...

PENGARUH PIJAT BAYI TERHADAP KENAIKAN BERAT BADAN

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PENGARUH PIJAT BAYI TERHADAP KENAIKAN BERAT BADAN
PENGARUH PIJAT BAYI TERHADAP KENAIKAN BERAT BADAN BAYI
UMUR 0 -3 BULAN DI BPS SARASWATI
SLEMAN YOGYAKARTA
TAHUN 20101
Miah Adroeni2, Asri Hidayat3
Abstract : Each parent would expect that his child can grow optimally, so that the
child can be a quality and tough human resource. one of growth indicators of a
child is body weight . One of the efforts to raise baby’s body weight is baby
massage. Research location is in BPS Sarawati from May – July 2011. To find out
the influence of baby massaging on the increase of body weight of 10-day-up to–
3-month-babies in BPS Saraswati Sleman year 2011. Research subject are 60 10day-up to-3-month-babies with purposive sampling . In the beginning and the end
of the research, the body weight of each group is measured. The gap of body
weight increase is tested with paired sample t-test with realibility level of 95 %.
There is an influence of baby massaging on the increase of body weight of 10day-up to-3-month babies in BPS Saraswati The average body weight of babies in
experiment group before massaging are 4325 grams and after massaging are 5088
grams. while in control group, the average body weight in the beginning of
research are 4483 gram and in the end of research are 5105 grams, with the
average increase of 623,33gram. There is an influence of baby massaging on the
increase of body weight of 10-day-up to-3-month babies in BPS Saraswati Sleman
year 2011.
Keyword
: Baby massage,weight increase,10day-3 months old babies
LATAR BELAKANG
Pembangunan di Indonesia
memiliki peran yang sangat penting
untuk menjadikan negara setingkat
lebih maju. Salah satu pembangunan
yang dilakukan adalah pembangunan
di bidang kesehatan. Pembangunan
ini tidak akan optimal bila tidak
didukung
oleh
sumber
daya
masyarakat yang memadai, salah
satunya adalah generasi penerus yang
akan melanjutkan pembangunan
yang terdahulu.
Anak memiliki nilai yang sangat
tinggi untuk keluarga dan bangsa.
Setiap orang tua mengharapkan
1
anaknya
dapat
tumbuh
dan
berkembang secara optimal, sehingga
dapat menjadi sumber daya manusia
yang berkualitas dan tangguh. Salah
satu indikator pertumbuhan pada
anak adalah berat badan anak.
Menurut survey Demografi
angka kejadian berat badan bayi dan
balita dibawah garis merah di
Indonesia
pada
tahun
1999
menunjukkan, 10-12 juta (50-69,7%)
balita di Indonesia (4 juta
diantaranya dibawah satu tahun)
berstatus gizi sangat buruk dan
mengakibatkan kematian. Setiap
Judul Skripsi
Mahasisw D IV Bidan Pendidik STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta
3
Dosen STIKES ‘Aisyiyah Yogyakarta
2
tahun diperkirakan 7% balita
Indonesia (sekitar 300.000 jiwa)
meninggal karena gizi buruk. Ini
berarti setiap 2 menit terjadi
kematian satu balita dari 170.000
balita (60%) diantaranya akibat gizi
buruk. Dari seluruh bayi dan balita
usia 3-24 bulan yang berjumlah 4,9
juta
di
Indonesia,
sekitar
seperempatnya sekarang berada
dalam kondisi kurang gizi (Herwin,
2004).
Data
Depkes
(Departemen
Kesehatan ) menunjukkan angka
kejadian gizi buruk pada bayi dan
balita pada tahun 2002 sebanyak 8%
dan 27%. Pada tahun 2003 masingmasing meningkat menjadi 8,3% dan
27,3%. Pada tahun 2005 naik
masing-masing 8,8% dan 28%
(Harian seputar Indonesia, 2007).
Data yang bersumber dari Dinas
Kesehatan
DIY,
tahun
2010
menyebutkan bahwa
meskipun
angka pertumbuhan bayi dan balita
di DIY jauh melampaui target
nasional (15% ditahun 2015) namun
masih terdapat bayi dan balita
dengan berat badan dibawah garis
merah (BGM), bahkan masih
terdapat bayi dan balita dengan gizi
buruk. Pada tahun 1988 sampai tahun
2002
terdapat
peningkatan
prosentase bayi dan balita dengan
status pertumbuhan yang baik,
namun pada tahun 2004 prosentase
bayi dan balita dengan berat badan
berada dibawah garis merah (BGM)
masih tetap dijumpai dengan
prosentase mencapai 1,14%.
Angka kejadian berat badan
dibawah garis merah (BGM) pada
balita sampai akhir tahun 2008
tercatat sebanyak 1.399 atau 0,8
persen dari jumlah balita, yang
didalamnya bayi umur 0-3 bulan
yang ada di daerah ini. Di kabupaten
Sleman
kunjungan
neonates
sejumlah 95,46% dan kunjungan
bayi sejumlah 43,61%.
