...

BAB I SISI DARI SEBUAH INSTRUMEN KEBIJAKSANAAN

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

BAB I SISI DARI SEBUAH INSTRUMEN KEBIJAKSANAAN
Halaman : 1 dari 9 halaman
BAB I
SISI DARI SEBUAH INSTRUMEN
KEBIJAKSANAAN OTORITAS MONETER
(Makalah : Anton Bawono, SE., M.Si)
Kebijaksanaan Otoritas Moneter, target apapun yang hendak
dicapai, baik tingkat bunga maupun jumlah uang beredar,
keduanya memiliki dampak dan biaya yang harus ditanggung
perekonomian. Demikian pula suku bunga yang tinggi disatu sisi
dapat mengendalikan inflasi dan disisi lain akan menghambat
investasi dan sebaliknnya. Sehingga Otoritas Moneter dalam
menentukan sebuah instrumen kebijaksanaan ibarat melempar
satu keping logam yang mempunyai sisi yang berbeda dan harus
memilih satu diantaranya beserta resikonya.
A. LATAR BELAKANG
Masalah suku bunga merupakan kunci dalam mengatasi krisis di Indonesia dan
akhir-akhir ini perbincangan ekonomi terfokus pada suku bunga (hot issue). Masalah
suku bunga tinggi di Indonesia sebenarnya tidak begitu istimewa, karena sudah
berlangsung sejak 1990 atau bahkan sejak deregulasi perbankan 1983 mengenai
pembebasan pagu suku bunga. Kemudian sejak deregulasi tersebut tingkat suku bunga
tinggi terjadi pada tahun 1991 untuk deposito Tiga bulan rata-rata 21,9%, pada tahun
1994 sempat turun menjadi 12% dan, tapi kemudian naik lagi 18% pertahun, dan pada
tahun 1998 pertengahan tingkat suku bunga simpanan deposito yang jatuh tempo satu
bulan mencapai 65% pertahun, dan akhir tahun 1998, suku bunga deposito yang jatuh
temponya satu bulan pertahun yang dijamin pemerintah turun setahap demi setahap dari
49%, lalu 46%, dan sampai saat ini masih 44% pertahun.
Kebijaksanaan suku bunga seringkali menimbulkan dikotomi, satu sisi dapat
mendorong investasi tetapi dapat memicu inflasi dengan suku bunga rendah dan satu sisi
dapat mengendalikan laju inflasi tetapi dapat menghambat investasi dengan suku bunga
tinggi. Sehingga sangat menarik untuk melihat bagaimana suku bunga itu seharusnya
ditentukan agar suku bunga yang rasional dapat tercapai, yang dapat mendorong laju
pertumbuhan ekonomi. Kebijaksanaan moneter dengan mempengaruhi tinggi rendahnya
tingkat suku bunga akan mempengaruhi investasi dan pada keratin berikutnya akan
mempengaruhi perekonomian.
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Halaman : 2 dari 9 halaman
Pada akhir-akhir ini kebijaksanaan suku bunga tinggi terasa dampaknya pada
investasi produktif, sehingga secara langsung suku bunga tinggi secara langsung
bertanggung jawab atas terjadinya semacam kemacetan pada iklim investasi dan
pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi rasanya kita akan kurang tepat jika kita menyalahkan
kebijaksanaan suku bunga tinggi tanpa menghubungkan dengan berbagai kebijaksanaan
makro lainnya juga kebijaksanaan tersebut dengan tujuan pembangunan.
