...

Pengembangan Pusat-Pusat Pelayanan Berbasis Komoditas

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Pengembangan Pusat-Pusat Pelayanan Berbasis Komoditas
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271
C-21
Pengembangan Pusat-Pusat Pelayanan Berbasis
Komoditas Unggulan Sub Sektor Perkebunan di
Wilayah Kabupaten Bengkalis
Cihe Aprilia Bintang dan Putu Gde Ariastitta, ST. MT
Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: [email protected]
Adanya indikasi kebocoran wilayah (Regional Leakages) di
Kabupaten Bengkalis terlihat dari besarnya bahan mentah dari
komoditas lokal yang di ekspor keluar wilayah tanpa diolah
terlebih dahulu pada pusat-pusat pelayanan yang ada di
Kabupaten Bengkalis. Untuk itu, perlu adanya optimasi pusatpusat pelayanan berdasarkan potensi keunggulan komoditas
unggulan yang ada di Kabupaten Bengkalis untuk
meminimalisisr kebocoran wilayah yang terjadi. Adapun metode
penelitian yang digunakan adalah melalui pendekatan inputoutput untuk menghasilkan komoditas unggulan yang memiliki
keterkaitan antar komoditas sehingga dapat mendorong
perekonomian dan menghasilkan nilai tambah. Selain itu, metode
yang digunakan dengan pendekatan analisa kualitatif untuk
mengetahu aliran nilai tambah komoditas unggulan, faktor yang
menyebabkan kebocoran wilayah dan arahan pengembanagn
pusat-pusat pelayanan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
salah satu komoditas unggulan di Kabupaten Bengkalis adalah
kelapa sawit. Berdasarkan aliran komoditas kelapa sawit melalui
petani, distributor dan pabrik pengolahan menunjukkan bahwa
beberapa pusat pelayanan belum berfungsi optimal seperti Pusat
pelayanan Buruk bakul dan Bengkalis. Oleh karena itu, perlu
adanya pengembangan pusat-pusat pelayanan di Kabupaten
Bengkalis untuk meminimalisir kebocoran wilayah.
Kata kunci : Pengembangan wilayah, Kebocoran wilayah, Pusat
pelayanan, Komoditas Unggulan
I. PENDAHULUAN
P
ENGEMBANGAN
wilayah
merupakan
upaya
membangun dan mengembangkan suatu wilayah
berdasarkan
pendekatan
spasial
dengan
mempertimbangkan aspek sosial-budaya, ekonomi, lingkungan
fisik, dan kelembagaan dalam suatu kerangka perencanaan dan
pengelolaan bahwa kegiatan ekonomi tidak di distribusikan
pada suatu ruang yang homogen sehingga kegiatan yang
bertujuan ekonomi dan sosial merupakan kegiatan yang
tersebar sesuai dengan potensi dan nilai relatif lokasi yang
mendukungnya. Hal yang sama juga terjadi terkait
kesejahteraan penduduk yang erat dengan aksesibilitas
terhadap suatu lokasi, dimana kegiatan ekonomi terikat [1].
Pengembangan wilayah dilakukan untuk mengurangi
kesenjangan wilayah. Kesenjangan yang dimaksud disini
adalah ketidak merataan
kemajuan pembangunan antar
wilayah yang terjadi akibat perbedaan perbedaan kecepatan
pertumbuhan [1].
Kabupaten Bengkalis merupakan kabupaten yang
berada di Provinsi Riau dan merupakan Wilayah Perbatasan
Indonesia-Malaysia. Kabupaten Bengkalis terletak diantara
dua segitiga pertumbuhan Malaka yaitu Indonesia-MalaysiaSingapura (IMS-GT) dan Indonesia-Malaysia-Thailand (IMTGT). Keterkaitan Struktur ruang Kabupaten Bengkalis
terhadap negara tetangga dapat dilihat dari arus transaksi
ekonomi Kabupaten Bengkalis. Struktur perekonomian
Kabupaten Bengkalis menurut nilai eksport-import
memperlihatkan pada tahun 2007 tercatat nilai eksport sebesar
US$ 126.355.019 dan nilai import sebesar US$ 959.037 atau
terdapat surplus perdagangan sebesar US$ 125.395.982 [2].