Dari
kunjungan neonates dan balita yang
ditimbang berkisar 63,78%. Berat
badan yang naik sebanyak 62,12%,
yang berada dibawah garis merah
(BGM) 0,79%. Sedangkan dengan
Gizi buruk sebanyak 0,35%.
Berdasarkan studi pendahuluan
pada tanggal 28 februari 2011 yang
dilakukan dengan melihat data KMS
di BPS Saraswati didapatkan
sebanyak 80 bayi dan tercatat
sebanyak 4 bayi yang tidak
mengalami peningkatan berat badan
selama 2 bulan. Dan didapat data
dari rekam medis pijat bayi untuk
rata-rata kenaikan berat badan bayi
yang dilakukan pemijatan terjadi
peningkatan 17,32%, sedangkan ratarata kenaikan berat badan bayi yang
tidak dilakukan peningkatan sebesar
13,48%.
Masih
banyaknya
angka
kejadian berat badan bayi dan balita
berada dibawah garis merah (BGM)
dan salah satu manfaat dari pijat bayi
adalah meningkatkan berat badan
bayi, maka calon peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian di BPS
Saraswati dengan judul “Pengaruh
Pijat Bayi Terhadap Kenaikan Berat
Badan Bayi Umur 10 hari-3 Bulan di
BPS Saraswati Sleman Yogyakarta
Tahun 2011”.
1. Tujuan Umum
Mengetahui pengaruh positif pijat
bayi terhadap kenaikan berat
badan bayi umur 10 hari-3 bulan
di BPS Saraswati Sleman tahun
2011.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui rata-rata berat
badan bayi sebelum dilakukan
pemijatan pada bayi umur 10
hari-3 bulan di BPS Saraswati
Sleman Tahun 2011
b. Mengetahui rata-rata berat
badan bayi sesudah dilakukan
pemijatan pada bayi umur 10
hari-3 bulan di BPS Saraswati
Sleman Tahun 2011
c. Mengetahui rata-rata berat
badan
bayi
sebelum
pengamatan pada bayi tanpa
dipijat pada bayi umur 10 hari3 bulan di BPS Saraswati
Sleman Tahun 2011.
d. Mengetahui rata-rata berat
badan
bayi
sesudah
pengamatan pada bayi tanpa
dipijat pada bayi umur 10 hari3 bulan di BPS Saraswati
Sleman Tahun 2011.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini merupakan
penelitian pre-eksperimen yaitu
untuk mengetahui suatu gejala atau
pengaruh yang timbul, sebagai akibat
dari adanya perilaku tertentu.
Perlakuan atau intervensi terhadap
suatu variabel, dari perlakuan
tersebut
diharapakan
terjadi
perubahan atau pengaruh terhadap
variabel yang lain (Notoatmodjo,
2002).
Rancangan
atau
desain
penelitiannya adalah Intact-Group
Comparison. Dalam desain ini
terdapat satu kelompok yang
digunakan untuk penelitian, tetapi
dibagi menjadi dua, yaitu setengah
kelompok untuk eksperimen (yang
diberi perlakuan) dan setengah untuk
kelompok control (yang tidak diberi
perlakuan). Kelompok pertama diberi
perlakuan (X) dan kelompok yang
lain tidak. Kelompok yang diberi
perlakuan
disebut
kelompok
eksperimen dan kelompok yang tidak
diberi perlakuan disebut kelompok
kontrol. Dalam rancangan ini untuk
pengelompokan terhadap bayi yang
tidak dipijat sebagai kelompok
kontrol dan bayi yang dipijat sebagai
kelompok eksperimen atau yang
mendapat perlakuan (Sugiyono,
2008).
Dilakukan
pretest
(01)
penimbangan berat badan pada kedua
kelompok
kemudian
dilakukan
intervensi (x) atau perlakuan pada
kelompok eksperimen.
Setelah
beberapa
waktu
dilakukan posttest (02) maka
dilakukan penimbangan pada kedua
kelompok
tersebut.
Bentuk
rancangan ini dapat digambarkan
sebagai berikut :
OA 1
OB 1
XA
XB
OA 2
OB 2
Bagan 3.1 Desain Penelitian
Keterangan
XA =
Diberi intervensi
XB =
Tidak
diberi
intervensi
OA 1 =
Pengamatan pertama
pada kelompok eksperimen
OA 2 =
Pengamatan
kedua
pada kelompok eksperimen
OB 1 =
Pengamatan pertama
pada kelompok kontrol
Pengamatan
kedua
OB 2 =
pada kelompok kontrol
Kedua kelompok sama pada
awalnya, maka perbedaan hasil
posttest (02) kenaikan berat badan
pada kedua kelompok tersebut dapat
dikatakan sebagai pengaruh dari
intervensi atau perlakuan.
