...

Pendekatan Stok Karbon Tinggi

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Pendekatan Stok Karbon Tinggi
WWW.HIGHCARBONSTOCK.ORG
Toolkit Pendekatan SKT
Pendekatan Stok Karbon
Tinggi: Mempraktikkan
Nihil Deforestasi
Versi 1.0 : Agustus 2015
“Mission statement related quote – the importance
of the HCS concept cannot be overstated, etc, etc,
Icatur
susamet omnihilist re nos et in nos exces escid
Anggota Kelompok Pengarah Pendekatan SKT
hingga tanggal 20 Maret 2015:
mint
vention seipicim hillab ipsum ut quis cam sitis
Agropalma (Komite Eksekutif)
Asia
Pulp & Paper
(Komite
Eksekutif) autemqui ut quam excea”
earum
que
omnis
Cargill
Usulan sitiran:
HCS Approach Steering Group, Eds. (2015).
“The HCS Approach Toolkit.” Version 1.0.
Kuala Lumpur: HCS Approach Steering Group.
Daemeter
Forest Heroes
Forest Peoples Programme (Komite Eksekutif)
Golden Agri-Resources (Komite Eksekutif)
Golden Veroleum (Liberia) Inc.
Greenpeace (Komite Eksekutif)
Musim Mas
National Wildlife Federation
New Britain Palm Oil Ltd.
Proforest
Rainforest Action Network(Komite Eksekutif)
Rainforest Alliance
TFT (Komite Eksekutif)
Unilever (Komite Eksekutif)
Union of Concerned Scientists
Wilmar International Ltd. (Komite Eksekutif)
WWF ((Komite Eksekutif)
Hak Cipta © Komite Pengarah Pendekatan SKT, Maret 2015
Proyek ini memiliki izin berdasarkan Creative Commons AttributionNonCommercial-NoDerivatives 4.0 International License
Silakan mengunjungi laman berikut untuk melihat salinan izin.
http://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0/
Laporan ini dapat digunakan, dicetak ulang atau didistribusikan secara keseluruhan
atau sebagian dengan mencantumkan sumber. Laporan ini tidak diperbolehkan
untuk dijual kembali atau digunakan untuk tujuan komersial apapun.
Versi 1.0 : Agustus 2015
GAMBARAN UMUM DOKUMEN
DAFTAR ISI
Gambaran Umum dokumen
Daftar Isi
P2: Pendahuluan
P4: Singkatan dan Definisi
P6:Bab 1:
Pendekatan Stok Karbon Tinggi dalam konteks dan kerangka Toolkit Pendekatan SKT
P11: Bab 2:
Menghormati hak masyarakat atas tanah mereka dan atas Persetujuan atas
dasar informasi di awal tanpa paksaan dalam Pendekatan Stok Karbon Tinggi
P28:Bab 3:
Melakukan klasifikasi vegetasi awal melalui analisis citra
P54:Bab 4:
Inventarisasi hutan dan estimasi stok karbon
P69:Bab 5:
Konservasi Patch Hutan Ber-Stok Karbon Tinggi: Latar belakang dan prinsip
P77:Bab 6:
Decision Tree Analisis Patch SKT
P93:Bab 7:
Kesimpulan
P96:Daftar Pustaka
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
1
Versi 1.0 : Agustus 2015
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN DARI KOMITE EKSEKUTIF
KOMITE PENGARAH SKT
Pendahuluan
Telah ada kesepakatan umum global di antara berbagai
kalangan, seperti perusahaan, lembaga penelitian,
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak
di bidang konservasi dan lingkungan, pemerintah, dan
masyarakat yang bergantung pada hutan, mengenai
perlunya menghentikan deforestasi di kawasan
tropis. Hutan tropis memiliki keanekaragaman
kehidupan tertinggi di Bumi dan memberikan
berbagai jasa yang dibutuhkan oleh penduduk Bumi.
Tanpa hutan tropis, maka manusia, bidang usaha,
dan planet Bumi tidak akan dapat bertahan.
Namun demikian, bagaimana cara perusahaan dan petani memastikan bahwa
mereka tidak berkontribusi terhadap deforestasi hutan tropis melalui
perkebunan baru untuk memproduksi pangan, bahan bakar, pakan dan serat
yang kita perlukan seiring dengan peningkatan populasi penduduk? Bagaimana
kita dapat membedakan lahan terdegradasi yang berpotensi sesuai untuk
pengembangan perkebunan dan pertanian dengan kawasan hutan yang
perlu dilindungi? Pendekatan yang ada saat ini, seperti misalnya proses Nilai
Konservasi Tinggi (NKT), monitoring emisi gas rumah kaca, pemetaan
partisipatif dan menghormati hak masyarakat atas tanah dan memberikan atau
tidak memberikan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan
- FPIC), memang dapat memperlambat deforestasi dan menjamin
keberlangsungan mata pencaharian masyarakat, tetapi pendekatan tersebut
tidak berhasil menghentikan pembukaan hutan secara keseluruhan. Walaupun
tetap dianggap penting, pendekatan yang ada tidak mencakup semua kawasan
hutan alami yang perlu dilindungi sehingga tidak memberikan panduan yang
memadai untuk penerapan komitmen kebijakan ‘Nihil Deforestasi’. Sangat
penting pula untuk memiliki definisi praktis mengenai ‘hutan alami’ yang dapat
dimanfaatkan oleh konsesi
Untuk menanggapi tantangan tersebut dan mengikuti komitmen ‘Nol
Deforestasi’ yang tegas, maka Golden Agri-Resources (GAR) bekerja sama
dengan Greenpeace dan TFT telah merintis metodologi yang disebut dengan
Pendekatan Stok Karbon Tinggi untuk mengidentifikasi kawasan hutan alami.
Mulai tahun 2010 hingga 2014 berbagai proses untuk menentukan kawasan
hutan tropis potensial yang layak serta lahan terdegradasi telah diujicobakan
di Indonesia dan Liberia dengan mengombinasikan perhitungan simpanan
karbon, konservasi keanekaragaman hayati, serta hak dan mata
pencaharian masyarakat lokal. Pada bulan Agustus 2014, Komite Pengarah
Pendekatan SKT dibentuk dari pemangku kepentingan yang berasal dari
berbagai kalangan dibentuk mengawasi penyusunan metodologi dan
penggunaannya di lapangan.
Untuk menstandarisasi dan membuat metodologi ini tersedia bagi praktisi yang
memerlukannya, maka Komite Pengarah mempublikasikan metodologi SKT
sebagai Versi Pertama dari Toolkit Pendekatan SKT agar dapat digunakan dalam
uji coba lebih lanjut dan untuk keperluan konsultasi yang lebih luas. Kami akan
secara berkala memberikan pembaharuan terhadap toolkit ini beserta bab-bab
2
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
“Bagaimana kita dapat membedakan lahan
terdegradasi yang berpotensi cocok untuk
mendirikan perkebunan dan pertanian dengan
kawasan hutan yang perlu dilindungi?”
baru mengenai cara melestarikan, merestorasi dan memonitor hutan SKT. Kami
sangat menerima berbagai umpan balik bagi pendekatan ini serta masukan
kepada Komite Pengarah mengenai penerapan pendekatan di berbagai
kawasan tropis untuk memperkuat dan menyempurnakan metodologi ini.
Komite Pengarah Pendekatan SKT sedang menyusun serangkaian syarat
‘Kontrol Kualitas’ bagi para pengguna dan dalam waktu bersamaan meminta
praktisi Pendekatan SKT untuk menerapkan metodologi ini sebagaimana
dijelaskan di dalam toolkit.
Bagi para pengguna Pendekatan SKT, sangat penting untuk mengingat bahwa
pengidentifikasian hutan SKT hanyalah salah satu dari beberapa aspek kritis
perencanaan pemanfaatan lahan pada lanskap hutan. Lahan merupakan hal
yang sangat penting bagi masyarakat lokal sehingga kawasan ber-Nilai
Konservasi Tinggi (NKT) dan lahan gambut juga harus dilindungi. Selama
proses SKT dan khususnya pada fase akhir metodologi, Pendekatan SKT ini
terintegrasi dengan berbagai kategori pemanfaatan lahan tersebut. Maka dari
itu, pendekatan ini mengandalkan adanya kajian NKT, pemetaan partisipatif,
penghormatan terhadap hak-hak adat dan adanya FPIC pada rencana kawasan
konservasi yang diusulkan, yang dilakukan dengan sangat baik.
Sebagai penutup, kami berterima kasih kepada para penulis dan pengulas yang
telah berkontribusi dalam penyusunan toolkit ini dan semua pihak yang telah
berbagi mengenai visi kami tentang Pendekatan SKT dan kontribusinya untuk
mengakhiri deforestasi.
Marcus Colchester
Forest Peoples Programme
Aida Greenbury
Asia Pulp and Paper
Peter Heng
Golden Agri-Resources
Scott Poynton
TFT
Grant Rosoman
Greenpeace
Komite Editorial Toolkit SKT mewakili Komite Pengarah Pendekatan SKT
Versi 1.0 : Agustus 2015
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN DARI KOMITE EKSEKUTIF
KOMITE PENGARAH SKT
Pendekatan Stok Karbon Tinggi: Pendekatan
praktis menuju ‘Nihil Deforestasi’
Disusun oleh Peter Heng (Golden
Agri-Resources), Scott Poynton (TFT)
dan Grant Rosoman (Greenpeace)
‘Nihil Deforestasi’ merupakan seruan bagi konsumen
di seluruh dunia yang memiliki kepedulian. Para
konsumen tersebut muak dengan gambar mengenai
masyarakat terusir dari tanah mereka sendiri dan
orang utan diselamatkan dari fragmen-fragmen hutan
yang kecil di antara lahan luas yang dibuka demi
perkebunan industri terbaru. Namun demikian,
untuk mempraktikkan ‘Nihil Deforestasi’ beberapa
pertanyaan kompleks berikut ini perlu untuk dijawab:
• Apa yang sebenarnya mencirikan suatu hutan? Saat ini sebagian besar
lanskap hutan tropis tidak secara keseluruhan berupa tutupan hutan, tetapi
memiliki campuran vegetasi yang dinamis, mulai dari padang rumput hingga
belukar sampai hutan regenerasi hingga hutan dengan kerapatan dan tajuk
yang tinggi. Dimana letak garis yang membedakan ‘hutan’ dan ‘bukan hutan’
dengan segala definisi internasional yang tidak praktis mengenai hutan?
• Atribut dan syarat apa saja yang dapat memungkinkan suatu hutan tropis
untuk memelihara dan memulihkan fungsinya sebagai suatu hutan? Apakah
ukuran suatu patch atau petak hutan penting untuk keberlangsungannya?
• Dapatkah kita merancang mosaik hutan yang sehat pada kawasan yang aktif
secara ekonomi yang memelihara cadangan karbon dan keanekaragaman
hayati dan mengintegrasikannya dengan alat konservasi yang lain? Haruskah
Areal dengan nilai karbon rendah dan patch keanekaragaman hayati
‘dikorbankan’ demi pembangunan untuk memrioritaskan konservasi patch
hutan yang terhubung dengan baik dan berukuran lebih besar? Bagaimana
cara untuk mempertimbangkan jumlah hutan yang tersisa pada suatu lanskap?
• Bagaimana hak dan kebutuhan masyarakat lokal ditanggapi pada saat proses
penghentian deforestasi? Dukungan dan keterlibatan masyarakat lokal pada
tingkat mana yang diperlukan untuk mencapai konservasi hutan dalam jangka
panjang dan jangka pendek? Apa peran pemerintah dalam pencapaian ‘Nihil
Deforestasi’?
“Pendekatan SKT ini sudah merupakan suatu
alat praktis yang dapat digunakan untuk
produk apapun dan di negara manapun
yang memiliki iklim tropis lembab untuk
menanggapi kebutuhan atas perlindungan
hutan di dalam pembangunan pertanian”
Penyusunan Pendekatan SKT ini dimulai pada akhir tahun 2010 oleh Golden
Agri-Resources (GAR), TFT dan Greenpeace pada saat penyusunan Kebijakan
GAR mengenai Konservasi Hutan. Kegiatan penyusunan ini melewati berbagai
tantangan untuk mendefinisikan ‘hutan’ dan untuk mencapai konservasi
hutan-hutan tersebut dalam jangka panjang sebagaimana dijelaskan di atas.
Karena pendekatan ini telah diuji coba di beberapa konsesi kelapa sawit yang
berkaitan dengan GAR di Kalimantan Barat (Indonesia) dan Liberia serta melalui
kajian SKT di perusahaan-perusahaan lain di berbagai wilayah Indonesia dan
Papua Nugini. Dua fase dari pendekatan ini telah mendapatkan ulasan terpisah
dari para ahli dan masukan dari berbagai pemangku kepentingan untuk
menyusun metodologi yang dijelaskan dalam toolkit ini.
Pada tahun 2014, berbagai perusahaan di sektor kelapa minyak sawit dan pulp
dan kertas serta perusahaan penghasil barang konsumsi kunci, berkomitmen
untuk menggunakan Pendekatan SKT dalam penerapan ikrar ‘Nihil Deforestasi’nya masing-masing. Ikrar dari berbagai pihak tersebut sangat memberikan
dorongan dan desakan untuk penyelesaian toolkit versi pertama bagi para
praktisi yang ingin membangun perkebunan secara bertanggung jawab di
lanskap hutan tropis. Walaupun umpan balik dari penerapan pendekatan yang
telah dilakukan akan meningkatkan kualitas metodologi ini, kami percaya bahwa
Pendekatan SKT ini sudah merupakan suatu alat praktis yang dapat digunakan
bagi produk apapun dan di negara manapun yang memiliki iklim tropis untuk
menanggapi kebutuhan atas perlindungan hutan di dalam pembangunan
pertanian. Kami mengharapkan adanya pembelajaran dari kajian SKT di
kawasan-kawasan baru sebagaimana kita memulai perjalanan ‘Nihil Deforestasi’
ini secara bersama-sama.
Semua foto: hak cipta TFT©
Pendekatan SKT merupakan suatu upaya untuk menjawab pertanyaanpertanyaan tersebut. Jika dibandingkan dengan kajian karbon, pendekatan
SKT merupakan alat yang lebih pragmatis bagi perencanaan penggunaan lahan
yang menyediakan metodologi untuk menerapkan konsep ‘Nihil Deforestasi’
di konsesi aktif yang direncanakan akan dibangun di negara-negara tropis.
Pendekatan ini bertujuan untuk menghormati hak adat dan memenuhi
kebutuhan masyarakat serta secara bersamaan mempertimbangkan realitas
operasi perusahaan. Singkatnya, pendekatan ini menawarkan suatu pergeseran
paradigma untuk menyertakan konservasi hutan sebagai dasar bagi ekspansi
pertanian apapun pada lanskap hutan tropis.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
3
Versi 1.0 : Agustus 2015
SUATU TOOLKIT BAGI PELAKSANA SKT
SINGKATAN DAN DEFINISI
Singkatan dan definisi
ISTILAH SINGKATAN DEFINISI
Diameter Setinggi Dada DBHDiameter pohon yang biasanya diukur pada ketinggian
1,3 m di atas permukaan tanah (lihat Bab 4)
Kajian Dampak Lingkungan dan Sosial
KDLS
FPIC
Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan.
Free, Prior and Informed Consent Prinsip yang mengatur bahwa masyarakat memiliki
hak untuk memberikan atau tidak memberikan
persetujuannya atas proyek yang diusulkan yang dapat
memberikan dampak terhadap tanah yang masyarakat
tersebut miliki, duduki atau gunakan secara adat atau
cara lainnya. (Sumber: FPP)
Geographic Information System GISSistem Informasi Geografis. Sistem komputer yang
mampu menyusun, menyimpan dan menampilkan
informasi yang diidentifikasi berdasarkan lokasinya
di muka bumi (Dari USGS)
Global Positioning System GPSSistem Pemosisi Global. Sistem yang menggunakan
sinyal dari satelit untuk memberikan informasi
mengenai keberadaan Anda serta menunjukkan arah
untuk menuju lokasi lain (Dari Webster.com)
Stok Karbon Tinggi SKTHutan SKT adalah hutan yang teridentifikasi melalui
Pendekatan SKT sebagai kawasan berhutan dengan
prioritas untuk dilindungi dari konversi
Nilai Konservasi Tinggi NKT Nilai Konservasi Tinggi (NKT) adalah nilai atau atribut
biologis, ekologis, sosial atau budaya yang berkaitan
dengan ekosistem alam atau yang dikelola secara
tradisional, yang dianggap memiliki signifikansi luar biasa
atau peranan yang sangat penting pada tingkat nasional,
regional atau global. Kawasan pengelolaan NKT
merupakan kawasan penting dalam lanskap yang perlu
untuk dikelola secara baik untuk memelihara atau
meningkatkan satu NKT atau lebih. Kawasan yang
memiliki atribut demikian meliputi NKT 1: Kawasan yang
memiliki konsentrasi nilai keanekaragaman hayati yang
signifikan secara global, regional atau nasional (seperti
contohnya endemisme, spesies terancam punah,
refugia). NKT 2: Lanskap yang signifikan secara global,
regional atau nasional di mana populasi yang layak dari
sebagian besar atau seluruh spesies memiliki pola
persebaran dan kelimpahan alami. NKT 3: Kawasan
yang berada di dalam atau memiliki ekosistem langka,
terancam atau terancam punah. NKT 4: Kawasan yang
menyediakan jasa lingkungan mendasar pada situasi
penting (seperti contohnya perlindungan daerah
tangkapan air, kontrol erosi). NKT 5: Kawasan yang
fundamental dalam memenuhi kebutuhan dasar
masyarakat lokal (seperti misalnya subsisten, kesehatan)
4
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
SUATU TOOLKIT BAGI PELAKSANA SKT
SINGKATAN DAN DEFINISI
ISTILAH SINGKATAN DEFINISI
NKT 6: Kawasan yang penting bagi identitas budaya
tradisional masyarakat lokal (wilayah yang signifikan
secara budaya, ekologis, ekonomi atau religi yang
teridentifikasi melalui kerjasama dengan masyarakat
lokal terkait (Sumber: HCV Network)
Hutan Kerapatan Tinggi HK3
Lanskap tutupan hutan tinggi
International Union for the
Conservation of Nature
Salah satu kelas vegetasi SKT
Lanskap dengan tutupan hutan alami lebih dari 80%
IUCN
LanskapMosaik geografis yang terdiri dari berbagai ekosistem
yang berinteraksi sebagai akibat dari pengaruh
interaksi geologis, topografis, tanah, iklim, biotik
dan manusia di kawasan tersebut (Sumber: IUCN)
Hutan Kerapatan Rendah HK1
Salah satu kelas vegetasi SKT
Lanskap Tutupan Hutan Rendah
Lanskap dengan tutupan hutan alami kurang dari 30%
Hutan Kerapatan Menengah Salah satu kelas vegetasi SKT
HK2
Lanskap Tutupan Hutan
Menengah Hasil Hutan Non-Kayu HHNKProduk atau jasa apapun selain kayu yang dihasilkan di
dalam hutan. HHNK meliputi buah dan kacang-kacangan,
sayuran, ikan dan satwa buru, tumbuhan obat, resin,
ekstrak dan berbagai jenis kulit kayu dan serat seperti
misalnya bambu, rotan dan berbagai tumbuhan palem
serta rumput-rumputan (Sumber: CIFOR)
Pengurangan Emisi dari REDD+
Deforestasi dan Degradasi (PBB-REDD+)
Roundtable on Sustainable Palm Oil Lanskap dengan tutupan hutan alami antara 30
hingga 80%
Suatu kerangka kerja yang sedang disusun oleh PBB di
mana melalui kerangka kerja tersebut negara-negara
berkembang diberi penghargaan secara finansial atas
(a) Pengurangan emisi dari deforestasi; (b) Pengurangan
emisi dari degradasi hutan; (c) Konservasi stok karbon
hutan; (d) Pengelolaan hutan secara berkelanjutan; dan/
atau (e) Peningkatan stok karbon hutan (Dari the REDD
Desk, 2015)
RSPO
Area yang dialokasikan agar tidak
dipakai untuk aktifitas apapun (set-aside)
Sebidang lahan di dalam konsesi swasta atau lahan
pertanian yang tidak akan ditanami tanaman komersial
Hutan Regenerasi Muda Salah satu kelas vegetasi SKT
HRM
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
5
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 1
STOK KARBON TINGGI DALAM KONTEKS
DAN GARIS BESAR PENDEKATAN SKT
Bab 1
Stok Karbon Tinggi
dalam konteks dan garis
besar Pendekatan SKT
Oleh Charlotte Opal, TFT
DAFTAR ISI BAB
P7: Pendahuluan
P8: Pendekatan SKT dalam konteks
P9: Gambaran umum Pendekatan SKT dan Toolkit Pendekatan SKT
P10: Tindak lanjut dari Toolkit Pendekatan SKT
6
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 1
STOK KARBON TINGGI DALAM KONTEKS
DAN GARIS BESAR PENDEKATAN SKT
Pendahuluan
Dalam lima tahun terakhir, banyak perusahaan
terkemuka di bidang industri kedelai, minyak
sawit, pulp dan kertas, dan daging sapi setuju untuk
menghapus deforestasi dari kegiatan dan rantai
pasoknya. Sebagian besar bahkan telah setuju untuk
melindungi kawasan ber-Nilai Konservasi Tinggi
(kawasan NKT). Akan tetapi, banyak hutan sekunder
yang berfungsi sebagai penyimpan karbon esensial,
habitat bagi keanekaragaman hayati, dan penyedia
hasil hutan bagi masyarakat lokal yang tidak dianggap
sebagai kawasan NKT. Terdapat beberapa definisi yang
lebih luas mengenai ‘hutan’, tetapi definisi tersebut
tidak cukup praktis untuk dapat mengimplementasikan
komitmen perusahaan terhadap ‘Nihil Deforestasi’ di
kawasan tropis.
“Diperlukan suatu metodologi yang praktis,
kuat secara ilmiah dan hemat biaya yang
dapat membedakan kawasan hutan yang
layak dengan kawasan yang terdegradasi dan
memiliki karbon dan nilai keanekaragaman
hayati yang lebih rendah”
Maka dari itu, diperlukan suatu metodologi yang praktis, kuat secara ilmiah dan
hemat biaya yang dapat membedakan kawasan hutan yang layak dengan
kawasan yang terdegradasi dan memiliki karbon dan nilai keanekaragaman
hayati yang lebih rendah. Pendekatan Stok Karbon Tinggi (SKT) ini merupakan
metodologi praktis pertama yang telah diuji dan dikembangkan di berbagai
konsesi aktif di Asia dan Afrika dengan masukan dari berbagai pemangku
kepentingan. Pendekatan ini merupakan alat yang relatif sederhana sehingga
perusahaan perkebunan dapat menggunakannya untuk melakukan
pembangunan baru yang dalam waktu bersamaan dapat menjamin bahwa
hutan dilindungi dari konversi.
Secara lebih luas Pendekatan SKT ini melakukan stratifikasi vegetasi yang
terdapat pada suatu hamparan menjadi beberapa kelas. Setiap kelas vegetasi
divalidasi melalui kalibrasi dengan estimasi stok karbon pada biomasa
pepohonan di atas tanah. Diagram berikut ini menunjukkan empat kelas hutan
SKT. Ambang batas bagi hutan SKT potensial berada di antara kelas Hutan
Regenerasi Muda (HRM) dan Belukar (B).
Toolkit Pendekatan SKT ini akan memberikan panduan para praktisi melalui
berbagai tahap pengidentifikasian hutan SKT, yaitu mulai dari stratifikasi awal
terhadap vegetasi melalui citra satelit dan plot lapangan, melalui proses
Decision Tree untuk mengkaji nilai konservasi patch hutan SKT pada lanskap dan
memastikan hak dan mata pencaharian masyarakat dihormati, hingga proses
pembuatan peta final mengenai konservasi dan pemanfaatan lahan. Bab
ini menggambarkan secara singkat proses SKT dan garis besar toolkit ini,
yang diawali dengan gambaran umum Pendekatan SKT dalam konteks yang
lebih luas.
KLASIFIKASI SKT
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
7
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 1
STOK KARBON TINGGI DALAM KONTEKS
DAN GARIS BESAR PENDEKATAN SKT
Konteks penerapan pendekatan SKT
Pertama, penting untuk dicatat bahwa metodologi SKT ini dirancang untuk
penggunaan di lanskap dan mosaik hutan terfragmentasi di kawasan tropis
lembab. Metodologi ini nantinya dapat diadaptasi untuk jenis vegetasi lain
seperti sabana tropis atau hutan iklim atau boreal, tetapi pengulangan pertama
ini dikembangkan untuk mengidentifikasi kawasan hutan alami di kawasan
tropis lembab, dan toolkit ini akan menjelaskan bagaimana penggunaannya
dalam konteks tersebut.
Kedua, walaupun konsep hutan ber-Stok Karbon Tinggi memiliki kata ‘karbon’
pada judulnya, konsep tersebut tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai
alat ukur simpanan karbon ataupun berbagai jenis jejak atau penghitungan
karbon lainnya. Terdapat berbagai alasan lain mengapa hutan harus dilindungi,
bukan hanya karena hutan merupakan simpanan karbon yang sangat penting.
Dalam Pendekatan SKT ini, estimasi kandungan karbon dalam vegetasi
digunakan untuk membantu membedakan berbagai jenis vegetasi: secara
umum semakin tinggi kandungan karbon mengindikasikan vegetasi yang lebih
rapat dan struktur yang lebih kompleks. Maka dari itu, Pendekatan SKT ini hanya
menggunakan pendugaan biomasa di atas tanah pada pohon dengan DBH
lebih dari atau sama dengan 5 cm. Biomassa di atas tanah lainnya dan karbon di
bawah tanah lainnya diperhitungkan. (Namun, tanah berkarbon tinggi seperti
gambut dipertimbangkan dalam pendekatan ini dengan dimasukkan ke dalam
kawasan yang akan dilindungi dan dikonservasi pada tahap final perencanaan
pemanfaatan lahan yang terintegari.
Ketiga, Pendekatan SKT ini memang berdasarkan hasil interpretasi dan
analisis GIS dan penginderaan jarak jauh, ilmu kehutanan dan konservasi,
tetapi metodologi untuk menentukan hutan SKT dirancang untuk
mempertimbangkan perbedaan tipe dan kondisi hutan setempat. Hal
ini berarti bahwa walaupun metodologi yang sama digunakan untuk
mengidentifikasi hutan SKT di setiap negara dan peraturan yang dijelaskan
di dalam toolkit ini diterapkan secara konsisten, hasil setiap kajian dapat
berbeda-beda tergantung pada konteks lanskap lokalnya. Nilai karbon di
atas tanah rata-rata dihitung untuk kelas-kelas yang diidentifikasi, tetapi
kemungkinan besar nilainya akan berbeda-beda antar negara dan bahkan pada
negara yang sama.
Terakhir, Pendekatan SKT ini dirancang untuk digunakan secara paralel dan
terintegrasi dengan strategi tata guna lahan dan konservasi lainnya. Hal-hal
yang tercakup di dalamnya adalah Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal
Tanpa Paksaan (FPIC) dan perlindungan lahan gambut, zona riparian,
kawasan NKT, dan kawasan yang penting bagi masyarakat lokal dan
masyarakat adat untuk kegiatan budaya dan ekonomi. Memang benar
jika berbagai aspek lain ini belum dikaji dan dipetakan dengan baik, maka
tahapan-tahapan yang diatur di dalam Pendekatan SKT ini tidak dapat
terselesaikan sepenuhnya karena peta final mengenai pemanfaatan lahan
dan konservasi yang terintegrasi tidak dapat disusun.
8
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PROSES
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 1
STOK KARBON TINGGI DALAM KONTEKS
DAN GARIS BESAR PENDEKATAN SKT
Gambaran umum Pendekatan SKT
dan Toolkit Pendekatan SKT
Toolkit ini dimaksudkan untuk digunakan oleh praktisi
yang hendak memastikan tidak dilakukannya
pembukaan hutan di dalam konsesi yang
diperuntukkan sebagai areal penanaman baru.
Metodologi SKT ini akan mendapatkan hasil yang
paling baik jika diterapkan oleh tim yang terdiri
dari para ahli dengan berbagai keahlian. Keahlian
tersebut dapat berbeda-beda, mulai dari analisis
hak kepemilikan lahan dan pemetaan partisipatif
hingga analisis citra satelit, inventarisasi hutan, kajian
keanekaragaman hayati dan perencanaan lanskap.
Maka dari itu, bab-bab berikut ini lebih bersifat teknis
dengan tujuan praktisi terlatih dapat menggunakannya
di lapangan untuk mengimplementasikan Pendekatan
SKT dengan hanya sedikit panduan tambahan.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, Pendekatan SKT ini dimaksudkan untuk
diintegrasikan dengan perencanaan pemanfaatan lahan secara keseluruhan
yang juga melindungi kawasan NKT, lahan gambut dan lahan-lahan lain yang
penting untuk masyarakat. Karena proses-proses tersebut telah dijabarkan
dengan baik oleh sumber lainnya, maka toolkit ini tidak membahas proses
tersebut secara rinci dengan asumsi bahwa ketika studi SKT dimulai, maka
kajian berkualitas tinggi mengenai nilai-nilai lain tersebut telah dilakukan.
Meskipun demikian, para penulis telah berusaha sebaik mungkin untuk
menyoroti tahapan-tahapan tersebut di dalam metodologi SKT dimana
kajian-kajian lain diperlukan secara khusus.
Urutan bab dalam Toolkit SKT ini mengikuti urutan kajian SKT. Toolkit
ini membawa penggunanya melalui tahapan pertama yaitu pelibatan
masyarakat lokal dan pemangku kepentingan ke dalam proses dan semua
tahapannya, hingga tahap membuat proposal mengenai kawasan hutan SKT
yang perlu untuk dikonservasi dan kawasan yang sesuai untuk dilakukannya
pembangunan. Setiap tahapan dalam Pendekatan SKT dan bab pada Toolkit
yang berkaitan diuraikan di sebelah kanan. Bab kesimpulan-kesimpulan
pendek menyoroti bagian-bagian untuk pengkajian lebih lanjut.
“Pendekatan SKT ini dimaksudkan untuk
diintegrasikan dengan perencanaan
pemanfaatan lahan secara keseluruhan
yang juga melindungi kawasan NKT, lahan
gambut dan lahan-lahan lain yang penting
untuk masyarakat”
Memasukkan Pendekatan SKT ke dalam konteks sosialnya
BAB 2: MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA
DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR INFORMASI DI AWAL TANPA
PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Agar proses SKT dapat berjalan dengan baik dan hutan dapat dikonservasi, maka masyarakat
lokal harus diintegrasikan ke dalam proses ini mulai dari awal. Bab ini memberikan gambaran
umum mengenai bagaimana cara melibatkan masyarakat dalam perencanaan pemanfaatan
lahan dan mengintegrasikan proses SKT dengan FPIC, yaitu hak masyarakat lokal untuk
memberikan atau tidak memberikan persetujuannya terhadap proyek apapun yang
memberikan dampak terhadap lahan, mata pencaharian dan lingkungan mereka.
Suatu studi kasus pendek mengenai bagaimana suatu perusahaan menangani konflik
masyarakat selama studi percontohan SKT berlangsung juga disajikan dalam bab ini.
Fase Pertama: Pembuatan peta indikatif hutan SKT pertama
BAB 3:
KLASIFIKASI VEGETASI AWAL MELALUI ANALISIS CITRA
Tahap pertama dari Pendekatan SKT ini adalah untuk mengklasifikasikan vegetasi ke
dalam kelas-kelas yang relatif homogen berdasarkan citra satelit. Teknik stratifikasi tak
terbimbing (unsupervised) vs. terbimbing (supervised) vs. visual dibahas bersama
beserta gambaran umum dari basis data citra dan alat yang tersedia.
Dalam bab ini, terdapat juga contoh citra satelit dari studi-studi SKT untuk
menunjukkan bagaimana klasifikasi awal dilakukan.
BAB 4:
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Pada tahapan selanjutnya dilakukan pengambilan contoh di lapangan atas kelas
vegetasi yang diajukan dalam tahapan pertama. Bab ini menjelaskan bagaimana
memilh plot sampel, mengukur vegetasi, memperkirakan biomassa di atas tanah dan
menyempurnakan klasifikasi. Pada akhir Fase Pertama, peta indikatif kawasan hutan
SKT akan dibuat dengan dilengkapi patch hutan SKT dari berbagai ukuran dan
konektivitas yang teridentifikasi.
Fase Kedua: Analisis patch SKT dan pembuatan peta indikatif
konservasi/pengembangan
BAB 5:
KONSERVASI PATCH HUTAN SKT: LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Peta yang dibuat di Fase Pertama kemungkinan besar akan berisi beberapa kawasan hutan
besar serta beberapa patch hutan kecil yang terisolasi. Bab ini akan memberikan ulasan
mengenai penelitian dan literatur ilmiah mengenai konservasi yang berkaitan dengan
analisis patch hutan dalam suatu lanskap, dan menjelaskan bagaimana parameter yang
berbeda, termasuk di dalamnya bentuk, ukuran, konfigurasi, dan konektivitas mendukung
keputusan mengenai konservasi patch di dalam Decision Tree SKT.
BAB 6:
DECISION TREE ANALISIS PETAK HUTAN SKT
Patch hutan SKT dianalisis menggunakan parameter yang berbeda, yaitu dengan
menggunakan perpaduan alat GIS, analisis manual dan pemeriksaan lapangan. Bab ini
menjelaskan mengenai Pohon Keputusan SKT yang merupakan alat sederhana untuk
menangani serangkaian keputusan kompleks yang harus dibuat mengenai setiap patch SKT.
Panduan yang diberikan adalah mengenai bagaimana patch diklasifikasikan pada setiap
tahap Decision Tree.
Tahap akhir Decision Tree mengintegrasikan hutan SKT dengan kawasan konservasi dan
pengelolaan lainnya, termasuk lahan gambut, kawasan NKT dan kawasan yang penting bagi
masyarakat, dan diikuti oleh penyusunan proposal kawasan pengembangan dan konservasi.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
9
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 1
STOK KARBON TINGGI DALAM KONTEKS
DAN GARIS BESAR PENDEKATAN SKT
Tindak lanjut dari Toolkit Pendekatan SKT
Toolkit Pendekatan SKT edisi pertama ini bertujuan
untuk menyatukan pengetahuan yang didapat melalui
gelombang pertama uji coba dan inovasi SKT, termasuk
di dalamnya menguji metodologi yang digunakan
dalam studi percontohan yang dilaksanakan pada
tahun 2011 hingga 2014 di berbagai perkebunan
kelapa sawit dan pulp dan kertas di Indonesia, Liberia
dan Papua Nugini. Ketika menerbitkan metodologi ini,
Komite Pengarah Pendekatan SKT berharap agar toolkit
ini digunakan untuk mengimplementasikan kajian
SKT pada ekspansi pertanian di semua wilayah tropis,
termasuk pada transparansi proses dan hasil
pembuatan keputusan.
“Walaupun Pendekatan SKT ini sendiri
merupakan pendekatan yang inovatif dan
kolaboratif, toolkit ini akan beradaptasi dan
berubah berdasarkan saran dan penelitian
ilmiah serta inovasi dan pengalaman dari
perusahaan, LSM, dan para pakar yang
menggunakan toolkit ini”
Metodologi SKT ini dapat sedikit berubah sesuai dengan perkembangan
pengetahuan mengenai konservasi yang menjadi dasarnya, dan pastinya
berbagai pelajaran akan diambil melalui pengujian lebih lanjut. Maka dari itu
metodologi edisi pertama ini dimaksudkan agar digunakan untuk keperluan
konsultasi yang lebih luas dan untuk mendapatkan umpan balik lebih banyak.
Tetapi, Komite Pengarah Pendekatan SKT tidak memprediksi adanya perubahan
besar pada metodologi ini dan penyempurnaan apapun perlu disetujui oleh
Komite Pengarah. Perusahaan yang berkomitmen terhadap Pendekatan SKT
harus percaya bahwa hasil kajian SKT menggunakan toolkit ini merupakan hasil
yang kokoh, relevan dan diterima dengan baik di masa mendatang, bahkan jika
seiring dengan berjalannya waktu dilakukan berbagai penyempurnaan minor
pada metodologi ini.
Akhir kata, toolkit versi pertama ini membawa para praktisi kepada hasil berupa
peta kawasan konservasi/pengembangan yang diusulkan. Dengan demikian,
kawasan hutan SKT (terintegrasi dengan kawasan konservasi lainnya) perlu
untuk dikonservasi bersama dengan masyarakat lokal dan perlindungan
hukumnya terjamin. Berbagai inovasi juga diperlukan untuk mendanai
perlindungan hutan SKT serta untuk pengelolaan dan monitoringnya. Pada
tahun 2015 Komite Pengarah Pendekatan SKT akan mengumpulkan berbagai
pengalaman dan memimpin diskusi mengenai aspek-aspek tersebut dengan
tujuan menyusun panduan dan modul tambahan untuk toolkit ini untuk
menanggapi aspek-aspek tersebut.
Semua foto: hak cipta TFT©
10
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Maka dari itu, Toolkit Pendekatan SKT ini seyogyanya dianggap sebagai
dokumen ‘hidup’ yang akan diperbaharui dan diberi penambahan seiring
berjalannya waktu dan penyempurnaan metodologi. Walaupun Pendekatan
SKT ini sendiri merupakan pendekatan yang inovatif dan kolaboratif, toolkit ini
akan beradaptasi dan berubah berdasarkan saran dan penelitian ilmiah serta
inovasi dan pengalaman perusahaan, LSM, dan para pakar yang menggunakan
toolkit ini untuk mengimplementasikan komitmen mereka dalam upaya
menghapuskan deforesasi.
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Bab 2
Menghormati hak masyarakat atas tanah
mereka dan atas Persetujuan Atas Dasar
Informasi di Awal Tanpa Paksaan dalam
Pendekatan Stok Karbon Tinggi
Oleh Marcus Colchester, Patrick Anderson dan Sophie Chao, Forest Peoples Programme
Penulis bab ini ingin mengucapkan terima kasih kepada Tint Lwin Thaung dari The Center
for People and Forests (RECOFTC), Janis Alcorn dari Rights and Resources Initiative, Erik
Wakker dari AidEnvironment, Bill Barclay dan Brihannala Morgan dari Rainforest Action
Network, dan anggota Komite Editorial Toolkit SKT atas masukan-masukannya yang
berguna dalam draf dokumen. Penulis bertanggung jawab atas kesalahan yang masih
ada dalam bab ini.
DAFTAR ISI BAB
P12: Pendahuluan: Menghormati hak dan menjamin mata pencaharian di dalam hutan
P16: Pembebasan Lahan dan Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan
P19: Mengakomodasi hak dan mata pencaharian dalam Pendekatan Stok Karbon Tinggi
P21: Mengklarifikasi kepemilikan dan pengelolaan tanah
P23: Monitoring
P25: Memuat Pendekatan SKT ke dalam negosiasi yang sudah ada
P27: Kesimpulan: Mengintegrasikan rasa hormat untuk hak masyarakat atas tanah
dan FPIC ke dalam Pendekatan SKT
P28: Studi Kasus: Pentingnya pelibatan masyarakat dalam Pendekatan SKT: Studi
kasus di PT KPC Oleh Jana Nejedlá, TFT, dan Pi Li Lim, Golden-Agri Resources
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
11
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Pendahuluan: Menghormati hak dan
menjamin mata pencaharian di dalam hutan
Hampir semua ekosistem terestrial di wilayah tropis
berpenghuni dan menyediakan mata pencaharian
untuk beragam kelompok sosial, yang sering kali
disebut sebagai masyarakat hukum adat dan
masyarakat lokal. Sekitar 350 juta masyarakat hukum
adat tinggal di hutan, sedangkan sebanyak 1,5 milyar
penduduk, termasuk diantaranya setengah dari
masyarakat termiskin dunia, bergantung langsung
pada hutan sebagai mata pencaharian setiap harinya
(Chao, 2012). Hasil penelitian memang menunjukkan
bahwa banyak ekosistem tropis tampak seperti
ekosistem ‘perawan’ namun namun telah dikonversi
dengan adanya pendudukan dan pemanfaatan jangka
panjang oleh manusia (Balée, 1994; Leach dan
Mearns, 1996; Fairhead dan Leach, 1998; Posey dan
Balick, 2006). Beberapa praktik-praktik adat justru
meningkatkan simpanan karbon dalam vegetasi dan
tanah, seperti terra pretasoil yang kaya akan humus
di Brazil yang terbentuk akibat pertanian tradisional
selama berabad-abad serta patch hutan yang dibentuk
oleh pemukiman manusia di sabana Afrika Barat
(Heckenberger, 2005). Hampir semua intervensi
yang mempengaruhi ekosistem tersebut juga dapat
mengganggu ekologi kawasan dan mempengaruhi
masyarakat yang tergantung kepadanya, sehingga
menyiratkan perlunya bentuk tanggung jawab
untuk menghormati hak-hak mereka dan
mempertimbangkan dampaknya terhadap mata
pencaharian, budaya, dan peran masyarakat tersebut
dalam membentuk ekosistemnya.
“Sangat umum bagi masyarakat yang
hidup di hutan untuk berpindah-pindah
dalam wilayahnya, memindahkan lokasi
desa mereka untuk memperoleh akses
terhadap wilayah perburuan atau pertanian,
sambil membiarkan wilayah lokasi bekas
kampungnya untuk pulih kembali”
1. Untuk contoh, lihat: http://www.agriculturesnetwork.org/magazines/global/farming-in-the-forest/
intensification-of-shifting-cultivation-editorial
12
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
Sistem pemanfaatan lahan ini kompleks dan beragam. Banyak masyarakat yang
hidup di hutan menerapkan sistem ekonomi campuran yang melibatkan, antara
lain: kegiatan berburu dan meramu di wilayah yang luas untuk satwa buruan
dan beragam jenis buah, tumbuhan liar, resin, obat-obatan, bahan bangunan;
menangkap ikan di sungai, danau, anak sungai, kolam, dan hutan yang
tergenang musiman; bertani dan membiakkan ternak di ladang, padang
penggembalaan ternak, dan hutan berbukit yang dibuka secara bergilir; dan
budi daya tanaman seperti rotan, tanaman buah, karet, dan kayu. Produk
dari semua kegiatan tersebut dapat digunakan secara lokal, untuk tukarkan
dengan tetangga atau diperdagangkan secara regional maupun global.
Semua praktik ini menunjukkan adanya pengetahuan ekologi setempat
yang terkandung dalam pengetahuan praktis, sistem kepercayaan, dan
norma sosial yang menyertainya.
