...

INTERPRETASI SIMBOL “ISLAM PASTI, NKRI HARGA MATI

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

INTERPRETASI SIMBOL “ISLAM PASTI, NKRI HARGA MATI
1
INTERPRETASI SIMBOL “ISLAM PASTI, NKRI HARGA MATI”
(REFLEKSI MASYARAKAT LOKAL ATAS KONDISI ISLAM DAN
BERNEGARA)
Oleh:
Dina Tsalist Wildana
[email protected]
ABSTRAK
Sejarah panjang menceritakan kedekatan agama Islam dengan budaya,
sehingga Geertz mengatakan bahwa agama masyarakat Jawa adalah
sinkretik. Demikian pula daerah-daerah lain di nusantara, Islam mudah
tersebar karena sikap terbuka terhadap budaya setempat. Sikap yang
demikian ini belakangan mendapat stigma bid’ah dan tahayul serta mendapat
serangan atas nama pemurnian islam. Salah satu pondok pesantren di Jakarta
dengan kelompok dakwahnya pasang badan di depan para tokoh budayawan
dengan tetap mengatasnamakan Islam. Indonesia dengan berbagai corak
budyaa yang dimiliki bisa tetap Islam tanpa harus berubah menjadi bangsa
lain. Dengan semboyan “Islam Pasti NKRI Harga Mati” kelompok ini ingin
membangkitkan kembali kecintaan, kebanggaan dan kepercayaan diri
menjadi Bangsa Indonesia.
Key Words: Interpretasi Simbol, Islam, NKRI
A. PENDAHULUAN: GERAKAN ISLAM DI INDONESIA
Imperialisme dan kolonialisme yang terjadi di Indonesia sejatinya
memang tidak menguasai secara langsung pemerintahan yang ada. Belanda
tidak menguasai secara langsung kerajaan-kerajaan yang ada ketika itu,
seperti pemerintahan kerajaan Surakarta, Yogyakarta, Cirebon,
Mangkunegaran, atau Pakualaman. Namun Belanda mempunyai pengaruh
kuat dalam setiap pengaturan pemerintahannya, seperti pada pemilihan
Patih, urusan keuangan internal, sampai pada pengelolaan aset sumber daya
alamnya. Disamping itu, kolonial Belanda juga menempatkan orang-orangnya
dalam struktur pemerintahan diluar pemerintahan kerajaan yang ada.
Pejabat Belanda diposisikan sampai pada tingkat Residen, Asisten Residen,
Kontrolir di tingkat Kabupaten dan menempati posisi strategis dalam
perusahaan perkebunan seperti perusahaan kopi, rempah-rempah, tebu dan
perusahaan lainnya. (Soegijanto Padmo, 2004: 13)
Kondisi kolonialis yang mencekik kehidupan masyarakat dan kemiskinan
yang kian merajalela seperti itulah, kemudian memberikan inspirasi bagi
berbagai kalangan Islam seiring dengan munculnya semangat nasionalisme
Islam dan nasionalisme kebangsaan dari berbagai penjuru dunia untuk
membangkitkan semangat nasionalisme di Indonesia ketika itu dan dimulai
oleh tokoh-tokoh Islam seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan
beberapa tokoh Islam lainnya untuk berjuang mengubah nasib masyarakat
melalui berbagai cara, mulai dari jalur pendidikan, sosial budaya, ekonomi,
politik dan bahkan jalur konfrontasi fisik.
2
Gerakan Islam yang terjadi di Indonesia tidak terlepas dari
perkembangan gerakan pembaharuan Islam di negara-negara Arab terutama
bagi kalangan tokoh yang melakukan ibadah haji sekaligus menuntut ilmu di
Mekkah dan tentu bersamaan dengan berkembangnya gerakan Wahabiyah
yang menginginkan pemurnian pelaksanaan ajaran Islam.
Pada tahun 1803, terdapat beberapa orang Minang, pergi menunaikan
haji dan tinggal di Mekkah selama beberapa tahun. Mereka merasakan
perkembangan gerakan Wahabisme. Ketika mereka pulang, kehidupan
masyarakatnya bertolak belakang dengan kebiasaan yang biasanya mereka
temui di negara Arab. Oleh karena itu, mereka melakukan gerakan-gerakan
yang diilhami oleh semangat Wahabisme. Sementara di Luhak Agam, para
tokoh agama seperti Tuanku Nan Renceh, Tuanku Bansa, Tuanku Galung,
Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Padang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku
Kubu Ambelan dan Tuanku Kubu Sanang mulai menegakkan syari’at Islam
sekaligus memberantas kemaksiatan yang terjadi di tengah-tengah
masyarakat ketika itu. Selain itu, terjadi gerakan pembaharu Islam di
Minangkabau seperti gerakan Kaum Paderi yang dipelopori oleh Muhammad
Syahab yang membangun benteng di Bonjol sehingga dikenal dengan Imam
Bonjol. Gerakan yang mereka lakukan tidak hanya pada persoalan sosial,
ekonomi dan politik, mereka juga melakukan tindakan kekerasan sehingga
pecah perang terbuka antara Kaum Paderi melawan Kaum Adat yang
bekerjasama dengan Belanda. (Deliar Noer, 2001: 145)
Ulama Indonesia lainnya yang menjadi guru bagi para tokoh Islam
selanjutnya adalah Syaikh Ahmad Khatib. Beliau adalah tokoh Islam yang
mendalami ilmu agama Islam di Mekkah dan menggunakan paham Madzhab
Syafi’i. Beliau dipercaya di Mekkah menjadi Imam Madzhab Syafi’i.
Pandangannya sangat kritis terhadap adat Minang sehingga banyak
memberikan sumbangsih pengetahuan terhadap perkembangan Islam,
khususnya di minangkabau dan umumnya di Indonesia. Beliau banyak
melahirkan tokoh-tokoh Islam yang juga menjadi tokoh pembaharu Islam di
Indonesia, seperti Syeck Muhammad Jambek, Abdul Karim Amrullah,
Abdullah Ahmad, dan Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah.
(Deliar Noer, 2001: 156)
Gerakan Islam di Indonesia diawali oleh berdirinya Serikat Dagang Islam.
Meski pada awalnya organisasi ini hanya bertujuan untuk menciptakan daya
saing yang kuat bagi pengusaha pribumi melawan dominasi Cina dalam
industri Batik yang disokong oleh Belanda. Organisasi ini didirikan oleh H.