Populasi
adalah
wilayah
generalisasi yang terdiri atas
obyek/subyek yang mempunyai
kuantitas dan karakteristik tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan ditarik kesimpulannya
(Sugiyono, 2007). Populasi dalam
penelitian ini adalah semua bayi
yang ada di BPS Saraswati umur 10
hari-3 bulan. Untuk bayi yang
melakukan terapi pijat bayi di BPS
Saraswati rata-rata berjumlah 60 bayi
perbulan.
Sampel adalah bagian dari
jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi (Sugiyono,
2007). Menurut Notoatmodjo (2002)
adalah sebagian dari yang diambil
dari keseluruhan obyek yang diteliti
dan dianggap mewakili seluruh
populasi. Rumus sampel yang
digunakan yaitu besar sampel pada
dua populasi rata-rata didapat
formula rumus sebagai berikut:
(Susanto : 2010)
Rumus n =
(dua arah)
Diketahui:
=
5,24 kg
=
5,17 kg
=
tingkat
kepercayaan 95% (dua arah)
artinya (1-α) = 100-99 = 1% atau
0,01. Pada α 0,01 nilai z = 1,96
=
kekuatan uji
90% = 1,65
=
N
2,232 = 4,97
= ……..?
n=
n=
n=
n=
. ,
,
,
,
,
,
,
,
,
n=
,
,
,
,
n = 30,25
n = 30
Sampel penelitian ini adalah bayi
umur 10 hari-3 bulan di BPS
Saraswati Sleman yang memenuhi
kriteria inklusi dan eksklusi yang
berjumlah 30 bayi pada kelompok
eksperimen, dan 30 pada kelompok
kontrol.
Kriteria
inklusi
dalam
penelitian ini adalah :
a. Cukup bulan (kehamilan
37 minggu – 40 minggu)
b. Berat badan lahir 2500
gram – 4000 gram
c. Bayi yang menggunakan
ASI eksklusif
d. Bayi belum pernah dipijat
e. Bayi
tidak
sedang
mengalami kolik
f. Bayi yang mendapatkan
imunisasi sesuai dengan
umurnya
g. Orang tua bayi bersedia
untuk berpartisipasi
h. Pemijatan dilakukan oleh
bidan
Kriteria eksklusi dalam penelitian
ini adalah :
a. Bayi dengan kelainan
bawaan
b. Bayi yang sedang dalam
keadaan sakit
c. Bayi dengan ibu yang
mempunyai
riwayat
mengkonsumsi
obatobatan kortikosteroid dan
perangsang
terhadap
susunan saraf.
Sampling
adalah
teknik
pengambilan sampel. Sampling yang
akan digunakan dalam penelitian ini
adalah sampling purposive. Sampling
purposive adalah teknik untuk
menentukan sampel dari populasi
dengan pertimbangan tertentu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan penelitian yang
dilakukan di BPS Saraswati sejak
tanggal 22 Mei 2011 sampai dengan
13 Juli 2011 tentang “Pengaruh Pijat
Bayi Terhadap Kenaikan Berat
Badan Bayi Umur 10 hari - 3 Bulan
di
BPS
Saraswati
Sleman
Yogyakarta
Tahun
2011”.
Responden pada penelitian ini
berjumlah 60 bayi dengan umur 10
hari - 3 bulan di BPS Saraswati yang
dibagi menjadi 2 kelompok, 30 bayi
pada kelompok yang dilakukan
pemijatan (kelompok eksperimen)
dan 30 bayi pada kelompok yang
tidak dilakukan pemijatan (kelompok
kontrol). Untuk lebih jelasnya
karakteristik responden akan penulis
sajikan sebagai berikut :
a) Karakteristik Responden pada
Kelompok
Eksperimen
Berdasarkan Umur dalam Bulan
Tabel 4.1
Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Kelompok Eksperimen
Berdasarkan Umur dalam Bulan
Umur Frekuensi Prosentase
0
5
16,3 %
bulan
1
7
23,3 %
bulan
2
8
26,7 %
bulan
3
10
33,3 %
bulan
Jumlah
30
100%
Sumber: Data Primer (2011) yang diolah
Berdasarkan distribusi frekuensi
karakteristik responden kelompok
dipijat berdasarkan umur dalam
bulan menunjukkan bahwa mayoritas
responden berumur 3 bulan dengan
jumlah 10 bayi.
b) Karakteristik Responden pada
Kelompok Kontrol Berdasarkan
Umur dalam Bulan
Tabel 4.2
Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Kelompok Kontrol
Berdasarkan Umur dalam Bulan
Umur Frekuensi Prosentase
0
5
16,3 %
bulan
1
7
23,3 %
bulan
2
8
26,7 %
bulan
3
10
33,3 %
bulan
Jumlah
30
100%
Sumber: Data Primer (2011) yang diolah
Berdasarkan distribusi frekuensi
karakteristik responden kelompok
tidak dipijat berdasarkan umur dalam
bulan menunjukkan bahwa mayoritas
responden berumur 3 bulan dengan
jumlah 10 bayi.
c) Karakteristik Responden pada
kelompok Eksperimen
Berdasarkan Berat Badan
Sebelum Pemijatan.
