...

“Ini Dia Serangga Vektor Penyakit Mati Bujang Pada Cengkeh”

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

“Ini Dia Serangga Vektor Penyakit Mati Bujang Pada Cengkeh”
“Ini Dia Serangga Vektor Penyakit Mati Bujang Pada
Cengkeh”
Pendahuluan
Penyakit mati bujang atau yang sekarang lebih dikenal sebagai
penyakit Bakteri Pembuluh Kayu Cengkeh (BPKC) merupakan OPT utama
komoditas Cengkeh di kabupaten Jombang. Serangan BPKC tersebut
mencapai 15,18% (350,90 Ha) dari total luas areal pertanaman cengkeh
sebesar
2.311,24
Ha
yang
dikembangkan
oleh
petani
maupun
Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) (tabel 1).
Table 1.Luas serangan penyakit BPKC di kabupaten Jombang
Periode
Januari 2014
Pebruari 2014
Maret 2014
Arpil 2014
Mei 2014
Juni 2014
Rata-rata
Ringan
205.11
197.59
211.32
211.32
177.74
194.51
199.60
LuasSerangan (Ha)
Berat
Jumlah
144.03
349.14
147.62
345.21
152.99
364.31
152.99
364.31
146.8
324.54
163.39
357.9
151.30
350.90
%
15.11
14.93614
15.76253
15.76253
14.04181
15.48519
15.18
Sumber Data: Bidang Proteksi BBPPTP Surabaya, 2014.
Penyakit BPKC disebabkan oleh bakteri yang diidentifikasi sebagai
Pseudomonas syzygii (Roberts et al., 1990), sekarang diketahui sebagai
Ralstonia syzygii (Vaneechoutte, 2004). Menurut Eden-Green et al.,
(1992) dalam Supriadi (2011), penyebaran penyakit BPKC dibantu oleh
serangga vektor yaitu Hindola fulva dan H. striata. Berdasarkan
keterangan yang diperoleh dari petani cengkeh di Kabupaten Jombang
selama ini belum pernah mengetahui keberadaan serangga tersebut di
pertanamannya. Kondisi inilah yang kemudian terkesan mematahkan
pendapat para ahli bahwa penyebaran penyakit BPKC dibantu oleh vektor
Hindola spp. Argumen petani tentang hal di atas, untuk saat ini sudah
terbantahkan. Faktanya, serangga Hindola spp. yang selama ini
keberadaannya masih menjadi tandatanya ternyata ditemukan juga.
Beberapa ekor Hindola spp. berhasil ditemukan di pembibitan cengkeh
yang dikembangkan oleh Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP)
Panglungan, Kecamatan Wonosalam, KabupatenJombang.
Sebagian besar petani maupun masyarakat pada umumnya belum
pernah melihat dan menemukan serangga ini. Oleh karena itu, tulisan ini
dibuat untuk mengenalkan serangga Hindola spp., sehingga dapat
mewaspadai
persebarannya
dari
pertanaman
cengkeh
sakit
ke
pertanaman cengkeh sehat.
Taksonomi Hindola spp.
Menurut Animal Diversity web (2014), Hindola spp. termasuk dalam
kingdom Animalia, klas Insekta, ordo Hemiptera, famili Machaerotidae,
dan genus Hindola. Sedangkan menurut Lomer (1993), Hindola spp.
masuk dalam ordo Homoptera.
Morfologi Hindola spp.
Imago Hindola spp. berwarna cokelat muda kehijauan, memiliki dua
pasang sayap transparan yang bertipe membranous dengan bintik-bintik
hitam. Ukuran tubuh imago sekitar 4,5 mm dengan panjang sayap sekitar
4 mm (gambar 1). Letak alat mulut serangga mengarah kebelakang dan
terletak diantara sela-sela pasangan tungkai. Bentuk alat mulut serangga
berupa tabung dengan tipe alat mulut pencucuk penghisap. Antena
serangga berbentuk seperti duri atau rambut kaku dengan ruas-ruas
menjadi lebih langsing ke arah ujung (setaceus).