Samanhudi di Solo pada 16 Oktober 1905. Gerakan SDI diarahkan untuk
menghimpun kekuatan pedagang batik untuk melawan Cina yang ketika itu
memonopoli perdagangan bumbu batik dan menghadapi superioritas Cina
sebagai dampak dari Revolusi Cina pada 1911. (Soegijanto Padmo, 2004: 25)
Serikat Dagang Islam sangat cepat memperoleh dukungan dari
masyarakat pribumi yang tidak semata-mata hanya untuk memerangi Cina,
namun karena adanya sikap fanatisme Islam yang kuat dan perasaan anti
kolonial yang membuat masyarakat sengsara dan membuat mereka cepat
beradaptasi dan menerima SDI. Atas usul Tjokroaminoto, keanggotaan SDI
kemudian tidak dibatasi hanya para pedagang saja, namun diperluas
3
sehingga kata dagang saat menyusun anggaran dasar organisasinya dihapus
dan diganti dengan nama Sarekat Islam sehingga gerakan Sarekat Islam yang
semula hanya memajukan perdagangan, sekedar membantu terbinanya
rohani dan jasmani, memajukan agama Islam, kemudian pada tahun 1917
berkembang menjadi gerakan politik yang berdasarkan Islam sebagai dasar
perjuangannya dan mencita-citakan kemerdekaannya. (Deliar Noer, 2001:
150)
Selain SDI, gerakan Islam juga muncul pada 1905 yang
mengatasnamakan diri sebagai gerakan Al-Jamiat Al Khair. Gerakan ini
sebagian besar digerakkan oleh peranakan orang arab. Gerakan jamiat al
khair ini bergerak dibidang pendidikan dan sosial. Untuk menyukseskan
kegiatannya, gerakan ini mendatangkan Syekh Ahmad Soorkati dari Sudan,
Syeik Muhammad thaib dari maroko dan syeik Muhammad abdul hamid dari
mekkah. Mereka adalah pakar pendidikan yang notabenenya adalah murid
dari Muhammad abduh. Mereka menganjurkan persamaan sesame muslim
dan kembali kepada pemikiran Al Quran dan hadis. Sikap pemikiran ini
ternyata mengundang reaksi keras, terutama dari peranakan arab kelompok
sayyid yang selama ini menikmati penghormatan berlebihan dan merasa
dirinya berkedudukan tinggi dari golongan lain dalam masyarakat Islam di
Jawa sebab terdapat asumsi bahwa mereka adalah keturunan dari nabi
Muhammad saw. Akibat perbedaan inilah, gerakan jamiyah al khair ini
mengalami perpecahan. (Deliar Noer, 2001: 160)
Gerakan Islam di Indonesia yang lain adalah al-Islah wal Irsyad atau lebih
dikenal dengan sebutan Al-Irsyad. Gerakan ini merupakan sempalan gerakan
Al Khair. Al Irsyad didirikan oleh syeik ahmad soorkati pada 1914 masehi
dengan tujuan untuk memajukan pendidikan agama Islam secara murni
dikalangan orang arab peranakan. Soorkati kemudian mendirikan madrasah
Al Irsyad. Gerakan ini berkembang didaerah pesisir seperti Surabaya,
pekalongan, tegal, Jakarta dan sekitarnya. Dalam bidang sosial dan dakwah
Islamiyah, gerakan ini menggunakan dasar Al qur’an dan hadist secara murni.
Al Irsyad muncul sebagai dampak dari perbedaan dalam internal al-khair
mengenai persoalan kafaah atau boleh tidaknya golongan arab keturunan ali
bin abi thalib atau yang sering dikenal dengan golongan alawiyyin menikah
dengan golongan lain. (Harun Nasution, 1991: 206 – 230)
Di bandung juga muncul gerakan Islam yang mengatasnamakan
organisasi persatuan Islam (Persis). Persis didirikan oleh KH Zamzam pada
17 september 1923. Persis didirikan dengan tujuan untuk mengembalikan
kepemimpinan Islam pada al-qur’an dan hadist. Langkah awal gerakan ini
adalah mendirikan madrasah, pesantren, kegiatan tabligh dan menerbitkan
majalah-majalah keagamaan seperti majalah Pembela Islam dan majalah AlMuslimun. Persis juga satu gagasan dengan gerakan lainnya dalam
memurnikan ajaran Islam dan memerangi bid’ah dan khurafat. Mereka
dengan lantang dan tegas menyuarakan gerakan pemurnian Islam dan
mencapai puncaknya disaat ustadz A. Hasan. Gerakan persis melalui
pimpinannya melakukan korespondensi dengan Soekoarno ketika mereka
dibuang ke Endeh. (Harun Nasution, 1991: 163)
4
Gerakan selanjutnya adalah organisasi Muhammadiyah yang didirikan
oleh KH. Ahmad Dahlan di kampong kauman Yogyakarta pada 18 november
1912. Sasaran wilayah gerak organisasi ini adalah penduduk Jawa dan
Madura. Terdapat dua hal yang melatarbelakangi lahirnya muhammadiyah.
Pertama, factor internal berupa adanya kondisi ketidakmurnian amalan
Islam sebagai akibat dari tidak dijadikannya Al-Qur’an dan hadist sebagai
satu-satunya rujukan oleh umat Islam Indonesia. Menurut muhammadiyah,
lembaga pendidikan yang ada dan dimiliki oleh umat Islam belum mampu
menyiapkan generasi yang benar-benar siap mengemban misi khalifah fil ard
(pemimpin di dunia). Kedua, factor eksternal yaitu semakin meningkatnya
kristenisasi ditengah-tengah masyarakat Indonesia karena adanya penetrasi
bangsa eropa, khususnya belanda di Indonesia, serta pengaruh gerakan
pembaharuan dalam dunia Islam. (Mustafa Kamal Pasha dan Adaby Darban,
2002: 76)
Menurut mukti ali, kelahiran muhammadiyah dilatarbelakangi oleh
empat hal:
1. Ketidakbersihan dan tercampur aduknya kehidupan agama Islam di
Indonesia.
2. Ketidakefisienan lembaga pendidikan Islam di Indonesia
3. Aktivitas misi katolik dan protestan
4. Sikap acuh tak acuh, bahkan sikap merendahkan diri dari golongan
intelektual terhadap Islam (A. Mukti Ali, 1985: 18).
