...

Kualitas Udara Rumah dengan Kejadian Pneumonia Anak Bawah

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Kualitas Udara Rumah dengan Kejadian Pneumonia Anak Bawah
Makara J. Health Res., 2014; 18(1): 25-33
doi: 10.7454/msk.v18i1.3090
25
Kualitas Udara Rumah dengan Kejadian Pneumonia Anak Bawah Lima Tahun
(di Puskesmas Cimahi Selatan dan Leuwi Gajah Kota Cimahi)
Rilla Fahimah1*, Endah Kusumowardani2, Dewi Susanna1
1. Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, Depok 16424, Indonesia
2. Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit, Cakung, Jakarta 13910, Indonesia
*
e-mail: [email protected]
Abstrak
Pneumonia merupakan penyakit mematikan nomor satu di dunia dengan prevalensi 44%. Di Indonesia, pneumonia anak
bawah lima tahun merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare dengan proporsi 15,5%. Pneumonia
merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan bakteri yang dipengaruhi oleh pencemar fisik dan kimia. Tujuan
penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas udara kimia rumah dengan kejadian pneumonia anak bawah lima
tahun dengan metode cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk yang tinggal di wilayah kerja
Puskesmas Cimahi Selatan dan Puskesmas Leuwi Gajah. Pemilihan kriteria wilayah dilakukan berdasarkan wilayah
dengan jumlah penduduk tertinggi, kasus pneumonia tinggi (berada di wilayah merah dan kuning), merupakan wilayah
industri yang berbahan bakar batu bara dan berada di dekat jalur tol Purbaleunyi. Sampel penelitian adalah responden
yang tinggal di wilayah kerja Puskesmas Cimahi Selatan dan Puskesmas Leuwi Gajah dengan kriteria inklusi lama
tinggal ≥1 tahun dan memiliki anak bawah lima tahun.Hasil penelitian menunjukkan hubungan signifikan terjadi pada
Particulate Matter (PM)10 dan Particulate Matter (PM)2.5 (p < 0,05) dengan nilai odd ratio masing-masing 4,40 dan
3,24, sedangkan kepadatan hunian rumah, kepadatan hunian kamar, ventilasi rumah, lubang penghawaan dapur, adanya
perokok dalam rumah, penggunaan obat nyamuk bakar, Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2) dan carbon
monoksida (CO) tidak menunjukkan hubungan signifikan (p > 0,05) dengan pneumonia. Faktor dominan yang
menyebabkan pneumonia pada balita adalah PM10 (p= 0,036) dengan nilai OR 4,09 setelah dikontrol dengan PM2,5 (p=
0,142; OR 2,78), jumlah kuman (p= 0,004; OR 0,17) dan ventilasi rumah (p= 0,395; OR 0,58).
Abstract
Home Air Quality and Case of Pneumonia in Children under Five Years Old (in Community Health Center of
South Cimahi and Leuwi Gajah, City of Cimahi). Pneumonia is the number one deadliest disease in the world with the
prevalence of 44%. In Indonesia, pneumonia in todler is the leading cause of death, after diarrhea, with proportion 15,5%.
Pneumonia is a disease caused by a virus and bacteria influenced by physical and chemical contaminants. The purpose of
this study was to analyze indoor air quality with the incidence of pneumonia in children under five years old with cross
sectional method. The population in this study was the population living in the region of South Cimahi Public Health
Center and Leuwi Gajah Public Health Center. The criteria of selection for the region were: region with the highest
population, high pneumonia cases (in the red and yellow area), a coal-fired industrial area, and located near the highway
Purbaleunyi. The sample of this research are respondents who live in the region of South Cimahi Public Health Center and
Leuwi Gajah Public Health Center with inclusion criteria length of stay ≥1 year with a child under five years old. Significant
correlation occured between PM10 and PM2,5 (p < 0.05) with odd ratio 4.40 and 3.24 while the density of dwelling house,
room occupancy density, home ventilation, kitchen hole, a smoker in the home, use of mosquito coils, sulfur dioxide (SO2),
nitrogen dioxide (NO2) and carbon monoxide (CO) did not show a significant relationship (p > 0.05) with pneumonia.
Dominant factors that cause pneumonia in infants is PM10 (p= 0.036) with a value of OR 4.09 after controlled PM2,5 (p=
0.142; OR 2.78), the number of bacteria (p = 0.004; OR 0.17) and ventilation the house (p= 0.395; OR 0.58).
Keywords: pneumonia, indoor air quality, particulate matter (PM)10, particulate matter (PM)2.5
per tahun di dunia meninggal karena pneumonia,
penyakit yang disebabkan oleh polusi udara dalam
ruang karena penggunaan bahan bakar padat.1 Tiga
penyebab kematian utama adalah 44% pneumonia, 54%
Pendahuluan
Pneumonia merupakan penyakit mematikan nomor satu
di dunia dengan prevalensi 44%. Hampir 2 juta orang
25
April 2014 | Vol. 18 | No. 1
26
Fahimah, et al.
penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan 2% kanker
paru-paru. Lima puluh persen kematian anak bawah
lima tahun akibat pneumonia terjadi karena keberadaan
partikulat dalam ruangan.1
Di Indonesia, pneumonia anak bawah lima tahun
merupakan penyebab kematian nomor dua setelah diare
dengan proporsi sebesar 15,5%. Pneumonia selalu masuk
ke dalam 10 penyakit kematian tertinggi di Indonesia.
Pada tahun 2011, total kasus pneumonia pada anak
bawah lima tahun adalah 480.033 atau sama dengan
20,59%. Kasus pneumonia terus meningkat sejak 2002
sebanyak 7,6% dan pada tahun 2007 sebanyak 11,2%.2-3
Pneumonia merupakan penyakit yang disebabkan oleh
virus dan bakteri yang dipengaruhi oleh pencemar fisik
dan kimia. Tingginya kasus pneumonia tersebut menunjukan bahwa pneumonia menjadi masalah kesehatan
masyarakat utama yang berkontribusi terhadap tingginya
angka kematian anak bawah lima tahun.2
Kualitas udara yang baik dalam rumah merupakan faktor
predisposisi terjadinya penyakit pneumonia, sehingga
pemerintah mengatur nilai baku mutu ruangan yang
tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 1077
Tahun 2011.4 Dalam Peraturan Menteri Kesehatan
tersebut dijelaskan nilai baku mutu udara ruang
didasarkan pada parameter kimia, fisik dan biologi.