Terkait dengan sistem pemanfaatan lahan tersebut terdapat sistem lokal yang
kompleks untuk membagikan hak dan mengatur pemakaian dan akses, yang
diawasi oleh masyarakat, dan pada tingkat yang lebih tinggi, melalui lembaga.
Merupakan hal yang biasa bagi masyarakat hutan untuk menemukan bahwa
hak-hak atas berbagai aspek tanah, wilayah dan sumber daya mereka pada saat
yang sama dipegang oleh berbagai lembaga lokal dengan cara-cara yang
bertumpang tindih. Sebagai contoh, suatu wilayah mungkin dimiliki secara
kolektif oleh suatu desa atau beberapa pemukiman, dan diawasi oleh suatu
dewan tetua. Dalam area tersebut, beberapa pemburu atau kelompok
pemburu mungkin memiliki jalur perburuan atau penjeratannya sendiri, pohon
buah tertentu mungkin dimiliki oleh individu tertentu, lahan pertanian atau
hutan yang ditinggalkan dalam kondisi bera bisa jadi dimiliki keluarga yang
pertama membuka lahan atau hutan tersebut, dan wilayah penangkapan ikan
untuk dijatahkan untuk kelompok-kelompok tertentu.
Selain itu, bentang alam masyarakat tidak hanya penting secara ekonomi bagi
mereka, tetapi juga mengandung nilai sejarah, asosiasi, atau nilai tradisi
penting, dan mendukung identitas masyarakat tersebut. Situs sakral mungkin
dianggap tabu untuk individu-individu atau kondisi tertentu. Kawasan hutan
tertentu mungkin diperuntukkan bagi tujuan religius, atau dialokasikan untuk
berburu, untuk kegiatan pertanian generasi yang akan datang, atau dibiarkan
agar pulih setelah dimanfaatkan. Biasanya ada norma-norma yang telah
ditetapkan dan berlaku secara lokal yang dapat memutuskan sengketa dan
menyelesaikan konflik yang muncul. Penetapan bentang alam sering kali tidak
tampak bagi pengamat luar, bahkan bagi para ilmuwan.
Selain itu, sangat sering bagi masyarakat yang tinggal di dalam hutan untuk
berpindah-pindah dalam wilayahnya, memindahkan kampungnya untuk
mendapatkan akses ke lokasi perburuan atau pertanian yang baru, serta
peluang berdagang, sembari membiarkan kawasan yang lama pulih kembali.
Hal ini bukan berarti bahwa kawasan yang lama tersebut ‘ditelantarkan’, tetapi
kawasan tersebut sementara tidak dimanfaatkan atau dimanfaatkan dengan
cara yang tidak seintensif biasanya. Penelitian menunjukkan bahwa sistem
mobilitas perkampungan, pertanian berpin¬¬dah, dan zonasi pemanfaatan
lahan dapat memastikan keberlanjutan jangka panjang bentang alam hutan.1
Istilah singkat yang kami gunakan untuk menjelaskan sistem kompleks tersebut
adalah ‘pemanfaatan secara adat, ‘hak adat’, dan ‘hukum adat’. Hukum hak
asasi manusia (HAM) dan hukum lingkungan internasional mewajibkan
penghormatan atas sistem-sistem tersebut. Hukum ini mencakup kovenankovenan dan traktat-traktat pokok Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
“Proses SKT penting untuk dijadikan
sebuah dasar dalam pemenuhan
kewajiban sebuah perusahaan untuk
menghormati pemanfaatan secara
adat, HAM, dan hukum internasional”
Menurut HAM, Deklarasi PBB mengenai Hak-Hak Masyarakat Hukum Adat,
dan Konvensi Keanekaragaman Hayati. Negara-negara wajib melindungi
hak-hak tersebut, dan perusahaan harus menghormatinya bahkan apabila
hukum atau praktik nasional tidak mengakui hak–hak tersebut. Prinsip Panduan
PBB mengenai HAM dan Bisnis2 menyatakan bahwa kewajiban perusahaan
bisnis untuk menghormati HAM tidak tergantung pada kemampuan dan/atau
kemauan Negara-negara memenuhi kewajiban HAM mereka, dan kewajiban
tersebut melebihi dan melampaui kepatuhan terhadap peraturan perundangan
perlindungan HAM nasional. Kewajiban perusahaan tersebut juga disebutkan
dalam berbagai standar keberlanjutan dan program sertifikasi.
Karena proses kajian Hutan dengan Stok Karbon Tinggi telah dikembangkan
sebagai alat praktis yang digunakan perusahaan dalam perencanaan
pemanfaatan lahan untuk konsesi hutan, proses SKT penting untuk dijustifikasi
dalam kewajiban perusahaan untuk menghormati pemanfaatan secara adat,
HAM, dan hukum internasional. Bab ini memberikan gambaran besar
kewajiban tersebut serta tahapan yang perlu diambil oleh perusahaan untuk
mengintegrasikan hal-hal tersebut dalam proses SKT.
Semua foto: hak cipta TFT©
Implikasi bagi konsesi perusahaan dan identifikasi hutan dengan Stok
Karbon Tinggi
Saat perusahaan mencoba mendapatkan kawasan hutan melalui pembelian
atau hak sewa (izin ‘konsesi’) dari pemerintah, mereka harus mengambil
langkah guna memastikan keberlangsungan hak dan mata pencaharian
masyarakat izin hutan. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan komersial
yang direncanakan perusahaan perkebunan berpotensi melemahkan atau
menggangu ekosistem setempat serta sistem pemanfaatan lahan sebelumnya.
Hal ini disebabkan antara lain oleh:
• Alokasi lahan dan sumber daya untuk perkebunan tidak dapat dipungkiri akan
mengurangi atau tumpang tindih dengan lahan yang tersedia bagi masyarakat
lokal untuk pemanfaatan lainnya;
• Infrastruktur baru seperti jalan, jembatan dan desa membuka wilayah
terhadap pemanfaatan sumber daya yang semakin intensif dan komersial,
baik oleh masyarakat setempat maupun pendatang;
• Perusahaan baru menarik pekerja dan penduduk lainnya pindah ke lokasi
tersebut untuk mendapatkan pekerjaan dan terlibat dalam kegiatan komersial
lainnya, sehingga terjadi persaingan atas pekerjaan dan sumber daya dengan
masyarakat lokal;
• Lebih jelas lagi, apabila tanah dan hutan masyarakat diambil alih tanpa
perencanaan konsultatif yang memadai, tanpa menghormati hak masyarakat
atau tanpa persetujuan dari mereka, maka perkebunan yang dipaksakan
dapat mengancam mata pencaharian masyarakat, menciptakan konflik sosial
yang serius, dan menyebabkan penyalahgunaan lingkungan.
2. Tersedia di: http://www.ohchr.org/Documents/Publications/GuidingPrinciplesBusinessHR_EN.pdf
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
13
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Pendahuluan: Menghormati hak masyarakat
dan menjamin mata pencaharian di dalam hutan
Tujuan dari hasil pengkajian dampak lingkungan dan sosial serta perencanaan
lahan, seperti perangkat yang digunakan untuk melindungi Nilai Konservasi
Tinggi atau mengidentifikasi hutan menggunakan pendekatan Stok Karbon
Tinggi, adalah untuk memitigasi dampak-dampak tersebut dan memastikan
bahwa nilai dan jasa lingkungan penting ini dijaga atau ditingkatkan. Namun,
apabila kajian dilakukan tanpa partisipasi yang sungguh-sungguh dan lahan
direalokasikan untuk tujuan lingkungan tanpa keterlibatan masyarakat atau
tanpa menghormati hak dan mata pencaharian mereka, maka bisa jadi tidak
efektif atau menjadi semakin buruk. Hal ini disebabkan antara lain oleh:
• Asesor dan manajer perusahaan tidak memahami: cakupan hak-hak
masyarakat lokal, bagaimana mereka memperoleh mata pencaharian,
serta hak dan status apa yang terkandung dalam suatu hamparan tanah
dan hutan dalam sistem kepemilikan dan pemanfaatan lahan secara
adat;
• Klasifikasi yang diberlakukan mungkin juga mempengaruhi semua
sistem pemanfaatan lahan setempat;
• Pencadangan untuk tujuan lingkungan dan pembatasan yang
diberlakukan mungkin melanggar hak adat, menimbulkan kedongkolan
atau sengketa dengan pengguna lokal;
• Pembatasan pemanfaatan bisa memiskinkan masyarakat lokal atau
menggusur kegiatan pemanfaatan lahan yang mereka lakukan ke
wilayah lain;
• Sistem pemanfaatan lahan yang terganggu bisa menjadi semakin tidak
berkelanjutan dan memberikan tekanan yang lebih besar pada sumber
daya yang tersisa, termasuk perkebunan dan area set-aside.
Hal ini bukan hanya kesulitan teoritis saja. Perkebunan pulp dan kertas serta
kelapa sawit dan kawasan lindung yang diberlakukan telah menyebabkan
konflik yang meluas (Colchester, 1994 dan Dowie, 2009). Di Malaysia
terdapat ratusan kasus hukum di tingkat pengadilan di mana masyarakat
mempersengketakan bagaimana lahan telah dialokasikan untuk
perusahaan tanpa menghormati hak adat mereka (Colchester et al.,
2007). Di Indonesia, di mana perlindungan hukum atas hak adat lebih
lemah, lembaga pemerintah yaitu Badan Pertanahan Nasional (BPN)
memperkirakan ada sekitar 4.000 konflik tanah antara perusahaan kelapa
sawit dengan masyarakat. Sengketa yang tidak terselesaikan bisa berujung
pada demonstrasi, penindasan oleh polisi, tindakan balasan berupa
pencurian tanaman, perusakan properti, penindasan, kerusuhan,
kekerasan oleh oknum polisi, luka dan kematian. Masalah-masalah seperti
ini bisa menghentikan kegiatan operasional perkebunan, menyebabkan
kerugian finansial yang signifikan dan berujung pada penderitaan yang
dialami masyarakat lokal.
Semua foto: hak cipta TFT©
Namun, studi lapangan mendalam juga mengungkap permasalahan tentang
perencanaan penggunaan kawasan NKT dan SKT. Dalam sejumlah kasus,
masyarakat yang diambil tanah dan hutannya, pertama oleh perkebunan
kemudian dengan adanya area yang dialokasikan ulang untuk tujuan
lingkungan, merasa terpaksa membuka kebun di hutan tepi sungai yang
merupakan kawasan yang tidak dikembangkan untuk memastikan
keberlanjutan jasa lingkungan dalam NKT 4 atau merambah kawasan yang
dialokasikan untuk spesies langka, terancam, hampir punah dalam NKT 2.
Permasalahan utama berasal dari:
• Kegagalan perusahaan menemukenali hak masyarakat yang ada sebelumnya
dan menghormati hak mereka memberikan atau tidak memberikan
persetujuan atas kegiatan operasional di tanah mereka;
• Penggunaan toolkit yang tidak memadai dengan pemahaman yang tidak jelas
mengenai bagaimana cara mengalokasikan lahan untuk mata pencaharian;
• Asesor yang tidak dilatih dengan baik yang tidak memahami kompleksitas
sistem pemanfaatan tanah secara adat; dan
• Kurangnya partisipasi nyata masyarakat dalam menjalankan pengkajian dan
mengembangkan rencana pengelolaan untuk menjaga nilai-nilai konservasi
Permasalahan juga muncul apabila masyarakat tidak diberikan informasi
lengkap mengenai seberapa banyak lahan mereka yang akan diambil alih oleh
perusahaan untuk perkebunan dan area yang dialokasikan ulang untuk tujuan
lingkungan dan sosial atau secara gegabah setuju melepaskan tanah berukuran
luas tanpa memikirkan kebutuhan masa depan mereka atau karena harapanharapan palsu mengenai besarnya manfaat yang akan diperoleh dari
perkebunan dan plasma. Untuk area di mana zonasi NKT dan SKT (sayangnya)
telah ditentukan setelah tanah tersebut dilepaskan, adanya area set-aside bisa
menimbulkan rasa sakit hati karena membuat masyarakat tersingkir dari lahan
yang mereka harap akan disisakan untuk mata pencaharian mereka atau untuk
plasma jenis tanaman komersial.
Panduan berikut dirancang untuk menanggapi semua masalah ini.
14
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Tantangan lebih besar
Penting untuk diketahui bahwa permasalahan yang
disebutkan dalam bab ini bisa diperparah oleh hukum
kepemilikan tanah yang tidak sesuai dan tata kelola
lahan yang buruk oleh pemerintah. Seringkali, hukum
tertulis tidak (sepenuhnya) mengakui tanah adat atau
mewajibkan Persetujuan atas dasar informasi di awal
tanpa paksaan (FPIC) dari masyarakat sebelum
mengalokasikan lahan tersebut untuk perusahaan.
Selain itu, hukum yang mengatur tanah, kehutanan
dan perkebunan, mungkin menghambat perusahaan
progresif untuk menerapkan sistem pengelolaan yang
konsisten dengan praktik-praktik terbaik. Contohnya di
Indonesia, perusahaan pulp dan kertas tidak dapat
secara resmi mengakui dan mengalokasikan tanah
untuk hak adat di dalam kawasan Hutan Negara yang
telah dialokasikan kepada perusahaan untuk
perkebunan, bahkan jika perusahaan ingin
melakukannya. Beberapa perusahaan sawit yang
beroperasi di Indonesia yang telah mengalokasikan
kawasan yang luas bagi areal NKT, menemukan bahwa
bagian dari kawasan perizinan mereka telah dibatalkan
karena menyisakan terlalu banyak ‘lahan tidur’ dalam
wilayah konsesinya, berlawanan dengan persyaratan
hukum bahwa area tersebut harus ditanami dengan
tanaman sawit.
Bahkan di saat perusahaan pulp dan kertas telah mencapai kesepakatan
informal dengan masyarakat untuk mengalokasikan sebagian kawasan
dalam konsesinya, hanya sebagian kecil kawasan yang boleh dialokasikan
untuk pertanian atau untuk dimanfaatkan dan ditanami tanaman pilihan
masyarakat seperti karet, hal ini disebabkan izin tanaman yang telah
diberikan kepada perusahaan hanya berlaku untuk jenis tanaman untuk
bahan pulp yang telah ditentukan. Menurut peraturan perundangan
Indonesia, izin pengembangan perkebunan kelapa sawit burbur kertas
hanya bisa dikeluarkan pada tanah milik Negara, dan perusahaan harus
meyakinkan masyarakat untuk melepaskan hak mereka atas tanah
tersebut agar izin perkebunan dapat dikeluarkan. Banyak masyarakat
tidak diinformasikan bahwa dengan melepaskan tanah mereka untuk
perkebunan sawit, tanah tersebut menjadi tanah Negara yang tidak
dibebani hak dan tidak akan dikembalikan kepada mereka saat hak sewa
konsesi tersebut berakhir. Di Malaysia, bahkan apabila suatu perusahaan
anggota RSPO ingin menyelesaikan sengketa tanah dengan masyarakat
lokal, Pemerintah Negara, yang terkadang merupakan pemegang saham
perusahaan, terkadang menolak menyelesaikan kasus dan justru memilih
jalur litigasi di pengadilan melawan pihak masyarakat.
Dalam kasus luar biasa, seperti kasus Wilmar di Kalimantan Tengah,
perusahaan-perusahaan dapat menegosiasikan kesepakatan ad hoc
dengan pemerintah daerah yang mengijinkan pihak perusahaan untuk
tetap mempertahankan area yang dialokasikan untuk tujuan lingkungan
dan sosial walaupun dilarang hukum nasional (Colchester et al., 2012),
tetapi jika hak masyarakat dan area set-aside ingin dipertahankan dan
diadopsi secara lebih luas maka dibutuhkan reformasi hukum.
Semua foto: hak cipta TFT©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
15
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Pembebasan Lahan dan Persetujuan atas
dasar informasi di awal tanpa paksaan
Berbagai toolkit dan panduan sudah dikembangkan
mengenai bagaimana hak-hak adat dan sistem
pemanfaatan lahan yang telah ada sebelumnya harus
diakui, dan bagaimana lahan yang akan dibebaskan
untuk pemanfaatan pihak ketiga hanya dapat
diperoleh berdasarkan Persetujuan atas dasar
informasi di awal tanpa paksaan dari masyarakat. Ini
mencakup panduan-panduan yang dikembangkan:
• Untuk skema sertifikasi seperti Roundtable on Sustainable Palm Oil,3
Roundtable on Sustainable Biomaterials4 dan Forest Stewardship Council, 5
• Oleh Badan Program Pembangunan PBB (UNDP) untuk Program UN-REDD;6
• Oleh German Technical Assistance agency (GIZ) dan Centre for People
and Forests untuk digunakan dalam REDD+;7
• Oleh the Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (UNFAO) untuk digunakan oleh
pemerintah dalam tata kelola kepemilikan tanah, perikanan dan hutan;8 dan
• Oleh Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk memandu masyarakat
hukum adat dalam negosiasi dengan perusahaan.9
Berbagai ulasan telah mengkaji persyaratan-persyaratan dalam hukum
internasional dan hambatan-hambatan praktis yang menghalangi implementasi
efektif. Antara lain, adalah:
• Fergus MacKay (2004). “Indigenous Peoples’ Right to Free, Prior and
Informed Consent and the World Bank’s Extractive Industries Review”.
Sustainable Development Law and Policy, Volume IV (2): 43-65.
• First Peoples Worldwide, tanpa tanggal. Indigenous Peoples Guidebook
for Free Prior Informed Consent and Corporation Standards. Tersedia di:
http://firstpeoples.org/corporate-engagement/fpic-guidebook
• Marcus Colchester dan Fergus MacKay (2004). In Search of Middle
Ground: Indigenous Peoples, Collective Representation and the Right to
Free, Prior and Informed Consent. Moreton in Marsh, UK: Forest Peoples
Programme. Tersedia di: http://www.forestpeoples.org/topics/
legal-human-rights/publication/2010/search-middle-groundindigenous-peoples-collective-repres
• Marcus Colchester dan Maurizio Ferrari (2007). Making FPIC Work:
Challenges and Prospects for Indigenous Peoples. Moreton-in-Marsh,
UK: Forest Peoples Programme. Tersedia di: http://www.forestpeoples.
org/sites/fpp/files/publication/2010/08/fpicsynthesisjun07eng.pdf
• Marcus Colchester (2010). Free, Prior and Informed Consent: Making
FPIC work for forests and peoples. New Haven, CT: The Forests Dialogue.
Tersedia di: http://www.forestpeoples.org/sites/fpp/files/
publication/2010/10/tfdfpicresearchpaper colchesterhi-res2.pdf
• Marcus Colchester dan Sophie Chao, Eds. (2013). Conflict or Consent? The
palm oil sector at a crossroads. Moreton in Marsh, UK: Forest Peoples
Programme. Tersedia di: http://www.forestpeoples.org/topics/palm-oilrspo/publication/2013/conflict-or-consent-oil-palm-sector-crossroads
Semua foto: hak cipta TFT©
3. Lihat: http://www.rspo.org/resources/supplementary-materials
4. Lihat: http://rsb.org/pdfs/guidelines/12-05-02-RSB-GUI-01-012-01-RSB-Guidelines-for-Land-Rights.pdf
5. Lihat: https://ic.fsc.org/preview.fsc-fpic-guidelines-version-1.a-1243.pdf
6. Lihat: http://www.un-redd.org/Launch_of_FPIC_Guidlines/tabid/105976/Default.aspx
7. Lihat: http://www.recoftc.org/basic-page/fpic
8. Lihat: http://www.fao.org/3/a-i3496e.pdf
9. Lihat Barsh (1995)
16
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Penerimaan oleh perusahaan bahwa, sesuai dengan hukum internasional,
masyarakat hukum adat memiliki hak-hak atas tanah, wilayah dan sumber
daya yang secara tradisional mereka miliki, tempati atau gunakan, dan memiliki
hak untuk memberikan atau tidak memberikan FPIC mereka sebagaimana
dinyatakan melalui lembaga perwakilan mereka sendiri, membutuhkan
berbagai perubahan mendasar dalam cara perusahaan melakukan
pembebasan lahan. Ini berarti menyusun ulang prosedur operasi standar,
melatih ulang staf dan manajer lapangan, dan mengembangkan sistem
komunikasi dengan masyarakat lokal yang lebih terbuka. Lebih dari itu, hal ini
berarti menerima bahwa masyarakat yang terlibat akan memiliki suara dalam
membuat keputusan apakah suatu kegiatan operasional bisa dilanjutkan atau
tidak dan dalam penetapan persyaratan dan prosedur tentang bagaimana
konsultasi dan negosiasi dilakukan dan bagaimana kesepakatan dicapai.
Semua foto: hak cipta TFT©
Semua bagian dalam istilah ‘Persetujuan’ ‘atas dasar informasi’ ‘di awal’ ‘tanpa
paksaan’ sarat dengan nilai hukum. Kata-kata tersebut mengharuskan dalam
proses pembuatan keputusan apapun, masyarakat menjalankannya tanpa
paksaan (free), keharusan atau tekanan; proses ini dilakukan di awal (prior)
sebelum adanya izin konsesi yang diterbitkan dan sebelum ada tanah yang
diambil tanpa persetujuan masyarakat; bahwa masyarakat diberikan informasi
sepenuhnya tentang bagaimana hak-hak mereka bisa terpengaruhi, dampak
dapat dimitigasi dan manfaat dibagikan; dan prosedur mengenai negosiasi
kesepakatan dan pemberian persetujuan (consent) atau izin tersebut diberikan
atau tidak diberikan disetujui oleh masyarakat. Semua panduan yang
disebutkan di atas menekankan bahwa FPIC mewajibkan pelibatan berulang kali
antara operator dan masyarakat. FPIC bukanlah prosedur mencentang kotak
pilihan oleh staf perusahaan, tetapi suatu pelibatan dua arah yang berulang dan
proses pembelajaran untuk kedua pihak. Karena setiap komunitas bersifat unik
dan semua orang memiliki budaya dan norma yang berbeda, maka setiap
prosedur FPIC bisa jadi berbeda.
Daftar berikut menyajikan tahapan utama dalam proses FPIC, sebagian besar
diambil dari Panduan RSPO yang bisa dibaca lebih lanjut untuk informasi
selengkapnya. Detil lebih lanjut mengenai bagaimana menangani klaim yang
sah vs. tidak sah, bagaimana masyarakat dapat direpresentasikan, bagaimana
klaim yang bertentangan dapat diselesaikan, bagaimana konsensus harus
didokumentasikan, dan faktor kunci lainnya diuraikan dalam panduan RSPO
dan panduan lainnya di atas.
“Karena setiap komunitas bersifat unik dan
semua masyarakat memiliki budaya dan
norma yang berbeda, maka setiap prosedur
FPIC bisa jadi berbeda”
Siapkan
• Operator-operator menyampaikan informasi ke masyarakat tentang rencana
mereka mengembangkan suatu wilayah dan menjelaskan kepada masyarakat
tentang hak masyarakat atas FPIC dan hak untuk mengontrol apa yang terjadi
di tanah mereka.
• Masyarakat memutuskan apakah mereka ingin mempertimbangkan usulan
perusahaan dan jika ingin, bagaimana mereka ingin direpresentasikan dalam
urusan dengan operator, dalam diskusi tentang bagaimana kepentingan
perempuan, anak, pemuda, kelompok-kelompok terpinggirkan berdasarkan
kelas maupun kasta, dan para pengguna lahan akan dipertimbangkan.
• Prosedur dan tahapan proses FPIC yang berulang untuk pelibatan masyarakat
dan operator disepakati bersama, dengan mempertimbangkan semua
tahapan yang diuraikan di bawah serta norma dan usulan masyarakat. Ini
mencakup menjelaskan bagaimana proses tersebut akan didokumentasikan
dan divalidasikan, dan bentuk dari informasi tersebut guna memastikan
informasi dapat diakses masyarakat.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
17
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Pembebasan Lahan dan Persetujuan atas
dasar informasi di awal tanpa paksaan
Kaji dan petakan
• Pengkajian kepemilikan lahan dan pemanfaatan lahan secara partisipatif
dilakukan untuk mengklarifikasi bagaimana hak adat dialokasikan dan
lahan dimanfaatkan oleh masyarakat terkait.
• Pemetaan partisipatif dilakukan bersama untuk sepenuhnya memetakan
hak-hak dan pemanfaatan secara adat, termasuk lahan pertanian, hutan
yang ditinggalkan dalam kondisi bera, kawasan penangkapan ikan dan
meramu, kawasan suaka, situs sakral dan wilayah kolektif.
• Pengkajian Dampak Sosial dan Lingkungan dan Nilai Konservasi Tinggi ,
serta stratifikasi dan analisis hutan dengan Stok Karbon Tinggi dilakukan.
Semua pengkajian ini mengklarifikasi kawasan apa saja yang akan
dibebaskan perusahaan untuk penanaman, kawasan mana saja yang
diusulkan untuk dikelola dengan tujuan konservasi dan kawasan mana
yang akan tetap aman untuk masyarakat melanjutkan kegiatan mata
pencaharian mereka.
• Informasi ini akan membantu masyarakat mengkaji manfaat dan biaya
menerima pembangunan kelapa sawit dan zonasi konservasi terkait
dalam wilayah mereka.
Apa yang disebut pemetaan partisipatif?
Pemetaan partisipatif adalah suatu alat
mengidentifikasi dan memetakan kepemilikan tanah
dan sumber daya masyarakat hukum adat dan lokal,
serta pemanfaatan lahan. Ini merupakan metode
pemetaan berdasarkan pengetahuan setempat
yang menetapkan masyarakat lokal sebagai
pemangku kepentingan utama dalam memetakan
suatu wilayah. Masyarakat mengidentifikasi areaarea di mana mereka memiliki hak adat dan area
penting bagi mata pencaharian, nilai budaya dan
penyediaan jasa lingkungan baik di masa lampau,
masa kini dan masa depan. Hasil pemetaan dapat
digunakan masyarakat sebagai dasar untuk
negosiasi perencanaan pemanfaatan lahan dengan
perusahaan. Hasil ini bermanfaat bagi masyarakat
tidak hanya dalam berdialog dengan perusahaan,
tetapi juga antara lain untuk mendukung
pembangunan desa dan pengelolaan sumber
daya alam berbasis masyarakat. Ini merupakan alat
penting bagi masyarakat melakukan perencanaan
pemanfaatan lahan untuk mengakomodasi
pengembangan kelapa sawit dan kawasan SKT ke
dalam wilayah mereka.
18
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
Negosiasikan suatu kesepakatan
• Masyarakat memilih siapa yang mereka inginkan untuk bertindak sebagai
pendamping dan atau penasihat hukum atau penasihat lainnya, maupun
sebagai pengamat independen. Diperlukan adanya pendanaan untuk
membayar biaya yang diperlukan untuk membantu memastikan masyarakat
mendapatkan informasi memadai.
• Saat semua elemen ini sudah berada di tempatnya, masyarakat diberi waktu
untuk mengakses informasi mengenai opsi pembangunan alternatif dan apa
arti pengelolaan kawasan hutan SKT untuk tujuan konservasi, mengkaji
semua informasi yang diberikan, membahas implikasinya di antara mereka
sendiri dan dengan penasihat yang mereka pilih, dan memutuskan apakah
mereka ingin melakukan negosiasi.
• Jika demikian, negosiasi dilakukan antara perwakilan masyarakat dan pihak
operator untuk memperjelas persyaratan pelepasan hak apapun. Waktu dan
ruang lingkup harus disediakan untuk pertemuan dengan masyarakat untuk
membahas tawaran sementara dan menyusun usulan balasan untuk
negosiasi tahap berikutnya.
• Apabila pada dasarnya telah dicapai suatu persetujuan maka kesepakatan
dapat diselesaikan dengan ketentuan terkait pemanfaatan, konservasi dan
pengelolaan tanah, kawasan ter-enclave (dari pembangunan dan konservasi)
untuk produksi pangan, pembagian manfaat, mitigasi, mekanisme
pengaduan, dll.
• Identifikasi dan sepakati mekanisme dan alat untuk menetapkan dan
mengelola kawasan konservasi seperti kesepakatan dan pengelolaan
konservasi bersama, serta kompensasi yang adil atas hilangnya pemanfaatan
kawasan konservasi.
• Legalisir atau sahkan kesepakatan.
Laksanakan, Pantau dan Perbarui kesepakatan
• Pelaksanaan kesepakatan: ini bisa mencakup penyerahan hak dan
pembebasan lahan secara bertahap dari pemegang hak dalam wilayah
kolektif.
• Pantau pelaksanaan kesepakatan secara partisipatif.
• Menjalankan mekanisme pengaduan di mana dan kapan diperlukan.
• Atur sistem pengelolaan apabila mekanisme pengawasan atau
pengaduan mengidentifikasi kekurangan dalam penerapan atau
masalah yang tidak diduga.
Semua foto: hak cipta TFT©
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Mengakomodasi hak dan mata pencaharian
dalam Pendekatan Stok Karbon Tinggi
Tujuan utama Pendekatan Stok Karbon Tinggi adalah
mengidentifikasi kawasan hutan yang perlu dilindungi
karena bernilai sebagai penyimpan karbon, untuk
konservasi keanekaragaman hayati, dan sebagai area
pemanfaatan secara adat. Sebagaimana dijelaskan
dalam toolkit ini, area bervegetasi dalam suatu
kawasan pembangunan lahan komersial dipilih
melalui serangkaian analisis citra satelit dan plot
sampel lapangan untuk mengestimasi biomasa di atas
tanah dari pohon berdiamater lebih dari 5 cm untuk
menstratifikasikan vegetasi menjadi enam kategori:
lahan terbuka, belukar, hutan regenerasi muda, hutan
kerapatan menengah, dan hutan kerapatan tinggi.
Dalam pengalaman percobaan, yang disebut sebagai area hutan SKT adalah
empat kategori teratas – hutan regenerasi muda, kerapatan rendah, menengah
dan tinggi, yang kemudian dianalisis lebih lanjut untuk mengidentifikasi
kawasan hutan yang memungkinkan diusulkan untuk dikonservasi. Lahan
terbuka, padang rumput dan belukar tidak ditetapkan sebagai kawasan SKT
(Greenpeace, 2013). Semua lahan gambut dan NKT juga diidentifikasi dan
dikelola untuk konservasi.
Guna mengakomodasikan pemanfaatan lahan dan hutan yang dinamis oleh
masyarakat, peta stratifikasi hutan di lahan yang sedang dipertimbangkan harus
dilapisi peta hasil pemetaan partisipatif yang sudah disusun untuk
menunjukkan wilayah mana saja yang memiliki hak dan pemanfaatan secara
adat. Tujuannya adalah memastikan proses SKT, NKT dan FPIC berjalan bersama
dan tidak saling bertentangan. Area yang tumpang tindih harus dicek dengan
keterlibatan para pemegang hak untuk memastikan pemanfaatan yang
diusulkan dan ada saat ini di area tersebut, seperti kawasan berburu,
menangkap ikan dan meramu, suaka hutan, situs sakral, lahan pertanian,
penggembalaan, hutan tanaman, lahan pertanian berpindah, dan kawasan
suaka pertanian untuk masa depan. Dengan demikian banyak kawasan
tersebut, khususnya hutan tanaman dan kawasan pertanian, dapat dikeluarkan
dari kawasan yang dipertimbangkan untuk hutan SKT.
Apabila kawasan hutan SKT yang diusulkan untuk konservasi bisa menyebabkan
dampak terhadap hak atau akses dan pemanfaatan baik di masa kini maupun
masa yang akan datang, maka FPIC juga dibutuhkan. Sebelumnya, dan untuk
memastikan izin diberikan berdasarkan informasi, diperlukan diskusi untuk
memperjelas:
• Apabila nantinya akan terjadi pelepasan hak atau pembatasan mata
pencaharian, maka mitigasi, kompensasi, atau alternatif apa yang akan
ditawarkan?
• Bagaimana biaya dan manfaat akan dibagi, termasuk dampak dari
kawasan konservasi dan manfaat yang hilang dengan adanya
pembatasan area yang tersedia untuk plasma dan perkebunan terhadap
mata pencaharian?
Untuk area yang berada dalam siklus jangka panjang pertanian berpindah
dan hutan bera, dan di mana masyarakat berharap dapat terus melanjutkan
mata pencaharian dari pertanian, maka survey lapangan harus dilakukan
untuk memperkirakan jangka waktu hutan dibiarkan bera dan menghitung
luas lahan total yang dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan mata
pencaharian saat ini dari kegiatan pertanian. Hal ini bisa dipertimbangkan
dalam perencanaan pemanfaatan lahan masyarakat.
Perencanaan pemanfaatan lahan masyarakat
Untuk membantu masyarakat merencanakan mata pencaharian layak
jangka panjang dan memastikan ketahanan pangan setempat, perlu
dihasilkan informasi dari pemetaan partisipatif dan zonasi NKT dan SKT,
untuk memperjelas lokasi dan luasan kawasan:
• yang saat ini dialokasikan untuk berbagai pemanfaatan masyarakat
• yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk usulan perkebunan
• yang dialokasikan untuk plasma atau pembangunan dengan pembagian
manfaat lainnya
• untuk dilindungi sebagai NKT dan area mana saja yang akan membatasi
pemanfaatan yang dilakukan saat ini
• diusulkan dilindungi sebagai hutan SKT dan kawasan mana saja yang akan
membatasi pemanfaatan yang dilakukan saat ini
• area yang akan tetap untuk berbagai pemanfaatan masyarakat, termasuk
kebutuhan generasi yang akan datang, apabila semua alokasi lainnya disetujui.
Perencanaan pemanfaatan lahan partisipatif masyarakat sebaiknya dilakukan
melalui pertemuan masyarakat yang terbuka dan berulang (beberapa
diantaranya dengan operator, beberapa hanya dengan penasihat, dan beberapa
pertemuan tanpa kehadiran pihak luar) untuk mengkaji kebutuhan masyarakat,
mengevaluasi usulan dari operator dan asesor, dan apabila perlu, menyusun
usulan tanggapan untuk alokasi, pemanfaatan, pengelolaan dan kepemilikan
lahan. Usulan-usulan ini menjadi bagian dari informasi yang akan mendukung
negosiasi FPIC (di atas).
Semua foto: hak cipta TFT©
• Tujuan dan prosedur Pendekatan Stok Karbon Tinggi, yang disampaikan dalam
bentuk dan bahasa yang dapat dipahami masyakarat
• Batasan-batasan apa yang mungkin ada terhadap hak dan pemanfaatan
sumber daya, termasuk pemanfaatan apa yang mungkin akan dilarang, di
dalam kawasan konservasi yang diusulkan untuk pengelolaan hutan SKT dan
NKT?
• Kesepakatan tenurial apa yang akan diterapkan di kawasan konservasi: apakah
kesepakatan tersebut akan mengamankan atau mengurangi hak masyarakat?
• Siapa yang akan mengelola dan mengawasi kawasan konservasi yang diusulkan
dan memastikan mereka tetap memiliki nilai-nilai yang sudah dimiliki?
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
19
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Mengklarifikasi hak-hak atas
tanah tanah dan pengelolaan
Mengklarifikasi hak-hak atas tanah
Pengelolaan
Perlu menggali cara-cara kreatif penggunakan hukum
adat dan hukum tertulis dalam mengidentifikasi
hak-hak atas tanah yang dapat meminimalisasi
dampak pengalokasian lahan terhadap pembatasan
atau pengurangan hak-hak dan pemanfaatan lahan.
Klarifikasi entitas apa yang akan bertanggung
jawab mengelola kawasan konservasi tertentu
perlu dilakukan secara hati-hati, mengingat
berbagai opsi termasuk:
Tanah tidak harus diserahkan selamanya kepada operator untuk perkebunan
melalui penjualan atau transfer tetapi bisa disewakan atau dikontrakkan
dengan kesepakatan yang disetujui. Tanah masyarakat yang tidak diserahkan
ke perusahaan harus dikeluarkan dari konsesi dan diberikan hak kepemilikan
atau didaftarkan sebagai tanah masyarakat. Kawasan yang akan dilindungi
sebagai NKT dan SKT dan yang bertumpang tindih dengan hak adat harus
dipertahankan sebagai tanah masyarakat, sesuai dengan hukum dan
peraturan yang berlaku. Demikian juga kawasan yang masih tetap dikuasai
masyarakat juga harus dipertahankan.
• Area yang dimiliki dan dikelola masyarakat
• Area yang dikelola perusahaan di dalam konsesi
• Area yang dikelola pemerintah yang dikenakan pajak dari konsesi
• Area yang dikelola bersama (masyarakat & pemerintah atau masyarakat
& perusahaan)
Kawasan konservasi yang diusulkan namun tumpang tindih dengan tanah
dan wilayah masyarakat tidak boleh diambil alih dan dikelola oleh pihak
lain maupun dikelola bersama tanpa persetujuan melalui proses FPIC
yang dijelaskan di atas. Saat entitas yang akan mengemban tanggung
jawab pengelolaan telah disetujui, maka orang (atau pemegang jabatan)
serta lembaga dengan tanggung jawab tersebut harus diberikan
wewenang, dilatih dan disediakan dana untuk menjalankan perannya
sebagai pengelola. Pengamanan dan perlindungan semua kawasan hutan
yang mempunyai simpanan karbon tinggi biasanya membutuhkan
serangkaian sistem pengelolaan dan kepemilikan tanah.
Karena hukum nasional terlalu berubah-ubah untuk membuat
rekomendasi sederhana, maka kajian hukum akan dibutuhkan untuk
memastikan opsi terbaik yang ada di berbagai negara dan daerah, dan ini
perlu dieksplorasi dengan masyarakat dan penasihat hukum mereka
sebelum mereka memberikan izin.
Semua foto: hak cipta TFT©
“Kawasan yang akan dilindungi sebagai
NKT dan SKT dan yang bertumpang tindih
dengan hak adat harus dipertahankan
sebagai tanah masyarakat”
20
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Monitoring
Perencanaan pemanfaatan lahan, zonasi dan
pengelolaan merupakan proses yang selalu dinamis,
dan tidak bisa diharapkan untuk memprediksi setiap
hal yang mungkin terjadi. Pemastian fungsi efektif
dari sistem hutan SKT dan NKT membutuhkan
sistem pengawasan partisipatif dan terintegrasi yang
menggabungkan (a) penginderaan jarak jauh rutin
untuk meninjau pembukaan lahan secara besarbesaran dilakukan hanya di lokasi yang telah disepakati
dengan (b) patroli lapangan di waktu nyata melibatkan
anggota masyarakat setempat yang mampu
mengidentifikasi pelaku yang bertanggung jawab atas
pembukaan lahan dan juga dapat mengidentifikasi
ancaman atau risiko lainnya berkaitan dengan
kesepakatan dan pemanfaatan lahan.
Alat-alat inovatif juga telah dikembangkan untuk pengawasan NKT secara
partisipatif yang dapat disesuaikan untuk monitoring kawasan konservasi SKT.
Alat ini mempertimbangkan antara lain: pembentukan tim lokal yang secara
rutin menyusuri jalan setapak guna meninjau kepatuhan dan mengidentifikasi
ancaman, sistem pelaporan SMART dengan penandaan titik secara geografis
(geo-tag) menggunakan software sederhana yang mengintegrasikan laporan
lapangan pada waktu nyata dengan pemetaan terkomputerisasi, dan sistem
untuk memastikan validasi hasil temuan oleh masyarakat.1
“Alat inovatif juga telah dikembangkan
untuk pengawasan partisipatif NKT yang
dapat disesuaikan untuk monitoring
kawasan konservasi SKT”
Semua foto: hak cipta TFT©
Sistem umpan balik
Guna memastikan kesalahpahaman tidak meningkat menjadi sengketa,
mekanisme pengaduan perlu disetujui terlebih dahulu dengan prosedur
yang sesuai untuk meninjau dan menindaklanjuti keluhan. Selain itu
dibutuhkan prosedur untuk menerapkan rekomendasi yang berasal
dari proses monitoring dan pengaduan untuk menyesuaikan praktik
pengelolaan, alokasi lahan dan tanggung jawab. Dalam kasus
ketidaksetujuan, kesepakatan harus dikaji ulang dan direvisi.
10. Sebagai contoh lihat: http://www.forestpeoples.
org/topics/palm-oil-rspo/publication/2013/
monitoring-protocol-high-conservation-values-5and-6-guideline
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
21
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Menyertakan Pendekatan SKT ke
dalam negosiasi yang sudah ada
Saat membangun perkebunan baru, Pendekatan SKT
harus diintegrasikan ke dalam proses lain seperti
perlindungan NKT dan pertimbangan FPIC dari tahap
awal. Bagian utama dari bab ini telah mengusulkan
pendekatan terintegrasi yang menggabungkan proses
SKT dan FPIC. Namun di lokasi di mana operator telah
membebaskan lahan dan mulai membangun
perkebunan sebelum mengadopsi pendekatan SKT,
suatu ulasan partisipatif dengan penasihat
independen harus dilakukan untuk meninjau kembali
kepatuhan dengan prinsip-prinsip yang dijelaskan
dalam bab ini. Khususnya, karena perlindungan
kawasan hutan SKT menyiratkan bahwa kawasan
lainnya tidak akan tersedia untuk pembangunan atau
pemanfaatannya akan dibatasi, dan hal ini mungkin
secara langsung mempengaruhi luasan lahan yang
tersedia untuk masyarakat lokal, dan dengan
demikian mengurangi lahan yang tersedia untuk
mata pencaharian tradisional, perkebunan plasma
baru dan generasi berikutnya. Ini juga bisa
mengurangi manfaat yang diantisipasi masyarakat
lokal secara signifikan saat memberi izin mereka
untuk keberadaan pihak developer dan, sebagai
contoh, area yang dialokasikan untuk NKT.
Pihak operator mungkin akan perlu merevisi dan mengulangi beberapa
tahapan untuk mencapai kepatuhan, yang mungkin berupa negosiasi ulang
kesepakatan dan rencana pengelolaan dengan masyarakat sehingga kawasan
yang dialokasikan untuk tujuan lingkungan dan sosial yang baru tidak
mengurangi manfaat, tanah dan mata pencaharian yang diperoleh masyarakat,
atau mempersempit sistem pertanian berpindah atau sistem pemanfaatan
lahan masyarakat lainnya ke lahan-lahan yang terlalu kecil sehingga bentuk
pemanfaatan lahan tersebut tidak berkelanjutan. Studi kasus yang disajikan di
akhir bab ini menggambarkan tantangan yang ada dalam proses penyertaan
SKT ke konsesi yang sudah ada di mana pendekatan inklusif dan terintegrasi
tidak dilakukan sejak awal.