Rumusan tujuan pendirian muhammadiyah sejak didirikan sampai
sekarang telah mengalami berbagai perubahan sebanyak delapan kali,
meskipun tanpa mengubah isi dan jiwanya. Amal usaha muhammadiyah
terdiri atas bidang keagamaan, sosial, ekonomi, pendidikan, sosial budaya
dan kemasyarakatan. Sedangkan pusat seluruh kegiatan muhammadiyah
seluruhnya mengacu pada bidang keagamaan. (Mustafa Kamal Pasha dan
Adaby Darban, 2002: 142)
Gerakan Islam lainnya adalah Nahdlatul Ulama. Gerakan ini didirikan di
Surabaya pada 31 Januari 1926 oleh KH. Hasyim Asy’ari dan beberapa kyai
lainnya. Nahdlatul Ulama didirikan sebagai reaksi atas keberhasilan kaum
modernis yang berhaluan wahabisme di Indonesia, serta adanya
kekhawatiran ulama tradisional atas niat Sarikat Islam (SI) dan
Muhammadiyah tentang kongres Islam sedunia yang dipengaruhi oleh raja
ibn saud dari Saudi Arabia tentang gerakan wahabisme di Indonesia. Hal itu
dapat dilihat dari diadakannya kongres pada September 1926 di Surabaya
sebagai aksi menentang kongres PSI-MAIHS bersama. (AK. Pringgodigdo,
1949: 91)
Nahdlatul Ulama tidak mencampuri urusan politik namun untuk
memajukan keempat paham madzhab yaitu syafi’i, maliki, hanafi, dan
hambali dengan jalan:
1. Memelihara hubungan antar ulama keempat aliran tersebut.
2. Menjaga ajaran agama Islam agar tidak tercampuradukkan oleh
paham modernis.
3. Propaganda Islam berdasarkan ortodoksi dan tradisionalisme.
4. Memajukan pendidikan Islam.
5
5. Memelihara masjid.
Kongres NU pada tanggal 2 – 11 Oktober 1928 di Surabaya
mengeluarkan pernyataan yang menentang gerakan reformisme modernis
dan kaum wahab di hejaz. NU menilai kaum reformis bersikap sebagai kaum
nasionalis saja yang tidak mendasarkan pada agama, semisal propaganda
untuk mencapai kesejahteraan dalam perkawinan dan kehidupan keluarga
dalam memperjuangkan persamaan hak bagi kaum wanita Indonesia.
Berkaitan dengan hal itu, kongres memandang perlu menyusun agenda
untuk membicarakan pelaksanaan peraturan Islam, masalah keluarga seperti
perceraian (taklik dan chuluk), serta masalah dalam melakasanakan haji.
Gerakan Islam NU berhasil menebarkan pengaruhnya di beberapa daerah di
Surabaya dan daerah sekitarnya seperti Kediri, bojonegoro, serta Jawa
tengah termasuk kudus dan sekitarnya. (Abdurrahman Wahid, 1984: 32)
Dewasa ini para tokoh antropologis maupun sosiologis mencoba untuk
menganalisis agama dalam sudut pandang kolektif, tidak sekedar doktrin
tekstual melainkan apa yang nyata dipahami dan dilaksanakan oleh
masyarakat. Konsep agama dari central ke perypheri oleh Fedyani
dimaksudkan bahwa posisi agama yang tunggal dan sentralistik mudah
dilaksanakan dalam masyarakat yang homogen. (Ahmad Fedyani Syarifudin,
tt: 70-80) Berbeda dengan masyarakat yang heterogen terjadi pergeseran ke
banyak titik atau disebut dengan gejala periferal. Jika hal ini terjadi relasi
subyek utama/tokoh menjadi bervarian dan sangat penting.
Praktik Islam dijelaskan dalam beragam bentuk dan model dari santri
dan abangan, antara ulama dan kaum awam (Smith, 1985; Geertz 1983).
Selain itu muncul praktik Islam yang menekankan aspek hukum legal Fiqh
(Islam fiqh), dimensi batin (Islam sufi), dan menitikberatkan hubungan fiqh
dengan sejarah (Islam murni). Jika dikaitkan dengan agama central and
periphery, Islam murni cenderung berasal dari pusat yaitu Arab dan Timur
Tengah, sedangkan selain itu dianggap tidak benar Islam pinggiran.
Lapidus dalam buku The Venture of Islam: Conscience and History in a
World Civilization menjelaskan bahwa sejarah umat Islam tidak hanya di
pusat peradapan Islam, tetapi menyebar sampai ke kota-kora pinggiran
termasuk didalamnya Indonesia. Lebih lanjut Richard Bulliet dalam
karyanya, Islam: The View from the Edge (1996) mendesak agar para
sejarawan hendaknya memulai pembahasan tentang Islam dari pinggir atau
ujung (edge), seperti dari wilayah India, Indonesia, dan Malaysia; tidak lagi
memulai dan memusatkan kajian dan pembahasan dari Timur Tenggah.
(Error! Hyperlink reference not valid.). Dengan demikian Umat Islam di
Indonesia tidak hanya dilihat sebagai bagian kecil dari umat Islam tetapi
secara utuh merupakan umat Islam dengan berbagai kekhasan yang dimiliki.
Kiddie dalam penelitian yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia
dan di Timur Tengah menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada “Islam
pusat” dan “Islam pinggiran”. (Azyumardi Azra, 2006: 11) Apalagi jika
dikhotomi ini disertai stigma bahwa Islam terbaik dan paling sempurna
hanya yang berada di wilayah Arab atau Timur Tengah sedangkan yang
diwilayah pinggiran menyalahi aturan Islam. Dalam beberapa hal Islam
6
pinggiran tidak kurang murni bila dibandingkan dengan Islam di pusat
seperti di Timur Tengah.
Islam adalah agama yang mengajarkan kepasrahan terhadap ajaran dan
perintah Allah untuk tercipta keselamatan dan perdamaian. Keridlaan Tuhan
merupakan orientasi utama setiap ibadah. Dalam konsep sosiologis, praktik
pencapaian keridlaan Tuhan tersebut berkaitan dengan mistisime dan
praktis megis. (Abdul Munir Mulkan, tt: 144) Islam yang satu dan universal
meluas ke berbagai wilayah diantaranya Indonesia dalam bentuk yang khas
sesuai pengalaman domestik keindonesiaan. ( Abdul Malik Mulkhan, 2006:
144 – 145) salah atu kekhasan ini adalah adanya praktik keagamaan Islam
mistik, Islam figh dan Islam puritan/Islam murni.
