...

Klaster Pengembangan Industri Berbasis Perkebunan dalam

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Klaster Pengembangan Industri Berbasis Perkebunan dalam
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
C-78
Klaster Pengembangan Industri Berbasis Perkebunan
dalam Pengembangan Wilayah di Provinsi Aceh
Adinda Putri Siagian dan Eko Budi Santoso
Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember
(ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: [email protected]
Abstrak—Sektor strategis yang menentukanwilayah
berkembang dengan cepat adalah sektor basis dan sektor
industri.Provinsi Aceh memiliki laju pertumbuhan wilayah
lambat karena termasuk 10 provinsi termiskin di
Indonesia.Provinsi Aceh memiliki sektor basis pertanian
khususnya subsektor perkebunan sebagai penopang ekonomi di
luar sektor migas.Sedangkan kondisi sektor industri (non migas)
belum memberi kontribusi ekonomi signifikan.Upaya
peningkatan laju pertumbuhan wilayah Aceh perlu didukung
oleh adanya pengembangan industri berbasis perkebunan.Maka
perlu adanya penentuan klaster wilayah pengembangan industri
berbasis perkebunan dalam pengembangan wilayah di Provinsi
Aceh.Tahapan penelitian terdiri atas 1) Penentuan jenis
komoditas unggulan perkebunan Aceh dan 2) Pembagian klaster
wilayah pengembangan industri berbasis perkebunan dalam
Provinsi Aceh.Metode penelitian menggunakan teknik analisa
Location Quotient (LQ), Shift-Share Analysis (SSA), Quartil,dan
Hierarchihal Cluster.Hasil penelitian didapatkan jenis komoditas
unggulan perkebunan Aceh adalah Karet, Kakao, Kelapa Sawit.
Pembagian Klaster pengembangan wilayah industri :1) Klaster
wilayah pengembangan industri I berbasis bahan baku terdiri
dari Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Tamiang, Aceh Utara, 2)
Klaster wilayah pengembangan industri II berbasis pemasaran
terdiri atas Kabupaten/Kota Aceh Singkil, Aceh Besar, Banda
Aceh, Lhokseumawe, Pidie, Bireuen, 3) Klaster wilayah
pengembangan industri III berbasis tenaga kerja meliputi
Kabupaten/Kota Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Gayo Lues,
Bener Meriah, Simeulue, Aceh Selatan, Aceh Tengah, Langsa,
Pidie Jaya, Aceh Jaya, Subulussalam dan Aceh Barat.
Kata Kunci— industri, pengembangan, perkebunan, wilayah.
untuk meningkatkan pertumbuhan perekonomian Indonesia
yang berkelanjutan menetapkan strategi utama dalam
mendorong peningkatan nilai tambah sektor – sektor unggulan
ekonomi,
pembangunan
infrastruktur
dan
energi,
pembangunan SDM dan Iptek. Strategi pengembangan
Koridor Sumatera memiliki fokus tema pembangunan sebagai
sentra produksi dan pengolahan hasil bumi dan lumbung
energi nasional [3].
Provinsi Aceh yang termasuk dalam koridor utara Sumatera
memiliki laju pertumbuhan wilayah yang lambat, kondisi
tersebut ditentukan dari peringkat ekonomi Aceh yangmasih
berada pada 10 provinsi termiskin di Indonesia [4]. Secara
empiri, kontribusi ekonomi Aceh ditopang oleh sektor basis
pertanian yang memiliki persentase 26 – 28 persen sejak tahun
2008-2010. Sedangkan kontribusi sektor industri non migas
terhadap perekonomian masih sangat rendah 3,02
persen.Berdasarkan
persentase
luasan
penggunaan
lahannya,luasan penggunaan lahan sebagai kegiatan industri
di Aceh hanya 0,07 persen sedangkan subsektor perkebunan
memiliki luasan penggunaan lahan 18 persen dari total luas
lahan keseluruhan [5]. Komoditas andalan perkebunan Aceh
yang tersebar hampir di seluruh wilayah adalah Komoditas
Kopi, Kakao, Karet, dan Kelapa Sawit [6].
Maka, upaya dalam mendorong laju pertumbuhan wilayah
dan pertumbuhan ekonomi dalam Provinsi Aceh memerlukan
adanya pengembangan industri berbasis komoditas
perkebunan dalam pengembangan wilayah.