Volume bongkar muat barang seluruh pelabuhan di Kabupaten
Bengkalis pada tahun 2007 sebesar 2.679.888,20 ton (dalam
negeri) dan 791.780,40 ton (luar negeri). Sementara kegiatan
muat bongkar di dalam negeri sebesar 1.351.511 ton dan untuk
luar negeri sebanyak 2.193.855,60 ton [2]. Secara rata – rata
menunjukkan bahwa muat barang lebih besar ke luar negeri
yang menunjukkan posisi eksport yang lebih tinggi. Namun
dari sisi domestik adanya jumlah bongkar muat yang lebih
kecil dari pada jumlah barang yang dimuat ke luar daerah. Hal
ini berarti bahwa banyak barang yang masuk ke wilayah
Bengkalis. Banyaknya barang yang masuk ke Kabupaten
Bengkalis tidak diimbangi dengan barang lokal yang keluar
sehingga terjadi kebocoran ekonomi yang terjadi pada internal
Kabupaten Bengkalis dalam hal ini berfungsi sebagai PKW
(Pusat kegiatan Wilayah).
Pusat pelayanan sebagaimana yang telah dijelaskan
dalam RTRW Kabupaten Bengkalis tahun 2009, seharusnya
berfungsi untuk memberi efek pertumbuhan ekonomi bagi
wilayah sekitarnnya. Jika dilihat dari struktur pelayanan,
Kabupaten Bengkalis memiliki fungsi sebagai PKW (Pusat
Kegiatan Lokal) dengan arahan pusat industri berada pada
Kota Duri sebagai PKL (Pusat kegiatan Lokal) dan Kota
Buruk Bakul PKLp (Pusat Kegiatan Lokal Promosi) (RTRW
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271
Kabupaten Bengkalis, 2009). Namun, Kedua titik tersebut
belum berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini terlihat dari
besarnya bahan mentah yang keluar tanpa adanya pengelohan
terlebih dahulu pada pusat industri tersebut sehingga
menimbulkan kebocoran ekonomi. Kebocoran ekonomi ini
terlihat dari tingginya ekspor bahan mentah ke negara
tetangga. Sebagai contoh potensi pertanian pada tahun 20022007 mengalami pertumbuhan sebesar 6,79%. Tingginya
pertumbuhan sektor pertanian karena ditunjang oleh tanaman
perkebunan yang berorientasi ekspor seperti kelapa sawit,
karet, kelapa dan sebagainya. Hasil Pertanian tersebut di
ekspor ke negara tetangga tanpa diolah terlebih dahulu
sehingga mengurangi nilai tambah bagi masyarakat sekitar.
Untuk kelapa sawit dengan penghasilan 1.991.232 ton per
tahun langsung di ekspor ke Negara Malaysia tanpa adanya
pengolahan terlebih dahulu [3].
Kebocoran modal ke luar wilayah (Regional
Leakages) terjadi antara lain akibat adanya international and
interregional demonstration effect, yakni sifat masyarakat
tertinggal cenderung mencontoh pola konsumsi di kalangan
masyarakat modern. Wilayah-wilayah yang telah lebih maju
memperkenalkan produk-produk yang mutunya lebih baik
sehingga wilayah-wilayah masyarakat tradisional mengimpor
dan mengkonsumsi barang-barang tersebut. Akhirnya sejumlah
modal yang telah terakumulasi bukan digunakan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayahnya dengan
membeli produk lokal tetapi justru bocor ke luar wilayah.
Dengan demikian, wilayah yang lebih maju akan semakin
cepat pertumbuhan ekonominya, sementara wilayah
terbelakang perkembangannya tetap lamban dan cenderung
menurun [4].
Wilayah perbatasan pada dasarnya termasuk dalam
kategori daerah rawan tetapi bersifat strategis karena didukung
oleh posisi geo-ekonomi yang menguntungkan. Berdasarkan
masalah-masalah yang telah di paparkan diatas terkait
permasalahan kebocoran ekonomi Kabupaten Bengkalis maka
perlu adanya suatu penelitian terkait upaya pengembangan
wilayah Kabupaten Bengkalis. Pengembangan yang di maksud
adalah mengembangkan komoditas unggulan yang terdapat di
Kabupaten Bengkalis dan keterkaitannya terhadap pusat-pusat
pelayanan yang ada di Kabupaten Bengkalis yang bertujuan
untuk mempercepat perekonomian. Dengan demikian, dalam
penelitian ini dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai
berikut: “Bagaimana oprtimasi pusat pelayanan dalam
mengakomodasi potensi lokal di Kabupaten Bengkalis?”.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan
arahan pengembangan pusat-pusat pelayanan di Kabupaten
Bengkalis. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah
menentukan komoditas unggulan di Kabupaten Bengkalis,
menganalisis aliran nilai tambah komoditas unggulan pada
pusat-pusat pelayanan di Kabupaten Bengkalis, merumuskan
faktor-faktor penyebab kurang berfungsinya pusat pelayanan
dalam melayani aliran nilai tambah di Kabupaten Bengkalis
dan merumuskan arahan pengembangan Pusat - pusat
pelayanan terhadap komoditas unggulan di Kabupaten
Bengkalis.