Islam mistik lebih mementingkan ritual dan praktik kehidupan yang
langsung dikaitkan dengan tujuan-tujuan mistik seperti praktik sufisme
dalam berbagai aliran tarekat atau dengan istilah yang diperhalus disebut
juga dengan Islam sufi. Islam fiqh lebih menekankan pada bentuk-bentuk
legal sepanjang formula hukum fiqh. (Abdul Malik Mulkhan, 2006 : 146)
Kedua jalur inilah yang memudahkan masuknya Islam di Indonesia.
Sedangkan Islam puritan atau murni memeriksa secara ketat dan literal
hubungan referensial setiap ritual dengan pengalaman ritual nabi
Muhammad. (Abdul Malik Mulkhan, 2006 : 149) Pada perkembangnnya,
Islam sufi lebih populer daripada syariahisme atau fiqihisme dan Islam murni
terutama oleh sikap yang jauh lebih toleran terhadap tradisi lokal. (Abdul
Malik Mulkhan, 2006 : 153) Namun demikian gerakan Islam mistik ini
banyak ditentang oleh kaum Islam puritan yang dihubungkan dengan
gerakan Wahabisme abad ke 19. Gerakan yang dibawa masuk ke keindonesia
oleh para tokoh setelah melaksanakan haji ini membawa tagline kembali
kepada Al-Quran dan Sunnah sehingga terbebas dari segala unsur mistis dan
klenik. Dengan mengangkat isu menghilangkan TBC (Tahayul, Bid’ah dan
Churafat), gerakan ini mengambil posisi vis a vis dengan Islam sufi yang
akrab dengan Islam fiqh.
Pasca perang dingin Islam mengalami masa kebangkitan di sejumlah
negara seperti Turki dengan kemenangan partai refah (kesejahteraan) 24
Desember 1995, An-Nahdhah di Tunisia tahun 1990, Front Penyelamat Islam
(Front Islamique du Salut, FIS) di Al-Jazair tahun 1990 dan 1991, di Kuwait Al
Harokatul Dusturiyah berhasil menduduki parlemen, dan di Yordania
Ikhwanul Muslimin cukup berpengaruh. Dibidang ekonomi, sosial pendidikan
dan militer, gerakan Islam juga mengalami pertumbuhan yang pesat Seperti:
Ikhwanul muslimin di Mesir, Jami’at Islami di Pakistan, Hisbut Tahrir, Jamaah
tabligh, Takfil Wal Hijrah, Harakal al Muqawamah al Islamiyah (HAMAS),
Hisbullah di Libanon.
Perkembagangan gerakan Islam dibeberapa negara Islam ini juga
membawa pengaruh bagi indonesia. Dibidang partai politik bermunculan
beberapa partai yang bercorak Islam bahkan menggunakan nama yang sama
dengan yang ada di Turki. dibidang sosial mulai bermunculan gerakan
gerakan seperti FPI, Majelis Mujahidin, Hisbut Tahrir, Majelis Tafsir Al-Quran.
Gerakan ini cukup meresahkan masyarakat dengan klaim musyrik, bidah
maupun kafirnya. Pola gerakan yang kaku, cenderung arogan dan tidak segan
7
menggunakan kekerasan ini pada akhirnya mendapat perlawanan dari
beberapa masyarakat seperti permintaan masyarakat untuk membubatkan
FPI, MTA dan lain sebagainya.
Gerakan kebangkitan Islam disisi budaya merupakan ancaman keras
yang dapat mengganggu kelestariannya. Budaya yang mulanya merupakan
identitas bangsa dianggap sebagai gerakan musyrik yang membuka aurat,
dan berteman dengan setan bahkan terjadi klaim kafir dan bertentangan
dengan Islam.
Gerakan ini kembali mengukuhkan Islam peripheri berada subordinat
dengan Islam pusat. Klaim salah-benar diucapkan begitu mudah diucapkan,
segala yang tidak ada referensinya dianggap bidah. Sehingga budaya
Indonesia yang notabene tidak memiliki referensi menurut Islam pusat maka
akan dianggap semuanya salah. Pola pikir masyarakat mulai dibentuk untuk
meninggalkan jati diri bangsanya.
Keprihatinan ini dirasakan oleh kalangan ulama disebuah pondok
pesantren sehingga menetapkan sebuah tagline gerakan dakwah“Islam Pasti
NKRI Harga Mati. Penelitian ini akan mengkaji mengenai interpretasi
simbolik yang terkandung didalam tagline maupun gerakan padasuka.
B. BAHASA SEBAGAI SISTEM SIMBOL
Para antropolog dan sosiolog pada umumnya menganggap agama atau
religi sebagai bagian dari kebudayaan sebagaimana bahasa, pendidikan,
kesenian. Namun filosof agama umumnya menolak pendapat ini, Bakker
memandang agama sebagai keyakinan hidup pemeluknya baik secara
individu maupun kelompok. Agama merupakan Jawaban manusia atas
keterbatasan dan kegagalan hidup hingga menuntun manusia menemukan
Tuhan. (L.W.M. Bakker SA, 1990: 47)
Agama yang bekerja di dalam masyarakat dapat dilihat dari ekspresi
keberagamaan masyarakat yang tertuang dalam pemikiran, ritual dan
persekutuannya. (Ahmad Solehudin, 2005: ix) Menurut Joachim Wach
ekspresi keberagamaan dapat dilihat dalam tiga bentuk yaitu: pemikiran
keagamaan, perbuatan keagamaan dan organisasi keagamaan. Dalam
melaksanakan berbagai macam ritual keagamaan diperlukan bahasa sebagai
sistem simbol. (Joachim Wach dalam Ahmad Solehudin, 2005: 16)
Clifford Geertz meyatakan bahwa agama adalah suatu sistem simbol yang
bertindak sebagai penguat gagasan dan kelakuan dalam menghadapi
kehidupan, yang dengan simbol-simbol itu konsep-konsep yang abstrak
diterjemahkan menjadi lebih konkrit, menjadi aura yang menyelimuti
konsepsi-konsepsi yang tidak nyata menjadi seolah-olah hadir dalam
kehidupan.
Manusia sebagai homo socius, telah dilengkapi naluri yang
menggiringnya hidup berkelompok menempati suatu tempat untuk bertahan
didalamnya. Dalam bermasyarakat manusia menciptakan alat untuk dapat
berkomunikasi. Dalam bermasyarakat manusia sebagai homo symbolicum
atau animal symbolicum adalah makhluk atau binatang yang cenderung
menggunakan simbol di dalam kehidupannya. Manusia mengutarakan
pikiran dan perasaan dengan menggunakan simbol. Simbol digunakan
8
seseorang dalam mengaplikasikan keberagaman dapat menjelaskan
konsepnya terhadap agama.