Tabel 4.3
Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Kelompok Eksperimen
Berdasarkan Berat Badan Sebelum
Pemijatan
Berat Frekuensi Prosentase
4
13,3 %
20103000
gram
8
26,7 %
30104000
gram
8
26,7 %
40105000
gram
10
33,3 %
50106000
gram
Jumlah
30
100%
Sumber: Data Primer (2011) yang diolah
Berdasarkan distribusi frekuensi
karakteristik
responden
pada
kelompok dipijat berdasarkan berat
badan
sebelum
pemijatan
menunjukkan
bahwa
mayoritas
responden mempunyai berat badan
antara 5010-6000 gram sebanyak 10
bayi.
d) Karakteristik Responden pada
Kelompok Kontrol Berdasarkan
Berat Badan di Awal Penelitian
Tabel 4.4
Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Kelompok Kontrol
Berdasarkan Berat Badan di Awal
Penelitian
Berat Frekuensi Prosentase
4
13,3 %
20103000
gram
7
23,3 %
30104000
gram
7
23,3 %
40105000
gram
12
40,1 %
50106000
gram
Jumlah
30
100%
Sumber: Data Primer (2011) yang diolah
Berdasarkan distribusi frekuensi
karakteristik
responden
pada
kelompok tidak dipijat berdasarkan
berat badan di awal penelitian
menunjukkan
bahwa
mayoritas
responden mempunyai berat badan
antara 5010-6000 gram dengan
jumlah 12 bayi.
e) Karakteristik Responden pada
Kelompok Eksperimen
Berdasarkan Berat
Badan
Setelah Pemijatan
Tabel 4.5
Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Kelompok Eksperimen
Berdasarkan Berat Badan Setelah
Pemijatan
Berat
Frekue
nsi
5
Prosenta
se
16,7 %
30104000
gram
7
23,3 %
40105000
gram
9
30,0 %
50106000
gram
9
30,0 %
60107000
gram
Juml
30
100%
ah
Sumber: Data Primer (2010) yang
diolah
Berdasarkan distribusi frekuensi
karakteristik
responden
pada
kelompok dipijat berdasarkan berat
badan
setelah
pemijatan
menunjukkan
bahwa
mayoritas
responden mempunyai berat badan
antara 5010-6000 gram sebanyak 9
bayi dan berat badan antara 60107000 gram sebanyak 9 bayi.
f) Karakteristik Responden pada
Kelompok Kontrol Berdasarkan
Berat
Badan di
Akhir Penelitian
Tabel 4.6
Distribusi Frekuensi Karakteristik
Responden Kelompok Kontrol
Berdasarkan Berat Badan di Akhir
Penelitian
Berat
30104000
gram
40105000
gram
50106000
gram
60107000
gram
Juml
ah
Frekue
nsi
5
Prosenta
se
16,7 %
8
26,7 %
9
30,0 %
8
26,7 %
30
100%
Sumber: Data Primer (2010) yang diolah
Berdasarkan distribusi frekuensi
karakteristik
responden
pada
kelompok tidak dipijat berdasarkan
berat badan di akhir pemelitian
menunjukkan
bahwa
mayoritas
responden mempunyai berat badan
antara 5010-6000 gram dengan
jumlah 9 bayi.
1. Gambaran Rata-Rata Berat
Badan Bayi Sebelum dan
Sesudah
Pemijatan
pada
Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol di BPS
Saraswati Sleman Yogyakarta
Tahun 2011
Tabel 4.7
Distribusi Frekuensi Rata-rata
Berat Badan Bayi Sebelum
dan Sesudah Pemijatan pada
Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol
di BPS Saraswati
Kelas
Kelompo
k
Eksperim
en
Kelompo
k Kontrol
Rata-rata Berat
Badan (gram)
Sebelu Sesuda
m
h
4324
5088
Tabel 4.8
Distribusi Frekuensi Rata-Rata
Kenaikan Berat Badan Bayi pada
Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol di BPS Saraswati
Kelas
Kelompok
Eksperimen
Kelompok
Kontrol
RataRata
Kenaikan Prosentase
Berat
Badan
763,66
18,125 %
623,33
14,51 %
Sumber: Data Primer (2011) yang diolah
4483
5106
Sumber : Data Primer (2011) yang diolah
Berdasarkan distribusi frekuensi
rata-rata berat badan bayi sebelum
dan
sesudah
pemijatan
pada
kelompok dipijat dan kelompok tidak
dipijat
di
BPS
Saraswati
menunjukkan bahwa rata-rata berat
badan bayi pada kelompok dipijat
sebelum dilakukan pemijatan adalah
4324 gram dan rata-rata sesudah
dilakukan pemijatan adalah 5088
gram,
sedangkan
pada
bayi
kelompok tidak dipijat rata-rata berat
badan di awal penelitian adalah 4483
gram dan rata-rata berat badan di
akhir penelitian adalah 5106 gram.