Mukaromah, 2014
1 mm
Gambar 1. Imago Hindola spp. dilihat dengan mikroskop perbesaran 40
kali
Menurut Eden-Green et al. 1986 dalam Adhidan Thom (1993),
Hindola yang ditemukan di Jawa adalah H. striata. Sedangkan morfologi
Hindola yang lebih banyak dikaji adalah H.fulva. Menurut Asman (1987),
imago H.fulva, warnanya coklat muda, mempunyai sepasang sayap
bening, bergaris hitam dan berbintik cokelat. Imago betina warna
thoraknya cokelat tua, mempunyai ovipositor menonjol ke atas, imago
jantan warna thorak cokelat muda, alat kelamin menonjol ke bawah,
badan agak kecil dibandingkan dengan imago betina.Panjang badannya
lebih kurang 5 mm.
Bioekologi
Daur hidup Hindola fulva terdiri dari tiga stadium, yaitu telur, nimfa
dan imago. Stadium telur belum ditemukan. Stadium nimfa terdiri dari
empat instar, instar pertama nimfa yang baru menetas, berbentuk pipih,
warna hijau muda, panjang 1 mm, pergerakannya lambat, menghisap
makanan hanya di sekitar tangkai atau tulang daun muda pada pucuk
dekat nimfa menetas. Instar kedua mulai membentuk tabung seperempat
bagian yang terbuat dari cairan seperti busa yang kemudian mengeras
menyelubungi tubuhnya. Proses pembentukan tabung berlangsung terus
sampai seluruh tubuh nimfa tertutup oleh tabung. Panjang tabung yang
terbentuk dapat mencapai 6-7 mm dengan diameter kira-kira 2 mm. Pada
waktu nimfa membentuk tabung, nimfa tidak aktif bergerak ke bagian lain
menghisap makanan tetapi di tempat tabung terbentuk. Lamanya stadium
nimfa antara 20 – 35 hari. Nimfa yang sudah sempurna organ tubuhnya,
akan keluar pada malam hari, dengan tanda terbentuknya cairan berbusa
di ujung tabung dan setelah terjadi pergantian kulit dalam tabung, maka
keluarlah imago muda. Imago muda tersebut belum dapat aktif bergerak
selama 2 – 3 hari dan mengambil makanan hanya di sekitar bekas tabung
semula. Setelah itu baru imago dapat terbang ke cabang atau tanaman
cengkeh di sekitarnya (Asman, 1987).
Imago Hindola spp. hinggap dan aktif menghisap cairan sel
tanaman cengkeh pada tulang dan tangkai daun muda yang berwarna
merah jambu, terutama pada tanaman sehat (gambar 2). Asman (1987)
menyatakan bahwa imago Hindola ditemukan terutama pada tanaman
sehat, sedangkan pada tanaman sakit sedikit sekali ditemukan.
Hidayah, 2014
Gambar 2. Imago Hindola spp. pada tangkai daun muda bibit cengkeh
Menurut Balfas dan Green, 1988 dalam Adria et al., 1995, H. striata
populasinya meningkat pada awal musim hujan. Adria et al. (1995) telah
meneliti populasi H.fulva pada tanaman cengkeh umur 4, 7 dan 10 tahun.
Hasil penelitian menyebutkan bahwa populasi serangga H. fulva paling
tinggi dijumpai pada tanaman 10 tahun, sedangkan paling rendah pada
tanaman umur 4 tahun. Sehingga dengan hasil penelitian tersebut dapat
diestimasikan tanaman umur 7 dan 10 tahun berpeluang lebih besar
terserang/ terinfeksi penyakit dibandingkan dengan tanaman umur 4
tahun.