Simbol adalah objek, kejadian, bunyi, bahasa, warna, benda yang diberi
makna lebih oleh manusia. Dikatakan makna lebih artinya setiap objek
simbol pada dasarnya memiliki arti yang sama dan itu dipahami oleh
manusia pada umumnya. Akan tetapi manusia memberikan makna lain
terhadap sesuatu, inilah yang disebut dengan simbol.
Tylor menjelaskan bahwa simbol terletak pada kekuatan penggunaan
kata-kata sebagai tanda untuk mengekspresikan pemikiran yang dengan
ekspresi itu bunyi tidak secara langsung diucapkan. Simbol merupakan
tingkat kemampuan khusus manusia yang tertinggi dalam bahasa, yang
kehadirannya mengikat sekelompok manusia dalam kesatuan tekstual,
kontekstual dan substansial. Peran manusia disini menurut Ernest Cassirer
(1944) adalah mengisolasi hubungan-hubungan dan mengembangkannya
dalam makna yang abstrak. Lebih lanjut Cassirer menggambarkan hakikat
simbol adalah: “manusia tidak lagi hidup semata-mata dalam semesta fisik,
manusia hidup dalam semesta simbolik, bagian-bagian dari semesta itu
bagaikan ragam benang yang terjalin membangun anyaman jaring-jaring
simbolik”. Bahasa, agama, seni, mite adalah bagian-bagian dari alam semesta
dan dengan kemajuan pemikiran pengalaman dan teknologi manusia dapat
memperindah, memperhalus jaring-jaring ini.
Suatu simbol memuat sebuat pesan yang mendorong pemikiran atau
tindakan. Ia memberikan dasar bagi sebuah tindakan, gagasan maupun nilai
dari sebuah perilaku. Antropologi simbolik memandang manusia sebagai
pembuat sekaligus hasil dari simbol. Sebagai pembuat, sebagaimana Geertz
menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya membentuk jaring-jaring makna
sebagai pedoman berperilaku yang disesuaikan dengan konteks yang
dihadapi. Begitu pula manusia juga merupakan hasil atau produk simbul,
sebagaimana Geertz kembali menegaskan bahwa manusia selanjutnya
terjebak pada pintalan jaring yang dibuatnya sendiri.
Tepatlah untuk dikatakan bahwa kebudayaan adalah ilmu mengenai
makna, mengingat antropologi simbolik mengkaji sistem kode dan pesan
yang disampaikan dan diterima manusia melalui interaksi dengan sesama
manusia maupun dengan dunia alamiah.
Bahasa merupakan salah satu dari simbol, yang mencerminkan suatu
masyarakat pada tempat dan waktu tertentu. Kajian mengenai bahasa
mendorong antropologi simbolik untuk mengungkap, memahami dan
merepresentasikan motif, pengalaman, pengetahuan yang membentuk
keyakinan dan tindakan.
Geertz menekankan bahwa dalam penelitian antropologi simbol menjadi
penting karena selain mengandung makna, simbol juga menggambarkan
seting sosial yang melatar belakangi lahirnya simbol tersebut.
C. LOKUS PENELITIAN: GERAKAN DAKWAH DI SEBUAH PONDOK
PESANTREN
Penelitian ini dilakukan disebuah pondok pesantren di Jakarta. Pengasuh
pondok pesantren pada mulanya merasa prihatin dengan kondisi bangsa
9
yang lebih condong bangga terhadap bangsa asing, seperti Arab, dan negaranegara Eropa lain. contoh kecil tampak dalam berbagai ekspresi
keberagamaan masyarakat dalam hal busana, pemilihan warna putih yang
dianggap lebih suci ketimbang warna lain dan sebagai penutup kepala ketika
melakukan ibadah sholat, sorban dianggap lebih afdhol daripada yang lain,
meskipun pada dasarnya fungsinya sama seperti contoh blangkon, iket dan
lain sebagainya.
Selain pada busana, saat ini masyarakat cenderung mengkultuskan
genealogi tertentu sehingga cukup dengan ciri fisik yang menampakkan
suatu genealogi maka bisa menjadi modal seseorang untuk memperoleh
strata tertentu. Faktanya bahwa keilmuan seseorang terukur pada ciri fisik
tetapi lebih pada kedalaman ilmu dan sikapnya dalam menJawab
permasalahan sosial.
Maka dari itu Kyai membentuk sebuah gerakan Islam yang
mengakomodir nilai nilai budaya mulai dari pakaian, bahasa, folklore, serta
akrab berdampingan tokoh-tokoh masyarakat daerah serta berbagai
karakteristiknya yaitu pengobatan tradisional serta hal-hal yang mistik,
seperi perdukunan. Sebagaimana dijelaskan oleh Geertz terdapat beberapa
macam varian dukun misalnya dukun bayi, dukun pijet, dukun sunat, dukun
temanten dan lain sebagainya. Seseorang yang memiliki beberapa
kemampuan sekaligus disebut dukun biasa atau dukun (saja). Dukun tanpa
ada keterangan spesial tertentu ini justru dukun yang mumpuni dibidang
ilmu magis yang berguna untuk mengobati berbagai macam penyakit fisik
maupun spikologis maupun gangguan makhluk halus. (Clifford Geertz, 1983:
117)
Geertz menjelaskan mistik di Jawa adalah metafisika terapan,
serangkaian aturan praktis untuk memperkaya kehidupan batin orang yang
didasari pada analisis intelektual atau pengalaman. (Clifford Geertz, 1983:
116) Ia menjelaskan delapan teori mistik yaitu:
1. Yang menjadi tujuan adalah kedamaian ‘tentrem ing manah’
2. Kebenaran keberagamaan yang dasar dari seorang mistikus terletak
pada merasakan manusia sebagai individu sekaligus sebagai
manivestasi Tuhan
3. Tujuan manusia adalah untuk tahu dan merasakan rasa tertinggi
tersebut dalam diri sendiri
4. Untuk memperoleh pengetahuan tentang rasa tersebut, orang harus
memiliki kemurnian kehendak, memusatkan kehidupan batin
sepenuhnya, mengintensifkan dan memusatkan sumber spiritual pada
satu titik
5. Selain spiritual dan meditasi, rasa dapat dicapai melalui studi empiris
terhadap kehidupan emosional
6. Kesanggupan masing-masing orang berbeda sehingga memungkinkan
meletakkannya pada posisi guru atau murid
7. Hirarki atas dasar prestasi kerohaniahan menimbulkan suatu etik
yang menganjurkan rasa tepo saliro
10
8. Karena tujuan manusia sama mencapai rasa, maka sistem religi
kepercayaan dan praktik-praktiknya seharusnya merupakan alat
untuk mencapai tujuan itu. Sehingga toleransi mutlak dibutuhkan.