2. Gambaran Rata-Rata Kenaikan
Berat
Badan
Bayi
pada
Kelompok Eksperimen dan
Kelompok Kontrol di BPS
Saraswati Sleman Yogyakarta
Tahun 2011
Berdasarkan distribusi
frekuensi rata-rata kenaikan
berat badan bayi pada
kelompok
dipijat
dan
kelompok tidak dipijat di BPS
Saraswati
menunjukkan
bahwa rata-rata peningkatan
berat badan bayi pada
kelompok
dipijat
adalah
763,66 gram (18,125%) dan
rata-rata peningkatan berat
badan bayi pada kelompok
tidak dipijat adalah 623,33
gram (14,51).
3. Uji Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian
ini adalah “ada pengaruh pijat
bayi terhadap kenaikan berat
badan bayi umur 10 hari - 3
bulan di BPS Saraswati Sleman
Yogyakarta tahun 2011.”
Untuk
membuktikan
hipotesis
tersebut
perlu
dilakukan uji t menggunakan
paired sample t-test. Sebelum
dilakukan uji t terdapat satu
asumsi yang harus dipenuhi
yaitu data harus berdistribusi
normal.
Data
dikatakan
berdistribusi normal jika nilai
signifikansi (p) > 0,05. Hasil uji
normalitas data adalah pada
kelompok
dipijat
maupun
kelompok tidak dipijat nilai
signifikansi didapatkan (p) >
0,05 maka data pada kelompok
dipijat dan kelompok tidak
dipijat berdistribusi normal.
Sehingga dapat diketahui bahwa
rata-rata kenaikan berat badan
bayi pada kelompok yang
dilakukan pemijatan adalah
763,66 gram (18,125%) dan
rata-rata kelompok yang tidak
dilakukan pemijatan adalah
623,33 gram (14,51%). Hal ini
menggambarkan
adanya
perbedaan kenaikan berat badan
bayi pada kelompok yang
dilakukan pemijatan dengan
kelompok yang tidak dilakukan
pemijatan bayi umur 10 hari - 3
bulan di BPS Saraswati Sleman
Yogyakarta.
Tabel 4.9
Paired Samples Test
Mean
Kenaikan berat
badan bayi
eksperimen kenaikan berat
badan bayi
kontrol
140.333
95% Confidence Interval
of the Difference
Lower
Upper
92.75241
187.9142
t
Sig.
(2taile
d)
5.904
.000
Sumber: Data Primer (2010) yang
diolah
Hasil uji diperoleh t
hitung 5.904 (p=0,000), t tabel
2,000 dengan signifikansi 5%.
Karena t hitung lebih besar
dari t tabel (5.904 >2,000)
dan p < 0,05 maka Ho ditolak
dan Ha diterima. Artinya
terdapat pengaruh pijat bayi
terhadap kenaikan berat badan
bayi umur 10 hari-3 bulan di
BPS
Saraswati
Sleman
Yogyakarta tahun 2011.
PEMBAHASAN
1. Karakteristik Responden
Berdasarkan
distribusi
frekuensi karakteristik responden
berdasarkan umur pada kelompok
dipijat
menunjukkan
bahwa
mayoritas responden berumur 3
bulan sebanyak 10 bayi. Pada
kelompok
tidak
dipijat
menunjukan bahwa mayoritas
responden berumur 3 bulan
dengan jumlah 10 bayi.
Berdasarkan
distribusi
frekuensi karakteristik responden
berdasarkan berat badan sebelum
pemijatan pada kelompok dipijat
mayoritas responden
dengan
berat badan antara 5010-6000
gram sebanyak 10 bayi. Pada
kelompok tidak dipijat mayoritas
responden dengan berat badan
antara 5010-6000 gram sebanyak
12 bayi.
Berdasarkan
distribusi
frekuensi karakteristik responden
berdasarkan berat badan setelah
pemijatan pada kelompok dipijat
mayoritas responden dengan berat
badan 5010-600 gram 9 bayi dan
berat badan antara 6010-7000
sebanyak 9 bayi. Pada kelompok
tidak dipijat mayoritas responden
dengan berat badan antara 50106000 gram dengan jumlah 9 bayi .
2. Perbedaan rata-rata peningkatan
berat badan bayi pada kelompok
eksperimen dengan kelompok
kontrol bayi umur 10 hari - 3
bulan di BPS Saraswati
Berdasarkan
distribusi
frekuensi pada tabel 4.8 dapat
diketahui
bahwa
rata-rata
peningkatan berat badan bayi
pada kelompok dipijat adalah
763,66 gram (18,125%) dan ratarata peningkatan berat badan bayi
pada kelompok tidak dipijat
adalah 623,33 gram (14,51%).