“Saat membangun perkebunan baru,
Pendekatan SKT harus diintegrasikan ke
dalam proses lain seperti perlindungan NKT
dan pertimbangan FPIC dari tahap awal”
22
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
BAGIAN 1
RINGKASAN TAHAPAN PENDEKATAN SKT DAN FPIC TERINTEGRASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Kesimpulan: Mengintegrasikan penghormatan hak
masyarakat atas tanah dan FPIC ke dalam Pendekatan SKT
Karena penghormatan hak masyarakat atas tanah
dan FPIC adalah persyaratan berlanjut dan bukan
kegiatan sekali saja, elemen-elemen FPIC harus
diintegrasikan sepenuhnya ke dalam Pendekatan
SKT. Komite Pengarah Pendekatan SKT memimpin
diskusi antara para praktisi tentang urutan ideal
dari setiap tahap proses SKT dan FPIC, termasuk
bagaimana mengintegrasikan Pengkajian Nilai
Konservasi Tinggi. Diagram awal pendekatan
terintegrasi ditampilkan di diagram di sebelah kiri
dan kanan. Namun perlu dipahami bahwa proses
FPIC akan selalu berbeda pada setiap tempat dan
urutan yang ditetapkan belum tentu sesuai untuk
semua kebudayaan, masyarakat atau kedaerahan.
BAGIAN 2
RINGKASAN TAHAPAN PENDEKATAN SKT DAN FPIC TERINTEGRASI
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
23
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Studi Kasus
Pentingnya pelibatan masyarakat dalam
Pendekatan SKT: Studi kasus di PT KPC
Oleh Jana Nejedlá, TFT, dan Pi Li Lim,
Golden-Agri Resources
Penulis berterima kasih kepada Agung Wiyono, Guntur Tua Aritonang, dan
Stephany Iriana Pasaribu dari TFT atas penyediaan informasi latar belakang
yang sangat membantu dalam penyusunan studi kasus ini.
Pendahuluan
Studi kasus ini berfokus pada pentingnya
pelibatan masyarakat dalam Pendekatan SKT
melalui pembelajaran yang didapat dari proyek
pendahuluan SKT di konsesi sawit PT Kartika
Prima Cipta (PT KPC), anak perusahaan Golden
Agri-Resources Ltd (GAR), di Kapuas Hulu,
Provinsi Kalimantan Barat, Indonesia . Tujuan
proyek pendahuluan ini adalah untuk menguji
implementasi Kebijakan Konservasi Hutan GAR
dan mendukung pembuatan kerangka kerja
bagi keberhasilan implementasi konservasi SKT
dan kebijakan ‘Nihil Deforestasi’ di industri
perkebunan kelapa sawit yang lebih luas.
“Sebagaimana di daerah lain di Kalimantan
Barat, perubahan pemanfaatan lahan dalam
skala besar juga terdapat di Kabupaten
Kapuas Hulu karena pengembangan kelapa
sawit oleh perusahaan swasta”
24
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Latar belakang
Kabupaten Kapuas Hulu merupakan kawasan dataran tinggi yang terkenal
akan danau-danaunya yang besar, rawa gambutnya yang luas dan perikanan
darat yang produktif. Jika dibandingkan dengan kabupaten lain, Kapuas Hulu
telah memiliki kawasan luas yang dialokasikan untuk konservasi. Seperti di
wilayah Kalimantan Barat yang lain, perubahan pemanfaatan lahan dalam
skala besar juga terdapat di Kabupaten Kapuas Hulu karena pengembangan
kelapa sawit oleh perusahaan swasta. Sejak PT KPC memulai kegiatan
operasionalnya di kawasan tersebut pada tahun 2007, perusahaan tersebut
telah menghadapi berbagai reaksi ‘pro’ dan ‘kontra’ terhadap budidaya
kelapa sawitnya dari masyarakat Dayak dan Melayu setempat di beberapa
desa. Baru-baru ini perusahaan tersebut mulai menangani sengketa dan
pengaduan dari masyarakat yang awalnya mendukung pengembangan
sawit dan menyerahkan lahan mereka. Masyarakat tersebut merasa bahwa
manfaat pengembangan yang dijanjikan lambat untuk terwujud dan bahwa
kawasan yang ditanami untuk kebun petani tidak seluas yang diharapkan.
Adanya isu-isu sosial tersebut bersama dengan pemahaman yang berbeda-beda
dari masyarakat mengenai implikasi area set-aside ber-Nilai Konservasi Tinggi
(NKT) menyebabkan sulitnya menjelaskan dan mendapatkan dukungan dari
masyarakat untuk konsep SKT yang baru. Banyak anggota masyarakat yang takut
bahwa konservasi SKT akan menyebabkan lebih banyak lagi lahan yang tidak
boleh masyarakat gunakan sehingga membatasi kesempatan mereka untuk
memperoleh mata pencaharian dari Hasil Hutan Non-Kayu (HHNK) seperti karet
dan perikanan.
Pihak perusahaan dan TFT berupaya menjelaskan konsep SKT kepada pemangku
kepentingan utama sejak September 2012 sebagai bagian dari proses sosialisasi.
Masyarakat memiliki kekhawatiran kuat mengenai proyek pendahuluan SKT.
Kekhawatiran itu mencakup ketidakpastian mengenai hilangnya mata
pencaharian jika mereka tidak lagi dapat mengakses kawasan yang telah
diidentifikasi sebagai hutan perlindungan SKT, apakah perusahaan akan
mengembangkan perkebunan plasma (perkebunan yang berada di bawah skema
yang diatur pemerintah) untuk mereka, dan apakah perusahaan akan mengambil
alih hutan adat mereka. Masyarakat memiliki ketakutan khusus bahwa zonasi SKT
tidak akan memperbolehkan mereka untuk melanjutkan praktik tradisional
ladang berpindah, suatu sistem pertanian termobilisasi di mana suatu kawasan
hutan dimanfaatkan dalam waktu singkat dan kemudian dibiarkan dalam kondisi
bera untuk memungkinkan regenerasi tumbuhan dan pemulihan kesuburan
tanah sebelum siklus pembukaan dan pemanfaatan lahan berikutnya dimulai.
Semua Foto:
Foto dari kegiatan pemetaan partisipatif di PT KPC.
Hak cipta TFT©
Mendapatkan persetujuan masyarakat
Untuk menanggapi permasalahan tersebut, PT KPC dan TFT telah
mengembangkan rencana untuk meningkatkan hubungan dengan masyarakat
dan mendapatkan persetujuan mereka mengenai proyek pendahuluan SKT.
Tahap pertama yang dilakukan sebagai bagian dari rencana ini adalah studi
HHNK dan proses pemetaan partisipatif. Studi kasus ini berfokus pada proses
pemetaan partisipatif karena pentingnya proses tersebut dalam Pendekatan SKT.
Persiapan merupakan tahap penting untuk memastikan proses pemetaan
partisipatif dilakukan secara efektif. Kegiatan yang dilakukan sebelum
pemetaan partisipatif mencakup:
1. Peningkatan kapasitas bagi pihak manajemen PT KPC sehingga mereka dapat
memberikan panduan mengenai kegiatan pemetaan partisipatif kepada
masyarakat.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
25
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Studi Kasus
2. Sosialisasi menyeluruh bagi berbagai pemangku kepentingan untuk
menciptakan kepedulian dan mendapatkan dukungan terhadap proses SKT
dari masyarakat
3. Kapasitas teknis masyarakat yang terlibat dalam proses pemetaan
dikembangkan melalui pelatihan dan fasilitasi.
Latihan pemetaan partisipatif yang dijelaskan di atas dilaksanakan mulai bulan
Januari hingga Agustus 2014 di tiga desa, yaitu Desa Mensusai, Desa Kerangas,
dan Desa Mantan. Pendekatan dilakukan terhadap semua desa yang berada di
kawasan konsesi PT KPC untuk terlibat dalam proses pemetaan partisipatif,
namun ketiga desa tersebut dipilih karena memiliki sumber daya dan kemauan
untuk berkolaborasi dengan PT KPC dan TFT. Desa Menapar juga bersedia untuk
bekerja sama dalam proses pemetaan partisipatif dan desa tersebut kemudian
dimasukkan ke dalam cakupan proyek. Desa tersebut memulai proses
pemetaan partisipatif dengan didukung oleh PT KPC dan TFT sebagai kisah dan
contoh keberhasilan bagi terhadap desa yang lain.
Kepala Desa Kerangas memberikan pernyataan berikut ini terkait dengan proses
pemetaan partisipatif:
“Semua hal akan menjadi lebih baik dengan adanya pemetaan partisipatif,
karena tujuannya adalah untuk melindungi generasi mendatang. Kini batas
desa lebih jelas bagi kami. Contohnya, walaupun warga desa selalu memiliki
pemahaman mengenai desa lain di sekeliling desa kami, sekarang warga
mengetahui batas sebelah utara dan timur. Selain itu, semua aset desa seperti
perkebunan karet dan hutan keramat telah teridentifikasi. Proses ini berdampak
pada terlindunginya kepentingan generasi mendatang untuk masa depan yang
lebih baik.”
Kemajuan yang telah dicapai hingga sekarang
Untuk menyiapkan proses pemetaan partisipatif, karyawan PT KPC yang terlibat
di dalam proses tersebut mendapatkan pelatihan (mulai bulan Januari 2014)
mengenai konsep pemetaan partisipatif dan identifikasi HHNK, FPIC dan
kompetensi dasar mengenai pemetaan. TFT juga melaksanakan diskusi intensif
dengan berbagai kelompok LSM lokal dan internasional yang bergerak di
kawasan Kapuas Hulu dengan tujuan mendapatkan pemahaman yang lebih
komprehensif mengenai masyarakat lokal.
Hal menarik yang terjadi adalah proses sosialisasi yang lebih menantang dan
memakan waktu terjadi dengan pemerintah daerah, termasuk pemerintah
Kabupaten Kapuas Hulu, Kecamatan Suhaid dan pemerintah desa (kantor desa
dan Badan Perwakilan Desa). Pemerintah daerah mengkhawatirkan adanya
alokasi lahan yang lebih luas lagi untuk konservasi yang dapat mempengaruhi
pembangunan ekonomi potensial di kabupaten tersebut. Proyek pendahuluan
ini menunjukkan bahwa pelibatan pemerintah daerah merupakan faktor
keberhasilan kunci bagi proses pemetaan partisipatif. Pemetaan partisipatif dan
pengembangan konsensus yang mengikutinya merupakan proses penting
dalam memperoleh dukungan pemangku kepentingan.
Tim dari PT KPC dan TFT menghadapi berbagai tantangan ketika mencoba
memperoleh FPIC untuk proses SKT dari desa dan pemerintah daerah
karena:
• Kenyataan bahwa SKT merupakan konsep baru dan pemetaan partisipatif
baru pertama kali dilakukan di desa-desa tersebut sehingga hanya ada
tingkat pemahaman yang rendah mengenai kedua topik ini.
• Adanya keberatan dan keraguan dari warga desa yang sebelumnya telah
diberi pendekatan oleh berbagai LSM dan pihak lain untuk membicarakan
isu kepemilikan lahan mereka dan para warga tersebut tidak mau percaya
bahwa proses yang sedang berjalan ini bisa manfaat bagi mereka. Selain
itu, perusahaan masih terus melakukan pendekatan terhadap masyarakat
yang sebelumnya tidak memberikan persetujuannya atas pengembangan
kelapa sawit.
• Masyarakat ragu untuk bekerja sama dengan perusahaan dan
memberikan informasi.
Untuk melewati rintangan tersebut, penting bagi PT KPC untuk
merencanakan dan mengatur interaksi dengan masyarakat lokal dengan
hati-hati dan peka. PT KPC dan TFT telah memimpin serangkaian kegiatan
yang mencakup pelatihan bagi masyarakat mengenai proses pemetaan
partisipatif dan konservasi NKT, serta diskusi dengan pemerintah untuk
memberikan jawaban dan informasi yang obyektif terhadap pertanyaan
atau hal yang menjadi perhatiannya. Kegiatan tersebut diawali dengan
Pemerintah Kecamatan Suhaid yang memberikan izin pada bulan Februari
2014 untuk melanjutkan kegiatan di tingkat kecamatan dengan
pemerintah daerah dan perwakilan desa. Setelah sosialisasi di tingkat
kecamatan dilakukan, kegiatan di desa-desa target mulai dilakukan.
Semua Foto:
Foto dari kegiatan pemetaan partisipatif di PT KPC.
Hak cipta TFT©
26
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 2
MENGHORMATI HAK MASYARAKAT ATAS TANAH MEREKA DAN ATAS PERSETUJUAN ATAS DASAR
INFORMASI DI AWAL TANPA PAKSAAN DALAM PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI
Untuk menjelaskan proses pemetaan partisipatif dan manfaat kepada
masyarakat lokal, maka bahasa lokal dan berbagai jenis media (seperti
misalnya gambar dan presentasi) digunakan untuk memastikan bahwa
informasi yang disosialisasikan dengan masyarakat lokal dapat diterima dan
dimengerti dengan baik. Seringkali, penting untuk melibatkan kelompok
dengan kepentingan khusus dalam pembicaraan seperti ini (seperti misalnya
kelompok perempuan) karena pendapat mereka mengenai sawit dan
kemauan untuk terlibat dalam pemetaan partisipatif berbeda-beda. Terakhir,
penting untuk memahami proses pengambilan keputusan di tingkat
masyarakat desa dan membuat masyarakat tersebut menjadi pertimbangan
pada setiap kegiatan yang dilaksanakan.
Alat GPS dan pelatihan diberikan oleh PT KPC dan TFT kepada masyarakat
yang turut berpartisipasi, dan masyarakat tersebut memilih warganya untuk
menjadi perwakilan. Tim dari setiap empat desa terdiri dari perangkat desa,
warga desa dengan pemahaman baik mengenai batas desa, perwakilan
kelompok adat, dan juga perwakilan desa-desa tetangga. Tim pemetaan juga
menggunakan catatan dari diskusi dengan masyarakat dan masukan dari
pemimpin masyarakat yang mengetahui mengenai batas desa dan
memahami kesepakatan dengan desa-desa tetangga.
Walaupun PT KPC dan TFT telah mengembangkan cakupan yang
komprehensif bagi latihan pemetaan partisipatif, hasil sebenarnya dari
kegiatan pemetaan ini berasal dari partisipasi masyarakat bagi mereka.
Pemetaan lapangan menghasilkan koordinat GPS bagi batas desa, jalan, dan
pemukiman, serta tempat-tempat penting bagi fungsi sosial budaya
masyarakat lokal seperti pemakaman, sumber air, fasilitas pendidikan dan
lokasi budaya setempat. Kawasan yang ditetapkan untuk penanaman di
kemudian hari dan pengembangan masyarakat desa juga ikut dimasukkan.
Tim ahli pemetaan dari TFT menggabungkan data yang diperoleh dalam peta
draf yang kemudian disosialisasikan kepada tim pemetaan lain di setiap desa
untuk validasi ulang data tim lain, dengan foto yang disajikan sebagai rujukan.
Hingga saat ini kegiatan pemetaan telah mengidentifikasi batas desa dan
beberapa kawasan penting bagi masyarakat lokal seperti infrastruktur dan
kawasan sumber daya. Pemetaan akan dilanjutkan pada bulan Februari 2015
di empat desa tersebut untuk mengklarifikasi perencanaan pemanfaatan
lahan oleh masyarakat di masa sekarang dan mendatang. Peta draf akhir akan
didiskusikan dengan perwakilan desa-desa tetangga dan pemerintah
kecamatan untuk memastikan bahwa data yang diberikan oleh masyarakat
sesuai dengan yang telah diketahui oleh pihak kecamatan.
Setelah semua pihak yang terlibat menyetujui peta versi akhir, maka peta
akan diberikan kepada setiap desa untuk ditandatangani oleh pemerintah
desa dan pengurus desa, termasuk perwakilan dari kelompok adat. Peta akhir
akan mengindikasikan batas-batas lahan dan aspek pemanfaatan lahan
tertentu milik masyarakat (seperti untuk pertanian, hutan adat, pemukiman,
fasilitas umum), serta fitur-fitur penting bagi masyarakat seperti kawasan
sumber daya alam dan tempat keramat.
Kesimpulan
Kasus PT KPC memberikan gambaran pentingnya pemetaan partisipatif sebagai
langkah penting dalam proses perencanaan pemanfaatan lahan, serta sebagai
dasar untuk memenuhi hak-hak masyarakat lokal dan adat terhadap FPIC.
Demikian juga, hak dan mata pencaharian masyarakat lokal tersebut harus
ditanamkan ke dalam metodologi SKT untuk memastikan bahwa keduanya
diakui dan dijamin.
Hal ini mencakup diskusi mengenai bagaimana kawasan SKT akan dilindungi
dan dikelola, serta peran dan partisipasi masyarakat di dalam proses tersebut.
Hasil penting dari proyek pendahuluan SKT ini adalah kini pemetaan partisipatif
dimasukkan ke dalam Pendekatan SKT.
Studi kasus ini menunjukkan bahwa hubungan dengan dan perolehan
dukungan dari masyarakat merupakan hal yang sangat penting bagi konservasi
SKT. Semua pemangku kepentingan perlu memahami hal-hal yang ingin dicapai
dan perlu untuk dilibatkan agar membantu membentuk kebijakan dan praktik
di lapangan. Pelibatan konstruktif seperti itu hanya dapat dibangun dengan
dasar kepercayaan dan komunikasi terbuka. Proses pelibatan ini mensyaratkan
pemangku kepentingan untuk memiliki kesabaran dan kemauan untuk
berupaya berkomunikasi secara konstruktif dan terbuka serta untuk mencari
penyelesaian yang menguntungkan semua pemangku kepentingan.
Daftar Pustaka (studi kasus)
Forest Peoples Programme (2014). “Independent review of the social impacts
of Golden Agri Resources’ Policy in Kapuas Hulu District, West Kalimantan.”
Available at:
http://www.forestpeoples.org/sites/fpp/files/publication/2014/01/pt-kpcreport-january-2014final.pdf
Golden-Agri Resources (2013). “GAR and SMART implement pilot on High
Carbon Stock forest conservation.” Press Release March 13, 2013. Available at:
http://www.smart-tbk.com/pdfs/Announcements/GAR13-03-2013PressReleaseAndPreso-GARandSMARTimplementpilotonHCS-inEnglish%20final.pdf
Golden-Agri Resources (2014). “Response from GAR regarding FPP’s
Independent Review of the Social Impacts of Golden Agri-Resources’ Forest
Conservation Policy in Kapuas Hulu District, West Kalimantan.” Available at:
http://www.goldenagri.com.sg/pdfs/News%20Releases/2014/Media%20
Statement%20170114%20-%20Response%20from%20GAR%20regarding%20
FPP.pdf
“Studi kasus ini menunjukkan bahwa
hubungan dengan dan perolehan dukungan
dari masyarakat merupakan hal yang
sangat penting bagi konservasi SKT.
Pelibatan konstruktif seperti itu hanya
dapat dibangun dengan dasar kepercayaan
dan komunikasi terbuka”
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NOL DEFORESTASI
27
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Bab 3
Klasifikasi tutupan lahan
berbasis citra satelit
Oleh Sapta Ananda Proklamasi, Greenpeace Indonesia; Moe Myint, Mapping and
Natural Resources Information Integration; Ihwan Rafina, TFT; dan Tri A. Sugiyanto,
PT SMART/TFT.
Para penulis sangat berterima kasih kepada Ario Bhriowo, TFT; Yves Laumonier, CIFOR;
Arturo Sanchez-Asofeifa, University of Alberta; Chue Poh Tan, ETH-Zurich dan para kolega
di World Resources Institute atas komentarnya yang bermanfaat dalam versi-versi awal
bab ini.
DAFTAR ISI BAB
P29: Pendahuluan
P30: Pemilihan citra satelit
P46: Statistik Nilai Khat
P31: Pra-pemrosesan dan perbaikan radiometrik
terhadap citra satelit
P47: Kontrol kualitas, finalisasi klasifikasi tutupan lahan
awal serta tahap berikutnya
P33: Indeks vegetasi
P48: Lampiran A: Gambaran umum opsi citra satelit
P34: Analisis komponen utama
P53: Lampiran B: Transformasi Tasseled Cap
P35: Pemilihan kombinasi saluran untuk klasifikasi
P36: Penentuan jumlah dan tipe kelas
P38: Pendekatan klasifikasi
P39: Klasifikasi tak terbimbing
P40: Klasifikasi terbimbing
P43: Klasifikasi visual
P44: Kajian akurasi terhadap citra terklasifikasi
28
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Pendahuluan
Tujuan dari Fase Pertama dalam kajian SKT adalah
membuat suatu peta indikatif kawasan hutan SKT
potensial dalam suatu konsesi dan lanskap yang
mengelilinginya, menggunakan kombinasi citra
satelit dan data di lapangan. Bab ini membahas
tahap pertama dari Fase Pertama: penggunaan
citra dan data set untuk mengklasifikasi vegetasi ke
dalam kategori yang seragam. Kami akan mengajak
para pembaca mendalami metodologi untuk
tahap pertama ini, termasuk memilih basis data
citra, menentukan jumlah kelas tutupan lahan dan
melakukan klasifikasi.
FASE 1: DIAGRAM TAHAPAN
Metodologi yang dijelaskan dalam bab ini telah diuji dan disempurnakan
melalui studi percobaan di kawasan konsesi di Indonesia, Liberia dan Papua
Nugini. Metodologi ini diharapkan dapat diterapkan di semua hutan tropis
lembab di tanah mineral . Karena itu kami telah mencantumkan rincian
variasi dalam metodologi ini. Ini mungkin dibutuhkan untuk menanggapi
isu-isu yang mungkin ada berkaitan dengan kualitas citra yang tersedia serta
macam pemanfaatan lahan dan tutupan lahan di berbagai wilayah yang
berbeda.
Bab ini ditujukan untuk pakar teknis dengan pengalaman dalam analisis
penginderaan jarak jauh yang mampu menggunakan dokumen ini untuk
memandu pekerjaan mereka dan menyusun peta indikatif kawasan hutan
SKT potensial tanpa memerlukan panduan lainnya. Dengan demikian kami
berasumsi bahwa para pembaca memiliki pengetahuan tingkat lanjut
mengenai teknik-teknik analisis dan normalisasi, namun kami telah
menyediakan referensi sebagai panduan lebih detail yang bisa bermanfaat.
“Metodologi ini diharapkan dapat
diterapkan di semua hutan tropis
lembab di tanah mineral”
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
29
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Pemilahan citra satelit
Pemilahan citra satelit yang akan digunakan dalam
proses klasifikasi vegetasi harus dipastikan bahwa
citra tersebut sesuai dengan cakupan kawasan
yang dikaji, serta memperhatikan resolusi yang
tepat baik temporal maupun spasial berkaitan
dengan kajian yang dilakukan. Secara khusus:
• Citra tidak boleh berumur lebih dari 12 bulan dan harus memiliki
resolusi setidaknya 30 meter.
• Data harus memiliki kualitas yang memadai untuk analisis, dengan
penutupan awan kurang dari 5% dalam batas area kajian, tanpa atau
dengan kabut yang sangat minimal dan terlokalisir.
• Ketersediaan saluran (band) spektra hijau, merah, inframerah dekat dan
inframerah menengah yang berperan dalam penentuan tutupan
vegetasi, kesehatan tutupan vegetasi dan kerapatan vegetasi di
lapangan harus dipertimbangkan.
Pengguna harus mengunduh dan mengevaluasi beberapa citra quick-look
dengan geo-referensi beserta metadatanya dari beberapa baris (path) dan
deretan (row) satelit. Ini akan membantu mendapatkan cara tepat untuk
menyusun subset spasial dari citra tanpa awan. Untuk mencapai tujuan ini,
pengguna harus mendapatkan satu citra satelit atau lebih dan kemudian
menyusun katalog citra dari citra multi-temporal untuk mendapatkan
serangkaian subset citra berkualitas baik untuk analisis dalam wilayah kajian.
Disarankan untuk mendapatkan citra Landsat-8 multi-temporal dalam waktu
berdekatan (dalam satu atau dua periode kunjungan satelit di lokasi yang
sama). Untuk menghindari pengaruh sudut matahari atau kondisi atmosfer
dari citra multi-temporal, setiap subset citra harus dianalisis dan diklasifikasi
secara terpisah.
Ada berbagai tipe dan penyedia citra satelit yang memiliki informasi spektral
tampak, inframerah dan gelombang mikro yang sesuai. Tabel yang
merangkum berbagai pilihan basis data serta biaya dan manfaatnya, serta
peralatan baru seperti kendaraan udara tanpa awak, disajikan dalam
Lampiran A. Pengguna perlu mengingat bahwa karena citra Landsat-7
bermasalah dengan Scan Line Corrector Off sejak Mei 2003, penggunaan
citra Landsat 7 sejak tanggal tersebut tidak direkomendasikan untuk analisis
dan klasifikasi citra karena striping. Walaupun Landsat 7 SLC OFF strip dapat
diisi, hal ini sebaiknya hanya dilakukan untuk memperbaiki visualisasi dan
interpretasi visual.
30
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Atas: Foto hak cipta USGS ©
Kiri: Corozal Sustainable Future Initiative, Belize ©
Setelah citra yang paling baik telah dipilih, citra tersebut dipotong agar
mencakup hanya wilayah kajian saja. Untuk mengklasifikasi hutan yang
dijumpai di dalam konsesi dengan cara terbaik, wilayah kajian sebaiknya
mencakup lanskap seluas mungkin karena klasifikasi dilakukan
menggunakan jumlah penutupan tajuk dan perhitungan stok karbon
relatif dalam konteks lanskap. Seperti misalnya patch hutan dalam
suatu konsesi yang sebagian besar terdegradasi dengan keberadaan
SKT potensial yang kecil harus dibandingkan dengan lanskap hutan lain
yang lebih luas untuk menempatkannya dalam konteksnya.
Dibutuhkan setidaknya radius 1 km dari batas konsesi untuk memastikan
dipertimbangkannya tutupan hutan dalam lanskap tersebut. Praktik
terbaik adalah dengan memasukkan lebih banyak lagi dari lanskap yang
mengelilinginya, seperti pada level daerah tangkapan air untuk daerah
aliran sungai atau sungai dalam wilayah kajian. Bentuk persegi empat
wilayah kajian dapat dibuat dan diunggah ke USGS Earth Explorer untuk
memilih citra yang akan diunduh.
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Pra-pemrosesan dan koreksi
radiometrik terhadap citra satelit
Salah satu tantangan terbesar dalam kegiatan
klasifikasi tutupan lahan adalah proses standarisasi,
yang dilakukan sebelum analisis untuk memastikan
kualitas hasil yang baik. Standarisasi mengkonversikan
berbagai sumber citra dengan tanggal dan kondisi
atmosfer yang berbeda menjadi serangkaian citra
dengan properti citra yang serupa yang dapat
digunakan bersamaan; ini juga disebut sebagai
Koreksi Radiometrik sebelum data diproses. Perlu
dicatat bahwa bahkan dengan standarisasi, beberapa
citra sumber akan masih memiliki keterbatasan,
antara lain dengan masalah garis perekaman
(striping) dengan citra Landsat setelah tahun
2003 sebagaimana telah disebutkan sebelumnya.
Standarisasi dapat melibatkan beberapa tahap pra-pemrosesan citra. Beberapa
fungsi pra-pemrosesan standar berdasarkan Erdas Imagine Image Processing
System dijelaskan di bawah; sistem pemrosesan citra standar lainnya akan
memiliki fungsi-fungsi yang serupa. Pra-pemrosesan citra, koreksi radiometrik
atau prosedur standarisasi yang dijelaskan di sini belum tentu semuanya harus
dilakukan atau diikuti. Analis harus mengevaluasi kualitas citra dan melakukan
prosedur pra-pemrosesan hanya jika dibutuhkan untuk memperbaiki klasifikasi..
Rentang LUT:
Mentransformasi nomer piksel citra melalui rentang lookup table (LUT)
yang sudah ada.
Pengaturan ulang skala:
Atur ulang skala data dalam format bit apa pun sebagai input dan output.
Pengaturan ulang skala menyesuaikan skala nilai bit agar mencakup semua
nilai file data, menjaga nilai relatif dan mempertahankan bentuk histogram
yang sama.
Pengurangan kabut:
Efek atmosfer dapat menyebabkan citra memiliki kisaran dinamis terbatas,
tampak seperti kabut atau memiliki kontras rendah. Pengurangan kabut
memungkinkan dilakukan penajaman citra menggunakan Tasseled Cap atau
Point Spread Convolution. Untuk citra multispektral, metode ini didasari
oleh transformasi Tasseled Cap, yang menghasilkan suatu komponen yang
berkorelasi dengan kabut. Komponen ini dihilangkan dan citra
ditransformasi kembali ke format RGB. Untuk citra pankromatik, digunakan
kebalikan konvolusi sebaran titik (inverse point spread convolution).
“Salah satu tantangan terbesar dalam
kegiatan klasifikasi tutupan lahan
adalah proses standarisasi, yang dilakukan
sebelum analisis untuk memastikan
kualitas hasil yang baik”
Pengurangan Gangguan (Noise):
Pengurangan tingkat gangguan dalam lapisan raster. Teknik ini
mempertahankan detil halus dalam suatu citra, seperti garis-garis tipis,
sambil menghilangkan gangguan sepanjang tepi dan wilayah datar.
Penghapusan Gangguan Periodik:
Apabila gangguan periodik berasal dari masalah non-sensor seperti kondisi
atmosfer yang sesaat, noise tersebut bisa dihapus dari citra dengan
meningkatkan transformasi Fourier citra secara otomatis.
Pertama, citra input dibagikan menjadi blok-blok 128 x 128 piksel yang tumpang
tindih. Transformasi Fourier dihitung untuk setiap blok dan nilai log dari setiap
blok fast Fourier Transform (FFT) diambil nilai rata-ratanya. Perhitungan nilai
rata-rata menghilangkan semua kuantitas domain frekuensi kecuali kuantitas
yang ada di setiap blok (antara lain, interferensi periodik). Nilai rata-rata spektral
kemudian digunakan sebagai filter untuk menyesuaikan FFT dari seluruh citra.
Saat dilakukan kebalikan dari transformasi Fourier, hasilnya berupa citra dengan
gangguan periodik yang telah dihapus atau dikurangi secara signifikan. Metode
ini sebagian berdasarkan algoritma yang diuraikan dalam Cannon, Lehar, dan
Preston (1983) serta Srinivasan, Cannon dan White (1988).
Level minimal frekuensi yang terpengaruh harus ditetapkan setinggi mungkin
untuk memperoleh hasil terbaik. Nilai yang rendah mempengaruhi frekuensi
transformasi Fourier yang lebih rendah yang mewakili fitur global dari lembar
(scene) tersebut seperti kecerahan dan kontras, sedangkan nilai yang sangat
tinggi mempengaruhi frekuensi yang mewakili detil dalam citra.
Penggantian garis/kolom yang rusak:
Penghapusan garis/kolom yang rusak atau kolom dalam citra raster.
Pencocokkan Histogram:
Fungsi ini secara matematis menentukan lookup table yang mengkonversi
histogram dari satu citra hingga menyerupai histogram citra lainnya.
Konversi Kecerahan:
Membalikkan kisaran intensitas linear dan nonlinear dari suatu citra,
menghasilkan citra yang memiliki kontras berlawanan dengan citra yang
original. Detil yang gelap menjadi terang dan detil yang terang menjadi gelap.
Persamaan Histogram:
Gunakan rentang kontras nonlinear (nonlinear contrast stretch) yang
mendistribusikan ulang nilai piksel sehingga terdapat jumlah piksel yang
kira-kira sama dengan setiap nilai dalam suatu kisaran.
Normalisasi Topografik (Model Reflektan Lambertian):
Gunakan model reflektan Lambertian untuk mengurangi efek topografik
dalam citra digital. Efek topografik adalah perbedaan pencahayaan yang
penyebabnya hanya karena kelerengan dan aspek kondisi medan berkaitan
dengan ketinggian dan azimut matahari. Hasil akhirnya adalah citra kondisi
medan dengan pencahayaan yang lebih seragam. Ketinggian dan azimut
informasi matahari untuk normalisasi topografik setiap citra tersedia saat
analis mengunduh metadata citra tersebut. Analis harus memilih Digital
Elevation Model yang baik sebagai input data untuk normalisasi topografik.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
31
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Indeks Vegetasi
Indeks vegetasi adalah penghitungan radiometrik
tanpa dimensi yang mengindikasikan kelimpahan
relatif dan bentuk vegetasi hijau. Ini mencakup indeksarea-daun (leaf-area-index atau LAI), persentase
tutupan warna hijau, dan konten klorofil dalam
biomassa hijau serta radiasi aktif fotosintesis terserap
(absorbed photosynthetically active radiation atau
APAR). Berdasarkan Running et al. (1994) dan Huete
dan Justice (1999), indeks vegetasi seharusnya:
Normalisasi Perbedaan Indeks Vegetasi
Indeks vegetasi sebenarnya yang pertama adalah
Rasio Sederhana (SR), yaitu rasio kekuatan pancaran
gelombang merah (red reflected radiant flux atau Pred)
sampai kekuatan pancaran gelombang inframerah
dekat (near-infrared reflectance flux atau Pnir)
sebagaimana dijelaskan dalam Birth dan McVey (1968):
SR = Pred / Pnir
Indeks vegetasi adalah untuk digunakan sebagai indikatif tutupan vegetasi,
untuk menunjukkan tutupan vegetasi dan non-vegetasi yang akan digunakan
dengan kelas hutan dan tutupan lahan non-hutan tak terbimbing.
Rasio Sederhana (Simple Ratio or SR) menyampaikan informasi penting
mengenai biomassa vegetasi atau Indeks Area Daun (LAI) (Schlerf et al.,
2005). Rasio ini sangat sensitif terhadap variasi biomassa dan/atau LAI
dalam vegetasi berbiomassa tinggi seperti hutan (Huete et al., 2002).
• Memaksimalkan sensitivitas terhadap parameter biofisik tumbuhan, lebih
diutamakan yang memiliki respon linear agar terdapat sensitivitas untuk
berbagai kondisi vegetasi yang beragam, dan untuk memfasilitasi validasi dan
kalibrasi indeks;
Rouse et al. (1974) mengembangkan Normalised Difference Vegetation
Index (NDVI) generik sebagai indikator grafik yang dapat digunakan untuk
menganalisis tutupan vegetasi. NDVI dihitung sebagai rasio (inframerah
dekat –saluran merah) dengan (saluran inframerah dekat + saluran merah):
• Normalisasi efek eksternal modal seperti sudut matahari, sudut penglihatan,
dan atmosfer untuk perbandingan spasial dan temporal yang lebih konsisten;
NDVI = (Pnir – Pred) / (Pnir + Pred)
• Normalisasi efek internal seperti variasi latar belakang tajuk, termasuk
topografi (kelerengan dan hadapan lereng), variasi tanah dan perbedaan
pada tumbuhan tua atau berkayu (komponen tajuk non-fotosintetik); dan
• Gabungkan dengan beberapa parameter biofisik terukur khusus seperti
biomassa, LAI atau APAR sebagai bagian dari upaya validasi dan kontrol
kualitas.
Ada banyak indeks vegetasi yang dapat digunakan dalam analisis SKT. Toolkit
SKT ini menitikberatkan NDVI dan transformasi Kauth-Thomas Tasseled Cap,
yang merupakan indeks yang direkomendasikan untuk Pendekatan SKT.
Hasil NDVI akan berkisar antara -1 dan +1.
NDVI secara fungsional adalah sama dengan SR. NDVI pada dasarnya adalah
transformasi linear untuk Rasio Sederhana. Tidak ada persebaran dalam SR jika
dibandingkan dengan plot NDVI, dan setiap nilai SR memiliki nilai NDVI tetap.
NDVI adalah indeks vegetasi yang penting karena:
• Perubahan musiman dan tahunan pada pertumbuhan dan aktivitas
vegetasi bisa dimonitor.
• NDVI menreduksi berbagai bentuk gangguan perbanyakan (perbedaan
pencahayaan matahari, bayangan dari awan, beberapa penipisan
atmosfer, dan beberapa variasi topografi) yang ada di berbagai saluran
dari citra multi-temporal.
Namun, ada beberapa kelemahan pada NDVI yang harus dipertimbangkan
analis, termasuk:
“Indeks vegetasi adalah penghitungan
radiometrik tanpa dimensi yang
mengindikasikan kelimpahan relatif
dan bentuk vegetasi hijau”
• Rasio berdasarkan indeks bersifat nonlinear dan bisa dipengaruhi oleh
efek gangguan tambahan seperti hamburan cahaya atmosferik
(atmospheric path radiance).
• NDVI berkorelasi erat dengan LAI. Namun hubungannya mungkin tidak
terlalu kuat pada saat LAI maksimal, tampaknya karena saturasi NDVI
saat LAI sangat tinggi (Wang et al. 2005). Kisaran dinamis NDVI
direntangkan demi kondisi biomassa rendah dan terkompresi di
kawasan berhutan dengan biomassa tinggi. Karena itu hutan kerapatan
tinggi dan kerapatan menengah sulit dibedakan dalam NDVI. Hal yang
sebaliknya berlaku untuk Rasio Sederhana, di mana sebagian besar
kisaran dinamis meliputi hutan dengan biomassa tinggi dengan sedikit
variasi yang berlaku untuk wilayah dengan biomassa rendah (contohnya
padang rumput serta bioma kering dan semi-kering).
• NDVI sangat sensitif terhadap variasi pada latar belakang tajuk, seperti
apabila tanah terlihat melalui tajuk. Nilai NDVI akan sangat tinggi
dengan latar belakang tajuk yang gelap.
32
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Transformasi Kauth-Thomas Tasseled Cap
Transformasi Tasseled Cap (TC) adalah indeks vegetasi
global yang memisahkan nilai kecerahan tanah, vegetasi
dan kandungan kelembaban dalam setiap satuan piksel.
Dengan metode ini, setiap citra ditransformasi
menggunakan koefisien TC yang spesifik untuk satelit
tersebut untuk menciptakan indeks vegetasi. Nilai
TC dihasilkan dengan mengkonversi saluran original
menjadi serangkaian saluran baru dengan interpretasi
terdefinisi yang bermanfaat dalam pemetaan vegetasi.
Wilayah urban adalah salah satu yang paling terlihat
dalam citra terang. Saluran TC yang kedua berkaitan
dengan “kehijauan” dan biasanya digunakan sebagai
indeks vegetasi aktif fotosintetis, yaitu semakin
besar biomassa yang terdapat, maka semakin terang
nilai piksel dalam citra kehijauan tersebut.
Saluran TC yang ketiga sering kali diinterpretasikan sebagai indeks kelembaban
(sebagai contoh, kelembaban tanah atau permukaan) atau kekuningan vegetasi
(antara lain, jumlah vegetasi mati/kering). Parameter TC keempat adalah awan/
kabut. Perlu diperhatikan bahwa koefisien TC dapat dihitung berdasarkan
kondisi setempat; Jackson (1983) menjelaskan algoritma dan prosedur
matematika untuk tujuan ini.
Persamaan dan koefisien yang dibutuhkan untuk menghasilkan Indeks
Kecerahan, Kehijauan dan Kelembaban dari citra Landsat MSS, Landsat TM,
Landsat 7 ETM + dan Landsat 8 terdapat di Lampiran B.
“Transformasi Tasseled Cap (TC) adalah
indeks vegetasi global yang memisahkan nilai
kecerahan tanah, vegetasi dan kandungan
kelembaban dalam setiap satuan piksel”
Semua foto: hak cipta TFT©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
33
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Analisis komponen utama
Analisis komponen utama (Principle Component
Analysis atau PCA) adalah alat lain untuk
mengidentifikasi data yang berulang dan
menghasilkan serangkaian informasi baru yang
menggabungkan data-data yang berkorelasi. Data
set komponen utama yang dihasilkan umumnya
lebih kecil daripada data set original, sehingga
mempercepat waktu pemrosesan. Namun,
berbeda dengan Tasseled Cap, aksis baru yang
dihasilkan PCA tidak dispesifikasikan oleh definisi
matriks transformasi analis yang sebelumnya,
tetapi diperoleh dari varian-kovarian atau matriks
korelasi yang dihitung dari analisis data.
Korelasi antar pita saluran yang luas adalah suatu masalah yang sering
dijumpai dalam analisis data citra multispektral, atau dengan kata lain, citra
yang dihasilkan oleh data digital dari berbagai pita panjang gelombang sering
terlihat serupa dan menyajikan data yang pada dasarnya sama. Transformasi
komponen utama dan kanonikal merupakan dua teknik yang dirancang untuk
mengurangi pengulangan seperti ini pada data multispektrum. Transformasi
ini bisa diaplikasikan sebagai tindakan koreksi sebelum interpretasi visual
data, atau sebagai prosedur pra-pemrosesan klasifikasi digital data. Jika teknik
ini digunakan untuk konteks yang kedua, maka transformasi biasanya akan
meningkatkan efisiensi komputasional proses klasifikasi karena reduksi
dimensionalitas dari data set original. Tujuan prosedur ini adalah untuk
mengompres semua informasi yang terkandung dalam data set saluran-n
original menjadi kurang dari n saluran baru. Saluran baru digunakan untuk
menggantikan data original.
Prosedur umum PCA dapat dibagikan menjadi tiga tahap:
1. Perhitungan matriks varian-kovarian (atau korelasi) yang terdiri dari
citra multi-saluran (multiband) (sebagai contoh pada citra enamsaluran, matriks varian-kovarian memiliki dimensi 6 x 6)
2. Ekstraksi eigenvalue dan eigenvektor matriks, dan
3. Transformasi fitur bentuk koordinat menggunakan eigenvektor tersebut
Singkatnya, nilai data citra komponen utama pada dasarnya berupa
kombinasi linear dari nilai data original dikalikan dengan koefisien
transformasi yang tepat yang disebut eigenvektor. Dengan demikian,
citra komponen utama dihasilkan dari kombinasi linier data original serta
eigenvektor pada basis piksel kali piksel pada keseluruhan citra.
Ciri penting dari citra komponen PCA adalah bahwa citra komponen
utama yang pertama (PC1) mencakup persentase terbesar dari varian
lembar total dan citra-citra komponen berikutnya (PC2, PC3, PC4, ... PCn)
masing-masing memiliki varian lembar dengan persentase yang semakin
menurun. Selain itu, karena komponen-komponen berikutnya dipilih
untuk menjadi ortogonal terhadap semua komponen sebelumnya, maka
data yang dimiliki tidak berkorelasi.