Parameter kimia terdiri atas SO2, NO2, CO, CO2, Pb,
asbes, formaldehide, volatile organic Compound dan
environmental tobacco smoke. Parameter fisik yaitu
suhu, pencahayaan, kelembaban, laju ventilasi, PM10
dan PM2,5, sedangkan parameter biologi yaitu jamur,
bakteri patogen dan angka kuman.4
Pencemaran udara dalam ruangan, terutama rumah,
sangatlah berbahaya karena pada umumnya orang lebih
banyak menghabiskan waktu untuk melakukan kegiatan
di dalam rumah. Oleh sebab itu, rumah dianggap sebagai
lingkungan mikro yang berkaitan dengan risiko
pencemaran udara. Kualitas udara di dalam ruang rumah
dipengaruhi oleh berbagai faktor:bahan bangunan, struktur
bangunan, bahan pelapis untuk furniture serta interior,
kepadatan hunian, kualitas udara luar rumah, radiasi dari
Radon (Rd), formaldehid, debu, dan kelembaban yang
berlebihan. Selain itu, kualitas udara juga dipengaruhi
oleh kegiatan dalam rumah seperti penggunaan energi
tidak ramah lingkungan; penggunaan sumber energi yang
relatif murah seperti batubara dan biomasa (kayu,
kotoran kering dari hewan ternak, residu pertanian);
perilaku merokok dalam rumah; penggunaan pestisida;
penggunaan bahan kimia pembersih; dan kosmetika.
Bahan-bahan kimia tersebut dapat mengeluarkan polutan
yang dapat bertahan di dalam rumah untuk jangka waktu
yang cukup lama.4
Parameter kimia, biologi dan fisik tersebut saling
berkaitan. Hal ini terbukti dari sebuah penelitian yang
memperlihatkan bahwa pada anak usia anak bawah lima
Makara J. Health Res.
tahun sampai usia 10 tahun memiliki risiko mengalami
gangguan saluran pernafasan sebanyak 20% setiap
kenaikan NO2 28,3 µg/m3, dan berhubungan sangat kuat
(p < 0,01) apabila pajanan NO2 disertai dengan pajanan
asap rokok diatas 1,5 µg/m3.5-6
Paramater fisik rumah berupa Particulate meter
berukuran 10 µ (PM10) berisiko meningkatkan kasus
pneumonia dan akan lebih berbahaya pada saat musim
panas dibandingkan pada saat musim hujan karena
jumlahnya akan lebih besar.7 Selain itu, di Jepang angka
kematian pada kasus pneumonia berhubungan signifikan
dengan PM10 dan PM2,5. Hal yang sama juga ditemukan
oleh Zanobetti et al. bahwa kasus pneumonia berhubungan secara signifikan dengan asap rokok, PM2,5
dan CO.8 Kualitas udara dalam rumah dan kasus infeksi
saluran pernafasan akut juga dilaporkan pada anak
bawah lima tahun di Kanada, yaitu adanya hubungan
signifikan terhadap kejadian infeksi saluran pernafasan
setiap kenaikan CO2 500 ppm dengan OR 2,85.9
Kualitas udara dalam rumah dipengaruhi pula oleh
kondisi fisik rumah yang memenuhi syarat rumah sehat,
yaitu rumah yang memenuhi kebutuhan psikologis dan
biologis, persyaratan pencegahan penularan penyakit
dan kecelakaan.10 Anak bawah lima tahun yang terpajan
dengan bahan bakar emisi sisa proses pembakaran
berisiko 3 kali lipat dibandingkan anak bawah lima tahun
yang tidak terpajan.11 Ventilasi udara di dapur berhubungan dengan pengurangan konsentrasi emisi partikel
asap dari sisa pembakaran (p < 0,05). Kepemilikan
ventilasi di dapur dipengaruhi oleh pendidikan dan
kepemilikan lahan yang digunakan untuk rumah.12
Zat pencemar udara lainnya yang menjadi faktor risiko
pneumonia adalah asap rokok. Asap rokok yang berada
dalam rumah berhubungan dengan keberadaan bakteri
Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae dan
Haemophilus influenza. Streptococcus pneumoniae lebih
berisiko pada anak bawah lima tahun yang terpajan
dengan asap rokok dibandingkan dengan anak bawah
lima tahun yang tidak terpajan (p = 0,016) dan semakin
meningkat risikonya apabila orang tua merokok di dalam
ruangan yang sama dengan anak bawah lima tahun.13
Anak bawah lima tahun dengan ibu merokok memiliki
risiko lebih besar dibandingkan anak bawah lima tahun
dengan ibu tidak merokok. Sebanyak 90% anak bawah
lima tahun dengan ibu perokok akan menderita pneumonia sedang sampai kronik, sedangkan anak bawah lima
tahun dengan ayah perokok memiliki 74,2% risiko
terkena pneumonia.14 Asap yang berasal dari obat nyamuk
bakar sebagai penghilang nyamuk memiliki risiko yang
sama dengan menjadi perokok pasif. Obat nyamuk bakar
juga berisiko lanjut menyebabkan kanker paru dan
pengguna obat nyamuk bakar lebih dari 3 kali seminggu
berisiko 3 kali lipat mengidap kanker paru dibandingkan
dengan tidak menggunakan obat nyamuk bakar.15
April 2014 | Vol. 18 | No. 1
Kualitas Udara Rumah dengan Kejadian Pneumonia Anak Bawah
Keberadaan rumah sehat dipengaruhi pula oleh kondisi
sosial ekonomi sebuah keluarga. Sebagian besar keluarga
dengan kondisi ekonomi yang rendah tidak dapat
menyewa atau membuat tempat tinggal yang layak,
sehingga mereka tinggal dengan beberapa orang dalam
satu rumah dan kondisi rumah yang padat tersebut
meningkatkan risiko penularan virus penyakit saluran
pernafasan antar manusia. Banyaknya jumlah ruangan
dalam rumah juga memiliki hubungan yang signifikan
dengan kejadian penyakit saluran pernafasan seperti
pneumonia (p< 0,05).16
Metode Penelitian
Penelitian ini bekerja sama dengan Balai Besar Teknik
Kesehatan Lingkungan Pengendalian Penyakit Jakarta
dalam upaya surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan
kualitas udara di Puskesmas Cimahi Selatan dan Leuwi
Gajah. Penelitian ini menggunakan disain studi cross
sectional dengan metode wawancara dan pengukuran
kualitas udara ruang. Wawancara dilaksanakan berdasarkan pertanyaan yang telah dibuat dalam bentuk
kuesioner yang terdiri dari 54 pertanyaan dan ditujukan
kepada ibu/pengasuh anak bawah lima tahun yang terpilih
menjadi sampel pada saat penelitian. Wawancara
dilakukan di tempat tinggal anak bawah lima tahun untuk
sekaligus dilakukan observasi faktor risiko lingkungan.
Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk yang
tinggal di wilayah kerja Puskesmas Cimahi Selatan dan
Puskesmas Leuwi Gajah.
Pemilihan kriteria wilayah dilakukan berdasarkan atas
wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi, kasus
pneumonia tinggi (berada di wilayah merah dan kuning),
merupakan wilayah industri yang berbahan bakar batu
bara dan berada di dekat jalur tol Purbaleunyi. Penentuan
jumlah sampel di tiap Rukun Warga (RW) didapat
dengan mempertim-bangkan faktor risiko, jumlah anak
bawah lima tahun dan jumlah kasus di tiap wilayah
dengan teknik purposive sampling. Besar sampel minimal
berdasarkan penghitungan adalah 53. Saat berada di
wilayah penelitian didapatkan sampel yang memenuhi
kriteria sebesar 87.
Hasil dan Pembahasan
Variabel yang dilakukan analisis pada penelitian ini
adalah kepadatan hunian rumah, kepadatan hunian
kamar, ventilasi rumah, lubang penghawaan dapur,
adanya perokok dalam rumah, penggunaan obat nyamuk
bakar, Particulate Matter (PM)10, Particulate Matter
(PM)2.5, Sulfur dioksida (SO2), Nitrogen dioksida (NO2)
dan carbon monoksida (CO). Analisis statistik
menggunakan SPSS 13.0.
Pada analisis bivariat, variabel pencemar kimia berupa
SO2, NO2 dan CO tidak dilakukan karena hasil analisis
yang menunjukkan nilai homogen pada seluruh
Makara J. Health Res.
27
responden. Berdasarkan uji statistik pada Tabel 1
menunjukkan bahwa variabel kepadatan hunian rumah,
kepadatan hunian kamar, ventilasi rumah, lubang
penghawaan dapur, merokok dalam rumah, penggunaan
obat nyamuk bakar, jumlah kuman, suhu, kelembaban,
pencahayaan memiliki nilai p > 0,05. Artinya secara
statistik variabel-variabel tersebut tidak terkait dengan
kejadian pneumonia.
Pencemar fisik berupa PM10 memperlihatkan adanya
hubungan yang signifikan dengan kejadian pneumonia
(p = 0,002, OR 4,40, 95% CI = 1,783–10,857). Artinya,
anak bawah lima tahun dengan PM10 tidak memenuhi
syarat akan berisiko 4,40 kali dibandingkan anak bawah
lima tahun yang tinggal dalam rumah dengan PM10
memenuhi syarat. Hubungan yang signifikan juga terlihat
pada pencemar fisik PM2.5 dengan kejadian pneumonia
(p = 0,016, OR 3,24, 95% CI = 1,332–7,900). Artinya,
anak bawah lima tahun dengan PM2.5 tidak memenuhi
syarat akan berisiko 3,24 kali dibandingkan anak bawah
lima tahun yang tinggal dalam rumah memenuhi syarat.
Adanya hubungan ini dimungkinkan PM10 dan PM2.5
merupakan pencemar fisik yang bersifat iritan, sehingga
bila PM10 dan PM2.5 terhirup kedalam saluran pernafasan
dan dapat mengiritasi saluran pernafasan tersebut. Karena
ukuran partikel yang kecil, PM10 dan PM2,5 dapat masuk
ke dalam alveoli.17 Iritasi saluran pernafasan ini akan
mengurangi fungsi mukosilier untuk mencegah masuknya
kuman.18 Anak bawah lima tahun yang telah terpajan
oleh PM10 dan PM2,5 akan lebih mudah terkena pneumonia karena tidak adanya sistem penangkal kuman
akibat iritasi tersebut.
Peningkatan kadar PM2,5 sebanyak 5,7 µg/m3 akan terjadi
bila memasak lebih dari 1 jam,19 maka keberadaan
PM2,5 berhubungan erat dengan bahan bakar yang
digunakan saat memasak. Meskipun seluruh responden
pada penelitian ini menggunakan bahan bakar gas, asap
yang dihasilkan tetap memiliki kadar pencemar
walaupun lebih rendah bila dibandingkan dengan bahan
bakar padat/bahan bakar fosil. Risiko terhadap pneumonia
menjadi 4 kali lipat lebih tinggi apabila memasak dengan
bahan bakar padat seperti kayu bakar dan batubara (p <
0.001).20 Bila ditinjau berdasarkan kondisi fisik rumah
responden, rumah yang tidak memiliki sekat antara
dapur dan kamar, sangat besar kemungkinan kualitas
udaranya terutama PM10 dan PM2,5 tinggi, sehingga akan
lebih berisiko.8 Penyakit saluran pernafasan seperti
pneumonia dan asma sangat berhubungan dengan
keberadaan partikulat meter di udara. Jenis penyakitnya
pun berbeda,tergantung dengan ukuran partikel yang
masuk ke saluran pernafasan.8
Kondisi udara rumah yang tercemar perlu dicegah untuk
menurunkan kejadian pneumonia pada anak bawah lima
tahun. United Nations Emergency Children’s Fund
(UNICEF) dan World Health Organization (WHO)
April 2014 | Vol. 18 | No. 1
28
Fahimah, et al.
