dusun itu. Pemuda ini maklum bahwa kalau ia berada di hotel,
maka bahaya besar akan mengancamnya. Setibanya di sebuah hutan di luar gua, ia berhenti
dan bertanya kepada Lilani.
“Lilani, bagaimanakah terjadinya keributan itu?”
Lilani lalu menceritakan betapa ia diganggu oleh orang-orang di rumah itu. Lie Siong
mendengarkan dengan muka merah karena hatinya menjadi panas sekali. Sambil mengertak
gigi, ia berkata,
“Kautunggulah di sini. Aku hendak kembali ke sana dan sebelum aku dapat menghancurkan
kepala Si Tinggi Kurus yang menghinamu, aku belum merasa puas.”
Tiba-tiba Lilani menjadi pucat ketakutan. “Jangan, Tai-hiap, jangan kau pergi ke sana.
Mereka itu orang-orang jahat yang lihai sekali.”
“Aku tidak penakut seperti kau, Lilani.” Suaranya terdengar dingin. “Aku harus menghajar
mereka!” Ia hendak pergi, akan tetapi Lilani lalu berlutut di depannya dan memegang
tangannya.
“Tai-hiap, jangan... jangan kau pergi ke sana...” suaranya menggigil sehingga Lie Siong
menjadi terheran-heran. “Taihiap, aku takut bukan mengkuatirkan diri sendiri, aku takut
kalau-kalau kau akan mendapat celaka. Tidak tahukah kau betapa aku tadipun sudah merasa
kuatir setengah mati melihat kau hendak dikeroyok? Kakek gemuk itu lihai sekali dan nama
Ban Sai Cinjin pernah kudengar sebagai seorang yang lihai dan jahat.”
“Aku tidak takut! Untuk membela kebenaran dan kehormatan, aku tidak takut mati.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
227
“Jangan, Tai-hiap. Kau tidak takut mati akan tetapi aku bagaimana? Dapatkah aku hidup
lebih lama lagi kalau kau sampai menderita celaka di sana?” Gadis itu lalu menangis dan
memeluk kedua kaki Lie Siong.
Sungguh mengherankan, melihat keadaan gadis itu, Lie Siong merasa betapa dadanya
berdebar aneh!
“Jangan takut, Lilani. Aku takkan mati, takkan celaka. Mereka itulah yang akan celaka di
tanganku!” Setelah berkata demikian, Lie Siong melepaskan pelukan Lilani, dan segera
melompat pergi.
Hari telah menjadi gelap ketika bayangan Lie Siong berkelebat cepat di atas genteng gedung
Ban Sai Cinjin di mana siang hari tadi diadakan pesta untuk menghormati Hailun Thai-lek
Sam-kui. Keadaan di dalam gedung itu tidak seramai tadi, karena Ban Sai Cinjin, ketiga Thailek Sam-kui, Wi Kong Siansu, dan juga Lok Cit Siang telah pergi dan mengunjungi kuil di
dalam hutan. Orang-orang tua yang lihai ini melanjutkan percakapan di dalam kuil ini agar
tidak terganggu oleh orang-orang muda yang masih melanjutkan pesta di gedung itu. Hanya
Kam Seng dan Hok Ti Hwesio yang mewakili tuan rumah dan menjamu para tamu yang kini
terdiri dari orang-orang muda. Pesta itu kini dimeriahkan oleh beberapa orang wanita
penyanyi dan para tamu menjadi makin mabuk.
Tentu saja Lie Siong tidak tahu bahwa kakek-kakek yang lihai itu tidak berada di tempat itu,
dan ia pun tidak peduli. Pemuda putera Ang I Niocu ini memang memiliki ketabahan hati
seperti ibunya dan juga memiliki kecerdikan dan pandangan luas seperti ayahnya. Ia maklum
bahwa seorang diri menghadapi begitu banyak lawan, terutama sekali adanya para orang tua
yang pandai itu, merupakan hal yang bodoh dan sama dengan membunuh diri. Oleh karena
itu, ia lalu menuju ke ruang belakang yang sunyi dan mencari akal. Satu-satunya jalan untuk
dapat menghajar mereka, pikirnya, adalah membuat mereka cerai-berai dan memecah-mecah
perhatian mereka.
Gerakan tubuh Lie Siong demikian hati-hati dan gin-kangnya memang sudah sempurna
seperti ibunya, maka anak buah dan kaki tangan Ban Sai Cinjin yang berpesta pora di dalam
gedung tidak ada seorang pun yang mendengarnya. Bahkan Hok Ti Hwesio dan Song Kam
Seng yang sudah memiliki ilmu silat tinggi juga tidak mengetahuinya. Hal ini bukan
menandakan bahwa kepandaian kedua orang murid Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu ini
masih rendah, melainkan oleh karena keadaan di dalam gedung itu amat ramainya sehingga
tentu saja mereka tidak memperhatikan keadaan di luar maupun di atas gedung. Dan pula,
siapakah orangnya yang berani mengganggu rumah gedung Ban Sai Cinjin?
Tiba-tiba, nampak api bernyala hebat di bagian belakang gedung, disusul pula oleh nyala api
di sebelah kanan dan kiri gedung. Dalam waktu yang susul menyusul, gedung itu telah
kebakaran di tiga tempat, yaitu di belakang, kanan dan kiri! Barulah orang-orang yang
berpesta pora menjadi geger.
“Kebakaran...! Kebakaran...!!” Orang-orang mulai berteriak-teriak dan semua orang lari
berserabutan ke sana ke mari. Hok Ti Hwesio dan Song Kam Seng mengepalai orang-orang
itu untuk memadamkan api yang membakar bagian-bagian gedung itu. Orang-orang sibuk
bekerja keras karena api yang membakar gedung itu besar juga dan di tiga tempat.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
228
Di dalam keributan itu, sesosok bayangan orang yang cepat sekali gerakannya, bagaikan
seekor burung garuda, menyambar turun dari genteng dan begitu tubuhnya menyambar,
menjeritlah beberapa orang muda yang roboh dengan mandi darah! Ternyata bahwa Lie Siong
yang merasa marah dan sakit hati karena Lilani diganggu, mulai menurunkan tangan maut
sebagai pembalasan dendam! Dengan pedang di tangan, pemuda ini meyerbu orang-orang
yang nampak di dalam gedung. Ke mana saja tubuhnya berkelebat, pasti ada seorang korban
yang roboh oleh pedangnya atau oleh serangan tangan kiri dan kakinya. Beberapa orang
mengeroyoknya dengan senjata di tangan, akan tetapi dalam beberapa gebrakan saja,
pengeroyok yang jumlahnya empat orang ini kesemuanya roboh tak dapat bangun pula!
Sepak terjang Lie Siong benar-benar mengerikan. Ia keras hati dan membenci kejahatan
melebihi ibunya dulu. Di dalam anggapannya, semua orang yang berada di gedung itu adalah
penjahat-penjahat belaka yang harus dibasmi dari muka bumi. Sebentar saja, selagi api masih
belum dapat dipadamkan, belasan orang telah ia robohkan!
Hok Ti Hwesio dan Kam Seng masih sibuk dalam usaha mereka memadamkan api ketika
seorang pemuda datang kepada mereka dengan wajah pucat dan berkata gagap, “Celaka, ada
musuh mengamuk... banyak kawan dibunuh...”
Mendengar ucapan itu, marahlah kedua orang ini. Mereka tadi memang sudah merasa curiga
dan menduga bahwa kebakaran ini pasti ditimbulkan oleh musuh jahat. Sambil berteriak
marah, Hok Ti Hwesio mendahului Kam Seng dan melompat ke tengah gedung. Ia melihat
seorang pemuda sedang mengamuk dengan pedangnya dan ketika melihat bahwa pemuda itu
adalah orang yang siang tadi telah mengacau, ia marah sekali. Dicabutnya pisau terbangnya
dan berserulah Hok Ti Hwesio,
“Keparat keji rasakan tajamnya senjataku!” Ia menggerakkan tangannya dan pisaunya itu
melayang dengan cepatnya sambil mengeluarkan suara mengaung keras.
Melihat benda bersinar menyambar ke arah lehernya, Lie Siong cepat mengelak, akan tetapi
segera menyusul dua pisau terbang lagi yang meluncur cepat. Lie Siong menggerakkan
pedangnya dan “traaang! traaang!” dua buah pisau itu dapat ditangkis. Lie Siong merasa
kagum ketika merasa betapa telapak tangannya kesemutan tanda bahwa pisau itu dilempar
dengan tenaga yang amat kuat. Akan tetapi kekagumannya berubah kekagetan ketika pisau
pertama yang tadi dapat dielakkan itu menyambar kembali dari belakangnya! Ia cepat
melompat ke samping dan segera menubruk ke depan ketika pisau itu lewat. Dengan
pedangnya yang aneh ia lalu menyerang Hok Ti Hwesio yang sementara itu telah siap dengan
pisau di kedua tangannya! Pada saat Hok Ti Hwesio didesak oleh Lie Siong, datanglah Kam
Seng yang telah mencabut pedangnya. Segera Lie Siong dikeroyok dua oleh Hok Ti Hwesio
dan Kam Seng. Lie Siong mendapat kenyataan bahwa kepandaian dua orang pengeroyoknya
ini hebat dan kuat sekali, akan tetapi tentu saja putera Ang I Niocu ini tidak menjadi gentar
sama sekali. Ia bersilat dan memutar pedangnya dengan Ilmu Pedang Sin-liong-kiam-sut,
tubuhnya yang semenjak kecil dilatih dengan Ilmu Silat Sian-li-utauw (Tari Bidadari) menjadi
lemas dan gerak geriknya selain indah juga cepat sekali. Maklum bahwa ia menghadapi dua
orang lawan tangguh, Lie Siong lalu menggerakkan tangan kirinya dan mengebullah uap putih
dari lengan kirinya ketika ia bersilat dengan Ilmu Silat Pek-in-hoat-sut yang hebat.
Melihat Pek-in-hoat-sut, bukan main kagetnya Hok Ti Hwesio dan Kam Seng. Lagi-lagi
seorang muda dari rombongan Pendekar Bodoh, pikir mereka. Telah dua kali mereka bertemu
dengan orang-orang muda dari rombongan Pendekar Bodoh yang pandai Ilmu Silat Pek-in-
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
229
hoat-sut, yaitu Lili puteri Pendekar Bodoh sendiri, dan sekarang pemuda ini yang memegang
sebatang pedang luar biasa anehnya! Dan keduanya ternyata memiliki ilmu silat yang luar
biasa tingginya! Dengan penuh semangat Hok Ti Hwesio dan Kam Seng lalu menyerang
sambil mengerahkan seluruh kepandaiannyag sehingga Lie Siong belum sempat merobohkan
mereka. Kepandaian kedua orang itu sesungguhnya sudah tinggi dan kalau Lie Siong tidak
memiliki ilmu pedang yang hebat dan gin-kang yang tinggi, agaknya sukarlah baginya untuk
dapat mempertahankan desakan mereka.
Lebih-lebih kaget hati Lie Siong ketika ia berhasil menendang perut Hok Ti Hwesio, karena
tendangan yang sedikitnya seribu kati kekuatannya dan yang pasti akan membinasakan
seorang ahli silat lainnya ini, hanya membuat tubuh hwesio muda itu terpental sampai dua
tombak jauhnya, jatuh menggelundung lalu melompat berdiri lagi tanpa terluka sedikit pun!
Bahkan hwesio itu marah sekali lalu menyerang dengan luar biasa hebatnya.
Tentu saja Lie Siong tidak tahu bahwa Hok Ti Hwesio memiliki ilmu kekebalan yang amat
hebat, maka ia menjadi penasaran sekali. Ia membulatkan tekad untuk membinasakan dua
orang yang dianggapnya amat berbahaya ini. Penjahat-penjahat dengan kepandaian yang
tinggi harus dibinasakan, kalau tidak, tentu akan mendatangkan kekacauan dan kejahatan
diantara sesama hidup. Maka ia lalu memutar pedangnya lebih cepat lagi. Yang
mengagumkan hatinya adalah ilmu pedang Kam Seng, karena biarpun gerakannya lemahlembut namun Kam Seng selalu dapat menjaga diri dengan baik dan bahkan melakukan
serangan balasan yang tidak kalah berbahayanya.
Diam-diam Lie Siong merasa heran melihat Kam Seng, karena bagaimanakah seorang
pemuda yang berwajah tampan dan bersih, bersikap lemah-lembut dan sinar matanya sama
sekali tidak nampak seperti seorang penjahat, bisa bersatu dengan orang-orang jahat? Juga, di
dalam pertempuran ini, agaknya pemuda itu tidak berniat sungguh-sungguh untuk mengadu
jiwa, hanya hendak menguji kepandaian saja, berbeda dengan Hok Ti Hwesio yang
menyerang membuta tuli.
Betapapun juga, ilmu kepandaian Lie Siong masih menang setingkat apabila dibandingkan
dengan kedua orang pengeroyoknya, maka pada suatu saat yang tepat, lidah pedang naga di
tangan Lie Siong yang panjang itu berhasil menotok Kam Seng sehingga pemuda itu
terhuyung mundur dengan wajah pucat. Baiknya ia masih dapat mengerahkan gin-kangnya
dan menutup jalan darahnya, sehingga ia tidak terluka hebat, hanya beberapa lama sebelah
tangannya, yaitu tangan kiri menjadi kaku tak dapat digerakkan lagi.
Lie Siong mendesak hebat kepada Hok Ti Hwesio dan ingin sekali menjatuhkan serangan
maut, akan tetapi Hok Ti Hwesio lalu bersuit keras sebagai tanda kepada kawan-kawan untuk
maju mengeroyok. Kini api telah dapat dipadamkan dan semua orang telah berkumpul di situ.
Melihat betapa Kam Seng dikalahkan dan Hok Ti Hwesio memberi tanda, dua puluh orang
lebih maju mengeroyok.
Lie Siong makin gembira melihat datangnya keroyokan, dan pedangnya berkelebat ganas,
merobohkan beberapa orang lagi dalam satu gerakan saja! Hebat sepak terjang pemuda ini
sehingga gentar juga hati Hok Ti Hwesio melihatnya.
“Lekas, panggil Suhu dan Supek!” teriaknya kepada para kawannya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
230
Lie Siong terkejut dan teringatlah ia kepada kakek gemuk yang siang tadi telah bertempur
dengan dia. Kalau kakek itu dan orang-orang lain yang siang tadi telah dibuktikan
kepandaiannya datang pula mengeroyok maka akan berbahayalah keadaannya. Ia pun teringat
pula kepada Lilani yang ditinggalkan di tengah hutan. Alangkah gelisah gadis itu ditinggalkan
seorang diri di dalam hutan yang gelap itu. Ia telah membakar rumah dan merobohkan belasan
orang, maka sedikitnya kemarahannya telah mereda. Sudah cukup pembalasan yang ia
lakukan untuk Lilani. Penghinaan yang dilakukan orang kepada Lilani sudah terbalas lebih
dari pantas dan cukup. Pula, ia telah mulai lelah setelah bertempur menghadapi keroyokan itu.
Dengan gerakan Naga Sakti Memutar Tubuh, Lie Siong mengayun pedangnya serta
memutarnya sedemikian rupa sehingga yang nampak hanya segulung sinar pedang yang
menyilaukan saja, kemudian pada saat para pengeroyoknya mundur menyelamatkan diri, ia
melompat ke atas genteng!
“Bangsat hina dina jangan lari!” seru Hok Ti Hwesio dan terbanglah dua batang pisau yang
disambitkannya.
Lie Siong memutar pedangnya dan berhasil menangkis dua batang pisau itu, akan tetapi baru
saja ia terhindar dari serangan senjata gelap ini, tiba-tiba terdengar angin menderu dan lima
batang benda hitam yang bundar menyerang lima jalan darah pada tubuhnya. Lie Siong
terkejut sekali dan cepat ia melompat tinggi sambil berjungkir balik, dan tidak lupa untuk
memutar pedangnya melindungi diri. Untung ia bergerak cepat, kalau tidak, tentu ia akan
terkena sengan senjata rahasia yang lihai ini! Ia cepat melompat jauh dan menghilang di
dalam gelap, diam-diam kagum melihat senjata rahasianya yang ternyata adalah thi-tho-ci dan
dilepas oleh Kam Seng!
Dengan marah Hok Ti Hwesio hendak mengejar, akan tetapi Kam Seng berkata, “Percuma
saja dikejar, penjahat itu memiliki kepandaian yang lebih lihai dari kita!” Ia menghela napas
dan masih merasa terpesona oleh gerakan Lie Siong yang dengan mudah dapat
menghindarkan diri dari serangannya tadi. Ia telah menyempurnakan pelajaran melepas
senjata rahasia thi-tho-ci dan mendapat petunjuk dari suhunya, akan tetapi ternyata bahwa
pemuda aneh tadi dapat mengelak dengar mudah dan indahnya. Dengan hati amat kecewa
Kam Seng mendapat kenyataan bahwa rombongan Pendekar Bodoh, orang-orang muda yang
sudah memperlihatkan diri, ternyata adalah orang-orang gagah yang berkepandaian jauh lebih
tinggi dari padanya. Apalagi yang tua-tua seperti Pendekar Bodoh, isterinya, Kwee An dan
isterinya, dan yang lain-lain! Aku harus minta kepada suhu untuk menurunkan pelajaran ilmu
silat Mongol untuk dapat menandingi mereka, pikirnya dengan hati tetap.
Sementara itu, Lie Siong berhasil melarikan diri dengan hati puas. Ia telah melakukan
pembalasan yang cukup berhasil dan telah menebus penghinaan terhadap Lilani. Tak seorang
pun di dunia ini boleh menghina Lilani, gadis yang amat dikasihani itu.
Hutan di mana ia meninggalkan Lilani amat gelap sehingga Lie Siong terpaksa melakukan
perjalanan lambat. Ketika tiba di tempat di mana tadi ia meninggalkan Lilani, ternyata bahwa
tempat itu sunyi dan tidak nampak bayangan orang. Ia merasa heran sekali. Ia ingat benar
bahwa tadi ia meninggalkan Lilani di situ, di bawah pohon besar itu, akan tetapi mengapa
sekarang tidak nampak gadis itu di tempat itu? Ke manakah perginya? Tiba-tiba Lie Siong
merasa hatinya berdebar penuh kecemasan. Jangan-jangan Lilani telah mendapat bencana
ketika ditinggalkan, pikirnya dengan hati gelisah tidak karuan. Apakah Lilani telah diterkam
binatang buas? Apakah ditawan oleh orang jahat? Menggigil sepasang kaki Lie Siong ketika
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
231
ia memikirkan hal ini. Ia sendiri merasa heran karena belum pernah selama hidupnya ia
menderita perasaan takut dan gelisah seperti ini. Kalau ia sendiri yang berada di dalam
bahaya, ia takkan merasa takut sedikit pun akan tetapi memikirkan Lilani berada dalam
bahaya, ia menjadi gemetar seluruhnya!
“Siapa??” tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan Lilani muncul dari balik semak-semak
sambil tangannya memegang pedang!
Lie Siong tidak dapat melihat nyata, akan tetapi suara itu dikenalnya baik-baik. Hampir ia
bersorak saking girangnya melihat gadis itu ternyata masih berada di situ dalam keadaan baik.
“Lilani... aku yang datang!” katanya dan kembali ia terheran mendengar suaranya sendiri
yang agak gemetar.
Terdengar isak tertahan dan Lilan lalu melempar pedangnya ke bawah, kemudian lari dan
menubruk Lie Siong sambil menangis!
“Tai-hiap... ah, Tai-hiap...” Gadis ini tadinya merasa amat ketakutan dan kuatir pemuda yang
dicintanya itu terbinasa dan takkan kembali lagi. Kini, melihat Lie Siong datang, kegirangan
yang memuncak membuat ia tak dapat menahan membanjirnya air matanya. Ia memeluk leher
pemuda itu, menciumnya dengan hati girang dan penuh cinta kasih, sambil mulutnya berbisik
tiada hentinya, “Tai-hiap... Tai-hiap...”
Baru kali ini Lie Siong merasakan getaran hati yang luar biasa. Ketika merasa betapa air mata
yang hangat dari gadis itu membasahi mukanya yang diciumi, merasa betapa kedua lengan
tangan Lilani memeluknya dengan erat dan bisikan-bisikan mesra yang menyayat hatiya,
kekerasan hati pemuda ini hancur luluh! Ia memegang kepala Lilani yang bergerak-gerak
menciuminya, mendekap gadis itu, pada dadanya dan ia lalu membenamkan mukanya pada
rambut gadis itu yang berbau harum.
“Lilani...” suaranya hampir tidak terdengar karena tertutup oleh getaran perasaan hatinya,
“jangan... jangan menangis, Lilani...”
“Tai-hiap...” Lilani tersedu saking girangnya. Belum pernah pemuda yang dipujanya ini
memperlihatkan perasaan seperti ini dan kini dengan girang perasaan, wanitanya dapat
menangkap bahwa pemuda ini pun ternyata menaruh hati kasih kepadanya. “Tai-hiap, pedang
itu… kalau bukan kau yang datang, tentu pedang itu akan menembus dadaku...”
“Lilani...!” Lie Siong mendekap makin erat.
“Benar, Tai-hiap, aku sudah bersumpah takkan mau hidup lagi kalau kau sampai mendapat
celaka dan terbinasa.”
Demikianlah, pertemuan yang mesra ini menandakan bertemunya dua hati muda di dalam
hutan yang gelap itu akan tetapi yang bagi mereka kini nampak terang. Hawa yang dingin
menusuk tulang terasa hangat menyegarkan, dan suara binatang-binatang buas dan burung
hantu terdengar bagaikan musik yang amat indah merayu kalbu. Pertemuan dua hati dan dua
jiwa yang sudah lama merana, rindu akan kasih seseorang. Bintang-bintang yang ribuan
banyaknya dianggapnya menjadi saksi atas pertemuan ini, dan bayang-bayang pohon
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
232
merupakan selimut yang hangat. Bintang-bintang saling berkedip memberi tanda mata dan
tersenyum-senyum maklum.
***
Diantara para pendekar remaja yang kita ikuti perjalanan dan pengalamannya hanya Sie
Hong Beng, putera Pendekar Bodoh yang sulung, yang belum kita ketahui bagaimana
nasibnya. Baikiah kita jangan meninggalkannya terlebih lama lagi dan mari kita ikuti
perjalanan pendekar remaja putera Pendekar Bodoh ini.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Sie Hong Beng diantar oleh ayahandanya
untuk belajar ilmu silat tinggi dari Pok Pok Sianjin, tokoh terbesar dari di Beng-san. Selama
sepuluh tahun, Hong Beng mendapat gemblengan ilmu silat tinggi, memperdalam ilmu lweekang dan ilmu tongkat yang luar biasa sekali. Ilmu tongkat ini disebut Ngo-heng Tung-hwat
dan ada semacam lagi yang disebut Pat-kwa Tung-hwat. Untuk mainkan dua macam ilmu
tongkat ini saja, dibutuhkan waktu selama lima tahun oleh Hong Beng untuk dapat
mempelajarinya dengan sempurna. Yang istimewa pada ilmu tongkat ciptaan Pok Pok Sianjin
ini adalah bahwa untuk mainkan ilmu tongkat ini, tidak diperlukan tongkat yang khusus.
Sebatang ranting pohon yang terkecil, sampai sebatang pohon muda yang besar, dapat
dipergunakan sebagai senjata yang istimewa lihainya.
Setelah menurunkan seluruh kepandaiannya kepada Hong Beng, Pok Pok Sianjin lalu
menyembunyikan diri di dalam gua di puncak Gunung Beng-san dan menyuruh muridnya
turun gunung melakukan perjalanan merantau sarnbil mempergunakan seluruh pelajaran itu
dalam praktek,
Ketika Hong Beng menuruni gunung di mana untuk sepuluh tahun ia berdiam, mempelajari
ilmu silat dengan tekunnya, ia telah merupakan seorang pemuda yang gagah sekali, tubuhnya
tinggi tegap, mukanya lebar dan tampan, berkulit halus. Wajah dan tubuhnya sama benar
dengan ayahnya di waktu muda, demikian watakya pendiam dan sabar, berpakaian sederhana
seperti ayahnya pula. Akan tetapi, kalau ayahnya, yaitu Pendekar Bodoh, di waktu mudanya
seringkali suka merendahkan diri dan dalam kepandaian silat suka mengalah dan berpura-pura
bodoh, sehingga dijuluki Pendekar Bodoh, adalah Hong Beng mempunyai watak tidak mau
kalah dalam hal kepandaian silat. Watak ini agaknya ia warisi dari ibunya, karena di waktu
mudanya, Lin Lin juga memiliki watak demikian. Bahkan di waktu kecilnya, Hong Beng dan
adiknya, Hong Li atau Lili yang memiliki pendirian sama, sering membicarakan nama julukan
ayah mereka.
“Sungguh menggemaskan, ayah yang berkepandaian setinggi langit tiada lawannya, mengapa
disebut Pendekar Bodoh?” kata Lili sambil merengut.
“Memang aku pun penasaran sekali,” jawab Hong Beng. “Menurut patut, ayah harus dijuluki
Pendekar Sakti, bukan Pendekar Bodoh.”
Akan tetapi, kalau keduanya mengajukan rasa penasaran ini kepada ayah mereka, Sie Cin Hai
hanya terbahak-bahak saja dan menjawab dengan sebuah pertanyaan.
“Anak-anak bodoh, mana yang lebih baik, gentong arak disangka penuh akan tetapi kosong
melompong ataukah gentong arak yang dianggap kosong akan tetapi penuh isi?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
233
“Tentu saja lebih baik yang disangka kosong akan tetapi penuh isi!” jawab Lili yang berotak
terang dengan kontan.
“Nah,” jawab ayahnya masih tertawa, “demikianpun soal nama julukan. Lebih baik disangka
bodoh akan tetapi tidak bodoh daripada dianggap pinter akan tetapi goblok!”
Betapapun juga, setelah menjadi dewasa, Hong Beng masih saja tidak mau merendahkan diri
dan berpura-pura bodoh seperti ayahnya. Ia adalah seorang pemuda yang maklum akan
kepandaian sendiri, dan hasratnya besar sekali untuk menguji ilmu kepandaiannya dengan
kepandaian orang lain.
Kalau orang melihat Hong Beng turun gunung dengan pakaian yang demikian sederhana,
berwarna biru dengan rambut atas, diikat pita kecil warna sepatunya hitam tanpa kaos, orang
takkan mengira bahwa putera Pendekar Bodoh dan murid Pok Pok Sianjin yang sakti. Pemuda
ini tidak membawa senjata apa-apa, bertangan kosong dan biarpun tubuhya tinggi tegap,
namun kulit mukanya utih dan halus. Pakaiannya seperti serang petani sederhana, akan tetapi
sikap dan gerak gayanya yang lemah lembut membuat ia pantas dianggap orang seperti
seorang pemuda terpelajar yang lemah. Namun, kalau orang melihat betapa menuruni gunung
yang penuh batu karang dan jurang dengan tindakan kaki yang cepat sekali, seolah-olah
kakinya tidak menginjak tanah, orang akan menjadi bengong terheran-heran.
Dari Gunung Beng-san, pemuda ini menuju ke timur, melakukan perjalanan seenaknya,
karena ia pun tidak tergesa-gesa. Pada suatu hari, ia tiba di kota Ta-liong di lembah Sungai
Kuning dan amat heranlah ia melihat betapa kota yang besar dan ramai itu penuh dengan
pengemis dan jembel! Yang amat mengherankan hatinya adalah betapa para pengemis itu,
sebagian besar memegang sebatang tongkat berwarna hitam dan biarpun mereka menjalankan
pekerjaan mengemis, namun gerakan tubuh mereka bagi mata Hong Beng yang awas,
menunjukkan bahwa mereka itu pandai ilmu silat!
Memang sesungguhnya kota Ta-liong adalah kota pusat dari perkumpulan pengemis dari
Hek-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam) yang amat tersohor dan
mempunyai cabang dan anggauta sampai di kota raja! Hek-tung Kai-pang adalah
perkumpulan pengemis yang sudah puluhan tahun umurnya dan telah mengalami pergantian
pimpinan sampai beberapa kali. Tiap tiga tahun sekali, di kota Ta-liong tentu diadakan
pertemuan antara para pemimpin-pemimpin cabang untuk mengangkat seorang pemimpin
baru. Kebetulan sekali ketika Hong Beng tiba di kota itu, para pemimpin cabang datang
berkumpul untuk mengadakan pemilihan ketua baru, maka kota itu penuh dengan pengemis
bertongkat hitam.
Pada waktu itu, Hek-tung Kai-pang dipimpin oleh lima orang ketua karena ketika diadakan
pemilihan pada tiga tahun yang lalu pilihan jatuh kepada lima saudara yang menjadi anak
murid dari Hek-tung Kai-ong (Raja Pengemis Bertongkat Hitam) pendiri dari perkumpulan
itu. Baru sekarang anak murid Hek-tung Kai-ong dipilih menjadi ketua. Beberapa tahun
sudah, perkumpulan itu dipimpin oleh lain orang, karena anak murid Hek-tung Kai-pang
sendiri tidak mampu mengalahkan pemimpin dari luar itu. Lima saudara yang menjadi murid
Hek-tung Kai-ong sendiri ini lalu melatih diri dan akhirnya berhasil mempelajari ilmu tongkat
dari Hek-tung Kai-ong, sehingga akhirnya mereka berhasil merebut kedudukan ketua. Untuk
menjaga perpecahan di antara mereka, serta untuk memperkuat kedudukan dan menjaga nama
Hek-tung Kai-ong pendiri perkumpulan itu, mereka berlima bermufakat untuk memegang
pimpinan bersama-sama.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
234
Dengan demikian, maka calon pemimpin baru apabila hendak menggantikan mereka, harus
dapat mengalahkan mereka berlima! Maka, sampai tiga kali pimpinan jadi tiga kali tiga tahun,
Ngo-heng-te (Lima Saudara) dengan Hek-tung-hwatnya (Ilmu Tongkat Hitam) ini selalu
menjadi pimpinan dan tak terkalahkan!
Dengan demikian, maka calon pemimpin baru apabila hendak menggantikan mereka, harus
dapat mengalahkan mereka berlima! Maka, sampai tiga kali pimpinan jadi tiga kali tiga tahun,
Ngo-heng-te (Lima Saudara) dengan Hek-tung-hwatnya (Ilmu Tongkat Hitam) ini selalu
menjadi pimpinan dan tak terkalahkan!
Seperti biasa, para pengemis telah berkumpul di sebuah tempat terbuka di sebelah utara kota,
di mana terdapat padang rumput dan beberapa batang pohon besar. Mereka masih menanti di
bawah pohon-pohon, ada yang duduk melenggut, ada yang berbaring mendengkur, ada yang
membuka bungkusan dan makan hasil mengemis, dan sebagian besar duduk bercakap-cakap
mengobrol ke barat ke timur sehingga keadaan menjadi sangat ramai sekali. Kurang lebih ada
empat puluh orang pengemis berkumpul di tempat itu, kesemuanya adalah pengemispengemis tua yang menjadi pimpinan berbagai cabang Hek-tung Kai-pang. Lima orang ketua
mereka belum datang, maka mereka masih saja menanti. Menurut desas-desus mereka kelima
orang pangcu (ketua) itu akan datang dari kota raja di mana mereka tinggal. Biarpun ketua itu
tinggal di kota raja, akan tetapi mereka tidak berani mengadakan pertemuan di sana, oleh
karena tentu saja mereka akan diusir dan diserbu oleh para perwira kerajaan yang tidak
memperbolehkan orang-orang kotor ini merusak pemandangan indah di kota raja!
Tiba-tiba semua pengemis itu dikejutkan oleh datangnya seorang pengemis lain yang aneh
keadaannya. Pengemis ini belum tua benar, kurang lebih berusia empat puluh tahun, berwajah
tampan dan pucat, sedangkan mukanya menunjukkan bahwa ia adalah orang yang tidak beres
ingatannya. Ia tertawa-tawa dan meringis sambil memutar-mutar manik matanya secara
mengerikan. Tangannya memegang sebatang tongkat bambu dan pakaiannya tidak karuan,
demikianpun rambutnya. Bahkan di pinggir mulutnya nampak tanah lumpur, seakan-akan ia
habis makan tanah lumpur.
“Anjing-anjing berkeliaran di mana-mana, ha-ha! Anjing-anjing berkeliaran di mana-mana!”
kata pengemis bertongkat bambu itu sambil menudingkan tongkatnya kepada para pengemis
lain yang memandangnya heran. Tak seorang pun di antara para pengemis ini mengenal orang
yang baru datang dan pandang mata marah mulai nampak pada para pemimpin cabang Hektung Kai-pang itu. Siapakah yang begitu kurang ajar berani datang ke tempat itu dan
mengganggu mereka?
“He, orang gila!” Seorang pengemis, yang pendek gemuk memaki. “Apakah matamu buta?
Apakah nyawa anjingmu minta diantar oleh tongkat hitam?”
Pengemis aneh ini sebenarnya Sin-kai Lo Sian. Pengemis sakti yang telah menjadi gila.
Sebagaimana telah kita ketahui, Lo Sian telah ditangkap oleh Ban Sai Cinjin sepuluh tahun
yang lalu, dipaksa minum obat beracun sehingga menjadi gila. Selama itu, Lo Sian
berkeliaran di mana-mana dan karena keadaannya telah berubah sedemikian rupa dan menjadi
gila, tak seorang pun dapat mengenalnya pula sehingga dahulu suhengnya, Mo-kai Nyo Tiang
Le, tak berhasil mencarinya. Di dalam perantaunnya dalam keadaan tidak sadar dan tidak
ingat sesuatu, Lo Sian kebetulan tiba di kota Ta-liong dan melihat banyaknya pengemis
berkumpul di situ, ia menjadi tertarik dan datang pula ke tempat itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
235
Mendengar teguran Si Pendek Gemuk tadi, Lo Sian hanya tertawa haha-hehe, dan ia
menggunakan tongkatnya untuk mencokel tanah di depan kakinya. Begitu tongkatnya
digerakkan, tanah itu tercolek terbang ke arah perut Si Pengemis Gendut. Pengemis gendut itu
terkejut sekali, cepat ia mengelak akan tetapi sambaran tanah lumpur ke dua telah tiba dan
tepat sekali mengenai mulutnya.
“Plak!” Pengemis gendut itu gelagapan dan sebagian besar lumpur itu telah memasuki
mulutnya!
“Bangsat kurang ajar” teriak pengemis lain dan semua pengemis yang tidak tidur telah berdiri
mengepal tongkat hitamnya. “Butakah matamu bahwa kau berhadapan dengan rombongan
pengurus Hek-tung Kai-pang? Hayo lekas mengaku siapakah kau dan mengapa kau datang
memusuhi kami?”
Kalau otaknya tidak gila, tentu Lo Sian tahu siapa sebetulnya mereka ini, karena ia pun telah
mendengar nama Hek-tung Kai-pang, bahkan dulu ia menjadi kawan baik dari Hek-tung Kaiong pencipta perkumpulan itu. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, jangankan mengenal
orang lain, dirinya sendiri pun ia tidak kenal lagi. Maka mendengar makian pengemis ini yang
bertubuh jangkung kurus, ia lalu menggerakkan tongkat bambunya mencokel tanah lagi dan
beterbanganlah tanah lumpur ke arah para pengemis yang telah berkumpul itu!
“Kurang ajar, kau benar-benar ingin mampus dibawah gebukan tongkat kami!” dan
menyerbulah sekalian pengemis itu dengan tongkat hitam terangkat, mengeroyok Lo Sian.
Semua pengurus cabang Hek-tung Kai-pang telah mempelajari limu Tongkat Hek-tung-hwat,
akan tetapi tingkat mereka apabila dibandingkan dengan Ngo-heng-te dan Hek-tung-hwatnya
itu masih amat jauh. Hek-tung-hwat adalah ilmu tongkat yang luar biasa sukarnya, dan amat
dirahasiakan cara mempelajarinya. Inilah pula sebabnya mengapa kelima saudara itu dulu
masih belum menguasai sepenuhnya ilmu tongkat ini. Setelah mereka mendapatkan kitab
pelajaran yang disembunyikan oleh Hek-tung Kai-ong, barulah mereka dapat memperdalam
ilmu tongkat itu.
Adapun Lo Sian, biarpun ingatannya telah lenyap dan ia telah menjadi seorang gila, namun
ilmu silatnya masih tidak lenyap. Ilmu silatnya yang berasal dari Thian-san-pai amat tinggi
dan termasuk golongan atas, maka tentu saja apabila dibandingkan dengan para pengemis itu,
ia masih menang jauh. Akan tetapi, biarpun telah kehilangan pikirannya, Lo Sian masih
belum kehilangan wataknya yang baik dan penuh welas asih, maka ia tidak ingin membunuh
sekalian pengemis yang mengeroyoknya, ditambah lagi dengan jumlah pengeroyoknya yang
amat banyak, maka sebentar saja ia dikepung oleh puluhan orang pengemis dan berkali-kali ia
menerima gebukan tongkat hitam!
Pertempuran itu benar-benar ramai dan lucu. Lo Sian sambil tertawa-tawa tidak karuan,
mempermainkan para pengeroyoknya, membuat para pengemis itu terjungkal dan roboh
karena dikait kakinya. Mereka jatuh tidak terluka, bangun lagi dan biarpun hujan tongkat
hitam itu mengenai tubuh Lo Sian sehingga pakaiannya hancur dan kulitnya ada yang pecah,
namun seperti tidak terasa oleh pengemis sakti yang memiliki kekebalan dan lwee-kang yang
tinggi itu. Pada saat itu, datanglah Hong Beng yang kebetulan tiba di kota itu. Pemuda ini
memiliki jiwa yang gagah dan adil. Dari jauh ia telah melihat dan mendengar ribut-ribut itu
dan ketika ia menghampiri tempat pertempuran ia melihat seorang pengemis dikeroyok oleh
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
236
puluhan pengemis tongkat hitam. Tadinya ia mengira bahwa pengemis-pengemis itu tentu
berebut makanan, akan tetapi ketika menyaksikan cara Lo Sian main silat, ia terkejut karena
mengenal ilmu silat yang tinggi dari Thian-san-pai.
“Curang!” seru pemuda ini dengan marah. “Puluhan orang mengeroyok seorang, sungguh
tidak tahu malu!”
Hong Beng lalu menyerbu ke depan. Seorang pengemis tongkat hitam menyambutnya
dengan tusuklan tongkat pada lambungnya, akan tetapi dengan amat mudah, Hong Beng
mengeluarkan tangannya dan sekali membetot, tongkat hitam itu berpindah tangan. Kaki
kirinya bergerak menendang dan terlemparlah tubuh pengemis itu sampai tiga tombak lebih
dan jatuh sambil berkaok-kaok kesakitan.
Para pengemis menjadi marah dan beberapa orang maju menyerbu Hong Beng. Akan tetapi,
mana mereka dapat menandingi Hong Beng yang berkepandaian tinggi? Memang keahlian
pemuda ini adalah permainan tongkat, kini ditangannya telah memegang sebatang tongkat
yang baik, maka tentu saja ia merupakan seekor naga yang dikeroyok oleh beberapa banyak
tikus! Sekali ia menggerakkan tongkatnya, terdengar jerit kesakitan dan tubuh empat orang
pengemis terlempar tak dapat bangun lagi karena tangan atau kaki mereka patah-patah!
Tiba-tiba terjadi keanehan. Lo Sian yang sedang dikeroyok dan menghadapi para
pengeroyoknya sambil tertawa-tawa gembira, ketika melihat sepak-terjang Hong Bengi
menjadi marah sekali.
“Kau berani melukai kawan-kawanku!” teriaknya dan tongkat bambunya dengan cepat sekali
menyambar ke arah leher Hong Beng!
Pemuda ini lebih merasa heran daripada terkejut. Mengapa ada orang yang membalas
pertolongan dengan serangan demikian berbahaya? Namun dengan tenang ia lalu mengangkat
tongkatnya menangkis dan terkejutlah ia ketika merasa betapa tenaga pengemis gila ini benarbenar tidak rendah. Ia lalu mainkan tongkatnya dan kini ia berkelahi dengan hati-hati sekali.
Pengemis tongkat bambu ini menyebut para pengeroyoknya sebagai kawan-kawan, apakah
dengan demikian bukan berarti bahwa ia telah mencampuri urusan dalam orang-orang
golongan lain?
“Orang tua, tahan dulu. Aku tidak bermaksud jahat!” kata Hong Beng, akan tetapi Lo Sian
tetap menyerangnya kalang kabut sambil mengeluarkan ilmu tongkat dari Thian-san-pai yang
paling lihai. Para pengemis kini memindahkan kemarahan mereka kepada Hong Beng dan
sambil berteriak-teriak mereka lalu maju membantu Lo Sian, mengeroyok Hong Beng. Kini
pemuda inilah yang dikeroyok!
Melihat betapa Lo Sian tidak memperdulikannya, dan betapa para pengemis itu
mengeroyoknya dengan nekad, Hong Beng merasa mendongkol juga. Akan tetapi ia kini tidak
mau melukai pengeroyoknya, cukup mendorong mereka roboh tumpang-tindih saja. Ketika ia
mengerahkan kepandaiannya, tongkat bambu di tangan Lo Sian dapat dipukulnya sehingga
remuk dan ia berhasil mendorong Lo Sian sehingga terjungkal dan bergulingan beberapa kali
tanpa melukainya. Tiba-tiba Lo Sian menjerit-jerit seperti orang ketakutan.
“Aduh...! Pemakan jantung...! Pemakan jantung...!” Dan sambil memegangi kepalanya
dengan kedua tangan, larilah Lo Sian dengan amat cepatnya bagaikan orang dikejar setan!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
237
Mendengar dan melihat hal ini, para pengemis tongkat hitam menjadi bengong dan
memandang ke arah bayangan Lo Sian, untuk sementara lupa kepada Hong Beng yang
dikeroyoknya! Pemuda ini pun menjadi terheran-heran dan ia pun cepat membuang tongkat
rampasannya lalu melompat pergi mengejar bayangan Lo Sian yang berlari-lari sambil
menjerit-jerit!
Setelah keluar dari kota Ta-liong, Hong Beng akhirnya dapat menyusul Lo Sian yang berlarilari. Pemuda ini mendahuluinya, lalu membalikkan tubuh dan menghadang di tengah jalan
sambil berkata,
“Perlahan dulu, Lopek!” Ia mengangkat tangan memberi isarat agar supaya orang tua itu
berhenti. “Siapakah kau dan apakah artinya sikapmu yang aneh ini?”
Lo Sian memandangnya dengan tajam, kemudian tiba-tiba pengemis ini tertawa. “Ha-ha-ha!
Kau manusia berhati kejam! Kau hendak membunuhku? Bunuhlah! Kaukira aku takut mati?
Ha-ha-ha!” Sambil berkata demikian, Lo Sian lalu menggerakkan tangannya dan menyerang
dengan gerak tipu Kumbang Jantan Menyambar Bunga. Akan tetapi dengan kedua tangannya
digerakkan cepat sekali Hong Beng berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Lo Sian.
“Orang tua, mengapa kau mengamuk dan mengapa pula kau berlari-lari seperti ketakutan?
Ada apakah? Cobalah kau mengaku terus terangg siapa kau dan percayalah bahwa aku yang
muda akan berusaha untuk membantumu dan menolongmu dari kesukaran!”
“Siapa aku? Tidak tahu! Tidak tahu!” Lo Sian meronta-ronta kemudian sambil
membelalakkan matanya, ia berteriak-teriak lagi, “Pemakan jantung! Pemakan jantung! Hihi..., pemakan jantung.” Ketika Hong Beng melepaskannya, ia berlari lagi ke dalam hutan di
dekat situ.
Hong Beng merasa terharu sekali. Ternyata olehnya bahwa kakek itu benar-benar gila. Tanpa
disadarinya, kedua kakinya bergerak mengejar ke dalam hutan, akan tetapi oleh karena
sekarang Lo Sian tidak mengeluarkan teriakan-teriakan lagi, agak sukarlah baginya untuk
dapat menyusul pengemis yang telah berlari ke dalam hutan belukar itu.
Tiba-tiba ia mendengar teriakan-teriakan di sebelah belakang dan ketika ia menengok, ia
melihat betapa puluhan pengemis tongkat hitam tadipun kini telah mengejarnya! Dengan
mendongkol sekali karena hatinya masih merasa amat iba kepada pengemis gila tadi, Hong
Beng lalu menghadapi para pengemis itu dan mendahului memaki,
“Orang-orang berhati kejam dan jahat! Kalian ini sudah tahu bahwa pengemis tadi adalah
seorang yang tidak waras pikirannya, masih saja kalian mengeroyoknya. Apakah itu dapat
disebut perbuatan yang pantas?”
Seorang di antara para pengemis itu, yang bongkok tubuhnya dan yang mewakili kawankawannya bicara, memberi hormat dan berkata,
“Orang muda yang gagah! Kau tidak tahu bahwa si gila tadi yang mulai lebih dulu dan
mengganggu kami. Kami sekali-kali bukan orang-orang yang berhati jahat dan bersikap
pengecut, karena ketahuilah bahwa kami adalah anggota-anggota terpilih dari Hek-tung Kaipang!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
238
Hong Beng pernah mendengar nama perkumpulan pengemis ini dari suhunya yang memuji
perkumpulan ini sebagai perkumpulan yang berhaluan patriotik dan memusuhi para perampok
dan pengacau. Pengemis-pengemis Hek-tung Kai-pang selalu merasa dirinya menjadi
pelindung dari rakyat kecil yang miskin. Akan tetapi oleh karena Hong Beng tidak
mempunyai urusan dengan perkumpulan ini, ia segera bertanya,
“Kalau begitu, kalian mengejarku ada maksud apakah?”
“Sayang sekali bahwa ketika kelima Pangcu (Ketua) kami tiba, kau telah pergi dan sekarang
para Pangcu kami yang tertarik sekali mendengar kepandaianmu bermain tongkat,
mengundang kepadamu untuk mengunjungi perkumpulan kami dan mengajakmu berpibu
(mengadu kepandaian).”
Berserilah wajah Hong Beng mendengar tantangan ini. Memang, tiap kali mendengar orang
pandai, hatinya ingin sekali mencobanya, apalagi kalau dia yang ditantang! Akan tetapi, ia
masih tertarik oleh Lo Sian pengemis gila tadi dan hendak mencari serta menyelidikinya,
maka ia lalu berkata,
“Baiklah, katakan pada Pangcu-pangcumu bahwa aku Sie Hong Beng menerima baik
undangan mereka. Besok pagi-pagi aku akan datang mengunjungi tempat di mana kalian tadi
berkumpul.”