Penelitian Evans Pritchard terhadap masyarakat Sudan menyebutkan
bahwa kepercayaan bukan hanya satu kumpulan delusi yang aneh dari
kekuatan irrasional, tetapi merupakan wujud cara penyesuaian terhadap
ketegangan dan frustasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini pula yang
dialami masyarakat yang merasa terganggu oleh keberadaan makhluk astral
baik secara fisik yakni berupa ganggungan penyakit aneh, maupun psikologis.
Ketegangan secara perlahan diurai oleh kelompok masyarakat yang memiliki
six sense ini. (Evan Pritchard, 1937: 12)
Menurut Geertz kepercayaan atau ketidak percayaan terhadap dukun
pada dasarnya tersebar dalam setiap varian trikotomi yang dibuatnya yaitu
santri, abangan, priyayi. Tetapi kepercayaan terhadap dukun secara kuantitas
lebih banyak oleh kaum abangan. Dilihat dari segi historis masuknya Islam
indonesia di nusantara sebagaiman dijelaskan sebelumnya yakni melaluis
jalur fiqih dan jalur sufi atau mistik. Jalur sufi lebih mendapat apresiasi yang
lebih karena Islam masuk mawarai nilai-nilai budaya yang mereka anut
sebelumnya.sebagiman dijelaskaan sebelumnya penganut Islam mistik atau
sufi ini memiliki kuantitas yang lebih banyak dibanding yang lainnya karena
mereka masih mempertahankan nilai-nilai budaya lokal. Berbagai aktivitas
ini dilakukan dengan tujuan untuk menampakkan primordialisme guna
mendukung dan mempertahankan bentuk negara yaitu Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
D. INTERPRETASI SIMBOL DAKWAH
Kebudayaan menurut Geertz adalah pola makna-makna yang diteruskan
secara historis yang terwujud dalam simbol-simbol, suatu konsep-konsep
yang diwariskan yang terungkap dalam bentuk-bentuk simbolis yang
dengannya manusia berkomunikasi, melestarikan, dan memperkembangkan
pengetahuan mereka tentang kehidupan dan sikap-sikap terhadap
kehidupan. (Clifford Geertz, 1992: 3)
Dengan menggunakan perspektif simbolik kebudayaan adalah
keseluruhan pengetahuan manusia yang dijadikan sebagai pedoman atau
penginterpretasi keseluruhan tindakan manusia. Ia ingin memahami apa
yang ada di balik fenomena melalui pemahaman interpretatif. (Nur Syam,
2011: 90)
Dari penjelsan ini maka berbicara tentang kebudayaan maka tidak
terlepas dari adanya simbol, konsep, bahasa yang terus dikomunikasikan,
lestarikan dan dikembangkan terkait dengan kehidupan dan sikap manusia
terhadapnya.
Gerakan dakwah kyai memiliki simbol yang berbentuk benda, bahasa,
maupun pakaian yang syarat akan makna. diantara simbol-simbol yang ada
dapat diklasifikasikan kedalam beberapa kelompok yaitu:
1. Tagline: Mengukuhkan Komitmen ke-Islaman dalam bingkai kebangsaan,
Islam Pasti NKRI Harga Mati
11
Tagline ini berfungsi sebagai arah gerakan bagi kelompok padasuka
yang bergerak dibidang dakwah sekaligus tetap menjaga komitmen
kebangsaan. Komitmen ini dijaga melalu memelihara dan meletarikan
berbagai budaya sebagai ciri khas bangsa indonesia. Islam sebagai agama
rahmatan lil alamin dipercaya akan tetap menjadi rahmat di Negara
Kesatuan Indonesia, sedang negara Indonesia yang seperti saat ini ada
dipercaya mampu mengcover selur entitas budaya yang ada di dalamnya
tanpa ada yang merasa di kucilkan. Hanya yang dibutuhkan saat ini
adalah pemimpin dan roda pemerintahan yang baik. Pemimpin sebagai
mana yang telah di ajarkan dalam Islam adalah pemimpin yang berasal
dari bangsa kita sendiri yang mampu mengakomodir aspirasi seluruh
elemen masyarakat
2. Aktifitas
Sebagai gerakan dakwah maka aktifitas padasuka tetap dalam
mensyiarkan ajaran Islam. Adapun titik tekannya adalah bahwa dalam
beribadah memiliki tiga aspek yaitu spiritual, medikal dan sosial. Orang
yang soleh tidak tampak pada penampilan bajunya akan tetapi terpancar
di dalam akhlak dan perbuatannya,tidak dikatakan seorang muslim sejati
apabila dalam lidah dan perbuatannya masih menyakiti muslim maupun
masyarakat yang lain.
3. Berbagai sikap dalam menghadapi fenomena sosial
a. Jangan menjadi pasir tetapi jadilah seperti garam
Peribahasa ini sering kali diucapkan dihadapan santri dan jamaah
dakwah. Kalimat ini mengandung maksud bahwa beliau ingin
menciptakan para dai maupun santri yang sebagaimana garam yang dapat
memberi rasa tanpa merubah warna. Dalam mensyiarkan agama Islam
hendaknya tidak dengan cara menggurui atau bahkan dengan kekerasan.
Tetapi dengan cara perlahan-lahan memahami keinginan masyarakat dan
perlahan-lahan memberikan pemahan tentang nilai-nilai keIslaman.
Sehingga tanpa sengaja masyarakat akan merubah menjadi baik.
Berbeda dengan sifat pasir di dalam air ia dapat mengebabkan air
menjadi keruh, sedang pada akhirnya pasir akan tenggelam terpisah
dengan air. Berdakwah pun demikian mengingat dakwah merupakan
perintah Allah kepada seluruh manusia. tetapi sesuai dengan
kemampuannya/kompetensinya. Islam dapat tumbuh dimanapun tanpa
mematikan potensi yang ada.(Wawancara Kyai, 21 Januari 2014)
b. Gerakan Dakwah Merupakan Bendungan Yang Siap Mengantisipasi
Banjir di Indonesia. (Pengajian tanggal oleh Ust. Tu Bagis 26 Januari
2014)
Maksud kalimat gerakan dakwah berbagai kekhasan lokalitas akan
menjadi garda depan yang akan melindungi masyarakat dari berbagai hal
yang akan masuk ke Indonesia. Seperti Akidah, akhlak, budaya maupun
bencana. Berbagai pemikiran Islam dengan menarakan berbagai macam
akidah disaring oleh kelompok ini dengan berpegang teguh dengan
ideologi ahlussunnah wal jamaah dengan tetap mengedepankan nilai-nilai
keindonesiaa.