34
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Semua foto: hak cipta TFT©
Untuk Landsat MSS, dua komponen utama yang pertama (PC1 dan PC2)
menjelaskan hampir semua varian dalam lembar tersebut. Dalam hal ini,
dimensionalitas intrinsik dari data Landsat MSS disebutkan secara efektif
sebagai 2. Serupa dengan ini, tiga komponen utama yang pertama (PC1,
PC2, dan PC3) menjelaskan bahwa hampir semua varian dalam lembar
dan dimensionalitas intrinsik Landsat TM adalah 3. Dengan demikian
Landsat TM atau ETM+ atau Landsat 8 atau data satelit serupa lainnya
sering kali dapat direduksi menjadi hanya tiga citra komponen utama
untuk tujuan klasifikasi.
Deskripsi rinci mengenai prosedur statistik yang digunakan untuk
memperoleh transformasi komponen utama memang melebihi cakupan
toolkit ini, namun dijelaskan dengan baik pada halaman 60-65 dalam
Classification Methods for Remotely Sensed Data oleh Brandt Tso dan Paul
M. Mather (2001). Hal yang terakhir, penting untuk dicatat bahwa PCA
harus dihitung dari saluran biru, hijau, merah, inframerah dekat,
inframerah I gelombang pendek, dan inframerah II gelombang pendek
dengan resolusi spasial yang serupa (contohnya adalah Landsat 8), karena
saluran tersebut memiliki informasi serupa yang diulangi berkaitan
dengan tutupan vegetasi dan lahan.
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Pemilahan kombinasi saluran
untuk klasifikasi
Beberapa opsi kombinasi saluran dapat dipilih dari
saluran original, menggunakan berbagai hasil
transformasi (NDVI, PCA dan Tasseled Cap) untuk
menghasilkan data set saluran yang baru. Analis
akan mencari atau memodifikasi kombinasi saluran
yang sesuai berdasarkan wilayah kajian, ciri tutupan
lahan dan sifat spektralnya. Sebagai contoh, suatu
model elevasi digital bisa dimasukkan secara opsional
dalam data set saluran yang baru untuk menyediakan
informasi topografi. Hal ini dapat mencegah kesalahan
klasifikasi lahan pertanian di atas pegunungan.
Prosesor komputer modern (multicore) dapat
memproses data multispektrum tanpa membutuhkan
banyak waktu tambahan bahkan jika saluran tambahan
dimasukkan dalam klasifikasi.
Opsi berikut ini memberikan beberapa gambaran umum bagi analis
berkaitan dengan pilihan kombinasi saluran untuk klasifikasi. .
Opsi 1
Saluran1 = Saluran Spektral Biru
Saluran2 = Saluran Spektral Hijau
Saluran3 = Saluran Spektral Merah
Saluran4 = Saluran Spektral Inframerah Dekat
Saluran5 = Saluran Spektral Inframerah Menengah
Saluran6 = Saluran Spektral Inframerah Menengah II
Saluran7 = Tasseled Cap Kecerahan
Saluran8 = Tasseled Cap Kehijauan
Saluran9 = Tasseled Cap Kelembaban
DVI (Diatur ulang skalanya menjadi bit data dari saluran
Saluran10 = N
yang telah disebutkan)
Saluran11 = S R (Diatur ulang skalanya menjadi bit data dari saluran
spektral yang telah disebutkan – opsional)
Semua foto: hak cipta USGS ©
Saluran12 = Digital Elevation Model (opsional
Opsi 2
Saluran1 = Komponen Utama 1 (PC1)
Saluran2 = Komponen Utama 2 (PC2)
Saluran3 = Komponen Utama 3 (PC3)
Saluran4 = Nilai Kecerahan Tasseled Cap
Saluran5 = Tasseled Cap Kehijauan
Saluran6 = Tasseled Cap Kelembaban
DVI (Diatur ulang skalanya menjadi bit data dari saluran yang
Saluran7 = N
telah disebutkan)
Saluran8 = S R (Diatur ulang skalanya menjadi bit data dari saluran spektral
yang telah disebutkan – opsional)
Saluran9 = Digital Elevation Model (opsional)
Opsi 3
Data gelombang mikro seperti data Sentinel-1 dapat dimasukkan sebagai
saluran tambahan di opsi 1 dan opsi 2. Walaupun data opsi 1 dan 2 adalah
sangat baik untuk pendeteksian berdasarkan ciri kimiawi obyek spasial, data
gelombang mikro mungkin dapat menyediakan ciri fisik obyek spasial seperti
seberapa kasar permukaan (struktur vegetasi), konstanta dielektrik (kandungan
air) dan orientasi spasial dari obyek spasial relatif terhadap arah sensor. Data
Sentinel-1 dapat diunduh gratis untuk penelitian ilmiah dan tujuan nirlaba.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
35
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Penentuan jumlah dan tipe kelas
Saat citra telah dipilih dan distandarisasikan, tahap
berikutnya adalah mengelompokkan tutupan lahan
menjadi kelas-kelas homogen untuk mengindikasikan
kawasan hutan SKT potensial. Tujuan utama kegiatan
ini adalah untuk membedakan:
• Hutan kerapatan rendah, medium dan tinggi (HK1, HK2, HK3);
• Hutan Regenerasi Muda (HRM);
• Lahan bekas hutan yang telah dibuka atau terdegradasi termasuk
Belukar (B) dan Lahan Terbuka (LT); dan
• Kawasan non-SKT seperti jalan, badan air dan pemukiman.
Seperti yang ditampilkan pada diagram berikut, batas penentuan hutan SKT
potensial adalah antara kategori Belukar dan Hutan Regenerasi Muda, di
mana HRM, HK1, HK2 dan HK3 dianggap sebagai hutan SKT potensial dan B
serta LT tidak termasuk hutan SKT. Dalam Fase Dua dari metodologi ini akan
ada penyesuaian terhadap HRM dan B setelah dilakukan analisis melalui
Decision Tree Analisis Pe Patch tak SKT dan perencanaan konservasi.
Dalam tahap klasifikasi berbasis-citra ini, kawasan hutan non-SKT lainnya yang
memiliki tutupan vegetasi signifikan juga dapat diidentifikasi, dengan contoh
berupa kawasan yang digunakan masyarakat untuk kegiatan agroforestri yang
mungkin terdiri dari campuran vegetasi alami; pohon buah; tanaman hasil
bumi yang diperdagangkan seperti karet, kopi, kakao, atau sawit; dan
tanaman pangan. Kawasan tersebut biasanya telah diidentifikasi melalui
proses pemetaan partisipatif dan FPIC yang digarisbawahi dalam Bab 2. Jika
kawasan tersebut terindikasi pada citra satelit tetapi tidak dimasukkan ke
dalam kawasan yang peta kawasan masyarakat, maka kualitas pemetaan
partisipatif pemanfaatan lahan perlu dipertanyakan, dan tahap tersebut
mungkin perlu diulangi.
KLASIFIKASI SKT
“Proses akhir dari negosiasi dan pelepasan
hak masyarakat untuk memanfaatkan
hutan SKT terjadi setelah proses klasifikasi
SKT diselesaikan”
36
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Kelas tutupan lahan yang didefinisikan dalam proses ini akan beragam
berdasarkan lanskap dan tipe tutupan lahan dalam wilayah konsesi.
Penjelasan mengenai klasifikasi yang umum digunakan disajikan dalam
tabel di halaman berikut. Kategori yang termasuk dalam kategori SKT
diindikasikan sebagai warna hijau. Perhatikan bahwa tabel ini turut
menyajikan faktor kualitatif yang akan tampak jelas saat survey lapangan
telah diselesaikan. Untuk mengingatkan, hutan SKT mungkin akan
tumpang tindih dengan kawasan pemanfaatan masyarakat, seperti pada
hutan yang dimanfaatkan untuk pengumpulan hasil hutan non-kayu atau
untuk berburu. Proses akhir dari negosiasi dan pelepasan hak masyarakat
untuk memanfaatkan hutan SKT terjadi setelah proses klasifikasi SKT
diselesaikan.
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
TABEL: KATEGORI UMUM TUTUPAN LAHAN
KATEGORI
TUTUPAN DESKRIPSI
VEGETASI
HK3, HK2, HK1Hutan Kerapatan Tinggi, Hutan Kerapatan Menengah,
dan Hutan Kerapatan Rendah
Hutan alam dengan tajuk tertutup beragam dari hutan kerapatan tinggi
sampai rendah. Data inventarisasi menunjukkan keberadaan pohon
dengan diameter >30 cm dan didominasi oleh spesies klimaks.
HRM: Hutan Regenerasi Muda
Hutan yang sangat terganggu atau kawasan hutan dalam tahap
regenerasi menuju struktur aslinya. Distribusi diameter didominasi oleh
pohon dengan DBH 10-30 cm dengan frekuensi spesies pionir yang lebih
Di lokasi di mana tegakan hutan homogen atau hampir homogen dapat
diidentifikasi dan dipetakan, contohnya hutan Gelam (Melaleuca spp.) di
Indonesia, perlu dipertimbangkan apakah kawasan tersebut harus
diberlakukan sebagai kelas vegetasi terpisah (non-standar). Jika keputusan
yang dibuat adalah untuk memisahkan kawasan homogen, maka
pendekatan SKT untuk menstratifikasi kawasan vegetasi ke dalam kelas stok
karbon tinggi dan rendah masih berlaku.
Perlu diingat bahwa kisaran dinamis Rasio Sederhana (SR) direntangkan
untuk mendukung kondisi biomassa tinggi seperti kawasan berhutan dan
dikompresi di kawasan dengan biomassa rendah, kawasan dengan vegetasi
yang baru tumbuh dan hutan alami bisa dideteksi dengan metode ini. Selain
itu, data Gelombang Mikro Sentinel-1 bisa dimasukkan untuk mendeteksi
kawasan hutan alami dan kawasan pertumbuhan baru, karena struktur
dinamis tegakan berbeda dan bisa disimpulkan dari kekasaran permukaan.
tinggi dibandingkan dengan HK1. Dalam kelas tutupan lahan ini mungkin
terdapat kawasan-kawasan kecil yang berupa kawasan pertanian atau
plasma.
Catatan: Perkebunan yang ditelantarkan dengan kurang dari 50% luas
bidang dasar terdiri dari tanaman pohon bisa termasuk dalam kategori
ini atau kategori di atas. Tegakan dengan luas bidang dasar > 50% tidak
dianggap sebagai hutan SKT melainkan lahan perkebunan dan harus
diklasifikasi secara terpisah.
B: Belukar
Lahan yang dulunya berupa hutan tetapi telah dibuka dalam waktu yang
belum terlalu lama. Didominasi oleh belukar rendah dengan penutupan
tajuk yang terbatas. Mencakup lahan dengan rerumputan tinggi dan
tumbuhan paku-pakuan dan spesies pohon pionir yang tersebar.
Beberapa patch hutan tua juga mungkin dijumpai dalam kategori lahan ini.
LT: Lahan Terbuka
Lahan yang baru dibuka dan sebagian besar terdiri dari rerumputan
atau tanaman. Sedikit tumbuhan berkayu.
CONTOH KATEGORI NON-SKT LAINNYA
HT: Hutan Tanaman
Kawasan luas yang ditanami pohon (seperti karet, Akasia).
AGRI: Sebagai contoh, perkebunan kelapa sawit skala besar yang tumpang
Semua foto: hak cipta TFT©
Perkebunan Pertanian
tindih dengan wilayah konsesi.
TAMB: Kawasan Pertambangan
Kawasan ini bisa dibedakan lebih lanjut antara kawasan pertambangan
legal/berizin dengan kawasan pertambangan ilegal/tidak sesuai aturan.
PL: Petani Perkebunan Plasma dan Pemanfaatan Plasma
Kawasan ini bisa dibedakan lebih lanjut sebagai sistem hutan
tanaman/agroforestri campuran yang memiliki peran potensial
sebagai koridor satwa liar, sistem pertanian berpindah untuk produksi
pangan subsisten, dll.
(Lainnya)
Badan air seperti sungai dan danau.
Kawasan pembangunan, pemukiman, jalan, dll.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
37
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Pendekatan klasifikasi
Saat citra telah dipilih dan disempurnakan, tutupan
lahan dikelompokkan menjadi kelas-kelas yang relatif
homogen seperti yang dijelaskan di atas untuk
mendelineasi hutan SKT dari hutan non-SKT. Proses
tersebut sebagian besar terdiri dari analisis citra
satelit menggunaan Penginderaan Jarak Jauh dan
perangkat lunak Sistem Informasi Geografis (GIS),
yang menyediakan alat untuk interpretasi tutupan
lahan. Beberapa paket perangkat lunak menyediakan
alat untuk mendukung analisis tutupan lahan, seperti
perangkat lunak Erdas Imagine, ENVI, ESRI Image
Analysis dan OpenSource (Quantum GIS).
Klasifikasi tutupan lahan diterapkan untuk beberapa alasan:
1. Klasifikasi tutupan lahan memungkinkan dilakukannya identifikasi kelas
tutupan lahan yang berbeda dengan kondisi hutan dan non-hutan yang
dapat digunakan dalam analisis citra (sebagai contoh, tutupan tajuk
dan kekasaran lapisan tajuk).
2. Kondisi hutan sering kali (tetapi tidak selalu) berkorelasi dengan stok
karbon hutan dan keanekaragaman hayati. Sebagai contoh, hutan
dengan kerapatan baik biasanya berasosiasi dengan stok karbon tinggi
(dan juga sering kali dengan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi)
dibandingkan hutan terdegradasi dengan kerapatan rendah.
3. Pemisahan tutupan lahan menjadi beberapa kelas memungkinkan
rancangan sampel yang lebih efisien untuk survey lapangan (lihat Bab
4), dan pengkajian hasil inventarisasi hutan dan survei udara yang lebih
sederhana.
Semua foto: hak cipta USGS ©
Kajian SKT umumnya menggunakan kombinasi dari berbagai fase
metodologi untuk memastikan perwakilan tutupan lahan yang akurat,
yaitu analisis berbasis-piksel menggunakan metode tak terbimbing dan
terbimbing, serta metode visual dalam fase lainnya. Apa pun teknik
klasifikasi citra yang digunakan, pengetahuan kondisi lapangan setempat
seperti pemanfaatan lahan, tutupan lahan, tipe hutan dan komposisi
jenis, tipe tanaman pertanian, dan fenologi vegetasi berkaitan dengan ciri
spektral dari data set citra terpilih juga tidak kalah pentingnya.
Pemilihan metode yang digunakan untuk menginterpretasikan citra
biasanya ditentukan oleh tingkat keahlian dan sejauh mana interpreter
familiar dengan lanskap dan tutupan lahan tertentu yang dianalisis.
Sebagai contoh, jika interpreter memiliki pemahaman yang memadai atas
teknik penginderaan jarak jauh mutakhir serta pemahaman baik tentang
kawasan sampel, maka penggunaan teknik klasifikasi terbimbing dan/atau
pengkelasan secara hierarki/bertingkat perangkat yang mirip seperti
Knowledge Engineer & Knowledge Classifier milik ERDAS . Untuk
kawasan tanpa informasi tutupan lahan yang tersedia, interpreter atau
analis dapat memulai analisis menggunakan teknik klasifikasi tak
terbimbing untuk melihat obyek atau fenomena spasial yang serupa
secara spektral atau berdekatan secara spasial.
Pada umumnya, teknik klasifikasi tak terbimbing, terbimbing, dan
klasifikasi Decision Tree hierarkis akan saling melengkapi untuk
menentukan kelas tutupan lahan dalam wilayah kajian.
“Pemilihan metode yang digunakan untuk
menginterpretasikan citra biasanya ditentukan
oleh tingkat keahlian dan sejauh mana
interpreter familiar dengan lanskap tertentu”
38
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Klasifikasi tak terbimbing
Klasifikasi tak terbimbing menggunakan perangkat
lunak pemrosesan citra untuk mengelompokkan piksel
berdasarkan ciri umum tanpa menggunakan kelas
sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Klasifikasi
tak terbimbing menerapkan algoritma segmentasi citra
nilai rata-rata K atau suatu algoritma ISODATA (Iterative
Self-Organising Data Analysis) untuk menentukan
piksel mana yang memiliki spektral serupa dengan
piksel lain dan kemudian mengelompokkannya ke
dalam berbagai kelas-kelas homogen. Pengguna dapat
menentukan algoritma mana yang akan digunakan
oleh perangkat lunak dan jumlah kelas output yang
diinginkan, tetapi selain itu tidak mengintervensi
proses klasifikasi. Namun pengguna harus memiliki
pemahaman tentang kawasan yang diklasifikasi,
karena pengelompokkan piksel berdasarkan ciri serupa
yang dihasilkan oleh klasifikasi tak terbimbing harus
berkaitan dengan fitur nyata di lapangan (seperti lahan
basah, kawasan yang telah dikembangkan, hutan
konifer, dll.).
Kelas-kelas yang dihasilkan oleh klasifikasi tak terbimbing merupakan kelas
spektral. Karena ini tidak hanya didasarkan pengelompokkan alami dari nilai
citra, identitas kelas spektral tidak akan diketahui dari awal. Analis harus
membandingkan kelas spektral yang diklasifikasi dengan beberapa bentuk data
referensi seperti peta yang sudah ada atau kunjungan lapangan untuk
menentukan identitas dan nilai informasi atau kelas informasi kelas spektral.
Saat analis telah menentukan kelas yang dapat dipisahkan secara spektral dan
mendefinisikan kegunaan informasinya, kelas spektral dapat dikelompokkan
menjadi sekumpulan kategori sebagaimana diinginkan oleh analis.
Kadang analis akan menjumpai bahwa beberapa kelas spektral berkaitan
dengan lebih dari satu kategori informasi. Contohnya, kelas spektral 3 mungkin
dijumpai berkaitan dengan Hutan Regenerasi Muda di beberapa lokasi dan
Hutan Kerapatan Rendah di lokasi lainnya. Demikian juga kelas spektral 6
mungkin mencakup Hutan Kerapatan Menengah dan Hutan Kerapatan Tinggi.
Ini menunjukkan bahwa kategori informasi tersebut serupa secara spektral dan
tidak dapat dibedakan dalam suatu data set tertentu. Untuk kasus seperti ini,
analis mungkin bisa mempertimbangkan mencakup saluran-saluran tambahan
ke dalam data set tersebut, sebagaimana telah dibahas sebelumnya.
Secara keseluruhan, kualitas klasifikasi tak terbimbing akan tergantung kepada
pemahaman analis mengenai konsep pengklasifikian yang ada dan
pengetahuannya mengenai tipe tutupan lahan yang dianalisis. Saat
menggunakan klasifikasi tak terbimbing dalam proses SKT, umumnya 16 kelas
sudah cukup untuk menentukan kelas hutan dan non-hutan, yang kemudian
akan dikombinasikan dengan tutupan vegetasi, dan dapat dijadikan referensi
untuk menentukan lokasi plot lapangan (lihat Bab 4).
Semua foto: hak cipta TFT©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
39
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Klasifikasi terbimbing
Klasifikasi terbimbing didasari konsep bahwa pengguna
dapat memilih sampel piksel dalam suatu citra
yang mewakili kelas-kelas tertentu dan kemudian
menginstruksikan perangkat lunak pemrosesan untuk
menggunakan areal contoh sebagai referensi klasifikasi
piksel lain dalam citra tersebut. Areal contoh (juga
disebut set atau kelas input percontohan) dipilih
berdasarkan pengetahuan pengguna. Pengguna juga
menetapkan batasan seberapa mirip piksel lain untuk
dapat dikelompokkan bersama. Batasan ini sering kali
ditetapkan berdasarkan ciri spektral dari areal contoh,
plus minus rentang tertentu (sering kali berdasarkan
“kecerahan” atau kekuatan pantulan dalam saluran
spektral tertentu). Pengguna juga menentukan jumlah
kelas untuk klasifikasi citra.
Terdapat tiga tahap dasar dalam prosedur klasifikasi terbimbing umum:
1. Dalam tahap contoh, analis mendefinisikan areal contoh yang mewakili dan
mengembangkan deskripsi numerik untuk atribut spektral setiap tipe
tutupan lahan yang dikaji dalam lembar tersebut.
Tahap Contoh
Tujuan keseluruhan dari tahap contoh adalah menyusun serangkaian statistik
yang menjelaskan pola respon spektral untuk semua tipe tutupan lahan yang
akan diklasifikasikan dalam suatu citra. Perlu dicatat bahwa semua kelas
spektral yang membentuk setiap kelas informasi harus diwakili secara memadai
dalam statistik contoh yang digunakan untuk mengklasifikasi suatu citra. Tidak
jarang dilakukan pengumpulan data dari 100 areal contoh atau lebih untuk
mewakili variabilitas spektral dalam suatu citra secara memadai. Output
histogram dari setiap areal contoh sangat penting khususnya saat klasifikasi
kemungkinan maksimal (Maximum Likelihood) digunakan, karena berfungsi
mengecek formalitas distribusi respon spektral. Remote Sensing and Image
Interpretation oleh Liliesand dan Kiefer (Edisi kelima, 2004) memberikan
informasi lengkap dan contoh bagaimana mengidentifikasi areal contoh yang
valid secara statistik.
Bagian areal contoh dan evaluasi statistik sampel contoh membutuhkan
waktu yang banyak, tetapi merupakah tahap penting untuk klasifikasi
berkualitas baik. Analis perlu menghabiskan waktu yang cukup untuk
mengembangkan sampel contoh yang representatif dan terpisah secara
statistik yang mewakili kelas-kelas informasi. Matriks galat klasifikasi
(dijelaskan kemudian dalam bab ini) dapat disusun pada rangkaian contoh
piksel dan hasil klasifikasi terbimbing.
2. Dalam tahap klasifikasi, setiap piksel dalam data set citra dikategorikan
ke dalam kelas tutupan lahan yang paling serupa. Apabila piksel tidak
cukup menyerupai data set contoh apa pun, maka biasanya Piksel
tersebut diklasifikasikan atau diberi label ‘tidak diketahui’.
3. Setelah semua data set telah dikategorikan, hasilnya kemudian disajikan
pada tahap output. Output terklasifikasi kemudian menjadi input GIS.
Setiap tahapan di atas dijelaskan lebih lanjut dalam halaman-halaman berikut.
Semua foto: hak cipta TFT©
“Klasifikasi terbimbing didasari konsep bahwa
pengguna dapat memilih sampel piksel dalam
suatu citra yang mewakili kelas-kelas tertentu
dan kemudian menjadi referensi klasifikasi
piksel lain dalam citra tersebut”
40
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Tahap klasifikasi
Walaupun banyak teknik dapat digunakan untuk tahap klasifikasi terbimbing,
toolkit ini terfokus pada detil klasifikasi Kemungkinan Maksimal Gaussian dan
juga secara singkat menjelaskan penggunaan decision tree untuk klasifikasi
terbimbing hierarkis.
Klasifikasi Kemungkinan Maksimal Gaussian mengevaluasi secara kuantitatif
varian dan kovarian dari pola respon kategori (dari statistik sampel contoh)
saat pengklasifikasian piksel yang tidak diketahui. Suatu asumsi dibuat bahwa
distribusi titik awan yang menyusun kategori data contoh adalah Gaussian, atau
dengan lain kata, memiliki distribusi normal. Dalam asumsi ini, distribusi pola
respon kategori dapat dijelaskan secara lengkap oleh vektor rataan dan matriks
kovarian. Dengan parameter ini, klasifikasi menghitung peluang statistik suatu
nilai piksel tergolong dalam suatu kelas tutupan lahan atau kelas SKT tertentu.
Setelah mengevaluasi peluang dalam setiap kategori, piksel tersebut akan
ditetapkan sebagai kelas yang paling memungkinkan (dengan nilai peluang
terbesar) atau diberi label sebagai ‘tidak diketahui’ jika semua nilai peluangnya
berada di bawah ambang batas yang telah ditentukan oleh analis.
Foto: hak cipta USGS ©
Suatu ekstensi pendekatan kemungkinan maksimal adalah klasifikasi Bayes,
yang memberlakukan dua rata-rata terbobot untuk estimasi peluang. Pertama,
analis menentukan “peluang a priori” atau peluang yang diantisipasi atas
munculnya setiap kelas dalam suatu lembar atau citra tertentu. Kedua,
bobot terkait biaya kesalahan klasifikasi diterapkan pada setiap kelas. Dengan
digabungkannya kedua faktor tersebut maka akan meminimalkan biaya
kesalahan klasifikasi, dan secara teori akan menghasilkan klasifikasi optimal.
Pada kenyataannya, klasifikasi kemungkinan maksimal dilakukan dengan asumsi
peluang yang sama antara munculnya setiap kelas dalam suatu lembar atau
citra dengan biaya kesalahan klasifikasi untuk semua kelas.
Klasifikasi kemungkinan maksimal memiliki penghitungan intensif untuk
mengklasifikasi setiap piksel, khususnya jika melibatkan jumlah saluran spektral
yang besar atau jika sejumlah besar kelas spektral harus dibedakan, namun
prosesor komputer multi-core modern mampu memproses tahap klasifikasi ini
dengan relatif cepat. Cara lain untuk mengoptimalisasi klasifikasi kemungkinan
maksimal adalah dengan menggunakan Komponen Utama (PC1, PC2 dan PC3)
daripada saluran originalnya untuk melakukan klasifikasi.
Suatu alternatif dari Klasifikasi Kemungkinan Maksimal adalah penggunaan
decision tree, yang memberlakukan klasifikasi stratifikasi atau stratifikasi
berlapis untuk menyederhanakan penghitungan dan menjaga akurasi klasifikasi.
Klasifikasi ini diterapkan dalam serangkaian tahapan, dengan beberapa kelas
tertentu dibedakan dalam setiap tahapnya dengan cara yang paling sederhana.
Sebagai contoh, air bisa dibedakan dari saluran inframerah dekat berdasarkan
nilai ambang batas sederhana. Kelas-kelas tertentu mungkin membutuhkan
kombinasi dua atau tiga saluran untuk dikategorikan menggunakan algoritma
klasifikasi sederhana seperti Klasifikasi Jarak Minimal hingga Rata-rata atau
Klasifikasi Parallelepiped. Penggunaan jumlah saluran yang lebih banyak atau
Klasifikasi Kemungkinan Maksimal hanya akan diterapkan untuk kategori
tutupan lahan di mana masih terdapat sisa ambiguitas antar kelas yang
tumpang tindih dalam bentuk penghitungan. Kemudian, regresi logis
multinomial dapat diterapkan dengan statistik sampling contoh untuk
menghasilkan peluang setiap piksel dalam kelas informasi dibandingkan
menggunakan Klasifikasi Kemungkinan Maksimal.
Banyak analis menggunakan kombinasi metode klasifikasi terbimbing dan
tak terbimbing untuk mengembangkan analisis dan klasifikasi akhir untuk
peta indikatif.
“Banyak analis menggunakan kombinasi
metode klasifikasi terbimbing dan tak
terbimbing untuk mengembangkan analisis
dan klasifikasi akhir untuk peta indikatif”
1. Halaman 271-277 dalam Resource Management Information Systems: Remote Sensing, GIS and Modelling (edisi
kedua) oleh Keith R. McCloy memberi penjelasan lebih lanjut mengenai Klasifikasi Kemungkinan Maksimal.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
41
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Studi kasus: Kalimantan Barat
Dalam kasus berikut dari Kalimantan Barat, Indonesia,
citra satelit Landsat 8 diproses dengan ArcGIS
10.1 dengan Analisis Citra tambahan untuk
mengklasifikasikan tutupan lahan. Pertama dilakukan
pra-pemrosesan terhadap citra satelit sebagaimana
dibutuhkan untuk menghasilkan citra batas area
kajian seperti yang ditampilkan di sebelah kanan.
Dengan alat perangkat lunak pemrosesan citra yang ada, enam lokasi
contoh dipilih, mewakili enam kelas tutupan lahan SKT sebagaimana
terlihat pada gambar tengah.
Setelah sampel contoh dianggap memadai dan mewakili, klasifikasi
terbimbing menggunakan pendekatan klasifikasi kemungkinan maksimal
dilakukan menggunakan perangkat lunak pemrosesan. Hasil dari ini adalah
peta vegetasi sementara berdasarkan analisis citra yang terlihat pada
gambar paling bawah.
42
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Klasifikasi visual
Proses klasifikasi visual atau digitasi manual lanjut
mungkin untuk dilakukan oleh analis berpengalaman
dengan pengetahuan yang baik tentang kondisi
tutupan lahan di kawasan yang dikaji. Analis mampu
menentukan setiap kelas tutupan lahan melalui
analisis citra satelit di layar. Citra sering kali diperbaiki
untuk membantu identifikasi kelas-kelas yang ada.
Interpreter harus memiliki pemahaman tentang
kunci-kunci interpretasi dari tutupan lahan di lokasi
kajian, nilai integritas, serta pengalaman profesional
dan lapangan dari lokasi kajian.
FASE STRATIFIKASI VEGETASI VISUAL
Klasifikasi visual digunakan setelah citra sudah dikalibrasi dan standarisasi
apabila digunakan berbagai citra dalam suatu mosaik. Apabila digunakan
sebagai teknik tersendiri, klasifikasi visual biasanya merupakan teknik paling
akurat jika pengguna memiliki pemahaman baik tentang lokasi kajian.
Namun, akurasi memiliki sisi lain, yaitu teknik ini membutuhkan waktu
banyak untuk digitasi. Selain itu teknik ini bisa bersifat bias, dan maka dari
itu hanya dapat digunakan sebagai proses tersendiri dengan penggunaan
data citra beresolusi tinggi dan dengan pengguna yang memahami lokasi
kajian dengan baik.
Alternatifnya, klasifikasi visual dapat digunakan untuk mendukung proses
terbimbing dan tak terbimbing, karena dapat menghasilkan eror atau bias,
khususnya pada kawasan dengan kualitas citra yang tidak memadai karena
kabut, asap, bayangan akibat topografi atau awan. Galat atau bias ini dapat
diminimalisasikan melalui pengendalian kualitas visual oleh interpreter.
Untuk kawasan dengan interpretasi yang tidak tepat, perlu dilakukan
koreksi untuk mencocokkan kondisi yang diketahui. Dalam fase ini, hasil
interpretasi tak terbimbing atau terbimbing (jika ada) digabungkan dengan
elemen lain seperti informasi mengenai tipe tahan dan curah hujan.
Pemahaman lokasi kajian adalah kunci untuk menghasilkan klasifikasi yang
baik dan akurat. Dengan demikian, semakin baik pengetahuan interpreter
mengenai suatu lokasi tertentu, maka semakin kecil bias galat yang dihasilkan.
Fase stratifikasi vegetasi visual dapat dilihat pada diagram di sebelah kanan.
Informasi numerik lainnya seperti suhu, curah hujan, kelembaban, radiasi
matahari, grid kecepatan angin, digital elevation model dan digital terrain
model dapat ditambahkan sebagai saluran tambahan untuk klasifikasi
hanya jika data tersebut menyediakan informasi tambahan untuk
membedakan kelas-kelas spektral. Informasi tambahan seperti tipe tanah,
geologi, geomorfologi dan lokasi vegetasi dapat diterapkan untuk
menyempurnakan interpretasi tanpa bias.
Untuk kajian SKT, penulis merekomendasikan agar stratifikasi visual tidak
digunakan praktisi penginderaan jarak jauh sampai pengalaman yang cukup
banyak telah diperoleh melalui percobaan metodologi SKT dengan
klasifikasi terbimbing atau tak terbimbing yang digabungkan dengan analisis
lapangan sebagaimana dijelaskan pada bab berikutnya.
“Pemahaman lokasi kajian adalah kunci
untuk menghasilkan klasifikasi yang baik
dan akurat. Dengan demikian, semakin baik
pengetahuan interpreter mengenai suatu
lokasi tertentu, maka semakin kecil bias
galat yang dihasilkan”
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
43
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Kajian akurasi terhadap citra terklasifikasi
Bagian ini menjelaskan tentang pengkajian akurasi
yang dilakukan untuk meninjau klasifikasi. Untuk
informasi lebih lanjut tentang pengkajian akurasi,
Remote Sensing Thematic Accuracy Assessment:
A Compendium (1994) oleh ASPRS dan Assessing
the Accuracy of Remotely Sensed Data: Principle
and Practices (Congalton dan Green, 1999) adalah
referensi yang baik.
Matriks galat klasifikasi berdasarkan data set sampel contoh
Penyusunan matriks galat klasifikasi, confusion matrix atau tabel kontingensi
adalam metode yang umum dilakukan untuk menyatakan akurasi klasifikasi.
Matriks galah membandingkan, berdasarkan kategori, hubungan antara data
referensi yang diketahui (hasil pengecekan lapangan) dan hasil terkait dari
klasifikasi citra.
Tabel berikut merupakan contoh matriks galat berdasarkan sampel contoh dan
hasil klasifikasi berdasarkan Liliesand dan Kiefer (2004). Tabel ini menyajikan
contoh bagaimana suatu proses klasifikasi telah mengategorikan perwakilan
subset piksel menggunakan proses contoh dalam klasifikasi terbimbing dengan
baik. Matriks ini berasal dari pengklasifian sampel yang diklasifikasi menjadi
kategori tutupan lahan yang diinginkan dalam sebuah diagonal utama (warna
kuning) dari matriks galat. Semua elemen non-diagonal matriks ini mewakili
galat omisi (dikecualikan) dan komisi (disertakan).
Galat omisi berkaitan dengan elemen KOLOM non-diagonal, contohnya adalah
16 piksel yang telah diklasifikasikan sebagai “P” untuk Pasir dikeluarkan dari
kategori. Akurasi produser dihitung dengan membagi jumlah piksel yang
diklasifikasikan dengan benar di setiap kategori (di diagonal utama) dengan
jumlah piksel rangkaian contoh yang digunakan untuk kategori tersebut (total
kolom). Dalam hal ini akurasi produser berkisar dari 51% sampai 100% dan
merupakan suatu ukuran galat omisi dan mengindikasikan sebaik apa piksel
rangkaian contoh untuk tipe tutupan lahan tertentu telah diklasifikasikan.
Galat komisi diwakili oleh elemen baris non-diagonal, contohnya yaitu 38 piksel
urban (U) dan 79 piksel jerami (Jr) dengan salah dimasukkan dalam kategori
jagung (Jg). Akurasi pengguna dihitung dengan cara membagi jumlah piksel
yang diklasifikasi dengan benar dengan jumlah total piksel yang diklasifikasikan
dalam kategori tersebut (total baris). Akurasi pengguna merupakan suatu
perhitungan galat komisi dan mengindikasikan peluang bahwa suatu piksel yang
diklasifikasikan ke dalam suatu kategori memang sebenarnya mewakili kategori
terebut di lapangan. Dalam contoh ini, akurasi pengguna berkisar dari 72%
sampai 99%.
Akurasi keseluruhan dihitung dengan membagi jumlah piksel yang diklasifikasi
dengan benar (jumlah elemen sepanjang diagonal utama) dengan jumlah total
piksel referensi. Akurasi keseluruhan dalam tabel kontingensi adalah 84%.
Penting untuk mencatat bahwa matriks galat contoh didasari data contoh, dan
prosedur tersebut hanya mengindikasikan sebagaimana baik statistik yang
diekstraksi dari area tersebut dapat digunakan untuk mengkategorisasikan area
yang sama. Jika hasilnya baik, maka artinya tidak lebih dari bahwa area contoh
adalah homogen, kelas contoh terpisah secara spektral, dan bahwa strategi
klasifikasi yang digunakan berjalan baik di area contoh. Hal ini tidak
mengindikasikan banyak tentang bagaimana performa klasifikasi tersebut pada
lembar lainnya. Akurasi area contoh sebaiknya tidak digunakan sebagai indikasi
dari akurasi keseluruhan.
MATRIKS GALAT KLASIFIKASI BERDASARKAN DATA SET SAMPEL CONTOH
Data Rangkaian Contoh (Tipe tutupan lahan yang diketahui)
W
S
F
U
C
H
Total Baris
Data klasifikasi
W
S
F
U
C
H
Total Kolom 480 0
0
0
0
0
480 Akurasi keseluruhan = (480 + 52 + 313 +126 + 342 +359) / 1992 = 84%
44
0
52 0
16 0
0
68 TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
5
0
313 0
0
38 356 0
20 40 126 38 246
248 0
0
0
0
342 60 402 0
0
0
0
79 359 438 485
72
353
142
459
481
1992
Akurasi Produser:
W = 480/480 = 100%
S = 52/68 = 76%
F = 313/356 = 88%
U = 126/248 = 51%
C = 342/402 = 85%
H = 359/438 = 82%
Akurasi Pengguna: W = 480/485 = 99%
S = 52/72 = 72%
F = 313/353 = 87%
U = 126/142 = 89%
C = 342/459 = 74%
H = 359/481 = 75%
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Pertimbangan sampling di area uji coba
Mengevaluasi matriks galat klasifikasi berdasarkan area uji coba atau pixel test
Untuk menilai akurasi klasifikasi lembar, harus dipilih area uji coba yang
mewakili dengan tutupan lahan yang seragam. Area uji coba bisa dipilih
berdasarkan kerangka pengambilan contoh yang acak, acak terstratifikasi,
atau sistematis. Area contoh dapat dipilih pada saat tahap seleksi sampel
contoh, dengan menyisihkan sedikit sampel contoh sebagai area uji coba
yang tidak akan digunakan sebagai bagian rangkaian sampel contoh. Unit
sampling yang tepat bisa jadi merupakan satuan piksel, sekelompok piksel
atau poligon. Sampling poligon merupakan pendekatan yang paling umum
digunakan.
Saat data akurasi dikumpulkan berdasarkan area uji coba (dalam bentuk
piksel, sekelompok piksel, atau poligon) dan dirangkum dalam matriks
galat, maka data tersebut akan melalui interpretasi mendetil serta analisis
statistik lanjutan. Matriks galat di bawah ini disusun berdasarkan pixel test
yang diambil secara acak, juga dari Liliesand dan Kiefer (2004):
Sebagai panduan umum, setidaknya 50 sampel dari setiap kategori vegetasi
atau tutupan lahan harus dimasukkan sebagai area uji coba ke dalam matriks
galat untuk penilaian akurasi lembar klasifikasi secara keseluruhan. Jika area
tersebut cukup luas (misalnya, lebih dari 400 ha) atau banyak jumlah vegetasi
atau kategori tipe tutupan dan pemanfaatan lahan (lebih dari 12 kategori)
yang digunakan dalam klasifikasi maka jumlah sampel minimal harus
diperbanyak dari 75 menjadi 100 sampel untuk setiap kategori (Congalton
dan Green, 1999, hal. 18). Sampel yang lebih banyak harus dipilih untuk
kategori yang lebih penting atau lebih bervariasi.
“Sebagai panduan umum, setidaknya 50
sampel dari setiap kategori vegetasi atau
tutupan lahan harus dimasukkan sebagai
area uji coba ke dalam matriks galat untuk
penilaian akurasi lembar klasifikasi secara
keseluruhan”
Akurasi keseluruhan hanya 65%. Jika tujuan dari pemetaan ini adalah
untuk menentukan lokasi hutan (H), maka akurasi produsernya cukup baik
dengan 84%. Kita dapat menyimpulkan bahwa walaupun akurasi
keseluruhan buruh (65%), tetapi cukup jika untuk tujuan pemetaan hutan.
Masalah dengan kesimpulan ini adalah bahwa akurasi pengguna untuk
hutan adalah hanya 60%. Dengan kata lain, walaupun 84% dari kawasan
berhutan telah diidentifikasi dengan benar sebagai hutan, hanya 60% area
yang telah diidentifikasi sebagai hutan dalam proses klasifikasi merupakan
benar-benar kategori itu. Pengguna klasifikasi ini akan menjumpai bahwa
area yang diidentifikasi sebagai hutan dari proses klasifikasi akan terbukti
merupakan hutan berdasarkan hanya 60% dari kunjungan lapangan.
Pengecekan matriks galat yang lebih teliti akan menunjukkan bahwa ada
kekeliruan yang lebih besar antara hutan dan kawasan urban (U). Dalam
matriks contoh ini, satu-satunya kategori yang tepercaya berkaitan
dengan klasifikasi tersebut dari sudut pandang produser dan pengguna
adalah kategori air (A).
MATRIKS GALAT BERDASARKAN PIXEL TEST
Data klasifikasi
W
S
F
U
C
H
Total Baris Data Referensi untuk Pixel Test yang Dipilih Secara Acak
W
S
F
U
C
H
Total Baris
226 0
3
2
1
1
233 239
309
599
521
453
359
2480
Akurasi keseluruhan = (226 + 216 + 360 + 397 + 190 + 219) / 2480 = 65%
0
216 0
108 4
0
238 0
0
360 2
48 19 429 12 92 228 397 132 84
945 0
1
3
8
190 36 238 1
0
5
4
78 219 307 Galat Omisi:
W = 226/233 = 97%
S = 216/328 = 66%
F = 360/429 = 84%
U = 397/945 = 42%
C = 190/238 = 80%
H = 219/307 = 71%
Galat Komisi:
W = 226/239 = 94%
S = 216/309 = 70%
F = 360/599 = 60%
U = 397/521 = 76%
C = 190/453 = 42%
H = 219/359 = 75%
1. Halaman 271-277 dari Resource Management Information Systems: Remote Sensing, GIS and Modelling (edisi
kedua) oleh Keith R. McCloy menyajikan lebih banyak detil mengenai Klasifikasi Kemungkinan Maksimal.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
45
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Statistik Nilai Khat
Statistik Khat adalah ukuran perbedaan antara kejadian sebenarnya (actual
agreement) antara data referensi dan klasifikasi otomatis dengan peluang
terjadi antara data referensi dan klasifikasi acak. Secara konsep statistik
Khat didefinisikan sebagai berikut:
Khat = frekuensi teramati – peluang terjadi) / (1 – peluang terjadi)
Statistik ini berperan sebagai indikator sejauh mana persentase nilai
benar dari suatu matriks galat berasal dari kejadian “sebenarnya”
dibandingkan dengan “peluang” kejadian. Saat kejadian sebenarnya
(teramati) mendekati 1 dan peluang terjadi mendekati 0, nilai Khat
mendekati 1. Pada kenyataanya, nilai Khat berkisar antara 0 sampai 1.
