...

Buku Mangrove si Pohon yang Menakjubkan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Buku Mangrove si Pohon yang Menakjubkan
Mangrove
Si Pohon Yang
Menakjubkan
Woro Yuniati
Mangrove
Si Pohon Yang
Menakjubkan
Oleh: Woro Yuniati
Mangrove Action Project
Indonesia
Copyright 2012 by Mangrove Action Project - Indonesia
All rights reserved. No part of this publication may be reproduced or transmitted in any form or by any means
electronic or mechanical, including photocopy, recording, or any information storage and retieval system without
permission in writing from the authors
Requests for permission to make copies of any part of the work should be emailed to: [email protected]
Story: Woro Yuniati
Editing: Ben Brown & Yusran Nurdin Massa
Ilustration: Made Tosan Aji Pamungkas Mimba
Layout: Erwin Rustaman
Thanks to:
Ibu Murni, Kanang, Yenni, Mone dan masyarakat Pulau Tanakeke.
Produced By:
This book was printed with support from the following institutions
as part of the Restoring Coastal Livelihoods Program:
Untuk
Generasi Baru
Pelestari Mangrove
Salam Lestari...
Adik-adik dan ibu/bapak guru sekalian, selamat bertemu kembali dengan Mangrove Action
Project Indonesia dalam seri buku petualangan dan pengetahuan tentang manfaat dan nilai
hutan mangrove. Oiya, bagaimana kesan kalian setelah membaca cerita petualangan “Rian” di
hutan nipah dalam buku “Nipah si Pohon Pemberi”? pasti seru dan menambah pengetahuan
kalian kan!
Kali ini Mangrove Action Project (MAP) Indonesia akan mengajak kalian berpetualang ke salah
satu pulau kecil di Indonesia yang terletak di ujung barat daya Provinsi Sulawesi Selatan, yang
bernama Pulau Tanakeke. Di sana kalian akan bertemu dengan ibu Murni-seorang guru SD yang
mengajar di Pulau tersebut beserta murid-murid beliau-Mone, Kanang dan yenni, dan kak Irma
dari Mangrove Action Project Indonesia untuk menjelajah hutan mangrove dan belajar tentang
berbagai manfaat hutan mangrove yang tak ternilai bagi kehidupan manusia.
Selamat berpetualang adik-adik dan ibu/bapak guru sekalian….
Ibu Murni
Kak Irma
Kanang
Mone
Yenni
1
Halo teman-teman, perkenalkan ini adalah pulau tempat kami tinggal, namanya kepulauan Tanakeke. Kepulauan ini terdiri dari
beberapa pulau-pulau kecil dan salah satunya adalah pulau kami, .... Desa kami bernama desa Rewatayya, Kecamatan .., Kabupaten
Takalar Provinsi Sulawesi Selatan. Jika ingin menyeberang ke pulau kami, kalian membutuhkan waktu sekitar 1 jam dengan menaiki
perahu motor dari dermaga Takalar Lama.
Kali ini kami akan mengajak kalian menjelajahi hutan mangrove yang tumbuh di pulau kami sambil mempelajari berbagai manfaat
hutan mangrove, baik bagi masyarakat yang tinggal di pulau maupun bagi orang-orang yang tinggal di daratan atau pulau utama.
2
3
Pada hari minggu, beberapa orang murid kelas 6 SD Negeri Kalukuang, Desa Rewatayya, Kepulauan Tanakeke
sedang berkumpul di rumah ibu Murni.
“Mone mana teman-teman kalian yang lainnya? Kan ibu sudah bilang kalau pagi ini kak Irma dari MAP mau
mengajak kita belajar di hutan mangrove,” kata ibu Murni.
“Cuma ada Kanang dan Yenni yang bisa bu. Yang lainnya ada yang pergi ke darat dan ada juga yang membantu
ibunya mengikat rumput laut di rumah,” jawab Mone.
“Ok, kalau begitu kalian bertiga saja. Mone tolong kamu siapkan joloro untuk menyeberang ke hutan mangrove
ya,” perintah ibu Murni.
“Siap bu. Saya akan ke rumah Daeng Rani untuk meminjam joloronya,” jawab Mone dan segera bergegas
menuju rumah Daeng Rani.