12
Nilai-nilai akhlak yang ditanamkan kepada santri dan jamaah adalah
“jangan menghormati orang lain melebihi hormat mu pada orang tua.”
Kalimat ini dimaksudkan bahwa pada dasarnya semua orang harus
dihormati dan ingin dihormati. Hanya saja tidak semua orang memiliki
sesuatu sehingga menjadikan dirinya dihormati, untuk itu dianjuran untuk
menghormati orang lain. Namun sebagaimana terjadi saat ini ketika
seseorang menghormati orang lain terkadang berlebihan, seperti
mencium tangan hingga berkali-kali, mencum sandalnya, mencim
kendaraannya dan lain sebagainya. Hal ini disayangkan apalagi hanya
dengan alasan untuk mendapatkan keselamatan. Sedangkan terhadap
orangtuanya sendiri yang sangat berjasa besar tidak diberikan
penghormatan sebagaimana mestinya.
Membendung arus budaya yang masuk keindonesia baik dari Eropa
maupun Timur Tengah dilakukan dengan cara menjadi Indonesia. Yakni
membudayakan kembali budaya indonesia, mencintai apa saja yang
berasal dari indonesia mulai dari musik, masakan, bahasa dan lain
sebagainya.
Dan dalam mengantisipasi bencana, kelompok dakwah ini
berkeyakinan bahwa budaya Indonesia sangat berperan penting dalam
mengantisipasi musibah dan bencana. Yaitu budaya gotong royong dan
saling membantu yang merupakan karakteristik bangsa Indonesia.
c. Lebih baik dihina untuk masyarakat banyak yang dibela
Kalimat ini dikatakan oleh kyai ketika mendapat banyak teguran kyai
lain karena sikapnya yang melindungi hal-hal yang berbai mistis. Menurut
kyai, fenomena mistis merupakan gambaran kecil dari apa yang ada di
dalam masyarakat Indonesia. Beliau menganggap hal ini pun ada di dalam
ajaran Islam. Sebagaimana Islam menjelaskan bahwa Allah menciptakan
makhluk lain selain manusia.
d. Air di dalam gelas yang keruh cukup diganti airnya saja tanpa harus
memecahkan gelasnya
Dalam menyikapi bentuk negara, kelompok ini menganggap bahwa
apabila air di dalam gelas keruh, maka cukup mengganti airnya saja tanpa
harus memecahkan gelasnya. Hal ini menjelaskan bahwa konsidi bangsa
yang memprihatinkan saat ini disebabkan karena degradasi karakter
bangsa. Dengan perbaikan dibeberapa aspek maka akan tercipta negara
Indonesia yang adal dan sejahtera. Tidak perlu merusak tatanan yang
telah ada. Dalam kalimat lain abi menyebutkan bahwa bangsa indonesia
ini bagaikan “ribuan benang wang berwarna warni yang telah dipintal
menjadi kain yang indah” segala bentuk upaya yang bertujuan mencerai
berai kain ini hingga menjadi benang lagi merupakan tindakan yang
bodoh. (Wawancara, Abi: 27 November 2013)
e. Blangkon Hitam
Dalam setiap kesempatan kyai yang kemudian diikuti oleh pimpinan
lain menggunakan busana serba hitam dengan mengenakan blangkon.
Pakaian Hitam selain identik dengan pakaian tradisional, hitam juga
bertujuan untuk mengingatkan manusia bahwa manusia adalah makhluk
tempatnya lupa, khilaf dan salah. Untuk itu dengan berpakaian hitam
13
diharapkan manusia selalu menjaga segala perbuatan, perkataan dan
batinnya dari perbuatan dosa dan selalu mendekatkan diri pada Allah.
Sebagaimana kelompok lain, kelompok ini juga mengaggap bahwa putih
adalah lambang kesucian. Akan tetapi dengan menenakan pakaian putih
tidak berarti seseorang dikatakan suci. Dengan istilah khasnya Kyai
mengatakan “mutiara itu berada di dalam lautan”. Pribadi seseorang tidak
tampak oleh apa yang tampak melalui penglihatan, tetapi apa yang
terpancar di dalam hati. Dengan menggunakan warna hitam maka
diharapkan manusia berlomba-lomba memperbaiki diri dan
menyempurnakan ibadahnya. (Wawancara, Kyai: 27 November 2013).
Blangkon merupakan topi khas masyarakat Jawa. Dengan
menggunakan blangkon orang akan langsung menganggap bahwa itu
merupakan cirikhas Jawa. Beberapa pertimbangan menggunakan
blangkon antara lain: Pertama, sikap prihatin bangsa indonesia yang mulai
kehilangan jati dirinya. Budaya sebagai identitas bangsa indonesia tidak
lagi dibanggakan oleh masyarakatnya tetapi sebaliknya menjadi sesuatu
yang membuat si pemilik malu untuk mengakuinya. Masyarakat Indonesia
justru bangga mengenakan identitas bangsa lain. gerakan ini ingin
mengembalikan identitas bangsa Indonesia salah satunya melalui
Blangkon. Alasan kedua, tokoh yang menginsprasi gerakan dahwah ini
adalah Sunan Kalijaga. Beliau merupakan salah satu wali sembilan yang
menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa. Metode yang digunakan
sangat halus sehingga mudah diterima oleh masyarakat.
f. Bendera Merah Putih
Bendera Merah putih merupakan bendera negara indonesia yang akan
tetap dijaga sampai akhir hayat. Kesadaran berbangsa dengan menjaga
Indonesia sebagai tanah kelahiran, tempat hidup dan tempat berpulang
menjadi dasar untuk terus dijaga keamanan, keutuhan dan kejayaannya.
Dalam setiap pengajian bendera Indonesia dipasang sebagai lambang
bahwa dakwah yang dilakukan adalah untuk menjaga kesatuan dan
persatuan bangsa Indonesia.
g. Lagu-lagu ke-Indonesia-an
Tidak seperti dakwah yang dilakukan oleh dai lain, pengajian dalam
gerakan ini seringkali diiringi oleh musik-musik yang bernuansa
keindonesiaan. Mulai dari Indonesia Raya, Indonesia Pusaka, lagu-lagu lain
yang bertemakan keindonesiaan bahkan lagu-lagu daerah. Kecintaan
terhadap tanah air coba ditanamkan lewat lagu-lagu nasional dan lagulagu daerah.