Dari data primer dengan skala
rasio pada kelompok dipijat
didapatkan nilai terendah 650
gram dan nilai tertinggi 1000
gram dengan nilai rata-rata
kenaikan 763,66 gram. Sedangkan
pada kelompok tidak dipijat nilai
terendah 450 gram dan nilai
tertinggi 750 gram dengan nilai
rata-rata kenaikan 623,33 gram.
Nilai analisis data menggunakan
Paired
Samples
Test
menunjukkan hasil dengan nilai t
hitung (5,904) dan t tabel (2,000)
dengan sig.(2-tailed) 0,000 atau
nilai p lebih kecil dari 0,05.
Karena nilai t hitung lebih besar
dari t tabel (5,904 > 2,000) dan p
< 0,05 maka Ho ditolak dan Ha
diterima.
Artinya
terdapat
perbedaan rata-rata kenaikan berat
badan yang signifikan antara
kelompok
dipijat
dengan
kelompok tidak dipijat, bahwa
responden kelompok dipijat ratarata kenaikan berat badannya
lebih tinggi daripada kelompok
tidak dipijat. Perbedaan rata-rata
kenaikan berat badan yang
signifikan ini terjadi karena pada
kelompok
dipijat
responden
dilakukan pemijatan selama 2 kali
seminggu selama 6 minggu
dengan durasi pemijatan 15 menit,
sedangkan kelompok tidak dipijat
tidak dilakukan pemijatan.
Hasil penelitian ini sesuai
dengan teori yang dikemukakan
oleh
Roesli
(2008)
yang
mengatakan salah satu manfaat
pijat
bayi
adalah
untuk
meningkatkan berat badan bayi
dan pijat bayi dapat menimbulkan
efek biokimia dan fisik yang
positif. Pijat bayi menyebabkan
peningkatan aktivitas nervus
vagus dan akan merangsang
hormon pencernaan antara lain
insulin dan gastrin. Insulin
memegang
peranan
pada
metabolisme,
menyebabkan
kenaikan
metabolisme
karbohidrat,
penyimpanan
glikogen, sintesa asam lemak,
ambilan asam amino sintesa
protein. Jadi insulin merupakan
suatu hormon anabolik penting
yang bekerja pada berbagai
jaringan termasuk hati, lemak dan
otot. Peningkatan insulin dan
gastrin dapat merangsang fungsi
pencernaan sehingga penyerapan
terhadap sari makanan pun
menjadi lebih baik. Penyerapan
makanan yang lebih baik akan
menyebabkan bayi cepat lapar dan
karena itu bayi lebih sering
menyusu. Akibatnya produksi
ASI akan lebih banyak.
Hasil penelitian ini juga
didukung oleh hasil penelitian
Prof.T.Field & Scafidi cit Dasuki
(2003) menunjukkan bahwa pada
20 bayi prematur (berat badan
1.280 dan 1.176 gram), yang
dipijat selama 10 menit, terjadi
kenaikan berat badan 20% - 47%
perhari lebih dari yang tidak
dipijat. Pada penelitian terhadap
bayi cukup bulan yang berusia 1-3
bulan yang dipijat selama 15
menit sebanyak 2 kali dalam
seminggu untuk masa 6 minggu
menunjukkan kenaikan berat
badan yang lebih dari bayi
kontrol. Bayi-bayi yang dipijat
selama 5 hari saja, daya tahan
tubuhnya
akan
mengalami
peningkatan
sebesar
40%
dibanding bayi-bayi yang tidak
dipijat. Selain itu, penelitian
Pudjianto
(2000),
tentang
pengaruh stimulasi dini pemijatan
terhadap
pertumbuhan
dan
perkembangan bayi memperoleh
hasil bahwa bayi yang orang
tuanya
atau
pengasuhnya
mendapat
pendidikan
dan
penyuluhan pijat bayi, kenaikan
berat badannya lebih baik dari
pada yang tidak dipijat, tetapi
dalam
analisisnya
tidak
memperhatikan faktor pengaruh
atau faktor luar yang lain.
Ternyata ada pengaruh dari
kelompok bayi yang dilakukan
pemijatan dengan kelompok bayi
yang tidak dilakukan pemijatan.
Bayi yang dilakukan pemijatan
dengan frekuensi 2 kali seminggu
selama 6 minggu dengan durasi
pemijatan
15
menit dapat
meningkatkan berat badan secara
signifikan dari pada bayi yang
tidak dilakukan pemijatan.