Sebagai contoh, nilai Khat sebesar 0,67 dapat diinterpretasikan sebagai
suatu indikasi bahwa klasifikasi teramati sebesar 67% adalah lebih baik
dibandingkan sesuatu yang didasari peluang. Nilai Khat sebesar nol
menunjukkan bahwa klasifikasi tersebut tidak lebih baik dibandingkan
penunjukkan piksel secara acak. Jika peluang terjadi memiliki nilai lebih
besar, Khat bisa jadi bernilai negatif, yang merupakan indikasi kinerja
klasifikasi yang sangat buruk.
Nilai Khat dihitung sebagai beriku
Khat =
Keterangan:
r
= jumlah baris dalam matriks galat
xii = jumlah pengamatan dalam baris i dan kolom i (pada diagonal
utama)
xi+ = jumlah pengamatan total dalam baris i (ditunjukkan sebagai
total marginal di sebelah kanan matriks
x+i = u
mlah pengamatan total dalam kolom i (ditunjukkan sebagai
total marginal di bagian bawah matriks)
N
= jumlah total pengamatan dalam matriks
Untuk matriks galat yang ditampilkan di atas, nilai Khat dihitung sebagai berikut:
∑i=1xii
= 226 + 216 + 360 + 397 +190 + 219 = 1608
∑i=1(xi+*x+i) = (239 * 233) + (309 * 328) + (599 * 429) + (521 * 945) + (453
* 238) + (359 * 307) = 1,124, 382
Khat =
Khat = 0.57
(2480 (1608) - 1124382)
24802 - 1124382)
Atas: Foto hak cipta USGS ©
Kiri: Foto hak cipta TFT ©
46
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Nilai Khat (0,57) lebih rendah dibandingkan akurasi keseluruhan (0,67) yang
dihitung sebelumnya. Untuk mengingatkan, akurasi keseluruhan hanya
mencakup data sepanjang diagonal utama dan tidak termasuk galat omisi
dan komisi. Khat melibatkan elemen diagonal dan non-diagonal matriks
galat sebagai hasil perkalian marginal baris dan kolom. Salah satu
keuntungan perhitungan Khat adalah kemampuan menggunakan nilai
ini sebagai basis penentuan perbedaan nyata secara statistik dari suatu
matriks tertentu atau perbedaan antar matriks.
Biasanya hal yang lebih diinginkan adalah menghitung dan menganalisis
akurasi keseluruhan dan statistik Khat. Analis harus menyajikan matriks
galat berdasarkan sampel contoh, matriks galat area uji coba atau piksel
contoh, akurasi keseluruhan, akurasi produser, akurasi pengguna dan
statistik Khat dari matriks galat yang diberikan untuk mengontrol kualitas
dari klasifikasi SKT.
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Kontrol kualitas, finalisasi klasifikasi
tutupan lahan awal serta tahap berikutnya
Tahap-tahap finalisasi klasifikasi tutupan lahan awal
dijelaskan sebagai berikut.
Konversi raster ke vektor
Konversi citra raster menjadi format vektor untuk memudahkan pengeditan
batas kelas tutupan lahan.
Menghapus patch kecil
Penghapusan poligon kecil (4 piksel atau kurang) dilakukan dengan cara
menggabungkannya dengan poligon terdekat yang lebih besar dengan
properti serupa; menghapus kepingan poligon (poligon kecil memanjang)
dilakukan dengan rasio area/perimeter. Area atau unit pemetaan minimal
harus ditetapkan untuk menghapus kepingan poligon kecil.
Menginkorporasikan informasi tutupan lahan lainnya
Dalam tahap finalisasi peta awal, informasi mengenai tutupan lahan
yang ada saat ini dimasukkan ke dalam analisis. Sebagai contoh, lahan
yang sudah dibangun dikeluarkan dari kawasan hutan SKT potensial.
Mengedit kelas vegetasi menggunakan citra 654 saluran-Landsat 8
(LDCM) komposit
Dalam tahap ini, data vektor kelas tutupan lahan di-overlay pada Citra Landsat
(654 saluran) komposit dan dilakukan perbandingan visual, dengan editing
sebagaimana dibutuhkan.
Hasil pengeditan vektor QC diklasifikasi ulang ke dalam kelas SKT
Tahap-tahap selanjutnya
Tahap berikutnya dari proses klasifikasi SKT adalah
pengujian akurasi hasil interpretasi, karena akurasi
akan sangat mempengaruhi kepercayaan pengguna
terhadap data dan metode analisis. Laporan akurasi
klasifikasi awal mengenai klasifikasi citra satelit untuk
stratifikasi vegetasi SKT dari perspektif tabel kontigensi
(matriks galat atau confusion table), akurasi produser,
akurasi pengguna, akurasi keseluruhan, statistik Khat
dan interpretasi laporan penilaian akurasi telah dibahas
di sini. Tahap berikutnya adalah membandingkan hasil
interpretasi citra dengan pengukuran di lapangan. Hal
ini juga memungkinkan perhitungan perkiraan nilai
karbon untuk setiap kelas.
Bab berikut akan menjelaskan bagaimana mengumpulkan sampel data
lapangan yang dibutuhkan untuk menduga biomassa di atas tanah serta
simpanan karbon, menentukan tingkat karbon rata-rata untuk setiap
kategori (dengan catatan bahwa tujuannya adalah bukan untuk menghitung
jumlah karbon secara pasti melainkan untuk membedakan tipe tutupan
lahan melalui estimasi nilai karbon), dan lebih jauh menyempurnakan
klasifikasi untuk menghasilkan peta tutupan lahan di tempat kawasan hutan
SKT potensial didelineasi.
Strata tutupan lahan diklasifikasi ulang ke dalam kelas vegetasi SKT
standar: LT, B, HRM, HK1, HK1, dan HK3
Pencocokkan tepi data vektor
Jika digunakan lebih dari satu citra Landsat, data vektor klasifikasi yang
dihasilkan harus digabungkan menggunakan proses pencocokkan tepi.
Lakukan survei udara jika memungkinkan
Apabila memungkinkan, survei udara harus dilakukan pada kawasan hutan
alami yang bersebelahan. Basis data geografis kemudian dapat diciptakan
untuk memungkinkan melihat foto dengan GIS. Hal ini memungkinkan
pengecekan silang klasifikasi tutupan lahan.
Persiapkan draf peta tutupan lahan
Draf peta tutupan lahan, dikategorisasikan oleh berbagai kelas yang
diidentifikasi dalam proses yang digaribawahi di atas, disusun untuk
digunakan dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan lapangan,
termasuk survei udara dan inventarisasi hutan.
“Tahap berikutnya adalah membandingkan
hasil interpretasi citra dengan pengukuran
di lapangan, yang memungkinkan
perhitungan perkiraan nilai karbon untuk
setiap kelas”
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
47
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Lampiran
ALOS
(AVNIR-2,
PRISM)
http://www.alos-restec.jp/en/
10 m
46
hari
Jan
2006
– May
2011
1270 MHz
(L-band),
Polarization
HH+VV
IKONOS
http://geofuse.geoeye.com/landing/
http://glcf.umd.edu/data/
4m
14
hari
2000 – $1656/
Km2
1 (Biru)
2 (Hijau)
3 (Merah)
4 (Infra dekat)
14 km
x
14 km
Landsat 7
Misi satelit pengamat Bumi milik
pemerintah Amerika Serikat,
dikelola oleh NASA dan USGS.
Saluran mencakup:
• Multi-spectrum Scanner (MSS)
• Thematic Mapper (TM)
• Enhanced Thematic Mapper Plus
(ETM+)
http://landsat.gsfc.nasa.gov/
http://glcf.umd.edu/data/
Sejak 2003, data citra Landsat
7 dipengaruhi masalah garis
perekaman yang mengurangi
kualitas citra tersebut.
30 m
16
hari
April
Gratis
1999 –
Saat ini
8 Saluran:
1. 0.45 - 0.515
30 m
2. 0.525 - 0.605
30 m
3. 0.63 - 0.69
30 m
4. 0.75 - 0.90
30 m
5. 1.55 - 1.75
30 m
6. 10.40 - 12.5
60 m
7. 2.09 - 2.35
30 m
Pan Band. 0.52 0.90 15 m
170
km x
183
km
Landsat 8
http://landsat.usgs.gov/landsat8.
php
30m
Gratis
16 hari Feb
2013 –
Saat ini
11 Saluran:
1. 0.433–0.453
30 m
2. 0.450–0.515
30 m
3. 0.525–0.600
30 m
4. 0.630–0.680
30 m
5. 0.845–0.885
30 m
6. 1.560–1.660
30 m
185
km x
180
km
48
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Catatan
Ukuran citra
Saluran yang
tersedia
Harga per lembar
(USD)
Tanggal pengambilan
citra
Resolusi temporal
Resolusi spasial (m)
Gambaran umum
Nama satelit
Lampiran A: Gambaran umum opsi citra satelit
Lanjut ...
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Landsat 8
Lanjut ...
Catatan
Ukuran citra
Saluran yang
tersedia
Harga per lembar
(USD)
Tanggal pengambilan
citra
Resolusi temporal
Resolusi spasial (m)
Gambaran umum
Nama satelit
Lampiran A: Gambaran umum opsi citra satelit
7. 2.100–2.300
30 m
8. 0.500–0.680
15 m
9. 1.360–1.390
30 m
10. 10.6-11.2
100 m
11. 11.5-12.5
100 m
Quickbird
http://www.digitalglobe.com
http://glcf.umd.edu/data/
2.4m
Radarsat 2
http://www.asc-csa.gc.ca/eng/
satellites/radarsat2/
3m – 24
100m* hari
$3,300 C Band SAR
Dec
2007 - –
AntennaSaat ini $7,700 Transmit &
Receive
Channel:
5405.0000
MHz (dengan
lebar saluran
100.540 kHz)
Data radar tidak
memiliki saluran
inframerah dan karena
itu membutuhkan
kehati-hatian lebih
untuk mengklasifikasi
kelas vegetasi yang
berbeda.
5m
2009
Data radar tidak
memiliki saluran
inframerah dan karena
itu membutuhkan
kehati-hatian lebih
untuk mengklasifikasi
kelas vegetasi yang
berbeda.
4
hari
Walaupun data radar tidak memiliki
saluran inframerah, data tersebut memiliki
informasi backscattering penting lainnya.
Satelit ini juga mampu menembus tutupan
awan dan beroperasi siang dan malam.
Namun, pemrosesan datanya lebih
melelahkan dibangkan dengan data optik.
RapidEye
http://www.rapideye.de/
5.5
hari
2001 – $5,000 Multispektral
Saat ini -11,
1 = Biru
500/
2 = Hijau
lembar 3 = Merah
$16-45
4 = Inframerah
/km2
dekat
•Pankromatik
$1.5 /
km2
16.5
km
x
16.5
km
1. 440 – 510 nm 25 km
(Biru)
x
2. 520 – 590 nm 25 km
(Hijau)
3. 630 – 685 nm
(Merah)
4. 690 – 730 nm
(Tepi merah)
5. 760 – 850 nm
(Inframerah dekat)
Lanjut ...
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
49
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Lampiran
SPOT-5
Worldview-1
Worldview-2
Jaringan satelit yang dioperasikan
oleh Lembaga Antariksa Perancis.
http://www.satimagingcorp.com/
satellite-sensors/other-satellitesensors/spot-5/
2.5 m 24
sampai hari
10 m
http://www.alos-restec.jp/en/
0,50
meter
GSD
pada
Nadir
0,55
meter
GSD
pada
20˚ di
luar
nadir
http://www.satimagingcorp.com/
satellite-sensors/worldview-2/
GSD
Pankro
matik:
0,46 m
GSD pada
Nadir,
0,52 m
GSD pada
20° di
luar Nadir
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Catatan
Ukuran citra
Saluran yang
tersedia
Harga per lembar
(USD)
1986 - $1,500 5 saluran:
Pankromatik
Saat ini $2,500 (450 – 745 nm)
60 km
x
60 km
Pankromatik
17.6
km
pada
Nadir
17.6
km
X
14 km
atau
246,4
km2
pada
Nadir
Sudut Penglihatan
Maksimal atau
Swath lapangan
yang dapat
diperoleh
60 km x 110 km
atau
30 km x 110 km
perolehan Citra
Stereo
Pankromatik
8 Multispektral
(4 warna
standar: merah,
biru, hijau,
inframerah
dekat),
4 warna baru:
tepi merah,
coastal, kuning,
inframerah
dekat 2
16,4
km
pada
nadir
Maksimal wilayah
tersambung yang
diperoleh dalam
sekali pengambilan
(sudut 30˚ di luar
nadir)
Mono: 66.5km x
112 km (5 strip)
Stereo: 26.6km x
112 km (2 pasang)
1,7 hari Sept
pada 1 2007 meter
Saat ini
GSD atau
kurang
Biru (450-525 nm)
Hijau (530 – 590
nm)
Merah (625 - 695
nm)
Inframerah dekat
(760 – 890 nm)
5,9 hari
pada 20˚
di luar
nadir
atau
kurang
dari 0,51
meter
GSD
1,1 hari August
pada 1 2014 to
m GSD Saat ini
atau
kurang
3,7
hari
pada
20° di
Multis
luar
pektral: nadir
1,84 m atau
GSD pada kurang
Nadir, 2,4 (0,52
m GSD m
pada 20° GSD)
50
Tanggal pengambilan
citra
Resolusi temporal
Resolusi spasial (m)
Gambaran umum
Nama satelit
Lampiran A: Gambaran umum opsi citra satelit
Lanjut ...
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Worldview-2
Lanjut ...
Worldview-3
Catatan
Ukuran citra
Saluran yang
tersedia
Harga per lembar
(USD)
Tanggal pengambilan
citra
Resolusi temporal
Resolusi spasial (m)
Gambaran umum
Nama satelit
Lampiran A: Gambaran umum opsi citra satelit
di luar
Nadir
http://www.satimagingcorp.com/
satellite-sensors/worldview-3/
Pankromatik
Nadir:
0,31
m GSD
pada
Nadir
1m
GSD:
<1.0
hari
4,5
hari
0,34 m pada
pada 20° 20° di
luar
di luar
nadir
Nadir
atau
Mulkurang
tispek-
Agustus
2014 –
Saat ini
Pankromatik @
450-800nm
8 saluran
Multispektral
@ 400 – 1040
nm
8 saluran SWIR
@ 1195 – 2365
nm
12 saluran
CAVIS @405
– 2245 nm
Pada
nadir:
13,1
km
Maksimal wilayah
tersambung yang
diperoleh dalam
sekali pengambilan
(sudut 30˚ di luar
nadir)
Mono: 66.5 km x
112 km (5 strip)
Stereo: 26.6 km x
112 km (2 pasang)
tral
Nadir:
1,24 m
pada
Nadir,
1,38 m
pada 20°
di luar
Nadir
SWIR
Nadir:
3,70 m
pada
Nadir,
4,10 m
pada 20°
di luar
Nadir
CAVIS
Nadir:
30,00 m
Lanjut ...
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
51
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Lampiran
Ebee
Kendaraan
udara tanpa
awak
Kapan
saja tim
memilih
terbang
$35/km2 untuk
Perolehan citra
stereo
700 citra dalam satu
penerbangan
10/km2 setiap 45
menit dalam satu
penerbangan
Waktu pemrosesan
12 jam per 100 citra
dengan ±$800 per
hari kerja
Tampak (biru,
hijau, merah)
dan kamera
tampak
Inframerah
dekat dengan
kamera
inframerah
10 km
x
10 km
Lihat
website
Pilihan
analis
Lihat website
Lihat website
Lihat
website
Sentinel-1:
C-Band SAR
Sentinel
-1:
Swath
250 km
http://www.lidarbasemaps.org/
Untuk pemetaan topografi, DTM
Membuat kontur. Tidak untuk
pemetaan pemanfaatan lahan
atau tutupan lahan dan deteksi
perubahan lahan
Lihat
website
30000
poin
per
detik
dengan
akurasi
15 m
Lihat
website
Kapan saja
saat cuaca
bagus
Gelombang
Mikro
atau SAR –
Synthetic
Aperture
Radar ERS,
ENVISAT
(sudah tidak
beroperasi)
dan
Sentinel-1,
beroperasi
April 2014
https://earth.esa.int/web/guest/
missions/esa-future-missions
https://earth.esa.int/web/guest/
missions/esa-future-missions/
sentinel-1
https://sentinel.esa.int/web/sentinel/
sentinel-data-access
Arsip data ERS dan ENVISATS lama
tersedia sampai tahun 2012
Sentine
l-1:
Resolusi 20
m
Sentinel-1: Sentinel-1: Sentinel-1:
Kunjungan Sejak April Dapat diunduh
2014
ulang 12
gratis setelah
hari
registrasi
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Swath
Kapan saja
Sub
meter saat cuaca
hingga bagus
5m
LiDAR data
Airborne
LiDAR
52
Saluran yang tersedia
Harga per lembar (USD)
Tanggal pengambilan
citra
Resolusi temporal
Resolusi spasial
Website
Sensor
Lampiran A: Gambaran umum opsi citra satelit
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 3
KLASIFIKASI TUTUPAN LAHAN BERBASIS CITRA SATELIT
Lampiran B: Transformasi Tasseled Cap
Kauth dan Thomas (1976) menghasilkan transformasi ortogonal dari bentuk data Landsat MSS original menjadi
bentuk fitur empat dimensi baru. Transformasi ini disebut Transformasi Tasseled Cap atau Kauth-Thomas. Nama
‘Tasseled Cap’ berasal dari bentuk topi pada plot Kehijauan (sebagai Y) dan Kecerahan (X). Empat aksis baru
dihasilkan: indeks kecerahan tanah (B), indeks kehijauan vegetasi (G), indeks kekuningan vegetasi (Y) dan tidak
ada (N). Nama yang dibuat untuk aksis yang baru mengindikasikan karakteristik yang ditujukan untuk dihitung oleh
indeks tersebut.
Koefisien Landsat MSS adalah (Kauth et al., 1979):
B = 0.322*MSS1 + 0.603*MSS2 + 0.675*MSS3 + 0.262*MSS4
G= -
-0.283*MSS1 -0.660*MSS2 + 0.577*MSS3 + 0.388*MSS4
Y=
-0.899*MSS1 + 0.428*MSS2 + 0.076*MSS3 – 0.041*MSS4
N=
-0.061*MSS1 +0.131*MSS2 - 0.452 * MSS3 + 0.882 * MSS4
Crist dan Kauth (1986) menghasilkan koefisien tampak, inframerah dekat dan inframerah menengah dengan
melakukan transformasi citra Landsat Thematic Mapper (TM) menjadi variabel brightness (B), greenness (G) and
wetness (W) variables (kecerahan (B), kehijauan (G), dan kelembaban (W)).
B=
0.2909*TM1 + 0.2493*TM2 + 0.4806*TM3 + 0.5568*TM4 + 0.4438*TM5 + 0.1706*TM7
G=
-0.2728*TM1 – 0.2174*TM2 – 0.5508*TM3 +0.7221*TM4 + 0.0733*TM5 – 0.1648*TM7
W=
0.1446 * TM1 + 0.1761*TM2 +0.3322*TM3 +0.3396*TM4 – 0.6210*TM5 – 0.4186*TM7
Koefisien Tasseled Cap untuk Landsat 7 Enhanced Thematic Mapper Plus (ETM+) adalah (Huang et al., 2002)
B = 0.3561*TM1 + 0.3972*TM2 + 0.3904*TM3 + 0.6966*TM4 + 0.2286*TM5 + 0.1596*TM7
G = -0.334*TM1 – 0.354*TM2 -0.456*TM3 + 0.6966*TM4 – 0.24*TM5 – 0.263* TM7
W = 0.2626*TM1 + 0.2141*TM2 + 0.0926*TM3 + 0.0656*TM4 – 0.763*TM5 – 0.539*TM7
Keempat = 0
.0805*TM1 – 0.050*TM2 + 0.1950*TM3 – 0.133*TM4 + 0.5752*TM5 – 0.777*TM7
Kelima = -0.725*TM1 – 0.020*TM2 + 0.6683*TM3 + 0.0631*TM4 - 0.149*TM5 – 0.027*TM7
Keenam = -0.400*TM1 – 0.817*TM2 + 0.3832*TM3 + 0.0602*TM4 – 0.109*TM5 + 0.0985*TM7
Koefisien Tasseled Cap untuk transformasi Landsat 8 imagery (Baig et al., 2014) adalah:
B = 0.3029*TM2 + 0.2786*TM3 + 0.4733*TM4 + 0.5599*TM5 + 0.508*TM6 + 0.1872*TM7
G = -0.2941*TM2 – 0.243*TM3 – 0.5424*TM4 + 0.7276*TM5 + 0.0713*TM6 – 0.1608*TM7
W = 0.1511*TM2 + 0.1973*TM3 + 0.3283*TM4 + 0.3407*TM5 - 0.7117*TM6 - 0.4559*TM7
Keempat = -0.8239*TM2 + 0.0849*TM3 + 0.4396*TM4 - 0.058*TM5 + 0.2013*TM6 - 0.2773*TM7
Kelima = -0.3294*TM2 + 0.0557*TM3 + 0.1056*TM4 + 0.1855*TM5 - 0.4349*TM6 + 0.8085*TM7
Keenam = 0.1079*TM2 - 0.9023*TM3 + 0.4119*TM4 + 0.0575*TM5 - 0.0259*TM6 + 0.0252*TM7
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
53
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Bab 4
Inventarisasi hutan dan
estimasi stok karbon
Oleh George Kuru dan Alex Thorp, Ata Marie Group Ltd.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Jaboury Ghazoul dan Chue Poh Tan dari
ETH-Zurich; Michael Pescott dan Rob McWilliam dari TFT; dan Yves Laumonier dari
CIFOR atas masukan-masukan pentingnya terhadap draf sebelumnya.
DAFTAR ISI BAB
P55: Persiapan kerja lapang
P58: Pembuatan plot
P60: Pengukuran vegetasi
P62: Foto plot
P65: Entri dan pengelolaan data
P66: Memperoleh stok karbon rata-rata per kelas vegetasi
P67: Menyelesaikan klasifikasi
P68: Lampiran 1: Lembar Inventarisasi dan Daftar Peralatan Tim Inventarisasi
54
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Persiapan kerja lapang
Sebagaimana telah di bahas pada bab sebelumnya,
tahap pertama kegiatan klasifikasi vegetasi dalam
proses SKT adalah membuat klasifikasi vegetasi
(tutupan lahan) dengan menggunakan citra satelit
untuk mengidentifikasi kawasan hutan dengan potensi
SKT. Tahap berikutnya dalam kajian SKT ini adalah
melakukan pengambilan sampel hasil klasifikasi di
lapangan dan menetapkan nilai karbon rata-rata
dengan cara mengukur vegetasi di dalam plot sampel.
Bab ini menjelaskan cara memilih dan membuat
plot sampel, melakukan pengukuran, menghitung
karbon dan menyelesaikan klasifikasi vegetasi.
Bab ini ditujukan untuk para praktisi yang memiliki
pengetahuan yang cukup mengenai penggunaan
dan analisis statistik dalam menentukan teknik
pengambilan sampel.
Pemetaan masyarakat dan proses FPIC
Karena kegiatan pengambilan sampel lapangan ini kemungkinan besar akan
mengarah pada interaksi langsung dengan anggota masyarakat, maka
masyarakat lokal harus sudah diberikan informasi mengenai pendekatan
dan proses SKT sebelum dimulainya kegiatan inventarisasi hutan. Kegiatan
ini idealnya sudah mulai dilakukan pada saat pelibatan masyarakat pada
tahap awal proses FPIC yang dijabarkan di Bab 2 toolkit ini. Masyarakat juga
perlu memberikan izin untuk kegiatan sampling apapun yang dilakukan
pada lahan mereka.
Kegiatan pemetaan partisipatif dan pelibatan masyarakat harus sudah
memiliki indikasi kawasan yang diidentifikasi oleh masyarakat sebagai
kawasan penting untuk mata pencaharian mereka pada saat ini dan masa
datang serta untuk kebutuhan sosial-budaya. Kawasan tersebut dapat
mencakup kawasan hutan dengan SKT, sebagai contoh kawasan yang
digunakan untuk mengumpulkan hasil hutan non-kayu atau untuk kegiatan
berburu serta kawasan non-SKT seperti ladang kecil, kebun atau plot
agroforestri. Penting untuk diingat bahwa jika kawasan bukan SKT tersebut
teridentifikasi pada saat klasifikasi berbasis citra atau pada saat pengambilan
sampel lapangan tetapi tidak teridentifikasi pada saat proses pemetaan
partisipatif, maka hal tersebut dapat menjadi indikator bahwa pemetaan
partisipatif/proses FPIC tidak terselenggara dengan baik dan oleh karenanya
perlu dilakukan perbaikan sebelum proses SKT dapat diselesaikan.
Semua foto: hak cipta TFT©
“Karena kegiatan pengambilan sampel
lapangan ini kemungkinan besar akan
mengarah pada interaksi langsung dengan
anggota masyarakat, maka masyarakat lokal
harus sudah diberikan informasi mengenai
Pendekatan dan proses SKT sebelum
dimulainya kegiatan inventarisasi hutan”
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
55
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Persiapan kerja lapang
Penentuan jumlah dan jenis plot sampel
Sampel lapangan untuk kajian SKT berfokus pada pengkajian biomassa pohon
di dalam kelas hutan SKT potensial. Proporsi terbesar sampel lapangan tersebar
di kelas-kelas tersebut dan didefinisikan sebagai Hutan Regenerasi Muda
(HRM) dan hutan kerapatan rendah (HK1). Walaupun Belukar (B) dan Lahan
Terbuka (LT) kemungkinan besar mengandung karbon dalam jumlah yang
sangat sedikit, dalam proses kajian SKT, sebaiknya tetap berupaya untuk
melakukan pengambilan sampel lapangan terhadap plot B dan LT, meskipun
dalam jumlah terbatas untuk mendapatkan konfirmasi mengenai dugaan
tersebut. Kelas-kelas lain seperti kawasan perkebunan yang ada (seperti
misalnya kelapa sawit dan tanaman pangan lainnya) dan kawasan enclave,
termasuk di dalamnya kawasan masyarakat, lahan gambut, dan kawasan NKT
secara umum tidak dikaji karena kawasan-kawasan tersebut diharapkan
didemarkasi secara terpisah.
Sulit untuk memprediksi jumlah sampel yang sesuai untuk diukur di setiap kelas
pada awal kajian lapangan, kecuali jika terdapat data setempat mengenai
variabilitas. Jika data tersebut tidak ada, maka waktu kajian lapangan yang
cukup (lebih banyak) harus dialokasikan untuk menambah jumlah sampel untuk
memperoleh target akurasi. Hali ini lebih baik dilakukan, mengingat kebutuhan
biaya yang lebih besar apabila tim harus kembali melakukan pengambilan
sampel ke lokasi tersebut pada waktu lain.
Target akurasi yang direkomendasikan untuk kajian SKT adalah:
• Inventarisasi stok karbon hutan harus direncanakan untuk tujuan pencapaian
dugaan stok karbon pada selang kepercayaan 90% dari total stok karbon.
Suatu proses adaptif mungkin akan diperlukan untuk menyempurnakan
jumlah sampel untuk memperoleh tingkat kepercayaan 90%.
• Variabilitas dalam satu kelas vegetasi (seperti misalnya di dalam kategori
Hutan Kerapatan Tinggi) dapat melebihi target akurasi 90% asalkan pada
analisis akhir kelas-kelas tersebut berbeda satu sama lain secara statistik.
“Proporsi terbesar sampel lapangan
tersebar di kelas-kelas tersebut dan
didefinisikan sebagai Hutan Regenerasi
Muda (HRM) dan hutan kerapatan
rendah (HK1)”
Jumlah plot yang direncanakan harus cukup untuk memenuhi target akurasi
bagi setiap kelas besar (major) di setiap kawasan. Persamaan sederhana untuk
menduga jumlah sampel tersebut adalah sebagai berikut.
N = t2 s2 / E2
Keterangan:
N = jumlah sampel untuk pendugaan rata-rata ± E
t = nilai t dari tabel uji t student untuk selang kepercayaan 90%
s = standar deviasi yang diduga berdasarkan data set yang ada dari
tipe hutan yang serupa. Departemen Kehutanan biasanya memiliki
data yang relevan.
E = kemungkinan galat, dituliskan sebagai persentase dugaan nilai
rata-rata
Angka yang dihasilkan harus dibulatkan ke bilangan cacah terdekat.
Semua foto: hak cipta TFT©
Sebagai contoh, untuk melakukan survei kelas vegetasi SKT dengan estimasi
tingkat stok karbon 57 ton/Ha dan estimasi standar deviasi 35 ton/Ha
dengan galat sampel yang diperbolehkan sebesar +/- 10% dari stok karbon
rata-rata dan batas kepercayaan 90%, maka jumlah plot sampel dihitung
sebagai berikut:
N = tst 0.92 * s2 / E2 = 1.662 * 352 / (57*10%)2 = 62.6
Dibulatkan menjadi N=63
56
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Peralatan yang diperlukan untuk kerja lapangan
Penyeleksian tim survei
Data pengukuran pohon plot dicatat secara manual di dalam buku
lapangan (tallysheet). Contoh layout tallysheet terdapat di Lampiran
dengan disertai daftar peralatan bagi tim inventarisasi.
Satu tim survei umumnya terdiri dari 6-8 orang sebagaimana dijabarkan
berikut ini: :
Jabatan
Jumlah
orang
Deskripsi dan peran
Ketua Tim
1Lulusan kehutanan dengan pengalaman
melakukan inventarisasi
Bertanggung jawab atas kinerja organisasi dan
tim, khususnya sebagai berikut:
• melakukan navigasi menuju titik awal transek
• mengelola buku catatan lapangan
• mengoperasikan GPS
• mengukur tinggi pohon
• mengambil foto plot
• mengelola dan meneruskan data
2
Teknisi berpengalaman
Asisten
pengukuranPeran utama asisten pengukuran adalah untuk
mengukur diameter, memberikan label pohon,
dan mengidentifikasi spesies. Penting bahwa
paling tidak salah satu asisten memahami nama
lokal spesies pohon
Petugas pembersih 1
Pekerja yang bertanggung jawab untuk
plot membersihkan tumbuhan merambat dan memanjat
dari pohon agar pengukuran diameter dan tinggi
pohon dapat dilakukan dengan lebih mudah
Operator hip chain1Peran: mengukur panjang transek dan lokasi titik
tengah plot sepanjang transek
Pemegang kompas 1Peran: memastikan jalur transek dibuat secara
tepat pada sudut kompas yang telah ditentukan
sebelumnya
Pembuka jalur 2Peran: membersihkan jalur transek agar
memudahkan pergerakan cepat menuju titik plot
Jumlah anggota tim bervariasi tergantung pada tingkat keterampilan
dan kondisi anggota tim di dalam hutan. Ketua tim akan memutuskan
komposisi tim.
Semua foto: hak cipta TFT©
“Untuk pengukuran yang efisien, maka tim
perlu untuk dapat bergerak dengan cepat
ke lokasi pengukuran dan menghabiskan
waktu sehari penuh untuk bekerja tanpa
gangguan”
Untuk pengukuran yang efisien, maka tim perlu untuk dapat bergerak secara
cepat ke lokasi pengukuran dan menghabiskan waktu sehari penuh untuk
bekerja tanpa gangguan. Maka dari itu, dukungan logistik dalam bentuk
pemandu lokal dan transportasi yang memadai untuk seluruh anggota tim
merupakan hal yang sangat penting.
Jika terdapat akses yang sulit, maka akan lebih efisien bagi tim untuk
mendirikan kemah sehingga perlengkapan perkemahan perlu disediakan dan
seorang juru masak harus ditambahkan ke dalam tim.
Sebagian besar survei memerlukan lebih dari satu tim. Manajer logistik harus
ditunjuk untuk memastikan tim menerima dukungan logistik yang diperlukan.
Manajer data harus ditunjuk untuk melakukan entri data dan pengelolaan
data secara umum. Latihan pengambilan sampel bersama harus dilaksanakan
di awal periode inventarisasi untuk memastikan bahwa semua ketua tim
mengerti dan menerapkan prosedur dengan cara yang sama.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
57
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Pembuatan plot
Rancangan pengambilan sample plot
Plot-plot dapat ditempatkan secara acak atau sistematis di dalam suatu kelas.
Pengambilan sampel secara acak merupakan pendekatan yang lebih
menyeluruh dan kuat secara statistik. Pengambilan sampel secara acak biasanya
lebih lambat dan biayanya lebih besar daripada pengambilan sampel sistematis.
Penempatan plot sistematis biasanya membutuhkan biaya lebih sedikit dan
lebih mudah untuk diimplementasikan di lapangan serta memungkinkan lebih
banyak plot dapat diukur dalam suatu waktu tertentu. Plot dapat ditempatkan
dalam formasi grid atau sepanjang jalur transek dengan jarak teratur pada
semua kelas tanpa bias. Kombinasi antara pengambilan contoh secara
sistematis dan acak juga dapat digunakan untuk meningkatkan keakuratan.
Navigasi dan pembuatan plot yang ditempatkan secara sistematis
menggunakan transek
Ketua tim lapangan harus diberikan instruksi untuk setiap transek,
termasuk di dalamnya:
• Peta
• Koordinat titik awal (diunggah ke perangkat GPS). Titik awal transek
biasanya bertempat pada titik-titik yang paling memudahkan di sepanjang
jalan, sungai, kanal atau rute akses lainnya.
• Sudut kompas transek
• Panjang transek dalam satuan kilometer
Metode untuk pembuatan plot secara sistematis dan acak dijelaskan di bawah
ini. Kedua rancangan pengambilan contoh diterima dalam Pendekatan SKT ini.
• Jumlah plot yang akan diukur
Sebelum dilakukannya kerja lapang, untuk rancangan pengambilan sampel
apapun, suatu rencana navigasi harus dibentuk yang mencatat urutan
pengukuran plot. Rencana tersebut harus mendeskripsikan:
1. Tim bergerak menuju titik awal jalur transek yang diusulkan menggunakan
perangkat GPS dan mencatat waypoint tepat pada lokasi titik awal.
Berdasarkan pengalaman terkini, perangkat receiver Garmin GPS lebih
diutamakan karena memiliki frekuensi tunggal dan biasanya tidak
bermasalah untuk beroperasi di bawah tajuk hutan yang rapat. Receiver
tersebut akurat hingga jarak lima meter dan merupakan perangkat yang
cocok untuk jenis survei seperti ini.
• Titik akses awal yang memberikan akses termudah menuju plot
pertama. Titik akses awal biasanya berada di titik-titik yang paling
memudahkan sepanjang jalan atau akses lain.
• Koordinat setiap plot (diunggah ke GPS) berdasarkan urutan
pengukuran.
• Sudut atau azimuth kompas dari satu plot ke plot selanjutnya.
• Jarak antar plot.
Transek harus didirikan berdasarkan tahap-tahap berikut:
2. Tempatkan satu tiang atau tongkat di titik awal. Berikan label pada
tiang menggunakan pita penanda. Tuliskan nomor dan sudut kompas
transek pada pita penanda.
3. Lintasi jalur sepanjang sudut kompas yang telah direncanakan. Transek
harus ditempatkan secara tepat di sepanjang rute sudut kompas yang telah
direncanakan. Ketika tim lapang menemui halangan yang besar seperti
misalnya jurang atau aliran air, maka jika memungkinkan tim survei harus
mengambil jalan memutar dan memulai survei kembali pada titik terdekat
yang paling memungkinkan di sepanjang jalur transek. Jika tidak, maka tim
survei harus menghentikan kegiatan survei pada transek tersebut.
Semua foto: hak cipta Corozal Sustainable Future Initiative, Belize ©
4. Titik pusat plot harus diletakkan secara sistematis setiap 100 meter
sepanjang transek. Untuk plot-plot yang berada di antara batas kelas
SKT, maka pendekatan pragmatis yang dilakukan adalah dengan cara
mengklasifikasikan plot berdasarkan jenis tutupan vegetasi yang paling
banyak dijumpai, serta dengan mempertimbangkan klasifikasi penginderaan
jarak jauh. Jika terdapat isu yang luar biasa mengenai batas, seperti misalnya
hutan yang rapat berbatasan dengan lahan terbuka, maka plot yang terdapat
di sana harus dicatat sebagai ‘tidak diukur’.
Perlu diingat bahwa lokasi plot tidak memerlukan penyesuaian untuk
kemiringan pada jalur transek sepanjang lokasi plot diukur secara akurat
menggunakan GPS. Hip chain hanya boleh digunakan untuk mengukur jarak
antar plot pada medan yang rata.
Plot tidak boleh dipindahkan dengan alasan apa pun. Jika suatu plot tidak dapat
diukur karena alasan keselamatan seperti misalnya plot memiliki kemiringan
ekstrim, terdapat cabang pohon yang menggantung, atau plot berada di daerah
aliran air (sungai atau kali), maka plot tersebut harus dicatat sebagai ‘tidak
diukur’ dan pengambilan sampel harus dilanjutkan kembali pada titik pusat plot
berikutnya. Pengamatan tersebut harus dicatat pada peta plot dan disampaikan
kepada pihak perusahaan.
58
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Navigasi dan pembuatan plot tanpa transek
Demarkasi plot
Lokasi plot secara acak ditentukan menggunakan perangkat lunak GIS,
sedangkan plot sistematis biasanya ditempatkan menggunakan formasi
grid. Plot harus didirikan berdasarkan tahap-tahap berikut:
1. Tempatkan suatu tiang/tongkat pada pusat plot. Berikan label pada tiang/
tongkat tersebut dengan menggunakan pita penanda. Tuliskan identitas plot
pada pita penanda. Pohon berdiri tidak boleh dijadikan sebagai penanda
plot.
1. Menuju titik akses awal menggunakan GPS.
2. Melintasi jalur menuju titik pusat plot dengan menggunakan GPS
untuk navigasi.
3. Mengidentifikasi lokasi plot yang sebenarnya menggunakan GPS.
Sebagaimana telah disebutkan di atas, plot tidak boleh dipindahkan atas
alasan apa pun. Jika suatu plot tidak dapat diukur karena alasan
keselamatan, maka plot tersebut harus dicatat sebagai ‘tidak diukur’ dan
pengambilan sampel harus dilanjutkan pada titik pusat plot berikutnya.
Ukuran dan bentuk plot sampel
Plot dengan ukuran dan bentuk yang sama digunakan untuk pengambilan
sampel secara acak, sistematis dan transek. Desain plot sampel yang
direkomendasikan adalah dua lingkaran konsentris dari suatu titik pusat
dengan luas total 500 m2 atau 0,05 ha. Plot lingkaran lebih direkomendasikan
daripada plot persegi untuk meminimalisasi potensi galat karena faktor
kemiringan dan halangan fisik yang dapat garis batas plot menjadi tidak lurus.
2. Rekam waypoint GPS pada titik pusat plot dan tuliskan waypoint tersebut
dalam buku catatan lapangan. Angka waypoint harus merupakan nomor urut
yang ditentukan perangkat GPS. Jangan melakukan pengeditan terhadap
angka ini.
3. Dari titik pusat, sub plot pertama diukur menggunakan pita ukur atau tali
yang sudah diukur sebelumnya yang dapat ditarik dengan kencang pada jarak
horizontal sejauh 5,64 m. Sub plot kedua kemudian dibuat dengan mengukur
jarak horizontal sejauh 12,61 m dengan pita ukur atau tali yang sudah diukur
sebelumnya yang ditarik dengan kencang. Jika yang digunakan adalah tali
yang sudah diukur sebelumnya, maka penting untuk menggunakan tali yang
tidak elastis untuk membatasi galat yang dihasilkan oleh peregangan tali.
4. Informasi identifikasi berikut ini harus dicatat dalam buku catatan lapangan
untuk semua plot.
• Nama perusahaan/konsesi
• Tanggal
• Nama ketua tim lapangan
• Nomor transek dan plot
• Waypoint GPS untuk titik pusat plot
• Kelas SKT pada plot berdasarkan definisi umum yang diberikan
• Kondisi tanah/bawah tanah, seperti contohnya tanah organik/gambut,
tanah mineral, tanah lempung marine, genangan air
• Deskripsi umum mengenai plot dan kawasan sekitar, termasuk bukti
adanya pembakaran, penebangan, dan kegiatan manusia lainnya,
seperti misalnya tanaman karet atau tanaman agrikultur lainnya.
Semua foto: hak cipta TFT©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
59
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Pengukuran vegetasi
Fokus pengukuran vegetasi ini adalah untuk jenis tumbuhan besar yang
biasanya merupakan penyusun sebagian besar biomassa di atas tanah.
Sumber karbon hutan yang lain tidak diukur karena ukurannya relatif kecil
(seperti misalnya tumbuhan bawah) atau pengkajiannya sulit dan
menghabiskan biaya yang tinggi (seperti misalnya biomassa di bawah tanah,
kayu mati, bahan organik tanah).
Spesies tumbuhan besar didefinisikan sebagai tumbuhan yang memiliki
diameter setinggi dada (DBH) lebih dari atau sama dengan 5 cm. Definisi ini
mencakup spesies pohon dan tumbuhan bukan pohon. Tinggi dada yang
dimaksud dalam DBH ini adalah 1,3 meter.
Spesies tumbuhan besar (secara keseluruhan disebut sebagai ‘pohon’
walaupun dapat mencakup spesies selain pohon seperti beberapa spesies
palem) diukur dengan mengikuti tahap-tahap berikut.
“Fokus pengukuran vegetasi ini adalah
untuk jenis tumbuhan besar yang biasanya
merupakan penyusun sebagian besar
biomassa di atas tanah”
GAMBAR 1: MENENTUKAN POHON-POHON YANG BERADA DI BATAS PLOT
1. Identifikasi pohon ‘Di dalam’: Pohon ‘di dalam’ didefinisikan sebagai
pohon yang memiliki pusat batang pada DBH berada di dalam batas plot.
Pohon yang berada di tepi plot akan diperiksa menggunakan tali nilon yang
ditandai pada radius-radius plot yang benar.
2. Pita penanda: Setiap pohon harus diberi label dengan menggunakan pita
penanda. Label tersebut harus bertuliskan nomor pohon sesuai dengan
yang tercatat di buku lapang.
3. Pengukuran DBH: Semua pohon dengan DBH lebih dari atau sama
dengan 15 cm harus diukur di dalam plot besar. Selain itu, semua pohon
dengan DBH lebih dari atau sama dengan 5 cm dan kurang dari 15 cm harus
diukur di dalam plot kecil.
4. Pengukuran tinggi: Tergantung pada persamaan alometrik eventual yang
digunakan, maka mungkin akan perlu dilakukan pengukuran tinggi pohon.
Tinggi pohon harus diukur dengan menggunakan klinometer dengan cara
sebagai berikut:
• Dua operator mengukur 10 meter dari dasar pohon menggunakan
klinometer.