I. PENDAHULUAN
II. METODE PENELITIAN
P
ENGEMBANGAN wilayah memiliki tujuan untuk
meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan mendorong
laju pertumbuhan wilayah dengan ditunjukkan oleh indikator
pendapatan perkapita yang merata dan tingkat pengangguran
yang
rendah [1]. Seiring penurunan proporsi dalam
pemanfaatan sumber daya pertanian (primer) dan kenaikan
proporsi pada kegiatan sektor industri pendapatan
perkapitaakan meningkat.Konsep pertumbuhan wilayah model
basis ekspor dan pendekatan sektor menekankan pada dua
sektor strategis yang menjadi faktor penentu dalam
mengembangkan wilayah dapat berkembang dengan
cepat.Sektor strategis tersebut yakni sektor basis dan sektor
industri [2].
Penetapan Strategi Masterplan Percepatan dan Perluasan
Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011 – 2025
A. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini didapatkan
melalui survey sekunder.Survey sekunder terdiri dari survey
instansional dan survey literatur.Data survey sekunder yang
digunakan dalam penelitian antara lainterkait data administrasi
wilayah, data demografi, data produksi komoditas unggulan
perkebunan Aceh, data harga jual komoditas perkebunan
Aceh,data infrastruktur wilayah Aceh.
B. Metode Analisis
Tahapan analisis untuk memperoleh tujuan penelitian yaitu
menentukan klaster wilayah pengembangan industri berbasis
perkebunan dalam pengembangan wilayahdi Provinsi
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
Aceh.Tahapan penelitian :1) Menentukan komoditas unggulan
perkebunan denganmenggunakan teknik analisa Location
Quotient (LQ) dan Shift Share Analysis (SSA), 2) Menentukan
pembagian klaster wilayah pengembangan industridengan
menggunakan teknik analisaQuartil danHierarchical Cluster.
C. Penentuan Jenis Komoditas Unggulan Perkebunan
Penentuan jenis komoditas unggulan perkebunan Aceh
dilakukan dengan teknik analisa Location Quotient (LQ) dan
Shift Share Analysis (SSA).Perbadingan relative model
Location Quotient memiliki rumus sebagai berikut :
LQ=
Vik /Vk
Vip /Vp
Perumusan output nilaiLQ sebagai berikut :
• LQ > 1, komoditas perkebunan i merupakan basis
ekonomi di kabupaten k.
• LQ < 1, komoditas perkebunan i bukan sektor basis.
• LQ = 1, komoditas perkebunan memiliki nilai laju
pertumbuhan sama dengan daerah referensi.
Teknik kuantitatif Shift Share Analysis(SSA)memiliki fungsi
untuk mengidentifikasi tingkat daya saing komoditas pada
masing – masing wilayah studi. Model SSA memiliki rumus
sebagai berikut :
PPW = ri(ri’/ri-nt’/nt)
PP
= ri (nt’/nt-Nt’/Nt)
PB
= PP + PPW
Berikut perumusan output nilai PB dari analisis SSA :
• PB ≥ 0, tingkat pertumbuhan tinggi (maju)
• PB ≤ 0, tingkat pertumbuhan lamban
Penentuan jenis komoditas unggulan perkebunan yang
berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku industri adalah
jenis komoditas perkebunan dengan nilai LQ > 1 dan PB ≥ 0.
D. Penentuan Klaster Wilayah Pengembangan Industri
Penentuan klaster wilayah pengembangan industri berbasis
perkebunan di Provinsi Aceh menggunakan teknik analisa
Hierarchical Cluster.Adapun pembentukan klaster wilayah
pengembangan industri ditentukan berdasarkan indikator dari
pengembangan industri dalam wilayah[7]. Indikator
pembentukan klaster wilayah pengembangan industri tersebut
antara lain :
1. Kedekatan sumber bahan baku
2. Ketersediaan tenaga kerja
3. Kemudahan Akses Pasar
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Provinsi Aceh memiliki luas wilayah 56.770,81 km2.Luas
penggunaan lahan terbesar adalah hutan dengan luas
2.291.080 Ha yaitu 40,36 persen dari luas total wilayah. Luas
penggunaan lahan perkebunan adalah 1001.081 ha yaitu
C-79
sebesar 18 persen dari luas total wilayah dan luasan
penggunaan lahan terendah adalah industri dengan luas
sebesar 3.928 ha atau 0,07 persen dari luas total wilayah
Provinsi Aceh.