4
Mereka pun berangkat menuju hutan mangrove yang terletak
tidak jauh dari dermaga dengan menaiki joloro.
5
6
7
Lokasi Sebaran Mangrove
“Ibu, apakah hutan mangrove juga tumbuh di tempat lainnya selain di pulau kita ini?” tanya Kanang pada
Ibu Murni
8
“Waktu saya pergi ke rumah om yang tinggal di Kabupaten Maros saya juga lihat ada tanaman mangrove
di pantainya. Tapi tidak banyak bu. Katanya hutan mangrovenya sekarang sudah banyak yang dijadikan
tambak udang dan ikan,” jawab Mone menceritakan pengalamannya.
“Kata tanteku yang tinggal di Papua, katanya disana banyak terdapat hutan mangrove, bahkan jenis mangrove
yang tumbuh disana lebih banyak dan lebih luas dibandingkan dengan yang tumbuh di pulau kita,” tambah
Yenni.
“Apakah di pulau lainnya di Indonesia juga terdapat hutan mangrove bu Murni?” tanya Yenni.
“Ibu pernah baca di koran dan buku-buku bahwa mangrove juga tumbuh di banyak tempat di Indonesia,
seperti di Sumatra, Kalimantan, dan pulau-pulau lainnya. Bukan begitu kak Irma?” jelas ibu Murni “ Mone,
matikan mesinnya di depan ya. Kita akan masuk lewat anak sungai itu,” perintah bu Murni pada Mone,
sebelum kak Irma menjawab pertanyaan ibu Murni.
9
10
“Betul adik-adik, mangrove hanya tumbuh di daerah tropis dan sub-tropis,” jawab kak Irma membetulkan
penjelasan ibu Murni..
“Daerah tropis dan sub-tropis itu seperti apa sih kak Irma?” tanya Kanang.
“Ah, begitu saja tidak tau. Kan bu Murni sudah pernah menjelaskan tentang itu. Daerah tropis adalah
daerah dengan suhu yang hangat dan terdiri dari dua musim yaitu hujan dan kemarau contohnya
Indonesia”, jawab Yenni dengan percaya diri. “Kalau subtropis, mmm.... aduh aku lupa,” kata Yenni
mencoba mengingat ingat.
“Daerah sub-tropis adalah negara dengan empat musim, yaitu musim semi, panas, gugur dan dingin,”
tambah bu Murni.
“Contohnya Amerika kan bu?” sela Yenni.
“Betul Yenni. Mangrove dapat tumbuh di tempat-tempat seperti itu,” jelas kak Irma.
“Nah adik-adik, menurut kalian apakah hutan mangrove yang
tumbuh di pulau ini bermanfaat bagi manusia?” tanya kak Irma
kepada Kanang, Mone dan Yenni.
“Tentu saja kak, bapakku tidak bisa membuat arang untuk
dijual kalau tidak ada hutan mangrove ini. Dan sehari-hari
ibuku juga memasak dengan kayu bangko,” seru Mone.
“Beberapa bagian dari rumah kami juga menggunakan kayu
bangko,” jawab Yenni
11
“Apakah bapak kalian juga menjual kayu mangrove yang sudah
dipotong kecil-kecil ke orang darat?” tanya kak Irma pada
mereka.
“Bukan bapakku tapi omku kak, mungkin untuk kayu bakar,”
jawab Kanang..
“Bapak-bapak kami menggunakan kayu bangko sebagai tiang
untuk membentangkan rumput laut kak,” tambah Mone.
12
“Selain sebagai kayu bakar, kayu potongan itu biasanya juga
dijual ke pabrik untuk bahan baku kertas,” tambah kak Irma.
13
“Coba kalian perhatikan burung-burung itu, menandakan
bahwa hutan mangrove juga berguna sebagai tempat hidup dan
mencari makan bagi makhluk hidup lainnya”, seru bu Murni
sambil menunjuk burung-burung yang bertengger di dahan pohon
mangrove. Kalian tahu satwa apa saja yang bisa ditemui di hutan
mangrove?” tanya ibu Murni.
““Ya tentu saja kepiting, kerang, udang dan ikan. Setiap hari kan aku
menangkap mereka di dalam hutan mangrove untuk lauk makan kami sekeluarga
dan juga untuk dijual ke orang darat,” jawab Mone.