Tabel 1. Kualitas Udara Ruang dengan Kejadian Pneumonia di Puskesmas Cimahi Selatan dan Leuwi Gajah 2012
Kualitas Udara Ruang
Ya
n
Kepadatan Hunian Rumah
Tidak Memenuhi Syarat
Memenuhi Syarat
Total
Kepadatan Hunian kamar
Tidak Memenuhi Syarat
Memenuhi Syarat
Ventilasi Rumah
Tidak memenuhi Syarat
Memenuhi Syarat
Lubang Penghawaan Dapur
Tidak Ada
Ada
Merokok dalam Rumah
Ada
Tidak Ada
Penggunaan Obat Nyamuk Bakar
Ya
Tidak
Suhu
Tidak Memenuhi Syarat
Memenuhi Syarat
Pencahayaan
Tidak Memenuhi Syarat
Memenuhi Syarat
Kelembaban
Tidak Memenuhi Syarat
Memenuhi Syarat
PM10
Tidak Memnuhi Syarat
Memenuhi Syarat
PM2.5
Tidak Memenuhi Syarat
Memenuhi Syarat
Jumlah Kuman
Tidak Memenuhi Syarat
Memenuhi Syarat
Pneumonia
Tidak
%
n
%
Total
n
%
p
OR
95% CI
20
26
46
58,8
49,1
52,9
14
27
41
41,2
50,9
47,1
34
53
87
39,1 0,503
60,9
100,0
1,484
0,622–3,540
28
18
53,8
51,4
24
17
46,2
48,6
52
35
59,8 0,998
40,2
1,102
0,467–2,599
34
12
49,3
66,7
35
6
50,7
33,3
69
18
79,3 0,293
20,7
1,102
0,146–1,441
22
24
59,5
48,0
15
26
40,5
52,0
37
50
42,5 0,400
57,5
1,589
0,673–3,752
39
7
54,2
46,7
33
8
45,8
53,3
72
15
82,8 0,806
17,2
1,351
0,443–4,120
12
34
48,0
54,8
13
28
52,0
45,2
25
62
28,7 0,773
71,3
0,760
0,300–1,928
2
44
40,0
53,7
3
38
60,0
46,3
5
82
5,7 0,663
94,3
0,576
0,091–3,629
7
39
53,8
52,7
6
35
46,2
47,3
13
74
14,9 1,000
85,1
1,047
0,321–3,414
39
7
52,0
58,3
36
5
48,0
41,7
75
12
86,2 0,923
13,8
0,774
0,225–2,657
33
13
68,8
33,3
15
26
31,3
66,7
48
39
55,2 0,002
44,8
4,400
1,783–10,857
33
13
64,7
36,1
18
23
35,3
63,9
51
36
58,6 0,016
41,4
3,244
1,332–7,900
29
17
63,0
41,5
17
24
37,0
58,5
75
12
86,2 0,072
13,8
2,406
1,016–5,707
Keterangan:
p = Nilai p pada hasil uji statistik
OR= Odds Ratio
CI = Confidence Interval
menyatakan bahwa salah satu cara mencegah kejadian
pneumonia pada anak bawah lima tahun adalah
mengurangi pencemaran udara dalam rumah. Tindakan
untuk mengurangi polusi udara tersebut adalah dengan
mengurangi pajanan fisik, kimia dan biologi penyebab
pneumonia. Pajanan polusi udara jangka panjang
berhubungan dengan kejadian pneumonia anak bawah
lima tahun karena anak bawah lima tahun lebih mudah
Makara J. Health Res.
terinfeksi pneumonia. Untuk menurunkan kasus
pneumonia tersebut, tindakan utama yang perlu
dilakukan adalah dengan mengurangi polusi udara.8
Uji statistik memperlihatkantidak adanya kaitan antara
bahwa kepadatan hunian rumah dan kepadatan hunian
kamar. Penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian
yang dilakukan Kovesi, et al. (2007),9 yang menyataApril 2014 | Vol. 18 | No. 1
Kualitas Udara Rumah dengan Kejadian Pneumonia Anak Bawah
kan bahwa infeksi pernafasan seperti pneumonia akan
meningkat di dalam rumah dengan jumlah penghuni
lebih dari 7 orang dengan peningkatan 1,83 kali setiap
bertambah 1 orang. Peningkatan risiko pneumonia
sebanyak 1,15 kali bila anak bawah lima tahun tidur
dengan lebih dari 3 orang dalam satu kamar,11 dan
peningkatan 2,87 kali bila tinggal di rumah dengan
kepadatan tinggi,21 juga dijelaskan dalam penelitian
lain. Peningkatan risiko pneumonia tersebut terjadi
karena patogen penyebab penyakit dapat menyebar
lebih cepat di lingkungan yang padat.
Perbedaaan hasil antara penelitian yang dilakukan
Kovesi, Sunyatiningkamto dan Grant terjadi karena
adanya perbedaan standar kepadatan hunian rumah dan
kamar yang digunakan oleh masing-masing peneliti,
sehingga terjadi perbedaan hasil. Penelitian ini
menggunakan standar kepadatan hunian rumah 9 m2
untuk 1 orang.22 Kovesi et al. (2007),9 hanya mengukur
jumlah penghuni tanpa mempertimbangkan luas rumah
jumlah. Kepadatan hunian kamar pada penelitian ini
sebesar 8 m2 untuk 2 orang dewasa dan 1 anak bawah
lima tahun,23 sedangkan Sunyatiningkamto et al. 2004,11
menggunakan standar lebih dari 3 orang dalam satu
kamar dengan tidak membandingkan luas kamar.
Tindakan yang dapat dilakukan adalah menjaga kondisi
lingkungan rumah dan kamar agar tidak menjadi tempat
perkembangbiakan virus dan bakteri dengan cara
memfungsikan ventilasi rumah sebagaimana mestinya,
yaitu dengan membuka jendela di pagi hari. Rumah atau
kamar yang luastanpa sirkulasi udara yang baik tetap
akan menjadi tempat berkembang biak virus dan
bakteri. Penelitian yang dilakukan oleh Mahalanabis et
al. (2002),20 menyatakan tidak ada hubungan antara
pneumonia dengan luas hunian. Selain itu, hasil statistik
pada variabel ventilasi yang digunakan dalam penelitian
juga menunjukkan tidak adanya hubungan dengan
kejadian pneumonia. Penelitian ini bertentangan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Sinaga et al. (2009),24
yang menyatakan bahwa ventilasi udara dalam rumah
berhubungan dengan kejadian pneumonia pada anak
bawah lima tahun dengan p = 0,017. Pada wilayah
penelitian, hanya 20,7% rumah memiliki ventilasi
memenuhi syarat, sehingga secara statistik tidak
didapatkan hubungan. Meskipun secara statistik tidak
ada hubungan, ventilasi rumah tetap harus diperhatikan
manfaatnya. Kovesi et al. (2007),9 menjelaskan bahwa
rumah yang tidak memiliki ventilasi dapat meningkatkan
konsentrasi virus. Keberadaan ventilasi yang cukup
dapat menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat
pneumonia pada anak bawah lima tahun.25
Hubungan tidak signifikan juga terjadi pada lubang
penghawaan dapur dan pneumonia. Hasil penelitian ini
bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Sunyataningkamto et al. (2004),11 dan Yadama et al.
(2012),12 yang menjelaskan bahwa lubang penghawaan
Makara J. Health Res.
29
merupakan faktor risiko pneumonia karena lubang
penghawaan dapat berfungsi sebagai sirkulasi udara saat
memasak dan risiko anak bawah lima tahun pneumonia
akan lebih besar jika tidak memiliki lubang penghawaan
dapur. Karena keberadaan ventilasi udara di dapur
berhubungan dengan pengurangan konsentrasi emisi
partikel asap dari sisa pembakaran (p < 0,05).