A. Penentuan Jenis Komoditas Unggulan Perkebunan
Penentuan jenis komoditas unggulan perkebunan dilakukan
untuk mengidentifikasi jenis komoditas yang berpotensi
dikembangkan sebagai bahan baku industri berbasis
perkebunan. Komoditas perkebunan pada wilayah penelitian
didominasi oleh komoditas perkebunan Kopi, Kakao, Karet,
dan Kelapa Sawit.
1) Analisa Location Quotient (LQ)
Berdasarkan teknik analisa LQ,dapat diidentifikasi bahwa
komoditas yang memiliki nilai LQ>1 menunjukkan tingkat
basis tinggi dibandingkan pada wilayah yang lainnya sehingga
berpotensi sebagai komoditas strategis untuk dikembangkan
lebih lanjut (lihat Tabel 1).
Berikut wilayah basis komoditas perkebunan:
1. Kelapa Sawit :Aceh Singkil,Aceh Selatan,Aceh Timur,
A.Barat Daya, Aceh Tamiang, Nagan Raya, Subulussalam.
2. Karet : Aceh Tenggara, Aceh Timur, Aceh Barat, Aceh
Utara, Aceh Tamiang, Aceh Jaya, Langsa, Subulussalam.
3. Kopi : Aceh Selatan, Aceh Tengah, Aceh Besar, Gayo
Lues, Bener Meriah.
4. Kakao : Simeulue, A. Tenggara, Aceh Timur, Aceh Besar,
Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Barat Daya, Gayo Lues,.
2) Shift Share Analysis (SSA)
Berikut wilayah yang memilikioutput nilai PB≥ 0 (lihat
Tabel 2).
Maka, berdasarkan hasil kompilasi output nilai LQ>1 dan
PB ≥ 0 didapatkan jenis komoditas unggulan perkebunan di
Aceh yang berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut
sebagai bahan baku industri berbasis perkebunan adalah
komoditas Kelapa Sawit, Karet dan Kakao.Sedangkan
komoditas Kopi bukan merupakan komoditas unggulan (lihat
Tabel 3).
B. Penentuan Klaster Pengembangan Industri Perkebunan
Penentuan klaster pengembangan industri berbasis
perkebunan dalam pengembangan wilayah di Provinsi Aceh
dilakukan dengan menggunakan teknik analisa Quartil dan
Hierarchical
Cluster.Pembagian
klaster
wilayah
pengembangan industri berbasis perkebunan diklasifikasikan
sebagaiberikut:
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
Tabel 1.
Hasil perhitungan analisa LQ
LQ
Kab/Kota
K.Sawit
Karet
Kopi
1.Simeulue
0,28
0,92
0,00
2.Aceh Singkil
3,93
0,51
0,02
3.Aceh Selatan
2,17
0,54
1,28
4.A. Tenggara
0,29
1,15
0,01
5.Aceh Timur
1,03
1,42
0,02
6.Aceh Tengah
0,00
0,00
5,34
7.Aceh Barat
0,33
2,47
0,03
8.Aceh Besar
0,08
0,00
4,03
9.Pidie
0,00
0,00
0,83
10.Bireuen
0,12
0,47
0,00
11.Aceh Utara
0,86
1,27
0,06
12.A.Barat Daya
1,05
0,06
0,22
13.Gayo Lues
0,00
0,00
2,47
14.A. Tamiang
2,00
1,45
0,00
15.Nagan Raya
2,98
0,66
0,02
16.Aceh Jaya
0,57
2,19
0,17
17.Bener Meriah
0,00
0,00
5,45
18.Pidie Jaya
0,11
0,00
0,01
19.Banda Aceh
0,00
0,00
0,00
20.Sabang
0,00
0,00
0,00
21.Langsa
0,19
2,29
0,00
22.Lhokseumawe
0,42
0,50
0,20
23.Subulussalam
2,17
0,01
0,01
Sumber :Hasil Analisis, 2013
Tabel 2.