C-22
II. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah merumuskan arahan
pengembangan pusat pelayanan berbasis komoditas unggulan
di Kabupaten Bengkalsi. Penelitian ini menggunakan
pendekatan
kualitatif
(postpositivisme)
rasionalistik.
Pendekatan rasionalistik sumber kebenarannya berasal dari
empiri dan etik, pendekatan ini memandang ilmu yang valid
merupakan hasil abstraksi, simplifikasi, atau idealisasi dari
realitas dan terbukti koheren dengan sistem logikanya.
Karateristik pendekatan ini adalah kebenaran teori berasal dari
empirisme panca indra dan empiri etik, dengan sifat yang
analogi analysis yang memberikan gambaran terhadap
program dan obyek penelitian berdasarkan konseptualisasi
teoritik. Kemudian hasil dari penelitian ditarik sebuah
kesimpulan berdasarkan hasil analisis yang disesuaikan dengan
landasan teori dan diharapkan dapat bersifat kebenaran umum
(nomotetis) serta prediksi. Selain itu, untuk mendukung
tercapainya tujuan penelitian ini maka juga melibatkan
penggunaan pendekatan kualitatif rasionalistik. Dimana
pendekatan ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman
yang mendalam mengenai dimensi dan hubungan interaktif.
B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan model
penelitian studi kasus (case study). Penelitian deskriptif adalah
penelitian yang memaparkan, menuliskan, dan melaporkan
suatu peristiwa. Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk
membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat
mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah
tertentu. Selain itu, ada juga yang menyatakan bahwa
penelitian deskriptif bertujuan untuk menggambarkan sifat
suatu keadaan yang sementara berjalan pada saat penelitian
dilakukan dan memeriksa sebab-sebab dari suatu gejala
tertentu.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Analisa Penentuan Komoditas Unggulan
Dalam menentukan komoditas unggulan di Kabupaten
Bengkalis dilakukan beberapa analisis yaitu, LQ Kabupaten
Bengkalis terhadap Provinsi Riau, Kontribusi Share
Komoditas unggulan di Kabupaten Bengkalis, Analisa
Keterkaitan Komoditas Inpust-Output. Adapun Hasil analisa
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Hasil Analisa LQ Kabupaten Bengkalis
Berikut hasil analisa LQ kabupaten Bengkalis terhadap
Provinsi Riau.
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271
No
Tabel 1.
Hasil Analisa LQ Kabupaten Bengkalis
Sektor
Nilai LQ
1
Pertanian
0,98
2
Pertambangan & Penggalian
5,6
3
Industri Pengolahan
1,55
4
Listrik Dan Air Bersih.
1,87
5
Bangunan
0,45
6
Perdagangan, Hotel Dan Restoran
1,72
7
Pengangkutan Dan Komunikasi
0,45
8
Keuangan, Persewaan Dan Jasa
Perusahaan
Jasa-Jasa
0,44
9
0,95
Dari tabel analisa LQ, terlihat nilai LQ > 1 yang berarti
basis. Namun, untuk melihat kontribusi masing-masing sektor
di Kabupaten Bengkalis akan difokuskan untuk meneliti
Pertanian. Hal ini dilakukan karena sektor ini merupakan
sektor primer untuk diteliti lebih lanjut.
2. Kontribusi Share Komoditas Sub Sektor Perkebunan di
Kabupaten Bengkalis
Untuk presentasi sub sektor perkebunan. sumbangan
terbesar di berikan oleh Kelapa sawit sebesar 45 % dan 40 %
masing-masing pada Kecamatan Mandau dan Kecamatan
pinggir. Dapat dilihat melaluigrafik berikut:
Gambar 2. Grafik Analisa Kontribusi ShareSub Sektor Perkebunan
3. Analisa Input-Output (I-O)
Analisa input-output digunakan dalam penelitian ini untuk
melihat potensi komoditas unggulan di Kabupaten Bengkalis.