Suku bunga di Indonesia pada saat ini tergolong tinggi walaupun sudah
mengalami penurunan ( suku bunga deposito bank yang dijamin oleh pemerintah untuk
jangka waktu satu bulan adalah 46% turun menjadi 44% pertahun tahun 1998, dan saat
ini tahun 2001 turun lagi sekitar 13,5% - 14%), sehingga bagi pemilik uang suku bunga
yang tinggi tentunya lebih diinginkan, sedangkan bagi mereka (pengusaha) yang
memerlukan dana mengharapkan suku bunga yang rendah. Maka untuk mencari titik
tengah antara pemilik uang dan yang memerlukan uang harus dicari tingkat bunga yang
rasional. Tetapi yang harus diingat, saat ini harus berhati-hati dalam menentukan
kebijaksanaan, karena perkembangan ekonomi dunia sudah semakin maju yang berarti
akan semakin komplek dan pelik. Dimana dalam setiap kebijaksanaan kita jangan hanya
menggunakan pertimbangan dalam negeri saja, tetapi perkembangan perekonomian dunia
sangat berperan. Karena dalam kenyataan Bank Indonesia tidak sepenuhnya dapat
mengontrol jumlah uang beredar yang dipengaruhi oleh faktor dalam negeri (kredit
domestik) maupun faktor luar negeri (aktiva luar negeri). Dan penciptaan uang (dalam
arti luas) juga tidak ditentukan oleh Bank Indonesia, tetapi dipengaruhi oleh mekanisme
perbankan melalui penciptaan uang giral. Demikian pula pembentukan suku bunga
nominal yang ada dimasyarakat, selain ditentukan oleh bunga diskonto Bank Indonesia,
juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain seperti efisiensi perbankan dan premium
resiko. Dengan demikian penentuan tingkat suku bunga sangat penting dalam
mempengaruhi kegiatan ekonomi.
B. INDIKATOR YANG MEMPENGARUHI INFLASI
Sulit dipungkiri bahwa dalam beberapa bulan terakhir tahun 1998, sasaran
yang paling menjadi pusat perhatian adalah inflasi. Tidak mengherankan bahwa
pemerintah memusatkan segenap perhatiannya pada upaya pengendalian laju inflasi.
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Halaman : 3 dari 9 halaman
Jika kita melihat pada awal tahun sampai akhir tahun 1998, yang merupakan
faktor penyebab inflasi yang tergolong tinggi penyebabnya antara lain: Pertama, Effek
Demontrasi, Adanya kenaikan harga BBM pada saat menjelang runtuhnya rezim
Suharto, pada saat itu harga BBM naik 75%, kemudian masa penguasa Gusdur dan
terakhir penguasa megawati harga bahan bakar naik, sebagai missal bensin meningkat
hingga Rp. 1.450,00 dan tidak pernah turun lagi, jadi ada kecenderungan naik. Dengan
naiknya harga BBM ini menyebabkan adanya effek Demontrasi yaitu kenaikan harga
BBM tersebut merupakan stimulus bagi kenaikan harga komoditi-komoditi yang lain.
Efek demontrasi ini untungnya tidak semua indikatornya ada, yaitu seperti devaluasi, tarif
listrik dan gaji PNS pada tahun 1998, tetapi tahun 2001 semua variable itu ada kecuali
devaluasi.. Kedua, Expectation Price dan Sindrom Kemiskinan, bahwa ada harapan
harga yang lebih tinggi dikemudian hari atau nantinya dibanding sekarang, dan itu
diderita oleh Produsen, distributor dan konsumen. Penyakit itu bisa kita lihat pada saat
banyak aksi seperti aksi timbun barang, dan aksi borong habis yang mayoritas dilakukan
oleh kaum ibu-ibu rumahtangga yang mungkin disebabkan oleh sindrom kemiskinan,
karena yang mereka borong bukan saja barang-barang yang super mahal saja tetapi yang
super murahpun juga, sebagai contoh garam mereka borong, amat sangat menggelikan
penyakit ini, tapi ini dapat memicu inflasi. Ketiga, Depresiasi rupiah, depresiasi rupiah
akan memicu adanya Imported Infasion, yang akan menyebabkan kenaikan barangbarang yang kita impor baik itu bahan baku maupun barang jadi. Sehingga harga yang
terjadi di dalam negeri akibat depresiasi rupiah harganya akan naik 2 sampai 4 kalinya.
Keempat, seperti apa yang dikemukakan oleh kelompok Moneteris Milton Friedman
yang menyatakan bahwa, “ Inflation is always and everywhere a monetary
phenomenon”, bahwa didalam suatu perekonomian terjadi inflasi itu hal yang bisaa,
dimanapun dan kapanpun, karena inflasi merupakan bumbu dari kegiatan suatu
perekonomian atau diibaratkan minyak pelumasnya suatu perekonomian, akan tetapi
besarnya inflasi haruslah yang masih bisa ditolelir.