Dapur juga termasuk ruangan dalam rumah yang harus
memiliki ventilasi agar asap sisa pembakaran saat
proses memasak dapat berganti dengan udara yang
segar.11 Peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia
No. 1077 tahun 2011,4 menjelaskan bahwa dapur yang
memenuhi syarat kesehatan adalah yang luas bukaan
sekurang-kurangnya 40% dari luas lantai dapur. Dua
milyar orang meninggal karena polusi udara ruang dari
bahan bakar memasak yang dapat menyebabkan
penyakit saluran pernafasan seperti Bronkhitis kronik,
chronic obstructive pulmonary disease (COPD), asma,
tuberkulosis (TBC), pneumonia dan berat lahir rendah.12
Untuk menurunkan risiko pneumonia akibat bahan
bakar memasak, mengganti bahan bakar gas merupakan
salah satu metode menurunkan emisi udara selain
pemanfaat ventilasi udara di dapur.
Merokok dalam rumah juga bukan merupakan faktor
risiko pada penelitian ini karena tidak adanya hubungan
signifikan secara statistik dengan kejadian pneumonia.
Penelitian ini sejalan dengan penelitian Mahalanabis et
al. (2002),20 yang menyatakan bahwa tidak ada risiko
pneumonia pada anak bawah lima tahun dengan ayah
merokok dalam rumah. Penelitian mengenai rokok dan
pneumonia sudah sering dilakukan dan menunjukkan
hubungan yang signifikan.8 Perbedaan hasil penelitian
ini disebabkan penggunaan disain studi yang berbeda,
yaitu cross sectional dan kasus kontrol.
Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan
signifikan antara perokok dalam rumah dan pneumonia,
namun keberadaan perokok dalam rumah tetap perlu
diperhatikan karena perokok dan perokok pasif memiliki risiko mengalami gangguan saluran pernafasan.
Perokok pasif memiliki risiko 2 kali lebih besar
mengalami kematian daripada perokok dan 38% lebih
cepat mengalami penyakit cardiovaskuler.26 Asap rokok
yang berada dalam rumah berhubungan dengan adanya
bakteri penyebab penyakit saluran pernafasan seperti
Neisseria meningitidis, Streptococcus pneumoniae dan
Haemophilus influenza. Streptococcus pneumoniae lebih
berisiko pada anak bawah lima tahun yang terpajan
dengan asap rokok dibandingkan dengan anak bawah
lima tahun yang tidak terpajan (p = 0,016) dan semakin
meningkat risikonya apabila orang tua merokok di
dalam ruangan yang sama dengan anak bawah lima
tahun.13 Anak bawah lima tahun dengan ibu merokok
memiliki risiko lebih besar dibandingkan anak bawah
lima tahun dengan ibu tidak merokok.14 Sebanyak 90%
anak bawah lima tahun dengan ibu perokok akan
April 2014 | Vol. 18 | No. 1
30
Fahimah, et al.
menderita pneumonia sedang sampai kronik, sedangkan
anak bawah lima tahun dengan ayah perokok memiliki
74,2% risiko terkena pneumonia.14
Williams et al. (2012),6 menjelaskan dalam temuannya
bahwa pajanan NO2 disertai dengan pajanan asap rokok
diatas 1,5 µg/m3 berhubungan sangat kuat (p < 0,01)
dengan pneumonia. Tindakan yang dapat dilakukan
untuk mengurangi risiko akibat pajanan asap rokok
adalah mengedukasi perokok untuk tidak mengkonsumsi
rokoknya di dalam ruangan terutama bila terdapat anak
bawah lima tahun, karena asap rokok merupakan salah
satu penyebab tingginya polusi udara dalam rumah.27
Pemberian informasi mengenai dampak negatif dari
rokok juga dapat dilakukan pada perokok dan
keluarganya agar mereka memiliki pengetahuan lebih
tentang bahaya rokok.
Pneumonia juga tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan penggunaan obat nyamuk bakar (p = 0,733).
Penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan
oleh Sunyatiningkamto et al. (2004),11 yang menemukan
bahwa tidak ada hubungan antara penggunaan obat
nyamuk bakar dengan kejadian pneumonia pada anak
bawah lima tahun. Tidak adanya hubungan antara
pneumonia dengan penggunaan bahan bakar pada
penelitian ini dapat terjadi karena penelitian ini tidak
membandingkan jumlah penggunaan obat nyamuk
bakar dalam satu malam, sedangkan penelitian
Sunyatiningkamto et al. (2004), menggunakan kriteria
penelitian anak bawah lima tahun yang menggunaan
obat nyamuk bakar setiap malam selama 3 bulan
berturut-turut.13
Penggunaan obat nyamuk tidak dianjurkan, karena
penggunaan 1 gulung obat nyamuk bakar sama dengan
mengkonsumsi 75-137 batang rokok.28-29 Asap yang
dihasilkan dari obat nyamuk bakar mengandung
carbonil compound (formaldehyde dan acetaldehyde)
yang bersifat karsinogenik. Bersifat karsinogenik karena
dapat menyebabkan iritasi saluran pernafasan pada
jangka pendek dan asma serta gangguan saluran nafas
permanen pada anak bawah lima tahun dalam jangka
panjang serta pyrethroids (d-allethrin, esbiothrin,
transfluthrin, dan metofluthrin) yang menyebabkan polusi
udara.28 Asap yang dihasilkan dari sisa pembakaran
tersebut dapat meningkatkan risiko 3 kali lipat mengalami gangguan saluran pernafasan pada anak bawah
lima tahun terpajan dibandingkan anak bawah lima
tahun tidak terpajan.28
Tindakan yang dapat dilakukan adalah menggantifungsi
obat nyamuk bakar dengan kelambu atau dengan
menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk, seperti
sereh. di halaman rumah. Apabila penggunaan obat
nyamuk tidak dapat ditinggalkan, ventilasi udara yang
baik harus tetap terjaga agar pertukaran udara dapat
terjadi dengan baik.
Makara J. Health Res.
Suhu udara rumah tidak memiliki hubungan yang
signifikan dengan kejadian pneumonia. Tidak adanya
hubungan ini terjadi karena hanya 5,7% responden yang
memiliki suhu udara memenuhi syarat karena pengambilan sampel dilakukan pada musim dingin sehingga
suhu udara semakin rendah.30 Maka dari itu, suhu udara
rumah bukanlahfaktor risiko pneumonia. Penelitian ini
bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang
dilakukan oleh Davis et al. (2012),31 yang menemukan
bahwa suhu udara rumah berhubungan dengan peningkatan kasus pneumonia dan kematian akibat influenza
(p = 0,003). Perbedaan hasil ini dapat terjadi karena
perbedaan desain studi dan waktu pengambilan sampel.
Suhu udara yang telah sesuai ini harus terjaga agar
rumah tidak menjadi media perkembangbiakan kuman.