Ada beberapa faktor yang
dapat meningkatkan berat badan
bayi selain pijat bayi yaitu: gizi
anak, kesehatan anak, imunisasi,
genetic,
perumahan,
sanitasi
lingkungan, kelainan kromosom,
sosio-ekonomi, obat-obatan. Dari
beberapa faktor ada dua faktor
yang tidak dapat dikendalikan
yaitu: perumahan dan sanitasi
lingkungan, dimana kedua faktor
itu kemungkinan memberikan
kontribusi dalam kenaikan berat
badan bayi.
Dalam rangka perawatan bayi
perlu dilakukan usaha salah
satunya dengan pijat bayi, dimana
pijat bayi salah satu manfaatnya
adalah meningkatkan produksi
ASI, dengan tercukupnya ASI
maka berat badan anak akan naik.
Sesuai denga surat Al-Lukman
ayat 14 “Dan kami perintahkan
kepada manusia terhadap dua
orang ibu-bapaknya. Ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan
lemah bertambah lemah dan
menghentikannya menyusu dalam
dua tahun. Bersukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibubapak mu. Hanya kepada-Ku lah
kembalimu”.
Makna dari ayat tersebut
menegaskan bahwa untuk tumbuh
kembang bayi haruslah benerbener diperhatikan salah satunya
dengan perawatan pijat bayi
dimana
pijat
bayi
dapat
meningkatkan produksi ASI,
dengan ASI yang cukup maka
bayi bisa memperoleh ASI selama
2 tahun. Sehingga bayi bisa
tumbuh secara optimal.
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Terdapat pengaruh pijat bayi
terhadap kenaikan berat badan
bayi umur 10 hari - 3 bulan di
BPS
Saraswati
Sleman
Yogyakarta tahun 2011 secara
bermakna.
2. Rata-rata berat badan bayi pada
kelompok eksperimen sebelum
dilakukan pemijatan adalah 4324
gram dan rata-rata sesudah
dilakukan pemijatan adalah 5088
gram yang berarti mengalami
peningkatan berat badan sebesar
763,66
gram
(18,125%),
sedangkan pada bayi kelompok
kontrol rata-rata berat badan di
awal penelitian adalah 4483 gram
dan rata-rata berat badan di akhir
penelitian adalah 5106 gram yang
berarti mengalami peningkatan
berat badan sebesar 623,33 gram
(14,51 %).
Berdasarkan kesimpulan diatas
maka peneliti dapat memberikan
saran sebagai berikut:
1. Bagi Ibu-Ibu yang Memiliki Bayi
Umur 10 hari - 3 Bulan
Untuk ibu-ibu yang memiliki bayi
umur 10 hari - 3 bulan disarankan
agar mengikuti pelatihan cara
memijat bayi yang benar sehingga
bisa melakukan sendiri pemijatan
pada bayinya di rumah agar dapat
mengoptimalkan
pertumbuhan
dan
perkembangan
bayinya
karena
pijat
bayi
sangat
bermanfaat sekali baik bagi bayi
maupun ibunya dan kerugiannya
relatif tidak ada.
2. Bagi
Tenaga
Kesehatan
Khususnya Bidan di BPS
Saraswati
Untuk bidan khususnya di BPS
Saraswati Sleman Yogyakarta dan
seluruh bidan pada umumnya,
karena
pijat
bayi
sangat
bermanfaat sekali baik bagi bayi
maupun ibunya dan kerugiannya
relatif tidak ada diharapkan pijat
bayi dijadikan suatu program
dalam perawatan bayi baru lahir
agar tumbuh kembang bayi dapat
berjalan optimal.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Untuk
peneliti
selanjutnya
disarankan melakukan penelitian
pengaruh pijat bayi terhadap
kenaikan berat bayi dari berbagai
faktor
diantaranya
adalah:
perumahan, sanitasi lingkungan,
social-ekonomi,
serta
lebih
terfokus dalam satu kelompok
umur, sehingga hasil yang didapat
lebih terfokus.
4. Bagi Instansi
Untuk
pemimpin
instansi
kesehatan khususnya di bidang
kebidanan
diharapkan
bisa
memberikan dan meningkatkan
kualitas pendidikan salah satunya
dengan
memberikan
materi
tentang
pijat
bayi
beserta
prakteknya
sehingga
dapat
mencetak tenaga kesehatan yang
profesional.
DAFTAR PUSTARA
Al-quraan. An.Nisa : 9.
Al-quraan. Lukman : 14.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
Penelitian
Suatu
Pendekatan
Praktek.
Cetakan keduabelas. Jakarta
: PT. Rineka Cipta.
Agarwal,
K.N.,
Gupta,
A.,
Pushkarna, R., Bhargava,
S.K., Faridi, M.M., &
Prabhu,
M.K.
(2000).
Effects of massage & use
of oil on growth, blood
flow & sleep pattern in
infants.
http://www.scienceofmassa
ge.com/dnn/som/journal/10
11/therapeutic.aspx.
(Diakses 10 Maret 2011.
Pukul: 20.00 WIB).
Astuti, Dewi. 2005. Panduan Praktis
Memijat Buah Hati Anda.
