...

Pengertian Sains: Apa itu Sains?1 Kata sains berasal dari bahasa

by user

on
Category: Documents
4

views

Report

Comments

Transcript

Pengertian Sains: Apa itu Sains?1 Kata sains berasal dari bahasa
Pengertian Sains: Apa itu Sains?1
Kata sains berasal dari bahasa Latin scientia yang berarti "pengetahuan" atau
"mengetahui".
Dari
kata
ini
terbentuk
kata
science(Inggris).
Sains
dalampengertian sebenarnya adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai
fenomena alam sehingga rahasia yang dikandungnya dapat diungkap dan dipahami.
Dalam usaha mengungkap rahasia alam tersebut, sains melakukannya dengan
menggunakan metode ilmiah. Sains memiliki ciri-ciri tertentu. Beberapa ciri
sains tersebut adalah sebagai berikut:
•
•
•
•
•
•
1
Objek kajiannya sains berupa benda-benda konkret: Benda konkret
adalah benda-benda yang dapat ditangkap oleh alat-alat indra, dapat berupa
benda padat, cair, atau gas. Jika benda-benda tersebut tidak dapat ditangkap oleh
indra kita, maka digunakan alat bantu. Contohnya, pengamatan terhadap virus
dilakukan dengan menggunakan mikroskop elektron dan bakteri dengan bantuan
mikroskop cahaya.
Sains mengembangkan pengalaman-pengalaman empiris: Hal berarti
pemecahan masalah dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dapat
dirasakan oleh semua orang (pengalaman nyata).
Sains menggunakan langkah-langkah sistematis: Artinya, dalam proses
pemecahan masalah, sains menggunakan langkah-langkah yang teratur
(sistematis) sesuai dengan aturan-aturan yang sudah dibakukan. Langkahlangkah sistematis tersebut berlaku untuk setiap bidang kajian sains dengan hasil
yang sama jika dilakukan pada situasi yang sama.
Hasil/produk sains bersifat objektif: Artinya, temuan tersebut tidak
dipengaruhi oleh subjektivitas pelaku eksperimen atau atas hasil pemesanan dari
pihak lain yang sifatnya memihak. Sains hanya memihak kepada kebenaran yang
bersifat ilmiah.
Sains menggunakan cara berpikir logis: Cara berpikir yang menggunakan
logika akan mengikuti kontinuitas dalam berpikir.
Hukum-hukum yang dihasilkan sains bersifat universal: Artinya
dilakukan di mana saja, oleh siapa saja, serta kapan saja, pada dasarnya akan
mendapatkan hasil yang sama
Ectracted
sains.html#
from
:
http://www.pengertianahli.com/2013/12/pengertian-sains-apa-itu-
Melihat kebesaran Tuhan pada diri manusia
Penciptaan Manusia Menurut Al-Qur’an2
Pendahuluan
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang
bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat,
dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al
Baqarah (2) : 2-3)
Ayat di atas jelas menerangkan pada kita bahwa Al-Qur’an tidak ada yang bisa diragukan
lagi. Segala yang ada di dalam Al-Qur’an adalah sudah pasti benar. Kebenaran Al-Qur’an
ini telah banyak terbukti oleh ilmu pengetahuan manapun. Bahkan banyak persoalan
pada suatu ilmu pengetahuan yang baru terpecahkan dari Al-Qur’an. Tidak hanya
ilmuwan muslim yang mengeksplor Al-Qur’an dan menjadikannya rujukan ilmu
pengetahuan dan sains, tapi juga ilmuwan-ilmuwan barat yang mengembangkan teori,
hukum, dan fenomena-fenomena alam yang tidak bisa dipecahkan. Al-Qur’an adalah
mukjizat terbesar sepanjang masa, karena manfaatnya akan dirasakan oleh semua
manusia sampai akhir jaman.
Al-Qur’an diturunkan kepada seorang Rasul yang buta huruf dan pada negeri yang cukup
tertinggal dari ilmu pengetahuan. Tidak masuk akal jika menyebutkan bahwa Al-Qur’an
adalah buatan Muhammad. Hal ini dikarenakan kandungan Al-Qur’an yang luar biasa
banyak yang menjelaskan ilmu pengetahuan dan sains yang baru terungkap oleh alat-alat
canggih jaman sekarang.
Salah satu yang Al-Qur’an jelaskan adalah mengenai teori penciptaan manusia.
Bagaimana ketika manusia pertama diciptakan dan bagaimana mekanisme terbaik
pembentukan jasad manusia di rahim ibunya, pembentukan ovum, sperma, dan lain
sebagainya telah dijelaskan secara rinci dan detail. Pembentukan manusia ini baru
terbukti oleh sains pada akhir-akhir abad ini oleh teknologi mutakhir.
Maka tidak ada yang bisa diragukan dari Al-Qur’an, termasuk mengenai teori penciptaan
manusia pertama yaitu Adam adalah tidak melalui proses evolusi seperti yang
dilontarkan oleh Darwin. Al-Qur’an bukan yang harus dibuktikan oleh sains dan
2
Extracted article from Internet
https://citysaidah.wordpress.com/2010/02/18/penciptaan-manusia-menurut-alquran/
teknologi, tapi sains dan teknologi lah yang harus dibuktikan oleh Al-Qur’an, karena AlQur’an sudah pasti benar.
Prapenciptaan
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa
Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat
kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih
dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya
Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 30)
Malaikat adalah makhluk Allah yang paling patuh terhadap segala perintahNya. Sebelum
manusia pertama atau Adam diciptakan, malaikat sudah diciptakan terlebih dahulu.
Suatu ketika saat Allah memberikan pengumuman berupa rencana akan menciptakan
suatu makhluk yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Namun, makhluk yang dipilih
Allah itu adalah manusia. Mengetahui hal ini malaikat sedikit “protes” pada Allah. Kita
harus ingat bahwa malaikat itu makhluk yang paling taat dan patuh pada segala perintah
dan keputusanNya. Akan tetapi satu hal ini yang membuat malaikat “angkat bicara”
kepada Allah berkenaan dengan akan adanya penciptaan manusia ini.
Seperti yang dijelaskan oleh ayat di atas, malaikat tahu bahwa manusia yang akan
diciptakan Allah tersebut akan membuat kerusakan di muka bumi. Padahal Allah
menciptakan manusia dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi.
Allah pun menjawab “protes” para malaikat dengan kalimat “Sesungguhnya Aku
mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” disini kita bisa melihat bahwa Allah lah sang
perencana segalanya, Allah lah sang maha pencipta yang paling mengetahui ciptaannya.
Ada sesuatu dibalik skenario yang dibuat Allah. Pasti ada sejuta hikmah dari jawaban
Allah tersebut.
Ayat ini juga mengingatkan pada manusia bahwa tujuan awal kita diciptakan oleh Allah
adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi.
a) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering
kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna
maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan
oleh Allah di dalam firman-Nya :
“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering
(yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama
itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 .
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku
akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur
hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan
telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya
dengan bersujud” (QS. Al Hijr (15) : 28-29)
Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”.
(HR. Bukhari)
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”
(Albaqarah:31)
“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa
yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (Albaqarah:32)
“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.”
Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah
berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku
mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa
yang kamu sembunyikan ?” (Albaqarah:33)
“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal
(kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah
mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).”
(Alanam:2)
b) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam
keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak
menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh
Allah dalam salah satu firman-Nya :
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari
apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak
mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’
ayat 1 yaitu :
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu
dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada
keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat
banyak…” (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
“Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR.
Bukhari-Muslim)
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung
hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk
menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam
bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan
meneruskan generasinya.
c) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi
Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat
pula ditinjau secara medis.
Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci
melalui firman-Nya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal)
dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam
tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu
segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami
jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.
Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah ,
Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
“Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan.
Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya
(kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian
selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu
pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa
malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat
kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).”
(HR. Bukhari-Muslim)
Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah”
sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita
makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses
metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma),
kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara
sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga
mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
“ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur” (QS.
Addahr: 2)
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS 96. Al-‘Alaq: 2)
Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun
para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan
aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan
syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit
) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan
fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage)).Mulbry stage
adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah
tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena
terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di
atasnya.
Realitanya, ungkapan Al-Qur’an lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong
daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah
(rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan
kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan
anggota-anggotanya.
Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa embrio terbagi dua; pertama, sempurna
(mukhallaqah) dan kedua tidak sempurna (ghair mukhallaqah). Penafsiran dari ayat
tersebut adalah: Secara ilmiah, embrio dalam fase perkembangannya seperti tidak
sempurna dalam susunan organ tubuhnya. Sebagian organ (seperti kepala) tampak lebih
besar dari tubuhnya dibandingkan dengan organ tubuh yang lain. Lebih penting dari itu,
sebagian anggota tubuh embrio tercipta lebih dulu dari yang lainnya, bahkan bagian lain
belum terbentuk. Contoh, kepala. Ia terbentuk sebelum sebelum bagian tubuh ujung
belum terbentuk, seperti kedua lengan dan kaki. Setelah itu, secara perlahan mulai
tampaklah lengan dan kaki tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah I’jâz `ilmiy
(mukjizat sains) yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Karena menurut Dr. Ahmad Syauqiy
al-Fanjary, kata `alaqah tidak digunakan kecuali di dalam Al-Qur’an.
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai
penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati
air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh
(ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati;
(tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Assajdah:7-9)”