• Pada jarak 10 meter, pengukuran dalam satuan persen dilakukan terhadap
dasar pohon. Operator yang berada di pohon dapat membantu dengan
menyingkirkan pohon dan semak dari garis pandang klinometer dan
dengan menggunakan rompi berwarna cerah (rompi keselamatan) untuk
menentukan pangkal pohon.
• Pengukuran lain dalam satuan persen dilakukan di bagian atas batang
pohon pada volume yang dapat diperdagangkan. Volume yang dapat
diperdagangkan adalah titik transisi batang utama pohon menjadi tajuk,
atau titik di mana percabangan utama pertama berada.
• Jumlahdari kedua pengukuran (terhadap bagian bawah dan bagian atas
volume yang dapat diperdagangkan) kemudian dibagi 10 untuk
mendapatkan panjang batang dalam satuan meter (seperti misalnya 15%
ke bawah ditambah 110% ke atas sama dengan 125%; tinggi batang yang
didapatkan adalah 12,5 m).
Dengan mengetahui tinggi batang, maka estimasi panjang dan kualitas
berbagai bagian sepanjang batang pohon mungkin untuk dilakukan.
60
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Diameter setinggi dada didefinisikan sebagai berikut:
TABEL: METODE PENGUKURAN DIAMETER
Bentuk Pohon Metode Pengukuran
Pohon dengan Diameter batang diukur pada ketinggian 1,3 m dar
bentuk baik permukaan tanah pada sisi tanah yang lebih tinggi
Pohon bercabang Diameter setiap batang diukur secara terpisah
di bawah 1,3 m pada ketinggian 1,3 m dari permukaan tanah pada
sisi tanah yang lebih tinggi
Pohon memiliki kelainan TDiameter batang diukur pada ketinggian 0,5 m di
bentuk pada ketinggian
atas titik berakhirnya kelainan bentuk
1,3 m
Akar banir berada di Diameter batang diukur pada ketinggian 0,5 m di
atas ketinggian 1,3 m atas titik berakhirnya akar banir
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
5. Spesies: Semua pohon yang diukur di dalam plot harus diidentifikasi
berdasarkan genus dan jika memungkinkan sampai tingkat spesies karena
informasi tersebut kemungkinan diperlukan untuk persamaan alometrik
dan agar deskripsi komposisi dan struktur hutan secara umum dapat
dibuat. Sebagaimana dijelaskan di atas, ahli botani atau rimbawan dengan
pengetahuan konteks lokal idealnya harus menjadi bagian dari tim
lapangan; nama lokal dapat dicatat di buku lapangan dan kemudian dicari
nama spesiesnya. Jika spesies tertentu tidak dapat diidentifikasi walaupun
dengan menggunakan nama lokalnya, maka harus dilakukan pengambilan
foto dan sampel botani yang diberi tanda sehingga selanjutnya identifikasi
dapat dilakukan oleh ahli.
GAMBAR 2: LAYOUT PLOT INVENTARISASI SKT
Gambar di sebelah kanan memberikan ilustrasi mengenai desain plot.
“Semua pohon yang diukur di dalam plot
harus diidentifikasi berdasarkan genus dan
jika memungkinkan sampai tingkat spesies“
Semua foto: hak cipta TFT©
GAMBAR 3: METODE PENGUKURAN DIAMETER
Catatan: Dilakukan perbaikan minor terhadap diagram ini tanggal 13.04.2015 untuk menyesuaikan dengan teks
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
61
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Foto plot
Untuk semua plot di hutan, lima foto digital harus
diambil di pusat plot. Empat foto menghadap ke
arah utara, selatan, timur dan barat serta satu foto
lainnya menghadap lurus ke atas untuk menunjukkan
kerapatan tajuk. Foto tersebut harus menggambarkan
struktur dan kerapatan dasar vegetasi di setiap
plot. Fungsi tracking GPS harus digunakan secara
terus-menerus selama pengukuran lapangan untuk
memungkinkan geo-referensi pada foto yang diambil.
Gambar berikut ini menunjukkan perbandingan antara foto tutupan lahan
yang diambil dari permukaan tanah dengan piksel dari citra satelit. Foto
langit dan tajuk menggambarkan kerapatan tutupan tanah.
Citra satelit berasal dari Landsat 8 dengan kombinasi RGB 6,4,2.
“Fungsi tracking GPS harus digunakan
secara terus-menerus selama pengukuran
lapangan untuk memungkinkan
geo-referensi pada foto yang diambil”
GAMBAR 4: C ONTOH CITRA SATELIT DAN FOTO-FOTO LAPANGAN TERKAIT
(TAJUK, MENGHADAP UTARA, MENGHADAP SELATAN,
MENGHADAP TIMUR, MENGHADAP BARAT)
Lahan terbuka
62
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Semua foto: hak cipta TFT©
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Belukar
Semua foto: hak cipta TFT©
Hutan Regenerasi Muda
Semua foto: hak cipta TFT©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
63
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Foto plot
GAMBAR 4: C ONTOH CITRA SATELIT DAN FOTO-FOTO LAPANGAN TERKAIT
(TAJUK, MENGHADAP UTARA, MENGHADAP SELATAN,
MENGHADAP TIMUR, MENGHADAP BARAT)
Hutan Kerapatan Rendah (HK1)
64
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Semua foto: hak cipta TFT©
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Entri dan pengelolaan data
Ketua tim harus mengunduh data track dan
waypoint GPS dan disimpan di komputer pribadi
dalam format Ozi/Garmin setiap petang jika
memungkinkan. Selain data dan foto, ketua tim
harus menulis dua hingga tiga paragraf deskripsi
singkat mengenai kondisi hutan dan komentar lain
yang berkaitan dengan setiap transek.
Buku catatan lapangan yang sudah lengkap, data GPS, dan foto harus
diberikan kepada Manajer Inventarisasi Data yang akan memasukkan
data plot ke dalam spreadsheet dan menggabungkan semua informasi
dalam format logis untuk dilimpahkan kepada tim GIS. Ketua tim harus
memeriksa data yang dimasukkan apabila ada data yang tidak konsisten.
“Selain data dan foto, ketua tim harus
menulis dua hingga tiga paragraf deskripsi
singkat mengenai kondisi hutan dan
komentar lain yang berkaitan”
Semua foto: hak cipta TFT©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
65
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Memperoleh stok karbon rata-rata
per kelas vegetasi
Setelah data dimasukkan, maka setiap plot kemudian
dianalisis untuk mendapatkan estimasi batang per
hektar dan stok karbon sebagai berikut.
Batang per hektare
Jumlah rata-rata batang per hektar dihitung dari ukuran plot. Persamaan
yang digunakan adalah:
Batang per hektar = (jumlah pohon dalam plot)/(ukuran plot dalam
satuan hektar)
Kandungan karbon
Proses kajian SKT menggunakan persamaan alometrik untuk menduga
biomassa. Persamaan alometrik membantu menduga karakteristik pohon
yang sulit diukur dengan cara mengukur atribut yang berkorelasi dari
pohon yang sama seperti misalnya, diameter setinggi dada dapat diukur
dan kemudian digunakan untuk menentukan biomassa di atas tanah dari
tumbuhan tersebut secara keseluruhan.
Banyak persamaan alometrik yang ada di seluruh dunia. Beberapa
diantaranya spesifik untuk satu tipe hutan atau spesies pohon, sedangkan
yang lain lebih bersifat umum untuk mencakup situasi yang lebih beragam.
Persamaan alometrik biasanya disusun dari sampel berukuran besar untuk
meningkatkan akurasi, walaupun penting untuk diketahui bahwa
persamaan tersebut biasanya telah disusun untuk hutan-hutan yang tidak
terdegradasi dan mungkin kurang tepat apabila digunakan untuk hutan
terdegradasi di mana lingkungannya pada dasarnya telah diubah. Daftar
persamaan alometrik dapat diperoleh di laman http://www.globallometree.
org/. Komite Penasihat Ilmiah dari Komite Pengarah Pendekatan SKT akan
memberikan masukan mengenai daftar persamaan alometrik yang disetujui
untuk kawasan dengan berbagai kepentingan yang berbeda sekaligus
menerima saran dan masukan mengenai topik ini.
“Penting untuk diketahui bahwa persamaan
tersebut biasanya telah disusun untuk
hutan-hutan yang tidak terdegradasi dan
mungkin kurang tepat apabila digunakan
untuk hutan terdegradasi di mana
lingkungan yang tumbuh pada dasarnya
telah diubah”
Harus diperhatikan bahwa:
• Berat jenis adalah pengukuran kekerasan kayu. Jika spesies suatu kayu
diketahui, maka berat jenis sebagaimana tercatat dalam Basis Data
Kekerasan Kayu pada Pusat Agroforestri Dunia (World Agroforestry
Centre - WAC) (http:// db.worldagroforestry.org/wd) harus digunakan,
dan jika hanya genus yang diketahui, maka nilai yang digunakan adalah
nilai rata-rata di tingkat genus. Jika tidak diketahui, maka yang harus
digunakan adalah nilai standar 0,55 ton/m3 untuk spesies pohon tropis
dan 0,247 ton/m3 untuk spesies palem, berdasarkan nilai rata-rata yang
dikeluarkan oleh Panel antar Pemerintah mengenai Perubahan Iklim
(2006), Panduan untuk Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional, Volume
4. Pertanian, Kehutanan dan Pemanfaatan Lahan Lainnya, serta basis
data kekerasan kayu dari WAC.
• Faktor konversi karbon mengestimasi komponen karbon biomassa
vegetasi. Faktor ini dapat dihasilkan untuk tipe hutan tertentu, atau
nilai standar IPCC sebesar 0,47 dapat digunakan.
• Persamaan untuk menghitung massa karbon pohon per hektar adalah:
Karbon Total (ton/ha) = Σ ([Karbon Pohon]) / [Ukuran plot dalam satuan
hektar]
• Pendugaan volume pohon dalam sub plot memerlukan penghitungan
volume yang terpisah karena ukuran plot utama dan sub plot berbeda.
Setelah menyelesaikan pemrosesan data mentah dan estimasi stok
karbon per kelas vegetasi, maka uji ANOVA harus dilakukan untuk
menentukan adanya perbedaan nyata pada estimasi karbon per kelas.
Uji tersebut dilanjutkan dengan Scheffé pairwise multiple comparison
test untuk menentukan kelompok mana yang berbeda secara nyata.
Hasil uji dapat dituliskan dalam format tabel di bawah ini.
Tutupan lahan
Jumlah plot
Batang per Luas Bidang
Stok Karbon
Galat standar Batas kepercayaan (90%)
hektar Dasar
Rata-rata
dari stok
karbon rata-rata Batas Atas
Batas Bawah
Lahan terbuka
Belukar
Hutan regenerasi muda
Hutan kerapatan rendah
Hutan kerapatan menengah
Hutan kerapatan tinggi
66
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Menyelesaikan klasifikasi
Setelah kegiatan lapangan selesai, maka data
lapangan digunakan untuk membandingkan dan
merevisi klasifikasi vegetasi secara manual dengan
menggunakan hasil survey lapangan. Secara khusus,
yang digunakan adalah data berikut ini:
Harus diingat bahwa revisi batas kelas vegetasi tidak bertujuan
mencocokkan masing-masing angka karbon plot. Revisi tersebut hanya
boleh dilakukan jika kedua syarat di bawah ini terpenuhi.
• Plot inventarisasi menunjukkan bias yang jelas dalam klasifikasinya,
yaitu kelompok plot yang berdekatan memiliki nilai karbon yang berada
jauh di luar kisaran kelas vegetasi.
• Analisis ulang citra mendukung dilakukannya revisi batas kelas vegetasi.
Hasil Survei Udara:
• Jika survei udara dilakukan, maka basis data dari foto udara dengan
geo-referensi dapat dikompilasikan menjadi suatu file *.gdb untuk
setiap kawasan. Basis data tersebut kemudian dimuat ke dalam GIS
sehingga foto-foto tersebut dapat dilihat dan dibandingkan dengan hasil
klasifikasi.
• Pengamatan tertulis dicatat selama survei udara.
Hasil Inventarisasi Hutan
• Inventarisasi hutan yang dijelaskan di dalam bab ini menghasilkan basis data
titik plot inventarisasi dan masing-masing plot memiliki nilai stok karbon per
hektar. Titik-titik plot distratifikasikan menjadi kelas-kelas karbon sebagaimana
ditentukan dan di-overlay di atas citra.
• Inventarisasi hutan menghasilkan basis data foto plot dengan geo-referensi
(lima foto per plot) yang dikompilasikan menjadi suatu file *.gdb untuk setiap
kawasan. Basis data tersebut kemudian dimuat ke dalam GIS sehingga foto
tersebut dapat dilihat dan dibandingkan dengan hasil klasifikasi.
• Campuran spesies seperti misalnya banyaknya spesies pionir seperti
Macaranga spp., keberadaan pohon yang ditanam (karet, pohon buah).
• Penyebaran diameter, khususnya banyaknya pohon berdiameter besar (DBH
30 cm atau lebih).
• Jika data tinggi juga dikumpulkan, maka indeks struktural yang
menggambarkan persentase spesies berdasarkan kelas tinggi dapat dihitung.
• Deskripsi jenis dan tahap perkembangan seperti contohnya hutan pionir,
hutan terdegradasi berat yang beregenerasi, hutan terdegradasi, hutan
primer, dll. Indeks pertumbuhan hutan, suksesi, dan atau maturitas hutan
juga dapat dihitung. Indeks-indeks tersebut dapat membantu menentukan
rencana konservasi dan pengelolaan.
Revisi apapun yang dilakukan harus didokumentasikan dan didukung
justifikasi kuat sehingga peninjau eksternal yang mengkaji kualitas proses
SKT dapat memahami alasan dilakukannya perubahan tersebut.
Klasifikasi akhir menghasilkan peta kawasan hutan SKT indikatif, termasuk
di dalamnya nilai karbon rata-rata untuk setiap kelas vegetasi serta
deskripsi fisik mengenai vegetasi di setiap kelas. Paruh kedua dari toolkit
ini menjelaskan Fase Dua yang berisi mengenai pembuatan keputusan
perihal pentingnya patch hutan kecil yang terisolasi dan mengintegrasikan
kawasan hutan SKT potensial dengan kawasan NKT, kawasan yang penting
bagi kebutuhan masyarakat, sempadan sungai, lahan gambut, dan
kategori lahan lain yang berkaitan untuk membuat rencana final kegiatan
pengembangan dan konservasi.
“Fase Dua yang berisi tentang...
mengintegrasikan kawasan hutan SKT
potensial dengan kawasan NKT, kawasan
yang penting bagi kebutuhan masyarakat,
sempadan sungai, lahan gambut, dan
kategori lahan lain yang berkaitan untuk
membuat rencana final kegiatan
pengembangan dan konservasi”
• Deskripsi plot dan transek yang dicatat oleh tim inventarisasi di lapangan.
Semua foto: hak cipta TFT©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
67
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 4
INVENTARISASI HUTAN DAN ESTIMASI STOK KARBON
Lampiran 1: Lembar Inventarisasi dan
Daftar Peralatan Tim Inventarisasi
Layout Buku Lapangan:
Daftar Peralatan yang Direkomendasikan untuk Tim Inventarisasi:
Tipe
Model
Peralatan
JumlahKeterangan
GPS
Garmin GPSMAP 60CSx
1
Baterai
AA
1 kotak Baterai cadangan untuk GPS dan
kamera
Kamera
Kamera digital
1
1
Pita ukur/
Pita ukur diameter – 5 m
1
2
meteran
Pita ukur diameter – 1,8 m 2
Nama perusahaan/konsesi:
Ketua Tim Lapangan:
Tanggal:
Jalur/plot:
No: waypoint
Tutupan Lahan:
Pohon
DBH
Nama spesies atau nama lokal
3
4
5
6
7
8
Dll.
Deskripsi umum mengenai plot dan kawasan sekitarnya,
seperti misalnya Bukti kebakaran, Pohon karet tua di luar plot
Pita ukur 50m TajimaYSR-50
1
Pita ukur 20m TajimaYSR-20
1
Pita penanda
20
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Coated fiberglass
Coated fiberglass
Hip chain
Chainman II dengan sabuk 1
Benang
Benang untuk hip chain
3 km
Kompas
SILVA® Starter Tipe 1-2-3
1
Kotak P3K
1
Ransel
1
Pensil dan pulpen
1 kotak
Spidol permanen anti air
1 kotak Untuk menulis label pohon
1 kotak cutter KENKO
2
1 penggaris 30 cm
1
Stapler dan isi
2
Untuk menempelkan label ke pohon
Buku catatan lapangan
4
Buku catatan anti air
Kantong plastik tipe zip
lock
68
Alternatif: GPS MAP model 62
Alternatif: kompas Suunto
Untuk memotong label pohon
Untuk menjaga peralatan seluler,
peta, dll. tetap kering
Versi 1.0, Agustus 2015
BAB 5
KONSERVASI PATCH HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI:
LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Bab 5
Konservasi Patch Hutan
Ber-Stok Karbon Tinggi:
Latar belakang dan prinsip
Oleh Grant Rosoman, Greenpeace
Ucapan terima kasih: Penulis mengucapkan terima kasih kepada Robert Ewers
dari Imperial College London,Neville Kemp dari Ekologika, Rob McWilliam dari TFT,
Matthew Struebig dari University of Kent dan Jaboury Ghazoul dari ETH-Zurich,
serta kolega dari Golden Agri-Resources dan Rainforest Alliance, atas atas masukanmasukan pentingnya terhadap draf bab ini.
DAFTAR ISI BAB
P70: Pendahuluan: Mengintegrasikan kaidah konservasi ke dalam analisis patch hutan SKT
P71: Pengaruh fragmentasi dan efek tepi terhadap bagian inti suatu patch hutan
P72: Pentingnya ukuran dan patch hutan
P73: Konektivitas
P74: Mengembangkan indikator dan ambang batas dalam Analisis Decision Tree Patch SKT
P76: Kesimpulan
69
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0, Agustus 2015
BAB 5
KONSERVASI PATCH HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI:
LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Pendahuluan: Mengintegrasikan ilmu konservasi ke dalam analisis patch hutan SKT
Sebagian besar pengembangan perkebunan di daerah tropis terjadi di lanskap
hutan yang mencakup campuran kawasan hutan, kawasan terdegradasi dan
lahan terbuka, serta tipe ekosistem lainnya seperti lahan basah. Analisis citra
dan plot lapangan dilakukan pada fase stratifikasi vegetasi pertama dari kajian
SKT secara umum menghasilkan identifikasi patch kawasan hutan SKT dengan
ukuran, bentuk dan kualitas yang beragam.
Tujuan besar dari perlindungan kawasan hutan SKT (selain integrasi dengan
kawasan NKT, lahan gambut dan kawasan penting bagi masyarakat) adalah
perlindungan kawasan hutan yang layak dalam lansekap produksi dengan
dukungan masyarakat lokal serta perlindungan hukum.1 Hal ini berarti bahwa
pemrakarsa Pendekatan SKT harus menentukan cara untuk menentukan nilai
dan kelayakan patch hutan SKT walaupun dari segi praktis tidak semua patch
hutan berukuran kecil dapat dilindungi dalam jangka menengah atau panjang.
Di saat yang bersamaan, mereka harus mengakui bahwa bahkan patch hutan
berukuran kecil sekalipun dapat berperan sebagai habitat atau konektivitas
penting ke habitat lain serta sebagai penyimpan karbon, khususnya pada
lanskap dengan tutupan-tutupan hutan yang rendah.
Karena ini merupakan metodologi berbasis ilmiah, pihak pemangku
kepentingan terhadap Pendekatan SKT mengacu ke arah penelitian ilmu
konservasi untuk memberikan informasi mengenai indikator kualitas patch
hutan. Dalam waktu 30 tahun terakhir telah dilakukan penelitian yang
cukup banyak mengenai fragmentasi hutan dan patch hutan, khususnya
berkaitan dengan dampaknya terhadap spesies dan habitat.2 Dalam suatu
penelitian fragmentasi yang mungkin merupakan penelitian fragmentasi
terpanjang di Amazon, dijumpai bahwa dalam lanskap yang sangat
terfragmentasi, perlindungan fragmen hutan yang tersisa merupakan hal
yang sangat diinginkan karena fragmen tersebut cenderung merupakan
sumber utama bagi reproduksi tumbuhan dan satwa serta sebagai ‘batu
loncatan’ untuk pergerakan satwa dalam suatu lanskap (Laurance et al.,
2011). Namun disayangkan bahwa di tingkat global penelitian ini masih jauh
dari konklusif, khususnya mengingat bahwa keaneragaman hutan tropis
dunia yang sangat tinggi, dan terdapat banyak faktor mengejutkan yang
dapat menutupi efek fragmentasi (Ewers dan Didham, 2006) dan yang
dimediasi oleh matriks lansekap sekelilingnya (Laurance dan Vasconcelos,
2004). Saat ini masih sulit mengukur dampak sepenuhnya dari fragmentasi
terhadap populasi (Ewers et al., 2010).
Semua foto hak cipta TFT ©
1. Lihat komitmen kebijakan ‘Nihil Deforestasi’ atau
‘Bebas Deforestasi, antara lain dari Golden AgriResources: “Pada akhirnya, kawasan hutan SKT yang
dikonservasi bisa kembali ke fungsi ekologis alaminya
sebagai suatu kawasan.” Dalam Golden
Agri-Resources (2012).“High Carbon Stock Forest
Study Report”, halaman 3.
2. Sebagai contoh,Laurance dan Bierregaard (1997);
Ewers danDidham (2006); Laurence et al. (2011) dan
Fahrig(2003)
3. Contohnya adalah Fragstats, yang dapat dilihat di:
http://www.umass.edu/landeco/research/fragstats/
fragstats.html
70
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
“Tujuan besar dari perlindungan kawasan
hutan SKT ... adalah perlindungan areal
hutan yang layak dalam suatu lansekap
dengan dukungan masyarakat lokal serta
perlindungan hukum”
Maka dari itu pedoman mutlak tentang faktor utama fragmentasi dan patch
hutan belum dapat disusun, seperti ambang batas minimal ukuran, efek tepi
(edge effect), konektivitas, bentuk dan konfigurasi patch hutan yang akan
memastikan viabilitas hutan jangka panjang. Namun pembaca masih dapat
mengambil pemahaman prinsip umum tentang pentingnya patch hutan
tertentu dalam suatu lansekap. Bab ini menyajikan penjelasan singkat tentang
pertimbangan ilmu konservasi yang digunakan untuk menarik prinsip dan
atribut untuk dianalisis dalam proses SKT untuk menentukan pentingnya
perlindungan satuan patch hutan SKT dalam lanskap bersamaan dengan NKT,
lahan gambut, sempadan sungai, dan kawasan perlindungan lainnya. Walaupun
prinsip dan atribut ini tidak dijelaskan dengan mendalam di sini, perlu dicatat
bahwa ada berbagai alat GIS yang telah dikembangkan untuk menganalisis
patch hutan.3
Versi 1.0, Agustus 2015
BAB 5
KONSERVASI PATCH HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI:
LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Pengaruh fragmentasi dan efek tepi
terhadap kawasan inti suatu patch hutan
Suatu mosaik areal berhutan sangat berbeda dengan
kawasan hutan yang saling bersinggungan baik dari
segi komposisi maupun ekologi (Noss dan Cooperrider,
1994; Laurance dan Bierregard, 1997). Fragmentasi
menyebabkan isolasi genetik spesies tumbuhan dan
satwa, menurunkan keaneragaman genetik dan
pada akhirnya, hilang atau menyempitnya habitat
yang dibutuhkan suatu spesies akan berujung pada
kepunahan lokal spesies. Jika spesies tersebut
merupakan ‘keystone species’ atau spesies kunci dalam
definisi ekologis (misalnya, memiliki peran utama
sebagai mata rantai dalam jaring makanan atau
sebagai penyebar biji), maka kepunahannya akan
menyebabkan efek domino kepunahan lain yang saling
terkait, dan mengubah jaringan makanan (Myers, 1993).
GAMBAR 1: HASIL DARI PENELITIAN SELAMA 22 TAHUN MENGENAI DAMPAK
FRAGMENTASI TERHADAP HUTAN HUJAN AMAZON DAN BIOTA MENUNJUKKAN JARAK PENETRASI BERBAGAI EFEK TEPI (DARI LAURANCE ET AL., 2002)
Konsekuensi penting lainnya dari fragmentasi hutan adalah perluasan tepi
hutan. Sepanjang kawasan tepi ada gradien mikro iklim kuat yang
menyebabkan ‘efek tepi’. Gradien tersebut sangat beragam tetapi mencakup
cahaya, suhu, kandungan kelembaban tanah, dan kecepatan angin, yang
berdampak terhadap ekologi hutan terfragmentasi (Thies et al., 2011). Kawasan
tepi hutan memiliki kondisi lebih kering dibandingkan kawasan dalam hutan
karena berbagai faktor, termasuk kondisi atmosfer setempat yang menarik
kelembaban dari hutan. Bahkan lahan terbuka berbentuk memanjang bisa
berbahaya (Laurence et al., 2011).
Efek tepi memiliki berbagai dampak biologis, termasuk:
• penurunan keanekaragaman hayati, khususnya spesies dengan nilai
konservasi (Fitzherbert et al. 2008);
• peningkatan kematian pohon, khususnya pohon-pohon besar (Laurance
et al. 2000);
• peningkatan iklim mikro sepanjang tepi yang dapat mengancam
regenerasi, mengganggu proses perkecambahan benih di fragmen
hutan hujan (Bruna, 1999);
• perubahan struktur hutan, gugurnya daun, dan kolonisasi pergantian
komunitas tumbuhan; dan
• pergeseran komposisi pohon dan tumbuhan lain secara tiba-tiba.
Sebagaimana disebutkan oleh Laurance et al. (2011):
Peningkatan gangguan angin
“Fenomena tepi sangat beragam. Fenomena ini mencakup stres akibat
kekeringan, perubahan arah dan kecepatan angin dalam waktu singkat,
dan turbulensi angin yang dapat miningkatkan laju mortalitas dan
kerusakan pada pohon secara drastis. Hal ini menyebabkan berbagai
perubahan dalam komposisi komunitas pohon dan liana. Stres ini juga bisa
menurunkan perkecambahan dan pertumbuhan spesies toleran naungan
di fragmen hutan, yang mengakibatkan perubahan dramatis dalam
komposisi dan kelimpahan bibit pohon.”
Peningkatan mortalitas pohon
Invasi kupu-kupu yang teradaptasi dengan gangguan
PARAMETER TEPI
Perubahan komposisi spesies semut serasah
0
Invasi kumbang yang teradaptasi dengan gangguan
Perubahan komposisi spesies invertebrata serasah
Perubahan kelimpahan dan keanekaragaman invertebrata serasah
Perubahan ketinggian kerapatan dedaunan tertinggi
Penurunan kelembaban relatif
Percepatan peningkatan populasi pohon yang teradaptasi dengan gangguan
Penurunan tinggi tajuk
Penurunan kelembaban tanah
Kerapatan dedaunan tajuk yang lebih rendah
Peningkatan suhu udara
Peningkatan suhu dan defisit tekanan uap
Penurunan kelimpahan burung yang hidup di lapisan bawah tajuk
Peningkatan serasah
Peningkatan radiasi aktif fotosintesis di lapisan bawah tajuk
Kelembaban relatif yang lebih rendah
Peningkatan jumlah bukaan hutan karena pohon tumbang
Kerapatan dedaunan lapisan bawah tajuk yang lebih tinggi
Peningkatan pertumbuhan bibit
Invasi tumbuhan yang teradaptasi dengan gangguan
Kandungan air relatif daun lebih rendah
Kandungan kelembaban yang leih lebih rendah
Invasi tumbuhan yang teradaptasi dengan gangguan
Penurunan kepadatan badan penghasil spora jamur
100
200
300
Gambar 1 (kiri) menunjukkan dampak yang dapat diamati jauh ke dalam
patch hutan Amazon dari tepi, dengan peningkatan gangguan angin yang
dapat mencapai 350m dari tepi patch hutan. Baca Ellis-Cockcroft dan
Cotter (2014) untuk kajian pustaka mengenai dampak fragmentasi terhadap
proses-proses ekosistem.
“Kawasan tepi hutan memiliki kondisi lebih
kering dibandingkan kawasan dalam hutan
karena berbagai faktor, termasuk kondisi
atmosfer setempat. Bahkan lahan terbuka
berbentuk memanjang bisa berbahaya”
400
JARAK PENETRASI TEPI (m)
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
71
Versi 1.0, Agustus 2015
BAB 5
KONSERVASI PATCH HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI:
LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Pentingnya ukuran dan bentuk
patch hutan
Salah satu aspek penting dari efek tepi hutan
adalah bahwa efek tersebut meningkat secara
drastis seiring dengan fragmentasi. Hal ini sangat
relevan untuk patch hutan yang dikelilingi lahan
terdegradasi, yang merupakan gambaran tipikal
di berbagai konsesi perkebunan yang merupakan
tujuan dirancangnya Pendekatan SKT. Dengan
meningkatnya fragmentasi, maka persentase
luas total hutan tersisa yang terkena dampak
fragmentasi juga meningkat karena proporsi
tepi yang semakin tinggi pada setiap patch.
“Bentuk setiap patch juga mempengaruhi
efek tepi, di mana efek tepi menjadi semakin
parah dengan meningkatnya kedekatan
dengan dua tepi atau lebih”
GAMBAR 2: P ENGARUH BENTUK TERHADAP PROPORSI TEPI SUATU PATCH
(DIADAPTASI DARI PEMERINTAH MALAYSIA, 2009)
4. Berbagai referensi sebagai contoh terdapat dalam Ewers dan Didham, 2006
72
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Dengan kondisi hutan yang secara umum telah terdegradasi di banyak area
konsesi, sebagian besar dikarenakan kegiatan penebangan, pembangunan jalan
dan pertanian berpindah di masa lampau, maka terdapat berbagai patch hutan
dengan ukuran dan tingkat isolasi yang beragam, banyak diantaranya dengan
proporsi tepi yang tinggi dibandingkan dengan luasan keseluruhan. Faktor
utama untuk meminimalkan ‘efek tepi’ patch hutan terfragmentasi adalah
ukuran patch tersebut. Telah terdokumentasi baik bahwa area lebih besar
menyediakan habitat, perlindungan karbon hutan dan viabilitas jangka panjang
yang lebih baik dibandingkan area yang lebih kecil atau lebih terfragmentasi. Hal
ini dikarenakan efek tepi yang lebih kecil dan kawasan inti (core area) yang lebih
besar dan relatif tidak terganggu (Laurance et al., 2011; Ewers dan Didham,
2006; Laurance dan Yensen, 1991). Ini berarti bahwa luas kawasan inti, atau
bagian dalam dari suatu patch yang relatif tidak terganggu oleh tepi,
merupakan faktor kunci untuk menganalisis pentingnya setiap patch dalam
konservasi hutan.
Bentuk setiap patch juga mempengaruhi efek tepi, di mana efek tepi menjadi
semakin parah dengan meningkatnya kedekatan dengan dua tepi atau lebih
(Laurance et al., 2011). Kompleksitas bentuk juga berdampak besar, dengan
bentuk patch yang lebih membulat lebih baik dibandingkan bentuk ireguler
atau kompleks karena tidak banyak kolonisasi dan gangguan terhadap pola
penyebaran habitat dan spesies.4 Gambar 2 menunjukkan bagaimana kawasan
inti (>100m dari tepi patch) dipengaruhi oleh bentuk patch: setiap patch
memiliki luas total sebesar 100 ha, tetapi ukuran kawasan inti sangat bervariasi
tergantung pada bentuk patch tersebut. Dengan menggunakan kawasan inti
sebagai faktor analisis utama maka patch hutan dengan bentuk yang lebih
reguler dan tidak rumit akan menjadi prioritas.
Versi 1.0, Agustus 2015
BAB 5
KONSERVASI PATCH HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI:
LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Konektivitas
Konektivitas fisik dipilih sebagai faktor utama kedua
untuk menilai pentingnya setiap patch. Hal ini
dikarenakan kawasan koridor, ketersambungan dan
‘batu loncatan’ adalah kritis untuk memungkinkan
pergerakan flora dan fauna melalui lanskapnya dan
memfasilitasi penyebaran biji, pengembangbiakkan,
dan interaksi antara satwa pemangsa-mangsa, serta
mengamankan habitat untuk spesies yang menjadi
penghuni (Laurance, 2004). Fitur koridor utama yang
memfasilitasi pergerakan fauna dan penyebaran
tumbuhan antara lain adalah kualitas habitat, lebar
koridor, panjang koridor, kerapatan tajuk dan
konektivitas koridor (Laurance, 2004). Bahkan
apabila tidak ada koridor yang utuh, jika spesies
dapat bergerak melalui suatu perkebunan, fragmen
hutan dapat berperan sebagai ‘batu loncatan’ untuk
penyebaran dan bisa lebih bermanfaat dibandingkan
koridor habitat (Falcy dan Estades, 2007).
Saat mempertimbangkan konektivitas, penting untuk mengevaluasi
dan mempertimbangkan patch yang banyak di waktu yang bersamaan
serta penghubung ke lanskap yang lebih luas untuk memastikan bahwa
keputusan yang dibuat bukan saja untuk satuan patch atau terpisah
dari patch atau sekumpulan patch lainnya. Walaupun Pendekatan SKT
menitikberatkan perlindungan hutan yang masih tersisa, pada akhirnya
menggabungkan kembali fragmen yang terisolasi melalui restorasi hutan
akan menjadi langkah efektif untuk menciptakan kawasan yang cukup besar
untuk memperlambat kepunahan spesies.5
Koridor dan batu loncatan
Koridor keanekaragaman hayati atau satwa liar
adalah habitat yang menyambungkan populasi
satwa liar yang terpisah karena aktivitas
manusia seperti pembangunan pertanian atau
pemukiman. Koridor memungkinkan pertukaran
individu antar populasi yang dalam kondisi lain
terisolir, mengurangi peluang perkawinan kerabat
(inbreeding) dan mendukung keanekaragaman
genetik serta fleksibilitas spesies. Koridor juga
memfasilitasi migrasi dengan memungkinkan
satwa liar menghindari risiko akibat melintasi
jalan, pemukiman atau kawasan pertanian.
Patch habitat yang saling berdekatan dan dapat
dimanfaatkan satwa liar untuk bergerak melalui
suatu lanskap disebut ‘batu loncatan’ dan
memiliki peran ekologis serupa dengan koridor
yang terhubung sepenuhnya. Koridor atau batu
loncatan juga mungkin berperan sebagai habitat
untuk spesies kunci atau lokasi persinggahan,
tergantung pada ukurannya.
Diagram berikut menggambarkan fungsionalitas
koridor dan batu loncatan dalam suatu lanskap
hutan terfragmentasi.
GAMBAR 3: KORIDOR DAN BATU LONCATAN (DIADAPTASI DARI PEMERINTAH MALAYSIA, 2009)
5. Berbagai referensi dikutip dalam Laurance, 2011. Baca juga Bentrup, G. (2008),
The Woodland Trust (2000), Peres (2001), dan Wearn et al. (2013)
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
73
Version 1.0, August 2015
BAB 5
KONSERVASI PATCH HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI:
LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Mengembangkan indikator dan ambang batas
untuk Decision Tree Analisis Patch SKT
Dengan memperhatikan pertimbangan konservasi
yang diuraikan dalam bab ini, ambang batas umum
untuk ukuran, kualitas dan konektivitas patch dapat
dikembangkan untuk menghasilkan alat praktis
menentukan pentingnya setiap patch dalam
kawasan konsesi. Proses SKT menggunakan ambang
batas ini dalam suatu Pohon Keputusan sederhana
(dijelaskan dalam Bab Enam) untuk mengkaji nilai
dari setiap patch SKT, berdasarkan nilainya dalam
suatu konsesi dan dalam lanskap yang lebih luas.
Mendefinisikan kawasan inti dan memprioritaskan patch SKT
berdasarkan ukuran
Pertama, Pohon Keputusan SKT menetapkan prioritas bagisetiap patch sebagai
Tinggi, Sedang atau Rendah, berdasarkan area kawasan intinya. Untuk
menentukan kawasan inti dari setiap patch, ‘daerah penyangga negatif’
ditempatkan untuk mengeluarkan area yang paling terpengaruh oleh tepi patch
tersebut. Efek tepi dijumpai pada jarak 10 m sampai 1 km dari tepi patch dan
sangat bervariasi (lihat di bawah), sehingga penentuan ambang batas yang
tepat tidak mudah. Namun, untuk Decision Tree dan tujuan praktis, ambang
batas harus berupa bilangan bulat sederhana, makajarak 50 m, 100 m, atau 200
m dapat digunakan. Berdasarkan kisaran jarak untuk berbagai efek tepi yang
berbeda, khususnya dari wilayah Amazon di Brazil (Broadbent et al., 2008;
Laurance, 2011; Ries et al., 2004), diadopsi jarak efek tepi dan ‘daerah
penyangga negatif’ sejauh 100m.
Saat kawasan inti telah ditentukan, tingkat prioritas setiap patch dapat
ditentukan. Sekali lagi, karena Pendekatan SKT dirancang untuk digunakan
di lanskap hutan yang sangat beragam, nilai umum dan bilangan bulat perlu
digunakan walaupun luas habitat minimal bervariasi pada tipe spesies,
kebutuhan spesies, kualitas habitat, dan matriks lanskap sekelilingnya. Ukuran
habitat minimal bisa sekecil satu hektar untuk spesies vertebrata dan tumbuhan
tertentu, hingga ribuan kilometer persegi untuk satwa pemangsa dengan
wilayah jelajah luas untuk memastikan keberlangsungan hidup jangka panjang
spesies tersebut (Bryant et al., 1997).
Atas: Foto hak cipta G. Rosoman, Greenpeace ©
Bawah: Corozal Sustainable Future Initiative, Belize ©
“Ukuran habitat minimal bisa sekecil satu hektar
untuk spesies vertebrata dan tumbuhan
tertentu, hingga ribuan kilometer persegi untuk
satwa pemangsa dengan wilayah jelajah luas
untuk memastikan keberlangsungan hidup
jangka panjang spesies tersebut”
Penelitian mengenai berbagai kawasan inti masih terbatas, namun terdapat
beberapa penelitian tentang luas total patch hutan. Salah satu penelitian
menjumpai bahwa di fragmen hutan Amazon berukuran lebih kecil dari 25 ha
(termasuk area tepi) maka kemungkinan besar hanya ada sedikit spesies yang
bertahan hidup.6 Bierregaard dan Dale (2006) menyarankan bahwa di Amazon,
“ukuran patch hutan minimal mutlak yang dapat dianggap layak untuk spesies
dalam persentase besar … adalah 100 ha”. Suatu meta-analisis dari 53
penelitian tentang laju kepunahan spesies dalam fragmen hutan menemukan
bahwa patch hutan berukuran hingga 60 ha memiliki laju kepunahan tinggi
(Wearn et al., 2013). Selain itu, suatu kompilasi berbagai kelompok spesies
menunjukkan bahwa dibutuhkan patch hutan dengan luas minimal rata-rata
10 ha untuk melindungi spesies (Bentrup, 2008).
Karena kurangnya bukti konklusif mengenai ukuran patch hutan minimal dan
beragamnya tipe hutan di mana Pendekatan SKT akan digunakan, maka diambil
pendekatan kehati-hatian dalam mendefinisikan luas minimal area inti hutan.
Walaupun patch hutan apapun yang memiliki kawasan ‘inti’ dianggap memiliki
nilai, kawasan inti dengan luas minimal 10 ha (bagian dari patch berbentuk
membulat seluas 25 ha termasuk tepi) dipilih sebagai prioritas sedang dan
tinggi untuk konservasi karena merupakan kisaran di tengah dan juga sebagai
nilai yang dipilih dengan kehati-hatian yang masuk akal untuk berbagai spesies
berbeda, dan merupakan luas yang didukung oleh penelitian. Angka ini
menunjukkan bahwa patch hutan dengan kawasan inti kurang dari 10 ha
dianggap sebagai Prioritas Rendah, namun tetap mengingat bahwa bahkan
fragmen kecil dan terdegradasi sekalipun bisa mengandung nilai
keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, khususnya pada lanskap dengan
tutupan hutan yang rendah, dan dapat mendukung dan meningkatkan habitat
spesies di kawasan cagar yang lebih luas (Fitzherbert et al., 2008). Ambang
batas untuk patch hutan Prioritas Tinggi didefinisikan sebagai patch dengan luas
kawasan inti lebih dari 100 ha, dan patch dengan kawasan inti antara 10 dan
100 ha termasuk dalam Prioritas Menengah.
6. Berdasarkan kepunahan 46 spesies vertebrata, Peres et al. (2001)
74
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Version 1.0, August 2015
BAB 5
KONSERVASI PATCH HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI:
LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Konektivitas
Untuk menilai konektivitas patch hutan SKT, digunakan proksimitas atau jarak
200 m antar patch (untuk penyangga positif sebesar 100 m sekeliling patch
hutan), berdasarkan penelitian di Amazon yang menunjukkan laju dispersal
mulai menurun tajam jika jarak antar patch mencapai lebih dari 200 m dari
tepi hutan (Laurance, et al. 2006). Maka dari itu, jika jarak antar patch hutan
adalah kurang dari 200 m (diukur dari tepi ke tepi), diasumsikan bahwa letak
patch cukup dekat untuk dianggap saling terhubung. Jika konfigurasinya
kondusif, maka patch tersebut dianggap sebagai sekumpulan patch yang
dapat berfungsi sebagai batu loncatan menuju patch yang lebih besar.
Sebagai contoh, satwa dapat bergerak melalui suatu perkebunan jika mereka
bisa melihat adanya patch hutan alami sejauh 200 m. Batas yang digunakan
untuk menentukan konektivitas patch ke area NKT, seperti sempadan sungai
atau kawasan lindung, juga sejauh 200 m.
Mendefinisikan Lanskap Tutupan Hutan yang Tinggi dan Rendah
Tingkat tutupan hutan bervariasi luas pada berbagai lansekap di mana
Pendekatan SKT akan diterapkan. Penting untuk mempertimbangkan tutupan
hutan pada tingkat lanskap karena akan berdampak pada tingkat pentingnya
fragmen-fragmen hutan berukuran kecil. Penelitian mengenai dampak
deforestasi pada tingkat lanskap di Amazon menunjukkan bahwa apabila sekitar
20% tutupan hutan telah dihilangkan, atau hanya kurang dari 80% tutupan
hutan yang tersisa, maka ukuran patch hutan rata-rata menurun drastis dan
patch hutan menjadi semakin terisolasi (Oliveira de Filho dan Metzger, 2006).