“Iya kalian benar. Sebagian besar masyarakat di pulau ini membutuhkan hutan mangrove sebagai sumber
penghidupan mereka,” jelas ibu Murni membenarkan semua penjelasan murid-muridnya.
14
15
“Ibu, kakak, kenapa ikan, udang, kerang dan
kepiting senang tinggal di hutan mangrove?”
tanya Kanang kepada bu Murni dan kak Irma.
“Ayo siapa yang bisa menjelaskan pertanyaan
Kanang?” kilah Ibu Murni
Yenni langsung menjawabnya, “Aku tahu
bu, daun pohon mangrove yang berjatuhan
merupakan makanan favorit si kepiting. Daun
yang membusuk juga sangat digemari oleh
ikan, udang dan kerang, maka berbondongbondonglah mereka mencari makan di hutan
mangrove. Betul kan kak Irma?” meminta
persetujuan Kak Irma.
16
17
Hutan yang sudah dialih fungsi menjadi
tambak, tidak banyak terdapat kehidupan.
Hutan yang masih sehat, banyak terdapat kehidupan
yang beraneka ragam.
18
“Betul kamu Yen, hutan mangrove sangat kaya akan bahan organik dan nutrisi. Itulah sebabnya
daerah yang hutan mangrovenya sudah rusak atau ditebang habis tidak lagi terdapat banyak ikan,
udang, kepiting dan kerang di dalamnya,” jawab kak Irma.
“Oo pantas. Kata nenekku dulu mudah sekali mendapatkan ikan, udang dan kepiting dato’. Dalam
sehari kakek bisa mendapatkan 10 kepiting dato’ yang besar-besar. Tapi sekarang kata bapak sulit
sekali mendapatkan ikan, udang, kepiting maupun kerang. Dapat 1 ekor kepiting dato’ saja sudah
beruntung. Ternyata itu penyebabnya....” kata Kanang sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tambak yang dibuat dengan membuka hutan mangrove dapat mengganggu ekosistem hutan
mangrove lainnya karena air pasang tidak leluasa masuk ke dalam hutan tersebut karena terhalang
oleh pematang tambak,” timpal kak Irma.
“Menurut kalian apakah tanaman mangrove bisa dimanfaatkan sebagai obat?” tanya kak Irma.
“Mmm.. menurut saya bisa bu. Nenek pernah mengobatiku menggunakan daun kalli-kalli waktu aku
digigit ular. Caranya beberapa lembar daun kalli-kalli ditumbuk kemudian ditempel pada luka tersebut.
Dijamin pasti sembuh!” jawab Mone.
“Wah boleh juga tuh resep obatnya, tapi aku nggak mau digigit ular, hii.. serem!!!” timpal Yenni.
19
20
21
“Apakah kalian tahu kalau tanaman mangrove juga merupakan sumber makanan?” tanya Kak Irma lagi.
“Yang kami tahu cuma buah parappa, kami sering membuat rujak dengan bahan buah parappa karena
rasanya yang asam dan segar itu. Mmm.. siang-siang panas begini enak nih makan rujak parappa.. he..he..”
jawab Kanang.
“Kok kamu malah mikirin makan saja sih Nang, kita kan lagi belajar,” timpal Yenni.
“Bagus juga ide kamu Nang, itu di depan ada parappa yang sudah cukup besar. Kita petik beberapa dan
nanti kita buat rujak di kelas ya..” kata Ibu Murni.
“Yes!!! biar saya yang petik bu,” jawab Kanang dengan semangat.
22
“Kalau kalian mau tahu banyak tentang
sumber makanan dari mangrove, kakak punya
buku resep mangrove yang di dalamnya terdapat
25 resep makanan yang diolah dari berbagai
jenis mangrove loh. Ada kue bolu, onde-onde,
puding, wajik, kripik, teh dan banyak lagi. Kalau
kalian tertarik nanti kak Irma titipkan 1 buku
pada ibu Murni untuk dibaca bersama-sama,”
kata kak Irma.
“Wah makasih banyak kak,aku penasaran untuk
mencoba resep makanan dari buah mangrove.
Siapa tahu aku bisa menjualnya di kampung!”
seru Yenni dengan senang.
23
“Ssst.. tenang jangan berisik dulu..” bisik kak Irma.