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Halaman : 4 dari 9 halaman
C. PERKEMBANGAN INFLASI
Perekonomian Indonesia pada tahun 1998 diwarnai dengan inflasi yang tinggi
yang disebabkan beberapa efek tersebut diatas diantaranya seperti efek demontrasi,
exspectasi price dan sindrom kemiskinan ,dan efek depresiasi rupiah. Indikator-indikator
tersebut diatas merupakan roket dari inflasi yang dapat menyengsarakan atau membuat
terpuruknya perekonomian Indonesia. Sedangkan tahun 2001 ini, agaknya perekonomian
Indonesia akan tetap terpuruk dalam kondisi inflasi yang tinggi, because what ?, itu
karena disamping sebab-sebab diatas yang akan muncul lagi di tahun 2001, ada sebab
lainnya, yaitu adanya program pemerintah yang dinamakan program JPS (Jaring
pengaman Sosial), yang membutuhkan dana sekitar puluhan triliun rupiah. Program
tersebut secara moral amat sangat membantu bagi kelompok unemployment atau korban
PHK, karena program ini akan memberikan pekerjaan untuk mereka yang berupa padat
karya, dari pekerjaan itu tentunya akan meningkatkan nominal pendapatan mereka , juga
secara moral mereka akan terselamatkan dari Zero Incame, dengan kata lain mereka akan
mempunyai daya beli untuk kebutuhan hidup sehari-hari mereka.
Tetapi dengan adanya program JPS tersebut efek negatifnya yaitu akan
menambah JUB(jumlah uang beredar) dan pada akhirnya akan mengobori inflasi,
sehingga walaupun daya beli masyarakat naik tapi inflasi tinggi, maka akan sama saja.
Karena inflasi itu merupakan ongkos yang harus dibayar pada suatu perekonomian. Jadi
dengan adanya program JPS ada sejenis dikotomi yaitu mengurangi pengangguran tapi
inflasi akan meroket, atau sebaliknya.
Hubungan antara laju inflasi dan tingkat pengangguran dapat dijelaskan dalam
Phillips Curve. Inflasi disni yang dimaksud adalah inflasi harga dan inflasi upah. Dalam
kurva Phillips disebutkan sifat umumnya adalah pada mulanya penurunannya adalah
sangat curam, tetapi semakin lama ia semakin bertambah landai. Kurva yang demikian
menggambarkan sifat hubungan yang sebagai berikut : Pertama,
Apabila tingkat
pengangguran sangat rendah, tingkat inflasi sangat cepat kenaikannya, Kedua, apabila
tingkat pengangguran relatif tinggi, kenaikan inflasi relatif lambat berlakunya. Walaupun
berlakunya hubungan laju inflasi harga dan inflasi upah dengan tingkat pengangguran
tidak berbeda, akan tetapi bila laju inflasi harga dengan tingkat pengangguran
digambarkan dan laju inflasi upah dengan tingkat pengangguran juga digambarkan dan
kedua gambar tersebut digambarkan dalam satu gambar, maka akan dapat dilihat
perbedaan keadaannya, yaitu : Pada suatu tingkat pengangguran tertentu, inflasi upah
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Halaman : 5 dari 9 halaman
akan lebih cepat dari infalsi harga. Perbedaan itu disebabkan karena adanya kenaikan
produktivitas yang bersamaan berlakunya dengan kenaikan upah. Sebagai akibat
kenaikan produktivitas tersebut biaya produksi tidak meningkat secepat kenaikan upah,
dan menyebabkan kenaikan harga lebih rendah dari kenaikan upah ( Sadono Sukirno ).
Jadi bila dihubungkan dengan kurva phillips, maka kebijaksanaan pemerintah
dengan JPSnya, dalam kondisi krisis yang mana banyak pengangguran dan korban PHK
seperti saat ini adalah tepat, karena seperti disebutkan dimuka bahwa kenaikan tingkat
harga lebih rendah dari pada kenaikan tingkat upah atau kesejahteraan. Oleh karena itu,
penulis artikel ini sangat mendukung program ini. Disamping kebaikan diatas, efek
positifnya dari program tersebut yang lain adalah dapat mengurangi kejahatan. Kejahatan
bisa disebabkan karena pengangguran (kehilangan pekerjaan) yang berusaha untuk tetap
survive dengan menghalalkan segala cara. Dan pada gilirannya akan menyebabkan
kemerosotan moral yang rentetannya adalah menyebabkan Social Problem,
yang
kesemua itu pada akhirnya akan menjadi hambatan pembangunan.