Metode yang dapat dilakukan agar suhu ruangan stabil
adalah dengan mengatur sirkulasi udara ruangan dengan
memanfaatkan ventilasi udara secara baik serta memperhatikan waktu membuka jendela di ruangan tersebut.
Kelembaban udara berhubungan terbalik dengan suhu
udara:apabila suhu udara rendah maka kelembaban akan
semakin meningkat.Karenanya, pada penelitian ini lebih
banyak responden yang memiliki kelembaban tidak
memenuhi syarat. Kelembaban udara yang tinggi di
dalam rumah juga dipengaruhi oleh kelembaban di
udara luar rumah. Hal ini terjadi karena pengambilan
sampel dilakukan di saat musim penghujan yang
memiliki kelembaban udara tinggi.30-31 Kelembaban
udara dipengaruhi pula oleh ventilasi dalam rumah,
karena sirkulasi udara yang baik akan mengatur tingkat
kelembaban dalam rumah tersebut. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Kovesi et al. (2007),9 yang menyatakan
bahwa tinggi rendahnya kelembaban berhubungan pula
dengan keberadaan ventilasi di rumah (p < 0,001).
Variabel kualitas kimia udara berupa SO2, NO2 dan CO
tidak dianalisis karena hasil yang homogen dan
memenuhi syarat di seluruh responden. Kadar SO2 yang
masih memenuhi syarat pada 98,9% responden dapat
dipengaruhi oleh waktu pengukuran parameter tersebut.
Pada penelitian ini, pengukuran udara dilakukan saat
memasuki musim hujan sehingga kadar maksimal
parameter-parameter yang diukur masih dibawah batas
maksimal. Karena pada musim hujan kecenderungan
SO2 lebih rendah. Kualitas NO2 yang memenuhi syarat
ini terjadi karena pengukuran dilakukan pada musim
hujan. Kondisi ini sesuai dengan pernyataan Santus et
al. (2012),32 bahwa NO2 dalam ruang akan lebih tinggi
pada musim hangat. Jakarta, yang merupakan kota
industri terbesar di Indonesia, masih memiliki nilai SO2
dan NO2 di bawah angka maksimal yang diatur oleh
pemerintah. Jadi sangat mungkin apabila kadar SO2 dan
NO2 di Cimahi juga masih di bawah nilai baku mutu.33
Pajanan SO2 jangka panjang akan menyebabkan pneumonia dan bila dibiarkan berlanjut akan menyebabkan
kelainan paru. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
April 2014 | Vol. 18 | No. 1
Kualitas Udara Rumah dengan Kejadian Pneumonia Anak Bawah
dilakukan oleh Santus et al. (2012),32 yang menemukan
bahwa efek akut dari SO2 dapat menyebabkan
pneumonia, peningkatan risiko 1,17 kali lipat pada usia
<16 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Vieira et al.
(2012),5 menjelaskan bahwa pajanan NO2 yang tinggi
dalam ruangan meningkatkan risiko terjadinya
pneumonia (p = 0,02) pada anak bawah lima tahun.
Penyebabnya adalah anak-anak lebih sensitif terhadap
pajanan kimia dibandingkan orang dewasa. Smith et al.
2000,34 menjelaskan bahwa peningkatan risiko infeksi
saluran pernafasan sebanyak 5 kali pada anak dibawah
usia 2 tahun apabila memiliki kebiasaan di gendong saat
memasak akibat pajanan NO2. Vieira juga menjelaskan
pada anak usia anak bawah lima tahun sampai usia 10
tahun akan meningkat risiko mengalami gangguan
saluran pernafasan sebanyak 20% setiap kenaikan NO2
28,3 µg/m3,5 sedangkan Williams et al. 2012 menyebutkan pneumonia berhubungan sangat kuat (p < 0,01)
apabila pajanan NO2 disertai dengan pajanan asap rokok
di atas 1,5 µg/m3.6 Oleh karena itu, hasil penelitian
dapat berbeda apabila NO2 tersebut dihubungkan berdasarkan interaksi dengan perokok dalam rumah.
Variabel jumlah kuman juga merupakan salah satu
kualitas udara yang tidak berhubungan. Penelitian ini
bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang
menyatakan bahwa kuman yang ditemukan di tempat
tidur anak bawah lima tahun juga dapat meningkatkan
risiko pneumonia 1,93 kali.21 Tidak adanya hubungan
ini dapat terjadi karena tidak dilakukannya analisis jenis
kuman spesifik yang berada dalam ruangan tersebut,
sehingga diperlukan penelitian yang menjelaskan jenis
kuman spesifik yang berada di ruangan tersebut.
Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia species dan gram
negative bacteria seperti Escherichia coli dan
Pseudomonas spp. adalah bakteri yang menyebabkan
pneumonia pada anak bawah lima tahun dan 15-40%
penyebab pneumonia disebabkan oleh virus. Oleh sebab
itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui
jenis kuman spesifik pada wilayah penelitian. Perilaku
yang dapat dilakukan untuk mengurangi perkembangan
bakteri dan virus adalah dengan menjaga kestabilan
udara rumah. Dengan cara mengatur pencahayaan dan
sirkulasi udara sehingga bakteri dan kuman tidak dapat
31
berkembang biak dalam rumah dengan cara memanfaatkan keberadaan ventilasi.
Ventilasi merupakan salah satu metode untuk mengatur
kelembaban suhu, hal ini sama dengan cara mengatur
suhu udara ruang. Faktor yang menyebabkan virus
berkembang biak adalah temperatur, kelembaban, tipe
virus, sinar matahari, serta keberadaan material organik
disekitar tempat hidup.35 Oleh karena itu, membuka
jendela merupakan tindakan yang harus dilakukan untuk
mencegah adanya virus. Membuka jendela yang baik
adalah pada pagi hari agar udara dalam ruang yang tidak
baik dapat bertukar dengan udara segar dan sinar
matahari yang masuk ke dalam rumah dapat mematikan
virus.
Faktor risiko dominan yang menyebabkan pneumonia
pada balita adalah PM10 (p 0,036) dengan nilai OR 4,09.
Artinya, risiko pneumonia 4kali lebih besar pada balita
dengan PM10 dalam rumah yang tidak memenuhi syarat
dibandingkan balita dengan PM10 yang memenuhi syarat
setelah dikontrol dengan PM2,5 (p 0,142; OR 2,78),
jumlah kuman(p 0,004; OR 0,17) dan ventilasi rumah (p
0,395; OR 0,58).