Dimana, analisis ini menggambarkan transaksi barang dan jasa
antar berbagai sektor/kegiatan ekonomi di suatu wilayah dalam
suatau periode tertentu. Selain itu, I-O juga memperlihatkan
saling keterkaitan dan saling ketergantungan antar berbagai
komoditas. Seberapa besar ketergantungan suatu komoditas
ditentukan oleh besarnya input yang digunakan dalam proses
produksinya. Dengan kata lain, sasaran pengembangan suatau
komoditas tidak akan tercapai tanpa didukung input yang
memadai dari komoditas lain. perencanaan suatu komoditas
harus memperhatikan prospek pengembangan komoditas
terkait secara terintegrasi. Adapun analisis I-O ini dilihat dari 3
hal untuk menghasilkan komoditas unggulan. Pertama, melihat
peringkat
output
yang
dihasilkan
masing-masing
komoditas.Kedua, melihat besarnya nilai tambah yang
C-23
diberikan melalui masing-masing komoditas. Ketiga, melihat
besarnya keterkaitan kedepan dan kebelakang masing-masing
komoditas di kabupaten Bengkalis sehingga di dapat
komoditas unggulan.
Berdasarkan peringkat output 10 komoditas unggulan di
Kabupaten Bengkalis adalah pertambangan minyak dan gas,
perdagangan, industri hasil kilang minyak dan gas bumi, kayu,
listrik, gas dan air bersih, bangunan, pemerintahan umum,
industri kayu gergajian dan kayu lapis, industri makanan,
minuman dan tembakau, industri miyak dan lemak dan kelapa
sawit. Sementara dari hasil analisis 10 komoditas yang
memiliki nilai tambah tertinggi adalah pertambangan minyak
dan gas, perdagangan, kayu, listrik, gas dan air bersih, industri
kayu gergajian dan kayu lapis, industri hasil kilang minyak dan
gas bumi, industri makanan, minuman dan tembakau, industri
kertas, pemerintahan umum dna kelapa sawit. Dari Indeks
Daya Penyebaran dan Indeks Daya Kepekaan Di Kabupaten
Bengkalis komoditas yang unggul dilihat berdasarkan nilai
indekksyang memiliki nilai lebih dari 1 yang berarti memiliki
keterkaitan yang cukup kuat kedepan dan kebelakang. Adapun
10 komoditas tersebut adalah padi, umbi-umbian, kacangkacangan, nenas, sayur dan buah-buahan, makanan lainnya,
karet, kelapa, kelapa sawit dan hasil perkebunan lainnya.
Untuk menentukan sektor kunci dapat dilihat dari
Indeks daya penyebaran (backward linkages) dan indeks
derajat kepekaan (Forward Lingkages). Dimana daya
penyebaran (backward linkages) dan indeks derajat kepekaan
(Forward Lingkages) > 1 (satu). Dari tabel terlihat bahwa
Indeks daya penyebaran (IDP) dan indeks derajat kepekaan
(IDK) yang memiliki indeks lebih dari 1 yaitu sektor
perdagangan dan industri hasil kilang dan gas bumi.
4. Penentuan Sektor Unggulan Berdasarkan I-O
Dari tabel I-O Bengkalis dapat ditunjukan komoditaskomoditas unggulan (Leading Sectors) dan adanya keterkaitan
antar sektor ekonomi. Penentuan komoditas unggulan tersebut
dilihat dari tiga hal yang sudah dibahas sebelumnya yaitu,
besarnya output yang dihasilkan, besarnya nilai tambah, dan
besarnya keterkaitan antar komoditas. Berikut hasil analisis
dari komoditas unggulan berdasarkan tabel I-O Kabupaten
Bengkalis.
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271
10 NTB Tertinggi
10 Output Tertinggi
Bangunan
Industri Minyak
dan Lemak
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
Pertambangan Migas
Perdagangan
Kayu
Listrik, gas air bersih
Industri kayu
gergajian
Pemerintahan umum
Industri Migas
Industri Makanan
Kelapa Sawit
Industri
Kertas
Leading Sectors
IDP > 1
IDK >1
1.Perdagangan
2.Kelapa Sawit
3.Kayu
4.industri minyak dan lemak
5.Pertambangan minyak dan gas
6.industri pupuk dan pestisida
7.industri kimia, karet, plastik dan barang
barang ikutannya
Gambar 5. Penentuan Komoditas Unggulan Berdasarkan Analisa I-O
Untuk analisis selanjutnya sample komoditas yang akan
dipilih adalah Kelapa sawit karena memiliki sumbangan
kontribusi share terbesar dibidang sub sektor tanaman pangan.