Saat luas habitat total menurun di bawah 30%, maka dampak fragmentasi
habitat (ukuran dan isolasi patch hutan) mulai menjadi lebih besar
dibandingkan pengaruh langsung dari hilangnya habitat (Andren, 1994).
Dengan kata lain, 70% habitat telah hilang, namun sebenarnya kehilangan yang
terjadi jauh lebih besar karena hutan yang tersisa memiliki kualitas yang jauh
lebih rendah karena dampak eksponensial dari fragmentasi hutan.
Berdasarkan tinjauan awal dari penelitian yang mendefinisikan skala lanskap,
diusulkan agar penggunaan pendekatan luas atau radius dapat diterima. Untuk
penetapan kategori tutupan hutan diusulkan bahwa tutupan hutan lebih dari
80% dalam suatu lanskap akan dianggap sebagai tutupan hutan yang tinggi dan
kurang dari 30% dianggap sebagai tutupan hutan yang rendah.
“Penting untuk mempertimbangkan tutupan
hutan pada tingkat lanskap karena akan
berdampak pada tingkat pentingnya
fragmen-fragmen hutan berukuran kecil”
Pertimbangan lain
Sejumlah faktor fisik patch hutan lainnya sebagaimana digarisbawahi dalam
Noss (1999) juga dipertimbangkan, antara lain indeks kerapatan patch hutan,
panjang tepi patch hutan, dan bentuk patch, tetapi agar efisien dan praktis
maka dua faktor kritis patch hutan dipilih, yaitu ukuran areal inti dan
konektivitas. Faktor kualitatif lainnya juga dipertimbangkan, diantaranya
kualitas habitat, tingkat keanekaragaman termasuk keberadaan spesies langka
dan terancam, keterwakilan dan kealamian (Ross dan Cooperrider, 1994).
Namun karena banyak faktor tersebut sudah dipertimbangkan dalam kajian
NKT, dan karena tingginya biaya pengkajian hanya untuk beberapa faktor yang
nilai tambahnya masih dipertanyakan, pendekatan ini hanya dilakukan untuk
mengkaji kualitas patch hutan hanya untuk proses penentuan tahap akhir
bagi beberapa patch prioritas rendah/menengah dan berisiko tinggi sebelum
patch-patch tersebut masuk daftar pendek untuk dikonversi menjadi
perkebunan. Decision tree membutuhkan Kajian Keanekaragaman Hayati
Secara Cepat (Rapid Biodiversity Assessment - RBA) di patch tersebut, yang
memungkinkan dilakukannya pengecekan awal keanekaragaman hayati serta
pertimbangan atas kualitas dan keterwakilan habitat. Tahap dan metodologi
RBA dijelaskan dalam bab berikutnya.
Dokumen ini mendefinisikan lanskap berdasarkan definisi IUCN7 sebagai “suatu
mosaik geografis terdiri dari ekosistem yang saling berinteraksi sebagai
pengaruh dari interaksi geologis, topografis, tanah, iklim, biotik dan manusia
pada suatu wilayah tertentu.”Definisi ‘lanskap’ yang telah dipublikasi beragam
dari kurang dari satu ha sampai lebih dari 200.000 ha (Ahmed, 2009). Namun,
secara umum lanskap dianggap sebagai suatu satuan lahan dengan skala yang
lebih besar8. Salah satu opsi untuk menentukan ukuran lanskap adalah dengan
cara mengambil satu bentang lahan yang mencakup konsesi perkebunan dan
penyangga sekelilingnya, misalnya seluas 50.000 sampai 100.000 ha. Alternatif
lain pendefinisian lanskap adalah dengan menggunakan suatu cara sederhana
dan praktis berdasarkan radius dari batas area kajian (misalnya, suatu konsesi
yang akan dikembangkan) berdasarkan jarak maksimal penyebaran kunci.
Sebagai contoh, ditemukan bahwa spesies burung hutan di Amazon jarang
tersebar melebihi jarak sekitar lima kilometer(Van Houtan et al., 2007).
7. http://cmsdata.iucn.org/downloads/en_iucn__glossary_definitions.pdf
8. Contoh: TELSA: Alat perencanaan strategis untuk pengelolaan ekosistem menggunakan 10.000 sampai
200.000 ha. Tersedia di: http://proceedings.esri.com/library/userconf/proc00/professional/papers/
PAP329/p329.htm
Atas: Hak cipta G. Rosoman, Greenpeace ©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
75
Versi 1.0, Agustus 2015
BAB 5
KONSERVASI PATCH HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI:
LATAR BELAKANG DAN PRINSIP
Kesimpulan
Meskipun penjelasan dalam bab ini masih bersifat
umum untuk dapat diterapkan di berbagai tipe
hutan tropis basah, namun pertimbangan tersebut
menyampaikan basis ilmu konservasi dasar untuk
menganalisis patch hutan yang dihasilkan pada Fase
Satu dari Kajian SKT untuk mengusulkan rencana
konservasi dan penggunaan lahan. Pertimbangan
ilmu konservasi ini telah diintegrasikan dalam suatu
Pohon Keputusan untuk menentukan kebutuhan
melindungi setiap satuan patch hutan. Ini merupakan
fase kedua dalam Pendekatan SKT, yang dijelaskan
dalam bab berikutnya.
Setelah itu, perlu dicatat bahwa banyak generalisasi dan perkiraan yang
dilakukan untuk menyusun suatu alat praktis untuk mengidentifikasi patch
hutan yang layak dan dapat segera diterapkan di areal konsesi di seluruh
wilayah tropis dunia. Sains yang mendasari sebagian besar parameter dan
ambang batas ini masih kurang kuat dan membutuhkan tes dan uji coba
untuk memastikan bahwa yang digunakan untuk mencapai tujuan adalah
pendekatan terbaik. Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk
mengkonfirmasi asumsi bahwa patch dengan ukuran areal inti yang lebih
besar merupakan perwakilan untuk nilai keaneragaman hayati yang lebih
tinggi. Selain itu, elemen-elemen lainnya mungkin masih perlu
ditambahkan. Komite Penasihat Ilmiah dari Komite Pengarah Pendekatan
SKT akan memberi masukan mengenai penyempurnaan parameter dan
ambang batas tersebut untuk tipe ekosistem hutan yang ingin diketahui,
dan Komite Pengarah sangat terbuka untuk menerima masukan dan input
dari para pakar ilmu konservasi untuk memperbarui metodologi ini.
Semua foto
hak cipta Corozal Sustainable Future Initiative, Belize ©
76
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
“Penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk
mengkonfirmasi asumsi bahwa patch
dengan ukuran areal inti yang lebih
besar merupakan perwakilan untuk nilai
keaneragaman hayati yang lebih tinggi”
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Bab 6
Decision Tree Analisis
Patch Hutan SKT
Oleh Grant Rosoman dari Greenpeace dan Rob McWilliam dari TFT
Penulis memberikan ucapan terima kasih secara khusus kepada Geoff Roberts (dulunya)
dari TFT serta Williem Cahyadi dan Tara Rukmantara dari PT SMART atas pengembangan
Decision tree selama tiga tahun terakhir serta kepada Robert Ewers dari Imperial College
London, Matt Struebig dari Universitas Kent, Neville Kemp dari Ekologika dan Annette
Olson dari Conservation International atas umpan baliknya yang sangat membantu
mengenai Decision tree versi sebelumnya dan bagian-bagian dalam bab ini.
DAFTAR ISI BAB
P78: Pendahuluan
P80: Pohon Keputusan Analisis Kantong SKT
P88: Konservasi hutan SKT
P89: Lampiran: Metodologi Pengecekan Pra-RBA
77
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Pendahuluan
Fase Satu dari Pendekatan SKT ini menggunakan
citra satelit dan plot lapangan untuk
mengembangkan peta kawasan hutan SKT
potensial pada konsesi tertentu. Pada sebagian
besar lanskap, hutan SKT terdapat dalam bentuk
patch hutan dengan berbagai ukuran dan jarak,
yang bercampur di antara perkebunan dan
pemanfaatan lahan lain. Pendekatan SKT
menggunakan Decision tree Analisis Patch Hutan
SKT untuk menentukan pentingnya setiap patch
dan apakah patch tersebut perlu dimasukkan ke
dalam rencana konservasi berdasarkan ukuran,
bentuk, dan konektivitasnya dengan patch yang
lain, sempadan sungai, lahan gambut, atau
kawasan ber-Nilai Konservasi Tinggi (kawasan NKT).
Decision tree juga memberikan sedikit kelonggaran
untuk tingkat tutupan hutan pada lanskap.
TAHAP-TAHAP DALAM PROSES SKT
Bab ini membawa pembaca untuk memahami Decision tree yang merupakan
fase kedua dan terakhir dari Pendekatan SKT terhadap rencana pemanfaatan
lahan pada lanskap tropis yang diusulkan untuk pengembangan agrikultur.
Prinsip-prinsip yang diterapkan dalam Decision tree
Bab sebelumnya memberikan gambaran umum tentang beberapa literatur
ilmu konservasi mengenai fragmentasi hutan. Penerapan gambaran tersebut
ke dalam pendekatan perencanaan terintegrasi untuk melindungi kawasan
NKT, lahan gambut, dan kawasan yang penting untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat menghasilkan prinsip-prinsip berikut ini yang digunakan untuk
menganalisis nilai setiap patch hutan SKT:
1. Pastikan bahwa kawasan yang merupakan bagian dari siklus produksi
pangan subsisten aktif untuk memenuhi kebutuhan keamanan pangan
masyarakat adat lokal dipisahkan sebagai enclave dari area yang
dipertimbangkan sebagai hutan SKT (atau untuk pengembangan
perkebunan).
2. Prioritaskan patch hutan yang luas.
3. Prioritaskan konservasi kawasan hutan primer dan hutan sekunder tua.
4. Prioritaskan bentuk patch hutan yang memaksimalkan ‘kawasan inti’
dan oleh karenanya meminimalkan kawasan hutan yang terdegradasi
di bagian tepi.
5. Maksimalkan konektivitas antar patch untuk menciptakan koridor,
keterhubungan dan batu loncatan pada lanskap.
6. Prioritaskan patch yang berada jauh dari ancaman dan faktor risiko
yang dapat menyebabkan degradasi.
7. Pastikan bahwa konservasi hutan SKT terintegrasi dengan perlindungan
kawasan NKT, kawasan lahan gambut dan perlindungan sempadan
sungai, serta mempertimbangkan matriks lanskap dalam proses
finalisasi rencana konservasi.
8. Pastikan bahwa kawasan hutan SKT untuk konservasi memiliki FPIC dari
masyarakat hukum adat dan masyarakat tersebut merupakan partisipan
aktif dan mitra pengelola kegiatan konservasi hutan SKT.
9. Pastikan bahwa rencana konservasi hutan SKT mempertimbangkan desain
praktis dan isu manajemen untuk pengembangan perkebunan, termasuk
di dalamnya akses dan ukuran minimal serta bentuk blok untuk ditanami.
Definisi lanskap tutupan hutan tinggi,
menengah, dan rendah
Lanskap tutupan hutan tinggi didefinisikan
sebagai suatu lanskap yang memiliki tutupan
hutan alami melebihi 80%. Lanskap tutupan
hutan menengah didefinisikan sebagai suatu
lanskap yang memiliki tutupan hutan alami
antara 30 hingga 80%. Lanskap tutupan hutan
rendah memiliki tutupan hutan alami kurang
dari 30%.
78
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Pada lanskap tutupan hutan menengah, beberapa asumsi tambahan
berikut ini dapat dibuat:
10. F okus pada patch hutan yang lebih besar (artinya patch berukuran
kecil biasanya kurang penting pada kawasan yang memiliki tutupan
hutan relatif tinggi).
11. Semakin tidak terfragmentasi suatu lanskap, maka setiap patch
hutan juga semakin tidak penting, dan fokus semakin bergeser ke
arah konservasi hutan di tingkat lanskap.
Prinsip-prinsip ini dari awal telah diintegrasikan ke dalam Decision tree yang
disajikan dalam bab ini. Prinsip-prinsip tersebut juga memberikan konteks yang
penting untuk membentuk rencana final mengenai pemanfaatan lahan untuk
tujuan konservasi dan pengelolaan di dalam konsesi.
Mengintegrasikan informasi di luar SKT ke dalam Decision tree
Sebagaimana telah disebutkan di bagian awal toolkit, Pendekatan SKT tidak
hanya mengintegrasikan hutan SKT tetapi juga sejumlah kawasan lain untuk
konservasi, termasuk di dalamnya perlindungan terhadap kawasan NKT, lahan
gambut, dan kawasan yang penting bagi kebutuhan sosial dan ekonomi
masyarakat. Sebelum analisis Decision tree dapat diselesaikan, layer peta yang
harus dibuat mencakup hal-hal berikut ini.
• Setiap kawasan NKT, antara lain sempadan sungai di dalam konsesi dan
kawasan yang bersebelahan pada lanskap yang lebih luas, sebagai
contohnya kawasan lindung. Setidaknya gambaran umum kawasan NKT
dalam jarak 200 meter dari batas konsesi dibutuhkan dalam
penggunaan Decision tree karena jarak tersebut merupakan jarak standar
yang digunakan untuk mengkaji konektivitas patch hutan SKT terhadap
kawasan konservasi di sekitarnya. Isi dari analisis NKT, yaitu Nilai
Konservasi Tinggi yang telah teridentifikasi yaitu NKT 1-4, akan menjadi
penting pada tahap-tahap tertentu dalam Decision tree.
• Peta lahan gambut. Karena peta tanah gambut yang ada masih belum
sempurna, jika tanah gambut diketahui terdapat pada wilayah kajian,
maka pihak pengelola konsesi harus juga mempunyai prosedur identifikasi
terperinci mengenai gambut pada berbagai kedalaman serta prosedur untuk
mengubah hasil identifikasi menjadi data spasial (berupa peta). Walaupun
dalam praktiknya beberapa kawasan hutan lahan gambut kemungkinan
teridentifikasi sebagai hutan SKT, metodologi yang ada saat ini tidak
terkalibrasi untuk tipe vegetasi lahan gambut. Decision tree sebagaimana
telah dirumuskan ini tidak dapat digunakan untuk menganalisis kawasan
lahan gambut (serangkaian atribut yang berbeda, termasuk hidrologi, perlu
untuk dipertimbangkan). Akan tetapi, peta lahan gambut tetap merupakan
informasi yang berguna untuk mengidentifikasi kawasan lahan gambut
berhutan yang mungkin merupakan kawasan berpotensi dilestarikan dan
yang mungkin merupakan prioritas tinggi untuk dilindungi. Informasi ini
dapat diintegrasikan ke dalam Tahap 12 yang merupakan tahap perencanaan
konservasi.
• Peta batas dan pemanfaatan lahan adat oleh masyarakat lokal, yang
dibuat melalui kegiatan partisipatif sebagaimana dijelaskan pada Bab 2
toolkit ini. Secara khusus, kebun dan lahan pertanian untuk masa depan
yang merupakan kawasan fundamental terhadap pemenuhan kebutuhan
pangan pokok1 dilengkapi dan dicatat pada peta, termasuk di dalamnya
lahan milik bersama dan kawasan yang diklaim dan dimanfaatkan secara
perorangan. Jika kawasan tersebut berada di dalam konsesi, maka kawasan
tersebut akan ditetapkan sebagai enclave dan dikeluarkan dari analisis SKT
dan pengembangan perkebunan.
• Peta kawasan lain yang perlu dilindungi secara hukum.
Semua kawasan tersebut akan ditetapkan sebagai enclave dan dikeluarkan
dari analisis SKT dan pengembangan perkebunan, tetapi peta kawasan
tersebut masih perlu di-overlay dengan dalam peta patch SKT untuk
keperluan penggunaan Decision tree. Jika proses analisis dan pemetaan
tersebut belum dilaksanakan atau ternyata diketahui pada kunjungan
lapangan bahwa pemetaan partisipatif atau kajian NKT yang telah dilakukan
memiliki kualitas yang tidak memadai, maka proses Decision tree tidak akan
dapat difinalisasi sebelum proses-proses lainnya diselesaikan. Penyelesaian
rencana pemanfaatan lahan terintegrasi dalam Decision tree memerlukan
tersedianya semua layer informasi penting. Sebagai contoh, penting untuk
memastikan bahwa kawasan kebun masyarakat tidak diklasifikasikan
sebagai hutan SKT, atau bahwa perencanaan konservasi mengoptimalkan
bentuk dan konektivitas kawasan konservasi.
Kawasan lahan masyarakat yang teridentifikasi memiliki hutan SKT akan
diusulkan untuk dikonservasi sebagai bagian dari rencana konservasi
terpadu konsesi. Kawasan-kawasan tersebut memerlukan negosiasi FPIC
dan dukungan serta partisipasi dari masyarakat untuk mencapai tujuan
konservasi (serupa dengan kawasan NKT). Maka dari itu, masyarakat lokal
pemegang hak adat memiliki hak untuk menolak berubahnya tanah hutan
mereka menjadi kawasan konservasi. Akan tetapi, kawasan hutan tetap
dimasukkan ke dalam kategori hutan SKT.
Mendokumentasikan tahap-tahap dalam Decision tree
Terakhir, setiap tahap yang jelas dan keputusan yang diambil pada proses ini
harus didokumentasikan oleh pemilik konsesi. Hasilnya harus transparan
dan dapat ditinjau kembali oleh para ahli dari pihak luar. Komite Pengarah
Pendekatan SKT sedang mengembangkan proses pengontrolan kualitas
untuk memberikan tinjauan ahli terhadap hasil Decision tree. Proses
tersebut akan memastikan bahwa interpretasi dan keputusan yang diambil
sesuai dengan proses SKT secara keseluruhan. Rencana final konservasi dan
pemanfaatan lahan harus mencerminkan pendekatan perencanaan
terintegrasi yang memerlukan konektivitas habitat dan arti penting setiap
patch hutan untuk dikaji pada lanskap yang lebih luas.
“Kebun dan lahan pertanian untuk masa
depan yang merupakan kawasan
fundamental terhadap pemenuhan
kebutuhan pangan pokok... akan ditetapkan
sebagai enclave dan dikeluarkan dari
analisis SKT”
1. Untuk sementara, kawasan ini harus berada dalam kisaran minimum 0,5 hingga 4 ha per orang yang
berada di dalam masyarakat tergantung pada konteks lokal.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
79
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Decision tree Analisis Patch SKT
Decision tree secara keseluruhan disajikan pada
halaman berikut. Secara umum, Decision tree
menunjukkan cara analisis nilai konservasi setiap
patch hutan SKT berdasarkan prinsip konservasi yang
dijelaskan di atas, mencantumkan setiap patch dalam
daftar pendek untuk konservasi (‘indikatif konservasi’
dalam diagram) atau pengembangan (‘indikatif
pengembangan’). Beberapa patch dapat mengalami
perubahan kategori atau batas pada tahap akhir proses
pengambilan keputusan.
Setiap tahap dalam Decision tree akan dijelaskan secara rinci di dalam bab
ini. Untuk memberikan ilustrasi mengenai konsep tersebut, maka suatu
peta konsesi yang digambarkan secara sederhana (di bawah) telah dibuat
dengan 17 patch hutan SKT dalam berbagai ukuran dan bentuk.
GAMBAR 1: C ONTOH KONSESI PERKEBUNAN (BATAS JINGGA). PATCH HUTAN SKT DITUNJUKKAN OLEH WARNA HIJAU MUDA,
DENGAN AREA INTI BERWARNA LEBIH GELAP
80
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
GAMBAR 2: D ECISION TREE ANALISIS PATCH SKT (RBA = KAJIAN KEANEKARAGAMAN HAYATI SECARA CEPAT
– RAPID BIODIVERSITY ASSESSMENT)
TAHAP
1
TAHAP
2
TAHAP
3
1. Pemetaan Partisipatif untuk mengidentifikasi Lahan Kebun
2. Gabungkan patch SKT yang terhubung secara fisik (HRM, HK1, HK2, HK3)
Kawasan Inti Patch > 100 ha
(PRIORITAS TINGGI)
3b. Kawasan Inti Patch < 100 ha
(PRIORITAS MENENGAH DAN RENDAH)
YA
4b. Patch menyediakan fungsi konektivitas
antar patch PRIORITAS TINGGI
YA
5. Patch terhubung dengan patch PRIORITAS TINGGI
TAHAP
4
TAHAP
5
TAHAP
PATCH PRIORITAS MENENGAH
(kawasan inti <100 ha, tetapi >10 ha)
6
7
7a. Risiko Rendah
TAHAP
8
YA
TINDAKAN MITIGASI
DIPERLUKAN
9
TINDAKAN MITIGASI
RISIKO DIPERLUKAN
TINDAKAN MITIGASI
RISIKO DIPERLUKAN
TAHAP
10
TAHAP
12
LANSKAP HUTAN
MENENGAH DAN
TINGGI (>30% TUTUPAN
HUTAN)
7b. Risiko Tinggi
8a. Patch >10 ha merupakan
HK1, HK2 atau HK3
9. Pengecekan Pra-RBA
TAHAP
11
LANSKAP HUTAN
RENDAH (<30%
TUTUPAN HUTAN)
7. Kajian Risiko
TAHAP
TAHAP
PATCH PRIORITAS RENDAH
(kawasan inti <10 ha)
9a. TIDAK layak
secara operasional
9b. Layak secara operasional
10a. Patch hutan signifikan
untuk keanekaragaman hayati
10. RBA
10b. Patch hutan TIDAK signifikan
untuk keanekaragaman hayati
INDIKATIF
KONSERVASI
11. Pemeriksaan Lapangan
PETA KONSERVASI
YANG DIUSULKAN
Pemeriksaan lapangan akhir ini dilakukan untuk
mengonfirmasi kelayakan indikatif konservasi/
pengembangan. Perubahan yang dihasilkan hanya
boleh berupa keadaan-keadaan luar biasa
12. Penyesuaian Batas; integrasi dengan NKT, lahan
gambut, sempadan sungai; dan pemetaan dan
perencanaan konservasi final dengan kawasan hutan SKT
INDIKATIF
PENGEMBANGAN
11. Pemeriksaan Lapangan
KAWASAN PENGEMBANGAN YANG
DIUSULKAN, TERMASUK DI DALAMNYA
BEBERAPA PATCH PRIORITAS
MENENGAH DAN TINGGI
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
81
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Decision tree Analisis Patch SKT
TAHAP 1
Identifikasi kawasan yang digunakan secara adat, tetapkan lahan kebun
masyarakat sebagai enclave dan overlay kawasan NKT, lahan gambut
dan kawasan lain yang berkaitan
Peta konsesi yang berisi kawasan hutan SKT harus mengandung data lain
yang mendelineasi secara spasial menjadi kawasan enclave (seperti
contohnya kawasan kebun masyarakat yang dikelola untuk subsistensi
masyarakat) atau kawasan terlindungi, termasuk di dalamnya kawasan
terlindungi milik masyarakat, kawasan NKT (dipisahkan berdasarkan NKT
1-3, NKT 4 dan NKT 5-6), lahan gambut dan kawasan yang tidak dapat
dibangun karena peraturan pemerintah atau komitmen perusahaan.
Lahan kebun/sawah dan kawasan yang digunakan secara ekonomis
(seperti misalnya perkebunan karet atau kakao) tidak dipertimbangkan
sebagai hutan SKT potensial dan karena itu tidak ditindaklanjuti
menggunakan Decision tree. Kawasan-kawasan lain hanya dimasukkan
sebatas untuk informasi, untuk menunjukkan mosaik keseluruhan
kawasan yang sudah/dapat dilindungi berkaitan dengan setiap kawasan
hutan SKT potensial. Tahap 12 akan secara penuh mengintegrasikan patch
SKT dengan kawasan NKT dan kawasan lain yang akan dikonservasi.
TAHAP 2
Ekstrak semua kelas hutan SKT dan gabungkan patch yang terkoneksi
secara fisik
Kawasan Hutan Kerapatan Tinggi (HK3) hingga kawasan Hutan Regenerasi
Muda (HRM) yang teridentifikasi pada Fase Satu diekstraksi dari kelas-kelas
non- KT untuk membentuk satu lapisan SKT yang dalam waktu bersamaan
mempertahankan perbedaan mengenai tipe kelas (HK3, HK2, HK1 atau HRM)
untuk kemudian dipertimbangkan pada Decision tree. Jika patch SKT
tersambung secara fisik satu sama lain, maka patch tersebut digabungkan
untuk membentuk satu patch.
Terdapat pertimbangan yang dibuat di luar konsesi. Bila ada kawasan
hutan SKT yang luas dari citra satelit dan ada kawasan NKT yang diketahui,
seperti misalnya kawasan dilindungi, yang teridentifikasi di dalam jarak
200 meter dari batas konsesi juga dipertimbangkan di dalam proses
Decision tree.
Hal ini memungkinkan pengguna untuk mengkaji ukuran patch hutan
dengan baik dan mempertimbangkan peluang konektivitas tingkat lanskap
ketika mengkaji setiap patch. Pada konsesi contoh, Kawasan Lindung yang
ada merupakan kawasan NKT yang berbatasan dengan konsesi dan perlu
untuk dipertimbangkan di dalam proses Decision tree.
Semua foto: Sumber G. Rosoman, Greenpeace ©
82
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
TAHAP 3
Identifikasi inti patch hutan dan prioritisasi patch
TAHAP 4
Hubungkan Patch Prioritas Tinggi
Pada tahap ini setiap patch SKT dapat dikaji menurut prinsip-prinsip ilmu
konservasi yang dijelaskan pada Bab 5 toolkit ini. Pertama, patch hutan SKT
dikaji atas kawasan intinya dengan menggunakan kawasan penyangga
internal (negatif) 100 meter. Penyangga tersebut merupakan filter utama
untuk menyeleksi patch konservasi. Patch dengan kawasan inti yang lebih
besar akan lebih layak dalam jangka waktu lama karena patch tersebut
memiliki efek tepi yang lebih sedikit. Semakin besar kawasan inti patch hutan,
maka semakin tinggi pula kecenderungan untuk dapat memelihara atau
memulihkan kembali fungsi ekologisnya sebagai hutan, termasuk di dalamnya
mengkonservasi nilai karbon dan keanekaragaman hayatinya. Maka dari itu,
patch diprioritaskan berdasarkan:
Konektivitas merupakan hal yang penting untuk memfasilitasi penyebaran
fauna dan flora antar patch serta keberlangsungan hutan jangka menengah
dan jangka panjang. Tahap pertama yang dilakukan adalah mengidentifikasi
patch Prioritas Rendah dan Menengah yang menciptakan konektivitas antar
Patch Prioritas Tinggi.
3a. Patch yang memiliki kawasan inti lebih dari 100 ha hutan SKT dianggap
sebagai Prioritas Tinggi (PT) dan akan ditandai untuk konservasi. Patch
hutan SKT yang melampaui batas konsesi dikaji ukuran keseluruhannya
terlepas dari batas konsesi dan juga dianggap sebagai patch Prioritas Tinggi
jika luas kawasan intinya lebih dari 100 ha dan paling tidak 10 ha kawasan
inti patch tersebut berada di dalam wilayah konsesi.
3b. Patch yang memiliki kawasan inti 10-100 ha hutan SKT dianggap
sebagai Prioritas Menengah (PM) dan patch yang memiliki inti kurang
dari 10 ha hutan SKT dianggap sebagai Prioritas Rendah (PR). Kedua
jenis patch tersebut akan dikaji lebih lanjut mengenai konektivitas antar
patch Prioritas Tinggi (Tahap 4) dan jarak terhadap patch berukuran
besar (Tahap 5).
Konektivitas didefinisikan sebagai dua tepi patch hutan yang berjarak kurang
dari 200 meter ketika diukur dari tepi yang satu terhadap tepi lainnya. Patch
Prioritas Menengah dan Rendah ditandai untuk konservasi. Konektivitas bisa
berupa berbagai patch antar patch Prioritas Tinggi. Alat ‘agregat’ GIS dapat
digunakan untuk membuat pengidentifikasian konektivitas.
Patch 17, 14, 13, dan 12 pada konsesi contoh merupakan Prioritas Rendah
tetapi sekaligus berfungsi sebagai konektivitas antara patch Prioritas Tinggi
11 dan 1. Hal ini berarti patch-patch tersebut ditetapkan untuk konservasi.
Patch 15 dan 16 merupakan Prioritas Rendah dan tidak menjadi peran sebagai
konektivitas sehingga tetap tidak dimasukkan ke dalam klasifikasi untuk
sementara.
Gambar berikut ini menunjukkan peta konsesi sampel dengan patch yang
teridentifikasi sebagai Prioritas Tinggi, Menengah, atau Rendah berdasarkan
ukuran kawasan intinya. Patch Prioritas Tinggi dan patch tambahan yang
diprioritaskan pada Tahap 4 telah ditandai untuk dikonservasi.
GAMBAR 3: C ONTOH KONSESI PERKEBUNAN DARI GAMBAR 2 DENGAN PRIORITAS-PRIORITAS SKT DITANDAI PADA
PATCH (SETELAH TAHAP 4)
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
83
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Decision tree Analisis Patch SKT
TAHAP 5
Hubungkan Patch Prioritas Menengah dan Rendah dengan Patch
Prioritas Tinggi
Pada tahap ini, hal-hal yang ditandai untuk konservasi adalah patch Prioritas
Menengah dan Rendah yang tidak menyediakan fungsi konektivitas antar
patch Prioritas Tinggi tetapi terhubung dengan patch Prioritas Tinggi (yaitu
berada dalam jarak 200 meter yang diukur dari satu tepi patch ke tepi patch
lain) dan setiap kawasan hutan SKT atau NKT besar yang bersebelahan
dengan konsesi. Pada konsesi contoh, patch dua dan enam masuk ke dalam
kategori ini.
Patch Prioritas Menengah yang tidak tersambung secara langsung dengan
patch Prioritas Tinggi, contohnya patch tiga dan tujuh pada konsesi contoh,
ditinjau ulang pada Tahap 8 (kajian risiko). Patch Prioritas rendah yang tidak
memiliki konektivitas langsung dengan patch Prioritas Tinggi, contohnya patch
empat, lima, delapan, sembilan, dan sepuluh pada konsesi sampel dimasukkan
dalam daftar pendek untuk pengembangan dan ditinjau ulang pada Tahap 14
(Perencanaan Integrasi dan Konservasi).
Diagram di bawah ini menunjukkan konsesi contoh pada akhir Tahap Lima
dengan sebagian besar patch telah terklasifikasi.
TAHAP 6
Pisahkan Patch Prioritas Menengah dan Rendah
Semua patch Prioritas Menengah (yaitu patch dengan kawasan inti
10-100 ha) yang belum ditunjuk untuk konservasi harus melalui proses
kajian risiko (Tahap 7).
Patch Prioritas Rendah lainnya dikaji dalam konteks lanskap:
• Pada lanskap tutupan hutan tinggi, patch Prioritas Rendah tidak dianalisis
lebih lanjut dan tidak dimasukkan daftar pendek untuk konservasi, akan
tetapi patch tersebut dimasukkan ke dalam kelas ‘indikatif pengembangan’
dan tetap dipertimbangkanan pada fase penyesuaian batas dan perencanaan
pemanfaatan lahan final.
• Pada lanskap tutupan hutan rendah, patch kecil memiliki arti penting yang
lebih tinggi bagi konservasi karbon dan keanekaragaman hayati. Dalam
hal ini, patch prioritas rendah kemudian dikaji dengan pra-RBA (Tahap 9).
“Pada lansekap tutupan hutan rendah,
patch-patch kecil memiliki arti penting
yang lebih tinggi bagi konservasi karbon
dan keanekaragaman hayati”
GAMBAR 4: HASIL DECISION TREE PADA KONSESI SAMPEL SETELAH TAHAP LIMA
84
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
TAHAP 7
Kajian risiko
TAHAP 8
Tinjauan keberadaan HK1, HK2 atau HK3 pada patch Prioritas Menengah
Tahap ini berisi kajian risiko patch Prioritas Menengah yang belum
teridentifikasi untuk konservasi. Kajian risiko ini berdasarkan jarak kawasan
hutan dengan jalan umum, pemukiman penduduk, aliran air yang digunakan
untuk navigasi/transportasi, dan kegiatan antropogenik lainnya seperti
pertambangan, penebangan, atau perkebunan. Serangkaian penyangga
sejauh dua kilometer dari pemukiman penduduk dan satu kilometer dari
faktor risiko lainnya diletakkan di dalam peta menggunakan perangkat lunak
GIS untuk mengkaji tingkat indikatif ancaman potensial yang muncul dari
kegiatan manusia. Penulis menyadari bahwa risiko-risiko yang ada sebenarnya
jauh lebih luas daripada jarak-jarak tersebut, akan tetapi jarak yang dekat
tersebut memunculkan ‘risiko tinggi’ dari degradasi atau pembukaan lahan.
Klasifikasi risiko tersebut adalah:
Tinjauan keberadaan HK1, HK2, atau HK3 dilakukan untuk setiap Prioritas
Menengah, yaitu patchberisiko tinggi yang teridentifikasi pada tahap
7b. Jika suatu patch memiliki lebih dari 10 hektar kawasan inti yang berisi HK1,
HK2 atau HK3, dengan kata lain bukan HRM tetapi merupakan hutan
sekunder dengan kondisi lebih baik, maka patch tersebut ditetapkan
berpotensi untuk konservasi dengan menggunakan langkah-langkah mitigasi
untuk menangani ancaman terhadap hutan tersebut. Langkah-langkah
mitigasi tersebut dapat mencakup pengelolaan bersama dengan masyarakat
lokal, mempekerjakan jagawana atau ‘penjaga’ dan mendukung insentif yang
memberikan nilai terhadap hutan seperti misalnya pemanenan hasil hutan
non-kayu atau pembayaran kompensasi terkait konservasi.
7a. Patch Prioritas Menengah di luar zona-zona risiko tinggi tersebut
diidentifikasi sebagai kawasan berisiko rendah dan ditandai sebagai
‘indikatif konservasi’.
TAHAP 9
Pengecekan Pra Kajian Keanekaragaman Hayati Secara
Cepat (pre-Rapid Biodiversity Assessment)
7b. Patch Prioritas Menengah yang berada di dalam zona-zona risiko
tersebut diidentifikasi sebagai kawasan berisiko tinggi dan
kemungkinan besar tidak akan dilindungi secara berkelanjutan.
Patch tersebut kemudian dikaji lebih lanjut pada Tahap 8 (tinjauan
mengenai Hutan Kerapatan Tinggi/Menengah/Rendah).
Tahap-tahap yang dijelaskan hingga bagian ini akan telah berhasil
mengidentifikasi patch hutan yang perlu untuk dikonservasi dan beberapa yang
dapat ditetapkan sebagai kandidat untuk pengembangan. Untuk patch yang
masih akan diklasifikasikan, maka suatu RBA perlu untuk dilakukan sebelum
menentukan patch tersebut untuk kegiatan pengembangan. Pengecekan
singkat (Pra-RBA) dilakukan sebelum RBA keseluruhan untuk secara cepat
mendiskualifikasi kawasan-kawasan yang tidak layak untuk pengembangan
dan menghindari diperlukannya RBA keseluruhan.
Jika suatu patch merupakan bagian dari tingkat risiko tinggi sekaligus risiko
rendah, maka klasifikasi risikonya ditentukan berdasarkan tingkat risiko yang
dominan.
Patch tujuh pada konsesi contoh yang berada pada jarak kurang dari satu
kilometer dari desa merupakan contoh patch berisiko tinggi.
Tujuan Pra-RBA ini adalah untuk mengidentifikasi segala rintangan bagi
kegiatan pengembangan dan operasional, seperti misalnya lereng yang curam,
serta berbagai karakteristik yang dengan mudah dapat teridentifikasi dan
mengindikasikan diperlukannya konservasi terhadap suatu kawasan, seperti
contohnya keberadaan sungai atau lahan basah permanen. Metodologi untuk
pra-RBA ini tersedia di bagian Lampiran.
Setiap kawasan yang ternyata memiliki rintangan dipindahkan untuk menjadi
kawasan konservasi (seperti misalnya kawasan sempadan sungai, rawa, lereng
curam) atau kawasan ditetapkan sebagai enclave dari pengembangan (seperti
misalnya kawasan tambang emas, kawasan kebun masyarakat, dsb.).
“Tujuan Pra-RBA ini adalah untuk
mengidentifikasi segala rintangan bagi
kegiatan pengembangan dan operasional,
serta karakteristik yang dengan mudah
dapat teridentifikasi dan mengindikasikan
diperlukannya konservasi terhadap
suatu kawasan”
Semua foto: hak cipta TFT©
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
85
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Decision tree Analisis Patch SKT
TAHAP 10
Kajian Keanekaragaman Hayati Secara Cepat (RBA)
RBA merupakan tahap terakhir untuk mengkaji patch Prioritas Menengah
dan Rendah yang belum dijadikan kandidat untuk konservasi dan namun
diindikasikan untuk pengembangan. Tujuan RBA ini adalah untuk memastikan
bahwa patch hutan yang ada tidak memiliki populasi atau habitat penting yang
tidak teridentifikasi pada kajian NKT tetapi tetap harus dikonservasi.
RBA ini sangat mengandalkan kajian NKT yang telah dilakukan sebelumnya
untuk mengetahui spesies dan habitat langka dan terancam yang relevan.
Jika kajian NKT belum dilakukan, maka kesimpulan mengenai spesies dan
habitat tersebut harus dibuat sebelum atau ketika RBA dilakukan. Hal
tersebut dapat terjadi jika pengambilan data lapangan yang dilakukan
selama RBA menemukan NKT penting yang tidak ditemukan pada kajian
NKT yang dilakukan sebelumnya di mana hal ini dapat menyebabkan
dilakukannya pemeriksaan terhadap kajian NKT jika kajian awal tersebut
terindikasi tidak dilakukan dengan semestinya.
Tujuan RBA ini adalah untuk menentukan keberadaan unsur-unsur berikut
ini pada patch:
1. Spesies yang:
TRBA ini bukan merupakan kajian keanekaragaman hayati secara keseluruhan
mengenai semua tumbuhan dan hewan di dalam patch hutan, tetapi lebih
merupakan kajian terfokus mengenai ditemukannya spesies dan habitat
penting di dalam patch. Kajian ini harus dilakukan oleh ahli keanekaragaman
hayati yang memiliki kualifikasi untuk menggunakan teknik pengambilan
sampel yang sesuai berdasarkan spesies yang dikaji. Teknik tersebut dapat
bervariasi berdasarkan relevansinya terhadap mamalia, burung, flora, reptil
atau invertebrata. Walaupun tidak ada metodologi RBA yang ditentukan, The
Zoological Society of London telah mengembangkan toolkit yang mencakup
panduan melaksanakan RBA pada lanskap kelapa sawit yang relevan untuk
berbagai kajian SKT.2
Jika RBA tidak mengidentifikasi nilai-nilai di atas, maka patch hutan boleh
dikembangkan (Tahap 10b Decision tree pada Gambar Satu). Jika terdapat nilai
keanekaragaman hayati tinggi, maka akan dilakukan proses perlindungan NKT
jika patch tersebut terkualifikasi sebagai NKT 1-3. Jika bukan merupakan NKT,
maka kawasan tersebut akan dilindungi, kecuali jika ada isu viabilitas yang
fundamental (seperti misalnya adanya isolasi, kedekatan dengan risiko, ukuran
yang kecil, dsb). Proses terakhir tersebut dapat dimasukkan ke dalam proses
perencanaan konservasi final setelah adanya masukan dari para ahli yang
kompeten, termasuk di dalamnya perwakilan masyarakat lokal.
1.1. Termasuk dalam Daftar Merah IUCN sebagai spesies yang Hampir
Terancam, Terancam, Genting, atau Kritis;
TAHAP 11
Pemeriksaan lapangan
1.2. t ermasuk dalam konvensi CITES;
Bahkan setelah dilakukannya analisis citra satelit, pengambilan sampel di hutan,
dan RBA, beberapa kawasan penting masih mungkin untuk terlewatkan,
terutama jika pemetaan partisipatif yang dilakukan berkualitas rendah. Maka
setelah melakukan tahap-tahap yang telah dijelaskan sebelumnya, perlu
dilakukan pengecekan lapang akhir untuk:
1.3. t ermasuk dalam daftar nasional atau regional mengenai spesies
langka, terancam atau genting; dan
1.4. teridentifikasi di dalam kajian NKT sebagai spesies yang berisiko
2. Habitat yang biasanya memiliki salah satu spesies yang terdaftar pada
poin 1 walaupun spesies tersebut tidak teramati selama kajian NKT
atau bahkan RBA;
3. Setiap tempat terkonsentrasinya atau habitat dari spesies langka
atau spesies yang jarang secara regional atau lokal, atau kawasan
representatif yang memiliki konsentrasi atau kombinasi spesies lokal
dengan habitatnya; dan
4. Habitat langka yang teridentifikasi pada kajian NKT.
1. melakukan pengecekan tambahan di setiap kawasan hutan SKT potensial
untuk konservasi dan mengeluarkan kebun buah, perkebunan atau kebun
masyarakat yang sebelumnya tidak teridentifikasi dari kawasan SKT;
2. melakukan pengecekan lokasi dan batas setiap kawasan yang dilindungi
milik masyarakat dan kemudian menggabungkannya ke dalam rencana
konservasi final; dan
3. melakukan pengecekan hambatan pengembangan lainnya terhadap
kawasan yang ditandai untuk ‘dikembangkan’ seperti contohnya kegiatan
pertambangan atau keadaan lain yang tidak mendukung pengembangan
perkebunan, seperti sempadan sungai, kawasan banjir, lereng curam, dan
tanah yang tidak sesuai untuk perkebunan, termasuk lahan gambut.
Pengecekan lapang ini dapat dilakukan dengan menggunakan kombinasi
pesawat tanpa awak yang terbang rendah atau drone, dan dengan
pengecekan langsung ke konsesi.