Dampak Hindola spp. di Pembibitan
Diawal pembahasan telah disampaikan bahwa Hindola spp.
merupakan vektor dari penyakit BPKC. Sehingga, dampak yang
diakibatkan oleh Hindola spp adalah muncul dan menyebarnya penyakit
BPKC. Pada bibit cengkeh, gejala BPKC diawali dengan kelayuan yang
terjadi pada pucuk tanaman. Pucuk yang layu tersebut kemudian
mengering, tetapi tanaman bagian bawah masih terlihat segar. Dalam
beberapa hari, tanaman yang bergejala tersebut seluruh bagiannya akan
ikut mengering (gambar 3).
A
B
C
Gambar 3. Gejala BPKC pada bibit cengkeh, A. Pucuk tanaman mulai
layu; B. Pucuk tanaman mengering; C. seluruh bagian
tanaman mengering.
Penularan penyakit dari tanaman sehat ke tanaman sakit
berlangsung sangat cepat. Di pembibitan dengan umur dan tinggi
tanaman yang sama, serangga vektor dapat dengan mudah berpindah
dari bibit satu ke bibit lainnya. Hindola yang ditemukan di pembibitan PDP
Panglungan ini di duga berasal dari kebun cengkeh yang letaknya
bersebelahan dan sudah banyak yang mati akibat penyakit BPKC. Kondisi
pembibitan yang terbuka (tanpa naungan), memudahkan Hindola untuk
masuk ke lokasi pembibitan tersebut.
Pustaka
Adhi, E.M. dan L. Thom. 1993. Uji Patogenesitas Berbagai Macam Isolat
Bakteri Pseudomonas syzigii pada Bibit Cengkeh. Kongres
Nasional XII dan Seminar Ilmiah Perhimpunan Fitopatologi
Indonesia.Yogyakarta.
Adria, H. Idris, Nurmansyah dan Jamalius. 1995. Kerapatan Populasi
Hindola fulva Vektor Bakteri Pseudomonas syzigii pada Tiga
Tingkat Umur Cengkeh. Kongres Nasional XIII dan Seminar Ilmiah
Perhimpunan Fitopatologi Indonesia. Mataram.
Animal
Diversity
Web.
2014.
http://animaldiversity.ummz.umich.edu/accounts/Hindola_striata/cla
ssification/. Diunduh 23 September 2014.
Asman, A. 1987.Kajian Hindola spp., Sebagai Vektor Xylem – Limited
Bacterium (XLB) Penyebab Sumatera Disease Tanaman Cengkeh.
Tesis.FakultasPertanianUniversitasgadjahMada.Yogyakarta.
Roberts, S.J., S.J. Eden-Green, P. Jones, D.J. Ambler. 1990.
Pseudomonas syzygii, the Cause of Sumatera Disease of Cloves.
Systematic and Applied Microbiology 13: 34-43.
Supriadi. 2011. Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum): Dampak,
Bioekologi,
dan
Peranan
Teknologi
Pengendaliannya.
Pengembangan Inovasi Pertanian 4(4), 2011: 279-293.
The biology of Hindola spp. (Homoptera: Machaerotidae) vectors of
Sumatra disease of clove and some related species in Indonesia.
Bulletin of entomological research (Impact Factor: 1.99). 05/1993;
83(02):213 – 219.
Vaneechoutte, M., Kampfer, T. De Baere, E. Falsen, & G. Verschraegen.
2004. Wautersia gen. nov., a novel genus accommodating the
phylogenetic line age including Ralstonia eutropha and related
species, and proposal of Ralstonia [Pseudomonas] syzygii (Roberts
etal. 1990) comb. nov. International Journal of Systematic and
Evolutionary Microbiology 54: 317-327.ABIS Encyclopedia.
http://www.tgw1916.net/Pseudomonas/syzygii.html.
Oktober 2013.
Oleh:
Fathul Mukaromah, SP. (POPT Muda BBPPTP Surabaya)
Nurul Hidayah, SP. (POPT Pertama BBPPTP Surabaya)
Diunduh
21
Fly UP