Yogyakarta
:
Nusa
Pressindo.
A. Wheeden, F. A. Scafidi, T. Field,
G. Ironson, C. Valdeon, and
E.
Bandstra
(2000).
Massage
effects
on
cocaine-exposed preterm
neonates.
http://www.scienceofmassa
ge.com/dnn/som/journal/11
02/therapeutic.aspx.
(Diakses 10 Maret 2011.
Pukul: 21.05).
Dasuki, Mohammad Shoim. 2003.
Pengaruh
Pijat
Bayi
Terhadap Kenaikan Berat
Badan Bayi Umur 4 Bulan.
Tesis Pascasarjana Program
Studi
Ilmu
Kesehatan
Masyarakat Minat Gizi dan
Harian Seputar Indonesia. 2007.
Angka Kejadian Gizi Buruk
di Indonesia. Videocassete.
Hartini. 2009. Pengaruh Pijat Bayi
Terhadap Kenaikan Berat
Badan Bayi Umur 0 – 1
Bulan
di
Puskesmas
Mergangsan.
Skripsi
Sarjana Jurusan Kebidanan
Program D – IV Bidan
Pendidik Poltekes Depkes
Yogyakarta.
Tidak
diterbitkan.
Kusnandi,
Rusmil.
2008.
Pertumbuhan
dan
Perkembangan
Anak.
Dalam
http://translate.google.co.id/
translate?hl=id&langpair=e
n|id&u=http://www.kellym
om.com/babyconcerns/gro
wth/weight-gain.html.
Kesehatan
Universitas
Gadjah Mada Yogyakarta.
Tidak diterbitkan.
Ferber, S.G. Kuint, J., Weller, A.,
Feldman, R., Dollberg, S.,
Arbel, E., & Kohelet D.
(2002). Massage therapy
by mothers and trained
professionals
enhances
weight gain in preterm
infants.
http://www.scienceofmassa
ge.com/dnn/som/journal/11
01/therapeutic.aspx.
(Diakses 10 Maret 2011.
Pukul: 20.07).
Diakses Kamis, 1 April
2011 pukul 15.00 WIB.
Notoatmodjo,
Soekidjo.
2002.
Metodologi
Penelitian
Kesehatan. Cetakan kedua.
Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Panji,
Mohammad.
2003.
Pertumbuhan Berat Badan
Bayi.
Dalam
http://fordearest.wetpaint.co
m/page/berat+badan+dan+t
abel+pertumbuhan. Diakses
Kamis, 1 April 2011 pukul
15.25 WIB.
Panji, Mohammad. 2005. Pijat Bayi
untuk Pertumbuhan. Dalam
http://www.jambiindependent.co.id/home/mo
dules.Php?name=news&file
=article&sid=3305. Diakses
Kamis, 1 April 2011 pukul
15.30 WIB.
Profil Kesehatan Indonesia, (2007).
Tersedia
dalam
http://www.depkes.go.id/do
wnloads/publikasi/profil%2
0
kesehatan
%
20
Indonesia%20 2007. Pdf.
(Dinkes 3 Maret 2011).
Profil Kesehatan Provinsi Daerah
Istimewa
Yogyakarta,
2010.
(Berdasarkan
Laporan
Program
Kesehatan Ibu dan Anak,
Untuk
Tahun
2011
Berdasarkan dari SDKI
2009-2010).
Rahayu,
Asti. 2005. Pedoman
Merawat Bayi. Jakarta :
Erlangga.
Roesli, Utami. 2008. Pedoman Pijat
Bayi, Cetakan Kesepuluh
Edisi Revisi. Jakarta: PT.
Trubus Agriwidya.
Roesli, Utami. 2001. Pedoman Pijat
Bayi Prematur & Bayi Usia
0 – 3 Bulan. Cetakan
pertama. Jakarta : PT.
Trubus Agriwidya.
Sugiyono. 2007. Statistika Untuk
Penelitian.
Cetakan
keduabelas. Bandung : CV.
Alfabeta.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian
Kuntitatif Kualitatif dan R
& D. Cetakan keempat.
Bandung: CV. Alfabeta.
Susanto,
Nugroho. 2010. Besar
Sampel dalam Penelitian
Kesehatan.
Cetakan
Pertama. Yogyakarta :
Digibooks.
WHO. 2008. Buku Saku Manajemen
Masalah Bayi Baru Lahir
Panduan untuk Dokter,
Perawat & Bidan. Cetakan
pertama. Jakarta : EGC.
Whallay & Wong. 2002. Tumbuh
Kembang Anak. Jakarta :
EGC.
Widyani,
Widyastuti.
2007.
Pedoman Perawatan Bayi.
Dalam
http://www.anneahira.com/
perawatan-bayi/.htm.
Diakses
Kamis,
1
Desember 2010 pukul
16.00 WIB.
Fly UP