Para pengemis itu tertegun ketika mendengar pemuda itu menerima tantangan kelima pangcu
mereka, dan sikap mereka berubah menghormat sekali. Si Bongkok tadi menjura dan berkata,
“Orang muda yang gagah! Kami percaya bahwa seorang gagah seperti kau tentu takkan
melanggar janji. Hanya harap kau berhati-hati menghadapi Hek-tung-hwat dari kelima orang
pangcu kami!” Ia lalu mengajak kawan-kawannya mengundurkan diri. Adapun Hong Beng
lalu melanjutkan perjalanannya mencari pengemis gila tadi.
Pada saat itu, di dalam hutan itu terdapat dua orang lainnya yang juga melakukan perjalanan
sambil bersendau gurau. Mereka ini adalah Lili dan Goat Lan yang melakukan perjalanan
menuju ke Tiang-an. Kedua orang gadis gagah ini pun mendengar teriakan-teriakan para
pengemis tadi dan cepat mereka menuju ke tempat itu. Akan tetapi para pengemis itu telah
pergi meninggalkan Hong Beng dan ketika Lili melihat Hong Beng, ia cepat-cepat menarik
tangan Goat Lan dan bersembunyi di balik semak belukar.
“Ssst, Goat Lan, jangan sampai terlihat oleh orang itu!” bisiknya perlahan.
Melihat sikap Lili, Goat Lan menjadi terheran dan tertarik sekali. Ia tidak mengenal siapa
gerangan pemuda yang gagah dan tampan itu. Tentu saja Lili segera mengenal muka
kakaknya, akan tetapi Goat Lan belum pernah bertemu muka dengan Hong Beng semenjak
mereka masih kecil.
“Ada apakah, Lili? Mengapa kau agaknya takut kepada pemuda itu? Siapakah dia?”
“Eh, eh, agaknya kau tertarik kepadanya, Goat Lan!” Lili menegur sambil merengut. “Ingat,
kau adalah tunangan kakakku.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
239
“Iih, anak gila!” Goat Lan mencubit lengan Lili, karena tahu bahwa Lili hanya menggodanya
saja. “Pantasnya yang tertarik adalah engkau yang belum bertunangan!”
“Mana bisa aku tertarik kepadanya? Dia... dia telah menghinaku Goat Lan, dan sekarang aku
minta kepadamu agar sukalah kau membalaskan penghinaan itu!”
Goat Lan terkejut. “Menghinamu? Dia...?? Mengapa diam saja? Hayo kita menyerbunya dan
memberi hajaran kepada orang kurang ajar itu! Penghinaan apakah yang telah ia lakukan
kepadamu?”
“Terus terang saja aku pernah bertemu dengan dia dan melihat bahwa dia memiliki
kepandaian tinggi, aku lalu mengajaknya pibu, akan tetapi aku... aku kalah dan ditertawakan
olehnya! Aku... aku takut dan malu melihatnya, Goat Lan, maka kalau kau mau membelaku,
kau keluarlah dan kaujatuhkanlah dia! Akan tetapi jangan kauceritakan tentang aku karena
aku malu. Biarlah aku bersembunyi saja melihat betapa kau mengalahkan dan
merobohkannya! Atau... barangkali kau tidak berani dan tidak mau membelaku?”
“Siapa tidak berani? Kaulihat saja. Mari kita kejar dia!”
Demikianlah, kedua orang dara jelita ini menyusup semak-semak belukar mengejar Hong
Beng yang berjalan sambil memandang ke sana ke mari, mencari jejak Lo Sian.
Tiba-tiba, pemuda ini terkejut sekali ketika melihat seorang gadis cantik melompat keluar
dari semak-semak dan memakinya, “Pemuda sombong dan kurang ajar, kau berani sekali
menghina adikku? Bersiaplah untuk menerima beberapa pukulan pembalasan dariku!” Sambil
berkata demikian, langsung Goat Lan menyerang Hong Beng dengan ilmu silatnya Im-yangkun-hoat yang lihai!
Hong Beng tercengang melihat kehebatan serangan ini dan tanpa berani berlaku lamban ia
cepat mengelak.
“Eh, eh, apakah dunia ini sudah terbalik? Mengapa kau datang-datang menyerangku?”
tanyanya terheran-heran, dan juga kagum sekali melihat betapa elok dan cantik manis gadis
yang menyerangnya ini.
“Tutup mulut dan bersiaplah kalau kau memang seorang laki-laki yang gagah!” Goat Lan
membentak dan menyerang lagi lebih hebat!
Melihat serangan ini, maklumlah Hong Beng bahwa ia berhadapan dengan seorang gadis
pendekar yang pandai sekali, maka cepat ia lalu mengelak lagi. Goat Lan melihat gerakan
pemuda itu dan diam-diam juga terkejut karena pemuda ini benar-benar memiliki gin-kang
yang sempurna. Ia menyerang terus bertubi-tubi, akan tetapi Hong Beng selalu mengelak dan
menangkis. Benturan lengan mereka menyatakan kepada keduanya bahwa tenaga lwee-kang
pihak lawan benar-benar tak boleh dibuat gegabah.
“Nanti dulu, Nona, kau siapakah dan mengapa pula kau menyerangku tanpa alasan? Apakah
salahku?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
240
“Tak usah bertanya! Kalau kau memang mempunyai kepandaian, jangan menyombongkan
itu di hadapan adikku, akan tetapi lawanlah aku! Ataukah, kau tidak berani karena kau berhati
pengecut?”
Ucapan ini benar-benar mengenai hati Hong Beng dan menyentuh perasaan dan wataknya
yang tidak mau kalah.
“Bagus, gadis sombong dan galak. Hendak kulihat sampai di manakah kepandaianmu!” Hong
Beng lalu membalas dengan serangannya dan demikianlah, kedua orang muda itu bertempur
dengan seru sekali. Saling serang, saling desak, akan tetapi keduanya memang sama-sama
gesit dan lihai. Ilmu silat Hong Beng yang berdasarkan Pat-kwa-kun-hwat dan Ngo-heng-ciohwat benar-benar luar biasa, akan tetapi Goat Lan juga murid orang-orang sakti. Untuk
menghadapi Hong Beng yang ternyata amat tangguh itu, ia segera mengeluarkan Im-yang
Sin-an, pelajaran yang diwarisinya dari Im-yang Giok-cu. Tubuh kedua orang muda ini
sampai lenyap menjadi dua bayangan yang berkelebatan ke sana ke mari dan kadang-kadang
bergulung-gulung menjadi satu. Hong Beng merasa penasaran sekali karena jangankan
mengalahkan gadis ini, mendesak pun ia tidak dapat! Ia mengerahkan seluruh kepandaian dan
tenaganya, dan berkat tenaga lwee-kangnya yang lebih kuat sedikit daripada Goat Lan, ia
berhasil mendesak nona itu. Akan tetapi, harus diakui bahwa dalam hal gin-kang, nona itu
masih menang darinya, sehingga betapapun Hong Beng mendesak, ia tidak mampu
menyentuh nona itu yang gesit laksana burung walet. Pertempuran dilanjutkan dengan hebat,
seratus jurus lebih telah lewat sehingga keduanya makin penasaran dan juga kagum.
Goat Lan benar-benar menjadi marah sekali. Masa ia tidak dapat mengalahkan pemuda dusun
ini? Sebagaimana diketahui, Goat Lan telah mewarisi kepandaian Hok Peng Taisu melalui
ibunya, maka ia lalu mengeluarkan ilmu silat yang diterimanya dari ketiga guru besar itu
untuk menghadapi Hong Beng. Belum pernah Goat Lan begitu bersungguh-sungguh
mengerahkan seluruh kepandaiannya sehingga pada jidatnya telah keluar beberapa titik peluh.
Juga Hong Beng merasa pusing karena gerakan gadis itu cepat sekali.
Pada suatu saat, ketika Goat Lan telah terdesak sampai di bawah sebatang pohon, Hong Beng
mengeluarkan serangan dengan gerak tipu Dewa Hutan Membelah Kayu. Ia menubruk
dengan tangan kanan dibuka jarinya lalu menyerang dengan tangan kanan itu, membuat
gerakan kapak membelah kayu ke arah pundak Giok Lan, sedangkan tangan kirinya siap
untuk menyusul dengan serangan menotok dari bawah kiri. Ia mengembangkan tangan kirinya
agar supaya gadis itu tidak mengira akan gerakan susulan ini.
Akan tetapi, Goat Lan telah mendapat gemblengan yang hebat dari para gurunya. Melihat
serangan ini, ia hanya melangkahkan kaki kiri ke belakang, lalu membalikkan kedudukan
tubuhnya sambil menekuk kaki kirinya itu yang kini berada di depan. Karena tubuhnya
menjadi doyong maka serangan Hong Beng itu kini tidak mengenai sasaran dan dengan cerdik
sekali Goat Lan bersikap seolah-olah ia tidak memperhatikan tangan kiri Hong Beng yang
siap menotok. Akan tetapi diam-diam gadis ini yang maklum bahwa ia telah membuka
kesempatan bagi lawannya untuk menyerang dan menotok punggungnya, telah mengerahkan
ilmu khi-kang dan mengumpulkan napas memasang Ilmu Pi-ki-hu-hiat (Menutup Hawa dan
Melindungi Jalan Darah).
Benar saja, Hong Beng tidak mau melewatkan kesempatan itu dan dengan girang tangan
kirinya lalu menotok jalan darah di punggung lawannya. Akan tetapi oleh karena ia tidak
ingin melukai lawannya, ia hanya melakukan totokan perlahan saja yang cukup untuk
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
241
membuat tubuh lawannya menjadi lemas. Akan tetapi, alangkah terkejutnya ketika ia merasa
betapa jari tangannya mengenai kulit dan daging yang lunak sekali seakan-akan tidak berurat
sama sekali! Ia maklum bahwa ia telah kena dipancing dan bahwa lawannya telah menutup
jalan darahnya, maka ia cepat hendak melompat mundur. Terlambat! Tangan kiri Goat Lan
telah “masuk” dari bawah lengan kanannya dan berhasil pula menotok iga di bawah pangkal
lengannya.
“Dukk!” Hong Beng masih keburu mengerahkan lwee-kangnya sehingga bagian tubuh yang
tertotok menjadi sekeras batu! Namun tenaga totokan Goat Lan itu masih membuatnya
terhuyung mundur tiga langkah!
“Bagus sekali! Kau benar-benar lihai, Nona. Aku yang bodoh mengaku kalah karena ginkangmu yang luar biasa. Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa aku kalah dalam hal
kepandaian seluruhnya. Kalau kau masih sanggup menghadapiku, marilah kita
mempergunakan senjata!” Biarpun ia mengaku kalah akan tetapi Hong Beng masih belum
puas dan menantang untuk bertempur mempergunakan senjata.
Diam-diam Goat Lan terheran. Pemuda ini cukup simpatik, karena sungguhpun tadi tak dapat
dikatakan pemuda ini kalah, namun dengan jujur pemuda ini berani mengakui kekalahannya
yang sedikit dan tak berarti itu, bahkan kini berani secara sopan menantang untuk
melanjutkan pertempuran dengan senjata! Mengapakah pemuda yang sopan santun dan halus
budi bahasanya ini oleh Lili disebut kurang ajar? Namun ia tentu saja tidak mau menyerah
kalah dalam hal ketabahannya, maka ia lalu tersenyum dan menjawab,
“Siapa takut kepada senjatamu? Keluarkanlah!”
Dengan heran Goat Lan melihat pemuda itu mengambil sebatang ranting kayu yang terletak
di atas tanah. Ranting ini hanya sebesar ibu jari kaki dan panjangnya paling banyak selengan
orang.
Melihat senjata lawannya, Goat Lan diam-diam terkejut, karena hanya orang dengan
kepandaian tinggi saja yang mempergunakan senjata seringan itu. Makin sederhana senjata
orang, makin berbahaya dan lihailah ilmu kepandaiannya, demikian ayah-bundanya pernah
berkata. Ia menjadi malu untuk mengeluarkan sepasang bambu kuningnya, maka ia pun lalu
mencari dua batang ranting yang sama besarnya dengan ranting di tangan Hong Beng, lalu
sebelum lawan menyerangnya, tanpa berkata sesuatu ia lalu mengirim serangan hebat dengan
ranting di tangan kiri.
Tadi ketika melihat Goat Lan mengambil dua batang ranting pula seperti yang dipungutnya,
Hong Beng benar-benar terheran sampai membelalakkan matanya. Tadinya disangka bahwa
gadis ini tentu akan bersenjatakan pedang atau senjata tajam lainnya. Akan tetapi ia tidak
diberi kesempatan untuk berheran-heran sampai lama, karena bagaikan seekor ular ranting di
tangan nona itu telah menyerangnya dengan gerakan yang amat luar biasa! Ia cepat
menggerakkan rantingnya untuk menempel ranting lawan dan merampasnya, akan tetapi
belum juga rantingnya dapat menangkis, ranting lawan telah ditarik kembali dan kini ranting
di tangan kanan gadis itu menotok ke arah lehernya!
“Hebat!” seru Hong Beng memuji ilmu silat yang luar biasa ini. Berbeda dengan dia yang
memegang ranting di tengah-tengah, gadis itu memegang rantingnya pada ujungnya dan
menggunakan sepasang ranting itu untuk menotok.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
242
Setelah Hong Beng melayani Goat Lan sampai tiga puluh jurus lebih, makin lama makin
terheranlah dia. Ilmu silat gadis ini benar-benar luar biasa sekali dan sungguhpun ilmu
tongkatnya yang dua macam itu, yaitu Pat-kwa Tung-hwat dan Ngo-heng Tung-hwat adalah
raja ilmu tongkat yang jarang bandingnya di muka bumi ini, namun ternyata bahwa
menghadapi ilmu silat gadis ini ia tidak banyak berdaya dan hanya dapat mengimbanginya
saja, tanpa dapat mendesak dan tidak pula sampai terdesak! Saking herannya, Hong Beng lalu
melompat mundur sampai dua tombak lebih dan berkata,
“Tahan, Nona! Aku harus mengetahui lebih dulu siapakah lawanku yang memiliki
kepandaian sedemikian hebatnya! Aku Sie Hong Beng selama hidupku belum pernah
mengganggu orang, apalagi orang seperti kau! Mengapakah kau memusuhiku sampai
sedemikian rupa?”
Lenyaplah seketika itu juga kemarahan dari wajah Goat Lan dan gadis ini berdiri bengong
seperti patung! Mendengar disebutnya nama itu, untuk sesaat wajahnya menjadi pucat,
kemudian menjadi kemerah-merahan dan tak terasa lagi kedua ranting di tangannya terlepas
dan jatuh ke atas tanah. Seakan-akan lemaslah kedua lengannya dan hatinya berdetak tidak
karuan.
“Kau... kau... bernama Sie Hong Beng...?” katanya perlahan seperti berbisik.
“Ya, aku bernama Sie Hong Beng, yaitu kalau tidak ada dua Sie Hong Beng di dunia ini. Dan
kau siapakah? Siapa pula adikmu yang katamu tadi pernah kuhina itu?”
Goat Lan tak dapat menjawab, hanya mukanya saja sebentar pucat sebentar merah. Tiba-tiba
terdengar suara ketawa tak jauh dari situ dan ketika Hong Beng menengok ternyata yang
tertawa itu adalah Lili adiknya! Gadis nakal ini tertawa-tawa sambil menyembunyikan
tubuhnya di balik sebatang pohon besar sekali.
“Hi-hi, Enci Goat Lan!” Kini tiba-tiba ia menyebut “enci”. “Bagaimana kepandaian pemuda
itu? Boleh juga, bukan? Apakah kau sekarang sudah mulai melupakan kakakku dan tertarik
oleh pemuda ini?”
“Hemm, diakah adikmu dan kau... kau bernama Goat Lan, Kwee Goat Lan??” Kini muka
Hong Beng yang menjadi kemerah-merahan, karena ternyata bahwa gadis ini adalah
tunangannya sendiri yang belum pernah dijumpainya selama ini! Dengan gemas Hong Beng
lalu melemparkan rantingnya dan hampir berbareng dengan gerakan Goat Lan, ia lalu
mengejar Lili yang sembunyi di balik pohon besar itu!
“Awas kutempeleng kepalamu yang penuh akal jail itu!” seru Hong Beng.
“Lili, anak nakal! Kujewer telingamu!” Goat Lan berkata pula sambil mengejar pula dengan
cepat.
Hong Beng mengejar dari sebelah kiri dari pohon dan Goat Lan mengejar dari sebelah kanan
pohon yang besar itu. Hampir saja kedua orang muda ini bertumbukan di belakang pohon satu
sama lain, karena ternyata bahwa Lili yang nakal itu tidak ada pula di tempat itu. Saking
gugupnya, hampir saja tangan Hong Beng menangkap Goat Lan yang disangkanya Lili dan
dengan mulut tersenyum malu-malu dan mata tidak berani memandang, Goat Lan berdiri di
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
243
depannya. Hong Beng tercengang dan terpesona. Alangkah cantik, gagah, dan manisnya
tunangannya ini. Terdengar lagi suara ketawa dari atas dan ketika keduanya menengok ke
atas, ternyata bahwa Lili sekarang telah duduk di atas cabang pohon besar itu!
“Turuntah kau, Lili! Bagus betul perbuatanmu, setelah berpisah bertahun-tahun, kau masih
berani mempermainkan kakakmu sendiri!” kata Hong Beng gemas.
“Aku tidak mau sebelum kau berjanji tidak akan menempeleng kepalaku!” kata Lili dengan
sikap manja.
“Hemm, seperti anak kecil saja kau, Lili! Biarlah, kali ini kau kuampunkan. Turunlah!”
“Tidak, Beng-ko, kalau aku turun, aku takut kepada Enci Lan!”
“Memang aku akan mencubit bibirmu!” kata Goat Lan gemas dengan muka masih berubah
merah karena jengah.
“Nah, Engko Hong Beng. Kaudengar sendiri bagaimana galaknya calon nyonyamu!Kalau
kau tidak berjanji akan membalas Enci Lan dan mencubit bibirnya apabila ia menyerangku,
aku tidak mau turun dan tidak mengaku sebagai adikmu!”
Digoda seperti itu, baik Hong Beng maupun Goat Lan menjadi gemas dan malu-malu, akan
tetapi tentu saja dapat diketahui bahwa di dalam dada mereka merasa amat bahagia.
“Sudahlah, Lili, kau turunlah, tentu saja... Nona Kwee tidak akan marah kepadamu.”
“Aih, aih! Mengapa pakai nona-nonaan segala? Engko Hong Beng, kau benar-benar bocengli
(tidak tahu aturan, tidak berbudi), mengapa menyebut calon Soso (Kakak Ipar) dengan
sebutan yang bersifat sungkan-sungkan? Kau harus menyebutnya Moi-moi!”
Muka kedua orang muda itu makin merah mendengar godaan ini dan pada saat itu, Lili
melompat turun. Goat Lan segera mengulurkan kedua tangannya kepada Lili, bukan untuk
mencubit bibir atau menjewer telinga, melainkan untuk memeluknya.
“Lili, aku minta dengan sangat, kasihanilah aku dan jangan kau menggoda lagi. Kau sudah
lebih dari cukup menggodaku!” bisiknya.
“Engko Hong Beng,” kata Lili dan ia memandang kepada kakaknya dengan bangga, “aku
girang sekali, menyaksikan kepandaianmu yang hebat! Tidak percuma kau menjadi kakakku
dan menjadi calon suarni Enci Goat Lan yang cantik jelita!”
“Lili!!” seru Goat Lan.
“Lili...!” bentak Hong Beng hampir berbareng. “Jangan kau menggoda saja!”
Lili yang jenaka itu lalu menjura kepada mereka berdua. “Maaf, maaf! Aku hanya main-main
saja. Engko Han Beng, mengapa kau bisa berada di tempat ini dan apa hubunganmu dengan
orang-orang pengemis yang mengerikan tadi?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
244
Dengan singkat Hong Beng lalu menceritakan perjalanan dan pengalamannya. Ketika
mendengar tentang Lo Sian, Lili berubah air mukanya.
“Beng-ko, coba kauceritakan bagaimana wajah orang gila itu!”
Dengan heran Hong Beng lalu menuturkan tentang wajah Lo Sian dan mendengar ini, Lili
berseru,
“Suhu...!”
Baik Hong Beng maupun Giok Lan menjadi terkejut dan heran mendengar seruan ini.
Mereka memandang kepada Lili dengan mata mengandung penuh pertanyaan.
“Tentu dia Suhu! Siapa lagi?” Lili lalu menuturkan tentang Lo Sian, pengemis sakti yang
dulu telah menolongnya dari tangan Bouw Hun Ti dan yang kemudian bahkan menjadi
suhunya.
“Aku pun hendak mencarinya. Kalau begitu hayo kita kejar dia!”
Tiga orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan mengejar Lo Sian yang melarikan diri.
Berkat ilmu gin-kang mereka yang sudah sempurna, sebentar saja mereka dapat menyusul Lo
Sian yang masih berlari-lari dan berteriak-teriak, “Pemakan jantung...! Pemakan jantung...!”
“Suhu...!” Lili berseru memanggil dengan hati terharu sekali. Gadis itu mendahului kedua
orang kawannya dan melompat ke hadapan Lo Sian. Wajah Lo Sian yang beringas itu
menghadapi Lili dan sepasang matanya yang liar memandang dengan tajam. Dengan hati
ngeri Lili melihat betapa mata itu telah menjadi merah mengerikan.
Untuk sesaat Lo Sian berdiri bagaikan patung, dan dengan perlahan ia berkata, “Kau...? Aku
sudah pernah melihatmu... kau...?”
“Suhu, teecu adalah Lili, Sie Hong Li muridmu! Suhu, mengapa Suhu menjadi begini...?”
Tak terasa lagi air mata mengalir turun dari sepasang mata Lili yang bagus itu.
Lo Sian tidak dapat mengingat siapa adanya Lili, akan tetapi perasaannya membisikkan
kepadanya bahwa gadis ini adalah seorang yang baik kepadanya, maka ia tidak mau
menyerang dan kemarahan serta ketakutannya lenyap. Akan tetapi, pada saat itu ia melihat
Goat Lan dan Hong Beng yang sudah datang dan memandangnya dengan mata berkasihan.
Tiba-tiba orang gila ini menjadi liar lagi dan berteriak-teriak, “Pemakan jantung! Pemakan
jantung!” Lalu ia maju menubruk dan menyerang Hong Beng dan Goat Lan.
Melihat keadaan orang itu, Goat Lan cepat turun tangan dan berhasil menotok dada Lo Sian.
Pengemis gila ini roboh dengan tubuh lemas tak berdaya lagi.
“Aku harus merobohkannya dan memeriksanya!” kata Goat Lan singkat dan tanpa menanti
pendapat kawan-kawannya ia lalu berjongkok dan memeriksa nadi Lo Sian.
“Keadaan jantungnya baik,” kata Goat Lan sambil memeriksa dada dan detik urat nadi. Hong
Beng memandang dengan kagum kepada tunangannya itu. Ia sendiri sedikit-sedikit
mempelajari ilmu pengobatan dari ibunya yang belajar dari ayahnya pula, akan tetapi tentu
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
245
saja kepandaiannya ini tidak ada artinya apabila dibandingkan dengan tunangannya yang
menjadi murid Yok-ong Sin Kong Tianglo Si Raja Obat.
“Paru-parunya agak lemah,” terdengar Goat Lan berkata pula. Tanpa berkata sesuatu, gadis
ini lalu mengeluarkan bambu kuningnya, dan mempergunakan ujung bambu yang runcing
untuk mengerat lengan Lo Sian. Darah beberapa titik keluar dari luka kecil itu. Goat Lam
menggunakan jari tangannya untuk mengambil darah ini yang segera diperiksanya dan darah
itu ia tempelkan pada ujung lidahnya! Tak lama kemudian ia meludahkan darah itu dan
berkata,
“Darahnya mengandung bisa yang aneh!” Ia lalu berpaling kepada Lili dan berkata,
“Menurut perhitunganku, kalau kakek ini dulunya tidak gila seperti yang kaukatakan, tentu
dia telah terkena racun hebat, sehingga racun itu mengotorkan darahnya dan merusak
ingatannya. Lili, kalau di dunia ini ada orang yang dapat menolongnya, maka orang itu bukan
lain adalah Thian Kek Hwesio yang tinggal di kuil Siauw-lim-si di Kiciu, tak jauh dari sini.”
“Siapakah dia dan apakah dia mau menolongku mengobati Suhu ini?” tanya Lili penuh
gairah.
“Kalau aku yang minta, mungkin dia takkan menolak. Dia adalah sahabat baik mendiang
Suhu dan dia terkenal sebagai ahli penyakit gila, dan ahli pula mengobati orang terkena racun.
Aku pernah diajak oleh Suhu mengunjungi Thian Kek Hwesio. Kita dapat langsung menuju
ke sana.”
“Sayang sekali aku tak dapat ikut. Baiklah, aku akan menyusul setelah urusanku pibu dengan
ketua-ketua dari Hek-tung Kai-pang beres.” kata Hong Beng. “Tidak patut kalau aku
melanggar janji, bukan perbuatan yang patut dibanggakan kalau seorang gagah melanggar
janjinya.”
Goat Lan mengerutkan kening. Gadis ini pernah mendengar nama Hek-tung Kai-pang dan
mendengar pula bahwa kelima kepala dari perkumpulan pengemis ini adalah orang-orang
lihai yang telah mewarisi ilmu tongkat Hek-tung-hwat yang lihai. Menurut ibunya, ilmu
tongkat Hek-tung-hwat masih secabang dan bahkan berasal dari Ilmu Tongkat Bambu
Runcing ciptaan Hok Peng Taisu karena Hek-tung Kai-ong pencipta Ilmu Tongkat Hitam itu
pernah mendapat petunjuk-petunjuk dari Hok Peng Taisu. Maka teringat betapa tunangannya
akan menghadapi lima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu, hatinya menjadi gelisah sekali.
“Kelima ketua dari Hek-tung Kai-pang itu amat lihai ilmu tongkatnya,” kata Goat Lan tanpa
berani memandang kepada Hong Beng.
“'Aku tidak takut..., Moi-moi,” kata Hong Beng sambil mengerling ke arah Lili. Akan tetapi,
Lili tidak mempunyai nafsu untuk menggoda orang ketika ia melihat keadaan Lo Sian dan ia
mendengarkan dengan kesungguhan hati dan penuh perhatian.
“Aku percaya, Koko (Kanda), akan tetapi... karena mereka itu bukan orang-orang jahat, maka
tidak baik kalau sampai terjadi bentrok yang menimbulkan permusuhan. Kalau saja Adik Lili
mau ikut dengan kau... dan biarlah aku yang mengantarkan Lo-enghiong (Orang Tua Gagah)
ini kepada Thian Kek Hwesio...”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
246
“Kurasa tidak perlu, Moi-moi (Dinda). Kalau Lili ikut dengan aku, jangan-jangan aku
dianggap takut dan dicap pengecut!”
Tiba-tiba Lili bangun dan berkata, “Biarlah aku yang mengantarkan Suhu ke Kiciu. Kiciu
tidak berapa jauh dari sini dan pula, perjalanan ini tidak berbahaya sama sekali. Enci Lan, kau
pergilah bersama Beng-ko, dan seperti yang kaukatakan tadi, lebih baik kita jangan menanam
bibit permusuhan dengan Hek-tung Kai-pang. Hatiku juga tidak akan merasa tenteram kalau
Beng-ko pergi seorang diri saja ke sana. Nah, Enci Lan, coba kaubuatkan surat untuk Thian
Kek Hwesio agar ia dapat dan mau menolong Suhu.” Goat Lan segera menggunakan bambu
runcingnya untuk mengambil kulit pohon yang lebar, kemudian dengan ujung bambunya ia
menuliskan beberapa kata-kata di atas “surat” istimewa ini. Melihat betapa Goat Lan setuju
dengan usul Lili, Hong Beng tidak berani membantah lagi, karena siapakah orangnya yang
tidak akan merasa gembira dan bahagia melakukan perjalanan bersama dengan tunangannya,
apalagi kalau tunangan itu secantik dan segagah Goat Lan?
Demikianlah, sambil membawa “surat” dari Goat Lan, Lili lalu memulihkan keadaan
suhunya dan ternyata Lo Sian menurut saja kepada Lili ketika Lili mengajaknya pergi! Hong
Beng dan Goat Lan lalu kembali, menuju ke kota Ta-liong untuk memenuhi janji kepada Hektung Kai-pang pada keesokan harinya.
***
Thian Kek Hwesio adalah seorang pendeta Buddha yang bertubuh gemuk dan berwajah
tenang dan riang. Hwesio ini telah banyak merantau dan sudah beberapa kali ia melawat ke
negeri barat untuk memperdalam pengetahuannya tentang Agama Buddha. Di dalam
perantauannya ke barat inilah dia mendapatkan ilmu pengobatan yang luar biasa. Memang
semenjak mudanya, Thian Kek Hwesio paling suka merripelajari ilmu ini dan ketika ia berada
di negeri barat, ia bertemu dengan seorang ahli pengobatan, khususnya untuk mengobati
orang-orang yang terganggu pikirannya dan orang-orang yang menjadi korban racun-racun
jahat. Ia mempelajari ilmu jiwa yang amat dalam sampai puluhan tahun lamanya sehingga
ketika ia kembali ke tanah airnya, ia telah menjadi seorang ahli berilmu tinggi.
Akhirnya ia menghentikan perantauannya dan tinggal di dalam kuil Siauw-lim-si di Kiciu,
sambil memperkembangkan Agama Buddha yang dianutnya, ia pun selalu mengulurkan
tangan untuk mengobati orang-orang yang membutuhkan pertolongannya. Tidak jarang,
apabila terjangkit wabah penyakit di suatu tempat, tidak peduli tempat itu letaknya amat jauh,
Thian Kek Hwesio pasti akan mendatanginya dan mengulurkan tangan menolong orang-orang
yang menjadi korban. Oleh karena ini, namanya menjadi amat terkenal sekali. Biarpun Thian
Kek Hwesio bukan seorang ahli dalam hal ilmu silat, namun namanya tetap dihormati dan
disegani oleh para tokoh kang-ouw. Banyak tokoh-tokoh besar persilatan menjadi sahabatnya,
di antaranya adalah Sin Kong Tianglo yang memiliki kepandaian tinggi tentang ilmu
pengobatan.
Lili mengajak Lo Sian menuju ke Kiciu untuk mendatangi hwesio suci ini guna minta
pertolongannya mengobati Lo Sian. Di dalam perjalanan Lo Sian diam saja tak banyak
berkata-kata, akan tetapi nampak lebih tenang setelah berada dekat Lili. Beberapa kali gadis
itu mencoba untuk mengingatkan bekas gurunya ini, akan tetapi Lo Sian tetap tidak daat
mengingat sesuatu, tidak dapat mengenal Lili dan tidak ingat akan namanya sendiri. Akan
tetapi, ia tidak nampak gelisah, tidak berteriak-teriak lagi dan seringkali ia memandang
kepada Lili dengan penuh kepercayaan dan dengan muka menyatakan ketenangan hatinya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
247
Biarpun Lo Sian sudah meniadi gila, namun ilmu lari cepatnya masih belum lenyap dan
karenanya Lili dapat mengajaknya berlari cepat dan sebentar saja mereka sudah berada di
dekat kota Kiciu. Ketika mereka berlari sampai di sebuah tempat yang sunyi, tiba-tiba mereka
melihat dua orang sedang berkejar-kejaran. Yang dikejar adalah seorang pemuda sedangkan
yang mengejarnya seorang gadis cantik. Lili merasa heran sekali melihat gadis itu sambil
mengejar, menangis dan berseru memanggil,
“Tai-hiap... jangan tinggalkan aku! Tai-hiap... tunggulah dan bawa aku bersamamu...!”
Pemuda itu menoleh dan berkata dengan suara sedih, “Lilani, jangan kaudekati aku lagi...!
Aku seorang yang jahat dan rendah budi! Jangan kaudekati lagi, Lilani...!”
“Tai-hiap, kalau kau tetap hendak meninggalkanku, aku akan membunuh diri! Aku tidak
sanggup berpisah darimu lagi...”
Kedua orang itu adalah Lie Siong dan Lilani. Setelah pada malam hari itu di dalam hutan,
karena dorongan hati terharu keduanya saling menumpahkan perasaan hati dan lupa akan
keadaan di sekelilingnya, maka pada keesokan harinya, bersama munculnya matahari, muncul
pula pertimbangan dan kesadaran di hati Lie Siong. Pemuda ini menjadi amat terkejut dan
menyesal sekali mengingat akan perbuatannya sendiri dan ia merasa amat malu.
Bagaimanakah ia, seorang pemuda yang berkepandaian dan yang seringkali dapat nasihatnasihat dari ibunya, telah menjadi mata gelap dan runtuh hatinya terhadap kecantikan dan
cumbu rayu seorang gadis cantik seperti Lilani? Ia menyesal sekali, akan tetapi ketika ia
memandang wajah Lilani, gadis itu nampak lebih cantik dan berseri wajahnya. Sepasang mata
gadis itu memandangnya dengan penuh cinta kasih sehingga Lie Siong menjadi gelisah sekali.
Apakah yang sudah ia lakukan terhadap seorang gadis berhati tulus dan bersih seperti Lilani?
Ah, ia berdosa, demikian pikirnya.
Lilani...” katanya dengan suara perlahan, “aku... aku telah berdosa kepadamu... aku... aku tak
dapat lagi memandang mukamu.”
Akan tetapi Lilani menubruk dan merangkulnya. “Tai-hiap, mengapa kau berkata demikian?
Aku, Lilani, bersumpah tak akan mencinta lain orang melainkan engkau. Engkaulah pujaanku
dan hanya kepadamulah Lilani menyerahkan jiwa raganya...”
Makin perihlah perasaan hati Lie Siong mendengar ucapan dan melihat sikap gadis ini. Ia
maklum dan percaya sepenuhnya bahwa Lilani benar-benar amat mencintanya, akan tetapi
dia...? Dapatkah ia selamanya harus berada di samping Lilani? Dapatkah ia menjadi suami
dari gadis ini...? Makin dipikirkan, makin gelisah dan menyesallah hati pemuda itu. Ia
melanjutkan perjalanan dengan wajah muram dan Lilani mengikutinya dengan cemas dan tak
mengerti.
Akan tetapi, dengan penuh kesetiaan dan kesabaran, gadis itu melayani Lie Siong dan
mengikutinya ke mana saja pemuda itu pergi tanpa mau mengganggunya dan tidak pula
bertanya mengapa Lie Siong berhal seperti itu.
Akhirnya mereka tiba di tempat itu dan dengan terus terang Lie Siong menyatakan bahwa ia
tidak ingin melakukan perjalanan selamanya bersama Lilani.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
248
“Lilani, dari sini ke Tiang-an tidak jauh lagi. Aku... aku tidak dapat mengantarkan kau terus
ke Tiang-an. Mengapa kau tidak pergi saja seorang diri?”
Lilani menjadi pucat. “Tai-hiap, mengapakah kau berkata demikian? Aku... aku tidak ingin
ke Tiang-an, tidak ingin ke manapun juga kecuali ke tempat engkau berada. Aku tidak mau
meninggalkan kau, Tai-hiap, aku ingin terus berada di sampingmu, ke manapun juga kau
pergi.”
Berkerutlah kening Lie Siong mendengar ini. “Tidak, tidak, Lilani! Aku telah satu kali
melakukan pelanggaran, melakukan perbuatan yang takkan dapat kulupakan selama hidupku.
Aku tidak akan mau mengulanginya lagi. Akan tetapi... kalau kau berada di dekatku... aku...
aku tak dapat menanggung bahwa kegilaan tidak akan membutakan mataku lagi...”
“Mengapa pelanggaran? Mengapa hal ini kauanggap kegilaan? Tai-hiap, tidak percayakah
kau bahwa aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku? Aku tidak mengharapkan banyak
asal dapat selalu berada di dekatmu...”
“Tidak, tidak! Tak mungkin, Lilani!” Dan larilah Lie Siong meninggalkan gadis itu! Lilani
mengejar sambil berteriak-teriak memilukan dan mereka berkejaran terus sampai terlihat oleh
Lili dan Lo Sian.
Mendengar dan melihat keadaan dua orang yang berkejaran itu, Lili berdiri terheran-heran.
Akan tetapi berbeda dengan Lo Sian. Orang tua ini masih tidak kehilangan sifat pendekarnya,
dan kini melihat dua orang muda berkejaran, biarpun yang mengejar adalah yang wanita,
namun karena Lilani menangis memilukan, dengan mudah saja ia dapat menduga bahwa
dalam hal itu yang bersalah tentulah laki-laki yang dikejar itu! Tubuhnya bergerak dan
berkelebat cepat menghadang di depan Lie Siong!
“Orang jahat! Kau sudah berani mengganggu seorang gadis dan kemudian melarikan diri?”
Ucapan yang dikeluarkan tanpa disengaja ini telah mengenai tepat sekali pada perasaan hati
Lie Siong. Ia menjadi pucat dan memandang kepada orang yang menegurnya. Apakah jembel
mengerikan ini telah mengetahui rahasianya? Apakah melihat perbuatannya di dalam hutan
pada malam hari yang telah menghikmatnya kemarin?
“Jangan kau mencampuri urusanku!” seru Lie Siong dan cepat ia hendak melanjutkan
larinya. Akan tetapi Lo Sian menggerakkan tangannya yang diulurkan hendak mencengkeram
pundak Lie Siong.
Melihat gerakan yang mendatangkan angin ini, terkejutlah Lie Siong dan ia cepat mengelak.
Sambil miringkan tubuh ke kiri, pemuda ini cepat membalas dengan sebuah totokan ke arah
pinggang kanan Lo Sian yang dapat menangkis pula. Akan tetapi ketika kakek ini menangkis,
tubuhnya terpental ke belakang dan terhuyung-huyung, tanda bahwa ia kalah tenaga!
“Orang kurang ajar! Kau berani mengganggu Suhu?” tiba-tiba nampak berkelebat bayangan
merah dan angin yang dingin menyerang Lie Siong dari samping kanan. Pemuda ini cepat
melompat ke belakang dan terheranlah dia ketika melihat bahwa yang menyerangnya adalah
seorang gadis yang cantik jelita. Serangan gadis ini jauh lebih lihai dan hebat daripada
serangan jembel tadi! Bagaimana mungkin seorang murid memiliki kepandaian yang lebih
tinggi daripada suhunya! Akan tetapi Lili tidak memberi kesempatan kepadanya untuk banyak
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
249
memusingkan hal ini. Gadis ini pun merasa kaget dan penasaran ketika ternyata serangannya
tadi dapat dielakkan dengan demikian mudahnya! Tadi ia telah menyerang dengan gerak tipu
Pai-bun-twi-san (Mendorong Pintu Menolak Bukit) dengan maksud mendorong pemuda itu
terguling, akan tetapi siapa kira bahwa dengan amat mudahnya pemuda itu telah dapat
melompat dengan tepat dan mudah. Kini ia maju menyerang lagi dengan hebat, mengambil
keputusan untuk merobohkan pemuda yang telah berani melawan suhunya tadi!
Lo Sian berdiri bertolak pinggang sambil tertawa-tawa menyaksikan pertempuran hebat itu.
Sebaliknya, Lie Siong merasa terkejut bukan main karena ternyata bahwa gerakan gadis yang
menyerangnya itu benar-benar luar biasa sekali! Cepat bagaikan seekor burung walet dan tiap
pukulan yang menyerangnya mendatangkan angin yang kuat sekali. Diam-diam Lie Siong
merasa gembira sekali karena memang demikianlah sifatnya, suka menghadapi lawan yang
tangguh. Ia lalu mengeluarkan Ilmu Silat Tarian Bidadari yang dipelajarinya dari ibunya.
Tentu saja oleh karena Lie Siong menerima pelajaran langsung dari Ang I Niocu, ilmu
silatnya ini sempurna dan matang betul.
Kini giliran Lili yang diam-diam merasa tertegun. Dari mana pemuda' lawannya ini dapat
bersilat dengan ilmu silat itu demikian bagusnya? Ia pun lalu merubah gerakannya dan dengan
cepat ia bersilat dengan Ilmu Silat Sianli-utauw, sama dengan ilmu silat Lie Siong! Pemuda
ini makin kaget dan ketika ia mempercepat gerakannya, ternyata bahwa dalam hal Ilmu Silat
Sianli-utauw, ia masih menang setingkat dan berhasil mendesak Lili! Gadis ini menggigit
bibir dan menjadi marah, ia berseru keras dan kini ia mengeluarkan Ilmu Silat Pek-in Hoatsut! Kedua lengan tangannya yang berkulit halus itu mengebulkan uap putih yang
menyambar-nyambar ke arah Lie Siong. Pemuda ini hampir berseru keras saking herannya
dan cepat pula ia juga mengeluarkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut! Akan tetapi keadaannya
sekarang berubah karena ternyata bahwa Lili lebih mahir bersilat dengan ilmu silat ini! Hal ini
pun tidak mengherankan, karena memang dalam hal ilmu ciptaan Bu Pun Su ini, Pendekar
Bodoh lebih lihai kepandaiannya daripada Ang I Niocu.
Sementara itu, Lo Sian yang gila hanya tertawa-tawa saja melihat pertempuran ini, sedangkan
Lilani yang sudah dapat mengejar sampai di situ, memandang dengan terheran-heran melihat
betapa dua orang itu bertempur seakan-akan sedang menari-nari saja! Gerakan keduanya
demikian sama dan cocok, lemah lembut dan lemas, indah dipandang.
“Tahan dulu!” seru Lie Siong yang makin lama makin terheran melihat betapa ilmu silat ini
banyak sekali persamaannya dengan kepandaiannya sendiri. “Siapakah kau, Nona?”
Lili menjawab dengan mencabut pedangnya Liong-coan-kiam, lalu mencibirkan bibirnya
sambil menjawab, “Laki-laki mata keranjang dan kurang ajar! Sudah menjadi
kebiasaanmukah menanyakan nama setiap orang wanita yang kaujumpai?”
Tentu saja Lie Siong menjadi marah dan mendongkol sekali. Ia merasa tersindir dan
telinganya menjadi merah. Memang ia sedang merasa rusuh hatinya karena perbuatannya
terhadap Lilani, sekarang ia dicap oleh gadis ini sebagai seorang mata keranjang! Tanpa
berkata sesuatu, ia pun lalu mencabut Sin-liong-kiam dan menghadapi gadis itu dengan mata
memandang tajam.
Akan tetapi, sebelum mereka bertempur mempergunakan senjata, Lilani telah melangkah
maju, menghadapi Lili dengan muka merah dan mata bersinar.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
250
“Jangan kau mengeluarkan kata-kata kotor terhadap Tai-hiap! Dia seorang pendekar gagah
perkasa, sama sekali bukan mata keranjang dan kurang ajar! Jangan sekali-kali kau berani
memaki padanya!” Sikap Lilani amat galak, seperti seekor ayam biang membela anaknya.
Melihat sikap ini, Lili tersenyum menyindir, lalu memasukkan pedangnya ke dalam sarung
pedang kembali dan berkata, “Sudahlah, jangan kau kuatir, aku takkan melukai atau
membunuh kekasihmu!Hanya satu hal yang amat mengecewakan hatiku, kau seorang gadis
yang cantik jelita mengapa begitu tidak tahu malu mengejar-ngejar seorang pemuda? Hah,
sungguh menyebalkan!” Sambil berkata demikian, Lili lalu memegang tangan Lo Sian dan
berkata,
“Suhu, mari kita pergi! Jangan melayani orang-orang ini!”
Lo Sian tertawa ha-ha-hi-hi dan sebelum ikut berlari pergi bersama Lili, ia menengok kepada
Lie Siong dan berkata, “Orang gagah tidak akan mendatangkan air mata pada seorang gadis
cantik! Ha-ha-ha!”
Ketika dua orang itu telah pergi merupakan dua titik bayangan yang jauh, Lie Siong masih
berdiri termenung, pedang di tangan. Pertemuan ini berkesan dalam-dalam di hatinya. Tidak
saja ia terpesona oleh kepandaian dan kecantikan Lili, akan tetapi juga kata-kata Lo Sian
mengiris jantungnya.
Ia baru sadar dari lamunannya ketika Lilani memegang tangannya dan berkata dengan suara
menggetar, “Tai-hiap, jangan kautinggalkan Lilani!”
Lie Siong menghela napas berulang dan ketika ia memandang kepada Lilani, timbullah rasa
iba yang besar.
“Lilani, aku telah melakukan dosa besar terhadapmu...”
“Bukan kau, Tai-hiap, akan tetapi kita berdua. Akan tetapi perbuatan kita itu bukanlah dosa
bagiku... Memang, sesungguhnya hubungan antara pria dan wanita diluar perkawinan yang
dirayakan, bagi Lilani bukan merupakan hal yang aneh atau melanggar. Suku bangsanya yang
amat sederhana keadaan hidupnya itu tidak menitikberatkan kepada upacara, akan tetapi lebih
percaya kepada kesetiaan dan kasih di hati. Upacara dapat dilakukan kemudian, karena sekali
dua orang telah menanam cinta kasih tak pernah ada atau jarang sekali ada yang
memutuskannya atau mengingkari janjinya.”
Lie Siong dapat menduga akan hal ini, maka dengan hati perih ia berkata, “Lilani, ketahuilah
bahwa sesungguhnya aku kasihan dan sayang kepadamu, akan tetapi... aku tidak mencintamu
dan tidak mungkin menjadi suamimu!”
Ucapan ini bagaikan sebuah pedang runcing menikam ulu hati Lilani, akar tetapi gadis ini
mempertahankan sakit hatinya dan sambil meramkan matanya menahan air mata, ia berkata,
“Bagaimanakah seorang perempuan rendah dan bodoh seperti aku ini dapat mengharapkan
cinta kasihmu, Tai-hiap? Aku sudah akan merasa bangga dan bahagia apabila selama hidup
aku dapat menjadi pelayanmu. Aku tidak dapat hidup jauh darimu, dan aku tidak mau ikut
lain orang kecuali kalau dapat bertemu dan mengumpulkan suku bangsaku kembali!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
251
Berat sekali hati Lie Siong mendengar ini. “Lilani, akan kucoba untuk mengembalikan kau
kepada suku bangsamu.”