B Aliran Nilai Tambah Komoditas Unggulan Pada PusatPusat Pelayanan di Kabupaten Bengkalis
Berdasarkan analisis yang sudah dilakukan sebelumnya,
ditetapkan bahwa kelapa sawit merupakan salah satu
komoditas unggulan di Kabupaten Bengkalis.
i. Aliran Nilai Tambah Komoditas Unggulan Kelapa Sawit
Untuk mengetahui aliran nilai tambah komoditas kelapa
sawit dilakukan wawancara dengan 3 objek penelitian. Adapun
3 objek penelitian tersebut adalah petani, distributor dan
perusahaan pengelola kelapa sawit. Sample yang diambil dari
petani kelapa sawit di Kecamatan Mandau, Kecamatan
Mandau, Kecamatan Bukit batu dan Kecamatan Siak Kecil.
Pengambilan sample ini didasarkan dari luas penggunaan
kelapa sawit > 10% untuk Kecamatan Mandau dan Pinggir dan
< 10% untuk Kecamatan Bukit batu dan Siak kecil (masingmasing satu sample petani). Distributor diambil berdasarkan
perusahaan kelapa sawit yang memiliki penggunaan lahan >
10% yaitu Kecamatan Mandau dan Kecamatan Pinggir. Untuk
Perusahaan kelapa sawit diambil dari 4 perusahaan kelapa
C-24
sawit terbesar di Kabupaten Bengkalis, yaitu perusahaan
kelapa sawit di Kecamatan Mandau PT. Pelita Agung
Agroindustri, PT. Intan Sejati, PT. Mestika Agung Sawit
Sejahtera dan Kecamatan di Pinggir Perusahaan sawit PT.
ADEI. Berdasarkan hasil wawancara tersebut disimpulkan
bahwa komoditas kelapa sawit sebagian besar di ekspor ke luar
wilayah melalui pelabuhan dumai dalam bentuk barang mentah
dan setengah jadi menuju negara India, Cina, Singapura dan
Malaysia.
ii. Tingkat Kesesuaian Fungsi Pusat-Pusat Pelayanan
Berdasarkan Aliran Nilai Tambah
Untuk mengetahui aliran komoditas unggulan pada pusat
pelayanan akan dilakukan tahapan penggabungan analisa hasil
analisa pertama dan kedua. Berikut tabel tingkat kesesuaian
wilayah berdasarkan fungsi pusat pelayanan di kabupaten
Bengkalis:
Tabel 2.
Tingkat Kesesuaian Wilayah Berdasarkan Fungsi Pusat Pelayanan
Fungsi
Pusat
Pelayaan
Industri
pengolahan
Kelapa Sawit
Perkebunan
Pusat Pelayanan
Perkotaan Duri (Kecamatan
Mandau) sebagai PKL
Perkotaan Bengkalis sebagai
PKW
Perkotaan Buruk Bakul sebagai
PKLp
Pangkalan Nyirih (Rupat)
sebagai PPK
Sepotong dan Bandar Jaya
(Siak Kecil) sebagai PPL
Bukit batu sebagai PPL
Muara Basung (Pinggir)
sebagai PPL
Tingkat
Kesesuaian
Sangat Sesuai
Sedang
Tidak Sesuai
Sedang
Sedang
Sedang
Sangat
Sesuai
Dari hasil analisa kesesuaian wilayah berdasarkan fungsi
pusat pelayanan didapatkan wilayah yang sangat sesuai,
tingkat kesesuaian sedang dan wilayah yang tidak sesuai
berdasarkan fungsi pusat pelayanan di Kabupaten Bengkalis.
