...

hubungan kandungan logam berat dalam air dan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

hubungan kandungan logam berat dalam air dan
Rosidi dan Sukirno
ISSN 0216 - 3128
13
HUBUNGAN KANDUNGAN LOGAM BERAT DALAM AIR
DAN SEDIMEN LAUT DI SEMENANJUNG MURIA (TAHUN
KE 2)
Rosidi dan Sukirno
Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan
ABSTRAK
HUBUNGAN KANDUNGAN LOGAM BERAT DALAM AIR DAN SEDIMEN LAUT DI SEMENANJUNG
MURIA (TAHUN KE 2). Telah dilakukan analisis logam berat dalam lingkungan kelautan di semenanjung
Muria dengan metoda analisis aktivasi neutron (AAN). Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui
distribusi dan hubungan logam berat yang terdapat dalam air dan sedimen laut yang mengakomodasikan
data lingkungan terkini dalam rangka mendukung ijin tapak Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Hasil
analisis teridentifikasi 5 unsur logam berat yang diperhatikan dalam air laut dan sedimen yaitu Cd, Co, Cr,
Sb dan Sc. Konsentrasi semua logam tersebut sesuai SK Menteri Negara Lingkungan Hidup N0 51 tahun
2004.ternyata masih di bawah baku mutu air laut (0,002 mg/l) yang diperbolehkan Tinjauan data
menggunakan perangkat lunak SPSS versi 10, dengan nilai korelasi Pearson (r) menunjukkan bahwa antara
konsentrasi Co terhadap Sc dalam kedua indikator menunjukkan korelasi positif tinggi (r=0,928), antara Cr
dengan Sc cukup tinggi (r=7,56) antara Cr dengan Cd positif sedang (r=0,611), sedangkan Co dengan Sb
menunjukkan signifikansi rendah (r=0,429).
Kata kunci: logam berat, PLTN, metoda AAN
ABSTRACT
CORRELATION OF HEAVY ELEMENT IN SEA WATER AND SEDIMENT SAMPLES FROM PENINSULA
OF MURIA. The analysis of heavy metals in marine environmental samples peninsula of Muria in the year
2004 has been carried out by using neutron avtivation analysis (NAA) method. The objective of this analysis
is to know the distribution of heavy metals in the sea water and sediment, which accommodate the recent
environmental data in supporting the license of site for the nuclear power plants (NPP). The result of the
analysis show that there were only 5 observed elements found in sea water and sediment were Cd, Co, Cr Sb
and Sc. All of heavy metals from sea water (0,002 mg/l) are obviously lower than the threshold value
established by environmental minister Act; Kep LH No 51/2004. From the observed data to use softwere of
SPSS version 10, application of the Pearson correlation (r) shows that between Co with Sc was andicator
show a highly positive significant correlation (r=0,928), between Cr with Sc was sufficiently positive high
(r=0,756), between Cr with Cd was precisely (r=0,611) while Co with Sb shows the significantly low
(r=0,429).
Key words : heavy metals, NPP, NAA method
PENDAHULUAN
L
ingkungan lautan merupakan suatu ekosistem
yang khas karena menjadi tempat akumulasi
berbagai kontaminan yang berasal dari lepasan
langsung ke perairan laut, jatuhan dari atmosfer
dan disposisi dari daratan. Di perairan terdapat
mata rantai makanan yang merupakan jalur
(pathways) penting logam berat yang berperan
dalam proses penyebaran dan akumulasi
kontaminan pada masing-masing mata rantai
makanan. Pesisir laut juga merupakan tempat
akumulasi berbagai jenis logam berat berasal dari
kegiatan di daratan maupun di lautan sehingga
pesisir laut merupakan tempat yang sangat penting
untuk mengetahui kualitas lingkungan kelautan
disuatu tempat. Perjalanan pencemar biasanya
yang merupakan polutan terbawa melewati aliran
sungai dari hulu yang terbawa arus menuju muara
dan terkontaminasi pada muara sungai tersebar ke
lautan[1].