“Tai-hiap,” tiba-tiba gadis itu berkata sambil memandang tajam dengan sepasang matanya
yang seperti bintang pagi itu, “kau tidak mencintaiku, hal ini aku dapat mengerti. Akan
tetapi... bukankah kau jatuh cinta kepada... gadis tadi?”
Lie Siong meloncat mundur bagaikan disengat ular kakinya. “Apa maksudmu...? Dari mana
kau mempunyai pikiran seperti itu? Aku tidak kenal padanya, dan sekali bertemu kami telah
bertempur. Mengapa kau menyangka demikian?”
Lilani tersenyum sedih. “Orang bertempur bukan seperti yang kaulakukan tadi, Tai-hiap. Kau
dan gadis itu tadi bukan bertempur, akan tetapi menari-nari gembira! Alangkah indahnya
tarian itu dan terus terang saja, kau memang cocok dengan dia. Tadi aku merasa seolah-olah
melihat sepasang dewa-dewi sedang menari!”
Hampir saja Lie Siong tertawa bergelak saking geli hatinya, sungguhpun hatinya tergerak
pula oleh ucapan ini dan wajah Lili terbayang di depan matanya.
“Lilani, kau sungguh lucu! Ketahuilah bahwa ilmu silat yang kami mainkan tadi memang
merupakan ilmu silat tarian yang tidak sembarang orang dapat menarikannya. Ilmu silat itu
disebut ilmu Silat Sian-li-utauw (Tarian Bidadari) dan aku pun masih heran memikirkan
bagaimana gadis tadi dapat memainkannya. Padahal ilmu silat itu adalah ciptaan dari ibuku
sendiri!”
Dengan hati masih ingin sekali tahu siapa adanya gadis yang pandai mainkan Sianli-utauw
itu, Lie Siong melanjutkan perjalanannya bersama Lilani. Pemuda ini mengambil keputusan
untuk mengikuti jejak Lili dan hendak bertanya siapa sebetulnya gadis aneh itu. Ada
hubungan apakah antara gadis itu dengan ibunya? Mengapa pula gadis itu pandai mainkan
Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang lebih hebat daripada kepandaiannya sendiri? Apakah gadis itu
ada hubungannya dengan Pendekar Bodoh?
Berkali-kali Lilani berkata dengan penuh perasaan, “Tai-hiap, aku mempunyai perasaan
bahwa kau mencinta gadis itu dan agaknya kau memang berjodoh dengan dia! Melihat kalian
berdua bersilat seperti menari itu, ah, alangkah cocoknya!”
Diam-diam Lie Siong merasa heran sekali melihat sikap gadis ini. Baru saja menyatakan
cinta kasihnya dan sekarang sudah membicarakan gadis lain tanpa ada sikap cemburu
sedikitpun juga! Benar-benar gadis yang berhati putih bersih, bersikap sederhana dan harus
dikasihani.
“Tidak, Lilani. Aku memang akan mencarinya untuk menantangnya bertempur. Aku belum
puas kalau belum mengalahkan dia, sebagai tanda dan bukti kepadamu bahwa persangkaanmu
itu tidak benar!”
“Jangan, Tai-hiap. Dia kelihatan galak dan lihai sekali. Bagaimana kalau kau sampai terluka?
Ah...”
“Aku harus menghadapinya!” kata Lie Siong berkeras. “Selain aku ingin menguji
kepandaiannya, juga ingin tahu dari mana ia mencuri Sianli-utauw dan Pek-in Hoatsut.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
252
Sementara itu, Lili dan Lo Sian sudah memasuki kota Kiciu dan dengan mudah mereka
mencari kuil Siauw-lim-si yang besar. Lili sudah tidak memikirkan lagi keadaan pemuda dan
gadis yang dijumpainya di jalan, sungguhpun di dalam perjalanan tadi ia tidak habis merasa
heran bagaimana Ilmu Silat Sianli-utauw pemuda itu demikian hebatnya dan betapa pemuda
itu dapat juga mainkan Pek-in Hoat-sut. Ia pun ingin sekali melanjutkan pertempuran dengan
pemuda itu, karena ia merasa penasaran kalau belum dapat mengalahkan pemuda yang
dianggapnya sombong itu. Biarpun wajah pemuda yang elok dan gagah itu mengganggunya,
namun ia berhasil mengusir bayangan itu dengan anggapan bahwa pemuda itu tidak ada
harganya untuk diingat lagi, karena tentu pemuda itu adalah seorang kurang ajar dan
pengganggu anak gadis! Memikirkan halnya gadis cantik yang mengejar pemuda itu sambil
menangis, Lili menjadi gemas sekali. Gemas dan benci kepada pemuda itu, karena ia dapat
menduga bahwa gadis itu tentulah korban permainan pemuda mata keranjang itu!
Thian Kek Hwesio menyambut kedatangan Lili dengan ramah tamah. Ketika menerima
“surat” dari Goat Lan, pendeta gemuk itu tertawa gembira dan berkata kepada Lili,
“Nona, tentu saja aku suka berusaha menolongmu. Apalagi kalau ada surat dari Kwee Li-hiap
yang kukenal baik. Tidak tahu siapakah Nona dan siapa pula orang tuamu?”
“Teecu (murid) adalah puteri dari Sie Cin Hai,” jawab Lili.
Hwesio itu mengangkat alisnya dan kedua matanya terbelalak girang.
“Ah, puteri Pendekar Bodog? Benar-benar merupakan kehormatan besar dan kebahagiaan
bahwa aku masih berkesempatan melihat keturunan Pendekar Bodoh. Masuklah Nona, dan
siapakah sahabat ini?” Ia menudingkan telunjuknya kepada Lo Sian yang berdiri bagaikan
patung.
“Dia adalah Sin-kai Lo Sian yang berada dalam keadaan sakit, Losuhu. Kedatangan teecu
adalah untuk mohon pertolongan Losuhu agar suka memeriksa dan memberi obat kepadanya.
Dahulu ketika teecu masih kecil, teecu adalah murid dari Sin-kai Lo Sian dan entah mengapa,
setelah sekarang bertemu, teecu mendapatkan Suhu berada dalam keadaan seperti ini.”
Thian Kek Hwesio yang memiliki sepasang mata bersinar sabar, tenang, halus dan juga
berpengaruh itu, lalu memandang kepada Lo Sian dengan tajam, kemudian ia menghampiri
pengemis gila itu.
“Sahabat, kau kenapakah?”
Akan tetapi, melihat hwesio gemuk itu menghampirinya, Lo Sian tiba-tiba lalu
menyerangnya dengan pukulan keras ke arah dadanya. Lili terkejut sekali dan untung bahwa
ia berlaku cepat. Ia melompat menangkis pukulan Lo Sian ini, lalu menangkap lengannya.
“Suhu, jangan begitu, Losuhu ini adalah Thian Kek Hwesio yang hendak menolongmu.”
Akan tetapi, Lo Sian tiba-tiba memandang kepada Thian Kek Hwesio dengan mata
mengandung ketakutan dan ia berteriak-teriak, “Pemakan jantung...! Tolong, pemakan
jantung...!” Agaknya melihat hwesio gundul ini, ia teringat kepada Hok Ti Hwesio dan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
253
melihat tubuh gemuk dari Thian Kek Hwesio, agaknya teringat kepada tubuh Ban Sai Cinjin,
maka ia berteriak-teriak ketakutan.
“Nona, tolong bikin dia tidak berdaya lebih dulu, agar mudah pinceng (aku) memeriksanya,”
kata Thian Kek Hwesio dengan muka masih tenang saja.
Lili lalu mengulur tangannya dan menotok pundak Lo Sian. Karena orang gila ini memang
percaya penuh kepada Lili, maka ketika ditotok, ia diam saja tidak melawan sehingga
tubuhnya menjadi lemas dan ia lalu dibaringkan di atas pembaringan. Thian Kek Hwesio lalu
memeriksa seluruh tubuhnya, terutama sekali ia mempergunakan jari-jari tangannya untuk
memijit-mijit bagian kepala Lo Sian, kemudian ia pun mempergunakan cara Goat Lan
memeriksa, yaitu mengeluarkan sedikit darah dari tubuh orang gila itu.
Lili mengikuti semua pemeriksaan ini dengan penuh perhatian dan kecemasan. Akhirnya,
hwesio itu menggelengkan kepalanya dan berkata sungguh-sungguh,
“Hebat sekali! Dia telah terkena racun jahat selama sepuluh tahun lebih dan seluruh darahnya
telah menjadi kotor. Agaknya masih mungkin bagi pinceng menghilangkan kegilaannya,
karena hanya urat di kepalanya yang terganggu, akan tetapi sukarlah membuat ia teringat pula
akan segala kejadian yang lalu.”
“Tolonglah, Losuhu. Tolonglah sembuhkan penyakit gilanya, biarlah ia tidak teringat sesuatu
asalkan dia tidak gila seperti sekarang ini. Mungkin lambat laun ia akan dapat mengingatingat lagi.”
“Tentu saja pinceng akan berusaha menolongnya, mudah-mudahan Thian (Tuhan) membantu
pinceng.” Hwesio gendut itu lalu mengeluarkan beberapa puluh batang jarum yang berwarna
putih dan ada pula yang kuning. Itulah gin-ciam (jarum perak) dan kim-ciam (jarum emas),
alat-alat pengobatan yang sudah amat terkenal di seluruh permukaan bumi Tiongkok.
“Nona Sie,” kata hwesio itu, “coba tolong kauikat kaki tangannya yang kuat, kemudian
kaubuka kembali jalan darahnya, karena dalam keadaan terpengaruh tiam-hoat (ilmu totokan),
tak mungkin pinceng dapat menolongnya.”
Lili melakukan apa yang diminta oleh Thian Kek Hwesio. Ia membuka bungkusan
pakaiannya, mengambil ikat pinggang dan mengikat kedua kaki tangan Lo Sian kepada kaki
pembaringan, ia menepuk pundak Lo Sian untuk membebaskan totokannya tadi. Begitu
terbebas, Lo Sian lalu meronta-ronta dan berteriak-teriak, “Pemakan jantung! Pemakan
jantung! Tolong-tolong!”
Thian Kek Hwesio tersenyum dan mulailah ia bekerja dengan jarum-jarumnya. Dengan
gerakan yang tenang dan tepat tanpa keraguan sedikit pun, ia mulai menusukkan jarum putih
ke leher belakang Lo Sian sementara Lili memegangi kepala pengemis gila itu. Tiga jarum
ditusukkan dan tiba-tiba lemahlah tubuh Lo Sian, suaranya makin mengecil dan akhirnya ia
jatuh pingsan atau pulas!
Delapan belas jarum telah ditusukkan oleh Thian Kek Hwesio. Tiga di belakang leher, tiga di
pundak kanan, tiga di pundak kiri dan sembilan jarum lain ditusukkan di sekitar kepalanya!
Mau tak mau Lili merasa ngeri juga melihat cara pengobatan yang selama hidupnya belum
pernah disaksikannya ini. Bagaimanakah orang dapat hidup setelah leher dan kepalanya
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
254
ditusuk oleh sekian banyak jarum? Yang amat luar biasa ialah bahwa tidak ada setitik pun
darah mengalir keluar dari jarum-jarum yang ditusukkan itu.
“Biarlah ia mengaso dulu dan sementara menanti, ceritakanlah pengalamanmu, Nona.
Terutama sekali pinceng ingin sekali mendengar tentang keadaan orang tuamu.”
Dengan jelas tapi singkat, Lili menuturkan keadaan orang tuanya dan betapa ia bertemu
dengan Lo Sian ketika ia dulu diculik Bouw Hun Ti. Ketika ia telah selesai menuturkan
pengalamannya dan ketika hwesio tua itu mendengar nama Ban Sai Cinjin sebagai guru Bouw
Hun Ti, Thian Kek Hwesio mengerutkan keningnya.
“Hemm, disebutnya nama Ban Sai Cinjin membuat pinceng merasa curiga, Nona Sie.
Ketahuilah bahwa Sin-kai Lo Sian ini terkena racun yang amat berbahaya yang sungguhpun
tidak sampai menewaskan nyawanya, namun membuat seluruh isi kepalanya menjadi kotor
dan pikirannya tidak dapat bekerja baik. Pinceng sekarang hanya dapat menolong dia dari
gangguan ketakutan sehingga ia tidak akan menjadi gila lagi. Agaknya, ketika ia minum racun
atau dipaksa minum racun, ia berada dalam keadaan yang amat ketakutan atau ngeri. Entah
apa yang terjadi dengan dia, akan tetapi nama Ban Sai Cinjin membuat pinceng hampir berani
menuduh, kakek mewah itu yang menjadi biang keladi. Bagi Ban Sai Cinjin, segala macam
kekejian di dunia ini mungkin dilakukan olehnya!”
Pada saat itu, terdengar Lo Sian merintih perlahan. Lili cepat melompat untuk memegangi
kepalanya, karena kalau kepalanya bergerak ia kuatir kalau-kalau jarum yang masih
menancap di lehernya itu akan melukainya. Thian Kek Hwesio juga menghampirinya dan
melihat sebentar ke arah muka Lo Sian, membuka pelupuk matanya yang masih tertutup, lalu
mengangguk puas.
“Syukurlah, baik hasilnya,” hwesio itu berkata perlahan, lalu ia mencabuti jarum-jarum itu.
Lili melihat dengan hati ngeri betapa jarum perak yang tadi menancap, setelah dicabut
ujungnya berwarna kehitam-hitaman, sedangkan jarum emasnya berwarna kehijauan!
Thian Kek Hwesio lalu memasukkan tiga butir pel merah ke dalam mulut Lo Sian dan
memberi minum secawan arak sehingga obat itu dapat memasuki perut pengemis itu. Sampai
lama terdengar Lo Sian mengeluh kesakitan kemudian keluhannya berhenti dan jalan
napasnya nampak tenang. Peluh memenuhi muka dan akhirnya ia membuka matanya.
“Di mana aku...?” tanyanya seperti orang baru bangun tidur.
“Buka ikatannya,” kata Thian Kek Hwesio kepada Lili yang segera membuka ikatan kaki
tangan orang tua itu. Lo Sian bangun dan duduk dengan pandangan mata yang bingung dan
Lili dengan girang sekali mendapat kenyataan bahwa pandang niata Lo Sian kini telah waras
kembali, tidak liar seperti tadi.
“Eh, siapakah kalian dan di mana aku berada?” kembali Lo Sian bertanya sambil memandang
kepada Thian Kek Hwesio dan Lili berganti-ganti.
Lili lalu maju dan memegang tangannya. “Suhu, lupakah kau kepadaku? Aku adalah Sie
Hong Li atau Lili, anak Pendekar Bodoh! Aku muridmu, Suhu!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
255
Terbelalak mata Lo Sian memandang kepada gadis jelita yang berdiri di hadapannya sambil
tersenyum itu. “Lili...? Siapakah Lili? Dan siapa pula Pendekar Bodoh? Aku.. serasa pernah
kumendengar nama-nama itu, akan tetapi sudah lupa sama sekali!”
“Suhu, kau telah minum racun berbahaya dan berada dalam keadaan tidak sadar sampai
sepuluh tahun. Inilah penolongmu, yaitu Thian Kek Losuhu.”
Kini Lo Sian memandang kepada hwesio itu yang masih tersenyum kepadanya. Biarpun Lo
Sian masih tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Lili, namun mendengar bahwa hwesio
gendut itu telah menolongnya, maka ia lalu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio
itu.
“Omitohud!” Thian Kek Hwesio menyebut nama Buddha sambil cepat mengangkat bangun
Pengemis Sakti, itu. “Tidak percuma pinceng mengeluarkan tenaga membantumu, Sicu,
ternyata kau adalah seorang yang berpribudi tinggi. Akan tetapi, ketahuilah bahwa semua
orang yang baik hati tentu akan mendapat pertolongan Yang Maha Kuasa, sungguhpun ia
tidak akan terlepas dari hukum karma. Marilah kita bicara di ruang depan, terlalu sempit di
kamar ini.”
Ketiga orang itu lalu berjalan keluar dan ternyata bahwa pengobatan itu sama sekali tidak
mempengaruhi keadaan kesehatan Lo Sian. Ia kini tidak gila lagi, akan tetapi ia tidak ingat
akan kejadian di masa lampau.
Setelah mereka berada di ruang depan, Thian Kek Hwesio lalu duduk di atas sebuah bangku
dan Lo Sian berdiri di depannya. Lili lalu menceritakan keadaan Lo Sian dahulu untuk
membantu bekas suhunya itu teringat kembali, akan tetapi betapa pun Lo Sian mengerahkan
pikirannya, ia tidak dapat mengingat-ingat lagi! Tiba-tiba matanya terbelalak dan Lili merasa
terkejut sekali, takut kalau-kalau bekas gurunya ini kumat lagi penyakit gilanya, akan tetapi
Thian Kek Hwesio memberi isyarat dengan tangannya agar supaya gadis itu tetap tenang.
Berkali-kali Lo Sian memijit-mijit kepalanya seakan-akan hendak membantu urat-urat
syarafnya bekerja kembali, dan tiba-tiba ia berkata keras, “Ah... yang teringat olehku hanya
Lie Kong Sian...! Lie Tai-hiap itu telah... mati! Benar, Lie Kong Siang telah tewas... ah, hanya
itu yang teringat olehku. Lie Kong Sian telah tewas!” Dan Sin-kai Lo Sian lalu menggunakan
kedua tangannya untuk menutupi mukanya lalu ia menangis tersedu-sedu!
Lili hendak menghampirinya, akan tepati dicegah oleh Thian Kek Hwesio, maka gadis itu
hanya bertanya, “Suhu, kaumaksudkan bahwa Lie-supek telah meninggal dunia??” Suaranya
terdengar gemetar, karena gadis ini seringkali mendengar dari ayah-bundanya bahwa Lie
Kong Sian adalah suami dari Ang I Niocu dan bahwa pendekar besar she Lie itu adalah
suheng dari ayahnya.
Lo Sian mengangguk-angguk dan menahan tangis. “Benar, dia telah meninggat dunia. Lie
Kong Sian yang gagah perkasa, yang berbudi mulia, telah mati...!”
Pada saat itu, terdengar bentakan hebat dari atas dan nampak berkelebat bayangan orang yang
maju menerkam tubuh Lo Sian dari atas!
“Pengemis gila! Jangan kau mengacau dengan omongan bohong! Ayahku tidak meninggal
dunia!” Bayangan itu ternyata adalah Lie Siong. Dengan hati tidak karuan rasa karena kaget
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
256
dan tidak percaya, pemuda ini yang semenjak tadi mengintai dari atas genteng, lalu menubruk
hendak menangkap Lo Sian. Ia melompat dengan gerakan yang disebut Harimau Menubruk
Kambing dan langsung jari tangan kanannya meluncur hendak menotok pundak Lo Sian.
“Suhu, awas serangan!” Lili berseru kaget dan baiknya Lo Sian masih belum kehilangan
kegesitannya. Ia cepat memutar tubuh dan miringkan pundak, menarik kaki kanan ke
belakang dan dengan demikian ia terluput dari totokan itu. Sebelum Lie Siong menyerangnya
lebih lanjut, Lili telah berkelebat dan berdiri menghadapi pemuda itu.
“Hem, kiranya kau!” seru gadis itu sambil mencibirkan bibirnya ketika ia mengenal bahwa
pemuda ini adalah pemuda yang tadi bertempur dengan dia. “Kau datang mau apakah?”
“Suhumu yang gila ini telah bicara tidak karuan dan ia telah menghina ayah ketika
menyatakan bahwa ayah telah mati! Ayah masih hidup di Pulau Pek-le-to dengan sehat,
bagaimana ia berani mengatakan bahwa ayah telah mati?”
“Siapa bilang bahwa ayahmu mati, anak muda?” Lo Sian berkata dengan sabar. “Yang mati
adalah Lie Kong Sian, bukan ayahmu...”
“Orang gila! Lie Kong Sian adalah ayahku!” sambil berkata demikian, Lie Siong kembali
maju hendak menyerang Lo Sian.
Sementara itu, Lili memandang dengan bengong. Tak disangkanya sama sekali bahwa
pemuda ini adalah putera Lie Kong Sian, yang berarti putera Ang I Niocu pula! Timbul
kegembiraannya tercampur kekecewaan. Ia gembira dapat bertemu dengan putera Ang I
Niocu yang sudah seringkali disebut-sebut ayah bundanya, akan tetapi ia kecewa karena tadi
melihat pemuda itu mempermainkan seorang gadis cantik! Juga di dalam hatinya timbul niat
hendak menguji kepandaian putera Ang I Niocu ini. Maka tanpa banyak cakap, ketika melihat
betapa pemuda itu hendak menyerang Lo Sian, Lili lalu bergerak maju menangkis pukulan
itu. Sepasang lengan tangan beradu keras dan keduanya terhuyung mundur tiga langkah.
“Bagus, gadis liar!” Lie Siong membentak. “Agaknya kau masih belum mau mengaku
kalah.”
“Aku mengaku kalah? Terhadap engkau?? Hemm, bercerminlah dulu, manusia sombong.
Kau mengaku putera pendekar besar Lie Kong Sian? Siapa sudi percaya? Putera Ang I Niocu
tak mungkin sesombong engkau dan mata keranjang pula. Hah, tak tahu malu!”
Terbelalak mata Lie Siong memandang kepada Lili. Bagaimana gadis ini seakan-akan
mengenal keadaan ayah-bundanya?
“Kau siapakah?” ia mengulang lagi pertanyaannya yang diajukan siang tadi, akan tetapi
kembali Lill mengejek dengan bibirnya yang manis.
“Apa kaukira dengan mengaku putera Ang I Niocu, kau akan dapat menipuku untuk
memperkenalkan nama? Hah, manusia rendah, biar kucoba dulu sampai di mana sih
kepandaianmu!” Setelah berkata demikian Lili lalu mencabut keluar pedang Liong-coan-kiam
yang tajam.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
257
“Bagus, gadis liar! Aku pun ingin sekali menyaksikan sampai di mana kepandaianmu maka
kau berani membuka mulut besar!” Lie Siong juga mengeluarkan pedangnya yang aneh, yaitu
Sin-liong-kiam. Maka tanpa dapat dicegah lagi kedua orang muda ini melanjutkan
pertempuran mereka yang siang tadi dilakukan dengan mati-matian!
Lili memiliki Ilmu Pedang Liong-cu Kiam-hoat yang luar biasa, ilmu pedang yang
berdasarkan limu Pedang Daun Bambu ciptaan ayahnya, maka tentu saja ilmu pedangnya ini
hebat bukan main. Begitu gadis ini menggerakkan pedangnya maka berkelebatlah bayangan
merah dari pakaiannya, dan pedangnya berubah menjadi segulung sinar pedang yang putih
menyilaukan mata! Baik Lo Sian yang berdiri di sudut ruangan yang luas itu, maupun Thian
Kek Hwesio yang masih tetap duduk di bangku dengan sikap tenang, terpesona menyaksikan
ilmu pedang yang hebat ini. Bahkan Thian Kek Hwesio biarpun tidak pandai ilmu silat akan
tetapi yang sudah banyak sekali menyaksikan kepandaian orang-orang berilmu tinggi,
menjadi kagum sekali dan berkali-kali menyebut nama Buddha, “Omitohud! Alangkah
hebatnya limu pedang ini!”
Akan tetapi, ketika Lie Siong juga menggerakkan tubuh dan pedangnya, silaulah mata
mereka berdua memandang. Tubuh Lie Siong berubah menjadi bayangan putih, sedangkan
pedangnya menjadi segulung sinar keemasan yang cukup hebat menyilaukan pandangan mata.
Begitu kedua sinar itu bertemu, terdengarlah suara nyaring dari beradunya kedua pedang dan
berpijarlah bunga api yang indah sekali. Makin lama makin cepat kedua orang muda itu
menggerakkan senjata mereka sehingga gulungan pedang berwarna putih dan kuning emas itu
menjadi satu, bergulung-gulung saling membelit seakan-akan ada dua ekor naga sakti yang
sedang bertempur seru.
Api lilin di atas meja yang terdapat di ruang itu bergerak-gerak hampir padam karena tiupan
angin senjata mereka berdua. Thian Kek Hwesio saking gembiranya dapat menyaksikan
permainan pedang ini, lalu bangkit berdiri, mengambil tiga batang lilin lagi dan memasangnya
semua di atas meja. Di dalam penerangan tiga batang lilin tambahan ini, makin indahlah
nampaknya sinar pedang kedua orang muda keturunan orang-orang pandai itu. Diam-diam
kedua orang muda itu terkejut sekali. Baik Lili maupun Lie Song amat kagum menyaksikan
kehebatan kepandaian lawan. Kini Lili diam-diam percaya bahwa pemuda ini tentulah putera
Ang I Niocu, oleh karena ia mengenal Ilmu Pedang Ngo-lau-hoan-kiam-hwat dari Ang I
Niocu yang pernah diturunkan oleh ayahnya, bahkan ayahnya pun pernah mernberi penjelasan
kepadanya tentang ilmu pedang itu. Kalau diadakan perbandingan, memang ilmu pedang dari
Lili masih menang lihai, akan tetapi dalam hal gin-kang dan tenaga lwee-kang, ia agaknya
masih kalah latihan.
Sebaliknya, Lie Siong menjadi makin kagum melihat ilmu pedang yang dimainkan oleh
lawannya. Benar-benar ilmu pedang yang belum pernah disaksikannya selama hidupnya.
Ibunya pernah memberitahukan kepadanya tentang ilmu pedang ciptaan Pendekar Bodoh
yang amat lihai dan agaknya inilah ilmu pedang itu! Apakah gadis ini puteri Pendekar Bodoh?
Ia menduga-duga dengan hati berdebar-debar dan makin tertariklah hatinya kepada gadis yang
cantik jelita, manis, dan juga galak ini. Ia diam-diam harus mengakui bahwa ilmu pedang
yang dimainkan oleh gadis itu amat luar biasa perubahannya dan beberapa kali hampir saja ia
menjadi korban. Akan tetapi, yang membuat hatinya berdebar aneh, adalah cara Liti mainkan
ilmu pedangnya. Ia setengah dapat menduga bahwa kalau lawannya mau, tentu ia sudah
dirobohkannya! Akan tetapi tiap kali ujung pedang lawannya yang tajam itu telah mendekati
tubuhnya, tiba-tiba gerakan pedang diubah sedemikian rupa sehingga tidak melukainya! Ia
menjadi marah, malu dan penasaran sekali. Sambil mengertak giginya, Lie Siong yang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
258
berwatak keras dan tidak mau kalah ini lalu memutar pedangnya, mengirim totokan-totokan
dengan lidah pedang naga dan menusuk dengan tanduk pedang naganya, berusaha untuk
membalas setiap serangan dengan pembalasan tak kalah lihainya. Telah tiga empat kali
lawannya “mengampuni”nya dengan merubah jalan pedangnya, maka ia pun ingin sekali
mendesak lawannya dan kemudian memberi kesempatan pula kepada lawannya untuk
melepaskan diri dari ancaman pedangnya. Akan tetapi bagaimana ia dapat mendesak lawan
yang mainkan ilmu pedang sehebat itu? Ia tidak diberi kesempatan sama sekali bahkan
pedang Lili makin mengurungnya sehingga gulungan sinar kuning keemasan kini makin
mengecil, sebaliknya gulungan sinar pedang yang putih makin membesar dan menghebat
gerakannya.
Lebih hebat lagi ketika Lili mengeluarkan suara ketawa mengejek dan tahu-tahu tangan kiri
gadis itu mengeluarkan sebuah kipas yang kecil dan indah. Lie Siong tadinya merasa heran
dan mengira bahwa gadis itu hendak mempermainkannya dan menyombongkan diri dengan
melayaninya sambil mengebut-ngebut kipas. Tidak tahunya begitu kipas itu mengebut, ia
hampir berseru karena kaget dan heran. Angin kipas itu menyambar dan membuat lidah
pedang naganya terbentur kembali, disusul dengan pukulan kipas yang mempergunakan ujung
gagangnya untuk menotok pundaknya. Lie Siong benar-benar merasa terkejut. Tak pernah
disangkanya bahwa gadis lawannya itu sedemikian lihainya. Baru ilmu pedangnya saja sudah
demikian hebat dan sukar baginya untuk mengalahkannya, apalagi sekarang setelah gadis itu
mempergunakan sebuah kipas pula yang juga luar biasa. Siapakah gadis ini?
Dengan pedang dan kipasnya, Lili makin mengurung dan gadis ini menjadi bangga karena
dapat mendesak pemuda itu. Ia akan menceritakan kepada ayah bundanya betapa ia telah
dapat mengalahkan putera dari Ang I Niocu! Dan tentu saja ia tidak mau melukai pemuda itu
karena kini ia merasa yakin bahwa pemuda ini tentulah putera dari Ang I Niocu. Ia hanya
ingin mendesak dan memaksa pemuda itu mengakui keunggulannya.
Akan tetapi, Lili sama sekali tidak tahu bahwa Lie Siong adalah seorang pemuda yang keras
hati seperti ibunya dan tidak nanti pemuda ini mau mengaku kalah begitu saja! Rasa
penasaran dan malu membuat Lie Siong menjadi marah dan nekad. Ia pikir bahwa kalau ia
terlalu mengarahkan perhatian dan kepandaiannya pada penjagaan diri terhadap desakan gadis
yang lihai itu, tentu ia takkan mampu membalas. Maka ia lalu memilih jalan nekad. Biarlah
aku dirobohkan dan tewas, pikirnya, asal saja aku dapat membalasnya!
Setelah berpikir demikian, ia lalu mencari kesempatan baik. Pada saat itu, tiba-tiba Lili
menyerangnya dengan kedua senjata secara berbareng. Pedang Liong-coan-kiam meluncur
cepat ke arah tenggorokannya dan kipas itu kini tertutup, dipergunakan untuk menotok
lambungnya! Serangan berganda yang amat berbahaya dan agaknya sukar untuk ditangkis
atau dielakkan lagi. Akan tetapi, Lie Siong tidak mau mempedulikan dua senjata lawan yang
mengancam dirinya ini, sebaliknya ia lalu mempergunakan Sin-liong-kiam untuk menyapu
kedua kaki Lili! Pikirnya, kalau senjata-senjata lawannya diteruskan, tentu sedikitnya ia akan
dapat mematahkan sebuah kaki lawan!
Lili merasa terkejut sekali. Tak pernah disangkanya bahwa lawannya mengambil jalan nekad
seperti itu! Ia berseru keras dan kedua kakinya melompat ke atas. Dengan sendirinya kipasnya
tidak mengenai sasaran dan pedangnya yang tak dapat ditariknya kembali itu tidak mengenai
leher lawan, akan tetapi menyerempet pundak kanan Lie Siong!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
259
Lie Siong merasa betapa pundaknya menjadi perih dan sakit sekali dan melihat darah
mengalir dari pundaknya. Akan tetapi ia tidak mempedulikan hal ini dan ketika pedangnya
dapat dielakkan oleh kaki Lili yang melompat ke atas, ia lalu menggerakkan pedang itu
sehingga lidah dari pedang naga itu dengan gerakan yang amat tidak terduga telah melibat
sepatu kiri di kaki Lili! Gadis itu terkejut dan hendak menarik kakinya, akan tetapi pada saat
ia menggerakkan kaki kirinya, Lie Siong membetot dan sepatu kiri itu terlepas dari kaki Lili
dan masih terlibat oleh lidah pedang naga itu!
“Bangsat! Kembalikan sepatuku!” Lili berseru keras, akan tetapi Lie Siong yang merasa telah
dapat membalas hinaan yang diterimanya dalam pertempuran itu, yaitu hinaan yang berupa
“pengampunan” berkali-kali dari desakan pedang, segera membawa sepatu itu dan melompat
keluar dari situ.
Lili hendak mengejar, akan tetapi tanpa sepatu, kaki kirinya terasa sakit sekali menginjak
lantai yang kasar. Pada saat itu, dari luar rumah kuil itu terdengar seruan Lie Siong, “Kau
harus membayar penghinaan dan kesombonganmu dengan sepatumu! Tidak mudah
mendapatkan sepatu yang masih dipakai dari puteri Pendekar Bodoh yang ternyata tolol dan
bodoh melebihi ayahnya dan sombong pula!”
Lili hampir menangis saking jengkelnya dan melompat keluar.
“Kubunuh kau, bangsat rendah!” makinya, akan tetapi begitu kakinya menginjak batu-batu
tajam, ia mengeluh, melompat kembali ke ruang itu, duduk di atas sebuah bangku dan...
menangis!
Thian Kek Hwesio lalu menghampiri Lili dan menghiburnya, “Nona Sie, mengapa kau
menangis? Bukankah kau telah dapat mengusirnya?”
“Ia... manusia kurang ajar itu... ia telah membawa pergi sebuah sepatuku!” jawab Lili masih
menangis.
Sesungguhnya, kejadian perampasan sepatu tadi amat cepatnya sehingga mata Thian Kek
Hwesio yang tidak terlatih itu sama sekali tidak melihatnya. Kini ia memandang ke arah kaki
kiri Lili dan ia berseru kaget,
“Omitohud...! Bagaimana ada laki-laki yang begitu kurang ajar? Nona Sie, betulkah katakatamu tadi bahwa dia adalah putera Ang I Niocu? Pinceng pernah mendengar nama Ang I
Niocu yang terkenal sekali.”
Akan tetapi Lili tak dapat menjawab, hanya melanjutkan tangisnya. Hatinya mangkel sekali
dan ingin ia dapat menusuk dada pemuda itu dengan pedangnya!
“Aku tidak tahu siapa Ang I Niocu dan siapa pula pemuda itu, akan tetapi ilmu
kepandaiannya memang hebat,” tiba-tiba Lo Sian berkata. “Aku masih ingat kepada Lie Kong
Sian dan agaknya pemuda itu memang patut menjadi putera Lie Kong Sian. Ilmu sitatnya
tinggi dan tadi ia merampas sepatumu hanya untuk membalas penghinaan yang berkali-kali
kaulakukan kepadanya.”
Thian Kek Hwesio memandang heran kepada pembicara ini, “Eh, Sicu, apa rnaksudmu?
Mengapa kau menyatakan bahwa Nona Sie telah menghinanya berkali-kali?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
260
Lo Sian yang telah waras pikirannya dan memiliki pemandangan yang lebih awas dari Thian
Kek Hwesio berkata tenang, “Lo-suhu, di dalam pertempuran tadi, Nona ini memang selalu
menjadi pendesak dan lebih lihai kepandaiannya. Akan tetapi Nona ini sengaja tidak mau
melukai dan merobohkan lawan, selalu memberi ampun dan menarik kembali serangannya
pada saat pedangnya akan mengenai sasaran. Di dalam sebuah pibu, tentu saja hal ini
dianggap gerakan yang amat menghina dan merendahkan lawan. Bagi seorang gagah, lebih
baik dirobohkan daripada diberi ampun dan diberi kesempatan melepaskan diri dari ancaman
senjata!”
Merahlah wajah Lili setelah mendengar ucapan Lo Sian ini. Tak disangkanya bahwa suhunya
masih bermata setajam itu dan dapat melihat semua gerakannya! Akan tetapi, hwesio gendut
itu menggeleng-geleng kepala dan menghela napas berkati-kali.
“Kalian ini orang-orang dunia persilatan benar-benar aneh sekali! Untung pinceng tak pernah
mempelajari ilmu silat, karena kalau pinceng dulu mempelajarinya, entah sudah berapa kali
pinceng harus berkelahi seperti binatang buas!”
Terpaksa Lili menerima pemberian Thian Kek Hwesio yaitu sepasang sepatu hwesio yang
besar. Ia memotong dan menjahit lagi sepatu itu, dikecilkan untuk dapat dipakai oleh
sepasang kakinya yang kecil mungil. Kemudian ia membujuk kepada Lo Sian untuk ikut
dengan dia ke rumah ayah-bundanya di Shaning.
“Aku tidak kenal siapa adanya ayahmu yang bernama Pendekar Bodoh itu, akan tetapi oleh
karena aku yakin bahwa dulu tentu aku pernah mengenalmu dan tahu bahwa kau adalah
seorang yang mulia, maka biarlah aku ikut dengan kau, Nona.”
“Suhu, mengapa kau menyebutku nona saja? Sungguh tidak enak bagiku. Sebutlah saja
namaku seperti dulu, yaitu Lili!” kata Lili cemberut.
Lo Sian tersenyum. Air mukanya mulai berseri dan bercahaya seakan-akan kehidupan baru
memasuki tubuhnya. Ia merasa gembira dapat melihat kejenakaan, kemanjaan, dan kegagahan
nona ini, maka ia lalu menjawab,
“Baiklah, Lili, sungguhpun aku sama sekali tidak mengerti mengapa kau menyebutku Suhu,
padahal kalau melihat kepandaianmu, lebih patut akulah yang menjadi muridmu!”
Demikianlah, setelah menanti sampai tiga hari akan tetapi tidak melihat kedatangan Hong
Beng dan Goat Lan, Lili menjadi hilang sabar dan ia mengajak Lo Sian menuju ke Shaning
kembali ke rumah orang tuanya. Di sepanjang jalan tiada hentinya ia menuturkan hal-hal yang
terjadi di waktu dahulu kepada Lo Sian, namun, Sin-kai Lo Sian mendengar ini sebagai hal
yang baru sama sekali dan ia tidak ingat apa-apa melainkan kematian Lie Kong Sian! Ini pun
tak ia ketahui sebab-sebabnya. Lupalah ia akan nama-nama seperti Ban Sai Cinjin, Hok Ti
Hwesio, Mo-kai Nyo Tiang Le dan yang lain-lain.
***
Mengapa Hong Beng dan Goat Lan yang ditunggu-tunggu oleh Lili tak juga datang menyusul
ke kota Ki-ciu seperti yang mereka janjikan? Marilah kita ikuti pengalaman mereka.
Sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, kedua orang muda ini menuju ke kota Ta-liong
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
261
untuk memenuhi undangan pibu yang diterima oleh Hong Beng dari kelima ketua dari Hektung Kai-pang.
Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Hong Beng bersama Goat Lan sudah menuju ke
tempat terbuka di mana kemarin harinya Hong Beng telah menolong Lo Sian dari keroyokan
para anggauta Hek-tung Kai-pang. Ternyata ketika mereka tiba di tempat itu, di situ telah
berkumpul puluhan orang pengemis anggauta Hek-tung Kai-pang dan semua orang itu telah
membuat lingkaran. Di tengah-tengah lingkaran, nampak sebuah meja butut dan beberapa
buah bangku butut pula. Di belakang meja, lima orang nampak menduduki lima buah bangku,
duduk berjajar bagaikan arca batu. Kelima orang ini bukan lain adalah lima orang ketua dari
Hek-tung Kai-pang yang sesungguhnya bukanlah saudara-saudara sekandung melainkan
saudara-saudara angkat yang telah bersumpah sehidup semati. Selain daripada ini, mereka
juga merupakan saudara seperguruan, karena kelimanya adalah murid dari Hek-tung Kai-ong,
pencipta dari Hek-tung Kai-pang dan ilmu tongkat hitam yang amat lihai.
Lima orang ketua ini kesemuanya berpakaian tambal-tambalan dan usia mereka antara empat
puluh sampal lima puluh tahun. Setelah mengangkat saudara menjadi ketua dari Hek-tung
Kai-pang, mereka telah menggunakan nama baru dengan she (nama keturunan) Hek pula
yaitu Hek Liong, Hek Houw, Hek Pa, Hek Kwi dan Hek Sai. Semenjak kelima saudara ini
menemukan buku pelajaran silat dari guru mereka yang telah meninggal dunia, dan bersamasama melatih lagi Ilmu Tongkat Hek-tung-hoat dari kitab ini, kepandaian mereka meningkat
tinggi sekali dan tiap kali ada pemilihan pengurus baru tak seorang pun dapat mengalahkan
mereka! Baru menghadapi seorang di antara mereka saja sudah amat berat apalagi kalau
menghadapi mereka berlima sekaligus!
Betapapun juga, Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam ini mendapat nama baik di kalangan
kang-ouw. Juga Ngo-hek-pangcu (Lima Ketua Hek) ini tidak tercela namanya, karena selama
memegang pimpinan, mereka berlaku adil dan juga melakukan perbuatan-perbuatan gagah.
Akan tetapi, tentu saja sebagai ketua-ketua dari perkumpulan seperti Hek-tung Kai-pang yang
amat terkenal, mereka juga mempunyai keangkuhan. Ketika mereka tiba di Ta-liong dari kota
raja dan mendengar bahwa anak buah mereka yaitu para kepala ranting dan cabang yang
berkumpul di situ, telah dihajar oleh seorang pemuda yang membela seorang pengemis
golongan lain yang datang mengacau, mereka menjadi penasaran sekali. Maka diutuslah anak
buah mereka untuk menantang pibu kepada pemuda itu.
Kini, pagi-pagi sekali Ngo-hek-pangcu telah bersiap sedia menanti kedatangan orang yang
ditantangnya. Melihat kedatangan dua orang muda, seorang pemuda tampan dan gagah
bersama seorang gadis cantik jelita, maka kelima orang pangcu ini merasa heran dan juga
diam-diam mereka merasa kagum. Inikah orangnya yang telah dapat mengocar-ngacirkan
para pemimpin ranting? Hampir tak dapat dipercaya!
Namun, sebagai orang-orang kango-uw yang ulung, mereka tidak berani memperlihatkan
sikap memandang rendah dan segera mereka bangun berdiri ketika melihat Hong Beng dan
Goat Lan menghampiri mereka.
“Maafkan kami, sahabat muda yang gagah. Kami sebagai pengemis-pengemis hina dina dan
miskin tentu saja tidak dapat menyambut kedatanganmu sebagai mana layaknya seorang tamu
agung dihormati,” kata Hek Liong, ketua yang paling tua di antara kelima orang itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
262
Merahlah telinga Hong Beng mendengar ucapan dan melihat sikap ini. Ia merasa betapa
“tuan rumah” ini terlalu berlebih-lebihan merendahkan diri dan mengangkatnya sebagai tamu
agung. Akan tetapi Hong Beng memang berwatak sabar dan tenang, maka ia menjawab
sambil menjura pula.
“Akulah yang minta maaf, Pangcu (Ketua)! Aku sebagai orang luar yang masih hijau dan
bodoh, berani datang mengganggu kesenanganmu. Memang serba sukarlah kedudukanku,
Pangcu. Tidak datang memenuhi panggilanmu, tentu akan mengecewakan hati Ngo-wi yang
gagah, sebaliknya memenuhi undangan, berarti mengganggu rapat ini!”
Mendengar ucapan yang panjang lebar ini, serta melihat sikap pemuda yang amat tenang itu,
kelima ketua itu diam-diam makin mengindahkan sikap Hong Beng. Pemuda dengan sikap
seperti ini tak boleh dipandang ringan, pikir mereka.
“Dan bolehkah kiranya kami bertanya, dengan keperluan apakah Nona ini ikut datang ke
sini!”
Goat Lan tersenyum dan dengan jenaka sekali ia tersenyum lalu menjura sambil menjawab,
“Ngo-wi Pangcu (Lima Tuan Ketua), aku adalah seorang perantau yang menjadi sahabat baik
orang muda ini. Mendengar sahabat baikku ini mendapat undangan dari perkumpulan Hektung Kai-pang, hatiku amat tertarik sekali. Aku bersama kedua suhuku, Sin Kong Tianglo dan
Im-yang Giok-cu, telah seringkali mengunjungi orang-orang besar di dunia kang-ouw,
mengunjungi perkumpulan-perkumpulan orang gagah di dunia ini yang banyak macamnya.
Akan tetapi, sungguh aku belum pernah bertemu dengan Perkumpulan Hek-tung Kai-pang
yang sudah amat tersohor di empat penjuru ini!”
Goat Lan sengaja memperkenalkan diri sebagai murid Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giokcu, karena ia mengharapkan nama-nama kedua orang gurunya dapat melemahkan hati kelima
orang pangcu itu sehingga permusuhan dapat dicegah. Memang gadis yang cantik ini tepat
sekali perhitungannya, karena mendengar nama kedua orang tokoh persilatan yang tinggi dan
tersohor namanya ini, kelima orang pangcu itu lalu berdiri dari tempat duduk mereka dan
menjura ke arah Goat Lan.
“Ah, sungguh mata kami seperti buta saja, tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di
depan mata! Silakan duduk, Li-hiap (Pendekar Wanita), dan perkenalkan nama kami kelima
pangcu dari Hektung Kai-pang.” Kelima orang raja pengemis itu lalu memperkenalkan nama
mereka seorang demi seorang. Hong Beng juga memperkenalkan nama demikian pula Goat
Lan. Berbeda dengan Goat Lan, Hong Beng tidak mau menceritakan siapa gurunya dan siapa
pula orang tuanya. Ia ingin melihat bagaimana sikap raja-raja pengemis itu.
Akan tetapi setelah mempersilakan kedua orang tamunya itu mengambil tempat duduk,
agaknya kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu tidak mempedulikan mereka lagi dan
melayani orang-orang yang mulai datang, dan diantara para pendatang baru itu, nampak pula
tiga orang pengemis yang membawa tongkat berbentuk ular. Mereka ini adalah ketua-ketua
dari Coa-tung Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Tongkat Ular) dari timur yang juga besar
pengaruhnya. Selain tiga orang ketua Coa-tung Kaipang ini, nampak juga seorang tosu tinggi
kurus, dan seorang laki-laki setengah tua yang rambutnya dikuncir panjang ke belakang dan
memakai topi bundar sikapnya kasar dan berlagak. Tosu ini adalah seorang ahli silat yang
bernama Beng Beng Tojin, seorang tokoh Bu-tong-san yang suka merantau. Adapun orang
bertopi bundar itu adalah seorang kasar yang terkenal sebagai ahli gwa-kang (tenaga kasar)
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
263
dan ahli tiam-hoat (menotok jalan darah). Namanya Cong Tan dan julukannya It-ci-sin-kang
(Si Jari Tangan Lihai).
Kelima saudara Hek yang menjadi ketua dari Hek-tung Kai-pang itu menyambut kedatangan
lima orang ini dengan penuh penghormatan pula, akan tetapi mereka tidak dipersilakan duduk
seperti Hong Beng dan Goat Lan. Hong Beng dan Goat Lan saling pandang dan keduanya
merasa heran mengapa tuan rumah tidak mempedulikan mereka lagi, dan bagaimanakah
dengan pibu yang diajukan oleh kelima orang ketua itu? Bagi Hong Beng dan Goat Lan,
memang mereka mengharapkan agar supaya tidak terjadi salah paham atau permusuhan, akan
tetapi mereka pun, terutama Hong Beng takkan merasa puas sebelum mencoba kepandaian
kelima orang tokoh Hek-tung Kai-pang yang terkenal itu.