“Ada sarang lebah di pohon runu-runu itu. Pohon itu merupakan tempat favorit lebah bersarang. Lebahlebah tersebut menghisap nektar dari bunga pohon runu-runu dan mengumpulkannya dalam sarang
mereka sebagai madu”, jelas kak Irma sambil berbisik.
“Apakah madunya bisa diminum kak?” tanya Yenni kepada kak Irma.
“Tentu saja bisa, tapi perlu keterampilan khusus dalam mengambil sarang madu. Kalau tidak kalian bisa
disengat oleh lebah-lebah tersebut,” jawab kak Irma.
24
25
26
“Kalian masih ingat buku ”Nipah si Pohon Pemberi” yang kak Irma kasih sebulan yang lalu?” tanya ibu
Murni pada anak-anak.
“Ingat bu, saya sudah selesai membacanya,” jawab Mone.
“Nipah juga salah satu jenis mangrove. Kamu masih ingat apa saja manfaat nipah Mone?” jelas ibu Murni.
“Daunnya bisa dibuat anyaman untuk dinding dan atap rumah, buahnya bisa dimakan, niranya bisa diminum
atau diolah menjadi gula merah, alkohol dan cuka, mmmm... apa lagi ya?” timpal Mone.
“Batang yang terletak di bawah permukaan tanah
bisa dibuat tepung pati, selain sebagai
penghilang dahaga, air nira nipah juga
berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai
penyakit seperti batu ginjal, asma, diabetes,
tekanan darah tinggi dan kelelahan,”
terang Yenni.
“Kalian memang pintar. Wah sudah jam 11 nih,
sekarang kita kembali ke rumah saja ya,” kata ibu Murni.
“Siap bu, lagian sebentar lagi anginnya cukup kencang,” kata Mone.
27
“Selain produk hutannya yang sangat berguna bagi kita, hutan mangrove juga memiliki fungsi
perlindungan bagi lingkungan hidup,” kak Irma memberi penjelasan tentang hutan mangrove.
“Maksud fungsi perlindungan itu apa kak Irma?” Kanang kebingungan.
“Aduuh, begitu saja kamu gak tahu sih Nang. Maksudnya hutan mangrove juga dapat melindungi
kampung kita dari serangan ombak besar dan angin kencang. Coba kalau tidak ada hutan mangrove,
rumah-rumah kita mungkin sudah lama hancur kena ombak besar dan angin kencang,” Mone menjawab.
28
29
“Bagaimana hutan mangrove bisa melakukannya, Kak?” tanya Kanang pada Kak Irma.
“Akar-akar mangrove yang kokoh mampu mengikat dan menstabilkan tanah sehingga dapat menghambat
laju sedimentasi dari daratan serta mencegah banjir dan erosi daratan yang disebabkan oleh terjangan
ombak besar. Dan juga kanopi atau tutupan pohon mangrove secara keseluruhan dapat memecah
kekuatan angin kencang sehingga rumah-rumah kalian terlindungi,” jawab kak Irma
“Bukan itu saja adik-adik, karena habitat hidupnya di antara daratan dan laut, hutan mangrove juga
memegang peran penting untuk menyaring racun-racun yang mencemarkan dan menahan lumpur dan
nutrisi yang berasal dari daratan,” jelas kak Irma.
“Manfaatnya apa kak?” tanya Mone.
“Sangat bermanfaat. Dengan menyerap racun yang berasal dari daratan, maka padang lamun dan terumbu
karang akan terhindar dari polusi racun dan lumpur yang dapat mematikan mereka. Jika nutrisi dari
daratan langsung menuju laut lepas, akan menimbulkan pertumbuhan alga yang tidak terkontrol dan
dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut.” jelas Kak Irma
“Oo.. begitu ya kak,” Mone akhirnya mengerti maksud penjelasan kak Irma.
30
31
“Kalian ingat peristiwa tsunami di Aceh pada tahun 2004 lalu?” tanya ibu Murni.
“Ingat bu, kami nonton di televisi. Apa hubungannya bu dengan hutan mangrove?”
tanya Yenni
“Di sana ada daerah yang
hutan mangrovenya masih
tebal yang hanya mengalami
kerusakan kecil dibandingkan
dengan daerah lain yang tidak
ada hutan mangrovenya.