Berpijak pada kepentingan bersama untuk
mengupayakan kualitas lingkungan dipandang
perlu untuk dilakukan pemantauan lingkungan
pada daerah calon tapak PLTN yang menurut
rencana akan didirikan di semenanjung Muria dan
menurut
sumber
berita
dari
SUARA
PEMBAHARUAN[2] pada tahun 2017 telah
Prosiding PPI - PDIPTN 2007
Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
14
ISSN 0216 - 3128
beroperasinya PLTN pertama di Indonesia. Sejalan
dengan itu pada tahun 2006 beroperasinya PLTU
Batubara di Tanjung Jati B Tubanan Muria.
Dengan demikian kegiatan pemantauan lingkungan
(tahun ke 2 yaitu tahun 2004) diharapkan dapat
memberikan kontribusi sebagai bagian data rona
awal yang meliputi kegiatan monitoring dan
pengumpulan data khususnya tentang distribusi
logam berat beracun berbahaya (B3) dalam
indikator air dan sedimen laut. Kedua indikator
tersebut telah ditetapkan sebagai indikator
alternatif tingkat pencemaran lingkungan kelautan.
Ditinjau dari aspek perpindahan massa
polutan khususnya konsentrasi logam B3 yang
ditinjau dalam air dan sedimen laut diasumsikan
mempunyai korelasi yang signifikan. Hal ini dapat
dilakukan menggunakan pendekatan statistik
dengan menggunakan aplikasi statistik program
SPSS versi 10. Menurut SANTOSO[3] analisis dan
arti angka korelasi Pearson dapat dibagi menjadi 2,
yaitu (1) berkenaan dengan besaran angka, maka
angka akan berkisar pada 0 (tidak ada korelasi
sama sekali) dan (2) dengan nilai 1 yaitu korelasi
sempurna. Sebenarnya tidak ada ketentuan yang
tepat mengenai apakah nilai korelasi Pearson
tertentu menunjukkan tingkat korelasi yang tinggi
atau lemah.
Menurut SUTRISNO[4] ukuran
korelasi konservatif diklasifikasikan sebagai
interpretasi korelasi tinggi (0,800-1,00), cukup
antara(0,600-0,800), agak rendah antara (0,4000,600), rendah antara (0,200-0,400) dan sangat
rendah atau tidak berkorelasi dari nilai r ((0,000,200).
Teknik analisis menggunakan teknik nuklir
telah memberikan sumbangan terhadap penentuan
unsur dalam cuplikan lingkungan.
Menurut
SUKIRNO[5] dan GRIMANIS[6] telah melakukan
analisis berbagai cuplikan lingkungan terutama air,
sedimen dan biota dengan menggunakan metoda
AAN, terutama dalam unsur kelumit dan minor.
Prinsip dasar AAN ini adalah apabila suatu bahan
cuplikan yang terdiri dari berbagai unsur kimia
dibombardir dengan neutron maka akan terjadi
penangkapan neutron oleh inti unsur-unsur
tersebut, sehingga unsur stabil menjadi tidak
setabil.
Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui distribusi dan hubungan antara logam
berat yang terdapat dalam air dan sedimen serta
mendapatkan data rona awal lingkungan logam
Rosidi dan Sukirno
berat terkini dalam komponen ekosistem kelautan
(sedimen dan air laut) di daerah semenanjung
Muria Jepara sebelum beroperasinya PLTU
Batubara dan PLTN.
TATA KERJA
Penyediaan Bahan
Sedimen, air laut, HNO3, larutan standar
sekunder mengandung logam (Cd, Cr, Co, Sb, dan
Sc), serbuk selulosa. Standar kalibrasi alat multi
gamma Eu-152. River sediment SRM 1645, SRM
2704.
Penyiapan Alat
Refraktometer (kadar garam), GPS (Global
Position System), pH meter, Sechi disk (kecerahan
air), Grab sampler (pengambilan sedimen), water
sampler (pengambilan air) bola duga (kecepatan
arus), jirigen 5 l, plastik klip tempat sedimen
basah/kering, lumpang tahan karat, ayakan Karl
Colb 100 mesh, timbangan analitik, mangkuk
porselin, vial pencacahan, alat-alat gelas dan
Maestro II EG&G Spektrometer γ Ortec dengan
detektor Ge(Li), Reaktor nuklir Kartini,
kelongsong dan vial iradiasi.