Kelemahan desain studi ini adalah pengukuran variabel
dependen dan independen dilakukan pada saat yang
bersamaan, sehingga hanya mampu menunjukkan
keterkaitan saja, bukan menunjukkan hubungan sebab
akibat. Pneumonia merupakan penyakit yang dipengaruhi
oleh beberapa faktor risiko, sehingga tidak tepat
menggunakan desain ini. Desain studi yang cocok
dengan penelitian ini adalah kohort prospektif. Kesulitan
yang muncul jika menggunakan disain studi kohort
adalah peneliti harus menentukan jenis paparan yang
spesifik, sedangkan pajanan pneumonia ditentukan dari
beberapa faktor. Di samping itu, apabila menggunakan
desain studi kohort, peneliti memiliki kendala lain yang
sangat memberatkan, yaitu peneliti harus mengikuti
subyek dan hal itu membutuhkan waktu lebih banyak
serta biaya yang lebih besar. Oleh karena itu, perlu
dilakukan penelitian kualitas udara rumah dengan
desain studi kohort prospektif.
Tabel 2. Model Akhir Analisis Multivariat
Kualitas Udara Ruang
PM10
PM2.5
Jumlah Kuman
Ventilasi Rumah
Keterangan:
p
= Nilai p pada hasil uji statistik
OR = Odds Ratio
CI = Confidence Interval
Makara J. Health Res.
p
OR
CI 95%
0,036
0,142
0,004
0,395
4,09
2,78
0,17
0,58
1,100–15,232
0,710–10,890
0,162– 2,051
0,054– 0,572
PM10
PM2,5
= Particulate Matter 10µ (mikron)
= Particulate Matter 2,5µ (mikron)
April 2014 | Vol. 18 | No. 1
32
Fahimah, et al.
Bias informasi mungkin terjadi pada saat dilakukan
wawancara, baik berasal dari pewawancara, maupun dari
responden yang diwawancarai. Bias informasi yang
berasal dari pewawancara dapat terjadi karena ketidaktepatan pewawancara dalam mencatat, mengumpulkan,
dan menginterpretasikan informasi dari responden. Bias
informasi dari pihak pewawancara juga mungkin terjadi
karena pewawancara terpengaruh hipotesis dalam
penelitian ini sehingga pewawancara cenderung mencatat
riwayat paparan responden yang mendukung hipotesis
dan tidak adanya pelatihan enumerator dalam penelitian
ini. Bias informasi yang berasal dari responden dapat
terjadi karena ketidak-tepatan responden dalam mengingat
riwayat paparan dan ketidakjujuran responden dalam
menjawab pertanyaan. Untuk mengurangi bias informasi
ini, dilakukan observasi langsung saat dilapangan dan
dilakukan pemeriksaan kuesioner setelah dilakukan
wawancara.
Simpulan
Pencemar fisik berupa PM10 dan PM2,5 menunjukkan
adanya hubungan signifikan dengan kejadian pneumonia.
PM10 yang tidak memenuhi syarat kualitas udara dalam
rumah akan meningkat 4,40 kali dibandingkan anak
bawah lima tahun yang tinggal dalam rumah dengan
PM10 memenuhi syarat kualitas udara dalam rumah
berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 1077
Tahun 2011.4 Risiko PM2,5 tidak memenuhi syarat
kualitas udara dalam rumah 3,24 kali dibandingkan anak
bawah lima tahun yang tinggal dalam rumah dengan
PM2.5 memenuhi syarat. Faktor risiko dominan yang
menyebabkan pneumonia pada anak bawah lima tahun
adalah PM10 (p = 0,036) dengan nilai OR 4,09. Artinya,
risiko pneumonia 4 kali pada balita dengan PM10 dalam
rumah tidak memenuhi syarat kualitas udara dalam
rumah dibandingkan balita dengan PM10 memenuhi
syarat setelah dikontrol dengan PM2,5 (p = 0,142; OR
2,78), jumlah kuman (p = 0,004; OR 0,17) dan ventilasi
rumah (p = 0,395; OR 0,58). Tidak ada hubungan
statistik dengan kejadian pneumonia dihasilkan dari
analisis variabel kepadatan hunian rumah, kepadatan
hunian kamar, ventilasi rumah, lubang penghawaan
dapur, merokok dalam rumah, penggunaan obat nyamuk
bakar, jumlah kuman, suhu, kelembaban, pencahayaan,
NO2, SO2 dan CO.
Saran untuk Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan
Pengendalian Penyakit (BBTKL PP) adalah untuk melakukan advokasi kepada Dinas Kesehatan Kota Cimahi
Provinsi Jawa Barat untuk memperhatikan kondisi
lingkungan rumah penduduk, serta melakukan penelitian
lanjutan mengenai kualitas udara setelah dilakukan
perbaikan kondisi lingkungan. Dinas Kesehatan Kota
Cimahi Provinsi Jawa Barat dan puskesmas perlu
meningkatkan kerjasama dalam melaksanakan programprogram di masyarakat sebagai langkah untuk menurunkan
jumlah kasus pneumonia dengan menurunkan faktor
Makara J. Health Res.
risiko lingkungan berupa PM10 dan PM2.5. Contoh
kegiatan yang dapat dilakukan adalah mengadvokasi
masyarakat untuk memanfaatkan ventilasi udara dalam
rumah atau memasang exhaust fan, membuka jendela
pada pagi hari, membersihkan rumah, menanam pohon
sebagai penghijauan dan memberikan penyuluhan
mengenai faktor risiko pneumonia. Dinas Kebersihan
dan Pertamanan Kota Cimahi Provinsi Jawa Barat perlu
menambah kawasan hijau yang berfungsi sebagai
penghijauan kota dan pereduksi polusi udara.
Daftar Acuan
1. World Health Organization. Pneumonia. (internet)
[diakses 12 Desember 2012]. Avalaible from:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs331/en/.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pneumonia
anak bawah lima tahun. Bul Jendela Epidemiol. 2010;3:136.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil
kesehatan Indonesia 2011. (internet) [diakses 10
Desember
2012].
Avalaible
from:
http://www.
depkes.go.id/downloads/PROFIL_DATA_KESEHATAN_I
NDONESIA_TAHUN_2011.pdf.
4. Kemenkes. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 1077/2011 tentang pedoman penyehatan
udara dalam ruang rumah. Jakarta: Kemenkes, 2011.
5. Vieira SE, Stein RT, Ferraro AA, Pastro LD, Pedro M,
Lemos, et al. Urban air pollutants are significant risk
factors for asthma and pneumonia in children: the influence
of location on the measurement of pollutants. Arch
Bronconeumol. 2012;48(11):389-395.