Setelah menyambut tamu-tamu yang baru datang, Hek Liong, saudara tertua dari kelima
orang itu, lalu berkata dengan suara keras kepada para pemimpin Hek-tung Kai-pang yang
hadir di situ.
“Kawan-kawan sekalian! Sebagaimana telah ditentukan kemarin, maka pemilihan ketua akan
dilakukan hari ini. Oleh karena hari ini sudah tiba waktunya bagi kami yang sudah memenuhi
tugas sebagai ketua, maka dengan ini kami menyatakan turun dari kedudukan ketua untuk
menghadapi pemilihan baru. Nah, silakan kawan-kawan yang mempunyai calon untuk
mengajukan calonnya!”
Ramailah suara para anggauta perkumpulan pengemis itu setelah ketua mereka membuka
rapat istimewa itu. Ternyata bahwa kelima orang tamu yang datang itu, yaitu ketiga ketua
Coa-tung Kai-pang, Beng Beng Tojin, dan Cong Tan, datang atas kehendak mereka sendiri
dengan maksud untuk mencoba merobohkan ketua lama untuk menduduki kedudukan ketua
baru dari Hek-tung Kaiang. Semua yang hadir dengan suara bulat memilih kelima saudara
Hek sebagai ketua lagi.
“Kami memilih Ngo-hek-pangcu tetap menjadi ketua kami!” seru suara para hadirin dengan
serentak.
Mendengar seruan para anggauta Hektung Kai-pang ini, ketiga ketua Coatung Kai-pang itu
segera berdiri dengan senyum mengejek. Mereka ini adalah ketua tingkat dua dari Coa-tung
Kai-pang, dan usia mereka baru tiga puluh tahun lebih. Sikap mereka amat tinggi dan
memandang rendah sedangkan mulut mereka sclalu tersenyum seolah-olah menghadapi
perkumpulan yang jauh lebih kecil daripada perkumpulan mereka sendiri. Juga pakaian
tambal-tambalan yang mereka pakai berbeda dengan pakaian para pemimpin Hek-tung Kaipang, karena biarpun pakaian mereka penuh tambalan, namun baik pakaian dasar maupun
tambalannya amat bersih!
“Cu-wi sekalian,” kata yang tertua di antara mereka, yaitu seorang bertubuh tinggi besar
bermuka hitam, “kami adalah anggauta-anggauta dewan pimpinan dari Coa-tung Kai-pang di
timur yang mewakili perkumpulan kami. Kedatangan kami ini membawa maksud yang amat
mulia. Menurut hasil perundingan dewan pengurus kami, maka sungguh tidak layak apabila di
negeri ini terdapat terlatu banyak perkumpulan seperti yang kita sekalian dirikan. Mungkin
Cu-wi sekalian sudah mendengar bahwa Hwa-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju
Kembang) dari Secuan, Lo-kai Hwekoan (Rumah Perkumpulan Pengemis Tua) dari Santung,
keduanya telah menggabungkan diri dan melebur perkumpulan mereka menjadi cabang dari
perkumpulan kami Coa-tung Kai-pang yang terbesar dan jaya! Oleh karena itu, maka
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
264
kedatangan kami ini merupakan wakil daripada perkumpulan kami untuk minta Cu-wi
sekalian menginsyafi hal ini dan melebur perkumpulan Hek-tung Kai-pang menjadi cabang
pula dari Coa-tung Kai-pang kami!”
Ucapan ini menyatakan betapa sombongnya Si Muka Hitam itu. Kalau ia dengan suara
membujuk minta agar supaya Perkumpulan Tongkat Hitam itu suka menggabungkan diri
dengan Perkumpulan Tongkat Ular, ini masih dapat diterima. Akan tetapi ia mempergunakan
ucapan agar supaya Perkumpulan Pengemis Tongkat Hitam insaf dan melebur diri menjadi
cabang Coa-tung Kai-pang! Sungguh tidak melihat muka para pemimpin Hek-tung Kai-pang!
Dengan wajah berubah merah, Hek Pa seorang ketiga dari kelima Ketua Hek-tung Kai-pang,
bangkit berdiri dan menudingkan jari tangan kirinya kepada ketiga orang tamu itu sambil
berkata,
“Orang-orang Coa-tung Kai-pang sombong amat! Siapakah yang tidak mendengar bahwa
Hwa-i Kai-pang dan Lo-kai Hweekoan menggabungkan diri karena kalian paksa dengan
kekerasan? Dan siapa pula yang tidak mendengar bahwa Coa-tung Kai-pang mempunyai
banyak anggautanya yang melakukan pelanggaran dan kejahatan, tidak patut sebagai
perkumpulan pengemis pendekar? Orang lain boleh kalian gertak, akan tetapi kami para
pengurus Hek-tung Kai-pang tak gentar menghadapi tongkat ularmu!”
Para pengemis tongkat hitam yang berjumlah empat putuh orang lebih itu ketika mendengar
ucapan Sam-pangcu (Ketua ke Tiga), serentak berseru,”Betul! Usirlah orang-orang Coa-tung
Kai-pang ini!” Dan dengan tongkat hitam diangkat tinggi-tinggi mereka maju mengurung!
Akan tetapi ketiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu masih saja bersikap tenang bahkan
kini senyum mereka melebar sombong.
“Hemm, begitukah kegagahan Hek-tung Kai-pang? Hendak mengandalkan jumlah besar
mengeroyok kami tiga orang? Alangkah rendah dan pengecutnya!”
Mendengar ejekan ini, Hek Liong lalu berdiri dan dengan gerak tangannya ia minta kepada
semua anak buahnya untuk mundur. Setelah keadaan menjadi reda, ia lalu menghadapi Si
Tinggi Besar itu sambil menantang,
“Dengarlah, kawan! Kami seluruh anggauta dan pengurus Hek-tung Kai-pang, tidak mau
menerima usulmu untuk menggabungkan perkumpulan kami dengan perkumpulanmu. Habis,
kau mau apa?”
“Hek-pangcu,” kata Si Muka Hitam yang tinggi besar itu, “lupakah kau bahwa hari ini adalah
hari pemilihan pengurus baru perkumpulanmu? Aku mendengar bahwa siapa yang dapat
mengalahkan Hek-tung-hwat, dialah yang berhak menjadi pangcu dari Hek-tung Kai-pang.
Nah, kami bertiga hendak mencoba-coba kelihaian Ilmu Tongkat Hek-tung-hwat!”
“Bagus!” Tiba-tiba Beng Beng Tojin melangkah maju. “Inilah baru ucapan orang gagah.
Untuk apa bertengkar mulut seperti wanita? Aturan harus dijalankan dan dipegang teguh.
Kedatangan pinto juga ingin menguji kehebatan Hek-tung-hwat dan kalau pinto beruntung,
pinto akan merasa senang menjadi pangcu!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
265
“Aku pun datang untuk mencoba peruntungan menjadi ketua perkumpulan ini!” tiba-tiba Itci-sin-kang Cong Tan menyela.
Diam-diam Hong Beng dan Goat Lan saling pandang dengan geli dan heran. Bagaimanakah
ada orang-orang yang memperebutkan kedudukan sebagai ketua perkumpulan para pengemis?
Apakah enaknya menjadi ketua pengemis?
Adapun kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang ketika mendengar ucapan ini, lalu berdiri
merupakan sebuah barisan dan Hek Liong sebagai orang tertua berkata keras,
“Bagus sekali! Kalian semua telah mendengar pilihan para pemimpin cabang bahwa kami
berlima masih tetap dikehendaki memimpin Hek-tung Kai-pang. Nah, siapa yang menyatakan
tidak setuju boleh maju ke muka!”
Melihat sikap kelima orang yang maju bersama ini, Beng Beng Tojin mengerutkan kening
dan berkata lemah, “Apa...? Kalian berlima maju berbareng?”
Juga It-ci-sin-kang CongTan memperlihatkan rasa gentarnya. “Ah, ini tidak adil!” katanya.
Hek Liong tersenyum mengejek, “Ketahuilah bahwa kami berlima adalah saudara
seperguruan yang sudah bersumpah sehidup semati, senasib sependeritaan. Dan kalian
mendengar sendiri bahwa yang diangkat menjadi pangcu adalah kami berlima, maka
andaikata seorang di antara kalian ada yang dapat mengalahkan aku masih ada empat orang
saudaraku yang harus dikalahkan pula. Oleh karena itu, kami merupakan sekelompok yang
tak dapat dipisah-pisahkan. Terserah siapa yang ingin merobohkan kami, boleh maju. Yang
merasa takut tak usah mencari penyakit!”
Tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu tadinya memandang kepada Beng Beng Tojin
dan Cong Tan dengan senyum menghina, akan tetapi tiba-tiba Si Muka Hitam itu mendapat
akal baik.
Ia dan kawan-kawannya hanya tiga orang sedangkan pihak lawan ada lima orang, belum
ditambah oleh para pemimpin-pemimpin cabang Hek-tung Kai-pang yang nampaknya
berpihak kepada lima orang ketua mereka. Mengapa dalam keadaan kalah tenaga ini ia tidak
menarik tangan kedua orang ini?
“Ji-wi Eng-hiong,” katanya kepada tosu dan orang bertopi bundar itu, “Ji-wi jauh-jauh sudah
datang ke sini dan biarpun antara Ji-wi dengan kami bertiga tidak ada hubungan, namun
maksud kedatangan kita di sini adalah sama. Sekarang dengan secara licik tuan rumah hendak
maju berlima, mengapa kita tidak bergabung saja sehingga kita pun menjadi lima orang?
Kalau kita menang, percayalah bahwa kami bertiga tidak akan berlaku curang seperti tuan
rumah dan kita kelak boleh menentukan siapa diantara kita yang cakap menjadi ketua!”
Tosu dan orang bertopi itu saling pandang, kemudian mengangguk-anggukkan kepala.
“Bagus, memang demikianlah baru adil!”
Sementara itu, kelima orang she Hek itu dapat mengerti kecerdikan pihak Coa-tung Kaipang, namun mereka tidak takut.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
266
“Baiklah, lekas kalian memperlihatkan kepandaian, banyak bicara tiada guna!” Setelah
berkata demikian, dengan otomatis ia dan kawan-kawannya lalu berpencar dan membentuk
sebuah barisan segi lima.
“Hayo serang!” kata Si Muka Hitam, pemuka dari pemimpin Coa-tung Kai-pang sambil
menggerakkan tongkat ularnya. Beng Beng Tojin tertawa bergelak dan mengeluarkan
senjatanya yang istimewa yaitu sepasang sumpit gading yang panjang dan berujung runcing,
sedangkan It-ci-sin-kang Cong Tan lalu mengeluarkan senjatanya yang berupa golok. Dengan
berbareng, kelima orang tamu ini menyerang pihak Hek-tung Kai-pang. Indah sekali gerakan
kelima saudara Hek itu, mereka menyambut lawan-lawannya. Tubuh mereka bergerak secara
teratur dan begitu tongkat hitam mereka menangkis mereka lalu menggerakkan kaki dengan
gerakan yang sama dan dengan teratur sekali mereka lalu menyerang lawan di sebelah kiri
masing-masing, bukan lawan yang rnenyerang tadi!
“Moi-moi,” kata Hong Beng perlahan kepada Goat Lan yang duduk di sebelah kanannya,
“perhatikan baik-baik. Lima saudara Hek itu menggunakan barisan yang teratur sekali.”
Goat Lan mengangguk sambil memandang penuh perhatian. “Memang dugaanmu tepat,
Koko. Mereka tidak mau melayani lawan yang menyerang, sebaliknya menyerang orang di
sebelah kiri sehingga pihak lawan menjadi kacau mereka pecah perhatiannya. Lihat, benarbenar mereka lihai dan sukar dilawan! Biarpun lima orang melawan lima, namun pihak lawan
selalu akan merasa terkurung dan terkeroyok!”
“Aku pernah mendengar dari Suhu tentang Ilmu Tongkat Hek-tung-hwat, dan melihat
pergerakan barisan mereka, kalau tidak salah mereka itu mempergunakan barisan yang
hampir sama dengan Ngo-bun-tin.”
“Apakah ada persamaannya dengan Ngo-heng-tin (Barisan Lima Anasir)?” tanya Goat Lan
sambil menonton pertempuran yang kini berjalan seru itu.
“Tidak sama,” jawab Hong Beng. “Ngo-bun-tin (Barisan Lima Pintu) mempunyai lima pintu,
yaitu Thian-bun (Pintu Langit), Tee-bun (Pintu Bumi), Hai-bun (Pintu Laut), Hong-bun (Pintu
Angin) dan In-bun (Pintu Awan). Kedudukan mereka kuat sekali karena tiap kali seorang di
antara mereka diserang dan menangkis, maka kawan di sebelah kanan atau kirinya lalu maju
menyerang lawan yang menyerangnya itu, dengan demikian penyerangan lawan tak dapat
diputuskan.” Kedua orang muda itu lalu memperhatikan jalannya pertempuran. Ternyata
bahwa Ilmu Tongkat Hek-tung-hwat memang hebat sekali. Tongkat hitam di tangan kelima
orang itu bergerak bagaikan seekor naga hitam yang mengamuk dan tiap kali tongkat mereka
beradu dengan senjata lawan, tentu terjadi benturan yang amat keras dan jelas nampak bahwa
tenaga kelima ketua Hek-tung Kai-pang itu masih menang setingkat. Kecuali apabila yang
ditangkis itu golok di tangan It-ci-sin-kang Cong Tan, karena ternyata bahwa Si Jari Lihai ini
benar-benar kuat sekali tenaganya. Hampir saja karena kurang hati-hati, tongkat di tangan
Hek Sai saudara termuda dari lima ketua itu, terlepas dari pegangan ketika ia menangkis
golok Cong Tan!
“Ngo-hek-pangcu tentu akan menang,” kata Goat Lan setelah menonton pertempuran yang
sudah berjalan dua puluh jurus lebih itu.
“Memang, kepandaian pihak tamu belum dapat menyamai kelihaian tuan rumah, akan tetapi
kulihat Ilmu Tongkat Coa-tung-hwat tidak kalah lihai daripada Hek-tung-hwat, hanya gerakan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
267
tiga orang itu masih kurang sempurna. Mereka itu hanya tokoh-tokoh kedua saja, kalau ketuaketua dari Coa-tung Kai-pang tentu akan hebat sekali permainan tongkatnya,” kata Hong
Beng.
Memang kedua orang muda ini memiliki pandangan yang amat tajam dan awas, hal ini
mungkin karena kepandaian mereka masih jauh lebih tinggi tingkatnya daripada kepandaian
mereka yang sedang bertempur. Tepat seperti yang mereka duga, kelima orang ketua Hektung Kai-pang mulai mendesak lawan mereka dan yang pertama kali terkena pukulan adalah
It-ci-sin-kang Cong Tan. Pada satu saat yang amat tepat, yaitu ketika goloknya menyambar ke
arah leher Hek Kwi, orang ke empat dari Ngo-pangcu ini lalu menangkis dan menggunaan
tongkat hitamnya untuk menempel golok. Hal ini dapat terjadi oleh karena dalam tangkisan
ini ia menggunakan gerakan coan (memutar) sehingga Cong Tan merasa sukar untuk menarik
kembali goloknya. Pada saat itu, bagaikan telah diatur sebelumnya tongkat hitam Hek Pa
te1ah meluncur dan menotok pundak Cong Tan pada jalan darah Keng-hin-hiat! Cong Tan
memekik kesakitan dan merasa betapa seluruh tubuhnya terlepas dari pegangan dan sekali
Hek Kwi menendang, tubuhnya terlempar keluar dari kalangan pertempuran dan tak dapat
bergerak pula!
Tak lama setelah Cong Tan roboh, kembali Beng Beng Tojin menjadi korban di tangan Hek
Liong, saudara yang paling lihai ilmu tongkatnya. Pada saat Hek Liong menusukkan
tongkatnya ke dada tosu itu, Beng Beng Tojin lalu menggerakkan sepasang sumpit gadingnya
untuk menjepit dan menggunting tongkat lawan. Jepitan sumpitnya ini amat keras, disertai
tenaga lwee-kang yang hebat, akan tetapi ternyata bahwa ia masih kalah tenaga. Hek Liong
membuat tongkatnya tergetar dalam tangannya dan begitu tongkat tadi bergetar keras, maka
jepitan itu dengan sendirinya terlepas, akan tetapi tongkat itu masih terus bergetar di antara
kedua sumpit itu sehingga Beng Beng Tosu tidak berani sembarangan menarik sumpitnya
karena takut kalau-kalau ia kalah cepat dan kalau-kalau tongkat itu akan mendahuluinya
dengan serangan hebat. Akan tetapi, pada saat itu, Hek Houw yang sudah menduduki Tee-bun
(Pintu Bumi) dengan cepat mengirim tusukan dengan tongkatnya ke arah lambungnya.
Beng Beng Tojin menjatuhkan diri ke belakang dan “bret!” jubahnya yang lebar itu tertusuk
tongkat dan robek lebar sekali, sedangkan kulit pahanya ikut pula robek dan terluka! Masih
untung baginya bahwa kedua saudara Hek ini tidak bermaksud mencelakakannya dan tidak
mengejarnya dengan serangan lain. Tosu ini melompat ke belakang, mengebut-ngebutkan
bajunya dengan muka merah, lalu berkata, “Pinto mengaku kalah!” Kemudian tubuhnya
berkelebat cepat dan lenyap dari situ!
Kini tinggallah ketiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang melakukan perlawanan
hebat dan mati-matian. Memang betul seperti yang dikatakan oleh Hong Beng tadi. Ilmu
tongkat mereka benar-benar lihai dan ganas sekali. Tongkat berbentuk ular di tangan mereka
itu nampak seakan-akan hidup dan tongkat itu seperti ular aseli yang bergerak-gerak dan
gerakan amat tak terduga-duga. Namun, tadi dibantu oleh orang lain yang cukup tinggi
kepandaiannya, mereka masih tak dapat mengalahkan kelima ketua Hek-tung Kai-pang,
apalagi sekarang mereka yang hanya bertiga itu terkurung oleh lima orang lawannya yang
tangguh. Mereka terdesak hebat, dan terkurung rapat sehingga mereka hanya dapat memutar
tongkat mereka mempertahankan diri tanpa diberi kesempatan membalas serangan.
Ketika Hong Beng dan Goat Lan mengerling ke arah para anggauta Hek-tung Kai-pang, pada
wajah mereka terbayang kegembiraan besar melihat kemenangan ketua mereka, akan tetapi
tak seorang pun yang menggetarkan suara maupun gerakan. Wajah mereka tetap tegang dan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
268
siap siaga seperti tadi sehingga diam-diam kedua orang muda ini menjadi kagum. Hal ini
membuktikan pula bahwa Hek-tung Kai-pang memang betul merupakan perkumpulan yang
berdisiplin baik.
Tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang yang sudah amat terdesak itu makin lama makin
lemah gerakan tongkat mereka. Memang harus dipuji keuletan mereka karena sebegitu lama
belum juga kelima orang lawan mereka dapat merobohkan mereka. Pertahanan mereka kuat
sekali. Tiba-tiba Si Muka Hitam berseru keras, “Robohkan mereka!” Dan komando ini diikuti
oleh gerakan mereka menuju ke arah para lawan dengan tongkat mereka dan tiba-tiba dari
kepala tongkat itu menyambar keluar senjata rahasia yang berwarna hitam!
“Celaka, Koko!” seru Goat Lan yang hendak melompat, akan tetapi tiba-tiba lengannya
dipegang oleh Hong Beng.
“Tenanglah, Moi-moi,” kata pemuda itu. Karena amat tegang, maka Hong Beng tanpa
disadarinya pula telah memegang lengan tunangannya dan ketika Goat Lan merasa betapa
lengannya dipegang tak dilepaskan pula, tiba-tiba mukanya berubah merah sekali!
“Koko, lepaskan,” bisiknya, “tak malukah dilihat orang?”
Barulah Hong Beng sadar bahwa semenjak tadi ia telah memegang lengan orang yang
berkulit halus dan hangat itu, maka dengan muka kemerahan dan mulut tersenyum malu-malu
ia lalu melepaskan lengan tunangannya. Sepasang mata mereka bertemu untuk saat pendek,
karena keduanya segera melihat ke tempat orang-orang bertempur.
Ternyata bahwa dari sikap kedua orang muda tadi, Hong Beng lebih tenang dan
ketenangannya ini membuat pandangannya lebih awas daripada Goat Lan. Goat Lan yang
merasa tegang dan kuatir, mengira bahwa ketua-ketua Hek-tung Kai-pang akan terkena
celaka, akan tetapi Hong Beng yang melihat sikap Ngo-hek-pangcu itu maklum bahwa
mereka telah siap dan tidak akan mudah diserang dengan senjata rahasia begitu saja.
Memang betul, ketika kelima orang ketua she Hek itu melihat benda-benda hitam
menyambar, serentak mereka mendekam ke bawah dan dengan gerakan yang berbareng
bagaikan telah diatur lebih dulu, tongkat-tongkat mereka menyapu ke arah kaki ketiga lawan
itu.
Terdengar suara bak-buk dah terjungkallah tiga orang pemimpin Coa-tung Kai-pang itu!
Tulang kaki mereka telah terpukul hebat dan biarpun tenaga lwee-kang mereka telah
mencegah tulang kaki itu remuk, namun pukulan itu cukup keras sehingga untuk beberapa
lama mereka takkan dapat bangun karena tulang kaki mereka terasa sakit dan linu sekali.
Senjata rahasia yang keluar dari tongkat mereka tadi adalah jarum-jarum berbisa yang amat
berbahaya!
Setelah dapat berdiri lagi, ketiga orang itu lalu memungut tongkat ular yang tadi terlepas dari
pegangan, kemudian mereka berkata kepada tuan rumah, “Kami telah menerima kalah, akan
tetapi harap kalian siap menghadapi pembalasan ketua-ketua kami!” Setelah demikian,
dengan terpincang-pincang ketiga orang itu lalu pergi dari situ.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
269
Barulah terdengar sorak-sorai dari para anggauta Hek-tung Kai-pang karena kemenangan
mutlak dari ketua-ketua mereka ini. Akan tetapi Hek Liong lalu mengangkat tangan memberi
tanda kepada mereka agar supaya diam.
“Kawan-kawan,” katanya dengan wajah muram, “hari ini adalah hari yang sial bagi kita, tak
boleh kita bersuka-ria karenanya. Ketahuilah bahwa baru tiga orang dari Coa-tung Kai-pang
tadi saja sudah demikian lihai, padahal mereka itu adalah orang-orang bertingkat dua. Kalau
ketua mereka yang datang, belum tentu kami berlima akan kuat menghadapinya. Sekarang
karena kekalahan mereka tadi, pihak Coa-tung Kai-pang tentu tak akan tinggal diam. Oleh
karena itu, kita harus berjaga-jaga dan betapapun juga daripada harus tunduk kepada Coa-tung
Kai-pang yang jahat, lebih baik kita hancur lebur!”
“Setuju! Setuju!” terdengar jawaban para pengemis yang bersemangat gagah itu.
Kemudian, Hek Liong berpaling kepada Hong Beng dan dengan suara keren ia berkata,
“Orang muda, tadi kami tidak berani menantangmu oleh karena kami tadi untuk sementara
meletakkan jabatan. Setelah sekarang kami diangkat kembali, maka menjadi kewajiban
kamilah untuk menegurmu! Kau kemarin telah melukai orang-orang kami dan setelah kau
melihat kelihaian kami tadi, apakah kau tidak lekas-lekas minta maaf? Ketahuilah, bahwa
kami bukanlah orang-orang yang suka menaruh dendam, asal saja kau suka minta maaf, kami
akan memandang muka Li-hiap murid Sin Kong Tianglo yang menjadi sahabatmu ini untuk
memaafkan kau dan melupakan segala peristiwa kemarin.”
Mendengar ucapan yang mengandung sedikit kebanggaan atas kemenangan tadi, Hong Beng
tersenyum. Akan tetapi ia tidak menjawab, sebaliknya, ia menunjuk ke arah tubuh It-ci-sinkang Cong Tan yang masih rebah di atas tanah tak bergerak.
“Eh, Hek-pangcu, apakah kau lupa orang itu? Apakah kau akan membiarkan ia mati di situ?”
Barulah Hek Liong dan adik-adiknya teringat akan Cong Tan yang tadi telah terkena totokan,
maka cepat mereka menghampiri Cong Tan.
“Pergilah kau dari sini!” kata Hek Liong sambil menepuk pundak orang itu. Akan tetapi,
alangkah kagetnya ketika ia melihat betapa tubuh Cong Tan masih saja kaku tak dapat
bergerak dengan mata melotot! Ia mengira bahwa tepukannya untuk membebaskan
totokannya sendiri tadi kurang tepat, maka ia menepuk lagi, bahkan mengurut urat pundak
bekas lawan itu. Akan tetapi sia-sia belaka, tubuh Cong Tan tetap kaku tak dapat bergerak.
Lima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu menjadi terheran-heran dan seorang demi seorang
mereka turun tangan untuk membebaskan Cong Tan dari pengaruh totokan. Namun percuma
saja, tak seorang pun di antara mereka dapat menolong.
“Celaka!” terdengar Hek Liong berkata. “Yang terkena totokan adalah jalan darahnya Kenghin-hiat, kalau tidak dapat dilepaskan ia akan mati dalam waktu setengah hari!”
Tiba-tiba terdengar angin menyambar dan ketika lima orang itu menengok, ternyata Goat Lan
telah melompat ke tempat itu. Gadis ini amat tertarik melihat keadaan yang aneh itu, dan
sebagai seorang ahli pengobatan murid Sin Kong Tianglo, tentu saja ia amat tertarik dan ingin
menyaksikan dengan mata sendiri.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
270
“Ngo-wi harap mundur dan biarkan aku memeriksanya!” kata gadis ini dan kelima orang
ketua Hek-tung Kai-pang itu lalu melangkah mundur karena mereka maklum bahwa dara
jelita ini adalah seorang ahli pengobatan yang amat terkenal di dunia kang-ouw.
Goat Lan segera berjongkok dan memeriksa keadaan tubuh Cong Tan yang masih kaku.
Beberapa kali ia memijit pundak yang tertotok itu dan akhirnya ia tersenyum, lalu berkata
kepada para ketua yang masih merubungnya dengan muka heran.
“Ngo-wi Pangcu, ketahuilah bahwa orang ini pernah meyakinkan Ilmu Pi-ki-hu-Nat
(Menutup Hawa Melindungi Jalan Darah), akan tetapi pelajaran yang dilatihnya itu belum
sempurna benar. Ia telah mempelajari ilmu itu di bagian penggunaan hawa tubuh untuk
membuyarkan totokan pada jalan darah. Maka ketika tadi tertotok roboh, ia telah berusaha
mengumpulkan hawa tubuhnya untuk membuka totokan itu, akan tetapi oleh karena ia belum
paham betul, maka penggunaannya salah, tidak diatur bersama dengan pernapasannya. Karena
itu maka sekarang hawa itu berkumpul di pundaknya, menutup jalan darahnya yang masih
tertotok sehingga ketika Ngo-wi mencoba melepaskannya, tentu saja terhalang oleh hawa
tubuh yang berkumpul ini!” Setelah berkata demikian, Goat Lan lalu mencabut tusuk
kondenya dari perak dan dengan gerakan cepat sekali ia menusukkan ujung tusuk kondenya
yang runcing itu pada pundak Cong Tan yang tertotok.
“Aduuuh...!” It-ci-sin-kang Cong Tan pulih kembali. Orang ini lalu bangun berdiri,
memandang kepada Goat Lan dengan mata melotot lalu memaki,
“Perempuan kurang ajar! Kau telah melukai dan mempermainkan aku dalam keadaan aku
tidak berdaya! Kau harus menebus kekurangajaranmu itu!” Sambil berkata demikian Cong
Tan yang galak segera menyerang Goat Lan dengan jari tangan terbuka, menotok dada gadis
itu! Goat Lan sempat melompat ke belakang sambil memandang heran.
Kelima orang ketua dari Hek-tung Kai-pang itu menjadi marah dan mendongkol sekali.
Ditolong orang tidak berterima kasih, bahkan lalu menyerang penolongnya, aturan manakah
ini? Akan tetapi melihat gerakan mereka, Goat Lan tersenyum dan berkata, “Biarlah Ngo-wi
Pangcu, biar ia melepaskan kemarahannya kepadaku!”
Terpaksa kelima orang she Hek itu lalu mundur, membiarkan Goat Lan menghadapi It-ci-sinkang Cong Tan yang marah-marah. Memang Cong Tan tadi merasa mendongkol dan malu
sekali karena ia yang tadinya menyombongkan kepandaiannya dan hendak merebut
kedudukan pangcu dari Hek-tung Kai-pang, baru beberapa jurus saja sudah tertotok seperti
arca bergelimpangan! Dan ketika Goat Lan menolongnya, ia sebetulnya sama sekali tidak
mengerti bahwa dirinya ditolong dan dikiranya bahwa nona itu mempermainkannya dan
sengaja melukai pundaknya, maka ia menjadi makin marah sekali. Untuk melampiaskan
kemendongkolannya kepada para ketua Hek-tung Kai-pang, ia tidak berani karena merasa
tidak dapat menang, maka kini ia sengaja hendak memperlihatkan kepandaiannya dengan
menyerang gadis ini. Mustahil ia akan kalah menghadapi seorang gadis muda seperti ini?
“Rasakanlah pembalasan dari It-ci-sin-kang Cong Tan!” serunya sambil menyerbu Goat Lan
yang berdiri dengan tenang itu. Cong Tan memang bertenaga besar, ia ahli tenaga gwa-kang
dan setiap hari berlatih diri di rumahnya dengan mengangkat dan mempermainkan batu-batu
besar yang beratnya ratusan kati, juga ia telah metatih jari-jari tangannya sehingga jari-jari
tangan itu dapat memukul hancur batu! Yang hebat adalah dua jari tangan kanan dan kirinya,
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
271
yaitu telunjuk dan jari tengah, karena ia bersilat dengan jari-jari ini terbuka, digunakan untuk
menotok jalan darah lawan!
Akan tetapi, segera ia mendapat kenyataan bahwa bertempur melawan gadis cantik jelita
yang mengeluarkan bau harum seperti kembang ini, sama halnya dengan bertempur melawan
bayangannya sendiri di waktu terang bulan. Ke mana juga ia menubruk dan menyerang, selalu
yang tertangkap dan terpukul olehnya hanyalah angin belaka! Ia laksana seekor kerbau gila
yang menyerang kain merah yang diikatkan di depan tanduknya. Menubruk sana menyerang
sini, selalu mengenai angin. Goat Lan sambil tersenyum-senyum mempermainkan orang ini.
Hitung-hitung latihan, pikirnya! Tiga puluh jurus telah lewat dengan cepat dan karena setiap
pukulan yang dikeluarkan oleh Cong Tan disertai tenaga gwa-kang yang besar, maka setelah
menyerang tiga puluh jurus, tubuh orang ini telah basah kuyup oleh peluhnya sendiri.
Hong Beng menonton pertempuran itu dengan tersenyum simpul dan ia merasa geli melihat
lagak Cong Tan, juga ia diam-diam menggelengkan kepalanya melihat kejenakaan
tunangannya yang mempermainkan orang besar itu. Adapun kelima orang ketua she Hek itu
berdiri menonton sambil membelalakkan mata. Baru sekarang mereka menyaksikan gin-kang
yang luar biasa lihainya. Hampir mereka tak dapat percaya betapa dengan hanya
mengandalkan keringanan tubuh nona itu dapat menghindarkan seluruh penyerangan Cong
Tan.
Tiba-tiba terdengar seruan nyaring dari Goat Lan dan tubuhnya lenyap dari pandangan mata
lawannya. Karuan saja Cong Tan menjadi terkejut sekali. Terdengar suara tertawa di sebelah
belakang dan telinganya mendapat sentilan yang keras sehingga tcrasa pedas sekali. Cepat ia
mengayun kedua tangan ke belakang, memukul lawannya yang ternyata sudah berada di
belakangnya itu. Akan tetapi, hanya nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu gadis itu
telah berada di belakangnya pula, kini mengirim tendangan perlahan ke arah punggungnya
sehingga ia merasa tulang punggungnya sakit sekali hampir patah-patah! Demikianlah,
dengan mengeluarkan gin-kangnya yang paling tinggi, Goat Lan melompat-lompat dan
membuat lawannya berputar mengejar angin! Akhirnya saking jengkel, pening dan lelah, Itci-sin-kang Cong Tan Si Jari Lihai tak dapat mempertahankan dirinya lagi. Bumi yang
dipijaknya serasa berputar-putar, matanya melihat ribuan bintang menari-nari dan robohlah
dia bagaikan orang mabuk!
Setelah peningnya lenyap, tanpa mempedulikan suara tertawa yang riuh dari para pengemis
Tongkat Hitam, It-ci-sin-kang Cong Tan lalu melompat dan berlari bagaikan seekor anjing
terkena pukulan.
Kini kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu kembali menghadapi Hong Beng, dan Hek
Liong berkata,
“Bagaimana, orang muda? Sebagaimana telah kukatakan tadi sebelum ada gangguan dari si
sombong itu, diantara kami Hek-tung Kai-pang dan kau orang muda she Sie tidak ada
permusuhan sesuatu. Akan tetapi, kau telah menghina kami dan melukai beberapa orang
anggauta kami, maka kami harap kau suka minta maaf agar kami tidak terpaksa melanjutkan
pertikaian kecil yang tidak ada artinya ini.”
“Maaf, Pangcu,” jawab Hong Beng dengan tenang sekali. “Aku bersedia minta maaf
andaikata kedatanganku ini dianggap lancang dan mencampuri urusan kalian. Akan tetapi,
untuk satu hal itu, sukarlah bagiku untuk minta maaf. Ketahuilah Pangcu, kemarin ketika aku
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
272
datang ke tempat ini, aku melihat kawan-kawanmu telah mengeroyok seorang pendekar
budiman sehingga tentu saja aku tidak dapat membiarkan begitu saja satu orang dikeroyok
sedemikian rupa oleh kawan-kawanmu. Dalam hal ini, kawan-kawanmulah yang bersalah dan
sudah sepatutnya kalau kawan-kawanmu itu yang minta maaf kepada pendekar yang sedang
menderita sakit itu!”
Hek Liong mengerutkan keningnya, tanda bahwa ia tidak puas mendengar jawaban ini.
“Saudara Sie! Kami dapat menerima ucapanmu tadi. Menurut penuturan kawan-kawan kami,
orang gila kemarin itu telah mengacau dan menghina kawan-kawan kami, dan dia dikeroyok
oleh karena kepandaiannya lebih tinggi daripada kepandaian kawan-kawan kami. Kau sebagai
orang luar, telah membantu sepihak tanpa melihat dulu sebab-sebab pertempuran. Maka
sekarang, karena kau telah datang ke sini dan untuk mempertahankan nama dan kehormatan
kami, kami ingin sekali menerima pelajaran darimu!”
Sambil tersenyum tenang Hong Beng bangun berdiri dari tempat duduknya. Memang inilah
maksud kedatangannya, untuk mencoba kepandaian kelima orang ketua itu. Memang
mungkin juga ia mencegah pibu ini dengan memberi penjelasan dan memperkenalkan siapa
adanya pengemis yang dianggap gila itu. Akan tetapi ia bersabar dulu dan sebelum
memperkenalkan Lo Sian, ia hendak lebih dulu merasai bagaimana lihainya kelima orang
pangcu itu.
“Pangcu,” katanya dengan mulut masih tersenyum, “aku sudah datang dan menurut kata-kata
orang perkenalan akan menjadi lebih erat setelah dua pihak mengadu tenaga dan mengukur
kepandaian masing-masing. Sebelum kita melanjutkan percakapan kita, marilah kita mainmain sebentar!”
Lima orang ketua dari Hek-tung Kai-pang itu lalu berdiri dan siap menanti di lapangan
pertempuran yang tadi. Semua pengemis lalu mengurung lapangan itu dan memilih tempat
duduk, dengan wajah tenang akan tetapi sinar mata gembira mereka siap menonton
pertandingan ilmu silat yang ramai! Para ketua mereka tadi telah memperlihatkan kepandaian
mereka, dan pemuda yang tampan itu sudah menyaksikannya pula, akan tetapi sekarang
pemuda itu berani menghadapi lima orang ketua itu, mudah saja diduga oleh para pengemis
yang kesemuanya memiliki ilmu silat itu bahwa pemuda ini tentulah memiliki kepandaian
tinggi!
Adapun Goat Lan yang tadipun telah menyaksikan kepandaian lima orang ketua Hek-tung
Kai-pang itu, merasa ragu-ragu apakah Hong Beng akan dapat menandingi mereka. Biarpun
gadis ini tidak ragu-ragu lagi akan kelihaian tunangannya, akan tetapi menghadapi lima orang
ketua itu pun bukanlah hal yang ringan. Betapapun juga, lima orang ketua itu telah merasa
jerih kepadanya, dan kalau ia ikut mencampuri urusan ini, tentu akan berkurang kegagahan
dan kejantanan Hong Beng dalam pandangan mata mereka. Maka ia diam saja, duduk sambil
tersenyum manis.
“Silakan, Ngo-wi Pangcu, terserah kepada Ngo-wi apakah hendak menyerang dengan
bertangan kosong ataukah dengan senjata!” kata Hong Beng dengan sikapnya yang tenang.
“Kami adalah tuan rumah,” jawab Hek Liong, “dan kau adalah tamu kami. Sudah sepatutnya
kalau tuan rumah melayani kehendak tamu. Silakan kau saja yang menentukan, Sie-enghiong,
kami hanya melayani saja.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
273
Hong Beng berpikir cepat. Dalam hal pibu, orang tidak boleh berlaku sungkan-sungkan,
apalagi menghadapi keroyokan lima orang seperti Ngo-hengte ketua Hek-tung Kai-pang ini.
Kalau ia menghadapi mereka mengandalkan tangan kosong, biarpun ia tidak takut dan merasa
yakin takkan kalah, namun selain agak sukar mengalahkan mereka, juga ia tidak dapat
memperlihatkan kelihaian ilmu tongkatnya. Ia tahu bahwa kelima orang ketua Hek-tung Kaipang ini mengandalkan kehebatan ilmu tongkat mereka maka jalan yang paling tepat untuk
membuat mereka tunduk betul-betul adalah mengalahkan Ilmu Tongkat Hek-tung-hwat
mereka dengan ilmu tongkat pula.
Hong Beng lalu membungkuk dan mengambil sebatang cabang kering yang besarnya hanya
selengan orang dan panjangnya dua kaki lebih, kemudian sambil menjura ia berkata,
“Siauwte telah mendengar tentang kehebatan Hek-tung-hwat, dan karena kebetulan sekali
siauwte pernah mempelajari sedikit ilmu tongkat yang masih amat rendah, maka siauwte akan
merasa gembira dan berterima kasih sekali apabila dapat menambah pengetahuan ilmu
tongkat dan menerima sedikit pelajaran ilmu tongkat dari Ngo-wi untuk membuka mata
siauwte!”
Hek Liong dan kawan-kawannya saling pandang dengan heran dan tersenyum. Mereka
menganggap pemuda ini terlalu lancang dan terlalu berani. Ia telah diberi kesempatan untuk
memilih, mengapa memilih hendak mengadu ilmu tongkat? Pemuda ini terang mencari
penyakit, pikir mereka. Hek Liong yang berpikiran adil, lalu berkata,
“Sie-enghiong, karena kau hanya memegang sebuah tongkat kayu yang kecil dan lemah,
kami merasa malu untuk maju berbareng. Biarlah aku seorang saja yang mencoba dan mainmain sebentar dengan ilmu tongkat itu.”
Panaslah hati Hong Beng mendengar ucapan ini. Terang sekali bahwa ia dipandang ringan
sekali oleh ketua ini. Maka sambil tersenyum ia berkata manis, akan tetapi mengandung
tantangan,
“Pangcu, sudah kudengar tadi bahwa untuk menghadapi ketua dari Hek-tung Kai-pang, orang
harus menghadapi kelimanya sekaligus. Oleh karena adanya ketentuan itu, mana siauwte
berani melanggarnya? Harap saja Ngo-wi tidak berlaku sungkan-sungkan dan persilakan maju
berbareng, karena bukankah siauwte dianggap sebagai tamu yang harus dilayani oleh semua
tuan rumah?”
“Hemm, jangan anggap kami keterlaluan, orang muda, kau sendiri yang minta kami maju
berbareng!” seru Hek Liong dengan mendongkol. Nyata sekali bahwa pemuda ini tidak mau
menerima kebaikannya. Kepandaian apakah yang diandalkan sehingga anak muda ini berani
bersikap sombong? Ia lalu memberi tanda kepada empat orang adiknya dan berbareng mereka
mengeluarkan tongkat hitam mereka.
“Awas serangan!” seru Hek Liong dan bagaikan lima ekor ular hitam, tongkat di tangan
kelima orang ketua itu lalu menyambar ke arah tubuh Hong Beng dari lima jurusan. Cepat dan
kuat sekali gerakan serangan tongkat-tongkat itu sehingga angin menyambar ke arah Hong
Beng dari segala jurusan.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
274
Akan tetapi, dengan memutar cabangnya, sekaligus Hong Beng telah dapat menangkis
sehingga tongkat-tongkat hitam itu terpental kembali. Barulah kelima orang ketua yang
tadinya memandang rendah itu menjadi terkejut sekali. Mereka merasa betapa dari cabang
kecil di tangan pemuda itu yang membentur tongkat-tongkat hitam mereka, seorang demi
seorang merasa betapa telapak tangan mereka seperti digurat pisau tajam rasanya!
Setelah dapat menduga bahwa pemuda itu bukanlah orang sembarangan, Hek Liong lalu
berseru keras dan ia memutar-mutar tongkat hitamnya sedemikian rupa sehingga lenyaplah
tongkat itu, berubah menjadi segulung sinar hitam yang mengerikan dan dahsyat sekali
datangnya. Juga keempat saudaranya tidak mau kalah, mengikuti gerakan kakak mereka ini
dan sebentar lagi nampaklah lima gulungan sinar hitam bagaikan lima ekor naga sakti
menyerang dan mengurung tubuh Hong Beng!
“Bagus, lihai sekali Hek-tung-hwat!” terdengar pemuda itu berseru, dan belum juga habis
ucapannya itu, tiba-tiba lenyaplah tubuhnya, terbungkus oleh sinar putih kehijauan dari
tongkat cabangnya yang diputar secara luar biasa sekali!
Semua pengemis anggauta Hek-tung Kai-pang menahan napas dan hampir tidak percaya
kepada mata sendiri. Kalau mereka sudah biasa melihat gerakan tongkat-tongkat hitam
pangcu mereka, kini mereka melihat gulungan sinar yang lebih hebat lagi. Lebih panjang,
lebar dan mendatangkan angin keras sehingga semua pengemis yarig duduk di atas tanah
mengelilingi tempat adu kepandaian itu, merasa muka mereka tertiup oleh angin yang dingin
sekali! Pakaian mereka berkibar-kibar dan yang aneh sekali adalah hawa yang keluar dari
sinar putih kehijauan itu karena sebentar terasa dingin sekali dan sebentar pula terganti oleh
hawa yang panas! Inilah Ngo-heng-tung-hwat yang mengeluarkan hawa-hawa Im dan Yang,
ilmu tongkat warisan dari Pok Pok Sianjin yang dimainkan oleh Hong Beng dengan hebatnya,
karena pemuda ini memang hendak menundukkan lima orang ketua Perkumpulan Pengemis
Tongkat Hitam yang tadinya memandang rendah kepadanya!
Kalau tadi ketika merasakan tangkisan tongkat ranting di tangan Hong Beng, kelima orang
ketua itu merasa terkejut, adalah sekarang mereka tidak saja menjadi kaget, akan tetapi
merasa amat terheran-heran! Seujung rambut pun mereka tak pernah mengira bahwa pemuda
itu selihai ini dan tak pernah pula bermimpi bahwa di dunia ini ada ilmu tongkat sehebat ini!
Mereka berusaha untuk memperhebat gerakan tongkat mereka, mengurung dan menyerbu
bayangan Hong Beng dengan tenaga sepenuhnya, akan tetapi tiap kali tongkat mereka
terbentur oleh sinar putih kehijauan itu, tongkat mereka kembali memukul diri sendiri!
Sampai empat puluh jurus lebih Hong Beng hanya mempertahankan dirinya saja, dan tidak
membalas sama sekali. Akan tetapi, tetap saja lima orang lawannya tidak berdaya sama sekali
dan tidak pernah dapat menyentuhnya dengan senjata mereka.
Setelah Hong Beng merasa puas memperlihatkan kehebatan Ngo-heng-tung-hwat tiba-tiba ia
lalu merubah gerakan tongkatnya dan mulai mainkan Pat-kwa-tung-hwat. Lebih hebat lagilah
akibatnya! Karena pemuda itu bersilat dengan gerakan kaki atau kedudukan sesuai dengan
pat-kwa (segi delapan), maka kelima orang lawannya itu seakan-akan menghadapi delapan
orang pemuda! Bukan mereka berlima yang mengurung, bahkan kini mereka merasa seperti
terkurung oleh delapan orang! Mereka terkejut sekali dan gerakan mereka menjadi kacau
balau. Nampaknya lawan muda itu berada di depan akan tetapi baru saja mau diserang, dari
belakang telah menyambar angin cabang dari pemuda itu, seakan-akan pemuda itu dapat
memecah dirinya menjadi delapan orang!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
275
Kini para pengemis yang menonton sudah melupakan peraturan saking kagumnya. Mereka
bergerak dan memuji dengan kata-kata keras, bahkan Goat Lan sendiri setelah menyaksikan
ilmu tongka tunangannya, menjadi bengong! Ia merasa bangga sekali dan diam-diam ia
mengakui bahwa kalau tunangannya itu mau bermain sungguh-sungguh, sepasang tombak
bambu runcing sekalipun belum tentu akan dapat mengalahkannya!
“Sie-enghiong, bukalah mata kami dengan seranganmu!” Hek Liong berkata keras karena
tidak pernah melihat serangan pemuda itu. Ia merasa amat penasaran dan hendak melihat
bagaimana hebatnya pemuda itu kalau menyerang.