Pengambilan dan Preparasi Cuplikan
Pengambilan cuplikan dilakukan pada bulan
Agustus 2004 saat musim kemarau, yang diambil
air dan sedimen laut. Sedimen diambil sekitar 5 kg
di tempatkan dalam plastik klip, air laut 2 x 5 liter
dalam botol plastik yang kemudian ditetesi HNO3 5
ml. Pada saat sampling air diukur parameter fisiko
kimia perairan antara lain; pH, suhu, salinitas,
kecepatan arah arus dan kedalaman.
Prosedur preparasi loboratorium untuk air
laut dan sedimen menurut yang telah dikerjakan
Cuplikan lingkungan tersebut
Sukirno(5).
ditimbang masing-masing 0,1 g dalam vial iradiasi,
bersamaan itu juga ditimbang standar sekunder dan
primer yang telah diketahui kadar unsurnya,
kemudian bersama-sama dimasukkan ke dalam
kelongsong iradiasi dan siap dilakukan iradiasi
dalam reaktor nuklir Kartini.
Iradiasi dalam
reaktor nuklir pada fasilitas Lazy Susan dengan
fluks neutron 5,85.1010 n.cm-2.s-1 dan waktu
iradiasi selama 12 jam. Kemudian didiamkan
selama 3 sampai 20 hari selanjutnya dicacah
Prosiding PPI - PDIPTN 2007
Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
Rosidi dan Sukirno
ISSN 0216 - 3128
dengan menggunakan spektrometer γ, selama 600
detik setiap cuplikan.
15
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi perairan di lokasi sampling
Daerah sampling di semenanjung Muria
wilayah Kabupaten Dati II Jepara yang mempunyai
letak geografis antara 110o 45’20” BT sampai 1100
46’16 BT dan 6o 25’ 30” LS sampai 6o 26’61” LS.
Sampling dilakukan dengan 5 lokasi pengambilan
cuplikan, dan parameter lingkungan perairan yang
terukur di setiapn lokasi antara lain pH, salinitas,
kecerahan, kedalaman dan arus. Adapun data
kondisi perairan pengambilan cuplikan disajikan
pada Tabel 1 dibawah ini.
Gambar 1. Peta lokasi sampling di daerah
semenajung Muria
Hasil pengamatan parameter fisiko-kimia di
stasion sampling yang terukur adalah suhu berkisar
20 0C - 25 0C , salinitas berkisar 25 0/00 -36 0/00,
kedalaman 1 m – 10 m dan pH berkisar 7,1 – 7,4
serta kecepatan arus bergerak 0,156 m/s – 0,232
m/s.
Tabel 1. Kondisi perairan di lokasi sampling.
M.Bayuran
P.bayuran
L. Bayuran
P. Lemahabang
L. Lemahabang
LS
BT
6.26’23”
6.26’26”
6.26’61”
6.25’47”
6.25’30”
110.45’39”
110.45’26”
110.45’20”
110.46’39”
110.46’16”
Analisis logam berat dalam air laut dan
sedimen
Data hasil analisis logam berat dalam air
laut dan sedimen dibuat dalam bentuk histogram
dan dapat dilihat pada Gambar 2 dan 3, untuk
mengetahui nilainya pada penyajian Tabel 2. Pada
perbandingan histogram untuk air laut terlihat
bahwa konsentrasi logam Co di 5 lokasi
pengambilan cuplikan mempunyai perbandingan
tertinggi yaitu 3,0 ± 0,2 ppb terdapat di daerah laut
Bayuran sekitar 0,5 km dari lokasi PLTU. Untuk
logam berat yang mempunyai konsentrasi terendah
adalah Sc yang juga terdapat di daerah PLTU
dengan konsentrasi 0,08±0,01 ppb.
Konsentrasi logam-logam dalam air laut
yang terdeteksi seluruhnya masih dibawah baku
mutu air laut yang diperbolehkan, khususnya untuk
logam Cr dan Cd yang diperbolehkan dalam air
laut sebesar 10 ppb atau (µg/l) menurut surat
keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No
51 tahun 2004(8). Pada perbandingan Gambar 2
dan Tabel 2 logam Cr dan Cd masih di bawah
Suhu
0
C
29
28
26
28
25
pH
Salinitas
0
/00
25
35
35
35
36
7,1
7,2
7,3
7,3
7,4
Dalam
m
1,0
1,5
7,6
1,5
10
Arus
m/s/arah
0,156/170
0,165/160
0,226/115
0,182/145
0,232/240
ambang batas yang diijinkan yaitu berkisar antara
(0,08-3,03) ppb.