Indikator lain yang sedang hangat-hangat dibicarakan yang dapat memicu
masalah ekonomi(inflasi) yaitu Rekapitalisasi Perbankan. Rekapitalisasi perbankan yang
rencananya akan memakan dana sebesar Rp. 260 Triliun, guna mendongkrak bank yang
sangat buruk dari segi permodalannya, atau memiliki capital adequency ratio (CAR)
dibawah 4 persen, hal ini tindak lanjut dari apa diumumkan Menkeu Bambang Subianto,
bahwa 96 bank memiliki CAR dibawah 4 persen. Dengan dikucurkannya dana sebesar
Rp 260 Triliun itu kita akan yakin itu akan menambah jumlah uang beredar yang pada
gilirannya akan memicu inflasi. Tetapi perlu diingat bahwa kondisi perbankan kita saat
ini sangat terpuruk sedangkan bank merupakan jantungnya perekonomian maka sudah
bisa dibayangkan bila perbankan terkapar berlumuran darah seperti saat ini, mati tidak,
hidup pun dengan nafas senin-kamis.
Yang perlu dikhawatirkan dengan adanya rekapitalisasi perbankan yang
menelan biaya yang besar bila tidak berhasil, karena kondisi perekonomian kita secara
makro dan mikro kurang mendukung. Dan lagi, bahwa pemerintah sudah mengalami
kegagalan dalam rekapitalisasi pada Bank Exim, yang pada waktu itu menelan dana
sebesar Rp. 20 juta. Disamping kegagalan pada Bank Exim, perlu diingatkan kegagalan
otoritas moneter menyehatkan perbankan dengan memberi BLBI (bantuan likuiditas
Bank Indonesia) yang besarnya mencapai Rp. 140 Triliun yang sampai saat ini nasibnya
masih terkatung-katung dan tidak membawa hasil, parahnya lagi banyak pemilik bank
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Halaman : 6 dari 9 halaman
yang tidak bisa mengembalikan. Sehingga bisa dipastikan dengan banyaknya dana yang
terkucur dan yang tidak dapat ditarik kembali itu sangat inflatoir.
Tapi jika kita takut akan kegagalan tentunya tidak akan maju hidup kita, tapi
yang penting kita haruslah selalu mengoreksi diri apa yang menyebabkan kita gagal
kemarin. Demikianpula dengan rekapitalisasi perbankan yang ibaratnya membuka pintu
untuk menyehatkan bank-bank yang mengalami pendarahan, yang antri di ruang
UGD(unit gawat darurat).
Rekapitalisasi itu akan berhasil asalkan bila diikuti oleh sistem pengambilan
keputusan yang sehat disertai program restrukturisasi dunia usaha yang nyata dan tidak
lupa dan yang saya anggap penting adalah masalah law enforcement di Indonesia masih
sangat kurang. Kalau law enforcement tidak ditingkatkan maka akan ada lagi bankirbankir nakal meraup kocek pemerintah dan nasabah hanya untuk kepentingan mereka
sendiri, dan akan mengakibatkan masalah besar nantinya. Kebijaksanaan otoritas moneter
untuk menyelamatkan perbankan juga mengalami dikotomi yaitu dengan atau tanpa
rekapitalisasi, pemerintah tetap menanggung beban berat, satu sisi jika melakukan
rekapitalisasi memerlukan dana besar dan satu sisi lagi jika tanpa rekapitalisasi, bankbank yang mengalami pendarahan dan menunggu dokter di ruang UGD bisa dipastikan
untuk segera membelikan peti jenasah dan pada gilirannya pemerintah harus
menanggung dana jutaan penabung yang menyimpan dananya di bank yang telah tewas,
jadi maju kena mundur kena.