“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka
dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka , dan Kami tiada
mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan
apa yang dikerjakannya. (Athuur:21)”
Interpretasi
Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap
pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits
yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi
salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau
mengatakan : “Saya takjub pada keakuratan ilmiah pernyataan Al Qur’an yang
diturunkan pada abad ke-7 M itu”. Selain iti beliau juga mengatakan, “Dari ungkapan Al
Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk
mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang
terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan).
Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada
abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan
genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh
ebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan
kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya.”
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama
embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding
abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan
di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang
menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa
yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :
“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga
kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam
selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar (39) : 6).
Inilah teori penciptaan dalam Islam. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia
mengendalikan alam semesta menurut kehendak-Nya sesuai fungsi dan peran yang
spesifik.
Awal penciptaan dituturkan di dalam al-Qur’an seara logis dan tegas, dengan menyatakan
banyak fakta dalam penciptaan. Namun, seseorang yang membandingkan penjelasan
tentang awal penciptaan seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an dan seperti yang
disebutkan dalam Kitab Kejadian itu akan dengan mudah menyimpulkan bahwa kedua
buku memiliki sumber yang sama namun al-Qur’an menjelaskannya secara logis dan
ilmiah.
Dari al-Mu’minun: 12-16, dapat disimpulkan sebagai berikut:
•
Adam diciptakan dari tanah liat secara langsung, atau secara tidak langsung dari
bahan dasar lumpur. Sebelum berubah menjadi manusia, Adam menerima
hembusan ruh dari Allah nafas yang memberinya kemampuan kemampuan untuk
•
belajar dan potensi untuk mengenali.
Hawa diciptakan dari sel atau tulang Adam. Penciptaan tersebut memberi
penjelasan yang masuk akal mengenai kesamaan antara peta genetik dan jumlah
chromosom pada kedua Adam dan Hawa.
Dalam teori penciptaan dalam Islam, Allah menentukan peran bagi Hawa, seorang
perempuan diciptakan dari laki-laki, yang ditugaskan di Al-Qur’an dengan ayat-ayat
berikut:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Allah juga berfirman, ‘Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan
menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu
rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan
mengingkari nikmat Allah?’ [an-Nahl: 72]
Menurut ayat-ayat ini, teori penciptaan menurut Islam itu mencakup hal-hal berikut:
•
Allah menganugerahi Adam isteri dengan sifat-sifat tertentu untuk tujuan kasih
•
sayang dan rahmat.
Allah memberi Hawa fitur reproduksi untuk memberikan anak laki-laki dan
perempuan.
•
•
Sesuai kehendak Allah, Adam dan Hawa merupakan bagian dari bangunan
masyarakat yang lengkap, yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, dan seterusnya.
Allah menentukan desain fitur-fitur manusia dalam air sperma yang dipancarkan
manusia dengan DNA yang spesifik, peta genetika atau jumlah chromosom
•
bersama antara pasangan perkawinan, laki-laki dan perempuan.
Allah menjaga sumber kelangsungan kehidupan makhluk-Nya. Karena itu, Allah
mengatur kerajaan tumbuhan sebagai makhluk otonom yang menyediakan
•
makanan yang diperlukan untuk kerajaan manusia.
Dia mengatur siklus untuk menghasilkan air tawar untuk minuman manusia dan
pengairan tanaman yang mereka makan.
•
Allah mengelola pasokan energi untuk makhluk-Nya demgam proses fotosintesis
yang ajaib, yang menyimpan energi dari matahari menjadi buah yang dapat
dimakan.
Sebagaimana teori evolusi nihil logika kehidupan evolusi, Biogenesis juga gagal dalam
mengasumsi awal mula kehidupan dalam zat kimia dengan regenerasi imajiner spontan.
Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa Dia adalah Pencipta kehidupan dan kematian.
Teori Penciptaan dalam Islam mengenai peran Pencipta sebagai Pencipta unsur
kehidupan. Unsur seperti itu tidak diketahui sampai sekarang oleh manusia. Teori
Darwin tidak mampu menjelaskan mengenai ruh. Tanpa ruh, sebuah jasad yang ada tidak
akan berfungsi, tidak akan hidup. Ruh masih menjadi misteri dalam sains dan teknologi.
Hanya Allah yang tahu, bahkan di Al-Qur’an pun dikatakan bahwa Allah lah yang
memegang kunci rahasia alam ruh. Jiwa ditiupkan ke dalam Adam dan juga ditiupkan ke
dalam setiap manusia. Hal ini menjadi rahasia Allah semata, tidak seorang pun bisa
mendefinisikannya.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan
Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (al-Isra’: 85)
Allah dalam teori Penciptaan dalam Islam tidak hanya membuat badan kita hidup, tetapi
ia juga membentuk rupa kita agar terlihat seperti rupa manusia. Allah memiliki nama lain
dalam Al-Qur’an selain al-Khaliq (Pencipta), yaitu al-Mushawwir (Yang membentuk
rupa).
“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang
Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di
langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Hasyr:
24)
Dari penjelasan singkat di atas dapat ditarik sebuah konklusi bahwa Al-Qur’an bukan
hanya sebagai kitab suci yang membacanya merupakan ibadah, namun ia juga
merupakan sebuah kitab yang banyak mengandung tanda-tanda ilmiah. Hal ini semakin
membuktikan bahwa Al-Qur’an itu benar-benar wahyu dari Allah, bukan buatan
Muhammad SAW.
Fly UP