Cd
Co
Cr
Sb
Sc
3
2,5
Konsentrasi (ppb)
Lokasi
2
1,5
1
0,5
0
M. Bayuran P. Bayuran
L. PLTU
P. L.Abang L. L.Abang
Lokasi Sampling
Gambar 2. Histogram konsentrasi logam dalam
air laut di 5 lokasi sampling
Dari perbandingan histogram Gambar 3 atau
pada Tabel 2 yang disajikan dapat diperhatikan
bawa logam Cd yang terakumulasi ke dalam
sedimen bervariasi, di mana logam Cd mempunyai
konsentrasi berkisar (0,028-0,14) mg/kg, berdasar
baku mutu menurut BUCHMAN logam Cd dalam
Prosiding PPI - PDIPTN 2007
Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
Rosidi dan Sukirno
ISSN 0216 - 3128
16
sedimen yang teranalisis masih dibawah ambang
batas yaitu dengan nilai 0,676 mg/kg. Konsentrasi
logam Co berkisar (0,01 – 0,27)mg/kg sedang yang
diijinkan adalah 10 mg/kg. Logam Sb merupakan
logam yang terakumulasi dari air ke sedimen yang
terbesar, hal ini kemungkinan karena sedimen lebih
mudah menyerap logam Sb dari pada logam
lainnya, alasan lainnya dikarenakan konsentrasi
logam Sb yang terdapat dalam air laut mempunyai
konsentrasi terbesar yaitu (1,3 ± 0,2) ppb
sedangkan yang terdapat dalam sedimen
(0,71±0,02) ppm.
Tabel 2. Data hasil analisis kuantitatif logam dalam air dan sedimen laut.
Konsentrasi logam dalam air laut (ppb atau µg/l)
Co
Cr
Sb
Sc
M. Bayuran
1,0 ± 0,1
0,24±0,07
1,1 ± 0,2
0,09±0,01
P. Bayuran
1,83±0,01
0,8 ± 0,2
1,3 ± 0,2
0,21±0,02
L. Bayuran (PLTU)
0,5 ± 0,1
0,08±0,01
2,93±0,21
0,34±0,32
P. Lemahabang
2,2 ± 0,3
0,4 ± 0,1
0,07±0,01
0,70±0,06
L. Lemahabang
1,2 ± 0,3
0,24±0,02
0,16±0,02
1,54±0,20
Konsentrasi logam dalam sedimen laut (ppm atau mg/kg)
Cd
Co
Cr
Sb
Sc
M. Bayuran
0,13±0,01
0,06±0,07
0,24±0,04
0,03±0,01
0,27±0,02
P. Bayuran
0,15±0,02
0,05±0,003
0,35±0,03
0,05±0,06
0,71±0,02
L. Bayuran (PLTU)
0,070±0,007
0,03±0,003
0,16±0,03
0,02±0,02
0,45±0,03
P. Lemahabang
0,050±0,006
0,05±0,002
0,030±0,003 0,010±0,001 0,05±0,01
L. Lemahabang
0,030±0,004
0,04±0,050
0,49±0,06
0,050±0,001 0,04±0,05
M = Muara, P = Pantai, L= Laut
akurasi menggunakan standar primer SRM-2704
Buffalo River Sediment disajikan pada Tabel 3.
Lokasi
Cd
0,94±0,06
0,7 ± 0,1
0,98±0,25
0,12±0,01
0,6 ± 0,1
Konsentrasi (ppm)
0,6
Cd
Co
Cr
Sb
Sc
0,4
Tabel 3. Data analisis logam Cd, Cr, Co, Sc,dan
Sb dalam SRM-2704 Buffalo River
Sediment untuk memenetukan kurasi
0,2
0
M. Bayuran P. Bayuran
L. PLTU
P. L.Abang L. L.Abang
Lokasi Sampling
Gambar 3. Histogram konsentrasi logam dalam
sedimen laut di 5 lokasi sampling
Untuk
mengetahui
korelasi
antara
kandungan logam-logam yang diperhatikan dalam
air laut dan sedimen sebagai satu mata rantai
rangkaian pencemaran dapat diinterpretasikan
menggunakan pendekatan statistik dengan metoda
korelasi Pearson menggunakan perangkat lunak
SPSS versi 10(3).