Hasil Perhitungan SSA (PB≥0)
PB ≥ 0
Kab/Kota
K.Sawit
Karet
Kopi
1.Simeulue
√
2.Aceh Singkil
√
3.Aceh Selatan
√
4.A. Tenggara
√
√
5.Aceh Timur
√
6.Aceh Tengah
7.Aceh Barat
√
8.Aceh Besar
√
9.Pidie
√
10.Bireuen
11.Aceh Utara
√
12.A.Barat Daya
13.Gayo Lues
√
√
14.A. Tamiang
√
15.Nagan Raya
16.Aceh Jaya
17.Bener Meriah
√
18.Pidie Jaya
19.Banda Aceh
20.Sabang
21.Langsa
√
22.Lhokseumawe
23.Subulussalam
Sumber : Hasil Analisis, 2013
Kakao
2,41
0,05
0,53
2,07
1,07
0,14
0,11
1,02
3,38
3,20
1,40
2,89
2,20
0,26
0,61
0,21
0,06
3,88
0,00
3,98
0,49
2,76
0,16
C-80
Tabel 3.
Hasil KompilasiNilai LQ>1 dan PB≥0
LQ>1, PB≥0
Kab/Kota
K.Sawit
Karet
Kopi
1.Simeulue
2.Aceh Singkil
√
3.Aceh Selatan
√
4.A. Tenggara
√
5.Aceh Timur
√
6.Aceh Tengah
7.Aceh Barat
√
8.Aceh Besar
9.Pidie
10.Bireuen
11.Aceh Utara
√
12.A.Barat Daya
√
13.Gayo Lues
14.A. Tamiang
√
15.Nagan Raya
√
√
16.Aceh Jaya
17.Bener Meriah
18.Pidie Jaya
19.Banda Aceh
20.Sabang
21.Langsa
√
22.Lhokseumawe
23.Subulussalam
Sumber :Hasil Analisis, 2013
Kakao
√
√
√
-
Tabel 4.
Deskripsi Output Analisa Quartil
Kakao
√
√
√
-
1. Wilayah pengembangan industri berorientasi pada
kedekatan sumber bahan baku mentah.
2. Wilayah pengembangan industri berorientasi pada
kemudahan akses pasar.
3. Wilayah pengembangan industri berorientasi pada
ketersediaan tenaga kerja.
1) Analisa Quartil
Tahap pembentukan klaster wilayah pengembangan industri
berbasis perkebunan berorientasi pada bahan baku mentah
dilakukan dengan menggunakan teknik analisa Quartil.
Kab/Kota
1.Karet
2.Kakao
3.Kelapa Sawit
Nilai Kontribusi (%)
Rendah
≤ 5,75
≤ 8,17
≤ 3,83
Tinggi
5,76 – 24,41
8,18 – 20,27
3,84 – 23,26
Sumber : Hasil Analisis, 2013
Tabel 5.
Wilayah Penghasil Komoditas Unggulan Perkebunan
Klasifikasi Klaster Wilayah Pengembangan
Klaster 1
Klaster wilayah pengembangan
industri berorientasi pada kedekatan
sumber bahan baku mentah
1. Aceh Tamiang
2.Aceh Tenggara
3.Aceh Utara
4.Aceh Timur
5.Aceh Singkil
Sumber :Hasil Analisis, 2013
Pengelompokkan wilayah tersebut berdasarkan ouput nilai LQ
dan PB pada hasil analisa sebelumnya serta nilai kontribusi
produksi komoditas. Sehingga akan terbentuk klaster
wilayahyang merupakan kelompokwilayah yang memiliki nilai
LQ>1, PB≥0, dan nilai kontribusi produksi tinggi.Berikut input
data Analisa Quartil. Berikut hasil perhitungan analisa Quartil
menggunakan software minitab 16 (lihat Tabel 4).
Berdasarkan hasil kompilasi nilai LQ>1, nilai PB ≥ 0, dan
nilai kontribusi produksi masing – masing komoditas, wilayah
yang berpotensi tinggi pada bahan baku dan secara geografis
memiliki
wilayah
yang
saling berdekatan maka
diklasifikasikan sebagai klaster wilayah pengembangan
industri berorientasi pada sumber bahan baku. Klaster wilayah
tersebut terdiri atas Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Utara,
Aceh Singkil, Aceh Timur, dan Aceh Tenggara (lihat Tabel 5).