Dalam perspektif antropologi, simbol-simbol yang ada kelompok
padasuka sebagaimana yang diungkapkan oleh oleh Geertz, mengandung
makna, dan menggambarkan setting sosial hingga muncul simbol tersebut.
Sebagaimana Klukohn menyatakan bahwa budaya merupakan endapan
sejarah.Maka penting untuk dibahas mengenai setting sosial sehingga lahir
simbol-simbol tersebut.
Pemahaman akan sejarah cukup kental mewarnai kelompok ini dalam
membuat suatu gerakan. Mula dari kejayaan nusantara dibawah bendera
Majapahit, meskipun saat itu tidak beragama Islam akan tetapi di bumi
14
nusantara ini pernah berdiri sebuah kerajaan yang kuat dan disegani
dikancah internasional. Hal ini penting untuk dicatat dan selalu diingat
bahwa negeri kita pernah jaya karena sebuah adanya persatuan.
Sebagaimana Koentjaraningrat puluhan tahun lalu pernah mengkritik
mentalitas bangsa Indonesia yang tidak mendukung kemajuan, meremehkan
mutu, suka menerabas, tidak percaya diri, tidak disiplin dan suka
mengabaikan tanggungJawab. Maka gerakan dakwah ini ingin menciptakan
mentalitas anak bangsa yang percaya diri, berani membela dan
mempertahankan keyakinan untuk kesatuan dan persatuan bangsa.
(Koentjoroningratm, 1969: 45)
Levi-Strauss menjelaskan hubungan antara bahasa dan kebudayaan
antara lain: 1) bahasa digunakan oleh suatu masyarakat sebagai refleksi dari
keseluruhan kebudayaan masyarakat (bahasa adalah gejala kebudayaan) 2)
bahasa adalah unsur dari kebudayaan. 3) bahasa merupakan kondisi bagi
kebudayaan. (Heddy Shri Ahimsa Putra, 2006: 24)
Dari ketiga pemikiran ini Levi-Strauss lebih memilih pandangan terakhir
yaitu bahasa dan kebudayaan sebagai hasil dari aktivitas. Aktivitas ini berasal
dari “tamu tak diundang” (unintivites guest) yaitu nalar manusia (human
mind). Jadi ada korelasi antara bahasa dan budaya karena ada hubungan
kausalitas tetapi karena keduanya merupakan produk aktivitas nalar
manusia.
E. KESIMPULAN
Setiap manusia membutuhkan Tuhan. Pengetahuan dan pengalaman
akan mengatarkan manusia manusia membaca sejarah dan selanjutnya
mempengaruhi pola pikir dan tindakan. Simbol seringkali digunakan untuk
komuniasi antara sesamanya. Suatu simbol memuat sebuat pesan yang
mendorong pemikiran atau tindakan. Ia memberikan dasar bagi sebuah
tindakan, gagasan maupun nilai dari sebuah perilaku. Namun demikian
simbol juga merupakan refleksi historis yang mengantaran pada pola
pemikiran tertenti.
Sejarah menyebutkan gerakan Islam memiliki banyak warna yaitu Islam
Islam figh, Islam sufi, dan Islam pembaharuan. gerakan dakwah di Jakarta ini
bergerak pada tataran Islam sufi yang memiliki membentuk simbol berupa
blangkon, pakaian berwarna hitam, bendera merah putih, lagu kebangsaan,
serta taghline yang berbunyi “Islam Pasti NKRI harga Mati.” simbol-simbol
tersebut tidak terjadi begitu saja. akan tetapi syarat dengan maksud dan
makna yaitu memegang teguh budaya untuk mempertahankan keutuhan
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
DAFTAR REFERENSI
Abdurrahman Wahid, NU dan Islam di Indonesia Dewasa Ini, Prisma, Edisi
April 1984
Abdul Malik, Menjadi Indonesia 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi Nusantara,
Jakarta, Mizan 2006
Abdul Munir Mulkan, Islam Mistik, Menjadi Indonesia 13 Abad Eksistensi Islam
di Bumi Nusantara
15
A. Mukti Ali, Interpretasi amalan Muhammadiyah, Jakarta: Harapan Melati,
1985
Ahmad Fedyani Syarifudin, Agama: dari sentral ke periper, dalam buku
Catatan Refleksi Antropologi Sosial Budaya
Ahmad Solehudin, Satu Dusun Tiga Masjid, Yogyakarta, Nuansa Aksara
AK. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakan Rakjat Indonesia, Djakarta: Dian
Rakjat, 1949
Azyumardi Azra, Menjadi Indonesia 13 Abad Eksistensi Islam di Bumi
Nusantara, Jakarta, Mizan 2006
Clifford Geertz, Abangan Santri Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Jakarta:
Pustaka Jaya, 1981
Clifford Geertz, Kebudayaan Dan Agama, diterjemahkan dari buku “The
Interpretation Of Culture” Oleh Francisco Budi Hardiman, Yogyakarta,
Kanisius, 1992
Deliar Noer, Gerakan Modernisasi Islam di Indonesia TAhun 1840 – 1942,
Jakarta: LP3ES
Evan Pritchard, iWutchcraft, Oracles, and Magic among the Azande (1937)
Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam; Sejarah Pemikiran dan Gerakan,
Jakarta: Bulan Bintang, 1991
Heddy Shri Ahimsa Putra, Strukturalime Levi-Struss Mitos dan Karya Sastra,
Yogyakarta: Kepel. 2006
Historiografi,
Siyasah
Dan
Syariah,
http://syamsulrahmi.blogspot.com/2011_03_01_archive.html
Koentjoroningrat, Kebudayaan, Mentalitas Dan Pembangunan, 1969
LWM. Bakker SA, Filsafat Kebudayaan: Sebuah Pengantar Yogyakarta,
kanisius 1990
Mustafa Kamal Pasha dan Adaby Darban, Muhammadiyah Sebagai Gerakan
Islam Dalam Perspektif Historis dan Ideologis, Yogyakarta: Aditya Media,
2002
Nur Syam, Madzhab-Madzhab Antropologi, Yogyakarta: LkiS 2011
Soegijanto Padmo, Bunga Rampai Sejarah Sosial Ekonomi Indonesia,
Yogyakarta: Aditya Media, 2004
Fly UP