Korelasi menggambarkan
keeratan hubungan antara variabel, sebagai
variabel bebas dipilih jenis indikator yaitu air dan
sedimen laut, dan variabel kedua adalah kelima
lokasi sampling, sedangkan variabel terikat adalah
hasil penentuan konsentrasi logam Cd, Co, Cr, Sb
dan Sc dalam masing-masing cuplikan.
Dari hasil uji validasi kelima logam
terdentifikasi memberikan akurasi dan presisi
dalam rentang memenuhi syarat. Data pengujian
No
Logam
1
2
3
4
5
Cd
Cr
Sc
Co
Sb
Kadar rerata (mg/kg)
Sertifikat
Hasil Ukur
3,4 ± 0,2
135 ± 5
12
14 ± 0,6
3,7 ± 0,1
144 ± 2
144 ± 2,2
13,1 ± 0,2
12,2 ± 0,9
4,07 ±
0,02
Akurasi
(%)
20,28
6,67
7,00
12,28
7,38
Pendekatan
statistik
setelah
data
dimasukkan dalam program SPSS-10 for windows
untuk memperoleh interpretasi korelasi antar
variabel dari nilai koefisien korelasi (r). Dari
output data program aplikasi SPSS-10 diperoleh
nilai r (korelasi Pearson). Selanjutnya dari nilai r
dapat diprediksi signifikansi atau tingkat makna
korelasi antar variabel yang ditinjau, dan hasilnya
dapat dilihat pada Tabel 4. Koefisien korelasi
Pearson pada Tabel 3 akan mengukur keeratan
hubungan diantara hasil-hasil pengamatan dari
populasi yang mempunyai dua varian. Perhitungan
korelasi Pearson ini mensyaratkan bahwa populasi
asal cuplikan mempunyai dua varian berdistribusi
normal.
Prosiding PPI - PDIPTN 2007
Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
Rosidi dan Sukirno
ISSN 0216 - 3128
17
serta Co terhadap Cr nilai r = 0,678 mempunyai
korelasi Pearson signifikansi cukup tinggi.
Keeratan hubungan logam-logam tersebut di atas
dalam air dan sedimen cukup kuat, hal ini terlihat
nilai korelasi antar logam diatas 0,600.
Kriteria
ukuran
korelasi
konsevatif
diklasifikasikan sebagai interpretasi korelasi tinggi,
cukup, agak rendah dan sangat rendah atau tidak
berkorelasi dari nilai r SUTRISNO [4]. Tabel 3
terlihat bahwa semua korelasi konsentrasi antar
logam-logam adalah positif. Keadaan berkorelasi
positif ini memberikan prediksi bahwa bila
konsentrasi salah satu konsentrasi logam naik,
misalnya dengan kenaikkan konsentrasi logam Cr
di dalam air maka akan diikuti oleh kenaikkan
konsentrasi logam Cr di dalam sedimen pada lokasi
sampling yang sama.
Keeratan hubungan logam-logam yang
terdapat dalam air dan sedimen laut yang
mempunyai nilai korelasi lebih kecil 0,60 adalah
hubungan yang lemah. Hal ini dapat ditunjukkan
pada korelasi antara konsentrasi Sb terhadap Cd
dengan nilai r = 0,558 dan Cr terhadap Cd dengan
nilai r = 0,611, mempunyai korelasi Pearson
signifikansi sedang dan yang mempunyai korelasi
Pearson signifikansi rendah adalah Sb terhadap Co
dengan nilai r = 0,429 dan Sc terhadap Sb dengan
nilai r = 0,233.