Faktor lain yang akan berpotensi memicu inflasi tinggi adalah masalah
apresiasi yen terhadap rupiah, kita semua tahu bahwa keterkaitan yang besar antara
industri kita dengan perekonomian Jepang sangat tinggi, sehingga bila terjadi fluktuasi
yen (Apresiasi Yen) tingkat harga dalam industri kita akan bisa dipastikan naik. Dalam
hal ini kenaikan yang bisa dipastikan adalah produk otomotif . Karena industri kita
banyak mengandung muatan input Jepang, sehingga sangat sensitif harga-harga otomotif
di dalam negeri dengan adanya fluktuasi Yen. Dampak yang paling parah yang
meroketkan inflasi tinggi akibat Apresiasi Yen terhadap rupiah yaitu pada saat tahun
ajaran baru yang mana banyak dikonsumsinya produk-produk yang mengandung muatan
input Jepang yaitu otomotif untuk transportasi.
Pada tahun ini, hari hari besar keagamaan nampaknya juga sebagai indicator
yang tidak dapat dipandang enteng untuk dapat mendongkrak laju inflasi, karena
pelaksanaan hari besar yaitu Idul Fitri dan Natal nampaknya sangat berdekatan dan
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Halaman : 7 dari 9 halaman
diikuti oleh tahun baru. Sehingga dapat dibayangkan mulai sekarang bahwa ongkos yang
akan terbayar akan sangat mahal sekali dan itu tidak dapat ditolak.
Jadi bisa dipastikan prospek inflasi kedepan akan tetap meroket, disamping
sebab-sebab ekonomi yang disebutkan dimuka masih banyak indikator non ekonomi yang
dapat memicu inflasi.
D. UPAYA MENDONGKRAK SEKTOR RIIL
Pada waktu ini sektor riil merupakan sektor yang sangat menderita, karena
sektor ini terkena imbas dari beberapa persoalan ekonomi diantaranya Pertama, suku
bunga, dalam mengatasi inflasi Otoritas Moneter menetapkan suku bunga yang tinggi,
hal ini tentunya akan mempengaruhi tingkat investasi yang pada gilirannya
mempengaruhi kegiatan ekonomi. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh keynes
bahwa tingkat bunga merupakan penghubung antara sektor keuangan dan riil. Kedua,
persoalan kurs , Depresiasi nilai rupiah menyebabkan persoalan kurs yang melanda
perekonomian indonesia. Memang, sebagian sektor riil menikmati keuntungan besar dari
merosotnya nilai rupiah yang dikarenakan pendapatan mereka dalam valuta asing,
sedangkan biaya produksinya dalam rupiah, sebagian dari sektor ini adalah sektor
pertanian dan perkebunan. Tetapi selama persoalan kurs tidak dapat dipecahkan, sektor
riil akan tetap terbelenggu ruang geraknya. Jadi persoalan ekonomi akan clear dan akan
terjadi pertumbuhan ekonomi yang diinginkan bila masalah kurs teratasi dan
keseimbangannya lebih banyak. Dampak yang paling nyata adanya persoalan kurs ini
adalah terutama industri berbahan baku impor, itu jelas akan memotong sektor riil yang
terkait dengan sektor luar negeri. Ketiga, terpuruknya sektor perbankan, sekarang sektor
riil sangat sulit memperoleh sumber dana karena sektor perbankan saat ini mati suri, hal
ini jelas memukul sektor riil. Selain itu belum lagi tingginya biaya transaksi, termasuk
biaya ilegal. Keempat, stabilitas sosial, banyaknya kerusuhan yang terjadi belakangan ini
seperti issue SARA, bentrokan berdarah di beberapa tempat dijakarta, Sampit dan disusul
oleh aksi Sweeping kepada penduduk warga negara Amerika Serikat berkaitan dengan
masalah Afganistan, yang telah mempengaruhi investor asing untuk menanamkan
modalnya di Indonesia. Jadi stabilitas politik dan jaminan keamanan harus ditingkatkan
karena tanpa itu investor asing akan takut untuk membenamkan dananya disini karena
beresiko. Sebagai contoh Seagate Technology Sumatera produsen hardisk dari Amerika
Serikat, karena kondisi stabilitas sosial di Indonesia goyah, maka yang semula sudah siap
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Halaman : 8 dari 9 halaman
membenamkan modalnya sekitar Rp. 10 Triliun di kawasan Industri Medan Sumatra
utara untuk sementara hengkang dulu ke Subic Filipina. Untuk masalah stabilitas sosial
memang sangat berpengaruh secara mental kepada para investor. Karena orang tidak
akan berbisnis dalam situasi yang diliputi ketidak pastian. Bisnis akan semakin terpuruk
bila terjadi kerusuhan terus menerus. Tapi kita masih dapat bersyukur bahwa seperti apa
yang dikatakan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pihaknya telah menyetujui
sejumlah investasi asing yang baru pada tahun ini.