Untuk fungsi pusat pelayanan sebagai industri pengolahan
Perkotaan Duri (Kecamatan Mandau) yang berfungsi sebagai
PKL termasuk kedalam kategori sangat sesuai, Perkotaan
Bengkalis sebagai PKW termasuk kedalam kategori sedang
dan Perkotaan Buruk Bakul sebagai PKLp termasuk kedalam
kategori tidak sesuai. Untuk Fungsi Pusat pelayanan sebagai
perkebunan komoditas kelapa sawit Muara Basung (Pinggir)
sebagai PPL termasuk kategori sangat sesuai. Sementara,
Pangkalan Nyirih (Rupat) sebagai PPK, Sepotong dan Bandar
Jaya (Siak Kecil) sebagai PPL dan Bukit batu sebagai PPL
termasuk kedalam kategori sedang. Pembagian Kategori ini
akan menjadi alat untuk membuat arahan pengembanagn pusta
pelayanan di Kabupaten Bengkalis.
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271
iii. Faktor-faktor penyebab kebocoran wilayah di Kabupaten
Bengkalis
Berdasarkan sasaran penelitian maka diputuskan bahwa
narasumber atau orang yang dapat dimintai tanggapan
berkenaan dengan faktor-faktor penyebab kebocoran wilayah
di Kabupaten Bengkalis adalah dari pemerintahan yaitu,
Kepala Bidang Perencanaan Fisik Sarana dan Prasarana di
Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bengkalis. Berikut
hasil analisa yang dilakukan kepada Pemerintahan yaitu
melalui kepala Bidang Perencanaan Fisik Sarana dan
Prasarana di Badan Perencanaan Daerah Kabupaten Bengkalis.
Adapun faktor yang mempengaruhi kebocoran wilayah
berdasarkan Kekuatan Aglomerasi, Faktor Ketersediaan
Sumber Daya, Faktor Lokasi Topografi, Infrastruktur dan
Aksesibilitas.
C. Arahan Pengembangan pusat pelayanan dengan
menggunakan pendekatan ekonomi berbasis komoditas
unggulan di Kabupaten Bengkalis
Berikut Arahan Pengembangan Pusat Pelayanan
berdasarkan komoditas unggulan dalam hal ini komoditas
kelapa sawit di Kabupaten Bengkalis:
 Pengembangan jalan poros (ruas Duri - Sei Pakning)




dengan fungsi kolektor primer untuk mendukung
keterkaitan wilayah kedepan dan kebelakang terhadap
komoditas unggulan. Dimana pusat pelayanan Buruk bakul
merupakan bagian dari Kecamatan Sei pakning yang akan
dikembangkan menjadi segitiga pusat pelayaanan yang
akan mendorong pertumbuhan ekonomi Kabupaten
Bengkalis.
Pengembangan aksesibilitas jembatan penyeberangan dari
Bengkalis menuju sungai pakning. Hal ini terkait dengan
pengembangan segitiga pusat pelayanan Bengkalis-Buruk
bakul sehingga membutuhkan aksesibilitas yang memadai.
Pengembangan aksesibilitas jembatan penghubung
Bengkalis-Pulau Rupat hal ini terkait dengan sebaran
komoditas unggulan kelapa sawit terletak di Rupat dan
perlu
dikembangkan
sehingga
membutuhkan
keterhubungan dengan segitiga pusat pelayanan BengkalisBuruk bakul.
Pengembangan pelabuhan internasional agar berfungsi
lebih baik dalam mengekspor barang jadi dari hasil
komoditas unggulan kelapa sawit dari Buruk bakul dan
Kematan Mandau
Pengembangan
infrastruktur
pendukung
industri
pengolahan kelapa sawit yang bisa mengolah kelapa sawit
dari setengah jadi menjadi barang jadi seperti sabun, lilin,
makanan ternak, margarine dan minyak goreng.
C-25
 Pengembangan Aksesibilitas jalan Buruk bakul-duri dan
Buruk bakul-Bengkalis.
 Pusat-pusat pelayanan di Rupat, Siak Kecil dan Bukit batu
memiliki potensi komoditas unggulan kelapa sawit. Sudah
dijelaskan pada analisa sebelumnya bahwa komoditas
kelapa sawit di wilyaha ini memiliki kontribusi kurang dari
10% terhadap Kabupaten Bengkalis. Perlu adanya
pengembangan optimalisasi lahan untuk pengembangan
komoditas unggulan kelapa sawit sehingga hasil komoditas
unggulan kelapa sawit di wilayah ini dapat di olah pada
pusat pelayanan Buruk bakul. Dari sini akan menambah
nilai tambah bagi Kabupaten Bengkalis.