Korelasi
logam
Co
terhadap
Sc
menunjukkan nilai r = 0,928 berarti mempunyai
korelasi Pearson signifikansi tinggi, sedang Cd
terhadap Co nilai r = 0,837 dan Cd terhadap Sc
nilai r = 0,779 dan Cr terhadap Sc nilai r = 0,756
Tabel 4. Output data korelasi Peason antara kandungan logam dalam indikator
Konsentrasi Cd
Konsentrasi Co
Konsentrasi Cr
Konsentrasi Sb
Konsentrasi Sc
Korelasi Peason
N
Korelasi Peason
N
Korelasi Peason
N
Korelasi Peason
N
Korelasi Peason
N
Cd
1,000
10
0,837
10
,611
10
,558
10
,779
10
Co
,837
10
1,000
10
,678
10
,429
10
,928
10
Konsentrasi
Cr
,611
10
,678
10
1,000
10
,322
10
,756
10
Sb
,558
10
,429
10
,322
10
1,000
10
,233
10
Sc
,779
10
,928
10
,756
10
,233
10
1,000
10
tinggi atau nilai korelasi dari 0,233 sampai
dengan 9,28.
KESIMPULAN
1. Dari hasil pembahasan dan pengamatan logam
(Cd, Co, Cr, Sb dan Sc) yang terdistribusi pada
5 lokasi sampling mempunyai konsentrasi
hampir merata antara logam satu dengan logam
lainnya. Logam yang mempunyai konsentrasi
tertinggi dalam air laut adalah Cr (3,0 ± 0,2)
terdapat pada daerah laut Bayuran di
lingkungan PLTU dan logam tersebut masih di
bawah baku mutu air laut yang diperbolehkan.
sesuai surat keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No 51 tahun 2004
kandungan Cr dalam air laut sebesar 10 ppb
atau (µg/l)
2. Berdasarkan uji statistik menggunakan korelasi
Pearson
dapat
teridentifikasi
bahwa
perpindahan massa logam dari air laut ke
sedimen memeberikan kenyataan bahwa
konsentrasi beberapa logam dalam indikator
mempunyai hubungan terhadap logam lainnya
pada lokasi yang sama, dengan signifikansi dari
berkorelasi rendah sampai berkorelasi sangat
DAFTAR PUSTAKA
1. PALAR. H., Pencemaran dan toksikologi
logam berat., Rineka Cipta, Jakarta (1994)
2. SUARA PEMBAHARUAN., “Tahun 2008
Dibuka Tander Proyek PLTN” Jakarta (2005)
3. SANTOSO. S., SPSS Pengolahan data statistik
secara
profesional.,
PT
Elex
Media
Komputindo. Jakarta (1999)
4. SUTRISNO HADI. “Metodologi research. Jilid
3., Andi Offset. Yogyakarta (2000)
5. SUKIRNO. “Penilaian Tingkat Kandungan
Logam Berat dalam Cuplikan Kelautan di
Calaon Tapak PLTN Lemahabang dengan
Metoda AAN”., Presentasi Ilmiah Peneliti
Muda. P3TM BATAN. Yogyakarta (2004)
Prosiding PPI - PDIPTN 2007
Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
Rosidi dan Sukirno
ISSN 0216 - 3128
18
6. GRIMANIS. A.P., “Neutron Activation
Analysi in Greece”., Significance and Impact of
Nuclear Research in Developing Countries.
IAEA, Vianna (1987)
kelautan Pantai Utara Jawa. Oleh karena itu
dipilih lokasi Cirebon, Semarang, Jepara dan
Surabaya.
Saefurrachman
7. AGUS TAFTAZANI, SUMINING., “Evaluasi
Kadar Logam Berat dalam Sampel Lingkungan
Pantai Indramayu dengan Teknik AAN”. PPI
P3TM Yogyakarta (1999)
− Pb juga logam
dimasukkan.
8. ANONIM., SK Menteri Negara Lingkungan
Hidup No 51 tahun 2004., Jakarta (2004)
Rosidi
TANYA JAWAB
Kadarisman
− PLTN ada rencana dibangun di Jepara, mengapa
diambil sampel di Surabaya?
− Definisi logam berat itu apa?
berat,
mengapa
tidak
• Logam berat diartikan unsur logam yang
mempunyai densitas atau berat jenis diatas 5
g/cc
• Pb tidak dianalisis karena logam Pb
mempunyai tampang lintang serap netron
yang kecil, sehingga sulit dianalisis dengan
AAN.
Rosidi
• Terkait dengan itu ada kerja sama antara
IAEA dengan BATAN tentang radioekologi
Prosiding PPI - PDIPTN 2007
Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
Fly UP