2. Imanuddin, S. P., D. Priatna, L. D’Arcy, L. Sadikin dan M. Zrust (2013). ‘A practical toolkit for identifying and
monitoring biodiversity in oil palm landscapes’, Zoological Society of London, tersedia di: https://www.
hcvnetwork.org/resources/folder.2006-09-29.6584228415/ZSL%20Practical%20Toolkit%20for%20
identifying%20and%20monitoring%20biodiversity%20within%20oil%20palm%20landscapes.pdf, lterakhir
diakses pada tanggal 14 Desember 2014
86
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Semua foto: hak cipta TFT©
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
TAHAP 12
Integrasi dan perencanaan konservasi: Penyesuaian Batas; integrasi
dengan NKT, lahan gambut, dan sempadan sungai; dan pemetaan dan
perencanaan konservasi final dengan kawasan hutan SKT
Pada langkah terakhir ini, kawasan konservasi potensial dievaluasi
berdasarkan perspektif lanskap. Hal ini dilakukan untuk memastikan
konektivitas patch, koridor antar kawasan hutan (termasuk kawasan yang
berada di luar konsesi), patch hutan sebagai batu loncatan yang berfungsi
sebagai konektivitas, dan koherensi bentuk. Tujuan langkah ini adalah untuk
membuat rencana konservasi yang mengintegrasikan semua kategori
set-aside (kawasan dilindungi milik masyarakat, NKT, SKT, sempadan sungai,
lahan gambut, dll) dan memiliki peluang keberlanjutan ekologis terbesar.
Pertimbangan operasional juga ikut diperhatikan seperti misalnya apakah
konservasi suatu patch hutan akan membahayakan kegiatan operasional
perkebunan secara fundamental melalui pemblokiran titik akses kritis menuju
kawasan penting dalam konsesi, atau jika suatu patch memiliki konfigurasi
dan bentuk yang menyebabkan tidak mungkin dilakukannya pembangunan
blok-blok penanaman. Panduan umum proses ini adalah sebagai berikut.
1. Integrasi dengan NKT, lahan gambut, sempadan sungai: Kawasan
hutan SKT yang diusulkan kemudian digabungkan dan diintegrasikan
dengan lapisan perlindungan lainnya pada lanskap. Langkah ini dapat
dikombinasikan atau dilakukan bersama dengan penyesuaian batas dan
keputusan final mengenai konektivitas yang mengikuti pertimbangan
matriks lanskap.
2. Penyesuaian Batas: Batas-batas patch dapat dibulatkan untuk
menghilangkan bagian-bagian kecil yang tidak reguler atau yang
berbentuk seperti ‘jari-jari’ pada belukar tua yang tidak memiliki
kawasan inti, yaitu patch dengan lebar kurang dari 200 meter, atau untuk
menjembatani celah-celah agar batas perkebunan menjadi lebih praktis
dan menghasilkan tepi yang lebih merata untuk konservasi hutan.
Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan ‘saling memberi dan
menerima’ untuk merasionalkan batas bagi pengelolaan.
3. Patch Prioritas Menengah berisiko tinggi dengan inti terfragmentasi:
Kawasan pencilan kecil dari patch (dengan kawasan sub-inti <10 ha)
dapat dikeluarkan dari SKT jika kawasan tersebut tidak memberikan
fungsi konektivitas atau tidak berfungsi sebagai batu loncatan. Jika tidak,
kawasan-kawasan tersebut dapat diperluas untuk mendukung
keberadaan patch tersebut dengan menggunakan pendekatan yang
sama, yaitu pendekatan ‘saling memberi dan menerima’.
4. Temuan RBA: Temuan-temuan tersebut harus dipertimbangkan
bersamaan dengan berbagai tingkat ekosistem hutan dilindungi pada
lanskap (keterwakilan), dan secara khusus tingkat di mana patch
berukuran besar dapat dikonservasi oleh perusahaan bersama dengan
masyarakat.
5. Tingkat tutupan hutan pada lanskap: Semakin terfragmentasi dan
semakin sedikit jumlah hutan pada lanskap, maka semakin penting
keberadaan patch hutan berukuran kecil. Pada lanskap tutupan hutan
rendah (tutupan hutan <30%), patch hutan berukuran kecil semakin
dipertimbangkan dalam Decision tree, dan pada tahap akhir
perencanaan konservasi ini patch kecil tambahan (bukan prioritas)
dapat juga dilindungi untuk memberikan tutupan hutan alami dan
meningkatkan konektivitas. Pada lanskap dengan tutupan hutan tinggi
(lebih dari 80%), fokus perencanaan akan bergeser ke arah konservasi
patch besar yang saling bersinggungan.
6. Konektivitas: Jika memungkinkan, patch harus dikombinasikan
dengan sempadan sungai dan letaknya berkaitan dengan patch
lainnya juga perlu dipertimbangkan untuk membentuk
ketersambungan dan koridor dalam lanskap. Hal ini dapat mencakup
patch berupa batu loncatan yang dapat berfungsi sebagai kawasan
refugia bagi burung-burung migran yang lemah atau satwa kecil yang
melintasi lanskap.
Proposal final rencana konservasi SKT harus diperiksa oleh pakar ilmu
konservasi independen serta Komite Pengarah Pendekatan SKT yang
sedang mengembangkan prosedur kontrol kualitas untuk memastikan
bahwa tahap-tahap yang dijelaskan pada bab ini diikuti dengan
semestinya. Banyak sumber-sumber yang dapat membantu
mengembangkan rencana konservasi, diantaranya adalah:
• G. Bentrup (2008). “Conservation buffers: design guidelines for buffers,
corridors, and greenways.” General Technical Report SRS-109. Asheville, NC:
Department of Agriculture, Forest Service, Southern Research Station.
Tersedia di: http://www.srs.fs.usda.gov/pubs/33522
• Ministry of Natural Resources and Environment of the Government of
Malaysia (2009). “Managing biodiversity in the Landscape: Guidelines for
planners, decision-makers and practitioners”. Tersedia di: https://www.
hcvnetwork.org/resources/folder.2006-09- 29.6584228415/Guideline_Man_
BioD_landscape_090519.pdf
• Zoological Society of London (2011).“A practical handbook for
conserving High Conservation Value species and habitats within oil palm
landscapes.” Tersedia di: https://www.hcvnetwork.org/resources/
folder.2006-09-29.6584228415/ZSL%20Practical%20Handbook%20
for%20Conserving%20HCV%20species%20-%20habitats%20within%20
oil%20palm%20landscapes_Dec%202011.pdf
“Tujuan langkah ini adalah untuk membuat
rencana konservasi yang mengintegrasikan
semua kategori set-aside dan memiliki
peluang keberlanjutan ekologis terbesar”
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
87
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Konservasi hutan SKT
Untuk mencapai tujuan konservasi hutan SKT bersama masyarakat, maka
Setelah Decision tree selesai dan batas kawasan
manfaat dan insentif perlu untuk diberikan, seperti misalnya melalui
lahan yang akan dikonservasi atau dikembangkan
kompensasi, insentif atau pembayaran jasa lingkungan. Hal ini juga dapat
telah dilakukan finalisasi, maka kawasan konservasi
mencakup negosiasi kesepakatan dan pengaturan pengelolaan bersama
dengan pemerintah lokal, provinsi atau nasional untuk memastikan status
yang diusulkan sebagai hasil tahap tersebut harus
konservasi kawasan tersebut. Salah satu tantangan ke depan bagi para
diintegrasikan dengan peta partisipatif pemanfaatan
pemangku kepentingan yang terlibat dalam Pendekatan SKT ini adalah
lahan dari masyarakat. Langkah-langkah penting
penyediaan panduan mengenai bagaimana cara mengembangkan dan
kemudian harus diambil untuk memastikan
mengintegrasikan rencana konservasi. Tantangan tersebut akan didiskusikan
pada kesimpulan akhir toolkit ini.
keberlangsungan kawasan tersebut dalam jangka
panjang. Kawasan konservasi hutan SKT yang
tumpang tindih dengan lahan masyarakat akan
diutamakan untuk ditetapkan sebagai kawasan
konservasi masyarakat kategori IV IUCN. Finalisasi
rencana kawasan konservasi perlu untuk dilakukan
sebagai proses partisipatif dengan masyarakat
pemegang hak adat. Dengan dilakukannya hal
tersebut, maka FPIC dari pemegang hak adat dianggap
telah dihormati. Jika FPIC tidak diperoleh dan pemilik
tanah adat tidak berkehendak lahannya menjadi
bagian kawasan konservasi, maka kawasan tersebut
“Untuk mencapai tujuan konservasi hutan
tidak ditetapkan sebagai kawasan konservasi walaupun
SKT bersama masyarakat, maka manfaat
kawasan tersebut masih tetap berstatus sebagai
dan insentif perlu untuk diberikan, seperti
hutan SKT berdasarkan sudut pandang perusahaan.
misalnya melalui kompensasi, insentif atau
pembayaran jasa lingkungan”
Semua foto: hak cipta TFT©
88
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Lampiran: Metodologi Pengecekan PraRBA
Pendahuluan
Kajian Keanekaragaman Hayati Secara Cepat (RBA) sebagaimana telah dijelaskan
pada Tahap 10 Decision tree dirancang sebagai suatu proses kehati-hatian
terhadap nilai keanekaragaman hayati penting yang kemungkinan tidak terekam
pada suatu patch hutan melalui Kajian NKT atau berdasarkan ambang batas yang
digunakan pada Decision tree. Kajian ini membantu memutuskan apakah patch
hutan yang lebih kecil harus dikonservasi atau disiapkan untuk kegiatan
pengembangan. Karena untuk melakukan RBA secara keseluruhan diperlukan
sumber daya dengan tingkat spesialisasi tertentu, maka sebelum melakukan
RBA para pengkaji disarankan untuk melakukan pra-RBA secara cepat untuk
menentukan apakan ada hambatan lingkungan atau sosial terhadap kegiatan
pengembangan di patch hutan yang dikaji. Jika terdapat hambatan seperti itu,
maka patch yang bersangkutan akan dicatat untuk dikonservasi dan tidak
diperlukan kajian lebih lanjut lagi. Maka dari itu tujuan utama pengecekan
Pra-RBA ini adalah untuk memastikan bahwa hanya patch kunci yang melalui
proses RBA secara keseluruhan.
“Karena untuk melakukan RBA secara
keseluruhan diperlukan sumber daya dengan
tingkat spesialisasi tertentu, maka sebelum
melakukan RBA para pengkaji disarankan
untuk melakukan pra-RBA secara cepat”
Garis besar mengenai bagaimana Pra-RBA dimuat ke dalam proses Decision
tree ditunjukkan oleh ilustrasi berikut.
GAMBA 5: PROSES PENGKAJIAN PRA-RBA
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
89
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Lampiran: Metodologi
Pengecekan Pra-RBA
Melaksanakan Pengecekan Pra-RBA
Mengidentifikasi dan mendokumentasikan atribut-atribut kunci
Pra-RBA ini dilaksanakan oleh staf operasional biasanya yang ditempatkan
pada lokasi pengembangan. Atribut yang dipilih untuk dikaji ulang selama
Pra-RBA dapat teridentifikasi dengan mudah dan maka dari itu pelaksanaan
kajian ini tidak perlu dilakukan oleh ahli.
Selama melintasi jalur pengkaji mengamati dan mendokumentasikan
keberadaan atribut kunci yang mencakup:
Pra-RBA ini dilaksanakan dengan cara berjalan melintasi patch hutan di
sepanjang aksis jarak terpanjang pada patch hutan untuk meningkatkan
peluang mendapatkan variasi terbesar sebagaimana ditunjukkan pada
gambar di bawah ini. Rute jalur lintasan harus ditentukan menggunakan
SIG dan harus diunggah ke alat GPS agar dapat diikuti oleh pengkaji.
•Bukti adanya aktivitas masyarakat lokal yang belum lama dilakukan,
seperti misalnya pengambilan hasil hutan;
•Karakteristik lingkungan di dalam kawasan patch hutan, termasuk
keberadaan badan air atau lereng;
•Keberadaan jalur-jalur akses, seperti misalnya jalan atau jalur setapak
yang digunakan sehari-hari;
•Infrastruktur seperti misalnya pemukiman penduduk;
•Pemanfaatan lahan yang lain, misalnya pemanfaatan semi permanen
seperti ladang atau kebun; dan
•Isu mengenai aksesibilitas.
GAMBAR 6: CONTOH SELEKSI AKSIS PANJANG MELALUI SUATU PATCH HUTAN
Selama melakukan pengamatan para pengkaji harus mengambil foto
setiap atribut kunci dan mencatat koordinat GPS setiap pengamatan
yang ada pada formulir yang terdapat pada bagian akhir lampiran ini.
“Atribut yang dipilih untuk dikaji ulang
selama Pra-RBA dapat teridentifikasi
dengan mudah dan maka dari itu
pelaksanaan kajian ini tidak perlu
dilakukan oleh ahli”
90
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Menganalisis hasil Pra-RBA
Proses keputusan yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini digunakan
untuk memproses temuan-temuan yang didokumentasikan selama
Pra-RBA. Atribut yang ditunjukkan pada setiap tahap diurutkan berdasarkan
arti pentingnya. Sebagai contoh, jika suatu patch memiliki sungai yang
melintasi kawasan tersebut, maka patch tersebut memiliki arti penting
tertinggi dan harus dilindungi.
GAMBAR 7: PROSES PEMBUATAN KEPUTUSAN PRA-RBA
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
91
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 6
DECISION TREE ANALISIS PATCH SKT
Lampiran: Metodologi pengecekan Pra-RBA
Formulir Kajian Pengecekan Pra-RBA
Atribut
Keberadaan Lokasi GPS
(Ya/Tidak) Lintang
Bujur
Nomor
Foto
Keterangan dan Pengamatan
Keberadaan sungai permanen
dengan lebar > 2 m
Sungai permanen adalah sungai yang memiliki aliran terusmenerus di sebagian badan sungainya setidaknya selama enam
bulan setiap tahun.
Keberadaan sungai musiman dengan
lebar > 2 m
Sungai musiman merupakan sungai yang hanya ada pada jangka
waktu pendek setelah terjadi hujan.
Keberadaan mata air
Mata air didefinisikan sebagai kondisi alami di mana air mengalir
menuju permukaan tanah dari dalam tanah.
Keberadaan rawa atau kawasan yang
tergenang air secara permanen
Rawa merupakan kawasan yang penuh dengan air secara
permanen atau musiman dan dikelilingi oleh hutan.
Keberadaan lereng curam yang
membatasi pengembangan
‘Lereng curam’ memiliki definisi yang beragam berdasarkan jenis
tanamannya dan harus ditentukan berdasarkan masukan dari
pemilik konsesi. Untuk tanaman kelapa sawit, standar RSPO
mengenai lereng curam adalah yang memiliki kemiringan 25
derajat atau lebih.
Bukti pemanfaatan lahan oleh
masyarakat selama 12 bulan terakhir
Contohnya adalah kawasan yang telah digunakan oleh
masyarakat sebagai kebun atau pengumpulan bahan untuk
mendirikan pemukiman.
Keberadaan jalur akses yang
digunakan secara teratur
Sebagai contohnya adalah jalan dan jalan setapak yang sering
digunakan untuk menuju kawasan tersebut atau kawasan lain.
Keberadaan pemanfaatan lahan lain
yang mengganggu konservasi atau
pengembangan
Sebagai contoh jika patch tersebut berada di tengah-tengah
kawasan tambang.
Aspek lokasi dan aksesibilitas
Pengamatan lain (termasuk satwa liar
dan tumbuhan)
92
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Jika patch tersebut tidak dapat dijangkau dan oleh karenanya
tidak dapat dikembangkan, maka pengkajian tidak perlu
dilakukan. Lebih baik patch tersebut ditetapkan untuk
dikonservasi atau biarkan saja sebagai lahan masyarakat jika
telah teridentifikasi demikian.
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 7
KESIMPULAN
Bab 7
Kesimpulan
Oleh Charlotte Opal, TFT
DAFTAR ISI BAB
P94: Pengembangan Toolkit SKT di masa depan
P95: Pertanyaan lebih lanjut mengenai Pendekatan SKT
P96: Daftar pustaka
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
93
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 7
KESIMPULAN
Pengembangan Toolkit SKT
di masa depan
Pada tahun 2010, beberapa organisasi berkumpul
bersama untuk membangun metode dan
pendekatan praktis untuk melindungi hutan alam
yang berkelanjutan dengan menentukan batasan
antara hutan alam, area yang dibutuhkan sebagai
mata pencaharian masyarakat, dengan lahan
terdegradasi yang mungkin sesuai untuk
pembangunan perkebunan. Hasilnya adalah
Pendekatan Stok Karbon Tinggi seperti yang
dijelaskan dalam toolkit ini. Toolkit ini telah diuji
coba di Indonesia, Papua Nugini dan Liberia dan
akan diterapkan oleh lebih banyak perusahaan di
negara lain pada luasan jutaan hektar di kawasan
tropis pada tahun 2015.
Toolkit ini telah ditulis untuk praktisi GIS, kehutanan dan konservasi
berpengalaman agar mampu melakukan kajian SKT secara mandiri dengan
panduan terbatas/minimal. Dengan proses pemetaan partisipatif berkualitas
tinggi dengan masyarakat lokal, kajian NKT dan peta lahan gambut, suatu tim
kecil yang terdiri dari pakar GIS, rimbawan dan keanekaragaman hayati/
konservasi seharusnya dapat menggunakan toolkit ini untuk mengawasi
implementasi Pendekatan SKT dan menyusun proposal untuk rencana
pemanfaatan lahan terintegrasi untuk konsesi perkebunan dalam suatu
lanskap hutan. Sebagai dukungan tambahan, pada tahun 2015 anggota
Komite Pengarah Pendekatan SKT dengan pengalaman melakukan kajian
SKT akan mengadakan pelatihan bagi para praktisi berdasarkan toolkit ini,
dan Komite Pengarah akan mengembangkan proses pengontrolan
kualitastermasuk pelibatan ulasan pakar independen untuk kajian SKT
dan transparansi.
Pada saat proses pengontrolan kualitas dan ulasan dilakukan, perusahaan
yang sedang menjalankan kajian SKT harus berupaya melakukan
pelaporan umum (publikasi global_ yang transparan atas kajian SKT
mereka, termasuk hasil stratifikasi vegetasi serta detil bagaimana
pelaksanaan Decision Tree untuk SKT dan FPIC telah mereka terapkan
untuk setiap patch hutan SKT yang teridentifikasi. Praktisi juga diundang
menyampaikan umpan balik mengenai metodologi melalui situs Komite
Pengarah Pendekatan SKT, www.highcarbonstock.org. Walaupun Komite
Pengarah belum mempersiapkan perubahan besar dalam metodologi
identifikasi hutan SKT, toolkit ini akan diperbarui dengan bertambahnya
pembelajaran melalui kajian-kajian SKT baru, dengan dikembangkannya
panduan lebih lanjut mengenai cara mengembangkan rencana konservasi
terintegrasi dan semakin banyak panduan dari ilmu konservasi mengenai
aspek-aspek berkaitan dengan viabilitas ekologi patch hutan.
94
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Semua foto: hak cipta TFT ©
Versi 1.0 : Agustus 2015
BAB 7
KESIMPULAN
Pertanyaan lebih lanjut mengenai
Pendekatan SKT
Toolkit ini menyajikan cara praktis bagi perusahaan
rencana pemanfaatan lahan yang bertanggung jawab
dan terintegrasi dalam suatu lanskap hutan. Akan
tetapi masih terdapat beberapa pertanyaan untuk
implementasi Pendekatan SKT yang berhasil, termasuk
memastikan perlindungan jangka panjang atas
kawasan hutan SKT:
1. B
agaimana cara proses FPIC, NKT dan kajian SKT dapat diintegrasikan
dengan lebih baik? Sampai saat ini, kajian SKT telah diperbaiki dan
dimuat kembali ke dalam kajian dan proses NKT yang sudah berlangsung
untuk memastikan hak atas FPIC, dan beberapa komponen dalam toolkit
sudah menunjukkan hal tersebut. Bagi konsesi baru, akan lebih efisien
dan tidak terlalu mengganggu masyarakat lokal apabila kajian ini
diterapkan sejak awal. Bab Dua dari toolkit ini merupakan sebuah
pendekatan terintegrasi atas proses FPIC dan kajian SKT. Integrasi kajian
SKT, FPIC dan NKT akan ditelusuri lebih jauh pada tahun 2015 melalui
serangkaian lokakarya teknis untuk mengembangkan panduan tambahan
yang dapat dimasukkan ke dalam versi Toolkit Pendekatan SKT yang baru.
2. Apa saja prosesnya dan alat apa yang tersedia untuk bekerja dengan
masyarakat lokal guna mencapai konservasi dan perlindungan
kawasan hutan SKT? Tahap-tahap yang digaris bawahi dalam toolkit ini
memungkinkan bagi perusahaan untuk menyusun rencana pemanfaatan
lahan terintegrasi yang mencakup kawasan yang perlu dilindungi dan
dikelola untuk kebutuhan keanekaragaman hayati, ekosistem, dan
masyarakat. Kawasan hutan SKT, NKT dan area lainnya akan diwajibkan
untuk menempuh kajian FPIC dari masyarakat lokal untuk mencapai
suatu rencana pengelolaan yang disetujui bersama.
3. Bagaimana cara memastikan perlindungan hukum atas kawasan hutan
SKT di konsesi perkebunan? Pengalaman dalam NKT telah menunjukkan
bahwa pada kasus-kasus tanpa spasi dukungan atau kerangka hukum
untuk memastikan konservasi kawasan perlindungan dalam konsesi,
pemerintah dapat mencabut izin untuk area pencadangan dan
mengeluarkan lagi izin untuk pihak pengembang lainnya yang bersedia
mengembangkan lahan tersebut1.
Semua foto: hak cipta TFT ©
“Tahap-tahap yang digarisbawahi dalam
toolkit ini memungkinkan bagi perusahaan
untuk menyusun rencana pemanfaatan
lahan terintegrasi yang mencakup kawasan
yang perlu dilindungi dan dikelola untuk
kebutuhan keanekaragaman hayati,
ekosistem, dan masyarakat”
4. Opsi apa yang tersedia untuk mendanai perlindungan dan
pengelolaan kawasan hutan SKT? Perlindungan efektif membutuhkan
sumber daya khusus, termasuk jagawana dan staf bagian hubungan
masyarakat. Opsi pendanaan untuk melindungi kawasan hutan SKT
secara maksimal, termasuk mekanisme REDD+, Pembayaran untuk Jasa
Lingkungan (Payments for Ecosystem Services atau PES), dan mekanisme
pendanaan lainnya masih perlu ditelusuri lebih lanjut.
5. Bagaimana petani plasma dan masyarakat dapat diberikan
kompensasi karena tidak melakukan konversi di kawasan hutan SKT?
Dengan semakin banyak perusahaan menyetujui untuk mengeliminasi
deforestasi dari rantai pasoknya, petani di lanskap hutan akan
semakin tidak dapat mengkonversi lahan untuk perkebunan baru. Opsi
pengelolaan ramah hutan perlu diteliti, termasuk reformasi lahan dan
opsi yang memastikan manfaat yang adil bagi masyarakat lokal, mungkin
dengan dukungan REDD+ atau mekanisme keuangan lainnya.
6. Bagaimana cara terbaik monitoring kawasan hutan SKT? Teknologi
baru yang dikembangkan memungkinkan dilakukannya monitoring
terhadap perubahan pemanfaatan lahan di lanskap hutan. Selain itu
terdapat tool yang tersedia untuk monitoring kawasan NKT, yang
mungkin berlaku dalam penerapan hutan SKT. Terdapat berbagai
peluang menjalankan monitoring oleh masyarakat lokal, informasi
ari pesawat tanpa awak (drone), dan sumber lainnya.
Sangat jelas bahwa masih banyak pertanyaan kompleks lainnya. Namun,
saat tantangan ini akan terus dikaji oleh Komite Pengarah Pendekatan SKT
dan pemangku kepentingan lain, toolkit ini memberikan panduan untuk
langkah-langkah pertama yang kritis dalam memisahkan deforestasi dari
pembangunan pertanian. Esensi dari Pendekatan SKT adalah untuk
menemukan langkah maju yang praktis di saat menghadapi tantangan
untuk tujuan perlindungan hutan, hak dan mata pencaharian masyarakat,
dan pertumbuhan bisnis yang terkadang saling berlawanan, serta
ketidakpastian dan pengetahuan yang tidak komprehensif. Edisi pertama
toolkit ini akan terus diperbarui seiring dengan implementasi yang
meluas, uji coba dan konsultasi, dengan terus mendokumentasikan sejauh
mana upaya kita menuju Nihil Deforestasi.
1. Lihat, Forest Peoples Programme, SawitWatch, HuMa, and Wild Asia (2009), “HCV and the RSPO: Report of
an independent investigation into the effectiveness of the application of High Conservation Value zoning in
palm oil development in Indonesia,” available at: http://www.forestpeoples.org/partners/
publication/2010/hcv-and-rspo-report-independent-investigation-effectiveness-application-hi.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
95
Versi 1.0 : Agustus 2015
SUATU TOOLKIT BAGI PELAKSANA SKT
DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka
Ahmed, S. (2009). “Landscape ecology: metrics, scale, habitat
and a mini-review.” Tesis Master, Forest Ecology and Conservation
Group, Imperial College London.
Andren, H. (1994). “Effects of Habitat Fragmentation on Birds and
Mammals in Landscapes with Different Proportions of Suitable
Habitat: A Review.” Oikos. Vol. 71, Fasc. 3 (Dec., 1994), halaman 355-366.
ASPRS (1994). Remote Sensing Thematic Accuracy Assessment: A
Compendium. American Society of Photogrammetry and Remote
Sensing.
Baig, M.H.A., L.T. Zhang, T. Shuai dan Q. Tong (2014). “Derivation
of a Tasseled Cap Transformation Based on Landsat-8 at-satellite
Reflectance.” Remote Sensing Letters, 5(5):423-431.
Balée, W. (1994). Footprints in the Forest: Ka’apor Ethnobotany – The
Historical Ecology of Plant Utilization by an Amazonian People. New
York: Columbia University Press.
Barsh, R. (1995). Effective Negotiation by Indigenous Peoples: an
action guide with special reference to North America. Geneva:
International Labour Organisation. Tersedia di: http://www.ilo.org/
wcmsp5/groups/public/---ed_norm/---normes/documents/
publication/wcms_100796.pdf.
Basuki, T.M., P.E. van Laake, A.K. Skidmore dan Y. A. Hussin (2009).
“Allometric equations for estimating the above-ground biomass in
tropical lowland Dipterocarp forests.” Forest Ecology and Management.
257: 1684–1694.
Bentrup, G. (2008). Conservation Buffers: Design Guidelines for
Buffers, Corridors, and Greenways. Asheville, NC: Department
of Agriculture, Forest Service, Southern Research Station. Tautan:
www.unl.edu/nac/bufferguidelines/docs/conservation_buffers.pdf
(accessed 21/1/2014.)
Bierregaard Jr., R.O. and V.H. Dale (1996).” “Islands in an Ever-Changing
Sea: The Ecological and Socioeconomic Dynamics of Amazon Rainforest
Fragments.” In: Schelhas, J. and R. Greenburg, R., Eds. (1996). Forest
Patches in Tropical Landscapes. Washington, DC: Island Press.
Birth, G.S dan G. McVey (1968). “Measuring the Color of Growing
Turf with a Reflectance Spectrophotometer.” Agronomy Journal,
60:640-643.
Broadbent, E.N., G.P. Asner, M. Keller, D.E. Knapp, P.J.C. Oliveira
dan J.N. Silva (2008). “Forest fragmentation and edge effects
from deforestation and selective logging in the Brazilian Amazon.”
Biological Conservation. 141: 1745-1757.
Brown, S. (1997). “Estimating biomass and biomass change of tropical
forests: A primer.” Rome: FAO. Forest Resources Assessment Publication
No.134.
Bruna, E.M. (1999). “Seed germination in rainforest fragments.”
Nature 402:139.
96
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Bryan, J., P. Shearman, J. Ash dan J.B. Kirkpatrick (2010). “Estimating
rainforest biomass stocks and carbon loss from deforestation
and degradation in Papua New Guinea 1972–2002: Best estimates,
uncertainties and research needs.” Journal of Environmental
Management 91: 995–1001.
Bryant, D., D. Nielsen dan L. Tangley (1997). The Last Frontier Forests:
Ecosystems and Economies on the Edge. New York: World Resources
Institute. Tersedia di: http://pdf.wri.org/lastfrontierforests.pdf
Cannon, M., A. Lehar dan F. Preston (1983). “Background Pattern
Removal by power spectral filtering.” Applied Optics. 15:22(6):777-9.
Chao, S. (2012). Forest Peoples’ Numbers Across the World.
Moreton in Marsh, UK: Forest Peoples Programme. Tersedia di:
http://www.forestpeoples.org/topics/climate-forests/publication/2012/
new-publication-forest-peoples-numbers-across-world
Chave, J., C. Andalo, S. Brown, M. A. Cairns, J. Q. Chambers, D. Eamus,
H. Folster, F. Fromard, N. Higuchi, T. Kira, J. P. Lescure, B. W. Nelson,
H. Ogawa, H. Puig, B. Riera dan T. Yamakura (2005). “Tree allometry
and improved estimation of carbon stocks and balance in tropical
forests.” Oecologia. 145: 87–99.
Colchester, M., N. Jiwan, P. Anderson, A. Darussamin dan A. Kiky
(2012). “Securing High Conservation Values in Central Kalimantan:
Report of the Field Investigation in Central Kalimantan of the RSPO
Ad Hoc Working Group on High Conservation Values in Indonesia”.
Kuala Lumpur: Roundtable on Sustainable Palm Oil. Tersedia di:
http://www.forestpeoples.org/topics/palm-oil-rspo/publication/2012/
securing-high-conservation-values-central-kalimantan-report-fi
Colchester, M., W. A. Pang, W. M. Chuo dan T. Jalong (2007). “Land
is life: Land rights and oil palm development in Sarawak.” Forest
Peoples Programme and Perkumpulan SawitWatch. Tersedia di:
http://www.forestpeoples.org/topics/palm-oil-rspo/publication/2010/
land-life-land-rights-and-oil-palm-development-sarawak.
Colchester, M. (1994). “Salvaging Nature: indigenous peoples,
protected areas and biodiversity conservation.” Moreton in Marsh,
UK: Forest Peoples Programme.
Congalton, R.G. dan K. Green (1999). “Assessing the Accuracy of
Remotely Sensed Data: Principle and Practices.” Boca Raton, FL,
USA: Lewis Publishers.
Crist, E.P. dan R.J. Kauth (1986). “The tasseled cap de-mystified”.
Photogrammetric Engineering and Remote Sensing. 52:81-86.
Deering, D.W., J.W. Rouse, R.H. Haas dan J.A. Schell (1975). “Measuring
Forage Production of Grazing Units from Landsat MSS Data.”
Proceedings, 10th International Symposium on Remote Sensing
of Environment, Ann Arbor. ERIM. 2:1169-1178.
Dowie, M. (2009). “Conservation Refugees: the one hundred year
conflict between global conservation and native peoples.” Cambridge,
MA: MIT Press.
Versi 1.0 : Agustus 2015
SUATU TOOLKIT BAGI PELAKSANA SKT
DAFTAR PUSTAKA
Ellis-Cockcroft, I. dan J. Cotter (2014). “Tropical Forest Fragmentation;
Implications for Ecosystem Function.” Greenpeace Research
Laboratories Technical Report (Review) 02-2014.
Ewers, R.M., C.J. Marsh dan O.R. Wearn (2010).“Making Statistics
Biologically Relevant in Fragmented Landscapes.” Trends in Ecology
and Evolution. December 2010, 25 (12).
Ewers, R. M. dan R.K. Didham (2006). “Confounding factors in the
detection of species responses to habitat fragmentation.” Biological
Reviews. 81:117-142.
Huete, A., K. Didan, T. Miura, E.P. Rodriguez, X. Gao dan L.G. Ferreira
(2002). “Overview of the radiometric and biophysical performance of
the Modis vegetation indices.” Remote Sensing of the Environment. 83:
195–213.
Huete, A., C. Justice dan W. Van Leuwenn (1999). “Modis vegetation
index (MOD 13): Algorithm theoretical basis document.” Tersedia
di: http://modis.gsfc.nasa.gov/data/atbd/atbd_mod13.pdf
Jackson, R.D. (1983). “Spectral Indices in n-Space.” Remote Sensing
of Environment. 13:409-421.
Fahrig, L. (2003). “Effects of habitat fragmentation on biodiversity.”
Annual Review of Ecology, Evolution and Systematics. 34:487–515.
Jensen, J. R. (2007). Remote sensing of Environment: An Earth
Resource Perspective (Second Edition). Pearson Prentice Hall.
Fairhead, J. dan M. Leach (1998). Reframing Deforestation. Global
Analysis and local realities: Studies in West Africa. London: Routledge.
Kauth, R.J., P.F. Lambeck, W. Richardson, G.S. Thomas dan A.P. Pentland
(1979). “Feature Extraction Applied to Agricultural Crops as Seen by
Landsat.” Proceedings, LACIE Symposium. Houston: NASA, 705-721.
Falcy, M.R. dan M.F. Estades (2007). “Effectiveness of corridors
relative to enlargement of habitat patches.”, Conservation Biology,
21:1341-1346. Cited in Fitzherbert et al. (2008).
Fitzherbert, E. B., M. J. Struebig, A. Morel, F. Danielsen, C.A. Bruhl, P.F.
Donald dan B. Phalan (2008). “How will oil palm expansion affect
biodiversity?” Trends in Ecology and Evolution. 23(10): 538-545.
Forman, R. T. T. dan M. Godron (1986). Landscape ecology. New York:
Wiley.
Gibbs, H.K., S. Brown, J.O. Niles dan J.A. Foley (2007). “Monitoring
and estimating tropical forest carbon stocks: making REDD a
reality”. Environmental Research Letters. 2(4): 045023.
Golden Agri-Resources dan PT SMART (2012). “High Carbon Stock
Forest Study Report.” Tersedia di: http://www.goldenagri.com.sg/
pdfs/misc/High_Carbon_Stock_Forest_Study_Report.pdf
Government of Malaysia, Ministry of Natural Resources and
Environment (2009). “Managing biodiversity in the Landscape:
Guidelines for planners, decision makers and practitioners.”
Tersedia di: https://www.hcvnetwork.org/resources/
folder.2006-09-29.6584228415/Guideline_Man_BioD_
landscape_090519.pdf/view
Greenpeace (2013). “The High Carbon Stock Approach No
Deforestation in Practice.” Tersedia di: http://www.greenpeace.
org/international/Global/international/briefings/forests/2014/
HCS%20Approach_Breifer_March2014.pdf.
Heckenberger, M. J. (2005). The Ecology of Power: Culture, Place
and Personhood in the Southern Amazon AD 1000-2000. London:
Routledge.
Huang, C., B. Wylie, L. Yang, C. Homer dan G. Zylstra (2002).
“Derivation of a Tasseled Cap Transformation Based on Landsat 7
at-satellite Reflectance.” International Journal of Remote Sensing.
23(8):1741-1748.
Kauth, R. J. dan G.S. Thomas (1976). “The Tasseled Cap—A Graphic
Description of the Spectral-Temporal Development of Agriculture
Crops as Seen by Landsat.” Proceedings, Machine Processing of
Remote Sensing Data. West Lafayette: Laboratory for the Applications
of Remote Sensing, 41-51.
Ketterings, Q.M., R. Coe, M. van Noordwijk, Y. Ambagau dan C.A.
Palm (2001). “Reducing uncertainty in the use of allometric biomass
equations for predicting above-ground tree biomass in mixed
secondary forests.” Forest Ecology and Management. 120: 199-209.
Laurance, S.G.W. (2004). “Landscape Connectivity and Biological
Corridors.” Pages 50-63 in Schroth, G. et al. (2004).
Laurance W.F., J.L.C. Camargo, R.C.C. Luizao, S.G. Laurance, S.L.
Pimm, E.M. Bruna, P.C. Stouffer, B. Williamson, J. Benítez-Malvido,
H.L. Vasconcelos, K.S. Van Houtan, C.E. Zartman, S.A. Boyle, R.L.
Didham, A. Andrade dan T.E. Lovejoy (2011). “The fate of Amazonian
forest fragments: a 32-year investigation.” Biological Conservation.
14: 56-67.
Laurance, W.F. dan H.L. Vasconcelos (2004). “Ecological Effects of
Habitat Fragmentation in the Tropics.” Halaman 33-49 dalam
Schroth, G. et al. (2004).
Laurance W.F., T.E. Lovejoy, H.L. Vasconcelos, E.M. Bruna, R.K.
Didham, P.C. Stouffer, C. Gascon, R.O. Bierregaard, S.G. Laurance dan
E. Sampiao (2002). “Ecosystem decay of Amazonian forest fragments:
a 22-year investigation.” Conservation Biology. 16:605-618.
Laurance, W.F., P. Delamônica, S.G. Laurance, L. Vasconcelos dan
T.E. Lovejoy (2000). “Rainforest fragmentation kills big trees.” Nature.
404: 836.
Laurance, W. F. dan R.O. Bierregaard, Eds. (1997). Tropical Forest
Remnants: Ecology, management and conservation of fragmented
communities. Chicago: University of Chicago Press.
Laurance, W. F. dan E. Jensen (1991). “Predicting the impacts of edge
effects in fragmented habitats.” Biological Conservation. 55:77-92.
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
97
Versi 1.0 : Agustus 2015
SUATU TOOLKIT BAGI PELAKSANA SKTS
DAFTAR PUSTAKA
Daftar Pustaka
Leach, M. Halaman dan R. Mearns, Eds. (1996). The Lie of the Land:
challenging received wisdom on the African environment. London:
International African Institute.
Schroth, G., G.A.B. da Fonseca, C.A. Harvey, C. Gascon, H.L.
Vasconcelos dan A.N. Izac, Eds. (2004). Agroforestry and Biodiversity
Conservation in Tropical Landscapes. Washington, DC: Island Press.
Lillesand M.T. Halaman 33-49 dalam W.R. Kiefer (2004). Remote
Sensing and Image Interpretation (Fifth Edition). New York: Wiley.
Srinivasan, R., M. Cannon dan J. White (1988). “Landsat Data
Destriping Using Power Spectral Filtering.” Optical Engineering.
27(11), 271193 (Nov. 1).
McCloy, K.R. (2006). Resource Management Information Systems:
Remote Sensing, GIS and Modelling (Second Edition). CRC Taylor &
Francis.
Myers, N. (1993). “Biodiversity and the precautionary principle.” Ambio.
22:74-79.
Myint, M. (2014). “Multinomial Logistics Regression for Digital Image
Classification.” Prosiding, ACRS 2014.
Noss, R.F. (1999). “Assessing and Monitoring forest biodiversity:
A suggested framework and indicators.” Forest Ecology and
Management. 115: 135-146.
Noss, R.F. Halaman dan A.Y. Cooperrider (1994). Saving Nature’s
Legacy: Protecting and Restoring Biodiversity. Washington, DC:
Island Press.
Oliveira de Filho, F.J.B. dan J.P. Metzger (2006). “Thresholds in
landscape structure for three common deforestation patterns in the
Brazilian Amazon.” Landscape Ecology (2006) 21:1061–1073.
Peres, C. A. (2001). “Synergistic effects of subsistence hunting and
habitat fragmentation on Amazonian forest vertebrates.” Conservation
Biology. 15:1490-1505.
Posey, D. dan M. Balick, Eds. (2006). Human Impacts on Amazonia:
the role of traditional knowledge in conservation and development.
New York: Columbia University Press.
The REDD Desk (2015). “What is REDD+?” Tersedia di: http://
theredddesk.org/what-is-redd#toc-3. Terakhir diakses tanggal 9
Maret 2015.
Ries, L., R.J. Fletcher Jr., J. Battin dan T.D. Sisk (2004). “Ecological
Responses to Habitat Edges: Mechanisms, Models, and Variability
Explained.” Annual Rev. Ecol. Syst. 35:491-522. Halaman 512 dan
Lampiran 1d.
Rouse, J.W., R.H. Haas, J.A. Schell dan D.W. Deering (1974).
“Monitoring Vegetation Systems in the Great Plains with ERTS.”
Proceedings, Third Earth Resources Technology Satellite-1
Symposium. Greenbelt, MD: NASA SP-351, halaman 3010-3017.
Running, S.W., C.O. Justice, V. Solomonson, D. Hall, J. Barker, Y.J.
Kaufmann, A.H. Strahler, A.R. Huete, J.P. Muller, V. Vanderbilt, Z.M.
Wan, P. Teillet dan D. Carneggie (1994). “Terrestrial Remote Sensing
Science and Algorithms Planned for EOS/MODIS.” International Journal
of Remote Sensing. 15(17):3587-3620.
Schlerf, M., C. Atzberger dan J. Hill (2005). “Remote Sensing of Forest
Biophysical Variables Using HyMap Imaging Spectrometer Data.”
Remote Sensing of Environment. 95:177-194.
98
TOOLKIT PENDEKATAN SKT
PENDEKATAN STOK KARBON TINGGI: PRAKTIK NIHIL DEFORESTASI
Thies, C., G. Rosoman, J. Cotter dan S. Meaden, S. (2011). “Intact
Forest Landscapes: why it is crucial to protect them from industrial
exploitation.” Greenpeace Research Laboratories Technical Note
no.5. p6.
Tso, B. dan P.M. Mather (2001). Classification Methods for Remotely
Sensed Data. CRC Press.
Van Houtan, K.S., Pimm, S. L., Halley, J.M., Bierregaard Jr, R.O. dan
T.E. Lovejoy (2007). “Dispersal of Amazon birds in continuous and
fragmented forest.” Ecology Letters. 10:219-229.
Wang, Q., S. Adiku, J. Tenhunen dan A. Granier (2005). “On the
Relationship of NDVI and Leaf Area Index in a Deciduous Forest
Site.” Remote Sensing of Environment. 94:244-255.
Wearn, O. R., D. C. Reuman dan R. M. Ewers (2013). “Response
to ‘Comment on Extinction debt and windows of conservation
opportunity in the Brazilian Amazon’.” Science. 339:271.
The Woodland Trust (2000). “Woodland biodiversity: expanding
our horizons.” Grantham, UK: The Woodland Trust.
WWW.HIGHCARBONSTOCK.ORG
Informasi lebih jauh
HCS Approach Steering Group Secretariat
C/O
Helikonia Advisory Sdn Bhd
Suite 15-02-A, 15th Floor
Plaza See Hoy Chan
Jalan Raja Chulan
50200 Kuala Lumpur
Malaysia
Email:
[email protected]
Telepon:
+60 3 2072 2130
+60 3 2070 0130
Versi 1.0 : Agustus 2015 (Bahasa Inggris)
Bahasa Indonesia: Agustus 2015
Hak Cipta © HCS Approach Steering Group
Penyusunan toolkit ini didanai dan didukung oleh:
Desain oleh Open Air Design
Terjemahan ke Bahasa Indonesia oleh: Owlingua Translation Services
Fly UP