“Maafkan, Pangcu!” terdengar Hong Beng berseru dan tersusullah seruan ini oleh teriakan
kelima orang ketua itu dan terdengar suara keras. Tahu-tahu lima batang tongkat hitam itu
terlepas dari pegangan masing-masing dan melayang ke atas! Mereka cepat melompat
mundur, dan melihat dengan melongo betapa Hong Beng menggerakkan tongkatnya ke atas,
diputar sedemikian rupa sehingga ia dapat mengelilingi kelima batang tongkat hitam itu,
“menangkap” lima batang tongkat itu dengan putaran cabangnya sehingga tongkat-tongkat itu
terkumpul menjadi satu dan ketika ia mengeluarkan tangan kiri ke depan, lima tongkat hitam
itu telah berada dalam pegangannya. Sambil tersenyum dan menjura, ia maju memberikan
tongkat-tongkat itu kepada pemiliknya!
Untuk beberapa lama, kelima orang ketua Hek-tung Kai-pang itu memandang pemuda ini
dengan bengong, masih belum dapat mempercayai pengalaman mereka sendiri. Akan tetapi,
tiba-tiba Hek Liong lalu menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu, diikuti oleh keempat
orang adiknya! Terdengar sorak-sorai para pengemis dan kelima orang ketua itu memimpin
orang-orangnya berseru ramai,
“Hidup pangcu (ketua) yang baru! Hidup Sie-pangcu yang gagah!”
Bukan main kagetnya Hong Beng mendengar ucapan ini dan melihat betapa semua pengemis
berlutut mengelilingi dirinya!
“Eh-eh, apa-apaan ini? Kuharap kalian tidak main-main dengan aku!” katanya gagap dengan
muka berubah merah, karena ia maklum bahwa ia telah dipilih dan diangkat oleh mereka
menjadi pangcu!
Akan tetapi Hek Liong yang berlutut berkata dengan suara penuh permohonan, “Kami harap
Tai-hiap jangan menolak. Dengan sejujurnya kami mengangkat Taihiap menjadi pangcu
kami, karena selain Tai-hiap seorang, tidak ada orang di dunia ini yang patut menjadi
pemimpin kami! Harap Tai-hiap sudi memperkenalkan diri, siapakah sebetulnya Tai-hiap ini
dan murid orang sakti dari mana!”
Hong Beng menjadi serba salah. Melihat ketulusan hati mereka, untuk menolak begitu saja ia
tidak tega, akan tetapi kalau diterima, bagaimana ia bisa menjadi pemimpin rombongan
pengemis? Ia memandang ke arah tunangannya, dan dengan senyum lebar yang menambah
keayuan dan tahu-tahu ia telah melompat kedekat Hong Beng.
“Mereka bersungguh-sungguh, tidak baik menolak maksud jujur dari perkumpulan Hek-tung
Kai-pang yang terkenal gagah dan budiman ini!” katanya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
276
Sorak-sorai gembira menyambut ucapan gadis ini dan Hong Beng merasa seakan-akan
tubuhnya terbenam makin dalam lagi. Tidak ada harapan untuk keluar setelah tunangannya
sendiri bahkan menghendaki dia menjadi pemimpin pengemis.
“Baiklah, baiklah, harap kalian semua suka bangun berdiri. Hal pertama yang tidak kusukai
ialah agar supaya aku jangan terlalu dipuji-puji dan disanjung-sanjung. Aku bukan seorang
raja, dan kalau aku mau menerima jabatan ketua, ini hanya terpaksa karena melihat kebaikan
perkumpulan ini.”
Semua orang berdiri dengan sikap hormat dan diam, menanti ucapan ketua baru itu
selanjutnya.
“Aku maklum bahwa kalian mengharapkan bantuanku untuk menghadapi bahaya yang
mungkin datang dari pihak Coa-tung Kai-pang,” kata pemuda yang cerdik ini. “Dan aku
menerima pengangkatan ini hanya saja dengan beberapa macam syaratnya.”
“Silakan Pangcu mengemukakan syarat-syarat itu, kami sekalian tentu saja bersedia
mematuhinya, karena setiap syarat dan usul pangcu kami, merupakan perintah yang akan
kami jalankan dengan taruhan nyawa kami!”
Terharulah hati Hong Beng mendengar ucapan ini. Ia menghela napas panjang dan berkata,
“Tentu kalian harus mengetahui keadaanku. Biarlah aku berterus terang kepada kalian, karena
kita adalah orang-orang sendiri, orang-orang sehaluan yang bertujuan memberantas dan
membasmi kejahatan! Aku, Sie Hong Beng, adalah putera dari pendekar besar Sie Cin Hai
atau Pendekar Bodoh!”
Semua pengemis, terutama sekali Ngo-hengte, menahan napas dan bukan main terkejutnya
serta girangnya hati mereka. Kalau tadi mereka berlima masih merasa penasaran karena kalah
sedemikian mudahnya oleh pemuda ini, kini rasa penasaran itu lenyap sama sekali. Pantas
saja pemuda itu lihai karena tidak tahunya dia adalah putera dari Pendekar Bodoh yang
namanya telah menggemparkan kolong langit!
“Suhuku yang mengajar ilmu tongkat adalah Pok Pok Sianjin, tokoh terbesar dari barat!”
Kembali semua orang tertegun. “Nona ini tadi telah memperkenalkan diri sebagai muridmurid Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu, akan tetapi tentu kalian belum tahu bahwa dia
sebenarnya adalah puteri dari pendekar besar Kwee An di Tiang-an. Dan perlu pula
kuberitahukan bahwa dia adalah... tunanganku!” Merahlah wajah Goat Lan mendengar
keterangan ini. Ingin ia mencubit tunangannya itu yang dianggapnya berlebihan telah
memperkenalkan dirinya pula.
“Nah, setelah kalian mengenal keadaan kami, sekarang akan kukemukakan syarat-syaratku.
Biarpun aku menerima jabatan ketua, namun tidak mungkin bagiku untuk selalu berada di
tempat perkumpulan kalian ini. Aku mengangkat kelima Saudara Hek sebagai wakil. Segala
sesuatu mengenai perkumpulan kuserahkan kepada mereka berlima untuk mengurus. Dan aku
pun tidak mau menurut kebiasaan kalian, tidak mau memakai pakaian sebagai pengemis.
Akan tetapi, aku telah menerima jabatan ini, bersumpah hendak membela dan melindungi
Hek-tung Kai-pang dan bertanggung jawab apabila ada sesuatu yang mengancam dan yang
mengganggu perkumpulan kita!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
277
Ramailah sorak-sorai para pengemis mendengar kesanggupan ini. Inilah yang mereka
harapkan. Dengan adanya pemuda putera Pendekar Bodoh ini menjadi ketua mereka, mereka
tidak takut menghadapi penjahat yang bagaimanapun juga. Juga mereka kini tidak kuatir lagi
akan serbuan atau gangguan Coa-tung Kai-pang!
Kemudian Hek Liong berkata kepada Hong Beng, “Pangcu, kami mempersilakan Pangcu dan
Li-hiap untuk datang ke tempat pertemuan kita yang kita sebut Istana Pengemis untuk
merayakan pengangkatan ini, juga untuk mengesahkannya!”
Beramai-ramai semua pengemis itu lalu mengiringkan Hong Beng dan Goat Lan menuju ke
sebuah hutan di sebelah utara tempat itu. Hutan ini besar sekali dan ketika tiba di tengah
hutan, Hong Beng dan tunangannya melihat sebuah kuil kuno yang baru saja diperbaiki.
Biarpun dari luar nampak sangat miskin, akan tetapi huruf-huruf yang dipasang di luar kuil
amat gagah dan angker. Huruf-huruf itu berbunyi : Istana Pengemis HEK TUNG KAI PANG.
Ketika kedua orang muda itu diarak masuk, Hong Beng dan Goat Lan terkejut sekali karena
di sebelah dalam sungguh amat berbeda dengan keadaan di luar. Di situ amat indah dan
mewah. Meja dan kursi serta perabot-perabot lain terdiri dari barang-barang mahal, terukir
indah dan serba baru! Benar-benar patut menjadi perabot dan isi ruang sebuah istana kaisar!
Tahulah kini Hong Beng dan Goat Lan mengapa banyak yang berhati serakah ingin
menduduki jabatan ketua dari perkumpulan pengemis ini. Tidak tahunya keadaan mereka
begitu kaya raya. Memang sesungguhnya para pengemis itu yang hidupnya hanya bekerja
mengemis dan juga menerima upah dari pekerjaan kasar atau membantu orang menjaga
keamanan, selalu mengumpulkan hasil pekerjaan mereka dan menyerahkannya kepada pusat
sehingga dapatlah dibangun isi istana yang mewah ini. Selain perabot-perabot yang indah itu,
ternyata banyak pula terdapat harta simpanan yang besar jumlahnya. Setelah bercakap-cakap
lebih mendalam, tahulah kedua orang muda itu bahwa harta benda itu bukannya disimpan
begitu saja, akan tetapi dipergunakan untuk menolong rakyat miskin dengan jalan menderma
dan lain-lain. Maka makin kagumlah mereka terhadap perkumpulan pengemis ini dan makin
yakinlah hati Hong Beng bahwa menjadi ketua perkumpulan macam ini sekali-kali bukanlah
hal yang merendahkan namanya! Ketika mereka duduk bercakap-cakap, masuklah pengemispengemis yang masih muda, yaitu anggauta-anggauta yang ditugaskan untuk mengeluarkan
hidangan dan kembali Hong Beng dan Goat Lan tercengang karena hidangan yang
dikeluarkan adalah hidangan-hidangan yang mewah dan mahal, sedangkan araknyapun adalah
arak Hangciu yang lezat dan harum, bukan arak sembarang arak.
Pesta berjalan dengan meriah sekali dan kedua orang muda itu mendapat kenyataan bahwa
para pengemis itu makan hidangan mereka dengan cara yang amat beraturan dan sopan.
Benar-benar mengagumkan sekali!
Pada saat pesta berjalan ramai, tiba-tiba dari luar pintu terdengar suara bentakan parau dan
keras, “Hek-tung Kai-pang Pangcu, sambutlah kami!”
Belum lenyap gema suara itu, orangnya telah melayang masuk dan tahu-tahu di tengah
ruangan itu berdiri dua orang pengemis tua yang berpakaian tambal-tambalan akan tetapi
bersih sekali dan mereka memegang tongkat ular! Ternyata mereka ini adalah dua orang
pengurus Coa-tung Kai-pang tingkat satu!
Coa-tung Kai-pang mempunyai banyak sekali pengurus, dan pengurus yang bertingkat satu
saja ada tujuh orang, dan mereka ini adalah murid dari seorang tosu tua yang menjabat
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
278
kedudukan pemimpin besar dan bernama Coa Ong Lojin. Adapun dua orang pengurus tingkat
satu yang datang ini bernama Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin. Mereka ini mendapat laporan
dari tiga orang pemimpir Coa-tung Kai-pang yang telah roboh di tangan Ngo-hengte dari
Hek-tung Kai-pang pagi tadi. Dengan marah Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin lalu mendatangi
istana pengemis di dalam hutan itu dengan maksud untuk merobohkan lima orang ketuanya.
Dengan tindakan kaki berlagak sekali dua orang tua itu sambil menggerak-gerakkan tongkat
ular di tangannya menghampiri meja Hek Liong dan adik-adiknya yang duduk di sebelah kiri
Hong Beng dan Goat Lan. Kim Coa Jin tertawa bergelak di depan lima orang pengurus Hektung Kai-pang itu lalu berkata,
“Pangcu-pangcu dari Hek-tung Kai-pang benar-benar tidak memandang mata kepada kami
dari Coa-tung Kai-pang. Mengadakan perjamuan minum arak sedemikiah ramainya sama
sekali tidak mengundang! Ha-ha, benar-benar tidak memandang mata kepada orang
segolongan Hek Liong maklum bahwa dua orang tua ini memang datang hendak membuat
ribut dan melihat sikap mereka yang kasar ia tidak mau membiarkan pangcunya yang baru
untuk menghadapinya, maka ia sendiri lalu berdiri bersama empat orang adiknya, menjura
sebagai penghormatan sambil berkata,
“Maaf, Ji-wi datang tanpa kami ketahui sehingga tidak siang-siang mengatur penyambutan.
Silakan duduk dan minum arak kami yang murah!” Sambil berkata demikian Hek Liong lalu
mengeluarkan dua buah cawan dan mengisi sendiri cawan-cawan itu sampai penuh dengan
arak harum.
“Ha-ha-ha-ha!” Bhok Coa Jin tertawa bergelak, lain dengan gerakan cepat sekali ia mengulur
tongkat ularnya sambil berkata, ”Biarlah tongkatku mencoba dulu bagamana rasanya
arakmu!” Sambil berkata demikian, sekali tongkatnya bergerak ke depan, kedua cawan arak
yang disuguhkan itu terguling di atas meja dan araknya tumpah membasahi meja! Kemudian
ujung tongkatnya yang berkepala ular itu meluncur memasuki mulut guci, dari mulut guci itu
keluarlah uap hijau bergulung ke atas!
“Ha-ha-ha! Arakmu cukup baik!” kata Bhok Coa Jin kepada lima orang pengurus Hek-tung
Kai-pang itu. “Marilah kita minum arak dari guci yang telah dicoba isinya oleh tongkatku
tadi!”
Tanpa diketahui oleh orang lain, Goat Lan membisikkan sesuatu kepada Hong Beng sambil
memberikan tiga buah pel merah kepada tunangannya itu. Hong Beng lalu berdiri dan
mendahului kelima saudara Hek itu berkata kepada dua orang tamu yang aneh ini,
“Ji-wi Lo-kai (Dua Tuan Pengemis Tua), melihat dari tongkatmu, aku dapat menduga bahwa
kalian tentulah pengurus-pengurus dari Coa-tung Kai-pang! Pertunjukanmu tadi lucu sekali
dan kebetulan aku adalah seorang yang paling doyan arak beruap! Marilah aku menemani kau
berdua minum arak!”
Sambil berkata demikian, tanpa menanti jawaban tamunya, Hong Beng mengambil guci arak
tadi dan mengisikan arak ke dalam cawan-cawan tamunya yang tadi terguling, juga ia mengisi
cawannya sendiri sampai penuh. Semua orang melihat betapa arak yang keluar dari guci itu
telah berwarna hijau, padahal tadinya berwarna kemerahan! Lima orang pengurus Hek-tung
Kai-pang menjadi pucat karena mereka maklum bahwa arak itu telah dicampuri racun!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
279
“Arak itu beracun!” seru Hek Liong marah.
“Ha-ha-ha! Ternyata ketua dari Hek tung Kai-pang berhati pengecut! Kalah oleh orang muda
berhati tabah dan gagah ini!” kata Kim Coa Jin sambil tertawa bergelak-gelak. “Siapakah
pemuda ini yang menantang kami minum arak? Kami tidak sudi minum arak dengan segala
orang tak ternama!”
Makin marahlah Hek Liong mendengar ucapan ini. “Bukalah matamu baik-baik karena kau
berhadapan dengan pangcu kami yang baru!”
Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin melengak dengan heran. Kini mereka memandang kepada
Hong Beng dengan penuh perhatian. Kemudian mereka menjura ke arah Hong Beng sebagai
penghormatan yang dibalas oleh Hong Beng dengan sepatutnya.
“Tidak tahu siapakah nama Pangcu yang terhormat?” tanya Kim Coa Jin.
“Siauwte bernama Sie Hong Beng dan secara kebetulan saja siauwte dipilih menjadi pangcu
dari Hek-tung Kai-pang yang mulia. Tidak tahu siapakah Ji-wi dan ada keperluan apakah dua
orang penting dari Coa-tung Kai-pang datang ke sini?”
“Hemm, kami adalah pengurus-pengurus Coa-tung Kai-pang, namaku Kim Coa Jin dan ini
adalah adikku Bhok Coa Jin. Kami tidak tahu bahwa Hek-tung Kai-pang telah berganti
pengurus. Bagus, bagus, kami harap saja biarpun kau masih muda, akan tetapi sudah terbuka
pikiranmu untuk menggabungkan perkumpulanmu yang kecil ini kepada Coa-tung Kai-pang
yang besar sehingga tak perlu ada pertikaian lagi.”
“Ji-wi Lo-kai, hal itu tak mungkin dilakukan. Setiap perkumpulan mempunyai tujuan sendirisendiri, dan biarlah kita melakukan tugas masing-masing tanpa saling mengganggu, bukankah
dengan demikian akan lebih baik lagi dan tidak ada pertikaian? Aku akan memberi nasihat
kepada semua anggauta perkumpulan kami agar jangan mengganggu perkumpulanmu, dan
sebaliknya aku mengharap pula dari pihakmu ada kebijaksanaan seperti itu.”
Tiba-tiba Kim Coa Jin tertawa bergelak dengan suara menghina dan memandang rendah
sekali.
“Pangcti, kau ternyata masih hijau seperti usiamu. Marilah kita minum arak hijau ini untuk
menambah pengalamanmu. Beranikati kau?”
“Mengapa tidak berani?” kata Hong Beng yang sudah menelan tiga butir pel ang-tan
pemberian tunangannya tadi. Ia percaya penuh akan kelihaian tunangannya yang paham betul
akan segala macam racun dan pengobatannya, maka ketika tadi Goat Lan menyerahkan pel itu
sambil berbisik bahwa itulah pel penawar dan penolak racun hijau, ia segera menelannya dan
bertindak seperti yang dituturkan di atas. Kini ia mengangkat cawan araknya, diturut pula oleh
dua orang tamu itu yang memandangnya dengan mata heran akan tetapi mulut tersenyum
mengejek. Mereka lalu minum arak itu. Sekali tenggak saja arak hijau itu lenyap dalam perut
Hong Beng.
Sekarang barulah dua orang pengemis tua itu terheran-heran. Biasanya, racun hijau yang
dimasukkan di dalam arak itu amat keras. Jangankan menghabiskan secawan, baru minum
beberapa tetes saja cukup untuk membakar isi perut orang dan membinasakannya seketika itu
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
280
juga. Akan tetapi, pemuda yang tampan dan tenang ini setelah minum secawan tidak kelihatan
terpengaruh sama sekali, seakan-akan arak itu tidak ada apa-apanya! Mereka menjadi
penasaran dan Kim Coa Jin sendiri kini memasukkan kepala tongkatnya ke dalam guci,
menambah racun itu dan menuangkan isi guci ke dalam tiga cawan yang sudah kosong,
memenuhinya kembali.
“Kau kuat minum secawan lagi, Pangcu?” tanyanya menantang.
Hong Beng tersenyum. “Mengapa tidak kuat? Marilah kita minum untuk kesejahteraan Hektung Kai-pang!” Kembali mereka minum dan sekali lagi Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin
saling pandang dengan heran. Jangankan menjadi mabuk atau roboh binasa, merah pun tidak
muka pemuda tampan itu.
“Secawan lagi, Ji-wi Lokai?” Kini Hong Beng yang menantang! Kedua orang pengemis tua
itu menjadi bingung. Obat penawar yang tadinya sudah mereka telan hanya cukup kuat untuk
menolak racun dua cawan arak, kalau harus minum secawan lagi, mungkin mereka takkan
kuat menahan dan akan roboh binasa dengan isi perut terbakar!
“Cukup, cukup, Pangcu!” kata Kim Coa Jin sambil menggerakkan tongkat ularnya. “Sudah
terbuka mata kami bahwa biarpun masih muda, ternyata kau adalah seorang yang kuat
minum. Tidak tahu apakah ilmu tongkatmu sekuat tenaga minummu!”
Pada saat itu, Hek Liong melangkah maju menghadap Hong Beng dan menyerahkan sebatang
tongkat hitam dengan sikap menghormat sekali. Tongkat ini baru saja ia ambil dari dalam
sebuah kamar dan ternyata bahwa tongkat ini luar biasa sekali. Memang warnanya hitam
seperti tongkat-tongkat yang dipegang oleh semua anggauta Hek-tung Kai-pang, akan tetapi
tongkat ini mengeluarkan cahaya mengkilap dan ternyata dapat digulung.
“Tongkat ini adalah peninggalan sucouw kami Hek-tung Kai-ong. Sudah berpuluh tahun
tidak ada orang yang dapat mempergunakan tongkat lemas ini, maka sekarang kami serahkan
kepada Pangcu!”
Hong Beng menerima tongkat itu dengan girang dan ketika ia memegang tongkat itu, ia
merasa kagum dan juga girang sekali. Ternyata bahwa senjata luar biasa ini terbuat dari logam
yang amat kuat dan merupakan sebatang tongkat pusaka yang ampuh sekali. Ia segera turun
dari tempat duduknya dan menghadapi dua orang tamunya itu dengan sikap tenang.
“Ji-wi Lo-kai, kami telah maklum bahwa kalian dari Coa-tung Kai-pang ingin sekali
memperlebar pengaruhmu, akan tetapi caramu ini benar-benar kurang sempurna. Apa kaukira
bahwa di kolong langit ini tidak ada orang-orang yang lebih pandai daripada pemimpinpemimpin Coa-tung Kai-pang? Tanpa kusengaja, aku yang muda dan bodoh telah terpilih
menjadi pemimpin Hek-tung Kai-pang, betapapun juga, aku akan membela perkumpulan ini
dengan tongkat yang telah dipercayakan kepadaku. Nah, silakan Ji-wi maju mencoba
kekerasan tongkat ini!”
Kim Coa Jin biarpun merasa amat kagum melihat betapa orang muda ini dapat minum racun
dari tongkat ularnya tanpa akibat sesuatu, tetap saja ia masih memandang rendah kepada
Hong Beng. Tak mungkin pemuda ini memiliki kepandaian silat yang dapat mengimbangi
kepandaiannya sendiri. Dia dan Bhok Coa Jin adalah dua orang diantara tujuh orang
Pengemis Tongkat Ular tingkat satu. Kepandaian mereka ini sudah amat tinggi, karena
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
281
mereka adalah murid-murid yang menerima pelajaran langsung dari Coa Ong Lojin, datuk
dari Coa-tung Kai-pang! Mereka telah mewarisi delapan puluh bagian dari ilmu silat dan ilmu
tongkat dan telah bertahun-tahun mereka merantau di seluruh permukaan bumi Tiongkok.
Oleh karena memandang rendah dan tidak ingin disebut licik, Kim Coa Jin berkata kepada
Bhok Coa Jin “Sute, harap kau berdiri di pinggir saja dan biar aku sendiri yang mencoba
kekuatan pangcu muda ini!” Ucapannya ini dikeluarkan dengan mulut tersenyum. Bhok Coa
Jin juga tersenyum, lalu ia menancapkar tongkat ularnya di atas lantai dan duduk di atas
tongkat itu! Demonstrasi kekuatan lwee-kang ini saja sudah hebat sekali, karena lantai itu
amat keras namun dapat tertusuk oleh tongkat itu seakan-akan lantai itu terdiri dari tanah
lumpur belaka!
“Silakan, Suheng, aku hendak menonton saja,” katanya.
“Nah, Sie-pangcu, marilah kita mulai!” kata Kim Coa Jin menantang.
“Majulah Kim-lokai. Sebagai tamu kau turun tangan lebih dulu,” jawab Hong Beng sambil
memegang tongkat hitamnya dengan cara sembarangan saja. Ia memegang kepala tongkatnya
dan tongkat itu tergantung lurus ke bawah, seperti seorang kakek yang meminjam tenaga
tongkat untuk membantunya menunjang tubuhnya yang sudah lemah. Bagi orang yang tidak
tahu, tentu mengira bahwa pemuda ini tidak pandai ilmu silat dan bahwa caranya memasang
kuda-kuda itu tidak ada artinya sama sekali. Akan tetapi ketika Kim Coa Jin melihat cara
Hong Beng memegang tongkat, hatinya tertegun. Itulah kuda-kuda yang disebut Dewa Bumi
Menangkap Ular, semacam kuda-kuda yang tidak sembarang orang berani menggunakan
untuk memulai sebuah pertempuran, karena kuda-kuda seperti ini amat sukar dibuka dan
dikembangkan.
“Awas serangan!” serunya dan Kim Coa Jin cepat menyerang dengan hebat. Ia sengaja
menyerang dengan gerakan yang paling hebat dan lihai, karena ia hendak merobohkan ketua
Hek-tung Kaipang ini dengan sekali gerakan saja! Tongkat ularnya dengan cepat bagaikan
anak panah terlepas dari busurnya menusuk ke arah dada Hong Beng, sedangkan tangan
kirinya tidak tinggal diam, melainkan meluncur pula di belakang tongkatnya untuk mengirim
pukulan susulan yang dilakukan dengan tenaga lwee-kang sehingga angin pukulan ini saja
sudah cukup untuk merobohkan lawan!
Akan tetapi Hong Beng dengan gerakan Hek-hong-koan-goat (Bianglala Hitam Menutup
Bulan) menggerakkan tongkat hitamnya dengan putaran cepat sekali. Ketika tongkatnya
bertemu dengan tongkat ular lawannya, kedua tongkat itu menempel dan tongkat ular itu ikut
pula terputar karena pemuda yang lihai ini telah menggerakkan khi-kangnya untuk
“menyedot” dan menempel senjata lawan. Karena kedua tongkat itu terputar cepat di depan
mereka, otomatis pukulan tangan kiri pengemis tua itu tertolak kembali! Kim Coa Jin
mengerahkan tenaganya untuk membetot kembali tongkatnya dari tempelan tongkat hitam
lawannya akan tetapi ternyata tongkatnya seakan-akan telah berakar pada tongkat Hong Beng.
Ia merasa penasaran sekali dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya ia berseru keras sekali
dan tiba-tiba tubuhnya terjengkang ke belakang dan hampir saja ia jatuh ketika secara
mendadak Hong Beng melepaskan tempelannya!
Bukan main kagetnya Kim Coa Jin merasai kelihaian pangcu muda dari Hek-tung Kai-pang
ini. Sambil menggereng bagaikan seekor harimau terluka ia lalu menerjang maju, memutar
tongkatnya dengan hebat bagaikan angin puyuh dan kini benar-benar ia mengeluarkan ilmu
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
282
tongkatnya yang lihai, karena ia sudah maklum sepenuhnya bahwa pemuda itu bukanlah
orang sembarangan, melainkan murid orang pandai!
Akan tetapi Hong Beng tetap saja berlaku tenang. Dengan puas dan girang sekali ia mendapat
kenyataan bahwa tongkat hitam yang lemas di tangannya itu benar-benar merupakan senjata
istimewa. Biarpun tongkat itu lemas, akan tetapi dapat menerima saluran tenaga khi-kang
dengan baik sekali, sehingga tidak kalah “enaknya” dipakai daripada sebatang ranting kecil!
Ia lalu mainkan Ngo-heng-tung-hwat dan melayani lawannya dengan gerakan yang membuat
lawannya menjadi pening kepala. Ngo-heng-tung-hwat adalah semacam ilmu silat yang
mengambil sari dari lima anasir atau lima sifat, bisa sekuat baja, selemah air, sepanas api!
Juga gerakan tubuh Hong Beng yang lincah dan gesit membuat tubuhnya lenyap dari
pandangan mata, terbungkus oleh gulungan sinar tongkat yang menghitam!
Kim Coa Jin sebagai tokoh tingkat satu dari Coa-tung Kai-pang, tentu saja memiliki ilmu
silat yang sudah amat tinggi, akan tetapi harus ia akui bahwa selama hidupnya, baru sekarang
ia bertemu dengan tandingan yang demikian tangguhnya. Ilmu Tongkat Coa-tung-hwat
bukantah ilmu silat sembarangan saja, dan mempunyai sifat-sifat tersendiri yang amat kuat
dan berbahaya. Gaya Ilmu Tongkat Coa-tung-hwat ini amat ganas dan kejam serta memiliki
tipu-tipu yang licik dan berbahaya sekali karena ilmu ini tercipta diantara jalan hitam, diantara
orang-orang yang memiliki pikiran dan tabiat yang kurang baik. Tongkat yang berbentuk ular
itu saja memiliki bagian-bagian rahasia sehingga dapat mengeluarkan senjata-senjata rahasia
berupa jarum-jarum berbisa. Bahkan dari mulut ular itu, apabila dikehendaki oleh
pemakainya, dapat mengeluarkan semacam uap berbisa dan berbahaya sekali.
Hong Beng sengaja tidak mau melukai Kim Coa Jin dan hanya mendesaknya dengan ilmu
tongkat yang memang lebih tinggi tingkatnya. Pemuda ini biarpun masih muda dan
mempunyai darah panas namun ia memang cerdik sekali, dan ia maklum bahwa kalau ia
sampai melukai orang ini, maka permusuhan antara kedua partai pengemis akan menjadi
semakin mendalam. Pihak Coa-tung Kai-pang tentu akan menjadi makin sakit hati dan
menaruh dendam hati yang maha berat. Ia ingin menghindarkan hal ini, maka ia hanya
mendesak lawannya dengan tongkat hitamnya, berusaha untuk mengalahkan Kim Coa Jin
dengan serangan-serangan yang tidak membahayakan jiwanya.
Bhok Coa Jin yang menonton pertandingan itu, menjadi marah dan penasaran sekali. Bhok
Coa Jin memiliki watak yang lebih berangasan dan keras daripada suhengnya. Melihat betapa
suhengnya tak dapat menangkan pemuda itu bahkan terdesak hebat sekali, tiba-tiba ia berseru
keras dan membantu suhengnya menyerang Hong Beng.
“Pengemis curang, perlahan dulu!” Tiba-tiba terdengar bentakan merdu dan tahu-tahu
tongkat yang diputar oleh Bhok Coa Jin itu terpental mundur karena tertangkis oleh sebatang
tongkat bambu runcing yang digerakkan secara luar biasa. Bhok Coa Jin terkejut dan lebihlebih kagetnya ketika ia melihat bahwa yang menangkis tongkatnya itu adalah nona cantik
yang tadi ia lihat duduk di dekat Hong Beng.
“Bocah kurang ajar!” seru pengemis tua ini dengan marah. “Siapakah kau, berani sekali
menghalangi Bhok Coa Jin?”
“Hemm, agaknya kau terlalu sombong dan menganggap diri sendiri paling hebat,” Goat Lan
menyindir. “Kau mau tahu siapa aku? Namaku Kwee Goat Lan dan kalau lain orang takut
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
283
mendengar namamu, aku bahkan merasa muak karena nama besarmu itu sama sekali tidak
sesuai dengan sifatmu yang pengecut!”
“Kurang ajar!” Bhok Coa Jin memaki dan tongkatnya meluncur cepat mengarah tenggorokan
nona itu, akan tetapi cepat sekali sepasang tongkat bambu runcing di tangan gadis itu bergerak
dan menjepit tongkat ular Bhok Coa Jin sehingga tidak dapat dicabut kembali. Betapapun
Bhok Coa Jin membetot tongkatnya, tetap saja tongkatnya itu bagaikan terjepit oleh dua
potong besi yang kuat sekali. Barulah ia merasa amat terkejut dan heran. Bagaimana gadis
muda ini dapat memiliki tenaga yang demikian hebatnya?
Juga Goat Lan merasa gemas sekali terhadap pengemis tua yang berangasan dan kasar ini. Ia
sudah menggerakkan sepasang bambu runcingnya yang lihai ketika Hong Beng berkata
mencegahnya,
“Lan-moi, jangan layani dia. Biarkan dia mengeroyokku agar mereka tahu kelihaian Hektung Kai-pang!” Biarpun hatinya mendongkol dan tidak puas, Goat Lan maklum akan maksud
ucapan tunangannya ini dan ia melompat mundur. Ia tahu kalau ia turun tangan, maka hal ini
akan mengurangi keangkeran Hek-tung Kai-pang.
Sebaliknya, diam-diam Bhok Coa Jin merasa lega melihat gadis yang lihai itu melompat
mundur. Tak banyak cakap lagi ia lalu menyerbu dan menyerang Hong Beng, membantu
suhengnya. Kalau sekiranya keadaan Hong Beng berbahaya apabila dikeroyok dua, tentu
betapapun juga Goat Lan akan memaksa turun tangan. Akan tetapi ia maklum bahwa
menghadapi dua orang pengemis Coa-tung Kai-pang itu, tunangannya takkan kalah karena
kepandaian Hong Beng masih lebih tinggi tingkatnya. Ia lalu duduk kembali dan menonton
dengan sikap tenang. Sebaliknya, para anggauta Hek-tung Kai-pang merasa kuatir juga
melihat betapa ketua mereka dikeroyok dua oleh lawan-lawan yang amat tangguh itu.
Menghadapi keroyokan dua orang lawan yang tak boleh dipandang ringan itu, Hong Beng
memperlihatkan kehebatan ilmu tongkatnya. Ia segera merubah gerakan tongkat hitamnya dan
kini ia mainkan Ilmu Tongkat Pat-kwa-tung-hwat yang gerakannya jauh lebih cepat daripada
Ngo-heng-tung-hwat. Sebentar saja, seperti halnya lima saudara Hek ketika menghadapi
pemuda ini, dua orang pengurus Coa-tung Kai-pang ini menjadi pening dan pandangan mata
mereka menjadi kabur. Mereka merasa heran dan juga penasaran sekali karena selama hidup
mereka, belum pernah mereka menyaksikan ilmu tongkat seperti itu. Ilmu Tongcat Hek-tunghwat pernah mereka lihat, akan tetapi ilmu silat tongkat yang dimainkan oleh ketua baru dari
Hek-tung Kai-pang ini benar-benar tidak mereka kenal.
Sebaliknya, bagi Hong Beng tidak mudah untuk mengalahkan kedua lawannya tanpa
menggunakan serangan kilat yang sedikitnya akan melukai mereka, maka terpaksa, biarpun ia
tidak ingin melukai kedua lawan ini, ia harus memperlihatkan kepandaiannya. Sekali ia
mengerahkan tenaga, maka terdengar suara keras sekali dan dua batang tongkat ular itu patah
di tengah-tengah. Berbareng dengan patahnya kedua tongkat itu, dari dalam tongkat
menyembur keluar banyak sekali jarum hitam ke arah Hong Beng. Akan tetapi pemuda ini
dengan mudah saja lalu memukul semua sinar hitam itu dengan tongkatnya dan sebagai
pembalasan, dua kali tongkatnya bergerak ke bawah dan kedua orang lawannya itu terjungkal
tanpa dapat mengelak lagi!
Untung bahwa Hong Beng hanya mempergunakan sedikit tenaga, karena kalau pemuda ini
berlaku kejam, biarpun kedua orang pengemis tua itu memiliki kekebalan, mereka tentu akan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
284
patah-patah tulang kakinya. Kini mereka hanya merasa kedua kaki mereka sakit sekali dan
untuk beberapa lama mereka tak dapat berdiri. Mereka hanya duduk memandang dengan mata
terbelalak, lebih merasa heran daripada merasa marah.
“Kau... kau siapakah? Dan ilmu sihir apakah yang kaupergunakan untuk merobohkan kami?”
Akhirnya Kim Coa Jin dapat berkata sambil merangkak mencoba bangun. Demikian pula
Bhok Coa Jin dengan muka meringis menahan sakit mencoba untuk bangun berdiri.
“Sudah kukatakan bahwa namaku Sie Hong Beng dan aku telah diangkat menjadi pangcu
dari Hek-tung Kai-pang!” jawab Hong Beng sederhana. “Kalian datang dan roboh bukan
karena kehendak kami, akan tetapi kalian sendiri yang mencari penyakit. Harap jangan kalian
persalahkan kami.”
Akan tetapi jawaban ini tidak memuaskan hati mereka, dan Hek Liong yang juga merasa
tidak puas mendengar jawaban pangcunya, lalu berdiri dan berkata dengan suara lantang,
“Bukalah matamu baik-baik, kalian orang-orang Coa-tung Kai-pang! Pangcu kami adalah
putera dari Pendekar Bodoh dan murid dari Pok Pok Sianjin! Dan pendekar wanita yang
kalian pandang rendah ini, dia adalah tunangan pangcu kami yang gagah dan Li-hiap adalah
murid dari Sin Kong Tianglo dan Im-yang Giok-cu! Apakah keterangan ini masih belum
cukup?”
Pucatlah muka kedua orang pengemis tua itu ketika mendengar nama-nama besar dari para
pahlawan dan tokoh dunia persilatan itu. Akhirnya Kim Coa Jin menarik napas panjang dan
berkata, “Dasar nasib kami yang sial, bertemu dengan keturunan Pendekar Bodoh! Buah yang
jatuh takkan menggelinding jauh dari pohonnya!” Setelah berkata demikian, dengan
terpincang-pincang Kim Coa Jin dan Bhok Coa Jin meninggalkan tempat itu.
“Tahan...!” seru Hong Beng dan tubuhnya berkelebat mendahului kedua orang itu. Ia kini
berdiri menghadapi mereka sambil bertolak pinggang dan matanya memandang tajam penuh
ancaman. “Apa maksud kata-katamu tadi? Apa maksudmu berkata bahwa buah takkan jatuh
menggelinding jauh dari pohonnya?” Kim Coa Jin tersenyum mengejek “Watak anak takkan
berbeda jauh dengan bapaknya. Suhuku pernah menceritakan bahwa Pendekar Bodoh adalah
seorang yang selalu mencampuri urusan orang lain, seorang yang selalu turun tangan dan
bertindak sewenang-wenang mengandalkan kepandaiannya. Dan kau agaknya tidak berbeda
jauh dengan ayahmu itu!”
“Siapakah suhumu?” tanya Hong Beng.
“Suhu kami adalah pendiri dari Coa-tung Kai-pang, yang bernama Coa Ong Lojin!” Sambil
berkata demikian Kim Coa Jin memandang tajam karena mengharapkan pemuda itu akan
menjadi terkejut mendengar nama suhunya. Akan tetapi ternyata Hong Beng menerima
keterangan ini dengan dingin saja, sungguhpun ia pernah mendengar nama orang tua yang
sakti itu.
“Pernahkah suhumu bentrok dengan ayahku?”
“Belum, belum pernah. Akan tetapi Suhu telah cukup banyak mendengar dari kawankawannya, dan Suhu ingin sekali bertemu dengan ayahmu untuk melihat sampai di mana sih
kepandaiannya maka dia dan puteranya sesombong ini!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
285
Tiba-tiba muka Hong Beng menjadi merah sekali, tanda bahwa ia marah.
“Jahanam berlidah busuk!” makinya sehingga Goat Lan yang sudah berdiri di dekatnya
menjadi terkejut, karena tak disangkanya sama sekali bahwa tunangannya yang lemah lembut
dan sopan santun ini sekarang begitu marah sampai memaki orang. “Kau pandai benar
memutar balik duduknya perkara! Pantas saja kau menjadi pengurus Perkumpulan Tongkat
Ular karena watakmu seperti ular, lidahmu berbisa. Kalian yang datang mengacau di
perkumpulan kami akan tetapi kalian yang menuduh kami suka mencampuri urusan orang
lain! Memang ayahku suka mencampuri urusan orang lain, urusan orang jahat macam engkau
yang suka mengganggu orang, dan hal seperti itu tentu saja ayahku dan aku takkan tinggal
diam memeluk tangan!”
Hampir saja Hong Beng mengangkat tangan menjatuhkan pukulan, kalau saja Goat Lan tidak
menyentuh pundak sambil memandangnya dengan senyum menghibur. Pemuda ini menjadi
marah sekali karena mendengar ayahnya dicela oleh dua orang jahat seperti Kim Coa Jin dan
Bhok Coa Jin.
Kedua orang pengemis dari Coa-tung Kai-pang itu lalu pergi dengan muka pucat dan tidak
berani menengok lagi. Goat Lan menghibur tunangannya dengan kata-kata yang halus,
“Sudahlah, Koko, untuk apa mencurahkan kemarahan terhadap orang-orang macam itu?
Mereka sudah dikalahkan dan tentu mereka sudah merasa kapok.”
“Mudah-mudahan begitu,” jawab Hong Beng. “Akan tetapi aku masih merasa kuatir kalaukalau mereka akan datang lagi bersama kawan-kawan mereka untuk mengganggu Hek-tung
Kai-pang.”
“Kalau begitu, lebih baik kita menanti sampai beberapa hari di sini, untuk menjaga
keselamatan perkumpulan. Memang sudah menjadi kewajibanmu untuk melindunginya dari
serangan orang-orang jahat. Biarlah mereka mendatangkan suhu mereka, aku pun sudah
pernah mendengar nama Coa Ong Lojin yang terkenal jahat. Betapapun lihainya, kita pasti
akan dapat mengalahkannya.”
Demikianlah, kedua orang muda ini terpaksa menunda keberangkatan mereka dan menjaga di
tempat itu bersama para pengurus Hek-tung Kai-pang sampai sepekan lamanya. Dan ini
pulalah sebabnya maka mereka tidak cepat menyusul Lili dan Lo Sian yang pergi ke rumah
Thian Kek Hwesio sehingga setelah menanti tiga hari lamanya, Lili menjadi hilang sabar dan
mengajak bekas suhunya itu ke Shaning, ke rumah orang tuanya sebagaimana telah dituturkan
di bagian depan.
***
Betapapun Lili berusaha untuk membantu ingatan Lo Sian ia tetap gagal, karena Lo Sian
benar-benar tidak ingat apa-apa lagi.
“Suhu, kau bernama Lo Sian dan berjuluk Sin-kai (Pengemis Sakti), cobalah kau ingat-ingat
lagi, Suhu. Aku bernama Sie Hong Li atau Lili yang dulu pernah kautolong dari tangan Bouw
Hun Ti. Tidak ingatkah kau kepada suhengmu Mo-kai Nyo Tiang Le?” Untuk kesekian
kalinya dalam perjalanannya menuju ke Shaning, Lili berkata kepada bekas suhunya.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
286
Lo Sian hanya menggeleng kepalanya dengan wajah sedih. “Sesungguhnya, telah hampir
setiap malam aku mencoba mengerahkan ingatanku, akan tetapi tidak, ada gunanya.
Ingatanku akan hal-hal yang lalu seperti sebuah gua yang hitam pekat. Memang, namamu dan
juga namaku sendiri terdengar tidak asing bagi telingaku, akan tetapi aku benar-benar telah
lupa. Baiklah, mulai sekarang aku bernama Lo Sian lagi dan kau bernama Lili, akan tetapi
jangan kau suruh aku mengingat-ingat akan hal yang lalu. Aku tidak sanggup, anak baik.”
Akan tetapi, jalan pikiran Lo Sian masih biasa dan baik sekali. Pertimbangannya masih
sempurna, mencerminkan wataknya yang budiman dan gagah perkasa. Pada suatu hari, ketika
mereka sedang melanjutkan perjalanan menuju ke kota Shaning mereka melihat sebuah
makam yang dibangun indah sekali di pinggir jalan. Besarnya makam itu seperti rumah orang,
merupakan bangunan gedung yang indah dan mahal. Lo Sian nampaknya amat tertarik dan
kagum. Ia berdiri di depan makam itu sambil memandang ke dalam seperti seorang yang
terpesona.
“Suhu, coba kauingat-ingat, makam siapakah ini?”
Bagaikan bicara kepada diri sendiri, Lo Sian berkata perlahan,
“Sudah pasti bukan makam Lie Kong Sian... bukan, bukan makam Lie Kong Sian!”
Lili memandang dengan terharu. “Suhu, benar-benarkah Lie-supek telah meninggal dunia?”
Lo Sian mengangguk pasti. “Memang sudah meninggal dunia dan agaknya aku akan
mengenal kalau melihat makamnya. Akan tetapi entah di mana, entah bagaimana macamnya,
hanya aku merasa yakin akan mengenal makamnya. Dia sudah mati... tak salah lagi...”
Bicara tentang kematian Lie Kong Sian, Lo Sian nampaknya sedih sekali dan Lili lalu
terbayang kepada pemuda tampan yang telah merampas sepatunya sehingga mukanya tak
terasa pula berubah menjadi merah sekali.
“Sesungguhnya, makam siapakah begini mewah dan mendapat penghormatan sebesar ini dari
rakyat?” tanya Lo Sian sambil membaca papan-papan pujian dan kain-kain berisi sajak yang
bagus-bagus, juga kepada tempat hio (dupa) yang agaknya dibakari dupa setiap hari.
Lili menarik napas panjang. Kalau suhunya tidak mengenal makam ini, benar-benar ia sudah
lupa segala. Siapakah yang tidak mengenal makam Jenderal Ho, pahlawan besar yang gagah
perkasa dan yang telah mengorbankan nyawa untuk kejayaan negara dan bangsa?
“Suhu, masa kau tidak ingat kepada makam Jenderal Ho ini?”
Lo Sian menggeleng kepala. “Tidak, sama sekali tidak ingat lagi. Siapakah Jenderal Ho yang
kausebutkan tadi?”
“Jenderal Ho adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa. Dulu ketika bala tentara Mongol
menyerang pedalaman Tiongkok dan hampir saja dapat membobolkan pertahanan, Jenderal
Ho inilah yang berhasil memukul musuh mundur sampai keluar dari Tembok Besar. Juga
ketika terjadi pemberontakan di selatan sehingga kedudukan Kaisar sudah terjepit, kembali
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
287
Jenderal Ho dan pasukannya yang berjasa besar dan berhasil memukul hancur para
pemberontak.”
“Dan bagaimana ia sampai meninggal dunia?”
“Ia gugur dalam peperangan ketika pasukan kerajaan menyerang ke timur. Biarpun ia telah
terluka hebat di dalam peperangan itu, ia masih sanggup untuk memimpin pasukannya dan
mengatur barisan sambil duduk di atas tandu dan ia menghembuskan napas terakhir di atas
tandu itu pula! Karena jasa-jasanya terhadap negara inilah maka namanya terkenal di seluruh
negeri dan semua rakyat tidak ada yang tidak mengenal namanya. Inilah makamnya. Suhu,
apakah kita akan masuk untuk memberi penghormatan kepada makam Jenderal Ho yang
besar? Di dalam terdapat orang yang menyediakan dupa.”
Akan tetapi Lo Sian menggelengkan kepalanya dengan keras dan berkata setelah menghela
napas panjang. “Tidak perlu, aku tidak suka melihat kepalsuan ini!”
Lili memandang suhunya dengan mata terbelalak. “Apa maksudmu, Suhu? Palsu? Apanya
yang palsu?”
“Penghormatan ini, makam ini, semua adalah pemujaan dan pujian palsu belaka. Duduklah,
Lili, dan biarlah aku membuka pikiranmu yang masih hijau menghadapi segala kepalsuan
dunia.” Mereka lalu duduk di atas bangku batu yang banyak terdapat di depan makam besar
itu.
“Sebelum aku membentangkan pendapat dan pandanganku, lebih dulu jawablah, apakah kau
pernah melihat makam-makam besar yang dihormati seperti ini untuk para perajurit-perajurit
biasa yang gugur dalam peperangan membela negara?”