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
2) Hierarchical Cluster
Pembentukan klaster wilayah pengembangan industri yang
berorientasi pada sumber tenaga kerja dan akses pemasaran
dilakukan dengan menggunakan teknik analisa Hierarchical
Cluster.Pada proses analisa Cluster tersebut, kabupaten yang
termasuk dalam klaster wilayah penghasil komoditas unggulan
perkebunan (lihat Tabel 5) tidak dimasukkan sebagai input
data analisa Cluster.
C-81
Analisa Hierarchical Cluster
Berdasarkan pembentukan klaster yang telah ditunjukkan
dengan dendogram, pemetaan wilayah dapat dilihat
padaGambar 1.
Klasifikasi klaster wilayah pengembangan industri berbasis
perkebunan di Aceh terbagi menjadi tiga terdapat pada Tabel
6.
Gambar. 1. Peta Pembagian Klaster Wilayah Pengembangan Industri Berbasis Perkebunan dalam Pengembangan Wilayah di Provinsi Aceh.
Proses analisa dengan input data didapatkan hasil
pengelompokkan klaster wilayah pengembangan industri
berbasis perkebunan sebagai berikut.
Tabel 6.
Klaster Wilayah Pengembangan Industri
Klasifikasi Klaster Wilayah Pengembangan
Karakteristik Wilayah
Klaster 1
Klaster wilayah pengembangan
industri berorientasi pada
kedekatan sumber bahan baku
mentah.
Karakteristik Wilayah
Klaster wilayah pengembangan
industri berorientasi pada
kemudahan akses pemasaran
baik darat, laut, maupun udara.
Karakteristik Wilayah
Gambar
1.Dendogram. Hasil pembagian klaster wilayah berdasarkan ouput
1. Aceh Tamiang
2.Aceh Tenggara
3.Aceh Utara
4.Aceh Timur
5.Aceh Singkil
Klaster 2
1. Aceh Besar
2.Banda Aceh
3.Sabang
4.Lhokseumawe
5.Pidie
6.Bireuen
Klaster 3
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print)
Klasifikasi Klaster Wilayah Pengembangan
Karakteristik Wilayah
Klaster 1
Klaster wilayah pengembangan
industri berorientasi pada
kecukupan sumber daya
manusia yang berpotensi tinggi
menjadi tenaga kerja industri.
1.Aceh Barat Daya
2.Nagan Raya
3.Gayo Lues
4.Bener Meriah
5.Simeulue
6.Aceh Selatan
7.Aceh Tengah
8.Langsa
9.Pidie Jaya
10.Aceh Jaya
11.Subulussalam
12.Aceh Barat
Sumber : Hasil Analisis, 2013
IV. KESIMPULAN
Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Komoditas unggulan perkebunan dikembangkan lebih
lanjut dalam mendukung kegiatan sektor industri di
Aceh adalah Karet, Kakao, dan Kelapa Sawit.
2. Terbentuk tiga klaster wilayah pengembangan industri
berbasis perkebunan dalam pengembangan wilayah di
Aceh.
3. Pembentukan klaster mendukung pengembangan
kegiatan pengembangan sektor industri dengan
menyesuaikan potensi wilayah yang dimiliki
C-82
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
[5]
[6]
[7]
Alkadri, et al dkk,Manajemen Teknologi untuk Pengembangan
Wilayah,Jakarta :Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (2001).
Adisasmita, Rahardjo, Pengembangan Wilayah-Arahan dan Teori,
Yogyakarta : Graha Ilmu (2008).
Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi
Indonesia (MP3EI 2011-2025), Kementrian Koordinator Bidang
Perekonomian (2011)
Sensus BPS Nasional, Badan Pusat Statistik Nasional (2010)
Aceh dalam Angka,,Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh (2011)
Potensi Investasi Aceh Sektor Perkebunan, Badan Investasi dan Promosi
Aceh, Available :http://2012.acehinvestment.com
Arsyad, Lincolin, Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta : UPP STIM
YKPN
Fly UP