Dari beberapa persoalan tersebut diatas, Maka untuk mendongkrak sektor riil,
Pemerintah harus dapat memberikan stimulus pada sektor riil dengan persoalan ekonomi
yang membuatnya terpuruk. Kalau kita lihat, suku bunga turun ( bunga deposito yang
ditanggung pemerintah dalam satu bulan 46% menjadi 14% pertahun). Sedangkan kurs
juga telah mengalami penurunan tetapi kembali meroket hingga menembus Rp.
10.700,00 per Dollar yang disebabkan beberapa factor non ekonomi. Tapi tingkat kurs
tersebut masih diharapkan dapat turun atau adanya Apresiasi Rupiah. Sehingga dengan
adanya penurunan kurs sektor riil yang terkait dengan industri yang berbahan baku
impor dapat terangkat nasibnya dan pada gilirannya akan memberikan keuntungan pada
sektor riil kemudian terjadi perluasan usaha (investasi meningkat ) lalu pengangguran
yang ada sudah dapat dipastikan akan teratasi dan pada akhirnya akan meningkatkan daya
beli masyarakat. Untuk mendongkrak dari terpuruknya sektor perbankan, seperti belum
lama ini, pemerintah melakukan rekapitalisasi perbankan dengan menyuntikkan dana Rp.
260 Triliun kepada bank yang sangat buruk dari segi permodalan, atau memiliki Capital
adequency ratio (CAR) dibawah 4 persen. Dengan diadakannya rekapitalisasi memang
sarat dengan resiko. Kita tahu angka Rp. 260 Triliun merupakan angka yang sangat besar,
sedangkan dana itu digunakan untuk membenahi perbankan yang bobrok, tetapi jika
program ini gagal bisa dibayangkan berapa uang rakyat yang hilang. Maka program ini
harus berhasil. Untuk berhasilnya program ini sebaiknya otoritas moneter dapat memilih
bank-bank yang layak diberi suntikan dana dan bank-bank yang mana tidak layak diberi
suntikan dana. Dan bank-bank yang tidak layak diberi suntikan dana dalam arti bank itu
sudah amat sangat sulit untuk ditolong atau diselamatkan dari kebobrokan akan lebih baik
bank-bank tersebut dilikuidasi. Dengan tindakan melikuidasi bank-bank yang tidak
mungkin diselamatkan akan lebih banyak manfaatnya antara lain dapat mengurangi
besarnya dana untuk rekapitalisasi tersebut dan menghindarkan dari bankir nakal yang
meraup dana pemerintah dan nasabah hanya untuk kepentingan pribadi mereka. Maka
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Halaman : 9 dari 9 halaman
untuk menghindari bankir-bankir yang nakal pemerintah harus meningkatkan law
enforcement dan sikap tegas. Dengan ditingkatnya law enforcement dan sikap tegas
pemerintah dapat mencegah bankir-bankir nakal merajalela yang dapat menimbulkan
banyak masalah dikemudian hari.
Prospek dari investasi pada tahun 2002 saya tetap optimis. Asalkan pemerintah
yang ada sekarang tidak mengulang kesalahan yang telah dilakukan pemerintah yang
terdahulu seperti di pasar domestik pernah terjadi praktek monopoli, pasar yang tertutup,
dan adanya perlakuan berbeda terhadap perusahaan-perusahaan tertentu. Dan bila itu
terjadi saya semakin optimis dalam 4 tahun pertumbuhan ekonomi kita akan kembali
naik.
Dan seperti yang dinyatakan oleh banyak pihak bahwa Indonesia punya
sumberdaya manusia dan sumber daya alam, yang kedua sumberdaya itu melimpah dan
belum digunakan sepenuhnya. Maka jika kedua sumber daya tersebut telah diolah dan
digunakan dengan optimum, Saya yakin perekonomian Indonesia akan seperti yang
diharapkan dikemudian hari.
Modul Ekonomi Indonesia
Anton Bawono, S.E., M.Si.
Fly UP