Lili memandang bodoh dan menggeleng kepalanya. “Belum pernah Suhu, yang dihormati
selalu adalah makam orang-orang besar, menteri-menteri, jenderal-jenderal, dan panglimapanglima besar.”
“Nah, itulah yang kukatakan palsu! Jenderal Ho ini dihormati, dipuji-puji karena katanya ia
berjasa terhadap negara, bahwa ia telah mengorbankan nyawanya demi kepentingan negara.
Bahkan orang-orang yang katanya besar, biarpun tak usah mengorbankan nyawa dalam
peperangan, tetap saja makamnya dipuji-puji, namanya dihormati dan dicatat dalam sejarah
sampai ribuan tahun! Apakah jasa perajurit kecil itu kalah besarnya? Bukankah mereka itu
pun mengorbankan nyawanya, bahkan maju di garis pertempuran terdepan, gugur lebih dulu
daripada para pemimpinnya yang hanya mengatur siasat pertempuran dari belakang? Apakah
mereka ini tidak jauh lebih berani, gagah, dan berjasa daripada jenderal-jenderal itu? Namun,
bagaimana nasib mereka? Mana makam mereka? Dan bagaimana keadaan keluarga mereka
yang ditinggalkan? Tak seorang pun mengingat lagi kepada mereka! Nah, inilah yang
kukatakan tidak adil dan palsu! Orang hanya pandai mengingat yang besar-besar selalu
melupakan yang kecil. Padahal, tanpa yang kecil-kecil, yang besar tidak ada artinya lagi.
Apakah dayanya para pembesar tanpa rakyatnya? Apakah artinya jenderal-jenderal tanpa
perajurit-perajuritnya?”
Lili tertegun mendengar ucapan suhunya ini, akan tetapi sebagai anak Pendekar Bodoh yang
banyak mendengar tentang filsafat, ia tidak mau menyerah begitu saja dan masih membantah,
“Akan tetapi Suhu, sebaliknya, apakah artinya perajurit-perajurit dalam barisan tanpa
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
288
pemimpin yang mengatur siasat peperangan? Apakah artinya rakyat tanpa pemimpin yang
pandai?”
Lo Sian mengangguk-angguk. “Memang, ada isinya juga kata-katamu tadi. Memang
keduanya perlu sekali, keduanya merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisah-pisahkan.
Betapapun juga, lebih penting anak buahnya daripada kepalanya. Tanpa jenderal, sepasukan
perajurit masih merupakan kekuatan hebat, tanpa pemimpin, rakyat masih merupakan massa
yang kuat! Sebaliknya, tanpa pasukan, jenderal hanya seorang yang tak berdaya menghadapi
lawan. Tanpa rakyat, pemimpin hilang sifatnya sebagai pemimpin. Oleh karena kukatakan
tadi bahwa keduanya merupakan dwitunggal yang tak dapat dipisah-pisahkan, mengapa orang
hanya menghormati pemimpinnya saja tanpa mengingat anak buahnya?”
Mendengar ucapan suhunya yang panjang lebar ini, diam-diam Lili merasa girang sekali,
oleh karena ia kini merasa yakin bahwa biarpun telah kehilangan ingatannya dan lupa akan
peristiwa yang terjadi pada waktu yang lalu, ternyata suhunya ini masih mempunyai pikiran
sehat dan pandangan yang mengagumkan.
Setelah bicara panjang lebar kepada Lili, Lo Sian lalu bangkit berdiri dan menghampiri
tembok yang mengelilingi makam itu. Ia mengerahkan lwee-kangnya dan dengan jari-jari
telunjuknya ia mencoret-coret tembok itu, menulis beberapa buah huruf yang artinya seperti
berikut,
Jenderal Ho menerima penghormatan berkat pasukannya yang gagah perkasa. Siapa yang
melihat makam ini harus mengingat akan jasa dari setiap orang perajurit tak dikenal dalam
pasukannya!
Biarpun ia hanya menggurat-gurat tembok yang keras itu dengan jari telunjuknya saja,
namun bagaikan sepotong besi kuat, jari itu menggores tembok sampai dalam dan tulisan itu
tidak dapat dihapus lagi!
Orang-orang yang lewat di tempat itu ketika melihat kejadian ini, lalu maju melihat dan
mereka mengeluarkan pujian melihat kekuatan jari telunjuk kakek itu. Tiba-tiba terdengar
suara amat nyaring dan keras,
“Bagus, tulisan yang gagah sekali!”
Ketika Lili dan Lo Sian menengok, ternyata di antara penonton itu muncullah seorang
pemuda berpakaian sebagai seorang panglima. Orangnya masih muda, tubuhnya tegap dan
mukanya tampan dan gagah. Dengan matanya yang tajam bersinar menatap Lili dan Lo Sian,
orang ini menjura dengan penuh penghormatan kepada Lo Sian dan Lili.
Lili melihat dengan herannya betapa semua orang yang melihat panglima muda ini, lalu
mundur sambil membungkuk-bungkuk, tanda bahwa panglima muda ini bukan orang
sembarangan dan mempunyai pengaruh yang besar. Ia merasa segan untuk membalas
penghormatan itu, akan tetapi melihat suhunya menjura dengan hormat, terpaksa ia
mengangkat kedua tangan memberi hormat pula.
“Siauwte adalah Kam Liong, dan sebagai seorang panglima dari kerajaan, siauwte amat
tertarik melihat tulisan Lo-enghiong itu. Tidak tahu siapakah gerangan Lo-enghiong yang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
289
bersemangat gagah dan berwatak jujur ini? Dan bolehkah kiranya siauwte mengetahui pula
siapakah Siocia ini, murid ataukah puterinya?”
Ucapan Kam Liong terdengar jujur dan tegas, seperti biasa ucapan seorang perajurit, dan Lo
Sian memandang kepada pemuda ini dengan mata gembira.
Ia dapat menduga bahwa pemuda ini memiliki kegagahan dan kejujuran hati. Sebagaimana
para pembaca tentu masih ingat, Kam Liong ini adalah putera tunggal dari panglima besar
Kam Hong Sin, dan Kam Liong pernah bertemu dan mengukur kepandaian dengan Lie Siong
ketika Lie Siong menolong Lilani dan Kam Liong menjadi tamu dari keluarga bangsawan
Gui.
“Terima kasih atas keramahanmu, Kam-ciangkun,” kata Lo Sian, “kami hanyalah orangorang biasa, namaku Lo Sian dan dia ini adalah muridku bernama Sie Hong Li, puteri dari
pendekar Bodoh,”
“Suhu...!” Lili menegur suhunya karena ia tidak suka dirinya diperkenalkan kepada seorang
pemuda asing. Akan tetapi Lo Sian berpemandangan lain. Memang tidak ada gunanya
memperkenalkan diri kepada orang yang berwatak buruk, akan tetapi ia melihat pemuda ini
biarpun mempunyai kedudukan tinggi, namun peramah dan sopan, maka tiada salahnya
memperkenalkan diri mereka.
Mendengar nama Lo Sian, wajah Kam Liong tidak berubah, akan tetapi ketika mendengar
bahwa gadis cantik jelita itu adalah puteri Pendekar Bodoh, sikapnya berubah sama sekali. Ia
menjadi makin menghormat dan cepat menjura kepada mereka berdua.
“Ah, tidak tahunya siauwte berhadapan dengan puteri dari Sie Tai-hiap yang terkenal! Kalau
begitu, kita bukanlah orang luar! Ayahku, Kam Hong Sin sudah kenal baik dengan ayahmu,
Nona. Bolehkah aku bertanya, di mana sekarang tempat tinggal ayahmu yang terhormat?”
Terpaksa Lili menjawab, “Ayah kini tinggal di kota Shaning.”
“Siauwte harap Lo-enghiong dan Nona sudilah mampir di kota raja, siauwte akan merasa
gembira dan terhormat sekali dapat menjadi tuan rumah.”
“Terima kasih, Kam-ciangkun. Maafkan kami tidak dapat pergi ke kota raja, karena kami
hendak melanjutkan perjalanan menuju ke kota Shaning,” jawab Lo Sian.
“Ah, sayang sekali siauwte tidak dapat mengawal Ji-wi (Anda berdua) ke Shaning, akan
tetapi biarlah lain kali siauwte mengunjungi Sie Tai-hiap untuk menghaturkan hormat.”
Maka berpisahlah mereka, Kam Liong kembali ke kota raja sedangkan Lili dan Lo Sian
melanjutkan perjalanan ke kota Shaning. Di tengah perjalanan, Lo Sian berkata kepada Lili,
“Pemuda itu gagah dan baik sekali. Aku percaya dia tentu memiliki ilmu kepandaian yang
tinggi.”
“Ayahnya memang berkepandaian tinggi, Suhu. Teecu pernah mendengar dari Ayah dan Ibu
bahwa Kam Hong Sin adalah seorang panglima yang memiliki ilmu silat tinggi dan dulu
pernah bertemu dengan kedua orang tuaku.” Gadis ini sambil berjalan lalu menuturkan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
290
kepada suhunya dengan singkat tentang pengalaman orang tuanya di waktu muda, ketika
bertemu dengan ayah panglima muda itu. (Hal ini dituturkan dengan jelas dan menarik dalam
cerita Pendekar Bodoh).
Tiba-tiba terdengar bunyi derap kaki kuda yang dilarikan cepat sekali dari belakang. Seorang
perwira tua yang menunggang kuda itu ketika tiba di dekat mereka lalu melompat turun dan
bertanya,
“Apakah kau yang bernama Lo Sian?”
Lo Sian dan Lili menjadi heran. “Betul,” jawab Lo Sian. “Ada keperluan apakah kau
mencariku?”
Perwira itu menyerahkan sepucuk surat yang tertutup kepadanya sambil melirik ke arah Lili.
“Aku diperintah oleh Kam-ciangkun untuk menyerahkan surat ini kepada seorang nona yang
berjalan bersama dengan orang tua yang bernama Lo Sian. Kurasa kaulah Nona itu.”
Lili tidak mau menerima surat itu, dan Lo Sian yang menerimanya. Setelah memberikan surat
itu, perwira ini lalu melompat ke atas kudanya kembali dan tanpa memberi kesempatan kedua
orang itu bicara, ia telah membalapkan kudanya kembali. Memang demikianlah perintah
komandannya, hanya menyampaikan surat lalu segera meninggalkan mereka lagi.
“Kurang ajar sekali panglima muda itu!” kata Lili dengan muka merah. “Apa maksudnya
memberi surat kepadaku? Aku tidak sudi membacanya!”
“Jangan terburu nafsu, Lili. Tak baik menuduh orang sebelum melihat buktinya. Kaubacalah
dulu surat ini, baru kemudian kita dapat melihat orang macam apakah adanya panglima muda
she Kam itu,” kata Lo Sian.
Dengan mulut cemberut dan muka merah Lili membuka sampul surat itu dengan kasar dan
membaca surat yang singkat itu.
Nona Sie,
Aku pernah bertemu dengan kakakmu dan karena dia menewaskan putera bangsawan, Gui
Kongcu, kini dia menjadi buruan pemerintah. Aku sebagai panglima tentu saja harus
melakukan tugas ini, sungguhpun aku bersimpati kepada kakakmu itu. Suruh dia berhati-hati
apabila bertemu dengan perwira-perwira kerajaan.
Yang tetap menghormat
orang tuamu,
Kam Liong
Setelah membaca surat ini, berubahlah wajah Lili dan ia menjadi termenung. Perbuatan
apakah yang telah dilakukan oleh kakaknya? Yang dimaksud oleh Kam Liong ini tentulah
Hong Beng, akan tetapi mengapa ketika bertemu, Hong Beng tidak bercerita sesuatu tentang
pembunuhan seorang bernama Gui Kongcu?
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
291
“Surat apakah itu, Lili?” Pertanyaan Lo Sian ini menyadarkan Lili dari lamunannya. Ia tidak
menjawab, hanya menyerahkan surat kepada bekas suhunya. Lo Sian membacanya dan
kemudian berkata,
“Aku tidak tahu siapa kakakmu, akan tetapi dari bunyi surat ini saja dapat diambil
kesimpulan bahwa pemuda she Kam itu memang benar orang baik hati.”
Akan tetapi Lili tidak menjawab karena ia masih merasa heran. Apakah perwira muda itu
tidak membohong?
“Teecu sendiri tidak tahu apakah isi surat ini tidak bohong, Suhu. Akan tetapi biarlah,
kakakku Hong Beng mana takut menghadapi ancaman dari para perwira kerajaan? Mari kita
melanjutkan perjalanan kita, Shaning tidak jauh lagi.”
Dua hari kemudian pada senja hari mereka tiba di kota Lianing, hanya beberapa puluh li lagi
dari kota Shaning. Di luar kota Lianing ini, di luar barisan hutan di lereng bukit terdapat
banyak kuil-kuil kuno yang sudah kosong, karena sudah banyak yang rusak. Pada siang hari,
banyak pelancong datang untuk melihat-lihat kuil kuno ini dan mengagumi seni ukir dan
sajak-sajak kuno yang banyak ditulis di tembok kuil. Akan, tetapi pada malam harinya,
tempat ini amat sunyi, karena selain gelap juga nampaknya angker menakutkan.
Akan tetapi Lo Sian lebih menyukai tempat seperti ini untuk bermalam daripada hotel yang
ramai. Maka, malam hari itu mereka lalu bermalam di kuil ini untuk menanti lewatnya malam
dan untuk melanjutkan perjalanan pada keesokan harinya.
Pada saat mereka menuju ke kuil itu di waktu hari telah mulai menggelap tiba-tiba di luar
hutan itu berkelebat bayangan orang. Lili yang merasa curiga melihat gerakan bayangan yang
cepat ini, segera mengejar. Akan, tetapi ketika ia tiba di luar hutan, bayangan itu sudah
lenyap.
“Hemm, bayangan itu gerakannya menunjukkan bahwa dia adalah seorang berilmu tinggi.
Malam hari ini kita harus berlaku hati-hati, Lili,” kata Lo Sian. Akan tetapi gadis yang tabah
sekali ini hanya tersenyum dan sama sekali tidak merasa takut, sungguhpun gerakan orang
tadi membuat ia kagum.
Mereka memilih kuil yang bersih di mana terdapat sebuah kamar. Lili memakai kamar ini
sebagai tempat bermalam dan ia merebahkan diri di atas sebuah pembaringan batu yang kasar.
Adapun Lo Sian memilih ruang belakang sebelum pergi ke kuil itu.
Agaknya kekuatiran Lo Sian tidak terbukti karena sampai tengah malam tidak terjadi sesuatu.
Akan tetapi, pada saat Lili dan Lo Sian sudah hampir pulas, tiba-tiba terdengar suara perlahan
dari atas genteng dan tahu-tahu bayangan hitam yang gerakannya ringan sekali melayang
turun di ruangan belakang di mana Lo Sian membaringkan tubuhnya. Pada waktu itu, bulan
telah muncul dan ruang itu yang tidak tertutup genteng, nampak agak terang oleh cahaya
bulan yang dingin.
Pendengaran Lo Sian masih amat tajam dan begitu ia mendengar suara ini, lenyaplah
kantuknya dan ia segera bangun dan duduk memandang tajam.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
292
Untuk sesaat bayangan itu tidak bergerak, terdengar sedu sedan di kerongkongannya dan
tiba-tiba bayangan itu menjatuhkan diri berlutut di depan Lo Sian sambil berkata perlahan,
“Suhuuu..., ampunkan teecu yang tidak kenal budi…”
Tentu saja Lo Sian menjadi terkejut dan heran sekali. Ia berdiri bengong untuk beberapa
lamanya, kemudian baru ia dapat berkata gagap,
“Eh, eh, nanti dulu. Kau siapakah dan mengapa menyebut Suhu kepadaku? Aku Lo Sian
tidak mempunyai murid kecuali Lili yang mengaku sebagai muridku!” Sambil berkata
demikian, ia melangkah maju dan memandang wajah orang itu dengan penuh perhatian.
Orang itu adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, akan tetapi benar-benar Lo Sian
tidak ingat lagi siapa gerangan yang datang mengaku guru kepadanya itu.
“Sudah sepatutnya Suhu tidak sudi mengaku murid kepada teecu,” pemuda itu berkata
dengan suara sedih sekali, “teecu telah Suhu tolong dan lepaskan dari bahaya maut, lalu
menerima budi Suhu yang amat besar. Akan tetapi teecu...” kembali terdengar sedu sedan di
kerongkongan pemuda itu.
“Sabar dulu, orang muda. Bukan aku tidak sudi mengaku murid kepadamu, akan tetapi
sesungguhnya aku tidak kenal siapa kau ini.”
“Suhu, teecu adalah Kam Seng, anak yang dulu Suhu tolong di sebuah kelenteng dan
kemudian menjadi murid Suhu. Lupakah Suhu kepada teecu yang bodoh?”
Akan tetapi tentu saja Lo Sian yang sudah kehilangan ingatannya itu tidak mengenalnya.
Tiba-tiba terdengar bentakan dan tubuh Lili berkelebat masuk dengan pedang Liong-coankiam di tangan.
“Bangsat rendah, kau berani datang ke sini?” Secepat kilat pedangnya menusuk ke arah tubuh
Kam Seng yang masih berlutut tidak bergerak itu! Untung pada saat itu juga Lo Sian bergerak
maju dan mencegah sehingga terpaksa Lili menahan tusukannya. Akan tetapi sebetulnya
cegahan Lo Sian itu kurang perlu, karena pada saat itu, tubuh Kam Seng telah mencelat ke
arah pintu dan menghilang di dalam gelap. Hanya terdengar suaranya dari luar,
“Aku tak dapat melawanmu, Lili, tak dapat membencimu! Betapapun benciku kepada
ayahmu, aku tak dapat memusuhimu, kau tahu akan hal ini...”
“Bangsat rendah jangan lari!” Lili membentak marah dan ia pun lalu melompat keluar
mengejar.
Akan tetapi di luar tidak terlihat bayangan Kam Seng lagi. Diam-diam Lili merasa penasaran
dan juga heran mengapa kini gin-kang dari pemuda itu jauh lebih hebat daripada dahulu.
Ketika ia kembali ke ruangan itu, terpaksa ia menuturkan kepada Lo Sian tentang Song Kam
Seng, putera dari Song Kun yang tewas di tangan ayahnya. Ia menuturkan pula betapa dulu
Kam Seng telah ditolong oleh Lo Sian. Pengemis Sakti ini menarik napas panjang dan
berkata,
“Sayang dia menaruh hati dendam kepada ayahmu, Lili. Melihat betapa pemuda itu masih
ingat kepadamu dan tidak melupakan budi, ia terhitung seorang yang masih memiliki
pribudi.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
293
Lili tidak menjawab, akan tetapi kepalanya terasa panas sekali kalau ia teringat betapa
pemuda itu dulu pernah menciumnya! Betapapun juga, agaknya ia tidak akan sampai hati
membunuh Kam Seng, kalau diingat bahwa pemuda itu pernah pula membebaskannya dari
kematian dan hinaan di dalam kuil Ban Sai Cinjin.
Memang pemuda itu adalah Song Kam Seng yang kini telah menjadi murid Wi Kong Siansu.
Semenjak kekalahannya terhadap Lili dan juga terhadap Lie Siong, pemuda ini merasa
prihatin sekali. Ia lalu mengajukan permohonan kepada suhunya untuk menurunkan ilmu silat
yang lebih tinggi dan bertekun mempelajari segala macam ilmu silat dari Wi Kong Siansu.
Tidak heran apabila ia mendapat kemajuan yang amat pesatnya. Pada waktu ia sedang
mengikuti suhunya melakukan perantauan, dan biarpun ia tidak berkata sesuatu, namun ia
merasa berdebar ketika mendengar bahwa suhunya hendak pergi ke Shaning mencari
Pendekar Bodoh! Ketika tiba di kota Lianing dan suhunya mengadakan pertemuan dengan
kawan-kawan lama, ia lalu berjalan-jalan seorang diri dan melihat Lili dengan gurunya dalam
kota itu. Tentu saja ia menjadi terkejut sekali dan hatinya terharu ketika ia melihat kedua
orang itu. Teringatlah ia ketika dulu Lili masih kecil bersama Lo Sian pula untuk
menolongnya dari ancaman pisau Hok Ti Hwesio di kuil dalam rimba milik Ban Sai Cinjin.
Diam-diam ia mengikuti mereka dan menahan nafsu hatinya untuk menjumpai suhunya itu. Ia
kuatir kalau-kalau Lili akan menyerangnya, maka menanti sampai tengah malam barulah ia
masuk ke dalam kuil menjumpai suhunya. Tidak tahunya suhunya telah lupa sama sekali
kepadanya dan hampir saja ia menjadi korban pedang Lili!
Pada keesokan harinya, Lili mengajak suhunya melanjutkan perjalanan mereka. Mereka
mampir dulu di kota Lianing untuk makan pagi. Ketika mereka memasuki sebuah rumah
makan, tiba-tiba wajah gadis itu berubah dan tak terasa pula ia memegang tangan suhunya. Lo
Sian juga menengok dan ia melihat pemuda yang malam tadi mendatangi kuil telah duduk
menghadap meja dengan tiga orang lain. Kam Seng duduk bersama Wi Kong Siansu dan dua
orang lain, dua orang setengah tua yang nampak gagah, yang seorang berhadapan dengan Wi
Kong Siansu memakai sebuah topi dan sikapnya nampak sombong sekali. Orang ke dua
bertubuh pendek dan bermuka buruk seperti seekor monyet.
Song Kam Seng juga terkejut sekali ketika melihat Lili dan Lo Sian memasuki rumah makan
itu. Untuk sesaat matanya bertemu dengan mata Lili dan pemuda itu mengerutkan keningnya
dengan hati penuh kekuatiran. Ia kuatir sekali kalau-kalau gadis itu akan bentrok dengan Wi
Kong Siansu, karena ia maklum bahwa kepandaian Lili masih kalah jika dibandingkan dengan
kepandaian gurunya. Akan tetapi Lili yang tabah sekali tidak mempedulikan Wi Kong Siansu,
bahkan dengan tenahgnya lalu mencari meja yang masih kosong. Meja satu-satunya yang
kosong adalah meja yang berada dekat meja Wi Kong Siansu itu. Akan tetapi, dengan langkah
tenang dan gagah Lili mengajak suhunya duduk menghadapi meja itu!
Wi Kong Siansu seakan-akan tidak mengetahui kedatangan nona yang pernah merasakan
kelihaian totokannya, dan ia sedang bercakap-cakap dengan orang yang bertopi. Nampaknya
mereka sedang berdebat tentang sesuatu.
Orang bertopi itu adalah seorang jago silat dari Santung, seorang ahli gwa-kang yang
memiliki tenaga gajah. Namanya Can Po Gan, dan orang yang bertubuh kecil dan bermuka
buruk itu adalah adiknya bernama Can Po Tin. Sungguhpun ia kecil dan buruk, akan tetapi
kelirulah kalau orang memandang rendah kepadanya, karena ilmu kepandaiannya bahkan
lebih lihai daripada kakaknya. Apa pula Can Po Tin terkenal memiliki kecerdikan dan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
294
kelicinan yang luar biasa sehingga di kalangan kang-ouw ia diberi nama poyokan Si Belut!
Secara kebetulan sekali, di kota ini mereka bertemu dengan Wi Kong Siansu yang telah
mereka kenal dan mereka kagumi, maka mereka lalu bercakap-cakap dengan asyiknya di
restoran itu.
Biarpun matanya tidak memandang ke arah meja di mana Wi Kong Siansu, Song Kam Seng,
dan kedua orang sudara Can itu bercakap-cakap, namun Lili tertarik juga akan percakapan
mereka dan mendengarkan sambil minum air teh yang dipesannva dari pelayan. Ketika Lo
Sian memandang kepadanya dengan mata bertanya, Lili lalu mencelupkan telunjuknya ke
dalam cawan tehnya, dan menggunakan jari telunjuk yang basah itu untuk menulis hurufhuruf di atas meja agar Lo Sian dapat membacanya. Ia menulis nama Wi Kong Siansu.
Terkejutlah Lo Sian membaca nama ini karena telah beberapa kali Lili bercerita kepadanya
tentang tosu ini yang amat tinggi kepandaiannya dan yang diakui oleh Lili bahwa ia pernah
roboh oleh totokan tosu itu! Juga Lili pernah menceritakan bahwa Wi Kong Siansu ini adalah
suheng dari Ban Sai Cinjin yang terkenal jahat. Diam-diam ia juga memperhatikan orangorang itu dan mendengarkan percakapan mereka.
“Wi Kong Totiang berkata benar, Twako,” terdengar Si Kecil Buruk berkata kepada
kakaknya yang nampak tidak percaya. “Betapapun besarnya tenaga gwa-kang, akan celakalah
kalau menghadapi seorang ahli lwee-keh, karena tenaga kasar itu hanya akan terbuang siasia.”
“Betapapun juga sukar untuk dapat dipercaya!” membantah Can Po Gan sambil memandang
kepada Wi Kong Siansu. “Aku lebih percaya bahwa tingkat kepandaian seseoranglah yang
menentukan kemenangan. Tentu saja, kalau misalnya aku menghadapi Wi Kong Totiang yang
tingkatnya lebih tinggi dariku, aku pasti akan kalah, tak peduli Wi Kong Totiang
mempergunakan gwa-kang maupun lwee-kang. Akan tetapi kalau menghadapi orang
setingkat, biarpun ia ahli lwee-keh, agaknya belum tentu aku akan kalah!”
Adiknya, Tan Po Tin tertawa dan Lili merasa bulu tengkuknya meremang mendengar suara
ketawa yang tinggi kecil seperti suara ketawa seorang perempuan itu. Orang yang suara
bicaranya demikian parau dan besar bagaimana bisa tertawa seperti itu?
“Twako, kau tidak tahu. Kalau kau menghadapi seorang yang ilmu kepandaian dan tenaga
lwee-kangnya seperti Pendekar Bodoh, tenagamu yang besar takkan ada gunanya lagi.”
Marahlah Can Po Gan mendengar ini.
“Hemm, ingin sekali aku mencoba tenaga lwee-kang dari Pendekar Bodoh itu yang banyak
didengung-dengungkan orang! Hendak kulihat apakah tenaganya ada selaksa kati!”
Wi Kong Siansu tersenyum. “Pengharapanmu akan terkabul, Can-sicu. Akan tetapi sebelum
kau bertemu dengan dia, lebih baik kau berhati-hati dan jangan terlampau mengandalkan
tenagamu. Dengan ilmu silatmu Hui-houw-ciang-hwat (Ilmu Silat Pukulan Harimau Terbang)
agaknya kau masih akan dapat menghadapinya, akan tetapi kalau kau mengandalkan
tenagamu, kau keliru. Ketahuilah bahwa di antara ahli-ahli lwee-keh ada yang menyatakan
bahwa tenaga gwa-kang amat lemahnya sehingga tak dapat menarik putus sehelai rambut.
Dan kata-kata ini memang ada betulnya!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
295
“Totiang, mengapa kau pun memandang amat rendahnya kepada tenaga orang? Hendak
kusaksikan sendiri kebenaran kata-kata sombong ini.” Kini Can Po Gan yang berangasan
menjadi marah dan penasaran sekali.
“Kau ingin bukti? Nah, mari kita buktikan agar dapat menambah pengalaman dan kau bisa
berlaku hati-hati,” jawab Wi Kong Siansu yang segera mencabut sehelai rambut jenggotnva
yang panjang. Ia memegang rambut itu pada ujungnya dan berkata,
“Can-sicu, coba kau tarik rambut ini dan kita sama-sama lihat apakah kau dapat menarik
putus rambut ini!”
Can Po Gan tertawa keras dan ia segera menjepit ujung rambut itu dengan jari telunjuk dan
ibu jarinya.
“Awas, Totiang, sekali tarik saja, akan putuslah rambut ini.” katanya dan ia mengerahkan
tenaganya menarik. Akan tetapi sungguh heran! Ketika ditarik, rambut itu tidak menjadi
putus, hanya mulur sedikit. Ia menambah tenaganya dan tahu-tahu rambut yang terjepit di
antara kedua jarinya itu terlepas, akan tetapi tidak putus!
Kembali terdengar suara ketawa yang kecil aneh dari Can Po Tin.
“Ingat, Twako. Rambut itu mempunyai tenaga lemas, apalagi berada di dalam tangan Wi
Kong Tosu! Mana kau bisa memutuskannya?”
“Rambut itu terlalu licin!” kata Can Po Gan penasaran. “Kalau tidak terlepas, tentu aku akan
dapat memutuskannya!”
“Boleh kaucoba sekali lagi, Can-sicu,” kata Wi Kong Siansu. Kembali Can Po Gan
memegang ujung rambut itu dan mulai menariknya. Rambut itu menegang sehingga menjadi
makin kecil.
Lili yang tadi mendengar nama ayahnya disebut-sebut, menjadi mendongkol sekali. Ia
maklum bahwa Wi Kong Siansu pasti telah melihatnya, karena mustahil seorang
berkepandaian tinggi seperti tosu itu tidak melihatnya yang duduk demikian dekat. Melihat
betapa tosu itu tidak pernah mempedulikannya, bahkan berani bercakap-cakap membicarakan
ayahnya, tanda bahwa pendeta itu tidak memandang mata kepadanya, membuat gadis ini
marah sekali. Ia tidak merasa takut sedikitpun juga, biarpun ia maklum akan kelihaian Wi
Kong Siansu. Melihat pertapa itu bersama orang bertopi itu kembali mendemonstrasikan
tenaga lwee-kang dan gwa-kang, Lili lalu mengambil sebuah uang mas dari saku bajunya dan
memegang uang itu diantara jari-jari tangan kirinya. Ia menanti dan melihat ke arah Wi Kong
Siansu yang masih saja mengadu tenaga melalui rambut itu dengan Can Po Gan. Setelah
dilihatnya bahwa rambut itu telah menjadi tegang dan kecil akan tetapi tetap saja tidak dapat
putus, tiba-tiba Lili lalu menggunakan jari tangannya menyentil uang emas di tangannya itu.
“Ting...!!” Nyaring sekali suara ini ketika uang emas itu terkena sentilannya dan terlempar ke
udara.
“Ah...!” Wi Kong Siansu dan Can Po Gan berseru kaget karena ketika terdengar suara yang
nyaring itu, rambut yang mereka tarik telah putus dengan tiba-tiba sekali. Tadinya Can Po
Gan mengira bahwa ia telah menang dalam pertandingan ini, akan tetapi ia merasa heran
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
296
sekali ketika melihat Wi Kong Siansu dan adiknya, Can Po Tin, tidak memandang kepadanya
dengan kagum, sebaliknya menengok dan memandang ke arah meja di sebelah kirinya dan
anehnya, pandang mata Wi Kong Siansu nampak marah.
Ia pun lalu menengok dan baru kali ini Can Po Gan melihat wajah Lo Sian yang kebetulan
juga sedang memandang kepadanya.
“Sin-kai Lo Sian!” Can Po Gan berseru ketika ia melihat dan mengenal kakek pengemis ini.
Akan tetapi tentu saja Lo Sian tidak mengenalnya dan mendengar namanya disebut, ia
memandang dengan tajam.
Sementara itu, Wi Kong Siansu telah bangkit berdiri dan berkata kepada Lili,
“Hemm, puteri Pendekar Bodoh, kau sungguh lancang dan jail seperti ayahmu! Akan tetapi
aku harus menyatakan kagum atas ketabahan hatimu. Apakah kau masih belum mengaku
kalah terhadapku?”
Lili tetap duduk di bangkunya ketika ia menjawab dengan suara dingin,
“Wi Kong Siansu, menang dan menang adalah dua macam hal yang jauh berlainan! Menang
dengan mutlak adalah kemenangan yang dicapai dengan cara jujur dan berterang. Ada pula
kemenangan yang dicapai dengan kecurangan dan dengan jalan pengeroyokan.
Kemenanganmu terhadap aku dulu adalah kemenangan yang kedua ini. Siapa mau mengaku
kalah terhadap kau? Seperti juga tadi, kaukatakan rambut jenggotmu itu tidak dapat putus,
bukankah dengan suara uang emasku saja sudah dapat terputus? Apakah hal ini boleh
dianggap kau telah kalah pula terhadapku?”
“Bocah bermulut lincah! Apakah kau datang ini sengaja hendak memancing pertempuran
dengan pinto?” Wi Kong Siansu bertanya penasaran.
“Tidak ada yang memancing pertempuran. Aku masuk ke dalam rumah makan umum untuk
makan, apa salahnya dan siapa berhak melarangku?”
“Akan tetapi, mengapa kau berlancang tangan memutuskan rambutku dengan suara
uangmu?” Wi Kong Siansu makin penasaran.
“Siapa pula menyuruh kalian membawa-bawa nama ayahku dalam percakapanmu?” balas
Lili.
Tiba-tiba Wi Kong Siansu tertawa bergelak. “Betul pandai! Aku mengaku kalah berdebat
dengan engkau. Bagus, tolong kau sampaikan kepada ayahmu, bahwa kalau dia berani, aku
mengundangnya untuk menentukan siapa yang lebih unggul, kelak pada musim semi tahun
depan di puncak Thai-san! Kalau dia tidak datang, akan kuanggap bahwa Pendekar Bodoh
hanya namanya saja yang besar, akan tetapi nyalinya kecil!”
“Siapa takut kepadamu?” kata Lili marah. “Jangan kata Ayah, aku sendiri pun tidak takut dan
akan datang pada waktu itu!”
Wi Kong Siansu duduk kembali, tidak mau mempedulikan lagi kepada Lili. Akan tetapi,
kedua saudara Can itu memandang dengan penuh penasaran. Bagaimana seorang tokoh besar
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
297
seperti Wi Kong Siansu dapat bercakap-cakap dengan seorang gadis muda seakan-akan bicara
dengan orang yang sama tinggi kedudukannya dalam kepandaian silat? Pula, Can Po Gan
yang mendengar bahwa gadis ini adalah puteri Pendekar Bodoh, dan bahwa putusnya rambut
tadi adalah disebabkan oleh gadis itu yang membunyikan uang emas dengan nyaringnya, ia
menjadi amat penasaran. Ia memandang dengan senyum mengejek dan berkata,
“Jadi inikah puteri Pendekar Bodoh? Eh, Nona, kau duduk semeja dengan Sinkai Lo Sian,
apamukah dia?” tanya Can Po Gan dengan kasar dan menyeringai.
“Dia adalah Suhuku, kau mau apa tanya-tanya?” Lili yang tabah itu balas bertanya dengan
kasar.
Tidak saja kedua saudara Can itu yang terheran, bahkan Wi Kong Siansu juga tertegun
mendengar ucapan ini. Ia pernah melihat Lo Sian dan sudah mendengar akan kepandaian
Pengemis Sakti ini, akan tetapi kalau dibandingkan dengan kepandaian gadis puteri Pendekar
Bodoh itu, Si Pengemis Sakti akan kalah jauh! Hanya Kam Seng seorang yang menundukkan
mukanya, diam-diam mengagumi Lili yang masih terus mengaku guru kepada Lo Sian
sungguhpun gadis itu kini telah memiliki kepandaian yang jauh lebih tinggi daripada Lo Sian!
Terdengar suara ketawa yang menyeramkan dari Can Po Tin ketika ia mendengar ini. “Sinkai Lo Sian, benar-benarkah Nona ini muridmu? Dan muridmu sudah berani berlaku kurang
ajar terhadap Wi Kong Siansu, kaudiamkan saja? Alangkah kurang ajar dan tak tahu adat kau
ini!”
Akan tetapi dengan tenang Lo Sian menjawab dengan suaranya yang dalam, “Kalian ini
siapakah? Aku tidak kenal dengan Ji-wi (Tuan Berdua), mengapa Jiwi hendak
menggangguku?”
Mendengar jawaban ini, kedua saudara Can itu melengak. Akhirnya Can Po Gan yang
berangasan itu lalu bangkit berdiri dan dengan langkah lebar ia menghampiri Lo Sian.
“Pengemis jembel! Kau berpura-pura tidak mengenal kami? Dulu kami pernah mengampuni
jiwa anjingmu dan sekarang kau masih berani berlaku demikian kurang ajar dan tidak
memandang mata? Agaknya kau minta dihajar lagi!” Sambil berkata demikian, tangan kanan
orang berangasan ini melayang dari atas dan memukul lengan tangan Lo Sian yang diletakkan
di atas meja. Lo Sian cepat menarik lengannya dan “brakk!!” kepalan angan Can Po Gan yang
keras itu bagaikan palu baja menimpa meja sehingga tembus! Cawan air teh di depan Lili
melayang ke atas dengan cepat karena getaran meja itu sehingga kalau tidak cepat-cepat Lili
menangkapnya, tentu isinya akan tumpah. Gadis ini menjadi marah sekali dan cepat ia berdiri,
sementara itu Lo Sian sudah melompat ke belakang untuk menghindarkan diri dari serangan
selanjutnya.
“Buaya darat!” Lili memaki sambil memandang dengan mata berapi. “Kepandaian macam itu
saja kaupamerkan di sini? Apakah kau tukang jual obat kuat?”
Can Po Gan memandang kepada Lili dan senyum mengejek menghias bibirnya yang tebal.
“Apa kau tidak takut melihat tanganku ini?” Ia mengacungkan kepalan tangan kanannya yang
kini menjadi kemerah-merahan.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
298
Melihat cahaya merah yang menjalar di sepanjang lengan tangan yang besar itu diam-diam
Lili terkejut dan mengetahui bahwa lengan tangan itu memiliki kekuatan Ang-see-jiu yang
berbahaya. Akan tetapi ia tidak takut, bahkan ia lalu membuka telapak tangannya,
mengulurkan ke depan dan berkata,
“Siapa sih takut kepada lengan tangan kasar berbulu macam itu? Gunanya paling banyak
hanya untuk memukul meja atau menakut-nakuti orang.”
“Bocah bermulut lancang! Kepalamu pun akan tertembus terkena pukulanku,” kata Can Po
Gan.
Lili tersenyum dingin. “Begitukah? Coba kautembuskan telapak tanganku ini, kalau dapat
membuat aku merasa sakit, aku mau berlutut di depan kakimu dan mengangkat kau sebagai
Sucouw (Kakek Guru)!”
“Kau menantang!”
“Beranikah kau memukul tanganku?”
“Siapa takut? Awas, kuhancurkan tanganmu yang kecil halus!” Setelah berkata demikian,
Can Po Gan telah melakukan pukulan keras ke arah telapak tangan Lili yang diperlihatkan
kepadanya.
Tanpa dapat terlihat oleh orang lain, karena gerakannya cepat sekali, tangan gadis itu
bergeser sedikit dan jari telunjuknya menyentil dengan cepat dan keras ketika lengah tangan
lawannya itu meluncur lewat menyerempet telapak tangannya.
“Aduh...!” Can Po Gan menarik kembali lengannya, akan tetapi ia tidak dapat menggerakkan
lengan tangan kirinya yang kini telah menjadi kaku seperti sepotong kayu itu! Ternyata ketika
tadi dia memukul, dari gerakan anginnya saja Lili sudah dapat mengelak sedikit tanpa
menggerakkan lengan, hanya menggerakkan pergelangan tangannya, kemudian ia telah
melakukan sentilan jari telunjuk untuk menotok jalan darah pada pergelangan siku lawannya!
“Jangan main-main terhadap gadis itu Sicu!” kata Wi Kong Siansu yang sudah melangkah
maju dengan beberapa kali urutan serta tepukan, totokan itu dapat dibebaskan dari lengan
tangan Can Po Gan. Akan tetapi Can Po Gan dan Can Po Tin sudah menjadi marah sekali dan
mereka lalu mencabut golok masing-masing, siap maju menggempur Lili.
Akan tetapi, sambil mengeluarkan seruan nyaring, tubuh Lili mencelat ke atas meja dan kini
ia telah berdiri di atas meja dengan tangan memegang sebatang pedang yang berkilauan
saking tajamnya, yakni pedang Liong-coan-kiam!
“Kalian mau mencari mampus? Boleh, boleh, majulah!” tantangnya dengan sikap gagah
sekali.
Melihat ini, kedua saudara Can itu menjadi gentar juga. Sesungguhnya, kekalahan Can Po
Gan tadi bukan karena ilmu kepandaiannya jauh di bawah tingkat kepandaian Lili, akan tetapi
terjadi oleh karena kurang hati-hatinya dan kesembronoannya juga karena tadinya ia
memandang rendah. Sekarang melihat ketabahan dan kekerasan gadis itu, apalagi mengingat
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
299
bahwa gadis itu adalah puteri Pendekar Bodoh setidaknya mereka menjadi ragu-ragu. Wi
Kong Siansu lalu maju pula dan mencegah mereka.
“Ji-wi Can-sicu, tak perlu membikin ribut di sini. Kelak saja pada permulaan musim semi
tahun depan, kita mempunyai kesempatan banyak untuk mengadu tenaga dengan Nona ini.”
“Baiklah, kami akan menanti datangnya saat itu dengan hati tidak sabar,” kata Can Po Gan
sambil duduk kembali dan menyimpan senjatanya. Adapun Lili ketika melihat sikap lawannya
ini, juga tidak mau mendesak lebih lanjut, karena gadis ini bukan tidak tahu bahwa kalau
sampai terjadi pertempuran dan Wi Kong Siansu turun tangan, sukar sekali bagi dia dan
suhunya untuk mencapai kemenangan.
Lili melompat turun, menyimpan pedangnya dan memberi ganti kerugian kepada pelayan
restoran, kemudian ia mengajak suhunya untuk cepat-cepat meninggalkan tempat itu, karena
kini dia menjadi perhatian semua orang yang tadi menyaksikan peristiwa itu.
“Jangan lupa sampaikan undanganku kepada ayahmu!” Wi Kong Siansu masih berseru keras
ketika Lili dan Lo Sian sudah tiba di luar restoran. Gadis itu tidak menjawab karena ia merasa
mendongkol sekali. Terang-terangan ayahnya ditantang oleh tosu itu dan ia merasa penasaran
sekali tidak dapat menghadapi tosu itu sekarang juga!
Ketika tiba di Shaning dan memasuki rumah keluarga Sie, Lo Sian disambut oleh Cin Hai
dan Lin Lin dengan penuh penghormatan. Kedua suami-isteri pendekar ini merasa amat
berterima kasih kepada Lo Sian dan mereka menyambutnya sebagai seorang penolong besar.
Sebaliknya Lo Sian merasa amat canggung dan juga kagum, melihat sepasang suami isteri
yang namanya telah terkenal di seluruh penjuru bumi Tiongkok, akan tetapi yang ternyata
bersikap ramah tamah dan sederhana, juga, suami-isteri itu amat tampan dan cantik.
Ketika mendengar penuturan Lili tentang keadaan Lo Sian, Cin Hai dan Lin Lin mengerutkan
keningnya. Apalagi kelika mereka mendengar bahwa Lo Sian merasa pasti akan kematian Lie
Kong Sian, kedua orang ini menjadi amat berduka.
“Tidak dapatkah kau mengingat di mana dan bagaimana Lie-suheng menemui kematiannya?”
tanya Cin Hai, akan tetapi Lo Sian menggeleng kepalanya.
“Menyesal sekali, Tai-hiap. Ingatanku sudah lenyap sama sekali, dan aku sendiri pun tidak
tahu mengapa aku berhal seperti ini. Sudah kucoba untuk mengerahkan ingatan, akan tetapi
hasilnya nihil belaka. Hanya dapat kurasakan dan agaknya sudah terukir dalam-dalam di
hatiku bahwa Lie Kong Sian Tai-hiap telah tewas, entah dengan cara bagaimana dan di mana,
yang sudah pasti menurut perasaan hatiku, tewas dalam cara yang amat mengerikan!”
“Suhu sudah lupa segala macam peristiwa yang lalu, Ayah. Bahkan nama sendiri pun dia
telah lupa. Akan tetapi ketika aku menjumpai Suhu dalam keadaan lupa ingatan dan rusak
pikiran, Suhu berseru-seru ketakutan dan mengucapkan kata-kata 'pemakan jantung', entah
apa yang dimaksudkan.”
Mendengar kata-kata ini, wajah Lo Sian berubah agak pucat dan ia menghela napas berkalikali. “Ucapan ini sudah seringkali membuatku tak dapat tidur. Aku sendiri merasa bahwa
dalam ucapan ini terkandung hal yang amat hebat, akan tetapi sayang sekali, aku tak dapat
mengingatnya lagi.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
300
Cin Hai dan Lin Lin merasa kasihan melihat keadaan penolong puterinya ini dan tahu bahwa
orang ini perlu beristirahat dan mendapatkan hiburan. Maka ia merasa girang sekali
mendengar keinginan Lili untuk menahan suhunya tinggal di situ. Mereka menyatakan
persetujuan mereka, bahkan mereka setengah memaksa Lo Sian untuk tinggal di situ,
sehingga lenyaplah keraguan dan kesungkanan dari hati Lo Sian. Semenjak saat itu, ia tinggal
bersama Pendekar Bodoh dan menempati kamar bekas tempat tinggal Yousuf yang masih
dibiarkan kosong.
Ketika Cin Hai dan isterinya mendengar penuturan Lili tentang Wi Kong Siansu yang
menantang mereka untuk mengadu kepandaian di puncak Thai-san pada musim semi tahun
depan, Cin Hai hanya tersenyum saja dan berkata tenang,
“Wi Kong Siansu seperti anak kecil saja. Betapapun juga, undangan macam ini tak boleh
tidak harus disambut dengan gembira.”
Sebaliknya, Lin Lin berkata dengan muka merah,
“Pendeta sombong! Kalau memang dia merasa penasaran dan hendak mencoba kepandaian,
mengapa dia tidak terus datang saja sekarang? Siapa yang takut menghadapinya?”
Mendengar percakapan suami-isteri ini, Lo Sian menjadi kagum sekali. Sikap Pendekar
Bodoh demikian tenang dan tabah sebagaimana layaknya sikap seorang pendekar besar yang
telah luas sekali pengetahuannya. Dan sikap dari Lin Lin demikian gagahnya, mengingatkan
Lo Sian kepada watak Lili.
“Menurut pendapatku yang bodoh, seorang yang mengundang pibu dengan menyebutkan
waktu dan tempat tertentup harus dihadapi dengan hati-hati. Kalau Wi Kong Siansu telah
menetapkan waktu tahun depan dan mengambil tempat di puncak Thai-san, tentulah dia telah
merencanakan hal ini dengan semasak-masaknya dan takkan mengherankan apabila Tai-hiap
kelak tidak hanya akan bertemu dengan dia seorang, melainkan dengan orang-orang lain yang
lihai.”