 Pembatasan industri pengolahan kelapa sawit pada
Kecamatan pinggir. Hal ini dikarenakan Kecamatan
Pinggir memiliki fungsi sebagai Potensi Perkebunan
Komodiats Unggulan Kelapa sawit. Industri pengolahan
kelapa sawit seharusnya terdapat di Kecamatan Mandau
yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Pinggir.
IV. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Komoditas unggulan di Kabupaten Bengkalis yang
memiliki keterkaitan yang besar kedepan dan kebelakang
di Kabupaten Bengkalis adalah Komoditas Kelapa Sawit.
2. Tingkat kesesuaian fungsi pusat pelayanan di Kabupaten
Bengkalis sebagai berikut : untuk fungsi pusat pelayanan
sebagai industri pengolahan Kecamatan Manda yang
berfungsi sebagai PKL termasuk kedalam kategori sangat
sesuai, Kecamatan Bengkalis sebagai PKW termasuk
kedalam kategori sedang dan Kecamatan Buruk bakul
sebagai PKLp termasuk kedalam kategori tidak sesuai.
Untuk Fungsi Pusat pelayanan sebagai perkebunan
komoditas kelapa sawit Muara Basung (Pinggir) sebagai
PPL termasuk kategori sangat sesuai. Sementara,
Pangkalan Nyirih (Rupat) sebagai PPK, Sepotong dan
Bandar Jaya (Siak Kecil) sebagai PPL dan Bukit batu
sebagai PPL termasuk kedalam kategori sedang.
3. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi kebocoran
wilyah di Kabupaten Bengkalis yaitu, faktor kekuatan
aglomerasi, faktor ketersediaan sumber daya, faktor lokasi,
topografi, infrastruktur dan aksesibilitas pusat perkotaan
buruk bakul perlu dikembangkan menjadi industri
pengolahan yang mengolah kelapa sawit menjadi barang
jadi seperti sabun, makanan ternak, margarin dan minyak
goreng.
4. Arahan pengembangan pusat pelayanan di wilayah
Kabupaten Bengkalis diarahkan untuk Pengembangan jalan
poros (ruas Duri - Sei Pakning), Pengembangan
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 2012) ISSN: 2301-9271
aksesibilitas jembatan penyeberangan dari Bengkalis
menuju sungai pakning, pengembangan pelabuhan
internasional di pusat perkotaan agar berfungsi optimal
dalam mengekspor barang jadi dari hasil komoditas
unggulan kelapa sawit dari Buruk bakul dan Kecamatan
Mandau, pengembangan infrastruktur pendukung di Buruk
bakul untuk industri pengolahan kelapa sawit yang bisa
mengolah kelapa sawit dari setengah jadi menjadi barang
jadi seperti sabun, lilin, makanan ternak, margarin, minyak
goreng serta pengembangan optimalisasi lahan komoditas
kelapa sawit.
B. Rekomendasi
Adapun rekomendasi penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan tingkat kesesuaian pusat-pusat pelayanan
Perkotaan Buruk bakul memiliki tingkat kesesuaian paling
rendah sehing perlu adanya pengembangan perkotaan
buruk bakul dengan cara city marketting dan pembangunan
infrastruktur.
2. Arahan yang dihasilkan dalam penelitian ini seperti
pengembangan
infrastruktur
pendukung
industri
pengolahan kelapa sawit, aksesibilitas seperti jalan
penghubung antar pusat pelayanan (Duri-Buruk bakul),
pengembangan pelabuhan dan pengembangan lahan
perkebunan sawit pada pusat-pusat pelayanan Siak kecil,
Rupat dan Bukit batu menjadi masukan bagi Rencana Tata
Ruang Wilayah Kabupaten Bengkalis (RTRW).
DAFTAR PUSTAKA
[1]
[2]
[3]
[4]
Alkadri, dkk. Manajemen Teknologi Untuk pengembanagn
Wilayah: Konsep dasar, Contoh Kasus, dan Implikasi Kebijakan
edisi Revisi. Jakarta: Pusat pengkajian Kebijakan
Teknologi
wilayah, BPPT, (1999).
BAPPEDA Kab. Bengkalis. RTRW Kabupaten Bengkalis tahun
2009
Syahza.2007. Ekspor-Impor Kabupaten Bengkalis. Available :
http://www.bengkalis.go.id/view_simpeta.php?link_atepmisdi=4
Rustiadi, ernan dkk. Perencanaan dan Pengembangan Wilayah.
Jakarta : Yayasan pustaka obor Indonesia, (2011).
C-26
Fly UP