6. Williams R, Jones P, Croghan C, Thornburg J, Rodes C.
The influence of human and environmental exposure
factors on personal no.2 exposure. J Expo Sci Environ
Epidemiol. 2012;22(2):109-115.
7. Medina-Ramon M, Zannobetti A, Schwarts J. The effect
of ozone and PM10 on hospital admissions for pneumonia
and the chronic obstructive pulmonary disease: a national
multicity study. Am J Epidemiol. 2006;163(6);579-588.
8. Zannobetti A, Woodhead M. Air pollution and pneumonia.
Am J Respir Crit Care Med. 2010;181(1); 5-6.
9. Kovesi T, Gilert NL, Stocco C, Fugler D, Dales RE, Guay
M, et al. Indoor air quality and the risk of lower respiratory
tract infections in young canadian inuit children. CMAJ.
2007;177(2):155-160.
10. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman
Teknis Penilaian Rumah Sehat. Jakarta: Kemenkes RI,
2007.
11. Sunyatiningkamto, Iskandar Z, Alan RT, Budiman I,
Surjono A, Wibowo T, et al. The role of indoor air
pollution and other factors in the incidence of pneumonia
in under-five children. Paediatrica Indonesiana.
2004;44(1-2):25-29.
12. Yadama GN, Peipert J, Sahu M, Biswas P, Dyda V.
Social, economic, and resource predictors of variability in
household air pollution from cookstove emissions. Plos
One. 2012;7(10):1-8.
13. Greenberg D, Givon-Lavi N, Broides A, Blancovich I,
Peled N, Dagan R. The Contribution of smoking and
exposure to tobacco smoke to streptococcus pneumoniae
and haemophilis influenzae carriage in children and their
mother. Clin Infect Dis. 2006;42(7):897-903.
April 2014 | Vol. 18 | No. 1
Kualitas Udara Rumah dengan Kejadian Pneumonia Anak Bawah
14. Yousif KT, Khaleq A. Epidemiology of acute respiratory
tract infections (ARI) among children under five years old
attending tikrit general teaching hospital. Middle East J
Family Med. 2006;4(3):1
15. Chen SC, Wong RH, Shiu LJ, Chiou MC, Lee H.
Exposure to mosquito coil smoke may be a risk factor for
Lung Cancer in Taiwan. J Epidemiol. 2008;18(1):19-25
16. Manabe T, Higuera-Iglesias AL, Vazquez-Manriquez ME,
Martinez-Valadez EL, Ramos LA, Izumi S, et al.
Socioeconomic factors influencing hospitalized patients
with pneumonia due to influenza A(H1N1) pdm09 in
Mexico. Plos One. 2012;7(7):e40529.
17. Daud A, Sedionoto B. Analisis risiko konsentrasi SO2 dan
PM2,5 terhadap penurunan kapasitas fungsi paru
penduduk di sekitar kawasan industri Makassar. J
Lingkungan Tropis. 2010;4(2):129-137.
18. Wahyuni TD, Ikhsan M. Perubahan iklim dan kesehatan
paru. J Respir Indon. 2010;30:230-237
19. Baxter LK, Clougherty JE, Laden F, Levy JI. Predictors of
concentrations of nitrogen dioxide, fine particulate matter
and particle constituents inside of lower socioeconomic
status urban homes. J Expos Sci Environ Epidemiol.
2007;17(5):433-444.
20. Mahalanabis D, Gupta S, Paul D, Gupta A, Lahiri M,
Khaled A. Risk factor for pneumonia in infants and young
children and the role of solid fuel for cooking: a case
control study. Epidemiol Infect, 2002;129(1):65-71.
21. Grant CC, Emery D, Milne T, Coster G, Forrest CB, Wall
CR, et al. Risk factors for community-acquired pneumonia
in pre-school-aged children. J Paediatric Child Health,
2011;48(5):402-410.
22. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman
teknis penilaian rumah sehat. Jakarta: Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2007.
23. Kemenkes. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 829/1999 tentang persyaratan kesehatan
perumahan, Jakarta: Kemenkes, 1999.
24. Lenni AFS. Analisis Perilaku Keluarga dan Kondisi
Rumah Sebagai Faktor Risiko Kejadian Pneumonia Pada
Anak bawah lima tahun di Kota Medan Tahun 2008
[Masters thesis]. Indonesia: Universitas Diponegoro;
2009.
Makara J. Health Res.
33
25. Dherani M, Pope D, Mascarenhas M, Smith KR, Weber
M, Bruce N. Indoor Air Pollution from Unproccessed
Solid Fuel Use and Pneumonia Risk in Children Under
Five Years: A Systematic Review and Meta-analysis. Bull
World Health Organ. 2008;86(5):390-398.
26. Mearns BM. Are You a Reguler Passive Smoker?. Nat
Rev Cardiol. 2010;7: 413.
27. Wonodi CB, Knoll MD, Feikin DR, DeLuca AN, Driscoll
AJ, Moïsi JC, et al. Evaluation of Risk Factor for Severe
Pneumonia in Children: The Pneumonia Etiology
Research for Children Health Study. Clin Infect Dis.
2012;54(2):S124-S131.
28. Liu W, Zhang J, Hashim JH, Jalaludin J, Hashim Z,
Goldsstein BD. Mosquito Coil Emissions and Health
Implications. Environ Health Perspect. 2003;111(12):
1454-1460.
29. Zhang L, Jiang Z, Tong J, Wang Z, Han Z, Zhang J. Using
Charcoal as Base Material Reduces Mosquito Coil
Emissions of Toxins. Indoor Air. 2010;20(2): 176–184.
30. Davis RE, Rossier CE, Enfield KB. The impact of weather
on influenza and pneumonia mortality in New York City,
1975–2002: A retrospective study. Plos One.
2012;7(3):e34091.
31. Bhaskar BV, Mehta VM. Atmospheric Particulate
Pollutants and their Relationship with Meteorology in
Ahmedabad. Aerosol Air Qual Res. 2009;10:301–315.
32. Santus P, Russo A, Madonini E, Allegra L, Blasi F,
Centanni S, et al. How air pollution influences clinical
management of respiratory diseases. A Case-Crossover
Study in Milan. Respir Res. 2012;13:95
33. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Hasil
monitorong SO2 dan NO2 Jakarta. Jakarta: BMKG, 2011
34. Smith KR, Samet J, Romieu I, Bruce N. Indoor air
pollution in developing countries and acute lower
respiratory infections in children. Thorax. 2000;55(6): 518–
532.
35. Tang JW. The effect of environmental parameters on the
survival of airborne infections agents. J Royal Soc
Interface, 2012;6(6):S737-S746.
April 2014 | Vol. 18 | No. 1
Fly UP