Tsunami yang melewati hutan
mangrove semakin berkurang
kekuatannya ketika sampai di
pemukiman penduduk. Maka
selamatlah penduduk yang
tinggal di belakang hutan
mangrove tersebut,” jawab
kak Irma.
“Wah, hebat ya hutan
mangrove, bisa menjinakkan
ombak yang begitu besar,”
kata Yenni terkagum-kagum.
32
“Oiya, ada lagi penemuan terbaru tentang hutan
mangrove, yaitu dapat menyerap gas karbon
dioksida atau CO2 hingga sekitar 1.5 juta metrik
ton setiap hektarnya setiap tahun sehingga
mengurangi dampak dari pemanasan global. Kalian
tahu apa itu pemanasan global?” tanya kak Irma.
“Tahu dong kak, yaitu naiknya suhu bumi karena
lapisan ozon yang berfungsi untuk menyaring sinar
ultraviolet yang berbahaya sudah berlubang oleh
gas-gas beracun yang dihasilkan oleh aktifitas
manusia. Betul kan kak?” tanya Yenni.
“Hebat kamu. Daun-daun mangrove yang
berguguran tidak akan melepaskan karbon ke
udara karena mereka tersimpan di bawah lapisan
lumpurnya. Hutan mangrove lebih hebat dari
hutan hujan loh, karena hutan hujan masih
menghasilkan gas karbon dari daun-daunnya yang
berguguran,” jelas kak Irma.
33
“Wow! Aku sangat kagum dengan hutan mangrove. Ternyata banyak sekali jasa-jasa yang sudah disumbangkan
hutan mangrove bagi orang pulau ya,” ucap kanang dengan kagum.
“Makanya kita harus selalu menjaga kelestariaan hutan mangrove di pulau Tanakeke ini, supaya kehidupan
kita aman sentosa dan sejahtera,” Mone mengingatkan Kanang.
“Kalian memang anak-anak yang hebat,” kata kak Irma.
“Nah, kita sudah sampai. Bagaimana kesan kalian dengan pelajaran di hutan mangrove tadi? Kalian senang?”
kata ibu Murni
“Senang bu, kapan-kapan kita belajar di hutan mangrove lagi ya bu!” Yenni berkata sambil tersenyum.
“Pokoknya mantap deh bu. Terima kasih ya kak Irma sudah memberikan kami banyak informasi tentang
hutan mangrove,” seloroh Mone.
“Aku akan sampaikan kepada bapakku bahwa hutan mangrove sangat berharga buat kita, sehingga beliau
tidak lagi menebang hutan mangrove untuk dibuat tambak,” Kanang berseru
“Syukurlah kalau kalian senang dan mendapat banyak pembelajaran dari kegiatan kita hari ini,” kata ibu
Murni terlihat bahagia.
34
35
Sampai Jumpa
Glossary:
Joloro: Bahasa Makassar untuk perahu kecil
Daeng: Gelar nama dalam suku Makassar
Bangko: Bahasa lokal untuk spesies Rhizophora spp.
Kepiting Dato’: Kepiting yang hidup di ekosistem mangrove.
Kalli-kalli: Bahasa lokal untuk spesies Acanthus illicifolius; Bahasa lokal lain: jeruju/jerujon
Parappa: Bahasa lokal untuk spesies Sonneratia caseolaris dan S. Alba ; Bahasa lokal lain: peudada/bogem
Berlokasi di kepulauan Tanakeke, Kabupaten takalar-Sulawesi Selatan, ibu Murni dan ketiga orang muridnyaMone, Kanang dan Yenni menjelajahi hutan mangrove bersama dengan kak Irma
dari Mangrove Action Project Indonesia. Sambil berpetualang, mereka
belajar tentang berbagai manfaat hutan mangrove bagi
kehidupan manusia. Pesan yang mereka dapat dari
petualangan tersebut adalah bahwa dengan menjaga
kelestarian hutan mangrove, maka kehidupan
manusia pun akan lestari.
Untuk adik-adik generasi muda, kelestarian hutan
mangrove di Indonesia tercinta ini berada
di tangan kalian.
Salam Lestari!
Dibuat Oleh:
Didukung Oleh:
Fly UP