Cin Hai mengangguk-angguk dan Lin Lin segera berkata dengan wajah berseri, “Lo-twako,
mendengar bicaramu aku teringat kepada mendiang ayah angkatku! Kau sama benar dengan
ayah, hati-hati dan jauh pandangan.”
Sebentar saja Lo Sian merasa cocok dan suka sekali dengan sepasang pendekar besar itu yang
menyebutnya twako (kakak tertua), sedangkan Lili lalu menyebutnya twa-pek (uwa).
Hong Beng dan Goat Lan setelah menjaga di Istana Pengemis, menanti kalau-kalau pihak
Coa-tung Kai-pang datang membikin pembalasan, ternyata tidak terjadi sesuatu. Oleh karena
itu, Hong Beng lalu minta diri dari kelima saudara Hek, dan berangkatlah bersama
tunangannya menyusul Lili ke kota Kiciu, tempat tinggal Thian Kek Hwesio, ahli pengobatan
di kuil Siauw-lim-si itu.
Thian Kek Hwesio menerimanya dengan girang karena memang sudah lama ia kenal dan
mengagumi Goat Lan, murid tersayang dari sahabat baiknya, Sin Kong Tianglo. Ia merasa
makin gembira ketika mendengar betapa Goat Lan telah berhasil mendapatkan To-hio-giokko obat satu-satunya untuk penyakit putera kaisar. Ketika Goat Lan menyatakan terus terang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
301
bahwa ia hendak ke Tiang-an dulu untuk mengambil kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip untuk
mempelajari cara mempergunakan dua macam obat itu, Thian Kek Hwesio segera berkata,
“Tidak usah, Nona. Tak perlu kau membuang waktu untuk mengambil jalan memutar.
Penyakit putera kaisar sudah payah sekali dan kalau kau tidak cepat-cepat pergi ke kota raja
dan mengobatinya, mungkin kau akan terlambat dan pengharapan mendiang sahabat baikku
akan sia-sia belaka.”
Terkejut Goat Lan ketika ia mendengar ucapan ini.
“Habis bagaimana baiknya, Losuhu? Aku tidak tahu apa macamnya penyakit yang diderita
oleh Pangeran Muda itu dan tidak tahu cara bagaimana harus mempergunakan obat yang
langka ini.”
“Jangan kuatir, pinceng pernah mendengar keterangan dari sabahat baikku gurumu itu.
Baiklah kubentangkan sedikit agar lebih jelas bagimu. Penyakit yang diderita oleh Pangeran
Mahkota ini adalah semacam penyakit di dalam usus besar. Menurut gurumu, usus besar itu
terluka hebat dan di situ terdapat bisul yang sudah pecah dan menjadi semacam luka yang
makin lama makin menghebat. Oleh karena itulah, maka Pangeran Muda itu selalu
mengeluarkan kotoran darah dan tubuhnya lemas, perutnya terasa sakit. Kalau kau sudah
menghadap Hong-siang (Kaisar) dan Hong-houw (Permaisuri) dan dibawa ke tempat si sakit,
kau lebih dulu harus memberinya Giok-ko (Buah Mutiara) sebuah untuk dimakan mentahmentah. Giok-ko ini khasiatnya untuk membersihkan darah sehingga daya penolak luka di
dalam itu akan menjadi kuat. Kemudian, To-bio (Daun Golok) itu boleh kau rebus dengan air
sampai airnya tinggal satu bagian, lalu berikan untuk diminum. Daun ini sarinya manjur sekali
untuk mengeringkan lukanya. Setelah tiga hari berturut-turut kau memberi obat To-hio-giokko kepada Pangeran, selanjutnya dapat kaulakukan pengobatan dengan obat-obat penguat
tubuh, pembersih darah seperti biasa, bahkan amat baik kalau kau mempergunakan juga tiamhoat (ilmu totok) untuk melancarkan jalan darah!”
Setelah mendapat keterangan demikian, Goat Lan lalu minta diri untuk segera menuju ke
kota raja. Kepada Hong Beng ia berkata setelah keluar dari kuil itu.
“Koko, kau mendengar sendiri bahwa aku harus segera ke kota raja untuk mengobati putera
Kaisar, demi menjaga dan menjunjung nama baik dan nama kehormatan mendiang Suhu Sin
Kong Tianglo. Apakah kau hendak menyusul Lili, ataukah...?” Goat Lan tak dapat
melanjutkan kata-katanya karena sesungguhnya hatinya masih ingin sekali melakukan
perjalanan dengan tunangan yang gagah berani dan tampan ini. Tentu saja sebagai seorang
gadis yang sopan dan tinggi hati, ia tidak dapat menyatakan suara hatinya.
Seperti halnya Goat Lan, biarpun ia seorang laki-laki namun Hong Beng juga masih sungkan
dan malu-malu. Ia pun tidak pandai menyatakan perasaan hatinya melalui bibirnya, maka
dengan muka merah ia menjawab,
“Lan-moi, sebetulnya aku pun ingin sekali ke kota raja, dan... dan aku kuatir kalau-kalau para
tokoh kang-ouw yang merasa iri hati terhadap mendiang suhumu, akan datang mengganggu
dan menghalangimu mengobati putera Kaisar.”
“Aku pun berpikir demikian, Koko. Bukan tak mungkin sekarang telah banyak yang
mengincar gerak-gerikku.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
302
“Biarlah aku mengawanimu sampai selesai tugasmu ini, Moi-moi, tetapi... kalau kau tidak
keberatan.”
“Mengapa keberatan?” Goat Lan memandang kepada tunangannya yang kebetulan juga
menatap wajahnya. Dua pasang mata kembali bertemu untuk kesekian kalinya dan keduanya
menundukkan muka dengan wajah merah dan bibir tersenyum. Tak perlu lagi kata-kata pada
saat seperti itu. Mereka telah saling mendengar seribu satu ucapan yang keluar dari hati
masing-masing.
“Hayo kita berangkat!” Akhirnya Hong Beng memecahkan kesunyian yang menekan dan
membuat mereka merasa canggung. Keduanya lalu berlari cepat menuju ke kota raja.
Memang kekuatiran kedua orang muda ini betul-betul terjadi. Di dalam kota raja terdapat
komplotan yang siap sedia menghalangi semua usaha mengobati Pangeran yang sedang rebah
menderita sakit yang amat berat. Mereka ini dikepalai oleh seorang selir kaisar yang juga
mempunyai putera dan yang mengharapkan agar puteranya kelak yang menggantikan
kedudukan kaisar apabila pangeran itu meninggal dunia karena sakitnya. Selir kaisar inilah
yang mengharapkan kematian putera Kaisar, dan ia telah mempercayakan semua urusan ini
untuk dilaksanakan kepada seorang pembesar tinggi yang menjadi kepala pengawal istana
bernama Bu Kwan Ji yang sebenarnya telah lama mempunyai hubungan gelap dengan selir
kaisar itu!
Bu Kwan Ji adalah seorang yang pandai ilmu silat, termasuk perwira kelas satu di kota raja,
dan mempunyai banyak kawan sepaham terdiri dari para perwira bayangkari yang tinggi ilmu
silatnya. Para kawan-kawannya maklum akan keadaan Bu Kwan Ji yang dikasihi oleh Kaisar
dan selirnya, dan bahwa Bu Kwan Ji mempunyai banyak harapan bagus di masa depan. Maka
tentu saja mereka suka membantu agar kelak ikut pula merasakan kesenangan. Rombongan
pengkhianat ini lalu minta bantuan pula dari tiga orang tabib yang paling terkenal di kota raja.
Mereka mengadakan hubungan dan Bu Kwan Ji menjanjikan upah besar dan pembagian
keuntungan apabila kelak ia dapat menduduki kursi tinggi.
Memang harta benda dan pangkat dapat memabukkan manusia dan dapat membutakan mata
batin manusia. Tiga orang tabib itu bukanlah orang sembarangan, bahkan ilmu silat dan ilmu
pengobatan mereka sudah amat terkenal di kalangan kang-ouw. Yang seorang bernama Ang
Lok Cu, seorang pendeta dan pertapa yang terkenal dari Bukit Kun-lun-san. Orang ke dua dan
ke tiga adalah dua orang hwesio gundul, kakak beradik seperguruan yang tinggi ilmu silat dan
ilmu pengobatan mereka. Mereka ini bernama Cu Tong Hwesio dan Cu Siang Hwesio. Kedua
orang hwesio ini dulu pernah belajar ilmu pengobatan dari Thian Kek Hwesio, akan tetapi
setelah dapat menduga bahwa dua orang hwesio ini bukanlah orang-orang yang berhati teguh
dan suci, Thian Kek Hwesio menghentikan pelajaran mereka. Adapun Ang Lok Cu adalah
murid dari seorang tosu perantau yang ahli dalam ilmu pengobatan.
Tadinya, tiga orang pendeta ini datang ke kota raja untuk mencoba kepandaian mereka
mengobati putera Kaisar, akan tetapi mereka tidak berhasil. Kemudian mereka mendengar
tentang kesanggupan Sin Kong Tianglo, maka mereka menjadi iri hati dan bersama beberapa
orang tokoh kang-ouw mereka menjumpai Sin Kong Tianglo dan memperolok-olokannya dan
memanaskan hati Sin Kong Tianglo sehingga kakek sakti ini pergi mencari obatnya lalu
menjumpai kematian di daerah dingin itu. Ketika Bu Kwan Ji mendengar tentang kekecewaan
dan iri hati dari tiga orang pendeta ini, maka ia lalu datang menghubunginya dan kini ketiga
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
303
orang pendeta ini menerima tugas untuk mencegah pengobatan untuk putera Kaisar ini.
Melalui selir Kaisar, Bu Kwan Ji berhasil membuat Kaisar mengangkat ketiga orang pendeta
itu menjadi tabib-tabib penjaga putera Kaisar, dan mereka inilah yang berhak memeriksa
obat-obat yang hendak diminumkan kepada yang sakit.
Dengan demikian, maka bukanlah tugas yang ringan bagi Goat Lan untuk mengobati putera
Kaisar itu, karena menghadapi segerombolan serigala kejam tanpa diketahuinya lebih dulu di
mana serigala-serigala itu bersembunyi. Baiknya dia dan Hong Beng sudah dapat menduga
lebih dulu bahwa tugasnya ini tentu akan mengalami halangan pihak yang memusuhinya.
Halangan pertama dijumpai oleh Goat Lan dan Hong Beng ketika mereka telah datang di
kota raja dan hendak menghadap Kaisar. Yang menerima adalah kepala bayangkari yang juga
telah menjadi kaki tangan Bu Kwan Ji, maka tidak mudah bagi kedua orang muda ini untuk
menghadap Hong-siang (Kaisar). Mereka dibawa masuk ke dalam sebuah kantor besar di
mana duduk Bu Kwan Ji yang memeriksa mereka.
“Kalian ini dari manakah dan dari siapakah kalian membawa obat untuk putera Kaisar?”
tanya Bu Kwan Ji dengan pandangan mata tajam.
Mendengar pertanyaan yang kasar ini, Goat Lan mengerutkan keningnya. Akan tetapi Hong
Beng yang tahu akan kekerasan hati Goat Lan, mewakili tunangannya menjawab,
“Kami mewakili Yok-ong (Raja Obat) Sin Kong Tianglo, membawa obat penyembuh
penyakit Pangeran. Harap saja Ciangkun sudi membawa kami menghadap kepada Hong-siang
atau langsung membawa kami kepada yang sakit agar supaya pengobatan tidak terlambat.”
“Mudah saja kau bicara hendak mengobati Pangeran!” tiba-tiba Bu Kwan Ji membentak
marah. “Aku sudah bosan mendengar ocehan segala macam tukang obat. Sudah ratusan ahli
pengobatan yang tua-tua dan berpengalaman tidak berhasil menyembuhkan Beliau, kalian ini
orang-orang muda berani sekali membawa obat palsu. Apakah kalian tidak menyayangi jiwa
sendiri? Awas, pengobatan yang tidak berhasil akan membuat kalian ditangkap dan menerima
hukuman berat!”
Goat Lan menjadi mendongkol sekali dan cahaya berapi telah timbul pada sepasang matanya.
Ingin sekali ia maju dan menampar mulut perwira ini, akan tetapi kembali Hong Beng yang
menyabarkannya karena pemuda ini telah berkata pula kepada Bu Kwan Ji,
“Maaf, Ciangkun. Kami datang dengan maksud menolong. Dulu Yok-ong telah berjanji
hendak menyembuhkan penyakit putera Kaisar, dan kini muridnya ini telah datang membawa
obat itu. Berilah kami kesempatan untuk menolong nyawa putera Kaisar yang sakit.”
“Hemm, benarkah kau murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo?” tanya Bu Kwan Ji kepada
Goat Lan. “Dan kau sudah mendapatkan obat yang manjur untuk mengobati penyakit putera
Kaisar.”
“Benar!” jawab Goat Lan singkat.
“Kalau begitu, kautinggalkan obat itu kepadaku agar aku dapat memberi perintah kepada
tabib-tabib istana untuk meminumkan obat itu kepada Pangeran.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
304
“Tidak bisa demikian!” Goat Lan berkata gemas. “Obat itu tidak boleh diminumkan oleh
orang lain, harus aku sendiri yang mengobatinya.”
“Kalau begitu, pergilah kalian dari sini!” Bu Kwan Ji menggebrak meja.
Mendengar ucapan ini, Goat Lan bangkit berdiri dari tempat duduknya. “Bagus! Macam
apakah perwira seperti kau ini? Kau kira kami takut kepadamu? Kami datang hendak
menolong putera Kaisar dan kau sengaja mengusir kami? Kalau kami melaporkan hal ini
kepada Hong-siang, aku kuatir kau takkan dapat mempertahankan pangkatmu lagi!”
Bu Kwan Ji memandang tajam dan melihat sikap kedua orang muda yang gagah ini, hatinya
menjadi ragu-ragu. “Pulanglah dan besok kalian boleh datang kembali. Aku harus melaporkan
hal ini kepada Kaisar lebih dulu. Aku hanya menjalankan tugas, karena siapa tahu kalau ada
yang datang berpura-pura membawa obat akan tetapi sebenarnya hendak meracuni
Pangeran!”
Dengan mendongkol Goat Lan dan Hong Beng terpaksa keluar dari situ, karena mereka mau
tak mau harus membenarkan pula ucapan ini. Memang Bu Kwan Ji orangnya cerdik sekali.
Melihat keadaan kedua orang muda itu dan mendengar bahwa nona itu adalah murid Sin
Kong Tianglo yang sakti, ia tidak berani berlaku sembrono. Ia menyuruh kedua orang muda
itu pulang dulu untuk mencari kesempatan mengatur siasat.
Ketika Goat Lan dan Hong Beng keluar dari situ, mereka melihat tiga orang perwira
menyusul mereka dan berjalan mengikuti mereka.
“Kalian mau apa?” Goat Lan membentak marah.
“Oleh karena Ji-wi hendak mengobati putera Kaisar, maka kami disuruh mengikuti Ji-wi dan
mencari tahu di mana Jiwi bermalam, agar mudah memanggil apabila ada perintah dari Kaisar
untuk memanggil Ji-wi menghadap,” jawab seorang perwira itu.
Hong Beng dan Goat Lan tak dapat membantah dan setelah mereka mendapat kamar dalam
sebuah hotel, ketiga orang perwira itu pergi meninggalkan mereka.
“Malam ini kita harus berhati-hati,” kata Hong Beng kepada Goat Lan. “Siapa tahu kalaukalau ada penjahat datang mengganggu. Ayah seringkali bercerita tentang penjahat-penjahat
yang pandai di kota raja.”
Goat Lan mengangguk dan masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam. Hong Beng
juga duduk di dalam kamarnya, duduk bersila di atas ranjang, tidak mau tidur, dan hanya
beristirahat sambil bersamadhi.
Menjelang tengah malam, baik Hong Beng maupun Goat Lan yang duduk pula bersamadhi,
dapat mendengar gerakan kaki beberapa orang yang amat ringan dan halus di atas genteng
hotel. Kedua orang muda itu tersenyum dan dengan penuh perhatian keduanya memasang
telinga untuk mengikuti gerak-gerik orang di atas genteng. Mereka berdua sudah memiliki
pendengaran yang amat tajam, maka dengan mudah dapat menduga bahwa yang datang
adalah tiga orang yang ilmu gin-kangnya cukup tinggi.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
305
Kedua orang muda itu tidak bergerak, menanti sampai ketiga orang penjahat malam itu turun
dari atas genteng. Akan tetapi sungguh mengherankan karena mereka bertiga itu tidak turun,
hanya berjalan hilir mudik beberapa kali seperti orang-orang yang merasa ragu-ragu. Tibatiba terdengar bunyi genteng digeser, baik di atas kamar Hong Beng maupun di atas kamar
Goat Lan. Kedua orang muda itu dengan urat saraf tegang menanti datangnya senjata rahasia,
mereka tidak takut sama sekali. Hendak mereka lihat bagaimana penjahat-penjahat itu akan
bertindak terhadap mereka di dalam kamar yang gelap itu.
Hong Beng sudah siap-siap dengan hati-hati sekali. Ia mempunyai dua dugaan, yaitu penjahat
itu akan menyerang dengan senjata rahasia dengan ngawur, atau akan melompat turun ke
dalam kamarnya dari atas genteng. Dan tiba-tiba dari atas melayang turun benda kecil, akan
tetapi jauh dari tempat ia berdiri di sudut kamar. Ia hampir tertawa melihat ketololan penjahat
itu, akan tetapi alangkah kagetnya ketika benda itu jatuh di lantai, nampak asap mengebul. Ia
hendak melompat keluar melalui jendela, akan tetapi tiba-tiba ia mencium bau yang amat
wangi dan robohlah Hong Beng terguling dalam keadaan pingsan! Ternyata bahwa asap itu
adalah asap yang mengandung obat memabukkan yang luar biasa kerasnya.
Goat Lan mengalami peristiwa yang sama. Sebuah benda juga jatuh di dalam kamarnya dan
mengeluarkan asap. Akan tetapi, sebagai murid Sin Kong Tianglo yang berjuluk Raja Obat
atau Raja Tabib, gadis ini selalu mengantongi penolak racun. Begitu ia melihat benda itu
mengeluarkan asap ia telah menjadi curiga dan cepat ia memasukkan tiga buah pel merah ke
dalam mulutnya, sehingga ketika ia mencium bau wangi itu, ia tidak jatuh pingsan,
sungguhpun ia merasa agak pening juga.
“Bangsat curang!” ia memaki dan cepat tubuhnya melayang ke atas melalui jendela
kamarnya. Ia melihat bayangan dua orang hwesio di atas genteng, maka langsung ia
menyerang dengan bambu runcingnya. Kedua orang hwesio itu bukan lain adalah Cu Tong
Hwesio dan Cu Siang Hwesio. Mereka ini datang bersama Ang Lok Cu setelah mendapat
kabar dari Bu Kwan Ji bahwa murid Sin Kong Tianglo telah datang membawa obat untuk
putera Kaisar. Mereka hendak mendahului kedua orang muda itu dan mencuri obat yang
dibawanya. Ang Lok Cu yang mempunyai julukan Ngo-tok Lo-kai (Setan Tua Lima Racun)
lalu mengeluarkan asap beracunnya yang lihai untuk membuat kedua orang muda itu pingsan
agar memudahkan pekerjaan mereka. Setelah mendengar Hong Beng roboh di dalam
kamarnya, Ang Lok Cu lalu melayang turun ke dalam kamar pemuda itu, sedangkan kedua
hwesio kawannya itu masih menanti untuk mendengarkan suara robohnya gadis di dalam
kamar lain.
Akan tetapi alangkah kagetnya kedua orang hwesio jahat itu ketika mendengar suara angin
dan makian Goat Lan. Mereka lebih terkejut lagi ketika melihat betapa dengan gerakan yang
luar biasa cepatnya gadis cantik itu telah menyerang mereka dengan sepasang bambu runcing
yang menotok ke arah dada mereka. Cu Tong Hwesio dan Cu Siang Hwesio cepat mengelak
sambil mencabut pedang mereka, akan tetapi Cu Siang Hwesio kurang cepat gerakannya
sehingga satu tendangan susulan dari Goat Lan membuat ia menjerit kesakitan dan tubuhnya
terguling di atas genteng.
“Lihai sekali!” seru Cu Tong Hwesio dan tanpa membuang waktu lagi, melihat gadis itu
benar-benar hebat sepak-terjangnya, lalu hwesio ini menyambar tangan adiknya dan
membawanya melompat turun dari atas genteng dengan gerakan cepat sekali.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
306
Goat Lan tidak mau mengejar karena ia merasa kuatir akan keadaan tunangannya. Ia cepat
melompat turun dan sekali tendang saja jendela kamar Hong Beng terbuka. Asap yang wangi
keluar dari jendela itu. Goat Lan masih dapat melihat berkelebatnya sesosok tubuh manusia
keluar dari kamar tunangannya melalui lubang di atas genteng. Akan tetapi ia tidak mau
mengejar, terus menghampiri ke dalam kamar dan cepat mencari tunangannya.
Ternyata bahwa tosu yang memasuki kamar Hong Beng itu telah menyalakan lilin dan telah
memeriksa buntalan pakaian Hong Beng. Goat Lan yang melihat tubuh tunangannya
menggeletak di atas lantai, menjadi pucat. Cepat ia mengangkat tubuh tunangannya itu ke atas
pembaringan dan tanpa sungkan-sungkan lagi ia memeriksa. Ia menarik napas lega ketika
mendapat kenyataan bahwa tunangannya tidak menderita sesuatu, hanya pingsan akibat asap
yang memabukkan tadi. Dengan pertolongan air teh yang tersedia di atas meja, ia dapat
membikin Hong Beng siuman dari pingsannya.
Hong Beng merasa malu sekali karena telah menjadi korban penjahat, akan tetapi Goat Lan
lalu mengeluarkan beberapa butir pel dan memberikan itu kepada tunangannya.
“Aku yang kurang hati-hati,” katanya menghibur, “seharusnya aku memberi beberapa butir
obat penolak ini kepadamu untuk penjagaan. Yang datang tadi adalah orang-orang yang
cukup pandai, sungguhpun bukan merupakan lawan yang harus ditakuti.” Kemudian Goat Lan
menceritakan bahwa yang datang adalah dua orang hwesio dan seorang tosu.
“Aku tidak dapat melihat jelas wajah mereka,” kata gadis gagah ini, “apalagi yang memasuki
kamarmu. Hanya kulihat ia adalah seorang berpakaian seperti tosu. Aku hanya berhasil
menendang roboh seorang hwesio, sayang bahwa mereka telah dapat melarikan diri. Gerakan
mereka cukup cepat dan ringan sekali.”
“Sudah terang bahwa maksud kedatangan mereka itu untuk mencuri dan mencari obat yang
kaubawa,” kata Hong Beng. “Agaknya mereka itu bukan kaki tangan perwira yang galak
tadi.”
“Kukira juga bukan,” jawab Goat Lan, mungkin sekali mereka adalah ahli-ahli obat yang iri
hati kepada mendiang Suhu, dan hendak merampas obat agar supaya nama Suhu tetap
tercemar.”
“Dugaanmu betul. Melihat asap beracun tadi, tentulah mereka itu memiliki kepandaian
tentang obat-obatan. Mungkin juga mereka hendak mencuri obat agar mereka dapat
mengobati putera Kaisar dan merekalah yang akan berjasa.”
Demikianlah, kedua orang muda itu bercakap-cakap dengan asyik. Tiba-tiba Goat Lan
teringat bahwa sudah terlalu lama ia berada di kamar Hong Beng, maka dengan wajah merah
ia lalu berdiri dan berkata,
“Koko, aku harus kembali ke kamarku sendiri!”
Sebelum Hong Beng menjawab, gadis itu melompat keluar dari jendela kamar itu,
meninggalkan Hong Beng yang menjadi bengong saking kagumnya melihat wajah
tunangannya yang demikian manisnya tersinar oleh penerangan lilin! Ia menghela napas lalu
menutup kembali jendelanya, kemudian ia melompat naik ke atas pembaringan dan rebah
membayangkan wajah Goat Lan yang cantik manis!
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
307
Pada keesokan harinya, Goat Lan dan Hong Beng telah menghadap Bu Kwan Ji yang
menerima mereka dengan muka ramah sehingga kedua orang muda itu berlaku makin hatihati sekali. Sikap ini bukan menyenangkan hati mereka, bahkan menimbulkan kecurigaan di
dalam hati.
“Ji-wi telah diterima oleh Hong-siang dan sekarang juga dipersilakan menghadap,” katanya
dengan senyum manis dibuat-buat.
Pada keesokan harinya, Goat Lan dan Hong Beng telah menghadap Bu Kwan Ji yang
menerima mereka dengan muka ramah sehingga kedua orang muda itu berlaku makin hatihati sekali. Sikap ini bukan menyenangkan hati mereka, bahkan menimbulkan kecurigaan di
dalam hati.
“Ji-wi telah diterima oleh Hong-siang dan sekarang juga dipersilakan menghadap,” katanya
dengan senyum manis dibuat-buat.
Dengan dikawal oleh Bu Kwan Ji beserta dua belas orang perwira bayangkari yang gagah
dan berpakaian indah, sepasang orang muda itu memasuki istana yang luar biasa indahnya.
Bagaikan dua orang dusun yang baru pertama kali memasuki sebuah kota besar, Hong Beng,
dan Goat Lan memandang ke kanan kiri dan tiada habisnya memuji dan mengagumi perabot
yang memang luar biasa indahnya dan jarang dapat terlihat oleh umum.
Mereka diterima oleh Kaisar dan Permaisuri sendiri! Bukan dalam persidangan umum, di
mana Kaisar dihadap oleh sekalian hamba sahaya dan bayangkari, melainkan pertemuan
tersendiri.
Hong Beng dan Goat Lan merasa silau oleh pakaian yang dipakai oleh Kaisar dan
Permaisuri, maka mereka dari jauh sudah menjatuhkan diri berlutut bersama semua perwira
yang mengawal mereka.
“Betulkah kalian datang membawa obat untuk putera kami?” terdengar Kaisar bertanya. Goat
Lan tidak berani menjawab, merasa seakan-akan lehernya tersumbat, sehingga Hong Beng
yang mewakili.
“Benar, Paduka yang mulia. Hamba berdua mewakili Yok-ong Sin Kong Tianglo, datang
membawa obat dan hendak mencoba mengobati putera Paduka, mudah-mudahan saja Thian
Yang Maha Kuasa akan memberi berkah-Nya.”
“Hemm, kami telah mendengar akan kesombongan Raja Obat itu! Kami sudah bosan
mendengar kesanggupan ahli-ahli obat. Tahukah kalian bahwa sudah ada empat orang ahli
obat kami jatuhi hukuman mati karena mereka tidak dapat memenuhi kesanggupan mereka?
Kami memberitahukan hal ini karena sayang melihat kalian yang masih muda dan rupawan.
Sekarang tinggalkan sebuah obatmu untuk kami cobakan kepada putera kami, mudahmudahan ada hasilnya.”
“Mohon maaf sebanyaknya apabila hamba berani membantah,” tiba-tiba Goat Lan berkata.
“Menurut pesan terakhir dari Suhu, haruslah hamba sendiri yang meminumkan obat itu
kepada putera Paduka.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
308
Berkerutlah kening Kaisar itu. “Apa? Apakah kau tidak percaya kepadaku? Tidak percaya
kepada ahli-ahli pengobatan yang berada di dalam istana?”
“Bukan demikian, akan tetapi…”
“Cukup! Kau ini anak gadis masih muda, sampai berapa tinggi kepandaian dan berapa
banyak pengalamanmu. Tabib-tabibku adalah orang-orang yang pandai dan berpengalaman.
Tinggalkan obat itu dan kalian harus tunggu di dalam kota raja, jangan sekali-kali keluar
sebelum ada hasil pengobatan itu!”
Bukan main gelisahnya hati Goat Lan, akan tetapi ia tidak berani membantah. Suara Kaisar
itu dan keadaannya sungguh amat berpengaruh dan dengan kedua tangan menggigil ia
mengeluarkan sebutir buah Giok-ko.
“Hamba mentaati perintah,” katanya kemudian. “Harap saja buah ini diberikan kepada putera
Paduka yang sakit untuk dimakan mentah-mentah.”
Kaisar memberi tanda dengan tangannya dan Bu Kwan Ji maju untuk mewakili Kaisar
menerima buah itu. Bukan main mangkelnya hati Goat Lan. Mengapa Kaisar mempercayai
orang macam ini? Akhirnya ia dan Hong Beng dipersilakan keluar dari istana. Setelah keluar
dari istana yang mewah dan megah itu, Goat Lan membanting-banting kakinya.
“Kaisar bod...”
“Sst,” kata Hong Beng mencegah.
“Kita lihat saja bagaimana perkembangannya, Moi-moi. Marah saja takkan ada artinya.
Harus kauingat bahwa pengobatan dan segala jerih payahmu ini bukan khusus untuk
menolong Pangeran yang sedang sakit, melainkan untuk menjaga nama suhumu.”
Keduanya lalu berjalan perlahan kembali ke hotel mereka.
Tiba-tiba terdengar seruan girang,
“Li-hiap...!”
Mereka menengok dan melihat seorang pemuda tanggung berusia kurang lebih empat belas
tahun yang berwajah tampan dan berpakaian indah sedang duduk di atas kuda putih,
diiringkan oleh empat orang pengawal berpakaian sebagai guru-guru silat. “Kau...?” Goat Lan
merasa kenal dengan pemuda bangsawan ini ketika pemuda tanggung itu melompat turun,
teringatlah ia bahwa dia adalah Ong Tek, putera Pangeran Ong yang dulu menjadi murid Ban
Sai Cinjin dan yang telah ditolongnya dari bahaya maut ketika diserang oleh gurunya sendiri!
“Li-hiap, kau hendak ke manakah? Sungguh amat menggirangkan hati dapat bertemu dengan
penolongku yang tak pernah kulupakan di tempat ini!” Dengan sikap masih kekanak-kanakan
Ong Tek lalu menghampiri Goat Lan dan menjura dengan hormatnya. Cepat Goat Lan
membalasnya, karena banyak orang yang melihat mereka dengan mata heran. Siapa yang
tidak merasa heran melihat putera pangeran beramah-tamah dengan seorang gadis biasa?
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
309
Li-Hiap, marilah kau singgah di rumah orang tuaku, mereka telah merasa rindu dan ingin
sekali bertemu dengan penolongku.”
Menghadapi keramahan anak ini, Goat Lan tak dapat menolak dan ia menganggukkan
kepalanya. Ong Tek menjadi girang sekali dan ketika ia melihat Hong Beng ia segera
bertanya, “Li-hiap, siapakah Twako yang gagah ini?”
“Dia adalah... kawan baikku, dan kedatanganku juga bersama dia.”
Ong Tek yang terpelajar itu lalu menjura dan memberi hormat kepada Hong Beng yang
membalasnya dengan tersenyum. Ia suka juga melihat anak yang sopan dan peramah ini.
“Silakan naik kuda pengawalku!” kata Ong Tek, yang menyuruh dua orang pengawalnya
turun dari kuda. Akan tetapi Goat Lan dan Hong Beng tentu saja menolaknya dan menyatakan
lebih baik berjalan kaki. Ong Tek tak dapat memaksa dan ia pun lalu menyuruh para
pengawalnya berangkat lebih dulu sambil membawa kudanya, mengabarkan bahwa
penolongnya akan datang ke rumahnya. Ia sendiri lalu bersama dua orang muda itu berjalan
kaki!
Rumah gedung Pangeran Ong Tiang Houw, ayah Ong Tek, amat besar dan megah. Pangeran
ini cukup berpengaruh, karena dia masih terhitung keluarga dekat dengan Kaisar. Maka ia
amat disegani. Akan tetapi oleh karena ia amat setia kepada Kaisar dan tidak mau berbaik
dengan para pembesar durna, diam-diam banyak pembesar yang membencinya.
Ketika Goat Lan dan Hong Beng tiba di gedung itu, mereka merasa amat malu-malu dan
sungkan karena ternyata bahwa Pangeran Ong Tiang Houw suami-isteri menyambut mereka
sendiri sampai di depan pintu, diiringkan oleh banyak sekali pelayan dan pengawal!
Begitu berhadapan, ibu Ong Tek lalu maju dan merangkul Goat Lan. Ia menatap wajah
pendekar wanita itu dengan kagum lalu berkata, “Ah, melihat kau begini cantik dan lemahlembut, sukarlah bagiku untuk percaya cerita Tek-ji (Anak Tek) bahwa kau adalah seorang
pendekar wanita gagah perkasa yang telah menolong nyawa anakku.”
Goat Lan dengan muka kemerah-merahan mengucapkan kata-kata merendah. Juga Pangeran
Ong menyatakan kegembiraan dan kekagumannya.
“Nona, siapakah sebenarnya namamu? Putera kami sendiri tidak tahu siapa nama
penolongnya.”
Goat Lan dengan sikap hormat dan manis lalu memperkenalkan namanya dan juga nama
Hong Beng. Ketika mendengar bahwa Goat Lan adalah puteri Kwee An dan Hong Beng
putera Pendekar Bodoh, Pangeran Ong makin menghormat sikapnya. Kedua orang muda itu
lalu diajak masuk ke dalam di mana mereka diterima dengan jamuan makan yang mewah
serta percakapan yang amat ramah tamah dan meriah.
Pada saat mereka sedang makan minum sambil bercakap-cakap, ditemani oleh beberapa
orang pengawal kepala yang duduk di meja lain, tiba-tiba seorang penjaga pintu datang
menghadap Pangeran Ong dengan wajah pucat.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
310
“Taijin, di luar ada utusan dari Hong-siang (Kaisar) yang minta agar Paduka dan tamu
Paduka keluar.”
Pangeran Ong mengerutkan kening mendengar ini. Tidak biasa Kaisar mengutus orang pada
waktu seperti ini, dan sepanjang ingatannya, tidak ada urusan penting di istana. Betapapun
juga, ia berdiri dari tempat duduknya dan Hong Beng yang mendengar ucapan penjaga itu pun
lalu bangun berdiri mengikuti tuan rumah keluar dari ruangan dalam. Adapun Goat Lan yang
duduk bercakap-cakap dengan Nyonya Ong, hanya memandang ke arah Hong Beng, seakanakan ia menyatakan sudah cukup diwakili oleh tunangannya itu untuk melihat apakah yang
terjadi di luar gedung.
Ketika Pangeran Ong dan Hong Beng tiba di luar, ternyata yang datang adalah Perwira Bu
Kwan Ji sendiri, diikuti oleh lima orang perwira lain. Melihat Pangeran Ong, Bu Kwan Ji
memberi hormat karena kedudukan Pangeran ini jauh lebih tinggi daripada kedudukannya
yang hanya sebagai kepala pengawal raja.
“Mohon dimaafkan apabila hamba mengganggu Taijin. Hamba mendapat keterangan bahwa
kedua orang muda yang lancang berani memberi obat palsu kepada Pangeran yang sedang
sakit berada di gedung Taijin dan hamba datang hendak menangkap mereka.” Ia memandang
ke arah Hong Beng yang berdiri dengan tenangnya.
Pangeran Ong memandang heran. Sesungguhnya Hong Beng dan Goat Lan tidak
menceritakan kepadanya tentang hal pengobatan itu.
“Bu-ciangkun, apakah kau mengimpi? Memang ada kedua orang tamuku di sini, akan tetapi
mereka adalah pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa. Inilah seorang diantaranya, ia
adalah putera dari Pendekar Bodoh, apakah ini yang kaumaksudkan?”
Bu Kwan Ji tertegun mendengar bahwa pemuda ini adalah putera Pendekar Bodoh, akan
tetapi ia dapat menetapkan hatinya dan berkata, “Betul, Taijin. Dia inilah dan seorang gadis
telah berani memberi obat palsu kepada Hong-siang dan setelah diberikan kepada Pangeran
yang sakit, ternyata obat itu membuat sakitnya lebih berat!”
Hong Beng melangkah maju, “Ciangkun, apakah bicaramu itu boleh dipercaya?”
“Mengapa tidak? Hayo kau menyerah untuk kami tangkap! Kau dan kawanmu telah berani
mati mencoba meracuni Pangeran!” Sambil berkata demikian, Bu Kwan Ji bergerak maju
diikuti lima orang kawannya. Akan tetapi Hong Beng sudah marah sekali.
“Maaf, Ong-taijin,” katanya kepada Pangeran Ong, “terpaksa hamba akan melayani perwiraperwira kasar ini.” Ia lalu menantang kepada Bu Kwan Ji dengan suara keras. “Perwira she
Bu, aku tidak percaya akan semua ucapanmu itu! Kalau memang benar kata-katamu,
antarkanlah aku dan kawanku ke tempat Pangeran yang sedang sakit berada, agar kami dapat
menyaksikan dengan mata kepala sendiri!”
“Hemm, penjahat muda. Apakah kau hendak datang dan membunuh Pangeran dengan kedua
tanganmu sendiri, setelah obat racunmu tidak berhasil membunuhnya?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
311
Keadaan menjadi tegang dan Pangeran Ong lalu berlari masuk sambil berkata, “Baik
kupanggil Nona Kwee!” Sementara itu, dua orang pengawalnya berdiri menjaga pintu
sedangkan Hong Beng berdiri bertolak pinggang dengan sikap menantang.
Tiba-tiba terdengar suara bergelak dari sebelah belakang para perwira itu dan tahu-tahu
seorang kakek tua yang berpakaian mewah dan membawa sebatang huncwe panjang
melangkah maju.
“Bu-ciangkun, orang ini mengaku sebagai putera Pendekar Bodoh! Ha-ha-ha! Agaknya
semua penjahat muda menggunakah nama Pendekar Bodoh untuk menakut-nakuti orang.
Akan tetapi aku tidak takut! Biarlah aku menolong kalian menangkapnya!”
Orang tua itu bukan lain adalah Ban Sai Cinjin! Biarpun Hong Beng belum pernah melihat
sendiri kakek ini, namun ia telah mendengar dari Goat Lan tentang kakek ini. Ketika Ban Sai
Cinjin mengirim huncwenya ke arah Hong Beng, pemuda ini merasa betapa angin yang keras
menyambar ke arahnya. Cepat ia mengelak dan kini ia tidak merasa ragu-ragu lagi. Melihat
kelihaian sambaran huncwe tadi, ia maklum bahwa tentulah ini orangnya yang pernah
bertempur dengan Lili dan Goat Lan.
“Apakah ini yang disebut Huncwe Maut?” katanya mengejek. “Biar kulihat sampai dimana
sih kepandaianmu maka kau sejahat itu!”
Ban Sai Cinjin merasa penasaran sekali ketika sambaran huncwenya dapat dielakkan dengan
secara mudah sekali oleh pemuda itu. Tadinya ia masih memandang rendah dan sama sekali
tidak percaya bahwa pemuda ini pun putera Pendekar Bodoh, maka ia lalu maju menyerang
dengan cepatnya. Akan tetapi, akhirnya ia merasa ragu-ragu dan terkejut sekali karena
gerakan pemuda itu benar-benar luar biasa sekali. Dengan ilmu gin-kang bagaikan seekor
burung walet ringannya pemuda itu dapat menghindarkan diri dari serangan-serangan
huncwenya, bahkan kini membalas dengan serangan pukulan tangan kosong yang luar biasa
sekali. Makin besar rasa terkejutnya ketika ia mengenal ilmu silat pemuda ini sebagai Ilmu
Silat Pat-kwa-ciang-hoat, ilmu silat satu-satunya di dunia barat yang menjadi kepandaian
seorang tokoh besar.
“Eh, dari mana kau mencuri ilmu silat dari Pok Pok Sianjin?” bentaknya sambil mengayun
huncwenya.
“Tua bangka rendah! Pok Pok Sianjin adalah Suhuku, kau mau apa?” Hong Beng memaki
sambil mempercepat gerakannya.
Pertempuran berjalan ramai sekali dan sungguhpun Hong Beng menghadapinya dengan
tangan kosong, namun dalam beberapa belas jurus ini belum kelihatan pemuda itu terdesak,
bahkan ia mempergunakan kegesitan dan keringanan tubuhnya untuk menyambar-nyambar
dari atas dan mengirim pukulan dan tendangan ke arah kepala lawannya!
Bukan main terkejut dan marahnya Ban Sai Cinjin. Tadi ia telah menyombong di depan Bu
Kwin Ji dan ketiga tabib istana untuk menangkap dua orang muda yang hendak mencoba
mengobati Pangeran, akan tetapi sekarang baru menghadapi seorang di antara kedua orang
muda itu saja, ia tidak dapat menangkapnya, biarpun pemuda itu bertangan kosong! Ia berseru
keras dan dengan cepat ia menjemput tembakau hitam dari kantong tembakau yang
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
312
tergantung pada huncwenya, memasukkan tembakau itu di kepala huncwenya yang masih
berapi. Tak lama kemudian mengepullah asap hitam dari huncwenya!
Akan tetapi pada saat itu, berkelebat bayangan putih kemerahan dan tahu-tahu Goat Lan telah
melompat dari dalam dan berdiri di depan kedua orang pengawal Pangeran Ong yang berdiri
menjaga di depan pintu masuk. Di belakangnya nampak Ong Tek berlari-lari mengikutinya.
Kini keduanya berdiri bengong memandang ke arah mereka yang sedang bertempur. Ong Tek
memandang dengan hati berdebar ngeri ketika mengenal bekas gurunya yang sedang
menyerang Hong Beng, adapun Goat Lan juga merasa heran mengapa kakek ini tiba-tiba saja
dapat muncul di tempat itu. Akan tetapi ketika ia melihat huncwe yang mengepulkan asap
hitam itu, tak terasa pula ia mendekatkan telunjuknya ke mulut. Hatinya gelisah dan ia
memandang dengan hati kuatir sekali akan keselamatan tunangannya.
“Hati-hati, Koko, asap tembakaunya beracun! Biar aku menghadapi pesolek tua bangka ini!”
Setelah berkata demikian, ia mencabut sepasang bambu runcingnya dan melompat ke
kalangan pertempuran.
Bukan main kagetnya hati Ban Sai Cinjin ketika ia melihat gadis yang pernah mengacau
kuilnya dulu. Ia cepat memutar huncwenya untuk menangkis bambu runcing yang telah
dikenal kelihaiannya itu. Sungguh sial, pikirnya. Keadaan pemuda itu saja sudah merupakan
kesialan baginya, karena tadinya ia tidak percaya bahwa pemuda ini benar-benar putera
Pendekar Bodoh dan memiliki ilmu silat sedemikian lihainya, bahkan ternyata masih murid
Pok Pok Sianjin pula! Dan sama sekali tidak pernah ia mimpi bahwa gadis yang membawa
obat untuk Pangeran itu adalah Kwee Goat Lan yang lihai! Menghadapi kedua orang muda
ini, ia tidak akan menang, pikirnya, maka setelah menyemburkan asap hitam tembakaunya, ia
lalu melompat mundur dan lari keluar dari tempat itu! Goat Lan memutar sepasang bambu
runcingnya untuk memukul buyar asap hitam yang bergumpal-gumpal sedangkan Hong Beng
juga melompat mundur sambil menggerakkan kedua tangannya agar mendatangkan angin
mengusir asap berbahaya tadi.
Ketika keduanya memandang ke depan, ternyata rombongan perwira tadipun sudah lenyap
dari situ! Pangeran Ong Tiang Houw sudah keluar pula dan Pangeran ini marah sekali. Ia
membanting-banting kakinya dan berkata dengan gemas,
“Terlalu sekali si Bu Kwan Ji! Aku harus memprotes hal ini di hadapan Kaisar! Perwira itu
sudah sepatutnya diganti dengan orang lain! Sungguh kurang ajar, di rumahku berani berlagak
seperti itu!”
Adapun Goat Lan merasa marah sekali dan juga mendongkol. “Susah payah Suhu
mencarikan obat sampai mengorbankan nyawa dan aku melanjutkan usahanya mencari obat
itu, tidak tahu hanya begini saja terima kasih orang! Koko, apa gunanya mengobati orang
yang tidak tahu terima kasih? Aku mau pulang saja ke Tiang-an!”
Biarpun dibujuk oleh Pangeran Ong, Goat Lan tetap tidak mau tinggal lebih lama di gedung
Pangeran itu dan bersama Hong Beng lalu keluar dari situ. Akan tetapi Hong Beng berhasil
membujuk Goat Lan agar jangan meninggalkan kota raja dulu.
“Moi-moi, hatiku masih merasa amat curiga terhadap Bu Kwan Ji itu! Siapa tahu kalau-kalau
dia yang main gila dan bukan Kaisar yang menyuruh tangkap kita? Dan siapa tahu pula kalau
dia bermain gila dan mengganti obat buah mutiara itu dengan lain buah?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
313
Terkejut Goat Lan memandang kepada Hong Beng. “Mungkinkah ada orang berpangkat
pengawal istana yang menghendaki kematian Pangeran?”
“Siapa tahu?” Hong Beng menggerakkan kedua pundaknya. “Menurut Ayah, di dunia ini
banyak sekali terjadi kejahatan-kejahatan yang mengerikan. Iblis telah berkuasa di banyak
hati manusia. Oleh karena itu, biarlah kita untuk sementara tinggal di hotel dan menanti
perkembangan selanjutnya. Kita tak usah kuatir, biarpun ada Ban Sai Cinjin yang membantu
Bu Kwan Ji, kita tak perlu takut!”
Disebutnya nama ini membuat Goat Lan mengerutkan keningnya. “Aku tidak takut kepada
Huncwe Maut itu, hanya aku merasa heran sekali bagaimana kakek jahat itu bisa sampai ikut
campur tangan? Benar-benar aneh!”
Memang ucapan Goat Lan beralasan. Mungkin para pembaca juga merasa heran seperti gadis
cantik itu. Bagaimanakah tahu-tahu Ban Sai Cinjin bisa muncul di kota raja dan ikut
melakukan penangkapan dan membantu Bu Kwan Ji?
Setelah rumahnya menderita amukan Lie Siong yang membakar dan membunuh banyak anak
buahnya, diam-diam Ban Sai Cinjin menjadi terkejut dan mulai merasa kuatir. Ternyata
bahwa keturunan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya amat tinggi ilmu kepandaiannya dan
juga amat ganasnya. Memang betul bahwa dia telah berhasil mengundang pembantupembantu yang tangguh seperti suhengnya sendiri Wi Kong Siansu yang ilmu kepandaiannya
belum tentu kalah oleh Pendekar Bodoh, juga telah berhasil mengundang Thai-lek Sam-kui,
Tiga Iblis Geledek dari Hailun yang juga memiliki ilmu kepandaian yang boleh diandalkan
dan hanya sedikit di bawah tingkat Wi Kong Siansu. Ia lalu mengadakan perundingan dengan
suhengnya dan tiga orang Iblis Geledek itu, bagaimana untuk menghadapi musuh-musuh
besarnya, yaitu Pendekar Bodoh dan keturunan serta kawan-kawannya.
“Mereka itu terlalu sombong dan mengandalkan kepandaian mereka,” kata Ban Sai Cinjin,
“kalau kita tidak mengambil tindakan, akan hancurlah nama kita! Seorang pemuda keturunan
Pendekar Bodoh berani sekali membunuh orang-orangku, tamu-tamuku dan juga membakar
rumahku, sungguh hebat sekali! Ilmu kepandaian Bu Pun Su ternyata telah diwarisi oleh
orang-orang muda yang ganas dan kejam!” Memang mudahlah bagi mulut untuk mengatakan
kejam pada lain orang, sama sekali tidak ingat akan kekekejaman sendiri yang dianggapnya
selalu benar!
“Biarlah aku pergi mengunjungi Pendekar Bodoh untuk menegurnya dan sekalian
menyampaikan undangan untuk pibu di puncak Thai-san tahun depan, bagaimana
pikiranmu?” tiba-tiba Wi Kong Siansu bertanya.
Tentu saja semua orang menyatakan persetujuan. “Akan lebih baik lagi kalau begitu. Kita
bisa mempersiapkan diri, dan kalau Suheng bertemu dengan kawan-kawan sehaluan di tengah
perjalanan, boleh sekalian minta bantuan mereka.”
Hailun Thai-lek Sam-kui tertawa bergelak dan saling pandang. “Masih tahun depan?
Alangkah lamanya, kami kira sekarang akan diadakan pibu! Ah, kalau begitu biarlah kami
bertiga melancong dulu menghibur hati, nanti musim semi tahun depan kami akan datang di
Thai-san!” kata Thian-he Te-it Siansu, kakek yang kate gemuk dan selalu membawa payung
itu. Tiga orang ini termasuk orang-orang aneh yang tidak dapat dihalangi kehendaknya, maka
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
314
Ban Sai Cinjin juga tidak dapat mencegah keberangkatan mereka. Ia amat mengharapkan
bantuan orang-orang ini dan kalau mereka sudah berjanji akan datang membantu pada nanti
tahun depan di puncak Thai-san, tentu mereka tidak akan melanggar janji. Ia lalu memberi
bekal banyak uang emas dan barang-barang berharga, yang diterima oleh Hailun Thai-lek
Sam-kui dengan gembira.
Demikianlah, Wi Kong Siansu dan muridnya, Song Kam Seng, berangkat menuju ke Shaning
untuk mencari Pendekar Bodoh dan di tengah perjalanan, yaitu di Lianing, ia bertemu dengan
Lili dan Lo Sian sebagaimana telah dituturkan di depan dan menyampaikan tantangan
pibunya melalui gadis puteri Pendekar Bodoh itu.
Setelah Thai-lek Sam-kui pergi, Ban Sai Cinjin yang ditinggal seorang diri merasa tidak enak
sekali. Diam-diam ia memikirkan nasibnya yang seakan-akan dikelilingi oleh lawan-lawan
muda yang amat tangguhnya. Ia tidak merasa gentar, akan tetapi sesunguhnya ada perkara
yang lebih penting dan besar daripada perkara permusuhannya dengan golongan Pendekar
Bodoh. Dari para sahabatnya di kota raja, ia mendengar tentang keadaan yang amat genting di
dalam istana. Biarpun dari luar tidak terdengar sesuatu dan rakyat hanya mengetahui bahwa
Pangeran Mahkota telah sakit keras sekali, akan tetapi sebetulnya di dalam istana terjadi
perebutan kekuasaan yang hebat!
Ban Sai Cinjin adalah seorang yang mempunyai cita-cita besar. Ia amat haus akan kedudukan
tinggi dan kemewahan hidup, dan keadaannya yang telah kaya raya itu masih belum
memuaskan nafsunya. Alangkah baiknya kalau ia bisa menjadi pembesar tinggi, menjadi
bangsawan yang dihormati oleh laksaan orang!
Telah lama ia menjadi sahabat Ang Lok Cu, tosu yang berjuluk Ngo-tok Lo-koai dan yang
kini tiba-tiba kejatuhan bintang dan menjadi tabib istana berkat pertolongan Bu Kwan Ji. Ia
lalu menghubungi sahabatnya ini dan diperkenalkan kepada Bu Kwan Ji. Perwira yang cerdik
ini amat gembira dapat berkenalan dengan Ban Sai Cinjin, karena orang macam inilah yang
amat dibutuhkan untuk membantunya mencapai cita-cita. Biarpun ketiga orang ahli obat itu
merupakan tenaga-tenaga yang cakap, akan tetapi ilmu silat mereka kurang tinggi. Semenjak
perkenalan itu, Ban Sai Cinjin selalu mengadakan hubungan dengan Bu Kwan Ji dan kaki
tangannya, atau lebih tepat lagi, dengan kaki tangan selir Kaisar yang bercita-cita mengangkat
puteranya sendiri menjadi pengganti kaisar!
Persekutuan gelap dibentuk dan Ban Sai Cinjin telah menyanggupi untuk mempersiapkan
pasukan yang kuat dari Mongol apabila sewaktu-waktu terjadi perang. Muridnya, Bouw Hun
Ti di rumah melawat ke Mongol dan mengadakan hubungan dengan kepala suku Mongol
yang dikenalnya baik, yaitu Malangi Khan.
Kemudian Ban Sai Cinjin teringat akan bekas muridnya, yaitu Ong Tek. Ia merasa menyesal
sekali mengapa ia telah kehilangan Ong Tek, oleh karena ia tahu bahwa ayah Ong Tek, yaitu
Pangeran Ong Tiang Houw, adalah seorang pembesar yang amat berpengaruh di dalam istana.
Dan sekarang ia bahkan telah menanam kebencian di dalam hati Ong Tek yang tentu saja
telah menuturkan semua peristiwa yang terjadi kepada ayahnya!
“Ong Tek merupakan bahaya besar, Suhu,” kata Hok Ti Hwesio, murid satu-satunya yang
amat dipercaya oleh Ban Sai Cinjin. “Akan baik sekali kalau Suhu bisa mencari dan
membunuhnya agar ia tidak banyak membuka mulutnya memburukkan nama Suhu.”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
315
Demikianlah, dengan hati kesal setelah semua orang pergi, ia lalu memesan Hok Ti Hwesio
agar menjaga kuilnya, kemudian ia lalu berangkat ke kota raja, dengan tujuan pertama-tama
untuk mengadakan perundingan dengan Bu Kwan Ji tentang perkembangan cita-cita mereka,
kedua kalinya untuk mencari dan kalau mungkin membunuh bekas muridnya, yaitu Ong Tek!
Dan pada saat ia tiba di gedung tempat kediaman Bu Kwan Ji itulah maka kebetulan sekali
Bu Kwan Ji sedang menghadapi urusan besar, yaitu datangnya dua orang muda yang
mewakili Sin Kong Tianglo membawa obat untuk Pangeran Mahkota yang sedang sakit!
Dengan lincahnya, Bu Kwan Ji berunding dengan selir Kaisar yang menyampaikan kepada
Kaisar tentang adanya dua orang muda yang mencurigakan dan yang katanya datang
membawa obat untuk Pangeran.
“Mereka itu masih muda, mana bisa memiliki kepandaian tinggi?” Kaisar dibujuk oleh
selirnya. “Boleh mencoba obat mereka, akan tetapi lebih baik mereka jangan diperbolehkan
mendekati Pangeran, siapa tahu kalau mereka itu utusan para pemberontak yang diam-diam
hendak membunuh Pangeran?”
Bujukan itu termakan oleh Kaisar dan sebagaimana dituturkan di bagian depan, Goat Lan dan
Hong Beng tidak diperbolehkan mendekati Pangeran, hanya buah Giok-ko saja yang diterima
oleh Kaisar. Mudah sekali diduga bahwa setelah obat itu diberikan kepada tiga orang tabib
istana untuk dicobakan kepada Pangeran yang sakit, obat itu telah dibuang dan diganti dengan
obat lain yang tidak ada khasiatnya bahkan yang merusak kesehatan Pangeran yang malang
itu.
Kaisar menjadi marah dan menyuruh Bu Kwan Ji pergi mencari dan memanggil kedua orang
muda yang telah membawa obat palsu!! Perwira she Bu ini karena merasa kuatir kalau-kalau
dua orang muda itu melawan, lalu mengajak Ban Sai Cinjin pergi mengunjungi rumah gedung
Pangeran Ong. Sungguh hal yang kebetulan sekali, pikir mereka, karena kedua orang muda
itu ternyata kenal baik dengan Pangeran Ong. Kesempatan sekali untuk memfitnah keluarga
Pangeran Ong!
Siasat yang licin, akal busuk dijalin oleh para pengkhianat itu dan Hong Beng bersama Goat
Lan merasa kuatir, tidak tahu apakah yang akan terjadi selanjutnya. Mereka tidak tahu bahwa
musuh-musuh tersembunyi sedang mengatur siasat yang jahat terhadap mereka dan keluarga
Pangeran Ong! Bu Kwan Ji membawa Ban Sai Cinjin menghadap Kaisar. Dengan pandai
sekali ia menuturkan bahwa kedua orang muda itu telah dilindungi oleh Pangeran Ong Tiang
Houw, dan bahkan kedua orang itu berkepandaian tinggi, melawan ketika hendak ditangkap.
“Baiknya ada Losuhu ini yang menolong hamba, kalau tidak, hamba tentu akan binasa oleh
mereka” kata Bu Kwan Ji menutup laporannya.
“Hamba sudah tahu bahwa mereka itu adalah keturunan Pendekar Bodoh, seorang yang
terkenal sebagai pemberontak di masa pemerintahan ayah Paduka.” Ban Sai Cinjin berkata
kepada Kaisar. “Agaknya Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya masih saja mempunyai
keinginan untuk memberontak dan bersekutu dengan bangsawan-bangsawan yang berhati
khianat!”
Bukan main marahnya Kaisar mendengar ucapan-ucapan yang menghasut ini.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
316
“Bagaimana mungkin?” katanya ragu-ragu. “Ong Tiang Houw adalah seorang pembesar
yang setia, bahkan masih terhitung keluarga istana! Agaknya tak mungkin ia berhati khianat
dan mengadakan perhubungan dengan segala pemberontak dan penjahat.
“Hamba tidak berani menuduh,” kata Bu Kwan Ji, “hanya akan lebih aman dan baik sekali
apabila Pangeran Ong dipanggil untuk memberikan keterangan.”
“Baik, kau pergi dan panggil dia datang, seluruh keluarganya!” bentak Kaisar. “Dan Losuhu
ini, siapakah namanya?”
“Hamba disebut orang Ban Sai Cinjin, seorang hamba sahaya biasa saja yang bersedia
mengorbankan tenaga dan nyawa untuk negara.”
“Bagus, kaubantulah Bu Kwan Ji, akan kupikirkan kedudukan yang sesuai dengan jasamu!”
Bukan main girangnya hati Ban Sai Cinjin mendengar ucapan Kaisar ini dan lalu
mengundurkan diri untuk melakukan. tugas yang diperintahkan oleh Kaisar. Untuk kali ini,
Bu Kwan Ji menerima surat kuasa yang berupa bendera lengki (bendera tanda pesuruh
kaisar). Dengan lengki di tangannya, mudah saja Bu Kwan Ji membawa Pangeran Ong
sekeluarganya, digiring semua ke tahanan, sementara menanti perintah Kaisar untuk
memeriksa mereka. Suara tangis riuh-rendah memenuhi tempat tahanan akan tetapi Pangeran
Ong Tiang Houw dengan tenang berkata,
“Tak usah menangis! Kita telah difitnah orang, akan tetapi mengapa gelisah? Tunggulah
sampai aku dapat bertemu dengan Kaisar, tentu aku akan sanggup menyadarkan Kaisar yang
agaknya dihasut oleh mulut jahat!”
***
Alangkah terkejutnya hati Hong Beng dan Goat Lan ketika mereka mendengar dari pelayan
hotel bahwa keluarga Pangeran Ong telah ditangkap oleh perwira-perwira istana! Hal ini
adalah sebuah hal yang aneh dan mengejutkan orang, maka tentu saja berita ini tersiar dengan
cepatnya sehingga pelayan itu pun mendengar lalu menyampaikan kepada semua tamu hotel.
“Sungguh aneh, agaknya dunia akan kiamat!” pelayan yang doyan cerita itu menutup
penuturannya. “Pangeran Ong adalah seorang yang amat berpengaruh dan ditakuti, ia selalu
dekat dengan Hong-siang karena kabarnya ia masih saudara dari Hong-houw (Permaisuri).
Akan tetapi siapa tahu akan nasib orang? Ah, kasihan, Pangeran Ong sekeluarga terkenal amat
dermawan dan budiman. Apalagi puteranya, Ong Kongcu yang suka sekali datang ke sini dan
bercakap-cakap dengan semua orang. Ia amat peramah dan tidak sombong, naik kuda
mengelilingi kota, bergaul dengan semua orang, tidak seperti putera-putera bangsawan lain
yang besar kepala dan...”
Baru sampai di situ kata-katanya, tiba-tiba ia menutup mulut dan wajahnya menjadi pucat.
Serombongan perwira berbaris menuju ke hotel itu dengan sikap galak dan mengancam!
Ributlah semua orang dan semua tamu bersembunyi di kamar masing-masing. Pelayan itu
terpaksa dengan kaki gemetar menuju ke pintu bersama pelayan-pelayan lain mengiringi
pengurus hotel menyambut barisan itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
317
“Pelayan itu terlampau lancang mulut, tentu ia akan ditangkap!” terdengar seorang tamu
berkata perlahan.
Akan tetapi Hong Beng dan Goat Lan berpikir lain. Mereka saling pandang dan cepat masuk
ke kamar masing-masing. Sekejap kemudian mereka telah keluar pula dan telah
menggendong semua barang-barang mereka, siap untuk meninggalkan tempat itu!
Benar saja dugaan mereka, begitu mereka keluar dari kamar, pengurus hotel dan para pelayan
yang agaknya bercakap-cakap dengan para perwira, lalu menudingkan jari mereka ke arah
Hong Beng dan Goat Lan. Tiba-tiba Bu Kwan Ji dan perwira-perwira kelas satu dari istana
maju menyerbu dan mengurung kedua orang muda itu!
Goat Lan memandang kepada kedua orang hwesio yang seperti telah dikenalnya itu, akan
tetapi ia lupa lagi di mana ia pernah bertemu dengan mereka. Ia tidak diberi kesempatan untuk
mengingat-ingat hal itu, karena mereka telah mengeroyok dan kepandaian mereka ternyata
tidak boleh dipandang ringan. Ban Sai Cinjin sendiri sudah amat tangguh, juga dua orang
hwesio dan tosu itu merupakan tandingan-tandingan yang tak boleh dibuat main-main. Bu
Kwan Ji dan tujuh orang perwira kelas satu dari istana yang sudah menjadi kaki tangannya
juga memiliki kepandaian yang cukup hebat, maka Goat Lan dan Hong Beng cepat mencabut
senjata mereka. Hong Beng mengeluarkan tongkat hitamnya, yaitu tongkat tanda pangkat
sebagai ketua Hek-tung Kai-pang, sedangkan Goat Lan lalu mencabut sepasang bambu
runcingnya.
Tempat di mana mereka bertempur itu amat sempit, maka Hong Beng lalu berseru, “Hayo
kita keluar!” Goat Lan mengerti maksud tunangannya maka ia lalu menerjang pengeroyoknya
dan merobohkan seorang perwira. Demikian pula Hong Beng berhasil mengemplang kepala
seorang perwira dan bersama Goat Lan cepat melompat ke halaman hotel. Di sini tempatnya
lebih luas sehingga mereka akan dapat melakukan perlawanan dengan baik. Akan tetapi baru
saja kaki mereka menginjak halaman hotel tiba-tiba puluhan batang anak panah menyambar
dari luar. Cepat mereka menggerakkan senjata dan memutarnya melindungi tubuh. Ketika
mereka memandang, ternyata bahwa tempat itu telah dikurung oleh pasukan yang banyak
sekali jumlahnya!
Jalan keluar tidak ada lagi dan terpaksa Hong Beng dan Goat Lan lalu menghadapi lagi
serbuan Ban Sai Cinjin dan kawan-kawannya yang sudah mengejar pula sampai di situ. Hal
ini menguntungkan bagi kedua orang muda itu karena dengan adanya keroyokan para perwira,
maka pasukan pemanah itu tidak berani mempergunakan anak panah mereka lagi.
Pertempuran berjalan seru sekali. Yang amat mendesak adalah Ban Sai Cinjin. Kali ini karena
banyak kawannya, Ban Sai Cinjin bertempur dengan semangat besar dan huncwenya benarbenar merupakan senjata maut bagi Hong Beng dan Goat Lan. Sekali saja mereka terkena
pukulan huncwe yang selalu ditujukan ke arah kepala mereka, akan celakalah mereka!
Ketika kedua orang muda itu terpaksa hendak menggunakan tangan besi dan membunuh para
pengeroyoknya untuk dapat mencari jalan keluar, tiba-tiba terdengar sorak-sorai dan lapatlapat terdengar oleh Hong Beng dan Goat Lan.
“Bantu pangcu kita...!”
Keadaan pasukan yang tadinya mengurung tempat itu, tiba-tiba menjadi heboh dan geger.
Ternyata mereka telah diserang secara tiba-tiba dan dari belakang oleh serombongan
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
318
pengemis bertongkat hitam! Ternyata bahwa tadi ketika Hong Beng melompat keluar dari
dalam hotel dan dikeroyok oleh para perwira, ada beberapa orang anggauta Hek-tung Kaipang berada di luar hotel itu. Melihat betapa pemuda gagah itu bersenjatakan tongkat hitam
yang mereka kenal sebagai tongkat pusaka dari Hek-tung Kai-pang, tahulah mereka bahwa
pemuda ini tentulah pangcu yang baru sebagaimana telah mereka dengar dari para pemimpin
cabang mereka. Sebentar saja, atas bunyi siulan rahasia mereka, datanglah berpuluh-puluh
pengemis anggauta Hek-tung Kai-pang, bahkan para pemimpin yang berkedudukan di kota
raja secara sembunyi-sembunyi juga muncul dan melakukan pengeroyokan terhadap para
tentara kerajaan yang mengurung itu!
Hong Beng merasa girang sekali. Bersama Goat Lan ia lalu melompat jauh dan mencari jalan
keluar dari tempat di mana para pengemis tongkat hitam itu menyerbu. Sambil memutar
tongkat hitamnya dan merobohkan beberapa belas tentara yang mengeroyok, ia berseru,
“Aku pergi, lekas kalian mencari jalan aman!” Setelah berkata demikian, ia dan Goat Lan
melompat ke atas genteng dan melenyapkan diri di balik wuwungan rumah-rumah yang
tinggi. Juga kawanan jembel yang setia itu lalu melarikan diri ke sana ke mari, memecah
rombongan sehingga sukarlah bagi barisan kerajaan untuk mengejar mereka. Juga tidak ada
perintah mengejar para pengemis itu, sebaliknya Bu Kwan Ji berteriak-teriai memerintahkan
anak buahnya untuk mengejar dua orang muda tadi! Akan tetapi kemanakah mereka harus
mengejar? Dua orang muda itu melompat ke atas genteng bagaikan dua ekor burung walet
saja, dan biarpun para perwira mengikuti Ban Sai Cinjin mengejar, akan tetap mereka ini
tertinggal jauh oleh Ban Sai Cinjin yang gerakannya cepat sekali.
Setelah mengejar agak jauh dan mendapatkan dirinya hanya sendiri saja, Ban Sai Cinjin
menjadi gentar. Kalau hanya seorang diri, andaikata ia dapat menyusul, bagaimana ia akan
dapat menangkap kedua orang muda yang lihai itu? Terpaksa ia menunda kejarannya dan
membiarkan kedua orang muda itu melarikan diri dengan cepat.
“Tutup semua pintu gerbang! Perkuat penjagaan! Jangan biarkan mereka lolos dari kota!”
seru Bu Kwan Ji dengan marah sekali. Di dalam kemarahannya terhadap Hong Beng dan Goat
Lan, perwira ini sampai lupa kepada para pengemis tongkat hitam yang tadi menolong kedua
orang muda itu!
Hong Beng dan Goat Lan lari terus sampai di ujung kota yang sunyi.
“Mari ikut aku!” gadis itu mengajak tunangannya dengan suara tegas.
“Ke mana, Moi-moi?” tanya Hong Beng.
“Ke istana, mencari Pangeran Mahkota!”
Hong Beng mempunyai pikiran yang cerdas dan mudah menangkap maksud kata-kata orang,
maka ia diam saja dan keduanya lalu berlari menuju ke istana yang megah itu. Untung bagi
mereka bahwa semua penjagaan dikerahkan untuk menjaga seluruh pintu gerbang dan
merondai dinding kota sebagaimana yang diperintahkan oleh Bu Kwan Ji, sehingga di dalam
kotanya sendiri hanya beberapa orang perwira saja melakukan penggeledahan di sana-sini.
Senja hari telah mendatang dan keadaan telah hampir gelap ketika keduanya telah tiba di
dekat dinding tinggi yang mengelilingi istana kaisar.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
319
Tidak mudah bagi kedua orang muda itu untuk dapat memasuki istana dan melalui dinding
yang tinggi sekali itu. Untuk masuk lewat depan tidak mungkin sekali dan masuk dengan
jalan melompati dinding yang begitu tinggi, juga sukar. Mereka berjalan ke sana ke mari
mencari dinding yang agak rendah, akan tetapi sia-sia belaka. Ada beberapa batang pohon
yang cukup tinggi untuk menjadi jembatan, akan tetapi pohon-pohon ini letaknya jauh dari
dinding, sehingga melompat dari pohon ke atas dinding, bahkan lebih sukar daripada
melompat dari atas tanah. Mereka duduk di bawah dinding dengan hati kecewa, keduanya
tidak mengeluarkan suara dan termenung memutar otak. Tiba-tiba Hong Beng berkata girang,
“Ah, aku mendapat akal, Lan-moi! Kau tentu akan dapat masuk ke dalam dengan melompat
ke atas dinding.”
“Bagaimana aku dapat melompati dinding setinggi itu, Koko?”
“Kau melompat lebih dulu dan aku mendorongmu dari bawah! Dengan meminjam tanganku,
bukankah kau akan dapat melompat lagi ke atas?”
Untuk sesaat Goat Lan memandang kepada tunangannya dengan sepasang matanya yang
seperti mata burung Hong itu, kemudian wajahnya berseri girang.
“Ah, benar juga kata-katamu, Koko. Mengapa aku tidak dapat berpikir sampai di situ?”
Tiba-tiba Hong Beng mengerutkan keningnya. “Sayangnya, hanya kau saja yang bisa masuk
ke dalam istana untuk mencari Pangeran dan mengobatinya. Bagaimana hatiku bisa tenteram
kalau membiarkan kau masuk seorang diri di tempat berbahaya itu? Dengan menanti
kembalimu di luar dinding ini aku akan merasa seakan-akan berdiri di atas besi panas!”
Kini Goat Lan yang berkata dengan gembira, “Mengapa susah-susah? Pohon itu dapat
menolongmu!”
Giliran Hong Beng yang sekarang memandang kepada tunangannya dengan mata bodoh
karena sungguh-sungguh ia tidak mengerti apa maksud gadis itu.
“Pohon itu letaknya terlalu jauh dari dinding, bagaimana pohon itu bisa menolongku?”
“Koko, kau tidak ingat kepada cabangnya yang panjang!” seru gadis itu yang segera
melompat ke arah pohon besar dan kemudian ia melompat ke atas, memilih cabang yang
panjang dan kuat. Dengan sekali renggut saja patahlah cabang itu yang cepat dibersihkan
daun-daunnya sehingga merupakan sebatang tongkat panjang.
“Nah, kalau aku sudah berhasil sampai di atas, kaulemparkan tongkat ini kepadaku.
Kemudian kau melompat dan kuterima dengan tongkat ini, bukankah beres?”
Girang sekali hati Hong Beng. Ia menangkap tangan Goat Lan sambil memuji, “Moi-moi,
kau benar-benar hebat! Kau cerdik sekali dan... dan... cantik manis!”
“Hush, bukan waktunya untuk bersendau-gurau, Koko!” kata Goat Lan merengut dan
mencubit lengan pemuda itu, akan tetapi sepasang matanya bersinar bangga dan kerlingnya
menyambar hati Hong Beng, menyuburkan cinta kasih yang sudah berakar di dalam hati
pemuda itu.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
320
“Nah, sekarang melompatlah, Moi-moi. Melompatlah dengan lurus ke atas, dekat dinding,
kemudian tarik kakimu ke atas sehingga kalau aku sudah menyusul di bawahmu, kau dapat
mengenjotkan kakimu di atas tanganku!”
Goat Lan mengangguk maklum, lalu membereskan pakaiannya, mengikat erat tali
pinggangnya dan membereskan letak buntalan pakaian dan obat yang berada di punggungnya.
“Siap, Koko!” kata gadis itu sambil menghampiri dinding. Hong Beng berdiri di belakangnya
dan ketika gadis itu melompat ke atas, ia pun menyusul di bawahnya! Keduanya
mempergunakan gerat lompat Pek-liong-seng-thian (Naga Putih Naik ke Langit). Tubuh Goat
Lan yang ringan itu meluncur pesat ke atas dan ketika ia merasa bahwa tenaga luncurannya
telah hampir habis, ia lalu menarik kedua kakinya ke atas. Tepat pada saat melayang turun
kembali, ia merasa betapa kedua tangan Hong Beng yang kuat telah menyangga sepasang
telapak kakinya. Goat Lan diam-diam memuji tunangannya ini karena dengan gerakan ini
ternyata bahwa tenaga lompatan Hong Beng masih menang sedikit jika dibandingkan dengan
tenaga loncatannya. Karena kini mendapat tempat untuk kedua kakinya, Goat Lan lalu
mengenjot lagi ke atas dan tubuhnya melayang makin tinggi sehingga ia dapat mencapai
dinding itu. Tangannya menyambar pinggiran dinding dan sekali ia mengayun tubuh ke atas,
ia telah berada di atas dinding yang tinggi itu! Ia memandang ke sebelah dalam dan untung
sekali bahwa mereka tiba di dinding yang menutupi sebuah taman bunga yang amat indahnya
sehingga gadis ini menjadi takjub melihat demikian banyaknya pohon-pohon bunga yang
menyerbakkan keharuman. Sayang bahwa keadaan sudah agak gelap hingga ia tidak dapat
menikmati tata warna yang luar biasa dari taman bunga itu. Saking kagumnya, Goat Lan
sampai lupa kepada Hong Beng. Ia terkejut ketika mendengar seruan Hong Beng, “Moi-moi,
terimalah tongkat ini!” Cepat ia memutar tubuhnya dan menghadap keluar lagi. Dinding itu
tebal sekali, lebar permukaan dinding yang diinjaknya lebih dari dua kaki, sehingga ia boleh
berdiri dengan enak dan tetap di atas dinding itu.
Hong Beng melempar tongkat panjang ke atas dan diterima oleh Goat Lan dengan mudahnya.
Ketika gadis itu duduk di atas tembok, tangan kiri merangkul tembok dan tangan kanan
memegang ujung tongkat yang diulur ke bawah maka ujung tongkat di bawah telah mencapai
tempat yang cukup rendah bagi Hong Beng untuk melompat dan menangkapnya. Akan tetapi
pemuda ini masih berkuatir kalau-kalau Goat Lan tidak akan kuat menahan berat tubuhnya
dengan tongkat itu, maka sebelum meloncat ia berseru,
“Moi-moi, kalau nanti terlalu berat bagimu, kaulepaskan saja tongkat itu jangan sampai kau
ikut jatuh ke bawah!”
“Kaukira aku orang apa?” bantah Goat Lan pura-pura marah, akan tetapi suaranya terdengar
bersungguh-sungguh. “Kalau kau jatuh, aku pun ikut jatuh pula!”
“Eh, eh, jangan begitu, Lan-moi. Kalau kau lepaskan tongkat itu, jatuhku tidak dari tempat
terlalu tinggi dan paling-paling aku hanya akan lecet-lecet saja. Akan tetapi kau... dari tempat
begitu tinggi!”
“Aku juga takkan mati jatuh dari tempat setinggi ini!”
Hong Beng menjadi bingung. Ia ragu-ragu untuk melompat, karena ia maklum bahwa gadis
itu betul-betul takkan membiarkan ia jatuh sendiri! Tiba-tiba pemuda itu lalu berlari ke tempat
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
321
di mana terdapat pohon besar tadi. Goat Lan memandang heran, akan tetapi ia melihat
pemuda itu telah melompat naik ke atas pohon dan menggunakan pedangnya untuk membabat
putus sebatang cabang yang panjang. Ketika Hong Beng sudah tiba di tempat tadi, tahulah
Goat Lan bahwa pemuda itu telah mengambil dan membuat sebatang tongkat seperti tadi
panjangnya, hanya saja kini tongkat ini ujungnya ada kaitannya. Pemuda yang cerdik ini telah
mengambil cabang yang ada kaitannya dan kemudian ia berkata,
“Moi-moi, taruh saja tongkat itu di atas dinding, dan kaupakailah tongkat ini!” Ia
melontarkan tongkat baru ini ke atas yang disambut dengan mudahnya oleh Goat Lan. Gadis
ini menjadi girang sekali, karena tentu saja dengan tongkat ini, tidak usah kuatir tunangannya
akan jatuh kembali karena ia tidak kuat menahan berat tubuhnya. Ia lalu memasang kaitan
tongkat itu pada dinding, dan memegang kaitan itu menjaga jangan sampai kaitannya terlepas.
“Lompatlah, Koko!” teriaknya ke bawah.
Hong Beng mengumpulkan tenaga kakinya, lalu mengenjot tubuhnya ke atas. Ketika
tangannya dapat mencapai ujung tongkat yang tergantung di bawah, ia menangkap tongkat itu
dan dengan cekatan sekali ia lalu naik ke atas, merayap melalui tongkat. Setelah tiba di atas
dinding, ia mengomel kepada tunangannya,
“Lan-moi, lain kali jangan kau main nekad begitu. Kalau aku tidak mendapat akal ini, aku
takkan berani melompat naik dan membiarkan kau jatuh ke bawah.”
Goat Lan tersenyum manis, kemudian teringat akan tugasnya lagi.
“Mari kita turun ke dalam,” katanya, “baiknya ada dua tongkat ini yang akan dapat
membantu kita.”
Gadis yang berani itu lalu melompat turun lebih dulu dengan tongkat yang dipegangnya
merupakan pembantu yang amat berguna. Sebelum tubuhnya tiba di tanah, ia lebih dulu
menancapkan tongkat itu sehingga dapat menahan tenaga luncurannya. Setelah tenaga
luncuran itu habis, ia lalu melompat ke bawah dengan ringannya. Kedua kakinya tidak
mengeluarkan suara sedikitpun juga.
Hong Beng segera meniru gerakan kekasihnya ini dan kini mereka berdua telah berada di
dalam taman.
“Aduh indahnya kembang ini...” kata Goat Lan sambil menghampiri sekelompok bunga
seruni kuning yang indah. Gadis ini bagaikan seekor kupu-kupu. Dengan lincah dan gembira
ia berlari-larian dari satu ke lain bunga, riang gembira seperti anak-anak.
“Lan-moi, apakah kita masuk ke sini hanya untuk bermain-main di taman bunga ini?” tanya
Hong Beng menegur tunangannya dengan pandang mata kagum karena sungguh cocok sekali
bagi seorang gadis cantik berada di taman indah penuh kembang.
“Koko, bunga ini cocok sekali untukmu!” Goat Lan seakan-akan tidak mendengar ucapan
Hong Beng. Ia memetik setangkai bunga seruni dan membawa bunga itu kepada Hong Beng.
Dengan sikap yang menyayang ia lalu memasukkan tangkai kembang itu ke lubang kancing
pada dada Hong Beng. Terharu juga hati pemuda ini melihat kelembutan tunangannya. Ia
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
322
meremas tangan Goat Lan, kemudian tanpa berkata-kata ia lalu memetik pula setangkai seruni
merah yang ditancapkannya di atas rambut kekasihnya.
“Hayo kita mencari Pangeran,” katanya kemudian. Ucapan ini mengusir hikmat taman bunga
dan kasih sayang mesra. Keduanya lalu berjalan dengan hati-hati sekali sampai ke ujung
taman bunga di mana terdapat sebuah pintu.
Tiba-tiba mereka mendengar suara orang bercakap-cakap di belakang pintu itu.
Ketika mereka mendengarkan dengan penuh perhatian dan tahu bahwa yang bercakap-cakap
itu hanyalah dua orang penjaga pintu belakang, cepat kedua orang muda perkasa ini lalu
membuka pintu dengan tiba-tiba. Dua orang penjaga yang memandang dengan celangap itu
tak diberi kesempatan membuka suara. Begitu tangan Goat Lan dan Hong Beng bergerak,
keduanya telah kena ditotok sehingga menjadi kaku tak dapat bergerak maupun bersuara lagi.
Hong Beng mencabut tongkatnya. Setelah membebaskan seorang penjaga dari totokannya, ia
menempelkan ujung tongkat pada leher orang itu sambil berkata,
“Hayo katakan terus terang di mana kamar Pangeran Mahkota!”
Penjaga itu biarpun tubuhnya menggigil, mukanya pucat, dan bibirnya gemetar namun ia
menggeleng kepalanya dan berkata, “Tidak, tidak! Kami telah banyak menerima budi Hongsiang (Kaisar), dan Putera Mahkota amat budiman. Biarpun aku akan kaubunuh, aku takkan
mengkhianati Putera Mahkola! Kau tidak boleh membunuhnya!”
Tersenyum Hong Beng mendengar ini. Ia suka dan kagum melihat kesetiaan penjaga pintu,
pegawai rendah ini. Tiba-tiba ia mendapat pikiran yang baik sekali.
“Dengar, sahabat. Kami berdua datang sama sekali bukan membawa maksud jahat. Kami
datang hendak mengobati Putera Mahkota, akan tetapi kami dihalang-halangi oleh Bu Kwan
Ji si jahanam. Maukah kau membantu kami menolong pangeranmu itu?”
Penjaga itu memandang kepada Hong Beng dengan curiga. “Siapa tahu betul tidaknya
bicaramu ini?” tanyanya.
Goat Lan turun tangan dan berkata, “Dengarlah, Lopek (Uwa). Aku adalah murid dari Yokong (Raja Obat) Sin Kong Tianglo dan aku benar-benar datang hendak menolong Pangeran
Mahkota. Kau percayalah dan tunjukkan kepadaku di mana tempat Pangeran itu.”
Melihat Goat Lan, lenyaplah kecurigaan penjaga itu. Gadis secantik dan seramah ini dengan
sepasang mata yang indah dan halus itu tak mungkin jahat.
“Baiklah, aku akan membantumu. Kalau aku salah duga ternyata kau datang hendak
melakukan kejahatan, biarlah nyawaku akan menjadi setan yang mengejar-ngejarmu! Pada
waktu ini, Pangeran Mahkota berada di ruangan belakang, tak jauh dari sini. Baiknya tiga
orang tabib yang biasa selalu menjaganya, kini sedang keluar, kabarnya untuk menangkap
pemberontak-pemeberontak! Yang menjaga hanyalah inang pengasuh dan para pelayan saja.
Mari kalian ikut padaku!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
323
Penjaga yang seorang lagi tidak dibebaskan dari totokan, bahkan Hong Beng lalu melepaskan
ikat pinggang orang itu dan mengikat kedua tangannya agar jangan sampai terlepas dan
menimbulkan ribut. Ketiganya lalu berjalan ke sebelah dalam dan tak lama kemudian mereka
tiba di ruang yang dimaksudkan.
Di situ terdapat lima orang pelayan wanita, dua orang pelayan banci (thai-kam) dan empat
orang penjaga yang kokoh kuat tubuhnya. Alangkah kaget semua orang ini ketika melihat
penjaga itu masuk bersama dua orang muda yang elok. Empat orang penjaga itu cepat
melompat menghampiri mereka dengan golok di tangan.
“Siapa kalian dan perlu apa masuk tanpa dipanggil?” bentak seorang diantara mereka.
“Kami datang hendak mengobati Pangeran!” kata Hong Beng.
“Tak seorang pun boleh mengobati Pangeran di luar tahunya ketiga tabib istana! Kalian
orang-orang jahat harus ditangkap!”
Hong Beng dapat menduga bahwa empat orang penjaga ini pun tentulah kaki tangan Bu
Kwan Ji, maka ia memberi tanda kepada Goat Lan. Ketika dua orang muda perkasa ini
berkelebat tubuhnya dan bergerak kedua tangannya, empat orang penjaga itu roboh dengan
tubuh lemas tak berdaya lagi! Tentu saja dua orang thaikam dan lima orang pelayan wanita itu
menjadi ketakutan dan berdiri dengan muka pucat dan tubuh gemetar.
“Kami datang bukan dengan maksud jahat,” kata Hong Beng. “Kami datang untuk mengobati
Pangeran! Akan tetapi, siapa saja yang berani menghalangi kami akan kuhancurkan
kepalanya!” Sambil berkata demikian, Hong Beng lalu mencabut tongkatnya yang hitam
mengkilap sehingga mereka semua menjadi takut.
“Siapakah yang membuat ribut-ribut itu?” tiba-tiba terdengar suara yang halus dan lemah.
Goat Lan cepat menengok ke arah suara itu dan terlihatlah pangeran Mahkota yang sedang
berbaring di tempat tidurnya yang indah. Pangeran ini masih muda sekali, paling banyak baru
empat belas tahun, tubuhnya kurus dan wajahnya pucat.
Goat Lan melompat dan berlutut di depan Pangeran yang telah duduk di atas
pembaringannya itu.
“Hamba Kwee Goat Lan, murid dari Yok-ong Sin Kong Tianglo. Hamba datang hendak
melanjutkan usaha mendiang Suhu untuk mencoba mengobati Paduka.”
Pangeran kecil itu membuka kedua matanya lebar-lebar. “Bukankah kau kemarin dinyatakan
hendak meracuniku? Obat apa yang kaukirim ke sini itu? Rasanya pahit dan masam!
Membuat perutku muak!”
Goat Lan bangkit berdiri. “Paduka telah ditipu. Orang-orang jahat mengelilingi tempat ini.
Yang diberikan bukan obat dari hamba, melainkan telah ditukar dengan obat lain yang jahat!”
Ia mengeluarkan buah Giok-ko dan memperlihatkannya kepada Pangeran itu. “Buah inilah
yang kemarin hamba persembahkan kepada Hong-siang, apakah ini pula yang Paduka
makan?”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
324
Pangeran itu menerima buah yang berkilauan seperti mutiara itu dengan kagum dan heran.
“Bukan, bukan ini, akan tetapi buah hijau yang baunya tidak enak. Buah ini wangi sekali.”
“Nah, silakan Paduka makan buah ini, dan demi Thian Yang Maha Adil, kalau Paduka
percaya, penyakit Paduka pasti akan lenyap!”
Pangeran itu memandang kepada Goat Lan sampai lama, kemudian ia tersenyum lemah dan
berkata, “Kau cantik dan gagah, aku percaya kepadamu!” Dan ia lalu makan buah itu. Baru
saja satu gigitan, ia berseru girang, “Manis dan wangi sekali!” Sebentar saja habislah buah itu
semua. “Kalau masih ada, aku ingin makan lagi!” Sambil berkata demikian dengan tangan
kanan, Pangeran itu menutup mulut menahan kuapnya, karena ia tiba-tiba merasa mengantuk
sekali.
“Sekarang harap Paduka suka beristirahat, karena baru besok pagi Paduka boleh makan
sebuah lagi,” kata Goat Lan. Akan tetapi Pangeran itu sudah merebahkan diri dan sebentar
saja ia tertidur terkena pengaruh Giok-ko yang manjur itu. Goat Lan lalu menyuruh seorang
pelayan menyediakan perabot untuk memasak daun To-hio sebagaimana yang telah
dipesankan oleh Thian Kek Hwesio.
Pada saat Goat Lan tengah sibuk memasak obat itu, tiba-tiba Hong Beng berseru terkejut,
“Celaka, Hong-siang bersama para pengiringnya sedang menuju ke sini!”
Memang sudah menjadi kebiasaan Kaisar untuk menengok keadaan puteranya yang tercinta
sebelum tidur. Seperti biasa, malam hari itu Kaisar juga datang diantar oleh lima orang
pengawal pribadinya!
Hong Beng yang menjaga pintu menjadi bingung, dan Goat Lan lalu berkata, “Koko, kurasa
lebih baik lagi kalau Hong-siang berada di dalam kamar ini untuk menyaksikan bagaimana
kita menolong puteranya!”
Hong Beng memutar otak dan cepat ia berkata kepada semua pelayan di situ, “Awas, semua
orang tidak boleh membikin ribut. Diam-diam saja seperti tak terjadi sesuatu sehingga Hongsiang tidak akan terkejut dan curiga. Kalian telah melihat sendiri bahwa kami benar-benar
hendak mengobati Pangeran, dan seperti kataku tadi, siapa saja yang akan menghalangiku,
akan kuhancurkan kepalanya!”
Pemuda itu lalu bersembunyi di balik daun pintu, menanti masuknya Kaisar, sedangkan Goat
Lan tetap memasak obat tanpa mempedulikan keadaan di luar kamar.
Untung sekali bagi kedua orang muda itu bahwa tidak sembarang orang boleh masuk ke
dalam kamar pangeran. Maka ketika tiba di luar pintu, hanya Kaisar sendiri yang masuk ke
dalam, sedangkan kelima bayangkari itu dengan golok di tangan menjaga di luar pintu! Kaisar
masuk dengan wajah muram karena ia memikirkan keadaan puteranya. Alangkah terkejutnya
ketika ia melihat seorang gadis yang tak dikenalnya sedang memasak obat.
“Siapa kau?” tanyanya.
Goat Lan menengok dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Kaisar. “Hamba akan
menerima hukuman dari kelancangan hamba masuk ke tempat ini, akan tetapi mohon diberi
kesempatan lebih dulu untuk menyembuhkan penyakit Putera Mahkota!”
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
325
Ketika melihat wajah gadis ini, Kaisar menjadi makin terkejut.
“Bukankah kau yang mengaku murid Yok-ong dan yang mencoba untuk meracuni
puteraku?” Cepat Kaisar menengok untuk memanggil penjaga dan bayangkari, akan tetapi ia
makin pucat ketika melihat bahwa pintu telah ditutup dan kini seorang pemuda yang
dikenalnya sebagai kawan gadis ini, telah berdiri dengan gagahnya di tengah pintu itu,
menjaga dengan tongkat di tangan. Ketika ia melirik ke kiri, di sudut rebah empat orang
penjaga pangeran dalam keadaan lemas tak berdaya.
“Hemm, jadi kalian ini benar-benar putera-putera Pendekar Bodoh yang hendak
memberontak? Apakah kehendak kalian sekarang? Membunuh puteraku atau aku? Kalian kira
mudah saja melakukan hal itu?”
Akan tetapi, Hong Beng biarpun masih memegang tongkatnya, lalu menjatuhkan diri berlutut
di tempat penjagaannya.
“Ayah hamba, Pendekar Bodoh, tak pernah menjadi pemberontak, dan demikianpun hamba
berdua. Sesungguhnya hamba datang untuk mengobati Putera Mahkota, bukan mengandung
maksud jahat. Mohon Hong-siang sudi mempertimbangkan dan memberi ampun.”
“Buah obat yang kalian berikan kemarin telah dimakan oleh puteraku, akan tetapi bahkan
menambah penyakitnya. Bukankah itu bukti yang nyata?”
“Maafkan hamba,” kata Goat Lan. “Itulah sebabnya mengapa hamba berdua terpaksa
mengambil jalan masuk secara lancang ini. Buah dari hamba itu telah ditukar orang dan yang
diberikan kepada Pangeran adalah buah yang berbahaya. Baru tadi putera Paduka telah makan
sebutir buah dari hamba dan sekarang telah dapat tidur nyenyak.”
“Hamba berdua minta waktu sampai tiga hari, dan sebelum lewat tiga hari, terpaksa hamba
berlaku kurang ajar dan menahan Paduka di kamar ini! Hal ini terpaksa hamba lakukan untuk
mencegah gangguan dari tiga tabib durjana, pengkhianat Bu Kwan Ji, dan Huncwe Maut Ban
Sai Cinjin yang jahat dan berbahaya.” Hong Beng menyambung kata-kata Goat Lan.
Kaisar memandang dari Goat Lan ke Hong Beng berganti-ganti, kemudian ia tersenyum.
“Baiklah, kuberi waktu tiga hari, akan tetapi kalau di dalam waktu itu ternyata kalian
membohong, awaslah, jangan kau berani main-main dengan Kaisar!” Setelah berkata
demikian, Kaisar lalu menghampiri puteranya yang telah tidur nyenyak dengan napas teratur
dan tenang.
“Lucu... lucu... !” kata Kaisar setelah menghampiri kembali Goat Lan dan Hong Beng. lalu
duduk di atas sebuah kursi gading. “Baru kali ini selama hidupku aku mengalami ditahan oleh
seorang luar, seorang biasa. Ha-ha-ha! Benar-benar menggembirakan dan mendebarkan hati!
Aku ingin sekali mengetahui bagaimana perkembangan selanjutnya dari peristiwa aneh ini!”
Akan tetapi, karena hari telah malam dan Kaisar itu merasa mengantuk sekali, ia lalu pergi
tidur di atas sebuah pembaringan biasa yang berada di tempat itu, dilayani oleh lima orang
pelayan wanita itu dengan penuh penghormatan.
Pendekar Remaja > karya Kho Ping Hoo > published by buyankaba.com
326
“Koko, aku sekarang teringat bahwa hwesio-hwesio yang ikut Bu-ciangkun menyerbu kita di
hotel, adalah hwesio yang datang menyerang kita pada malam hari kemarin dulu!”
Hong Beng mengangguk-angguk. “Sekarang agak terang bagiku. Sudah jelas bahwa tabibtabib istana yang menjaga Pangeran ini telah sengaja menghalang